Book 2: Wind & Water (Part 1)


Kota Hujan

By: Helios

Dalam kehidupan pasti ada yang namanya suka dan pasti ada yang namanya duka. Ada yang namanya kebaikan dan juga kejahatan. Kedua hal itu juga saling berkesinambungan. Seperti diriku ini. Pada awalnya aku manusia biasa yang hanya bisa melakukan hal-hal sebagaimana mestinya tanpa dianugerahi kekuatan khusus sekalipun layaknya SUPER-HERO seperti di acara-acara televisi tiap akhir pekan. Namun pada suatu ketika, apa yang ku yakini selama ini “normal” berubah 180 derajat…..

Adrian Pov.

Forks, 6 Januari 2011

Pagi yang berawan di kota kecil ini. Segalanya memang tampak selalu sama di kota yang memiliki predikat sebagai salah satu kota dengan curah hujan tertinggi di dunia. Jika dihitung total dalam setahun, cuaca cerah sudah pasti terjadi dalam hitungan jari. Tidak kurang tidak lebih, sisanya sudah pasti berawan dengan intensitas hujan yang sering terjadi dengan jangka waktunya yang bertahan cukup lama.

Di kota dengan jumlah penduduk beberapa ribu jiwa—meskipun aku tidak terlalu peduli benar atau tidak­—inilah aku tumbuh. Aku Adrian Ivashkov. Kalian mengira aku orang Russia atau dari bagian timur eropa kan? Gak sepenuhnya benar sih. Aku masih ada darah Indonesia, lebih detailnya, aku memiliki darah Keraton Mangkunegaraan dari ibuku yang seorang putri (Bagi yang gak tau di mana keraton itu, search google kalo gak mau repot-repot buka peta). Rutinitas pagiku seperti biasa dimulai sehabis mandi setelah itu aku mengenakan celana training lalu turun tangga menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.

Kalau baru habis mandi biasanya emang malas pakai baju. Bukannya pamer keseksian melainkan ya gak nyaman aja. Untuk postur tubuh sih lumayanlah kebentuk,hal ini kudapat berkat rajin mengikuti kegiatan gymnastic di Gelanggang Olahraga setempat dan aktif dalam tim basket sekolah. Kedua kakakku juga demikian. Sama-sama malas pake baju kalau baru bangun tidur.

Hoahmmm, udah bangun rupanya si adek kecil ini. Bikin apa kamu?” kata kakakku, Felix sambil mengucek-ngucek mata.

“Bikin omelet, salad kentang, masak daging asap ama dadar gulung. Mandi gih!! Bau ilernya kemana-mana. By the way, jangan lupa bangunin Kak Ferdi!!”

“Iye-iye. Bawel amat kamu kayak cewek. Hadeh”

Yah, beberapa menit telah berlalu, kini kedua kakakku telah menuruni anak tangga menuju dapur sementara aku masih sibuk berkutat dengan bahan-bahan makanan.

“Hah! gini kek. Kan enak kalo udah pada bangun dan langsung mandi”. Kulihat keduanya sama-sama memakai boxer dengan motif tim sepakbola Juventus dan Chelsea.

“Ya sudah. Sekarang kita bantu yah” kata Kak Ferdinand alias Ferdi (kakak sepupu sekaligus boyfriend kakakku).

Sekarang kami mulai membagi tugas. Kak Felix mulai merebus kentang. Lalu menyiapkan garam, lada, serta rosemarry. Setelah matang, kentang-kentang tersebut segera dihancurkan dan langsung dibumbuin­—ala master cheff abal-abal yang seminggu sekali tayang di televisi­—serta memanggang daging sekaligus. Disaat bersamaan, aku mulai mencampur tepung, susu, butter, telur, serta bahan-bahan lainnya. Sementara itu, Kak Ferdi sibuk dengan campuran susu, telur, dan rempah-rempah.Kemudian kami berdua memasukan adonan masing-masing kedalam wajan yang berbeda. Beberapa saat kemudian, semua hidangan kami telah jadi. Asal kalian tahu saja, walau kami cowok namun dalam urusan masak-memasak kami memang jago. Secara kami sering mengikuti cooking class di sekolah kami.

“Huft…selesai juga menu kita” kataku sambil menata meja makan.

“Ya udah. Langsung aja kita ma…..” belum sempat Kak Felix mencuil dadar gulung, Kak Ferdi langsung memberikan tatapan ala penjahat padanya.

“Doa dulu!! Main samber aja!!”

“ADAWWW!! Yaelah galak amat ama daku ampe jitak-jitakan segala. Iye-iye”

“Hahahaha. Ada-ada saja kalian berdua” kadang aku merasa geli dengan tingkah mereka.

Kemudian kami berdoa sebelum makan. Setelah itu kami mulai menyantap hidangan yang kami buat. Hmmmm, yummy banget lah. Semua bumbu “PAS” dimulut. Selama makan, kami saling membicarakan rencana atau kegiatan masing-masing disekolah nanti. Tidak seperti kebanyakan sekolah di Indonesia, sekolah tempat kami berada masuknya sekitar pukul sembilan pagi. Oleh karenanya kami beruntung bisa selalu masak untuk sarapan bersama, apalagi kalau orangtua sedang dirumah acara masak jadi tambah ramai. Baik itu pagi maupun malam.

“Kak, ntarkan ada pertandingan basket antar sekolah. Kalian dukung aku ya” kataku memelas.

“Hmmmmm. kalau aku sih bisa karena kebetulan Mr. Jefferson sedang cuti. Jadinya jam ke delapan sampai selesai free. Kalau kamu, Lix?”

“Aku sih tergantung Mrs. Shinaya aja. Sebenernya dia cuti juga. Cuma setiap ada jam pelajarannya, dia akan menelpon guru piket untuk memberikan tugas yang menumpuk pada kita. Doain aja deh biar tugasnya nanti cepet selesai. Biar bisa nonton kamu, dek”

“Oke. Aku pegang janji kalian”

Jam sudah menunjukan pukul 08.30 pagi. Kami pun bergegas untuk berpakaian dan mengambil tas masing-masing. Setelahnya kami berangkat dengan Jeep yang dikendarai Kak Ferdi.

~~~***~~~

Jam pertama untuk hari ini adalah fisika yang diajarkan oleh wali kelasku, Mr. James. Kali ini ia sedang me-review materi hukum pascal beserta implementasi dan perhitungannya di papan tulis. Ketika sedang asyik menyimak perhatian kami agak terusik saat pintu terbuka. Dari pintu itu masuklah Mrs. Hawkins selaku tata usaha bersama seorang pemuda yang membawa sebuah folder. Folder itu kemudian diberikan dan dibaca oleh wali kelasku. Setelah dirasa beres, Mrs Hawkins meninggalkan kelas kami.

“Ehem!! Perhatian semua!! Hari ini kalian kedatangan siswa pindahan dari luar negeri. Ayo nak. Silahkan perkenalkan dirimu”

“Selamat pagi. Namaku Sebastian Oliver. Please call me, Tian. Aku pindahan dari Jerman. Semoga kita bisa menjadi teman baik” ujarnya sopan diiringi suara siulan dari anak-anak sekelas. Maklum lah udah tampang tuh anak ganteng plus cute pula . Jarang-jarang ada pindahan dari luar negeri. Antar benua pula. Tapi tunggu. Tian?? Kenapa nama itu tidak asing denganku ya?

“Okey, Tian. Kamu duduk di kursi itu ya. Dan untuk yang lain, kerjakan hal.167. saya keluar dulu. Jangan berisik”

What?? Tuh anak bakal satu tempat duduk ama aku? Tapi kok aku yang gerogi sih. Kalau dilihat dari ujung rambut sampai ujung kaki, sosok Tian ini sungguh menarik perhatian. Bagaimana tidak? Kulitnya amat sangat putih untuk ukuran cowok, rambut pirang keemasan, serta wajahnya yang begitu manis, sampai-sampai aku tidak bisa melepas penglihatanku darinya. Bagiku dia memang menarik tidak lebih dari itu. Mungkin karena sadar sedang diperhatikan, ia pun memalingkan wajahnya. Ketika tatapan kami saling bertemu, wajahnya langsung memerah, ia lalu menundukan wajahnya tidak berani melihatku. Kenapa ya? Daripada makin aneh, aku pun mengajaknya untuk berkenalan.

“Hai, aku Adrian Ivashkov. Panggilanku disini Rian. Kamu?”

“Aku…aku Tian”

Tian Pov

Oh my gubrak, seneng banget dah bisa satu bangku dengan cowok sekeren ini. Postur tubuhnya yang bikin ngiler, sporty abis, dan berkulit eksotis pula. Ditambah dengan wajahnya yang maskulin banget. Eitsss???? Kok jadi mupeng gini sih???Alihkan pikiran!! Alihkan pikiran!!

“Hai, aku Adrian Ivashkov. Panggilanku disini Rian. Kamu?” katanya lembut.

Hah? Benarkah dengan apa yang kudengar barusan? Adrian Ivashkov? Oke, secara teknis aku sudah berpisah dari sahabat-sahabatku termasuk Adrian selama hampir satu dekade. Sempet gak yakin juga kalau penampakan yang ada dihadapanku saaat ini adalah Adrian. Namun saat kulihat sorot mata pemuda ini, aku yakin kalau dia adalah sahabatku, Adrian. Tapi sepertinya dia agak lupa denganku.

“Aku…aku Tian”

Mungkin aku harus berta—oh tidak­—jangan dulu. Mungkin aku perlu memberikan beberapa petujuk agar ia mengingatku. Semoga saja dia memang orangnya karena kalau tidak__oh fleurd__pasti malu-maluin. Dengan cepat aku merobek kertas dari note’s ku dan kutuliskan beberapa kalimat.

“Jodoh gak akan kemana dari enam anak adam yang akan saling bersahabat satu sama lainhingga akhir khayat mereka. Meskipun mereka berpisah di hari ulang tahun sang Tertua, namun mereka yakin akan kembali bersatu. Inilah takdir yang telah menyatukan enam keluarga besar dari Dragomir, Romanov, Ivashkov, Belikov, Gregorian, & Preminger”.

Setelah selesai, kuberikan tulisan ceker ayamku kepadanya.

“Bacalah” pintaku padanya.

Dengan penasaran ia mengambil secarik kertas tersebut dan membaca dengan seksama. Kulihat air mukanya, awal-awal terlihat biasa namun langsung berubah menjadi ekspresi keterkejutan dan segera menatapku dengan tatapan tidak percaya.

“Berarti kamu?”

“Benar kawan. Sudah lama ya kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu? Sehat-sehat saja kan?”Aku tidak sadar kalau baru saja aku mengatakan hal-hal yang sangat kekanak-kanakan. Jujur saja aku senang sekali sebab firasatku benar serasa hati ini kembali terisi walau baru seorang. Andai saja aku bisa bertemu dengan yang lainnya.

Adegan peluk-pelukan langsung terjadi dan itu membuatku shock. Shock karena ia juga mencium keningku. Jantungku serasa berhenti berdetak dan air mataku langsung terjun bebas tanpa permisi. Lama kami melakukan itu hingga kami akhirnya sadar bahwa kami diperhatikan oleh seisi kelas.

“Eh, emm anu, maaf teman-teman. Ternyata anak baru ini adalahsahabat lamaku yang sudah belasan tahun terpisah sejak kecil. Aku aja pangling pas ngeliat dia udah sebesar ini. Hehehe” dengan polosnya ia mengklarifikasi keadaan diantara kami.

PROKK…PROKK…..PROKKK…….

Salah seorang cowok dari kelas ini memberikan standing applause untuk kami dan juga diikuti oleh seluruh teman-teman baruku.

“Keren banget, bro. yang namanya sahabat sejati emang pasti gak akan kemana. Meski terpisah hingga belasan tahun pasti akan bertemu kembali. Seperti kalian berdua ini”

“Ihhhhhh, so sweet banget deh. Jadi pengen punya persahabatan kayak kalian” kata seorang cewek berkawat gigi.

Amazing. Kalian itu keren”

“Semoga kalian bisa betemu dengan yang lainnya ya” seluruh kelas berpaling kepada asal suara cowok tersebut.

“Maksudmu?”

“Rian ini pernah cerita ke aku kalau ia memiliki lima orang sahabat sewaktu kecil. Namun karena satu dan lain hal berpisah dan sekarang ia bertemu kembali dengan salah satu diantara mereka berlima. Ya kudoakan saja agar mereka bisa bersatu kembali”.

“AMIENNN!!!!!!” teriak satu kelas mengamininya.

“Thanks ya kawan-kawan. Kalian sungguh baik sekali” Kata Rian tersipu malu.

“Kita kan juga bersahabat. Kalau seorang sahabat bahagia, kita pasti akan bahagia juga. Iya kan semuanya?”

“SETUJU!!” Hehehe. Benar-benar kelas yang solid. Anak-anaknya pun juga care satu sama lain.

Akhirnya waktu yang seharusnya kami gunakan untuk mengerjakan tugas malah digunakan untuk membicarakan kehidupan kami semua satu sama lain. Tidak hanya itu. Aku juga banyak bertanya kepada mereka soal pelajaran disini karena aku khawatir kalau kurikulumnya berbeda. Namun ternyata hampir sama dengan kurikulum di negaraku. Otomatis aku tidak perlu bersusah payah untuk menyesuaikannya.

~~~***~~~

 

Cafetaria, pukul 02.00 siang

Ketika aku sedang mengantri untuk mengambil makanan, mataku tertuju oleh Rian yang sedang asyik mengobrol dengan kedua cowok lainnya disalah satu meja. Ganteng semua sih. Salah satu dari mereka sangat mirip dengan Adrian sehingga aku berpikir kalau mereka berdua kakak-beradik. Sedangkan yang satu lagi tidak begitu ada kemiripan dengan mereka berdua.

“Aneh. Kalau dia bersaudara kandung dengan mereka pasti ada kemiripan dong diantara mereka. Kalau begitu, Xavitcrekhia Momentum” akhirnya kugunakan mantra penembus waktu. Nampan alumunium yang sedang kupegang ini secara perlahan menampilkan bayangan masa lalu dari mereka bertiga. Dari sini aku tahu kalau orang yang nggak mirip itu adalah Ferdinand, boyfriend dari Kak Felix. kakaknya Rian.

“Oalahhh. Begitu rupanya. Pantas saja gak begitu mirip”

Kulangkahkan kakiku menuju pantry untuk mengambil sendiri buah dan sayuran yang akan dijadikan salad karena kebetulan ibu penjaganya sedang ke toilet. Daripada bête nunggu aku bikin aja karikatur wajah dari sayur dan buah itu. Dua alpukat untuk mata, selada untuk rambut, ketimun untuk mulut, serta beberapa anggur dan buah zaitun buat hiasan. Ketika aku hendak mengambil apel untuk hidung, ada orang yang menepuk bahuku hingga kontan saja aku kaget dan apel yang kupegang terjatuh. Ketika aku menoleh, ternyata orang itu adalah Adrian. Apel yang jatuh itu lalu diambilnya dan langsung ia bersihkan di wastafel yang kebetulan dekat dengan tempat kami berada. Saat ia memberikan apel itu, ia mengomentari karyaku.

“Woww!! Karya seni yang bisa dimakan. Benarkah?”

“Ahhh, bisa aja kamu. Lagian ini cuma iseng aja kok”

Beberapa saat kemudian, datanglah Ibu-ibu cafeteria.

“Sudah kau dapatkan apa yang kau mau untuk saladmu, nak?” tanya ibu itu.

“Sudah. Apel, selada, anggur, alpukat, zaitun, dan ketimun. Tolong ekstra keju ama mayonaise ya, bu”

“Iya. Tunggu sebentar ya” Ibu itu kini sibuk membuatkan salad dari bahan-bahan itu.

“Hmm, Rian. Tadi yang bersamamu itu siapa?” kataku pura-pura tidak tahu.

“Ohh. Itu tadi kakak-kakakku. Kenapa? Kamu suka ya? Ntar aku salamin kok. hehehe” hadeh…. Andai saja kamu tahu walau diantara kalian sama-sama ganteng, tapi aku hanya tertarik denganmu.

“Ini dia pesananmu, nak. Selamat menikmati” kata ibu itu ramah.

“Sama-sama. Yuk, kita ke meja disana” ajakku pada Rian. Sebelumnya ia kembali ke mejanya untuk mengambil nampan makanannya. Barulah ia mengikutiku ke tempat yang kutunjuk tadi.

Obrolan kami kembali berlanjut sambil makan. Entah kenapa rasanya begitu nyaman jika mengobrol dengannya, pembicaraan kami kemudian menuju topic yang lain. Tentang diriku.

“Sejak kapan kamu pindah kesini?” tanyanya sambil memotong apel dengan pisau buah.

“Sekitar sebulan yang lalu. Ketika itu aku menjatuhkan pilihanku untuk sekolah disini setelah browsing di internet tentang beberapa sekolah di Washington. Walaupun demikian, aku tidak langsung masuk sekolah karena masih ada beberapa administrasi kepindahan yang mesti diurus dulu. Kau pasti tahulah betapa rumitnya administrasi lintas Negara-Benua” untung dia gak sadar kalau aku hanya membual saja.

Yeah, I know karena itu juga yang dialami saudari ibuku ketika pindah ke Inggris untuk mengambil gelar master di Cambridge. By the way, ini memang perasaanku atau langit sepertinya mau hujan?” perlahan suasana menjadi gelap.

Waittt! Kau menanyakanku tentang cuaca?”

Sure. Why?

Actually, aku memang belum begitu suka juga dengan hal-hal disini. Apalagi dengan hari-hari disini yang selalu terkesan suram. Kurang lebih seperti itu mungkin karena masih baru aja”

So, kenapa kamu akhirnya memilih untuk pindah ke tempat dengan curah hujan tertinggi di dunia, hah?” sungutnya meremehkan. Mungkin ia agak tersinggung dengan ucapanku.

Well, maaf banget ya kalau kamu kesinggung gitu tadi. Agak rumit sih sebenarnya, kamu pasti bosan mendengarnya” sebenarnya aku ingin jujur kepadanya, hanya saja aku takut ia akan men-capku sebagai orang gila. Kurasa saat ini berbohong adalah pilihan tepat.

“Ehm, aku yakin pasti mengerti” jawabnya sambil memberikan senyum merekahnya itu. Bibir yang ranum dengan warna merah menggoda. Sepertinya aku tidak akan bisa melupakan senyum itu untuk waktu dekat—Halah!.

“Okey, Eropa saat ini sedang diterpa krisis financial seperti yang kita tahu. Oleh karenanya, keluarga besarku memindahkan sebagian besar asset perusahaan-perusahaan mereka kesini. Karena seperti yang diketahui, USA sudah mulai membaik dari dampak krisis ini, selain itu, Negara Bagian Washington ini kan kualitas udaranya lebih baik daripada negara bagian lain serta kondisinya yang memang lebih sejuk” jawabku sebaik dan sepintar mungkin. Moga aja tuh anak percaya.

Asal kalian tahu. Aku pindah kesini sebenarnya untuk mencari anggota termuda dari Keluarga Ivashkov yang ternyata adalah keluarga warlockia angin. Saat kakekku dan kakek Adrian berkata bahwa Adrian adalah calon warlockia, aku senang sekali. Apalagi ketika beliau menambahkan bahwa sahabat-sahabat kecilku juga akan jadi warlockia. Akhirnya angan-angan kami sewaktu kecil terwujud juga. Beliau lalu berpesan padaku agar ketika menemukannya, aku harus selalu melindunginya karena cakra anginnya masih tersegel dan rentan akan serangan musuh. Ketika segelnya telah siap terbuka, aku juga harus membantunya. Entah maksudnya apa aku sendiri juga kurang begitu memahaminya.

“Yah, kurasa pilihan kalian tepat. Welcome to the Washington. Khususnya Forks”.

Thanks” kamipun kembali melanjutkan makan siang kami. Setelah itu kami berpisah. Adrian menuju lapangan indoor sedangkan aku menuju kelas. Oh iya!! Adrian—Rian maksudku—sempat bilang kalau sebentar lagi akan ada pertandingan basket dan kebetulan sekolah ini menjadi tuan rumahnya. Rasa-rasanya mau lihat juga tapi nanti itu kan ada pelajaran IT. Mau bolos gak enak karena aku masih baru disini.

BINGGO!! Kenapa aku sampai lupa. Aku kan tinggal menggandakan diri aja. Kulihat jam dinding. Berarti pertandingannya sejam lagi. Tanpa pikir panjang, aku menuju toilet lalu memutar keran dan keluarlah air hingga membasahi lantai toilet. Kemudian aku merapal mantra duplikat sambil bercermin pada air.

“Gemino Aftraka”

Air dalam wastafel itu, kemudian berubah wujud menjadi diriku. Kini aku memiliki duplikat yang sama persis. Aku lalu menyuruhnya untuk menggantikan posisiku dikelas. Setelah faham dengan intruksiku, duplikatku segera menuju kelas sedangkan aku menuju lapangan indoor. Aku harus bergegas agar dapat view yang bagus dari bangku penonton.

 

~~~***~~~

 

Adrian Pov

Pukul 03.15 Sore

Gugup juga rasanya. Padahal aku kan sudah biasa dengan pertandingan seperti ini, daripada makin gak jelas, aku memilih untuk melihat-lihat bangku penonton.

Ramai juga sih penontonnya untuk pertandingan seperti ini. Dari banyaknya kerumunan itu, mataku menangkap dua sosok yang familiar, tidak salah lagi, ternyata kedua kakakku menepati janji mereka. Dari yang kulihat, sepertinya mereka sedang asyik mengobrol dengan seseorang.

Lho, itu kan Tian? Bukannya ia tadi menuju kelas. Kok bisa disini? Tapi tak apalah aku senang kalau dia disini untuk menontonku. Kalau begitu, aku harus bisa bermain sebagus mungkin untuk mereka

Timku dan tim lawan saling berjabat tangan. Setelah itu, masing-masing tim menyanyikan lagu mars sekolah asal. Kami diberi waktu sepuluh menit untuk pemanasan. Sesudah itu, wasit kembali meniup peluit agar kami siap diposisi masing-masing. Wasit lalu melemparkan bola ke udara sambil meniup pluit.

PRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!

Pertandingan pun dimulai.

Bola langsung direbut oleh lawan. Tanpa pikir panjang, kami langsung mengejar bola yang dibawa lawan ketika dia ingin menembak­—YESS—rupanya meleset dari ring. Kesempatan ini langsung dipergunakan tim kami untuk membalas. Entah mungkin karena semangat atau apa, tubuhku serasa ringan sekali ketika berlari. Seperti berada diatas bantalan udara. Bola lalu dioper kepadaku selanjutnya aku melakukan slamdunk dan bola masuk kedalam ring. Point untuk kami. Benar-benar tidak aku sangka karena dari mulai merebut bola hingga memasukannya kedalam ring hanya memakan waktu lima detik. Sungguh diluar dugaan.

Pertandingan berikutnya dimulai lagi. Tim lawan rupanya memberi perlawanan yang cukup berarti bagi kami. Tapi kami tidak akan mengalah.

~~~***~~~

 

Ferdinand Pov

“Lix, lihat adik kita itu? Jago juga rupanya”

“Iya sayang. Dia kan hobi banget basket. Apalagi pas kamu yang ngajarin.”

Pikiranku kembali melayang ke masa-masa silam. Saat itu, aku tengah mengajarkan basket kepada Rian yang kebetulan baru berumur 10 tahun. Mungkin karena bakatnya Felix menular kepadanya sehingga dengan cepat Rian dapat menguasai teknik-teknik yang kuajarkan. Aku sebenarnya sepupu dekat dari mereka . Aku sangat menyayangi mereka berdua, apalagi Felix. Rasa sayangku padanya perlahan semakin berkembang hingga menjurus pada cinta. Tepat ketika aku dan ia berusia 14 tahun, aku menyatakan cinta padanya. Tanpa harus menunggu lama ia mau menerimaku. Rupa-rupanya, ia juga memiliki rasa padaku, respon yang kudapat dari keluarga besar sungguh positif terlebih Rian dan kedua orang tua mereka. Oleh mereka, aku diminta untuk tinggal bersama, rencananya 3 tahun lagi tepatnya ketika aku dan Felix berusia 20 tahun kami akan mengikat janji suci kami.

“Permisi, bolehkah aku duduk disini?”

Of course” kata Felix mempersilahkan.

“Hei, kamu bukannya yang duduk bersama Rian kan di cafeteria tadi? Siapa namamu?”, tanyaku pada pemuda itu.

“Iya, benar. Aku Tian. Kalian pasti kakaknya, kan?”

“Bener kok. Tahu darimana?” tanya Felix

“Rian tadi yang ngasih tahu” sahut pemuda itu

Untuk selanjutnya percakapan diantara kami bertiga mengalir begitu saja. Dari sini, aku mengenal lebih dalam diri Tian yang ternyata baru pindahan dari Jerman ini sekaligus sahabat kecil Rian yang sempat terpisah karena kesibukan orang tuanya. Kepribadiannya yang baik, ramah, cute sekaligus lembut. Sempat aku berpikir untuk menjodohkannya dengan Rian. Ketika aku membisikan rencanaku pada Felix, ia sependapat juga denganku.

“Sepertinya kalian cocok juga. Apa kamu punya rasa sama Rian?” goda Felix padanya to the point. Wajah Tian langsung memerah dan ia berusaha untuk menutupnya.

“Hahaha. Tenang aja, bro. Kami setuju aja kok kalau kamu bersama adik kami”

“Benarkah? Thanks ya. Aduh senangnya. Oh iya, kalian sudah menjalin hubungan cukup lama kan?” selidiknya.

“Maksudmu apa?” ujarku.

“Maaf sebelumnya. Namun dari pengamatan yang kulakukan, kalian terlalu intim untuk dikategorikan sebagai kakak-adik. Kalian pasti sepasang kekasih kan?”

LHO?? kok dia bisa tau ya?

“Eeehhh, emm…anu. Kok kamu bisa tau? Padahal baik aku dan dia sebisa mungkin bersikap se-normal yang kami bisa kok” ujar Felix yang terlihat lebih panik dari aku.

“Hehehe. Aku memang memiliki intuisi yang bagus. Hanya itu” jawabnya enteng.

Weww, sungguh aneh kurasa. Padahal anak baru tapi tebakannya tepat mengenai sasaran. Meski aku maupun Felix tidak pernah mengumbar status kami ini, hanya saja aku heran darimana ia tahu informasi itu. Kalaupun benar intuisi seperti yang ia katakan barusan, aku yakin dia bukanlah anak biasa. Dan itu bisa dibuktikan dari auranya.

PRRIIITTTT!!!!!

“Eh, kenapa tuh wasit?” kaget juga sih karena wasit meniup pluit tiba-tiba.

“Yeee. lagian kamu bengong aja dari tadi. Rian barusan cedera gara-gara ditabrak lawan yang kebetulan posturnya lebih gede dari dia” jelas Felix.

Ketika aku menoleh kearah Tian, ia sedang sibuk merapal kata-kata yang cukup aneh sambil sesekali menggerakan jari-jarinya. Tatapannya mengarah pada Rian yang kini sedang mengaduh kesakitan di bangku cadangan. Ketika Tian selesai melakukannya, bersamaan itu pula Rian berhenti mengaduh kesakitan, permainan kemudian dilanjutkan kembali. Saat ada lagi yang cedera, Rian mengambil alih, setelahnya ia menguasai jalannya permainan hingga akhirnya……

PRRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!

Peluit panjang telah dibunyikan wasit. Menandakan bahwa permainan telah selesai dengan kedudukan score 40:35 untuk tuan rumah.

Kulihat Tian sedang keluar dari barisan penonton. Setelah itu ia memeriksa keadaan disekitarnya. Agak mencurigakan memang, saat kukedipkan mataku lagi, Tian lenyap dalam kabut putih yang kutahu adalah mantra pindah dekat.

Mantra? Rian yang mendadak sembuh? Kabut? Sepertinya Tian bukanlah manusia biasa. Apalagi intuisinya itu yang menurutku bukanlah sekedar intuisi melainkan kemampuan membaca masa lalu. Sepanjang yang ku ketahui, ini adalah kemampuan dari warlockia air. Tidak salah lagi.

Sepertinya ia disini untuk membantu Rian melepas segel cakra anginnya. Berarti sebentar lagi waktu bagi Rian akan tiba. Sampai saat itu tiba, aku akan berpura-pura tidak tahu. Baik kepada adikku, boyfriendku, maupun Tian.

~~~***~~~

Author Pov

Akhirnya tuan rumah berhasil mempertahankan juaranya untuk yang kesekian kalinya. Terlebih bagi tim basket tersebut. Mereka saling berpelukan satu sama lain untuk meluapkan euphoria mereka. Walaupun menang, hal ini tidak menandakan mereka sombong. Mereka dengan senang hati bersalaman dengan tim tuan rumah sebagai sahabat. Begitu juga tim tamu yang dengan jantan menerima kekalahan mereka. Setelah mendapat piala bergilir dan medali mereka melakukan foto bersama.

Sejak tadi, Rian tidak ikut larut dalam euphoria. Ia masih memikirkan kejadian ketika cedera tadi. Saat hal itu terjadi, ia sempat melihat Tian sedang komat-kamit kearahnya sambil memainkan jari-jarinya. Tiba-tiba muncul aliran air­—yang entah berasal darimana—yang segera membasahi bagian tubuh yang cedera, perlahan cedera yang dialaminya berangsur membaik dan pulih dengan cepat hingga ia bisa bermain kembali.

Saat Rian menuju kelas untuk mengambil beberapa barang, rupanya pelajaran baru saja berakhir dan yang membuatnya terkejut, Tian baru saja keluar kelas. Dengan segera ia lalu masuk kelas menemui Oscar.

“Hei, tadi si Tian bolos kelas ya?”

“Enggak kok. Orang dari tadi aku ngobrol dengannya. Kenapa?” sahut Oscar sambil membereskan buku-bukunya.

What?? Jelas-jelas aku melihat Tian dari awal hingga akhir pertandingan. Kalau yang tadi keluar itu Tian, lalu siapa yang sedari tadi menonton pertandinganku? Apa yang sebenarnya terjadi disini, hah?”

“Ya aku gak tau. Kan daritadi aku di kelas bareng Tian. Bro, aku duluan ya?” kata Oscar.

“Oh, iya. Ati-ati!!” sahutnya.

Setelah beberapa saat, Rian memutuskan untuk meninggalkan kelas kosong itu. Ketika ia menuju lapangan parkir tempat Jeep kakaknya berada, ia melihat Tian sedang berjalan kearah pepohonan. Karena penasaran ia mengikutinya, dari balik pepohonan ia melihat dua sosok Tian yang sangat identik. Keduanya lalu saling menempelkan telapak tangan kanan mereka. Yang membuat ia ternganga, salah satu dari dua sosok itu menghilang dan hanya menyisakan satu sosok Tian. Setelahnya ia melihat Tian kembali komat-kamit lalu menghilang dalam kabut.

Wussshhhhhh

Rian kini hanya diam terpaku. Dia masih tidak habis pikir tentang apa yang ia lihat barusan. “Tian menghilang? Bagaimana mungkin?” Belum sempat ia berpikir jauh suara klakson dari Jeep telah mengagetkannya.

TINNN!!!!

“Ahelah!! Ngagetin aja!!”

“Ngapain kamu disitu? Cepat naik! Sebentar lagi hujan” perintah Felix.

“Iy..iya kak!!!”

Sesampainya dirumah, Rian memutuskan untuk segera tidur. Ia merasa bahwa karena mungkin terlalu lelah, ia menjadi berhalusinasi berlebihan. Apalagi karena kehadiran sosok yang yang mirip Tian dibangku penonton tadi. Makin tambah kacau saja pikirannya. Perlahan kantuk mulai menguasainya hingga akhirnya ia tertidur.

~~~***~~~

 

18 Maret 2011

Kediaman Adrian

Sudah beberapa bulan ini Rian dan Tian menjalin persahabatan yang semakin erat. Mereka kemanapun selalu berdua. Baik itu ketika mengerjakan tugas, ke kantin, jogging, bahkan hang-out pun juga berdua. Walau terlihat demikian, Rian masih memendam rasa penasarannya terhadap Tian. Pernah terbesit dalam benaknya untuk memata-matai sahabatnya itu. Tapi ia keburu sadar bahwa itu bukanlah hal yang baik dilakukan, kalaupun memang Tian bukan lah manusia seperti kebanyakan, ia tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya Tian telah memberi kesejukan dalam dirinya. Ia ingin agar selama mungkin tetap bersamanya.

Sore ini Tian diajak menginap oleh Rian dan kedua kakaknya. Kebetulan kedua orang tua mereka sudah pulang dari urusan bisnis. Ketia Rian mempertemukan Tian dengan orang tuanya, mereka berdua terkejut.

Lho, ini Tian anak dari Frederick dan Lusia, kan?” sapa Om Irga, ayah Rian.

“Iya Tante Hera, Om Irga. Bagaimana kabar kalian?”.

“Baik, sayang. Muaaacchhh. Kalau orang tuamu bagaimana? Kok gak bilang-bilang kalau sudah pindah kemari?” kini Tante Hera yang bertanya sambil mengecup pipi Tian gemas.

“Baru juga beberapa bulan yang lalu kok. Mereka kini sedang mengurus beberapa asset perusahaan mereka”.

“Kok Rian gak ngasih tahu Papa Mama sih kalau Tian yang mau nginap? Hayo pasti ada apa-apa nih? hehehehe” selidik mama jahil.

“Ihh… Mama ada-ada aja. Terserah aku dong. Temen ini kok yang aku ajak nginep” belanya.

“Temen apa temen? Kalo lebih juga gak apa-apa. Iya kan ma? pa?” sindir Ferdinand.

“Iya….Mama setuju. Lebih bagus malah. Jadinya kami gak perlu repot buat nyariin pacar untuk Rian. Hahahaha” tawapun langsung meledak diantara keluarga itu. Rian yang makin merah padam langsung menarik tangan Tian menuju kamarnya.

“Eciehhhh…..kok adik kecil ngambek, sih? Malahan pacarnya langsung dibawa kabur lagi. Hahahahahahaha” sindir mereka bersamaan. Dalam hati Rian kini memang telah diisi sepenuhnya oleh Tian. Hanya saja ia masih malu untuk mengungkapkannya. Bahkan tanpa ia sadari, Tian juga memendam perasaan yang sama.

~~~***~~~

Adrian Pov

25 Maret 2011

Lapangan Parkir, pukul 03.00 Sore

Hari ini pelajaranku lebih cepat selesai dari biasanya dikarenakan seluruh guru-guru kelas 2 sedang mengadakan rapat. Akhir-akhir ini, kedua kakakku yang kelas 3 telah disibukan dengan berbagai kegiatan pra-ujian kelulusan hingga mereka selalu pulang larut. Untuk itulah sejak beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk membawa mobilku sendiri.

Hujan kini turun membasahi bumi. Aku yang ingin pulang buru-buru mengambil payung dari lokerku saat keluar dari lobby sempat aku melihat Tian yang sedang bersandar di balkon lantai tiga. Setelah berlari-lari kecil, aku sampai ditempat dimana mobilku terparkir. Aku yang tengah mengambil kunci dari saku jeans tidak sadar dengan apa yang akan terjadi.

Ketika itu ada sebuah mobil sedan hitam yang kelihatannya kehilangan kendali. Mobil yang melaju tanpa arah itu menabrak apa saja yang dilewatinya. Tempat sampah, tiang lampu, hingga beberapa mobil yang tengah terpakir, tidak sanggup untuk menghentikan laju kendaraan itu. Mobil itu kini mulai mengarah padaku. Sempat mobil itu membunyikan klaksonnya beberapa kali. Saat aku menoleh kebelakang hal itu sudah terlambat. Mobil itu menabrak tubuhku hingga membuatku jatuh terpental dengan kepala membentur aspal. Payung serta tas slempangku sudah entah terlempar kemana. Mobil itu akhirnya berhenti setelah menabrak baliho besar dengan suara hantaman yang luar biasa keras.

Kesadaranku perlahan mulai kembali. Aku pun berusaha untuk berdiri. Entah kenapa baru berjalan beberapa langkah muncul rasa pusing yang luar biasa pada kepalaku. Saat aku memegang pelipis, aku merasakan sesuatu yang lengket dan berbau amis. Kulihat jari-jariku terdapat cairan lengket yang rupanya itu adalah darah. Kuyakin terdapat jaringan yang robeknya cukup parah dikepalaku mengingat darah terus saja mengalir dari kepalaku. Perlahan aku mulai hilang kontrol atas tubuhku, belum saja aku terjatuh untuk yang kedua kalinya tubuhku langsung ditangkap oleh sepasang lengan. Saat aku memfokuskan pandanganku, ternyata yang menangkap tubuhku adalah Tian.

“Ti….Tian. sejak kapan kau ada disini? Bukannya tadi kamu—arrgghhhh!!!!­—di balkon sana” ujarku kesakitan. Serasa ada yang berderak didalam tubuhku.

“Berhenti dulu ngomongnya. Perdarahanmu banyak sekali. Gak hanya itu saja. Lengan kananmu patah dan tulang ditungkaimu bergeser” jawabnya datar.

Tiba-tiba hujan serasa berhenti disekitar kami namun suaranya masih terdengar jelas. Ketika aku mengedarkan penglihatanku, ternyata kami berdua telah terlindung dari derasnya hujan dengan adanya kubah besar yang seketika tercipta dari tetesan-tetesan air hujan yang membeku. Setelahnya Tian kembali berkomat-kamit. Namun kini aku bisa dengan jelas mendengarkan apa yang ia ucapkan.

“Imbloodvertario—skeletofrena­—Aquazlekhia”.

Itulah kurang lebihnya yang kudengar. Tiba-tiba tubuhku seperti terselimuti oleh air. Awalnya dingin namun perlahan air yang menyelimutiku mulai menghangat. Tian lalu menempelkan telapak tangannya yang pucat kekepalaku. Darah yang sedari tadi mengalir deras, langsung berhenti. Luka robek pada kulit kepalaku sedikit demi sedikit mulai menutup.

“TIAN!!! AWASSS!!!” jeritku lantang.

Belum juga proses penyembuhan itu selesai, banner yang ditabrak mobil itu oleng kearah kami. Tanpa bergeming, Tian memanipulasi pergerakan air yang berada disekitar kami menjadi gelombang besar .Gelombang itu menahan jatuhnya balihokearah kami. Tian yang dengan sekali dorongan, membuat gelombang air itu menghempaskan papan itu hingga menimpa pepohonan disekitar kami.

PRAKK….PRAKKK….BDUMM.

“Rian, kamu gak apa-apa kan? Kamu bisa dengar aku kan? Rian?? RIANN!!!!!”

Kesadaranku perlahan menurun kembali. Sayup-sayup terdengar sirine ambulance dari jauh. Segalanya mulai gelap. Aku tidak tau apa aku bisa sadar lagi atau tidak.

 

~~~продолжение следует (To be continued)~~~

 

#N.B:

1. ada satu atau dua kalimat yang sengaja kubuat pake bahasa russia.

2. Pengennya sih dibuat nanggung penggalannya. Biar penasaran.#gak tau deng sukses atau nggak

3. Kalau ada kesalahan, mohon koreksinya ya kawan-kawan. Itung2 ini karya keduaku dalam “Warlockia Series” dan coretan isengku yang ketiga.#yang pertama aku post kapan-kapan deh.

25 thoughts on “Book 2: Wind & Water (Part 1)

  1. ini yang ke dua lho Helios, gue mau ingetin, lo harus bisa selarasin tanda (titik) dan (koma) berantakan banget tanda baca lo, dan sehabis dialog jangan pakai tanda koma.

    buat diksinya, lumayan lah, ada beberapa yang sangat nggak penting menurut gue makanya gue hapusin tapi alurnya sama sekali nggak gue sentuh editan, karena gue masih abal-abal jadi cuman segini aja yang bisa gue edit, dan jangan maksain kalau mau lucu-lucuan annoying malahan.

    ceritanya makin bermutu dan seru karena udah ada mantra adamkadabra nya hahaha…. next naskah harus lebih baik di tanda bacanya aja, jadi orang yang bacanya nyaman.

    selamat malam, selamat tidur semua.

  2. oke, kok kayaknya ini hampir sama dengan tulisanku yang ke 5? bedanya ada season nya kaya weather series nya kak rendi…
    untuk tulisan sih bagus, cuman itu yang dikatain kak figi ada benernya ada yang ngga penting
    apalagi ya? ah udah malem besok aja deh selebihnya bagus…
    lanjutin yeah…

  3. Bagus banget, keren malah tapi aku masih rada bingung, ini sekolahnya dimana, di awal2 Adrian POV ada kalimat “Tidak seperti kebanyakan sekolah di Indonesia” dan waktu Tian POV Adrian bilang “Yah, kurasa pilihan kalian tepat. Welcome to the Washington. Khususnya Forks”.
    Dan satu lagi, di book 1 fire keenam sahabat kan gak ada yang namanya tian/Sebastian oliver, dan di book 1 fire, yang ingin jadi warlockia air kan chris? Jadi ini gimana yah?

    • hehehe…….bingung ya??
      1. sekolah diindonesia kan masuknya jam 6.30. kalo disana nggak. palingan jam 8-9 mereka baru masuk.
      2. sisa dari pertanyaanmu akan terjawab di bagian kedua dari book 2: wind & water. tunggu aja kelanjutannya

  4. perasaan aku aja atau memang ada mantra yang diambil dr series Harry Potter… soalnya aku tahu semua spell dari Harry Potter?

  5. ada moment yg menurut aku aneh,,, pas tian n rian bernostalgia, tmn2nya pada nepokin,,, trus gurunya kemana?
    kalo menurut aku sih, itu mendingan dijadiin momen awkward/apalah, biar pas,, itu cuma pendapatku aja sih,,

    see ya!
    #lempar_alpenliebe

  6. mirip sm twilight di beberapa adegan, apalg kota-nya jg sama. ya mungkin itu cuma inspirasi aja, yg penting jgn terlalu sama, ntar dibilang penjiplak lg. over all is great by the way. Keep post and waiting for next warlockia stories……

  7. ini sebenarnya gak penting sih, cuma mau blg aja, saya tinggal disolo, dan Mangkunegaran gak disebut keraton tp ‘Pura Mangkunegaran’ semacam kadipaten, kalo keraton ya ‘Keraton Kasunanan Surakarta’ hehe sori oot. Ceritanya bagus, fantasi bgt, saya suka🙂

    • iya, kak. aku tau. emang pada saat aku surfing di google namanya emang Pura Mangkunegaran dan begitu pula dengan kata sodaraku yang ada di surakarta. tapi entah kenapa pengen aja namainnya keraton. hehehe……
      okey, di part selanjutnya akan aku sebut dengan nama sebenarnya.

  8. Kayaknya gw dah tau mau koment apa , disini mungkin temanya agak maksa ya okaaay funfic tapi kalo mau menyatukan antara indo dg other country kayaknya agak maksa , n i guess kamu anak solo ya ??? Well skip it , n knapa selalu cerita tentang you knows raja setan , raja iblis , lucius , voldemort or bla bla bla lepas dari segel sihir , itu aga main stream menurutku , itu menurutku lho hehee , n ni tebkan gw doang adegan yayoi akan terjadi antara tokoh utama ma vallant , maybe . . . , okeey mgkn karena msh awal cerita ya jadi gw tggu next chaptnya dah . . .

    • well, bagaimana ya?? entah kenapa banyak juga yang bilang demikian. padahal baru book 2. sebenarnya aku nggak terlalu fokus ama yaoi-nya. pengennya sih “mempermainkan” setiap tokoh utama dengan intrik masing2. lihat kedepannya saja.

  9. Gw komen lage ya setelah gw baca 2 kali 2 kali lho ni hahahah , part
    “Hmm, Rian. Tadi yang bersamamu itu siapa?”
    kataku pura-pura tidak tahu.
    “Ohh. Itu tadi kakak-kakakku. Kenapa? Kamu
    suka ya? Ntar aku salamin kok. hehehe” hadeh….
    Andai saja kamu tahu walau diantara kalian
    sama-sama ganteng, tapi aku hanya tertarik
    denganmu.

    Disini kaya sudah terpatri kalo rian tahu tian G , n bag mom n dad rian yg menyetujui mereka pacaran2 (ɔ ˘⌣˘)(˘⌣˘ c) , okelah ortu mrk bersahabat , tp ap ga terlalu cepat menerimanya yah walopun mereka dari west culture tp ada jgkan yg kurang open mind , n apa mereka ga berharap memiliki grandson or granddaugther gtu,

    Yah mungkin intronya aja kurang ada menekankan kalo mereka dari kel yg care bout LGBT , itu aja sih , tp overall gw suka ceritanya couse gw sk HP jd lebih berkesan aja saat ada perapalan mantra itu , like it . . .

  10. cerita yg menarik mgkn karna ak snang yg fiksi adventure dan hal2 yg berbau magic dll..
    untuk masalah nama tempat sbnarnya tak perlu sampai harus benar2 sama loh helios.. trserah penulisnya.sesuai imajinasimu kan. toh pembaca bisa dibuat berimaginasi sndiri saat membaca..
    keep writing.. and more improve

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s