Rayan dan Fauzan (2)


images fr

 

 

Populer

 

Para siswa-siswi melempar senyum ke arah Rayan yang masih setia berdiri di depan gerbang sekolah. Beberapa di antara mereka menyapa Rayan, sebagian siswi kelas satu yang notabene murid baru saling berbisik ketika sudah melewati Rayan.

Rayan tahu betul beberapa siswi baru—kelas satu—saling berbisik membicarakannya. Sudah dari sejak pertama kali Rayan mengenyam pendidikan di sekolah ini, Rayan selalu menjadi bahan obrolan yang menarik, entah tentang sifatnya yang cengenggesan, bengal namun ramah, maupun tentang wajah tampan dan tubuh indah yang ia miliki membuat para cowok iri dan cewek hampir mendesah—tak sabar bisa berdekatan dengan Rayan. Rayan tahu tentang semua itu dan ia menikmatinya.

Berkali-kali Rayan melirik jam tangannya, memastikan apakah Fauzan akan terlambat atau tidak. Entah mengapa Rayan ingin sekali Fauzan tidak terlambat di hari pertama mereka masuk sekolah, Rayan ingin berjalan di sisi Fuazan menikmati dan memamerkan diri kepada siswa-siwi baru bahwa ia dan Fauzan adalah salah satu murid terpopuler di sekolah mereka ini. Dan Rayan ingin berbagi semua—kesan yang dianggap Rayan, menyenangkan bersama Fauzan di sisinya. Harus.

Bel berbunyi, bergaung dengan amat digjayanya, dan untuk pertama kalinya Rayan tidak menyukai bunyil bel masuk sekolah. Karena Fauzan tidak berdiri di sisinya menemani perjalanan masuk ke dalam kelas mereka.

“Tumben berdiri di sini, lu nggak kesambet kunti pohon beringin kan?” suara Fauzan terdengar dari samping Rayan. Saking gundahnya menunggu Fauzan, Rayan sampai tidak menyadari Fauzan sudah di sisinya.

“Kagaklah, orang penghuni pohon itu takut sama gue” celetuk Rayan sembari reflek melihat pohon beringin di dekat gerbang sekolah.

“Lo bisa nggak sih dateng nggak mepet jam masuk sekolah?” sekarang Rayan memasang wajah super menyebalkan ke arah Fauzan.

“Wih, ada yang mendadak jadi guru BP nih” ledek Fauzan sambil melangkah meninggalkan Rayan. Membuat Rayan menaruh kusumat untuk Fauzan.

“Bocah songong, udah ditungguin daritadi sekarang gue ditinggalin yeh” Rayan berhasil meraup Fauzan dan membuat Fauzan tenggelam dalam pelukan slash cengkraman badan Rayan yang tinggi besar menjulang.

Perkelahian kecil tidak mungkin lagi terekalakan, membuat beberapa orang memandangi mereka, namun Rayan terlalu cuek dengan pandangan orang lain, tidak perduli tatapan orang lain kepadanya tidak sedikit pun Rayan merasa jengah dan belakangan ini Fuazan menurunkan sifat Rayan yang satu ini.

“Rayan, Fauzan, bercanda mulu, kalian pikir koridor ini punya nenek moyang kamu? Ngeganggu orang lain yang mau lewat tauk” semprot pak Nasir petugas TU.

Beberapa kalimat berbisa siap diumpat balik oleh Rayan namun dengan sigap Fauzan menyikut perut Rayan dan menyeretnya menjauh dari pak Nasir sebelum perdebatan terjadi seperti waktu-waktu lampau.

“Apaan sih lu! Gue mau ngasih tahu dia doang gimana cara untuk nggak ikut campur urusan orang, dasar aki-aki lapuk, nggak bisa liat orang seneng” Rayan mencak-mencak sambil melirik ke arah ruang TU setelah berhasil melepaskan diri dari seretan Fauzan.

Fauzan hanya menggelengkan kepalanya menyadari bahwa Rayan tidak akan pernah merubah sikap batu pada dirinya, memang sudah mendarah daging.

“Yang lebih cocok di sebut aki-aki itu lo, tauk nggak Ray, lo nyerocos mulu dari tadi” keluh Fauzan sambil menaiki tangga sekolah menuju lantai dua.

“Sialan! Bukan belain gue lo” Rayan tidak tahan untuk tidak menjitak kepala Fauzan.

“Emang, lo siapa gue minta gue belain” ledek Fauzan lagi.

“Kampret!!!” kali ini Fauzan sudah siap menghindar dari tangan jahil Rayan.

Rayan dan Fauzan sudah sampai di lantai tiga, kelas para siswa kelas dua, kelas mereka berada di lantai empat sekolah ini. Beberapa siswi mulai menebar senyum andalan mereka yang mereka buat untuk memikat dua cowok paling beken di sekolah ini, rata-rata mereka mengharapkan balasan senyum dari Fuazan walaupun dibalas senyum oleh Rayan juga tidak apa-apa.

“Pagi kak Fauzan, liburannya asik nggak nih?” tanya seorang siswi kelas dua dengan rambut di kepang.

Fauzan membals sapaan cewek berambut kepang dengan gaya ramah khasnya, membuat beberapa mata menatap iri ke arah cewek berambut kepang tersebut. Sekilas terbesit keiriian di hati Rayan, karena memang faktanya, kini Fauzan jauh lebih populer dan disegani oleh penghuni sekolah mereka, namun dengan tidak kalah cepat Rayan membunuh bibit dengki kepada Fauzan dari dalam dirinya.

Bunyi bel ke dua tanda seluruh siswa harus sudah berada di kelas mereka masing-masing, di jadikan Rayan sebagai alasan untuk menarik Fauzan dan dirinya dari para siswi kelas dua yang baru mulai akan berkumpul dalam acara ramah-tamah ala-ala fans mereka. Sekarang Rayan kembali menyukai bel sekolahnya lagi.

“Eh kunyuk! Lo sakit lagi? Nggak enak banget muka lo dilihatnya” cetus Fauzan membuka pembicaraan saat mereka melangkah di koridor lantai empat menuju ruang kelas mereka.

“Kunyuk! Kampret! Lo kalo manggil nama gue bisa pake satu sebutan aja nggak sih? Dasar anak SMA labil!” balas Rayan sambik terus melangkah jenjang.

“Mulut, mulut siapa?” tantang Fauzan tidak mau kalah. Seketika Rayan menatap Fauzan dengan pandangan yang menyebalkan, seperti memandang seorang berkelakuan annoying.

 

***

 

“Ray! Gue ngomong panjang lebar, ternyata elo pakek earphone, ih ngeselin” gerutu Syifa, Rayan sontak memasang wajah malu saat Syifa melepas earphone dari telinga Rayan tanpa ampun.

“Sori,, hehe, tadi lagi curhat apa emang” tanya Rayan yang kini dipenuhi rasa bersalah.

“Nggak ada siaran ulang!” tegas Syifa.

“Siaran radio kali ah” gurau Rayan, berharap Syifa tidak marah kembali.

“Aaww! Sakit tau! Cubitan lo udah kayak emak tiri” cibir Rayan sambil mengusap-usap bagian bawah dadanya yang dicubit Syifa.

“Cabut ke kantin yuk ah, Mr. Lubis nggak bakalan ngisi pelajaran jam ini deh kayaknya” cetus Helmi sambil berdiri lalu menyeret Adi, teman sebangkunya.

“Boleh tuh, Zan, ke kantin yuk!” sesaat Rayan menyadari bahwa sosok di sebelahnya ini sedaritadi tenggelam entah ke mana.

Rayan melirik Fauzan yang sudah menutup novel-Refrain-nya.

 

Ck! decak Rayan dalam hati, dari semua kebiasaan Rayan dan Fauzan yang hampir sama, hobi terfavorit merekalah yang sangat berbeda. Rayan suka bekerja keras, bermaim dengan kesibukan olahraganya sedangkan Fauzan lebih suka bermain dengan otak dan sangat penggila novel dan game online. Satu hal yang Rayan temukan di dalam dirinya, bahwa Rayan membenci betul dengan kegiatan membaca, ada peristiwa dibalik alasan itu tentunya.

 

Beberapa pemikiran hilir mudik di dalam benak Rayan, satu hal yang amat kentara dari banyaknya pemikirannya. Satu perbedaan kontras di antara Rayan dan Fauzan itulah yang menjadi perekat dari tiap sisi kecocokan mereka.

 

“Adaaaauw!” jerit Rayan pelan, ketika telinganya ditarik keras oleh Syifa yang tidak sabaran karena saat yang lain sudah berdiri dan hendak melangkah ke kantin, Rayan masih saja melongo di tempat duduknya.

 

Melihat mata Syifa yang sudah melotot tidak sabaran ke arah Rayan, Rayan langsung mengurungkan niatnya untuk protes.

 

Rayan menggerutu pelan saat mereka melangkah menuju kantin di lantai dasar sekolah ini, Syifa sibuk bertanya kepada Fauzan di depannya sedangkan Helmi dan Adi sibuk mentertawai hak yang tidak Rayan ketahui sama sekali. Di abaikan itu adalah suatu hal yang paling Rayan benci. Catat.

 

“Ray, setengah jam lagi lo harus ke ruang futsal, lo ada sparing sama anak kekas 3 IPS 12 kan nanti jam sebelas” Rayan menegakkan kepalanya mentap Fauzan yang masih bersisian dengan Syifa di depannya. Senyum nengembang di bibir Rayan, satu hal lagi yang tersugestikan di dalam benak Rayan. Fauzan tidak akan pernah membiarkan Rayan merasa sendirian.

 

***

 

Bunyi pluit melengking di tiap telinga orang-orang yang berada di sekitar lapangan futsal sekolah mereka. Beberapa anggota tim futsal menyerbu dan memberikan pelukan selamat kepada Rayan yang tadi menjadi pencetak gol paling banyak.

 

Para cewek mulai berteriak-teriak sedikit berlebihan ketika Rayan menanggalkan Jersey-nya membiarkan badan berkeringatnya diterpa angin.

 

“Mau kaosnya kak Rayan, uwuwuwuw” kata cewek bermake-up tebal, yang langsung ditimpali cemooh dan teriakan dari murid lainnya.

 

Rayan menyadari Fauzan tidak ada di tempat duduknya lagi, namun tas Fauzan dan Rayan masih tergeletak di sana, saat Rayan hendak memutar pandang, Rayan mendapati sebuah ego dalam dirinya, jika ia menoleh mencari Fuazan itu berarti menyatakan bahwa Rayan lah yang paling butuh Fauzan dan akan membuat Fauzan bangga dengan hal itu. Bagaimanapun Rayan masih cowok remaja yang ber-ego tinggi dan tidak pernah mau merasa tersaingin dengan siapapun.

 

Saat Rayan duduk di sisi tasnya, imajinasinya sedikit menguasainya, menghayal, seharusnya Fuazan melemparkan botol minum Rayan, lalu handuknya, dan memuji slash mencemooh permainan Rayan barusan. Reflek Rayan menggelengkan kepalanya untuk menghancurkan khayalannya agar tidak meliar.

 

Satu pesan dari Fauzan yang menyatakan bahwa Fauzan sedangan ada urusan di taman belakang sekolah bersama seseorang dan akan kembali secepatnya. Rayan tidak perduli dengan siapa Fauzan sekarang sedang berurusan, Rayan mengemasi barangnya dan menjejalkan tasnya ke tas Fauzan yang berukuran lebih besar lalu melangkah ke taman belakang, setelah memakai baju bersihnya.

 

Dari sisi tembok ruang paduan suara Rayan sudah melihat Fauzan sedang tertawa dan di hadapannya berdiri Angelina, cewek yang di gadang-gadang cocok dengannya, karena Angelina selai seorang juara umum sekolah dia juga ketua OSIS sekolah, cewek cantik keturunan Jepang-Sunda ini adalah salah satu cewek yang paling di dambakan murid cowok di sekolah ini untuk menjadi kekasih mereka.

 

Entah mengapa Rayn tidak berniat lagi menemui Fauzan untuk mencaci-makinya, Rayan lebih tertarik untuk menguping pembicaraan yang sepertinya baru akan dimulai. Rayan bergerak pelan ke sisi paralon yang tidak kepakai. Setidaknya berdiri di sini tidak akan membuat Fauzan dan Angelina tersadar, bahwa ada seseorang yang sedang menguping mereka. Pikir Rayan girang.

“Zan, kok kamu ketawa sih!? Aku serius lho, apa kamu nggak ngerti gimana malunya  aku ngutarain perasaan aku ke kamu tadi?” Rayan meruntuki hal yang tadi di dengarnya. Gue ketinggalan momen saat si Ojan ditembak si Angel nih, kampret!. gerutunya dalam hati.

Walau Rayan tidak dapat melihat Fauzan dan Angel dari balik tempat pesembunyiannya yang konyol itu, Rayan mengerti betul momen awkward yang sedang terjadi sekarang ini. Walau ingin melihat dan mentertawai Fauzan sekarang ini Rayan tetap menahan diri, ia jelas lebih ingin mendengar lanjutan penggalan cinta masa SMA ketimbang mengolok-olok sahabatnya.

“Yes” gumam Rayan pelan ketika ia mendapatkan celah untuk mengintip ke arah Fuazan dan Angel.

Wajah Angel terlihat seperti kepiting rebus sekarang ini, Angel terus memilin-milin ujung dasinya dan matap ke arah kanan, ke air kolam yang keruh, seakan akan air kolam itu etalase toko baju ternama.

“Bisa lo jelasin ke gue alasan lo bisa suka sama gue?” tanya Fauzan dengan wajah kakunya, tawanya menghilang seiring rona merah menguasai permukaan kulit wajah Angel yang putih mulus itu.

“Saik!” ucap Rayan geli, walaupun dalam hati.

“Apa cinta tumbuh selalu dibarengi dengan alasan” jawab Angel. Rayan benar-benar yakin sekarang ini bahwa Angelina memang cewek pintar.

Sejurus kemudian Fauzan membuka mulutnya lagi, dan Rayan tidak mau membiarkan momen-momen langka yang akan dijadikan lelucon menarik sepanjang masa ini terlewatkan sedikit pun, maka dari itu Rayan mencoba menahan diri untuk tidak geli sendiri. Walaupun pada kenyataanya sangat susah menahan diri agar tidak menertawai Fauzan saat ini juga.

“Harus, karena gue salah satu penganut anti percaya bahwa ada namanya jatuh cinta pada pandangan pertama, buat gue itu omong kosong, maka dari itu, setiap perasaan yang tumbuh harus selalu ada alasannya” ucap Fauzan sambil ikut-ikutan Angel menatap air kolam ikan yang keruh.

“Tapi sayangnya aku jatuh cinta sama kamu saat pertama kali kita ketemu di Mall, dan ternyata kamu jadi murid baru di sekolah ini, dan semakin lama aku semakin nggak tahan dengan perasaan yang aku simpan ini, aku suka sama kamu Zan, aku cinta sama kamu” Angel memberanikan diri menatap wajah Fauzan walau Angel kini meremas tangannya yang berkeringat lebih erat lagi.

“Berarti lo mendam perasaan lo ini selama dua tahun?” tanya Fauzan. Angel mengangguk.

“Selama dua tahun, lo tetep cinta sama gue? Nggak ilfil sama sekali sama gue?” Angel kembali mengangguk.

“Berarti lo punya alasan yang kuat buat tetep cinta sama gue Angel” tungkas Fauzan. Membuat Angel menggigit bibirnya dan memasang wajah berpikir keras. “Kalo aku sebutin alesannya, seharian pun nggak akan cukup buat ngejelasin kenapa aku sayang banget sama kamu Zan” kata Angel.

“Lumayan juga nih cewek nyepiknya” puji Rayan yang daritadi mencoba menahan diri untuk tidak berkomentar sendiri.

“Nggak perlu semua, cukup beberapa poin inti kenapa lo bisa suka sama gue sebegitu lamanya” ucap Fauzan yang kini bisa mengontrol diri.

Angel mendesah pelan. “Aku malu”

“Kenapa musti malu? Toh yang dengerin kita cuman kecoak buduk toh” ucapan Fauzan menusuk Rayan langsung dengan kata-katanya yang menembus tempat persembunyian Rayan yang Rayan fikir tidak akan diketahi Fauzan.

“Bangke” Rayan meringis kecil, Rayan tahu betul bahwa Fauzan menyadari kehadirannya.

“Satu. Kamu, charming” ucap Angel malu-malu.

“Dua. Kamu, populer, aku nggak munafik, aku suka cowok populer, bukan cowok yang biasa-biasa aja”

“Tiga, kamu tinggi, walau nggak setinggi Rayan, sahabat kamu” pernyatan ke tiga Angelina mampu membuat kadar GR-dalam diri Rayan berkembang pesat.

“Empat, aku nggak pernah kuat liat senyum kamu, senyum kamu itu nge–pas banget di sini” Angel memegang dadanya. Sekali lagi Rayan memuji kehebatan Angel dalam usaha menaklukkan sahabatnya.

“Lima, hidung kamu, aku suka hidung kamu, kelihatan pas di wajah super tampan kamu itu, sudutnya yang runcing nambah kesan kamu itu orang paling ganteng di sekolah ini, kamu cute tapi maskulin  banget, hal apa lagi yang buat cewek kayak aku nggak tergila-gila ke kamu?” Rayan dan Fauzan terkisap. Bahkan Rayan tidak bisa membayangkan jika di posisi Fauzan saat ini, walau ia sadar betul cowok seperti mereka itu tidak seharusnya terbuai dengan untaian manis yang keluar dari bibir Angel yang merah muda, merekah nan menggoda untuk dicicipi.

“Terakhir,” Fauzan dan Rayan menanti kata-kata terakhir dari Angel.

“Aku suka sikap kamu, perlakuan ramah kamu ke setiap orang, aku suka kamu saat berekspresi aneh pas baca buku, aku suka cara kamu ngunyah makanan kamu, dan aku suka cara kamu nyemangatin aku, setiap aku curhat sama kamu, Zan, aku mau jadi orang yang paling bisa buat kamu bahagia, cukup itu aja” Angel menghentikan perkataanya. Dalam hati Rayan bersyukur Angelina tidak sehebat perkiraannya dalam hal menggombal, jadi walaupun Fauzan menerima cinta Angel nantinya itu semua bukan hanya karena bualan manis Angelina.

“Gue nggak bisa jawab sekarang, terburu-buru dalam suatu hal itu nggak baik” ucap Fauzan, sangat terlihat Angelina memperlihatkan wajah kecewanya.

“Jangan murung kayak gitu, gue kan belom ngasih jawaban apa-apa” tambah Fauzan. Dari balik tempat persembunyiannya Rayan berdoa agar Fauzan menerima cinta Angel, karena dengan begitu kutukan Friendzone antara Rayan, Fauzan dan Syifa akan berakhir. Fikir Rayan.

Angelina mengangguk, mencium pipi Fauzan singkat lalu berlalu. “Aku suka wangi tubuh kamu, Cinnamon, Jeruk, dan susu itu campuran aroma yang bijak, aku selalu ngerasa aman setiap ngehirup aroma tubuh kamu” Angelina berlari cepat meninggalkan Fauzan.

“Anjis! puji Rayan untuk Angelin. Bahkan di detik terakhir Angelina masih terus mencoba menaklukkan hati Fauzan. Runtuk Rayan dalam hati.

“Kecoak buduk! Mau sampai kapan lo ngumpet di situ? Sampe gue siram air kolam ikan?” Hardik Fauzan. Rayan cepat-cepat keluar dari persembunyiannya, menyudahi permainan petak umpet yang ia mainkan sendiri.

Rayan hanya menyeringai lebar sembari mendekat ke arah Fauzan yang tengah duduk di saung dekat kolam, sembari membuka novel yang sedaritadi terabaikan.

CUP.

“Enakkan mana ciuman gue apa Angelina?” tanya Rayan setelah mencium pipi Rayan jauh lebih singat dan asal-asalan.

“Aaaaa,,, dasar maho gila lu!” perkelahian tidak lagi bisa dihindari.

18 thoughts on “Rayan dan Fauzan (2)

  1. Haloooo al haha asik gece banget neh update. Al uda ga sibuk syuting emang ? Hhaha.Makin oke neh ceritanya tapi ada yang kurang tapi ah sudahlah lupakan al. Hahah biar para sesepuh yang mencarinya. Two thumbs up for you deh bro

  2. Ihhhh pengen banget tau jadi fauzan,,,, ahhhh* nangis bombai

    Hohoho kamu itu cepet banget yah update nya,, gak kaya yang lain tuh harus banyak komen dulu,,hihihi *lirikkanankiri
    *sembunyidarionew&rendi
    *peace

    Soo,,,, buat ceritanya makon bagus, dan makin penasarann,,,

    Semangat yahhh!!!!!!!

    • karena menurut gue nih yah kenapa pada minta komen, mereka mau tau aja seberapa banyak dan seantusias apa pembaca ngerespon cerita yg mrk tulis, inget lho, komen kalian faktor penyemangat terbesar, jadi dosa lho jadi silent reader.

  3. Aroma Cinnamon, Jeruk, dan susu « Jadi laper ngebayanginnya x_x wkwkwk =D
    Ceritanya udah bagus kok, cuman ada beberapa yang salah ketik aja… (kalo gk salah Paragraf 4, ‘Bunyil’ harusnya ‘Bunyi’,, de el el…) Gapapa kok maklum ‎​(ʃ⌣ƪ)
    Sippp deh(y)! Keep Write and Gesundheit!

  4. Teenlit..
    ingat zaman sekolah dulu,ceritany mirip sahabat cowok aku suka ma sahabat cewekku,tp sahabat cewek ku suka ma aku tp aku gak tau,malahan aku yg gak ngerti apa2 malah comblangi mereka mati2an,
    makasi Figi kok kayak Dejavu yaa akunya,
    hampir sama karakterku kayak Fauzan,suka baca novel dari SMP klu udah baca jd begadang,gak suka olahraga sampe aku ma ayahku yg jago bgt silat jd gak akur,tp kayaknya aku gak ganteng kayak Fauzan..itu mah kcakepan apa ada??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s