Stormy Day (2)


DIS_

Chapter 2

♂ Undercover Martyn

“Gue masih nggak ngerti deh sama cuacanya Indonesia, padahal gue udah tinggal di sini selama dua tahun beberapa bulan. Besok cerah, besoknya lagi mendung, besoknya lagi hujan, dan besoknya lagi badai kayak gini. Lihat tuh hujan sama kilatnya, ngeri.” Zavan merapatkan syalnya ke leher, dia menarik-narik kemeja DIS nya agar rapi. Sebisa mungkin aku tidak menoleh ke badai yang hari ini sedang berlangsung. Aku benci hari badai seperti ini, mengingatkanku akan hal-hal keji yang si bajingan lakukan padaku. Aku juga sangat benci bunyi petir dan guntur, meskipun aku selalu menyembunyikan ketakutanku. Yang tahu aku takut pada kedua hal itu hanya Peter. Dan dia sekarang tidak akan berada di sampingku lagi.

Sid merapatkan jaket woolnya, tangannya menjentik tegas, menyuruh kami mengikuti langkahnya. Aku menyisir rambutku ke belakang, menekan dalam-dalam earphone yang menempel di kedua telingaku. Walaupun sebenarnya aku tidak mendengarkan lagu sama sekali. Aku hanya suka menempelkannya saja. Agar aku tidak terlalu bisa mendengar cercaan orang yang sangat suka menghujat kekayaan keluargaku. Kami berlima mendorong pintu lobby sekolah dan masuk dengan langkah panjang. Jika sudah masuk ke dalam sekolah seperti ini, kami berlima pasti menjadi pusat perhatian.

Semua orang seakan-akan langsung menghentikan aktifitas mereka. Beberapa pasang mata—apalagi adik-adik kelas kami—langsung menatap kami dengan pandangan kagum dan mencemooh. Beberapa orang bahkan ada yang saling berbisik dan melempar kami dengan dengusan kurang ajar. Tetapi karena memang dasarnya aku selalu masa bodoh, tidak seperti Sid yang seperti bensin tersulut api a.k.a cepat menyanggah, aku mengacuhkan orang-orang tidak penting itu. Sungguh, aku masih punya banyak hal yang lebih penting dari mereka. Mengkhayal misalnya, atau duduk-duduk sambil mendengarkan lagu yang kusetel dengan volume super keras. Atau menghabiskan waktu dengan papan caturku dan belajar tekhnik yang lebih bermutu.

Ketika aku melewati flocks Homophobia, aku bisa merasakan Peter sedang menatapku lekat-lekat. Sebisa mungkin aku tidak menganggapnya ada, namun sorot mata itu sungguh-sungguh menyebalkan. Seperti masuk ke dalam tubuhku kemudian menghantui jiwaku. Seharusnya aku gembira karena sudah bisa membuatnya sengsara seperti itu, hanya saja kenapa aku malah merasa nelangsa. Merasa bersalah padanya. Padahal yang jelas-jelas salah itu adalah dia, bukan aku. Yah, walaupun dia sudah meminta maaf berkali-kali, tetapi aku masih sulit untuk memaafkannya. Aku masih dendam.

Anak-anak grade 11 yang berada di dalam lift langsung terkejut saat mendapati kami ikut masuk ke dalam ruangan kotak tersebut. Sid mengangkat tangannya, menyuruh semua anak-anak grade 11 itu keluar. Dengan patuh, dan dengan langkah terbirit-birit mereka langsung keluar sambil menundukkan kepala. Aku menyandarkan tubuhku ke dinding besi, menatap wajah Sid yang masih memasang ekspresi garang ke semua orang yang berada di luar lift. Setelah pintu lift tertutup, Sid kembali memasang wajah baik-baiknya. Meskipun muka songongnya masih menempel jelas di sana.

“Yang tadi lo usir itu anak-anak jelata, iya kan?” tanya Zavan, yang langsung Sid jawab dengan anggukan. “Pantesan ruangan ini bau jelata.” Zavan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kemeja DIS nya. “Ini namanya pengharum ruangan mini. Kayak parfum gitu, tapi untuk ruangan.” Zavan menyemprotkan cairan berwangi eucalyptus itu di udara. “Nah, harumnya lebih baik daripada tadi. Bisa-bisa gue kena Asma kalo nyium bau jelata lama-lama.” Zavan kembali memasukkan botol itu ke dalam kemejanya. Dia merapatkan syalnya di leher, matanya yang biru menyipit untuk menatap dalam-dalam angka di panel lift.

Homeroom pertama kita homeroom Digital Arts kan?” tanya And saat kami sudah turun di lantai tiga. Cowok berbadan kekar itu melirik ke kanan dan ke kiri, pasti sedang mencari sosok pacarnya. Aku masih agak tidak percaya kalau sahabatku satu ini akan berpacaran dengan sahabatku yang lain. Vick memang tidak bersahabat lagi denganku sejak insiden aku putus dengan Peter, tetapi semenjak dia pacaran sama And. Kami kembali dekat seperti dulu.

“Iya,” sahut Revie, dia berjalan di depan kami dengan langkah jenjang. “Kalian udah selesain homework dari Mister Chris kan?” tanya Revie, ketika kami hampir sampai di depan pintu homeroom Digital Arts grade 12. “Jangan bilang sama aku kalo kalian belum nyelesainnya!? Aku kan udah buatin kerangkanya, tinggal kalian susun aja, terus kirim file homework itu ke e-mailnya Mister Chris.”

Revie mulai menjadi Mamah Dede lagi. Kalau soal pelajaran, cinta, kehidupan, jasmani dan rohani, tinggal tanya saja pada Revie. Dia akan menjawabnya dengan sangat bijak. “Gue udah buat beberapa bagian, tapi di sheet kedua gue bingung. Margin sama Headernya harus diapain lagi.” And mulai membela dirinya sendiri. “Tapi ntar deh aku kirimin ke Mister Chris yang sheet pertamanya dulu, yang kedua besok aja.”

“Gue udah selesai ngerjainnya.” Aku menyahut singkat, kemudian kembali berkutat dengan iPad yang ada di tanganku. Tadi malam aku memang sudah mengerjakannya di sela-sela kesibukanku. Digital Arts adalah salah satu pelajaran yang lumayan kusuka. Berkutik dengan elektronik adalah bidangku. Meskipun aku tidak tahu apakah Mister Chris akan menganggap hasil homework ku benar apa salah.

“Gue udah sih, tapi masih sampe sheet pertama aja, itupun  dibantuin Adam ngerjainnya. Gue bener-bener benci homework nggak jelas kayak gitu. Kenapa sih bukan pelajaran English aja? Yang pasti bisa gue kerjain dengan mudah, yah, meskipun masih minta bantuan Adam juga sih.” Sid mendesah panjang, benar-benar tidak suka jenis homework dalam bentuk apapun. Sama sepertiku, aku juga paling malas mengerjakan sesuatu ketika kerjaanku menumpuk dan sudah waktunya harus segera dikerjakan.

Zavan tiba-tiba maju selangkah, dia memegang pundak Revie dengan tatapan sedih. “Gue tadi malem udah usaha buat ngerjainnya, Rev. Tapi pas gue baca soalnya, gue langsung pusing kepala. Jadi, daripada gue masuk rumah sakit karena kena Vertigo, lebih baik nggak gue kerjain.” Zavan menaikkan pundaknya, memberikan pandangan memohon ampun ke arah Revie. “Santa Mia Farrow pun tau, bahkan Buddha dan Dewa Krisna pun juga ingin gue selalu menjaga kesehatan. Agar cowok ganteng di dunia ini nggak berkurang satu.”

Revie menggeleng-gelengkan kepalanya. Sid memutar bola matanya, dan And membuat ekspresi ingin muntah. Aku hanya menatap Zavan dengan pandangan malas. Dari dulu, memang dialah yang paling jarang membuat homework. Katanya, dia sudah niat mau ngerjain homework aja Tuhan pasti bakalan joget di Surga sana saking gembiranya. Tapi, tetap saja itu adalah alasannya agar Revie mau membantunya mengerjakan homework. Bahkan saat dia telat datang ke sekolah—kami masuk jam delapan, dan Zavan baru datang jam setengah dua belas—dan dia ditanya oleh Madam Dorothy atas keterlambatannya. Dengan santainya dia hanya menjawab dengan kata-kata tak berdosa.

“Madam, aku datang ke sekolah aja udah syukur lho. Daripada aku nggak dateng sama sekali, iya kan?” Terus dia ditanya soal Buku Pelajaran yang ternyata jarang dia bawa masuk ke dalam homeroom. “Lho, aku baru tau kalo kita harus bawa buku pelajaran ke dalam homeroom,” ujarnya polos, yang langsung menyulut kemarahan Madam Dorothy. Tapi bukan Zavan namanya kalau tidak melawan ucapan guru BP menyedihkan itu.

Kami berjalan cepat ke dalam homeroom, memilih tempat duduk yang berada di pojok kanan homeroom seperti biasa. Karena kami biasanya memang tidak pernah memperhatikan saat teacher mengajar. Kalau aku biasanya sibuk dengan iPad, Zavan akan sibuk membaringkan kepalanya kemudian tertidur dan baru akan bangun kalau bel telah berbunyi. Menandakan pelajaran telah selesai. Sedangkan And biasanya akan bercengkrama dengan Vick. Kalau Sid pasti sibuk BBM-an sama Adam. Hanya Revie saja yang paling suka memperhatikan teacher saat mengajar. Kami maklum, dia kan selalu ingin menjadi best student.

“Bantuin gue ya kerjain homework Digital Arts ini,” kata Zavan saat kami sudah duduk di kursi masing-masing. Aku duduk dengan Zavan, dan Revie dengan Sid. Kalau And tentu saja sama Vick, tapi sayang, Vick belum datang ke homeroom ini. “Kalo lo mau nolongin gue, ntar gue ajarin deh cara nyepong kontol yang bener itu gimana.”

Revie memukul pelan lengan Zavan, membuat wajah bule itu meringis dalam senyum. Revie menarik dua buah buku dari dalam tas-nya yang kucel. Zavan melihat tas itu dengan pandangan nista, seperti ingin merebutnya dari Revie lalu membakarnya sampai hangus. Mungkin karena dialah orang yang paling memperhatikan penampilan, makanya dia selalu berkomentar kalau kami menggunakan baju yang ‘biasa saja’ pada hari Jumat. Zavan memang sangat ingin menjadi pusat perhatian, aku juga tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu.

Puh-lease, deh Rev! Gue udah berapa kali sih ngasih tau lo buat ganti tas? I mean, yeah you Mamayukero, lo itu udah kaya raya sekarang. Masa beli tas yang lebih layak pakai aja lo nggak bisa sih? Tas lo itu bahkan nggak cocok jadi alas buat Anjing peliharaannya Belinda tidur.” Zavan menatap sekali lagi tas Revie dengan pandangan ngeri. “Di dalem rumah gue, kalo ada barang yang udah lebih dari dua bulan, harus segera disumbangin ke para Darah Lumpur. Ups, maafin kata-kata Harry Potter gue. Maksud gue, harus secepetnya disumbangin ke para Rakyat Jelata yang lebih membutuhkan.”

“Kalo kamu hina orang-orang kelas bawah lagi, aku nggak bakalan ajarin kamu homework ini,” ancam Revie lembut, tetapi menusuk. Membuat bule itu langsung menganggukkan kepalanya dengan patuh. Namun baru satu menit Revie mengajari bule gila satu itu, dia telah memasang wajah orang yang seperti sedang terkena serangan jantung. “Kamu ngerti nggak Zav?” tanya Revie, yang langsung Zavan sahut dengan anggukkan. Walaupun aku yakin dia tidak mengerti sama sekali. Lihat saja gelagatnya yang seperti orang penyakitan itu!

“Zavan!” teriak seorang cewek dari depan pintu homeroom. Kami mengangkat kepala kami ke arah suara itu. Dan—kalau tidak salah namanya Anye—si empunya suara melambai-lambaikan tangannya ke arah Zavan. Bule itu hanya memasang senyuman malas ke arah Anye. Namun cewek itu sepertinya tidak mengerti, karena dia terus melihat ke arah Zavan terus-menerus. Seakan-akan Zavan adalah sarang lebah, dan dia adalah lebahnya.

“Kenapa sih tuh cewek selalu ngejer-ngejer lo Zav?” tanya Sid lekas, saat cewek itu telah memalingkan wajahnya ke arah Cliquenya. “Dari hari Kamis kemarin, dia selalu nguntit lo kemana-mana. Lo udah kayak bokapnya aja deh.”

Zavan mendengus kasar, homework yang sedang dia kerjakan langsung terlupakan begitu saja. “Dia dari kemarin nembak gue, nyatain perasaan cintanya ke gue. Padahal gue udah nolak dia secara halus, tapi tetep aja dia kayak parasit, ngejer-ngejer gue terus. Gue pengen banget ngasih tau dia kalo gue gay, tapi mau gimana lagi. Masih belum saatnya buat gue untuk coming out ke satu sekolah.” Zavan melirik Anye dengan tatapan sebal. “Tapi lama-lama gue risih juga sama tuh cewek. Ngedektin gue terus kayak cewek gatel aja. Kayaknya dia pengen deh gue garukkin pepeknya pakek linggis biar berhenti gatelnya.”

“Nggak usah digaruk, kasih Caladine aja pepeknya. Sekalian lo pijit-pijitin, siapa tau lo orgasme ngelihat pepeknya yang mungkin aja mirip kayak Mutiara.” Sid berkata sambil tertawa kencang. And yang duduk dua kursi dari hadapanku bahkan menimpali tawa Sid. Sedangkan Revie hanya terkikik pelan. Aku hanya mendesah panjang, lalu kembali berkutat dengan iPadku. Tidak ingin ikut bergabung dalam kata-kata tidak senonoh yang keluar dari mulut Sid dan Zavan.

“Sid, lo mau tau nggak yang ngebuat gue jadi gay apaan?” tanyanya sembari menatap wajah kami dengan pandangan serius. Perlahan, kami berempat mengangguk serempak. “Gue jadi gay karena pepek.” Mata kami melotot, benar-benar terkejut. “Nggak sepenuhnya juga sih. Tapi sebagian besarnya mungkin karena hal itu.” Zavan melepas syal yang melilit lehernya. “Pacar pertama gue dulu adalah seorang cewek. Namanya Eloise. Dia lebih tua empat tahun dari gue. Dan pas di ulang tahunnya yang ketujuh belas, dia ngajakkin gue ngeseks bareng. Karena gue nggak bisa nolak ajakkannya, akhirnya gue setuju. Malam itu, gue sama dia ngelakuin hal itu. Dia adalah orang pertama yang ngisep kontol gue, dan rasanya biasa aja.”

Zavan memasang wajah kecewa. “Dia ngisep kontol gue kayak lagi makan daging bacon. Nggak ada rasa nikmatnya sama sekali. Terus, setelah dia selesai berurusan dengan disco stick gue, akhirnya giliran gue lagi yang gerayangi tubuhnya dia. Gue hisep puting susunya, tapi rasanya kayak lagi gigit pentol. Terus, gue mulai turun ke bagian itunya, dan menemukan hutan Amazon yang sangat lebat di sekitaran pepeknya. Buat bulu hidung gue merinding. Tapi karena biar adil, gue—dengan terpaksa—mulai menjilati segala sudut pepeknya. Yang ternyata rasanya sangat asem. Beneran, gue nggak bohong, pepek ternyata rasanya asem.”

“EW!” seru Sid kencang. “Untung gue belum pernah nyoba. Thanks Jesus Christo.”

Lucky you!” desah Zavan cepat. “Kalo sama kontolnya nih ya, biasanya yang asem itukan sekitaran jembutnya, nah kalo pepek di bagian lubangnya. Lidah gue dengan terpaksa harus menjilat setiap sudut pepek Eloise. Dan pas gue nusuk dia sama kontol gue, masuknya susah. Ternyata oh ternyata, dia masih perawan. Oke, gue akui ngeseks sama cewek memang enak, tapi nggak bener-bener memuaskan.” Zavan menggeleng-gelengkan kepalanya, benar-benar benci mengingat masa lalunya. “Keesokan harinya, gue sadar kalo ternyata gue gay. Sorry to say, ternyata gue lebih suka masukkin kontol ke mulut gue ketimbang jilat pepek.”

“Tapi bentar deh!” seru Sid sambil mengangkat tangannya. “Tuh cewekkan umurnya udah tujuh belas tahun, kok masih perawan sih? Temen-temen cewek gue yang ada di New York aja, pas umur mereka empat belas tahun udah nggak perawan lagi.”

“Entahlah, mungkin cowok yang deket sama dia udah sakit hati duluan pas jilat pepeknya yang rasanya kayak Cuka untuk makan Pempek Palembang itu.” Zavan tertawa keras, yang langsung Sid, And dan Revie tanggapi sama kerasnya. “Yah, gue juga nggak pengen menghakimi cewek sih. Mungkin Eloise tipe cewek yang pepeknya mempunyai rasa asam. Mungkin aja di luar sana ada cewek yang pepeknya punya rasa Strawberry, Mangga, atau buah manis lainnya. Tapi, maaf, gue nggak mau nyoba lagi deh. Sekali aja cukup!”

Sid baru saja ingin membuka mulutnya saat tiba-tiba Peter dan flocksnya masuk ke dalam homeroom dengan gelagat sok berkuasa. Beberapa orang yang ada di flocks nya menatap kami dengan pandangan mencemooh. Tetapi langsung Sid balas dengan seringaian angkuh. Aku membuang tatapanku ke arah lain, namun aku tahu Peter sedang menatapku saat ini. Aku bisa merasakan matanya sedang menulusuri wajahku, dan itu membuatku gusar.

“Woy, kalian lihat deh di ujung sana, ada kumpulan homo!” teriak Nick si Homphobia bego.

Sid tersenyum licik. “Ngeri deh, guys! Anak-anak haramnya Iblis pada dateng sambil bawa muka jelek mereka ke sini. Oh, iya, kalian tau nggak, kalo di dunia ini manusia semakin banyak. Nah, gue sebagai Psikolog kalian, kalo boleh nyaranin, kenapa kalian nggak nembak kepala kalian sendiri sampe mati. Sekalian juga kan untuk mengurangi populasi orang jelek di dunia ini. Orang jelek udah banyak, jadi mendingan Va Va Voom deh! Atau kalo kalian nggak ngerti—yang gue yakin pasti begitu karena otak kalian ada di Zakar—artinya lenyap dari peradaban manusia! Kalian bernafas aja, Tuhan udah benci banget sama kalian.”

Noah dan Vico berdiri dari dudukan mereka, dengan tangan terkepal geram. And pun langsung ikut berdiri, apalagi ditambah Vick yang ikut bergabung dengan kami. Noah dan Vico kembali duduk di kursi mereka, tidak ingin mencari masalah dengan ketua Karate dan ketua Taekwondo. Yah, dari awal mereka hidup kan memang sudah dinobatkan sebagai pecundang menyedihkan, yang mereka andalkan hanya kekuatan, tetapi tidak pernah menggunakan otak. Seperti kata Sid, otak mereka ada di Zakar.

Zavan memundurkan sedikit badannya sambil memasang wajah menghina, lalu dia mulai menggoyangkan tangannya di depan selangkangannya. Seperti gerakkan orang yang sedang coli. Namun ketika Zavan menunjukkan gaya saat sperma muncrat, yang keluar dari tangannya adalah jari tengah yang langsung dia berikan ke arah flocks Homphobia yang tidak penting itu. Tatapan geram penuh kesumat mereka lemparkan ke arah kami. Yang tentu saja langsung dibalas dengan senyuman kemenangan oleh Sid dan yang lain.

***

Revie bergerak-gerak gelisah di sebelahku. Dia menatap kolam berenang dengan tatapan muram. Aku tahu, Revie paling tidak bisa jika sudah pelajaran Physical Education. Mana hari ini kami harus berenang lagi untuk mengambil nilai harian. Revie paling benci hal-hal yang bersangkutan dengan olahraga. Dengan tubuhnya yang pendek, dan badannya yang seperti Sailormoon versi cowok, dia selalu gagal jika melakukan olahraga yang Mister Ando perintahkan padanya. Dan setelah itu Revie akan  galau seharian karena nilanya jelek.

And dan Vick sedang sibuk meregangkan tubuh mereka di depanku. Tubuh mereka yang berotot bergerak liat seraya mengikuti gerakkan peregangan mereka. Sid yang berdiri di belakangku sedang sibuk menyesap Evian-nya sambil memandang kolam berenang dengan tatapan malas. Sedangkan Zavan, ya, tentu saja matanya sedang jelalatan saat ini. Bahkan dia melirik penuh nafsu ke arah Liam si cowok berwajah latin, yang mengingatkanku dengan wajah Enrique Iglesias.

Look at him, really like the boy next door!” ucap Zavan sambil tersenyum ceria ke arah Liam. “Dari dulu gue selalu pengen PDKT sama dia, tapi sayang, dia salah satu cowok yang ada di bawah naungan Bapa Athilius. Dia taat banget sama Agama. Jadi harapan gue untuk ngedapetin dia itu kayak nyuruh Tivo senyum.” Aku menyikut rusuknya, tetapi bule gila satu itu sudah pintar mengelak sekarang. “Damn you, sexy Liam! Buat bulu kontol gue meremang aja. Lihat tuh badannya yang kayak Dunkin Donuts, menantang minta dijilat!”

Sid terkekeh pelan, dia berjalan ke samping Zavan. “Lagi pula, jangan buang waktu lo buat ngebayangin tubuh lezatnya Liam, karena, maaf banget nih ya. Dia udah kebal dari godaan sepupunya Judas kayak lo.” Sid tersenyum mengejek ke arah Zavan.

“Enak aja! Jangan sembarangan buang nafas lo yang bau itu ya!” seru Zavan tak mau kalah. “Gue bukan sepupunya Judas, tapi gue ini adalah adik kandungnya Alejandro. Jadi, lo nggak usah ngomong sembarangan.”

“Alejandro, who?” tanya Sid dengan kerutan di kening, bingung.

Zavan memundurkan sedikit badannya, agak terkejut mendengar pertanyaan Sid. “Lo ini orang Kristen apa bukan sih?” tanya Zavan dengan kedua alis terangkat tinggi. “Gue aja yang Ateis gini tau isi alkitab lo.” Zavan menggeleng-gelengkan kepalanya, gelagat orang yang benar-benar menghina. “Makanya, kalo punya Kitab di rumah, dibaca Sid! Jangan jadi pajangan! Alejandro itu seseorang yang berwajah tampan, yang membantu Roberto ke gurun El Azhir. Kalo di Islam yang ganteng itukan Nabi Yusuf, kalo di Kristen ya si Alejandro.”

“Jadi, menurut lo, diri lo itu ganteng?” tanya Sid sarkas. Zavan menganggukkan kepalanya dengan pasti. Membuat Sid langsung memasang ekspresi muak. “Lo mendingan ngomong sama pepeknya Eloise aja deh, alih-alih sama gue.” Zavan dan Sid tertawa bersama, sampai akhirnya Sid menghentikan tawanya dan melihat sesuatu di dekat garis selangkangan Zavan. “Lo punya tato ya, Zav?” tanya Sid sambil menurunkan sedikit celana dalam renang bule itu dengan gerakan pelan. “Gambar apa nih?”

Revie dan yang lain juga langsung ikut bergabung bersama kami. Mata mereka menatap lekat tato yang terukir di dekat garis selangkangan Zavan. Bule gila satu itu tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih. “Kalo kalian perhatiin lebih teliti pasti kalian tau ini gambar apa!” Tapi kami berlima benar-benar buta dengan ukiran panjang yang ada di kulit Zavan. “Ick, ini tuh gambar kontol.” Aku dan yang lain langsung saling melemparkan pandangan takjub. Bule satu ini benar-benar deh! “Kenapa gue milih kontol, itu karena kalo gue kangen sama kontol, gue tinggal lirik tato gue aja. Lagi pula, gue kan Ateis, dan gue menganggap cowok adalah Agama gue, dan kontol adalah kitab gue.”

“Dan bisa dipastiin lo bakalan masuk neraka!” seru Sid dengan ekspresi menantang.

Zavan mengernyitkan wajahnya. “Emang neraka bakalan nerima gue nanti?” tanyanya dengan wajah sok lugu. “Tapi, ya sudahlah ya! Sebenernya gue lagi mencari jati diri dan sedang memutuskan ingin masuk agama apa kelak. Saat gue ulang tahun yang ke-22 atau saat gue menemukan hidayah, barulah gue milih salah satu dari beberapa agama itu.”

“Kalo lo mati duluan gimana?” sergahku sembari menaikkan alisku tinggi-tinggi.

“Kata orang, yang banyak dosanya biasanya akan panjang umur. Soalnya Tuhan ngasih dia waktu buat Tobat.” Zavan menatapku dengan senyuman lebarnya. Matanya yang biru, seperti air kolam berenang, melirik ke kanan dan ke kiri. “Red alert, guys! Kayaknya Liam udah mau mulai berenang deh, gue mau deket-deket dia ah. Sambil pura-pura minta diajarin tekhnik renang yang bagus itu kayak gimana.” Zavan membenarkan tata letak celana dalam renang yang dia gunakkan. “Doakan gue biar berhasil mendapatkan Liam ya.” Zavan menarik nafas panjang. “Jesus, kabulkan permohonanku. Allah SWT, dekatkan Liam padaku. Buddha, berikan Liam pencerahan, agar dia mau denganku. Sang Hyang Widhi, buatlah Liam menyukaiku.” Zavan melirik ke arah Liam dengan pandangan menggoda. “Atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, amin. Insyallah Ya Allah. Namo Buddhaya, Sadhu, Sadhu, Sadhu. Om Swasti Om!” Zavan menatap kami sebentar. “Ay, mi papito, biatch!”

“Dasar bule gila!” seru kami serempak saat dia berjalan cepat menuju ke arah Liam stay. Zavan berbalik kemudian memberikan kami jari tengahnya. Benar-benar gila bule satu ini!

“Penyakit Pelacurnya kayaknya kambuh deh,” desah Sid pasrah. Accepted that! Apalagi ketika Zavan sudah ikut bergabung dengan Liam di dalam air. Dengan senyuman penuh godaan, dia mulai mencoba untuk memikat cowok itu. Zavan melambaikan tangannya ke arah kami saat Liam menyembunyikan kepalanya di air. Cih, benar-benar kambuh kayaknya!

“Revie Ferdian!” Tiba-tiba suara Mister Ando bergemuruh di gedung kolam berenang ini. Revie berjalan gontai, tatapan wajahnya benar-benar lesu. “Renang gaya bebas ya, bolak-balik.” Msiter Ando menggerakkan tangannya, menyuruh Revie untuk mengikuti instruksinya. “Waktu yang saya kasih selama lima menit, kalau waktu kamu lebih dari itu, terpaksa saya ngasih kamu nilai lima. Mengerti?” tanya Mister Ando dengan suara beratnya.

Revie menganggukkan kepalanya, dia berjalan pelan menuju ke arah pinggiran kolam. “Aku boleh mulainya dari dalam air kan Mr. Ando? Soalnya aku nggak bisa kalo renang langsung loncat gitu. Takut nanti tiba-tiba ada Tante Suzana yang nyulik aku dari dalem air pas aku masuk makin ke dalem. Soalnya dulu dia pernah main jadi Nyi Roro Kidul.” Mister Ando hanya tersenyum singkat lalu mengangguk. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang Revie tempuh saat dia kembali ke atas, dengan seluruh badan yang basah. “Berapa Mister?”

“Empat menit dua puluh sembilan detik,” kata Mister Ando, membuat Revie langsung terlonjak gembira. Revie berjalan cepat ke arahku, sambil menggoyang-goyangkan badannya seperti Dora the Explorer yang baru saja selesai mengemban tugas penting. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, kemudian menatap Sid yang kala ini sedang bersiap-siap untuk berenang. “Waktumu tiga menit empat puluh dua detik.” Sid menyeringai bangga, dihempaskannya tubuhnya di sebelahku. Setelah menunggu lama, akhirnya namaku disebut.

Berenang bukan hobiku sama sekali, aku lebih suka menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik, main game online, dan catur. Oh, sama bernyanyi. Meskipun aku lebih suka bernyanyi saat di Acapella dan saat aku sedang sendirian di dalam kamarku. Aku menggerakan badanku segesit mungkin. Berharap kalau waktuku tidak akan lebih dari lima menit agar aku tidak dapat nilai lima. Saat aku memunculkan kepalaku untuk menarik nafas, aku bisa melihat Peter yang sedang duduk di pinggiran kolam sembari menatapku menggunakan senyumannya yang khas. Oh, shit! Buat aku kehilangan konsentrasi saja!

“Waktumu empat menit lima belas detik!” Damn you, maniak brengsek! Coba saja kalau aku tadi tidak melihat wajahnya yang lagi tersenyum itu, pasti waktuku akan lebih singkat lagi. Aku keluar dari dalam air, kulangkahkan kakiku menuju ke arah bangku tempat aku menaruh handuk, sabun dan kunci loker. Kukalungkan handuk itu di leherku, bersiap-siap untuk membilas diri. Aku malas berlama-lama di kolam berenang ini, tidak seperti semua orang yang masih betah bermain air. Aku lebih suka saat badanku kering.

Kututup pintu kamar mandi bilasku rapat-rapat. Kulepaskan celana dalam renangku kemudian menggantungkannya di dekat handukku. Aku baru saja selesai menyabuni tubuhku saat tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar mandi yang sedang kugunakan. Di tempat bilas ini kamar mandinya memang tidak menggunakan kunci sama sekali. Bagian minus yang harus segera diperbaiki. Karena hal itu sangatlah mengganggu, apalagi saat aku menatap Peter di hadapanku, dengan sorot matanya yang sayu.

Dia maju selangkah, dan aku mundur dua langkah. Sampai akhirnya badanku menempel di dinding kamar mandi. Peter menutup kembali pintu, matanya yang sayu menatapku dengan tatapan memohon, tatapan tersiksa—hal yang patut dia dapatkan. Perlahan Peter mulai menempelkan badannya ke badanku. Bisa kurasakan rasa suam tubuhnya yang menjalar pelan ke dalam tubuhku. Peter menyentuh pipiku dengan tangannya yang agak kasar. Aku memalingkan wajahku dari tatapannya, namun kerja otakku sedang menjadi Akatsuki sekarang. Semua sarafku berkhianat.

Stop, nyiksa perasaan kita berdua!” ujarnya parau, membuat telingaku merindukan bisikannya. “Jangan lari lagi! Kita harus ulang semuanya dari awal. Kita harus nyoba.”

Sudah berapa lama aku tidak merasakan bibir Peter di bibirku? Dua tahun, atau tiga tahun? Entahlah, aku benar-benar lupa. Pasti Peter berani menciumku karena tahu kalau aku akhir-akhir ini juga sering ikut-ikutan curi pandang ke arahnya saat dia sedang berada di lapangan Baseball, menjadi Manajer di Klub itu bareng Sid. Atau pada saat dia tanding SkateBoard di Monas beberapa pekan yang lalu. Dengan bodohnya, aku datang menonton. Entah dorongan dari mana aku melakukan hal itu.

Oh, mungkin karena aku merindukannya. Tidak-tidak! Jangan sampai itu terjadi!

Lidah Peter masuk ke dalam mulutku, bibirnya yang hangat, lembut dan menuntut membuat perasaan rinduku sirna seketika. Aku menginginkannya, tetapi aku masih sangat dendam padanya akibat kelakuannya waktu itu. Aku masih belum bisa memaafkannya, aku sudah mencoba untuk melupakan kesalahannya, tetapi aku tidak bisa. Aku terlanjur dendam, Peter telah menjadi orang yang sangat jahat untukku. Aku mungkin terdengar sangat muna-fuck! Tapi masa lalu kelamku itu sangat sulit untuk dihapuskan begitu saja. Tatapan Peter yang—

“Aku cinta sama kamu, Tiv,” bisiknya, dia mulai melepaskan celana dalam renangnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh berhubungan lagi dengannya, hubungan yang kemarin kulakukan hanya untuk menyiksanya. This is so undercover martyn, dan hal ini harus segera diselesaikan dengan cara kasar. Meskipun aku juga merasa sangat tersiksa ingin membalas ucapannya, kalau sampai kapanpun, aku juga mencintainya. Hubungan kami yang berlangsung dua tahun waktu itu kandas hanya karena rasa dendamku padanya. Tolol!

Kudorong badan Peter menjauh, dia menatapku dengan pandangan bertanya dan juga… terluka. “Maaf, gue nggak ngerti bahasa anjing!” Kuraih handukku lalu berjalan pergi dari dalam kamar mandi ini. Aku tidak boleh berdekatan lagi dengannya, aku tidak mau. Aku harus menyiksanya agar dia tahu perasaan sakit hatiku dulu.

Tetapi kenapa aku malah merasakan sakit hati yang sama seperti yang dia rasakan?

“Kenapa kamu kayak gini?” tanya Peter frustasi. Refleks aku menghentikan langkahku. “Kamu masih dendam sama aku karena hal itu? Kamu masih nggak bisa maafin aku? Harus berapa kali aku bilang maaf sama kamu biar kamu bisa nerima aku lagi di hidupmu? Aku kangen kamu Tiv. Aku kangen pengen ngabisin waktu sama kamu, dengerin lagu sampe subuh. Bicara ngalor-ngidul sama kamu dan Vick. Kamu inget nggak janji kita dulu, pas kita kelas dua SD? Kita bertiga janji bakalan selalu sama-sama apapun yang terjadi.”

Aku berbalik dengan perasaan marah di dalam diriku. “Tapi lo yang ngingkari hal itu. Lo pengecut, lo bahkan nggak pengen berbalik ke belakang. Lo ngebiarin gue jadi kayak gini. Lo yang harusnya sadar dengan apa yang udah lo lakuin! Lo nggak ada pas gue butuh lo! Jadi jangan salahin gue kalo gue ngejauhin lo, anjing!” Itu semua adalah kata-kata paling panjang yang keluar dari mulutku hari ini, dan aku merasa sangat kebas dan bersalah.

“Aku—“ Peter menatapku makin sayu. “Aku minta maaf.”

Aku tidak tahu itu permintaan maafnya yang sudah ke berapa kali. Saat kami berpacaran dulu, Peter juga selalu meminta maaf akan kejadian itu. Tetapi, aku selalu menjawabnya dengan anggukkan kepalaku, tidak sungguh-sungguh ingin memaafkannya. Aku hanya ingin memacarinya lalu membuatnya patah hati. Persis seperti dia yang sekarang, yang memohon-mohon padaku untuk pulang ke hatinya. Tetapi aku tidak mau, aku menolak. Begitu banyak luka dan dendamku untuknya.

“Aku minta maaf.”

Kuhembuskan nafasku peralahan, menatap wajahnya, lalu pandangan matanya yang lelah. “Sekali lagi maaf, gue nggak ngerti bahasa anjing.” Aku pun berbalik segera, tidak ingin melihat wajahnya yang pasti akan berubah terluka. Namun pada saat aku membalikkan badanku, Vick dan And berdiri di sana, mematung tak bergerak. Wajah And seperti salah tingkah, sedangkan Vick menatapku dan Peter secara bergantian dengan pandangan muram.

“Hmm, aku—“ And mengangkat tangannya, menyiratkan kalau dia ingin pergi dari tempat ini. “Aku tunggu kamu di luar aja ya,” kata And akhirnya kepada Vick. Sahabat lamaku satu itu hanya mengangguk tanpa memandang And. Langkah And panjang saat meninggalkanku, Peter dan Vick di ruangan bilas ini. Mata Vick masih saja menatapku dan Peter bergiliran, seakan-akan dia juga sama lelahnya sepertiku dan Peter.

Guys, kalian berdua bener-bener harus berhenti kayak gini! Di perjanjain kita dulu, kita nggak pernah buat kan untuk saling menjauh kayak sekarang?” Vick maju beberapa langkah, rambutnya yang basah membuat wajahnya yang dulu kekanak-kanakkan berubah dewasa. “Tiv, gue tau lo sakit hati sama Peter dengan apa yang udah dia lakuin ke elo. Tapi sampe kapan lo mau nyimpen dendam? Gue ngerti perasaan lo—“

“Nggak!” potongku cepat, menggunakan nada tinggiku. Nada yang sangat jarang kugunakan di dalam suaraku. “Lo nggak ngerti! Kalo hati gue pindah ke badan lo, lo pasti tau gimana rasa sakit hati gue sama dia!” Aku menatap Peter dengan tatapan menusuk, ingin menyuruh hatinya merasa bersalah. Walaupun aku tahu dia sudah merasakan hal itu bahkan sebelum aku memintanya. “Lo nggak usah ngomong seakan-akan lo tau gue—“

“Tapi gue tau lo!” seru Vick berapi-api. “Gue tau lo, gue tau Peter! Kita bertiga sahabatan. Lo sama Peter pernah pacaran. Gue tau masa lalu lo, gue tau yang ngebuat lo jadi gini karena apa. Gue tau lo sakit hati ke Peter gara-gara apa! Apa lagi yang nggak gue tau tentang kalian berdua!?” Vick menyentakkan lengannya, benar-benar geram. Di antara kami bertiga, saat kami bersahabat dulu, Vick lah yang paling kalem dan bisa menengahi perdebatan yang sering terjadi di antara aku dan Peter. Tetapi sekarang dia benar-benar berubah, dan di saat itu, aku tidak ada di sisinya sebagai sahabat. “Gue sahabat kalian, tetapi karena kalian begitu egois, persahabatan ini berantakan! Selama ini gue selalu pengen cerita ke kalian pas gue jatuh cinta, pas gue kecelakaan waktu itu. Tapi apa, kalian musuhan dan ninggalin persahabatan kita ini gitu aja. Kalian bahkan lebih parah dari pengkhianat. Fuck you!”

Vick berbalik dan pergi meninggalkan kami. Aku bisa melihat mimik kecewanya, aku bisa melihat tatapannya yang sangat marah. Ini semua salahku, andai saja dulu aku tidak begitu egois. Andai saja aku bisa memaafkan dendamku pada Peter, ini semua pasti tidak akan terjadi. Kami bertiga pasti akan tetap bersama. Aku dan Peter mungkin akan tetap menjalin hubungan lebih dari sahabat. Dan aku pasti akan bisa memberikan masukan ke Vick saat dia jatuh cinta, aku juga pasti bisa menjenguknya saat dia kecelakaan mobil saat kita kelulusan dulu. Tetapi semua itu kulewati, aku tidak mendengarkan ceritanya, aku tidak menjenguknya. Tetapi, entah bagaimana, aku masih belum benar-benar bisa menghapuskan dendamku pada Peter. Dia… mengkhianati persahabatan kami. Dia mengkhianati… perasaanku.

***

“Dek Tivo, Pak Hutagalung sudah nunggu di waiting room. Suruh dia ke sini aja atau Dek Tivo yang mau ke sana?” tanya Venia, Sekertarisku di kantor.

Kutengadahkan kepalaku dan menatap wajahnya yang cantik. “Suruh aja dia masuk ke sini!” Aku menutup kepala MacBook ku dan menyandarkan tubuhku yang lelah di sandaran kursi.

Ketukan di pintu terdengar langsam, aku menyahut menyuruh siapapun orang yang mengetuk itu masuk. Venia membuka pintu ruanganku lebar-lebar, mempersilahkan Alex Hutagalung masuk ke dalam. Cowok berbadan tinggi, berjas hitam dan bermata lebar itu menatapku sebentar sebelum akhirnya mengunci pintu ruanganku ketika Venia telah menutupnya. Dia berjalan mendekat, ditaruhnya tas kulit buayanya di atas mejaku. Setelah dia menarik sebuah berkas dari dalam tasnya, dia menyerahkannya padaku.

“Pak Rifat sudah setuju untuk ikut bergabung sama perusahaan kita. Penanaman modal yang kita taruh di perusahaan Crystal Bank berjalan cukup lancar. Kamu tinggal tanda tangan di sini untuk menyetujui penanaman modal yang perusahaanku dan perusahaanmu tanamkan.” Aku meraih berkas itu dari tangan Alex, membaca beberapa paragraf ke-empat dan kelima, melihat akankah ada keuntungan yang berdampak baik ke perusahaanku jika aku menerima ajakannya. Meskipun dari awal aku dan Alex gencar sekali untuk mengajak Pak Rifat bergabung bersama kami, tetapi bisa saja dia melakukan hal licik. Aku pernah mendapatkan kesan buruk ini dari salah satu developer jahanam yang pernah menipuku waktu itu.

Laba perbandingan dari penanaman modal yang kutaruh cukup menguntungkan, apalagi dengan adanya perjanjian ‘jalan modal’. Kata lainnya adalah perusahaanku akan tetap mendapatkan untung meskipun penanaman modal awal sudah selesai. Aku menarik pulpen yang kutaruh di dalam kotak yang berada di samping MacBook ku. Setelah menandatangani persetujuan itu, aku berdiri dan menghampiri Alex. “Ini, deal.”

Alex tersenyum singkat, dia memasukkan berkas itu ke dalam tas kulitnya, matanya yang lebar menengadah untuk menatapku. “Sekarang kita udah nggak sama urusan kerjaan lagi kan?” tanyanya halus, yang langsung kujawab dengan anggukan kepala. Alex menarik badanku, hingga terduduk di atas pangkuannya. Belum saja sempat aku protes karena kaget, tiba-tiba dia mencium bibirku. Kulingkarkan tanganku di lehernya, mengusap dagunya yang kasar karena belum bercukur dengan daguku. Baru saja aku ingin menyelam ke dalam ciumannya, tiba-tiba HP nya berdering. “Oh, sebentar,” ucapnya sambil meraih telponnya yang ada di dalam saku jasnya. Dia melirik sebentar nama penelpon kemudian berujar, “Istriku nelpon. Tunggu dulu, ya!”

Kumundurkan kepalaku, membiarkan Alex berbincang dengan istrinya. Aku sadar ini adalah tindakan bodoh, menjalin hubungan dengan cowok berumur tiga puluh enam tahun, punya istri yang jelas-jelas teman dekat arisan Mamaku dan punya dua orang anak. Yang satu SD kelas enam, yang satu lagi SMP kelas dua. Bahkan anaknya yang pertama hanya beda empat tahun dariku. Tetapi tidak apa-apa, aku memang keji. Selama ini bisa mengobati ketakutanku, dan bisa melenyapkan si bangsat dari kepalaku, aku akan terus melakukannya.

“Oke, nanti aku jemput Lina di tempat lesnya. Oh, iya, nanti malem aku kayaknya pulang larut.” Alex menatapku sebentar, dia menyapukan tangannya di pipiku. “Aku masih ada urusan kerjaan sama anaknya Bu Diatmika. Urusan kantor, jadi aku nggak bisa ikut makan malem bareng kalian. Iya, maaf ya, Sayang. Oke. Aku juga cinta sama kamu. Titip salam buat Melanie. Bilang Papanya bakalan cium dia pas dia udah tidur. Iya, Sayang. Aku nggak akan telat makan. Sudah dulu ya, Dek Tivo nungguin. Dah, sayang.” Alex menekan tombol merah dan menatap wajahku lama-lama.

“Jemput siapa kamu bilang tadi?”

“Jemput Lina, anakku yang pertama. Sepuluh menit lagi dia pulang dari tempat lesnya.” Alex menutup tas kulitnya, aku berdiri dari atas pangkuannya, membiarkan dia menjemput dulu anaknya itu. “Gimana kalo kamu ikut? Sekalian kita makan malam di Solaria?” usulnya.

“Nanti anakmu juga ikut?” tanyaku singkat. Kusandarkan tanganku di pinggiran meja. Alex berdiri, dia memegang tanganku dan meremasnya lembut. Aku kenal Alex sudah lama, dia adalah direktur dari salah satu perusahaan yang cukup terkenal. Si bajingan dan Alex sudah menjalin firma kerja sama selama sepuluh tahun. Ketika aku berulang tahun yang kesebelas saja saat itu dia datang. Aku bisa menjalin hubungan dengannya mungkin karena aku tidak sengaja—atau sengaja—mengajaknya untuk tidur bersamaku. Entah dorongan dari mana, dia mau melakukannya denganku. Alex dan Ferdi adalah kedua orang yang sudah sangat lama menjalin masa kerja bersama perusahaanku, dan mereka berdua berteman dekat.

Setidaknya itu yang kutahu. Lagi pula, aku suka Ferdi, aku suka Alex, aku suka Serly, aku menjalin hubungan dengan mereka semua. Selama mereka tidak saling mengetahui, aku tetap merasa aman-aman saja. Yang bodoh di sini sebenarnya bukan aku, tetapi mereka. Aku tidak meminta mereka untuk selalu bersamaku, namun mereka yang selalu mencariku. “Enggak, Lina kita anter pulang dulu,” kata Alex kemudian, setelah dia merapikan jasnya.

Kuanggukan kepalaku, kuraih tas selempangku yang berisi iPad dan dompetku. Ketika aku sampai di dalam mobilnya, dan saat mobil keluar dari pelantaran parkir, hari badai kembali datang. Dengan kilat dan guntur yang bergemuruh di atas langit. Kusandarkan tubuhku di sandaran kursi, kualihkan pandangan mataku ke arah rumbai-rumbai yang ada di dekat speaker DVD. Aku paling tidak suka melihat hal yang berbau kilat dan guntur, aku benci saat mereka meledak di langit. Membuat bulu kudukku berdiri, membuatku mengingat malam itu.

“Kemarin pas aku nonton berita, di daerah Kelapa Gading ada baliho jatuh dan nimpa dua mobil. Satu orang meninggal. Sekarang kita bener-bener harus hati-hati kalo cuaca badai kayak gini.” Alex melirik ke arah hujan dan angin yang bertiup kencang di luar sana. Bunyi petir menyambar terdengar sekali dan membuat telingaku pekak. “Ck! Kalo cuaca badai kayak gini pasti Jakarta banjir.”

Aku tidak menyahut, hanya terus duduk di kursiku sambil menatap seluruh mobil Alex yang sangat-sangat tidak modis. Jika Zavan naik mobil ini, bisa dipastikan dia akan meludah ke setiap sudut mobil saking terlalu katronya style di dalam mobil ini. Bagian luar boleh bagus, Porsche, tetapi di dalamnya. Benar-benar selera orang tua. Oh, aku lupa kalau dia memang sudah tua. Tiga puluh enam tahun. Baru saja aku memikirkan Zavan, tiba-tiba iPhone yang sedaritadi kugenggam bergetar, nama Zavan muncul di sana. Saat aku menekan tombol hijau, dan menempelkannya di telinga. Zavan berseru lantang di ujung sana.

You son of a bitch! Lagi di mana? Ikut gue ke party nya Tom yuk! Gue sendirian nih. Si Lonte, si Pecun dan si Sundal lagi sama pacarnya masing-masing. Lo nggak mau kan ngebuat Germo lo satu ini sedih dengan menolak ajakannya?” Zavan meracau cepat, kebiasaan yang harus dia rubah secepatnya. Walaupun terkadang aku sangat iri dengan caranya bisa bicara sebebas itu. Tidak sepertiku, aku hanya bicara ketika aku butuh saja. “Dan jangan bilang sama gue kalo lo nggak bisa karena lagi ada kencan!? Io litorne, itu nggak mungkin terjadi.”

Kudecakkan lidahku kasar, agar Zavan bisa mendengarnya. “Maaf, gue ada janji sama klien.” Dan cukup. Aku tidak ingin menjelaskan panjang lebar. Buat mulutku lelah saja.

“Tsah! You’re not fun!” serunya dengan suara menghina. “Kalian semua kejam, nggak ada yang bisa diajakkin jalan. Mentang-mentang pada sibuk semuanya, gue yang ganteng ini ditinggal sendirian.” Aku tidak mau komentar untuk yang itu. “Yada-yada-yada, you are so undercover martyn, you know that! Bleh! Berarti gue harus pergi sendirian nih ke party nya Tom? Gawd, I’m such a pathethic jomblo. Tapi iya deh, nggak apa-apa, Germo kalian satu ini maafin tingkah kurang ajar kalian. Gue pergi sama Rakel aja. Sekalian mainin kontolnya.”

Gee! Shut your sluteinsten mouth!” seruku, lama-lama bosan juga mendengar ucapannya yang selalu sangat kotor. Aku tidak tahu mulutnya terbuat dari apa sebenarnya bule ini!

Why? Ngomong kotor kan haknya manusia, ngelarang ntar lo kena hukuman HAM lho. Dipanggil Kak Seto, baru tau rasa!” Zavan menghentikan omongannya. “Iya deh, gue mau pergi pemotretan dulu kalo gitu. Untuk elo, semoga keberuntungan selalu menyertaimu. Ups, maafin kata-kata The Hunger Games gue.” Zavan tertawa seperti orang gila. “Oke-oke, I’ll go now. Adios, Jalang!” Aku hanya berdeham untuk menyanggah ucapan perpisahannya barusan. “Eh, tunggu!” serunya tiba-tiba. “Klien yang janjian sama lo ini ganteng nggak? Kalo ganteng kenalin dong!” Aku langsung mematikan sambungan telepon!

“Siapa?” tanya Alex, mobil telah berhenti di depan sebuah bangunan tinggi. Alex menekan klakson sekali, lalu matanya kembali teralihkan ke arahku. “Sahabatmu?” tanyanya, aku hanya mengangguk sambil memasukkan iPhoneku ke saku kemeja. Tak lama kemudian tiba-tiba pintu belakang terbuka, sesosok perempuan berbadan cukup tinggi dengan rambut diikat kuda masuk ke dalam mobil. Dia melirikku lalu ke Alex. “Kita langsung pulang ya, Papa masih ada kerjaan sama klien Papa yang satu ini.”

Coba saja anaknya tahu kalau aku adalah kekasih gelap Papanya. Pasti cewek ini akan langsung menampar wajahku, oh, atau mungkin melakukan hal yang lebih parah dari itu. Lihat saja mukanya anaknya Alex, songong. Kalau dia ikut casting untuk pemeran Bawang Merah, dia pasti bakalan langsung mendapatkannya dengan mudah. Meskipun masih lebih songong muka Sid. “Oke, Pa. Tapi aku nitip beliin buku Matematika terbitan Elex Media Komputindo ya. Kata Bu Nova tadi di Gramedia Matraman banyak.”

“Oke, ntar Papa mampir ke sana.” Kemudian hening. Dari spion yang ada di atas kepalaku, aku bisa melihat si Bawang Merah masih memperhatikanku dengan raut wajah bingung. Pasti dia merasa aneh kalau klien Papanya masih sangat muda. Ugh! Saat aku bertemu dengan para klienku yang dari luar negeri saja, mereka tidak percaya kalau aku yang akan memimpin meeting. Meskipun aku masih delapan belas tahun, tetapi aku sudah belajar selama enam tahun dalam dunia bisnis dan perusahaan yang ditinggalkan si bajingan.

“Papa hati-hati di jalan ya!” seru si Bawang Merah saat kami sudah sampai di depan rumahnya yang megah itu. “Dan jangan lupa titipanku, ya?”

“Iya, Sayang. Iya.” Alex tersenyum ceria ke arah anaknya, si Bawang Merah memeluk sebentar Papanya kemudian memberikanku sebuah senyuman singkat. Muka songongnya langsung berubah sedikit lebih baik. Dia membuka pintu mobil kemudian keluar dengan gesit karena badai di luar sana makin menjadi-jadi. “Kita jadi ke Solaria kan? Atau mau di SoHo aja?” tanya Alex saat mobil sudah kembali ke jalan raya.

Aku berpikir sejenak. Kalau makan di Solaria, penyajiannya sangat lama, meskipun makanan yang disajikan cukup enak. Kalau di SoHo terlalu absurd, banyak anak-anak DIS yang suka nongkrong di sana. “Solaria aja,” jawabku akhirnya. Alex menganggukkan kepalanya lalu melajukan mobil dengan cepat. Saat kami sudah sampai, dan lagi memparkirkan mobil, perasaanku berubah tidak enak.

Ketika aku telah keluar dari dalam mobil dengan Alex pun, perasaanku masih tetap sama. Dengan hati-hati Alex meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Sebentar aja, kalo udah di tempat rame ntar aku lepasin,” ujarnya sambil tersenyum, aku hanya mengangguk sekali.

Namun pada saat kami hampir sampai di kerumunan orang, tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku. “Tivo!” Aku menoleh dan menatap Peter yang ada di samping kiriku.

 

–Ups, Bersambung to Chapter 3–

Peraturannya masih sama, nunggu sampe 40 komen dulu baru post chapter 3 nya. Hahahaha😛

52 thoughts on “Stormy Day (2)

  1. Rendi , kamu tw ka bedanya kamu sama suzana ,,,
    Klo suzana itu hantu penasaran ,,
    Klo kamu itu suka buat aku penasaran😦
    Tpi klo kata. Sii jesika ,,
    Klo ada emas sama batu , aku pilih nya batu ,,
    Kamu tw kenapa ?
    Biar bisa bangun pondasi rumah cinta kita ,,
    Hehhehehehehehehehehehehehe

  2. walaupun udaahh coment di bf.. dimari juga aahh…

    komen gue cuman satu yah bitch…

    laaaaannnjjjuuuttttttttttttt!!!!!hahaha

    galau ih gue puter lagu.a Lomo ahhh..haha
    #NP: I’ll be comin’ around

    Spin me. Push to start.
    I’ll be comin’ round.
    Cause I’m on my way. On my way.
    Gone for now. Back someday.

    Spin me. Play the part.
    I’ll be comin’ round.
    Know It’s for the better.
    I feel it. Feelin’ it all around.

  3. Ren, coba deh mengurangi menulis hal-hal yang berbahasa religius terlalu frontal, karena nanti mungkin berkesan tidak menghargai ketika lo menyandingkannnya dengan kata-kata kotor zavan. Gue tau sebenarnya hal ini sangat relatif dan ini cerita FIKSI, tapi hal-hal yang berbau fiksipun pasti ada yang bersandar pada realita bukan??

  4. Akhiernya kisahnya tivo mulai menarik…. btw apa ya salah si peter…. sepertinya tivo nyalahin peter utk hal yg tidak jelas haha….

  5. Holla..Rendi bitch!
    Seperti biasa,cerita lo bikin gua ngakak
    Especially,Zavan’s word so bitch.
    OMFG!ren gua penasaran banget sama Peter,kenapa dia dibenci sama Tivo?!
    Dan,for poor Peter,kalau Tivo menjauh deket sama gua aja! dijamin gua gak menjauh dari lo.Pokoknya gua tunggu ren.hehehe

  6. Wow..
    Tivo itu punya berapa pasangan sih?
    Kemaren Ferdi sama Serly, sekarang Alex. Berikutnya spa lagi…?
    Ok, back to the topic, Makin penasaran aja sama ceritanya, tp kasian juga sama Peter di bagian kamar mandi

  7. jadi jadi tivo itu zavan versi diem yah? yah paling gak mirip mirip dikit lah, bedanya klo zavan asal njeplak klo tivo cuma dalem pikirannya ajah

    kirain bakalan ngebosenin nih crita, tp ternyata seru juga euy…!

    eh ren bikin cerita tambahan dunk buat tokoh yg laen kyak waktu itu kamu bikin critanya sid sama adam pas di rainy day, seru tau…( kangen ma yg laen juga nih soalnya )

    okay rendi yg super bohay jangan lama2 ya update nya, nti klo lama2 kamu jd mirip zavan ato tivo loh#hahahay kabooor larii lariii sambil dikejar rendi bawa golok😀

  8. Tivo… I love u
    Peter… penasaran tentang peter..

    pengen jadi SR nanti malah lamaaaaa up datenya..
    rendy sungguh ketek laluan#ups… keterlaluan…LOL

    lanjut…lanjut…lanjut…

  9. gosh, sebelumnya sorry gak sempet komen di chap kemarin <////3
    tapi dari semua chap Weather Series yang pernah gue baca, dua chap ini bikin gue sakit hati weh <//////3
    Tivo kenapa? dendam apa? terus bapanya kenapa? dan kenapa-kenapa lainnya deh
    err, jujur gue gak minat baca cerita lain abis bacain cerita lu kak QwQ tanggung jawab weh tanggung jawab
    lanjut kak lanjutt~

  10. waduhh bener kan gue bilang kalo banyak banget bumbu.a cerita si tivo ini..
    lo tinggal di bali tapi tau ya gramed matraman yg toko buku paling gede ntu.. gue tunggu next chapter ya cool baby bro.. hhahaha

  11. Demi tante suzana!! Tivo bener2 ga ketebak(?) kalo aslinya ky gitu >__< dan demi chaning tatum yg maen pilem jadi gay! Gw damn-en bingit ama weather series lo ini ren. Karakternya kuat2, selain revie gw suka badai ama zavan -tapi puh-lease minus hobi dia yg suka beburu disco stick itu- hahaha ngakak mulu dah ama dumb-bitch-zavan😄

  12. Entah kenapa, gw ga pengen tivo balikan sama peter, krn kaga suka sama peter aja hehehe. Tapi karakter tivo itu menarik. Penasaran dengan masa lalunya yang kelam

  13. oh, gawd! rendii…!
    kamu apain tivo? kenapa dia kayaknya menderita banget?
    but, aku suka banget ceritanya, tivo lebih jalang dari zavan.. hehe..

  14. Tivo!!..Ihhhhhh The Hooker zavan ama tivo, tapi klo diliat sih tivo deh kayaknya lebih parah,,gwe jadi tau kenapa siih tivo kayak gitu yaa!! bukanya dia dulu ceria gituh..dan kenapa dia jadi benci banget sama ayahnya sendiri..ato jangan” ayahnya yang ngejual dia untuk di jadiin pelacur menjijikan kaya gitu #plakkkkk,,hue cuman neba yaa!!!🙂 .

    ren mau nanya emmm kok avatar gue super aneh kaya gitu sihh dah weird,red,ugly ada ekornya lagi,,serem amat sih??

  15. Harus banget deh komentar sampe 40. Ancamannya sungguh menyebalkan.

    Mana lagi males ngetik lagi, ah. (= =’ )
    Okay, ini bagus, menarik, lbh menarik drpd yang pertama sih, soalnya udah mulai ada konflik diantar ketiga sahabat itu.
    Dan seperti biasa, ceritanya ‘gantung’, mirip Insidious aja.
    Tapi kalau Insidious harus tunggu 3 tahun, kalo ini 40 komentar dulu.
    Blablablablablablablablablablablablablablablablablablabla…

    Sincerely, . . . . .

  16. Hah hah haaah haaah huft~ akhirnya sampe sini juga………wow banget dan malah jadi bingung Mau komen apa nih??????(panik+blank) 24 chapter punya and+cutie revie sama dua chap ini…..bener bener ngaduk ngaduk hati aku semingguan ini……
    Yang pastinya yah rendi….yang paling bikin aku seneng bangeeet itu happy ending yang kamu persembahin di tiga cerita itu… coz I love happy end so much heheh…🙂
    Aku bilang ngaduk ngaduk hatiku karna pertama karakter dari masing masing pemeran yang menarik banget menurut aku digabung sama kisah hidup mereka jadinya klop aja gitu…udah gitu and yg yang ampun nyebelin banget…bikin vick benci abis itu cinta tapi dalam perasaan dendamnya pengen bikin and patah hati juga….🙂
    Revie juga, kadar cintanya ama bagas yang bikin gemes setengah mampus, bikin aku jadi H2C(harap-harap cemas) karna aku fikir bakalan move on dari bagas tapi ternyata enggak tuh…. dan happy and to revi and bagas…🙂

    Dan di sini……Ya Judassss Tivo misterius abizzzzzzz…..bukan itu aja kayanya Tivo punya kisah yang paling berliku dibanding Sid, And, dan Revie…..yaaaa???

    So aku Mau lanjut baca lagi nih…..🙂

  17. Shit, emang selalu ngegantung ceritanya Щ(ºДºщ) selalu bikin gue mati penasaran sama cerita lo, lo harus tanggung jawab udah buat gue jatuh cinta sama cerita lo Щ(ºДºщ) ampe diomelin mak bapak gue gara2 baca cerita lo terussss~wkwk

  18. Awalnya pas baca Bright Day, Overcats Day, sama Rainy Day kupikir Tivo itu tipe seme dingin-ssu~~ nggak taunya dia malah uke-ssu~~ sedikit kecewa sih… :3 tapi nggak apa deh!

    Lanjut yah!

    P.S : Dengan ancaman seperti itu kamu kayak salah satu penulis yang ada di fanfiction deh! penulis dari fandom Cardfight!Vanguard!! yang nyebelinnya selangit itu-ssu~~ :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s