Book 2: Wind & Water (Part 2)


Previously:

PRAKK….PRAKKK….BDUMM.

“Rian, kamu gak apa-apa kan? Kamu bisa dengar aku kan? Rian?? RIANN!!!!!”

Kesadaranku perlahan menurun kembali. Sayup-sayup terdengar sirine ambulance dari jauh. Segalanya mulai gelap. Aku tidak tau apa aku bisa sadar lagi atau tidak.

 

Book 2: Wind & Water (Part 2)

Pesisir

By: helios

 

 

Rumah Sakit, pukul 07.00 malam

Secercah cahaya lampu mulai terlihat olehku. Kesadaranku juga mulai pulih. Pertama kali yang kusadari adalah aku sekarang terkapar di atas tempat tidur dalam ruangan putih berukuran besar. Perlahan namun pasti, hidungku mencium aroma yang kuyakini merupakan obat-obatan—lebih mirip bau desinfektan pembasmi hama malahan—yang makin lama menggangu rongga paru-paruku untuk bernafas.

“HA—HA—HAAAAAA—HACHIIIIII…” gatalnya hidungku.

Tunggu dulu. Bauobatnya kok nyengat banget ya??? Ck, Gak salah lagi aku pasti dirumah sakit.

Orang pertama yang kulihat adalahTian. Ia sedang tertidur disampingku sambil menggenggam telapak tanganku. Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka. Kulihat dokter memasuki kamar dengan keluargaku beserta sepasang lelaki dan perempuan yang mirip dengan Tian. Ku yakin mereka adalah kedua orangtuanya.

“Bagaimana keadaanmu, Rian?” tanya dokter itu sambil memeriksaku.

“Sudah jauh lebih baik. Apa yang terjadi padaku?”

“Kamu pingsan selama beberapa jam. Ditubuhmu terdapat memar akibat benturan dan ada luka lecet kecil dibagian pelipismu. Namun kamu gak usah khawatir karena kamu sudah bisa pulang sekarang” kata dokter menganalisa.

Tunggu dulu!Memar doang? Lecet? Kayaknya lebih dari itu deh. Seingatku aja, lengan kananku patah dan juga aku mengalami perdarahan yang cukup banyak. Samar-samar aku mengingat ketika Tian yang entah dengan kekuatan apa berhasil menghentikan perdarahan dan mempercepat proses penyembuhan. Soal benturan itu aku sempat merasakan luar biasa sakitnya sebelum aku dinyatakan pingsan. Namun aneh karena saat siuman tadi aku seolah hampir tidak merasakan apa-apa. Aneh.

Mungkin karena mendengar suara rebut-ribut disekelilingnya, Tian pun terbangun.

“Hoahmmm. lho? kamu sudah siuman ternyata. Hah? Kok Mama Papa ada disini?” ujarnya polos sambil mengucek mata.

“Kami khawatir kamu juga kenapa-kenapa, nak. Apalagi ketika menerima telepon dari Hera kalau sedang terjadi sesuatu yang gawat pada kalian berdua” kata Om Frederick. Papanya.

“Ketika terdengar suara hantaman keras dari luar, kami beserta teman-teman, guru, dan para staff yang kebetulan masih ada disekolah langsung berhamburan keluar tanpa memedulikan hujan yang sedang deras. Kami begitu panik saat menemukanmu dalam kondisi pingsan dan tengah dibopong oleh Tian. Salah seorang guru menelepon ambulance untuk datang” jelas Kak Felix.

Suasana hening beberapa lama hingga ada seorang pasien patah tulang yang memanggilku. Hampir seluruh tangan dan kakinya digips.

“Ehm—eh­—Rian?” panggilnya dengan suara yang cukup familiar.

“Mike? Apa yang kau lakukan disini? Apa kau yang..” kataku terputus. Nalarku akhirnya bekerja juga. Rupanya yang menyebabkan kecelakaan itu adalah Mike. Sempat ada rasa kesal yang teramat dalam diriku. Namun ketika aku melihat tangan dan kaki Mike yang sedang di gips, rasa-rasanya aku mulai berpikir dua kali untuk meluapkan emosiku padanya sekarang. Mengingat kondisiku yang jauh lebih beruntung saat ini ketimbang Mike.

“Ohhhh, jadi kamu yang menabrak adikku?? KAU SUDAH GILA, HAH??!!! KALAU SAMPAI TERJADI APA-APA DENGANNYA BAGAIMANA!!! NYAWAMU ITU TIDAK SEBANDING DENGANNYA” teriak Kak Ferdi dengan suara yang menggelegar. Kak Ferdi yang biasanya ramah seketika berubah menjadi ganas. Tidak hanya itu. Kaca jendela dikamar ini langsung pecah begitu saja disertai kilat yang menyambar diluar sana. Otot-ototnya menegang dan nafasnya mulai memburu. Aku khawatir ia akan menghajar Mike yang sedang tidak berdaya. Dan pastinya itu akan menambah masalah yang lebih runyam dari ini.

“Tolong, Fer. Jangan tersulut emosi. Aku tahu kamu marah dan begitu pula denganku saat ini. Tapi ini semua toh sudah terlanjur terjadi” tenang Kak Felix sambil mengelus dada kekasihnya itu. Kak Ferdi perlahan mulai luluh dan urung meluapkan amarahnya.

“Amarah hanya akan memperburuk segala hal, Ferdinand. Yang terpenting saat ini kan keadaan Rian sudah membaik. Iya kan, Rian?” sahut ayah menenangkan juga.

Ekor mataku sekilas melihat pecahan-pecahan kaca yang berserakan perlahan melayang dan mulai bersatu kembali dengan pecahan lainnya menjadi kaca yang utuh. Sebenarnya apa yang terjadi, sih??

“I-Iya, ayah. Tidak masalah kok kak. Lagipula kata dokter tadi aku sudah diperbolehkan untuk pulang” kataku dengan senyum yang dipaksakan. Bagaimanapun aku paling anti jika harus lebih lama berada di rumah sakit.

“Maafkan aku, Ri. Aku tadi tidak bisa mengendalikan mobilku hingga menabrakmu”

“Sudahlah. Itu tidak penting lagi sekarang”

“Tapi aku berjanji akan……”

SREEEKKKKKKK

Kata-kata Mike langsung terhenti saat Kak Ferdi menutup tirai pemisah antar pasien dengan sekali sentakan

~~~***~~~

Pukul 08.45 malam

Setelah mengurus administrasi rumah sakit, kami semua segera pulang. Untung Kak Felix membawa mobilku kesini. Baru juga akan membuka pintu kemudi, Tian menghalangiku.

“Biar aku aja yang menyetir. Kamu baru aja keluar dari rumah sakit” bujuknya.

Baru saja aku mau membantah, ia sudah memberiku tatapan tidak setuju yang akhirnya membuatku pasrah. Iring-iringan kendaraan mulai bergerak. Kedua orang tua dan kakakku berjalan telebih dahulu dengan mobil papa. Berikutnya kami berdua dan yang paling belakang adalah mobil orangtua Tian. Sedari tadi Tian menyalakan pemanas sebab diluar sedang hujan lebat. Karena merasa cukup hangat—gerah malahan—aku berniat menurunkan suhunya namun Tian mencegahku. Tanpa sengaja kedua tangan kami bersentuhan. Dalam hati aku terhenyak karena kulitnya sangat dingin. Serasa kesetrum dalam larutan alkalin.

“Aucchhh, dingin sekali kulitmu” lontarku.

Kulihat Tian tidak memperdulikan pernyataanku barusan. Yang ada malah bibirnya—bukan—sekujur tubuhnya bertambah pucat dari yang terakhir kali aku lihat. Sesampainya ditujuan, Tian memasukan mobilku ke garasi. Baru saja aku ingin mengucapkan terimakasih, ia sudah keburu masuk ke mobil orangtuanya dan langsung pergi. Buru-buru sekali sepertinya.

~~~***~~~

TIT-TIT-TIT……TIT

Kunyalakan pengatur suhu sauna pribadiku kesuhu yang lumayan panas. Oh iya. Sebelum aku beranjak ke kamar sauna, Kak Ferdi memberikan sebotol susu kepadaku. “Ini dari Tian. Katanya kamu mesti minum ini sampai habis” kuturuti saja. Dan ternyata setelah aku meminumnya, tubuhku langsung sehat kembali seperti sebelum kecelakaan naas itu. Bahkan bekas luka lecet pun hilang semuanya. Sungguh menakjubkan.

Kubuka satu per satu pakaian yang melekat hingga aku telanjang sepenuhnya, kemudian aku duduk dibangku panjang yang tebuat dari kayu. Entah kenapa meski baru saja selamat dari maut, tapi bisa-bisanya aku berniat untuk sauna. Biasanya aku dan kedua kakakku selalu bersauna bareng. Entah kenapa birahi kami biasanya memuncak seiring dengan semakin panasnya suhu. Tak jarang akhirnya mereka berdua bercinta dihadapanku dengan libido yang begitu dahsyat. Karena terangsang, aku pun memuaskan hasratku sendiri sambil melihat siaran same-sex secara langsung itu. Gratis pula.

Kulihat penisku mulai menggeliat-liat hingga tegang sepenuhnya. Tidak terlalu panjang sih. Hanya 19 cm dan diameternya 3 cm. “Hehehe… udah dua bulan gak nyentuh. Pasti ‘dede’ sengsara yah. Ya sudah. Aku puasin malam ini” jalan otak mesumku. kuambil lubricant dari laci dan langsung kubalurkan keseluruh bagian penisku. Perlahan kuremas bola-bolaku dengan tangan kiri dan kutarik penisku dari pangkal hingga ke ujung secara perlahan. Seperti memerah susu sapi namun lebih bertenaga. Bosan duduk, aku beralih keposisi berdiri dengan tetap “memerah” sambil sesekali memelintir putingku. Kemudian, tangan kananku meremas bola-bola testis serta tangan kiri mengelus kepala penisku yang agak sensitif. Setelah dirasa cukup semua pemanasannya, kini tibalah puncak dari semuanya.

Kuambil posisi berbaring dilantai kayu sambil membuka kedua pahaku. Bisa kurasakan anusku mulai basah karena keringat. Dengan lembut kurangsang bagian itu hingga penisku semakin keras. Kutambahkan gel lubricant lebih banyak lagi ke seluruh kepala dan batang penisku. Masih dalam posisi yang sama, kuremas bola-bola testis dan kukocok batang penis secara bersamaan sambil sesekali bergantian antara tangan yang kanan dengan yang kiri. Semakin lama ritmenya ku percepat hingga ketika mau keluar, aku perlambat ritme gerakanku. Terus kulakukan itu berulang-ulang hingga akhirnya aku tidak tahan lagi. Kini kupercepat kocokanku hingga dengan sekali sentakan menyemburlah air mani dengan jumlah yang banyak sekali. Penisku berkedut-sampai tujuh kali dan selama itu pejuh terus menyembur. Belum pernah kukeluarkan sebanyak ini, sebagian besar menyembur ke perut, dada, hingga ada yang sukses mengenai leherku.

Untuk beberapa saat aku terbaring lemas di lantai sauna dengan tubuh dipenuhi mani bercampur keringat. Setelah dirasa cukup, aku menuju shower untuk membersihkan diri. Kemudian aku mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh. Lalu aku menuju lemari untuk mengambil celana dalam dan bersiap untuk tidur. Tapi setelah aku pikir lebih baik tidak usah sama sekali. Kulihat jam di meja lampu. Rupanya aku telah sejam lebih ‘berolahraga jari’. Suara jarum yang berdetak seperti irama “nina bobo” bagiku. Kuhempaskan tubuhku ke ranjang dan alam bawahku mulai melaksanakan tugasnya. Akhirnya aku tertidur.

***

Disuatu pagi yang cerah aku sedang membuka halaman demi halaman album foto di perpustakaan keluarga. Ada foto pernikahan papa dan mama, bulan madu mereka, acara-acara keluarga, foto sewaktu aku dan Kak Felix masih bayi, serta…..

“Foto apa ini? Belum pernah aku melihatnya” gumamku.

Di lembar terakhir terdapat foto kakekku semasa muda beserta lima orang lainnya yang masing-masing memakai jubah panjang dengan symbol yang berbeda. Ketika kubalik foto itu, ada sebuah tulisan yang bahasanya benar-benar aneh.

“Bacalah tuanku”. Pinta sebuah suara.

“Suara siapa itu ?” tanyaku bergidik.

“Tuan akan tahu ketika mengucap kalimat itu” sahut suara itu.

“Baiklah kalau begitu. Pierretarfa Larkhotieve

Ketika aku membaca kalimat itu, angin tiba-tiba berhembus dan membentuk pusaran angin berukuran kecil. Dari pusaran itu muncul lah seekor rajawali putih. Seolah terhipnotis aku tidak bisa berpaling dari tatapannya yang memikat itu. Burung itu lalu terbang ke rak buku teratas dimana ia mengambil sebuah buku tua. Buku itu langsung dilemparkannya padaku dan syukurlah bisa ku tangkap. Ketika aku membuka halaman pertama, terdapat sebuah kata.

~Warlockia~

***

Dijelaskan bahwa dulu terdapat sebuah kerajaan besar bernama Pandora yang dipimpin oleh seorang Raja dan Permaisurinya. Sang Raja adalah seorang penyihir terhebat yang pernah ada. Sedangkan permasurinya seorang Dewi Kehidupan yang dapat mengendalikan unsur-unsur alam. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai enam orang anak yang masing-masing memiliki kekuatan sang ayah dan elemen dari sang ibu. Pangeran Dragomir dan Putri Romanov dengan elemen api dan valinor (cahaya). Lalu ada Putri Belikov dengan elemen air, Putri Ivashkov dengan angin, Pangeran Gregorian dengan elemen bumi, dan yang terakhir Pangeran Preminger dengan elemen logam (elemen keseimbangan). Perpaduan antara sihir dan elemen kehidupan inilah yang menjadikan mereka berenam sebagai warlockian atau penyihir elemental. Selain itu, mereka juga mendapat keahliaan dan kemampuan tambahan dari kedua orang tua mereka. Meskipun terlahir dengan darah campuran dan berbeda dari yang lain, mereka amat dicintai kedua orang tua dan rakyat kerajaan mereka. Seiring waktu mereka berenam lebih dikenal dengan sebutan The Elemental.

Diantara semua orang bangsa Pandora, ada satu orang yang amat membenci mereka berenam. Dia lah Lord Astriel yang tak lain adalah saudara kembar raja. Mereka berdua begitu identik, namun dengan kepribadian yang amat berbeda. Ibarat siang dan malam. Ia begitu tamak dan amat sangat jahat. Ia sangat ingin menghancurkan warlockia karena mereka dianggapnya menjijikan, kotor, dan tidak berdarah murni. Atas dasar itulah raja mengusirnya keluar istana.

Bertahun-tahun Lord Astriel berpindah-pindah tempat hingga ia menemukan Gua Iblis Echidna. Di gua itu ia memperoleh kekuatan yang begitu besar dari pemberian Raja Iblis. Tetapi semua itu perlu pengorbanan dan ada harga mati yang perlu dibayar. Lord Astriel dikutuk menjadi penyihir penghisap darah yang tidak akan mati. Karena itulah ia memiliki julukan sebagai Voldera yang berarti ‘darah terkutuk’. Namun ia sama sekali tidak ambil pusing dengan kutukan yang telah ia dapatkan. Akhirnya dengan kekuatan baru yang ia peroleh, ia beserta para sekutu iblisnya mulai menyerang seisi kerajaan. Perang sihir dan elemen akhirnya tak terelakan. Perang berlangsung terus-menerus tanpa henti. Sudah tak terhitung berapa korban dan berapa banyak darah yang tumpah dari pihak Pandora hingga membuat Pandora terdesak. Para Pangeran dan Putri Pandora yang sudah tidak tahan lagi dengan korban yang semakin berjatuhan langsung terjun ke medan peperangan. Raja dan permaisuri tidak bisa berbuat apa-apa mengingat kondisi mereka berdua yang juga tengah terluka parah.

Dengan semangat gigih mereka mengeluarkan segenap kekuatan elemen dan sihir yang mereka kuasai. Segala strategi mereka gunakan. Namun Lord Astriel tetap saja dapat bertahan. Mereka berenam akhirnya sepakat untuk membelenggunya sampai mereka menemukan cara untuk membunuhnya. Saat Lord Astriel lengah, mereka manfaatkan kesempatan emas itu.

Dari lima sisi berbeda, mereka membuat sebuah penjara ruang dan waktu dengan mantra segel dimensi dan menguncinya dengan kunci yang terbuat dari gabungan elemen mereka berenam. Namun, para Pangeran dan Putri faham betul kalau mantra segel antar dimensi ada batasnya. Maka dari itu sebisa mungkin mereka memantrainya ulang setiap beberapa dekade di malam Walpurgis dan malam Halloween. Mereka juga memberi wasiat agar keturunan-keturunan mereka juga melakukan hal yang sama.

***

Kubuka halaman selanjutnya. Namun….

“Hah? Kosong?”

Melihat itu sang rajawali menyapukan sayapnya pada halaman itu. Halaman itu perlahan memunculkan nama-nama beserta garis penghubung hingga terbentuklah sebuah silsilah keluarga. Kutelusuri baik-baik seluruh keturunan dari tiap Pangeran dan Putri Pandora. Saat aku melihat garis keturunan yang baru saja muncul dari Putri Ivashkov, aku tidak percaya.

“Adrian Estovier Philip Ivashkov. Itu kan namaku”

“Benar, tuanku. Kau adalah keturunan langsung Putri Ivashkov. Dengan kata lain, tuanku adalah warlockia

Halaman kemudian berganti menuju Bab tentang Warlockia Angin. Mataku mencerna setiap kata yang muncul dari halaman berikutnya itu. Disini tertulis beberapa kelebihan warlockia angin seperti dapat mengendalikan cuaca, dapat bergerak cepat, menguasai waktu dan langit serta bertindak sebagai pendukung dua elemental yakni api dan air.

“Jadi yang waktu aku pertandingan itu….”

“Itu bisa terjadi karena kelebihan tuanku yang mulai terlihat”

“Disini juga tertulis ‘pendukung dua elemen’. Apa maksud dari kalimat itu?”

“Api tidak akan bertahan lama tanpa adanya udara hingga menyebabkan api cepat padam. Ombak tidak akan terjadi tanpa adanya hembusan angin. Melihat dari dua hal itu, angin/udara adalah elemen pendukung dari api dan air”

Buku itu kembali terbuka sendiri menuju halaman yang berisikan Bab tentang “Warlockia Air”. Kubaca dengan seksama beberapa informasi penting. Banyak fakta-fakta yang berkaitan dengan warlockia air. Pertama, warlockia air dapat mengendalikan apapun yang mengandung air walaupun kadar airnya sedikit. Kedua, mereka bisa menjadi kabut ketika menghilang. Kabut terdiri atas uap air. Ketiga, mereka memiliki kemampuan atas ruang dan waktu. Keempat, mereka tidak suka panas. Jika terlanjur demikian mereka akan berkeringat namun kulitnya tetap dingin. Kelima, mereka memiliki kekuatan menyembuhkan. Keenam, mereka dapat menduplikat diri sendiri dan duplicatnya dapat menyerupai persis orang lain dengan media air. Dan yang terakhir, warlockia air akan sangat lemas ketika kehabisan kekuatan. Ini bisa terlihat dari kulit mereka yang akan berubah menjadi sangat pucat.

Kabut? berkeringat namun dingin? dan penyembuhan? Semua itu berkaitan dengan Tian. Setelah itu aku melihat nama dari garis keturunan Putri Belikov. Nama itu adalah Christian Orchea Lithera Belikov a.k.a. Sebastian Oliver. Tidak salah lagi.

“Apa Tian adalah warlockia air?”

“Tentu saja tuanku. Ia telah menjadi warlockia

Aku jadi tidak enak kepadanya. Ia telah menyelamatkanku dengan seluruh kekuatannya sampai-sampai dia menderita karena aku. Kalaupun bisa aku ingin membagi energiku dengannya agar ia bisa kembali pulih.

“Lalu, bagaimana denganku? Bagaimana caraku agar juga bisa menjadi warlockia?”

Belum sempat pertanyaanku terjawab, tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka lebar disertai hembusan angin. Kemudian masuklah dua sosok berjubah putih yang berjalan mendekat. Saat mereka membuka kerudung jubah mereka, ternyata keduanya tak lain papa dan Kak Ferdinand.

“Lho? papa? kakak? jadi kalian juga…..”

“Iya, anakku. Ayah dan Kak Ferdi juga warlockia. Dalam satu keluarga besar warlockia seperti kita atau The Elemental lainnya, tidak semuanya memperoleh anugerah ini. Kamu terlahir bersih tanpa noda darah setetespun. Kamu juga sama sekali tidak menangis dan sudah bisa membuka mata dalam waktu singkat. Ketika petir menyambar kamu sama sekali tidak takut. Bahkan dari tubuhmu sendiri mengeluarkan cahaya yang sangat terang disertai semilir angin yang lembut. Sejak kejadian itulah kami yakin kalau kamu telah ditakdirkan untuk menjadi warlockia” jelas ayah.

“Apa aku sudah menjadi warlockia?”

“Belum. Untuk menjadi warlockia angin sejati, segel elementalmu harus dibuka. Untuk itulah kamu mesti bisa mendapatkan panah dan busur langit, Adrian” kata Kak Ferdi.

“Bagaimana caraku mendapatkannya?”

“Pergilah menuju tepian Tanjung Olympic. Selanjutnya kamu harus menyelam menuju ke dasar laut hingga menemukan karang yang berbentuk seekor rajawali dan paus. Oh iya, jangan lupa ketika kesana pakailah ini” kata kakak sembari mengalungkan sebuah kalung berliontin kristal bening.

“Ayah lupa memberi tahumu. Kamu harus melakukan ini semua tepat ketika masa titik tertinggi dari pasang air laut. Jika tidak, kamu harus menunggu lima tahun lagi”

“Apa ini semua kenyataan? Ini bukan mimpi atau lelucon kan?”

Well, teknisnya sih belum terjadi” kata ayah.

“Maksud kalian?”

“Kau akan tahu sendiri”. Setelah kakak berbicara demikian, ia lalu menjentikan jarinya.

KLIKK…….

~~~

Mataku langsung terbelalak. Bingung dengan apa yang terjadi aku segera bangun. Ternyata aku masih mendapati diriku didalam kamar. Masih dengan keadaan polos tanpa benang sehelai pun.

Hah? Jadi yang kualami di perpustakaan itu MIMPI?? Tunggu dulu. Tepian dari Tanjung Olympic?? Tapi kenapa harus—Oh iya! Beberapa waktu kedepan kan ada tugas kunjungan ke La Push oleh Mr. Smith. Malas kesana sih sebenarnya. Tapi sepertinya, mau tidak mau aku harus kesana. Soalnya dari yang kudengar diberita semalam, saat itu adalah titik tertinggi dari pasangnya air laut.

Kulihat jam masih menunjukan pukul 02.00 pagi. Masih terlalu pagi untuk beraktivitas. Toh hari ini juga weekend. Kuputuskan untuk kembali tidur saja. Lagipula aku masih lelah setelah “AHA-AHA” semalam. Tanpa permisi mataku kembali terpejam.

~~~***~~~

2 April 2011, pukul 09.00 pagi

Siswa-siswi sekolahku saat ini sedang ada di La Push. Entah kenapa Mr. Smith menyuruh kami kemari untuk alasan tugas yang menurut kami aneh dan membuang-buang waktu saja.

“Tugas kalian sekarang adalah mewawancarai para penduduk sekitar tentang profesi mereka disini dan kehidupan sekitar sebagai masyarakat Quileut. Kalian bisa mewawancarai siapa saja. Jaga kebersihan dan kesopanan kalian disini. Sekarang berpencar lah!!!”perintah Mr. Smith dari pengeras suara disertai gemuruh emosi para siswa.Ini bisa terlihat dari raut wajah mereka yang mendadak terlihat mengerikan.

Daripada berkeluh kesah sendiri, aku memutuskan untuk mencari narasumber. Sempat setengah jam berkeliling, akhirnya kutemukan seseorang yang sepertinya bisa diajak wawancara. Orang itu adalah seorang ibu-ibu penjaga toko aksesoris yang kebetulan sedang beristirahat. Cukup lama juga wawancaranya karena sedari tadi ibu itu sangat cerewet. Kutanya apa dijawabnya apa. Setelah dirasa cukup banyak informasi yang didapat, aku ucapkan terima kasih—meski malas-malasan­—padanya dan memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di kota kecil ini.

Baru saja aku melangkah dari toko, aku bertemu dengan Tian. Yah, Tian kurasa agak aneh memang hari ini. Sejak tadi ia selalu memperhatikanku. Walaupun sudah biasa, entah kenapa aku merasa aneh dengan tatapannya kini. Matanya yang biasanya cerah berseri justru pada hari ini cenderung lebih gelap. Dan dia hanya diam saja. Begitu dingin serta penuh tanda tanya.

Kuputuskan untuk berjalan kembali. Sepanjang jalan aku memang tidak menoleh kebelakang karena aku sadar telah diikuti oleh seseorang. Ketika ku berbalik, ternyata Tian. Jarak diantara kami sekitar tiga meter. Kemudian muncul sebuah ide di kepalaku. Kulanjutkan kembali perjalananku dimana aku yakin dia akan mengikutiku dan benar saja. Cukup lama kami berjalan dalam diam dan luar biasanya aku tidak merasakan lelah sama sekali. Pemandangan toko-toko yang berjejer disepanjang jalan perlahan mulai berubah dengan terlihatnya beberapa kapal yang sedang tertambat di dermaga. Kususuri pesisir pantai itu hingga aku berhenti didekat sebatang pohondriftwood mati yang kebetulan terdampar.

“Kau ingat waktu pertandingan basket beberapa waktu lalu? Ketika pertandingan selesai aku menyusulmu karena ingin mengucapkan terima kasih atas kedatanganmu dalam pertandinganku. Namun ketika di rimbunan pepohonan dekat lapangan parkir aku melihat kamu ada dua—kurasa aku tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu bukan hanya manusia kan?”ujarku tanpa menoleh.

“Siapa yang kau maksud?” ujar Tian datar. Ombak yang bergemuruh berubah diam seketika. Begitu tenang.

“Tentu saja kamu. Chrisstian Orchea Lithera Belikov yang tak lain adalah…”

“Siapa memangnya aku?”

warlockia air”

Suasana diantara kami sejenak hening. Yang kudengar hanya kicauan camar yang menyambar ikan, ombak yang menerjang pesisir, dan deru angin yang menerpa kami.

“Sejak kapan kamu tahu jati diriku?” mulai ia angkat bicara.

Kubalikan posisiku hingga tatapan kami bertemu. “Seminggu yang lalu. Entah bagaimana mulanya, yang jelas ketika itu aku bermimpi sedang membaca buku tua tentang segala hal yang berkaitan dengan Kerajaan Pandora, raja penyihir, dewi alam, warlockian—semuanya. Di buku itu juga tertera seluruh garis keturunan dari warlockian. Tidak hanya kamu saja. Aku juga baru tau kalau aku adalah–”

Warlockia” sambungnyapelan.

“Aku pindah kesini sebenarnya bukan hanya sekedar alasan yang kuutarakan padamu tempo lalu. Aku ditugaskan oleh keluargaku—dan juga kakekmu—untuk mencari, melindungi, dan membantu anggota termuda warlockia angin untuk melepas segel cakranya. Awalnya aku ragu aku bisa, mengingat hanya setiap anak pertama dari keluarga Ivashkov-lah yang menjadi warlockia. Namun kamu berbeda. Kamu adalah anak terakhir dari dua bersaudara yang justru mendapat hal yang sebaliknya. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk menemukanmu. Ketika aku melihatmu untuk pertama kalinya, aku yakin kamu adalah orangnya” jelasnya.

“Darimana kamu tau aku adalah orang yang tepat? Maksudku bagaimana kamu masih mengingatku bahkan sampai nyaris satu dekade kita berpisah?”

“Matamu lah jawabannya. Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan tatapan matamu”

Mendengar hal itu, aku hanya bisa tersipu. Bayang-bayang memoriku kembali melintas saat ia menonton pertandinganku, menemaniku kemanapun aku pergi, hingga menolongku ketika kejadian naas itu.

Segala isi memoriku tidak ada yang tidak terdapat sosok Tian didalamnya. Bahkan ketika masih balita pun­—aku masih mengingatnya, tentunya sebelum kami betemu dengan yang lainnya—kami selalu bermain bersama.Katakanlah aku egois! Tapi aku tidak ingin ia hilang dari sisiku untuk yang kesekian kalinya. Tidak kali ini. Entah dorongan apa aku menariknya dalam pelukanku dan kukecup keningnya dengan lembut. Tidak peduli apa ada orang yang melihat atau tidak. Aku ingin seperti ini terus. Bisa kurasakan rasa keterkejutan pada tubuhnya. Namun diluar dugaan, ia malah membalas pelukanku.

“Maukah kamu membantuku untuk melepas segel cakra ini?” bisikku ditelinganya.

“Tentu saja. Demi kamu, aku akan melakukannya. Asal kan kamu siap” jawabnya bersemu merah.

“Berhubung aku tidak memiliki petunjuk lengkap mengenai cara membebaskan cakra angin, kira-kira kamu punya hal yang bisa dijadikan petunjuk??”

“Okey, aku punya. Ini berkaitan dengan mimpiku beberapa waktu lalu. Dimimpiku itu, aku harus menyelam ke dasar laut. Disana aku harus mencari sebuah karang berbentuk rajawali dan seekor paus. Nantinya akan ada sebuah petunjuk menuju apa yang aku cari” tandasku.

“Dasar laut? Tidak masalah”.

Tian berjalan menuju arah datangnya ombak. Dengan perlahan ia membelah lautan dan melebarkannya menjadi jalan. Agar tidak runtuh, Tian membekukan dinding lautan di kanan-kiri jalan dengan sentuhannya. Setelah selesai dan dinding telah siap, kami berjalan memasukinya.

semakin jauh kami melangkah dari pesisir, semakin menurun pula jalan yang kami lalui. Begitupula dengan dinding pemisahnya yang semakin tinggi hingga mengalahkan tinggi kami. Dinding es yang dibuat Tian begitu bening serupa kristal. Kami bisa melihat beragam jenis makhluk-makhluk laut didalamnya. Seperti Sea World namun dengan skala yang mengangumkan untuk sekedar aquarium bawah laut.

“Woww, kakak-kakakku pasti tidak akan percaya ketika aku menceritakan hal ini. Tapi apa kamu yakin dinding ini kuat menahan volume laut disekitarnya?” ada sedikit rasan khawatir sih kalau-kalau dinding ini akan retak dan hancur serta menenggelamkan kami. Soalnya aku gak bisa berenang. Serius.

“Hahahaha. Jangan khawatir. Es yang aku buat tingkat kekuatan dan kekerasannya tidak perlu diragukan.Andaikata kau mengunjungi kerabatku yang berada di Laut Mediterania, kau pasti akan takjub. Kediaman mereka sepenuhnya berada dibawah laut. Walau begitu suhu didalamnya sangat hangat. Hahaha” jelasnya. Tidak terbayang bagaimana bentuknya rumah bawah air. Bulu kudukku pun meremang karena memikirkannnya.

Setelah beberapa lama kami berjalan, sampailah kami disebuah karang yang kami cari. Karang berbentuk rajawali dan paus. Saat kami tiba dihadapan karang itu, rajawali putih kembali muncul. Kali ini dengan bentuk yang nyata.

“Kita sampai. Sekarang, lepaskan bajumu!!” perintah Tian.

“Ogah amat! Kamu pasti mau–”

“Jangan mikir yang aneh-aneh! Aku juga masih waras, DASAR IDIOT! Kalo kamu gak mau nurut, aku batalin nih!!” ujarnya galak. Kepalang tanggung dah, jalanin aja.

“Sekarang kamu diam aja disitu. Apapun yang terjadi jangan keluar dari lingakaran pentagram ini. Awalnya mungkin terasa seperti digigit semut tapi ini sudah sewajarnya kok. LUFEN!!” bersamaan dengan itu, munculah buku mantra dihadapan Tian dan simbol pentagram besar yang mengelilingku. lembaran demi lembaran dari buku itu terbuka secara otomatis hingga akhirnya berhenti disebuah halaman.

“Aku adalah pemegang kunci gerbang dari tujuh lautan. Dengan kekuatan Dewa Laut Poseidon dan seluruh nenek moyangku, aku memanggil perjanjian elemental atas nama warlockia. Bukalah segel cakra mahkota dari pemuda yang berada dihadapanku ini. Bukalah. BUKALAH!!!!”

ARRGGGHHHH”. GILA. Ini mah bukan digigit semut lagi. Sekujur badan benar-benar berasa ditusuk-tusuk jarum. Dan yang lebih lebih gilanya lagi, mantra itu membuatku kelojotan karena sekujur tubuhku disetrum oleh ribuan volt aliran listrik.

Semakin aku lawan rasanya semakin besar rasa sakit yang menerjang tubuhku. Untunglah kemudian berangsur-angsur voltase dari listrik itu berkurang hingga benar-benar sirna.

“Hah…hah…hah. Kamu mau bunuh aku ya??”

“Gak ada cara lain soalnya. Ritual pembukaan cakra itu sebenarnya mesti dilakukan selama tujuh hari berturut-turut. Tapi kan kita gak punya waktu lagi. Mau gak mau aku harus pake cara paksa. Lagi pula kalau aku memberi tahu hal yang sebenarnya, besar kemungkinan kamu gak akan mau melakukannya” jawabnya terengah-engah.

“Tuanku, masukan kristal pemberian Tuan Ferdinand ke paruh rajawali itu. Setelah itu rapalkan kalimat yang pernah Tuanku ucap ketika mimpi”. Kuturuti permintaan dari rajawali putih. Kumasukan Kristal itu dan kurapalkan mantra seperti yang ia minta.

“Pierretarfa Larkhotieve”

Dasar laut yang kami pijak ini mendadak berguncang begitu keras dan muncul lah sebuah pintu gerbang yang sangat besar. Jika diamati secara seksama, digerbang ini terdapat banyak ukiran sebagaimana relief-relief pada kuil yang pernah kulihat sebelumnya.

Kulihat Tian melangkahkan kakinya menuju karang satunya yang berbentuk paus. Dikarang itu ada trisula kembar yang tertancap. Begitu ia mencabut kedua trisula itu, dinding yang dibuat Tian perlahan retak dan dalam sepersekian detik hancur. Debit air langsung menutup akses keluar kami.

“Bagaimana ini? Kita akan mati tenggelam kalau seperti ini!!!” jeritku panic.

“Tenanglah,kita akan baik-baik saja. Sekarang ayo kita masuk kedalam gerbang itu!!”

Tanpa ba-bi-bu lagi, kami langsung masuk kedalam gerbang itu dan dalam sekejap mata kami sudah berada ditempat lain. Segalanya tampak putih disini. Basah, lembab, empuk, dan hawanya dingin.

“Kenapa tadi dindingnya hancur? katamu dinding buatanmu sangat kuat”

“Maaf ya. Aku tadi lupa bilang kepadamu. Dulu nenekku berkata jika aku telah sampai digerbang dasar laut Olympic ketika bersama calon warlockia angin, aku diminta untuk mengambil salah satu pusaka keluarga yang sudah lama tersimpan disini. Tapi karena pamor-nya sangatlah besar dinding yang aku buat tidak ada apa-apanya. Maklum saja. trisula kembar ini kan pasaknya lautan pasifik—kalau enam lautan lainnya sudah aku cabut pasaknya sebelum pindah kesini. Jika dicabut pasti lautan akan bergejolak dan dinding yang kubuat, sekeras apapun akan runtuh”. Buseettt. Serem amat tuh senjata.

Setelah rasa lelah kami hilang, kami memutuskan untuk berkeliling. Segalanya nampak aneh disini. Tempat yang kami pijak warnanya putih tapi atap yang kami lihat berwarna biru cerah.Nalarku langsung berjalan. Ternyata kami berada di langit rupanya.

“Hey lihat!!! Ada gerbang lagi!!” tunjuk Tian antusias.

Kami bergegas untuk kesana. Tapi belum lagi sampai, awan yang kami pijak bergetar dan keluarlah makhluk echidna jadi-jadian. Benar-benar buruk, rupanya—meski lebih jelek Irfandi a.k.a. Albus Figi sih—setengah wanita, setengah ular dengan ekor seperti ekor ikan, bertaring, dan bersayap.

Dengan ganasnya makhluk itu melilit tubuhku hingga aku sulit bernafas. I SWEARR!! Ini makhluk amis baunya.Saat aku kianterdesak saking gak kuatnya nahan nih bau, gelombang besar menghempas echidna hingga terpental jauh. Namun serangan yang Tian lancarkan tidak berdampak apa-apa.

“Adrian! Cepat ke gerbang itu”

“Tapi bagaimana denganmu?”

“Aku baik-baik saja. Akan ku tangani makluk ini. PERGILAH!!”

Dengan cepat aku berlari namun tidak mudah karena mendadak datanglah hembusan angin yang menahan tubuhku. Bisa kudengar erangan kesakitan dari Tian dan raungan dari makhluk itu. Akhirnya dengan segenap tenaga bisa juga aku memasuki gerbang langit itu dan tubuhku berpindah tempat lagi.

Saat kubuka mataku aku sudah berada di reruntuhan istana langit. Kulihat altar utama di atas sana. Kudaki tangga itu hingga akhirnya sampai. Di altar itu terdapat busur kayu ulin dan tempat anak panah. Aku bingung. Apa yang mesti kulakukan sekarang?

Lalu datanglah rajawali putih dari cakrawala yang menukik kearahku dan menembus tubuhku. Seketika itu tubuhku bersinar. Dari punggungku keluarlah sayap yang sangat besar. Busur dan tempat anak panah langsung terpasang di tubuhku. Lalu tiba-tiba muncul lah suara misterius.

“Aku adalah pendahulumu, anak muda. Ternyata keberanianmu tidak bisa dianggap remeh. Setelah berabad-abad akhirnya kamu bisa juga sampai disini. Kamu memang cocok dengan senjata ini karena kamu adalah penerus yang istimewa. Yakinlah dengan dirimu dan anak panah ini tidak akan meleset dari sasaran. Gunakanlah dengan bijak. Elemental udara telah menyatu dalam darahmu dan kini kau sudah resmi menjadi warlockia angin. Pergilah. Bantulah sahabatmu

Kini aku sudah kembali didepan gerbang langit. Dari jauh kulihat Tian sudah kewalahan menghadapi makhluk itu. Kukumpulkan segenap kekuatan baruku dan kini aku telah terbang ke angkasa. Kubidik monster itu dengan anak panah. Yups, tepat sasaran mengenai punggung monster itu dan ia menjerit luar biasa. Dengan cepat aku menukik dan menyambar tubuh Tian.

“Ri—Rian? Benarkah ini kamu?”

“Iya”

“Keren. Kamu sudah memiliki sayap sekarang dan juga kalung yang kamu pakai keren deh. Bandulnya jadi rajawali” aku malah gak tau kalau kalung yang aku taruh didasar laut tadi, kini sudah terpasang kembali dileherku dan berubah bentuk.

“Aku dari dulu juga keren, keleus! Oh iya daripada ngomongin aku, mending kita harus kerjasama deh untuk membunuh makhluk jadi-jadian enggak banget ini. Kau siap?”

“Tentu saja”

Kami berdua lalu turun kembali. Tian dengan konsentrasi menciptakanjala es—dari uap air yang ada disekitar kami—lalu ia memantraijala itu untuk menjerat dan melilit makhluk jelek itu hingga kesulitan bergerak. Kesempatan ini kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kurapalkan mantra pada echidna yang membuatnya terdiam laksana patung batu.

“Dolzhna byt’ izgotovlena ​​iz kamnya”

“Ti, sekarang gunakan trisulamu. Tusuk tepat di jantung dan kepalanya” dengan patuh Tian mengikuti instruksiku. Ketika ia menikam echidna dengan trisula kembar itu, sontak makhluk jelek itu meledak berkeping-keping.

“Kau hebat, Ti”

“Kamu juga. Ri?”

“Hmmm….”

“Aku gak mau jauh dari kamu lagi”

“Aku juga, Ti” dengan lembut ku ranggul pinggangnya dan ku kecup keningnya. Lalu secara perlahan ku gendong tubuhnya.

“Kamu mau ngapain? Gak ngapa-ngapain aku kan?” jawabnya manja dengan mata mengerling jahil. Dasar mesum!

“Omes banget sih. Kita kan mau terbang ke bawah. Jadi aku gendong kamu”.

“…..”

“Kamu kenapa, Ti?”

“Aku takut ketinggian”.

GUBRAK.

“Yaudah kamu gak usah liat ke bawah ntar. Liat aku aja. Oke?”

“Oke deh”

“Siap-siap ya. Satu—dua—TIGA”

Aku pun merentangkan sayapku lebar-lebar dan dengan sekali kepakan, kini kami—lebih tepatnya aku—terbang membelah angkasa. Sungguh indah angkasa ini rupanya. Seindah wajah Tian yang kini sedang tertidur dalam dekapanku hingga kami mendarat di rumah Tian. Setibanya kami disana, sudah ada keluargaku dan keluarganya yang tengah menghampiri kami begitu jejakan kakiku di permukaan tanah.

“Selamat ya, Adrian. Kamu kini adalah warlockia angin. Berarti mulai saat ini kamu, Tian, dan kita semua akan mulai bersiap untuk menghadapi peperangan. Tapi sampai saat itu terjadi, kamu harus mencari sahabat-sahabatmu terlebih dulu” kata ayahku.

“Tentu ayah. Aku sudah siap untuk melawan kekuatan jahat”

Tunggu dulu. Tadi kan kita lagi dalam acara study tour bareng sekolah. Terus kalo kita berdua mendadak hilang begini, apa yang bakalan terjadi disana ya???

~~~***~~~

Pesisir pantai, 17 Oktober 2011

Malam ini keluarga besar kami berdua sedang berada di pesisir pantai yang tak begitu jauh dari Puri Ivashkov. Kebetulan sedang ada acara barbeque bersama. Canda tawa begitu ramai terlihat. Keponakan-keponakanku bermain petak jongkok dengan sepupu-sepupu Adrian yang dimana usia mereka semua masih sangat kecil. kakek, paman, dan ayah kami sedang sibuk membumbui dan membakar daging. Sedangkan nenek, bibi dan ibu kami masing-masing menyiapkan piring serta menata makanan diatas karpet piknik berukuran super besar. Kalau saudara-saudara kami—yang berusia sebaya dan yang lebih tua dari kami—sedang berkumpul disekitar api unggun sambil bermain gitar dan menyanyi. Kalau kami berdua? Hehe. Berhubung kondisi Tian akhir-akhir ini menurun dan kali ini ia merasa kedinginan, maka aku merebahkannya di dadaku serta kupeluk dia dari belakang.

“Cieilahhhh, peluk-pelukan segala nih anak berdua” sindir Mariana, sepupuku yang sepantaran.

“Iya nih jadi iri” sahut Paman Riendra. Kebetulan ia masih jomblo.

“Biarin kek. Lagian Tian kan lagi gak enak badan. Wajar dong aku angetin dia”

Krik-krik-krik

Kok mendadak jadi diem semua dah. Mana semua mata pada ngeliatin aku lagi. Dari yang tua ampe yang paling muda. Apa aku salah ya??

Tiba-tiba—

Hmmpphhh……BUAHAHAHAHAHA……HAHAHAHAHAHA

Sontak aku kaget. Tiba-tiba semuanya pada ngetawain aku. Ini emang akunya yang halusinasi atau emang keluarga ini pada gak beres ya????

“Kalian lucu banget sih”

“Tau nih. Kalau sakit mah dikasih obat”

“Ini mah sama aja Adrian yang nyari kesempatan”

HAHAHAHAHAHAHA

Tian hanya diam dengan raut wajah yang memerah. Sedangkan aku cuek-cuek aja denger bully-an mereka. Gapapa deng. Itung-itung pahala karena jadi hiburan mereka. #halah

“Sudah-sudah. Kasihan tuh cucuk nenek kalian gituin. Ntar makin ngambek lho”

“Iya nih. Ayo semua kita makan. Makanannya udah siap semua kok. Ayo-Ayo sini!!!” dengan semangat ayah dan papanya Tian mengkomando seluruh anggota keluarga untuk menikmati hidangan.

Setelah acara makan selesai, dilanjutkan dengan memasang kembang api.

“Adriannn”

“Kenapa, Tian??”

“Mulai sekarang panggil aku dengan nama kecilku ya. Panggil aku dengan nama Chriss”

“Lho?? Kok??”

“Gak tau juga sih. Tapi pengennya aku dipanggil dengan nama itu lagi”

“Iya-iya. Lagian setelah aku pikir kembali, panggilan itu emang lebih cocok buatmu ketimbang Tian”

Setelah itu kami berdua menikmati dentuman demi dentuman keras kembang api di langit barat puri ini yang mewarnai gelapnya malam, hingga pada akhirnya… aku merasa ada yang hal tidak beres yang tengah terjadi dilain tempat.

“AUUUUCCHH” jerit Tian—maksudku Chriss—sambil memegang pelipis kirinya.

“Kamu gak apa-apa, sayang??” ujar mamanya khawatir. Mamanya pernah ngasih tau aku kalau Chriss punya migrain yang sering kambuh. Tidak hanya itu, seluruh perhatian keluarga tertuju pada kami.

“Aku gak apa-apa, mama. Kamu ngerasain juga kan, Rian??”

“Iya, aku juga. Aku berharap ini tidak benar-benar terjadi”

“Apa yang kalian berdua bicarakan. Apa yang terjadi??” tanya tante Elizabeth.

“Begini tante dan juga semua. Aku dan Rian memiliki firasat kalau kedua sahabat masa kecil kami sedang dalam bahaya” jelasnya.

“Dan itu bukan sekedar firasat belaka. Lihat kedua kalung kalian” tunjuk Nenek Karina pada kalung kami.

Dan benar saja. Tidak hanya kalung kami yang bersinar, namun kedua senjata kami juga. Kedua senjata kami berputar tiga kali searah jarum jam. Pada putaran terakhir keduanya menghadap arah timur laut.

“Tidak salah lagi. Kedua teman kalian dan juga kerabat kita­—yakni Gregorian dan Preminger—sedang mengalami pertempuran hebat. Lihat ini”

“Memoria latu’areva”

“Amagio Foresta”

Dengan kekuatan mamanya Chriss dan mantra dari ibuku, mereka membuat gelombang air raksasa dan menjadikannya seperti layar proyektor.

“Astaga. Banyak sekali rupanya. Kutaksir jumlah mereka ada ratusan lebih” sahut Tante Elizabeth.

“Sialan!!! Kurasa itu semua antek-antek dari musuh besar kita—bukan-bukan—penyihir lain, deng. Tapi masih sekutunya” geram Syania, sepupuku.

“Apa kamu memikirkan hal yang sama denganku, Adrian?”

“Tentu saja, Chriss. Ayo kita kesana”

 

__конец__

 

Hai semua!!!!!

Kuucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Rendi si empunya BLOG KHILAF ini. Karena tanpa dirinya dan karya2nya, aku pasti gak akan khilaf untuk bikin coretan ancur ini. Semoga dirinya selalu diberkati dan mendapat PENCERAHAN dari Tuhan # AMEEENNNNN agar segera menyelesaikan NEW DAY dan proyek “gado-gadonya” bareng Albus Figi dan Bagus Tito.#bener kan ya ejaannya????

2. Onew si Ubur-Ubur yang selalu membuat gue gregetan karena terus-terusan membuat karakter DAVE dalam FLOQUE menjadi DILEMA akan percintaannya. Wkwkwkwk.

3. Ahmad Irfandi Rahman a.k.a Albus Figi yang dengan setia menodong gue dan meng-editorial gue #meski diriku gak yakin dia benar-benar melakukannya# HAHAHAHA

4. Temen baikku yang selalu dengan sabar dan tanpa lelah mengajarkan Akuntansi, MYOB, ZAHIR, dan bahasa Russia kepadaku. Yahhhhh, meski yang nyangkut dikit sih. Namun kuakui, bahasa Russia itu lebih indah daripada bahasa Prancis.

5. Terakhir dan namun yang terpenting adalah…….KAMU atau ELO atau SAMPEYAN yang masih sudi untuk membaca coretan-coretan iseng punyaku ini. Kritik, komentar dan masukan kalian aku tunggu kok. Jangan bosen-bosen untuk komenin penulis amatiran ini ya…….

 

Salam dariku

 

Helios

33 thoughts on “Book 2: Wind & Water (Part 2)

  1. gue cuman baca cerita lo ini sampe halaman lima, bukannya nggak mau baca dan ngeditin tanda baca dan teknis nulis lo yang sedikit sudah membaik, tapi gue super duper sibuk, biasalah gue kan sosialita kelas kakap, maklum baru jadi simpenan pejabat hahahaha,…… gue lagi sibuk ominibuss sama Rendeh sama Tito sih lagi pula ada novel yang harus gue lahap, dan macam-macam yang berantakan lainnya dalam hidup gue kudu diprioritasin., semoga yang lain bisa ngasih keritik yang membangun… see yaaa kapan-kapan.. hahaha

    Rayan & Fauzan mungkin abis lebaran yaa dilanjutnya, nggak ada yang nungguin inikan?

  2. Ini cerita keren abis,bikin imajinasi melayang kemana2, tapi menurt gua ceritanya agak terburu2, *itu based on my opinion sih* tapi teteuup, keren abis!

    • hahh??? terburu-buru??
      #please gua butuh tabung oksigen
      #mendadak gua asma
      sebenarnya kalau dipanjangin lagi, hanya ada 2 kemungkinan:
      -di demo ama pembaca
      -gak tau lagi apa yang terjadi
      #plakk!! hahaha
      well, untuk book 2 ini menghabiskan 28 lembar ms. world lho.
      hehee

  3. wahai helios!! kau membuatku mati penasaran!!! #keluarinsenjatanya_Tian…. bagus ini lebih bagus dari yang kemarin, lebih seru dan unsur gay nya mulai menguat… i like it i like it… lanjut gih

  4. Too damn out of logic😦 . aku gak suka . kesel deh😦 . oh iya dengan handphone layar cabak ini saya nyatakan komen saya sangatlah babi! Lanjut berkarya deh ya walau aku ga baca hoho

  5. nah, sekarang gue udah baca, sudah bertebaran banyak mantra ya.. tapi banyak kalimat yang gue baca sampe 2x, terus murut gue terlalu kasar alurnya cepet kadang lama kadang bertele2.

    udah gitu aja takut yang nulisnya tersakiti *pengalaman tiap gue komen banyakN sipenulisnya merasa tersakiti* behbey

  6. Kereeennnnn!!!! Ada beberapa kata yg ga di spasi tuh hehe. Meskipun ada beberapa yg masih “terinspirasi” dr twilight dan narnia. But overall keren bgt! Andai dibuat jd film, wew! Waiting for next book, kay!

    • sebenarya pas aku ketik ini coretan ancur, udah ada spasinya. cuma entah mengapa begitu di-posting kesini kok malah jadi nyambung.
      #tanyakan pada rumput yang bergoyang

      • keren banget kk…anggi suka ceritanya…but kalo bisa istilah2 capther nya sedikit diatur kk so jd bsa lbh terhanyut lg…yg ngebacanya….muuf ea kk….salam …@nggi…

  7. “Aku dari dulu juga keren, keleus! Oh iya
    daripada ngomongin aku, mending kita harus
    kerjasama deh untuk membunuh makhluk jadi-
    jadian enggak banget ini. Kau siap?”

    ╯╰ĦǎäƉėêħ╯╰  . . . Ђαϑϱђ (¬˛¬) agak drop shooooot tadi baca part itu , but EMEJING gw suka bgt part ini dah mulai seru kayaknya anyway pas didasar laut Tian shirtless apa full naked sih ???? =))H̶̲̥̅̊ǟH̶̲̥̅̊ǟH̶̲̥̅̊ǟH̶̲̥̅̊ǟH̶̲̥̅̊ǟ=)) kepoooo , . . Hellios cerita buatanmu apa aja sih jgn2 gw pernah baca cerita2 buatanmu . . .

  8. Bagus juga nih… tapi ya mungkin emang daya khayal gue yg sulit mencernanya…. tapi bisa kok !!😀 Ceritanya bisa dimengerti, ya pokoknya keren lah.

    Sarannya sih…. mending banyakin lagi adegan…Romantisnya.😉

    Semangat lanjutinnya !!!! Jangan kelamaan ya hehehe🙂

  9. Wow, udah mulai kental..
    Makin seru alurnya..
    Ya kadang sulit joe cerna..
    Over all joe suka sama cerita Helios..
    Jangan lama postingnya ya..
    Keep writing

  10. cerita imajinasi fantasinya luar biasa bagus… adegan romantis dan erotisnya banyakin dong… wkwkwk… #plak hehe… seru bangetlah ceritanya.. sok atuh di lajeng deui (dilanjut lagi)..

  11. Ceritanya bagus banget dehc…
    Jadi penasaran pa yg terjadi selanjutnya…
    Kapan terusanya bro…???

  12. di tunggu lanjutannya…. seru banget ni cerita soalnya …. tapi pengeditan katanya dan letak letaknya harus diperhatikan lebih seksama agar lebih perfact

  13. di tunggu lanjutannya…. seru banget ni cerita soalnya …. tapi pengeditan katanya dan tata letaknya harus diperhatikan lebih seksama agar lebih perfact

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s