Floque – Perkamen 13


Logo Jubilee(resize)

Perkamen Thirteen : Stranger.

“Jadi, ternyata mereka yang nyebarin foto kamu sama Steffano?” kak Edgar, berhenti sejenak lalu mengatur nafasnya. Kemudian dia mengelap keringatnya dengan handuk yang terslampir di tengkuknya. Aku menganggukkan kepalaku. “Kita duduk disana yuk!” dia menunjuk ke bangku panjang yang berada di bawah pohon. Lalu kami berjalan bersama ke pohon tersebut. “Terus apa alasan mereka mempublikasikan foto kalian?” Tanya kak Edgar ketika kami sudah duduk di bawah pohon tersebut.

“Yang jelas tujuan mereka baik. Mereka hanya ingin menyadarkanku bahwa orang yang aku cintai bukanlah orang yang tepat,” jawabku, kemudian aku menenggak air minum yang aku bawa.

“Hanya itu saja?” tanyanya. Aku langsung mengerutkan keningku dan mencoba mengerti apa maksud perkataan kak Edgar.

“Maksud Kakak?” tanyaku bingung.

“Yah maksudku mereka gak ada motif  lain di balik semua ini? At least ada nggak diantara mereka yang sebenarnya juga suka sama kamu?” Aku diam sejenak, aku tidak langsung menjawab pertanyaan kak Edgar. “Dave,” tegurnya sekali lagi seraya memandang wajahku lekat-lekat.

“Eh…uhm gimana yah kak. Meurutku mereka melakukan itu demi kebaikanku sendiri. Tapi kemarin setelah Saddie Hawkins usai, mereka berdua malah menembakku,” jawabku ati-hati.

“Hahaha,” tawanya pecah. Aku sebenarnya masih tidak tahu kenapa dia bisa tertawa seperti itu. Memangnya ada yang lucu dari perkataanku barusan?

“Kok kakak malah tertawa? Emangnya ada yang lucu?” tanyaku sebal.

“Haha enggak kok Dave, cuman kakak udah nebak aja. Jadi sekarang aku tahu maksud mereka,” katanya mantap.

“Memangnya apa?” tanyaku penasaran.

“Ehm, menurutku sih sebenarnya mereka sudah sadar kalau mereka suka sama kamu sejak lama. Tapi karena mereka tahu kalau kamu cinta sama Steffano dan kalian jadian makanya mereka mengalah. Tapi karena Steffano melakukan kesalahan, maka dari itu mereka tidak terima. Jadi, mereka sepakat utuk membuatmu sadar kalau kamu mencintai orang yang salah. Tapi itu menurutku lho..hehehe,” dia menyegir ke arahku.

“Oh,” Aku menganggukkan kepalaku, “Mungkin omongan kakak ada benarnya juga,” jawabku.

“Yasudah ayo kita pulang!” ajaknya, dia berdiri dan mengulurkan tangannya ke arahku. Aku hanya diam saja dan menatap ke arahnya. “Ayooo!” ajaknya sekali lagi. Aku hanya menggeleng. “Kamu mau kakak tinggal?”

“Enggak. Aku cuman pengen nagih janji kakak. Tadi sebelum kesini, kakak kan janji mau gendong aku. Sekarang aku mau nagih janji kakak,” kataku lalu menampakkan senyum lebar.

“Huh, dasar! Yasudah sini naik!” dia berjongkok di depanku. Dengan antusias aku berjalan ke arahnya, lalu melingkarkan kedua tanganku di depan lehernya. “Udah?” tanyanya. Aku menganggukan kepalaku tanda kalau aku sudah siap untuk di gendong. Kedua tangannya meraih pahaku kemudian dia berdiri. “Kamu sadar gak Dave kalau kamu itu udah gak pantes buat di gendong?”

“Iyah, tapikan aku cuman nagih janji kakak aja. Suruh siapa kakak janji-janji segala,” jawabku seenaknya.

“Dasar. Habisnya kamu kalau nggak kakak janjiin pasti gak mau ikutan jogging, ya kan?”

“Iya juga sih. yaudah sekarang kakak mau nurunin aku?” tanyaku karena aku merasa tidak enak.

“Nggak. Lagian bentar lagi sampe kok,” jawabnya, lalu dia mengencangkan pegangan tanganya pada kedua pahaku. Aku pun menaruh kepalaku di salah satu pundaknya. Kucium aroma keringatnya yang maskulin. Ternyata memang aroma keringat sebagian cowok itu seperti parfum dengan aroma memabukkan. Itu menurutku sih, karena aku selalu suka ketika mencium aroma keringat laki-laki, seperti kak Panca, kak Edgar dan Steffano. Keringat mereka bahkan lebih harum dari parfum yang aku pakai dan mempunyai sensasi tersendiri.

Iseng, aku mencium tengkuknya yang membuat kak Edgar menggeliatkan lehernya, “Kamu nyium kakak?” aku hanya menganggukan kepalaku. “Kenapa?” tanyanya bingung.

“Bau kerinat kakak enak. Aku suka,” jawabku polos.

“Iya donk. Tapi jangan sampe kakak nanti malah horny yah. Bisa-bisa kakak khilaf dan merkosa kamu lagi,hahaha,” aku langsung mengeplak kepalanya, “Ouucchh, sakit tau,” jawabnya, dia langsung menurunkanku dan mengusap-usap kepalanya.

“Rasain, siapa suruh ngomong sembarangan,” jawabku sinis.

“Hahay iya deh. Yaudah ayo naik lagi,” perintahnya sambil berjongkok di depanku lagi. Sebenarnya aku mau, tapi aku merasa nggak enak. Jadi aku memutuskan untuk tidak melakukannya.

“Nggak ahh, lebih baik kita balapan lari aja ke rumah, gimana?” tanyaku.

“Oke. Siapa yang menang nanti boleh minta apa aja ke yang kalah, setuju?” dia menatap ke arahku.

“Oke,” kataku sambil menganggukkan kepalaku. “Ready. One, two, three,” lalu kami memulai balapan lari kami.

***

“Jadi, sejak kapan si Amanda pergi?” Tanya Cassie yang sedang main ke rumahku bersama Elaine.

“Ehm hari senin kemarin. Dia berangkat berdua sama kak Morgan,” jawabku sambil menarik ketapel yang ada dipermainan angry bird.

“Sebenernya mereka mau liburan atau bikin anak sih?” kata Cassie yang disambut cekikikan oleh Elaine. Aku langsung mengalihkan pandanganku kepada mereka. Lalu ikut tertawa.

“Gak tau juga sih Cass, mungkin dua-duanya kali,haha” dan kami pun tertawa bersama. “Oh ya Cass, nenek kamu sudah tahu soal hubungan kalian?” tanyaku penasaran lalu mataku kembali ke layar ipadku.

Mereka diam sejenak, “Ehm kalo nenek gue sih belum tahu. Gue belum ngasih tau dia. Lagian dia itu kan aktivis gereja, gue takut kalau dia ngelarang hubungan kami. Soalnya pas gue Tanya soal homoseksual aja dia langsung bilang kalau homoseksual itu dosa besar, itu semua tertulis di dalam alkitab. Dan semua agama pun melarangnya. Dan seketika itu juga gue langsung ngeri kalu gue harus come out ke dia,” jelasnya padaku.

Aku menaruh Ipadku dan memutuskan untuk mengakhiri bermain game angry grand run yang ternyata cukup menjengkelkan itu, “Owh, agak susah juga sih. tapi mau sampai kapan kamu ngerahasiain ini semua?” tanyaku. Namun dia hanya mengangkat kedua bahunya.

“Aku sih udah nyaranin dia buat tinggal di rumahku kalau seandainya dia diusir sama neneknya. Tapi dia gak mau Dave,” sambung Elaine.

“Lho memangnya kenapa?”

“Lo gak tau sih Dave. Nenek gue itu keluarga gue satu-satunya. Gue gak tega kalau harus ninggalin dia,” jawab Cassie, dari tatapannya aku dapat melihat sebuah kecemasan yang sangat besar.

“Iya juga sih. jadi, jalan satu-satunya kamu harus ngejelasin ke nenek kamu perlahan-lahan, agar dia mau mengerti tentang hubungan kalian,” saranku padanya.

“Memang. Makanya gue suka bawa Elaine ke rumah biar dia kenal sama nenek gue dan akrab,” dia mengambil segelas orange squash yang di hidangkan oleh pembantuku. Ku lihat Elaine sedang membaca majalah fashion milik Mamah.

“Terus apa tanggapan nenek kamu?”

Dia menaruh orange squashnya kembali ke meja. “Yah sejauh ini sih nenek gue suka sama Elaine, apalagi Elaine ini hobi masak, jadi mereka lebih sering di dapur deh,” jawab Cassie.

“Oh gitu. Tapi nenek kamu curiga gak sama kedekatan kalian? Atau biasa-biasa saja?”

“Yah gue gak tahu pasti soal itu. Tapi kan kita berdua cewek, jadi wajar kalau di kamar berduaan. Coba kalau kita berdua cowok, bisa jadi pertanyaan,haha” tawanya terpecah bersama dengan tawa Elaine.

“Emang sih. Orang lebih mentolerir ketika dua wanta bergandengan maupun berpelukan. Karena mereka pikir itu hal yang wajar. Coba kalau dua orang laki-laki, pasti mereka langsung nebak itu homo. Padahalkan gak juga,” kataku sambil melipat kedua tangan di depan dadaku.

“Makanya jadi cewek aja Dave kayak kita-kita,” Sahut Elaine, yang kubalas dengan senyuman. “Oh ya, yang punya majalah ini siapa?” Tanya Elaine.

“Mamah,” jawabku singkat, “Memangnya kenapa?”

“Enggak apa-apa sih. Isinya bagus. Mamah kamu suka fashion juga yah?”

“Iyah. Makanya setiap Chloe datang kesini pasti mereka berdua langsung rumpi,” jawabku. Elaine hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Oh ya, ngomongin soal Chloe, dia liburan kemana emangnya?” Tanya Cassie.

“Kayaknya dia di rumah deh, soalnya kembarannya yang namanya Callan itu kan mau datang kesini,”

“Hah kembaran? Sejak kapan dia punya kembaran? Jangan bilang kembar tiri kayak lo sama Amanda,”

“Yeeehh, enggaklah. Mereka memang kembar, tapi Chloe memang nggak pernah cerita ke kita. Gak tau deh alasannya apa. Lagian mana ada sih kembar tiri, aneh-aneh aja deh,” kataku, aku mengambil Smartphoneku dan mengecek chat yang masuk.

“Ada. contohnya lo sama Amanda,haha,” Elaine langsung menyambut tawa Cassie dan mereka duduk bersama dengan mesra. Tindakan mereka memang romantis, tapi aku tidak iri. Mungkin karena mereka berdua wanita, makanya aku tidak iri karena aku tidak melihat sosok pria dalam diri mereka.

Belum sempat aku berbicara, tiba-tiba smartphoneku berdering. Ternyata itu dari Chloe, aku buru-buru mengankatnya, “Halo, ada apa Chloe?” sapaku.

“Dave, kamu bisa anterin aku nggak?” tanyanya gugup.

“Lah, emang kamu dimana? Terus aku anterin kamu kemana?” tanyaku pensarana.

“Aku lagi di dekat mandom. Ban mobilku pecah. Aku minta tolong anterin ke bandara, kamu bisa?” tanyanya cemas.

“Oh ok.ok, aku kesana sekarang,” jawabku cepat, lalu aku buru-buru pergi ke kamar.

“Lho Dave. Dari siapa teleponnya?” Tanya Cassie bingung.

“Dari Chloe,” teriakku. Lalu aku masuk kamar dan mengambil sweater biru kemudian mengganti celana ku dengan denim berwarna hitam. Setelah itu aku berjalan keluar, tak lupa sebelumnya aku mengamil kunci mobilku yang kutaruh di kotak dekat meja belajarku.

“Chloe ,minta aku jemput. Sekarang dia lagi ada di mandom. Kalian mau ikut?” Tanyaku begitu sampai di depan mereka.

“Ehm nggak usah deh. Soalnya kita juga mau pergi,” jawab Cassie.

“Owh gitu, yasudah ayo bareng!” ajakku. Lalu mereka mengikutiku dari belakang.

Begitu sampai di parkiran, kita berpisah. Aku masuk ke dalam mobilku, Cassie dan Elaine menaiki motor Cassie. Dan mereka keluar rumah terlebih dahulu.

***

“Halo Chloe, kamu dimana?” tanyaku sambil mencari keberadaanya.

“Ini, aku di deket Mandom, tapi yang di bawah jalan layangnya,” jawab Chloe.

Tak lama aku menemukan dirinya yang sedang meringkuk, karena kedinginan atau mungkin takut kehujanan. Begitu sampai di depannya, aku buru-buru membuka pintuku. Dan dengan cepat Chloe masuk.

“Haaaahhhhh, akhirnya kamu dateng juga Dave,” katanya dengan helaan panjang.

“Mobil kamu kemana?” tanyaku, karena aku tidak melihat keberadaan mobilnya.

“Udah di bawa ke service center. Tadi aku nelpon mobil derek soalnya,” dia melepas jaket pinknya. “Ya Tuhaaann. Jaketku basah lagi, mana jaket baru pula, issshh sebel deh,” rutuknya kesal.

“Ehh nggak boleh gitu. Hujan itu kan rahmat Tuhan Chloe,” sergahku.

“Oh iya. Maafkan aku ya Allah,” katanya dengan nada yang dibuat seperti anak kecil.

“Yasudah, kamu gantung di belakang aja gih!” perintahku. Dan Chloe menggantungkan jaketnya di row belakang. “Kamu udah lama nunggu?”

“Nggak juga sih, baru..” dia melihat ke arah jam tangannya, “Lima belas menitan,” jawabnya.

“Owh sorry yah, abis di bunderan summareconnya macet tadi,”

Dia mengibas-ngibaskan tanganya ke arahku, “Nggak apa-apa. Aku ngertiin kok. Daerah situ kan emang suka macet,” dia tersenyum ke arahku, “Lagian harusnya aku yang minta maaf Dave. Karena aku yang merepotkanmu,”

“Nggak usah sungkan gitu,” jawabku sambil fokus kedepan.

“Makasih yah. Lagian aku tadi udah minta tolong Arin, tapi dia nggak bisa. Dia lagi di ada jam kuliah,hehe,” dia menyalakan mp3 yang ada di mobilku.

“Arin? Arin who??” tanyaku penasaran.

“Ehm siapa yah? Yang jelas aku sama dia baru kenalan kemarin waktu di Taman jogging,hehe” dia kembali tersenyum ke arahku.

“Terus kejadian detailnya gimana? Explain then!” perintahku.

“Ehm nanti aja aku ceritain ke kamu kalau kita udah sampai. Kamu sekarang mending fokus nyetir aja, okay?” katanya, lalu dia mengambil peralatan kosmetik yang ada di dalam tasnya dan mulai melakukan salah satu keahliannya, yaitu ber-make up. Aku pun kembali fokus menyetir.

***

“Dave,” panggil Chloe.

“Ada apa?” tanyaku padanya. Sekarang kami sudah sampai di terminal kedatangan international bandara soetta. Dan kami sedang ada di restaurant.

“Kayaknya nanti aku bakalan minta tolong lagi deh sama kamu,” katanya sambil memutar-mutar sedotan jus alpukatnya.

“Minta tolong apa lagi?” tanyaku.

“Nanti minta tolong anterin Callan pulang yah. Aku soalnya mau langsung pergi sama Arin. Gimana? Kamu mau?” tanyanya penuh harap.

“Oke,” jawabku singkat. “Oh ya, katanya kamu mau nyeritain ke aku soal Arin. Go on!”

“Ehm okay. Tapi janji yah kamu nggak bakalan ketawa dengernya!” aku hanya menganggukkan kepalaku tanda kalau aku setuju. “Ehm jadi gini ceritanya. Aku sama mamah kan lagi jalan-jalan di taman kota bareng Stevie. Nah pas aku lagi jalan mau beli balon buat Stevie tiba-tiba kepalaku kena bola basket. Terus aku jatuh deh. Nah, ternyata yang ngenain aku itu si Arin. Jadi deh dia tiba-tiba datang,” dia menyeruput jus alpukatnya, “Tapi yang bikin aku jengkel adalah dia bukannya nolongin aku eh malah langsung ngambil bolanya, terus cuman bilang minta maaf sambil berlalu,”

“Terus apa yang kamu lakuin?” tanyaku makin antusias.

“Aku langsung jalan ke tengah lapangan terus nyamperin dia deh. Aku langsung ngerebut bola darinya dan mendribblenya lalu memasukannya ke dalam ring. Dan ternyata tindakanku langsung mendapat support dari teman-temannya, karena mereka langsung tepuk tangan begitu bola itu masuk ke dalam ring. Tapi aku langsung buru-buru pergi meninggalkan mereka,” jawabnya antusias.

“Terus..terus.. apa yang buat kalian kenal?” tanyaku makin penasaran.

“Keesokan harinya aku Mamah dan Stevie jalan-jalan lagi. Nah, dari situ deh dia mulai ngajak aku kenalan, terus nanya-nanya aku sekolah dimana dan bla..bla.. hingga akhirnya kami dekat kayak sekarang,” dia tersenyum lebar ke arahku

“Owh gitu. Eh tapi kamu bisa main basket ya? Kok aku baru tau sih,” karena selama ini aku memang ngga pernah tahu kalau Chloe itu bisa main basket.

“Aku di ajarin sama kak Panca,hehe. Dia kan atlet basket sekolah. Nah waktu aku main ke rumahnya aku minta di ajarin deh sama dia,hehe. Aduh Dave, perutku kok sakit yah. Aku ke kamar mandi dulu deh yah,” katanya sambil memegangi perutnya, namun sebelum dia pergi Iphonenya berdering. “Dave. Kayaknya kamu harus masuk sekarang deh. Callan lagi boarding pass katanya. Sebentar lagi dia keluar. Aku udah nyebutin ciri-ciri kamu, jadi nanti dia pasti tau. Aku ke kamar mandi dulu yah, bye,”  katanya, lalu mengeloyor pergi meninggalkanku.

Aku langsung bergegas masuk dan menunggu kedatangan kembaran Chloe. Namun dia belum kunjung keluar, akhirnya aku memutuskan untuk duduk. Aku menunggu sambil membalas email dari kak Panca yang sudah mulai masuk kuliah. Baru sekarang aku sadar kalau aku sangat merindukannya. Dulu aku begitu kesal ketika ia dekati. karena kalau dia mendekatiku pasti berakhir dengan ciuman. Membuatku seperti laki-laki binal saja. Tapi aku kangen dengan momen itu, hingga aku tak sadar kalau ada laki-laki yang berdiri di sampingku.

“Ehheeem,” suara itu langsung membuyarkan lamunanku tentang kak Panca. Aku langsung melihat ke arah laki-laki itu. Dia mengenakan beanie hat, tank top berwarna hitam, trousers berwarna cream dan sepatu sneaker berwarna putih. Dia tampak menggendong tas di punggungnya, jumper yang terslampir di tangan kirinya serta headphone yang tergantung di lehernya. Oh ya, di lengan kanannya terdapat tato berbentuk naga, yang membuatku langsung tertegun. “Eheemm,” tegurnya lagi.

Aku langsung melihat ke arahnya yang ternyata mempunyai wajah oriental, kemudian aku langsung berdiri, “Annyeong haseyo,” sapaku menggunakan bahasa korea yang aku tahu, karena di acara-acara yang aku tonton itu artinya ucapan salam. Namun bukanya membalas salamku dia malah memperhatikanku mulai dari ujung kaki hingga kepala. “Annyeong,” sapaku sekali lagi sambil menampakan senyuman di bibirku.

“Gak usah pakek bahasa korea segala. Gue males,” door, bagai terkena senapan aku langsung kaget mendengar reaksinya yang ternyata super duper ketus dan sepertinya menyebalkan. Tapi aku tidak mau seperti Amanda yang prejudice, aku harus selalu positive thinking aja.

“Oh iya. Sorry. Aku Dave,” kataku sambil mengulurkan tangan ke arahnya.

Tapi dia malah diam saja, dan malah menengok ke kanan kiri.” Gue Callan, tapi lo panggil gue Allan aja. Charlie mana?” yang benar saja dia sama sekali tidak menghiraukanku dan malah mengacuhkan uluran tanganku. Benar-benar menyebalkan. Untung, aku tidak seperti Cassie yang ketika marah pasti akan menggunakan ototnya. Mana dia salah nyebut nama orang lagi, dasar!  “Heellooo.. lo itu bisu yah? Mana Char eh maksud gue Chloe?” lanjutnya makin ketus.

“Oh iya. Dia lagi ke toilet, katanya sakit perut,” jawabku seadanya. Dan dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Daripada kita nunggu di sini lebih baik kita keluar yuk!” ajakku. Aku pun berjalan terlebih dahulu dan dia mengikuti di belakangku sambil menarik kopernya. Ketika sudah di pintu keluar Chloe pun datang.

“Hadduuhh sorry yah Lan, aku tadi abis dari kamar mandi,” kata Chloe, lalu dia memeluk kembarannya itu. Dan mereka saling ber cipika-cipiki ria. God. You must be kidding me. Apa-apaan sih nih orang. Tadi aja sama aku dinginnya minta ampun. Giliran sama Chloe dia langsung berubah jadi orang yang ramah dan baik, padahal tadi,eeeuugghh. Sudahlah, biarkan saja. Mungkin memang dia mempunyai dua kepribadian.

“Hello bro eh Sista. How are you?” Tanya Allan.

“Fine of course. Look at you! You look so so.. skanky,eewww,” Chloe langsung menatap jijik ke arah Allan.

“No. This is my style Chloe love. C’mon, don’t be silly!” sahutnya, lalu dia mencubit hidung Chloe. Eeuugghh benar-benar menyebalkan.

“Yasudahlah terserah kamu. Oh ya, yaudah yuk kita pulang!” ajak Chloe. Lalu kami berjalan ke arah mobil yang ada di parking lot. Chloe duduk di kursi depan bersamaku sementara Callan duduk di belakang bersama barang-barangnya.

“Dave, kamu nggak apa-apa?” Tanya Chloe begitu kami sudah keluar dari bandara.

“Nggak apa-apa kok,” jawabku singkat lalu kembali fokus menyetir.

“Kok diem aja dari tadi?” Tanya Chloe, dia menatap wajahku lekat-lekat.

“Ya suruh ngapain emangnya, memang orangnya gitu kali,” sergah Allan sebelum aku menjawab pertanyaan Chloe.

“Shut your hole Allan! I’m not talking to you,” bentak Chloe pada Allan yang duduk di kursi belakang.

“I’m fine Chloe. Really!” jawabku lalu kusunggingkan senyum kepadanya.

“Okay,” lalu dia merubah posisi duduknya menghadap belakang, “Oh ya Lan, nanti kamu dianterin sama Dave pulangnya. Soalnya aku mau pergi sama gebetanku,” kata Chloe pada Allan.

“Terserah deh, yang penting gue sampe rumah,” dia lalu membuka kaca jendelanya.

Aku masih saja terus fokus meneytir hingga akhirnya aku merasa kalau saluran pernapasanku sesak. “Uhuk..uhuk..” tiba-tiba aku terbatuk. Aku merasa kalau aku menghirup asap rokok.

“Kamu kenapa Dave?” Tanya Chloe panik, lalu dia mengalihkan pandaannya ke belakang, “Allan. Kamu ngapain ngerokok? Matiin nggak!” hardik Chloe cepat. Lalu Allan langsung membuang rokoknya keluar jendela. Aku bisa melihatnya dari spion yang ada diatas kepalaku. Barulah aku berhenti batuk. Aku itu memang alergi terhadap asap rokok. Makanya aku selalu menghindar kalau berada di dekat orang yang merokok.

“Lo nggak apa-apa?” Tanya Allan khuatir. Aku langsung menggelengkan kepalaku cepat.

“Lagian kamu ngapain ngerokok segala sih. Gak baik buat esehatan kamu Lan. Dave itu alergi sama asap rokok kalau kamu mau tau,” gerutu Chloe pada Allan.

“Iya..iya, gue minta maaf yah Dave,” sesal Allan.

“Aku nggak apa-apa kok sekarang,hehe,” kataku mencoba tersenyum pada mereka agar mereka tidak cemas. Lalu perjalanan kami lanjutkan.

“Nah, nanti pas keluar pintu tol mangGa dua aku turun yah. Arin katanya nunggu di Mangga dua square. Pokoknya kamu hati-hati yah Dave! Oh ya, kamu juga Lan, jangan macem-macem sama dia!” ancam Chloe pada Allan, lalu dia tersenyum ke arahku.

“Siapa juga yang mau macem-macem sama dia. Like I care,” nyinyir Allan. Aku sebenarnya sebal, tapi mau gimana lagi, aku bukan tipe orang yang suka marah-marah.

“STFU Allan!” jawab Chloe cepat. “Kamu tuh harusnya bersyukur. Kalo nggak ada Dave kamu pasti bakalan naik taksi. Masalahnya tadi mobilku bannya pecah, jadi aku inta tolong dia. Kamu tuh nggak ada terima kasihnya sama sekali sih,Ck.”

“Easy Chloe love!” seru Allan, lalu dia menarik tuas kaca jendela agar tertutup kembali.

Dan perjalanan kembali hening. Tidak ada pembicaraan diantara kita. Chloe sibuk chatting dengan Arin, sementara Allan terlelap. Mungkin dia kecapean, makanya dia ngantuk. Tapi karena dia belum bisa memejamkan matanya maka dia menjadi sosok yang menjengkelkan. Itu analisaku sih, mudah-mudahan setelah dia bangun dia gak se-menyebalkan ini.

“Sekali lagi makasih yah Dave. Aku turun disini aja, tuh mobil Arin di depan,” tunjuk Chloe. Lalu aku menginjak tuas remku. Chloe melihat ke arah Allan, “Dasar kebo,” ujar Chloe, “Bye Dave, hati-hati yah!” lalu dia keluar dari mobilku. Akupun kembali melajukan mobilku. Sebenarnya aku ingin kenalan dengan Arin. Tapi berhubung aku harus mengantarkan Allan pulang akhirnya aku mengurungkan niatku. Lagian, lain waktu pun bisa.

Sesekali aku melihat ke arahnya melalui kaca spionku. Ternyata kalau sedang tidur seperti itu mukanya akan terlihat manis. Bibirnya berwarna merah muda, hidungnya mancung, alisnya tebal, dan kesan oriental benar-benar ada pada wajahnya itu.

Tapi aku merasa kalau dia mirip seseorang. Tapi siapa? Aku mencoba kembali mengingat-ingat kira-kira wajahnya itu mirip siapa. Tapi aku masih belum menemukannya. Ah sudahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Akupun terus melajukan mobilku hingga memasuki kawasan kompleks rumah Chloe.

Aku mengklakson mobilku begitu berada di depan rumah Chloe. Lalu gerbang itu terbuka otomatis. Aku menjalankan mobilku masuk. Mas Paijo dan Mbak Entin langsung menyambut kami. Mereka berdua langsung membawa barang bawaan Allan. “Mas Dave, Den Allannya masih tidur, bagaimana ini?” Tanya mbak Entin bingung.

“Yasudah mba, nanti biar saya yang bangunkan. Mba bawa barang-barang Allan saja masuk!” perintahku padanya. Kemudian Mba Entin langsung membawa tas Allan sementara ma Paijo mebawa koper Allan.

“Allan.. Lan…” kataku lirih. “Allan..” panggilku sekali lagi, tapi dia masih tak bergeming, akhirnya aku memutuskan untuk turun dan membangunkannya lewat belakang.

“Allan..Allan..” kataku sambil menggoyang-goyangkan badannya. Namun dia masih saja diam dan terlelap. Aku memandangi wajahnya sekali lagi. Wajahnya begitu damai dan tentram. Kesan juteknya hilang. Malah kini dia terlihat manis. Ku amati setiap lekuk wajahnya. Namun semakin aku mengamatinya aku semakin teringat dengan wajah seseorang. Tapi aku lupa siapa orang itu.

“Allan..” ucapku sekali lagi. Namun dia hanya menggeliat dan terjatuh dari senderan kursinya. Kini posisi tidurnya setengah telentang dengan posisi kaki di bawah. Akupun masih tetap mengamati wajahnya.

Tiba-tiba smartphoneku berdering, “Halo Jer,” sapaku pada Jeremy.

“Dave, kamu lagi ngapain?” Tanya Jeremy.

“Lagi di rumah Chloe. Kenapa?” tanyaku penasaran.

“Nanti malam kamu ke rumahku yah! Aku sama Tyler mau ngadain pesta anniversary kami yang pertama,” katanya. Aku memandang ke arah Allan sekali lagi. Tapi dia masih terlelap dengan nyenyak.

“Oke. Jam berapa acaranya?”

“Jam 8. Pokoknya kamu harus dateng dan harus bawa pasangan!” perintahnya.

“Ta..tapi kan aku lagi jomblo Jer. Kamu lupa yah?”

“Oh iya, aku lupa. Kamu kan udah putus sama si cowok munafik a.k.a Steffano,” tedengar nada mengejak disana, “Ah tapi pokoknya kamu harus bawa temen kek paling nggak. Soalnya aku nggak mau kalau temanku dateng sendiri. Atau kamu mau aku carikan partner?” tawarnya.

“Oh nggak..nggak. nggak usah,” tolakku cepat. Aku tidak mau berurusan dengan teman-teman Jeremy lagi. Mereka semua itu maniak sex. Kebanyakan dari mereka menjunjung tinggi hubungan ONS yang notabene bukan hal yang baik. Aku aja sempat hampir di ajak having sex dengan temannya. Tapi aku berhasil menolaknya dengan berkilah kalau aku sedang sakit perut. Entah, masuk aka atau tidak yang jelas akhirnya aku tidak jadi melakukannya. Pokoknya teman Jeremy itu aneh-aneh deh.

“Yasudah kalo gtu. Di tunggu kedatangnnya yah Dave. Au revoir,” lalu dia menutup teleponnya dan mengakhiri pembicaraan kami.

Kira-kira aku datang dengan siapa yah? Amanda lagi ke luar negeri. Cassie pasti sedang ada acara dengan Elaine. Chloe sedang jalan dengan Arin. Ahh sudahlah, lihat saja nanti. Toh jadi Mr.Independent pun tak apa.

Ketika sedang asik-asiknya memikirkan tentang rencana pesta untuk nanti malam tiba-tiba tanganku ditarik, hingga aku terjatuh di atas badan Allan. Namun bukannya bangun dia malah makin mempererat pelukannya kepadaku. Aku meronta-ronta, namun pelukannya semakin erat.

Ketika pelukanku hampir terlepas mataku tertuju pada kalung yang ada di lehernya. Kalung itu. Itu adalah kalung milik sahabat kecilku Chris. Kalung berbentuk bintang itu miliknya. Aku yakin itu milik Chris. Karena kalung itu hanya ada dua. Dan yang satu lagi masih aku simpan di lemariku. Kalung yang ketika liontinnya dan liontinku di tempelkan maka akan bersinar.

Karena aku penasaran aku memegang liontin itu. Ku lihat Allan juga masih terlelap. Ketika aku membalikkan liontin tersebut terdapat ukiran huruf ‘D’ di belakangnya. Yang berarti itu inisial namaku. Karena di liontinku terukir huruf ‘C’ yang merupakan inisial Chris. Tapi kenapa kalung ini ada pada Allan? Atau jangan-jangan Allan itu Chris? Tapi kenapa dia tidak mengenaliku? Oh ya aku tahu. Orang itu adalah Chris. Yah wajah yang mirip dengan wajah Allan adalah Chris. Bentuk bibir dan alis mereka sama persis. Tapi apakah dia benar-benar Chris? Entahlah, mungkin dia sahabat yang selama ini aku rindukan.

Akupun langsung memeluk tubuhnya.

-To be Continued to Perkamen Fourteen-

Selamat Pagi semuanya…

Sorry kalau ada typo or kesalahan, karena aku nge-post ini dini hari. mau ngepost besok takut gak keburu. Besok acaraku padat,ahahaha.

Maaf kalo ceritanya masih datar. soalnya kan masih tahap perkenalanya Dave dan Allan,hehe jadi di tunggu aja kelanjutannya.

Pokoknya kalo gak komen berarti gak dilanjut,haha. kayak ada yang perduli aja sama ceritaku,hehe

Buat yang nanya Private project itu apa. aku kasih tau nih. itu cerita yang aku kasih khusus buat satu orang aja. tadinya mau aku kirim lewat email, tapi dia nggak mau. yaudah aku post disitu aja. lagian bentar lagi mau di hapus. jadi jangan nanya-nanya soal password ke siapapun yah. apalagi Rendi, dia mana tahu,haha

Oke deh segitu aja. JANGAN LUPA KOMEN!!!

Cordialement,

Onew Feuerriegel

36 thoughts on “Floque – Perkamen 13

  1. dari yg aku prhatiin kok kayanya alur Flocks 12 ke 13 agak ngeloncat ya? Seperti ada bagian yg di skip.
    Maaf ya kak Onew, bener kata kakak, jalan ceritanya dari awal hampir ke akhir datar semua. Aku gak dapet-eh, belum dapet feel-nya .. Entah karena tutur bahasanya atau apa, cmn kayanya dari cara penyampainnya agak hambar, jadi aku bacanya datar aja .. dan knp aku bilang hampir ke akhir? Soalnya aku mulai bisa merasakan feel-nya mulai dapet-dikit-walau cerita sahabat ketemu lagi setelahsekian lama udah klise banget… tapi, gatau knp aku masih suka aja ..
    ada 4 typos or 5 maybe…
    kayanya udah segitu dulu… mm, still belum ada yg wow menurutku…
    and, I’m in Jakarta right now, haha *ga nanya … plakkkk-_- ouch! that hurts… hehe :p

    • Owh gtu. makasih ruka buat masukan.a. semoga kedepan.a bisa bergelombang n gak datar lagi,hahaha

      skip apa yah? kayak.a gak ada yg di skip kok. terakhirkan Dave nganterin Panca pergi. nah skrg masih dalam masa liburan donk.hehe

      lagi di jkt yah? dmn jakarta.a? mggu kmrn knp gak ke monas? kan bisa ketemu aku n rendi,hahaha

      • iyamasama kak Onew bulet!😀 heheh🙂
        mmm, apa ya nama daerahnya aku lupa sih kak…
        tapi, minggu kemaren aku ke Monas kok… ama adik aku yg udah ngasih LalaLulu Fb secret aku ama nama asli aku ke kak O(o)n..
        hehe🙂 aku baca komen yg dibawah, kayanya bagus juga tuh kalo ada yg bisa sesarkas Sid… hehe…
        ohiya, kapan bakalan ada Cross-Storie lagi?? aku suka lhoo kalo dah ada karakter WS yg udh nyelip-nyelip-cantik…

        • Ruka.. STFU please! how dare you! *siapin tusuk gigi buat nusuk Ruka* haha :-p

          kok gak ketemu yah? padahal aku sama rendi ada dsna lho,haha

          Nanti deh aku pikirin lagi soal itu. klo soal cross storie mungkin next part ada kali,hehehe

  2. Onew, apa yaaaa….. gue nggak bisa nulis sih, jadi komen gue di bawah ini jangan didengerin.

    Lo butuh sesuatu yang bisa bikin cerita ini nggak berasa da-ta-r deh new, padahal cara bercerita lo itu udah enak, tapi terlalu lembut mungkin ya di ukuran POV cowok, walaupun lo selipin beberapa kesan sarkas dari karakter yang lain tetep kerasa datar, MUNGKIN, MUNGKIN bisa lebih berapi-api deh cara berceritanya, jadi nggak datar, ini sih komen dari seorang pembaca. udah dulu ah. ditunggu kelanjutannya onew.

    • Wwaahhh mungkin krn gue tipe cowok lembut yah? maka.a sampe kebawa ke cerita gue,haha

      tapi klo sarkas.a keterlaluan nanti dikira niru Sid lagi,haha

      but thanks for your advice.

    • Insya Allah masih panjang. itupun klo aku gak males ngelanjutin.a. klo males mah bisa kapan aja aku tamatin,wkwkwk

      pokok.a dtggu aja! itupun klo kamu mau,hahaha

  3. Hai hai onet jelek prince william datang lage ni #tebarkiss , lama ga buka blognya si Mr Bitchie2 tralala , ni baru sempet buka pas gw sakit , i hate fever u know but gw sempetin baca n komment ni di cerita eloooo ┐(‘o’ ┐) , anyway gw sedikit lupa benang merah ni cerita jadi td gw bc part sebelumnya n i got it again , typo setahu gw ga ada ya , almost perfect dah , gw lanjut next chapt aja ya , eh anyway eloooo ┐(‘o’ ┐) dapet ga buruan eloooo ┐(‘o’ ┐) yg di monas itu ????? Hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s