A Love Story. Unequaled.


7133464641_4a315f321d_z

Based On True Storie

What if tragedy struck the one you love?

Would you be prepared?

I’m Shane. And this is my story.

shane child

Ini adalah aku.aku tumbuh di kota kecil di Montana.

tom child
Dan ini Tom, dia tumbuh di kota kecil di Indiana.

la-la-et-bridegroom-jpg-20130718
Tom dan aku telah memutuskan untuk menjalin hubungan selama hampir enam tahun.
Kami mulai berbisnis. Membeli rumah, dan berkeliling dunia bersama.

***

“Apakah semuanya sudah siap?” tanya Tom padaku ketika dia selesai packing barang-barangnya.

“Sebentar lagi,” jawabku, sambil terus memasukan barang-barang yang akan aku bawa. Hari ini kita akan ke Perancis. Tom telah mendiskusikan tentang rencana ini sejak bulan kemarin. Dia ingin berlibur sekaligus mengusir penat yang mendera selama ini.

Setelah kupastikan semua barang yang aku perlukan sudah siap, aku menghampiri Tom. “Tom, aku sudah selesai packing,” kataku, lalu duduk di sampingnya yang sedang menikmati secangkir cokelat panas.

“Owh,” jawabnya singkat. “Kamu mau?” tanyanya sambil menyodorkan gelas berisi cokelat panas kepadaku.

Aku menggangguk, lalu meraih gelas tersebut dan menyeruput isinya perlahan. Ini adalah kebiasaan pagi kita. Kita selalu menghabiskan pagi kita di sofa yang berada di ruang tamu rumah sederhana kita ini, sambil menikmati secangkir coklat panas atau susu hangat dan beberapa cemilan cookies. Setelah itu biasanya kita akan mandi bersama dan bersiap menuju kantor kami. Namun hari ini berbeda, kita tidak akan menuju kantor melainkan akan menuju bandara untuk selanjutnya kami akan terbang menuju Paris-Perancis.

“Ayo kita mandi!” ajaknya ketika cangkir berisi cokelat panas itu habis. “Ehm kita mandi sendiri-sendiri saja yah!” pintaku padanya.

“Lho, kenapa? Bukannya malah ngirit waktu,” protesnya, sambil menatap mataku lembut.

“Nggak Tom, kamu salah. Kalau kita mandi berdua nanti malah makin menyita waktu. Kamu tahu kan kalau kamu akan selalu tergoda melihat tubuhku yang telanjang. Dan pasti kamu tidak tahan untuk menikmati tubuh indahku ini. Iya kan?” godaku, sambil menoel dagunya yang terbelah itu.

“Iya, kamu benar. Aku tidak akan pernah tahan melihat tubuhmu ketika tanpa sehelai pakaianpun. Bahkan ketika kamu berpakaian lengkap seperti inipun aku tidak tahan,” katanya balik menggodaku.

“Ya sudah, makanya kita mandi masing-masing saja yah!” pintaku dengan nada lembut.

Iya bangkit dari tempat duduk. Tanpa ku duga, dia menarik wajahku ke arahnya lalu mencium bibirku, “Ya sudah, aku mandi dulu,” katanya, sambil menampakan wajah sumringah dan senyum yang selalu ku damba.

Akupun mengambil cangkir bekas cokelat panas tadi dan bangkit menuju dapur untuk mencucinya. Setelah itu aku menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur dan mulai membersihkan tubuhku.

Kita telah bersiap-siap namun tiba-tiba Justin menghampiri kami. Dia adalah anjing yang kami pelihara. Kita berdua membeli dan mulai memeliharanya setahun lalu. “Ada apa Justin?” tanya Tom sambil menggendong tubuh Justin.

“Owh, mafkan kami yah. Kami nggak bisa membawamu ikut serta. Kamu akan kami titipkan pada Juan. Aku sudah memintanya dan dia setuju, lagian kamu bisa bermain dengan anjingnya yang bernama Selena,” katanya pada Justin seakan Justin benar-benar mengerti bahasanya.

“Yasudah, ayo kita berangkat,” kataku sambil menarik koperku.

“Ayo. Tapi tolong pegang Justin sebentar, aku mau mengambil sesuatu,” kata Tom, lalu dia berjalan menuju kamar.

“Sudah?” tanyaku, ketika menyadari kalau dirinya sudah berada di sampingku.

“Sudah,” jawabnya, lalu menarik kopernya dan mengunci rumah kami kemudian mengunci pagar ketika kami sudah berada di luar pagar rumah kami.

Kami berjalan menuju rumah Juan. Setelah berada di depan rumahnya dia menyambut kedatangan kami dengan hangat. “Silahkan masuk,” kata Juan mempresilahkan kami berdua.

“Ini Juan, aku minta tolong yah untuk merawat Justin selama kami berlibur,” kata Tom sambil menyerahkan Justin padanya.

“Iya, tidak usah sungkan. lagian Selena pasti senang, iya kan Selena?” tanya Juan pada Selena. Juan menurunkan Justin dan kedua anjing itu saling bercengkrama.

“Yasudah Juan, kita berangkat yah. Ini makanannya Justin,” kata Tom, sambil menyerahkan makanan Justin pada Juan.

“Iya, hati-hati yah kalian berdua,” kata juan. Lalu kami keluar dari Rumah Juan dan menaiki taksi yang sudah kami pesan. Kemudian kami berangkat menuju bandara.

Setelah menempuh perjalan selama kurang lebih 10 jam, akhirnya kami sampai di bandara international Paris. Kemudian kami memutuskan untuk menginap di sebuah hotel yang berada di kawasana Avenue De Champs Elysees. Setelah me-reserve kamar hotel kami berdua berjalan menuju kamar tersebut.

“Shane,” panggil Tom padaku. “ Ya, ada apa Tom?” tanyaku padanya.

“Kamu terlihat sangat tampan,” puji Tom, yang seketika membuatku tersipu. Ku lihat dari sorot matanya kalau dia begitu tulus mengatakan hal tersebut.

“Kamu lagi nggak nggombalin aku kan Tom?” tanyaku padanya.

“Tidak. Aku tulus, bolehkah aku menciummu?” pinta Tom.

Aku terkekeh, tidak biasanya dia meminta izin terlebih dahulu padaku. Namun aku menyadari kalau ada dua orang bellboy yang sedang membawakan barang kami, jadi aku menggelengkan kepala dan mengarahkan bola mataku ke sebelah kanan, agar dia mengerti isyarat yang aku berikan. Dia mengerti, akhirnya tidak terjadi apapun di lorong hotel tersebut.

Setelah kami sampai dan kedua bellboy itu keluar Tom mengunci pintu kamar kami. Aku sedang mengeluarkan beberapa barang dari dalam tas. Namun aku dikejutkan oleh pelukan seseorang dari belakang. Itu pasti Tom, aku tahu bagaimana caranya memelukku dari belakang, bagaimana dia menciumi tengkukku dan bagaimana caranya membuatku merasa melayang seperti saat ini.

“Tom, aku belum mandi lho, memang kamu nggak bau apa?” tanyaku di tengah cumbuan yang dia berikan.

“Tidak, aku tidak mencium bau tidak sedap sama sekali. Malahan aku tergoda dengan baumu saat ini,” katanya, lalu dia mengecup tengkukku. Pasti sekarang terdapat kiss mark di tengkukku.

Aku membalikkan badan, “Lebih baik kita mandi yah! Aku udah ngerasa lengket banget soalnya,” saranku sambil memeluk pinggangya.

Dia menatapku sesaat kemudian mengecup bibirku. “Oke, aku tunggu kamu di kamar mandi, ASAP!” kata Tom, lalu dia melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah aku menaruh baju ganti kami di atas tempat tidur, akhirnya aku memtuskan untuk menyusul Tom di kamar mandi. Aku mencium aroma lavender dari pintu masuk kamar tersebut. Aku tertegun ketika melihat tubuh Tom tanpa balutan busana sehelaipun. Tubuhnya terlihat begitu indah dan menggoda ketika di terpa sinar temaram lilin yang berada di dinding kamar mandi tersebut, dan juga yang terdapat di tepian bath tube. Dia tersenyum padaku. Senyuman penuh godaan dan juga hasrat.

Aku melepaskan satu persatu pakaianku, dan ketika semuanya telah terjatuh di lantai aku menghampiri Tom. Dia memeluk tubuhku, kedua tangan kokohnya itu mengangkat tubuhku dan dia mencium bibirku lembut dan juga sangat penuh perasaan. Jika kalian bertanya hal apa yang bisa membuatku mabuk kepayang, jawabnnya bukanlah wine atau wiskey melainkan bibir Tom. Ya, dia tahu bagaimana caranya membuatku begitu jatuh cinta dan mabuk kepayang hanya dengan ciumannya yang menghanyutkan itu. Caranya melumat dan menikmati tiap senti bibirku begitu melezatkan. Cara dia menautkan kedua lidah kami agar bersatu dan bertukar air liur begitu menggoda. Aku tak akan pernah puas dengan nikmatnya sapuan bibirnya pada bibirku. Aku selalu mengerang nikmat sebelum semuanya melanjut ke langkah berikutnya dengan landasan cinta. Yups cinta, bukanlah nafsu semata. Karena kami berdua melakukannya dengan perasaan cinta yang kami miliki.

Dia menaruh tubuhku hati-hati ke dalam bath tube. Kemudian dia pun masuk ke dalam bath tube. Dia memeluk tubuhku dari belakang. Aku merasakan hembusan nafasnya yang menerpa tengkukku dan sukses membuat bulu romaku berdiri. Aku membalikan badan. Aku tiduran di atas tubuh indahnya. Kurasakan kalau penisnya mulai bangkit di bawah perutku. Namun aku sengaja tidak langsung ke permainan inti. Aku menatap wajah tampan, ralat sangat tampan yang dia miliki. Aku membelai wajahnya mulai dari dahi, turun ke pipi hingga dagu. Kemudian dia kembali menciumku sangat lama yang menandakan kalau kami akan melangkah ke tahap selanjutnya. Yups, dia memulainya hingga akhirnya kami klimaks dan kelelahan. Namun lelah dalam artian terpuaskan.

“Terima kasih Shane, kamu selalu tau bagaimana membuatku bahagia,” kata Tom, ketika kami selesai melakukan pergulatan hasrat kami.
“Sama-sama Tom, kamu juga selalu tahu bagaimana caranya aku menikmati indahnya surga dunia,” kataku lalu menyandarkan tubuhnya pada dada bidangnya. dia mencium ujung kepalaku dan mengelus rambutku.

Ke esokan paginya kami jalan-jalan untuk berbelanja beberapa baju dan sepatu. Kami mengunjugi beberapa outlet seperti Louis Vuitton, Burberry, Chanel, Hermes, Prada, Gucci, dan Lacoste. Setelah itu kami berjalan keliling kota Paris mulai dari Il De La Cite, Arch De Triomphe, Place De La Concorde, Pont Alexander III, L’ecole Militaire kemudian kita menuju Eiffel tower dan berfoto ria disana.

2012-07-10-ShaneTomHUFF

Setelah perjalanan kami rasa sudah cukup kami memutuskan untuk menuju hotel tempat kami menginap. Namun di tengah perjalanan kami menuju hotel tiba-tiba Tom memutuskan untuk mapir terlebih dahulu di gereja Notre Dame Cathedral. Akupun mengikutinya memasuki bangunan gereja tua nan megah tersebut. Setelah berada di dekat altar Tom memintaku untuk berdoa bersama.

Aku memejamkan mataku dan memohon pada Tuhan. “Dear Lord. Aku tahu sebagian umatmu menganggap hubungan kami adalah hubungan yang menyimpang, namun aku juga tahu kalau engkau bisa merasakan ketulusan cinta kami. Aku mohon untuk mempersatukan kami dalam kebahagaiaan. Atau paling tidak engkau bisa mempersatukan kami di surgamu kelak.” Aku merasakan sentuhan jemari mengusap di pipiku yang terasa basah oleh air mataku. Aku membuka mataku. Ternyata itu jari Tom. Dia tersenyum padaku, “Amen,” katanya dengan senyum terkembang.
Lalu kami berjalan berdua keluar dari gereja tersebut dan menuju hotel tempat kami menginap.

Sudah empat hari kami berada di paris. Empat hari itu pula kami menikmati moment-moment indah yang takkan kami lupakan sepanjang hidup kami. Aku sedang duduk di pinggiran balkon tempat hotel kami menginap lalu tiba-tiba Tom mengagetkanku dengan pelukan hangatnya.

“Sedang ngelamunin apa sih?” tanyanya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuhku.

“Hmmm Tom,” kataku hati-hati.

“Ada apa Shane?” tanyanya sambil menatap wajahku lekat-lekat.

“Uuumm kita kan sudah bersama selama tiga tahun lebih, apa kita nggak terus terang pada keluarga kita kalau kita sedang menjalin hubungan? Mungkin itu akan lebih baik,” kataku, lalu menatap wajahnya.

Dia terlihat menimbang-nimbang sebentar, “Baiklah, itu mungkin akan lebih baik,” katanya sambil tersenyum kepadaku.

“Tapi kamu harus janji yah Tom, apapun nanti kenyataan yang kita terima kita akan terus bersatu mempertahankan cinta kita,” kataku sembari menggengam tangannya.

“Janji,” katanya, lalu dia mencium keningku.

“Yasudah kalau begitu, jadi kita akan menghabiskan malam terakhir kita di paris dengan berkunjung kemana?” tanyaku padanya.

“Bagaimana kalau kita ke Montparnasse Tower?” saran Tom.

“Baiklah, mari kita siap-siap!” ajakku.

Kita menghabiskan malam terakhir kami di paris dengan berkunjung ke Mottparnasse tower dan menikmati indahnya malam kami.

***

Five years ago, we decide to come out to our families.
My family was happy I’d found the love of my life.
My nieces love uncle Tom.

***

Aku Tom dan keluargaku sedang berlibur di Disneyland. Kedua kepoanakan perempuanku begitu dekat dan menyenangi Tom. Kakak perempuanku juga suka pada sikap Tom yang selalu ramah dan baik terhadap anak-anaknya. Begitu juga dengan Mamah, dia bilang aku memilih orang yang tepat. Begitu katanya.
Setelah pulang dari Disneyland kami berdua menuju ke rumah kami. Sesampainya di rumah kita langsung tiduran di tempat tidur.

“Tom, kamu sudah memberitahu keluargamu soal hubungan kita?” tanyaku padanya.

“Belum, tapi aku janji aku akan memberitahu mereka secepatnya,” jawab Tom. Lalu dia memelukku dan kami tidur terlelap.

***

Unfortunately though, Tom’s Family wasn’t supportive.

His parents were Outraged.

When Tom returned to Indiana to visit his parents for Christmas….

His father threatened him wit a gun and physically attacked him.

His mother told him homosexuality is a sin, and blamed me making him gay.

His mother went on to tell Tom that he should have told them sooner so they could have gotten him medical help.

Tom quickly left his family in Indiana and returned to our home in California.

***

Aku sedang merapihkan bajuku namun tiba-tiba pintu kamarku di ketuk oleh seseorang. Akupn berjalan menuju pintu lalu membukakannya. Aku terkejut ketika melihat sosok Tom berdiri di depan pintu dengan baju lusuh dan juga muka lebam.

“Tom? Kamu kenapa bisa pulang lebih awal dan muka kamu…”

“Bisa kita berbicara di dalam?” potong Tom. Akupun mempersilahkannya masuk.

Dia duduk di sofa. Akupun duduk disampingnya. Lalu memberikan minuman yang tadi aku minum.

“Jadi, bisa kamu menceritakan kejadiannya kenapa kamu bisa seperti ini?” tanyaku hati-hati pada Tom.

Dia mulai menceritakan kejadian yang menimpanya hingga seperti sekarang ini. Dia menceritakan tentang penolakkan kedua orang tuanya tentang hubungan kami. Ayahnya mengancamnya dengan sebuah pistol dan memukul wajahnya berkali-kali. Sedangkan ibunya mengatakan kalau hubungan kami adalah dosa. Dosa besar katanya. Dan menyalahkanku karena telah membuatnya seperti ini.

Ibunya juga menyalahkannya karena tidak menceritakan kejadian ini lebih awal jadi mereka bisa membantuya dengan pertolongan medis. Aku sempat bingung dengan jalan pemikiran ibunya itu. Dia fikir kami mengidap sebuah penyakit hingga kami harus membutuhkan pertolongan medis? Dan untuk dosa kenapa ibunya bisa berbicara seperti itu padahal hubungan kami tidak berpengaruh negative pada siapapun. Kita menjalani hubungan ini atas landasan cinta bukan kekejaman jadi kenapa dia berfikir kalau hubungan kami ini dosa. Lagian kami bukanlah orang yang mengedepankan hawa nafsu dan bersex bebas. Kalau sekarang kami melakukannya karena kami belum bisa menikah secara resmi, itupun kami lakukan hanya kepada pasangan kami.

Namun Tom bilang kalau tiba waktunya dia ingin menikahiku dan hidup bahagia.
Dia menetskan air matanya dalam tangisan tertahan. Aku memeluk tubuhnya dan mengusap rambutnya serta menenangkan hati dan jiwanya yang terguncang. Walaupun saat ini aku ikut meneteskan air mata namun sebisa mungkin aku mencoba untuk tegar agar Tom tidak terlalu larut dalam kesedihannya.
Hari-hari selanjutnya kami jalani seperti biasa walaupun perasaan sedih masih di rasakan oleh Tom. Namun kami mencoba menjalaninya seperti biasa.

***
Two Christmases ago, Tom gave me a promise ring.
We vowed to marry when it would be legally recognized.
***

rings

Aku terbangun pada hari natal. Aku turun dari tempat tidur dan menghampiri pohon natal yang semalam kami hisa bersama. Terdapat banyak hadiah di bawah pohon itu. Namun perhatianku tertuju pada kotak kecil berwarna hijau muda pucat dan terdapat pita berwarna putih pada bagian atas kotak tersebut serta sebuah amplop dengan warna senada. Amplop itu bertuliskan forever and always Love, Tom. Aku membuka surat tersebut dan membacanya.

Merry Christmas!

Love,

Tom

Thank you for all of your love, I would be so lost without you by myside.
I have a feeling 2011 will change our lives forever!

Love forever and always,

TOM

Begitu bunyi surat tersebut. Aku tersenyum, lalu membuka kotak kecil tersebut. Ternyata isinya adalah sebuah cincin. Aku terharu sampa-sampai meneteskan air mataku. Tanganku bergetar katika memegang kotak cincin tersebut.
Tiba-tiba dari belakang Tom memeluk tubuhku. “Bagaimana? Kamu suka?” tanya Tom sambil mempererat pelukannya.
Aku terus saja menangis dan hanya bisa menjawab pertanyaan Tom dengan anggukan. Tom membalikan badanku dan mengambil cincin tersebut kemudian menyematkan cincin tersebut di jari manisku. Aku masih terisak karena terharu. Tom mengusap air mataku lalu menarik wajahku untuk mendekat ke wajahnya kemudian mencium bibirku. Kulihat Tom juga menitihkan air matanya.

***
Tom was right.
Everything did change.
Tom and I are no longer together.
On May 7, 2011…
Tom fell from this rooftop…
And died.
***

Aku bangun pagi-pagi untuk bersiap menuju kantor. Kulihat Tom masih tertidur. Akupun membiarkannya. Aku tak mau membuatnya jatuh sakit, karena semalam dia dan ayahnya bertengkar dan itu pasti membuatnya sakit hati. Belakangan ini memang ibu dan ayahnya Tom sangat sering menelpon dan meminta anaknya untuk pulang. Namun Tom tidak mengindahkan permintaan kedua orang tuanya tersebut dan malah memilih untuk tetap bersamaku.

Setelah aku rapih dan hendak berangkat aku melihat Tom sudah terbangun dengan senyuman indah di wajahnya. Hari ini senyumannya begitu indah dan wajahnya terlihat begitu cerah walaupun luka lebam masih menghiasi wajahnya. Tom melambaikan tangannya kepadaku agar aku mendekat kepadanya. Akupun mendekat dan dia memeluk tubuhku dengan erat, erat sekali. Seakan dia tidak ingin melepaskanku. Tubuh Tom bergetar dan isakanpun terdengar.
Aku ikut terisak karena bagiku apabila Tom tersakiti maka akupun akan ikut tersakiti. Tom melepaskan pelukan kami, kemudian dia menarik wajahku untuk mendekat kewajahnya lalu dia menciumku. Ciuman kali ini terasa begitu dalam seakan ini adalah ciuman terakhir yang dia berikan padaku. Ciuman kali ini sangat berbeda dia hanya menautkan bibirku dan bibirnya tanpa merubah posisi dan pergulatan lidah seperti biasanya.

Setelah dia melepas ciumanku dia berbisik kepadaku, aku kurang begitu mendengarnya namun bisikan tersebut seperti kata ‘I’m Sorry’. Karena aku tidak mendengarnya maka aku tidak menanyakan tentang bisikan tersebut.

“Yasudah, aku berangkat,” kataku, lalu aku berdiri namun tangan Tom masih memegang tanganku seakan dia tidak mau melepaskannya. Akupun menatapnya lembut dan mengisyaratkan kalau kita akan bertemu kembali sepulang kerja. Akhirnya dengan terpaksa dia melepaskan tanganku, lalu aku berangkat kerja.

Ponselku berdering, lalu aku mengangkatnya. Ternyata itu Juan. Akupun menjawab telepon tersebut.
“Ya ada apa Juan?” tanyaku padanya.

Namun yang kudapatkan adalah jawaban yang sangat tidak aku inginkan. Untuk sesaat aku merasa kalau dunia telah hancur bersama hatiku yang hancur ketika mengetahui kalau Tom telah mencoba membunuh dirinya sendiri dengan cara terjun dari loteng rumah kami. Aku merasa kalau kakiku sudah tidak bisa berpijak. Aku merasa semuanya telah berakhir. Akupun menangis sejadi-jadinya hingga membuat semua rekan kerjaku menanyakan penyebabnya.

Aku berlari menuju koridor rumah sakit setelah bertanya terlebih dahulu pada resepsionis rumah sakit tersebut. Aku berjalan tergopoh hingga akhirnya aku sampai di ruang ICU. Tak lama seorang dokter keluar dan bertanya apakah aku keluarga korban, akupun menganggukan kepalaku dan dokter itu bilang kalau Tom sudah meninggal.

Air mataku langsung turun dan aku merasa kalau duniaku benar-benar tela hancur. Orang yang sangat aku cintai telah lebih dulu meninggalkanku. Namun aku tidak percaya, aku berlari menuju tempat Tom berbaring, aku menggoyang-goyangkan tubuhnya namun dia tetap menutup matanya.

“Bangun Tom! Ayo bangun! Kamu sudah janji kalau kita akan terus bersama, namun kamu mengingkarinya? Bukankah kita akan menikah? Ayo Tom bangun!” pekikku hingga aku kehilangan kesadaran.

***
On mother’s day, Tom’s mother flew in to take him back home to Indiana.
Even though he no longer considered Indiana his home.
I didn’t try to stop her.
We had to wait for the coroner to release Tom’s Body…
During wich time, his mother began asking about his bank accounts.
She suggested I pay his funeral and to have his body transported back to Indiana.
It hadn’t even been twenty-four hours since the accident.
She then asked to go too through our things.
Again I relented.
I allowed her to take what she want.
***

Tepat di hari ibu, ibu dari Tom terbang dari Indiana menuju California. Dia menemuiku dengan tampang marah namun tidak terpancar kesedihan sama sekali di wajahnya. Dia meminta agar Tom dimakamkan di Indiana walaupun Tom pernah bilang kalau rumahnya bukan di Indiana melainkan di sini, di California. Akupun hanya bisa menyetujuinya tanpa menolaknya karena bagaimanapun dia adalah orang tua Tom. Akhirnya kami menunggu petugas rumah sakit mengurusnya.

Ketika sedang menunggu, ibunya mulai bertanya tentang rekening bank yang dia miliki dan dia menuntut agar aku membiayai pemakaman serta keberangkatannya menuju Indiana. Padahal belum genap dua puluh empat jam kejadian ini berlangsung namun ibunya sudah mempertanyakan hal-hal seperti itu. Kemudian dia meminta semua barang-barang milik Tom, sekali lagi aku mengalah. Aku mengijinkan agar dia membawa barang yang dia inginkan. Dalam hati aku terus menangis, bukan hanya karena kehilangan Tom melainkan karena sikap ibunya yang menurutku sangat tidak ber-pri kemanusiaan.

***
The coroner released Tom’s body, and his mother left suddenly.
She promised to keep me updated.
But I never heard from her again.
Regardless, I made travel plans to Indiana to attend Tom’s funeral.
During my layover, I received a call from a member of Tom’s family telling me I was not welcome.
I was warned Tom’s father and uncle had planned an attack should I show up.
Fearing for my safety, I did not attend Tom’s memorial and burial services.
I wasn’t mentioned in the funeral program or obituary.
I was the most important person in Tom’s life…
And they were trying to erase me from existence.
I only wanted to love him.
***

Setelah petugas selesai mengurus jasad Tom, akhirnya mereka terbang ke Indiana. Sebelumnya ibu Tom bilang akan terus mengabariku, namun aku tidak mendengar berita apapun darinya.

Akhirnya aku memutuskan untuk terbang sendiri menuju Indiana. Dalam perjalanan aku mendapat telepon dari salah satu anggota keluarga Tom bahwa kedatanganku tidak diharapkan. Ayah dan paman Tom memperingatkan kalau dia berencana melakukan kekerasan terhadapku apabila aku muncul di tengah-tengah mereka.

Karena aku takut akan keselamatanku maka aku memutuskan untuk tidak menghadiri acara pemakaman Tom. Aku sedih, sangat teramat sedih ketika mengetahui bahkan di prosesi pemakamannya pun namaku tidak di sebutkan sama sekali. Padahal mereka tahu kalau aku adalah orang terpenting di hidupnya namun mereka mencoba menghapusku dari kenyataannya. Mereka mencoba menutupi semua hal yang berhubungan denganku. Padahal aku hanya ingin mencintainya. Benar-benar membuatku sangat kecewa sekaligus marah. Namun aku bisa apa?

***
When friends expressed their confusion and sadness on Tom’s facebook page…
His parents had the page taken down.
To Tom’s family, I no longer existed.
And to government, Tom and I were mere roommates.
***

Ketika semua teman-teman kami mengucapkan bela sungkawa dan kesedihan mereka atas meninggalnya Tom di halaman facebooknya, pihak keluarga menutup akun facebooknya.
Bagi keluarga Tom, aku sudah tidak berarti lagi. Dan menurut pemerintah, Tom dan aku hanyalah teman yang tinggal satu rumah. Dan itu yang makin membuatku menyesal dan makin marah pada diriku sendiri.

***
I went to te hospital where Tom had been taken to find out more about what happened…
but was told I did not have the right to any information and would have to contact Tom’s parents.
Tom was my family.
But we didn’t have wills.
And so despite having a business and a mortgage together…
I had no legal right to any information regarding his death or the events death or the events that followed.
I was powerless.
Had Tom and I had the right to marry, many things would have been different.
Losing aloved one is devasting enough, but to then be rendered legally insignificant only makes the pain worse.
***

Aku sekarang berada di rumah sakit tempat dimana Tom di autopsy untuk mengatahui penyebab kematiannya. Namun aku tidak diperkenankan untuk mengetahui secuilpun keterangan dari dokter yang menanganinya. Dia menyarankan agar aku mendatangi keluarga Tom. Dalam hati aku membatin.
“Tom itu keluargaku, namun kami memang tidak mempunyai akta nikah. Dan meskipun kami memiliki hubugan dan memutuskan untuk bersama aku tidak boleh mengetahui informasi penyebab dia meninggal maupun hal-hal pemicunya.”
Aku kehilangan kekuatan untuk berpijak. Mungkin apabila aku dan Tom menikah pasti banyak hal berbeda yang akan terjadi. Tidak seperti sekarang ini.

Kehilangan seseorang yang kita cintai memang cukup menghancurkan jiwa, namun menjadikannya ke hal yang lebih signifikan dan sah itu hanya membuat luka yang semakin parah. Namun apa yang aku bisa perbuat? Aku hanya bisa meratapi semua itu.

***
After some time, I finally got to see Tom again.
I quietly made my way to Indiana.
Tom had always wanted me to see where he grew up.
But not like this.
***

Setelah beberapa waktu, akhirnya aku bisa menemui Tom lagi. Aku diam-diam melakukan perjalanan menuju Indiana tanpa sepengetahuan keluarganya.
Tom selalu menginginkanku untuk melihat tempat dimana dia lahr dan tumbuh. Namun tidak seperti ini. Aku hanya bisa melihat seonggok batu nisan berbentu kotak dengan tulisan:

tom death

Tom Bridgegroom
April 22, 1982 – May 7, 2011

Akupun menangis sambil memeluk batu nisan tersebut, menangis karena tidak bisa menyaksikan pemakamannya, menangis karena tidak diharapkan kehadirannya oleh orang tuanya dan menangis karena tidak menyadari pesan surat terakhirnya.
Dia bilang dia punya feeling kalau tahun 2011 hubungan mereka akan berubah. Yah, memang berubah, namun berubah ke hal yang lebih menyakitkan. Dia pernah bilang kalau dia hidup tanpaku maka dia akan merasa tersesat, namun ketika aku hidup tanpanya maka hidupku terasa tak berarti. My life without him is so meaningless.

Namun aku tetap mencintainya seperti dulu perasaanku padanya tidak berkurang sedikitpun malah semakin bertambah, walaupun aku sadar dia tidak berada disampingku, namun aku percaya tuhan akan mengabulkan do’aku yang kedua, yaitu mempersatukan kami disurganya kelak. Yah aku selalu menunggu momen itu.

Aku bangkit lalu menaruh bunga di makam Tom dan mencium nisannya. Berharap kalau dia merasakan kalau sampai kapanku aku kan terus mencintainya hingga kita bertemu di keabadian. Dan ini adalah pesanku terhadap kalian semua.

We need to take a stand for equality and promote tolerance.
Don’t let fear or bullies prevent you from fighting for equality, sharing your stories, or loving whomever you choose to love.
Whatever your sexual orientation, I plead with you to take the necessary steps to protect yourself and the ones you love.
Don’t wait until it’s to late.
The time is now!

-THE END-

Nah, itu dia kisah tragis antara Tom dan Shane. Kisah cinta sejati namun terpisahkan oleh takdir kematian yang disebabkan oleh tekanan pihak keluarga Tom.

Sorry for typo, dan juga Sorry kalau cerita yang kubuat kurang ada feel-nya. Oleh karena itu aku menaruh link yang berisi video berisi documenter tentang mereka dan semoga kalian benar-benar bisa merasakan kesedihannya.

Untuk yang buka lewat hape mungkin bisa lihat dengan cara kalian scroll sampai ke halaman paling bawah lalu klik full site. Tapi kalau masih tidak bisa juga atau memang hapenya gak support yasudah, kapan-kapan aja lihatnya kalau kalian buka lewat PC,hehehe
Oh ya kisah ini juga rencananya akan di film kan dan isya allah serta insya tuhan sih denger-denger mau release bulan oktober. Tapi nggak tahu deh di Indonesia bakal tayang atau nggak. Kalo nggak yah, berarti harus terbang ke California kalo gitu, sekalian ketemu sama Shane dan terus support dia,hehehe

Oke deh gays, thanks for reading ma storie and please give your comment ‘kay?

Dadah, see ya at the next storie,hehe

21 thoughts on “A Love Story. Unequaled.

  1. Astaga tanggal dan bulan lahirnya tom sama kya — . Kasiannya shane knppa juga tom harus bunuh diri.. Mending d’tinggal pergi (putus) qta masih bisa melihatnya.. Ini ditinggal mati astagah gag kebayang sakitnya.. Berlari sampai keujung duniapun gag bakal ketemu lagi.. (╥﹏╥). Semangatt buat shane.. Yakin tom pasti sangat merindukanmu.. (╥﹏╥)

    • Iya bay, ini true storie…

      yah memang sih kasihan, tpi mungkin Tom punya alesan trsendri, mnurutku sih mngkin Tom bunuh diri krn lebih baik mati daripada bsa melihat org trsebut tpi tidak bisa memiliki.a… just make the pain worse,rite?

      yah maka.a terus support shane, udh liat video.a blum? klo blum coba liat! dstu ada FP.a shane dan kita bsa support dy lewat situ…hehe
      lagian aq juga lagi minta tiket film itu gratis ke dy,haha plus akomodasi slama dsna ditanggung sma neil patrick harris, aktor yg juga sahabat Tom,hehehe

    • eeeeccciiieee yg udh berpengalaman,hahay
      iyah ren gue tau kok kalo krluarga.a you-know-who itu pemikiran.a mengerikan,hahaha

      lo kan nggak ke paris ren, tapi ke lombok. inget kan?hahahha

    • Syukur deh kalo udh pernah liat n mewek2 juga, soal.a aq juga gtu Vi, #toss

      emang kluarga tom itu so SFI bgt kan, eeewwww
      ameeenn may he rest in peace…

    • ehm nggak juga sih ray, yah mngkin sebagian besar emang gtu tapi ada juga kok yg happy ending…
      tau neil patrick harris n david burtka kan? mrk salah satu contoh pasangan gay yg happy ending..hehehe

  2. Bener2 cerita yg menyentuh…. Tahu banget apa yg shane rasakan, krn ku juga pernah kehilangan partner hidup utk selamanya setelah 5 tahun hidup bersama walau cara kehilangannya bukan seperti tom… 4 thn berlalu ternyata msh bisa merasakan dy selalu ada sisiku :((

    • Oh my dear god, i don’t know what you feel but i think it’s devasting enough, rite?

      ehm klo kamu ditinggal kmana has? ditinggal nikah yah?hahaa *oops #nevermind

  3. what the fuck are tom’s family thinking, asli deh, memang gay itu dianggap menyimpang, but cmon biar Tuhan saja yang mengadili bukan manusia, dan mereka kan juga berdiri atas nama cinta, mereka juga ga ganggu kan? asli turut prihatin sebesarnya besar nya buat shane, dan membantu menjunjung equality

    • Setuju sama Farhad. let’s God judge us. because no one can judge our sex orientation.
      iyah, toh mereka gak merugikan orang lain juga kan? mereka gak ngebunuh kok.hehe

      iyah, kamu udah nonton filmnya belum? cerita ini kan di film kan baru-baru ini..heheh

      • yoi, dan kita kan juga ga milih, ini kita apa adanya *halah*

        belum sih, mau nonton tapi kayanya di indo ga tayang deh, tau sendiri lah orang indo new, yang ada yang nonton dibunuh ntar T.T

        • Iyah. we are just we are… no one can choose their sex orientations…hhehe

          Emang gak tayang kok. jangan kan di Indo, di Amerika.a aja gak tayang secara bebas. tayang.a cuman di beberapa live streaming aja. sama netflix juga.

          kalo mau beli di Amazone sama Itunes juga ada lho,hehe

          kalo di Imdonesia ada, nanti kalo kita nonton malah di bom lagi sama FPI,haha

          • bener banget

            coba nunggu torrent aja lah xD iTunes soalnya juga di pake di iPad, kan ga lucu tuh kalo iPad di buka iTunes nya ada tuh film, yang ada dibakar ama temen sendiri

  4. Aaarrgghhh gue ga terima kenapa ga kabur aja dan bahagia sekarang di usa udah legal pasti mereka udah ngerencanain mau nikah(T^T)(=`ω´)ノジ nice story but ugh the ending…. i’m okay ( ´,_ゝ`)….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s