Few Weeks


(Fifth “Times” Saga)

Few Weeks

Trivial Story By. Rendi Febrian

 

 

Dari awal seharusnya aku sudah menolaknya. Atau kalau perlu tidak mengiyakannya sama sekali. Tatapan matanya yang tajam dan menelusuri lekuk tubuhku membuatku sangat risih. Baiklah, aku tahu dia itu pengusaha muda paling kaya se-Indonesia. Dia juga rekan bisnis Ayahku yang paling penting. Hanya saja, God, stop melihatku dengan tatapan merendahkan seperti itu! Bukan berarti aku tidak pernah diberikan tatapan semacam itu oleh orang lain. Tetapi entah mengapa, dia selalu memberikanku tatapan menelusuri dan merendahkan seperti yang sedang dia lakukan padaku sekarang setiap kali melihatku, sehingga membuat tanganku tergelitik untuk menamparnya dengan sangat keras dan kasar.

Siluet tubuhnya yang langsing melewatiku begitu saja saat dia sudah selesai memberikanku tatapan menjengkelkan itu. Dia masuk ke dalam pesawat pribadinya dan mengecek semua lekak-lekuk yang menempel di setiap badan pesawat tersebut. Tangannya yang panjang dan ramping mengetuk-ngetuk di bagian knop pintu dengan gaya arogan. Matanya yang dipenuhi dengan aura dingin menelusuri semua detail yang ada di dalam pesawat itu. Dia berkacak pinggang sebentar sebelum akhirnya keluar dari pesawat pribadinya dan melewatiku dengan dengusan menyebalkan.

Setelah dia sudah musnah sepenuhnya dari pandanganku, aku langsung berlari kencang menuju ke kantor Kaptenku. Dia duduk di sana dengan tusuk gigi yang menyangkut di mulutnya. Aku masuk ke dalam kantornya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dia agak sedikit terjengkang kaget saat melihatku. Rona wajahnya berubah gelap.

“Lo nggak pernah dikasih tau ya kalo mau masuk ke kantor orang lain itu ngetok dulu!” ujarnya dengan nada menggerutu. Wajahnya yang seumuran denganku menatapku dengan tatapan jengkel.

Benji Alsatrian. Kapten serta sahabatku. Sahabat yang benar-benar paling menjengkelkan yang pernah aku punya. Terlebih lagi sekarang. “Kenapa lo nggak bilang sama gue kalo gue bakalan bawa penumpang se-menjijikan orang tadi?”

Wajah Benji langsung berubah mengerti. Dia tergelak pelan sebelum akhirnya tertawa terpingkal-pingkal di kursinya. “Lo nggak bakalan bisa ngebatalain kontrak itu. Lo udah tanda tangan dan udah bersedia buat nganterin tuh manusia.”

“Iya, pas gue tanda tangan kemarin itu, gue kira orangnya nggak bakalan dia!” cetusku berang. “Lo kenapa nggak ngasih tau gue kalo orang itu adalah Fanditya Cokrodiningrat!?”

Kalian dengar apa yang kubilang tadi? Ya. Namanya adalah Fanditya Cokrodiningrat. Atau yang sering kusebut sebagai Fecunditya, salah satu musuh besarku saat di SMA dulu. Kenapa aku menyebutnya musuh besarku? Itu karena dia selalu merebut pacar cowokku. Oke! Aku gay elegan dan dia gay jalang. Tingkahnya tak lebih dari seorang pecundang dan penjilat. Kerjaannya selalu menghinaku dan menatapku dengan tatapan merendahkannya itu.

Sebenarnya dia teman dekatku sampai kami kelas dua SMA. Namun, kami mulai bermusuhan ketika kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan mobil. Dan juga pada saat aku mempunyai seorang pacar. Dia mulai menjauhiku dan menatapku dengan tatapan marah dan bengis. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa begitu. Saat kami kenaikan kelas tiga SMA, dia mulai jauh lebih bengis dari biasanya. Dia selalu menggangguku dan merecokiku dengan segala cara. Bahkan semua cowok yang kupacari direbut olehnya.

Dia bisa melakukan apa saja. Tentu saja. Dia kaya. Dia diwarisi harta melimpah oleh kedua orang tuanya. Hanya saja dia berubah, menjadi sosok penyendiri dan pendiam. Cewek-cewek di sekolahku bilang, dia berubah menjadi lebih dingin dan keren. Aku tidak tahu keren dari sudut mana dan juga dingin dari posisi mana. Lagipula dia selalu sibuk mengurus kantor-kantor yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya untuk dia urus. Jadi asumsiku, dia bisa menjadi sosok penyendiri dan pendiam itu karena dia terlalu sibuk untuk bisa mencari seorang teman. Tetapi dia tidak sibuk untuk mengambil semua cowok yang kupacari. Benar-benar jalang bukan!?

Namun yang membuatku bingung adalah, setelah satu atau dua minggu dia berpacaran dengan cowok-cowok yang dia rebut dariku, dia pasti akan memutuskannya. Lalu dia mulai kembali merebut setiap cowok yang menjadi pacarku. Untung saja hal itu berhenti ketika aku pindah ke Surabaya untuk melanjutkan kuliah penerbangan. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Setelah aku selesai menempuh sekolah Pilotku, aku kembali lagi ke Jakarta dan bertemu dia lagi sebagai rekan bisnis Ayahku.

Empat bulan pertama, karena aku masih Pilot muda, aku belum dapat pesawat untuk kuterbangkan. Jadi aku bekerja di kantor Ayahku dan mencoba peruntungan menjadi businessmen seperti si jalang tersebut. Tetapi ternyata aku gagal dan memang tidak pintar di bidang mengerikan seperti itu. Lalu nasibku berubah, aku mendapatkan pekerjaan di Garuda Indonesia. Tidak lama memang, hanya sekitar empat tahun. Jadi sekarang aku menganggur lagi. Kemudian, Kaptenku yang bernama Bitchy—Benji maksudku—menyuruhku untuk membawa seseorang dengan pesawat pribadinya ke Maluku untuk urusan bisnisnya, aku menyetujui karena uang jajanku dari Ayahku belum datang-datang juga. Tapi, jika aku tahu orang itu adalah si jalang. Ugh! Tentu saja aku langsung meludah dan menolak dengan penuh keyakinan.

Apalagi saat dia kembali menatapku dengan tatapan itu. Damn ass! Belum berubah sama sekali. Masih bisa membuat hatiku panas dan gregetan. Ingin rasanya aku menarik hidungnya yang seperti prosotan itu sampai terlepas dari tempatnya. Mencabik-cabik wajahnya dan mencongkel kedua bola matanya yang seperti nenek-nenek kesurupan jin cabul tersebut. Meskipun sesungguhnya aku belum pernah benar-benar melihat nenek-nenek kesurupan jin cabul itu seperti apa.

“Kan lo yang nggak nanya sama gue nama orang yang bakalan lo bawa terbang, ya mana sih mau gue kasih tau,” tukas Benji santai. Wajahnya yang kemerahan mirip sekali seperti babon pantat merah. Tanganku gatal ingin menerkamnya dan menggigit wajah menyebalkannya itu.

“Sialan lo!” umpatku kesal.

Bitchy—Benji maksudku—malah kembali tertawa terpingkal-pingkal. “Alah…” ujarnya di sela-sela tawa, “Cuman beberapa jam aja kan lo sama dia. Nganterin dia ke sana terus balik lagi deh ke sini. Nggak bakalan buat lo jatuh cinta sama dia kok.”

“Najis!” seruku cepat dan berang. “Nggak bakalan gue jatuh cinta sama dia. Walopun dia keren dan gay, nggak bakalan buat gue jatuh cinta sama dia.” Aku memutar badanku cepat, untuk pergi dari ruangannya ini.

“Lo masih dendam ya sama dia gara-gara dia ngerebut semua pacar cowok lo? Gue nggak tau kalo gay itu bisa beringas juga kayak cowok straight kalo ceweknya direbut. Gue kira, kalo cowoknya diambil cowok lain, dia masih bisa nyari yang lain.” Benji tertawa kecil setelah berujar panjang dan tak berguna.

Aku kembali memutar badanku untuk menghadapkan wajahku ke wajah dungu Benji. “Tentu aja gue dendam. Dia ngambil semua pacar yang gue sayang. Lagian ya, mau straight kek, lesbian kek, gay kek… kalo udah menyangkut cinta dan harga diri, permainannya udah beda banget. Kalo kita dimalingi, kita juga harus bales ngemalingi dia.”

“Wahh… lo pasti masuk kategori gay tersadis deh sekarang. Takut ah gue. Untung aja gue straight dan udah punya istri. Coba kalo gue gay dan ngerebut pacar lo, bisa-bisa dimaling penis gue sama lo.” Benji kembali tertawa keras dan kali ini di tambahi dengan tepukan tangannya di meja. Dasar Benji bitchy.

“Ugh! Nyesel gue udah ngasih tau lo kalo gue gay dan dan punya masalah sama Fecunditya.” Aku meringis jengkel lalu berjalan cepat meninggalkan orang sialan itu.

“Titip salam buat Fecunditya ya besok,” teriaknya keras dengan diiringi tawa menyebalkan.

***

Seharusnya aku tidak melakukan ini. Seharusnya aku pulang sekarang juga ke apartemenku dan tidur. Seharusnya aku tidak duduk di kursi ini. Seharusnya aku tidak melaksanakan kontrak itu. Seharusnya kalau aku tidak punya uang aku bisa langsung mendatangi kantor Ayahku dan langsung meminta uang cash padanya. Seharusnya dan masih banyak seharusnya lagi yang berkecamuk di otakku.

Tanganku sedikit gemetar ketika tertempel di kemudi. Mataku nanar dan otakku sangat pusing. Ini pasti efek karena aku harus membawa Fecunditya. Dia memang benar-benar sebuah penyakit yang bisa membuatku langsung menjadi orang aneh seperti sekarang ini. Arrrghhhh! Aku benar-benar jengkel dibuatnya. Lagipula aku juga yang bodoh, kenapa juga aku mau sekarang mengantarnya dengan pesawat pribadinya ini ke Maluku. Seharusnya aku tidak usah saja melaksanakan tugas ini. Lagian gaji yang dia berikan padaku tidak terlalu banyak. Hanya enam puluh juta untuk bolak-balik Jakarta-Maluku.

Suara langkah tiba-tiba terdengar. Aku memicingkan mataku dari balik kursi pilot ke jendela. Mataku langsung menangkap sosok Fecunditya yang sedang dikawal oleh asistennya. Wajahnya yang tirus dan panjang mengeras dengan arogan saat bersitatap denganku. Mulutnya yang agak tipis berkedut mengejek dengan gerakan bajingan. Ugh! Andai dia tidak ditemani oleh asistennya itu, mungkin aku sudah keluar dari pesawat pribadi mininnya ini dan menghajarnya sampai dia babak belur. Atau sampai dia mati sekalian.

Ketika dia sudah berdiri di depan pintu pesawat pribadinya ini, dia bicara pelan ke asistennya. Aku tidak bisa mendengarnya karena dia menggunakan jurus bisikan yang sangat hebat. Namun yang aku tahu selanjutnya adalah, si asisten tidak akan ikut kami ke Maluku. Berarti hanya aku dan dia saja yang akan berada di pesawat ini. Shit! Ini tidak akan bagus sama sekali. Ini sebuah bencana. Ini kiamat kecil bagiku.

Suara deritan pintu terbuka, lalu terdengar masuk ke telingaku. Bunyinya mirip sekali seperti musik Reverse yang menakutkan. Aroma kemenyan dan juga wangi bunga tujuh rupa langsung memenuhi pesawat pribadi ini. Aku serasa mati tercekik sekarang. Dan aku juga seperti merasa kalau aku sedang duduk bersisian dengan Susana. Bulu ketiakku langsung merinding seketika. Jantungku berpacu seperti mobil tamiya. Shit! Aku ngomong apaan sih.

Wangi parfum Fecun masih sama seperti dulu. Aroma musk yang maskulin dan segar memasuki indera penciumanku. Membuat hatiku rindu untuk kembali berteman dengannya. Yah, bersahabat sih sebenarnya, sebelum dia meleburkan persahabatan kami ini menjadi puing-puing tak bersisa dan membuat kami bermusuhan dengan sangat-sangat penuh kebencian dan amarah. Tetapi itu semua bukan salahku. Itu adalah salahnya. Benar kan!?

Hanya sebuah desisan yang keluar dari mulutnya saat dia memperintahkanku. “Jalan!”

Aku men-starter pesawat pribadinya dengan perlahan. Deru mesin mengalun lembut ketika menyala. Aku memasang earphone dan melirik sekilas ke arahnya untuk melihatnya apakah dia sudah menggunakan earphonenya apa belum. Lirikanku langsung berubah pelototan ketika mendapati dia sudah menggunakan earphone serta kacamata terbang dengan gerakan sangat cepat. Wahhh… sudah pengalaman berarti dia. Sudah tahu apa saja hal yang harus dilakukan sebelum mengudara.

Kutekan tuas dengan gerakan lugas dan hati-hati. Menjalankan gas dengan perlahan dan menekan sambungan radio untuk bersiap mengudara. Suara Kapten menyebalkanku itu langsung terdengar ketika aku sudah siap-siap menekankan flying road dan menyalakan GPS serta mengaktifkan black radio.

Izin terbang pesawat dengan nama G-60 DPT telah disetujui, silahkan masuk ke landasan dan mengudara. Over.” Suara Benji akhirnya menghilang ketika aku sudah berada di landasan dan bersiap untuk menerbangkan pesawat pribadi mini ini.

Penerbangan pesawat G-60 DPT berjalan mulus. Pengalihan suara radio dan black radio telah aktif dengan baik. Penerbangan akan memakan waktu sekitar empat sampai lima jam. Izin penerbangan melalui beberapa kota akan disambungkan beberapa menit setelahnya. Over.” Aku menekan auto pilot saat pesawat sudah mengudara sekitar beberapa puluh ribu meter di atas daratan.

Diterima. Finish,” ujar suara baru dari satelit penerbangan sah Jakarta.

Pesawat ini terbang dengan kecepatan minimum dan mulus. Kami naik semakin tinggi, melewati awan putih dan beberapa burung yang berformasi. Suara deru mesin semakin halus ketika kami sudah terbang beberapa puluh meter lagi. Aku menekan tombol pembuka empennage dan katup wings. Kubelokan sedikit penutup suara angin agar tidak masuk terlalu banyak ke pesawat ini agar tidak terjadi penekanan oksigen di sini. Aku tidak mau mati di dalam pesawat ini dengan Fecun tentu saja. Aku lebih baik mati di tengah gerombolan sapi.

Ketika aku kembali menekankan auto pilot untuk yang kedua kalinya, aku melihat black radio mengedip-ngedip memperingatkan. Aku langsung melirik ke arah Fecun. Dan benar saja, dia sedang memainkan ponselnya. Aku cepat-cepat langsung mengaktifkan tombol komunikasi yang ada di earphoneku untuk memberitahunya. “No phone, please!” ujarku dengan nada menukas kesal.

Fecun membuka kacamata terbangnya dan menatapku intens. “Bukan urusan lo. Terbangin aja nih pesawat! Nggak usah banyak komen!” Suaranya meninggi pada kalimat terakhir.

Aku berdecak kasar dan memekik pelan, agar suaraku menekan telinganya. Dan berhasil. Dia mengernyit dan mencoba untuk melepas earphonenya. “Masalahnya Tuan Muda,” kataku pelan-pelan, seperti sedang mengajak orang idiot bicara, “kalo lo terus mainin tuh HP, yang ada jalur komunikasi kita rusak, black radio kita bakalan non-aktif dan GPS bakalan terganggu. Jadi, mendingan lo berhenti sekarang juga!”

“Alah! Banyak omong lo!” dia juga ikut-ikutan menukas kesal. Tangannya yang sedaritadi dia taruh di atas pahanya langsung melayang ke pundakku. Dia memukulnya keras tapi tak menyakitkan. Aku menepis pukulannya dan menahan tangannya. “Lepasin gue setan!” serunya berang dengan mata redup mematikan. Dia meronta sedikit sebelum akhirnya kulepaskan tangannya dari tanganku.

Entah kenapa, saat aku menyentuh tangannya tadi, tiba-tiba seperti ada listrik statis yang menyetrum otakku. Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku. Berpura-pura sibuk dengan semua tombol yang ada di pesawat ini untuk menghilangkan degupan kencang yang sekarang menimpa jantung rapuhku. Ditambah juga untuk menstabilkan kembali nafasku yang tiba-tiba berubah menjadi terengah-engah.

Aku juga bisa mendengar suara nafas Fecun—baiklah, lebih baik aku memanggilnya Fandi saja mulai sekarang—tak beraturan persis sama seperti suara nafasku. Dia kembali memainkan HPnya dan membuat black radio makin mengedip-ngedip tak karuan. Aku ingin sekali untuk kembali berbicara padanya, tetapi aku tidak bisa menemukan suaraku. Aku seakan-akan lupa bagaimana caranya berbicara.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam, akhirnya aku bisa menemukan suaraku kembali. “Jalur komunikasi kita akhirnya rusak. Lo seneng sekarang?” Padahal aku mau mencoba menggunakan nada mengejekku, tetapi yang malah keluar adalah suara panglingku. Menyedihkan sekali hidupku ini.

“Biarin aja!” hardiknya tak acuh. Dia malah terus memainkan ponselnya. “Daripada gue maki-maki lo, lebih baik gue mainin HP gue.”

Ada nada sedikit sedih di sana. Aku juga tidak mengerti apa, namun selama satu tahun setengah kami berteman, aku kenal sekali dengan nada itu. Sebenarnya, ada apa antara kami berdua? Semua kenangan yang pernah kulalui bersamanya waktu SMA dulu sangat kabur di memori otakku. “Terserah!” cercaku cepat sembari menutup jalur komunikasiku dengannya. Untuk sementara ini, aku sedang tidak ingin bicara dengannya lagi. Ada perasaan marah dan rindu yang tiba-tiba menyergapku. Dan aku benci merasakan kedua hal tersebut.

Detik berubah menjadi menit, lalu berubah lagi menjadi beberapa jam. Deru pesawat sudah tidak sehalus tadi. Suara merongrong terdengar jelas di power plant. Baling-baling juga berputar was-was. Aku cepat-cepat memencet kembali auto pilot dan langsung menekankan tombol tenaga cadangan untuk power plant. Kedipan untuk mengetahui black radio masih aktif atau tidak akhirnya mati. Itu tandanya black radio sudah non-aktif. Bagus sekali. Jalur komunikasi rusak dan black radio non-aktif. Peristiwa ini mirip sekali dengan kejadian Adam Air beberapa tahun yang lalu. Tinggal tunggu pesawat ini mendarat keras dan menewaskanku dengan si Fecun. Dasar Fecun! Aku tidak peduli mau memanggilnya apa sekarang.

Asap hitam keluar dari power plant dan gemerisik baling-baling yang saling berbenturan dengan udara terdengar sangat mengerikan. GPS mengedip-ngedip marah dan memberikan kami kode merah. “Mayday-mayday, meminta izin pendaratan darurat di sebuah pulau Maluku Utara. Mayday-mayday!” ujarku sambil meng-klik beberapa kali tombol jalur komunikasi. Tetapi percuma, jalur komunikasi sudah rusak total. “Mayday-mayday, meminta status tanah lapang dan aman untuk pendaratan darurat. Mayday-mayday!” Percuma, tak ada sahutan sama sekali di earphoneku. Bagus. Sekarang aku harus berusaha sendiri.

Kutegakan kepalaku dan menyipitkan mataku setajam mungkin. Mencari sebuah tanah lapang di sebuah pulau yang ada di bawahku. Dari keterangan yang aku dapatkan dari GPS, ini adalah sebuah Pulau di Maluku Utara. Dan sialnya, tak ada satu tanah lapangpun yang bisa kupandang. Semua tanah dipenuhi dengan pohon-pohon dan juga beberapa sungai kecil. Kebelokan pesawat ke kiri dan mulai mencari kembali, sepanjang mata memandang, masih itu-itu saja bentuk tanahnya. Tidak ada yang lapang sama sekali.

Sialan! Mana pesawat ini sudah makin hebat kepulan asapnya. Dengan gerakan super hati-hati aku menurunkan pesawat beberapa puluh meter ke daratan, untuk mencoba mencari tanah lapang dengan lebih baik. Getaran pesawat kini mulai terasa, awalnya hanya getaran pelan seperti getaran HP lalu berubah menjadi getaran seperti sengatan listrik. Tanganku yang tertaruh di atas kemudi, tiba-tiba dicengkram erat oleh Fecun. Aku mengalihkan mataku dan mendapati wajah pucatnya. Ini semua memang salahnya, tetapi aku tidak tega untuk menghakiminya sekarang ini.

Kualihkan lagi mataku untuk mencari tanah lapang. Dan… oh, terima kasih Tuhan! Beberapa meter dari arah pandanganku, aku bisa menemukan tanah pendaratan yang cukup luas dan juga strategis. Walaupun tempatnya berada di tengah-tengah hutan menurut GPS. Tetapi aku tidak peduli, yang penting pesawat ini bisa mendarat dulu. Kalau pesawat ini dalam beberapa menit lagi tidak mendarat, bisa aku yakinkan kalau pesawat ini akan meledak dan menewaskan kami berdua.

Dengan gerakan super cepat dan kalang kabut, aku langsung mematikan tombol auto pilot dan menurunkan pedal penerbangan ke status turun. Suara desis marah langsung terdengar di power plant. Ketiga roda pendaratan menabrak beberapa ranting dan juga daun-daun yang tak berdosa. Sayatan tajam dari kulit pohon menghantam badan pesawat dengan bunyi decitan menakutkan. Getaran pesawat makin hebat, sehebat cengkraman Fecun yang makin kuat. Saat pesawat akhirnya benar-benar sudah turun, ketiga roda pendaratan langsung menabrakan dirinya di tanah. Suara hantaman itu begitu keras, sampai-sampai membuatku dan Fecun terlontar sedikit dari kursi kami. Untuk beberapa detik kemudian, pesawat oleng dan menabrak semua pohon-pohon kecil serta semak-semak dengan membabi buta. Untung aku cepat-cepat menginjak rem saat pesawat ini hampir menabrak sebuah pohon.

Oh, thanks my Gawd! Pesawat ini berhenti tepat waktu. Kalau sampai beberapa meter tadi aku tidak menginjak rem, bisa-bisa pesawat ini menabrak pohon tinggi yang ada di hadapanku ini. Dan kalau sampai kami benar-benar menabrak, mesin power plant bakalan hancur dan tidak akan bisa diperbaiki lagi. Atau mungkin yang lebih parah, mesin power plant meledak dan tentu saja juga meledakan pesawat ini serta aku dan si Fecun sialan.

Aku bisa mendengar suara ngos-ngosan dan panik Fecun, tetapi aku tidak punya waktu untuk menenangkannya. Buat apa juga! Yang harus kulakukan sekarang adalah… mengambil tabung pemadam kebakaran, keluar dari pesawat dan menyemprotkan isi tabung pemadam ke asap yang berada di mesin power plant agar tidak terjadi perambatan kerusakan mesin lebih jauh. Cepat-cepat aku melakukan tindakan yang kupikirkan, tanpa melirik lagi ke si Fecun.

Kuraih tabung yang bertengger di belakang kanan dekat kepalaku, kubuka pintu pesawat dengan sekali sentak, melompat dengan tegas ke tanah dan berlari cepat ke tempat mesin power plant mengeluarkan asap. Kubuka penutup karet tabung pemadam dan menyemprotkannya ke asap hitam yang mencuat keluar dari sela-sela lempengan besi power plant. Asap putih pemadam dan asap hitam bercampur menjadi satu, menyeruakan wangi belerang busuk yang membuat perutku mual.

Setelah setengah menit aku menyemprotkan isi dari tabung pemadam ke asap hitam itu, akhirnya asapnya sirna dengan sempurna. Walaupun bau belerang busuk masih tercium oleh hidungku. Kuseka sedikit mulutku ketika merasakan bau belerang itu mulai merasuki indera pengecapku, dengan hati-hati aku menaruh tabung pemadam dan membuka kaitan kecil di lempengan besi itu untuk melihat apa yang terjadi dengan power plant-nya. Tanganku menyentuh cairan putih dari isi tabung dan membuatnya sedikit gatal, aku mendesah lalu lekas-lekas membuka lempengan besi itu.

Mataku melotot lebar saat mendapati kabel-kabel yang menyambungkan power plant dengan tombol-tombol fungsi yang ada di pesawat terputus dan sedikit meleleh. Untuk memperbaiki kabel-kabel ini sangatlah sulit, apalagi dengan kerusakan yang seperti ini. Aku harus melepaskannya dan menggantinya dengan kabel yang baru. Memperbaiki kabel-kabel ini seperti menutup kembali pisang terkelupas dengan kulitnya. Sialan! Kabel-kabel ini bisa terputus pasti karena terjadi konslet di tombol-tombol di dalam pesawat lalu menghantarkannya ke dalam power plant. Dan yang menyebabkan konslet ini pasti HP nya si Fecun sialan itu. Ugh! Ini semua memang salahnya. Dia memang benar-benar Fecun.

Kuraih tabung pemadam yang bertengger di bawah kakiku, lalu aku berjalan cepat menuju ke pesawat kembali. Kubuka pintu itu dengan perasaan kesal dan jengkel. Kemudian kubanting pelan tabung pemadam kebakaran itu ke belakang kursi pilotku. Fecun terlonjak kaget saat mendengar bunyi besi berbenturan dengan keras. Dia cepat-cepat mengalihkan tatapan matanya yang mengerikan itu ke arah mataku. Namun aku yang lebih kesal di sini, jadi akulah yang pertama kali membuka suara.

“Seneng lo sekarang!?” tukasku dengan nada paling jengkel sedunia. “Hebat banget lo, bisa buat kita tekurung di tempat antah berantah ini. Ini semua gara-gara lo dan HP brengsek lo! Padahal udah berkali-kali gue nyuruh lo berhenti mainin HP lo, tapi lo malah tetep lanjut. Sekarang liat apa yang udah lo hasilin. Kita bener-bener kejebak di sini sekarang!”

Dia hanya menaikkan alisnya dengan gaya menantang. “Udah ceramahnya!?” ujarnya sembari menguap lebar. “Gue ngantuk, lo benerin gih pesawatnya kalo bisa. Kalo nggak bisa, lo mendingan cari bantuan sana!” Lalu dia membaringkan kepalanya di knop pintu.

Hatiku panas, kakiku bergetar, mataku melotot dan gigiku ingin sekali menggigit semua yang ada di tubuhnya. Rasa-rasanya ingin sekali aku menggigit badannya dan menghancurkan jantungnya yang jelek itu. Aku menggeram kesal lalu berjalan cepat untuk memutar arah. Setelah berada di samping pintunya, aku langsung menghentakannya, membuat dia tiba-tiba jatuh terjerembap ke tanah dengan wajah yang mendarat duluan. Mati lo Fecun!

Dengan berang dia berdiri sempoyongan namun tegas, kemudian tangannya yang mengepal meninju pundakku. Tidak ada rasanya memang. Dasar Fecun lemah! “Brengsek lo ya!” umpatnya marah. Dia kembali meninjuku, tetapi aku masih tetap tidak merasakan apapun. “Dari dulu sampe sekarang lo tetep aja brengsek!” teriaknya gusar dan kencang.

Saat dia ingin melayangkan sebuah tinjuan lagi, aku langsung menghindar dan membuat ancang-ancang bersiap kabur kalau dia mau menerkamku. Selain bersifat Fecun, dia itu bisa jadi Trio Serigala, yang bakalan bisa menerkamku dan mencabik-cabikku. “Lo yang brengsek!” aku balas mengumpat. “Muka lo aja udah ngeliatin kalo lo itu brengsek!”

Fecun berteriak garang bagai Voldemort, dia lalu berlari cepat ingin menerkamku. Untung saja aku sudah memasang ancang-ancang, aku langsung meneguhkan kakiku dan berlari kencang untuk menghindarinya. “Sini lo anjing Bulldog!” teriaknya sambil mengejarku. “Bakalan gue robek tuh penis lo sampe lepas dari jembut lo!”

Aku mengernyitkan wajahku, membayangkan kalau wajah Fecun berubah menjadi Trio Serigala, dengan rambut berwarna biru kusam dia akan goyang ngebor di atas selangkanganku sebagai ritual sebelum melakukan tindakan kriminal tersebut. Kemudian, setelah ritualnya selesai dia akan merobek penis berhargaku. Oh, my Gosh! Bayangan yang mengerikan. Maka daripada itu aku harus terus lari untuk menjauhinya.

Tetapi ternyata dia itu memang jelmaan siluman Serigala. Karena tiba-tiba dia mendarat di punggungku dan merobohkanku ke tanah. Dadaku menabrak ranting kayu, dan rasanya itu sangat menyakitkan. Apalagi ditambah dengan pukulan kasar dari kedua tangan Fecun di punggungku. Oh, tidak! Dia sudah bersiap-siap ingin mencabikku. Aku cepat-cepat memutar badanku untuk menghadapnya. Saat mata kami bertemu, dia langsung berubah makin garang. Aku menaruh kedua tanganku di dada saat dia siap-siap ingin memukulku di daerah tersebut. Fecun makin berubah garang saat aku menepiskan tangannya. Sumpah! Tadi aku sempat mendengar dia menggonggong.

Dia berpindah posisi dari selangkanganku ke badanku. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan melotot tajam ke arahku. “Jurus mencolok hidung pesek!” teriaknya dengan tawa setan. Setelah itu, hal yang terjadi selanjutnya membuatku gelagapan. Kedua jari tangannya tiba-tiba sudah masuk ke dalam kedua lubang hidungku dan membuatku tak bisa bernapas. Fecun anjrit! Aku mencoba melepaskan kedua jarinya, tetapi dia mendapatkan kekuatan dari matahari untuk membunuhku.

“Mampus lo bajingan! Mampus lo!” tawanya kini berubah menjadi tawa Iblis.

“Kalo lo bunuh gue, nggak bakalan ada yang benerin pesawatnya dan lo bakalan ikut mati bareng gue!” ujarku di sela-sela gelagapan.

Tangan Fecun berubah lemas, dan ini adalah kesempatan berlian untukku. Aku langsung menepis tangannya dan merubah posisi kami. Dia menjerit tertahan saat aku sudah berada di atas tubuhnya yang besarnya hampir sama sepertiku. “Jurus mencekik siluman serigala!” aku mengikuti tawa Iblisnya. Kupindahkan kedua tanganku ke lehernya dan mencekiknya pelan. Membuat dia tersekat dan gelagapan sepertiku tadi. Tetapi untung saja aku orang yang baik hati dan suka menabung. Kulepaskan cekikkanku setelah detik ketiga terlewati di jam tanganku.

Aku langsung memindahkan badanku menjauh sedikit dari badannya. Kupalingkan wajahku cepat dan menatap burung hitam yang bertengger di sayap pesawat. Pasti burung itu sedang asyik melihat kami berdua bergulat tadi. Tetapi, setelah pergulatan kami selesai, burung itu terbang menjauh. Karena sudah tidak ada hal seru lagi yang terjadi di antara Fecun denganku.

Suara deru nafas tak beraturan terdengar dari hidung Fecun. Dia masih berbaring di tanah dengan posisi telentang. Aku melirik ke arahnya dan mendapati kalau tatapannya sedang jatuh ke wajahku. Tatapan yang dia berikan kepadaku adalah tatapan pertemanan kami dulu. Tetapi saat aku ingin menyentuh wajahnya, dia kembali merubah tatapannya menjadi ke beringas lagi. Langsung kuurungkan uluran tanganku untuk menyentuhnya.

Dia bangun dari baringannya dan berdiri. ditepuk-tepuknya kemeja serta jas yang dia gunakan. Debu-debu berterbangan di sekitar kepalaku. Suaranya hanya berupa desiran ketika berujar. “Mendingan lo benerin pesawatnya sekarang. Gue bakalan nge-gaji lo untuk hal itu juga.” Lalu dia melangkah cepat ke arah pesawat.

Aku berdiri dan mengikuti langkahnya yang panjang dari belakang. Wangi musk yang ada di tubuhnya kembali menyeruak masuk ke dalam hidungku. Perasaan ingin memeluknya langsung timbul di dalam otakku. Astaga! Aku menggeleng cepat untuk menjernihkan pikiranku. Fecun tiba-tiba berbelok arah, namun aku hanya terus berjalan untuk menuju ke pintuku. Kubuka pintuku dan naik ke atas pesawat dengan perasaan gusar. Kuketuk-ketuk GPS yang menampilkan tulisan samar. Pintu yang ada di sebelahku terbuka dan memperlihatkan sosok Fecun yang kini berubah menjadi pendiam.

“Kita ada di mana sekarang?” tanyanya saat sudah duduk manis di kursinya.

Kembali kuketuk-ketuk GPS tersebut. Tetapi masih saja hanya menampilkan tulisan samar. “Di Maluku Utara. Di Pulau…” aku mengetuk-ngetuk dengan keras GPS sialan itu. Setelah ketukan yang ke-empat, barulah GPS itu menunjukan tulisan penjelasan kami sekarang berada dimana. “Seram.”

Bisa kurasakan kepala Fecun memutar cepat ke arahku. “Seram?” tanyanya bingung.

“Iya. Kita ada di Pulau Seram sekarang.” Aku mematikan GPS itu dan mencoba untuk mengklik black radio dan jalur komunikasi. Tetapi hal itu percuma saja karena kedua benda yang bisa menyelamatkan kami sudah tidak berfungsi lagi.

“Daripada lo nge-klik-nge-klik nggak jelas, mendingan lo benerin nih pesawat. Nggak makan waktu berjam-jam kan buat benerin nih pesawat?” Suara Fecun yang memperitahkanku itu membuatku sangat kesal.

“Lo kira benerin pesawat itu mudah?? Apalagi kalo kerusakannya udah nyerang power plant. Nggak bakalan ngabisin beberapa jam aja, tapi berhari-hari, malah bisa beberapa minggu.”

Fecun menghadapku dan terbelalak. “Few weeks!?” pekiknya. “Lo gila! Masa benerin pesawat sekecil ini bisa makan beberapa minggu. Nggak bisa! Pokoknya lo harus benerin nih pesawat dalam waktu beberapa jam aja. Kalo lo nggak bisa, mendingan lo cari bantuan sana!”

“Eh, goblok,” ujarku menahan amarah yang memuncak di kepalaku, “kerusakannya ini udah nyerang mesin utama pesawat. Dan benerin sambungan kabel di mesinnya itu nggak gampang. Gue harus nyatuin semua kabel itu lagi dan itu bukan hal yang mudah.” Aku menggerutu kasar. “Lagian juga, kalo gue mau minta bantuan, mau minta sama siapa?? Jalur komunikasi dan black radio udah rusak. Keluar dari hutan ini percuma, karna gue nggak tau jalan. Sedangkan kalau nembak mercusuar pertolongan juga nggak bakalan berguna karena ini di hutan. Pohon-pohon tinggi yang ada di hutan ini bakalan ngalangin tembakan itu.”

“Kalo gitu, lebih baik lo kerja sekarang! Daripada lo ngulur-ngulur waktu lagi!” Fecun membuang wajahnya dari tatapanku.

Sekuat mungkin aku tidak memekik di telinganya. “Kalo gitu, lo harus tolongin gue buat benerin tuh mesin!”

Fecun kembali menatapku. “What!?” teriaknya arogan. “Gue yang nge-gaji lo, ngapain gue pakek nge-bantuin lo segala!?”

“Gue udah nggak peduli lo mau gaji gue apa kagak. Gue bisa minta sama bokap gue uang kalo gue mau. So, lo harus bantuin gue!”

Dia mengerucutkan bibirnya yang hancur itu. “Gue nggak mau,” jawabnya santai.

Aku hanya menaikkan pundakku kecil. “Yaudah. Kita bakalan di sini sampe berbulan-bulan kalo lo nggak nge-bantuin gue!” Padahal aku hanya berbohong bicara begitu, tetapi reaksi yang aku dapatkan dari Fecun sangat heboh. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan meringis hebat.

“Gue nggak mau berbulan-bulan di sini bareng binatang buas kayak lo.” Dia menggoyangkan badannya, sok beranggapan jijik padaku. “Gue mau pulang.”

Aku memutar bola mata. Fecun sialan! “Makanya bantuin gue! Dasar geblek,” aku menjitak kepalanya pelan, tetapi dia pintar menghindar.

“Nggak usah pukul-pukul.” Dia menelan sebentar air ludahnya sebelum melanjutkan. “Iya, gue bantuin. Terus apa yang harus gue lakuin?”

“Hal pertama yang harus lo lakuin adalah…” aku mematikan sumber daya pendingin pesawat, “turun dari pesawat ini.” Fecun ingin membantah ucapanku, namun aku langsung duluan menyambut. “Karena gue juga bakalan turun dari pesawat ini. Masalahnya kalo kita ada di dalem pesawat, kabel-kabel rapuh yang ada di power plant bakalan keputus. Karna beban berat badan kita ini. So, kita harus turun sekarang!”

Fecun mendesah kasar sebelum akhirnya menuruti apa yang kuperintahkan. Dia mengambil HPnya yang tersampir di dekat tombol auto pilot, lalu dengan sempoyongan dan tak bernafsu dia turun dari pesawat. Aku tersenyum kecil saat dia berjalan pelan menuju ke pohon tinggi yang ada di depan pesawat ini. Setelah dia duduk di sana, aku langsung membalikkan badanku dan membuka kotak yang ada di atas kepalaku. Mengambil kabel-kabel baru untuk mengganti kabel-kabel yang telah meleleh dan putus di dalam power plant.

Kukumpulkan semua kabel itu lalu kumasukan ke dalam plastik baru untuk melindunginya dari matahari. Kubuka pintu pesawat lalu keluar dengan cepat. Saat aku sudah berdiri di samping mesin power plant, Fecun datang menghampiriku dan melihat-lihat dengan menggunakan wajah begonya itu. Aku pura-pura tidak melihatnya dan melanjutkan aktivitasku. Kubuka lempengan besi dan mencabut kabel-kabel yang rusak dengan perlahan agar tidak terjadi kerusakan permanen. Beberapa kabel yang masih agak panjang mendesis marah saat kucabut. Meskipun listrik pesawat sudah kumatikan, masih saja ada yang membuat tanganku tersengat perih.

Aku langsung menarik tanganku menjauh dan memekik kecil. “Anjrit-anjrit! Sakit gila!” Kugoyang-goyangkan tanganku yang terkena sengatan.

Tawa kecil bisa kudengar dari mulut Fecun, aku cepat-cepat menatapnya tajam, namun dia langsung menghentikan tawanya dan membuang muka menjauh. Sialan! Dengan wajah memerah aku langsung kembali merubah rona wajahku menjadi normal. Karena kesal kucabuti kabel-kabel itu dengan kilat. Aku tidak peduli kalau ada yang rusak permanen karena mesin brengsek itu sudah menyetrum tanganku.

Ketika semua kabel yang rusak itu sudah terlepas semua, aku mengecek tenaga penghantarnya di dalam mesin power plant. Aku mendesah kecil saat mengetahui kalau ternyata tak ada satupun kerusakan yang terjadi. “Besok aja kita kerjain ini,” ujarku pelan, memberitahu Fecun yang masih berdiri di sebelahku. “Soalnya udah sore. Kita nggak bakalan bisa ngeliat apa-apa ntar pas mau masukin tembaga ke dalem kabel-kabel baru.”

“Terserah lo aja. Yang gue pikirin sekarang, gimana kita mau tidur?” tanyanya sambil mencari-cari tanah yang bisa dipake buat berbaring.

“Di dalem pesawat ada satu kantong tidur. Kita bisa pakek itu.” Aku meniup pelan debu yang menghinggapi keluar-masuknya udara di mesin power plant. “Kabel-kabel yang masih bagus sama mesin ini nggak boleh kena air,” kataku sembari menatap jahat ke Fecun. “Jadi kita harus nutupinnya. Karna gue cuman pakek baju dua lembar dan lo tiga lembar, jadi siniin jas lo. Buat nutupin mesinnya.”

Baru saja aku melangkah, tiba-tiba Fecun mundur dengan gerakan cepat. “Lo pikir jas gue murah apa!?” Dia merapatkan jasnya ke badannya. “Gue nggak mau. Enak aja! Pakek aja tuh seragam pilot lo yang jelek itu!”

Tanpa terduga, aku langsung menerjangnya dan mengambil jasnya dengan paksa. Dia berteriak marah dan melawan, tetapi keinginanku untuk merecokinya sudah sangat tinggi. Jadi, dengan dua kali putaran, aku sudah bisa mencabut jas yang dia kenakan terlepas dari badannya yang ceking. Aku mengangkat jas itu tinggi-tinggi dengan gaya menang. Lagu we are champion langsung terdengar mengalun di telingaku.

“Brengsek lo!” umpatnya. Dia berjalan menjauh sambil menghentak-hentakkan kakinya.

“Lo bajingan!” aku balas mengumpat. Dia hanya berbalik sebentar ke arahku dengan raut wajah geram.

Kulipat dengan bentuk kotak jas si Fecun, lalu setelah itu kutaruh di atas mesin power plant secara menyeluruh agar mesin-mesin utamanya tidak terlalu terpapar air jika hujan turun. Ini hutan, pasti nanti ada saja hujan yang turun. Percaya padaku. Soalnya saat aku sekolah pilot dulu, kami pernah berlatih di dalam hutan untuk membetulkan mesin power plant dan kelompokku gagal karena mesinnya terkena air hujan dan rusak. Jadi aku belajar dari pengalamanku untuk hal yang satu itu.

Kututup tempat penyimpanan mesin power plant lalu aku kembali beranjak ke pesawat. Untuk mengambil kantung tidur dari dalam bagasi belakang pesawat. Ketika aku menghampiri Fecun, dia sedang sibuk memukul-mukul HPnya. “Ngapain lo?” tanyaku sambil menjatuhkan kantung tidur lebar yang ada di pelukanku.

“Nyari sinyal,” ujarnya cepat masih sambil memukul-mukul HPnya.

Aku tergelak pelan. “Lo bego ato gimana sih, mana bakalan ada sinyal di sini? Lo pikir ada tower Telkomsel di deket-deket sini? Yah mana ada lah…” aku menghempaskan bokongku di atas kantung tidur yang nyaman ini.

Dia melirikku sengit dan mencibir. “Terserah gue dong. Siapa tau bisa. Hal sekecil apapun yang bisa nyelamtin gue dari sini dan ngejauh dari lo, bakalan gue lakuin.”

Kudenguskan hidungku di dekat tengkuknya. Dia merinding lalu menggeser duduknya menjauh dariku. “Gue yang pokoknya tidur di kantong itu,” gertaknya dengan nada mengajak berkelahi. Dia berdiri lalu menghampiriku. “Lo tidur di tanah!” dia berdiri lalu menendang-nendang ringan badanku. Sepatu pantofel hitamnya mengotori celana hitamku.

Kutepis kakinya saat dia ingin kembali menendangku. Tetapi ini tindakan gegabah, karena tiba-tiba dia kehilangan keseimbangan lalu jatuh terjerembap di atas tubuhku. Keningnya bertabrakan dengan keningku. Untung bukan bibir kami yang bertabrakan. Aku cepat-cepat mendorong badannya ke samping. Badan kurusnya langsung meringsek menjauh dariku. Dia mengerang kecil ketika sikunya menabrak tanah.

“Sialan lo!” hardiknya kasar, tangannya yang menggunakan jam tangan itu menampar kecil wajahku. “Sakit tau!” Dia mengelus-ngelus kedua sikunya.

“Siapa suruh lo nendang-nendang gue. Lo kira gue adonan tempe apa!?”

“Tempe diinjek kali! Bukan ditendang!” serunya kesal masih sambil mengelus sikunya yang berbentuk jelek itu.

Aku kembali memutar bola mata. “Gue males berdebat sama lo. Mendingan gue cari ranting-ranting kayu buat jadi api unggun. Lo mendingan ambil persediaan makanan kita yang ada di dalem bagasi pesawat. Cepetan pergi sana!” aku kembali mendorong Fecun pelan.

Dia meringis tetapi menuruti apa yang kuperintahkan. Dia berdiri lalu berjalan menjauh. Saat dia berbalik dan menatapku dengan beringas, aku tahu kalau hidupku akan sangat sengsara selama beberapa minggu ke depan. Sialan!

***

Malam pertama kami sangat-sangatlah sulit. Fecun sialan itu terus-terusan menyuruhku untuk tidur di tanah. Dia bilang, kalau aku tidur di sampingnya, aku akan memperkosanya. Ugh! Dia pikir aku mau gitu perkosa orang kurus kayak dia. Sorry ya. Nggak bakalan. Mendingan aku memperkosa kedebog pisang. Lebih tebal dan lebih empuk untuk diperkosa.

Setelah aku dan dia berjalan sekitar enam puluh meter, barulah kami menemukan sungai kecil berair jernih. Kami mengambil air minum di hulunya lalu pergi menjauh sedikit ke bawah untuk mencuci muka. Airnya yang segar membuatku ingin mandi, tetapi karena sungai ini tidak terlalu dalam dan lebar, aku mengurungkan niatku.

Ketika aku menolehkan kepalaku ke arah Fecun, aku dibuat kaget olehnya. Dia sedang menggosok giginya dengan gaya menantang. Matanya yang lebar itu menatapku dan melotot girang. Busa putih yang keluar dari mulutnya tercium ke hidungku. Bau mint segar membuatku ingin menggosok gigiku juga. “Lo bawa sikat gigi sama odol?” ujarku sambil melirik odol besar yang ada di tangan kirinya.

“Iyalah,” ujarnya sambil meludahkan busa putih itu ke batu-batu kerikil yang ada di bawah kaki kami. Dia membilas mulutnya lalu kembali melanjutkan. “Gue kalo mau kemana-mana harus bawa ini.”

Aku lalu merebut sikat gigi dan odol yang berada di tangannya. “Gue minjem sikat gigi lo dan gue minta odol lo.”

Dia menggeram lalu mencoba merebut sikat giginya. “Nggak mau. Lo nggak boleh pakek sikat gigi gue yang steril itu. Ntar virus-virus rabies yang ada di mulut lo menginfeksi sikat gigi gue. Lo sikat gigi lo pakek jari tangan aja sana!”

Aku menepis badannya dan berjalan menjauh. “Sialan! Gue minjem bentar aja.” Sambil berjalan cepat aku menaruh odol di atas sikat gigi si Fecun. Ketika aku mendengar derap langkah Fecun yang makin mendekat, aku langsung memasukan sikat giginya ke dalam mulutku dan menggosoknya cepat. Aku berbalik dan memperlihatkan apa yang sudah kulakukan terhadap sikat giginya.

Matanya yang lebar itu melotot. Dia menguakkan mulutnya dan berteriak histeris bagai anak alay. “Tidaaaakkkkkk!!!”

Hampir saja aku ingin menyemburkan busa putih yang ada di dalam mulutku saat melihat ekspresi horornya. Cepat-cepat aku meludahkan busa putih itu lalu tertawa kencang. Ketika aku baru saja ingin tertawa makin keras, tiba-tiba Fecun menjentikkan jarinya ke jakunku. Yang langsung sukses membuatku tersedak tawaku sendiri.

“Mampus lo!” pekiknya berang lalu merebut sikat gigi yang ada di tanganku.

Aku berjalan cepat menuju ke sungai lalu membilas mulutku. Aku melirik sebal ke arah Fecun yang saat ini sedang membersihkan sikat giginya. “Sakit banget jakun gue! Sialan lo!” aku berujar dengan suara serak.

Dia menolehkan kepalanya dan melotot. Matanya benar-benar mirip seperti penari Bali. “Siapa suruh lo belagu! Udah dibilangin gue nggak mau, eh tetep aja lo maksa.”

“Pelit!” cercaku sebal.

“Biarin!” dia balas mencerca.

Kemudian dia bangkit dan berjalan menjauh. Aku mengikuti langkahnya dan berjalan beriringan dengannya dalam diam. Kami kembali ke pesawat hanya dalam waktu tak lebih dari sepuluh menit. Padahal saat kami ingin mencari sungai tadi, kami menghabiskan beberapa puluh menit.

Saat kami sudah berada di pesawat, Fecun langsung mengambil persediaan makanan kami yang tidak seberapa banyak. Lalu setelah itu dia berjalan menuju ke kantung tidur yang sudah kami lipat. Dia membuka lipatannya dan duduk berselonjor kaki sambil memakan snack yang ada di tangannya. Kuambil roti berukuran kecil lalu menghampri Fecun. Setelah aku berada di dekatnya, aku langsung duduk dan memakan rotiku.

Roti yang ada di tanganku belum benar-benar bisa membuatku kenyang. Namun karena persediaan makanan yang tidak banyak, aku menahan diriku untuk tidak mengambil lagi. Yang penting ada isi perutku untuk sekarang ini. Sebagai pengalih perhatian pada rasa laparku, aku menyibukkan diriku dengan memasang kabel-kabel baru untuk power plant. Tanpa disuruh, Fecun sudah ikut membantuku memasang tembaga ke dalam kabel-kabel lentur tersebut.

Aku berdeham kecil dan memberitahunya. “Tembaga yang agak ke-emasan lo masukin ke dalem kabel berwarna jingga. Sedangkan tembaga yang agak kusam, lo masukin ke kabel berwarna biru.” Aku bisa merasakan kalau Fecun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Sebelum lo masukin tembaganya ke dalem kabelnya, lo lurusin dulu semua tembaga-tembaga itu biar ntar nggak ada yang melilit. Soalnya kalo sampe melilit, bisa-bisa kabel dan tembaganya bakalan rusak.” Fecun kembali mengangguk. “Kerjaan kita ini anggep aja kayak lo lagi masang benang ke jarum.”

“Iya, iya,” ujarnya kesal. “Gue ngerti. Bawel amat sih!”

Dasar orang menyebalkan. Padahal aku ngomong baik-baik. Coba saja kalau dia belum mengerjakan pekerjaan ini, mungkin aku sudah balas menghinanya. Ya sudahlah. Aku juga harus bergegas mengerjakan ini kalau ingin cepat-cepat berpisah dengannya.

***

Sudah seminggu kami berada di hutan belantara ini. Di Pulau Seram yang memang benar-benar seram kalau malam tiba. Kami berdua sering mendengar suara gemerisik mengerikan dan juga bunyi auman. Fecun sering tidur menghadapku kalau malam, dia takut kalau menghadap ke tempat lain dan melihat apa yang tidak diinginkannya. Namun untungnya, hari ini siang sedang berlangsung jadi kami tidak perlu ketakutan lagi. Meskipun aku sudah pernah bertenda di hutan saat sekolah pilot dulu, tetap saja aku merasakan ngeri.

Selama seminggu ini, kami sudah memasang lima belas kabel dengan tembaga. Masih tersisa tujuh belas kabel lagi yang harus kami masukkan dengan tembaga. Hari ini rencananya kami akan mengerjakan lima kabel lagi, tetapi karena perasaan frustasi dari Fecun, kami beristirahat sejenak sambil menikmati keripik yang sudah melempem. Aku masih ingat saat dia menggigit-gigit kabel itu dengan marah dan geram.

“Kabel anjrit!” ujarnya kala itu, membuatku benar-benar kaget. “Pas gue udah masukin tembaga ke dalemnya, kenapa tiba-tiba ada sehelai tembaga yang lainnya melilit. Ini pasti gara-gara karet kabelnya yang lentur ini. Brengsek!” Dia kembali menggigit kabel tak berdosa itu. Matanya yang lebar mengeluarkan air mata frustasi.

Sebisa mungkin aku menahan tawaku. Salah satu faktor yang membuat lama memperbaiki power plant memang di bagian kabelnya ini. Aku saja sejak tadi sudah sangat frustasi dengan tembaga-tembaga sialan itu. Tetapi kesabaran mengajarkanku untuk mengendalikan diri. Lagipula aku sudah pernah melewati ini dulu saat di sekolah pilot.

Ketika keripik melempem yang sedang kami makan akhirnya ludes, kami melanjutkan memasang kabel-kabel itu dengan tembaga. Yang rencana awalnya ingin menghasilkan lima kabel, kami malah berhasil memasang tiga. Dua dariku dan satu dari Fecun. Setelah aku sudah memasangkan kabel itu ke power plant, tiba-tiba malam kembali datang, membuatku bergidik ngeri saat mendengar suara bergemerisik di balik semak belukar yang ada di dekat pohon pinus tinggi tak jauh dari kami.

Cepat-cepat aku menutup lempeng besi tempat mesin power plant dan menyalakan api unggun. Saat aku sudah selesai menyalakan api unggun kecil-kecilan, Fecun sudah berbaring nyaman dengan mata terpejam erat. Kalau sudah begini, aku bisa melihat betapa rapuhnya dia. Apalagi dengan badannya yang kurus itu. Memang sih tidak terlalu kurus. Tapi tetap saja daging badannya tidak terlalu tebal sepertiku.

Aku ikut berbaring di sebelahnya. Kupejamkan mataku walau sebenarnya ini belum terlalu malam. Tetapi karena aku tidak mau sendirian duduk di depan api unggun, jadi aku mencoba untuk tidur. Hanya saja, sekuat apapun aku memejamkan mataku dan menyuruh diriku sendiri untuk tidur, aku tidak akan bisa. Aku gelisah dan masih ingin bertengkar dengan Fecun daripada menyiksa diriku sendiri dengan mencoba tidur seperti sekarang ini.

Mungkin saat sudah dua jam berlalu, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara parau dari mulut Fecun. “Lo kenapa jahat banget sama gue Har?” aku langsung membuka mataku dan mengalihkannya. Bisa kulihat Fecun sedang menatapku dengan tatapan sendu dan sebal.

Aku langsung cepat-cepat bangkit dan duduk dengan kaki bersila. Jantung dan hatiku tiba-tiba mendidih mendengar dia berasumsi seperti itu tentangku. “Gue jahat?” ujarku tidak percaya. “Seharusnya gue yang bilang gitu sama lo. Karena lo-lah yang udah ngerusak pertemanan kita. Lo-lah yang selama ini nge-ganggu hidup gue. Lo-lah yang maling pacar-pacar gue. Jadi, lo mikir ulang deh siapa yang jahat!”

Selama aku melihat wajah kesal dan beringasnya, malam inilah aku benar-benar melihat keberingasan yang sesungguhnya dari wajahnya. Apalagi saat garis rahang dan matanya tertimpa cahaya api unggun, dia benar-benar terlihat mengerikan. “Lo bilang gue yang ngerusak pertemanan kita? Lo bilang gue selalu nge-ganggu hidup lo? Lo bilang gue maling pacar-pacar lo!?” dia berteriak keras. “Mendingan lo yang mikir ulang Har. Selama ini sebenernya siapa yang salah.”

Aku terkekeh mengejek. “Nggak usah dipikir ulang lah. Tentu aja yang salah itu elo!”

“Gue yang salah!?” pekik Fecun kencang. “Lo nggak sadar ato memang pura-pura bego hah!?”

“Gue sadar dan gue yakin dengan apa yang gue bilang,” aku menekankan setiap kata dengan kasar. “Selama ini lo selalu maling setiap pacar yang gue punya!”

Fecun tersentak mundur beberapa senti dari wajahku. Kupikir dia akan malu atau bagaimana, tetapi reaksi yang aku dapatkan malah tawanya. Tawa mengejeknya. “Gue maling-maling pacar lo ya,” ujarnya dengan nada konyol dan geli. “Lo ternyata memang nggak pernah sadar ya Harry.” Dia duduk bersila dan mengatur nafasnya. “Gue sadarin lo kalo gitu,” dia menatapku dengan bola mata lebarnya itu. “Lo pasti inget pacar cowok pertama lo waktu itu. Kalo nggak salah namanya Vabian, kan?” aku hanya mengangguk sebagai jawaban. “Dia kakak kelas kita kan?” tanyanya lagi, yang kujawab dengan anggukan kembali. “Lo inget nggak pas gue ceritain ke elo kalo gue jatuh cinta dari dulu sama orang itu? Sama Vabian?” tanyanya, nadanya tajam dan membuatku merinding. Otakku langsung memberikanku kenangan saat kami SMA dulu.

“Dari SD gue udah jatuh cinta sama Vabian. Dan gue ceritain itu ke elo,” aku susah payah menelan air ludahku. “Tapi apa yang gue dapet pas selesai ngasih tau hal itu ke elo? Pas gue ngasih tau kalo gue gay dan suka sama Vabian.” Kali ini air ludahku makin sulit untuk kutelan. “Lo ngambil dia dan macarin dia. Gue kaget karena lo juga gay dan nggak ngasih tau gue pas gue ngasih tau lo kalo gue gay. Dan gue bener-bener marah sama lo karena cowok pertama yang lo pacarin adalah Vabian.” Aku bisa mendengar geraman panjang dari tenggorokan Fecun. “Gue ngasih lo waktu satu minggu buat lo minta maaf sama gue. Tapi apa yang gue dapet dari lo? Lo malah ceritain ke gue ML pertama lo sama dia!” Fecun menundukan kepalanya dan menatap kedua jempolnya. “Semenjak itu gue mulai nge-jauhin lo. Nggak mau kenal lo lagi. Gue bener-bener sakit hati sama lo.”

Fecun mendongakkan kepalanya dan menatapku tajam. “Jadi, sekali lagi gue tanya sama lo. Siapa sebenernya yang maling di sini? Gue apa lo?” tanyanya cepat dan lugas.

Kutatap wajahnya tanpa berkedip sekalipun. Mataku nanar ingin mencari bola matanya yang penuh kepedihan. Aku kembali tidak bisa menemukan suaraku. Jadi, selama ini, akulah yang gay jalang? Bukan dia! Seharusnya aku yang dipanggil dengan sebutan Fecun, bukan dia.

“Gue nggak bakalan minta maaf sama lo karena udah ngambil setiap cowok yang lo pacarin,” ujarnya mengalihkan duduknya. “Lo memang pantes dibales kayak gitu. Biar lo tau gimana rasanya dikhianati sama orang yang udah lo anggep sahabat lo sendiri.”

Perkataannya barusan benar-benar menelakkan hatiku. Mulutku kini langsung benar-benar terdiam dan tak bisa mengeluarkan suara. Kugenggam tanganku erat-erat dan meneriaki diriku sendiri untuk membuka suara, menghentikan keheningan yang menyerang kami berdua. Aku harus bicara sesuatu dengan Fec—Fandi tentang ini. Aku tidak mau kami terlarut-larut dalam masalah yang ternyata telah kubuat ini. “Gue…” kataku dengan suara terbata, “gue…” shit! Susah banget ternyata. Namun saat Fandi menatapku dan mencari sesuatu di mataku, suaraku tiba-tiba datang kembali. “Gue minta maaf karna udah ngelakuin hal itu sama lo,” ujarku akhirnya. Nafasku akhirnya kembali teratur. “Gue bener-bener brengsek dulu. Gue juga nggak tau kenapa gue bisa ngambil Vabian dari lo. Kalo lo nggak mau maafin gue, nggak apa-apa. Karena memang gue yang jalang selama ini.”

Mata Fandi berubah melembut. Dia tersenyum ikhlas padaku. “Selama ini gue selalu nunggu lo ngucapin kata-kata itu.” Dia mendekatiku dan memegang tanganku sebentar. “Tentu aja gue maafin lo. Kan lo temen gue. Walopun lo udah bersifat jalang dan brengsek sama gue.”

“Fan,” panggilku pelan. “Apa sekarang kita temenan lagi?”

Dia kembali tersenyum. “Lo bisa nyelem ke dalam otak gue, dan lo pasti bakalan nemu surat perjanjian pertemanan kita di sana. Gue nggak pernah benci sama lo Har. Gue cuman nggak suka aja sama lo karena lo nggak pernah minta maaf sama gue.”

Aku terkekeh pelan dan mengangguk. “Kalo gitu gue bakalan minta maaf terus sama lo sampe lo bosen ngedengerin permintaan maaf dari gue.” Aku mendekatkan mulutku ke telinganya. “Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf,” kataku berulang-ulang. Fandi hanya tertawa mendengarku berucap kalimat itu terus. “Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf.” Fandi mendorong kepalaku menjauh dan menatapku dengan jengkel. Namun kali ini jengkel dalam artian yang baik.

“Oke-oke!” serunya sambil memutar bola mata. “Gue maafin. So, stop ngucapin kalimat itu. Risih gue lama-lama!”

Lalu kami berdua tertawa bersama. Hal ini langsung mengingatkanku saat masa SMA kami dulu. Dimana kami berdua menonton Mr. Bean dan tertawa keras karena melihat tingkah Bean yang konyol. Ini seperti dejavu. Dan rasanya benar-benar bisa mengobati rinduku dengan dirinya. Aku benar-benar kehilangan momen ini saat bermusuhan dengannya. Sekarang semuanya sudah kembali dan aku tidak akan pernah merusaknya lagi.

“Lagian nih ya…” ujarnya sambil menaruh kepalanya di pahaku, “gue juga nggak seneng sama cowok-cowok yang gue rebut dari lo. Semuanya pada brengsek dan mesum. Ugh! Gue bener-bener jijik sama mereka.”

Aku tergelak. “Siapa suruh lo ngambil mereka dari gue.” Fandi hanya tergelak bersamaku. “Oh, iya Fan,” tuturku lembut, “gue masih bingung sama yang lo bilang tadi. Tentang yang; lo nggak benci sama gue, tapi lo cuman nggak suka sama gue. Emang bedanya apaan? Kayak sama aja deh?”

Fandi menatapku halus. “Tentu aja beda,” ucapnya. “Kalo gue benci sama lo, sewaktu-waktu gue bisa jatuh cinta sama lo. Tapi kalo nggak suka, gue nggak bakalan pernah bisa jatuh cinta sama lo.”

“Nah, gue benci sama lo. Berarti gue bakalan jatuh cinta gitu sama lo?” tanyaku kemudian.

Dia hanya mengedipkan matanya padaku. “Bisa jadi. Semua orang kan jatuh cinta sama gue.”

Aku membuat gerakan seperti ingin muntah. Fandi hanya tertawa dan menjitak kepalaku. “Gue seneng deh bisa temenan sama lo lagi. Padahal gue kira kita nggak bakalan bisa temenan lagi. Aneh ya, kayaknya baru beberapa jam yang lalu kita musuhan, sekarang udah temenan kayak dulu lagi.”

“Iya,” ujar Fandi menerawang. “Jadi, pas kita musuhan, apa aja hal yang udah terjadi di hidup lo?” tanyanya sambil memiringkan badannya. Dia menekuk kakinya dan memeluk tanganku dengan hangat.

“Nggak ada yang spesial,” kataku sembari menyisir rambutnya dengan jariku. “Setelah lulus sekolah gue ambil jurusan penerbangan terus lanjut ke sekolah pilot. Habis itu, gue lulus dan kerja di kantor bokap sebentar. Setelah itu kerja di naungan Garuda Indonesia, habis tuh selesai deh kontrak gue. Sekarang gue malah jadi pilot dadakan buat lo.” Aku menghembuskan nafasku. “Kalo lo gimana?”

“Hidup gue nggak pernah baik Har. Lo tau itu kan,” dia memejamkan matanya dan kembali menuturkan omongannya. “Semenjak lo ngambil orang yang gue cinta, gue hancur banget. Ditambah dengan kedua orang tua gue yang meninggal dunia. Di umur gue yang baru tujuh belas waktu itu, gue harus ngurusin semua perusahaan kedua orang tua gue dengan usaha gue sendiri. Semua orang yang ada di keluarga gue menghina gue karena mereka yakin gue nggak bakalan bisa mempertahankan semua perusahaan itu. Tapi, karena hinaan itulah gue bangkit dan berusaha sekuat mungkin. Dengan otak pas-passan dan pengalaman yang cuman secuil, gue nyoba buat pertahanin perusahaan orang tua gue.”

Fandi makin erat memeluk tanganku. “Di empat bulan pertama, gue memang bener-bener kewalahan. Berat badan gue turun. Gue stress karna waktu itu kita harus UAS. Pokoknya banyak banget cobaannya. Mana nggak ada satu orangpun yang ngedukung gue.” Aku jadi merasa bersalah padanya. “Tapi nggak apa-apa. Karena akhirnya gue bisa berhasil dan nginjek semua harga diri orang yang udah menghina gue.” Fandi membuka matanya dan tersenyum. “Gue seneng banget pas ngeliat semua wajah keluarga gue yang malu dan tunduk di kaki gue. Waktu itu gue bener-bener ngerasa udah kayak Raja dari segala Raja.” Senyuman Fandi memudar. “Tetapi karena kesibukan itu juga gue akhirnya nggak punya pengalaman indah di akhir-akhir SMA. Yang gue punya cuman pengalam pas ngerebut pacar-pacar lo doang.”

Aku tertawa pelan dan kembali mengusap rambutnya. “Dan bagi gue, itu adalah pengalaman paling buruk yang pernah gue dapet pas di akhir-akhir masa SMA gue. Tapi gue memang pantes kok dapet hal itu. Jadi, apa kita impas nggak sekarang?”

Fandi memindahkan tatapannya ke wajahku. “Impas,” dia tersenyum penuh arti ke arahku. “Tapi, gue denger-denger dari Benji, lo mau bales dendam sama gue. Katanya dia, lo mau maling pacar ato orang yang gue cinta.”

Benji bitchy sialan! Dasar mulut ember. “Maunya sih gitu, tapi gue udah nggak ngeliat apa untungnya dari hal itu.”

“Bener,” ujar Fandi cepat. “Kalo lo mau maling pacar gue, gue nggak punya sama sekali. Sedangkan kalo lo mau ngerebut orang yang gue cinta, gue nggak pernah nanemin perasaan itu ke siapa-siapa. Bahkan ke Vabian sekalipun. Cinta gue udah kehapus buat dia.”

Aku menundukkan kepalaku dan menempelkannya ke kening Fandi. “Kenapa lo nggak nyoba buat nanemin perasaan cinta lo sama gue?”

Fandi terkekeh garing. “Nggak ah. Lo kan temen gue.”

Tetapi walaupun dia berkata begitu, dia menggenggam tanganku dan mencoba tidur di atas pahaku. Kuusapkan keningku sekali lagi ke keningnya sebelum akhirnya aku ikut berbaring dan jatuh tertidur bersamanya.

***

Seminggu tiga hari sudah berlalu. Persediaan makanan kami sudah habis sejak dua hari yang lalu dan sekarang kami berdua sedang mencari tanaman yang bisa dijadikan makanan. Aku menemukan jamur-jamur liar yang bisa dimakan. Sedangkan Fandi mengumpulkan buah-buahan berbentuk ceri dengan rasa kecut tapi bisa menghilangkan rasa pahit di lidah. Kami berdua sudah mirip sekali seperti Bolang versi dewasa. Dan juga lebih bodoh. Ketika aku memberitahu hal ini padanya, dia hanya tertawa dan berkata kalau akulah yang Bolang, sedangkan dia temannya Bolang yang pintar dan baik hati.

Dan… selama seminggu tiga hari inilah aku merasakan ada yang beda di hatiku. Aku merasa seakan-akan ada ngengat yang masuk ke dalam hatiku, lalu mengotak-ngatik fungsi hatiku. Ngengat itu seperti mencolokkan sambungan cintaku untuk Fandi. Astaga! Aku sepertinya memang merasakan hal itu. Semua hal-hal kecil yang dia berikan padaku benar-benar bisa membuatku ling-lung dan jatuh hati.

Setiap malam, dia akan berbaring di dadaku. Mengecup keningku saat aku ingin tidur. Menggenggam tanganku saat aku membutuhkannya. Semua hal itu membuatku sangat-sangat ingin menciumnya dan membalas semua perlakuannya padaku. Tetapi aku tidak bisa. Aku takut kalau dia menjauh lagi dariku karena ucapannya waktu itu. Dia bilang aku temannya, dan dia tidak mau merubah status tersebut. Jadi, yang bisa kulakukan hanya menahan hasrat cintaku untuknya. Dan rasanya benar-benar menyesakkan.

Pesawat sebentar lagi akan sembuh dari penyakitnya. Kabel-kabel itu semua sudah terpasang dengan baik di dalam power plant. Yang tinggal kulakukan hanyalah memanaskan mesin-mesin di dalam pesawat, barulah kami bisa pergi dari hutan ini.

“Liat, gue bakalan nangkep satu ikan yang ada di dalam sungai ini,” ujar Fandi, membuatku terperanjat kaget.

Kualihkan tatapanku dari air dan menatapnya. “Nggak mungkin,” seruku mengejek. “Mana mungkin lo bisa nangkep ikan cuman pakek kedua tangan kosong gitu.”

“Enak aja,” sahutnya cepat. “Kalo gue bisa gimana? Apa yang bakalan lo lakuin?”

Aku berpikir sejenak. “Kalo lo bisa gue nggak bakalan minta ikan hasil tangkepan tangan lo.”

“Oke, diterima!” serunya. Lalu dia menundukkan kepalanya dan menatap intens ke arah air yang ada di bawah kakinya. Lalu dengan gerakan super cepat, dia memajukan tangannya dan meraup sesuatu yang ada di dalam air. Ketika dia mengangkat tangannya, seekor ikan menggelepak-gelepak panik di kedua tangannya. Dia melirikku dengan sebuah senyuman jahat. “Yes! Gue berhasil. Lo nggak bakalan minta ikan hasil tangkepan gue kan? Berarti malem ini lo makan jamur hambar itu lagi.”

Kemudian dia keluar dari air dengan langkah kemenangan. Ikan yang berukuran lumayan besar yang berada di tangannya kini sudah tak mengepak-ngepak lagi. Saat dia sudah berdiri di sampingku, dia melingkarkan tangannya di tanganku lalu menarikku menjauh dari sungai. Mengajakku kembali ke pesawat kami.

Ketika kami sudah kembali, senjapun menyingsing. Lalu aku membuat api unggun untuk membakar jamur yang ada di tanganku dan untuk membakar ikan yang ada di tangan Fandi. Wangi ikan bakar langsung menciutkan perutku saat Fandi menaruh ikan itu di atas api. Bunyi retak di rantinglah yang menyadarkanku kalau ikan itu tidak akan pernah masuk ke dalam mulutku. Sial! Kenapa aku tadi meragukannya ya. Kalau tidak kan, aku pasti juga akan mencicipi ikan itu.

Ikan itu akhirnya matang, tetapi yang membuatku bingung adalah tingkah Fandi. Setelah dia menaruh ikannya di atas daun, dia malah melenggang pergi ke pesawat. Masuk sebentar dan mengambil tas kerjanya. Bajunya yang sama kotornya denganku dia jadikan sampiran untuk mengelap tasnya yang berdebu. Dia kembali duduk di sebelahku dan menaruh tas kerjanya di depan kakinya. Kemudian dia membukanya dan mengeluarkan dua benda yang sepertinya kukenali dengan baik.

Kecap Manis ABC dan Sambal Terasi ABC mencuat keluar dari dalam tasnya. Mataku terbelalak melihat ini. “Astaga!” pekikku histeris. “Lo bawa kecap sama sambel terasi di dalam tas lo? Gue kira isi tas lo berkas-berkas penting, tapi ini malah…” aku menunjuk kecap dan sambal terasi itu secara bergantian.

Dia menolehkan kepalanya ke arahku dan menaik-naikkan alisnya, mencoba menggodaku. “Ini penting tau. Kecap sama sambal terasi ini nggak boleh hilang dari hidup gue. Hanya merekalah temen gue selama ini yang selalu menemani gue makan dan jalan-jalan.”

Aku mengernyitkan wajahku. “Segila itukah lo jadinya Fan?”

Dia malah hanya tertawa dan memukul lenganku pelan. Dia membubuhi ikan bakarnya dengan kecap lalu mengolesinya dengan sambal terasi. Kemudian dia mengangkat ikan bakarnya dan menunjukkannya padaku. “Sebelum Anda makan, tambahkanlah Kecap Manis ABC dan Sambal Terasi ABC, yang akan membuat makanan Anda lebih nikmat.” Dia mengacungkan jempolnya dan mengedipkan matanya.

Aku hanya bisa tertawa dan menahan perutku yang sakit karena terlalu banyak tertawa. “Emang lo pikir lo lagi iklan apa.”

Fandi hanya tersenyum dan mulai mencomot ikan bakarnya. “Holly ground!” serunya dengan nada riang. “Rasanya bener-bener… enyak-enyak-enyak-enyak!” dia lalu mencomot ikan bakarnya dengan gaya orang kesurupan. Sekali-sekali dia menggodaku dengan ikan bakarnya. Aku hanya bisa diam dan memakan kembali jamur hambar yang ada di tanganku. “Enyak-enyak-enyak-enyak!” serunya sekali lagi.

“Iya, iya enyak. Tapi, please, stop bilang itu terus!” ujarku sembari mencibirnya.

Kekeh pelan meluncur dari mulutnya. Kemudian aku mendengar suara tulang patah. “Ini deh buat lo, kasihan gue ngeliat tampang mupeng lo.”

Cepat-cepat aku menyambar ikan bakar yang dia berikan padaku. “Thanks, honey,” ucapku sambil memakan ikan itu dengan lahap. Fandi hanya tertawa melihat tingkahku. Dia terus makan ikan yang ada di tangannya sampai habis, hanya menyisakan tulangnya saja. Persis sama sepertiku. Baru malam inilah aku benar-benar merasakan makanan yang benar-benar makanan.

Setelah dia selesai meneguk air minum, dia mendatangi kantong tidur dan berbaring di sana. “Kayaknya bakalan hujan ya?” tanya Fandi langsam.

Aku mendongakkan kepalaku dan melihat kalau langit malam memang berubah menjadi sedikit abu-abu dan indigo. “Kayaknya sih,” aku berdiri dan menghampirinya. “Kalo gitu kita tidur di dalem pesawat aja. Kan pesawat itu udah bener.”

Fandi langsung bangkit dan mengangguk. Dia membantuku melipat kantung tidur dan berjalan cepat menuju ke pesawat. Saat kami berdua baru saja menutup pintu, tiba-tiba hujan jatuh dengan deras. Aku menengokkan kepalaku keluar jendela dan melihat ada petir yang menyambar pelan. Sebuah genggaman tersentuh ke tanganku saat petir kedua menyambar.

“Lo takut sama petir?” tanyaku kepadanya.

Dia menggeleng. “Nggak,” jawabnya. Dan aku tahu dia jujur. “Gue cuman pengen pegang tangan lo aja. Emang kenapa? Nggak boleh?”

“Boleh kok,” sahutku lekas.

Dia mengangguk lalu kembali menatap keluar jendela. Suara petir yang berteriak nyaring di luar mirip sekali seperti bunyi jantungku yang berdegup kencang. Kepala Fandi kemudian tertidur lemas di pundakku. Saat aku menolehkan kepalaku ke arahnya, dia sedang menatapku dengan tatapan sendu dan membutuhkan sebuah kasih sayang. Aku tidak tahu dari pikiran mana aku mau melakukan tindakan ini, tetapi toh tetap saja kulakukan.

Kuturunkan bibirku dan mengulum lembut bibirnya. Dengan perasaan gembira dan riang, dia menyambut bibirku dengan sukarela. Dia mengulum kuat dan tegas bibirku. Aku bisa merasakan rasa kecap manis yang masih tertinggal di lidahnya, dan rasanya benar-benar menarik serta menggoda. Gigi kami bergesekkan sebentar sebelum akhirnya dia melepaskan ciuman dan menjauhkan kepalanya sedikit dari pundakku.

“Oh, astaga,” dia berhasil berujar di sela-sela nafasnya yang tak beraturan. “Rasanya kayak ada listrik dalam otak gue yang konslet, terus mengepulkan asap dan berdesis.”

“Mungkin lo harus sandarin lagi kepala lo ke pundak gue.”

Kemudian dia menurutinya. “Itu tadi ciuman yang paling hebat yang pernah terjadi di hidup gue. Dan gue dapet ciuman itu dari temen gue sendiri. Rasanya… bener-bener keren.”

Aku hanya bisa terkekeh dan menggenggam tangannya. Kupikir dia akan melepaskan genggaman tanganku, tetapi dia malah membalasnya. “Mendingan kita tidur sekarang. Besok kayaknya kita udah bisa pergi dari sini. Gue yakin mesin-mesin di pesawat ini udah lumayan panas dan berfungsi lagi buat gue terbangin.”

Bisa kurasakan anggukan kepala Fandi di pundakku. Selanjutnya yang bisa kurasakan dengkuran pelan yang meluncur dari hidungnya. Mirip sekali seperti anak kucing. Aku tersenyum simpul lalu ikut memejamkan mataku untuk bisa tidur bersama dengannya malam ini. Dengan ditemani hujan dan rasa dingin yang hangat.

***

Pesawat nyala dengan lembut dan mulus. Deru mesinnya benar-benar berbunyi makin baik. Aku mengklik flying road dan mengakses GPS. Empat meter dari tempatku mendarat, tinggal berbelok sedikit ke kanan dan pesawat akan terbang. Tanah yang berada di sebelah kananku lumayan lapang untuk menerbangkan pesawat mini ini. Tetapi sebelum itu, sebelum aku dan Fandi kembali kesibukan kami masing-masing lagi, aku ingin mengutarakan perasaanku padanya. Perasaan yang muncul dalam beberapa minggu ini.

“Fan,” panggilku dengan jantung berdegup kencang. Dia menolehkan kepalanya ke arahku dan menatapku dengan bingung.

“Apa Har?”

Aku menarik nafas panjang sebelum berkata, “Kalo misalnya status temen kita dirubah jadi kekasih gimana? Lo mau nggak?”

Wajah Fandi berubah mengernyit. Tetapi aku tahu dia mengerti. “Lo temen gue Har. Bakalan selalu jadi temen gue. Walopun status kita nanti berubah, paling-paling bakalan cuman jadi sahabat sejati. Bukan kekasih.”

Nafasku langsung berhenti berhembus. “Beberapa minggu ini gue sama lo, gue bener-bener ngerasain apa yang nggak gue rasain sama lo dulu. Pas kita temenan di SMA.” Aku menekankan tanganku dengan kencang di kemudi. “Gue… kayaknya gue… jatuh cinta sama lo Fan. Koreksi gue kalo gue salah,” ujarku menelan air ludah dengan susah payah.

“Lo nggak salah,” sambut Fandi. “Tapi gue yang salah. Karna gue udah nanemin sifat: sekali gue menutup pintu hati gue, gue nggak bakalan buka pintu itu lagi.” Fandi memindahkan pandangannya dariku. Dia menggenggam erat sabuk pengamannya.

“Lo udah kunci belum pintu itu?” tanyaku cepat, membuat Fandi menoleh lagi ke arahku. “Kalo belum, buka pintu itu secelah aja dan biarin gue masuk ke dalemnya. Biarin gue seorang yang ada di dalem sana. Gue janji gue nggak bakalan ngobrak-ngabrik isi hati lo lagi. Gue bakalan jaga hati lo dan buat lo cinta terus sama gue.”

Fandi membuang wajahnya. Dia menutup matanya. Hanya keheningan yang dia berikan padaku. Dan aku tahu, dia sudah menolakku sekarang. Dia tidak akan pernah mau dengan seseorang yang sudah pernah melukai hatinya. Walaupun dia berkata dia sudah memaafkanku, aku tahu dia masih sakit hati padaku.

Kuhembuskan nafas letih lalu mulai menjalankan pesawat ini. Meninggalkan semua kenangan kami berdua di tempat ini. Dengan mata nanar dan hati yang perih, aku mengudarakan pesawat ini dan meninggalkan kepedihanku untuk sementara.

***

Kami sampai di Jakarta pada menit ke 525. Selama itu, aku dan Fandi hanya berenang dalam kebisuan dan keheningan. Walaupaun hari ini cerah, matahari menyambut kulitku dengan kehangatannya, aku tidak bisa merasakan itu semua. Yang kurasakan hanya perasaan kosong dan hampa. Seperti ada lubang yang menganga di hatiku. Selama aku sakit hati dan patah hati, baru kali inilah aku benar-benar merasakan yang paling parah.

Saat kami ingin mendaratkan pesawat, tiba-tiba ada sebuah pesawat pribadi lainnya yang sudah mendarat duluan. Gara-gara tidak ada jalur komunikasi inilah aku jadi kalang kabut begini. Aku langsung membelokkan pesawat. Suara geraman marah terdengar di mesin power plant. Pesawat berbelok dengan tajam dan membuat beberapa barang yang ada di dalam pesawat ini berjatuhan dan bergeser. Aku bisa mendengar jeritan kaget dari Fandi. Cepat-cepat aku menyeimbangan pesawat dan mendaratkannya di jalur satuan yang lain.

Namun ternyata ketika ketiga roda pesawat mendarat, dia terselip dan pecah. Membuat pesawat oleng dan keluar dari jalur pendaratan. Dengan gelagapan aku mencoba untuk mengendalikan pesawat ini. Kuinjak rem dengan kekuatan penuh dan lugas. Decitan kasar memecah di sekitarku. Dengan perasaan was-was aku langsung memegang tangan Fandi dan menggenggamnya. Dia membalas genggaman tanganku.

Kalau misalnya kami mati dari kejadian ini, setidaknya ini tempat yang indah untuk itu. Bisa mati di dalam genggaman tangan orang yang kau cintai. Aku sudah membayangkan hal indah tersebut. Membayangkan apakah Fandi akan mengikutiku jika aku mati. Atau malah tidak. Sebenarnya aku tidak peduli, walaupun dia tidak ikut mati bersamaku, aku sudah senang bisa mempunyai perasaan ini untuknya. Perasaan janggal yang kurasakan hanya dalam waktu beberapa minggu saja.

Ketika pesawat akhirnya berhenti, aku bisa merasakan banyak suara-suara yang terdengar di kepalaku. Apakah aku sudah mati? Kubuka mataku dengan lebar dan takjub.

Aku belum mati. Ya. Aku belum mati. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangku ke arah Fandi dan memperhatikan dia. Tangannya yang hangat itu masih bergenggaman denganku. “Fan?” panggilku bagai cicitan burung. Dia menolehkan kepalanya ke arahku dan menatapku dengan perasaan lega dan bersyukur. “Lo nggak apa-apa? Ada yang luka?” tanyaku, suaraku penuh dengan kekhawatiran dan kekalutan.

“Gue…” dia menelan air ludahnya dulu sebelum melanjutkan, “gue nggak apa-apa.” Dia mempererat genggaman tangan kami. “Kalo lo gimana?”

I’m fine,” tuturku lembut.

Kemudian suara-suara yang tadi kudengar akhirnya mendekat. Beberapa gerombolan orang membuka pintuku dan pintu Fandi. Tangan kami berdua otomatis terlepas, dan perasaan hampa kini menyerangku lagi.

Beberapa orang langsung membuka sabuk pengamanku dan membopong badan lemahku keluar dari pesawat. Terakhir kali yang kulihat dari sosok Fandi adalah lambaian tangannya, yang menyiratkan tanda selamat tinggal. Walaupun bukan selamat tinggal selamanya, namun menurutku itu adalah lambaian yang paling menyakitkan yang pernah aku tahu.

***

Setelah dirawat selama dua hari di rumah sakit, akhirnya aku bisa pulang. Padahal sudah berkali-kali aku bilang pada dokternya kalau aku baik-baik saja. Tetapi dia menyuruhku untuk menyerap nutrisi dan mendapatkan perawatan rutin. Ini pasti kerjaan Ayahku yang terlalu melindungiku. Semenjak Ibu meninggal, dia sangat protektif melindungiku.

Saat dia tahu aku hilang dan lost contact dari pesawat yang aku bawa, dia langsung panik. Menyuruh semua unit untuk mencariku dan Fandi. Tetapi mereka tidak menemukan kami karena mereka mencarinya malah di laut dan di bibir pantai karena biasanya pesawat akan mendarat atau jatuh di tempat seperti itu. Tetapi tidak, kasusku beda. Aku dan Fandi mendarat di tengah hutan. Di tengah hutan di Pulau Seram- yang sekarang kunamai Pulau Cinta- karena dia berhasil membuatku jatuh cinta pada sosok Fandi yang kurus dan menyebalkan serta membuatku rindu.

Aku masih belum mendapatkan kabar apa-apa darinya. Namun aku diberitahu Ayahku kalau Fandi sudah kembali bekerja lagi. Pantesan dia kurus. Kerjaannya setiap hari hanya kerja dan kerja. Teman yang dia punya juga hanya Kecap Manis ABC dan Sambal Terasi ABC.

Aku masuk ke dalam gedung apartemenku dengan langkah gontai. Kacamata yang kugunakan sedikit melorot dari hidungku yang kurang mancung. Pintu lift tertutup saat aku baru saja ingin menaikinya karena satu sosok yang menghalangiku. Saat kulepaskan kacamata hitamku, barulah aku tahu kalau itu tetanggaku. “Halo dr. Diatmika,” sapaku santun sambil mengangguk.

Dr. Diatmika masih sangat muda. Umurnya sekitar tiga puluh lima tahun. Dan dia gay. Penuturan yang aku dapatkan dari mulutnya memang seperti itu. “Nak Harry,” ujarnya ikut mengangguk. “Harus berapa kali saya bilang kalau bertemu saya di luar jam kerja, panggil saja saya kak atau mas?”

Aku tergelak pelan. “Maaf mas. Aku lupa,” ujarku sambil tersenyum lebar.

Dia hanya mengangguk. “Beberapa minggu ini saya tidak melihat Nak Harry, kemana saja?”

“Oh, ceritanya panjang,” ucapku sambil menekan tombol lift. “Nanti malam aku ceritakan. Mas ntar malam ada di apartemennya kan?”

Dia mengangguk cepat. “Ada kok.”

“Nah, mas mau kemana sekarang?” tanyaku saat pintu lift mau terbuka.

“Mau jenguk Ed di rumah sakit,” ucap Mas Diatmika lelah. “Pintu liftnya udah kebuka, dan saya juga udah mau pergi. Kalau begitu sampai ketemu nanti malam.”

Aku tersenyum. “Oke. Titip salam buat Mas Ed ya. Sampe ketemu nanti malam mas. Dan hati-hati di jalan mas,” aku berteriak kecil saat dia sudah mulai berjalan menjauh.

Mas Diatmika hanya mengangguk lalu hilang dari pandanganku dan saat itu jugalah pintu lift terbuka. Aku masuk dengan gerakan luwes dan menekan angka 44 di tombolnya. Pintu lift tertutup dan membuat bayanganku tentang apartemen ini langsung kembali terngiang. Aku ingat pertama kali pindah ke sini. Waktu itu aku mau men-stalk orang yang memutusiku. Orang yang sangat tampan dan benar-benar membuatku jatuh hati. Namanya Dev. Dia tinggal di lantai 50. Tetapi, saat aku sudah tinggal di sini beberapa hari, barulah aku tahu kalau Dev akhirnya mempunyai orang yang dia cintai. Aku bisa melihat itu dari sorot matanya. Jadi aku mundur dan mulai berhenti untuk memikirkannya.

Namun aku sudah terlanjur jatuh hati dengan apartemen ini. Apalagi dengan tetangga-tetangga yang aku punya. Mereka sudah seperti sahabat serta saudaraku sendiri. Apalagi di tambah dengan datangnya dr. Dimas. Wow, pertama kali aku melihatnya, aku langsung jatuh hati dengan bentuk tubuhnya yang sangat keren itu. Apalagi saat aku tahu dia juga ternyata gay. Tapi, ugh, tidak! Aku tidak mau pacaran dengan orang yang satu gedung apartemen denganku. Lagipula dr. Dimas orangnya pendiam dan pemurung. Walaupun sekarang sudah tidak lagi karena dia sudah mempunyai teman se-apartemen. Aku belum berkenalan secara resmi, tetapi kata Gio—tetanggaku juga—nama cowok yang tinggal sama dr. Dimas namanya Komandan Boby. Wow, Komandan.

Pintu lift terbuka dan menampakkan aku sebuah pemandangan menganggumkan. Ada dua orang berbadan tegap dan satu cowok manis berlesung pipit di depanku. Dr. Dimas tersenyum singkat padaku. “Harry, darimana aja lo?” tanyanya sambil mendekatiku.

“Ceritanya panjang,” ujarku cepat sembari menatap cowok berbadan super kekar yang ada di samping dr. Dimas. “Siapa ini Dim?”

Senyuman Dimas mengembang. “Ini Boby. Pacar gue,” ujarnya memperkenalkan Boby padaku.

Aku terbelalak kaget. Kekar-kekar gay juga ternyata. “Halo,” salamnya sambil mengulurkan tangan. Aku menyambut tangan itu dan berkenalan.

Setelah perbincangan singkat dan basa-basi, akhirnya kami menyudahinya. Saat aku ingin berbalik, Gio menahan tanganku. Wajahnya yang manis bagai cowok korea versi Indonesia agak sedikit kuatir. “Jangan kaget pas lo liat knop pintu apartemen lo ya.”

Aku mengernyitkan wajahku bingung. Saat aku ingin bertanya, Gio sudah masuk ke dalam lift dan pintunya sudah tertutup. Aku lalu hanya menaikkan pundakku lalu berjalan cepat menuju ke kamar apartemenku. Selama satu menit aku berjalan, yang ada di pikiranku hanya Fandi. Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Aku kangen ingin bertemu dengannya.

Ketika aku ingin memasukan kunciku ke dalam lubang kunci, ternyata lubangnya sudah menghilang. Malah yang lebih parah lagi, knop pintuku sudah bobol. Jantungku langsung berdegup kencang. Apa ada maling yang masuk ke dalam apartemenku? Dengan hati-hati aku mencopot sepatuku dan masuk dengan jalan berjinjit. Ketika aku membuka pintu kamarku, ada seseorang yang sedang duduk manis di atas kasurku. Baru saja aku ingin menyerangnya dengan sepatuku, tiba-tiba dia berteriak.

“Ini gue geblek!” serunya kencang.

Aku kenal suara itu. “Fandi?”

Dia memutar bola mata. “Iya. Ini gue.”

Aku menurunkan sepatuku dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Badannya yang kurus terselimuti dengan balutan jas, kemeja, dasi hitam mengkilap dan wajah sehat yang menawan. “Lo masuk lewat mana?” tanyaku sambil mengerutkan kening.

“Gue suruh bodyguard gue buat bobol tempat kunci lo. Dan nyuruh security buat matiin sistem alarm yang ada di sambungan pintu lo.”

Aku mendesah kencang. “Gue kirain tadi ada maling. Eh, nggak taunya memang beneran ada maling,” ujarku mencoba menggunakan nada bergurau.

Fandi hanya terkekeh kecil. “Oh, iya,” dia mengeluarkan amplop dari kantung jasnya. “Ini gaji lo. Gue belum sempet ngasih ini kemaren.”

Cepat-cepat aku menggeleng saat dia menyodorkanku amplop itu. “Nggak usah Fan. Gue nggak ngarepin gaji itu kok.”

Alis Fandi bertaut menjadi satu. “Lo yakin?” tanyanya skeptis. Dia langsung menaruh amplop itu ke dalam genggamanku.

“Gue yakin,” ujarku mantap. Namun saat aku menggenggam amplop itu, kenapa seperti tak ada isinya. “Kok isinya tipis ya?” tanyaku sambil membolak-balikan amplop itu. Apa isinya hanya selembar cek.

Fandi tertawa. “Katanya tadi nggak mau.” Fandi kembali duduk di kasurku. “Kalo lo penasaran, buka aja.”

Aku mengerucutkan bibirku lalu merobek bagian atas amplop tersebut. Kulebarkan lubang amplopnya dan kumasukan tanganku ke dalamnya. Selembar kertas kutarik keluar dari dalam amplop itu. Namun yang membuatku bingung, itu bukan kertas cek sama sekali. Kubalikkan kertas itu dan kulihatlah gambar berwarna merah tersebut. Sebuah gambar cinta menyinari kertas yang kupegang ini.

“Itu gaji buat lo,” ujarnya sembari tersenyum simpul padaku.

Aku menatapnya dengan tatapan bingung.

“Gue tau gue orang paling plin-plan sedunia,” katanya perlahan. “Waktu itu mungkin gue cuman kaget aja pas lo nyatain perasaan lo sama gue.” Fandi kembali tersenyum simpul ke arahku. “Tapi saat lo megang tangan gue pas kita mau mati waktu itu, gue tau lo bakalan selalu ada buat gue walopun gue nolak cinta lo. Apalagi dengan tatapan kuatir lo waktu itu. Gue bener-bener langsung ngebiarin lo masuk ke dalem pintu hati gue.”

Lidahku benar-benar kaku untuk kugerakan. Aku bingung harus berkata apa.

“Lagipula gue nggak bakalan pernah nemu orang yang bakalan natap gue dengan penuh cinta yang kayak lo lakuin ke gue,” Fandi berkata perlahan. “Dan gue seneng dengan semua hal yang lo lakuin ke gue. Gue bener-bener ngerasa ada kalo sama lo. Gue ngerasa kayak orang paling beruntung di dunia ini. Cinta lo itu… ngerubah gue.”

Aku tercekat. “Jadi…” ucapku terbata, “maksud lo… lo juga cinta sama gue?”

Fandi menatapku dengan tatapan cemerlang itu. “Ya. Gue juga cinta sama lo.”

Rasa-rasanya aku adalah manusia paling bergembira di dunia ini. “Makasih Fan.”

Dia tersenyum lebar, menampilkan wajah dermawannya padaku. “Kayaknya lo udah berhasil bales dendam ke gue. Soalnya lo udah maling hati gue.”

Tawa canggungku lalu bergema kecil di dadaku. Kutatap matanya dengan tatapan merindu. “Jadi… sekarang, apa yang bakalan kita lakuin?”

Fandi berdiri lalu menarik kerah bajuku. Dia mencium lembut bibirku. Bibir kami berdua menyatu dengan halus, seperti sebuah rajutan sutra. Dia melingkarkan tangannya ke pinggangku dan menarikku turun untuk berbaring bersamanya di kasurku yang empuk. Ya. Inilah yang akan kami lakukan. Saling mencintai. Saling mengisi. Untuk beberapa minggu ke depan. Atau mungkin beberapa ratus tahun kemudian. Entahlah! Yang aku tahu, biarlah kami berdua mengisi dunia kami dengan cinta apa adanya kami ini. Untuk seterusnya dan seterusnya lagi.

 

-The End-

 

I humbly thank you.

XOXOXOXO

 

 

Rendi Febrian

6 thoughts on “Few Weeks

  1. Nice story rendi…crita 1-5 smua happy ending…gpp koq itu..memank kbykan org lbh suka yg happy ending….2 jempol utk mu deh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s