Year By Year


(Seventh “Times” Saga)

Year By Year

Trivial Story By. Rendi Febrian

 

Wajahku tidak pernah sesuram ini sebelumnya. Aku mengangkat kepalaku dan melihat garis kecil pendek yang melintang di bawah sudut kanan mataku. Kuusap garis melintang itu dengan hati-hati, melihat gesturnya yang sangat mengerikan. Tidak terlalu kelihatan memang, namun jika diperhatikan dari dekat barulah kelihatan garis mengerikan itu. Aku mendesah sambil mengusap sekali lagi garis yang tertempel di wajahku.

Tidak ada satu ide-pun yang muncul di kepalaku saat ini. Semuanya seperti tersekat di suatu tempat atau sedang mengalami macet yang sangat parah. Novel romantis yang sedang kukerjakan hampir setengahnya itu terpaksa harus kubatalkan karena idenya memang tidak pernah terbentuk dari awal. Sia-sia saja kalau begitu selama beberapa minggu ini aku berada di depan laptop sambil membuat novel yang akhirnya tidak akan jadi apapun sama sekali. Aku tidak pernah sesukar ini membuat suatu novel sebelumnya.

Novel-novel yang sudah kubuat ada beberapa yang mendapatkan penghargaan dari tempat penerbitanku karena ada beberapa novelku yang akhirnya menjadi bestseller dan mendapatkan review yang sangat baik dari para pembaca se-Indonesia. Dari sepuluh novel yang sudah diterbitkan, ada enam buku yang sangat laris manis. Dua buku yang berisi sebuah trilogy kehidupan yang keras, satu buku yang berisi makna perjuangan seseorang, tiga buku yang berisi makna kehidupan gay di Indonesia. Dua dari tiga buku tersebut adalah kisah nyata. Sedangkan yang satunya hanyalah fiksi belaka.

Menjadi seorang penulis memang cita-citaku dari kecil, namun harus tersendat karena Mamaku waktu itu malah memasukkanku ke kelas model. Selama bertahun-tahun aku menjadi model majalah, model iklan, model video klip dan model-model lainnya yang menurutku sangat membosankan. Aku keluar dari dunia model sejak lima tahun yang lalu, kemudian aku mengirimkan draft novelku ke salah satu perusahaan penerbitan yang sangat terkenal di Indonesia. Tidak lebih dari dua bulan, draft ku diterima dan akan segera diterbitkan. Sejak saat aku mendapatkan semua kritikan yang sangat memuaskan, aku jadi makin jatuh cinta dengan dunia tulis menulis.

Kenangan yang indah jika aku mengingat hari-hari dimana aku dinobatkan sebagai penulis termuda terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Aku mendesah berat, kunyalakan kran air dan membasuh wajahku yang letih. Kutatap sekali lagi wajahku yang dibilang mirip seperti orang Korea. Atau yang lebih tepatnya dibilang mirip seperti Lee Min-Ho oleh sahabat-sahabat terbaikku, Dimas, Harry, dan Mas Diatmika. Tetapi aku merasa aku tidak mirip artis Korea itu, maksudku, aku tidak pernah meng-operasi wajahku seperti orang-orang Korea. Aku bangga dengan wajahku sendiri, buat apa pakai operasi segala.

Aku mengelap cermin yang ada di hadapanku untuk menghilangkan embun tebal yang melapisinya. Namun saat aku baru saja menempelkan tanganku di cermin lebarku, aku mendengar suara benda jatuh di kamar mandi tetangga sebelah yang diisi oleh Mbak Dania. Aku sudah bertetangga dengannya selama kurang lebih dua tahun, dia wanita penggoda dan paling sok cantik yang pernah kutemui. Makanya aku dan yang lainnya tidak terlalu dekat dengannya.

Suara benda jatuh kembali terdengar, kini bunyinya lebih besar dari sebelumnya, membuat cermin yang sedang kupegang bergetar kecil. Aku menjauhkan tanganku dari cermin dan menajamkan telingaku. Kemudian… suara benda-benda pecah yang memekakkan telinga tersulut di setiap sudut kamar mandi tetangga sebelah kananku itu. Aku bergidik lalu mundur menjauhi cerminku. Bunyi benda jatuh terjebur ke dalam air-lah yang menjadi penutup kebisingan tadi.

Pikiranku berkecamuk. Tentu saja berkecamuk yang diisi dengan pikiran kotor. Pasti Mbak Dania sedang asyik melakukan akrobatik seks-nya. Dia terkenal dengan jajakan badannya yang sangat seksi itu. Pasti saat ini dia sedang seru-serunya menikmati enjotan—siapapun itu—lelaki pemuas nafsunya hari ini. Kulangkahkan kakiku dan mendaratkan telingaku di dinding marmer kamar mandiku, ingin memastikan suara erangan nikmat Mbak Dania. Kutempelkan terus telingaku selama dua menit lamanya, namun tidak ada suara erangan yang terdengar. Kutempelkan telingaku makin erat namun masih juga tidak mendengarnya.

Apakah Mbak Dania baik-baik saja? Apakah dia sedang stress makanya membanting-banting barang? Apakah dia sedang menikmati enjotannya dengan suara teredam? Ugh! Aku sangat penasaran. Inilah sifat alamiku, suka sekali mencampuri urusan orang lain.

Aku membetulkan cardiganku lalu mematikan kran air. Kemudian aku melangkah pelan menuju pintu kamar mandi dan bersiap-siap ingin mendatangi kamar Mbak Dania. Siapa tahu saat ini dia memang sedang stress dan membutuhkan pundak seseorang untuk dia gunakan. Lagipula anggap saja ini solidaritas tetangga apartemen. Selain itu dia tidak akan menggodaku lagi, karena dia sudah tahu aku gay. Sebesar apapun payudaranya, se-kencang apapun vaginanya, puh-lease, aku tidak akan tergoda untuk mengenjotnya.

Sebelum keluar dari apartemenku, aku mematikan laptopku dulu. Kasihan sudah hampir seharian belum aku matikan laptop kesayanganku itu. Semua file penting ada di laptopku, tentu saja aku tidak mau file-file itu nanti hilang karena laptopku yang tiba-tiba rusak. Karena laptopku adalah laptop jadul, shut downnya hampir memakan waktu sampai lima menit lebih. Ketika dia sudah benar-benar mati, aku langsung menutup kepalanya dan melajukan kakiku ke pintu apartemenku.

Ketika aku sudah di depan pintu apartemenku, aku langsung dihadapi dengan pintu apartemen sahabatku, Dimas. Dia dokter berbadan kekar yang lumayan tampan, sekarang dia tinggal berdua dengan pacarnya yang tentara itu, Boby. Aku masih ingat saat Dimas memperkenalkan Boby padaku waktu itu.

“Ini Boby yang gue ceritain itu Gi,” ujar Dimas kala itu, mendorong badan Boby yang super tinggi dan kekar ke hadapanku. “Sori ya baru bisa kenalin dia sekarang, soalnya kemarin dia harus ngelapor ke kantor pusat TNI atas kepulangannya ke Indonesia dulu. Pas gue mau kenalin lo sama dia kemaren-maren juga lo nggak ada di apartemen lo.”

Boby mengulurkan tangannya yang lebar itu ke hadapanku. Kulap tanganku yang agak sedikit berkeringat lalu menyambut uluran tangannya. Gila! Dia ngajakin jabatan tangan apa nantangin panco ya? Keras banget genggamannya. “Boby,” ujarnya serak, jantan sekali suaranya. “Nama lo siapa?” tanyanya sembari melepaskan panco—eh, jabatan—tangannya.

“Giorgio Hanzi,” ucapku cepat, memberitahunya nama panjangku. Dimas tersenyum singkat melihat tingkah canggungku, Boby hanya tersenyum miris melihat ucapan super cepatku. Baiklah, aku sangat canggung jika berdekatan dengan orang yang berbadan tinggi dan kekar seperti Boby ini. Membuatku… wow. Aku sangat suka dengan laki-laki yang terlihat macho seperti dia. Walaupun wajah Boby tidak tampan, banyak goresan di dahinya dan ada sedikit luka bakar di kedua pipinya, wajahnya malah terlihat menawan.

“Lo orang cina ya?” tanya Boby basa-kadaularsa. Errrr, basa-basi maksudku.

“Gue bukan orang cina, tapi turunan cina,” ujarku mantap. Kali ini suaraku bisa terkendali lagi, soalnya aku sudah sadar sekarang kalau laki-laki macho yang ada di depanku ini pacarnya Dimas. Aku tentu saja tidak mau merebut pacar sahabatku sendiri.

Aku masih menelusuri lekuk tubuh Boby yang super duper kekar banget tersebut. Dimas berdeham dan menyadarkanku tentang keberadaannya yang berdiri tepat di sampingku. “Nah, sekarang lo udah kenalan sama Boby, gue mau ngenalin dia lagi sama Harry. Tapi kemana ya kunyuk satu itu? Beberapa minggu ini gue nggak ngeliat batang hidungnya sama sekali.”

“Dia lagi sibuk mungkin,” ujarku dengan mata masih tertuju ke Boby. “By the way, Bob, gue boleh minta satu permintaan nggak?”

Dimas langsung menatapku cepat, Boby mengangguk mengiyakan tanda membolehkan. “Mau minta apaan emang?” tanya Dimas curiga.

Aku memasang wajah penuh senyuman lalu mengeluarkan suara sariosaku dengan indah. “Perkosa gue dong Bob!” Boby langsung tertawa dan aku juga ikut tertawa bersamanya, namun tendangan pelan langsung bersarang di tulang keringku. Dimas biadab. “Gue bercanda kali Dim. Serius amat sih naggepinnya. Sakit tau tulang kering kaki gue.”

“Lo juga tuh aneh-aneh aja. Inget ya Gio si lelaki binal, dia itu cowok gue. Lo nggak boleh pegang-pegang dia!” Dimas memelototi wajahku dengan geram. Raut wajahnya yang sok-sok serius begitulah yang menurutku sangat lucu.

“Iya, iya,” aku tersenyum kecil ke Boby dan Dimas. “Bawel!”

Dimas mendengus dan membawa Boby menjauh dari hadapanku, takut kalau nanti tiba-tiba akulah yang memperkosa pacarnya. Punggungnya hilang di balik pintu apartemennya, suara kunci diputar terdengar tegas. Yah, well, itulah bagaimana aku bisa mengenal Boby. Lain lagi ceritanya saat aku berkenalan dengan pacar Harry, namanya Fandi. Lelaki kaku dengan badan yang agak kurus namun berwibawa. Ucapannya sangat sopan dan bibirnya selalu tersenyum. Tampan sih menurutku, tapi bukan tipeku.

Kalau Mas Diatmika dan Mas Edwin sudah lama kukenal. Saat pertama kali aku masuk ke apartemen ini, mereka berdua sudah berada di sini. Begitu pula dengan tetangga yang berada di sebelah kiriku. Aku tidak tahu namanya, dan juga hanya baru beberapa kali aku melihat wajahnya. Kami pernah satu lift bersama. Saat aku baru keluar dari apartemenku, dia baru mau masuk ke apartemennya. Dari raut wajahnya, sepertinya dia lebih tua dariku dan ketahuan sekali kalau dia itu orang yang pemalu. Setiap kali mata kami bertemu, dia akan membuang wajahnya menjauh dariku. Tetapi bukan padaku saja, dia malu pada semua orang yang ada di apartemen ini.

Aku berjalan pelan menuju ke pintu apartemen Mbak Dania, kemudian mengetuk pintunya beberapa kali. Kupencet bel pintunya berpuluh-puluh kali, tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari interkomnya. Aku mengintipkan mataku ke lubang kecil yang ada di tengah pintunya, namun hanya bayangan samar kamarnya yang terlihat oleh mataku. Kumundurkan kepalaku lalu memajukan tanganku untuk membuka knop pintunya. Saat aku memutar knopnya, tiba-tiba pintu itu terbuka sendiri. Bau aneh mencuat keluar dari dalam apartemennya.

“Mbak Dania?” panggilku sambil memasukan kepalaku ke dalam apartemennya. Bau aneh yang tadi sempat tercium oleh hidungku kembali menyeruak masuk ke indera penciumanku. Dengan langkah tak gentar, kulancangkan kakiku untuk memasuki apartemennya. “Mbak Dania?” panggilku seraya mengikuti arah bau aneh yang menyeruak masuk ke dalam hidungku.

Kakiku tersandung sepatu boots berhak tinggi yang tersampir di dekat konter mesin cuci. Dari tempatku berdiri, bau itu semakin jelas. Aku berjalan hati-hati menuju ke kamarnya dan membuka pintunya, namun tidak ada Mbak Dania di sana. Hanya terlihat kamarnya yang berantakan dan tirai jendela yang belum dibuka sama sekali. Aku mundur dari kamarnya dan mengendus kembali bau aneh yang masih tercium di sekitarku. Tiba-tiba mataku jatuh ke kamar mandinya, dari celah pintunya ada sinaran cahaya lampu yang menyeruak keluar. Aku berjalan cepat dan mengetuk kamar mandinya beberapa kali sambil memanggilnya. Usahaku masih sia-sia karena Mbak Dania tak kunjung menyahut juga.

“Gue masuk ya Mbak,” ujarku serak. Kuputar knop pintu kamar mandinya, dan aku sangat terkejut ketika pintu itu tidak terkenci sama sekali. Kuputar pelan-pelan knop pintunya dan menyeret pintu itu hingga terbuka dengan perlahan. Bau aneh yang tadi tercium olehku kini makin tercium jelas. Bau cairan pembersih porselin untuk membersihkan WC dan bau karat-lah yang ternyata menjadi bau aneh tersebut. Barang-barang kececeran di lantai dengan berantakan saat pintu kamar mandi sudah terbuka lebar. Mataku menelusuri setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan barang-barang yang kocar-kacir dimana-mana.

Badanku langsung terkaku di tempat saat menatap sesuatu yang terhampar di depan mataku. di lantai yang sedang kupijak, cairan porselin pembersih yang berwarna putih berbaur menjadi satu dengan darah segar yang tercecer dengan sempurna di lantai. Nafasku seakan-akan tercekik saat melihat semua hamparan berwarna merah-putih yang sedang kupijak saat ini. Saat mataku tertumbuk dengan sosok mengerikan yang ada di dalam bathtub, dengan gelagapan aku reflek mundur ketakutan. Namun karena cairan porselin yang berbaur menjadi satu dengan darah membuat lantai menjadi licin. Kaki kananku terselip lalu membuat badanku terjengkang ke belakang. Alhasil bokongku menghantam lantai dengan keras.

Tetapi aku tidak peduli dengan rasa sakit yang menjalar cepat dari bokongku ke pinggangku. Yang menjadi pusat perhatianku saat ini adalah tubuh Mbak Dania. Mataku masih melotot saat menatap jasadnya yang mengerikan. Tangan kirinya mencuat keluar dari dalam bathtub, di nadi arterinya banyak goresan tak beraturan yang menyebabkan darah segar meluncur keluar dari dalamnya. Mata kanannya terpejam, namun mata kirinya menonjol tajam seakan-akan sedang menatapku. Mulutnya terkuak lebar dan mengeluarkan air liur yang lumayan banyak. Tangan kanannya memegang cutter dengan genggaman yang sudah melemah. Air yang melingkupi badan berbusananya dipenuhi dengan cairan pembersih porselin dan darah.

Aku mencoba berdiri dari dudukanku, melangkah hati-hati agar tidak tergelincir jatuh lagi. Suara langkahku mengepak menjijikan dengan cairan yang ada di bawah kakiku. Hembusan nafasku yang menderu sepotong-demi-sepotong. “Mbak Dania?” panggilku seperti sedang melakukan jampi-jampi. “Mbak Dan—“

Panggilanku terpotong saat mata kiriku menangkap satu buah sosok bayangan hitam yang berlari kencang di belakangku. Aku cepat-cepat memutar badanku dan ingin melihat apa sesungguhnya bayangan tersebut. Namun ternyata itu tindakan yang bodoh, karena kakiku kembali terselip dan aku kembali terjengkang jatuh. Bokongku kembali menghantam lantai dan membuat cairan porselin dan darah terciprat ke bajuku dan lenganku. Tanganku juga ikut terselip saat aku menumpukannya di lantai. Alhasil badanku ikut terjatuh ke lantai dan menyebabkan seluruh punggung kausku dipenuhi dengan cairan porselin dan darah.

Kepalaku masih pusing ketika aku ingin bangun dari pembaringanku. Tetesan darah segar yang keluar dari arteri di lengan kiri Mbak Dania menetes pelan di hidungku lalu menglir sayu di pipiku. Seakan-akan tersadar, aku langsung bangun dengan hati-hati dan mundur secepat yang aku bisa. Aku berjalan terseok-seok menuju pintu kamar mandi, dan ketika aku sudah keluar dari kamar mandi tersebut, aku langsung berlari kencang menuju ke pintu keluar. Ingin mencari pertolongan. Ingin meminta bantuan. Apa saja, yang penting keluarkan aku dari momen mengerikan tadi.

Tiba-tiba aku menabrak seseorang saat sudah keluar dari dalam apartemen Mbak Dania. Entah karena panik atau aku memang sudah kelewat ketakutan, aku berteriak-teriak seperti orang gila. “Lepasin gue!” teriakku kencang, seumur hidupku baru kali ini aku berteriak sekencang sekarang. “Lepasin gue!” teriakku lagi saat orang yang kutabrak masih menggenggam tanganku.

“Hei!” ujarnya kencang, mencoba menyadarkanku. Aku tidak mengenal suara ini, apakah ini pembunuh yang membunuh Mbak Dania dan dia juga ingin membunuhku? Aku makin berontak di dalam genggaman tangannya. “Tenang,” ujarnya seraya mengguncang-guncang tubuhku yang mengerang. Saat dia menampar wajahku lumayan keras, barulah aku memberhentikan berontakanku.

Mataku langsung menangkap sosok tetangga sebelah kiriku, tetangga yang sudah tinggal tahun-demi-tahun di sebelah kamar apartemenku. Wajahnya yang biasanya pemalu menatapku dengan perasaan iba dan bingung. Tangannya yang kokoh dan kasar masih menggenggam tanganku dengan begitu erat namun menenangkan.

“M-mba-mbak Dani-Dania,” ujarku terbata sambil menunjuk kamar apartemen Mbak Dania dengan tangan gemetar. “Di-dia ma-mati.”

Tetanggaku itu menatap wajahku dengan kerutan alis bingung. Suaranya hanya berupa nada pemalu saat bertanya. “Maksudnya?”

Baru saja aku ingin membuka mulutku lagi, tiba-tiba suara gaduh memenuhi lorong ini. Dimas dan Boby tiba-tiba muncul dari balik pintu apartemen mereka. “Ada apa sih teriak-teriak?” tanya Dimas seraya menyarungkan syal di lehernya. Hari ini memang lumayan dingin, cuaca di Jakarta selalu hujan akhir-akhir ini. “Ganggu tau ngga—“ Mulut Dimas tercekat saat menatap badanku yang dilumuri dengan darah. “Lo kenapa Gi?” pekiknya ngeri sambil berjalan cepat menuju ke arahku. Boby berjalan mengikuti di belakangnya.

Dimas memegang pundakku yang bergetar, pegangan tangan tetangga sebelah kiriku terlepas cepat dari tangan kiriku. “Mbak Dania,” ujarku dengan suara letih dan frustasi. “Dia mati,” kataku sambil menunjuk kembali kamar apartemennya.

Boby mengernyitkan wajahnya, begitupula Dimas. “Lo yakin?” tanya Dimas seraya melirik cepat ke kamar Mbak Dania. Aku mengangguk dengan gerakan cepat. “Kalo gitu kita cek dulu ke dalem,” katanya pelan sembari melepaskan pegangannya di pundakku.

Tetangga sebelah kiriku, Boby, dan Dimas berjalan cepat menuju apartemen Mbak Dania. Aku memeluk diriku beberapa saat sebelum akhirnya aku mendengar suara langkah mereka yang keluar dari apartemen Mbak Dania dengan tergesa-gesa. Wajah Dimas pucat saat menatapku dari balik pintu apartemen Mbak Dania.

“Telpon polisi,” ujarnya dengan suara bergetar ke Boby. “Dia memang mati,” ucap Dimas ke arahku. Aku makin mempererat pelukan badanku.

Saat Boby ingin pergi ke apartemennya, tiba-tiba ada suara yang menyahut. “Biar gue aja yang nelpon polisi,” ujar tetangga sebelah kiriku dengan kepala tertunduk dalam dan dengan raut wajah yang sangat pemalu. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan menghubungi polisi. Dia berbicara sangat cepat saat telpon itu sudah tersambung. “Polisi bakalan dateng ke sini kurang lebih sepuluh menit lagi.” Dia memasukan telponnya ke dalam saku celananya kembali. Dengan takut-taku dan malu dia menatapku. “Lo nggak apa-apa?”

Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Dimas mendekatiku dan menarik tanganku. “Lo ganti baju dulu sana Gi.”

“Nggak deh,” kataku dengan nafas tertahan. “Gue takut masuk kamar.”

“Kalo gitu gue temenin,” aku terkejut ketika mendengar tetanggaku itu bersuka rela menemaniku masuk ke dalam apartemenku.

Perasaanku bimbang, antara mau dan tidak mau. Tumben dia mau berbicara denganku. Biasanya dia akan membuang wajahnya saat bertemu denganku. “Nggak usah,” tolakku lembut. “Biar Dimas aja yang nemenin gue.”

“Gue sama Boby nunggu disini aja deh Gi,” kata Dimas cepat sambil merapatkan syalnya. “Lo sama dia aja ya. Biar gue sama Boby yang nunggu polisinya di sini.”

Sebenarnya aku ingin menyahut tidak mau. Namun karena bau cairan pembersih porselin dan darah yang menempel di badanku semakin menyengat, dengan terpaksa aku mengangguk dan mengajak tetanggaku itu untuk mengikutiku.

“Nama gue Rabu kalo lo mau tau,” katanya saat kami sudah berada di dalam apartemenku. Aku berbalik pelan dan melihat wajahnya yang pemalu. Jakunnya naik turun dengan gugup saat mataku menelusuri wajahnya yang tegas dan sendu. Kepalanya tertunduk dalam, matanya menatap lantai dengan linglung.

“Gue Giorgio, tapi panggil aja Gio.” Aku melepaskan kausku sambil berjalan pelan menuju ke kamar mandi. Kubuka belt celanaku dan membuka kancing denim longgarku. Aku menengok sebentar ke tetanggaku—yang mempunyai nama Rabu—untuk memastikan dia masih berada di dekatku. Aku kaget saat mendapati wajah Rabu yang bersemu merah dan melotot melihat badanku yang tidak berbusana sama sekali. “Lo nggak keberatankan kalo ikut gue ke kamar mandi, temenin gue pas gue lagi mandi bentar?”

Dia memalingkan wajahnya dan mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai. “Ng… nggak kok. Gue nggak keberatan.”

Kulepas denimku dan meloroti celana dalamku. Rabu dengan perlahan mengikutiku dari belakang. Dengan kilat aku langsung menyalakan shower dan membasahi diriku dengan air dingin bercampur hangat yang meluncur dengan lancar dari dalamnya. Semua cairan pembersih porselin dan darah yang sudah mengering di tengkuk dan lenganku akhirnya melumer jatuh ke lantai. Kugosok cepat-cepat badanku dengan sabun yang banyak. Ingin menghilangkan bau tidak sedap yang menempel di badanku.

“Rab, bisa ambilin gue handuk nggak?” ucapku sembari mematikan shower. “Di trali yang ada di deket pintu kamar mandi.”

Tak berapa lama kemudian, Rabu datang dengan menyodorkan handuk kepadaku. Wajahnya masih berpaling tidak ingin menatapku. “Thanks,” tuturku pelan sebelum Rabu kembali duduk di klosetku lagi. Aku menggosok cepat badanku dan mengeringkan setiap sudut kulit yang masih terpapar basah. Dari balik handuk yang kusampirkan di atas kepalaku, aku bisa melihat Rabu sedang menatapku dengan wajah yang masih bersemu merah.

Aku menurunkan handuk itu dari atas kepalaku dan langsung menatap wajahnya. Dia cepat-cepat membuang wajahnya menjauh dan berpura-pura sedang menggaruk rambutnya yang kuyakini tidak gatal. Aku tersenyum lebar melihat tingkahnya yang sangat kikuk tersebut.

Saat aku sudah mengganti bajuku dengan yang baru, suara ketukan di pintu terdengar. Rabu berjalan cepat menuju ke pintu dan aku membungkus kaus serta denimku yang terkena cairan porselin dan darah ke dalam kantung plastik untuk kubuang. Suara berat saling menyapa terdengar di dekat pintu, aku mengangkat kepalaku dan melihat Rabu dengan santainya sedang berbicara dengan seorang polisi berbadan tegap di depan pintuku.

Selama satu jam penuh, aku dimintai keterangan. Semua orang yang ada di sini dimintai seperti itu. Beberapa polisi membersihkan tempat kejadian. Namun jasad Mbak Dania tidak akan diangkat sampai benar-benar ada pemeriksaan lebih lanjut dari pihak polisi. Rabu yang duduk di sebelahku sedang menatap kamar apartemen Mbak Dania dengan mata menyipit. Dia seakan-akan sedang berpikir akan sesuatu.

“Jadi, pas Anda mendengar suara aneh dari kamar mandi Dania, Anda langsung menghampirinya?” tanya polisi itu lagi dan lagi.

“Iya, pak,” kataku mencoba bersabar. “Bukannya sudah saya jelasin berkali-kali ya, masa bapak nggak ngerti-ngerti juga sih.”

Polisi itu mengangguk meminta maaf. “Nah, kalau Anda saudara Rabu, sedang di mana Anda saat saudara Gio keluar dari apartemen Dania?”

Gia menatap polisi itu dengan alis terangkat. “Gue baru aja keluar dari dalem lift. Baru pulang habis dinas malam.” Rabu kemudian menatap kembali apartemen Mbak Dania. “Kalo lo nggak percaya tanya aja sama orang yang satu lift sama gue tadi. Namanya Dev, tinggal di lantai 50. Anak dari yang punya apartemen ini.”

“Iya, iya, gue percaya.” Polisi itu mendengus getir. Aku mengernyitkan wajahku, kenapa Rabu bisa begitu santainya berbicara dengan polisi ini? Sedangkan jika denganku dan orang lain dia terlihat malu-malu. Aku menatap lekat-lekat wajah polisi itu dan terkejut saat mengetahui kalau rahang dan tatapan matanya sangat mirip dengan Rabu.

“Kalian saudaraan ya?” tanyaku berbisik.

Polisi itu menatapku, dia tersenyum kecil sebelum akhirnya mengangguk. “Dia adik saya.”

Mataku terbelalak. Pantas saja mereka berdua agak mirip. Adik-kakak ternyata. “Rabu juga polisi?” tanyaku pada polisi yang ada di hadapanku.

“Ya, dia juga polisi.” Polisi itu menurunkan kepalanya dan mulai menulis sesuatu di buku kecilnya. Kemudian dia berpaling ke arah Dimas dan Boby yang berdiri lima langkah dari tempatku terdiam. “Sedangkan Anda berdua sedang berada di dalam kamar saat Gio keluar dari apartemen Dania?”

“Iya,” sahut Boby. “Kami keluar pas nge-denger ada orang yang nge-jerit-jerit di luar apartemen kami.”

“Kalau boleh saya tau, Anda berdua sedang melakukan apa di dalam apartemen? Tidurkah? Atau baru saja bangun tidur?”

Wajah Dimas dan Boby berubah merah. Dimas meremas syalnya dan menatap polisi itu dengan malu-malu. “Kami lagi main PS,” cicit Dimas pelan. Aku tersenyum kecil melihat tingkah Dimas dan Boby yang berubah canggung. Aku tahu sebenarnya mereka berdua sedang tidak main PS. Tapi mereka pasti sedang main PS-PS-an di atas ranjang. Well, morning erection tentu saja.

Polisi itu berpaling ke tetangga yang ada di sebelah kanan kamar Mbak Dania. Dia sudah tua, umurnya sekitar tujuh puluhan lebih. Kami memanggilnya Nek Ida. Dia tinggal di apartemen ini semenjak tiga tahun yang lalu. Dia tinggal seorang diri, anak-anaknya hanya mengunjunginya saat akhir pekan saja. Itupun jarang. “Kalau Nenek sedang ada di mana saat saudara Gio teriak-teriak di lorong ini?”

Nek Ida menatap polisi itu dengan wajah mengerut. “Saya lagi ada di kamar, nonton TV. Saya memang mendengar jeritan, namun saya kira itu suara dari film yang sedang saya tonton di TV. Makanya saya tidak keluar kamar.”

Polisi itu kembali memindahkan wajahnya ke kedua OB yang berdiri di sebelah Nek Ida. “Kalau Anda sedang ada di mana saat itu?” tanya polisi tersebut ke OB yang berdiri di sebelah kanan Nek Ida.

“Saya lagi membersihkan kaca ujung lorong yang ada di deket lift.” OB itu menatapku sebentar. Dari tatapan dan wajahnya aku mengenali kalau OB itu mempunyai nama yaitu Suryo. “Saya tidak mendengar jeritan Mas Gio karna saya sedang menggunakan earphone.” Suryo menarik-narik lengan bajunya dengan gaya mencurigakan. Seakan-akan dia sedang menutupi sesuatu dari balik lengan bajunya itu.

“Kalau Anda?” tanya polisi itu ke OB yang satu lagi. OB yang sudah kukenal baik. Namanya Yudit. OB yang rajin membersihkan kamarku jika aku menyuruhnya. Dia juga salah satu OB sewaan Nek Ida. OB yang setiap dua kali seminggu membersihkan kamar Nek Ida.

“Dia sedang sama saya,” Nek Ida yang menjawab. “Dia lagi membersihkan kamar saya pas Nak Gio menjerit dari luar apartemen. Tapi sepertinya Yudit tidak mendengar karna dia lagi menyalakan mesin penghisap debu waktu itu. Saya saja terpaksa mengeraskan volume TV gara-gara bunyi mesin penghisap debu itu.”

“Baiklah kalau begitu,” polisi itu lalu menatap Rabu sebentar sebelum akhirnya mengangguk. “Dari hasil laporan yang saya dapatkan dari anak buah saya, kalau saudari Dania melakukan tindakan bunuh diri.”

Bunuh diri? Aku yakin itu bukan bunuh diri. Jika itu bunuh diri, tidak mungkin ada satu sosok bayangan hitam yang berlari kencang saat aku sedang mendatangi jasad Mbak Dania saat itu. Dan aku sangat yakin kalau aku sedang tidak berhalusinasi tentang bayangan hitam tersebut. “Saya yakin itu bukan tindakan bunuh diri, melainkan pembunuhan” ujarku akhirnya. Membuat beberapa orang yang ada di situ langsung menatapku. Suryo yang masih menarik-narik lengan bajunya tiba-tiba terlonjak kaget dan menatapku tajam.

“Saya tidak yakin itu pembunuhan,” kata polisi itu menyahut perkataanku. “Jikalau itu pembunuhan, pasti ketika saudara Rabu keluar dari lift, dia pasti akan melihat ada pembunuh juga yang keluar dari dalam apartemen Dania. Tetapi ini tidak ada kan? Dari keterangan yang saya dapatkan, Rabu hanya mendapati Anda yang menjerit ketakutan.”

“Tapi saya yakin ada seseorang yang berlari di belakang badan saya ketika saya mau melihat jasad Mbak Dania,” aku berkata tegas. “Lagipula, saya terjatuh ke lantai karna lantai yang licin selama beberapa menit sebelum akhirnya bisa bangkit dan keluar dari dalam apartemen Mbak Dania. Bisa jadi pembunuh itu sudah meloloskan diri saat Rabu baru keluar dari lift. Dia punya beberapa waktu peluangkan buat masuk ke lift yang satunya.”

“Lift yang satunya sedang rusak,” kata polisi itu teguh. “Kalaupun dia keluar dari kamar apartemen Dania untuk bersembunyi, tidak ada tempat yang bisa dijadikan tempat persembunyiankan di sini. Kalaupun ini menjadi kasus pembunuhan, mungkin satu-satunya yang bisa menjadi tersangka itu Anda saudara Gio. Karna Anda tidak mempunyai alibi yang kuat seperti orang-orang yang ada di sini. Bisa jadi Anda membuat kegaduhan setelah melakukan aksi pembenuhan tersebut dan melakukan akting belaka seperti kasus pembunuhan yang sering saya jumpai.”

Aku mundur selangkah dan mataku terbelalak kaget. “Jadi lo nuduh gue pembunuhnya gitu?” tanyaku dengan gigi terkatup rapat.

“Saya tidak bilang begitu. Saya bilang mungkin.”

Hari ini benar-benar hari yang buruk. Tidak punya ide untuk melanjutkan novel yang sedang kubuat, melihat jasad mengerikan Mbak Dania langsung dengan mata kepalaku sendiri, jatuh di kubangan cairan porselin dan darah, dan dituduh menjadi seorang pembunuh. “Gue yakin bukan dia yang nge-bunuh,” ujar Rabu di sebelahku. “Karna pas dia keluar dari dalam apartemen Dania, dia benar-benar ketakutan. Kalau dia yang membunuh, akting-pun tidak akan pernah bisa membuat raut wajah ketakutan seperti yang dia pasang tadi.”

Polisi itu menatapku dan Rabu secara bergantian. “Dari observasi apartemen Dania, hanya barang-barang di kamar mandinya saja yang berantakan. Dan juga kami menemukan secarik kertas yang isinya: lebih baik gue mati aja, yang di gantung di trali handuk. Tidak ada jejak kaki selain kaki saudara Gio di kubangan darah tersebut. Cairan porselin yang tumpah juga menandakan kalau dia menendang keras botol dari cairan pembersih WC itu karena frustasi.”

“Berita yang kami dengar juga, dia dikejar-kejar renternir karna belum membayar hutang-hutangnya. Mungkin hal itulah yang menyebabkan dia bunuh diri.” Polisi itu menyuruh anak buahnya untuk keluar dari apartemen. “Sebenarnya saya ingin menutup kasus ini dengan kasus bunuh diri, namun jika saudara Gio berkeras ini pembunuhan, untuk dua minggu ke depan saya akan menerapkan ini kasus pembunuhan. Tapi jika sampai dua minggu masih tidak ada bukti-bukti yang menunjukan ini pembunuhan, terpaksa saya harus menghapus kasus pembunuhan menjadi kasus bunuh diri.”

Tidak ada yang perlu aku katakan. Aku sudah terlanjur sakit hati karena dituduh sebagai pembunuh. “Kalo gitu biar gue aja yang menangani kasus ini,” Rabu mengambil seberkas kertas dari tangan kakaknya itu.

“Baiklah kalau begitu,” ujar polisi itu lagi. “Jasad Dania akan diambil beberapa jam lagi karna mobil jenazah RS. Husada masih dipakai oleh pihak rumah sakit tersebut.” Polisi itu membetulkan kerah bajunya lalu memulai langkah panjang sambil mengajak anak buahnya untuk mengikutinya. “Saya tinggal kalau begitu. Telpon saja kalau ada keterangan yang ingin ditambahkan.” Kemudian para polisi itu menghilang di balik lift.

Suryo mengangkat baskom berisi lap dan pembersih kaca yang ada di bawah kakinya. Dia berjalan cepat menuju ke lift, tingkahnya seperti ketakutan akan sesuatu. Dimas dan Boby menepuk pundakku pelan sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam apartemen mereka. Yudit membantu Nek Ida untuk membantunya masuk ke dalam apartemen Nenek itu. Sedangkan Rabu malah meringsek masuk ke dalam apartemen Dania. Aku bergeming, antara ingin ikut masuk bersamanya atau kembali ke apartemenku. Namun keinginanku ingin melihat jasad Mbak Dania sekali lagi lebih besar. Jadi aku cepat-cepat mengikuti Rabu dari belakang badannya.

Bau porselin dan darah sudah tidak menyeruak di udara lagi. Garis polisi berwarna kuning melintang panjang di pintu kamar mandi. Rabu membuka perekat garis kuning tersebut lalu masuk ke dalam kamar mandi. Aku mengikutinya lagi, namun langkahku terhenti di depan pintunya. Jasad Mbak Dania sudah dibaringkan di lantai. Wajahnya lebih mengerikan dari pertama yang kulihat tadi. Kedua matanya sudah terpejam erat. Kedua tangannya tertekuk di atas badannya. Kulitnya sangat pucat dan mulutnya tertutup rapat walaupun air liur masih keluar dari sela-sela bibirnya.

“Gue percaya kalo ini memang pembunuhan,” ujar Rabu tiba-tiba, membuatku kaget.

“Lo percaya?” tanyaku takjub.

Dia menatapku malu-malu. “Ya. Coba lo ke sini bentar,” Aku langsung berjongkok di sebelahnya. “Lo liat pipinya ini,” kata Rabu sambil menunjuk pipi Mbak Dania yang cekung. “Ada bekas guratan jari, tapi nggak keliatan karna udah ditutupin sama bedak. Sebelum ninggalin jasad Dania, pembunuh itu pasti nge-bedakin wajahnya Dania dulu buat ngilangin bekas guratan itu.” Rabu memindahkan tangannya ke bibir Mbak Dania. “Dia meninggal bukan karna luka sayatan yang ada di tangannya, tapi karna kehabisan nafas. Pembunuh ini pasti membekap mulut dan hidung Dania sampe dia kehabisan nafas. Makanya ada bekas guratan jari itu walau nggak terlihat jelas gara-gara udah ditutupi bedak.”

Rabu menengok ke kanan dan ke kiri, untuk melihat keadaan kamar mandi ini. “Semua barang yang kececeran ini pasti salah satu tindakan ngeberontak Dania ke si pembunh. Mungkin pas lo ngedenger ada banyak barang jatuh, itu pas Dania sedang melawan si pembunuh.” Rabu kembali memusatkan matanya ke tangan Mbak Dania. Kemudian dia membuka telengkupan tangan tersebut. “Lo juga bisa ngeliat kalo sayatan yang ada di tangannya ini bukan sayatan orang yang melakukan tindakan bunuh diri. Dia menyayat tangan kirinya menggunakan tangan kanan, tapi lo bisa ngeliat kalo sayatan yang ada di tangan kirinya ini ada kesalahan. Kalo dia nyayat tangan kirinya pakek tangan kanan, pasti luka sayatan yang lebih lebar dimulai dari pergelangan kanannya terus ke pergelangan kirinya. Tapi ini keliatan banget kalo dari kiri ke kanan.”

“Tapi yang masih janggal itu kertas yang isinya: lebih baik gue mati aja itu. Tapi gue yakin kalo ini memang pembunuhan.” Rabu berdiri lalu berjalan berkeliling untuk memperhatikan lebih detail kamar mandi yang super duper berantakan ini. “Kita berdua harus cari semua petunjuk dari hal ini kalo lo mau kasus ini terungkap. Gimana? Lo mau?”

Aku ikut berdiri dan langsung menggapai tangan Rabu, menjabatnya cepat. “Mau,” kataku percaya diri sambil tersenyum kecil. Tiba-tiba wajah Rabu langsung bersemu merah, namun hebatnya dia tidak memalingkan wajahnya menjauh dariku kali ini. Malah dia membalas senyumanku, yang tiba-tiba membuat hatiku seperti dipanah oleh cupid.

***

Sudah empat hari aku dan Rabu masih belum menemukan titik terang dari kasus ini. Bayangan tentang jasad Mbak Dania juga masih melekat dengan segar di kepalaku. Mimpi-mimpi buruk selalu mendatangiku. Aku sudah tidak pernah tidur nyenyak selama empat hari ini. Bahkan ingin makan saja aku tidak nafsu karena bau dari cairan pembersih porselin dan darah masih menempel di sela-sela rongga hidungku, membuatku mual dan pusing.

Suara ketukan di pintu terdengar, membuatku kaget setengah mati. Pasti orang yang datang tersebut adalah Rabu. Hanya dia satu-satunya orang yang lebih suka mengetuk pintu daripada memencet bel. Aku mendesah pelan sebelum bangkit dari kasurku dan berjalan gontai menuju pintu. Aku menyalakan interkom dan berbicara pelan.

“Ini Rabu ya?”

“Iya,” sahutnya bagai dengkuran, khas suaranya.

Aku membuka pintu dan langsung melihat sosok Rabu dalam balutan baju polisinya. Aku memiringkan badanku dan mempersilahkan dia masuk. Suara sepatunya berketuk-ketuk kecil ketika dia membukanya. Punggunya yang lebar terpapar jelas dalam balutan ketat baju polisinya, membuat ototnya yang kencang sangat menakjubkan bentuknya.

“Gue dapet informasi dari salah satu renternir yang ngejer-ngejer Dania,” dia berjalan cepat menuju ke sofaku. Duduk nyaman di sana dan menatapku dengan tatapan menerawang. “Dia udah bayar setengah utangnya sama tuh renternir, tapi bunga dan utangnya yang lainnya belum. Dia punya utang tujuh ratus juta, dengan bunga tiga ratus juga. Total satu miliar.”

Aku ikut duduk bersisian dengan Rabu di sofa. “Banyak banget. Emang Mbak Dania pakek apaan?” tanyaku cepat.

“Dia pakek buat nutupin utangnya ke orang lain. Istilahnya gali lubang tutup lubang.” Rabu menatapku sebentar sebelum melanjutkan, “Informasi lainnya juga, gue denger dari orang terdekat Dania, dia punya hubungan gelap sama seseorang. Tapi dia nggak tau siapa orang itu. Bisa jadi orang itulah yang ngebunuh Dania.”

Aku mengernyit. “Buat apa dia ngebunuh Mbak Dania?”

“Banyak alasan,” ujar Rabu. “Semua manusia punya segudang alasan untuk membunuh seseorang. Tapi sayangnya kita nggak punya bukti dan kita nggak tau orang itu siapa.” Rabu mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tas kerjanya. Membaca kertas itu dengan hati-hati dan menelusuri. Wajahnya yang tegas dan sendu sangat tampan jika sedang memasang raut serius seperti itu daripada saat dia memasang wajah pemalunya.

“Ini memang keluar dari topik pembicaraan kita,” kataku mencoba membuyarkan konsentrasi Rabu. “Kayaknya beberapa hari yang lalu lo masih malu-malu banget sama gue. Tapi sekarang kok lo udah nyaman gitu ya?”

Konsentrasi Rabu langsung buyar, karena tiba-tiba wajahnya bersemu merah dan kertas yang dipegangnnya mengendur. “Lo pernah denger isitilah xenophobia nggak?” tanyanya sambil menurunkan kertas yang dipegangnya.

“Pernah,” aku mengangguk cepat. “Xenophobia itu artinya perasaan benci atau malu terhadap orang asing. Bener nggak?” Rabu mengangguk tanda membenarkan. “Emang lo mengidap xenophobia?” tanyaku sembari menggeser dudukku lebih dekat dengannya.

Rabu mengangkat kepalanya dan menatapku intens. “Iya, gue mengidap xenophobia. Makanya gue suka malu kalo ketemu sama orang asing.” Rabu menggaruk rambutnya dengan raut wajah malu-malu. Dia lalu membuang wajahnya menjauh dari tatapanku. Aku mengangkat tanganku dan memegang dagunya yang dihiasi dengan jenggot yang hampir kembali tumbuh, membuat tanganku tergelitik lembut.

“Bukan lo aja kali yang punya phobia,” kataku saat mata kami kembali bertemu. Semuan merah kembali menjalari wajah dan lehernya. “Lo mau tau nggak apa phobia yang gue punya selama ini? Biar kita impas. Gue tau phobia lo, lo tau phobia gue.”

Dia menguakkan bibirnya menjadi sebuah senyuman. Membuat wajahnya sangat tampan. “Memangnya apa phobia yang lo punya?”

Aku tersenyum kecil. ”Uglypeoplephobia,” tuturku perlahan, membuat keningnya berkerut bingung. “Gue takut deket-deket sama orang jelek. Apalagi orang jelek yang belagu.”

“Memangnya ada uglypeoplephobia?” tanyanya makin bingung. “Lo ngarang ya?”

Tawaku langsung bergemuruh di dadaku. “Iya, gue ngarang. Tapi itu bener kok, gue takut sama orang jelek yang belagu. Mereka itu nyeremin.” Rabu hanya mendengus sambil tersenyum lembut. Dia mengangkat kembali kertas yang dipegangnya, lalu kembali ternggelam ke dalam tulisan yang ada di kertas itu. “Terus, kok lo sekarang udah nggak xenophobia lagi kalo deket gue?”

“Karna kalo udah sering gue ajak ngobrol, jadi gue udah nggak malu lagi,” katanya masih sambil membaca kertas yang dia pegang. “Kalo lo gimana? Nggak takut sama gue karna gue jelek dan belagu?” Dia tersenyum kecil di atas kertas yang sedang dia baca.

Aku kembali tertawa dan ikut membaca tulisan yang sedang dia baca. “Lo nggak jelek kok. Apalagi belagu, kan kita baru ngomongnya sekarang. Jadi gue nggak tau lo belagu apa kagak. Tapi kayaknya orang xenophobia bukan orang yang belagu deh.”

Rabu terkekeh pelan. “Oh, iya, sebelum gue lupa… Selasa minta maaf sama lo karna udah pakek suara kerasnya kemarin sama lo. Dia kecapean makanya ngomong kayak gitu sama lo. Biasanya dia orang yang lembut kok. Nggak suka nuduh sembarangan.”

“Selasa itu siapa?”

“Kakak gue yang polisi kemarin itukan.”

Keningku sontak mengerut. “Nama lo Rabu, nama kakak lo Selasa. Kok kayak nama-nama hari ya?” ujarku penuh tanda tanya, membuat Rabu langsung menatapku cepat. Wajahnya yang biasanya pemalu berubah jenaka saat memasang senyuman lebar seperti senyum Pepsodent. Giginya yang putih terpapar sempurna dia barisan dekat bibirnya.

“Nama saudara-saudara gue memang diambil dari nama-nama hari,” ujar Rabu, dia menaruh kertas yang sedang dibacanya ke dalam tas kerjanya. “Gue lima bersaudara, cowok semua. Kakak gue yang pertama namanya Senin. Dia jadi Nakhoda kapal di samudera Pasifik. Kakak gue yang kedua namanya Selasa, ketua polisi Jakarta. Yang ketiga gue, Rabu, kerja sebagai polisi Indentifikasi dan tindakan lanjut. Yang ke-empat namanya Kamis kerja jadi tentara, sekarang dia tinggal di Jayapura. Yang terakhir namanya Jumat. Dia atlet renang untuk kejuaraan Indonesia.”

“Wahhh… kedua orang tua lo ngidam nama-nama hari ya waktu itu?”

“Kayaknya sih begitu, tapi mau gimana lagi. Namanya juga nama pemberian orang tua, terima-terima ajalah.” Rabu menaikkan kakinya ke atas sofa, melipatnya menjadi silaan. “Gue jadi kangen kedua orang tua gue.” Rabu menerawang sedih. “Papa gue meninggal tiga tahun yang lalu gara-gara penyakit darah tingginya. Sedangkan Ibu gue meninggal satu setengah tahun yang lalu, dia meninggal di dalam tidurnya.”

So sorry Rab,” kataku lembayung. Dia mengangguk-anggukan kepalanya masih dengan mata yang menerawang jauh. “Lo pernah denger nggak kalo orang yang meninggal di dalam tidurnya itu sebenernya dia meninggal di dalam mimpinya.”

“Masa sih?” tanya Rabu, matanya yang tadi menerawang langsung menatapku lembut.

Aku membalas tatapannya dengan senyumanku. “Ya. Gue selalu berharap kalo suatu hari nanti gue lebih baik meninggal dalam tidur aja daripada harus dibunuh, kecelakaan ataupun karna sakit. Meninggal dalam tidur itu lebih nyaman dan lebih… damai.”

“Ya, lo bener.” Rabu tiba-tiba menarik tanganku, menaruhnya di atas lengan kirinya. Hangat lengannya berbaur menjadi satu dengan tanganku yang dingin. “Kalo lo, gimana kehidupan keluarga lo?”

Mataku masih tertuju ke genggaman tangan Rabu saat aku berbicara. “Nggak ada yang spesial. Gue lahir di tengah-tengah keluarga yang menjunjung tinggi yang namanya solidaritas dan kesetiaan. Papa gue kerja di Bank Indonesia. Mama gue punya restoran di beberapa kota di Indonesia.” Saat aku mengangkat kepalaku, mata Rabu dan mataku bertabrakan, memberikanku sensasi menyejukkan. “Keluarga gue juga unik sebenernya. Kalo nama-nama saudara lo menurut nama hari, kalo keluarga gue menurut abjad.” Kusandarkan punggungku di sandaran sofa. “Bukan dari huruf A, tapi dari huruf C. Papa gue awalan namanya C, yaitu Chookiat Hanzi. Dia orang cina tulen. Nikah sama Mama gue yang orang jawa tulen. Awalan nama Mama gue D, yaitu Dessy Adityakundala. Mereka berdua menikah terus punya lima anak.”

“Kakak gue yang pertama dikasih awalan nama E, jadinya nama dia Ebiet Hanzi. Kenapa Ebiet? Karena Mama dan Papa gue ngefans banget sama Ebiet. G Ade waktu itu.” Aku tersenyum kecil ketika mengingat alasan-alasan yang diberikan orang tuaku saat kami bertanya arti nama kami. “Terus kakak gue yang kedua dikasih awalan nama F, jadinya nama dia Finokio Adityakundala. Yang ini lucu banget arti namanya, kenapa? Karena nama Finokio itu di ambil dari salah satu film melegenda yang Papa gue suka, Pinokio. Tapi karna harus sesuai abjad, jadinya namanya Finokio deh, bukan Pinokio. Anak ketiga gue, G. Giorgio Hanzi. Nama Giorgio itu diambil dari salah satu penulis terkenal dari Swiss yang Mama gue idola-in. Nama aslinya sih Giorgio Tsoukalos. Tapi dipermak jadi Giorgio Hanzi.”

Rabu tertawa kecil di sebelahku, tawanya benar-benar bisa mengajakku untuk ikut tertawa bersamanya. “Lanjut… lanjut,” ujarnya antusias.

“Terus adik gue yang ke-empat dikasih awalan nama H, jadinya nama dia Hycinth Adityakundala. Kenapa bisa Hycinth? Karna Hycinth itu nama bunga yang dikasih Papa gue pas ngelamar Mama gue waktu itu. Jadinya Hycinth deh nama adik gue yang ke-empat. Yang terakhir, yang kelima dikasih awalan nama I, nama dia Intan Hanzi. Kenapa Intan? Karna waktu itu Mama gue minta dibeliin intan, tapi Papa gue nggak punya uang. Terus pas Mama gue ngelahirin adik gue yang terakhir ini, Papa gue mutusin buat ngasih namanya Intan. Sebagai ganti intan yang Papa gue nggak bisa kasih ke Mama gue.” Aku mendesah pelan. “Itulah sejarah yang ada di keluarga hidup gue.”

“Kata lo nggak ada yang spesial, tapi sejarah keluarga lo lebih spesial daripada keluarga gue.” Rabu menelengkupkan tanganku ke dalam tangannya. Gesturan lembut kulitnya menyapa kulitku seperti matahari pagi. “Kalo gue boleh tau, warna kesukaan lo apaan?”

Aku tersenyum lebar. Mengeratkan tanganku di bawah telengkupan tangan hangatnya. “Biru. Biru kayak air laut. Kalo lo apa?”

“Orange,” kata Rabu dengan senyuman masygul. “Bukan orange terang sih, tapi orange lembut kayak nyala api. Kayak matahari mau terbenam.” Rabu tiba-tiba bangkit dan melepaskan genggaman tangan kami. “Gue harus balik kerja lagi. Kalo ada apa-apa telpon gue aja ya.”

Aku mengangguk cepat, Rabu berjalan pelan menuju ke pintuku, memakai sepatunya beberapa menit sebelum akhirnya menghilang di balik pintu yang tertutup.

***

Dikejar deadline itu adalah hal yang paling menegangkan yang pernah ada di hidupku. Melihat jasad Mbak Dania tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan deadline yang sedang memburuku saat ini. Ada tiga novel yang harus ku-editori. Ada dua makalah kesehatan yang harus kuperbaiki format penulisannya. Sedangkan kelima tulisan tersebut harus kukumpulkan dua minggu lagi. Ugh! Benar-benar membuatku pusing kepala.

Aku mengeluarkan kunci apartemenku dari dalam kantung kemejaku. Suara gantungan kunci, kunci mobil, kunci apartemen dan kunci kamarku bergemerincing bersamaan saat aku memasukkan kunci apartemen ke lubang kunci. Bunyi klik tegas terdengar dua kali saat aku memutar-mutar kunci itu. Saat aku ingin memegang knop pintu apartemenku, ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menghampiri ulu hatiku. Aku tertegun beberapa saat sebelum akhirnya berani masuk ke dalam apartemenku.

Suasana apartemenku masih seperti terakhir kutinggalkan. Namun seperti ada sesuatu yang janggal di apartemenku ini. Aku berjalan pelan menuju ke dapur dan masih bisa menemukan piring-piring yang belum kucuci setelah aku sarapan tadi pagi. Aku ke kamarku dan masih melihat suasana berantakan seperti tadi pagi. Hanya saja aku seperti merasa ada yang berubah saat ini. Tapi aku tidak tahu apa yang berubah.

Kuhembuskan nafasku lalu berjalan cepat menuju ke sofa, duduk di sana sambil mengeluarkan laptop, untuk menyelesaikan pekerjaanku sebagai editor. Cahaya remang lampu dari meja berkaki lima yang ada di sudut sofalah yang hanya menjadi satu-satunya pusat penerangan. Ketika aku menatap lampu itu lekat-lekat, seperti ada bayangan yang berlari di belakang badanku. Aku terlonjak dan memutar kepalaku, namun hanya melihat tirai yang melambai-lambai karena tertiup angin dari kipas angin yang tidak pernah kumatikan.

Dengan cepat aku berdiri dari dudukanku dan berjalan cepat menuju ke kamar mandi. Aku ingin menghilangkan debu dan kusam yang menyerang wajahku. Kuputar knop pintu kamar mandi dengan sekali dorong, dan saat aku melangkah masuk, badanku juga ikut tersentak. Kakiku seakan-akan mati rasa, jantungku seolah-olah sedang diajak bermain roller coaster saat ini. Suasana kamar mandiku yang biasanya rapi dan terawat, kini berantakan dan sudah tidak bisa kukenali lagi. Semua barang yang kutaruh di atas konter kran air, berceceran ke mana-mana. Shampoo dan soap cair sudah tumpah kemana-mana. Apalagi ditambah dengan bau yang ingin sekali kubuang dari kepalaku, wangi cairan pembersih porselin.

Aku mundur selangkah-demi-selangkah, pergi menjauh dari kamar mandiku. Dengan perasaan kalut dan takut, aku berlari kecil menuju ke pintuku. Menekan tombol unlocked lalu berjalan beberapa langkah menuju ke apartemen Rabu. Kutekan bel apartemennya sampai berpuluh-puluh kali, namun tidak ada sahutan sama sekali. Terus kutekan bel itu sampai akhirnya interkom yang ada di atas tombol bel menyala.

“Ya?” katanya dengan suara mengantuk. “Siapa?”

“Ini gue Rab, Gio” aku berujar cepat dan ketakutan. “Please, biarin gue masuk!”

Dia seperti tersadar ketika mendengar suara ketakutanku, karena tiba-tiba dia langsung menyentakkan pintu apartemennya hingga terbuka. Saat matanya menangkap sosokku yang gemetaran karena ketakutan, dia langsung menaruh kepalaku di pundaknya yang telanjang. Aku menenggelamkan kepalaku di pundaknya dan menicum wangi campuran rempah-rempah dan citrus di kulit telanjangnya itu.

“Kamar mandi gue Rab,” kataku mencoba tenang. “Diberantakin sama seseorang. Gue takutnya, siapa tau orang yang ngebunuh Mbak Dania yang ngelakuin itu.”

Rabu mengelus punggungku dan menjauhkan kepalaku dari pundaknya. Matanya hanya berupa garis panjang nan tegas saat menatapku. “Lo tunggu sini bentar, biar gue periksa kamar lo.” Aku mengangguk pelan, lalu melihat punggunya yang dihiasi otot kencang pergi menjauh dari tatapanku. Suara langkahnya menghilang saat sudah masuk ke dalam apartemenku. Lima menit kemudian dia keluar sambil mengunci apartemenku dan menyerahkan kunci itu padaku.

“Lo nginep di sini aja malem ini.” Rabu menggiringku masuk ke dalam apartemennya. Saat aku sudah berada di sofanya, dia mendudukanku di sana dan menyelimutiku dengan selimut yang tersampir di sandaran sofa. “Lo mau minum apa? Kopi ato teh?”

“Kopi aja,” aku menyahut cepat, merapatkan selimut yang melingkari badanku makin erat.

Rabu berjalan dengan langkah panjang menuju ke dapurnya. Saat dia kembali, di kedua tangannya ada dua cangkir kecil yang menguapkan asap putih. Dia menyodorkanku salah satunya lalu ikut duduk di sebelahku. “Nggak ada kerusakan sama sekali di jendela balkon apartemen lo. Nggak ada tanda-tanda orang masuk dengan paksa di pintu apartemen lo. Dan juga nggak ada ruangan lain yang berantakan  selain kamar mandi lo.”

Aku menyeruput kopiku lalu menatap wajah Rabu dari balik kepulan asap. “Terus ada tanda-tanda yang mencurigakan nggak?”

“Gue curiga dia masuk lewat ventilasi kamar mandi lo. Tapi gue juga masih ragu sih, soalnya ventilasi kamar mandi lo kan dibaut dari dalem kamar mandi. Kalo dia mau masuk lewat sana, pasti nggak bakalan bisa kecuali baut-baut itu dipasang dari luar ventilasi.”

“Kalo gitu dia masuk lewat mana ya?”

“Gue nggak tau, tapi gue bakalan cari tau.” Rabu memajukan badannya lalu membaca kertas-kertas yang ada di atas mejanya. “Lo ke kamar gue aja, tidur di sana. Gue mau kerjain ini dulu.” Suara bergemirisik dari kertas yang dipegang Rabu membuatku mengantuk.

“Oke,” ujarku sembari berdiri dari sofa. Kupasang selimut yang tadi melingkari tubuhku ke tubuhnya yang telanjang. Dia mengangkat kepalanya dari kertas dan tersenyum kecil padaku. Kubalas senyuman itu sebelum akhirnya berjalan cepat menuju ke kamarnya. Suasana kamar Rabu lebih simpel daripada kamarku. Di kamarnya hanya ada dua lemari, yang satu lemari besar dan yang satu lemari kecil. Rak sepatunya bertengger di bawah jendela. Sedangkan rak buku yang dipenuhi buku-buku tebal bertengger di atas ranjangnya.

Baru saja aku ingin membaringkan kepalaku di atas bantal nyamannya, tiba-tiba mataku melihat buku tebal yang sangat kukenal. Buku itu adalah novel pertamaku. Aku mengulurkan tanganku dan membaca sinopsis yang ada di belakang buku itu. Buku pertamaku memang bertemakan gay, apakah Rabu suka dengan tema seperti ini?

“Lo suka novel gue yang ini?” tanyaku di depan pintu kamarnya.

Wajah Rabu langsung berpindah dari kertas ke wajahku. Matanya menatap novel yang sedang kupegang. “Gue udah baca novel lo yang itu sampe lima kali. Gue suka cara lo mengatur kata-kata di novel itu. Dramatis dan memukau.”

Aku menghampiri Rabu di sofa, kembali duduk di sebelahnya dan menaruh novel buatanku di atas pangkuan. “Ini novel G-Themed gue yang pertama. Cuman fiksi sih, tapi pas gue nulis cerita ini… ini salah satu pengalaman hidup gue. 25% memang bener-bener kejadian. Tapi 75% lainnya bukan.” Rabu hanya menganggukan-anggukan kepalanya saat mendengar penuturanku. “Jadi lo bisa nyimpulin kan dari tulisan ini kalo gue itu… gay?”

“Gue tau lo gay,” katanya pelan, mengambil novel yang ada di tanganku. “Gue pernah ngeliat lo lagi berantem sama cowok di depan lift tiga tahun yang lalu.” Aku mengernyitkan wajahku, malu. “Gue baru keluar dari lift waktu itu, terus ngedenger lo teriak ke cowok itu minta putus. Kalo misalnya lo sama dia sahabatan terus minta putus, itu nggak mungkin. Jadi perkiraan gue lo pacaran sama dia.”

Tiga tahun yang lalu aku berpacaran dengan salah satu teman penulisku. Tetapi aku lupa kami putus karena apa waktu itu. “Ahhh…” desahku antara malu dan canggung. “Lo nggak takut kan sama gue karna gue gay?”

Rabu tertawa kecil. “Memangnya kenapa gue harus takut?”

“Lo itu tipe gue tau nggak,” kataku sambil mengedip-ngedipkan mata. Rabu hanya tertawa di sebelahku. “Gue bisa aja perkosa lo tiba-tiba.”

“Oh, ya?” ujarnya menantang. “Emang gue nggak bisa ngelawan gitu kalo lo mau nyoba perkosa gue?” Rabu menaruh kertas yang dipegangnya ke atas meja. Dia menundukan kepalanya untuk menatapku. “Tapi kayaknya gue nggak bakalan ngelawan deh,” dia tersenyum lebar sambil mengangkat-angkat alisnya. “Gue rela kok lo perkosa. Asalkan lo main lembut sama gue, pasti gue bakalan menikmatinya.”

Wajahku langsung panas mendengar ucapannya barusan, Rabu hanya tertawa di sebelahku sambil memegang perutnya yang kotak-kotak itu. “Ntar lo ketagihan kalo gue perkosa.” Aku merebut novel yang dipegangnya lalu mendaratkan novel tebalku itu di atas kepalanya. “Lagian juga lo kan nggak nafsu sama cowok, mana bisa lo menikmati perkosaan gue.”

“Oh, ya?” ujarnya menantang lagi. “Siapa bilang?”

Aku mengerutkan keningku. “Lo gay emang?”

Dia menggeleng. “Gue bukan gay. Gue bukan biseksual. Gue bukan straight.” Rabu menarik kepalaku ke pundaknya, membaringkannya di sana. “Tapi gue manusia.” Dia tersenyum kecil sebelum akhirnya mencium bibirku. Nafasku seakan-akan disumbat kapas saat dia menempelkan bibirnya di bibirku. Bibirnya sangat lembut, tetapi membuat bibirku kegelian. Dia menarik kepalanya menjauh dan berbisik dengan mata terpejam. “Ternyata sensasi nyium orang yang kita suka itu hebat ya rasanya.”

Kujauhkan kepalaku dari kepalanya. “Emang lo suka sama gue?” tanyaku parau, antara masih tidak percaya baru saja dicium Rabu dan tercengang karena aku ingin meminta lebih.

“Aneh ya,” katanya sambil menyandarkan punggungya di sandaran sofa. “Gue nggak pernah se-nyaman ini sama orang lain sebelumnya selain keluarga gue. Xenophobia yang gue idap selalu ngebuat gue gagal buat punya temen atau sahabat. Bahkan buat bicara sama orang lain-pun gue nggak bisa.” Dia menyisir rambutku lembut. “Sedangkan lo, lo bisa buat gue ketawa, lo bisa buat gue tersenyum dan lo bisa buat hati gue jadi harmonis. Itu tandanya gue suka sama lo apa nggak?” dia bertanya dengan kepala terteleng kecil ke arahku.

Aku mengangkat pundakku. “Bisa jadi,” ujarku kemudian. Kuangkat kakiku lalu menaruhnya di atas pahanya. Kudekatkan wajahku ke depan wajahnya dan berbisik di telinganya. “Kenapa kita nggak nyoba buat saling suka?”

Dia tersenyum lebar, yang menandakan kalau tawaranku barusan diterimanya dengan baik.

“Hmmm… lo tau nggak kalo yang tadi itu ciuman pertama gue,” ujarnya malu-malu. Aku hanya tertawa dan menciumnya untuk yang kedua kali.

***

Kasus pembunuhan Mbak Dania akan ditutup dua hari lagi, namun aku dan Rabu belum juga menemukan hal-hal yang menunjukkan kalau ini adalah kasus pembunuhan. Aku membolak-balikkan kertas yang sedang kupegang dan membacanya berkali-kali, namun tidak ada satu kalimatpun yang bisa menyangkut di otakku. Hanya cahaya dari laptop yang menjadi peneranganku untuk membaca kertas yang sedang kupegang ini.

Aku menaruh kertas itu di samping laptopku dan mengangkat tanganku ke atas keyboard untuk menyelesaikan novel-novel yang harus ku-editori. Baru saja aku menghapus beberapa kalimat yang tidak cocok untuk di masuk-kan ke percakapan, tiba-tiba kertas yang ada di sebelahku terbang menjauh. Kertas itu terjatuh di bawah pintu kamar mandiku. Aku mengernyit dan menatap kertas itu lekat-lekat. Bingung kenapa dia bisa terbang. Padahal tidak ada angin yang berhembus. Secuilpun tidak ada.

Baru saja aku ingin bangkit dari kursiku, tiba-tiba pintu kamar mandiku berderit terbuka, hembusan angin yang membuat bulu kudukku meremang. Cahaya lampu kamar mandiku tiba-tiba redup, wajahku hanya diterangi oleh cahaya dari laptop. Pintu itu kembali berderit, perlahan tapi pasti, pintu kamar mandiku akhirnya terbuka dengan lebar. Cahaya berwarna putih sekonyong-konyong menyilaukan mataku, membuat retina mataku menyempit.

Selama tiga detik yang panjang, cahaya itu terus menerangi mataku. Kemudian cahaya itu meredup perlahan, menampakan bayangan dengan pakaian putih panjang yang polos. Aku mengangkat kepalaku perlahan dan melihat sebuah sosok dengan mata melotot dan mulut terkuak lebar. Rambutnya yang tergerai di pundaknya mengeluarkan darah dan menetes perlahan ke lantai kamar mandiku. Bola matanya tiba-tiba terjatuh dari dalam matanya, menguar jatuh ke lantai dan menggelinding ke bawah kakiku. Luka-luka sayatan yang ada di tangannya terus meneteskan darah berwarna hitam busuk yang ditemani oleh belatung kecil gemuk berwarna putih legam.

Suaranya hanya berupa erangan saat berteriak ke gendang telingaku. “TOLONG!” Lalu sosok itu menerjangku dengan kedua tangannya yang tersampir ke leherku.

Aku terjengkang dan membuka mataku dengan gelagapan. Mengais-ngais selimut yang menutupi badan telanjangku. Rabu yang berbaring di sebelahku menatap wajahku dengan tatapan was-was. “Lo kenapa Gi?” tanyanya sambil menarik kepalaku ke lehernya.

Nafasku tak beraturan saat berbicara. “Gue mimpi buruk,” tanganku tertekuk di badan Rabu, memberikanku kenyamanan yang melipur. “Mbak Dania jadi kuntilanak. Jadi manusia aja dia serem Rab, apalagi pas dia jadi kuntilanak tadi. Serem banget. Ihh…”

Rabu mengangkat badanku hingga aku berubah ke posisi duduk. Mengelus pundakku untuk menenangkanku, saat aku sudah benar-benar tenang, dia berdiri dari tempat tidur dan mengenakan celananya. Dia membuka pintu kamarnya dan cahaya dari ruang tengah langsung masuk ke dalam kamarnya ini. “Gue mau lanjut kerja dulu,” ujarnya sambil melangkah menjauh. “Lo kalo mau tidur lagi, tidur aja.”

Aku menghembuskan nafas dan memijit pelipisku pelan, mencoba menghilangkan bayangan seram yang tadi berkecamuk di dalam kepalaku. Aku membuka mataku dan melihat Rabu yang sedang membaca kertas-kertas yang ada di tangannya dengan raut serius. Saat aku berdeham lumayan kencang, dia melirik ke arahku dengan raut kuatir. Aku tersenyum ke arahnya dan menggeleng menandakan tidak ada apa-apa.

Aku tidak tahu kalau membuat seseorang nyaman bisa membuat dia menyukaiku. Aku belum pernah membuat orang nyaman sebelumnya, tetapi orang-orang itulah yang menyamankanku. Sedangkan kalau aku dengan Rabu, kami bisa saling mengimbangi. Aku membuatnya nyaman, dia membuatku tenang. Senyumannya yang tak pernah kulihat tahun-demi-tahun aku bertetangga dengannya, kini bisa setiap hari bisa kulihat. Aku tidak tahu apa yang datang ke hatiku akhir-akhir ini, namun aku yakin itu adalah hal yang baik.

Aku mengenakan celanaku dengan gerakan super cepat. Mengambil selimut untuk menutupi badanku dan melangkahkan kakiku untuk mendatangi Rabu yang sedang mengerjakan pekerjaannya. Kepalanya sontak menoleh saat aku sudah duduk di sebelahnya. “Lo nggak capek apa kerja terus?” tanyaku sambil mengambil kertas yang ada di tangannya.

“Capek. Tapi gue bukan orang yang suka nunda-nunda pekerjaan. Posisi gue sebagai polisi Indentifikasi dan tindak lanjut memang ribet. Setiap hari ada aja kasus yang harus gue tangani.” Rabu merebut kembali kertas yang ada di tanganku.

“Oke-oke.” Aku berdiri lalu berjalan cepat ke dapurnya. Kubuka kulkasnya dan mengambil sandwich dingin yang kubeli sore tadi. Kubuka plastik pembungkus sandwich itu dan berjalan kembali ke sisi Rabu.  “Makan nih,” ujarku sembari menyodorkan sandwich itu ke hadapannya. Dia mengangkat kepalanya dan menggeleng. “Lo belum makan malem. Terakhir lo makan siang tadi.” Aku menyingkirkan kertas yang dipegangnya. “Stop kerja bentar, muka lo kecapean banget gitu. Mendingan lo makan ini terus pergi tidur.”

Rabu mengambil sandwich dari tanganku lalu memakannya dengan perlahan. Aku mengambil novel yang ada di pinggir sofa. Kubuka novel itu dan membaca tulisanku yang sudah diperbaiki oleh Retno, editorku. “Hobi lo pasti baca buku?” tutur Rabu dengan mulut yang dipenuhi sandwich.

Kuangkat kepalaku dari novel dan mengangguk. “Keluarga gue suka banget yang namanya baca buku. Jadi hal ini udah jadi kebiasaan gue. Lagian kalo gue nggak hobi baca buku, gue nggak bakalan bisa jadi penulis kan?”

“Nggak semua penulis harus hobi baca buku Gi.”

Aku mendengus. “Iya sih. Tapi pastinya mereka suka baca kan?” Rabu mengangguk lamban. “Di keluarga lo siapa yang suka baca buku? Kalo di keluarga gue hampir semuanya. Malah setiap hari minggu kita ada sesi ngumpul sambil ngebaca novel pilihan Mama gue.”

“Oh, ya? Terus siapa yang suka ngebacainnya?” Rabu menatapku sambil terus memakan sandwichnya. “Pasti lo-kan?”

Aku menggeleng. “Bukan. Yang suka ngebacain si Hycinth. Adik gue satu itu punya suara yang bener-bener bisa buat orang masuk ke dalem ceritanya.” Aku membuka novelku kembali lalu membuka bab satu. “Kalo gue yang ngebacain mereka, yang ada mereka malah ketiduran. Karena kata Papa gue, suara gue itu mirip kayak lagu nina bobo.”

Rabu tertawa kecil. “Masa sih?”

Aku hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaannya. “Karna lo lagi makan, gimana kalo gue ngebacain lo novel gue ini?” tanyaku kilat. Rabu menganggukkan kepalanya sekali dan mempersilahkanku. Kupicingkan mataku lalu mulai membaca. Aku menyelesaikan bab satu hanya dalam waktu lima menit, saat aku menurunkan novelku dari genggamanku, aku bisa mendengar dengkuran pelan dari hidung Rabu. Aku menoleh ke arahnya dan melihat dia sudah tertidur dengan pulas di sampingku. Kuambil piring yang ada di pangkuannya, menaruh piring itu di atas meja lalu berbisik pelan ke telinganya. “Apa gue bilang, gue selalu berhasil kan buat orang tidur kalo gue yang ngebaca novel.”

Bisikanku hanya dibalas dengan dengkuran damai nan panjang dari hidung Rabu. Aku merapatkan badanku ke dekatnya dan menyelubungi badan kami berdua dengan selimut yang kubawa dari kamar tadi. Mataku terpejam saat tangan Rabu tiba-tiba terjatuh di atas tanganku. Malam itu, tidak ada satu mimpi buruk-pun yang menghampiri tidurku.

***

Aku bangun dengan kepala yang bersandar di bantalan sofa. Rabu sudah tidak ada di sampingku lagi. Aku menguap kecil dan mengucek mataku pelan. Suara dentingan sendok terdengar dari arah dapur. Mataku menangkap sosok Rabu yang sedang asyik memasak sesuatu di depan kompornya. Dia menoleh ke arahku saat mendengarku berdeham langsam. Dia tersenyum kecil sambil berjalan mendekat ke arahku.

Dia menundukkan kepalanya untuk menciumku, namun aku langsung cepat-cepat menutup mulutku dengan tangan. “Mulut gue bau, gue belum sikat gigi.”

Rabu terkekeh dan membuka dekapan tanganku. Dia kembali menunduk dan mencium bibirku selama beberapa detik. Dia melepaskan ciuman dengan lembut. “Nggak bau kok,” ujarnya dengan dihiasi senyuman, “malah seger rasanya.”

Aku menjitak kepalanya, bercanda. “Emang lo kira bibir gue mint apa bisa buat seger.”

Tawa Rabu langsung masuk ke dalam telingaku. “Gue lagi masak mie instan, lo suka mie nggak?” Rabu membantuku berdiri dan mengiringku ke meja makan.

“Gue everythingvore kok. Manusia pemakan segalanya.” Wangi mie instan yang ada di atas meja membuat perutku tiba-tiba berbunyi memalukan.

Dalam beberapa menit, kami makan dalam diam. Kemudian saat suapan terakhir masuk ke dalam mulutku, tiba-tiba Rabu bertanya cepat ke arahku. “Gi, garis panjang kayak bekas luka yang ada di sudut kanan mata lo itu, kalo boleh gue tau itu kenapa ya?”

Reflek aku memegang garis melintang panjang yang ada di sudut kanan mataku. “Bekas gesekan cincin.” Rabu mengerutkan keningnya bingung. “Iya, gue dulu ditonjok sama orang. Cincin yang dia pakek kena pelipis mata gue. Makanya ninggalin jejak bekas luka ini.”

“Emang siapa orang yang nonjok lo?” Suara Rabu antara marah dan penasaran.

Aku tergelak dan menopangkan daguku di atas tangan. “Gue ceritain deh ya,” aku menarik nafas panjang sebelum memulai. “Dua tahun yang lalu gue ketemu sama salah satu mantan gue di dalem lift apartemen ini. Namnya Evan, mantan gue yang paling gue seselin kenapa gue putusin.” Rabu menatapku dengan tatapan serius. “Gue nyesel putusin dia karna gue ngebentak-bentak dia waktu pas dia ngasih tau gue kalo dia udah coming out ke keluarganya dan dia nyuruh gue buat ketemu sama keluarganya. Tapi gue belum siap waktu itu karna karir gue sebagai model baru aja naik daun. Gue mutusin dia secara sepihak waktu itu. Gue nyesel kenapa harus ngebentak dia, padahal dia nggak salah.” Aku mengangkat tanganku dan menunjuk garis melintang yang ada di sudut mata kananku. “Bekas luka ini gue dapet dari pacarnya dia yang sekarang. Cowok itu kesel sama gue yang udah ngebentak-bentak pacarnya pas gue putusin. Tapi habis dia nonjok gue, dia minta maaf dan bilang makasih, karna kalo nggak begitu, mungkin dia nggak bakalan pernah pacaran sama si Evan.”

Wajah Rabu mengerut tidak suka. “Tapi dia kan nggak punya hak buat nonjok lo. Terus kenapa dia nonjok-nonjok lo sembarangan?”

“Gue ngerti kok perasaan cowoknya Evan waktu itu. Makanya gue nggak permasalahin lagi tonjokan dia waktu itu ke muka gue. Lagian, sekarang dia udah jadi temen gue kok. Nama pacarnya Evan itu Luk. Sahabatnya Luk itu anak yang punya apartemen ini.”

“Dev, maksud lo?”

“Ya, cowok ganteng itu.” Pertama kali aku melihat wajah anak yang punya apartemen ini, aku langsung tertegun tidak percaya. Sumpah, wajahnya dia itu mirip sekali seperti wajah dewa-dewa tampan Yunani. Apalagi tatapan matanya yang sangat lugu itu. Ck. Selama aku hidup di dunia, baru dialah orang Indonesia yang paling tampan yang pernah kulihat.

Rabu kemudian berdiri dan mengambil piring bekas mie instanku. Bisep Rabu bertonjolan saat mengangkat piring kotorku, keringat yang ada di lehernya mengalir pelan menuju ke salah satu puting bundar berwarna kecokelatan yang puncaknya menantang minta disentuh, dan rambut-rambut halus di sekitar pusar yang seolah memberi petunjuk tentang ‘berlian panjang’ yang tersembunyi di balik celana karet berbahan jersey yang dipakai oleh Rabu. Aku menegak air liurku dengan susah payah melihat ke-seksiannya.

“Lo udah mandi belum Rab?” tanyaku sambil berdiri lalu mengikutinya dari belakang.

“Sudah,” katanya tanpa berbalik. “Oh, iya,” ujar Rabu cepat, “gue nggak tau kalo ternyata ventilasi udara juga ada di bawah tempat tidur. Tadi pas gue habis selesai mandi, jam tangan gue jatuh ke bawah ranjang, terus pas mau gue ambil, nggak taunya ada ventilasi juga di situ.”

Aku mengernyitkan wajahku. “Mungkin biar kotoran yang ada di bawah ranjang kesedot masuk ke dalam ventilasi.”

“Mungkin,” kata Rabu sambil mencuci piring, aku menyandarkan bokongku di konternya. “Tapi yang buat gue makin bingung itu, ventilasi gue kok kebuka ya. Padahal baut-bautnya kepasang dengan sempurna di setiap sudut penutup ventilasi itu lho.”

“Yah… siapa tau itu cuman gambar baut aja. Kan sekarang banyak orang yang bisa buat penutup ventilasi dengan berbagai gaya.” Aku dan Rabu tiba-tiba tersentak. Mata kami berpandangan, seakan-akan pikiran yang sedang berkecamuk di dalam kepala kami berbaur menjadi satu.

“Cuman gambar ya?” ucapnya bagai dengkuran. Dia mencuci tangannya yang dipenuhi busa lalu mematikan kran air. “Ikut gue ke apartemen lo Gi,” katanya cepat. Kakinya yang panjang langsung menghampiri pintu. Diambilnya jaket yang tersampir di samping pintu lalu dia kenakan. Aku masih hanya mengekor di belakangnya saat dia membuka pintu apartemenku.

Suasana apartemenku masih sama saja. Tidak ada yang berubah sama sekali. Aku kembali ke apartemenku sekitar lima hari yang lalu, untuk mengambil laptop, baju-celana, barang-barang yang kubutuhkan karena aku tinggal dengan Rabu semenjak insiden kamar mandiku itu. Kami berdua dengan luwes masuk ke kamar mandiku yang masih berantakan. Kepala kami berdua sontak menatap ventilasi yang berada di atas kloset. Tanpa pikir panjang, Rabu langsung naik ke atas klosetku dan berdiri di sana, tangannya yang kokoh langsung mendorong penutup ventilasi bergerigi itu dengan hati-hati. Betapa terkejutnya jantungku saat ventilasi itu langsung terbuka saat Rabu baru memegangnya.

“Lo bener Gi,” ucapnya dengan nada getir. “Ini memang cuman gambar baut aja. Ventilasi ini merekat karna dipasang lem. Tapi karna ventilasi lo udah pernah dibuka, jadi lemnya udah nggak terlalu lengket lagi.”

“Berarti pembunuh itu masuk lewat ventilasi kamar mandi gue, terus dia ngacak-ngacak kamar mandi gue ini?” Rabu mengangguk.

“Tapi, hanya orang yang badannya kecil aja yang bisa masuk ke ventilasi ini.” Rabu turun dari kloset dan memandang ventilasiku dengan mata menyipit. “Yang punya badan kecil cuman lo, Dimas, Nek Ida, Suryo dan Yudit.” Rabu berkacak pinggang, wajahnya langsung berubah serius. “Gue bakalan cari tau tentang biografi Dimas, Nek Ida, Suryo dan Yudit di kantor polisi hari ini. Siapa tau ada yang bisa dijadiin petunjuk.”

Aku menaruh penutup ventilasi bergerigi itu di atas kloset. “Gue yakin bukan Dimas dan Nek Ida pelakunya. Gue curiga sama Suryo. Karna cuman dia yang alibinya yang nggak terlalu kuat. Bisa aja pas dia habis bunuh Mbak Dania hari itu, terus dia langsung lari ke kaca pojok lift terus dia pura-pura lagi nge-bersihinnya pas lo keluar dari lift.”

“Bisa jadi,” kata Rabu. “Tapi kita nggak bisa nuduh sembarangan. Hari ini biar gue cek dulu biografi orang-orang itu di kantor polisi.”

Hanya anggukan yang kujadikan sebagai jawaban.

***

“Gimana Rab? Udah ketemu petunjuk?” tanyaku saat kami bertemu di depan apartemen Mbak Dania pada malam harinya.

“Sudah,” ujarnya pelan. “Dan gue udah tau siapa pembunuhnya.”

Aku tersentak kaku. “Siapa Rab?”

“Bentar dulu, lo belum saatnya tau. Ada satu hal lagi yang harus kita lakuin sebelum gue ngasih tau siapa pembunuhnya.” Rabu mengeluarkan kunci apartemen dari saku celananya. “Ini kunci apartemen Dania, tapi kita ke apartemen Nek Ida dulu sebentar sebelum masuk ke apartemennya Dania.”

Aku mengernyit bingung, tapi tidak membantah perkataannya. “Kita mau ngapain di apartemen Nek Ida?” tanyaku saat Rabu memencet bel apartemen Nenek tua itu.

“Untuk mastiin sesuatu,” bisik Rabu. “Lo ajak dia ngomong ya, bilang kita mau nemenin dia nonton TV. Gue malu kalo mau memulai percakapan sama Nek Ida.”

Kuanggukkan kepalaku saat pintu apartemen Nek Ida terbuka. Nenek itu menatapku dan Rabu dengan pandangan penuh tanya. Tetapi suaranya sopan saat menyapa. “Halo, Nak Gio dan Nak…” dia menatap Rabu dengan mata menyipit kecil.

“Rabu,” ujar Rabu malu-malu, sembari menundukkan kepalanya.

Nek Ida mengangguk dan mengalihkan tatapan kerutannya padaku. “Ada apa ya Nak Gio?” tanyanya dengan suara parau.

“Gini nek, Gio sama Rabu mau ikut nonton bareng sama Nek Ida. TV kami rusak, padahal ada sinetron Cinta Andystar kan hari ini?” aku mencoba memasang wajah seserius mungkin agar Nek Ida mempercayai ucapanku barusan.

Raut wajah Nek Ida langsung bersemangat. “Iya, Nak Gio, hari ini episode terakhirnya. Ihhh, nenek suka banget tau nggak sama sinetron itu. Kalo gitu, ayo masuk-masuk.” Nek Ida membuka pintu apartemennya selebar mungkin, mempersilahkanku dan Rabu untuk masuk.

Setelah berada di dalam kamar Nek Ida yang sumpek dan dipenuhi dengan kucing-kucing peliharaannya, Rabu langsung memasang wajah men-observasi. Matanya tertunduk untuk melihat ke bawah ranjang Nek Ida. Aku dan Nek Ida berpura-pura membicarakan sinetron yang bahkan sinetron ini kudengar dari Mamaku. Dua hari yang lalu Mamaku meminta dicarikan kaset DVD full movie sinetron Cinta Andystar yang sampai beratus-ratus episode tersebut ini.

Aku tidak tahu bagaimana sinetronnya, tapi Ibu-ibu dan Nenek-nenek sepertinya sangat menggemarinya. Apalagi sinetron ini dibintangi oleh aktor tampan yang bernama Rendi Febrian, salah satu temanku saat di kelas model dulu.

Nek Ida berjalan cepat menuju ke kursi goyang yang berada di depan TV nya. Aku dan Rabu disuruh duduk di sudut kasurnya yang tidak empuk sama sekali. Suara jinggle iklan Pop Mie terdengar saat aku dan Rabu baru saja duduk di sisi kasur. Mataku melihat wajah Rabu yang masih menatap kamar Nek Ida dengan tatapan super serius.

“Lo keluar bentar deh Gi,” ucap Rabu sembari mengeluarkan telpon genggamnya dari dalam saku kemejanya. “Setengah menit aja, terus lo balik lagi sambil ngetuk pintu kamarnya Nek Ida ya.” Rabu tiba-tiba menempelkan telponnya ke telinganya, berbicara cepat ke orang yang ada jadi lawan bicaranya.

Aku mengangguk dan langsung mengendap-ngendap keluar dari dalam kamar Nek Ida. Nenek itu ternyata masih asyik menatap TV saat aku sudah berada di depan pintu kamarnya. Rabu masih berbicara cepat ke orang yang ditelponnya dengan suara yang sedikit agak nyaring. Setelah setengah menitku sudah berlalu, aku langsung mengetuk pintu kamar Nek Ida. Reaksi yang timbul dari Nek Ida adalah kekagetannya saat mendapati aku ternyata ada di depan pintu kamarnya.

“Lho, kok Nak Gio ada di situ?” tanya Nek Ida bingung. “Kayaknya tadi Nak Gio lagi ngomong deh sama Nak… aduh Nenek lupa namanya.” Nek Ida menatap Rabu sejenak.

“Rabu,” ucap Rabu malu-malu, tetapi kini bibirnya sudah dihiasi senyuman.

“Iya, sama Nak Rabu.”

Rabu mencoba mengangkat kepalanya, namun malah kembali tertunduk. “Saya lagi telponan tadi Nek, bukan lagi ngomong sama Gio.”

Nek Ida hanya mengangguk-angguk sambil ber-oh panjang.

“Kalo gitu, kita keluar bentar dulu Nek ya,” ucap Rabu masih menundukkan kepalanya, wajahnya bersemu merah karena malu. “Saya sama Gio mau pergi beli makan dulu.”

Sekali lagi Nek Ida hanya mengangguk.

Kemudian Rabu bangkit dan berjalan pelan ke arahku. Dia menarik tanganku lalu mengajakku keluar dari apartemen Nek Ida. “Bener dugaan gue,” ujarnya mantap dan ceria.

“Apanya yang bener?” tanyaku bingung. Rabu membuka apartemen Mbak Dania dengan kecepatan yang luar biasa.

“Gue jelasin di dalem apartemen Dania aja,” ujarnya sambil menarik tanganku untuk membawaku masuk ke apartemen Mbak Dania yang remang-remang. Bulu kudukku langsung berdiri kembali karena ketakutan. Rabu menutup pintu lalu mengajakku untuk ikut ke kamar mandi Mbak Dania yang masih berbau tidak sedap.

“Sekarang kita udah di dalem, jelasin ke gue apa maksud dari semuanya?”

Rabu berpaling ke arahku dan menyalakan lampu kamar mandi. “Pembunuhnya Yudit.”

Aku tersontak mundur karena kaget. Yudit, OB yang selalu membersihkan kamar Nek Ida itu. OB yang kutahu orang baik-baik dan tidak banyak bicara. “Nggak mungkin Yudit. Dia juga punya alibi yang kuatkan waktu itu. Dia lagi sama Nek Ida.”

“Denger Gi,” ujar Rabu cepat, “gue tadi baca biografi Yudit di kantor polisi, dan ternyata dia itu ketua perusahaan kertas yang ada di Jakarta.” Aku kembali terkejut mendengar ini. “Dania itu adalah kekasih gelap dari Yudit. Gue tau ini pas gue tanya hal ini ke asistennya Yudit lewat telpon tadi sore.” Rabu berjalan berkeliling melihat kamar mandi bau ini. “Dan kenapa gue yakin dia pembunuhnya, karna memang dialah orang yang ngelakuin hal itu. Pagi hari pas dia dateng ke kamar Nek Ida buat bersih-bersih, dia nyalain mesin penghisap debukan? Nah, Nek Ida itu orang yang udah tua. Orang yang suka berhalusinasi makanya anak-anaknya pada nggak ada yang betah ngurusin dia.”

Rabu mengeluarkan sebuah kertas dari dalam kantong celananya. “Ventilasi udara Nek Ida dan Dania yang ada di bawah tempat tidur saling terhubung. Jadi gue yakin kalo Yudit masuk lewat ventilasi itu. Tentu saja Nek Ida nggak sadar kalau Yudit menghilang, karna Yudit udah nyalain mesin penghisap debu, jadi Nek Ida kira Yudit memang lagi bersih-bersih. Kayak tadi, pas dia ngira lo lagi ngomong sama gue, padahal lo pergi keluar dari kamarnya. Nek Ida itu mengidap halusinasi suara, jadi dia selalu berhalusinasi kalo ada suara-suara yang ganggu kepalanya.” Rabu memperlihatkanku sebuah kertas yang berisi riwayat penyakit Nek Ida.

“Pas Yudit udah masuk ke dalam kamar Dania, dia rencananya mau ngedekep mulut cewek itu pakek bantal, tapi ternyata Dania lagi melakukan seks dengan Suryo.” Aku tersentak. “Ya, itulah alasannya mengapa Suryo kaget banget pas tau Dania meninggal. Gue tau ini karna dia cerita ke sahabat OB nya yang adalah keponakan kakak gue.” Rabu menatapku dengan mata tajam, ingin memastikan aku masih mendengarkan apa tidak. “Pas Dania dan Suryo udah selesai melakukan tindakan itu, Suryo ngacir keluar, sedangkan Dania pergi ke kamar mandi. Dania lupa ngunci pintu, makanya lo bisa masuk dengan mudahnya ke apartemennya waktu itu.” Rabu mengambil botol pembersih porselin yang ada di bawah kakinya. “Yudit masih nunggu di dalem ventilasi sampai akhirnya Dania pergi ke kamar mandi.”

“Kemudian dia keluar dari ventilasi dan cepet-cepet pergi ke kamar mandi buat melakukan aksi pembunuhannya ke Dania. Nah, Dania yang sedang membelakangi pintu atau mungkin lengah, tiba-tiba disambar sama Yudit. OB itu terus membekap mulut dan hidung Dania sampai cewek itu kehabisan nafas, tapi Dania masih ngelawan makanya benda yang ada di kamar mandinya ini berantakan. Sayangnya usahanya gagal karna dia akhirnya bener-bener kehabisan nafas dan meninggal. Terus Yudit melakukan semua tindakan untuk menutupi jejaknya itu. Dia sayat tangan Dania seakan-akan itu bunuh diri. Dibedakinya wajah Dania agar gestur jarinya nggak keliatan. Kemudian, pas darah Dania udah kececeran di lantai, jejak sepatunya tertempel di lantai, makanya dia nendang cairan porselin ini biar isinya tumpah ke mana-mana dan ngilangin jejaknya dia. Dia ngelap alas sepatunya pasti pakek handuk Dania sebelum akhirnya dia buang handuk itu ke tengah-tengah kubangan darah.”

Aku mengangguk kecil lalu melihat botol pembersih porselin yang peyok tersebut. “Tapi, pas Yudit mau kabur lewat ventilasi lagi tiba-tiba bunyi bel dan ketukan di pintu kedengeran. Gue yakin dia sembunyi di balik tirai yang ada di jendela balkon. Nah, pas lo masuk dan kaget ngeliat jasad Dania, dia langsung lari dari belakang badan lo. Untuk beberapa menit gue yakin dia sembunyi di kolong tempat tidur sebelum akhirnya lo keluar dari apartemen Dania dan teriak-teriak histeris. Pas Dimas, Boby dan gue masuk, gue yakin Yudit udah masuk lagi ke lubang ventilasi buat kabur dan pura-pura ngebersihin kamar Nek Ida.”

Kepalaku seakan-akan mendapatkan vertigo saat ini. “Tapi… tulisan yang ditinggalin Mbak Dania waktu itu gimana?”

“Bisa jadi itu akal-akalannya Yudit aja.” Rabu merogoh saku belakang celananya lalu mengeluarkan semacam benda berwarna ungu dari dalamnya. “Gue yakin kalo sidik jari Yudit tertinggal di ventilasi. Sidik jarinya dia memang nggak ada di cutter yang dipegang sama Dania karna udah terkontaminasi sama darah dan air. Tapi gue yakin kalo sidik jarinya pasti ada tertinggal di ventilasi udara itu.” Rabu menyalakan benda berwarna ungu itu di tangannya. “Alat pendeteksi sidik jari ini berfungsi, lo tunggu disini bentar. Gue mau ngeliat ventilasinya dulu.”

“Bentar Rab,” tahanku cepat sebelum Rabu keluar dari sini. “Gue masih bingung, terus kenapa Yudit ngacak-ngacakin kamar mandi gue?”

Rabu tersenyum kecil. “Dia marah sama lo karna udah buat kasus ini jadi kasus pembunuhan. Dia takut kalo ntar dia ketahuan, makanya dia pengen buat lo ketakutan juga.”

Aku mendesah masam, kemudian memperbolehkan Rabu untuk mendatangi kamar Mbak Dania. Walaupun sebenarnya aku takut dengan kamar mandi ini, karena seperti ada seseorang yang sedang menatapku, namun aku terus memberitahu diriku sendiri kalau tidak ada apa-apa di sini. Aku terus berkutat dengan perkataan tidak ada apa-apa sampai aku mendengar suara benturan keras yang mengerikan.

Suara itu berasal dari kamar Mbak Dania, dengan langkah hati-hati aku berjalan cepat menghampiri kamar tersebut. Jantungku mencelos saat sudah berada di dalam kamar Mbak Dania. Rabu tengkurap jatuh di lantai kamar tidur itu. Darah yang mengucur dari dahi sebelah kanannya membasahi seluruh wajahnya. Dengan kalap aku langsung menghampirinya dan menutup luka itu dengan tanganku. Baru saja aku ingin beranjak berdiri untuk meminta pertolongan, tiba-tiba rambutku dijambak oleh seseorang dari belakang.

Rambutku seperti ingin dicabut dengan paksa dari kulit kepala, rasa nyeri menjalari setiap senti kulit kepalaku dan menjalar ke dalam otakku. Orang yang menjambakku menarik kepalaku hingga ke daun pintu lalu membenturkan keningku di sana. Rasa pusing langsung menyerang kepalaku. Mataku berkunang-kunang saat kubuka. Kemudian sebuah tinjuan mendarat di hidungku, membuat darah segar mengucur dari sana. Aku merintih kesakitan dalam diam.

“Dari awal memang lo suka nyari masalah!” ujar suara itu bengis. Kubuka mata kiriku dengan perlahan dan membiaskannya beberapa kali. Sosok orang yang biasanya dalam balutan baju OB kini sedang menatapku dengan tatapan kesumat. “Kenapa lo nggak bilang aja waktu itu kalo ini kasus bunuh diri, bukan kasus pembunuhan!” pekiknya tertahan sambil menindih perutku dengan badannya. Erangan tersedak tercekat di tenggorokanku.

“Lo… ke-kenap-a bun-uh Mb-a-ak Dani-a?” tanyaku di sela-sela erangan tertahanku.

Yudit menepis tanganku lalu menginjaknya. “Dia maksa gue buat bayarin utangnya dia yang satu miliar itu,” ucap Yudit kesal. “Tapi udah gue bilang berkali-kali sama dia kalo gue nggak punya uang.” Yudit membenturkan kepalaku sekali lagi ke lantai. Membuatku langsung ling-lung. “Terus dia ngancem gue, kalo sampe tiga bulan gue nggak nyerahin duit satu miliar ke dia, dia bakalan ngebongkar hubungan kami ke istri gue. Sedangkan selama ini yang menghidupi gue adalah perusahaan istri gue itu.”

Tangan Yudit tersampir di leherku, menekan jakunku hingga aku tersedak nafasku sendiri. “Yang dibilang sama polisi itu memang bener adanya,” katanya sambil menunjuk Rabu yang masih pingsan. “Gue memang ngelakuin itu semua. Tapi rencana sempurna gue harus berantakan pas lo bilang ini pembunuhan.” Yudit makin menekankan tangannya di jakunku. “Tadi pagi, gue lagi menyelinap di atas ventilasi kamar mandi lo, dan nggak sengaja ngedenger obrolan yang lo bincangin sama polisi itu. Mau nyari tau biografi gue dan yang lainnya kan?” Yudit menginjak tangan kiriku dengan kakinya. “Makanya pas lo tadi berdua masuk ke dalem apartemen ini, gue juga ikut nyelonong masuk terus sembunyi di balik sofa. Pas gue liat polisi itu masuk ke kamar, gue pukul dia pakek tongkat baseball yang gue bawa ke mana-mana dari tadi.”

“Kertas yang isinya tulisan mau bunuh diri itu memang tulisan gue. Tulisan Dania pelacur itu memang sama kayak gue, jadinya bukan perihal sulit buat nulis surat ecek-ecek kayak begitu.” Yudit mengangkat tangan kanannya lalu mengeluarkan sebuah pisau dari dalam kantung jaketnya. “Gue masuk ke kamar mandi lo juga memang buat nakut-nakutin lo. Biar lo nggak bisa konsentrasi untuk ngurus kasus ini.”

“Sayangnya gue ma-mas-masih bi-bis-bisa kon-kon-sentra-si kan?” ujarku mulai kehabisan nafas. Yudit mengerang benci lalu menekankan tangannya lebih keras ke jakunku. “Kalo lo bun-bunu-h gu-gue sa-sam-sama Rabu, tindakan ini bakal-an ke-ketahu-an po-po-lisi da-dan lo pas-pasti ke-ket-angkep.”

Yudit tertawa mengejek. “Gue bisa buat ini semacam perkelahian antara lo dan polisi itu, jadi istilahnya kayak kalian berdua lagi berantem terus saling bunuh.” Yudit menudingkan pisau yang dipegangnya ke depan wajahku. “Lagian juga, gue bisa pergi dengan aman dari apartemen ini, semua ventilasi yang ada di apartemen ini udah gue pelajari semua selama gue pura-pura jadi OB di sini.” Yudit mengangkat tinggi pisaunya. “Ventilasi kamar mandi Dania langsung menanjak naik ke lantai atas, tepat pas di kantor OB gue. Dan ada Suryo yang bisa bantu gue jadi saksi kalo gue ada di kantor OB sama dia. Suryo-kan punya keterbelakangan mental. Meskipun nggak parah-parah amat, dia nurut aja kalo disuruh. Makanya dia mau aja diajak ngewek sama Dania waktu itu.”

Tamat sudah riwayatku. Aku menatap nanar sekali lagi tampang bengis Yudit sebelum akhirnya cowok itu mengayunkan pisau yang dipegangnya untuk menusuk leherku. Aku cepat-cepat memejamkan mataku, berharap kalau mati dibunuh lebih baik daripada mati di dalam tidur. Namun bunyi benturan yang memekakkan telinga langsung terdengar tatkala aku sudah bersiap mati. Kubuka mataku cepat dan melihat Yudit berbaring tak jauh dariku dengan kepala belakang yang mengucurkan darah.

Aku terlonjak dan menatap cowok yang ada di depanku saat ini, di tangannya ada sebuah guci besar berbahan besi mengkilap namun sudah dihiasi dengan sedikit darah. Dia membuang guci itu ke dekat sofa, membuat guci itu terbentur ke lantai, yang menjadikan suasana hening mencekam tadi langsung bising. Dia berderap cepat ke arahku lalu memeluk badanku yang penuh dengan luka nyeri. Suara dengkuran lembut Rabu membuatku tenang.

“Lo yang mukul dia pakek itu tadi?” tanyaku menahan perih.

Rabu hanya menyahut dengan dengkurannya dan terus memelukku sampai akhirnya apartemen Mbak Dania ini dipenuhi oleh tetangga-tetanggaku. Harry, Fandi, Dimas, Boby dan Mas Diatmika berderap cepat ke arahku dan bertanya dengan nada bariton apa yang sedang terjadi. Saat aku sudah menyelesaikan ceritaku, Harry langsung menelpon polisi. Boby mengikat Yudit yang berlumuran darah di daun pintu agar tidak bisa kabur. Dimas dan Mas Diatmika mengobati lukaku dan Rabu.

Tak lebih dari tujuh menit, polisi datang berhamburan dan semuanya mengabur dari pandanganku. Aku seperti melayang ke dunia yang lebih nyaman dari tempatku sekarang berada. Hanya suara dengkuran Rabu-lah yang terakhir kuingat sebelum akhirnya semua hal yang ada di benakku hilang terangkat dan sirna.

***

Sudah dua minggu aku dirawat di apartemen oleh Dimas. Atau yang harus kupanggil di sini, dr. Dimas. Aku memanggilnya dengan resmi karena dia cerewet dan menyuruhku untuk makan ini-dan-makan itu. agar kesehatanku segera pulih. Padahal aku tidak luka berat, hanya mengalami sedikit gegar otak dan penggeseran jakun. Tapi selebihnya aku baik-baik saja. Hanya saja Rabu-lah yang memaksa Dimas untuk merawatku sampai sembuh total.

Rabu sudah bisa berinteraksi dengan para sahabat-sahabatku. Meskipun dia mengakui kalau dia masih lebih nyaman bersamaku daripada dengan mereka. Aku senang karena Rabu akhirnya mau mengurangi intesitas xenophobianya, tetapi aku juga kesal karena terus mendengar ucapan kuatirnya. Setiap kali dia menciumku, dia tidak pernah mau mencium leherku, katanya dia takut kalau jakunku makin masuk ke dalam tenggorokanku. Lelaki biadab satu itu memang menyebalkan. Tetapi, yah… menyebalkan ke arah yang membuatku senang, tentu saja.

Aku juga bingung dan merasa aneh kalau melihat hubungan yang terjalin di antara kami. Padahal, tahun-demi-tahun kami bertetangga, kami tidak pernah saling menyapa sama sekali. Namun hanya dalam waktu yang singkat, kami sudah membuat suatu hubungan yang sangat mengejutkan. Aku suka dengan segala yang dia lakukan padaku, membuatku tenang dan merasa dicintai—meskipun dia belum mengatakan dia mencintaiku. Dan dia merasa nyaman serta merasa ada jika bersamaku. Yah… hubungan semacam inilah yang seharusnya kucari selama ini.

Oh, iya, kasus Yudit sudah diurus. Aku tidak tahu detailnya dan tidak ingin mencari tahu, jadi tidak perlu bertanya. Lagipula aku tidak peduli lagi sekarang.

Seseorang di luar sana sedang membuka pintu, aku membenarkan cara dudukku di sofa. Saat pintu itu terbuka, sosok Rabu dalam balutan baju polisinya terlihat sangat menawan. Dia mengecupkan ciuman terbang kepadaku sebelum akhirnya dia mengunci pintu dan duduk di sebelahku. Oh, iya, untuk pemberitahuan, semenjak seminggu yang lalu aku sudah resmi tinggal berdua bersamanya di apartemennya. Yang semula apartemennya agak kosong melompong, kini sudah dipenuhi oleh barang-barangku.

“Kamu masih banyak kerjaan ya?” kataku saat melihat dia mengeluarkan beberpa lembar kertas dari dalam tas kerjanya.

“Iya,” ujarnya sambil menatapku dengan mata menyipit. “Emang kenapa?”

Aku menyelonjorkan kakiku di atas pahanya. “Padahal sekarang aku pengen banget lho diperkosa  sama kamu.” Aku tersenyum meringis saat dia menarik kepalaku dan mencium bibirku dengan penuh kehalusan dan kelembutan.

“Dasar,” ucapnya di sela-sela ciuman. Dia menjauhkan kepalanya sedikit dariku sebelum berbisik lembayung di tepi daun telingaku. “Gi, sebelum aku lupa, aku mau ngasih kamu pertanyaan ini.”

“Ngasih pertanyaan apa?” ucapku penasaran.

“Aku cinta sama kamu, bagaimana menurutmu?” tanyanya sambil menaruh tanganku di dadanya.

Aku tersenyum lebar dan mengecup bibirnya dengan penuh antusias. “Aku bakalan selalu ngingetin kamu tentang hal itu, karna aku juga cinta sama kamu.”

Dia tertawa merdu dan membawaku tenggelam dalam ciumannya yang akan selalu kunikmati dengan penuh cinta sampai tahun-demi-tahun yang akan terus bergulir di kehidupan kami.

 

-The End-

 

Farewell

 

Rendi Febrian

7 thoughts on “Year By Year

  1. Ngakakkk =))

    Rendi Febrian itu artis sinetron stasiun televisi mana ya? MN*CTV atau Indosi@r ya? sinetronya yang ada elang terbangnya itu yaaa?

    Hahaha😄

  2. Udah baca dari 12Hours sampe Year by Year. Dan semua ceritanya ini emang romantis, dengan perasaan bukan dengan seks yg berlebihan. Kapan bisa kaya gitu ya?;”
    Oiya twitternya yg rendi wellen itu bukan?-_-v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s