New Day (3)


DIS_

Chapter 3

Ҧ Damn Heart

What’s wrong with this damn heart?! Kenapa jantungku berdebar-debar kencang seperti sedang sakaratul maut?! Penyebabnya juga sangat konyol. Jantungku berdebar kencang seperti sekarang ini hanya karena senyuman Ozayn. Iya, aku nggak bohong—aku bahkan berani sumpah, kalau aku bohong aku bakalan diperkosa Justin Timberlake—senyuman Ozayn lah yang membuat jantungku jadi sialan seperti saat ini. Mengerikan bukan? Ew! Bahkan debarannya belum juga berhenti sampai sekarang. Sudah dua jam berlalu padahal.

Ozayn menggeser duduknya mendekat ke arahku, dari sela-sela rambutnya aku bisa mencium wangi kopi—jadi pengen ke Starbucks deh—dan saat aku tidak sengaja mendekat ke leher dan tengkuknya, aroma kulitnya seperti aroma novel baru. Memberikan kesan geek, menenangkan, hangat, membuai, dan sialnya lagi, aku suka aroma novel baru! Double EW! Kenapa Ozayn bisa mempunyai aroma itu?! Dari beratus-ratus juta, bahkan bermiliar-miliar orang yang ada di dunia ini, kenapa harus Ozayn?! Why Lord, why Goddes?!

“Asam Sulfat dan Lye tidak bisa disatukan ke dalam—“ Blah blah blahshit! Ozayn terus meracau sembari menuliskan beberapa rumus Kimia di atas kertas kosong yang ada di depan tanganku. Mathematics telah kukerjakan hingga sepuluh soal, jadi aku pindah ke Chemistry dulu saat ini. Kata Ozayn sih agar otakku bisa di-refresh! Macbook, kali! Tapi, aku mengikuti saja sarannya. Lama-lama kalau aku melihat angka-angka yang makin belibet itu, aku yakin aku pasti akan terkena kanker otak. Triple EW! Atau kena Vertigo, atau Woozy! “Kamu dengerin apa yang aku bilang?” tanya Ozayn, suaranya terdengar gugup. Dia kenapa sih?

Yes, I am, yes, I am!” Aku tidak akan pernah menoleh ke arahnya, aku masih belum berani. Aku tahu, aku memang pengecut. Tetris EW! Tapi, kalau aku melihat ke arahnya dan dia tersenyum bagaimana? Bisa-bisa aku terkena serangan jantung karena terlalu sering berdebar-debar. Wajahnya yang sangat nerdy go to hawt itu sungguh menjengkelkan. Menjengkelkan karena aku suka melihatnya! Karena dia sangat mengingkatkanku—ugh! I don’t want to remem-buh! Cassanova EW! Asquinto EW! Oblisovon EW! Dan EWEW lainnya!

“Jadi… Asam Sulfat itu punya rumusnya sendiri. Kamu lihat ini,” ucap Ozayn, tangannya yang besar dan berurat—aku tidak tahu kalau anak nerd seperti dia bisa punya tangan yang indah seperti itu, dan tangan itu akan makin indah kalau sedang mengocok kontolku—damn Zavan, stop it you lust! Sisi binal bedebah!—menunjuk sebuah tulisan melingkar seperti ular yang ada di depan pintu Asrama Slytherin. Ya, ampun, itu tulisan apaan sih?

“Kitab Setan dari mana ini?” seruku, wajahku mengernyit ngeri.

“Zavan!” tegur seseorang dari belakang tubuhku. Aku menoleh dan melihat Revie yang baru saja pulang dari Sport Station—dia sih bilang gitu tadi pas mau ninggalin aku berdua sama Ozayn di rumahnya. “Buku Paket Kimia kamu bilang Kitab Setan?” Revie menarik kursi yang ada di seberang meja makan. Aku mengedikkan bahuku ke arahnya. Kayak aku peduli aja, mau itu Buku Paket Kimia kek, Buku Paket Fisika kek, tetap aja menurutku itu Kitab Setan. Tulisan yang ada di dalam Kitab Setan itu memusingkan, sangat memusingkan! “Oz, makasih ya udah mau gantiin aku ngajarin orang satu ini!” Revie tersenyum manis ke arah Ozayn. “Nah, sekarang aku mau kamu ngerjain tugas-tugas ini, tunjukkin ke kita kalo kamu memang dengerin penjelasan yang Ozayn kasih tadi!”

Mampus! Arggh, Revie, you’re not fun! “Oke!” Entah pikiran darimana aku memberikan Revie jawaban itu. Aku menarik kertas yang berisi tulisan melingkar seperti ular tersebut dan mulai memasukkan semua angka ke dalam rumus tersebut. Okay, think fast, Zavan, THINK!

TAPI AKU HARUS NULIS APAAN?! Kusipitkan mataku dalam-dalam, melihat tajam ke arah angka dan bentuk rumus yang nggak jelas itu. Aku lumayan mengerti sebenarnya, otakku nggak bodoh-bodoh amat kok. Tapi, ya itu, susah aja ngerjainnya kalau di bawah tekanan kayak sekarang. Seperti lagi ulangan, hanya diberi waktu beberapa jam saja. Hello! Spada, I speak to the world and universe, Einstein aja butuh bertahun-tahun untuk memecahkan satu buah rumus. Masa aku—sebagai pelajar tersiksa di sekolah—harus mengerjakannya dalam waktu beberapa jam saja. So luna!

Done!” seruku, kusodorkan kertas yang berisi jawabanku ke arah Revie. Mataku—yang kali ini berkhianat seperti Gollum di film The Hobbit—beralih ke arah Ozayn yang sedang menatapku lekat-lekat. Ketika mata kami bertabrakan, aku tersipu, dia tersipu, jantungku berdebar, mungkin kontolnya dia berdiri. Oke, aku hiperbola. Tapi berharapkan nggak dosa! Cepat-cepat dia mengalihkan kontol—matanya dari mataku. Aku juga langsung melakukan hal yang sama. Baiklah, pelajaran pertama Zavan, jangan suka nafsuan lagi sekarang! Berhenti berfantasi soal kontol, sesuka apapun dengan bentuknya.

Revie berdeham pelan, dia menyorongkan kembali kertas jawabanku ke depan tanganku. “Yang ini masih salah. Tapi rumus Lye nya sih udah bener. Kamu cuman salah masukkin angka yang ada di sini,” ujar Revie panjang lebar, jarinya yang lentik seperti kaki Winnie the Pooh menunjuk angka tiga satu perempat yang kutulis dengan gaya Ratu Elizabeth a.k.a rapi. “Tapi aku impress lho, meskipun kamu nggak begitu paham sama soalnya, tapi kamu kayak benar-benar nyoba supaya bisa ngerjainnya. Aku salut sama usaha kamu.”

Aku menepuk dadaku dengan bangga. “Siapa dulu dong… Zavan McKnight!” Aku berseru nyaring, membuat Revie memasang wajah anak-polos-minta-digampar. Maksudku, Revie memasang wajah menghina. Ozayn yang duduk di sebelahku tertawa syahdu, seperti lagu Lenka yang berjudul Like a Song. Membuatku tenang, rileks. Dia mengalihkan tatapannya ke arahku lagi, aku juga melakukan hal yang sama. Tanpa aba-aba, tanpa peringatan, kami saling melempar senyum. Dan rasanya… hatiku begitu pas. Semuanya terasa… indah.

Revie kembali berdeham. Membuatku mengerjapkan mata beberapa kali. Aku tidak sadar kalau sedang saling memandang dengan mata Ozayn yang hitam bersisi cokelat itu—seperti mata Edward Cullen, tapi aku benci Robert Pattinson—cukup lama. Kualihkan pandanganku sepenuhnya ke arah Revie, yang saat ini memasang wajah anak-polos-minta-dihajar. “Kalian nggak usah saling tatap gitu, nanti saling naksir lho.” Revie mengedipkan salah satu matanya. Bisa kurasakan pipiku yang berkulit putih ini berubah merah.

Oh, anjing! Kenapa bisa merah seperti ini? Aku tidak pernah mengeluarkan semburat memalukan seperti ini kecuali—ah, intinya Revie menyebalkan! “Don’t be fully—fucking silly! Emang ada ceritanya orang saling natap bakalan jatuh cinta?” tanyaku, mencoba menggunakan nada sarkas seperti Sid. Tetapi gagal. Gagal total. Aku memang tidak dilahirkan menjadi sarkas, bermulut tajam, sangat jujur, kejam dan mematikan seperti Sid.

“Ada!” sahut Revie cepat. “Romeo dan Juliet. Harry Potter dan Cho Chang. Harry Potter dan Ginny Weasley. Jack dan Rose. Naruto dan Hinata. Sanji dan Nami. Aku dan Bagas.” Revie tersenyum lebar, menampilkan seringaian tampannya. “Bukannya kamu sendiri yang bilang ya Zav ke kita, kalau kontak mata bisa menghadirkan sesuatu ke dalam… hati?” Revie tersenyum culas. Ah, dia belajar dari mana sih jadi jahat begitu? Pasti dari Sid! Atau Bagas?!

“Iya, kalo hatinya saling punya magnet. Biar saling tarik-menarik. Bukannya gue mau hina lo ya Zayn—gue manggil lo Zayn aja ya, daripada Oz—tapi itu memang kenyataan. Gue dan Ozayn nggak akan saling tertarik. Sampai kapanpun. Iya, nggak, Zayn?”

Ozayn mengangguk lamat-lamat. Aku tersenyum ke arahnya. Kini aku bisa lebih tenang. Entah kenapa, saat kami saling melempar senyum tadi, ada perasaan hangat yang merayap ke dalam tubuhku dan membuat sarafku yang semula tegang dan takut menjadi rileks. Ozayn membuatku rileks! Dafuq! Ya, sudahlah. Mungkin kini aku bisa sedikit lebih ramah padanya. Karena dia sudah tidak menjadi Ozayn yang dulu lagi. Ozayn yang, well, membuatku takut. Tidak, tidak! Bukan berarti aku picik, menilai orang dari penampilan—baiklah, aku memang picik… tetapi Ozayn memang membuatku ngeri. Ngeri kenapa? Ada banyak jawaban di kepalaku, tetapi aku sulit menemukan satu yang paling tepat.

“Kita kerjain tugas kamu besok lagi ya Zav,” ucap Revie, memecah keheningan mencekam. Seperti back sound di film Hantu Jeruk Purut yang kutonton dengan mantan pacarku yang namanya telah hilang dari ingatanku. Aku ingatnya dia meringis ketakutan saat kepala si Hantu Jeruk Purut menggelinding ke jalanan seperti bola Volly. “Nggak enak kalo belajar terus. Nanti kamu bisa kena kanker otak dan tumor otak sekaligus.” Revie tersenyum lebar, membuatku tertawa pelan. Dan Ozayn juga. Dia tertawa makin syahdu, seperti lagu Royals, Team dan The Love Club nya Lorde. Oh, aku cinta Lorde, by the way!

Aku baru saja ingin memasukkan semua kertas itu ke dalam postman bagku saat tiba-tiba Ozayn yang melakukan hal itu. Aku langsung bergeming, tersentak melihat hal yang dia lakukan. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Si cupu yang sudah menjadi seksi ini kenapa begitu perhatian denganku? Apakah dia tertarik denganku? Ah, tidak mungkin. Kan tadi dia menggangguk saat aku bertanya dia tidak mungkin tertarik denganku. Lagi pula Ozayn tidak masuk ke dalam gaydarku. Dia gay bukan ya? Mungkin dia seperti Matt, straight yang suka dunia gay. Atau radar gayku saja yang sudah soak?! Aku belum upgrade radar gayku sih!

“Malem ini Tivo ngadain acara makan malem di Diatmika Pent-House, Zav. Kamu sudah baca belum text nya dia?” tanya Revie, dia kembali duduk di depanku sambil memakan satu mangkuk besar es krim double dutch bercampur remah Oreo.

“O, ya?” Aku menarik iPhone ku dari dalam saku celana. Oh, pantas saja tidak kudengar notif iMessage masuk. Aku menggunakan profil silent. Kubuka slide lock iPhone ku dan membuka iMessage yang berisi dua belas pesan. Sebelas di antaranya dari mantan-mantan yang masih belum bisa move on, sedangkan yang satu lagi dari Tivo. Isinya adalah menyuruhku datang ke acara dinnernya malam ini. Kubalas pesan itu singkat. Ok. Done, message send. “Lo dateng nggak Rev?” tanyaku, kualihkan pandanganku ke arah Revie yang sedang asyik dengan es krimnya. Sedangkan Ozayn lagi membaca-baca soal remedialku.

“Da-teng!” ujarnya dengan mulut penuh es krim. “Ini aja sudah mau siap-siap. Makanya aku sama Bagas cuman bentar di Sport Station tadi. Beli sepatu futsal, langsung pulang deh!” Revie menelan es krimnya dengan susah payah. Wajahnya yang agak tirus mengembung kecil. “Tapi, kayaknya aku pakek baju gini aja ya? Kan kata Tivo cuman makan malam biasa. Nggak sampe ngundang orang-orang penting.”

“Terserah lo aja. Gue aja mau pakek baju ini buat ke sana. Lagian, puh-lease deh Rev, ini tuh Tivo yang ngundang. Bukan duta Inggris atau Pak EsBeYe!” Revie mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku menoleh ke arah Ozayn, menatap penampilan cowok nerd itu dengan pandangan menilai. Eh, emang Ozayn bakalan ikut ya? “Lo juga bakalan ikut pergi ke acara dinner nya Tivo—euh—Zayn?” Yah, meskipun aku sudah nyaman di dekatnya, namun aku tetap merasa rikuh dan kikuk jika berbincang dengannya.

“Dia pasti pergi dong!” Ini Revie yang menjawab. “Ozayn juga kan udah jadi bagian dari hidupku sekarang. Jadi ke mana aku ada acara, Oz bakalan ikut juga.” Revie tersenyum kecil.

Aku mengangguk-anggukan kepalaku, Ozayn yang duduk di sebelahku masih saja sibuk membaca soal remedialku dengan kening berkerut. Walaupun aku baru beberapa jam duduk di sebelahnya, namun aku tahu hal-hal kecil yang sering dia lakukan. Setiap sedang membaca sesuatu dia akan terlihat sungguh-sungguh, mendengarkan perkataan orang lain dengan serius, selalu tersenyum simpul, bergerak pelan, hati-hati, serta tingkah yang kaku. Entah apa yang terjadi—sepertinya si Gollum masih ada di dalam tubuhku—aku tersenyum asimetris. Aroma novel baru dari tubuhnya itu sungguh menyejukkan. Membuatku ingin duduk lama-lama di sebelahnya sambil membaca novel-novel yang belum kuselesaikan di rumah.

Kugigit bibir bawahku, melihat betapa menggodanya cara dia menggerakkan bibirnya ketika sedang membaca dalam diam. Aku ingin sekali menarik kepalanya ke arahku, mecium dagunya dan mendaratkan bibirku ke bibirnya—“Pacar kamu sekarang siapa Zav?” tanya Revie, membuyarkan fantasi nafsuku. Lekas, aku menolehkan mataku ke arah Revie. “Kamu lagi nggak ada pacar kan… sekarang?”

“Euh—“ Kukuakkan sedikit mulutku, bisa kurasakan Ozayn mengangkat kepalanya dari kertas soal remedial yang sedang dia baca. Aku berubah gugup, dia menatapku. “Nggak ada.” Aku tersenyum, mencoba menghilangkan rasa gugupku. Revie menopang dagunya dengan tangan, bibirnya juga ikut mengulas sebuah senyuman. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Ozayn mengulum senyumannya. Memangnya lucu ya kalau aku sedang tidak punya pacar? “Kenapa nanya? Tumben.”

“Nggak ada. Cuman pengen nanya aja sih,” ucap Revie dengan nada ceria. “Kamu tau nggak kenapa hubunganmu sama cowok-cowokmu itu selalu gagal?” tanya Revie, aku mendelik ke arahnya. Jangan bilang pada dunia—apalagi pada Ozayn—kalau aku gay! Bagaimana kalau Ozayn dendam padaku dan menyebarkan hal itu ke satu sekolah? Ozayn kan straight. Iya, kan? Dia tidak masuk ke radarku sih. Radar biadab! Pulang dari dinner Tivo aku mau meng-upgrade radarku ah. Ke IOS 8.0.4.

“Emang kenapa?” tanyaku sambil menoleh ke arah Ozayn, yang terlihat santai. Oh, mungkin dia memang seperti Matt. Atau dia gay juga? Ayolah, radar! Bunyi dong! BIP BIP BIP! Ozayn itu gay bukan ya? Badannya kayak And, kekar membahana. Tidak berlebihan juga sih, tapi tetap saja kekar. Lihat saja otot tangannya, dan urat-urat yang menjalar dari pergelangan sikunya ke atas tangannya. Disgustingly kyut! Pengen jilat deh! Oh, shit! Berhenti berfantasi penuh nafsu Zavan, berhenti!

“Karena nggak ada hubungan timbal baliknya,” jawab Revie akhirnya.

“Timbal balik?” Keningku berkerut, bingung. “What do you mean?”

“Iya, timbal balik. Saling memberi, saling menyayangi dan saling mencintai. Kayak: aku suka nontonin Bagas main futsal tiap malam minggu. Dan timbal baliknya adalah… Bagas selalu ngasih apa yang aku mau. Kita saling memahami, mencoba bersabar sama pasangan masing-masing. Nah, setiap kali kamu cerita ke aku soal hubungan kamu Zav… kamu nggak pernah ngelakuin hal itu. Kamu nggak pernah retweet perasaan mereka. Kamu nggak pernah mention nama mereka di hati kamu. Makanya gagal.”

Dahiku mengernyit, bukan karena bingung, tetapi karena ucapan Revie benar. “Well, bukan gue kok yang salah. Mereka aja yang memang nggak asyik. Payah! Lagi pula, lo ngomongin soal timbal balik apa Twitter sih? Pakek retweet dan mention segala.”

Enggop! Kita lagi bicarain soal timbal balik. Retweet dan mention itu cuman perumpamaan aja. Pokoknya, inti yang aku omongin adalah… kamu nggak punya cukup usaha untuk cinta.”

We talking about LOVE again? Same song again?!” tanyaku—plus seruku—tak percaya.

Yes!” sahut Revie cepat. “And we always talking about this again, again, and again. Until you believe and realize if love is exist!” Revie menatapku dalam-dalam. Ozayn yang duduk di sebelahku menatap wajahku dengan pandangan prihatin. Dan… durja. WHAT?! “Maaf Zav kalo aku kedengerannya kayak Shakespeare, tapi aku cuman pengen kamu bahagia.”

“Gue bahagia.”

No, you don’t!” Revie menatap wajahku, kali ini terlihat iba. Aku paling benci diberi tatapan seperti itu! “Kamu selalu senyum, kamu selalu ketawa, kamu selalu bisa buat orang lain bahagia… tapi kamu sendiri enggak. I can feel it. I’m your bestfriend. And I know you!” Aku terdiam, Ozayn terdiam, Revie terdiam, universe terdiam. “Karena yang selama ini aku lihat… kamu kesepian.” Perkataan itu langsung menohok jantungku. Menohok karena Revie benar. Kalau Sid selalu menang di setiap hal, Revie selalu benar di setiap perkiraannya.

Tetapi aku tidak mau terlihat lemah, terlihat makin menyedihkan. Kuberikan Revie sebuah senyuman. Senyuman palsu yang selalu bisa membuat orang terkena delusi. “I will be happy, just don’t worry, ‘kay!” Kukedipkan mataku ke arah Revie. Sahabatku satu itu hanya mengangguk lemah. “Jadi… gimana hubungan lo sama Bagas?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan. Aku paling tidak nyaman jika sedang membahas soal kehidupan pribadiku. “Kalian… baik-baik aja kan? Anak pertama kalian cewek apa cowok?”

Revie dan Ozayn tertawa, aku pun tertawa. “No gender! Anak kami kayaknya tertelan bumi deh.” Revie menyeringai lebar. Dasar! “Tapi aku punya sedikit kekuatiran. Well, mantan Bagas yang namanya Lusia itu selalu ngedeketin Bagas. Dan… kayaknya Bagas seneng-seneng aja. Aku takut kalau Bagas… ke cewek itu. Kan kalian tau, Bagas baru kali ini pacaran sama cowok. Dia bisa aja bosan dan… pergi.”

“Nggak akan terjadi, Rev,” sahut Ozayn cepat. Dia tersenyum—ah, manis sekali—ke arah Revie. “Bagas cinta sama kamu. Kelihatan kok dari cara dia mandang kamu. Orang buta aja bisa ngerasain. Iya nggak, Za-Zavan?” Dia menatapku malu-malu. Ozayn ini memang kikuk ya orangnya? Tetapi kenapa kalau sama Revie dan yang lain tidak? Atau karena dia masih takut padaku, karena selama ini aku selalu mengatainya… jelata. Tapi kan dia memang jelata.

“Ya, ya,” kataku, kukibas-kibaskan tanganku di udara. “Jangan terlalu takutlah! Tadi siapa nama si mantan Bagas ini? Lusia ya?” Revie mengangguk cepat. “Nah, kan pantes tuh. Lusia. Lutung Sialan!” Aku nyengir, Revie dan Ozayn tertawa agak kencang. Aku menatap mata Ozayn yang agak tertutup kalau sedang tertawa. Giginya tidak tersusun rapi, tetapi mirip gigi Close Up. Tring! Wew, aku butuh kaca mata! Silau, gan! “Sekarang yang lo harus kuatirin adalah… apakah lo masih bisa hamil? Coba cek rahim lo ke Rumah Sakit Ibunda, siapa tau lo kena kanker serviks!”

“Apaan sih!” kibas Revie. Aku dan Ozayn tertawa. Mata kami bertemu, dan kali ini aku tidak merasakan kegugupan sama sekali. Tawaku dan tawa Ozayn seperti aliran listrik, menyatu.

Dehaman maskulin membuyarkan tawaku dan Ozayn. Aku berbalik dan melihat Bagas yang sedang berjalan dengan langkah jenjang ke arah Revie. “Ayo, berangkat!” katanya, Bagas menepikan bokongnya yang kencang itu di pinggiran meja makan. No, yummy! Bagas punya Revie. Jijik deh pacaran sama pacarnya sahabat. “Eh, bentar, muka kamu masih belepotan es krim.” Bagas mendongakkan dagu Revie ke dekat bibirnya. Pelan, lidah Bagas menjilat es krim yang masih tersemat di pinggir bibir Revie. Tawa cekikikkan—seperti Mak Lampir—Revie benar-benar mengganggu. EW! Aku mengernyit dengki.

“Geli, ih, geli!” kata Revie masih terus cekikikkan seperti orang gila. Revie mendorong pelan tubuh Bagas, namun cowok itu tetap bergeming. Ya iyalah, badan Bagas bidang dan tinggi seperti itu. Sedangkan badannya Revie kecil dan mungil kayak Shaun the Sheep. “Ya, udah, kita berangkat sekarang aja!” katanya, saat Bagas mulai mencekal dagu Revie dan ingin mendaratkan ciuman di sana. Wajah Revie berubah semerah kepiting. Dia pasti malu ditonton olehku dan Ozayn. “Aku sama Bagas ya berangkatnya. Kamu sama Ozayn, oke? Sekalian kamu nanti anterin dia pulang.”

Kunaikkan alisku tinggi-tinggi. Satu. Mobil. Sama. Ozayn. Oh, NO! “Oke!” Nah, itu bukan mulutku yang ngomong. Itu sarafku yang lagi terganggu. Itu si Gollum jahat yang ada di dalam tubuhku. Revie terlonjak senang, entah senang kenapa. “Ayo!” kataku, kuambil postman bagku dan menatap Ozayn yang sedang menatapku dengan pandangan malu-malu dan takjub. Oke, dia memang masih jelata, aku masih tidak suka bau orang jelata. Tetapi Ozayn sepertinya beda. Aku sudah sadar itu, tetapi selama ini aku mengabaikannya.

Now, wish me luck! Semoga tidak ada hal aneh yang terjadi saat aku semobil dengan Ozayn!

***

Ozayn mengambil CD LMFAO dari atas dashboard mobilku. Dia membalikkan CD itu dan membacanya dengan cermat. Kami masih terjebak macet di daerah Jalan Santa. Lagu Safe and Sound dari Capital Cities memenuhi stereo mobilku. Sedangkan Ozayn saat ini masih sibuk membolak-balikkan CD yang lain. Sekarang yang sedang dia lihat adalah CDnya Selena Gomez. Aku mengernyit, aku tidak tahu kalau Ozayn suka lagu-lagu luar negeri. Kupikir dia seperti anak nerd lainnya. Mendengarkan lagu yang terbuat dari instrumen tawa lumba-lumba. Untuk menenangkan otak.

“Aku suka semua lagu yang ada di albumnya Blink 182 ini,” kata Ozayn dengan suara serak. Dia menatap wajahku malu-malu, agak gugup. Dia mengacungkan CD Blink 182 yang kubeli beberapa tahun yang lalu. “Dari semua lagunya, aku paling suka I Miss You dan Always.” Ozayn menaruh kembali CD Blink 182 ke atas dashboard mobilku.

“Lo suka lagu-lagu barat juga ternyata. Gue kira lo lebih suka lagu-lagu yang nerd gitu.” Aku menginjak gas saat mobil yang ada di hadapanku mulai beregerak. Meskipun hanya beberapa meter. “Siapa penyanyi solo dan band favorit lo?”

Di keremangan cahaya, mataku menatap lekat-lekat wajahnya yang tirus dan tegas. Rahangnya kuat, matanya yang sudah tak terbingkai kacamata terlihat berbinar, hidungnya agak mancung. Pas. Semua yang ada di dirinya terlihat pas. “Kalau band aku suka Coldplay dan One Rupublic.” Dia akhirnya menjawab, membuatku tertegun. Aku tertegun karena aku juga suka Coldplay dan One Republic. “Ehm, kalau penyanyi solo cowok aku suka Phillip Phillips dan Kris Allen. Kalau penyanyi solo cewek aku suka Lorde dan Lady Gaga.”

Aku makin tertegun. Kenapa bisa sama? Semuanya sama. Aku suka Coldplay, aku suka One Republic, aku suka Phillip Phillips, aku suka Kris Allen, aku suka Lorde, aku suka Lady Gaga. “Kok kesukaan kita bisa sama semua ya?” tanyaku heran, namun juga takjub luar biasa. Apakah aku dan dia… jodoh? Damn! Masa sih? Enggak ah! Tetapi kenapa jantungku malah berdebar-debar penuh harap seperti ini? Dasar stupid damn heart!

“Nggak tau,” ucapnya. Kali ini sangat gugup. Aku bisa mendengar suaranya bergetar. Tanda kalau orang tersebut sedang membuat bualan. Tetapi aku sedang tidak ingin berdebat soal kebohongan. Jadi aku diam saja, pura-pura mendengar lagu yang kini telah berganti ke lagu Ho Hey dari The Lumineers. Sosok Ozayn selain cupu, juga misterius. Aku suka itu.

Eh, WHAT?! Baiklah, lebih baik aku sekarang pura-pura bernyanyi, agar pikiranku tidak melantur ke mana-mana. “(Ho!) I’ve been trying to do it right  (Hey!) I’ve been living a lonely life  (Ho!) I’ve been sleeping here instead (Hey!) I’ve been sleeping in my bed, (Ho!) Sleeping in my bed.” Meskipun suaraku nggak sebagus Bruno Mars, tetapi tekhnik bernyanyiku luar biasa lho. Agnes Monica mah kalah. Coba deh kalian dengar suaraku, pasti langsung budeg dan nggak bisa bernafas lagi. Saking indahnya, iya kan? La la la….

(Ho!) So show me family  (Hey!) All the blood that I would bleed  (Ho!) I don’t know where I belong  (Hey!) I don’t know where I went wrong  (Ho!) But I can write a song.” Aku terdiam, melihat Ozayn menyambung laguku. Dia bernyanyi sambil tersenyum simpul. Mata kami kembali saling bertabrakan, dan gelenyar yang makin aneh masuk ke dalam tubuhku. Rasa ngeri itu datang lagi… dan aku kini tahu jawabannya. Rasa ngeri itu adalah… aku takut jika jatuh kepadanya. Seperti yang kurasakan sekarang! Semoga ini hanya nafsu belakaku saja.

“1, 2, 3  I belong with you, you belong with me, you’re my sweetheart, I belong with you, you belong with me, you’re my sweet.” Kami bernyanyi serempak, dengan suara yang pas-pasan. Aku dan Ozayn tertawa, agak kencang, membuat orang yang ada di dalam mobil yang ada di sebelahku menoleh. Aku tersenyum ke arah—ew, wajahnya kayak hantu muka rata—cowok itu. Kunaikkan kaca mobilku—aku tadi membukanya karena lagi merokok, sekarang sudah enggak. Kami kembali melanjutkan lagu kami. “I belong with you, you belong with me, you’re my sweetheart, I belong with you, you belong with me, you’re my sweet.

Kami menutup lagu dengan dramtis. Aku menangkupkan tanganku ke udara seperti Giring Nidji, sedangkan Ozayn mengangkat tangannya seperti Rian D’Masiv. WOW! Kami akan mengalahkan para musisi Indonesia yang gayanya nggak banget itu semua. Lihat saja kami, terlihat profesional dengan suara seperti orang yang sedang memanggil setan untuk datang. Suara kami yang merdu, bagaikan lagu pemanggil arwah penasaran untuk kembali ke Bumi. Eh, kenapa aku malah menghina suaraku sendiri? Enggak ah, suaraku indah kok. Ada unsur Sariosanya. Merdu gila!

“Kalo kita berdua rekaman di Sony Music, kita bakalan diterima nggak ya?” tanyaku, sambil memfokuskan kembali mataku ke jalanan yang mulai lenggang. “Gue punya temen yang bisa buat kompilasi lirik dan lagu yang bener-bener bagus. Kita minta dia buatin kita lagu, terus kita nyanyi bareng. Jadi duo yang akan menggemparkan dunia.” Aku tersenyum lebar, dari sudut mataku aku bisa melihat Ozayn juga memberikan senyuman yang sama sepertiku.

“Nggak ah, aku bukan jenis orang yang mudah pecaya diri. Lagian, suara kita lebih cocok untuk ngiringi upacara kematian.” Aku kembali tertawa. Keras. Aku tidak pernah tertawa keras seperti ini. Di flocksku, hanya aku satu-satunya yang sering membuat lelucon. Tetapi, kali ini aku tahu rasanya mendapatkan lelucon yang benar-benar lucu. Atau karena Ozayn nya yang lucu. Dan sangat manis saat tersenyum?

TAIK KUCING! Aku ngelantur lagi, kan! “Ja-jadi… sejak kapan lo jadi kayak….” Aku menunjuk penampilannya yang berubah. Ozayn menunduk malu, walaupun di wajahnya tidak menampilkan semburat merah—dia kulitnya cokelat sih, jadi nggak begitu kelihatan—tetapi aku tahu dia merona dan gugup. Dia mengangkat tangannya, menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin tidak gatal sama sekali. Ugh, hal cliché yang sering manusia lakukan saat sedang nervous.

“Sejak beberapa bulan yang lalu. Mungkin sekitar… setengah tahun.” Mataku terbelalak lebar. Setengah tahun aku tidak sadar kalau si nerd jadi hawt kayak sekarang! Kemana saja hidupku di DIS selama setengah tahun itu? Ayo, kemana? Aku kelayapan di mana aja, ya?!

“Gue bener-bener nggak nyangka kalo lo bakalan berubah kayak… sekarang.” Aku menatap wajahnya yang masih tertunduk. Empat detik kemudian dia akhirnya menengadahkan kepalanya dan menatapku. DEG! Jantungku kembali berdebar. Kenapa selalu berdebar seperti ini? For sex’s sake! Itu hanya Ozayn. Cowok cupu—dulunya—nan jelata yang sama sekali tidak ingin kulirik dua kali saat aku melintasinya. Atau kadang aku menganggapnya invisible. Tak terlihat. Seperti Harry Potter saat menggunakan jubah gaib.

“Kenapa?” tanyanya, membuatku mengerjapkan mata beberapa kali. “Ada yang aneh ya sama mukaku?” tanyanya sambil memegang wajahnya. Dia kembali menoleh ke arahku, tersenyum sekali lagi, membuat bibirnya berkedut. Menantangku untuk menciumnya. Dan jantung ini juga masih berdebar-debar kencang seperti tabuhan marching band. Kutarik nafasku dalam-dalam. Breath in, breath out. Breath in, breath out. Breath in, breath

Baiklah! Aku tidak boleh berdebar-debar terus seperti ini! Seharusnya yang merasakan penuh debaran itu si Ozayn. Harus! Karena dia duduk di sebelah cowok pemikat sepertiku. Aku bukan mau membanggakan diriku—baiklah, dasar orang brengsek, aku memang sedang membanggakan diriku sendiri. Kenapa? Nggak suka? Masbayu huh, masalah buat you? Oke, aku akan melakukan permainan ini. Aku akan membuat Ozayn tertarik denganku setengah mati. Aku akan membuat jantungnya berdenyut kencang seperti tabuhan lagu David Guetta!

Kumajukan kepalaku ke dekat kepalanya. Ozayn tersentak mundur, refleks. Raut wajahnya terkejut, tidak menyangka kalau aku menaruh wajahku di depan wajahnya. Jarak kami hanya beberapa sentimeter. Kalau aku memajukan sedikit lagi kepalaku, bibirku bisa meraih bibirnya yang penuh godaan itu dan melumatnya lama-lama. “Ke—ke—kenapa?” tanya Ozayn, suaranya amat gugup. Hawa mulutnya sangat mint. Seperti aroma mint rokok Dunhill yang sangat suka kuhisap saat sedang stress. Atau saat aku sedang kesepian. Yeah, rite!

I like your eyes,” ucapku, menggunakan nada dalam. Ingin membuat sarafnya tergoda akan diriku. Tetapi tidak, aku hanya sedang menahannya. Membiarkan Ozayn bermain-main dengan pikirannya terlebih dahulu. “Gue suka kelopak mata lo,” kataku, kutelusuri kelopak matanya dengan tanganku, menyentuh kehangatan yang ada di sana. Bisa kurasakan nafas Ozayn menderu dan tersendat. “Gue suka bulu mata lo,” kataku lagi, masih melakukan hal nakalku kepadanya. “Gue suka mata lo. Berbinar. Such a starry-eyed!”

Bisa kurasakan jantungnya berdentum-dentum di balik kaus Forever 21 nya. Aku tersenyum. Aku memang selalu berhasil melakukan hal ini. Menggoda bukan perihal yang sulit untukku. Dan Ozayn adalah cowok yang menjadi targetku sekarang. Lupakan semua kontol busuk itu semua, kini aku akan memainkan mainan baru. Ozayn. Aku suka dia, dan aku telah menandainya sebagai teman seksku yang selanjutnya. Lupakan kalau dia seorang jelata! Aku semacam tali yang menarikku masuk ke dalam karismatiknya. Aku suka cara dia bergerak, dan aku tahu, saat dia bergerak di atas tubuhku, aku akan makin menyukainya.

“Dan gue juga suka—“ Kusentuh bibirnya dengan ujung telunjukku. Ozayn terlihat ling-lung, dia menunggu. Menungguku melangkah, apakah aku akan mencium bibirnya. Oh, Kiss me, kiss me, please retweet! Kudekatkan kepalaku ke arahnya, sengaja berlama-lama menahan bibirku untuk menciumnya. Saat aku ingin mengecup bibirnya, tiba-tiba mobil yang ada di belakangku membunyikan klakson! DASAR PECUN SETAN! Mengganggu ritualku saja!

Ozayn tersentak, dia memalingkan wajah dan tidak berani menatap mataku. Aku kembali ke posisiku semula. Melirik sebentar ke Pelacur yang ada di dalam mobil yang ada di belakangku. Sigh! Padahal aku akan mendapatkan ciuman dari bibir penuh godaan itu. Dengan perasaan kesal, aku menginjak gas dan mulai menjalankan mobil. Drat, stupid bitch!

Selama perjalanan menuju ke Diatmika Pent-House, tidak ada satupun dari kami yang membuka mulut. Aku masih kesal dan mempunyai keinginan yang besar untuk mencium Ozayn, sedangkan Ozayn masih terlihat ling-lung. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan—ya iyalah, aku bukan Charles Xavier. Hanya dia satu-satunya orang yang sangat sulit untuk kumengerti. Dari tingkah laku dan segala tetek bengek nggak penting di dalam dirinya. Ozayn membuatku bertanya-tanya. Dia sok misterius, dia seperti Gargamel. Yeah, penyihir jahat yang ada di film The Smurfs—but in a good way, of smurfcourse!

Lagu Heart That’s Pounding dari Sally Seltmann mengalun lembayung dari speaker. Lagu itu seakan-akan menjadi pengganti ucapanku. Jantungku masih berdebar kencang, seperti ada yang memompanya terlampau berlebihan. Oh, Mama Gaga, I hate you! I really fucking anjing babi brengsek bajingan hate you so much! Kenapa sih jantung ini tidak bisa berdetak normal saja? Kenapa bibir Ozayn terngiang-ngiang di dalam ingatanku? Betapa lembut bibir itu saat kusentuh dengan ujung telunjukku, betapa hasrat yang ada di dalam diriku seakan-akan tertarik untuk selalu dekat dengannya, dan betapa misteriusnya sosoknya itu.

Aku melirik wajahku di spion yang ada di atas kepalaku. Wajahku terlihat tersiksa. Tersiksa karena aku setengah mati ingin menciumnya. Dan kenapa aku belum sampai-sampai juga sih? Kenapa Mama Gaga seakan-akan menyiksaku untuk berlama-lama berduaan dengan Ozayn? Ugh, I hate you Mama Gaga! Yes, you heard me, rite! I hate you so many-much-a lot! And, homage-puh-leaseeeee help me! Anyone, somebody? Adele? Lenka? Where are you? Aku benar-benar ingin segera beranjak menjauh dari sosok Ozayn. Karena kalau sampai lima menit lagi aku duduk bersebelahan dengannya aku akan menginjak rem dan mencium—

Oh, sudah sampai, ternyata! Thanks, Yahudi! Cepat-cepat aku mencari tempat parkir. Tidak berduaan lagi dengan Ozayn adalah hal yang paling penting saat ini. Aku benci sisi nafsuku yang terlalu berlebihan. Tetapi aku tidak pernah seperti ini! Ah, kenapa aku tidak berlaku jahat saja pada Ozayn? Aku sadar betul, selama ini aku menjauhinya karena ada dua hal yang kutakuti di dalam dirinya. Dan salah satunya adalah ini. Aku tertarik dengannya. Oke, mungkin bukan tertarik secara hati. Tetapi tertarik ke dalam hal yang lain. Seks, contohnya. I hate my sin lust! Tuhan pasti lagi dalam mood yang bagus saat membuat Ozayn. Dia terlihat, well, luar biasa menggoda. Selalu. Dia selalu begitu. Yeah, rite, menggodaku!

“Ini gedung punya keluarga Tivo kan?” tanya Ozayn, matanya menoleh ke luar jendela saat aku sedang menarik tuas rem. Pelan, aku mengangguk. Ozayn tersenyum, rona wajahnya tersamar di balik kulitnya yang cokelat eksotis itu. Fark! You are so lucky one! Punya kulit bagus seperti itu! Tidak seperti kulitku, terlalu putih, jadi terlihat pucat seperti keluarga Cullen lagi kena overdosis. Ada luka sedikit saja pasti langsung terlihat jelas. Sigh!

Come to my fellowship!” ajakku lekas, suaraku terdengar agak gentar. Aku membuka pintu mobil dan berjalan cepat menuju ke dalam gedung berlantai lima puluh yang ada di depanku. Gedung yang berisi kantor, restoran dan apartemen kepunyaan keluarga Tivo. Aku kemarin ingin menyewa apartemen di sini. Tetapi biayanya sangat mahal. Di lantai paling atas saja setahun delapan puluh juta. Sedangkan uang jajan bulananku dari Matt dan Anna hanya sekitar beberapa ratus juta—yang akan habis dalam waktu dua hari. Sigh times two!

“Aku baru sadar kalau bangunan tinggi ini punya keluarganya Tivo,” kata Ozayn, dia berjalan di belakangku. Aku tidak mau menoleh, pokoknya aku harus menjauh dulu darinya. Yah, berikan aku radius sekitar lima meter. Biasanya kalau otakku sedang dalam mode nafsu begini, aku harus menjauhi orang tersebut. Atau aku harus membaca jampi-jampi yang sering diajarkan oleh Psikologku. Oke, jampi-jampinya adalah: jangan mau sama dia Zavan, kontolnya penuh kudis, kurap, panu dan jamur. Dia terkena Sipilis, jauhi dia! JAUHI DIA!!!

Sex in the air, I don’t care, I love the smell of it!

Shit! Ini si Rihanna ngapain sih malah pakek nyanyi S&M di telingaku?! Membuat jampi-jampiku gagal saja. Siapa juga yang nyetel lagu ini—oh, ternyata aku sedang menggunakan earphone dengan volume kecil. Cepat-cepat kumatikan lagu Rihanna yang brengsek itu—well, aku tetap suka kok lagunya—dan mengulang kembali jampi-jampi yang tadi aku terapkan pada diriku sendiri. Aku tidak akan tergoda oleh Ozayn, atau nanti saja tergodanya. Aku tidak punya banyak waktu kalau ingin bermain-main dengannya saat ini. Oh, aku benar-benar suka jika sedang memainkan permainanku sendiri. Aku serasa menjadi superhero nya. Dan aku yakin aku akan menang. Yeah, watch me, Bieber bedebah!

“Zavan!” panggil Sid dua meja dari tempat aku berdiri. Dia melambaikan tangannya ke arahku dengan gerakkan kasual. Aku menarik ujung kemejaku yang kusut, melirik sekilas ke arah Ozayn yang berdiri kikuk di belakangku. Kutelengkan kepalaku, menyuruhnya untuk jalan duluan. Dia terlihat ragu, namun akhirnya dia melangkahkan kakinya juga. Aku berdeham, untuk menghilangkan rasa gugup yang sedaritadi ada di dalam diriku. Aku tidak ingin flocksku bertanya-tanya kenapa aku bisa segugup ini. Karena gugup bukan sifatku, itu sifat Revie kalau sedang berdiri di sebelah Bagas—dulu sih.

Langkahku terhenti saat aku melihat kalau flocksku tidak hanya membawa diri mereka saja. Sid dengan Adam. And dengan Vick. Revie dengan Bagas. Tivo dengan Peter. Dan mereka semua duduk bersebelahan, saling tertawa, melempar lelucon yang tidak aku ketahui. Mata mereka penuh dengan sarat kebahagiaan, senyuman mereka selalu merekah sepanjang detik berdetak. Aku mengkerut, merasa kalau dunia begitu kejam. Yeah, Mama Gaga, I hate you again! Kenapa sahabat-sahabatku kini lebih banyak meluangkan waktunya dengan pacar mereka? Kenapa tidak hanya kami berlima? Seperti dulu lagi.

♫Now playing: Akon – Lonely.

“Sampe kapan lo mau berdiri di sana?” tanya Sid, salah satu alisnya terangkat naik. Angkuh. “Duduk tuh di sebelah Ozayn!” Sid memperintahkanku menggunakan nada alphanya. Dia menunjuk sebuah kursi yang tepat bersebalahan dengan Peter dan Ozayn. Aku memasang senyuman lebar penuh kepalsuan ke arah mereka. Kutarik kursi itu, lalu mendaratkan bokongku di sana. “Gue nggak nyangka kalo lo bakalan semobil sama Ozayn.”

Aku nyengir. “Lo aja nggak nyangka, apalagi gue.” Mereka tergelak. Ozayn yang duduk di sebelahku—rasa nafsuku padanya sudah hilang, digantikan rasa kesepian—juga ikut tergelak. “Ada acara apaan sih, sampe dinner di sini dan serame ini?” tanyaku kepada Tivo, yang sedang membaca sesuatu di iPadnya—kitab kesayangannya itu, bleh! “Jangan bilang ke gue kalo salah satu di antara kalian bakalan nikah bentar lagi?! Tsah!” Mataku memicing tajam, berpura-pura mendramatisir keadaan. Fake Zavan muncul lagi di dalam diriku.

Tivo mengibaskan tangannya di udara, dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum padaku. “Cuman acara dinner biasa kok. Lagian, kapan lagi kita bisa ngumpul rame-rame kayak sekarang? Sama pasangan masing-masing lagi.” Dari sudut mataku, aku bisa melihat tangan kanan Tivo yang sedang menggenggam tangan kiri Peter di bawah meja. EW! Puh-lease, deh! “Dan kapan lagi kita bisa bawa pasangan secara lengkap kayak sekarang.”

“Maksud lo?” tanyaku, mataku kembali memicing.

“Iya. Secara lengkap. Sid dan Adam. And dan Vick. Revie dan Bagas. Gue dan Peter. Lo dan… Ozayn.” Mereka berdelapan tersenyum licik ke arahku. Nah, kan, aku jadi bahan olok-olokkan di sini. Perasaanku memang sudah tidak enak daritadi. Geez!

Suit yourself, guys!” kataku acuh. Mereka tertawa serempak, membuat beberapa pasang mata menoleh ke arah kami. Ugh! Kulirik Ozayn yang duduk di sebelahku, namun dia tetap diam saja. Gosh! His not helping at all. Daripada aku makan hati—rasanya sungguh menjijikan—aku menarik buku menu yang ditaruh di tengah meja. Untuk sementara, semua pikiran orang-orang jahanam yang ada di atas meja ini teralihkan ke buku menu. Untung saja itu bertahan lama, mereka tidak mengolokku lagi. Sampai makanan tiba pun, pikiran mereka tetap teralihkan. Namun, aku sangat benci mereka. Karena… mereka mengacuhkanku. Tidak menganggapku ada, tidak mengajakku dalam pembicaraan.

Aku… kesepian. Kutolehkan kepalaku ke arah Ozayn, dan… dia tersenyum. Jantungku kembali berdebar. Senyuman itu membuatku merasa nyaman. Aroma novel baru yang ada di dalam tubuhnya membuatku tenang. Kubalas senyumannya. Ingin sekali aku menggenggam tangannya. Tetapi, tidak! Aku harus menahan diri. Kutolehkan kembali kepalaku ke arah flocksku. Namun itu adalah tindakan yang bodoh. Aku makin kesepian saat melihat semua adegan itu. Semua adegan mesra terselubung mereka. Perasaan dengki, diacuhkan, dianggap tidak ada, marah, dan kesendirian menyelimutiku.

Adam menyiram Ratatouille Sid dengan saus landanoil. Sid memasukkan beberapa gula, cream dan sweet mocca ke dalam gelas kopi Adam. And membukakan Vick kepiting dengan penjepit. Vick menyendok keluar daging kerang dan menaruhnya di atas piring And. Bagas mengolesi roti bakar Revie dengan selai es krim. Revie memotong pinggiran roti bakar karena dia tahu Bagas tidak suka pinggiran roti. Tivo menuang sampanye ke dalam gelas Peter. Dan Peter menyisihkan sayur-sayuran yang Tivo tidak suka dari dalam makanan Tivo. Sedangkan aku—tertawa miris—tidak ada yang melakukan sesuatu yang manis untukku. Aku benar-benar merasa sendiri sekarang. Aku ingin pergi ke Bulan, orang bumi jahat semua!

Aku baru saja ingin bangkit dan beralasan ingin pergi ke toilet, aku tidak tahan lagi ada di sini. Namun niatku urung saat melihat Ozayn memeras jeruk nipis ke dalam minuman sodaku. Aku mengernyit, soda, jeruk nipis. Itu adalah kombinasi minuman yang kusuka. Bagaimana dia bisa tahu? Aku menoleh cepat ke arahnya, dia menoleh ke arahku, kikuk. “Euh—kamu suka kan kalo minuman soda dicampur sama jeruk nipis?” tanyanya hati-hati. Aku tertegun beberapa detik, ingin sekali aku bertanya, dia tahu dari mana. Tetapi aku mengurungkan niatku. Alih-alih bertanya, aku menarik serbet yang ada di depan tangannya.

Kutaruh serbet itu di atas pahanya. Ozayn bergerak agak gelisah. Kudongakkan kepalaku dan tersenyum tepat di bawah dagunya yang agak lancip. “Biar pas lo makan nanti, celana lo nggak kotor kena percikkan makanan.” Bagai matahari merekah di pagi hari, dia tersenyum. Untuk beberapa detik, aku menahan posisiku. Ingin melihat senyuman itu dari dekat. Dan, demi apapun di dunia ini, senyumannya terlihat sangat indah. Menawan. Memukau. Seseorang berdeham, aku langsung memundurkan kepalaku menjauh. Aku mengalihkan tatapanku ke flocksku lagi. Mereka menatapku dengan alis terangkat, heran. “What?” tanyaku, Revie mode on. Mereka hanya mengedikkan bahu dan kembali sibuk bicara.

“Makasih buat serbetnya,” bisik Ozayn di sebelahku. Aku tersenyum.

Sepuluh menit di dalam kesendirian membuatku risih. Beberapa kali aku mengajak flocksku bicara, namun mereka langsung mengacuhkanku lagi dan lagi. Lenka, please, sing me a happy song! Oke, aku akan kembali mengajak mereka bicara. “Hey, guys!” panggilku. Mereka langsung menoleh serempak. “Kalian lihat cowok manly yang ada di sana nggak?” Mereka mengangguk. “Pasti gay deh.” Mereka menaikkan alis. “Lihat aja gerakkan tangannya. Kelihatan kok.” Mereka melihat, cowok itu bergerak perlahan—ngondek terdeteksi. “See? Yang namanya gay, mau sejantan apapun, tetap aja… cucok.”

Mereka tertawa sebentar, kemudian mengacuhkanku lagi. It hurts! Aku benar-benar dianggap tidak ada di sini. Mereka semua sibuk bicara dengan pasangan mereka masing-masing. Sid dan Adam seperti sedang berdebat akan sesuatu, namun sambil melempar senyum. And dan Vick sedang tertawa-tawa akan sesuatu yang lucu di iPhone mereka masing-masing. Revie sedang melakukan percobaan dengan rambut Bagas, dia buat rambut pacarnya bengkok sana bengkok sini. Sedangkan Tivo dan Peter sedang membicarakan perihal tempat yang akan mereka kunjungi saat tahun baru nanti.

Aku. Sungguh. Tidak. Tahan. Lagi. “Hey, guys!” panggilku untuk kesekian kalinya, sampai aku juga bosan mendengarnya malam ini. “Gue keluar dulu ya. Pengen ngerokok. Di sini kan dilarang buat ngerokok.” Mereka mengangguk serempak, tanpa menoleh ke arahku. Lekas, aku langsung bangkit dan beranjak menjauh dari mereka dengan langkah panjang. Kukeluarkan kotak rokok Marlboro Lights ku dan menyulutnya cepat meskipun aku masih ada di dalam restoran ini. Otakku benar-benar lelah dan aku sangat marah pada dunia!

Aku duduk berselonjor kaki di pinggiran tempat parkir, membiarkan angin malam menghembuskan rambut yang sengaja kusemir pirang. Kujepit rokokku di antara lipatan bibirku, menghisap dalam-dalam asapnya, kemudian menghembuskannya ke udara. Membuat semacam gumpalan putih meliuk di terpaan angin. Ini adalah malam kedua yang paling buruk yang pernah terjadi di hidupku. Aku benar-benar merasa hampa. Seperti tidak ada satu orang pun yang peduli akan keadaanku.

“Zav,” sapa seseorang, aku menengadahkan kepala dan melihat Ozayn di hadapanku. Rambutnya yang bergaya spike itu melayang-layang karena angin. Membuatnya seperti Ether, dewa udara. “Aku cariin ternyata ada di sini.” Suaranya masih agak gugup, tetapi aku tahu dia mencoba nyaman jika sedang bicara denganku. “Aku boleh duduk di sebelah kamu?” tanyanya takut-takut, dia melirik mataku laun, mencari sesuatu di pupilku. Aku tersenyum kecil, menggeser dudukku sedikit agar dia bisa duduk di sebelahku.

“Rokok?” tanyaku, kusodorkan kotak rokokku ke arahnya. Dia terlihat ragu-ragu. Aku tahu dia tidak merokok. Entah bagaimana aku tahu, pokoknya aku hanya tahu. Ozayn menarik satu batang rokok dari dalam kotak Marloboro Lights ku. Kukeluarkan lighterku dari dalam saku kemejaku dan menyulut rokoknya. Ujung rokok itu menyala, berwarna merah api. Ozayn menghisapnya sedikit, dan tak lama kemudian dia terbatuk. Aku terkekeh, sudah kuduga. “Kalo nggak bisa ngerokok, jangan ngerokok!”

Tetapi Ozayn tetap menghisap rokok itu, kali ini batuknya agak berkurang. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya, dia masih sibuk menyeimbangkan cara menghisap dan menghembuskan asap rokok yang dia hirup ke dalam mulutnya. Kuinjak rokokku yang telah habis. Kukeluarkan satu batang lagi, hanya rokok yang bisa membuatku tenang saat ini. Aku baru saja ingin mengeluarkan lighterku ketika aku ingat kalau aku sedang dalam permainanku. Aku menoleh ke arah Ozayn. Dia masih sibuk berkonsentrasi dengan rokoknya. Kumajukan kepalaku ke dekatnya, dia tersentak dan bergeming. Aku kembali tersenyum. Kudekatkan ujung rokokku di rokoknya. Kuhisap dalam-dalam agar rokokku bisa terbakar ujungnya.

“Lagi nenangin pikiran,” jawabku akhirnya, kugunakan nada menggodaku. Mataku bertemu dengan—shit!—aku sungguh-sungguh suka matanya. Mataku berpindah arah ke bibirnya. Bibir itu agak terkuak, basah. Dari bentuk bibir itu aku tahu, aku sangat tahu artinya. “Lo nggak pernah ciuman ya sebelumnya?” tanyaku, melihat dalam-dalam bibir itu. Pantas saja bibir itu merusak batin binalku.

“I—Iya,” gagapnya pangling. Aku sungguh tidak bisa menahan seringaian lebarku.

Bibir perawan. “I like virgin lips,” ucapku. Bibirku sudah tidak tahan lagi untuk segera menciumnya. Aku tidak tahu dia gay apa bukan, tetapi ini yang kutahu; dia akan menyukai—bahkan tidak akan melupakan—cara aku menciumnya. Kutarik rokok yang ada di sela-sela bibirnya, bersamaan dengan rokokku, kumatikan rokok itu dengan ujung sepatuku. “Ikut gue!” tuturku, kuberikan Ozayn sebuah senyuman menawan.

“Kemana?” tanyanya, dahinya berkerut. Aku hanya menyeringai kecil, oh, bara-bara-bere-bere, help me to control myself! Kutarik lengan bajunya dan kubawa dia ke arah mobilku. Ozayn hanya terdiam dan terus mengikutiku sampai aku sampai di depan mobilku. Kulepaskan tanganku yang tersampir di lengan bajunya. Kutekan tombol open dan no alarm di kunci mobilku. Dengan sekali sentak, aku membuka pintu penumpang di bangku depan lebar-lebar. Aku berbalik ke arah Ozayn dengan wajah mempesona.

“Ayo, masuk!” perintahku, agak tegas. Setengah memaksa mungkin. Tetapi, IDC, I want him! NOW! Agak bimbang Ozayn menatapku, namun akhirnya dia menuruti apa yang kuperintahkan kepadanya. Dia masuk ke dalam mobilku dengan luwes. Aku tersenyum, kulirik area parkiran yang lumayan sepi. “Tekenin pedal yang ada di kanan kursinya, mundurin sedikit kursinya, supaya gue bisa muat buat masuk!” Ozayn makin bingung, tetapi dia dengan patuh langsung melakukan apa yang kusuruh. Setelah kursi benar-benar mundur, aku masuk ke dalam. Ozayn menegang kaget saat aku duduk di atas pangkuannya. Kami berhadapan, bisa kurasakan pahanya yang kokoh dan liat di bawah tekanan bokongku.

♫Now playing: Icona Pop – I Love It.

“Gue bakalan ngajarin lo cara ciuman, lo mau kan!” Itu bukan pertanyaan, aku menyatakan pernyataan selugas mungkin. “Peratruran pertama saat berciuman: jangan kaku! Kedua: jangan ditutup terus bibirnya! Ketiga: biarin lidah kita saling menyatu. Keempat: hindari sindrom mesin cuci, arti harafiahnya, saat lidah kita ketemu, jangan saling ngait-mengait! Kelima: nikmati ciumannya!” Ozayn menahan nafasnya saat aku mendekatkan bibirku ke bibirnya. Seperti lagu Angels, mengalun dan mengalir, seperti itulah saat aku mendaratkan bibirku di bibirnya. Manis! Itu kesan pertama yang kudapatkan. Kutaruh kedua tanganku di pipinya, menekan bibirku lama-lama di bibirnya. Ozayn mengerang, sedikit demi sedikit dia mulai membuka mulutnya, mengucapkan selamat datang kepada lidahku saat bertemu dengan lidahnya yang beraroma jeruk nipis dan rokok. Paduan aroma yang menyejukkan. Mama Gaga, I love you so many-much-a lot! Kalau tadi aku ada bilang aku benci kamu Mama Gaga, anggap saja aku lagi khilaf! Kan manusia punya masa khilafnya masing-masing!

Aku tersentak saat Ozayn menjilat lidahku. Dia membalas ciumanku! Tangannya memeluk kencang pinggangku. Bisa kurasakan ada yang mengeras di balik celananya. Aku tersenyum sambil terus menciumnya. Kubuka mataku, menghentikan ciuman. “Gue udah pernah bilang belum kalo gue suka mata lo?” tanyaku serak. Ozayn membuka matanya dan mengangguk. “Kalo gitu, gue mau kita ciuman sambil saling tatap!” Kulumat kembali bibir Ozayn, dan dia langsung menyeruakkan lidahnya ke dalam mulutku. Matanya tertumbuk dengan mataku. Dan aku serasa tenggelam di dalam pupilnya, di dalam dirinya.

Kumasukkan tanganku ke dalam kausnya. Merasakan detak jantungnya yang menderu kencang, merasakan gumpalan daging keras dada bidangnya dan pundak lebarnya yang seakan-akan memberitahuku, kalau aku bisa tidur di pundak itu kapanpun aku mau. Ozayn makin kencang memeluk pinggangku, mata kami yang saling tatap seperti ini memang sungguh-sungguh—oh, sindrom mesin cuci sungguh terjadi! Ini buruk! Karena aku akan kehilangan kontrol jika sudah mengalami hal ini. Lidah kami yang saling menjilat seperti ini—asshole! Whatever! Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya! Ahhh!!!

–Aselole, bitch! Bersambung yak!–

Makasih buat yg masih nunggu, jadi, apakah kalian masih hidup? Wahh, New Day chapter 4 akan muncul kalau kalian mengomentari isi cerita ini. Gue akan mengepostnya jika menemukan komen yg nggak OOT.

Yeah, jadi, apakah kalian rindu sama gue? Kalau nggak, awas lo, gue kutuk jadi batu berbentuk homo. Hihihihi…

Oke… gue mau minta maaf kalau updatenya lama ya, maaf bgt. Taulah, gue kan sibuk. Sibuk apaan? Hanya Tuhan yang tahu, gue aja nggak tau sibuk apaan. Buat kalian, please, jangan mencerca gue ya karena updateannya telat…

532021

12e2e4d0-9670-11e3-a2ee-894a18bd85ab_469448029

BeKLSv6CUAEgqbC

Dadadadadadadahhhhhh!!!!! See you di post selanjutnya. Ciwikeke, muaaccchhhh!!!!

NB. Jangan lupa vote ya😛

Weather Series Vote

81 thoughts on “New Day (3)

  1. Hoo. . Makin tersemsem ajd sama nih kopel . . :3
    Zavan. . . Zavan. . . Zavan. . .kapan mw sadar? Cinta ada di depan mata(?)
    Ini comment pertama.ku di sini >.<
    I like you so much *ralat* Ozayn :p

  2. Saya udah lama jadi pembaca cerpen2 dan serial weather series..baru kali ini kasih komen.

    Rendi..u r a good writer. Salut..karena kamu udah berhasil menyeret semua pembaca yang mampir ke blog kamu berasa terbawa ke dalam suasana kisah yang kamu bikin. Seandainya kamu seorang juru masak, aku bisa merasakan bermacam rasa ada dalam masakanmu manis, asem, asin, gurih, pahit, pedes…he he..

    Kamu juga cukup sukses bikin para readers, termasuk saya terbuai dengan karakter baik secara fisik atau sifat dari para tokoh yang ada di dalam tulisan kamu seolah mereka memang beneran ada di dunia nyata. Hal ini bisa terjadi karena gaya bahasa dan tulisan kamu yang komunikatif dan santai meski sangat blak-blakan. Tapi mungkin inilah gaya menulis seorang Rendi.

    Aku acungin jempol buat Rendi yang sangat pintar dan kreatif bikin tulisan2 yang udah sukses bikin saya deg2an, goosebump, cekikikan sendirian di kamar dan kadang2 make me feel blue…Kamu udah bisa disamain dalam hal penulisan, dengan penulis luar negeri yang rata-rata so creative.

    New day chapter 4 nya akan saya tunggu meskipun seperti mengharap hujan turun di musim kemarau arti harafiahnya jangan lama-lama diikuburnya loh Ren! Ntar kami para readers loyal karya2mu jadi arwah penasaran saking lamanya nunggu kelanjutannya hi..hi.. #horror.com

    Moga2 kalo Rendi nanti nerbitkan buku sendiri bisa jadi best seller yach!

    Okey…succes for you always. Peace!

  3. Tau gag aku baca ini story, jadi keinget kasus pelecehan seksual di JIS. Argh…… i’m image bad thing. No!!! But-but, i rather like “story”. I feel regret if its be my hobbies read something like this. Apa aku termasuk ‘buruk’? Aku tidak tahu harus apa? maksudku, i feel insecure. There many people judging bad. Aku takut dan ini buruk, karena aku terpengaruh. Aku berpikir homo or lesbi bukan orang jahat. why they so many people hate them? I mean, yah- yah… mereka hidup like human other. feeling love. but, none undderstand. itu pilihan mereka masing2. I just dont understand.

  4. aarghh.zavan gua nge fans sama luuu… haha suka banget baca cerita yang ada karakter zavan nya.keren! kaka cepet dilanjut dong.udah lama aku nunggu kelanjutan nya

  5. Kak mana nih chapter 4 ea ka???
    Eh ka ku dah baca
    overcast day
    rainy day
    stromy day
    aku baru sempet nih komen buat judul2 yg tadi.
    Semuanya bagus and romantis.
    Maaf kak br sekarang coment ea…!!!
    Hehe
    ku tunggu ea ka chapter 4 ea kak !!!

  6. GIVE ME NEXT CHAP FOR THIS STORY, PLEEEEEASEEEE!!! BIAR GUA TENANG, GA PENASARAN MULU! SENENG BANGET BIKIN GUA GENTAYANGAN!!

  7. Rendy , ceritanya belom di update ya ?? Ayooo dongg ren update , udah 3 bulan lebih loh , lo nggak update cerita . Ayo dong ren jangan buat gua mati penasaran

  8. bang lanjutin yaa new day nyaaa🙂 aku pembaca baru nih, dan aku suka banget sama weather series, ,,, ga lengkap rasanya kalau new day blum lanjut . . . semangat buat pekerjaan “dunia nyata” kalian, tapi kalau sempat tolong dilanjutin yaaa new day nya kkkkkkkkk

  9. Mana chap selanjutnya ? :3 #FujoModeOn :v
    Gua baru nemu n baca ni epep or sumthing like that kemaren :3 Dan gua suka banget:3
    Tpi mungkin krisar/? dari gua. Kalo siapa gitu mau ngomong dengan suara lembut atau biasa gitu, bagusnya kagak usah dikasih tanda seru. Jadi kesannya gimana gitu. Mungkin kata2nya juga agak berantakan :3 *nubi sok tau* :3
    Okeh, cuman itu. Dan gua harap lu bisa lanjutin cepet. Kalo kagak, gua sikat lu /eh/ *dibom pens renfeb :3 *

  10. Cerita yg dibikin sama rendi febrian ini selalu berhasil membawa suasana yg dalam cerita kalo dibayangin. Terbaik lah(y)
    Tapi, lama banget updatenya:'(
    Penasaran sama kelanjutannya. Mungkin, teman flocks mereka mergoki si Zavan sama Ozayn lagi ciuman dalam mobil kali. Karna mereka berdua dicariin nggak ketemu2😅
    Ditunggu ya updatenya. Tapi jangan lama2 :v
    Rendifebrian memang yang terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s