[cuplikan] Jakarta The Hidden Stories. | Hiruzen Takamada Atmadja (pov)


Aishiteru…” ujarnya begitu lembut. Aku tidak pernah menyangka, sikapnya yang pecicilan itu kini menjelma menjadi sosok yang amat tenang, menyebarkan kehangatan di dinginya malam.

 

Kuhela nafas, kelebatan nista  masa kelam begitu saja menyeruak dari dasar hati, menyebarkan rasa pahit ke seluruh tubuh, seakan-akan empeduku hancur karena pernyataan cintanya. Tidak ada yang salah darinya, hanya aku dan hatiku yang tidak pernah berdamai seberapapun banyaknya waktu memberikanku kesempatan.

 

Ia terus memburuku dengan pandangan penuh cintanya. Kali ini tidak menenangkan, malah memacu batin dan fikiran berperang melawan penyakit hati. Aku pernah tersakiti karena terlalu percaya, dan sekarang aku tidak ingin mengulanginya, membiarkan hidupku hancur untuk kesekian kalinya. Cukup di hari kemarin, dan aku tidak akan membiarkan kembali terjadi di hari ini atau hari-hari berikutnya. Aku tidak punya cinta, tidak akan pernah punya cinta, walau aku percaya akan adanya cinta. Cinta membuatku lemah, lengah dan jatuh dengan asa yang menyakitkan serta derita yang tiada tara.

 

“Gue nggak punya rasa apa-apa sama lo. Sorry.” ucapku pelan, sambil menatap laut yang cukup terang karena sinar rembulan.

 

Berhenti menatapku seperti itu, berhenti berusaha melumpuhkanku, berhenti menjadi manusia sok tahu, aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi, siapapun kamu, apapun lebihmu dan seberapapun tulusmu, berhenti menyakitiku. rapalku nelangsa dalam hati saat kurasa pandangan terlukanya yang terus tertuju padaku.

 

“Lo bisa terus berada dikubangan luka, lo bisa terus berada di dalam bayangan penghianatan, lo boleh diam hanya karena lo takut gagal.” ia memalingkan wajahnya dariku, membuatku kembali bisa bernafas lega.

 

“Ka, hidup menyajikan sejuta kesulitan, sebab itu tuhan menciptakan kita untuk menahlukan kesulitan, bukan untuk dikalahkan kesulitan. Tuhan ciptakan cinta, bukan untuk mematikan manusia, cinta ada untuk memperkuat pemiliknya, untuk menjadi kuat kita harus terluka,” rapalnya sambil menatap lurus lautan.

 

Angin pantai mendesau kasar, bisa kurasakan bagaimana hatiku kehilangan keagungan. Kuremas kayu dermaga yang kokoh ketimbang hatiku, hatiku berderit pilu, menafikan fakta bahwa aku telah dikalahkan kesulitan, dipecundangi keadaan, entah sampai kapan.

 

“Dan pertanyaanya, mau sampai kapan lo berada di zona kehancuran? Nggak ada pangeran yang akan datang dan membawa lo pergi dari sana kalau lo cuman menunggu, satu-satunya yang bisa nolong lo adalah keyakinan lo sendiri.” ia kembali memburuku dengan tatapannya, tatapan yang membuatku sulit untuk bernafas.

 

“Kita hidup dengan tujuan serta alasan. Semua orang punya tujuan dan alasan.” tubuhnya bergerak hingga ia menghadapku yang masih setia mematut lautan. Lalu meremas pelan tanganku yang mencengkram kayu dermaga usang. Memberikanku keyakinan yang selalu aku ragukan.

 

“Gue nggak lagi punya alasan dan tujuan,” tegasku lantang. Aku merasa dihakimi, walau aku sangat mengerti maksudnya adalah menyemangati.

 

“Lo punya tujuan!” sahutnya tidak kalah cepat.

 

“Gue nggak punya, lo nggak tahu apa-apa tentang gue! Berhenti sok tahu Bim!” protesku sebal. Ia memenjarakan tanganku di dalam genggamannya sebelum aku sempat menariknya.

 

“Kalo lo nggak punya tujuan, buktikan. Kasih tau gue, kalau selama ini gue sok kenal sama lo, sok tau semua tentang lo.” tantangnya sambil merogoh tasnya.

 

Aku mundur terhuyung saat ia mengeluarkan sebuah botol minuman dari kaca dan menghantamkan botol tersebut ke kayu dermaga di sampingnya, membuat botol tersebut pecah  menyisakan sudut runcing nan tajam di bagian bawah botol. Lalu tanpa ragu ia menodongkan botol tersebut ke hadapanku.

 

“Katakan sekali lagi kalo lo emang benar-benar nggak punya alasan dan tujuan hidup?” tantangnya sambil terus menodongkan botol itu ke hadapanku.

 

“Jangan gila, Bim!” kataku dengan nada mengancam, namun ia tidak menurunkan botol yang sedaritadi ia acungkan.

 

Bisa kulihat matanya berkilat marah, air matanya meninggi entah karena apa, bisa kurasakan hatinya yang… terluka.

 

Ia meraup tanganku lalu menyematkan botol tersebut ke dalam genggamanku, sontak tubuhku melemas dibuatnya. Tanganku tidak bisa berhenti bergetar namun botol dalam genggamanku tidak urung kujatuhkan, seperti ada perekat mujarab di sela-sela buku jariku.

 

“Kalo lo emang nggak lagi punya tujuan hidup, ngapain lo masih bediri di sini, ngebiarin seluruh isi bumi menamai lo sebagai seorang pecundang, ngapain lo larut dalam kesedihan yang berkepanjangan jika lo nggak berniat menanggalkan semua kegalauan. Bukannya lebih baik mati? Huh,? karena hidup pun, lo nggak punya atau bahkan kenal dengan namanya alasan dan tujuan?” ucapnya panjang lebar dalam satu tarikan nafas. Air matanya menetes, dan entah mengapa membuat aku merasa begitu terluka. Membuat botol yang kugenggam terlepas begitu saja.

 

Kupejamkan mataku, merasakan pekatnya hatiku yang dirundung pilu. Rasa ngilu di sekujur tubuhku terasa jelas, seperti tiap jengkal tubuhku di sayat-sayat oleh silet berkarat.

 

Tubuhku bergetar dahsyat. Wajah Nyokap dan Bokap yang pertama kali berkelebat, lalu wajahnya, Karel, Janu dan suasana Geothe saling menyalip untuk memperlihatkan diri di dalam kepalaku, di ujung pelupuk mata. Aku punya alasan dan tujuan hidup, namun aku terlalu takut mengakui semuanya hanya karena khawatir diserbu kegagalan. Aku manusia keji, memiciki diri, hanya demi rasa aman yang tidak sama sekali membawa kebaikan.

 

Aku terkesiap saat benda lembut, kenyal dan hangat menyutikan kenyamanan melalui bibirku. Aku tidak bisa berontak saat aku menyadari ada tangan yang mencengkram lembut pinggang dan kepala belakangku. Kemudian, bisa kurasakan sapuan halus itu memabukanku. Menyapu segala rasa pilu yang menggalaukan hatiku.

 

Daisuki Dayo…” lirihku saat ciuman kami berakhir. Rasa lapang dan hangat menyebar cepat seperti virus ke seluruh tubuhku. Virus dalam kandungan makna terbaik yang pernah ada.

 

Mata dan senyumnya berbicara akan ketulusannya saat wajah kami menjauh satu-sama lain. Aku mencintainya, namun aku takut mengakuinya, karena aku akan sangat menderita setelah mengakui bahwa aku mencintainya dan dunia memisahkan kami, seperti yang sudah-sudah. Tentang apa-apa yang membuatku tidak ingin kembali memiliki cinta. Tetapi, hati selalu mendapatkan hak abadinya. Hak jatuh cinta.

 

“Berjuang, lawan semua ketakutan lo, Ka. Jangan pernah takut jatuh, gue ada di sisi lo. Menopang lo, saat dunia mencoba kembali melimbungkan lo, kali ini gue janji dunia nggak akan berhasil.” aku refleks mengangguk, aku percaya penuh kepadanya.

 

“Jangan pernah mudur, saat dunia yang lo lawan memonogramkan alasan dan tujuan. Karena gue akan meruntuhkannya, menumpahkan belanga warna untuk membuat dunia lo lebih bercahaya.” tuturnya masygul.

 

“Gue percaya.” kataku serak. Ia tersenyum, senyum dari wajahnya yang tirus kembali membuatku yakin, bahwa cowok di hadapanku adalah salah satu alasan dan tujuanku.

 

Ia kembali membuka mulutnya untuk menguatkanku, namun cukup kurasa. Maka kubungkam dengan bibirku, kusesap dengan rasa rindu yang dulu mati-matian kusangkal. Kurengkuh tubuhnya dengan erat seraya pagutan kami menguat. Dadaku sesak dipenuhi kebahagiaan dan kepercayaan yang ia bangkitkan, menyingkirkan trauma akan kekalahan dan penghianatan di masa lalu.

 

Sejatinya, cinta adalah laku yang tidak saling menghakimi.

12 thoughts on “[cuplikan] Jakarta The Hidden Stories. | Hiruzen Takamada Atmadja (pov)

  1. kok gak diproteksi lagi,tp klu cuma cerita simple dan gak Ada pornography kok harus diproteksi.dasar aneh loe Figi
    cerita bagus sih tp terlalu singkat gak tau apa hubunganDaizuki dan takamada,trus knp dia bisa galau bgt ala keset alay
    kecuali loe mau buat ini cerbung jd gak masalah,,tp stop buat cerbung dulu,pleassssse seleaikan Rayan & fauzan,aku ampe bgadang 2 malam sampe subuh buat nyelesain dari part 1 ampe 10..pleasssse yaaa

  2. Habis baca cuplikan Jakarta The Hidden : Wow…you are amazing as always!

    Makin tambah cinta aja sama tulisanmu.

    Aku adalah termasuk salah satu reader yang sabar kok buat nunggu kelanjutan tulisan-tulisanmu yang masih nggantung.

    Kalo udah ga berupa cuplikan-cuplikan lagi bisa puas-puasin aku ngasih komen “termanis” atau “terpedes” buat Figi hehehe..

    Keep writing yach! Peace…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s