ROMEO and JULIO part Two


tumblr_mnxu167xV51rivayso1_500

Romeo Pov.

“Iya, tapi ada orang yang mau dengan cowok gendut sepertiku?”

“Adak ok. Tenang aja, bagaimana kalau…” Bunyi ringtone One more night dari smartphonenya memotong pembicaraanku.

“Bentar yah…. Halo..”. lalu dia bercakap sebentar, namun dari percakapan yang kudengar sepertinya dia berbicara dengan Mario namun aku tidak begitu yakin.

Aku melihat wajah Julio, kupandang wajah chubbynya lekat-lekat, dia terlihat serius dengan percakapan di teleponnya. Aku jadi ingat kejadian pertama kali kita bertemu. Bahkan tanpa ragu aku sudah menebak kalau dia itu gay, karena radarku pun mengatakan seperti itu. Dia juga mengatakan kalau dia tau aku gay, well, memang radar tak bisa di bohongi. Makanya dia terlihat santai ketika aku bertanya tentang Mario, dan dia langsung menjawab kalau Mario adalah mantannya. Dalam hati aku berfikir kalau dia itu orang yang supel dan ceplas ceplos namun dia juga termasuk orang yang gampang minder ketika berbicara tentang fisik, karena dia merasa kalau orang yang gendut itu tidak menarik. Padahal dia itu terlihat menarik dengan caranya sendiri. lamunanku seketika bubar ketika nama Mario disebut. Aku tidak tahu harus berbuat apa namun hal yang ku lakukan selanjutnya adalah merebut Smartphonenya lalu menekan tombol end conversation di layar smartphonenya.

“Romeo?” katanya sambil menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Sorry, aku nggak mau kalau kamu terus mengingatnya,” jawabku singkat.

“Iya, tapi kali ini dia yang menelponku dan dia hanya ingin meminta maaf itu saja, kenapa kamu bertindak seolah-olah kamu cemburu,”

“Iya. Memang aku cemburu, aku cemburu ketika kamu masih mencintai Mario, karena aku…” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

“Karena kamu apa?” tanyanya.

“Karena aku….mencintaimu,” akhirnya aku mengatakannya.

“Apa? Tapi kamu kan masih SMA,”

“Memangnya salah ya kalau aku masih SMA? Bukankah cinta itu tidak mengenal usia?”

“Memang. tapi…”

“Sudahlah, sekarang kamu jawab. Kamu mencintaiku atau tidak?”

“Emmm entahlah, mungkin aku tidak bisa menjawabnya sekarang,”

“Ya sudah kalau begitu,” kataku lalu aku kembali berbaring diatas bed cover yang ku gelar di lantai kamarnya.

Esok paginya kita berangkat bersama menggunakan bus way  karena dia yang menginginkannya maka aku turuti saja , aku turun di halte dekat sekolahku sementara dia masih melanjutkan perjalanan. Oh ya aku dan Julio sedang dalam tahap pendekatan. Semalam dia bilang dia akan mencoba mencintaiku dan ingin melupakan Mario. aku sih berharap dia benar-benar bisa melupakan Mario dan bisa mencintaiku.

1 bulan kemudian.

25 Desember 2012

Setelah kita melaksanakan misa natal di gereja katedral yang ada di bilangan Jakarta pusat aku dan Julio memutuskan untuk berjalan-jalan ke sekeliling monas. Suasana malam itu cukup ramai, aku dan Julio duduk sambil menikmati es krim magnum yang tadi kita beli di Indomaret dekat stasiun gambir. Dia terlihat sangat menikmati es krim tersebut sampai-sampai di susut bibirnya terdapat es krim yang tersisa, lalu aku memutuskan untuk menyeka bibirnya.
Dia terlihat terkejut ketika tanganku menyeka bibirnya namun yang terjadi selanjutnya kami tertawa bersama.

“Eh Romeo aku mau ngomong sama kamu,”

“Mau ngomong apa?” tanyaku.

“Ehm aku nggak tau harus mulai dari mana yang jelas sekarang aku benar-benar mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu,”

“Wah bagus donk, terus bagaimana tentang perasaanmu pada Mario?”

“Sepertinya secara perlahan perasaan itu muli pupus, itu semua karena aku telah mencintaimu,”

“Terima kasih yah Lio, kamu mau mencintaiku,”

“Terima kasih juga karena kamu mau menerimaku apa adanya,”

Lalu aku mendekatkan wajahku ke wajahnya diapun begitu. Dan yang terjadi selanjutnya adalah bibir kami yang saling berpagut satu sama lain. Entah kenapa ciuman kali ini terasa begitu nikmat dari ciuman-ciuman sebelumnya sampai-sampai aku tidak mau melepaskannya. Namun kami tersadar ini tempat umum lalu kami melepaskan ciuman kami dan masuk ke dalam mobil kemudian kulajukan mobilku ke apartemen milik Julio.

Sesampainya di apartemen ake menutup pintu namun begitu aku membalikan badan dia langsung menciumiku. Entah untuk ke berapa kali kita berciuman namun tetap saja kami merasa belum puas. Perlahan dia membuka kancing kemejaku satu persatu, akupun menarik kaos yang di pakainya ke atas tubuhnya setelah ciuman kami terlepas, dan setelah pakaiannya berhasil kulucuti kita berciuman kembali dan menikmati malam pertama kita. Sebenarnya Aku sudah mendambakannya sejak lama namun baru malam ini kami melakukannya. Dan kami menikmatinya all night long.

Aku memincingkan mataku ketika sinar matahari menerpa wajahku. Ternyata sudah pagi, kulihat di sampingku sudah tidak ada Julio. Akupun bangun dan mengenakan celana boxerku. Tercium aroma masakan yang masuk ke rongga hidungku, lalu aku memutuskan untuk ke dapur, dan ternyata memang dia sedang memasak.

“Morning Sunshine,” kataku sembari memeluk tubuhnya dari belakang.

“Morning Sugar,” jawabnya.

“Kamu masak apa?” tanyaku.

“Aku masak nasi goreng kornet kesukaanmu,hehe”

Lalu ku dengar ponselku berdering, aku melepaskan pelukanku pada Julio dan meraih ponselku. Di layar ponsel tertulis My Birthday. Ternyata itu adalah reminder, akupun langsung teringat kalau hari ini adalah tanggal lahirku. Tanggal 26 desember, sekaligus tanggal resmi jadian kami.

“Happy birthday Sugar, maaf aku lupa dan maaf aku belum bisa memberimu kado,hehehe” katanya.

“Terima kasih. Kamu nggak usah repot-repot beli kado karena semalam adalah kado terindah untukku,” jawabku.

Lalu kami kembali berciuman. “Kamu mau mengulanginya lagi?” tanyaku.

“Ahaha nanti sajalah, kan masih banyak waktu, kamu sekarang mandi sana, setelah itu kita sarapan bersama,”

“Baiklah.” Kataku lalu berdiri dan beranjak namun sebelumnya aku mencium keningnya.

Setelah mandi kami berdua sarapan berdua dilanjutkan dengan menonton DVD bersama. Sepanjang film kami menonton dengan penuh tawa, karena memang genre film yang kami tonton adalah komedi romantis. Aku memandang wajahnya ketika tertawa, dia benar-benar menggemaskan dengan pipi chubby yang dia miliki, lalu dia mengalihkan pandangannya kearahku.

I love you,” kataku.

I love you too,” katanya. Lalu dia bersandar di dadaku dan memeluk tubuhku. Aku benar-benar menikmatinya, pelukannya benar-benar membuatku makin jatuh cinta.

Hubunganku dan Julio berjalan lumayan mulus, walaupun terdapat beberapa pertengkaran kecil dalam hubungan kami namun itu memberi warna dalam kisah percintaan kami. Setelah pulang sekolah aku melajukan mobilku ke kantor papah.

Oh ya aku lupa memberi tahu kalian kalau ternyata Julio bekerja di kantor milik Papah, namun dia belum mengetahuinya, aku sengaja ingin memberinya kejutan.

Setelah memarkirkan mobilku aku masuk ke kantor papah, karena suasananya sudah lewat jam pulang kerja maka kantor tersebut terlihat sepi. Aku memasuki ruangan Julio, dia terlihat sedang sibuk berkutat dengan komputernya. Lalu aku memutuskan ke pantry untuk membuatkan hot chocolate kesukaanya. Setelah selesai aku mengantarkan keruangannya.

Hot chocolate please,” kataku sambil menyodorkan gelas padanya.

“Romeo…hahaha terima kasih,” katanya.

“Kok cuman terima kasih,” kataku lalu aku mengisyaratkan dia untuk mencium pipiku.

“Muaaacchhh makasih yah Sugar,” katanya setelah mencium pipiku.

“Iya sama-sama, kamu lagi ngerjain apa sih?”

“Ini, pembukuan semua transaksi hari ini dan hari kemarin,”

“Boleh aku bantu?”

“Memangnya kamu bisa?”

“Aku coba deh,hehehe”

Namun karena aku hanya familiar dengan petty cash maka aku hanya membantunya sebisaku saja, selanjutnya aku memijat bahunya. Dia tampak menikmatinya, lalu kami bergantian. Kini dia yang sedang memijat bahuku, pijatannya benar-benar nikmat layaknya pemijat professional.

“Akhirnya selesai juga,” katanya.

“Yaudah aku antar kamu pulang mala mini,” tawarku.

“Sebentar yah, aku email pekerjaan dulu pak Albert,” jawabnya.

“Makasih yah buat tumpangannya,” katanya setelah aku mengantarkannya sampai depan MOI.

“Idiihh kaya apaan aja kamu sih, yaudah aku pulang yah,” kataku.

“Tunggu!” katanya lalu dia masuk dari jendela mobilku dan memegang kepalaku lalu mencium bibirku.

“Hati-hati yah,” katanya setelah ciuman kami terlepas.

“Iya, I love you,”

I love you too,” jawabnya, lalu aku melajukan mobilku ke rumahku.

Setelah sampai rumah aku membuka pintu namun aku kaget ternyata papah berdiri tepat di depan pintu.

“Papah,” sapaku.

“Kamu jam segini baru pulang. Memangnya kamu dari mana?”

“Ehm aku..aku habis dari rumah teman pah,”

“Bohong,”

“Beneran Pah, masa Papah nggak percaya sih?”

“Kalo begitu coba kamu jelaskan maksud dari rekaman ini!” kata Papah sambil menyodorkan I Pad miliknya.

Akupun melihat rekaman video itu, ternyata sebuah rekaman CCTV yang berada di kantor Papah, di dalamnya terdapat video aku dan Julio sedang bermesraan.

“Apa maksud dari itu semua?” tanya Papah.

“Ehhh eee..”

“Kamu pacaran dengan Julio? Kamu pacaran dengan laki-laki?”

“Iya Pah..” jawabku lemas.

“Kamu itu bagaimana sih Romeo, kamu itu anak laki-laki satu-satunya di rumah ini, kamu itu harapan Papah, tapi kenapa kamu malah menyimpang seperti ini? Apa tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang bisa kamu cintai?”

“Tidak Pah, aku tidak bisa mencintai wanita, aku yakin itu. Cintaku hanya untuk Julio,”

“Bagaimana kamu bisa begitu yakin? Apakah kamu pernah mencintai perempuan sebelumnya?”

“Tidak,” jawabku.

“Kalau belum kenapa kamu begitu yakin kalau kamu tidak bisa mencintai perempuan?”

“Papah sendiri apakah Papah sendiri pernah mencintai laki-laki?” tanyaku.

“Kamu itu ada ada saja. Ya tidak lah, dan tidak akan pernah,”

“Kalau begitu kenapa Papah begitu yakin tidak akan mencintai laki-laki kalau Papah belum pernah mencobanya?”

Papah hanya diam termangu, dia kehabisan kata-kata. Lalu aku pergi meninggalkannya dan memasuki kamarku.

Tok..tok..tok.. terdengar ketukan pintu kamarku.
“Siapa?” tanyaku.

“Ini Kak Raisa,” jawab suara di balik pintu tersebut.

“Oh masuk kak,” kataku.

Dia duduk di tepian tempat tidurku. “Kamu nggak papa dek?” tanyanya.
“Nggak papa kok kak,”

“Kakak dengar kamu sudah punya pacar yah?”

“Iya Kak. Tapi kalau Kakak kemari hanya untuk menasihatiku agar aku meninggalkan Julio dan mencintai perempuan lain, lebih baik Kakak keluar,” perintahku.

“Hey, Kakak kesini bukan untuk menyuruhmu mencintai perempuan atau meninggalkan Julio, Kakak kesini cuman ingin bertanya padamu, apakah kamu benar-benar mencintainya?” tanya kak Raisa.

“Iya Kak, aku sangat mencintainya,” jawabku.

“Yasudah kalau begitu Kakak mendukungmu, bagaimanapun juga Kakak akan bahagia kalau Kakak melihat kamu bahagia,”

“Yang benar Kak?”

“Iya,” jawabnya. Lalu aku menghambur ke arahnya dan memeluk tubuh Kakakku tersebut.

“Oh ya boleh Kakak berkenalan dengannya?”

“Tentu saja, besok malam kita makan bareng di luar yah,”

“Yasudah kalau begitu, Kakak mau tidur dulu yah,” Lalu dia meninggalkanku sendiri di kamar. Dan aku juga memutuskan untuk tidur.

Keesokan harinya aku berangkat sekolah sendiri, aku tadi menelpon Julio untuk menjemputnya namun dia menolak karena dia hari ini berangkat siang jadi dia takut aku telat ke sekolah jadi aku memutuskan untuk berangkat sendiri.

Good luck buat try out hari ini yah Sugar’ smsnya masuk ke smartphone-ku lalu ku balas.

Thank you Sunshine, u too yah, I Love You’

I Love You Too,’ balasnya.

Selanjutnya aku mengikuti ujian try out dalam rangka mempersiapkan Ujian Naional yang akan di laksanakan beberapa bulan kedepan.

“Halo Romeo,” sapa Julio dalam telepon.

“Iya, ada apa sayang?”

“EH enggak cuman mau kasih tau aja acara makan malam kita jam berapa yah?”

“Jam 8, memangnya kenapa?”

“Waduh sepertinya aku nggak bisa dating deh, aku ada meeting mendadak dengan klien jam segitu, maaf yah?”

“Oh gitu, yasudah kalau itu mengenai urusan pekerjaan nggak papa, aku mengerti kok, good luck yah buat meetingnya,”

“Makasih yah sayang buat pengertiannya,”

“Iya sama-sama,”

“Yasudah kalau begitu, ”

Oke..,” dan percakapan kami pun berakhir.

Karena aku merasa suntuk, aku memutuskan untuk jalan-jalan malam ini, aku berjalan melintasi jalan Boulevard yang ramai ini. Melihat beberapa orang lalu lalang, karena perutku lapar maka aku memutuskan untuk ke Mc Donalds, sebenarnya bisa saja drive thru namun aku ingin memakannya di dalam restoran tersebut. Aku turun dari mobil dan memarkirkannya di pelatarn Mc D.
Namun ketika aku memasuki restoran tersebut aku melihat Julio sedang makan bersama Mario. Hatiku langsung panas, aku langsung berjalan menghampiri mereka.

“Oh jadi ini alasan kamu membatalkan makan malam kita? Kamu malah berduaan dengan orang yang udah menyakitimu, hah bagus yah,” kataku dengan nada meninggi yang membuat orang-orang di sekitar restoran tersebut melihat ke arahku.

“Romeo, aku bisa jelasin ini semua,” kata Julio.

“Iya Romeo. ini semua tidak seperti yang kamu fikirkan,” lanjut Mario.

“Udah, aku nggak butuh penjelasan kamu. Ini semua udah jelas,” kataku lalu beranjak pergi.
Julio mengejarku, orang-orang yang ada di restoran tersebut malah makin melihat dengan tatapan aneh ke arah kami, namun aku tidak peduli dan berjalan cepat ke arah mobilku. Setelah ku nyalakan mobilku aku buru-buru melajukan mobilku meninggalkan restoran tersebut. Dari kaca spion kuliat Julio mengejarku, namun tak kuhiraukan. Aku tetap melajukan mobilku dengan kencang.

“Bisa-bisanya aku mencintai orang yang tidak pernah mencintaiku, kenapa aku begitu bodoh, terlalu mencintai orang yang tidak bisa mencintaiku, aarrggghhhh kenapa semuanya jadi begini?” kulajukan mobilku makin kencang hingga memasuki halamn rumahku lalu aku langsung berlari ke kamar, bahkan panggilan kak Raisa pun tak kuhiraukan. Sesampainya di kamar aku memeluk bantal, dan tanpa kurasa air mataku menetes membasahi gulingku.

Keesokan paginya aku terbangun, kuambil smartphoneku, tertera 125 panggilan tak terjawab dan 30 sms yang semuanya dari Julio. Aku tidak memperdulikannya, setelah itu aku berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukaku. Setelah selesai aku turun untuk sarapan.

“Pagi,” sapa Papah.
“Pagi Pah, pagi Kak,” kataku.

“Kamu kenapa hari ini nggak masuk sekolah?” tanya Papah.

“Lagi kurang fit pah,”

“Oh ya sudah lebih baik kamu nanti istirahat saja, atau kamu mau ke dokter?”

“Nggak usah Pah, aku minum obat aja,”

“Yasudah kalau begitu, papah berangkat yah,” katanya lau beranjak dari meja makan.

setelah Papah pergi kak Raisa mendekatiku. “Kamu masih marah sama Julio?” tanya Kak Raisa.

“Entahlah, aku rasa aku masih kesal padanya,”

“Mau sampai kapan kamu kaya gini? Kamu itu menyiksa dirimu sendiri dan dia, lagian belum tentu juga kan kalau dia selingkuh.”

“Tapi aku masih belum terima kalau dia berduaan dengan mantannya itu, apalagi dengan dalih sedang meeting dengan klien,”

“Mungkin saja mantannya itu benar-benar kliennya,”

“Entahlah, yasudah kak aku mau istirahat,” kataku beranjak dari meja makan.

“Jangan terlalu memaksakan egomu Romeo, kalau kamu tidak ingin menyesal di kemudian hari,” kata kakaku, namun aku tidak menghiraukannya dan masuk ke kamarku.

1 bulan kemudian.

Aku sedang belajar untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian nasional besok, lalu smartphoneku berdering tanda kalau ada sms masuk, dan sms itu ternyata dari Julio, entah itu sms yang ke berapa kali yang jelas setiap hari dia selalu mengirimkan pesan untukku. Aku sebenarnya ingin membalas pesannya namun aku masih malas saja.

‘Good luck untuk ujian besok yah jangan lupa belajar dan berdo’a. I Love you’ begitu isi dari pesan singkatnya. Namun aku tak memperdulikannya dan kembali berkutat dengan bukuku.

Tok..tok..tok.. pintuku di ketuk, ternyata itu Papah. Lalu ia duduk ditepian tempat tidurku.
“Papah sudah mengurus semuanya, setelah kamu lulus nanti kamu akan kuliah di Oxford, semuanya sudah Papah siapkan, tinggal menunggu kelulusanmu saja, kamu masih ingatkan kalau kamu dulu punya cita-cita untuk kuliah disana?”

Aku terdiam sejenak, sebenarnya aku tidak mau jauh dari Julio, namun kalau itu merupakan satu-satunya cara agar aku bisa melupakannya maka aku mengiyakan permintaan Papahku.
“Iya Pah, aku ingat. Makasih yah,” kataku lalu memeluk Papah.

Ujian nasional telah ku lewati sekarang tinggal menunggu pengumuman saja. Aku sedang duduk bersantai di ayunan yang berada di belaang rumah, namun tiba-tiba smartphoneku bordering, kulihat ternyata yang menelpon kak Raisa.

“Halo Kak, ada apa?”

“Romeo, kakak boleh minta tolong nggak?”

“Minta tolong apa kak?”

“Tolong antarkan dokumen yang ada di meja kerja Papah ke kantor sekarang yah, penting. Oke.”

Belum sempat kujawab kak Raisa sudah mematikan teleponnya. Akupun dilemma di satu sisi aku ingin mengantarkan dokumen itu tapi disisi lain aku takut bertemu dengan Julio. Lagian aku sudah lama tidak bertemu dengannya, aku ingin tahu keaadannya sekarang seperti apa, aku memutuskan untuk mengantarkan dokumen ke kantor Papah.

Sesampainya dikantor papah, aku langsung menuju ruang meeting utama, aku terkejut ketika aku melihat dari pintu kaca ruangan tersebut karena kulihat Mario sedang presentasi. Ku lihat di meja paling depan ada Julio, kak Raisa dan beberapa direksi lainnya, sedangkan Papah ada di kursi paling ujung yang berhadapan dengan pana board.

Jadi yang dia bilang kemarin benar, ternyata Mario adalah kliennya. Ya tuhan selama ini aku salah paham menilainya. Aku telah menyakitinya dengan mengedepankan egoku. Ingin rasanya aku mendatanginya dan berlutut meminta maaf padanya karena aku telah menuduhnya yang tidak-tidak, namun melihat situasi saat ini sepertinya tidak mungkin, lalu aku memutuskan untuk menitipkan berkas tersebut pada resepsionis dan keluar dari kantor Papah.

Ketika sampai rumah aku mendapat sms dari papah kalau besok aku akan berangkat ke London. Damn! Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini? Aku terlambat, aku tidak bisa memperbaiki semuanya, ketika aku sedang bingun memikirkan semuanya, tiba-tiba smartphoneku berdering.

“Halo Kak,”

“Sekarang kamu sudah tahu kan yang sebenarnya?”

“Iya Kak, ternyata Julio tidak berbohong, aku telah salah menilainya, terus aku harus bagaimana Kak, mana besok aku sudah harus terbang ke London lagi,haduuhhh,”

“Kamu harus bicara dengannya segera, kakak sudah mengatur semuanya jam 7 malam nanti kamu akan bertemu dengannya di restoran yang sudah kakak pesan, kakak akan berpura-pura kalau kakak yang mengundangnya. Ingat yah jam 7, jangan sampai telat!” perintah kak Raisa.

“Oke. Makasih yah kak untuk semuanya,”

“Iya, sama-sama,”

Malam harinya aku mendatangi restoran yang sudah di pesan oleh kak Raisa, aku melihat kursi yang di pesan oleh kak Raisa, disana Julio telah duduk dan sedang asik dengan I Padnya. Aku langsung berjalan kemudian duduk di depannya.

“Romeo,” katanya terkejut.

“Julio, aku kesini untuk meminta maaf padamu,aku…”

“Sssssssttttt,” dia menaruh jarinya di depan mulutku. “Kamu nggak usah minta maaf, aku sudah memaafkanmu,” katanya.

Lalu aku memeluknya dan tak terasa air mataku mengalir, namun karena aku menyadari ini tempat umum maka kita buru-buru melepaskan pelukan kami.

“Kita ke mobil saja yah!” ajakku.
Lalu kita beranjak pergi ke mobil dan setibanya di mobil kita langsung berciuman, ciuman kali ini benar-benar nikmat karena aku sudah sangat rindu dengan caranya memanjakan bibirku dengan bibirnya. Ketika sedang asik-asik meneikmati ciuman kami smartphoneku bordering. Ternyata itu dari Papah.

“Halo Pah,”

“Mario kamu dimana? Kamu tidak bersiap-siap, besokkan kamu harus ke London,”

“Maaf Pah sepertinya aku tidak ingin berangkat kesana,”

“Memangnya kenapa? Kamu jangan main-main yah. Kamu jangan berbuat ulah lagi sekarang kamu pulang!” perintah Papah lalu dia menutup teleponnya.

“Siapa?”

“Papah, kamu ikut aku pulang yah!” ajakku, lalu kulajukan mobilku ke rumah.

Sesampainya di rumah kita berdua turun dan disambut oleh Papah yang sedang berdiri di depan pintu masuk.

“Pak Albert,” seru Julio dengan nada tersentak.

“Selamat malam Julio, mungkin selama ini Romeo tidak pernah memberitahumu kalau aku adalah Papahnya,”

Julio terlihat terkejut dan menatap ke arahku. “Dia adalah Papahku, maaf kalau selama ini aku tidak menceritakannya,”
Lalu kita semua masuk ke rumah.

“Keberangkatanmu sudah Papah urus, kamu akan berangkat besok pagi jam 7 menuju bandara soetta,”

“Tapi Pah aku kan sudah bilang kalau aku nggak mau berangkat ke London, aku nggak mau berpisah dengan Julio,”

“Alah tidak bisa, semuanya sudah di persiapkan jadi kamu nggak boleh menolaknya,”

“Tapi…”

“Sudahlah Romeo, bukankah kamu pernah bilang padaku kalau kamu ingin kuliah di Oxford? Pergilah, aku disini akan selalu menantimu,” kata Julio.

“Tapi itu kan dulu, sekarang aku tidak mau jauh darimu, aku tidak mau kehilanganmu untuk yang ke dua kalinya,”

“Kamu tidak akan kehilanganku kok, aku akan setia menunggumu,”

“Kamu lihat sendiri kan kalau Julio pun mendukungmu,” lanjut Papah.

“Baiklah. Tapi dengan satu syarat,” pintaku.

“Apa itu?” tanya Papah.

“Restui hubungan kami. Aku mau setelah aku lulus kuliah nanti Papah merestuiku untuk menikah dengan Julio,”

Papah terlihat memikirkan sejenak, “Baiklah Papah akan merestui hubungan kalian asalkan kamu besok berangkat ke London,”

“Baiklah,” kataku lalu mengajak Julio naik ke kamarku yang berada di lantai dua.

Sesampainya di kamar aku langsung berkemas dengan di bantu oleh Julio, hingga pukul 01.00 kita selsai berkemas. “Kamu yakin tidak apa-apa kalau aku pergi?” tanyaku pada Julio.

“Iya. Aku nggak papa kok. Lagiankan kamu pergi untuk masa depanmu yang lebih baik, aku akan selalu mendukungmu,” katanya.

“Terima kasih yah sayang,” kataku lalu memeluk tubuhnya.

Dia mengambil dasi milikku, “Aku berjanji akan menjadi suami yang baik, aku ingin memasangkan dasimu setiap hari ketika kamu akan berangkat kerja,”

“Oh ya? Terima kasih yah sayang,” aku kembali memeluknya, Kemudian kita tidur bersama hingga pagi.

“Aku berangkat yah,” kataku. Kulihat air matanya mengalir dari wajah chubbynya.

“Iya, hati-hati yah,” jawabnya. Lalu kupeluk tubuhnya untuk yang terakhir kali sebelum aku pergi. Kemudian aku menciumnya cukup lama.

“Ehem..ehem,” Papah berdehem tanda kalau kami harus melepaskan ciuman kami.

“Yasudah, baik-baik yah di sini,” ucapku lalu pergi meninggalkannya. Kulihat dia masih menangis seperti anak kecil yang permen kakinya direbut, terkadang aku ingin tertawa ketika melihatnya seperti itu. Dia begitu lucu itulah salah satu alasan mengapa aku mencintainya.

See you in five years beybeh,” batinku, lalu pergi.

Author’s Pov

5 tahun kemudian.

Julio tengah melangkah keluar apartemen miliknya, penampilannya benar-benar telah berubah, dia kini tidak se gemuk dulu, tubuhnya telah langsing, dia melenggang mengenakan jas berwarna abu-abu terang dan menenteng tas. Dia melangkah mantap namun tiba-tiba tubuhnya berhenti dan menunduk untuk memungut sesuatu yang terjatuh, ternyata itu adalah kunci dengan gantungan boneka kelinci mungil. Dia memungutnya dan tersenyum sejenak, mengingat kenangan dari kunci tersebut, kenangan tentang dirinya dan Romeo, kemudian dia melanjutkan langkahnya.

London – England.

Romeo tengah berdiri di depan semua mahasiswa yang hari ini akan melangsungkan wisuda, dia mendapat tugas untuk berpidato di depan teman-temannya.

“When we were five, they asked us what we wanted to be when we grew up. Our answers were things like astronaut, president, or in my case… prince.

When we were ten, they asked again and we answered – rock star, cowboy, or in my case, gold medalist. But now that we’ve grown up, they want a serious answer. Well, how ’bout this: who the hell knows?!

This isn’t the time to make hard and fast decisions, its time to make mistakes. Take the wrong train and get stuck somewhere chill. Fall in love – a lot. Major in philosophy ’cause there’s no way to make a career out of that. Change your mind. Then change it again, because nothing is permanent.

So make as many mistakes as you can. That way, someday, when they ask again what we want to be… we won’t have to guess. We’ll know.”

Pidato Romeo disambut dengan tepuk tangan dan siul teman-temannya. Selesai di wisuda dia langsung menghampiri Papahnya.

“Kita langsung pulang kan Pah?” tanyanya.

“Iya, besok pagi kita berangkat ke Indonesia,” jawab Papahnya.

“Asiikkk aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kekasihku,” kataku namun Papah hanya tersenyum lalu kami pergi ke hotel tempat Papah menginap.

Jakarta – Indonesia

Romeo telah memasuki kantor Papahnya, dia disambut meriah oleh semua karyawan Papahnya. Julio mengalungkan karangan bunga ke leher Romeo, namun Romeo tidak menyadarinya, dia terlihat sedang mencari-cari seseorang. Dia tidak mengenali Julio yang sekarang karena dia sudah berubah total karena tubuh yang dudlu terlihat gemuk sekarang telah menjadi lebih kurus, terlebih dia sekarang mengenakan kacamata yang membuat wajahnya begitu berbeda. Akhirnya Romeo tidak melihat Julio hingga tiba waktunya pulang kantor.

Apartemen Julio 13 Juli 2013

Dia melihat Romeo mendatanginya dan memeluk tubuhnya serta menciumnya, Julio meneteskan air mata ketika memegang wajah Romeo. Namun ternyata itu semua hanya mimpi. Dia terbangun karena smartphonenya bordering ketika hendak mengangkat telepon dia melihat koper besar di kamarnya, dalam hati dia berharap kalau itu koper Romeo.

“Halo Bu,”

“Julio adikmu Rafael dan Rafeal sudah sampai belum? Tadi malam mereka bilang sepulang dari bali dia akan mampir ke tempatmu,”

“Oh.. belum tau Bu,” ada nada kecewa dari suaranya, karena dia mengira itu koper milik romeo namun koper itu ternyata milik adik kembarnya.

“Oh gitu yasudah, kamu sudah membaik kan?”

“Sudah bu,” jawabnya. “Yasudah kalau begitu kamu istirahat saja lagi,” perintah ibunya dan percakapan tersebut selesai.

Namun ketika Julio hendak tidur kembali terdengar petikan suara gitar dan seseorang menyanyikan lagu favoritnya.

Hi
Boy you just caught my eye
thought I should give it try
and get your name & your number
go grab some lunch & eat some cucumbers
Why did I say that?
I don’t know why.
But you’re smilin’ & it’s something’ i like
on your face, yeah it suits you
boy we connect like we have bluetooth

I don’t know why
I’m drawn to you
Could you be the other one so we’d equal two?
and this is all based on a lucky chance
that you would rather add then subtract

You & I
could be like sonny & cher
honey & bears
You & I
could be like aladdin & jasmine
lets make it happen

La La La La
La La La La
La La La La
La La La La

Hey
How’ve you been?
I know that it’s been awhile.
Are you tired cause you’ve been on my mind
runnin’ thousand & thousands of miles
Sorry, I know that line’s outta style
but you
you look so beautiful on this starry night
loving the way the moonlight catches your eyes & your smile
i’m captivated
your beauty is timeless never outdated

i don’t know why
I’m drawn to you
Could you be the other one so we’d equal two?
and this is all based on a lucky chance
that you would rather add then subtract

You & I
could be like sonny & cher
honey & bears
You & I
could be like aladdin & jasmine
lets make it happen

babe
its been 5 years since that special day
when I asked you on our first date
i guess it’s safe to say

You & I
are better than like sonny & cher
honey & bears
You & I
are better than like aladdin & jasmine
lets make it happen

La La La La
La La La La
La La La La
La La La La

Let me say
you look beautiful on our wedding day.

Dia berjalan perlahan ke balkon apartemennya dan dia mendapati sosok kekasih yang selama ini dia tunggu, dia menaruh telapak tangannya di depan mulutnya lalu meneteskan air matanya. Setelah Romeo selesai menyanyikan lagu tersebut dia berdiri mendekati Julio.

“Aku ingin menagih janjimu, kamu pernah berjanji untuk memasangkan dasiku, syo sekarang kamu pasang!” perintah Romeo.

Julio masih menitihkan air mata namun dia meraih dasi dari tangan Romeo kemudian mengalungkannya di leher Romeo.
“Kok nangis sih? Jelek tau, oh ya kamu sekarang makin ganteng yah, udah kurus lagi, sampai-sampai aku kemarin tidak mengenalimu,” kata Romeo.

“Dasar pelupa. Kamu juga sekarang makin ganteng, aku makin jatuh cinta sama kamu,” kata Julio.

Lalu mereka berciuman. “Oh ya aku udah bilang ke Papah kalau kamu yang akan menjadi sekertarisku, karena aku ingin selalu berada di dekatmu,”

“Oh ya? Dasar kamu yah,” kata Julio sambil mencubit hidung mancung Romeo.

“Satu lagi, pernikahan kita akan berlangsung minggu depan, Kak Raisa sudah mengurus semuanya, kita akan berangkat ke California 5 hari lagi,”

“Apa? Kenapa secepat itu?”

“Biarin. Aku ingin cepat-cepat mempunyai anak darimu,” ledek Romeo.

“Kamu itu ada-ada saja yah, memangnya aku bisa hamil apa?”

“Lihat yah aku akan menghamilimu sekarang juga,”

“Ayo siapa takut,” tantang Julio. Dan selanjutnya mereka melepas rindu yang sudah mendera mereka selama lima tahun lamanya.

Cerita Romeo dan Julio berbeda dengan Romeo dan Juliet karena mereka tidak meninggal bunuh diri dengan menenggak racun, namun mereka hidup bersama hingga akhirnya ajal lah yang akan memisahkan mereka karena mereka ingin seperti aladin dan jasmine yang hidup bahagia selamanya.

-Fin-

Hola Readers..ini adalah sekuel dari Romeo and Julio, semoga cerita ini bisa menghibur kalian,hehe

oh ya cerita ini terinspirasi dari film thailand yang berjudul first kiss,hehe

pidato Romeo adalah pidato yang kuambil dari scene Twilight saga: Eclipse ,yaitu ketika jessica berpidato,hehe

oke happy reading yo,jangan lupa komen,hehe

30 thoughts on “ROMEO and JULIO part Two

  1. Nice story, Tapi masih kurang dapet “feel” antara romeo dan julionya, datar dan terkesan semua terlalu “mudah” (konfliknya kurang kerasa).
    Sorry gw cuma bisa kritik dan ga bisa kasi masukan untuk memperbaikinya gmn, maklum bukan penulis, hanya suka ngebaca aja.
    Tapi gw acungin jempol krn gw tau memang ga gampang buat bisa nulis🙂

  2. bner kan? pidatonya ngutip,,,,
    ceritanya bagus, tapi maaf aku mesti jujur, ceritanya agak sedikit klise, but overall mantap! mau donk brondong, wkwkwk!
    remaja putih abu, come to me! #gaje

  3. Uda di post aja.. ceritanya sih sebenarnya romantis tp ada yg kurang aja. Dari judul awalnya pikirnya kyk romeo juliet tp malah romantis ampe abis. Hahaha.. But nice ga kyk romeo juliet yg sad ending.. di real life yg byk hal sedih dicrita ga bolwh sedih2 lg.

  4. jujur ya new gue ga dapet deh feelnya dari cerita lo yang nii,, laen banget kayak vegantaras n’ sekuel”nya yg so awsome itu.. tp gpp gue tetep suka kok bacanya.. wekwekwekkkk

    eh new lo kok tau banget ya daerah kelapa gading, jangan” lo tinggal disana yee..!! hhihihiii..😛

  5. tulisan lo terlalu terburu-buru ren, datar aja, ga dapet feelnya, dan ga da aura rendy nya disini, but, ga semuanya musti sempurna kan, lo bisa nulis dan berani posting aja itu udah luarrrr biasa, good job!!

  6. bagus ceritnya.. tp untuk tanggal nya ko ga singkron yah? dari part 1 & 2 nya, awalnya bulan januari 2013 terakhir bulan juli2013 sdgkn kuliah makan waktu 5 tahun..

  7. Tuh kan salah paham wkwk ga mungkin mario sama julio balikan, karena judulnya ja rome and julio wks happy ending yeayy, tapi dari ch 1+2 aku liyat klo pemindahan setting itu kurang jelas, kalo boleh sih dikasih spasi/enter yang agak banyak xD biar mudahin baca ^^ itu aja sih, nice fic keep writing yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s