Floque – Perkamen 22


 

Logo Jubilee(resize) NB : Mungkin nanti ada beberapa part yang membuat kalian jenuh atau bosan, tapi aku harap jangan di skip karena dichapter ini banyak penjelasan-penjelasan yang selama ini sengaja disembunyikan. Jadi aku harap di baca semua yah, jangan di skip atau di scroll ke bawah kalau kalian bosan,hehehe. Thanks :-*

Chapter Twenty Two : Clarity.

 

#Flashback

“Chris,” panggilku ke arahnya yang saat ini berjalan keluar kelas mendahuluiku. Tapi dia hanya menoleh ke belakang sebentar, kemudian dia kembali berjalan meninggalkanku. Sikapnya kali ini benar-benar aneh. “Chris, tunggu!” panggilku sekali lagi. Dia menghentikan langkahnya kemudian aku berlari kecil mengejarnya.

“Ada apa?” tanya Chris canggung begitu aku berada di depannya. Entah kenapa aku merasa sikapnya padaku belakangan ini aneh, apa karena dia sedih memikirkan neneknya yang sedang sakit? Entahlah yang jelas aku ingin sekali main ke rumahnya hari ini.

“Eh, anu. Aku mau main ke rumah kamu, boleh nggak?” tanyaku sambil menggaruk kepalaku yang padahal tidak terasa gatal. Dia terlihat kaget mendengar perkataanku barusan, dan dia malah diam saja, “Jadi, boleh gak Chris?” tanyaku pada Chris sekali lagi.

“Nggak bisa. Aku harus nemenin nenek di rumah sakit,” jawabnya singkat. Aku bisa merasakan ada nada kecanggungan pada perkataanya barusan.

“Yaudah kalau gitu aku ikut yah?” pintaku padanya, tapi dia malah mengerutkan dahinya.

“Nggak bisa. Mendingan kamu pulang aja!” perintahnya tegas kepadaku.

“Tapi ka—,” belum sempat aku selesai berbicara dia langsung pergi meninggalkanku dan berlari ke arah mobil yang menjemputnya. Aku pun haya bisa pasrah.

“Dave,” tegur seseorang dari arah belakang sambil menarik-narik tasku. Ku tolehkan kepalaku ke belakang, ternyata itu Amanda. Dia sedang menikmati es krim ditangan kirinya dan memegang marshmallow di tangan kanannya. “Ayo kita pulang bareng!” ajaknya padaku.

“Ayo,” kataku mengiyakan ajakannya. Belakangan ini memang papa menyuruhku untuk pulang bersama Amanda karena memang Chris sudah tidak pernah pulang bersamaku lagi. Lagipula papa melarangku untuk berkunjung ke rumah sakit untuk menengok keadaan nenek. Dia bilang nanti aku terkena penyakit, karena di rumah sakit banyak virus apalagi kondisi fisikku yang tidak terlalu kuat. Akhirnya aku hanya bisa menuruti keinginan papa.

“Kamu sama Chris lagi marahan yah?” tanya Amanda yang saat ini sedang sibuk menjilati es krim ditangan kirinya. Aku menggeleng cepat.

“Aku gak tahu Nda, belakangan ini sikap Chris aneh,” jawabku padanya, dia pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oh ya, kamu udah ngerjain tugas origami buat besok?” tanyaku padanya.

Dia terlihat kaget dan terbelalak, tapi kemudian dia menyengir ke arahku, “Hehehehe, belum Dave,” jawabnya sambil tersenyum dengan bibir penuh sisa es krim cokelatnya. “Aku kan gak bisa Dave,  malahan aku pengen minta tolong kamu buatin,hehehe,” lanjutnya kembali tersenyum lebar ke arahku.

“Masalahnya, aku juga gak terlalu bisa buat karya origami,” jawabku padanya.

“Chris bisa nggak yah?” tanya Amanda sekali lagi.

“Kayaknya dia bisa deh,” jawabku cepat, “Eh tapi nggak tahu juga. Coba kita tanya besok deh,” saranku, Amanda pun menganggukkan kepalanya tanda kalau dia setuju. “Yaudah ayo kita pulang,” ajakku sambil menggandeng tangan Amanda.

***

“Chris, aku boleh minta tolong nggak?” tanyaku pada Chris yang sedang sibuk membuat keterampilan origami. Dia terlihat sangat serius membuatnya, dan sepertinya dia memang jago dalam membuat kerajinan tersebut. Chris masih sibuk dengan kegitanannya dan tidak mendengarkanku. Aku pun mendekat ke arahnya lalu menepuk pundaknya. Dia menoleh pelan ke belakang. Ketika wajahnya melihat ke arahku aku langsung tersenyum ke arahnya, namun tiba-tiba ekspresi wajahnya langsung berubah tegang seperti orang yang melihat hantu. Matanya yang agak sipit itu terbelalak cukup lebar. Aku pun bingung dengan perubahan ekspresi wajahnya, “Kamu kenapa Chris?” tanyaku sambil memegang pundaknya karena biasanya dia tidak pernah bertingkah seperti itu padaku sebelumnya.

Dia langsung gelagapan, tingkahnya benar-benar aneh. Dia seperti bukan yang biasanya, “Eh..uhm anu..mmm..ngggak..ng..nggak apa-apa kok,” jawabnya sambil tergagap.

“Beneran kamu nggak apa-apa?” tanyaku sekali lagi mencoba meyakinkannya. Dia langsung mengangguk cepat, “Kamu nggak lagi sakit kan?” tanyaku cemas, mungkin saja dia sedang sakit, makanya dia bertingkah aneh seperti tadi. Dia menggeleng cepat, sekarang ekspresi wajahnya sudah tidak setegang tadi, walaupun aku bisa merasakan kalau rasa gugup masih menyelimutinya. Itu terpancar dari wajah dan juga badannya yang agak bergetar. “Yaudah, aku boleh minta tolong?” tanyaku sambil memandang lekat ke arahnya.

Dia menghela nafas sebentar, “Boleh,” jawabnya singkat, “Minta tolong apa?” lanjutnya.

“Uhm, kamu bisa ajarin aku bikin kerajinan origami nggak? Aku nggak bisa buat soalnya,” pintaku penuh harap kepadanya.

Dia menganggukkan kepalanya pelan. “Boleh,” jawabnya singkat.

“Assiikkkkk, makasih yah Chris,” seruku bergembira, “Amanda. Sini!” ajakku pada Amanda. Dia langsung berjalan cepat ke arahku. “Chris mau bantuin kita buat kerajinan origami,” ujarku antusias, Amanda langsung tersenyum gembira. Akhirnya kita bertiga membuat kerajinan tersebut hingga aku dan Amanda menguasainya.

***

“Makasih yah Chris udah bantuin kita tadi,” ujarku sambil berjalan beriringan dengannya di lorong sekolah. Sekarang sudah jam pulang, jadi kita sedang berjalan menuju loby sekolah untuk selanjutnya menunggu jemputan.

“I..iya sama-sama,” ujarnya sambil menunduk. Aku mengamati penampilannya dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Sekilas tidak ada perbedaan yang mencolok. Tapi aku merasa ada yang berbeda dari biasanya, tapi aku juga bingung apa yang berbeda. Aku pun berfikir kira-kira apa yang beda darinya, namun belum sempat aku menemukan jawabannya tiba-tiba Amanda berteriak.

“Dave, ayo pulang!” ajak Amanda dari balik kaca mobil yang iya buka sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahku.

“Yaudah Chris aku pulang dulu yah,” pamitku padanya, dia menganggukkan kepalanya lemah. aku melangkahkan kakiku mendahuluinya, namun tiba-tiba terbesit sesuatu di kepalaku. Aku menghentikan langkahku lalu aku berbalik ke arahnya. Dia memandang lekat ke arahku. Aku berjalan kembali ke arahnya, lalu entah atas dorongan apa tiba-tiba aku mencium pipinya, “Makasih,” ucapku gugup. Aku juga tidak tahu kenapa aku melakukan hal seperti itu. Akhirnya aku berlari meninggalkannya yang masih dengan ekspresi kebingungan. Jangankan dia, aku sendiri saja bingung kenapa aku bisa berbuat seperti itu. Aneh.

 

Hari ini adalah hari yang paling tidak aku harapkan. Setelah seminggu lebih Chris tidak masuk dan tidak memberi kabar. Tiba-tiba tadi pagi wali kelasku bilang kalau Chris resmi pindah dari sekolah kami. Dia harus ikut dengan keluarganya yang akan membawa neneknya berobat ke jepang. Aku sebenarnya marah. Marah karena dihari kepergiannya bahkan dia tidak mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Padahalkan dia sahabatku. Tapi aku bisa apa? Yang aku lakukan hanya bisa menangis saja. Hari ini aku benar-benar tidak mengikuti pelajaran. Aku lebih memilih duduk di taman belakang sekolah. Aku duduk di bawah pohon sambil memeluk tas di dadaku. Mataku sembab, karena sedari tadi aku hanya bisa menagis. Aku mengayun-ayunkan kedua kakiku yang menggantung sambil menatap kedua sepatuku. Namun tiba-tiba ada yang menepuk pundakku, aku pun menoleh ke arahnya malas. Tapi ternyata yang aku lihat di luar dugaanku. Ternyata itu Chris. “Chris,” ujarku tak percaya. Refleks aku langsung memeluk tubuhnya.

“Dave, hari ini aku harus pergi,” katanya yang langsung membuatku refleks melepas pelukanku dari tubuhnya dan memandangnya tak percaya. Sebenarnya aku masih belum mau dia pergi. Aku masih ingin dia berada disini, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. “Maafkan aku kalau selama ini aku mengecewakanmu. Aku akan selalu mengingatmu dan tidak akan melupakanmu. Aku janji suatu hari aku akan kembali dan menemuimu,” ujarnya sambil memandangku lekat. Lalu dia terlihat mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ternyata itu sebuah kalung. Oh tidak, itu dua buah kalung tapi dengan liontin yang menyambung berbentuk bintang. “Ini buat kamu,” ujarnya setelah memisahkan liontin tersebut menjadi dua buah.

Aku meraih kalung tersebut dari tangannya. Dia mengenakan kalung tersebut, namun aku hanya mengamatinya dan hanya memegang kalung tersebut. “Sini aku pakaikan,” ujarnya sambil mengambil kalung di tanganku lalu mengalungkannya di leherku. “Kalung ini ada inisial nama kita berdua,” ujarnya, lalu dia membalikkan kalung yang aku kenakan dan dibelakang liontin kalung itu terdapat huruf ‘C’. “Ini inisialku. Dan di liontinku terdapat inisialmu,” lanjutnya sambil membalik liontin kalungnya dan di situ terdapat huruf ‘D’. “Kamu suka?” tanyanya sambil memandang lekat ke arahku.

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku karena aku masih bingung harus menjawab apa. “Bagus deh kalau kamu suka. Oh ya, kalung ini juga kalau ditempelkan bisa nyala lho. Kaya gini nih,” ujarnya, lalu dia meraih liontin kalungku dan menempelkan dengan liontin kalungnya. Liontin itu menyala, berwarna-warni seperti pelangi. Tanpa terasa aku bisa tersenyum melihat pemandangan yang ada di depanku. Dia mengusap bekas air mata di pipiku dengan kedua ibu jarinya. “Mulai sekarang kamu jangan sedih. Aku janji aku akan kembali dan menyatukan kedua liontin ini kembali. Maka dari itu jangan pernah lepas kalung ini yah!” aku pun langsung menganggukkan kepalaku.

“Ayo nak, sebentar lagi pesawatnya akan berangkat,” tegur seorang perempuan pada Chris, mungkin dia mamanya. Karena selama ini aku tidak pernah melihat mamanya.

“Sebentar ma,” kata Chris pada perempuan tersebut. Sepertinya itu benar mamanya. Selanjutnya Chris memberi nasihat dan wejangan kepadaku. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku ketika mendengar setiap perintahnya. “Baiklah Dave, kalau gitu aku pergi dulu yah. Sampai jumpa,” pamitnya sambil mengecup keningku. Lalu dia berjalan mundur perlahan. Genggaman tangan kami terlepas, begitu juga dengan liontin kami yang tadi menempel. Dia meninggalkanku. Sepertinya dia juga meneteskan air matanya. Aku bisa melihat air matanya jatuh di pipinya. Dia masuk ke dalam mobil lalu membuka kaca mobil tersebut, kemudian dia melambaikan tangannya ke arahku. Aku membalas lambaian tangannya dengan air mata yang kembali jatuh di kedua pipiku, dia tersenyum ke arahku. Namun senyumannya berbeda dari biasanya. Senyumannya lain.

-End, Flashback-

“Jadi, yang waktu itu ngucapin salam perpisahan dan ngasih kalung ini Allan, bukan kamu?” Chris tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.

“Yep, benar sekali. Allan yang ngasih kalung itu ke kamu. Makanya aku heran kenapa kalung itu bisa ada pada kamu. Padahal aku belum sempat memberikannya buat kamu. Tapi sebenernya itu juga kalung Allan sih,hehehe,” jelasnya padaku.

Aku mengerutkan dahiku, “Maksud kamu?” tanyaku bingung.

“Ehm sebenarnya aku buat tiga. Satu buat aku, satu buat kamu dan satu lagi buat Allan,” katanya, aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Jadi, Allan hanya datang untuk memberi salam perpisahan dan kalung ini?” tanyaku makin penasaran.

“No. Kamu salah Dave,” ujarnya yang membuatku mengerutkan dahiku, “Sebenarnya Allan udah dateng dari nenek mulai sakit. Karena sakit nenek terlalu parah akhirnya harus dibawa ke jepang. Aku pun harus ikut, karena dari kecil aku sangat dekat dengan nenek, aku nggak mau pisah dari nenek. Tapi aku juga bingung, aku kan harus mengurus perpindahan sekolahku, aku gak bisa sembarangan keluar. Tapi nenek juga harus di bawa jepang segera. Nah, karena kebetulan semua keluargaku datang termasuk Allan dan Chloe akhirnya mama dan papa sepakat kalau Allan akan menggantikanku di sekolah sampai pengurusan dokumen perpindahanku selesai. Jadi sepertinya dia sempat sekolah satu minggu deh, terus baru deh dia nyusul kami ke jepang bareng mama. Gitu lho Dave,” jelasnya panjang lebar kepadaku.

Aku terbelalak. Aku benar-benar tidak pernah berfikir kalau kenyataannya seperti ini. Benar-benar membuatku terkejut. “Jadi, orang yang waktu itu aku mintain tolong untuk membuat kerajinan origami itu Allan, bukan kamu?” Chris langsung mengangguk cepat. Jadi, orang yang waktu itu aku cium pipinya itu Allan. Ya Tuhan, kenapa jadi aneh begini.

“Sebenarnya Allan itu—,” Chris tidak melanjutkan kata-katanya.

“Allan kenapa?” tanyaku penasaran. Namun dia malah tersenyum ke arahku.

“Udahlah, lupakan aja!” perintahnya sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku, “Yaudah, lebih baik kita pulang yuk! Udah terlalu sore,” ajaknya, aku pun hanya bisa menurutinya karena memang sudah hampir maghrib walaupun di dalam hatiku masih terdapat banyak sekali pertanyaan tentang mereka.

___

“Allan,” seruku pada Allan yang saat ini sedang berjalan di depanku dan menggandeng wanita lain. Aku benar-benar marah padanya. Aku pun langsung menghampirinya dan menarik tangannya menjauh dari wanita tersebut.

“Apa-apaan sih lo Dave, lepasin nggak!” bentaknya padaku sambil mencoba melepaskan genggaman tanganku di tangannya.

“Siapa dia?” tanyaku tegas sambil menatap tajam ke arahnya.

“Pacar gue yang baru, kenapa?” jawabnya enteng sambil tersenyum seperti penjahat.

“Kenapa? Kamu masih nanya kenapa? Allan kamu sadar nggak sih kalau kita itu masih pacaran. Dan kamu dengan santainya menggandeng wanita lain di depan mataku. Kamu itu benar-benar keterlaluan tau nggak,” kataku dengan nada berapi-api. Allan malah menyeringai ke arahku.

“Lo sadar gak sih kalau lo itu lebih jahat dari gue?” dia malah balik bertanya kepadaku dan yang lebih parah dia menggunakan kata lo-gue yang biasanya hanya dia gunakan pada orang lain. “Lo nggak usah pura-pura bodoh deh Dave, IQ lo aja di sekolah paling gede. Jadi lo nggak usah pura-pura nggak tahu kenapa gue bisa kayak gini. Gue gini juga gara-gara lo tau nggak,” lanjutnya yang langsung membuat lidahku kelu. Leherku terasa dicekik ketika Allan berbicara seperti itu. Rasanya benar-benar sakit. “Jadi mulai sekarang lo nggak usah sok-sok ngatur hidup gue lagi. Karena kita udah nggak ada apa-apa lagi,” tambahnya, lalu dia melengos pergi meninggalkanku.

“Allan..Allan..ALLLAAAANNNN,” teriakku padanya. Aku bangkit dari tempat tidurku, dan ternyata barusan hanya sebuah mimpi. Syukurlah. Aku mengatur nafasku lalu menyeka keringat di leher dan pelipisku.

“Kamu kenapa Dave?” tegur seseorang yang suaranya mirip Allan. Ku balikan badanku ke belakang ternyata benar, dia Allan.

“Allan,” seruku tak percaya, namun dia malah tersenyum ke arahku. Aku buru-buru memundurkan posisi tubuhku mendekat ke arahnya. “Allan aku pingin bicara sama kamu, aku ingin menjelaskan semuanya, aku ngg—,” kata-kataku terpotong karena tiba-tiba Allan mencium bibirku.

“Kamu nggak usah jelasin apa-apa. Karena aku udah tahu semuanya. Jadi lebih baik kamu tidur lagi yah, besok kan sekolah,” perintahnya padaku. Aku pun hanya menganggukkan kepalaku menuruti perkataannya.

“Aku boleh meluk kamu kan?” tanyaku padanya. Dia mengangguk, lalu meraih tubuhku untuk dipeluk. Rasanya damai dan tentram. Pelukkan Allan membuatku benar-benar nyaman. Dan kini aku sudah yakin kalau Allan benar-benar mencintaiku. Allan adalah cinta sejatiku, jadi aku tidak boleh mengecewakannya. Aku pun kembali terlelap di pelukkan Allan.

 

“Dave..Dave…” terdengar suara orang yang membangunkanku. Perlahan aku membuka mataku. Ternyata itu Amanda, “Ya Tuhan Dave, badan kamu panas banget,” ujar Amanda sambil menempelkan telapak tangannya di keningku. “Bentar yah aku panggilin mama dulu,” lanjut Amanda meninggalkanku.

Ternyata hal yang barusan juga hanya mimpi. Karena sekarang aku sedang terkulai di tempat tidurku tanpa Allan disampingku. Badanku terasa sangat lemas. Kepalaku pusing dan mataku berkunang-kunang. Akhirnya aku kembali menutup mataku yang terasa berat ini.

“Ya ampun nak, badan kamu panas banget,” ujar mama cemas, saat ini dia sudah berada di sampingku dan sedang memegangi keningku dengan telapak tangannya. Tangannya beralih ke leher, “Kamu demam tinggi Dave,” lanjut mama masih dengan nada panik. “Kamu harus ke dokter! Amanda sekarang juga kamu panggil kak Edgar! Kita harus bawa Dave ke rumah sakit,” perintah mama pada Amanda, Amanda yang sedari tadi ikut mengawasiku di belakang mama, langsung berjalan cepat keluar kamar. “Kamu kok bisa demam gini sih nak, memangnya kemarin kamu ngapain?” tanya mama khawatir.

Aku menggeleng pelan. “Nggak tahu mah,” ujarku malas. Sekarang tenggorokanku pun ikut kena imbasnya, rasanya sakit dan kering. Tak lama kemudian Amanda kembali masuk bersama kak Edgar. Kak Edgar langsung berjalan cepat menghampiriku.

“Dave kenapa mah?” tanya kak Edgar pada mama.

“Nggak tahu, dia tiba-tiba demam. Sudah, sekarang kamu gendong dia ke mobil! Kita harus bawa dia ke rumah sakit secepatnya,” perintah mama pada kak Edgar. Kemudian kak Edgar mendekat dan langsung menggendong tubuhku.

“Ya ampun Dave, badan kamu panas banget,” ujar kak Edgar. Kemudian dia menggendongku keluar kamar setelah mama dan Amanda keluar terlebih dahulu. Begitu sampai di depan mobil, kak Edgar langsung memasukkanku ke kursi belakang.

“Mah, Manda gak ikut yah, soalnya hari ini Manda ada ujian bulanan,” ujar Amanda pada mama.

“Yasudah, kamu nanti bilang ke bagian kesiswaan kalau Dave hari ini gak masuk karena sakit. Oke?!” Amanda menganggukkan kepalanya. Kak Edgar menutup pintu mobil lalu beralih ke bagian kemudi. Mama juga menutup pintu mobil dan tak lama kita berangkat. Di perjalanan aku hanya diam sambil menahan rasa pusing yang amat luar biasa di kepalaku.

Perlahan aku membuka mataku. Tapi sejauh mataku memandang aku hanya melihat ruangan yang serba putih. Apakah ini surga? Apakah aku sudah meninggal? Batinku. Namun tiba-tiba tanganku ada yang menggenggam. Kualihkan wajahku pada orang yang menggengam tanganku. Sekilas aku kira dia Allan, tapi ketika dia tersenyum aku langsung tau kalau dia bukan Allan, tapi Chris.

“Akhirnya kamu sadar juga Dave,” ujar Chris antusias. Aku hanya diam tak menjawab perkataanku barusan. Ku lihat selang infuse tertancap di tangan kiriku dan selang oksigen yang juga masuk ke rongga hidungku.

“Kamu tadi pingsan Dave,” ujar kak Edgar yang saat ini juga telah berdiri di sampingku berseberangan dengan Chris. “Jadi tadi mama sempat panik. Tapi kata dokter kamu cuman kecapean aja, sama kamu juga kena radang tenggorokan jadinya kamu demam deh,” lanjut kak Edgar.

Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan, “Mama mana?” tanyaku perlahan.

“Mama lagi pulang dulu, dia mau ngambil perlengkapan buat kamu,” jawab kak Edgar. “Yasudah kamu istirahat aja dulu yah!” perintah kak Edgar. Chris pun melepaskan genggaman tangannya di tanganku.

“Aku juga pamit dulu yah Dave, ada sesuatu yang harus aku kerjakan,” katanya. Aku pun mengangguk pelan. Tak lama Chris berjalan keluar ruangan meninggalkanku dan kak Edgar. Aku pun kembali memejamkan mataku yang masih terasa berat.

___

“Muka kamu tuh kayak kodok, lihat aja tuh hidungmu aja nongkrong gitu. Kayak gorong-gorong jalan sudirman,hahaha,” samar-sama aku seperti mendengar suara Chloe.

“Enak aja hidung gue kayak gorong-gorong. Muka lo tuh demek,” kali ini aku benar-benar seperti mendengar suara Cassie. Aku pun menolehkan kepalaku ke asal suara tersebut, ternyata benar ada mereka disana.

“Ssssshhhhh, kalian itu bisa diem nggak sih? Kasian Dave, nanti keberisikan!” perintah Amanda pada mereka. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke arahku, “Nah, tuh kan. Dave beneran bangun, kalian sih berisik. Kalian kira ini pasar apa?” gerutu Amanda pada mereka. Lalu dia berjalan mendekat ke arahku di ikuti oleh Cassie dan juga Chloe. “Kamu udah baikan Dave?” tanya Amanda padaku. Aku mengangguk pelan.

“Jauh lebih baik,” jawabku mantap. “Kalian udah datang berapa lama?”

“Hiiii kita itu dateng dari tadi. Kita nungguin kamu bangun eh lama banget nggak bangun-bangun. Kamu itu kayak sleeping beauty tau nggak. Masa iya kita harus nunggu sampai pangeran berkuda poni datang dan nyium kamu biar kamu sadar. Kan pasti bakalan lama banget,” ujar Chloe melebay sambil mendekapkan kedua tangan di dadanya.

“Berkuda putih Chloe,” koreksi Amanda pada Chloe.

“Lho, hari gini kuda putih udah mainstream, kuda poni kan yang lagi nge-hits kayak lagunya Pharrel Williams yang Happy itu,” bantah Chloe.

“Iya. Tapi kan tetep aja yang be—,”

“Ssssshhhh pada berisik aja nih. Gak ngertri apa kalau sahabat kita nih lagi sakit?” sergah Cassie cepat. Mereka pun langsung menghentikan perdebatannya. Kemudian Cassie mengalihkan pandangannya ke arahku, “Bohong Dave, kita baru setengah jam-an kok di sini. Tapi kayaknya lo pasti kebangun gegara ketawa Chloe yang kayak mak lampir yah?” tanya Cassie sambil menyindir Chloe.

“Enak aja. Ketawaku itu merdu tahu. Nih yah kalau misalkan di MTV Awards ada nominasi the best laughing, pasti aku bakalan menang deh. Secara ketawaku aja lebih merdu dari lengkingan Beyonce,” ujar Chloe penuh percaya diri sambil mengibas-ngibaskan rambutnya.

The worst laughing  mah iya kali. Asal lo tau yah, suara ketawa lo kalo gak di kontol eh control maksud gue, pasti bakalan bisa bikin seluruh Indonesia raya budeg,” timpal Cassie.

“Nggak mungkin. Kamu tuh yah kayaknya sirik deh sama aku Cass. Makanya kamu punya apa kek yang patut dibanggakan selain otot kekarmu yang mirip preman pasar itu,” jawab Chloe sambil menyeringai.

“Iri sama elo? Itu tuh sama aja kayak gue iri sama waria,hahaha” Cassie tertawa penuh kemenangan.

“Eh enak aja. Aku bukan waria keleus. Aku kan udah jadi wanita tulen. Lagian mana ada waria secantik aku. Kamu itu suka ngarang deh. Lagian kayaknya yang cocok jadi waria itu kamu deh. Lihat tuh muka kamu itu laki-laki bukan perempuan bukan,hahaha,” tawa Chloe kembali pecah memenuhi ruangan ini. Aku pun ikut tertawa kecil mendengar candaan mereka.

Amanda mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan ternyata itu tongkat mainan ibu peri, “Ssssttt anak manis. Kalian tidak boleh bertengkar. Karena kalau kalian bertengkar itu akan membuat kalian merugi. Percayalah anak manis, ibu peri selalu berkata benar,” ujar Amanda sambil mengacung-ngacungkan tongkat mainan ke arah mereka dan berkata dengan nada yang mendramatisir. Aku aja sampai geli melihatnya.

“Ibu peri yakin?” tanya Chloe tak kalah mendramatisir.

“Yakin seratus persen anak manis,” jawab Amanda mantap. Lalu dia mengayunkan tongkatnya ke arah mereka, “Semeriwing..semeriwing..semeriwing-semeriwing,” lanjutnya yang hampir membuatku tertawa, tapi untungnya aku bisa menahan rasa ingin tawaku.

“Baiklah kalau begitu. Ibu peri aku punya satu permintaan, apakah ibu peri bisa mengabulkannya?” tanya Chloe serius tapi dalam konteks drama yang lebay.

“Apa permintaanmu anak manis?”tanya Amanda sok bijaksana.

Chloe berfikir sejenak, “Ehm aku ingin menjadi wanita tercantik di dunia ini. Apakah ibu peri bisa memenuhi permintaanku,” ujar Chloe sambil memasang tampang memohon.

“Oh permintaanmu cukup sulit anak manis. Tapi tenang saja, ibu peri akan mengabulkan permintaanmu,” Amanda mengarahkan tongkatnya ke wajah Chloe, “Semeriwing-semeriwing, semeriwing-semeriwing… semeriwing-semeriwing. Nah, anak manis, sekarang kamu sudah menjadi wanita tercantik di dunia. Bahkan pesona Kate Middleton dan Krsiten Stewart pun kalah dibanding pesonamu,” jawab Amanda melebay.

“Yang benar ibu peri?” tanya Chloe antusias.

“Benar sekali anak manis. Ibu peri kan tidak pernah berbohong,” jawab Amanda dengan nada super menggelikan.

“Asssiikkk makasih ibu periiii,” seru Chloe yan membuat Cassie manatapnya dengan tatapan mengejek. Menyadari akan tatapan yang diberikan oleh Cassie, Chloe pun menghentikan aktivitasnya berlonjak-lonjak kegembiraan. Walaupun mungkin Cloe hanya mendramatisir saja.

“Waahh kayaknya bener deh. Kalian benar-benar sakit,” ujar Cassie mengejek meraka.

“Tidak anak manis. Kamu salah. Kamu lah yang sakit. Tapi ibu peri janji akan membuatmu menjadi lebih baik. Kamu mau?” tanya Amanda sambil menatap Cassie dengan tatapan penuh arti.

“Boleh. Tapi boleh gue minta satu permintaan terlebih dahulu?” tanya Cassie pada Amanda.

“Oh tentu saja boleh. Kamu punya permintaan apa anak manis?” tanya Amanda masih dengan nada yang dibuat-buat.

“Gue pengen sahabat gue yang namanya Amanda itu sadar kalau sebenernya dia itu jelek. Bisa?” tanya Cassie pada Amanda.

Amanda langsung memasang tampang lebay, “Maaf password yang anda masukkan salah. Silahkan coba lagi,” jawab Amanda enteng.

Cassie langsung mengerutkan dahinya, “Maksud lo?”

“Maaf password yang anda masukkan salah. Silahkan coba lagi!” jawab Amanda sekali lagi.

“Hiii dasar gila. Passwordnya apa yah?” Cassie berfikir sejenak, “Ahhh iya. Passwordnya Amanda busuk,” jawab Cassie mantap.

“Maaf password yang anda masukkan salah. Anda itu punya otak atau tidak sih? Silahkan coba lagi!” Jawab Amanda yang membuat Cassie mendengus kesal.

“Sialan lo. Terus apa donk?” tanya Cassie pada Chloe. Chloe berfikir sejenak lalu dia mengutak-atik iphonenya.

“Nah, ini dia,” Chloe menunjukkan foto pada Cassie. Yang ternyata itu foto Amanda dengan tampang paling jelek yang pernah aku lihat. Sepertinya di foto itu Amanda sedang mabuk.

“Bagus,” ujar Cassie senang. “Passwordnya bener ini nggak?” ledek Cassie pada Amanda sambil menyodorkan iphone milik Chloe ke arahnya. Amanda terlihat kaget dan kesal setelah melihat foto tersebut. Namun dia langsung mengubah ekspresinya se-cool mungkin.

“Ehem, maaf password yang anda masukkan busuk. Silahkan coba lagi!” jawab Amanda masih dengan gaya sok cool.

“Yeeee nyebelin lo,” dengus Cassie kesal. Dia berfikir sejenak, “Ahhhaaaa,” wajahnya langsung terlihat sumeringah seperti oran yang baru saja mendapatkan ide yang amat brilliant. Dia mengambil blackberry di saku seragamnya lalu mengutak-atiknya sebentar. “Kalau ini gimana?” ujar Cassie sambil menyodorkan blackberry-nya pada Amanda. Tak lama kemudian lagu Adele yag berjudul Don’t you remember mengalun.

Ekspresi wajah Amanda langsung berubah sedih, “Ahhhh Cass, kamu tuh sialan banget sih. Buat apa muter lagu Adele yang itu. Kamu tahu kan itu soundtrack waktu aku putus dari kak Morgan,” ujar Amanda kesal.

“Hahahaha,” tawa Chloe dan Cassie pecah bersamaan dengan ekspresi wajah Amanda yang murung.

“Sudah-sudah. Kalian ini yah, seneng banget ngeliat sahabatnya sedih,” tegurku pada mereka. Lalu tiba-tiba Amanda memeluk tubuhku dari samping tempat tidur.

“Mereka jahat Dave. Lihat saja pasti akan aku balas. Tunggu pembalasanku,” ujar Amanda sambil memandang Cassie dan Chloe dengan kesal.

“Halah, lo mah kayak nyi pelet aja. Kalau kalah pasti andalannya tunggu pembalasanku abis itu pasti ngilang atau nggak terbang. Gitu tuh yang namanya pengecut,” sahut Cassie yang kembali memicu tawa Chloe.

“Tuh kan Dave, mereka beneran jahat,” ujar Amanda makin memelas. Namun Cassie dan Chloe malah makin keras tawanya. Dasar mereka ini.

“Halah, manja. Oh ya Dave, by the way lo kok bisa sampe sakit gini? Memangnya kemarin lo habis ngapain?” tanya Cassie padaku. Aku menggeleng pelan.

“Nggak tahu Cass, tiba-tiba aja tadi pagi badanku panas terus kepalaku juga pusing banget. Mungkin karena kecapean kali yah, kata dokter sih gitu. Aku dehidrasi sama radang tenggorokan katanya,” jelasku padanya.

“Kamu pasti kecapean gara-gara kamu mikirin Allan yah?” tanya Chloe yang sukses membuatku tidak bisa menjawab apa-apa. “Aku tahu kok Dave. Semalam juga Allan gak pulang ke rumah. Aku telfon dia tapi mailbox. Jadi aku juga gak tahu dia dimana sekarang,” ujar Chloe dengan nada lemah. dia maju meraih tanganku dan menggenggamnya.“Tapi aku janji kalau aku bakalan bawa dia kehadapanmu. Bener kan girls?” tanya Chloe yang dijawab oleh Cassie dan Amanda dengan anggukkan mantap.

“Emangnya lo udah gak ketemu Allan berapa lama Dave?” tanya Cassie. Chloe melepaskan genggaman tangannya di tanganku begitu juga dengan Amanda, dia sudah tidak lagi memeluk tubuhku.

“Ehm sudah seminggu,” jawabku. Aku kembali memikirkannya. Kira-kira dia dimana yah? Dia sedang apa yah? Apa dia masih memikirkanku seperti aku yang terus memikirkannya? Entahlah mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya. Tok tok tok. Pintu ruanganku di ketuk. Tak lama pintu pun terbuka. Terlihat sosok Chris di sana. Aku tahu karena Chris tersenyum ke arah kami begitu pintu itu terbuka. “Helo gurls. Aku ganggu gak?” tanya Chris pada kami.

“Ah enggak kok,” jawab Amanda cepat yang saat ini sudah melepas pelukannya di tubuhku.

“Iya, gak juga kok,” sambung Cassie.

“Boleh gabung?” tanya Chris kemudian.

“Boleh donk,” sahut Amanda cepat. Aku jadi heran, kenapa jadi Amanda yang begitu antusias yah menyambut kedatangan Chris.

“Boleh lah. Masuk aja!” perintah Cassie. Chloe pun hanya menganggukkan kepalanya. Chris pun melangkahkan kakinya masuk mendekat ke arah kami.

“Gimana Dave keadaanmu?” tanya Chris padaku.

Feeling better,” jawabku singkat. Chris pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Oh ya, ini kan udah sore. Jadi kita pamit pulang dulu yah,” ujar Amanda. Aku pun langsung mengerutkan dahiku, begitu juga dengan Cassie dan Chloe yang memandang Amanda heran. “Chris tolong jagain Dave yah sampe mamah dateng, soalnya kita mau pulang dulu,” lanjut Amanda sambil menarik tangan Cassie dan Chloe bersamaan.

“Lo ini apa-apaan sih,” tanya Cassie pada Amanda sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Amanda di tangannya. Amanda langsung memberikan tatapan penuh isyarat pada Cassie dan sepertinya Cassie tahu apa yang Amanda maksud, begitu juga dengan Chloe mereka seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi aku tidak tahu itu apa.

“Yaudah kita juga pamit yah,” jawab Cassie dan Chloe bersamaan.

“Hati-hati yah,” pesan Chris pada mereka. Sekarang mereka telah keluar ruangan dan hanya menyisakan aku dan Chris saja. “Kamu udah makan?” tanya Chris padaku. Aku menggeleng pelan. “Lho kenapa?”

“Masih gak nafsu Chris,” jawabku pelan.

“Kamu harus makan Dave! Aku suapin yah?” tawarnya padaku. Aku menggeleng pelan. “Kamu harus makan biar kamu cepet sembuh Dave,” lanjut Chris.

“Percuma Chris. Mulutku masih nggak enak. Pasti makanannya gak bakalan masuk,” ujarku padanya.

“Tapi paling enggak kamu harus makan. Atau kamu mau aku carikan makanan lain?” tawarnya sekali lagi. Aku memiringkan tubuhku membelakanginya dan menggeleng pelan.

“Nggak usah Chris. Sekarang yang aku butuhin cuman Allan. Aku ngerasa kalau aku bersalah sama dia. Aku ingin minta maaf sama dia. Aku mau bilang ke dia kalau aku benar-benar cinta sama dia,” kataku padanya.

“Jadi, kalau Allan yang minta kamu makan sekarang kamu mau makan?” tanya Chris. Aku terdiam namun kemudian mengangguk pelan.

“Yasudah, kalau gitu aku minta sekarang kamu makan!” lanjut sebuah suara dengan nada tegas. Aku berfikir sejenak. Sepertinya itu suara Allan. Aku langsung membalikkan tubuhku menghadap Chris. Ternyata benar. Ada Allan di belakang Chris. Dia tersenyum ke arahku. Senyum itu, senyum yang aku rindukan selama ini. Aku benar-benar rindu pada Allan, sekaligus merasa bersalah juga padanya. Dan sekarang aku harus meminta maaf padanya. Tapi bagaimana dia bisa ada disini? Bukankah tadi hanya ada Chris? batinku.

“Allan?” kataku tak percaya. Aku bangkit dari tidurku dan duduk sambil terus memandang ke arahnya. Dia mendekat ke arahku.

Sugar,” ujarnya lalu memeluk tubuhku. Ah, pelukan ini. Pelukkan yang sangat aku rindukan. Pelukkan yang selalu sukses membuatku merasa nyaman. Pelukkan dari orang yang sangat mencintaiku. “Kamu nangis?” tanyanya begitu dia memundurkan tubuhnya dan memadangi wajahku yang basah. Dia menyeka air mata di pipiku dengan kedua ibu jarinya. “Maafin aku,” ujarnya sambil menyisir rambutku dengan jarinya.

“Nggak. Harusnya aku yang minta maaf, aku yang udah salah sama kamu, harusnya aku y—,” perkataanku tertahan karena kini bibirku dikunci oleh bibirnya.

“O..o..o. Kayaknya aku salah tempat nih,” ujar Chris. Allan terkekeh, begitu juga aku. Lalu kami melepas ciuman kami.

“Sorry deh Ndra, abis gue gak tahan kalo lihat Dave. Jadi harap maklum yah,hehehe,” ujarAllan pada Chris.

“Yaudah kalau gitu gue keluar dulu yah,” pamit Chris pada kami.

“Tunggu Chris!” cegahku ketika dia ingin keluar ruanganku. Chris berhenti lalu membalikkan badannya.

“Ada apa Dave?” tanya Chris.

“Makasih yah. Makasih banyak,” kataku tulus padanya.

Dia tersenyum ke arahku, “Anytime Dave,” jawabnya sambil mengerlingkan matanya ke arahku, lalu dia berjalan keluar ruangan.

Allan memandangiku lekat. Aku jadi merasa risih dibuatnya. “Kamu kenapa Lan?” tanyaku bingung melihat tingkahnya yang aneh. Tapi dia malah tersenyum.

“Nggak apa-apa. Aku cuman heran aja kenapa aku bisa begitu bodoh yah ingin meninggalkanmu. Padahal kamu itu sempurna Dave dimataku. Hanya laki-laki bodoh saja yang tega meninggalkanmu,” katanya yang sukses membuatku tersanjung.

“Aku juga bodoh. Bodoh karena aku sempat meragukan cintamu dan hatiku juga terbagi. Padahal jelas-jelas kamu itu cinta sama aku. Tapi aku yang terlalu egois dan dibutakan oleh rasa yang salah,” timpalku kemudian. “Oleh karena itu aku minta maaf yah Lan,” kataku tulus.

“Nggak usah. Kamu nggak usah minta maaf karena kamu nggak salah. Anggap aja ini salah satu ujian cinta kita. Lagian dengan adanya masalah bukan kah cinta kita semakin kuat? Kita jadi sadar kalau sebenarnya kita memang saling mencintai. Jadi mungkin ini adalah salah satu proses pembelajaran agar cinta kita semakin kuat,” ujarnya yang sukses membuatku terpana. Kali ini giliran aku yang memandangnya takjub, “Kamu kenapa ngelihatin aku sampe kayak gitu?”

“Enggak. Aku heran aja kenapa kamu bisa berkata sepuitis itu? Kamu nemu kata-kata itu darimana?” tanyaku heran. Karena memang biasanya Allan tidak pernah sepuitis ini.

“Nggak tahu deh. Mungkin karena kemarin waktu aku galau aku lebih sering baca-baca novel yang ceritanya juga galau. Jadi aku terpengaruh deh,hehehe,” jawabnya sambil tersenyum. “I love you,”

“I love you too,” balasku, kemudian dia kembali menciumku. Entah selama kita pacaran sudah berapa kali kita ciuman. Mungkin sudah tidak terhitung lagi. “Oh ya, kamu tadi masuk lewat mana? Kan tadi yang aku lihat cuman Chris. Kenapa tiba-tiba ada kamu?” tanyaku penasaran.

“Aku lewat pintu kok. Makanya jangan ngadep ke belakang, jadinya kan nggak tahu kalau ada pangeran tampan masuk,hehehe,” ujarnya sambil terkekeh.

“Tampan darimana? Kamu kan jelek,” candaku padanya.

“Tapi kamu cinta kan?” godanya sambil mencolek daguku. Dan sepertinya sekarang mukaku memerah. “Tuh kan bener. Buktinya sampai sakit gini. Pasti karena rindu sama pangeran yah?” tanyanya yang membuatku terkekeh.

“Iya, aku rindu sekali sama pangeran. Memangnya selama ini pangeran kemana?” tanyaku menimpali drama yang Allan buat.

“Pangeran lagi hibernasi. Kan lagi musim dingin,hehehe,” jawabnya sambil terkekeh.

“Halah kamu ini. Serius aku mau nanya selama ini kamu kemana? Aku nyari kamu, nelpon kamu, bbm kamu tapi hasilnya nihil. Kamu nggak tahu kalau aku cemasin kamu? Aku tuh ngerasa bersalah sama kamu,” jelasku panjang lebar. Namun Allan malah meraih wajahku dan mengusap-usap pipiku dengan ibu jarinya.

“Pangeran lagi galau, makanya menghilang. Tapi sekarang kan pangeran balik lagi. Karena pangeran sadar kalau pangeran hanya salah paham,” jawabnya yang membuatku mengerutkan dahi.

“Udah deh Lan, nggak usah pake kata pangeran-pangeranan. Aneh tau dengernya,” perintahku karena memang aku agak terganggu dengan kata-kata itu.

“Iya-iyadeh. Maafin aku yah udah buat kamu cemas,” ujarnya sekali lagi sambil menciumku kembali.

“Nggak usah minta maaf. Aku cuman mau kamu cerita,” kataku begitu ciuman kami terlepas.

“Cerita tentang?” tanya Allan bingung. Aku menunjuk kalung yang Allan kenakan sekarang. “Oh cerita tentang ini,” Allan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Boleh-boleh. Tapi kamu sambil makan yah,” dia mengajukan persyaratan.

“Yaudah. Tapi aku maunya disuapin,” kataku dengan nada merajuk. Allan malah mencubit hidungku, “Ouch,” pekikku karena sakit. “Allan, sakit tahu nggak?” ujarku sambil mengusap-usap hidungku yang memerah.

“Hahahaha, habisnya kamu gemesin sih. Kan jadinya aku geregetan,” jawabnya sambil mengacak-acak rambutku, “Yaudah sini aku suapin,” dia naik ke atas tempat tidur duduk bersila di depanku. Aku pun melakukan hal yang sama. Jadi kami duduk bersila berhadapan. Allan mengambil tempat makan yang tergeletak di meja samping tempat tidurku. Perlahan dia membuka plastic wrap yang menutupi makananku. Dia mengambil sendok, lalu mulai menyendok bubur tersebut, “A!” perintahnya padaku. Aku pun langsung membuka mulutku lebar-lebar.

Aku mengunyah bubur tersebut sambil terus memandangi wajahnya yang serius mengaduk-aduk bubur tersebut dengan soup kentang kesukaanku. “Jadi, kapan kamu mau mulai cerita?” tanyaku sambil mengunyah bubur yang ada di dalam mulutku.

“Oh iya. Yaudah aku mau cerita, tapi janji yah kalau kamu nggak bakal ketawa!” pintanya, aku langsung menganggukkan kepalaku mantap. Dia menyuapkan lagi bubur tersebut ke mulutku. “Ehm jadi ceritanya gini. Dulu waktu Vindra pindah ke Indonesia dan aku masih di Singapore, aku dan dia selalu kontak-kontakan via email. Kita selalu berbagi cerita tentang kehidupan kita. Sesekali kita juga ber-web cam ria. Soalnya dulu kan belum ada skype.hehehe” ujarnya sambil terkekeh. Dia menyendokan bubur lalu kembali menyuapkan bubur tersebut ke mulutku. “Setiap hari Vindra selalu cerita soal sahabatnya yang namanya Dave. Dia bilang Dave itu baik. Terus dia juga mengirimiku beberapa foto kalian. Dan entah kenapa setiap aku melihat foto kamu aku selalu senang. Senang dalam artian aku selalu kagum melihatmu. Kamu terlihat begitu tampan dan juga manis. Tapi jujur yah aku sampai menyimpan semua fotomu untuk ku jadikan koleksi. Sebenarnya aku ingin sekali berkenalan sama kamu. Chris pun juga selalu menawariku, tapi aku terlalu malu Dave. Entah kenapa aku merasa kalau aku belum siap,” jawabnya yang sukses ingin membuatku tertawa. “Tuh kan, kamu pengen ketawa,”

“Eh enggak kok. Ayo teruskan!” ujarku antusias. Dia kembali menyuapkan sesendok bubur ke mulutku.

“Sampai suatu hari nenek sakit. Kita semua langsung terbang ke Indonesia untuk menengok keadaan nenek. Ternyata nenek sakit parah. Akhirnya papa memutuskan untuk membawa nenek ke jepang begitu juga dengan Chris. Chris memang tidak pernah mau berpisah dengan nenek, karena memang dari kecil Chris lah yang paling dekat dan paling disayang oleh nenek. Tapi kan dia juga tidak bisa tiba-tiba keluar dari sekolah. Banyak administrasi dan proses perpindahan yang memakan waktu cukup lama. Sedangkan keadaan nenek makin memburuk. Akhirnya papa dan mama sepakat kalau aku yang akan menggantikkan Chris di sekolah sampai proses pengurusan perpindahannya selesai. Sebenarnya aku bahagia sekaligus takut. Bahagia karena akhirnya aku bisa bertemu denganmu tapi entah kenapa aku juga merasa takut kalau nantinya aku melihatmu secara langsung,” ungkapnya yang membuatku mengerutkan dahiku.

“Memangnya aku setan apa sampai membuatmu taku?” dia hanya menanggapi perkataanku barusan dengan senyuman. Lalu kembali menyuapkan bubur ke mulutku.

“Kamu nggak tahu sih gimana kalau kamu ada di posisiku. Kamu itu adalah orang pertama yang sukses membuatku gugup dan salah tingkah. Apalagi kalau melihat kamu tersenyum ke arahku, pasti aku ngerasa kalau dunia ini berhenti berputar. Dan hal itu sukses membuatku bingung sendiri. Itu sebabnya setiap kamu ngajakin aku pulang bareng aku selalu nolak. Aku takut sekaligus gugup kalau selalu berdekatan denganmu,” jelasnya yang sukses membuatku terkekeh.

“Oh jadi alasan kenapa dulu kamu selalu ngehindar dari aku itu karena kamu malu gitu?” Allan mengangguk pelan, “Hahaha, Allan kamu itu ada-ada aja deh,” lanjutku sambil terkekeh.

“Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu pasti bakalan ketawa denger cerita ini,” gerutu Allan.

“Habisnya kamu itu lucu. Masa sih ada anak sekecil itu bisa merasakan rasa yang biasanya dirasakan oleh orang dewasa. Itukan aneh Lan,hahaha,” kali ini aku benar-benar sudah tidak bisa menahan tawaku.

“Ada kok. Kamu ingat nggak dengan Ginny Weasley? Yang jadi adiknya Ron Weasley di film Harry Potter. Dia kan juga selalu gugup dan ketakutan kalau melihat Harry. Apalagi kalau Harry nyapa dia, pasti dia bakalan langsung kabur dan lari meninggalkannya. Itu juga yang aku rasakan ketika aku melihatmu. Entah kenapa aku seperti diterpa rasa gugup yang teramat sangat. Cuman bedanya aku masih bisa menahannya, jadi gak sampai ngibrit kayak Ginny. Paling-paling aku hanya menolak ajakanmu, itu aja,” jelasnya yang membuatku tersadar. Jadi Allan sudah mulai menyukaiku dari kecil? Benar-benar sulit di percaya.

“Jadi, kamu udah suka sama aku dari kecil?” tanyaku penasaran.

“Ehm aku gak tau juga sih dulu itu cinta atau bukan, yang jelas setiap ngelihat kamu hatiku berdesir dan jangtungku deg-degan. Apalagi waktu kamu nyium pipiku dulu. Rasanya kayak aku mau pingsan tau nggak,” Ujar Allan yang sukses membuatku tertawa. “Tapi sayangnya nggak lama kemudian aku harus pergi,” lanjutnya.

“Jadi, kenapa kalung itu bisa ada ditanganmu?” tanyaku padanya.

“Ehm, waktu aku lagi beres-beres baju Vindra aku nemuin kalung itu di bawah lipatan bajunya. Di situ tertulis untuk sahabatku Daverland dan juga Kembaranku Callan. Tapi anehnya yang buat aku malah inisialnya D sementara yang buat kamu malah C. aku kira kalungnya tertukar. Tapi aku memutuskan untuk memberikannya padamu sekaligus pamitan sama kamu. Dan ternyata meninggalkanmu bukanlah hal yang mudah, aku aja sampai keingetan kamu terus. Hingga rasa itu perlahan mulai berkurang karena aktivitasku yang mulai banyak. Dan kasus yang sama pun terulang. Ternyata sahabat Chloe itu juga kamu. Makanya waktu aku dikeluarin dari sekolah aku langsung senang ketika disuruh ke Indonesia. Aku pengen ketemu sama kamu karena aku selalu ingat janji yang kita buat kalau sampai kapanpun kita nggak akan ngelepas kalung yang kita pakai. Tapi kenyataannya apa? Waktu aku balik ke Indonesia dan ketemu kamu, malah kamu udah nggak pakai kalung yang aku berikan. Di situ aku mulai marah sama kamu,” jelasnya.

“Jadi, waktu di airport dulu kamu bertingkah ketus dan galak sama aku itu karena kamu ngeliat aku gak pakai kalung gitu?” dia menganggukkan kepalanya, “Owh, pantas dulu waktu pertama aku ketemu sama kamu, kamu itu juteknya minta ampun. Tapi kenapa besoknya kamu gak sejutek biasanya?” tanyaku Heran.

“Itu karena kamu makai kalung itu. Kamu ingat nggak waktu kamu ngajak aku ke acara party anniversary sahabatku kamu yang namanya Jeremmy itu kamu pakai kalung itu? Nah, disitu aku mulai gak sebel lagi sama kamu. Soalnya aku kira kamu buang atau ngilangin kalung itu. Tapi ternyata masih ada,hehehe,” dia mengambil gelas berisi air putih yang berada di atas meja lalu memberikannya ke arahku. Aku pun meraihnya dan meminum gelas berisi air tersebut.

Aku meraih tempat makan yang tadi di pegang Allan, lalu menyendokkan sayur brokoli kemudian menyuapkan ke dalam mulut Allan. Aku memang tidak suka sayuran, sedangkan Allan sangat suka sayuran. Oleh karena itu setiap makanan yang terdapat sayurannya pasti akan Allan makan. Seperti sekarang ini, “Aku masih heran deh kenapa kamu nggak suka sayuran? Padahalkan sayuran itu enak dan bergizi lagi. Udah gitu baik buat tubuh juga lho,” tanyanya padaku. Aku menaruh tempat makan yang tadi ku pegang karena sudah habis, kemudian memberikan gelas berisi air putih pada Allan.

“Aku doyan sayuran kok. Yah walaupun cuman daun singkong dan sayur kangkung. Tapi at least aku doyan sayuran,” sanggahku. “Kamu sendiri kenapa gak suka buah? Padahalkan buah itu enak, bervitamin lagi,” aku balik bertanya.

“Aku juga suka buah kok. Yah walaupun hanya buah tertentu doank. Tapi paling nggak ada yang aku suka,” jawabnya, dia mengambil sehelai tisu lalu membersihkan pinggiran bibirku. Aku memandangnya heran. Sejak kapan Allan jadi seperhatian ini. Aku benar-benar tidak menyangka. Kenapa dia bisa jadi seperti ini. “Kamu kenapa lagi ngeliatin aku kayak gitu?”

“Eh..uhm aku heran aja kenapa kamu jadi seperhatian ini sama aku. Biasanya kan kamu nggak kayak gini,” jawabku sambil membenarkan posisi bajuku yang agak miring.

“Masa sih? itu tandanya bagus donk. Jadi kamu makin cinta sama aku,” jawabnya sambil menepuk-nepuk selimut tempat tidurku.

“Iya sih. tapi satu hal yang perlu kamu tahu. Aku memang suka di perhatikan, tapi aku mau kamu memperhatikanku dengan caramu sendiri. Aku nggak mau kamu mengikuti cara orang lain. Karena itu tandanya kamu nggak jadi diri sendiri,” jelasku padanya. Dia menganggukkan kepalanya.

“Iya, sugar,” katanya sambil menggoyang-goyangkan dagku dengan tangannya, “Sekarang kamu istirahat yah!” perintahnya sambil beranjak dari atas tempat tidurku.

Aku menahan lengannya, “Tunggu!” dai menolehkan kepalanya ke arahku, “Aku mau kamu tidur di samping aku, boleh ya?” pintaku sambil memasang tampang memelas. Tapi Allan malah tersenyum.

“Yaudah kalau gitu, tapi jam visit dokternya itu jam berapa yah? Nanti kalau tiba-tiba dokter kamu dateng terus lihat kita tidur bareng nanti kita diusir lagi,hehehe,” candanya padaku.

“Kamu itu ada-ada aja deh, ehm tapi kalau dilihat dari jadwal sih masih lama. Kemungkinan jam 7 malam nanti baru dia visit ke sini,” jawabku.

“Yaudah, kalau gitu masih banyak waktu,” katanya, dia langsung berbaring di tempat tidurku. Karena mama menempatkanku di ruang VIP makanya bentuk tempat tidurnya itu besar dan tidak seperti tempat tidur orang sakit pada umumnya, tetapi lebih seperti tempat tidur biasa. Oleh karena itu tempat tidur ini muat untuk di tiduri 2 orang. “Ayo Dave, tunggu apa lagi? Katanya mau tidur,” lanjutnya sambil menepuk-nepuk bantal disampingnya. Tanpa berpikir kedua kali aku langsung tidur disampingnya, namun tiba-tiba Allan menarik kepalaku untuk tidur di lengannya. Dia memeluk tubuhku dari belakang. Aku pun terlelap dalam dekapannya. Dekapan orang yang sangat mencintaiku dan juga sangat kucintai.

___

“Eciieeee yang habis ditengokin pacar, langsung sembuh nih yeee,” Goda Cassie, Amanda dan Chloe setelah mereka melihatku pulang ke rumah. Hari ini memang aku sudah di perbolehkan pulang setelah dokter merasa kalau aku sudah membaik. Mungkin Allan juga salah satu penyebab sakitku cepat sembuh.

“Apa-apaan sih kalian,” ujarku pada mereka yang terus menggodaku dari tadi. “Mendingan kalian sana gih kemana gitu. Pulang sekolah bukannya pulang ke rumah malah ngumpul-ngumpul lagi,” lanjutku.

“Lho, aku kan udah pulang ke rumah Dave,” ujar Amanda.

“Kalau kita kan juga lagi main. Kan kita mau belajar kelompok bersama, ya nggak Cass?” elak Chloe yang di jawab anggukkan oleh Cassie.

“Halah, kalian aja belajar kelompok. Belajar ngerumpi mah iya,” timpalku pada mereka.

“Lho, kita kan belajar sambil ngerumpi. Fyi! Ngerumpi itu perlu lho. Kita kan musti tau apa-apa aja yang lagi nge-hits, jadi kita selalu up to date  dan nggak ketinggalan hot news. Is that correct girls?” tanya Chloe pada mereka.

Exactly,” jawab Cassie dan Amanda bersamaan.

“Kamu udah siap sugar?” tegur Allan dari dalam rumah. Hari ini aku berniat main ke rumah Allan karena tante Sherly menyuruhku datang. Dia mau membuat acara syukuran atas kesembuhanku. Padahal aku bilang kalau sebaiknya tidak usah, tapi tante Sherly terus memaksa.

“Ciieeeeee, mau kemana nih pengantin baru? Mau honeymoon yah?” goda ketiga sahabatku serempak.

“Jangan lupa pakek kondom yah Dave!” ujarCassie yang membuatku mengerutkan dahi.

“Iyah, nanti kamu hamil lagi. Kamu kan belum lulus Dave,” tambah Amanda.

“Iya Dave. Better save than sorry,” tambah Chloe yang makin membuatku menggeleng-gelengkan kepala. Mama keluar dari kamarnya dan menghampiri kami.

“Sudah mau pergi?” tanya mama pada kami.

“Iya mah, kita berangkat yah,” ujar Allan. Mama memang menyuruh Allan untuk memanggilnya mama, karena mama dan papa memang sudah tahu kalau kita pacaran.

“Yasudah hati-hati yah. Soalnya mendung tuh,” perintah mama. “Kamu sudah minum obat kan Dave?” tanya mamah padaku. Aku hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala. “Yaudah pokoknya jangan ngebut yah!”

“Beres mah,” jawab Allan singkat, “Yaudah yuk kita jalan!” ajak Allan kepadaku. Aku pun berpamitan pada mama. Ketiga sahabatku hanya memandangi kepergianku namun sesekali mereka terus menggodaku, bahkan Cassie sampai bersiul ketika kami masuk ke dalam mobil. Dasar mereka ini sahabat yang aneh.

Kami meninggalkan rumahku dan menuju rumah Allan menggunakan mobilku. Di tengah perjalanan kami terdiam, hanya ada beberapa pembicaraan-pembicaraan kecil seputar syukuran nanti. “Kita mampir kesitu sebentar yah,” tunjuk Allan pada sebuah mini market tak jauh mobil yang kami naiki terparkir. “Kamu tunggu disini aja!” perintahnya, aku pun menurut. Dia keluar dari mobil. Karena aku merasa jenuh akhirnya aku memutar musik. Ku mainkan salah satu lagu yang berjudul With you. Tak lama kemudian Allan masuk mobil dengan membawa kantong plastik.

“Kamu beli apa Lan?” tanyaku penasaran.

“Biasa, kebutuhan bulanan,” ujarnya santai, lalu dia kembali mengemudikan mobil yang kami naiki. Karena aku penasaran aku mengamati beberapa benda di dalam kantong plastic berwarna putih tersebut. Kalau dilihat-lihat sih isinya ada reffil sabun mandi, facial wash, hand and body, dan pasta gigi. Eits tapi tunggu dulu, sepertinya aku familiar dengan salah satu item di situ. Kondom. Astaga, Allan beli kondom? Buat apa? I mean, yeah kita memang sudah berapa lama pacaran tapi belum pernah melakukan hal itu. Tapi apakah dia akan melakukannya sekarang? Oh tidak, sepertinya memang iya. Ya Tuhan kenapa aku yang jadi gugup begini, batinku. “Kamu kenapa Dave?” tanya Allan curiga melihat tingkahku.

“Eh uhm anu, gak apa-apa kok,” jawabku sesantai mungkin. Allan pun hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali fokus menyetir. Tak lama kamudian kami sampai di rumahnya. Di teras sudah ada tante Sherly dan om Lans. “Oh Dave, my honey,” ujar tante Sherly sambil memeluk tubuhku begitu aku turun dari mobil yang kami naiki, “Bagaimana keadaanmu? Kamu sudah sembuh kan?” tanya tante Sherly sambil memandangku.

“Iya tante,” jawabku singkat.

“Eh eh eh, sudah berapa kali umi bilang. Kamu gak boleh manggil umi itu dengan sebutan tante. Pokoknya kamu harus memanggil umi. Inget yah, umi!” perintah tante Sherly.

“Iya umi,” jawabku sambil menahan tawaku. Rasanya kata-kata umi itu terlalu unik –kalau tidak mau di bilang aneh— menurutku.

“Nah bagus,” ujarnya. Lalu om Lans menghampiriku dan memeluk tubuhku juga.

“Syukur deh kalau kamu sudah sembuh,” ujar om Lans sambil mengusap-usap punggungku.

“Iya om, eh abi,” koreksiku cepat.

“Yasudah ayo kita masuk!” ajak tante Sherly, lalu kami pun masuk ke rumah. Di dalam sudah ada Chris yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV. “Umi mau nyiapin makanannya dulu yah,” ujarnya. Aku menganggukkan kepalaku kemudian langsung berjalan menghampiri Chris.

“Hey Dave,” sapa Chris padaku. Dia mempersilahkan aku duduk dengan menepuk-nepuk kursi yang berada di sampingnya. “Gimana kondisi kamu? Sudah benar-benar sehat?” tanya Chris antusias.

“Iya, kamu sendiri gimana? Udah gak ada yang kamu keluhin sekarang?” aku balik bertanya.

“Enggak,” jawabnya singkat lalu tersenyum ke arahku.

“Dave, aku ke atas dulu yah,” pamit Allan padaku. Aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Jadi gimana? Semuanya udah jelas kan sekarang?” tanya Chris padaku.

“Oh iya. Aku sudah tahu semuanya sekarang. Makasih yah Chris, berkat kamu aku tahu semuanya. Semuanya sudah jelas sekarang,” jawabku sambil tersenyum ke arahnya. Dia hanya menganguk-anggukkan kepalanya.

Chloe datang, dia berlari masuk ke dalam rumah. Dia berpapasan dengan Allan yang baru saja turun dari kamarnya. “Allan kita main hujan-hujanan yuk! Kayak dulu waktu kita masih kecil,” ajaknya antusias. Hujan memang sudah mulai turun, itu terlihat dari rintik-rintik yang meulai mengenai kaca jendela di dekat kami. “Ayolah Lan!” ajak Chloe sekali lagi.

“Yaudah deh,” jawab Allan menyanggupi. Chloe menarik tubuh Allan ke taman belakang yang berada di dekat kolam renang.

“Kita lihat mereka yuk!” ajak Chris. Aku pun setuju dan berjalan mendekati mereka. “Jadi, semuanya sudah jelas kan?” tanya Chris sekali lagi begitu kami sampai di dekat taman belakang.

“Iyah, semuanya sudah jelas,” jawabku sekali lagi.

“Bagus deh, jadi aku—,” aku tidak bisa mendengar apa yang Chris katakana karena tiba-tiba terdegar suara petir yang menggelegar.

“Vindra, kesini! Kita main hujan-hujanan,” ajak Chloe yang saat ini sudah basah kuyup.

“Iya Ndra, sini!” ajak Allan sambil melambai-lambaikan tangannya kea rah kami.

“Kamu mau ikut Dave?” tanya Chris padaku.

Aku menggeleng pelan. “Nggak usah, aku kan baru sembuh,” jawabku.

“Iya yah,hehehe,” jawab Chris sambil menggaruk kepalanya. “Yaudah, kalau gitu aku pergi yah,” ujar Chris yang membuatku mengerutkan dahi. Chris berjalan menjauh dariku, aku pun membalikkan badan ingin masuk ke dalam.

“VINNNDDRRRAAAAAAA….” Teriak Chloe yang membuatku kaget. Aku langsung membalikkan badanku dan melihat Chris sudah terjatuh di lantai. Allan dan Chloe langsung menghampiri Chris.

“Dave, telepon dokter Iko cepat!” perintah Allan. Ku lihat Chloe sedang menangis sambil merengkuh tubuh Chris. Aku langsung bergegas masuk untuk menelpon ambulans. Ya Tuhan semoga keadaan Chris baik-baik saja. Semoga tidak ada hal buruk menimpanya.  Aku melewati dapur namun ku lihat tante Sherly sedang membersihkan pecahan gelas yang jatuh di lantai. Ya Allah, semoga pertanda gelas pecah itu bukanlah pertanda buruk.

“Dave, kamu mau kemana?” tanya tante Sherly. Namun aku tidak menggubrisnya. Aku terus berlari hingga akhirnya aku sampai di dekat telepon. Dengan bergetar aku mengangkat gagang telepon tersebut dan menelpon rumah sakit terdekat.

“Halo, Dok, bisa ke rumah sekarang. Chris tiba-tiba pingsan. Oh oke dok. Cepat yah dok!” ujarku dengan nada tergesa-gesa lalu menutup gagang telepon tersebut dengan perasaan campur aduk.

-Ehhhh, To be continued to next Perkamen-

Pertama-tama aku cuman mau bilang maaf. Maaaaaafff banget karena makin kesini postingannya makin telat. Udah gitu ceritanya juga gak makin bagus lagi, ya kan?hehehe. Maaf yah buat yang udah nunggu kelamaan. Dan makasih buat yang masih setia nunggu kelanjutan ceritaku. Makasih banget :-*

Oh ya, aku harap gak usah nunggu perkamen selanjutnya, karena aku yakin kalian bakalan benci sama aku setelah baca perkamen selanjutnya. Jadi, gak usah di tunggu2 deh ya!hahaha.

Sorry for typo and everything. Kali ini aku gak akan maksa kalian komen, karena aku capek. Terserah deh kalian mau komen atau gak, yang jelas nanti juga kalian akan tahu sendiri konsekuensinya,🙂

Oh ya, aku sama Rendi lagi ngadain proyek cerpen. Temanya ‘Disaster’. Semoga aja proyeknya cepat selesai yah, amin ya Olloh! Pokoknya di tunggu aja deh yah!hehehe.

Always yours,

Onew Feuerriegel

 

136 thoughts on “Floque – Perkamen 22

  1. tumben gaada the hunger gay nya-_- yang biasanya menceritakan betapa tampannya onew mellar itu,.. syukur deeh😀

  2. Maaf onew,cma bsa jdi SR

    Tpi dri awal gua bca ceritany,kren kok as gmpang dipahamin,tpi FP 1 g suka,g nyambung aj prsaan,haha itu aj
    To onew : Keep Writing and Fighting
    Anggep aj Para komeners yg rsany bikin kmu down ngasih smngat,ok??
    slam lebay Alay Terkulay dri Mr.K

  3. I think this is one of the most vital info for me. And i am glad reading your article. But wanna remark on few general things, The website style is great, the articles is really great : D. Good job, cheers

  4. part selanjutnya bikin jengkelkah? apakah dave akan berpisah dengan allan? apakah chris pergi selamanya? ikuti terus perkembangan beritanya pemirsaaah ^_^

  5. Superb site you have here but I was wondering if you knew of any message boards that cover the same topics discussed here? I’d really love to be a part of online community where I can get responses from other experienced people that share the same interest. If you have any recommendations, please let me know. Appreciate it!

  6. Can I just say what a relief to find somebody that actually understands what they are discussing on the web. You certainly understand how to bring an issue to light and make it important. More and more people ought to check this out and understand this side of your story. I was surprised you’re not more popular because you certainly possess the gift.

  7. Maksud gua gga ada kata penyambungnya dari akhir cerita du part 21 ke awal part 22. Tpi ke pertengahaan bagus dan akhiranya kurang “geregetan” gitu .okk semangat bua part selanjutnya .

  8. Kak chapter 23 nya mana nihc??
    Di cari2 ko gk ada sihc!!
    Ceritanya bikin nambah geregetan dehc. Soalnya ci cris nya malah pingsan and ci dave ama ci allan makin deket
    jd heran nihc
    di tunggu nya chapter 23 nya

  9. Reading baru ning…..
    Okey aku tunggu kak…..
    Penasaran nih ma lanjutanya…!!!
    Apa yg terjadi ma crisnya??
    Maaf baru komen sekarang…..
    Niatnya sih sekalian aja…..
    Hehe…..
    Nice story kak…..
    SEMANGKA

  10. Reading baru ning…..
    Okey aku tunggu kak…..
    Penasaran nih ma lanjutanya…!!!
    Apa yg terjadi ma crisnya??
    Maaf baru komen sekarang…..
    Niatnya sih sekalian aja…..
    Hehe…..
    Nice story kak…..
    SEMANGKA

  11. kak oneeeeeeewww lanjutan perkamen ini manaaaaaaaa T~T nggak bisa komen soal tulisannya soalnya belum ngerti tata cara tulisan yang baik dan benar gimana hahahaha walaupun di sekolah di ajarin tapi …… ah sudahlah hahaha lanjut ya kak semangaaaaaaaat !!!! ^^/

  12. wkwkwkwk onew gak berani muncul soalnya part 23 nya belom siap, takut dimangsa sama yang udah nunggu lama., tetep lanjut ya.

  13. Onet mana ni lanjutannya ????? Jgn bil kau sibuk dg
    ╔═╦══╗
    ║║║║║║
    ║║║║║║
    ╚═╩╩╩╝

    ╔═╦══╗
    ║║║║║║
    ║║║║║║
    ╚═╩╩╩╝
    Yg di onoh hahahaha , ngaciiiir . . . Balik lage ni esa dah lama ga buka blog si rendi bitch tralala pa kabar mput ma eyang yak ?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s