Floque – Perkamen 17


Logo Jubilee(resize)

Chapter Seventeen : Nephew and Niece.

Terpaan angin yang keluar dari rongga hidungnya semakin terasa di bagian atas bibirku. Aku sebenarnya ingin menarik kebelakang tubuhku, tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya. Otakku menyuruhku untuk tidak melakukannya, tapi badan ini terasa terpatri dan tak bisa digerakan sama sekali. Dan kini kurasakan bibir Allan menyentuh bagian atas bibirku. Namun aku merasa kalau ada cahaya blitz kamera menerpa wajah kami. Walaupun aku masih dalam keadaan terpejam tapi aku yakin itu adalah cahaya blitz kamera, spontan kami langsung mengurungkan niat kami -ralat, niat Allan- kemudian melihat ke asal cahaya tersebut.

“Good,” seru anak tersebut. Dia tersenyun lalu menarik gambar hasil jepretannya yang keluar dari dalam kamera Polaroid miliknya. Lalu mengipas-ngipasnya. Aku dan Allan masih terdiam sambil mengamati kegiatan anak tersebut. Ku alihkan pandanganku ke Allan, dia melakukan hal yang sama. Mengamati sosok anak yang berdiri di depan kami, “Guys, you both are so awesome. Look at this!” kata anak tersebut sambil berjalan ke arah kami dan menunjukkan hasil jepretannya. “You look so romantic, uncle,” sambung anak tersebut.

“Uncle?” tanya Allan bingung. Aku pun juga merasa bingung, kenapa anak itu memanggilku dengan sebutan Uncle.

“You don’t know me?” dia balik bertanya. Aku menggeleng cepat, Allan juga ikut menggelengkan kepalanya. “Not you,” ujar anak tersebut pada Allan, “But you,” dia menunjukku. “It’s me uncle, Verrel,” jawab anak tersebut. Ya Tuhan, jadi dia itu Verrel. Anak sulung kak Jane. Kenapa aku tidak mengenalinya? Oh ya, aku ingat kenapa aku lupa dengannya. Kali ini dia tampak lebih mature, walaupun kesan kekanak-kanakannya masih terlihat. “Scuse me?” lanjutnya sambil megibaskan telapak tangannya di depan wajahku, membuatku tersadar.

“Is that really you?” tanyaku tak percaya, dia mengangguk cepat, “Oh my goodness. You look so gorgeous, dear,” pujiku tak percaya.

“As always,” jawabnya sombong. “Give me a hug please!” aku langsung bangkit dari tempat tidur , membuat kaitan antara liontinku dan liontin milik Allan terlepas, kemudian aku memeluknya. “Uncle, please don’t hold me so tight. I can’t breathe,” protesnya, aku buru-buru mengendurkan pelukanku.

“Sorry,” kataku sambil menatap wajahnya, “Kapan kamu datang?” tanyaku penasaran.

“Five minutes ago,” jawabnya, lalu kami melepaskan pelukan kami, dan dia mengalihkan pandangan ke arah Allan,. “Is he your boyfriend?” katanya sambil menunjuk ke arah Allan yang masih terdiam mengamati tingkah kami.

“No,” jawabku cepat. “He is Allan, my friend,” lanjutku, namun dia malah menatapku dengan tatapan tak percaya.

“Liar!” serunya cepat. Lalu dia menghampiri Allan. “I’m Verrel, Uncle Dave’s nephew,” katanya sambil mengulurkan tangan ke arah Allan.

Allan pun menyambut uluran tangan Verrel, “I’m Allan, your uncle’s friend,” jawabnya.

“Seriously?” tanya Verrel tak percaya, “Oh come on guys, don’t tell a lie to me!” hardik Verrel. “I just saw you kiss my lovely uncle. And then you say he just your friend?” Katanya dengan menaikan saah satu alisnya, “Oh, you must be kidding me!” lanjutnya dengan nada mengejek.

“Verrel. He is my friend,” seruku lantang, dia langsung menatapku lekat, “Lagipula yang kamu lihat itu bukan ciuman. It’s just a… an acting,” kilahku. Aku tidak mau kalau Verrel berfikir macam-macam walaupun dia memang sudah tahu aku gay.

“Actually, he was not just my friend,” sergah Allan yang membuatku dan Verrel mengalihkan pandangan ke arahya. Allan melambaikan tangannya ke arah Verrel, dia ingin agar Verrel mendekat. Lalu dengan sangat antusias Verrel mendekati Allan. Allan membungkukan badannya ke arah Verrel yang lebih pendek darinya, kemudian Allan terlihat membisikan sesuatu kepada Verrel yang langsung membuat Verrel tersenyum lebar dan terlihat begitu bahagia. “Now you know,” kata Allan setelah selesai berbisik.

“Ok. Thanks,” seru Verrel, dia langsung menatapku dengan tatapan yang tak bisa kutebak. Lalu dia menghampiriku, “Have a good time,” serunya sambil mengerlingkan salah satu matanya ke arahku, kemudian dia  berlalu meninggalkan kami.

“Stop!” seruku, Verrel langsung menghentikan langkahnya. “Give me that picture!” perintahku. Kemudian Verrel membalikan badannya.

“This?” katanya sambil mengangkat tinggi foto yang ada ditangannya. Aku mengangguk mantap. “Sorry, I can’t,” lanjutnya, kemudian dia langsung berlari keluar kamarku.

“Verrrreeeelll,” teriakku. Aku langsung merasa pusing. Pusing, karena mungkin setelah ini dia akan mengira aku dan Allan itu ada apa-apa. Padahalkan, aaarrrggghh. Aku langsung duduk di pinggiran tempat tidur sambil memegangi kepalaku dengan kedua tanganku. Bagaimana aku tidak tahu kalau dia masuk ke kamarku? Apa karena saat itu hati dan fikiranku sedang terbius oleh Allan sehingga aku tidak mengetahui keadaan sekitarku? Aku benar-benar bodoh. Allan menghampiriku, dia langsung duduk di lantai yang berada di dekat tempat tidur, menatap wajahku dari bawah.

“Dave,” tegurnya pelan, aku mengalihkan pandanganku kepadanya yang sedang menatapku. Dia tersenyum lebar ke arahku. Ya Tuhan, kenapa dia terus tersenyum seperti itu kepadaku, membuatku terus bertanya ada apakah dibalik senyuman yang dia berikan kepadaku. Dia meraih tangan kananku, “Kita lanjutin belajarnya yuk!” ajaknya halus, karena aku sedang pusing, akhirnya aku tidak bisa menolaknya dan hanya menganggukkan kepalaku. Dia bangkit, lalu menaiki tempat tidurku. Aku juga melakukan hal yang sama.

“Tadi sampai mana kita?” tanyaku, mencoba mengingat kembali hal terakhir yang kita lakukan. Jangan sindir soal ciuman yang gagal itu lagi! Karena aku juga heran kenapa aku hanya bisa pasrah menerima perlakuan Allan. Benar-benar memusingkan. Aku memijat keningku yang rasanya pening.

“Sampai lanjutan remed soal Bahasa. Lo tadi minta buku paket ini kan?” dia menyodorkan buku paket bahasa kepadaku. Aku pun meraihnya, dan membuka halaman terakhir yang dikerjakan Allan.

“Kamu coba pelajarin dulu penjelasannya, baru kalau kamu nggak tahu, tanya aku!” kataku sambil menyodorkan buku paket kepadanya.

“Oke,” jawabnya setelah meraih buku paket yang aku berikan. Dia terlihat serius mengerjakan tugas bahasa miliknya. Namun entah kenapa aku terus menatapnya. Sebenarnya aku ingin tahu apa yang dia katakan pada Verrel sampai membuatnya begitu bahagia. Tapi aku lebih ingin tahu darimana dia mendapatkan kalung tersebut, atau memang kalung itu ada banyak sehingga dia juga mempunyainya? Namun di sisi lain aku juga malas membahasnya, karena aku takut menyinggung ke arah ciuman yang gagal tadi. Sebenarnya apa sih yang membuat Allan ingin menciumku? Dia cinta padaku? Atau dia hanya ingin mencari pengalaman semata? Atau jangan-jangan dia….”Dave,” serunya menyadarkanku.

“Oh..i..iya,” jawabku gelagapan karena sedari tadi aku menatap wajahnya, aku takut dia mengira aku berfikir macam-macam.

“Kok lo ngeliatin gue terus?” tanyanya, aku masih memikirkan alasan apa yang tepat, “Lo naksir gue yah?” lanjutnya sambil terkekeh. What? Naksir Allan? nggak mungkin. Tapi, aku juga bingung kenapa aku selalu terlihat pasrah ketika Allan ingin melakukan sesuatu terhadapku. Apa iya itu cinta? Atau jangan-jangan ini adalah cinta yang terselubung? Oke, mungkin ini kedengarannya konyol. Tapi, mungkin perasaanku itu masih belum aku ketahui oleh diriku sendiri.

“Oh..eng..enggak kok, siapa juga yang naksir kamu. Ge Er,” kilahku, aku langsung meraih buku yang ada di dekatku. Dan membolak-balikannya, kemudian pura-pura sedang membacanya.

“Kayaknya emang iyadeh lo naksir gue,” lanjutnya sambil masih terkekeh.

“Darimana kamu tahu kalau aku naksir kamu? Sok tau,” jawabku ketus. namun dia malah tertawa kencang. “Yeeeehh malah ketawa lagi. Udah cepetan kamu kerjain!” perintahku padanya.

“Gue gak sok tau kok,” katanya sambil terus menahan tawa, “Buktinya, Lo baca buku sampe kebalik gitu. Pasti lo lagi diem-diem kentut eh diem-diem suka kan sama gue?hahaha,” tawanya pecah. Aku langsung melirik ke arah buku yang sedang aku baca –ralat, sedang pura-pura aku baca. Dan ternyata benar, posisinya terbalik. Adduuhhh, kok bisa-bisanya di saat seperti ini aku melakukan hal yang bodoh. Aku langsung mengutuk diriku sendiri. Kulihat Allan masih tertawa sambil memegangi perutnya. Aku langsung menatap kesal ke arahnya, lalu membalikkan posisi bukuku ke posisi yang benar.

“Stop laughing!” hardikku, dan Allan langsung diam, tapi masih terlihat kalau dia sedang menahan tawa. “Oke. Aku mau kamu jujur! Sebenarnya tadi kamu bisikin apa ke Verrel?” tanyaku penuh curiga.

“Oh itu. Bukan apa-apa kok,” jawabnya singkat, lalu kembali fokus pada buku paket yang sedang dia baca.

“Nggak mungkin. Pasti kamu ngada-ngada, yakan?” seumur hidup baru pertama kali aku bersikap prejudice pada orang lain. Apakah sekarang aku sedang ketularan virus prejudice Amanda? Entahlah, mungkin memang iya.

“Really. Aku tadi bilang kalo kita bukan cuma teman, tapi….”

“Tapi apa?” tanyaku tak sabar.

“We’re mate. Yeah, just it,” lalu dia kembali fokus membaca buku paketnya. Oh jadi dia cuman biang gitu, aku kira apaan. Aku pun mengambil buku paket Economic dari dalam tas, karena aku ingat kalau ada tugas yang harus ku kerjakan.

***

Tok tok tok. Terdengar bunyi pintu yang diketuk. Kulirik jam ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Jadi kita belajar eh ralat, aku belajar sudah hampir empat jam. Sementara Allan, dia sedang tidur dengan nyenyaknya dikasur milikku dari satu jam yang lalu.

“Iyyyaaaa,” seruku.

“Mas Dave di tunggu nyonya sama tuan di bawah. Katanya di suruh makan malam,” sahut bi Karsih, pembantu rumah tanggaku.  Jadi Mama sama Papa sudah pulang? Oh iya, tadi kan Verrel juga datang, masa iya dia kesini sendirian dari New York. Dan aku malah asik belajar sampai lupa waktu. Bukannya menyambut orang tua yang baru datang. Dasar anak durhaka. Aku mengutuk diriku sendiri.

“Oh iya bi. Bilangin sama mama, sebentar lagi aku turun,” seruku sambil membereskan buku-buku milik kami berdua yang berserakan. Lalu aku memasukkannya kedalam tas milikku dan tas Allan. Ku lihat Allan masih terlelap. Aku merangkak ke arahnya. Kali ini aku tidak perlu repot-repot membangunkan Allan, karena aku punya jurus jitu yang Chloe beritahu padaku. Aku mendekatkan wajahku ke teliga Allan. Kemudian aku meniup keras-keras telinganya. Ini bukan teriakan yah, melainkan tiupan.

“Wooooofffff,” tiupku di telinganya. Dia langsung kaget dan terbangun setelah aku meniup telinganya. Wajahnya terlihat kacau. Sepertinya aku menganggu kegiatan tidurnya. Tapi entah kenapa aku malah terkekeh melihat raut wajahnya sekarang.

“Pasti lo kan yang niup telinga gue?” tanyanya dengan raut wajah kesal.

“Hehehe, iya. Abis kata Chloe cuman itu cara yang paling ampuh membangunkan kamu,” jawabku sambil tersenyum lebar.

“Dasar!” rutuknya. Aku malah makin tertawa melihat mimik wajahnya sekarang. Sangat lucu.

“Mama sama Papa udah nunggu kita di bawah,” kataku, lalu aku turun dari tempat tidur.

“Mama sama Papa kamu udah pulang?” tanyanya kaget. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dia langsung bakit dari tempat tidur, kemudian langsung berlari ke kamar mandi. Dasar Allan, ada-ada saja tingkahnya. Aku berjalan ke arah cermin kemudian merapikan tatanan rambutku yang sedikit acak-acakan.

“Ayo,” ajak Allan begitu dia keluar dari kamar mandi. Aku mengamati penampilannya, dia terlihat membasahi rambutnya dan menyisir rapih.

“Rapih amat Lan, memangnya mau ketemu siapa?” tanyaku heran.

“Mau ketemu calon mertua,hehe” candanya, aku hanya menimpali candaannya dengan tatapan konyol. Lalu berjalan mendahuluinya keluar kamar. Perlahan kami menuruni anak tangga satu persatu. Hingga akhirnya kami sampai pada anak tangga yang terakhir. Seorang anak kecil langsung menghapiriku.

“Uncle,” teriak anak tersebut. Aku tahu, itu adalah Lexi, adik perempuan Verrel. Dia langsung berlari ke arahku dan aku langsung menggedongnya. Kemudian aku mengecup bibirnya. “I miss you,” kata Lexi dengan tampang menggemaskan.

“I miss you too,” jawabku, sambil terus menciuminya.

“Is he uncle Thieves kisses?” tanyanya sambil menunjuk Allan.

“Thieves kisses?” tanyaku bingung.

“Yeah, Verrel told me. Dia bilang kalau paman ini mencuri ciuman Uncle Dave,” jawabnya menggunakan bahasa Indonesia. Walaupun mereka berdua sejak lahir tinggal di New York, tapi kak Jane dan suaminya kak Tom selalu mengajari mereka menggunakan bahasa Indonesia ketika dirumah. Itu sebabnya mereka mengerti dua bahasa.

“Verrel bohong. Kamu jangan percaya dia yah!” perintahku. Lexi pun mengangguk mantap.

“Halo paman. Aku Lexi,” ujar Lexi sambil menglurukan tangannya ke arah Allan. Allan pun menyambut uluran tangan Lexi, namun bukan hanya menyambut uluran tangannya, dia juga mengambil Lexi dari gendonganku.

“Halo Lexi, aku Allan. And I’m not a thieves kisses,” lanjut Allan yang membuat kami terkekeh. “Aku boleh minta ciuman dari kamu?” pinta Allan. Dasar Allan genit, batinku. Namun Lexi malah menurut dan mencium pipi Allan. “Thanks,” jawab Allan. Lexi pun terlihat malu-malu.

Aku bingung dengan anak jaman sekarang. Sepertinya perasaan mereka itu jauh lebih cepat tumbuh dibanding usianya,ckckck. “Ayo kita kesana, Uncle sudah di tunggu Grandma and Grandpa,” ujar Lexi. Aku dan Allan hanya menurut. Kami berjalan menuju ruang makan.

“Oh Dave, akhirnya kamu datang juga,” kata Mama. Dia langsung menghampiriku dan menciumku. “Dan kamu pasti Allan kan?” tanya Mama pada Allan.

“Iya Tante,” jawab Allan, lalu Allan mencium tangan Mama.

“Jangan panggil tante, panggil Mama aja yah!” pinta Mama, yang membuat aku menatapnya dengan tatapan konyol. Sejak kapan Mama berubah seperti ini? Dulu saja waktu aku masih jadian dengan –sigh- Steffano, dia nggak nyuruh Steffano memanggilnya Mama, tapi kenapa sekarang dia seperti ini. Ck, benar-benar aneh. “Ayo-ayo sini gabung. Kalian pasti laper kan?” perintah Mama.

Aku menghampiri kak Jane dan kak Tom, lalu mencium mereka berdua. Kemudian aku juga menghampiri Papa. “Itu siapa Dave?” tanya kak Jane menunjuk Allan.

“He is uncle thieves kisses mum,” sergah Verrel disela-sela kegiatan makannya. Allan malah terkekeh mendengar omongan Verrel, begitu juga dengan yang lainnya. Beda sekali denganku yang merasa teraniyaya dengan perkataan Verrel barusan. Aku tuh udah kayak korban pencurian tau gak. Pencurian ciuman.

“Saya Allan,” kata Allan menyalami kak Jane, kak Tom dan juga Papa.

“Dia calon pacar Dave kak,” celetuk Amanda sambil terkekeh, yang membuat semua orang diruangan itu memandangku  dengan tatapan terkejut, dan itu malah membuat rona diwajahku semakin terlihat.

“Sudah-sudah, kalian ini,” sergah Mama, “Ayo Dave, Allan, kalian duduk!” perintah Mama. Aku pun hanya menurutinya.

“Lexi, ayo turun!” perintah Mama, karena melihat Allan susah untuk duduk sebab Lexi masih berada dipelukan Allan.

“Nggak mau, Lexi mau digendong sama Uncle ini aja,” rengeknya.

“Lho, memangnya kenapa?” tanya Mama bingung.

“Gak apa-apa, Lexi cuman suka sama aroma uncle Allan. Dia wangi,” serunya sambil memeluk tubuh Allan, kulihat Allan hanya tersenyum.

“Wangian mana sama sista?” Tanya Amanda. Dia tidak mau dipanggil auntie karena menurutnya itu terlalu tua, jadi dia meminta agar Verrel dan Lexi memanggilnya sista. Kalau aku sih terserah mereka saja mau manggil aku apa.

“Sista mah bau busuk,” celetuk Verrel yang membuat kami tertawa dan Amanda cemberut. Dia langsung melempar jeruk ke arah Verrel.

“Ayok sini. Kasihan uncle Allannya,” kata kak Jane sambil mengambil Lexi dari gendongan Allan. Akhirnya kami duduk dan menikmati santap malam kami yang sukses membuatku terpojok. Karena mereka sering menyinggung hubunganku dan Allan.  Benar-benar malam yang tidak mengasyikkan.

***

“Jadi, kapan kamu jadian sama Allan, Dave?” tanya Chloe yang duduk disampingku sambil memilih-milih gaun yang akan dia pesan secara online lewat Ebay.

“Jadian? Listen Chloe! Aku sama Allan itu nggak ada apa-apa,” jawabku cepat. Lalu aku menidurkan kepalaku di atas meja. Hari ini aku lelah, sangat lelah lebih tepatnya. Aku harus menyelesaikan beberapa tes yang diselenggarakan oleh MIT. Yah, aku mendaftar disana. Dan kalau aku lulus seleksi tahap pertama, aku akan langsung di tarik kesana Januari mendatang. Itu tandanya waktuku di Indonesia hanya tinggal lima bulan. Setelah itu aku akan langsung berangkat ke Amerika. Dan melakukan ujian nasional secara Online yang difasilitasi oleh sekolahku.

“Belum ada apa-apa, bukannya nggak ada apa-apa. Lagian Allan bilang kemarin Papa sama Mama kamu terus nggodain kalian yah? Kayaknya mereka setuju deh Dave kalau kamu jadian sama Allan. makanya sonoh, jadian gih!” perintah Chloe yang kubalas dengan tatapan konyol. Aku malas menanggapi omongan Chloe sekarang, karena aku sedang tidak ingin berdebat.

“Iya Dave, aku pasti ngedukung kamu 100% kok,” ujar Amanda yang datang membawa ice cream dan duduk di depanku. Ini lagi, bukannya bikin aku seneng malah bikin aku pusing.

“Stop! Kalian gak usah ngebahas soal hubunganku dan Allan lagi. Kita emang nggak ada apa-apa dan berhenti nyuruh aku untuk jadian sama Allan. Karena aku jamin hal itu tidak akan terjadi,” sahutku kesal, entah kenapa hari ini aku sedang badmood. Mungkin karena aku masih kesal dengan apa yang aku lihat tadi pagi. Aku melihat Allan membonceng seorang cewek. Entah siapa, yang jelas sepertinya dia masih kelas 10. Setelah itu mood-ku langsung berubah jelek. Apa aku cemburu? Oh tidak mungkin. Aku badmood karena aku capek, capek habis ngerjain test yang soalnya rumit namun berhasil aku kerjakan tepat waktu.

“Awas lho, biasanya yang kayak gini malah bakalan jadian,” sahut Chloe menakutiku.

“Iya Dave. Nanti malah kebalikannya lho. Kamu bakal jadian sama Allan,” sambung Amanda, sambil menjilati es krim di tangannya. Karena aku merasa kalau tingkat badmood-ku makin memuncak, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kedua sahabatku yang rese dan berisik ini. Aku bangkit dan meninggalkan mereka. “Mau kemana Dave?” tanya Amanda cepat begitu melihatku pergi meninggalkannya.

“Library,” seruku lantang. Aku berjalan menuju lift. Seteleh pintu lift terbuka, aku langsung masuk dan menekan tombol 7 pada tombol panel lift tersebut. Tak lama kemudian, pintu lift tertutup dan membawaku ke lantai 7.

Begitu sampai di library aku langsung menuju ruangan favoritku. Ruangan yang berada paling pojok dekat jendela yang mengarah ke tanah kosong bagian belakang gedung ini. Disitu aku langsung menaruh kepalaku diatas meja. Namun sebelumnya aku melepas kacamataku terlebih dahulu. Kemudian aku memejamkan mataku.

“Gue cariin ternyata lo disini toh,” samar-samar aku mendengar suara seseorang yang menyerupai suara Allan. Apa dia Allan? ah mungkin aku hanya bermimpi, sekarangkan aku sedang tidur. Akhirnya aku memutuskan untuk mengurungkan niatku untuk membuka mataku. Tak lama aku merasakan kalau wajahku di terpa angin. Dan aku yakin ini bukan angin biasa, melainkan sebuah tiupan. Aku tahu ruangan ini ber-AC, maka dari itu tidak mungkin kalau ada angin yang menerpa wajahku. Aku menghirup aroma buble gum. Dan aku langsung teringat dengan aroma ini. Ini adalah wangi mulut Allan. Selain beraroma mint, terkadang mulut Allan beraroma buble gum. Itu tercium ketika dia selesai mengunyah permen karet. Dan jangan tanya kenapa aku bisa hafal aroma mulutnya. Kalian tahu kan kalau dia sering mencoba menciumku? Oleh karena itu aku tahu aroma mulutnya yang wangi.

Aku langsung membuka mataku dan mendapati Allan ikut menaruh kepalanya di depan wajahku. Kami beradapan, dan saat ini dia sedang tersenyum lebar ke arahku. Refleks, aku langsung bangun. Kemudian aku melihat penampilanku pada kaca disampingku, aku takut kalau Allan akan menertawaiku karena wajahku yang jelek ketika bangun tidur. Tapi, setahuku Allan selalu memujiku. Hanya saja terkadang tingkahnya menyebalkan. “Eh..enngg..ngapain kamu disini?” tanyaku gelagapan.

“Nemenin lo tidur,” jawabnya singkat, lalu dia bangkit dan menatapku lekat. “Tumben-tumbenan lo tidur di Library, biasanya kalo lo kesini pasti lagi baca buku paket yang tebelnya kayak KBBI. Atau nggak ngerjain tugas untuk satu minggu kedepan,” tanyanya mengejek. Biasanya aku memang selalu mengerjakan tugas yang belum di perintah. Bahkan hingga seminggu sebelumnya aku sudah mengerjakan. Karena aku malas kalau hanya bengong. Lebih baik mengerjakan sesuatu. Walaupun terkadang aku suka kebablasan ketika sedang asik mengerjakan tugas.

“Ehmm..anu.. ehm aku capek,” jawabku. Kulirik jam menunjukan pukul 1 siang. Aku teringat kalau aku harus harus pergi ke ruangan Mr.Louis. Ada yang ingin aku bicarakan soal tawaran beberapa universitas luar negeri untukku. “Aku pergi dulu yah,” kataku, sambil memasang kembali kaca mataku. Kemudian aku beranjak dari tempat dudukku.

“Ikut,” serunya, lalu dia membuntutiku.

“Nggak bisa. Aku harus ke principal room,” jawabku tegas. Kemudian aku langsung berbalik meninggalkannya. Begitu lift terbuka, aku langsung masuk ke dalam lift. Tampak raut kekecewaan di wajahnya. Aku bisa melihatnya sebelum pintu lift ini tertutup.

***

Aku berjalan cepat menuju parkiran. Dari tadi Amanda terus menelponku dan menyuruhku agar segera menyelesaikan urusanku dengan Mr.Principal. Harusnya kalau dia tidak ingin pulang terlambat dia bisa numpang bareng Chloe, rumah kami kan searah. Tapi, kenapa dia harus menyuruhku buru-buru. Dasar Amanda egois, gerutuku dalam hati.

“Ayo Dave, cepetan!” perintahnya, begitu aku sampai di dekat parking lot.

“Iya, iya sabar,” sahutku. Kutekan tombol unlocked pada remote mobilku, begitu alarm mobilku bunyi aku langsung menarik tuas pintu tersebut. Amanda juga melakukan hal yang sama.

“Akhirnya masuk juga, hhheeeeehhhh” hela Amanda begitu kami masuk kedalam mobil. “Kamu tadi abis ngapain aja sih?” tanya Amanda. Aku menekan tombol start engine lalu menarik tuas gigi ke belakang,  kemudian menekan tuas gas di kakiku. Mobil pun mundur.

“Yah ngobrolin soal tawaran dari beberapa universitas,” jawabku. Begitu mobilku sudah dalam posisi siap jalan, aku menarik tuas gigi kedepan, kemudian menginjak tuas gas mobilku.

“Owh, pantesan lama. Ada berapa universitas?” tanya Amanda.

“Lima,” jawabku singkat sambil fokus menyetir. Amanda hanya megangguk. “Oh ya, kamu tahu kenapa Cassie nggak masuk hari ini?” tanyaku, karena sedari pagi handphonenya non aktif.

Amanda menggeleng, “Nggak tahu. Kan handphonenya dari pagi off. Aku coba bbm dia juga gak sampe-sampe,” jawab Amanda, kemudian dia berkutat dengan iphone miliknya.

___

Kami sudah sampai di rumah. Aku dan Amanda langsung keluar dari mobil dan berjalan ke dalam rumah. Namun aku melihat kalau ada motor Allan disini. Lho, bukannya besok itu week end yah? Kenapa dia malah kesini? Apa dia masih ada tugas urgent lainnya? entahlah, lebih baik aku masuk terlebih dahulu.

Begitu aku masuk aku langsung disambut oleh Lexi. Dia berlari ke arahku. “Uncle,” serunya. Dia menggandeng tangaku masuk. “Di dalam ada Uncle Allan. He’s playing game with Verrel,” jelasnya.

“Udah berapa lama Allan datang?” tanya Amanda.

“I don’t know exactly. Maybe a few minutes ago,” jawab Lexi. Amanda menyikut sikuku. Dan memainkan matanya ke arahku. Kemudian dia naik ke atas, menuju kamarnya. Dasar! Kenapa sih semua orang mengira kalau aku dan Allan itu ada apa-apa? Padahalkan kita cuman sebatas teman.

“Uncle mau ganti baju dulu yah!” kataku pada Lexi. Dia mengangguk kemudian melepaskan gandengannya. Aku pun naik ke atas menuju kamarku. Kulihat Verrel dan Allan sedang asik main Xbox, permainan yang sampai sekarang tidak bisa aku mainkan. Aku selalu kalah ketika bermain melawan Amanda maupun kak Edgar. Mungkin aku memang tidak berbakat main game.

Setelah selesai mengganti pakaian, aku turun. Ku lihat Allan dan Verrel masih fokus bermain game. Sementara Lexi hanya menonton mereka. Menyadari kedatanganku Allan langsung mengalihkan padangannya ke arahku. “Lo udah dateng ternyata, sini main bareng kita!” ajaknya.

“Mana bisa uncle main game. Uncle kan payah. Kecuali kalau game numeric,” celetuk Verrel. Dia memang selalu ngomong seenaknya. Kayak Chloe versi kecil. Allan hanya tertawa mendengar omongan Verrel. Aku lalu mendekati Verrel dan mencubit kedua pipinya gemas. “Stop..stop it!” larangnya, dia mencoba melepaskan cubitanku dari kedua pipinya. “I’m not child anymore,” katanya ketus begitu cubitanku terlepas.

“Oh ya? How old are you then?” tanyaku.

“Eleven,” jawabnya singkat.

“No. Verrel bohong. He just ten years old,” sambung Lexi. Aku dan Allan tertawa mendengar jawaban Lexi yang sukses membuat Verrel jengkel.

“Oh ya uncle. Besok kita jalan-jalan yuk!” ajak Lexi pada Allan.

“Oke. Where do you wan to go?” tanya Allan. Aku hanya mencibir. Berani sekali Allan mengajak pergi Lexi sendiri. Dia belum tahu kalau sebenarnya Lexi itu tukang ngambek.

“Zoo,” jawab Lexi singkat.

“Ohh please Lex. There are so many interesting place in here. Lagian kebun binatang disini itu jelek,” celetuk Verrel.

“Yasudah, menurut Verrel dimana yang bagus?” tanya Lexi. Wait..wait, kenapa jadi mereka yang sibuk menentukan tempatnya? Memangnya siapa yang mengajak mereka pergi? Aneh.

“Gimana kalau kita dufan? Yah walaupun aku udah pernah kesana, dulu. Tapi pergi kesana cukup menyenangkan kok,” lanjut Verrel.

“Oke. Kita kesana besok,” sahut Lexi. Verrel pun menganggukkan kepalanya.

“Wait..wait. memangnya siapa yang akan mengajak kalian pergi kesana? Dad dan Mommy kalian kan sedang di Bandung,” tanyaku pada mereka.

“Both of you,” tunjuk mereka bersamaan. Aku langsung kaget, ku arahkan padanganku ke Allan. Dia malah tersenyum.

“Oke,” jawab Allan enteng. Dia mengalihkan pandangannya ke arahku, “Benarkan uncle Dave?” tanyanya manja. Mungkin Allan sedang dalam kondisi tidak waras sehingga dengan gampangnya dia mengiyakan permintaan kedua keponakanku. Bukannya aku tidak mau, bukan. Tapi aku hanya tidak mau kedua keponakanku merepotkan Allan. “Benarkan?” ucapnya sekali lagi.

Aku menghela nafas panjang, “Baiklah,” jawabku terpaksa.

“Horrreeeee,” Verrel dan Lexi terlonjak gembira. “Thank you uncle Dave,” seru mereka berdua sambil memelukku. Lalu mereka berpindah ke arah Allan, “Thank you uncle thiev..ups, uncle Allan,” lanjut mereka sambil memeluk Allan. Aku hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah mereka berdua.

***

Dufan. Here we are. Sebenarnya aku sangat malas ketika harus pergi ke tempat keramaian seperti ini. Aku lebih baik disuruh mengerjakan tugas math satu buku tebal, atau mengerjakan rumus Physic berlembar-lembar ketimbang harus pergi ke tempat penuh orang seperti ini. Aku tidak merasa nyaman sama sekali. Hari ini aku, Allan, Verrel dan juga Lexi pergi ke Dufan. Tempat wisata yang terakhir aku kunjungi ketika aku masih duduk di Junior high school. Itu pun karena Mama dan Papa ingin menghiburku setelah kepergian Papa kandungku. Tapi hari ini aku kembali ke tempat ini. Tempat dengan keramaian yang luar biasa. Aku sampai berfikir apa sih kelebihan tempat ini? Sehingga orang-orang kok malah ingin pergi kesini. Ck, benar-benar mengherankan.

“C’mon uncle,” Lexi menarik tanganku untuk menyusul Verrel dan Allan yang terlebih dahulu berjalan di depan kami. Aku pun hanya bisa pasrah menuruti kehendak mereka.

“Kita naik apa?” tanya Verrel begitu kami sudah sampai di dekatnya.

“Kita naik hysteria yuk, itu wahana baru lho,” tawar Allan pada Verrel. Aku langsung menggeleng cepat.

“No,” tolakku tegas, “Allan, kamu sadar nggak sih kalau mereka itu masih kecil? masa mereka diajak naik hysteria,” lanjutku.

“Mungkin Lexi iya. But i‘m not,” seru Verrel. “C’mon uncle!” ajak Verrel sambil menarik tangan Allan menjauh dariku.

“But, you are just ten years old. Permainan itu untuk 12 tahun ke atas Verrel,” tentangku.

“Yeah you right. Tapi dengan postur tubuhku yang lebih tinggi dari anak umur sepuluh tahun pada umumnya pasti mereka akan percaya kalau aku 12 tahun,” teriaknya karena jarak kami sudah cukup jauh. Aku melihat postur tubuhnya sekali lagi. Verrel memang terlihat lebih dewasa dibanding anak usia 10 tahun pada umumnya. Mungkin karena darah bule dari kak Tom yang mengalir di dalam tubuhnya sehingga dia terlihat lebih tinggi dan wajah yang lebih dewasa kalau tidak mau dibilang tua dari anak berumur sepuluh tahun pada umumnya.

“So, uncle. Kita mau pergi kemana?” tanya Lexi sambil menarik-narik ujung bajuku. Aku berfikir sejenak.

“Ehm gimana kalau kita naik gajah bledug?” tawarku. Oke mungkin ini permainan yang sangat kanak-kanak. Karena wahana ini mirip dengan komedi putar, tapi yang kita naiki berbentuk gajah. Lagipula Lexi masih 5 tahun, masa dia harus aku ajak naik hysteria, memangnya aku gila.

“Gajah bledug?” tanyanya bingung.

“Iyah, permainannya cukup mengasikkan kok,” lanjutku. Dia terlihat berfikir sejenak sampai akhirnya mengiyakan tawaranku. Kemudian aku mengajaknya ke wahana tersebut.

___

“Such a boring time,” ujar Lexi begitu kami selesai menjajal beberapa permainan khusus anak-anak. Dia berlari ke arah Verrel dan Allan yang sedang menghampiri kami.

“Kamu naik apa aja Lex?” tanya Verrel yang sekarang sudah berada disebelahku, sementara Lexi sedang di gendong Allan.

“Brick boring brick,” ujarnya, “Dari tadi aku cuman dibawa naik wahana anak-anak. Mulai dari Gajah Bledug, Istana boneka, poci-poci and then Komedo putar,”

“Komedi utar,” koreksiku cepat.

“Whatever,” jawabnya santai. “Itu tuh mainan paling membosankan. Memangnya dia kira aku itu anak kecil apa?” curhatnya pada Verrel. Kulihat Verrel dan Allan hanya tertawa mendengar ocehan Lexi. Sementara aku hanya bisa menerima keluhannya saja.

“Yeah, that so boring,” lanjut Allan makin memanasi kami. Dasar Allan kompor, lihat saja kalau sudah sampai rumah. Aku gak bakal ajarin kamu lagi, batinku.

“How about you?” tanya Lexi pada Verrel.

“Ehhmmm I feel so happy ofcourse. Tadi kami naik, Halilintar, kincir-kincir, Tornado, and then Hysteria. And you know what? My heart always skip a beat when I ride that,” ujar Verrel yang langsung membuat Lexi memandang kesal ke arahku.

“Lexi, uncle kan ingin menyesuaikan dengan umurmu saja,” jawabku. “Karena kamu kan masih anak-anak,” lanjutku.

“Yeah Lex, you are already kid,haha,” sambung Verrel yang diikuti dengan tawa renyah. Hal itu sukses membuat Lexi makin kesal.

“Oke, maybe I still kid, but I’m not like an ordinary kid. Fyi, I’m an extraordinary kid,” lanjutnya ketus. Aku, Allan dan Verrel langsung tertawa melihat perkataan Lexi barusan.

“Oke, kalau kamu mau permainan yang ekstrem. Uncle akan bawa kamu naik permainan itu,” tunjuk Allan ke wahana kora-kora. Aku langsung melotot ke arah Allan.

“Yeeaaahhhh,” seru Lexi senang.

“Allan, are you lost your mind?” tanyaku tegas. Namun dia hanya tertawa.

“Oh please, it just kora-kora. Itu cuman permainan perahu saja kok. Gak terlalu eksterm,” ujarnya.

“Iyah, tapi kan tetap saja-,”

“Siapa yang setuju kita naik kora-kora?” sergah Allan meminta pendapat mereka. Dan mereka berdua langsung mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. “Yeah, we won,” ujarnya sambil tersenyum bahagia ke arahku. Lalu mereka berjalan menuju wahana tersebut. Aku hanya bisa mengikuti mereka sambil menggerutu sendiri. Aaarrrgghh dasar Allan menjengkelkan.

Permainan kora-kora tenyata lebih mengerikan dari bayanganku. Kita seperti sedang ada di dalam perahu yang diterpa ombak besar sehingga membuat kita seperti terlempar ke depan dan ke belakang dan itu membuat perutku mual hingga permainan itu selesai.

Mereka langsung menertawaiku begitu mereka tahu mukaku pucat ketika turun dari wahana tersebut. “Hahaha, uncle. Look at your face no! Your face is so creepy,haha” ujar Verrel sambil menertawaiku.

“No, you are not creepy. You looks like Edward, the male lead character on the twilight saga movie,” sambung Lexi yang diikuti oleh tawa Allan dan Verrel. Lexi bilang aku mirip Edward, itu tandanya mukaku putih pucat seperti vampire. Aku sebenarnya ingin memarahi Allan. Tapi entah kenapa aku tidak bisa marah padanya.

“Hey.. sudah-sudah. Kasihan ucle Dave. Lebih baik kita makan yuk. Ini kan udah sore,” ajaknya. Lalu kami semua berjalan ke restoran fast food terdekat. Selesai makan kami berjalan keliling dufan sambil menikmati parade badut dufan di sore hari.

“Aku mau naik itu,” tunjuk Lexi pada wahana bianglala.

“Me too,” sambung Verrel.

“Yaudah ayo kita kesana!” ajakku, namun tiba-tiba Allan menarik tanganku.

“Eh jangan, permainan itu terlalu tinggi untuk anak-anak,” aha, sepertinya Allan takut dengan bianglala. Ini bisa jadi kesempatanku untuk balas dendam. Yah walaupun aku tidak mau balas dendam, tapi perlakuan Allan hari ini cukup membuatku jengkel.

“Masa sih? banyak kok anak kecil yang naik,” jawabku, Allan makin terlihat malas.

“Iyah tapi kan-,”

“C’mon uncle,” ajak Verrel tak mau menghiraukan alasan Allan. Aku hanya tersenyum bahagia ke arah Allan. Dan kini gantian dia yang terlihat kesal, namun akhirnya dia mengekor dibelakang kami.

Begitu kami masuk ke dalam wahana ini, ekspresi yang kutangkap dari wajah Allan adalah tegang. Dia terlihat sangat tegang dan itu membuatnya lucu. Aku sampai ingin tertawa melihatnya.

“Oh ya, kita belum foto berempat kan? Ayok kita foto,” ajak Verrel, dia mengeluarkan kamera Polaroid dari dalam tas kecilnya lalu mengarahkan ke arah kami. Begitu bianglala ini semakin berjalan naik. Kami berfoto ketika berada di puncak paling atas.

“Look at that. Jakarta looks like a random city. Bentuknya sangat berantakan,” tujuk Verrel pada bangunan rumah sekitar yang bisa kami lihat dari atas.

“And also that sea,” tunjuk Lexi pada Laut Ancol, “Airnya keruh dan berwarna coklat,eewww,” lanjut Lexi. Aku hanya mendengarkan ocehan mereka mengenai keburukan kota Jakarta kalau di lihat dari atas sini, karena memang itulah faktanya. Kualihkan padanganku ke arah Allan yang sejak tadi hanya terdiam. Kulihat wajah Allan makin memucat dan keringat mengucur dari pelipisnya.

“Uncle, are you sick?” tanya Verrel ketika melihat Allan.

“No..no..” jawab Allan cepat, dan aku tahu dia berbohong. Karena aku kasihan padanya, aku langsung menggeser posisi dudukku mendekat ke arahnya.

“Close your eyes!” perintahku. Namun Allan malah terlihat kebingungan, “Close your eyes!” perintahku sekali lagi. Dan kini dia menurut. Dia menutup kedua matanya. Aku menarik kepalanya menyender ke bahuku agar dia rileks dan tidak begitu tegang. Namun tiba-tiba sinar blitz dari kamera Polaroid Verrel menerpa kami.

“You both are so sweet,” ujarnya sambil mengipas-ngipas hasil jepretannya.

“Can I see that?” tanya Lexi meminta foto yang ada ditangan Verrel, lalu Verrel memberikan padanya. “Ohhh how cute,” ujarnya dengan tampang yang sangat lucu.

“I told you. Mereka itu bakalan serasi kalau pacaran,” lanjut Verrel, lalu mereka berdua tertawa ke arah kami.

“Ssssstttt,” kataku sambil menaruh jari di depan bibirku. “Silent,” bisikku pelan karena aku takut mengganggu Allan yang saat ini sedang –mungkin- ketakutan. Akhirnya mereka berdua menurut dan hanya sesekali cekikikan tidak jelas. “Udah selesai Lan,” ucapku begitu kami wahana ini berhenti. Dia bangun dan menatapku. Wajahnya masih terlihat pucat namun tidak sepucat tadi. Kami bangkit keluar dari wahana tersebut.

“Aku mau ke toilet,” ujar Allan. Lalu aku, Verrel dan Lexi duduk di bawah pohon tak jauh dari toilet tersebut. Tiba-tiba sepasang laki-laki menghampiri kami.

“Sudah berapa lama mas menikah?” tanya salah satu cowok berbaju hitam begitu berdiri di depan kami. Aku langsung terkejut dengan omongan mereka.

“Maksudnya apa yah?” tanyaku bingung.

“Haaaahh sudahlah, nggak usah pura-pura. Kalian pasangan kan? Dan ini pasti ank-anak kalian. Hadduuhhh lucu-lucu banget sih,” sambung cowok yang lainnya sambil mencubit pipi Verrel dan Lexi.

“Nikah? Kita belum nikah kok,” jawabku.

“Owh jadi belum yah? Kemarin kita baru abis dari New York lho. Kita nikah disana,” lanjut cowok yang mengenakan baju hitam. “Gak apa-apa deh belum nikah, pasti karena kamu terlalu muda yah? Atau belum dapat restu orang tua?” lanjutnya.

Honey, kamu jangan terlalu mencampuri urusan orang lain donk, kasian dianya,” tegur cowok yang mengenakan kaos biru pada pasangannya, “Maaf yah mas,” ujarnya padaku.

“It’s okay,” jawabku, lalu Allan keluar dari toilet dan menghampiri kami.

“Wah ternyata kalian memang pasangan muda. Tapi kok udah punya anak yah?” kata cowok berkaos hitam ketika Allan keluar.

“Sebenarnya mereka keponakanku bukan anakku,” jelasku pada mereka, dan mereka terihat terkejut.

“Oh jadi cuman keponakannya toh, pantesan,hehehe,” sahut cowok berkaos biru. “Yasudah kalau gitu, kita pamit. Semoga langgeng yah,” katanya sambil menyalami kami berdua dan berlalu meninggalkan kami.

Verrel dan Lexi tertawa kencang setelah mereka pergi, aku pun ikut terkekeh, sementara Allan masih terlihat bingung. “Siapa mereka?” tanya Allan.

“Gak tau,” jawabku singkat. “Yasudah ayo kita pulang!” ajakku pada Verrel dan Lexi yang masih cekikikan gak jelas.

“Kok kalian ketawa sih?” tanya Allan pada mereka. Bukannya menjawab mereka malah makin tertawa kencang.

“Mereka tadi mengira kalau kalian berdua jadian,” jawab Verrel sambil terkikik.

“Iyah, habisnya kalian terlalu manis sih untuk hanya jadi seorang teman,” lanjut Lexi yang saat ini sudah berada digendongan Allan.

“Oh gitu, yaudah kalau gitu kita jadian aja,” celetuk Allan yang membuatku kaget.

“Agree,” seru Verrel.

“Me too,” lanjut Lexi.

“Kalian apa-apaan sih. sudah-sudah, sekarang kita pulang,” jawabku yang disambut tawa dari mereka. Lalu kami berjalan menuju mobilku.

Kali ini aku yang menyetir karena tadi waktu berangkat Allan yang menyetir. Verrel duduk di belakang sementara Lexi tiduran di dada Allan. “Uncle, kenapa kalian gak jadian aja,” ujar Lexi di tengah perjalanan.

“Ehm..gak tau tuh. Padahal aku udah naksir sama uncle-mu tapi dia masih belum bisa menerimaku,” ujar Allan lebay, sesekali dia meliriku yang sedang fokus menyetir.

“Kayaknya uncle harus berusaha keras deh. Habisnya uncle Dave jual mahal sih,” lanjutnya yang disambut kekehan Allan.

“Lexi, kamu bisa diem nggak? Tuh, Verrel aja tidur, mending kamu tidur aja deh daripada ngomong nggak jelas gitu,” perintahku, namun Lexi hanya tersenyum sambil membisikkan sesuatu ke Allan. Entah itu apa, mungkin dia sedang bersekongkol.

Akhirnya kami sampai di rumahku. Aku membangunkan Allan, “Lan..” ujarku sambil menggoyangkan badannya. Ku kira dia akan susah bangun, namun kali ini dia langsung bangun. “Kita udah sampe,” kataku, dia pun langsung bangun dan membuka pintu mobilnya. Aku keluar dari mobil dan membuka pintu belakang, kulihat Verrel juga tertidur pulas.

“Biar aku yang gendong Verrel. Kasihan dia masih pulas. Kamu gendong Lexi aja yah!” perintah Allan, aku mengambil Lexi dari gendongan Allan, sementara Allan menggendong Verrel. Aku menutup pintu belakang mobil dan menekan tombol locked pada remote mobilku. Lalu kami berjalan masuk rumah.

Aku membaringkan Lexi di tempat tidurnya, lalu melepaskan sepatu dan jaketnya. Allan juga melakukan hal yang sama denganku pada Verrel. Setelah selesai, kita berdua keluar kamar mereka. “Makasih Lan, buat hari ini,” ujarku pada Allan. Dia mengangguk pelan.

“Gue boleh nginep disini nggak?” tanyanya. Aku hanya mengangguk karena tidak mungkin aku menolaknya, walaupun aku sebenarnya masih bingung kenapa dia ingin menginap dirumahku, padahal baru jam delapan malam, tapi yasudahlah biarkan saja.

“Kamu udah gak apa-apa?” tanyaku sambil memegang kening Allan yang sekarang sedang berbaring di tempat tidurku. Dia menggeleng cepat. Namun ketika aku hendak menarik tanganku dia menahannya. “Kenapa?” tanyaku bingung.

“Lo mau gak jadi pacar gue?” tanyanya yang menurutku itu hanya sebuah candaan.

“Udah deh Lan, kamu gak capek apa dari tadi ngerjain aku melulu. Dari siang tuh kamu terus bikin aku jengkel tau, jadi sekarang kamu nggak usah makin bikin aku jeng-,” ucapanku tertahan karena tiba-tiba Allan menyumpal bibirku dengan bibirnya.

“I love you,” ujarnya cepat setelah ciuman kami terlepas. Aku hanya mengerjap-ngerjapkan kedua mataku. Aku masih tidak percaya kalau tadi Allan menciumku, walaupun sebelumnya dia pernah menciumku. Tapi kan waktu itu dalam keadaan mabuk, kalau sekarang dia dalam keadaan sadar dan dia juga bilang kalau dia mencintaiku. “Dave,” tegurnya sekali lagi.

“Jangan bercanda deh Lan,”

“Gue gak bercanda. I love you, I really love you,” katanya sambil tersenyum. Oh my God, senyuman itu. Akhirnya aku sadar siapa pemilik senyuman itu. Senyuman itu mungkin milik Chris tapi tetap lain, karena senyuman mereka berbeda, senyuman itu seperti senyuman Chris waktu akan meninggalkanku pergi bukan senyuman Chris yang dia ulas ketika kita bermain bersama. Yah, aku ingat. Dia mempunyai dua senyuman yang berbeda, tapi kenapa bisa begitu. Aku yakin dia bukan Chris, karena kalau dia benar Chris pasti dia akan mengenaliku. Tapi kalau bukan Chris dia siapa?

Allan menarik tubuhku untuk berbaring dan aku hanya bisa pasrah. Perlahan dia mencium bibirku dan mengigit bibir bawahku. Rasanya sangat amat memabukkan. Aku benar-benar terlena dengan ciumannya. Sebenarnya aku ingin menyudahi ciuman ini, karena aku masih ngin tahu siapa dia sebenarnya. Tapi entah kenapa aku tidak bisa. Aku masih ingin menikmati ciuman ini. Bibir Allan semakin intens menciumiku, bahkan kini lidahnya telah masuk kedalam mulutku. Setelah itu ciumannya beralih ke leherku. Aku bisa mendegar degupan jantung Allan yang begitu kencang. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. “Shit,” rutuknya. Lalu dia bangkit dan menerima panggilan tersebut. Entah kenapa aku merasa kehilangan. Kehilangan sensasi yang diberikan oleh Allan.

“Apa, Vindra collapse? Kok bisa? Iya gue kesana sekarang,” jawabnya terburu-buru, lalu dia langsung menutup teleponnya.

“Siapa?” tanyaku.

“Chloe,” jawab Allan singkat dia langsung memakai sepatunya.

“Siapa yang collapse?” tanyaku sekali lagi.

“Kembaran gue, Vindra,” jawabya singkat sambil masih sibuk memasang sepatunya.

“Vindra siapa?” tanyaku karena aku baru tahu kalau Allan juga memeliki kembaran bernama Vindra.

Allan menghela nafasnya sebentar, “Lo mungkin gak kenal Vindra,” jawabnya. “Karena lo kenal dia dengan nama Chris,” lanjutnya. Aku langsung terbelalak mendengar ucapannya barusan. Jadi benar, dia memang mirip. Itu karena mereka kembar. Tapi kenapa Allan tidak memeberi tahuku.Ucapan Allan sukses membuatku kaget. Jadi selama ini Chris itu kembarannya Allan, dan kembaran Chloe juga. Tapi kenapa mereka menyembunyikan ini dariku? benar-benar tidak habis pikir.

 -Finally, To be Continued to Perkamen Eighteen-

Sorreeeee… Akhirnya Perkamen 17  selesai juga,ahaha. Sorry kalau postingnya telat sehari. Aku memang lagi sibuk soalnya,wkwkw.

Aku mau curcol dulu ahh..

Congrats to my lovely Cousin Mustafa yang akhirnya Wisuda. Happy graduatte dear. Aku ngucapin lewat sini aja yah. Kata mamah kamu sering baca ceritaku yah? walaupun harus mamah translate juga sih. Dasar nyusahin <~ yg ini gak usah kasih tau dia mah!wkwkwk.

Oh ya, salam buat kak Sevgi sama Nenek juga. Kemarin aku baru liat foto kalian pas wisuda kamu di FB. Andai saja aku bisa terbang kesana,fufufu. Tiket kesana mahal booo,Lol. Happy graduatte and get success yah! aku gak bisa ngomong langsung ke kamu soalnya aku gak bisa bahasa arab, apalagi bahasa turki,eewww nyebutinnya aja bikin lidah bengkok,Lol. Mau pake english, kamunya yang nggak bisa, hahaha.

Udah deh segitu aja. Cepet nikah sana! kasih cucu buat nenek! Oh ya, sama kalo bisa kenalin sama cowok yang foto disebelah kamu kemarin. Dia ganteng, walaupun aku tahu pasti penisnya gedong(Cowok midd-east geettoo),ahaha. Abis keliatan banget. Pokoknya kenalin yah! <~ tlg translatin ke dia mah,hehe. *peace*

Oke, segitu aja curhatanku. Aku sengaja curcol disini karena Mamahku selalu baca ceritaku walaupun gak pernah komen, Ck. Dasar!

Buat para SR, kalian harus berterima kasih sama mamahku, karena harusnya part ini aku protect, tapi dilarang sama mamahku, katanya kasihan. Dia lebih sayang SR dibanding anaknya sendiri,fufufu. Makanya kalian harus komen yah!haha.

Gak capek-capek aku mau minta maaf kalau masih ada typo atau kesalahan lainnya. Babay…

Yours truly

Onew Feuerriegel

158 thoughts on “Floque – Perkamen 17

  1. Tau tuh si Onew. Mana update.a lama lagi. Dasar penulis abal2,hahaha

    *curcol pembaca yg sebel gegara kelamaan update* hehehe

    tapi itu bkn isi hatimu kan tor?wkwkwk

  2. selaluuu aja… baca ceritanya kak Onew itu pasti ada yang beda…
    hmm? apa ya? ngga tau deh! -_-! soalnya bedanya juga gatau condong ke arah yg mana, entah negatif atau positif… masih bingung!
    by the way anyway busway, English-nya kok berantakan banget? ya ampyun, aku kanjafi bingung maksudnya gimana? #sok pinter ingris →_→ padahal kan aku darah campuran, ahihi,#gada yg nanya, digampar kak Onew *plak* Ouch! that hurts!
    hahaha, lagi geje kak, jgn dengarkan ocehan org gila ini..
    ceritanya udh mulai ngga mudah ditebak, mulai dapet deng feel nya, tapi masih aja ada yg kurang, cuman aku kurang tau harusnya dimana… maksudnya letak kesalahannya… gitu aja..
    itulah ocehan cantik dr Ruka Minazuki, kurang dan lebihnya minta pulsa-eh salah, minta maaf maksudnya… hihi :* adiooss😀

      • ketularan kak Onew dongg… ahihi •﹏•
        kan kak Onew yg sering gaje… mukanya aja gaje, apalagi hidupnya… *ups! pardon for my pussy mouth! piss! no harm! wks~ *^▁^*
        sukses ya ama ‘dia’ nya… ahihi! :*

  3. lam nal yach… sorry br coment pdhl dah lama ikutan baca, yg pasti bagus de ceritanya (kl gak bagus ngapa juga baca mpe chap ini ya?) 4 thumbs up de (mau lebih gak bisa gak ada yg kasih pinjam ibu jarinya). mau comment ja aq hrs bc 5 ways to comment,dr kmrn gagal mulu. aq bc chap ini ma senyum2 lho tp ya ma liat2 tunggu gak ada org, bisa2 dikira stress nti.. u/ typo gak mslh sih ya, wajar. ceritanya ringan, n menghibur buat refreshing de.. keep going ya…

  4. Huaaa.. mesra banget sih allan sama dave nya.. mau deh bisa kayak gitu..
    Nahloh.. dateng deh chris-nya.. dave pilih siapa yaa? Pilih aku aja kali yaaa. Emm.. tapi aku maunya sama allan sih. Hahaha
    New.. please banget update nya jangan lama2. Pleaseee……

  5. Onew, lanjut yaaaa. udah lama nih.

    Cerita nya makin bagus, gak terkesan terburu2 lagi spt chapter awal2, skrg udah ngalir and cukup nagih nih.

    maap jadi SR, soalnya susah kasih comment dari bb, haha…..

  6. seru sih ceritanya, but geez, please fix the grammar, it hurts, sorry for being harsh, but indeed the story will be damaged just because of it.

      • Setuju sama Daffa. Makasih yah nak,hahha
        Mungkin alangkah lebih baik kalau kamu ngasih tau dimana letak keslahanku, biar nanti aku perbaikin. Jangan asal komen tapi gak ada niatan buat perbaikan ceritaku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s