Floque – Perkamen 21


Logo Jubilee(resize)

NB : Sebelum kalian baca kelanjutanya, alangkah lebih baik kalian baca Thread ini terlebih dahulu, supaya kalian tahu alesan keterlambatan postingan ini! Terima kasih.

 https://rendifebrian.wordpress.com/2014/04/12/curhatan-penulis/ ‎

Chapter Twenty One : The Truth.

“Dave,” tegur Chris padaku. Aku masih bingung mau jawab apa. Aku dilema. “Kamu denger kan apa yang tadi aku bilang?” tanyanya padaku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memandang wajahnya. Tapi dia malah melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman.

“Ehm, kamu tadi bilang apa yah Chris?” tanyaku mencoba untuk meyakinkan tentang apa yang tadi dia ucapkan kepadaku.

“Aku tadi nanya ke kamu kalau kamu dan Allan saling mencintai yah?” ujarnya yang langsung membuatku lega sekaligus tidak percaya. Jadi yang tadi aku dengar hanya halusinasiku saja. Syukurlah kalau begitu. Karena kalau yang tadi aku kira benar, aku akan benar-benar merasa bingung harus memilih diantara keduanya.

“Kamu beneran tadi ngomong kayak gitu ke aku?” tanyaku sekali lagi mencoba meyakinkan diriku. Chris malah mengerutkan dahinya.

“Beneran lah, memangnya tadi kamu denger aku bilang apa?” katanya balik bertanya kepadaku. Aku malah jadi gelagapan sendiri, aku bingung mau jawab apa.

“Owh nggak kok,hehehe,” jawabku sembari tersenyum kepadanya.

“Jadi, kamu sama Allan udah berhubungan sejak kapan?” tanyanya sambil memandang wajahku lekat. Aku balas memandangnya karena aku bingung kenapa dia bisa tahu soal hubunganku dan Allan.

“Hubungan? Darimana kamu tahu?” tanyaku bingung.

“Tadi pagi aku masuk ke kamarnya, terus aku ngelihat foto kamu sama dia pas lagi ciuman ditempel di dinding kamarnya,” jawabnya. Foto? Pas kita ciuman? Aaahhh iya, mungkin itu foto yang diambil sama Verrel waktu aku dan Allan ciuman, batinku.

“Owh itu, hehehehe,” aku menggaruk kepalaku yang tiba-tiba terasa gatal. “I..iiyy..iiyyaa, kita baru aja jadian kemarin, hari dimana kamu siuman dari komamu,” jawabku. Kemudian dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi perkataanku barusan, lalu dia tersenyum ke arahku. Aku masih belum tahu maksud senyuman itu. Jadi, dia senang mendengar berita hubungan kami atau dia hanya pura-pura senang? Aku menatap wajahnya sekali lagi. Tapi sekali lagi aku malah menyaksikan sebuah senyuman melengkung di bibirnya.

“Udah sampai mas,” Tegur tukang perahu yang tadi mengantarkan kami.

“Ehm, kita balik lagi aja pak!” ucap Chris tiba-tiba. Aku langsung mengerutkan dahi sambil memandang wajahnya. “Udah malem, jadi aku takut kalau nanti malah kemaleman kita pulangnya,hehehe,” katanya sebelum aku bertanya kepadanya. Tukang perahu tadi pun menurut, dan kami kembali ke tempat tadi kita menaiki perahu ini. Kenapa dia berubah fikiran begitu cepat?  Kalau memang dia takut kemalaman kenapa tadi mengajakku keluar? Apa perubahan sikapnya yang mendadak ini terkait dengan hubunganku dan Allan? Apa dia marah? Aahhh sudahlah, lebih baik aku berfikir yang positif saja. Batinku.

___

“Biar aku aja Chris yang nyetir,” Tawarku begitu kami berdua sampai di dekat mobilnya. Karena begitu kami turun dari kapal, kami berdua tidak mengobrol sama sekali dan hanya diam dengan fikiran kami masing-masing.

“Nggak usah. Biar aku aja,” jawabnya cepat.

“Kamu kan baru sembuh. Terus tadi juga kamu yang nyetir berangkatnya. Jadi, sekarang biar gantian aku aja yah!” kataku agak sedikit memaksa.

“Yaudah deh kalau gitu,” jawabnya mengalah. Selanjutnya kami berdua masuk ke dalam mobilnya. “Oh ya, kamu mau langsung pulang atau mau main dulu ke tempatku?”

“Ehm, kayaknya langsung pulang aja deh,” jawabku sambil memasang safety belt ke tubuhku. “Memangnya kenapa?” lanjutku.

Dia menggeleng cepat, “Enggak. Nggak apa-apa kok,” jawabnya cepat. “Oh ya, besok aku jemput kamu lagi yah, untuk waktunya nanti aku kabarin kamu lagi,” katanya di tengah-tengah perjalanan menuju rumahku.

“Lho, memangnya kita mau kemana lagi?” tanyaku sambil fokus menyetir.

“Ehm, ada deh,” jawabnya membuatku penasaran. “Pokoknya besok harus bisa. Oke?!” aku hanya menganggukkan kepalaku, tanda kalau aku setuju. Kemudian aku kembali fokus menyetir.

 

 

“Sudah sampai,” ucapku pada Chris begitu mobil yang kami naiki telah sampai di depan rumahku. “Kamu mau mampir dulu atau langsung pulang?” tawarku balik padanya sambil membuka safety belt yang aku kenakan.

“Nggak usah. Aku langsung pulang aja,” jawabnya santai. Kemudian dia langsung membuka pintu mobil. Aku pun melakukan hal yang sama. Setelah kami keluar dari mobil Chris langsung berjalan menghampiriku.

“Oh ya, besok kamu mau ngajak aku pergi jam berapa?” tanyaku sekali lagi. “Biar aku bisa siap-siap,” lanjutku sambil memandang lekat wajahnya.

Dia berfikir sejenak, “Ehhmmm pokoknya nanti aku kabarin besok aja deh kapan waktunya. Oke?”

“Oke,” jawabku singkat. “Yaudah aku masuk dulu yah,” kataku berpamitan padanya.

“Eiitts tunggu dulu!” cegahnya menahan tubuhku. Namun yang dia lakukan selanjutnya adalah menarik bagian belakang kepalaku mendekat ke wajahnya, lalu dia mencium keningku, “Selamat malam,” ucapnya sambil tersenyum lebar ke arahku. Aku yang masih kaget dengan hal yang tadi dia lakukan padaku, aku pun hanya bisa menganggukkan kepalaku sambil mengerjap-ngerjapkan kedua mataku. “Aku pulang yah,” katanya berpamitan kepadaku. Sekali lagi aku hanya menganggukkan kepalaku dan tidak berani menatapnya. Hingga akhirnya aku menyadari kalau mobilnya telah pergi meninggalkan halaman rumahku. Aku pun langsung masuk ke dalam rumah.

Entah kenapa aku merasa bahagia dengan perlakuan yang tadi Chris berikan kepadaku. Tapi di satu sisi juga aku merasa bersalah. Bersalah karena aku telah menghianati cinta Allan. Ahhh, tapi kan aku juga tetap mencintainya. Dan tadi itu Chris yang melakukannya, bukan aku. Jadi aku sama sekali tidak menghianati cinta Allan kan? Batinku.

Aku masuk ke dalam rumah, tapi memutuskan untuk turun ke ruang bawah tanah terlebih dahulu, aku ingin melihat bagaimana bentuk ruang bawah tanah kami setelah sahabat-sahabatku berparty ria.

Bagitu aku sampai di ruang bawah tanah, hal yang pertama kali ku lihat adalah gelas-gelas minuman yang berserakan. Bau alkohol pun sangat kental tercium di ruangan ini. Ku lihat Amanda tidur di atas sofa, sedangkan di bawah sofa ada kak Morgan yang tidur dengan posisi telungkup. Sementara Chloe tidur di atas meja bersama Elaine. Dan Cassie, sahabatku yang satu itu terkapar di bawah meja sambil memeluk botol minuman yang sudah kosong. Benar-benar pemandangan yang sangat mengerikan. Sebenarnya aku ingin membangunkan mereka dan menyuruh mereka untuk tidur di kamar tamu. Tapi sepertinya percuma. Mereka sudah terlalu lelah. Jadi lebih baik ku biarkan saja. Aku pun kembali menutup pintu ruang bawah tanah dan bergegas naik.

Allan. pacarku yang satu itu kira-kira sedang apa yah? Ahhh pasti dia masih tertidur pulas. Lebih baik aku menyusulnya saja. Aku langsung berlari cepat menaiki tangga menuju kamarku. Begitu aku sampai di depan kamarku, aku langsung memutar knop pintu kamarku kemudian mendorongnya ke dalam agar terbuka. Ternyata benar. Allan memang masih tertidur pulas dengan posisi yang sama seperti ketika aku meninggalkannya tadi. Aku pun langsung mengganti pakaianku dan melepas sepatuku lalu berbaring di sampingnya. Sepertinya Allan menyadari kehadiranku, karena tiba-tiba dia langsung menarik kepalaku agar tidur di lengannya. Aku pun hanya bisa pasrah, ku peluk dadanya dan perlahan aku menutup kedua mataku.

___

“Chris? Who?” tanya Amanda yang ternyata sudah berada di depan wastafel kamar mandi kami. Aku berjalan ke arahnya lalu meraih sikat dan pasta gigiku.

“Chris a.k.a Vindra a.k.a kembarannya Chloe dan Allan,” jawabku enteng, lalu aku mulai menggosok gigiku.

WHAT?? Chris yang kemarin koma itu?” tanya Amanda tak percaya. Aku hanya menganggukkan kepalaku karena mulutku penuh dengan busa pasta gigi. “Kok bisa ya? Oh mungkin ini memang sudah kehendak Tuhan,” lanjutnya, aku kembali menganggukkan kepalaku. “Jadi semalem kamu ketemuan sama Chris?” lanjut Amanda yang saat ini sedang menggosok-gosokkan kertas lemon di wajahnya sambil menatap cermin yang berada di atas wastafel. Aku hanya menganggukkan kepalaku karena aku sedang menggosok gigiku. “Terus, kalian ngapain aja semalem?” lanjut Amanda curiga.

Aku berkumur untuk membersihkan mulutku dari sisa pasta gigi tadi, kemudian membuangnya ke dalam wastafel. “Nothing. Kita cuman ngobrol aja kok,” jawabku enteng. Lalu aku teringat dengan kejadian semalam, “Yah walaupun ada hal yang tak kuduga terjadi tadi malam,” lanjutku sambil tersenyum kepada Amanda. Dia langsung menghentikan aktifitasnya lalu menatapkan tajam ke arahku.

“Hal tak terduga? Tell me then!” perintah Amanda tegas. Kalau sudah begini berarti tandanya aku harus berterus terang kepadanya.

“Semalam Chris nyium kening aku,” jawabku pelan.

WHAT?” seru Amanda kencang. Aku langsung buru-buru membekap mulutnya. Sampai akhirnya dia mengisyaratkan tidak akan histeris kembali. Aku pun melepas bekapan tanganku di mulutnya. “Heehhh,” Amanda menghela nafas sebentar. “Jadi semalem Chris nyium kening kamu?” kata Amanda setengah berbisik. Aku hanya menganggukkan kepalaku. “Dave, aku kasih tau yah ke kamu, itu tuh nggak baik. Kamu kan punya Allan sekarang. Jadi kamu nggak boleh melakukan hal yang nantinya bisa berakibat pada hubungan kalian,” ujar Amanda panjang lebar.

“Iya Nda aku tahu. Tapi kan semalem bukan aku yang melakukannya. Lagipula itu hanya ciuman di kening aja. Berarti aku gak menghianati cinta Allan donk,” timpalku mencoba meyakinkannya.

“Iyah, belom,” jawabnya ketus. “Tapi kalau kamu terus memakluminya dan mengijinkannya bakalan terjadi hal-hal yang lebih jauh,” lanjutnya.

“Kok gitu Nda. Itu hanya ciuman di kening lho. Ciuman selamat malam yang dulu sering papa dan mama berikan buat kita. Jadi itu bukan ciuman perselingkuhan,” jawabku tak mau kalah.

Dia menghela nafas sebentar lalu dia memegang kedua pundakku, “Look, Dave! Kamu tahu kan penyebab aku dan kak Morgan putus? Mungkin orang mengira itu hal sepele. Padahal itu bukanlah hal yang sepele. Bagiku itu sudah masuk kategori perselingkuhan,” jelasnya padaku. Yep, aku sudah pernah memberitahu kalian atau belum? Selain dia mempunyai sifat prejudice, dia juga mempunyai sifat hiperbol. Dia sering membesar-besarkan masalah yang sebenarnya sepele. Dan asal kalian tahu, penyebab mereka putus adalah karena kak Morgan mencium pipi temannya. Yah, mungkin memang Amanda belum tahu kalau itu temannya. Tapi yah itu, Amanda kalau sudah kesal pasti tidak mau mendengarkan penjelasan seseorang, maka dari itu mereka putus. “Kamu ngerti kan Dave apa yang aku omongin?” tanyanya sambil menggoyang-goyangkan kedua pundakku.

“Iyah aku ngerti,” jawabku cepat. Aku tidak mau menambah masalah ini jadi memanjang. Karena pasti Amanda tidak akan mau mengalah.

Good. Yasudah aku bangunin kak Morgan sama yang lain dulu yah!” katanya, lalu dia meninggalkanku. Aku pun memutuskan untuk pergi ke dapur. Aku ingin membuat cokelat hangat untuk Allan.

Setelah selesai, aku langsung membawa cokelat hangat yang tadi aku buat ke atas, ke kamarku. Perlahan aku membuka knop pintu kamarku karena tangan kiriku memegang cokelat hangat milik Allan. Ku dorong pintu dengan kaki kananku hingga pintu tersebut terbuka, kemudian aku langsung masuk ke dalam kamarku. Tubuhku mematung karena terpana melihat pemandangan di depan mataku. Allan sedang berdiri menghadap jendela yang terbuka. Dia hanya mengenakan boxernya dan itu membuat tubuhnya yang cukup indah itu terkespos. Aku jadi membayangkan salah satu scene di film Twilight saga : New Moon. Yaitu, scene pada saat Edward ingin memperlihatkan dirinya kepada manusia agar dia di bunuh oleh Volturi, jadi Edward berdiri menghadap matahari hanya dengan mengenakan celana jeans dan itu membuat sparkling bodynya terkespos. Dan pada saat itu juga Bella langsung berlari ke arahnya dan memeluk tubuhnya. Ingin rasanya aku meniru adegan film tersebut, tapi sepertinya terlalu berlebihan.

Allan memutar tubuhnya menghadapku, kemudian dia tersenyum lebar ke arahku. Aahhh Allan. Aku harus mengakui kalau badan Allan mungkin lebih bagus dari Chris, karena aku memang belum pernah melihat bentuk pasti tubuh Chris. Tapi tubuh Chris memang terlihat lebih kecil di banding Allan, mungkin itu akibat dari koma. Kembali ke Allan! Tubuh Allan memang tidak six packs seperti Edward Cullen, tapi tubuhnya indah. Perbedaan lain diantara Allan dan Edward itu tubuh Allan tidak bersinar ketika di terpa matahari, tidak seperti Edward Cullen. Tapi itu juga menyadarkanku kalau Allan masih seorang manusia. Bukan Vampire seperti Edward. “Ehhem,” dia berdeham, membuyarkan lamunanku tentang Allan vs Edaward. Aku langsung menggelangkan kepalaku cepat untuk mebuang apa yang tadi kupikirkan. Allan langsung berjalan menghampiriku, “Morning sugar,” kata Allan sambil mendekap pinggangku dari depan. Kemudian dia mendorong pintu dengan tangan kanannya agar tertutup.

“Morning,” jawabku gugup. Dia malah makin merekatkatkan lingkaran tanganya di pinggangku, membuat tubuh kami makin merapat. “Allan, aku bawa cokelat hangat buat kamu,” sergahku cepat. Allan yang tadi hendak mengecup leherku langsung mengurungkan niatnya.

“Oh ya? Mana? aku mau,” ucapnya antusias. Aku langsung menyodorkan gelas yang tadi aku pegang ke arahnya. Dia langsung menerima dengan tangan kanannya, akan tetapi tangan kirinya masih tetap memeluk pinggangku. Perlahan dia menengguk cokelat hangat yang aku buat untuknya. “Rasanya enak. Makasih sugar,” ujar Allan, lalu dia sedikit merendahkan posisi kepalanya lalu bibirnya langsung memagut bibirku. Rasa cokelat panas yang tadi kubuat langsung menyeruak masuk di bibirku. Rasanya manis dan gurih. “I love you,” ujarnya setelah ciuman kami terlepas.

Me too,” jawabku cepat. Allan menaruh gelas berisi cokelat panas tersebut di atas meja yang berada di sampingku. Kemudian dia membuatku terkejut karena tiba-tiba dia menggendong tubuhku. “Allan, kamu apa-apaan sih,” kataku sambil mencoba turun dari gendongannya. Tapi dia menahannya, aku pun malah melingkarkan kakiku di pinggangnya. Kemudian Allan terus menggendongku hingga kami sampai di dekat tempat tidur, Allan duduk di tepian tempat tidur sementara aku duduk di pangkuannya. Aku bisa merasakan kalau kemaluan Allan mengeras di bawah sana. Dia masih menatapku dengan tatapan penuh cintanya. Aku pun balik menatapnya.

Perlahan dia membaringkan tubuhku di atas kasur, lalu dia memposisikan tubuhnya di atas tubuhku tapi tidak menempel. “Nanti siang kita jalan-jalan yuk!” ajaknya padaku.

“Ahh ehhm nanti siang yah?” aku berfikir sejenak, “Ehmm kayaknya nggak bisa deh Lan,” jawabku yang membuat Allan langsung mengerutkan dahinya.

“Lho, memangnya kenapa?” tanya Allan bingung.

“Chris ngajak aku pergi soalnya,” Allan terlihat kaget dan ekspresi wajahnya langsung berubah. Dia terlihat seperti orang kesal sekarang. Lalu dia bangkit dari atas tubuhku dan duduk di tepian tempat tidur membelakangiku. Aku pun ikut bangkit lalu mendekatinya. “Kamu kenapa? Kamu nggak suka yah aku pergi sama Chris?” tanyaku hati-hati padanya.

“Nggak, nggak apa-apa kok,” jawabnya cepat. “Kamu mau pergi jam berapa?” tanya Allan, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arahku yang berada di belakangnya.

“Nggak tahu. Masih nunggu kabar dari Chris soalnya,” jawabku sambil memeluk tubuh Allan dari belakang lalu menaruh daguku di bahunya. “Kamu nggak mandi Lan?”

“Nggak. Tapi kalau kamu mau mandiin, aku mau,” godanya padaku, aku langsung menatapnya dengan tatapan aneh. “Lho memangnya kenapa? Kan dimandiin sama pacar sendiri ini,” lanjutnya sambil tersenyum lebar ke arahku.

“Kalau aku mandiin kamu nanti bukannya mandi tapi malah—,”

“Malah apa?” potong Allan cepat. Sambil menatapku dengan tatapan penuh arti.

“Ahh kamu tuh ya. Yasudah sana mandi!” perintahku sambil mendorong tubuhnya bangkit.

“Iya-iya, dasar bawel,” gerutu Allan, sambil bangkit dari tempat tidur. Aku hanya tersenyum melihat ekspresi wajahnya kalau seperti itu. Ketika aku ingin membereskan tempat tidur tiba-tiba Allan kembali menghampiriku lalu mencium pipiku cepat, kemudian dia langsung berlari menuju kamar mandi sambil cekikikan. Aku hanya tersenyum sendiri melihat tingkahnya barusan. Dasar Allan genit, batinku.

___

“Kamu beneran mau pergi sama Chris yah?” tanya Allan sekali lagi. Setelah selesai mandi, dia memutuskan untuk tetap di kamarku hingga akhirnya aku selesai mandi dan sekarang sedang berganti baju.

“Iya, semalam dia ngajakin aku pergi soalnya. Tapi, kalau kamu keberatan aku bakalan batalin kok. Gimana?” ujarku sambil menepuk-nepuk bagian pundak kemejaku.

“Eh, gak usah. Gak apa-apa kok,” jawab Allan cepat. “Dave, aku boleh nanya sesuatu nggak sama kamu?” lanjutnya.

“Boleh, mau nanya apa?” kataku sambil berjalan dari depan cermin menuju tempat duduk di samping tempat tidurku. Tapi belum sempat Allan bertanya, tiba-tiba pintu kamarku terbuka.

“Uncle Da—,” ternyata itu Lexi, tapi kenapa dia berhenti berbicara dan terlihat seperti orang bingung ketika melihat Allan?

“Lexi. Kamu pulang kapan?” tanyaku menghampirinya. Allan pun melakukan hal yang sama, sekarang dia menyodorkan tangannya ingin menggendong Lexi, tapi Lexi malah mundur dan menatap Allan dengan tatapan tak percaya.

“Lho, kamu kenapa Lex?” tanya Allan bingung karena tingkah Lexi tak wajar.

“Ehmmm.. if you are here. So, who is he?” ujarnya, makin membuat kami bingung.

“Maksud kamu apa?” tanyaku.

“Uhm,” Lexi terlihat bingung mau menjawab apa, akhirnya dia malah menarik tanganku lalu membawaku keluar kamar.

“Kamu tuh aneh tau nggak.” Kataku yang saat ini masih di tarik oleh Lexi. Tapi anehnya dia tetap bungkam dan menarikku menuruni tangga. Ternyata Allan ikut di belakangku.

“Kenapa sih dia?” tanya Allan padaku. Aku pun hanya membalasnya dengan gelengan kepala, karena aku juga bingung dengan sikap Lexi. Lexi terus menarik tanganku hingga akhirnya kami sampai di bawah.

“Another uncle Allan,” seru Verrel yang tiba-tiba muncul dari belakang kami bersama Chris. “But, how come?” katanya bingung. Jadi ini penyebab perubahan sikap Lexi. Dia bingung karena melihat ada dua orang yang mirip dan mereka mengira kalau Chris itu Allan.

“Vindra. Kok lo ada di sini?” sergah Allan.

“Vindra?” seru Verrel dan Lexi bersamaan.

Who the hell is Vindra?” lanjut Verrel.

Me,” jawab Chris cepat. Verrel dan Lexi langsung terbelalak mendengar jawaban Chris barusan.

Let me tell you guys,” sergahku, karena aku tidak mau membuat mereka makin kebingungan. “He is Chris, I mean Vindra. And he is uncle Allan’s twins,” lanjutku. Mereka terlihat mulai mengerti dengan penjelasanku.

So, u both are twins?” seru Lexi tak percaya. Allan menganggukkan kepalanya.

No. We are tripet. You must be forgot about that girl,” tunjuk Chris pada Chloe yang sedang duduk di meja makan bersama Elaine, Cassie, kak Morgan, Amanda dan kak Jane.

Oh my God. So, you three are tripet,” ujar Lexi sambil memegangi kedua pipinya. “I can’t believe it,” lanjutnya.

Yeah, you must believe it Lex!” sahut Verrel cepat. “Yasudah, ayo kita makan!” ajak Verrel yang berjalan terlebih dahulu disusul Lexi. Kami pun mengikuti mereka dari belakang.

“Kamu dateng kapan?” tanyaku pada Chris.

“Belum lama kok. Tapi pas aku tadi dateng, keponakanmu malah langsung minta gendong sama aku dan ngira aku itu Allan,” jawabnya .

“Kenapa lo gak bilang kalo lo bukan gue,” sergah Allan di tengah obrolan kami.

“Mana gue bisa. Orang gue dateng-dateng langsung di berondong pertanyaan macem-macem. Plus di ceritain soal liburannya dia kemarin.,” jawab Chris.

“Yasudahlah. Yang penting kan semuanya udah jelas sekarang, jadi mereka udah tau kalian itu kembar,” kataku pada mereka, lalu kami nmenghampiri merka yang sudah berada di meja makan.

“Oh ya, lo kok udah bisa jalan Ndra? Bukannya kemarin lo pakek kursi roda yah?” tanya Allan bingung karena melihat Chris sudah bisa jalan.

“Iya. Sebenernya dari awal gue sadar juga gue udah bisa jalan. Tapi, karena gue belum terlalu stabil jadi gue disuruh make kursi roda,” jawab Chris, lalu Allan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Vindra,” seru Chloe tak percaya ketika melihat kami menghampiri meja makan. Wajahnya terlihat sangat terkejut. Chloe memang baru tahu kalau Chris sudah siuman dari komanya, karena kemarin dia masih dalam keadaan mabuk dan tidak ada waktu untuk menjelaskan padanya perihal kesembuhan Vindra. “Am i dreaming now?” lanjutnya sambil menepuk-nepuk kedua pipinya. Chris langsung menghampiri Chloe, kemudian dia memeluk kembarannya tersebut.

No. Kamu nggak mimpi Chloe. It’s me, Vindra,” kata Chris. Lalu Chloe tersenyum bahagia, sambil menitihkan air mata. Kulihat yang lain juga ikut bingung melihat kejadian saat ini. Bahkan kak Jane yang sedang menuangkan air ke dalam gelasnya sampai meluber dan tumpah di meja.

“Kapan, kamu sadar?” tanya Chloe pada Chris ketika pelukan mereka terlepas. Sesekali dia mengusap air matanya yang terjatuh di pipinya.

“Dua hari yang lalu,” jawab Chris sambil mengusap-usap tangan Chloe.

“Kok aku baru tahu sekarang?” dia langsung mengalihkan padangannya ke arah Allan, “Dan kamu juga, kenapa kamu nggak ngasih tau aku?” tanya Chloe tegas.

“Lah, mana ada waktu. Kemarin kan kita semua sibuk ma—,” omongan Allan terputus karena Amanda mengisyaratkan agar dia tidak memberi tahu perihal party alkohol yang mereka lakukan.

“Ma apa?” tanya kak Jane curiga sambil mengelap luberan air yang tadi dia tuang.

“Ma..ma…anu..uhmmm,” Allan berfikir sejenak sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Masuk sekolah,” sergahku cepat.

“Ah iya, kemarin kan kamu sibuk masuk sekolah, jadi aku nggak sempat ngasih tau kamu,” lanjut Allan. Chloe pun mengerti, dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Oh, yasudah. Ayo, kita sarapan!” ajak kak Jane, lalu kami semua sarapan bersama. Mama dan papa belum pulang karena masih banyak urusan, begitu juga dengan kak Edgar dan kak Tom suami kak Jane.

___

“Aku gak suka sama sikap Vindra ke kamu. Dia kan tahu kalau aku pacar kamu, harusnya dia paham donk,” kata Allan jengkel. Tadi sebelum sarapan usai, tiba-tiba dia langsung ngeloyor pergi meninggalkan meja makan dan buru-buru naik ke atas, ke kamarku karena dia mungkin jealous melihat sikap Chris padaku. “Pakek acara ngambilin makan kamu segala lagi, memangnya kamu bayi apa?” lanjutnya makin ngeco.

“Allan, kamu sadar nggak sih kalau sikap kamu itu yang terlalu kekanak-kanakkan? Kamu sendiri juga kan aku ambilin makannya. Berarti kalau kamu berfikiran seperti itu kamu juga bayi donk?” jawabku tak kalah kesal.

“Lain lah. Kalau aku kan pacar kamu, lagian aku juga gak minta kamu buat ngambilin makananku kok,” lanjutnya makin membuatku jengkel.

“Memangnya aku juga minta Chris buat ngambilin makananku? Nggak kan? Jadi please deh Lan. Grow up! Kamu nggak usah cemburuin hal-hal sepele kayak gini. Lagian, dia itu kembaran kamu. Jadi kamu nggak boleh berfikiran macam-macam sama dia,” jawabku makin jengkel.

“Iya, terus aja bela dia! Terus kenapa kamu nggak bilang kalau semalam kamu jalan sama dia? Ngapain coba malam-malam jalan? Kayak orang pacaran aja,” katanya dengan nada agak naik. Ya Tuhan, kenapa aku bisa mencintai orang seperti Allan sih? Pemikirannya benar-benar sempit. Jadi, dia cemburu karena tadi Chris memberitahu kalau semalam kita jalan berdua. Dan Allan menganggap kalau aku ini ada apa-apa dengan Chris, Ck. Benar-benar tak habis pikir.

“Memangnya orang pacaran aja yah yang jalan malam-malam?” seruku jengkel. “Allan, aku dan Chris itu hanya bersahabat, jadi kamu nggak usah berfikiran macam-macam deh. Kita itu udah sahabatan dari kecil dan lagipula dia itu udah lama nggak ketemu sama aku, jadi wajar donk kalau kita jalan berdua,” jawabku mencoba untuk tetap sabar.

“Halah, alesan. Sekarang kamu jujur sama aku, kamu masih cinta nggak sama Vindra?!” tanyanya tegas. Aku bingung. Bingung harus jawab apa, karena aku merasa serba salah. Akhirnya aku memutuskan untuk diam saja tak menanggapi pertanyaan Allan. “Kamu nggak bisa jawab kan?” katanya, lalu dia langsung berjalan menuju meja kecil yang berada di samping tempat tidur kemudian mengambil kunci motor dan handphonenya setelah itu dia ngeloyor pergi keluar kamar.

“Allan,” panggilku padanya, tapi sepertinya dia benar-benar marah karena cemburu. Cemburu buta.

Aku buru-buru mengejarnya, tapi ternyata dia berlari begitu cepat. Ketika aku sudah sampai di pintu masuk rumah, dia sudah berada di atas motornya dan tak lama kemudian dia pergi meninggalkan rumahku. Aku sadar, aku memang salah. Tapi harusnya Allan juga bisa berfikiran lebih dewasa donk? Tidak seperti sekarang ini.

“Kenapa dia?” tanya Chris yang ternyata sudah ada di belakangku, aku membalikkan tubuhku menghadapnya.

“Nggak tahu,” jawabku pura-pura, Chris pun hanya tersenyum ke arahku. “Oh ya, kita mau pergi jam berapa memangnya? Aku nggak mau lama-lama soalnya aku harus bicarain masalah ini sama Allan,” kataku.

“Katanya nggak tahu, tapi kok kamu bilang kalian lagi ada masalah. Jadi yang bener yang mana nih?” tanya Chris curiga.

“Eh..uhm anu, sebenernya kami lagi ada masalah, tapi sampai sekarang aku masih belum tau masalahnya apa,” semoga jawabanku masuk akal, dan Chris tidak bertanya lebih detail lagi.

“Aneh. Kalian itu ada-ada aja deh,” jawabya sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Yasudah, mending kita ke rumahku aja. Aku juga gak pingin kemana-kemana kok. Mama eh umi ngelarang aku buat pergi jauh-jauh, katanya dia takut aku kenapa-kenapa. Tadi pagi dia sempet marah sama aku soalnya semalem aku pergi sendiri, makanya sekarang aku di dampingin sopir, padahal aku juga bisa kok nyetir sendiri,” jelas Chris.

“Oh yasudah, lebih baik malah,” jawabku. “Yaudah, aku kedalam dulu, mau ngambil handphoneku,” kataku, lalu bergegas menuju kamar untuk mengambil smartphoneku.

 

 

“Udah?” tanya Chloe dan Chris bersamaan begitu aku sampai di depan mereka. Aku menganggukkan kepalaku. Lalu kami berjalan menuju mobil Chris. “Aku ngikut kalian pulang, soalnya aku baru sadar kalau udah dua hari aku nggak pulang pasti deh tuh nenek sihir bakalan ngoceh-ngoceh kalau aku sampe rumah,” kata Chloe.

“Lagian sih, ngapain kamu dua hari nggak pulang?” sahut Chris. Lalu kami semua masuk ke dalam mobil.

“Maklum, aku kan sibuk Chris,” jawab Chloe enteng. “Jalan pak!” perintahnya pada sopir yang akan mengantarkan kami ke rumahnya.

“Kamu mah sok sibuk,” sahut Chris sambil terkekeh. Chloe hanya menimpali omongan Chris dengan tatapan mengejek. Lalu ekspresinya langsung berubah sumringah.

“Aku senang bisa ngelihat kamu sadar dan ngobrol sama kamu lagi,” ujar Chloe sambil menatap wajah Chris lekat. Chris menengok kea rah Chloe.

“Aku juga. Aku senang bisa ngobrol sama kamu lagi, dan juga sama Allan tentunya,hehehe.,” sahut Chris kemudian tersenyum.

“Kamu tau nggak, aku sama Allan itu kaget waktu dapat kabar kamu kecelakaan dulu. Bahkan berat badanku sampe turun karena aku selalu mikirin kamu. Tiap hari aku selalu nunggu kamu bangun, tapi kamu nggak bangun-bangun. Sampai akhirnya kamu harus di bawa ke Indonesia dan aku ikut. Tapi Allan gak mau. Dia bilang dia gak bakalan mau ketemu sama kamu kalau kamu belum sadar. Tapi kenyataanya, dia balik juga kan kesini,hahaha aneh memang,” jelas Chloe.

“Maaf,” seru Chris, lalu dia memeluk tubuh Chloe. “Aku minta maaf kalau selama ini aku membuat kalian menunggu,” lanjutnya sambil mengelus-ngelus rambut Chloe. Kalau melihat kedekatan antara Chris dan Chloe aku merasa mereka begitu dekat. Tapi kenapa Chris dan Allan tidak sedekat ini, sebenarnya ada apa sih diantara mereka?

“Nggak. Semuanya udah lewat kok, jadi kamu gak perlu minta maaf,” jawab VChloe ketika pelukkan mereka terlepas. “Oh ya Dave, tadi Allan kenapa yah? Kok dia kelihatan buru-buru banget yah perginya?” tanya Chloe padaku.

“Ehm, gak tau. Mungkin ada yang harus dikerjakan kali,” jawabku bohong. Tapi Chloe malah membalasku dengan tatapan penuh arti, sepertinya dia tahu kalau aku dan Allan sedang ada masalah karena tatapannya mengisyaratkan kalau dia tidak percaya dengan apa yang tadi kukatakan. Tapi aku tetap bersikap biasa saja.

“Owh gtu,” jawabnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.  Selanjutnya perjalanan menuju ke rumah mereka diselingi dengan beberapa candaan, selebihnya kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

___

“Nih,” ujar Chris sambil memberikan sebuah buku kepadaku begitu aku sampai di dalam kamarnya. Aku duduk sofa yang berada tak jauh dari tempat tidurnya lalu meraih buku tersebut. Ku lihat cover buku tersebut sudah usang. Di situ tertulis ‘Edelweiss dan Dandelion’. Ternyata ini adalah buku yang sering dibacakan oleh nenek Chris ketika kami masih kecil. “Kamu mau kan bacain cerita ini buat aku?” tanya Chris yang saat ini sudah duduk di hadapanku.

“Mau,” jawabku cepat, “Tapi, aku lupa sampai mana cerita ini dibacakan,” kataku sambil membuka buku tersebut.

“Sampai di bagian ketika Edelweiss dan Dandelion bertemu dengan pangeran bunga mawar,” sahut Chris cepat. Dia meraih buku yang tadi aku pegang lalu membuka lembaran demi lembaran buku tersebut, kemudian dia memberikannya kepadaku, “Ini, sampai di sini,” tunjuknya pada halaman yang sekarang sudah terbuka.

“Bahkan kamu sampai sekarang masih mengingatnya Chris?” tanyaku tak percaya. Yah, walaupun aku masih ingat garis besar cerita tersebut, tapi jujur aku tidak bisa mengingat sedetail Chris, ujarku dalam hati.

“Iyah, dulu kalau aku kangen sama kamu pasti aku akan baca buku ini. Tapi sampai sekarang aku selalu terhenti dibagian itu,” jawabnya sambil menampakkan senyuman ke arahku.

“Lho, kok gitu? Memangnya kenapa gak kamu lanjutin?” tanyaku penasaran.

“Aku nggak mau tahu lebih dulu. Aku pengen kita tahu bareng-bareng,hehehe,” jawabnya, “Jadi, sampe sekarang aku belum tahu deh. Makanya aku minta kamu bacaain,” lanjutnya, kemudian dia menyadarkam kepalanya di sandaran sofa yang kami duduki.

“Owh gitu, harusnya kalau kamu penasaran, kamu baca aja! Jadi gak usah nungguin aku,” kataku, lalu aku mengalihkan pandanganku yang tadi menatap wajahnya ke lembaran buku yang akan aku baca kemudian aku mulai membacanya.

“Hai, siapa kalian?” sapa sang pangeran bunga mawar tersebut pada Edelweiss dan Dandelion.

“Ehm..aku..aku Dandelion,” jawab Dandelion terbata. Kemudian pangeran bunga mawar tersebut mengalihkan pandangannya ke arah Edelweiss dan memandangnya lekat.

“Namaku Edelweiss,” jawab Edelweiss singkat.

“Aku Rose,” jawab sang pangeran memperkenalkan dirinya. Walaupun mereka mempunyai tangan dan kaki, tapi bentuknya tetap seperti bunga. Tangan dan kakinya terbentuk dari tangkai dan pada bagian kepalanya terdapat kelopak bunga.

Kemudian mereka berjalan beriringan dan saling berbicara satu sama lain. Bahkan sesekali mereka tertawa.

Aku membalikan lembaran buku tersebut dan terus membacakan cerita tersebut. Allan pun dengan hikmat mendengarkannya. Sesekali dia berganti posisi duduk dan mengambil minum. Tapi dia tetap mendengarkan ceritaku dengan hikmat. Hingga akhirnya tiba pada halaman terakhir. “Kok cuman sampai sini?” tanyaku bingung, karena aku yakin sebenarnya cerita ini masih ada lanjutannya. Ku lihat dibagian belakang buku tersebut seperti ada bagian yang sengaja di robek.

“Menurutmu siapa yang nanti akan dipilih oleh Rose? Dandelion atau Edelweiss?” tanya Chris membuyarkan lamunanku soal halaman yang sengaja di robek.

“Huh?” aku balik bertanya karena masih bingung dengan apa yang dia tanyakan barusan. Dia menggeser posisi tempat duduknya mendekat ke arahku.

“Aku tadi nanya sama kamu, kira-kira siapa yang akan dipilih oleh Rose?” jelasnya padaku.

“Owh, kalo itu aku gak tau. Kan cerita ini belum selesai. Lagipula sepertinya halaman terakhirnya ada yang sengaja ngerobek deh,” jawabku sambil terus meneleti sisa robekan halaman terakhir pada buku tersebut.

“Hmmm, kamu coba tbak aja!” ujarnya agak memaksa.

“Uhmmm siapa yah? Mungkin dia akan memilih keduanya, karena mereka kan sahabatnya. Jadi mereka akan sembuh dari racun tersebut dan hidup bahagia selamanya. Bukankah itu adalah ending dongeng seperti pada umumnya?” jawabku, lalu aku menutup buku tersebut dan mengembalikannya pada Chris.

“Bagaimana kalu endingnya berbeda?” tanyanya sekali membuatku bingung.

“Maksud kamu?” tanyaku mencoba mencerna apa yang tadi dia katakan. Namun Chris menggeleng cepat.

“Nggak kok. Yasudah sekarang kamu temuin Allan gih! Katanya tadi mau ngomong sama dia,” perintahnya padaku.

“Oh iya yah,hehehe,” jawabku, lalu aku bangkit dari sofa tersebut dan berjalan menuju pintu kamar tersebut, “Yasudah kalau gitu, aku nemuin dulu yah,” pamitku padanya, Chris pun hanya menganggukkan kepalanya kemudian aku keluar dari kamarnya.

___

Ku ketuk pintu kamar Allan perlahan, “Lan…Allan,” panggilku lirih, namun tidak ada jawaban dari dalam. “Allan,” seruku sekali lagi agak kencang, tapi masih belum ada jawaban juga. Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba membuka pintunya, ternyata pintunya tidak terkunci. Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Ku lihat sekeliling kamarnya, tapi dia tidak ada, “Allan,” panggilku sekali lagi. Tetap saja tidak ada sahutan. Aku melihat ke arah kamar mandi. Pintunya terbuka, itu tandanya dia tidak ada di dalam. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar kamarnya.

“Kamu ngapain Dave?” tegur sebuah suara ketika aku selesai menutup pintu kamar Allan. Ku balikan badanku ke belakang, ternyata itu Chloe.

“Kamu Chloe,” jawabku cepat. “Ehm anu, aku tadi nyari Allan, tapi kok dia gak ada di kamar yah?” kataku padanya.

Chloe melipat kedua tangannya di depan dadanya, “Lho, kamu gak tahu yah kalau Allan tadi keluar?” katanya sambil memutar-mutar rambutnya dengan jari telunjuk.

“Pergi? Pergi kemana?” tanyaku penasaran.

“Gak tahu. Yang jelas tadi dia pergi naik motor,” lanjutnya, “Oh ya, kamu lagi ada masalah yah sama dia?” tanya Chloe curiga.

“Sedikit,” jawabku lesu.

Chloe berjalan menghampiriku, dia menaruh tangan kanannya dipundakku, “Kalau, kamu sudah siap cerita, kamu cerita yah sama aku,” ujarnya sambil menepuk-nepuk pundakku pelan. “Yaudah, aku mau ke kamar dulu, mau siap-siap soalnya Arin ngajak aku jalan,” lanjutnya, kemudian dia pergi meninggalkanku sendirian di depan kamar Allan.

“Kok, kamu masih disini? Mana Allan?” tanya Chris yang saat ini sedang membawa gelas berisi air putih dan sepotong cookies di belakangku.

“Allan pergi,” jawabku cepat.

“Pergi kemana?” tanya Chris, lalu dia menyuapkan Cookies yang tadi dia pegang ke dalam mulutnya,

“Gak tahu,” jawabku lesu, “Aku takut kalau dia benar-benar marah sama aku,” lanjutku cemas. Chris meminum gelas yang berisi air minum tadi.

“Tenang aja. Dia paling marah sesaat aja kok,” jawabnya setelah dia meminum air putih tadi, “Yasudah sekarang kamu mau langsung pulang atau mau jalan-jalan lagi sama aku?” tawar Chris.

“Nggak usah, aku langsung pulang aja,” kataku, kemudian aku berjalan menuruni tangga. Chris menyusulku dari belakang.

“Biar aku antar,” tawarnya padaku.

“Nggak usah, aku pulang naik taksi aja,” kataku menolak tawaran Chris. Chris berjalan cepat mendahuluiku kemudian berhenti tepat dihadapanku, membuatku susah untuk menuruni tangga.

“Pokoknya kamu harus aku anterin.titik!” katanya tegas, kemudian dia menarik tanganku menuruni tangga. Kalau sudah seperti ini aku paling tidak tega kalau harus menolak tawaran orang yang mencoba membantuku.

___

“Makasih yah Chris!” ujarku ketika dia selesai mengantarku pulang. “Kamu mau mampir atau langsung pulang?”

“Aku langsung pulang aja, gak enak sama sopirku,” ujarnya. Kita memang diantar oleh sopir, karena tante Sherly masih melarang Chris membawa mobil sendiri.

“Yasudah kalau gitu, hati-hati yah!” ucapku padanya sambil melambaikan tangan ke arahnya. Perlahan kaca mobil tersebut menutup dan mobik itu melaju meninggalkan halaman rumahku. Aku pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah.

***

“Aku ke homeroom Bahasa yah Dave,” ujar Amanda begitu kami sampai di sekolah. “See ya,” lanjutnya sambil mencium pipiku lalu pergi meninggalkanku. Dengan antusias, aku berjalan menuju lift. aku ingin buru-buru ke homeroom biology. Aku ingin segera bertemu Allan, karena dari kemarin dia tidak menjawab teleponku dan tidak membalas chattinganku. Aku tidak menyangka kalau imbasnya akan separah ini.

Aku berjalan cepat keluar lift begitu sampai di lantai 5. Aku langsung duduk di barisan tengah, sambil menunggu Allan datang. Tapi hingga materi usai Allan pun tak kunjung datang. Aku pun langsung keluar ruangan dan berjalan menuju Jiscaf untuk bertemu dengan sahabat-sahabatku yang lain. “Dave,” panggil Chloe sambil melambaikan tangannya begitu aku baru memasuki pintu masuk Jiscaf. Aku langsung berjalan menghampirinya.

Ternyata disitu sudah ada Amanda, Cassie dan Elaine juga. “Allan mana?” tanya Cassie begitu menyadari aku tidak datang bersama Allan. Aku pun hanya menjawab dengan menaikkan kedua pundakku, tanda kalau aku juga tidak tahu.

“Aku gak tahu,” jawabku malas, lalu duduk di samping Chloe. “Dari kemarin dia nggak jawab teleponku sama gak balas chattinganku juga,” lanjutku, kemudian aku membuka buku menu yang tertera di meja.

“Lo lagi marahan yah sama dia?” tanya Cassie, aku hanya menjawabnya dengan anggukkan kepalaku saja, “Marah kenapa?” lanjutnya kemudian, aku pun kembali menjawabnya dengan anggukkan kepalaku, karena aku mataku sedang melihat deretan nama makanan yang sebenarnya tidak akan aku makan.

“OH MY GOD,” seru Amanda antusias, kami pun langsung melihat kearahnya yang tiba-tiba histeris nggak jelas.

“Lo kenapa sih Nda? Histeris kayak cewek yang lagi diperkosa sama kolor ijo,” ujar Cassie sambil memasang tampang mengejek.

“Gimana aku gak histeris coba, nih liat!” perintah Amanda sambil menunjukkan layar Ipadnya ke arah kami.

“Maksudnya apasih?” tanya Cassie bingung.

“Ya ampun Caas, kamu itu bisa baca gak sih? Ini tuh berita terbaru tentang idolaku, Onew,” seru Amanda antusias.

“Onew, who?” tanya Chloe sambil mengerutkan dahinya.

“Itu lho, si Onew busuk, yang main di The Hunger Gay bareng siapa tuh, oh iya Rendi Korden,” sergah Cassie, yang langsung membuat Amanda menatapnya tajam. Chloe pun menganggukkan kepalanya, tanda kalau dia mengerti.

“Enak aja busuk, dia itu the next shining star tau nggak. Nih buktinya, seperti dilansir di situs topmusic.com, dia bakalan ngerilis single terbarunya dan duet bareng Lorde. Lihat! Dia bakalan duet bareng Lorde, penyanyi yang kemarin menang Grammy,” jelas Amanda antusias, bahkan saat ini dia terlihat seperti orang yang kesurupan karena terlalu antusias.

“Lorde, penyanyi yang kayak pemuja setan itu?” ujar Elaine yang membuat kami semua mengalihkan pandangan ke arahnya.

“Pemuja setan?” seru Chloe dia membenarkan posisi duduknya dan menatap Elaine lekat, seperti kami.

“Ehm, aku sih gak tau dia sebenarnya pemuja setan atau nggak, tapi coba deh kalian lihat video waktu dia perform di Grammy, gayanya itu udah kayak pemuja setan,”

Fix. Berarti si Onew juga the next shinning satan, bukan shinning star. Hiiii serem deh,” sergah Cassie yang membuat Amanda jengkel.

Listen ya Cass. FYI! Onew is my Idol, and he is the next talented artist from Indonesia. Setelah Anggun dan Agnes sih,” ujar Amanda mantap. Kalau sudah begini pasti deh urusannya akan memanjang. Karena Cassie dan Amanda selalu berbeda pendapat.

“Oh iya, ngomongin soal Agnes, apa kabar tuh sama single terbarunya yang judulnya Ngocok Kontol itu,” ujar Cassie yang membuat kami memelototkan mata ke arahnya.

“Ngocok kontol?” kamu gila yah Cass, “Yang bener kan Coke Bottle,” koreksi Amanda.

“Lho, hampir mirip kan? Nih liriknya kan gini, I see you’re lookin’ at my curves, ngocok kontol, I see you’re lookin’ at my curves, ngocok kontol,” ujar Cassie yang membuat Chloe dan Elaine hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.

That’s so disgusting,” ujar Amanda sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.

“Hahaha, kamu memang selalu gila sayang. Yasudah aku mau ke club cherios  dulu yah, soalnya ada beberapa urusan,” kata Elaine, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan mencium pipi Cassie, “See ya!” kata Elaine lalu dia pergi meninggalkan kami.

“Jadi gimana? Bagusan versi coke bottle atau ngocok kontol?” tanya Cassie pada Amanda.

“Dasar mesum!” gerutu Amanda kesal.

Stop it! Both of you!  Kita kan disini mau dengerin penjelasan Dave, soal hubungannya dengan Allan, kenapa jadi ngomongin hal-hal gak jelas sih,” sergah Chloe cepat, kemudian dia mengalihkan pandangan ke arahku, “You can explain now!” perintah Chloe padaku.

Aku membenarkan posisi dudukku yang agak melorot lalu memandang ke arah mereka semua. “Jadi, gini. Allan itu marah soalnya sikap Chris ke aku yang menurut dia kayak pacarku. Padahal aku udah jelasin ke dia kalau aku sama Allan tuh cuman sahabatan doank, gak lebih. Yah walaupun—,” aku tidak melanjutkan kata-kataku karena aku bingung.

“Walaupun apa?” tanya Chloe penasaran. Aku menghela nafasku panjang, dan mulai berfikir bagaimana memulainya.

“Walaupun apa Dave? Jangan bikin kita penasaran deh!” perintah Amanda antusias.

“Ehmm… sebenarnya, aku juga cinta sama Chris,” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku dan itu membuat mereka semua ternganga. “Kalau kalian jadi aku kalian bakal pilih siapa?” lanjutku. Mereka terlihat bingung mau jawab apa.

“Hmmm kalo aku sih yah Dave, aku bakalan pilih Chris. Kenapa? Karena dia kan cinta pertama kamu, udah gitu dia orangnya romantis lagi. Kamu tau nggak kemarin waktu dia dateng ke rumah dia pakek bawa bunga mawar. Terus bunganya itu dikasih ke aku, dia bilang itu buat kamu. Tapi maaf yah, aku simpen di kamarku,hehehehe,” jawab Amanda sambil tersenyum ke arahku.

“Halah, itumah lebay,” sergah Cassie cepat. “Kalo gue jadi lo Dave, gue bakalan milih Allan. Kenapa? Karena udah kebukti kalau dia cinta sama lo. Yah walaupun mungkin emang Allan itu gak seromatis Chris, tapi kan paling enggak dia udah ngebuktiin kalo dia cinta sama lo. Dan emangnya lo yakin Chris cinta sama lo?” aku menggeleng pelan, “Nah, dia aja belum tentu cinta sama lo, jadi mending lo milih yang udah jelas-jelas cinta sama lo aja deh!” lanjut Cassie sambil menatapku lekat. Aku pun membalas tatapannya.

“Tapi Cass, dia itu perhatian banget sama aku. Bahkan Allan cemburu karena memang sikap Chris ke aku itu kayak ke pacarnya gitu lho. Dan kalau boleh jujur, Chris itu lebih dewasa di banding Allan,” jelasku pada Cassie.

“Yaudah deh, terserah lo aja. Yang jelas gue tetep ngedukung Allan buat jadi pacar lo,” katanya, kemudian dia menyeruput jus yang berada di depannya. Aku pun mengalihkan pandangan ke arah Chloe.

“Kalo menurutmu Chloe, aku lebih baik pilih yang mana?” tanyaku padanya.

No comment,” ujar Chloe sambil mengangkat kedua tangannya di udara. “Mereka berdua kan saudaraku, dan aku juga sayang mereka berdua, jadi maaf yah Dave aku gak bisa ngasih pilihan ke kamu. Yang jelas aku berharap pilihan kamu itu yang terbaik buat kamu dan pada akhirnya tidak menyakiti yang tidak kamu pilih,” ujar Chloe dewasa. Baru kali ini aku mendengar ucapan Chloe sedewasa ini. Aku pun hanya menganggukkan kepalaku lalu kembali memikirkan kira-kira siapa yang akan aku pilih. Selanjutnya kami menikmati makanan yang sudah berada di depan kami.

___

Selesai istirahat, aku langsung izin keluar sekolah, karena memang sudah tidak ada schedule yang harus ku ikuti. Aku ingin meminta sahabatku Jeremy, sekalian menengok bagaimana keadaannya sekarang. Karena semenjak aku naik kelas 12 aku sudah jarang bertemu dengannya lagi, walaupun kita masih tetap kontak-kontakkan.

“Halo Jer, aku udah di depan apartemen kamu nih,” kataku melalui smartphone ketika sampai di depan apartemennya.

“Oke, bentar yah Dave,” ujarnya, kemudian memutuskan pembicaraan kami. “Holaaaaaa,” serumya antusias ketika melihatku berada di depan pintu apartemennya. Kemudian dia memeluk tubuhku. “Apa kabar Dave?” ujarnya kemudian setelah pelukan kami terlepas.

“Baik,” jawabku singkat, “Kamu sendiri apa kabar?” tanyaku padanya.

Fine, yaudah ayo kita masuk!” ajaknya padaku. Aku pun melangkahkan kakiku ke dalam apartemennya. “Sorry yah berantakan, maklumlah kan yang tinggal cowok semua,hehehe,” aku pun menggeleng cepat tanda kalau aku tidak terganggu dengan kondisi apartemennya yang well, memang agak berantakan. “Mau minum apa?” tanyanya kemudian.

“Apa aja,” jawabku padanya, lalu dia menganggukkan kepalanya dan meninggalkanku sendiri di ruang tamu ini. Aku pun mengambil majalah yang tergeletak di atas meja dan mulai membacanya.

“Jadi, kamu mau minta pendapat soal apa sama aku?” tanya Jeremy yang sekarang sudah datang dengan dua gelas orange juice  di tangannya. Aku pun menutup majalah yang tadi aku baca, lalu menaruhnya kembali di atas meja.

“Ehm, ini soal orang yang aku cintai Jer,” jawabku sambil meraih orange juice  dari tangannya.

“Owh, pacar kamu yang namanya siapa itu? Gio atau Levi?” tanya Jeremmy yang membuatku mengerutkan dahi.

“Siapa Gio dan Levi? Kayaknya aku gak pernah cerita ke kamu soal dua orang itu deh. Kamu ngaco,” Jeremmy menyengir ke arahku.

“Hehehe, kayaknya itu nama mantan pacar aku deh. Yasudah sekarang ceritain aja dimana letak permasalahannya!” perintah Jeremy.

“Hmm jadi sekarang aku mencintai dua orang dan aku bingung harus milih yang mana,” jelasku pada Jeremy.

“Owh jadi gitu, itusih gampang banget. Kamu tinggal pilih aja mana yang paling ganteng diantara mereka,” saran Jeremy.

“Tapi mereka itu kembar, dan wajah mereka sama,” lanjutku kemudian.

“Kembar? Waaahhh kamu hebat,” seru Jeremy antusias, “Ehm, kalo gitu kamu pilih aja diantar mereka siapa yang penisnya paling gede. Nah, baru deh kamu jadiin pacar,” lanjut Jeremy yang sukses membuatku melotot. Sepertinya meminta saran pada Jeremy adalah hal yang salah. Belum sempat aku menimpali perkataanya barusan tiba-tiba smartphoneku  berdering.

“Halo Chris, ada apa?” tanyaku padanya. “Ehm aku lagi ada di apartemen temenku,” lanjutku. “Owh, mau ngapain? Yasudah kalau gitu nanti aku chat kamu deh,” jawabku kemudian menutup pembicaraan kami.

“Siapa?” tanya Jeremy penasaran.

“Chris, salah satu orang yang aku cintai,” jawabku, kemudian aku memasukkan kembali smartphoneku ke dalam kantong bajuku.

“Waahh kesempatan bagus. Kamu bisa buktikan malam ini juga Dave, buktikan kira-kira penis siapa yang paling besar,hahaha,” tawa Jeremy lepas, aku pun hanya membalasnya dengan tatapan aneh.

***

“Kamu ngapain ke makam?” tanyaku pada Chris begitu kami sampai di tempat yang tadi dibicarakan. Jadi, tadi Chris menjemputku dari apartemen Jeremy setelah aku memberitahu alamatnya  lalu dia membawaku ke sini. Ke makam yang entah apa tujuan dia ke sini.

Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku dan malah menarik tanganku menuju salah satu makam, “Hari ini adalah peringatan 7 tahun meninggalnya nenek,” katanya, kemudian dia menaruh karangan bunga di atas makam nenek. Owh, jadi hari ini tepat tujuh tahun meninggalnya nenek Chris. Aku baru tahu. Dia berjongkok di samping makam tersebut dan membersihkan batu nisan makam tersebut. Namun tiba-tiba sebuah foto terjatuh dari kantong celananya. Aku pun memungut foto tersebut. Ternyata itu foto Chris bersama wanita sebayanya yang kalau aku tebak mungkin ini foto waktu masih SMP dulu. Mereka terlihat tersenyum bahagia di foto tersebut. Siapa yah cewek ini? Batinku. “Ayo kita pulang!” ajak Chris yang membuyarkan lamunanku soal foto yang terjatuh dari kantong celananya tersebut.

“Ini siapa?” tanyaku penasaran sambil menunjukkan foto tersebut ke arahnya.

“Owh dia, nanti aku jelaskan di mobil,” kataku, kemudian dia menggandengku berjalan menuju mobil.

“Jadi, dia siapa?” tanyaku sekali lagi padanya.

Chris meraih foto yang tadi aku pegang, “Dia adalah kekasihku,” jawabnya yang langsung terbelalak. Dia terus menjelaskan tentang siapa wanita tersebut dan itu membuatku sedikit kecewa dan sakit hati. Ternyata Chris sudah mempunyai pacar dan dia wanita. Itu tandanya Chris staright.”Tapi dia sudah meninggal,” ujarnya yang membuatku makin tercengang.

Aku pun hanya mengangguk-anggukkan kepalaku karena aku bingung harus berkomentar apa. “Chris. Boleh aku nanya sesuatu sama kamu?” tanyaku gugup.

“Apa?” tanyanya sambil menatapku lekat.

“Sebenarnya, kamu cinta nggak sama aku?” tanyaku penasaran, Chris hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku barusan. Dia mendekat ke arahku lalu membelai rambutku.

“Hhmmm aku cinta kok sama kamu. Aku cinta sama kamu layaknya seorang kakak pada adiknya,” perkataanya barusan sudah mejelaskan sebuah kebenaran besar. Akhirnya aku sadar kalau ternyata Chris tidak mencintaiku sebagai kekasih melainkan sebagai adik.

“Uhm, tapi sikapmu ke Allan kok aku ngerasa kayak kamu ingin membuatnya cemburu yah?” tanyaku hati-hati.

Dia membelai rambutku pelan.”Oh soal itu. Aku cuman gak mau kamu mencintai orang yang salah. Walaupun itu kembaranku sendiri. Makanya aku pengen tahu seberapa besar cinta Allan buat kamu. Dan ternyata Allan memang benar-benar cinta sama kamu,hehehe. Maafin aku yah Dave,” katanya merasa bersalah.

“Owh itu,” aku merasa lega. Lega karena semua sudah terjawab. Walaupun aku merasa bersalah pada Allan sekarang, karena sempat meragukan cintanya dan mencintai kembarannya.

“Oh ya Dave, aku juga pengen memberi tahu kamu soal itu,” tunjuknya pada kalungku.

“Kalung ini? Memangnya ada apa dengan kalung ini?” tanyaku penasaran. Chris pun mulai menjelaskan padaku tentang semuanya. Dan itu sukses membuatku terbelalak sekaligus tidak percaya. Aku benar-benar tidak percaya dengan kebenaran yang selama terungkap.

“Jadi, kamu sekarang sudah tahu kan kenapa kalung ini bisa sampai di tanganmu?” tanyanya sambil memandang wajahku lekat. Jadi selama ini……

-Udah yah, To be continued dulu-

Apa kabar semuanya? masih ingetkan dengan cerbungku?hahaha. Sorry yah kalau jadwal postingnya ngaret, kalian pasti tau lah kenapa kalau kalian udah baca thread yang aku buat,hehehe.

Mau bilang apa lagi yah? semoga kalian puas deh dengan lanjutannya. Ini 18 lembar lho, biasanya aku bikin cuman 15 lembar. Tapi aku kasih tambahan buat bonus kalian karena masih setia nunggu,hehehe. Buat yang masih setia nunggu kelanjutan cerbungku aku cuman mau bilang makasih..hehehe. *cium satu-satu*

Semoga next part gak terlalu lama yah. Palingan yah satu bulan deh dari sekarang. Soalnya aku mau bersemedi dulu,wkwkwkwk.

JANGAN LUPA KOMEN!!!

Oke deh gays. Sorry for typo and sorry for everything. Byeeeeee……….

Yours Truly

Onew Feuerriegel

88 thoughts on “Floque – Perkamen 21

  1. Keren bgt kasian to dave trernyata chris gak cinta ma dia q tunggu lanjutanya lagi pkknya cpt diposting н̲̣̣̣̥є̲̣̥н̲̣̣̣̥є̲̣̥н̲̣̣̣̥є̲̣̥н̲̣̣̣̥є̲̣̥н̲̣̣̣̥є̲̣̥н̲̣̣̣̥є̲̣̥

  2. Setelah sekian lama menunggu akhirnya di publish juga chapter 21nya. Gak papa lama New yg penting tetep di lanjut.

    Ceritanya makin seru deh, ternyata seperti itu toh kenyataannya.
    Dave memang utk Allan

    Keep Write

  3. Syukur lah chris nganggap dave adiknya wkwkwk.
    Btw kemana si allan kabur?
    Apa dia semedi kyk si onew biar jadi straight??
    Huahahaha
    Jadi chris jomblo nih, aku mau dong jadi pacarnya wkwkwk.

    Onew terengkeis udah di update tp tadi tuh ada salah nama. Chris jd allan, allan jd chris.

    • Kemana yah? kayak.a dy lagi kabur dikamarku deh. Kita lagi ehem hahaha.
      Emang aku ada niatan jadi straight yah? kayak.a gak ada deh,hahaha.
      Iyah jomblo. Tapi kayak.a situ gak masuk kategori cewek idaman Chris deh kak,hahaha.

      Yang mana? bisa tolong tunjukin gak?

      • Si allan yg semedi biar jadi straight. Tapi kalau dia berubah bukan cerita gay unyu unyu lagi dungs.
        Kalau kau mah new eyke gk peduli keleus wkwkwk :p

        Lupa yg mana new, cek aja satu satu itung2 olahraga mata hahaha

  4. At least udah di post ceritanya….. dan ujung2nya TBC yang bikin aku jadi gregettt banget….. Udah ah segitu aja comment nya,,, yang cepet ya kak updatenya

    • Agistaaaaa… where have you been? udah lama gak nongol yah, gak lagi nonton konser.a Onew ft Lorde kan?hahaha.

      Sama, kamu juga yah,hehehe

  5. Wah ! Mungkin salah satu penyebab Postingan-nya lama itu, gara” Onew-nya sering berdelusi tuh ..😛
    Ga sia” nunggu lama nih .. 🙂

  6. Anj…… Onew kebiasaan ngegantung , mulai ikut2an rendi nih main gantung dan ngared posting HUH. Setidaknya part ini jelas dan ada kemajuan dari part yg kemaren , dan lebih teratur , oke lanjut jangan kelamaan , ntr gua kutuk jadi jembut lo hahahaha

  7. Ishhh dah… Knp paman bikin si dave ngeselin bngt di episod ini???
    Sumpah gw ksel bngt sama dave pake plin-plan…. >_<
    But, ceritanya bagus pake bingittt… Empat jempol dah…
    Hahahaaaa

  8. hello, long time no see🙂 gue komen dulu dah baru baca kemudian wkwkwk sorry new jarang komen *jujur* #tsaaaaahbgt satu pernyataan gue masih ngga ngerti ending lo mau di bawa kemana? yaelah udah kaya lagu aja. oke udah dulu da-dah !!

  9. onew, lo ancurin single terbaru agnesmo apa ngga tau? tpi pas jg di nyanyiinya wkwkwk o pngen eksis bgt ya di cerbung lo hahaha gue baru tau kalian (rendi & onew) kerja di kantor ku kira msh kuliah wkwk

    • Aku cuman pernah denger waktu dia tampil di PGA sih.hahaha.
      Pas kan?hahaha.

      Lho memang.a gak tau yah kalau sebener.a Onew itu emang eksis bgt di RL?hahaha.

      Iyah, kita kan calon bos,hahaha AMIINNNN

  10. kampret -_- dipotong nya ngga enak banget -__-
    Buruan lanjut onew!!!
    Anyway ini keren banget udahan ceritanya, no doubt deh. Haha xD

    • Sengaja biar gak croot,eeehh hahaaha.
      Masih lama had. Oh ya, aku kan udh bikin thread soal ganti avatar. Kata.a kamu mau ganti? kok belum ganti juga?haayyyoooo..

      makasih..makasih..makasih..heehehe

  11. ih onew genit… bau tahu.. kamu kan belum gosok gigi.. kbayang kalau ada 1000 readers atau lebih onew ciumin 1 per 1.. dower tuh bibir
    onew keren.. terharu *karena saking lamanya gak baca * tapi kecewa ternyata chris cuma suka sebagai adik… well chris buat gue aja…
    dan gue berdoa semoga ide,mood,imajinasi dan waktu onew buat ngelanjutin selalu ada dan dilancarkan… hahahaha *ngerayu biar onewnya semangat*
    siap- siap go to chris house… la..la..lalala…la
    bye my baby bala bala onew

    • Sok tahu. Aku itu tiap hari gosok gigi keleus..hehehe.
      Chris buat aku tau,hahaaha.

      Makasih buat doa.a,hehehehe

      Heh ngapain kesana? orang Chris.a lagi mandi di rumahku,haahaha

  12. oh iya satu lagi bener tuh apaan onew artis indonesia yang akan menyusul anggun dan agnes…. ada juga gue dulu kali baru kamu new… please jangan mendahului…
    kalau uda gue baru yang lain… yang jelas bukan kamu… please kamu nyanyinya barengan giant aja* giant doraemon* suara kamu kan mirip suneo… jadi duetnya sama giant aja…hahahaha
    *kabur.. ke mars * :))))

    • Isshhh enak aja. Pasti.a si Onew duluan donk,hahaha.

      Suara kamu mirip kayak suara jengkelin,hahaha.

      *kabur ke pelukan Chris*

  13. Ga konsis ah masa nama orang eloooo ┐(‘o’ ┐) ganti2 net yg bener rendi korden apa rendi sardeen #lirik_rendi , ada typo dikit tapi ga buat mata gw (┎ ‘_’ ┒) sakit kok , komen gw ga eloooo ┐(‘o’ ┐) blas samse ya ah eloooo ┐(‘o’ ┐) net ga asyik (´⌣`ʃƪ) , anyway rendi kmn sih ga nongol2 mash ribet ma projecknya ya ?????

    • Itukan cuman celetukannya si Cassie doank Sa. Di film.a sih Rendi Sardeen, eh tapi emang beneran ada yah?hahaha.

      Udah kok. cek aja sa!

      Rendi lagi ngocokin penis.a Ozayn,hahahaha

      • Sumpeh eloooo ┐(‘o’ ┐) rendi baru mainan disco sticknya ozayn ???? reeeeeend bis eloooo ┐(‘o’ ┐) gw (┎ ‘_’ ┒) ya , but wäit gw (┎ ‘_’ ┒) kan maunya ma zavan , jadi eloooo ┐(‘o’ ┐) abisin aja deh rend wkwkwk

  14. Hehehe makasih udh posting abang sayang:* For typo is over deh, pasti reader yg lain jg ngerti kalimatnya meskipun itu typo. Yah akhirnya semuanya dijelaskan disini dan kyknya bakalan ending di beberapa chapter kedepan ya? uh sedih:( Soal kalung aku udh ngerti kemana jalannya tuh. Waiting for next perkamen ya muah muah muaaaahhhh

    • Heh jangan panggil abang! kesan.a kayak abang tukang bakso,hahaha. Lagian aku kan masih 12 tahun, jadi pantes.a di panggil adek,wkwkwk.

      Harus donk. Masa gak ending2,hahaha.
      Yakin udah ngerti? oke deh.. *bales cium*

  15. lebihhhhhhh bgus dri sebelumnya… aq suka part yg ini… mangknya aq mau koment… klo biasa” ja tangan q g mau ngetik katany😀 … good luck buat pa ja yg kmu kerjain.. aq pasti kngen bgt ma dave.. :-*

  16. Allan nya maksudku ikutan semedi biar jd straight.
    Kalo situ mah eyke gak peduli hahaha :p
    Lupa yg mana new, kau tengok aja lah. Pokoknya ada penulisan nama yg salah ketik hahahahaha.
    Si chris mau ikutan gay jg ya makanya aku gk masuk kategori? wkwkwk

  17. yey!🙂,rupanya cinta chris ke dave itu hanya sebagai adik!,dave bodo amat mau cinta sama chris! huhuhuhu T-T,Onewwwww storynya udah lebih baek dari yang kemaren kemaren kok, , ,kadar boring n’ typo nya jg udah berkurang DRASTIS,and makin bikin penasaran euy! :O

  18. ini chapter yang paling berasaaaa.. aaakk sediih 😥

    harus banget ya, di setiap chapter ada adengan yang ngomongin lo?-_-

  19. Onew baby ……pasti yg cium dave waktu kasi kalung tu allan kn bukan cris…….aq jga pengen cium K̶̲̅ά̲̣̣̣м̤̣̲̣̈̇υ̲̣,peluk, sekalian deh party on the bed ma K̶̲̅ά̲̣̣̣м̤̣̲̣̈̇υ̲̣………. Tp kpan part dave n alan bakalan party on the bed……..aq pengen tau keahlian onew baby on the bed………all about your story…….going tobe better then before even still there wrong typo……love u baby #cium bibir onew

  20. Hmmm sya masihh setia kok nungguin chart berikutnya pokok.y jgn klamaan jga yah Kak Onew nge post.y penasaran banget nihh next part.y😀

  21. Akhirnyaaa lanjutannya diposting jga. Sampe lumutan aku nunggunya nih. Oke, ceritanya lumayan panjang, lumayan loh yah berarti masih kurang panjang hahahaha
    Kyknya yg robekin buku di halaman terakhir itu chris deh, trus yg ngasih kalung ke dave itu allan ya?

  22. Thanks Onew udah posting kelanjutannya…meskipun lagi sibuk tapi masih sempet buat menghibur kita-kita yang setia jadi penikmat tulisan2 kamu. Aku sendiri aja yang ga terlalu sibuk, meski mengkhayal jadi writer, malah ga nulis2 karena terserang ‘lazy syndrom’ hihihi…

    Salut for you New! Peace. . .

  23. Onew lagi main ayunan dipohon beringin ya? Mangkanya ni cerita digantung gini……..
    Ayo new turuuuuuuuuunnn.. Aku dah gelar tiker ne

  24. duhh kapan adegan ng*nt*t nyaa dave sama allan nii,

    #udahgaksabar nih!

    buat onew, kok gw rada bngung ya sma cerbungnya pas bagian dave bacain crita edelweis n dandelion,
    knapa ada nama allan disitu? kn dave bacain critanya buat chris. ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s