Aku & Kamu


=============================

Aku & Kamu

By. Bangun Setiawan

=============================

Indonesia… negeri kaya dengan dua musim. Musim hujan dan musim kemarau. tak ada musim yang paling ku sukai. Musim kemarau aku benci debunya. Musim hujan aku benci petirnya. Tapi setelah ada kamu, aku meyukai ke dua musim tersebut. Bahkan menikmatinya. Disaat musim hujan, kita bersama menari diantara hujan. Ketika musim kemarau, kita berkejaran di sawah kering, membuat sumur kecil, bermain layang-layang dan menikmati senja. Kita memang kompak dan tidak mau kalah dengan anak-anak kecil yang juga bermain bersama.

Beib, apakah kamu ingat awal kita bertemu dulu? Ketika itu musim hujan. Aku hendak ke sekolah. Karena aku tak punya payung, setiba di depan gerbang aku langsung berlari menghindari basah. Aku terjatuh. Pakaianku basah dan kotor. Aku malu, semua orang mentertawakanku. Tiba-tiba kamu mengulurkan tanganmu. Aku tak meraihnya karena marah pada mereka. Kamu tersenyum seraya berucap “Jika kamu diam di situ terus, orang-orang akan semakin mentertawakanmu. Lagian aku rasa kamu perlu bangun dan pergi ke UKS. Tanganmu tergores beling!”. Kamu berlalu tanpa mengulurkan tangan seperti tadi. Aku pergi ke UKS. Seperti melihat badut, setiap mereka yang ku lalui melihatku dengan tatapan yang entahlah yang jelas mereka mentertawakanku.

Setibanya di UKS aku kaget, ternyata ada kamu lagi. “De, tolong bikinkan surat ijin untuk orang ini. Dia tak mungkin mengikuti pelajaran dengan kondisi sekarang!” tanpa meminta persetujuanku kamu menyuruh juniormu membuat surat izin untuku. Memang benar dengan kondisi seperti ini, mana mungkin aku mengikuti kegiatan belajar mengajar. Tapi setidaknya kamu meminta persetujuanku terlebih dahulu.

Tiba-tiba kamu menarik tanganku. Membuatku kaget sekaligus gugup. Kamu membasuh lukaku dan mengobatinya. Tanganmu sungguh lembut. Wajahmu teduh. Princes pikirku. Walau bagaimanapun aku ini laki-laki normal. Jantungku berdegup lebih kencang tidak seperti biasanya. Keringatku mulai keluar. “Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ada yang aneh?” tiba-tiba kamu membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum kikuk. Jujur, di depanmu aku gugup. “Oh ya, kamu diam saja di sini sampai bel pulang berbunyi…” kamu berlalu. Aku berkedip.

Bel istirahatpun berbunyi. Semua anak berhamburan keluar. Bak para nafi dapat grasi. Perutkupun mulai keroncongan. Mau beli makanan aku malu. Nanti jadi bahan tontonan mereka. Tiba-tiba kamu datang dengan membawa bungkusan. “Ni, aku bawain makanan. Aku tahu kamu pasti lapar tapi malu untuk membelinya.” Aku enggan menerima.”Atau mau sekalian aku suapin…?” aku langsung merebut bungkusan nasi itu dan langsung memakanya.”Nah gitu dong, anak yang baik. Ngomong-ngomong, kamu tambah cakep kalau lagi kelaparan!” Aku tak pernah menyangka orang secantik kamu pintar menggombali cowo. Aku benar-benar kalah di hadapanmu. Kamu duduk di sampingku, sambil memainkan Ipad mu.

“Eh, aku mau ikutan lomba nih. Denger-denger kamu anak bahasa ya! Jadi tolong nanti kamu baca cerpenku ini, terus kamu kasih komen deh.” Kamu memberikan Tab mu padaku. Aku bingung, kita baru ngobrol dekat hari ini. Apakah kamu tidak takut aku mencuri Ipadmu?

Aku baca cerpenmu. Aku ingin menjadi lilin. Begitulah kamu memberi judul.  Aku tertarik dengan tulisanmu, jadi aku membacanya. Aku kagum padamu, bukan karena tulisanmu yang bagus. Lebih karena makna yang terkandung di dalamnya.

Bel pulang pun berbunyi. Untuk kedua kalinya para siswa berhambur keluar. Kamu datang dengan senyumu. Manis sekali.

“Apakah kamu sudah membacanya?”

“Ya.”

“Bagaimana menurutmu?”

“Bagus.”

“Bagusnya seperti apa?”

“Makna yang ingin kau sampaikan pada pembaca! Oh ya, kenapa kamu tidak menjadi matahari saja?”

“Apakah aku layak menjadi matahari?”

“Kenapa tidak? Setiap orang bebas punya mimpi!”

“Aku lebih tahu diriku. Jadi, mungkin cukup hanya menjadi lilin saja.”

“Kamu meragukan kemampuanmu?”

“Justru aku meyakini kemampuanku. Karena itu aku memilih untuk menjadi lilin.”

“Bolehkah aku menjadi sesuatu yang kau terangi?”

Kamu kaget. Sepertinya aku salah berucap.

“Kenapa kamu menginginkan aku menjadi lilin untukmu? Bukankah kamu bisa menjadi matahari dan memilih bulan mana yang akan kamu terangi?”

Kamu pandai bermain kata. Aku tak mau kalah. Hatiku sudah jatuh padamu.

“Bukankan lilin menyala karena ada yang harus ia terangi? Aku lebih tahu diriku. Dan aku ingin ada seseorang yang menerangiku. Aku tak mungkin terus hidup dalam gelap.”

“Kenapa kamu tidak mencari matahari saja yang lebih bisa menerangimu?”

“Matahari… Aku terlalu kecil untuk ia terangi. Makanya aku lebih memilih lilin!”

Kamu tersenyum. Aku yakin, kamu kalah kali ini.

“ Oh ya, aku mau pulang dulu. Rasanya ga baik berduaan di tempat yang sepi. Orang-orang sudah pada pulang.” Kamu mencatat sesuatu di secarik kertas. Lalu memberikanya padaku. Sebuah nomor dan di bawahnya ada tulisanmu “Share denganmu menarik. Lain kali kamu yang harus bilang ya.” Aku tertawa. Senang rasanya.

 

Musim Kemarau Pertama…

 

Hari-hari kita lalui. Dan akhirnya kita resmi menyandangstatus pacaran. Saat ini adalah musim kemarau pertama dalam hubungan kita.

“ Ay, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat!”

“Kemana beib… malas jalan banyak debu!”

“Pokoknya harus ikut!”

Terpaksa aku mengikuti maumu. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Dan kitapun sampai. Aku terngnga, sawah kering… apa maumu. Kamu berlari menuju gerombolan anak-anak.

“Ay, ayo sinih. Kita buat sumur-sumuran.”

“Main sumur-sumuran? Kaya anak kecil saja!”

“Kamu lupa ya, bahwa dulu kamu… aku… juga pernah menjadi anak kecil.”

“Tapi itukan dulu.”

“Iya, aku tahu. Tapi apakah kamu ga mau mengenang masa itu? Masa kecil itu adalah masa paling menyenangkan. Masa paling merdeka.” Kamu merentangkan tanganmu. Aku bingung dengan tingkahmu. Di balik keanggunanmu, ada sesuatu yang unik. Akupun datang dan mulai menggali.

“Anak-anak, kita buat sumur-sumuran bersama. Yang paling cepat sumurnya dapat mata air, nanti aku kasih permen!” Aku kaget. Sebenarnya kamu ini makhluk apa???

Aku menggali semampuku. Kamu terus bertepuk tangan sambil berteriak… Ayo… Ayo… Ayo.

“Ay, kamu isi air ya? Jangan bilang kamu kencing di situ?”

“Enak aja. Mata airnya sudah keluar.”

“Coba aku cek!” Kamu mendorongku dan memasukan tanganmu ke dalam sumur-sumuran itu. Memastikan bahwa air yang menggenangi sumur berasal dari mata air.

“Hore… aku menang… aku menang!” Kamu berlari-lari mengelilingi sawah. Anak-anak kecewa karena tidak mendapatkan permen. Aku kebingungan melihat tingkahmu yang menurutku ga kamu banget. Atau jangan-jangan kamu kesurupan penghuni sawah???

Akhirnya acara sumur-sumuranpun selesai.

“Ga terasa ya, senja udah datang. Indah banget. Hmm…”

Aku melihat kamu tersenyum. Senyuman yang membuatku terus merindu. Aku tak menghiraukan senja karena senyumanmu lebih menarik.

“Ay… ada layang-layang putus…!” Kamu tiba-tiba berlari mengejar layangan itu. Aku hanya bisa terpaku menatap tingkahmu. Baru sesaat tadi kamu seperti anak-anak, kemudian berubah menjadi anggun, dan sekarang menjadi tomboi. Aku melihat kamu melambaikan tangan dari kejauhan. Sambil mengangkat layang-layang yang putus tadi. Kamu mendapatkanya. Aku berlari ke arahmu.

“Ay… kamu lihat ga, tadi aku hebat bangetkan? Aku bisa ngalahin mereka. Dan tara… ini hasilnya.” Kamu memeluk layang-layang itu. Jelaslah kamu yang akan mendapatkan layang-layang itu, lawanmu tak sebanding. Komentarku dalam hati. Aku tersenyum demi membuatmu senang.

“Beib… Kita pulang yuk!”

“Bentar lagi, senjanya belum habis…”

“Coba deh, liat bajumu! Kotor.. Aku ga mau disalahin sama calon mertuaku karena balikin anaknya dalam keadaan kaya gini malem-malem. Jadi mendingan kita pulang sekarang.”

“PD banget. Ya udah… Nih!” tersirat di wajahmu kekecewaan. Kamu memberikan layang-layang itu dan berlalu. Aku mengikutimudari belakang.

“Oh ya Ay… Besok kesini lagi ya! Kamu harus nerbangin layang-layang itu dan mengadunya bersama layang-layang lain!”

“Ga janji.”

 

Musim Hujan Pertama…

 

“Hujan… Ay, hujan.” Kamu berlari ke luar. Membiarkan dirimu menyatu dengan air mata langit itu. Seolah-olah ingin meluruhkan sesuatu. Kamu lupa bahwa tujuan kita bertemu adalah untuk belajar bersama. Bukan untuk hujan-hujanan bersama.

“Beib… Nanti kamu sakit. Lagian ngeri kalau nanti ada petir.”

“Kamu takut ya Ay? Btw, tolong buatkan aku perahu.” Aku membuatkan perahu pesananmu, kamu datang dan tanpa ku duga kamu menarik tanganku.

“Mana perahunya!”

“Ni.”

“Langit, aku tak tahu kemana perahu ini kan bermuara. Semoga dengan persembaha perahuku ini, kamu akan memberi kami pelangi!”

“Oi…”

“Apa-apaan sih Ay. Aku lagi memberi persembahan nih. Apa aku terlihat aneh?”

“Sangat. Lebih aneh dari pada Kugy!”

“Jangan samain aku sama agen Neptunus itu.”

“Terus…”

“Ya begitu.”

“Begitu gimana?”

“Seperti yang kamu lihat.” Aku tak berani berdebat lagi. Bisa panjang. Kamupun menengadah dan merentangkan tangan. Lalu berputar-putar.

“Ay… Coba deh ikutin aku. Rasakan setiap butir-butir air yang menyentuh kulit kita. Sambil mencium bau tanah. Resapi… Hayati… Oh… “

Aku mengikuti saranmu. Aku seperti mendengar alam bersuka cita. Kamu menghentikan ritual itu. Akupun mengikutinya. Sekarang kamu memegang tanganku. Dan mengajaku berputar bersama. Ada kehangatan. Berada di dekatmu sungguh membuatku damai. Kini giliranku menghentikan ritual ini. Ku tarik tubuhmu yang basah. Kudekap… dan kucium keningmu. Akankah aku bisa memilikimu selamanya… Batinku.

 

Foto Untuk Undangan…

“Kenapa sih harus di sisni?”

“Ini sawah sayangku!”

“Aku tahu beib. Maksudku, tak bisakah kita berfoto di tempat lain?”

“Sawan ini tempat penuh kenangan Ayang.”

Dengan pakaian pengantin ini kita menggali sumur-sumuran. Beberapa anak juga ikut kami foto bersama. Katanya biar natural. Kita juga bermain layang-layang dan mengejar layang-layang. Bukan hanya itu, kita juga berfoto sambil menunggang kerbau. “Ini akan menjadi foto pernikahan paling jenius yang pernah di buat.” Katamu. Buakan jenius, tapi gila.

 

Penikahan …

Aku sudah tahu kegilaanmu. Tapi aku tak menyangka jika lagi-lagi harus di sawah. Beginilah jadinya pernikahan kita. Konsep pernikahan pesta panen. Pagar ayu dan Bagar bagus kamu suruh didandani dengan pakaian petani. Tempat perasmananpun di saung-saung. Menurutku ini lebih mirip restauran sunda yang sedang ada pameran gaun pengantin???

“Ay… Kamu tampak semakin gagah dengan pakaian adat ini!”

“Beib… Kamu juga tampak semakin cantik!”

 

Saat ini…

“Beib, apakah kamu rindu masa-masa itu?’”

“Ah kamu. jangan panggil aku beib lagi. Ini sudah tidak pada masanya. Malu didengar cucu-cucu kita…”

“Sekarang kita sudah tak bisa lagi melakukannya.”

“Kata siapa? Kita bisa buat sumur-sumuran lagi. Kita bisa bermain layang-layang lagi dan mengejar layang-layang yang putus. Kita bisa menari diantara hujan. Bersama cucu kita tentunya…”

“Apakah kamu sudah gila? Tubuh kita semakin merenta. Dari dulu kamu memang aneh.”

“Kamu terlalu banyak berfikir sayang. Hawatir ini itu. Coba bebaskan sedikit. Aku mau tanya, apa yang kamu takutkan dulu pernahkah terjadi? Tidak bukan! Buktinya kita masih bisa bernafas hingga saat ini. Oh ya, aku memang aneh. Tetapi kamu lebih aneh karena memilih orang aneh untuk menjadi pendampingmu.” Dia tersenyum.

“Ok. Kita main layang-layang bersama cucu kita. Tapi kamu harus janji, jangan lari mengejar layang-layang putus!”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Aku kira kamu bercanda!”

“Apa mau dibatalkan?”

“Jangan. Ok, aku panggil dulu cucu kita.”

Kami pun pergi menuju sawah. Tiba-tiba…

“Layangan putus…!” dia spontan berlari mengejar layang-layang. Di susul cucuku. Aku mematung.

 

End

Sebelumnya telah dipublikasikan di:

http://www.cerpenmu.com

 

 

 

 

 

 

20 thoughts on “Aku & Kamu

  1. Kang Rendi @ Makasih buat Kang Rendi yang dah ngijinin tulisan ini nampang di blognya. Tulisan yang sesungguhnya ga bikin PD sama sekali. Hehehe.

    Lian @ Ini bukan cerita Gay. Cerita cinta biasa yang sungguh biasa. Xixixi

    Albusfigi, abangbayuok, & Ruhas @ Haturnuhun.

    Sekali lagi makasih buat yang udah nyempetin baca n komen. Bingung mu ngoming apa lagi. Hahaha. Mu nonton bola dulu.
    Garuda di dadaku
    Garuda kebanggaanku
    Ku yakin nalam ini
    Kalahkan Korea

  2. Maaf baru komen ceritamu ya Zaen. Hihihi, sebenernya udah mau komen dari kemarin tapi lupa😀

    Suka sama ceritanya. Aku juga lupa ngasih tau di awal tulisan kalo ini cerita straight. Hehe, maafkan hambamu yg pelupa ini ya Allah.

    Untuk ceritanya sendiri, apa ya, aku suka idenya. Dikemas secara apik, terus diuraiin menjadi benang cerita. Walaupun masih ada beberapa diksi yg agak sedikit melenceng. Yah, gak masalah banget kok. Sudah ditutup sama isi dan makna ceritanya. Well done, Zaen!

    • Makasih Kang Ren… Sebenarnya cerita ini lain dari cerita yang pernah aku bikin sebelum-sebelumnya. Hehehe. (Pusing musti bilang gimana.) Jujur, awalnya ga PD ngepublist ni cerpen. Karena beberapa komentar orang terdekatku (Kebiasaanku kalau sudah nulis cerpen, aku kasih ke temanku buat diberi tanggapan). Tepat tanggal 17 Agustus kemarin, aku coba iseng-iseng kirim cerpen ini ke cerpenmu, mumpung di Samarinda fikirku. Ga terlalu berharap juga bisa lolos. Dan baru PD ketika cerpen ini di muat satu bulan 6 hari kemudian.
      Oh ya, aku ga punya besik menulis sebelumnya. Hanya sering coret-coret kertas saja. Itupun bukan cerpen, melainkan Diary sama puisi (Puisi yang kata temanku aneh). Hehehe. Jadi istilah kasarnya aku ini buta sistematika menulis. Tetapi seiring berjalanya waktu, mulai belajar sedikit demi sedikit dari novel maupun cerpen yang pernah aku baca. Jadi mohon dimaklumi kalau ada diksi yang kurang tepat (nanti aku cari dulu arti diksi di rumah mbah google soale ga ngerti).🙂
      Haturnuhun atas koreksinya…

  3. Begitu menarik….ujung ke ujung bertemu di suatu titik ! Tidak begitu memberi kesan mmbosankan !! Salam buat penulisnya ..

    Fian calon penulis juga nih…hehehe:D

    • Waalaikumussalam Fian… salam balik dariku. Makasih dah nyempetin baca n kasih komen.
      Semoga mimpinya jadi penulis bisa diwujudkan. Amin.
      Sebenernya sih, aku ga mau di sebut penulis. Karena aku bukan penulis, tapi “penulis” (tanda kutip di sini aku artikan sebagai istilah lain dari seorang pembaca yang suka coret-coret). Hehehe…

  4. kaget,baru sadar bukan cerita gay saat ada kata tomboy.nya,
    menarik,serasa video klip ungu deh,dari remaja sampai tua,tapi ada beberapa kata salah penulisan,tapi cuma dikit kok,
    yang penting ceritanya bagus!!

    • Kawan Yashin @ Terimakasih sudah mau membaca dan meninggalkan jejak. Terimakasih juga untuk kritikan membangunya. Aku baru dalam dunia tulis menulis. Masih sangat banyak yang harus aku pelajari. Hehehe
      Ehm @ Kurang greget ya? Hehehe Nanti aku tanya Sherina dulu bagaimana bikin sesuatu yang geregetan. Btw makasih dah baca n ninggalin jejak.
      Salam kenal buat semuanya…

  5. Suwer deh kirain mah cerita gay ternyata straight. Pantesan agak janggal begitu ada kata cantik-nya wkwkw
    Well sebenernya bagus sih, cuma kurang greget aja di awal. Gak diceritain gimana awal jadiannya. Eh tapi juga kayaknya overall terlalu buru2 ceritanya. Mungkin karna panjang kaliya kalo diceritain lengkap. Tapi emang kesannya buru2. Jadi kurang greget gituuuuu :p tapi keren kokkk

  6. Indah bgt ceritanya…jangan terlalu merendah,tulisanmu cukup rapi dan yg penting enak di baca. Mau dong jadi temenmu yg jadi orang pertama membaca karyamu…oya baru kali ini aku berani komen di sini, salam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s