Rayan dan Fauzan (6)


images fr

 

Rayan tertawa miris, ia menarik-narik kaos hitam lusuhnya saat bus yang tadi ia tumpangi pergi. Banyak kenangan tentang ia dan Fauzan di dalam bus. Rayan hanya bisa meringis, menghadapi kenyataan ia tidak lagi bisa tertawa bersama Fauzan, saling menyeka peluh yang mengucur akibat panasnya kota Depok, tidak lagi bisa saling mencicipi lauk yang berbeda di nasi bungkus mereka saat makan siang, lalu apalagi kenangan yang tidak membuat Rayan merindu Fauzan? Tidak ada, sepertinya tidak ada, saat Rayan memutar pandangnya banyak tempat yang telah ia kunjungi bersama Fauzan menghabiskan masa muda Fauzan dengan amat cepat.

 

Jika Rayan boleh memilih, ia tidak akan membiarkan cintanya dimiliki Fauzan. Karena menurut Rayan, patah hati tidak seberapa sakitnya ketibang rindu, karena ketika saat kita ditolak kita belum memiliki banyak kenangan, namun setelah menjadi pasangan dan berpisah, sakitnya luar biasa, tiap tempat yang pernah didatangi bersama pasangan serasa amat menghina ketika kita berada di tempat itu sendirian.

Rayan menyumpal telinganya dengan earphone-nya, berjalan pelan menuju kost-nya. Setiap membuka pintu kamar kost-nya Rayan selalu menunduk, tindakan itu Rayan rasa bisa melindungi hatinya, takut-takut imajinasi Rayan membuat seakan-akan sosok Fauzan duduk di dalam kamar kost dengan gelisah menunggu kedatangan Rayan, dan saat Rayan baru merasa Fauzan nyata ada, sosok Fauzan menghilang, karena memang Fauzan tidak akan pernah kembali, Fauzan sudah pergi, mengingkari banyak janji yang mereka sepakati.

 

Ojan bukan seorang pembohong, Ojan cinta sama gue, layaknya gue cinta sama dia. Fauzan menengadah. Kamar kost-nya kosong, dan gilanya Rayan berharap Fauzan ada di dalam kamar kost-nya, walau hanya bayangan. Hati, fikiran dan mulut tidak pernah sekata saat galau. Apa yang hati inginkan, apa yang fikiran bayangkan dan yang mulut katakan tidak pernah sama, saat diri sedang patah hati.

 

Ojan pasti kangen gue, layaknya gue kangen banget sama dia. Rayan lagi-lagi membatin. Rayan masih belum menerima kenyataan bahwa Fauzan harus meninggalkannya.

 

Rayan melepas kausnya tepat di depan cermin, lalu ia memperhatikan tato di dada bidang yang bertuliskan Rayan & Fauzan namun tidak akan bisa terbaca orang biasa, tato di dada Rayan dibuat dengan rumit, seperti hanya rangkaian huruf tanpa arti jika dilihat sekilas.

 

Sekilas, senyum tersungging di wajah Rayan, lalu Rayan melepas celana Jeans-nya menyisakan celana pendek saja. Biasanya Fauzan selalu tertawa saat Rayan melepaskan pakaiannya dengan amat perlahan, namun kali ini tidak ada lagi yang menertawai Rayan.

 

Punggung Rayan yang tegap dengan otot yang pas itu bergerak menjauh dari cermin, Rayan duduk di sisi tempat tidurnya, menangkupkan telapak tangan ke wajahnya, menghapus lelah dari kegiatannya tadi, membiarkan tato burung Elang yang memenuhi badan bagian belakang yang dulunya selalu membuat Fauzan menggigit bibir bawahnya tiap melihat tato burung Elang yang disisipkan nama Fauzan di sayap kirinya dengan amat jelas.

Jika ditanya berapa banyak kenangan Rayan bersama Fauzan, maka bisa dijawab, tiap kenangannya bisa membuatmu gila kala merasakan kehilangan yang sama seperti yang dialami Rayan.

 

Rayan menyulut rokok Black Mentol-nya, membiarkan rasa mentol itu mendinginkan hatinya yang bergolak tidak tenang.

 

 

***

 

  • Cemburu

 

“Zan,” panggil Rayan yang langsung duduk di bangku penonton sambil menyeka peluhnya.

 

Rayan mencomot botol air minum dari tangan Fauzan saat Fauzan telah meletakan iPad-nya ke tempat duduk yang kosong di sebelah kanannya.

 

Rayan melepas Jersey-nya lalu menyeka tubuhnya dengan handuk dari dalam tasnya, beberapa cewek yang ada di sekitar mereka mencuri-cura pandang ke arah Rayan, Rayan tahu itu, maka dari itu cepat-cepat Rayan memakai kaus bersihnya. Entah mengapa Rayan tidak lagi terlalu suka diperhatikan.

 

“Udahan?” tanya Fauzan sambil berdiri merentangkan otot-ototnya yang kaku setelah hampir dua jam duduk menunggui Rayan bermain Futsal dengan tim sekolah mereka.

 

“Udah, hayo” tegas Rayan.

 

“Ke mana lagi, Ray?” tanya Fauzan bingung karena Rayan bergerak cepat mengajaknya menyingkir dari tempat ini, biasanya setelah bermain Futsal Rayan akan bercakap-cakap dengan tim Futsalnya bahkan bisa dibilang hampir lupa dengan keberadaan Fauzan, maka dari itu Fauzan heran sekarang ini.

 

“Ray tunggu, lu kebelet boker bukan? Cepet amat jalannya?” sindir Fauzan.

 

“Iya, mules liat muka lo lama-lama” balas Rayan sambil menaiki motornya. Fauzan langsung menyusul Rayan lalu menoyor kepala Rayan pelan.

 

“Kita mau ke mana sih emangnya?” tanya Fauzan sekali lagi dengan nada memaksa.

 

“Kencan” jawab Rayan sambil mengedipkan matanya.

 

“Gila!” seru Fauzan, dibarengi dengan tawa mereka berdua

 

 

 

***

 

 

 

Rayan merasakan sesuatu kebahagian saat mengenang waktu-waktu kemarin ia dan Fauzan bercanda, bersiteru, terawa bersama, hatinya terasa penuh oleh kebahagiaan.

 

“Ray, kamu nggak mau ngumpulin ulangan kamu? Udah nggak perlu nilai dari saya?” tanya bu Eti dengan judesnya, seperti biasa.

 

Adik kelas yang duduk di samping Rayan saat—Midsemester—ini menepuk-nepuk bahu Rayan.

 

“Kenapa sih?” sergah Rayan yang kesal ditarik paksa dari renungannya.

 

“Ulangan kakak, anu-eh, euh itu bu Eti nya” cowok berkaca mata itu menunjuk ke depan kelas, guru yang dimaksud sudah berjalan melewati pintu kelas. Spontan Rayan menyadari bahwa kertas ulangannya masih berada di bawah tekukan tangannya, dengan cepat Rayan beranjak dari tempat duduknya membuat meja dan bangkunya tergeser dengan amat keras, menimbulkan deritan yang memancing perhatian seisi kelas.

 

“Bu, tunggu bu, maaf bu saya tadi lagi pusing, jadi pas udahan ngerjain ulangannya saya ngelamun deh” Rayan beralasan. Bu Eti hanya jalan saja dan tidak merasa Rayan ada. “Bu maafin saya dong, kan saya ngerjainnya jujur, nggak nyontek, cuman nggak ngumpulin karena ngelamun, maaf ya bu, bu, maafin dong bu, bu” ratap Rayan.

 

“Kamu! Bawel banget sih jadi cowok, sini-sini” bu Eti merampas kertas yang Rayan pegang.

 

“Makasih ya bu, ibu, guru yang paling cantik deh se-Indonesia” ucap Rayan dengan nada ceria, namun dengan ekspresi sejelek mungkin, mencibir bu Eti yang berjalan membelakangi Rayan.

 

Saat berbalik badan Fauzan berdiri di depan pintu kelas menatap lurus sambil memasang ekspresi sengak, Rayan tahu dibalik ekspresi itu Fauzan sedang mencelanya. “Kampret lo Zan” ucap Rayan sambil berlari-lari kecil ke arah Fauzan. Fauzan hanya tertawa saja saat Rayan menganiayanya, sambil sesekali mengejek Rayan.

 

“Kantin yuk, Zan” ajak Rayan sambil menarik kerah seragam Fauzan. “Gendonglah” ucap Fauzan sambil loncat ke punggung Rayan, “Fauzan! Dosa lo banyak tauk nggak sih, berat banget badan lo, turun nggak, nggak sadar diri nih pendosa” cerca Rayan sambil memaksa Fauzan turun dari tubuh Rayan. Fauzan cepat-cepat loncat dan langsung menendang kecil pantat Rayan. “Payah lo ah, badan doang keker gendong gue aja nggak kuat” hina Fauzan, sambil tertawa kecil. Rayan memasang ekspresi pura-pura marah lalu mengejar Fauzan yang sudah lari pelan ke arah kantin sekolah. Mereka seakan hidup dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri, tidak perduli banyak murid lain yang memperhatikan mereka dan sedikit mencemooh tindak-tanduk Rayan dan Fauzan, kebahagian diciptakan sendiri, bukan dengan menunggu diberikan.

 

“Fauzan, tunggu” suara Angel menghentikan langkah Rayan dan Fauzan. Fauzan melempar sampah bekas kopi Capucini-nya ke tempat sampah lalu menyungging senyum ke arah Angel yang berlari-lari kecil ke arah mereka.

 

“Cewek lo tuh” kata Rayan dengan nada menyindir.

 

“Bawel loh” timpal Fauzan sambil mencomot ciki Lays dari tangan Rayan dan memakannya cepat-cepat, semua itu Fauzan lakukan untuk menutupi kegugupan yang tiba-tiba ia rasakan.

 

“Gembel! Maling lo dasar, orang mah ijin kalau mau minta” Rayan protes.

 

“Nih gue balikin, dasar pelit, ntar juga buncit tuh perut penggilesan lo” cerca balik Fauzan, Angel yang sudah berada di antara mereka merasa amat jengkel karena kehadirannya tidak langsung Fauzan gubris.

 

“CK!” keluh Rayan sambil menerima bungkus ciki Lays-nya tersebut.

 

Fauzan sudah siap membuka mulut untuk menimpali Rayan lagi. “Zan!” protes Angel.

 

“Eh, iya kenapa Angel?” tanya Fauzan santai, membuat Angel mengerenyit sebal ke arah Fauzan dan Rayan.

 

“Kok kamu malah gitu sih?” tanya Fauzan heran.

 

“Kamu! Ish! Harusnya kamu tuh tadi jemput aku ke kelas, ngajak aku makan bareng ke kantin, ini malah ketawa-tiwi sama dia, kamu nyadar nggak sih, kamu udah kayak homo, ke mana-mana berduaan sama Rayan”   keluh Angel.

 

Rayan terkejut atas perkataan Angel tadi, sedangkan Fauzan hanya diam saja. Rayan tidak habis fikir kalau Angel akan memprotes kedekatan Fauzan dan Rayan, bukankah sebelum mereka berpacaran Rayan dan Fauzan sudah sangat—gila—dekat seperti sekarang ini.

 

“Ngel” kata Fauzan pelan sambil melirik ke arah Rayan, seolah memberitahu Angel bahwa Angel tidak seharusnya berkata seperti itu di depan Rayan.

 

“Homo juga bole” Rayan bersuara, Rayan sangat tertarik sekali untuk menyindir Angel, menyadarkan Angel bahwa siapa yang lebih berhak menghabiskan waktu lebih lama bersama Fauzan. Entah kenapa Rayan menjadi sangat kanak-kanak meladeni Angel yang bertingkah kanak-kanak pula.

 

“Apa sih lo” sergah Angel sangat murka kepada Rayan, Rayan hanya menaikan satu alisnya tinggi-tinggi untuk menanggapi sergahan Angel.

 

“Ngel” kata Fauzan lembut sekali lagi.

 

“Lebih baik kamu musuhan lagi sama dia deh” ucap Angel sambil memutar matanya.

 

“Ngel, bisa nggak sih nggak aneh kayak gini” Fauzan masih bersikap lembut.

 

“Raawrr,, udah ah Zan gue pergi dulu, eh selamat mengasuh bayi manja lo ini yak” sindir Rayan penuh kemenangan. Saat melangkahkan kakinya segala pemandangan di depan Rayan berkesan Sephia, Rayan benar-benar tidak rela Fauzan direbut darinya padahal mereka sedang bersenang-senang, hanya karena Rayan merasa ia cowok dan tidak ingin bertindak seperti anak-anak Rayan terpaksa mengalah. Rayan menengadah, lalu menatap ke arah belakang, Fauzan dan Angel sedang berjalan memunggunginya, entah kenapa Rayan merasa amat cemburu sekarang ini, cemburu dalam konteks sahabat, entah wajar atau tidak, Rayan merasa amat tidak suka kepada Angel sekarang ini.

 

 

***

 

 

Rayan mengetuk-ngetuk ujung jarinya ke bodi mobil , Fauzan yang ditunggu-tunggu Rayan tidak kunjung hadir, padahal tadi Fauzan hanya izin untuk membayar uang SPP sekolah dan meminta Rayan menunggu sebentar, sekarang sudah lebih dari dua puluh menit namun batang hidung Fauzan tidak kunjung terlihat.

 

Si Ojan semedi kali yak di ruangan TU, bosen gila gue nunggunya. Batin Rayan sambil mengirim BBM kepada Fauzan untuk yang ke tiga kalinya.

 

Tidak lama Fauzan muncul ditemani Angel, sontak Rayan memasang wajah bosannya, dalam hati Rayan mendecak-decak sebal. “Ayo Ray pulang, tapi gue nganter Angel dulu yak” kata Fauzan.

 

“Kita kan mau ke Margo City dulu Zan, katanya kamu mau nemenin aku belanja” keluh Angel. Rayan mengela nafasnya dengan kasar, mengeluarkan bungkus rokoknya, tidak peduli ini masih di dalam lingkungan sekolah, daripada harus menghisap si darah Angel karena rasa sebal Rayan yang teramat, lebih baik ia menghisap rokok Black Mentol-nya yang mampu memberikan banyak ketenangan.

 

“Ray! Ini di gerbang sekolah, jangan aneh-aneh ah” Fauzan merebut rokok dan korek Rayan, lalu memasukkannya ke dalam saku jaket Fauzan.

 

“Zan, balikkin nggak!” titah Rayan dengan wajah yang memerah.

 

“Nggak di sini Ray” balas Fauzan kekeuh.

 

“Kalian apa-apaan sih! Sayang, balikin aja sih rokoknya, toh kalo dihukum dia ini bukan kita, ngapain peduli sama dia” Angel ikut bersuara. Kata sayang yang tadi Angel katakan dibarengi dengan ekspresi menyindir Rayan, Angel seperti sedang menampar Rayan dengan fakta di mana Angel berhak selalu bersama dan selalu dikedepankan oleh Fauzan karena ia kekasih Fauzan sekarang ini.

 

“Kay, kalian pergi sekarang deh mending, daripada gue bikin bonyok lo semua, SAT” cerca Rayan sambil melangkah menjauh dari Fuazan dan Angel. Entah dilangkahnya yang keberapa Rayan ingin sekali mendengar suara Fauzan memanggilnya, sangat konyol memang, tapi biasanya Fauzan selalu begitu jika Rayan marah kepadanya, Fauzan selalu lebih dewasa ketimbang Rayan yang selalu mendahulukan emosi daripada logika.

 

Rayan menoleh ke arah belakang, Fauzan dan mobilnya sudah tidak ada di tempat tadi mereka bersiteru, rasa sebal memenuhi hati Rayan, jika ada orang lain yang menyinggungnya lagi saat ini bisa dipastikan orang tersebut tidak akan baik-baik saja.

 

Rayan keluar dari mini market, menenggak banyak-banyak bir yang ia beli, seakan-akan bir itu dapat meredahkan amarah dan masalahnya, padahal hanya menunda. Asap rokok mengepul dari mulut Rayan, pandangan orang tua di sekeliling Rayan tidak digubrisnya sedikit pun, Rayan tetap asik menenggak bir dari kaleng dan terus menghisap rokoknya sambil berjalan santai ke arah rumahnya.

 

Di pertengahan jalan sebuah keinginan terbesit di benaknya, merasakan sejuknya air dan suasana di sungai sepertinya  sangat memanjakan di tengah panasnya tubuh dan hati. Rayan berbelok ke kiri menuju sungai dekat rumahnya, melewati petakan sawah, Rayan lekas melepas seragam sekolahnya, menjejalkan seragam itu ke dalam tas slempangnya dengan amat sembarang.

 

Angin meniup dahan-dahan pohon bambu dan kincir angin dari batang bambu, menciptakan irama yang amat menentramkan jiwa, Rayan memutar pandangnya segalanya sudah berubah tidak lagi seperti dulu saat ia kecil, petakan sawah sudah banyak yang dibuat rumah namun suasana di dekat sungai ini masih tetap sama seperti dulu kala, selalu membuat Rayan bahagia tiap bertandan ke tepi sungai ini.

 

Gemericik air menemani langkah Rayan, batu-batu besar ia loncati, Rayan berdiri di batu yang paling besar matanya tertutup seiring angin yang menerpa wajahnya. Rayan memutar badan lalu melangkah ketempat yang jauh lebih teduh lagi. Air yang terhimpit bebatuan kali dan terbendung menjadi sebuah kubangan terlihat amat tenang di bawah kaki Rayan, seakan sedang tertidur dengan senyum yang merekah, bahkan Rayan bisa melihat gambar dirinya yang hampir terlihat berantakan, Rayan menggaruk hidungnya sebentar lalu menyulut rokoknya lagi. Hisap. Rasakan ketenangannya. Hembuskan. Hisap lagi.

 

Daun bambu terlepas dari rantingnya, perlahan-lahan mendekat ke arah Rayan karena pengaruh angin dan gravitasi bumi, seakan-akan menggoda Rayan untuk minta diperhatikan, Rayan melebarkan kakinya takut-takut daun bambu kering itu tidak mendarat di genangan air di bawah kakinya.

 

Rayan memperhatikan daun itu dengan amat seksama sampai pada di dekat permukaan kubangan air Rayan melihat wajah Fauzan yang tersenyum dengan sejuta pesonanya, sekejap saja daun bambu yang kini mendarat di air dan membuat air itu bergoyang tidak lagi menarik, Rayan lebih tertarik menatap banyangan Fauzan di permukaan air tersebut saat bayangan wajah Fauzan bergerak, reflek Rayan menoleh ke arah belakang.

 

Fauzan sudah duduk di batu dekat Rayan dengan senyum yang merekah, seperti habis memenangkan PVP di game online yang sering Fauzan mainkan, “Ngapain lo ke sini, bukannya lo lagi nemenin bayi manja lo itu shopping?” tanya Rayan ketus. Fauzan malah tersenyum lebih lebar lagi sehingga deretan gigi putihnya terlihat jelas sambil mengoyang-goyangkan kepalanya layaknya anak kecil yang sedang menghabiskan waktu dengan imajinasi mereka.

 

“Lu kesambet yeh?” tanya Rayan ragu sambil memutar pandangannya dengan ekspresi ngeri.

 

“Mobil gue bannya bocor, hahahahaha” Fauzan bersuara dengan penuh semangat lalu tertawa, membuat Rayan memundurkan kepalanya lalu memasang ekspresi takut ke arah Fauzan.

 

“Aduh” keluh Rayan sambil memegangi dahinya.

 

“Gue lagi seneng, bukan lagi kesurupan, jangan masang muka jelek kayak gitu, lo tuh udah jelek jangan masang muka kayak gitu tambah enek gue yang ada” protes Fauzan setelah melempar pelan Rayan dengan batu kecil.

 

“Sakit bego, mobil lo kenapa?” tanya Rayan masih memegangi dahinya.

 

“DRAMA” Fauzan mengejek Rayan yang masih memegangi dahinya yang jelas tidak kenapa-napa.

 

“Mobil lo kenapa?” tanya Rayan lagi tidak sabaran.

 

“Bannya bocor, lo tuli atau congek-an sih?” ejek Fauzan sambil tertawa geli.

 

Rayan mendekat ke arah Fauzan lalu menyorongkan badannya dekat-dekat dengan Fauzan hingga jarak mereka hanya beberapa inci saja. Fauzan terdiam, ia menelan ludahnya, lalu membasahi bibirnya dengan amat kaku, hal yang acap kali Fauzan lakukan saat gerogi. Rayan menelusuri tiap jengkal wajah Fauzan sedangkan Fauzan semakin gugup dipandang Rayan seperti itu.

 

“Ban mobil lo kan bocor? Kok lo malah seneng-seneng aja sih? Ah! Kesurupan lo nih, kalo udah kesurupan gini kudunya diceburin”

 

“Byuurrrrr”

 

“Anyiiiiiing… Rayan kampret!!!” teriak Fauzan setelah tubuhnya muncul dari dalam air.

 

“Tuhkan, apa yang gue bilang, setannya kabur kan, untung aja gue cepet ngedekteksi kalo lo itu lagi kesurupan” ucap Rayan penuh kegelian.

 

Fauzan menyeka wajahnya, memperlihatkan kulit wajahnya yang cerah dan segar lalu bibirnya yang merah muda seperti daging ikan tuna, sangat amat menggoda Rayan untuk menjamahnya. Rayan tertawa lagi sekarang, namun tawanya sangat aneh, karena tawanya yang sekarang hanya untuk menutupi fakta bahawa ia hampir tergoda dengan Fauzan, itu tidak wajar.

 

“Dasar otak udang, gue seneng karena bebas dari kegiatan—menemani belanja—yang membosankan buat gue, biar pun ban mobil gue harus bocor! Itu maksud gue” kata Fauzan panjang lebar.

“Untung aja airnya nggak dingin, bantuin gue naik!” Fauzan mengangkat tangannya ke arah Rayan minta disambut Rayan, namun Rayan malah melipat tangannya ke depan dada.

 

“Ogah” jawab Rayan, rasa kesal kepada Fauzan timbul lagi walau hanya sedikit, dalam kepura-puraanya ini Rayan menyadari betul kenapa ia bertindak layaknya anak-anak, memalukan dan selalu minta diperhatikan dan dimanja oleh Fauzan. Shitt! Anjing, ngaco nih gue lama-lama. Batin Rayan kikuk.

 

Fauzan berpura-pura tidak sengaja menjatuhkan korek dan rokok yang baru Rayan beli tadi di mini market ke dalam air sungai, padahal rokok itu baru Rayan hisap delapan batang. Sontak Rayan kembali murka.

 

“Ups! Gue nggak sengaja Ray, seriusan deh” kata Fauzan berpura-pura takut.

Tatapan pura-pura marah Rayan lemparkan kepada Fauzan yang berpura-pura takut di bawahnya, padahal mereka berdua sedang berpikir cara apa yang lebih keji untuk mengerjai satu sama lain.

 

“Tanggung jawab lo! Aduh” Rayan bergerak namun naas kakinya terperosok hingga tubuhnya terjatuh ke sungai tepat di samping kiri Fauzan. “Aaaaaa, orang gila tolong, haha mampus” kata Fauzan heboh saat tangan-tangan jahil Rayan  menjamah tubuhnya dengan sedikit kasar.

 

“Ampun, ampun, haha… capek ah gue” kata Fauzan menyerah. Posisi Fauzan ada di dalam dekapan tubuh Rayan jika dilihat sekilas terlihat seperti Rayan sedang memeluk Fauzan dari belakang dan memojokkan tubuh Fauzan ke batu.

 

Sesuatu dari tubuh Rayan mengeras tepat di belahan pantat Fuazan, mereka sama-sama merasakan itu, membuat mereka terdiam bersamaan, seketika tenggorokan Rayan terasa amat kering dan ia berharap mendapatkan alasan yang tepat untuk meninggalkan Fauzan di sini, Rayan sangat malu dan mengutuk diri kenapa bisa begini, dan menapikkan gagasan-gagasan yang bermunculan di kepalanya bahwa Rayan turn on karena Fauzan, karena itu amat mustahil, namun jika bukan karena Fauzan lantas karena apa?

 

Momen awkward menyergap mereka, Rayan merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya seakan-akan ia ingin sekali menekan  tubuhnya lebih rapat lagi dengan Fauzan, namun itu amat gila, tetapi Rayan pun tidak rela jika harus melepaskan diri dari Fauzan.

 

“Ray, gue nggak mau disodomi di tempat terbuka yak, jadi jangan di sini” kata Fauzan pelan namun sarat dengan tawa.

 

“Najis” Rayan menoyor kepala Fauzan yang sekarang tertawa terbahak-bahak, lalu Rayan menjatuhkan tubuhnya ke dalam sungai agar Fauzan tidak melihat sesuatu yang mengeras di tubuh Rayan, walaupun Rayan tahu betul Fauzan tahu tentang itu.

 

“Ih, gue sekarang kudu hati-hati nih kalo nginep di rumah lo, salah-salah gue disodomi nanti”

 

“Najis” timpal Rayan.

 

“Ray, liat dong titit lo segede mana sih kalo lagi tegang” ucap Fauzan dengan ekspresi se-nakal mungkin, namun gagal karena ekspresi tawa lebih dominan di wajah Fauzan.

 

“Diem lo!” hardik Rayan kesal.

 

“Mau gue pegangin nggak Ray?” tambah Fauzan lagi sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa daritadi.

 

“Homo lo yeh!” sergah Rayan.

 

“Lo yang homo!” jawab Fauzan.

 

“Lo lebih cocok jadi homo, badan putih bersih, mulus, bulunya jarang, hih homo banget” ledek Rayan.

 

“Lo yang homo, cocokan elo kali, homo kan suka mamer badannya yang keker” kata Fauzan dengan tidak mau kalah.

 

“Tapi lo suka kan” ledek Rayan.

 

“NGGAK!” bantah Fauzan.

 

Mereka terdiam, seperti sedang mencari ide untuk dikatakan kembali agar suasana semakin seru.

 

“Homo juga bole” kata mereka bersamaan dengan ekspresi nakal bersamaan pula, Rayan dan Fauzan tidak tahan untuk tidak menertawakan diri mereka masing-masing.

 

Rayan asik memeras bajunya yang basah, lalu menyeka badan dan wajahnya, lalu memeras bajunya lagi setelah itu baru dipakai, rambut oldschool-nya acak-acakan ditambah kumis dan janggutnya kentara karena wajahnya yang basah. Fauzan menggeleng-gelengkan kepalanya, menepik  pemikiran ngawur yang berebut menduduki fikiran Fauzan.

 

“Ayo Zan, kita balik, makan terus ke tukang tambel ban, nggak baik-lama-lama ninggalin mobil lo di sana” kata Rayan sambil memungut tas slempangnya.

 

“Emangnya kenapa Ray?” tanya Fauzan penasaran.

 

“Soalnya mobil lo ngehalangin lapaknya tuh tukang tambel ban” kata Rayan penuh kemenangan.

 

“Sialan lo, gue kira mobil gue bakalan diapa-apain kalo kelamaan ditinggal di tukang tambel ban” kata Fauzan sambil menoyor kepala Rayan.

 

“Lah, pastilah kalo kelamaan mobil lo bakalan diapa-apain sama tuh tukang tambel ban” kata Rayan dengan amat seriusnya.

 

“Diapain Ray” jawab Fauzan amat penasaran.

 

“Dibakar, kan gue udah bilang kalo mobil lo nyempitin lapaknya”

 

“Kunyuk!” Fauzan mengejar Rayan yang tertawa geli sambil menghindari serangan Fauzan.

 

 

***

 

 

“Terus si Angel balik ke rumahnya naik apa?” tanya Rayan penasaran ia melajukan mobil Fauzan. Fauzan berhenti memainkan ponselnya, itu alasan mengapa Rayan yang menyetir mobil Fauzan.

 

“Naik ojek, di daerah sini mana ada taksi yang lewat, di daerah Kandang Roda atau Pemda Cibinong, di statiun kereta, atau di jalan Alternativ Sentul baru tuh ada taksi yang mangkal” kata Fauzan, walau sebenarnya Rayan juga tahu. Fauzan kembali sibuk dengan ponselnya.

 

“Nggak jadi shopping nya dong?” tanya Rayan bodoh. “Aduh, otak lo kopong ye Ray? Kan gue udah bilang berkali-kali soal itu” protes Fauzan, perhatiannya teralih langsung kepada Rayan yang tertawa di belakang stir mobil.

 

“Gue sih iseng aja ngeganggu lo lagi chat sama bayi manja lo” ungkap Rayan jujur.

 

“Jangan-jangan lo cemburu juga ya?” ledek Fauzan dengan nada geli.

 

“Iyalah, aku kan cembulu bingit sama si bayi manja kamu itu, aku ngerasa di duain tau nggak sich” ucap Rayan  sangat aneh, namun itu mereka anggap hal yang lucu.

 

Mereka seakan-akan mempunyai dunia sendiri, dunia di mana hanya saling tatap pun mereka akan tertawa, dunia di mana hal-hal yang tidak jelas, yang terlalu serius, yang bodoh terlihat dan terdengar amat menyenangkan, semua hal tidak bisa membuat mereka berhenti tertawa. Karena mereka menciptakan kebahagiaan mereka sendiri, tidak menunggu orang lain untuk memberikan kebahagiaan yang mereka cari, karena menunggu adalah hal yang ambigu. Dan mereka membenci itu.

 

“Ke Botani Square dulu Ray, beli cemilan” titah Fauzan lalu asik kembali dengan ponselnya.

 

Sesekali Rayan memperhatikan Fauzan yang menyeringai setelah membalas chat dari Angel, entah apa yang mereka bicarakan lewat chat tersebut, Rayan benar-benar merasa bosan kala ia harus memperhatikan jalan dan Fauzan yang asik berchat ria, “Jangan ngerokok. Ini mobil gue, dan nggak ada orang yang boleh ngerokok di dalem sini” protes  Fauzan ketika asap rokok terhirup oleh Fauzan.

 

Rayan menepikan mobil, menarik nafasnya banyak-banyak, “Lo pikir gue supir lo? Gue nggak boleh inilah, itulah, sedangkan lo asik sama gadget lo, autis banget si lo Zan” kata Rayan dengan amat kesal. Fauzan terdiam, ia melihat ponselnya yang berdering pelan lalu melepas batrei-nya cepat-cepat.

 

“Kay, maaf.” Jawab Fauzan penuh penyesalan. Inilah Fauzan ia tahu bagaimana bersikap saat Rayan marah, saat Rayan membutuhkannya, jadi kalau Rayan jatuh cinta nantinya jangan salahkan Rayan. Salahkan saja Fauzan, kenapa Fauzan sangat sulit untuk tidak dicintai Rayan.

 

Jika cinta tumbuh di antara mereka, itu karena mereka saling mengerti, saling menjaga, saling memperhatikan, saling menghibur, dan beberapa unsur kuat lainnya, semua yang tumbuh semakin lama-semakin membesar hingga hampir mampu melumpuhkan garis besar—fakta—mereka itu laki-laki. Mereka saling ketergantungan.

 

“Gue tadi ngambil Mixmax tiga botol deh, kok nggak ada sama sekali ya?” tanya Rayan heran saat mengacak-acak kantung belanjaan mereka di parkiran Botani Square.

 

“Gue cancel pas lo lagi pipis tadi,” kata Fauzan santai. Sambil membuka pintu penumpang belakang lalu menjejalkan kantung plastik belanjaan mereka ke dalam mobil.

 

“Rese lo ah, kalo lo nggak punya duit biar gue yang bayar, nggak usah dicancel.” Protes Rayan. Mereka masuk ke dalam mobil, Fauzan tahu Rayan kesal karena hal ini, Fauzan hanya menghela nafasnya pelan saat pintu mobil ditutup dengan amat kasar oleh Rayan.

 

“Ray, hobi tuh yang bagusan dikit jangan mabok. Emang nggak ada yang lebih baik daripada mabok apa?”

 

“Yang mabokkan gue, jadi terserah gue” bantah Rayan kekeuh.

 

“Terserah lo deh! Tuh di plastik yang itu” Fauzan menunjuk kantung plastik di belakang kursi pengemudi. Rayan mencomot Mixmax Cranberry lalu menenggaknya, menyulut rokoknya dan menikmati sejuknya kota Bogor.

 

Fauzan menyumpal telinganya dengan earphone yang dipasangkan dari iPad-nya, membiarkan Rayan menikmati kegiatan yang menurut Fauzan : bodoh, itu sendirian.

 

Rayan memarkirkan mobil Fauzan dengan amat hati-hati, Puncak Pass hari ini ramai juga dikunjungi padahal ini bukan weekend, Rayan tersenyum melihat Fauzan tertidur di sisinya, wajah Fauzan masih terlihat segar, tidak kucel seperti orang yang sedang tertidur, perlahan-lahan tangan Rayan menyentuh rambut Fauzan lalu pelan mengacak-acaknya, memanggil nama Fauzan dengan lembutnya seakan-akan Rayan tidak tega membangunkan Fauzan, namun senja sudah datang, Fauzan paling suka berdiri di tebing Puncak Pass saat senja, dan Rayan jauh lebih tidak tega kalau Fauzan tidak melihat lengsernya matahari.

 

“Zan, bangun, kita udah sampai” panggil Rayan pelan di dekat telinga Fauzan.

 

Saat wajah Rayan semakin mendekat Fauzan menepis wajah Rayan hingga menjauh, “Gue nggak tidur tauk, jangan deket-deket gue, mulut lo bau alkohol” protes Fauzan sambil keluar dari mobilnya. Rayan menghela nafasnya, mungkin benar Rayan salah karena tidak menggubris Fauzan, kadang kala menuruti orang yang kita cintai itu tidak mengapa, selama masih dalam tahap kewajaran. Sesegera mungkin Rayan menepis pemikiran bodohnya tadi.

 

Angin menerpa wajah mereka berdua, Fauzan memejamkan matanya perlahan, mempersilakan angin menerpa wajahnya, menentramkan jiwanya, membiarkan ketenangan menguasai dirinya, Fauzan suka sekali menghabiskan senja di Puncak Pass seperti sekarang ini, melakukan kegiatan merefresh diri di kala senja seperti ini.

 

Rayan tersenyum kecil memperhatikan Fauzan yang sedang memejamkan matanya dalam damai, tangan mereka bersentuhan, mengalirkan sebuah energi yang bersinergi bersamaan, ada getaran yang menguat yang tidak kuat lagi mereka bantahkan, Rayan menggenggam tangan Fauzan dan Fauzan menggenggam tangan Rayan jauh lebih erat, tubuh mereka merapat, menyembunyikan tangan mereka yang bertalutan erat. Diikuti sang senja yang digantikan malam.

 

Rayan tersenyum getir ketika kepala Fauzan disenderkan ke bahunya, Fuazan mungkin kelelahan sampai-sampai ia tertidur, kilasan kejadian tadi sedikit mengganggu benaknya kali ini, apakah benar semua yang ia lakukan, apa perasaan ini halal? Apa jika berlanjut semua ini tidak menimbulkan masalah? Ini semua salah, Rayan masih mengaku pria normal, dan tidak mungkin ia jatuh cinta kepada cowok normal pula, sahabatnya.

 

Rayan cepat-cepat menutup kaca mobil setelah membuang rokoknya sembarangan, hujan turun dengan amat derasnya, menyergap siapa saja yang tidak memiliki naungan, membasahi bumi dan menyudahi atau memulai kemelut baru, apapun itu, yang terjadi nanti masih misteri. Rayan hanya mampu menunggu, seperti menunggu hujan reda dan mengetahui hasil dari hujan malam ini. Rayan hanya memohon, jika ini cinta maka kuatkanlah mereka berdua dan jika bukan biarkan Fauzan menjadi sahabatnya selamanya.

 

 

***

 

HEY, apakabar? Lama banget nggak nge-post cerita di blog ini *lagi gila* kalian masih sehat-sehat ajakan? Udah punya gebetan atau bahkan pacar, belum? Semoga cepet dapet ya…. *ngomong apasih*

 

Yang nungguin updatean dari gue si penulis ganteng—alah!  Maskasih ya, kalian udah mau susah payah buka blog rendi dan ngebeca dan nanti KOMENTAR di postingan gue. Kalian emang top markotop nggak pakek gurih-gurih enyoy, uek!

 

Semoga nggak ada typo, kalaupun ada, like i care? hahaha canda ica kale. Eh, kritiknya dong, yang pedes yak, karetnya dua! Catet! Karetnya dua!

 

Udah ah, capek ngetiknya, mending kalian baca terus timpukin gue pakek duit, atau kasih tepuk kaki kek, apa kek, asal jangan ngajakin kencan ya, nanti Rama marah. Bzzzzzzzzzzz.

 

Oiah! Seperti postingan kemarin, gue cuman mau ngasih sedikit info yang nggak penting-penting amat sih, tapi kalo kalian pada minat ya monggo.

 

Bagi siapapun, mau dari bangsa manusia, bangsa amerika, australia, argentina dan alah ngacok! Yang berminat cerita atau karya tulis kalian diPosting di blog ini bisa kirim E-mail ke :

 

Percival_one@yahoo.com

 

Atau

 

Irfandirahman1@gmail.com

 

Atau ke E-mail Rendi? Ah! Gue saranin mendingan ke gue atau ke Onew aja deh, Rendi itu sibuk banget *gosip belaka* belum tentu dikerjain *rendi jangan bunuh gue plis* mending ke Onew yang imut bolo-bolo atau ke gue yang tampannya ngalahin Sam Tsui.

 

Syaratnya :

 

  1. Harus LBGT
  2. Untuk cerita pertama diutamakan cerpen.
  3. Kalau cerpen kalian udah diPosting boleh kirim cerbung, tapi! Harus udah tamat!
  4. Jangan lupa transferannya ke rekening gue dan Onew *yang ini ngacok*
  5. Makasih. Haghaghag.

 

Gue nunggu karya-karya kalian banget lho.

 

Makasih ya udah mau baca tulisan dan pengumuman nggak jelas dari gue.

 

Bye-bey bebih.

 

 

@irfandi_rahman.

45 thoughts on “Rayan dan Fauzan (6)

  1. Ceritanya tambah lama tambah bagus . Whatttt tampanya ngalahin sam tsui -,- kayaknya enggak deh palingan setampan tampan nya lo cuman sampe opik kumisss *peace😀 *

    Teruss semangattttt ya😀

  2. Demi apapun gue ngga suka baca yg authornya udah bilang kalau akhir cerita ini bakalan sad ending. karena menurut gue, sesuatu yang sad ending tu adanya di kehidupan nyata. *prinsip* berhubung udah baca awalnya, ya jdi di lanjuti seterusnya ibaratnya kita udah nyemplung di kolam renang masa udah gitu doang buru buru ngacir ke kamar ganti maka dari gue berenang dulu baru angkat kaki. GUE BERHARAP CERITA INI NGGA JADI SAD ENDING !! *pray -_______

  3. natural,ceritanya nggak maksa.kalopun entar ini jd sad ending,aku pastiin ini jadi cerita sad ending terbaik yang pernah aku baca.kamu membuat pembaca seolah olah ikut dalam alur cerita kamu,sehingga semua kenangan pembaca dgn mantan pacarnya ataaupun seseorang yg pernah ditaksir jd nya keluar lagi.bravo buat kamu

  4. well to the well-well-well…..
    mengalir bagai wavin…..*halah*korban pompa air
    bagus…semakin bagus.
    konflik perdana sudah terselesaikan.
    tapi kebelakangnya bakal ada konflik yang rumit kayaknya…..(semoga)
    dicerita ini, feelnya lebih baik dari yang kemaren.
    tapi entah kenapa rasanya feel nya albus kok fluktuatif ya??? hayoooooo
    oh iya. cerita ini pake 2 alur ya?
    soalnya saya agak bingung dengan beberapa bagian cerita.
    tapi ya nikmati saja lah…..
    hehehe

  5. Irfandi rahman emang ♈ªπğ terbaik………
    Emank g salAh orang yg bernama rahman selalu sesuai arti namanya sang pengasih………gue juga sama sang pengsih tp hobi gue aga beda klo gue lebih ke art…….ehh…..ngaco banget aq……….rahman teruz……..•̸Ϟ•̸►[̲̅̅S̲̅]•[̲̅̅E̲̅]•[̲̅̅M̲̅]•[̲̅̅A̲̅]•[̲̅̅N̲̅]•[̲̅̅G̲̅]•[̲̅̅A̲̅]•[̲̅̅T̲̅]◄•̸Ϟ•̸ y nulis next chapter…….. N plis end jgn kyak cerita KITA gue g suka cerita yg ndingnya sad……bukan g suka sih tp bsa kga klo ceritanya happy ending jng α∂α yg koit…….pasgue selesai baca cerita KITA rahman tau g klo rahman yg d sini mewek2 selama 1 minggu…… N gue ngerasa sedih atas doni…….so please happy ending ja ya man………..your nomber 1 fans ab prince( abdul rahman )….my truely name

  6. bukannya mau ngatur writer sih, tapi gua berharap abis sad ending ada season 2 nya terus jd happy ending. intinya gua ngeri kalo baca cerita sad ending. ohya gua suka sama imajinasi lu bikin cerita ini dan ditulis dr writer pov bukan character pov. tetap berkarya!

    • wah! ide bagus tuh. ! tapi sayang haram buat gue bikin season2an. catet yaaa, hahaha gue nulis cerita bukan sinetron bang hahaha… iya menurut gue, cerita ini pov author lebih bagus, menurut gue yak.

  7. busyet makin lama nih cerita makin kudu di pantengin.. hahaha
    gue kira sih fauzan meninggal… ya itu mungkin sih,karena cerita bisa aja berubah suatu saat.. atau gue salah prediksi…
    tapi bener kata kata diawal cerita menggambarkan si fauzan itu gak ada untuk selamanya… dan jujur hati gue pedih *ketularan alaynya lho,rendi and onew hahaha*
    dan jujur kata kata lho itu puitis banget oh GOD.. gue gila,kegilaan,stres saking terhanyutnya kata katanya *gue beneran*
    karena suguhan dari setiap pembuat cerita itu punya kekuatan masing masing yang bisa bikin si pembacanya kegilaan sama cerita kalian semua.. lanjutkan chapternya…ok

  8. Masih berharap jangan sad ending😦
    Bener2 uϑαн dpet fellnya antara Rayan dan Fauzan..
    Makin lama makin keren abiisszzz,,, tambah penasaraaaannn!!!
    Semangat trz buat karya2 selanjutnya🙂

  9. Jika cinta tumbuh di antara mereka, itu karena mereka saling mengerti, saling menjaga, saling memperhatikan, saling menghibur, dan beberapa unsur kuat lainnya, semua yang tumbuh semakin lama-semakin membesar hingga hampir mampu melumpuhkan garis besar—fakta—mereka itu laki-laki. Mereka saling ketergantungan. Suka banget tuh kata katanya al. Haha.
    Uda mulai mateng al ceritanya alah makanan kali mateng hahaha
    Buat kritikan pedes biar para sesepuh yang memberi aja ya walau papa satya sebenernya punya catatan khusus buat gala kamu minggu depan. Hahha

  10. Chapt ini gw aga bingung ƪ(° ̯˚ ʃ) pada part pertama ya , kok tiba2 Rayan merasa kehilangan n sudah lama ga ketemu ma fauzan bukannya chap sebelumnya mereka dah baikan dan sering ketemu ya ? Or maybe waktu fauzan terforsir buat angel ??? Jujur sih lope (。‿。) triangle like this pernah tjd di hidup gw , n gw ngalah buat sahabat cewek gw #curcol_salahfokus , BTT okkaysemakin menarik gw lanjud dulu dah

  11. Harus cerpen dulu yaa yg d.krim,, aku ad satu kisah tentang cinta seorang qori dan penyanyi gereja,, tp ceritanya panjang susah d.jdikan cerpen dan aku baru bljar nulis, jd aku ragu mempublikasikannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s