New Day (2)


DIS_

Chapter 2

Ҧ Envy Like a Gigolo

Orang kewl dan hawt yang ada di hadapanku ini ternyata Ozayn! Masa sih?! Tetapi kalau diperhatikan lagi dia memang mirip Ozayn. Aku pernah melihat dia dalam bentuk seperti ini saat kami satu kelompok di pelajaran Biology ketika kami masih di grade sepuluh. Waktu itu aku dan dia harus mengerjakan tugas pengawetan hewan. Kami bertemu di Lab yang ada di Jakarta Pusat. Seperti biasa, dia akan mengenakkan kaus oblong keluaran Mangga Dua dan berdiri gelisah seperti anak cupu kebanyakkan.

Tetapi aku melihat perubahannya waktu itu. Saat kami sedang memburu Cicak di rumah Adam—di rumahku tidak ada Cicaknya, makanya kami pergi mencari ke rumah Adam dan Bams—wajah Ozayn yang cupu itu kelelahan dan penuh keringat—seksi. Karena dia yang kusuruh mengelilingi rumah Adam dan Bams untuk mencari Cicak laknat tersebut. Aku sedang asyik meminum Jus Sirsakku bersama Bams dan Belinda di teras rumah saat Ozayn menghampiriku sambil memegang satu Cicak berukuran sedang di tangannya.

“Aku udah dapet,” katanya gugup, matanya melihatku malu-malu. “Kita awetin sekarang atau gimana?” Dia mempelintir kepala Cicak itu hingga mati. Belinda yang melihat kejadian tersebut langsung histeris ketakutan dan masuk ke dalam pelukan Bams—pasangan menjijikan. Sedangkan aku, ya, sama, aku juga agak kaget saat melihat kronologis kematian si Mbah Cicak itu. Semoga nyawanya diterima di sisi Tuhan, amen! Untung Ozayn yang membunuhnya, jadi semua dosa si Mbah Cicak masuk ke dalam tubuhnya.

“Awetin sekarang aja!” kataku mengajaknya ke taman depan rumah Adam. Kukeluarkan botol berisi air pengawetan hewan itu dari dalam neck bag ku dan mengocok isinya. Ozayn ikut berjongkok di sebelahku, kacamata tebalnya terbias oleh sinar matahari, membuat mata yang ada di balik kacamata itu berubah penuh binar. Saat Ozayn menolehkan kepalanya ke arahku, aku langsung mengalihkan tatapanku ke arah si Mbah Cicak tragis itu. “Buat Cicak ini bergaya dong! Masa terlentang gitu aja. Kita harus naikkin kakinya ke atas, dan tangannya di bawah dagu, biar cicaknya imut-imut.”

Ozayn tertawa pelan, membuat suara tawanya masuk ke dalam relung telingaku dengan lembut. Oke! Ini tidak bagus sama sekali. Aku baru saja mengatakan kalau suara tawa Ozayn masuk ke dalam relung telingaku dengan lembut—what is that suppose to mean, you stupid Zavan! “Kayak gini?” tanya Ozayn, dia menolehkan kembali kepalanya ke arahku. Bibirnya membentuk sebuah lekukkan kecil, agak tertarik ke atas dan membuat sudutnya bergerak lemah. Bibir itu terlihat begitu empuk, bagaimana rasanya kalau aku menciumnya?

Anjing! Aku baru bilang apa tadi?! “Ya, kayak gitu!” Suaraku agak bergetar saat mengatakan hal tadi. Kenapa aku selalu gugup kalau melihat dia? Dalam jarak sedekat ini, gelagatku malah makin gugup dan tak karuan. Bahkan tanganku gemetaran saat menuangkan cairan yang ada di dalam botol itu ke si Mbah Cicak yang sudah is dead di bawah kakiku ini. “Kita tunggu berapa lama sampe Cicak ini bener-bener awet?” tanyaku sambil menghentikan menyirami si Mbah Cicak dengan air pengawet.

Kutolehkan kepalaku ke arah Ozayn dan melihat hal yang paling membuatku terkejut. Ozayn menarik lepas kacamatanya. Matanya yang berwarna hitam agak kecokelatan dan tajam seperti mata elang itu menyipit kecil. Dia menaikkan tangannya dan mengelap keringat yang ada di dahinya dengan gerakkan lamban. Rambutnya yang cupu itu berubah acak-acakkan saat dia menggaruknya pelan. Dan ketika dia menoleh ke arahku, di titik itulah aku sangat terpukau dan ketakutan dalam satu waktu yang hampir bersamaan. Ozayn yang ada di sampingku ini, membuatku sangat gelisah dan salah tingkah! Shit, rite! Ozayn biadab!

“Aku duluan ya,” kata Ozayn—dalam versi IOS yang lebih tinggi dan menakjubkan—pelan, membuyarkan lamunanku akan masa lalu—menarikku kembali ke masa kini. Ozayn berdeham gugup, langkahnya agak kikuk saat berjalan cepat ke arah eskalator yang belum dinyalakan. Punggungnya yang lebar, dengan pundak yang sangat berisi, bergerak-gerak tak karuan. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, masih belum percaya kalau aku tadi bicara dengan Ozayn—anak cupu yang selalu membuatku gugup, salah tingkah dan takut.

Itu adalah sebuah kejujuran. Aku tidak membenci Ozayn, aku hanya merasa takut kalau ada di dekatnya. Aku juga tidak tahu aku takut kenapa. Aku hanya merasakan hal itu saja di dalam benakku. Aku selalu merasa cemas jika ada di dekatnya. Itu yang kurasakan jika melihat wajahnya dan gerak-geriknya yang selalu bisa membuatku gusar. Aku mungkin suka menghina dia jelek, jelata dan anak cupu berkacamata tebal, tetapi aku bukan bermaksud ingin melukai hatinya—walaupun aku yakin dia pasti tersakiti dengan ucapanku—tetapi karena setiap kali aku melihat wajahnya yang cupu itu aku seperti sedang—

Shit! iPhone ku bergetar menandakan ada iMessage yang masuk. Aku menarik benda itu keluar dari dalam saku jasku dan membuka slide locknya. Oh, dari Sid ternyata. Yang menyuruhku datang ke mobilnya kalau aku sudah sampai di sekolah. Kumasukkan iPhone ku kembali dan melangkah panjang menuju ke parkiran barat. Parkiran yang dikhususkan untuk anak-anak RR yang mempunyai mobil-mobil bagus. I really love my fab, I really love my rich, I really love my damn popularity and I really love when everybody look at me and envy like a Gigolo! I really love my life in here. Meskipun aku tidak menjadi diriku sendiri.

“Hello!” sapaku riang sembari membuka pintu mobil Porsche kepunyaan Sid dan masuk ke dalamnya dengan luwes. Aku mengalihkan pandanganku dan melihat Sid yang sedang memamerkan senyuman lebarnya ke arahku. Tubuhku tersentak saat melihat wajahnya yang nampak berseri-seri. Pasti ada sesuatu yang menyenangkan makanya dia memasang wajah seperti itu. Meskipun aura sombongnya masih sangat terasa. “Sumthing good happen?” tanyaku penasaran. Apakah akhirnya Sid hamil saat liburan bulan madunya dengan Adam ke Rio de Jeneiro kemarin? Hmm, bisa jadi!

Not really,” tutur Sid sambil melihat-lihat BlackBerry barunya. BlackBerry nya yang lama terpaksa masuk Museum karena rusak total saat Sid dilempar oleh Adam dan Bams ke dalam koram berenang. “I just in a good and happy mood today,” tambahnya, dia tersenyum lagi ke arahku. Aku hanya mengangguk lalu melihat lama-lama wajah Sid yang agak kecokelatan. Pasti saat di Rio kemarin dia sering berjemur. Aku jadi ingin ke pantai juga—tapi bukan untuk berjemur, namun mau melihat tubuh telanjang nan seksi laki-laki tampan yang berseliweran di sana.

“Pagi!” sapa sebuah suara dari bangku belakang. Aku membalikkan badanku dan melihat Tivo yang baru saja duduk di sana dengan nyaman. Dia menutup pintu, tangannya melambai kecil ke arah Peter. Kuberikan senyuman menawanku ke arahnya saat dia memandang ke arahku. Tivo menekuk bibirnya dan membalas senyumanku. Aku masih tidak percaya kalau Tivo yang sekarang sudah bisa menampakkan sebuah senyuman tampan seperti itu. Dari pertama kami bersahabat dan berkenalan, dia tidak pernah tersenyum. Entah itu senyuman kecil ataupun lebar. Namun sekarang dia sudah bisa, dan aku masih belum bisa percaya.

Aku menurunkan kaca mobil saat mobil biru bermerek Mazda 2 lewat di depan parkiran barat DIS. “Hello, Bagas!” sapaku riang saat cowok itu membukakan Revie pintu mobil. EW! Sok romantis! “Dadah, Bagas!” seruku lagi saat cowok itu kembali masuk ke dalam mobilnya.

Revie baru melangkahkan kakinya ketika mobil Bagas sudah keluar dari gerbang sekolah. Tidak bertemu sekitar dua minggu, gaya rambut Revie agak berubah. Sedikit lebih acak-acakkan. Padahal biasanya dia akan menyisir rambutnya dengan rapi dan memberi sentuhan akhir dengan gaya rambut yang sangat kekanak-kanakkan. Tetapi sekarang gaya rambutnya benar-benar beda, agak shaggy tapi disisir ke belakang. Wajahnya yang—I really envy like a gigolo to him because of this—sangat tampan makin menarik dan terkesan dewasa muda. Tidak seperti wajahku, yang sudah dicap seperti orang dewasa nan matang. Sialan!

“Pagi!” sapa Revie sambil memasukkan tubuhnya ke dalam mobil. Dia menggeser duduknya agar bisa memberi And tempat duduk saat cowok itu datang. “Kalian apa kabar? Gimana liburan sekolahnya? Seru nggak?” Revie bertanya panjang lebar, di bibirnya terkulum sebuah senyuman yang luar biasa mempesona. Aku makin iri, aku juga ingin mempunyai senyuman seperti itu. Jika saja aku bisa menjadi Revie, aku tidak perlu menyadarkan cowok-cowok straight itu kalau mereka gay atau biseksual. Dengan sekali tatapan dan senyuman, cowok-cowok itu pasti akan tertarik dengan Revie. His such a stardust! Envy, envy, envy!

“Liburan gue asyik juga lho, nggak kalah kayak liburan kalian,” bohongku, kuberikan mereka senyumanku yang paling meyakinkan. Jika urusan bohong membohong, akulah orang yang paling pintar melakukan itu. “Gue kencan sama beberapa orang, terus nggak lama setelah itu gue pacaran sama si Robi. Lo masih inget Robi kan Rev?” tanyaku sok antusias ke arah Revie. Sahabatku yang sangat tampan itu mengangguk, tanda dia masih ingat si Rombongan Babi. “Tapi gue udah putus sama dia, soalnya dia orangnya ngebosenin dan always babble sumthing about football. Bowing times one! Terus dia juga suka sama hal-hal yang sangat menjijikan untuk gue. Kayak dia yang suka sama lagu Dangdut, tiap gue naik mobil bareng dia pasti dia selalu nyetel lagu yang di-reject-di-reject or whatever itu. Bowing times two!”

Revie dan Sid tertawa pelan. Aku tersenyum puas karena bisa membuat mereka tertawa di pagi hari ini. Tivo memajukan badannya ke arahku, wajah malasnya terpampang jelas di depan mataku. “Terus, di bagian yang mana liburan lo asyik?” tanya Tivo kejam. Aku paling tidak suka kalau Tivo sudah membuka mulutnya dan berujar jahat padaku. Di balik sifat malas bicaranya itu, dia mempunyai lidah yang bisa membuat perasaan orang yang lagi penuh dengan lovey dovey langsung Down seperti judul lagunya Jay Sean.

“Di bagian gue kencannya,” jawabku asal. “Mentang-mentang lo liburan di tempat yang menakjubkan, jadi lo pikir hanya liburan lo aja yang asyik. Listen, my Phral, menurut kamus hidup gue, kencan dan bisa ngemut kontol itu adalah suatu kepuasaan dan suatu keasyikkan yang sangat sulit buat gue tepis gitu aja.” Kutaruh kedua tanganku di depan dada, bergaya sok kewl di depan Tivo dan yang lain. Aku tidak mau kedengaran seperti orang menyedihkan yang kesepian karena ditinggal liburan oleh mereka. Yah, meskipun aku merasakan hal itu. “Kalo lo gimana liburan sama si Peter di Singapur? Lo atau Peter yang hamil?” Revie tergelak pelan mendengar pertanyaan bodohku, aku dan Sid menatap Tivo dalam-dalam.

“Rahim gue ada masalah, jadi Peter yang hamil.” Aku dan kedua sahabatku langsung tertawa mendengar perkataan Tivo barusan. Kami langsung merubah topik dan membicarakan banyak hal. Tentang Sid dan pengalamannya bersama Adam di Rio. Revie dengan Bagas yang mempunyai pengalaman seru saat mereka ke Puncak kemarin. Tivo dan Peter yang menghabiskan waktu di Universal Studio. Sedangkan aku, aku hanya memberitahu mereka soal party Griffin yang didatangi oleh anak-anak Jubilee International School itu. Such a lame life! Tapi itu masih lebih baik daripada aku harus nonton maraton Coffee Prince—drama Korea kesukaan Belinda—semalam suntuk dengan kembaranku. Mengerikan!

“Hello, guys!” sapa And saat kami sedang asyik membahas soal makanan unik di Rio.

“Tepat lima menit sebelum bel bunyi!” sergah Sid mencemooh. And hanya mengedikkan bahunya dan duduk di kursi belakang dengan gerakkan lamban. “Liburan lo sama Vick di Sabang gimana And? Seru nggak?” tanya Sid sambil membetulkan dasinya. Aku melirik ke arah And yang masih sibuk membenahi jas DIS nya yang agak berantakan karena dia tadi naik motor ke sekolah. Eh, And dan Vick memang selalu naik motor kalau ke sekolah, motor besar mengerikan yang mengingatkanku dengan para penjahat di film Fast and Furious. Motor Harley Davidson yang sangat indentik dengan geng motor.

Setelah yakin pakaiannya sudah rapi dan tidak sekusut tadi, And mengangkat kepalanya dan menatapku serta Sid secara bergantian. “Lumayan seru. Snorkeling, lihat adat budaya Sumatera yang luar biasa keren dan nyoba semua makanan dari daerah itu. Pantainya juga indah banget. Kalian harus ke sana! Pasti kalian nggak akan nyesel.” And memberikan kami senyuman simpulnya. Di antara kami berlima, yang wajahnya paling biasa saja—sebenarnya sih aku mau bilang jelek, tapi karena aku takut dihajar And—secara dia ketua Karate—jadi aku bilang kalau wajahnya biasa saja—adalah And. Tapi, dia yang paling terlihat gagah dan sangat perkasa. Aku saja tidak percaya kalau dia suka emut kontol ketimbang jilat Labia Mayora perempuan yang rasanya kayak Cuka Pempek—maafkan aku wahai perempuan.

Nope, thanks! Mendingan gue ke Pantai Ibiza. Lebih banyak cowok gantengnya di sana,” kataku sembari memasang senyuman penuh kebinalanku ke arah mereka. Sid memutar bola matanya seperti orang mabuk, sedangkan ketiga sahabatku yang duduk di bangku belakang hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Aku baru saja ingin membuka mulutku lagi, tetapi bel sekolah—yang bunyinya seperti: Tetek Tetek—tiba-tiba berbunyi. Kusisir rambut spikeku ke belakang, agar memberikan kesan lebih fresh dan menawan. I am gorgeous, bitch!

C’mon, guys, kita masuk! Gue juga mau ngambil jadwal pelajaran buat semester ini sebelum gue sarapan di DisCaf. Semoga aja kita nggak ngantri dan harus pakek sistem absen nama. Gosh! Gue paling nggak suka nunggu dan ngantri. Semoga tahun ini anak RR sama anak RG dipisahin. Soalnya kalo ngantri sama anak RG pasti mereka bakalan lama. Mereka suka milih banyak homeroom. Semester ini gue bakalan hapus semua pelajaran yang menghafal. Kayak History dan kawan-kawan.” Sid membuka pintu mobilnya dengan sekali sentak. Aku juga langsung melakukan hal yang sama. “Chins up, smile on!” perintah Sid saat kami berjalan ke arah pintu masuk sekolah. “We populer in this school, guys! Jangan malu-maluin!”

Cepat-cepat kunaikkan sedikit daguku layaknya Raja dan memasang senyuman tipis tapi menggoda di bibirku. Ketika kami sampai di lorong sekolah, kerumunan orang-orang nggak penting sedang asyik berbincang satu sama lain, membuat lorong sekolah penuh sesak. Tak lama kemudian mata mereka tertuju ke arah kami, dengan agak kikuk mereka langsung merapatkan tubuh mereka ke dinding loker masing-masing. Memberikan floksku jalan yang lebar nan leluasa. Seketika itu juga lorong yang semula sangat berisik berubah hening. Aku tersenyum lebar melihat ini, menjadi populer memang menyenangkan. Apalagi saat kami berjalan di lorong sekolah dan mereka memperhatikan kami dengan mata berbinar. Heaven!

“Kita langsung ke ruang Akademis aja!” perintah Sid dengan nada absolut. “Lagian kita mau ambil apa di loker!” Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Jadi kami tidak membantah, hanya terus mengikuti langkah Sid yang jenjang. Kerumanan anak-anak grade 11 memenuhi pintu ruang Akademis saat kami sampai di sana. Sid berdeham pelan, membuat mata anak-anak itu menoleh. “Get lost!” titah Sid ke arah anak-anak itu, yang langsung mereka lakukan dengan cepat. “Yuk! Kita ambil terus ke DisCaf!”

“Kalian aja yang ngambil, gue nunggu di sini.” Mereka berempat menatapku bingung. “Tadi pagi gue udah ambil jadwal gue untuk semester dua ini!” Aku mengeluarkan kertas jadwalku.

“Emang lo dateng ke sekolah jam berapa?” tanya Sid sambil melihat jadwal semester duaku. Untuk semester ini, aku tidak mengambil pelajaran History, Politic, Geology, Anthropology dan yang menghafal lainnya. Cukup pelajaran wajib saja. Jadi aku bisa konsentrasi untuk mempelajari pelajaran yang dikhususkan untuk Ujian Akhir nanti. Nilai-nilaiku sangat buruk di semester satu kemarin, apalagi nilai Chemistry, Mathematics, dan Physics. Jika sampai aku tidak lulus dari sekolah ini, apa yang akan terjadi dengan Reputasiku? Apakah aku harus mengikuti jejak Nia Rahmadani dengan menikahi anaknya Bakrie? Hiii, BIG NO-NO!!!

“Jam setengah tujuh,” jawabku, yang langsung mendapatkan respon aneh dari flocksku.

Sid maju selangkah, matanya menyipit ke arahku. “Who are you?” tanyanya penuh selidik. “Zavan yang gue tau itu orangnya nggak kayak gini. Dia selalu datang jam setengah delapan dan nggak akan mau ngambil jadwal semesternya buru-buru. Jangan bilang kalo sekarang lo mau jadi murid teladan terus ngalahin Revie dan Ozayn! That’s creepy, you know!” Sid menatap wajahku masih dengan mata menyipitnya itu. Memangnya aneh ya kalau aku pergi ke sekolah terlalu pagi? Well, mungkin iya, karena aku memang tidak terlalu mementingkan sekolah. Namun itu dulu, sebelum aku sadar kalau nilaiku jeblok semua.

“Nggak tau, gue cuman pengen dateng pagi aja!” bohongku lagi. Mereka tidak perlu tahukan perihal nilaiku yang busuk semua itu. Nilai yang bisa membunuh mata para Alien yang ada di Mars saking mengerikannya. “Oh, iya, kalian udah lihat belum perubahan si Cupu?” tanyaku sok antusias, agar pembicaraan kami teralihkan. Kulirik pintu Akademis dan melihat sir Sinaga masih berurusan dengan lima orang siswa di dalam sana. Sial! Pasti itu anak-anak RG yang sedang memilih homeroom apa saja yang akan mereka ambil untuk semester ini. Dasar anak RG sialan! Cepat keluar biar aku tidak ditanya-tanya lagi oleh flocksku.

“Gue udah tau!” sahut Sid dan yang lain secara bersamaan. Berarti hanya aku yang baru tahu soal perubahan Ozayn ini. Yang dari IOS cupu menjadi IOS yang lebih canggih. “Jadi—“ Tiba-tiba pintu Akademis terbuka. Aku mendesah dalam diam, bersyukur karena perkataan yang akan Sid lontarkan barusan tidak jadi. “Ya udah, lo nunggu kita di DisCaf aja. Palingan kita lama di dalem gara-gara Revie.” Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum kecil. Mereka masuk beriringan ke dalam ruang Akademis. Sigh! Berarti aku harus jalan sendirian ke DisCaf. Menyebalkan!

Aku baru melangkahkan kakiku sebanyak tiga kali sebelum akhirnya aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku. Aku berbalik dan melihat—entah siapapun dia—seorang cewek grade 12 berpenampilan penuh warna yang sedang tersenyum ke arahku. “Euh—lo dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah,” kata cewek itu masih dengan senyuman yang sama. “Kata Mister Rusmika ada hal yang pengen dia bicarain sama lo.” Cewek itu mengibaskan rambutnya ke belakang dengan gaya menggoda. LOL! Aku tahu kalau dia mencoba menjerat hatiku ke dalam pelukannya. Tapi, sorry, selama dia masih punya tetek dan pepek aku tidak akan pernah terjerat ke dalam pelukannya. Sayonara!

“Oke, thanks,” ujarku lembut, kuberikan dia senyuman mautku. HA! Makan tuh senyuman mautku, luluh-luluh deh tuh hati! “Bye!” Aku melambaikan tanganku sembari melangkahkan kakiku menuju ke ruang Kepala Sekolah yang ada di bagian barat daya sekolah. Aku sangat jarang—malah tidak pernah—dipanggil ke ruang Kepala Sekolah. Yang paling sering itu Revie, untuk menerima uang karena dia berhasil menjadi juara saat dia mengikuti Olimpiade. Oh, Gawd! Atau aku mau diberikan penghargaan karena aku datang pagi hari ini. WOW! “Scuse me, Mister!” ucapku sopan sambil mengetuk pintu ruang Kepala Sekolah.

Come in!” ujar Mister Rusmika dengan suara serak, faktor usia yang sudah tidak muda lagi.

Aku mendorong pintu kaca tersebut hingga terbuka lebar, hati-hati aku memasukkan tubuhku ke dalam ruangan beraroma salad yang agak enak untuk dihirup. Aku melirik sekilas ke arah piala-piala berkilauan yang ada di dalam kotak kaca yang bertengger di samping meja penuh bunga. Aku menepuk ujung jasku, agar terlihat rapi. Kuberikan senyumanku ke arah Mister Rusmika saat dia menengadahkan kepalanya dari kertas-kertas berserakkan yang ada di atas mejanya. “Tadi ada yang bilang kalau saya dipanggil ke sini,” kataku, menatap mata Mister Rusmika yang ada di balik kacamata.

“Ya, ya,” katanya masih dengan nada suara yang serak. “Sit down!” suruhnya lembut. Aku menganggukkan kepalaku kemudian menarik kursi tanpa lengan yang ada di depan mejanya. Setelah aku duduk di kursi tersebut, Mister Rusmika menyorongkan sebuah kertas ke hadapanku. Aku menyipitkan mataku untuk membaca tulisan yang ada di atas kertas tersebut, namun suara Mister Rusmika membuyarkan konsentrasiku. “Mr. John di homeroom Mathematics, Mr. Adikiawan di homeroom Physics dan Mr. Jacob di homeroom Chemistry bilang pada saya kalau nilai Anda sangat buruk di pelajaran mereka.” Aku menelan air ludahku dengan susah payah. “Nilai Anda di bawah nilai standar yang kami terapkan di sekolah ini.” Mati! Hitler, tembak aku sekarang! “Jadi saya memutuskan ke beberapa murid yang ada di sekolah ini jika nilainya buruk, harus melakukan tugas remedial.”

Kuangkat pandanganku dan menatap wajah Mister Rusmika dengan pandangan bingung. “Tugas remedial?” tanyaku dengan nada suara yang kubuat tenang. Padahal aku yakin Grim Reaper—sosok kematian yang selalu membawa pedang sabit besar di tangan—ada di belakangku dan bersiap-siap mencabut nyawaku. Oh, jangan sekarang! Orang ganteng di dunia ini sangat sedikit, kalau aku mati, makin menipis juga stok orang ganteng yang ada di dunia menyedihkan ini. Jadi jangan buat aku mati dulu!

“Iya, tugas remedial. Remedial assignment.” Mister Rusmika mengulang dua kali kalimat itu. Dia pikir aku juga bodoh dalam dengar mendengar, paham memahami. Pak Tua sialan! “Jadi Mr. John, Mr. Adikiawan dan Mr. Jacob memberikan tugas kepada Anda untuk memperbaiki nilai Anda yang buruk kemarin.” Wajahku mengernyit dalam saat mendengar Pak Tua ini bilang nilaiku buruk. Entah kenapa aku sangat benci mendengar kata BURUK! “Saya yakin Anda bisa mengerjakannya. Satu tugas hanya terdiri dari 20 Soal!” APA!!! Ya, sudah deh, mati juga nggak apa-apa sekarang! “Anda juga kan berteman dengan Nak Revie. Saya yakin dia bisa mengajari Anda. Atau Anda mau diajari oleh murid kedua terpintar di sekolah ini, Nak Ozayn?” Aku langsung menggeleng kuat-kuat. Revie lebih baik deh. “Kalau begitu, silahkan Anda ambil kertas-kertas ini. Waktu Anda hanya ada tiga minggu untuk menyelesaikan semua Tugas Remedial itu. Anda harus ingat, nilai Anda semester kemarin sangat berpengaruh dengan nilai Anda di semester ini.”

“Ya, Mister,” kataku lemah. Kuambil kertas-kertas agak tebal itu dari tangan Mister Rusmika yang keriputan seperti pantat Babon. “Saya kumpulkan tugas ini langsung ke homeroom teacher nya, atau langsung pada Anda?” tanyaku, kupegang kertas yang ada di atas tanganku dengan perasaan kacau balau. Aku butuh Revie sekarang, aku harus segera mengerjakan tugas remedial tidak penting ini supaya nilaiku bisa lebih baik. Dan supaya aku bisa lulus dari sekolah ini, aku tidak ingin membuat reputasiku hancur karena aku tidak lulus. Menakutkan!

“Langsung kumpulkan pada homeroom teacher nya,” kata Pak Tua bertangan keriput seperti Babon yang ada di hadapanku ini. “Oh, dan ambil surat ini! Saya ingin bicara dengan kedua orang tua Anda perihal tugas remedial yang saya berikan. Supaya Anda mendapat pengawasan dari mereka.” Pak Tua itu menyerahkanku satu amplop cokelat ke tanganku.

“Matt—eh, Daddy saya lagi ada di Moskow dan Mommy saya lagi ada di Los Angeles.”

“Hubungi!” perintah Pak Tua itu dengan nada suara memaksa. “Saya yakin orang tua Anda pasti bisa menemui saya kalau menyangkut urusan pendidikan anak mereka.” Sebisa mungkin aku tidak mendecakkan lidahku ke arah Pak Tua yang ada di hadapanku ini. “Tapi kalau Anda tidak bisa menghubungi orang tua Anda, saya minta alamat e-mail mereka yang masih aktif saja kalau begitu. Biar saya yang langsung menghubungi mereka dan semoga mereka mau datang.” Pak Tua bertangan keriput kayak Babon itu tersenyum culas. Dia pikir aku tidak mau menghubungi orang tuaku apa karena aku takut orang tuaku tahu kalau nilaiku—mengutip ucapannya—buruk. Aku tersenyum tenang lalu menuliskan alamat e-mail kedua orang tuaku. “Ini e-mail asli kan?” tanyanya, suaranya penuh kecurigaan.

“Asli,” sahutku sambil mencoba bersabar. “Daddy dan Mommy saya tidak pernah ganti e-mail. Kalau Mister tidak percaya cek saja di ruang BP di buku khusus yang menampung alamat e-mail dan nomor telpon orang tua seluruh murid yang ada di sekolah ini.” Aku memberikan Pak Tua itu sebuah senyuman kemenangan. HA! Dia pikir aku akan berbohong gitu? Aku tidak takut kalau orang tuaku tahu perihal nilaiku—EW!—yang buruk tersebut.

“Baiklah kalau begitu,” ujar si Pak Tua tanpa sebuah senyuman. “Anda bisa pergi sekarang. Dan pastikan Anda mengerjakan tugas remedial Anda. Waktu Anda hanya tiga minggu. Kerjakan tugas remedial itu sungguh-sungguh. Jangan sampai dikerjakan orang lain!” Pak Tua itu memperintahkanku panjang lebar. Pantas saja dibalik muka tuanya itu tersimpan sebuah tatapan prejudis. Dia orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain. Terlebih lagi, memangnya wajahku tidak bisa dipercaya ya? Satan!

Aku mengangguk sambil berujar terima kasih. Aku membuka pintu kaca tersebut perlahan, memberikan kesan kalau aku dalam keadaan yang kewl. Namun saat aku menutup pintu itu, aku langsung panik! Mana Revie? Aku sangat butuh dia sekarang. Kulangkahkan kakiku panjang-panjang supaya cepat sampai DisCaf. Kupeluk kertas tebal yang ada di tanganku ke dada, tangan kiriku sibuk menulis sebuah pesan ke Revie. Aku harus membuat tugas ini, akan kubuktikan ke si Pak Tua itu kalau aku bisa mengerjakannya tanpa dikerjakan orang lain.

***

“Tangan kanannya agak dinaikkin sedikit, matanya coba dialihkan ke arah jam tangan, pasang senyuman tipis, dan tangan kirinya dimasukkan ke dalam kantung celana bagian depan.” Aku langsung melakukan perintah tersebut. Bryan—Fotografer bertampang Jawa-Bali itu—mengarahkan kamernya ke arahku, bunyi klik di kamera terdengar tegas. Cahaya blitz yang menyilaukan membuat mataku hampir mengerjap. Tetapi aku harus mempertahan kan posisiku yang seperti ini. “Kaki kanannya dimundurin sedikit dan badannya agak dibungkukkan.” Bryan kembali menyuruhku melakukan pose yang pas. Setelah cahaya blitz berkilauan sebanyak dua kali, Bryan menurunkan kamernya. “Yep, cukup!”

Aku mengangkat pandanganku dan meregangkan otot leherku. Ini sudah pose yang ke-enam, dan aku sudah sangat kelelahan sekarang. Aku menjadi model untuk Brand pakaian Ralph Lauren edisi Summer bulan ini. Maka daripada itulah aku ada di studio ini dan berpose tidak jelas untuk dipampang di Majalah ataupun di billboard sebuah store. Jika aku ke Pacific Place dan melewati X&Y pasti aku akan melihat foto diriku yang dipampang besar-besar di depan store tersebut. Dan jika aku ke Grand Indonesia dan lewat di depan Utilize Scen, fotoku juga akan terpampang jelas di depan store tersebut sambil berpose dalam balutan pakaian Christian Lacroix. Hmm, being a model is so fabaloustastic!

“Hei!” sapa seorang cowok saat aku ingin mengganti pakaianku ke pakain yang lain. Aku melirik ke arah cowok itu, dan hanya dua kata yang ada di kepalaku untuknya. Ganteng gila!

Mataku tak bisa lepas darinya saat dia sedang memberikan sebuah pose handback tanpa senyuman ke arah kamera Bryan. Aku cepat-cepat memakai collar blazer dan celana berbahan satin berwarna perak untuk sesi pemotretan selanjutnya. Dina—penata rias bertampang judes seperti Judas—memoles wajahku dengan gerakkan kasar. Aku hanya bisa diam saja, tidak berani memarahinya. Soalnya kalau aku melakukan hal itu, dia yang akan memarahiku balik. Daripada kena semprot, jadi lebih baik diam dan membiarkan si penata rias judes ini melakukan tugasnya. Untung saja penyiksaan yang Dina lakukan hanya sebentar. Ketika si judes berlalu di hadapanku, aku cepat-cepat melangkah ke arah studio foto. Cowok itu tersenyum kecil—kipas-kipas kontol—ke arah kamera dan klik! Gawd!

“Hei juga!” tuturku saat dia lewat di depanku. Pakaian Ralph Lauren yang dia kenakkan di tubuhnya benar-benar pas. Membuat wajahnya yang sudah ganteng gila itu makin ganteng menggila-gila. Oh, siapapun engkau, perkosa aku sekarang! “Nice pose!” pujiku, kuberikan dia senyuman terbaikku. Dari gelagatnya sih, aku yakin dia bukan gay atau biseksual. Tetapi dia punya bakat ke arah sana, dan aku cukup menyadarkannya nanti. Just wait and see!

Trims,” sergahnya, suara tenornya yang indah membuat indera pendengaranku tergelitik manja. Oh, sweet! “You too.” Cowok itu menaikkan sedikit lengan bajunya, memperlihatkan otot tangannya yang besar dan berisi. Lengannya yang putih dan berbulu benar-benar membuat sesuatu yang ada di dalam diriku bergejolak. Shit, this lust is so much disturb me! Jangan nafsu dulu, Zavan! Masih ada sesi pemotretan! Saranku dalam hati. “Lo dipanggil tuh sama Bryan!” Perkataan cowok itu membuat lamunanku lebur seketika.

Aku menoleh ke arah Bryan yang sedang mengibaskan tangannya untuk menyuruhku ke tempat aku seharusnya berada sekarang. “See ya!” kataku ke cowok yang ada di depanku ini. Kulangkahkan kakiku saat cowok itu melangkah menjauh dari hadapanku. Ketika aku sudah ada di hadapan kamera Bryan, aku langsung mengikuti semua saran dan perintah Fotografer yang wajahnya tidak membuatku nafsu sama sekali itu. Yang ada di kepalaku saat ini hanyalah sebuah pertanyaan besar, siapakah nama cowok itu tadi? Aku ingin mengenalnya… siapa tahu kami jodoh. Untuk saat ini Troy disingkirkan dulu!

“Oke, Zavan. Ketemu hari Senin depan!” Bryan menurunkan kamernya dan melihat hasil jepretannya tadi. Aku mengangguk walaupun cowok berwajah Jawa-Bali itu tidak melihat ke arahku. Cepat-cepat kulangkahkan kakiku ke arah walk-in closet dan menemui cowok itu dalam keadaan shirtless. Sial! Apa maksudnya dengan menontonkan tonjolan bisep dan trisepnya di depan mataku. Buat aku makin horny saja.

“Zavan, rite?” tanya cowok itu tiba-tiba. Membuatku langsung mengerjapkan mata dan menoleh ke arah lain. Pura-pura jual mahal, padahal siapa juga yang mau beli.

Aku mengangguk pelan, memberikan sebuah kesan elegan kepadanya. Oke, sudah saatnya membuka matanya kalau dia itu juga ahli di bidang gay dan biseksual. Aku berjalan mendekat ke arahnya sembari membuka collar blazer yang ada di tubuhku. Dia pikir hanya dia yang bisa membuatku terperangah akan tubuhnya. “And, who are you?” tanyaku ketika pakaian di tubuhku sudah terlepas semua. Hanya menyisakan celana dalam Calvin Klein hitamku. “Gue kok baru lihat lo ya? Lo baru ya di dunia modelling?”

“Gue Vadin,” kata cowok itu, dia mengulurkan tangannya ke arahku, yang langsung kusambut dengan antusias. Nice grab hand! Ooh la la! “Nggak, gue udah lama sih di dunia modelling. Gue selalu nge­-take fotonya di studio Harlem yang ada di daerah Kebayoran Baru. Kemarin Theo—Fotografer yang ada di sana—nyuruh gue buat nge-take foto di sini. Karena pakaian Ralph Lauren nya ada di sini semua. Makanya gue ada di sini sekarang.”

“Oh, gitu!” kataku sambil tersenyum penuh pesona. Peraturan pertama jika ingin membuat cowok straight tertarik dengan kita—jadi temannya dulu, of course—adalah tatap matanya saat dia bicara. Kontak mata itu sangat penting. Peraturan kedua adalah selalu pasang senyuman terbaik yang kita punya, dan berikan hal itu padanya. Agar orang itu berpikir kalau kita adalah orang yang ramah. Peraturan ketiga adalah tertawa saat dia mengeluarkan sebuah lelucon—meskipun menurut kita leluconnya itu nggak lucu. Dan buat dia tertawa dengan lelucon kita, cowok straight suka hal-hal konyol. Peraturan ke-empat, pura-pura pegang siku dan tangannya saat dia tertawa, tapi sebentar saja. Kontak sentuhan juga sangat penting. Peraturan kelima, sadarkan dia kalau dia punya bakat gay. “Lo tau nama gue darimana?”

Vadin tersenyum lebar. “Emang siapa yang nggak kenal Zavan McKnight? Model paling laku seantero Asia. Bahkan gue pernah denger lo udah dikontrak sama Alexander McQuuen dan Emanuel Engaro. Lo juga kan yang masuk sepuluh model berpengaruh yang tinggal di Indonesia pas Italia Fashion Week kemarin?” Aku mengangguk dan melemparkan sebuah lelucon kepadanya, membuat dia tertawa pelan. Mata kami selalu saling bersitatap saat kami bicara. Meskipun beberapa kali dia agak kikuk diberikan kontak mata seperti ini. Namun aku tahu, dia sudah menyadari kalau aku adalah orang yang mengasyikan.

You funny!” seruku saat dia menceritakan pengalamannya mengikuti kontes L-Men tahun lalu. Dia tidak menang, tetapi masuk sepuluh besar. Aku juga pernah ikut, tetapi kontes L-Men untuk remaja yang masih dalam tahap pertumbuhan. Dan kegunaan L-Men untuk tubuh lelaki remaja sepertiku. Tentu saja aku menang, mengalahkan para pecundang itu bukan perihal yang sulit. “But I have to go,” kataku sambil memasang wajah sok sedih. Vadin juga memasang ekspresi yang sama, sepertinya dia sudah menganggapku orang yang asyik. Gotcha! “Maybe I’ll see you soon, in somewhere!” Aku menaikkan resleting celanaku dan memberikan dia senyuman terakhir. “Bye!”

Aku berbalik cepat, meninggalkan Vadin berdiri sendirian di sana. Merana karena akan kehilangan orang asyik sepertiku. Tetapi dia tidak tahu saja kalau aku hanya sedang membuka kesadarannya kalau dia itu bukan straight, melainkan gay atau biseksual. Baiklah, kita hitung mundur sekarang, aku yakin dia akan memanggil namaku. Kalau sudah seperti itu, selamat datang di Klub Gay dan Biseksual, dude! Tiga… dua… satu… “Zavan!” panggilnya. “Lo udah makan belum? Kalo belum, ke Avenue A gimana, lo mau?” Aku tersenyum lebar. See? Tinggal melakukan sedikit hal lagi, dan akhirnya dia akan sadar kalau dia memang seorang gay atau biseksual.

Now, gimme some applause, guys! Like I said, WATCH and LEARN! Yeah, watch and learn!

***

Jam menunjukkan pukul lima sore saat aku sampai di depan rumah Revie yang berbentuk minimalis tersebut. Aku memparkirkan mobilku di depan gerbang rumahnya dan menarik rem tangan. Setelah makan Pizza di Avenue A dengan Vadin tadi, aku baru ingat kalau punya janji dengan Revie untuk mengerjakan tugas remedial babi itu. Padahal Vadin ingin mengajakku main-main ke apartemennya, dia mau memperlihatkan koleksi mainan One Piece nya kepadaku. Tetapi karena tugas remedial itu tidak bisa menunggu, terpaksa aku harus tidak menerima ajakkannya. Padahal di titik itulah aku bisa membuat Vadin tertarik denganku. Sigh! Kenapa sih nilaiku harus jelek semester kemarin?!

Kuraih postman bagku yang ada di bangku belakang lalu membuka pintu mobil dengan sekali sentak. Kulangkahkan kakiku ke arah pintu rumah Revie yang bentuknya sangat sederhana. Tadi dia menyuruhku langsung masuk saja ke dalam! Baiklah kalau begitu.

“Revie!” panggilku keras sambil menongolkan kepalaku di balik pintu yang baru saja kubuka agak lebar. “Lo ada di rumah nggak? Jangan bilang ke gue kalo lo sama Bagas lagi ngentot sekarang! Kalo iya, gue sumpahin lo keguguran!” Aku menutup pintu pelan-pelan sembari melepaskan sepatuku. Peraturan di rumah Revie sangat jelas: Jangan pakek sepatu di dalam rumah! Yeah, rite! Peraturan yang sangat menjengkelkan.

“Aku di kamar! Ke sini aja! Lagian juga nggak akan ngaruh kamu mau nyumpahin aku keguguran. Kan aku udah lahiran minggu lalu di puncak!” Revie berteriak dari dalam kamarnya. Tempat dia dan Bagas selalu main hide and seek! Kupercepat langkahku dan mendorong pintu kamar tersebut. Mataku langsung menangkap sosok Revie yang sedang duduk di atas pangkuan Bagas di depan komputer Apple mereka. “Bunuh yang ini dulu, baru yang ini!” kata Revie antusias. Aku melempar postman bag ku ke atas tempat tidur dan berjalan ke arah mereka berdua. “Tuh lihat, matikan si BaraBaraBereBere itu!”

Ketika aku sudah sampai di sebelah mereka, ternyata mereka sedang main game online. Dan judul game nya adalah Perjuangan Semut. Ya, Tuhan! “Hore!” teriak mereka berdua tiba-tiba, membuatku terlonjak kaget. “Kita menang!” seru Bagas bahagia. Dia meraih pipi Revie dan mendaratkan seribu kecupan di sana. Pipi Revie yang malang! Pasti bau jigongnya Bagas deh sekarang. Jorok ih! “Aku mau mandi. Kamu sama Zavan belajar aja dulu.”

Revie tersenyum simpul. Dia berdiri dan menyingkir dari atas pangkuan Bagas. “Kamu mau makan nggak? Tadi siang kan kamu belum makan? Biar aku masakkin kamu telur Orak-Arik kesukaan kamu itu.” Bagas mengangguk penuh minat. Revie mengecup pipi Bagas sekali lalu matanya yang besar itu mengarah ke arahku. “Kita belajarnya di dapur aja ya. Aku sambil masak ngajarin kamu soal tugas remedial itu. Aku cuman kasih tau rumusnya dan kamu yang kerjain sendiri. Oke?” Revie mengedipkan matanya kepadaku, yang langsung kusambut dengan anggukkan kepala. “Kita kerjain tugas remedial Mathematics aja duluan.” Sekali lagi aku menganggukkan kepalaku.

Aku melangkah cepat ke arah postman bagku yang ada di atas kasur Revie. Namun mataku menangkap sebuah papan lebar penuh foto yang ada di atas kepala ranjang. Kusipitkan mataku ke arah papan tersebut, ingin melihat ada foto apa saja di sana. “What is this?” tanyaku pada Revie, mataku menelusuri setiap foto dengan pandangan bingung. Di dalam foto tersebut ada Revie yang sedang tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Ada juga Bagas yang sedang duduk di atas kloset dengan raut wajah kaget. Foto Revie yang sedang melamun di teras depan rumah. Ada foto Bagas yang sedang mencuci mobil.

“Kamu tau kan kalo Bagas suka foto-foto nggak jelas gitu,” ucap Revie, matanya ikut melihat ke semua foto yang ada di papan. “Ini foto aku pas mau ngecat kamar sebelah,” kata Revie, dia menunjuk foto yang berisi gambarnya yang sedang duduk di tengah-tengah ruangan sambil mengaduk cat berwarna biru, wajahnya sedikit tercoreng oleh cat itu. “Yang ini Bagas pas lagi ngecat bagian sudutnya.” Di foto itu Bagas lagi menyapukan kuas catnya di sudut paling atas ruangan. Aku melihat lebih banyak lagi. Ada foto Revie yang sedang tidur di atas sofa dan Bagas mencium pipinya. Ada foto Revie yang belepotan es krim. Ada foto Bagas yang sedang menguap lebar. Ada foto Revie dan Bagas yang berpelukan di Puncak. Ada foto Revie yang sedang memeluk tubuh telanjang Bagas di atas kasur.

Semua yang ada di papan ini foto mereka berdua. Dan mereka terlihat begitu… bahagia.

“Ini foto kita berlima pas di Paris satu tahun yang lalu. Kamu ingetkan? Waktu itukan kita sekalian nonton kamu jadi model di sana, pas Paris Fashion Week.” Aku melihat foto yang Revie tunjuk. Foto kami berlima di bawah menara Eiffel. Judul foto itu… Brother Forever.

Aku tersenyum lembut melihat foto itu. Dengan kepala ditutup topi woll dan tangan yang saling merangkul, kami terlihat begitu bahagia. Meskipun Tivo tidak menampilkan sebuah senyuman di bibirnya, namun sorot matanya jelas terlihat bahagia. Masa-masa di mana kami berlima masih bersama dan tidak sesibuk sekarang. Masa-masa di mana kami berlima bebas pergi bersama kemana saja kami mau. Tetapi pada akhirnya, mereka berempat mempunyai orang-orang yang mereka sangat cintai. Meninggalkanku sendirian, merasakan betapa sakitnya saat rasa kesepian menyerang hatiku.

“Jadi… kapan kita mau belajarnya?” tanya Revie pelan di sebelahku. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya dan tersenyum. “Aku juga pengen masakkin Bagas telur orak-arik sekarang. Jadi kita belajarnya di dapur aja ya.” Aku mengangguk patuh. Revie tersenyum lalu berjalan cepat menuju ke arah pintu kamar. Aku mengikutinya dari belakang, rasa kesepian makin lama makin terasa jelas di hatiku. Aku dengki pada Revie, aku dengki pada sahabatku semua, mereka begitu bahagia dengan pasangan mereka masing-masing. Sedangkan aku selalu sendirian. Aku… butuh seseorang di hidupku.

Kutaruh postman bag ku di atas meja makan. Revie mengeluarkan dua telur dari dalam kulkas, dia juga mengeluarkan satu kotak es krim dan memberikannya kepadaku. “Lo jelasin ke gue gimana kerjain soal-soal ini!” ucapku memelas. Kusipitkan mataku dan melihat angka-angka yang ada di atas kertas tersebut. Setelah Revie menyalakan kompor dan menaruh wajan di atas kompor tersebut, barulah dia menghampiriku. Revie menjelaskan dengan nada yang sulit untuk kumengerti. “Aduh Rev, telponin gue ambulans sekarang. Kayaknya gue kena kanker otak deh gara-gara soal yang ada di depan mata gue ini!”

“Zavan!” tegur Revie, dia berjalan cepat ke arah kompor dan memecahkan kedua telur yang ada di tangannya. Wangi telur goreng langsung memenuhi dapur. “Itu soal Aljabar. Mudah kok!” kata Revie disela-sela dia menggoreng telur. “Sini aku tulisin rumusnya. Kamu tinggal masukkin aja angka-angkanya ke rumus itu!” Revie menulis dengan sangat cepat di atas kertas kosong yang ada di atas meja makan. “Kamu bisa nggak perkalian sama pembagian?” tanya Revie, dia menatapku dengan pandangan serius.

“Gue memang bodoh Revie, tapi nggak sebodoh itu juga kali sampe nggak bisa perkalian dan pembagian.” Aku merengut sebal, meskipun aku tidak menyalahkan Revie juga. Setiap ada pelajaran Mathematic kan aku selalu mendengarkan lagu. “Jadi… nilai x tinggal dimasukkin ke sini terus nanti dikaliin sama nilai y, gitu?” tanyaku sambil menunjuk-nunjuk angka berbentuk aneh yang ada di kertas soal itu.

Revie mengangguk cepat. “Nah, tuhkan kamu bisa. Aku curiga deh, sebenernya kamu ini pintar tapi pura-pura bodoh ya? Soalnya kamu cepet banget bisa ngertinya. Awalnya aja kamu kayak nggak ngerti gitu, tapi kalo dijelasin sekali lagi kamu langsung ngerti. Nggak kayak Sid, And, dan Tivo.” Aku hanya bisa memasang senyumanku ke arah Revie. Tidak ingin menyanggah  pujiannya tadi. “Ya udah, kerjain aja dulu. Soal dari nomor satu sampe nomor enam itu sama-sama Aljabar kok.” Aku mengangguk patuh, kemudian mulai mengerjakan tugas remedial Mathematics dengan raut—sok—serius.

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Kudongakkan kepalaku dan melihat Bagas yang hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya. Badannya yang luar biasa indah itu benar-benar menakjubkan. Tetapi maaf, aku tidak bernafsu kepada Bagas. Soalnya dia pacar Revie. Aku tidak mungkin merebut pacar sahabatku sendiri. Selain menyedihkan juga menjijikan. “Selesai kamu ngajarin Zavan, kamu mandi ya,” kata Bagas sambil memeluk tubuh Revie dari belakang. Membuat Revie cekikikan saat Bagas mencium bagian belakang telinga Revie dengan gerakkan menggoda. Oh, PUHLEASEEEE DEH!!! Pasangan bikin envy like a gigolo!

“Aku paling nggak bisa kalo kamu cium belakang telingaku kayak gitu,” kata Revie, dia mendorong dada Bagas yang telanjang dengan kedua telapak tangannya. Tugas remedial yang ada di depanku langsung terlupakan begitu saja saat aku melihat adegan India yang ada di depan mataku ini. “Oh, iya, nasinya segini cukup?” tanya Revie sambil menyorongkan piring berisi telur orak-arik dan sekepal nasi putih di sisinya. “Atau tambahin lagi sedikit?”

“Tambahin,” sergah Bagas cepat. “Ya udah, aku pakek baju dulu, habis itu kita ke Sport Station, aku mau beli sepatu buat tanding Futsal besok.” Bagas memegang kedua pipi Revie lalu mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibirnya. Aku mendengus jengkel, sampai kapan mereka akan bermesaraan di depanku? Kalau mereka bermesaraan terus, lama-lama aku makin dengki. Terus nanti aku bermesraan dengan siapa? Masa dengan wajan sih?! Bitch, please! Hidupku yang sudah menyedihkan ini akan makin terpuruk jatuh.

Revie menaruh dua piring berisi telur orak-arik, sayur sup, dan nasi yang sudah dibubuhi kecap di depanku. “Kalo kamu mau makan, masak sendiri ya. Aku males masakkin kamu!” Dasar sahabat sialan! Untung saja aku tadi sudah makan. Thanks to Vadin yang sudah mentraktirku makan di Avenue A. “Hehehe, bercanda kok. Kamu mau makan apa? Kamu kan nggak begitu suka makanan Indonesia? Kamu mau aku buatin Spaghetti?”

“Nggak usah, gue udah makan tadi di Avenue A sama temen model gue.” Kutundukkan kepalaku lagi dan mulai mengerjakan tugas remedial yang ada di hadapanku ini. “Terus dua puluh lima ini dibagi lima, gitu kan?” tanyaku sambil menunjuk kedua angka yang masih berdiam diri di dalam kertasku. Revie mendorong sedikit kertasku agar bisa dia lihat. Dengan gerakkan lambat, Revie mengangguk. Aku langsung membagi kedua angka tersebut. Dan hasilnya adalah lima. Berarti nilai x adalah lima. Hore! Aku bisa!!!

“Baru dua soal yang selesai Zav, masih ada delapan belas nomor lagi,” ucap Revie dengan nada mengingatkan. Aku mengangguk sebal. Aku juga tahu kali, Rev! “Dari nomor tujuh sampe nomor sembilan itu soalnya tentang Trigonometri. Jadi kita hitung sudut dan sisi segitiga.” Revie menarik kertas lain yang ada di samping kertasku. Dia mulai menuliskan sebuah rumus. Tulisannya yang rapi benar-benar membuat mataku yang lelah bisa mengerti. “Nih, rumusnya! Tinggal hitung derajat sisi segitiganya aja nanti.”

Aku mengangguk patuh, kusipitkan mataku lebih dalam. Mencoba memahami soal nomor tiga. Nilai y nya sangat sulit untuk kutemukan. Kuangkat kepalaku untuk bertanya pada Revie, namun pintu rumahnya tiba-tiba diketuk seseorang. Revie bangkit dari kursinya lalu meninggalkanku sendirian di sini. Aku mengacak-ngacak rambutku frustasi, tidak pernah konsentrasi selama tiga tahun dengan pelajaran Mathematics membuatku jadi bodoh. Sial, aku harusnya tidak jadi seperti ini. Aku harusnya banyak-banyak belajar selama di sekolah.

“Ayo, kamu duduk aja dulu!” kata Revie dari belakang tubuhku. “Zav, aku ke depan bentar ya!” Revie berujar agak antusias. Aku membalikkan badanku dan kaget saat mendapati Ozayn dalam IOS canggih sedang berdiri di sana. Tubuhnya yang besar nan perkasa itu bergerak gelisah saat dia menarik kursi yang ada di sebelahku. Aku cepat-cepat mengalihkan pandangaku ke aras kertas soalku. Sialan! Kenapa aku malah makin ketakutan seperti ini?!

“Revie!” panggilku, suaraku agak bergetar karena gugup. “Soal yang ini gimana?”

“Euh—“ Aku melihat Ozayn yang sedang menunjuk kertas soalku dengan tangannya. “Nilai yang ini kamu kaliin sama yang ini. Terus ka-kalo udah ketemu hasilnya, kamu bagi sama nilai yang ini. Dan hasil akhirnya pasti ketemu.” Lalu dia memberikanku sebuah senyuman.

DEG!!! Jantungku berdebar kencang melihat senyumannya itu! Setan! Setan! Setan!

 

–LOL, bersambung tuh–halah!–

Yang udah ucapin gue HBD, makasih ya, gue gak bisa jwb satu2.

Byk beuddd soalnya. Thanks sekali lagi.

Cium :*

46 thoughts on “New Day (2)

  1. Oh….. Zavan my idol…
    Setiap gw bca cerita ada zavan nya, pasti bikin mood gw baik lg….
    N buat rendi.. Jgn klama’an donk post next partny… Klo bsa sih sampe beratus-ratus part, heheeee… | kriting lh jari rendi ngetik trus, entr gw di santet bf ny lg… Hahaaaa
    Rendi fightingggg…..

    • sepatu banget

      gue mw kritikin ini
      klo jeda postingnya jangan lama2 ya rendi cakep
      jangan sampai readernya jenuh nungguhnya

      satu lagi
      gue tuh kagum ma tulisannya kamu
      kmu hebat dalam nyambungin cerita
      that’s owcom hehehe

  2. Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~ AKHIRNYA! AKHIRNYA! AKHIRNYA! KAK RENDI APDET LAMA AMAT! MIRIP KAK TAZ! Cih. kenapa yah author ketjeh itu selalu apdet lama? (kak Luna ama Kak Taz pernah 2 taun sekali apdetnya) //curcol //dibuang

    KAK RENDIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII SELANJUTNYA JANGAN LAMA-LAMA! SEKALI SEHARI YAH! //capslockoi!

    Zavan-chan~~~ makin imut deh XDD

    P.S : Serius. Jangan lama-lama apdetnya :3

  3. mesem2 gak jelas gara2 baca cerita ini n makin ngakak pas baca komen *ano*,, nangis manly itu kyk gmana ya?? wkwkwk
    oh iya, atu lg,,, HBD ren, n slm knl,, itu twitter asli aku (walopun jarang dibuka),,, keep it secret, ok?
    moga blognya tetep ngeksis n gk menghilang

  4. Kyaaaaa~~ udahl lama nunggu bagian zavan oh myyy ozayn cepet-cepet dehh jadian sama zavannn…kalau bisa sih updatenya jgn lama-lama hehehe…..and happy birthday to youuuu sorry I latee

  5. Aku rasa New Day nya zavan bakal jadi pinnacle dari ceritamu deh Rend…
    kelihatan dari gaya kamu nulis dan panjangnya jeda antar chapter yang kamu post
    *mengirangiradengankahayalantingkattinggi…hahaha
    i dearly hope that lustful zavan can harbour the feelings to ozayn…hope so oh dear god !
    oh iya…novel bright day dan akuarelmu dijual ga tuh ? kalo dijual belinya dimana ?
    hahaha..i really want to add it into my book collection…
    see u rend..keep ganteng and keep writing ya !
    HBD by the way…aku lupa mau ngucapin…

  6. gue rasa gue tahu kenapa rendi postingnya lama, pasti rendi sekarang baru balik dari tenda pengungsian banjir, iya kan? so sad for you lil bro……….
    *hugahugahugahugahugahuga peaceeeeeee*

  7. ya tuhan… terimakasih kau telah berikan hidayah pada rendi .. setelah sekian lama akhirnya rendi update new day…. gue belum baca ya ren,saking senengnya gue jadi koment dulu….😀

  8. Do you have any editor specialized in english???
    There are still many wrong english sentences…
    I said “sentences” okay?? Not words…

    Just saying…
    It bothers me so much…

  9. Hello.. aku dari malaysia.. I like all story about weather series.. the most like of course Bright Day… n for sure I love sid too much.. hahaha.. salam perkenalan dari seberang ya..

  10. Hahaha zavan”.. Akhirnya kemakan omongannya sendiri hahaha. Buat kak rendi makasih ya akhirnya ngepost nih cerita. aku sampe dibuat penasaran bgt lho hahaha . Yaudah deh gtu dulu dan jgn lama” ya yg chapter selanjutnya, udh ga sabar nih soalnyaaa😉

  11. Salam kenal rendi (ˇεˇ)-c<´-`)
    Jujur ∂ķΰ suka ßɑŋǦ̩̥єєe̲̅ƭƭ ma karya2mu..
    Hampir styp hari ∂ķΰ buka blogmu, buat ngecek udah posting/blm.. Tp skrng kok jdi lama ßɑŋǦ̩̥єєe̲̅ƭƭ Ş̅iị̣є̲̣̥є̲̣̣h postingnya..
    Bner2 bkin penasaran! Jngan lama2 yah ren..
    Semangat trz buat ciptain karya2 selanjutnya ٩(´0`)۶

  12. Salam kenal Ren.,
    Aku pembaca baru nih ( baru 2 bulan maksudnya ) hehe
    Cerita2nya apik banget Ren, apalagi yang Weather Series..
    Aku sampe susah berhenti bacanya..

    Ya udah deh pokoknya aku suka semua tulisan2nya…TOP MARKOTOP dweh..wkwkwk

  13. Aku bru bisa koment di new day. Kmaren2 aku cuma koment di bag sid. Krna aku cuma suka ma karakter sid ma zavan doank..

    Oowww… Ternyata si ozayn itu gk se cupu yang w kira, mendadak dia brubah penampilan gitu.. Zavan juga DDS deh kayaknya m ni cowok cupu.

  14. Huuaaa. Suka bnget sma zavan.
    Ini prtma klinya aku komen #jiaahh.
    Aku fujo, wkwkwk…
    Kak rendi mkin cakep dahh…
    Cpet updatenya dong kak, aku uda lma mntengin blog kakak tiap hari…

  15. “Chins up. Smile on. We popular in this school, guys!” OMFG idk what to say this is like the fucking best word ever. I mean, randi your so damn bitch. I hate you. You’re so damn fabulous (gue suka kata2 lo disetiap entrie gt, udh kayak anak merican aja) daaaaan terimakasih udh buat characters yg bener2 mempengaruhi gue. Maksud gue, gue kayaknya ngidap skizofernia deh lol, jd setiap characters novel/movie/blog yg gue suka itu serasa hidup gt di pikiran gue. Kyk imaginary–friend gt deh. *knp jd curhat gini lol?”
    And yaaa bitch!!! I fucking hate you 24/7. Lo ngepost ini bln february, dan skrg almost mei. Anjing. Kpn entrie barunya yg part 3 nyet????? Omfg I’m gonna be so emotional.
    Dan, setiap lo ngepost, pasti gue ngebayangin gt bntk muka atau ucapan characters yg lo buat. Kalau zavan itu udah kayak lohanthony, revie kayak skandar keynes, and kayak zac efron, vick kayak dave franco, sid kayak liams hemsworth loool. Btw njing, gue tunggu post baru yea!!!! Muah

  16. Maaf mau tanya,part Sid sama Adam udah dihapus ya? Pengen baca banget,lalu kapan lanjutan Zavannya lama banget updatenya? Gosh ini karya tulis bagus banget,bukan melulu ttg sex or whateva,gw suka karna bisa masuk kecerita kaya gw ada ditengah2 geng 5 sekawan itu,setiap part yg udah gw baca dari And,Revie sama Tivo itu keren banget sumpah!please blom baca part Sid-Adam karna telat tau cerita ini😦

  17. GUe ga sabar liat playboy gatel ini jatuh cinta.

    Tapi agak miris juga sih liat dia kesepian, aku bisa merasakan kengenesanmu zav. Sabar ozayn akan menolongmu lol

    Sayang ya zavan ini ga pernah jadi top

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s