Floque – Perkamen 10


Logo Jubilee(resize)

NB : Cerita ini mengabil setting waktu masih semester 1 kelas XI,  dan cerita RD itu mengambil setting semester 2 kelas XI. jadi, aku harap kalian jangan bingung yah. soalnya ini cerita berlangsung sebelum RD, dan Revie masih belum jadian sama Bagas. dan masih miskin juga,hahaha oke oke oke???

 

Chapter Ten : My Gay Roomate.

 

Namanya Revie. Nama panjangnya Revie Ferdian. Dia mempunyai perawakan yang sedang-sedang saja atau mungkin bisa di bilang kecil, bukna terlalu kecil juga namun tingginya lebih pendek dari tinggi badanku. Wajahnya seperti porselen, putih, bersih tanpa noda dan jerawat sedikitpun. Mungkin kotoran pun enggan hinggap di wajah manisnya tersebut. Dia mempunyai mata yang lebar, hidung yang sesuai dengan wajahnya, dan keningnya selalu berkerut ketika berbicara, membuat wajahnya terlihat semakin lucu dan tampan.

Revie mempunyai rambut yang hitam sempurna, sama sepertiku walaupun aku pernah mewarnai rambutku menjadi cokelat terang, tapi sekarang rambutku berwarna hitam. Dia lugu,polos, dan selalu tersenyum ketika bertemu atau berpapasan dengan orang lain. Tingkahnya sederhana dan perkatannya halus dan sopan. Dia mirip malaikat tak bersayap. Kalau di badingkan dengan manusia lain, mungkin dia mirip Charlie Rowe tapi dengan rambut hitam. Kalian tahu kan siapa Charlie Rowe itu? Dia itu yang jadi pemeran utama dalam film Neverland.

Semua orang akan terkagum ketika melihat wajahnya, semua orang akan berhenti bernafas jika melihat senyumannya, dan semua orang lidahnya akan kelu apabila berbicara dengan Revie untuk pertama kalinya. Itu yang aku rasakan ketika dia bertanya kepadaku kemudian menarikku masuk ke dalam kamar hotel ini, dan aku yakin semua orang akan melakukan hal yang sama denganku. Aku berbagi kamar dengannya karena memang sudah diatur oleh pihak penyelanggara olimpiade.

Sekarang aku sudah seminggu sekamar denganya. Banyak hal yang aku tahu dari sifat-sifatnya yang lain. Ternyata memang semua yang ada di sunia ini mempunyai dua sisi. Jadi sisi baik dari Revie kan sudah aku sebutkan di atas, sekarang ak au menyebutkan sisi buruknya. Ternyata walaupun badan Revie itu kecil dia mempunyai penampungan besar di dalam perutnya. Itu terbukti ketika di adakan jamuan makan malam. Awalnya dia hanya makan dengan porsi yang biasa, tetapi setelah itu dia membawa beberapa potong pudding dan beberapa gelas ice cream ke kamar.

Oh ya aku lupa memberitahu kalian, Revie itu ice cream holic. Dia bisa menghabiskan dua bucket ice cream double dutch hanya dalam waktu dua jam. Tapi mimik wajahnya ketika mengunyah sendok demi sendok ice cream itu membuat orang gemas. Dia akan memasukan sesendok penuh ice cream lalu mengunyah dengan pipi yang mengembung, membuat wajah imutnya makin menggemaskan. Tapi walaupun dia mempunyai kekurangan, sebenarnya itu tidak berpengaruh sama sekali dengan kepribadiannya. Semua orang pasti akan betah berlama-lama berdekatan dengannya. Karena Revie mempunyai daya magnet yang sangat kuat. Sehingga banyak orang yang tertarik dengan ketampanan wajahnya yang bak malaikat tak bersayap itu.

Seperti sekarang ini. Kita sedang berkumpul di loby hotel untuk selanjutnya masuk kedalam ballroom untuk mengikuti kegiatan rutin kita, yaitu evaluasi hasil. Jadi, setiap Negara diharuskan melakukan evaluasi terhadap peserta olimpiade. Kebetulan dari Indonesia terdapat beberapa sekolah yang ikut serta dalam olimpiade kali ini, diantaranya DIS dan juga sekolahku. Mr.Franco selaku kepala penyelenggara olimpiade memerintahkan kami masuk. Akupun melangkahkan kakiku memasuki aula yang cukup besar ini. Di dalamnya terdapat banyak kursi yang membentuk lingkaran. Latar ruangan ini berwarna merah, mulai dari karpet, dinding dan juga kursi yang kami duduki berwarna merah. Dibagian atas banyak tergantung lampu hias dengan berbagai macam ukuran. Dan di bagian depan terdapat pana board yang sangat besar, bahkan lebih besar dari yang ada di sekolahku.

Aku mengambil tempat duduk di barisan nomor dua. Aku mencari kemana Revie, tapi sepertinya dia sudah di rubung oleh anak-anak yang tertarik padanya. Revie itu seperti bunga, dia banyak dikelilingi lebah-lebah tapi tak bersayap melainkan menggunakan jas dan rok. Bahkan yang laki-laki pun ada yang antusias berada di dekatnya. Aku saja sampai geleng-geleng.

Aku memusatkan perhatianku kepada Mr.Sandy selaku pengajar kita hari ini. Aku memasang kaca mata pada wajahku. Aku memang penderita silinder, jadi aku harus memakai bantuan kaca mata ketika melihat tulisan yang cukup jauh dari jarak pandang mataku. Ketika aku sedang fokus tiba-tiba seseorang duduk disampingku, karena dari tadi memang kursi di sampingku kosong.

“Boleh aku duduk?” ternyata itu Revie, akupun mempersilahkannya dia duduk. Wajahnya seperti orang yang ketakutan. Tapi aku malas membahasnya, aku sedang fokus dengan kisi-kisi yang sedang di berikan oleh Mr.Sandy.

“Makasih,” jawabnya ketika sudah duduk. Dia mengeularkan buku dan tempat pensil yang (Maaf) sudah kusam, terlihat dari bentuknya yang menurutku harus diganti. Oh ya satu lagi sifat baiknya Revie. Dia tidak pernah minder dengan keadaanya. Dia pernah bilang padaku kalau dia sebenarnya dari keluarga kurang mampu, yaitu ketika aku memandang tasnya yang tak kalah kusam dengan tempat pensilnya. Aku saja sampai heran, kenapa dia masih menggunakan tas yang sudah lusuh itu. Dia bilang, selama masih bisa digunakan kenapa harus diganti.

“Dave, mulai besok kamu jangan jauh-jauh dari aku yah. Aku akut,” dia berbicara sambil memegangi lengan kananku.

Aku menoleh ke arahnya, “Lho memangnya kenapa?” tanyaku sambil mengerutkan dahiku.

“Aku takut. Mereka semua selalu mengikutiku kemana aku pergi. Aku aja tadi pura-pura mau ke toilet jadi aku bisa pindah kesini. Mereka itu perempuan tapi kok malah agresif yah. Meamang mereka itu cantik tapi sayang, aku tidak..” dia menggantung kalimat terakhirnya.

“Tidak apa?” tanyaku makin penasaran.

“Eh anu..emm..anu.. tidak suka cewek yang agresif,” jawabnya gugup, akupun hanya menganggukan kepalaku. “Jadi kamu mau kan Dave?” aku selalu terlena ketika melihat matanya yang bulat itu memandang ke arahku. Akupun seakan terhipnotis dan mengiyakan permintaanya tersebut. “Makasih yah Dave, kamu memang baik,” serunya antusias, membuat beberapa pasang mata memandang ke arah kami. Bahkan Mr.Sandy pun berhenti menjelaskan dan memandang heran ke arah kami. Revie langsung salah tingkah kalau begini. Dia langsung menundukan kepalanya.

“Mr. Ferdian,” seru Mr.Sandy. Revie menegakan posisi kepalanya ke depan. Semua pasang mata langsung melihat ke arahnya.

“Iya,” jawabnya singkat.

“Bisa anda maju kedepan, dan mengerjakan apa yang barusan saya jelaskan?” Tanya Mr.Sandy.

Revie berfikir sejanak lalu menganggukan kepalanya, dia berdiri lalu berjalan kedepan, namun sebelum itu dia menoleh ke arahku dan berbicara tanpa mengeluarkan suara, dari bahasa bibirnya aku tahu kalau dia berkata doakan aku, makanya aku menganggukan kepalaku, lalu dia berjalan ke depan.

Mr.Sandy memberikan spidol kepada Revie, dan Revie pun akan mulai menuliskan jawaban dari soal yang sudah tertulis pada pana board tersebut. Namun sebelum Revie mengerjakannya, aku menekan tombol print pada mejaku dan keluarlah lembaran kertas bertuliskan soal-soal yang ada di papan tulis. Bagi yang belum tahu kelebihan pana board di banding white board pada umumnya, aku kasih tau yah. Jadi kita bisa mengambil hasil print out dari semua yang kita tulis di papan tersebut, tanpa merubah bentuk tulisannya. Jadi kita tidak perlu repot-repot menyalin atau menulis ulang hanya tinggal pencet tombol print maka akan keluar hasilnya.

Ketika Revie sedang mengerjakan soal tersebut, aku melakukan hal yang sama. Aku mengerjakan soal tersebut. Namun ketika aku sedang mengerjakan soal ke tujuh dari sepuluh soal tersebut, aku mendengar tepuk tangan dari anak-anak di dalam ruangan. Akupun mengalihkan pandanganku ke depan. Ternyata Revie sudah selesai mengerjakan kesepuluh soal tersebut dan hasilnya sempurna. Padahal aku masih berkutat dengan soal ke tujuh, tapi dia sudah selesai mengerjakannya. Ck,benar-benar dia memang jenius.

“Tunggu sebentar,” sergah Mr.Sandy ketika Revie ingin beranjak dari depan, Revie pun mengurungkan niatnya, “Jawaban kamu memang benar, tapi kenapa cara pengerjaan kamu lain yah dari semestinya?” Tanya Mr.Sandy heran. Setelah aku amati ternyata cara pengerjaan Revie lbih simple jadi tidak banyak makan waktu.

“Ehm saya mencoba mengerjakannya lebih simple, jadi tidak memakan banyak waktu,” jawa Revie singkat. Apa aku bilang, caranya  memang lebih simple, tapi hasilnya tetap akurat. Tapi aku heran kenapa dia bisa mempunyai pikiran sampai kesitu? Sepertinya dia memang lawan yang tangguh, jadi lebih baik aku harus belajar lebih banyak padanya.

“Oke, sit down please!” Mr.Sandy mempersilahkan Revie duduk, akhirnya Revie berjalan kemari dengan di iringi tepuk tangan semua anak termasuk aku.

“Kok kamu bisa sih Rev berpikir sampai kesitu?” tanyaku heran ketika dia sudah duduk disampingku.

“Ehm, aku gak tahu kenapa, kayaknya aku sulit ketika harus mengikuti cara yang seharusnya. Aku lebih memilih menggunakan caraku sendiri. Mungkin aku diseleksia, tapi aku belum tahu pasti apakah aku itu diseleksia atau enggak, yang jelas aku selalu mengerjakan soal dengan caraku sendiri. Tapi entah kenapa hasilnya selalu benar,” jawabnya, lalu dia tersenyum lebar ke arahku memperlihat deretan putih giginya dan ternyata mempunya gigi gingsul. Aku jadi teringat kembaranku Amanda, dia kan phobia dengan orang yang brgigi gingsul, bahakan kak Morgan pun harus rela mencabut giginya. Tapi apakah Revie ini pengecualian baginya atau tidak.

Aku pun mengangguk-anggukan kepalaku. Kalau dia benar diseleksia, berarti dia memang calon orang jenius. Lihat saja, banyak ilmuwan yang sukses tapi ternyata dia penderita diseleksia. Contohnya si Einstein. Berapa banyak penemuan yang dia temukan, tapi ternyata dia seorang penderita diseleksia. Aku sampai berfikir apakah Revie ini the next Einstein? Entahlah, yang jelas dia memang sudah membuktikan kalau dia anak yang hebat di depan semua perwakilan dari Indonesia.

***

Entah kenapa aku masih belum bisa tidur, padahal aku sudah berkali-kali mencoba memejamkan mataku, tapi hasilnya tetap nihil. aku tidak bisa tidur. ku lihat jam masih menunjukan pukul setengah 5 sore. Akhirnya aku memutuskan untuk bangkit. Kulihat ke arah tempat tidur Revie, tapi dia tidak ada. Kemana yah dia, batinku. Akhirnya aku memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Dan ternyata dia sedang menonton televisi dan memangku se ember es krim double dutch, yang bisa kupastikan itu milikku, karena tadi siang dia sudah memakan miliknya habis. Aku memang menyuruhnya memakan es krim ku apabila dia mau, tapi aku nggak nyangka kalau sekarang pun dia masih kuat memakan es krim. Benar-benar ice cream holic.

Akhirnya aku memutuskan untuk bergabung dengannya. “Hey Dave, kamu gak jadi tidur?” tanyanya sambil memasukan sesendok penuh es krim kedalam mulutnya. Aku hanya menganggukan kepalaku lalu duduk di sampingnya. Ternyata dia sedang asik menonton acara spongebob squarepants. Ck, dia memang benar-benar seperti anak-anak.

“Hahaha,” tawanya terpecah ketika melihat adegan si Patrick di kejar oleh ribuan ubur-ubur. Aku heran sama dia, apanya sih yang lucu? I mean, yah mungkin adegan itu lucu tapi menurutku dalam kadar yang biasa saja, tapi dia tertawa terpingkal-pingkal seperti sedang melihat adegan lawakan. Akhirnya aku memutuskan untuk membaca majalah yang ada di samping kursi tersebut.

“Dave,” tegurnya di sela-sela aku membaca majalah.

“Hmmm” jawabku singkat. Dia merubah posisi duduknya menghadapku lalu menarik-narik ujung T-Shirt ku. Akupun mengalihkan pandanganku kepadanya dan menaruh majalah yang tadi kubaca di pangkuanku.

“Menurutmu besok kita bakal bertahan gak yah? Besokan babak penyisihan yang pertama,” dia berkata dengan wajah yang dibuat cemberut, membuat wajah malaikatnya menjadi semakin menggemaskan.

Aku pun ikut merubah posisi dudukku dan menghadap ke arahnya, “Hmm aku tidak tahu.yang jelas kita lakukan saja yang terbaik,” kataku sambil menepuk pundaknya. Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya, lalu tersenyum lebar kearahku. Senyum tulus yang biasa dia berikan kepada siapapun.

Ditengah obrolan kami tiba-tiba smartphoneku berbunyi. Aku tahu dari bunyinya itu merupakan reminder. Tapi aku masih bingung itu reminder apa. Akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dari tempat dudukku dan berjalan ke arah meja yang berada di samping tempat tidurku.

13th July : My beloved birthday. Dilayar smartphoneku terdapat foto Steffano yang sedang mencium pipiku. Aku langsung teringat, hari ini adalah hari ulang tahun Steffano. Dan aku lupa. walaupun disini waktu masih menunjukan pukul 5 sore tapi di Indonesia pasti sudah tengah malam. dan aku menyetting alarm sesuai waktu Indonesia. Mungkin aku lupa karena aku sedang sibuk dengan persiapan olimpiade, bukan karena aku sedang mencoba melupakannya. Tak lama sebuah pesan singkat masuk. Aku pun membukanya.

From : Kak Panca

Kalau kamu mau ngasih ucapan buat Steffano, kamu bisa hubungi nomor yang aku attach. Dia kemarin sempat memberitahuku kalau nomor itu aktif ketika tengah malam.

Aku melihat di attachment pesan tersebut dan disitu terdapat sebuah kontak. Aku ragu. Aku masih belum siap ketika harus berbicara langsung dengannya. Memang sih kali ini hanya lewat telepon, tapi tetap saja aku takut kalau aku akan kembali teringat dengan rasa sakit itu. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di tepian kasur sambil memikirkan tentang hal yang akan kulakukan.

Tiba-tiba Revie menghampiriku dan duduk disampingku sambil memegang bahuku, “Kamu nggak apa-apa Dave?” tanyanya sambil mmandang lekat wajahku. Aku hanya menggeleng pelan, “Oh gitu, tadi aku perhatiin garis wajah kamu berubah setelah kamu meraih smartphonemu. Aku kira kamu mendapat berita buruk atau apa. Tapi kamu beneran gak apa-apakan?” tanyanya sekali lagi, mungkin dia heran melihat mimik wajahku yang berubah drastis. Aku sebenarnya ingin berbagi cerita dengannya, tapi aku ragu. Akhirnya aku hanya menggelengkan kepalaku untuk yang kedua kalinya. Dan dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya, lalu dia berdiri dari pinggiran tempat tidurku dan hendak berjalan ke tempat tidurnya, namun aku menahan tangannya. Dia memalingkan wajahnya ke arahku.

“Rev, bisakah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku. Dia lalu kembali duduk di tepian tempat tidurku.

“Tentu saja. Aku akan merasa senang ketika ada orang yang bisa aku bantu ,” dia menaikan kedua kakinya di atas kasur lalu melipatnya. “Oke, kamu mau nanya apa?” tanyanya.

Aku berdeham, membersihkan kerongkonganku yang terasa berat, “Apa yang akan kamu lakukan ketika ada seseorang yang berulang tahun. Dia adalah orang yang pernah kamu cintai, tapi dia juga telah menorehkan luka yang menyakitkan dihatimu. Apakah kamu akan tetap memberinya ucapan selamat atau mengabaikannya?” aku memandang wajahnya, dia terlihat berfikir sejenak.

“Ehm, kalau aku jadi kamu pasti aku akan tetap memberinya ucapan selamat. Karena bagaimanapun dia adalah orang penting dalam hidup kita. Meskipun dia pernah membuat kita terluka. Tapi yang aku tahu setiap luka akan sembuh ketika kamu mencoba untuk memaafkannya. Jadi aku sarankan lebih baik kamu tetap memberinya selamat. Karena bagaimanapun juga, ini hari yang penting untuk dirinya. Mungkin saja dia sedang menanti ucapan darimu. Come on Dave, hati wanita itu akan mudah luluh kok, asal kamu tulus meminta maaf padanya,” dia memegang kedua pundakku.

“Dia bukan wanita Rev, dia laki-laki,” wajah Revie terlihat terkejut, namun tiba-tiba dia tersenyum ke arahku.

“Jadi kamu gay?” dia memandangku dengan tatapan tak percaya. Matanya membulat sempurna. Aku hanya menganggukan kepalaku. Tiba-tiba saja dia melompat kegirangan. “Ya ampun Dave, ternyata kita sama. Aku juga gay,” katanya sambil terus melompat-lompat dan menggoyang-goyangkan badanya seperti telletubies kesurupan jin odong-odong. Kalau sudah seperti ini dia akan terlihat sangat lucu campur menggelikan. Tadinya aku juga sempat kaget ketika dia memberitahuku kalau dia gay. Berarti para wanita yang selalu menguntitnya akan sakit hati ketika mengetahui kalau Revie itu gay.

“Are you sure?” tanyaku tak yakin, namun dia malah tersenyum lalu menganggukan kepalanya. “So. You are my gay roomate then,” kataku dan dia menganggukan kepalanya antusias.

“Yeah, you are my gay roomate too.” Dia tersenyum lebar, lalu dia memeluk tubuhku, “Oh ya sekarang kamu telfon dia gih! Sekarang sudah jam setengah satu di Indonesia,” dia menunjuk ke arah jam dinding yang menunjukan pukul setengah enam. setelah melepaskan pelukannya dari tubuhku. Akupun beranjak dari tempat tidurku menuju balkon kamar tidur kami karena aku ingin berbicara berdua saja.

Aku menekan tombol hijau pada layar smartphoneku, setelah itu aku mendengar nada tunggu dari telephone tersebut. Ternyata teleponnya masih dalam keadaan sibuk. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu dan mencoba menghubunginya lima menit kemudian. Tetapi teleponnya masih saja sibuk. Aku sudah mencoba untuk yang ketiga kalinya, tetapi masih sama. Akhirnya aku memutuskan untuk membatalkan niatku. Namun ketika aku hendak beranjak dari balkon tiba-tiba smarphoneku berbunyi. Dan  itu telepon dari Steffano, akupun menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk bersikap sesantai mungkin.

“Halo,” sapaku dengan nada yang kubuat sebiasa mungkin.

“Hey.eemm sorry Dave, tadi aku sedang sibuk menerima telepon,” suara itu. aku selalu rindu dengan suaranya yang khas, agak serak tetapi punya sisi mature seperti anak muda pada umumnya. “Dave,” dia menyadarkanku dari lamunan tentang dirinya.

“Oh.. yeah. Emmm kamu bisa mendengarkanku? Disini agak berisik,” suasana lalu lintas di bawah memang lumayan ramai walaupun karena sekarang jam pulang kerja.

“Yups, I can hear you. Dave bisakah aku…”

“Steff. Biarkan aku berbicara sebentar. Dengar, aku tahu kamu sudah berkali-kali meminta maaf kepadaku. Bahkan aku sampai tidak bisa menghitungnya. Dan aku memutuskan untuk percaya kepadamu. Mungkin aku pernah bilang kalau aku sudah memaafkanmu, tetapi pada kenyataanya aku belum sampai ke tahap itu. Aku masih belum bisa memaafkanmu sepenuhnya.” Aku mencoba menahan air mataku. Disana dia juga terdengar seperti sedang menahan tangisnya,” tapi pada kenyataanya aku memang merindukanmu. I miss you like crazy. Dan aku tidak bisa terus menyalahkanmu walaupun aku marah padamu, karena biar bagaimanapun kamu adalah teman baikku,” aku masih mencoba menahan agar aku tidak menangis.

“Yah, kamu juga teman baikku,” sahutnya lemah, sepertinya dia menangis.

“Oleh karena itu aku ingin kita berbicara hati kehati pada hari natal nanti. Kita akan ke toko cokelat, bermain ice skatting di Taman anggrek atau bertukar kado seperti tahun kemarin,” dia tertawa, tapi dari tawanya aku bisa merasakan kalau dia juga sedang menagis, “Kamu bisa kan?” tanyaku.

“Oh yeah. Aku belum tahu pasti, yang jelas aku akan mengusahakannya,” jawabnya.

“Ok. Happy birthday Steff. I dream for you a spectacular life and commited behavior towards your wishes and desires,” aku merasakan kalau butiran air mataku terjatuh.

“Thanks..ehhmm .. bagaimana dengan olimpiadenya?” dia bertanya padaku.

“Sejauh ini baik-baik saja. Besok sudah mulai babak penyisihan”jawabku singkat.

“Oh bagus. Semoga kamu bisa menang yah, break a leg!” katanya antusias.

“Thanks,” hanya itu kata yang berhasil keluar dari mulutku. Keheninganpun terjadi, aku masih tidak tahu akan berbicara apa. Begitu juga dengan Steffano.

“Uhm..mmm…I love you Dave,” katanya agak berat.

Aku menghela nafas sebentar,”Yeah I know. I love you too,” jawabku lalu aku buru-buru memutuskan pembicaraan kami. Aku takut kalau aku semakin berharap padanya. Aku mengusap kedua pipiku yang basah oleh air mataku lalu beranjak masuk menuju kamar. Disana Revie sudah berdiri menungguku. Dari tatapannya aku tahu sepertinya dia bertanya apakah aku sudah melakukan saran yang dia berikan. Aku hanya menganggukan kepalaku, lalu dia memeluk tubuhku. Walaupun tubuhnya mungil tapi pelukannya itu terasa hangat. Dia memang malaikat yang terbalut dalam tubuh manusia. Walaupun aku baru dua minggu ini mengenalnya, tapi aku merasa kalau dia orang yang bisa kupercaya.

***

Tak terasa kami sudah melewati masa karantina dan akhirnya kami sampai pada tahap yang ditunggu-tunggu. Yaitu olimpiade. Kami semua berkumpul di aula gedung yang akan dijadikan sebagai final ajang olimpiade matematika dan sains. Dari 25 perwakilan dari Indonesia, hanya terpilih 5 orang saja yang masuk ke Final, yaitu aku dan Revie dari Jakarta, Lazuardy dari Jogja, Gusti dari Bali dan yang terakhir Anissa dari Jawa Timur. Dan kita semua akan berkompetisi melawan perwakilan dari berbagai Negara lainnya.

Revie berdiri di sampingku dan sedang sibuk membetulkan posisi dasinya. “Semoga diantara kita ada yang bisa mengharumkan nama bangsa Indonesia yah Dave,” katanya. Aku melirik kearahnya.

“Iyah, semoga saja,” jawabku lalu memasang senyum lebar ke arahnya. Dan di balas juga dengan senyuman khas miliknya.

“Aku suka kalau melihatmu tersenyum. Kamu jadi kelihatan tampan,” kembali dia mengulas senyum.

“Tetap saja lebih tampan kamu Rev,”

“Kamu juga tampan kok. Lagian walaupun banyak yang bilang aku tampan, tapi percuma saja kalau orang yang selama ini aku cintai tidak memujiku bahkan memperhatikanku pun tak pernah,” jawbanya pelan. Aku melihat ada nada kecewa disana.

“Semua akan indah pada waktunya Rev. kamu kemarin bilang kalau kita harus bersabar kalau kita ingin mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Dan kamu juga bilang kalau orang itu jodoh kita pasti tidak akan kemana. Iya kan?” tanyaku. Yang dibalas dengan anggukan kepalanya.

Olimpiade telah di mulai. Kita semua berpisah. Revie mengikuti olimpiade Math, karena selama karantina kemarin dia memiliki nilai Math tertinggi. Aku mengikuti Olimpiade physic karena aku menempati urutan kedua dalam penilaian, Revie ada di urutan pertama, tapi dia memutuskan untuk memilih math dibanding physic, jadilah aku yang menjadi perwakilan dalam olimpiade physic. Lazuardy menjadi perwakilan dalam kategori Chemistery, Anissa perwakilan kategori Biology, Sementara Gusti menjadi perwakilan dalam kategori Elektro.

Kompetisi dimulai dari mengerjakan soal-soal yang memusingkan. Untung saja aku bisa mengerjakannya tepat waktu. Kemudian dilanjut dengan praktek. Aku lolos hingga masuk lima besar. Kali ini yang menjadi penentu pemenang adalah praktek fisika kuantum. Itu sudah di prediksi oleh tim pendamping dari Indonesia, karena penemu hukum fisika kuantum berasal dari Austria, jadi kemungkinan besar yang akan menjadi penentu adalah fisika kuantum. Akhirnya aku mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh.

***

Aku dan Revie sedang mengemasi barang kami. Kami telah selesai melaksanakan olimpiade dengan hasil yang memuaskan. Revie menjadi juara  satu dalam olimpiade math, sementara aku menjadi juara satu dalam olimpiade physic. Sedangkan ketiga temanku yang lannya masing-masing menempati urutan posisi ketiga hingga juara harapan. Paling tidak semua perwakilan dari Indonesia tidak pulang dengan tangan kosong.

Aku mendekat ke arah Revie yang masih sibuk mengemasi pakaiannya. Aku melihat ada sebuah bingkai foto yang tergelatak di tempat tidurnya. Kuambil bingkai tersebut. Ternyata terdapat foto seorang laki-laki berkulit cokelat terang dengan alis tebal dan bibir yang ranum, “Ini siapa Rev?” tanyaku. Dia terlihat gugup.

“Ehm.. itu.. emmm namanya Bagas. Dia orang yang waktu itu pernah aku ceritakan padamu. Dia orang yang aku cinta selama hampir 12 tahun. Tapi dia tidak pernah membalas perasaanku. An mungkin tidak akan pernah bisa,” jawabnya lemah. Dia mengambil bingkai tersebut lalu mengusap kacanya, “Aku tidak tahu kenapa aku begitu mencintainya, padahal aku tahu kalau dia itu straight. Tapi aku tetap tidak bisa menghapusnya dari hatiku,” kemudian dia memasukan bingkai tersebut kedalam tasnya dan menarik rel sleting tas tersebut.

“Kamu sudah berbicara langsung padanya?” aku memegang pundaknya. Dia menggeleng pelan.

“Aku masih belum siap untuk kehilangan dia. Aku tahu kalau aku tidak akan pernah tahu perasaanya kalau aku tidak jujur padanya. Tapi tanpa diberitahu pun aku sudah tahu kalau dia tidak akan pernah mencintaiku. Dia straight Dave,” dia bangkit lalu meminum susu yang ada di meja. “Tapi semua Flocks ku meminta agar aku berterus terang padanya. Dan aku masih belum siap,” jawabnya lemah.

Aku beranjak dan berdiri di sampingnya. “Memang berat untuk menyatakan perasaan pada orang yang kita cintai. Karena cinta kita itu berbeda dengan cinta orang pada umumnya. Tapi bukankah semua itu akan terjawab ketika kejujuran sudah kamu nyatakan padanya. Masalah dia terima atau tidak itu menjadi urusannya. Yang jelas kamu sudah mencoba jujur dengan perasaanmu.”

Revie menatapku kemudian menampakan senyumnya, “Makasih Dave, aku akan mencobanya,” aku hanya menganggukan kepalaku.

Ipad ku berbunyi, tanda bahwa ada orang yang ingin mengajakku ber-skype ria. Aku meraih Ipadku dan membuka screenlocknya. Ternyata itu Amanda.

“Holaaaa Dave,” teriak Amanda, Cassie dan Chloe secara bersamaan. “Congratulations yah kamu sudah menang,” lanjut Amanda.

“Iyah, selamat yah. Lo bakalan gue ajak party deh buat ngerayain kemenangan ini,” lanjut Cassie.

“Cassie, plis deh, kamu tahu kan Dave itu anti Party. Jadi mending kamu urungkan niatmu buat ngajak Dave ke party yang sudah pasti so Lame!” sahut Amanda. Dan selanjutnya terjadi percekcokan antara mereka. Lalu Chloe mengalihkan layar ke arahnya.

“Dave, congratulations yah. Aku seneng kamu menang. Tapi kamu jangan lupa yah sama oleh-oleh yang aku pesan, kamu ingatkan apa pesananku?” Chloe tersenyum penuh arti ke arahku.

“Iyah, Bawaain orang ganteng kan?” Chloe mengangguk cepat. “Tapi gak bisa Chloe, aku besok harus langsung pulang ke Indonesia. Lagian selama di sini aku nggak kemana-kemana. Palingan aku sama teman sekamarku aja,” jawabku. Chloe cemberut, lalu dia memasang wajah penasaran.

“Teman sekamar kamu ganteng nggak?” tanyanya antusias.

“Bukan ganteng lagi Chloe. Teman sekamarku itu kayak malaikat. Super duper ganteng dan imut,” jawabku.

Dia terlihat sangat antusias, “Really? Mana-mana? Aku mau lihat donk,”

“Bentar yah,” jawabku.

“Amanda, Cassie kalian jangan berantem melulu donk. Nih Dave mau ngasih lihat temannya yang ganteng katanya,” lalu Amanda dan Cassie menatap ke arahku.

“Mana Dave?” Tanya mereka bersamaan.

“Nih sebentar yah aku jalan ke dia dulu,” kataku sambil berjalan ke arah Revie yang sedang sibuk makan biscuit dicampur susu.

“Rev, temenku ada yang mau kenalan sama kamu,” kataku, lalu Revie memutar posisi duduknya dan melihat ke arah Ipadku.

“Oh my God,..oh my God,…oh my God, Holly jesus” sahut mereka dan saling berebut untuk tampil paling depan.

“Hi namaku Revie,” kata Revie, namun mereka masih saja sibuk berebut untuk mendapat posisi paling depan namun tiba-tiba koneksi kita terputus.

“Yah, kok putus,” umpatku.

“Mungkin koneksinya memang jelek kali Dave,” jawab Revie, lalu dia kembali menikmati biscuit dan susunya.

Akupun beranjak dari sisi Revie dan berjalan mendekat ke tempat tidurku. Tiba-tiba smartphoneku berbunyi. “Iya Nda, ada apa?” tanyaku.

“Dasar Chloe sialan. Gara-gara dia laptopku ketumpahan orange juice,” umpat Amanda kesal.

“Oh jadi tadi koneksinya keputus gara-gara ketumpahan jus jeruk?haha”

“Yeehh kamu malah ketawa lagi,”

“Biasa aja kali Nda, nanti aku beliin mackbook kayak gini sekalian lima unit deh,” terdengar sahutan Chloe disana.

“Bukan masalah mack booknya Chloe, tapi masalah data-datanya,” umpat Amanda lagi.

“Sabar Nda, sabar. Lagian mackbook kan punya system recovery, jadi data kamu aman,” jawabku.

“Oh iya yah. Kok aku lupa, ahh tapi tetap saja ini salah Chloe,”

“Ya sudah kamu maafkan saja dia. Toh dia gak sengaja kan?” aku mencoba untuk menenangkannya.

“Halah, Chloe emang suka bikin masalah. Yasudah, besok kamu pulang jam berapa?” Tanya Amanda.

“Dari sini malam, palingan sampai sana siang Nda,” jawabku singkat.

“Okedeh kalau gitu. Besok kita semua ada rencana ngejemput kamu. Tapi kamu pasti kan bakalan di jemput sama pemerintah buat ketemu sama pak SBY terlebih dahulu, dan bisa dipastikan acaranya bakalan lama. Jadi kita mutusin buat ngejemput kamu pas udah selesai acara sama pihak pemerintahnya,” sahut Amanda.

“Oke deh, see you there,” kataku lalu mematikan telepon kami.

***

Aku mendarat di bandara soekarno hatta dan disambut oleh bapak menteri pendidikan. Beliau mengalungkan bunga ke leherku, Revie dan ketiga temanku lainnya. jeperatan lampu kamera menimpa kami. Para wartawan terus meliput proses kedatangan kami. Beberapa pertanyaan sempat dilontarkan oleh beberapa wartawan pada kami. Namun yang lebih sering sering menjawab adalah Revie, karena memang dia yang lebih banyak ditanya. Kalian pasti tahu apa alasannya. Yups, karena para wartawan terpesona dengan ketampanan Revie. Itusih perkiraanku, tapi aku sangat yakin kalau itulah faktanya.

Ketika rombongan kami hendak memasuki mobil tiba-tiba aku melihat seseorang. Aku tidak yakin sebenarnya, tapi wajahnya itu mirip sekali dengan Chris. Sahabat kecilku. Aku memutuskan untuk keluar dari rombongan dan berlari ke arah Chris.

Dia sedang berjalan dengan tas di punggungnya. “Chris…Chris..” teriakku. Namun dia terus berjalan seperti tak mendengarkan teriakanku. Dan ternyata dia sedang menggunakan headphone. Itulah penyebabnya dia tidak mendengarku.

Aku mempercepat langkahku, hingga akhirnya aku berada hanya beberapa centi meter darinya, “CHRIS…” teriakku kencang. Dan dia memutar balikkan badannya.

Aku melihat wajahnya dan seketika itu aku langsung memeluk tubuhnya.

 

-To Be Continued to Perkamen Eleven-

Holaaaa…

Masih masuk dalam hitungan seminggu kan? masih donk yah, kan baru jam 11 malam,hahaha

Sorry kalau masih ada typo soalnya aku gak punya editor. udah aku baca lagi sih, tapi maaf deh kalau masih kecolongan,haha atpi aku mau minta tolong donk, kasih tau mana bagian typo-nya biar nanti aku edit ulang.

Makasih buat semuanya yang udah komen di chapter sebelumnya. dan aku harap di chapter ini kalian juga komen yah,hehe

Oke deh, sorry kalau ceritanya kurang bagus, dan JANGAN LUPA KOMEN!!!

Yours trully

Onew Feuerriegel

20 thoughts on “Floque – Perkamen 10

  1. *Keluarkan tongkat, berucap pelan: LUMOS!*

    Typo:
    Brgigi gingsul <– Bergigi
    Berjalan kea rah meja yang berada <– Ke arah
    Tanyanya sambil mmndang lekat wajahku <– Memandang
    An mungkin tidak akan pernah bisa <– Dan/And

    Kritik buat lo Onew:
    Ini cerita teenlit kan? Remaja? Tapi entah kenapa setiap gue baca percakapan mereka–gue rangkum dari perkamen 1-10 skrg–kok kesannya kaku banget ya? Meskipun mereka bicara pakek aku-kamu, tapi gue ngerasa canggung bgt. Malah kayak lagi baca percakapan di buku young-adult dan fiksi sastrawan. Saran dari gue sih, mendingan diubah dikit ya gaya bertutur percakapannya. Kalau dari mata gue, pemikiran gue, selaku proofread lepas Gramed, gue nyaranin lo buat baca novel Fairish, Dua Pasang Mata, 3600 Detik dan buku teenlit lainnya supaya bisa tau gimana caranya buat percakapan aku kamu biar nggak kaku.

    Kalau misalnya cerita ini jadi satu naskah, dan gue baca dari awal hingga chapter ini, mungkin lo bakalan gue komen habis-habisan. Kayak korban penolakkan naskah lainnya yang habis gue kritik langsung down nulis dan nggak ngirim-ngirim balik naskah mereka ke meja redaksi Gramed lalu ke e-mail gue.

    Tapi, dibandingkan sama penulis-penulis debut itu, gue bisa bilang dengan bangga kalau lo adalah salah satu penulis yang lebih baik dari mereka dalam menyampaikan cerita. Seriously, lo nggak tau aja naskah dlm bentuk apa aja yang udah gue baca. Kebanyakkan klise… dan kalau cerita lo ini sedikit direvisi di sana-sini, rubah pemeran utamanya–si Dave–jadi cewek, pasti ceritanya bagus. Meskipun menye–blah! Kayak cerita Revie–Michu Picchu!

    Lagi pula, lo kan atasan gue. Iya, kan? Di AVN yang paling duluan ngepost cerita dan punya banyak kritikkan itu elo, bukan gue. Jadi gue bisa ngomong dengan bangga kalau elo adalah penulis senior gue. Tapi, kenapa kesannya kok malah gue ya yang jadi senior di sini? Hahaha…😀

    Selain Rieyo, Andystar, Reyn, Mamomento, Bang Remi, Bang Mario, Nayaka dan Choco Monster… Onew adalah salah satu penulis favorit gue. Gue udah ikutin ceritanya banyak banget. Pernah dapat kehormatan buat jadi editornya juga di beberapa kesempatan.

    Overall about that slutty bitch, iya si Onew, gue paling suka sama cerita Windows Of Heaven, yg by the way masih gue inget sampe sekarang inti cerita itu. Ya, ya, ya, call me bad in rendition, tapi gue memang lemah sama cerita sad ending.

    Kritik kedua buat Onew:
    Kalau menulis sesuatu yang asing–kayak Bahasa Inggris dan hal acuan lainnya–buat tanda miring ya. Itulah gunanya ITALIC di Ms. Word, dahling! Gue tiap kali baca cerita lo banyak banget miss Italic nya kalau ada ucapan bahasa Inggris. Lo juga sangat parah di partikel DI- , KE- , PUN dan tanda akhir percakapan. Saking parahnya, gue males banget ngoreksinya. Banyak gila. Kalau lo ngirim naskah dan naskah lo masuk ke gue dan gue nemu semua kesalahan itu. Siap-siap cerita lo gue taruh di folder TRASH. Sorry, but that's true!

    Perhatikan lagi Onew, please, perhatikan lagi! Sudah berapa kali gue bilang sama lo kalau partikel DI- KE- PUN- dan tanda akhir percakapan itu sangat penting? Apakah setiap gue bicara dan ngasih tau nggak pernah lo dengerin dan lo catet di kepala lo? OH, GOD!!! Ntar deh gue buat POST tentang cara menulis yang baik dan benar. Biar tulisan lo yang sebenernya bisa masuk folder SAFE AND SOUND ini nggak jadi masuk folder TRASH.

    Ada kesalahan juga sama cerita lo. Bali sama Wina punya perbedaan waktu 7 JAM. Jadi pas si Dave nelpon setengah satu itu, di Bali masih jam setengah enam sore. Dan si Steffano belum ulang tahun dan belum bisa menerima telpon.

    Please, Onew, RISET! At least, nanya ke temen lo yang pernah ke Wina, atau sama gue. Atau sama Mbah Google. C'mon, cerita lo ini beneran bagus lho. Tapi banyak banget compang-campingnya. Alur udah oke, cerita dan karakternya masuk di kepala, bitchy, smart, strong dan sarcasm nya dpt. Sifat mereka akhirnya bisa membuat unik cerita dan membuat pembaca tahu siapa org itu tanpa harus mikir dua kali–yang mikir dua kali otaknya pasti konslet. Gue suka gaya lo bertutur, beda dari penulis Gay yang pernah gue temui–itulah sebabnya gue ngefans sama tulisan lo. Apalagi kalau ada perubahan yang melejit dlm tulisan lo, mungkin gue bakalan nyuruh lo revisi cerita lo ini ke bagian yang vulgarnya harus dihilangin, gue bakalan nyuruh lo namatin cerita ini, print out dan kirim naskahnya ke meja redaksi, gue yang bakalan periksa dan approve.

    Tapi, kalo masih kayak yang sekarang… yang ada gue malah nyumpahin tangan lo patah dan nggak usah nulis lagi. Typo nggak masalah, tapi penulisan yang lain harus bagus. Take my advice, honey!

    BAGUSIN LAGI TULISAN LO!!! PERBAIKI!!!

    Brake a leg, heh?! Remem-buh that words, you make it, you eat it!
    Chapter selanjutnya bakalan gue periksa lagi… Awas aja kalau masih banyak yang salah. Googling soal partikel DI- KE- PUN- dan tanda akhir percakapannya. Pelajari itu semua, gue yakin lo bisa. Kan lo pintar. So, prove it!

    P.S Lo puas kan dpt komentar panjang dari gue? Well, selamat kalau begitu. Gue mau nunggu penulis pemula lainnya datang ke blog ini, ngirim ceritanya ke e-mail gue dan gue kasih masukkan sehabis-habisnya. Biar makin banyak penulis GAY berbakat di tahun depan. OOh la la…

    BYE! *Apparate!*

    • *Ambil piso dapur*
      *Bunuh diri karena malu*

      Gak jadi gegara di halangi ole Dimitri, *ayyeeyyy pacar gue dari Vegantaras nongol,haha

      Dimitri said : Face it Onew. Kamu tau kan kalo Rendi itu emang suka sirik sama kamu. nah, karena kamu minta di kritik jadi dia mengeluarkan jurus seribu pepek.a. lagian nasihat dia bener semua. kecuali wajah.a aja yg gak bener.

      Me : *Breathe in breathe out* *Naik panggung* *Pasang clip on*

      Okey, okey. For my lovely slutty friend Rendi Febrian. THANK YOU SSOOOO MUUUCHHHH!
      *Terharu sambil ngelap ingus*

      Point pertama, Oke well. kaku yah? mungkin gue punya sdikit advice. sebelum baca cerita gue alangkah lebih baik.a lo makan yg lembek2 dulu, kayak bubur. dijamin deh pasti langsung gak lembek lagi,hahaha *ignore*
      Oke..oke.. gue juga ngerasa kayak baca novel org tua, tau gak. jadi gue bakalan ngikutin saran lo buat beli2 nove di atas. tapi masalah.a gue lagi bokek, jadi gue minjem punya lo aja. boleh kan? *pasang puppy eyes*

      Point ke dua, di AVN gue emang ngepost cerita duluan. tapi pengetahuan gue soal sastra waktu itu masih buta. well, sampe sekarang sih masih. but thanks to Lucifer yg udh ngirim lo buat ngasih tau soal hal2 tentang tulis menulis wlwpun sampe skrg gue masih suka bingung. itulah alesan sampe skrg tulisan gue masih abal2,haha

      Okey, nanti pas lo ke Jekardah gue mau minta bimbingan lo. kalo gak mau tar lo gak gue kasih tumpangan tinggal di hotel gue,hahaha

      Point ke tiga: Buat kesalahan soal DI,KE, PUN or whatever it is gue angkat tangan deh. gue masih bingung mana yg harus di pisah dan di gabung. besok2 gue mau minta saran lo. tapi lo jangan nyinyir yah. setiap kita ngobrolin soal tulisan pasti nyambung.a ke masalah cowok, dan ujung2.a lo pasti nyinyir gegara fakta kalo gue emang lebih menonjol dari segi kharisma,hahaha

      Point ke empat. Okey ini mungkin adalah hal yg paling memalukan. knp gue gak kepikiran soal perbedaan waktu yah. aarrgghhh i missed that thing. Judas, help me please!
      Tar gue ganti deh,hahaha

      Tuh kan apa gue bilang. lo emang suka sirik sama gue. bukti.a lo nyumpah2 tangan gue patah segala,hahaha gue sumpahin penis lo patah lho nanti,haha

      Okey2 i gonna take ur advice. Thanks a lot beybeh.

      Akhir.a lo mengakui kalau gue itu pintar,haha
      Tapi gue gak janji next part bakalan bener2 bagus. masalah.a sampe skrg gue masih bingung soal DI,KE, PUN or something itu. kayak.a lo deh yg harus jadi editor gue,haha

      Oke. Thank you so much akhir.a hati lo tergerak juga buat komen tulisan gue yg *sigh* abal2 ini. next.a gue minta lo terus komen buat perbaikan penulisan gue juga. gpp deh lo hujat gue, toh kita udh biasa saling menghujat kan? gue gak bakalan marah kok, kan gue gak kaya *ehem* yg ngambekan klo di hujat,haha

      Thanks by the way. Arigatou <~ pengen baca cerpen lo yg ini. semoga aja gue gak benci sama lo gegara lo bikin nih cerpen sad ending,haha

    • Memudar? kayak lagunya Rosa donk?

      Kurasakan pudar dalam hatimu,
      rasa cinta yang ada untuk dirimu,
      ku tak rela, dengan semua yang ada,
      inginku lepas semua,haha *malah nyanyi* *salah fokus*

      makasih yah Tio udh komen,hehe

  2. Typo = “Dave, mulai besok kamu jangan jauh-jauh dari aku yah. Aku akut,”

    Ceritanya udah bagus dan brengsek.
    Kenapa brengsek ? karena di cerita kamu yang lain nya bagian menggantung nya udah ketebak alias gak bikin penasaran .

    Karakter Revie disitu menurut aku juga agak berkurang ekspresi nya . Jujur , karakter Revie di WS sama disini agak banyak bedanya tapi aku gak bisa sebutin itu apa .

    Itu aja deh kritikan aku , maaf ya banyak kritik . Anyway , gimana rasanya diteriakin Bang Rendi ?😀
    Semangat ya bikin ceritanya , kalo bisa dipercepat😀 Ganbatte !!!

    • Haduh ceritaku dibilang brengsek, gak papa deh, asal jangan aku aja yang di bilang brengsek,haha

      Beda yah? mungkin karena aku sama Rendi gak satu otak, jadi beda pemikiran,hahaha

      Gak apa-apa selama masih kritikan membangun. rasanya apa yah? aku udah biasa sih Grawl di teriakin sama dia. jadi udh kebal,haha

      oke, udah aku post tuh,hehe

  3. sorry,yg ini ngebosanin deh,nggak seperti yang lalu.kamu menganak tirikan karater dave yg notabene ciptaan kamu sendiri,kok malah jd menonjolkan tokoh revie yang di baut ama rendi.baca bagian ini,kok selah olah baca weather seriesnya rendi ya.nulis tuh emang nggak gampang,and kamu dah bagus kok,cuma kamu harus punya keunikan sendiri dong ya,jgn jadinya ikutan gaya rendi.sorry,cuma kritik ya,walau untuk nulis cerita gini,suer dah aku nggak mampu.tapi aku yakin kedepannya kamu pasti lebih oke lagi.keep spirit ya

    • Iyah, emang dasar aku ini ibu tirinya Dave sih,hahaha

      Iyah aku nanti coba punya keunikan deh, kira-kira apa yah? *thinking*

      kamu mampu kok Mario. asal kamu mau belajar aja,hehe

      oke. u too..

  4. önet gw envy ma loe , REND cerita yg gw krm ga layk publish disini ye ? Gpp sih coz gw jg ga yakin bisa nerusin hahahak #kibas pantat, and u know.lah alasanya . . . Bs2 langsung divorce sbl marriage gw wkwk,
    wat loe nu , ga ada kritik yg lage malas kritik mau nikmatin apa yg diserv. Aja hahaha . . . Lagean jg lage ribet ma persiapan wedding , #calling wedding peach haha . . . Next jgn lupa chat lah lok dah update , ok . . . ok . . .

  5. hola Onew,,
    karena Onew sendiri yg minta, aku akan memperlihatkan bagian2 yg tidak enak ato typo,, aku beri tanda “_”
    1.”bukna” terlalu kecil juga namun tingginya…
    2.tingkahnya sederhana dan “perkatannya” halus dan sopan
    3.kalau “di badingkan” dengan manusia lain,
    4.semua orang akan “terkagum” ketika melihat wajahnya,
    5.”Jadi” sisi baik dari Revie kan sudah aku sebutkan di atas, sekarang “ak au” menyebutkan sisi buruknya
    6.ternyata itu Revie, akupun “mempersilahkannya dia” duduk
    7.Revie berfikir “sejanak” lalu menganggukan kepalanya
    8.setelah aku amati ternyata cara pengerjaan Revie “lbih” simple
    9.lalu dia tersenyum lebar ke arahku “memperlihat” deretan “putih giginya” dan ternyata “mempunya” gigi gingsul
    10.dia kan phobia dengan orang yang “brgigi” gingsul

    udah ah spuluh kalimat aja yg aku rasa gk enak di mataku,, oh iya ada juga kata yg krng 1 huruf, misal:
    permintaanya … permintaannya
    menganggukan … menganggukkan
    menundukan … menundukkan
    menegakan … menegakkan

    jg kata dpn seperti di-, ke-,,
    tetep semangat nulis ya,,,,
    untuk penjelasan lebih lanjut, hubungi RENDI

    #lempar alpenliebe

    • Ya ampun banyak banget typonya *tutup idung* eh salah maksudnya *tutup muka* wkwkwk

      makasih Zack buat masukkannya. semoga aku bisa memperbaikinya,haha

      #lempar kutang <~ kangen sama kutang mak enok,haha

  6. LANJUT ONEW, walau typo gpp deh, udah pinter baca typo soalnya xD ceritanya bagusssssss banget sumpah, dan selalu ada lucunya, walau kadang alur sama penekanan nya kurang jelas tapi high five for you Onew!! Plis lanjut sampe tamat ya, kalau bisa nambah cerita baru lagi hehe ohya, tolong tetep isi cerita dengan komedia ya, biar bisa ketawa gitu bacanya. Oke deh, ditunggu cerita lanjutnya

    • Satu-satunya komentator yang nggak ngritik aku. malah nyemangatin aku. jadi terharu *lap ingus…

      makasih Farhad, buat pujiannya. semoga aku bisa nulis lebih baik lagi yah,hehe

      iyah nanti aku masukin olga sama adul, biar makin lucu,hahaha

      iyah, udah aku post tuh. jangan lupa komen yah,hehe

      • abisnya emang bagus kok overall ceriitanya, dari part ke part selalu berhasil buat gue kagum xD

        iya udah gue comment tuh, agak kasih kritikan dikit ya biar kedepan cerita nya makin cakep cakep dan cakep😀 God bless onew

        • Iyah gak papa. aku seneng kok kalo di kritik, asal kritikan yg membangun yah,hehe

          daripada di cuekin, kan lebih menyakitkan,haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s