Floque – Perkamen 6


Logo Jubilee(resize)

 

Chapter Six : The Secret Revealed.

 

Sudah hampir dua bulan sejak kejadian ciuman itu. Tapi, tetap saja Steffano tidak pernah memberitahuku tentang perasaan yang dia miliki terhadapku. Jangankan terus terang terhadapku, ngomongin masalah ciuman itu saja tidak pernah. Jadi, lebih baik aku tetap menganggapnya sebuah hadiah Halloween. Tidak lebih.

Belakangan ini Floqueku sedang sibuk masing-masing. Karena sebentar lagi kita akan mengikuti ujian evaluasi semester. Selain itu mereka juga sibuk dengan kehidupan asmara mereka masing-masing. Amanda dengan kak Morgan, makin hari hubungan mereka semakin dekat. Bahkan, kak Morgan sudah di kenalkan ke Mamah dan juga Papah. Kalau soal pacar, pasti Mamah lah yang paling antusias. Mamah ingin setelah Amanda lulus dia segera menikah. Karena Mama ingin cepat-cepat memiliki cucu. Namun, Amanda menolak permintaanya yang akhirnya membuat Mamah kesal. Padahal, Mamah ini sudah mempunyai cucu dari kak Jane. Hanya saja karena kak Jane tinggal di Amerika ikut serta bersama suaminya, makanya Mamah merasa kalau dia belum punya cucu. Sedangkan kak Edgar masih tetap menjomblo hingga saat ini, karena dia terlalu sibuk dengan karirnya.

Kalau Cassie. Entah sudah berapa banyak lelaki yang dia pacari. Tapi tetap saja dia tidak pernah puas dengan beribu-ribu alasan. Aku saja sampai bingung. Karena hampir setiap bulan dia mempunyai pacar yang berbeda. Bahkan dia pernah pacaran hanya dalam waktu 3 jam. Dia memutuskan pacarnya hanya karena bibirnya tidak enak untuk di cium. Ketika mereka berciuman dia merasa kalau dia sedang mencium telapak tangannya sendiri. Alhasil hubungan mereka hanya bertahan tiga jam saja.

Sedangkan Chloe. Dia sedang dekat dengan salah satu anak dari club renang. Hubungan dia dengan mas Joe kandas karena ternyata mas Joe akan di jodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya. Jadi mereka memilih untuk mengakhiri hubungannya. Walaupun sepertinya mas Joe masih mencintai Chloe. Tapi Chloe merasa kalau mereka lebih baik mengakhiri hubungannya.

Dan yang terjadi pada diriku sendiri adalah hal yang paling menyedihkan. Sampai sekarang aku masih belum punya pasangan. Sebenarnya aku tidak terlalu memusingkan tentang statusku. Namun, aku juga tidak bisa memungkiri kalau aku juga ingin mempunyai pasangan seperti sahabatku yang lainnya. Tetapi aku malah selalu di PHP-in sama Steffano. Terkadang sikap perhatiannya terhadapku membuatku berharap lebih, tetapi terkadang sikap cueknya membuatku ragu, apakah dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku atau tidak. Jadi aku benar-benar pusing di buatnya. Lebih baik aku belajar saja di bawah pohon yang ada di area sekolah.

“Hey,” sapa seseorang dari balik tubuhku sambil menepuk pundakku. Aku menolehkan wajahku kea rah suara tadi, dan ternyata itu adalah kak Panca. Dia tersenyum lebar ke arahku. Dan aku hanya membalas senyum yang di kulum.

“Lagi belajar apa?” tanyanya seraya mendekatkan tubuhnya kepadaku dan melihat apa yang sedang kupelajari.

“Math,” jawabku singkat. Sebenarnya aku malas berurusan dengan kak Panca, setelah kejadian di vila waktu itu aku selalu menghindarinya. Karena entah kenapa aku jadi takut padanya.

“Nggak usah takut sama aku,” katanya, seakan-akan dia bisa membaca apa yang sedang aku fikirkan.

“Nggak kok. Siapa juga yang takut. Sok tahu,” jawabku sambil membalik-balikkan lembaran buku math-ku.

“Itu di jidat kamu ada tulisannya,” katanya menunjuk kea rah keningku. Reflex aku langsung memegang keningku karena aku penasaran apakah memang benar apa yang dia katakan.

“Hahaha. Kamu itu lucu yah Dave, udah polos gampang di bohongin pula,haha” tawanya menggelegar seakan-akan aku adalah pelawak yang bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak. Aku hanya membalas tawanya dengan dengusan dan memalingkan wajahku serta pura-pura tidak perduli kepadanya.

“Dave, Dave, Dave,” dia mengguncang-guncangkan bahuku, namun aku tetap tidak mau menggubrisnya. Dia merendahkan posisi wajahnya, dan menatap mataku yang sedang fokus kepada buku math-ku. Dia menatapku lekat-lekat. Hal itu membuatku sangat risih, akhirnya ku beranikan untuk berbicara kepadanya.

“Sebenarnya Kakak mau ngapain sih? Kalau cuman mau meledekku dan menertawaiku, lebih baik Kakak pergi dan jangan buang-buang waktu Kakak!” perintahku, lalu kembali ku alihkan pandanganku kepada buku yang sedang kupelajari.

Dia masih tetap menatapku tajam, membuatku kembali merasa risih. Namun akhirnya dia mengangguk-anggukan kepalanya, “Oke. Aku ngerti kok, sorry yah,” katanya, lalu dia menarik wajahnya yang tadi di rendahkan lalu membenarkan posisi tasnya dan dia sekarang sudah berdiri.

“Oh iya aku lupa,” katanya, dia kembali duduk dan dengan secepat kilat dia mencium pipiku lalu langsung pergi meninggalkanku. Aku langsung menatap ke arahanya yang sekarang sudah jauh meninggalkanku tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Sebenarnya dia itu mau apa sih? Main seenaknya nyium-nyium aku. Emang dia kira aku cowok murahan apa? Ini adalah kali kedua dia mencuri ciuman dariku. Lihat saja, kalau dia masih berani menciumku untuk yang ketiga kalinya aku tidak akan diam.

 

Hari ini, aku dan murid-murid yang lainnya sedang melaksanakan ujian evaluasi semester. Dan hari ini yang di ujikan adalah math dan juga English. Aku mengerjakannya dengan santai, karena entah kenapa aku merasa kalau soalnya itu sangatlah mudah. Mungkin karena aku belajar, jadi aku bisa memahami soal tersebut hanya dengan sekali lihat.

Aku melihat ke arah Chloe. Dia terlihat sedang serius mengerjakan soal ujiannya. Kalau sahabatku mengira akulah yang terpintar dari mereka aku rasa mereka benar. Tapi yang paling cerdas adalah Chloe. Kalau aku lebih pintar dari mereka itu wajar. Karena aku lebih sering berkutat dengan buku pelajaran di banding mereka. Bukan berarti mereka tidak pernah belajar. Mereka selalu belajar. Hanya saja intensitasnya tidak sesering aku. Dan yang paling membuatku terkejut adalah Chloe. Kalau aku lihat dialah yang paling jarang menyentuh buku. Dia lebih sering mengurusi penampilannya yang harus terlihat sempurna ketimbang harus berkutat seharian dengan buku pelajaran.

Waktunya lebih banyak di buang untuk mengurusi kesempurnaan penampilannya. Akan tetapi dia selalu bisa mengerjakan soal dengan baik. Bahkan, dulu aku tak menyangka kalau dia akan sekelas denganku. Karena ketika kita membicarakan pelajaran, dia selalu terlihat malas. Walaupun hasilnya tidak sebagus aku, tapi itu tandanya dia tidak belajar saja hasilnya sudah bagus, apalagi kalau dia belajar. Jadi sebenarnya yang mendapat predikat terpintar bukanlah aku, tapi dia.

Kini aku sudah menyelesaikan semua soal ujian math. Namun aku tidak ingin keluar ruangan terlebih dahulu, karena waktu yang tersisa masih empat puluh lima menit lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk mengecek smartphoneku. Ternyata ada chat dari Jeremy.

“Dave. Akhirnya si Tyler a.k.a kloningannya Michael Travino nembak aku. Oh my gay, ternyata dia juga udah tertarik sama aku udah lama. Cuman karena aku waktu itu pacaran sama Sam, jadi dia nggak berani ngedeketin aku. Dan dia nembak aku tadi pas mau masuk gerbang sekolah,”

Lengkap sudah. Semuanya sudah mempunyai pasangan. Hanya aku saja yang masih jomblo. Sebenarnya aku senang Jeremy punya kekasih lagi, akan tetapi aku malah jadi iri dengannya. Jadi kuputuskan untuk membalas chattannya seperti ini.

“Congrats. Long last yah,” kutulis sesingkat mungkin. Karena aku tidak tahu harus berkata seperti apa lagi.

Kemudian sisa waktuku ku habiskan untuk browsing beberapa berita. Mulai dari dunia pendidikan hingga hiburan. “Pssstttt..psssst,” ku tolehkan kepalaku ke arah suara itu berasal. Dan ternyata itu Chloe.

“Kamu udah selesai?” dia mengeluarkan suara yang sangat amat pelan. “Sudah,” aku hanya menggerakan bibirku tanpa mengeluarkan suara. “Ayo kita keluar!” akupun mengikuti di belakangnya. Dan setelah kita keluar dari exam room, Chloe langsung menarikku menuju lift.

“Mau kemana kita Chloe?” aku masih bingung dia akan membawaku kemana. “Udah, kamu ikut aku saja!” ketika pintu lift terbuka, dia langsung masuk dan menarik lengan kananku.

“Ting,” pintu lift terbuka. Dan kami sudah ada di lantai enam. Aku masih belum tahu dia akan membawaku kemana, yang ku tahu lantai enam ini adalah basisnya anak-anak IPS. Karena hampir semua homeroom disini merupakan homeroom yang berhubungan dengan IPS, mulai dari History, Geografi, Sosiologi dan masih banyak lainnya.

“Kita tunggu di sana aja,” dia menunjuk ke salah satu library yang ada di sekolah kami. Karena di sekolah kami terdapat tiga library, di lantai dua,empat dan enam. Setelah kita masuk, aku dan Chloe duduk di salah satu meja yang ada di situ.

“Huuhhhh akhirnya aku bisa bernafas lega,” dia mendesah panjang kemudian mengeluarkan kipas dari dalam jas yang dia kenakan.

“Memangnya kamu kenapa Chloe?” aku menatap wajahnya yang terlihat sangat capek. “Ya ampun Dave, kamu masih nanya kenapa? Yah jelaslah gara-gara ulangan math tadi. Untung saja pas ulangan English tadi cukup mudah, coba kalau susah juga. Bisa-bisa kepalaku ini pecah,” dia mengibaskan kipas di depan wajahnya.

“Makanya kamu belajar Chloe, jadi kamu nggak terlalu kesusahan. Tapi kamu bisa ngerjain semuanya kan?”

“Iya. Aku ngerjain kok. Walaupun ada beberapa soal yang ku jawab dengan cap cip cup,” dia tersenyum ke arahku.

“Ya ampun Chloe. Kamu itu ada-ada saja deh,” aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku saja. “Bagus donk. Siapa tahu jawabanku benar. Lagian kalau aku harus belajar terus seperti kamu nanti penampilanku malah nggak ke urus. Terus nanti kecantikanku akan memudar. Kamu tahukan Dave, kalau hanya ada sedikit orang cantik di sekolah ini. Jadi kalau aku nggak cantik lagi nanti populasi orang cantik di sekolah ini akan berkurang. Dan aku nggak bisa biarin itu terjadi,”

“Gak se-hiperbol itu juga kali Chloe. Lagian tanpa make up pun kamu kelihatan cantik kok,” aku menaruh kepalaku di meja. Chloe pun melakukan hal yang sama, “Makasih Dave. Oh ya aku perhatiin belakangan ini kamu terlihat murung. Boleh tahu kenapa?”

“Masa? Perasaan kamu aja kali,” kilahku. Dan ketika Chloe hendak menjawab pernyataanku tadi tiba-tiba smartphoneku berdering. “Halo Nda,”

“Kalian dimana?” tanyanya. “Di library yang di lantai enam,” jawabku. “Oke. Kita kesana,” kata Amanda lalu mengakhiri percakapan kami.

“Siapa?” tanya Chloe. “Amanda,” jawabku singkat. “Owhhh,” Chloe mengangguk-anggukan kepalanya. “Jadi, bagaimana?” Chloe kembali bertanya. “Bagaimana apanya Chloe?” tanyaku pura-pura lupa. Padahal aku tahu pasti dia akan menanyakan penyebab kenapa belakangan ini aku lebih sering diam dan murung.

“Sudah deh Dave. Nggak usar pura-pura lupa. Tapi kalau kamu beneran lupa aku ingetin lagi deh. Aku tadi nanya penyebab kenapa belakangan ini kamu terkesan lebih pendiam dan murung,” aku masih ragu untuk menjawabnya. Namun sepertinya aku harus berbagi kisahku agar aku tidak terlalu terhanyut dalam kisah cintaku yang payah ini.

Aku kembali menaruh kepalaku di atas meja. Dan Chloe kembali melakukan hal yang sama, “It’s all about my love sucks story. Oke. Aku akuin aku itu pandai dalam urusan pendidikan. Tetapi kalau urusan percintaan sepertinya aku sangat payah Chloe. Aku nggak tahu disini siapa yang salah, apa akunya yang terlalu berharap atau memang Steffano sedang memainkan hatiku,” suaraku terhenti ketika menyadari kalau Amanda dan Cassie datang.

“Lagi pada ngomongin apa sih? Kayaknya serius banget,” celetuk Cassie. “Sssstttt. Udah kalau kamu mau tahu mending kamu duduk terus dengarkan baik-baik!” Cassie dan Amanda pun ikut menaruh kepalanya di atas meja.

“Oke. Bisa aku lanjutkan?” ketiga Floqueku hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi pas dari acara Halloween party itukan Steffano mengantarku pulang. Nah ketika aku hendak keluar dari mobil, tiba-tiba dia menciumku–,”

“APA?” teriak Chloe kencang yang membuat orang-orang di library menatap ke arah kami. Cassie langsung membekap mulut Chloe, “Sssstttt kamu itu bisa nggak sih nggak berisik. Lihat tuh mereka pada melihat ke arah kita,” Amanda berkata pada Chloe.

Dan ketika bekapan tangan Cassie terlepas dari mulut Chloe, dia meminta maaf. “Sorry. Abis aku kaget aja, kenapa si Steffano bisa senekad itu,”

“Nah, itu yang buat aku juga terkejut. Tapi sikapnya belakangan ini malah bikin aku down. Oke, mungkin bagi dia ciuman itu gak berarti apa-apa. But, that kiss means a lot for me. Dari dulu aku selalu ingin merasakan bagaimana rasanya ketika bibirku dan bibirnya bertemu. Namun setelah hal yang ku idam-idam kan terjadi dia malah seperti cuek terhadapku. Dia tidak pernah menyinggung soal ciuman waktu itu. Dan sudah jarang komunikasi denganku lagi. Aku merasa kalau aku seperti di beri harapan palsu. atau mungkin memang akunya saja yang terlalu berlebihan. Menurut kalian aku harusya bagaimana?”

“Owh jadi lo di PHP-in sama si Steffano yah? Kayaknya tuh anak musti di kasih pelajaran,” Cassie mengepalkan kedua tangannya dan terlihat marah.

“Gak perlu deh Cass kayaknya. Gak semua permasalahan harus di selesaikan dengan kekerasan kan?” Amanda menahan tangan Cassie. “Iya. Tapikan kayaknya tuh anak musti di kasih pelajaran biar dia sadar kalau ada orang yang mencintainya sangat tulus,” lanjut Cassie.

“Ehm kalau menurutku sih yah. Lebih baik kamu berterus terang saja sama dia. Berterus terang disini bukan berarti kamu harus bilang kalau kamu cinta sama dia. Tetapi, kamu harus bertanya langsung sama dia perihal ciuman waktu itu. Kamu tanya maksud dia mencium kamu itu apa dan kamu tanya apakah dia mempunyai perasaan lebih dari sekedar teman terhadapmu. Nah ketika dia bilang perasaannya terhadapmu barulah kamu jujur dengan perasaan yang kamu punya terhadap dia,” jelas Chloe.

“Yups, aku setuju sama Chloe,” kata Amanda. “Gue juga. Tapi kalau si Steffano masih berlagak pilon juga, gue gak segan-segan buat bengkokin hidung mancungnya,” lanjut Cassie.

“Cass, kamu kok malah lebih mirip sama centeng pasar yah?” omongan Amanda langsung di sambut tawa oleh Chloe, “Bener tuh. Bahkan lebih mengerikan,hahaha” lanjut Chloe, tawanya kembali membuat semua pasang mata menatap ke arah kami. Jadi aku memutuskan untuk mengajak mereka keluar dari library, sebelum di usir oleh Miss Grace, si penjaga library.

“Lo itu nggak bisa yah Chloe kalau ketawanya di pelanin sedikit. Ketawa lo itu mirip mak lampir yang di mix sama nyi pelet tau nggak,” kata Cassie setelah kami keluar dari library.

“Nggak tahu deh bisa atau nggak. Lagian kayaknya ini udah dari sananya deh, jadi gue gak bisa,” jawab Chloe santai.

“Huh dasar nenek lampir,” celetuk Cassie. “Biarin. Kamu tuh nenek gayung,” ledek Chloe pada Cassie kemudian dia langsung lari menghampiri lift.

“Oh ya. Habis ini kalian pada main ke rumahku yah! Aku sendirian nih di rumah,” pinta Chloe.

“Gimana Dave?” Amanda bertanya kepadaku. “It’s oke. Lagian kita bisa belajar bersama,” lanjutku, ketika pintu lift terbuka kita masuk.

“Ya ampun Dave. Baru aja otakku dingin setelah di bakar tadi gara-gara ngerjain math. Masa harus belajar lagi sih?” Chloe mendengus dan memanyunkan bibirnya.

“Tahu Dave. Yang ada di otak lo itu isinya cuman belajar, belajar dan belajar. Patesan lo payah soal uusan percintaan,” lanjut Cassie. Omongan Cassie ada benarnya juga yah, “Ya sudah, kita nanti nggak belajar. Tapi kita saling sharing aja yah, gimana? Setuju?”

“Oke,” jawab mereka bersamaan. Ketika lift sudah sampai di lantai dua, kami semua keluar untuk mengambil tas yang kami taruh di loker kami masing-masing.

“Oh ya gue lupa. Gue ada urusan sebentar sama anak-anak cherios, jadi gue gak bisa bareng kalian kesananya. Nanti setelah gue selesai, gue bakalan langsung nyusul deh,”

“Owh, oke. Yasudah, ayo kalian ikut aku!” perintah Chloe. Kami dan Cassie berpisah setelah kami sampai di lantai satu. Aku, Amanda dan juga Chloe berjalan menuju mobil Chloe yang terparkir di parking lot barat sekolah kami.

“Aku masih nggak tahu deh, kenapa kalian belum di bolehin bawa mobil sendiri,” kata Chloe setelah kami sudah berada di dalam mobilnya yang tengah melaju.

“Kami belum di bolehin karena kami belum punya SIM Chloe,” jawabku cepat. “Iya, Mamah nggak mau kita mengendarai mobil sebelum kami punya SIM,” lanjut Amanda.

“Untung aku sudah punya SIM,” diantara kami berempat Chloe lah yang paling tua, “Tapi bukannya banyak yah anak yang belum punya SIM tapi sudah pada bawa mobil,” katanya. “Beda orang tua, beda pula cara didikannya. Mungkin orang tua mereka sudah yakin walau tanpa SIM mereka akan mengendarai mobil secara baik dan benar. Lagian memangnya mereka nggak takut apa, pas mereka di tilang terus mereka ketahuan nggak punya SIM?” lanjutku.

“Gampang kok kalau soal itu mah. Kalian tahu kan banyak dari polisi yang suka menilang itu mata duitan? Lagian kalau polisinya ganteng malah bagus, jadi kita bisa kenalan sama dia. Dan kalau polisinya jelek, tinggak kasih duit and case closed. So simple rite?”

“Tapi kan nggak semua polisi kaya gitu Chloe,” timpal Amanda. “Amanda baby, aku kan nggak bilang semua polisi kaya gitu. Aku kan tadi bilang kebanyakan, berarti gak semua donk? Udah deh, kok malah jadi ngomongin polisi sih? Ganti topik!” pinta Chloe tegas.

“Oh ya gimana soal hubungan kamu dengan siapa itu namanya, yang anak club renang” tanya Amanda.

“Oh, namanya Victor. Bukan Vikiran Cotor yah. Ehm hubungan kita baik-baik aja kok. Dia makin sering menjalin komunikasi sama aku, walaupun sampai sekarang kita belum resmi sebagai pasangan,” jawab Chloe. “Owh kirain aku kalian sudah pacaran,”. “Belum Dave. Tapi sepertinya sebentar lagi,” lanjutnya.

Setelah kita berada di rumah yang cukup eh ralat sangat besar maksudku, Chloe membunyikan kalkson mobilnya dan tak lama pintu pagarnya terbuka sendiri. Setelah mobilnya terparkir di teras rumahnya kami semua turun. “Open,” ucapnya ketika kita sudah di depan pintu rumahnya. Dan pintu rumahnya terbuka secara otomatis.

Oh ya, perlu alian ketahui, hampir semua hal di rumah Chloe itu menggunakan system otomatis, mulai dari pintu, TV, AC, Lampu bahkan shower yang di kamar mandinya menggunakan system otomatis. Jadi apabila dia meminta hanya dengan suaranya maka semuanya akan terlaksana. Emang diantara kita berempat dia yang paling kaya. Tetapi dia paling tidak memilih-milih soal teman, tidak seperti Amanda yang sangat pilih-pilih dengan temannya. Itulah sebabnya dia tidak memiliki banyak teman.

“Kita langsung naik ke atas yah. Tapi kalian mau minum apa? Biar nanti assisten rumahku menyiapkannya,” kita menaiki anak tangga menuju lantai dua. “Aku mau orange jus,” jawab Amanda. “Aku juga,” jawabku. “Oke,” lanjut Chloe.

“Open,” ucap Chloe ketika sudah di depan kamarya, dan pintu kamarnya terbuka otomatis. Lalu kami masuk ke dalam kamarnya. “Oh ya, kita nanti ngumpul di pool deck saja yah. Sekalian ngobrol-ngobrol disana,” pinta Chloe.

“Oke, kalau gitu aku kesana duluan yah. Soalnya pasti kalian mau ganti baju kan,” aku menaruh tasku di tempat tidur Chloe kemudian keluar dari kamarnya. Lalu aku menaiki tangga menuju lantai paling atas.

Ketika sudah ada di pool deck, wajahku langsung di terpa angin segar. Suasana disini begitu menenangkan. Aku memutuskan untuk membaringkan tubuhku pada salah satu kursi santai di tepian kolam renang. Kemudian aku memejamkan mataku menikmati hempasan angin yang menerpa tubuhku.

Aku tebangun ketika mendengar suara tawa Floque ku. Ternyata Cassie sudah datang, dia dan Chloe sedang berenang, sedangkan Amanda duduk di tepian kolam sambil menikmati orange jusnya. “Sudah bangun Dave?” tanya Amanda. Akupun hanya menganggukan kepalaku saja, lalu aku duduk dan menyesap orange jus ku. “Sudah lama yah aku ketiduran?” tanyaku pada mereka.

“Sekitar setengah jaman,” jawab Chloe. Kemudian dia dan Cassie keluar dari kolam renang lalu mengenakan jubah handuknya, begitu juga dengan Cassie. Lalu mereka duduk di kursi santai di sampingku, Amanda pun bangkit dan duduk satu kursi denganku.

“Oh ya, aku boleh nanya ke kalian nggak? Tapi kalian harus jawab jujur yah!” pintaku. “Mau tanya apaan sih Dave? Kayaknya serius banget,” tanya Cassie. “Sudah, pokoknya kalian harus jawab jujur, okay?” mereka hanya menganggukan kepalanya.

“Oke. Aku sebenarnya masih heran sama kalian kenapa waktu aku jujur ke kalian tentang orientasi seksualku kalian terkesan tidak terlalu terkejut dan juga biasa-biasa saja. Kalau Amanda mungkin sudah tidak aneh lagi, tapi kalian. Ehm bukan berarti aku ingin ada drama yah ketika aku come out ke kalian tapi tetap saja menurutku kalian itu terlihat terlalu biasa responnya,” aku menatap ke arah mereka.

“Well, kayaknya ini waktu yang tepat buat jujur ke kalian semua,” ungkap Cassie. Kita semua langsung menatap wajahnya. “Alesan gue kenapa biasa aja soal orientasi seksual Dave, itu Karena banyak temen gue yang gay juga, jadi gue udah biasa soal begituan. Dan asal kalian tahu gue biseksual,” omongan Cassie barusan sukses membuat kami semua terkejut, bahkan Amanda sampai memundurkan wajahnya.

“Iyah, gue suka cowok. Tapi gue juga pernah punya hubungan sama cewek. Tenang aja, ue gak bakal suka kok sama kalian, Karena gue udah nganggap kalian semua sahabat gue, jadi gue berani bilang jujur sama kalian. Dan gue harap kalian bisa menjaga rahasia ini, kalian bisa kan?” tanya Cassie kepada kami.

“Janji,” jawabku. Amanda dan Chloe pun mengangguk-anggukan kepalanya. “Well, gue seneng kalian bisa nerima gue apa adanya. Dan gue mau kedepannya kita harus saling jujur satu sama lain, karena kita semua sahabat,” lanjut Cassie.

“Aku juga mau jujur sama kalian,” ucap Chloe. Dan lagi-lagi kami akan mendapatkan kejutan. Aku tidak tahu kejutan apa lagi, namun sepertinya ini bukan sekedar kejutan biasa.

“Aku mau jujur sama kalian tentang hal yang nggak pernah akan aku kasih tau ke semua orang lain. Karena aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku sendiri. Jadi aku mau kalian bisa menjaga rahasia ini, janji?” dia menatap kea rah kami bertiga.

“Promise,” jawab kami serempak. “Oke. Mungkin kalian akan terkejut emndengar hal ini. Jadi aku harap kalian berfikiran terbuka dan tidak terpaku pada hal yang  akan aku beri tahu pada kalian. Sebenaranya aku itu… ehmm.. aku…Gender-switch,”

Jreng-jreng, another sureprise from Chloe. Ternyata sahabatku yang paling cantik dan paling menawan ini adalah seorang transgender. Semua terlihat terkejut sampai-sampai suasana menjadi sangat hening tanpa suara sedikitpun. Cassie dan Amanda matanya terbelalak, mungkin aku juga. Tapi aku tidak bisa melihat ekspresi wajahku sendiri. Setelah sekian detik atau bahkan menit berlalu tanpa suara akhirnya Chloe membuka pembicaraan.

“Guys, kalian kok pada diem aja?” tanya Chloe. Dan kami tersadar dari lamunan kami masing-masing. “Oke. For god’s sake, aku bener-bener terkejut dan tidak percaya. Chloe, kamu itu sama sekali tidak terlihat seperti laki-laki. Badanmu begitu indah, kakimu jenjang dan nada bicaramu sama sekali tidak ada suara laki-lakinya. Jadi aku sama sekali nggak nyangkalau kamu itu.. ehm… gender switch,” Amanda terkesan hati-hati dengan kaliamat terakhirnya.

“Well, mungkin karena memang aku adalah perempuan yang terjebak pada tubuh laki-laki. Walaupun tubuhku sendiri tidak menunjukan kesan kelelakiannya. Kecuali kelaminku yang sekarang sudah berubah,” lanjut Chloe.

“Gue sebenernya masih bingung deh harus ngomong apa. Kayak yang Amanda bilang, lo itu nggak ada kesan laki-lakinya sama sekali, bahkan kalau lo nggak jujur ke kita pasti kita tidak akan pernah menyadarinya, karena memang lo itu bener-bener kayak perempuan tulen, jadi gue hanya bisa mendukung dengan hal yang lo pilih,” kata Cassie. Chloe hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

“Oke, jadi diantara kita berempat yang benar-benar biasa itu hanya Amanda. Aku Gay, Cassie biseksual dan kamu Transgender. Aku nggak tahu musti ngomong apa, yang jelas apapun status kita, kita akan selalu menjadi sahabat dan saling peduli satu sama lain. Aku berterima kasih Karen kalian suda mau jujur. Itu tandanya sudah tidak ada lagi rahasia diantara kita,”

“Yups, we’ll always be best friends,” kata Chloe, lalu kami semua berpelukan ala telletubies. Dan semua rahasia diantara kita telah terungkap, the secrets revealed.

Selanjutnya kami menghabiskan waktu untuk bercerita tentang pengalaman-pengalaman kami hingga akhirnya waktu telah sore dan kami semua pulang menuju rumah kami masing-masing.

 

Hari ini merupakan hari bebas. Setelah selama seminggu full kita melaksanakan exam akhirnya kita semua bisa beristirahat. Banyak hal yang dilakukan oleh club-club tertentu. Mulai dari pertandingan antar kelas hingga hiburan yang di buat oleh student organization.

Amanda sedang sibuk mempersiapkan penampilannya untuk menyanyi di acara yang di buat oleh sekolah. Sementara Cassie sedang berlatih dengan club cherios nya. Sedangkan Chloe, entah kemana sejak tadi aku tidak melihatnya. Mungkin saja dia sedang menjadi pendukung pacarnya, karena aku tahu kalau club renang sedang mengadakan pertandingan.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke salah satu tempat favoritku, yaitu tempat duduk yang ada di tepian luar lapangan tenis. Aku biasanya duduk di situ sambil membaca buku, maupun berkutat dengan Ipadku. Sebenarnya bukan itu saja. Aku lebih sering memperhatikan Steffano yang sedang serius bermain tenis. Entah kenapa ketika dia berkeringat menambah kesan seksi dan maskulin. Itulah yang membuatku senang duduk di kursi ini dan mengamatinya berlatih tenis.

Ketika aku sampai di tempat duduk yang ada di bawah pohon itu aku mengeluarkan Ipadku. Dan ternyata benar, hari ini jadwal Steffano latihan. Dia memakai polo shirt berwana putih dan celana denim berwarna cream serta headband yang terpasang di kepalanya. Dia selalu luwes menggerakan raket tenisnya. Bahkan dia merupakan salah satu atlet tenis terbaik di sekolah ini.

Hari ini penampilannya begitu menawan. Aku saja dari tadi terus memandangnya dan mengagumi penampilannya yang luar biasa. Dia memang akan selalu membuatku terkagum, walaupun terkadang aku seperti orang idiot ketika dia terus memberikanku harapan palsu.

“Dave,” sapa seseorang dari arah belakang, kemudian duduk disampingku. Kutolehkan kepalaku dan yang kudapati adalah kak Panca. Sebenarnya dia itu mau apasih? Dia selalu saja mengikutiku ketika aku sendiri seperti ini. “Ada apa kak?” tanyaku singkat.

“Kamu lagi ngapain? Kok sendirian? Teman kamu mana?” dia memberondongku dengan srentetan pertanyaan. “Lagi duduk aja, temanku lagi pada sibuk jadi aku disini sendirian,” jawabku ketus.

“Ketus amat sih? Kamu itu lagi ngeliatin Steffano kan? Hayyoo ngaku!” dia terus saja mendesakku, membuatku semakin geram saja. “Ya ampun sudah deh kak. Kak Panca itu kepo banget sih, lagian ngapain coba Kakak malah kesini. Bukannya anak-anak futsal sedang ada pertandingan yah? Lebih baik kakak kesana deh!” usirku.

“Iya-iya. Bawel ih kamu, yasudah aku pergi dulu yah,” dia berdiri, refleks aku langsung menutupi pipiku dengan buku, karena aku takut dia menciumku lagi. “Dave,” tegurnya kembali. “Apaan lagi?” tanyaku.

“Kok, pipimu di tutupin? Takut aku cium yah?” dia meldekku. “Iyah. Makanya sana Kakak cepat pergi!” usirku lagi. “Dave,” dia kembali menegurku. “Apaan lagi sih Kak?” tanyaku kesal. “Zipper kamu kebuka tuh,hahaha” aku langsung mengecek ke arah celanaku, namun zipperku sama sekali tidak terbuka, malah tertutup rapat seperti biasanya. Ternyata aku di bohongi oleh kak Panca.

“Dave,” aku langsung meradang, “Apaan lagi sih Kak? Kakak nggak bosen apa ngeledekin aku terus?” namun ketika aku membalikan posisi badanku, ternyata itu Steffano. Dia berdiri di belakangku sambil menenteng raket tenisnya.

“Kakak?” tanyanya heran, lalu dia duduk disampingku. “Oh enggak, anu eh anu tadi ada Kakak kelas yang ngerjain aku,” jawabku gugup, karena selain aku malu, aku juga nerveous ketika harus berdekatna dengannya.

“Kamu sih polos. Jadi gampang di kerjain,hahaha” dia tertawa lepas. “Oh jadi kamu seneng yah kalau aku di kerjain?” aku memasang tampang sesebal mungkin.

“Ahaha nggak kok, kamu jangan ngambek yah!” dia mengeluarkan minuman dari tas duffelnya, kemudian menenggak minuman tersebut. Aku langsung terpana ketika tetesan minuman tersebut mengalir dari sudut bibirnya kemudian ke leher lalu jatuh masuk ke dadanya. Aku sampai ingin menjadi tetesan air tersebut, agar aku bisa menjamah tubuh Steffano sebebas mungkin.

“Dave,” dia menegurku karena memandangnya dengan tatapan yang aneh, “Kamu ngapain ngelihatin aku? Kamu haus juga?” karena aku takut kalau aku ketahuan memperhatikannya maka aku hanya menganggukan kepalaku, “Nih,” dia menyodorkan botol minumnya ke padaku, akupun meraihnya dan meminumnya.

Entah kenapa aku merasa walaupun itu hanya air putih tapi rasanya manis. Atau karena ada rasa dari bibir Steffano di situ. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja.

“Kamu nanti ikut tour ke Queensland?” tanya Steffano. “Iyah, kamu?” aku menaruh botol minuman tadi di samping tempat dudukku.

“Aku nggak bisa ikut. Aku ada pertandingan tenis soalnya. Padahal aku pengen banget ikut kesana, tapi apa boleh buat, aku tidak bisa ikut,” terlihat raut kekecewaan di wajahnya. Aku juga sebenarnya merasa kecewa karena dia tidak bisa ikut. Tapi mau gimana lagi? Orang dia harus tanding tenis.

“Yasudah nggak apa-apa, toh kamu kan memang harus ikut tanding. Pokoknya kamu harus menang yah, jangan sampai kamu kalah,” aku menyemangatinya. “Kayaknya aku bakalan kalah deh,” dia menatapku dengan tatapan sendu.

“Lho kenapa?” tanyaku heran, “Soalnya nggak ada kamu yang menontonku,” lihat! Dia kembali memberiku harapan lagi. Bagaimana aku bisa bersikap biasa saja padanya, kalau sikapnya kepadaku selalu seperti itu. Benar-benar pemberi harapan palsu.

“Masa sih? Emang aku siapa kamu sampai-sampai kalau aku nggak nonton terus kamu kalah?” pancingku. “Kamu kan supporter aku jadi bagaimana aku bisa menang kalau supporter nggak ada? Iya nggak?” aku menyikut perut ratanya, “Huh dasar!” namun dia hanya tertawa.

“Dave, pulang bareng yuk!” ajakanya, akupun hanya bisa menganggukan kepalaku. Dia menarik tangan kananku dan aku mengikutinya setelah aku memasukan Ipadku ke dalam tas terlebih dahulu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi lebih baik aku tidak terlalu berbesar harapan dahulu kepadanya karena mungkin saja dia hanya sekedar mengajak pulang bareng, tidak lebih.

 

-To be continued to Perkamen Seven-

Holaaa semuanya…
Apa kabar? sorry yah aku updatenya agak lama, habisnya aku dari kemaren sibuk nonton serial film yang baru aku beli. di tambah rasa malas yang menderaku. suer deh, nulis chapter ini cobaanya luar biasa. jadi aku minta maaf kalo chapter ini terkesan biasa saja,hahaha

Thanks buat semua reader yang masih setia ngikutin ceritaku dan juga komen. yang belum komen, ayo donk komen!hehehe

sorry for typo and everything. udah deh gitu aja, JANGAN LUPA KOMEN!!!

Yours truly

Onew Feuerriegel

19 thoughts on “Floque – Perkamen 6

  1. huaaaa!! kok bisa sih si chloe itu transgender? harus ada penjelasannya ya pokoknya..
    duh rasanya pengen diremes aja nih steffano nya. bikin gregetan. PHP muluuu.
    Nice job new!

    • Bisa donk, kan emang udah di seting,hahaha

      iyah nanti tak kasih penjelasannya deh biar Rama tau,hehehe

      iyatuh, rasanya di PHP-in itu emang gak enak banget. makanya kamu remes tuh bijinya Steffano,eeehhh hahaha

      makasih udah komen yah.🙂

      • Wahaha.. emang Onew jago deh kalo bikin cerita.
        Iyadong biar jelas ceritanya.
        Kalo itu sih jangan diremes. Dimaenin aja. Haha
        Samasama bang Onew hehee

        • Hahay aku nggak jago kok, tapi aku ayam betina,hahaha

          aku masih dalam tahap belajar juga rama, jadi harap maklum kalau tulisanku masih kurang bagus,hehe

          iyah, biar kamu ngak penasaran juga,haha

          ketahuan deh kalau rama doyan maenan biji. biji siapa hayoo yang dimaenin?hahaha

          aduh jangan panggil aku abang, kesan.a jadi kaya tukang bakso deh,haha

          panggil aku tante aja,hahaha eh jangan, Onew aja deh,wkwkwk

  2. heh on kok ternyata jwbnku ada benarnya kan hayo pay your promise hahaha . . .

    Sptnya panca suka ma dave or maybe there something wrong betwen steffano n panca ? Like them have a relationship be4 and dave terbw dg cerita mrk berdua . . .

    Bout chloe gw jd inget ma samantha yg dlu main di film humor asing yg judulnya surat kecil untuk Tuhan # eeh ngaco ignore ignore . . .

    New loe update kok ga chat gw kejam loe #ngambek duduk sendiri dibelakang pohon petai . . .

    Gw tggu next chapt jgn lama2, kalo lama gw doain loe dicium panca #ehh _ _ ” pokoknya cpt update yah wkwk . . .

  3. heh on kok ternyata jwbnku ada benarnya kan hayo pay your promise hahaha . . .

    Sptnya panca suka ma dave or maybe there something wrong betwen steffano n panca ? Like them have a relationship be4 and dave terbw dg cerita mrk berdua . . .

    Bout chloe gw jd inget ma samantha yg dlu main di film humor asing yg judulnya surat kecil untuk Tuhan # eeh ngaco ignore ignore . . .

    New loe update kok ga chat gw kejam loe #ngambek duduk sendiri dibelakang pohon petai . . .

    Gw tggu next chapt jgn lama2, kalo lama gw doain loe dicium panca #ehh _ _ ” pokoknya cpt update yah wkwk . . .

    Repost gpp ya . . . Wkwk

    • kamu mau di bayar pake apa? pake upil atau pake congek?hahaha

      ehm apa yah? tunggu aja deh. masih ada beberapa chapter lagi yg akan menjelaskan itu semua,hahaha

      abis lo.a sok2an sibuk sih, jadi gue males ngechat elo. tapi nanti gue kabarin deh soal.a yg ketuju udh gue post tuh. jangan lupa baca n komen yah!hehehe

      mau donk di cium kak panca. secara dia itu idola gue waktu SMA,haha😀

  4. hahahah… gila gue jadi kesel beneran mma steffano… jadi kayak kisah gue tuh suka mma orang tapi orang nya gak tahu straight apa gak, tapi dia suka ngasih sinyal gitu,yang menurut gue php… ew !!tapi bedanya gak se extreme steffano yg uda berani nyium..
    pokoknya lanjutin ceritanya… GOOD JOB

    • Iya Der, aku juga kesel tuh. maka.a sono gih Steffano kamu kunyah,hahaha

      iya, udah aku lanjutin kok. jangan lupa komen yah!hehe

      oh ya kamu ini Dera mantan peserta indonesian idol itu bukan? kalo ia, aku minta cap jempol kamu yah,hahaha

  5. ceritanya lumayan bagus. sebenarnya aku mau tnya, yg buat cerita ini seorang cewek/cowok. tapi gak usah dijawab jga gak apa2.
    tapi, apa cuma perasaan ku saja ya. koq tokoh Dev itu feel nya terasa seperti tokoh cewek. jadi, selama aku baca cerita ini, aku malah kebayang Dev itu cewek, susah bgt ngebangun bayangan di otakku kalo dia itu cowok. tetap aja, yg muncul selalu sosok cewek. maaf ya, mungkin cuma perasaan ku saja. tetap ditunggu kelanjutannya ^_^

    • Aku itu cewek yg ke cowok2an eh salah,hahaha
      aku itu cowok feminim tapi nggak bagondek (banci ngondek) kok,hahaha

      namanya Dave bukan Dev, apalagi Dove, emang sabun apa? sorry OOT,wkwkwk

      iyah gpp. aku juga minta maaf kalau gak bikin kamu nemuin sosok cowok dalam diri Dave, nanti deh aku bikin Dave itu kaya agung hercules dulu, biar maco gtu,hahaha makin OOT.

      makasih yah yejun udah komen. buat next part jangan lupa komen juga!heheheh

  6. ,hayoo hayoo .. udah kece skrg ceritanya ..
    ,skrg akikah puas banggeut karena sesuai bayangan akikah cyiin😀 haha ..
    ,ohyasatulagi , kapan tokoh WS nya bakalan keluar .. akikah udh nunggu boo .. :p
    ,bagus deh crtanya .. sgtu dlu ahh .. soalnya udh jadi perfecto lezatoss .. haha😀

    • Ih ruka, ini perasaan aku aja atau emang beneran sih? kok omongan kamu jadi ke arah binan-binan gtu?wkwkwk

      iyatuh, udh aku keluarin di part ke tujuh, nanti mau ada lagi di part sembilan,hehehe

      aduh akhir-akhirannya kok jadi kaya iklan gerry chocolatos yah? mama mia lezatos,wkwkwkwk😛

    • Iya, salam kenal juga dari author paling kece di blog.a Rendi, bahkan Rendi aja kalah kece sama aku,hahaha

      iyah gpp. yang penting next part harus sering komen yah!hahaha

      iyah, udh aku update tuh! komen yah!,hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s