One Day


(Fourth “Times Saga”)

One Day

Trivial Story By. Rendi Febrian

Hidupku kali ini benar-benar berubah, yang dulunya nyaman dan tenang, kini berubah dengan drastis. Aku tidak tahu mana yang nyata dan yang tidak nyata lagi sekarang. Tiap malam aku akan terbangun dengan kepala nyeri dan mata berkantung hitam jelek. Suara bising sudah makanan sehari-hari buatku. Tidur hanya beberapa jam juga sudah menjadi minumanku kali ini. Mandi hanya beberapa kali dalam seminggu sudah kebiasaan semua orang di tempat ini. Namun hal apa lagi yang bisa kudapatkan jika aku terus mengeluh.

Namaku Dimas Handi Kusuma. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Aku dulunya adalah seorang dokter yang diperkerjakan di Rumah Sakit Advent Bandung. Namun sekarang aku menjadi dokter pembantu di Palestina. Umurku dua puluh lima tahun. Keluargaku sudah tidak ingin menerimaku lagi karena aku berbeda dari mereka. Maka daripada itulah aku mau dipindahkan ke sini. Ke negara yang penuh dengan baku tembak dan mayat yang bergelimpangan penuh darah. Alasannya sangat sulit kupercaya ketika keluargaku tidak ingin menerimaku lagi. Yaitu karena aku… GAY.

Di Negara ini, matahari tidak terlihat sama seperti matahari yang ada di seluruh dunia. Matahari di Negara Palestina ini, warnanya jingga muram dan berbentuk bulat sempurna dengan kelebaran yang sangat mencengangkan. Panas yang ditimbulkan oleh matahari itu bisa membuat kulitmu terbakar dengan mudah. Apalagi jika kau adalah seorang Albino, aku yakinkan kau akan segera mati di tempat ini tanpa ditembak oleh tentara-tentara Israel.

Dulunya, setahun yang lalu, aku ke sini dengan lima belas dokter lainnya. Semua dokter itu berasal dari setiap kota yang ada di Indonesia. Dari Surabaya, Semarang, Jakarta, Jogja, Makassar, Samarinda, Lampung, Palembang, Medan, Aceh, Mataram, Kupang, Manado, Pontianak, dan Palangkaraya. Jumlah kami ada enam belas temasuk denganku. Kami dibagi menjadi delapan kelompok. Satu kelompok terdiri dua orang. Aku bersama dengan Dwiki, sahabatku ketika kami dulu sekampus di Fakultas Kedokteran di Yarsi Jakarta. Namun dia dan istrinya—yang di sini juga sebagai sahabatku—setelah lulus kuliah langsung dipindah kerjakan di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Aku tak pernah bertemu dengan Dwiki selama setahun. Namun setelah itu kami bertemu lagi di sini. Di tempat ini. Di Negara hancur ini.

Kuberitahu padanya alasan aku mau ke Negara ini. Dia terkejut pada awalnya, tetapi bisa menerimaku. Sedangkan alasan Dwiki mau ke sini adalah mau mencari kakak laki-lakinya yang seorang tentara. Sudah empat tahun Dwiki tidak melihat kakanya dan sekarang dia mau mencarinya. Dwiki meninggalkan Ghea—istrinya—yang sedang hamil besar saat ini. Dwiki mengorbankan semuanya hanya untuk mencari kakaknya yang paling dia sayangi. Kakak yang selalu menjaganya dan yang selalu membantunya ketika kedua orang tuanya meninggal dunia. Aku tidak tahu kalau ikatan antar saudara yang Dwiki punyai dengan kakaknya seerat itu. Sedangkan aku dengan kedua saudaraku biasa-biasa saja.

Kini setahun itu sudah berlalu. Dwiki sudah berubah menjadi dokter yang cekatan dan tangguh yang pernah kutahu. Pertama kali kami di sini, dia hanya seorang dokter sempoyongan yang tak bisa kerja apa-apa. Ia takut lari ke tengah lapangan perang untuk menolong tentara yang terkena tembakan. Namun ketika dia berhalusinasi tentang kakaknya yang sedang terkapar di tengah lapangan perang waktu itu, dia langsung lari menerobos hujan tembakan, lalu dengan hebatnya dia membopong tentara yang terkena tembakan itu. Sekarang dia tidak takut lagi dengan apa-apa.

Jumlah kami yang semula adalah enam belas orang, kini sisa tujuh orang. Aku, Dwiki, Wardi dari Surabaya, Zeza dari Manado, Arif dari Palembang, Yohanes dari Kupang, Sastro dari Semarang. Sedangkan yang lainnya sudah meninggal dunia dan sudah dipulangkan ke Indonesia. Tetapi Ghani dari Jakarta dan Riko dari Aceh, mayatnya tidak pernah diketemukan karena badan mereka meledak terkena ranjau dan hancur berkeping-keping seperti piring.

Dua hari aku menangis untuk Ghani karena dia adalah orang yang selalu melindungiku. Dia yang selalu menghalau tembakan dan menjagaku tetap aman sementara aku mengambil tentara yang terkapar sekarat di tanah yang gersang. Tetapi tangisanku dihentikan oleh seorang tentara senior yang sangat arogan. Namanya Boby Mixa Hayaza. Tentara yang sudah empat tahun tinggal di Palestina ini. Dia sangat keras padaku dan paling jahat padaku. Semua hal yang kulakukan selalu salah di matanya. Apapun yang kukerjakan tidak akan pernah membuatnya puas.

Dalam dua bulan pertama aku mengenalnya, dia menyuruhku untuk berlatih tembak-menembak dengan semua senjata berat itu. Aku tidak hafal namanya dan aku tidak tertarik untuk menghafalnya. Lagipula aku seorang dokter, bukan tentara. Tetapi dia malah membentakku balik dan meneriakiku kalau seorang dokter juga harus bisa melindungi diri mereka sendiri. Karena kalau tidak, mereka akan semakin kekurangan jatah dokter di camp tentara Indonesia. Aku mendengus tetapi menurut. Awalnya memang sangat susah. Telingaku sampai-sampai tuli dibuatnya. Tetapi setelah latihan selama tiga minggu, aku berhasil menguasai semua senjata itu. Lalu minggu berikutnya aku diajari untuk merakit bom jebakan dan mempelajari daerah-daerah yang dipasangi oleh ranjau.

Pernah suatu hari terjadi adegan seru dalam hidupku saat di sini. Hari itu, tanggal 29 November, setelah semua tentara dan dokter selesai melaksanakan tugas masing-masing, kami istirahat dan pergi ke kantin kecil kami. Waktu itu aku memang sangat kelelahan karena harus membopong tiga belas orang dan merawat dua puluh satu orang dalam satu hari ini. Jalanku seperti orang mabuk. Sup tak berwarna yang berada di atas nampanku terciprat ke mana-mana. Saat aku melewati Boby, dia menghadangku dan memarahiku lagi.

“Dr. Dimas!” teriaknya. Semua orang yang ada di ruangan ini langsung hening. “Anda sudah saya ajarkan menjadi orang yang tangguh! Tetapi kenapa Anda masih seperti ini cara bergeraknya!?” Dia berdiri lalu mengahadapku, badannya lebih tinggi dan lebih besar dariku. “Badan Anda harus tegap!” dia menekankan pundakku sangat keras, sampai-sampai aku bisa merasakan ada tulangku yang berkedut nyeri. “Pandangan harus lurus ke depan!” dia mengangkat wajahku dan membuat urat yang ada di leherku berteriak lirih saking sakitnya. “Saya tidak menerima orang lemah di tempat ini! Saya tidak menerima orang kemayu di tempat ini!” Dia berteriak nyaring di depan wajahku. “Anda benar-benar terlihat seperti GAY jika bergaya seperti itu!”

Nafasku tercekat dan nadi yang ada di lenganku berteriak marah. Mataku nanar dan otakku sangat-sangat tidak bisa kukendalikan. Kata-kata itu mirip sekali seperti kata yang di lontarkan oleh Ayahku sebelum dia memukulku dengan tangan besarnya lalu mengusirku dari rumah dan merobek semua fotoku. Menghilangkanku dari keluarganya dan menganggapku tak pernah lahir di dunia ini. Kudongakkan kepalaku dan menatap mata Boby dengan kebengisan kesumat yang sangat tajam. Kulemparkan nampan yang kupegang ke wajahnya, lalu berteriak sekencang mungkin di telinganya “Gue memang GAY dan gue bangga jadi seperti itu!”

Lalu aku berlari dengan telinga berdenging dan kepala yang tiba-tiba terkena serangan Vertigo. Aku tak tahu apa yang barusan kukatakan. Entahlah. Semuanya terlontar begitu saja. Namun rasanya sangat… lega. Ketika aku akhirnya bisa mengutarkan kalimat yang selama ini kupendam di dalam hati. Aku tidak peduli jika aku akan dipulangkan ke Indonesia malam ini juga. Aku tidak peduli mereka membicarakanku dan mengataiku di belakang. Biarkan saja mereka melakukan itu. Toh hidupku sudah hancur semenjak keluargaku tidak ingin menerimaku lagi dan tak mau melihatku lagi di kehidupan mereka.

Aku duduk dengan kedua kaki terlipat dan berdiam diri seperti kepompong di atas kasur kasarku. Kupeluk diriku sendiri dengan kedua tanganku yang kini sudah terbentuk dan penuh dengan otot-otot kesat. Banyak bekas luka di tangan-tanganku. Bekas luka karena goresan pisau. Bekas luka karena tertusuk jarum. Bekas luka bakar karena terkena percikan tembakan. Bekas luka karena ditembus tombak kecil buatan orang Israel. Tetapi itu semua tidak penting, aku tidak peduli dengan semua bekas lukaku. Yang kupentingkan sekarang adalah apa yang akan kulakukan jika aku dipulangkan ke Indonesia. Aku akan tinggal dengan siapa di sana. Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi di Indonesia.

Tirai tipis yang ada di depanku terbuka dengan perlahan. Menampilkan postur tegap Dwiki. Dia menatapku dengan tatapan menenangkan. Kudongakkan kepalaku sedikit dan barulah aku melihat senyuman khasnya. Dia berjalan pelan menghampiriku dan duduk bersisian denganku di atas kasur kasarku ini. Dwiki menyerahkan aku sebuah gelas berisi minuman bersoda. Soda memang bisa menenangkan saraf. Tetapi, sepertinya itu bukan tujuan Dwiki menyerahkan aku minuman itu karena tiba-tiba dia menarikku pelan dan membantuku berdiri. Ia mengajakku keluar dari kamar sempitku ini.

Ketika aku membuka tirai tipisku, cahaya bulan menyilaukan mataku. Namun itu hanya sementara, karena yang benar-benar bisa membuat mataku merasakan sengatan silau adalah pantulan cahaya yang berasal dari gelas orang-orang yang ada di depanku. Semua tentara dan teman-teman dokterku mengangkat gelas berisi soda mereka kepadaku. Mereka tersenyum lebar dan menatapku dengan tatapan pertemanan. Aku mengerutkan keningku saat salah seorang tentara—yang kalau tidak salah namanya Durham—memegang pundakku dan berseru nyaring dengan oktaf suara yang tinggi.

“Lebih baik menjadi gay daripada menjadi manusia-manusia rakus seperti orang Israel!” dia mengangkat tinggi-tinggi gelasnya, yang lalu diikuti oleh semua orang.

Aku hanya bisa tertegun melihat apa yang ada di hadapanku. Mereka tersenyum lebar ke arahku, mencoba membuatku tenang dan bahagia bisa berada di sini. Dengan gerakan cepat, aku juga mengangkat gelasku tinggi-tinggi. “Cheers!” teriakku dengan senyuman lebar.

Cheers!” mereka balas berteriak ke arahku dan menggoyangkan gelas mereka sebelum meminum isinya. Lalu kami semua tertawa dengan nyaring. Tak berapa lama kemudian, Zeza yang memang sangat pintar main musik dan mempunyai suara yang sangat bagus karena dia adalah penyanyi di gereja, mulai menyanyikan lagu yang bisa membuat semua orang yang berada di sini menari.

Bisa kurasakan Dwiki menghampiriku dan mengetukkan gelas yang dipegangnya ke gelasku. “Aneh ya orang-orang yang ada di sini,” ujarnya agak berbisik di telingaku. “Pas lo tadi ninggalin kantin, kita ribut di dalem. Durham marah-marah sama Boby karna dia udah buat lo sakit hati.” Dwiki meminum sodanya lagi sebelum melanjutkan. “Lo tau nggak kalo Durham itu punya hubungan sama Hatta?”

Aku menggeleng sebagai jawaban.

“Yah… gue juga sebenernya baru tau tadi. Pas Durham sama Hatta teriak kalo mereka ternyata… ehem-ehem.” Dwiki tersenyum kecil sembari melirik ke arah Durham dan Hatta yang sedang berpegangan tangan. Aku juga ikut tersenyum kecil. “Mereka saling suka gara-gara pas dua tahun yang lalu Hatta nyelamtin Durham di lapangan perang.”

Bisa kurasakan hal romantis yang terjalin antara Durham dan Hatta. Andai aku juga seperti itu nanti. “Terus… gue bakalan dipulangin ke Indonesia nggak karena gue gay?” tanyaku pelan ke arah Dwiki.

“Nggak lah!” sergah Dwiki cepat. “Emang kalo jadi gay kenapa?” Dwiki mendecak kasat. “Lagian ya… orang-orang yang tadi nge-cheersen lo itu, mereka bangga karna ada orang yang berani ngakuin hal tentang dirinya. Plus… mereka hutang budi sama lo. Karna lo udah pernah nyelamatin mereka pas mereka sekarat dulu itu.”

“Gue nggak tau kalo mereka ngerasa harus utang budi sama gue,” tuturku lembut.

“Yah… biarin aja deh. Yang penting kan mereka nerima siapa lo yang sebenernya. Gimanapun juga, semua tentara yang ada di sini harus nerima lo apa adanya. Karena kalo nggak, pas mereka sekarat nanti nggak bakalan ada yang mau ngerawat mereka.” Dwiki tertawa pelan dan meminum kembali sodanya.

Kupejamkan mataku sebentar sebelum membukanya lagi. “Ki,” panggilku, dia menolehkan kepalanya ke arahku. “Thanks ya lo udah mau nerima gue sebagai apa adanya diri gue ini.”

Dwiki menampilkan senyuman di bibirnya sebelum menjewer pelan telingaku. Itu memang kebiasaannya. Dan itu juga suatu hal yang selalu dia lakukan terhadapku untuk menunjukkan rasa sayangnya sebagai sahabat kepadaku. “Gue bakalan selalu dukung lo kok, bro!” dia mengetukan kembali gelasnya ke gelasku. Sebelum akhirnya dia berjalan cepat menuju ke keramaian dan mulai ikut bernyanyi dengan semua orang.

Mataku masih tertuju ke Dwiki sebelum aku akhirnya sadar ada yang sedang berdiri di sebelahku. Kutolehkan kepalaku ke arahnya. Mataku sedikit terbelalak saat mengetahui orang itu adalah Boby. Kami bersitatap beberapa detik sebelum akhirnya dia membuka suaranya. “Gue mau minta maaf.”

Aku mengerutkan keningku. Bukan karena dia meminta maaf. Tapi karena… “Tumben lo mau ngomong sama gue pakek kata ‘gue’.”

Boby memutar bola matanya dan mengalihkan matanya ke arah keramaian. “Suka-suka gue dong mau pakek kata apaan,” ujarnya sok sewot. Lalu dia mulai kembali mengalihkan matanya ke wajahku. “Gue di maafin apa nggak nih?”

Mulutku berkedut menjadi sebuah senyuman. Aku mengangguk pelan dan berkata sedikit agak berbisik. “Tergantung lo minta maaf tentang apaan dulu? Karna lo udah buat gue jujur ato karena selama ini lo udah betingkah kayak orang brengsek ke gue?”

“Dua-duanya,” sahut Boby. “Tapi itu buat kebaikan lo juga kan. Coba aja kalo gue tadi nggak marah sama lo, lo nggak bakalan berani ngaku… gay kan ke semua orang ini.”

Kali ini aku yang memutar bola mataku. “Oke-oke. Gue maafin dan makasih karena udah bantu gue buat jujur. Seneng sekarang?”

Entah kenapa, saat Boby tersenyum, duniaku seakan berhenti berputar. Selama aku mengenalnya, dia tidak pernah tersenyum sama sekali. Terhadapku ataupun terhadap orang lain. “Seneng,” jawabnya cepat sebelum akhirnya dia melingkarkan tangan besarnya ke pundakku. “Kita ikut gabung sekarang ke sana!” lalu dia membawaku ke kerumunan orang yang sedang asyik tertawa dan bernyanyi dengan riang. Hidup itu simpel, lalu kau mati. Aku yakin memang seperti itu.

***

Hari ini aku dibangunkan dengan sebuah tembakan senjata. Aku cepat-cepat membuka mataku lalu mengambil pistol laras pendek yang terselip di bawah bantalku. Dengan hati-hati aku keluar dari tenda tempat aku tidur. Saat matahari menusuk mataku, barulah aku sadar kalau yang tadi itu bukan pertanda perang. Untuk lima hari kedepan ini, Gaza memang dinyatakan aman dari serangan Israel. Presiden Palestina sudah mengeluarkan propo-propo penolakan mereka tentang serangan-serangan kejam orang Israel dua hari yang lalu. Jadi aku yakin memang tidak akan ada serangan untuk hari ini.

Seseorang membantuku berdiri dari tempatku bersembunyi. Bisa kurasakan sentuhan hangat tangan itu menjalari wajahku. Boby menarikku pelan dan menggenggam tanganku dengan hati-hati. Wajahnya masih mengantuk seperti wajahku. Hanya saja dia lebih siap daripada diriku saat ini. Jadi, dengan kecekatan luar biasa, dia membantu beberapa orang berdiri sejajar dengan rapi di depan seorang Komandan kami.

Dwiki yang berdiri empat orang dariku hanya memasang wajah kuatir dan bingung. Matanya bersitumbuk dengan mata si Komandan. Aku tidak tahu siapa nama Komandan itu. Tetapi yang aku tahu, dialah orang Indonesia yang pertama kali mau dipindahkan tugas ke Negara ini. Wajahnya yang keras dan seringaiannya yang licik menambah karisma ketegasan di wajahnya yang panjang.

“Selamat pagi!” ujar si Komandan dengan suara kasar dan berat. “Hari ini, saya kumpulkan kalian di sini karena ada tugas penting yang akan saya berikan kepada kalian.” Si Komandan berjalan mondar-mandir di hadapan kami. “Tentunya kalian sudah dengar kalau Presiden Palestina sudah mengeluarkan propo-propo keingin bebasan Negaranya.” Aku mencoba mencerna setiap kata yang dikatakan oleh si Komandan dengan baik. “Jadi… dia ingin semua kota yang ada di Negaranya diselamatkan. Nah…” dia menghadap kami dengan tatapan tajam yang mengerikan. “Saya ingin kalian pergi ke Jerusalem dan selamatkan orang yang tersisa di sana. Lalu kalian bisa kembali ke sini.”

Ini misi pertama yang kudapatkan. Tetapi entah mengapa, aku tidak terlalu senang mendapatkan misi ini. Ada seperti perasaan yang tidak enak yang menyerang seluruh organ yang ada di dalam tubuhku.

“Jadi… kalian saya kumpulkan di sini untuk mengemban misi ini.” Si Komandan memegang pundak Boby. “Sersan Boby, saya mengangkat Anda sebagai ketua dari pasukan 228 ini.” Bisa kurasakan kalau Boby mengangguk pelan di sebelah sana. Si Komandan berpindah ke hadapan Durham. Lalu dia mengangkat Durham sebagai wakil ketua. Kemudian dia berpindah ke Dwiki dan mengangkat Dwiki sebagai ketua Paramedis. “Kalian boleh bubar sekarang. Dalam empat menit lagi kalian akan segera saya berangkatkan ke Jerusalem. Siapkan semua alat yang ingin kalian bawa!”

Setelah si Komandan pergi dari hadapan kami, barulah aku menghembuskan nafasku dengan keras. Aku menengok ke sebelah kananku dan memperhatikan teman satu pasukanku. Ternyata kami ada sepuluh orang temasuk aku. Yang berdiri di sebelahku adalah Hatta. Lalu ada Anshar yang bekerja di dapur kantin. Pasti dia ditugaskan untuk membawa perlengkapan makanan untuk kami nanti. Kemudian ada—sebentar, aku lupa namanya, oh, iya—Haikal, Opan, Azril, Denta dan Sion. Mereka berlima adalah tentara tangguh sepanjang yang aku tahu. Terus… ada Dwiki, Durham dan Boby.

Tarikan lembut tertera di kulitku saat aku baru saja ingin melangkahkan kakiku. Aku menolehkan kepalaku ke orang itu. Ternyata dia adalah Dwiki, yang menyeretku dengan cepat masuk ke tenda perlengkapan alat kesehatan. Tanpa banyak bicara, dia mengambil semua kebutuhan yang ingin kami bawa. Akupun langsung buru-buru mengambil tas ransel super besar yang ada di kolong meja. Kumasukan semua obat-obat dan beberapa alat yang mungkin akan berguna untuk kami nanti jika ada yang terluka. Tapi yang paling penting yang harus dibawa adalah Morfin dan Elikser. Kedua obat penghilang rasa sakit dan obat serba guna itu memang wajib kami bawa ke mana-mana sebagai dokter.

Peluit panjang berbunyi nyaring. Aku cepat-cepat me-resleting ranselku dan berjalan dengan langkah panjang menuju ke lapangan pendaratan helikopter. Dwiki yang ikut berjalan di sebelahku terlihat begitu antusias. Dia memang sangat ini mendapatkan sebuah misi karena dia ingin mencari kakaknya di semua tempat yang ada di Palestina ini. Sampai sekarang dia masih belum menemukan kakaknya. Namun dari desas-desus yang kami dengar, kakaknya Dwiki di pindahkan ke Jerusalem beberapa tahun yang lalu.

Sion membantuku naik ke atas helikopter saat kakiku terselip di tiang penaikan helikopter. Saat aku sudah berada di atas helikopter sempit dan bau itu, aku ditarik pelan oleh Boby. Dia mendudukanku di sebelah tenggara helikopter. Tepat bersebelahan dengan tempat duduknya. Matanya terlihat was-was saat menatapku. Terlihat sekali rasa kuatir di sinaran matanya. Kukerutkan keningku. Apakah dia mengkhawatirkanku? Aku terus membatin kalimat itu sampai akhirnya helikopter kami mengudara menerjang langit berdebu dan kusam.

***

Jerusalem adalah sebuah kota kecil yang dulunya damai dan penuh dengan pedagang kaki lima. Namun sekarang, yang terhampar di hadapanku adalah sarang mayat dan kepulan asap berwarna hitam yang mengepul di atas setiap rumah orang yang tinggal di sini. Saat aku turun dari helikopter, aku langsung berlari dengan lugas dan mencari manusia yang mungkin masih bisa diselamatkan. Tetapi tak ada satu manusiapun yang masih bernyawa di tempatku berdiri saat ini. Bau darah dan bau keringat bercampur menjadi satu di tempat ini. Hidungku bertaut nyeri tetapi aku tidak mampu untuk melakukan tindakan menutup hidung. Aku seorang dokter dan aku harus tahan dengan bau ini.

Dwiki yang juga sedang berlari-lari untuk mencoba mencari manusia yang masih hidup-pun, tidak menutup hidungnya saat bau yang tidak sedap ini menusuk indera penciuman. Ketika aku baru saja ingin menghampiri Boby dan Durham, tiba-tiba ledakan keras terpekik di atas kepalaku. Dengan sentakan keras aku menolehkan kepalaku dan mendapati kalau helikopter yang membawaku terbang ke sini tadi sudah meledak dan hancur berkeping-keping, yang berarti menewaskan Mas Indera sebagai pilot helikopter itu.

Boby berlari ke arahku dan menarikku ke dalam sebuah lubang besar yang sangat dekat dengan kakikku berpijak. Dia memeluk badanku pelan dan mencoba melindungiku saat semua serpihan besi dan lelehan api menetes dari bangkai helikopter itu. Mataku terpejam cepat dan membayangkan senyuman Mas Indera yang tadi mencoba menghiburku saat aku berada di helikopter itu bersamanya. Namun kini senyuman itu sudah menjadi kenangan. Tempat inipun sekarang sudah menjadi kenangan.

Suara tembakan membuat mataku langsung terbuka dengan lebar. Boby menggeser sedikit badannya dariku dan mencoba untuk keluar dari lubang persembunyian kami. Aku mengintip sedikit dari celah yang ada di lubang ini. Dan di sanalah aku melihat baku tembak terjadi antara Azril, Denta dan Sion dengan beberapa orang Israel yang menggunakan penutup wajah dan kacamata hitam besar sebagai pelindung mata.

Ketika Boby berlari kencang ke arah Azril, Denta dan Sion, dia berhasil menembak dua dari tiga orang Israel tersebut. Aku tertegun kaget dengan kehebatan yang dipancarkan oleh seorang Boby. Aku memang tidak ragu dengan kekuatannya. Hanya saja, ketika melihatnya melakukan hal itu secara langsung dan tanpa perlindungan sama sekali, dia bisa membuatku takjub setengah mati. Akhirnya, saat Boby sudah berada di samping Denta, barulah satu orang Israel tersebut tertembak dan menghilang dari balik tembok besar yang dia gunakan sebagai tempat perlindungan.

Kurekatkan tas ranselku di punggung lalu keluar dengan luwes dari tempat persembunyianku, kemudian berlari kencang menuju ke arah Boby dan yang lainnya. Saat aku sudah berada di samping mereka, barulah aku tahu apa yang menyebabkan helikopter tadi meledak. Ketika helikopter tadi baru setengah mengudara, tiba-tiba ada orang Israel yang melempar satu buah granat ke dalam kabin helikopter itu yang menyebabkan ledakan dan menewaskan Mas Indera dalam sekejap kedipan mata.

AN/PRC-6 yang tersampir di punggung sebelah kanan Boby berbunyi bergemirisik. Dia cepat-cepat mengangkat AN/PRC-6 itu dan langsung mendengarkan dengan seksama suara yang keluar dari alat tersebut. Suara Komandan kami yang kasar dan berat terdengar. Dia memberitahu kami kalau sudah tidak ada yang tersisa lagi di Jerusalem. Semua orang dan semua tentara yang tinggal di sini hampir keseluruhan sudah meninggal dunia semua. Misi yang dia berikan kepada kami tadi ternyata misi yang tidak seharusnya dia lakukan. Helikopter dan alat transportasi lainnya tidak akan bisa menjemput kami di sini karena sudah diblokir oleh para pemberontak, yaitu orang-orang Israel. Jadi, satu-satunya cara agar kami bersepuluh bisa selamat dari sini adalah mengendap-ngendap di tanah Israel, yang artinya sama saja tindakan bunuh diri. Tetapi hanya itulah satu-satunya cara kami agar bisa keluar dari Jerusalem ini dan kembali lagi ke Gaza.

Boby cepat-cepat mematikan alat komunikasi itu lalu membantingnya. Wajahnya mengerut marah karena sudah diberikan misi yang tidak ada gunanya. Apalagi misi ini sudah menewaskan satu orang. “Kita observasi dulu area ini sebelum kita tinggalkan nanti malam!” perintahnya keras. Kami bersembilan langsung mengangguk patuh dan berjalan bersisian. Aku dan Opan berada di barisan paling belakang. Anshar dan Denta berada di depanku. Mereka berdua memasang wajah was-was, takut kalau tiba-tiba kembali ada serangan mendadak dari para orang Israel.

Kami hampir saja keluar dari perbatasan Jerusalem saat aku mendengar suara rintihan dari balik dinding tipis rumah yang ada di sisi kiri trotoar. Tanpa banyak basa-basi lagi aku langsung berlari kencang menuju ke rumah itu dan mendobrak pintunya dengan keras sampai terbuka. Bau amis menyerbak di udara, namun aku mempertahankan oksigenku dengan cara menarik nafas dengan teratur. Suara rintihan kembali terdengar lebih jelas sekarang. Dengan gerakan cepat aku langsung melangkahkan kakiku. Tetapi saat di langkah yang kelima, barulah aku menemukan suara rintihan itu.

Seorang anak kecil dengan rambut hitam legam dan kulit kusam sedang menggeliat dari pelukan kedua orang tuanya yang aku yakin sudah meninggal. Aku bergerak lugas lalu menghampirinya. Kubuka lengan kaku kedua orang tuanya agar dia bisa lolos dari pelukan itu. Wajah anak itu saat pertama kali melihatku sangat-sangat ketakutan. Namun saat aku mengeluarkan obat Elikser dari dalam tas ranselku kepadanya, dia jadi sedikit agak nyaman. Di Palestina ini, mereka mempercayai setiap orang yang membawa obat Elikser, karena obat itu hanya bisa diperoleh oleh orang-orang penyelamat saja.

Ketika anak itu sudah lolos dari pelukan kedua orang tuanya, dia langsung menerjangku. Ia memelukku dengan isakan ala anak kecil yang menyayat hati. Aku mengelus punggungnya dan membantunya berdiri. Saat aku kembali menatap mayat kedua orang tuanya, barulah aku tahu ada seorang bayi yang berada di dalam dekapan sang Ibu, namun matanya sudah tak terpancar jenis-jenis kehidupan. Jadi, aku sangat yakin bayi itu sudah tak bernyawa.

Aku memapah anak kecil itu keluar dari rumahnya yang sudah hancur berantakan tak karuan ini. Ketika aku sudah berada di depan pintu rumah itu, barulah aku disambut dengan teman satu pasukanku. Dwiki yang terlihat murung dari tadi langsung cekatan mengambil anak itu dari papahanku dan melakukan P3K dengan cermat.

Boby menepuk pundakku dengan bangga. Dia memberikanku senyumannya lagi. Siratan marah yang tertoreh di wajahnya tadi seketika langsung menghilang. “Bagus dr. Dimas,” ujarnya kemudian.

Kami beristirahat di penghujung garis perbatasan Jerusalem dan Israel. Denta dan Azril yang memang sangat cepat dalam membangun tenda langsung melaksanakan tugas mereka. Ketika matahari tenggelam, Anshar membuatkan kami sup tak berwarna dan merebus air berwarna nila ke dalam tangki minuman.

Boby yang sangat pintar dalam bahasa Palestina mengajak anak itu bicara. Namanya ternyata Hasan Al-Nabiel. Umurnya delapan tahun. Pada tengah malam kemarin, Jerusalem diserbu oleh segelintir pemberontak dari Israel. Semua tentara yang berada di sini meninggal dunia. Dwiki menangis sejadi-jadinya senja itu, namun langsung dihentikan oleh Boby. Hasan mengenal kakak Dwiki. Dia adalah ketua pasukan 167 di Jerusalem ini. Agar Dwiki bebas untuk menangis, Hatta dan Durham mengajak Dwiki untuk mencari jasad kakaknya.

Setengah jam berlalu dan senjapun berganti malam. Dwiki datang dengan kalung yang tertempel di lingkaran lehernya. Matanya bengkak dan merah. Semburat kesenangan yang selama ini tertampil di rahangnya sudah menghilang. Saat dia berdiri di sampingku, dia menarikku menjauh dari pasukan dan kembali menangis. Dia menunjukanku kalung yang digunakannya. Ternyata kalung itu kepunyaan kakaknya. Dia menemukan jasad kakaknya lima ratus meter dari tempat kami berdiri. Ketika aku meng-klik sesuatu yang ada di ujung kalung itu, tiba-tiba mata kalung itu terbuka dan menampilkan foto keluarga Dwiki. Tangisan lirih makin menjadi dalam diri Dwiki. Aku hanya bisa memeluknya sebagai penghiburan.

Dwiki terpaksa menghentikan tangisannya karena Boby sudah memerintahkan kami untuk jalan. Kami bersebelas mencoba untuk menyelinap melalui perbatasan Israel dan Jerusalem, tetapi ternyata hal itu bukanlah hal yang mudah. Pertama kali kami harus melalui reruntuhan terbengkalai dan menerjang beberapa semak-semak belukar yang berduri tajam. Dua jam kemudian kami berhasil masuk ke dalam hutan yang besarnya tak seberapa namun bisa menyelamatkan kami.

Hasan berjalan sebentar mengikuti kami namun beberapa menit kemudian kami menggendongnya secara bergiliran. Malam ini, bulan lebih besar dari malam-malam yang sebelumnya. Debu yang menempel dari daun di tangkai pohon yang ada di atas kepala kami bergoyang seirama. Akhirnya, setelah aku yakin kami sudah berjalan selama enam jam tanpa berhenti, Boby memperintahkan kami untuk istirahat sejenak, walaupun sebenarnya dia terlihat enggan untuk memperintahkan hal tersebut. Katanya ini membuang-buang waktu saja. Perjalanan dari Jerusalem ke Gaza jika berjalan kaki memakan waktu sekitar lima atau enam hari jika tanpa gangguan.

Aku, Boby, Hatta dan Durham melepaskan diri dari pasukan untuk berburu. Boby membuatkanku ketapel ringan dengan ujung kepala lancip yang sangat bagus bentuknya. Dia mengajariku berburu dalam gelap dan membidik dengan cermat. Saat Boby melingkarkan lengannya di tubuhku atau saat dia berbisik mendayu di telingaku, jantungku selalu berdegup kencang dan nafasku tak teratur dengan baik.

Hatta dan Durham membawa dua tupai sebagai hasil buruan mereka. Sedangkan aku dan Boby hanya memperoleh tiga ekor kelinci kurus. Boby mencelurit dua kelinci dan aku meng-ketapel satu ekor kelinci. Anshar dengan cekatan langsung mengkuliti dan memasak hasil buruan kami. Ternyata hasilnya tidak buruk sama sekali. Malam ini, kami bersebelas bisa makan dengan lahap walaupun tidak selahap malam kemarin.

Setelah dua jam istirahat, kami melanjutkan kembali perjalanan. Suara burung hantu menemani perjalanan menyakitkan dan melelahkan ini. Sesekali Boby membantu membawakan tas ranselku dan dia menyuruhku untuk membawa beberapa senjatanya yang tidak terlalu berat. Semua perhatian yang Boby berikan padaku dari awal sampai sekarang ini menyiratkan tanda kalau sepertinya dia menyukaiku. Tetapi aku ragu apakah itu benar apa tidak. Hanya saja aku merasa seperti dia menyukaiku. Dan aku berharap itu memang benar. Walaupun dia orang yang menyebalkan awalnya kepadaku, namun sekarang aku sudah tidak berasumsi seperti itu lagi padanya. Kini… hatiku sudah berubah. Sepenuhnya berubah.

***

Empat hari sudah kami berjuang menuju ke Gaza. Perjalanan ini benar-benar sangat melelahkan. Boby dan Durham sesekali berdebat karena jatah waktu istirahat. Durham ingin kami istirahat agak lama agar kesehatan kami tetap terjaga. Namun Boby ingin kami istirahat hanya beberapa jam saja untuk tidur dan makan, lalu melanjutkan kembali perjalanan. Untung saja ada aku dan Hatta yang bisa menenangkan pertengkaran dan perdebatan yang terjadi di antara Boby dan Durham.

Beberapa jam lagi, kami akan memasuki hari yang kelima. Durham dan Hatta sedang memasang perangkap untuk menjebak buruan mereka. Kini kami makin ahli untuk memburu semua hewan yang bisa dimakan di hutan sempit ini. Aku juga bisa membidik dengan tepat mulai sekarang. Kini saja, di sampiran bahuku, aku membawa dua ekor tupai gendut dan satu ekor kelinci penuh daging.

Boby selalu berburu bersamaku. Katanya harus ada yang menjagaku, karena penilaianku tentang kewaspadaan sangat rendah. Entahlah! Saat dia berkata begitu, ada hal janggal yang tersirat di sana. Bahkan Dwiki juga bilang begitu padaku.

“Kita balik sekarang!” desis Boby di sebelahku saat dia berhasil mencelurit satu ekor lagi kelinci berbulu putih keabu-abuan dengan gerakan lihai.

Aku mengangguk dan menusukkan ketapelku di gasper ikat pinggangku. Namun baru saja kami melangkahkan kaki beberapa langkah, aku mendengar suara gemericikan air saling bertabrakan. Kupicingkan telingaku dan kembali mendengar suara air tersebut. Itu seperti suara air sungai yang sedang berlari-larian. Aku menegakkan tubuhku lalu mulai berjalan cepat menuju ke sumber suara tersebut.

“Lo mau kemana?” teriak Boby dengan suara serak.

Aku berbalik sebentar ke arahnya sebeleum bertutur. “Di sekitar sini ada sungai. Gue mau ngambil air di sana.”

Yang terjadi selanjutnya sangat membingungkanku, karena tiba-tiba ada seseorang yang menerjangku dari belakang. Tubuhku terhempas ke tanah yang kasar dan wajahku mencium dedaunan busuk. Aku menggeliat untuk melepaskan diri. Namun suara kasar Boby masuk ke dalam telingaku. “Jangan pergi ke sungai!” katanya pelan-pelan. “Lo nggak boleh pergi ke sungai!” Suara itu penuh dengan nada ketakutan dan… kehilangan.

Sebenarnya aku ingin membantah, tetapi ketika Boby mendekapku semakin erat, sampai-sampai tulang kami saling menyatu dan berbenturan, barulah aku mengangguk kecil. “Oke,” ujarku agak sedikit kehabisan nafas. “Sekarang lepasin gue dan kita bakalan balik ke tenda sekarang!”

Bisa kurasakan Boby mengendurkan pelukannya. Tak berapa lama kemudian dia sudah tak ada di atas tubuhku lagi. Dengan cepat dia memungut kembali semua hasil buruannya yang kececeran di tanah karena tadi dia pasti berlari dengan kekuatan penuh untuk menerjangku. Hasil buruanku masih tersampir di pundak dan bahuku. Tetapi sayangnya semua hewan itu gepeng dan mengeluarkan darah segar dari mulut dan hidung mereka. Darah amis itu menempel di baju hijau khusus untuk dokterku dengan menyeluruh.

Baru saja aku berdiri dengan kedua kakiku, tiba-tiba Boby sudah menarikku dengan kasar tapi tidak menyakitkan untuk kembali ke tenda. Kami balik lagi ke tenda hanya dalam waktu tak lebih dari enam menit. Denta dan Sion yang berada di atas pohon untuk berjaga memandangku was-was karena penasaran dengan darah yang merembes di bajuku. Aku mendongkkan kepalaku ke mereka dan menggeleng untuk memberitahu mereka supaya tidak perlu kuatir.

Masakan akhirnya sudah selesai dibuat oleh Anshar. Aku buru-buru membangunkan Hasan yang tertidur di bawah pohon Gorgot. Wajah Hasan yang oval dan panjang terlihat letih saat menatapku. Dia memang benar-benar terlihat sedih. Aku juga yakin aku bisa merasakan kesedihannya. Dia ditinggalkan oleh keluarganya, dan aku yakin dia belum siap akan hal itu.

Setelah kami semua selesai memakan semua makanan kami, kami melanjutkan perjalanan sebentar. Saat matahari sudah muncul di ufuk timur, kami kembali berhenti dan membangun tenda kembali. Pasukan yang akan menjaga tenda adalah aku dan Boby. Semua pasukan yang lain akan tidur dan mengistirahatkan tubuh mereka. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mendengar dengkuran dari hidung mereka.

Boby menggeser duduknya ke arahku, merapatkan dudukan kami. Dia menelengkan kepalanya ke arahku dan matanya mencari mataku. “Lo nggak boleh mati,” ujarnya dengan nada sendu.

Aku mengerutkan keningku dan membalas telengan kepalanya. “Tentu aja gue nggak mau mati,” ucapku perlahan. “Lo juga nggak boleh mati.”

Bibir Boby menekuk sedikit. “Kalo gue hidup dan lo hidup, apa yang bakalan kita berdua lakuin?” tanyanya cepat.

“Nerusin hidup kita,” jawabku simpel.

Wajah Boby mendekat ke arah wajahku, ujung hidungnya meyentuh ujung hidungku. “Saat gue pertama kali ngeliat lo, lo buat gue jadi orang… aneh.” Lalu entah apa yang dia pikirkan, dia menempelkan bibirnya sebentar ke bibirku. Setelah itu dia langsung berdiri dan berkata dengan tegas sekali lagi. “Lo nggak boleh mati.” Kemudian dia berjalan menjauh dan hilang di kegelapan subuh.

***

“Lo mau gue bantuin?” tanya Boby saat aku kewalahan membawa tas ranselku.

Aku menggeleng cepat dan meneruskan perjalanan kami.

Pagi ini kami sudah keluar dari hutan Israel. Kami sekarang harus lebih berhati-hati, karena kami akan memasuki blok perumahan orang Israel. Kami terpaksa memutar haluan dan berjalan menaiki bukit-bukit kecil yang berada di tenggara barat sudut dari kampung Israel ini. Hasan yang berada di gendongan Boby terlihat muram ketika kami memasuki wilayah ini. Dia takut kalau nanti kami semua akan mati di sini karena ini adalah wilayah musuh.

Matahari pagi tidak pernah seburuk ini di hidupku. Teriknya yang luar biasa panas membuat mataku menyipit dan menggigit setiap jengkal kulitku. Sion, Denta dan Opan yang berjalan paling depanpun terpaksa membuka baju mereka untuk menghalau keringat yang bercucuran di kulit mereka.

Dwiki mengiringi langkahku saat kami sudah berada di dekat lembah. Wajahnya sudah tak putih seperti dulu lagi. Kini semburat warna hitam menjalari tiap jengkal kulit wajahnya. “Lo iteman ya,” kataku dengan nada bercanda.

Dengusan pelan keluar dari hidung Dwiki. “Kayak lo nggak aja,” katanya sambil memegang kalung yang terpasang di lehernya.

Tiba-tiba Boby sudah berdiri di sebelahku. Hasan yang berada di gendongannya sedang menutup mata untuk menghalau sinar matahari. “Lo haus?” tanyanya sambil melirik sedikit.

“Nggak,” jawabku sekenanya.

Saat Hasan baru saja membuka matanya, tiba-tiba bunyi ledakan yang memekakkan telinga berdenging masuk dengan paksa ke gendang telingaku. Badanku terdorong beberapa sentimeter. Untung saja ada Boby dan Dwiki yang menahanku agar tidak jatuh terjerembap ke tanah. Ketika semua debu itu akhirnya menghilang dari pandanganku, barulah aku sadar kalau Anshar, Durham, Azril dan Hatta terkapar di bawah kakiku. Cepat-cepat aku menunduk dan memeriksa mereka. Saat tanganku menyentuh ujung hidung mereka, hembusan hangat keluar dengan teratur di sana. Aku menarik nafas lega.

Durham dan Hatta lah yang pertama kali bangkit dari kaparan mereka. Boby membantu Anshar dan Dwiki membantu Azril. Mataku tertumbuk pada ledakan yang tadi terjadi. Kupicingkan mataku dan melihat tempat ledakan tadi terjadi. Dan kini aku tersadar, ada tiga orang dalam satu pasukanku yang belum kami ketahui keberadaannya. Aku langsung berlari cepat dan berhati-hati ke arah tempat ledakan tadi.

Mulutku langsung ternganga lebar saat mendapati beberapa pecahan daging yang terkocar-kacir di semua tempat. Tangan Opan yang ditato bunga mawar tergeletak di bawah kakiku. Badannya yang besar sudah hancur. Begitu pula dengan badan Denta dan Sion. Aku hanya menemukan beberapa serpihan daging mereka. Mataku terasa panas saat aku sadar kalau ketiga teman satu pasukanku sudah meninggal dunia.

Boby menghampiriku dan menarikku menjauh. Setelah dia menempatkanku di tengah-tengah Hatta dan Durham, dia berjalan menjauh untuk mencari tahu penyebab ledakan itu. Tak berapa lama kemudian, Boby kembali sambil membawa pecahan kepingan ranjau otomatis yang akan meledak jika diinjak. Hatta mengambil pecahan ranjau itu lalu membantingnya dengan raut wajah frustasi. Sion dan Denta adalah teman seangkatan dengannya. Pasti dia benar-benar sedih harus ditinggalkan oleh kedua orang itu. Durham dengan gerakan cepat langsung menenangkan Hatta.

“Kita lanjutin perjalanan,” ujar Boby, dia lalu menggendong Hasan kembali. “Biar gue yang pimpin jalan.” Aku tahu Boby-lah orang yang paling pintar untuk mengetahui di mana saja ada ranjau disembunyikan.

Saat kami melewati pecahan daging dari tubuh Sion, Denta dan Opan, sekuat mungkin aku menahan agar air mataku tidak jatuh. Boby tidak senang dengan orang yang menangis. Jadi aku tidak akan mau menangis jika berada di dekat dia.

Kami akhirnya bisa selamat sampai di ujung bukit panjang ini. Hatta dan Durham lalu yang memimpin jalan. Hari sudah sore saat kami berada di dekat tikungan blok perumahan orang Israel yang lainnya. Boby mengajak kami lagi untuk memutar haluan. Kami terpaksa melalui jalan bermuara gersang yang menyebabkan kakiku lecet-lecet dan luka.

Ketika kami keluar dari muara, haripun sudah berubah menjadi malam. Kami baru saja merencanakan untuk membangun tenda ketika tiba-tiba ada bunyi letusan senjata yang berdesing tepat di sebelah kiri badanku. Boby yang berdiri di sebelahku langsung mengeluarkan senjata laras panjangnya dan menembak seseorang yang bergerak di balik semak belukar. Aku juga langsung mengeluarkan pistol revolver dan mengokangnya cepat lalu menembak ke arah orang yang bersembunyi di balik semak lainnya. Letusan nyaring berteriak di telingaku saat aku menekankan katup pistol itu. Suara rintihan terdengar di balik semak itu, dan aku yakin siapapun orang itu, aku yakin dia terkena tembakanku.

Pistol yang berada di tanganku tetap kupegang dengan erat. Takut kalau masih ada orang yang mau menembak kami lagi. Namun ketika aku yakin sudah tidak akan ada lagi yang mau menembaki kami, barulah aku memutar kepalaku untuk melihat teman satu pasukanku.

Azril berdiri tidak jauh dariku, tangannya sedang memegang senjata rifle dengan gemetaran. Boby berada di sebelah kananku. Dwiki berdiri di dekat Azril. Hasan berada di belakang tubuh Boby. Dan Durham berdiri tak jauh di depanku. Aku menghembuskan nafas berat saat mengetahui kalau kedua orang dari pasukanku hilang dari perhitunganku.

Mataku langsung nanar dan mulai mencari di mana kedua orang tersebut, yaitu Anshar dan Hatta. Aku terus mencari-dan-mancari sampai akhirnya aku bisa mendengar suara jeritan kecil yang keluar dari mulut Hasan.

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat di pupil mataku. Selang beberapa langkah dari tempatku berdiri, tergeletak mayat Anshar dengan luka tembakan yang dalam di keningnya. Matanya terbuka lebar seakan-akan terkejut akan sesuatu. Saat Dwiki berlari kencang menuju ke tubuh Anshar, aku sudah tahu kalau teman dari salah satu pasukanku itu sudah tidak ada. Matanyalah yang memancarkan hal itu.

Jeritan kembali terdengar. Tetapi kali ini bukan dari mulut mungil Hasan, melainkan dari Durham. Aku mengikuti arah pandang Durham. Tak lebih dari sepuluh langkah di balik tubuh Azril, Hatta terbaring dengan bayonet yang tertancap di tengah perutnya, yang aku yakini pasti mengenai lambungnya. Dengan gerakan lugas aku langsung berlari menuju ke arah tempat Hatta tergeletak.

Durham lah yang pertama kali berada di samping tubuh Hatta. Enam detik kemudian aku bergabung dengan Durham. Saat aku sudah di sisi lain tubuh Hatta, barulah aku melihat jelas bayonet yang menancap di tubuhnya. Tancapan bayonet itu terlalu dalam dan aku yakin sudah merusak semua jaringan yang berada di lambungnya. Dengan hati-hati aku mencoba untuk melepaskan bayonet itu. Tetapi ketika Hatta berteriak kencang dan menyuruhku untuk berhenti, aku tidak mengindahkannya. Sampai akhirnya Durham lah yang menyuruhku untuk tidak meneruskan tindakan yang kulakukan.

Bisa kurasakan detakan jantung Hatta mulai melemah. “Nyanyiin aku lagu kita lagi…,” ujar Hatta lembut sembari memegang wajah Durham.

Mata Durham yang lebar itu melotot sedih. Suaranya hanya berupa bisikan saat bernyanyi di telinga Hatta;

Tidurlah sayang, tidurlah di pangkuanku.

Kujanjikan hari esok akan lebih indah dari hari ini.

Pejamkanlah matamu sayang.

Dan ketika kau membuka matamu kembali.

Akulah orang yang akan berada di sampingmu sayang. Selamanya.

Lagu itu berakhir dengan diiringi hembusan nafas terakhir dari hidung Hatta. Durham menaruh kepala Hatta di dalam pelukannya. Saat aku mencari mata Durham, tak ada satu tetes air matapun yang keluar dari pelipisnya. Dia hanya terus memeluk Hatta dengan erat dan kembali menyanyikan bait lagunya.

Setelah lima menit kami berduka untuk Anshar dan Hatta, barulah kami melanjutkan mencari tempat untuk memasang tenda. Durham bersikeras untuk membawa mayat Hatta. Dia ingin menguburkan Hatta dengan layak di Gaza katanya. Boby tidak setuju awalnya, namun karena aku yang membujuknya sampai beberapa kali, barulah dia mengizinkan Durham membawanya.

Dua ratus meter dari tempat kami berbaku tembak tadi, akhirnya kami menemukan tempat yang cocok untuk memasang tenda. Azril dan Dwiki memasang tenda. Aku dan Boby pergi untuk mencari makanan. Durham yang berjaga malam ini. Dan saat aku kembali, dia masih duduk di tempatnya terakhir kali berjaga. Pancaran kesedihan menyeruak masuk ke mataku ketika melihat gerak-gerik badannya.

Ketika Boby selesai memasak sup yang dibuatnya, dia mengajak Durham untuk makan tetapi Durham menolak dan terus berjaga. Matanya tak berkedip sama sekali dari tadi. Aku selalu menaruh perhatianku ke Durham sampai akhirnya kami masuk ke dalam tenda untuk tidur. Azril tadi sudah menawarkan diri untuk berjaga, tetapi Durham menolak dan dia memaksa akan berjaga malam ini, jadi kami hanya bisa menuruti apa yang dia mau.

Aku masih tidak bisa tidur walau aku sudah berbaring selama empat jam di dalam tenda ini. Namun, saat mataku akhirnya ingin terlelap, tiba-tiba aku mendengar suara itu. Durham akhirnya tak sanggup menahan kesedihan karena kematian tambatan hatinya. Awalnya aku hanya mendengar suara isakan tertahannya. Lalu lama-kelamaan, isakan tertahan itu menjadi sebuah rintihan lirih panjang yang melukai hatiku. Boby yanng kukira sudah tidur, tiba-tiba bangkit dari pembaringannya. Aku yakin dia ingin menyuruh Durham berhenti menangis. Tetapi aku tidak mau Durham berhenti menangis. Jadi, aku langsung menahan tubuh Boby dan berbisik lembut di telinganya.

“Biarin dia nangis,” ucapku lirih.

Ada ketidak setujuan di mata Boby saat dia mendengarku berucap seperti itu. Namun, akhirnya ketika aku meremas tangan Boby, dia mengangguk lalu kembali berbaring di sebelahku. Dua puluh detik kemudian Boby sudah kembali tertidur karena lelah.

Aku menggeser badanku ke ujung terpal tenda. Lalu kubuka tirai tipis tenda ini untuk mengintip keluar. Saat mataku menemukan Durham, dia sedang menangis di atas tubuh Hatta. Durham memegang erat tangan Hatta dan menaruhnya di dadanya. Air mata Durham yang bening itu terus menetes di wajah Hatta. Kemudian Durham menundukan kepalanya dan mengecup dua kali bibir Hatta yang mulai pucat. Kerinduan dan kehilangan makin terpancar jelas dari dalam diri Durham.

Ketika aku menutup tirai tenda, aku tidak sadar air mataku sudah mengalir lembut di kedua pelipis mataku. Kuseka air mataku dengan telapak tanganku. Lalu, kupejamkan mataku erat-erat untuk mencoba tidur. Isakan dan tangisanlah yang mengiringi tidurku malam ini.

***

Pada tengah hari, barulah kami kembali melanjutkan perjalanan. Durham menggendong mayat Hatta saat ini. Aku sudah menawarkan beberapa kali kepadanya untuk membawa mayat Hatta, namun dia menolak dan menyuruhku terus jalan.

Hari berganti sore, dan beberapa ratus meter lagi, kami akan sampai ke perbatasan Gaza dan Israel. Namun masih ada hal yang lebih sulit lagi yang akan menghampiri kami, yaitu perbatasan Gaza dan Israel akan dijaga oleh beberapa orang Israel. Perbatasan Gaza dan Israel tidak sama seperti perbatasan Jerusalem.

Azril baru saja membuang ludahnya ketika tiba-tiba dia terkena tembakan di telinganya lalu menembus ke otaknya. Dia terkapar jatuh dan tewas seketika. Cepat-cepat aku mengeluarkan senjataku dan mencari arah tembakan. Untung saja matahari sudah mau hampir tenggelam, sehingga mataku tidak terkena silaunya. Bayangan hitam berjalan cepat di balik reruntuhan yang berjarak lima puluh meter dariku. Dengan gerakan cepat dan reflek, aku menembak orang tersebut. Dia baru saja mengangkat kepalanya saat peluruku mengenai lubang matanya.

Boby dan Hasan berlari pelan mencari tempat persembunyian, namun aku tidak ada kesempatan untuk berlari mencari perlindungan. Jadi, dengan mata tajam dan waspada, aku mencari orang yang sedang sembunyi di balik tembok itu. Ketika aku baru saja ingin menekankan pelatuk, tiba-tiba sebuah panah panjang terbang melintasi lengan kananku, yang menyebabkan sobeknya daging lenganku. Tetapi aku tidak memperdulikan hal itu. Karena yang kuperdulikan adalah jeritan kesakitan orang yang ada di belakangku.

Kutolehkan kepalaku dan mendapati dada Durham tertancap panah tersebut. Dia terkapar di tanah sambil mendekap Hatta dalam pelukannya. Saat aku baru saja ingin menghampirinya, tiba-tiba nafas Durham berhenti berhembus. Dan aku tahu… kini dia sudah pergi dengan Hatta ke surga mereka.

Bunyi tembakan kembali terdengar. Aku menolehkan kepalaku dan melihat Dwiki sedang melindungiku. Boby yang sudah menaruh Hasan di tempat aman juga ikut melindungiku. Rentetan tembakan terus terjadi sampai akhirnya enam orang yang bersembunyi di balik tembok reruntuhan itu tewas. Aku mendekati Durham dan Hatta, menyeret mereka ke dekat rumah yang masih terlihat agak kokoh. Kutaruh mereka bersisian lalu mengelus wajah mereka sebagai tanda selamat jalan.

Mataku panas ingin menangis, tetapi aku tidak kuat untuk melakukan hal itu terus. Jadi, aku hanya menutup mataku dan perlahan meninggalkan kedua jasad tersebut.

Dwiki juga sudah menaruh jasad Azril di tempat yang lebih teduh. Boby menjemputku dan menyeka tanganku yang luka dengan sehelai kain. Matanya meneduhkanku. Senyuman yang kusuka dari dirinya, tertampil menenangkan di sana. Aku membalas senyuman itu dan mengikuti langkahnya yang panjang. Dwiki yang memimpin jalan sekarang. Dia terlihat murung dari tadi, karena dia sadar kalau pasukan kami hanya sisa sekecil ini.

Semua orang yang ada di pasukanku sudah mati semua. Aku mengatakan kalimat itu berkali-kali di dalam hatiku sampai aku lelah. Untung saja ada tangan Hasan yang memegang wajahku dan menenangkanku. Wajahnya yang bak malaikat tersenyum lembut ke arahku. Kubalas senyuman itu dengan tulus. Namun senyumanku terpaksa harus pudar saat tiba-tiba ada seseorang yang muncul dari balik tembok besar yang ada di depan Dwiki.

Tentara Israel tersebut tiba-tiba mengeluarkan parang dan langsung menggorok leher Dwiki Tepat di nadi karotisnya, nadi utama penyaluran darah. Reflek aku langsung mengeluarkan pistolku dan menembak orang tersebut tepat di jantungnya. Dia ikut terbaring jatuh bersamaan dengan Dwiki. Aku berlari kencang menuju ke tubuh Dwiki yang terbaring tak berdaya.

Boby melindungiku, Hasan mengambil pistolku yang tergeletak jatuh ke tanah. Ketika aku sudah berada di samping tubuh Dwiki, aku langsung menaruh tanganku di nadinya yang tergorok itu. Kutahan agar darahnya tak terus mengucur keluar. Kubongkar isi tasku untuk mencari jarum dan benang untuk menjahit lukanya. Namun tiba-tiba Dwiki menahan tanganku dan menyuruhku untuk menghadapnya.

Suaranya megap-megap saat berbicara lirih kepadaku. “Kasih ini ke Ghea,” ujarnya tak jelas namun bisa kumengerti. Dia melepaskan cincin nikahnya lalu menaruhnya di atas tanganku yang terbuka. “Kasih tau mereka… kasih tau istriku dan anakku kalau aku cinta sama mereka,” ujar Dwiki makin kehabisan nafas. Air mataku menetes pelan ke pipinya. “Kamu sahabatku yang paling baik Dim.” Dia menjewer telingaku pelan sebelum akhirnya senyuman masygul yang tertoreh di bibirnya menghilang dan sorot matanya kini hampa.

Kupasang cincin pernikahannya di jari manisku, lalu kuguncang-guncang tubuhnya. “Tidak!” teriakku keras. “Jangan pergi Ki!” aku terus mengguncang tubuhnya. Menyuruhnya bangun dan kembali lagi padaku. Kubongkar kembali isi ranselku untuk mencari alat dan obat apa saja yang bisa menyelamatkan Dwiki.

Namun aktivitasku terhenti ketika tiba-tiba Boby menarikku menjauh dari tubuh Dwiki. “Dia udah nggak ada Dim,” bisik Boby di telingaku. “Dia udah nggak ada,” katanya sekali lagi.

Aku menggeleng kasar dan merangkak menuju ke tubuh Dwiki lagi. “Dia masih hidup,” ujarku dengan nada perih. “Dia pasti masih hidup. Istri sama anaknya nunggu dia di rumah!” teriakku kencang lalu kembali mencari obat untuk Dwiki.

Tiba-tiba pelukan hangat menyeruak masuk ke dalam tubuhku. Badan mungil itu mencoba menenangkanku. Hasan memeluk kepalaku dan mengusapkan tangan kecilnya di rambutku. “Dia sudah ada di pangkuan Allah sekarang,” ujarnya lembut, dalam bahasa Palestina yang mudah kupahami. “Dia sudah bahagia sama Allah sekarang di atas sana,” ujar Hasan lagi, mencoba membuatku makin tenang.

Tangisanku pecah di dalam pelukan Hasan. Seorang Dwiki, seorang sahabat yang selalu menemaniku saat aku susah dan tak punya siapa-siapa kini sudah pergi. Bukan pergi untuk sementara. Tetapi untuk pergi selamanya. Namun apa yang dikatakan oleh Hasan benar. Sekarang Dwiki pasti sudah berada di pangkuan Allah. Aku harus membiarkan Dwiki senang di atas sana. Aku juga harus memenuhi kemauan yang dia berikan padaku tadi.

Boby ikut memelukku lalu menaruhkan kepalaku di pundaknya. Tangisanku sudah lumayan tenang sekarang. Hasan membantuku berdiri dan mengajakku untuk duduk di sisi tubuh tak bernyawa Dwiki. Lantunan doa yang meluncur dari mulut Hasan terdengar begitu merdu dan menenangkan. Aku tersenyum kecil ke arahnya lalu aku kembali mengobrak-ngabrik isi tasku lagi untuk mencari perban panjang untuk menutup nadi karotis Dwiki yang terputus, agar darahnya tak keluar makin banyak.

Setelah aku melakukan beberapa rekatan di setiap sudut lehernya, barulah aku mengangkat tubuh Dwiki. Boby yang melihat tingkahku bertanya pelan. “Lo mau bawa mayat dia?”

Aku menoleh dan mengangguk. “Gue pengen istri dan anaknya ngeliat dia dikuburin. Gue pengen Dwiki dapet tempat yang lebih indah dari tempat ini.”

Boby mengangguk setuju lalu mengambil jasad Dwiki dari gendonganku. “Lo yang gendong Hasan, gue yang bopong Dwiki.”

Aku lalu langsung meraih Hasan dan menaruhnya di dalam gendonganku. Bulan sudah bertengger di atas langit kelabu malam ini. Aku dan Boby mempercepat langkah kaki kami. Bisa kurasakan hembusan nafas Boby yang makin berat saat kami sudah menempuh jarak sekitar tiga ratus meteran. Pasti dia kelelahan membawa jasad Dwiki. Aku jadi tidak enak dengannya.

Kuhentikan langkahku lalu menghadapkan wajahku ke Boby. “Kita gantian,” ujarku sambil menurunkan Hasan dari gendonganku. “Biar gue lagi yang bawa Dwiki sekarang.”

Namun jawaban yang diberikan oleh Boby adalah gelengan absolut tak terbantahkan. “Biar gue aja. Dua ratus meter lagi kita sampe di perbatasan kok.”

Boby kembali melangkahkan kakinya dengan gerakan luwes. Aku langsung memasukkan Hasan ke dalam gendonganku lagi. Kususul Boby yang sudah berjarak lima meter dariku. Keringat berbulir tebal terus mengaliri tubuhnya saat kami sudah berada di pucuk reruntuhan. Baru saja aku ingin memegang wajahnya, tiba-tiba dia menerjangku secara kasar. Bunyi letusan senjata terdengar sebelum aku sempat tersungkur ke tanah. Suara rintihan terdengar dari mulut Boby. Belum saja aku sadar dengan apa yang terjadi, suara tembakan kembali terdengar. Aku menggeser badan Hasan sedikit menjauh dariku agar dia aman. Mataku nanar saat mencoba untuk membidik dua orang tentara Israel yang berlari ke arah kami. Aku cepat-cepat mengangkat senjata laras panjang milik Boby dan menembakannya. Salah satu dari tentara itu terkena tembakanku dan tumbang. Sayangnya yang satu lagi masih kukuh untuk menyerang kami. Tanganku terselip saat aku ingin mengokang senjata itu.

Tentara Israel itu sudah makin mendekat ke arah kami. Aku sudah pasrah jika aku ditembak olehnya. Tanganku masih terselip di bagian pengokangan senjata laras panjang yang kupegang ini. Saat tentara itu sudah berdiri di dekat kakiku, aku langsung memejamkan mataku. Kembali pasrah dengan apa yang akan terjadi. Suara tembakan berteriak riang, sampai-sampai suara itu masuk ke dalam gendang telingaku. Aku lalu mencoba merasakan apakah ada yang sakit di tubuhku atau tidak. Namun saat aku menghitung dua detik di dalam hati, tak ada rasa sakit yang menyerang tubuhku.

Aku lalu membuka mataku dan melihat tentara Israel yang mencoba menyerangku sudah terjerembap jatuh dari reruntuhan ini. Aku mengerutkan kening, kebingungan. Tetapi saat aku menolehkan kepalaku ke arah Hasan, ternyata dia sedang mengangkat tinggi pistolku dengan tangan gemetar. Matanya kecilnya yang tak berdosa terlihat gusar saat bersitatap dengan mataku. Jadi, tadi dia yang menembak tentara itu.

Kuambil secara perlahan pistolku dari tangan mungilnya. Dia melepaskan senjata itu dengan kaku dan takut. Aku menenangkannya dengan menggunakan bahasa Palestina yang pas-pasan. Untung saja Hasan mengerti dan langsung terjun ke dalam pelukanku. Dengan hati-hati aku mengelus punggungnya dan menenangkannya.

Hasan akhirnya menyingkir dari dekapanku saat dia sudah merasa aman dan nyaman. Lalu aku beralih ke Boby yang sedang merintih dalam diam di sebelahku. Aku mengangkat tubuh Dwiki agak menjauh dari Boby. Ketika aku sudah berada di sebelah tubuh Boby, aku langsung membalikannya. Mulutku ternganga lebar saat mendapati dua tembakan yang mengenai pundak dan limpanya.

Aku cepat-cepat mengobrak-ngabrik isi tas ranselku. Setelah aku menemukan apa yang kubutuhkan, aku langsung mencabutnya keluar dari dalam tas itu dan mengocoknya. Kusobek sedikit ujung bajuku yang masih lumayan bersih. Kemudian kusumpalkan belahan kain bajuku itu ke mulut Boby yang merintih. Dia mendekap belahan kain itu dengan memberontak, namun ketika Hasan membisikan sesuatu ke telinga Boby, dia langsung berubah diam dan menurut.

Kukocok kembali alkohol yang kupegang di tangan kananku dengan kuat. Selanjutnya kubuka penutup botol itu dan menuangkan cairan alkohol berwarna kuning itu ke tempat Boby terkena tembakan. Dia menjerit tertahan ketika aku terus menyirami lukanya dengan alkohol itu. Namun walaupun dia menjerit, dia tidak melawan atau memberontak.

Kuambil pisau kecil yang ada di saku tas ranselku lalu menyobek bajunya tepat di bagian dia terkena tembakan. Kurogoh kembali isi tas ranselku lalu mencari pinset steril yang kubungkus dengan plastik kedap udara. Aku memasang sarung tangan steril ke tanganku lalu mulai memegang bagian tubuh Boby yang terkena tembakan. Aku langsung mengurus luka tembakan yang mengenai limfanya. Darah segar mengucur dari sana. Dengan tangan kiriku, aku membuka lebar dagingnya yang robek dan memasukan pinset itu ke dalam dagingnya yang makin mengeras karena perih. Kumasukan jari telunjukku ke dalam robekan dagingnya dan mulai mencari peluru yang bersarang di tubuhnya. Tak berapa lama kemudian aku menemukannya dan menjepit peluru itu dengan pinset.

Peluru berbentuk kecil itu langsung kubuang ke sembarang tempat. Aku mengambil jarum dan benang jahit yang ternyata sembunyi di balik bungkusan pinset. Kumasukan benang itu ke dalam lubang jarum dengan teliti, lalu setelah dia terpasang dengan rapi, aku lalu menyiram sekali lagi luka Boby agar bersih dari kuman dengan alkohol. Kujahit lukanya dengan perasaan getir. Boby sudah tidak merintih lagi, tetapi sekarang dia sudah mulai hilang kesadaran. Hanya saja aku tidak perlu kuatir karena nafas Boby sudah kembali teratur seperti semula.

Ketika aku sudah selesai menjahit lukanya, aku lalu berpindah ke pundaknya. Mengambil peluru yang bersarang di pundaknya ternyata lebih mudah dan tidak terlalu dalam seperti yang ada di limfanya. Bahkan hanya tiga jahitan saja yang terjalin di pundak Boby. Kupasangi lukanya dengan perban dan plaster besar penghilang rasa sakit dengan rapi. Dia merintih nikmat kali ini karena lukanya sudah mulai dijalari obat penenang.

Boby membuka matanya dengan perlahan. Namun tiba-tiba dia terbatuk-batuk dengan kencang. Nafasnya menderu tidak teratur. Pasti ada sesuatu yang menyumbat paru-parunya saat aku mengambil peluru di limfanya tadi. Dia megap-megap beberapa kali sebelum akhirnya nafasnya berhembus panjang untuk terakhir kalinya. Perasaan panik langsung menjalari kepalaku. Tidak! Jangan ambil Boby juga! Aku berteriak di dalam hati sambil memukul dada Boby beberapa kali.

Namun usahaku percuma ketika tak ada tanda-tanda kehidupan dari diri Boby. Aku lalu langsung mengeluarkan tabung oksigen pompa dari dalam tas ranselku dan menempelkannya di hidung dan mulut Boby. Kupompa oksigen itu sampai dua puluh kali, namun masih saja tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam dirinya. Tangisan Hasan membuyarkan kewarasanku. Aku lalu menangis seperti orang kesetanan dan memukul tubuh Boby dengan kasar.

“Bangun!” teriakku memohon di telinganya. Aku tidak mau kehilangan dia juga. Entah mengapa, hatiku tidak mau kehilangan dia. Selama ini dialah yang selalu mengajariku apa-apa. Dialah yang selalu melindungiku dan menjagaku. Aku kini sadar ada rasa sayang yang tumbuh di hatiku untuknya. Ciuman singkat yang dia berikan padaku waktu lalu kini terngiang di kenagan otakku. Aku ingin dia menciumku lagi. “Bangun!” pekikku dengan deraian air mata. “Eh, anjing, bangun!” gertakku sembari memukul dadanya dengan kekuatan penuh.

Suara batuk khas Boby kemudian terdengar. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali saat dia tersampir bangun dan mengucek matanya dengan gerakan hati-hati. Dia melirikku sebentar lalu bertutur dengan suara parau. “Lo tadi ngatain gue anjing ya?”

Kekehanku keluar begitu saja. Perasaan lega langsung berjalan-jalan dengan riang gembira di saraf kehidupanku. Aku lalu langsung memeluk tubuhnya dengan hati-hati dan menangis lirih di dekat telinganya. Boby memeluk pundakku sebentar sebelum akhirnya aku menjauhi badannya sedikit lalu mengecup bibirnya dengan hangat. Untung saja aku sempat menaruh tanganku untuk menutup mata Hasan, agar dia tidak melihat adegan berbahaya ini.

Awalnya Boby terkejut dengan tindakan yang kulakukan padanya. Namun akhirnya dia menyambut bibirku dengan senang hati. Untuk tiga detik yang panjang, mulutku bersedekap dengan mulutnya. Perasaan lega dan perasaan sayang itu kembali menyeruak ke relung hatiku. Boby melepaskan ciuman kami dan menatapku dengan tatapan sendu dan rindu. “Gue utang budi sama lo,” rapalnya bak penyanyi profesional. Kata-katanya yang lembut menyihirku. “Makasih udah mau nolongin gue.”

Aku tertawa kecil di telinganya. “Anytime,” ujarku sebelum akhirnya membantunya bangkit untuk berdiri. “Kita diem di sini aja malam ini.”

Boby kembali menggeleng absolut. “Kita lanjutin perjalanan kita. Beberapa ratus meter lagi kita sampe ke perbatasan.”

“Lo bisa jalan?” tanyaku agak ragu.

“Bisa,” sahutnya cepat. Walaupun cara berdirinya sempoyangan, tetapi untuk berjalan dia masih sanggup ternyata. “Biar gue yang gendong Hasan.”

Kali ini aku yang menggeleng absolut. “Biar gue aja yang gendong Hasan dan bopong Dwiki. Lo mendingan sekarang lingkerin tangan lo di pundak gue.” Boby ingin membantah perkataanku, namun saat aku melotot tajam kepadanya, barulah dia menurut.

Aku bergerak cepat untuk mengambil jasad Dwiki. Kusampirkan tas ransel kesehatanku di punggung Dwiki lalu aku membopongnya ke punggungku. Hasan bersi keras ingin jalan saja, tapi aku tidak sanggup melihat kaki kurusnya untuk berjalan jauh. Jadi ketika aku menariknya dengan paksa ke dalam pelukanku, barulah dia menuruti perintahku.

Boby masih terlihat enggan untuk melingkarkan tangannya di pundakku. Akhirnya selama lima detik aku menunggu keputusannya, tibalah tangannya tersampir di pundakku. Aku menarik nafas panjang sebelum berjalan cepat untuk menuju ke perbatasan Gaza-Israel yang kurang lebih seratus lima puluh meter lagi. Saat kami sudah menempuh perjalan selama seratus meter, wajah Boby kembali pucat dan lelah. Tetapi dia bersikeras untuk melanjutkan perjalanan kami.

Jarak kami dengan perbatasan makin dekat. Tiga puluh meter. Dua puluh meter. Lima bela—batuk Boby yang mengerikan kembali terdengar. Aku langsung menghentikan langkahku dan menoleh kepadanya. “Kita lebih baik berhenti sekarang. Pasti paru-paru lo butuh udara untuk sementara ini.” Boby baru saja ingin menggeleng, namun aku yang menjadi pemimpin di sini sekarang. “Lo nggak usah ngebantah gue!”

Aku mengamati daerah sekitarku, banyak sekali reruntuhan di sekitar sini. Namun ada juga beberapa rumah yang terlihat masih berdiri dengan kokoh dan tak berpenghuni. Mataku menyipit saat mendapati rumah yang berada di dekat perbatasan namun juga bisa menyembunyikan kami dengan baik. Kulingkarkan lagi tangan Boby ke pundakku. Kueratkan lagi boponganku ke Dwiki. Kurekatkan lagi pelukanku ke tubuh Hasan.

Kami mengendap-ngendap saat sudah berada di dalam rumah itu. Sepuluh meter dari tempatku berdiri, ada dua tentara Israel yang sedang duduk dengan santai di pos jaga mereka. Itulah orang Israel, sangat suka lengah jika hari sudah tengah malam seperti ini. Tetapi aku senang dengan kelengahan mereka. Membuatku mendapatkan kesempatan emas untuk langsung masuk ke dalam rumah gelap yang akan menjadi tempat persembunyianku sampai besok pagi.

Aku membantu Boby duduk di atas kasur tak berbusa dan berdebu yang berada tak jauh dari perapian. Hasan sudah turun dari gendonganku dan dia duduk dengan kaki terlipat di depan jendela. Aku menaruh jasad Dwiki dengan hati-hati di dekat trali pintu bergembok yang tak terpasang. Wajah Dwiki yang tersiram cahaya bulan terlihat begitu tentram. Aku ingin menangis lagi jika mengingat kebaikannya. Akan tetapi aku langsung berbalik dan mencari botol minuman yang ada di dalam tas ransel kesehatanku. Kuberikan minuman itu untuk Hasan dan juga untuk Boby. Saat botol air itu berada di tanganku, hanya sisa seteguk yang aku dapatkan. Biarkan saja! Asal aku masih bisa meminum air hari ini.

Bisa kulihat Hasan sudah terlelap di bawah jendela. Aku lalu mendatanginya dan menyampirkan selimut berbau tak sedap di tubuhnya agar menghalau dingin yang kini sudah menyerebak datang. Kemudian aku kembali duduk di sebelah Boby. Wajahnya yang keras tiba-tiba menjadi layu saat menatapku.

“Lo ngingetin gue sama seseorang,” ujar Boby dalam kantuk.

Kutolehkan kepalaku ke arahnya dan menatapnya sendu. “Oh, ya? Siapa?”

Dia ikut nimbrung menatapku. Tangannya yang kasar memegang raut wajahku. “Adik gue.”

“Di mana adik lo sekarang?” tanyaku sembari tersenyum.

Boby mengangkat tangannya lalu menunjuk atap. Hanya saja tunjukan itu bukan untuk menunjuk atap, melainkan untuk memberitahukanku kalau adiknya sudah berada di atas sana. Sudah berada di dunia yang berbeda dari kami.

“Maaf,” ujarku dengan nada menyesal.

Boby hanya tersenyum. “Waktu itu, umur gue tujuh belas tahun dan adik gue lima belas tahun. Sore itu kita lagi berenang di sungai yang ada di belakang rumah. Tiba-tiba ada arus besar yang dateng. Adik gue terseret arus itu. Gue baru aja mau nolong dia, tapi tiba-tiba Ayah gue narik gue dari dalam air.” Suara Boby penuh kepedihan. Kini aku tahu mengapa dia begitu kalut saat aku ingin pergi ke sungai waktu itu. “Dua hari kemudian, mayat adik gue ditemuin. Ibu gue frustasi karena ditinggal pergi sama adik gue. Gue pun begitu. Gue merasa bersalah karena udah nggak nyelamatin dia waktu itu.”

Aku mendekatkan badanku ke Boby. “Itu bukan salah lo Bob,” tuturku menenangkan. “Itu udah suratan yang di atas.”

“Gue tau,” kata Boby. “Selama setahun yang panjang, Ibu gue selalu nangis dan nangis. Itu sebabnya gue benci denger orang nangis.” Boby menaruh kepalanya di pundakku. “Setelah itu, Ayah gue pergi dari rumah karena udah nggak tahan lagi sama Ibu. Dan hal itu jugalah yang buat Ibu gue jadi makin frustasi. Dua tahun setelah itu, Ayah nggak pernah pulang lagi ke rumah. Kemudian, pas gue baru aja lulus TNI, Ibu gue meninggal.” Mata Boby menerawang saat mengingat kejadian pahit yang terjadi di hidupnya. “Setelah pemakaman Ibu, gue mutusin buat ikut gabung ke Palestina ini. Itulah alasan gue berada di sini sekarang.”

Ya. Itu benar. Kami semua mempunyai alasan kenapa kami berada di sini. Aku menceritakan alasanku ke Boby. Dia mendengarkan ceritaku dengan seksama. Tangannya yang kasar menggenggam tanganku. “Jadi bukan lo aja yang hidup sendiri di dunia ini,” kataku berbisik di telinganya.

Boby mengangkat kepalanya dari pundakku. Matanya yang tajam menatapku lembut. “Pertama kali gue ngeliat lo dulu, gue langsung tau gue harus ngelindungin lo. Lo mirip banget sama adik gue. Tapi, sifat lo yang keras kepala dan suka ngelawan apa yang gue bilang, nyadarin gue kalo lo nggak sama kayak adik gue yang penurut.” Boby mendekatkan bibirnya di tengkukku. “Tapi gue tetep mau ngejagain lo dan ngajarin semua hal yang gue tau. Lo udah kayak magnet buat gue. Lo selalu narik perhatian gue. Terus pas hari gue nggak bisa nyelamatin Ghani hari itu, dan ngeliat lo nangis, gue berjanji pada diri gue sendiri buat selalu ada untuk lo.”

Aku mengambil wajah Boby dari tengkukku. Mengusap wajahnya dengan perlahan. “Makasih,” ujarku pelan dan lembut di telinganya.

“Nggak. Gue yang seharusnya bilang terima kasih.” Boby menarik kepalaku ke kepalanya. “Karena udah ngajarin gue banyak hal. Karena udah mau nolongin gue.” Boby mengecup hidungku. “Dan gue juga mau bilang makasih ke lo karena lo udah ngajarin gue gimana caranya cinta ke orang lain tanpa pamrih.”

Aku menjauhkan wajah Boby dari wajahku. “Maksud lo apaan?”

Boby tersenyum masygul. “Selama ini gue selalu sayang dan cinta sama lo. Gue selalu pengen lo ada di samping gue. Itu sebabnya gue pengen ngerubah lo jadi orang yang tangguh. Biar pas gue nggak ada di samping lo, lo bisa bertahan buat jaga diri lo sendiri.” Boby mendekapku pelan. “Gue sadar lo laki-laki, dan gue sadar gue juga laki-laki. Terus memangnya kenapa?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Bukannya cinta itu nggak punya alat kelamin ya?” dia tertawa pelan saat mendengar ucapannya sendiri.

Kuselipkan tanganku di sela-sela rambutnya. “Gue baru sadar tadi, pas gue kira lo udah ninggalin gue sendiri di dunia ini,” ujarku perlahan. “Kalo gue juga punya perasaan yang sama kayak lo. Semua hal yang lo lakuin ke gue, seharusnya gue sadar kalo itu adalah sebentuk perhatian lo buat gue. Gue kemarin buta, tapi sekarang gue bisa ngeliat dengan jelas apa arti itu semua.” Aku menelengkan kepalaku dan memajukan bibirku ke dekat bibirnya. “Gue juga cinta sama lo Bob. Untuk hari ini dan hari selanjutnya.”

Aku menempelkan bibirku ke bibirnya. Rasa basah dari bibir Boby langsung menghilangkan dehidrasi yang menyerang tenggorokanku. Ya. Aku tahu ini aneh. Aku tahu ini tidak masuk akal. Ini terjadi saat semua orang yang kukenal meninggal dunia. Tetapi ini benar adanya. Seharusnya kami berdua bisa lebih terbuka untuk satu sama lain dari petama bertemu. Seperti Durham dan Hatta. Mengapa kami harus takut dengan pemikiran orang lain. Boby benar, apakah cinta mempunyai alat kelamin? Tidak. Cinta tidak mempunyai alat kelamin. Dia netral dan bisa menyerang siapapun yang dia mau.

***

Mataharilah yang membangunkanku. Dengan enggan aku bangkit dari pembaringanku. Kutolehkan kepalaku dan melihat Boby sedang mendekap dirinya sendiri. Aku menggoyankan badannya untuk membangunkannya. Hari ini kami harus pergi dari sini. Dari tanah Israel yang terkutuk ini. Kami harus pulang ke Gaza.

Boby bangun dengan suara rintihan tertahan. Saat dia sudah benar-benar bangun, aku lalu langsung membangunkan Hasan dan mengecek jasad Dwiki. Kulit Dwiki sudah membiru sekarang. Mulutnya terbuka lebar. Aku cepat-cepat menyirami jasadnya dengan alkohol bening agar tetap awet. Aku tidak mau dia membusuk sekarang.

Saat Boby dan Hasan sudah benar-benar bangun, barulah kami membuat rencana. Selama sepuluh menit, tak ada rencana kami yang akan berhasil. Sampai akhirnya aku memutuskan hal tersebut.

“Gue bakalan ngalihin perhatian kedua tentara itu,” ujarku cepat, Boby mengernyit tidak setuju. “Pas gerbang perbatasan terbuka beberapa detik, kalian bertiga langsung masuk ke sana.” Aku tahu ini adalah rencana bunuh diri. Tetapi hanya ini satu-satunya cara agar mereka bisa lolos. Aku tidak peduli jika aku nanti tertembak dan mati.

Boby menggeleng kasar dan menekankan tanganku dengan keras. Suara sirene berbunyi, tanda beberapa detik lagi gerbang perbatasan akan terbuka untuk melihat apakah ada tentara independen yang akan memasuki jalur Gaza. Sebenarnya kami bisa saja menjadi tentara independen, tetapi sayangnya kami tidak mempunyai lencana untuk menunjukan kalau kami adalah tentara independen. Lagipula aku bukan tentara, aku seorang dokter.

“Sirene udah bunyi,” aku melingkarkan tangan lemas Dwiki di pundak Boby. Kutaruh Hasan di samping tubuh Boby. “Beberapa detik lagi gerbang bakalan dibuka dan juga beberapa detik kemudian gerbang bakalan ditutup. Jadi kalian harus cepet. Biar gue yang ngalihin perhatian kedua tentara penjaga perbatasan itu.”

Gelengan kembali terlihat dari kepala Boby. Dia menaruh tangan lemas Dwiki ke pundakku. “Biar gue aja yang ngalihin perhatian mereka,” ujarnya parau dan teguh. “Kalian berdua harus lolos dari tempat ini.” Aku baru saja ingin membantah perkataannya, namun tiba-tiba Boby menaruh tangannya di mulutku. “Gue luka parah dan lo sehat. Gue nggak bakalan berguna lagi kalo kembali ke sana, dan lo masih dibutuhin di sana. Jadi… turutin apa yang gue perintahin ke lo ini dr. Dimas.” Kata-kata memperintahkan itu kembali lagi ke melodi suaranya. “Sebagai ketua pimpinan pasukan 228, gue perintahin lo buat nggak ngebantah apa yang gue bilang!”

Aku ingin melawan perintahnya namun dia melotot tajam ke arah mataku. Jantungku tiba-tiba kehilangan detakannya satu kali. Sorot mata itu penuh ancaman dan kemarahan. Dan juga penuh… kasih sayang. Kemudian, aku mengangguk untuk menyetujui perintahnya.

Boby menjelaskan rencana yang akan kami lakukan pada Hasan. Dia menggeleng kasar ketika mendengar rencana kami. Dia lalu memeluk kaki Boby dengan kencang. Karena aku tidak sanggup melihat adegan itu, jadi aku menyibukan diriku untuk membenarkan posisi Dwiki di bopongan badanku. Ketika akhirnya Hasan sudah melepaskan pelukannya dari kaki Boby, aku menolehkan kepalaku ke arahnya.

“Kita bakalan ketemu lagi kan?” tanyaku dengan suara sendu.

Senyuman Boby kembali terukir lebar. “One day, we will meet again,” ujarnya menggunakan bahasa asing. “Mungkin bukan di dunia ini. Tapi di dunia yang lebih baik dan lebih indah dari tempat kita berpijak sekarang.”

Aku tidak bisa menahan air mataku. Kulangkahkan kakiku pelan dan memeluk pundaknya perlahan, agar tidak mengenai lukanya. Dia memiringkan kepalaku dan mencium bibirku singkat. Hanya saja, meskipun ciuman itu singkat, perasaan sayang dan cinta masuk ke dalam hatiku. Aku menyandarkan kepalaku di kepalanya untuk beberapa detik sebelum akhirnya aku melepaskannya dan bersiap untuk pergi.

Ketika aku mencari Hasan, dia tidak ada di sampingku ataupun di belakangku. Nafasku langsung menderu saat jantungku kembali terpompa dengan cepat. Dimana dia? dimana Hasan? Boby juga ikut nimbrung untuk membantuku mencari Hasan. Tetapi pencarian kami berhenti saat aku mendengar suara gembok yang terkunci rapat di pintu trali untuk menuju ke pintu depan. Aku mendesah cepat sebelum akhirnya menghampiri pintu bertrali itu.

Hasan ada di baliknya, tangan kecilnya yang kusam terus memegang gembok itu dengan kuat. Boby berdiri di sampingku saat akhirnya Hasan mundur beberapa langkah untuk menatapku dan Boby secara bergantian. Aku menggoyang-goyangkan gembok yang terkunci itu. Namun percuma, gembok itu sudah terkatup dengan rapat.

Aku menoleh ke arah Hasan dengan mata yang perih. Dia tersenyum manis kepadaku sebelum berujar kecil dengan bahasa Palestinanya. “Hasan tidak mau kalian mati,” kata-kata itu mirip sekali seperti alunan dzikir. “Hasan ingin kalian selamat.” Aku menggoyan-goyangkan kembali pintu trali itu dengan kuat. “Jadi lebih baik Hasan saja yang pergi,” dia menatapku dengan mata malaikatnya. “Hasan rindu sama Abi dan Umi. Juga sama adik Hasan, Nasbullah. Hasan ingin berada di pangkuan Allah. Hasan ingin hidup bahagia di tempat lain saja.” Dia mendatangiku dan Boby, dia menyentuhkan tangannya lembut ke tanganku. “Terima kasih untuk segalanya. Hasan pergi dulu. Assalamualaikum.”

Lalu dia berlari menerobos pintu depan. Aku masih menggoyang-goyangkan pintu trali itu dengan perasaan frustasi. Aku ingin berteriak pada Hasan untuk tidak pergi, tetapi aku tidak bisa. Suaraku tidak bisa keluar sama sekali karena tenggorokanku kering dan karena aku juga sangat syok sekarang. Ketika pintu trali itu hampir bergemerisik terbuka, tiba-tiba aku mendengar jeritan Hasan. Mataku langsung memicing saat kedua tentara penjaga perbatasan mengejarnya dengan cekatan.

“Nggak ada gunanya Dim,” ujar Boby melepaskan tanganku dari pintu trali itu. “Lebih baik kita pergi sekarang.”

Boby benar, aku sudah terlambat untuk menyelamatkan Hasan. Jikalau aku bisa menyelamatkannya, aku yakin kami berdua pasti tetap akan mati. Boby menarikku cepat dan membawaku ke jendela. Selama sepuluh detik aku dan Boby berkutat dengan jendela kayu itu, akhirnya jendela itu terbuka juga. Kukeluarkan jasad Dwiki perlahan dari jendela itu lalu aku menyusul. Tak berapa lama kemudian Boby menyusulku. Baru saja aku menyampirkan jasad Dwiki di punggungku, tiba-tiba Boby menarik tanganku dengan segera untuk langsung berlari. Jarak kami dari perbatasan sekitar enam meter. Dan gerbang perbatasan sudah setengah tertutup.

Kutetapkan kakiku lalu berlari dengan kencang, diiringi dengan suara tembakan yang membahana dari belakangku. Itu pasti tembakan yang ditujukan untuk Hasan. Aku ingin menoleh ke belakang tetapi sudah tidak sempat karena jarakku dengan perbatasan akhirnya sudah dekat. Ketika beberapa ratus sentimeter lagi gerbang itu akan tertutup, aku dan Boby langsung meloncat masuk. Suara debuman dadaku dan Boby terhempas ke tanah sangat mengerikan bunyinya. Tetapi aku tidak memikirkan hal itu, yang aku pikirkan adalah nasib Hasan saat ini.

Saat gerbang itu sudah akan tertutup dengan rapat, aku mengintip sedikit di celah gerbang itu untuk melihat nasib Hasan. Saat mataku tertumbuk ke sosok Hasan, dia sedang berlari ingin sembunyi ke balik reruntuhan besar yang berjarak satu meter dari tempatnya berdiri. Sayangnya hal itu tidak akan pernah tercapai dengan baik, karena tiba-tiba sebuah tembakan kasar mengenai belakang kepalanya dan memuntahkan isi otaknya ke tanah. Dia jatuh terjerembap ke tanah dan tewas.

Gerbang akhirnya tertutup dengan sempurna. Aku menangis dan meronta-ronta saat ada seseorang yang mengambilku dari tanah. Aku sudah tidak bisa berkutik lagi. Badanku lemas dan aku dehidrasi tinggi. Aku sangat berharap semua kelelahan yang menyerang tubuhku ini berakhir. Seperti apa yang sudah terjadi pada semua hal di hidupku. Aku ingin ini berakhir.

***

Selama seminggu aku selalu bangun dengan mimpi buruk. Mulutku selalu dipenuhi dengan cairan morfin saat aku tersadar. Badanku memang sudah tidak lemas lagi, tetapi otakku masih sulit untuk diajak berkompromi. Boby dipindahkan ke bangsal perawatan yang lebih bagus karena lukanya yang sangat parah. Sudah seminggu ini aku belum melihatnya. Palingan aku hanya melihatnya dalam mimpi burukku. Dan di mimpi burukku itu, dia tewas dan pergi meninggalkanku untuk selamanya.

Dua hari yang lalu kupikir itu juga adalah mimpi buruk. Saat Komandan kami datang dan memberitahuku kalau masa pengabdianku di Negara Palestina ini sudah berakhir. Ketika aku sembuh nanti, aku akan dipulangkan ke Indonesia. Aku lalu langsung berteriak kepadanya untuk tidak mau pulang dan masih ingin di sini, kupikir aku sedang bermimpi kala itu. Namun saat suntikan bius penenang menyengat kulitku, barulah aku sadar itu bukan mimpi.

Boby tidak akan ikut pulang bersamaku. Dia masih banyak pekerjaan di sini. Dia juga sudah diangkat menjadi Komandan sekarang, karena bisa kembali dengan selamat dari Jerusalem. Aku ikut berbahagia untuknya. Tetapi aku juga tidak bisa memungkiri hatiku kalau aku juga sedih karena akan meninggalkannya di sini. Tetapi itu memang sudah menjadi takdir kami. Dan sehebat apapun aku, aku tidak akan pernah bisa melawan takdirku sendiri.

Seseorang sudah mengepak isi tasku. Jasad Dwiki sudah dipulangkan lima hari yang lalu. Kakiku masih melayang di atas tempat tidur saat ada seseorang yang menghampiriku dan memberikanku sebuah kalung. Kubuka mataku dan memegang kalung itu. Saat aku sadar itu kalung siapa, aku langsung terduduk tegak. Aku memutar kepalaku untuk mencari tahu siapa orang yang sudah memasangkan kalung Dwiki ini ke leherku. Namun aku tidak menemukan siapa-siapa di ruangan perawatan ini.

Kuselipkan kalung itu ke dalam bajuku dan turun dari kasur. Kuambil tas jinjingku lalu keluar dari ruangan ini. Sinar matahari menyinari mataku saat aku berjalan menuju ke lapangan helikopter mendarat. Hari ini aku akan pulang. Pulang ke Negaraku sendiri. Tetapi meskipun itu Negaraku sendiri, aku tidak mempunyai siapa-siapa di sana.

Seseorang membantuku naik ke atas helikopter. Baru saja aku ingin duduk di kursi empuk helikopter itu, tiba-tiba ada sebuah suara memanggilku. Aku menolehkan kepalaku cepat dan melihat Boby berada di bawah tiang pendaratan. Tangannya dipasangi gips, sorot kehidupan yang selalu kulihat di matanya kini makin terang. Dia tersenyum lebar ke arahku.

Aku turun dengan perlahan dari helikopter dan menghampirinya. Kupegang wajahnya dengan ujung tanganku. Dia tersenyum masygul kepadaku. “One day, we will meet again,” ujarnya menggunakan kalimat itu lagi. “Mungkin bukan di dunia yang lebih baik dan lebih indah daripada di sini. Tapi gue yakin, selama kita bersama, dunia akan selalu baik-baik aja buat kita.” Dia menelungkupkan tangan kirinya di tanganku lalu mengecupnya. “I promise. One day.”

Kuanggukan kepalaku dan ikut mengecup tangannya. “Gue cinta sama lo,” hanya itu yang ingin kusampaikan padanya sebelum aku pergi.

Dia tersenyum meneduhkan. Wajahnya yang keras berubah lunak. Dia memang tidak tampan, tetapi dia berwibawa. “Gue juga cinta sama lo.”

Untuk terakhir kalinya, kami berpelukan. Menyalurkan rasa hangat ke tubuh kami masing-masing. Kemudian dia melepaskan pelukan kami dan membantuku untuk naik ke atas helikopter. Saat pintu helikopter mau tertutup, aku langsung berujar cepat padanya. “One day.” Dia mengangguk dan sekali lagi tersenyum. Setelah itu, pintu helikopter tertutup dan hanya meninggalkan bayangan hitam pekat di ujung mataku dari dirinya.

***

Aku duduk dengan gusar di ruang tunggu pengunjung. Mataku mencari-cari sesosok orang yang mungkin akan menjemputku dari bandara Soekarno-Hatta ini. Hanya saja aku yakin itu tidak akan terjadi.

“Dimas,” panggil suara itu lembut.

Aku berbalik cepat dan mendapati mantan serta orang yang sudah kuanggap saudaraku sendiri sedang berdiri tegap di belakangku. “Nino?” ujarku tak percaya. Terakhir kali aku melihatnya sekitar dua tahun yang lalu. “Lo ngapain di sini?” tanyaku dengan senyuman.

“Buat jemput lo,” katanya sembari membalas senyumanku. Aku mengernyitkan keningku, bingung. “Gue denger dari kakak lo, Metha, kalo lo bakalan pulang ke Indonesia hari ini.” Dia mendekatiku dan menyalami tanganku. “Gue juga udah tau kalo keluarga lo udah…” dia menggantung ucapannya. Hanya saja aku tahu keterusan dari kalimat itu. “Tapi, karena gue udah anggep lo keluarga gue, lo bisa tinggal bareng gue di apartemen pacar gue.”

Aku baru saja ingin menolak, namun urung saat ada seseorang yang menghampiri Nino. Mataku terbelalak saat melihat wajah cowok itu. Dia sangat tampan dengan rambut tergerai dengan sempurna di keningnya. Matanya bening dan senyumannya sangat manis. Seumur hidupku, aku tidak pernah melihat cowok yang mempunyai wajah setampan ini. “Lo pasti Dimas,” ucapnya merdu. “Gue Dev, pacar Nino.” Aku menyambut uluran tangan itu dan membalas senyuman manisnya. “Sekarang kita balik yuk,” dia bertutur pelan dan mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya. “Ini kamar apartemen lo. Bokap gue udah ngasih izin lo buat tinggal di sana.”

Cepat-cepat aku menggelengkan kepalaku. Walaupun aku sebenarnya tidak ingin menolaknya. “Udah nggak usah pakek nolak segala,” seru Nino tegas. “Lo bisa tinggal sama kita sampe lo bisa mandiri lagi. Lo udah kayak adik gue sendiri Dim. Jadi, nggak usah nolak apa yang kita kasih ke elo.”

Dev tersenyum lebar, dengan perasaan tidak enak, aku mengambil kunci itu dari tangannya. Setelah itu Dev menepuk pundakku dan mengambil tas jinjingku. Hari ini, aku mempunyai hari yang baik. Ternyata aku salah, aku tidak pernah sendiri di dunia ini. Masih ada orang yang peduli padaku. Hanya aku saja yang tidak menyadari hal itu. Tetapi sekarang aku sudah membuka mataku dengan lebar dan melihat dengan jelas apa yang sudah Allah tuangkan untukku di kehidupanku.

***

Aku tinggal di lantai 44. Sedangkan Nino dan Dev berada di lantai 50. Sudah tiga tahun aku tinggal di apartemen itu. Aku mempunyai beberapa orang yang peduli denganku. Di lantai 44 ini, aku mempunyai tiga orang yang sudah kuanggap saudara. Pertama adalah tentangga yang berada sebelah kiriku. Namanya Harry. Dia seorang pilot dan selalu memberikanku oleh-oleh setiap kali dia baru pulang dari luar negeri. Kemudian tetangga yang berada di sebelah kananku namanya dr. Diatmika, dialah orang yang memperkerjanku di Rumah Sakit Husada Jakarta. Sekarang aku sudah bisa hidup mandiri. Tidak menyusahkan Nino dan Dev lagi. Lalu tetangga yang berada di depan kamarku namanya Gio. Awalnya dia seorang model, namun dia berhenti dan menjadi penulis buku sekarang. Dia selalu memberikanku buku-buku bagus dan selalu memasakkanku makanan lezat. Itulah ketiga orang yang sudah kuanggap saudara di sini. Kalau Nino dan Dev, mereka sudah melebihi saudara untukku.

Setahun yang lalu aku pergi ke Mataram untuk memberikan cincin Dwiki ke Ghea. Lalu memberitahu kalau Dwiki mencintainya. Selama dua hari aku di Mataram, aku dan Ghea selalu menangis dan menangis. Aku juga mengunjugi makam Dwiki saat di Mataram. Hanya saja sekarang, perasaanku sudah bisa lebih tenang dan bahagia. Mimpi buruk yang sering mendatangiku juga kini sudah sirna sepenuhnya.

Aku masih belum mendapatkan kabar apa-apa dari keluargaku. Namun aku yakin di dalam lubuk hati mereka yang terdalam, mereka menyayangiku. Lagipula aku mendapatkan bantuan dari seorang Luk, salah satu sahabat Dev. Dia juga memiliki nasib yang sama sepertiku. Orang tua kami sama-sama tidak ingin menerima kami sama sekali. Kata Luk, suatu saat nanti, jika memang mereka menyayangi kita, mereka akan berusaha untuk mencari. Bukan hanya di dunia ini. Tetapi juga saat di akhirat nanti.

***

Aku masih menunggu koperku di baggage claim, saat HPku berdering nyaring. Telpon dari Dev ternyata. Dia menanyakan apakah aku sudah sampai di Indonesia apa belum. Aku mengiyakan pertanyaannya lalu menutup telpon. Hari ini aku baru saja pulang dari Belanda. Aku baru menghadiri upacara pernikahan Dev dan Nino. Aku turut senang saat mereka berdua tadi saling memandang penuh cinta. Andai aku dipandang seperti itu juga.

Hanya saja, ternyata hal itu akhirnya menjadi kenyataan. Saat aku menolehkan kepalaku untuk mengambil koperku, tiba-tiba ada seseorang yang juga ikut menarik kopernya di sebelah koperku. Tangannya yang besar dan bau amber yang menyeruak dari tubuhnya langsung membuyarkan isi kepalaku. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat dia di sana. Di sebelahku. Sedang memandangiku dengan penuh cinta. Dengan penuh rasa rindu.

Dia menguakkan bibirnya menjadi sebuah senyuman. Matanya yang hitam dan keras berubah lembut saat bersitumbuk dengan mataku. Aku ikut tersenyum lebar ke arahnya, sampai senyumanku berubah menjadi tangisan haru bergembira. Dia memegang wajahku dengan tangannya yang kini sudah sehat dan kokoh kembali. Kupegang tangannya yang memegang wajahku. Merasakan kehangatannya dan menyerap semua kerinduannya.

Now, our ‘one day’ is coming,” ujarnya masih dengan suaranya yang kasar dan melodius. “And, I’m still in love with you… here,” dia menaruhkan tanganku di dadanya. Atau yang lebih tepatnya di hatinya. Bisa kurasakan detakan jantungnya yang berdegup dua kali lebih cepat, sama seperti jantungku saat ini.

Aku tersenyum ke arahnya dan mengangguk. “You are my one day,” tuturku sederhana.

Lalu ketika tangan kami bertaut menjadi satu… one day kami akan berubah menjadi kalimat santun lainnya. Mungkin akan berubah menjadi: forever. Ya… aku yakin itu pasti benar. Entah kenapa, sekarang aku sangat senang mendengar kalimat tersebut. Forever.

 

-The End-

 

I humbly thank you.

Always yours,

 

 

Rendi Febrian

18 thoughts on “One Day

  1. Rendi i really love your stories…
    Luapan kasih sayang, cinta, persahabatan semuanya ada di dalam ceritanya…
    Aku rasa kamu orang yang penuh dengan cinta, n ceritamu membawa pengaruh positif bahwa selalu ada happy ending even itu gay love.

    Thank you for the great stories😀

  2. aaa… gilaaaa.. aku nangis masa baca cerita ini T.T wktu hasan ngorbanin diri itu tuuu.. :”(
    btw.. sebenernya aku ini silent reader yg udah baca smua cerpen2 kmu.. yg menikmati tanpa mengomentari *apadeh tapi buat yg satu ini, sumpah tangan aku gatell bangett buat ngetik komentar atau seengaknya ngasih apresiasi buat cerpen kamu yang satu ini..
    satu lagi.. aku juga terharu sama cerpen yang love isn’t blind.. btw, itu tokoh2nya nyata ya? sahabat kamu gitu? pokoknya krennn bangett deh tulisan2 kamuu.. orangnya juga :* Hhe

  3. Bagus bgttt…i wish..i have one day…with my true love..sama bgt nasib gw m dimas,tapi..gw ditggl wafat kedua ortu..gw percaya will be one day with special one..don’t know whose him..just believe..makasih dah menginspirasi dan menguatkn gw..doain gw kuat jalanin hdup y..amin

  4. one day: sempet ngeri karena ada adegan darah dan apalah. dan kisah persahabatan yang mengharukan. saneng deh akhirnya happy ending. bertemu kembali di: one day….

  5. Heiii….ren
    banyak cerita yang aku buat namun belum siap aku publikasikan…
    (maaf;bukannya pelit)
    hanya saja masih mencari referensi alur cerita bagaimana yang banyak peminatnya..
    “bukannya sombong ya ren” (hehheeehhee) cerita yang aku buat gak kalah bagus sama yang rendy buat…..

    Tapi yang aku lihat,,kisah percintaan Gay lebih menguras emosi pembaca dan fikiran (penulis pastinya)..
    Jadi,bagaimana kalau cerita yang aku buat kamu kembangkan ke aliran cerita Gay…
    Tapi inget tema dan isi ceritanya jangan diubah yaa…
    Ok….

    Salam 4 jempol dah buat kau Ren.

  6. Aaaa kerennn bangettt gue sedih banget apalagi di part pengorbanan hasan aaaa gue nangis sejadi jadinyaaa(´;Д;`) cerita buatan lo keren – keren dehヾ(Ő∀Ő๑)ノ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s