Another Loyal


Sepi terasa dan aku merindukan suasana seperti ini. Ada beberapa perubahan yang terdapat sekarang. Cat temboknya telah berubah warna dari biru menjadi putih terang. Kuhirup udara di tempat ini dan baunya masih tetap sama. Aku membaui tempat ini, melimpahkan rinduku yang tak tertahankan. Seorang anak kecil sedang berlari-lari dengan lincah di halaman tempat ini. Anak kecil itu kemudian menarik perhatianku, dia mengingatkanku pada seseorang di masa lalu. Masa yang begitu banyak kenangan di dalamnya.

Sekarang aku berada di kamar ke empat dari ujung kosan ini. Rencananya aku ingin menyewa kamar yang dulu pernah menjadi kamarku. Kamar tempat aku tinggal selama hampir empat tahun semasa aku mahasiswa dulu. Kamar itu juga memberikan banyak kenangan karena ruangan itu menemani hari-hariku dan menjadi saksi dari hampir dari sebagian kenangan masa laluku yang manis dan pahit.

Sewaktu pagi aku bertemu dengan ibu kosanku,  dia tidak mengenalku lagi. Mungkin beliau lupa atau wajahku yang berubah. Waktu dulu memang aku kurang bertegur sapa dengan ibu kosanku. Mungkin juga itu adalah alasan kenapa beliau sudah lupa denganku. Sembilan tahun cukup lama juga jika diingat-ingat. Saat aku menanyakan kamar nomor tiga itu, beliau berkata bahwa ada yang menghuninya. Aku rindu dengan kamarku yang dulu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain menyewa kamar lain.

 

***

Kubersihkan kamar baruku dan merapikan beberapa barangku yang telah kubawa sejak tadi. Aku tak membawa banyak barang ke sini. Cukup sebuah koper ukuran sedang. Kumasukkan baju-bajuku dalam lemari dan memberikan Cover untuk tempat tidurku.

Terdengar langkah sepatu dari luar, cukup keras karena sepertinya dia menuju ke arah kamarku. Beberapa saat kemudian suara sepatu itu berhenti yang kemudian disusul dengan suara dentingan logam dan bunyi gesekan logam yang dimasukkan pada lubang kunci. Terdengar suara putaran dan ketukan logam kunci pada pintu kamar lain, sepertinya tetanggaku telah datang.

“Abel!” Teriak seseorang.

Aku agak kaget dengan panggilan barusan. Ada seseorang yang memanggil namaku dari luar. Suaranya berat dan khas. Orang itu kemudian berteriak lagi hingga tiga kali sampai aku mendengar suara seseorang sedang berlari. Aku yang penasaran oleh suara yang memanggil namaku mengintip dari jendela yang tertutup tirai merah ini. Kulihat anak kecil yang tadi bermain di halaman depan masuk ke dalam kamar. Kamar sebelah tempat aku dulu tinggal.

“Abel, papa bawa coklat untuk kamu sayang.”

Terdengar suara yang tadi berteriak memanggil namaku secara samar-samar di balik ruangan itu, ruangan bekas kamarku dulu. Aku juga agak penasaran dengan siapa yang sekarang tinggal di sana, ditambah lagi kalau orang itu mempunyai seorang anak perempuan manis yang namanya mirip dengan namaku. Ternyata anak yang tadi pagi di halaman itu namanya Abel, nama yang sama dengan namaku.

 

***

Sekarang aku diterima di sini sebagai dosen baru. Lamaranku kemarin sepertinya tidak sia-sia. Dari kabar yang kudapat, kampus dulu tempatku menimba ilmu strata satu membuka penerimaan dosen. Aku yang hanya lulusan strata dua mendapat salah satu dari 2 kursi itu. Satu dosen lagi telah strata tiga.

Salah satu alasanku untuk tinggal kembali di tempat ini karena alasan yang baru saja kusebutkan tadi. Selain itu aku juga belum mempunyai tempat tinggal yang permanen di sini. Aku belum punya cukup uang untuk membeli rumah. Biasanya dosen-dosen akan tinggal di sebuah perumahan yang sama, karena aku masih baru dan masih belum punya banyak modal maka aku tinggal di tempat ini.

Hari ini adalah kuliah perdana dan aku harus memberikan pengantar untuk mata kuliahku. Aku mendapatkan tiga mata kuliah untuk semester ini. Melihat dari latar belakang pendidikanku, aku mendapatkan mata kuliah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Dinamika Kawasan Timur Tengah, dan Terorisme dan Kejahatan Transnasional. Hari ini aku masuk memberikan kuliah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional pada kelas semester tiga. Aku rindu dengan mata kuliah ini, aku mendapatkan nilai A waktu itu dikarenakan aku adalah ketua kelasnya. Berdasarkan Garis Besar Rancangan Perkuliahan, Satuan Acara Kuliah hari ini hanyalah pengantar saja. Aku juga harus memberikan kontrak kuliah pada mahasiswa yang kuberi kuliah nantinya.

“Selamat pagi, Saya Dosen baru kalian. Untuk mata kuliah Pengantar HI ini saya akan masuk hingga minggu kedelapan dan Midtest diadakan oleh saya. Untuk masalah jam masuk kuliah harus tepat jam delapan, saya tidak suka sama mahasiswa yang terlambat masuk kelas saya. Ada yang ingin memberikan komentar?” Tanyaku sambil memperhatikan beberapa mahasiswa dalam kelas ini. “Oh ya nama saya Rebellion Allegory S.IP, MA. Biasanya dipanggil dengan sebutan Abel.” Kataku menuliskan tittleku dengan bangga. Dulunya aku merasa bahwa dosen yang menuliskan tittle pada namanya itu adalah dosen yang sombong, apa lagi dosen muda yang masih berada pada level strata dua sepertiku. Dan sekarang aku sadar bagaimana rasanya menjadi orang yang pernah kuanggap sombong itu?

Kulihat semua mata tertuju padaku, namun belum ada suara yang memberikan komentar dari apa yang kuberikan daritadi. Beginilah rasanya menjadi dosen, rasanya tidak begitu buruk seperti ujian Thesisku. Mungkin saja karena yang kuhadapi hanya mahasiswa tingkat strata satu, bukan mereka-mereka yang berkepala botak dengan otak yang cemerlang.

“Oh ya, kalian bisa memanggil saya dengan sebutan Kak. Aku belum terlalu tua. Belasan tahun yang lalu, aku juga mahasiswa seperti kalian.”

Kulihat para mahasiswa ini masih terdiam dengan omonganku dan belum ada yang memberikan komentar. Sepertinya aku memiliki karisma yang tinggi hingga tidak ada yang membuka forum lain selain kuliah pengantarku ini. Biasanya jika dosennya membosankan maka beberapa mahasiswa akan membuka forum lain, apalagi para mahasiswa yang duduk paling belakang.

“Baiklah, kita masuk pada perkuliahan. Ada yang tahu sejak kapan kata Internasional terdengar?”

Begitulah kuliah ku hari ini, diisi dengan kuliah seperti biasanya. Aku merasa jika kuliahku ternyata cukup baik karena para mahasiswanya banyak yang cerdas. Georg, Ayu, dan Aldy. Mahasiswa yang ternyata bisa menjelaskan apa itu pengertian Hubungan Internasional, mereka  menjelaskan berdasarkan beberapa perspektif ilmu HI. Yang paling aku suka diantaranya adalah Georg, dia mengingatkanku pada seseorang di masa lalu saat aku juga masih berada pada posisinya. Georg menjelaskan pengertian HI berdasarkan pandangan Realisme.

“Hubungan Internasional adalah interaksi yang melewati batas-batas negara dan aktor utamanya adalah negara. Negara adalah pemegang kedaulatan tertinggi dalam dunia internasional.”

Anak ini cukup cerdas pada posisinya sekarang di semester tiga. Dia menjelaskan pengertian Anarchy secara tersirat pada penjelasannya tadi. Sosok Georg ini mirip dengan seseorang di masa laluku. Dia cerdas, tampan dan memiliki karisma yang tinggi. Aku jadi ingat pada Niko.

 

***

Aku pulang dan membereskan barang-barangku, hari ini aku membawa catatan kecil dari para mahasiswa tadi. Aku sempat memberikan angket kepada mereka mengenai diriku sebagai dosen baru yang mengajar. Aku cukup tertawa membaca beberapa isi dari angket tersebut, terkadang aku senyum-senyum sendiri membacanya. Kebanyakan menilai bahwa caraku memberikan materi cukup baik, dan yang membuat diriku senyum-senyum sendiri adalah ketika ada yang berkomentar aneh-aneh. Ada yang menuliskan kalau aku itu good looking dan charming hingga seluruh kuliah yang kuberikan bisa dia serap dengan baik. Aku geleng-geleng sendiri membacanya.

Belum habis komentar yang kubaca, seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku belum bergeming dari tempatku hingga dia mengetuk kembali hingga enam paket ketukan dan dia masih betah di luar sana. Kemudian aku membuka pintu kamarku.

“Abel, ka kau kah itu?” Kata orang itu dengan suara yang agak lirih dan terbata.

Lama kami saling bertatapan hingga detak jantungku berpacu dengan cepat. Kepalaku terasa panas dan kurasa pandangan mataku melebar. Kakiku pilu begitupula mulutku. Nafasku terasa berat.

“A a aku tadi hanya i i ingin menyapa te tetangga baru.” Katanya gelagapan.

Aku belum merespon pertanyaannya. Aku hanya menatapnya kemudian beberapa saat berpaling pada anak yang digendongnya. Anak yang kemarin kulihat di halaman depan. Abel.

“Hai.” Sapaku padanya, kuberikan senyumku pada mereka berdua.

“Ha hai.” Balasnya padaku juga. Sepertinya Niko terlihat gugup.

“Dia anakmu?”

“I iya.”

“Cantik.” Komentarku. “Kenapa kamu gugup begitu?” Tanyaku kemudian.

“Di dia mirip de dengan mamanya.”

“Ayolah, apakah aku ini terlihat seperti hantu? Apa aku menakutkan?” Tanyaku padanya karena dia sedaritadi masih gugup. “Siapa mamanya?” Aku berlanjut memandang Anaknya.

Dia menarik nafasnya agak panjang kemudian bersuara. “Kamu bisa menebak dengan melihat wajahnya. Dia sangat mirip dengan ibunya.”

“Saraa?”

“Iya.”

Aku sangat bahagia jika ternyata sekarang Niko adalah milik Saraa. Seperti apa sekarang wajah Saraa? Aku yakin dia masih cantik seperti dulu. Dia adalah wanita yang paling tepat untuk Niko.

“Di mana Saraa?”

Niko diam sesaat.

“Dia telah pergi untuk selamanya.” Katanya berat.

“Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa.” Katanya sambil tersenyum. Senyum yang paling kurindukan selama ini.

Anak cantik itu menatapku dari tadi, aku suka tatapannya. Sama seperti tatapan Niko padaku.

“Hai Abel.” Sapaku padanya.

“Kamu tahu darimana?”

“Kemarin kamu teriak-teriak memanggil namanya.” Kataku dan mengambil Abel dari gendongan Niko. “Biru dan lurus hitam lebat. Sama seperti punyamu.”

Kusentuhkan hidungku pada hidung Abel. Abel hanya tertawa pelan khas anak-anak. Dia sangat menggemaskan pada usia anak-anak.

“Dia suka padamu.”

Kulihat tatapan Niko padaku, tatapan yang sama kulihat saat aku berbalik menatap mata Abel yang biru itu. Menurutku Abel lebih mirip dengan Niko daripada Saraa.

 

***

Tampangnya agak berbeda sekarang. Janggutnya tumbuh agak lebat menghiasi dagu perseginya dan atas bibirnya membiru bekas cukuran. Matanya masih biru dan rambutnya masih hitam legam seperti dulu. Aku sangat rindu padanya saat pertama kali melihat dirinya. Setelah sembilan tahun aku tak bertemu dengannya, aku belum menemukan perubahan yang begitu berarti. Belum sampai saat aku akan mengenalnya kembali setelah sekian lama. Aku yakin dia banyak berubah. Saat aku berdiri berhadapan dengannya, tubuhnya seperti bertambah tinggi beberapa sentimeter. Harum tubuhnya masih terasa seperti dulu.

Satu hal yang kutahu setelah kami berpisah cukup lama. Dia telah mempunyai anak dari Saraa, wanita yang waktu itu kusarankan agar dilirik olehnya. Saraa adalah wanita cantik dengan hati yang baik. Aku yakin kehidupan Niko dan Saraa sangat bahagia, sangat bahagia hingga dia mempunyai anak yang cantik dan sangat menggemaskan.

Saat aku meneguk air, pintu kamarku diketuk seseorang. Aku yakin itu adalah Niko.

“Ada apa?” Kataku padanya didepan pintu.

“Ada hal yang ingin kubicarakan padamu.” Niko langsung menarik tanganku mendorong pintuku kemudian menutupnya dari dalam. Bisa kurasakan tangannya yang dingin mencengkram lenganku. Niko menatapku masih dengan tatapan yang sama pada waktu itu, saat dia memaksaku memberikan jawaban yang dulu kuanggap bodoh.

“Apa yang ingin kamu bicarakan? Sat,”

Dia menatapku lama, Niko mendekatkan wajahnya padaku hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang memburu. Sepertinya kejadian waktu itu akan berulang. Saat bibirnya mendekati wajahku, aku langsung memiringkan wajahku. Kalau dulu yang terkena adalah pipi kiriku, maka sekarang adalah pipi kananku.

“Apa kamu masih seperti yang dulu? Masih belum bisa menerimaku?”

Dia berkata lirih, berbeda dengan dulu yang diikuti oleh emosi karena dia geram dengan respondku selama ini.

“Aku kira kau telah banyak berubah, tapi sepertinya aku salah.”

“Aku takkan pernah berubah untukmu. Aku selalu mencintaimu. Aku akan mencintaimu hingga akhir hayatku.” Katanya masih memegang tanganku sedaritadi.

“Bisakah kau melepaskanku?” Kataku padanya

“Apakah karena kau lapar?”

“Kau masih mengingatnya ya?”

“Ha ha ha.” Niko tertawa kemudian melepaskan tangannya dan duduk di atas kasurku. Kamarku tak punya kursi untuk duduk.

“Abel mana?” Tanyaku.

“Dia sekarang sedang tidur.” Jawabnya.

“Kenapa kamu belum tidur?”

“Kamu sendiri kenapa belum tidur?”

“Aku harus belajar untuk merefresh kembali ingatanku. Besok aku harus memberikan kuliah.”

“Kamu dosen?” Raut muka Niko menunjukkan kalau dia cukup terkejut dengan bagaimana diriku sekarang.

“Iya, aku diterima sebagai salah satu dosen di program studi kita dulu.”

“Wah, selamat ya.” Katanya memberikanku tangannya.

“Kalau kamu sekarang kerja apa?”

“Papaku mengharapkan aku menjadi penerusnya.”

“Oh, bagaimana kabar mamamu?”

“Humph.” Niko membuang nafas. “Mama telah pergi.”

“Maafkan aku.” Kataku pada Niko, aku merasa bersalah padanya karena telah mengingatkannya kembali pada kenangannya yang seharusnya disimpan sendiri saja.

“Kau tahu? Saraa dan mama jatuh dari pesawat saat pulang dari Malaysia. Aku tidak ikut waktu itu karena ada urusan di sini.”

Niko menceritakan jeritan hatinya. Hingga sekarang tak ada lagi yang bisa menghibur dirinya selain Abel. Abel waktu kejadian itu masih berumur satu tahun. Dia lebih malang lagi karena tidak merasakan kasih sayang lagi kasih sayang Saraa hingga sekarang. Tapi aku yakin Niko adalah ayah yang baik untuk Abel.  Saat bertemu denganku kemarin, dia berkata padaku bahwa Niko merasakan kembali separuh hidupnya yang hilang. Semoga kehidupanku di sini bisa membawa kembali semangat Niko dari kejadian masa lalunya.

“Kenapa kamu waktu itu pergi tanpa memberitahuku?”

“Maafkan aku.”

“Kamu juga tidak memberikan kabar padaku hingga sekarang!” Nada bicaranya mulai berubah.

“Asal kamu tahu? Jika sekarang aku ingin memukul seseorang, maka orang itu adalah kamu!”

“Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa kuucapkan.

“Kamu pergi memberikanku perasaan ini! Saat aku kehilangan orang yang kucintai, aku tak tahu harus berbagi kesedihanku kepada siapa lagi? Kamulah satu-satunya orang yang selalu ada pada saat-saat seperti itu. Tapi kabarmu tak pernah ada sama sekali!”

“Maafkan aku.”

“Apa hanya maaf yang bisa kamu katakan?”

“Maafkan aku. Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang agar kamu mau memaafkanku.”

“Ah, sudahlah! Yang lalu biarlah berlalu!” Niko bangkit kemudian keluar dari kamarku.

 

***

Sekarang aku masuk pada mahasiswa tingkat semester lima. Ada perubahan kurasa yang telah diberikan pada kurikulum sekarang. Kalau waktu aku kuliah dulu, Terorisme dan Kejahatan Transnasional diberikan pada semester tiga. Sekarang sepertinya ada perubahan jadwal. Aku belum mempertanyakan hal ini kepada dosen yang lebih senior. Kujalani saja kuliah hari ini seperti biasa.

 

***

Ku ketuk kamar yang dulunya adalah kamarku itu. Niko membuka pintu dengan mata menyipit. Sepertinya aku baru saja mengganggu tidurnya. Tampangnya lucu jika seperti demikian, apa lagi dia sedang menggendong Abel.

Aku memberikan senyumku padanya, terlebih pada Abel. Dia membuka kedua tangannya dan mengarahkannya padaku. Niko yang sadar kemudian memberikan gendogannya padaku.

“Dia sepertinya suka padamu.” Kata Niko dengan muka malas ala baru bangun.

“Boleh aku masuk?”

Niko membuka pintunya lebar-lebar.

“Silahkan.”

Aku duduk melantai di atas karpet coklat. Kamar kecil ini tak memiliki kursi. Saat aku duduk sambil memeluk Abel, dia kemudian melepaskan dirinya dan menghampiri sebuah lemari. Diambilnya sesuatu dari dalam, sepertinya itu sebatang coklat. Benda itu masih terbungkus rapi di dalamnya. Abel kemudian berada di dekapanku kembali dan menyodorkanku sebatang coklat.

“Om suka coklat?” Katanya polos.

Aku hanya tersenyum dan mengannguk menandakan aku menyukainya.

“Dia sepertinya tahu apa yang kamu suka.” Kata Niko

“Kamu yang mengajarnya?” Tanyaku balik.

“Itu adalah pembawaan. Selera kami sepertinya sama.” Balas Niko.

“Maksud kamu?”

“Aku sudah dua kali mengucapkannya. Sekali saat kamu mengambilnya dari pelukanku, dan tadi sewaktu dia ingin berada dalam dekapanmu. Aku sekarang paham makna dari kalimat buah akan selalu jatuh dekat dari pohonnya.” Katanya menjelaskan.

“Dia lebih cantik darimu.” Kataku padanya yang kemudian disambut tawa olehnya.

“Kapan aku berada dalam dekapanmu? Aku ingin seperti Abel-ku.”

“Ha ha ha. Anakmu lebih bisa menarik perhatianku. Aku suka melihatnya, terlebih senyumannya.” Kataku menatap wajah Niko.

Niko memberikanku sebuah senyuman.

“Kau tahu, senyumanku lebih menggoda. Sekretaris, dan beberapa karyawanku selalu salah tingkah ketika kuberi senyumku. Ibu-ibu di pasar pun memberikanku diskon kalau kuberi senyum.”

“Aku bukan ibu-ibu penjual di pasar!” Kataku padanya agak kesal.

“Kamu tahu? Aku sangat merindukan wajahmu yang seperti tadi. Kalau kamu kesal padaku, kamu terlihat lucu.”

Niko menatapku lama.

“Kenapa namanya Abel? Tentu nama aslinya bukan Rebellion kan?”

“Namanya Obelisk, Satria Obelisk. Terdengar seperti nama laki-laki, tapi banyak orang yang suka pada namanya. Memanggilnya Obel agak terdengar aneh, jadi aku memanggilnya Abel. Nama Abel pun cocok juga untuk anak perempuan.”

“Apa namaku terdengar feminim?”

“Bisa jadi. Bisa iya, bisa tidak.” Balasnya.

“Apa ada alasan lain selain yang baru saja kamu paparkan? Aku yakin, itu ada.” Balasku yakin.

“Aku yakin kalau kamu juga tahu jawabanku seperti apa. Kamu hanya mengujiku kan?” Niko mencurigaiku.

“Aku tak sedang mengujimu. Tapi aku yakin ada alasan lain kenapa nama panggilannya sampai Abel.”

“Itu karena dia adalah pelipularaku saat aku sedang mendapatkan masalah. Abel adalah orang yang selalu bisa menenangkan hatiku saat aku bersedih. Abel-ku kalem sepertimu. Abel-ku adalah segalanya. Sama seperti dirimu. Jangan heran jika namanya adalah Abel.” Jelasnya.

Cukup banyak yang kami bicarakan dalam kamar Niko. Aku juga menghabiskan coklat yang diberikan oleh Abel. Aku menemukan beberapa sifat sama yang dimiliki oleh kedua orang ini. Yang pertama, dia suka menatapku dengan tatapan teduh. Yang kedua, senyuman Niko dan Abel yang mirip. Dan yang terakhir adalah kesan saat dia memberikanku coklat, itu mengingatkanku pada masa lalu Niko yang sering memberikanku sesuatu.

 

***

“Inti dari pembahasan Thucydides bahwa konflik adalah hal yang tak terhindarkan. Konflik akan selalu ada jika interaksi terjadi antara negara-negara. Kepentingan dari setiap negara tidak akan dapat selalu terpenuhi, apalagi mudah untuk dicapai. Jalan terakhir adalah merebutnya dari negara lain. Dengan kata lain adalah perang.” Jelas Georg.

“Ada yang lain?” Kulemparkan pentanyaanku pada yang lain.

Seseorang kemudian mengangkat tangannya. “Saya setuju dengan asumsi yang dijelaskan tadi. Thucydides juga menjelaskan bahwa sebenarnya salah satu penyebab dari konflik tersebut adalah disparitas, kompetisi akan selalu ada antara negara-negara…”

“Stop.” Potongku. “Pembahasan kita sebaiknya jangan terlalu jauh dulu. Untuk pembahasan mengenai konflik akan ada mata kuliah selanjutnya. Pembahasan kita sekarang adalah Realisme Klasik yang dijelaskan oleh Thucydides. Maaf ya. Siapa nama kamu?”

“Dandi Mahendra kak.”

Satu lagi mahasiswa yang kutemukan cukup cerdas. Sepertinya Dandi ini orang yang suka membaca. Dia bisa menjelaskan sedikit mengenai penyebab konflik. Setahuku untuk mata kuliah Studi Konflik dan Perdamaian diajarkan pada semester lima, bukan semester tiga.

Kuliah hari ini berakhir seperti minggu lalu. Aku merasa bahwa perkembangan pendidikan sekarang cukup berbeda dengan yang dulu saat aku menjadi mahasiswa. Aku suka dengan kecerdasan mahasiswa sekarang. Mungkin saja hal ini didukung oleh perkembangan zaman yang semakin canggih. Satu sisi aku iri pada mereka.

“Kak, kak Abel tinggal di mana?” Georg menegurku di koridor saat aku ingin menuju ruanganku.

“Kenapa kamu bertanya mengenai tempat tinggalku?” Tanyaku dengan nada agak mengintimidasi. Tumben seorang mahasiswa bertanya pada dosennya mengenai tempat tinggalnya di mana?

“Saya kan ketua kelas untuk mata kuliah Kakak. Mungkin saja kalau kakak ingin saya mengumpulkan tugas-tugas kuliah harus ke rumah kakak, nantinya saya tidak perlu lagi bertanya di mana kakak tinggal.”

Oh iya, aku hampir saja lupa siapa ketua dalam kelasku tadi.

“Saya kosan di kompleks Nusa Indah, Nomor 7A.”

“Bisa saya minta nomor kakak?”

Anak ini mengingatkanku pada tugas-tugasku dahulu. Aku juga pernah menjadi ketua kelas pada mata kuliah yang sama. Georg mengingatkanku kembali pada bagaimana tugas-tugas seorang ketua kelas. Aku suka pada caranya yang aktif pada dosen, apa lagi pada diriku yang masih baru.

Beberapa saat dia menatapku setelah selesai urusan denganku. Kami saling bertatapan cukup lama hingga kemudian dia permisi padaku. Sebelum dia beranjak aku menyuruhnya berhenti dengan memanggil namanya.

“Apakah kamu mengenal Niko?”

“Niko?” Katanya bingung.

“Nicholaus Satria, apakah kamu mengenalnya?”

Georg menggeleng menandakan bahwa dia tidak mengenal Niko.

Saat Georg menatapku, aku merasakan sensasi yang diberikan oleh Niko saat menatapku. Wajahnya memang berbeda, warna rambut dan warna matanya juga berbeda. Postur tubuhnya saja yang mirip, dan cara menatapnya juga.

 

***

“Apakah kamu mengenal Georg?”

“Dia siapa?”

“Mahasiswaku, dia adalah ketua kelas pada salah satu mata kuliahku.”

“Aku tidak mengenalnya. Aku sepertinya tidak punya relasi lagi dengan orang-orang yang kuliah di HI, apa lagi itu adalah mahasiswa sekarang. Kenapa kamu bertanya demikian?”

“Dia mirip dengamu. Dia mirip denganmu dalam artian lain. Bukan secara fisik, dia menatapku seperti kamu menatapku.”

“Dia adalah mahasiswa yang kurang ajar! Dia berani melotot pada dosennya.” Kata Niko agak tegas.

“Jadi selama ini kamu melototiku?” Kataku pada Niko.

“Ha ha ha. Tidak, bukan itu maksudku. Dia berani menatap dosennya tepat di matanya. Yah walaupun kamu masih muda.” Niko masih tertawa.

“Wajarkan kalau dia menatap mataku? Itu salah satu cara agar bisa fokus pada kuliahku.”

“Aku tahu kalau dia menatapmu sewaktu kalian hanya berdua saja. Tanpa ada mahasiswa lain yang juga saling mencuri pandang denganmu. Aku selalu mengharapkanmu dengan tatapanku saat kita sedang berdua. Seperti sekarang ini.”

Sekarang bukan lagi Georg yang mengingatkanku pada Niko, melainkan sebaliknya.

“Apakah kamu masih menyimpan rasa itu?”

“Seingatku, aku sudah mengatakan hal ini waktu itu di dalam kamarmu. Juga waktu dulu saat kita masih sama-sama kuliah.” Hening sejenak. “Aku akan selalu mencintaimu hingga akhir hayatku.” Katanya.

Hening kembali.

Kami sedang duduk di sedang depan kosan kami. Saat aku baru saja pulang dari Market membeli sedikit keperluanku, Niko memintaku untuk menemaninya duduk di teras. Sebuah pesan masuk dari ponselku, pesan dari Georg yang menanyakan kepastian pertemuanku di sini esok hari. Dia akan mengumpulkan seluruh tugas mahasiwa lainnya yang telah kuberikan. Saat yang sama, aku ingat kejadian waktu kami berdua saling pandang. Georg adalah salah satu mahasiswaku yang cerdas, dia sama seperti Niko waktu dulu.

“Aku ingin tanya sesuatu.”

“Apa itu?” Katanya.

“Boleh aku tahu, kenapa kamu tinggal di sini? Aku tahu kamu punya rumah yang lebih besar. Dan kenapa kamu memilih kamar yang pernah kutempati?”

Dia tertawa skeptis.

“To the point. Yang pertama karena aku jelas-jelas merindukanmu. Jawaban keduaku adalah aku merasa kehilanganmu. Jawaban ketigaku adalah I miss you. Dan jawaban terakhirku adalah, aku sangat-sangat menginginkan kenanganku yang dulu.  Aku menunggumu di sini cukup lama. Aku menunggumu di kamarmu.” Jelas Niko.

“Apa kau berkeyakinan waktu itu bisa bertemu denganku kembali?”

“Awalnya iya, tapi kemudian aku sadar setelah sekian lama menunggumu di sini itu adalah hal yang sia-sia. Baru saja aku ingin menyapa tentangga baruku, dan keajaiban itupun datang.”

Dia masih saja menatapku dengan pandangan yang sama. Selalu saja seperti itu.

“Aku, walaupun harapanku sempat hilang. Namun perasaanku padamu takkan pernah hilang.” Katanya melanjutkan.

 

***

Georg datang tepat waktu saat aku baru saja mengganti pakaianku sehabis mandi. Aku mempersilahkannya masuk kedalam. Kalau suasananya seperti ini, aku merasa bisa lebih leluasa untuk berkarib dengannya. Mungkin saja ini karena kami bukan berada pada ikatan institusi. Lagian kami terlihat seperti karib jika dalam keadaan seperti ini.

“Sore kak. Maaf mengganggu. Ini tugas yang terkumpul.”

“Kamu tidak nyontekkan?”

Dia menggeleng kemudian senyum.

Copy-paste ?”

“Mahasiswa yang baik tidak akan melakukan hal yang demikianlah kak.”

“Tahu darimana kalau kamu itu mahasiswa yang baik?” Tanyaku menyerang.

“Aku tidak pernah menyontek dan Copy-paste. Paling aku yang memberikan contekkan. Ha ha ha.” Georg tertawa.

“Kamu sombong juga ya? Oh ya, Dandi Mahendra orang yang pintar juga ya.”

“Dia itu pernah sama-sama denganku ke Italy dalam rangka MUN. Dia bestspeaker-nya waktu itu.”

“Oh.” Aku hanya berlaku demikian.

Saat aku menatap kearah matanya. Dia juga menatap kearahku, tatapannya jatuh pada mataku juga. Aku bisa merasakan itu. Kalau boleh dikata, anak ini seperti yang dikatakan oleh Niko. Dia cukup berani menatapku seperti itu saat kami sedang berdua. Aku pernah berhadapan dengan seniorku sewaktu aku dalam masa mengurus thesisku, tapi aku tidak berani menatap mata seperti yang dia lakukan kepadaku. Meskipun umur kami terbilang tidak begitu jauh, tapi setidaknya dia harus menunjukkan respeknya dengan tidak berlaku demikian. Ada apa dengan anak ini?

“Kenapa kamu menatapku demikian?” Tanyaku agak ketus.

“Kakak mengingatkanku pada seseorang. Dia adalah kakak angkatku.”

So do I?”

“Namanya Rafi, dia telah meninggal beberapa tahun yang lalu.”

Georg kemudian menatapku lama. Dipegangnya kedua sisi daguku dengan tangan kanannya. Diperlakukan demikian, aku agak terkejut tapi tidak bisa melawan. Tatapannya menghipnotis diriku. Wajah didekatkan padaku, bisa kurasakan nafasnya yang teratur mendekati wajahku. Tanpa terasa, bibirnya menyentuh bibirku. Mataku secara otomatis menutup dan tak lagi menyaksikan terangnya ruangan, hanya kurasakan hanyalah bibirnya dan nafasnya yang hangat. Beberapa saat kemudian kudengar pintu berdecit dan seseorang melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Niko menarik kerah Georg dan menyandarkannya ke tembok. Matanya melotot pada Georg. Niko memukulnya beberapa kali hingga kutarik badan Niko agar menjauh dari Georg.

“Sat. Sudah! Hentikan!” Kataku masih menarik, namun satu pukulan masih mengenai tubuh Georg.

“Biarkan dia mati di tanganku!” Kata Niko masih geram pada Georg, tapi masih kutahan sebisaku.

“Georg! Pergi sekarang!”

Georg berlari keluar sambil memegangi hidungnya, sepertinya bagian itu berdarah.

“Lepaskan, biar kubunuh dia!”

Kutarik badan Niko sekuat tenaga yang hampir mengejar Georg dan kuhempaskan sebisaku ke atas kasurku.

“Hei Bocah sialan! Jangan lari!” Teriak Niko.

Sepertinya beberapa penghuni lain keluar dari kamarnya. Suara Niko cukup mengundang perhatian. Kulihat Abel juga sudah berdiri di depan pintu kamarku. Georg sudah tidak kelihatan lagi. Sekarang situasinya sudah aman. Sekarang adalah urusanku dengan Niko. Kulihat Niko menatapku dengan penuh kebencian. Dia bukan sepertinya benci padaku, tapi jelas-jelas tatapan itu adalah tatapan penuh amarah.

“Bisa kau jelaskan kejadian tadi!” Kata Niko.

“Tidak sekarang Sat. Ada Abel di sini!” Kataku juga agak tegas.

Kugendong Abel membawanya keluar, kubawa dia kepada ibu kosku. Kusampaikan pada beliau untuk menjaga Abel sebentar setelah urusanku dengan Niko selesai. Aku bergegas menuju kamarku menyelesaikan masalah yang harus diselesaikan.

“Bisa kau jelaskan sekarang!”

Aku tak tahu harus mulai dari mana. Niko menatapku tajam.

“Jelas jika kau membiarkan dia melakukan hal tersebut padamu! Aku tahu itu!”

“Kau tidak berhak memukulnya! Dia itu mahasiswaku!” Aku juga tidak kalah hardik padanya. “Kecilkan suaramu, aku tidak ingin orang lain tahu masalah kita!” Suaraku mulai mengecil tapi aku masih marah padanya.

“Mahasiswa paling kurang ajar yang ada di dunia, bisa-bisanya dia mencium seorang dosen!”

Aku hanya terdiam mendengarnya. Niko benar.

“Kamu diam? Itu pertanda baik untuknya. Apa aku tak pantas untukmu? Kamu pasti lebih menyukai dirinya.” Katanya mulai reda.

“Aku tak berkata demikian!”

“Oh sudahlah, kau berkata demikian. Meski mulutmu bilang tidak, tapi matamu berkata iya.” Niko bangkit dari tempatnya. Kemudian keluar dari kamarku. Aku tahu dia menangis.

 

***

Tak berapa lama keluar dari kamarku. Terdengar suara keras dari kamarnya, sepertinya ada sesuatu yang dibantingnya dan itu adalah barang pecah belah. Kemudian disusul oleh suara tangisan dari Abel. Aku langsung panik mendengar suara itu. Mendengar suara tangisan dari Abel, aku langsung keluar dari kamar. Saat keluar, kulihat beberapa penghuni lain juga keluar. Mereka pasti mendapatkan respon yang sama seperti kudapatkan. Kubuka pintu kamar Niko, kulihat cermin yang tergantung pecah dan berserakan di lantai. Abel masih menangis diatas tempat tidur. Kulihat Niko juga  menangis, dia mengeluarkan airmatanya tapi tak terisak. Tangannya berdarah bekas pukulannya pada cermin itu. Abel yang masih menangis itu menatapku. Tanpa menunggu lama lagi, aku menggendong Abel dan membawanya keluar dari kamarku. Kubawa Abel bersamaku ke dalam kamar dan menguncinya rapat-rapat.

Ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Niko.

Jaga Abel baik-baik. Cuma kamu yang bisa buat dia tenang. Tidurkan dia. Setelah itu baliklah ke sini. Aku juga butuh apa yang Abel-ku butuhkan.

27 thoughts on “Another Loyal

  1. Hai Abelbelphegor boleh undang aku ga di blog mu, mau baca juga nih, bang rendi tolong sampein ke abel ya, ini e-mail ku, tolong undang ya @irsyadbaehaki@gmail.com

  2. ini lanjutan dari loyal kan??
    keren banget,tapi baca komen mu Abel yg gak akan lanjuti ni cerita,rasanya kecewa karena tanggung bgt,
    sama dengan Loyal, dari sisi cerita kamu terbaik dari semua penulis menurutku pribadi yaa,kalau sisi yang lain Rendi yang paling tau..

  3. Overall keren.. Rada masih kurang sih memang di ending, but it’s ok. Gw suka apalagi ada HI, jarang bgt gw baca cerpen gini yg latarnya pake jurusan gw. Hehe..

  4. Mungkin satria bisa bahagia.. Cuman laptopku hilang.. Ceritaku juga hilang..
    Haha.. Maaf kawan kawan..
    Kalau ada laptop baru. Mungkin aku akan posting lg…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s