Rayan dan Fauzan (1)


images fr

Rayan termenung di atas kasurnya, hujan di luar sana sudah biasa untuknya, namun ada rasa yang tidak biasa yang kini ia rasakan, rasa kehilangan dan kekosongan, rasa sepi yang kini kian menyelimuti.

Lampau, saat hujan ia selalu tidur ditemani seseorang, mereka selalu bercanda, berbincang dan tertawa akan banyak hal, lalu saat larut menjemput mereka mulai berbaring.

Rayan selalu membiarkan kekasihnya merebahkan kepala di atas lengan kirinya, kadang juga di dadanya, lalu Rayan dengan penuh kasih sayang membelai lembut rambut kekasihnya, ritual wajib sebagai jimat pengantar tidur untuk kekasihnya.

Sekarang ini ia tidur sendiri, kekasihnya tidak lagi memeluknya, meminta Rayan memanjakannya.

Rayan telah kehilangan kekasihnya, kekasihnya meninggalkannya sendiri, mengingkari banyak janji yang mereka sepakati.

“Fuazan” rapal Rayan nelangsa.

***

  • Sahabat

“RAYAN!” Fauzan meneriaki Rayan yang baru datang dengan ekspresi seperti orang marah. Seperti orang marah-karena Fauzan tidak benar-benar marah, dan ekspresi marah di wajah Fauzan benar-benar terlihat konyol, mengundang Rayan untuk mentertawainya.

“Muka lo nggak pantes marah Zan, sumpah” Rayan tertawa terbahak-bahak di atas motornya.

“Gue hampir gila nungguin lo, dasar raja ngaret!” gerutu Fauzan sambil memiting leher Rayan dengan tidak serius.

“Sowii deh, gue sibuk, banyak pemotretan” ucap Rayan asal.

“Iya, pemotretan buat cover surat Yasin” balas Fauzan sambil merampas helm yang dipegang Rayan.

“Sompret”

Mereka melaju di atas motor yang dikendarai Rayan menuju Gunung Bunder, sekolah mereka sedang mengadakan MOP di sana, karena Rayan dan Fauzan bukan anggota Osis atau panitia pelaksana jadi mereka tidak berangkat bersama rombongan.

Mereka berencana mengisi liburan dengan menyaksikan acara MOP sekolah, teman-teman mereka yang lain pun sudah berangkat ke tempat pelaksanaan, sebenarnya mereka membuat janji berkumpul di dekat sekolah dan berencana berangkat bersamaan.

Rencana hanya jadi rencana, Rayan telat datang membuat Fauzan terpaksa menunggunya dan ditinggal temannya yang lain karena alasan—jika terlalu siang maka tidak akan bisa menikmati susana pegunungan di sana, lagi pula Fauzan kekeuh ingin menunggu Rayan. Alhasil Fauzan menunggui Rayan selama kurang lebih dua jam.

“Zan, belokkan kiri yang ke berapa sih jalan ke Gunung Bunder-nya?” Rayan bertanya masih tetap mengendarai motornya.

“Jah. Dodol! Mana gue tauk! Gue kan anak pindahan!” balas Fauzan, Fauzan memukul pundak Rayan agak keras karena Rayan malah tertawa mendengar jawaban Fuazan.

Saat pertigaan di daeran Cemplang Rayan membelokan motornya ke arah kiri tanpa ragu, karena memang Rayan tahu betul rute tujuannya. Fauzan mulai membrondongi Rayan dengan pertanyaan yang menyatakan apa Rayan benar mengambil rute untuk tujuan mereka, namun Rayan menjawab dengan ambigu dan menyebalkan, membuat Fauzan yang diboncengnya berkali-kali mencebik, dalam hati Rayan tertawa mendapatkan sahabat baik dan bisa sedikit dikerjai seperti Fuazan ini.

“Yang lain ada di mana Zan?”

Rayan memarkirkan motornya di samping motor temannya yang lain, motor milik Helmi, Rayan yakin betul motor itu milik Helmi, karena motor berwarna biru di sampingnya memiliki stiker bola yang ujungnya sedikit sobek. Sobek karena tangan jahil Rayan.

“Mana gue tauk! Gue kan bukan panitia MOP!” balas Fauzan ketus, sepertinya Fauzan masih sedikit dendam kepada Rayan atas kejadian tadi.

“Kan tadi gue nyuruh lo SMS yang lain,”

“Gue nggak denger” jawab Fauzan acuh.

“Dasar budek” cibir Rayan asal. Ia memutar pandangnya, seperti ada radar di dalam diri Rayan mengkap keberadaan teman-temannya, karena sudah beberapa kaki ke tempat ini sedikit banyak Rayan  bisa memperkirakan di mana temannya yang lain berada.

Rayan memasukan bungkus rokoknya ke dalam saku jaketnya setelah mengambil satu batang, mereka melangkah kembali setelah Rayan menyulut rokoknya.

“Eh, tar nyasar nggak nih?” ucap Fauzan penasaran.

“Emang kalau nyasar kenapa” tantang Rayan.

“Ogah gue ikut sama lo” balas Fauzan angkuh. Fauzan melipat ke dua tangannya ke depan dada.

“Ck! Yaudah diem aja lo di situ!” Rayan melangkah jenjang meninggalkan Fauzan.

Sedetik kemudian Fauzan memutar pandang, menyadari satu hal—bahwa ia tidak tahu sedikit pun di mana ia berada sekarang ini—tersesat bersama Rayan jauh lebih baik daripada seorang diri.

“Kampreeet! Tungguin gue!” Fauzan bersusah payah mengejar Rayan yang sudah jauh berada di depan.

Dalam hati Rayan bersorak-sorak girang karena selalu bisa mengerjai Fauzan, karena melihat berbagai ekspresi dari wajah Fauzan selalu menarik antusias Rayan.

Mereka melangkah dalam diam. Mungkin si Ojan takut gue tinggal lagi nih jadi nggak banyak komen, batin Rayan geli.

Pohon pohon pinus menjulang tinggi di sekitar mereka, tanah yang mereka pijak sedikit basah akibat hujan yang sering turun di tempat ini, embun masih kentara walau waktu menunjukan pukul sembilan.

Udara bersih dan segar dengan amat mudah mereka hirup, Rayan menanggalkan jaketnya, membiarkan kaus tanpa lengan mengekspos otot bicepnya.

Sebenarnya Rayan tahu di mana para temannya yang lain berkumpul, namun sebuah ide untuk mengerjai Fauzan terbesit lagi.

Seharusnya mereka berbelok ke kiri saat plang pertama penunjuk jalan yang menunjukan ke arah Mushola mereka lewati namun Rayan tetap melangkah lurus menuju air terjun di bawah bukit ini.

“Rayan, pelan-pelan woy, udah kayak orang kebelet boker aja lu, ini jalannya ancur banget, setapak terus nurun lagi” keluh Fauzan.

“Manja” sahut Rayan masih asik meloncati bebatuan yang menghiasi jalan menuju lereng bukit.

“Aduh” Fauzan terjatuh.

“D R A M A,” keluh Rayan sambil berbalik badan menghadap ke atas tempat Fauzan terjatuh.

Dengan malas Rayan kembali menghampiri Fauzan. “Gue nggak drama, oncom!! Nih berdarah” sahut Fauzan cepat, sambil menunjukan jari keliling kanan kakinya yang berdarah.

Rayan bergerak lues memetik pucuk daun singkong lalu memapahnya cepat-cepat.

“Eh, jorok lu kampreet, jangan!!” Fauzan meronta saat Rayan ingin menempelkan papahan daun singkong dari mulut Rayan ke luka di kaki Fauzan, namun naas badan Fauzan yang kalah berotot harus kalah dari cengkraman Rayan.

“Itu biar lukanya cepet sembuh, norak!” umpat Rayan, sambil menarik tubuh Fauzan agar lekas berdiri.

Mereka melanjutkan perjalanan menuruni bukit menuju air terjun, sesekali Rayan memperhatikan Fuazan yang tepat melangkah di belakangnya, walau terlihat jengah kepada Fauzan, Rayan tidak bisa menampik fakta bahwa ia juga khawatir. Namun sebagai lelaki, dianggapnya tidak perlu harus memperlihatkan kekhawatiran Rayan kepada Fauzan.

“Di sini adem banget ya!” teriak Rayan saat berada di bawah air terjun. Rayan merasa perlu berteriak agar suaranya tidak teredam gemuruh air terjun.

“Mandi yuk!” ajak Rayan, tanpa menunggu persetujuan Fauzan, Rayan langsung melucuti pakaiannya sendiri.

“Nggak! Gue nggak bawa salin, lagi pula gue nggak kuat sama dinginnya” tolak Fauzan, ia seperti enggan melihat ke arah Rayan yang sekarang ini hanya memakai celana dalam saja.

“Nggak usah lebay!” teriak Rayan sambil menyerahkan diri untuk di basahi oleh air terjun.

Sedetik itu pula Rayan merasakan apa yang enggan Fauzan rasakan, airnya terlalu dingin, membuat Rayan menggigil dan giginya bergeretak, karena saking dinginnya, namun karena enggan dicemooh Fauzan Rayan tetap memaksakan diri untuk tetap berpura-pura menikmati kesegaran air terjun.

Fauzan duduk di atas batu, mencelupkan kakinya yang luka ke dalam air, merasakan  sensasi dingin yang membuat rasa sakit di kakinya sedikit teralihkan. namun saat Fauzan menatap ke arah Rayan, Rayan tidak lagi berada di sana.

Saat hendak memutar pandang seseorang mendorongnya hingga jatuh ke sungai.

“Wuaaaaaaah” Fauzan menjerit histeris, terlalu berlebihan pikir Rayan yang sekarang sedang mentertawai Fauzan.

“Gue alergi dingin, ta-uk,” ucap Fauzan cepat.

Tidak lama kemudian Rayan menyesali perbuatannya, melihat Fuazan yang mulai pucat,

menggigil dan badannya mulai bentol-bentol, telapak tangan dan pipi Fauzan pun sedikit membengkak.

Rayan masih terpekur, rintik hujan turun membuat cuaca menjadi lebih dingin, tidak ada seorang pun di sekitar mereka. Angin menerpa tubuh Rayan dan Fauzan, rintihan dari Fauzan membuat Rayan semakin diselimuti rasa bersalah.

“Lepas pakaian lo” ucap Rayan agak panik.

Fauzan hanya mampu menggeleng tubuhnya terus bergetar kecil tanda menggigil.

“Ding-in, ta-uk” protes Fauzan. Namun dengan bengal Rayan menanggalkan semua pakaian basah yang menempel di tubuh Fauzan.

Dengan cepat Rayan memakaikan pakaiannya yang diletakan di atas batu ke tubuh Fauzan, lalu memeras baju basah Fauzan dan memakainya, terasa sedikit sempit di badan karena postur Rayan lebih besar ketimbang Fauzan.

Hujan semakin lebat, cuaca di tempat ini benar-benar tidak bisa diprediksi Rayan. Pohon Rambutan yang berdahan dan berdaun lebat sedikit banyak melindungi mereka dari tetesan hujan. Fuazan tidak henti-henti menggosokan ke dua telapak tangannya, mencari kehangatan dari kegiatannya sekarang ini.

“Sori ya Zan” ucapa Rayan takut-takut. Fauzan hanya mengangguk sambil terus menggosokan ke dua ketapak tangan dan menempelkan ke bagian tubuh yang Fauzan rasa butuh dihangatkan.

Kemelut besar berkecamuk di hati Rayan, ingin membantu Fuazan namun apa caranya? Memeluk Fauzan tidaklah mungkin, mereka sesama laki-laki, apapun alasannya itu menurut Rayan jauh dari logikanya sebagai laki-laki.

Fauzan masih terus menggigil, membuat sesuatu di dalam diri Rayan memaksanya untuk bertindak sesuatu.

Semua ini gue lakuin karena gue penyebab si Ojan menggigil, batin Rayan ragu. Rayan menggosokan ke dua telapak tangannya lalu menempelkan ke tangan Fauzan, lalu melakukannya lagi namun kini ditempelkan ke dua pipi Fauzan, sepersekian detik pandangan mereka bertabrakan, sesuatu rasa aneh berdesir di dalam hati.

“Buahahahah,” Fauzan tertawa terbahak-bahak mencoba menyingkirkan momen awkward yang baru akan menyergap mereka.

“Jangan pegang-pegang eike! Yey pikir eike couo apaaan?” kelakar Fauzan dengan gaya yang kaku, membuat Fauzan terlihat annoying.

“Hujannya udah redaan sedikit nih, ayo naik ke atas di sini itu dingin banget tauk” Fauzan menyikut dada Rayan. Rayan hanya mengangguk, mengalungkan tanganya kepada Fauzan agar tubuh gemetar Fuazan ada di dalam kontrolnya juga.

“Biar lo nggak jatoh nanti, gue males drama-dramaan lagi” tegas Rayan saat Fauzan ingin melepas rangkulan Rayan.

“Lo pikir gue pelakon opera!” Fauzan mencebik, tangannya tertarik untuk menjitak kepala Rayan.

Gerimis masih setia membasai tempat itu, mereka berjalan perlahan menapaki jalan kecil menanjak yang licin, beberapa kali Fauzan tersendat-sendat saat menanjak, Rayan terus membantunya walau berpura-pura tidak sabar.

“Rayan!!” seorang cewek berambut panjang dengan wajah yang terlampau imut namun terkesan seumuran dengan Rayan dan Fauzan.

“Fauzan lo kenapa? Diapain sama preman satu ini?” berondong cewek itu sambil mengoleskan minyak angin dari saku jaket cewek itu ke leher dan tangan Fauzan.

“Diceburin ke sungai di air terjun bawah situ, udah tau dingin banget” gerutu Fauzan.

“LEBAY” ucap Rayan asal. Rayan melempar pandang mencari keberadaan guru mereka namun tidak terlihat, dengan gesit Rayan merogoh bagian saku jaket miliknya yang dipakai Fauzan lalu menyulut rokoknya cepat-cepat.

“Syif, Helmi sama Adi mana?” tanya Rayan sambil celingak-celinguk mencari keberadaan dua temannya.

“Lagi beli kopi” sahut Syifa.

“Lo nanti minum susu punya gue ya, biar anget” saran Syifa kepada Fauzan.

“Haaah? Susu punya lo Syif? Gue aja deh yang nyusu ke elo, nggak usah Fauzan, gue yang paling kedinginan tauk” ucap Rayan senonoh, mereka tahu betul tentang susu yang Rayan maksud.

“Adauw!” teriak Rayan saat sebuah ranting mendarat di dahinya.

“Rasain” sorak Fauzan yang melihat Rayan dianiaya oleh Syifa.

Helmi dan Adi datang, membawa minuman kopi dan susu hangat, lalu mereka berbincang, dan tertawa seperti biasa sampai Syifa harus kembali kepada rombongan sekolah karena Syifa salah satu panitia MOP sekolah.

“Rayan, lo hati-hati bawa motornya, Fuazan masih kedinginan, awas lo kalo ngebat-ngebut kek yang punya jalan” Rayan hanya mengangguk patuh takut-takut cewek cantik yang imut itu berubah menjadi Sailormoon kesurupan nenek gayung. Dalam hati Rayan iri kepada Fauzan, Rayan tahu Syifa menyukai Fuazan dari pertama kali Fauzan memasuki kelas mereka satu tahun lalu. Dan semua persaan Rayan untuk Syifa harus dipupuskan kala ia menyadari sebuh fakta bahwa ia, Syifa dan Fauzan berada dalam lingkaran persahabatan.

Tepukan di bahu kokoh Rayan dari Fauzan menyadarkannya dari sebuah kebodohan lampau yang masih sering ia sesali, dalam hati, Rayan berandai-andai kalau saja waktu dulu ia lebih berani menyatakan perasaannya sebelum terjebak dalam Friendzone seperti sekarang. Rayan tahu betul bahwa ia terlalu bodoh dan pengecut bahkan untuk kebahagiaannya sendiri pun.

Gerimis masih setia menemani perjalanan pulang mereka, terbesit di benak Rayan rasa sesal mengikuti saran Helmi untuk ikut ke Gunung Bunder ini.

Badan Rayan pun mulai gemetar, angin membuat Rayan merasakan dingin dari pakaian yang belum kering di badan dan cuaca yang terus menerus gulita menusuk hingga terasa sampai ke sumsum tulang.

Hingga sampai di daerah Laladon hujan turun dengan lebatnya, membuat baju Rayan semakin basah, Helmi dan Adi entah ke mana mereka berpisah kembali sekarang ini.

Rayan dan Fauzan berteduh di sebuah bangunan bambu yang dulunya pasti di pakai untuk berjulan kopi atau buah-buahan, karena bangunannya mirip dengan warung-warung seperti itu.

“Ray, lo nggak apa-apakan?” tanya Fauzan cemas, dengan cepat Fauzan merogoh sesuatu dari jaket yang ia kenakan. Minyak angin.

“Gue beli bandrek di sebrang dulu. Jangan ngerokok terus!” Rayan tersentak ketika bungkus rokoknya di buang ke kubangan air.

Pusing di kepalanya menjalar ke seluruh tubuh, rasa tidak enak di sekujur tubuh menguasainya, demam yang sudah lama ia tidak rasakan kini mendomonasi, kalau saja sedang sehat pasti Rayan sudah memperpanjang soal Fauzan membuang rokoknya, karena bagi Rayan, rokok itu teman sejati yang mampu menstimulus tubuhnya kapanpun ia butuh.

“Inih,” Fauzan tiba dan memberikan satu gelas bandrek jahe merah yang dicampur susu.

“Kok cuman satu?” tanya Rayan heran sehabis meminum sedikit bandrek di tangannya.

“Gue beli dua sih tadi, tapi pas gue nyebrang balik ada truk yang klaksonin gue di tengah jalan. Ya, jatoh deh yang punya gue, plus baju lo jadi kotor”

Rayan baru menyadari bahwa pakaiannya yang dikenakan Fuazan kotor terkena cipratan.

“Ini, joinan aja minumnya” tawar Rayan. Tanpa basa-basi Fauzan mengambil bandrek yang di sodorkan Rayan.

Waktu sudah amat larut hujan baru mereda.

“Ayo pulang” ajak Rayan, walaupun pening melanda ia bertekat harus kuat mengendarai motornya sampai rumah, karena Fuazan hanya bisa mengendarai mobil saja.

“Ray, bannya bocor” ucap Fauzan hampir putus asa, Rayan menarik nafasnya dalam-dalam.

***

Sudah tiga hari Rayan berbaring lemas di atas kasurnya, padahal hari ini hari pertama masuk sekolah, semua harapannya tentang menebar pesona kepada adik kelas perempuannya gagal total, tidak ada murid baru yang berbisik-bisik membicarakan—ketampanan—nya sekarang ini. Hanya bunyi jendela yang tertiup angin karena dibiarkan terbuka oleh sang pemilik kamar.

“Eh, gembel udah sehatan belom. Payah, jagoan sekolah sakit gara-gara kehujanan doang, cih” Fauzan masuk mengagetkan Rayan yang sedang termenung, Fauzan menaruh bingkisan yang berisi buah ke meja belajar Rayan. Lalu loncat ke tempat tidur, sebentar saja Fauzan merasakan sensasi nyaman dari tempat tidur Rayan seolah mengundangnya untuk ikut berbaring memejamkam mata di atas kasur ini.

“Bawel” sahut Rayan berpura-pura malas kedatangan tamu seorang Fuazan ini. Walau dalam hati ia menunggu-nunggu kedatangan Fauzan sedaritadi.

Rayan menutup tubuhnya dengan selimut tebal, lalu tiduran memunggungi Fauzan. Fauzan lantas mencebik, dengan satu hentakan selimut yang menutupi tubuh Rayan terhempas entah ke mana.

Tidak terima dengan perlakuan Fauzan, Rayan menerjang Fauzan cepat, pertempuran kecil di atas kasur di pagi hari merusak tatanan sprei yang baru diganti subuh tadi.

“Akhirnya gue bisa ngalahin babon gila ini juga, terimakasih tuhan” ucap Fauzan berlebihan ketika Rayan berbaring lemas di atas kasur yang sudah acak-acakan ini karena kalah dalam pergulatan tadi, tidak berapa lama Fauzan ikut berbaring di samping Rayan.

“Jelas lo menang, gue kan lagi sakit, norak” ucap Rayan sadis, masih tidak terima.

“Ray, cuacanya sekarang enak nih nggak panas nggak mendung, main layangan yuk” Fauzan bangkit dari posisi rebahnya.

“Nggak, nggak mau” ucap Rayan acuh.

“Yeeh, cemen, anak mami ah, sakit segitu aja lebaynya minta ampun!” ledek Fauzan.

“Nggak denger” jawab Rayan cepat.

“Kalo satu ini bisa liat kan? Gimana ya kalo Syifa dan yang lain tau, jadi gosip panas satu sekolah deh, saik!” Fauzan memperlihatkan foto bugil Rayan saat di Gunung Bunder kemarin, waktu di mana Rayan memakai pakaian basah Fauzan.

“Anak nggak tau trimakasih” umpat Rayan kesal, namun Fauzan telah berlari keluar dari kamar Rayan.

***

Rayan dan Fauzan kini sibuk membentangkan layangan di pinggir sungai dekat rumah Rayan.

Tanpa di sadari Fauzan, Rayan beberapa kali mencuri pandang ke arahnya, ada satu hal yang Rayan rasakan, segalanya telah berubah. Everything has change!

Melihat wajah tampan Fauzan yang mengerenyit kecil menatap layangannya terbang di langit dengan wajah yang berseri-seri, ikut membawa kebahagiaan kepada Rayan.

Tidak ada lagi Rayan yang berambisi pamer pesona untuk mendapatkan perhatian siapapun, karena seseorang telah mengisi kekosongan hati Rayan, membuat harinya lebih berwarna, mengingatkannya akan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, selalu ada dan mampu menghiburnya, semua karena Fauzan.

Rayan menatap langit yang membiru indah, ia berjanji kepada dirinya sendir bahwa tidak akan pernah mengecewakan sahabatnya, dan meninggalkan sahabatnya apapun yang terjadi.

Lama termenung Rayan baru menyadari layangan yang ia bentangkan talinya putus, tawa seseorang terdengar menggaung dari arah belakang Rayan.

“Lagi semedi lo Ray?” ledek Fauzan masih tertawa penuh.

“Lo yang babat layangan gue ya? Curang, gue kan nggak siap” balas Rayan.

“Emang kalo nggak siap kayak gimana?” tanya Fuazan dengan ekspresi yang amat menjengkelkan.

“Kayak gini”

“Adauw! Sialaaan!” Fauzan berteriak sebal ketika rumput beserta akarnya yang mengikat tanah mendarat ke wajah Fauzan akibat lemparan Rayan.

Kini Rayan yang berlari menghindari kejaran Fauzan, mereka berlari ke petakan sawah yang belum ditanami bibit padi, hanya baru dibajak kerbau.

Di luar perkiraan Rayan, Fauzan mampu mengejarnya di sela-sela petakan sawah, karena biasanya Fauzan selalu berjalan hati-hati di sela-sela petakan sawah. Fauzan menyergap Rayan layaknya Harimau menyergap mangsanya, hingga Rayan dan Fauzan tercebur ke dalam petakan sawah yang dipenuhi lumpur, pertikaian kecil tidak bisa dihindari, sebentar saja, Rayan dan Fauzan menjadi manusia lumpur, tubuh mereka dibalut lumpur dengan warna khas nan pekat. Fauzan menepuk-nepuk pundak Rayan yang sedang menindihnya, kali ini Fauzan kalah lagi dalam pergulatan ala-ala mereka, “Rayan ampun” kata Fauzan.

Rayan melepas cekikkannya dari leher Fauzan, membiarkan wajah Fauzan yang tenggelam dalam lumpur menyembul, ekspresi Fauzan yang cepat-cepat mengihirup nafas, sangat menarik Rayan untuk mentertawainya.

“Anjiiir, muka lo kocak Zan” kelakar Rayan masih terbahak-bahak di atas tubuh Fauzan.

Tanpa disadari Rayan, Fauzan meraup lumpur dan memeperkannya di wajah Rayan, membuat keadaan berbalik, kini Fauzan tertawa puas, mereka tertawa bersama lalu bergulat kembali.

Gemericik air memenuhi area sekitar sungai, angin yang meniup dahan pohon bambu membuat irama yang khasnya sendiri.

“Awas lo Ray, ngisengim gue, gue tampol lo” Fauzan mengacungkan tinjunya, lalu mencelupkan kakinya ke air sungai, Rayan hanya terkekeh melihat kelakuan Fuazan.

Dengan cepat Rayan melepas bajunya yang dipenuhi lumpur, membasuh wajahnya dengan air sungai, terasa lumpur-lumpur yang telah mengering dan berkerak di wajah luruh seketika.

“Heh! Homo lu yeh ngeliatin badan seksi gue!” kelakar Rayan saat sadar Fauzan memperhatikannya.

“Najis!” cebik Fauzan lalu menenggelamkan diri ke air sungai, merasakan kesejukan air sungai yang membasahinya sekarang ini.

Selesai bersih-bersih di sungai Rayan berinisiatif menunjukan beberapa keseruan yang belum mereka lewati di sekitar sini.

“Zan, laper nggak?” tanya Rayan sambil memeras bajunya lalu baju yang sudah diperas dipakai lagi untuk menyeka bagian wajahnya yang tampan dan tegas terus turun kebadannya yang berotot, hasil tempaan alam.

“Laper, pulang yuk” ajak Fauzan.

“Jah, ngapain pulang, kita bakar ubi, di sana kebun ubi” tunjuk Rayan ke tebing sebrang sungai.

“Ogah, ntar gue dikejar-kejar pemiliknya, horor!” tolak Fauzan mantap.

“Itu justru letak serunya Zan”

Setelah bercekcok sebentar akhirnya Fauzan mau mengikuti Rayan mencuri ubi dengan syarat Fauzan hanya menemani yang mengeksekusi ialah Rayan.

Mereka tertawa-tawa setelah berhasil membawa ubi hasil curian mereka ke tepi sungai tanpa ketahuan si empunya.

Mereka mulai mengumpulkan sampah kering dan ranting untuk membakar ubi, susah payah Rayan mematik koreknya agar menghasilkan api, namun sulit agaknya karena korek tersebut basah.

“Basah Ray koreknya jadi nggak nyalah tuh” komentar Fauzan saat Rayan kesal sendiri karena koreknya yang urung menyalah.

“Akhirnya” ucap Rayan lega, api mulai membakar kertas merembet ke ranting yang berada di dekatnya, mereka mulai mengutak-atik bara api, memastikan ubi yang ditimbun di bawah bara api sudah matang atau belum.

***

Hmm…. apa ya? Selamat membaca aja deh, maaf kalo ada typo atau kata-kata yang nggak pas, soalnya gue kan Straight—eh, penulis ecek-ecek. Dan cerbung ini nggak akan bikin kalian penasaran di tiap akhir chapt-nya kok, jadi kalo nggak gue lanjut nggak akan buat kalian penasaran. Yakan? Hahaha….

Oke Gays and Gurllz, selamat membaca.

40 thoughts on “Rayan dan Fauzan (1)

  1. Gahhh, ini bagus banget, GUE PENASARAN!!! AWAS AJA SAMPE LO NGGA LANJUT ALBUS!!! And by the way, itu harus nya “Everything has changed” di belakang has/have harus v3. Well, just sayin’. Tapi selebihnya, cerita lo KEREN ABIS!! Keep Writing!

  2. Lanjut2000x jangan ampe enggak……..tp plis jngan berakhir dengan kematian atau pilihan yg sulit y de…….alnya aq nangis and merasa mellow selama 1 bulan setelah baca cerita lo yg “KITA” tu………gue g ℳά̲̣υ͡ kaya orang bego ƪa̲̅ǧî……. Alna tmen2 gue ledekin gue abis2n

    • jelaslah temen-temen lo nyindir lo, soalnya lo melow cuman gegara cerita gajebo gue sih hahaha, kalo melow baca cerita onew atau rendi sih wajar, eh makasih udah mau baca + koment yaaaa

  3. wha wha. . kayaknya ini cerita udah prnh gue baca deh. tpi dimana.a? hm *mikir_mikir smbl putr dildo* oh di Bf. .heheg #hore vianz pintar. . wkwkwk. . . . . . . tetap smangat bro.

    • huussss…… yaelah jadi ketauan deh ini cerita boleh nylong dari si irfandi_rahman, aaah nggak seru nih Vianz. hus hus hus, pergi sana jauh-jauh. *ngambek kayak banci nggak dikasih titit* ups!

    • lo palak aja bang si Rendi biar update, daripada nggak dia update-update, soalnya rendi itu masochist jadi kudu disiksa dulu supaya mau nge-update. hahaha eeeh makasih ya udah baca dan komen

    • maaf mas fahri, cerpen yang mana yaa? saya belum pernah buat cerpen lho.*emot lugu* *padahal nge-boong* hahaha yang judulnya apa ya yang nggak saya lanjut? kwkwkw soalnya banyak yang nggak saya lanjut sih.

  4. Asik author baru ya ? Nama panggungnya apa neh ? Kulit ceritanya bagus kok dilanjutin lagi ndro. Semangatt tapi iya kurang panjang. Hahha

    • Ia bang, gue anak baru, panggil saja saya mawar–eh. Bunga–eeh, udah kayak investigasi, panggil Al aja, terdengar sangat keren hahaha, Irfandi juga nggak apa-apa, itu nama asli gue. gue anak baru di blog ini jadi mohon bantuannya yaaa :*

  5. Good story,,,,,,,meskipunbru baca yg part 1,tp kykx seru ne klanjutanx……goodjob,
    Tetap semangat y….n jgn lm” lnjutin next part_nya…….

  6. Aaaa!!! Sorrii baru bisa baca & comment ceritanya hri ini soalnya habis selesai ujian sekolah x_x
    Kalo diliat awal ceritanya tuh aku menduga ntar endingnya bakal sad ending deh,,. Tpi diliat lgi deh ntar ceritanya.. Hehehe😀
    Aku suka bgt setting cerita ini yg menyinggung alam! Serasa back to nature gitu xD
    Sipppp deh (y) Terus menulis ya! Gott beschütze dich!!

  7. º°˚˚°ºO☺HH:) karya fiqi toh gw (┎ ‘_’ ┒) kira onet yg bikin td langsung baca ga lead authornya  H̶̲̥̅̊є̲̣̥є̲̣̣̣̥  h̶̲̥̅̊є̲̣̥є̲̣̣̣̥.  h̶̲̥̅̊є̲̣̥є̲̣̣̣̥ , alurnya okeeee pegunungan dan pedesaan set place , suka banget yg berbau back to nature gtu, yg paling penting ni ya namanya fauzan atau fuazan masak nama typo heheh itu fatal lho bro but overal okeee kok

  8. okay, fine. aku suka banget tulisan kamu ini. berawal temen jadi demen?😀
    jalan cerita, latar, semuanya natural bgt, gak mengada-ada. walo di sini belum ketauan alurnya sih,
    cuma : harusnya sih tiap ganti adegan tuh ada penanda, jadi gak bingung trus ujug2 gitu
    aaah but i love it anyway lah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s