Romeo and Julio


-Part one-

By: Onew

Jogja awal Januari 2013

“Ehmpphh..Ehmmphh… kamu yakin ..eehmmpp ingin melakukanya sekarang?” Tanya Mario.

“Ehmm..ahhsss.. kalau kamu,,eehhmm mau.” Jawabku singkat sambil menikmati sensasi ciuman yang diberikan oleh Mario.

“Baiklah. Sekarang lepas baju dan celanamu!” Perintah Mario padaku, dia juga melepas semua kain yang melekat pada tubuhnya.

“Aku harap kamu tidak eneg melihat bentuk tubuhku yang gemuk ini.” Kataku dengan nada sungkan.

“Tenang saja aku tidak akan eneg kok.” Jawabnya enteng.

Perlahan kutarik kaosku keatas dan melepas kait celanaku setelah itu celanaku dengan bebas jatuh ke tanah dan tubuhku yang benar-benar polos pun ter ekspos tanpa sehelai benangpun. Kusadari pandangan Mario mulai berubah. Kutangkap rasa kecewa pada sorot matanya.

“Kamu pasti kecewa. Yasudah aku pakai lagi saja bajuku.” Kataku sembari memungut kaos dan celana yang tadi aku pakai.

“Jangan!” perintahnya. “Katanya kamu ingin melakukannya. Ayo kita lakukan! Aku janji akan melakukan yang terbaik untukmu.” Lanjutnya.

“Kamu yakin?” tanyaku. Namun dia perlahan maju kearahku dan menciumku.

“Aku yakin.” Jawabnya sambil menarikku ke atas kasur.

Lalu adegan panas pun dimulai. Aku yang merupakan seorang Bottom sejati mengambil alih foreplay pada dirinya. Mulai dari leher lalu turun ke dada. Kemudian kulumat kedua puting kerasnya itu hingga turun ke perutnya yang lumayan berotot , semua aku sapu menggunakan lidahku. Sampai ahirnya tiba ketika aku harus men-foreplay bagian kemaluannya yang cukup besar.

Perlahan kumajukan bibirku kearah kemaluannya hinga bibirku menyentuh bagian glans penisnya dan dengan hati-hati kumasukan kedalam mulutku. Hingga separuh dari kemaluannya masuk kedalam mulutku.

Yang kurasakan pada saat itu adalah seperti ketika kita mengulum jari kita setelah makan nasi padang cuman bedanya jari itu lebih besar dan kenyal serta minus bumbu padang. Namun karena yang aku foreplay adalah orang yang aku cinta jadi aku seperti mendapatkan kepuasan tersendiri ketika menikmatinya.

“Asshhh asshhh sssttt” rancaunya.

Lama aku bermain dengan kemaluannya hingga kurasakan kemaluannya itu mengeras dan membesar dari sebelumnya. kurasakan Mario menarik kemaluannya dari mulutku. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat proses keluarnya sperma dari kemaluannya Mario dan sperma itu jatuh ke lantai. Aku hanya bisa tertegun melihatnya.

“Yah kamu gimana sih. Kenapa kamu foreplay terlalu nikmat. Aku kan jadi keluar,” kata Mario.

“Ma..maafkan aku. Karena aku tadi terlalu menikmatinya.” Jawabku dengan penuh sesal.

‘Yasudah. Jadi gimana mau lanjut? Tapi biasanya kalau aku sudah keluar akan lama lagi hingga punyaku On lagi.” Katanya.

“Yasudah kapan-kapan aja deh. Sekarang mending kamu istirahat aja.” Saranku.

“Yakin? Gak nyesel nih?” tanyanya.

“Ehm kan kapan-kapan bisa. Yasudah sana kamu mandi gih!” perintahku.

“Okedeh.” Katanya sambil berjalan ke kamar mandi dengan kondisi bugil.

Akupun membereskan tempat tidurku dan merapihkannya, termasuk mengepel sperma Mario yang berceceran di lantai. Setelah sekitar lima belas menit dia keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk dibagian bawah tubuhnya. Lalu dia memakai baju dan celananya.

“Oh ya Darl, aku kayaknya harus pulang cepet deh. Gak papa kan?” tanyanya.

“Gak papa kok. Ya udah kamu pulang sekarang gih, nanti di tungguin loh.” Jawabku.

“Okedeh.” Katanya sembari memeluk tubuhku. Entah kenapa kurasakan pelukannya kali ini benar-benar erat, setelah itu dia mengecup keningku.

“Terima kasih yah Darl. Terima kasih untuk semua yang kamu lakukan selama ini. Termasuk kejadian tadi, karena jujur aku baru pertama kali mendapatkan servis seenak itu,hehe” katanya.

“Iyah sama-sama. Terima kasih juga kamu telah menerimaku apa adanya.” Jawabku.

“Iya. Okedeh aku pulang yah.” Katanya meninggalkanku.

“Hati-hati yah!” pesanku padanya. Dan setelah dia sudah berada diatas Motornya dia melambaikan tangannya lalu akupun membalas lambaiannya dan masuk ke dalam rumah.

Seminggu kemudian

Oh ya aku lupa memberitahu kalian. Namaku Julio Bastian Siregar. Aku biasa dipanggil Julio,Jul,atau Lio. Namun sahabat-sahabatku terkadang memanggilku dengan Nama JeBe. Keren sih tapi sayang aku sama sekali tidak tertarik dengan orang dengan panggilan yang sama denganku yaitu Justin Bieber. Gak tau kenapa kalau liat aksi panggung maupun gossip tentang dirinya aku merasa muak. Apa mungkin aku seorang haters? Atau mungkin karena dia telah menyebut negaraku tercinta sebuah RANDOM COUNTRY? Yang jelas aku gak suka aja sama gayanya yang sok cakep itu, mending ke laut aja deh.

Aku anak pertama dari 3 bersaudara, aku mempunyai adik kembar bernama Rafael adan Rafeal,ayahku sudah meninggal dan ibuku kini tinggal di Bandung bersama kedua adik kembarku itu, sedangkan aku tinggal disebuah mess dekat tempatku bekerja.

Aku adalah seorang gay. Dan keluargaku telah mengetahuinya, karena aku sudah coming out ke mereka di ulang tahunku yang ke 22 tahun. Aku sekarang berusia 25 tahun. Dan aku mempunyai Bf bernama Mario, sebenarnya dia itu Bisex dan sebelum kita pacaran dia telah memberitahuku bahwa nantinya dia akan menikah dengan seorang perempuan, namun karena aku juga mencintainya, jadi aku mengiyakan saja persyaratan yang dia ajukan itu.

Namun sudah seminggu ini Mario tidak menghubungi aku. Aku takut dia kenapa-kenapa, karena no HPnya pun tidak aktif. Setelah seharian kerja akupun membantingkan tubuhku diatas kasur empukku, aku memejamkan mata sejenak. Namun tiba-tiba aku ingat dengan hadiah pemberian Mario ketika terakhir dia mengunjungiku.

Perlahan kubuka kotak itu dan aku menemukan sebuah tiket konser MUSIC BANK yang bulan maret nanti akan berlangsung di Gelora Bung Karno, akupun langsung melonjak-lonjak kegirangan karena akhirnya aku bisa melihat bintang-bintang korea secara langsung. Dan aku menemukan sebuah surat di dalamnya.
Perlahan aku membukanya dan membaca surat itu. Namun setelah selesai membaca surat itu aku hanya bisa meneteskan air mataku.

Ternyata isi dari surat itu adalah permohonan maafnya karena minggu depan dia akan melangsungkan pernikahan dengan wanita pilihan keluarganya, dan dia juga meminta aku untuk bisa mengikhlaskannya dan melupkannya. Disitu juga terdapat sebuah undangan pernikahan mereka yang makin membuat hatiku semakin teriris-iris.

“Ok, fine kalo memang Mario mau menikah, aku nggak masalah. Tapi kan seharusnya dia bisa memberitahuku jauh-jauh hari agar aku siap, dan juga kenapa dia baru memberitahu setelah semua kejadian malam itu terjadi, I mean, it was fun but, arrghhh,” rutukku dalam hati.

Akupun melempar tubuhku ke kasur dan menangis sejadi-jadinya hingga aku terlelap. Keesokan paginya aku bangun dengan kondisi wajah yang mengerikan. Kedua mataku bengkak dan juga merah. Aku memutuskan untuk tidak masuk kantor karena aku tidak mau teman-teman dan atasanku melihatku dalam kondisi seperti ini.

Drrrttt..Drrrttttt kudengar bunyi getaran yang berasal dari smartphoneku, kemudian kuusap layarnya untuk menerima panggilan tersebut.

“Halo..” sapaku.

“Halo, Julio, ini aku Clare,” Jawab suara tersebut.

“Oh Clare, ada apa Clare?”

“Kamu kenapa nggak masuk? Sakit yah?”

“Iyah, aku lagi agak tidak fit,” Kilahku.

“Owh gitu, cuman mau kasih tau aja kalau aku dan kamu jadi di pindah ke jakarta, tadi pak Albert sudah memberikan SK-nya kalau kamu akan di pindahkan ke Jakarta mulai minggu depan,”

“Whats??? Yang bener kamu?” tanyaku.

“Yaiyalah, ngapain juga aku bohong. Ya udah mending kamu sekarang siap-siap aja yah, soalnya kan hari senin nanti kamu harus berangkat ke Jakarta, aku juga mau pulang siang, mau siap-siap juga. Oh ya get well soon by the way.”

“Iya, makasih yah Clare untuk infonya,”

“Sama-sama,” Katanya, lalu ku akhiri percakapan kami.

‘Huuaaaa senangnya hatiku, akhirnya aku jadi di pindah ke Head office yang berada di Jakarta, aku rasa ini jalan terbaik agar aku bisa melupakan Mario. Dan juga menemukan kehidupanku yang baru,’ Gumamku dalam hati.

***

Aku kini telah siap berangkat, aku keluar dari kostan ku dan menarik dua koper besar yang berisi barang-barang berharga milikku. Setelah aku kunci pintunya, lalu aku menemui ibu kostku.

“Selamat pagi bu, ini saya mau mengembalikan kunci kamar saya bu.” Kataku pada Bu Minah.

“Waduuhh Mas Julio memang sekarang pindahnya? Kirain ibu masih minggu depan. Ya sudah nak hati-hati yah! Maafin ibu kalau selama Mas Julio tinggal disini merasa tidak nyaman,” Kata Bu Minah.

“Walah, justru saya yang minta maaf bu apabila selama saya tinggal disini banyak merepotkan ibu.”

“Ya ndak toh Mas, ya sudah mas Julio hati-hati yah, salam sama ibu mas yah.”

“Oke bu, terima kasih bu,” pamitku sambil mencium tangan bu Minah. Lalu aku memasuki taksi dan berangkat menuju badara adi sutjipto.

Setelah sampai di bandara hal yang pertama kali kulakukan adalah melakukan konfirmasi check-in setelah itu boarding pass. Kemudian aku menunggu di ruang tunggu, namun sebelumnya aku dikenakan airport tax sebesar Rp.45.000.
‘Yaelah cuman mau numpang duduk aja bayar, dasar Indonesia,’ rutukku dalam hati.

Setengah jam kemudian aku memasuki pesawat. Perjalanan menuju Jakarta memakan waktu sekitar satu jam. Sekitar pukul 5 sore aku sampai di terminal 2F kedatangan domestic. Karena aku baru pertama kali datang ke Jakarta maka aku memutuskan menggunakan taksi untuk menuju apartemen ku yang berada di bilangan kelapa gading.

Ternyata di depan terminal tidak ada taksi, alhasil aku menunggu sekitar setengah jam. Dan taksi berwarna biru dengan lambang burung pun datang, buru-buru aku melambaikan tangan, namun tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri taksi tersebut.

“Heii aku yang melihatnya terlebih dahulu,” tegur ku pada pemuda itu.

“Enak aja, aku yang mendapatkannya terlebih dahulu,” katanya ketus.

“Owh tidak bisa, pokoknya ini milikku,” rutukku kesal.

“Oh hell to the no, it’s mine,” jawabnya enteng.

“Argghhhhh dasar nggak mau ngalah,” guamku.

“Bodo… weeekkk,” katanya sambil meledekku dengan menjulurkan lidahnya yang megerikan itu.

“Maaf mas, tapi sebenarnya saya melihat mas ini terlebih dahulu yang menyetop taksi saya,” kata supir taksi tersebut.

“Yessss, see? Sekarang kamu tau donk siapa yang lebih berhak,” jawabku girang.

“Oh tidak bisa, bagaimanapun juga saya yang menghampiri taksi bapak terlebih dahulu, jadi saya donk yang lebih berhak,” kata pemuda tersebut.

“Ehm bagaimana ya, atau nggak gini saja, mas turun dimana dan mas juga turun dimana?” Tanya supir taksi tersebut pada kami berdua.

“Aku di Appartemen MOI,” Jawabku singkat.

“Aku di perumahan Grand Orchad Kelapa Gading,” jawab pemuda tersebut.

“Nah kan, kebetulan kalian searah bagaimana kalau mas-mas ini barengan saja, lagian kalau jam segini taksi nggak ada soalnya banyak yang sedang mengantarkan penumpang, tau sendiri kan sekarang jam pulang kantor,” kata supir taksi tersebut.

“Ehm baiklah, tapi bayarnya dibagi dua yah,” kataku.

“Okedeh dari pada aku nggak pulang,” jawab si pemuda tersebut, lalu kami memasuki taksi tersebut dan kamipun meluncur ke tempat tujuan.

Perjalanan menuju tempat tinggal kami ternyata memakan waktu cukup lama karena kami terkena macet, alhasil akupun tertidur.

“Huuhh dasar Jakarta, kapan sih kamu nggak macet, padahal biasanya hanya memerlukan waktu satu jam untuk sampai ke rumah tapi ini udah satu jam lebih malah masih nangkring aja di atas tol,haddeeehhhh,” samar-samar aku mendengar gerutu pemuda itu.

Lalu akupun bangun dari tidurku dan mengucek kedua mataku. “Udah sampe mana kita?” tanyaku.

“Udah mau turun tol nih, makanya bangun jangan tidur mulu,” jawab pemuda itu judes.

“Yeehhh wajar kali kalo aku tidur aku kan capek, lagian emang nggak bisa jawab baik-baik apa,” lanjutku ketus.

Lalu dia hanya diam dan melihat sekitar, kini kami sudah turun tol dan memasuki jalan yos sudarso, namun tiba-tiba taksi yang kita tumpangi mengerem mendadak.

“Astaga…” kata supir taksi tersebut.

“Kenapa pak?” Tanya kami serempak,” ituloh di depan ada yang kecelakaan, katanya.

“Mana-mana?” Tanya pemuda tersebut.

Lalu taksipun jalan perlahan dan kita melewati lokasi kecelakaan tersebut, karena kecelakaan itu berada disebelah kiri jalan maka aku yang duduk disebelah kiri bisa meliat dengan jelas. Ternyata itu kecelakaan antara motor dan mobil pick up. Kurasakan tubuh pemuda itu mendekat kearahku dan mencoba melihat kearah kecelakaan tersebut. Namun aku melihat ada darah yang membuatku merasa mual dan ketika aku berusaha memalingkan wajahku ternyata wajah pemuda itu tepat disamping wajahku dan terjadilah ciuman tak sengaja diantara kami. Bibir kami bertemu, bibirku menempel dengan bibirnya, untuk beberapa saat aku merasa seperti waktu berhenti, namun akhirnya aku tersadar dan buru-buru melepaskan ciuman tak sengaja yang terjadi diantara kami.

“Iyuuhh yiekkss kamu ngapain nyium aku?” kataku kesal sambil mengelap bibirku.

“Yeehhh siapa juga yang nyium situ, ge er amat sih kaya bibir situ seksi aja,” jawabnya seenaknya.

“Huuhh dasar, pokoknya kamu harus tanggung jawab!” perintahku.

“Yeeee tanggung jawab apa coba? Atau kamu mau aku cium lagi? Sini-sini!” perintahnya sambil memonyongkan bibirnya kearahku.

“Yieks, siapa juga yang mau, dasar mesum,” kataku sembari memukulkan tas yang aku pegang kearahnya.

Akhirnya terjadi pertarungan pukul memukul tapi bukan adu jotos yah, hanya karena aku kesal maka aku mengarahkan tas ku ke tubuhnya, hingga akhirnya taksi telah sampai di depan Mall Of Indonesia dan supir taksi tersebut melerai kami.

“Sudah-sudah mas! Kalian ini kaya anak kecil saja, lagian ini kita sudah sampai,” kata supir taksi tersebut.

Karena aku sudah sangat kesal maka aku ingin cepat-cepat keluar dari taksi tersebut, namun sialnya amplop yang tadi aku pegang jatuh jadi aku buru-buru mengambilnya lalu keluar dari taksi tersebut.

“Huuhhh dasar mesum,” gerutuku.

Namun pemuda itu malah membuka jendela dan menjulurkan lidahnya ke arahku sambil menyeringai mesum, kemudian taksi itu jalan.

“Sialan, baru kali ini aku mendapat lawan berciumanku orang tidak waras,arrrgghhh,” gerutuku.

Lalu kulangkahkan kakiku menuju Gate A Mall Of Indonesia, kuamati bangunan Mall ini ternyata interiornya sangat indah, dan tak terasa aku kini sudah berada di depan lift menuju apartemen. Pintu lift terbuka dan akupun masuk kemudian ku tekan tombol 11 karena memang apartemenku berada di lantai sebelas sesuai informasi yang aku terima.

“Permisi, apartemen nomer ini ada disebelah mana yah pak?” tanyaku sambil menunjukan alamat yang tertera pada layar smartphoneku kepada security yang berjaga di lantai 11.

“Em dari sini bapak bisa ke kiri, lalu lurus dan ketika bapak sampai ujung lorong bapak belok kanan, di situ pak tempatnya,” jawab Security tersebut.

“Oke pak terima kasih,” jawabku, lalu aku pergi meninggalkan security tersebut.
Setelah sampai di depan apartemen yang di tuju, akupun memencet bel, tak lama kemudian pintu terbuka.

“Juliiooooo..,” teriak Clare kemudian memelukku.

“Oh ya Clare bisa sedikit mengendurkan pelukanmu tidak? Aku sesak nafas nih,” kataku sambil mencoba mengendurkan pelukannya.

“Oh iya maaf, ayo masuk!” katanya sambil mempersilahkan aku masuk.

“Bagaimana perjalanan dari joga kesini?” tanya Clare.

“Nothing special. Apalagi tadi aku sempet berantem sama ABG gara-gara taksi, uuugghhhhh.”

“Oh ya? Dia cewek atau cowok?”

“Cowok dan dia sangat-sangat menyebalkan,”

“Ahahaha, awas loh nanti kamu naksir lagi,” goda Clare.

“Isshhh mana mungkin. dia itu kalo aku tebak masih anak SMA, memang sih dia tampan tapi tetap saja dia bukan tipeku,”

“Oh ya? Terus siapa tipemu?”

“Ehm Mario, tapi dia sekarang udah menikah,huhu”

“Sorry Lio, bukan maksudku untuk..”

“Sudah lupakan saja! Oh ya Clare, aku punya 2 tiket konser Music Bank, kamu mau nggak nanti nemenin aku?”

“Boleh juga tuh, mana coba aku lihat!” pintanya.

Lalu aku mengambil amplop putih kemudian membukanya, namun yang kudapati malahan secarik kertas yang di dalamnya terdapat beberapa nilai-nilai mata pelajaran.

“Lio, kok malah bengong?”

“Hadduuuhh Clare kayaknya kertas ini ketuker deh sama amplop anak ABG tadi,”

“Hah kok bisa?”

“Iya, jadi tadi amplop ini sempet jatoh tapi tunggu…” aku mengingat-ingat kembali kejadian tadi sore.

“Oh iya, jadi tadi juga aku lihat ada amplop di atas tas anak itu, mungkin karena aku tadi berantem sama dia jadi amplopku jatuh kearahnya dan amplop dia yang jatuh kebawah,”

“Hahaha, terus gimana?”

“Iya yah? Terus aku harus ngapain?”

“Ehm disitu ada alamat sekolahnya kan?” tanya Clare.

“Ada.”

“Gimana kalau besok kamu ke sekolahnya aja, lagian kayaknya ini juga penting deh buat anak itu, jadi lebih baik kamu memberikan kepada anak itu dan meminta kembali tiket konser itu,” saran Clare.

“Oh iya, makasih yah Clare,mumpung besok belum masuk kerja juga,hehe”

“Sama-sama, yaudah sana kamu mandi abis itu kita makan,”

“Oke deh sip,” kataku.

***

Keesokan harinya aku mendatangi sekolah anak ABG yang baru sekarang ku ketahui namanya Romeo Heksa Wijaya, well nama yang bagus tapi orangnya, iyuuuhh sangat-sangat tidak bagus.

Setelah aku menunggu di lobby sekolah yang bernama Jubilee School sekitar 1 jam akhirnya aku dipanggil ke ruangan wali kelas.

“Dengan Bapak Julio?” tanya wanita yang menjadi wali kelas si Romeo.

“Iya Bu,”

“Ada keperluan apa memangnya dengan anak murid saya?”

“Ini, aku ingin mengembalikan surat ini, kemarin amplop kami sempat tertukar,” jawabku sambil menyodorkan amplop milik Romeo.

“Owh jadi begitu ceritanya, baiklah biar nanti saya sampaikan ke Romeo, kebetulan sebentar lagi dia akan datang. Oh ya saya tinggal sebentar yah,” katanya.

“Oh iya Bu,” jawabku. Lalu ibu guru tadi keluar ruangan.

Tak lama terdengar bunyi langkah memasuki ruangan dan setelah aku memalingkan wajah ternyata itu adalah Romeo.

“Hah kamu? Ngapain disini? Mau dapet ciuman lagi?”

“Yeehh siapa juga yang mau dicium, dasar Ge Er, aku ksini mau ngembaliin amplop kita yang ketuker, nah kebetulan amplop kamu sudah ada di wali kelasmu jadi sekarang kembalikan amplopku!”

“Owh tidak bisa,”

“Kok tidak bisa?”

“Yah siapa suruh kemarin kamu main pergi-pergi aja, udah nggak bayar ongkos taksi lagi, dasar!”

Oh iya aku lupa. “Well, sorry aku lupa, tapi kan aku nggak bakal kaya gitu kalau kamu nggak ngelunjak,”

“Bodo, pokoknya sekali nggak bisa tetep nggak bisa,” katanya lalu ngeloyor pergi keluar ruangan.

Aku hendak mengejarnya namun tiba-tiba dari pintu masuk muncul guru tadi dan aku buru-buru mengadukan sikap Romeo yang tidak bagus itu. Kemudian ibu guru tadi memandang Romeo dengan tatapan mematikan, dia berjalan mendekati lemari dan mengambil sebatang katu panjang dan hal selanjutnya terjadi adalah,

PLAKKKK…PLAAAKKK…PLLLAAAAKK Bunyi suara kayu pemukul yang beradu dengan pantat Romeo, aku sebenarnya tidak tega melihatnya namun karena sikapnya yang keterlaluan itu yang membuatnya di hukum seperti sekarang.

“Sudah Bu, sudah cukup,” pintaku.

“Biarkan. Biarkan dia tidak bersikap kurang ajar lagi pada siapapun,” jawab ibu guru tersebut. Aku hanya bisa meringis dan menatap kasihan kea rah Romeo yang sedang menahan kesakitan.

***

“Nih obatnya,” kataku menyodorkan obat pengurang rasa sakit pada Romeo.

“Huuhh dasar, kamu tuh tukang ngadu yah ternyata,”

“Abis kamu juga keterlaluan sih,”

“Keterlaluan apanya? Aku kan tadi cuman bercanda, AAAUUUUU,”pekiknya ketika hendak duduk di kursi restoran tempat kami makan.

“Aduuhh maaf yah,”

“Maaf nggak bisa ngilangin rasa sakitku tau,”

“Oke deh terus aku harus gimana?”

“Gimana kalo tiket konser itu yang satu buat aku? Kan jadi impas tuh?”

Akupun menimbang-nimbang “ Oke deh,”

“Nanti aku jemput kamu dan kamu nggak boleh nolak!” pintanya.

“Haahhh? Tapi kan kita baru kenal,”

“Nggak masalah, tapi itu juga kalau kamu kepengen tiket kamu balik? Gimana?”

“Yaudah deh, tapi jangan telat yah jemputnya!”

“Beres deh, yaudah sekarang makan!” katanya lalu kamipun makan bersama.

Kita tengah berjalan menuju parkiran setelah kita menonton konser Music Bank, ternyata Romeo itu cukup mengasyikan anaknya. Sepanjang konser kita tertawa dan berteriak-teriak bersama ketika melihat beberapa artis korea sepertiSuju,Shinee, Beast, 2PM, Eru,Sistar, Infinte, Ten Top dan penyanyi local Afgan tampil memukau. Aku gak nyesel memberikan tiket yang tadinya akan kuberikan untuk Clare, lagian Clare bilang dia nggak terlalu Into Korea terus hari ini juga dia ada acar sama pacar barunya jadi yah gak sia-sia kalau tiket ini aku berikan untuk Romeo.

“Huft ternyata konsernya seru banget yah,”

“Iya. Sampe tenggorokanku sakit gini,hahaha,” katanya.

“Oh ya abis ini kita makan dulu atau langsung pulang?” tanyaku.

“Makan dulu deh yah, aku laper,” jawabnya samba memegang perut ratanya.
“Yasudah,” jawabku, lalu kita memasuki mobilnya.

Ketika di dalam mobil ku keluarkan smartphoneku, namun tiba-tiba tangannya memegang taganku. “Tunggu!”.

“Ada apa Rom?” tanyaku.

“Siapa cowok yang ada di wallpaper ponselmu itu?” tanyanya penuh selidik.

“Oh dia, dia itu Mario. Dia mantanku,” jawabku singkat.

“Apa? Dia mantanmu?”

“Iya memang kenapa?”

“Ehm dia itu bulan kemarin menikah dengan sepupuku Khairina,”

“Masa sih? Mungkin kamu salah orang kali,”

“Enggak mungkin. Kalo kamu nggak percaya, kita sekarang ke rumah Om ku yah,” katanya lalu melajukan mobilnya.

Sekitar 30 menit perjalanan dan kita kini telah tiba di depan rumah mewah, setelah pagar rumah tersebut terbuka Romeo memasukan mobilnya ke halaman rumah tersebut. Lalu kita berdua turun dari mobil dan berjalan ke pintu masuk rumah tersebut. Tak lama pintu pun terbuka.

“Romeo,” sapa seorang wanita ketika pintu itu terbuka.

“Rina. Oh ya ini temanku namanya Julio,” kataku.

“Rina. Kamu teman sekolahnya Romeo?” tanya Rina.

“Romeo, ehm aku..”

“Iya, dia teman sekolahku, oh ya kita boleh masuk nggak?” potongnya.

“Oh iya, ayo silahkan masuk! Kalian mau minum apa?”

“Aku Orange Juice aja deh, kali kamu Lio?”

“Aku samain aja deh,” kataku.

Lalu kita duduk, dan berbincang-bincang mengenai keluarga mereka. “Oh ya Rin, mana suamimu?”

“Adak ok, bentar yah aku panggilin,” kata Rina lalu dia pergi meninggalkan kami.

Tak lama dia turun dari tangga bersama seorang laki-laki, perlahan kulihat tubuh laki-laki tersebut mulai dari bagian bawah hingga ketika semua tubuhnya terekspos. Deghhh aku langsung tersentak seperti terkena serangan jantung. Ternyata Benar, dia adalah Mario, laki-laki yang selama ini aku cintai. Dia sekarang telah hidup bahagia bersama wanita pilihan orang tuanya. Ketika pandanganku dengannya bertemu kulihat tatapan terkejut pada dirinya. Perlahan dia melangkah ke arahku dengan di gandeng oleh Rina.

“Oh ya Darl, ini Julio temannya Romeo,” katanya mengenalkan kami berdua. Perlahan dia mengulurkan tangannya ke arahku, akupun dengan malas membalasnya.

“Mario,” katanya singkat.

“Julio,” jawabku lalu melepaskan jabatan tangan kami.

Lalu kami berempat duduk bersama, tidak ada percakapan sama sekali antara kami berempat, lalu Rina memecahkan keheningan diantara kami.

“Oh ya kamu kakak kelasnya Romeo atau sekelas?”

“Ehm aku itu..”

“Dia kakak kelasku,” sergah Romeo.

“Eh iya, aku kakak kelasnya,” lanjutku yang mengundang reaksi terkejut di mata Mario. Namun aku pura-pura bodoh saja.

“Oh gitu yah,” kata Rina. Lalu yang terjadi selanjutnya hanya percakapan singkat yang terjadi antara Romeo dan Rina saja sedangkan aku dan Mario hanya menjadi pendengar saja.

“Oh ya Rin kayaknya kita harus pulang dulu deh, kita mau mengerjakan tugas sekolah kita,” kata Romeo ketika melihat kegelisahan yang terpancar dari wajahku. Jujur saja kali ini aku benar-benar merasa cemburu, walaupun tidak se sakit dulu tapi masih saja menyesakkan hati.

“Oh gitu, yasudah hati-hati yah,” katanya. Lalu kami beranjak menuju halaman depan dan memasuki mobil.

Kulihat Mario masih diam seribu kata melihat kepergian kami. Tak lama mobilpun melaju meninggalkan rumah Rani dan Mario.
Di dalam perjalanan air mataku menetes hingga Romeo menyadari kalau aku sedang menangis lalu dia memberhentikan laju mobilnya.

“Kok kamu nangis sih?” tergurnya.

Aku tidak menjawab hanya terus terisak sambil mengsap air mata yang menetes dari mataku. Lalu tanpa kuduga dia memelukku dan menyenderkan kepalaku di dada bidangnya. Entah kenapa padahal dia masih SMA namun dadanya sudah bidang dan juga lumayan berotot.

“Sudahlah Lio, ikhlaskan saja Mario, dia sekarang sudah bahagia. Bukankah kamu pernah bilang kalau orang yang kamu cintai bahagia maka kamu akan bahagia? Jadi sekarang kamu nggak usah mengharapkannya lagi yah,”

Aku hanya menganggukan kepalaku lalu memeluk tubuhnya makin erat, bau mint dari parfumnya menyeruak di hidungku yang membuatku merasa relaks, lalu kami melepaskan pelukan kami. Dan Romeo melajukan mobilnya menuju apartemen tempatku tinggal.

Aku sudah bersiap-siap berangkat kantor. Aku menenteng task u lalu berjalan keluar pintu. Ketika pintu ku buka aku kaget mendapati Romeo tengah tertidur di Kursi yang berada di depan apartemenku. Akupun menghampirinya lalu membangunkannya.

“Romeo..Romeo..” kataku sambil menggoyangkan tubuhnya.

Dia terbangun lalu mengucek kedua matanya. “Kamu udah mau berangkat yah?” tanyanya.

“Ia, kamu ngapain disini? Kamu nggak sekolah?”

“Aku semalem berantem sama Papah, lalu aku memutuskan untuk kabur dari rumah, aku boleh menginap disini nggak?”

“Hah? Boleh sih, yasudah sekarang kamu istirahat di dalam yah!” perintahku.

“Makasih yah,” katanya.

“Iya. Oh iya ini kunci apartemenku, kalau kamu laper di kulkas ada kentang goreng,nugget,sosis sama ayam spicy, terus di dapur ada mi goreng dan mi rebus kalau nasi sudah ada di magic com,” jelasku padanya.

“Iya. Makasih yah,” katanya sambil tersenyum lebar ke arahku.sumpah deh senyumnya Romeo benar-benar membuat hatiku berdesir.

“Oh iya, yasudah aku berankat yah,” kataku buru-buru karena kalau aku tidak buru-buru pergi pasti aku bisa jatuh cinta padanya.

“Hati-hati yah,” katanya ketika aku keluar dari apartemeneku.

Aku sekarang sudah dalam perjalanan pulang kantor. Aku memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke carefour yang ada di lantai basement Mall of Indonesia. Aku membeli beberapa bahan masakan seperti sayuran segar dan juga ayam serta daging giling. Setelah kurasa semuanya sudah lengkap aku menuju kasir untuk membayar belanjaanku. Setelah itu aku masuk lift dan meluncur ke lantai 11.

Setelah aku sampai di depan kamarku pelan-pelan ku buka kamarku. Temaram lampu kamar dan juga musik instrumen menyambut kedatanganku. Kulihat Romeo tengah tertidur berbalut selimut. Kutaruh tas ku dan aku lansung berajak ke dapur untuk memasak bahan masakan yang tadi ku beli. Karena aku sudah terbiasa hidup sendiri jadi aku belajar memasak pada ibuku hingga sekarang aku sudah terbiasa untuk memasak.

Semua masakan sudah tersaji diatas meja dapur mulai dari capcay, ayam asam manis dan juga daging giling yang ku tumis dengan bumbu balado. Aku melihat ke arah Romeo dia masih tidur terlelap. Akhirnya aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.

Setelah aku selesai mandi aku membangunkan Romeo untuk makan malam.
“Romeo..Romeo..”

Lalu dia bangun. “Kamu udah pulang?” tanyanya. Aku hanya menganggukan kepalaku.

“Kamu mandi dulu sana, habis itu kita makan,” kataku.

“Ahh aku udah laper jadi makan dulu aja yah,” katanya, lalu dia bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah dapur. Ketika tangannya hendank mengambil nasi aku menepak tangannya.

“Hey, aku kan bilang kamu mandi dulu sana, lagian kamu itu bau tau,” kataku.

“Huh dasar, yasudah deh, aku pinjam handukmu,” katanya.

“Kamu ambil aja tuh di etalase di balik cermin yang ada di dalam kamar mandi, di sana juga ada sikat giginya juga.” Kataku.

Lalu dia berjalan malas ke arah kamar mandi. Sekitar 15 menit dia mandi lalu dia keluar kamar mandi menggunakan t-shirt dan celana boxer yang membuat gundukan di bagian tengah celananya tercetak jelas. Akupun sampai tertegun melihatnya yang terlihat segar dan menawan.

“Hey..” tegurnya.

“Eh.. ayo kita makan!”ajakku ketika aku terbuyar dari lamunanku.

Lalu kita berdua makan malam bersama, dia makan dengan lahap. Setelah semuanya selesai aku membereskan piring bekas kami makan. Setelah semuanya selesai aku menghampirinya yang sedang asik berkutat dengan buku pelajarannya.

“Lagi ngapain sih,” tanyaku sambil menaiki tempat tidurku sementara dia tidur di bawah dengan beralaskan bed coverku. Karena ukuran tempat tidurku yang tidak memungkinkan untuk kita tidur berdua.

“Lagi ngerjain PR,” jawabnya lalu kembali berkutat dengan buku pelajarannya.
Aku ragu-ragu antara mau membantunya atau tidak, namun kuberanikan untuk bertanya. “Kamu ngerjain soal apa sih?”

“Matematika, ini tentang kalkulus. Kamu tau nggak?”

“Hah? Aku sih pernah dengar cuman waktu aku SMA nggak ada pelajaran itu deh,”

“Dasar. Kalkulus itu cabang matematika yang digunakan untuk menginterpretasi gerakan objek sebagai kurva atau fungsi dan kemudian menentukan nilai dari fungsi-fungsi tersebut untuk menghitung tingkat perubahan gerakan, area atau Volume,”

“Owh, contohnya?”

“Nih misalnya kamu membagi kurva dengan serangkaian garis lurus, semakin pendek garis, semakin dekat rangkaian garis tersebut menyerupai kurva dan menentukan hasil akhir yang tepat yang di sebut dengan limit.” Katanya sambil menunjukan gambar soal kalkulus.

“Owh gitu,” jawabku.

“Makanya sekolahnya jangan zaman dulu, jadi gak tau deh,hahah”

“Dasar,” kataku lalu memukulkan guling kea rah tubuhnya. Dia tak mau kalah, diapun memukulkan gulingnya ke arahku selama beberapa saat kita pukul-pukulan.

Dia bangun dari duduknya dan mendekat ke arahku dan melanjutkan aksinya memukuliku, aku mundur perlahan namun aku kehilangan ke seimbangan lalu secara reflek aku memegangi tubuh Romeo, kemudian yang terjadi selanjutnya adalah aku terjatuh dengan posisi Romeo berada diatas tubuhku. Untuk beberapa detik kita hanya saling berpandangan tanpa sepatah katapun keluar dari mulut kita berdua.

“Eh… sorry,” katanya sambil bangun dari atas tubuhku.

“Iya, aku yang harusnya bilang maaf,hehe” sahutku.

Satu menit,dua menit, tiga menit hingga ke menit ke sepuluh tidak ada percakapan diantara kami berdua.

“Ehm aku..” kata kita bersamaan.

“Yaudah kamu duluan deh,” katanya.

“Enggak, kamu dulu aja,” jawabku.

“Oh gitu yasudah, aku mau bertanya tapi kamu harus jawab dengan jujur yah!”

“Baiklah,” jawabku.

“Kamu masih mencintai Mario?”

“Ehmm bagaimana yah, aku bingung. Tapi yang jelas aku sedang berusaha meupakannya,”

“Dengan cara?”

“Entahlah, mungkin aku akan mencoba saran Clare, kata dia kalau kita ingin melupakan orang yang kita cintai maka kita harus mencari pengganti orang tersebut,”

“Benar. Kamu harus mencari pengganti Mario,” katanya antusias.

“Iya, tapi ada orang yang mau dengan cowok gendut sepertiku?”

“Ada kok. Tenang aja, bagaimana kalau…”

Bunyi ringtone One more night dari smartphoneku memotong omongan Romeo.

“Bentar yah…. Halo..”

-To be Continued-

Hola Readers, ini cerpen aku yang kedua, yah walapun ini bersambung namun kalau di bilang cerbung juga terlalu singkat karena hanya 2 part, jadi kira-kira ini namnya apa yah?wkwkwk

sorry kalau cerpennya kurang bagus soalnya aku kan masih dalam tahap belajar dan mohon dimaklumi apabila banyak terdapat typo di dalamnya,hehe

oke deh happy reading btw, jangan lupa komen yah,kalo nggak nanti aku cium lhooo,eehhhhhh

23 thoughts on “Romeo and Julio

    • Thanks yah Kim..

      yups, kamu benar kok, emang aq nulis cerita ini terinpirasi dari film First Kiss, aq sih udh diskusiin sama rendi, kata dia sih nope asalkan setting tempat.a berbeda dan cerita.a juga ada perbedaan.a,hehehe

  1. Boleh kasi masukan? Baca cerita yang kemaren (pertama) dan yang hari ini, alurnya selalu cepet banget, jadi kehilangan “detail” nya dan “feel” nya kurang dalem.

    Pas Romeo nanya ke Julio siapa cowo yg di wallpaper hp, buat gw itu janggal.
    Pertama, Julio gampang banget come out dan bilang kalo cowo itu mantannya, padahal Romeo itu stranger. Kedua, Romeo responnya juga biasa banget, seakan2 sudah tau kalo si Julio itu gay.

    Secara keseluruhan sih ini cerita lumayan menarik buat diikuti

    • Oya satu lagi😀 (sorry kalo gw cerewet). Adegan pertama pas Julio dan Mario ML, itu ada yang janggal juga. Soal body si Julio yang gemuk. Kenapa itu jadi masalah? Mereka kan sudah jadian, harusnya filter soal “tipe body” itu sudah lewat kan. Ini salah satu contoh yang tadi gw bilang ceritanya terlalu cepet n kehilangan detailnya😀

      • Thank JG untuk semua masukannya, aku jelsain kok hal yg kamu pertanyaakan di part 2 nanti,hehehe
        semoga kamu puas nanti.a…

        dan soal alur cepet, aku masih bingung nih, masalahnya ini kan cerpen jadi klo alurnya aku bikin lamban bakalan jadi cerbung panjang,hahaha

        but thanks untuk saran.a,hehehe
        🙂

    • thanks Via…

      again ada yg bilang klo ceritaku terlalu cepat alur.a, jadi ketahuan deh klo aq itu bkn tipe penyabar,mau.a buru2,ahahah

      but thanks yah buat masukan.a lain kali di coba agar tdak trlalu cepat alur.a….

      iyatuh aku aja gtu klo abis dari MKG palingan wisata kuliner di sepanjang jalan boulevard,hahah

      rekomen: coba makan di AGPS (Ayam Goreng Pemuda Surabaya) selain masakan.a enak kita juga bisa menikmati para waiters yg ganteng,kewl,unyu2, pokok.a bnyak deh, kan mayoritas cowok2 semua,hahah
      itung2 cuci mata,hahaha

      • Btw salam kenal onew..
        Iya dlu suka makan disitu jg..haha.
        Jadi kangen gading gara2 tmn2 gw pd lulus kul di ibii kagak perna ke gading lg nongkrong ga jelas. Dari cerita lo bikin kangen gading lg… Hahahaha… tinggu loh part ke 2 nya..

        • salam kenal juga Via…hehe
          oh ya btw kmu cewe or cowo?

          eh eh skrg nama.a udh ganti kan bukan ibii lagi? klo gak salah nma.a kwee kian gie school..hehe

          iyah part ke 2.a baru mau rilis…hehe

  2. Ohoho romeo and julio wkwk romeo and juliet mainstream xP masih banyak typo terus sama yang komenan diatas agak kecepeten alurnya :3 tapi tetep bagus kok, si julio uke pan yah ? Aku suka uke yang lebih tua (?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s