Floque – Perkamen 3


Logo Jubilee(resize)

Chapter 3 : Last Day

Sudah tiga hari aku berada di vila ini, dan selama tiga hari itu aku lalui dengan berbagai cobaan. Mulai dari namaku yang berubah menjadi vagina, hukuman yang ku terima apabila aku melakukan kesalahan dan hal-hal melelahkan lainnya. Ku buka buku panduan MOPDB untuk mengecek jadwal kegiatan besok. Besok adalah hari terakhirku menjalani MOPDB. Dan besok merupakan puncak kegiatan ini.

Ternyata kegiatan untuk besok tidak banyak. Hanya penobatan siswa siswi teladan, ramah-tamah kepada para raka dan rakanita, kemudian di tutup dengan upacara penutupan MOPDB. Kulihat di sekelilingku semua anak laki-laki sudah tertidur. Ku ambil smartphoneku dan mengusap layarnya, kemudian aku mengecek whatsapp. Iseng-iseng aku lihat profil Steffano yang ternyata masih dalam satatus online. Aku hendak mengechatnya namun tiba-tiba satu chat masuk.

“Belum tidur?” isi chat Steffano. “Belum, kamu sendiri kenapa belum tidur?” balasku antusias.

“Nggak bisa. Boleh aku telepon kamu?” isi chat Steffano selanjutnya. Aku langsung berjingkrak-jingkrak. Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam? Kenapa tiba-tiba Steffano ingin menelponku?

“Gimana? Bisa nggak?” lanjutnya. “Bisa kok. Silahkan saja,” balasku cepat. Tak lama smartphoneku berdering.

“Halo,” sapaku. “Halo,” jawabnya dengan suara merdu yang dia miliki.

“Kamu lagi apa?” tanyanya padaku. “Hmmm aku..aku..lagi nelpon kamu,” begitulah jawaban bodohku. Nenek-nenek metalpun tahu kalau aku sedang menerima telepon dari dia, tapi gak sebodoh itu juga kali jawabanku. Aku mengutuk diriku sendiri.

“Hahaha kamu lucu. Oh ya besok hari terakhir yah?” lanjutnya. “Iya,” jawabku singkat.

“Yasudah, kamu istirahat saja sana! Nanti kesiangan lagi,” perintahnya. “I..i..iya,” jawabku terbata.

“Yasudah, selamat istirahat yah. Good night and sleep tight,” katanya. “You too,” jawabku. Lalu percakapan kami pun berakhir. Walaupun hanya sebentar namun aku sangat senang sekali dengan percakapan barusan, entah kenapa setelah suaranya menghilang dari speaker smartphoneku aku merasa kehilangan juga. Namun aku akhirnya memutuskan untuk tidur.

Aku membereskan tempat tidurku untuk aku tidur, namun tiba-tiba terdengar bisikan suara. Ppssstttt…Ppssstttt, bulu kuduku langsung merinding. Dalam fikiranku langsung terlintas bayangan setan jelek dan menyeramkan. Mulai dari genderuwo, mak lampir, nenek gayung dan juga kakek cangkul. Namun setelah kupikir-pikir kayaknya gak mungkin kalau setan berani berbisik ke arahku. Lalu kuberanikan diriku untuk menoleh ke arah suara itu berasal. Dan ternyata itu kak Morgan. Dia melambaikan tangannya ke arahku sebagai tanda kalau aku harus menemuinya. Aku bangkit dan berjalan ke arahnya.

“Ada apa Kak?” tanyaku, ketika aku sudah berdiri di depannya. “Maaf kalau malam-malam gini ganggu kamu, kamu bisa ikut aku sebentar?” pintanya padaku. “Bisa Kak, memangnya ada apa?” lanjutku, namun kak Morgan tidak menjawab, malah menarik tangan kananku dan menggandengnya. Aku melihat  ke sekeliling vila, takut kalau ada yang mengikuti kita. Karena aku yakin kalau yang akan di bicarakan pasti hal yang sangat penting.

***

Pagi ini kita sudah berkumpul di tengah-tengah aula. Aku melirik ke arah Amanda yang dari tadi hanya diam membisu. Entah kenapa setelah peristiwa pembelaan yang dilakuan kak Morgan padaku sikapnya berubah drastis. Dia jadi jarang bicara, dan hanya menjawab pertanyaanku seperlunya saja. Aku sudah bertanya kenapa dia seperti ini. Namun dia cuman bilang nggak apa-apa, padahal dari tingkahnya sekarang, aku bisa menebak kalau dia sedang tidak baik-baik saja. benar-benar membuatku tidak enak hati.

Biasanya dia akan bawel terhadapku. Mengoceh ini itu dan mengomen beberapa hal yang sebenarnya tak penting untuk di komentari maupun di bicarakan. Dan ketika itu aku pasti akan merasa jengah dan bosan dengan ke cerewetan yang dia miliki. Tapi sekarang, dia benar-benar telah berubah 180 derajat. Dan aku yakin penyebabnya adalah kecemburuannya karena kak Morgan membelaku dua hari yang lalu.

“Dave…” terdengar suara orang memanggilku. Kupalingkan wajahku ke asal suara tersebut. Ternyata itu suara Chloe. dia sedang berjalan cepat ke arahku di susul Cassie di belakangnya. “Haaaahh akhirnya sampai juga,” desahnya ketika sudah berada di sampingku. “Gimana acaranya sudah di mulai atau belum?” lanjutnya, dia mulai mengipasi wajahnya dengan kipas yang ada di tangannya.

“Belum. Palingan sebentar lagi,” jawabku singkat. “Oh ya, denger-denger hari ini ada sesi dimana kita harus meminta tanda tangan para raka dan rakanita yah?” tanya Cassie. Dia mengibas-ngibaskan rambut bergelombangnya lalu mengikatnya.

“Iyah,” jawab Amanda singkat. Dalam hati aku sangat senang akhirnya dia mau angkat bicara juga. Padahal, sedari tadi dia hanya diam sambil memainkan iphone miliknya. “Males gila. Memangnya mereka artis apa pake acara minta tanda tangan sama mereka,” lanjut Cassie dengan nada jutek.

“Yeee biarin aja sih. Lagian aku pengen banget minta tanda tangan kak Heksa,” jawab Chloe antusias. “Kak Heksa ketua osis kita?” tanyaku padanya. “Iya donk Dave, memangnya disini ada nama Heksa lainnya?” jawab Chloe sambil memutar bola matanya. Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku saja.

“Oh ya, denger-denger mau ada band sekolah yang manggung di sini yah?” tanya Cassie. Aku langsung kaget. Kalau yang dikatakan Cassie benar pasti aku akan sangat bahagia karena bisa dipastikan kalau akan ada Steffano. “Yang bener kamu Cass?” tanyaku tak percaya. Namun dia mengangkat kedua bahunya, “Gue juga belum tahu pasti sih. Kita lihat aja nanti,” lanjut Cassie sambil membenarkan posisi ikatan rambutnya.

Acara hari ini dimulai. Ternyata para raka dan rakanita sudah melepas topeng kekejamannya. Hari ini mereka benar-benar begitu baik dan sopan pada kami semua. Mereka bilang sikap jutek dan juga kejam mereka kemarin hanya akting belaka. Maka dari itu mereka meminta maaf kepada kami semua. Walaupun aku masih yakin kalau kak Anita masih punya dendam pada Cassie karena tamparan yang dia terima dari Cassie.

“Gue masih belum yakin seratus persen kalo si Anita mau maafin gue,” kata Cassie ketika kami sedang duduk di sebuah bangku yang ada di bawah pohon di dekat vila. “Memangnya kenapa? Kok kamu bisa seyakin itu?” tanya Chloe yang masih saja mengipasi wajahnya dengan kipas yang ada di tangannya. “Yah, gue sih bisa nebak dari tatapan dia ke gue. Seakan-akan gue itu seperti koreng yang menjijikan,” lanjut Cassie.

“Hahaha kamu itu aneh banget deh Cass. Tapi ngomong-ngomong soal koreng nanti ada yang marah lho,” kata Chloe sambil menyikut siku tangan Amanda yang kebetulan berada di sampingnya. Amanda mendengus kesal, “Jangan sebut-sebut nama koreng atau apapun sejenisnya di depan aku lagi yah. Aku benar-benar muak dengan nama itu,” sahut Amanda kesal. Namun Chloe hanya menimpali perkataan Amanda dengan tawanya yang mirip mak lampir kesurupan kuntilanak. Entah bagaimana bisa dia tertawa sebesar dan semengerikan itu, tapi kenyataannya memang ada.

“Oh ya aku juga masih kesal tuh sama kak Panca. Dia itu benar-benar orang yang sangat mengerikan. Tega-teganya dia menyuruhku dan Dave memperagakan bagaimana bentuk vagina dan penis ketika penetrasi. I mean, memangnya ini ajang porno aksi atau apasih? Walaupun memang kalau di lihat dari gerakannya malah kita terlihat seperti orang idiot. Dave harus membentuk tubuhnya melingkar sementara aku harus memanju mundurkan badanku di tengahnya. Benar-benar memalukan. Tapi untung saja ada kak siapa itu namanya?” Chloe bertanya padaku.

“Kak Morgan,” sergah Amanda. “Iyatuh. Untung ada dia, jadi hukuman itu gak berlangsung lama. Kalau saja hukuman itu lama pasti aku sudah menyumpal mulut kak Panca  dengan high heels ini,” lanjut Chloe dengan menunjuk high heels di kakinya. Dia memang tidak pernah menggunakan sepatu pada umumnya melainkan sepatu dengan heels yang kalau bisa aku tebak mungkin paling pendek tujuh sentimeter. Aku pernah bertanya kepada dia namun dia bilang kalau dia nggak mau terlihat biasa.

“Tapi gak papa lagi Chloe, kalian malah menghibur kita semua,hahaha” kata Cassie sambil menertawai kami. “Yeeehh dari pada kamu. Suruh mijetin badannya kak Anita, memangnya kamu tukang pijat tunanetra yah?hahaha” balas Chloe yang sukses membuat Cassie bugkam dan mendengus kesal.

“Sudah-sudah,” leraiku.”Mendingan kita habisin minuman kita, soalnya kan bentar lagi kita masuk ke aula,” perintahku. Kulihat ke  rah Amanda dia sedang meminum jus avocado kesukaannya, sementara Chloe meminum jus raspberry dan Cassie meminum cappucinno sedangkan aku meminum lemon grass.

“Yasudah, ayo kita kembali ke aula!” ajak Amanda setelah kami selesai menghabiskan minuman kami. Dia berjalan di depan bersama Cassie, sedangkan aku di belakang bersama Chloe.

Dan acara selanjutnya adalah kita semua di suruh meminta tanda tangan semua raka dan rakanita yang berjumlah empat belas orang. Aku, Amanda, Cassie dan Chloe berpisah untuk mencari para raka dan rakanita yang sengaja berpencar di sekeliling area vila.

Pertama aku meminta tanda tangan ke rakanita yang bernama Madisa, dia cowok yang menurutku lumayan ganteng namun terlalu pendiam, kemudian aku meminta tanda tangan kak Teresa, kak Anita, kak Steve, kak Angel, kak Sony, Kak Maya, kak Heksa, kak Maria, kak Pricila, kak Marco, dan kak Eveline. Semua tanda tangan yang ku dapatkan bukan tanpa perjuangan. Sebelum aku mendapatkan tanda tangan dari mereka, ada yang menyuruhku menyanyi, berjoged, merayu dan banyak hal konyol lainnya.

Kini tersisa kak Panca dan kak Morgan. Aku memutuskan untuk mencari kak Panca terlebih dahulu karena kalau kak Morgan pasti aku akan dengan mudah mendapatkannya. Aku menyusuri sekitaran vila namun tak kunjung menemukannya. Dalam hati aku bertanya sebenarnya dia kemana sih?

“Hey,” sapa sebuah suara. Aku menolehkan kepalaku ke arah suara itu. Ternyata itu kak Panca. Dia tersenyum ke arahku, akupun mengernyitkan dahiku. Aku bertanya-tanya kenapa dia tersenyum begitu lebar ke arahku? Namun aku buru-buru menghampirinya. Setelah sampai di dekatnya aku langsung menyodorkan buku dan pulpen di depan dadanya. Dia memandangku sejenak, “Ayo ikut aku!” katanya lalu menarik tangan kananku.

Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang karena tanganku terus saja di genggam olehnya. Hingga akhirnya kita tiba di dekat kolam renang yang ada di belakang vila. Dia menarikku untuk berjalan menuju pepohonan yang ada di dekat kolam renang tersebut. Setelah sudah ada di balik pepohonan tersebut kak Panca melepaskan genggaman tangannya pada tanganku. “Nah kamu kesini mau minta tanda tanganku kan?” tanyanya sambil menatap wajahku.

Aku hanya bisa menganggukan kepalaku, karena jujur saja aku masih bingung dengan tindakan yang dia lakukan sekarang. Buat apa dia membawaku ke tempat yang sepi seperti ini. Apa jangan-jangan dia mau menenggelamkan aku di kolam renang? Atau dia ingin mengerjaiku atau mungkin bisa saja dia memperkosaku eh tapi aku kan belum tau dia itu gay atau bukan jadi sepertinya untuk kemungkinan ketiga sangatlah kecil.

“Tenang aja, aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu kok. Jadi gak usah kuatir deh,” katanya seakan-akan dia mengerti apa yang sedang kupikirkan. “Yee siapa juga yang berfikir macam-macam, yasudah nih aku minta tanda tangan kakak,” jawabku sambil menyodorkan buku dan pulpen ke arahnya.

Dia meraih pulpen dan buku milikku, “Tapi ada syaratnya,” katanya dengan senyum lebar di wajahnya. Ya ampun hal apa lagi yang harus aku lakukan. Beneran deh para raka dan rakanita ini sangat keterlaluan, masa cuman mau minta tanda tangan aja di persulit, padahal tadi mereka sudah minta maaf  kepada kami semua. Ternyata apa yang di bilang Cassie benar, mereka tidak tulus meminta maaf kepada kami.

“Gimana?” tanyanya sekali lagi. “Apa syaratnya?” tanyaku sambil memasang tampang malas.

“Gampang kok. Kamu rayu aku supaya aku mau jadi pacar kamu,” jawabnya.

Aku kaget. Benar-benar kaget malah. Aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan menyatakan cinta pada seorang lelaki. Karena aku ini gay bottom maka aku berharap kalau laki-laki lah yang menyatakan cintanya terlebih dahulu padaku. Walaupu ini tidak dalam konteks yang serius, karena aku yakin kalau kak Panca hanya ingin mengerjaiku saja.

“Kenapa? Kok kamu kaya kaget gitu? Gak usah kaget lagi. Aku tahu kok kalau kamu itu gay,” katanya santai.

Aku makin kaget. Bagaimana dia tahu? Apakah dia itu dukun? Atau dia juga gay? “Bagaimana kakak tahu?” tanyaku khawatir.

“Radarku yang bilang,” jawabnya dengan nada seolah itu kata-kata biasa. Nah kan benar, kalau dia menyebut radar berarti dia juga gay.

“Gimana? Kamu mau nggak? Kalau nggak, yasudah lebih baik aku pergi saja, biar kamu nanti dapet hukuman,” ancamnya ketika hendak meninggalkanku.

Buru-buru aku menahannya. Ku tahan lengannya yang baru kutahu ternyata sangat keras. Pasti dia rajin fitness karena aku yakin bisepnya akan terlihat indah bila terekspos. “Tunggu kak!” pintaku. Dia berhenti lalu memandang wajahku.

Aku masih berfikir kira-kira kata apa yang cocok. Otakku benar-benar sudah buntu, karena dalam hidupku aku tidak bernah berfikir kalau aku harus menyatakan cinta terlebih dahulu. Tapi sekarang, aku harus mengatakannya. Aarrgghh benar-benar membuatku frustasi. Perlahan aku membuka mulutku..

“Mmmm..mmmm..mau kah Kakak menjadi..errr pa..carku,” akhirnya kata-kata itu keluar juga. Aku masih menunggu reaksinya. Namun tidak ada reaksi apapun. Kulihat ke arahnya ternyata dia sedang menanda tangani bukuku. Setelah selesai dia menyodorkannya padaku, “Nih. Ternyata kamu memang pure bot yah, kamu kaku kalau harus menyatakan cinta terlebih dahulu. Tapi aku hargai usaha kamu. Terima kasih yah,” katanya. Aku meraih bukuku namun tiba-tiba kak Panca mengangkat kakinya lalu dengan gerakan super cepat dia menciumku. Yups benar, dia menciumku, walapun hanya di pipi kiriku saja. Setelah itu dia pergi meningalkanku sendirian.

Aku mengusap bekas ciumannya tadi. Rasanya benar-benar aneh. Aku tidak merasakan getaran apapun kecuali hanya kaget sesaat. Dia telah mencuri ciuman dariku, padahal yang boleh menciumku hanya Steffano seorang, walapun aku tidak yakin apakah itu benar-benar akan terjadi. Perlahan aku berjalan meninggalkan tempat tersebut sambil membayangkan kejadian barusan. Tubuh kak Panca yang kebetulan lebih pendek dariku membuatnya harus mengangkat telapak kakinya untuk mencium pipiku. Benar-benar lucu, walaupun aku agak sebal juga, kenapa dia harus mencuri ciuman dariku. I mean, kalo dia mau tinggal minta saja, pasti aku kasih kok, eehhh.

Aku sudah ada di tengah lapangan vila. Kulihat banyak anak yang sedang mengantri tanda tangan kak Morgan. Jadi aku mengurungkan niatku untuk meminta tanda tangannya sekarang.

“Dave,” sapa Chloe menepuk pundakku. “Gimana? Kamu sudah semua?” tanya Chloe.

“Belum. Sisa satu orang lagi. Kalau kamu?” tanyaku balik.

“Sudah donk,hehe” jawabnya. Tiba-tiba Cassie dan Amanda datang menghampiri kami. “Haaaaaahhhh, kalian sudah dapet semua tanda tangannya?” tanya Amanda.

“Sudah,” jawab Chloe. “Belum,” jawabku.

“Memang kurang siapa lagi lo Dave?” tanya Cassie. “Noh,” jawabku sambil menunjuk ke  arah kak Morgan yang sibuk menanda tangani buku para peserta MOPDB.

“Sama donk Dave, aku juga,” jawab Amanda.

“Kalo gue mah tinggal nyisa si Anita doank nih. Gue males mau minta tanda tangannya. Sini gue pinjem punya kalian, gue mau malsuin tanda tangan si cewek sialan itu,” kata Cassie.

Aku menyodorkan bukuku namun Amanda menahannya, “Eeiiitss gak boleh Cass. Kamu harus minta tanda tangan ke kak Anita langsung jangan jadi pengecut gini,” kata Amanda.

“Bodo amat. Gue males berurusan sama cewek satu itu. Yang ada nanti gue dikerjain lagi,” jawab Cassie.

“Bener tuh yang di bilang Amanda Cass. Kamu nggak boleh jadi pengecut,” timpal Chloe.

“Halaaaahhh kalian ini bener-bener gak bisa dukung temen deh,” jawab Cassie mabil mendekapkan kedua tangannya did pan tubuhnya.

“Cassie, kita bukannya gak mau bantu. Tapi sikap kamu yang pengecut kaya gini malah bikin kamu nggak jauh beda sama dia. Ayolah, palingan kamu dikerjain disuruh nyanyi aja atau mungkin jogged. Gak mungkin kalau kamu disuruh yang aneh-aneh soalnya penyiksaan kita sudah selesai. Jadi kamu mau kan meminta tanda tangan langsung ke kak Anita?” tanyaku sekali lagi.

Cassie mendengus pelan, “Okedeh, gue nurut apa kata kalian. Yaudah gue minta tanda tangan dulu ke si Anita, kalian tunggu disini yah,” kata Cassie, lalu dia meninggalkan kami dan menuju ke kak Anita berdiri. Kuihat dia berbicara dengan kak Anita lalu kak Anita menanda tangani buku Cassie kemudian mereka berjabat tangan. Setelah itu Cassie menghampiri kami.

“Ternyata yang kalian bilang bener yah. Si Anita gak jahat-jahat banget. Thanks yah buat support kalian,” kata Cassie yang di jawab anggukan oleh kita bertiga.

“Ya ampun, itu kenapa aula rame banget yah?” tanya Chloe.

“Tadi sih kayaknya ada band sekolah deh. Makanya bisa rame gitu,” jawab Cassie.

Aku langsung terbelalak. Kalau ini beneran band sekolah berarti ada Steffano. Aku bergegas ingin pergi ke aula, kurapihkan bajuku kemudian aku berpamitan pada ketiga temanku, “Aku kesana yah girls, mau lihat perform mereka,” kataku. Sebelum mereka menjawabnya aku sudah berlari meninggakan mereka.

Aku kini sudah berada di dalam aula. Ternyata benar, Steffano sedang tampil dengan lagu-lagu andalannya. Aku buru-buru masuk kedalam kerumunan yang mayoritas perempuan itu. Dengan susah payah akhirnya aku mencapai barisan paling depan. Kulihat wajah tampannya, sama sekali tidak berubah. malah terlihat semakin tampan dengan kemeja berwarna abu-abu dan celana blue jeans. Tak lupa dia mengenakan jaket berwarna cream dan jam tangan berwarna silver. Penampilannya kali ini benar-benar membuatku terpana. Dia terlihat begitu tampan.

Tanpa kuduga dia mengalihkan pandangannya ke arahku dan tersenyum. Tindakannya barusan membuatku hampir saja pingsan. Lebay memang, tapi itulah yang kurasakan.

“Apakah kalian siap untuk lagu selanjutnya?” tanya Steffano pada kami semua.

“Siiiiaaaappppppp,” jawab kami serempak. Dan tak lama dentuman suara drum dan bunyi gitar yang menjadi satu membentuk irama distorsi. Aku tahu ini adalah intro musik lagu ciptaan mereka yang berjudul If I Had You. Steffano terlihat manari-nari diatas panggung. Dia memang sudah lihai jadi dia terlihat santai saja bergerak se bebas mungkin.

Lagu If I Had You pun mengalun lewat suara khas miliknya. Suaranya benar-benar memabukan hati. Mungkin kalau aku disuruh menilai ke indahan suaranya, aku tidak akan bisa menilainya. Karena suaranya memang sangat sempurna menurutku. Ketika memasuki reff aku dan para penonton laiinya loncat-loncat mengimbangi irama musik yang makin mengalun dengan keras sampai lagu tersebut selesai.

“Oke, ini lagu terakhir dari kami semoga kalian bisa terhibur,” kata Steffano. Kemudian petikan dawai gitar mulai mengalun.

Ternyata itu adalah lagu yang berjudul we can’t stop milik Miley Cirus namun ini versi cover dari boyce avenue feat Bea Miller. Suara berat yang sangat khas milik Steffano mulai terdengar. Suara yang selama ini kudamba. Suara yang bisa membuatku merasa kalau aku kehilangan gravitasi bahkan suara yang bisa membuatku jatuh hati padanya. Suaranya benar-benar indah.

Aku memejamkan mataku untuk menikmati lagu sekaligus suara indahnya. Namun tiba-tiba terdengar suara seorang wanita. Aku membuka mataku untuk melihat suara siapa itu. Ternyata itu suara Oline, wanita cantik yang dengar-dengar sedang mendekati Steffano. Mereka berdua duet dengan mesra. Duet mereka mengalahkan duet Anang-Syahrimin eh maksudku Syahrini bahkan Anang-Ashanty pun lewat. Apalagi duet anak dan bundanya yaitu Raffi-Yuni, duet mereka benar-benar terlihat sangat serasi. Aku tidak bisa menampik kalau suara Oline memang indah, di tambah suara Steffano yang merdu. Benar-benar duet yang sangat stunning.

And we can’t stop. And we won’t stop. Can’t you see it’s we who own the night. Can’t you see it we who bout’ that life. And we can’t stop, and we won’t stop. We run things, things don’t true we, we don’t take nothing from nobody, yea, yea,yea

Begitulah lirik lagu terakhir lagu tersebut. Tanpa di duga Oline mencium bibir Steffano yang di sambut teriakan dan siulan para penonton. Aku yang hanya berjarak sekitar satu meter bisa melihat dengan jelas kitika bibir Oline menyentuh bibir Steffano. Bibir yang selama ini kudambakan itu telah di miliki oleh orang lain. Dalam sekejap suasana hatiku berubah. Aku merasa kalau hatiku hancur. Aku tahu kalau aku bukan siapa-siapa Steffano, tapi aku merasa kalau jantungku benar-benar berhenti berdetak ketika melihat ciuman itu. Mataku tiba-tiba terasa sangat panas dan tanpa terasa setitik air mataku jatuh.

Perlahan aku mundur dari barisan penonton. Aku menundukan kepalaku agar tak seorangpun melihatku menangis. Aku terus menerjang barisan penonton, tak kuperdulikan sama sekali ocehan orang yang merasa terganggu oleh senggolan tubuhku. Aku mengusap air mata yang ada di pipiku, hingga akhirnya aku sampai di pintu keluar aula.

“Dave,” ku tolehkan kepalaku ke arah suara yang memanggilku. Ternyata itu Chloe, dia melambaikan tangannya agar aku menghampirinya. Namun aku tidak mau kalau dia melihatku dalam kondisi seperti ini, pasti dia akan bertanya macam-macam. Jadi, lebih baik aku pergi menghindarinnya.

Aku berlari ke area belakang vila. Tadi ketika aku mencari kak Panca ku lihat ada rumah pohon di belakang area vila. Setelah sampai di dekat rumah pohon tersebut, aku mulai menaiki tangga yang terbuat dari kayu yang di kaitkan dengan tali tambang. Aku langsung menangis se jadi-jadinya ketika sudah sampai di dalam rumah pohon tersebut.

“Dave….Dave…Dave..” ku dengar suara Chloe dan Cassie bersautan. Dari celah yang ku intip pada dinding kayu tersebut bisa kulihat kalau Cassie dan Chloe tidak jauh dariku, maka aku menahan tangisan lirihku agar tidak di dengar oleh mereka. Setelah mereka pergi aku mulai menangis kembali namun kali ini hanyalah tangisan tertahan.

Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri. Buat apa aku menangis? Bukankah dia belum menjadi miliku? Dan belum tentu juga kalau dia mencintaiku. Tapi hati ini terasa perih apabila aku mengingat kejadian barusan. Ternyata sakit hati itu benar-benar menyakitkan.

Mencintai seseorang yang belum tentu mencintai kita memang cukup menyakitkan. Tetapi yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika kita mencintai seseorang tetapi tidak bisa menyatakannya. Dan ituah yang aku rasakan sekarang.

“Tunggu…” terdengar suara dari bawah pohon. Ku arahkan pandanganku ke bawah dan ternyata itu adalah kak Morgan dan Amanda.

Aku langsung terlonjak kaget, dalam hati aku bertanya, sedang apakah mereka disini. Kini rasa sakit hatiku telah teralihkan oleh rasa penasaranku atas tindakan mereka. Kupasang telingaku erat-erat agar aku bisa mendengar percakapan mereka. Karena walaupun jarakku tidak jauh, tapi tetap saja kalau tidak pasang telinga baik-baik maka aku tidak bisa mendengar dengan jelas.

“Apaan lagi sih Kak? Semuanya sudah jelas,” kata Amanda yang berusaha melepaskan genggaman tangan kak Morgan.

“Jelas apanya sih Nda? Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan,” kata kak Morgan yang masih terus saja memegangi tangan kanan Amanda.

“Sudah deh Kak. Kakak nggak usah berlaga bodoh. Atau jangan-jangan kakak memang bodoh?” kata Amanda dengan nada yang mulai meninggi.

“Iyah. Aku memang bodoh. Aku sangat bodoh karena aku mencintai orang yang tidak bisa membalas cintaku, tetapi..”

“Owh jadi semalam Kakak di tolak oleh Dave? Terus Kakak berusaha untuk mendekatiku? Iyakan?” potong Amanda.

“Semalam?  maksud kamu apa?”

Ya tuhan. Berarti semalam Amanda melihat kami berdua. Amanda melihat apa yang kak Morgan lakukan kepadaku. Ini semua salahku. Karena kejadian semalam aku yang menginginkannya. Aku benar-benar di liputi rasa bersalah.

“Owh Kakak lupa ingatan yah? Yasudah sini aku ingetin lagi. Semalam Kakak sama Dave itu pergi ke atap vila kan. Nah disitu Kakak menyatakan cinta Kakak pada Dave. Kakak berlutut di hadapannya  sambil memberikan bunga mawar putih kepada Dave. Aku melihat rona bahagia terpancar di wajah Kakak, begitu juga dengan Dave. Kalian saling melempar tawa. Sedangkan aku. Aku hanya bisa menahan gejolak hatiku yang merasa tersayat. Melihat seseorang yang kita cintai bahagia bersama orang lain itu sangat menyakitkan. Bullshit kalau ada orang yang bilang asal kamu bahagia bersamanya maka aku juga akan turut bahagia. Semua itu bohong, pasti dia juga akan merasa sakit. Sama seperti yang aku rasakan. Sekarang semuanya sudah jelaskan? Aku memang mencintai Kakak, tetapi Kakak malah mencintai Dave. Aku memang merasa sakit, tapi karena Dave adalah orang yang sudah ku anggap sebagai kembaranku maka aku akan mencoba menerimanya. Semuanya demi Dave, bukan Kakak,” jelas Amanda, dengan air mata yang berlinang.

Berarti semalam Amanda melihat semuanya. Yah dia melihat semua yang di lakukan oleh kak Morgan kepadaku. Dan itu semua adalah ke inginanku. Aku benar-benar merasa bersalah padanya.

“Dan satu lagi. Asal Kakak tahu. Mawar putih itu adalah bunga kesukaanku. Bunga yang aku harapkan di berikan oleh Kakak kepadaku. Namun Kakak malah memberikannya pada Dave,” lanjut Amanda, lalu dia kembali menangis.

Kulihat kak Morgan merasa serba salah. Dia ingin mencoba mengelus rambut Amanda namun akhirnya dia mengrungkan niatnya. Akhirnya dia mencoba untuk membuka mulutnya akan tetapi.

-To Be Countinued to Perkamen Four-

Hola semuanya.
Onew is back. sorry kalo lama update nih cerita. maklum aku lagi banyak banget kerjaan,hehe

aku mau ngucapin terima kasih buat sahabat aku Rendi yang masih ngebolehin aku buka lapak di sini,hehe

terus buat kalian yang udah setia ngikutin cerita ku dan juga komen. buat SR aku doakan mudah-mudahan kalian sadar dan mau komen,hahaha
kalau masih gak sadar juga aku doain jadi jomblo desperate,wkwkwk

sama buat teman satu tim kompetisi kemarin yaitu Oline dan Farhan. thanks guys buat pengalaman luar biasa kemarin. gak sia-sia akhirnya Tim kita menang,hehehe love you both.

oke deh gays, fujo dan bisex. itu aja dulu. maaf kalo ceritaku kurag menghibur tapi aku harapkan komen dari kalian dan juga kritik yang bersifat membangun. sorry for typo and everything.
sampai jumpa di kolom komen!

Yours Trully

Onew Dahling.

26 thoughts on “Floque – Perkamen 3

  1. ,alurnya transparan2 gimanaaa gtuh ..
    ,jadi , alurnya dikit gajelas ..
    ,tapi bagus kok .. buat ending masih sama kaya Floque chapter sebelumnya .. masih kurang bumbu yang pass enjosss gendoss taluuk brotoss #apasih !
    ,kok makin lama ceritanya makin pendek ya ?? kalo boleh tau nih ya .. kaka ngabisin brp lembar ms. word buat ngerjain 1 chapter ??
    ,itu dulu deh , masukkan dari aku ..🙂 moga ditampung yaahh😀 makasih kak Onew keceeehhh :* jangan lama2 updatenya yaah ?? hehe ..😉

    • maksud.a transparan tapi agak gak jelas itu apa yah ruka?
      bkn.a klo transparan itu sama dengan jelas yah???

      iyatuh emang susah buat bikin ending yg pas,hahaha

      ehm emang sih part kali ini lebih pendek dari yg kemarin,hahay sorry yah,hehe
      klovpart prtama itu 9 lembar part ke 2 itu 10 lembar nah part ini cuman 8,5 lembar,hahaha

      iyah iyah,makasih buat masukan.a…hehe
      makasih juga udh mau setia komen,hehe

      part selanjut.a dtggu bulan depan yah,hehe

    • Abis kalian pada hobi jadi SR sih..jadi.a tak sumpahin sekalian lho,hahaha

      sbener.a enakan komen tau, jadi penulis bisa tahu pa yg harus di perbaiki dan penulis jga tahu klo karya.a di hargai,hehehe
      makasih udh komen,heje

  2. Seru nih ceritanya. Bikin penasarannya pas banget!
    Tapi sepertinya gue bisa nebak jalan cerita selanjutnya nih. Sepertinya ya. Hehehe

    • hahay iya.
      sabar aja mas topik, pasti dilanjut kok. wlwpun gak tau kapan,wkwkwk

      lho kok malah mas topik yg bilang makasih? harus.a aku donk. makasih yah udh mau ngikutin ceritaku dan komen ,hehehe

  3. Ceritanya oke, mayan menarik untuk diikuti. Tapi yg gw ga demen itu soal “role menentukan kepribadian seseorang” bener2 ditekenin di sini. Kayak pure bot itu kaku nyatain cinta. Menurut gw, itu soal kepribadian aja, ga ada kaitannya dengan role.

  4. i dont get it!…seems like what dave & morgan were doing is a pretending. i think morgan loves amanda! & he just pratice with dave to tell about his feeling to amanda. am i right?? or? i don’t know!!

    well bagus-bagus-bagus-bagus! thats all i can say!

    entah kenapa pas gwe baca dialog dave yang ngucapin “mau kah kak jadi pacar aku?” emmm klo aku jadi panca aku bakal rekam ucapannya barusan!..i dont know for what? but thats what i was think when he said that!..

    thanks onew di tunggu lanjutanya ya!…..

  5. heh Onew dudul knapa bnyk part yg diskip sih ulala pasti ada udang dibalik nuget ya hikhik, part Cassie mnt ttd ma Anita , part Dave minta ttd Morgan si pengkhianat apa jgn2 ada apa2 antara Ca$$ie and Anita you know.lah hahaha . . .

    Perkamen brp ni zavan muncul ? Hahaha ngarep bgd.

    Gw Next ya bc dlu ya . . .
    *ksh kiss buat onew plak hahaha mga aja gw ga digorok RJ upz mav*

  6. Mau komen apa yaaaa? Bagus kok New. Gue suka yg part ini. Lebih ada perkembangan. Dan entah kenapa, gue suka banget pas bagian Kak Panca dan Dave yg di taman or whatever that places. Gue suka bagian kecil2 kayak gitu. Gue sedikit naruh perhatian di Kak Panca, pengen lihat apakah karakternya dia jadi penghalang buat kisah cinta si Dave. Bukannya di suatu cerita harus ada yg antagonis? Nah, maybe Kak Panca bisa diajukan jadi salah satu nominatornya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s