Terimakasih


Ini tulisan menye, jangan dibaca kalo nggak mau kebawa menye, dah-dah….

“Kita cukup sampai di sini, maaf.” Ucapnya.

Aku terbelalak, degub jangtungku yang sedang dilahap hasrat surut seketika.

“Maksud kamu?” tanyaku ragu. Entah mengapa, untuk pertama kalinya aku enggan mendengar suaranya lagi.

“Semua salah, gue tau ini memang sudah jauh, tapi berhenti di sini jauh lebih baik ketimbang nanti,” gemuruh di luar sana akibat guntur masih kalah keras dengan gemuruh hatiku akibat ucapannya yang ambigu. Namun, aku tahu jelas ke mana arah pembicaraan kami bermuara.

Aku tarik tubuhku menjauh dari tubuhnya, tubuh yang selama ini selalu mendekapku dengan penuh cinta, walau tidak tegap, juga tidak penuh otot layaknya para model catwalk atau seperti pria-pria yang terpampang di majalah-majalah dewasa tetapi tubuh itu selalu mampu menghangatkanku dari udara dingin yang kerap mengisi kotaku ini.

“Berhenti?” tanyaku gugup. Demi tuhan aku tidak ingin mendengar apa pun perkataan yang akan terlontar dari bibirnya yang amat menggoda itu.

“Berhenti dari sebuah kesalahan, mengambil jalan yang benar, karena sekuat apa pun lo dan gue, kedepannya kita pasti akan berhenti.” aku tutup mataku, aku tahu ini lah muara dari pembicaraan kami sekarang.

Gugup, aku raup kausku yang sudah tergeletak di ujung ranjang tempat tidurnya, dengan perlahan aku kenakan kembali kausku hingga sempurna menutupi tubuhku ini, sambil terus berdoa bahwa lelaki yang aku cintai ini yang sedang duduk di sampingku dengan mata yang sedaritadi menatap ke arah jendela akan berseru bahwa apa yang ia katakan tadi hanyalah sebuah lelucon. Namun aku menunggu hal yang tidak mungkin ia ucapkan, aku tahu betul sifatnya.

Menjadi sahabatnya selama tiga tahun membuatku mampu memahami jalan fikirannya, ia tidak akan pernah mengambil keputusan tanpa memikirkan hal tersebut masak-masak, sebab itu aku jatuh hati. Dan kali ini aku sangat yakin ia sungguh-sungguh dengan keputusannya.

Tiga tahun bersama, berbagi duka sebagai seorang sahabat, dan kini setengah tahun kami menjalin asmara berbagi suka dan cita, ia meragu, memilih untuk mengkandaskan segala hal yang ia anggap sebuah kekeliruan, tidak sedikit pun terbesit di dalam benakku bahwa hubungan kami ini adalah sebuah kekeliruan, aku mencintainya, sangat amat mencintainya, hanya itu. Apa itu suatu hal yang keliru? Jelas aku keliru karena aku mengawali ini hanya dengan nafsu.

Asap rokok yang ia hembuskan mengepul di sekelilingku, perlahan rasa bahagia di dalam hatiku habis tergerus waktu, dan kini aku merasa amat ambigu, duduk di dalam kamar bersama orang yang aku cintai, lalu kami memulai dengan percakapan hangat layaknya kekasih yang lama terpisahkan walau nyatanya hanya seminggu saja kami tidak bersua. Kini, saat pagutanku mulai menguat, menyulut bara dalam palung syahwat yang membucah hebat ia menghentikan semuanya, segalanya.

Aku benar-benar tidak menyangka, kukira selama satu minggu kami tidak bertemu ia biasa-biasa saja, merindukanku layaknya aku merindukkannya, tetapi aku terlampau naif. Aku tidak ingin menyebutnya pejantan straight yang telah berhasil aku taklukkan, berhasil menggiringnya dari pesona hawa lalu berpindah haluan terhadapku yang mempunyai satu belanga cinta untuknya.

Karena kenyataanya, semenjak enam bulan lalu kami kerap bertukar panas tubuh, mengucurkan peluh dalam ritme waktu tertentu, saling memuji kepiawaian satu sama lain saat nafas kami terengah tidak menentu, saat tubuh lunglai terkuras gelora yang menderu. Aku lelaki dan dia lelaki, apa masih pantas aku menyebutnya straight?

“Gue harap, ini malam terakhir lo nitipin hati lo ke gue, malam ini gue kembalikan segalanya, dan terimakasih.” Katanya teguh. Mata kami bertemu, pancaran matanya mengisyaratkan perasaanya yang melapang, berbeda denganku, aku tercekat, tulang-tulangku terasa melebur, bibirku terlalu kelu, tenggorokanku terasa amat kering dan rahangku terasa terhimpit batu berjuta ton beratnya.

Masygul kini bertahtah di tengah hatiku, tanganku bergetar menopang tubuhku, perlahan aku raup tali tas laptopku, kupungut juga kotak rokokku, “Terimakasih kembali” ucapku parau, aku benci nada bicaraku yang bergetar, sangat kentara bahwa aku tidak rela kehilangannya, seharusnya aku biasa saja, melangkah keluar kamar dan meninggalkan rumahnya hanya dengan sedikit rasa kecewa karena ia menolakku ketika ingin kami bercinta, hanya itu.

Namun kenapa rasa sakitnya begitu mendalam, menghunus tepat di tengah nadi yang hatiku miliki. Bukankah dari pertama aku hanya ingin tubuhnya, aku benci diriku sendiri, tidak seharusnya aku melibatkan hati dalam hal ini. Dari pertama aku tahu ia akan kembali ke fitrahnya sebagai lelaki, tapi sayang aku terhanyut oleh cinta semu yang mencuat begitu mudahnya saat nafsu kami bersatu.

“Mau ke mana?” ia menahan lenganku, hangat telapak tangannya semakin membuat luka hatiku yang tengah berderai semakin memburuk.

“Pulang” kataku pelan. Lagi-lagi aku benci diriku yang terlalu muluk menaruh segala mimpiku tentang sebuah cinta semu kepadanya.

“Hujan!” ia menarikku hingga terduduk di sampingnya.

“Hujan? Sebab sekarang hujan yang membuatku ini segera pulang!”

“Agar tidak ada satu pun orang yang akan ngelihat lo nangis? Begitu?” aku tertawa sumbang, ia mungkin benar.

“Agar perasaan ini ikut luruh di bawah rinai hujan, lebih tepatnya seperti itu” jawabku berbohong.

“Hey!” serunya tegas namun lembut, segitu saja, harapanku kembali membuncah tak urung aku merapal doa agar ia mengatakan bahwa semua kata-katanya tadi hanya lelucon belaka.

“Apa besok lo masih mau jadi sahabat gue lagi?” tanyanya parau. Tanpa berpikir aku menganggukkan kepalaku, walau sebagian hatiku menolak tegas, namun kalah kuat dengan keinginanku agar tetap terus bisa bersamanya.

“Kalau begitu, kita jadi sahabat kembali dari sekarang, lupain kalau gue pernah mengiyakan ajakan lo buat pacaran, lupain semua tawa kita waktu-waktu yang salah, mau?” tanyanya antusias.

Aku hanya mampu bergeming, terpekur sendiri dengan rasa sedih yang terus membayangi, diselimuti rasa pilu yang tidak urung reda sedari tadi, rasanya aku akan terus pilu saat wajah tampanya tersenyum di balik kelopak mataku, seharusnya aku tidak mengiyakan permintaanya untuk tetap menjadi sahabatnya, itu sangat klise, cinta yang tidak berhasil dijalani dan pemerannya lebih memilih menjadi karib kembali, namun aku belum benar-benar siap kehilangan sosoknya.

“Lo masih boleh tidur di samping gue sambil peluk gue, kapanpun lo mau, lo butuh, gue pasti usahain selalu bisa, tapi nggak lebih dari itu” tungkasnya memagari segala hal yang sudah ia pisahkan secara sepihak.

Aku tersenyum kecil, berusaha menampakan kebohongan, bahwa aku baik-baik saja.

“Tiap-tiap hati punya caranya sendiri untuk sembuh dari luka hati! Itu kalimat yang gue suka dari salah satu coretan ngaco lo yang pernah lo pamerin ke gue kan?” aku tertawa parau, merasa sebagai penipu, berkoar-koar tentang tabah dari sakitnya cinta padahal aku sendiri terlalu…

“Hmm, gue pulang. Hujannya udah reda, lagian rumah gue cuman tiga puluh meter dari rumah lo” tanpa menunggu jawabannya aku angkat tubuhku, menggenggam tas laptopku erat-erat, menuruni undakan tangga lalu keluar dari rumahnya.

Jangan, jangan, jangan. rapalku tanpa henti.

Buliran air pertama yang menyentuh ujung hidungku serasa menghipnotisku untuk menoleh ke arah balkon rumahnya, ke arah kamarnya.

Aku tercekat, tubuhku terpaku sejenak saat ia menatapku di balik jendela kamarnya, pandangannya… aku tahu ia tidak berniat menyakitiku, karena itu aku tidak merasa sedang disakiti, aku tahu ini cepat atau lambat akan berlaku, masaku dan masanya, masa kami hanya sementara, dan salahnya aku terlampau gila berharap masa kami akan terus berlangsung selamanya.

“Selamat malam, Ram” teriakku mantap sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Aku lekas melangkah sebelum melihat reaksinya, sebelum mendengar sahutannya, sebelum melihat ia melambaikan tangannya ke arahku juga, karena semakin larut aku menatapnya semakin aku merasa bahwa aku adalah lelaki bodoh yang rela dikuasai kesedihan.

Aku loncati genangan-genangan air yang mengisi jalan menuju rumahku, hanya berlari tiga puluh meter memang, namun aku sangat tersengal-sengal, sama sesaknya seperti habis berlari maraton. Refleks aku tarik tanganku dari pagar rumahku yang berembun, rasa dingin yang menyelubungi besi tersebut masih tidak seberapa dibandingkan dengan…

Aku benci rasa tidak tahu diriku, ketika kepalaku menoleh ke arah rumahnya lagi, ia masih di sana, membuka jendelanya lebar-lebar, ia memang menatapku, namun pandangannya kosong seperti sesuatu yang rumit sedang berkecamuk di dalam benaknya, seperti raut pertama aku melihatnya dikuasai masa denial.

“Semoga kita selalu bahagia” aku merapal mantra saat hujan kembali turun dengan derasnya membuat ikal rambutku digelayuti buliran air langit.

Saat aku buka pintu gerbangku, sesuatu yang jauh lebih dingin menohok hatiku. Mengirim ribuan virus nelangsa supaya bertahta di dalam sana, kuatku tidak mampu menahan segalanya. Sekarang aku biarkan rasa ini menerima semua derita, cukup malam ini, karena esok aku akan jauh lebih lega. Kuharap aku akan selalu baik-baik saja, walau aku tak lagi bersamanya.

36 thoughts on “Terimakasih

  1. Kasian ya.. Memang kalo dri pondasi awal udah salah, kebelakang’x pasti ga bertahan lama.. Cinta harus ikhlas, bukan nafsu semata..

  2. Ni cerpen ??? Kok kaya antiklimaks gitu ya ??? Hahahahah mgkn gw berharap aja ada kelanjutan wkwkw , okaaay its remind me with the past memories , rains bringing love, rain destroyed love, pitty pitty pitty . . .

  3. rasa2nya pernah baca deh kalimat “masing-masing hati punya caranya sendiri untuk sembuh”,,, itu d.cerita apa ya? ada yg tau?
    gk terlalu menye,,
    good! btw, pngen jg dong aku kirim cerita,, tapi kirimnya ke siapa? ke Rendi, ke Onew, atau ke kamu?

    #lempar_alpenliebe

  4. Oret-oretannya cukup bagus lah…bisa bikin yang punya perasaan halus kaya’ aku jadi merasa nelongso hehe…

    Cuma pertanyaanku berapa sih usia dua tokoh bersahabat yang sempat memadu kasih ini? masih ABG (beneran ABG) atau sudah ABG (Angkatan Babe Gue?) soalnya kok terkesan ‘childish’ banget mutusin sesuatu secara tiba-tiba tanpa penjelasan yang sejelas-jelasnya?
    Tokoh yang bernama Ram jelas bukan cowok straight tapi bi yang sedang galau ha..ha..

    Keep writing for Figi . Peace!

    • wah lo ama gue gak sepaham nih hihi… buat gue mutusinnya itu jelas, si bi itu mau hidup bener, walaupun dia udah telat buat jadi bener. maka dari itu si bi minta semuanya diakhiri. umur? 21an lah hahahaah

      • Owh…si bi merasa ni cuma khilaf tapi khilafnya kelamaan 6 bulan ya hi..hi..

        Tapi si Ram ni bkin bingung banget mutusin sahabatnya tapi masih ngijinin dekat2 sama dia bahkan nawarin tidur pake acara peluk2an segala. Kan kaya’ masih beri harapan lewat skin ship jadi bisa membangkitkan gairah nafsu bercinta lagi dong hehehe…

        Duh, oret-oretanmu menarik banget buat aku ulik-ulik sampe rela begadang nih….wkwk

        I love you Figi. Peace!

  5. “Gue harap ini malam terakhir loe nitipin hati loe ke gue”..
    Omggggggg…mirissss sangatttt…!!

    K Al TOP BGT… *coblos k Al*ehh

  6. for kontol’s sake! albus PIGgi pendek amat . ya namanya juga kita belok . yang namanya belok susah untuk bertahan lama . hampir semua G pasti pengen jadi straight dimasa depan . kaya gw , gw sebenernya sih bisex dan pernah pacaran sm cewek . Targetnya 17thn gw pengen berenti jadi B dan jadi pure S

  7. ini karya Figi…huuuh serius ini keren bgt,temanya sih biasa aja,tp pemaparan dari perasaannya itu waahh bgt,detail dan aku yakin yg baca(PLU) pasti ngerasa hal yg sama klu ini terjadi pada kita pasti gini perasaannya,tp walaupun detail tetap singkat jd keren aja.
    aku jd ngefans ma tulisan2mu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s