Floque – Perkamen 5


Logo Jubilee(resize)

Part Five : Halloween Gift.

Aku masih memandang penuh tanya ke arah Steffano, karena sampai sekarang dia belum juga memberitahu maksud dia membawaku ke dalam mobilnya. Setelah hampir lima menit menunggu akhirnya dia membuka mulutnya.

“Mmmm… aku.. mmmm.. kan nanti pas Halloween party kita kan di suruh bawa partner, mmm… kamu mau nggak nemenin aku?” tanya Steffano hati-hati. Ya Tuhan, tampar aku, tampar aku sekarang juga! Aku masih tidak percaya kalau Steffano mengajakku kencan, eh ralat bukan kencan tapi hanya sekedar menjadi partnernya dalam acara Halloween party mingu depan. Tapi yang masih aku pertanyakan disini kenapa dia malah mengajakku? Bukannya dia dekat dengan Oline. Atau jangan-jangan mereka putus dan Steffano ingin melampiaskannya kepadaku. Tapi apakah benar kalau dia itu—-

“Hey, gimana? Kamu mau?” tanyanya sambil melambaikan telapak tangannya di depan wajahku.

“Gay,” ya Tuhan, apa yang barusan aku katakan. Rutukku dalam hati sambil menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku.

“Apa?” tanya Steffano. Syukurlah untung saja dia tidak dengar ucapanku barusan, kalau dia dengar pasti dia akan buru-buru menyuruhku keluar dari mobilnya dan tidak mau bertemu denganku. Barangkali saja di straight yang homophobia.

“Eh anu, enggak kok. Aku mau,” jawabku gugup.

“Good. Makasih yah Dave,” katanya sambil tersenyum lebar ke arahku. For Cupid’s sake! Senyumnya itu benar-benar menggoda iman. Pasti sekarang di atas kepalaku sedang berputar cupid-cupid yang telanjang bulat dan sedang menembaki kepalakuku dengan sperma eh salah maksudku anak panah yang sukses masuk ke dalam otakku.

“Aku anterin kamu pulang yah?” tawarnya padaku. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku seperti orang ling-lung. Akhirnya mobilnya jalan meninggalkan parking lot sekolah kami.

“Makasih yah,” ucapku ketika aku sudah sampai rumah dan turun dari mobilnya. “Sama-sama,” jawabnya dengan menampakkan senyuman indahnya kembali yang sukses membuatku terlena. Ketika mobilnya hendak keluar dari rumahku, aku melambaikan tanganku dan menyuruhnya untuk hati-hati. Dan setelah mobilnya hilang dari pandanganku aku segera masuk rumah dengan perasaan yang tak bisa kuungkapkan.

Aku terbangun dari tidurku ketika tiba-tiba smartphoneku berdering. Ku lihat dari layar smartphoneku terpampang nama Jeremy. Lalu Ku usap layar smartphoneku, “Halo..” jawabku.

“Hola,” katanya. “Aku ganggu gak Dave nelpon kamu tengah malem gini?” tanyanya padaku.

“Ehm sebenarnya aku tadi sudah tidur, tapi karena aku terbangun jadi yasudah. Memangnya ada apa Jer?”

Dia tidak menyahut malah suasana menjadi hening, namun tiba-tiba kudengar dia terisak, “Jer, kamu nangis?” tanyaku hati-hati.

“Nggak. Aku lagi eek,” jawabnya kesal. “Kok lagi Eek malah nelepon aku?” candaku padanya. Namun bukannya tertawa kali ini dia malah makin terisak, akupun jadi tidak tega padanya.

“Ada apa Jer? Is there something wrong with you?”tanyaku hati-hati. “Of course, there’s something wrong with me,” jawabnya dengan isakan yang makin menjadi.

“Jer, can you tell me what happen to you?” Tanyaku lagi. Akhirnya dia berhenti menangis, “It’s about Sam,” jawabnya singkat.

“Sam, do you mean your boyfriend?” tanyaku. “Yaiyalah, emang kamu kira Sam siapa Dave?” Jawabnya ketus. Apa salahnya kalau aku bertanya? Barangkali saja dia bertemu dengan Sam yang lainnya. Atau memang otakku saja yang sedang korslet karena kejadian tadi siang. Mungkin memang aku yang salah, jadi lebih baik aku harus berhati-hati. Karena aku tahu suasana hati Jeremy sedang kacau.

“Memangnya dia kenapa?” terdengar kalau Jeremy menghela nafasnya panjang, “Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkanku dan menikah dengan wanita yang di pilih oleh orang tuanya,” jawabnya yang sukses membuatku terlonjak, “Whaaatt? Is that for real?” tanyaku terkejut. “Yups. It’s real,” jawabnya mantap. “But, how come? I mean, bukannya kalian baru aja berencana untuk CO ke orang tuanya? Atau kalian memang sudah CO dan orang tua Sam ngak setuju?”

“No. bukan karena itu. Tapi ini semua keinginannya dia. You know kan if he is bisex?” “He eh, and then?” tanyaku lagi. “My another gay friend said, if  bisex people will be married with girl in the end. There are many reason why they choose to married girl. So, aku kepengen kalau kamu mending gak usah pacaran sama bisex deh. Soalnya mereka itu terkenal plin-plan, mereka itu suka vagina, tapi mereka juga doyan lobang pantat. Eeerrrrr they such an asshole!” jelasnya sinis.

“Tapi kenapa semua mantanmu itu kebanyakan bisex? Jangan bilang kalau kamu kena kutukan yang buat kamu tak bisa terhindarkan dari lingkarang bisex. Jadi pada akhirnya kamu menyalahkan mereka. Please, don’t blame it to all bisex people. I mean, masih ada kok bisex yang menemukan cinta sejatinya dengan pasangan sesama jenis. Hanya saja mungkin kamu masuk kategori gay yang kurang beruntung,hahaha” candaku padanya.

“Hey, kamu kira aku lagi main lotere apa? Pake acara kurang beruntung segala, biar habis itu aku harus coba lagi, huh?” aku hanya tertawa mendengar ocehannya. “Aku juga sebenarnya gak mau prejudis sih sama semua bisex people. Dan sialnya memang semua mantanku itu hampir semuanya bisex. Atau lebih tepatnya straight yang berpindah haluan. Tapi memang gak bisa dihindari kalau bisex itu plin-plan mereka itu eenie meenie. Dan kebanyakan dari mereka itu hanya bisa menyakiti hati para gay dengan menikahi perempuan lain. Bener deh, lama-lama nanti aku mau minta pertolongan mak erot buat nge-voodoo mereka,” dia menghela nafas, karena daritadi dia terus saja nyerocos sampai dia tidak sadar dengan apa yang barusan dia katakan.

“Bukannya mak erot itu spesialis pembesaran alat vital yah Jer? Memangnya dia bisa gitu nge-voodoo?” tanyaku sambil menahan tawa. “Yah whateva. Kali aja dia bisa nge-voodoo penis mereka dari jarak jauh biar mengecil. Jadi, pas mereka mau ngesex bareng istrinya nanti istrinya gak bakal ngerasain kepuasan. Istrinya bakal ngerasa kalau vaginanya lagi dimasukin jari anak umur lima tahun,hahaha” jawabnya penuh kemenangan.

Aku mulai khawatir dengan jalan pemikirannya, “Jer, let us talk this stuff seriously. Aku rasa kamu itu sedang kacau jadi kamu berfikiran seperti itu. Mungkin memang benar kalau mereka itu eenie meenie and la da di da di. But kita juga tidak bisa menyalahkan mereka kenapa bisa seperti itu. Karena pada nantinya kita kaya menghakimi diri sendiri. Kita itu senasib, kalau kita hanya bisa mencintai laki-laki maka mereka bisa mencintai keduanya. And about our sexual orientation no one can choose it. So face it Jer! Don’t blame all bisex people just because your relationship. Malah aku pernah membaca sebuah cerita tentang seorang laki-laki yang menikah dengan perempuan sekaligus dengan laki-laki juga. Jadi, mereka itu seperti pasangan poligami. Cuman bedanya, istri pertamanya perempuan tapi dia juga mempunyai pasangan  laki-laki. Awalnya orang mengira kalau si perempuan ini poliandri. Tapi ternyata justru si lelaki lah yang mempunyai dua pasangan berbeda jenis. But, it’s work. Mereka tetap rukun kok. Mereka bahagia bersama anak-anaknya, dan membangun keluarga yang bahagia,” jelasku padanya.

“Dave, aku sudah bilang belum kalau kamu itu orang yang selalu berfikiran terbuka dan paling jarang menyalahkan orang lain. Kamu selalu melihat sesuatu dengan dua sisi. Dan kamu selalu berfikir bijak,” katanya.

“Yeah, cuz everything in this world have two side, rite? Jadi belajarlah untuk saling mengerti, bahkan ketika kamu merasa telah di khianti. Kamu harus belajar kenapa kamu di khianati oleh pasanganmu dengan meninggalkamu dan menikah dengan wanita lain. Jadi, seandainya kamu nanti dapat pasangan yang baru kamu dan dia bisa bertahan hingga akhirnya kalian bisa bersatu selamanya. Mungkin saja disini kamu yang salah tapi kamu yang tidak menyadarinya. Tapi kalau pasanganmu yang salah, cobalah untuk memaafkan. Karena ketika orang sulit memaafkan itu akan menjadi kendala ketika kita mencoba untuk move on. Aku harap siapapun yang salah dalam hubungan kalian, kamu bisa memaafkannya. Jadi kamu bisa cepat-cepat dapat yang baru,” perintahku.

“Thanks Dave. Thanks for everything. Kamu telah mengubah pandanganku tentang mantan-mantaku yang bisex. Mungkin seandainya kamu bukan sahabatku aku bakalan jatuh cinta sama kamu,hehehe” katanya terkekeh.

“Hey, you know kan kalau kita itu sama-sama bot? jadi kalau kita pacaran kita jadi kaya pasangan lesbian dong?hahaha” jawabku sambil tertawa.

“Hahaha, iya juga yah. Aku bayangin kalau kita beneran jadian maka kita akan beli dildo yang dua arah dan memasukannya ke dalam lobang pantat kita masing-masing. Alhasil kita jadi adu pantat,hahaha. that so ridiculous,hahaha” timpalnya.

“Hahaha udah ah, kita makin ngaco aja tengah malem gini. Memang kamu nggak ngantuk apa?” tanyaku.

“Nggak. Kamu kan tahu kalau aku itu seperti kelalawar yang hidup di malam hari. Lagian besok aku libur kok,” katanya. “Ya sudah, aku tidur lagi yah, soalnya besok aku ada ulangan chemistery,” pintaku dan dia mengizinkanku, “Oke, good night Dave, sleep tight,” katanya. “Thanks.” Jawabku. Kemudian panggilan terputus dan aku membenarkan posisi selimutku dan kembali membaringkan tubuhku. Namun ku lihat ada satu chat watsapp yang masuk dan ternyata itu dari Steffano.

“Good night and sleep weel ;-)” begitu isi chatnya. Akupun hanya tersenyum membaca chat darinya. Dalam hati aku bergumam, aku itu bisa menasihati orang lain tapi aku sendiri kacau dalam urusan percintaan. Yasudahlah, buat apa memusingkannya lebih baik aku tidur saja. Akupun mulai memejamkan mataku kemudian terlelap.

—-

Aku dan Chloe baru saja keluar dari homeroom chemistery setelah selesai ulangan. Ku lihat Chloe sedang asik berkutat dengan kukunya yang baru saja di gambari bunga lavender. Bentuknya memang indah, makin menampakkan kesan feminism dalam dirinya. Kalau aku boleh menilai, Chloe itu wanita tercantik dalam Floque kami. Walaupun dia itu terkesan genit dan bitchy Namun dia juga wanita yang belum terlihat sedang dekat dengan cowok manapun. Kalu Cassie kan dia sedang dekat dengan teman kak Morgan yang bernama Alex. Tapi menurutku dia sama sekali tidak terlihat seperti lesbian. Atau mungkin dia belum cocok dengan cowok manapun.

“Hey, kalian sudah lama nunggu?” tanya Cassie ketika dia dan Amanda menhampiri kami.

“Gak juga, kita baru aja keluar,” jawab Chloe. “Oh ya nanti malem kamu jadi ikut kan Dave?” tanya Amanda.

“Jadi,” jawabku singkat. “Terus kamu mau datang sama siapa? Bukannya kita harus bawa partner masing-masing yah?” lanjut Amanda.

“Ehm aku… nanti aku jelasin deh, lebih baik kita ke Jiscaf dulu deh. Aku laper soalnya,”pintaku. Akhirnya kami melangkah menuju Jiscaf.

Setelah sampai, kami duduk di tempat favorite kami yaitu di sudut ruangan yang menghadap ke lapangan tenis. Jadi kita bisa menikmati pemandangan para atlet tenis sekolah kami yang sedang latihan maupun melakukan pertandingan dari balik kaca.

“Mau pesan apa Mas, Mba?” tanya pelayan yang ternyata adalah cowok yang waktu itu di goda oleh Chloe. “Eh Mas Joe. Jangan panggil kita Mas dan Mba donk, kita kan masih muda. Iya nggak Gurls?” tanya Chloe pada kami. Kami pun hanya menganggukan kepala kami.

“Oh ya Mas, kenalin nih temen aku. Yang ini namanya Amanda, terus yang itu namanya Dave, nah yang terakhir ini namanya Cassie,” kata Chloe memperkenalkan kami, lalu si pelayan yang bernama Mas Joe itu menyalami kami satu persatu.

“Oke, kalian mau pesan apa?” tanya Chloe pada kami. “Gue mau Tropicana Float tapi minus peach yah, oh ya sama D’crepes rasa blueberry plus taburan almondnya di banyakin,” jawab Cassie.

“Kalo aku mau Savory corn and pepper Muffins sama minumnya milkshake. Oh ya peppernya jangan terlalu banyak yah, nanti malah jadi terlalu pedas,” jawab Amanda.

“Kalau kamu Dave?” tanya Chloe. “Aku mau éclair tapi aku mau di tambahin sama saus kiwi di atasnya. Kalau minumnya aku mau two seasons,” jawabku. “Oke, yang itu masing-masing satu. Kalau aku mau pesan green tea tapi no sugar yah. Sama berries compilation tapi yang medium. Udah itu aja,” kata Chloe, lalu dia menyerahkan menu book kepada mas Pelayan tadi.

“Oke gurls. Aku mau nanya donk, kalian nanti malem jalan sama siapa? Tanya Amanda, setelah si pelayan tadi pergi.

“Kalo gue sama si Alex. Gara-gara si Morgan nyomblangin gue alhasil dia minta gue dateng bareng dia,” jawab Cassie malas. “Bagus donk. Daripada kamu sendirian,” jawab Amanda.

“Bagus apanya? Gue gak suka sama gombalan sama tingkah lebaynya si Alex. Mau sok-sok romantis tapi malah bikin gue jijik,” lanjut Cassie.

“Lho, jijik kenapa Cass?” tanya Chloe. “Nggak tau. Gue gak suka aja kalo ada orang yang ngegombal sama lebay ke gue. Gue malah kesannya jadi risih dan ilfil,” jawab Cassie.

“Kamu tuh yah aneh banget deh Cass. Kalau aku jadi kamu, pasti aku bakal jadi cewek paling bahagia di dunia ini. Aku aja selalu klepek-klepek kalau kak Morgan mulai ngegombal,” kata Amanda, “Oh Please, gue bukan tipe cewek melankolis yah kaya lo, jadi selera kita beda,” sahut Cassie. “Ok then, maybe it’s all about taste. Kalau kamu mungkin lebih suka cowok yang pendiem. Yang lebih talk less do more. Tapi buatku tetap saja cowok seperti itu akan terasa membosankan,” jawab Amanda, namun Cassie hanya menjulurkan lidah ke arahnya dan Amanda hanya memalingkan wajahnya, kemudian dia melirik ke arah Chloe yang sedang membenarkan posisi poninya. “Kalau kamu Chloe?” tanyanya ke Chloe.

“Aku?” tanya Chloe. “Iyalah. Memangnya siapa lagi?” jawab Amanda ketus.

“Aku dateng sama. Dia,” jawab Chloe sambil menunjuk ke arah si mas pelayan tadi. Membuat kami semua terbelalak. Apalagi Amanda, dia sampai memundurkan wajahnya karena sangkin tidak percayanya.

“Lo dateng sama si pelayan itu?” tanya Cassie tak percaya. “Yups. Oh ya namanya bukan mas Pelayan tapi mas Joe. Jadi mulai sekarang kalian harus panggil namanya, jangan ada embel-embel pelayannya lagi. Oke?” Chloe melihat ke arah kami satu per satu.

“Tapi kan Chloe dia itu pelayan. Lagian kamu itu memang gak bisa apa milih teman yang se-level sama kita?” tanya Amanda. “Tau lo Chloe, lagian memang nggak ada yang lain apa? Sampe sampe lo harus ngajak mas-mas itu?” lanjut Cassie.

“Stop it! Both of you. Aku gak peduli yah mau dia pelayan kek sopir kek bahkan office boy sekaligus. Asal dia ganteng dan masuk standar cowok idamanku yah it’s no problem. Daripada kalian, lihat tuh coba kalau kalian perhatiin gantengan mana Morgan dan Alex kalau di bandingkan dengan mas Joe? Pacar or gebetan kalian itu lebih jelek tau nggak,” jawab Chloe sambil menatap tajam ke arah Cassie dan Amanda.

“Hey, dia memang ganteng tapi lihat donk statusnya, dia cuman pelayan,” timpal Amanda. “Iyah, lagian memang dia bisa apa mencukupi kebutuhan lo?” lanjut Cassie.

Chloe mengibsakan rambutnya kebelakang, “Hey, kalian denger yah. Mau dia miskin kek atau nggak, aku nggak perduli, lagian aku sudah kaya kok. Malah lebih kaya dari kalian, jadi buat apa aku memusingkan status mas Joe yang miskin. Toh harta Papahku nggak bakalan habis hingga anak cucu kami lahir. Yah, kecuali bila Tuhan berkehendak,” jawab Chloe dengan seringai yang membuat Cassie mendengus dan Amanda menatap kesal ke arahnya.

“Sudah-sudah. Kalian ini kayak anak kecil aja. Lagian terserah Chloe donk dia mau datang sama siapa. Dan gak baik juga lho melihat orang berdasarkan status kekayaanya saja, kesannya kayak kalian itu cewek matre yang gila harta. Kalian mau dapet julukan seperti itu?” tanyaku pada mereka.

“Ih amit-amit deh, jangan sampe gue dapet julukan seperti itu. Yah, walaupun sebenarnya gue ngincer cowok tajir juga,” jawab Cassie sambil tersenyum. Dan Amanda hanya menggelengkan kepalanya. Itu pertanda kalau dia sedang marah. Amanda itu benar-benar tipe cewek melankolis sejati, dia senang mengkritik atau mencela orang tetapi apabila dia di kritik maupun di cela dia akan segera merasa kesal karena dia itu super sensitive. Dia kesal bukan hanya karena dia di kritik tapi dia juga mudah merasa bersalah, akhirnya dia hanya bisa diam pada akhirnya.

Pelayan yang bernama Mas Joe tadi mengantarkan pesanan kami namun sebelum dia meninggalkan meja kami Chloe menahan tangan mas Joe. “Nanti malem mas Joe aku jemput jam Sembilan yah?” kata Chloe. “Iya Dek,” jawab mas Joe kemudian dia pergi meninggalkan meja kami.

“What. Dek?” kata Cassie dengan tatapan tak percaya. “Kenapa? Masbayu?” tanya Chloe sambil memandang sinis ke arah Cassie. Namun sebelum Cassie memperkeruh suasana aku buru-buru memerintahkannya untuk tidak memperpanjang masalah ini. Dan dia menurut. Kita pun akhirnya sibuk dengan hidangan yang ada di depan mata kami. Dalam hati aku berkata. Apa mereka lupa menanyakan nanti malam aku datang dengan siapa? Yasudahlah biar saja itu akan jadi buat kejutan untuk mereka semua.

Aku masuk ke dalam mobil Steffano ketika mobilnya sudah sampai di depan pagar rumahku. Sengaja aku tidak menyuruhnya masuk terlebih dahulu karena memang itu akan membuang-buang waktu saja. Jadi lebih cepat kan lebih baik. Lagian Amanda dan yang lainnya sudah berangkat terlebih dahulu.

“Hahaha kamu itu pakai kostum witches tapi kok gak ada kesan seramnya yah Dave?” tawa Steffano lepas ketika aku masuk ke dalam mobilnya.

“Iiissshh kamu itu ngeledek aku yah? Aku aja ngikut Halloween party ini terpaksa. kalau aku harus dandan seram yang ada nanti aku malah takut sama diri aku sendiri,” jawabku kesal. “Iya, iya sorry deh kalau gitu. Yasudah kamu sudah siap kan?” aku hanya menganggukan kepalaku tanpa melihat ke arahnya.

ketika mobil sudah dalam perjalanan aku iseng-iseng memperhatikannya yang sedang konsen mengemudikan mobil. Aku bingung sebenarnnya dia menggunakan kostum apa sih? Dia malah terlihat tampan dan menawan, dan tidak ada kesan seramnya sama sekali. Akupun memutuskan untuk bertanya kepadanya, “Steff, kamu itu pakai kostum apa sih?” “Vampire,” jawabnya singkat.

“Kok vampire tapi nggak serem. Bukannya vampire itu menakutkan yah?” aku menatap lekat ke arahnya. “Dave, kamu pernah nonton Twilight saga belum sih?” aku hanya enganggukan kepalaku, “Nah, coba kamu lihat di situ ada nggak vampire yang seram?” aku menggelengkan kepalaku, “Nggak ada sih, eh tapi yang namanya Laurent itu cukup seram lho, selain kulitnya gelap juga rambutnya gimbal jadi menambah kesan mistis. Tapi, selebihnya gak ada yang seram,” jawabku.

“Nah, tuh kamu tahu. Aku tuh lagi mau jadi kayak Edward Cullen, si vampire cool pujaan semua wanita,” kata Steffano, dia melirik ke arahku yang sedang memperhatikannya. membuat aku jadi salah tingkah.

“Owh gitu. Pantesan malam ini kamu kelihatan blink-blink,” asal kalian tahu dari leher dan wajah Steffano itu akan berkilauan ketika lampu menerpanya. Jadi dia benar-benar mirip seperti Edward, di tampah kulitnya yang terlihat lebih putih dari biasanya. Yah, memang dia cocok. Tetapi dia tidak berangkat bersama Bella Swan akan tetapi berangkat bersama penyihir. Yah semoga saja dia bisa tersihir dengan pesonaku.

“Iyah, setelah memakai alas bedak berwarna putih, aku di beri gliter-gliter di sekujur tubuhku, katanya sih biar lebih mirip dengan tokoh Edward,” jawabnya, aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku.

Aku turun dari mobil Steffano ketika kami sudah sampai di parking lot sekolah. Dan ternyata di depan mobilnya kini sudah ada Amanda yang sedang menatap tajam ke arahku. Dia sepertinya akan meminta penjelasan tentang semua ini. “Aku ke toilet dulu yah Dave,” kata Steffano, aku haya menganggukan kepalaku saja.

Setelah Steffano pergi Amanda langsung menghampiriku di susul oleh Cassie dan juga Chloe, “Explain!” pinta Amanda tegas. Dengan perasaan yang masih tak karuan, karena selain aku nervous, aku juga takut dengan bentuk wajah mereka. Cassie dengan kostum zombienya yang menyeramkan, Chloe dengan kostum princess akan tetapi malah terpanacar aura gothic, sementara Amanda dengan kostum setan yang membuatku taku memandang ke arahnya. Aku seperti berdiri di depan setan-setan deh.

“O..ok..oke.. kemarin Steffano mengajakku untuk pergi bareng ke acara ini. Jadi aku iyakan saja permintaanya,” jawabku singkat tanpa melihat kea rah mereka.

“Kenapa kemarin kamu nggak bilang?” lanjut Amanda. “Yah, karena kalian malah ribut dan lupa menanyakannya padaku. Jadi, aku gak salah donk?” kilahku, mereka hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.

“Oke. Terus apa yang sudah terjadi diantara kalian?” Amanda kembali bertanya. Namun belum sempat aku menjawab Chloe menyela percakapan kami, “Wait..wait. maksud kamu apasih Nda? Memangnya Dave sama Steffano ada apa? Sampe-sampe kamu se-curious itu padanya?”

“Chloe, Dave itu suka sama Steffano,” ceplos Amanda, dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Whaaaatt???” seru Chloe dan Cassie sermpak. Yah, memang mereka belum tahu kalau aku itu gay. Hanya Amanda saja yang tahu.

“Oke. Just to be honest, I’m Gay,” kataku. Namun tak ada respon apapun dari mereka, “Jangan bilang kalian mau menjauhi Dave, gara-gara dia gay,” lanjut Amanda. “Oh, gak kok. Kita gak masalah, mau Dave itu gay kek straight kek. Cuman kenapa baru bilang sekarang?” tanya Chloe. “Iya, kenapa lo gak bilang dari awal?” lanjut Cassie. Namun sebelum aku menjawab Steffano menghampiriku.

“Partynya sudah di mulai tuh. Ayo masuk!” ajak Steffano, akupun hanya bisa mengikutinya dan melambaikan tangan ke arah Floqueku.

Ternyata yang datang berpsangan bukan hanya cewek dan cowok saja. Banyak cowok dan cowok dan juga cewek dan cewek, karena memang ini Halloween party bukan prom night yang harus berpasangan dengan pacar maupun orang yang spesial. Namun persamaanya adalah kita ini tetap harus berpasangan ketika mengikuti serangkaian game yang telah di rencanakan oleh panitia Halloween party kali ini.

Ternyata game yang pertama adalah bernama pick the key on their brain. Peraturannya kita di suruh mengambil sebuah kunci yang berada di dalam kepala zombie. Siapa kelompok yang menang, maka dia akan mendapatkan hadiah.

Aku dan Steffano sudah berada di depan kepala Zombie yang di taruh di atas meja. Kulihat Amanda juga berdiri bersama kak Morgan. Cassie dengan Alex sedangkan Chloe bersama mas Joe. Dan juga beberapa pasangan yang lainnya. Ketika kak Heksa meniup peluit maka game pun di mulai. Steffano langsung memasukan tangannya ke dalam lubang yang ada di kepala zombie tersebut. Sedangkan aku masih saja takut, barangkali kepala Zombie itu nanti bisa hidup, eerrr sangat menakutkan.

“Ayo Dave, masukin tangan kamu!” perintah Steffano, akhirnya terpaksa aku memasukan tangaku ke dalam kepala si Zombie. I’m not going to lie. The idea of this game make me quite squeamish. Rasanya benar-benar menjijikan. Kita kaya benar-benar sedang mengobok-obok otak zombie. “Come one, where are you key? I’m gonna find you,” rancau Steffano sambil terus merogoh isi kepala si Zombie. Kulihat Amanda sedang berteriak seperti banci taman lawang yang sedang di kejar kamtib. Chloe pun tak kalah histeris, di berteriak sambil mengutuk karena kukunya yang indah jadi menjijikan. Sedangkan Cassie terlihat santai saja, dia malah terlihat bersemangat untuk menemukan kunci yang ada di dalam kepala si Zombie.

“Horreeee dapat,” seru Cassie. Yups, dia memenangkan game kali ini. Kulihat Steffano merasa kecewa karena tidak menang. Akupun sedikit merasa bersalah karena aku tidak betul-betul membantu mencari kunci tersebut.

“Maaf yah Steff, gara-gara aku kita jadi kalah deh,” kataku penuh penyesalan. “Gak apa-apa kok Dave, kan masih ada gam selanjutnya,” jawab Steffano dengan senyum dikulum. Akupun hanya membalas senyum serupa.

Game yang kedua bernama Mummy wrap, Jadi dalam tim terdiri dari dua orang. Yang satu akan di jadikan mummy dan yang lainnya akan membungkus temannya dengan tisu gulung hingga menyerupai mummy. Dan yang membuat menarik disini adalah kita hanya boleh membungkus badan pasangan kami apabila musik dimainkan, dan ketika musik berhenti maka kita juga harus berhenti. Begitu seterusnya hingga lagu selesai. Siapa yang paling menyerupai Mummy bentuknya maka pasangan itu yang menang.

“Oke siap semuanya?” tanya Kak Heksa yang di jawab teriakan siap dari kami semua. Dan ketika lagu ‘Monster Mash’ di putar kita langsung mulai membungkus pasangan kami masing-masing. Kami memutuskan agar Steffano yang menjadi Mummy sedangkan aku yang mendandaninya. Ketika musik berhenti, maka aku berhenti membungkusnya. Begitu seterusnya hingga akhirnya lagu tersebut selesai. Dan ternyata game kali ini di menangkan oleh pasangan Chloe dan mas Joe.

“Tuh benerkan, kalau soal dandan mendandani aku pasti juara, “ kata Chloe penuh kemenangan.

“Maaf yah Steff, kali ini kita kalah lagi,”sesalku, “Hey, kamu nggak usah ngerasa bersalah gitu donk. Gak masalah kok kalau kita nggak menang. Lagian masih ada satu game lagi kan?” aku hanya menganggukan kepalaku. “Kamu itu kalau cemberut malah kelihatan lucu, kayak anak kecil yang permennya di rebut,haha” akupun hanya mencibir ke arahnya. Dan tanpa kusadari dia memeluk pinggangku dari samping. Membuatku menjadi salah tingkah. Namun dia terlihat santai-santai saja.

Dan sekarang memasuki game ke tiga, yang bernama Halloween graveyard hunt. Ini adalah game yang paling aku takuti. Bagaimana tidak, game ini semacam jurit malam. Kita diharuskan memasuki goa yang di dalamnya banyak terdapat setan dan pernak-pernik mengerikan lainnya. Yang sudah kutebak pasti akan sangat mengerikan. Selain itu juga kita diharuskan mengumpulkan Pin dengan gambar berbagai macam hantu Halloween yang sudah di tempatkan di setiap ruangan. Siapa yang bisa keluar paling cepat dan mengumpulkan pin sebanyak mungkin maka dia yang aka menang.

“Dave, pokoknya apapun yang bikin kamu takut di dalam sana kamu harus melawannya. Mau kamu lempar apa kek, ataupun kamu pukul bahkan kamu tendang sekalipun itu gak apa-apa,” jelas Steffano.

“Ehm kamu yakin Steff? Kalau mereka nanti marah terus malah membunuhku gimana?” tanyaku padanya. “Tenang aja. Mereka itu sebenarnya hanya orang biasa. Hanya saja mereka di dandani menyerupai setan. Jadi, kamu nggak usah takut. Mereka nggak bakal bunuh kamu kok,” kata Dave Mantap. “Baiklah. Tapi kamu janji yah jangan pernah ninggalin aku sendirian,” pintaku. “Janji. Aku nggak bakalan ninggalin kamu sampai kapanpun,” jawabnya yang embuatku terbelalak. Diapun terlihat kaget. “Yasudah. Ayo kita kesana, sebentar lagi mulai,” Ajaknya dengan nada yang di buat biasa, padahal aku yakin kalau dia juga masih canggung karena perkataan tadi.

Dan ketika peluit di tiup kita semua masuk melalui pintu berdasarkan nomor masing-masing. Kalau aku dan Steffano masuk dari pintu 13, Amanda dan kak Morgan 10, Cassie dan Alex 15, sedangkan Chloe dan mas Joe 8. Baru masuk saja kami sudah di sambut dengan suara mencekam serta bau kemenyan yang di bakar. Aku makin erat menggenggam lengan Steffano. Namun secara mengejutkan dia malah menggenggam tanganku. “Kalau begini kamu percaya kan kalau aku akan terus di samping kamu?” tanyanya, aku hanya menganggukan kepalaku.

Kami masuk makin dalam, dan suasana pun makin mencekam. “Itu tuh pinnya,” tunjukku pada pin yang ada di tembok gua. Steffano pun mengambilnya. Kami terus memasuki gua tersebut. Namun tiba-tiba sosok kuntilanak menghampiri kami. Karena aku kaget reflek aku langsung memukul kepala si kuntilanak dan mengacak-acak rambutnya, “Aduuhhh sakit, sakit lepasin donk!” pinta si kuntilanak. Akhirnya aku melepaskan jambakan pada rambutnya. “Maafin aku yah mbak Kunti, habis mba ngagetin sih,” namun si mba Kunti malah ngeloyor pergi meninggalkan kami.

“Hahaha, kamu lucu Dave. Tapi nggak apa-apa, itu bagus,” kata Steffano. Kami pun melanjutkan perjalanan. Kami terus mengumpulkan pin bergambar macam-macam hantu Halloween hingga semuanya hampir terkumpul. Walaupun banyak sekali setan-setan pengganggunya namun semuanya berhasil kita atasi, waaupun terkadang dengan cara kekerasan. Namun ketika kami hampir keluar dari gua tiba tiba muncul sosok genderuwo yang mengagetkan kami. Kami pun berteriak bersamaan, dan genggaman tangan kita terlepas lalu aku jatuh. Si genderuwo tadi malah nekat mendekatiku, membuatku semakin ketakutan. Kupalingkan pandanganku ke arah Steffano, dia masih berdiri di belakangku. Namun sepertinya dia tidak berani mendekat.

“Tendang Dave!” perintahnya. Dan ketika si genderuwo makin mendekat, aku langsung menendang wajahnya. Entah kekuatan darimana tiba-tiba tendanganku terasa begitu kuat dan membuat si genderuwo tadi limbung. Kemudian Steffano langsung menarik tanganku. “Steff kayaknya dia kesakitan deh,” akupun merasa bersalah karena telah menyakiti si genderuwo jadi-jadian tadi. “Sudah kamu nggak usah mikirin dia, ayo sekarang kita keluar. Pintunya sudah dekat,” perintah Steffano. Akupun menurutinya. Namun ketika kami sudah hampir sampai pintu keluar, tiba-tiba dari atas muncul kepala pocong yang di gantung di tali. Kami kembali berteriak histeris. Steffano hendak meninggalkanku namun aku berusaha memeganginya dan yang kudapat adalah bagian belakang celananya. Ketika Steffano berlari secara reflek aku tertarik dan membuat celananya melorot. Dia pun terjatuh dan aku pun ikut terjatuh. Sialnya eh ralat maksudku untungnya aku jatuh dengan wajah tepat di depan bagian kemaluannya. Tanpa sadar aku malah mengamati bentuk gundukan tersebut. Steffano pun tampak tak keberatan. Namun akhirnya dia tersadar.

Dia bangkit lalu membenarkan posisi celananya. Lalu menarikku keluar. Dan ternyata kami pasangan pertama dalam game ini yang berhasil keluar. Dan kami adalah pemenang dalam game kali ini. Aku dan steffano pun berjingkrak-jingkrak gembira.

Dan sekarang masuk ke game yang terakhir yang bernama Scary story telling. Bagi siapa yang bisa bercerita paling seram dan paling banyak membuat pendengarnya ketakutan maka dia akan menang. Semua peserta berkumpul jadi satu di tengah lapangan dengan posisi melingkar. Aku berada di sebelah Steffano. Dan ketiga Floque yang lainnya berada tidak jauh dari tempat kami. Karena aku sangat takut dengan cerita-cerita seram maka aku memutuskan untuk menutup telingaku. Dan Steffano tiba merangkulku yang membuat kepalau berada diantara lengan dan dadanya. Dari posisi seperti ini aku bisa mendengar detak jantungnya serta mencium aroma maskulin dari tubuhnya.

Aku terus saja dalam posisi seperti itu hingga game ini selesai dan ternyata yang menang adalah kak Morgan, karena menurut panitia ceritanya paling seram dan paling banyak membuat peserta lainnya ketakutan. Dan akhirnya acara Halloween pun selesai. Aku dan ketiga floqueku berpisah bersama pasangan kami masing-masing. Akupun memasuki mobil Steffano.

“Gimana pengalaman hari ini?” tanya Steffano. “Luar biasa jawabku,” dan kami pun tertawa serempak. Terutama ketika kita membahas setan-setan yang ku aniaya. Hingga tanpa sadar aku terlelap.

Aku merasakan hembusan nafas di depan wajahku. Dan ketika aku membuka mataku ternyata wajah Steffano berada di depan wajahku. Dia malah tersenyum ke arahku, akupun langsung terbelalak dan membenarkan posisi tempat duduku. “Sudah sampai nih,” katanya. Akupun melihat ke sekitar dan ternyata kita sudah sampai di depan rumahku. “Thanks yah Steff,” kataku sambil berusaha membuka pintu mobilnya.

“Dave,” panggilnya, akupun menolehkan kepalaku namun secara tiba-tiba Steffano menarik wajahku dan bibirnya meraih bibirku. Yups, kita berciuman. Dan rasanya itu benar-benar nikmat dan penuh sensasi. Berbeda dengan ciumanku waktu itu dengan kak Morgan. Lama bibir kita saling bersentuhan hingga akhirnya kami melepaskan ciuman kami. Aku masih tercengang dan hanya bisa termangu menatapnya.

“Good night dan thanks for everything,” katanya. Lalu aku keluar dari mobilnya dan melambaikan tangan ketika mobilnya meninggalkan rumahku.

Aku tidak tahu maksud dari ciuman tadi. Tapi paling tidak ini adalah hadiah halloweenku. Yups, this is my Halloween gift. Akupun melangkah masuk rumah dengan berjuta rasa yang bergejolak di dalam dada.

-To be continued to Perkamen Six-

Happy satnite….
Part kelima sudah release nih, semoga kalian terhibur yah.
dan semoga part ini bisa menemani para single yang lagi berdiam diri di rumah dan gak ada kegiatan selain browsing dan nonton TV tentunya. kaya aku sekarang,hahaha

oh ya sorry kalau masih ada typo maupun kesalahan penulisan di dalamnya. aku butuh komen kalian dan juga kritik yang membangun supaya aku bisa nulis lebih baik lagi.

pokoknya JANGAN LUPA KOMEN!!!

Dadah.. sayonara semuanya. Calja!

Yours truly

Onew Feuerriegel

20 thoughts on “Floque – Perkamen 5

  1. yang dtg ke halloween party pasti seluruh student kan.. kok di game pesertanya cuman steffano,morgan,amanda,cassie,chloe,alex & mas joe or spalah??emang cuman mereka pesertanya ya??… #liat kiri kanan,atas,bawah. we-we-we gwe first comment #well i don’t give a damn -_-“.

    • Hahay…
      memang sih kelihatan.a kaya cuman mrk brrdelapan doank yg maen, tapi aku sempet nyebutin kata ‘peserta lainnya’ kok, wlwpun cuman sekali,hehehe

      hoorrreeeee kamu first komen *keprok-keprok*

  2. Hwahahahaha gw ngakak ampe guling2 pas dave ngejambak ma ngacak2 rambtnya mba kunti ky emak2 bru kbran kutang wkwk ,bntr gw bygin lage . . . hwahahaha . . .

    And then, 4 the disco stick . . . Stefan pk celana apa sih New kok gampang melorot gtu and lucky 4 dave dpt kiss dr bulgenya Stefan hahahaha . . . .

    Gw tggu next chapt.nya New . . . Oh ya hadiahnya kalo tbkan gw benar bout Cassie gw ikud aja dah asal jgn separangkat alat kontrasepsi dbyr tunai wkwkwk

    • hahay memang tuh, aq masukin adegan aki sndiri pas ngikutin halloween party kemaren,hahaha

      pake celana jeans cuman krn gak terlalu kenceng jadi gampang melorot,hahaha

      Dave gak nyium kok sa, cuman berdekatan,hahaha

      oke2 dtggu aja yah sa,hehe

      kalo tebakanmi bener nanti tak kasih ciuman.. tapi pake sendal,hahaha

      • ow cm bedekatan toh, tp kan tetep kecium something vulala kan wawawawa make me turn on wkwkwk

        Meh . . . Ms pk sandal sih new knapa ga page daun pintu biar lbh hot gtu wkwk

        pokoknya harus cpt update kalo ga tak gw perkotak upz wkwkwk . . .

        • iyeeehh.. gak sampe nyium kok…
          esa ini demen yg hot hot ternyata,haha

          yaudah nanti tak ganti pake dau kelor mau? biar situ kabur,haha

          perkotak itu maksud.a apa sa?

          owh ya aq udh add we chatmu yah! tapi kok gak ada feed back yah?

  3. ,hmm .. mw komen apa yahh ??
    ,kali ini udh lumayan terstruktur ya kak ? Tapi sayang .. kok aku bacanya kaya agak monoton yahh ??
    ,dari segi dialog aku bacanya masih kurang srekk gmnaaaaa gtu .. masa Dave langsung ngebuka jati dirinya gtu aja .. coba dikasih perlawanan dlu , trus dteken ama temen2nya
    bwt jujur ..
    ,baru deh dia terbuka ..
    ,yahh .. tapi sejauh ini mah it’s okay ajalahhhh🙂
    ,sgtu dlu aja dengg .. ntar takut dicipok karena komennya kepanjangan :p
    ,hahahahahahah😀

    • monoton yah?
      udh coba baca sambil makan cabe rawit merah belom? pasti gak monoton,hahaha
      *saran gelo*

      nanti di part selanjut.a di kasih penjelasan kom kenapa Dave itu santai dan reaksi sahabat.a biasa aja…

      yeeee sini tak cipok pake sandal jepit,haha

  4. Itu halloween party yang bikin panitia sekolah, tapi berasa anggota floque doang yang dateng.:/
    Trus bagian yang nyari pin, masa gak ada yang protes sih digebukin gitu?
    But, overall gue suka kok ceritanya. Jadi gue tetep nungguin lanjutannya ya new! Hehehe

    • iyah.. sorry yah. maksud.a biar fokus ke mereka tapi malah jadi kaya mereka ber delapan doank yang maen,hahaha

      wadduuhh masa protes sampe segitu.a,haha
      nama.a juga game buat have fun. jadi mrk jalanin aja wlwpun sbner.a menjijikan,haha

      iyah dtggu aja. baru selese selmbar MS-Word, haha aku.a lagi sibuk nnto series Vampire Diaries soal.a,haha *ketinggalan jaman*

      • iya gapapa sih. malah lucu aja sih jadinya. haahaha
        gapapa juga kalo kamu lagi sibuk sama yang lain. tapi jangan lupakan kami para penggemar setia dong. capek tau nungguinnya. huft *lebay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s