Amnesia

hallo, gaes! Udah lama banget gue nggak muncul. Maaf banget yaa… bukannya gue nggak mau ngelanjutin Rayan dan Fauzan, tapi memang belum sempet aja. Ada banyak kerjaan yang menghasilkan uang, yang harus gue kerjain terlebih dahulu, (biar gimanapun kan perut aye perlu diisi). Jadilah gue pending tuh cerita geretongan.

Sekarang gue muncul bersamaan dengan cerita impoten milik gue. Kenapa gue bilang impoten? karena gue aja yang nulisnya nggak nemuin di mana klimaksnya. Tapi gue berharap ini bisa ngehibur barangkali bisa jadi bahan nyiyiran kalian. Yekan?

See you nanti ya, Gaes. di Meet And Greet Jakarta. Lo pada datengkan? nggak dateng gak ada updetan Rayan Fauzan, lho! hahahaha (Ketawa jahat).

 

 

Amnesia

 

 

Angin dengan kasarnya menerpa wajah gue. Malam semakin larut dan rasa rindu itu kembali hadir, mendesak kemudian memberikan rasa sesak yang teramat sangat.

Sekarang, gue berharap jadi penderita amnesia.

“Dev, ikannya udah selesai dibakar tuh, sini cepetan!” teriak seorang cowok dari arah hotel.

“Selow,” sahut gue setelah mengacungkan tangan dan berdahem agar suara gue nggak terdengar melankolis.

Lalu gue turunkan kembali tangan gue yang teracung ke udara setelah tadi gue angkat untuk memberi isyarat kepada Rian kalau gue akan menyusul secepatnya. Walau nyatanya, gue nggak sama sekali tertarik untuk bergabung bersama para sahabat gue.

Buat gue, liburan kali ini nggak sama sekali spesial. Sedikit menghibur dan lebih banyak nambah galaunya. Karena, pantai ini mengingatkan gue dengan seseorang yang sampai saat ini belum bisa gue lupain.

Terlalu banyak kenangan di tempat ini, harapan yang pernah gue rapal bersama dia di sini. Dan kembali ke sini benar-benar ngebuat gue ngerasa kalau gue nggak sedang baik-baik aja.

Kembali ke tempat ini, ngebuat gue serasa seorang bajak laut yang mendapatkan peti harta karun kosong, hanya peti harta karun yang gue dapat bukan isinya. Padahal, semua orang tahu yang di cari para bajak laut adalah harta di dalam peti tersebut bukan petinya.

Angin pantai kembali menerpa wajah gue dengan kasar, hembusannya terasa dingin saat menyentuh kulit gue. Jiwa gue serasa tersapu angin, memasuki lorong waktu yang tercipta tiba-tiba, bergelung di dalamnya kemudian gue kembali muncul dengan sebuah harapan hampa.

***

Top, top, top, ih tungguin dong!!!” runtuk bot gue geram karena daritadi dia nggak bisa-bisa mengejar gue.

“Bodo ah! Aku capek!” teriaknya putus asa.

Gue berhenti berlari lalu berbalik badan ke arah cowok gue yang unyu-nya kebangetan. Walaupun ini malam hari, gue bisa melihat wajahnya yang putih mulus itu memerah karena kelelahan sehabis mengejar gue.

Dengan nafas yang tersengal-sengal gue berlari kecil ke arahnya, pasir pantai Anyer serasa menggelitik telapak kaki gue—kami lari tanpa alas kaki. Senyum di bibir gue, gue pasang sesempurna mungkin untuk meminimalisir kemarahan cowok gue ini. Ya know lha, bot itukan ngambekan, kadang gue nggak ngerti mereka bisa ngambek banget cuma gara-gara masalah yang sepele—buat gue.

“Kamu tuh, payah deh, baru diajak lari sebentar aja udah ngos-ngosan.” Gue gapai tubuh bot gue yang twink itu, lalu gue usap keringatnya dengan bagian bawah kaus tanpa lengan gue. Dia tetap diam aja, mukanya dibuat datar. Sialnya, gue adalah orang yang bego dalam urusan membaca hati seseorang.

“Jangan ngambek dong, San.” Gue usap kepalanya yang basah oleh keringat. Tetapi Sandi tetap diam, malah sekarang dia nggak natap gue sama sekali, dia malah mematut ombak yang geraknya gitu-gitu aja. Ngeselin bangetkan?!

“Aku haus!” seloronya jutek sambil sesekali memandangi kaki kirinya. Gue tersenyum, seenggaknya dia udah mau ngomong sama gue, biasanya kalau bot gue ngambek itu bisa satu sampai dua jam baru deh dia mau ngomong sama gue, itupun harus gue rayu-rayu pakai untaian kata punyanya para pujangga. Tsah!

“Yaudah, pulang ke hotel, yuk,” ajak gue sambil melangkahkan kaki.

Entah di langkah keberapa gue baru sadar kalau Sandi nggak ikut melangkah di belakang gue.

“Katanya haus? Ayo pulang.” Mati-matian gue nahan rasa kesal yang mulai hidup. Gue suka si kalau Sandi manja sama gue, tapi gue juga suka gondok sendiri kalau dia neko-neko.

“Capek tau! Aku tuh udah teriak-teriak dari ujung sana supaya kamu berenti karena kaki aku kena karang! Nih! Berdarahkan? Nggak pekak banget sih kamu!” gue mengerenyit malu. Untuk beberapa saat gue cuma bisa garuk-garuk bagian belakang kepala gue doang.

Gue beranikan diri untuk mengulurkan tangan ke kaki kirinya yang tadi dia angkat, ada luka robek—kalo buat gue, itu luka yang nggak seberapa—di sana. “Sakit, ya?” tanya gue dengan muka serba salah sambil melihat luka—yang nggak seberapa itu.

Gue berjongkok memunggunginya. “Naik, aku gendong,” pinta gue pelan. Nggak lama gue ngerasa beban gue bertambah. Sandi naik di punggung gue, kedua kakinya melingkar di bagian tengah tubuh gue lalu tangannya dikalungkan di leher gue.

“Aku minta maaf ya,” ucap gue sambil mengangkat tubuh Sandi yang sedikit melorot dari gendongan gue. Dia mengangguk di balik punggung gue, pelukannya di tubuh gue pun menggerat. Gue menghela nafas lega sambil melangkah jenjang.

Top, capek nggak? Kalau capek turunin aku aja, aku bisa jalan sendiri kok,” bisik Sandi pelan di telinga gue. Suaranya yang lembut itu seakan-akan beradu merdu dengan deburan ombak.

Gue menggeleng mantap. “Sampai Bogor juga kuat!” seloroh gue sambil tertawa. Harapan gue terkabul, suasana hati cowok gue membaik. Dia tertawa kecil sambil mengeratkan pelukkannya.

Gue angkat lagi tubuh Sandi yang terasa merosot dari gendongan gue, gue tarik nafas dalam-dalam lalu melangkah cepat. Berlari cukup kencang dengan Sandi yang masih berada di punggung gue. Dia tertawa hebat, satu tangannya di angkat ke udara menikmati malam di pantai ini dari atas tubuh gue.

Lari gue melambat, ternyata tadi gue lari sangat jauh dari hotel. Gue udah merasa lelah tapi hotel yang memiliki sembilan lantai itu pun belum kelihatan. Fark banget! Masa sih gue harus bilang sama cowok gue kalau gue capek? Mau ditaro mana penis gue?

Top, berenti!” pinta Sandi mendadak.

“Huh?” respon gue sambil menengok ke arahnya. Dari ekor mata gue, gue melihat Sandi celingukkan seperti mencari seseuatu.

Fuck yeah!

Yang Sandi cari itu bibir gue, dia memagut gue setelah memastikan di sekeliling kami nggak ada orang. Yeah, gue tahu banget cowok gue yang unyu ini. Kebiasaannya yang suka curi cium di sembarang tempat, yang nggak pernah mau berdiri jauh dari gue di mana aja. Yang selalu ngambek kalo gue nyentuh ponsel gue saat berudaan bareng dia.

Bibirnya yang kenyal menyesap lembut bibir gue yang tebal. Yang gue rasain sekarang cuma… sesuatu yang hangat menyelimuti hati gue, menjaga cinta gue untuknya agar kekal selamanya. Itu sebuah harapan.

Gue masih nggak percaya kalau sekarang gue sangat cinta cowok pertama gue ini. Tentu karena dia punya wajah yang unyu-nya kebangetan dan fisik yang sesuai selera gue, banget! Sikapnya yang manja, pendengar yang baik dan ceria.

Padahal, awalnya gue cuma mau main-main sama dia, mau cari fun. Tetapi hati gue berkhianat, mengingkari keinginan gue dan malah membuat gue jatuh cinta sama cowok twink ini.

I love you so much, top,” rapalnya setelah pagutan kami berhenti.

“Aku nggak,” jawab gue dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“Auw!!!” jerit gue saat hidung mancung gue dicubit tanpa ampun. Gue geleng-gelengkan kepala gue agar cubitannya lepas, sialnya itu nggak sama sekali berhasil. Sandi tertawa kejam layaknya Bellatrix Lestrage setelah membunuh Sirius Black, tanpa belas kasih.

“Au nga ica napas, cut!” kata gue sumbang. Tetapi, yang gue dapat hanyalah tawa Sandi kembali.

Sampai akhirnya gue limbung dan ombak menerjang tubuh kami. Gue bener-bener nggak sadar kalau gue bergerak ke arah bibir pantai. Gue buru oksigen banyak-banyak saat kepala gue menyembul, sedangkan Sandi terus tertawa bahagia di pinggir pantai. Tubuhnya rebah nyaman di sana, amat menggoda.

Shit! fucking shit! kalau ini bukan Indonesia, gue udah make out di sini sekarang juga deh!

Sandi menjulurkan lidahnya ke arah gue, membuat wajah tirusnya itu terlihat amat menggemaskan.

Harusnya sekarang gue ada di kamar! Jerit gue dalam hati saat gue ngerasa Devan junior bangkit dari tidurnya.

“Ampun! Ampun! Top, udah, geli! Ampun!” jeritnya geli saat gue terkam tubuh Sandi dan gue kelitiki habis-habisan. Pembalasan yang cukup setimpal, karena memang Sandi paling nggak kuat dikelitikin. Terkahir kali dia gue kelitikin itu saat perayaan enam bulannya jadian kami. Sialnya, Sandi ngambek gara-gara gue ngelitikinnya berlebihan.

Kami berhenti bercanda saat merasa lelah berdigjaya. Tetapi gue masih di posisi gue—berada di atas tubuh Sandi. Ombak kecil membuat basah kembali kaki kami. Bukan hanya itu, ombak kecil tadi seakan-akan mengantarkan perasaan menggebu dalam diri gue yang harus segera disalurkan.

Gue lirik sekitar, tetapi sebelum gue kembali menatap Sandi yang berada di bawah tubuh gue, ke dua tangan kecil Sandi menelusup ke rambut gue, menarik wajah gue mendekat ke kepalanya yang rebah di atas pasir. Nafas kami bertemu dan bibir kami saling memagut. Seolah-olah nggak peduli dengan keadaan.

Pepatah, benar! Kadang cinta memang membuat pemiliknya lupa daratan.

Gue sesap dalam-dalam bibir cowok gue yang selalu terasa manis itu lalu gue lepas perlahan. Gue cium keningnya lalu dia cium pipi gue dan kami rebah bersisian. Membiarkan alam menyaksikan keromantisan kami.

Rebah bersisian dengan sapuan ombak kecil yang sesekali membasahi kaki kami. Menatap bulan yang nggak bulat sempurna namun lebih indah dari bulan purnama. Bersamanya, gue selalu merasa semuanya baik, semuanya istimewa. Sandi selalu membuat gue lupa segalanya, kecuali satu hal! Cinta gue ke dia.

“Kamu punya harapan untuk hubungan ini?” tanya Sandi dengan suara yang mendayu.

Gue mengangguk. Kemudian gue mendengar Sandi bergumam kecil, merapalkan semua harapannya tentang hubungan kami. Bintang berkelip sangat indah di atas sana, seakan-akan langit sangat dekat, keindahannya bisa gue jamah hanya dengan mengulurkan tangan gue. Rasanya, gue bisa sentuh bulan dan petik bintang jika gue mau.

Gue menoleh ke kanan dan mendapati Sandi sedang tersenyum lembut ke gue. Detik itu juga, gue yakin kenangan malam ini tersimpan baik di dalam kepala dan hati gue. Mengendap dan jadi bagian terpenting hidup gue.

Kalaupun nggak, gue berharap kenangan ini akan selalu ada.

***

“Dev?” panggil seseorang. Gue menoleh perlahan, Rian.

“Eh! Ayo Yan, anak-anak udah pada nungguin gue kan?” kata gue seraya bangkit dan menepuk-nepuk bokong gue supaya pasir-pasir yang menempel di denim gue luruh. Kalau bisa, semua kenangan gue bersama… Sandi, juga bisa ikut luruh.

Buat gue, memori lampau yang terlalu membekas itu sangat menyakitkan saat dikenang. Sialnya, lo bisa terkenang masa lampau yang nggak lo miliki lagi sekarang tanpa lo inginkan. Kalau udah begitu, siap-siap deh lo galau kayak gue sekarang.

“Gue masih nggak habis fikir sama lo, Dev.” Rian menahan tubuh gue yang hendak meninggalkannya di pantai ini menuju hotel.

“Gue nggak mau nyamain lo dengan homo lainnya, tapi… apa spesialnya Sandi sih sampai lo bertingkal sedongo ini? Sedangkan para homo yang lain dengan mudah bergonta-ganti pasangan tiap malamnya?” tanya Rian dengan mimik berhati-hati takut gue nggak terima. Tetapi dia sahabat gue, gue pun sahabatnya, gue tahu maksud baik dibalik ucapannya itu.

“Dah ah! Nanti anak-anak nungguin kita lho!” gue merangkul Rian berusaha membuat dia nggak menanyakan hal yang sama sekali gue nggak tahu jawabannya.

“Lo nggak sadar, huh? Dua setengah jam lo di sini setelah lo gue panggil tadi?!”

Shit!” runtuk gue. Namun, mengenang masa-masa gue sama Sandi memang nggak akan pernah bisa selesai, seberapapun waktu yang tersedia.

“Huh? Why you not around?” tanya Rian lagi.

Gue ikut duduk di pelepah nyiur yang Rian duduki, tepat di tempat yang gue duduki tadi.

Gue menerawang jauh ke ujung lautan, mencari jawaban dari pertanyaan yang Rian ajukan. Walaupun gue tahu, gue belum bisa menjawab pertanyaan semacam itu, sampai saat ini!

“Dua tahun, lo begini!” tegas Rian seperti telah jengah dengan kegalauan gue. Mungkin gue nggak pernah ngebuat dia susah dengan kegalauan gue, tetapi dia tetap sahabat gue dan nggak ada satu pun sahabat yang mau ngelihat sahabatnya murung berkepanjangan. Tottaly understood!

Gue menggeleng nggak tahu. “Gue selalu berharap, tiap gue bangun dari tidur gue, gue Amnesia, ngelupain semua tentang dia serta kenangan saat kami bersama. Ngelupain pemikiran bodoh yang gue nggak itu tahu apa, tapi selalu ada di dalam kepala gue. Gue nggak pernah lupa sakitnya saat gue bangun tidur dan Sandi nggak lagi ada di sebelah gue.” Air mata ini meninggi, gue tahu banget kalau menangis adalah hal hina bagi cowok. Tetapi, rasa sakit di dalam hati ini atas kehilangannya memang sepadan dibayar tangisan penyesalan gue.

Sungguh! Gue nggak pernah merasa hina jika mengangis untuk Sandi.

“Lo sama Sandi itu bukan suatu kesalahan, Dev!” ucap Rian sambil menyilangkan kakinya.

“Lo sama Sandi itu sebuah pembelajaran, semua alasan dari… kenapa Sandi ninggalin lo dan milih balik ke mantan bule-nya, itu yang harus lo benahi.” Rian menatap gue, matanya yang tegas itu serasa menusuk hati gue yang rapuh.

Nggak adakah kesempatan gue kembali bersamanya lagi?

“Menurut lo? Dia baca nggak semua e-mail yang gue kirim ke dia?” tanya gue ke Rian.

“Semoga aja, si Jebs nggak seposesiv lo.”

Fuck!

***

“Kamu mau ke mana?” tanya gue dengan nada yang nggak juga gue turunkan. Nafas gue memburu karena termakan emosi.

“Pergi!” jawab Sandi pelan, sebenarnya gue tahu dia sedang menahan diri agar nggak nangis.

“Jangan kayak anak kecil! Kita selesain ini di sini, kamu pergi nggak akan sama sekali nyelesain masalah ini!” timpal gue lagi. Sungguh, gue ingin berhenti memaki, tetapi gue nggak bisa. Gue terus mencecarnya, seakan-akan gue nggak puas dan permintaan maafnya yang dari tadi dia ucapkan.

“Aku salah! Aku udah minta maaf dan kamu masih nggak bisa terima, selalu aku yang salah.” Sandi gue mendesah frustasi, air mata turun dari mata indahnya.

“Memang kamu salah!” jawab gue dengan telak.

Sandi mengangguk, menghapus air matanya dengan tegas. Bibirnya bergetar, sekarang dia membuat gue seolah-olah gue lah orang yang salah, gue benci itu.

“Oke! Kamu dewa dan aku bukan apa-apa. Fine!” teriaknya tertahan. Sandi kembali berbalik, menarik keras ransel besar dari dalam lemari, lalu memporak-porandakan semua baju dan barang-barang miliknya ke atas kasur. Dengan gegabah dia menjejalkan semua yang dia rasa perlu di bawa ke dalam ransel besarnya.

Gue tinggal serumah dengannya, sudah cukup lama. Banyak momen gue dan dia lewati dan alamin di dalam rumah ini. Rumah ini nggak terlalu besar, tetapi sudah sangat cukup untuk menjadi bingkai cinta kami. Walaupun, sekarang gue dan dia sedang berada di dalam masalah.

“Aku nggak akan marah kayak gini kalau kamu nggak kayak gitu!” desis gue sambil menunjuk laptop yang sudah hancur di kaki nakas.

“Aku cuma balas e-mail dari Jebs, apa itu—“

“Jelas salah! Kamu udah punya aku, nggak perlu lagi balik-balik ke masa lalu, apa aku kurang cukup bahagian kamu? Apa perhatian aku ke kamu kurang? Apa aku kurang baik memperlakukan kamu? Kurangku apa San?” cecar gue. Rasa cemburu ini sudah bertahta di tengah hati, mengambil alis emosi yang memang mudah meluap ini.

Sandi mendelik nggak percaya mendengar apa yang baru saja gue omongin. Lagi pula apa yang gue omongin itu benar semua, gue nggak habis pikir kenapa dia bisa e-mailan sama mantannya bulenya yang berasal dari negeri antahberantah itu. Kurangnya gue apa coba?

“Aku cuma silahturahmi, cuma balas e-mailnya dia yang nanyain kabar aku, nggak lebih.”

“Siapa yang berani jamin?” timpal gue lagi. Gue sangat amat merasa tidak aman sekarang.

“AKU!!!” teriak Sandi keras, seolah-olah apa yang dia lakuin itu sangat lumrah dan nggak sama sekali jadi masalah. Gue marah, karena memang gue nggak pernah melakukan hal yang sekarang gue permasalahin. Gue mencintai Sandi dengan segenap hati, cuma ada di dalam sini, dan rasa takut kehilangannya selalu hadir tiap gue ngerasa dia berbeda.

“Sebentar lagi dia akan balik ke Indo-kan? Huh? Dan kamu mau temuin dia kan? Pergi sana! Aku pengin tahu, kamu bahagia apa tersakiti lagi sama dia!” kata gue tanpa kontrol.

Suara resleting yang digeser terdengar jelas, seakan-akan terekam abadi di dalam kepala gue, seperti suara pengantar Sandi yang keluar dari dalam hidup gue. Detik itu juga, gue tahu kalau guelah yang berasalah.

Sandi berdiri tegap di hadapan gue, air matanya terus turun walau berkali-kali dia coba hapus.

“Kalau kamu nanti dapat pacar baru, belajar hargain perasaannya, privasinya, dan harga dirinya. Devan, bye!” desis Sandi sambil meraih ransel besarnya.

Gue bergerak cepat, gue tutup pintu kamar dan gue kunci. Sandi protes dan mencoba merenggut kunci yang berada di dalam kepalan tangan gue. Seraya itu gue melontarkan ribuan kata maaf, dari hati gue yang terdalam.

Setiap orang membuat kesalahan, tiap orang pula berhak dapat pengampunan. Seharusnya.

Gue sangat lega karena Sandi nggak jadi pergi, malam itu dia tidur dalam pelukan gue, walaupun dia nggak mengucapkan satu patah kata pun sehabis dia meletakan ransel yang sudah dia isi barang-barang miliknya.

Namun, kelegaan itu hanya saat gue terpejam. Karena saat gue terjaga… Dia telah pergi dan cintanya untuk gue sudah benar-benar mati.

***

Rian menepuk-nepuk pundak gue, menarik gue kembali dari kenangan pahit atas kebodohan gue sendiri.

Dicintainya itu sebuah keistimewaan tersendiri buat gue, membiarkan dia pergi adalah tindakan paling bodoh seantero bumi, mengubur cinta dan kenangan tentangnya adalah hal yang nggak akan pernah mungkin terjadi. Kecuali, gue amnesia.

“Kalau lo udah selesai di sini, cepat balik ke kamar hotel. Kita-kita nyisain makanan kok buat lo.” Rian berdiri, menepuk-nepuk pundak gue lagi. Gue hanya mengangguk tanpa menatapnya.

Rian menatap gue dalam-dalam. “Jangan terus nulisin namanya di atas hati lo. Sudah terlalu jelas dan membekas, semua orang bisa lihat itu. Udah saatnya lo berdamai denga hati lo. Jangan ulangin lagi kesalahan lo. Cuma lo yang tahu salah lo itu apa.”

“Semua orang pernah melakukan kesalahan. Semua orang pula berhak mendapatkan pengampunan. Tapi, bukan berarti semua orang bisa kembali ke waktu lampau dan memperbaiki kesalahannya.” Rian bergerak pergi. Ada kekosongan yang benar-benar menyakiti hati.

Nggak ada lagi yang bisa gue katakan. Nggak ada lagi yang bisa gue harapkan. Hubungan gue dan Sandi udah berakhir, mungkin benar kata orang-orang.

Sandi dan gue, hanyalah kenangan, bukan masa depan.

Gue sangat menyesal pernah memperlakukannya dengan amat buruk. Seberapapun seringnya gue menegaskan kepada dunia bahwa gue benar-benar mencintainya. Karena cinta membutuhkan pembuktian, tindakan, bukan omongan. Gue bodoh telah menyia-nyiakannya. Dan kini penyesalan datang, menghujam gue tanpa ampun. Ini memang balasan yang setimpal.

Selamat tinggal kenangan.

Overcast Day (1)

DIS_

Chapter 1

Meet Myself

 

 

 

 

Kalau mau ditanya siapa itu Revie? Aku akan menjawabnya dengan lugas dan panjang.

Revie adalah sahabatku dari kecil. Sahabatku semenjak aku berumur lima tahun. Dia adalah anak kecil dengan senyuman paling sempurna yang pernah kulihat. Wajahnya persolen, matanya lebar, hidungnya sesuai dengan bentuk wajahnya, keningnya selalu berkerut ketika bicara, membuat wajahnya makin lucu dan tampan. Rambutnya hitam sempurna, tidak ada warna cokelat sedikitpun. Dan dia tidak pernah mencoba untuk mewarnai rambutnya seperti yang kakaknya lakukan. Dia lugu, polos dan selalu tersenyum walaupun sedang susah. Tingkahnya sederhana dan perkataannya halus serta sopan. Dia mirip sekali seperti malaikat versi manusia dan tanpa sayap.

Revie. Menyebut namanya saja selalu membuatku merinding karena mendambanya. Aku tidak tahu apa yang merasukiku, tetapi aku sudah sangat jatuh cinta pada Revie ketika kami baru bertemu beberapa jam. Revie itu bisa membuat semua orang jatuh cinta padanya. Dia terlalu sia-sia jika tidak di jatuh cintai. Semua orang akan terkagum jika melihat wajahnya, semua orang akan berhenti bernapas jika melihat senyumannya, dan semua orang akan kelu lidahnya jika berbicara dengan Revie.

Aku masih ingat pertemuan pertama kali kami waktu itu.

Setiap pagi aku selalu bermain sendirian di depan rumah. Main Yo-Yo, main robot-robotan, main gasing dan lainnya. Tidak kusengaja, gasing yang kumainkan terlempar sampai ke depan gerbang rumah, dan ketika aku mau mengambilnya, aku melihat seorang anak laki-laki di depan gerbang rumah Pak Prakoso. Dia sedang memainkan kerikil-kerikil kecil. Wajahnya tersenyum, sinaran matahari pagi seakan-akan gembira bisa menari di atas wajahnya. Aku tertegun di tempatku, gasing yang tadi ingin kuambil terlupakan begitu saja.

Tanpa sadar aku sudah melangkahkan kakiku. Kedua robot yang kupegang di kedua tanganku ikut gemetar seperti kakiku saat ini. Langkahku yang pendek dan menghentak membuatnya mendongak dari kerikil-kerikil yang sedang dimainkannya. Tiba-tiba, senyumannya yang dikulum, berubah lebar ketika melihatku. Jantungku tiba-tiba rusak, seperti ada yang memompanya lebih cepat dari biasanya.

“La… lagi nga… ngapain?” tanyaku sedikit terbata.

Tangannya yang kecil menunjuk kerikil-kerikil itu. “Lagi main mobil-mobilan,” katanya ceria. “Ibu nggak bisa beliin aku mobil benelan. Makanya aku mainnnya pakek ini.” Aku terkejut dan ingin—hampir—tertawa secara bersamaan. Aku terkejut karena dia memainkan kerikil itu sebagai imajinasi mobil-mobilannya. Sedangkan aku ingin tertawa karena dia cadel. Dia sangat kaku mengucapkan huruf R. Yang seharusnya ‘beneran’ menjadi ‘benelan’.

“Kamu sendirian aja?” tanyaku, sekarang aku bisa agak santai di dekatnya. “Mana Ibumu?”

“Iya, aku sendilian,” ujarnya. “Ibu lagi kelja di dalem. Nyonya Plakoso nelima Ibu jadi pembantunya kemalin.”

Aku duduk di sebelahnya. Wajahku mengerut ketika dia menggeser-geserkan kerikil itu, dia benar-benar menganggapnya seperti mobil-mobilan. Aku terenyuh melihat ini, kemudian, “Ini buat kamu,” kataku sembari menyodorkan robot-robotan yang ada di tangan kananku untuknya. Sebenarnya aku sangat mencintai robot Power Rangers ku itu. Tetapi kalau itu untuk dia sepertinya tidak apa-apa.

Matanya yang lebar terbelalak kaget. “Buat…” dia menunjuk dirinya sendiri. Aku mengangguk absolut. “Makasih,” ucapnya dengan mata yang dihiasi baluran air yang hampir menetes, yang malah membuat wajahnya seperti mengeluarkan mutiara. Dia benar-benar sosok malaikat dalam balutan tubuh manusia.

“Sama-sama,” kataku, memasang senyum segagah mungkin. Dia lalu membalas senyumanku dengan berhiaskan gigi yang ompong. Dia mengangkat robot yang kuberikan padanya tinggi-tinggi di udara, dia menggoyang-goyangkannya. Seperti mengajak robot itu untuk terbang. “Nama robot itu Goggle V.” Aku memberitahunya, tanganku yang panjang menunjuk robot yang dia angkat tersebut. “Kalo yang ini namanya Rangers Saia.” Aku ikut mengangkat robotku ke udara.

Dia kembali memamerkan giginya yang ompong padaku. “Hiath!” serunya sambil menabrak robotku dengan robotnya pelan-pelan. Dia tertawa ketika mendapati aku terkejut, tak ingin kalah aku juga menyerang robotnya. Sepanjang pagi, yang kami lakukan adalah bermain bersama. Main gasing, main Yo-Yo, main kelereng, main petak-umpet berdua, main benteng-bentengan, main kartu Yu-Gi-Oh dan permainan seru lainnya. “Nama aku Levie,” dia menjulurkan tangannya, setelah enam jam kami bermain bersama baru sekarang dia memperkenalkan namanya. “Bukan L tapi L.” Aku tertawa, namun aku mengerti. Yang dia maksud adalah: bukan L tapi R. Jadi namanya adalah:

“Revie,” rapalku. Dan dia mengangguk. “Aku And.” Kusambut tangannya yang kecil. Kami berjabatan tangan lama. Kemudian saling melepaskan ketika Revie ingin bermain PS 1 ku di dalam rumah.

***

Sore harinya kami pergi ke depan komplek. Ingin membeli es krim yang sering berjualan disana. Mamaku tadi memberikan kami uang. Lalu dia menyuruhku dan Revie untuk pergi beli es krim. Mamaku senang karena aku bisa mempunyai teman. Biasanya aku akan sendirian, atau paling tidak main dengan kakakku yang cowok. Tapi sekarang umurnya sudah sembilan tahun, jadi dia tidak mau main denganku lagi. Yang masih berumur lima tahun. Alasan yang lain juga karena aku sering marah-marah padanya kalau aku kalah.

Tapi bersama Revie tidak. Meskipun aku kalah dalam permainan Gasing tadi, aku tidak mencak-mencak seperti biasanya. Ketika dia mengalahkanku telak di permainan Street Fighter—padahal aku sudah memakai karakter anadalanku, Ryu, dan Revie menggunakan karakter Chun-Li, bisa-bisanya Ryu-ku kalah dari cewek China sialan itu—aku juga tetap tidak marah atau langsung membanting stick PS seperti biasanya. Kalau dengan Revie… berbeda. Dia bisa menenggelamkan amarahku.

“Es klimnya abis,” ucap Revie datar. Mangkuk es krimnya sudah kosong melompong. Wajahnya penuh dengan usapan krim cair. Membuatnya makin lugu dan rupawan.

“Mau lagi?” tawarku, sembari menyodorkan es krimku.

Kupikir dia akan mengatakan: ‘tidak usah’ seperti anak sok polos lainnya, namun Revie beda. Wajahnya langsung cemerlang, bibirnya tersenyum lebar, tangannya yang kecil meraih mangkuk es krimku. “Makasih,” katanya dengan mulut penuh es krim.

Aku tertawa sendu. “Iya sama-sama.” Kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang. Badan Revie yang mungil mengikutiku dari belakang, tangannya masih sibuk mencolek es krim yang sudah habis. Wajahnya mengernyit saat dia sadar kalau es krimnya memang sudah tak bersisa sama sekali. “Habis ya?” tanyaku kemudian.

Dia mengangguk-anggukan kepalanya cepat. “Habis,” ujarnya. Dia menumpuk dua mangkuk es krim itu menjadi satu. Lalu dia berjalan cepat menuju ke tong sampah yang ada di taman komplek ini. Setelah dia memasukkan kedua mangkuk itu ke dalam tong sampah tersebut, dia berbalik pelan ke arahku. “Kata Ibu kita halus jaga kebelsihan.” Aku tergelak pelan, menatap wajah polosnya yang berumur lima tahun sepertiku. Sayangnya, badanku lebih besar darinya.

Ketika dia baru saja ingin berjalan menuju ke arahku, salakkan anjing terdengar nyaring. Dia langsung terhentak dari tempatnya berdiri. Wajahnya tertekuk ngeri, kakinya gemetaran, dan bibirnya menegang. Seketika itu juga aku tahu, dia takut dengan bunyi salakkan itu. Cepat-cepat aku berjalan menghampiri Revie yang sedang berdiri kaku. Kurangkul pundaknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiriku memegang tangannya. Hembusan nafas Revie yang patah-patah menerpa wajahku.

“Atut,” lirihnya. Tangannya yang kecil menggenggam erat tanganku.

Seekor anjing terrier datang menghampiri kami. Salakkannya sangat kencang, moncongnya mencuat jahat, mulut panjangnya menyeringai, menunjukkan deretan gigi yang tajam. “Hush!” Aku mengusir anjing itu dengan takut-takut. Dan aku makin takut ketika anjing itu kembali menyalak. Revie langsung menaruh kepalanya di pundakku. “Pergi!” pekikku pada anjing itu. Namun tetap saja, anjing itu tidak bergeming sama sekali.

Sampai akhirnya. “Debbo,” seru seseorang, suaranya yang panjang memenuhi suasana sore ini. “Jangan ganggu!” Telinga anjing terrier itu berkedut, kemudian dia menghampiri sang suara. Salakkan anjing itu juga akhirnya sudah menghilang, membuat Revie menggadahkan kepalanya dari pundakku dengan takut-takut.

Akhirnya aku mengetahui siapa si empunya suara. Wajahnya hanya lebih tua setahun dariku. Dan dia adalah tetanggaku. Orangnya dingin, jarang tersenyum dan sinis. Bagas Prakoso. “Makasih,” seru Revie tiba-tiba, dengan wajah sumringah. Matanya yang bulat menyipit, bibirnya dipoles senyuman. Seakan-akan dia benar-benar berterima kasih dengan sangat-sangat tulus.

Bagas hanya menatap sebentar ke arah Revie. Alisnya yang berbentuk seperti musuh besarnya Power Rangers naik sebelah. Dia membuang pandangan dengan dengusan. Kemudian dia membawa anjing sialannya menjauh dari kami. Namun senyuman Revie dan wajah tergugahnya belum juga hilang. Seperti dia masih berharap penyelamat kami masih ada disini untuk menemani.

“Ayo, pulang!” ajakku cepat. Dengan hati-hati aku ingin melepaskan genggaman tangan kami, namun Revie malah mempereratnya.

“Aku nggak mau lepasin tangannya And,” serunya. Aku suka ketika dia memanggil namaku. Orang-orang biasanya memanggilku dengan sebutan ‘En’ sedangkan Revie memanggilku dengan sebutan ‘An’. Dia memberikanku nama panggilan lain dari yang lain. “Pokoknya aku nggak bakalan mau lepasin tangannya And. And halus ada disampingku telus. Levie nggak mau And lepasin tangan kita. Aku mau And selalu pegang tanganku.” Sesaat pandangan kami bertemu, pada detik itulah aku jatuh cinta padanya.

***

“Cerita yang lain aja Ma,” kataku, ketika Mamaku ingin membacakan kami dongeng Cinderella. Sudah tiga minggu ini aku dan Revie berteman, atau yang lebih tepatnya bersahabat. Malam ini dia menginap di rumahku, dan Mamaku sangat senang akan hal ini. Dari dulu dia ingin sekali aku punya adik. Paskah keguguran Mama beberapa bulan yang lalu akhirnya terobati ketika dia melihat Revie. Seketika itu pula Mamaku langsung jatuh hati pada Revie. Tapi memangnya siapa sih yang tidak akan terjerumus hal tersebut. Revie itu… bagaikan poros bumi. Menarik segala sesuatu yang ada di dunia.

“Yang mana? Pirates And Seven Seas?” kata Mamaku sambil memberikan Revie beberapa buku dongeng. “Atau Peterpan?” Mamaku mengacungkan buku bergambar cowok menggunakan baju hijau pekat tersebut ke hadapanku dan Revie. Sekali lagi, aku menggeleng bersamaan dengan Revie. “Terus yang mana?” kata Mamaku, suaranya agak frustasi, namun dia tersenyum ke-ibuan.

“Yang ini,” seru Revie tiba-tiba. Aku melongok dan terbelalak kaget ketika Revie menunjuk buku Snow White and the Seven Dwarfs. Itu sih sama saja seperti Cinderella. Sama-sama buku perempuan. Tetapi, apa boleh buat, aku selalu setuju kalau Revie yang menginginkannya. “Gambalnya bagus, ceweknya dicium.” Mamaku tergelak pelan. Sampul buku itu memang memasang gambar Snow White yang dicium si Pangeran.

“Kalau begitu yang ini ya,” kata Mamaku. Mulai membacakan dongeng tersebut dengan nada sangat halus. Benar-benar mirip seperti pendongeng. Revie memasang wajah tergugah, senyumannya mengembang. Namun wajahnya mengernyit ketika mendengar bagian Snow White yang dijahati oleh Ibu Tirinya. Dia memasang wajah kernyitan kasihan. Namun lambat-laun wajahnya berubah ceria ketika mendengar akhirnya, ketika mendengar Snow White dicium oleh pangeran berkuda putih, dan Snow sialan itu akhirnya bangun dari kematiannya. Pasti itu alasan Snow White saja, pura-pura mati agar dicium oleh pangeran. Ih, pangerannya juga genit, nyium sembarangan.

“Celitanya bagus!” seru Revie sembari menggenggam tanganku erat-erat. “Pasti Snow sama pangelan lagi hidup bahagia di kastil mereka sekarang. Snow sama pangelan itu tinggal dimana ya Ma?” tanyanya pada Mamaku. Yah, Mamaku memang menyuruh Revie untuk memanggilnya Mama.

“Itu bohongan,” sahutku. “Nggak beneran.” Memangnya, seberapa polos sih kamu Rev? Aku membantin kalimat tersebut.

“Tapi kalian bisa buat itu beneran,” kata Mamaku. “Hidup bahagia, itu pasti akan ada.” Mamaku tersenyum lebar ke arah Revie dan padaku.

Revie menyengir lebar. Giginya yang ompong menghiasi raut wajah terkagum-kagumnya. “Nanti kalau kita sudah besal kayak Snow dan pangelan, aku mau And yang jadi pangelanku ya,” serunya dengan nada antusias. Tiba-tiba wajahku bersemu merah, jantungku berdegup kencang. Sedangkan Mamaku hanya tergelak lembayung. “Pokoknya aku mau And yang jadi pangelanku, nggak mau yang lain.”

Wajahku makin bersemu merah, gelakkan Mamaku makin mengeras. “Aduh, Revie ini,” kata Mamaku, dia mengusap rambut Revie yang selembut satin. “Sudah ah. Sekarang waktunya tidur.” Revie mengangguk sembari tersenyum, sedangkan aku masih dengan rasa malu karena berdebar kencang. Pikiranku masih bergelanyut di: aku menjadi pangeran untuk Revie. Oh, gosh! “Selamat malam sayang,” ujar Momku sambil mengecup keningku dan Revie secara bergantian. Setelah Mamaku mematikan lampu, Revie menaruh kepalanya di dadaku. Dia tidur disana.

“Jantung And bunyinya besal banget. Aku suka dengelnya,” katanya lugu. Sedangkan aku panas-dingin menahan kegelisahanku. “Aku mau tidul di dadanya And ya. Bolehkan?”

Aku mengangkat tanganku dan mengusap pucuk kepalanya. “Bo… boleh.”

***

Setiap kami kemana-mana, tanganku dan tangan Revie akan selalu terpaut, dia tidak pernah ingin melepaskannya. Pagi hari kami bermain di perkarangan rumahku, siang hari kami berenang di belakang rumahku, sore hari kami jalan-jalan di sekitar komplek, malamnya dia pulang ke rumahnya. Namun, dari hal itu semua, tidak lupa kami untuk saling bergenggaman tangan. Kami… tidak terpisahkan.

Tetapi itu semua berubah ketika kami berumur sebelas tahun. Semua orang heran melihat kami yang kemana-mana selalu bergandengan tangan, Revie malu di cap sebagai anak penakut karena selalu menguntit di belakang tubuhku. Akhirnya, setelah lima hari ulang tahunnya, dia memberitahuku untuk tidak akan menggenggam tanganku lagi. Hanya saja, sebagai penggantinya, dia selalu memegang ujung kaos seragam atau bajuku.

Ketika kami SMP, dan pada Masa Orientasi Siswa, Revie pernah diganggu oleh kakak kelas. Semua orang yang melihatnya langsung terpana, dan menyuruhnya ini-itu, namun dengan nada menggoda dan mengelus-elus. Aku cemburu, aku marah. Setiap kali ada yang sok bermanis pada Revie, aku sangat marah. Aku tipikal orang yang pemarah, namun makin marah kalau Snow-ku digoda dan digelayuti orang lain.

Maka dari itu, setelah aku resmi menjadi anak SMP, aku memutuskan untuk ikut ekstrakurikuler Karate. Supaya aku bisa menghancurkan dan meninju wajah orang-orang yang mau mendekati Snow-ku. Pokoknya, aku pangerannya. Tidak boleh ada yang lain.

Pada kenaikkan kelas dua, cadel Revie menghilang. Nada suaranya melembut dan ditemani dengan serak-serak basah. Makin menggoda beratus-ratus orang yang ada di SMP brengsek ini. Dia sangat sering tertawa, menyapa setiap orang yang tersenyum padanya. Selalu berbaik hati untuk menolong orang lain walaupun dia tidak dibutuhkan. Revie menjadi sangat populer, namun tetap, dia masih selalu mengekor di belakangku sambil menarik bajuku.

Pada hari Valentine saat kami kelas tiga SMP, Revie mendapatkan seluruh coklat dari penghuni sekolah ini. Aku dan Revie sampai-sampai harus menyuruh supir Papa untuk mengangkut coklat-coklat itu. Setelah coklat itu ada di rumahku, dia membagikan beberapa kepada keluarganya, lalu kepadaku, kemudian ke Dan—kakak laki-lakiku. Setelah itu dia menyelipkan coklat paling istimewa di kolong pintu kamar Bagas Prakoso bangsat itu. Setiap kali Revie melihat Bagas, dia selalu salah tingkah. Dan aku mengerti, sekarang Revie menginginkan sosok pangerannya adalah Bagas, bukan aku. Tetapi aku bukan orang yang suka menyerah, akan kudapatkan Snow-ku lagi bagaimanapun caranya.

Setelah coklat-coklat itu dibagikan, masih banyak coklat yang tersisa. Tetapi aku terkejut ketika mengetahui coklat itu habis dalam waktu empat belas jam, dengan Revie sendiri yang menghabiskannya. Aku tahu Revie memang rakus dan suka makan, tetapi ini… Tuhan! Aku benar-benar ternganga kagum.

“Lo makan semua coklatnya?” tanyaku masih tidak percaya.

Revie mengangguk polos. “Ini masih sisa satu,” katanya, sambil menyodorkankan sekotak coklat Cadburry. “Kamu mau?”

“Nggak ah,” kataku cepat. Aku tidak hobi makan coklat. Membuatku mual-mual.

Cengiran khas Revie menyeruak muncul di bibirnya. “Ya udah,” ujarnya, dia membuka plastik pembungkus coklat itu lalu memakannya dengan sangat lahap. Bahkan, setelah memakan puluhan atau malah ratusan coklat, dia masih kuat makan yang satu itu? Benar-benar unbelievable. Hanya saja, ketika dia mengunyah, wajahnya mengembung dengan begitu imut. Benar-benar membuatku mendamba dirinya.

***

Sebenanya aku ingin mendaftar di SMA Negeri Tuna Bangsa atau SMA Negeri Jayakarta. Tetapi, karena Revie mendapatkan beasiswa di Dominiquert International School—yang dikenal dengan sekolah-sekolah anak-anak sombong dan borjuis—aku juga terpaksa dan harus ikut bersamanya. DIS itu sekolah yang benar-benar megah dan besar. Tinggi dan luas. Dan jangan lupakan panjang. Sekolah itu sudah mirip seperti rumus matematika. Panjang kali lebar, tinggi kali luas. Dan itu benar adanya.

Revie mengekor di belakangku saat kami—atau yang lebih tepatnya aku—ingin mendaftar. Revie sudah diterima di sekolah Internasional ini. Jadi hanya tinggal aku yang mencoba peruntungan. Revie menunggu di aula saat aku melakukan tes pengetahuan dan interview dalam bahasa Inggris, sudah seperti mau melamar bekerja saja. Oh, iya, jangan lupakan juga saat salah satu staff sekolah ini bertanya berapa gaji Papa dan Mamaku, dan aku diwajibkan menjawabnya dengan jujur. Pasti ini ada hubungannya dengan kekayaan. Dimana-mana sekolah Internasional seperti itu. Kalaupun ada orang yang sederhana, itu pasti otaknya yang dicari. Seperti Revie. Agar sekolah ini tetap dipandang baik dalam artian munafik.

“Gimana tesnya?” tanya Revie saat aku sudah keluar dari ruangan.

“Susah,” ujarku cepat. Aku menekankan kedua jariku di pelipis mataku, mencoba menghilangkan lelah yang menggerayangin kepalaku. “Apalagi soal Matematika. Itu sebenernya soal apa rumus untuk buat seseorang stress sih?”

Revie tertawa renyah, mengundang beberapa mata yang tadi menatapnya makin tercengang karena terpana. “Berlebihan ah,” katanya lembut. “Ayo, kita ke kantin beli minum. Sambil nunggu pengumuman selanjutnya.” Revie menarik ujung kaosku pelan. “Tapi kamu yang traktir ya. Aku nggak punya uang.”

Setelah empat jam aku menahan senyumku, baru sekaranglah senyuman itu keluar. “Dasar,” kataku sembari mengusap rambutnya.

Revie memang bukan orang kaya, dia sangat miskin. Ayahnya hanyalah seorang buruh, hanya bekerja ketika ada proyek. Sedangkan Ibunya pembantu di rumah Bu Prakoso sampai sekarang. Kakak laki-laki Revie—yang wajahnya juga sangat tampan, tapi tidak setampan Revie—hanyalah seorang preman pasar muda. Namanya Raffi, orangnya urakkan, nakal dan mengerikan. Tetapi dia sangat peduli dengan keluarganya. Revie mempunyai enam adik. Dia delapan bersaudara, benar-benar keluarga yang besar, heh!? Dan dari semua keluarganya itu, mereka semua mempunyai wajah yang tampan dan cantik-cantik.

Adik ketiga Revie perempuan, namanya Ravina. Masih kelas dua SMP sekarang. Dia bisa sekolah karena dapat beasiswa. Adik Revie yang ke-empat perempuan, namanya Ravilia. Masih kelas enam SD. Dia bersekolah karena beasiswa juga. Adik Revie yang kelima seorang laki-laki, wajahnya benar-benar imut, namanya Revin. Kelas empat SD. Adik Revie yang ke-enam dan ketujuh—mereka kembar cewek-cewek—namanya Rita-Rati. Kelas dua SD. Sedangkan yang paling kecil masih berumur empat tahun, namanya Revandi. Uh, semua nama keluarganya berawalan huruf R. Ayah dan Ibu Revie juga. Nama mereka Rifky dan Riri. Benar-benar keluarga yang besar. Hanya saja, walaupun mereka keluarga yang besar, saudara-saudara Revie pintar-pintar semua. Kecuali Raffi dan Revandi, tentu saja.

Sedangkan aku, hanya mempunyai satu saudara. Adikku meninggal saat di kandungan. Sedangkan kakakku, si Dan menjengkelkan itu, sekarang kuliah di Queensland, Australia. Mengambil jurusan entah apa. Setiap kali dia pulang liburan ke Indonesia, dia pasti menggoda Revie. Menepuk bokong Revie, mencium pipi Revie, ck, benar-benar membuatku cemburu. Dan Revie, hanya diam saja dibegitukan. Dasar Snow White kegatelan. Pas kutanya, Revie hanya menjawab.

“Kak Dan lucu sih, suka deh pas dicium pipiku sama dia.”

Gosh! Dan! Lucu! Damn tralala-trilili. Muka Dan itu kayak sikat kloset, apalagi hidung Dan yang kelewat mancung, sudah seperti perosotan yang ada di TK ku dulu. Tapi aku tidak perlu cemburu, karena Revie hanya menganggap Dan kakak. Revie sadar kalau itu hanya candaan saja. Banyak cowok yang memang suka menggodanya, memegang wajahnya, mentoel dagunya, mengecup keningnya dengan kurang ajar. Pokoknya Revie seperti poros bumi—sepertinya aku pernah bilang.

“Pop Ice coklat satu sama Pop Ice vanilla blue satu,” kata Revie memesan minuman kami. Tidak lebih dari tujuh menit, minuman kami sudah jadi. Revie menyodorkanku Pop Ice coklat kepadaku, sedangkan dia Pop Ice vanilla blue. Revie itu suka dan sangat holic dengan warna biru, jadi dia suka mengendapkan warna biru di dalam tubuhnya.

Ketika aku baru saja berbalik, aku tidak sengaja—atau dia tidak sengaja menabrakku. Sehingga Pop Ice yang ada di tanganku tumpah di bajunya. “Shit!” serunya kencang. Suaranya bergetar karena jengkel.

Dia mendongakkan kepalanya kepadaku, dan aku juga menggadah untuk melihatnya. Pertama kali yang kulihat di dirinya adalah sudut bibirnya yang lancip dan tegas. “Sorry,” ujarku kemudian, masih sambil menatap sudut bibirnya. Aku penasaran, apakah rasanya enak saat aku menjilat sudut bibirnya itu dengan lidahku.

WOAH!!! Apa yang kupikirkan tadi? Gosh! Menjijikan. “Brengsek!” gerutunya padaku dengan penuh kebencian.

Kupindahkan tatapanku ke wajahnya. Rautnya tirus, tegas dan sedikit agak tajam. Tingginya hanya sebatas mataku. “Lo manggil gue apa?” tanyaku, kemarahanku mulai tersulut. Seperti api yang disulut bensin.

“Brengsek!” desisnya, tanpa memandangku, tetapi nada liciknya tertuju padaku.

“Lo…” kataku sembari mengangkat tanganku, gatal ingin meninjunya. Dan hebatnya lagi, dia tidak bergeming sama sekali. Hanya berdiri disana dengan gagah berani dan siap menerima terkamanku. Aku salut dengan keberaniannya.

“And,” tegur Revie dari belakangku. “Nggak usah pakek kekerasan. Ngomongin baik-baik aja.” Revie menurunkan tanganku, amarahku sirna seketika. Lagi pula, entah kenapa aku tidak sanggup ingin memukulnya. “Maaf ya,” kata Revie pada cowok yang masih diam di tempatnya berdiri. Matanya yang lebih lebar dari mata Revie menyipit. Aku terkejut ketika tidak mendapati tatapan tercengang cowok itu ke Revie. Biasanya cowok atau cewek yang disapa Revie akan tercengang dan terpesona. Tetapi cowok ini beda, seperti Bagas Prakoso bangsat itu.

“Ya,” katanya datar. Saat mata kami bertemu, dia cepat-cepat membuang wajahnya, begitu pula aku. Dari sorotannya, ada sesuatu yang menarikku. Entah apa, dia seperti… magnet bagiku. Dan aku adalah besinya.

Anjing! Aku ngomong apaan sih!

Cowok itu kemudian berlalu. Revie menuntunku ke meja kantin yang super-duper panjang. dia mengelus-ngelus punggungku, kebiasaannya untuk menghilangkan kemarahanku. “Serem amat sih, baru masuk kesini aja kamu udah mau nyari musuh.” Revie berkata sambil menyedot Pop Ice nya.

“Dia duluan sih. Manggil-manggil gue brengsek.” Aku menggerutu tidak jelas.

“Iya, iya, sabar-sabar.”

Kemudian, kemarahanku sirna. Bukan karena usapan dari Revie, tapi karena secara tiba-tiba perasaan itu menghilang sendiri. Aku juga bingung, biasanya aku marah akan sangat lama bisa disembuhkan oleh Revie. Sekitar lima belas menit atau dua puluh menit. Tapi ini, beberapa menit saja sudah menghilang. Cowok tadi… tidak bisa membuatku marah lama padanya. Dan sekarang aku bertanya pada diriku sendiri: kenapa bisa begitu?

***

MOS SMP sangat menyebalkan. MOS yang ini lebih menyebalkan lagi. Kami disuruh mencari koin yang disembunyikan di setiap sudut sekolah maha besar ini. Aku sudah kewalahan dari tadi karena tidak menemukannya. Sedangkan waktunya sisa beberapa menit lagi. Jika kami tidak menemukannya, kami disuruh memakai baju hula-hula ala penari Hawai, lengkap dengan batok kelapa sebagai BH nya. Dan… aku tidak mau melakukan hal memalukan tersebut di depan banyak orang.

Revie dijaga oleh senior-senior. Dia diperlakukan dengan begitu lembut. Dia tidak diizinkan melakukan apapun. Aku akan sangat senang jika menjadi Revie. Dia benar-benar beruntung. Tapi pas aku tanya padanya saat kami istirahat, dia bilang dia tidak suka diperlakukan begitu. Dia mau seru-seruan dengan yang lain. Dia benci diperlakukan istimewa. Sayangnya, sebesar apapun dia mencoba untuk ikutan bersama kami, dia tidak akan bisa. Semua senior cewek dan cowok itu menahannya. Kecuali Bagas Prakoso bangsat itu. Revie sangat senang—walaupun dia menyembunyikannya—saat tahu kalau Bagas juga bersekolah disini. Serta menjadi salah satu kakak senior kami. Ck!

Tapi lupakan itu dulu, sekarang kita harus fokus ke koin brengsek yang harus kucari. Namun tetap saja tidak ketemu. Karena sudah kewalahan, aku masuk ke dalam kelas ber-AC tiga yang menjorok ke arah tangga yang menuju ke lantai empat.

Aku merilekskan kakiku, memijat-mijatnya pelan. Menahan rasa pegal yang sudah menyinggahi lututku. MOS brengsek ini masih berlangsung dua hari lagi, dan selama itu aku akan terus tersiksa. Bukan karena disuruh-suruh yang tidak jelas. Tapi tersiksa karena melihat Revie yang dipeluk-peluk oleh senior-senior bajingan itu semua. Fark!

Kugadahkan kepalaku, untuk menghilangkan rasa marah dan lelah. Dan pada saat itu juga aku melihat sekeping koin yang berkilauan di dekat jendela kelas ini. Hatiku langsung melambung senang karena melihat koin itu. Aku cepat-cepat berdiri, lalu kujulurkan tanganku untuk mengambil koin tersebut. Dan pada saat tanganku menyetuh koin jahanam itu, ada tangan seseorang juga yang meraihnya.

Kupalingkan wajahku, lalu mendapati wajah cowok yang kemarin. Cowok yang memanggilku brengsek. Aku tidak mungkin melupakan wajahnya yang pas-passan dan tirus itu. “Lepasin!” desisku. “Gue duluan yang liat koin ini!”

Dia mendengus kasar. Wajahnya tidak menengadah ke arahku. Hanya terus terpaku pada koin yang kini sama-sama kami pegang. “Gue udah ngeliat koin ini sejak dari pas di tangga tadi.” Dia mendesis dengan penuh kebencian. Nada suaranya bergetar di dekatku, menahan emosi. Aku bisa merasakan kebenciannya padaku.

I’m sorry lewd!” seruku berang, namun tidak berteriak. “Gue udah ngeliat koin ini bahkan semenjak gue belum lahir.”

Lagi-lagi dia mendengus. “Gue udah ngeliat koin ini pas gue lagi sama Tuhan di Surga.”

Kemudian aksi saling dorong-doronganpun terjadi. Dia menjambak rambutku, aku menahan kepalanya. Dia menginjak kakiku, aku menggelitiki pingganya. Sampai akhirnya kami sama-sama terjatuh ke lantai dan terkurung di kolong meja. Dengan posisi aku yang berada di atasnya. Damn tralala-trilili, ini benar-benar menjengkelkan.

Karena badan kami terjepit, jadi kami tidak bisa bergerak sama sekali. Koin yang tadi kami rebutkan berada di gengaman tangan kami berdua. Dan hal ini sukses membuat nafasku memburu cepat. Kugelengkan kepalaku untuk mengusir rasa gusar. Lalu aku menatapnya. Aku terkejut ketika dia sedang menatapku. Tatapannya pertamanya berupa kebingungan. Berubah ke aneh lalu berubah ke tatapan kebencian kesumat. Di saat itu juga aku memasang tatapan yang sama. Dia pikir aku tidak akan membencinya juga.

Matanya yang lebar menyipit, membuat rongga paru-paruku menjadi sempit. Gosh! Dia menyetrum hatiku. Hangat tubuhnya mengaliri hangat tubuhku. Saat bibirnya terkuak, sudut bibirnya terangkat dengan begitu menggoda. Membuatku penasaran dengan rasa sudut bibirnya itu. Aku bahkan tidak pernah merasa sudut bibir Revie akan seindah cowok yang ada di bawahku ini.

Tetapi pikiranku buyar saat dia membenturkan kepalaku di alas meja. Ketika aku mengerang karena kesakitan, dia langsung meloloskan dirinya dengan berbagai cara. Dengan kepala yang masih pusing, aku mengejarnya dengan penuh kebencian dan kemarahan. Sumpah, rasanya benar-benar sakit.

Aku menarik kerah bajunya, membuatnya tersedak dengan sempurna. “Sakit Njing!” kataku dengan nada semarah mungkin. Meskipun aku tidak benar-benar merasakan kemarahan.

Dia kembali menginjak kakiku. Tanpa sadar aku melepaskan kerah bajunya. “Mampus lo Nyet!” Dia berteriak masih dengan nada yang sama. Nada penuh kebencian kesumat.

Saat dia berlari menuju ke pintu kelas, aku langsung mengejarnya. Walaupun kepalaku pusing dan kakiku nyeri karena perbuatannya, aku harus membuatnya sakit juga. Dia pikir aku tipe orang yang mudah menyerah. SALAH! Aku tidak akan menyerah sampai aku benar-benar puas.

Baru saja dia ingin keluar dari kelas, aku langsung menjerat lehernya dengan tanganku. Dan hebatnya, dia bisa meloloskan diri. Cepat-cepat aku memasang kuda-kuda, kemudian dia juga melakukan hal yang sama. Berarti dia bisa karate juga sepertiku. Atau mungkin yang lain.

“Gue nggak mau berantem,” ujarku kasar. “Kalo lo mau nyerahin koin itu sama gue, lo nggak bakalan luka sama sekali dan gue bakal maafin perbuatan keji yang udah lo lakuin ke gue.”

Wajahnya berkedut meremehkan. Tatapannya jatuh ke hidungku. “Lo pikir gue takut?” Nada suaranya teguh dan tegas. Oh, iya, jangan lupakan juga nada kebenciannya, yang mirip sekali seperti musuh besar Satria Baja Hitam.

Baru saja kami ingin saling menyerang, tiba-tiba bel berbunyi. Bel tanda kalau permainan menemukan koin ini sudah habis. Waktu kami hanya tiga puluh detik untuk kembali ke lapangan. Sedangkan aku berada di lantai tiga. Mana mungkin cukup waktunya sampai aku berlari menuju ke lapangan sambil menenteng-nenteng koin jahanam itu. Lagi pula koin itu masih ada di orang yang ada di hadapanku.

Dia juga sadar kalau kami berdua pasti akan kena hukuman. Jadi percuma saja daritadi kami berebutan koin jahanam tersebut. Benar-benar hari yang paling payah se-umur hidupku. Dibentak-bentak saat MOS, disuruh ini-itu, dan bertemu orang brengsek. Lengkap sudah daftar payahku untuk MOS hari ini.

Cowok brengsek itu berbalik, langkahnya panjang saat meninggalkanku. Di belakang badannya tertempel namanya yang tertulis di atas sehelai kardus. Kusipitkan mataku dalam-dalam, dan membaca namanya yang tertulis ringan di atas sehelai kardus tersebut. Dan namanya adalah: Vick Prapancanegara. Eik, namanya saja sangat jelek. Vick. Nama apa itu? Seperti nama obat batuk.

Tetapi aku sangat pensaran padanya, kenapa dia bisa begitu benci padaku. Benci yang penuh kesumat lagi. Memangnya apa yang telah kulakukan padanya. Pokoknya aku juga harus ikut-ikutan membencinya. Aku tidak mau berpura-pura baik di hadapannya. Toh, dia juga menunjukkan dengan jelas kebenciannya padaku. Bagaimana mungkin aku tidak melakukan hal yang sama. Aku bukan tipe orang seperti itu. Aku bukan orang yang mau mengalah.

Kuhembuskan nafasku sepanjang mungkin, sambil memikirkan cowok itu. Aku bingung sendiri dan merasa sangat frustasi. Sekali lagi kuhembuskan nafasku panjang-panjang, kemudian saat aku melangkahkan kakiku, hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah mencari tahu kenapa cowok bernama Vick itu sangat membenciku dengan penuh kesumat.

Dan risetpun dimulai!

–Ups, Bersambung to Chapter 2–

NB. Gak bakalan janji di update kapan. jadi pantengin terus ya Blogku. hahaha =D

thanks :*

Jangan lupa komen. Yang gak komen kusantet :p