Or Just A Dream


Angin malam berhembus dingin, tapi udara masih tetap terasa hangat ketika kita berdua duduk bersama. Suara ombak pantai terdengar menghiasi keheningan kami bersama. Kulihat jam di handphone hitamku yang sudah tua ini. Jam menunjukkan pukul 23:23, itu kelihatan unik tapi sebenarnya aku sering melihat kejadian ini saat kutatap layar hitam putihku. Dua puluh depan menit telah aku duduk bersamanya di sini, masih dalam keheningan. Sama seperti sebelum-sebelumnya yang menjadi suasana ketika kita sedang berdua. Mulutku kelu untuk bersuara lebih dulu padanya, begitupun dia. Mugkin saja dia malu untuk besuara.

“Kau tahu sesuatu?” Perkiraanku salah, dia bertanya padaku.

“Apa itu?” Kuberikan respon tanpa melihat wajahnya, kutatap air laut yang berwarna gelap itu.

“Dulu aku sempat jijik padamu.”

Aku terpengarah dengan ucapannya barusan, kutatap dirinya yang melihat kearah langit.

“Dan menurutku itu adalah bagian dari takdirku berjodoh padamu.” Dia menatapku kemudian.

Kuarahkan pandanganku kembali lurus ke laut, aku pangling menatapnya.

“Apakah kamu masih pangling saat kutatap?”

“Sepertinya akan selalu seperti itu, kau punya kekuatan untuk menghipnotis gerakan tubuhku.” Balasku padanya tanpa menatap wajahnya.

Dia tertawa kemudian memegang kepalaku dan mengusap-usap rambutku, aku diperlakukan seperti anak-anak.

“Hei, sopan sedikit! Kau tidak lebih tua dariku.”

“Well, itu memang benar. Tapi aku selalu berada di atasmu. Aku lebih tinggi darimu” Katanya padaku. “. Aku suka nadamu berbicara padaku.” Sambungnya.

“Apanya?”

“Kalau kamu berbicara padaku, itu berbeda dengan orang lain. Kamu lebih ketus berbicara denganku dibandingkan dengan orang lain. Itu tandanya aku ini spesial di mata kamu kan?”

“Spesial kuda laut!” Kataku padanya.

“Kita di hadapan laut sekarang. Aku tak melihat kuda?” Dia meletakkan tangannya sejajar dengan alisnya seperti menerawang sesuatu dari jauh.

“Haa… Haa… Lucu!” Tawaku garing.

“Apa aku tidak lucu?”

“Tidak!”

“Hei, ayolah.”

“Apa?” Aku bingung padanya.

“Bisakah aku melanjutkan sesuatu yang tadi tertunda?”

“Silahkan.” Kusilahkan dia berbicara.

“Sampai dimana kita tadi?” Dia tidak berubah, dia tetap pelupa.

Aku jadi terpaku akan kata-katanya tadi, itu cukup menyakitkan sesuatu yang bersembunyi di dada kiriku. Entahlah mungkin saja itu adalah bumbu pedas ataupun pahit, tapi dia berkata jujur. “Kau pernah jijik padaku, dan itu adalah skenario tuhan.”

“Oh iya, dan waktu itu aku tidak pernah ingin berada dekat dengamu.” Sambungnya.

Dada kiriku makin terasa ngilu. Aku yakin mataku berkaca-kaca sekarang.

“Dan kau tahu lagi sesuatu? Aku pernah mengutuk dirimu untuk tidak pernah memiliki hubungan apapun denganku walau hanya sekedar saling mengenal. Itulah sebabnya aku tidak pernah berucap padamu walau hanya satu katapun.”

“CUKUP!” Teriakku. Aku turun dari tribun pantai dan bergegas menuju motorku.

“Hei, tunggu. Kamu kenapa?” Dia berhasil menarik tanganku sebelum aku sampai pada motorku.

“Aku ingin pulang!” Kusembunyikan wajahku darinya, aku yakin air mataku telah tumpah. Walaupun gelap, aku yakin dia sadar akan keadaanku.

“Kamu kenapa menangis?”

“Bodoh! Aku ingin pulang, ini sudah larut malam!” Kutarik tanganku yang digemgamnya. Aku harus pulang.

 

***

Hari pertama masuk sekolah adalah nafas baru untukku saat itu. Saat pendaftaran pertama aku sudah melihatnya. Seperti yang dikatakan banyak orang, dia benar-benar tampan. Dia manis dan memiliki aura yang cukup kuat. Dalam jarak beberapa meter saja, aku bisa merasakan keberadaannya. Semua mata tertuju padanya. Dia berdiri bersama beberapa orang temannya untuk mendaftar di SMA yang sama kutujukan. Neka yang kukenal saat itu adalah salah satu temanku di SMP sempat berkenalan dengan Sastra di khayalak umum. Dia tidak malu menyapa lelaki lebih dulu.

Sebenarnya jika kupikir-pikir lagi, dia terlihat seperti lelaki tampan pada umumnya. Tapi entah mengapa, dia memiliki daya tarik yang kuat padaku. Dan untuk pertama kalinya aku juga menyukai seorang lelaki. Jika dipikir-pikir kembali. Masa pubertasku dipicu olehnya. Lelaki pertama yang membuatku berdebar-debar ketika bertemu dengannya. Saat memikirkan masa laluku itu, aku baru tersadar bahwa Sastra adalah satu-satunya lelaki yang membuatku jatuh kejurang dosa ini. Dia adalah orang yang memberikan berbagai stimulus dalam hidupku. Sastra adalah dosa besarku, namun dia juga adalah surga bagi duniaku. Dia adalah kesalahan terbesar dalam hidupku yang membuatku selalu melakukan pembenaran yang tidak-tidak. Aku selalu berharap menjadikan dia sisi kananku namun juga sisi kiriku. Dia adalah semangat sekaligus pemecah suasana baik untukku. Dan masih banyak hal paradoks lainnya saat dia mengisi hidupku.

Masa SMA begitu indah, itu karena ternyata tuhan menjodohkanku padanya di tahun pertama. Sastra satu kelas denganku waktu itu. Walaupun demikian, dia tak pernah sekalipun menegurku. Begitupun dengan diriku, entah kenapa? Dia seperti memiliki kekuatan untuk menghipnotis diriku agar pangling padanya. Aku sering kedapatan olehnya menatapnya dari kejauhan. Dia selalu sadar dan waspada akan pandanganku padanya.

Waktu itu aku memiliki beberapa teman dekat, seperti Yuda, Bim-Bim, Radi, serta beberapa teman lagi yang sudah kulupa namanya. Kami selalu jalan sama-sama ketika sekolah sudah usai. Mungkin saja ini masih skenario dari tuhan, karena Sastra sering gabung bersama kami saat pulang menuju rumah masing-masing. Kami selalu sama-sama dalam satu angkutan umum ketika pulang.

Hari berganti hari, minggu demi minggu, hingga bulan berganti bulan, dan tahun ajaran baru sudah dimulai. Aku menganggap bahwa kami berjodoh. Sastra dan aku masih satu kelas. Hari itu adalah tahun ajaran baru, maka teman pun akan berganti baru. Aku lebih dekat dengan Sastra saat itu. Kami selalu duduk berdekatan walau hanya terpaut satu baris bangku. Jika bukan aku yang di depannya, maka dia yang akan membelakangiku ketika duduk. Kami sempat mendapatkan moving-class waktu SMA dulu. Waktu itu banyak pandangan melirik kami bahwa kami bersahabat. Karena aku sering bersama-sama dengan Sastra dan dua teman baruku yang lain. Meskipun teman baru, tapi kami tidak asing. Mereka berdua adalah temanku juga dikelas sebelumnya. Karena kesamaan di kelas sebelumnyalah yang mempertemukan kami di kelas baru ini. Kelas yang penuh dengan kesan berarti bagi kami semua. Aku, Sastra, Awan, dan Ebi adalah karib selama tahun itu.

Begitu banyak kenangan yang kami buat bersama-sama dalam tahun kedua sekolah kami. Jika membandingkan seluruh teman-teman yang kudapat seumur hidupku, maka di tahun tersebut merupakan puncak dari kebahagiaanku bersama seluruh teman yang kupunya selama ini. Aku dan Sastra masih dalam kebisuan walaupun kami begitu dekat. Aku mulai jenuh dengannya yang hanya bisa diam ketika ada aku. Aku merasa bahwa ada sesuatu padanya yang berlaku demikian padaku. Hari-haripun berganti hari, sama seperti tahun kemarin karena tahun depan menunggu.  Kejenuhanku berakhir dengan takdirku mengejarnya, kami tidak lagi dalam satu kelas di akhir tahun kami di sekolah. Semenjak hari itulah, aku sangat jarang melihatnya. Begitupula dengan dia, dia tidak pernah lagi menangkapku dalam pandangan jauhku padanya. Hingga kuputuskan untuk melupakan saja dirinya.

Meskipun aku bertekat untuk menghindarinya, tapi ternyata perasaan aneh itu timbul. Aku merasakan betapa berartinya masa-masa tahun kedua kami. Kehilangan adalah hal yang wajar, itu akan membuat semua orang mengerti betapa berartinya sesuatu ketika sudah kehilangan. Semakin aku mencoba untuk melupakan Sastra, maka semakin besar pula aku ingin bertemu dengannya. Aku terkadang melepaskan rinduku terhadapnya dengan lewat depan rumahnya, walaupun aku hanya sekali-duakali saja pernah melihatnya berada di sekitaran rumahnya, itu sudah membuat rinduku terpuaskan hanya dengan lewat atau merasakan hawa keberadaannya.

 

 ***

Terik mentari mengundangku untuk mengankat tubuh dari kasur. Baru saja aku membuka mata, handphoneku berbunyi. Kulihat pada layar bahwa Sastra yang menelpon. Aku tak ingin mengangkatnya, kutinggalkan handphoneku kemudian menuju kamar mandi untuk rutinitas selanjutnya. Air di sini begitu dingin, tapi aku suka berlama-lama di kamar mandi ini. Selesai dari mandi, aku kembali ke kamarku. Kulihat handphoneku sudah tidak berdering lagi. Tiga belas panggilan tak terjawab dari Sastra langsung kuabaikan. Kemudian ada puluhan pesan dari Sastra yang berisikan pesan yang sama.

Aku ingin bicara!’ Isi pesannya.

Aku tak menggubris semua yang berhubungan dengan dia. Aku sudah muak dengan dirinya. Aku kembali pada rutinitasku. Aku bersiap-siap menuju kampus, aku tidak ingin mendapatkan surat teguran karena jarang masuk. Aku masih baru di sini, jadi sebaiknya aku harus memiliki citra yang baik. Mama menegurku untuk sarapan dulu sebelum berangkat.

“Ra, tadi teman kamu nelpon.”

“Siapa ma?” Tanyaku pada mama sambil mengunyah makanan.

“Mama lupa tanya siapa namanya. Tapi katanya dia mau jemput kamu.”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Dari suaranya, laki-laki.”

“Siapa?”

“Mama juga tidak tahu. Tuh, mungkin dia.” Mama menujuk keluar rumah.

Sastra keluar dari mobilnya. Tanpa dikomando lagi, dia langsung masuk kedalam. Dia bisa langsung melihatku dari halaman rumah, latar meja makan kami adalah halaman rumah.

“Pagi tante.” Sapanya pada mama langsung masuk ke dalam rumah.

“Pagi, sini nak makan sama-sama.” Mama mempersilahkan Sastra duduk bersama kami di meja makan sempit ini.

“Iya tante.”

Kami sama-sama makan dalam keheningan. Hanya suara sendok yang kadang-kadang menyentuh piring yang berbunyi. Sesekali kulihat Sastra makan, aku tahu kalau dari tadi dia memperhatikanku.

“Kamu dosen juga?” Tanya mama pada Sastra memecah keheningan.

“Nggak tante, tapi calon dosen. Saya mau melamar tante.”

“Mau melamar ya? Kapan?”

“Secepatnya tante, sebelum anak tante ada yang lamar.” Sastra tersenyum pada mama, dia mencoba untuk berncanda.

‘Uhuk-Uhuk’ aku tersedak ketika Sastra berkata barusan.

“Kamu kenapa? Ini minum dulu.” Mama menawarkan air minum.

Kulihat Sastra menahan tawanya ketika melihatku.

“Anak tante masih ada yang belum menikah ya?” Tanya Sastra pada mama.

“Kamu kurang beruntung nak, anak tante yang gadis-gadis sudah dipinang semua. Tuh, kalau mau sama Ezra saja. Cuman dia yang belum menikah sampai sekarang.”

“Maaa….” Keluhku pada mama.

“Kalau Ezranya mau tante, Sastra asik-asik aja.” Sastra menanggapi mama.

“Gila!” Kataku pada Sastra.

“Makanya, kalau mama suruh cepat kawin ya kawin. Mama kan mau punya cucu dari kamu. Adik kamu saja yang paling bungsu sudah menikah, kamu kapan?”

“Ya nanti ma.”

“Kapan?”

“Kalau sudah mapan.”

“Kamu kurang mapan bagaimana lagi? Pendidikan kamu sudah terlalu banyak, pengalaman kerja kamu dimana-mana. Kamu tidak punya tanggungan selain dirimu nak. Apa lagi yang kamu tunggu?”

“Mama, ah…!”

“Iya, apa lagi yang kamu tunggu.” Sastra melihatku dan mengedipkan sebelah matanya padaku.

“Tuh, teman kamu saja mendukung mama.”

Selesai makan aku langsung pergi. Sastra pandai menarik perhatian mamaku, dia begitu sopan pada mama dan mama juga sepertinya nyaman dengan Sastra. Setelah aku mencium tangan mama, Sastra juga ikut-ikutan mencium tangan mama sebelum berangkat. Aku naik dan duduk di sebelah  Sastra, dia yang mengemudi.

“Apa maksud kamu datang kerumah tanpa persetujuanku!”

“Aku kan sudah menelponmu berkali-kali tapi kamu tidak mengangkatnya. Aku juga kirim pesan banyak. Karena kamu tidak memberikan respon, aku langsung telpon ke rumah dan menanyakan keberadaanmu pada mama.”

“Jangan panggil-panggil mama! Dia mamaku, bukan mamamu.”

“Dia calon mamaku. Bleee…” Dia mengejekku dengan lidahnya.

“Maksudmu?”

“Yah, kita akan menikah suatu saat nanti kan?”

“Jangan bermimpi!”

“Aku yakin, kamu pernah memimpikan hal itu. Seperti aku sekarang memimpikan hal itu.”

“Itu dulu, bukan sekarang. Aku ingin hidup normal!”

“Aku bosan hidup normal.” Katanya enteng.

“Kau gila!”

“Yah, aku gila. Aku tergila-gila padamu.”

“…” Aku hanya diam.

“Aku ingin minta maaf padamu.”

Aku masih diam.

“Sebenarnya aku tak tahu apa salahku malam itu. Tapi jika ada hal yang membuatmu marah padaku, maafkanlah aku.”

Aku hanya diam.

“Aku baru sadar sekarang, bahwa ternyata selama ini aku begitu bodoh. Aku sadar kalau aku dulu juga memiliki perasaan yang sama padamu, tapi selalu saja kulawan.”

“Maksudmu?” Aku mulai bingung dengan orang ini.

“Yah, aku memang membingungkan. Aku ingin bicara banyak denganmu. Aku ingin menceritakan semuanya padamu.”

“Apa yang ingin kau ceritakan?”

“Semuanya yang menyangkut diriku dan dirimu. Segala sesuatu yang begitu bodoh dariku. Penyesalanku selama ini dan harapanmu.”

“Maksudmu apa? Aku tak mengerti semua apa yang kau katakan?”

“Sudahlah, nanti saja kita bahas. Sebaiknya kamu cepat-cepat masuk kampus, atau mahasiswa kamu akan menunggu lebih lama lagi. Kamu sudah terlambat empat menit.”

Kami berhenti di depan gerbang kampus kecil itu.

 

***

 

Perpisahan kami tak terkira akan seperti ini. Aku tak tahu sama sekali kabarnya semenjak liburan sekolah menunggu hasil tes perguruan tinggi. Aku kira dia tidak akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Dari kabar beberapa temanku, dia melanjutkan pendidikan berdasakan bakat yang dia miliki.

Kehidupan baruku dimulai dengan teman-teman baruku. Walaupun aku memiliki teman-teman baru, aku tidak melupakan Awan, dan Ebi. Terlebih pada Sastra. Aku berharap kami masih dalam satu institusi, namun kenyataan berkata lain. Masing-masing dari kami mengambil bidang studi lain dan berbeda perguruan tinggi. Ada satu harapanku untuk tuhan bahwa aku lebih memilih tidak bertemu mereka sebelumnya, bahwasanya aku merasa kehilangan begitu besar setelah kami berpisah.

Asaku perlahan mulai memudar. Sastra adalah satu-satunya orang yang dapat memberikan pengaruh luar biasa dalam hidupku selama ini telah tidak nampak lagi secara nyata. Wajahnya hanya sering muncul dalam mimpiku masih sama seperti dulu. Diam, di dekatku, hanya menatapku sesekali, kemudian pergi.

 

***

“Ezra, tunggu…” Sastra mengejarku.

Aku terus berlari dari kejarannya, sudah aku katakan padanya bahwa aku tidak ingin lagi melihat wajahnya itu. Aku sudah muak dengan dirinya yang terus saja memberikan siksaan batin padaku. Ada dirinya maka perasaan aku akan selalu berperang untuk dirinya. Sudah dari dulu aku berpikir untuk menjauhi dirinya agar diriku lebih baik dan tenang daripada harus berada di dekatnya.

“Ezra, jangan lari….”

Semua mata tertuju pada kami. Sore itu cukup banyak orang yang menikmati teduhnya langit di pinggir pantai. Aku yang belum lama menikmati indahnya pantai ini mendapati Sastra terus-terus saja mengejarku. Saat aku melihatnya keluar dari mobil, aku langsung bersiap-siap lari menuju motorku. Aku yang begitu bodoh memarkir motorku jauh dariku, berlari sambil dikejar oleh Sastra. Saat dia mulai mendekat denganku, aku menambah kecepatanku berlari. Orang-orang terpengarah dengan aksi saling kejar-kejaran kami.

Aku tak mampu lari dari Sastra, dia adalah pelari yang handal. Ketika sudah di dekatku, tangannya dengan cekatan mencengkram bagian atas lengan kiriku. Dia menarikku hingga aku berhenti berlari.

“Jangan lari lagi Ezra…”

“Hah… hah… hah….” Nafasku memburu.

“Jangan lari lagi, apakah kau begitu membenciku?”

“…”

“Sekarang kita impas, sudah dua tahun kamu mendiamkanku. Aku kira hukuman untukku sudah satu sama. Ingat, aku juga mencintaimu. Aku yakin kalau kamu juga demikian kan?”

“…”

“Ayo jawab aku!”

“…”

“Ezra…!!!” Sastra mulai kasar, dia mengguncang tubuhku. “Ikut aku…!” Sastra menarik paksa tanganku menuju mobilnya.

 

***

Semua orang punya benda berarti, begitu juga denganku. Beberapa benda berartiku ternyata menghilang dengan berbagai peristiwa. Saat itu aku kehilangan salah satu kenang-kenangan dari temanku Awan, dia sempat memberikanku sebuah cincin yang selalu dipakainya. Aku tertarik dengan cincin yang selalu dipakai di jari jempolnya itu. Aku sempat meminjam benda itu sebelum aku diberi olehnya. Saat aku hendak memulangkannya, Awan berkata bahwa itu adalah milikku. Dia berharap padaku untuk menyimpannya dengan baik dan harap dijaga seperti pertemanan kami. Seperti harapannya, aku selalu menjaganya dengan baik. Tapi ternyata takdir berkata lain, tasku sempat dicuri oleh orang yang tak dikenal. Aku yang khawatir akan hilangnya cincinku ketika latihan Taekwondo, malah peristiwa lain telah menghilangkannya bersama tasku.

Rinduku pada Sastra tak bisa dielakkan, walaupun aku ingin melupakannya tapi bayang-bayangnya tak bisa lepas dari ingatanku. Aku membuat sebuah album berisi kenanganku bersama teman-temanku. Melepaskan rinduku dengan iseng-iseng membuat sebuah album foto kenangan masa lalu. Cukup tebal album itu memuat sebagian besar teman-teman yang kukenal. Mulai dari SMA hingga aku mendapatkan gelar sarjana. Sastra adalah orang yang terbanyak berada albumku itu. Kutuliskan berbagi untaian kata di dekat masing-masing gambar. Gambar tak cukup untuk mendeskripsikan suatu hal, dengan adanya kata maka itu akan lebih berarti. Albumku bertahan cukup lama denganku, hingga benda itu juga hilang.

Saat aku sempat mendapatkan tugas penelitian ke Turki peristiwa itu terjadi. Aku membawa album yang berisi begitu banyak kenangan itu bersamaku. Suatu peristiwa yang menurutku suatu keajaiban terjadi. Aku berada di bandara Soekarno-Hatta saat itu. Aku bertemu dengan Sastra setelah delapan tahun tak pernah bertemu tak tahu kabarnya sama sekali. Dia masih sama seperti dulu, begitu mempesona. Kami saling menatap lama tak bergeming dari tempat kami berdiri. Aku yakin wajahku memerah melihatnya, kurasakan kepalaku memanas. Seperti melihat malaikat, aku cukup terkejut dengan pertemuan pertama kali kami setelah lama tak saling sua.

“Hai.” Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku berani menyapa dirinya, kuberanikan diriku mendekat dirinya.

“…” Dia masih saja diam padaku, sama seperti dulu.

“Lama tak bertemu.” Bodohnya diriku hanya berkata demikian.

“…” Dia masih diam kemudian meluruskan pandangannya kedepan.

Aku duduk di sampingnya. Perasaanku kembali di masa-masa kami saat SMA. Kejadian yang sulit kepercaya saat itu terjadi lagi. Aku pernah mengantarnya pulang dengan sepeda motorku, waktu itu hanya kami berdua sama seperti sekarang. Hawa pendingin udara terasa tangan kiriku, namun tangan kananku tidak. Kejadian aneh itu terasa ketika orang yang berada di sebelahku ini masih tenang di tempatnya.

Suara wanita yang terasa cantik dan anggun memanggil para penumpang karena pesawat telah siap berangkat. Tak terasa tiga puluh menitku di dekatnya hanya terasa semenit saja. Aku beranjak karena perempuan tersebut menyebutkan tujuan dan nomor penerbanganku.

“Sas, aku duluan ya.” Pamitku padanya sambil tersenyum.

“…” Sastra hanya tersenyum sebentar kemudian aku pergi meninggalkannya di tempat itu sendirian.

 

***

“Sekarang aku tahu apa itu menyesal yang sesungguhnya, tapi sebelum itu aku ingin kau mendengarkanku dulu.”

Setelah lama dia menungguku keluar dari kampus, aku keluar dengan tatapan sinisku terhadapnya.

“Please, ini terakhir kalinya aku akan mengejarmu lagi. Tapi sebelum itu aku ingin kau mendengarkan penjelasanku dulu.”

“Baiklah, kalau ini memang yang terakhir kali.”

 

***

Kejadian terakhir kali di bandara itu adalah puncak dari segala kebencianku padanya. Aku baru sadar kalau selama ini aku telah salah berharap. Jangankan berkarib denganku, meresponku saja tak pernah suaranya ditujukan padaku. Harapanku padanya dulu hingga waktu itu sama tingginya dengan awan di langit. Sastra melepaskan tanganku saat aku bisa menggengam tanganya di awan-awan itu. Aku yang tak bisa terbang merasa seperti jatuh ke bumi hingga berkeping-keping. Kuputuskan pada diriku sendiri untuk tidak akan pernah lagi berharap padanya. Aku dan dia telah usai.

 

***

“Sebenarnya aku juga telah memiliki perasaan ini padamu sejak kita bersama dulu.”

Aku terpengarah dengan ucapannya.

“Tapi aku tidak bisa mengungkapkannya seperti sekarang.” Sastra menunduk.

“Kenapa baru sekarang? Tiga belas, bukan, tapi lima belas tahun sejak aku pernah dipertemukan oleh makhluk Tuhan yang selama ini membakarku hidup-hidup baru saja menyiramkan segelas air padaku? Oh Tuhan.” Aku  menggelengkan kepalaku.

“Maafkan aku, aku tak ingin membuatmu demikian. Aku memang salah, selama ini aku terlalu jahat padamu. Maafkan aku.” Dia memelas.

“Apa kata maaf berguna sekarang? Kurasa tidak!”

“Sejak dulu engkau begitu baik padaku, kita selalu berada di tempat yang sama. Kita dekat dalam satu ruang tapi aku merasa sulit untuk menggengam tanganmu. Waktu dulu aku tak beralasan untuk sempat membencimu. Kau tak pernah berbuat salah apapun padamu. Tuhan telah membelokkan kebencianku pada orang sepertimu menjadi serpihan perasaan lain yang kian lama tidak hanya menjadi serpihan, itu bahkan seluas lautan.”

“Huh…”

“Aku hanyalah seorang pecundang yang tak bisa memenangkan apa yang seharunya kuinginkan. Ketika kemenanganku pun sudah tinggal sejengkal di hadapanku, aku bahkan tak bisa menggapainya. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya untuk kebodohanku selama ini, maafkan diriku yang begitu naif ini.”

Sastra menitikkan air matanya. Bahkan dalam khalayanku aku tak bisa membayangkan dirinya demikian, tapi sekarang itu nyata di hadapanku. Tanganya kemudian memegang tangan kiriku, dia memohon padaku.

“Aku tak bisa, sampai jumpa untuk selamanya!” Kataku padanya.

 

***

Aku menambahkan gelar pada namaku lagi, kurasa sudah cukup untuk membuat bangga orang tuaku. Sudah setahun aku di sini untuk mencoba suasana baru. Kuputuskan untuk menghabiskan sisa-sisa hidupku di kampung halamanku. Saat itu aku meninggalkan semua pekerjaanku. Cita-citaku menjadi dosen di kampus tempat pertama kali aku menjadi mahasiswa kulepas dengan begitu saja. Walau demikian, aku masih bisa mewujudkannya di sini meskipun begitu banyak perbedaan suasana.

Aku tidak habis pikir bagaimana bisa Sastra telah berubah drastis dari apa yang pernah kutahu dari dirinya. Waktu pertama kali kami bertemu lagi, dia memelukku dengan erat. Tapi perasaanku padanya sudah tidak seperti dulu lagi, aku berhasil untuk mematikan rasaku padanya. Setelah mengetahui aku balik lagi dan menetap, dia juga berkata demikian padaku. Dia akan meninggalkan semua pekerjaannya di tanah orang itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, Sastra menampakkan perbedaan yang drastis dari yang dulu ku kenal. Dia sangat sering menghubungiku untuk ketemuan. Hal yang menurutku diluar ekspektasiku terjadi begitu saja. Aku sedikit membuka diri padanya. Aku melihat dia memiliki etikad untuk bersahabat denganku. Hingga dia menunjukkan gejala lain lebih dari sekedar pertemanan.

Waktu itu dia sempat menanyakan bahwa aku sedang memiliki hubungan dengan siapa. Aku tak mejawabnya yang lansung saja diberikan respon lain dengan bertanya sudah berapa kali aku mengarungi hubungan kasih dengan orang lain. Aku tak menjawabnya, walaupun aku tahu aku tak pernah menjalaninya dengan orang lain. Sastra sering mengajakku berjalan berdua saja. Makan di restoran, warung kaki lima, cafe, karaoke-an, ke pantai, bahkan mandi bersama-sama di pantai. Peralahan perasaanku terhadapnya mulai timbul karena kehangatan hubungan kami mulai terasa. Satu peristiwa tak terduga lagi kembali terjadi.

“Kenapa kau menciumku?” Kupegang bibirku.

Wajah sastra merah, pandangannya kemudian mengarah ke samping. Dia tersenyum menang setelah melakukannya padaku.

“Bangsat!” Ku kenakan kepalan tanganku pada wajah Sastra. “Apa maksudmu? Kalau kau mau mempermainkanku caranya tidak begini!”

“Apakah kamu tidak suka?”

“Kau lelaki cerdas, tapi selalu saja bodoh untuk membaca perasaan orang lain! Sampai jumpa!”

 Aku berlari dan pulang dengan angkutan umum.

 

***

Aku kembali terbayang kejadian saat kulihat tatapannya yang penuh dengan harap. Aku rasa tuhan sekarang bertindak adil pada kami. Dulu aku yang selalu saja menangisinya. Walaupun itu hanya dalam hati, tapi rasanya sama saja dengan menangis sungguhan. Ku ketuk pintu rumahnya dan langsung saja terbuka. Mata kami saling menangkap satu sama lain.

“Ada apa?” Katanya.

“Apa kau ada waktu sekarang?”

“Aku selalu ada waktu untukmu.” Katanya spontan.

“Bawa aku ke pantai. Aku ingin bicara!”

Sastra masuk ke dalam dan keluar dengan jaketnya. Udara malam begitu dingin, aku memaksakan kehendakku untuk naik motor saja dari pada harus naik mobilnya. Di perjalanan menuju pantai aku memeluknya dengan erat. Kusandarkan kepalaku di pundaknya. Hal itu terasa sangat hangat, terasa lebih hangat lagi setelah dia memegang tanganku dengan tangan kirinya.

“Di sini saja, aku hanya ingin ada kita berdua.” Aku menyuruhnya berhenti di suatu tempat sepi di pinggiran pantai.

Kami berdua turun dan memarkir motor di pinggir jalan. Sebelum jauh kami berjalan kutarik tangannya yang  bejalan lebih dulu dari aku. Kudekatkan dia padaku dan ku pegang kepalanya dengan kedua tanganku. Ku turunkan kepala mendekat padaku dan ku sentuh bibirnya dengan bibirku.

“Kenapa kamu menciumku?”

“Ha ha ha…” Aku tertawa melihat wajanya yang bingung. “Aku juga mencintaimu.” Sambungku padanya.

“Maksudmu?”

“Kau bilang padaku waktu itu kalau mencintaiku. Aku kira jawabanku seperti yang baru saja kuucapkan.”

“Tapi kan waktu itu kamu marah padaku? Kau bilang kau membenciku. Dan waktu itu aku kira kamu tidak akan memaafkan diriku.” Terangnya.

“Baiklah, aku tak jadi mencintaimu.”

“Maksudku bukan begitu, bukan berarti aku hanya mengingatkan masa lalu lantas tiba-tiba kamu menafikannya tiba-tiba.”

“Oh, baiklah. Lupakan semua kata-kataku tadi. Aku rasa, aku kembali salah seperti dulu.”

“Sayang, aku tak bermaksud demikian. Aku juga mencintaimu…”

“Sayang?” Tanyaku sebelum dia berbicara banyak. “Sejak kapan aku boleh memanggilku sayang?”

“Sejak kamu menerima cintaku.” Sastra mencubit kedua pipiku.

“Sakit tauk! Jangan keras-keras!” Kataku padanya.

“Okedeh cintaku.”

 Sastra hendak mencubit pipiku lagi namun kutahan.

“Kau tak boleh memanggilku seperti itu! Sayang, cinta, atau apalah. Aku tak suka mendengarnya! Kita belum berpacaran, aku hanya mengatakan kalau aku juga mecintaimu.”

“Oke my sweet honey.” Dia tersenyum dengan indah.

“Aku kan sudah bilang..”

Sastra menciumku. Bibirnya merayu bibirku untuk tidak mengatup begitu saja. Badanku kaku, terlebih bibirku hanya bisa diam saja. Sastra lama di sana kemudian dia memelukku.

“Ezra… maukah kau menjadi pacarku?”

 

***

Kejadian setelah dia menciumku dengan tiba-tiba di pantai membuatku makin gelisah. Aku merasa seperti dipermainkan oleh dirinya. Dulunya kami memiliki hubungan yang tidak jelas, malah bertambah tidak jelas lagi setelah dia mempermalukanku di hadapannya waktu itu. Aku sangat kesal karena perasaanku yang timbul padanya tidak lagi seperti dulu saat aku masih berharap padanya. Walau aku tahu kalau perasaanku sedikit timbul kembali, tiba-tiba saja Sastra membuatku bingung. Hubungan kami sudah jelas waktu itu sebagai teman baik. Aku ingin berteman saja dengannya, dan begitu pula dirinya menampakkan diri sebagai seorang karib bagiku. Setelah lama kami tak bertemu, Sastra muncul dengan keramahannya. Sifat barunya membuatku takkan pernah lagi canggung padanya. Bahkan diriku mengakrabkan diri dengan cara unikku sendiri padanya, terkadang dia kesal padaku yang selalu jutek terhadapnya.

 

***

“Apakah kamu mengenal benda ini?” Sastra menunjukkan sebuah benda padaku.

“Ini kan? Jadi waktu itu totebagku ketinggalan di bandara?” Kuambil albumku dari tangan Sastra.

“Aku iri pada teman-temanmu. Aku iri pada Awan dan Ebi yang sempat bercanda tawa dengamu waktu itu. Aku hanya bisa menyesal sekarang, karena keberaniaku padamu baru muncul belakangan.”

“Aku juga menyesal, karena aku menyesal telah menyalahkan diriku yang melupakan buku ini. Sepertinya buku ini yang membuat kau berani mengatakannya. Tapi aku tidak menyesal sempat kehilangan buku ini. Aku hanya sempat kehilangan, tapi aku mendapakannya kembali bersama dirimu.”

Aku kembali teringat kejadian waktu di bandara itu. Kami sama-sama duduk masih dalam kehengingan. Aku mencoba memberanikan diriku untuk menyapanya lebih dulu. Keberanianku melibihinya daripada keberaniannya menyatakan cinta padaku, Sastra lebih siap daripada itu.

“Hal yang terbodoh kulakukan waktu itu adalah bukan tidak menyapamu balik atau mengenggam tanganmu, tapi aku begitu bodoh telah mengacuhkan dirimu.”

“Sudahlah, kejadian itu tak perlu diungkit-ungkit lagi.”

“Kita satu penerbangan waktu itu. Setelah kau jauh pergi, aku baru menyusul di belakangmu tanpa kamu sadari. Aku ke Jerman untuk melanjutkan studiku di sana. Dalam pesawat pun kamu tak sadar bahwa aku berada di belakangmu. Waktu itu aku ingin mengembalikan benda itu secara langsung, namun aku berpikir lain bahwa benda itu akan kusimpan sebagai kenangan. Aku tak yakin bisa menemukanmu lagi setelah bertahun-tahun aku merindukan dirimu saat itu.”

“Kau salah, aku bisa merasakan keberadaanmu walau tak jelas di mana. Aku merasa nyaman berada dalam pesawat waktu itu walaupun aku telah pamit padamu lebih dulu. Perasaanku selalu benar jika itu menyangkut tentang dirimu.”

“Sebenarnya aku sudah lama ingin mengembalikan album itu padamu, itu adalah saat aku mengajakmu ke pantai dan kamu marah padaku. Harapanku bertemu kembali denganmu adalah kebahagiaan besar pula bagiku. Album itu bercerita banyak padaku, kamu menjelaskan semua hal yang seharusnya kutahun sejak awal. Aku sadar bahwa ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan, dan begitu menyesalnya diriku baru membuka album itu setelah di Jerman, bukan di bandara.”

Sastra tersenyum padaku.

 

***

Aku tak marah lama padanya. Saat itu Sastra mengajakku untuk bertemu di pantai. Malam sudah larut, tapi dia ingin bercerita suatu hal mengenai diriku. Sastra datang dengan kendaraan yang biasa dia gunakan. Aku yang masih sedikit marah padanya tidak ingin naik ke mobilnya. Aku membawa kendaraanku sendiri. Di saat rumah sudah sepi, aku menyelinap dengan membuka gerbang dan bagasi mengeluarkan motorku. Aku naik motor ke pantai waktu itu.

Dinginnya udara malam menusuk hingga ke dalam tulang. Kami berdua duduk bersebelahan di tribun pantai. Berada di dekat Sastra membuatku merasa nyaman dan tentram. Udara yang dinginpun terasa berubah hangat seketika berada berseblahan di dekatnya. Perasaan yang dulu muncul kembali pada saat itu. Saat terakhir kali aku mengucap pamit padanya di bandara, saat terakhir kali kami berdua di sekolah tanpa ada seorangpun, saat tinggal kita berdua dalam satu angkuta umum, dan saat terakhir kita berdua dalam keadaan yang sama dan tiba-tiba saja Sastra mengecup bibirku.

Perasaan itu selalu saja muncul tiba-tiba. Saat-saat di mana kami sedang berdua dan merasakan bahwa hanya kami berdua di dunia. Saat yang dihiasi waktu seperti dalam kotak pandora, waktu terasa begitu cepat. Saat diam dalam kata begitupun dalam benak. Tak ada satu katapun yang terlintas dalam benakku walaupun itu juga secara lisan. Hingga salah satu dari kami memulai kehangantan itu. Sastra memegang tanganku dan mengenggamnya. Mata kami saling menangkap satu sama lain. Wajah kami saling mendekat hingga kurasakan nafasnya mulai memburu. Aku juga dapat merasakan detak jantungnya yang begitu memburu. Sastra gugup dengan tangan gemetarnya. Entah siapa duluan yang memulainya, bibir kami sudah saling bertautan. Kurelakan wajahku dengan wajahnya kemudian menjaga jarak padanya. Aku mulai merasakan bahwa diriku kembali pada masa laluku.

“Kau tahu sesuatu?”

“Apa itu?” Kuberikan respon tanpa melihat wajahnya, kutatap air laut yang berwarna gelap itu.

“Dulu aku sempat….”

 

***

Aku melihatnya mati di hadapanku, aku begitu bersedih melihatnya. Kubaringkan kepalanya diatas pahaku dan kutangisi dirinya sambil memeluknya dibagian kepala. Tubuhnya terasa dingin dan kulitnya sudah memucat. Matanya tertutup dan wajahnya datar di remang-remangnya cahaya. Hujan turun membasahi diri kami berdua. Aku masih saja menangis karena menyaksikan kematiannya secara tiba-tiba. Kuusapkan tanganku pada wajahnya, aku sedih dan merasa kehilangan.

“Hufth… Hufth…” Aku terbangun.

Kurasakan mimpi itu sangat nyata. Aku melihat Sastra di hadapanku dengan kulit yang pucat dan dingin. Itu sungguh aneh karena baru pertama kalinya aku masuk kelas dan mengetahui kalau dia juga satu kelas denganku. Lebih anehnya lagi bahwa aku belum mengenalnya dengan baik dan hanya melihatnya saja beberapa kali. Tapi aku merasakan aku sudah sangat mengenalnya dalam mimpiku dan aku benar-benar merindukannya serta merasakan kehilangan dirinya saat aku bangun dari mimpiku. Jam menunjukkan pukul 06.21, aku harus mandi dan pergi sekolah. Ini tahun pertamaku di SMA.

“Ra… Bangun… Mandi…” Kata mama sambil mengetuk pintu kamarku.

 

16 thoughts on “Or Just A Dream

  1. just a dream? like what? de javu?
    alurnya lompat2 random dari masa lalu, sekarang dan masa depan, gue bisa ngerti author nulis apa, mirip lagu michael buble, “i haven’t met you yet”.
    Gue baca tulisan ini ditemani hawa cibubur yang dingin, dan awan hitam yang menggelayut, so, agak2 kebawa nelangsa aja bacanya, halah!
    kalau di bikin script film, oke juga nih (film indie).

  2. Ciri khas kak Abel. Alurnya selalu lompat-lompat kesana kemari, dan kurang jelas. Apalagi di ending-nya .. Sukses, membuat aku bingung total. Tapi, qku bisa dapet feel-nya walau kutang jelas. Rasa sakitnya itu dapet banget. Tapi ya itu, monus pointnya terlalu banyak. Jadi mengurangi kesan plus point-nya dehh…

  3. Alurnya keren bolak-balik, tapi jalur ceritanya aku ga tau endingnya gajelas -_- , balik lagi ke SMA, masa SMA kan udah di ceritain di awal maupun di tengah cerita, harusnya yang dipake Ending tuh masa sekarang dimana ezra jadian ato pacaran ato pensiun ato makin romantis ato gimanalah biar sedikit lebih jelas soalnya alurnya Flashback tapi gak membuat pembaca ngeh -_-
    . Tapi feel-nya dapet banget kak.,

  4. A good short story actually. If not for the confusing pacing about now & then this would be perfect🙂 i do understand that in dream the pacing would be like this, we could feel it in our dream but in a writing it could be nice if writer can make it easier.🙂

  5. aku sih ngerti alurnya,,keren sih alurnya beda kayak bberapa film gitu,tp masalahnya ini karya tulis,bukan kayak film yg bisa dimengerti,,
    endingnya gantung bgt..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s