Rayan dan Fauzan (9)


rayanfauzan

Rayan tertawa kecil mengingat pertama kali melakukan dosa yang tidak lagi ia sesali saat ini, dosa pertamanya bersama Fauzan. Rayan yang sekarang adalah seorang pengumbar kenangan, hanya itu yang bisa Rayan lakukan untuk menopang hatinya agar tidak runtuh bersama siluet Fauzan yang menghilang di balik dinding hati Rayan.

Sepeninggal Fauzan, semuanya serasa monogram, kelabu dan pekat akan penyesalan. Mata yang berkaca-kaca bukan lagi hal asing dan hina untuk Rayan, dahulu Rayan benci menitikan airmatanya untuk kondisi apapun. Namun, sekarang dengan amat kurang ajar airmatanya menari keluar dari kelopak matanya, menuruni sela hidung dan pipinya dengan amat memprihatinkan.

Suatu hari nanti, saat lo temukan kepingan hati lo yang berserakan di atas terpal dunia, gue yakin lo pasti akan kembali, karena saat kepingan hati lo lengkap dan berhasil lo satukan kembali, hanya ada nama gue yang terpatri di kepingan hati lo itu. Sebenarnya lo pergi bukan untuk hal itu, gue tahu betul itu. Lo pergi untuk menyatukan sebuah puzzle yang berserakan, kepingan puzzle yang jika di satukan akan memperlihatkan sebuah ukiran dari ketulusan anak adam. Rayan dan Fauzan. Rayan membatin sambil mendengarkan Radio nya, sebentar lagi akan ada sesi di mana para pendengar bisa bercerita kepada si penyiar Radio tentang apa perasaan dan apa saja yang pendengar alami saat ini. Rayan memang tidak berminat menyampaikan salam atau mencurahkan perasaanya kepada orang lain, menurutnya, luka hatinya ini hanya konsumsi pribadi. Ia mendengarkan siaran radio tersebut karena banyak hal lucu di dalamnya.

“Kembali lagi bersama gue, Uzi Raffa Ritongga, penyiar paling keren tingkat Universe, cowok Minang yang machonya ngalahin Agung Hercules! Rite-rite-rite, kita akan mulai acara malam ini, curcol abang-none, kalian bisa curhat dan ngemengin apa aja bareng gue, mungkin ada yang mau nembak gebetannya melalui acara ini? Atau ada yang mau nyari neneknya yang hilang juga bisa!” ucap si penyiar berita itu panjang lebar, Rayan terkekeh kecil, ia lupa-lupa ingat dengan suara yang kerap ia dengarkan melalui Radio dari ponselnya tersebut, dulu ia sering bercanda dengan si pemilik suara yang berasal dari aplikasi Radio yang ponselnya aktifkan.

“Kalau aja Fauzan dengerin siaran si Uzi juga, gue bakalan ikut kirim salam nih!” kata Rayan mencoba agar suaranya terdengar tidak parau.

“Kali ini pembuka acara kita akan gue mulai dari hal sendu dulu ya, ada seseorang ngirim surat ke redaksi radio ini, dari Ojan. Eh Ojan gerimis aje, ikan bawal diasinin, eh jangan menangis aje, kapan-kapan kite jumpa lagi… cukup-cukup-cukup, mendingan kita simak curhatan si Ojan ini.”

Rayan bergerak memposisikan tubuhnya ke tempat yang dirasa paling nyaman untuk menyimak apa yang akan dia dengar selanjutnya, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuat rasa penasarannya menguat, Ojan, mungkinkah Fauzan? Rayan buru-buru menepis pemikiran ngawurnya.

Kepada malam aku ungkapkan kerapuhanku, kepada siang aku tuturkan segala keluhku, dan kepada pagi aku curahkan rindu , lalu kepada senja aku tebok semua kenanganku. Berantakan bukan? Semua rancu begitu aku pergi darimu. Lalu apa masih boleh aku sampaikan maaf kepadamu, hati yang sudah aku sakiti. Uzi berhenti membacakan surat tersebut, terdengar helaan nafasnya yang ambigu.

Senyummu masih jelas terpatri dibalik kelopak mata, suara serakmu masih sering kurasa mengaung di palung hati, pelukanmu mampu menghantuiku kala sepi mendera hati ini, aku hanya mampu melihatmu melalui mimpi. Uzi kembali menghela nafasnya, suaranya jauh lebih terdengar serius ketimbang bait pertama yang ia baca.

Jangan lagi kecewa, semua akan baik-baik saja seiring waktu yang mengikis cinta kita. Jangan! Jangan bersikukuh aku akan kembali. Biar! Biar aku pergi! Karena kembalinya aku hanya akan membuat semua kembali memburuk, kamu harus kembali ke orangtuamu, mereka yang paling butuh rindumu, bukan aku.

Lalu bersamaan dengan ini aku menitahmu, tutup semua album kenangan kita, tentang peluh yang menetes dalam satu palung syahwat sejawat, tentang tangis dari cobaan kehidupan yang mendesau tidak menyenangkan, tentang sulitnya masa kita dulu namun genggamanmu tetap erat kurasakan, akulah penghianat dari kisah cintaku, maka tidak usah lagi berharap aku akan kembali, kembalinyaku hanya akan menyulitkanmu.

Aku tidak mencoba membuatmu mengerti, tapi aku mencoba memupuskan gigihmu yang aku tahu masih cukup tangguh untuk menungguku bahkan untuk puluhan tahun lagi. Maka aku kirimkan surat ini, untukmu, agar kamu menyerah dan pulang!

Uzi terdiam lama, hingga Rayan merasa surat tersebut telah dibacakan Uzi sampai coretan terakhir.

Rayan, aku tidak lagi membutuhkanmu, maka pulanglah, jangan jadi pecundang untuk waktu yang lama.

Rayan terjolak dari posisi rebahnya, ia menarik kasar earphone-nya lalu mencari nomer Uzi dalam kontak teleponnya.

  • Lama Namun Aku Tidak Pernah Kehilangannya.

Hening, namun hangat terasa, serasa semua hal di bumi akan selalu baik-baik saja, damai dan ketenangan merambat menyelimuti hati. Sesuatu bergerak menyapu bagian dada sampai perut Rayan.

Rayan terjolak kaget menyadari sesuatu hal yang ia takutkan terjadi sekarang, saat Rayan bangun dari tidurnya tubuhnya serasa lemas, rasa pegal menggerogoti lutut dan pinggang Rayan. Kepala Fauzan terjatuh dari perutnya, namun Fauzan tetap geming seperti terbuai oleh rasa lelah yang menuntunnya untuk menyelami alam mimpi.

Tubuh Fauzan menekuk memunggungi Rayan, seperti anak kucing yang sedang tertidur damai. Dibalik itu semua, hati Rayan bergemuruh hebat, tubuh bugilnya menggigil hanya karena desauan angin kecil, bulu kuduknya meremang perlahan-lahan seperti melodi kematian mengantar ke pemakaman.

Shitt happen! umpat Rayan sambil bangkit dan meraup celananya yang berada di kaki ranjang tempat tidur.

Rayan kembali menatap Fauzan yang masih tertidur, ingatannya seperti lumpuh, tidak ada satu hal pun yang mampu membuat Rayan mengerti tentang kronologi yang telah terjadi. Rayan menarik-narik rambutnya mencoba meredahkan denyutan tak nyaman di dalam kepalanya. Terus gue kudu gimana? Gue kudu ngomong apa? Bangsat! Runyam semua!umpat Rayan dalam hati.

Rayan menarik handuk yang tergantung di pintu kamar lalu satu baju dan celana bersihnya, saat tangannya menyentuh knop pintu, rasa dingin ia rasakan di ujung kulit tangannya, sontak Rayan menoleh ke arah tubuh Fauzan yang rebah dengan kondisi telanjang di atas tempat tidur Rayan. Perlahan Rayan menarik selimut hingga menutupi tubuh Fauzan. Lalu bergegas keluar kamar, menuju kamar mandi, membersihkan segala kotoran yang tak kasat mata, bukan kotoran sebenarnya, hanya cinta dan penyangkalan yang kerap ia lakukan.

***

Rayan menyuap sarapan paginya lamat-lamat, menunggu dengan gundah Fauzan keluar dari kamarnya, keluarganya telah kembali tadi malam dan hal itu baru Rayan sadari saat ia beranjak ke meja makan.

Nasi goreng di piringnya hanya ia acak-acak dengan sendok yang malas-malasan Rayan pegang. “Ray! Makannya yang bener! Jangan kayak anak perempuan!” bentak kakak Rayan yang tidak suka dengan sikap Rayan yang tidak biasa.

Rayan menyuap sarapan paginya, rasa nasi goreng yang sekarang ia kecap terasa sangat hambar, seperti makan makanan sisa sesajen, hambar tidak terasa nikmat sama sekali.

“Lha, ada Fauzan? Kok nggak lo ajak sarapan bareng Ray?” tanya adik perempuan Rayan yang berbadan gempal. Rayan tidak berani memandang Fauzan, walau Rayan tahu tatapan Fauzan sedang tertuju ke arahnya, bahkan Rayan merasakan tatapan Fauzan berhasil menembus kepalanya.

“Euh—Fauzan pulang dulu ya, Mamah udah neleponin Fauzan nih Tante, tadi malem soalnya Fauzan nggak bilang mau nginep.” Rayan merasakan Fauzan berlalu di belakangnya, mendekati Ibunya lalu menyaliminya dan punggu Fauzan tidak lagi terlihat setelah salam berkumandang dari bibir Fauzan. Sesaat Rayan menyesali sikap acuhnya, namun tidak banyak yang bisa Rayan lakukan, karena Rayan pun sama terkejutnya dengan Fauzan.

***

Rayan memasuki kelasnya, Fauzan sudah berada di kelas, namun tidak duduk di balik meja mereka, Fauzan duduk bersama Adi menempati bangku Helmi. Mungkin sampai si Helmi dateng aja, batin Rayan masygul.

Namun sampai bel pelajaran dimulai Fauzan tidak kunjung kembali ke tempat duduk seharusnya, di sebelah Rayan. “Gue duduk sama lo yeh,” suara Helmi yang lantang terdengar di telinga Rayan, Rayan menengadah menatap Helmi yang sedang memalingkan wajahnya ke arah Fauzan dan Adi, saat Helmi menatap Rayan, Rayan mengangguk mempersilahkan.

“Hal itu bener-bener terjadi ya malam kemarin?” pertanyaan Helmi yang ambigu mampu Rayan cerna dengan mulus dan menimbulkan rasa yang kurang nyaman, Rayan bergerak gusar, tidak lama Bu Eti dengan wajah ketusnya memasuki kelas mereka. Lebih baik pelajaran bu Eti deh, nggak apa-apa gue di bully terus, daripada kudu jawab pertanyaan si Helmi, ujar Rayan gundah dalam hati.

Waktu terus bergulir, tidak sedikit pun Rayan memberikan celah kepada Helmi untuk bertanya kepadanya prihal Fauzan meminta untuk bertukar tempat duduk. “Gimana Ray pengalaman pertamanya?” tanya Helmi yang tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya.

“Lo bisa diem nggak sih!” sahut Rayan tidak menyadari suara berat nan seraknya melengking keras tersulut emosi dari pertanyaan Helmi. Helmi menutup mata kanannya menahan kebisingan dari teriakan Rayan, Rayan tercekat, semua mata tertuju padanya, namun sarat akan tatapan tidak suka. “Mati gue!” Rayan mengumpat kesal. Ia berharap bisa menghilang dari dalam kelas ini sekarang juga.

“Rayan! Kamu nggak pernah sadar juga ya! Kamu ini udah kelas tiga, bentar lagi UN masih aja jadi murid slangek’an di kelas, teriak-teriak! Kamu kira ini hutan? Kamu kira pelajaran saya ini nggak penting apa?” cerca Bu Eti sambil melangkah mendekati Rayan.

Mampus gue!!! batin Rayan penuh kekhawatiran. “Helmi! Kamu juga ngapain duduk di sini, biasanya kamu duduk sama Adi! Pasti lagi ngegosip ya?” tuduh Bu Eti.

“Enak aja bu, emang saya cewek!” bantah Helmi sengit.

“Emang kamu ngerasa cowok?” sindir Bu Eti.

“Jelaslah bu,” jawab Helmi sambil menatap ke arah selangkangannya.

“Kalau gitu kalian berdua hormat bendera sampai jam istirahat!” Rayan dan Helmi mendongak bersamaan, seluruh kelas dipenuhi tawa yang bergemuruh.

“Nggak ada tapi-tapian!” sentak Bu Eti memotong kata-kata yang bahkan Rayan dan Helmi belum ucapkan.

Rayan dan Helmi menjalani hukuman tersebut, tubuh tegap, tinggi dan berkulit coklat milik mereka basah oleh keringat karena berlama-lama mematut tiang bendera di bawah terik sang surya yang digjaya. Tawa siswa-siswi terdengar stero di belakang mereka, dari lantai satu sampai lantai empat.

Saat Rayan menoleh ke arah belakang tepatnya ke lantai dua, Fuazan dan Angel sedang menatap mereka, Rayan tidak tahu bagaimana ekspresinya saat ini yang Rayan tahu hanyalah hatinya begitu sendu saat menatap Fauzan yang mematutnya dengan tatapan terdatar yang pernah ia lihat, Angel ikut mentertawai Rayan dan Helmi bersama siswa-siswi yang lain.

“Ray, sori yah, gegara gue kita jadi dihukum.” ucap Helmi sungkan.

“Lebih baik lo diem!”

Mereka hening, namun sorak-sorak di sekitar Rayan menguat saat bel istirahat mengaung. Rayan melangkah kesal meninggalkan Helmi dan tiang bendera, ia membisu namun hatinya menjerit-jerit kesal.

 

***

“Ray, tungguin ih,” panggil Syifa sambil berlari-lari kecil menggejar Rayan.

“Lo sama Fauzan berantem kenapa?” tembak Syifa sambil menyamakan langkahnya dengan langkah Rayan.

“Nggak ada apa-apa!” jawab Rayan santai sambil mengecek ponselnya berharap Fauzan mengirimkan pesan singkat atau apapun, tapi tidak sama sekali.

“Syifa! Rayan! Ke sini.” panggil Angel yang sedang duduk di pojok kantin bersama Fauzan.

Rayan menghentikan langkahnya, rasanya ingin memutar badan dan pergi dari kantin sekarang juga. “Ayo Ray,” tanpa persetujuan, Syifa menyeret Rayan ke tempat Angel dan Fauzan.

Rayan menatap Fauzan yang terlihat sangat sibuk dengan makanannya, padahal dulu sesibuk apapun, Fauzan selalu ada waktu untuk menyapa Rayan dan bercengkrama akrab layaknya karib kebanyakan. “Kalian kenapa sih diem-dieman?” tanya Syifa heran. “Eh gue mau beli air es dulu ya, haus banget habis jadi artis sekolahan,” kekeh Rayan berharap Fauzan menimpali perkataannya dengan cemoohan khas Fauzan, tapi hal itu tidak kunjung Rayan dapatkan.

Gue kudu gimana nih! keluh Rayan dalam hati, ia benar-benar canggung dengan keadaan yang ia buat sendiri walau Rayan sangat sadar ia harus mulai mengajak bicara Fauzan terlebih dahulu, karena berlarut-larut dalam diam akan hanya memperkeruh hubungan persahabatan mereka.

 

***

“Zan, gue ajarin juga dong, gue nggak ngerti sama sekali ini,” keluh Syifa yang dari tadi merengek minta dibantu. Rayan menatap buku catatannya, ia hanya sedikit mencatat dan pelajaran Matematika yang Bu Eska berikan hari ini, bahkan Rayan tidak mengerti sama sekali apa yang disampaikan Bu Eska tadi pun yang ia catat di bukunya, Ujian Nasional sebentar lagi dan Rayan sama sekali tidak punya semangat untuk belajar sama sekali.

Rayan menatap Fauzan sesekali, berharap Fauzan menawarkan bantuan untuk membuat Rayan mengerti materi yang tadi mereka pelajari, namun sayang, itu sangat mustahil terjadi saat ini. Sekarang ada dinding tebal tidak kasat mata di antara mereka, dan hal ini sudah jadi rahasia umum walau tidak ada satu pun yang tahu apa yang sudah terjadi di antara Rayan dan Fauzan sampai mereka saling sungkan dan tidak lagi bertegur sapa.

Bel pulang berdering, pelajaran tambahan untuk kelas tiga pun berakhir, seisi kelas berhamburan dengan teratur. Rayan bergerak cepat duduk di sebelah Fauzan saat Adi sudah meninggalkan bangkunya. “Duduk! Gue mau ngomong sama lo!” pinta Rayan tegas saat Fauzan ingin pergi meninggalkannya. Syifa, Helmi dan Adi menatap heran ke arah mereka berdua. “Gue sama Fauzan doang, berdua!” tegas Rayan membuat yang lain mengerti dan meninggalkan mereka berdua di dalam kelas.

Dan saat keadaan hening Rayan malah kehilangan kata-katanya, sedangkan Fauzan masih saja sibuk dengan ponselnya. “Zan, sampai kapan lo mau nganggep gue nggak ada?” tanya Rayan yang suaranya mendadak terdengar parau.

“Gue nggak ngerti maksud lo apa?” jawab Fauzan mata dan jemari Fauzan masih terus sibuk dengan ponsel yang ia pegang.

“Kalo gue ngomong liat mata gue!” tegas Rayan.

“Yang! Ayo, katanya mau ke Gramed!” suara Angel mengalun di depan pintu kelas seraya itu Rayan menghela nafasnya. “Lanjut kapan-kapan aja ya, lo mau ngomongin hal yang nggak penting inikan?” kata Fauzan sambil meraup tasnya lalu meloncati bangku dan meja, tidak seperti biasanya, kali ini Fauzan sangat bersemangat mendampingi Angel jalan-jalan.

Rayan terpekur memandangi pintu kelasnya, ia tidak tahu bagaimana cara memulai pembicaraan kepada Fauzan, membuat hubungan mereka kembali membaik. Namun, yang ia dapatkan hanyalah memorinya yang seperti diputar ulang di ujung pelupuk matanya.

Mati-matian Rayan mencoba menghapus dan tidak lagi berharap akan menginggat kejadian malam itu. Rayan merasa ia berhasil melupakan kejadian gila malam itu, kejadian di mana alkohol menggiringnya melakukan perbuatan yang tak lazim dilakukan pria tulen. Namun, kini ingatan tersebut menyeruak dari dalam kepala Rayan, muncul di ujung pelupuk matanya, menari indah di atas segala rasa gundah Rayan yang kian laun kian menumpuk dan menyesakan dadanya.

“Bangsat!!!” Rayan memukul meja di hadapannya hingga suara gaduh tercipta seketika, dengan lekas Rayan menggiring tubuhnya keluar dari kelasnya, tidak memperdulikan tangannya yang berkedut nyeri karena emosinya tadi. Sejujurnya, Rayan merindukan malam itu. Anjing!

 

***

Hari-hari berlalu begitu lamat Rayan rasakan, segalanya menjelma menjadi hal yang membosankan, rasa kesal kerap mengisi dada Rayan, Ujian Nasional sudah ia lewati, namun, Rayan tidak merasakan perasaan harap-harap cemas seperti teman-teman sekolahnya yang lain, segala hal terasa kurang penting, entah karena apa, namun yang jelas, ini semua karena siapa.

Puluhan kali Rayan mencoba mendekati Fauzan untuk berbicara berdua saja, tetapi selalu tidak membuahkan hasil apapun, jika Fauzan tidak menanggapi Rayan maka ada saja teman mereka atau Angel yang membuat mereka tidak bisa berbicara berdua saja. Terkadang Rayan bisa amat gemas saat momen-momen tepat ia dapati berdua dengan Fauzan tetapi Rayan tidak bisa membahasnya karena ada orang ke tiga di antara mereka, walau rasa gemasnya kerap ia simpan sendirian.

Semenjak Fauzan sudah tidak main bersamanya lagi, Rayan kini mempunyai hobi baru, ia kerap melamum, kadang hanya tidur-tiduran saja di atas kasur nyamannya itu menunggu petang menghabiskan sisa waktu libur nasional, tidak banyak melakukan aktifitas itu hobi baru Rayan sekarang.

Entah sampai kapan Rayan harus menunggu, menunggu waktu yang tepat untuk berbicara kepada Fauzan, walau logikanya kerap mendesak Rayan agar tidak menunggu, tapi, menciptakan waktu yang tepat untuk berbicara, karena logika Rayan selalu bertindak untuk melindungi hatinya dari rasa sakit atau getir karena rasa rindu.

***

“Gol…” seru seantero lapangan. Helmi berlari memeluk Rayan yang sedang menyeringai.

Tidak lama wasit meniup peluit yang memekakkan telinga. Rayan bergegas meninggalkan lapangan Futsal, meninggalkan teman-temannya yang masih diselimuti kebahagiaan karena kali ini pertandingan Futsal dimenangkan oleh sekolah mereka, walau Rayan menyumbang banyak skor ia tidak merasa sesenang para sejawatnya.

Rayan duduk di bangku tempat ia meletakan tasnya, sekelebat ia merindukan Fauzan, merindukan sahabatnya yang selalu setia menonton pertandingan Futsalnya, memberikan handuk saat Rayan melangkah kembali ketempat duduknya, mengomentari aksi Rayan yang selalu menjadi punggawa timnya, segala hal tentang Fauzan. Rayan amat rindu Fauzan.

“Ray!!!” suara Syifa melengking tidak jauh dari posisi duduk Rayan. Gadis imut itu berlari-lari kecil menghampiri Rayan. “Yah, gue telat ya, Futsalnya udah selesai ya?” Rayan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Syifa.

“Sori ya Ray, gue kan udah janji mau nonton lo padahal,” ucap Syifa sendu. “Nggak apa-apa, yang penting lo dateng.” Rayan mencoba untuk menghibur Syifa, entah kenapa Rayan tidak lagi merasa bahagia tiap berada di sisi gadis yang pernah bertahta di hatinya itu. Segalanya terasa biasa-biasa saja.

“Jalan yuk,” Syifa menarik tubuh Rayan yang masih belum kering dari peluh yang merembas melalui pori-pori tubuhnya.

***

“Ray,” panggil Syifa pelan di sela-sela acara makan mereka. Sambil melirik beberapa cowok yang memandang Rayan begitu takjub karena Rayan menggunakan kaus tanpa lengan, memamerkan otot bicepnya yang kokoh.

“Kenapa?” jawab Rayan yang masih fokus dengan makanannya, sehabis bertanding, perutnya terasa keroncongan, dan sekarang mereka berada di food court Cibinong City Mall.

“Lo ke pensi nanti bareng gue ya.” pinta Syifa masih dengan suara pelan.

Rayan menengadah, tatapan Syifa sangat berbeda, Rayan menyadari suatu hal, hati yang dulu ia ingin-inginkan kini mengingginkannya, namun, rasanya sudah amat terlambat, segala hal terlanjur menghambar, menguap dan tak lagi menyisakan bibit yang bisa disemai.

Mata yang berbinar-binar itu tidak lagi mampu membuat hati Rayan bergetar, rasanya sangat enggan mengiyakan ajakan Syifa, tetapi logika Rayan bekerja. “Sip” jawab Rayan mencoba untuk tidak terdengar berucap setengah hati.

“Ray, kayaknya fans lo kebanyakan dari kaum lo sendiri deh.” timpal Syifa yang sudah dilingkupi rasa senang yang membuncah karena ajakannya telah Rayan iyakan. “Maksudnya?” tanya Rayan keheranan.

“Liat, cowok yang pakek Behel, dan cowok yang pakek kacamata itu, terus cowok yang lentik banget mainin hapenya di ujung sana, mereka kerap nyuri-nyuri pandang ke elo, mereka suka tuh sama lo?” bisik Syifa geli. Rayan ingin menoleh, cepat-cepat Syifa menahan Rayan dengan menggenggam jemari Rayan. “Jangan!” desis Syifa. Saat Rayan menatap Syifa, wajah gadis tersebut bersemu merah hingga kebagian lehernya.

Sebentar saja, Rayan juga ikut bertingkah kikuk seperti Syifa, namun bukan karena perasaan yang hilang kembali membuncah, bukan karena itu, melainkan Rayan sangat khawatir suatu saat nanti ia akan menyakiti perasaan gadis di hadapannya ini yang sudah ia anggap sahabat sendiri, entah darimana rasa khawatir itu bisa bertandan ke dalam hati Rayan.

“Pulang yuk ah!” ucap Rayan setelah menghabiskan minumannya dengan beberapa tegukan saja.

Begitu Rayan berdiri tangan Syifa menelusup ke celah lengannya, mengamit tangan Rayan dengan gerakan lantun, Rayan menghela nafasnya, ia terlalu memberikan banyak harapan kepada Syifa dengan tingkahnya yang kerap manut kepada gadis tersebut.

 

***

Rayan membiarkan udara sejuk menerpa tubuhnya, berharap segala beban fikiran, kepenatan dan perasaannya yang seperti sedang terhimpit puluhan beton merenggang, membiarkan seluruh energi positif dari alam menggantikan bebannya.

Setelah mengantarkan Syifa pulang Rayan hanya menghabiskan waktu untuk tidur-tiduran di kamarnya, membuka jendela kamarnya lebar-lebar, menggundang angin yang mendesau syahdu untuk singgah sebentar mengisi kesepiannya, tanpa Fauzan, segala hal terasa sepi, kosong dan tidak berarti.

Hal-hal menarik tidak lagi memikat bagi Rayan, bercengkrama dengan keluarga atau teman rumahnya juga bukan hal yang Rayan butuhkan sekarang. Hanya Fauzan yang Rayan butuhkan sekarang, tetapi membuat keadaan kembali seperti semula bukanlah semudah menggapus pekatnya tinta di jari kelingking.

Langit sore begitu cerah, mengundang Rayan untuk melakukan aktivitas. Rayan menyulut rokoknya, membiarkan rasa mentol mengisi rongga paru-parunya, menorehkan rasa nyaman dari kuas ke damaian.

Sekelebat, sesuatu yang ia rindukan menari-nari di ujung pelupuk matanya. Segera Rayan menyambar jaket dan kunci motornya.

Ujian Nasional telah ia lewati, segala praktik pun sudah ia kerjakan, dan pengumuman kelulusan pun mengikut sertakan namanya di dalam daftar siswa-siswa yang lulus. Di saat teman-temannya menikmati puncak jaya masa SMA Rayan malah berkutat dengan perasaanya yang nelangsa.

Semua hal yang teman-temannya anggap istimewa bagi Rayan hanya hal biasa, bahkan Rayan tidak mempunyai jawaban saat keluarganya menanyai tentang kampus yang akan ia pilih nanti, jurusan apa yang akan ia ambil nanti, Rayan hanya memikirkan apa yang terjadi sekarang, tidak dengan masa lalu apalagi masa depannya. Perasaannya terlalu risau dengan potongan-potongan ingatan malam itu, tentang ia dan Fauzan yang tergiring syahwat dan saling merusak, tentang persahabatan mereka yang berantakan tanpa sebab yang jelas. Tanpa sebab yang jelas? Tidur bersama sahabat, sesama lelaki, apa itu bukan sebab yang jelas mengapa mereka tidak lagi bertegur sapa?

Rayan menatap bukit tempat favorit mereka, ia dan Fauzan dari bukit Hambalang, rasanya ingin menaiki motornya dan melaju ke sana, berharap Fauzan sedang berada di sana, mencoba menikmati senja seperti ia sekarang ini. Namun, semuanya urung Rayan lakukan. Rayan kembali menggerak-gerakan jemarinya di atas ponsel. Rasanya ingin menekan tombol bergambar telepon warna hijau, menyambungkan panggilan ke ponsel Fauzan, memintanya datang ke tempat Rayan berdiri sekarang.

Rayan terkesiap. Rindu? Merasa nelangsa? Kesepian? Kehilangan semangat? Cinta! Rayan menggenggam ponselnya erat-erat. Mati-matian ia memerangi kata-kata yang hatinya ucapkan, tentang perasaannya kepada Fauzan, Rayan tidak bisa terus membohongi dirinya sendiri, ia tahu betul hatinya berkata benar. Rayan mencintai Fauzan.

“Untuk ke sekian kalinya, gue pasti bisa ngubur rasa cinta ini, rasa cinta ini nggak akan bertahan lama, gue yakin kok, gue juga pernah ngerasain hal yang sama ke Syifa, nyatanya sekarang gue mampu ngelupain dia,” ujar Rayan kepada dirinya sendiri. “Cuman butuh waktu, segala hal akan kembali baik-baik aja, dan rasa yang berdesir gila ini akan berangsur normal seperti sedia kala,” kini Rayan membela dirinya sendiri seperti tidak terima dengan kenyataan bahwa ia kini mencintai Fauzan, sesuatu yang masih Rayan anggap salah, entah mengapa.

Rayan kembali menyulut batang rokoknya, membiarkan rasa mentol memenuhi rongga dadanya. Perlahan rasa sepi menyergap, Rayan menggaruk-garuk hidungnya, ada gagasan yang sedang ia pertimbangkan di dalam hatinya.

Salah satu gagasan pun menang, cepat-cepat Rayan menaiki motornya, menuruni bukit Hambalang, melewati bangunan wisma untuk para Atlet yang tidak kunjung kelar hingga sekarang. Cuaca di daerah Bogor memang tidak bisa diprediksi, senja berubah gulita lebih cepat dari perkiraan Rayan, angin bergemuruh kasar, para pengembala domba mempercepat kegiatan menggiring dombanya pulang ke kandang. Rayan memperlambat laju motornya, rasa ragu menyelinap ke dalam dadanya, Rayan merisaukan petir yang kapan saja bisa menyambar kala gulita tampak di langit senja, di kota ini, segala cuaca sangat sulit diprediksikan. Kadang hujan namun langit cerah, langit cerah dengan angin yang berdesau kencang, atau langit yang menghitam dengan guntur menggelegar tanpa hujan, sampai hujan dengan petir layaknya badai, namun, Rayan tetap mencintai tanah kelahirannya, kota hujan yang penuh romansa.

Rayan membuang rokoknya yang hampir mencapai pangkal ke sembarang jalan, ia melajukan motornya ketujuannya, rasa rindu ternyata lebih mendominasi, menghalau rasa cemas akan cuaca buruk yang mungkin akan terjadi.

Rayan memasuki perumahan yang belum rampung, jalan menanjak dan ia berbelok ke kiri, jalan yang hanya bisa di lalui satu mobil dengan aspal yang sudah sedikit pecah, sela-sela pecahannya sudah banyak di tumbuhi rumput liar, ilalang tumbuh di pinggir jalan, mengalahkan lebatnya tanaman bunga yang sengaja ditanam pihak pengelola perumahan Bakrie tersebut. Lalu Rayan berbelok ke kanan, jalan yang tetap menanjak, bundaran yang hanya di isi ilalang terlihat di depannya, bagi Rayan tempat satu ini biasa saja, ketinggiannya pun tidak bisa melihat seluruh daerah Sentul dengan padang golf dan area rekreasi yang memukau, namun Rayan heran dengan para artis, penyanyi dan sebangsanya yang kerap membuat video klipnya di bundaran dan jalan menanjak ini, mungkin jika Rayan mengusulkan tempat favoritnya bersama Fauzan, tempat mereka yang indah bak berada di Puncak Pass itu akan kerap muncul di layar televisi.

Perlahan, pandangan Rayan mulai menatap ujung jalan, ke atas bukit tepatnya, di balik lapangan ada jalan setapak yang jarang orang kunjungi, karena termanipulasi pepohonan, dan di sana lah tempat Rayan dan Fauzan dulu kerap menghabiskan senja.

Rayan mempercepat laju motornya ketika rintik hujan mulai membasahi wajahnya, Rayan terkesiap, memandang seseorang yang berada di atas atap mobil yang sedang menatap lurus tanpa satu titik fokus. Fauzan.

Tenggorokkan Rayan terasa kering, saat Fauzan menoleh ke arahnya, jantungnya pun terasa mencelos dan jatuh entah ke mana. lalu tatapan sendu Fauzan berubah menjadi tatapan penuh kebencian terhadap Rayan, buru-buru Rayan menghampiri Fauzan yang sudah turun dari atap mobilnya.

Rayan berhasil masuk ke dalam mobil Fauzan sebelum Fauzan berhasil mengunci pintu mobilnya dari dalam, nafas mereka terengah-engah, sosok Fauzan yang begitu dekat serasa amat jauh karena tatapan benci Fauzan kepada Rayan. “Keluar dari mobil gue!” pinta Fauzan setengah mati mencoba untuk tidak teriak.

“Kita harus bicara,” sahut Rayan.

Tanpa basa-basi Fauzan membuka pintu mobilnya, namun, tangan kokoh Rayan menarik paksa siku lengan Fauzan hingga Fauzan kembali terduduk di belakang kemudi. “Mau lo apa sih!” serbu Fauzan.

Rayan terdiam, tatapannya menerawang ke depan, menyaksikan hujan yang turun semakin deras hingga membuat kaca bagian dalam mobil tertutup embun. Embun yang bahkan tidak mampu meredam rasa gersang yang enggan memadam. Tangan Rayan masih tetap memegangi siku lengan Fauzan, berjaga-jaga agar Fauzan tidak bertindak ceroboh, Rayan tahu betul resiko jika Fauzan keluar dari dalam mobil, tentang alergi dingin yang diderita Fauzan bisa kambuh seketika.

“Lepasin tangan lo! Gue bukan anak kecil ya!” Rayan menatap nanar ke siku lengan Fauzan yang ia pegang sekarang, perlahan-lahan genggamannya mengendur dan Fauzan cepat-cepat menariknya. “Soal malam itu,” ucap Rayan ambigu.

Fauzan memalingkan wajahnya jauh-jauh hingga tidak mungkin bisa langsung melihat dan dilihat Rayan.

“Malam itu, gue—kita, dibawah pengaruh alkohol, apa yang udah kita lakuin itu adalah sebuah kekhilafan, maafin gue Zan,” Rayan tidak tahu harus berkata apa, ia sangat ingin mengungkapkan apa yang hatinya rasakan, namun, Rayan benar-benar takut kehilangan Fauzan.

Fauzan bisa melihat wajah menyesal Rayan melalui kaca spion di depannya, walau samar tertutup air hujan, seketika hati Fauzan terasa pecah dan kepingannya terbawa air hujan, rasa sakit dari perkataan Rayan yang mampu mengoyak seluruh perasaannya.

Fauzan menarik leher kaus Rayan lalu mendorongnya hingga punggung Rayan berbenturan dengan pintu mobil di sebelah Rayan. Rayan tidak membalas, ia hanya menatap Fauzan dengan amat pasrah, mungkin membiarkan Fauzan memukulnya bisa membuat persahabatannya kembali membaik, walau di dalam hati Rayan, Rayan menginginkan hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat, sesuatu yang sangat tidak mungkin sekarang ini.

“Khilaf? Lo bilang nggak sengaja? Salah? Lo tauk! Gue ngelakuinnya ikhlas!” Rayan terperangah, Rayan yakin ia tidak salah dengar.

“Gue masih bisa kontrol diri gue, gue bisa ngehentiin kegiatan kita itu kapan aja jika gue mau, tapi gue biarin lo masuk ke dalam tubuh gue! Karena gue cinta sama lo!” Rayan jauh lebih terperangah, sesuatu dalam hatinya membuncah bahagia, sekilas saja, rasa bahagia itu hilang digantikan rasa khawatir yang mendalam.

“Kenapa? Lo jijik sama gue? Gue emang biseksual, dari pertama kita sahabatan pun gue biseksual! Dan semua perlakuan lo, ngebuat gue jatuh hati! Gue nggak terima cinta Syifa pun bukan karena gue ngalah sama lo! Tetapi, karena gue cintanya sama lo!” Fauzan tidak bisa berhenti berteriak di atas tubuh Rayan, rasa sesak yang ia pendam berbulan-bulan meledak sekarang, menyisakan rasa lapang dan nyeri yang masih belum terselesaikan.

“Saat malam itu, gue berharap besok paginya kita bisa ungkapin perasaan kita masing-masing. Bangsatnya! Gue terlalu berharap lo ngelakuin itu karena lo punya rasa yang sama kayak gue, tapi apa? Lo tinggalin gue di kamar lo dengan tubuh telanjang kayak pelacur jalang! Lo tau Ray, ini pertama kali gue lakuin itu sama cowok, cuman sama lo! Gue sengaja berlama-lama di kamar lo, cuman berharap lo nggak ninggalin gue, gue terus mensugestikan diri gue kalau lo lagi ke kamar mandi, tapi apa? Lo benar-benar tinggalin gue di dalam kamar lo sendirian. Bahkan saat gue pamit sama nyokap lo, lo nggak anggap gue ada di sana! Lo tahu gimana rasa malunya! Gue cowok! Gue punya harga diri, dan hari itu, lo buat gue serasa mahluk dongo! Anjiiing…” teriak Fauzan, Fauzan bangkit dari atas tubuh Rayan lalu memukul stir mobilnya dengan kencang, tangannya berdenyut nyeri, namun, masih kalah nyeri dari perasaannya sekarang ini.

Rayan bangkit lalu langsung menyergap tubuh Fauzan, memenjarakan Fauzan dalam pelukannya yang jauh lebih ketat ketimbang penjara Azkaban. Sejenak, Rayan membiarkan Fauzan meronta-ronta dalam dekapannya, merasakan rasa sakit yang Fauzan rasakan selama mereka tidak bertegur sapa. Apapun yang terjadi gue nggak akan pernah lagi buat Fauzan tersakiti, batin Rayan, walau Rayan tahu betul, janji-janjinya tanpa sadar kerap ia langgar. Sekelibatan momen masa lampau menari-nari di ujung pelupuk mata Rayan, membuat Rayan bergetar membayangkan kebodohannya selama ini.

Pertama-tama, tatapan Fauzan saat Rayan telat menjemputnya ketika hendak ke Gunung Bunder, lalu, tatapan sendu Fauzan di dekat air terjun, senyum Fauzan kala Syifa memarahi Rayan, dan gestur tubuh Fauzan saat berbagi bandrek di daerah Laladon saat mereka berteduh dari hujan. Kemudian, bayangan-bayangan lain yang berkelebat saling mendahului di pelupuk mata Rayan, pertengkaran Rayan dan Fauzan di atas gedung sekolah, di mana Fauzan mengalah, genggaman tangan mereka saat di Puncak Pass ketika matahari tenggelam, kepala Fauzan yang tersender di bahunya saat Fauzan terlelap, segala hal berputar cepat, namun, Rayan mengerti semua hal yang berputar cepat itu, ia telat menyadari bahwa Fauzan pun mencintainya.

“Gue,”

“Gue.”

Rayan memejamkan matanya, hatinya jauh terasa mantap, refleks pelukkannya mengerat, membuat Fauzan lumpuh dalam dekapan Rayan. Semakin lama tindakan memberontak Fauzan melunak, karena sebenarnya Fauzan pun sangat amat merasa nyaman dalam pelukan Rayan, tidak bisa berbohong terlalu lama lagi, memunafikkan segala hal, mencoba membenci untuk melupakan sebuah hati yang lama saling bersemi, Fauzan pun merindukan Rayan layaknya Rayan merindukan Fauzan selama ini.

Rayan mengendurkan rengkuhannya, rasa rindu kini berhasil memakan Fauzan, saat tubuh tegap Rayan perlahan-lahan merenggang dari tubuh Fauzan, Fauzan merasa amat tidak rela, seakan sesuatu hal berharga ikut terbawa dari dalam dirinnya. Di saat kebencian merajalela, hanya perlu rasa cinta yang teguh untuk memadamkannya. Rayan dan Fauzan menemukan jalannya sekarang, bagaimanapun mereka mencoba saling menjauh, memunafikkan hati yang lama bersemi, namun rasa lantun dari cinta yang membuncah dan menggebu digjaya takkan sanggup mereka ingkari lagi, jika dalam hidup seseorang kerap mengalami suatu sub klimaks dari sebuah partikel masalah dalam kehidupannya, maka sekaranglah klimaks tersebut terjadi.

Rayan menyatukan dahinya dengan dahi Fauzan, mata mereka saling berpagutan, menyalurkan banyak rasa rindu yang mati-matian mereka pendam. Tatapan masygul Rayan bertalutan dengan tatapan rindu dari Fauzan. Saat detak jantung Rayan berdegup amat cepat, hal itu seperti memaksanya menuntaskan semua, “Gue sayang sama lo.” itu yang Rayan ucapkan. Hidung mereka bergesekan, mengantarkan sesuatu hasrat yang memancing syahwat kepermukaan, menciptakan satu degub jantung di tempat yang tidak seharusnya, mendebarkan sesuatu di tempat yang tidak seharusnya. “Gue cinta sama lo,” sambung Fauzan, Rayan tidak membalas lagi pernyataan Fauzan, yang mereka lakukan sekarang yaitu saling menyesap, memagut, meluapkan rindu yang menggebu, yang menyesakan hati dan celana mereka.

 

 

aku sungguh tidak menyangka, hanya satu orang yang komentar di postingan beneran ini! lihat saja kalian, akan kubuat kalian menunggu lebih lama dari satu bulan ini! lihat saja nanti! *teriak histeris ala mak erot*

kalo nggak komen sama nggak vote gue sumpahin, semua penulis indie berhenti posting, berhenti ngasih bacaan ke kalian *eh gue bencada lho ya, jangan ada yang sensik*

102 thoughts on “Rayan dan Fauzan (9)

  1. Et dah dikira cerita, taunya thriller bae. Ga asik ah al hahaha. Update dong keburu rayan ama fauzan uda punya pacar baru lagi

  2. Ah kakaknya, kukira beneran, padahal udah terlanjur lonjak lonjak dikasur sampai mau jebol tuh kasur, eh, ini malah kaya surat terakhir.. huft… ayo kak lanjutin terus rayan dan fauzannya kak… masalahnya ini belum terlalu ketebak alurnya, masih siluet #apaan_tuh ah pokoknya lanjutin

  3. Hubngn mreka ga direstui ya?
    Untuk kbaikn rayan, ojan prgi mnghindr sedng rayan jdi frustsi ditinggal ojan. -_-
    Sial bnget… Kpn lbur’a atuh akang?
    Lanjut! Lanjut ! Lanjut!

  4. Hahaha, kirain udah lanjut.. :p
    Ehh, malah cuplikan…
    Tapi aku tetep setia menunggumu, FR..
    Semangat ya Kaka, moga” cepet dapet libur

  5. albusfigi bagus sekali ceritamu nak… sini biar tak beri hadiah..hehehehehe * nyembunyiin golok*
    ih tahu gak gue uda kesenengan aja deh.. eh kurang ajarnya cuma cuplikan.rasanya grrrr pengen nyium top big bang *maunya*
    gue: gak tahu ah gue mau ngambek aja sama lho.
    albus: dera jangan marah.. nih aku kasih permen
    gue: gak mau.please deh gue gak bisa di sogok
    albus: bener…??
    gue: yupss
    albus: ya tadinya sih gue mau ngasih tiketnya ciuman top big bang
    gue: sumpeh lho,kalau yang itu gue mau *haha*
    albus : * natap aneh (- -.)* dasar!!

  6. Bangkeeeeeee…-__-”
    Hadewwwwww brasa jadi Fauzan yg kena usilan Rayan*plakk

    Cepet dilanjuttt *tarik-tarik kaos al sampy sobek..

  7. Ah ini nih yg ditunggu wkwk. Kadang masih suka bingung sm alurnya yg maju mundur, harus sering baca ulang kalimatnya biar tau itu time settingnya kapan. Dan akhirnya mereka berdua……… Ah great great fabolous!! Jgn sampe fauzan mati ya;(

      • Haha sembarangan kalo ngmng, ga semua org ngentot itu maju mundur wkwk. Dramanya jgn over ya, jgn bikin adek sepupu(perempuan) gua nangis bacanya wkwk. Gua sih gaakan jijik, palingan gua ngirimin lu bom biar ikut mati sama fauzan!!

  8. Akhirnya …. akhirnya… akhirnya up date juga nihh cerita , lo tau nggak al gue udah serasa mau mati tau nunggu cerita lo . tapi untungya sekarang udah up date , jadi gue gak jadi mati deh

    Tetap semangat Al . Dan jangan lupa , jangan lama lama ya up date nya :*

  9. Ah sial, kapan mereka memadu kasihnya al? Kayaknya perlu baca bab sebelumnya biar gak dodong tingkat dewa wkwk.
    Dan oh mi tuhan, kalau aku gak buka2 ini wp gak akan tau kalau udah update,salah sendiri krn udah ngerjai readers!!!
    Btw cuma mengingatkan jangan sad ending al, awas kalo sad ending, ku sumpahi impoten. Hahaha

    • enak aja impoten!!!! terserah yang orat-oret si Rayan sama si Fauzan dong nanana…… hahahaha,

      gue aneh sama kalian,dongdong banget pada, hahaha padahal klue udah gue tebar di segala penjuru awalan cerita, tapi semua pada bingung, gue nggak mau ngasih tahu lagi ah lewat komentar ini biar lo pada nyari, kalo nggak dapet baru gue jelasin di chapter 12an nanti. biar twist *alaaah

  10. Aku komen, aku komennnn
    Jangan gitu lah, tega bener. Nunggu postingan yg ini aja makan hati tau. Pokoknya harus lanjut secepatnya, titik gak pake koma. Awas kalau lama2

  11. Ka keren, . !
    Sebenernya pengen baca lanjutan chap 8 gelap2 itu.😦

    Kaget banget aku kalo si fauzan bisa marag gitu😦

    Jgn dilama2in dong updatenya😦

    • hahahaha, nggak boleh, anak kecil nggak boleh baca yang buat titit tegang hahahahaha….

      duga, BBM or chat or email dkk gue nggak aktif, hape gue russak soalnya, cuman ada nomer telepon aja. 089639406508 sms ke situ aja ya kalo lo emang ada perlu, hihihi

  12. Cerita yg bgus.. Kata2nya gak buat pembaca bosen.. Gw bru liat nie blog trus baca rayan and fauzan.. Kesan pertama,,, Goooood.!!! {^_^}b… Jd penasaran ma crita lainnya… Keep writing broo..!!! Klo bisa buat novelnya skalian.. Hhee

  13. Ciri khas orat-oretanmu Figi adalah bisa bikin hati para readers tercabik-cabik. Gaya bahasa berceritamu itu loh halus, lugas tapi tajam bagai mata pisau hingga bisa bikin aku ikut merasakan kepedihan dan luka hati sampai berdarah seperti tokoh dalam cerita yang sedang dilanda gundah gulana *ketularan puitis gara-gara Figi* hehehe..

    Sebaliknya aku juga bisa dibikin hepi dengan kata-kata dalam tulisanmu yang mampu menggelitik syaraf-syaraf tawaku saat kutemukan kekonyolan, tingkah dan celetukan-celetukan lucu Rayan dan Fauzan.

    Aku akan terus tunnggu loh kelanjutan cerita ini. Berakhir happy or sad ga masalah buat aku, paling kalo salah satu tokohnya dirugikan atau ditinggal pergi aku kelitikin Figi sampai nangis termehek-mehek. Hi hi hi…

    Keep writing n peace….

    • jangan menyanjungku lagi kakanda, nanti aku bisa kembali ke khayangan, meninggalkan bumi dan segala hiruk pikuk yang selalu mendawaikan kebahagaiannya di tengah palung hatiku yang lama tak berpenghuni, di isi rasa sepi yang kerap membuat hatiku getir, menggigil dalam kesendiriian, menikmati rindu yang mungkin jika dibiarkan dapat membunuhku, jangan, jangan sanjung aku, aku terbiasa seperti ini, sendiri.

      walaaaaaaah! gue ikutan ngacok nih ah! eh gue nggak puitis tauk, cuman melankolis hahaha, tiap-tiap manusia kan punya sifat dasar masing-masing, nah dalam hal orat-oret ini sifat gue berperan dominan, gue sih bangga-bangga aja nulis dengan cara melankolis, toh sebuah karya yang jujur(jelek) jauh lebih baik daripada menguntit dan numpang ikut tenar, hihihi. (IMHO)

      • Yes,right! Berkat gaya melankolismu ini, kamu jadi punya banyak fans. Tuh..yang penggemar K-Pop aja sampe fall in love sama tulisanmu!

        Seandainya aja tulisan kamu ini dijadiin novel bisa jadi best seller. Atau divisualisasikan ke movie or drama seri. Wah..bisa ngalahin Tukang Bubur Naik Haji yang msh blum end-end juga ya? ( soalnya g pernah nonton sendiri sih..hihi) *beneran ini bukan sekedar sanjungan loh tapi ungkapan jujur dari palung hatiku yang paing dalam*

        Poko’nya Kakanda tetap dukung Adinda Figi terus nulis, jadi tiap malam aku akan siap-siap gelar tikar sambil ngopi-ngopi depan my lappy demi nunggu tulisan kamu.
        Siap-siap aja ya…untuk menghadapi komen-komen mautku mwuehehe…Peace!

  14. Mianhe (mf) ea k’al krn slma ni aq jd siders…abis mlas comen si, mauny bc doank…kkkkkkkk…jgn mrah ea? Aq jnji co’ bkaln sring” comen.

    Wlopn aq k-popers, ntah knpa aq jtuh hti ma ksah Rayan-Fauzan dr pd….*lrik crtany k’onew*
    k’onew : heh anak kcil, gue bri jga loe.
    Aq : Bri ap k’? Bri uang???*msang mupeng*
    k’onew : Bri ni…*k’onew bw glok*
    Aq : Ampunnnn!!! K’al tlongggg!!! *smbunyi dblik pnggungny k’al*
    ~Mianhe k’onew, jgn mrah. Cman bcanda ini….

    Ksah Rayan&Fauzan bnar” mmbuat aq jtuh hti. Aq ngbyangn mrka b2 nyta, bkan cma fiksi. Stiap bc, aq psti kea rang gla. Snyum sndri, nangs pe kluar ingus? sndri… k’al bnar” bsa dh mmpermainkn pras’an pr readers. Oy k’al, srat Fauzan wat Rayan bnar” mmbuat aq bnjir air mta. Aq jd pngin msuk kdlam crta. Trus nrik Fauzan yar ktmu Rayan. Trus ngket mrka dh yar mrka b2 gc trpsahkn slma-lmany…*k’al : dsar anak aneh* k’al mau aq iket jga? Ma cpa k’??? *k’al : bnar” aneh*

    Ahhh pko’ny k’al adlh author trdaebak (trhbat) dh wat aq. jd Lnjutnny jgn lma” ea k’al yg gnteng! *k’al : kea loe prnah ja nglhat muka gue. Tp mang gue gnteng si* L0LLL

    • satu hal yang gue benarkan dalam komen lo ini Sam, yaitu, gue ini ganteng, emang ganteng sih, ganteng banget malahan. hahahaha… makasih ya udah komen panjang lebar, eh gue ketawa loh baca komen lo, pasti Sam imut-imut dehh, mau nggak gue cubit *bawa gunting rumput*

  15. Ya iyala g da yg komen banyak yg kirain r n f 9nya blom d posting………..aq ja ßâяϋ tau klo udah d post…………aduh romantis banget man……cerita loe emank yg tErbaik……….plis cpetan ya d post next chap……your #1 fans ab prince(abdul rahman)

  16. so sorry, aku gk tw klo ini posting beneran,, takut ketipu lg,,,
    ceritanya makin keren,,, si fauzan nya lg tidur d.samping aku nih, so mendingan Rayan lupain aja Fauzan ya,, hehehe

    #lempar_alpenliebe

    • iyaa kecepetan, sengaja sih. gue kalo ini dibikin lama malah kesannya gue kek penulis sinetron. soalnya masih panjang rayan dan fauzan… masih banyak lika-likunyaaa masih banyak drama lainnya di dlm cerita ini

  17. hmmm… lama ya update-annya bang ?

    tpi ttep setia menanti lanjutannya..

    gua cuman agak menyayangkan, kenapa rayan gag perkosa lagi si fauzan di dalam mobil.. kan romantis gitu..

  18. Pas aku ngelihat nih blog, coba rayan n fauzan dah update belum. Eh ternyata belum tapi pas aku lihat lagi ada tulisan ini update beneran. Langsung ambil popcorn sama susu

  19. Baru mampir lgi ke blog ini nemu cerita bagus :3 langsung tancap dari chap 1 smpai 9 xDD bagus.. Bagus.. Gemes ngeliat tingkah rayan sma fauzan,, bawaannya pengen gigit >< tapi.. Mas author kok chap 10nya gk bsa di bka??

  20. ALLLL DEMI APAPUN SAYA FANSMUUUH
    pertanyaan ini sering banget mampir di otak ‘are you really a boy?’
    maksudku, bahasamu kok bisa alus banget gitu? apa memang aku yg kebiasaan ngomong asal njeplak, jadi amazed bgt baa tulisanmu *hehehehe

  21. sangat sangat amat mengharukan .gw sampai berulang ulang bacax , ceritax benar2 membuat gw terbawa dalam alur ceritax , haxa satu kta buat penulisx “PERFEK “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s