Rainy Day (1)


DIS_

Prolog

 

Hari ini hujan.

Seperti hari-hari yang lainnya. Aku duduk termenung di bawah pondok kecil berkayu rapuh sembari menatap rintikan hujan yang turun dari langit kelabu. Kusisir rambutku yang basah karena percikan air yang jatuh dari seng bolong yang ada di atas kepalaku ini dengan jari-jariku. Aku menundukkan kepala, melihat lumpur yang bergumpal di bawah kaki. Sendal jepit yang aku gunakan terpercik oleh noda-noda lumpur, membuat sendal jepitku yang bersih menjadi sangat kotor.

Di sekelilingku, orang-orang berlalu lalang. Ada yang menggunakan payung, ada yang menggunakan tas, ada yang menggunakan tudung jaketnya, semua hal itu untuk menghalau hujan. Aku suka berjalan di bawah hujan tanpa menggunakan penutup kepala sama sekali, membiarkan tetesan demi tetesan air mengaliri pipiku. Tetapi hari ini aku sedang tidak ingin berada di bawah hujan. Karena hatiku sedang mengalami hujannya sendiri.

Seseorang yang kucintai, ternyata mencintai orang lain.

Aku kini tahu apa itu rasa sakit hati. Seperti ada jarum yang tak kasat mata menghujam hati, lalu menorehkan luka yang tak terlihat. Sid bilang, air mata adalah keringat dari hati. Dan aku benci mengakuinya, karena setiap hari hatiku selalu berkeringat, menyebabkan mataku mengeluarkan air mata. Sungguh, aku sudah berusaha untuk melupakan rasa sakit itu. Tetapi setiap kali aku melihat wajahnya, jarum itu kembali menghujam dan hatiku kembali berkeringat. Menghasilkan hujan di langit dan pelupuk mataku.

Kurapatkan jaket yang kugunakan, bagian lengannya bolong, mungkin karena jaket ini sudah kugunakan selama lima tahun. Jaket yang dibelikan oleh And saat dia dan keluarganya liburan ke Singapura. Hadiah pertamaku dari luar negeri. Hadiah yang sampai sekarang tidak akan pernah kulepaskan. Hadiah yang akan selalu kugunakan. Aku menyukai jaket ini, selalu melindungi kulitku dari teriknya matahari dan dinginnya cuaca.

Hari ini aku kembali memperhatikannya, hal yang selalu kulakukan setiap hari. Yang kini baru kusadari kalau hal seperti itu hanya membuang-buang waktuku saja. Namun, sekuat apapun aku mengutuk diriku untuk menghentikan apa yang sedang kulakukan untuknya, aku tidak bisa berhenti. Seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk terus melakukan hal itu. Hal yang bodoh, hal yang gila.

Aku mendesah panjang, kutengadahkan kepalaku dan kembali melihat rintikan hujan. Airnya yang bening jatuh ke tanah dan membasahi kota Jakarta. Kota keras yang telah menjadi tempat tinggalku selama ini. Aku mengeluarkan walkman tua dari dalam kantong jaketku. Memasang headseat ke dalam lubangnya, lalu memasang kedua bundalan speaker itu ke dalam telingaku.

Satu buah kaset yang telah kuisi dua belas lagu kesukaanku sudah terpasang di dalam walkman tua kesayanganku ini. Dua belas lagu yang telah membuat bibirku tersenyum ketika hatiku mengatakan hal yang lain. Dua belas lagu yang selalu kudengarkan. Lagu-lagu yang membuaiku, lullaby untuk tiap dendangan hatiku yang bersedih.

Aku merapatkan walkman tuaku ke dada, lalu mulai menekan pelan tombol play.

Chapter-Lagu 1

♫ Lenka – Heart Skips a Beat

Tanpa diberitahu pun aku tahu kalau Ozayn jatuh cinta pada Zavan. Teman akrabku satu itu selalu memperhatikan gerak-gerik Zavan, tersenyum lebar ketika mendengar nada-nada kotor yang keluar dari mulut cowok berwajah bule itu. Jika aku melihat Ozayn, aku melihat diriku sendiri. Yang sedang menatap Bagas dengan tatapan memuja, ingin menyuruh cowok dingin itu untuk mencintaiku. Meskipun aku tahu dia tidak akan pernah melakukannya.

Kini aku telah berada di grade 11, semester dua. Beberapa bulan lagi, Bagas akan lulus dan tidak akan ada di sekolah ini lagi. Itulah bedaku dengan Ozayn, jika aku beberapa bulan lagi tidak akan melihat Bagas, sedangkan Ozayn masih punya banyak waktu untuk menganggumi sosok Zavan yang memang kusadari sangatlah tampan. Dengan mata biru, tubuh yang kini makin tinggi dan rambut acak-acakkan.

“Bilang aja ke Zavan kalo kamu suka sama dia,” ucapku, aku duduk di sebelah Ozayn saat di homeroom Physics. Zavan duduk dengan Sid, sedangkan Tivo duduk dengan cewek yang kini telah menjadi pacarnya. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa jadian. Tivo bilang, cewek itu menembaknya dan dia kasihan jika menolaknya. Aku sebagai sahabat karibnya hanya bisa mengangguk dan tak ikut campur. Kalau And pastinya duduk dengan Vick, cowok yang sering diajak And berkelahi—dulu. Aku tidak terkejut saat mereka jadian, aku sudah menyadari kalau ada cinta di setiap makian yang mereka saling lontarkan.

“Siapa yang bilang aku suka sama Zavan?” tanya Ozayn, berbisik di telingaku.

Aku tersenyum kecil, kutolehkan kepalaku ke arahnya dan melihat kulitnya yang hitam agak berpendar saat tertimpa cahaya matahari. “Aku kenal kamu itu udah hampir dua tahun. Setiap gelagat yang kamu tunjukkin untuk sahabatku itu kelihatan banget Oz. Aku ngelihat diriku sendiri di dalam diri kamu.”

Ozayn menangkupkan wajahnya di kedua tangannya. “Seharusnya aku sadar diri ya Rev,” ucap Ozayn dari sela-sela tangannya. “Mana mau Zavan sama cowok jelek kayak aku ini.” Ozayn menurunkan kedua tangannya dan menatapku dengan mata penuh kesedihan. Sekali lagi, aku melihat diriku sendiri di dalam dirinya.

“Kamu nggak jelek,” sahut cepat, aku mengeluarkan buku paket Physics dari dalam kolong meja. “Nggak ada orang yang jelek di dunia ini. Semua orang sama aja di mata Allah. Nggak ada yang jelek, nggak ada yang ganteng.” Aku menolehkan kepalaku ke arahnya, lalu tersenyum simpul. “Kamu ganteng Oz, dengan jadi diri kamu apa adanya.”

Senyuman kecil muncul hati-hati di bibirnya yang penuh. “Kamu memang temenku yang paling baik Rev.” Ozayn menepuk pundakku pelan, mengucapkan terima kasih dalam sudut pandang tepukannya.

“Kamu juga temenku yang paling baik.”

***

Mari kuceritakan saat aku mengenal Ozayn untuk pertama kali. Dia itu salah satu anggota di Student Organization, atau dalam bahasa Indonesia nya adalah OSIS. Dia menjabat sebagai seksi keamanan. Karena badannya yang besar dan kokoh. Agak-agak mirip And, karena dia bilang, badannya bisa sebesar itu karena suka bantu Bapak dan Datuk nya di truk pengangkut pasir saat dia masih tinggal di Lahat, Palembang. Namun cara berjalan Ozayn itu jelek, agak membungkuk, yang memberikan kesan cupu untuknya. Apalagi dengan kacamata besar dan rambut yang terlalu banyak dibubuhi minyak rambut. Dibelah pinggir ke kanan lagi gaya rambutnya. Makin mencolok kecupuan yang ada di dalam dirinya.

Namun Ozayn adalah orang yang baik. Cerdas dan sangat rendah hati. Jika dia bicara, dia akan menghiasi bibirnya dengan senyuman hangat. Dia tidak cepat marah seperti And, dia tidak sombong seperti Sid, dia tidak serakus aku, dia tidak sependiam Tivo dan dia tidak sejorok Zavan. Kekuarangan yang ada di dalam dirinya hanyalah sifat mindernya itu. Selalu bilang kalau wajahnya jelek, selalu bilang kalau dia tidak pantas sekolah di tempat se-populer ini. Itulah yang tidak kusuka dari Ozayn.

Masih banyak hal yang bisa kuceritakan tentang Ozayn, saking banyaknya aku tidak tahu harus mulai dari yang mana lagi. Intinya, Ozayn adalah teman akrabku. Orang yang sama-sama dipanggil jelata oleh Zavan. Entah mengapa, aku dan Ozayn suka-suka saja dengan sebutan itu. Mungkin karena Zavan yang mengatakannya, jadi tidak terdengar mengejek sama sekali.

Zavan adalah sahabat karibku yang sangat baik. Meski mulutnya mengucapkan kata-kata kotor dan senonoh, tetapi dia selalu ada untukku. Aku masih ingat saat dia menyanyikanku lagu perjanjian persahabatan waktu itu. Dia dengan suaranya yang kadang parau terus menyanyikan lagu itu untukku, membuatku tertawa dan merasa tidak kesepian lagi. Aku masih ingat lagu yang dia nyanyikan untukku waktu itu. Lagu yang benar-benar konyol.

“Lagu ini gue dedikasikan untuk sahabat-sahabat gue. Khususnya yang itu.” Zavan mengangkat jari telunjuknya lalu menunjukku. Sid dan And hanya tertawa-tawa saja di atas kasur Zavan yang sangat besar. Meski yang ada di ruangan ini kami berempat, tetapi gayanya sudah seperti artis besar lagi konser saja. Zavan menarik nafas panjang lalu mulai bernyanyi. “I could be your Fag Bad, and you could be my Gay. I’ll never make you feel sad, when you come out to play.” Suara Zavan memang tidak bagus, tetapi entah mengapa lagu yang dia nyanyikan terdengar harmonis. “We don’t give a fuck, what people are thinking. I know you’ll always look out for me, when we go out drinking. I can ask you things I can’t ask anyone, and you’ll give me direction. Apart from me, you’re the only other person I know, who reads the travel section.” Zavan menaikkan suaranya, membuat Sid, And dan Tivo menutup telinga.

I could be your Fag Bad, and you could be my Gay. I’ll never make you feel sad, when you come out to play.” Kemudian lagu terus bergulir, membuat aku terbuai olehnya. Ketika lagu berakhir, aku memberikan tepuk tangan untuknya. Sumpah, itu adalah hal terbaik yang pernah Zavan lakukan untukku. Bukan berarti aku tidak berterima kasih ya atas semua traktiran yang pernah dia berikan padaku. Hanya saja, hal ini lebih indah dari semua hal yang pernah dia berikan untukku.

Thanks,” kataku. Dan itu sudah cukup untuk menjadi sebuah perjanjianku dengannya.

Sid bangkit dari kasur, dia berjalan cepat menuju ke stereo yang ada di bawah TV plasma yang tertempel di dinding. “Fag Bad?” tanya Sid dengan nada suara sarkas. “Nggak ada kata yang lebih bagus apa?”

Zavan menaikkan pundaknya tinggi-tinggi. “Cuma itu aja yang ada di kepala gue. Lagi pula itu kan lagunya Lily Allen. Judul aslinya itu Fag Hag, nah… cuman Fag Bad aja yang nyambung sama nada di lagunya itu.”

“Tapi tetep aja. Fag Bad… banci nakal.” Sid mengernyit aneh. “Meski gue nggak terlalu kaget sih Zav. Lo kan rada gitu. Rada-rada banci nakal. Plus kegatelan.”

“Biarin aja gue banci nakal, daripada pura-pura macho kayak And.” Zavan mendelik ke arah Sid sengit. “Kalo lubang pantat gue gatel, gue suruh dong kontol buat garukin.”

Aku dan yang lainnya langsung tertawa kencang. Sedangkan Tivo hanya menyeringai kecil. Oh, aku sih tahu kenapa Tivo seperti itu. Saat di grade 10, semester dua, Tivo menyerahkan rahasianya padaku. Rahasia yang tetap akan kupegang sampai sekarang. Rahasia yang benar-benar membuatku terkejut. Aku tidak tahu kalau Tivo mempunyai rahasia sekelam itu. Jika aku menjadi dirinya saja, aku pasti tidak akan pernah bisa tersenyum lagi seperti dia. Namun aku yakin, suatu hari nanti Tivo kembali bisa tersenyum. Aku pernah bertanya padanya, apakah dia bisa tersenyum meski hanya senyuman palsu.

Jawabannya adalah… “Gue udah lupa gimana caranya tersenyum. Gue lupa gimana ngebuat bibir ini melengkung untuk jadi sebuah senyuman.” Tivo yang malang, mempunyai kisah hidup paling buruk dari kami berlima. Bahkan, kisah hidupku lebih beruntung daripada kisah hidupnya dia. Jika ada yang ingin diberi pelukan, Tivo lah yang paling membutuhkannya.

***

Aku mempercepat langkahku. Buku yang ada di kedua tanganku bergerak-gerak lincah seraya mengikuti hentakan langkahku yang panjang. Beberapa pasang mata menatapku, aku menolehkan kepalaku dan tersenyum lebar ke mereka. Yang mereka balas dengan raut wajah tertegun. And bilang, atau semua orang bilang, wajahku tampan. Aku seperti malaikat yang dibungkus dalam badan manusia. Tetapi itu pemikiran mereka. Bagiku, wajah yang menempel di mukaku ini adalah sebuah bencana. Aku tidak suka menggunakan wajah ini, karena banyak hal buruk yang terjadi padaku karena wajahku ini.

Sudah banyak hal yang berubah selama setahun ini. Adam—pacar Sid—kini telah berada di Universitas Indonesia. Rencananya, cowok itu akan berkuliah di luar negeri. Tetapi dia tidak mau menjalin hubungan jarak jauh dengan Sid. Sebab itulah dia akan menunggu Sid sampai dia lulus sekolah. Aku suka hal-hal berbau romantis seperti itu. Menunggu orang yang kau cintai, berbalik untuk mencintaimu. Sayangnya, aku tidak pernah mendapatkan hal itu untuk diriku sendiri.

Aku memasukkan buku-bukuku ke dalam loker. Hatiku kembali hujan saat aku memasukkan nomor kombinasi lokerku. Bagaimana tidak, kombinasi yang kugunakan adalah ulang tahun Bagas. Terlihat bodoh, terlalu terobsesi, terlalu jauh mencintai, dan terlalu percuma. Aku membentak diriku sendiri untuk mengganti nomor kombinasiku. Hanya saja, setiap kali aku mau merubahnya, aku merasa bersalah pada Bagas. Aku tidak tahu merasa bersalah karena apa. Perasaan bersalah itu datang sendiri.

Setelah semua buku itu masuk ke dalam lokerku, aku melangkahkan kakiku cepat menuju ke lapangan sepak bola. Ingin melihatnya latihan pada siang hari ini. Klub sepak bola selalu mengadakan latihan hampir setiap hari, sepulang sekolah. Meskipun Bagas sudah berada di grade 12, dia tetap aktif di klub sepak bolanya.

Matahari tertutup awan hari ini, langit kelabu bertajuk mendung menghiasi kota Jakarta. Lihat saja, beberapa jam lagi pasti hujan. Kalau pun tidak hujan, langit akan selalu mendung. Atau berubah lagi menjadi cerah, membuat matahari yang panas makin panas. Aku mendesah panjang, lalu berjalan menuju ke bangku penonton yang searah dengan tiang gawang. Pandanganku meneliti saat aku sudah duduk. Beberapa teman klub Bagas sudah berada di lapangan, berlari-lari kecil ataupun peregangan. Aku mengangkat kepalaku, untuk melihat posisi Bagas saat ini.

Sebentar dulu, apa yang sedang kulakukan? Aku melakukannya lagi. Memperhatikan cowok yang bahkan tidak melirikku sama sekali. Seharusnya aku berhenti melakukannya, aku tidak boleh melakukan hal ini terus-menerus, ini tidak sehat. Dua belas tahun sudah cukup untukku memperhatikan sosoknya, saatnya mulai mencintai orang yang mencintaiku. Aku harus mencari kesibukkan yang lain. Yang lebih berguna. Belajar, contohnya.

Hanya saja, aku memang bodoh. Aku kembali duduk saat melihat Bagas sedang berlari kecil di hadapanku, bola yang ada di kakinya mengikutinya seperti Bagas adalah tuannya. Sosoknya yang tinggi, berpundak lebar, bermata tajam, bersuara berat, berambut lebih acak-acakkan dari Zavan dan berdada bidang membuat mataku berhenti berkedip. Keringat yang ada di dahinya jatuh ke sela-sela rambut yang ada di dekat telinganya. Turun sampai ke tengkuknya lalu masuk ke dalam jerseynya.

Jika kalian bilang aku mencintainya karena hal itu, kalian salah besar. Aku hanya kagum dengan apa yang dia tunjukkan dalam semangatnya itu. Dia dengan mudahnya berbaur di dalam keluarganya yang koleris. Memperhatikan sekeliling dengan seksama, baru bicara ketika ada yang ingin dia ucapkan. Selalu tenang jika ada yang mengganggunya. Semua hal itu, semua tingkah lakunya terlihat begitu plagmatis.

Swadee kha,” sapa seseorang dalam bahasa Bangkok di hadapanku. Aku mengalihkan tatapanku dari Bagas ke orang yang sedang mengajakku bicara. “Lagi ngapain di sini?” tanyanya dalam bahasa Indonesia yang sangat kaku.

Wajah Chookriat Skeraovukul yang sangat Bangkok tersenyum lebar ke arahku. Aku biasa memanggilnya Chook. Orang yang ramah, suka tersenyum karena dia memang berasal dari Bangkok. Kota berlesung pipit itu, kota yang memang diberi predikat dengan kota senyuman. Meskipun aku tidak terlalu suka dengan kota Bangkok. Oh, Chook salah satu teman akrab Bagas. Dia selalu datang ke rumah Bagas setiap malam minggu dengan teman satu klub sepak bola yang lain. Bercengkrama tidak jelas tentang klub-klub sepak bola.

“Revie?” panggilnya pelan. Tangannya yang besar bergoyang-goyang di depan wajahku.

Aku tersenyum simpul, Chook sedikit tertegun lalu balas tersenyum. “Lagi lihat kalian latihan.” Aku berujar sembari mencoba tenang saat Bagas melirik ke arah Chook lalu ke… aku. Meski dia tidak begitu memperhatikan wajahku seperti semua orang.

“Mau lihat gaya baruku tidak?” tanya Chook. “Aku punya beberapa tekhnik baru untuk permainan sepak bolaku.”

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Chook mundur dari pagar pembatas lalu mengambil bola yang ada di bawah kakinya. Dia mulai melakukan tekhnik-tekhnik yang aku tidak mengerti sama sekali. To tell you the truth, aku tidak begitu suka sepak bola. Memperhatikan satu buah bola ditendang ke sana-kemari hanya untuk dimasukkan ke gawang. Kenapa merebutkan hal yang tidak penting, kenapa tidak merebutkan hal yang lebih masuk akal? Baiklah, tidak perlu mendengarkan apa yang kukatakan.

“Bagaimana, bagus tidak?” tanya Chook, dia maju ke depanku lagi. Keringat yang ada di dagunya meluncur jatuh ke lapangan berumput hijau tebal.

“Bagus,” ucapku, meski sebenarnya aku tidak memperhatikannya dengan sungguh-sungguh.

“Chook!” Sarafku langsung terhenti saat mendengar suara itu, suara berat yang benar-benar bisa membuatku tertegun. “Rehearsal, now.”

“Oke!” Chook mengacungkan jempolnya ke arah Bagas. Cowok berwajah Bangkok itu menatapku sebentar, dia mengedipkan matanya lalu berlari kencang ke tengah lapangan.

Semua pemain bola itu duduk di sana, mendengarkan Coach Darren bergumam tentang sesuatu yang tidak aku mengerti. Bagas yang duduk di paling belakang mendengarkan dengan seksama, di tangannya ada Evian, sedangkan tangan yang satunya menopang dagu. Rambutnya yang berwarna hitam, terkibas-kibas karena tertiup angin. Membuat posturnya seperti salah satu cowok yang ada di iklan gel rambut.

“Udah gue duga lo ada di sini,” sergah seseorang di sampingku. Aku menoleh dan melihat Zavan yang kini sudah duduk di sebelahku. Tivo yang sibuk dengan iPadnya duduk di sebelahku yang satu lagi. “Nggak bosen apa lihatin Bagas?” tanya Zavan, dia menyesap Pocari Sweat yang ada di tangannya.

“Maunya sih bosen, tapi aku nggak bisa.” Aku tidak bisa berbohong, setiap kali aku berbohong, mereka pasti akan tahu.

Tivo menaruh iPadnya di atas paha. “Gue udah putus dari Belle.”

Belle adalah cewek yang menjadi pacarnya itu. Cewek cantik, salah satu ketua di Clique yang sering sekali berteriak-teriak nggak jelas kalau lihat Robert Pattinson shirtless di majalah. “Putus kenapa?” Aku menyandarkan punggungku di sandaran semen yang ada di belakangku. Bagas berdiri dari posisi duduknya, dia berlari kecil untuk mengambil bola yang ada di pinggir lapangan.

“Dia nggak suka karena gue terlalu cuek.” Kemudian Tivo kembali diam, tidak menjelaskan lebih detail. Aku sudah tahu dengan cara apatisnya seperti ini. Dia bilang, berbicara itu membuang-buang tenaga. Dia lebih suka bicara saat dia ingin melakukannya.

“Baguslah kalo lo putus dari si Belle-k mata. Gue nggak ngerti deh sama cewek itu. Selalu ngegosipin hal sampah. Ngomong ini, ngomong itu. Gawd! Coba aja gue bawa penutup Brandy Fazaik, pasti bakalan gue sumpel mulutnya. Sekalian sama pepeknya.” Zavan memajukan badannya, menatap satu-satu semua pemain sepak bola yang sedang bersiap untuk memulai latihan yang sesungguhnya. “Lihat deh asistennya Coach Darren. Ganteng ya. Kalo dia senyum itu lho, buat bulu kontol gue merinding. Namanya siapa ya… gue lupa?”

“Taquitos.” Aku dan Tivo menjawab bersamaan.

Major ew! Namanya kayak makanan menjijikan dari Texas deh.” Zavan memundurkan badannya. “Cari yang lain lagi deh kalo gitu. Nggak enak banget, masa pas gue sama dia lagi gituan nanti, gue bakalan mendesah sambil teriak-teriak: Oh, Taquitos, fuck me harder, yeah, harder. Ngebayanginnya aja gue ngerasa kayak lagi nge-seks bareng sama makanan menjijikan itu.”

Aku tertawa pelan, karena kata-kata jorok yang meluncur dari mulut Zavan barusan. “Ya udah, ganti namanya aja. Jadi Ito atau Taq gitu.”

“Oh, Taq, fuck me harder!” seru Zavan kencang, membuat beberapa pemain sepak bola yang sedang serius latihan menoleh ke arah kami. “Hai, guys!” Zavan melambaikan tangannya ke orang-orang yang menatap ke arah kami, termasuk Bagas. “Nice move.” Zavan mengedipkan matanya, membuat beberapa pemain sepak bola itu tertawa-tawa nggak jelas. Bagas mengalihkan kembali matanya ke bola, lalu mulai bermain serius lagi. “Semua keringat yang mengucur dari kening mereka itu seksi-seksi ya. Pengen deh gue diperkosa sama mereka.”

“Waktu itu lo pengen minta diperkosa sama anak-anak klub Rugby, sekarang sama anak-anak pemain sepak bola. Biatch!” Tivo mendengus, dia kemudian kembali sibuk dengan iPadnya.

Zavan menjulurkan lidahnya. “Biarin. Selama lubang gue masih bisa menampung berbagai jenis kontol, dari yang kecil hingga yang besar, gue akan selalu siap. Oh, Mister Kontol, datanglah ke lubangku.” Zavan berujar khidmat. Membuatku kembali tertawa geli.

Dengan sahabat seperti Zavan, sebenarnya memikirkan cinta itu tidak perlu. Iya kan? Hanya saja Bagas selalu mendengung di telingaku, masuk ke celah-celah Cepalusku lalu menyelusup masuk ke dalam hatiku. Bagas sialan! I love him so much. Bisa-bisanya aku jatuh cinta pada someone like him. Kenapa kisah cintaku tidak seberingas Sid? Kenapa kisah cintaku tidak seperti And dan Vick, yang diawali dengan pertengkaran?

Hidup memang tidak adil. Ralat, hidup memang tidak akan pernah adil.

***

Kukeluarkan uang dua ribu rupiahku dari dalam kantong seragam DIS ku. Hanya uang ini yang masih tersedia untukku. Mbak Wati, penjaga warung yang berada di dekat rumahku menatapku dengan tatapan baik. Setiap aku mau membeli bahan makanan, aku selalu ke warungnya. Dia pasti membiarkan aku mengutang, boleh membayarnya kapan saja ketika aku sudah punya uang. Tetapi tidak, aku bukan orang yang suka mengutang apapun dengan orang lain. Meskipun aku jelata seperti yang Zavan bilang, hidup tanpa hutang itu lebih baik daripada dihantui rasa ingin menebus hutang itu. Seperti yang sering menyerang Ayah dan Ibuku.

“Kecap manis bungkusannya dua Mbak.” Aku menunjuk kecap manis ABC bungkusan yang digantung di dekat kepalanya. “Sama krupuknya satu.” Mbak Wati menyerahkanku kedua bahan penyedap makanan itu ke tanganku. Kuulurkan uang dua ribu yang ada di tanganku kepadanya. “Makasih Mbak.”

Aku baru saja ingin beranjak pergi saat Mbak Wati menahan tanganku. “Ini untuk Revie,” ucapnya dengan senyuman. Satu bungkus krupuk putih terulur untukku. “Mbak kasih gratis untuk kamu.”

Aku tersenyum, lalu berujar cepat. “Makasih Mbak.” Dia mengangguk, lalu aku cepat-cepat pergi dari sini. Adik-adikku pasti sudah lapar di rumah. Ravina pasti sudah masak nasi, dan aku lah yang bertugas membawakan lauknya. Setiap hari itu yang kami lakukan. Ayah berkerja jadi buruh bangunan. Pulang sekitar jam delapan malam. Kalau Ibu kerja di rumahnya Bagas, jadi pembantu di sana. Baru pulang ke rumah juga saat selesai maghrib. Sebab itulah, aku, Ravina dan Ravilia bertugas menjaga adik-adik kami.

Ravina yang memasak nasi, Ravilia yang membersihkan rumah, aku yang mencuci pakaian dan membelikan mereka lauk untuk makan. Setiap hari itu yang kulakukan. Namun jika pekerjaanku sudah selesai, aku biasanya pergi ke rumah Bagas, untuk membantu beban Ibuku jadi pembantu di sana. Membersihkan kolam berenang, menjemur semua pakaian yang telah Ibuku cuci, atau menyiram taman depan dan belakang rumah keluarga Prakoso.

Aku mempunyai kakak, namanya Raffi. Selalu ada untukku saat aku lelah, menjagaku dari orang-orang yang suka menjahatiku saat aku pergi ke pasar untuk menemuinya. Dia menjadi preman di sana. Menjaga pasar dari semua preman jahat yang akan mengganggu tempat mangkalnya. Kakakku bukan jenis preman jahat seperti preman kebanyakan. Semua orang yang ada di pasar malah segan dengan kakakku, memberikan kakakku uang tiap bulan karena dia yang menjaga semua pedagang itu dari palak liar.

Raffi jarang pulang ke rumah, tetapi sekalinya pulang, dia akan membawakan kami makanan. Seperti yang sering kulakukan kalau aku baru pulang dari rumah And. Meskipun aku tidak sering-sering melakukannya. Raffi tinggal dengan temannya yang preman itu juga. Yang menjaga parkiran di pasar. Kalau tidak salah namanya Kak Soni. Dia sebenarnya anak orang kaya, sayang orang tuanya korupsi. Makanya dia jadi preman seperti itu. Kak Soni awalnya hanya gelandangan, lalu kak Raffi menolongnya. Menyuruhnya tinggal di rumah kami untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya kak Raffi membuat rumah di kolong jembatan untuk dia dan kak Soni.

Revin duduk di depan pintu saat aku sudah sampai di rumahku. Baiklah, tempat tinggalku tidak layak jika disebut rumah. Mungkin lebih cocok gubuk. Jendelanya hanya satu, triplek tipis menghiasi setiap sudutnya, atapnya terbuat dari seng-seng yang sudah berkarat, kardus-kardus yang rapuh karena air menjadi alas untuk kami.

“Assalamualaikum,” sapaku ke Revin. Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum. Giginya yang ompong terlihat jelas, matanya yang lebar sepertiku berbinar-binar.

“Kak, aku dapet nilai sepuluh lho,” ujarnya sambil berlari masuk ke dalam rumah, lalu kembali lagi ke hadapanku. “Nih, kata bu Guru, cuman aku aja yang nilai matematikanya bagus.” Dia kembali tersenyum, membuat wajahnya yang tembam mengembung seperti Boboho.

Aku tersenyum, kuacak-acak rambutnya pelan. “Hebat dong adik kakak,” kataku seraya melepaskan sepatu Converse ku yang dibilang Zavan harus segera dibakar dan dikubur sedalam mungkin saking sudah tak layak pakai. “Tapi dek, walopun Revin udah dapet nilai sepuluh, bukan berarti Revin harus berhenti belajar lho.”

“Enggak. Revin bakalan belajar terus. Biar pinter kayak kakak, terus dibawa ke luar negeri.”

Revin memeluk pinggangku, aku hanya tertawa dan mengajaknya masuk ke dalam rumah kami yang temaram. “Revandi mana?” tanyaku pada Ravilia, yang sedang melipat-lipat baju.

“Diajak main sama Rita dan Rati ke kolong jembatan sebelah,” jawab Ravilia.

“Kamu jemput mereka ya, Ra. Bilang kalo kita mau makan siang bentar lagi.” Aku menaruh tasku di dalam kamarku dan adik-adikku. Kamar kecil yang sangat nyaman. Kalau sudah malam, aku dan adik-adikku akan berkumpul lalu belajar bersama. Kemudian kami akan tidur desak-desakkan, meskipun aku tidak keberatan sama sekali.

Ravilia mengangguk, dia berdiri lalu menaruh semua pakaian yang sudah dia lipat ke lemari plastik berwarna kusam yang ada di dekat pintu kamar. Dia beranjak pergi, rambutnya yang panjang bergoyang-goyang saat dia berjalan. Aku masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu yang terbuat dari triplek dua lapis. Kubuka bajuku, dan melepaskan semua pakaian DIS ku dari tubuh. Aku mengambil pakaian yang ada di dalam lemari kecilku, dan menganakannya. Pakaian yang terlalu sering dicuci ini masih terlihat bagus di tubuhku.

Aku keluar dari kamar, lalu duduk bersila di atas kardus, alas pengganti lantai marmer seperti lantai yang ada di rumah And dan Bagas. “Rav, bawain nasinya ke sini ya. Kita makan siang dulu.” Revina menyahut dari arah dapur. Revin duduk di sebelahku, sambil menatap kecap manis bungkus yang ada di tanganku.

Ravina menaruh nasi di dalam piring besar di tengah-tengah ruangan. Dia duduk dan menaruh semua piring plastik di dekat nasi tersebut. Adikku, Revandi datang dengan wajah berbinar saat melihat krupuk yang kutaruh di tengah-tengah nasi dan piring. Dia tersenyum lebar, lalu duduk di pangkuanku.

“Kita makan pakek krupuk hari ini?” tanyanya. Ravina menyendokkan nasi ke atas piring. “Hore. Revan kira kita cuman makan pakek kecap aja hari ini.” Kami semua tertawa mendengar nada gembira yang meluncur dari suara adik terakhirku itu. Aku mengambil piring plastik yang Ravina berikan untukku, menuangkan kecap manis ke atas nasiku. Inilah menu makanan kami siang ini, kecap manis dan krupuk. Kalau ada uang lebih, aku biasanya membeli makanan yang lebih layak. Namun, seperti ini saja adik-adikku terlihat gembira. Hanya saja, suatu hari nanti, aku akan memberikan yang terbaik untuk mereka.

Setelah selesai makan, aku beranjak berdiri. Ravina membereskan semua piring bekas kami makan, sedangkan Ravilia menyapu tempat kami baru saja makan. “Kakak mau ke rumahnya Bu Prakoso ya. Mau bantu Ibu di sana. Ravina sama Ravilia jagain adek-adek ya.” Adik-adikku mengangguk serempak. Aku mengambil jaket yang kugantung di dekat lemari plastik, mengenakkannya lalu berjalan cepat menuju ke pintu. “Revin, Rita, Rati jangan main ke jalan ya. Revan dijagain. Kalo diajak sama siapa-siapa jalan jangan mau. Ntar diculik.”

Sekali lagi, adik-adikku mengangguk serentak. Aku mencium pipi Revan, kemudian berjalan menjauh menuju ke rumah cowok yang selalu membuat hatiku hujan dan berdegup kencang.

Jika dalam keadaan krisis keuangan begini, aku biasanya akan jalan kaki menuju ke rumah Bu Prakoso. Tidak terlalu jauh jarak rumah Bu Prakoso dari rumahku. Sekitar delapan kilo meter. Aku sudah biasa melakukannya. Saking biasanya, aku bahkan tidak pernah lelah sama sekali. Mungkin itulah alasanku rakus, suka makan apa saja yang flocksku berikan. Semua kalori yang ada di dalam tubuhku terbakar, makanya aku tidak pernah gemuk sama sekali.

Semua flocksku bilang, aku rakus. Tidak, aku tidak rakus. Aku hanya suka makan. Kata Ibu, tidak boleh menyia-nyiakan makanan. Zavan dan Sid sangat suka memesan banyak makanan, tetapi mereka suka sekali membuang-buangnya. Sangat mubazir. Sebab itulah aku yang menghabiskannya. Aku mau saja membawa semua makanan itu pulang ke rumah, tetapi aku malu. Tentu saja aku masih punya malu. Tidak mungkin kan, makanan yang sudah disentuh disuruh bungkus lagi. Lagi pula Sid akan murka, dia bilang menyuruh seseorang memasukkan makanan bekas ke dalam plastik untuk dibawa pulang itu sangat merendahkan diri sendiri.

Tetapi kalau aku bersama And dan keluarganya, aku tidak pernah malu untuk membungkus makanan yang sudah kami sentuh. Mama—aku memanggil Mamanya And dengan sebutan itu alih-alih tante, dia sendiri yang menyuruhku—juga menjunjung tinggi-tinggi memakan makanan sampai habis. Jangan menyisakan makanan, itu mubazir.

Ya… selama ada makanan, nikmatilah. Sungguh, kau tidak akan pernah tahu kapan kau akan kelaparan. Itu motto hidupku yang kedua. Yang pertama, cintai Bagas. Aku tolol ya?

***

Rasanya seperti selamanya. Itulah yang kurasakan saat melihat And. Dia adalah sahabatku, aku mengenalnya saat dia tiba-tiba datang menghampiriku dan memberikanku setengah mainannya untukku. And orang yang baik, cepat marah jika ada yang menggangguku, perhatian dan sangat suka memberiku es krim, makanan/minuman kesukaanku. Aku jatuh cinta pada es krim saat And membelikanku dua belas tahun yang lalu.

Aku tahu And mencintaiku. Aku bisa merasakannya saat dia menatapku, saat dia menyuruhku rebah di dadanya, atau pada saat dia mengecup keningku setiap kali aku menginap di rumahnya. Namun aku tahu, cinta And untukku tidak akan pernah cocok. Kami sahabat, dan selalu berjanji untuk menjadi seperti itu. And bilang, Que Sera, Sera, whatever will be, will be. Tetapi lihat, Que Sera itu memang tidak berlaku untuk kami. Aku dan dia akan selalu ditakdirkan untik menjadi sahabat selamanya. And adalah sahabat serta kakak dan mentorku di dalam hidup. Yang akan selalu membuka tangannya untuk memelukku saat aku sedih. Dia selalu ada untukku. Aku mencintai And, dengan caraku sendiri.

And selalu menebak, alasan aku bisa jatuh cinta pada Bagas karena dia pernah menyelamatkan kami dari anjing cowok itu. Tetapi tidak. Alasan aku mencintai Bagas bukan karena hal itu. Aku mencintai Bagas secara tiba-tiba, saat Ibuku sedang melamar bekerja di rumah bu Prakoso. Bagas tiba-tiba datang di tengah-tengan pembicaraan, dan… BOOM! Aku langsung jatuh cinta padanya, kepada cowok berumur enam tahun, bermuka masam dan tatapan tajam yang menakutkan. Tetapi… aku jatuh cinta. Aku tidak tahu bagaimana, aku tidak tahu kenapa, aku hanya mencintainya. Sangat mencintainya.

Semua kenangan, semua gelagat, semua senyuman, dan semua yang ada di dalam dirinya selalu kusimpan di dalam memoriku. Mendamba suatu hari nanti dia ingin berbagi kesenangan itu bersamaku. Walau pada kenyataannya Bagas bahkan tetap tidak mengacuhkanku sampai sekarang.

“Tadi Revie beliin apa adik-adiknya buat makan?” tanya Ibu menarikku dari lamunan. Ibu sedang mencuci piring, sedangkan aku sedang mengelap semua piring itu.

“Kecap manis sama krupuk,” ucapku, sambil menyelipkan rambut yang ada di dahi Ibuku ke belakang telinga. Semburat lelah muncul di matanya. Ibu menatap wajahku, tersenyum penuh rasa cinta. Bagiku, Ibu adalah segalanya, Ayah juga. Aku hidup di dunia ini untuk mereka, membuat mereka bahagia.

“Maaf ya, nanti kalau Ibu sama Ayah gajian, Ibu bakalan masak ayam goreng kesukaan kalian.” Ibu mengelap keringat yang ada di dahinya dengan ujung tangan.

Aku tersenyum, lalu memeluk Ibuku singkat. “Nggak usah dipaksain Bu kalau memang nggak punya uang. Ayam goreng memang lezat, tapi makan tanpa beban hutang sama sekali lebih nikmat lagi.”

Ibuku tertawa, dia membalas pelukan singkatku. “Besok Ibu bakalan bayar hutang di Pak Mardji kok. Tinggal bunganya ajanya aja yang harus Ibu dan Ayan lunasi.”

Pak Mardji itu renternir jahat. Ibu dan Ayahku tahu itu, tetapi mereka tetap saja meminjam di pak tua berkumis tebal itu. Bahkan dulu, saat kami kesulitan untuk membayar hutang, Pak Mardji menyuruh Ayahku untuk membiarkannya menikah dengan Ravina. Yang tentu saja langsung kami tolak dengan tegas. Besok-besok aku harus menyuruh Ibu dan Ayahku berhenti meminjam di pak tua berpenis loyo itu. Pak Tua menjijikan.

“Revie tolong ambilin baju kotor ya di kamarnya Den Bagas,” tutur Ibu seraya mematikan keran air. Dia berjalan cepat menuju ke ruangan cuci, lalu kembali keluar dengan satu keranjang kecil. Aku mengambil keranjang itu dan mengangguk untuk menyetujui apa yang Ibu perintahkan untukku.

Aku melirik jam di dinding yang ada di ruang makan, Bagas pasti ada di kamarnya jam segini. Jantungku tiba-tiba berdebar. Selalu seperti ini, my heart skips a beat.

Kuhela nafas panjang, lalu mulai melangkah cepat menuju ke lantai dua. Ke kamar Bagas yang dihiasi dengan poster-poster pemain sepak bola. Aku tahu klub kesukaan Bagas. Dia sangat suka Chelsea. Dia juga suka warna biru, suka mendengarkan lagu-lagu dari Coldplay dan Letto. Setiap kali aku masuk ke dalam kamarnya, wangi maskulin yang berbaur dengan potpurri gardenia mendominasi ruangan itu. Membuatku merasa tenang, dan senang untuk berada di kamar itu berlama-lama.

Bagas sangat suka makan Marcaroons. Dia sangat suka yang rasa Taro. Minuman favoritnya adalah Cappucino yang dibubuhi banyak krim cokelat. Selain hobi bermain bola, Bagas suka memotret dengan kamera Canon nya. Mungkin darah gemar memotretnya itu dari Papanya. Yang memang mempunyai banyak Studio Foto terkenal di Jakarta. Masih banyak hal yang kutahu tentang Bagas, tetapi jika aku menyebutkannya, aku akan terdengar seperti psikopat yang terlalu terobsesi dengan seseorang. Bahkan Zavan pernah memanggilku Stupido Beyotch. Yang mencintai orang yang tidak mencintaiku balik.

Ketika aku sudah sampai di lantai dua, aku bertemu dengan Kak Aldrian, kakak kedua Bagas. Aku biasanya memanggil Kak Aldrian dengan sebutan Kak Al. Dia agak mirip Bagas, meski badannya lebih tinggi dan lebih besar. Kak Al berumur dua puluh tiga tahun, seorang Polisi muda yang sangat disegani oleh teman-temannya. Kak Al orang yang sangat baik, suka membantuku di dapur, suka membantuku saat aku membersihkan kolam berenang dan sangat suka mengajakku keluar untuk makan.

Dan yang paling parah adalah… dia mencintaiku. Tatapan yang dia berikan untukku persis seperti And. Entah mengapa, aku tidak terlalu suka ditatap penuh cinta seperti itu, karena aku merasa jahat sekali saat tahu kalau aku malah jatuh cinta pada adiknya. Kak Al pernah bilang padaku, dia sedang jatuh cinta dengan laki-laki. Dia bilang lagi, hanya laki-laki itu saja yang bisa membuatnya merasa begitu. Anehnya, aku sadar, omongan yang dia beritahukan padaku itu tertuju untukku.

“Kakak nggak tugas hari ini?” tanyaku sembari tersenyum ke arah Kak Al. Dia mengangkat kepalanya, dan membalas senyumanku.

“Aku masuk pagi,” ujarnya, dia mendekatiku lalu mengacak rambutku. Hal yang paling suka dia lakukan padaku. “Revie sudah makan?”

Apa kubilang, Kak Al sangat suka mengajakku keluar untuk makan. “Sudah tadi siang Kak.” Aku menengadahkan kepalaku, menatap rahang Kak Al yang dipenuhi oleh jenggot yang setengah dicukur. Dulu, dia sangat suka menghirup wangi di tengkukku, jenggotnya yang belum setengah tercukur itu selalu bisa membuatku kegelian. Dan Kak Al tahu, makanya dia sering melakukan hal itu padaku.

Kak Al tersenyum, membuat bibirnya yang penuh itu melengkung naik. “Ya udah, ntar malem aja kalo gitu kita keluarnya ya?”

Sebenarnya aku tidak mau, aku tidak ingin membuat Kak Al terlalu mengharapkanku. Namun aku tidak bisa menolaknya, Kak Al orang yang gigih, keras kepala dan harus mendapat apa yang dia mau. Aku cukup tahu tentang diri Kak Al. “Oke,” jawabku kemudian. “Aku mau ke kamarnya Kak Bagas dulu, mau ambil baju kotornya dia.”

Kak Al mengangguk, matanya sayu saat melihatku tersenyum. Tatapan cinta untukku itu kembali hadir di sana. Dan aku sangat-sangat-sangat membenci diriku sendiri karena hal itu. Andai Kak Al tahu, kalau aku tidak akan pernah bisa membalas cintanya. Karena aku malah mencintai adiknya. Adiknya yang tak akan pernah mencintaiku.

Aku melenggang pergi, mengeratkan keranjang kecil yang ada di tanganku ke dada. Jantungku kembali berdegup sangat kencang saat aku mengetuk pintu kamar Bagas. Suara beratnya yang khas menyahut dari dalam, menyuruhku masuk. Ketika aku memutar knop pintu, wangi maskulin dan potpurri gardenia itu kembali menyerbak masuk ke dalam hidungku. Kamarnya yang dingin, seperti wajahnya, selalu membuatku merinding. Kalau kata Zavan bulu penisnya yang suka merinding, kalau aku bulu hidungku yang merinding.

Bagas sedang duduk di depan TV layar datarnya. Di tangannya ada stick PS. Dia melirikku sebentar sebelum akhirnya kembali melanjutkan permainan playstation bolanya. Aku meneguk air liurku dengan susah payah, aku ingin sekali mengajaknya bicara, tetapi lidahku kelu. Mungkin inilah yang dinamakan orang yang terlalu jatuh cinta, mau mengajaknya bicara saja sangat susah.

Aku berjalan cepat menuju ke keranjang tempat baju-baju kotornya menumpuk. Saat aku melewati kasurnya, aku kembali teringat akan masa lalu. Waktu itu aku masih berumur sembilan tahun, dan Bagas sepuluh tahun. Ibuku menyuruhku untuk mengambil baju kotor Bagas, dan aku melaksanakannya. Setelah sampai di depan pintunya, aku mengetuk berkali-kali, tetapi tidak ada sahutan. Dengan lancang, aku masuk sendiri ke dalam kamarnya tanpa seizinnya. Dan pada saat aku sudah berada di dalam, aku melihat dia sedang tertidur di atas kasurnya, dengan badan telentang dan tangan yang tertangkup di depan dada.

Rencananya aku hanya ingin mengambil baju kotornya lalu pergi, karena Raffi juga sedang menungguku di luar kamar Bagas. Kakakku satu itu selalu menemaniku kalau aku membantu Ibu di sini. Tetapi dia jarang berbincang dengan kakak-beradik Prakoso. Dia hanya diam saja sambil membantu ini-itu.

Mataku memicing saat berada di dekatnya yang waktu itu sedang tertidur. Takut-takut, aku duduk di sampingnya, melihat raut wajahnya yang terlihat begitu damai. Dan… lagi dan lagi. My heart skips a beat. Selalu seperti ini. Aku mengangkat tanganku yang gemetar, lalu menaruhnya di atas pipi Bagas yang hangat. Kutelusuri kulit wajahnya dengan ujung jari manisku, berlama-lama melihat bulu matanya yang panjang namun tidak lentik itu. Aku tersenyum, jantungku kembali berdegup dua kali lebih keras dari sebelumnya.

And bilang, dia adalah pangeranku, dan aku adalah Putri Saljunya. Sedangkan Bagas, dijuluki sang penjahat oleh And. Sebisa mungkin, And selalu menjauhiku dari jangkaun Bagas karena dia adalah sang penjahat. Putri Salju harus dijaga, kakak And—Dan—pun sangat setuju akan hal itu. Kak Dan tidak menjulukiku Putri Salju, tetapi Putra Salju. Aku hanya tertawa dengan julukkan yang dia berikan untukku. Sampai sekarang, predikat Putra Salju masih melekat di diriku. Sama seperti Bagas, yang masih mendapat julukkan sang penjahat dari And.

Kucondongkan badanku sedikit, menatap lebih dekat bulu mata Bagas yang benar-benar lebat dan panjang. Kuturunkan pandanganku, dan menatap bibirnya yang penuh. Aku mengatupkan mulutku, lalu menciumnya pelan, seperti bunga Sakura yang jatuh ke tanah. Berharap Putra Salju bisa membangunkan sang Penjahat dari tidurnya.

Hangat bibir Bagas menyeruak masuk ke dalam diriku, menelanjangi hatiku dengan penuh cinta. Aku melepaskan ciuman dan beranjak pergi dari kamarnya dengan wajah yang memanas karena menyukai ciuman itu. Ciuman pertamaku, yang tidak seindah seperti yang ada di dongeng-dongeng yang pernah kubaca.

Bagaimana mungkin, seorang Putra Salju malah jatuh cinta pada sang Penjahatnya? Variasi cerita yang sangat aneh. Benar-benar aneh.

 

–Ups, Bersambung to Chapter 2–

18 thoughts on “Rainy Day (1)

  1. ya ampun adek.a Revie itu banyak bgt yak,mrk brp brsaudara sih ren,ckckck

    jiiiaaahh markaroon ksukaan revie itu sma kaya lo toh trnyata,hahaha ngarep bgt sih pngen disamaain kaya revie,wkwkwk

    bagas oh bagas dirimu itu memang trlalu jual mahal atau memang bodong pangkat tolol sih,ckckck

    buat kak Al mulai skrg gak usah ngarepin revie lagi kan masih ada aq,hahaha

    oh ya ren klo kisah cinta.a revie n bagas tuh mirip sma kisah cinta lo n arya, apa mama lo juga dulu jadi tukang cuci di rumah arya juga?.ahahha

      • Hai kak ren, hai kak new *pasang topeng innocent ala adek2 unyu*

        mau tanya nih, gimana yah buat nyari cerita paling awal dari blog ini? Ngebet banget baca ceritanya dari awal, all seriesnya deh😀

        thanks kak.. *ketjup basah*

  2. ya ampun adek.a Revie itu banyak bgt yak,mrk brp brsaudara sih ren,ckckck

    jiiiaaahh markaroon ksukaan revie itu sma kaya lo toh trnyata,hahaha ngarep bgt sih pngen disamaain kaya revie,wkwkwk

    bagas oh bagas dirimu itu memang trlalu jual mahal atau memang bodong pangkat tolol sih,ckckck

    buat kak Al mulai skrg gak usah ngarepin revie lagi kan masih ada aq,hahaha

    oh ya ren klo kisah cinta.a revie n bagas tuh mirip sma kisah cinta lo n arya, apa mama lo juga dulu jadi tukang cuci di rumah arya juga?.ahahha

    bagas oh bagas dirimu itu pura2 jual mahal atau memang bodoh pangkat tolol sih?ckckck

    buat kak Al mulai besok nggak usah ngarepin revie lagi yah, kan masih ada aq,hahha

    oh ya ren markaroon kesukaan revie di samain kaya kesukaan lo, ngarep bgt sih pngen miril revie?,ckckckck

    satu lagi gue baru tau klo nyokap lo dulu jadi tukang cuci di rumah arya,hahahaha

  3. Ada beberapa bagian yang salah tulis😉 but it’s a good story at all…. Just thought that revie will make a realation with tivo, bagas, or al *SEMUANYA AJA SEKALIAN*:D hahhahaa. Updatenya cepetan yaa ren :)))))

  4. Saudara revie itu mempunyai awalan nama R btw berapa saudara Revie yah? Satu lagi pertanyaan apa berjalan 8km tidak melelahkan tuh?. Ceritanya bagus dan saya sudah baca cerita ini 2 kali bukanya menyombongkan tapi cerita ini memang bagus…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s