Nine Months


(Sixth “Times” Saga)

Nine Months

Trivial Story By. Rendi Febrian

 

 

Semuanya berawal dari sembilan bulan. Hal-hal yang terjadi di hidupku itu semuanya berawal dari sembilan bulan. Bagaikan sebuah kandungan. Bagaikan sebuah perayaan cinta di Romawi. Semuanya dimulai sejak bulan awal hingga sembilan bulan. Nah, hidupku persis sama seperti itu. Seperti sebuah kandungan, seperti sebuah perayaan cinta. Aku sangat menyukainya, namun terkadang juga membencinya.

Pasien terakhir yang kutangani akhirnya meninggalkan ruanganku. Wajah pucatnya berubah menjadi lebih pucat saat mengetahui kalau kanker yang dia derita akan membunuhnya dalam waktu sembilan bulan lagi. Walaupun aku memberitahu pasien tersebut dengan suara mencoba meneguhkan dan membantu dia berdiri kuat, namun aku sendiri juga membenci hal itu, karena itu juga sedang menyerangku saat ini. Ya. Sembilan bulanku akhirnya mau habis. Dan aku harus merelakan semuanya. Yang menjadi pertanyaannya adalah… bisakah aku?

***

Sekolah di luar negeri bukanlah kemauanku. Karena paksaan kedua orang tua dan juga Opa-Omaku, terpaksa aku harus mengangguk mengiyakan. Dan disinilah aku sekarang, mengatur barang-barangku di apartemen sumpek dan kucel ini. Ditambah lagi besok aku sudah harus memulai kelas Anatomi di Fakultas Kedokteran. Sebenarnya aku ingin mengambil jurusan Psikologi Klinis, tetapi karena kampusku yang mempunyai nama University of Seattle Mercy sudah kepadatan peminat di jurusan itu, yah mau bagaimana lagi. Lagipula tidak ada bedanya menjadi dokter atau Psikologi Klinis.

Akhirnya sembilan bulan dan sembilan bulan dan sembilan bulan terlewati. Aku mempunyai banyak sahabat di sini. Mereka semua beda jurusan denganku. Toby dari Boston adalah cowok macho dengan rambut keriting yang masuk jurusan Teknik. Aleksey dari Russia adalah cowok ber-aksen inggris paling buruk yang masuk jurusan Bisnis. Kwan-Ren dari Seoul adalah cowok bermata sangat sipit yang masuk jurusan Arsitektur. Logan dari Chicago adalah cowok paling cerewet yang masuk jurusan Hukum. Dan… inilah kami berlima, orang-orang dari Negara berbeda dan berbeda jurusan yang tiba-tiba menjadi sahabat dekat.

Kami berlima sedang berada di kelas Pengembangan Diri saat ini. Kelas yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa tingkat pertama. Sebenarnya kelasnya belum dimulai sama sekali, masih sekitar setengah jam lagi. Namun karena aku dan sahabat-sahabat bule-ku ini memang sangat suka datang kecepatan, jadilah kami berada di sini sekarang.

“Kalian tahu tidak kalau hari ini adalah hari pengambilan suara tantangan?” ujar Aleksey dari balik punggungku. Aksen inggrisnya yang buruk membuatku dan yang lainnya sedikit mengernyit bingung.

Kwan menggebrak meja dan ber-oh panjang. “Yeah, benar sekali!” teriaknya antusias. Kemudian dia mengeluarkan lima stick ice cream bekas dari dalam tasnya. Di ujung setiap stick terdapat nama kami.

Baiklah, aku akan menceritakan permainan apa ini. Sebenarnya ini permainan orang Indian, dimana kepala suku akan menuliskan nama setiap cowok yang ada di perkumpulannya untuk disuruh berburu. Nah, siapapun orang yang tercabut namanya, dia harus menerima tantangan untuk berburu binatang yang kepala suku perintahkan. Kadang Macan, Harimau, Rusa Jantan, Buffalo, Kijang dan binatang liar lainnya. Siapapun yang tercabut namanya harus melaksanakan perintah. Kalau tidak dia akan dicambuk dan diusir dari perkumpulan dan suku. Selain itu, jika kita menerima perintahnya, kita harus mendapatkan binatang yang disuruh buru oleh kepala suku. Harus sampai dapat. Kalau tidak dapat, harus terus mencari.

Itulah yang menjadi permainan kami selama ini. Dari kami berlima, baru Logan yang sudah mendapatkan gilirannya. Dan waktu pengambilan suara siapa yang menjadi kepala suku, saat itu yang mendapatkan kehormatan tersebut adalah Toby. Sungguh lucu sebenarnya apa yang disuruh oleh Toby waktu itu, dia memperintahkan Logan untuk kembali berburu mantan yang paling dia benci dan harus menjalin cinta lagi. Karena permainan ini sudah kami setujui, dan kami bersumpah jika tidak mengikuti perintah kepala suku, kami akan impotensi untuk selamanya dan tidak akan ada obat yang bisa menyembuhkan impotensi tersebut. Aku tahu, aku tahu. Waktu itu aku memang lagi bodoh-bodohnya.

Logan benar-benar melaksanakan perintah itu. Dan sekarang dia sedang jatuh cinta lagi dengan mantan yang paling dia benci. Karena Logan sudah menyelesaikan tantangan itu, maka hari ini kami akan mengambil pemungutan suara lagi.

“Baiklah. Ini pasti akan menarik,” ujar Toby sambil mengambil stick itu dari tangan Kwan. “Aku akan menutup nama-nama kita yang ada di bawah stick ini dengan telapak tanganku. Yang akan mencabut salah satu stick adalah Logan. Kalian siap?”

Sesungguhnya aku tidak pernah siap untuk permainan bodoh ini, tetapi entah mengapa aku malah mengangguk. Logan menggeser sedikit kursinya mendekati Toby, suara decitan dari kursi itu membuatku bergidik. Ketika tangan Logan menari di atas stickstick itu, jantungku berdebar tidak karuan. Sreettt! Salah satu stick berhasil ditarik oleh Logan. Aku menutup mataku erat-erat dan berharap pada Tuhan agar bukan namaku yang keluar.

Hanya saja Tuhan sedang sibuk saat ini sehingga nama yang disebut oleh Logan adalah… “Diatmika.”

Kubuka mataku dengan sentakan cepat. Ke-empat sahabatku menyeringai jahat padaku. Bagus. Pasti ini akan menjadi bencana besar. “Kalau begitu, kau yang harus mengambil salah satu stick untuk melihat siapa yang akan menjadi kepala sukumu.” Aleksey merapatkan kepalanya di pundakku.

Aku menghembuskan nafasku dengan berat. Kuangkat tanganku dan menarik salah satu stick dengan tidak bernafsu. Kubalik stick itu dan membaca nama yang terdapat di ujung stick tersebut. “Logan.”

Sialan! Ini pasti akan menjadi bencana yang lebih besar. Logan berteriak nyaring dan bergembira. Dia menari-nari di atas kursinya sambil menatapku dengan seringaian licik ala Vampire. “Yes!” serunya dengan bangga. “Aku menjadi kepala suku.”

“Ya, ya, ya,” kataku malas sembari melipat kedua tanganku di dada. “Apa yang akan kau perintahkan padaku wahai kepala suku?”

Logan tersenyum lebar. Dia menatapku lekat-lekat beberapa saat sebelum akhirnya padangannya pindah kesana-kemari. “Aku tahu,” serunya kemudian. “Karena aku tidak benar-benar tahu kehidupan cintamu, jadi aku ingin memperintahkanmu untuk berburu bersama orang yang pertama kali melangkahkan kakinya masuk ke kelas ini!”

Dahiku mengerut dengan sempurna. “Maksudnya?”

“Maksudku,” ucap Logan lambat-lambat, “aku ingin kau mengajak berburu atau kata lainnya kencan di sini, orang yang pertama kali melangkahkan kakinya masuk ke kelas ini. Dan kau harus mengajaknya berburu, kencan maksudku selama sembilan bulan.”

Mataku langsung membulat tak percaya. “Mengajak kencan seseorang yang pertama kali masuk ke kelas ini? Selama sembilan bulan? Apa kau gila?” gerutuku panjang lebar. “Tidak. Ganti perintah yang lain!”

Logan menaikkan alisnya dengan gaya arogan padaku. “Kalau aku tidak mau bagaimana? Apa kau akan memaksa kepala sukumu ini?” Logan memajukan kepalanya ke telingaku. “Ingat sumpah yang sudah kita buat. Apa kau mau impotensi selamanya?”

“Tapi perintahmu tidak masuk akal,” gertakku kesal. “Bagaimana kalau orang yang pertama kali masuk ke kelas ini adalah Prof. Eli? Masa aku harus mengajak wanita tua itu kencan selama sembilan bulan?” Aku mendengus lelah. “Lalu bagaimana juga kalau yang masuk pertama kali ke kelas ini adalah seorang cowok? Apakah aku harus tetap mengajaknya kencan?”

“Ya, tentu saja,” sahut Logan cepat. “Tidak masalah bagiku siapa yang masuk ke kelas ini pertama kali. Jika memang Prof. Eli, kau harus mengajaknya kencan. Jika memang seorang cowok, kau tetap harus mengajaknya kencan. Dan harus selama sembilan bulan.”

“Tapi itu menjadi masalah bagiku.” Aku meremas denimku erat-erat. “Jika Prof. Eli yang nanti masuk pertama kali dan aku akan mengajaknya kencan, apa yang akan dia katakan? Pasti dia akan menceritakan hal itu kepada setiap Profesor yang ada di Universitas ini. Dan hal itu akan membuat namaku tercoreng. Sedangkan kalau seorang cowok… damn you Logan! I’m not a homophobic, but tell you the truth, I definitely love woman.”

“Memangnya kalau kau mencintai seorang perempuan, kau tidak bisa mencintai seorang laki-laki? Maksudku, ayolah Diat! Lihat cintanya, jangan lihat gender-nya.” Logan terkekeh pelan mendengar ucapannya sendiri. “Baiklah, aku akan meringankan perintahku. Jika memang Prof. Eli yang masuk pertama kali, kau boleh tidak mengajaknya kencan. Tapi kalau seorang laki-laki yang pertama kali masuk ke sini, ohh… kau harus mengajaknya kencan, tentu saja.”

Percuma saja terus berdebat dengan Logan. Dia manusia paling cerewet yang pernah ada. Sepertinya sudah aku bilang tadi di paragraf ke-empat. “Terserahlah!” Ya, itu jawaban yang paling cocok untuk perdebatan yang terjadi sekarang.

Kwan, Aleksey, dan Toby menepuk-nepuk pundakku untuk menenangkanku. Namun walaupun begitu, aku bisa merasakan mereka tersenyum di atas penderitaanku. Mata kami berlima langsung mengarah ke pintu masuk kelas ini. Jantungku kembali berdebar dengan sangat cepat. Berharap kalau yang masuk pertama kali ke kelas ini adalah seorang perempuan, bukan seorang laki-laki. Aku tidak bisa membayangkan diriku mengajak seorang laki-laki berkencan selama sembilan bulan lalu berciuman dengannya. Lagipula, bagaimana jika laki-laki yang pertama kali masuk ke kelas ini juga sama-sama straight sepertiku? Apa yang akan dia pikirkan?

Langkah kaki terdengar dari balik tembok yang ada di dekat pintu kelas. Nafasku langsung tercekat dengan hebatnya. Ke-empat sahabatku menatap pintu itu dengan begitu bersemangat. Sedangkan aku menatap pintu itu bagaikan pintu masuk ke neraka. Tuhan, semoga seorang perempuan. Jangan seorang laki-laki! Aku mohon! Batinku terus-menerus.

Namun… Tuhan ternyata masih sibuk saat ini. Karena yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas ini adalah seorang laki-laki. Tentu saja dia laki-laki, aku sangat yakin akan hal itu. Dia memang tidak tinggi, tetapi dia tegap. Dia memang bukan seorang perempuan, karena dia tidak mempunyai payudara. Percayalah! Tidak ada dua buah semangka yang menonjol di dadanya. Jadi hanya ada satu kesimpulan paling meyakinkan, dia itu seorang laki-laki.

Ke-empat sahabat brengsek-ku tergelak pelan sambil menepuk-nepuk pundakku. Sialan! Ini sungguh menyedihkan. Menyebalkan. Menjengkelkan. Pokoknya semua hal buruk dan kata-kata serapah sangat cocok untuk situasiku sekarang. Laki-laki yang tadi masuk ke kelas sudah duduk manis di barisan paling depan. Tas selempang yang dia gunakan bergemerincing aneh saat dia taruh di atas meja.

“Diat, ayo sana! Ajak dia kencan!” perintah Logan dengan suara berdesis di telingaku.

Aku menatapnya dengan tatapan penuh kekejian. “Aku tidak mau!”

“Ingat sumpah kita saat ingin memulai permainan ini!” Logan memperingatkanku. “Lagipula aku juga pernah di situasi sepertimu ini. Ingat saat Toby memperintahkanku apa waktu itu? Tetapi sekarang aku malah bersyukur. Mungkin kau juga akan bersyukur dan berterima kasih padaku suatu hari nanti.”

“Berterima kasih karena apa?” ujarku dengan gigi terkatup rapat. “Karena sudah membuatku malu? Ayolah, Logan! Aku tidak akan pernah berterima kasih padamu untuk hal satu itu.”

“Tidak. Bukan karena membuatmu malu. Tetapi untuk hal yang lain.” Logan tersenyum lebar. “Jangan jadi pengecut Diat! Aku yakin kau bisa mengajak laki-laki itu kencan. Kau sangat tampan. Calon dokter lagi.”

Aku menggeram kesal. Apalagi ditambah hinaan pengecut dari Kwan, Aleksey, dan Toby. Cepat-cepat aku berdiri dari kursiku dan mengumpulkan keberanian. Namun sebelum aku mendatangi laki-laki yang akan kuajak kencan, aku mengucapkan sumpah serapah kepada ke-empat sahabat brengsek-ku itu. “Kalian tuh iblis!” seruku dengan bahasa Indonesia.

“Apa?” tanya mereka serempak.

“Tidak ada.” Aku langsung mengeloyor pergi dan berjalan cepat dengan langkah yang panjang ke arah tempat duduk laki-laki yang akan menjadi calon kencanku. Jantungku dan langkah kakiku menghentak-hentak se-irama. Tanganku gemetaran di samping badanku. Lantai yang kupijak seakan-akan sedang gempa saat ini. Sehingga membuat cara berjalanku seperti orang sempoyongan. Saat sudah berada di salah satu kursi yang ada di dekat calon kencanku itu, aku langsung menghempaskan bokongku di situ. Aku melirik perlahan ke arahnya. Nafasku yang biasanya lancar, kini seperti orang terkena penyakit asma.

Mataku melirik ke arahnya dan langsung menangkap sesosok laki-laki dalam balutan kemeja Polo dan denim agak luntur yang setengah robek di bagian lutut. Wajahnya dari samping sangat lembut dan pendiam. Cahaya matahari yang masuk melalui celah ventilasi jatuh di atas wajahnya, memberikan kesan seakan-akan dia adalah air yang jernih dan memantulkan kebahagiaan. Dagunya yang lancip seperti pahatan Michelangelo.

“Hei,” sapaku pelan ke arahnya. Aku mengutuk diriku sendiri karena menyapanya dengan suara serak seperti orang yang sedang sekarat.

Seperti gerakan dalam adegan lambat, dia mengalihkan tatapannya dari buku ke wajahku. “Hei,” sapanya menggunakan nada bariton yang lembut.

Aku agak tersentak kaget saat mendapati kalau dia adalah laki-laki yang selama ini selalu berpapasan denganku di tempat Imigrasi. Aku juga tahu kalau dia itu salah satu dari anggota komunitas Bohemian—mereka yang hidup bebas dari aturan konvensional—sebuah kelompok yang terdiri atas pemusik dan seniman kraetif. “Aku sepertinya pernah melihatmu. Kau dari Indonesia juga-kan?” tanyaku dengan senyuman sebaik mungkin.

Dia juga membalas senyumanku. Tetapi senyumannya lebih baik daripada senyumanku. Membuatku tiba-tiba terhipnotis dan iri dalam waktu yang hampir bersamaan. “Ya, aku dari Indonesia.”

“Kalo gitu kita ngomongnya pakek bahasa Indonesia aja ya?” ujarku cepat sambil mengeluarkan bahasa asliku. Ah, betapa aku rindu menggunakan bahasa ini lagi dalam sebuah percakapan. “Lo—eh, maaf—maksudku, kamu nggak keberatan kan?”

“Nggak apa-apa kok pakek lo-gue.” Tatapannya kini sepenuhnya di wajahku. “Nggak keberatan lah. Malah gue seneng bisa ngomong pakek bahasa ini lagi.”

“Lo dari Indonesia bagian mana?” tanyaku berbasa-basi.

“Jakarta Barat,” jawabnya. “Kalo lo?”

“Jakarta Pusat.” Dia hanya mengangguk dan tersenyum untuk jawabanku. Cepat-cepat aku mengganti topik agar kami terus bicara. “Kenalin, nama gue—“

“Diatmika,” ujarnya cepat sambil mengangguk. “Gue tau kok siapa lo. Kan sembilan bulan yang lalu lo dapet penghargaan dari Universitas ini gara-gara penemuan lo tentang cara cepat menyembuhkan demam. Gue baca tentang lo di majalah Universitas ini beberapa bulan yang lalu.”

Entah kenapa wajahku bersemu merah saat mengetahui dia membaca tentangku di majalah Universitas ini. “Oh, ya?” tanyaku tersekat.

“Ya.” Dia kembali tersenyum. membuatku langsung bergidik, namun bergidik dalam artian yang sangat-sangat baik dan janggal. “Nah, karna gue yakin lo nggak tau siapa nama gue, jadi gue mau memperkenalkan diri.” Dia menggeser sedikit kursinya kedekatku. “Nama gue—“

“Edwin,” sahutku cepat. membuat dia langsung mengernyit dan menatapku dengan tatapan tercengang. Senyumannya makin melebar saat melihat mataku.

“Lo tau darimana nama gue?”

“Itu kan name tag mahasiswa yang ada di atas saku kemeja lo.” Aku menunjuk name tag yang ada di atas saku kemeja Polonya dengan cengiran lebar. Dia menundukkan kepalanya sebentar untuk mengecek lalu tertawa kecil saat mendapati kalau hal itu ternyata benar. Tawanya yang merdu bagaikan nyanyian burung Finch, sukses membuatku kembali bergidik.

“Iya bener. Gue lupa.” Edwin memegang name tag-nya sebentar lalu dia kembali memegang pulpennya. “Tapi panggil aja gue Ed.”

Aku tersenyum dan mengangguk. “Kalo gitu lo juga harus manggil gue Di. Jangan Diatmika, karna kepanjangan. Dan juga jangan Diat, gue nggak seneng panggilan itu. Apalagi kalo dengan panggilan Mika. Big no-no.” Ed mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti ucapan panjang lebarku yang tak berguna.

“Jadi… tumben lo mau nyapa gue? Ada apa?” pertanyaan yang dia lontarkan padaku langsung bisa membuat mulutku tertutup rapat.

Aku menarik nafas panjang sebelum memulai hal yang akan membuatku malu. “Hmmm… gini, gue mau ngajakin lo…” kalimatku tergantung di udara. Aku benar-benar tidak bisa menyelesaikan kalimat yang akan kuutarakan selebihnya. Aku mengalihkan tatapanku ke arah ke-empat sahabatku untuk meminta dukungan, sayangnya saat aku menatap mereka, mereka malah cepat-cepat membuang muka.

“Lo mau ngajakin gue apa?” tanyanya saat aku masih diam seribu bahasa. Wajahnya yang menurutku sangat manis untuk ukuran seorang cowok, langsung membuat hatiku tiba-tiba berani untuk mengutarakan apa yang harus kuutarakan.

“Gue mau ngajakin lo kencan.” Ucapan itu keluar dengan nada ber-oktaf dua yang membuat bulu kudukku seketika merinding. Dengan takut-takut, aku menatap wajah Edwin yang agak sedikit tersentak kaget ketika mendengarku mengajaknya hal tersebut. Alisnya yang tebal dan hitam pekat menyambung menjadi satu, membuat wajahnya makin manis.

“Lo lagi bercanda apa serius?” tanyanya kemudian.

Aku meneguk air ludahku dengan susah payah. “Gue serius,” kataku mantap.

“Oh, great!” serunya dengan senyuman lebar. “Kalo gitu gue mau.”

“Hah? Lo mau?” ujarku dengan mulut ternganga tak percaya. Ini benar-benar mengejutkan.

“Emangnya lo mau denger gue jawab nggak mau?” dia malah balik bertanya.

“Nggak sih.” Aku menatap wajahnya yang dihiasi dengan senyuman. Aku bingung dan lega dalam waktu yang bersamaan. Lega karena orang yang kuajak kencan akhirnya menyetujui dan bingung kenapa dia mau dengan mudahnya kuajak kencan. Apakah dia tidak sadar kalau aku ini seorang laki-laki juga? “Kalo begitu besok kita ketemu di depan gerbang Universitas ya. Jam setengah tujuh sore.”

Edwin hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, saat aku berpaling dari wajah Edwin, barulah aku sadar kalau kelas sudah hampir dipenuhi oleh mahasiswa yang lain. Aku cepat-cepat mengangkat bokongku dari kursi dan mengucapkan salam sampai bertemu lagi padanya. Ketika aku berjalan kembali ke kursiku yang sesungguhnya, aku bisa merasakan kalau tatapan mata Edwin masih jatuh di punggungku. Itu membuatku risih dan—sialan—sedikit membuatku mendamba tentang hal itu.

“Hai,” sapaku pelan padanya saat aku sudah berada di hadapannya. Mataku langsung jatuh ke rupanya yang membuatku takjub. Hari ini dia mengenakan celana jins Levi’s yang dikuatkan dengan sabuk Sam Brown, lalu atasannya adalah kemeja chambray hitam pekat namun mempesona. Penampilannya membuat dia makin mempesona sebagai laki-laki yang kukencani.

“Hai juga,” balas sapaannya. Kupindahkan mataku lagi ke arah lainnya yang ada di badannya. Sinar matahari bulan September yang terbenam perlahan memantul di rambutnya yang dipotong pendek namun bergaya, ujung ikalnya bergelung di bagian belakang lehernya yang ramping dan menggoda. Gerakan badannya santai namun cekatan saat melambai padaku, memberikan kesan bahwa dia bisa saja kapan-kapan akan menerkam dan mencakar wajahku, yang kuyakini itu tidak akan dia lakukan padaku sekarang.

Cepat-cepat aku menjernihkan isi kepalaku lagi. Ayolah, Di! Walaupun kau kencan dengan seorang laki-laki, bukan berarti kau harus memujinya! Aku membentak diriku sendiri. “Gue minjam Chevy tua milik Toby hari ini. Jadi kita bisa kencan kemanapun kita suka.” Aku membukakan Edwin pintu mobil suram ini. “Lo punya saran nggak kita mau kencan ke mana?” aku bertanya parau saat dia sudah duduk di kursi penumpang.

Edwin menatapku bingung. “Kan elo yang ngajakin gue kencan, lo lah yang harus milih tempatnya.” Aku hanya menaikkan pundakku untuk menyetujuinya. Sambil berjalan cepat menuju ke pintu pengemudi, aku berpikir kilat untuk mau kencan di mana sekarang.

“Bagaimana kalau ke Pulau San Juan?” tanyaku saat sudah berada di dalam mobil dan mulai men-starter mesinnya. “Perjalanannya memang agak jauh sih. Tetapi ada sebuah restoran yang sangat lezat di sana. Namanya Montage. Lo mau nggak?”

“Kan gue yang diajak kencan, jadi ya oke-oke aja,” dia menjawab lekas.

Ketika di perjalanan, kami tidak membuka suara sama sekali. Hanya suara lembut dari Ace Of Base yang menyanyikan lagu The Sign di radio mobil Chevy tua ini. Edwin tiba-tiba memajukan tangannya untuk mengecilkan volume radio tersebut dan mencoba untuk memecahkan keheningan yang menyerang kami.

“Lo tau dari mana kalo gue gay?” tanyanya sambil menatapku lekat-lekat. “Kayaknya yang tau gue gay cuman Julia sama Carl. Dan gue yakin kalo mereka sampe sekarang tetep jaga rahasia gue itu.”

Kutolehkan kepalaku dari jalanan ke wajahnya. Mataku terbelalak kaget saat mengetahui hal ini. Pantas saja dia mau kuajak kencan, ternyata dia gay. Aku benar-benar tidak menyangka. Cepat-cepat aku mempakirkan mobil di perbatasan Seattle dan Port Angeles. “Jadi… lo gay ya?” tanyaku masih tidak menyangka.

“Tentu. Makanya lo mau ngajakin gue kencan kan? Karna gue gay.” Suaranya mulai ragu.

Karena aku orangnya paling tidak suka berbohong, jadi lebih baik jujur saja. “Sebenernya gue nggak tau kalo lo gay.” Edwin tersentak mundur, matanya berkilat terkejut. “Gue mendingan ngasih tau lo hal kenapa gue ngajakin lo kencan.” Kemudian aku menceritakan permainan tantangan yang sedang kujalani saat ini padanya. Wajahnya berubah geram, kemudian berubah aneh. Seperti ingin tertawa tetapi ditahannya.

“Jadi gue cuman jadi bahan tantangan aja ya? Karna gue yang pertama kali masuk ke dalam kelas waktu itu?” Edwin menelengkan kepalanya. Matanya yang hitam bagai malam menjeratku.

“Maaf,” hanya kalimat itu yang tersisa di ujung lidahku.

Kemudian tawa Edwin menggema di dalam mobil ini. Aku kaget namun lega. Untung dia tidak marah-marah. “Oke. Makasih udah mau jujur,” dia merapatkan jaketnya, kupikir dia akan pergi, tetapi malah kembali bersandar di bangku mobil. “Kalo gitu, kita kencan aja selama sembilan bulan. Tapi lo bisa anggep ini cuman pertemanan kita. Lo nggak harus nyium gue or whatever lainnya. Yah… kita bisa bilang ini jalan-jalan menyenangkan selama sembilan bulan. Gimana?”

Deal.” Aku menyahut. “Tapi kita bisa anggep ini kencan. Karna dari awal gue udah bilang kalo ini kencan. Tapi kencan paling lama yang pernah ada. Sembilan bulan.”

Edwin kembali tertawa. “Deal juga untuk hal itu.”

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Empat pulau utama di sudut utara kota Seattle dan Sunday Sun Dark adalah San Juan, Orcas, Lopez, dan Shaw. Ke-empat pulau itu memiliki akses langsung ke daratan yang dihubungkan oleh kapal feri ke Washington. Perjalanan dari Seattle ke pelabuhan Anacortes yang berada di ujung barat kota kecil Port Angeles memakan waktu sekitar satu setengah jam. Tetapi hal itu terasa singkat saat aku dan Edwin bertukar pengalaman kami saat berada disini. Di benua Amerika ini.

Kami menunggu selama lima belas menit untuk bisa naik ke atas feri. Kapal feri dengan nama Hurt Fine yang besar ini mampu menampung hingga seribu penumpang dan delapan puluh lima kendaraan, untuk menjelajahi tiga belas wilayah persinggahan. Suara mesin saling berbenturan terdengar ketika aku sudah selesai memparkirkan mobil di bagasi kapal. Perjalanan dari Ancortes ke Pulau San Juan hanya memakan waktu selama dua puluh menit, jadi kami memutuskan untuk diam saja di dalam mobil.

Bahkan perjalanan di atas kapal makin singkat lagi. Karena tiba-tiba pengumuman kalau kapal akan menepi sudah terdengar. Saat kapal feri ini sudah benar-benar menepi, aku langsung keluar dari dalam bagasi dan melajukan mobil menuju ke restoran Montage yang tidak jauh dari pelabuhan. Benar saja, hanya memakan waktu lima menit bagiku untuk mengunjungi restoran favoritku ini. Desainnya masih sama seperti sembilan bulan yang lalu. Cepat-cepat aku memparkirkan mobil Chevy tua ini di samping restoran.

“Restorannya keren,” ujar Edwin saat dia menatap hiasan mistletoe yang menggantung di atas tulisan Montage.

“Di dalamnya lebih keren lagi,” entah pikiran darimana, ini terjadi seperti sihir, aku menarik tangan Edwin dan menggenggamnya dalam tanganku. Tangannya yang dingin menyatu dengan tanganku yang hangat… dan ini memberikan sensasi yang aneh di ulu hatiku.

Suara merdu Wild Belle yang sedang mendendangkan lagu Keep You terdengar di jukebox saat aku masuk. Aroma potpurri gardenia dan wangi masakan membaur menjadi satu di udara. Seorang pelayan dengan banyak tindikan di telinga dan hidungnya mendatangi kami. Cepat-cepat aku melepaskan genggaman tangan kami yang terpaut.

“Kami punya meja nomor 15 dan 20 yang kosong malam ini jika untuk berdua? Apa Anda mau mengisi mejanya atau Anda hanya ingin memesan dan membungkus makanannya?” suara anting-antingnya terdengar sangat menggelikan di telingaku.

“Aku akan mengambil mejanya,” ujarku cepat. Pelayan tersebut mengajakku ke meja tersebut. Edwin-lah yang langsung duduk manis di bangku metalik itu. Wajahnya yang tersiram cahaya turquoise dari lampu pendar di atas meja menjadikan dia sesosok cowok yang sangat menakjubkan. Astaga! Apa yang kupikirkan barusan?!

“Mau memesan apa?” tanya pelayan tersebut, membautku sedikit agak terlonjak dari kursiku.

Kepalaku dan kepala Edwin sontak langsung menunduk di atas buku menu. “Aku memesan wiski house red,” kataku kepada si pelayan. Dia menuliskan pesananku dengan cepat. “Untuk makanannya aku memesan kaserol dengan keju Parmesan. Tanpa makaroni dan telur cacah.”

“Kalau aku memesan wiski sour, lemonnya tidak usah terlalu banyak. Tambahkan saja dengan sedikit gin di dalamnya.” Kepala Edwin kembali menunduk. “Untuk makanannya aku memesan lasagna dengan taburan keju Gruyére.”

Si pelayan kembali membaca pesanan kami beberapa saat sebelum akhirnya dia menghilang dari sisi kami. Edwin masih berbicara panjang lebar tentang ke-indahan restoran ini. Aku hanya menimpali dengan kalimat hmmm atau iya saja ketika dia bertanya. Aku tidak pernah merasakan kalau melihat seorang laki-laki mengoceh tentang hal yang kusuka malah membuatku makin menyukai gayanya.

Pesanan kami datang beberapa saat kemudian. Wangi koserol kesukaanku langsung membuat perutku yang memang belum di-isi makan malam langsung berbunyi. Saat aku sedang memakan kaserolku, aku bisa meresapi rasa cacahan keju yang lumer di lidahku. Ditambah lagi dengan senyuman indah yang terukir di bibir Edwin, membuat makan malamku malam ini makin sempurna. God! Aku masih belum bisa berpikir rasional sedaritadi.

“Lo masuk jurusan apa sih?” tanyaku saat memasukan suapan terakhir ke mulutku.

“Dari penampilan gue, lo bisa nebak nggak?” dia suka sekali bertanya ketika aku juga bertanya.

“Gue tau lo komunitas Bohemian, jadi gue yakin lo di jurusan seni.” Edwin membenarkan perujaranku dengan senyumannya. “Jadi, lo masuk seni dalam kategori mana? Seni musik? Seni teater? Arsitektur? Atau seni lukis?”

Edwin meminum sedikit wiskinya. “Seni lukis.”

“Wow,” ucapku dengan mulut terbuka lebar. “Menurut psikologi diri, seorang seniman lukis mempunyai sifat yang sangat terbuka, penuh imajinasi dan pembawaan diri yang kurang pas namun menyenangkan. Benar tidak?”

“Benar,” Edwin terkekeh pelan. “Menurut seorang seniman lukis, seorang dokter atau calon dokter mempunyai pandangan yang luas, percaya diri, mudah meyakinkan orang lain dan sulit percaya dengan hal-hal yang berbau seperti keajaiban. Benar tidak?”

Aku terkekeh. “Benar.” Kuteguk sedikit wiskiku, merasakan aliran air wiski itu mengalir lantun di tenggorokanku. “Keajaiban hanya terjadi di dunia khayal. Sedangkan seseorang yang meregang nyawa karna penyakitnya itu terjadi di dunia nyata. Dan kita harus menerimanya lapang dada.”

“Gue sebagai seorang seniman lukis, selalu percaya dengan keajaiban. Selama hal itu bagus untuk dipegang, kenapa nggak untuk mempercayai keajaiban itu?”

“Lo pasti anak terakhir?” hardikku cepat. Edwin menatapku dengan kagum. Wajahnya menyiratkan kalimat tak bersuara yang artinya, ‘bagaimana lo tau?’ “Karena anak terakhir mempunyai perawakan santai dan banyak tersenyum. Wajah yang terlalu manis dan agak manja.”

“Wah… di kelas kedokteran lo pasti memang belajar membaca sifat orang ya?” Aku mengangguk mengiyakan. “Nah, sebagai seorang seniman lukis, biar gue yang sekarang nebak lo. Lo pasti anak tertua?”

“Anak tunggal sebenernya. Tapi, ya, lo bener.” Aku tersenyum. “Jadi menurut lo, sifat anak tertua itu kayak gimana?”

“Anak tertua berarti mempunyai watak yang suka membuat peraturan, bisa diandalkan… tapi terkadang sok serbatahu dan sok serbabenar.” Edwin tergelak. “Mungkin sih.”

Aku terkekeh pelan. “Kenapa lo nggak jadi cenayang aja alih-alih jadi pelukis?” Edwin malah membalas pertanyaanku dengan cicit tawanya yang harmonis. “Gue memang suka buat peraturan. Kadang buat orang yang gue peduliin dan juga peraturan buat diri gue sendiri. Bisa diandalkan… well, mungkin. Gue bisa membantu kalo misalnya itu masih di dalam kemampuan gue. Untuk sok serbatahu dan sok serbabenar, ck, itu bener banget. Gue selalu nge-sok tentang hal-hal yang kadang malah buat gue malu sendiri nantinya.”

“Seperti sekarang,” ujar Edwin dengan senyuman lebar. “Ngesok ngajakin gue kencan dan lo malah ngebuat diri lo sendiri malu.” Dia berkata begitu dengan nada jenaka, sehingga membuatku mengaum dalam gelakan. “Tapi ini nyenengin,” katanya lagi. “Gue seneng bisa kenal sama lo. Satu sosok manusia dengan muka menggoda dan senyuman maut kayak lo. Sorry kalo lo jijik denger penuturan kalimat gue tentang lo cowok straight.” Aku kembali tergelak. “Nilai plus lainnya juga karna kita sama-sama dari Indonesia. Yang sewaktu-waktu lo kapan aja bisa minjemin gue duit yang khas banget orang Indonesia.”

“Ya, ya,” aku meneguk sekali lagi wiskiku, namun mataku masih tertumbuk di senyuman lebarnya. Saat aku memindahkan mataku dari bibirnya yang penuh itu, mata kami bertemu. Membuat aliran listrik yang janggal memasuki pembuluh darahku dan membuat jantungku memompa lebih cepat dari biasanya. Sialan! Bahkan dia lebih menggoda ketimbang semua perempuan yang ada di seluruh Universitas-ku.

Selama tiga minggu kami hanya bertegur sapa di lorong Universitas ataupun di cafetaria. Rencana kencan kami untuk selanjutnya terpaksa ditunda dulu untuk beberapa saat karena aku harus menghadapi beberapa exam. Lagipula dia dan komunitas Bohemian-nya harus berpergian ke La Push untuk mencari pencerahan dari suku Indian yang ada di sana. Meskipun kami hanya bertegur sapa, aku mulai merasakan ketertarikan lainnya darinya. Ketertarikan karena dia bisa menarikku dan juga ketertarikan karena dia orang yang paling santai dan paling terbuka yang kutahu. Plus, dia itu sangat humoris. Aku sangat menyukai gayanya. Lembut dan perhatian, yang tertata rapi dalam tatapannya saat menatapku.

Hari ini Universitas libur karena sedang sibuk untuk mendekorasi setiap ruangan untuk Halloween buat nanti malam. Aku memegang erat labu yang sedang kupoles saat melihat sosok Edwin yang berjalan lugas ke arahku. Kwan dan Aleksey menyorakiku dengan makian cinta-cintaan ala orang gila. Sedangkan Toby dan Logan mendorong badanku untuk menghampirinya. Aku hanya mendengus pelan ke mereka sebelum mendatangi sosok Edwin dalam balutan kaus Bluemarine dan celana denim pendek.

“Dari text yang masuk di pager gue, lo nyuruh gue dateng ke aula ini ya?” tanyanya saat kami sudah berdiri berhadap-hadapan.

“Ya,” kataku menyetujui. “Mau ngajakin lo kencan untuk nanti malem. Lo mau dateng ke pesta Halloween ini bareng gue nggak ntar malem?”

Dia tersenyum simpul, merubah wajahnya yang semula santai menjadi sangat polos dan manis. “Oke. Why not?” dia menaikkan pundaknya dan menggerling sebentar ke bulu mataku. “Gue tunggu lo di depan gerbang Universitas ya jam setengah sembilan malem.”

Alright,” aku mengangguk. “Lo pakek kostum apa ntar malem?”

I will make you aghast,” ucapnya mantap sebelum pergi meninggalkanku dengan bayangan senyuman semanis madu tersebut.

Ternyata dia menggunakan kostum dari salah satu karakter yang ada di film The Wizard of Oz, yaitu Scarecrow. Topi ala penyihir yang menjulang tinggi di atas kepalanya membuat wajahnya benar-benar seperti penyihir paling menggoda yang pernah ada. Dagunya yang lancip sangat pas dengan tampilan seramnya malam ini. Menggelitikku untuk menggerayangi tubuh uniknya tersebut. Maksudku menggerayangi di sini bukan berarti dalam artian yang buruk. Tetapi lebih terpacu ke hal yang baik. Percayalah!

“Scarecrow?” kataku berbisik di telinganya.

Dia sontak tertegun lalu berbalik menghadapku. Tawanya yang pelan menggema di dadanya. “Ya, gue jadi Scarecrow malem ini. Kalo lo…” dia meneliti kostum yang kugunukan dengan tatapan menerawang dan membaca detail. “Drakula.” Dia menatap wajahku dan membenarkan dasi kupu-kupu yang kusematkan di kerah jubah ini. “Biasanya drakula itu nyeremin, tapi lo bener-bener drakula yang merubah pendapat gue tentang hal itu. Lo bener-bener menawan malem ini. Ups, sorry kalo lo jijik denger perkataan gue cowok straight.”

Aku mendengus tertawa. “Stop panggil gue cowok straight. Panggil aja gue Di, oke!” aku mengibaskan jubahku dengan gaya ala drakula kelaparan. Dia tertawa dan meleotkan lidahnya. “Kita masuk sekarang, kayaknya pestanya udah dimulai.”

Tak lebih dari sepuluh menit, aku dan Edwin sudah berada di dalam pesta super meriah ini. Lagu Dancing Queen terdengar nyaring dan membahana di aula yang sedang kudatangi. Edwin berdiri di sebelahku sambil memegang gelas berisi soda lemon dengan tetesan sedikit tonic di dalamnya. Mataku menelusuri setiap sudut lantai dansa yang dipenuhi oleh kerumunan manusia yang sedang berlenggak-lenggok mengikuti dendangan beat dari lagu Dancing Queen. Kemudian, tiba-tiba lagu berubah menjadi Clair de Lune. Musik klasik yang mengalun lembut ini membuat beberapa orang langsung berdansa dengan nyaman dan penuh romantisme yang menguar ke udara.

“Lo mau dansa sama gue nggak?” tanya Edwin di sebelahku. Aku menatapnya dan memperhatikan wajahnya yang tertimpa sparkle lampu.

“Gue nggak bisa dansa.” Aku tersenyum meminta maaf. Bukan berarti aku tidak mau berdansa dengannya, demi Tuhan, aku sangat ingin memeluk badan kasualnya tersebut. Sayangnya, aku memang tidak bisa berdansa. Jikapun nanti aku mencoba, nantinya yang terlihat malah aku mirip seperti pasien epilepsi. Memalukan, bukan?

“Semua orang bisa berdansa,” ucap Edwin cepat.

“Tapi gue memang nggak bisa.”

Edwin menaruh gelasnya di meja yang ada di belakang kami. Dilepasnya topi penyihir yang dia gunakan lalu dia taruh di dekat gelasnya yang kosong. “Gue nggak bisa bersiul,” tuturnya.

Aku mengernyit. “Semua orang bisa bersiul.”

Dia tersenyum. “Tapi gue memang nggak bisa,” dia menirukan kalimatku. “Nah, gimana kalo gini; gue ngajarin lo caranya dansa dan lo nanti ngajarin gue caranya bersiul. Mau?”

“Oke,” aku menyetujui, buat apa juga terus menolak. Lagipula ini kencan, bukan?

Tangan Edwin yang lembap meraih tanganku dan menggenggamnya dalam kehangatan sidik jarinya. Kubalas genggaman itu dan mulai merasakan ada semut yang sedang menggerayangi hatiku saat ini. Geli bercampur kebahagiaan merasuki setiap sel dan hormon yang ada di tubuhku. Menggenggam tangan Edwin seperti sedang menggenggam satu-satunya tali yang bisa menyelamatkanku dari bahaya. Rasanya indah… menakjubkan dan menggiurkan.

Setelah berada di tengah lantai dansa, dia berbalik dan menghadapku, tangan yang tadi memenjarakanku terlepas, sebagai gantinya dia melingkarkannya di dekat pundak dan leherku. Reflek aku menaruh tanganku di seputuran pinggangnya yang tak lebih besar daripada punyaku. Dia menarik badanku mendekat, rasa suam yang menyejukan dari dalam badannya menyeruak masuk ke dalam sela-sela pori-pori kulitku. Dia menjatuhkan kepalanya dia lingkaran leherku, memberiku sebuah keharuman yang sangat eksotis. Wangi tubuhnya yang seperti permen karet membuat tubuhku sedikit bergetar mendamba. Wangi ini membuatku tercandu, bagaikan narkoba dan anggur Pinot Grigio tua.

“Pundak lo harus tegak,” ujarnya berbisik di dekat telingaku. “Lebarin kaki lo beberapa sentimeter, berikan gue celah buat memasukkan kaki gue di sela-sela jarak yang terkuak.” Aku menuruti semua perkataannya. “Mundurin kaki kanan lo duluan, terus puter sedikit ke kiri dan geser dua puluh derajat kaki kiri lo menghadap ke kaki gue. Tapi jangan diinjek.” Aku mengikuti apa yang dia perintahkan, lalu semua kebolehan itu muncul. Aku mengikuti gerakan dansa bersamanya bagaikan ada seseorang yang mengendalikan kami. “Nah, tuh bisa kan?” ujarnya bangga.

Aku hanya menganggukkan kepalaku dan terus berputar bersamanya di lantai dansa. Saat lagu berubah ke tempo mellow, aku langsung menghentikan putaran dan memasukkan Edwin ke dalam pelukan tubuhku. Wangi permen karet itu merasuki jiwaku lagi.

“Semua orang pasti ngeliatin kita?” tuturnya lembut bagai seorang acappela.

Kutolehkan mataku dari ubun-ubunnya untuk melihat sekitar. Ya, beberapa orang memang ada yang melihat ke arah kami. Tapi aku tidak memperdulikan hal tersebut. “Biarkan saja,” kataku sembari menariknya makin mendekat ke dalam pelukanku. Edwin terkekeh sendu dan kembali menghangatkan tengkukku dengan hembusan nafasnya. Bisa kurasakan bibirnya tersenyum halus di kulit leherku.

“Sekarang giliran lo lagi yang ngajarin gue bersiul,” ucapnya saat kami berada di taman belakang Universitas ini untuk mencari udara segar.

Aku mengekeh pelan. “Gue masih nggak percaya lo nggak bisa berisul.” Edwin mendepak lututku bercanda. Aku hanya tertawa dan langsung berdiri menghadap ke arahnya. “Pertama-tama, lo harus majuin bibir lo sedikit,” Edwin langsung mengerucutkan bibirnya. “Iya, kayak gitu.” Aku tersenyum saat dia mencoba meniupkan udara keluar dari mulutnya dengan tergesa-gesa. “Nggak usah cepet-cepet. Pelan tapi pasti aja Ed,” aku lalu mengerucutkan bibirku dan mengeluarkan siulan merdu. “Nah, kayak gini.”

Edwin kembali meniup-niupkan udara dari dalam mulutnya, namun hasilnya masih nihil. “Susah banget Di,” katanya lelah. Dia mengerucutkan kembali bibirnya dan memulai lagi. Hasilnya masih saja mengecewakan. Namun ranum bibirnya yang penuh itu memabukkanku dan membuatku gemas ingin mendekapnya dalam bibirku.

“Mungkin gue harus ngasih lo mantra dulu biar lo bisa berisul,” mataku masih menatap bibirnya saat berbicara parau kepadanya.

“Mantra apaan?” tanyanya dengan bibir yang masih mengerucut.

Entah mungkin karena aku yang sudah kelewat sinting tertarik padanya, atau aku yang sekarang sudah berubah menjadi manusia paling tidak rasional lagi, aku langsung memajukan kepalaku dan menempelkannya ke kepala Edwin. Kutempelkan bibirku perlahan ke bibirnya yang masih mengerucut. Untuk dua detik awal dia hanya diam tertegun. Namun kemudian dia mengatupkan bibirnya dan membukakanku akses untuk masuk ke dalamnya. Kuseruakkan masuk lidahku dan menjilat kecil soda lemon yang tertinggal di lidah mungilnya. Rasa asam dan manis berbaur menjadi satu dengan erangan dari tenggorokan Edwin. Udara segar yang tadi kami cari kini sudah berubah menjadi udara asmara.

Perlahan dan hati-hati, aku menarik kepalaku dari kepalanya. Nafasku yang tidak beraturan sehabis melaksanakan ciuman penuh gelora tadi, membuat kepalaku pusing dalam lindungan yang baik. Kuhembuskan nafasku lalu berbicara lirih. “Sekarang lo pasti bisa bersiul.”

Edwin kembali memulai apa yang dia mulai tadi. Suara runyam keluar dari kerucutan bibirnya, namu beberapa detik kemudian, suara runyam itu berubah menjadi lecutan siulan panjang yang membuatku takjub. Dia tersenyum lebar dan bersorak pelan. “Mantra lo memang bener-bener berfungsi,” katanya ceria seraya menarik jubahku dan menciumku sekali lagi di bibir.

Kencan-demi-kencan terus berlangsung di antara kami. Setiap selesai kencan, kami akan menutupnya dengan ciuman. Cowok straight yang sudah melekat padaku selama 23 tahun ini akhirnya sirna sudah. Aku tidak mempermasalahkannya tentu saja, asalkan yang menjadi pengganggu orientasiku itu adalah sosok yang bernama Edwin. Dia selalu tahu di mana tata letak harus berhenti untuk menciumku, takut aku berlari menjauh darinya. Namun aku tidak mau dia berhenti. Ciuman yang dia berikan padaku bahkan lebih heboh daripada dengan semua ciuman yang diberikan oleh mantan pacar perempuanku.

Akhir November, kami pergi berkencan ke Goat Rocks Wilderness, mendaki gunungnya yang tidak terlalu tinggi. Kemudian kami akan berkemah di kaki lembah lalu mulai berbicara panjang lebar tentang hal-hal berbau kesibukan jurusan kami masing-masing. Selama Edwin berada di sini, dia baru membuat dua lukisan. Lukisan pertama adalah lukisan abstrak yang sangat menarik. Lukisan kedua adalah gambar close up wajah temannya yang bernama Julia. Dan lukisan itu benar-benar mengagumkan.

Desember-pun datang. Snowflakes selalu melekat di rambutnya ketika dia mengunjungiku di cafetaria. Hari ini kami berencana untuk mengambil pohon cemara mini yang terdapat di daerah Edgemoor di Bellingham untuk acara Natal besok. Ini kencan kami yang ke-sepuluh. Atau mungkin yang ke-sebelas. Entahlah! Aku lupa, tapi, siapa juga yang peduli.

Keranjang rotan yang dia taruh di atas pangkuannya menyeruakkan bau makanan yang membuat perutku tergoda. “Apa isinya keranjang itu?” tanyaku sambil mengalihkan mataku dari jalanan yang dipenuhi salju.

Edwin menatapku sebentar sebelum membuka penutup keranjang rotan tersebut. “Salad segar, pasta, irisan daging sapi, dan potongan nanas panggang. Ada juga kepiting Dungeness, sayuran segar, roti dengan lelehan cheddar, dan pastrami.” Dia menyebutkan semua makanan itu dengan nada super cepat. “Untuk minumannya ada teh chamomile dan sampanye Dom Pérignon. Untuk menghangatkan tubuh kita nanti dari udara luar biasa dingin ini.”

“Lo bener-bener udah nyediain itu semua ya?” tanyaku sambil tersenyum. Kupelankan mobil saat melewati beberapa pepohonan willow dan cottonwood serta aspen.

“Gue dikirimin uang lebih sama Papa kemarin. Jadi, daripada uang itu gue pakek buat hal-hal yang nggak berguna, mendingan gue beli bahan masakan buat dijadiin makanan.”

“Kan gue yang ngajak lo kencan, harusnya lo minta uangnya sama gue.” Edwin tertawa kecil dan menggeleng tidak menyetujui ucapanku. “Lagian juga, emang lo bisa masak?” tanyaku dengan suara getir penuh canda.

Dia memukul lenganku dengan wajah pura-pura kesal. Aku hanya terkekeh dan memajukan tanganku untuk mengelus rambutnya. Dia mendengkur bagai seekor kucing saat aku mengacak-ngacak rambutnya yang mulai tumbuh panjang. “Gue paling seneng kalo lo gituin. Rasanya bener-bener aman dan nyaman.” Edwin menggaruk pelan hidungku. “Dan gue seneng banget ngelakuin hal ini sama lo. Hidung lo itu bener-bener hidung paling mancung yang pernah gue liat.”

Aku tidak tahan lagi. Kuhentikan mobil ini ke pinggir jalan yang tidak tertutup salju lalu menarik kepala Edwin untuk kucium bibirnya dengan penuh damba.

“Lo nggak suka kopi?” tanyaku saat kami sedang menatap hamparan luas danau Angel Fist.

“Iya. Gue nggak suka kopi. Buat gue nggak konsentrasi pas melukis.”

“Emang apa hubungannya kopi sama melukis?”

Edwin meneguk chamomilenya pelan. “Soalnya kopi itu nggak sehat. Buat jantung kita berdegup lebih cepat dan membuat adrenalin yang ada di tubuh kita mengetat marah.”

“Kopi itu sehat tau,” aku memasukan pastrami ke mulutku. “Kopi adalah tonik kesehatan, penuh dengan antioksidan dan fitokimia. Keduanya bisa mengurangi resiko kanker jenis tertentu. Misalnya seperti kanker ewing sarkoma dan—“

“Owh, owh, owh, owh,” seru Edwin cepat, memotong ucapanku. “Aura geek lo tentang kesehatan mulai muncul lagi. Lebih baik lo stop deh. Karna gue nggak bakalan ngerti sama sekali.” Dia memperlihatkan wajah seserius mungkin, sehingga membuatku tertawa parau.

Beberapa saat kemudian, bunga pansy, bakung, tulip, dan hyacinth yang tertutup salju menjadi pusat perhatianku saat ini. “Ed, kenapa lo nggak pernah melukis tentang alam? Tentang pemandangan danau? Atau pegunungan Olympic? Mungkin lo bisa juga ngelukis bunga-bunga itu.”

Wajah Edwin berpindah untuk melihat bunga-bunga yang kutunjuk. “Gue dulu pernah mau nyoba. Tapi belum pernah kepikiran aja buat ngelukis hal itu sekarang.” Edwin mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku jaketnya. “Hal yang gue pengen lakuin sekarang itu adalah…” dia menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut, “minta sesuatu ke Santa untuk hadiah gue pas Natal besok.” Dia mengacugkan kertas itu ke udara.

Aku meraih kertas itu dari tangannya. “Gee! Tulisan lo jelek banget.” Dia menendang kakiku sok sebal. Aku hanya tertawa lalu mulai membaca keras-keras keinginannya. “Dear, Santa. Aku tidak meminta yang muluk-muluk tahun ini, cukup kirimkan aku seseorang yang mencintaiku tanpa syarat.” Aku tersenyum lebar saat menatap wajah Edwin yang bersemu merah. “Permintaan lo keren juga. Tapi gue bingung deh, gimana nanti caranya Santa masukin orang yang bakalan mencintai lo tanpa syarat ke dalem kaus kaki.”

Edwin tertawa gurih dan memukulku pelan sebelum akhirnya dia berbaring di atas dadaku yang diselimuti oleh salju putih yang terus turun dari langit twilight yang sedang berlangsung saat ini.

Tahun baru. Awal yang baru untuk kehidupan yang baru. Aku selalu merasa seperti itu di kehidupanku. Tahun baru tahun lalu, aku merayakannya bersama ke-empat sahabatku. Namun tahun ini, karena kami semua sibuk dengan urusan masing-masing, jadi kami tidak akan merayakan bersama. Makanya pagi ini kami berlima sedang menikmati wine buatan tangan dari Mrs. George, Ibu Toby.

“Jadi, bagaimana perkembangan kencanmu dengan—siapa namanya?” tanya Logan sembari mendekatkan tubuhnya ke dekatku, untuk mengusir dingin yang menyerang tubuhnya.

Salju masih turun pagi ini, namun sudah tidak se-heboh hari kemarin. Di lapangan yang ada di depan rumah Toby, ada sebuah padang rumput yang tinggi dan di tengah-tengahnya terdapat semak blackberry yang sudah layu tertiup angin musim dingin dengan tamparan lembut. Aku memegang erat wine hangatku dalam dekapan tanganku. “Edwin.” Aku berbicara dengan gigi bergemeletuk. “Dan kencanku dengannya baik-baik saja.”

“Apa kau menikmati masa-masa kencanmu dengannya?” tanya Kwan, mata sipitnya makin menyipit saat menatap wajahku.

“Bisa dibilang begitu. Kenapa? Apa kau juga punya rencana untuk mengencani seorang laki-laki?” Kutatap Kwan dengan tatapan sok meng-keji.

Dia langsung menggeleng absolut. “Tidak. Tentu saja tidak.” Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya. “Bagaimana jika orang tuaku tahu tentang hal itu? Kau kan tahu kalau di Seoul hal-hal yang berbau seperti itu dilarang keras.”

“Sebenarnya bukan hanya di negaramu saja. Di tempatku—Indonesia—juga tidak diperbolehkan. Tetapi, jika kau sudah merasakan apa yang kurasakan, aku yakin kau tidak akan peduli sama sekali.”

Aleksey berdeham. “Memangnya apa yang kau rasakan?” tanyanya masih dengan aksen Inggrisnya yang sangat buruk.

“Nyaman dan tentram.” Hanya itu saja yang bisa kuutarakan pada mereka saat ini.

Mereka ber-empat langsung meninju kecil tanganku dan mentertawakanku. “Itu berarti hanya ada satu arti yang sesungguhnya,” ujar Toby sembari menatapku dengan cengiran lebar. Mata hazelnya menatapku lekat.

“Apa memangnya?” tanyaku penasaran.

Mereka ber-empat kembali tertawa. “Cinta!” mereka berseru serempak dengan nada Bass yang menggema di telingaku.

Benarkah cinta? Aku juga memikirkan hal itu dari hari Natal. Rasanya ingin sekali aku masuk ke dalam kaus kaki yang digantung oleh Edwin di perapian yang ada di apartemen kecilnya itu. Untuk memberitahunya akulah orang yang mencintai dia tanpa syarat. Tetapi aku belum siap dan masih ragu dengan perasaanku sendiri. Lagipula aku tidak akan muat di kaus kaki tersebut. Terlalu kecil.

“Apa… kalian tidak akan mau berteman denganku lagi jika aku nanti benar-benar menjalin hubungan dengan Edwin?” aku sontak bertanya.

Logan-lah yang pertama kali bicara. “Tidak. Aku biasa saja. Lagipula-kan aku yang memulai segalanya. Dan benar kan apa yang kubilang, kau akan berterima kasih padaku suatu saat nanti.” Dia ikut menyengir seperti Toby.

“Kalau aku tidak,” ujar Aleksey, “meskipun aku taat agama, namun aku berpikiran terbuka untuk hal yang satu itu.”

Kwan dan Toby mengangguk. “Lagipula, kami melihat cinta yang kau tanamkan padanya. Bukan jenis kelamin yang tumbuh di tubuhnya.” Logan mengeluarkan suara penuh bijaksana.

Kemudian kami berlima terbalut dalam tawa panjang dan juga dalam pelukan kehangatan dari wine manis yang ada di tangan kami masing-masing.

“Rencana masa depan?” ujar Edwin saat kami berada di Hall Town of Seattle untuk merayakan tahun baru bersama. “Gue belum bener-bener mikirin hal itu. Tapi karna lo bertanya sekarang, jadi gue mikir dulu deh.” Edwin menonton kembang api kecil yang diterbangkan ke langit untuk menghitung mundur pergantian tahun. “Kalo lo sendiri apa?”

Saat kembang api kecil terakhir diterbangkan, lalu disusul dengan jilatan kembang api yang lebih meriah, sebagai tanda tahun sudah berganti… aku langsung berbisik di telinganya. Memberitahukannya awal baru yang akan kumulai di tahun baru ini. “Hidup sama lo untuk selamanya. Dalam suka dan duka.”

Edwin memindahkan tatapannya dari kembang api ke wajahku. Senyuman lebar terukir sempurna di bibirnya, ronanya sangat indah, bagaikan lukisan yang dibuat oleh Leonardo de Vinci. “Itu ikrar sumpah atau janji?” tanyanya dengan nada haru.

“Dua-duanya.” Edwin tertawa dan memagut bibirku dalam sampulan bibirnya yang suam.

“Sekarang gue tau apa yang gue mau untuk rencana masa depan gue,” ujarnya saat kami sedang mendayung menerjang danau jernih di Desa Smugglers Cove, sebelah barat pulau San Juan.

“Apa?” tanyaku pelan sembari merapatkan kapal dayung ke tepi danau. Dayung kayuku menabrak padang rumput dengan semak anggrek serta bunga liar dengan nama yang menggoda… Chocolate Lily, Shooting Star, Sea Blush. Membuat bunga-bunga itu patah bagaikan tulang yang sangat rapuh.

“Jadi seorang seniman handal melebihi Pablo Ruiz Picasso dan mempunyai galeri lukis sendiri.” Dia berkata cepat dan bangga, tangannya yang bebas dari dayung memegang bunga Shooting Star dengan elusan lembut. “Tapi itu semua nggak bakalan lengkap tanpa lo di dalemnya.” Dia tersenyum lebar seraya menatapku dengan mata bulat dan wangi permen karet dari kulitnya yang menyeruak ke udara di sekitar kami.

Parfait!” seruku sambil menerjangnya dan menghujaninya dengan ciuman dalam dan lama.

Ciuman berlangsung selama tiga menit sebelum akhirnya dia meronta dan memukul punggungku pelan. “Gue nggak bisa bernafas Di.” Aku cepat-cepat berdiri dan membantunya duduk. “Dasar gila! Gue nggak tau kalo cowok straight lebih ganas dari gay.”

Aku tertawa nyaring, membuat suara tawaku memantul di gunung Flambons dan membuat beberapa burung Mandar terbang kocar-kacir. “Kan gue udah berhenti jadi cowok straight sekarang.” Aku mengambil dayungku lagi dan mulai menjalankannya. Udara lembap bulan Januari menusuk tulangku, namun tidak sampai membuatku menggigil. “Semua gara-gara lo yang terlalu manis dan terlalu memikat buat gue tolak gitu aja.”

Dia mendengus namun tersenyum. Membuatku tahu kalau dia juga menginginkanku seperti aku menginginkan dirinya.

Valentine’s Day. Aku tidak pernah merayakan hari kasih sayang tersebut sebelumnya. Namun tahun ini beda. Aku akan merayakannya dengan Ed nanti malam di Galaxy of Love yang ada di tengah kota Seattle. Itu adalah Planetarium yang selalu dibuka pada saat valentine’s day. Jadi, kami akan menghabiskan malam ini untuk melihat bintang dan bulan.

Pagi beranjak menjadi siang, siang bernajak menjadi senja, senja berubah menjadi malam. Sekarang di sinilah aku, di depan apartemen kecil kepunyaan Ed. Terakhir kali aku ke sini adalah seminggu yang lalu, saat aku mengantarkan beberapa bahan obat untuknya karena dia demam waktu itu. Aku memberikannya Ibuprofen, tetapi dia belum juga sehat. Lalu aku memberikan dia Tylenol dan akhirnya Tuhan menyembuhkannya.

Pertama kali aku datang ke apartemennya adalah saat selesai Halloween. Apartemennya memang tidak sebagus kepunyaanku, namun lebih damai dan tentram.

Baru saja aku ingin memencet bel-nya, tiba-tiba pintu terjeblak terbuka dan menampilkan postur tubuh Ed yang ramping. Malam ini aura Ed agak sedikit berubah, sekarang dia mempunyai aura yang gelap namun menyilaukan, membuat daya tarikku terhadapnya makin meninggi drastis. Matanya yang hitam kecokelatan mirip sekali seperti rempah teh yang menggiurkan. Aku menyukai semua yang ada di dirinya saat dia tersenyum padaku.

“Hai,” sapanya saat aku belum juga menyapanya.

Malam ini dia sangat luar biasa manis. Dengan kemeja bergaris sederhana dan denim mengkilap yang sangat luar biasa serasi dengan bentuk kakinya. Sepatu model wingtip yang dia kenakan agak berkelip ketika dihujani cahaya lampu.

“Di?” panggilnya seraya menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajahku.

Aku mengerjap sebelum membuka suara. “Sudah belum gue bilang ke lo kalo lo tuh manis banget setiap hari?”

Dia tergelak pelan. “Belum. Tapi sekarang sudah.” Dia mengapit tanganku, wangi permen karet dari kulitnya menyatu dengan kulitku. “Gue udah pernah bilang belum kalo lo itu cowok straight yang berubah haluan yang paling tampan yang pernah nyium gue?”

“Belum. Tapi sekarang sudah,” aku menirukan kalimatnya tadi. Dia hanya mengangkat pundaknya dan membawaku turun dari apartemennya.

Perjalanan menuju ke Galaxy of Love hanya memakan waktu selama tujuh belas menit dengan berjalan kaki. Hari ini semua lampu yang ada di jalanan berubah warna menjadi merah muda, merah tua, merah menyala, merah langsat, dan merah ke-ungu-unguan. Saat aku dan Ed sudah berada di dalam Galaxy of Love, pengunjung sangat padat dan ramai. Cepat-cepat aku dan Ed mengambil ruangan dengan teropong angkasa yang berada di sudut gedung Planetarium ini.

“Gue keluar bentar ya, mau beli makanan sama minuman.” Ed mengangguk mengiyakan. Aku cepat-cepat keluar dari dalam ruangan kami dan mencari pedagang makanan ringan. Tak berselang berapa lama aku mencari, aku akhirnya menemukan kedai yang menjual berbagai donat. Ketika aku menghampiri kedai itu, bermacam-macam donat dihidangkan di dalam lemari kaca bening. Di sana terdapat; donat berlapis gula maple, donat dengan hiasan irisian daging bacon, donat dengan taburan remah-remah biskuit oreo, serta donat goreng yang dicelupkan ke cokelat cair.

Kubeli semua donat-donat yang menurutku enak. Lalu membeli minuman latte untukku dan blueberry mint chip untuk Ed. Saat aku kembali ke ruangan, Ed sedang asyik memainkan teropong angkasa. Wajahnya mengerut sama saat melihat rasi-rasi bintang yang ada di buku panduan. Suaranya hanya berupa gerutuan saat berbicara.

“Di buku ini disebutkan kalo bintang bisa diukir dengan melihat garis bintang paling terang ke remang. Tapi pas gue liat di teropong, semua bintangnya pada terang tuh. Gimana gue bisa baca ukirannya. Buku ngeselin!” dia membanting buku itu dan menatapku dengan bibir mengerucut ke atas. Membuat wajahnya seperti anak berumur dua belas tahun yang tidak dibelikan permen oleh orang tuanya.

Aku menyerahkan blueberry mint chip ke tangannya. “Ini kan buku Langit Bima Sakti, dan kedua galaksi Dipper, cuman orang-orang Astronomi yang bisa baca.” Aku menaruh kembali buku itu ke tempatnya dan membuka bungkus donat. “Kan lo seorang seniman, bukan seorang astronom, makanya lo nggak ngerti.”

Dia malah mencibirku seraya menempelkan donat rasa maple ke mulutku. Aku tertawa dan mengacak rambutnya. “Emang seniman nggak tau apa tentang astronomi. Gini ya, menurut buku seniman yang menyangkut ke hal astronomi, bintang itu disejajarkan dengan garis bujur sebuah cat air dan pelitur kerlap yang persis sama seperti garis atom dari meteor dan bintang. Cat air yang mempunyai unsur amber dan ful—“

“Owh, owh, owh, owh,” aku cepat-cepat memotong ucapannya. “Aura geek lo tentang kesenian mulai muncul lagi. Lebih baik lo stop deh. Karna gue nggak bakalan ngerti sama sekali.” Aku mengikuti kalimat yang pernah dia lontarkan padaku.

Ed mendengus dan mencubit pipiku dengan gemas. “Dasar! Ngikutin kata-kata gue. Nggak kreatif ah.”

“Lho, gue kan dokter, bukan seseorang yang harus kreatif. Tapi seseorang yang harus bantu orang sembuh dari sakitnya.” Aku mengeles sembari kembali mengacak rambutnya.

“Ya, ya, ya,” dia kembali menurunkan kepalanya ke arah teropong angkasa. “Oh, iya, zodiak lo apaan?” tanyanya sambil mendongakkan kepala.

“Aquarius,” aku menyahut cepat.

Mata Edwin terbelalak. “Zodiak lo Aquarius?” ujarnya dengan mulut ternganga. “Berarti lo ulang tahun dong bulan ini.”

“Ya,” aku mengangguk.

“Kapan?” ujarnya sambil mendekatiku.

“Tanggal 19 Februari.”

Ed mengerutkan keningnya. “Itu berarti lima hari lagi dong,” aku mengangguk mengiyakan. Dia langsung ber-oh panjang dan mulai mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu lancipnya.

“Kalo lo, zodiak lo apaan?”

“Pisces.”

Aku tertegun. “Oh, ya? Sumpah lo?” aku cepat-cepat menghampirinya. “Tanggal berapa?”

“29 Februari.”

Kini aku yang mengerutkan keningku. “Bukannya tanggal 29 Februari cuman muncul empat tahun sekali ya?” aku mencoba mengingat sebentar. Ah, iya, tanggal 29 Februari memang hanya muncul empat tahun sekali. Ed membuatku makin yakin ketika dia mengangguk. “Berarti lo ulang tahun tanggal berapa kalo misalnya 29 Februari nggak muncul?”

“Tanggal 1 Maret. Karna pas gue mau lahir waktu itu, jam hampir aja mau masuk ke tanggal 1 Maret. Tapi gue malah udah berojol duluan. Yah, jadinya di tanggal 29 Februari.” Aku tertawa mendengar candaannya. “Di,” panggilnya pelan saat aku masih terselimuti tawa, “berarti gue bakalan selalu butuh lo lho.”

“Maksudnya?” tanyaku bingung.

“Iya, Pisces selalu butuh Aquarius.”

Aku berpikir sejenak, namun langsung mendapatkan jawabannya. Aquarius adalah air, dan Pisces adalah ikan. Ya, benar. Ikan selalu membutuhkan air agar dia bisa tetap hidup. Aku tersenyum simpul ke Ed dan menganggukkan kepalaku untuk meyakinkannya kalau aku akan selalu dapat dia butuhkan kapanpun dia mau.

“Gara-gara ricuh di Planetarium tadi, jadinya kita nggak bisa deh liat bintang sampe semalaman suntuk,” ujar Ed di depan pintu apartemennya. Badannya hanya setengah terlihat dari balik pintu.

“Iya,” aku menyetujui ucapannya. Memang terjadi kericuhan di Galaxy of Love tadi. Aku tidak tahu gara-gara apa, namun yang aku tahu kami disuruh keluar dari dalam sana dan disuruh pulang. “Nah, gue udah nganterin lo pulang. Kalo gitu, saatnya buat gue pulang sekarang.” Meskipun aku berkata begitu, aku tidak melangkahkan kakiku sama sekali.

Ed tersenyum. “Lo mau mampir dulu nggak?”

“Tergantung,” kataku dengan nada riang. “Lo punya kopi nggak?”

“Kan lo tau gue nggak suka kopi.” Ed tersenyum lebar. “Tapi ada seduhan yang lebih menarik daripada kopi yang lo suka itu.”

Aku menatapnya dengan bibir mencibir. “Apaan?”

Sex.” Aku tertegun dan dia tertawa. Dia pasti hanya membercandaiku. Tetapi dia pikir aku takut dengan omongannya barusan.

Great!” seruku lalu masuk ke dalam apartemennya dan mulai menciumi bibirnya dengan penuh antusias. Suara bantingan pintu dan erangan kaget Ed menyatu menjadi satu. Dia tertawa di sela-sela ciuman kami. Dia melucuti semua pakaianku dan aku melucuti semua pakaiannya. Kami akan memulai petualangan cinta di dunia fantasi valentine’s day kami malam ini. Walaupun aku tidak berpengalaman melakukan hal ini dengan laki-laki sebelumnya, namun yang terjadi malam ini pasti akan se-alami saat aku jatuh hati padanya.

Hari ulang tahunku dirayakan kecil-kecilan oleh keempat sahabatku dan Ed. Hari ulang tahun Ed dirayakan lebih meriah oleh komunitas Bohemian-nya. Namun dia bilang lebih suka dengan perayaan sederhana yang aku berikan padanya. Dia memberikanku satu set peralatan kesehatan sebagai hadiah. Aku memberikan dia satu set lengkap alat melukis. Dia bilang dia tidak akan menggunakan alat lukis yang kuberikan karena dia akan menjaganya dengan baik. Begitu pula aku, aku tidak akan menggunakan alat kesehatan yang dia berikan padaku agar alat tersebut tetap bersih mengkilap dan indah.

Maret terlewati dengan simpel. Kencan kami tidak hanya dibumbui oleh ciuman, tetapi juga oleh yah… seks. Setiap kali aku melakukan hal tersebut, Ed selalu bilang kalau aku luar biasa hebat dan memang mempunyai darah seorang biseksual di dalam diriku. Entah kenapa, aku tidak tersinggung akan hal itu. Aku malah senang mendengarnya.

April datang dengan kejutan meriah. Bukan April Mop. Tetapi sesuatu yang lain. Yaitu karir melukis Ed menanjak hebat. Tanggal 31 Maret dia melukis gambar wajahku, dan aku sangat terpesona dengan apa yang dia buat di atas kanvasnya. Wajahku sangat terlihat sempurna di sana. “Lo kok gambar muka gue sesempurna ini?”

Ed menatapku dan berkata merdu. “Mungkin orang lain ngeliat kekurangan lo. Dan gue tau kok kalo nggak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi menurut gue, lo selalu sempurna di mata gue. Dan gue ngelukis lo dengan apa yang mata gue liat dan hati gue rasain.”

Aku merengkuhnya dalam pelukanku dan berkata padanya kalau dia juga sangat sempurna di mataku. Dan sebab lukisan wajahku itulah seorang Profesor senior dari Universitas Maryland sangat tertarik dengan semua lukisan yang Ed buat. Kemudian Profesor tersebut menyuruh Ed untuk menaruh semua lukisannya di galerinya yang ada di New York. Dalam waktu dua jam, lukisannya laku berat. Tetapi hanya ada satu lukisan yang tidak akan dia jual. Yaitu lukisan wajahku.

Setelah semua kesibukan yang berlangsung di bulan April, akhirnya bulan Mei datang dengan memberikan sensasi musim semi yang sesungguhnya. Hari demi hari kami lalui dengan kencan yang sangat menggairahkan. Ini adalah bulan Mei dan bulan terakhir untuk aku berkencan dengan Ed. Setelah bulan Mei berlalu, aku akan bisa menyatakan pernyataanku kalau dia akan menjadi milikku seutuhnya.

Hari yang kutunggu-tunggu datang, musim semi yang ceria ikut membuat diriku juga ceria. Akhir Mei telah mendatangiku, aku harus bersiap untuk mengutarakan perasaanku yang sesungguhnya. Bunyi alarm yang terpasang di samping tempat tidur berbunyi, menandakan kalau sekarang sudah masuk ke dalam bulan Juni. Aku mematikan alarm itu dan menatap Ed yang sedang terkulai santai di dadaku.

“Emang ada apa jam dua belas? Sampe pakek nyalain alarm segala?” tanyanya lantun. Hembusan udara hangat yang keluar dari mulutnya menerpa dada telanjangku.

“Ohh…” aku memeluk badannya yang lembut ke dalam pelukanku. “Gue cuman mau bilang ini aja; kalo selama ini gue cinta banget sama lo. Kalo selama ini gue sayang banget sama lo. Dan gue pengen lo jadi pacar gue? Gimana? Mau?” aku bertanya lembayung di telinganya. Suara lembut Debussy mengalun permai dari radio yang kami dengarkan.

Dia terkekeh dan berkata dengan penuh keyakinan. “Gue juga cinta sama lo. Gue juga sayang sama lo. Kalo nggak, nggak mungkin kan gue mau berhubungan intim sama lo.” Dia menenggelamkan wajahnya di lekuk leherku. “Kan selama ini gue memang udah jadi pacar lo.” Dia mengangkat kepalanya. “Iya kan?” tanyanya dengan mata menyipit.

“Iya, tapi yang kemarin belum resmi karena kita masih kencan. Sekaranglah yang harus bener-bener resmi.” Aku mengusap daguku di ubun-ubun kepalanya. “Jadi, lo mau nggak?”

Ed menaikkan alisnya tinggi-tinggi. “Lo pikir gue bodoh apa? Tentu aja gue mau.” Lalu dia menciumku saat aku sedang tertawa meriah di sela-sela lagu yang mengalun permai di sekitar kami sekarang ini.

***

Ahhh, betapa aku rindu dengan kenangan 12 tahun yang lalu tersebut. Ketika aku mengencani Edwin selama sembilan bulan dan memujanya dengan sangat penuh ke-ikhlasan. Umur kami masih dua puluh tiga tahun waktu itu. Sekarang kami sudah tiga puluh lima tahun. Sudah 12 tahun aku bersamanya, namun belum pernah bisa membuatku puas akan keberadaannya. Setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap bulan… aku selalu merindukan wujudnya.

Aku masih ingat saat kami pulang ke Indonesia waktu itu setelah kami menyelesaikan kuliah kami. Ed sebenarnya sudah selesai beberapa tahun sebelumku karena aku harus mengambil spesialis bedah lagi selama dua tahun. Tetapi dia tidak mau pergi dan mau menemaniku selalu. Jadi, kami membeli flat kecil dan sebuah galeri sederhana untuk Ed. Hidup kami waktu itu tidak semulus apa yang kami mau. Ada saja pertengkaran yang terjadi. Itu karena Ed yang selalu keras kepala jika diberitahu.

“Seorang seniman memang selalu jarang menjaga kesehatannya!” aku membentaknya kala itu, saat dia belum ada istirahat sama sekali untuk menyelesaikan lukisannya yang tentang kota Manhattan. “Kamu butuh tidur Ed!”

Tetapi dia malah membentakku balik. Mengatakan kalau lukisannya harus segera dia selesaikan agar orang yang memesan lukisannya segera dia berikan. “Jadi kamu pikir seorang dokter hidupnya lebih sehat dari seorang seniman gitu?” pekiknya berang sambil membanting kuasnya dengan geram.

“Ya!” aku menyahut dan menarik kerah bajunya untuk kubawa ke kamar. Menyuruhnya untuk tidur. “Seorang dokter hidupnya lebih sehat daripada seniman. Itu benar!” Dia meronta kasar dalam tarikanku. Ketika Ed hampir berhasil lolos dari cengkramanku, aku langsung menarik badannya agar jatuh ke dalam boponganku. Meskipun badannya berat, namun untuk yang satu ini aku harus berjuang agar dia ada tidur barang satu atau dua jam.

Kujatuhkan badannya di atas kasur, lalu kukunci badan, kaki dan tangan kanannya. Agar dia tidak bisa berkutik. “Lepasin!” teriaknya marah.

“Ed, kamu butuh tidur,” ujarku sepelan mungkin, mencoba menenangkannya. “Ayo, kuomohon, kamu harus tidur.” Lalu rontaan badannya menghilang, digantikan dengan erangan marah. Bukan marah padaku, tetapi pada dirinya sendiri.

Tangan kirinya yang bebas mengusap keningnya. Aku melepaskan kuncianku dan membiarkan dia terkulai lemas di sampingku. Kemudian, secara tiba-tiba dia langsung memelukku. “Maaf,” lirihnya panjang. “Aku selalu keras kepala. Nggak mau dengerin kamu. Maafin aku.” Dia berbisik kalimat itu terus-menerus.

“Iya, nggak apa-apa,” ujarku sambil mengusap rambutnya. “Sekarang tidur. Kamu butuh istirahat.” Ed menatapku dan menggaruk pelan hidungku, kebiasaan yang sering dia lakukan.

“Aku nggak bisa tidur,” katanya parau sembari terus menggaruk hidungku.

“Kalo gitu aku bakalan ceritain kamu dongeng spontanku,” Ed tersenyum di tengkukku. “Mau denger ceritanya?” Bisa kurasakan Ed mengangguk. Kemudian aku memulai dongeng spontan yang muncul di kepalaku. Dongeng spontan adalah dongeng yang tersirat cepat di otakku, biasanya aku menggunakan dongeng spontan ini untuk anak-anak kecil agar dia tenang dari penyakit kankernya. Saat aku menutup dongeng spontanku, dengkuran mendayu keluar dengan lancar di kedua hidung Ed.

Itu adalah salah satu pertengkaran yang sering terjadi padaku dan Ed dulu. Kini kami bisa lebih dewasa dan memikirkan jalan keluarnya bersama. Oh, kembali lagi ke topik awal saat kami pulang ke Indonesia. Setelah dua minggu kami hidup bersama di apartemen yang kami beli, Ed memutuskan untuk mengenalkanku ke orang tuanya. Dan aku sangat kagum dengan ketenangan orang tua Ed. Mereka mengangguk iba padaku dan Ed, yang menyiratkan mereka membolehkan hubungan kami ini. Kakak Ed, yang bernama Nana juga sangat lapang dada menerima Ed.

Lain lagi dengan keluargaku, setelah Ed mengakui hubungannya denganku, aku juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi tidak berjalan mulus. Kedua orang tuaku histeris. Opa-Omaku juga sama. Mereka menyuruhku untuk bertobat dan ke gereja. Namun aku yakin tidak ada yang salah padaku di mata Tuhan. Jadi aku menuliskan pesan ke mereka, ‘cintai aku apa adanya, atau tinggalkan aku seperti apa adanya diriku’.

Dua kali sembilan bulan, barulah orang tuaku mendatangiku dan mencoba menerima keadaanku dengan lapang dada. Walaupun Opa-Omaku belum benar-benar bisa menerima. Tetapi semua butuh tahap bukan? Jadi aku akan bersabar menunggu penerimaan mereka.

Aku menyangkutkan jas dokterku di sangkutan. Kurapikan bajuku dan menatap diriku yang sudah tidak muda lagi di depan cermin. Aku menghembuskan nafasku dengan lelah dan membuka pintu ruang dokterku dengan sekali sentak. Kembali memulai menghadapi kenyataan sembilan bulan yang akan berakhir malam ini.

“Kamu sudah makan?” tanyaku sambil duduk di sebelahnya. Wajah pucatnya yang berkeringat menatapku dengan senyuman. Wajahnya tetap manis walaupun sepucat kapas.

“Sudah,” katanya parau, sambil menjauhkan novel karya Gio yang ada di tangannya. “Kamu sendiri gimana, udah makan?”

Aku mengangguk lalu menaruh tanganku di kepalanya, membaringkannya dengan nyaman di hangat tanganku. Senyumannya yang cemerlang mulai meredup saat aku menatapnya. Namun tatapan matanya masih sama seperti 12 tahun yang lalu. Penuh cinta dan mendamba. Kutenggelamkan kepalaku di kulit wajahnya, menyerap semua wangi permen karet yang berada di kulitnya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku.

Sembilan bulan yang lalu, saat kami pergi berobat karena batuk Ed yang tak kunjung sembuh, kami diberikan kenyataan yang menghujam jantungku. Ed terkena tumor paru akut yang sudah menguasai seluruh paru-parunya. Tumor tersebut diakibatkan karena Ed yang terlalu banyak menghirup zat toxic yang ada di cat air yang dia gunakan. Dia setiap hari memang selalu melukis, membuat oksigen yang dia hirup hanyalah zat toxic bernama toluena. Dari racun zat kimia itulah tumor paru terbentuk di dalam tubuh Ed.

Sebenarnya tumor itu bisa dioperasi dengan cara Thoracotomy, namun kemungkinan berhasil hanya beberapa persen. Sekitar 15-17%. Lagipula, jika sembuh, paru-paru Ed akan sangat rentan terkena Tuberklosis dan Asma. Waktu itu aku memaksanya untuk operasi, namun sifat keras kepalanya muncul kembali. Dia tidak mau dioperasi. Kami bertengkar hebat hari itu. Dia tidak mau mempertaruhkan nyawanya beberapa jam hanya dengan kemungkinan berhasil yang sangat sedikit. Dia juga tidak mau tersiksa dengan penyakit yang rentan mengenaninya kalaupun dia selamat nantinya. Jadi dia memilih untuk hidup sembilan bulan lagi daripada harus dioperasi.

Selama dua bulan, aku tidak bertegur sapa dengannya. Meskipun aku sangat rindu dengannya, tapi aku tidak menyukai keputusannya. Tetapi aku langsung sadar saat aku melihat lukisan wajahku yang dibuat oleh Ed dulu. Dia melihatku dengan sempurna, kenapa aku harus melihatnya dengan tidak sempurna? Jadi aku harus menerima segala keputusannya. Meskipun berat, aku yakin itu yang dia mau. Lagipula aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku bersamanya yang sisa beberapa bulan lagi.

Akhirnya kami kembali rujuk. Kuhabiskan bulan-demi-bulan bersamanya. Mencoba tegar melihat wajahnya yang lelah dan mencoba menghiburku. Namun malam ini adalah puncak dari segalanya. Puncak sembilan bulan yang sudah terlalui. Waktu itu, kami berkencan selama sembilan bulan. Sekarang salah satu dari kami harus pergi selamanya setelah melewati sembilan bulan.

“Di,” ujarnya parau di telingaku.

“Ya,” aku menjawab setegar mungkin.

“Aku boleh minta permintaan terakhir?” tanyanya sambil membaringkan kepalanya di dadaku. Tangannya yang biasanya menari indah di atas kanvas memelukku erat.

“Apa?” aku mencoba merengkuhnya dengan hati-hati.

Dia memajukan bibirnya ke bibirku. Mengecupnya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Kemudian dia memindahkan bibirnya ke dekat telingaku. “Biarkan aku pergi malam ini.” Dia berbisik bagai mantra kematian bagiku. “Boleh kan?” Nada suaranya pasrah dan memohon, membuatku tak bisa menolaknya.

“Kamu boleh pergi,” ujarku ikhlas walau perih. “Pergilah. Aku sudah bisa melepaskanmu malam ini.” Sebisa mungkin aku menahan air mata yang terbendung di pelipisku.

“Terima kasih,” ujarnya dengan nada yang mulai melemah. “Aku mencintaimu. Selalu dan selamanya,” tuturnya sangat lembut di telingaku.

Kukecup keningnya dan membalas. “Aku juga mencintaimu. Selalu dan selamanya.” Nafas lirih tidak berdaya berhembus naik-turun di hidungnya.

Dia mengangkat tangannya dari dekapanku lalu menggaruk hidungku pelan. “Tapi sebelum itu, ceritakan aku dongeng spontanmu lagi. Agar aku bisa benar-benar tidur dalam damai yang sesungguhnya.” Dia melingkarkan tangannya ke pinggangku. Memelukku dengan erat dan hangat.

Air mata hampir menetes saat aku ingin memulai dongeng spontanku. “Dahulu kala, hiduplah seorang laki-laki yang mengajak seorang laki-laki lainnya untuk berkencan selama sembilan bulan,” bisa kurasakan senyuman lemah Edwin di leherku. Kuseka hidungku lalu melanjutkan dongengku dengan penuh penghayatan. Lambat laun, bisa kurasakan pelukan Edwin di pinggangku mulai merenggang. Nafasnya yang hangat mulai terputus-putus. Namun aku harus terus melanjutkan dongengku. Dongeng yang memang terjadi di dunia nyata. Tetapi akan kututup dengan sedikit warna. “Kemudian, kelak mereka berdua akan hidup bahagia di surga buatan mereka selamanya. Ya, selamanya.”

Dongengku ditutup dengan lepasnya pelukan dari tangan Ed di pinggangku. Nafasnya yang kusuka akhirnya menghembus dengan tenang untuk terakhir kalinya di tengkukku. Aku menarik kepalanya dan menjatuhkannya di dadaku. Kukeluarkan seluruh air mataku yang sejak tadi sudah terbendung di pelipis mataku. Kedekatkan bibirku untuk mengecup bibirnya sebagai tanda terakhir kalinya. Aku berbisik parau di telinganya. “Selamat jalan. Tunggu aku di sana. Aku pasti akan datang. Aku mencintaimu.”

Kurengkuh tubuh Ed di atas badanku. Memeluknya erat dan tidak ingin melepaskannya. Dia sudah pergi. Kataku dalam hati. Dia sudah pergi untuk selamanya. Aku berkata seperti itu sekali lagi di dalam hatiku.

Malam itu, aku serasa meninggal bersamanya.

Sembilan bulan sudah berlalu. Bagaikan mimpi, bagaikan dunia khayal, aku masih bisa merasakan Ed di sampingku saat aku bangun dari tidur. Atau aku juga bisa mendengar siulannya saat sedang memasakkanku sarapan. Dan juga aku masih bisa merasakan kalau Ed sedang melukis di balkon kamar. Saat aku di kamar mandi, aku bisa merasakan dia sedang menggosok gigi di sebelahku. Membercandaiku dengan guyonan khasnya. Semua itu masih terasa di dinding hatiku. Semua hal tentangnya.

Pekerjaanku sebagai dokter terbengkalai karena aku terlalu terpuruk dalam duka. Bahkan ketika Nana, kakak Ed melahirkan saja aku tidak menjenguknya. Bagaimana bisa, aku juga bahkan tidak memperhatikan kesehatanku sendiri. Berat badanku turun lima kilogram. Semua tetangga apartemenku, yang terdiri dari: Dimas, Harry dan Gio, yang selalu mencoba menghiburkupun tidak berhasil. Aku mengutuk diriku sendiri untuk bangun, tetapi aku tidak bisa. Aku seperti kehilangan pijakan sekarang.

Aku membuka pintu apartemenku dengan tidak bernafsu. Hari ini aku disuruh pulang oleh kepala rumah sakit karena aku selalu melamun sedari jam kerja dimulai. Kubuka engkel pintu, namun baru saja aku ingin masuk, suara Gio, tetanggaku mengejutkanku.

“Lho, kok Mas sudah pulang?” tanyanya.

Aku berbalik pelan ke arahnya. Wajahnya yang seperti orang korea tersenyum iba ke arahku. “Disuruh pulang sama kepala rumah sakitnya gara-gara kerja saya nggak becus Nak Gio.”

Gio menghampiriku dan mengusap punggungku dengan kadar menenangkan. “Mas Diatmika harus kuat,” katanya sendu, air matanya berlinang di pelupukya. Rasa iba dan kasihan tercurah disana. “Kita semua sayang Mas. Dimas, Harry, aku… bahkan Boby dan Fandi juga begitu Mas. Mas harus kuat. Kita bakalan selalu ada buat Mas.”

“Terima kasih,” ucapku haru. “Mas baik-baik saja kok.”

Gio menatapku dengan tatapan tidak percaya dan mengiba. “Kalo begitu, Mas harus tertawa lagi ya sekarang.” Aku menguakkan bibirku menjadi senyuman, namun aku kikuk saat melakukannya. “Aku ada ngirimin Mas novel terbaruku di e-mailnya. Di cek ya. Aku butuh komentar lho dari Mas Diatmika.”

Aku mengangguk, kemudian berlalu masuk ke dalam apartemenku. Tiba-tiba air mataku kembali membanjiri pipiku. Aroma permen karet yang menyeruak di udara mengingatkanku lagi tentang Ed. Aku buru-buru ke kasurku dan mencoba untuk tidur. Ingin bertemu dengan Ed di dalam mimpiku.

Aku bangun ketika twilight datang. Tidak ada hal yang ingin kulakukan sehabis menangis. Dengan gerakan malas aku mengambil laptopku dan menyambungkannya ke internet. Kemudian kubuka e-mailku. Ada 8 pesan yang masuk. Empat adalah ucapan duka dari Toby, Logan, Aleksey dan Kwan. Aku tidak tahu darimana dia bisa tahu kalau Ed meninggal. Dua lainnya adalah pemberitahuan jadwal dokterku. Satu lagi pesan dari Gio. Dan yang satu lagi… aku tercekat hebat saat mengenali alamat e-mail tersebut.

E-mail dari Ed yang dia kirimkan padaku sembilan bulan yang lalu. Hari dimana dia meninggal. Dia mengirimkan e-mail itu pada pukul 02.22 PM. Berarti pada siang hari. Dengan jantung berdegup kencang, aku membuka e-mail tersebut.

 

From: edwin.christopher@gmail.com

To: diatmika.nasution@gmail.com

Subject: Be happy

 

Dear, My Diatmika

(Karena kamu bilang tulisanku jelek, makanya aku menulis e-mail ini alih-alih surat)

Hai, Di, apa kabar? Kuharap kamu baik-baik saja. Dan… oh, astaga, tentu saja kau baik-baik saja kan? Kau kan seorang dokter. Hidup seorang dokter lebih sehat dari seniman. Seseorang pernah mengatakan hal itu padaku. Tetapi aku lupa siapa.

Di, maaf ya karena aku selalu keras kepala selama ini. Maaf ya karena aku tidak bisa hidup lebih lama untukmu. Kamu harus tau, aku mengambil keputusan untuk hidup selama sembilan bulan waktu itu supaya aku bisa menghabiskan waktu terakhirku bersamamu. Daripada aku harus merenggang nyawa lalu pergi tanpa pamit dulu padamu.

Di, aku sangat senang bisa mengenalmu. Sungguh. Kamu tidak akan pernah tau bagaimana rasanya mabuk kepayang setiap hari tentang seseorang. Tetapi aku tau, dan aku selalu mabuk kepayang tentang dirimu. Cintamu. Hangat sayangmu. Ahh, andai saja kau tidak begitu tampan dan memikat, aku pasti tidak akan merasakan hal ini terus.

Di, aku tau dengan kepergianku pasti akan berat untukmu. Sama sepertiku Di, aku sangat sulit untuk meninggalkanmu. Tetapi aku yakin kita berdua akan baik-baik saja walau dunia memisahkan kita di tempat yang berbeda. Maka daripada itulah Di, berhentilah menangis, cukupkan air matamu. Aku ingin kamu bahagia. Karena, jika kamu bahagia di bawah sana, aku akan bahagia di atas sini. Semudah itu.

Di, setiap perjumpaan selalu ada perpisahan. Tetapi percayalah, bahwa sebuah perpisahan juga akan memunculkan kembali perjumpaan. Aku akan menunggu dengan sabar sampai perjumpaan kita yang selanjutnya hadir kembali. Percayalah.

Di, kumohon berbahagialah, kuakkan senyummu lagi. Kamu akan sangat tampan dengan senyuman itu. Baiklah, sudah terlalu panjang aku mengetik padamu. Aku akan pergi sekarang. Tapi tidak akan pergi jauh-jauh darimu. Ingatlah kalau aku selalu berada di hatimu.

Di, aku mencintaimu. Sampai bertemu lagi nanti. Jaga dirimu baik-baik disana. Aku menyayangimu dengan sangat dan tanpa syarat.

🙂🙂🙂🙂🙂🙂🙂🙂 — kamu harus tersenyum terus seperti itu. Kamu harus hidup bahagia. Kamu dengar, ya, kamu harus hidup bahagia agar aku juga bahagia di sini. Semudah itu. Ayo, berjanjilah padaku… ayolah, berjanjilah padaku.

Always and Forever

 

Edwin

NB. Pergilah ke basement di galeriku. Kamu akan menemukan keajaiban seorang seniman di sana.

Aku membaca pesan itu sampai lima kali. Air mataku membanjiri terus pipiku. Kuseka air mataku dengan telapak tanganku dan mulai meneguhkan hatiku. Kupeluk erat laptopku dan berbisik di sana, menganggap itu adalah telinga Ed.

“Aku berjanji,” ucapku lirih. “Sumpah, Ed, aku berjanji. Aku akan hidup bahagia untukmu di sini agar kamu hidup bahagia di atas sana.”

Kulantunkan terus perkataan itu sampai akhirnya bisa kurasan senyuman Ed di tengkukku.

Setelah aku membulatkan tekadku, akhirnya aku berada di dalam galerinya. Debu yang mengepul di lukisan yang terakhir dia kerjakan kutiup dengan hembusan kencang. Ruangan ini masih sama rupanya seperti terakhir kali Ed meninggalkannya. Kuasnya masih tertaruh di atas nakas pewarna cat air. Jubah pelukisnya terkulai santai di hamparan kanvas putih. Aku tersenyum lebar saat hembusan angin semilir menerbangkan ikal rambutku.

Kuteguhkan kakiku dan aku berjalan cepat menuju basementnya. Setelah aku membaca pesan yang dia kirimkan padaku, kini aku sudah bisa benar-benar menerima kepergiannya. Aku akan hidup bahagia untuknya. Agar dia juga bahagia di sana. Di surga.

Pintu basementnya terbuka pelan saat aku mendorongnya. Ruangan itu gelap gulita. Namun ada sebuah kilauan cahaya yang jatuh ke sebuah bingkai lebar yang tertutup kain putih panjang. Kuhembuskan nafasku dan mulai melangkahkan kakiku kembali. Saat sudah berada di depan bingkai tersebut, kuulurkan tanganku dan kubuka dengan perlahan kain putih yang menutupinya. Ketika kain itu sudah sepenuhnya tersibak, nafasku tercekat saat mendapati lukisan yang ada di kanvas tersebut.

Lukisan itu adalah gambarku dengan Ed yang sedang tersenyum lebar menatap matahari terbenam. Lekuk garis dan gambarnya sangat detail. Membuat lukisan itu seakan-akan mempunyai nyawa dan hidup. Air mataku mengalir lembut di pipiku. Ini akan menjadi air mata terakhir untuk kesedihan, ujarku dalam hati untuk memberitahunya. Kutelusuri lukisan itu dengan mendamba, saat aku menundukkan kepalaku barulah aku melihat judul lukisan tersebut.

If you happy, I will be happy. As simple as that.

Aku tertawa getir dan mengelus lukisan tersebut bagai mengelus wajah manisnya. Ya, Ed. Aku akan bahagia di sini. Aku berjanji, aku akan hidup bahagia di sini. Tunggulah aku di sana. Aku pasti akan datang menemuimu. Dan, ketika hari itu tiba, akulah orang yang akan menghujanimu dengan ciuman dan cinta dari hatiku.

Aku akan bahagia di sini, maka kau juga akan bahagia di sana. Kau benar, semudah itu.

***

“Ed, aku ingin bertanya padamu, jika tiba-tiba nanti aku terkena amnesia atau penyakit alzhemeir dan aku melupakanmu sepenuhnya, apa yang harus aku lakukan agar aku mengingatmu lagi?”

“Belajarlah dengan mencintaiku. Sisanya pasti akan menyusul. Memorimu. Kenapa aku selalu berada di sisimu. Kasih sayang yang terjalin di antara kita. Dan, alasan mengapa aku hidup di dunia ini. Kamu benar Di, alasan aku hidup di dunia ini karena aku yakin kamu akan terus mencintaiku tanpa pamrih sama sekali.”

Aku tersenyum, lalu tangan kami terpaut menjadi satu, memberikan kami kehidupan yang tiada tara indahnya. Kupeluk tubuhnya dan bersabda, inilah pula alasanku hidup di dunia ini. Ya benar, untuk mencintaimu juga tanpa pamrih apapun Ed. Selalu dan selamanya.

–The End–

 

See you next time,

 

Rendi Febrian

14 thoughts on “Nine Months

  1. Ren , ceritanya si udah ngak usah di Tanya , sangat tidak meragukan.
    Tapi blognya masih kurang nyaman buat di kunjungi, bukannya sotau ya , tapi kesannya ceritanya panjang banget soalnya nyambung menyambung terus ke bawah, bisa ada list per judul nya ngak, jadi simple mau baca yang mana dulunya ren.

    Itu si harapan si pembaca ya ren, kalo emng style blog kamu maunya gini ya monggo…
    Makasih jangan marah ya , kamu penulis favorit aku di AVN . Ehehe

  2. Huaaa😥 ga mau komen ah mw mewek aja😥 kkkk tp buat gw ini happy ending kok :’) sususan kalimat + bahasanya bener2 >,<d

  3. Uuuuh rasanya mau nangis bareng Di, bukan sedih tapi karna terharu sama kisah mereka, cinta yang abadi yang hanya terpisah oleh ajal🙂
    Dan aku seneng dapet kesempatan buat baca kisah yang sesuatu banget ini…:-D

  4. Ren gua uda baca beberapa cerita lu dan masih terus gua baca yang lain. Ini cerita yang bener bener tulus banget. Intinya dapet banget. Keep rockin your blog ! Sure many people sometimes need some “medicine” not to recover from their gay life but to make them believe they can found the true love.

    Nb : if you still keep in touch with bang andy. Say my message for him I miss his blog🙂

  5. Setuju sama comment comment sebeIumnya, these were a great sad ending.. Sangat suka dgn tuIisanmu.. Ah bingung mau muji apa Iagi.. Thanks sudah hidup dan menuIis Ren.. 😀

  6. Ahhhh..bner2 deh..ne crta yg bkin nangis..mpe g brenti2 dr tengah crta ke akhr..apa yg gw harap..ya hdup spti mrka..penuh ketulusan..what a true love..i wish i will get it..someday..hanya berharap yg msh mampu menopang hdup ku..love this one..bbrp kali baca tetep terharu..maaf

  7. Good write…
    Penyampaiannya dapet..
    Saat baca,,imajinasi visualnya kena…
    Feel yg begini yg dibutuhkan seorang sutradara amatir,mudah dicerna divisualisasikan kedalam suatu adegan,,
    tp sayang perfilm-an Indonesia gak bakal muter film kayak gini..
    Alasanya sih menjamurkan para gay -fikiran picik–..
    Padahal feelnya yg dibutuhkan,masalah jalan cerita bisa diubah non gay…
    “syyalluut dah ren”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s