Side By Side


Ini juga cerita gantung yang nggak tau kapan bakal gue lanjutin.

Yang mau baca silahkan, yang kagak yowes lah :p

================

Side by Side

By. Rendi Febrian

================

#1 Game, Begin!

Sudah hampir jam sebelas, aku belum juga beranjak dari kasurku. Padahal aku ada kelas di kampusku sebentar lagi. Tetapi karena memang aku orangnya suka banget bolos kuliah, jadi, yah nggak masalah kalau aku bolos satu hari lagi. Mataku masih susah banget buat dibuka. Aku begadang tadi malam untuk menonton pertandingan bola, makanya sampai sekarang aku belum bisa-bisa juga bangun.

Lalu tiba-tiba HPku bergetar hebat. Aku langsung terperanjat dan membuka kedua mataku. Dengan gelagapan aku mencari HPku yang masih saja bergetar hebat itu. Ternyata HPku bersembunyi di balik bantal. Kuraih HPku dan menekan tanda Ok tanpa melihat siapa yang telah menelepon dan mengganggu acara tidurku.

“Halo!” sergahku kasar. Supaya orang yang sedang menelponku ini tau kalau aku tidak menerima telpon saat ini.

“Lo dimana?” tanya suara yang sudah amat kukenal itu. Benny. Sahabatku dari SMA. Orang yang paling bawel dan paling nyebelin di seluruh dunia.

“Gue di kos. Emang kenapa?” tanyaku sambil menguap lebar, tanda aku masih sangat mengantuk. Dari dulu emang cuman Benny yang berani mengganggu tidurku.

Benny mendengus kasar di seberang sana. “Lo tuh ya, kan lo ada kelas bentar lagi!” ujar Benny tidak sabar. “Lagipula, lo di cariin tuh sama Pak Anton.”

Bentar dulu. Pak Anton. Astaga! Dosen gila itu mencariku. Aku mempunyai perasaan nggak enak tentang hal ini. “Nyari gue! Emang kenapa?” aku benar-benar kebingungan. Kata teman-temanku, setiap orang yang dicari sama Pak Anton, hidupnya bakalan benar-benar berubah total. Aku juga nggak ngerti apa maksudnya.

“Meneketehe. Dateng cepetan! Lo taukan Pak Anton paling nggak suka nunggu.”

Baru saja aku ingin menggubris perkataan Benny tadi, tiba-tiba sahabatku itu sudah mematikan HP duluan. Damn. Aku membanting HPku di atas kasur, sebal. Aku sebenarnya masih benar-benar mengantuk dan masih tergoda untuk kembali lagi ke kasurku yang empuk dan lembut. Tetapi karena Pak Anton adalah salah satu dosen killer dan paling menyeramkan yang pernah kutemui, jadi aku membatalkan untuk kembali melanjutkan tidurku yang sempat terputus tadi.

***

Aku berlari kencang ke arah pintu masuk kampus. Benny sudah berdiri dengan tangan terlipat di depan dadanya yang rata. Wajahnya yang biasanya ceria dan gila hari ini jadi suram serta muram. Aku makin mempercepat lariku, walaupun paru-paruku sudah benar-benar sakit karena hal ini. Today is shit day banget deh pokoknya.

“Lo kok lama banget sih!” bentak Benny ketika aku sudah berdiri disebelahnya. “Pak Anton daritadi marahin gue gara-gara lo belum dateng-dateng juga. Disemprot sama dosen kayak dia itu rasanya nyakitin bego, apalagi ucapannya yang kasar itu. Pengen gue bogem rasanya muka jeleknya itu!”

Aku hanya terkekeh pelan. “Sori, sori,” mohonku sambil ngelus-ngelus pundak Benny. “Sekarang di mana dosen sinting itu?”

“Di kantornya lah! Dasar idiot!” ujar Benny sambil memutar bola matanya, malas. “Cepetan gih sana!” Benny mendorongku kasar.

“Iya, iya! Bawel!”

Dengan berlari kencang lagi, aku langsung menuju ke kantor Pak Anton. Kantor dosen sinting itu ada di lantai tiga. Yang alhasil membuatku benar-benar kewalahan karena harus lari sambil naik tangga hanya untuk ke kantornya. Kalau sampai aku datang ke kantornya dan dia hanya menyuruhku melakukan hal-hal tidak masuk akal. Sumpah, aku nggak bakalan mau masuk ke kelasnya lagi. Toh pelajaran yang di ajarkan cuman Psikolog Diri. Pelajaran nggak penting. Karena aku juga bakalan mengambil jurusan spesialis bedah kalau aku sudah selesai mendapat gelar dokter umum.

Setelah sampai di depan pintu kantor Pak Anton, aku langsung mengetuknya cepat. Suara berat dan seram menyahut dari dalam untuk menyuruhku masuk. Masih dengan perasaan getir dan takut-takut, aku membuka pintu kantor dosen sinting itu. Tampangnya yang kasar dan mengerikan langsung tertampil di depan mataku ketika aku baru saja melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangannya. Kumisnya yang mirip sekali seperti kumis anjing laut naik turun saat sedang menghisap rokoknya yang sudah sangat pendek.

“Duduk!” gertak Pak Anton dengan suara tajam.

Tak perlu dipertanyakan lagi, aku langsung berjalan cepat menuju ke kursi yang berada di depan meja Pak Anton. Walaupun aku sering sekali berucap jahat tentang Pak Anton di belakangnya, aku sebenarnya takut juga dengan dia. Bagaimana tidak, dia mantan petinju. Dia pensiun karena salah satu matanya mengalami kebutaan. Jadi, lebih baik nggak usah cari masalah deh sama dosen satu ini. Bisa-bisa berakhir jadi mayat nanti.

“Apakah kamu tau kenapa saya memanggil kamu kesini?” tanya Pak Anton sambil mematikan rokoknya. Matanya yang hitam legam menatapku tajam.

“Tidak, Pak” kataku menggeleng-gelengkan kepalaku seperti orang bego.

Dia tiba-tiba menyodorkan sebuah kertas di hadapanku. Aku menyipitkan mataku untuk melihat itu kertas apaan. Tetapi belum saja aku tau itu kertas apa, suara Pak Anton sudah terdengar lagi. “Itu semua hasil nilai kamu di mata pelajaran saya.”

Aku menekuni isi dari kertas itu. Semua nilaiku di sana terdiri dari tiga C dan dua D. Aku menganga tidak percaya. Damn it. Pasti Pak Anton bakalan aku nyuruh yang aneh-aneh lagi deh. Kayak dulu, gara-gara nilai aku rata-rata C, dia nyuruh aku untuk buat makalah tentang kehidupan lansia dan pemenuhan kebutuhan sex mereka. Gawd! Sekarang apalagi yang bakalan dia tugasin ke aku. Hal-hal aneh, pastinya. Grrrrr!

“Dari dulu sampai sekarang nilai-nilai kamu di mata pelajaran saya tidak pernah bagus. Apalagi di tambah kamu selama ini hanya masuk beberapa kali saja di kelas saya. Bukankah sudah pernah saya peringatkan ke kamu di semester dua dulu untuk rajin-rajin masuk ke kelas saya?” hardik Pak Anton dengan suara menggelegar.

“Iya, Pak—“

“Lalu kenapa kamu masih saja seperti sekarang ini?” potong Pak Anton kasar. “Kamu selalu saja bertingkah seperti orang dungu! Tidak masalah kalau kamu jarang masuk kelas saya tetapi kamu menunjukan prestasi yang cemerlang. Tapi, lihat! Otak dan kelakuan kamu memang sama. Hanya sebatas dengkul kamu yang korengan itu!”

Sekuat tenaga aku mencoba bersabar untuk menerima semua cemooh dari mulut Pak Anton yang dikenal dengan si lidah pedas. Tapi mau gimana juga, toh aku nggak bakalan sanggup buat berantem sama Pak Anton. Walaupun umurnya sudah empat puluh lima tahun, tetapi tenaganya masih seperti orang berumur dua puluh lima tahun.

“Iya, Pak—“

“Dan, ternyata bukan hanya di kelas saya saja kamu suka bolos” potongnya lagi. “Di semua kelas kamu juga suka jarang hadir. Dan ini membuat saya benar-benar jengkel sama sifat kamu yang bebal itu!”

Aku bergidik ketika mendengar suaranya yang seperti ingin memukuliku itu. “Maaf, Pak,” kataku lemah. Oh, gawd, I don’t wanna die now.

“Bagus kalau kamu minta maaf.” Pak Anton memajukan kursinya, agar lebih mudah memandang wajahku. “Kalau begitu, kamu harus perbaiki semua nilaimu di pelajaran saya.”

“Baik, Pak,” anggukku. Siap-siap menerima tugas aneh lagi.

“Saya ingin kamu mewawancarai seseorang dengan orientasi sex yang sedikit agak menyimpang,” aku menelan air liurku dengan susah payah. “Saya ingin kamu mewawancarai seorang Biseksual. Bagaimana kehidupan mereka. Kenapa mereka bisa seperti itu. Lalu, apabila dia seorang laki-laki, tanyai dia tentang; apakah dia lebih cenderung menyukai laki-laki apa perempuan. Dan apabila dia seorang wanita, tanya juga begitu. Pokoknya, tentang kehidupan mereka yang benar-benar real. Nggak boleh sampai kamu nipu saya tentang hal ini. Karena saya pasti bakalan tau.”

Sumpah, kalau misalnya saat itu pintu kantor Pak Anton tiba-tiba kebuka, pasti aku bakalan lari dan nggak bakalan lihatin diriku lagi di depannya. Tetapi percuma juga lari dari masalah ini. Toh, Pak Anton pasti bakalan terus merecoki aku tentang hal ini. Dengan berat hati, aku menyetujui tugas dari Pak Anton. “Oke, Pak.”

“Bagus. Saya ingin tugas wawancara kamu ini bisa sampai lima belas lembar atau lebih. Pokoknya harus panjang dan masuk akal. Dalam bentuk makalah. Dengan cover bagus kalau bisa. Agar saya tahu kalau makalah kamu benar-benar bisa menarik hati saya.”

“Baik, Pak” aku kembali mengangguk, padahal dalam hati aku sudah pengen berteriak frustasi.

“Yasudah. Pergi sana. Saya kasih kamu waktu tiga minggu!”

WTF! Tiga minggu. “Kok tiga minggu, Pak?”

“Oh, kalau begitu, sembilan hari.”

Anjrit. “Iya deh Pak. Tiga minggu nggak masalah.”

Great. Dimulai hari ini kalau begitu.”

Aku berdiri cepat dan mendesah letih. Apa kubilang! Pasti Pak Anton ngasih tugas yang aneh ke aku. Dari dulu dia memang dikenal suka ngasih tugas-tugas aneh ke semua orang-orang yang ada di kampus ini. Aku benar-benar benci sama dosen sinting itu. Semoga aja dia kena impotensi. #eh.

***

Aku mencari sahabat karibku hampir di semua area yang ada di kampus ini. Ternyata dia lagi ada di kantin sambil godain adik-adik tingkat. Cewek-cewek yang digodain sama dia memang kelihatan gatelnya. Diganggu dikit langsung lebih ganasan daripada Benny-nya. Pas aku datang menuju ke meja Benny, cewek-cewek itu langsung menatapku dan menjerit pelan tertahan. Reaksi mereka memang selalu seperti ini kalau melihatku. Bukan bermaksud sombong. Tetapi, yah, aku memang orang yang agak sedikit populer dan tampan di kampusku ini.

“Pak Anton ngomong apaan sama lo Lit?” tanya Benny ketika aku sudah duduk disebelahnya.

Guys,” kataku ke cewek-cewek gatel itu semua, “bisa tinggalin gue sama Benny berdua aja kagak?” cewek-cewek itu mendesah sedih, tetapi menurut. Mereka pergi dengan patuh.

“Pasti dia ngasih lo tugas gila lagi kan?” tanya Benny ketika sudah tidak ada cewek-cewek gatel di sekitar kami.

“Yep.” Aku mengangguk muram. “Lo kan tau dosen satu itu terkenal dengan ngasih tugas yang nggak pernah masuk akal!”

Benny tertawa pelan. “Memang.” Benny menatapku dengan tatapan penuh ingin tahu. “Memangnya tugas apalagi yang dia kasih ke elo?”

Aku menghembuskan nafasku lemah sebelum memberitahu Benny. “Dia nyuruh gue buat wawancarain kehidupan seorang biseksual. Lo bisa bayangin nggak hal ngeri itu? Anjrit bangetkan. Gue ngeliat mereka aja males. Apalagi ngomong sama mereka.”

Benny tertawa keras. Membuat semua orang yang ada di kantin menoleh ke arah kami. “Tugas itu yang dia kasih ke elo! Wah-wah! Rasain. Makanya rajin-rajin ngampus!”

Aku hanya bisa manyum mendengar sindiran Benny. “Lo coba tolongin gue! Bukan cerca gue kayak gini!”

“Memangnya lo mau minta bantuan apa dari gue?”

Aku menatap Benny dengan tatapan memelas. “Lo kenal sama orang yang biseksual nggak?”

Benny berpikir sejenak. “Ada kayaknya” katanya kemudian.

Aku terbelalak kaget. “Masa?” tanyaku tidak percaya. “Wah, jangan-jangan lo seneng ya bergaul sama orang-orang aneh kayak mereka?”

“Setan lo!” caci Benny. “Ya nggaklah. Gue cuman tau aja orangnya. Gue gak pernah sama sekali ngomong sama dia.”

“Iya deh, percaya.” Aku kembali menatap Benny dengan tatapan memelas. “Kapan lo bisa nunjukin nih orang ke gue? Biar tugas aneh ini bisa gue cepet selesai in. Soalnya gue cuma dikasih waktu tiga minggu.”

Benny kembali berpikir sejenak. “Tadi gue lihat dia ada di perpus sih. Dia anak fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya kalau nggak salah.” Benny menyeruput es tehnya. “Sekarang aja gimana kalau gue liatin yang mana orangnya ke elo?”

Aku mengangguk. “Ayo deh kalau gitu!”

Baru saja aku ingin berdiri, Benny langsung memegang tanganku erat “Sebelum kita pergi, bayarin bakso sama es teh gue ya,” ujarnya nyengir kuda.

“Anjrit!” gitulah Benny. Selalu minta imbalan.

***

“Yang mana orangnya?” bisikku ke Benny. Selama aku pergi ke kampusku ini, baru sekarang aku menginjakan kakiku di perpustakaan.

“Yang itu,” ucap Benny seraya menunjuk ke arah sesosok orang yang berada di dekat jendela yang ada di pojok ruangan. “Yang lagi baca buku tebel itu loh.”

Aku menyipitkan mataku untuk melihat lebih jelas. Akhirnya setelah lima belas detik aku menyipitkan mataku, barulah aku bisa melihat orang yang di maksud Benny. Ternyata orang itu adalah seorang laki-laki dengan menggunakan kacamata yang modis sekali di matanya. Kepalanya tertunduk membaca buku tebal yang ada di hadapannya. Rambutnya agak kecokelatan saat tertimpa sinar matahari. Kulitnya juga putih flawless. Aku terheran-heran dalam hati, itu sebenarnya cowok apa cewek ya.

“Kok cowok sih?” hardikku ke Benny. “Kenapa nggak cewek aja?” sebenarnya aku berharap nanti Benny bilang kalau itu bukan cowok melainkan cewek dengan rambut pendek.

Tetapi aku terpaksa harus kecewa. “Yah, soalnya cuman cowok itu aja yang gue tau kalau dia bisek. Kalau cewek-cewek mah gue nggak tau yang mana aja yang bisek. Sorry, bro!”

Aku menghembuskan nafas pasrah. This is will be sick at all. Damn, I hate you Pak Anton! “Iya deh. Gak apa-apa kok Ben.” Aku mengamati sosok itu lagi. Rambutnya makin lama makin cokelat, bahkan berkilauan seperti berlian ketika tertimpa cahaya matahari siang. Kulitnya juga sangat putih, seperti kasat mata. Putih tanpa celah. Kalau aku boleh berharap sekarang, semoga saja tuhan merubah jenis kelaminnya menjadi cewek sekarang. Karena lebih mudah ngomong sama cewek aneh daripada cowok. Mana cowoknya bentuknya kayak gitu lagi. Aduh!

“Kenalan gih sana!” ucap Benny mengagetkanku. “Katanya cuman dikasih waktu tiga minggu. Bergerak cepat lebih baik daripada lo pandangin dia terus loh!”

Ada benarnya kata Benny. Cuma dia orang yang Benny kenal dengan orientasi menyimpang. Nggak menyimpang-nyimpang amat sih. Dia masih suka sama perempuan jugakan. Cuma yah, dia juga suka sama cowok. “Tapi, Ben, lo yakin dia bisek? Lo tau darimana kalau misalnya dia bisek?” tanyaku ragu-ragu.

“Dia pernah pacaran sama Tania. Inget nggak cewek yang pernah gue ajak kencan,” aku menganngguk, padahal aku tidak tahu. “Nah, terus dia juga pernah pacaran sama sepupu gue yang homo itu. Jadi, sih, gue yakin dia bisek.”

Aku manggut-manggut seperti orang oon. Ok, whateverlah sekarang. Pokoknya tugas dari Pak Anton harus aku cepat selesaikan. Kalau tidak dia pasti akan mencariku dan membunuhku. Atau lebih parah. Memberitahu kedua orang tuaku yang lebih kejam dari Pak Anton. Gawd.

“Alit,” panggil Benny dengan suara memaksa, “cepetan dong kenalan sama dia! Mikirin apalgi sih?”

“Iya, iya. Cerewet amat!”

Belum saja aku ingin melangkahkan kakiku, Benny sudah kembali berkata di sebelahku. “Eh, kalau bisa gue saranin sih, lo harus kenalan sama dia secara halus. Jangan sampai lo to the point. Karena gue yakin dia nggak bakalan ngebeberin tentang dirinya yang ‘bi’ itu.”

“Jadi, gue harus gimana terus?” tanyaku frustasi. Tuhan! Hidupku makin berantakan.

“Ya, mikir dong. Punya otak-kan!” sindir Benny, tidak membantu sama sekali. “Now,GO!” Benny mendorongku pelan.

Aku berjalan pelan menuju ke meja cowok yang hampir mendekati cewek itu. Aku melirik Benny dengan tatapan memohon serta berang, dia hanya bisa nyengir kuda melihatku kena masalah lagi. Benny suka sekali begitu, sangat gembira kalau aku selalu mendapatkan masalah yang pasti aku nggak bakalan bisa aku pecahin. Tetapi, walaupun gitu, Benny pasti bakalan tetap menolongku. Kapan lagi kan aku punya sahabat se-biatch dan se-friendly dia.

Akhirnya aku sampai juga di meja cowok itu. Aku menatapnya lekat-lekat. yah, nggak jauh bedalah sama pas aku lihat dia dari jauh. Dia masih aja kayak cowok setengah cewek. Mungkin karena itulah dia bisa jadi bisek seperti sekarang ini.

Aku menarik nafas panjang sebelum menyapanya. “Helo. Gue boleh nggak duduk disini?” suaraku parau tetapi jelas.

Semula dia tidak menggubris perkataanku, karena sepertinya dia sedang serius membaca buku tebal yang sedang ada di hadapannya. Tetapi ketika aku baru saja ingin kembali bersuara, dia mendongak-kan kepalanya. Aku langsung terperanjat ketika melihat wajahnya yang mulus tanpa ada codet atau bekas jerawat di wajahnya. Wah, nih cowok pasti suka perawatan. Di sisi lain, wajahnya itu imut. Campuran muka cowok yang tegas lalu di aduk sama muka cewek yang manis. Jadilah, muka yang seperti dia.

“Tentu,” katanya sambil tersenyum simpul. Membuat hatiku tiba-tiba bergetar seperti HPku. Gawd. “Silahkan!” lalu dia kembali menekuni bukunya.

Aku menarik kursi yang berhadapan dengannya. “Terima kasih.”

Dia hanya mengangguk kecil, kepalanya masih dia tundukan untuk membaca buku tebalnya itu. Ternyata, prediksiku memang agak salah. Dari dekat, cowok itu malah makin menggoda. Astaga! Aku aja nggak percaya kalau aku barusan bilang dia menggoda. Oke, rambutnya yang hitam kecokelatan itu kalau dari jarak sedekat ini mengeluarkan wangi melon yang manis. Membuat beberapa sarafku berteriak untuk ingin memegang rambutnya, yang aku yakini selembut sutra. Tidak seperti rambutku yang bau kecoa mati dan awut-awutan serta selembut sapu ijuk. Cowok yang ada di hadapanku ini, bisa di kategorikan, yah… prefect.

“Kamu di fakultas mana?” tanyaku, padahal aku sudah tahu jawabannya.

Dia kembali menggadahkan kepalanya untuk melihatku. Matanya yang mirip sekali warnanya dengan rambutnya membuatku terpana. Apalagi dengan kacamata yang bertengger di mukanya itu. Membuat matanya menjadi makin lebar. Membuat dia seperti cowok lugu nan polos. Tuhan memang benar-benar hebat jika menciptakan umatnya. Yah, nggak juga sih. Contohnya Benny, dia hancur, dekil, jelek deh pokoknya. Yikes! Sorry Ben, but that’s true.

“Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya,” dia berbicara seperti bernyanyi. Wah. Hebat juga nih orang. Kenapa dia nggak ikut Indonesian Idol aja ya. Aduh, ngawur lagi-ngawur lagi pikiranku. Gini nih, kalau aku gugup. Pasti aku suka ngawur nggak jelas.

“Kalau gue di Fakultas Kedokteran.” Lah, dia kan nggak nanya. Buat apa aku kasih tau. Buat malu aja. Bodoh-bodoh-bodoh. Lah kenapa aku malah maki diri sendiri ya. Bodoh-bodoh-bodoh. Oh, stop it Alit. Just Relax, okay!

Dia menganggukkan kepalanya. “Oke,” ucapnya, kembali menurunkan kepalanya untuk membaca buku tebalnya.

“Nama gue, Alit,” kataku sambil menyorongkan tanganku. “Kalo lo siapa?”

Bibirnya kembali membentuk sebuah senyuman simpul. “Nama gue Rhandu,” dia menyambut tanganku. Well, ternyata tangannya nggak halus-halus amat kok. Masih kerasa kok kalau itu memang tangan cowok. Tapi tetap aja nunjukin hal-hal halus yang lain.

Yang pertama kali melepaskan genggaman tangan adalah dia. Matanya yang mengkilap itu menatapku. “Sebenarnya, ada yang gue mau bicarain sama elo,” kataku pelan, Rhandu mengangguk mengerti arah perkenalan kami. Sepertinya dia sudah tau kalau aku memang ingin bicara dengannya.

“Tentang apa?”

Aku menarik nafas sebelum mengeluarkan rencana yang dangkal dari otak-ku. “Lo mantannya Tania kan?” benerkan, rencana yang dangkal.

“Iya,” ujarnya lembut.

Aku tersenyum kecil. “Begini, elo kan tau selak-beluk Tania. Gue suka banget sama dia. Jadi, lo bisa bantu gue nggak buat deketin dia ke gue?” ini rencana yang tiba-tiba terbersit di otak-ku. Agak nggak nyambung memang. Tapi, biarin aja deh. Lihat aja gimana kelanjutannya.

“Gue sudah nggak bicara sama Tania lagi semenjak kita putus,” ucapnya simpel.

Sebersit rencana lain kembali muncul di otak-ku. “Kalau gitu kita omongin sifat-sifatnya aja gimana?” tanyaku, memelas. Berharap dia mau.

“Gue juga nggak terlalu kenal dia sih. Gue cuman pacaran sama dia selama lima hari.”

What! Lima hari. “Gak apa-apalah. Yang pentingkan lo lumayan tau tentang dia,” aku tak mau putus asa sekarang. “Gimana kalau kita omongin hal ini di café Starbuck aja? Kalau ngomongin disini agak risih. Karena ini tempat buat baca bukan ngerumpi.”

Dia menatapku dengan mata yang disipitkan. Mencoba berpikir, mungkin. “Gue… nggak bisa kayaknya. Soalnya gue baru kenal elo. Gue nggak bisa buat janji sama orang yang baru, yah, gue kenal.”

Aku pura-pura terkekeh. “Tenang aja lagi, bro. Gue nggak bakalan bunuh lo kok.”

Dia juga ikut terkekeh, tetapi lebih menawan daripada kekehanku. Shit. “Gue tau lo nggak bakalan bunuh gue. Tetapi, buat apa hal-hal yang kayak gitu di bicarain. Cari tau sendiri aja.”

Why this is so hard god? Orang yang pantang menyerah juga nih orang. Rupanya aja kayak orang lugu. Kegigihannya kayak batu. “Yang gue tau bisa nolongin gue cuman elo. Please!” pintaku.

“Maaf. Nggak bisa,” katanya pelan. Membuatku memelas.

Aku bersandar di kursi dan menatap Rhandu intens. “Boleh minta nomor HP lo nggak?”

Rhandu mengernyitkan keningnya. “Buat apa?”

“Siapa tau lo berubah pikiran,” ujarku cepat, membuat Rhandu tertawa merdu. Tiba-tiba aku suka sekali mendengar tawanya yang bagaikan bunyi lonceng-lonceng pada saat natal.

Sorry, ya. Tetep aja gue nggak bisa.” Yah, aku sekarang sudah benar-benar putus asa. Kalau begitu aku terpaksa menerima kematianku dalam waktu dekat ini.

Aku tersenyum masygul dan berdiri. Aku berjalan kecil meninggalkan Rhandu yang menatapku dengan tatapan kasihan. Baru saja dua langkah aku berjalan, aku mendengar Rhandu berucap sesuatu. “Lit, 087…”

“Hah?” kataku bingung.

“Catet. Nomor gue,” aku langsung cepat-cepat mengeluarkan HPku. “0878653105**”

Rhandu tersenyum lembut ke arahku. Aku mendial nomor HPnya. Tiba-tiba dia merogoh saku bajunya dan mengangkat telponya. “Halo…” aku memutuskan koneksi. Lalu Rhandu menatapku. “Cuman mastiin lo ngasih gue nomor yang bener.”

“Ya, pastilah gue kasih nomor yang bener. Masa bo’ongan.”

“Maksih kalau begitu,” aku baru saja ingin berbalik ketika kembali mendengar suara Rhandu.

Wait! Gue punya satu syarat. Gue mau nolongin lo kalau lo mau nolongin gue,” katanya, suaranya penuh perhitungan. Ternyata memang tidak mudah memanfaatkan orang lain.

“Apa?” tanyaku penasaran.

Dia memfokuskan matanya padaku. “Sebenarnya, gue disini karena gue harus nyari tugas dari salah satu dosen gue. Dan gue sebenernya juga nggak suka ada di tempat ini. Gue disuruh nulis makalah tentang keaneka ragaman suku dan budaya yang ada di Indonesia. Tetapi karena suku dan budaya di Indonesia banyaknya pakek banget. Lo harus nolongin gue nyariin suku dan budaya yang belum gue temuin. Terus, makalah ini juga harus dikumpulin seminggu lagi.” Ternyata dia disuruh buat tugas juga. Sama sepertiku, tetapi lebih masuk akal. “Mau nggak lo nolongin gue?” tanyanya.

Hanya ini satu-satunya kesempatanku untuk bisa mewawancarai seorang biseksual secara diam-diam. Nggak apa-apalah nolongin dia. Malah bagus lagi, jadi aku bisa mewawancarai dia dengan lebih baik dan tersembunyi. “Oke!” kataku menyetujui. “Nanti gue hubungin lo kapan kita harus ketemuannya.”

Rhandu mengangguk dan kembali menekuni buku tebalnya. Aku berjalan cepat menuju ke arah Benny yang sedang menggoda cewek-cewek yang lagi asyik baca buku. Tetapi entah mengapa pikiranku dipenuhi dengan sosok Rhandu yang serba aneh. Yang penmapilannya itu nggak menyiratkan seperti apa dia sebenarnya. Aku benar-benar penasaran bagaimana dia bisa sampai menyukai cewek dan cowok.

Di sisi lain juga, sepertinya hal ini bakalan jadi hal yang bisa ngerubah hidupku. Aku tidak tahu kenapa aku berpikiran seperti itu. Hanya saja aku yakin kalau dia memang bakalan ngerubah arah hidupku. Menjadi lebih baik dan menjadi lebih buruk dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan aku harap, semuanya bakalan baik-baik saja. Walaupun setiap hal yang aku lakukan tak pernah jadi baik-baik saja. Karena keberuntungan selalu saja menjauhiku.

Oke, Rhandu, siapapun kamu. Hati ini penasaran ingin tahu siapa kamu sebenarnya.

Aku tertarik dengan sifatmu yang aneh dan misterius itu. Hahaha… dan permainanpun dimulai!

 

 

 

 

 

 

 

#2 Hoax

Aku menunggu sudah hampir lima belas menit. Kami janjian jam delapan. Tetapi sampai sekarang Rhandu belum nongol sama sekali. Yah, aku sih coba buat sabar, karena mungkin aja dia masih ngerjain tugas tentang budayanya itu. Tetapi lama-kelamaan jadi risih juga karena dia nggak datang-datang. Aku langsung mengambil HPku yang ada di saku celana. Lalu mencari nama Rhandu di buku telpon yang ada di HPku. Setelah itu kudial nomornya;

“Halo,” sahut suara di seberang sana.

“Dimana? Bukannya kita janjian jam delapan ya? Sekarang sudah mau hampir jam setengah sembilan loh” ujarku menggunakan nada orang bersabar.

“Maaf, maaf. Aku udah dijalan kok. Tadi kejebak macet gitu.” Ada bunyi pintu di tutup. “Ini gue sudah mau sampe.”

Aku mendesah. “Lagi dijalan mana memangnya lo sekarang?”

“Hampir. Hampir. Hampir. Hampir,” aku mendengar Rhandu komat-kamit.

“Huh?” aku mengernyit bingung.

“Hampir. Hampir. Hampir dan…” suara ketukan di jendela yang tepat disampingku mengagetkanku. Aku langsung memutar kepalaku cepat, membuat saraf-saraf yang ada di leherku berteriak protes. “Hay!” seru Rhandu dari balik jendela dengan riang.

Senyuman lebar, yang tak kulihat sebelumnya, sekarang tertampil di wajahnya yang sangat imut. Dia tidak menggunakan kacamata malam ini. Rambutnya juga tidak serapi tadi. sekarang rambutnya sedikit berantakan. Tetapi anehnya malah membuat dia menjadi lebih tampan dan lebih imut dari sebelumnya. Aku menganga tidak percaya dengan penampilan Rhandu yang begitu memikat malam ini. Astaga! Apakah baru saja aku berkata kalau Rhandu memikat?

“Hay juga!” kataku sambil melambaikan tanganku yang bebas. Lalu kumatikan HPku dengan tanganku yang satunya.

Rhandu bersenandung pelan sambil berjalan menuju ke pintu masuk. Langkah kakinya yang tegap dan tegas tidak mencerminkan kalau dia seperti penampilannya yang berwajah imut. Dia masih terlihat seperti laki-laki lain. Malah langkahnya seperti model profesional. Membuat beberapa cewek yang melihatnya ternganga lebar. Mungkin saja, kalau bisa, cewek-cewek itu akan meneteskan air liur mereka. Ketika Rhandu membuka pintu café ini, suara denting bel yang ada di atasnya terdengar. Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum.

Aku baru sadar kalau Rhandu ternyata cukup tinggi juga. Yah, masih tinggian aku sih sebenarnya. Tetapi, sumpah, kalau dia jadi bintang film, pasti dia bakalan laku berat. Apalagi senyuman yang dia taburkan untuk-ku itu. Membuat wajahku tiba-tiba merona. Wajah Rhandu seakan-akan menggoda hasratku. Damn. This is not really happen, rite?

Dengan tegas Rhandu duduk dihadapanku. Masih dengan senyuman manis dan rupawan. “Nah, sorry ya, gue telat. Suer deh, tadi macetnya parah banget,” kini suaranya tidak semerdu seperti yang di perpus tadi. Kini suaranya berat tetapi halus. Pokoknya enak untuk didengar telinga.

“Gak apa-apa,” kataku mencoba tersenyum. “Kita pesen minuman aja dulu kali ya,” aku menyarankan. Dan dia mengangguk setuju.

Aku mengangkat tanganku untuk memanggil pelayan. Seorang pelayan cewek mendatangi kami. Wajahnya yang bulat tersenyum lebar dan sangat terpesona dengan kami berdua. Yah, mungkin dengan Rhandu saja. “Gue pesen, cappucino with chocolate cream dan fried potatoes… yang rasa cheese” kataku pelan-pelan.

Aku menatap Rhandu yang masih menelusuri daftar menu. Lalu kemudian dia membuka mulutnya. “Latte mint-chip sama pancake… saus di atasnya kasih blueberry aja ya.” Saat Rhandu memberikan senyumannya ke arah pelayan itu, si pelayan malah mendesah aneh. Dasar pelayan gatel. Ckck.

Si pelayan mengulang kembali pesanan kami. Lalu setelah dia benar, dia meniggalkan kami berdua lagi. “Lo kok bisa ya buat orang terpesona sama lo?” ujarku tanpa berpikir.

Rhandu menatapku sejenak, lalu tawa jenaka terdengar dari mulutnya. “Lo juga gitu kali. Lo nggak liat pelayan tadi kayak ngarep banget minta lo cium.”

Aku mengernyit dan Rhandu kembali tertawa. Beberapa menit kemudian minuman dan makanan ringan kami datang. Selama beberapa menit tadi, aku dan Rhandu tiba-tiba berubah kaku. Apalagi aku, makin gugup perasaanku ini. Karena rencana yang tersirat di otakku saat di perpus tadi sudah aku rubah. Ke rencana yang lebih ekstrim. Tetapi bakalan buat makalah aku benar-benar selesai dan sesuai realita. Seperti yang di minta sama Pak Anton gablek itu.

Kulirik Rhandu yang menyeruput minumannya. Aku berdeham pelan untuk menghilangkan dahak yang tiba-tiba hadir di kerongkonganku. “Ndu, sebenernya, ada hal yang pengen gue omongin ke elo.”

“Apa?” tanyanya, dia menurunkan minumannya pelan.

Oke. Alit, tenang. Ini cuman masalah kecil. Kamu tinggal bilang aja yang ada di otakmu itu. Intinya, Lit, yang tabah. Aku mencereweti diriku sendiri. “Sebenernya, gue ngajak lo kesini karena gue pengen bilang ke elo kalau gue…” tuhan, susahnya mau bilang apa yang ada di otakku ini.

“Kalo lo apa?” tanya Rhandu agak penasaran.

Aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya sambil berujar. “Gue suka sama lo,” dan, fuhh, akhirnya kata-kata tabu itu keluar. Well, lebih baguskan kalau aku bisa dekat sama Rhandu. Makin bisa menguak tentang siapa dia sebenarnya. Lebih mudah bertanya sama dia tentang kehidupannya itu. Daripada aku harus menggunakan Tania di tipuanku.

Sebenarnya, aku sih nggak kaget kalau misalnya Rhandu terperanjat atau kaget atau yah, gimana gitu. Tapi ini dia diam saja dan menatapku tajam. Seakan-akan mencari kebenaran dari sorot mataku. Aku hanya bisa tertegun dengan tatapannya yang menusuk.

“Kok bisa?” hanya itu yang dia tanyakan. Damn. Aku maunya dia nanya yang lebih berguna. Apa kek gitu. Jangan yang ini!

“Nggak tau juga. Gue setiap hari suka ngeliatin elo dari jauh,” kataku berbohong. Kata Benny aku ini pembohong yang payah. Tetapi aku yakin kalau kebohonganku yang tadi tidak akan ketahuan. “Terus, tiba-tiba rasa itu muncul sendiri. Rasa suka itu,” kataku memperjelas.

Mata Rhandu masih memandangku lekat-lekat. “Gue nggak tau lo itu siapa,” ujarnya, menekankan semua perkataannya. “Tapi gue kayaknya lebih suka kalau lo jadi temen gue aja dulu. Yah, biar gue tau lo itu siapa, dan gue itu siapa menurut lo” sahut Rhandu bijak.

“Jadi, maksud lo… kita?” aku menunjuk Rhandu lalu diriku sendiri secara bergantian.

“Temen,” sergah Rhandu cepat. “Kita temenan aja dulu.”

YES! Aku bersorak dalam hati. Sampai sejauh ini, permainan dan tipuan yang kubuat berjalan cukup lancar. Malahan, sangat lancar banget. “Tapi, emang lo nggak jijik apa sama gue yang seorang bisek ini? Lo normalkan? Sebenernya gue juga ragu-ragu buat nembak lo tadi” aku hanya berpura-pura, untuk memastikan kalau Rhandu memang seorang biseksual apa bukan.

Rhandu menggeleng pelan. “Bukan. Gue juga bisek. Kita sama kayaknya. Jadi buat apa jijik.”

Aku tersenyum lebar. Yups. Tangkapan bagus. “Kalau begitu, lo kapan mau gue bantuin kerjain tugas budaya lo itu?” tanyaku, memutar arah pembicaraan.

“Kalau bisa sekarang. Kenapa nggak?” gumamnya dengan mulut penuh pancake.

“Kalau gitu, kita habisin ini aja dulu. Habis itu kita ke kos-kosan gue buat kerjain tugas lo ini. Gimana?” tetapi sebenarnya ada maksud lain dari perkataanku barusan.

Dia menimbang-nimbang sebentar. “Boleh juga kayaknya. Lebih cepat lebih baik.”

Aku mengangguk sambil memakan fried potatoesku. “Lo kesini naik apaan?”

“Taksi,” jawabnya singkat.

“Kalau gitu ntar kita berangkat bareng aja ke kos gue. Mumpung gue bawa motor sekarang,” Rhandu hanya mengangguk dan tersenyum lembut ke arahku. Yang alhasil senyumannya membuat jantungku serasa meronta-ronta di dalam tubuhku. Ada apa ini? Shit. Itu cuman senyuman-kan. Kenapa aku bisa sampai merasakan hal aneh kayak gini.

***

“Anggep kamar lo sendiri aja!” kataku sambil membuka sepatuku saat kami berdua sudah sampai di kosku. Untung saja kemarin aku sudah bersih-bersih. Kalau nggak, apa yang akan Rhandu bilang nanti. Biasanya kamarku nggak sebersih sekarang ini. Kemarin itu aku kesurupan setan bersih-bersih, makanya aku mau ngerjain hal yang nggak pernah aku kerjain itu. Biasanya, pasti ada aja makanan yang kececeran atau pakaian yang sudah kesana kemari tanpa tahu kapan dia bisa nyangkut disana. Walaupun aku mengambil jurusan kedokteran, aku masih saja agak jorok. Apalagi Mamaku, pasti wajib komen kalau datang ke kosku.

“Kamar lo modis banget!” seru Rhandu sambil mengetuk-ngetuk akuariumku dengan jarinya, yang di dalamnya ada tiga ikan badut dan satu bintang laut. “Ikan-ikan ini siapa aja namanya? Kalau yang bintang laut ini namanya siapa?” tanya Rhandu antusias, kayak anak kecil mau minta permen. Aku hanya bisa terkekeh melihat tingkahnya yang konyol.

“Yang corak merahnya paling banyak, namanya Lukas. Yang corak putihnya lebih banyak dari merahnya, itu Beatrix. Nah yang warna hitam keputihan itu namanya Alberto,” Rhandu tertawa ketika mendengarku menyebutkan nama-nama ikan badutku. “Kalau yang bintang laut namanya Andrew.” Rhandu malah makin menjadi tertawanya. “Lo kenapa ketawa?”

Dia menghapus air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya karena kegelian. “Itu loh…” katanya sembari memegang perutnya “bagusan nama-nama peliharaan lo daripada nama lo sendiri.”

Aku mencibir pelan. Dasar sialan! Dia sama kayak Benny. Menghinaku gara-gara nama-nama peliharaanku lebih keren daripada pemiliknya. “Biarin aja,” gerutuku dengan kedua tangan berkacak pinggang.

Rhandu malah makin tertawa. Aku hanya bisa memutar kedua bola mataku dan menyalakan laptopku. Menyambungkannya ke internet dan membuka situs mbah Google. “Jadi di bantuin nggak ngerjain makalahnya?” tanyaku ke arahnya, yang sedang mencoba menangkap ikanku dengan tangannya.

Dia menoleh ke arahku dan mengelap tangannya di bajunya. Aku mengerutkan keningku, ternyata Rhandu jorok juga. Nggak kayak tampangnya, yang sepertinya suka sekali sama kebersihan. Ternyata aku salah selama ini.

Tetapi, sebelum dia mendatangi sisiku, aku sudah menyiapkan tape recorder untuk merekan pembicaraanku dengan Rhandu secara diam-diam. Lihat saja nanti!

Ku klik on tape recorderku saat Rhandu sudah duduk disebelahku. Tetapi aku malah tertegun, bukannya bertanya. Ketika Rhandu duduk disebelahku dan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, tiba-tiba aku merasa sangat gugup. Wanginya yang seperti melon di campur moccha merasuki hidungku. Di sisi lain, tubuhnya yang kupikir lebar itu, malah sangat kecil ketika sudah hampir bersedekap denganku. Seakan-akan sangat pas untuk kupeluk. Oh, gawd! Jantungku berdetak liar. Aku sulit bernafas. Otak-ku jadi blank. Aku memaki diriku sendiri karena aku jadi seperti ini. Sebenarnya, apa yang terjadi denganku?

Rencananya aku hanya ingin menipunya dan mewawancarainya secara diam-diam. Tetapi mengapa malah aku jadi kaku seperti ini. Hal ini seperti senjata makan tuan. “Aku belum ketemu penjelasan tentang suku sasak dan budaya daerah Lombok,” kata Rhandu, hangat nafasnya menyentuh tanganku. “Coba cari di Google,” suruhnya pelan.

Aku susah payah untuk menelan air liurku. Lalu setelah aku yakin air liurku sudah masuk ke dalam ususku, aku baru menjawab. “O… oke-oke!” kataku terbata sambil mengetik keyword tentang suku sasak dan budaya Lombok. Tak berapa lama kemudian, hasilnya keluar. Rhandu memekik girang disebelahku. Matanya yang tanpa kacamata malah membuatku makin tergoda.

ALIT, STOP IT! Aku memukul diriku sendiri sekuat mungkin untuk mengusir pikiran kotor itu.

Kulirik Rhandu yang masih sibuk meng-copas penjelasan tentang suku sasak dan budaya Lombok yang tadi kami berdua temukan dari mbah Google. Aku terus meliriknya dari sudut mataku. Aku masih saja tertegun dengan wangi yang diseruak kan oleh tubuh Rhandu yang hangat dan yang sangat pas di tubuhku.

Aku menggeleng keras dan mencoba untuk melakukan hal yang harusnya sudah kulakukan daritadi. “Ndu boleh nanya sesuatu nggak?” tanyaku pelan di telinganya.

Rhandu mendongak dan menatapku. Jarak pandangku dengan Rhandu begitu dekat. Sampai-sampai membuat kepalaku ling-lung karena harus menatap wajahnya yang sangat imut itu. Nafaskupun kembali tak bisa keluar. “Apa?” kening Rhandu berkerut samar.

“Sejak kapan lo sadar kalau lo bisek?” tanyaku, langsung ke intinya.

Rhandu agak terkejut mendengar pertanyaanku. Tetapi dia membalasnya dengan senyuman terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaanku. “Pas gue di SMP” katanya, dia kembali mengalihkan tatapannya ke arah laptopku. “Kalo lo?”

Aku bingung harus menjawab apa. “Pas gue SMA,” ujarku asal.

Kulihat Rhandu hanya mengangguk. Oke, sudah satu pertanyaan tersembunyi yang sudah kutanyakan padanya.

“Lo emang sudah berapa kali pacaran sama cewek dan sudah berapa kali lo pacaran sama cowok?” astaga, semoga aja Rhandu nggak marah dengan pertanyaanku.

Badan Rhandu tiba-tiba terdiam. Aku melirik Rhandu takut-takut. “Kalau pacaran sama cewek sudah tujuh kali, kalau sama cowok sudah enam kali,” aku menganga mendengar pengakuannya.

“Lo kok udah banyak banget ya pacaran?” aku memang benar-benar kaget. Aku saja baru empat kali pacaran. Tentu saja sama cewek semua.

Rhandu tertawa pelan disebelahku. “Gue orangnya cepet bosen,” Rhandu kembali melakukan aktivitas meng-copasnya “Emang lo kenapa nanya?” tanyanya, kepalanya berputar menghadapku. Aku langsung gugup melihat matanya yang menawan itu.

“Nggak ada sih. Penasaran aja!” kataku buru-buru.

“Oke!” Rhandu menaikan kedua bahunya.

Setelah itu, aku sadar buat berhenti dulu untuk sembunyi-sembunyi mewawancarai Rhandu. Karena kalau sekarang aku banyak tanya tentang hal pribadinya, kayaknya Rhandu bakalan risih dan nggak akan mau ketemu aku lagi. Jadi aku biarin aja dia sibuk sama urusan makalahnya itu.

“Oh, iya, lo mau minum apa?” tanyaku, aku lupa memberi Rhandu minuman.

Rhandu berdiri cepat. Aku kaget melihat tingkahnya yang tiba-tiba ini. “Nggak usah Lit. Gue harus pulang sekarang! Sudah jam sebelas ternyata ini,” ucapnya cepat, matanya tertuju ke jam tangannya. “Hari ini jadwal gue buat nginep di rumah bokap gue,” Rhandu berjalan cepat menuju ke arah tasnya, yang tepat bersebelahan dengan akuariumku.

“Oke,” kataku masih tertegun dengan sifat Rhandu yang mengagetkanku ini. Aku mengikuti dia dari belakang. Kutatapi dia terus ketika dia sedang memasang sepatunya. Aku masih bingung dengan omongannya yang tadi. Apa maksudnya dia kalau hari ini jadwalnya dia buat nginep di rumah bokapnya. Emang keluarga kayak apa sih yang dia punya. Atau itu cuman modus buat dia ninggalin aku karena aku sudah lancang nanya hal-hal pribadi ke dia.

Ketika sepatunya sudah mantap terpasang di kakinya, dia menatapku. Aku juga ikut menatapnya. Aku kaget pas tiba-tiba tangan Rhandu terulur maju untuk menyentuh wajahku. Aku hanya bisa diam terkaku-kaku dan membiarkan apa yang akan Rhandu lakukan. Tetapi ternyata Rhandu tiba-tiba memegang hidungku dan mengambil sesuatu dari sana.

“Bulu mata lo ada yang jatuh nih,” suaranya bagai anak kecil. “Buat permohonan! Kata Nyokap gue bulu mata itu bisa ngabulin sebuah permohonan. Tetapi cuman permohonan sederhana aja sih” Rhandu menatapku lekat-lekat. “Tutup mata lo, terus buat deh permohonan sederhana!”

Aku menggeleng dan terkekeh dalam satu waktu. “Lo konyol,” ujarku, masih menggeleng.

Matanya menyipit, menyudutkanku. Aku merinding melihatnya menatapku seperti itu. “Just close your eyes,okay!” suruhnya dengan suara memaksa.

Aku terkekeh pelan dan mengikuti perintahnya. Tetapi aku tidak membuat permohonan apapun. Aku membuka mataku dan melihat Rhandu menaruh tangannya yang memegang bulu mataku tadi ke rambutku. Lalu setelah itu dia memperlihatkan jarinya padaku, “Liat nih! Bulu mata lo nyangkut di rambut lo. Berarti permohonan lo bakalan di kabulin.”

Suara tawaku akhirnya bergema. Aku menatap Rhandu dengan tatapan lembut. “Oke. Semoga aja,” kataku sok berharap.

Lalu tangan Rhandu kembali terulur. Memperbaiki rambutku yang terjatuh di depan keningku. Dia memasukan rambutku di balik telingaku. “Lo makin ganteng kalau kayak gini,” katanya pelan, membuat jantungku berdesir. “Dan, kalau boleh gue saranin, lo harus banyak-banyak senyum. Senyuman lo itu manis banget tau nggak. Buat gue gemeteran.”

Dia tertawa dengan perkataannya sendiri. Sedangkan aku hanya tertegun tidak tahu harus berkata apa. “Maksih,” kataku akhirnya.

“Kayaknya, hati gue bilang, kalau gue bisa kok suka sama lo,” dia tersenyum simpul, membuat bulu kudukku merinding. “Kalau gitu, gue pulang ya,” tangannya meraih tanganku untuk dia salami dan dia goyang-goyangkan secara antusias. “Bye, Lit. Eh, see you! Karena besok kita ketemu lagi. File yang gue copas tadi belum sempet gue masukin ke flashdisk gue.”

Aku menarik bibirku menjadi sebuah senyuman. Jantungku masih berdesir dan berdetak kencang. “Oke,” suaraku parau dan tercekat.

“Dahh!” salam pisah Rhandu, dia melambaikan tangannya seraya berjalan menuju ke tangga. Oh, iya, kosku ada di lantai tiga.

Aku membalas lambaiannya. Masih dengan jantung yang berdetak cepat. Astaga! Aku masih benar-benar kaget mendengar semua perkataan Rhandu yang tiba-tiba tadi. Jantung bodoh ini juga masih saja berdetak cepat. Aku memukulnya agar dia berhenti dan kembali berdetak normal. Tetapi dia tidak mau berhenti berdetak cepat.

Rasa apa yang timbul di hatiku ini? Tiba-tiba di otak-ku hanya ada wajah Rhandu yang tersenyum lembut ke arahku. Padahal aku melakukan pendekatan ini hanya untuk mewawancarai Rhandu secara diam-diam. Mengapa malah jadi begini sekarang. Shit.

Aku seperti menjilat ludahku sendiri. Apa kubilang, keberuntungan selalu menjauhiku.

Tuhan, semoga saja perasaan ini bukan perasaan apa-apa. Jangan buat hidupku makin hancur tuhan! Kumohon!

Tetapi, hatiku berkata lain. Hatiku malah sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Rhandu besok. Melihat senyumannya. Melihat matanya. Mencium wanginya yang lembut. Gee! Sesuatu sedang merasuki diriku saat ini. Dan aku tidak yakin perasaan apa itu!

Semoga bukan rasa suka. Atau yang lebih parah… rasa cinta. Tidak secepat ini bukan rasa cinta tumbuh di hati? Semoga saja tidak!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

#3 Karma

“Lo kejem banget tau gak Lit!” ujar Benny tajam ketika kami berdua membicarakan tentang sudah sejauh mana tugasku ini. “Lo nipu dia! Ckckck!”

Aku memutar bola mataku. “Gue nggak tau harus gimana lagi Ben,” kataku putus asa. “Kan lo sendiri yang nyuruh gue buat pelan-pelan kenalan sama dia. Biar dia ngebeberin hal biseknya itu.”

“Tapi, pakek cara yang lebih bagusan kek,” ucap Benny tajam. “Lo kok malah pakek cara picik kayak gini?” Benny menatapku dengan tatapan meminta penjelasan.

Aku mengerang frustasi. “Soalnya cuman rencana itu aja yang terbersit di otak gue, Ben,” aku malah makin frustasi. Mana daritadi malam yang ada di otak-ku hanya Rhandu dan Rhandu. “Kalo elo punya cara yang lebih baik, kasih tau gue dong!” gerutuku meminta penjelasannya.

Benny melipat kedua tangannya di dada. “Gue nggak punya,” aku kembali memutar bola mataku, kudecakan lidahku tanda meremehkan. “Tapi, gue yakin otak lo masih bisa mikirin cara yang lebih baik-kan?” tanya Benny masih saja menyudutkanku.

“Gak ada Ben. Gue udah bener-bener ter-stuck.” Aku memasukan semua alat tulisku ke dalam tas selempangku. “Cuma cara ini aja yang nyangkut di otak gue, yang menurut lo dangkal ini.”

Kini giliran Benny yang mendecakan lidah, meremehkan. “Tapi lo harus tau loh,” sergah Benny dengan nada suara tajam, “lo bisa dapat karma dari hal ini. Hukum karma masih ada dan hidup di dunia ini. Jadi, gue peringetin ke elo, kalau lo harus lebih pinter-pinter buat rencana.”

Setelah dia berkata seperti itu, dia berdiri dan meninggalkanku yang masih duduk diam di kursiku. Karma. Ya, aku selalu memikirkan hal itu. Namun sepertinya ucapan Benny memang sudah timbul dari awal. Sejak aku baru mengenal Rhandu, seakan-akan karma itu sudah datang terlebih dahulu. Menghantuiku dan menganggu hidupku yang tiap menitnya makin berantakan.

***

Ketukan di pintu membuat mataku terbuka dengan paksa. Aku melirik jam weker yang ada di sebelahku dan melihat ternyata masih jam setengah sembilan malam. Sejak daritadi sore aku tiba-tiba jatuh tertidur. Untuk menenangkan pikiran dan otak-ku yang dari kemarin dipaksa untuk bekerja lebih keras. Dengan susah payah aku bangkit dari tidurku. Biasanya jam segini tidak pernah ada yang mengangguku kecuali Eva, tetangga sebelahku yang suka minta air panas atau Benny yang memang suka kurang ajar mengganggu tidurku.

Ketukan kembali terdengar di pintu. Kini makin menganggu. Aku berjalan gontai menuju pintu sambil menggerutu. Siapa sih orang yang berani-beraninya mengganggu tidurku. Setelah aku berada di depan pintuku, aku membuka grendel kuncinya dan memutar knop pintu. Mataku yang masih setengah terbuka menangkap sosok Rhandu yang terbalut jaket tebal dan rambutnya berantakan karena basah.

Aku ternganga tidak percaya kalau Rhandu yang ada di depan pintuku. Mana penampilannya malah makin menjadi lebih keren dari kemarin. Kesan imutnya masih ada, tetapi ada pula terselip kesan gentlenya.

“Gue ganggu ya?” ujarnya tidak enak hati.

Dengan cepat aku menggeleng. “Nggak kok,” kataku sambil tersenyum kecil. “Ayo masuk!” kataku sambil memiringkan tubuhku untuk mempersilahkan Rhandu masuk.

Dia tersenyum kecil juga ke arahku. Membuat jantungku melompat aneh. Aku benar-benar kangen dengan senyumannya. Dan aku tidak tahu kenapa sekarang aku suka sekali memikirkan semua tentang Rhandu. Kembali lagi, apakah ini karma?

Setelah dia sudah berada di dalam kamarku, aku menutup pintunya dan melihat Rhandu yang sedang berkutat melepas jaket tebalnya yang basah. “Kok lo basah gitu?” tanyaku penasaran.

Rhandu berputar menghadapku. “Kan diluar lagi hujan,” katanya sambil menunjuk keluar jendela.

Aku memfokuskan mataku dan benar saja. Hujan rintik sedang mengguyur malam ini. “Emang lo kesini naik apaan?” tanyaku kemudian. Berjalan kecil menuju ke arah pemanas ruangan.

“Naik mobil,” gumam Rhandu.

“Terus kok lo bisa basah gitu?” aku bertanya dan mengernyit bingung.

Rhandu tertawa merdu. Membuat jantungku kembali melompat. “Jarak kos lo sama tempat parkir lo kan jauh,” oh, iya, aku lupa. “Yah, gini deh jadinya. Gue basah. Tapi it’s okay. Basah sedikit aja kok.” Rhandu menyelipkan jari-jarinya ke rambutnya dan mengacak-ngacaknya. Membuat aku makin terpesona dengan tingkahnya yang elegan itu.

“Sini deh!” kataku sambil melambaikan tanganku untuk menyuruh Rhandu mendekat padaku. “Lebih baik lo duduk di deket pemanas ini. Biar badan lo bisa lebih hangetan dikit.”

Dengan patuh Rhandu mendekat padaku dan duduk di dekat pemanas yang sudah kunyalakan untuknya. Dia memejemkan matanya seraya menikmati hangatnya pemanas yang ada di hadapannya. Aku sangat kesulitan untuk mengedipkan mataku ketika melihat Rhandu bertingkah seperti ini lagi. Membuatku terpesona dengan hanya melakukan tindakan kecil.

“Lit,” panggilnya seperti lonceng, matanya masih terpejam erat “gue boleh nanya sesuatu sama lo nggak?”

Tumben dia mau nanya sesuatu. “Oke,” kataku memperbolehkan.

“Lo udah berapa kali pacaran sama cewek dan udah berapa kali pacaran sama cowok?” pertanyaannya mirip banget sama pertanyaan yang aku kasih ke dia kemarin malam. Kenapa tiba-tiba dia nanya hal yang sama sepertiku.

Aku berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaannya. Aku tidak mau kebohonganku terbongkar. Jadi aku harus membuat kebohonganku terdengar benar-benar asli, nyata. Bukan kebohongan belaka. “Kalau sama cewek baru empat kali. Sedangkan sama cowok baru satu kali.” Yah, untung saja aku tidak bilang kalau aku pernah pacaran sama cowok sampai delapan kali. Tadi sebenarnya aku mau ngomong gitu, tapi untung otak-ku langsung meralatnya.

Mata Rhandu terbuka perlahan. “Lo serius?” tanyanya agak kurang percaya. Damn. Benny benar. Aku pembohong yang payah.

Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Rhandu.

“Apa lo sekarang punya hubungan spesial dengan seseorang?” tanyanya membuatku mengerutkan keningku makin bingung.

“Nggak,” kataku tegas, nada suaraku sangat meyakinkan. Ya, iyalah. Soalnya itu jawaban jujur.

Rhandu menatapku agak lama. Tatapannya bukan membuatku terintimidasi atau takut. Sekarang tatapannya malah membuat hatiku luluh lantah. “Sahabat gue bilang kalau elo itu orangnya… sori ya, agak brengsek!”

Aku tersentak kaget. “Siapa yang bilang gitu ke elo?” tanyaku geram. Well, aku mungkin berpenampilan serampangan atau berantakan atau apalah. Tapi, aku, brengsek. Siapa yang berani-beraninya bilang begitu? Dia belum tentu mengenalku untuk menghakimiku dengan hal-hal yang nggak dia tahu. Anjrit.

“Gue kasih tau lo namanya juga, lo nggak bakalan kenal kok,” Rhandu kembali memejamkan matanya. Menikmati kembali hangatnya pemanas.

Aku mendesah kesal. Oke. Siapapun orang itu pasti sok tahu tentangku. Rasa kesal terus saja menghantuiku sampai tiba-tiba Rhandu mengajak-ku makan di luar. Aku menurut dengan ajakannya. Sekalian menghilangkan rasa kesalku terhadap orang yang mengatai aku brengsek.

Hujan sudah berhenti ketika kami keluar. Kami berdua pergi ke depan kos-kosanku. Karena di depan kos-kosanku berdiri banyak sekali warung makan. Lengkap deh pokoknya. Semua orang yang melihat Rhandu, pasti tiba-tiba berhenti menyuap makanan mereka dan menatapnya dengan tatapan terpesona. Oke. Rhandu memang bisa membuat semua orang terpesona dengan penampilannya. Termasuk aku, tentu saja. Walaupun aku benci mengakuinya.

Tetapi ada hal yang lebih mengejutkan lagi. Rhandu itu ternyata suka banget yang namanya makan. Dia sampai pesan nasi goreng spesial dua porsi. Ditambah dengan satu porsi cap-cay. Yang ditutup dengan roti bakar. Aku menganga tidak percaya dengan tingkah Rhandu yang sangat WOW ini. Tetapi dia tidak peduli dengan komenanku yang berkata kalau dia terlalu banyak makan.

“Banyak makan itu bagus tau!” serunya membela diri. Mulutnya masih dipenuhi dengan nasi goreng.. “Selama masih bisa makan, kenapa nggak!” ujarnya, membuat beberapa nasi yang ada di mulutnya meluncur keluar. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah konyolnya.

Dia memang orang yang konyol. Kemarin, aku masih ingat dia mengambil bulu mataku dan menyuruhku untuk membuat suatu permohonan. Rhandu ternyata orang yang benar-benar unik dan aneh. Serta menawan. Itu nilai plusnya.

“Ndu,” panggilku pelan, “gue masih penasaran lo itu sebenernya semester berapa sih?”

Rhandu menelan makanannya dulu sebelum menjawab pertanyaanku. “Semester dua.” Rhandu membuat jari-jarinya menjadi angka dua. “Kalau elo tiga kan?” ujar Rhandu dengan nada pasti.

“Yeps,” aku mengangguk sambil tersenyum.

Tak begitu lama dari perbincangan singkat kami, akhirnya Rhandu selesai juga makannya. Inginku sebenarnya kembali ke kos-kosan. Karena hawa malam ini makin dingin. Tetapi Rhandu berkeras untuk jalan-jalan dulu sebentar.

Yang membuatku makin heran, dia malah memesan es krim di suhu seperti ini. Sifat anehnya yang unik itu makin membuatku tak percaya dan malah makin menyukainya juga. Kami berjalan pelan di sekitaran komplek kos-kosanku. Banyak anjing yang lalu lalang, menggonggongi kami. Tetapi anehnya, bukannya dia takut. Malah dia yang mengejar anjing-anjing itu. Yang alhasil membuat anjing-anjing itu ketakutan setengah mati dan kocar-kacir ke sana kemari. Aku hanya tertawa melihat tingkah Rhandu yang makin konyol.

Dia tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju ke seberang jalan. “Itu taman bermain ya?” aku mendengar Rhandu berbisik pelan.

Aku ikut melihat ke arah yang dillihat Rhandu. “Iya,” jawabku.

Aku kaget ketika kurasakan Rhandu menarik lenganku kuat. “Ayo kita kesana!” katanya masih sambil merangkul lenganku. Aku hanya bisa pasrah dan mengikutinya. Hubunganku dan Rhandu, kuyakini makin dekat sekarang. Dan, jujur saja, aku menyukainya.

Taman bermain yang ada di komplek kos-kosanku memang terbilang agak mewah. Semua permainan yang ada di taman ini masih bagus semua. Tetapi sayangnya, penerangannya tidak begitu bagus. Hanya satu buah lampu jalanan yang menerangi taman bermain ini.

Setelah kami berdua sampai di taman bermain itu, Rhandu langsung berlari dan bermain ayunan. Aku tertawa melihat tingkahnya yang konyol.

“Dari dulu gue pengen banget main di tempat yang kayak gini,” katanya agak merenung.

Aku mengerutkan dahiku. “Memangnya lo nggak pernah main di tempat yang kayak gini?”

Dia menggeleng. “Bokap ngelarang gue. Katanya permainan-permainan yang ada di tempat ini bisa membahayakan hidup gue. Dia memang terkenal agak kasar orangnya.”

Aku menatap Rhandu, kasihan. “Pantesan lo betingkah konyol ya,” kataku dengan nada bercanda, “masa kecil lo memang nggak bahagia.”

Rhandu tertawa mendengar candaanku. Aku senang sekali mendengar tawanya yang merdu.

Tiba-tiba dia turun dari ayunan dan pergi ke arena pasir. Dia mengambil sebatang kayu patah yang tepat ada disebelah kanan kakinya. Lalu tiba-tiba dia menggoreskan sesuatu di atas pasir kecokelatan itu. Aku menatapnya intens. Aku tidak tahu apa yang sedang Rhandu lakukan di pasir itu. Sedang buat apa dia sebenarnya. Aku hanya bisa melihat sosoknya yang lincah bergerak ke sana kemari sambil menggerakan batang kayu yang patah itu di atas pasir.

Lalu dia berdiri dan menyeka keringat yang mucul di dahinya. “Lit, sini deh!” dia melambaikan tangannya untuk menyuruhku mendatanginya.

Aku berjalan cepat menuju ke arahnya dan berdiri tepat di sebelahnya. Aku menyipitkan mataku untuk melihat hal apa yang dibuat oleh Rhandu. “Apaan tu?” tanyaku bingung, masih tidak tau apa yang dia buat di atas pasir itu.

“Itu elo!” katanya pelan. “Itu jelas-jelas gambar muka lo!”

Aku menyipitkan mataku, dan yep, aku bisa melihat itu hal apa. Ya, itu memang gambar kepala. Dan aku yakin itu memang aku. Gambaran Rhandu di atas pasir ini sangat bagus. Sangat-sangat seni banget kalau bisa aku bilang. “Wow,” kataku berdecak kagum. “Keren banget Ndu.”

Dia terkekeh pelan di sampingku. Aku terus-terusan menatap hasil karya dari Rhandu. Dia itu memang orang yang benar-benar berbakat ternyata. Baru saja aku ingin mengalihkan tatapanku ke arahnya, tiba-tiba aku merasakan sebuah kecupan hangat mendarat di pipi kiriku. Aku tersentak kaget dan mengalihkan tatapanku untuk melihat Rhandu.

Ketika aku melihat wajahnya, dia hanya tersenyum kecil. Aku masih tidak bisa berkata apa-apa. Kami masih saling bertatapan selama beberapa detik. Lalu aku mengangkat tanganku dan mengacak rambut Rhandu yang berbau melon manis itu.

Dia tertawa kecil menerima tingkahku terhadapnya. Dia berusaha sekuat mungkin untuk menepis tanganku yang makin lama makin cepat memberantaki rambutnya. Aku hanya bisa tertawa berdua dengannya melihat tingkah konyol kami berdua.

“Lit berhenti!” katanya, akhirnya bisa menepis tanganku. “Itu toko penyewaan kaset ya?”

Tangannya menunjuk ke salah satu toko yang ada di simpang tiga. “Iya,” jawabku.

“Wah,” matanya terbelalak antusias. “Nyewa yuk! Mumpung  sense pengen nonton film gue lagi ada nih!”

Aku hanya mengangguk dan mengikuti Rhandu yang berjalan cepat menuju ke toko penyewaan kaset yang jaraknya dari kami sekitar lima puluh meteran. Yah, untung saja kami tidak begitu lama di toko kaset itu. Rhandu meminjam film The Ring dan The Illusionist. Aku tidak tahu kalau Rhandu pencinta film misteri. Tetapi memangnya apa sih yang aku tahu tentang dia. Aku kan baru dua hari mengenalnya.

***

Aku terbangun ketika mendengar jam wekerku berteriak nyaring. Aku meraba-raba untuk mencari jam wekerku yang bertengger di atas meja yang tepat berada di sebelah kasurku. Setelah menemukannya, aku mematikan jam weker menyebalkan itu. Aku sebenarnya masih tidak mau membuka kedua mataku. Tetapi, tiba-tiba ada sebuah hembusan hangat yang menerpa daguku. Aku langsung membuka mataku dan melihat Rhandu tertidur nyaman di atas dadaku. Wajahnya yang lugu makin lugu ketika sedang tidur.

Tadi malam, kami menonton kedua film yang di sewa oleh Rhandu sampai larut malam. Dan tiba-tiba saja kami berdua langsung ketiduran. Setelah film The Ring habis.

Aku memegang rambut Rhandu yang lembut. Membangunkannya secara halus. “Rhandu,” kataku parau, “sekarang udah pagi. Apa lo nggak kuliah?” ujarku sok mengingati dia. Padahal aku sendiri malas pergi kuliah hari ini. Toh, pelajaran yang ada hari ini cuman Ilmu Pengantar Penyakit Dalam. Dan bisa kukatakan pelajaran itu sangat membosankan. Walaupun sangat penting dan yang harus aku pelajari dengan sungguh-sungguh. Hanya saja aku tidak suka dosennya. Dia wanita cerewet yang mempunyai bibir lima. Gawd!

Rhandu bergerak pelan di atas dadaku. Tiba-tiba dia langsung bangkit dan duduk bersila di sampingku. Tangan kanannya mengucek kedua matanya sedangkan tangannya yang kiri bergenggaman denganku. “Jam berapa sekarang?” tanyanya masih mengantuk.

Aku melirik jam wekerku dan melihat jam sudah menunjukan pukul delapan. “Jam delapan lewat lima belas menit.”

Rhandu hanya mengangguk. Matanya masih terpejam. Aku menikmati pemandangan yang ada di hadapanku ini. Rhandu benar-benar sangat menawan sekarang. Aku tersekat melihat ke indahan dirinya. Well, sepertinya aku sudah tidak peduli dia itu seorang laki-laki. Biarkan saja aku menjilat ludahku sendiri. Lagipula, ludahku rasanya senikmat ini kok.

Mata Rhandu akhirnya terbuka, Lalu dia menundukan kepalanya dan mengecup keningku beberapa detik. Aku masih saja tertegun dengan tingkahnya yang serba spontan. Tangannya makin erat menggenggam tanganku. “Gue ada kelas jam sembilan,” katanya. “Gue pergi dulu kalau gitu ya!” katanya melepaskan genggaman tangan kami. Dan rasanya itu sangat janggal. Aku ingin dia terus menggenggam tanganku.

Dia bangkit dan berjalan cepat menuju ke kamar mandiku. Tak berapa lama kemudian Rhandu sudah kembali. Wajahnya kembali segar seperti sudah mandi. Padahal dia hanya mencuci mukanya. Dia memungut tasnya yang berada di dekatku dan mengalungkannya di sekitar lehernya.

“Gue pergi dulu ya,” ujarnya lembut. “File yang ada di laptop lo sudah gue masukin ke flashdisk gue kok,” katanya ketika aku baru saja ingin mengingatkannya tentang hal itu. Tetapi sepertinya dia memang pintar membaca pikiranku.

“Oke,” kataku.

Rhandu tersenyum dan kembali membuat jantungku berdetak cepat. “Sampai ketemu lagi!” salam pisahnya sambil melambaikan tangannya. Aku menatapnya berjalan cepat menuju pintuku dan dia melambai sekali lagi ke arahku sebelum menutup pintu itu.

Baru beberapa menit saja Rhandu meninggalkanku, aku sudah merindukannya. Ya, kupikir aku sekarang memang benar-benar menyukainya. Bilang aku aneh. Bilang aku munafik. Tetapi itu benar. Aku sekarang menyukai Rhandu. Karena banyak hal sebenarnya. Dia orang yang unik, konyol, menawan, baik dan oh, terlalu banyak jika ingin ku katakan satu-satu.

Aku pasti akan menikmati waktuku bersama dengannya. Untuk wawancara diam-diamku dengannya dan menolongnya membuat tugas makalahnya.

Benny benar, aku memang terkena karma yang kubuat sendiri. Tetapi entah mengapa, selama aku hidup di dunia ini. Baru sekarang aku benar-benar menikmati karma yang begitu manis dan menggoda seperti ini. Ya, aku menyukai karmaku sendiri. Dan aku juga menyukai Rhandu. Shit.

#4 Me, Like Him?

Sudah enam hari aku membantu Rhandu membuat tugas makalahnya. Selain itu juga aku sudah punya banyak bahan wawancara darinya. Selama ini aku selalu pura-pura bertanya padanya tentang kehidupan biseksualnya. Aku merekam semua perkataannya. Lalu setelah dia pulang, aku mendengarkan rekaman itu dan membuat wawancara tersembunyi itu menjadi tugas makalahku. Tugas aneh yang diberikan oleh Pak Anton.

Sebenarnya aku juga tidak suka menipu orang yang kusukai. Tapi mau bagaimana lagi? Jika aku memberitahu Rhandu sekarang, bisa kupastikan kalau dia akan menjauhiku. Dan apabila aku mendiamkannya dan suatu saat dia mengetahui hal ini, reaksi apa yang akan dia tunjukan padaku? Entahlah. Aku tidak bisa membayangkannya. Aku juga sangat benci pada diriku sendiri saat ini. Kenapa aku bisa melakukan hal rendahan seperti ini kepada orang pertama yang benar-benar bisa membuatku sangat menyukainya.

Hanya saja tugas makalah ini lebih penting. Aku tidak mungkin mengabaikan tugas ini. Aku tidak mau kuliahku selama tiga tahun ini berakhir sia-sia karena sebuah tugas makalah konyol yang tidak bisa kuselesaikan. Kedua orang tuaku akan membunuhku kalau sampai aku tidak lulus kuliah. Aku juga masih memikirkan masa depanku. Aku tidak mau kuliahku berhenti di tengah jalan. Selama lima hari ini juga, aku sudah sangat rajin masuk kuliah. Walaupun kadang aku tidak mengerti apa yang dosen-dosen itu jelaskan.

Rhandu. Nama itu selalu mengiang di otak-ku. Kadang aku berpikir untuk mengakui saja tipuanku dan hal yang membuatku mendekatinya. Aku juga sudah cukup panjang membuat makalahku. Pak Anton menyuruhku mengerjakan sampai lima belas lembar atau lebih. Tetapi aku baru sampai sembilan lembar. Bagaimana kalau selebihnya aku mengarang indah saja. Mungkin Pak Anton tak akan tahu. Tetapi Pak Anton punya mata-mata di mana-mana. Aku mendesah getir dan bingung.

“Ngelamunin apaan lo?” seru suara kasar dari belakangku.

Aku memutar kepalaku perlahan dan melihat Benny yang sedang memegang laptop di tangannya. “Nggak ada,” kataku menggeleng muram.

“Alah, lo nggak usah bohong segala!” sergah Benny, dia duduk di sampingku dan membuka laptopnya. “Lo sahabat gue dari SMA. Gue tau lo gimana! Pasti ada yang lo sembunyiin kan?”

Aku mendesah kembali. Kini lebih getir dan bingung dari sebelumnya. “Gue merasa bersalah sama Rhandu.”

Benny tiba-tiba berhenti melakukan aktivitas dengan laptopnya. Dia memutar badannya agar searah dengan badanku. “Merasa bersalah gimana? Karena lo udah nipu dia gitu?”

Aku mengangguk suram. Aku benar-benar membenci diriku sendiri saat ini. “Gue… nggak tau kenapa pengen banget ngasih tau yang sebenernya sama dia. Tapi gue… nggak bisa. Gue nggak tau harus ngapain sekarang. Dan makin lama gue malah makin merasa bersalah.”

Sometime you have to listen with your heart,” tutur Benny, menatapku iba. “Kalo lo memang ngerasa lebih baik ngasih tau dia sekarang, kasih tau. Pokoknya dengerin hati lo sendiri Lit. Karena kadang hati kita memberitahu kita hal yang bener. Gue yakin itu. Dan gue yakin, Alit yang gue kenal bakalan selalu dengerin hatinya.”

“Tumben lo sok melankolis gini!” sindirku, kunaikan kedua alisku dan tersenyum lebar. Benny hanya memutar bola matanya dan melanjutkan aktivitasnya dengan laptopnya. “But, thanks buat masukannya Ben. You are my best bro!” kataku sambil memukul pelan pundak Benny.

Benny hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan entah-apa-itu yang ada di laptopnya. Aku kembali memikirkan cara bagaimana memberitahu Rhandu tentang hal ini. Tanpa dia marah denganku sama sekali. Atau menghujatku. Yah, atau yang lebih parah; menjauhiku. Aku tidak tahu kenapa, ide bahwa dia akan meninggalkanku sepertinya sangat menyakitkan. Aku tidak siap menerima kesakitan dalam hatiku. Memikirkannya saja, hatiku sudah perih. Lagipula, aku bimbang dengan perasaanku sendiri. Rasa yang tumbuh di hatiku ini apa? Aku sendiri tidak bisa menebaknya apa itu.

HPku bergetar ketika aku masih melamunkan semua hal ini. Dengan gesit aku meraih HPku yang berada di saku bajuku. Sebelum mengangkatnya aku melihat dulu siapa yang menelponku. Sangat jelas tertulis di layar HPku kalau yang menelponku adalah Rhandu. Kupelototi layar HPku sampai aku benar-benar yakin kalau itu memang telpon dari Rhandu. Sebelum-sebelumnya Rhandu tak pernah menelponku duluan. Ini tumben dia mau menelponku. Jantungku langsung berpacu cepat, pikiranku sudah dipenuhi dengan hal-hal negatif. Apakah Rhandu mengetahui sesuatu? Kuharap bukan! Kenapa aku bisa menjadi orang paranoid sekarang?

Kutekan tombol Ok dan menempelkan HPku ke telingaku. “Halo?” ujarku pelan.

“Halo!” sambut suara dengan nada riang di ujung sana. “Lagi dimana Lit?” tanyanya, nada riangnya masih terdengar.

“Lagi di kantin kampus. Ada apa Ndu?”

Dia seperti menahan pekikan. “Gue udah kumpulin tugas makalah gue,” beritahunya padaku. Yang sebenarnya memang tidak perlu. Toh, buat apa juga aku tahu dia sudah mengumpulkannya apa belum. Tetapi, entah mengapa aku malah tertarik. Entah tertarik karena apa.

“Bukannya masih ada satu hari lagi ya buat lo kumpulin tugas makalah lo itu?” tanyaku, menambah percakapan yang tidak perlu.

“Iya sih. Tapikan kalau bisa kumpulin sekarang, kenapa harus tunggu besok!” ujarnya cepat. “Dan lo harus tebak makalah gue dapet nilai berapa?”

Aku menarik nafas pendek sebelum menjawab. “Gue nggak pinter nebak!”

Rhandu tertawa kecil di ujung sana. Membuat bulu kuduk-ku merinding. “Ckck, lo kok orangnya cepet nyerah gitu ya?” aku hanya tertawa untuk menanggapi ucapannya. “Oke deh, langsung gue kasih tau aja ya,” Rhandu seperti menahan sesuatu sebelum mulai berkata dengan penuh antusias; “gue dapet nilai A plus.”

Aku bisa mendengar suara puas dan keriangan Rhandu dari tempat dia berdiri sekarang. Sepertinya dia benar-benar senang bisa dapat nilai bagus. “Wah,” aku mencoba nada suara yang paling antusias yang kupunya, “selamat ya!”

“Iya, makasih Lit,” sergahnya masih kegirangan. “Ini juga berkat lo! Kalo nggak ada elo, pasti makalah gue nggak bakalan dapet nilai segitu.”

“Sama-sama Ndu.” Aku makin erat menempelkan HPku ke telingaku. “Gue lakuin ini kan buat elo!” well, I know I said something stupid. But, c’mon, itu keluar dengan sendirinya dari mulutku. Lagipula aku tidak menyesali apa yang barusan aku katakan. Malah ini bisa menambah kepercayaan Rhandu untuk tetap di dekatku. Dan juga ini bisa menambah kehancuran hati Rhandu jika dia tahu tentang hal yang sedang kulakukan kepadanya. Damn gawd, I’m so silly.

Untuk beberapa detik, yang bisa kudengar hanya hembusan nafas Rhandu yang berat dan agak… gugup. Aku sama sekali tidak berani membuka mulutku karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku sangat gugup dan canggung. Aku tidak tahu harus berkata apa ke Rhandu tentang omonganku yang tadi. Tetapi aku juga tidak mau membicarakannya lagi. Takutnya nanti malah menjadi lebih parah. Jadi, lebih baik diam dan menunggu Rhandu bicara dulu.

“Kalo gitu, sekali lagi,” dia menghembuskan nafas panjang, “makasih ya.”

Aku ikut menghembuskan nafas panjang. “Iya,” kataku akhirnya.

Kecanggungan itu datang kembali. Untung saja hanya beberapa detik. “Ntar malem gue ke kos lo ya,” ujarnya dengan nada riang, “kita rayain keberhasilan makalah gue.”

“Oke!” sambutku menyetujui. “Jam berapa lo mau dateng ke kos gue?”

“Jam sembilan malem kayaknya,” dia berkata, “gue mau belanja bahan-bahan makanan yang ntar kita masak berdua. Lo suka makanan apa?”

Aku diam sejenak untuk berpikir. “Ayam goreng kecap.”

Great!” ujarnya riang, “kalo gitu gue bakalan masakin makanan itu buat lo ntar malem.” Aku tahu kalau Rhandu mau mengakhiri telpon ini. “Gue bakalan kabarin lo lagi. See you soon!” Dan benar saja, dia memutuskan hubungan telpon sebelum aku sempat menjawabnya.

Kumasukan HPku ke dalam saku bajuku dan membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja. Benny menatapku dengan mata disipitkan meminta penjelasan tentang dengan siapa tadi aku bicara. Karena ketika Rhandu tadi menelepon, aku agak menjauh dari Benny, agar dia tidak bisa mendengar percakapanku dengan Rhandu. Itupun kalau dia tahu siapa yang menelponku.

Setelah semua buku-buku itu masuk ke dalam tasku, aku mengucapkan salam perpisahan ke Benny, yang dia balas hanya dengan tatapan sinisnya. Karena belum dapat penjelasan dariku siapa yang menelponku barusan. Selain menyebalkan, Benny suka sekali mencampuri urusan orang lain. Dan yakinlah, hal itu sangat membuat risih dan menjengkelkan.

***

Lima menit lagi Rhandu bakalan datang. Jadi aku cepat-cepat membereskan barang-barangku yang kesana-kemari. Sudah dua hari ini Rhandu tidak datang ke kosku. Kami biasanya akan bertemu di café ataupun di tempat-tempat semacam itu. Makanya kamar kosku bisa berantakan seperti sekarang ini. Dan ternyata membersihkan kamar kos saat badan lagi tidak ingin melakukannya, hal itu sangat melelahkan.

Ketukan di pintu mengagetkanku. Dengan langkah panjang, aku langsung membuka pintu itu. Wajah Rhandu yang semanis gula itu tersenyum lebar ke arahku. Kedua tangannya dipenuhi dengan bahan belanjaan. Dia tersenyum sambil mengangkat kedua kantong plastik yang ada di tangannya. Aku menarik bahunya dan membawanya masuk.

“Kita langsung masak aja yuk!” ajaknya sambil menaruh bahan makanan yang ada di dalam kedua kantong plastik itu di atas meja makanku.

Dia mengeluarkan segala jenis bahan. Dari ayam, kecap, saus, minyak goreng, sayur-mayur, buah-buahan. Dan ada tepung juga. Aku mengernyit bingung. Untuk apa dia beli tepung segala. “Ini buat apaan?” kataku sambil mengangkat tinggi-tinggi tepung berwarna putih itu.

“Untuk buat cupcake,” Rhandu tersenyum simpul. “Lo suka nggak?”

“Boleh juga,” aku mengangguk dan menaruh kembali tepung itu di atas meja. “Mau di bantuin masaknya?” tawarku ke Rhandu. Yang saat ini sedang asyik memotong-motong paha Ayam.

“Gue udah daritadi ngarep lo nanya kayak gitu,” dia terkekeh pelan. Membuatku ikut terkekeh juga. Aku langsung berjalan ke sisi kanannya dan mengambil sayur-mayur yang menumpuk di atas wajan. “Lo potong-potongin kangkung ini ya. Gue mau buat tumis kangkung. Lo suka nggak?”

“Gue pemakan segalanya kok,” aku nyengir lebar ke arahnya.

Rhandu tertawa kecil. “Kalo gitu, lo suka makan tai juga dong?”

Aku mengernyit. “Yah enggak lah. Dasar!” aku menjejalkan kangkung-kangkung yang ada di genggamanku ke wajahnya yang rupawan. Dia menepisnya cepat dan mundur beberapa langkah untuk menjauhi serangan yang kuberikan padanya.

“Udah ah,” dia kembali mendekat ke arahku. “Kalo kita main-main terus. Kapan selesainya nih masakan,” dia kembali memotong-motong paha ayam itu dengan bersemangat tinggi. Dan aku melanjutkan mencincang kangkung-kankung segar itu.

Tak sampai empat puluh menit, ayam kecap plus tumis kangkung sudah tersedia di atas meja makan. Wangi masakan yang kami buat sangat lezat. Sampai-sampai aku kekenyangan hanya dengan wanginya saja. Aku melirik Rhandu yang sedang asyik mengelap-ngelap bajunya yang terkena percikan dari minyak goreng tadi.

“Selanjutnya kita buat cupcake,” Rhandu mengamil tepung dan beberapa bahan lainnya. Dia mengeluarkan sebuah kunci dari dalam kantungnya. “Gue mau ambil oven dulu di mobil ya. Lo tunggu bentar disini.”

“Lo bawa oven?” aku tertawa kecil dengan segala kesiapan yang dia lakukan untuk acara makan malam sederhana kami ini.

“Hehehe… Nyokap tadi nyaranin buat bawa oven kalo mau buat cupcake. Udah deh, nggak usah nanya-nanya,” dia lalu langsung berlalu pergi dengan gesit. Aku melihat Rhandu yang langsung menghilang di balik pintu kosku.

Rhandu kembali dengan sebuah oven mini yang berada di pelukannya. Dia membawa oven itu dengan susah payah. Aku langsung berlari cepat untuk membantunya. Dia mengucapkan terima kasih lalu mengikutiku dari belakang. Aku menaruh oven itu di dekat saklar listrik. Lalu menusukan stop kontaknya ke saklar tersebut.

“Kita makan aja dulu deh,” ujar Rhandu dari belakang badanku. “Daripada makanannya keburu dingin.”

Aku mengangguk dan berjalan pelan menuju ke arah meja makan. Dengan sigap Rhandu langsung mengambil sendok nasi. Lalu menaruh nasi yang ada di sendok tersebut ke piringku. “Udah udah,” kataku saat Rhandu mau menambahkan lagi nasi yang ada di dalam piringku. Yang kini hampir penuh.

“Kok dikit banget makannya? Pantesan kurus.” Rhandu bertanya dengan nada sok menyindir.

“Biarin!” aku menjulurkan lidahku ke arahnya yang dia balas dengan juluran lidahnya juga.

Tanpa banyak pembicaraan lagi, kami berdua langsung menyantap makanan yang ada di atas meja makan dengan lahap. Ayam kecap buatan Rhandu rasanya sangat lezat. Hampir mendekati Ayam kecap buatan Ibuku. Aku tiba-tiba jadi kangen dengan kedua orang tuaku. Mereka tinggal di Bandung. Aku pulang untuk bertemu dengan mereka ketika ada libur dari kampusku saja. Selain itu, aku sudah dua bulan tidak bertemu mereka. Aku benar-benar kangen mereka.

“Lagi mikirin apaan?” tanya Rhandu, membuatku kaget. Aku melihat ke piringku yang kini sudah kosong melompong. Perutku juga sudah sangat kenyang.

“Lagi mikirin Ibu sama Ayah gue Ndu. Gue kangen sama mereka.”

“Emang Ibu sama Ayah lo tinggal di mana?”

“Di bandung. Kapan ya kira-kira kita ada libur dari kampus?”

Rhandu berpikir sejenak. “Ada deh kayaknya. tiga hari lagi kita bakalan libur empat hari kan. Karena ada Maulid Nabi. Nah, lo pulang aja. Walopun liburnya cuman empat hari. Yang pentingkan rasa kangen lo sama mereka hilang.”

Boleh juga tawaran Rhandu. “Iya deh.” Aku melirik ke arahnya yang saat ini sedang tersenyum lebar ke arahku. “Ayo kita buat cupcake sekarang.”

Rhandu langsung berdiri ketika mendengarku berkata begitu. Sampai kursi yang di dorong dengan kakinya itu berderit kecil. “Ayo!”

Dengan berantakan, kami membuat cupcake yang bentuknya malah seperti tai sapi. Aku kembali menuangkan tepung di dalam adonanan karena dia belum mengembang-mengembang juga. Tetapi tepung itu malah terjatuh semua ke dalam mangkuk besar untuk adonan. Serbuk tepung yang menyebalkan itu malah masuk ke dalam hidungku. Membuat nafasku tersendat dan aku langsung terbatuk hebat. Rhandu yang melihat ini hanya tertawa kecil. Aku melirik ke arahnya yang saat ini masih tertawa dengan se-enaknya. Kuambil segenggam tepung lalu menyemburkan tepung itu ke arahnya.

Dia terlonjak kaget. Wajahnya yang rupawan itu dipenuhi dengan tepung. Seluruh rambutnya langsung berubah warna putih. Mulutnya yang berwarna merah itu terbuka dengan kaget dan kesal. Dia membuka matanya dan mengucek pelan. Lalu matanya yang tajam namun lembut itu menatapku dengan bengis dan licik. Aku hanya tertawa melihat wajahnya itu. Cepat-cepat aku membalikan badanku dan kembali mengurus adonan yang kini bentuknya malah sangat persis seperti tai sapi di kuadratkan dua.

Namun baru saja tanganku ingin mengaduk adonan itu, tiba-tiba ceplokan kasar terhempas pelan di kepalaku. Cairan kuning yang aku yakin adalah telur membuat mataku terbelalak kaget. Aku membalik-kan badanku dan melihat Rhandu yang kini berkacak pinggang sambil berusaha menahan tawa. Aku menyipitkan mataku ke arahnya dengan geram lalu menyiramkan adonan yang ada di dalam mangkuk besar itu ke arahnya. Kontan, badannya di penuhi dengan adonan untuk cupcake kami itu.

Dia membersitkan matanya ke arahku dan menyiramkan air yang ada di dalam baskom kecil untuk mencuci piring. Kini badanku basah kuyup. Lalu aku kembali membalas Rhandu dan dia kembali membalasku. Kami berdua tertawa dengan kencang saat memulai peperangan konyol ini. Dia mendorong-dorong tubuhku dengan pelan untuk menghindari seranganku yang selanjutnya. Ketika aku ingin menyiramkan air minum yang ada di dalam galon, dia langsung berujar cepat.

“Iya, iya, gue nyerah,” dia mengangkat tangannya ke atas kepalanya. Aku terkekeh kecill dan menaruh air galon itu di samping kulkas. Lalu aku menarik tubuhnya yang berantakan ke dalam pelukanku. Kuusapkan tanganku ke atas kepalanya. Badannya yang lebih pendek dariku sedikit membuatku makin leluasa untuk mengacak-ngacak rambutnya.

“Mandi yuk!” ajak-ku kemudian.

Dia mengangguk dan berlari kecil ke arah mandi. Saat aku sudah ada di kamar mandi, dia sedang memegang shower yang berada di atas bathtubku. Lalu dengan sengaja dia menyemprotkannya ke arah wajahku. Aku menyilangkan tanganku ke depan wajahku untuk menghindari serangannya. Ketika aku sudah berada di depannya, aku langsung menarik shower itu dari tangannya. Dia hanya tertawa ketika aku menyerang balik.

“Suer! Airnya dingin banget,” katanya sambil menggoyang-goyangkan badannya agar semua kotoran yang ada di tubuhnya hilang semua. Aku dengan asyik menonton acara dia menggoyang-goyangkan tubuhnya yang seperti anak kecil itu. “Gue keramasin sini rambut lo! Bau telur tuh rambut lo.”

Aku mengangguk lalu duduk di atas kloset. Aku memajukan kepalaku agar dia mudah untuk mengeramasi rambutku. Wangi shampooku langsung tercium jelas ketika busa-busa putih itu menyelimuti rambut dan kepalaku. Rhandu memijit-mijit kepalaku pelan. Lalu dengan cepat dia membersihkan semua busa putih itu dari rambutku. Setelah aku yakin sudah tak ada lagi busa yang ada di kepalaku, aku langsung menerjang badan Rhandu yang mungil tersebut. Menyeretnya masuk ke dalam bathtub. Rhandu hanya tertawa menerima perlakuanku.

Kami duduk berhadapan. Rhandu masih tertawa dengan lembut. Matanya terpejam ketika sedang tertawa. Tanpa sadar aku langsung memegang pipinya dan menggosoknya pelan. Pipinya benar-benar lembut dan halus. Rhandu membuka matanya lalu membalas tatapan mataku.

Tawa yang tadi sedang bergema di mulut dan di dadanya seketika langsung menghilang. Dia menatapku intens dan halus. Tatapan sayu yang membunuh saraf ke warasanku itu membuatku menjadi gila dan membuatku menjadi orang yang tak masuk akal.

Karena kini tanganku sudah turun ke dagunya, lalu ke bibirnya yang penuh dan berwarna merah tersebut. Tanpa sadar aku menarik dagunya mendekat. Dan tanpa sadar juga aku memajukan kepalaku dan mencium bibir indahnya itu. Sengatan rasa nikmat langsung menggerayangi bibirku. Bibirnya yang sangat empuk dan lezat tersebut terasa seperti strawberry. Hanya saja aku sedang menikmati strawberry yang kini membalas ciumanku.

Bibirnya terbuka dan memberikanku kesempatan untuk memasuki mulutnya. Lidahku menjulur masuk yang langsung di sambut dengan lidahnya yang melingkar lalu menjilat lidahku dengan menggoda. Kami terus menadalamkan ciuman dan permainan lidah kami yang membuat otak-ku makin kehilangan fungsinya. Aku bisa merasakan tangan Rhandu yang lembut itu menyentuh tanganku yang sedang tertempel di wajahnya. Lalu dia melepaskan tangannya dan menaruhnya di belakang kepalaku. Tangannya dengan nakal menarik-narik rambutku. Membuatku mengerang—bukan karena kesakitan. Melainkan karena rasa nikmat yang aneh.

Rhandu-lah yang pertama kali melepaskan ciuman panas kami. Dia menjauhkan kepalanya dan matanya yang cokelat bening itu menatapku. Aku menyipitkan mataku karena rasa ling-lung masih menerpa fungsi otak-ku. Tiba-tiba semprotan kecil air menerpa wajahku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali. Lalu dengan jelas aku bisa mendengar Rhandu berbisik dengan kekeh menyenangkan dari mulutnya.

“Dasar genit!”

Aku hanya tersenyum ke arahnya. Dia membalas senyumanku dan kembali menarik kepalaku pelan. Dia mengecup bibirku secara singkat. Tetapi kecupan kecil itu sangat menggairahkan.

“Aku juga suka sama kamu,” katanya kemudian dengan mata berbinar bagai lampu sorot.

Aku tertawa kecil dan menarik tubuhnya ke tubuhku. Mendekapnya erat dan kembali menciumi bibir dan lehernya dengan sangat bersemangat dan penuh rasa gembira. Padahal aku bilang suka sama dia dulu itu hanya untuk berbohong saja. Tetapi kini aku yakin kalau sekarang aku suka dengannya. Benar-benar menyukainya dalam siratan yang seratus persen kuyakini.

Kami menghabisi malam itu dengan ciuman-ciuman panas. Rhandu dan aku menikmati masa-masa ciuman kami yang menggoda. Aku dan dia tidak melakukan hal bercinta. Karena aku tidak tahu caranya dan aku juga tidak mau langsung membawa hubungan kami ini langsung ke daerah yang sangat tinggi. Kami berdua akan menjalani ini pelan-pelan.

Selain itu, aku harus mengakui hal yang harus kuakui sejak pertama. Aku akan berkata jujur kepadanya tentang kenapa aku mendekatinya. Ya. Aku harus mengatakannya besok. Tetapi malam ini, biarlah kami memenuhi bibir kami dengan ciuman hangat nan menggoda ini.

 

 

 

#5 Our Family

“Sayang, aku udah di bawah nih,” ucap Rhandu pelan di seberang sana. Aku makin melekatkan HPku ke telingaku agar bisa mendengar suaranya dengan jelas. “Turun gih!”

“Iya yank, tunggu bentar ya!”

“Oke.”

Aku memasang sepatuku secepat kilat dan membuka grendel pintuku secara buru-buru.

Oh, iya, kini aku dan Rhandu sudah resmi pacaran. Sudah tiga hari ini kami menjalani hubungan yang diluar batas yang namanya normal. Ya, aku juga tidak menyangka kalau akhirnya aku akan mempunyai pacar seorang cowok. Bahkan aku tak pernah memimpikan ini di dalam mimpiku. Ini benar-benar hal aneh yang paling menakjubkan yang pernah terjadi di hidupku.

Selain itu, aku juga belum bisa mengatakan hal yang sebenarnya ke Rhandu. Aku takut kalau nanti dia malah pergi dari hidupku. Karena kini aku mulai merasakan sengatan nikmat di dalam hatiku mengenai diri Rhandu. Kini dia adalah orang yang sangat spesial. Dan aku juga selalu kangen dengannya. Aku tak mau dia meninggalkanku. Memikirkannya saja sudah membuatku sedih. Bagaimana kalau itu benar-benar terjadi. Semoga saja tidak.

Rhandu berdiri dengan kedua tangan yang terselip di dalam saku celananya. Saat matanya yang cokelat bening itu melihatku, bibirnya langsung tersenyum manis. Aku melangkahkan kakiku makin cepat. Tak sampai tiga puluh detik, aku sudah berada di hadapannya.

“Kita mau kemana nih?” tanyaku saat dia memberikanku kunci mobilnya.

“Ke rumahku,” katanya berjalan cepat menuju ke pintu yang berada di sebelah kiri mobil.

Aku membuka pintu mobil merah Rhandu dengan hati-hati lalu aku memasukan badanku ke dalam mobilnya dengan luwes. Ku starter mobilnya dan tak berapa lama kemudian mesin berderu riang. Aku memasukan gigi dan menjalankan mobil dengan perlahan.

“Kita mau ngapain ke rumah kamu?” aku bertanya ketika kami sudah berada di luar gerbang kosanku. Aku mengalihkan kepalaku sedikit ke arahnya.

“Biar kamu tau dimana rumah aku,” ujarnya dengan senyuman kecil. “Ini alamatnya,” dia menyalakan simulator peta yang ada di mobilnya. “Taukan?”

Aku mengangguk. Tetapi karena di dalam mobil ini pencahayaannya kurang, dan bisa kurasakan Rhandu tak melihat anggukanku. Terpaksa aku mengucapkannya. “Tau kok.” Aku memegang setir dengan kencang lalu fokus dengan jalan yang terbentang di hadapanku. “Oh, iya, pakek seat bealt nya dong sayang!”

Rhandu terkekeh kecil lalu menuruti perintahku dengan patuh. “Kamu juga pakek dong yank!”

“Ntar pas di lampu merah aja. Aku masih fokus sama jalan nih. Emangnya sayang mau kita ntar nabrak orang pas aku lagi sibuk pasang seat belt di jalanan rame kayak gini?”

“Ya enggaklah. Sini deh, aku yang pasangin.”

Dengan gesit Rhandu menunduk di depan dadaku dan mengambil tali seat belt yang berada tepat di samping kanan bahuku. Lalu dengan cekatan, dia memasangkannya di badanku. Bunyi klik tegas terdengar ketika seat belt itu sudah terpasang dengan benar.

***

“Masuk yuk!” ajak Rhandu di samping kiriku. Aku masih ternganga melihat rumah Rhandu yang begitu besar. Serta sangat mewah. Wahh, aku tak pernah menyangka kalau Rhandu punya rumah sebesar ini.

“Ini yakin rumah kamu? Ato kamu jadi pembantu disini?” aku bercanda kecil sambil tersenyum mengejek. Bisa kulihat bibir Rhandu merengut sebal.

“Enak aja!” Rhandu menarik lenganku dan membawaku masuk. “Ini rumah aku lah. Dan aku bukan pembantu!”

Aku hanya tertawa. “Iya, iya. Percaya kok.”

Rhandu membawaku entah kemana. Tangannya yang tersempil di sela-sela lenganku terus-terusan menarikku pelan. Aku dibawanya ke ruangan yang kuyakini adalah dapur. Aroma makanan yang sangat lezat masuk ke sela-sela hidungku. Perutku langsung bunyi dengan memalukan. Aku memang keroncongan. Aku belum makan sejak dari kampus tadi.

Baru saja aku ingin membuka mulutku, tiba-tiba mataku menangkap sesosok manusia dengan rambut panjang terurai ke belakang badannya. Matanya yang semula menatapku langsung turun untuk menatap tangan Rhandu yang memeluk lenganku. Wanita paruh baya itu kembali mengalihkan tatapannya ke wajahku.

“Aku pengen kenalin kamu ke Nyokap aku,” Rhandu berkata kecil di sebelahku.

Aku tersentak kaget. What! Dia mau mengenalkanku ke Nyokapnya. Aku benar-benar belum siap. Apa yang akan Nyokapnya katakan melihat anak cowoknya pacaran dengan cowok. Bisa-bisa Nyokapnya ngamuk lalu membunuhku. Ckckck. Apa sih yang ada di pikiran Rhandu.

Rhandu kembali menarik lenganku dan membawaku ke meja makan yang dipenuhi dengan makanan yang lezat. Perutku tanpa bisa di ajak kompromi langsung berbunyi lagi. Sialan! Nih perut bisa diam nggak sih. Suasana lagi mencekam begini kok sempat-sempatnya bunyi sih.

“Mama, ini yang namanya Alit,” ujar Rhandu ke Nyokapnya dengan nada ceria. Aku menelan air ludahku dengan susah payah.

Nyokap Rhandu berdiri cepat. Nyokapnya malah membuatku bingung ketika dia tersenyum lebar ke arahku dan menyalami tanganku. “Apa kabar?” tanyanya lembut. Bola matanya yang mirip sekali dengan bola mata Rhandu menatapku dengan begitu tertarik.

“Baik tante,” jawabku cepat.

Dia melepaskan tangannya dari tanganku dan kembali duduk. Namun matanya masih menatapku. Masih dengan sirat tertarik yang sama. “Ayo makan dulu!” katanya sambil menunjuk kursi yang ada di depannya.

Dengan patuh aku menarik kursi itu dan disusul dengan Rhandu yang duduk disebelah kananku. “Apa pendapat Mama tentang pacar aku?” tanya Rhandu ke Nyokapnya. Mataku membulat lebar ketika dia menanyakan hal itu. Kok berani sekali dia bertanya begitu. Apa dia tidak takut kalau nanti mamanya malah mengusirnya. Atau mengusirku.

“Menurut Mama sih, dia cakep,” Nyokap Rhandu menatapku dengan senyuman lebar. “Dan kayaknya dia orang yang baik.”

Aku memutar otak-ku cepat. Kok Nyokapnya Rhandu nggak kaget dan marah ya. Apa dia tahu kalau Rhandu itu seorang bisek. “Itu aja?” tanyanya Rhandu kurang puas.

“Kan kamu tau Mama nggak bisa nilai orang.” Nyokap Rhandu menuangkan nasi ke dalam piringku. “Nah, kalau nak Alit, menurut nak Alit tante ini orangnya kayak gimana?” tanya Nyokap Rhandu ke arahku.

Aku tersenyum kikuk. “Menurut aku tante orangnya cantik. Mirip kayak Rhandu. Matanya,” aku kembali tersenyum kikuk. Apalagi ketika mendengar Nyokap Rhandu tertawa kecil.

“Kamu orang pertama yang dikenalin Rhandu sebagai pacarnya loh,” tutur Nyokap Rhandu. Aku mengerutkan keningku dan menatap Rhandu dengan sirat, ‘masa sih?’.

Sepertinya Rhandu mengerti arti siratan mataku. “Memang kok. Kamu orang pertama yang aku kenalin ke Mama aku sebagai pacar. Yang lainnya kan memang temen aku.”

“Nah, biar nak Alit nggak bingung, tante orangnya fleksibel dan simpel kok. Tante tau kalo anak tante yang jelek ini seorang yah… apa istilah kalo untuk kalian berdua?” Nyokap Rhandu malah membuat pertanyaan.

“Gay Ma,” sahut Rhandu dengan gigi menggeretak.

“Iya itu,” kata Nyokap Rhandu.

“Tapi aku kan nggak gay Ma. Aku bisek. Berapa kali sih aku harus bilang itu ke Mama?” ujar Rhandu agak kesal.

“Iya, iya. Sorry.” Nyokap Rhandu menelengkan kepalanya dan tersenyum simpul. “Terus kapan kamu mau kenalin Alit ke Papa kamu?”

Rhandu meirik-ku sebentar lalu kembali menatap Nyokapnya. “Ntar aja deh. Papa-kan masih sibuk banget akhir-akhir ini.”

“Oh, jadinya Papa kamu masih sibuk di kantornya ya sekarang?” aku reflek bertanya.

Rhandu dan Nyokapnya secara serempak menatap wajahku. “Kamu belum kasih tau Alit ya Ndu?” tanya Nyokapnya pelan ke arah Rhandu.

Rhandu menggeleng. “Lupa Ma.”

Aku mengerutkan kening, bingung. “Emangnya ada apa?” aku bertanya ke arah Rhandu.

“Biar tante yang cerita,” Nyokap Rhandu menyahut cepat. “Tante sama Papanya Rhandu sudah cerai nak Alit. Pas Rhandu masih SMP dulu.”

Aku terdiam. Kenapa bisa-bisanya aku tadi bertanya tentang Bokapnya Rhandu segala sih. Kini aku baru percaya tentang istilah; penyesalan selalu datang di belakang. “Oh, maaf tante karna sudah lancang tadi pakek nanya segala.”

Kedua orang itu malah tertawa. “Nggak apa-apa kok. Biasa aja,” Nyokap Rhandu mengibaskan tangannya. Seperti sedang mengusir lalat. “Lebih baik kita makan sekarang!”

Lalu kami bertiga tenggelam dalam suasana makan malam yang begitu meriah. Pembicaraan kami seputaran tentang kuliahku dan tentang kuliah Rhandu. Nyokap Rhandu ternyata adalah orang yang menyenangkan. Saat Rhandu kelas dua SMA dulu, dia mengaku ke Nyokapnya kalau dia bisek. Lalu dia mengaku ke Bokapnya kalau dia bisek sekitar dua bulan yang lalu. Aku mengacungi jempol dengan keberanian Rhandu untuk jujur kepada kedua orang tuanya.

Dan ini lah yang membuatku juga harus melakukan hal yang persis sama. Aku memang masih suka cewek. Tetapi sekarang aku sedang pacaran dengan cowok. Berarti aku juga seorang bisek-kan. Walaupun secara tidak sengaja. Lagipula itu hanya khusus untuk Rhandu seorang. Cowok satu-satunya yang kusuka. Berarti aku juga harus berani memberitahukan tentang hubunganku dengan Rhandu ke kedua orang tuaku. Aku akan siap dengan konsekuensinya. Ini juga sebagai pengganti kebohonganku ke Rhandu. Biarlah aku tak jujur dengannya tentang kenapa aku mendekatinya. Yang pentingkan dia sekarang mengerti aku serius dengannya. Menggunakan cara mengenalkannya ke kedua orang tuaku.

***

Rhandu menaruh koper kecilnya di belakang jok taksi Blue Bird saat kami sudah berada di Bandara di Bandung. Setelah kopernya sudah yakin benar-benar tersimpan dengan baik, dia cepat-cepat masuk ke dalam taksi dan duduk bergabung disebelahku. Tak lama kemudian taksi berjalan pelan dan lancar menerjang kota Bandung.

“Aku masih nggak mau loh kenalan sama Ayah dan Ibu kamu. Nanti apa yang bakalan mereka bilang tentang hubungan kita?” Rhandu mendumel pelan. Agar supir taksi yang sedang mengemudi itu tidak mendengar apa yang dia katakan.

“Mereka bakalan nerima kamu kok. Tenang aja!” aku menenangkan Rhandu yang kini mulai gelisah tingkat dewa.

“Gimana mau tenang. Kan kamu bilang Ayah dan Ibu kamu nggak tau kalo kamu…” Rhandu membisikan kata ‘bisek’ di telingaku sampai berdesis sebal. “Mereka tentu aja bakalan teriak-teriak terus mukulin kamu sampai kamu mati. Habis kamu mati, mereka bakalan lanjut buat mukulin aku juga. Aku nggak mau pulang dari sini tinggal nama aja ya.”

Aku tertawa kecil. “Udah berapa kali sih aku bilang kalo itu nggak mungkin. Dan udah berapa kali juga aku bilang kalo aku bakalan jagain kamu.”

“Iya. Tapi masalahnya bukan itu Lit,” ujar Rhandu agak frustasi. “Gimana kalo kamu nanti diusir terus mereka nggak mau biayain kuliah kamu lagi? Kamu kuliah gimana terus? Terus-terus, gimana kalo misalnya syarat yang di kasih Ayah sama Ibu kamu biar kamu di biayain kuliah lagi dengan cara kamu disuruh ngejauhin aku? Akukan nggak mau kehilangan kamu. Kenapa sih kita nggak sembunyiin hubungan kita ini dari kedua orang tua kamu?”

“Ndu, sayang,” ujarku dengan nada geram untuk meyakinkannya, “masalah uang buat kuliah kamu nggak usah khwatir. Aku masih punya kakek dan nenek. Mereka juga bisa kok biayain kuliah aku kalo orang tua aku berenti biayain aku. Dan kalo misalnya mereka nyuruh aku jauhin kamu, aku nggak bakalan mau. Walopun mereka nyuruh dua ribu prajurit untuk ngalangin aku ketemu sama kamu. Aku bakalan ngelawan mereka. Karena aku juga nggak mau kehilangan kamu, sayang.”

“Nggak usah lebay deh!” potong Rhandu cepat.

“Lagian mereka nggak bakalan kayak gitu kok” lanjutku, pura-pura tak mendengar interupsinya. “Awalnya mungkin mereka kaget. Tapi setelah itu aku yakin kok kalo mereka bakalan nerima aku apa adanya. Lagian juga, aku kan bukan anak satu-satunya. Aku tiga bersaudara. Ayah dan Ibu aku pasti bisa kok dapet cucu dari kedua saudara aku itu.”

“Kamu kok yakin banget sih dengan apa yang kamu bilang?”

“Harus dong!” gerutuku. “Kalo nggak gitu, aku nggak bakalan kenalin kamu ke kedua orang tua aku.”

Rhandu mendesah panjang. “Terserah kamu deh. Kalo sampe kenapa-kenapa, yah… terpaksa aku juga harus kenapa-kenapa sama kamu.” Rhandu menatapku. Lalu bibirnya tersenyum dengan letih. “Aku seneng kamu mau kenalin aku sama kedua orang tua kamu sebagai pacar,” aku bisa melihat si supir taksi melihat ke arah kami, “dan… ya sudahlah. Kita hadepin aja apa yang bakalan dateng bentar lagi. Tapi aku tetep nggak ridho loh ya kalo aku pulang nanti tinggal nama aja.”

Aku terkekeh dan menggenggam tangan Rhandu yang hangat. “Kita lewatin ini sama-sama,” aku berucap meyakinkan Rhandu. Dia mengangguk dan membalas genggaman tanganku.

***

“Ayah, Ibu, Kak Sinta, Kak Heru, ini pacar aku, Namanya Rhandu.”

Ibu memekik kaget. Ayah memasang wajah dengan kernyitan seperti orang yang baru saja ditampar. Kak Sinta—kakak pertamaku—mendekap mulutnya menahan pekikan. Kak Heru—kakak keduaku—hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Kamu ngomong apaan sih?” tanya Ibu masih dengan raut wajah terkejut.

Rhandu menegang disebelahku. Aku menggenggam tangannya erat. “Aku sayang sama orang yang berdiri di sebelahku ini. Aku tau kalian mungkin bakalan malu punya anak yang punya pacar seorang cowok. Sedangkan anak kalian sendiri adalah cowok. Aku siap kalo kalian mau ngusir aku. Mau ngebuang aku.” Aku bisa merasakan sengatan kaget yang makin tinggi levelnya di wajah keluargaku.

Ayah dan Ibu bertatapan bergantian. Kak Sinta dan Kak Heru menatap Rhandu dengan raut wajah yang aneh… yaitu terpana. “Dedek nggak boleh ngomong gitu,” ujar Ayah memecahkan keheningan yang mencekik. Oh, iya, keluargaku selalu memanggilku dedek. Karena aku anak terakhir. “Ayah nggak bakalan sampe ngelakuin hal rendahan kayak gitu. Meskipun kamu Ayah buang ato Ayah usir, kamu tetep anak Ayah. Ada darah Ayah yang mengalir di tubuh kamu. Dan apa yang bakalan Ayah bilang di akhirat nanti tentang kamu kalo sampe Ayah tega buang kamu?” Ayahku berjalan mendekat lalu memeluk badanku. Aku membalas pelukan hangat dari Ayahku. Tangan kiriku mengelus punggung badannya.

Ibuku juga ikut berjalan mendekat. Ada air mata yang menggenangi matanya. Bibirnya bergetar saat berbicara. “Ibu nggak nyangka kalo dedeknya Ibu bakalan milih hidup dengan jalan yang kayak gini. Tapi kalo kamu bahagia dengan pilihan kamu, kenapa Ibu harus ngelarang.” Ibu tidak memeluk-ku seperti yang Ayah lakukan. Tetapi dia malah memeluk Rhandu. Tangan kami yang tadi bertautan langsung terlepas.

Tak selang berapa lama, Ayah dan Ibu serempak melepaskan pelukan. Lalu mereka berdua menatap aku dan Rhandu secara bergantian. Mata hitam Ayah menatap lekat wajah Rhandu. Lalu dia berjalan pelan ke arah Rhandu dan berkata dengan nada lembut.

“Rhandu orang mana?” tanya Ayah dengan senyuman tipis.

Baru saja Rhandu ingin membuka mulut, Ibu duluan menarik tangan Rhandu perlahan. “Ayah nggak sopan. Kita bicaranya di ruang tengah aja. Masa di teras rumah sih.”

“Oh, iya, Ayah lupa Bu.”

Kak Heru, yang entah kapan dan bagaimana sudah memegang koper kecil Rhandu. Dia berjalan pelan di sampingku. Suaranya agak kagum ketika berbisik di telingaku. “Kamu berani banget ya dek. Hebat kamu!”

Aku hanya nyengir ke kakak cowok-ku itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan terus berjalan tanpa berkata apa-apa lagi.

Tak berapa lama kemudian kami sudah berada di ruang tengah. Ruang tempat aku dan keluargaku biasanya kumpul. Kak Sinta menyalakan TV dan Ibu pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan cemilan. Aku meraih tangan Rhandu dan mendudukannya di sofa. Kami duduk bersisian.. Ayah, Kak Sinta, Kak Heru duduk di dekat TV.

“Tuhkan apa aku bilang, yank,” aku berbisik kecil di telinga kekasihku itu. “Awalnya aja mereka kaget. Habis itu mereka nerima aku apa adanya. Aku udah kenal banget kok sifat kedua orang tua aku itu.”

Rhandu terkekeh pelan. “Iya, iya. Sekarang percaya kok.” Rhandu balas berbisik kecil. “Tapi aku nggak mau bohong loh ya kalo tadi jantung aku sempet skot jam pas Ibu kamu tiba-tiba meluk aku. Aku kirain tadi dia nyimpen pisau di belakang badannya terus bakalan nusuk aku.”

Aku tertawa kecil lalu menjitak kepalanya pelan. “Aku penasaran tau nggak sama isi otak kamu yang unik itu. Selain pemikiran aneh, ada apa lagi ya di dalamnya?”

“Ada kamu,” ujar Rhandu sambil mengedipkan matanya dengan nakal, menggodaku.

“Lagi bisikin apaan sih?” tanya Ibu dari belakangku. Di tangannya ada nampan yang berisi enam gelas yang berisi lima teh dan satu kopi. Biskuit-biskuit yang sering kumakan saat aku masih kecil dulupun ada di atasnya. Aku langsung menjerit karena kangen dengan biskuit itu. Ibu hanya menggeleng melihat tingkahku. “Gini nih tingkahnya Alit, dek Rhandu kalo udah ketemu sama Ibu. Manjanya minta ampun.”

Rhandu hanya tertawa dan mengangguk. “Tapi suka nyebelin loh kadang-kadang dia Bu,” ujar Rhandu dengan nada bersahabat.

“Ihh… bener banget tuh Ndu,” ucap Kak Sinta cepat. “Udah nyebelin, jelek lagi, terus bernyawa lagi. Ngeselin banget ya?” Kak Sinta terkekeh menjengkelkan.

Ayah, Ibu, Kak Heru dan Rhandu juga ikut terkekeh. Dalam waktu yang tak sampai satu jam. Tiba-tiba Rhandu menjadi pusat perhatian keluargaku. Ayah banyak berbincang dengan Rhandu karena ternyata Ayah dulu mengambil fakultas yang sama seperti Rhandu. Ibu juga suka dengan Rhandu karena dia suka membaca dan Rhandu berjanji akan mengirimkan buku-buku novel terbaiknya untuk Ibu. Ibu sangat kegirangan tentang hal ini.

Kak Sinta juga lengket banget dengan Rhandu karena mereka sama-sama suka ngoleksi DVD film-film jadul. Rhandu juga janji bakalan ngirimin kak Sinta koleksi film-film jadulnya. Kalau sama kak Heru dia juga sangat dekat. Karena ternyata Rhandu penggemar olahraga Baseball. Mereka berdua membicarakan klub-klub Baseball yang ada di Amerika sana. Dan hanya dalam waktu sesingkat itu pula aku makin menyukai Rhandu. Rasa sayangku ke dia mungkin sekarang sudah meningkat ke perasaan yang lain.

Aku juga baru sadar dan baru membuka mataku dengan apa yang terjadi di hidupku. Ternyata aku punya pacar seorang cowok. Padahal dulu aku suka sekali mengejek manusia macam mereka. Kini aku adalah salah satu dari mereka. Tetapi aku bersyukur. Karena Rhandu yang kumiliki. Aku bisa menanamkan benih hatiku ke hatinya. Dan aku yakin dia akan menjaganya. Seperti aku yang harus menjaga benih hati Rhandu yang rapuh.

“Oh, iya dek,” kata Ibu sambil menggadah menatapku. “Baguslah kalo kamu pacaran sama Rhandu. Jadi dedek nggak bakalan ngasih Ibu cucu-cucu yang jelek.”

Aku mengerutkan keningku. “Maksudnya Bu?”

“Iya, kalo misalnya ntar kamu nikah terus punya anak,” Ibu berucap dengan nada serius. “Pasti anak-anak kamu jelek semua. Kayak kamu. Ihhh… Ibu nggak mau deh punya cucu jelek. Kamukan produk gagal dari Ayah dan Ibu.”

Ayah, Ibu, Kak Sinta, Kak Heru dan Rhandu tertawa nyaring. Mereka tertawa sampai terpingkal-pingkal. Apalagi Rhandu, tertawanya nyaring sekali. Dasar pengkhianat! “Ibu!” aku berseru cepat, pura-pura marah. Mereka malah makin tertawa. “Sayang ini juga,” aku menjitak kepala Rhandu pelan. “Bukannya belain aku, eh malah ketawain aku. Dasar!”

Mereka kembali tertawa lepas. Lalu aku juga ikut tertawa dengan mereka. Tawa bahagia yang membuatku kian bahagia. Terima kasih Tuhan karena memberikan aku keluarga yang se-pengertian dan sebaik mereka. Aku benar-benar bahagia. Apalagi saat Rhandu menatap wajahku dengan senyuman lebar tertampil di wajahnya. Seakan-akan hanya akulah yang ada di matanya.

#6 Revealed

“Nanti kalo dedek sama dek Rhandu sudah nyampe Jakarta, langsung telpon Ibu ya” kata Ibu sambil memeluk Rhandu dengan begitu erat. Seakan-akan yang anaknya Ibu itu Rhandu, bukan aku. Kak Sinta yang melihat sorot mata iriku hanya terkikik kecil dan mengusap bahuku pelan. Sebentar dulu! Siapa juga yang iri! Harusnya aku senang kan? Karena Ibu mau nerima Rhandu.

“Iya Ibu,” ujarku, menarik lengan Rhandu ke sisi tubuhku.

“Dek Rhandu harus sering-sering main ke sini lagi ya,” nada perintah di suara Ibu terdengar jelas. Aku hanya menggeleng-geleng ketika melihat Rhandu malah maju selangkah lagi untuk memeluk Ibu singkat.

“Tentu Bu,” kata Rhandu ketika dia sudah berdiri di sampingku. “Titip salam buat Ayah sama Kak Heru ya,” ujar Rhandu, mengangkat koper kecil miliknya yang tersampir di bawah kakinya.

Ayah dan Kak Heru sedang bekerja. Jadinya mereka tidak bisa mengantarkan kepulanganku dengan Rhandu. “Iya dek Rhandu” sahut Ibu cepat.

Lalu setelah itu bunyi pemberitahuan kalau pesawat yang ingin kami naiki telah siap. Kak Sinta langsung berceloteh panjang lebar tentang betapa sedihnya dia ditinggal sama Rhandu. Karena hanya Rhandu-lah orang yang paling mengerti di ajak bicara tentang film-film jadul. Sesungguhnya aku dan Rhandu masih mau mengambil satu hari lagi untuk liburan. Tetapi aku baru sadar kalau besok kampus sudah memulai aktivitasnya. Jadinya, yah, terpaksa liburan kali ini hanya bisa selama empat hari saja.

Aku dan Rhandu memeluk Ibu dan Kak Sinta untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam pesawat. Tangan Ibu dan Kak Sinta terus melambai seperti pesawat kertas yang lincah. Rhandu terus menatap lambaian tangan itu sampai tak terlihat lagi oleh matanya.

***

Aku menatap tajam tugas yang diberikan oleh Pak Anton. Tugas ini sudah hampir rampung. Ketika aku dan Rhandu berada di Bandung, aku masih merekam pembicaraan Rhandu tentang hal biseknya. Di sisi lain, aku juga menuliskan pengalamanku menjadi seorang bisek di tugas ini. Ketika aku bertanya pada Rhandu tentang semua mantannya—dan aku berusaha keras untuk tak membanting Rhandu karena dia begitu bersemangat membicarakannya—aku merekam semua isi pembicaraannya. Dan aku agak merasa bersalah.

Tanganku sudah gatal untuk menghapus file ini dan tak mengumpulkannya ke Pak Anton. Walaupun tugas ini harus dikumpulkan tiga hari lagi. Biar saja aku tak lulus di pelajaran orang satu itu. Aku benar-benar merasa bersalah pada Rhandu. Karena aku sudah memanfaatkannya begitu saja. Tetapi sayangnya, tanganku masih juga diam dan tak mencari pilihan delete di menu file tersebut. Padahal apa lagi sih yang aku ragukan. Aku menyanyangi Rhandu. Tidak! Aku mencintainya, malahan. Sudah hampir jalan delapan belas hari aku mengenalnya. Dan hubunganku dengannya sampai sekarang masih baik-baik saja. Aku seharusnya yakin untuk menghapus file itu.

Aku menghela nafas panjang dan menutup layar laptopku dengan sentakan keras. Aku tak menutup lagi file yang kubuka itu. Biar saja! Nanti tunggu aku sudah yakin-seyakin-yakinnya aku baru menghapus file itu. Aku langsung menaruh laptopku di atas meja belajarku dan mengambil HP yang berada di dekat aquarium.

Aku menekan tombol dua lama-lama, lalu di layar HPku langsung tertulis nomor kekasihku. Rhandu. Ya, Rhandu kutaruh di speed dial HPku. Jadi tak usah repot-repot aku mencari namanya lagi di buku telpon.

“Halo,” sambut suara dari seberang sana. “Ada apa yank?” tanyanya agak terburu-buru.

“Kamu lagi dimana? Kok kayak orang lagi lari-lari gitu?” tanyaku karena aku mendengar suara Rhandu yang seperti orang ngos-ngosan.

“Hehehe…” dia terkekeh kecil. “Aku telat bangun tadi. Ini aku lagi lari mau ke kelas aku yank. Udah dulu ya, aku udah mau nyampe kelas nih. Nanti aku telpon lagi kok. Dahh… miss you.”

Belum saja aku menjawab, Rhandu sudah menutup telpon. Aku mendesah dan memasukan HPku ke dalam kantung celanaku. Aku langsung mengambil kunci motorku dan turun ke parkiran kos untuk pergi ke kampus (tumben). Tetapi sekarang aku memang sudah rajin kok pergi ke kampus. Buat ketemu sama Rhandu, tentunya.

***

“Jadi elo come out ke keluarga lo tentang hubungan lo sama Rhandu?” tanya Benny tak percaya. Mulutnya ternganga mirip sekali seperti saat aku memberitahunya kalau aku pacaran sama Rhandu. Matanya yang jelek itu terbelalak kaget, mirip sekali seperti saat dia berkenalan dengan Rhandu.

“He-eh,” aku mengangguk sembari menghisap es tehku. “Dan gue kayaknya mau nge-hapus aja file tugas gue itu. Biarin deh gue nggak di lulusin sama Pak Anton. Yah, dengan terpaksa gue harus cari nilai tambahan di mata pelajaran yang lain kalo mau naik semester gue.”

Benny menggeleng. “Lo kadang sarap abis, bro!” Benny menepuk pundak-ku. “Terus selama ini apa yang lo dapetin kalo lo nge-hapus file lo itu?”

“Gue dapet Rhandu,” ujarku mantap. Membuat Benny menaikan kedua alisnya bingung.

Lalu tak lama kemudian dia terkekeh kecil. “Tumben lo kayak gini. Pas lo pacaran dulu—sama cewek-cewek—lo nggak kayak gini. Tapi sekarang, liat! Lo pacaran sama cowok dan lo berubah drastis. Bener-bener drastis abis!”

“Terus emangnya gue salah kalo berubah?” tanyaku skeptis.

“Nggak kok. Loh malah berubah jadi lebih baik. Lo sering ke kampus. Lo sering masuk kelas. Nilai lo udah mulai bagusan. Itu sih katanya dosen di pelajaran Anotomi Tubuh.” Benny menyeruput mie kuning dari mangkok baksonya. “Terus, lo udah mulai jadi Alit yang lebih baik dari yang kemaren-kemaren.”

“Emang Alit yang kemaren-kemaren kenapa?” ujarku sambil menyipitkan mataku.

“Yah, Alit yang kemaren itu orangnya… aneh—walaupun sekarang makin aneh. Bego. Nggak tau diri. Brengsek. Banyak dehh!” Benny tertawa nyaring-senyaring-nyaringnya. Membuat semua orang yang ada di kantin kampus ini menoleh ke arah kami.

“Setan lo!” aku juga ikut tertawa dengan Benny.

“Eh, eh, bentar deh!” Rhandu menghentikan aktivitas tertawanya. “Elo sama Rhandu udah sampe tahap mana? First base? Second base?” Benny memainkan kedua alis tipisnya secara menjijikan. Wajahnya yang agak oon itu menempel di dekat bahuku.

“Maksud lo Ben?” aku kembali menyipitkan mataku.

“Grrrrr…” Benny menggeram kesal. “Iya, elo udah sampe mana hubungannya. Kalo udah sampe di kenalin ke ortu, pasti udah sampe yang itu kan?”

“Maksud lo ML?” tanyaku langsung, tanpa basa-basi.

“Nah, iya, itu!”

Benny kampret! “Yah, belum lah. Masih di tahap french kiss sama leher ajalah.”

Wajah Benny seketika itu juga langsung berubah agak kecewa. “Bah… tinggal lo tusuk aja itu-nya dia, selesai deh. Masa lo nggak mau sih? Mumpung cowok-kan. Jadi dia nggak bisa hamil. Walaupun kemungkinan kena HIV hampir 80%, itu sih kalo kalian nggak pakek kondom.”

Aku mengernyit bingung. “Itu-nya itu apaan?”

Benny memutar bola matanya, kembali kesal. “Lo pura-pura bego apa emang nggak tau?”

“Gue emang nggak tau dan gue nggak ngerti apa yang lo omongin,” jawabku absolut.

“Gini deh ya Lit,” Benny menatapku dengan tampang serius. “Kalo pasangan gay, mereka ML-nya kayak gimana?”

Aku menggeleng tidak tahu.

Benny mendesah letih. “Pasangan gay kalo gituan, yah, si penis bakalan nusuk si lubang anus.”

Aku langsung mengerutkan keningku karena terkejut. “Masa sih? Emang nggak sakit ya?”

Benny tertawa kecil. “Ya iyalah ditusuk disitu. Kan cuman itu lubang satu-satunya yang ada. Dan, gue sih nggak tau sakit apa enggaknya. Guekan nggak pernah nyoba—dan gue nggak bakalan mau nyoba. Tapi, yah, coba lo bayangin aja lo lagi boker, terus tai lo nggak mau keluar saking besarnya tuh tai. Sakit nggak menurut lo?”

Aku memukul kepala Benny dengan ujung gelas es tehku. Dia mengernyit kesakitan. “Buat orang jijik aja lo!”

“Tapi memang kayak gitukan!” Benny membuang muka dan kembali memakan baksonya. “Jadinya, kapan lo mau nyoba hal itu sama Rhandu?”

“Gue nggak mau nyakitin Rhandu. Secara fisik!” aku berkata tegas. Walaupun aku penasaran juga bagaimana rasanya.

“Kalo misalnya Rhandu yang mau, gimana?” tanya Benny, matanya yang hitam aneh itu menatapku.

Aku berpikir sejenak. “Yah… apa boleh buat. Gue mau sih.”

Benny tertawa. “Dasar munafik!”

Aku kembali memukul kepalanya. “Dasar! Lo tuh suka banget yang namanya nge-jebak gue dengan pertanyaan lo yang nggak bermutu itukan!”

Benny hanya tertawa. Tiba-tiba aku jadi kepikiran dengan omongan yang Benny lontarkan padaku barusan. Apakah Rhandu pernah melakukan hal ‘itu’ dengan mantan-mantannya. Aku tidak pernah bertanya tentang hal itu dengannya. Dan aku juga belum bertanya pada Rhandu, apakah dia lebih condong suka ke cewek apa ke cowok. Harusnya aku sudah menanyakan hal ini padanya. Baiklah! Aku akan menanyakannya sekarang.

Baru saja tanganku ingin meraih HP yang ada di saku celanaku, tiba-tiba HP itu bergetar. Dengan cepat aku mengambil HPku dan melihat siapa yang menelponku. Ternyata Rhandu. Yes! Dia benar-benar tepat menelponku. Tak banyak pikir lagi aku langsung berjalan menjauh dari Benny dan menekan tanda Ok untuk menerima telpon dari  pacarku itu.

“Sayang dimana?” tanya Rhandu tanpa ucapan pembukan seperti kata ‘hallo’.

“Di kampus yank. Kamu dimana?”

“Yaaaa…” Rhandu mendesah panjang. “Aku sekarang lagi di depan kos-kosan kamu. Aku kirain kamu nggak ada kelas hari ini.”

“Aku tadi memang ada kelas. Tapi sekarang udah mau pulang kok. Kamu masuk aja ke kamar aku. Kan aku kasih kunci cadangan kos aku sama kamu.”

“Astaga! Iya, ya. Hehe. Aku lupa.”

Aku menarik nafas panjang sebelum memulai bertanya penting kepadanya. “Yank, aku mau nanya sesuatu. Boleh nggak?”

“Mau nanya apa?” aku bisa mendengar suara langkah kaki Rhandu dari sini.

“Ehmmm… kamu… dulu pernah…” aku tak berani melanjutkan kata-kataku.

“Pernah gituan?” ujar Rhandu seakan bisa membaca pikiranku.

“Iya,” jawabku cepat.

Aku juga bisa merasakan kalau Rhandu menghentikan langkahnya. “Emangnya kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa sih. Cuma mau nanya aja. Kalo nggak mau dijawab nggak apa-apa kok.” Aku cepat-cepat menjawab panjang. Takut nanti Rhandu malah marah.

“Aku hampir pernah ngelakuinnya. Tapi nggak jadi gara-gara dia impotensi. Puas?” ujar Rhandu dari seberang sana. Suaranya datar tetapi aku bisa menangkap nada malu didalamnya. Aku memang ingin tertawa, tetapi tidak jadi.

“Puas yank,” aku tersenyum, bukan karena ucapan lucu Rhandu tadi, tapi tentang fakta kalau Rhandu masih original. “Aku mau nanya satu lagi.”

Rhandu mendesah tetapi mengiyakan. “Apa lagi? Tanya aja.”

“Kamu lebih condong suka ke cewek apa ke cowok?” aku cepat-cepat mengeluarkan pulpen dari saku bajuku. Untuk mencatat pengakuan Rhandu. Untuk menajdi bahan tugasku nanti. Astaga! Apa sih yang kupikirkan ini? Kenapa aku masih memikirkan tugas bodoh itu! Bukannya tadi aku mau menghapus filenya.

“Gini deh ya, aku ceritain deh ke kamu kenapa aku bisa jadi bisek.” Rhandu kembali menghentikan langkahnya. “Dulu pas aku SMP, aku bersahabat sama satu cewek dan satu cowok. Tiba-tiba aja, entah dari mana, aku suka sama kedua sahabatku itu. Pertama aku pacaran sama Evendy—sahabatku yang cowok. Terus hubungan kami cuman bertahan dua bulan. Habis itu aku pacaran sama Ghea—sahabat aku yang cewek. Dan hubungan ini malah lebih pendek lagi. Cuma dua minggu. Kamu mau tau nggak bagian terbaiknya. Karena akhirnya Evendy dan Ghea pacaran. Aku sedih tapi ikut bahagia juga untuk hubungan mereka. Terus-terus, menurut aku sih cinta pertama aku ya dua orang itu.

Tentang aku condong suka sama cewek ato cowok, aku lebih condong suka sama cowok. Nggak tau kenapa juga. Tapi aku memang ngerasa kayak gitu. Mungkin karena kalo aku pacaran sama cowok, aku di manja dan disayang-sayang kayak anak kucing. Sedangkan kalo aku pacaran sama cewek, aku kayak induk kucing yang harus ngejaga anak-anaknya.. Dan aku paling nggak bisa kayak gitu. Lagian juga aku nggak suka kucing. Intinya, aku lebih condong suka ke cowok. Dan cowok yang aku suka itu ya kamu. Masih mau nanya lagi?”

Rhandu mengakhiri omongan panjangnya dengan mendesah lelah. Aku tersenyum tipis. “Nggak ada. Aku puas banget sama jawaban kamu. Aku jadi bisa mengenal kamu lebih baik sekarang. Kamu nggak mau nanya apa-apa tentang aku?”

Pacarku terdiam disana sebentar. “Mungkin pas kita ketemu aja aku nanya-nanya tentang kamu. Yang penting sekarang tuh, kamu cepetan pulang, oke. Aku kangen kamu.”

Aku tertawa kecil. “Iya. Aku juga kangen kamu. Kalo gitu tunggu bebehmu ini di kos. Oke!”

Rhandu juga ikut tertawa dan kembali melangkahkan kakinya. “Oke. See you soon.”

“Iya…dadahh.” Lalu aku menutup telpon itu.

Aku berjalan cepat ke arah Benny dan mengambil tasku. “Lo udah mau pulang?” tanya Benny yang melihatku sudah siap-siap meninggalkannya sendiri.

“Iya. Rhandu udah ada di kos gue. Dadah bangke!” aku meninju pelan bahu Benny.

“Kampret lo!” semburnya sambil melemparkan kerupuk ke arahku. Aku menepisnya lalu berlari cepat untuk pergi ke parkiran kampus menuju ke motorku dan menemui pacar imutku di kosku.

***

Ketika aku sudah sampai di kosku, pintu malah terkunci. Aku mengetuk beberapa kali. Mungkin Rhandu sengaja mengunci pintu ini. Tetapi tiba-tiba mataku melihat kunci cadanganku yang tergeletak di bawah kakiku. Aku mengambilnya lalu memasukan kunci itu ke lubang pintu. Dua kali bunyi klik tegas menandakan kalau pintu itu sudah tak terkunci lagi.

Aku masuk ke dalam kamarku dan bisa merasakan wangi parfum Rhandu yang khas. Tadi dia pasti memang ada masuk ke dalam kosku ini. Tapi dimana dia sekarang? Sampai-sampai dia menjatuhkan kunci cadangan kamar kosku yang kuberikan padanya. Apa dia sekarang lagi ada urusan mendadak sampai begitu cerobohnya.

Aku merogoh sakuku dan mencari HPku yang berada di saku celanaku. Aku menekan tombol dua lama-lama, kemudian nama Rhandu  tertampil di HPku. Nada sambung terdengar dengan jelas ketika HPku sudah terkoneksi ke HPnya. Tetapi dengan anehnya, Rhandu malah me-reject telponku. Lalu aku menelponnya berkali-kali dan tetap saja dia reject. Aku meng-sms dia berkali-kali untuk menanyakan dia ada dimana, tetapi dia tidak membalas satupun pesan yang aku kirimkan padanya.

“Rhandu?” aku memanggil namanya ketika aku sudah berada di kasurku. Siapa tahu dia sembunyi lalu tiba-tiba meneriakan kata surprise padaku. Otaknya dia kan terkadang unik dan licik. Dia suka menggelabuiku. Seperti empat hari yang lalu. Tiba-tiba dia sudah menindis tubuhku dan menunggangiku seperti aku ini kuda. Dia sengaja melakukan itu agar aku bangun lalu pergi ke kampus. Padahal jam aku masuk kelas saat itu masih sekitar dua jam lagi. Dia memang terkadang suka melakukan hal konyol yang ada di luar nalar otak manusia normal.

Tetapi mau seberapa banyakpun dan sampai habis suaraku memanggil namanya, dia tidak akan muncul. Karena dia memang tidak ada di kamarku ini atapun sedang bersembunyi di balik kolong kasurku. Aku mendesah dan membaringkan tubuhku di atas kasurku.

Seketika itu juga mataku langsung menatap laptop Toshiba hitamku. Kepalanya terbuka. Perasaan tadi aku sudah menaruhnya di atas meja belajarku. Aku cepat-cepat mengambil laptopku dan menyalakannya.

Ketika layar itu menampilkan sesuatu di hadapanku, nafasku langsung tercekat. Yang ada di layar itu adalah tugas yang diberikan oleh pak Anton. Dan, aku tahu dengan sendirinya kalau Rhandu pasti tadi membaca tugasku ini. Pasti dia sudah tahu tentang semua ini. Terbongkar sudah semuanya. Aku men-scroll down isi tugasku itu. Lalu setelah sudah berada di halaman paling bawah, aku membaca sebuah ketikan di sana.

TERIMA KASIH KARENA SUDAH MEMBOHONGIKU SELAMA INI!!

Itu ketikan Rhandu. Aku yakin. Shit! Apa yang harus aku lakukan sekarang!!!!

 

 

 

#7 Chance

“Ben, apa kata temen-temennya?” tanyaku cepat ketika Benny menelponku. “Mereka tau Rhandu ada di mana?”

“Nggak ada yang tau Lit. Dia juga udah dua hari ini nggak ngampus. Temen-temennya juga clueless banget tentang keberadaan Rhandu.”

Aku memijit pelipis mataku dengan letih. Aku sudah menelpon Rhandu berkali-kali tetapi dia malah me-reject telpon dariku. SMS permintaan maafkupun tak di gubrisnya sama sekali. Aku jadi benar-benar merasa kehilangan sekarang. Seharusnya sudah dari awal aku memberitahunya. Aku benar-benar menyesal sekarang. Alit bodoh! Bodohhhhhh!!!!!

“Lo dimana sekarang?” tanya Benny, membuyarkan lamunanku.

“Gue di jalan mau ke rumahnya. Kemarin gue udah ke rumahnya, tapi nggak ada orang. Siapa tau sekarang di rumahnya udah ada orang.”

“Iya deh. Gue bakalan nanya ke orang-orang yang mungkin tau dimana dia.”

“Makasih ya Ben. Lo memang sahabat terbaik gue.”

Benny tertawa kecil. “Kok elo baru tau ya?” dia mencoba menghiburku, aku  tahu itu. Tetapi aku sedang tidak mood untuk bercanda sekarang. Kepalaku hanya dipenuhi dengan Rhandu. Seperti tahu akan moodku yang lagi buruk, Benny kembali berujar. “Are you okay?” tanyanya khwatir.

Aku mendesah. “Gue juga nggak tau. Tapi lo nggak usah khwatir. Gue bakalan baik-baik aja kok.” Aku langsung memutuskan koneksi telpon. Lalu kembali menjalankan motorku dengan cepat ke rumahnya Rhandu. Semoga saja dia ada disana. Kalau memang dia tidak ada, semoga ada Nyokapnya. Amin.

***

“Jadi tante nggak tau Rhandu dimana sekarang?” tanyaku ke Nyokap Rhandu yang sedang asyik menyirami tanaman anggreknya.

“Iya, tante nggak tau.” Jawab Nyokap Rhandu agak sedikit gugup. Aku makin yakin kalau Nyokap Rhandu berbohong padaku.

“Tante, please, aku bener-bener pengen tau Rhandu dimana. Pasti tante tau sesuatukan?” aku mendesak Nyokap Rhandu dengan bertubi-tubi.

Wajah Nyokap Rhandu langsung merengut. Dia menaruh selang air lalu menoleh ke arahku. “Nak Alit, dengerin tante ya. Rhandu kayaknya lagi butuh sendirian sekarang. Dan tante menghargai keputusannya dia untuk sendiri dan ngejauh sementara dari kamu.”

Kedua tanganku langsung terkulai lemas di samping badanku. Aku mendesah sedih. “Tapi tante, aku bener-bener butuh ngomong sama dia sekarang. Aku pengen nge-jelasin semuanya sama dia. Aku bener-bener butuh dan kangen dia.”

Mungkin karena akhirnya hatinya luluh, Nyokap Rhandu langsung memberikanku sebuah pelukan seorang Ibu. “Gini aja ya Nak Alit, tante tau kenapa Rhandu nge-jauh dari kamu. Itu karena kamu sudah nge-bohongi dia. Tapi tante yakin kamu nggak bermaksud kayak gitu. Tante bakalan ngasih tau kamu, tapi kamu jangan bilang sama dia kalo tante yang ngasih tau kamu. Nanti dia ngamuk sama tante lagi.”

“Iya tante. Aku janji,” ujarku mantap.

***

Aku mengetuk pintu rumah itu dengan sentakan keras. Ketika aku ingin kembali mengetuknya, untuk yang ke-empat kalinya, pintu itu tiba-tiba terjeblak terbuka. Seorang cowok dengan tindik besar yang ada di telinga kanannya menyilaukan mataku. Aku cepat-cepat memasang senyuman di bibirku. Cowok yang ada di hadapanku hanya menatapku dengan mata disipitkan. Mulutnya menekuk tak senang ketika mengenaliku.

“Lo siapa?” tanyanya kasar. Aku yakin kalau dia mengenalku sebenarnya.

“Lo David-kan? Sahabatnya Rhandu?” aku bertanya pelan.

Cowok, yang aku yakini namanya David, hanya diam saja dan terus menatapku. Lalu tiba-tiba mulutnya tebuka sedikit ketika berbicara. “Iya. Ada apa?” tanyanya langsung.

“Gue tau kok kalo Rhandu ada di dalam,” kataku langsung juga. “Gue boleh ketemu sama dia nggak?” aku mengalihkan tatapanku ke dalam rumah itu. Tetapi tidak menemukan sosok Rhandu di dalamnya. Pasti dia sedang bersembunyi di suatu tempat.

“Dia nggak ada disini.” David berkacak pinggang sambil menatapku dengan tatapan tajam bagai pedang. Aku juga menatapnya dengan sama tajamnya. Aku tak mau pulang tanpa menjelaskan dulu hal yang ingin kujelaskan ke Rhandu.

Nyokap Rhandu memberitahuku kalau Rhandu menginap di rumah sahabatnya ini. Si David ini. Jadi, aku yakin Rhandu pasti ada di dalam sana. “Lo bohongkan? Gue bener-bener butuh ketemu sama dia.”

“Lo goblok ato budeg! Dia nggak ada disini!”

“Kalo gitu, boleh gue masuk dan cari dia sendiri di dalem. Kalo dia memang nggak ada, gue nggak bakalan nge-ganggu lo lagi.”

David mendengus marah. “Setan lo ya! Pergi sana!” usirnya dengan nada menggebu bengis.

Aku tak bergerak sedikitpun dari tempatku berdiri. “Gue nggak bakalan pergi sebelum ketemu sama dia!”

Fine!” seru David benar-benar berang. “Lo tunggu saja sampe lo mati!”

Baru saja dia ingin menutup pintu, aku langsung mendengar suara orang yang ingin kudengar  itu. Suara Rhandu yang merdu. “Ada apa Vid? Kok teriak-teriak?”

Seketika itu juga mataku langsung tertumbuk di matanya yang berwarna cokelat bening itu. Matanya membulat lebar dan sangat kaget ketika melihatku. Dengan gerakan cepat, Rhandu langsung berbalik dan menghilang dari pandanganku. Tanpa pikir panjang aku langsung melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam rumah sialan itu. Tetapi usahaku gagal ketika tiba-tiba David mendorongku begitu kuat sampai-sampai aku terjungkal jatuh.

Yang pertama kali mendarat ke tanah adalah bokongku. Well, rasanya benar-benar sakit. Hanya saja aku tidak peduli. Aku bangkit dengan cepat dan menatap wajah David yang marah dengan tatapan yang sama.

“Nggak usah ngalangin gue!” desisku pahit. David hanya menyeringai jahat.

“Lo harus lewatin gue dulu kalo lo mau ketemu sama dia!” balasnya dengan berang.

“Oke!” aku langsung berlari kencang dan menerjang tubuh David yang sama besarnya denganku di depan pintu itu.

Namun ternyata kekuatan David juga sama besarnya dengan badannya. Kami bergulat dengan hentakan-hentakan keras. Aku juga tidak sadar bagaimana bisa aku dan David sudah berbaring di tanah dan saling mencoba untuk meninju wajah masing-masing. Kini tangan kananku sudah mengalungi lehernya dan mencekiknya dengan begitu keras. Hanya saja, sayangnya, tangan kanan David juga mencekik leherku.

Nafasku dan nafas David sudah sama-sama tersengal hampir habis. Hembusan nafas David yang menghembus ke wajahku makin menipis, begitu pula denganku. Lalu, ketika tangan kami berdua sudah hampir mengendur, aku mendengar keributan di belakang pergulatan ini. Suara langkah menghentak mengerikan datang menghampiri kami berdua.

Suara tinggi seorang perempuan menyerbak ke udara. “David, berhenti!” teriaknya dengan suara melengking. “Ntar cowok itu mati gimana!”

“Alit, stop!” teriak Rhandu serak. “Kalian berdua udah kayak orang barbar tau nggak. Berhenti sekrang juga!”

Karena itu perintah dari Rhandu dan matanya yang cokelat bening itu menyiratkan tanda iba dan tajam, aku langsung melepaskan tanganku dari leher David. Namun ternyata hal itu malah menyulitkanku. Tiba-tiba David melayangkan sebuah tinjuan kasar ke pipi kiriku. Langsung saja rasa panas dan nyeri menjalar ke seluruh wajah dan pelipis mataku.

Cewek yang ada di belakang badan David langsung menariknya dan mengunci tangan David dengan erat. Walaupun aku yakin hal itu percuma. Kekuatan David pasti dengan mudah membuka kuncian dari cewek itu. Tetapi anehnya David tidak memberontak sama sekali. Matanya yang tajam dan bengis menatapku sengit.

“Pukulan itu buat ngasih tau lo kalo lo udah nyakitin perasaan sahabat gue!” setelah berkata begitu David berbalik dan mengajak cewek itu masuk ke dalam rumah. David membanting pintu dengan kasar di hadapanku yang masih terpaku dengan wajah nyeri akibat tinjuan yang David lakukan terhadapku.

Aku mendesah kecil dan bangkit berdiri. Aku cepat-cepat melirik Rhandu yang berdiri disampingku dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada. Walaupun matanya menunjukan ketidaksukaan karena kedatanganku, tetapi aku bisa melihat sarat kerinduan disana. Sialan! Aku juga merindukannya.

“Lo manusia paling kampungan yang pernah gue kenal!” pekik Rhandu sambil melangkah dua langkah ke arahku dan memukuli dadaku dengan tangannya yang terkepal marah. Aku tidak merasakan sengatan sakit dari pukulannya. Tetapi aku malah merasa lega karena dia mau berbicara denganku. Walaupun dengan nada marah.

“Dengerin aku dulu,” kataku menepis tangannya pelan.

“Gue nggak mau denger apa-apa dari lo!” dia melanjutkan pukulannya ke dadaku.

Aku menutup kedua mataku dan membiarkan Rhandu terus memukulku sampai puas. Dengan mata terpejam, aku bisa merasakan pukulan Rhandu yang mulai kehabisan tenaga.

“Lo bohongin gue,” rintihnya sendu. “Emang apa salah gue sampe lo bohongin gue segala!”

Aku langsung membuka mataku dan melihat mata Rhandu yang mengeluarkan air mata. Tiba-tiba aku membenci diriku sendiri karena telah membuat orang yang kucintai menangis. “Aku nggak bermaksud kayak gitu, sayang.”

Dia langsung menatapku dengan tatapan marah. “Sayang!” teriaknya benar-benar marah. “Nggak usah buat gue muak. Lo selama ini cuman akting ajakan. Gue selama ini cuman jadi bahan tugas lo doang kan! Nggak usah manggil gue sayang kalo lo nggak bener-bener sayang sama gue! Lo manusia brengsek! Gue pengen denger satu hal dari mulut lo yang bener-bener adanya, yang bener-bener nyata! Dan gue tau, lo nggak punya kan! Karena lo selama ini cuman bohongin gue!” dia kembali meninju dadaku dengan marah. Dengan begitu sakit hati yang mendalam.

“Ada satu hal yang aku nggak pernah bohong sama kamu,” ujarku untuk menenangkannya. Tetapi ternyata hal itu percuma.

“Apa?” pekiknya marah, tinjuannya ke dadaku makin lama makin keras.

“Aku cinta sama kamu. Dan aku nggak pernah bohong dengan perasaan aku yang satu itu ke kamu.”

Rhandu tiba-tiba langsung menghentikan aktivitas meninjunya. Matanya yang berlinang air mata itu menatapku. Kali ini dengan tatapan sedih yang tak disembunyikan. “Jangan!” rintihnya, mendorong badanku menjauh darinya. “Jangan ngasih tau gue hal yang pengen gue denger tapi ntar malah jadi kebohongan yang lain!”

Aku tak bisa menahan diriku lagi. Aku benar-benar ingin meledak sekarang. Kenapa bisa aku melakukan hal bodoh ke orang selugu dan sebaik Rhandu. Seharusnya sudah dari awal aku mengakui kebohonganku. Memang benar kata orang; penyesalan selalu datang di belakang.

Dengan cepat, aku menarik badan Rhandu ke pelukanku. Memeluknya dengan begitu erat. Sampai-sampai aku bisa merasakan detak jantung Rhandu yang terpacu cepat seperti jantungku saat ini. Namun aku tak akan melepaskan pelukan ini. Aku senang mendengar suara jantungnya yang berdetak. Aku senang karena dia mengizinkanku memeluknya.

“Aku nggak akan pernah bohongin kamu lagi. Beri aku kesempatan, Ndu. Untuk memperbaiki semuanya.”

Dan begitu Rhandu membalas pelukanku, aku yakin kalau akhirnya Rhandu memang benar-benar memberikan aku kesempatan. Dan yakinlah, aku benar-benar akan menjaga kesempatan itu. Aku tak akan mengecewakannya lagi. Tak akan pernah lagi. Pegang janjiku.

***

“Aduh, yank, sakit” kataku sambil menahan perih dan nyeri ketika Rhandu membasuh pipiku yang tadi di tinju oleh David dengan air es.

“Lagian kamu, pakek berantem sama David segala. Sok kuat. Padahal aslinya lemah.” Rhandu menempelkan dua bongkah es batu berselimutkan kain ke pipiku yang mulai berdenyut.

“Aku nggak lemah,” ujarku defensif, pura-pura cemberut. “Aku cuman kurang kuat aja.”

Rhandu memutar bola matanya dan kembali menekankan es batu yang menempel di pipiku makin lekat. “Jadi kamu dikasih tugas sama salah satu dosenmu buat me-wawancarai seorang bisek dan kamu pilih aku?”

Aku mendesah ketika Rhandu kembali menanyakan hal itu. “Iya. Dan aku nggak nyesel pas Benny nunjuk kamu sebagai korban aku.”

“Korban heh?” dia menempelkan es batu itu ke wajahku dengan kesal. Membuat pipiku makin berdenyut sakit.

Tetapi aku tidak memprotes tingkahnya yang masih sedikit sebal denganku itu. Aku malah terkekeh senang. “Iya. Korban aku untuk saling jatuh cinta.”

Rhandu menjatuhkan es batu yang di pegangnya ke tanganku. “Gombal,” ujarnya kemudian. Tetapi aku bisa melihat senyumannya dari ujung mataku. “Kenapa kamu nggak jujur aja dari awal? Kalo kamu memang pengen wawancarai aku tentang hal bisek, aku dengan sukarela mau kok ngasih tau. Nggak usah pakek bohong segala dan maksa bilang kalo kamu suka sama aku.”

“Benny kampret itu nyuruh aku buat kenalan sama kamu pelan-pelan. Tapi pas pertama kali aku bilang suka sama kamu, hati aku memang udah berdebar-debar kok. Jadi, pas aku bilang suka sama kamu, nggak seluruhnya juga aku bohong tentang hal itu.”

“Terus, pas pertama kali kamu ngeliat aku, yang sekarang jadi korban kamu. Apa pendapatmu tentang aku?” Rhandu kembali mengambil es batu yang ada di atas tanganku. Lalu menempelkannya lagi ke wajahku yang rasa nyerinya sudah hampir menghilang.

“Kamu orangnya baik. Bisa buat aku senyum. Orang paling imut yang pernah aku kenal. Orang yang punya sifat aneh dan janggal yang pernah ada. Unik di setiap kesempatan. Selalu buat aku terkejut dengan tingkah-tingkah konyolmu itu. Tapi, di atas semua itu, aku tau aku udah mulai cinta sama kamu. Dan aku nggak pernah ngerasa begitu bahagia pas kamu nerima aku.”

Mata Rhandu tak berkedip ketika mendengarku berkata tentang dirinya. “Aku udah mulai percaya sama kamu lagi Lit,” tuturnya pelan. “Aku kasih kamu kesempatan dan kali ini aku pengen kamu pegang kesempatan itu dengan erat.”

Aku mengangguk dan merangkul pundak Rhandu yang mungil. “Aku nggak akan pernah bohong sama kamu lagi.”

Rhandu membalas rangkulanku. Lalu dia menjauhkan badannya sedikit untuk menatap wajahku. “Kalo sampe kamu bohongin aku lagi… kamu bakalan,” Rhandu menaruh telunjuknya di lehernya dan membuat gerakan seakan-akan sedang menggorok. Yang bisa di artikan sebagai “MATI.”

Aku hanya terkekeh dan mengangguk. “Baik, bos. Aku nggak bakalan bohong lagi. Ini ciyus loh.” Aku mengacak-ngacak rambut spike Rhandu dengan gerakan sayang.

“Oke,” ujarnya dengan senyuman simpul. “Buktiin kalo kamu memang serius dengan ucapan kamu barusan itu.”

“Nggak masalah. Suruh aku apa aja, aku pasti bakalan nurutin apa yang kamu suruh.”

Rhandu pura-pura berpikir sejenak sebelum melontarkan suruhannya kepadaku. “Aku pengen sekarang kamu kebelakang rumah ini terus loncat ke kolam berenangnya!”

Tanpa pikir panjang aku langsung berdiri dan berjalan cepat ke belakang rumah ini. Aku juga tidak tahu sebenarnya dimana jalan menuju ke arah belakang rumah ini. Tetapi instingku menyuruhku terus berjalan. Dan ketika aku membuka pintu berkaca tebal di dekat dapur, mataku langsung menuju ke kolam berenang yang airnya berwarna biru bening itu. kutaruh HPku di konter tempat cuci piring. Lalu aku langsung berlari kencang dan menceburkan diriku ke kolam tersebut. Dan sialnya, ternyata airnya sangat dingin.

Pintu berkaca tebal itu terbuka keras. Menampilkan sosok Rhandu yang rupawan. Matanya menatapku dengan tatapan tak percaya. “Padahal aku cuman bercanda,” katanya kemudian. Lalu dia mulai tertawa kecil. “Sekarang aku percaya kok. Ayo naik sini!”

“Bantuin dong,” sahutku pura-pura manja. Aku memajukan tanganku agar dia meraihnya. Tetapi ternyata dia pintar membaca situasi. Dia tahu aku akan mendorongnya masuk ke kolam juga.

“Dasar ular! Ntar kamu pasti mau dorong aku juga kan! Ogah! Naik aja sendiri,” lalu dia menjulurkan lidahnya secara kekanak-kanakan.

Aku terkekeh lalu naik ke daratan. Cepat aku berjalan ke arah Rhandu dan memeluknya. Bajunya yang semula kering, kini basah karena pelukanku. Tetapi dia tidak protes. Dia malah berbalik dan menatap mataku dengan intens. Lalu, dia memajukan badannya dan berjinjit sedikit. bibirnya yang merah itu mengincar bibirku. Ciuman hangat menjalari bibirku ketika bibir kami bersatu. Aku mendesah dan mengerang dalam waktu yang bersamaan. Aku memeluk pinggangnya erat dan menekankan tubuhku ke tubuhnya yang sangat pas di tubuhku tersebut.

Ketika aku ingin mendalamkan ciuman kami, suara dehaman pelan membuat kami menghentikan aktivitas menyenangkan ini. Aku cepat-cepat melepaskan Rhandu dan memutar kepalaku cepat untuk melihat siapa penganggu tersebut.

David berjalan kecil menuju ke arah kami. Seorang cewek berbadan kecil berjalan tepat disebelahnya. Rambut keriting cewek itu melambai-lambai ketika tertiup angin. Aku yakin kalau cewek tersebut adalah pacarnya David.

“Vid, Eli, kenalin; ini Alit. Pacar gue,” Rhandu-lah yang pertama kali membuka suara. “Alit, kenalin; ini David sama Eli.”

Aku langsung mengulurkan tanganku ke arah David. Cowok berbadan tegap dan bermata tajam itu menatapku dengan tatapan lembut sekarang. “Gue nggak bakalan minta maaf karna udah ninju muka lo. Lo pantes kok dapet tinjuan dari gue.”

Aku hanya terkekeh dan melepaskan genggaman tangan kami. Aku lalu menjulurkan tanganku ke Eli. Dia menyambutnya dengan gembira. “Rhandu dua hari ini nangis terus tau nggak. Cowok kok cengeng banget! Such a stupid cry baby.” ujar Eli dengan nada bercanda.

Rhandu langsung memukul kepala Eli dengan jari-jarinya yang lincah. “Biarin! Daripada lo, ditinggal sama pacarnya bentar langsung nge-rengek nyuruh pacarnya pulang. Kayak tadi pas pacar lo mau pergi itu, ‘sayang, cepetan pulang ya, aku kangen sama kamu. Sekarang aja aku udah kangen’. Yikes! Such a big silly whimper baby.”

Eli hanya menjulurkan lidahnya. “Loh, gue kirain lo sama David pacaran,” kataku menunjuk David dan Eli secara bergantian.

David dan Eli malah tertawa. “Lo nggak liat kalo muka kita hampir sama. Eli ini adik kandung gue.” David tertawa kecil dan menepuk pundak-ku. Aku juga ikut tertawa dengan mereka.

“Lo nggak kedinginan?” tanya Eli kemudian. “Ayo masuk! Baju David pasti muat di badan lo.”

Rhandu langsung memegang tanganku dan menuntunku masuk ke dalam rumah. Aku balas menggenggam tangan Rhandu dengan erat. Tak mau melepaskannya barang sedetik saja. Aku mau terus berpengangan tangan dengannya. Untuk saat ini. Besok. Dan selamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

#8 I Wish

“Aku nggak bakalan kumpulin tugas itu,” kataku ketika Rhandu kembali membaca tugasku tentang hal bisek di laptopku. Dia membacanya dengan serius dan mengganti beberapa kata yang salah. Dia malah sangat semangat mengetahui tentang kisah hidupnya sendiri dalam bentuk file.

Rhandu langsung mengalihkan tatapannya padaku. “Aku udah nggak permasalahin lagi kok. Kalo bukan karna tugas ini, mungkin kita nggak bakalan pernah ketemu. Sekarang lebih baik kamu print tugas ini dan kumpulin. Bukannya kamu bilang tugas ini jam dua belas harus sudah dikumpul. Ini udah jam setengah dua belas loh.”

Aku menggeleng tegas. “Nggak ah,” aku menarik tangan Rhandu, dan menyuruhnya berbaring di sebelahku. “Biarin aja aku nggak lulus di pelajaran Pak Anton sialan itu!” aku mengelus rambut Rhandu ketika dia berbaring di dadaku. Wangi melon yang sangat menggiurkan langsung tercium oleh hidungku.

“Pak Anton,” ujar Rhandu seperti mantra.

Aku mendesah. “Iya, Anton Laksmono. Dosen gila satu itu yang ngasih tugas ini ke aku. Biarin aja deh aku nggak lulus di kelasnya dia. Males ngurusin dosen gila satu itu. Ih.”

“Mendingan kamu kumpulin deh tugas itu. Biar kebohongan kamu selama ini nggak terbuang percuma. Lagian aku pengen liat kamu dapet nilai apa dari tugas ini.” Rhandu menatapku dengan tatapan tajam. Mulutnya berkedut naik. “Aku juga pengen tau dosen gila yang ngasih tugas ini sama kamu. Mungkin aku bisa marahin dia biar nggak ngasih tugas yang aneh-aneh lagi ke kamu.”

Kekehan pelan terlontar dari sela-sela tenggorokanku. “Kalo kamu maksa, ya udah.” Aku berdiri dan menyalakan mesin print Canonku. “Mendingan kamu nggak usah ketemu sama dosen ini deh. Kamu pasti langsung stress. Lagian juga, mana sih dia mau dengerin kamu. Dia kan orang gila.” Aku tertawa kecil.

“Oh, ya?” ujar Rhandu dengan wajah meremehkan. “Aku malah makin penasaran sama dosen ini.” Setelah Rhandu berkata begitu dia langsung menyiapkan semua alat-alat kebutuhanku untuk ngampus hari ini. Nice boyfriend.

***

“Kamu mendingan diem disini aja yank,” kataku menyuruhnya diam di depan pintu kantor Pak Anton. “Aku nggak bakalan lama kok.”

Rhandu malah menggeleng tegas. “Nggak mau ah. Aku mau ikut masuk ke dalem!”

“Nggak usah. Kamu diem disini aja,” aku berkeras.

“Nggak! Aku mau ikut masuk pokoknya.” Rhandu malah makin keras kepala.

Aku mendesah frustasi. “Nggak. Sekali nggak, tetep nggak!”

Rhandu malah menatapku dengan mata disipitkan. Itu tandanya dia tidak mau di bantah. Dan aku memang tidak suka membantahnya untuk sekarang ini. Aku menarik nafas panjang sebelum berucap padanya. “Oke. Kamu boleh masuk. Tapi emangnya kamu mau liat apa di dalem ruangan Pak Anton? Kamu tahukan dia itu singa.”

Rhandu mendesah getir lalu dengan gerakan cepat dia mengetuk pintu kantor Pak Anton.

29 thoughts on “Side By Side

  1. Hii Ren,

    Baru ja q selesai baca karyamu ini Ren, ringan dan alur yang jelas so mudah di ikuti dan menarik. Jdi gk sabar pngn tau kelanjutannya. Klo boleh nebak Ren, Pak Anton apakah bapaknya Rhandu ya?
    ♓έ..:D Hέ..:p hέ..=)) Hέ..:) hέ..=D
    Maaaf sok tau.

    Oiya satu hal lagi yg pngn q tanyakan ni Ren, maaf klo agak melenceng.
    Apa pendapat Rendy mengenai freez di blog AVN ya?
    Karena jujur q kagum dengan pola fikir Rendy dalam menyikapi suatu persoalan. Terimakasih.

    Salam hangat,

    Ken_
    Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

    • Hahaha… Pak Anton itu siapa hayoooo.

      Maaf ya baru bls komennya.
      Buat Freeze itu aku gak tau mau komen apa. Soalnya kan itu jga keputusannya Andy mau nutup atau enggak blognya.
      Walopun sedih jga sih kalo ditutup –”

      Thanks ya dah mau komen ceritaku ini😀

  2. Ceritanya cukup ringan. Ga byk konflik rumit sperti cerira2 yg lain. Bagus ceritany. Mudah di mengerti dan so sweet.. Mau cuap2 dikt koq alit semester 3, si rhandu semester 2. Kan kuliah semester genap dan ganjil. Klo alit sems 3 harusnya rhandu semester 1. Itu aja yg janggal. Koq cuap2 nya jd panjang #plakk

  3. rendiii… gue suka cerita iniii, keren buanget kyk crita2mu yang lain deh, i love youuuu eh? love your story maksudnya hehe🙂

  4. ,kak rendi jelek ..
    ,cepet update yg ini juga yah .. and aku gak akan pernah bosen ngingetin kaka soal SAME LOVE buat di update .. haha :p
    ,oh iya , aku udh kirim cerita ke kaka .. udh dibaca belum ?
    ,and aku mau izin kalo boleh nih ya , gmna kalo sebagian cerita dari SAME LOVE aku lanjutin .. mumpung lagi ada bayangan .. walaupun aku suka sebel sendiri sih baca ceritanya -_- #plaakk :p

  5. Rendi…. kapan nih lanjutannya???? Bikin penasaran aja nih….
    Ceritanya bagus… hanya saja, yang aku gak habis pikir, kenapa di setiap cerita selalu saja ada adegan “memutar bola mata” huff….. emang wajib ada itu ya?
    Soalnya aku kan suka ngebayangin langsung kalau baca cerita, tapi pas adegan “memutar bola mata” sumpah!!! aku gak bisa bayangin adegan itu di imajinasiku…..
    hehehehe……

  6. jangn d lanjutin cerita ny… yg penting randhu ma alit da bersama lg… lagian mereka da CO k kelarga mereka… jd g ada masalh lg kn??? sory lo aq sok tau..

    • Setujuh sama andre.

      Dan ren, semua pembaca udah kompakan nebak kalo pak anton itu bokapnya randhu. Ayo lanjutkan ceritanya, then reveal this mistery😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s