CATATAN KECIL WULAN


CATATAN KECIL WULAN

 

Mana yang akan kamu pilih: dia yang kamu cintai atau dia yang kamu butuhkan?

 

*

 

Aku Wulan, umurku duapuluh tiga tahun dan aku perempuan yang dijuluki si ambigu.

Dan ini, catatan kecilku.

Jika kalian bertanya balik kepadaku tentang hal yang kutanyakan kepada kalian, maka aku akan menjawab : Aku pilih, dia yang aku butuhkan.

Binar lampu yang cemerlang menerpa wajahnya, senyum yang amat kukenal tersungging di wajahnya yang lamat tersimpan dan mengendap sempurna di dalam hatiku.

“Jika kamu masih ingin menanyakan tentang alasanku, maka tanyalah kepada jarum jam yang berdetik menggeser waktu. Niscaya kamu akan menemukan alasan yang selama ini enggan aku ucapkan,” bisiknya syahdu di ujung telingaku.

Aku bergidik mendengarnya, bukan karena kata-kata yang ia tuturkan terdengar buruk ataupun menakutkan. Tetapi karena aku telah menemukan alasan yang selalu kutanyakan kepadanya namun enggan ia jawab sampai sekarang. Waktu yang memberitahuku tentang alasan yang kupertanyakan selama ini atas hatinya. Hatinya yang selalu merapal nama tiap detiknya, yaitu aku. Wulan.

“Tak perlu sama sekali, karena kini, telah kutemukan alasan yang sedari dulu kupertanyakan. Kamu membutuhkanku layaknya ikan yang selalu membutuhkan air?” rapalku gugup termakan rasa bahagia yang melimpah.

Ia mengangguk mantap. Senyum kembali terlihat di wajahnya yang memesona. Garis rahangnya yang kokoh dan tatapannya yang tegas seakan-akan membuatku dejavu. Aku tidak akan pernah mencoba mengulangi hal bodohku di lampau itu.

“Tetapi aku tidak begitu,” jawabku dengan senyum yang jauh lebih lebar darinya.

Ia terkesiap dan diam termakan jeda.

“Aku, membutuhkanmu layaknya paru-paru yang membutuhkan oksigen,” sambarku sebelum ia kehilangan kebahagiaan.

“Aku sangat mencintaimu,” tuturnya penuh ketulusan. Setidaknya itu yang aku rasakan dan aku yakini.

“Aku membutuhkanmu. Dulu, kini, sampai di hari di mana rambutku memutih,” tegasku penuh percaya diri.

Ia kembali tersenyum lebar. Senyum yang mampu membuatku mencelos, terperosok ke dalam lubang kebahagiaan yang tak memiliki dasar. Tatapan tegasnya menerobos mataku, lalu menguarkan seluruh rasa bahagia yang ada di dalam hatiku. Membuat rasa bahagia itu kini berdigjaya seiring waktu yang digeser oleh detik yang bergerak.

Kugenggam erat tangannya yang terasa hangat dengan mantap. Tuhan, dengarkan janji kami sekian puluh detik yang lalu. Maka satu pintaku di hari pernikahanku ini, jadikan aku istri dan Ibu dari anak-anaknya kelak yang selalu ia cintai. rapalku di dalam hati yang disesaki jutaan kebahagiaan.

 

 

Perempuan manapun selalu ingin membuat perempuan lain mentapnya iri, pula berlaku kepadaku. Aku ingin mereka (perempuan) iri kepadaku, bukan karena aku memiliki seorang kekasih yang tampan seperti para dewa. Tetapi karena aku satu-satunya perempuan di antara beratus-ratus perempuan di sekelilingku yang diperlakukan seolah-olah aku adalah sang dewi. Walaupun aku adalah perempuan biasa yang dicintai oleh seorang pria yang sungguh luar biasa.

Itulah aku, Wulan.

*

Kuhentakan kakiku secara berlebihan, semata-mata hal itu kulakukan untuk memberitahukan dunia, bahwa aku sedang dirundung kekesalan. Bagimana tidak, jika pria yang aku cinta malah biasa-biasa saja menghadapi seorang perempuan yang sebenarnya jelas kentara menyimpan rasa terhadapnya. Dan hal itu terjadi di depan mataku. Kekasihnya.

Jelas aku cemburu. Ralat! Berhak cemburu! Karena aku adalah kekasihnya dan siapa saja tak berhak mengusiknya dariku. Tetapi, harapan hanyalah harapan. Aku berharap seperti seorang anak kecil di Palestina yang berkeinginan hidup dalam ketenangan.

“Wulan?! Tunggu!” cegahnya sambil memegangi pergelangan tanganku.

Aku memutar bola mata, sembari menarik kasar tanganku dari genggamannya.

“Apa lagi sih?” tanyaku sinis.

“Kamu kayak anak kecil banget sih, kalo ngambek maunya langsung pergi. Nggak bisa ya kamu dewasa di umur kamu yang matang?” serobotnya. Memutar balikan fakta sehingga sekarang akulah sosok yang bersalah dari masalah yang mendera kami.

“Loh? Kok aku yang kamu bilang kayak anak kecil?” kataku tak terima.

“Ya, karena kamu emang kayak anak kecil!” tambahnya lagi. Sontak aku merenggut dan berkeluh lirih.

“Tanya sama diri kamu sendiri. Kalo kamu menganggap diri kamu itu pria dewasa sedewasa usia kamu, harusnya kamu bisa tahu. Membuat pacar cemburu itu hal dewasa apa nggak?” jelasku tak sabar. Aku memang dikenal egois. Tetapi yang mengataiku egois adalah mereka yang benar-benar suka menghakimi.

“Oh, kamu cemburu sama Camelia?” selorohnya seakan-akan aku tadi mengatakan hal yang penuh gurauan.

Memoriku memutar ulang kejadian beberapa menit yang lalu. Pelupuk mataku bagaikan sebuah Proyektor yang menampilkan semua adegan sok mesra seorang Camelia—perempuan genit berbehel—dengan Makka pacarku yang tak kalah murahannya, karena Makka membiarkan perempuan gatel itu bermanja-manja di bahunya yang hanya pas untuk aku seorang.

“Pria dewasa adalah pria yang membuat ratusan perempuan iri terhadap pasangan si pria. Bukan malah sebaliknya,” tegasku tak sabaran sambil melangkah lagi.

“Drama ah,” jawabnya enteng. Seakan-akan aku adalah seorang perempuan pengharap roman picisan.

“Eh! Berhenti dong, kita kan mau kencan.”

Phu-lease! Nggak usah ber-drama Queen. Mr. Makka!” sentakku sambil berlalu dan mencegat taksi yang kosong dan kebetulan berlalu di hadapanku.

*

“Berhenti nangis, lo nggak sama sekali cantik kalo lagi nangis,” seloroh pria paling sabar di dunia ini kepadaku.

“Gue kesel aja. Udah tahu gue sama dia mau jalan tapi pas gue izin bentaran mau ke kamar kecil buat pipis. Eh! Pas gue balik lagi, dia cekikikan sambil ngebiarin si Camel onta itu manja-manjaan di bahunya, Makka!”

Aku melempar batu segenggaman tanganku jauh ke tengah danau. Membuat air yang tenang menjadi sedikit bergelombang. Saat air kembali tenang, bisa kulihat pantulan wajah kami yang begitu serasi di air danau yang memendar kecil akibat cahaya senja.

Ia menolehkan kepalanya untuk menghindari tatapanku dari air yang memantulkan bayangan tubuh kami layaknya cermin. Aku tahu mengapa ia menghindari tatapanku. Bisa kurasakan luka hatinya akibat ucapanku.

Seberapa lama lagi aku bisa menutupi perasaanku. Berlindung di dalam umpama teman dengan orang yang jelas-jelas mencintaiku. Tetapi aku… tidak mencintainya, aku mencintai Makka. Namun, aku tidak bisa menafikkan fakta. Bahwa aku: membutuhkannya. Sangat membutuhkan sosok Ardan.

Aku adalah perempuan egois yang ambigu. Hanya orang-orang yang suka menghakimilah yang menyebutku seperti itu.

“Mungkin dia emang nggak bisa berbuat apa-apa aja kali pas si Camelia, gelayutan di pundaknya,” tuturnya pelan. Ia memilin-milin jarinya. Aku tertegun. Bukan memikirkan kata-katanya tadi. Melainkan karena aku kini malah merasa termakan perasaanku yang benar-benar ambigu. Aku menyukai dua pria. Pertama, dia yang aku cintai. Kedua, dia yang selalu aku butuhkan.

“Loh, kok lo malah belain si Mak—dia sih? Bete ih!” keluhku.

Seketika dadaku bergemuruh hebat. Jantungku berdegub acak dan aku sempat berpikir pria tersabar di bumi ini akan mendengar degub jangtungku yang begitu berantakan.

“Kalo subjektif-nya sih, gue pengin banget jelek-jelekin dia. Pengin banget! Tapi, nggak ada orang yang berhak menghakimi orang lain selain Tuhan.” tuturnya mendayu setelah menarik tangannya yang besar dan hangat dari kepalaku.

“Sok bijak deh, lo!”

Aku mendengus kecil sambil menyisir rambut hitam sebahuku dengan jemari tangan. Ardan hanya tertawa dengan raut masygul sambil menyentuh air danau sesekali dengan ujung jari kakinya. Entah mengapa, aku ingin sekali memeluknya. Membisikan sebuah kata: Bersama lo, gue merasa seperti perempuan yang paling sempurna. Dijaga dan dihargai sepenuhnya. Tetapi mulutku tak bergerak sama sekali. Aku benci hatiku, mengapa aku bisa sesempurna ini membagi hatiku kepada kedua pria. Pertama Makka—pacarku. Kedua Ardan—entahlah—orang yang selalu kubutuhkan seumur hidupku.

Ardan berdahem, membuat aku sontak memandangnya. Sedetik, aku terperangah melihat senyumnya yang kuhafal di luar kepala. Senyum yang dengan nakalnya berkelebat di pelupuk mataku saat aku merasa sendiri, entah itu diheningnya malam atau di sebuah pesta yang tidak sama sekali kusuka.

“Gue sayang sama lo, dan gue nggak suka ngelihat lo ngebuang air mata lo,” tuturnya pelan menyayat hatiku. Aku merasa gadis ambigu paling jahat di dunia. Jika memang benar dunia menyediakan ribuan pilihan yang bisa dengan mudah diambil begitu saja, maka aku akan memilih Ardan lah yang menjadi cintaku, satu-satunya. Tidak seperti sekarang. Aku bahkan kalah dengan perasaanku, mencintai dua pria berbeda dalam satu hati dan waktu yang sama pula.

Kutangkap tangannya yang solid dan hangat, saat Ardan hendak menarik jemarinya sehabis menyeka air mata di pipi dan juga pangkal hidungku. Gue pun sayang sama lo, tetap di sini, temani gue sampai hati ini menepi ke hulu. jeritku dalam hati. Sejujurnya, aku benar-benar ingin mengatakan hal itu. Tetapi lagi-lagi bibirku kelu.

“Makasih.” hanya itu yang keluar dari bibirku.

Ardan mengangguk. Ia tersenyum masygul lalu kelam di wajahnya berganti dengan cahaya ketulusan dari cinta yang ia miliki. Sebegitu tulus dan sederhananya ia mencintaiku. Namun, sebegitu keji dan rumit aku menyeretnya untuk menemani perjalananku sampai ke hulu. Walau aku tidak tahu, kapan aku akan menemukan hulu itu.

“Berhenti menangisi hal konyol. Guna gue di sini sekarangkan supaya lo nggak ngelakuin hal konyol kayak ini?!” tegasnya sambil kembali menyeka air mataku yang mulai berhenti mengalir. Sapuan tangannya yang kasar khas pria seakan-akan handuk lebut bagiku. Mengeringkan air mata yang tadi dengan bodohnya kukucurkan.

“Makasih.” sekali lagi, dari jutaan kata yang bekecamuk di dalam kepalaku hanya ucapan terimakasih yang bisa aku sampaikan kepadanya. Ia hanya tersenyum menggemaskan.

Dengan bersahaja ia merebahkan tubuhnya yang tegap ke rerumputan. Tangan kanan yang ia gunakan untuk menyeka air mataku, kini ia tangkupkan di dada bidangnya.

“Matahari sebentar lagi terbenam.” selorohnya.

“Entah sampai kapan, lo bisa nemenin gue melihat senja berganti temaram,” ucapnya bagaikan sebuah pertanyaan yang ditujukan langsung kepada Tuhan.

Entah apa yang merasukiku. Tubuhku begitu saja bergerak. Dan seperti jodoh, tangan kirinya direntangkan lurus sebagai penyangga kepalaku yang kini rebah di bicepnya. “Sampai ribuan malam yang tak lagi dihiasi bintang pun sinar rembulan!” kataku tegas namun berbisik di ujung telinganya. Aroma rumput lembab dan wangi feromon dari tubuhnya membuatku kaku. Dengan kikuk kuturunkan tanganku yang tadi reflek menunjuk langit temaram.

“Terdengar mustahil, nggak?!” kataku lagi, memecah keheningan. Aku terus menunggu jawabannya, sedetik bagaikan setahun. Jangkrik dan kodok yang saling bersahutan bagaikan orkestra alam di senja kota hujan yang temaram.

Ia menolehkan kepalanya hingga hidungku yang bangir sejajar dengan hidungnya yang curam. Begitu saja, orkestra malam tenggelam oleh gegap gempita dari gedub jantungku yang berantakan. Aku tambah mematung saat nafasnya yang halus berhembus hingga menerpa ujung bibirku.

“Nggak sama sekali mustahil,” ujarnya serak. Dari sorot matanya, aku tahu ia menahan getir dari cintanya yang tak bisa kubalas. Tapi, entah mengapa aku merasa sangat sakit mendengar ia berbicara seolah-olah Ardan telah siap membiarkanku mencintai satu pria saja, dan meninggalkannya begitu saja—karena, Ardan tak pernah tahu, bahwa aku pun… mencintainya.

“Walaupun lo bilang, kebersamaan kita akan terhenti ketika bulan dan bintang nggak lagi ada di malam yang tenang. Tetapi itu nggak sama sekali memustahilkan kebersamaan kita yang akan terus begini. Selamanya.”

Bibirku menekuk manis, mencetak sebuah senyum yang paling anggun seanggun rembulan yang bersinar malu-malu di balik pekatnya awan malam. Lalu, entah siapa yang memulai. Aku membiarkan bibirku disengat rasa hangat karena pagutannya yang lebut dan santun saat menyesap bibirku secara perlahan. Dan ini pertama kalinya. Ciuman pertamaku yang harfiah.

Aku tak bisa mengatur hatiku agar memilih seorang di antara mereka. Sungguh tak bisa.

*

Kulangkahkan kakiku malas-malas. Dengan ketus keketuk pintu kos-nya. Kejadian dua minggu lalu di Mall saat aku ingin nonton bersama dengan Makka dan tanpa sengaja bertemu dengan Camel si onta jelek itu terputar jelas di ujung pelupuk mata.

“Bentar…” sahut Makka dari dalam. Aku mendecak sebal, entah mengapa hal ini—menunggu—terasa sangat menyebalkan.

“Wulan…” katanya setengah memekik. Keringat turun dari dahinya yang mulus. Bibirnya bergetar kecil dan jakunnya naik turun. Seakan-akan ia sedang duduk di kursi pesakitan.

Kodorong pintu yang setengah terbuka. Tetapi Makka menahan pintu agar aku tak bisa membukanya dan masuk begitu saja seperti biasa.

“Kenapa sih? Aku mau masuk nih. Gerah di luar,” selorohku tak sabar.

“Bentar dulu.” Ia mendorong pintunya hingga tertutup. Emosiku mencuat begitu saja. Kuputar kenop pintunya lalu kuhentakan keras-keras.

Astaga!

“Camel! Ngapain lo di kosan cowok gue?!” tanyaku dengan nada terkeji.

Perempuan itu mendelik kaget melihatku, seakan-akan aku adalah hantu.

Camel menyisir rambutnya yang panjang dengan jarinya yang sangat jelek. Wajahnya yang eksotik itu mengerenyit menjijikan. Bitch, mereka manusia paling berengsek. runtukku dalam hati.

Kamar Makka berantakan. Baju mereka pun begitu.

“Hmm… udah saatnya lo tau wahai stupid bitch!” katanya penuh ejekan. Demi apapun aku ingin mencakar wajahnya yang mirip dengan tiang listrik. Hitam menjijikan.

Camelia mendekatiku, badannya yang seksi penuh lipatan tersebut melenggak-lenggok menjijikan. Bergerak seperti Zombie. “Gue dan Makka, PACARAN!” Sentaknya penuh percaya diri. Brengsek.

Hatiku berdenyut lirih, menyeruakan rasa sedih hingga membuat nyeri sekujur tubuhku yang kurus ini. “OH! Who cares?” tantangku dengan alis yang kuangkat tinggi-tinggi. Walau sebagian dalam diriku menjerit lirih.

“Makka, selamat tinggal.” Hanya itu yang aku katakan. Kulangkahkan kakiku keluar dari kamar kosnya. Tidak kupedulikan teriakan Makka yang mencoba memberikanku penjelasan. Aku mencintainya, sungguh mencintainya. Tetapi aku tidak bisa terus menjalin hubungan dengan rasa curiga terhadapnya. Tidak akan pernah bisa.

*

“Dek, ada Ardan tuh di luar…” ucap Ibu setelah ia mengetuk pintu kamarku.

“Kamu juga belum makan dari semalam kan, Dek?” tambah Ibu dibarengi dengan ketukannya terhadap pintu kamarku.

Ardan? rapalku dalam hati. Sesegera mungkin kuangkat tubuhku dari atas kasur.

Kurapihkan ikal rambut dan ujung kausku saat hendak membuka pintu. Kutarik nafas dalam-dalam untuk menormalkan organ-oragan tubuhku. Kulirik sekilas cermin sebelum aku membuka pintu.

“Hei, udahan nangisnya?” tanya Ardan begitu saja saat aku keluar kamar. Sosoknya yang tinggi tegap, tersenyum maklum kepadaku.

“Dari mana lo tau gue abis nangis?” tanyaku ketus.

“Dari situ.” Ia menunjuk mataku. Jantungku berdegub gila, rasa nelangsa hilang seketika.

“Dan dari SMS si Makka ke gue. Dia ngomel-ngomel tuh, kalian putus dan gue dijadiin kambing hitam.” ia menyisir rambutku dengan cara terlantun. Meluruhkan rasa pilu yang membuatku pening dan susah tidur semalaman.

“Sori…” kataku lirih.

Who cares?” jawabnya seperti biasa. Dan aku suka mengutipnya.

“Cepetan mandi dan kita cabs grak ke luar. Kita hepi-hepi,” ujarnya meyakinkan. Entah mengapa aku mengangguk. Padahal sedari kemarin sore aku sangat malas. Bahkan meraup ponsel yang biasanya selalu kugenggam ke mana pun, tidak kulakukan karena rasa galau yang memenuhiku kemarin.

*

Angin malam menemani perjalanan kami menuju tempat yang Ardan tuju. Karena sampai sekarang pun Ardan enggan menjawab pertanyaanku prihal tujuan kami.

“Lo mau ke bukit yang sana, atau situ?” tanyanya sambil melepas satu tangan dari stank motornya.

“Ke mana pun lo bawa gue,” jawabku jujur. Bisa kurasakan Ardan mengangguk. Kulilitkan tanganku ke perutnya yang keras. kepalaku rebah di bahunya yang lebar. Semilir angin seakan menjadi pelengkap kenyamanan di antara ribuan rasa galau yang kuemban.

*

Bunyi jangkrik mengisi heningnya malam. Ardan hanya diam menemaniku memandang bulan. Sesaat rasa perih menyeruak begitu saja dari dalam hatiku. Aku benci hening, karena hening hanya membuat rasa pilu yang harusnya kubunuh malah bakit dan bertindak di luar kendali hatiku.

“Lo nggak mau cerita sama gue?” tanyanya mengisi kosongnya jeda dari jangkrik yang berderik.

“Makka, selingkuh…” selanjutnya kuceritakan apa-apa yang kualami kemarin sore. Dan seketika, bebanku meringan.

“Gue udah pernah bilangkan? Gue sayang sama lo, dan gue nggak suka ngelihat lo ngebuang air mata lo? Nangisin hal yang sebenarnya nggak perlu-perlu amat buat ditangisin.”

“Lo nggak ngerasain sakit di dalam sini sih!” aku menunjuk dadaku. Ardan tertegun, lalu ia menghela nafasnya.

“Lo cuman boleh nangis kalo lo ngelakuin kesalahan. Nyakitin orang yang elo sayang. Bukan, meratapi nasib yang seharusnya lo lawan!” tuturnya benar.

“Lo tau Lan? Hal-hal apa yang ngebuat gue ngerasa payah?” tanyanya. Aku menoleh cepat, menelusuri raut wajahnya yang kini sendu sepertiku.

“Membiarkan orang yang gue sayang terluka.” ia menatapku dalam-dalam. Sebegitunyakah ia mencintaiku? Aku memang bodoh! Perempuan bodoh yang salah menaruh hati. Membiarkan orang yang kubutuhkan tersakiti karena hatiku yang ambigu.

“Lo orang yang selalu gue butuhin” rapalku cepat dan pelan. Ia menatapku sekilas, bisa kulihat bibirnya tertarik mencipta sebuah senyum. Lalu ia berdiri dan melangkah ke depan. Mendekati jurang terjal yang memberikan pemandangan menakjubkan.

“Apa alasannya? Sehingga, gue jadi orang yang selalu lo butuhin?” tanyaku penasaran. Entah mengapa aku merasa penasaran. Hatiku amat menuntut, seakan-akan jawab darinya akan mampu membuat hatiku memilih keputusan yang benar.

“Lo nggak perlu tahu apa alasannya.” Ia menoleh kepadaku. Tersenyum miring dan terlihat amat memikat. Membuat duniaku yang tadi monogram menjadi berwarna.

Aku berdiri dan melangkah mendekatinya. Wajahnya yang tampan semakin jelas setelah sinar rembulan menyinarinya di malam yang kelam. “Makasih.” Aku melewati bahunya begitu saja. Entah apa yang membuatu tertarik untuk duduk di bibir jurang.

Bersamanya aku merasa aman. Hal seekstrim ini berubah menjadi begitu menyenangkan. Sebab itu ia kusebut sebagai orang yang selalu aku butuhkan.

“Luka timbul dari puluhan sebab. Dari sebab yang terkecil hingga yang benar-benar besar,” tuturnya pelan. Suaranya yang berat menggelitik telingaku. Sontak aku tersenyum. Sebentar lagi aku akan ringan. Ialah satu-satunya orang yang mengertiku dengan sebenar-benarnya.

“Tapi, luka bisa memberikan kita pengalaman untuk menghadapi masa depan. Sayangnya, tak jarang orang yang menyimpan luka di dalam palung hati terdalam. Membiarkan hidup mereka sia-sia hanya karena luka yang tak mereka coba sembuhkan.” Bibirku menekuk. Sudah kubilang, Ardan akan membuatku meringan. Dengan caranya sendiri. Sebab itu aku membutuhkannya. Selamanya.

“Cinta, nggak ada yang abadi. Yang ada, hanya bagaimana cara kita merawat dan menjaga masing-masing cinta yang kita miliki untuk terus hidup dan selalu membuat kita bahagia” katanya ambigu. “Tetapi, kalo cinta yang kita jaga itu nggak menghargai usaha kita. Apalagi yang bisa kita jaga?” aku tersenyum mendengarnya. Ia tetap pria yang mencintaiku. Ada makna di balik kata-katanya tadi. Tentang aku yang seharusnya memilih Ardan dan meninggalkan Makka.

“Tetapi, kalo cinta yang kita jaga itu nggak menghargai usaha kita. Apalagi yang bisa kita jaga?” aku mengulang kata-katanya dengan sedikit tawa. “Lalu, gimana sama lo sendiri? Lo masih berdiri di sini, setelah sekian tahun gue selalu berkelit dari cinta yang lo tawarin ke gue? Huh?” tanyaku sambil menatap lurus lelampuan yang berpendar di kejauhan.

Ardan terdiam. Aku tahu ia kehilangan kata-katanya. Sejujurnya, aku tak pernah ingin menyakitinya, sudah terlalu banyak luka yang kutorehkan di hatinya selama ini. Mungkin dengan cara menyakitinya sekarang, akan membuat Ardan menyerah dan tak lagi berharap kepadaku. Walau kutahu, aku membutuhkannya layaknya paru-paru yanng membutuhkan oksigen.

Ardan menyusulku duduk di bibir tebing. Ia masih kehilangan kata-katanya. Tetapi, aku menyesal telah menyakitinya tadi. Ada rasa takut yang kini benar-benar kusadari. Aku takut hidup tanpa sosoknya. Takut sekali.

Ia meraup tanganku, membuatku seketika bisu.

Kami saling pandang, angin malam syahdu menuntun kami menyatu. Perlahan namun pasti bisa kurasakan celah jemariku di isi jemarinya yang sangat pas di sela-sela jemariku.

“Karena, cuma tangan lo yang pas di dalam genggaman tangan gue.” Ia tersenyum masygul. Luka dari kata-kataku mungkin membuatnya masygul. Tapi aku tahu, seberapa besar cintanya terhadapku. Cinta yang selalu mengobati luka dari sumber yang sama. Yaitu: aku.

Kuremas jemarinya yang hangat. Lantun, kurebahkan kepalaku ke bahunya yang solid.

Tuhan, mengapa kau ciptakan cinta serumit ini untuk aku rasakan.

*

Dua bulan berlalu.

Aku menggerutu terus tiap detik berputar pasti.

“Ardan ke mana sih, nggak biasanya dia telat jemput gue.” Kujejalkan ponsel ke saku Cardigan-ku. Lima belas menit berlalu, aku menunggu Ardan di depan Bank—di antara ruko-ruko sempit—tempat aku bekerja sebagai Teller. Telepon yang sedaritadi kutujukan kepadanya pun tak Ardan angkat.

Cepat-cepat kuraup kembali ponsel dari dalam saku Cardigan-ku. Gatal rasanya jika belum mendapatkan kepastian apakah Ardan jadi menjemputku atau tidak. Padahal tigapuluh menit yang lalu Ardan mengirim pesan bahwa ia akan menjemputku. Tetapi, sampai sekarang batang hidungnya pun tak terlihat.

Kutelusuri riwayat obrolan kami melalui pesan singkat di ponselku. Tidak ada tanda-tanda yang membuatnya ragu menjemputku dari tiap-tiap pesan kami. Tanpa sengaja aku membuka pesan yang masuk. Dari Makka. Kuputar kedua bola mataku refleks. Makka tak pernah berhenti meminta agar aku memberikan kesempatan lagi kepadanya. Walau ribuan kali kutegaskan secara langsung maupun tidak, bahwa aku tidak mau kembali kepadanya. Tidak ada kesempatan kedua. Sudah kukatakan bukan bahwa aku tidak ingin menjalin hubungan dengan rasa was-was yang selalu menghantuiku tiap hening kurasa.

“Tau ah!” gerutuku tak tahan sambil menyetop taksi yang berjalan pelan menghampiriku. Kuturunkan tanganku lalu berjalan dan membuka mobil penumpang.

Di dalam perjalanan aku tak henti meruntuki tingkah baru Ardan yang menyebalkan.

“Stop, Pak!” pintaku. Kurogoh saku celana mengambil uang lembaran untuk membayar ongkos taksi.

Aku mematung. Makka menungguku di bibir gang menuju rumahku. Aku ingin menghindarinya, tetapi aku tidak tahu caranya. Tak lama berselang, Ardan datang dengan motor besarnya, suara motornya khas dan sudah kuhafal di luar kepala.

“Lan, sori Lan, motor gue tadi bannya bocor.” Ardan mencegahku untuk melangkah pergi menghindarinya. Dari ekor mataku, bisa kulihat Makka yang geram dan melangkah mendekati kami. Aku tahu Ardan, ia tidak pernah takut dan mempedulikan status serta keberadaan Makka sedikit pun. Ardan seakan-akan yakin, aku adalah awalan dan akhir untuknya.

“Bodo,” kataku jutek. Perempuan mana yang tidak sebal kepda pria yang mengingkari janjinya.

“Heh! Tukang ojeg, pergi lu sana, lu nggak liat apa? Keberadaan lu udah nggak dibutuhin sama Wulan! Lagi pula udah ada gue, PACARnya!” aku melirik keji ke arah Makka. Kami tak lagi memiliki status apa-apa.

“Terserah kalian deh.” Kulangkahkan kakiku gemas meninggalkan dua pria ini, terserah jika mereka ingin beradu jotos. Aku berusaha untuk tidak peduli. Sungguh.

“Heh! Lu dilahirin nggak punya malu sama sekali ye Ar?” Tapi entah mengapa langkahku sangat berat. Aku ingin mengetahui apa yang akan mereka lakukan. Aku, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Ardan.

Aku terus mendengar cercaan yang ditujukan Makka kepada Ardan yang hanya membisu sedaritadi. Aku terus melangkah, dan suara Makka seakan-akan menguntitku.

Aku menoleh dan melihat Makka dengan raut murkanya terus-menerus memaki Ardan yang hanya membisu sambil mendorong motornya, mereka benar-benar mengikutiku.

“Kalian! Pergi deh, berisik tauk!” aku mengedarkan pandang, sialnya tidak ada orang sama sekali di sini, aku jadi tidak memiliki alasan untuk mengatai mereka: tidak tahu malu.

“Gue nggak akan pergi sebelum lo maafin gue, Lan,” tutur Ardan dengan senyum yang penuh perkataan ‘maaf’. Aku hampir saja membalas senyumnya, sialan! mengapa Ardan memiliki pengaruh yang kuat, bahkan di saat Makka ada di hadapan kami juga sekarang. Seharusnya aku lebih fokus kepada Makka. Tidak-tidak! Aku dan Makka telah selesai, jadi lebih baik aku fokus kepada Ardan. Tetapi! Arrgh!!! Kenapa harus Ardan? Dan segala tentangnya yang menguar dan menyelubungi tiap indraku. Aku benci mengakuinya.

Makka tersulut atas perkataan Ardan tadi. Dengan cepat Makka mendorong Ardan hingga motor besar yang Ardan tuntun jatuh, menghasilkan bunyi berdebam yang hampir membuat aku memekik. Pukulan pertama dari tangan Makka yang jenjang tepat di pipi kanan Ardan. Pukulan kedua dilayangkan lagi oleh Makka, tetapi dengan sigap Ardan meraup pukulan Makka mengalihkan pukulan itu lalu mengunci tangan Makka, sampai-sampai Makka mengaduh kesakitan.

“Berenti!” selorohku penuh emosi. Ardan mematuhiku, ia melepas Makka dan meraup motornya yang tergeletak di aspal gang menuju rumahku.

Kuhampiri mereka dengan kondisi hati yang meletup-letup terbakar emosi. “LO! PERGI DARI SINI, SEKARANG!” teriakku kepada Makka. Membuat hatiku yang sesak oleh emosi meringan. “Pergi! Kita udah selesai. Dan nggak akan pernah balikan!” tegasku penuh kepercayaan. Ada hal tentang Ardan yang seakan-akan melekat dengan perkataanku.

*

“Bego!” cercaku sebal. Ardan hanya meringis sambil memegangi lukanya yang sedang kukompres.

“Gue hanya ngelakuin apa yang ingin gue lakuin.” Ardan menurunkan tanganku dari wajahnya. Mata kami bertemu, aku tidak begitu yakin kalau Ardan tahu kegugupan yang melandaku kini. “Dan yang ingin gue lakuin adalah apa-apa yang seharusnya gue lakuin dari dulu!” tambahnya lagi. Sekarang, aku merasakan tandus di dalam mulutku, membuatku sulit untuk membalas ucapannya. “Yaitu: menjadikan lo pemilik hati gue.” Ia tersenyum. Aku baru sadar kalau tanganku meremas erat tangannya saat Ardan menarik tangannya dan meraup tanganku untuk ia letakan di dadanya.

Ya!

Terima dia!

Apa lagi yang lo tunggu!

Jawab IYA, Wulan!

Hanya suara hatiku dan tatapan Ardan yang begitu menghipnotis yang aku rasakan.

Ardan tercengang saat melihat jawabanku.

Bego!

Kenapa lo menggelengkan kepala!

Bilang IYA. Belum telat buat hal itu!

Wulan! Bilang IYA sebelum Ardan pergi.

Tapi aku membiarkan Ardan pergi. Lagi, aku membiarkan ia terluka atas fakta yang tak semestinya ia terima.

Aku benar-benar mencintainya. Terasa jelas saat ia tercengang dan pergi dariku dengan cara membisu. Hatiku berdenyut pilu, melihat punggungnya yang solit bergerak menjauhiku. Tapi entah apa alasanku membiarkannya tersakiti oleh ucapanku. Sebab itu aku disebut ambigu.

Kalian mungkin akan membenciku yang terlalu ambigu. Tetapi, sungguh. Hanya akulah yang mengerti mengapa aku begini. Aku! Tak ingin mengubah umpama hanya demi hubungan yang sementara! Mengubah umpama teman antara aku dan Ardan untuk selamanya. Menjadi, kekasih untuk sementara. Itu yang aku takutkan.

Ponselku berdering. Kulirik jam di layar ponselku sebelum mengangkat panggilan masuk. Empat jam setengah aku mengurung dalam kamar. Menangisi keputusan bodohku. Sungguh, aku tak mengerti apa yang sedang aku lakukan saat ini.

*

Nafasku terengah-engah, kakiku terus berlari dengan cara yang timpang, sesekali aku memekik kecil saat mendapati tubuhku kehilangan keseimbangan dan hampir roboh.

Rumah Ardan masih di ujung tikungan yang berjarak tigapuluh meter dari tempat aku berdiri sekarang. Rumah Ardan berada di dalam gang sepertiku, tetapi rumahnya cukup besar. Halamannya yang luas dan penuh kententraman karena pepohonan yang menjulang di sekitar rumahnya.

Tadi, Sarah—adik Ardan—meneleponku, memberitahu bahwa Ardan kecelakaan sehabis pulang dari rumahku, dan Ardan tidak ingin di bawa ke rumah sakit tanpaku. Bodoh memang si Ardan, dia lebih memilik berdrama daripada mementingkan kesehatannya. Dan aku lebih bodoh. Saat mendengar kabar itu, aku langsung berlari keluar kamar, menjawab pertanyaan Ibu dengan cepat. Menyetop ojeg dekat rumah dan meluncur ke rumah Ardan sesegera yang aku bisa. Tetapi, baru sampai di depan gang, motor si tukang ojeg mogok entah karena apa. Aku lebih drama.

Dengan nafas tersengal-sengal, kulangkahkan kakiku yang gontai untuk menghampiri pagar rumah Ardan yang kini ada di hadapanku.

Clak!

Dinding rumah Ardan yang tinggi menjulang bersinar. Aku mundur terhuyung dengan sedikit memekik karena terkejut atas apa yang baru saja terjadi. Dadaku berdegub kencang, tetapi aku merasakan aura menyebalkan di sini. Kuedarkan pandanganku dengan was-was ke seluruh penjuru.

“Lo dateng?” suara Ardan menusukku dari belakang.

“Lo ngerjain gue?” desisku murka. Tidak kupedulikan suara Ardan yang amat kentara bahagia sekaligus gugupnya tadi.

“Gue hanya ngelakuin apa yang ingin gue lakuin.”

“Dan yang ingin gue lakuin adalah, hal yang seharusnya dari dulu gue lakuin.”

Aku terseksiap. Aku tak menolak Ardan mendekatiku, hatiku luluh. Lalu, pepohonan di sekeliling kami menyala. Memendarkan cahaya berbagai warna. Jinga berkelip menjadi emas, berganti lagi menjadi merah yang nyalang, lalu redup dan berkelip cepat. Aku tergugu di tempat.

Ardan meraih kedua tanganku lalu mengangkatnya hingga setengah badan kami. Mata kami berpagutan, aku limbung dalam kenangan. Tenggelam oleh tatapan matanya yang memabukan. Tuhan, jika cinta ini memang benar. Satukan. Kumohon.

Aku memekik tanpa suara. Satu tanganku menutup mulut, meloloskan diri dari genggaman Ardan yang sangat hangat. Lampu kecil yang mengerubungi pepohonan bak kunang-kunang sejuta warna berhenti berkelip.

Wajah Ardan redup karena pencahayaan yang temaram. Ia terseyum amat menawan, membuat kakiku terasa seperti agar-agar. Aku kembali memekik. Kali ini lebih terdengar setero dan takjub dari sebelumnya. Aku tak percaya Ardan mempersiapkan ini.

Lampu kecil itu berpendar kembali, membentuk tulisan I L O V E U tepat di belakang Ardan pun di hadapanku. Dadaku berdegub gugup. Gemetar di seluruh tubuhku membuatku sulit bernafas. Ardan tidak berhenti, ia duduk bersimpuh bak pangeran yang sedang memuja sang puteri.

Terjawab sudah pertanyaanku tentang kejadian-kejadian ganjal yang kualami tadi, itu pasti ulahnya! Tetapi, aku merasa tersanjung mendapat kejutan ini.

Please,” katanya lirih.

Be mine,” lamarnya kepadaku.

Kali ini tak akan kusia-siakan lamaran Ardan untuk menjadi kekasihnya.

Foeva.

Aku menitikan air mata saat Ardan mengeluarkan cicin entah darimana. Ia menunggu, masih menunggu jawabanku.

Foeva!” sahutku dengan isakan bahagia. Menangis, karena ia melamarku untuk menjadi pendamping hidupnya. Sekarang, aku tak perlu takut terpisahkan keadaan. Hanya Tuhan, dan waktu yang mampu memisahkan kami sekarang.

Aku akan hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan. Tak peduli seberapa banyak hujatan. Dan kini, aku ingin melakukan apa yang seharusnya aku lakukan dari dulu. Mencintainya dengan hati yang tunggal. Bersamanya, aku sempurna.

28 thoughts on “CATATAN KECIL WULAN

  1. Koq cerita straight?
    aneh bingit,
    masa d’blog cerita gay postingx cerita straight?
    pasti penulisx tuh gay yg mati2an pengen jadi straight,,,,, ya gak?

  2. waaw istimewa kata bang Zacky,,cerita straight lagi dari Figi..
    kayak biasa sih setiap cerita yg Figi buat pasti keren dalam isi atau penjabarannya..
    aku suka sih..
    tp biasny Figi buat cerita selalu dengan tema yg simple dan klise tp diperkuat dengan jalan cerita dan bahasanya yg keren..
    untuk yg kali ini klu boleh jujur terlalu biasa,serasa nonton FTV tengah malah SCTV yg suka shoting di Balik atau Yogya itu..bkn Karena cerita ini straight yaa tp aku menilai memang karena yg aku rasa…tp Figi tetap author favorit aku sihhh

  3. waaw istimewa kata bang Zacky,,cerita straight lagi dari Figi..

    untuk yg kali ini klu boleh jujur terlalu biasa,serasa nonton FTV tengah malam SCTV yg suka shoting di Balik atau Yogya itu..bkn Karena cerita ini straight yaa tp aku menilai memang karena yg aku rasa…tp Figi tetap author favorit aku sihhh

  4. yaelah pake kata khilaf lagi..bkn jelek figi tp biasa,,mungkin loe selalu buat cerita yg keren terus jd skali buat yg standard para pembaca setia loe jd bingung..
    tp aku suka bberapa cerita straight kamu kok..semangat figi, chayooo

  5. gak kok..banyak cerita loe yang sama rapi juga,sperti aku yang bilang alurnya dan karakter masing2 tokoh aja yang standard dibanding karya2 loe yg laen,ditambah lagi klu dibayangi secara visual kayak film atau sebagainnya Ada banyak adegan atau lakon yang menurutku terlalu sering di cerita2 atau drama lain dan mnurut ku cenderung agak lebay.maaf aku beri bberapa contoh
    -berpapasan/berhadapan dengan kedua orang yg membuat si cewek bimbang,
    -karakter si cewek menyesal Karena cowok yg dipilihnya player
    -berbohong kecelakaan lalu memberikan surprise dengan lampu lampu atau apalah yg klise banget
    dan banyak yg lain yg mnurutku terlalu sering dilihat atau dibaca di cerita atau film yg cenderung alay mnurut ku..
    mungkin cuma pendapatku tp yang lain maaf yaa klu terlalu kasar,
    ini Karena aku tau kwalitas nulis seorang Albus Figi yg sbenarnya hebat,,bahkan aku berani jujur klu aku fans Albus Figi di blog ini Karena tulisannya..
    #Please Rayan dan Fauzan doooong

  6. Frankly speaking…’Catatan kecil Wulan’ adalah straight stories favoritku setelah ‘True’ yang tokohnya Andes&Wira.

    Figi aku suka kalimat pembuka di awal ceritamu ini “mana yang akan kamu pilih:dia yang kamu cintai atau dia yang kamu butuhkan?” sama kalimat penutup akhir cerita “Bersamanya, aku sempurna”. Dalam banget!

    Esmosiku eh, emosiku jadi tergugah selama mencerna tulisanmu ini. Bener juga apa yang udah diputuskan Wulan kalau dia akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Ardan bukan Makka, karena bagi dia bersama Ardan perasaannya jadi nyaman. Buat apa mempertahankan orang yang meskipun kita sangat mencintai orang itu tapi bikin perasaan gak nyaman. Salut dech sama Wulan..karena bisa tegas memilih orang yang tepat. Karena di kehidupan nyata ada aja cewek yang ngeyel mempertahankan cowoknya yang malah bisa bikin hidupnya runyam dengan mengatas namakan cinta di atas segala-galanya #Lebay he he..

    Jadi dapat pelajaran nih dari ceritamu Figi..kalau sebenarnya cinta itu bisa tumbuh berkembang karena ada perasaan saling membutuhkan diantara keduanya. Karena itu si tokoh yang bernama Wulan dalam ceritamu ini merasa hidupnya jadi sempurna setelah memutuskan memilih Ardan (di akhir ceritamu ini aku membaca sambil dengerin lagu “Sempurna” yang dibawain #AngelicVoice #BeautifulSoprano Gita Gutawa). So Perfect!

    He..he..moga-moga gak cape yach baca komen plus ungkapan hatiku ini. Aku melakukannya cos you are my favorite writer.

    I love your fictions. Gay stories or straight storiesnya selalu kutunggu. So..keep writing. Peace..

  7. ok makasi yaa Figi..tp aku punya usul atau nantangi Figi buat cerita yg gak Ada kaitan tentang percintaan gay atau straight atau tp cerita inspiratif aja..atau cerita mengangkat emosi hubungan antara anak dan ortu tp tetap gak dikaitkan dgn masalah straight atau gay…
    aku tau Figi bisa

  8. cerita straight terkeren yang pernah saya baca. Tapi kayaknya akan seru jika bukan straight. Wkwkwk… Romantisnya pake PISAN!!! Lol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s