Rayan dan Fauzan (10)


“Lagu ini gue persembahin buat cowok gue tercinta, Fauzan.” Ucap Angel di atas panggung, gitar sudah Angel pangku, jemarinya sudah siap memetik senar gitar tersebut.

Sesuatu dari dalam diri Fauzan tertawa hebat, rasa benci yang membumbung tinggi kini seperti telah menanjak dan segala hal yang Fauzan tunggu-tunggu seakan-akan berada di pelupuk matanya, sebentar lagi dendamnya akan terbalaskan.

Dengan wajah datar Rayan menatapnya, menatap Fauzan yang menyeringai tajam ke arah Angel yang sedang asik melantunkan lagu Made in USA dengan gitarnya. Bagi Rayan malam perpisahan ini adalah malam yang buruk, karena fakta menyentaknya, sebesar apapun cintanya kepada Fauzan, posisinya tetap tersamarkan, Rayan hanya menguasai Fauzan jika diri mereka berada di balik siluet, tidak untuk di depan umum seperti sekarang ini. Jika dalam keadaan seperti ini Rayan hanyalah sahabat Fauazn.

“Lo seneng banget ya dinyanyiin di atas panggung sama Angel?” tanya Rayan masih terpaku ke atas panggung menatap Angel. Cepat-cepat Fauzan menyikut perut Rayan yang keras. Rayan mengaduh kesal, tetapi cepat-cepat Rayan bungkam. “Ribuan orang boleh muja gue, tapi gue tetap muja lo Ray.” tegas Fauzan dengan ekspresi yang sungguh-sungguh di sela-sela suara Angel yang menggema serta hiruk pikuk di dalam ruang aula ini yang mampu membuat Rayan terperangah, sebentar saja, ekspresi takjub Rayan berubah menjadi senyum yang tulus, setulus cinta mereka.

Saat ruang aula bergema dengan tepukan tangan Fauzan menelusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Rayan, meneguhkan apa yang baru saja Fauzan katakan kepada Rayan. “Cuma lo Ray, cuma lo,” bisik Fauzan mantap di dekat mata Rayan. Rayan baru menyadari, sekarang tinggi tubuh Fauzan bisa dikatakan jauh lebih tinggi dari Rayan.

Fauzan buru-buru menarik Rayan keluar dari gedung aula sekolah mereka, membiarkan Angel yang telah turun dari panggung dan sedang memutar pandangannya mencari Fauzan. “Lo nggak nunggu Angel?” tanya Rayan bodoh di sela-sela kegiatan mereka menelusup barisan para siswa yang bejubel di dekat pintu keluar aula sekolah.

“Kan gue udah bilang, cuma elo,” kata Fauzan ambigu, namun dengan amat baik Rayan mengerti apa yang Fauzan katakan, hati Rayan membuncah hebat malam ini, segala aura buruk malam ini berganti menjadi pelangi malam hari. Rayan menyadari, serahasia apapun hubungan baru mereka ini, umpama telah berganti, ya berganti. Bukan lagi sahabat namun kekasih, klasik namun nyata adanya.

Rayan mentap punggung Fauzan yang berjalan di depannya, I love you Ojan. rapal Rayan dalam hati.

***

Semilir angin malam minggu merusak tatanan rambut Fauzan tapi tidak dengan hatinya, rasa dendam dalam hati Fauzan menguap seketika, digantikan rasa bahagia yang seakan-akan enggan pergi dari dalam hatinya, semua itu karena Rayan yang berdiri di sampingnya, menikmati pemandangan malam hari dari atap sekolah mereka.

Terbersit dalam benak Fauzan, akan susahnya keadaan yang akan mereka alami nantinya, memang masih nanti, namun hal itu pasti terjadi, karena Fauzan tidak ingin dikalahkan dunia, merelakan cintanya pergi hanya karena norma.

Remasan Rayan di jarinya membuat Fauzan tersadar dari lamunanya akan masa depan. “Gue kan tetap genggam tangan lo kayak gini, apapu yang nanti akan terjadi.” tutur Rayan masygul. Fauzan tersentak, ia tidak menyangka Rayan tahu apa yang sedang bergumul dalam hati dan fikirannya.

“Gue percaya sama lo,” balas Fauzan, seiring itu genggaman tangan mereka ikut menguat, seakan meneguhkan kepada dunia, mereka tidak akan kalah apa lagi takut akan ancaman dunia terhadap cinta mereka.

Angin mendesau syahdu, membuat Rayan dan Fauzan memejamkan matanya, menerima angin yang terus menerus mengobarkan cinta mereka. Suara derap kaki yang bergeser membuat Fauzan membuka matanya. Rayan kini menatap Fauzan intens, membuat jantung Fauzan kalap, berdetak cepat dan tidak beraturan, sekejap saja syahwat bangkit di sela-sela heningnya malam, membuat malam yang sejuk serasa terterpa angin musim panas yang hangat.

Alis Rayan yang tegas, tatapan mata Rayan yang juga tegas, lalu rahang Rayan yang tinggi dan dagunya yang sedikit runcing, kumis tipis di atas bibir Rayan yang seksi, jakun dan leher kokoh Rayan, segala hal tentang Rayan serasa menghunus hati Fauzan, menghasilkan getaran yang baik yang membuat cinta Fauzan semakin menguat.

Dada bidang Rayan dibalik kemeja birunya tersebut tidak mampu menutupi degub jantung Rayan yang sama-sama cepat berpacu dengan waktu sama seperti Fauzan, mereka sekarang sedang termakan cinta, saling tatap tanpa kata namun penuh makna, siapapu yang jatuh cinta dan saling tatap seperti sekarang ini pasti merasakan bagaimana sesaknya dada namun ringan segalanya, seakan angin mampu menerbangkan dua insan ini ke langit para dewa.

Tidak ada kata, yang ada hanya cinta yang sedang berdegub gila. “Lo ganteng banget malam ini Zan,” puji Rayan yang sukses membuat Fauzan menekuk bibirnya menjadi senyum yang paling sempurna, senyum insan yang sedang dilenakan cinta.

“Lo, lo lebih memukau ketimbang bulan purnama” tutur Fauzan seakan seorang pujangga.

Rayan terkekeh kecil mendengar ucapan Fauzan. Hanya sebentar, karena sekarang Rayan tercekat keadaan. Fauzan meraih pinggang Rayan, mencengkramnya dengan cara terlantun yang pernah Rayan rasakan dalam hubungan percintaanya, seakan segala hal yang Fauzan lakukan terhadap Rayan adalah hal terbaik yang pernah Rayan dapati dari seorang kekasih.

Lalu kembali hening, seakan-akan Rayan dan Fauzan mempersilakan angin membisikan kata-kata cinta kepada mereka berdua. Ya, hanya mereka berdua saja.

Rayan mengalungkan tangannya ke leher Fauzan, lalu menarik pelan tubuh Fauzan ke dalam pelukannya yang nyaman. Kini mereka bisa merasakan bagaimana jantung masing-masing yang berdebar dimakan cinta.

Rayan bisa merasakan wangi Cinnamon yang menguar lantun dari telungkuk Fauzan, wangi segar Jeruk dan creamy nya susu. Wangi yang seakan-akan memenjarakan Rayan dalam pelukannya sendiri.

Rayan sukses menggelijang saat kecupan kecil di telungkuknya ia terima dari Fauzan. Rayan menarik pelan rambut Fauzan membuat kecupan Fauzan yang baru saja ingin naik ke dagu Rayan terhenti seketika. Mata mereka saling bersirobok namun tanpa aba-aba lagi Rayan mengecup lembut bibir Fauzan, menggesekkan hidungnya ke hidung mancung tegak milik Fauzan, membiarkan desiran gila yang sedang ia rasakan merajalela.

Lidah Fauzan menelusup bak penyamun, mengoyak tirani dan menimbulkan rasa geli yang membuat tagih. Dengan lantun Rayan mengamit lidah Fauzan yang berada di dalam bibirnya, menarik dan menghisap pelan bibir Fauzan hingga lidah Fauzan terlepas dari bibir Rayan. Sebelum Fauzan kembali beraksi Rayan memburu bibir bawah Fauzan, menyesapnya, menuai rasa manis yang disajikan cinta melalui bibir Fauzan, tidak ada rasa lain kecuali rasa manis yang mereka kecap sekarang ini.

Rayan baru menyadari bukan hanya bibir mereka saja yang larut dalam buaian cinta, tetapi tangan mereka yang sedang mengelus satu sama lain tanpa sadar. Menyeruakan rasa nyaman yang tiada henti.

Hingga Rayan merasakan segala kebahagiaan ini tidak lagi mampu hatinya tampung, ciuman mereka yang semakin membara, saling memaggut dan tidak ada yang mau mengalah sama sekali, Rayan dan Fauzan seakan-akan ingin membuktikan sebesar apa cinta mereka masing-masing satu sama lainnya.

“Ray, Zan.” suara lirih menghentikan cinta mereka.

“Syifa?”

 


 

YEAY!

halooooo manusia khilaf, mana suaranya? hahahaha

udah puaskan sama updatean gue kali ini? harusnya puas lho, gue ngetik ini sebulan, banyangin! sebulan! jadi kalian mau nggak mau harus puas, hahaha….

Uwuwuwuwu, gue makin sukak sama Rayan dan Fauzan, sudah jelas sekarang mau dibawa ke mana hubungan kita eh ceritanya, sebentar lagi drama dimulai, awas yaa pada caci maki gue, gue nggak akan lanjut *emot miley cyrus diperkosa IrfandiRahman. tsah!*

Sebentar lagi negara api menyerang, tsah! siap-siap ambil senjata dan kuatkan hati kalian, karena gue akan melebay dan membuat para manusia khilaf seperti kalian menjadi melankolis *Gue pede Banget yee! namanya juga anak alay hahaha*

sudah-sudah, mudah-mudahan kalian puas sama kata-kata pujangga lapuk yang gue sematkan.

126 thoughts on “Rayan dan Fauzan (10)

  1. gw salut banget ama penulisx , dia bisa membawa pembacax masuk dlm alur ceritax , cerita ini benar2 buat gw ga kepingin yg lain ,

  2. gw baca cerita ini seakan akan gw masuk dlm alur ceritax ,gw resapin benar alur ceritax ,gw salut ama penulisx , good lock .

  3. Ternyta msh ada pengunjungnya ya blog ini *merasa sebatang kara.
    .mungkin blm dilanjutin ceritanya. Soalx authornya pada jadi silent writer😐

  4. wkwk akhirnya mereka ngelanggar friendzone mereka,, huhu yesss duh syifaa gimana nasibmu,, coba normalkan aku yg masih denial ini 😂😂😂

  5. Pliss lanjutin dong!!😭
    Sudah New Day belum ada sambungan yg chapter 4, cerita Rayan dan Fauzan ini lagi yang nda ada lanjutannya😭
    Yaudah lah. Doain yg terbaik aja, semoga masih bisa lanjutin cerita New Day-nya sama Rayan dan Fauzan-nya ya
    Keren banget cerita2 disini. Big love😍😘

  6. Nah loh .. Shifa jadi broken heart tuh .

    Gw kok ngehayal jika ad di dunia nyata , sosok rayan gw gambar kan kyak akun IG nya @reymbyang coba deh check di IG masing2. persis , bisa main musik , nyanyi , & jangkung. Cuma di cerita ini kan sosok rayhan berkulit legam . tpi sosok @reymbyang putih .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s