Floque – Perkamen 20


Logo Jubilee(resize)NB : Mungkin ini gak lebih bagus dari yang kemarin. Jadi maaf yah kalau kalian gak puas sama Chapter ini. Dan maaf juga kalau postigannya telat. Semoga Chapter selanjutnya gak telat lagi yah! Ya Olloh, berikan aku hidayahmu, please!hahaha.

Chapter Twenty : Dilema.

Perlahan aku membuka mataku. Hal yang pertama kali kulihat adalah atap dengan warna ocean blue. Ternyata semua yang kualami barusan hanya mimpi. Tapi entah kenapa aku berharap mimpi itu bisa menjadi nyata. Namun sepertinya semua itu mustahil. Ku miringkan posisi kepalaku ke samping. Aku mendapati seorang pria yang yang tidur disampingku. Bukan hanya itu saja. Ternyata aku juga tidur di lengannya. Aku mengamati wajah pria tersebut. Wajahnya begitu damai. Dengan bulu mata lentik dan bibir yang ranum. Aku menggeliatkan badanku sedikit dan menghadap ke arahnya.

Aku menaruh tanganku di atas dadanya yang telanjang, “Allan, bangun!” bisikku pelan di telinganya. Aku merasakan tubuhnya bereaksi. Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah memeluk tubuhku dengan kedua tanganya dengan kondisi masih terpejam. “Allan, ini udah siang,” lanjutku sambil mencubit hidungnya. Dia malah tersenyum, kemudian dengan perlahan dia membuka matanya.

“Bisa gak sih kamu biarin aku lebih lama meluk kamu kayak gini? Aku tuh pengen lebih lama meluk tubuh kamu,” ujarnya malas. Aku hanya tersenyum mendengar omongannya barusan. Aku merasa kalau omongan Allan barusan itu membuatku tersanjung, “I Love you,” ujarnya sambil memegang wajahku dengan tangan kanannya.

“I love you too,” balasku cepat sambil memandang lekat wajahnya. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku dan pasti kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ya, bibir kami saling bertaut dan saling melumat. Untuk beberapa saat aku menikmati tekstur bibirnya yang kenyal itu. Sekarang posisiku berada di bawah tubuhnya, dan Allan berada di atas tubuhku. Walaupun aku dan Allan masih berpakaian lengkap, –ralat—karena Allan tidak mengenakan baju sekarang, aku bisa merasakan kalau kemaluan Allan mengeras. Aku melepaskan ciumanku padanya. “Allan, aku boleh tanya sesuatu sama kamu?” tanyaku cepat. Dia terlihat kecewa, tapi kemudian dia tersenyum ke arahku seakan memberiku tanda kalau aku boleh melanjutkan pertanyaanku, “Aku tadi…eehhmm,” perkataanku tertahan karena sekarang bibir Allan sedang mengecup sekujur leherku. Dia mengecup setiap senti leherku dari atas hingga ke bawah leher. “Mimpi Chris bangun,” lanjutku sambil menahan sensasi kecupan yang Allan berikan.

Dia langsung menghentikan aktifitasnya menciumi leherku, lalu dia menengadahkan kepalanya dan melihat lekat ke arahku, “Kamu mimpiin Vindra bangun?” tanyanya bingung. Aku hanya menganggukkan kepalaku. “Kamu gak lagi mimpi kok,” ujaranya cepat. Keudian dia malah merendahkan wajahnya dan malah mencium keningku. “Karena Vindra memang udah sadar,” lanjutnya sambil tersenyum ke arahku. Aku langsung membelalakkan mataku.
“Maksud kamu?” tanyaku makin bingung.

“Iyah. Vindra udah sadar. Semalem pas kita mau ngasih tau dia perihal hubungan kita, dia sadar dan tiba-tiba kamu malah pingsan,” aku makin bingung mendengar omongan Allan barusan. “Akhirnya kamu aku bawa ke kamarku aja,hehehe,” lanjutnya sambil tersenyum lebar ke arahku.

Jadi yang tadi aku mimpikan bukanlah mimpi? Melainkan hal nyata. Namun karena aku pingsan dan terbangun di tempat yang lain makanya aku mengira kalau itu semua itu mimpi. Benar-benar sulit di percaya. Seumur-umur aku baru pertama kali pingsan. “Terus sekarang Chris dimana?” tanyaku penasaran.

“Ehm mungkin masih melakukan serangkaian pemeriksaan. Soalnya dokter Iko juga kaget waktu tahu kalau Vindra bangun. Dia bilang ini adalah mukjizat Tuhan. Karena memang dia memperkirakan usia Vindra gak lama lagi. Tapi buktinya sekarang dia bangun. Aku aja masih bertanya apa penyebab dia bisa bangun. Padahal aku juga udah pesimis sama kondisi Vindra,” jawabnya panjang lebar.

Ciuman itu. Apakah ciuman itu yang membangunkan Chris dari komanya? Ciuman yang kuberikan ketika akan berangkat ke pesta ulang tahun Amanda. Apakah benar itu penyebabnya? Ahhh mungkin ini memang sudah kehendak Tuhan. “Aku mau lihat kondisi Chris,” kataku cepat.

Dia langsung menatapku malas, kemudian dia bangkit dari atas tubuhku dan berpindah ke samping. Aku bisa melihat garis-garis di perutnya. Walaupun dia tidak Six packs tapi garis-garis itu seakan menandakan kalau Allan memang mempunyai tubuh yang bagus. “Mau ngapain sih? Aku kan masih pengen berduaan sama kamu,” katanya malas, lalu dia duduk sambil menatap wajahku dengan raut muka kecewa.

“Kamu kan udah berduaan sama aku dari semalem masa masih kangen juga?” kataku sambil menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku. Jadi semalam memang tidak terjadi apa-apa. Karena memang aku masih mengenakan baju lengkap. Hanya saja Blazzer dan Vest-ku saja yang dilepas. Syukurlah kalau begitu.

“Iyah. Tapikan semalem gak terjadi apa-apa,” jawabnya sambil memanyunkan bibirnya. Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku.

“Memangnya kamu mau terjadi apa?” kataku balik bertanya. Tapi bukannya menjawab pertanyaanku dia malah tersenyum nakal ke arahku sambil menaik-turunkan alisnya. “Dasar mesum. Kita kan baru jadian, masa kamu udah mau yang aneh-aneh aja,” jawabku cepat. “Yaudah sekarang kamu pakai baju kamu! Kita lihat kondisi Chris sekarang,” lanjutku sambil bangkit dari atas tempat tidurnya.

Dia menurut. Dia bangkit dari tempat tidur lalu mengambil dan mengenakan t-shirt yang tergantung tak jauh di dekat tempat tidurnya. Ketika aku menatap bagian bawah tubuhnya barulah aku sadar ternyata Allan hanya mengenakan Boxer. “Kamu ngapain ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Allan curiga. Aku gelagapan, tidak tahu harus jawab apa. “Ahhh aku tau. Pasti kamu lagi merhatiin ini aku kan?” tunjuknya pada kemaluannya sambil kembali menaik-turunkan alisnya.

“Kamu itu apa-apaan sih,” jawabku malas. “Yaudah ayo sekarang kita turun!” perintahku, aku berjalan terlebih dulu keluar kamarnya. Allan buru-buru menghampiriku dan menggandeng tanganku menuruni tangga menuju kamar Chris.

Ternyata Chris sudah selesai melakukan berbagai macam pemeriksaan pasca siuman dari komanya dan dia sekarang sudah duduk di kursi roda. Dia langsung tersenyum begitu menyadari kehadiranku dan Allan, dia menggelindingkan kursi rodanya menghampiriku. “Apa kabar Dave? Sapanya sambil mengulurkan tangannya ke arahku. Aku langsung menyambut uluran tangannya, namun dia malah menarik tubuhku dan selanjutnya kami berpelukan. “Aku kangen kamu,” ujarnya di sela-sela pelukkanku padanya.

“Aku juga,” balasku, lalu kami melepaskan pelukan kami. “Gimana keadaanmu? Kamu masih merasa ada yang sakit kah?” tanyaku penasaran.

Dia menggeleng cepat, “Nggak. Dokter Iko bilang semuanya sudah kembali ke keadaan normal,” jawabnya sambil tersenyum lebar ke arahku. “Kamu bisa nggak ngantar aku jalan-jalan ke taman belakang?” tanyanya.

Aku langsung menganggukkan kepalaku, “Bisa. Tapi kamu kan baru sadar Chris, apa gak lebih baik kamu istirahat terlebih dahulu?” saranku.

“Iyah, lo mustinya istirahat dulu Chris!” sambung Allan.

“Gue udah bisa keluar kok. Dokter Iko udah ngasih ijin,” Jawab Chris pada Allan. Kalau melihat mereka berdekatan seperti ini aku jadi makin susah membedakan wajah mereka yang sangat mirip. “Yasudah ayo Dave!” ajaknya. Aku langsung berjalan ke arah belakang kursi rodanya dan mendorongnya. Padahal kursi roda Chris adalah kursi roda yang bisa dikemudikan sendiri, tapi rasanya aku ingin mendorongnya. “Kamu gak usah ikut Lan! Biarin aku sama Dave aja,” ujar Chris cepat.

“Owh oke,” katanya cepat. Aku mendorong kursi roda Chris menjauh dari Allan, namun aku kembali menolehkan kepalaku ke belakang. Allan terlihat tersenyum ke arah kami, tapi raut kekecewaan tampak jelas di wajahnya.

“Kenapa Allan gak boleh ikut Chris?” tanyaku penasaran.

“Nggak apa-apa. Aku cuman pengen berduaan aja sama kamu,” ujarnya singkat. Aku terus mendorong kursi rodanya hingga kami sampai di taman belakang rumah Chris. “Berhenti Dave!” perintahnya. Aku pun langsung menghentikan aktifitasku mendorong kursi roda Chris. “Tamannya bagus yah?” ujar Chris, aku hanya menganggukkan kepalaku melihat keindahan taman belakang rumah mereka. “Oh ya Dave, kamu hari ini libur?” tanya Chris sambil menolehkan kepalanya ke arahku.

“Masuk, tapi agak siang. Soalnya ini kan hari jum’at,” jawabku sambil tersenyum ke arahnya.

“Wajahmu gak berubah. Dari dulu kamu selalu terlihat tampan,” pujinya padaku. “Sekali lihat aja aku udah tau kalau itu kamu,” lanjutnya. Yah, memang wajahku tidak menampakkan perubahan yang mencolok. Berbeda dengan Chris. Wajahnya agak berbeda, itu sebabnya aku sampai tidak mengenali Allan yang notabene wajahnya itu sangat mirip dengan Chris. “Sebenarnya masih banyak yang ingin aku bicarakan sama kamu. Tapi kayaknya nggak bisa sekarang deh. Sekarang udah jam tujuh, lebih baik kamu siap-siap gih!” perintahnya.

“Iyah, kita bicarain lain waktu aja deh kalau begitu,” sahutku, aku meraih dorongan kursi roda Chris lalu kembali mendorongnya masuk ke dalam rumah.

___

“Jadi apa yang kalian bicarakan tadi waktu di taman?” tanya Allan yang sekarang sedang berdiri di hadapanku. Aku merapihkan kerah bajunya dan membenarkan posisi kancing kemejanya. Sebenarnya Allan mungkin bisa, tapi setelah aku resmi jadi kekasihnya dia terkadang bersikap terlalu manja. Seperti sekarang ini, dia memintaku untuk merapihkan shirt yang dia pakai.

“Ehm gak banyak kok. Dia tahu aku harus masuk sekolah, jadi pembicaraannya kita pending dulu,” jawabku. “Udah selesai,” lanjutku, setelah aku selesai merapihkan shirt miliknya.

“Owh gitu. Yaudah, makasih yah,” ucapnya. “Kamu mau pakai baju aku atau kita pulang ke rumahmu dulu?”

“Aku pinjam baju kamu aja. Kalau kita mampir ke rumahku dulu pasti bakalan lama,” jawabku cepat. Allan menganggukkan kepalanya. Dia berjalan ke arah lemari lalu membukanya.

“Kamu bebas mau pilih yang mana,” katanya padaku. Aku mengangguk cepat. “Tapi kalau kamu mengijinkan aku tetap disini waktu kamu ganti, aku bakalan seneng banget,” lanjutnya sambil tersenyum nakal ke arahku.

“Gak. Mending kamu keluar dulu sana! Aku mau ganti baju,” perintahku. Lalu dia menurut, dia berjalan keluar kamarnya. Aku langsung berjalan ke arah lemari Allan dan mengambil shirt berwarna biru gelap, lalu berjalan ke arah cermin besar untuk mengganti bajuku. Tapi ketika aku baru selesai melepaskan bajuku tiba-tiba kepala Allan muncul di balik pintu kamarnya.

“Waaahhh badan kamu seksi,” pujinya. Aku bisa melihat dari kaca kalau Allan sedang mengintip sambil cengar-cengir gak jelas di balik pintu.

Aku membalikkan posisi tubuhku, “Allan. Jangan ngintip!” hardikku cepat. Dia tertawa, lalu kembali menutup pintunya. Aku menggerutu sendiri atas sikap Allan barusan. Ku kenakan shirt biru gelap milik Allan. Setelah aku selesai mengancingkannya aku langsung menyisir rambutku. Kemudian aku menyemprotkan parfum ke bajuku. Setelah itu aku berjalan keluar kamar Allan.

“Kenapa baju itu kelihatan lebih bagus waktu kamu pakai yah Dave?” tanyanya padaku begitu aku keluar kamarnya.

“Maksud kamu?” aku balik bertanya.

“Iyah, kalau aku yang pakai kelihatan biasa. Tapi kalau kamu yang pakai, baju itu kelihatan lebih bagus. Mungkin ketampanan kamu yang mempengaruhinya,hehehe,” godanya padaku. Aku hanya tersenyum menanggapi godaannya barusan.

“Kamu itu ada-ada aja. Yaudah ayo kita berangkat!” ajakku, Allan langsung menggandeng tanganku menuruni tangga. Ternyata di bawah sudah ada Chris yang sedang melihat ke arah kami.

“Kalian udah mau berangkat yah?” tanyanya pada kami.

“Iyah, kita berangkat dulu yah,” jawab Allan. Chris menganggukkan kepalanya.

“Aku antar kalian ke depan yah,” ujarnya. Dia menggerakan tuas di bagian samping kursi rodanya lalu berjalan beriringan dengan kami.

“Kita berangkat dulu yah Chris,” ujarku padanya, dia menganggukkan kepalanya lalu tersenyum ke arahku.

“Iyah, hati-hati yah,” jawabnya. Aku dan Allan berjalan ke arah motornya. Dia memberikan helm kepadaku. Aku meraihnya, selanjutnya aku naik ke jok belakang motornya. Dia menarik tanganku untuk memeluk perutnya. Setelah itu kami berangkat menuju sekolah kami.

___

“Kemana yah mereka? Kok gak pada kelihatan sih,” ujar Allan begitu kami sampai sekolahan.

“Sebentar yah, aku telepon Amanda dulu,” kataku sambil mencoba menghubungi Amanda. “Mail box,” lanjutku, lalu kembali memasukkan smartphone milikku ke dalam saku celanaku.

“Yaudah kita sarapan dulu yuk ke Jiscaf, aku laper,” kata Allan, lalu kami berjalan menuju Jiscaf untuk sarapan.

“Kalian ternyata disini,” seru sebuah suara yang terdengar seperti suara orang mabuk. Aku dan Allan langsung menoleh ke arah suara tersebut.

“Chloe?” seru Allan kaget. Di belakang Chloe juga ada Amanda, Cassie dan Elaine. Mereka semua kompak mengenakan kacamata hitam. “Kenapa kalian baru dateng?” tanya Allan. namun bukannya menjawab pertanyaan Allan mereka malah langsung duduk di sofa.

“Hmmm kita, gak telat kan?” tanya Chloe dengan suara yang sama. Suara seperti orang mabuk. Kali ini giliran Allan yang tidak menjawab, dia malah menarik ke atas kacamata hitam Chloe.

Are you drunk?” seru Allan tak percaya. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke arahku. “Kayaknya mereka semua mabuk deh, coba kamu tarik kaca mata mereka!” perintah Allan, aku langsung menurutinya. Ku tarik kaca mata Amanda, wajahnya terlihat seperti orang bodoh. Iya, wajahnya itu beneran mirip kayak orang bodoh. Kemudian ku tarik kaca mata Elaine, wajahnya tidak sebodoh Amanda, tapi tetap saja kelihatan seperti orang tipsy. Oh ya, mereka memang tipsy. Selanjutnya aku menarik kaca mata Cassie, nah, kalau Cassie malah terkesan biasa saja. Tapi bau alkohol sangat tercium dari mulutnya.

“Lo ngapain Dave ngelihatin wajah gue? Jangan bilang lo udah tobat jadi gay terus mau coba buat naksir cewek. Sorry yah, gue lebih doyan vegina dari pada penis sekarang,” ujarnya ngaco. Kalau Cassie berbicara kesan biasa yang tadi aku ungkapkan langsung berubah. Wajahnya terkesan lebih bodoh dari Amanda sekarang.

“Ya ampun, kalian semua mabuk yah?” kataku tak percaya. Namun dengan cepat mereka mengangguk bersamaan. “Kok bisa?” tanyaku makin penasaran.

Amanda meraih lenganku dan bergelayutan di lenganku, “Iya, semalem karena Cassie bilang birthday partyku lame,” tubuhnya jatuh di pahaku, “Aku bawa mereka ke ruang bawah tanah, terus kita minum persediaan alkohol yang ada disana,” ujarnya malas.

“Terus kalian minum berapa banyak sampe mabuk berat kayak gini,” aku menarik tubuh Amanda yang terjatuh di pahaku dan menyandarkan kepalanya di pundakku.

“Gak banyak kok, cuman beberapa botol aja,” kali ini Elaine yang menjawab. Sepertinya dia tidak terlalu banyak minum, karena nada bicaranya tidak terlalu kacau seperti Amanda, Chloe dan Cassie.

“Terus siapa yang nganterin kalian ke sekolah?” sambung Allan.

“Arin. Tadinya dia sempet ngelarang kami masuk sekolah, tapi kata Chloe dia harus sekolah, soalnya ada evaluasi nilai economic. Kalau Cassie dan aku ada meeting sama club Cheerios, and kalau Amanda, aku gak tau deh,” lanjut Elaine.

“Dan kalian masuk ke sekolah masih dalam keadaan tipsy gini? Bener-bener gila,” kata Allan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Yaudah sekarang kita pesan susu aja. Biar kadar alkohol di dalam tubuh mereka sedikit ternetralisir,” kataku. Aku langsung memesan susu untuk mereka semua.

“Ayok minum!” ujarku pada mereka begitu susu untuk mereka sampai di meja kami. Dengan malas mereka meraih gelas susu tersebut. “Dihabiskan yah! Bila perlu nambah,” lanjutku sambil membantu memegangi gelas susu Amanda. Setelah susu mereka habis aku dan Allan membiarkan mereka mencerna susu yang tadi mereka minum.

“Kalau mama sama papa tau persediaan alkohol mereka habis gimana yah nasib Amanda?” tanyaku cemas.

“Yah, anggep aja itu hadiah ulang tahun dari mereka buat anaknya,” sahut Allan enteng.

“Mana ada hadiah ulang taun kok party minuman alkohol,ckckck,” oh iya, hadiah. Hadiah yang kuberikan untuk Amanda bagaiamana nasibnya? batinku,  Aku langsung menggoyang-goyangkan tubuh Amanda. “Nda..Nda… hadiah dari aku udah kamu ambil,” tanyaku penasaran.

Dia membuka kacamatanya, “Hadiah apa Dave?” tanyanya malas. Sepertinya susu tadi bekerja. Wajah Amanda tidak terlihat sebodoh tadi.

“Hadiah dari aku buat kamu. Kan aku kemarin ngasih alamat hadiah itu buat kamu? Kamu lupa yah?” Amanda langsung terlonjak dari tempat duduknya.

Oh my God. Hadiah itu. Aku lupa,” ujarnya gelagapan. “Aduuhh Dave gimana ini?” tanyanya panik.

“Lagian kenapa kamu bisa lupa? Yaudah ayo kita kesana sekarang. Mudah-mudahan aja masih ada,” kataku bangkit meraih tangan Amanda.

“Yaudah ayo kita kesana!” ajak Amanda tak kalah antusias.

“Ehh kalian mau naik apa?” tanya Allan ketika kami hendak pergi.

“Naik mobil Dave,” ujar Amanda cepat.

“Aku gak bawa mobil Nda,” kataku pada Amanda. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Allan, “Kita naik taksi aja,” jawabku.

“Owh oke, hati-hati yah,” ujar Allan. aku menganggukkan kepalakau lalu langsung bergegas lari menuju lobby sekolah untuk meminta bagian resepsionis memesankan taksi untuk kami.

“Hadduhh Dave, kamu itu ada-ada aja deh. Ngapain juga kamu ngasih hadiah ngerepotin kayak gini. Kan jadi ribet urusannya, “ oceh Amanda yang saat ini sedang berlari kecil di sampingku.

“Kamu juga sih. ngapain pake acara lupa segala? Kan kasihan dia nungguinnya,” ujarku sambil terus mempercepat langkahku.

“Dia? Dia siapa?” tanya Amanda curiga.

“Eh, emm anu, eemm aahh sudahlah lupakan! Aku mau mesan taksi dulu,” kataku sambil berlari ke arah resepsionis.

“Mbak, tolong pesankan taksi yah, segera!” pintakku. Dia langsung menganggukkan kepalanya.

“Taksinya kebetulan masih ada yang di area parking lot, mas bisa langsung menggunakan jasanya,” ujar mbak resepsionis itu ramah.

“Oke mbak, terima kasih,” jawabku. Aku langsung menarik Amanda menuju taksi yang tadi ku pesan. Kami langsung masuk ke dalam taksi begitu taksi tadi berhenti di depan kami.

“Selamat pagi, kita akan kemana mas, mbak?” tanya sopir taksi tersebut.

“Eh anu, eng kita mau… Nda, kertas yang semalem aku kasih mana?” tanyaku pada Amanda.

Dia mencari di kantong bajunya, “Yah, kayaknya ketinggalan di meja party semalem,” ujar Amanda penuh sesal.

“Ya Tuhan, Amanda,” kataku geregetan. Aku langsung teringat, ku ambil smartphoneku untuk mengecek chat historyku. Yeah, got it! “Kita ke alamat sini yah pak!” ujarku sambil menunjukkan alamat yang tertera di layar smartphoneku.

“Baik,” ucap sopir taksi tersebut, lalu kami langsung melaju ke tampat yang akan kami tuju.

 

Sport mall?” tanya Amanda tak percaya begitu kami sampai di tempat yang kami tuju.

“Iyah, memangnya kenapa?” kataku balik bertanya.

“Enggak nggak apa-apa,” sahut Amanda cepat.

“Yaudah ayo kita masuk!” ajakku sambil menarik tangan Amanda. “Pak, reservasi untuk Amanda Bellvania masih bisa di temui?” tanyaku pada security yang berjaga di pintu masuk.

“Owh reservasi atas nama Mr. Alexander?” aku langsung menganggukkan kepalaku, “Mungkin masih ada. Mari saya antar!” ujar security tersebut. kami langsung mengikutinya dari belakang, “Harusnya kan tadi malam acaranya, kenapa baru sekarang datangnya?” tanya security tersebut.

“Iya pak. Semalam kami lupa,” jawabku cepat, lalu dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Amanda menarik lenganku dan dia mendekatkan wajahnya ke telingaku.

“Acara apaan sih Dave? Kamu itu bikin penasaran tau nggak,” bisik Amanda kepadaku.

“Nanti juga kamu tahu sendiri,” jawabku padanya. Setelah kami sampai, security tersebut mempersilahkan kami masuk. Kami membuka pintu tersebut. ternyata di balik pintu tersebut terdapat lilin-lilin yang telah padam. Kami terus berjalan mengikuti jalan yang dibuat oleh lilin tersebut, hingga akhirnya kami menemukan sosok seorang pria yang sedang tertidur di meja makan.

“Siapa Dave?” tanya Amanda curiga.

“Kamu samperin gih! Kasihan tuh dia nungguin kamu sampai ketiduran kayak gitu,” perintahku.

“Tapi kan—,”

“Eiittsss, nggak ada tapi-tapian. Sekarang kamu kesana, bangunkan dia! Karena itu hadiah dariku buat kamu,” perintahku tegas. Lalu Amanda menurut, dia berjalan menuju pria tersebut. Dia menyentuh pundak pria tersebut dengan sangat hati-hati. Pria tersebut langsung bangun dari tidurnya, dia menolehkan kepalanya ke arah Amanda.
“Kak Morgan?” seru Amanda tak percaya, bahkan sekarang dia sedang menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya.

“Akhirnya kamu datang juga,” ujar kak Morgan, lalu ida langsung memeluk tubuh Amanda. “I miss you. I miss you so bad. I’m sorry for everything. Really, I’m really sorry,” ucap kak Morgan penuh penyesalan. Amanda masih terdiam, dia hanya sesekali melihatku. “Aku minta maaf untuk semuanya. Aku tahu aku salah, tapi aku sadar kalau cintaku cuman buat kamu Nda,” ucap kak Morgan melas. Ku lihat air mata jatuh di pipi Amanda.

“Ba..bagaimana kakak bisa ada disini? Bukannya kakak harusnya kuliah?” tanya Amanda bingung. Kak Morgan melepaskan pelukan mereka, tapi tetap memegang kedua lengan Amanda.

“Aku kesini mau nebus semua kesalahanku sama kamu. Sekaligus ngasih sureprise buat kamu,” dia melihat ke sekelilingnya, “Yah, walaupun lilin-lilin itu udah padam. Tapi aku yakin cintaku buat kamu nggak akan pernah padam. I really sorry Amanda. And I really love you,” ujar kak Morgan mantap. Kak Morgan menolehkan kepalanya ke arahku, “Dave, cuman Dave yang mau dengerin penjelasan aku. Aku berkali-kali nelpon dan Imessage kamu, tapi hasilnya tetap sama. Nihil. Kamu kayaknya masih bener-bener marah soal itu. Tapi percayalah Nda, aku menyesal. Aku pengen kita balikan lagi. Aku mau kita pacaran lagi kayak dulu, kamu mau?” tanya kak Morgan penuh harap.
Amanda terlihat bingung. Dia mengalihkan pandangannya ke arahku. Dari tatapannya aku tahu kalau dia bertanya apa yang harus dia lakukan. Oleh karena itu aku langsung menganggukkan kepalaku, tanda kalau aku mendukungnya untuk kembali merajut kasih dengan kak Morgan. “Gimana? Kamu mau kan Nda?” tanya kak Morgan sekali lagi. Perlahan Amanda menganggukkan kepalanya. “Kamu mau?” tanya kak Morgan sekali lagi karena masih tak percaya. Lalu Amanda kembali menganggukkan kepala untuk kedua kalinya, tanda kalau dia mau menjadi kekasih kak Mogan kembali. “Terima kasih sayang,” lanjut kak Morgan, lalu mereka kembali berpelukan. Dan hal selanjutnya kalian pasti tau. Akifitas yang dilakukan sepasang kekasih setelah tangkai mistletoe melengkung diatas kepala mereka. Yah, mereka berciuman.

“Tapi kakak musti jelasin semuanya ke aku, okay?!” pinta Amanda setelah mereka selesai berciuman.

“Okay. Tapi lupakan soal penjelasan itu! Aku ingin kembali mengingatkanmu tentang tempat ini,” ujar Kak Morgan.
“Tempat ini? Memangnya ada apa dengan tempat ini?” tanya Amanda bingung.

“Kamu lupa yah? Dulu aku pertama kali ketemu kamu disini. Waktu itu aku masih kelas IX dan kamu masih kelas VII. Aku lagi main basket sama semua temen-temenku. Dan tiba-tiba aja bola yang aku lempar kena kepala kamu sampai akhirnya kepala kamu benjol. Kamu langsung lari sambil nangis, ya kan?”

“Ahh kejadian itu. Kenapa aku bisa lupa yah?hehehe,” kak Morgan menjitak pelan dahi Amanda.

“Dasar pelupa,” ujarnya, “Yaudah, aku gak pengen nyia-nyiain waktu. Aku pengen dansa sama kamu,” kata kak Morgan.
“Tapi pengiringnya apa?” tanya Amanda.

“Oh iya, lupa. Pemain musiknya udah aku suruh pulang gara-gara kelamaan nunggu kamu,hehehe,” kata kak Morgan sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Tenang aja. Ada ini kok,” kataku sambil mengangkat Ipod touch milikku. Aku berjalan menuju speaker yang berada tak jauh dari ruangan tersebut, lalu memasukkan kabel audio ke Ipodku. Dan lagu I only have eyes for you pun mengalun di ruangan ini. Mereka berdansa. Aku bahagia sekaligus iri melihat mereka. Bahagia karena akhirnya mereka bisa kembali bersatu. Dan iri karena aku belum pernah mendapatkan perlakuan se-romantis ini dari Allan. Yah, kecuali dulu, ketika aku masih bersama –sigh—Stefanno. Tapi yasudahlah, lupakan! Aku sudah memiliki Allan sekarang.

___

“Jadi, kalian udah resmi jadian lagi?” tanya Chloe pada Amanda dan kak Morgan. Setelah mereka selesai berdansa kami langsung kembali ke sekolah karena Amanda harus mengevaluasi nilai historynya. Dan sekarang setelah kami pulang sekolah, kami berkumpul di rumahku dan Amanda. “Berarti kita harus ngadain syukuran donk?” lanjut Chloe antusias.

“Iyah, pokoknya kita harus pesta. Bila perlu kita party kayak semalem lagi. Ya nggak?” sambung Cassie yang langsung di balas anggukkan oleh Chloe dan Elaine.

“Maksud kalian kita mabuk lagi gitu?” tanya Amanda yang saat ini sedang duduk di pangkuan kak Morgan. Sesekali kak Morgan memeluk tubuh Amanda dari belakang.

“Iya donk. Memangnya kalian punya ide yang lebih menyenangkan apa dari ini? Dan yang pasti gak lame!” kata Cassie, dia langsung duduk di sofa tepat di samping Elaine.

“Eeehhhmmm,” Amanda berfikir sejenak. “Oke, let’s the party beggin!” seru Amanda yang langsung di sambut teriakan oleh yang lainnya. kami semua mengikutinya menuju ruang bawah tanah rumah ini. Wait, wait, wait! Jadi mereka mau ngelanjutin acara mabuk mereka? Tidak. Ini tidak baik. Mereka harus ku cegah.

Aku berlari cepat menyusul Amanda. Begitu aku sudah berada di dekatnya aku langsung menarik lengannya, “Kamu gila yah? Semalem kalian udah mabuk dan sekarang mau mabuk lagi? Inget Nda, alkohol itu gak baik buat kesehatan. Lagi pula kalau papa dan mama tahu pasti kamu bakalan di marahin,” kataku mencoba mencegahnya.

“Hadduuhhh ada mama Dave disini. Mama Dave, we’re young, right. Jadi, kita harus manfaatin masa muda kita semaksimal mungkin. Lagian kita hanya mabuk sekali-kali aja kok. Itung-itung ngerayain hari balikannya Morgan sama Amanda. Ya kan?” Amanda langsung mengagguk antusias atas perkataan Cassie barusan.

“Lagian Dave, besok itu weekend. Jadi gak masalah donk kalau hari ini kita party. Kamu nggak usah katro gitu deh! Mending kamu ikutan gabung sama kita. Yaudah yuk kita mulai partynya,” yang barusan berbicara itu Elaine. Sampai-sampai dia berani mengataiku katro?ckckck. benar-benar mencengangkan.

Akhirnya pesta di mulai. Alunan distorsi musik hip-hop mendominasi ruangan ini. Aku hanya duduk di sudut ruangan bersama Allan dan mengamati tingkah mereka yang sedang berjoged ala-ala telletubbies epilepsy. Tubuh mereka bergoyang seirama dengan musik yang mengalun. Sesekali mereka berhenti untuk menuang minuman yang entah aku tidak tahu jenisnya apa yang jelas pasti itu minuman beralkohol, ke dalam gelas lalu mereka meminumnya secara bersamaan. Ku lirik kaki Allan yang ikut bergoyang mengikuti alunan musik tersebut. “Dave, aku boleh gabung sama mereka nggak?” tanya Allan padaku.

“Gak boleh. Kamu pasti nanti bakalan mabuk. Mendingan kamu duduk diem disini barenga aku!” kataku tegas. Tapi Allan malah menarik-narik lenganku.
“Ayolah Dave. Kali ini aja. Lagian kan aku gabung juga sama mereka. Masa gak boleh sih? ayolah Dave!” rengek Allan padaku dengan tatapan sangat memelas. Kalau sudah seperti ini aku paling tidak bisa untuk berkata tidak. Ekspresi Allan benar-benar akan membuatku merasa bersalah apabila aku berkata tidak. Dengan terpaksa aku mengiyakan permintaannya.

“Yasudah sana. Tapi awas kalau kamu mabuk parah!” ancamku. Wajah Allan langsung berseri-seri.
“Makasih sugar,” kata Allan, lalu dia mencium bibirku sesaat, kemudian dia langsung bergabung bersama mereka di tengah-tengah ruangan. Oh my God. Memangnya apasih enaknya minuman beralkohol? Sampai-sampai mereka begitu menggandrunginya.Ck.

Suasana ruangan ini makin menggila. Tingkah mereka benar-benar di luar dugaanku. Lihat saja sekarang! Cassie naik ke atas meja lalu melepas bajunya dan tinggal menyisakan rok mini dan bra-nya. Dia memutar-mutar bajunya dengan tangan kirinya. Sementara itu Chloe dan Elaine melemparinya dengan uang 50 ribuan dari bawah yang diambil dari dalam tas Chloe. Kalau Amanda dan kak Morgan, sedang bercumbu di atas sofa. Amanda duduk diatas pangkuan kak Morgan dan mereka berciuman begitu lama. Aku aja melihatnya jadi geli sendiri. Membuatku merinding melihatnya. Coba saja papa dan mama lagi ada disini dan tau kelakuan anaknya. Bisa-bisa uang jajan Amanda di stop. Tapi sayang, mereka sekeluarga sedang berkunjung ke Bali untuk melihat anak perusahaan papa yang baru. Verrel dan Lexi pun tak mau ketinggalan. Mereka ikut kesana, dan hanya tinggal aku dan Amanda di rumah ini. Maka dari itu Amanda berani mengadakan party lanjutan yang mengerikan seperti ini.

Allan. Kekasihku yang satu itu sedang berdiri di depan speaker. Dia menggoyang-goyangkan badannya seperti Caesar kesurupan Susana. Aku jadi bingung kenapa aku bisa mencintainya. Padahal kalau melihat gaya dia seperti ini aku jadi ilfeel. Tapi biar bagaimana pun, dia adalah orang yang berhasil membuatku move on dari Steffano. Tiba-tiba smartphoneku berdering. Aku melihat ke arah layar smartphoneku ternyata itu nomor baru. Nomor itu tidak ada dalam kontak listku. Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan keluar dari ruang bawah tanah tersebut.
“Halo,” sapaku begitu aku keluar dari ruang bawah tanah.

“Halo Dave, ini aku. Chris,” jawab suara di sana.

“Owh kamu Chris. Ada apa?” tanyaku bingung.

“Ehm, nanti malam kamu ada acara nggak? Aku pengen ngajak kamu jalan-jalan,” jawabnya.

“Nggak ada,” nah, kata-kata tersebut keluar tanpa kendaliku. “Eh, maksudku belum tahu. Tapi kalau kamu mau ngajak aku pergi yasudah nggak apa-apa. Memangnya kita mau pergi kemana?”

“Nanti juga kamu tahu. Pokoknya aku jemput ke rumah kamu jam tujuh. Oke?”

“Yasudah kalau begitu,” jawabku. Dan pembicaraan kami selesai. Aku masih penarasan darimana Chris tau nomorku? Dan juga kemana kita akan pergi? Ahh Chris memang suka begitu dari dulu. Dia sering memberikanku kejutan. Dan dia selalu sukses membuatku kagum.

Aku pun kembali turun ke ruang bawah tanah. Dan keadaan saat ini makin membuat kepalaku geleng-geleng. “Owh tidak. Tetek gue menjerit,” teriak Cassie seperti orang gila. Sementara Chloe dan Elaine menuangkan minuman di area cleavage-nya. Kalau kalian gak tau apa itu cleavage, itu tuh belahan yang berada diantara kedua payudara. Ya Tuhan, kenapa aku jadi enek sendiri yah kalau membicarakan onderdil wanita satu itu.

Aku berjalan ke arah Allan yang sekarang sudah terkapar di lantai, kemudian aku membantunya bangkit. “Sugar, kamu ganteng banget, ngik. Boleh aku cium, ngik kamu gak?” ujar Allan tak karuan. Yah, inilah kenapa aku benci orang mabuk. Mereka selalu berbicara tanpa berpikir.

“Kamu ngaco,” jawabku, lalu aku membantunya duduk di sofa. Ku dudukkan dia di sofa tersebut, lalu aku duduk di sampingnya. Tiba-tiba dia mendekat ke arahku lalu memegang daguku. “Allan, mulutmu bau alkohol. Aku gak suka,” tolakku ketika Allan hendak menciumku. Untungnya dia menurut. Dia mengurungkan niatnya untuk menciumku. Selanjutnya dia hanya duduk sambil menyenderkan kepalanya di pundakku.

“Dave, lo nggak minum yah?” tanya Cassie yang berdiri di depanku. Aku menggeleng cepat. “Ahh cemen lo!” lanjutnya.
“Iya Dave, harusnya kamu cobain. Enak kok,” sambung Elaine sambil bergelayutan di lengan Cassie.
“Ayolah Dave. Sedikit aja, yah, yah, yah?” kata Chloe ikut membujukku.

“Nggak. Sekali enggak yah enggak donk,” tolakku tegas.

“Dave, kamu nggak tahu sih, rasanya enak tahu. Buktinya aku ketagihan,” ujar Amanda yang saat ini sudah duduk disampingku.

“Iya, Dave. Sekali-kali doank mah gak akan apa-apa,” kak Morgan makin memprovokasiku. Sepertinya aku sedang dikelilingi setan. Mereka semua benar-benar gila. Aku tetap menggeleng tegas.

“Allan, bujuk Dave donk biar mau minum!” pinta Chloe pada Allan.

Sugar, kamu mau yah? Sedikit aja deh. Yah..yah..yah,” pinta Allan dengan wajah memelas. Sudah berapa kali aku bilang ke kalian kalau aku selalu tidak tega melihat tampang Allan seperti ini. Aku akan merasa sangat berdosa kalau menolaknya. Tapi, aku juga tidak suka minuman berlakohol. Mencium baunya aja bikin mual. Tapi Apa daya, mereka terus memaksaku.

“Baiklah,” jawabku dengan sangat terpaksa.

“Yyyyeeeeaaaayyy,” seru mereka bersamaan. Amanda menyodorkan gelas, lalu Cassie menuangkan minuman ke dalam gelas tersebut, warnanya coklat kemerahan. Entah itu apa, yang jelas sekilas mirip seperti teh. Setelah gelas itu cukup penuh Amanda menyodorkannya ke arahku.

“Ayo minum!” perintah Amanda. Dengan malas aku meraih gelas tersebut, aku masih ragu-ragu untuk meminumnya. Tapi mereka terus memaksaku. Akhirnya aku menempelkan gelas tersebut ke bibirku dan mulai meminumnya.

“Hooeeekkkk,” aku langsung memuntahkan minuman tersebut ke wajah Allan yang sedang berada tepat di depan wajahku. Rasanya benar-benar tidak enak. Tapi mereka semua malah menertawaiku.

“Dave emang gak bisa minum ternyata. Yaudah ayo kita lanjut party-nya!” ajak Amanda, mereka kembali ke tengah ruangan dan menggoyang-goyangkan badannya kembali.

Aku melihat wajah Allan yang saat ini basah karena semburan minumanku tadi. aku kasihan melihatnya, “Ayo kita ke atas, aku mau bersihin muka kamu,” kataku sambil menarik tubuh Allan bangkit dari sofa dan pergi menuju kamarku, dia hanya bisa menuruti perintahku.

“Kamu diem disini,” ucapku ketika aku sampai di kamarku dan mendudukkannya di tepian tempat tidurku. Aku berjalan mengambil beberapa tisu basah untuk mengelap wajahnya. Perlahan aku membersihkan wajahnya dari alkohol yang tadi aku semburkan ke arahnya. Dia hanya diam sambil menikmati belaianku di wajahnya. Ternyata tumpahan alkohol tersebut sampai ke bajunya. Aku pun memutuskan untuk mengganti bajunya.

Perlahan aku melepaskan kancing baju Allan dari atas hingga ke bawah, kemudian aku melepaskannya. Tubuh Allan langsung terekspos, aku langsung mengalihkan pandanganku ke samping karena aku takut aku khilaf. Akhirnya aku bangkit untuk mengambil ganti Allan. Tapi ketika aku baru kembali dan membawa ganti untuk Allan tiba-tiba Allan mendorong tubuhku hingga terjatuh di tempat tidurku. Kemudian dia menindih tubuhku dan menciumiku dengan ganas. Tindakan yang sama persis dilakukannya waktu itu.

Dia terus menciumiku dengan paksa dan hal ini membuatku muak dan seperti laki-laki murahan. Setelah puas menciumiku dia bangkit dan dengan tergesa membuka belt-nya. Ketika belt itu berhasil terlepas, dia langsung membuka kancing celananya dan menarik turun zippernya. Dan hal itu langsung menampakkan dengan jelas underwear yang Allan kenakan. Allan kembali menundukan wajahnya dan mencumbuku. Dia membuka  shirt yang ku kenakan dengan paksa hingga semua kancingnya terlepas. “Allan, kamu jangan gila deh, kamu lagi mabuk,” kataku padanya, namun dia tidak menghiraukan perkataanku dan malah merobek shirt yang kukenakan. “ALLAN. STOP IT!” Teriakku padanya. Dia kaget dan langsung menghentikan aktifitasnya memaksaku.

Aku mendorng tubuhnya ke samping, kemudian aku duduk dan membenarkan shirtku yang bentuknya sudah tidak karuan. Padahal ini adalah shirt yang aku pinjam darinya. “Aku gak mau ngelakuin itu kalau kamu masih dalam keadaan mabuk kayak gini. Aku gak suka. Sekarang mending kamu tidur!” perintahku tegas ke arahnya. Dia menurut. Kemudian dia langsung membaringkan badannya membelakangiku. Mungkin dia marah karena aku tidak mau menuruti keinginannya. Aku sebenarnya mau, tapi aku juga gak mau kalau kita melakukannya dalam keadaan mabuk. Karena nanti hasilnya tidak bisa terkenang dengan indah dan tidak ada romantisme di dalamnya.

Aku bangkit dari tempat tidur. Ku tarik bed cover untuk menutupi tubuh Allan yang setengah telanjang. Smartphoneku kembali berdering. “Dave, aku udah di bawah yah,” kata Chris. Jadi dia sudah sampai. Padahalkan masih jam tujuh kurang.

“Owh oke. Aku ganti baju dulu,” jawabku mengakhiri pembicaraan kami. Aku langsung berlari ke arah lemari dan mengganti pakaianku. Setelah selesai aku berjalan ke arah Allan. Dia sudah terlelap. Aku menarik bed cover yang tadi sempat turun, ke atas hingga menutupi bagian punggungnya. Kemudian aku membelai rambutnya pelan lalu aku mengecup rambutnya. Selanjutnya aku keluar kamar untuk pergi bersama Chris.

“Kamu udah lama nunggu?” tanyaku begitu bertemu dengan Chris.

“Ehm,” dia melirik ke arah jam tangannya, “Baru sepuluh menitanlah,hehehe,” lanjutnya, lalu dia tersenyum ke arahku.

“Yasudah kalau gitu, kita berangkat,” ajakku, lalu kami berjalan beriringan keluar rumah. Entah kenapa aku sudah tidak peduli dengan yang terjadi di ruang bawah tanah. Biarlah mereka berpesta sesuka mereka.

“Katanya kamu lagi sama Allan. Allannya kemana?” tanya Chris ketika kami sedang berjalan menuju mobilnya. Dia langsung membukakan pintu untukku dan aku langsung masuk ke dalam mobilnya.

“Allan lagi tidur,” jawabku ketika dia sudah masuk ke dalam mobil. Dia menghentikan aktifitasnya untuk menggunakan safety belt ketika aku berbicara.

“Tidur?” tanyanya bingung sambil mengerutkan dahinya. Aku mengangguk cepat. “Owh, yasudah kalau gitu,” lanjutnya sambil tersenyum ke arahku. Kemudian dia mengendarai mobilnya.

___

“Kamu ngajak aku ke sini? Tempat kita dulu sering main?” tanyaku tak percaya. Ternyata dia mengajakku ke Monumen danau berdampingan dengan Putri Duyung Cottage. Dulu kalau weekend pasti nenek Chris mengantar kami ke sini. Biasanya kami akan bermain sepeda atau pun perahu angsa.

“Iyah, aku ingin kembali mengenang masa kecil kita,hehehe,” ujarnya. “Yasudah ayo kita turun!” lalu kami berdua langsung turun dari mobilnya. Chris berjalan mendekatiku, ketika kami hendak berjalan ke monumen tersebut dia menahanku, “Tunggu!” katanya sambil memegangi pundakku. Aku pun langsung menghentikan langkahku. Dia langsung menundukkan badanya. Aku mengamati apa yang dia lakukan, ternyata dia sedang membenarkan tali sepatuku yang terlepas. Perhatian Chris memang selalu berlebihan kepadaku. Lihat saja sekarang! Dia sampai rela membenarkan tali sepatuku yang terlepas.

“Terima kasih,” kataku padanya. Namun dia hanya menjawabnya dengan senyuman. Selanjutnya kami berjalan beriringan menuju monumen tersebut. “Suasananya indah. Yah walaupun nggak seindah dulu,” kataku sambil memandang suasana sekitar.

“Iyah. Dulu di langit malam pasti banyak bintang-bintang. Tapi malam ini bintangnya cuman dikit,” tunjuk Chris pada langit malam di atas kami.

“Iyah,” jawabku. Lalu aku duduk di tepian monumen tersebut. Chris pun ikut duduk. Tapi kami duduk saling memunggungi. Jadi punggung kami menempel. “Malam ini kayaknya mendung deh.” Lanjutku. Lalu kami terdiam dan sibuk dengan fikiran kami masing-masing.

“Kamu inget gak Dave dengan cerita kesatria bunga mawar yang suka di bacakan nenek?” tanya Chris. Dia menyandarkan kepalanya ke kepalaku hingga kepala kami menempel.

“Ingat. Tapi kan cerita itu belum selesai. Masih menggantung,” jawabku.

“Memang sih. Tapi aku punya bukunya kok. Kapan-kapan aku minta kamu bacain yah?!” aku langsung menganggukkan kepalaku tanda kalau aku setuju. “Aku sebenarnya pingin main perahu angsa, tapi kan udah gak bisa. Gimana kalau kita naik perahu layar aja. Kan masih bisa tuh kita sewa, gimana?” tanya Chris.

“Yaudah terserah kamu aja,” jawabku. Lalu dia bangkit.

“Ayo!” ajaknya sambil mengulurkan tangannya ke arahku. Kami berjalan menuju tempat penyewaan perahu layar yang akan kami sewa.

“Selamat malam mas,” sapa tukang perahu tersebut. “Mau ke pantai Marina atau mau ke pantai Bende?” lanjut tukang perahu tersebut.

Chris berfikir sejenak, “Ehm ke pantai Marina aja deh,” jawab Chris. Lalu kami naik ke perahu tersebut. Perahu perlahan berjalan meninggalkan dermaga. Cuaca malam ini cukup dingin, tapi sayang aku lupa membawa jaketku. Tapi tiba-tiba Chris memasangkan jaketnya kepadaku. “Pakai ini, biar hangat,” katanya sambil memasang jaket tersebut.
“Tapi kamu gimana?” tanyaku kuatir.

“Aku kan pakai lengan panjang, jadi gak apa-apa,” jawabnya, lalu dia merangkul pundakku. Kami duduk di perahu yang akan membawa kami ke pantai Marina sambil melihat gemericik air yang menerpa pinggiran perahu ini. Sesekali Chris membelai rambutku. Aku selalu senang ketika ada orang yang membelai rambutku seperti ini. Tanpa terasa tubuhku menyender di dadanya. Chris menundukkan kepalanya kepadaku. Namun tiba-tiba di menggerakkan tangannya menegakkan tubuhku, “Kalung itu,” tunjuknya pada kalung yang ku pakai.

“Kenapa Chris?” tanyaku heran, karena tiba-tiba dia bertingkah aneh seperti ini. “Ada apa dengan kalung ini?” lanjutku karena dia menatap kalung ini aneh.

“Kalung itu ternyata sampai di tanganmu,” katanya makin membuatku bingung.

“Iyah, memangnya kenapa? Kan kamu yang ngasih kalung ini ke aku,” Tanyaku penasaran.

“Gak. Gak apa-apa kok,” katanya, lalu dia merengkuh kepalaku untuk kembali bersandar di pundaknya. Aku selalu merasa nyaman kalau dalam posisi seperti ini. Entah kenapa perasaanku kepada Chris kembali muncul. Perasaan yang kurasakan ketika aku masih kecil. Apa aku jatuh cinta kepadanya? Aku harap tidak. Karena sekarang aku sudah dimiliki Allan. Aku tidak mau menyakitinya. Tapi entah kenapa aku seperti merasakan perasaan yang kepada Chris. Aaaaarrgghhh benar-benar membuatku bingung. “Waktu aku ninggalin kamu, apa yang kamu rasakan Dave?”

“Sedih. Yang jelas aku sedih. Kenapa kamu tiba-tiba harus pergi ninggalin aku? Kamu tahu kan kalau aku gak punya teman selain kamu dan Amanda? Jadi aku benar-benar kehilangan kamu,” jelasku padanya. Lalu Chris memelukku. Perlakuan Chris kepadaku selalu sukses membuatku terkesan. Dia tidak berlebihan, sikapnya terkesan gentlemen. Itu yang paling membuatku terkesan.

“Maaf yah,” katanya sambil membelai rambutku. Dia memandang wajahku lekat, sesekali aku menundukkan wajahku karena aku tidak kuat menatap matanya. “Aku cinta kamu,” aku langsung tercengang mendengar perkataannya barusan. Dan aku bingung harus menjawab apa? Ya Tuhan kenapa harus seperti ini? Aku benar-benar sulit menjawabnya. Aku dilema. Aku mencintai Allan. Tapi aku juga tidak bisa memungkiri kalau aku juga mencintai Chris.

-Yeeaaaa, To be Continued to perkamen 21-

Semoga gak mengecewakan yah.hehehe. Sorry kalau belakangan ini sering telat posting, Masalahnya aku kan sekarang udah sibuk. Ini beneran lho yah. Aku gak se-free dulu,hehehe. Jadi harap maklum yah!

Jangan lupa komen! awas aja kalo nggak komen, nggak aku lanjut nanti,hahaha.

Oh ya karena aku males nge-review lagi jadi maap kalau banyak typo-nya yah!hehehe. Udah deh segitu aja. Pokoknya jangan bosen yah nunggu ceritaku,hehehe.

Dadaaaahh, see yuuuuuuu!!!!

Yours truly,

Onew Feuerriegel

142 thoughts on “Floque – Perkamen 20

  1. Kapan lg cerita FBnya diljutin gak sabar siapa yg bkal dipilih ma dave allan atau chris. Tiap hari q buka blog ini bangun tdr psti yg q buka blognya rendi nunggu critan dilnjtin

  2. Ya ya ya i know , kemana arah cerita eloooo
    ┐(‘o’ ┐) net , i guess yang ngasih kalung itu allan kan ??? tapi dia disuruh sama chris cause chris have gone , am i right ? n gw (┎ ‘_’ ┒) teringat pepatah jawa ” witing tresno jalaran seko kulino ” maybe kepribadian dave yg care, fun, n have a good look shape (pretty handsome like me dilarang protes ) makes allan melting n fallin lope (。‿。) with dave, bout allan i gues him gay, he goes from japan cause broken heart with his bf be4 then make decision to leave japan , okeee that all , detective Esa finished the case hahahahaha

  3. kak ini kapan mau dilanjutin lagi? udah lewat lho kak… nanti dimarahin pak dosen gegara ngelewatin deadline sukurin noh… hahaha… lanjutin ya Kak, aku cuman penasaran Dave milih Chris atau Allan.. kalau alurnya udah ketebak… atau jangan jangan dia pilih kak panca ya? #sentil_upil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s