14


Ini adalah salah satu contoh cerpen untuk lomba cerpen dalam rangka menyambut ulang tahun blog ini. Happy birthday Mr.Wordpress. Semoga semakin eksis dan hidup. Semoga makin banyak pembaca yang ingin komen di blog ini.

Oke segitu aja prolognya. Selamat menikmati cerpen abal-abalku. Semoga gak kecewa,hehehe.

14

Gay-love-1

January,14

Welcome Korea.

Aku menarik koperku keluar dari ruang boarding pass lalu berjalan keluar terminal. Disitu banyak sekali orang yang sedang menunggu kedatangan kerabat maupun keluarga mereka yang datang dari luar Korea. Namaku Kemas. Aku adalah staff perwakilan dari Indonesia yang diutus oleh perusahaan untuk bekerja di kantor pusat perusahaan kami yaitu di Seoul. Aku mempunyai tinggi 175cm, dengan rambut harajuku dan berkulit kuning langsat. Aku mencari namaku diantara puluhan atau mungkin ratusan nama yang tertera pada kertas yang dibawa oleh orang-orang disitu. Aku memicingkan mataku karena memang aku minus. Kutelusuri mulai dari sebelah kanan ke sebelah kiri. Dan, ya, itu namaku.

Aku berjalan menemui orang yang mengangkat tinggi namaku. “I’m Kemas,” kataku sambil menunjuk kertas yang dibawa oleh seorang bapak-bapak.

“Oh, sure, I’m Ho Nam. Jung Ho Nam,” katanya menyalamiku, dia langsung meraih koper yang aku bawa. “Follow me!” perintahnya. Aku mengikutinya dari belakang. Dia mempersilahkan aku masuk kedalam mobilnya. Aku pun hanya menurut dan masuk ke dalam mobil tersebut.

Perjalanan dari Incheon menuju hotel tempatku menginap memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Dalam perjalanan menuju hotel, kami melewati Gwanghwamun Plaza. Sumpah, view dari tempat itu benar-benar indah. Di belakang King Sejong terdapat view sebuah gunung. Membuat tampat itu terlihat begitu indah. Kita juga melewati patung Admiral Yi Sun Sin. Patung yang menurutku agak mirip dengan patung Sudirman yang berada di dekat Halte Busway Dukuh Atas. Tapi tetep patung Admiral disini terlihat lebih elegan dan terawat. Hingga tak terasa kami sudah sampai di depan hotel.

“Kita sudah sampai,” kata Bapak tersebut. Aku kaget karena dia ternyata bisa menggunakan bahasa Indonesia, yah, walaupun aksen Koreanya masih sangat kentara. “Mari pak, silahkan!Aku pun keluar dari mobil tersebut. Setelah menunggu dia mengurus proses checkin akhirnya dia menghampiriku. “Mari pak!” ajaknya.

Dalam perjalanan menuju kamarku tidak ada percakapan sama sekali. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memulai percakapan. “Bapak bisa bahasa Indonesia?Belajar darimana?” tanyaku.

“Oh… ehm istri saya itu kebetulan orang keturunan Indonesia. Dan karena klien yang datang kebetulan dari Indonesia maka saya diutus untuk menjemput Anda. Biar lebih akrab katanya,” jelasnya dengan aksen yang membuatku ingin tertawa. Aksennya lucu. Tapi aku mengurungkan niatku untuk tertawa. Takut menyinggungnya.

“Oh begitu,” kataku memanggut-manggutkan kepalaku.

Ting! Pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar terlebih dahulu. Tak lama pak Ho Nam ikut keluar dan menunjukkan dimana kamarku.

“Oke pak. Selamat beristirahat. Besok saya yang akan menjemput bapak lagi. Selamat sore,” katanya. Lalu keluar dari kamarku. Aku langsung menghambur ke tempat tidur dan mengistirahatkan badanku yang sudah sangat lelah.

***

February, 14

Valentine’s Day.

Valentines day. Apa sih yang dimaksud dengan Valentine’s day? Yang aku tahu sih hari dimana seseorang mengungkapkan maupun menuangkan kasih sayangnya kepada orang yang dia cintai. Entah itu keluarga, Teman, sahabat, ataupun Pacar. Tapi seumur hidupku aku tidak pernah merayakan hari itu. Bukan karena sejarah ataupun larangan agama yang membuatku tidak pernah merayakan hari tersebut. Karena bagiku hidup orang kan masing-masing. Jadi terserah orang itu mau melakukan apapun sesuai kehendak mereka, selama itu hal yang positif dan tidak merugikan orang lain.

Setiap Valentine pasti aku akan disibukkan oleh aktivitasku. Yaitu bekerja. Dulu ketika aku masih duduk di bangku sekolah juga aku tidak pernah merayakannya karena memang tidak ada orang yang spesial. Sebenarnya ada. Dia adalah temanku, namanya Mario. Dan dia lak-laki. Oh ya, aku lupa memberi tahu kalian kalau aku itu gay. Dan aku tidak mau memusingkan tentang statusku, karena orang-orang yang telah mengetahui statusku dia bersikap biasa dan tidak menyuruhku berubah. Memangnya mereka kira aku PowerRangers apa? Yang bisa berubah menjadi sosok robot jelek berwarna-warni. Eeugghh aku benci PowerRangers or something itu.

Hari ini aku jalan kaki menuju kantorku yang tidak terlalu jauh dari apartemen yang sekarang kutinggali. Aku suka dengan kota Seoul. Disini jarang ada sepeda motor, mayoritas pekerjaannya berangkat dengan berjalan kaki. Atau bagi yang rumahnya jauh mereka memilih menggunakan angkutan umum atau mobil pribadi. Tidak seperti Jakarta, yang penuh sesak dengan motor-motor. Entah itu motor baru maupun lama, yang jelas motor dari tahun 80an pun masih ada, dan bebas berkeliaran di jalan-jalan protocol. Benar-benar menyedihkan.

Suasana pagi ini begitu dingin, walaupun musim dingin hampir berakhir, tapi suasana pagi ini begitu dingin, dinginnya sampai menusuk kulit. Berbeda dengan Jakarta yang pasti sudah mulai pengap kalau jam segini. Eh, tapi kenapa aku jadi terus membedakan Seoul dengan Jakarta?Karena memang pasti makin terlihat jauh perbandingan antara kedua kota tersebut.

Aku merapatkan mantel tebal yang menutupi tubuhku. Aku juga menggunakan sarung tangan. Dan masker untuk menutupi hidungku agar tidak membeku. Kulangkahkan terus kakiku hingga aku sampai di depan perkantoran pusat kota. “Good morning,” sapa salah satu pegawai dikantorku bekerja, aku membalasnya dengan anggukkan kepala. Setelah itu aku berjalan menuju ruang kerjaku yaitu di lantai 8 bangunan gedung ini.

Kulepas mantel dan maskerku ketika sampai di dalam ruanganku. Lalu kutaruh di sandaran kursiku. Tak lupa kunyalakan penghangat ruangan ke suhu yang menurutku cukup. Aku hampir lupa kalau ini adalah Valentines day kalau tidak ada banyak cokelat dan bunga dimejaku. Entah siapa yang menaruhnya, yang jelas banyak sekali cokelat dan ada beberapa tangkai bunga yang menghiasi meja kerjaku.

Aku memasukkan semua cokelat kedalam lemari pendingin kecil yang ada di pojokan ruanganku, lalu menaruh beberapa tangkai mawar ke dalam vas bunga. Aku suka dengan suasana disini. Selain orangnya ramah, rasa perduli mereka juga tinggi. Buktinya mereka telah bersusah payah membelikanku cokelat dan mawar. Padahal aku tidak memberikan mereka apapun.

Dan valentine kali ini berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada yang spesial. Sebagian hariku aku habiskan dengan bekerja dan meeting dengan para direktur. Benar-benar hari yang membosankan.

***

March, 14

White Days.

“Jadi lo hari ini mau ngasih cokelat ke siapa?” tanya Luna. Dia adalah humas dari kantor ini. Dan dia salah satu orang yang bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan lancar. Dia juga yang membantuku berkomunikasi dengan pegawai lain disini. Karena sampai sekarang aku masih belum lancar, sangat tidak lancar malah. Yang aku tahu hanya annyeong haseyo, gommawo dan kamsahamnida. Selebihnya aku tidak hafal. Oh, satu lagi, saranghae atau sarang apalah, yang jelas artinya itu I love you. Aneh bukan? Itulah sebabnya sampai sekarang aku tidak mengerti bahasa Korea yang tulisan dan pengucapannya cukup susaheh ralat, sangat susah.

“Nggak ada,”jawabku singkat. Lalu aku menyuap Mie Ramen ke dalam mulutku.

“Lah emangnya nggak ada yang ngasih lo cokelat pas valentine kemaren?” lanjutnya.

“Ehm ada sih. Tapi kan gue nggak tau siapa yang ngasih. Orang tau-tau tuh cokelat sama bunga udah nengkreng aja diatas meja gue. Jadi ya, gue gak taulah siapa yang ngasih,” jawabku mantap, lalu aku menyuapkan kembali mie ramen ke dalam mulutku.

“Terus nggak ada surat atau nama pengirimnya di cokelat atau bunga itu?” tanya Luna penasaran.

“Ada sih. Tapi gak gue baca. Gue cuman ngambil cokelatnya, abis itu sampahnya gue buanglah,” jawabku seenaknya.

Luna langsung mentapku geram. “Ya Tuhan, Kemas. Lo itu keterlaluan banget ya! Pantesan aja sampe sekarang lo gak punya cowok!Dia langsung menengok kanan kiri. Dan dia sadar kalau tidak ada yang tau percakapan kami karena di sekitar kami tidak ada yang bisa menggunakan bahasa Indonesia. “Orang lo aja gak pernah peduli sama orang lain. Sadar woy sadar. Lo gak takut apa bakalan jadi Jodi?” lanjutnya.

“Jodi?” tanyaku bingung.

“Jomblo abadi!Aku langsung mengerutkan keningku. “Lo gak bosen apa terus mainin burung lo sendiri. Gak pengen apa burung lo ada yang mainin?Lalu dia mendekat ke arahku. “Gak pengen apa kalo lobang pantat lo ditusuk?” bisiknya agak pelan. Aku langsung menarik rambut kritingnya. “Auuu!” pekiknya.

“Lo tuh ya, kalo ngomong asal jeplak aja. Asal mangap kayak lobang vagina lo yang megar itu!Dia balik menjambak rambutku.

“Sialan lo!” gerutunya. Luna memang sudah tau kalau aku gay. Dan kita memang sudah sangat akrab. Karena semenjak aku masih di Jakarta pun aku selalu berhubungan dengannya ketika berbicara soal pekerjaan. Dan itu membuat kami sangat akrab sekarang.

Aku mengusap kepalaku, ternyata jambakkan dari Luna itu cukup sakit. “Emang iya kali. Lagian gue gak ngurusin amat soal cowok. Yah, walaupun pas gue jerk off  juga gue kadang pengen ada yang megangin. Lo mau megangin nggak Lun?” candaku.

“Najeesss deh. Kayak penis lo bagus aja?! Lagian kalo gue yang megangin ntar penis lo langsung loyo lagi,” balasnya.

“Hahaha. Iya juga ya, tangan lo kan mengandung bahan kimia, yang bisa melemaskan apa pun yang dipegang.

“Anjriitt lo!Dia melempar potongan sawi dari mangkuk kimchinya ke arahku, tapi aku langsung menepisnya.

“Hahaha. Yaudah yok, kita masuk!” ajakku. Padanya, karena jam makan siang sudah berakhir.

Buat yang belum tau apa itu White days. Itu adalah hari dimana kita memberi balasan kepada orang yang telah memberi kita hadiah di hari valentine. Dan ada tiga kategori. Kalau kita memberikan balasan yang lebih mahal dari hadiah orang tersebut maka itu tandanya kita ingin menjalin hubungan dengan orang tersebut. Kalau kita memberikan balasan dengan harga yang sama seperti yang dia berikan maka itu tandanya kita tidak berniat menjalani hubungan dengan orang yang memberi hadiah. Dan kalau kita tidak membalas pemberian orang tersebut maka kita akan dijuluki sebagai orang yang egois. Aneh bukan? Bagiku sih terserah orang itu mau ngasih atau nggak dan mau mahal atau nggak, yang jelas dia ikhlas. Lah, ini mah pake dikategoriin segala! Like I care.

***

April, 14

Black Days.

Sudah 3 bulan aku menetap di sini. Di Seoul, ibukota Korea Selatan. Hari-hariku juga tidak terlalu monoton. Ada Luna, Kim, dan Panda yang selalu menemaniku ketika berlibur. Mereka adalah teman-teman yang baik. Aku selalu meluangkan waktu liburku bersama mereka untuk sekedar wisata kuliner maupun jalan-jalan keliling Seoul.

Tapi liburan hari ini mereka tidak dapat menemaniku. Kim dan Panda sedang berlibur ke Tokyo. Mereka telah meresmikan hubungan mereka yang menginjak waktu satu tahun. Sementara Luna, entahlah. Dia itu wanita yang bisa dikatakan jalang atau lebih halusnya sang petualang cinta. Dan hari ini dia sedang pergi bersama Sam Dong atau Dong Dong, cowok yang belakangan ini dia taksir. Sementara aku. Aku hanya tinggal sebatang kara. Aku tidak punya teman lain selain mereka disini. Jadi mungkin lebih baik aku tidur saja.

Namun tiba-tiba aku merasa bosan. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke daerahNamdaemun. Disana terkenal dengan daerah perdagangan yang murah. Mungkin kalau di Jakarta sama kayak Tanah Abang. Eh, tapi kalau Tanah Abang kan lebih ke pusat pakaian. Kalau Namdaemun itu lebih lengkap, mulai dari pakaian hingga kuliner disana itu harganya terjangkau, dengan kualitas yang lumayan bagus. Dan aku memutuskan untuk kesana.

Suasana jalan Namdaemun sangat ramai, dan dipenuhi oleh para pejalan kaki. Mereka keliling daerah tersebut sambil membeli barang-barang dengan harga yang terjangkau. Aku bingung mau membeli apa. Jadi lebih baik aku makan saja dulu. Lagian dari pagi aku juga belum makan. Kucari rumah makan di sekitar situ, hingga akhirnya aku menemukan sebuah rumah makan. Namanya Handamyong Restaurant. Akhirnya aku memutuskan untuk ke kedai tersebut.

Sampai di kedai ternyata para pengunjungnya adalah laki-laki semua. Dan ternyata makanan yang tersedia hanya Jjajang myeong noodles. Karena aku penasaran akhirnya aku memesan makanan itu, lagi pula aku belum pernah menyantapnya. Kucari tempat duduk yang kosong. Kuperhatikan semua pengunjung restoran ini, mereka semua memasang tampang sedih dan kecewa. Bahkan sebagian ada yang menangis ala-ala drama Korea. Dalam hati aku membatin, memangnya yang makan disini habis terkena musibah semua ya? Sampai-sampai wajah mereka begitu menyedihkan.

Tak lama pelayan menghampiriku dan memberikanku sepiring makanan yang menyerupai air comberan. Iyah, benar-benar seperti air comberan. Warnanya hitam pekat, seperti masakan cumi-cumi. Kuaduk makanan tersebut dan ternyata ada mie di dalamnya. Dan ketika aku melihat ke sekitar ternyata mereka juga memakan makanan yang sama. Memangnya apa istimewanya sih makanan ini? Sampai-sampai mereka semua memesannya? Oh ya aku lupa, kan memang cuman makanan ini yang tersedia di kedai ini. Dengan ragu aku mencoba masakan tersebut. Rasanya tidak buruk-buruk amat sih. Enak malah. Tidak seperti bentuknya yang mengerikan itu. Hitam pekat mirip air comberan.

“Orang Indonesia ya?” tanya seseorang yang sudah duduk disampingku. Aku menatap ke arahnya. Mukanya memang khas orang Indonesia pada umumnya. Kulit sawo matang, dengan rahang yang tegas  dan hidung mancung. Tampangnya juga lumayan ganteng.

Iya,” jawabku.

Dia mengulurkan tanganya ke arahku.“Nama gue Ubay. Kalo lo?”

“Nama gue Kemas,” kataku meraih uluran tangannya.

“Abis ditolak juga?” Aku langsung mengernyitkan dahiku. Maksud dia apa ya? “Kok diem aja, lo abis ditolak juga sama orang yang lo suka?” tanyanya sekali lagi.

“Maksud lo?” tanyaku bingung. “ Kok lo bisa nyimpulin gue abis ditolak? Sok tau banget sih,” lanjutku.

“Lah, lo gak tau ini hari apa?” tanyanya sekali lagi. Aku menggeleng cepat.

“Yang gue tau ini hari sabtu,” jawabku.

“Pantesan aja tampang lo biasa-biasa aja, gak kayak mereka yang masang tampang sedih kayak abis divonis bentar lagi mati.Aku langsung tertawa mendengar perkatannya dan membuat semua pengunjung menatap ke arahku. “Ssstt jangan ketawa!” perintahnya.

Sorry, sorry. Abis lo lucu sih,” jawabku. “Oh ya, tadi lo bilang mereka semua masang tampang sedih, memangnya mereka pada kenapa?”

“Hari ini itu kan tangal 14 April. Nah, hari ini diperingati sebagai black days,” jelas Ubay.

Black days?” tanyaku makin bingung.

“Iya. Hari dimana para laki-laki yang cintanya ditolak maka mereka akan mengunjunngi kedai makanan untuk menikmati Jjajang myeong. Makanan mie berwarna hitam yang menandakan kalau hatinya sedang berduka lantaran cintanya ditolak oleh orang yang mereka cintai.

Aku terkekeh mendengar penjelasan Ubay.“Jadi mereka semua yang disini itu abis ditolak semua?” tanyaku, Ubay mengangguk mantap. “Termasuk elo?” Sekali lagi dia mengangguk.

“Iya, gue abis ditolak sama cowok yang gue suka.Aku langsung kaget dan menatapnya tak percaya. “Kenapa? Heran ya kalo gue itu gay?”

Aku langsung menggeleng cepat.“Oh,nggak apa-apa kok. Jadi lo itu gay?” tanyaku untuk memastikan.

“Yep. Gue gay,” jawabnya mantap.

“Kalo gitu kita sama donk. Gue juga gay,” kali ini dia yang menatapku tak percaya. Akhirnya kita melanjutkan obrolan kami hingga makanan kami habis.

***

May, 14

Beautiful Day.

Hari ini cuacanya cukup mendukung. Walaupun terjadi sedikit rintik hujan tapi tidak menyurutkan niatku untuk pergi bersama Ubay. Setelah kejadian di kedai waktu itu kami menjadi akrab. Aku jadi punya teman selain Kim, Panda dan Luna. Setiap weekend pasti Ubay mengajakku jalan-jalan. Entah itu hanya untuk sekedar makan malam ataupun jalan-jalan menikmati alam di sekitaran Myeongdong.

“Lo udah siap?” tanya Ubay ketika sudah berada di depanku. Hari ini penampilannya sangat berbeda. Biasanya dia hanya mengenakan kaos dan jeans yang dibalut dengan jumper, tapi hari ini dia mengenakkan pakaian cukup rapi. Tatanan rambutnya juga makin bagus, membuat sisi maskulinnya semakin terlihat. Aku mengangguk, dia langsung menggandeng tanganku.

“Kita mau kemana?” tanyaku padanya.

“Kita ke Nami Island,” jawab Ubay mantap. Aku menatapnya tak percaya.

“Serius?”

“Iyalah. Masa gue bohong,” jawab Ubay santai.

“Kita kesana naik apa?” Aku mengencangkan gandengan tangan kami. Entah kenapa aku merasa kalau tindakanku mungkin terlalu jauh sebagai teman. Tapi sepertiya Ubay tidak masalah.

“Naik bus. Abis itu kita naik ferry buat ke Nami,” jawabnya.

***

Kita sudah sampai di Nami Island. Suasanya benar-benar indah. Begitu sampai di sana kita disambut dengan deretan pohon yang sangat tinggi. Entah itu pohon apa namanya. Yang jelas pemandangannya begitu indah. Asal kalian tahu, Nami Island itu pernah dijadikan tempat syuting film Winter Sonata. Drama yang cukup fenomenal. Bahkan terkenal sampai Indonesia.

“Bagus banget Bay,” decakku kagum. Dia hanya mengulas senyum ke arahku.

“Kita naik sepeda yuk!” ajaknya. Aku mengangguk antusias.

Kita bersepeda mengitari Nami Island. Sesekali kita berhenti untuk berfoto di bawah pohon dan bebatuan yang berbentuk sangat indah. Beberapa wisatawan pun melakukan hal yang sama. Kita juga sempat berfoto di bawah mercusuar yang berada di dekat danau. Yang jelas aku dan Ubay benar-benar menikmati liburan kali ini. Hingga akhirnya kita selesai bersepeda. Kami memutuskan untuk berjalan kaki, sambil menikmati suasana sore hari di Nami Island. Suasana disini benar-benar menyejukkan. Aku memejamkan mataku untuk menikmati terpaan angin yang menerpa wajahku. Rasanya benar-benar tak bisa kutuangkan dalam kata-kata. Yang jelas begitu menyejukkan.

“Kita foto disana yuk!” ajak Ubay. Dia menggandeng tanganku untuk mendekat ke arah patung. Patung dua tokoh Winter Sonata.

“Ini monumen Winter Sonata?” tanyaku. Dia mengangguk pasti. “Waahhh romantis banget. Pengen deh bisa punya kisah kayak mereka,” decakku. Lalu kita berfoto bersama di dekat patung tersebut.

“Kapal ferrynya datang jam berapa sih Bay?” tanyaku di sela-sela sesi pemotretan kami.

“Menjelang maghrib,” jawabnya. Dia melihat hasil jepretan foto kami dan dia tersenyum senang.

“Boleh gue liat?” tanyaku, dia memberikan kameranya kepadaku. Dan aku tertawa melihat foto kami yang terkadang konyol. Tapi entah kenapa sebagian foto tersebut terlihat begitu romantis dan serasi. Tiba-tiba hatiku berdesir.

“Coba hadap danau deh Mas!” perintahnya. Aku menurut. Dia mengambil kameranya dari tanganku. “Sekarang lo bentangin kedua tangan lo!” Lagi-lagi aku hanya menuruti perintahnya. Ketika tanganku sudah terbentang, dia memeluk tubuhku dari belakang. Mirip seperti adegan di film Titanic. Hanya saja beda setting tempatnya. Perlahan semilir angin dari danau menerpa wajahku. “Pejamin mata lo!” Aku langsung memejakan mataku. Menikmati sensasi yang begitu indah. “Nan saranghamnida,” bisiknya pelan. Aku tersenyum mendengar kalimat itu. Kalimat yang Selama ini aku nantikan. Karena memang aku sudah menyukainya semenjak kita mulai akrab. Aku hanya menganggukkan kepalaku, tanda bahwa aku menerima cintanya. Dan dia mengecup tengkukku. Membuat aku seperti tersengat listrik, karena rasanya begitu menggetarkan jiwa.

Gay love-2

Hari ini. Tanggal 14 Mei, di tepi danau Nami island. Aku dan Ubay resmi menjalin kasih sebagai seorang kekasih. Disaksikan oleh patung dua tokoh Winter sonata dan dengan suasana yang begitu romantis. Aku suka hari ini. This is the most beautiful day in my life. Ubay, saranghaeyo.

***

December, 14

Wonderful Day.

Hari ini hari pernikahan kita. Aku dan Ubay akan menikah hari ini. Kita menikah di New York. Kebetulan paman Ubay ada yang menjadi warna Negara Amerika. Maka dari itu kita mendapat ijin untuk menikah disana.

“Sudah siap?” tanya Mama. Dia terlihat begitu bahagia, sampai-sampai menitihkan air matanya. Aku memeluk tubuhnya. “Akhirnya kamu menikah Nak, Mama bahagia,” kata Mamah disela isak tangisnya.

“Iya Ma. Akhirnya Kemas menikah. Makasih Ma untuk dukungan dari Mama. Mama adalah Ibu terindah di muka bumi ini.Aku ikut terisak.

“Ya ampun, kenapa jadi ada scene drama di ruangan ini?Kita menatap Papa yang masuk ke ruang ini. “C’mon son. Jangan menangis di hari bahagiamu ini!Aku langsung memeluk Papa.

“Makasih Pa untuk kasih sayang dan dukungan Papa.

“Papa akan selalu mendukungmu,Nak. Kamu adalah anugerah terindah dalam hidup Papa,” jawab Papa. Mama menghampiri kami dan kami berpelukan bersama, layaknya teletubbies.

 

-The End-

 

“Nah, itu tadi kisah cerita cinta antara Kemas dan Ubay,” kataku pada kekasihku. Dia sekarang sedang bersandar diatas dadaku.

“Aku suka ceritanya. Ceritanya romantis,” jawabnya. Aku menganggukkan kepalaku. “Sugar?

“Iya, Honey?Aku menatap wajahnya yang sekarang sedang menampakkan ekspresi sangat menggemaskan.

“Aku pengen kayak gitu,” rengeknya. Aku tidak tega ketika melihat wajah imutnya mengemis seperti itu. Membuat siapapun yang melihatnya akan iba.

“Lagi?” tanyaku tak percaya. Karena setengah jam yang lalu kami baru saja menyelesaikan olahraga yang penuh gairah. Dia mengangguk antusias. “Aku capek,” pura-puraku. Padahal aku tidak pernah lelah ketika harus melayaninya. Dia adalah belahan jiwaku.

“Tapi aku masih pegen,” rengaknya sekali lagi. “Kamu mau kan?” Aku benar benar tidak tega melihatnya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dia tersenyum antusias. Tanpa dikomando dia langsung masuk ke dalam selimut. Dan kami akan melakukannya sekali lagi. Mengarungi petualangan syahwat kami. Hingga berlabuh di dermaga klimaks.

Aku menarik tubuhnya dari dalam selimut. “Ayo kita mulai!” godaku padanya.

“Pokoknya kali ini kamu harus bisa buat aku hamil!Aku terkekeh mendengar perkataannya. “Sugar, ini serius! Kalau kamu nggak bisa aku bakal

“Bakal apa?” sergahku.

“Bakal minta terus sampai akhirnya aku bisa hamil anak kamu!Ada-ada saja dia ini.

“Oke!Aku akan berusaha kali ini biar kamu hamil!” jawabku pasti. Dia pun tersenyum lebar. Selanjutnya kami melakukannya.Bersama dengannya, pujaan hatiku. Dia adalah orang yang sangat kucintai. Aku tidak akan mengecewakannya. Dia adalah Daverland Nathaniel Bramasta. Kekasihku.

 

-The End Again-

Oke ini mungkin bukan contoh yang baik. Jadi aku harap cerpen kalian HARUS LEBIH BAIK dari cerpen ini.

Buat yang nunggu Floque chapter 16 aku cuman mau ngasih tau kalau postingnya mundur. Soalnya waktuku hari ini aku habisin buat nulis cerpen ini yang baru pertama kali aku selesein dalam waktu 3 jam (Minus review). jadi mohon maaf kalau ceritanya kurang bagus dan biasa aja,hehehe.

Buat yang lainnya, ayo kirim cerpen kalian! siapa tau kalian menang. Walaupun ini cuman contoh tapi aku udah bilang kalau cerpenku harus juara satu, walaupun Rendi blilang nggak mau. Tapi aku kan juga salah satu juri, jadi aku akan buat biar cerpenku menang,nyahahaha *ketawa setan*

Nggak kok, aku bercanda. Pokoknya kalian harus kirim cerpen kalian. Buat Eyang mamo dan Mbak El. Ayok kirim cerpen kalian! aku tunggu yah. Buat yang lain juga aku tunggu karya-karyanya. *Cium satu-satu*

Terakhir spesial thanks buat my Lovey-Dovey-Fooley Rendi. Thanks dude, lo udah mau repot-repot nge-review cerita gue. *Jorokin ke kali sunter*

Yours truly,

Onew Feueriegel

serif

29 thoughts on “14

  1. Pantes ada typo-nya. Tulisan Onew.. *ups
    Hal tersulit yang harua dilakukan saat menulis adalah survey tentang sesuatu yang pengen kita masukin ke dalam tulisan kita. Soalnya aku gak mau ngerusak imajinasi pembaca. Dan dari yang aku baca, tulisan Rendy sama Onew itu mateng banget surveynya. Jadi mungkin aku mesti kerja keras kalau mau menang.

    • Jadi signatureku itu typo yah?? *catet*
      Besok2 aku usahain buat nggak ngilangin typo. itukan ciri khasku,ahaha

      Ceritaku mateng?? *brb diangkat* *takut gosong* ahahaha

      Ayo korim cerpenmu!!

      • Tuh kan, bales komen aku aja masih ada typo nya. Ya kalo bisa diilangin lahh.. cari ciri khas yang baik dong jangan yang buruk.
        Masih bulan depan kan deadline nya? Aku mulainya nanti kalo ada waktu luang. Saat kerjaan udah agak dikit. Hehehe

        • Emang sengaja. kan ciri khasku typo. you mentioned that before!😉
          Jadi nanti aku kasih tylo lah dikit2,hahaha

          Emang typo buruk yah???
          yaudah ganti. tapi ciri khas yg baik apa donk? kayak.a aku gak punya ciri khas selain typo,ahaha

          Owh gtu. Yasudah. Silahkan buat cerpen yg lebih bagus yah! dan jgn da typo.a!!!! krn itu ciri khasku,wkwkwk

          • Yaahh Onew.. masa gitu aja marah sih? Kan cuma bercanda. Maaf deh..
            Ya apa kek gitu. Kan masih banyak cara lain buat dijadiin ciri khas. Hehe
            Iyaa.. doakan saja semoga berhasil bikin ceritanya.

            • FYI, aku gak marah lho ram. Dibagian mana.a aku keliatan marah??? org aku nulis komen aja sambil ketawa ketiwi..hahaha

              Jadi stop beranggapan kalau aku marah yah! dan jgn minta maaf! aku gak tau kesalahanmu dmn?

              Ehm apa yah? nanti deh tak pikirin,ahaha

              Iyah. Amiiinnnnnn. tapi tetep, aku yg harus juara,ahahaha

  2. Kayaknya onew lebih masuk ke cerpen deh daripada cerbung. Bukan..bukan.. Bukan karna cerbungnya jelek.cerbungnya ok kok tp menurutku feellnya lebih enak disini.
    Daaaaaaannn ayo lanjut cerbungnyaaaaaaaa

    • Halah.. ini mah biasa aja kali.heheh but, thanks buat pujian.a,hehe

      Owh jadi kamu slama ini SR toh,ckck. Mulai skrg jgn jadi SR lagi yah!!!

      Afhaa oohh Afhaa. Namamu mengingatkanku dgn Minimarket disekitar rumahku. Ada Afhaa-midi, Afhaa-mart dan Afhaa-express :-p

  3. Tuhkaaaannn,,, contohnya aja udah baguss,, apalagi aslinya!!!!!

    Hadeuhhhh,,,,tapi yang paling penting adalah loe harus buru2 kanjutin _ehh ralat _ lanjutin floque nya,,,,, !!!!!

    Hahahaha

  4. Cerpen nya bagus ka onew, wlaupun msih ada typo sdkit tp gpp lah tetep oke kok..😀

    Floque perkamen cpet di post yaa ka penasaran bnget nih sama kelanjutannya.. Oke oke 😀

  5. bagus jg contohnya, jadi menetapkan standar kualitas cerita…
    btw aku mw buat cerita, tapi nama kota disamarkan, seperti kota A, kota B, desa C,, apa itu akan mengurangi penilaian ato gk ada pengaruhnya sama sekali?
    ok, see ya!

    #lempar_alpenliebe

    • Makasih Zack..

      Mungkin.. ini masih mungkin lho yah, gak apa2. tapi kenapa gak nyebut nama kotanya aja sih? jadi kan biar pembaca bisa lebih ngerti dan berimajinasi. kalau kota A,B dll kan jadi pembaca bingung mau ngimajinassiinnya kayak apa. Tapi kalau menurutmu bagus yah gak apa-apa lah Zack,hehehe

  6. asik 14, sugar cerpen.a
    iya tuh typo-nya jgn di ilangin
    udah ciri khas hehe peace

    karena ini cerpen ya jadi apa boleh buat pendek juga pengen.a sih yang panjang

    mau 20 thn masih muda kan
    makanya maen dong jgn di Jakarta mulu
    ayo chit chat aja ke email kk

    • Hahaha emang iyatuh. Kalau rendi kan ciri khasnya binal. Nah kalau aku itu typo,wkwkwk

      Ihhh kakak, demennya sama yang panjang2,hahaha

      Masa? boong banget deh,hahaha
      Jemput aku donk kak! anak perawan kan gak boleh pergi sendirian,ahahaha. :-*

  7. ah sama aja 11 12 binal.a we :p
    itu pikiranya kotor😀

    jgn ke jakarta ke rumah juga udah lama ngga
    waktu.a protektif bnget

    iya ren ade baru nemu kemaren😀

    • Enggak donk. enak aja. Aku ini masih lugu dannpolos kakak,hehe

      yeee aku kan cuman bilang kalo kakak suka yg panjang2. emang itu kotor? kakak tuh yg mikir.a aneh2,ahahah

      Owh gtu yah. Yaudah nanti kalo aku main ke bandung kakak tanggung biaya akomodasi.a yah!ahahaha

      isshh kakak jahat. Masa aku ade boleh nemu. Boleh dapet gtu kek,ahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s