Stormy Day (1)


DIS_

Chapter 1

♂ Rendezvous

Mobil berhenti tepat di depan rumah berukuran super besar, dengan lampu warna-warni yang memancar dari balik jendelanya yang lebar. Beberapa orang cowok berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Rumah ini sendiri berada di paling belakang komplek, menyendiri dan tak mempunyai tetangga sama sekali. Suara musik yang sangat keras, berdentum-dentum dari balik pori-pori dinding. Membuat Zavan terlonjak bahagia di kursi belakang. Dia merapikan bajunya, sebelum akhirnya membuka pintu dan keluar dengan gesit.

Aku mematikan mesin mobil, mengambil iPadku yang ada di atas dashboard mobilku. Sid yang duduk di sebelahku pun sudah ikut-ikutan keluar. Menyisakan aku dan Revie di dalam mobil. Setelah merapikan rambutku yang tadi tertiup angin saat aku membuka jendela mobil untuk membuang putung rokokku, aku keluar dengan luwes, didampingi Revie yang masih saja bergerak gelisah semenjak kita berlima pergi tadi. Dia bilang, party bukanlah hal yang paling dia sukai. Meskipun dia sangat jarang menolak ajakkan kami. Atau lebih tepatnya ajakkan Zavan. Zavan adalah seorang party lover sejati.

Kami berlima melangkahkan kaki menuju ke depan pintu utama rumah tersebut. Mobil-mobil yang terparkir tepat di dekat compound area membuat kami harus memutar jalan. Zavan yang berdiri di hadapanku hanya terus mengoceh tentang sesuatu yang tidak kumengerti dengan seseorang yang sedang ditelponnya. And dan Revie yang mengapitku hanya memandang rumah besar yang menjulang di depan kami dengan tatapan tak berminat sama sekali. Sedangkan Sid hanya sibuk dengan kancing kemeja bajunya yang sangat sulit dilepaskan bagian atasnya. Membuat lehernya yang jenjang agak sulit bergerak.

Sebenarnya hari ini aku ada pertemuan dengan seseorang, rendezvous yang memang sering kulakukan dari beberapa tahun yang lalu. Tetapi karena Zavan mengajakku ke sini, ke gay private party milik temannya ini, maka daripada itulah aku harus membatalkan rendezvousku dengan orang ini. Yang kalau boleh kukatakan, bukan masalah besar juga. Besok-besok aku masih bisa melakukan rendezvous lagi dengannya. Lagi pula, aku tidak bisa menolak ajakkan Zavan. Dia sahabatku, orang yang paling bisa membuatku tidak larut dalam kubangan masa lalu kelam. Meskipun aku jarang berbaur dengan ucapannya, tetapi aku selalu mendengarkan dengan seksama. Sejak kejadian waktu itu, aku bukan Tivo yang dulu lagi.

Scuse us, euh, by the way, kami berlima temennya Yogas.” Zavan berkata pada seorang cowok dengan badan besar seperti And yang sedang berdiri di depan pintu dengan wajah sangar. Matanya yang hitam meneliti kami berlima, bergulir ke kanan dan ke kiri, memperhatikan kami dengan tatapan menilainya. Apakah kami benar temannya Yogas.

“Tunggu sebentar!” kata cowok itu dengan suara berat ala orang lagi kena TBC. Dia mengeluarkan sebuah mini talkie dari balik badannya lalu menghubungi seseorang. Aku hanya berdiri saja sambil membuka lock iPadku. Kucek kurva perusahaanku yang ada di Bontang, Kalimantan Timur dan di Alas, Sumbawa Besar. Tidak ada penurunan, berarti perusahaan si bajingan masih baik-baik saja di sana. Aku masih bisa mendesah lega kalau begitu. “Oh, oke!” Si suara TBC menolehkan kepalanya ke arah kami lagi, tetapi kini dengan tatapan ramah ala orang penjual nasi Padang. “Kalian boleh masuk, tetapi sebelum itu saya periksa dulu. Jangan sampai ada benda tajam yang kalian bawa!”

Zavan mengibaskan tangannya di depan cowok berbadan kekar itu. “Kita nggak mungkin bawa gituan. Yang kami bawa hanya benda tumpul, dan benda tumpulnya masih bobok.” Zavan tersenyum dengan memamerkan gigi Pepsodent-nya. Cowok berbadan kekar itu tersenyum kecil kemudian membolehkan kami masuk. Aku dan yang lain langsung melesat masuk ketika cowok itu membukakan kami pintu. Suara musik berdengung-dengung di telingaku, membuat rumah yang sedang kumasukki ini seperti lagi kena gempa.

Core partynya ada di mana?” tanya Sid dengan suara keras. Kami berlima sedang berdiri di depan lounge hall sambil mencari-cari inti pestanya ada di mana. Kalau ditelaah lagi, sepertinya ada di lantai atas. Aku bisa mendengar suara itu dari atas sana. Lagi pula, banyak cowok-cowok yang sedang sibuk duduk di lounge hall kemudian pergi ke lantai atas.

“Di atas,” teriak Zavan, dia menarik tanganku dan Revie secara bersamaan. Dengan langkah panjang aku menaiki tangganya yang agak melingkar. Suara musik yang tadi berdengung, kini berubah menjadi pekikkan yang membuat gendang telingaku agak terganggu. Ketika kami berlima sudah berada di lantai atas, banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku. Pendaran lampu berwarna-warni membuat mataku agak silau. Meskipun aku sangat sering ke klub malam dengan Zavan, tetapi aku masih tidak terbiasa dengan cahaya warna-warni yang berpendar dari bola disko.

“Kita dapet tempat dudukkan?” tanya Sid, suaranya makin meninggi dari sebelumnya.

“Dapet lah,” sahut Zavan tak kalah kerasnya. “Come-come!” Dengan cahaya yang seminim ini, kami mengikuti langkah Zavan dengan tatapan mata yang sangat lekat. Tidak ingin kehilangan bule gila satu itu di keramaian yang sangat gila ini. Semua cowok, dengan bau keringat mereka yang khas, memenuhi ruangan ini. Bahkan daritadi ada beberapa orang yang menabrak badanku saat mereka sedang menari seperti kloningannya Justin Bieber gagal. Membuatku risih, tetapi malas kutanggapi. “Here we are!” seru Zavan, menunjuk sebuah sofa panjang yang ada di pojok ruangan. “Kata Yogas tadi kita duduk di sofa nomor 13.”

Sid kemudian meghempaskan tubuhnya di sofa tersebut, yang langsung kususul dengan lekas. Aku bukan tipe orang yang suka lama-lama berdiri, apalagi yang membuat badanku capek. Bukan berarti aku manja atau bagaimana, tetapi aku punya pengalaman buruk tentang berdiri lama-lama dan hal yang membuat badanku capek. Aku masih tidak bisa menceritakannya sekarang, nanti saja, tunggu saat yang tepat. Aku masih sangat membenci masa laluku, aku tidak ingin membuka luka lama.

“Kalian mau minum apa, gays?” tanya Zavan. Kutengadahkan kepalaku dari iPad yang berada di atas pangkuanku, menatap wajah Zavan yang seperti sedang bermandikan cahaya disko. Bule itu merogoh saku kemejaku lalu menarik rokok yang ada di sana. Dia menyulutnya kemudian mulai menghisapnya sambil melirik ke arah on the floor dengan wajah berminat, tetapi masih kalem ingin berdiam diri di sofa ini.

“Jus jeruk,” jawab Revie, dia tersenyum simpul. Membuat wajahnya yang sudah sangat tampan, makin memukau. Saat pertama kali aku berkenalan dengannya, kupikir dia malaikat yang dibuang Tuhan dari Surga. Sungguh, aku bukan mau lebay atau hal-hal alay lainnya, hanya saja menurutku itu benar. Aku bahkan sempat tertegun beberapa saat, bingung apakah orang yang sedang tersenyum kepadaku waktu itu sungguh-sungguh seorang manusia.

Puh-lease deh, Rev,” kibas Zavan, dia mendecakkan lidahnya kurang ajar. “Lo lagi ada di party. Gay party. Bukan lagi ada di Pengajian. Kenapa nggak minum Sampanye atau Brandy gitu? Tenang aja, minuman itu nggak akan ngebuat lo mabuk kok.” Zavan meracau cepat seperti biasa. “Yah, kalo lo minumnya nggak kebanyakkan sih,” tambahnya kemudian.

“Gue Cocktail aja deh,” sahut Sid, cowok itu menautkan kedua kakinya menjadi satu. Tangannya sedang sibuk mengotak-ngatik sesuatu di kamera Polaroid kepunyaan Zavan. Kamera yang akan menjadi sebuah saksi bisu akan kenangannya untuk party ini nanti.

“Kalo gue Gin,” ujar And yang duduk di sebelahku. Tangannya yang berotot itu menekuk di depan dadanya yang sama berototnya. Matanya masih saja menatap party ini dengan tatapan tidak berminat. Sid dan Revie juga sama. Mungkin karena mereka bertiga sudah punya pacar, makanya menatap pesta ini dengan tatapan seperti itu. Tidak seperti Zavan, yang akan memandang pesta seperti acara agama yang harus dia hadiri. Kalau aku, entahlah, aku bukan orang yang pintar memberikan suatu ekspresi. Ketika aku tertawa, aku akan memasang wajah datar. Ketika aku menangis, aku tetap memasang wajah datar. Ketika aku marah, aku masih saja teguh dengan wajah datar. Tetapi di dalam hati aku melakukan semua ekspresi itu dengan sangat baik.

“Gue Budweiser,” sahutku, kemudian kembali menurunkan kepalaku ke arah iPad. Aku memang selalu sibuk dengan iPadku, entah itu untuk bermain game online ataupun mengecek semua kurva perusahaan si bajingan yang ada di mana-mana. Aku tidak mungkin menyerahkan semua urusan perusahaan ke Mamaku, tentu saja dia membutuhkan asisten untuk mengurusi semua perusahaan si bajingan yang ada di mana-mana ini. Yang ternyata satu perusahaan saja bisa sangat merepotkan.

Zavan berdiri, aku bisa merasakan dia sedang berdiri di hadapanku. “Satu Jus Jeruk, satu Cocktail, satu Gin, satu Budweiser dan malem ini gue lagi mau minum Jack Daniel’s. Kalian nggak mau ganti lagi kan minuman kalian, atau mau nambah sesuatu?” Aku mendongakkan kepala dan melihat semua flocksku menggeleng. “Sip deh kalo gitu. Revie sama Tivo ikut gue yuk! Temenin.” Aku dan Revie berdiri dengan segera. Kutaruh iPadku di samping And.

Musik yang dimainkan oleh DJ-nya malam ini sungguh-sungguh enak didengar. Kalau dari jenisnya, aku bisa merasakan kalau ini adalah gabungan Retro dan Electronic. Oh, ada sedikit bagian Folk dan Rock-nya juga. Jadi semua lagu yang di-mix oleh DJ nya memang sangat cocok untuk dimainkan untuk pesta gay malam ini. Hobiku selain main catur adalah musik. Aku ikut Acapella di DIS. Bernyanyi membuatku lepas, menjadikanku orang yang bebas. Walaupun setelah aku bernyanyi aku akan kembali menjadi orang yang pendiam.

“Rev, lo pesenin minuman kita tadi ya. Lo masih ingetkan apa aja?” bisik Zavan ke telinga Revie, meskipun itu bisikkan aku masih bisa mendengarnya. Revie yang berdiri di sebelahku mengangguk pasti, dia berbalik lalu memanggil bartender yang sedang mengocok-ngocok minuman. Ini memang party gubahan seseorang, tapi tetap saja minumannya harus bayar. Kalau party ini un-private barulah minumannya gratis.

Ketika cowok bartender yang mempunyai tato bergambar naga di lengan kanannya menghampiri kami, Revie langsung menyebutkan semua minuman yang ingin kami pesan. “Satu Jus Jeruk, satu Cocktail, satu Gin, satu Budweiser, dan satu botol Jack Daniel’s.”

“Jangan lupa senyum ke cowok bartender itu Rev!” bisik Zavan lagi. Yang kali ini langsung Revie lakukan dengan segera. Dia tersenyum lebar, membuat wajahnya berubah memikat, membuat cowok bartender yang tadi menatapnya takjub berubah terhenyak. Cowok bartender itu balas tersenyum lalu mulai mengisi semua gelas yang ada di atas tatakkan. Setelah selesai, cowok bartender itu menyerahkannya kepada Revie.

“Berapa semuanya?” tanya Revie, sambil mengeluarkan dompetnya. Semenjak dia kaya mendadak waktu itu, dia sangat jarang meminta kami untuk mentraktirnya lagi. Bahkan dia sudah punya supir pribadi. Ya, siapa lagi kalau bukan pacarnya itu. Bagas.

“Gratis,” sahut cowok bartender itu dengan senyuman lebar. “Dan ini khusus buat kamu,” kata cowok bartender itu sembari menaruh satu gelas Sampanye di samping Jus Jeruk.

Revie memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku celana. “Makasih ya,” ucap Revie, kali ini senyumannya makin mengembang lebar, membuat cowok bartender itu memasang wajah seakan sedang lupa diri. Tetapi akhirnya cowok bartender itu mengangguk sekali. Zavan meraih tatakkan dan mengajak kami untuk kembali ke sofa. Senyuman Zavan juga tak hilang-hilang dari bibirnya.

“Lihat, itulah gunanya jadi orang ganteng!” ujar Zavan sambil menyenggol lengan Revie dan lenganku. “Hanya dengan senyuman, semua orang itupun menuruti apa yang lo mau. Makasih buat Anna dan Matt yang ngebuat muka gue jadi ganteng kayak gini.” Zavan terkekeh pelan, dia menatap kerumunan orang yang berada di lantai dansa. “Party nya nggak heboh ya. Ntar deh gue buat heboh, gue mau minum dulu. Setelah itu, this party will be mine.” Zavan menaruh semua minuman itu di atas meja yang berada di hadapan sofa kami.

“Ehm, ngomong-ngomong, di sekolah yang flocks nya nggak punya nama cuman kita aja lho,” kata Sid setelah kami bertiga duduk di sofa. Matanya yang tajam menatap ke arah kami secara bergantian. Dia mengulurkan tangannya lalu mulai menyesap Cocktailnya. “Kalo flocks yang lain kan ada namanya tuh. Kayak Homphobia, d’Barbadas. Heinzen dan lain-lain. Jadi yang nggak punya nama cuman flocks kita aja, meskipun hal itu nggak penting-penting amat. Tapi, kalo misalnya kita buat nama untuk flocks kita ini, cocoknya apa?”

Mereka semua langsung membuat ekspresi berpikir keras, sedangkan aku hanya menatap mereka semua dengan tatapan tidak berminat sama sekali. “Gimana kalau Fivesome? Ew, jangan deh, kedengarannya kayak kita berlima mau seks bareng.” Zavan menganjurkan dan menjawab sendiri anjurannya. “Gimana kalo Bloody Lock? Kepala kontol ew! Jangan deh, kedengerannya kita berlima malah kayak pembunuh sadis.” Zavan mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, sedang sibuk mencari nama untuk flocks kami ini.

“Gimana kalo Goggle V?” usul Revie setelah hening selama setengah menit.

“Lubang pepek ew! Revie, dude, Goggle V itukan Power Rangers yang dari Jepang itu. Ngapain kita berlima jadi Power Rangers, emang siapa yang mau diberantas?” Sid dan And tertawa pelan, membuat wajah Revie menekuk cemberut. “Gimana kalo Idiotisme? Lubang pepek double ew! Kedengerannya kok kita berlima ini malah kayak orang bego ya kalo pakek nama itu, jadi nggak usah.” Kemudian kembali hening, mereka masih sibuk mencari nama yang cocok di kepala mereka. “Nah!” seru Zavan kencang. “Gue nemu. Gimana kalo Government Hookers. Atau kalo di Bahasa Indonesia-in jadi: Pemerintahan Para Pelacur.”

Great idea!” sahut Sid. “Dan lo sebagai Presiden Pelacurnya.”

Zavan terlonjak senang di kursinya. “Kalo begitu kita buat pelantikkan aja gimana,” kata Zavan, matanya menelusuri kami satu-satu. “Sebagai Presiden Pelacur di Pemerintahan ini, gue telah memutuskan untuk menobatkan Sid menjadi Lonte si berwajah seram.” Mereka tertawa keras, membuat beberapa orang menoleh ke arah kami, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. “Dan And dinobatkan menjadi Pecun si berbadan kekar.” Kini tawa mereka makin keras. Membuatku sungguh ingin menyumpal tawa mereka dengan tutup botol. “Sedangkan Revie dinobatkan menjadi Sundal si berpenampilan Ibu Peri.” Mata Zavan yang biru kini beralih menatapku. “Kalau Tivo gue menobatkan dia sebagai Jalang si bersifat autis.” Zavan menatap kami dengan senyuman lebarnya. “Dan gue sebagai Presiden Pelacur kalian, menobatkan diri sebagai Germo si cowok berwajah super unyu.”

And dan Sid langsung membuat gaya orang yang sedang ingin muntah. Membuat Revie terpingkal-pingkal dalam tawa. “Lo unyu kalo dilihat dari lubang pantat!” seru Sid sarkas.

Zavan mendengus kesal ke arah Sid, tangannya terulur ke arah botol Jack Daniel’s nya. Setelah dia menyesapnya, dia menatap on the floor yang terlihat sangat monoton. “Party nya lame banget ya,” ujarnya sambil berdiri. Dia menyulut rokok untuk yang kedua kalinya. “Tiv, ntar foto gue pakek kamera Polaroid gue ya, ambil dari sudut yang paling bagus. Gue mau memeriahkan party ini dulu.” Zavan mengambil Jack Daniel’s nya kemudian berlalu dari dari hadapan kami. Langkahnya panjang saat menuju ke arah Lounge Bar.

Aku mengernyitkan wajahku, bingung kenapa dia menyuruhku untuk memfotonya, namun tetap saja aku mengambil kamera Polaroid-nya yang berada di atas meja. Kunyalakan kamera itu lalu mulai membidikannya ke arah Zavan, yang masih berdiri sambil menyesap sekali lagi Jack Daniel’s nya. Dia menghembuskan nafasnya, kemudian memanjat ke atas meja yang ada di Lounge Bar. Aku bisa merasakan flocksku yang lain juga ikut memperhatikan Zavan dengan tatapan bingung. Tetapi setelah itu kebingungan kami terjawab.

“HEI!” teriak Zavan kencang, bahkan mengalahkan musik yang sedang dimainkan. Membuat semua kepala menoleh ke arahnya dengan segera. Seperti adegan di film, semua orang itu membeku dan menatap Zavan dengan pandangan bertanya. “HISEP KONTOL GUE, BITCH!” serunya dengan nada kencang, dia mengangkat tangannya ke udara, membuat botol Jack Daniel’s yang berada di tangan kirinya dan rokok yang ada di tangan kanannya tertimpa cahaya lampu disko.

“YEAH!” seru semua orang dengan tawa yang membahana. Suara musik pun kembali menghentak, membuat Zavan menari-nari di atas meja Lounge Bar itu dengan heboh. Sid dan yang lain tertawa kencang melihat aksi gila Zavan barusan. Bahkan saat dua orang berbadan bidang ikut bergabung dengan Zavan di atas meja itu, lalu menari bersamanya. Yang satu berada di belakang tubuhnya, sambil memegang bokong Zavan dengan tangannya yang besar. Sedangkan yang satu lagi mencium bibir Zavan dengan rakus. Aku mengangkat kamera, lalu memfotonya. Tidak mengerti juga, buat apa sebenarnya foto ini.

Aku menarik keluar slide kertas yang keluar dari bawah kamera Polaroid. Aku menggoyang-goyangkan slide kertas itu, hingga munculah gambar Zavan yang sangat absurd. Aku menaruh foto itu di atas meja, kemudian kembali membidikannya ke arah Zavan, namun ternyata bule gila satu itu sedang berjalan cepat ke arah kami. Di dahinya mengalir beberapa butir keringat, isi Jack Daniel’s nya juga tinggal setengah. Dia menghempaskan tubuhnya saat sudah berada di hadapanku. Tangannya terulur ke arah slide kertas yang menampilkan fotonya yang sangat absurd tadi.

Gaddamn! Gue beneran kayak pelacur di foto ini,” katanya sambil memperlihatkannya ke arah Sid dan yang lain. “Tapi sayangnya pelacur yang satu ini nggak dijual.” Dia terkekeh sembari mengelap keringatnya. “Nah, lihatkan, partynya akhirnya nggak lame lagi. Party ini memang harus dikasih sedikit bumbu baru bisa asyik kayak sekarang.” Zavan menyandarkan tubuhnya, foto yang dipegangnya tadi ditaruhnya di atas meja. “Dua cowok yang sama gue tadi itu namanya Jun dan Jo. Gue lebih suka sama ciumannya Jo, lebih hawt. Tapi sayang, gue nggak suka nama mereka. Yang ternyata adalah Junaidi dan Joko. Demi semua lubang pantat dan lubang pepek yang ada di dunia ini, itu EW banget!”

Aku menyeringai, benar-benar ingin tertawa tetapi tidak tahu bagaimana caranya. “Bagus kali tuh nama, Jun dan Jo a.k.a Junaidi dan Joko.” Sid berkata dengan kekehan mengejek.

“Bagus dari mananya, masa ntar gue teriak, oh, fuck me Junaidi and Joko. Tusuk kontol imut kalian ke lubang pantat gue! Oh, Junaidi dan Joko!” Zavan memasang wajah horor. “Yang ada gue langsung terjangkit Flu Babi setelah itu karena nama mereka yang—uhuk—jelata.”

“Lebay!” seru Sid cepat, cowok itu melempar Zavan dengan gelasnya yang telah kosong. “Emang ada orang kena Flu Babi hanya karena nama mereka yang—hoamm—jelata? I mean, Flu Babi itu disebarkan oleh orang-orang berwajah jelek dan belagu, makanya gue alergi sama mereka. Cowok ganteng, deket-deket gue, cowok jelek, hisep kontol lo sendiri!” Zavan dan Sid tertawa bersama. “Eits, tapi maaf, gue udah punya Adam. Jadi, sorry to say, gue nggak bisa lagi sama kalian wahai para cowok ganteng.”

Pity who you are!” kata Zavan sambil memasang wajah sedih. “Untung gue belum punya cowok yang satu untuk selamanya di hati gue. Jadi gue masih bisa berpetualang di dunia ini. Lagi pula gue kayaknya nggak akan pernah bisa nemu yang forever and always di hati gue deh. Soalnya, menu makanan gue tiap hari itu kan cowok. Sarapan pagi, gue makan bibir mereka. Makan siang, gue makan puting mereka. Makan malem, gue makan kontol mereka. Dan untuk minumannya, gue minum sperma mereka. Ugh, that’s feel fucking good eva!”

Gross you goon!” seru Sid, dia memasang wajah mengernyit super mengerikan untuk bule gila satu itu. “Lo kayak kanibal aja. Makan setiap jengkal tubuhnya cowok.” Zavan hanya tertawa mendengar ucapan sarkas dari Sid. Bule itu malah makin menggila, dia mengaum lalu meremas selangkangan Sid. “Stop it, you stupid bitch! Ini punya Adam.” Zavan, Revie dan And tertawa kencang. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. “Kok bisa-bisanya ya kita punya temen gila kayak lo Zav? Eh, bukan gila. Tapi penuh dengan nafsu birahi yang sangat-sangat—dicamkan di otak udang lo itu—sangat menakutkan.”

Zavan tersenyum lebar. “Makasih, lo baik banget sih sampe muji-muji gue kayak gitu. Gue aja baru tau kalo ternyata gue punya otak udang. Gue kira gue nggak punya otak sama sekali. Sini cipok dulu kepala kontolnya!” Zavan memajukan bibirnya ke arah selangkangan Sid, yang langsung Sid dorong menjauh dengan kekuatan penuh. Zavan hanya tertawa sambil menyesap habis Jack Daniel’s nya. “Eh, kalian tau nggak kalo—wait-wait, itu bukannya Dylan ya?” Zavan menyipitkan matanya, membuatku dan yang lain mengikuti arah matanya. “Yang duduk di deket meja bulet kayak teteknya Jupe itu.”

Yes, that’s him!” seruku, wajah Dylan sangat terlihat jelas. Itu pasti memang Dylan, salah satu sahabat si maniak bajingan: Peter. Yang juga ada di flocks Homophobia yang selalu bisa membuatku tertawa dalam hati, karena isinya ternyata adalah gay-gay yang mengaku straight. Tidak semuanya gay memang, tetapi aku tahu beberapa dari mereka yang gay. Peter, Dylan, Leone, dan entahlah. Aku tidak terlalu hafal menyebut jenis-jenis nama anjing.

I know that, he is gay. Dari caranya ngedip dan ngupil aja gue tau kalo dia gay.” Zavan menarik kamera Polaroidnya, lalu mengarahkannya ke arah Dylan yang lagi sibuk bicara bersama dua orang cowok dengan gelagat mesra. “Gotcha you idiot homophobic!” Zavan menjepretnya, slide kertas keluar dari bawa kamera Polaroid tersebut. Zavan menggoyang-goyangkannya sebentar sebelum akhirnya wajah Dylan terlihat di slide kertas itu. “Gue baru tau kalo ternyata dia gay muna-fuck.”

“Aku nggak kaget-kaget amat sih,” tutur Revie tiba-tiba. “Pas kita di grade 11, dia pernah nembak aku di belakang sekolah.” Revie meraih Jus Jeruknya, diminumnya jus itu hingga tandas sampai ke dasar gelas.

Zavan mendecakkan lidahnya kurang ajar. “Puh-lease deh, Rev. Emang siapa sih cowok di sekolah yang nggak pernah nembak lo? Hanya dengan kekuatan Ibu Peri lo itu, lo bisa ngebuat cowok straight menjadi gay secara tiba-tiba tanpa harus melakukan sesuatu yang wicked dulu. Walopun setelah lo tolak, mereka bakalan jadi straight abal-abal lagi.” Zavan memasukkan foto Dylan ke saku celananya. “Kenapa gue nggak bisa punya muka kayak lo?”

“Aku malah pengen punya muka yang biasa-biasa aja,” sergah Revie, dia mengedikkan bahunya sedikit. “Punya muka kayak gini, bener-bener bisa ngebuat masalah besar. Sumpah deh, kamu nggak tau aja hal-hal mengerikan yang pernah terjadi sama aku gara-gara muka ini. Tapi ngeluh juga nggak bakalan ngerubah mukaku kan. Jadi, yah, tetap harus bersyukur.” Revie menaruh gelas bekas Jus Jeruknya ke atas meja. “Oh, iya, untuk ngejawab pertanyaan yang kamu lontarin tadi adalah: enggak. Ada beberapa orang cowok di sekolah yang nggak pernah nembak aku selain kalian. Contoh: Kepala sekolah kita, Vick, Kak Adam, Peter, Mukhlis, Akira, Dumai, Liam, Rafael, Kak Petra, Coach Wayan, Bapa Athilius, Ustadz Akbar dan Ozayn. Mereka semua nggak pernah nembak aku kok.”

“Tentulah mereka nggak nembak lo. Maksud gue, kepala sekolah kita itu aja parfumnya udah bau tanah gitu. Vick cintanya sama And. Adam punyanya Sid. Peter karena dia Homophobia sejati.” Aku mendengus kasar, untung saja tidak ada yang memperhatikanku. “Sedangkan yang lo sebutin itu semuanya pada taat sama Agama. Sedangkan Ozayn, demi Tuhan, cowok cupu kayak dia mana berani nembak lo. Lagi pula, bukannya lo temenan deket ya sama dia?”

Revie menganggukkan kepalanya. “Ngomong-ngomong, kamu bakalan terkejut beberapa bulan ke depan dengan apa yang bisa aku kasih ke Ozayn nanti. Dulu aku pernah janji sesuatu sama dia kalo aku udah punya duit lumayan banyak, dan aku yakin banget kamu bakalan nelen ucapan cupumu lagi ke dalam mulut.” Aku mengerutkan keningku, yang lain juga memasang ekspresi yang sama.

“Emang apaan?” tanya Zavan, berpura-pura tidak tertarik, padahal matanya menunjukkan kalau dia sangat penasaran. Revie hanya memasang senyuman misterius, dia mengedikkan bahunya lagi kemudian menatap pesta yang sekarang mulai heboh. “Lo sok-sok tertutup gitu ya, mau kayak Tivo. Nggak cocok kali Rev.” Tapi Revie tetap bertahan. “But, gue juga nggak peduli dengan apa yang akan terjadi sama si cupu aneh itu.” Zavan mengulurkan tangannya ke arah Sampanye gratisan yang di kasih cowok bartender tadi untuk Revie. “Gue minta ya?” kata Zavan, bule itu mengangkat gelas itu ke dekatnya saat Revie mengangguk. “Wait up!” serunya lagi, membuat kami menoleh. Zavan menyipitkan matanya ke arah tulisan yang ada di pinggir gelas. “Call me maybe. Adji. 08976500164.” Zavan tertawa kencang, dia menyerahkan gelas itu ke Revie. “Nih, lo disuruh cowok bartender itu nelpon dia.”

Revie menggeleng tegas. “Maaf, Bagas udah terlalu penuh di dalem hati aku. Jadi, buat kamu aja Zav.” Revie menyodorkan gelas itu kembali ke arah Zavan.

“Nggak ah, cowok itu bukan tipe gue.” Kami langsung menatap Zavan dengan tatapan tidak percaya. Zavan mengernyitkan wajahnya ke arah kami. “Hei, nafsuan gini gue punya tipe juga kali. Gue nggak suka sama cowok gondrong kayak cowok bartender itu, mau seganteng apapun mukanya. Gue ngeri sama yang rambutnya gondrong. Padahal dulu gue suka lho, gue bahkan sering nonton film serial Meteor Garden pas masih tinggal di London dulu. Para pemainnya kan rambutnya pada kayak cewek setengah jadi gitu. Tapi sekarang kalo gue nonton mereka lagi, kontol gue langsung menyusut dua sentimeter karena ngeri.”

Mereka tertawa serempak, membuat beberapa orang menoleh lagi ke arah kami dengan pandangan bertanya. Tiba-tiba musik yang semula beraliran mellow, berubah menjadi beraliran dance. “Aku suka lagu ini,” kata Revie, tangannya mengikuti instrumental awal musik dengan gerakan pelan. “Feel So Close-nya Calvin Harris.”

Zavan menarik tangan Revie dan yang lain, termasuk tanganku. “Then we have to go to the dance floor, rite?” Kami ber-empat hanya bisa pasrah mengikuti tarikan Zavan yang lumayan memaksa. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia bisa memegang tangan kami secara bersamaan seperti ini. Aku melirik iPadku yang berada di atas sofa. Untung saja iPad itu isinya hanya beberapa game yang biasa-biasa saja. Jadi kalau hilang tidak akan masalah.

“Minggir kalian para orang aneh!” seru Zavan dengan suara keras, membuat kerumunan orang yang menghalangi jalan kami langsung terbuka lebar. Kami sampai di dance floor hanya dalam waktu setengah menit. Tanpa harus berdesak-desakkan terlebih dahulu. “C’mon, guys! Tonite, we are young, jadi nikmati pestanya!” Zavan menggerak-gerakkan badannya dengan heboh. Membuat beberapa orang menatapnya dengan pandangan kagum. Sid, aku dan And mulai menggerakkan badan ketika musik yang sedang bergema di sekitar kami mulai makin menggila. Aku memejamkan mataku dalam-dalam, menikmati musik dance yang ditemani dengan sedikit retro masuk ke dalam kepalaku. “Ayo, Rev, nari! Kenapa lo malah diem aja?” seru Zavan kencang.

Aku membuka mataku dan melihat Revie hanya berdiri di sampingku, tanpa menggerak-gerakkan badannya sama sekali. Dia menatap Zavan dengan pandangan grogi. “Aku nggak bisa nari kalo di party yang rame banget kayak gini,” katanya keras namun agak malu-malu. Membuat Zavan menaikkan alisnya tinggi-tinggi. “Aku balik aja ke sofa ya, nunggu kalian di sana. Aku lama-lama jengah, malu karena cuman aku sendiri yang kayak kecebong hanyut.”

“Semua orang bisa nari!” kata Zavan, dia memegang pundak Revie dengan tegas. “Ayo gerakkin badan lo! Nikmati musiknya, biarin setiap nada yang lagi lo dengerin ini masuk ke pembuluh darah lo dan ngebuat lo rileks. Terus goyangin badan lo!” Zavan memperintahkan Revie dengan sungguh-sungguh. Tak berapa lama kemudian Revie mulai menggerakkan badannya. “Ya ampun Rev! Gue nyuruh lo nari, bukan senam poco-poco!” Revie langsung menghentikan gerakkan badannya. “Nari kayak Jagger, oke!” Sekali lagi, Revie mengangguk kemudian mulai bergoyang. “Stop it, Rev! Gue suruh lo nari kayak Jagger, bukan nari Aserehe!” Zavan menatap wajah Revie dengan pandangan putus asa. “Lo mau lihat nggak nari kayak Jagger itu gimana? Nih ya, gue tunjukkin sama lo. Watch and learn!”

Zavan membuka kemejanya, menyisakan singlet putihnya yang sangat menantang. Dia merilekskan punggungnya yang mulai berotot itu. Langkahnya panjang saat berjalan cepat menuju ke kerumunan orang. Awalnya Zavan hanya menari pelan di depan seorang cowok—euh, aku tidak benar-benar bisa melihat wajahnya. Tak berapa lama kemudian, Zavan membalikkan badannya dan mulai menggoyangkan bokongnya di selangkangan orang tersebut. Zavan dan orang itu bergerak lincah seraya mengikuti beat yang muncul di lagu Feel So Close-nya Calvin Harris. Sampai akhirnya—sekitar dua menit lebih sedikit, dan lagu Feel So Close telah selesai—Zavan berjalan kembali ke arah kami.

“Itu yang namanya nari kayak Jagger!” seru Zavan ke arah Revie. Dia memasang senyuman terbaiknya ke arah kami. “Oh, by the way, tuh cowok yang jadi temen dance gue tadi mukanya hawt banget tau nggak. Tapi sayang, pas gue lagi asyik-asyiknya nempelin pantat gue di kontolnya yang mengeras, tiba-tiba tuh kontol berubah lesu. Pas gue masukkin tangan gue ke dalem celananya, ternyata dia udah muncrat. Nih, lihat spermanya!” Zavan mengangkat tangan kirinya ke arah kami, dan cairan putih nan aneh itu menempel di jari-jari Zavan. “Tuh cowok cepet banget ejukulasinya. Ngebuat muka hawt nya jadi nawt!”

“Ew! Disgusting!” Sid mengibaskan tangannya, menyuruh Zavan menjauhkan tangannya yang terkena sperma itu menjauh.

Bule itu hanya tertawa, sambil mengangkat tangan kirinya ke arah lain. “Hei!” sapa Zavan sok akrab ke orang yang ada di depannya. Sperma yang tadi ada di tangan kirinya kini telah menempel di kemeja cowok yang disapanya barusan. Dasar bule kurang ajar! Asal ngelap.

Cowok yang disapa oleh Zavan berbalik, dari balik keremangan lampu disko, aku bisa melihat kalau wajahnya dipenuhi oleh kerikil-kerikil neraka. Atau yang biasa disebut oleh kebanyakkan orang adalah jerawat. Cowok itu baru saja ingin membuka mulutnya, ingin bicara dengan Zavan, namun langsung Zavan bungkam mulut cowok itu dengan menaruh tangannya di depan muka cowok itu. Sekali lagi cowok itu ingin membuka mulutnya, namun Zavan kembali mengangkat tangannya, menyiratkan untuk cowok itu jangan bicara. Akhirnya, setelah tahu hasilnya akan tidak berguna, cowok itu mengeloyor pergi.

“Gue bukan mau milih-milih cowok sebenernya,” kata Zavan sambil berbalik ke arah kami. “Tapi, Gawd, mau seganteng apapun dia kalo mukanya ada bintik-bintik mengganggu kayak gitu… sorry to say, Phral! Gue nggak bisa sama lo. Maksud gue, masa sih nggak bisa pergi ke Singapur, terus laser muka lo biar mulus. Lagi pula sekali laser harganya murah, cuman delapan juta doang. Kayak uang jajan gue tiga hari.” Zavan meracau tidak penting, matanya melirik ke arah kami kemudian ke arah sofa. Tiba-tiba Zavan beranjak pergi dan kembali lagi bahkan sebelum aku dan yang lain sempat bicara. “Kita foto berlima yuk!” ajaknya, sambil mengangkat kamera Polaroidnya tinggi-tinggi. Kami merapatkan badan ke dekatnya sembari memasang ekspresi. Meskipun aku yakin ekspresiku akan tidak ada sama sekali. “Katakan, Anjing!” usulnya kencang.

“Anjing!” seru kami serempak dibarengi dengan blizt dari kamera Polaroid tersebut. Zavan menarik slide kertas yang muncul lalu mulai menggoyang-goyangkannya. Saat gambar wajah kami muncul, aku langsung mendesah panjang, karena wajahku sangat-sangat datar. Bahkan bibirku menekuk seperti orang yang lagi kecanduan ganja. Aku memang benar-benar harus belajar lebih giat lagi agar bisa menunjukkan ekspresi yang bagus.

We look good!” kata Zavan, dia memasukkan foto itu ke dalam saku celananya. “Sekali lagi yuk! Tapi kali ini kita harus ciuman berlima.” Aku belum saja sempat bertanya, tetapi Zavan sudah menarik kepalaku mendekat ke arahnya. Bibirku menempel di bibirnya yang sangat bau alkohol, bibir Revie juga menempel di sebelah bibirku. Kemudian bibir kami berlima menyatu seperti tali. Lampu blizt berpendar terang, aku memundurkan badanku dan melap bekas bibir Zavan di bibirku. “Wow!” seru Zavan sambil memandangi foto itu lekat-lekat.

And tertawa di samping Revie. “Gue selalu penasaran gimana rasanya bibir Revie, ternyata rasanya biasa aja. Masih enakkan bibirnya Vick.” And menoleh jahil ke arah Revie. Yang langsung Revie balas dengan pukulan pelan di perut.

“Karena kamu nyiumnya dari samping, coba kalo nyiumnya dari depan. Pasti kamu bakalan ketagihan kayak Bagas.” Mereka berempat tertawa nyaring. Aku hanya mendecakkan lidahku, menatap jam tangan yang berada di tangan kiriku. Sudah jam setengah empat subuh, dan besok pagi aku harus ke kantor untuk mengurus berkas-berkas saham kepunyaan clientku. Aku berjalan cepat menuju ke arah sofa kami, mendorong setiap orang yang menghalangi jalanku. Setelah aku duduk di sana, ternyata Revie, And, dan Sid mengikutiku dari belakang. Mereka menyandarkan tubuh dan menatap pesta dengan malas.

Ketika jam sudah menunjukkan jam empat subuh, dan aku sudah menghabiskan dua Bir Heineken, akhirnya Zavan mendatangi kami. Tetapi—yang tentu saja akan terjadi—dia tidak datang sendirian. Dia datang dengan seorang cowok berpundak lebar dan berwajah tirus yang kalau boleh kukomentari lumayan tampan. “Hei, guys! Kalo kalian mau pulang, pulang aja duluan. Gue bakalan pulang sama…” Zavan melirik cowok itu. “Euh, entahlah gue nggak tau namanya. So, see you at Sunday dusk.” Zavan melambaikan tangannya, tetapi Sid menahan bule gila satu itu. Dari pandangan Sid, Zavan tahu apa yang dipikirkan teman kami yang sombong satu itu. “Tenang aja, gue yakin dia orang baik, bukan kayak si Rian Jember.”

“Jombang,” koreksiku cepat.

Zavan mendesah biadab. “Oke, makasih Tivo atas pembenarannya. Gue yakin kok cowok ini nggak kayak si Rian Jombang. Jadi… just relax, guys! Ntar gue kabarin deh kalo ular Phytonnya dia udah masuk lubang.” Kami berempat langsung melemparnya dengan gelas kosong. Zavan hanya tertawa sambil melambaikan tangannya lagi. “Ciwikeke, para pelacur!”

Dengan gerakkan gesit, Zavan langsung naik ke punggung cowok-yang-namanya-masih-tidak-diketahui-itu. Cowok itu tertawa, kemudian memegang kedua paha Zavan agar gendongannya tidak mengendur. Langkah cowok itu panjang saat berjalan ke arah tangga. Aku menggelengkan kepalaku, masih bingung dengan diriku sendiri. Kok bisa-bisanya dulu aku mengiyakan ajakkannya untuk berteman dengannya waktu itu?

***

Kukenakkan kembali pakaianku, hingga menutupi seluruh badanku yang tadi terekspos jelas. Cewek yang sedang berbaring di atas kasur, dan meringkuk di dalam selimut menatapku dengan pandangan puas tetapi masih ingin aku berada di sampingnya. Setelah aku mengenakkan kemejaku, aku meraih tas selampangku, yang berisi iPad dan dompet. Aku menolehkan kepalaku lagi ke arah cewek—atau kalau bisa dibilang dia bukan cewek, tetapi wanita. Yang sudah sangat dewasa.

“Habis ini mau kemana lagi, Sayang?” tanya wanita itu manja. Dia tersenyum kecil, rambut panjangnya yang awut-awutan jatuh di depan dadanya yang telanjang. Nama wanita itu adalah Serly, dia adalah tetanggaku. Dia adalah wanita yang cantik, dengan senyuman yang sangat menggoda. Bibirnya merah, bahkan tanpa menggunakan lipstick sekalipun. Dan umurnya sekitar tiga puluh tiga tahun. Ya, dia lebih pantas disebut tanteku ketimbang wanitaku. Inilah yang kusebut Rendezvous.

Aku berdeham pelan, agar tidak mengeluarkan suara lirih saat bicara. Biasanya, setelah aku agak kelelahan, suaraku pasti berubah lirih dan serak. “Mau ke kantor,” ucapku singkat, kuraih sepatuku yang berada di depan pintu kamar mandi. Mengenakkannya secara gesit, aku memang ada meeting beberapa jam lagi di kantor. Belum lagi, aku masih banyak urusan lainnya. Aku sebenarnya tidak suka menjadi orang sibuk seperti ini, namun karena Mamaku memang membutuhkan bantuan, aku bisa apa?

“Hati-hati ya di jalan,” ucapnya genit. Serly jalan mendekat ke arahku saat aku baru saja selesai mengenakkan sepatu. Perlahan dia menarik kepalaku dan mencium bibirku pelan. Aku masih bisa merasakan hawa nafasku di dalam mulutnya yang masih tersisa saat aku menciumnya menggebu-gebu beberapa puluh menit yang lalu. “Kapan lagi kita bisa ketemu?” tanyanya setelah dia melepaskan ciuman.

“Terserah, kamu atur aja waktunya. Kalo aku bisa, aku bakalan konfirmasi.” Aku merapatkan tasku di punggung. Kulangkahkan kakiku ke arah pintu keluar, namun sebelum itu aku berbalik ke arahnya. “Oh, iya, salam buat Mas Ferdi sama anakmu ya.” Ketika Serly mengangguk dengan gerakan nakal, aku langsung cepat-cepat mendorong pintu hingga terbuka. Tidak ingin lama-lama berada di dalam kamar hotel ini. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, dan aku ada meeting jam setengah dua.

Aku memang masih berumur delapan belas tahun, tetapi pekerjaanku sudah seperti orang dewasa lainnya. Mungkin sebab itulah aku lebih suka bersama orang dewasa ketimbang dengan anak-anak remaja seumuranku. Karena jika dengan para remaja sepertiku, mereka cenderung membosankan dan sangat memuakkan. Yang dewasa biasanya lebih lezat.

***

Di antara flocksku hanya Revie yang tahu tentang masa laluku. Aku pernah menceritakannya, entah kenapa waktu itu aku ingin sekali membeberkan hal itu ke satu orang yang ada di flocksku, dan pilihanku jatuh pada Revie. Karena aku tahu Revie adalah orang yang bisa dipercaya. Revie juga tahu kalau aku lebih suka menjalin hubungan dengan orang dewasa. Dan bagusnya lagi, Revie tidak menghakimiku sama sekali. Dia hanya menasehatiku tentang menjadi diri sendiri, tentang mencoba hidup di masa sekarang, dan melupakan masa lalu.

Revie selalu bilang padaku, lupakan hal yang telah menyakitimu, dan hiduplah dengan mencintai orang yang mencintaimu. Aku tahu, aku seharusnya melakukan hal itu. Melupakan si bajingan itu, memaafkan Peter, dan menjadi diri sendiri, bukan malah hidup di bawah tekanan seperti ini. Semula aku bukan orang yang pendiam, semula aku suka bicara, menghabiskan waktu berjam-jam dengan Peter dan Vick sambil membicarakan masa depan dan cita-cita. Tetapi karena si bajingan itu, hidupku berubah. Dan aku berharap, si bajingan atau yang seharusnya kusebut Papaku dibakar di Neraka dan membusuk di kuburannya. Dimakan belatung dan dikencingi oleh para Iblis.

“Kamu kenapa?” tanya seseorang yang duduk di sebelahku. Aku menolehkan kepalaku dan menatap wajahnya yang sedang menatapku dengan pandangan bertanya. Cahaya lampu yang ada di balkon membuat wajahnya agak berpendar. Aku menggeser dudukku lalu masuk ke dalam pangkuannya. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku, memelukku dengan penuh kasih sayang. Kutenggelamkan kepalaku di lehernya. Aku benar-benar butuh perhatian. Secuil apapun bentuknya, aku akan menghargainya.

“Aku nggak kenapa-kenapa, cuman lagi mikir aja, besok ada pelajaran apa aja di sekolah.” Aku bisa mencium wangi keringatnya, yang jatuh dengan perlahan di jambang rambutnya. Kueratkan tanganku di tangannya yang memeluk pinggangku. Malam ini, aku memang ada Rendezvous lagi dengan seseorang. Begitulah jika berhubungan dengan orang dewasa, aku bisa melakukan banyak Rendezvous tanpa ketahuan sama sekali. Karena yang sudah dewasa jarang ingin tahu urusan pasangannya.

“Hubungi aja temenmu, tanya sama mereka besok ada pelajaran apa aja.” Dia mendekatkan bibirnya di dekat telingaku, kemudian menggigitnya kecil, membuat sarafku menegang.

“Iya, nanti,” ucapku singkat, lalu menaruh bibirku di bibirnya. Kumisnya yang baru saja dia cukur membuat wajahku tergelitik. Dia menarik kepalaku makin medekat ke arahnya, dengan gerakkan cepat, dia mengangkat badanku kemudian mengajakku masuk ke dalam kamar hotel kami yang bercahaya redup. Perlahan, dia menjatuhkanku di kasur, kemudian mulai mencumbu bagian leher dan dadaku.

Aku memejamkan mataku dalam-dalam, ingin menikmati seluruh sentuhan yang dia berikan. Namun, entah bagaimana, yang selama ini kupikirkan selalu si maniak bajingan: Peter. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa begitu mecandu tentang sentuhannya, tentang bagaimana dia menempelkan bibirnya di bibirku, atau pada saat dia mendekap kepalaku di lehernya yang selalu wangi sabun. Aku ingin melupakan semua hal itu, tetapi aku malah tidak bisa. Dan aku makin benci padanya karena hal itu.

Lelaki yang ada di atasku mulai mendorong kakiku hingga naik ke atas badannya. Aku sebenarnya sangat benci dengan tindakan itu, tetapi aku mencoba menahannya, dan mencoba berpura-pura untuk menikmatinya. Ketika aku memejamkan mataku lagi, sekelabat masa lalu kelamku muncul. Semua datang silih berganti, dan aku mencoba untuk menepisnya.

Yang ternyata gagal, aku memang belum bisa melupakannya.

Entah kapan semua hal ini berakhir, tiba-tiba lelaki yang tadi menikmati tubuhku merebahkan tubuhnya di sampingku. Dengan tangannya yang besar, dan dengan badannya yang hampir kehilangan bentuk, dia memelukku lagi. Aku mencoba meresapi hubungan intens kami tadi. Namun yang ada di pikiranku adalah kenangan akan masa lalu kelamku. Kata-kata si bajingan, wajah Peter yang tersakiti saat aku mengakhiri hubungan kami, dan wajah Mamaku yang menangis ketika tahu apa yang telah si bajingan lakukan padaku.

“Mau minum?” tanya lelaki itu dengan suara parau. “Aku tadi beli beberapa bir di Indomaret. Kamu mau nggak?” Dia menaruh kepalaku di atas bantal, jalannya cepat saat dia menuju ke arah kantung belanjaan berlogo Indomaret yang ada di samping TV.

“Satu aja,” kataku, kurubah posisiku hingga setengah duduk.

Lelaki itu kembali dengan dua kaleng botol bir Coors Light. Dia menyerahkan salah satunya ke tanganku. Kubuka penutupnya kemudian menyesap buih dari soda yang ada di dalam bir itu dengan lidah mengecap. Aku menarik rokok yang berada di dalam tas selempangku, kemudian mulai menyalakannya. Lelaki itu juga melakukan hal yang sama, meskipun kamar kami ber-AC, aku tidak peduli. Lagi pula setelah ini kami akan pulang ke rumah masing-masing, tidak mungkin menginap di sini.

“Berkas saham yang atas nama Pak Hutabarat udah ada di atas mejaku kemarin. Kalo kamu mau ambil, tinggal hubungi Sekertarisku aja.” Aku menegak birku sekali lagi, sebelum akhirnya aku meremukkan kaleng itu dan membuangnya ke sembarang tempat.

“Oke, besok aku bakalan urus juga berkas-berkas kepunyaan Pak Akhlies.” Lelaki itu berdiri, langkahnya pelan saat menuju ke kamar mandi. Tak berapa lama kemudian, dia kembali dengan handuk yang melilit bagian pinggangnya. Lelaki itu mendekat ke arahku, tangannya yang besar meraih pakaiannya. Pakaian kerjanya. Dia mengenakkan celananya, merapikan sedikit kemejanya. “Aku mau pulang dulu. Kapan kita bisa ketemu kayak gini lagi?”

Aku menatap lelaki itu dengan pandangan datar. “Terserah.” Aku menjawab singkat, kuambil iPadku lalu melihat kurva perusahaanku yang ada di Dublin sana. Tidak ada perubahan, masih sama seperti dua hari yang lalu. Pasti Mama benar-benar meng-handle perusahaan yang ada di Dublin sana, karena kata beberapa pegawaiku, perusahaan kami yang ada di Dublin lagi sedikit bermasalah.

“Kalo gitu aku pergi dulu,” kata lelaki yang ada di hadapanku. Dia menundukkan kepalanya, mencium bibirku singkat. Rasa mint dari pasta gigi yang tadi dia gunakan masuk ke dalam mulutku secara laun.

“Oke,” jawabku singkat lagi. Lelaki itu mengangguk lalu mengambil tas kerjanya yang ada di samping kantung belanjaan berlogo Indomaret. Saat dia ingin keluar, aku berseru sesuatu untuknya. “Mas Ferdi, aku titip salam ya buat Mbak Serly dan anakmu.”

Mas Ferdi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul. Setelah aku mengunci iPadku, pintu pun tertutup. Aku menekan pelipisku dalam-dalam, dan mengutuk diriku sendiri. Di antara kami berlima, bukan Zavan yang paling mengerikan. Tetapi aku, akulah orang yang paling pantas untuk disebut sebagai manusia serakah. Dan semua Rendezvous ini, tidak diketahui oleh siapapun. Dengan kejinya aku mempermainkan pasangan suami-istri itu.

Aku tidur dengan istri lelaki tersebut, dan aku juga tidur dengan suami wanita tersebut.

 

–Ups, Bersambung to Chapter 2

Hahay, nggak nyangkakan Tivo bakalan kayak gitu. Hihihi, dari awal cerita Weather Series kebentuk, aku memang kepengen ngebuat si Tivo ini penjahat di dalam sebuah cerita. Di ketiga cerita sebelumnya, hanya Sid yang dominan songongnya. Kalo di cerita ke-empat ini, aku mau nunjukkin kalo sebuah cerita pemeran utama pun bisa menjadi antagonis. Meskipun ntar ada penjelsannya kenapa dia kayak gitu. Hihihi😀 selamat membaca ya! Jangan lupa komen, nggak ada komen sampe 40, chapter 2 nggak dipost, karena chapter dua akan rampung beberapa lembar lagi.

Hasta la Vista, tetek Jupe! Love ya !!!

64 thoughts on “Stormy Day (1)

  1. ,issshhh , berharap ini komen kedua .. uhuhu🙂 ..
    ,wew , tapi entah kenapa kak kok kayanya aku gk terkejut yah ??
    ,soalnya mungkin .. ah , sudahlah ..
    ,bagus bangitss kak , jangan lama-lama yah ngga di updatenya🙂
    ,bagi SR aku sumpahin perutnya meledak .. haha😀

  2. tivo phsyco?????????sumpeh, gue kaget dan kening berkerut-kerut menelaah pribadinya tivo, and oh shit soooo……..dark, gue bisa nebak kalau zavan dan tivo adalah 2 orang yang punya banyak masalah, secara sifat mereka sangat dominan di cerita, satu terlalu wide open, yang satu terlalu flat and ga da ekspresi, tapi yang ga gue nyangka, tivo ternyata ada bakat buat jadi lebih gila..wow!!!

  3. Akhirnya cerita yang gua tunggu dateng juga
    Kayaknya masa lalu Tivo ini kelam banget,sampe2 nyebut Ayahnya sendiri Bajingan.
    Ditunggu ren cerita selanjutnya,soalnya gua suka banget sama karakternya Tivo
    #sorry baru komen lagi hehehe

  4. wah kisahnya si tivo kok suram ya, sepertinya ada masalah tuh ama bokapnya…..
    agak kurang menarik dibanding kisahnya si and, sid ato revie….
    hehe btw rendi emang emoiii mantap bro, lanjutkan …..

  5. Banyak amat smpe 40 komen???

    Yang diam emang selalu penuh kejutan..
    aku malah lebih penasaran kisah Tivo.
    kisah revie bagus banget tapi cendrung natural, kisah Tivo (awal sih) penuh dengan misteri.. like it..

    lanjutkan…

  6. buat rendii…love you..tp aq cwe..hihihii
    ko agk gmna yaa tivo ini…pngen cpet2 ada peter nya…
    thx yaa ren udh lnjtin series ini….kereeennnn

  7. Ternyata Tivo itu memiliki karakter seorang pendendam yg ibarat seperti bom waktu yg bisa meledak sewaktu2…. Karakter yg berbeda sekali dari ke 4 sahabatnya…. Salut buat Rendy yg pinter milih karakter buat Tivo biar ada sesuatunya yg bisa membuat cerita makin menarik untuk dibaca…. Keep going Rend…. Gonna wait for next chapter🙂

  8. WWAAAWW kisah tivo sungguh luar binasa…ternyata tivo in lebih berengsek bangat dari zavan yg binal tingkat dewa🙂

    Napa tivo in benci bangat sama bokap’y?prediksi ak ya tivo ini melihat bokap sama piter berhubungan sex mka’y tivo dendam sama bokap n piter?

    Rendi cakep n ganteng jangan lama2 ya gantung🙂 nya

    Aku cinta bangat sama karya2 km ren😀

    Ingat jangan lama gantung’y😀

  9. Bagus bray , seneng gw klo ada karakter kaya gini , remaid me to someone , jadi anak baik d rumah tapi jadi binal di luar🙂 .
    Nice buangettt browww🙂
    Any way , gw mw holiday di makassar , siapa tw ada anak mks yg nyasar di mari , boleh dunk temenin gw dugem🙂 ,
    Mail gw yak adityamahya88@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s