Loyal


======================

Loyal

By. Abel Belphegor

======================

Namanya Satria Nicholaus. Ada yang memangilnya Niko, Sat, dan Satria.

Aku yakin, semua yang memandangnya pasti terpikat oleh pesonanya. Tinggi,  rambutnya sangat hitam, dengan matanya berwarna biru laut. Dia sedang berjalan di koridor kampus dengan santai, menggunakan earphone sambil mengunyah permen karet. Dari ujung koridor berpasang-pasang mata meliriknya, baik itu perempuan maupun lelaki. Sesekali ada yang memanggil namanya sebagai sambutan pagi yang hangat. Raut wajahnya selalu ceria, menggambarkan dirinya yang memang tidak pernah memiliki beban. Hidupnya selalu mulus seperti tak ada hambatan.

Mulai dari kehidupan yang berada, prestasi yang cukup banyak, cerdas, dan yang paling penting punya banyak teman sehingga apapun keperluannya pasti selalu lancar. Meskipun dia orang yang berada, tapi dia orangnya sederhana dan hidupnya mandiri. Dia berpenghasilan sendiri walau dia putra satu-satunya di keluarga bahagia-nya.  Kehidupannya di kampus cukup terbilang baik, dengan IPK nyaris empat, aktif di organisasi, serta gabung di beberapa UKM olahraga dan musik. Sulit dipercaya memang untuk proporsi orang sepertinya, diimpikan semua orang baik dalam segala hal. Tidak hanya itu, dia orangnya sangat baik dan santun. Tak heran jika dia memiliki banyak teman dan penggemar. Orangnya supel dan enak diajak berbincang-bincang apapun karena dia banyak tahu hal.

Itulah sekilas penggambaran untuk dirinya yang sedang menunggu di tempat fotokopi kampus untuk mengurus berkas-berkas kuliahnya. Beberapa temannya mengeluhkan masalah pengurusan berkas kuliah yang sepertinya terlalu ribet dan berbelit-belit. Kampus yang akan menjadi standar Internasional itu seharusnya tidak perlu melakukan hal demikian. Juga didukung dengan sistem pengisian KRS online yang sudah berjalan dari tahun kemarin. Aku juga sempat mengeluhkan hal demikian, tapi mendengar perkataan Niko ada benarnya juga. Dia bilang kalau segala sesuatu itu butuh proses, baik itu panjang atau sementara. Sama halnya dengan kampus ini, jika ingin maju selangkah mengikuti perkembangan zaman maka itu membutuhkan proses. Entah itu instan ataupun lamban.

Hubunganku dengan dia sebatas pertemanan biasa. Aku menganggapnya demikian. Walaupun aku merasa dia denganku sangatlah dekat, dan begitupula sebaliknya. Aku tak pernah menganggap sebuah pertemanan itu adalah sahabat, karena dari dulu aku juga memiliki beberapa teman yang sangat dekat dan hasilnya sama seperti Niko. Semua sama, aku tak ingin menspesialkan temanku ini atau temanku itu. Kami sama-sama kuliah di satu Program Studi. Pertemuan kami waktu itu berlangsung pada masa-masa mahasiswa baru. Dia orangnya baik dan pengertian seperti yang telah kukatakan tadi. Aku selalu merasa nyaman bersamanya. Dia bisa membuat orang selalu betah dengan dirinya walau itu berlama-lama. Dia selalu tersenyum, memamerkan gigi putihnya yang rapi di hadapan orang yang dijumpainya. Itulah yang membuat orang lain dan diriku betah padanya serta menjadi nilai plus baginya.

Namun dia tidak sesempurna demikian. Walau banyak memiliki kelebihan, tapi dia memiliki kekurangan. Tidak ada orang yang sempurna, hidup tidak akan pernah mencapai seratus dengan batas kewajaran sembilan puluh sembilan atau sembilan puluh delapan. Hidupnya indah dengan berbagai warna cerah, tapi menurutku ada satu warna hitam. Gelap sekali seperti gulita malam.

“Aku lapar, yuk makan,” ajakku pada Niko.

“Kamu selalu seperti itu! Aku bicara serius denganmu! Jangan mengalihkan pembicaraan!” tegasnya padaku.

“Tapi aku lapar. Kamu belum lapar ya?”

“Aku sudah sarapan tadi! Jawab aku please…” pintanya.

“Tapi aku lapar.”

“Itu bukan alasan untuk tidak menjawab pertanyaanku. Sekarang aku ingin kamu menerimaku!” katanya serius masih memenjaraku dengan kedua tangan dan tubuhnya.

“Tapi aku belum sarapan, dan aku lapar!”

“Jawab aku dulu!” kerasnya padaku.

“Sat, kumohon lepaskan aku. Aku tidak ingin dipaksa olehmu untuk menjawab pertanyaan terbodoh darimu.”

“Kenapa? Kamu tak pernah memberikan alasan yang jelas untukku untuk itu!”

“Permintaanmu juga tidak memiliki landasan yang jelas dan itu sesuatu yang irrasional!” kerasku padanya dan perutku berbunyi memecah keheningan di antara kita berdua. “Tuh, perutku bunyi.”

“Baiklah, ayo kita pergi.” Dia melepaskan pegangannya di lenganku. “Tapi nanti kita telat, tiga puluh menit lagi dosen sudah masuk,” sambungnya.

“Kita beli makan di jalan saja. Sebungkus roti bisa mengganjal hingga kuliah berakhir nanti.”

“Aku ingin minta satu hal padamu, pikirkanlah kembali permintaanku dan jawablah segera.”

Aku hanya diam ketika Niko berkata demikian. Telah lama hal ini disampaikannya padaku dan tadi entah kesekian kalinya dia menyuruhku untuk menerimanya. Aku bingung harus menjawab apa ketika dia bilang bahwa dia mencintaiku, dia menyukaiku. Selama ini aku tidak pernah menjawabnya dengan kata-kata, namun sikapku selalu menolak akan hal itu. Walau perbincangan selalu ku arahkan ke arah yang lain, dia selalu bersikeras padaku.

Pagi ini aku telah janjian bersamanya untuk pergi ke kampus. Seperti biasanya, dia menjemputku dengan motor metik ungunya. Saat aku selesai memakai sepatu dan berdiri beranjak meninggalkan kamar kosku, Niko menatapku lama dan kami saling berpandangan. Dia kemudian memegang kedua pergelangan tanganku, dia menyandarkanku ke dinding dan ingin mendaratkan kedua bibirnya di bibirku. Namun aku lebih sigap dengan memiringkan kepalaku sehingga yang tersentuh oleh kedua daging merah muda itu hanya di pipiku. Aku tak tahu setan apa yang merasuki dirinya pagi ini hingga berlaku demikian padaku. Tapi aku tak memarahinya, aku tak kuasa akan hal itu. Tidak mendapatkan keinginannya, Niko bersikeras dengan memegang kedua sisi daguku menghadapnya. Tak mengapa dia menatapku agak lama, kemudian melepaskan cengkramannya di daguku dan meminta maaf. Dia menyakatan kalau dia mencintaiku. Tapi aku tak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan yang telah ingin diharapkan balasan dariku.

Sebenarnya aku juga suka padanya, tapi aku belum meng-ingin-kanya seperti yang dia katakan dan berikan padaku. Aku suka melihat penampilannya secara fisik yang menurutku di atas rata-rata. Hidungnya mancung dengan alis tebalnya membuat banyak orang akan berlama-lama ingin menatapnya. Aku juga tak tahu mengapa selalu saja tidak bisa menjawab dan merespon permintaanya akan hal itu. Aku sadar kalau aku tak pantas untuk dirinya yang begitu sempurna menurutku. Dia tampan, mapan, dan cerdas. Tak sebanding jika disejajarkan dengan diriku. Yah, kami tak sejajar. Diriku hanya sebatas telinganya saja. Aku lebih pendek darinya. Aku juga orang dari kelas menengah ke bawah. Aku hidup berkeluarga hanya dengan Ibuku.

Secara fisik pula, diriku tidak setampan dirinya. Kulitku coklat cerah dengan rambut warna coklat dominan hitam. Untuk ukuran keceradasan aku juga standar dan tidak secerdas dirinya. Mungkin secara perbandingan, itu pula yang membuatku merasa tenggang rasa padanya. Aku suka pada sikapnya padaku yang begitu baik dan ramah. Dia sering mengantarku pulang ataupun menjemputku dari kosan menuju kampus meskipun tempat tinggal kami berbeda arah. Terkadang dia menemaniku untuk sedikit berbagi cerita hidupku padanya. Dia selalu bisa membuatku nyaman berada di dekatnya. Namun aku sadar jika ternyata diriku tidak benar merasa demikian padanya. Aku seorang lelaki begitupun dia. Dia jauh lebih pantas mendapatkan wanita yang baik-baik untuk mendampingi hidupnya. Rugi dia memiliki kegagahan jika harus bersamaku.

“Paper kamu sudah?” tanyaku padanya, memecah kehengingan di antara kami di atas motor.

“Sudah.”

“Berapa lembar?”

“Empat,” jawabnya  singkat.

“Kamu marah ya?”

“Nggak.”

“Kenapa jawabnya singkat? Tumben? Biasanya kamu cerewet kalo di atas motor.”

Dia tak merespon pertanyaanku. Mungkin saja aku benar bahwa dia marah padaku karena aku mengecewakannya tadi sewaktu di kos.

***

“Kamu masih laparkan?” tanya Niko padaku.

“Pake nanya lagi, mau traktir aku ya?”

“Nggak, justru aku ingin minta ditraktir sama kamu.”

“Waduh. Aku lagi kere sekarang, jadwal kirimanku besok sampai. Kalo kamu nggak jemput tadi, hari ini aku pasti puasa.”

“Bercanda. Tuh, Saraa mau traktir. Dia ulang tahun hari ini.”

“Niko, mau ikut nggak? Udah mau pergi nih!” panggil Saraa pada Niko dari kejauhan.

“Iya, tunggu!” balas Niko. “Kamu mau ikut nggak? Lumayan loh buat hemat?” tanya Niko padaku.

“Nggak. Kamu pergi aja deh sendiri.”

“Kenapa?”

“Aku bukan undangan. Dia ngajaknya cuma kamu.”

“Saraa, boleh aku ajak teman?”  pinta Niko pada Saraa dari kejauhan.

“Boleh, boleh,” balas Saraa.

“Tuhkan, ayo ikut!”

“Okelah kalau dia perbolehkan, masalahnya aku kurang dekat dengannya.”

“Nggak apa-apa. Sekalian kenalan dengan anak sebelah. Banyak temankan bagus.”

***

Di restoran tempat kami makan Saraa hanya mengajak dua temannya yang lain. Jadi kami berlima di restoran ini. Aku berkenalan dengan kedua kawan Saraa. Misa dan Niken adalah karib bagi Saraa. Aku masih merasa canggung dengan situasi seperti ini. Terlebih lagi pada Saraa yang kulihat dari gelagatnya dari tadi memberikan perhatian lebih pada Niko tapi tidak diperdulikan olehnya. Niko sibuk dengan gadgetnya dan sesekali bertanya padaku ingin makan apa dan minum apa? Pandangan Misa juga mengarah pada Niko. Sepertinya Saraa dan Misa suka padanya. Keheningan pecah oleh Niken yang memulai perbincangan.

“Kamu tinggal dimana?” tanya Niken padaku.

“Aku tinggal di kompleks Nusa Indah. Kosan di sana.”

“Sendiri?”

“Iya.”

“Aku kira kamu tinggal sama Niko. Kalian dekat sekali, aku terkadang  melihat kalian pulang sama-sama.”

“Yah, Kebetulan kami searah,” kata Niko.

“Searah? Perasaan rumah kamu dan kosan dia berlawanan arah deh,” kata Misa. “Kamu Nusa Idaman kan?” Pertanyaan itu mengarah padaku dan kubalas dengan anggukan, setuju dengan perkataan Misa.

“Maksud aku, kita satu tujuan mau pulang. Hehe!” tawa Niko.

“Itu tetap beda arah. Oh ya, aku mengira kalau kalian itu sepupuan atau saudaraan. Pasalnya aku juga terkadang melihat kalian kalau pergi ke kampus selalu boncengan. Dan wajah kalian agak mirip kalau diperhatikan.”

“Tuhkan, ini sudah orang ke berapa yang beranggapan demikian,” kata Niko padaku.

“Oh ya, kalian pesan aja. Abel kamu pesan aja, jangan malu-malu.” Yang berulang tahun berkata.

Ku ulurkan tanganku padanya sebelumnya hendak mengucapkan selamat padanya yang telah bertambah umur. “Selamat ulang tahun ya, sukses selalu.”

“Makasih.” Balasnya pada tanganku dan dengan senyumnya.

***

“Aku ingin tanya sesuatu. Bisa nggak?”

“Apa itu?”

“Apakah Niko sudah punya pacar?”

Pertanyaan yang membuatku berpikir sebentar untuk harus dijawab bagaimana? Siang ini sewaktu menuju halte, aku bertemu dengan Saraa di parkiran Fakultas. Dia mengajakku ngobrol ringan sebentar. Aku sebenarnya tidak ingin berlama-lama mengobrol padanya, namun ada sesuatu yang ingin dia bicarakan padaku. Katanya penting.

“Setahuku, dia belum pernah pacaran.”

“Belum pernah? Cowok setampan dia belum pernah?”

“Setahuku sih belum pernah. Dia tidak pernah menceritakan tentang mantan pacarnya.”

“Kemarin aku menembak dia. Tapi dia langsung menolakku. Aku kira dia punya pacar.”

Aku baru tahu, kalau ternyata kemarin Saraa telah menyatakan perasaannya pada Niko. Tapi Niko tidak pernah bercerita untuk itu padaku.

“Serius?”

“Iya, serius. Dia bilang, dia tidak bisa. Karena dia mencintai seseorang. Dan aku kira itu adalah pacarnya.”

“Demikiankah? Tapi aku belum pernah mendengar kalau dia pernah bercerita tentang orang yang dicintai.” Bohongku padanya.

“Apa iya?”

“Iya, mungkin kamu harus berusaha lebih keras padanya agar dia bisa menerimamu. Aku yakin, banyak lelaki yang mengantri di belakangmu. Tapi kamu hanya memilih Niko. Dan pilihanmu tepat.” Yakinku padanya.

“Kamu yakin?”

“Aku yakin, asalkan kamu mau berusaha lebih keras lagi. Niko tipe orang yang jatuh cinta pada orang lain bukan secara fisik, tapi karena orang itu bisa membuatnya jatuh cinta padanya. Makanya dia menolakmu meskipun kamu sangat cantik.”

“Ah, kamu bisa aja,” balasnya tersipu.

***

“Aku juga suka padamu Sat,” kataku padanya sewaktu dia beranjak keluar kamarku hendak pulang.

Hari ini Niko ke kosanku membantuku membuat tugas. Sebenarnya aku bisa sendiri mengerjakannya, tapi aku jadikan momen ini untuk bisa menyampaikan apa yang ingin kusampaikan padanya. Aku harusnya mengambil sikap hari ini juga. Aku akan menyatakan perasaanku padanya. Aku harus mengambil keputusanku agar semuanya berjalan dengan semestinya. Dia membantuku menyelesaikan tugasku hanya dalam satu jam. Satu jam bersamanya adalah momen yang cukup kaku karena kami tidak saling bercengkrama panjang seperti biasanya. Hari ini aku gugup harus memulai bagaimana untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku tak tahu harus bagaimana? Kulihat dia serius dengan buku-buku untuk memberikanku referensi pada tugasku. Dan ketika selesai, dia beranjak pergi dari kamar dan sebelumnya pamit padaku kalau dia ada kegiatan malam ini dan harus balik sebelum matahari meninggalkan tugasnya. Namun sebelum keluar dari kamar aku langsung mencegatnya.

“Kamu bilang apa tadi?”

“Aku suka padamu.”

“Apa?” Dia mendekatiku.

“Aku suka padamu!” tegasku.

Niko lansung menciumku, tepat di bibirku. Namun kutepis dengan mendorong tubuhnya dan kutampar pipinya.

“Kenapa?” tanyanya heran. “Kamu tidak suka aku menciummu?”

“Aku suka padamu, tapi tidak harus kamu balas dengan menciumku,” balasku padanya. “Maafkan aku.”

Kupandangi wajahnya yang baru saja kena lima jari terbukaku. Aku agak kasihan padanya melihat dia merasa bersalah padaku.

“Aku yang minta maaf telah membuatmu tidak nyaman.”

“Bukan itu.”

“Terus minta maaf untuk apa?”

“Aku minta maaf karena telah menyukaimu.”

“Tidak ada yang salah jika kamu menyukaiku. Karena aku juga suka sama kamu,” balasnya padaku.

“Maafkan aku,” ucapku sekali lagi padanya.

“Jadi kamu menerimaku untuk jadi pacarmu? Untuk semua peryantaan yang sama yang pernah kukatakan padamu berkali-kali?” tanyanya padaku tak acuh pada permintaan maafku padanya.

“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa.”

“Maksud kamu apa? Untuk apa kamu bilang kalau kamu juga suka padaku?” tanya Niko heran.

“Makanya aku minta maaf. Sebenarnya aku lebih dulu menyukaimu sebelum kau menyukaiku, sebelum kau menyatakan perasaanmu padaku waktu itu. Tapi aku sadar bahwa kita tidak bisa bersama untuk situasi demikian.”

Kukatakan pada Niko bahwa aku telah menyukainya lebih dulu sebelum dia jauh mengenalku. Waktu itu kami masih pada tingkat mahasiswa baru dan aku telah menyukainya saat pertama kali bertemu. Saat bertemu dengannya pertama kali membuat perhatianku selalu terarah padanya. Terlebih lagi ketika kami mulai dekat dan berteman baik. Aku menjadi lebih suka padanya karena dia orangnya baik dan perhatian. Namun kutepis semua keinginanku mengingat bahwa aku harus bisa menjaga pertemananku dengannya. Hingga saat dia menyatakan kalau ternyata dia juga menyukaiku dan mencintaiku aku tak pernah meresponnya. Aku tak tahu harus bagaimana untuk menerima atau tidak. Sekaranglah menurutku bahwa momen seperti ini akan menentukan segalanya hubunganku dengan dia.

“Bodoh!”

“Memang aku bodoh, dan aku tolol. Tapi aku sadar kalau kita tidak akan bisa.”

“Bodoh! Kamu betul-betul bodoh! Cinta itu menurutmu terlalu sempit. Dunia terlalu luas untukmu sehingga kau tak berani keluar untuk menjelajahinya. Aku mencintaimu, dan kaupun demikian, kemudian kamu pun sadar akan hal itu. Itu adalah karunia Tuhan meskipun itu dianggap menyimpang oleh orang-orang. Kita tidak bisa lepas dari karunia itu!”

“Dan kamu sadar bahwa itu salah dan menyimpang. Karena aku sayang padamu sehingga selama ini aku tak menjawab pertanyaan bodohmu itu. Dan aku tak ingin kamu berada pada jalan yang salah.”

“Ah, sudahlah. Aku ingin pergi dari sini. Biarkan aku menenangkan diriku,” pintanya.

“Jangan pergi! Bisakah kau tinggal sedikit lebih lama di sini? Masih ada yang ingin aku sampaikan.”

“Kalau itu cuma pernyataan bodohmu tentang alasanmu selama ini. Sebaiknya aku pergi!”

“Please!” pintaku padanya. Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. “Aku mencintaimu. Aku ingin satu hal darimu sebelum semua ini berakhir.”

“Apa itu?” tanyanya agak ketus.

“Menjaulah dariku.”

Niko melepaskan pelukannya padaku dan menghadap padaku kemudian memegang kedua lenganku. “Apa Maksud dari semua ini? Kau bilang kau menyukaiku tapi kau tidak pernah membalas penyataanku. Kau mencintaiku tapi kau menyuruhku untuk menjauhimu. Apa maksud dari semua ini!” katanya agak keras.

“Justru karena aku mencintaimu aku tidak ingin kamu berada di jalan yang salah. Aku ingin kamu selalu mendapatkan yang terbaik. Karena kamu selalu mendapatkan yang terbaik.”

“Dan kamu yang terbaik,” katanya memelukku. “Aku tahu ini salah. Tapi aku tak kuasa menahannya. Aku diberikan karunia ini untukmu.”

“Itu adalah cobaan untukmu dan untukku juga. Aku ingin kita bisa menjalani cobaan dari Tuhan ini untuk kita.”

“Apa tak ada cara lain selain mejauh darimu?”

Aku belum merespon pertanyaannya. Aku ingat waktu itu Saraa mengeluhkan orang yang dicintai Niko siapa. Aku merasa menjadi penghalang bagi Saraa untuk bisa mendapatkan Niko. Saraa cantik dan baik, menurutku serasi dengan Niko. Jika seandainya aku tak ada, mungkin saja Niko telah bersama dengan Saraa. Niko menjadikanku alasan untuk menolak Saraa. Orang yang lebih baik dariku untuk dia. Seorang perempuan.

“Ada. Terimalah Saraa. Dia cantik dan baik. Cocok untukmu. Jauhilah diriku untuk waktu yang lama. Itu adalah jalan yang tebaik.”

“Aku tidak bisa.”

“Aku mohon dengan sangat agar kamu mau menyanggupinya. Ini adalah permintaan terakhirku padamu.”

Kami cukup lama terdiam sambil berpelukan. Hingga Niko bersuara agak parau padaku.

“Sulit untukku. Tapi apakah aku boleh datang kemari untuk menjengukmu?” katanya kemudian mengeratkan pelukannya padaku.

“Sebaiknya jangan.”

“Menegurmu di kampus?” tanyanya makin parau.

“Itu juga.”

“Apakah harus sampai segitunya? Menjauh darimu bukan berarti harus menjadikanmu musuh kan?”

“Itu adalah jalan terbaik bagiku dan bagimu. Bertemu denganku akan semakin menguatkan perasaan salahmu padaku.”

“Mulai kapan?”

“Sekarang.”

“Bisakah aku lebih lama memelukmu.”

Kurasakan sedikit isakan dari dirinya. Terasa saat dia memelukku dengan erat. Kulepaskan pelukannya padaku dan kucium bibirnya.

“Apakah itu ciuman terakhir?”

“Amin.”

Air mata Niko terjatuh di kedua pipinya. Mata birunya basah tenggelam oleh beningnya air mata. Bahkan saat menangis pun Niko terlihat tetap manis. Sesaat aku berpikir kedepan ketika aku tidak lagi bersamanya, semoga dia bahagia dengan orang lain yang suatu saat nanti akan menemani hidupnya. Dan tentunya seorang perempuan.

“Aku ingin satu hal sebelum semua ini berakhir. Satu hal sebelum aku meninggalkanmu. Satu hal sebelum memenuhi permintaanmu padaku.”

“Apa itu?”

“Jadilah pacarku untuk sebulan saja. Sebelum aku melepaskanmu, aku ingin memilikimu untuk sebentar saja. Aku ingin menjadi milikmu walau hanya sebentar.”

Niko memintaku untuk menjadi pacarnya, namun aku tahu itu adalah kesalahan terbesar sebelum aku berpisah dengannya. Akan lebih berat baginya dan bagiku untuk saling berpisah nantinnya.

“Aku tidak bisa.”

“Dua puluh sembilan hari.”

“Aku tak bisa.”

“Dua puluh delapan hari.”

Aku menggeleng.

“Apa aku tidak bisa menawar biar sedikit pun?”

“Tidak bisa.” Aku menegaskan.

“Seminggu. Kumohon dengan sangat, ini adalah permintaanku yang terakhir juga untukmu,” pintanya dengan memelas, Niko mengalirkan air matanya.

“Aku tetap tidak bisa. Sulit bagi kita untuk saling melepas hingga hari selasa depan.”

“Enam Hari. Please, aku mohon!”

Aku tak merespon padanya. Kulihat wajahnya sembab dan sesekali terisak sambil menatapku dengan penuh harapan. Jika itu adalah yang tebaik untuk diriku dan dirinya, seumur hidupku pun aku akan berpacaran dengannya jika dia memintaku. Namun rasioku berkata tidak.

“Ayolah, angguklah permintaanku. Untuk terahkhir kalinya.”

“Tidak.” Aku menegaskan sikapku padanya.

“Lima Hari.”

“Jangan memaksaku.”

“Empat.”

“Aku bilang jangan memaksaku!”

“Tapi kau juga memaksaku untuk mejauhimu. Tidak adil bagiku ketika hanya permintaanmu saja yang harus kuikuti tanpa ada keuntungan di kedua belah pihak. Kamu terlalu egois dan tidak pernah memikirkan tentang diriku. Tiga hari akan membuatku sangat bahagia bisa mendapatkan hal yang sangat kumimpikan sejak aku mencintaimu dan harus berusaha menjauhimu. Tiga hari memilikimu akan membuatku tenang dengan merasa pernah menjadi bagian terpenting dari dirimu.”

“Pergilah Sat. Dua minggu ke depan kita akan menghadapi Final Test. Aku tak ingin membuat pikiran kita berdua kacau balau. Baliklah setelah Final selesai. Tujuh puluh dua jam engkau bebas memilikiku.”

***

Selama kami bertemu di kampus aku mulai menjauhinya. Ketika kami saling bertemu dan berpapasan dia selalu menyapaku duluan. Aku hanya membalasnya dengan senyum kemudian berlalu darinya. Aku tahu dia sengaja mendekatiku. Terkadang dia mengejarku walau aku tahu itu sia-sia baginya karena pasti aku akan berpindah tempat kalau dia berada di dekatku. Selama itu aku harus bermain kucing-kucingan dengannya. Terkadang aku melihatnya membuntutiku hingga menuju kosanku. Terkadang pula aku melihat dia mengendarai mobilnya di belakang angkutan umum yang kukendarai menuju kampus. Di satu sisi aku ingin kita saling menjauh, dan di sisi lain aku merasa kasian juga terhadapnya yang hanya ingin bersamaku. Terkadang aku berpikir bagaimana seharusnya diriku padanya. Aku ingin dia senang, namun aku ingin menjauh darinya. Aku ingin dia selalu menjadi terbaik namun aku seperti menyiksa dirinya.

Aku melihatnya berada di sekitaran kosanku. Bahkan sekarang dia sedang menunggu di luar kosanku dari tadi. Sudah sekitar tiga jam dia menunggu di luar. Aku yakin dia banyak meninggalkan jadwalnya akhir-akhir ini. Biasanya jam segini dia akan latihan Kempo atau basket di kampus. Aku sebenarnya kasihan padanya yang telah lama menunggu di luar. Sebenarnya dia tidak memaksa untuk masuk ke dalam kamarku. Dia hanya datang dan menungguku di luar kamar. Kami juga tidak sedang  janjian hari ini. Aku ingin membukakan pintu untuknya namun kuurungkan karena sebaiknya tidaklah demikian. Aku tidak boleh kasihan padanya.

Hingga aku membuka pintu hendak keluar sebentar pergi ke warung membeli makanan. Melalui jendela kamar spontan kulihat dia langsung berdiri saat aku membuka pintu kamarku. Dia menatapku, kami saling berpandangan cukup lama. Lama aku tak memperhatikan wajahnya, sekarang telihat sangat kusut. Matanya agak merah dan berkantung. Kumisnya memanjang tidak dicukur rapi seperti biasanya. Pipinya lebih cekung dan wajahnya pucat.

***

Hari kesepatakan pun tiba. Niko tiba sangat pagi di kosanku. Semangatnya begitu tinggi melihat ekspresi wajah ceriahnya. Kuberikan senyum terbaikku padanya. Aku tak ingin membuatnya kecawa dalam waktu tiga hari kedepan. Tatapan matanya begitu indah menghiasi wajahnya yang terlihat lebih bersih dari kemarin, sepertinya dia telah membersihkan rambut di wajahnya.

“Matamu terlihat berat,” komentarku padanya saat pertama kali bertemu.

“Sepanjang malam aku memikirkanmu, memikirkan bagaimana kita tiga hari kedepan. Aku tak bisa tidur karenamu.”

“Kuharap kau bisa melepaskanku.” Kuberikan senyumku padanya.

Niko mengajakku berjalan-jalan hari ini. Bersantai setelah menghadapi final test selama selama dua minggu membuat otak sedikit lega. Sebenarnya aku juga suka pada Niko, aku sayang padanya. Dia orangnya baik, cerdas dan tampan. Pikiranku selalu mengatakan bahwa dia adalah orang yang paling tidak bisa untuk ditolak menjadi seorang untuk membahagiakan. Niko memang membahagiakan secara fisik dan psikis. Niko berasal dari keluarga yang baik-baik pula. Aku tak pernah mendengar bahwa dia punya musuh ataupun dia memiliki masalah yang berarti. Hidupnya yang nyaris sempurna, tidak ingin kuhancurkan dengan adanya diriku. Apa kata kedua orang tuanya ketika tahu bahwa orang yang disukai anaknya adalah diriku? Seorang lelaki yang sama seperti dirinya. Apa kata orang-orang di sekitar ketika tahu bahwa aku suka pada Niko dan sebaliknya? Bisa jadi hidup Niko akan berantakan karena orang-orang akan menjauhinya. Aku tidak ingin egois untuk memilikinya dengan mengorbankan seluruh yang terbaik bagi dirinya dan diriku. Apalah arti kebahagiaan jika lebih mendatangkan banyak mudarat baginya. Karena aku mencintainya, aku tak ingin hidupnya riskan.

Tak seperti biasanya ketika kita ke kampus, makan bersama, atau pulang bersama menggunakan motor matic. Kali ini dia membawa mobilnya. Padahal cuaca hari ini tidak begitu buruk. Dia juga agak pendiam dari biasanya. Terasa ada aura dingin ketika kami duduk berdua dalam mobilnya. Bukan dinginnya udara.

“Kita mau kemana?”

“Ke suatu tempat.”

Aku tak bertanya banyak lagi padanya, kuserahkan padanya membawaku ke manapun. Semoga dirinya bisa menjalani tiga hari kedepan dengan bahagia.

Cukup jauh Niko membawa kendaraan ini hingga dirinya memarkirkan mobilnya di sebuah rumah yang sangat besar. Aku sempat bertanya padanya kita di rumah siapa? Dia hanya menjawab bahwa itu rumah mamanya. Cukup lama aku berteman dengan Niko tapi dia tak pernah membawaku jalan-jalan ke rumah orang tuanya. Aku hanya tahu rumahnya tidak di sini, tidak bersama orang tuanya, dan tidak sebesar ini.

Kami berdua masuk kedalam rumahnya, aku hanya mengekornya dari belakang. Kami menuju ruangan dengan meja cukup besar, di sana terletak banyak makanan. Seorang wanita tua namun dengan postur tubuh yang bagus. Cantik untuk ukuran ibu-ibu biasanya. Sepertinya itu adalah ibu Niko. Kulihat dia menyalami dan mencium tangannya. Niko ternyata hormat pada orang tuanya. Terlihat senyum diantara keduanya dan sesekali ibunya mencubit pipinya dengan berkomentar bahwa anaknya tambah kurus. Kemudian Niko memperkenalkan aku pada Ibunya.

“Ma, ini teman yang Satria cerita.”

Ternyata Niko sebelumnya pernah bercerita tentang diriku pada mamanya. Aku berharap bahwa tidak terlalu banyak yang pernah dicerita tentangku. Dan semoga mama Niko belum mengetahui tentang diriku dan Niko. Jika mamanya Niko telah tahu, aku berharap beliau tidak mengutuk diriku. Kudekati perlahan mamanya Niko untuk menunjukka rasa hormatku padanya dengan mencium tangannya.

“Wah, ini ya yang namanya Abel? Kesannya seperti adik kamu.”

Aku baru tahu selama ini ternyata Niko punya adik, dan sepertinya Niko ingin menunjukkan sesuatu yang belum kuketahui sekarang.

“Seperti yang Niko cerita.” Kemudian Niko mencubit kedua pipiku di hadapan mamanya.

Kami tertawa bersama dalam candaan yang sesekali Niko cairkan dalam suasana percakapan antara kami bertiga. Ternyata mama Niko adalah orang yang cukup ramah. Melihat dari gelagat beliau, sepertinya dari tadi perhatiannya menuju padaku. Beliau bercerita bahwa dulunya Niko punya adik yang dari postur fisik keseluruhan mirip denganku. Beberapa sifatku dan kebiasaanku pun diumbar oleh Niko yang katanya juga mirip dengan adiknya itu. Aku merasa agak aneh saja pada Niko selama kita berteman, keluarganya sangat privasi baginya. Tapi sekarang sepertinya mulai jelas.

***

Di ruangan ini Niko menceritakan semuanya dengan jelas. Namanya adalah  Alberto Januarafi, katanya kerap disapa dengan sebutan Abet. Aku pun agak terkejut mendengar namanya yang hampir mirip dengan nama panggilanku. Kulihat gambar fotonya di album yang diperlihatkan oleh Niko. Adiknya ini adalah orang yang begitu disayanginya. Niko merasa sangat bersalah padanya karena dia merasa menjadi penyebab kematian adik tercintanya itu.

“Waktu itu aku marah padanya,” katanya.

“Kenapa Bisa?”

“Aku sangat marah padanya karena dia ternyata memendam rasa yang salah padaku. Sama seperti diriku yang sekarang kepadamu.”

“Jadi…”

“Iya, adikku itu menyukaiku. Aku tidak habis pikir kenapa dia bisa sampai begitu? Waktu itu aku frustasi dan tidak menerima kenapa adikku menjadi seperti demikian.”

“Terus, apa yang kamu lakukan padanya?”

“Waktu itu aku menjauhinya, bahkan cukup lama hingga dia pergi dari rumah dan meninggalkan sebuah surat.”

“Lalu?”

“Itu kelihatan seperti cerita TV, namun begitu nyata. Suratnya berisikan permintaan maafnya padaku. Waktu itu papa dan mama belum tahu tentang kejadian itu. Papa dan mama sedang keluar negeri dengan urusan masing-masing.”

“Bagaimana nasib Abet sekarang?”

“Aku tak tahu, semoga dia bisa bertahan di sana. Tapi dia orang yang lihai dan cerdas, aku yakin dia akan selamat. Aku selalu mendoakannya,” katanya sambil menunduk.

“Boleh aku bertanya sesuatu tentang adikmu dan dirimu?”

“Apa itu?” Niko menoleh padaku.

“Apa yang membuatmu marah padanya?”

“Aku juga tak tahu mengapa aku marah besar padanya waktu itu. Jika sekarang kupikir kembali, tenyata aku yang salah. Tapi sebenarnya aku tak ingin dia mencintaiku melalui batas kewajaran. Aku adalah kakaknya, dan dia lelaki.”

“Bagaimana dengan diriku?”

“Maksudmu?” Dia mengerutkan alisnya.

“Sat, kamu itu orang yang cerdas. Ditambah ketika kau melihatku adalah sebuah kenangan bersama dengan Abet. Kau seorang lelaki dan begitupula diriku, dan kau adalah teman baikku.”

“…” Dia terdiam dengan apa yang kukatakan barusan.

“Sekarang aku berada di posisimu dan kau berada pada posisi adikmu. Sebentar lagi kau akan merasakan apa yang adikmu rasakan. Aku akan menjauhi dirimu selama yang kubisa. Tiga hari dari sekarang adalah waktu untuk berpikir bagaimana menghadapi dirimu sendiri saat kau menginginkan adikmu untuk memilih sesuatu yang benar. Dan sekarang aku berada di posisimu sewaktu kamar ini masih diisi oleh yang punya.”

“Tapi kamu berbeda. Kau tahu, aku dulunya seorang yang begitu membenci dosa ini. Aku dulu seorang Homophobia. Tapi entah kenapa, sekarang aku jatuh cinta pada makhluk tuhan yang ada di depanku. Aku juga tak tahu, dan aku hanya tertarik padamu. Aku tidak pernah tertarik pada lelaki lain.”

Perkataannya membuatku mejadi sadar akan suatu hal. Mungkin saja dirinya hanya ingin melampiaskan rasa bersalahnya pada adiknya yang telah hilang entah kemana? Dirinya sebenarnya adalah lelaki pada umumnya. Dia hanya tertarik pada lelaki sepertiku. Sebenarnya dia tidak menderita sakit ini. Ada perasaan yang aneh dalam diriku. Senang, sedih, marah, kasihan, dan semuanya yang membuatku muak bercampur aduk menjadi satu. Aku senang ternyata dia seperti yang kurahapkan, tapi ternyata dia hanya sayang padaku sebagai adiknya jauh dalam alam bawah sadarnya. Marah padanya karena dia seperti mempermainkanku karena sebenarnya aku juga sangat mencintainya. Dan aku kasihan padanya karena aku iba padanya dengan penderitaannya. Itu adalah kesimpulanku sendiri tentangnnya. Entah benar atau salah, sekarang ini di kepalaku adalah diriku yang benar.

“Meskipun aku lebih tua darimu, tapi sebenarnya jauh dalam alam bawah sadarmu kau menyayangiku. Menyayangiku sebagai adikmu karena sekilas aku terlihat sama dengan Abet. Aku Abel dan dia Abet, aku yakin kamu belum sadar bahwa dirimu dengan hatimu merindukan Abet ketika memanggil namaku. Ditambah dengan diriku yang selalu menyendiri dalam kamar kosku, sekarang pasti kau lebih merindukan Abet yang sedang duduk memperhatikan dan menceramahimu sekarang di atas kasurku. Maskudku kasur Abet,” terangku padanya.

Air matanya jatuh. Lama kami saling berpandangan dirinya makin menjadi-jadi. Dia mendekatiku dan memelukku. Kurasakan suaranya lirih di sebelah kepalaku persis di telingaku. Anak seperti dia ternyata bisa menangis bersandarkan diriku.

“Aku ingin kau tidak memikirkan itu, aku ingin menikmati tiga hariku ini bersamamu. Aku ingin bersenang-senang denganmu, hanya milikku seorang.”

“Aku masih milik Ibuku,” kataku padanya.

–The End–

Terima kasih untuk partisipasi Abel atas ceritanya, nanti aku kirimi e-mail yang isinya untuk jadi salah satu penulis di blogku ya. Cek e-mail🙂

25 thoughts on “Loyal

  1. Ga suka cerita dengan topik “gay denial” seperti ini🙂. Cara berceritanya sebenarnya lumayan bagus, tapi entah kenapa ga dapet feel nya (bukan krn faktor ga suka topiknya ya🙂 ), dan ending nya ngambang. Ga enak banget ditutup dengan kalimat “Aku masih milik ibuku” hehehehe

  2. gw gak suka abel abet or niko bahkan sat. ini cerita berat bgt. sampe akhir cerita gw gak berasa mendalami sama s’x. ending.a gitu doang? sorry itu yg gw rasa. walaupun gw blm tentu bisa buat cerita yg lbh bagus dr ini. tp bener deh, harus d perhatiin lg apalagi ini cerpen pendek dan d tuntut memukau. terus nulis.ya. jgn dengerin komen gw. ahaphaha

  3. Untuk isi ceritanya, udah di komen sama yang lain. Buat Abel, aku cuman mau komen gaya tulisanmu dan diksinya.

    Untuk gaya berceritamu udah bagus, punya ciri khas dan tau gimana buat percakapan yg enak dinikmati. Tapi perhatiin lagi partikel Di- Ke- Pun- . Soalnya kamu banyak banget salah di sini.
    Contoh: Akupun melukainya –> yg bener itu: Aku pun melukainya. Aku dan Pun harus dipisah, kecuali Bagaimanapun, kapanpun, apapun, siapapun, ataupun, dan lain-lain. Browsing aja di Google.
    Contoh: Disebelahku –> yg bener itu: Di sebelahku. Inget, di- untuk kata kerja dan di- untuk non-kata kerja. Kalo yg pakek kata kerja disambung, tapi kalo enggak yah dipisah. Begitu juga untuk Ke-

    Diksinya juga udah bagus kok, tinggal di eksplor lagi tema cerita yang bener-bener ‘mengena’ ke pembaca.
    Hoho, itu aja, ditunggu ya karya selanjutnya.

    Oh, iya, cek e-mail ya😀

    • Tengkyu…. maklumlah… baru pertama kali…
      nanti aku coba yang lain deh…
      tengkyu sudah memposting ceritaku, sebenarnya aku hanya ingin tahu bagaimana pandangan orang tentang imajinasi dan gaya menulisku…
      makasih banyak…

        • santai aja Bel, anggep komen dan kritikan sebagai kata-kata pembangun. Yg menurutmu komen/kritikan yg mengajari, diikuti, tapi kalo menurutmu menyakitkan, abaikan saja. hahaha… lanjut ya, kalo nggak tau, kirim aja ceritamu ke e-mailku, kalo tau, pakek aja sendiri untuk nge-post cerita. Tapi jangan lupa di edit dulu yaaa😀

  4. Sebenarnya yang mengganjal itu endingnya kalo menurutku..
    nanggung banget soalnya. Kurang jelas status hubungannya, penyelesaian konfliknya gak tuntas abis.. itu aja sih..

    Tetap berkarya.. jadi autor baru di blognya rendi..
    supaya makin jatuh cinta sama ne blog.. ( ^ v ^ )”…

  5. Abel tulisanmu gak jelek kok, lebih baik malahan jka di bandingkan dengan beberapa cerpen yang sebelumnya pernah ku baca, pa lg posisi kamu disini sebagai pemula.

    Untuk ceritamu sendiri di beberapa bagian q juga terkadang kebingungan,karena kurangnya diskripsi dan penampilan emosi yg kurang kuat,sampai saat ini q juga blom bisa menebak apa ending nya,tapi sejauh ini aku bisa menikmati tulisanmu dengan gaya bahasa sederhana dan enak. Saran dari q tolong abel lanjutin cerita ini, hingga ada kejelasan ending. To bsa di buat cerbung jga. Dengan pastinya memperhatikan masukan POSITIF dari teman yg lain.

    Klo bagiku ya bel penulis yang bagus bukanhanya penulis yang hanya baik dan cerdas. Tetapi juga aktif dan mampu membawa pembaca masuk ke dunia imaginasi penulis.
    Maaf jika aku sok tau. Ituu sih menurut ku. Hehehehehe

    • dikepalaku ini hanya bagian kecil dan sangat-sangat kecil dari imajinasi sebenarnya… belum bisa dituliskan secara tersurat, karena makan waktu cukup lama….
      karena aku nulisnya itu lama, belum baca ulang untuk perbaiki redaksi kata dan kesalahan-kesalahan lain…

      tengkyu😀

  6. gue betul2 benci dengan karakter tokoh utamanya, menurut gue itu egois namanya dan bisa dibilang agak munafik! #kebawa cerita🙂

  7. sekiranya aku ini abang atau adik Satria akan aku kerjakan tokoh utama cerpen ini ( bukan Abel si penulisnya) yang ego berdouble triple dengan sikap hipokritnya itu sampai dia lebam hancur, biar dia mereput di hell. rotten meat you

  8. Nice start bel, wlwpun memang masih bnyak yg harus di perbaiki dan di eksplore… #soktau haha

    aq tau kok nulis itu nggak gampang, jadi kalau trkadang kita gak nemuin feel di dlm cerita itu mka cerita.a akn trasa hambar, so kedepan.a lebih di perbaiki lagi yah bel…

    keep writing dude!🙂

  9. apa hanya gue yang bener bener suka ama ini cerita. Apa hanya gue yg merasa bahwa cerita ini bagus banget. Apa hanya gua yg ngerasa terbawa masuk ke dalam cerita. Dan apa hanya gua yg berfikir bahwa tindakan Abel itu NGGAK EGOIS sama sekali.

    oke, terus berkarya buat abel. Gua suka 10000% sama karyamu. Gua tunggu tulisanmu yg selanjutnya. Dan kalau bisa, tetep bikin karakter dengan sifat seperti ini. Gua suka banget.

  10. how could i call u abel ? Bel , el ? Iuh whateva yg jelas alur ceritanya cukup bgus tp kurang mendalam *plak sok tew gw wkwk* ga tau knapa cerita2 km kok ada bakat jd cerbung ya , kesan end.nya tanggung gtu n kurang panjang spjg *tit* kuda upz mav gw khilaf wkwk, next jgn kentang ya endnya . . .

  11. aduhh gimana ni,,banyak bilang yang gak suka,tapi aku suka banget,kalau soal egois bener,Abel egois,tp Keegoisan dia berujung baik setelah tau kenapa Niko bisa suks sama Abel yang cuma ingatin ama adiknya,kalau seandainya Abel gak egois maka perasaan cowok yang awalnya bukan gay itu malah salah persepsi bahwa itu cinta.
    Dengan baca cerita ini,seharusnya kita bisa teliti lagi apa iya sih ada cowok nyaris sempurna yang cinta mati sama kita cowok yang biasa aja.
    sekian dan menurutku cerita ini memberi pelajaran dan kesadaran untuk kita tidak terlalu terburu buru buat mutusi sesuatu yang penting apalagi soal hubungan,dan satu lagi sebelum Abel tau tentang adik Niko,menurut ku Abel bijaksana mengartikan mencintai itu bukan hanya memilki tapi juga memikirkan kebahagian yang lebih jauh untuk orang yang dicintai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s