Floque – Perkamen 2


Logo Jubilee(resize)

Chapter Two : Detention.

Dave Pov.

Aku turun dari bus yang membawa kami menuju sebuah vila di daerah puncak. Kalau sekolah lainnya mungkin akan menyelenggarakan MOPDB di dalam gedung sekolah mereka masing-masing, akan tetapi berbeda dengan sekolahku ini, yang setiap ada event-event tertentu maka akan di selenggarakan di vila ini termasuk proses MOPDB, graduation, prom night dan masih banyak acara lainnya.

Aku menyeret karung berisi barang-barang perlengkapan MOPDB yang menurut Amanda terlalu hiperbol. Aku sih sudah tidak heran lagi karena tiga tahun lalu ketika aku mau masuk junior high school di sini pun harus membawa perlengkapan yang sangat banyak, yah walaupun tidak banyak seperti sekarang ini.

“Dave, tunggu!” panggil Amanda yang berada di belakangku. Aku berhenti sejenak menunggunya yang sedang berjalan ke arahku.

“Ya Tuhan, aku masih gak nyangka kalau harus membawa peralatan-peralatan ini. Sebenarnya kita ini mau MOPDB atau mau pindahan rumah sih? Gak tau apa kalau kita itu udah persis kaya anak yang diusir dari rumah,” Rutuk Amanda yang kontan membuat aku terkekeh.

“Hahaha, Nda kamu itu kaya nggak pernah MOPDB di sini saja. Kan memang begini setiap MOPDB, barang-barang yang kita bawa itu sangatlah tidak lazim,” sahutku, sambil berjalan pelan menarik karung berisi peralatanku.

“Yayaya. But, paling nggak yah kakak-kakak senior tahun ini tuh berbeda dengan kakak-kakak senior sebelumnya lah. Masa dari tahun ke tahun pasti kaya gini terus, memangnya mereka nggak bosen apa?” lanjut Amanda masih dengan nada kesal.

“Lah kan mereka belajar dari senior sebelumnya, jadi yah kita nggak bisa menampik kalau pastinya tidak jauh-jauh dari proses MOPDB sebelumnya,” jawabku sambil masih menarik karungku.

“Atau mereka mau balas dendam sama kita yah? Mereka kan dulu di siksa sama senior mereka yang akhirnya mereka lampiaskan pada kita, ckckck benar-benar keterlaluan,” gerutu Amanda.

“Yah maybe, tapi kalau masih dalam batas wajar yah no problem, asal kita nggak di suruh melakukan hal-hal yang tidak masuk akal saja,” kataku masih jalan mengikuti rombongan anak-anak MOPDB lainnya.

“Memang sih, ya sudahlah kita masuk!” ajaknya sambil berjalan mendahuluiku. Namun tiba-tiba tubuhnya mematung.

Aku menoleh ke depan ternyata kak Morgan sedang berjalan ke arah kami. Pantas saja Amanda mendadak terkena sindrom lumpuh mendadak. “Hey, selamat datang di acara MOPDB yah,” sapa kak Morgan.

“Iya kak, oh ya kak Morgan sudah datang dari hari apa?” tanyaku. Kak Morgan bisa ada disini karena dia menjadi ketua club music sekaligus anggota student organization di sekolah kami.

“Sudah datang dari kemarin. Oh ya sini aku bantu,” tawarnya mencoba mengambil karung di genggamanku.

“Ehm gak usah kak, nanti malah ngerepotin. Kalau kakak mau mending kakak bantuin Amanda aja, kasihan tuh dia keberatan,” dalihku supaya dia bisa dekat dengan Amanda.

Dia berjalan di sisi kiriku lalu menarik karung Amanda akan tetapi dengan bodohnya Amanda malah diam membisu. “Hey,” tegur kak Morgan padanya dengan melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya.

“Eh emmm makasih kak,” tutur Amanda dengan nada gugup.

Kak Morgan hanya menganguk lalu berjalan di sampingku. “Oh ya kamu sudah sarapan?” tanya Kak Morgan.

“Ehm sudah. Kakak sendiri?”

“Sebenernya belum, makanya aku mau ngajak kamu sarapan,” kata kak Morgan.

“Ehm sayang sekali. Gimana kalau kakak ajak Amanda saja, dia belum sarapan lho,” bohongku karena aku tahu kita tadi sarapan bersama.

“Ehm gak usah deh, biar nanti aku sarapan sama temanku saja,” katanya. Ku palingkan mataku ke Amanda, wajah yang tadinya senang langsung berubah murung ketika mendengar jawaban dari kak Morgan.

“Oh begitu, yasudahlah kak,” jawabku singkat.

Tanpa terasa kita sudah masuk ke dalam lapangan hijau yang berada di tengah-tengah vila. Kak Morgan sudah pergi meninggalkan kami dari tadi. Dan kami sekarang sedang berdiri bersama teman-teman lainnya. Tak lama Mr.Felix selaku kepala sekolah kami memberi sambutan kepada kami semua dan sekaligus meresmikan acara MOPDB tahun ini. Kulihat Amanda masih dengan tampang kecewanya.

“Hey kamu masih marah yah sama Kak Morgan?” tanyaku.

Namun dia hanya menggeleng lalu asik bermain I phone miliknya. Akupun mengambil Smartphone samsungku dari kantong bajuku dan mengeceknya. Ternyata ada lima chat whatsapp dari Jeremy. Dia menanyakan tentang film yang ku tonton kemarin bersama Steffano. Kalau kalian mau bertanya siapa Jeremy, dia adalah teman eh ralat sahabat gay ku. Dia dan aku sama-sama gay dan kita sama-sama bottom. Kita kenal melalui sebuah forum, dan akhirnya kita menjadi dekat. Setiap malam pasti dia selalu menelponku dan kita berbagi cerita tentang hal-hal yang kita lalui seharian. Anaknya ganteng, kulitnya putih, bibirnya ranum namun hanya satu yang kurang dari dirinya, hidungnya pesek. Gak terlalu pesek juga sih, masih dalam tahap wajar. Ku balas satu per satu chat darinya. Setelah semua terbalas tiba-tiba ada chat baru masuk. Dan ternyata itu dari Steffano.

“Good luck for today :-)” begitu isi chatnya. Aku langsung gembira tak karuan. Bagi sebagian orang mungkin itu biasa saja, namun bagiku itu lebih menggembirakan dari pengumuman kelulusan. Karena aku sudah menyukai Steffano sejak lama. Ku balas chattingan darinya dengan antusias. Namun tiba-tiba Amanda menggoyangkan pundakku.

“Ayo kita masuk, sudah selesai upacaranya,” kata Amanda. Akupun jalan di belakangnya sambil membalas chat dari Steffano.

Kita sudah sampai di aula yang akan menjadi tempat kami melangsungkan MOPDB. Kali ini tema yang diangkat adalah tentang dunia kesehatan dan anatomi tubuh. Jadi pasti kita akan mendapat julukan dari nama-nama anatomi dan juga dunia kesehatan yang baru aku tahu ternyata yang diambil adalah nama penyakit.

Satu per satu siswa di panggil untuk mengambil nama-nama mereka yang sudah di siapkan di dalam toples bulat.

“Syukur deh tahun ini tema nya bukan binatang lagi. Aku masih trauma tiga tahun lalu aku dapet nama orang utan. Bayangkan saja para raka dan rakanita seenaknya manggil aku orang utan-orang utan, bikin sakit hati tau nggak Dave,” kata Amanda dengan wajah yang di buat cemberut.

“Ehm aku sih waktu itu dapet nama ayam,” jawabku.

“Enak donk. Gak kaya aku, masa aku di suruh praketkin gimana ekspresi orang utan pas nahan eek, eeuugghh langsung aku badmood abis. Seandainya saja aku yang punya sekolah pasti aku sudah ngeluarin tuh raka dan rakinata biadab itu,” rutuk Amanda.

“Yeehh kata siapa enak? Aku tuh di suruh praktekin gimana ayam kalau mau bertelor, udah gitu mereka nambah-nambahin namaku jadi ayam kampus lagi, serasa pelacur tau nggak Nda,”

“Hahaha ternyata kamu lebih parah yah dari aku,” jawab Amanda sambil terkekeh.

Akupun hanya menimpali kekehan Amanda dengan ekspresi cemberut serta kumonyongkan sedikit bibirku. Tiba-tiba nama Amanda di panggil. Dia merapikan bajunya kemudian melangkah kedepan, namun dia berbalik.

“Doakan aku yah Dave, semoga aku gak dapet nama aneh-aneh lagi,” katanya dengan senyum mengembang.

“Iya,” jawabku sambil memberi senyuman serupa. Dan dia kembali berjalan ke depan ruang aula.

Tak lama dia datang sambil membawa sebuah kertas. Kalau dilihat dari ekspresi mukanya sih masih 50:50 itu berarti kalau dia mendapat nama yang tidak terlalu jelek.

“Gimana Nda? Kamu dapet nama apa?” tanyaku.

Dia masih memasang tampang bingung, tapi dia menyodorkan secarik kertas kepadaku. Di situ tertuliskan Herniawinalis/ Erniawinalis, akupun bingung dengan nama itu.

“Itu nama apaan Nda?”

“Katanya sih nama penyakit, tapi nggak tahu itu penyakit apa. Aku cari deh di Opung Google,” katanya sambil berkutat dengan I phone miliknya.

“APPAAAAA?” Pekik Amanda yang sontak membuatku kaget dan anak-anak lainnya memalingkan pandangan mereka pada kami.

“Kamu kenapa Nda?” tanyaku khawatir, barangkali saja dia kesurupan kuntilanak pohon cemara yang ada di belakang sekolah, atau barang kali nenek gayung yang dengar-dengar ada di toilet lantai empat sekolah ini, atau bisa jadi arwah Omma Sekar, tetangga Amanda yang baru meninggal kemarin malam, eeuuugghh membayangkannya saja aku sudah takut.

“Ini Dave, kamu tau nggak kalau ternyata Herniawinalis itu tuh penyakit kuning pada koreng jadi tuh mendekati borok gitu. Ya Tuhan, kenapa aku malah dapet nama mengerikan seperti ini sih, hhuuuhhh,” katanya sambil merobek kertas yang dia pegang tadi.

“Yasudah sih, toh itukan cuman nama Nda. Lagian pasti gak pada tahu kalau itu sebenarnya nama koreng atau borok, jadi santai saja lah,”

“Iya juga yah Dev, tapi bagaimana kalau ada yang tahu? Pasti aku akan di ejek dan di bully dengan nama itu, nanti kemanapun aku pergi pasti ada yang jahilin aku, bagai mana kalau…”

“Amanda, bisa nggak sih kamu berhenti bersikap sejauh itu. Trust me! Everything gonna be okay,” kataku sambil memegang kedua pundak Amanda.

Dia mengangguk, “Aku percaya deh, walaupun nggak seratus persen,” jawabnya.

“Nah gitu donk, pokoknya mulai sekarang kamu nggak usah panik kaya orang keserupan gitu deh yah,” saranku. Dan Amanda hanya menganggukan kepalanya.

Dan tiba giliran namaku yang di panggil. Aku pun maju ke depan. Ketika sampai di depan salah satu rakanita yang ku tahu bernama Angel karena terlihat di name tag yang dia miliki menyuruhku untuk mengambil secarik kertas. Akupun mengambil salah satu gulungan kertas.

“Buka!” perintah kak Angel. Akupun membuka kertas tersebut. Dan jreng-jreng ternyata di dalamnya terdapat tulisan ‘Vagina’. Lihat! Tulisannya adalah Vagina, Vagina pemirsa.

“Hahaha kamu cowok tapi dapet nama Vagina, jadi kamu cowok bervagina donk? haha” ledek kak Angel tanpa merasa berdosa.

Akupun hanya bisa cemberut menanggapi ledekan kak Angel. “Tunggu, saya catat dulu,” kata kak Angel.

“Silahkan duduk kembali!” perintahnya setelah mencatat namaku dan nama julukan yang aku dapat.

“Gimana, gimana? Kamu dapet nama apa Dave?” tanya Amanda antusias, begitu aku sampai di bangku kami.

“Nih,” kataku, lalu menyodorkan secarik kertas tadi.

“Hahahaha kamu dapet nama vagina Dave, kamu kan cowok. Masa, nanti kamu di panggil gini. Eh vagina kesini kamu! Masa kamu cowok tapi punya vagina,hahaha” ledek Amanda dengan tawanya yang mirip Mak Lampir itu.

“Udah deh Nda, jangan bikin aku makin bête,” grutuku sambil mencebikan bibirku.

“Hahaha iya, iya Dave, dari pada kamu dapet nama koreng, kamu mulih mana hayo?”

“Yah mending koreng lah, kalo ini kesannya aku kaya cowok bervagina tau,huh,”

“Ih keren tau. Kan baru ada tuh cowok bervagina di sekolah ini,wkwkwk” ledek Amanda makin jadi.

Aku malas menjawabnya. Lalu aku menyibukan diriku dengan smartphone kesayanganku.

Semua anak sudah di bagi-bagikan namanya. Dan kini kita semua kumpul di lapangan yang berada di tengah-tengah vila. Kulihat dari papan nama yang tertera di depan dada mereka ada yang bernama anus, mata, telinga, dan pantat. Kalau yang dari golongan penyakit ada kaki gajah, sipilis, antraks, tumor, kanker dan juga masih banyak yang lainnya. Aku sebenarnya ingin ketawa melihat nama-nama mereka, tapi kalau melihat diriku sendiri kayaknya aku seperti orang tak tahu diri saja. Aku cowok dan memiliki nama vagina. Walaupun itu hanya nama yang di pakai selama MOPDB. Tapi, pasti nanti aku harus terbiasa ketika para raka dan rakanita memanggilku dengan sebutan vagina. Benar-benar memalukan. Such an idiot thing.

Para raka dan rakanita menyuruh kami untuk mengeluarkan perlengkapan yang kami bawa. Mereka mengecek satu persatu dari kami. Aku mengeluarkan peralatanku, begitu juga dengan Amanda.

“Aku sebenarnya masih bingung deh Dave, buat apa sih ini semua? Lihat deh kita di suruh bawa penggorengan, sodet sama baskom memangnya kita mau MOPDB atau acara masak-masak ibu-ibu RT sih?” kata Amanda.

“Yah, mana kutahu Nda. Aku aja masih bingung sama bahan-bahan yang kita bawa ini mau di apakan semua,” lanjutku.

Tak lama seorang cowok berdiri di depanku. Kulihat namanya Panca. Orangnya lumayan ganteng, rambutnya ikal, kulitnya putih, hidungnya mancung. Hanya satu kekurangannya yaitu tubuhnya pendek, mungkin sekitar 160cm. aku mengamati garis wajahnya yang begitu lelaki. Dalam hati aku bergumam andai saja dia bisa jadi pacarku, pasti aku akan sangat senang. Namun tiba-tiba dia bertanya.

“Hmm mana ikan teri yang kepalanya nengok ke sebelah kiri?” tanya kak Panca.

“Ini kak,” jawabku sambil menunjuk ke kotak berisi ikan teri tersebut.

“Kamu itu bisa lihat nggak sih? Coba kamu lihat, ini nengok ke kiri atau ke kanan?” lanjut kak Panca.

Aku mengamati ikan tersebut dan aku kaget, ternyata ikannya negok ke sebelah kanan. Padahal aku ingat kalau kemarin ikannya noleh ke sebelah kiri. Ini pasti gara-gara Amanda, dia kemarin yang menyusun tumpukan ikan teri ini. Dia kan kidal jadi dia pasti menyusunnya dari kanan ke kiri, dan betuk kepalanya yang harusnya menghadap ke kiri malah jadi ke kanan. Aarrrgghh Amanda. Bisa-bisanya kemarin aku tidak mengecek ulang.

“Ehm ini kak, ke kanan. Tapi bisa di rubah kok, sebentar yah,”

“Eh eh eh gak bisa. Sekarang kamu ke ruang detensi. Ada di sebelah sana, dari sini kamu lurus terus belok kiri pas di depan aula,” kata kak Panca.

“Tapi kan kak..”

“Errrgghhh tidak ada tapi-tapian, pokoknya kamu kesana sekarang!” perintah kak Panca tegas. Mau tidak mau aku menurutinya. Lupakan kalau tadi aku menyebutnya tampan, lupakan kalau tadi aku mengaguminya. Karena semua itu sirna ketika aku melihatnya marah kepadaku.

Aku berjalan menuju ruang tersebut, namun ketika aku melihat ke kotak teri Amanda, semua terinya menoleh ke sebelah kiri. Pasti dia sudah merubah posisinya ketika kak panca sibuk memarahiku. Dia tersenyum kepadaku. Dasar licik.

Akupun melanjutkan langkahku, hingga aku sampai di depan ruangan tersebut. Ku lihat dua orang wanita disitu. Yang satu wanita dengan wajah sangat cantik, rambut panjang lurus, kulit putih, dan mata agak sipit, kalau aku boleh menebak sepertinya dia keturunan korea. Dan satunya lagi gadis berkulit agak coklat namun cokelat eksotis. Kalian pernah lihat Farah Quin? Begitulah warna kulitnya, dengan rambut bergelombang sebahu dan mata yang bulat.

Dengan cueknya aku duduk di salah satu kursi tersebut. Cewek berkulit putih tadi menghampiriku.

“Namaku Chloe, kamu siapa?” tanya wanita tersebut, sambil menyodorkan tangannya.

Akupun membalas uluran tangannya. “Dave,” jawabku.

“Nama yang bagus,” pujinya. “ kamu kenapa dihukum?” lanjutya.

“Aku salah membawa ikan teri, harusnya noleh ke kiri tapi malah noleh ke kanan,” jawabku.

“Owh gitu, kalau aku sih cuman gara-gara masalah sepele. Aku tidak mau memakai name tag ini,” katanya, lalu menyodorkan kertas bertuliskan penis.

Sebenarnya aku hampir tertawa, namun aku juga sadar kalau aku senasib dengannya. Jadi aku hanya bisa menahan tawaku.

“Gue heran deh sama raka dan rakanita disini, semuanya pada ngesok dan belagu,” kata cewek berkulit cokelat tersebut.

Kami menolehkan pandangan ke arahnya. “Nama gue Cassandra, tapi kalian bisa manggil gue Cassie,” kata wanita tersebut sambil menyodorkan tangannya. Aku dan Chloe menyalaminya bergantian.

“Jadi, kamu di hukum karena apa?” tanya Chloe pada Cassie.

“Gara-gara nampar cewek bernama Anita,” jawab Cassie.

“Hah kok bisa gitu, memangnya dia salah apa sama kamu?” lanjutku.

“Dia ngomong pas di depan muka gue, dan beberapa tetes liurnya muncrat ke muka gue. Oh god, dia sadar gak sih kalau liurnya dia bau busuk, pake acara ngomong deket-deket muka gue lagi, jarak lima meter aja udah kecium tuh bau mulutnya yang persis kaya bau ketek,” jelas Cassie.

“Hahahaha,” tawa Chloe yang membuat aku kaget. Beneran deh suaranya itu besar sekali, membuat wajah cantiknya musnah ketika dia tertawa ala setan seperti itu.

“Bisa nggak ketawanya nggak gede-gede, brisik tau,” perintah Cassie.

“Sorry, aku emang suka gak bisa ngontrol suara merduku kalau sudah tertawa. Jadi, terus setelah kamu nampar dia, dia nampar kamu balik nggak?” tanya Chloe.

“Yaelah mana berani dia nampar gue balik, yang ada dia malah mewek kaya cewek abis di perkosa 20 cowok sekaligus,” katanya dengan seringai yang membuatku menelan ludah.

“Owh jadi itu sebabnya kamu di suruh kesini sekarang?” tanyaku lagi.

“Iya,” jawabnya. Tiba-tiba terdengar suara langkah mendekat. Dan ketika orang itu sudah di depan pintu, aku terkejut. Ternyata itu Amanda.

“Amanda… kok kamu bisa di hukum?”

“Iya Dave, aku lupa bawa spatula,” katanya berjalan ke arahku.

Aku tidak percaya. Aku yakin Amanda bawa spatulanya. Hanya saja dia tidak mau terpisah dariku. Dia selalu mengikuti kemana aku pergi hanya untuk diakui kalau kita itu kembar.

“Owh gitu,” jawabku, pura-pura tidak tahu. “Kamu temannya Dave?” tanya Chloe.

“Bukan, aku kembarannya,” kata Amanda.

Chloe menatap ke arah kami bergantian, “Tapi kok nggak mirip yah?” lanjut Chloe.

“Iya, kami kembar lain ibu dan ayah,” sergahku, yang langsung di beri tatapan aneh olehnya. “Oh iya, Amanda ini Chloe dan Cassie. Cassie dan Chloe ini Amanda,” kataku memperkenalkan mereka. Mereka berjabat tangan.

Dan tak lama kemudian kak Panca dan juga kak Angel menghampiri kami. “Kalian semua, ikut saya!” perintah kak Angel.

Kamipun mengekor di belakang mereka. Dalam perjalanan aku memikirkan hukuman apa yang akan kami dapatkan.

Kita sudah berdiri di depan barisan anak-anak MOPDB. Kak Angel mengambil microphone. “Adek-adek sekalian. Di depan kalian ini adalah contoh yang tidak boleh di tiru. Mereka ini contoh calon siswa yang kurang disiplin. Jadi, kita akan memberi mereka detensi. Dan kalian harus menyaksikan supaya kalian tidak mengikuti jejak mereka,” jelas kak Angel.

Dan tiba-tiba muncul rakanita yang bernama kak Teresa. “Oke, di depan kita sudah ada…” dia memicingkan matanya ke papan nama di depan dada kami. “Sipilis, terus Vagina dan oohh penis,haha dan yang terakhir Herniawinalis,” kata kak Teresa.

“Untuk hukuman pertama yaitu sipilis. Karena kamu sudah melanggar tata tertib MOPDB dengan bertindak sok jagoan, oleh karena itu saya minta kamu pijitin punggung dan kaki saya!” perintah rakanita yang bernama Anita. Dia adalah orang yang di tampar oleh Cassie. Dengan berat hati Cassie menuruti perintah kak Anita.

“Yang kedua untuk kamu Herniawinalis. Kamu maju sedikit!” perintah kak Teresa. Amanda maju ke depan. “Kamu tau nggak apa itu Herniawinalis?” tanya kak Teresa.

Amanda terlihat cemas, dia pasti akan merasa sangat malu kalau semua orang tahu arti nama tersebut. Dia masih tetap diam dan tidak menjawab.

“Hey, kamu itu tuli atau budeg sih? Ayo jawab!” lanjut kak Teresa dengan nada memaksa.

“Emmm..eemmmm itu kak,, eemmm penyakit kuning atau nanah pada luka,” jawab Amanda dengan lesu.

“Hah nanah? Eewww berarti kamu borok donk? Gross,” anak-anak dan para raka-rakanita tertawa mendengar nama asli erniawinalis.

“Stop..stop stop! Oke, borok. Hukuman kamu adalah berjoged. Aku akan memutar lagu dan kamu harus joged seheboh mungkin atau kalau tidak hukumanmu akan semakin berat,” kata kak Teresa. Lalu dia berjalan kea rah music player dan menacapkan jack pada lubang earphone di Blackberrynya.

Tak lama musik dangdut pun terdengar dan yang ku tahu ini intro musik keong racun. Benar saja ternyata itu lagu keong racun. Lagunya sudah di mulai namun Amanda masih belum goyang. Kak Teresa akhirnya mematikan lagu tersebut.

“Hey, kamu itu di suruh goyang kok malah diem aja. Oh atau kamu mau hukuman yang lebih berat lagi, iya?”

“Eh enggak kak. Yaudah aku janji bakalan goyang kok,” kata Amanda gugup.

Lalu kak Teresa memulai lagi lagu keong racun tersebut. Amanda mulai menggoyang-goyangkan badannya yang kuperhatikan malah mirip seperti teletubbies terkena epilepsi. anak-anak mulai menertawakan tingkah Amanda, begitu juga dengan para raka dan rakanita. Namun Amanda tetap bergoyang ala teletubbies epilepsi sampai lagu tersebut habis.

“Hahaha bagus-bagus. Kayaknya kamu cocok deh jadi badut sekolahan,hahaha” tawa kak Teresa langsung di sambung oleh tawa anak-anak lainnya.

Amanda hanya menunduk dan tak menggubris omongan kak Teresa. “Baiklah. Kini tiba giliran vagina dan penis. Adduuhh kalian itu cucok banget sih, yang satu penis yang satu vagina, berasa mau ML aja deh,hahaha,” tawa kak Teresa bak mak Lampir.

“Oke. Aku mau nanya ke kalian semua kira-kira hukuman apa yang cocok untuk mereka?” lanjut kak Teresa.

“Gimana kalo mereka suruh meragain proses penetrasi? Kan cocok tuh,ahaha,” celetuk kak Panca, yang disambut tawa semua orang.

“Gimana? Kalian semua setuju?” tanya kak Teresa pada semuanya.

“Setujuuuuu” jawab mereka serempak. Dalam hati aku mengutuk kak Panca. Kali ini aku benar-benar menyesal telah mengidolakannya, walaupun hanya untuk sesaat.

“Tunggu!” sela kak Morgan. Kak Teresa memalingkan wajahnya pada kak Morgan. Namun kak Morgan malah menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti.

Gawat! Ini semua akan membuat sikap Amanda berubah terhadapku. Seandainya kak Morgan hendak menolongku, pasti Amanda akan cemburu. Tapi aku juga tidak mengerti apa yang akan dilakukan kak Morgan, jadi aku hanya membalas tatapan matanya yang tak kumengerti.

-To be continued to Perkamen Three-

Buat Rendi, nih udah gue post perkamen duanya. so, gak usah yah lo ngomong apa-apa sama si RJ eeww itu! gue males berhubungan sama dia lagi. u know kan alesannya itu apa? so puh-liss gak usah ember! ‘kay?

buat semua readers, thanks untuk komen di perkamen sebelumnya. aku harap perkamen dua ini bisa menghibur kalian dan jangan lupa buat komen juga yah, awas aja kalo nggak. nanti aku bakalan menghantui kalian,hahaha

oh ya satu lagi. thanks buat Mamah yang mau baca cerita abal-abalku,haha
gak papa deh kalo Mamah gak komen di sini, yang penting Mamah bisa komen secara langsung,wkwkwk

sorry for typo and everything. oke deh, eating out yah gays or fujo or bisex. ciwikeke all.

yours trully

Onew

22 thoughts on “Floque – Perkamen 2

  1. Kalau emang kejadian penetrasi di atas beneran ada di kisah nyata, pasti senior-senior itu udah ada di penjara semua. Overall, ide ceritanya keren banget. Eh, mau nanya. Ngebelokin kepala ikan teri caranya gimana? Digoreng tepung?

    • kok di penjara Tam?
      ehm memang sih terkesan gak senonoh tapi gerakannya itu bukan gerakan yg vulgar kok, malah nanti terkesan lucu,hahaha

      ehm memang ikan.a di pilih yg belok kepala.a, soal.a gak boleh sengaja di belokin,hehe

      oh ya thanks udh coment….hehe

  2. kaaaannn .. jadi keliatan rapiihh .. *kedip bokong(?)*
    kak Onew, di endingnya kasih bumbu dong yg betul” bikin penasaran ..
    pas tadi aku baca , kok endingnya kaya geje .. masih kurang sedap .. *pake bumbu kolor* haha :p
    tapi , dari awal aku baca udh bagus kok .. cmn di endingnya aja masih aga kurang bumbu ..
    kayanya aku udh bisa nebak arah ceritanya deh .. walau baru kemungkinan itu jg ..
    tapi , kayanya jalan ceritanya udh keliatan dan gak bakalan terlalu ngagetin ..
    kita lihat saja apa prediksi aku benar atau tidakk .. hahahahaha #ketawa ala setan 3:)

    • Iihhh ruka nih pake bumbu2 sgala, bumbu rendang apa bumbu pecel?hahaha

      iyadeh nanti di buat lebih greget, thanks buat masukan.a yah,hehehe

      ih ruka itu cenayang yah? kok bisa tau gtu?
      tapi kita lihat saja nanti, cerita ini kan masih panjang, jadi masih bnyak kemungkinan,haha

      dam mudah2an prediksi kamu salah,hahaha

      thanks ruka kalo udh setia komen,haha

      • ,ihh .. dasar kak Onew nyebelin ..
        ,harusnya biar bener dong .. masa salah *tampar pake kolor bau* :p
        ,kalo di dunia nyata sih , tapi ini seriusan yah .. aku memang bisa melihat-eh, nebak aja deh-masa depan .. walau masih abal-abal .. namnya jga masih dlm thap pembelajaran .. #kursus kali pae tahap pembelajaran .. hahhahah🙂
        ,terus semangat ya kakak :* makin bagus aja deh ceritanya .. buka ORANGnya yahh .. haha #kaboorr .. :p

        • Iihh ya ampun Ruka, itu kolor siapa? kok bau busuk bgt,hahaha

          yayaya… mudah2an aja gak meleset, walaupun aku tetep pengen kalo tebakan kamu salah,hahaha

          orang.a juga gpp kok,hehehe

  3. morgan suka ya ma dave?
    hai hai onew RJ tuh sapa hayoo…Ryan Jomb*ng jangan2…?wkwkwkwkkk
    bener tuh motongnya kurang pas, tapi okelah udah mulai oke kog nih crita..

    satu lagi jangan lama2 ya lanjutannya..🙂

    • Suka gak yahhhh????? lihat aja nanti,hehehe

      bukan ryan jombang tepi R**** J*****,haha dia masa lalu aku,hehe

      iyah nanti motong.a di bikin pas deh biar gak kurang mulu,hahaha

      nanti deh ngelanjutin.a, tggu bnyak yg komen,hahaha

  4. Hahahaha, oke. Nggak akan gue kasih tau ke si Rian Jember :p

    Ya ampun, jadi kangen masa2 MOS deh. Sama kangen juga jadi Kakak Pembina dan menindas para rakyat gak penting itu. Part ini sangat mengingatkan dengan banyak kenangan. Apalagi pas ketemu cowok pertama. Ahhh, kangen Kafka yang sekarang entah ada di mana.

    Mau komen apa lagi ya. Oh, iya, si Jeremy itu kok kayaknya ngejek gue banget ya. Pesek, ney-ney, gue gak pesek. Tapi gue mancung yg tertunda :p

    Itu aja deh ya. Pokoknya gue nunggu updatean selanjutnya.

  5. ,ihh .. dasar kak Onew nyebelin ..
    ,harusnya biar bener dong .. masa salah *tampar pake kolor bau* :p
    ,kalo di dunia nyata sih , tapi ini seriusan yah .. aku memang bisa melihat-eh, nebak aja deh-masa depan .. walau masih abal-abal .. namnya jga masih dlm thap pembelajaran .. #kursus kali pae tahap pembelajaran .. hahhahah🙂
    ,terus semangat ya kakak :* makin bagus aja deh ceritanya .. buka ORANGnya yahh .. haha #kaboorr .. :p

  6. gwe curiga jangan” si morgan malah suka sama dave deh!!,,wahh ironisss banget klo sampai bener tebakan gwe!! poor amanda!!,,

    good & funny! thanks onew, di tuggu lanjutan ceritanya yaa!!

    • Hayooo jgn curigaan…hahah
      Morgan itu suka.a sama aku tau,wkwkwkwk

      oke, urwel… dtggu aja, seperti.a bulan depan baru rilis,hahaha

      • whatttttt-_- next month!!! ow..ow..ow demi dewa horus & isis klo sampe bulan depan onew lo bakalan gwe kawinin sama tetangga gwe. wkwkwkwkw

        jawab gmana tebakan gwe dari skal 1% sampe 10%,,,??

        • iihhh serem deh bawa2 dewa segala,hahaha
          tapi gpp deh aku kan cupid,wkwkwk

          oh ya tetangga kamu cewek apa cowok? trus kalo cowok kaya nggak? ganteng nggak? klo bukan cowok n gak ganteng n kaya aku gak mau,hahahah

          ehm brapa yah? kemungkinan ada 50%,eeehhh kebanyakan yak?
          tggu aja deh kira2 tebakan kamu benar ato salah,hahaha

  7. Ya sudah deh, Tapi gwe yakin tebakan gwe pasti benar, #100%

    oh yaa maksud gwe… tetangga gwe itu..peliharaannya! yang bakal gwe kawinkan dengan onew dengan sperangkat alat tulis di bayarn cicil. hehehehwkwkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s