Bright Day (2)


–Chapter 2–

Dominiquert International School

 

Rumah Momku ternyata ada di Menteng. Aku tahu nama ‘Menteng’ karena tadi tertulis di gate yang ada di komplek perumahan ini. Ya, rumahnya sangat besar dan minimalis. Mom mengecet rumahnya dengan warna yang sedikit agak mencolok. Garasinya dia cat warna lilac. Dinding tinggi yang membatasi aula lantai dua dan aula lantai satu di cat warna crimson. Seluruh tembok yang ada di lantai satu dia cat warna ivory. Sedangkan seluruh tembok yang ada di lantai dua dia cat dengan warna gold yang sangat mengkilap. I’m wondering, this is a house or empire. Many much color and graceful. But I like it.

Mom langsung mengantarku ke kamarku yang ada di lantai dua. Ketika aku masuk ke kamar baruku, mulutku langsung ternganga lebar. Kamar baruku empat kali lebih besar daripada kamarku yang ada di New York. Mom sudah mengecet dinding kamarku dengan warna blue sky yang lembut. Di dindingnya di pasangi wallpaper bergambar petir. Jadi, seakan-akan langit cerah menggoda itu sedang mengeluarkan petir mengerikan. Bentuknya yang unik membuat senyumanku mengembang dengan lebar.

I have california king bed here. Kayak judul lagunya Rihanna-kan? Haha. Yep. Tetapi memang itu nama ranjang lebar dan empuk yang ada di hadapanku saat ini. Bed-ku yang ada di New York paling-paling setengah—oh, tidak, seper-empat malahan—dari kasur baruku ini. Disini aku juga mempunyai dua laptop. Mom sudah membelikanku laptop. Katanya untuk kebutuhanku jika memang diperlukan. Padahal sebenarnya aku sudah mempunyai laptop Apple yang Dad hadiahkan padaku saat ulang tahunku yang ke-15. Tetapi tidak apalah. Two is better than one. Ya, kali ini seperti judul lagunya Boys Like Girls Feat. Taylor Swift. I love that both singer. Eh, nggak deh kayaknya. Boys Like Girls kan grup band bukan solo. Yah, whatev  aja deh.

Semua yang aku butuhkan ada di kamar ini. Jadi sepertinya aku tidak perlu keliling Jakarta untuk menghibur diriku sendiri. Lagipula buat apa juga aku keliling kota Jakarta yang sumpek dan panas ini. Serta suka macet dan menyebabkan banyak polusi. Yikes, masih memikirkannya saja aku sudah mual. Apalagi kalau aku benar-benar pergi berkeliling Jakarta sungguhan. No way!!

“Dek,” sapa Momku dari belakang, “ini buku panduan Dominiquert International School. Isinya tentang seragam yang harus dedek pakai besok dan beberapa peraturan yang diterapkan disana.” Mom menyodorkanku sebuah buku mini bergambar gedung sekolah mewah yang sangat elegan. Well, dimana-mana yang namanya International School itu yah pasti mewah. Kalau tidak mewah namanya Poornational School.

Aku mengambil buku mini itu dari genggaman tangan Momku dan berujar terima kasih.

“Kalau dedek butuh apa-apa, tinggal pakek telpon yang ada di sana itu,” Mom menunjuk telpon yang ada di sebelah kanan atas dekat ranjangku. “Tinggal teken angka satu, terus ntar ada Bik Karsih yang angkat telponnya. Dia bakalan nerima perintah dedek. Apapun itu. asal bukan yang aneh-aneh.” Momku tersenyum manis.

Dengan malas aku memutar bola mataku. Siapa juga yang mau minta macam-macam sama pembantu. Mom kadang jadi orang konyol yang aneh. “Oke. Terima kasih lagi, Mom” ujarku menggunakan nada capek. Aku memang capek sekarang. Aku ingin tidur dan menikmati mimpi-mimpi yang sedang menungguku. Lagipula aku besok sudah mulai sekolah.

Mom hanya mengangguk dan berjalan menuju pintu kamarku yang mewah. Dia menutupnya pelan dan mempererat pintu kamarku agar benar-benar tertutup rapat. Aku menghembuskan nafas lelah dan gembira karena akhirnya aku bisa sendirian sekarang. Dan menikmati indahnya kamarku yang sangat keren ini.

Aku langsung berlari kecil menuju ranjangku dan menghempaskan tubuhku di atasnya. Kasurnya yang empuk menggodaku untuk tidur. Lalu tak lama kemudian, mataku yang memang sudah benar-benar lelah akhirnya terpejam juga. Walaupun aku belum mengganti bajuku ke piama yang sudah di sampirkan di kepala ranjang. Tetapi aku memang sudah benar-benar mengantuk. Apalagi sepatu supra yang kukenakan tak kulepas juga sama sekali. Biarlah aku melepasnya besok. Karena sekarang aku sudah mengarungi mimpi indah di dalam tidurku yang nyenyak sampai besok pagi.

***

Mataku langsung terbuka ketika cahaya matahari menyeruak masuk ke celah-celah sempit yang ada di mataku. Kepalaku sedikit agak berdenyut nyeri ketika aku bangkit dari bebaringku. Sepatu supra-ku sudah terlepas dari kakiku. Namun bajuku masih belum diganti. Dan aku sangat mensyukuri hal itu. Aku tidak mau badanku yang sexy ini dipelototi orang yang sama sekali tidak aku kenal.

Aku melirik jam weker yang bertengger di atas meja yang berada di samping kiri ranjangku. Damn! Aku langsung berteriak nyaring dalam hati ketika tahu kalau sekarang sudah jam delapan lewat lima belas menit. Dengan cepat aku langsung berlari ke kamar mandi yang ada di samping kiriku. Jarak dari ranjang sampai ke kamar mandi ternyata agak jauh. Well, sekarang aku tidak terlalu menikmati kamar yang besarnya se-hiperbolis ini.

Nafasku langsung tercekat ketika melihat kamar mandi yang ada di kamarku ini. Bentuknya sangat mewah. Dengan segala tetek-bengek yang sangat men-detail. Kamar mandiku bercahaya temaram berwarna amber yang sangat memikat. Tetapi aku tidak perlu menjelaskannya secara terperinci sekarang. Karena sepertinya aku sudah telat datang ke sekolah baruku.

Aku mandi secara kilat. I mean, tidak mungkin kan aku mandi berlama-lama dengan waktu semepet sekarang. Lagipula kalau aku mandi lama-lama pagi ini, bisa-bisa aku malah menggosok hal yang lain selain badanku.

Dengan gelagapan aku mencari buku mini Dominiquert International School yang berisi tentang seragam apa yang harus kupakai hari senin ini. Selama hampir tujuh menit aku mencari, akhirnya buku sialan itu ketemu juga. Dengan sentakan keras kubuka buku mini itu. Lalu membaca isinya dengan teliti. Di buku itu akhirnya aku menemukan juga tulisan tentang peraturan seragam yang harus kupakai:

WELCOME TO DOMINIQUERT INTERNATIONAL SCHOOL

UNIFORM STIPULATION

Senin-Selasa: Baju dalam kaos berwarna putih polos. Kemeja biru formal dengan dasi hitam berlogo DIS (Dominiquert International School). Celana panjang berwarna biru gelap. Disertai dengan ikat pinggang berlogo DIS. Ditambah sepatu kets hitam polos

Rabu-Kamis: Baju dalam kaos berwarna hitam polos. Kemeja hazel non-formal dengan dasi merah tanpa logo. Celana panjang berwarna abu-abu. Disertai dengan ikat pinggang berlogo DIS. Ditambah sepatu kets putih polos.

Jum’at: Pakaian bebas.

Sabtu: Kegiatan ekstrakulikuler bagi siswa-siswi yang mempunyai kegiatan eskul.

NB: Baju olahraga harus di bawa setiap pelajaran tersebut hadir di jadwal yang Anda ambil. Dandanan rambut harus rapi. Untuk siswa laki-laki, diwajibkan menata rambutnya dengan sopan dan bersih. Jambang di masukan di balik telinga. Rambut belakang harus disisir rapi. Sedangkan untuk siswa perempuan, rambut harus terurai kebelakang atau di-ikat. Kuku hanya boleh diwarnai dengan warna netral, putih, dan biru bening. Tidak boleh mempunyai tato permanen. Hanya diperkenankan tato yang bersifat sementara. Pakaian dalam tidak boleh kelihatan. Perhiasan: Pemakaian perhiasan tidak di anjurkan dari hari senin-kamis, kecuali: cincin, jam tangan, satu pasang anting berbentuk kancing. Selama kegiatan olahraga luar ruangan atau waktu bermain, harus melepaskan semua perhiasan seperti jam tangan, cincin, anting dll. Pemakaian perhiasan yang mewah dan berlebihan hanya di anjurkan pada hari Jum’at atau hari bebas. Namun jika terjadi kehilangan, tanggung jawab perhiasan berada di tangan Anda masing-masing.

Baru sekarang aku membaca NB yang begitu panjang. Biasanya NB hanya ditulis singkat. Kan dari istilahnya sendiri, NB (notebook) atau notes. Yang berarti sebuah catatan atau pemberitahuan akan sesuatu. Dan itu biasanya singkat, jelas dan padat. Tidak seperti ini. Panjang, tidak jelas, dan sangat tidak padat. Mana mungkin ada orang yang akan mengerti dengan catatan atau pemberitahuan sepanjang itu. Bahkan aku saja sudah lupa apa isi catatan barusan. I’m wondering, siapa sih orang bodoh yang buat catatan tersebut? I mean, ayolah! Harusnya dia bisa lebih menyingkatnya sajakan!

But, that’s not really important, tho. Yang penting sekarang itu adalah mencari baju sekolahku. Mataku mencari di sekeliling kamar. Tak lama kemudian mataku menemukan sebuah lemari besar yang bau peliturnya masih sangat tercium tajam. Dengan cepat aku membuka lemari itu dan mencari-cari baju kaos putih polos, kemeja biru formal, dasi hitam berlogo DIS, celana panjang warna biru gelap, dan ikat pinggang berlogo DIS.

Dan, yep, akhirnya ketemu juga. Aku langsung mengambil baju-baju itu dari dalam lemari dan merentangkannya. Baru saja aku ingin memakainya, nafasku langsung tercekat. Gawd! Bajunya itu sangat tacky. Ketika aku mengenakan baju itu, aku seolah-olah sedang sekolah di London. Seragam DIS itu kalau bisa dinilai paling-paling hanya dapat nilai sekitar empat dari sepuluh. Aku tak akan pernah berfoto menggunakan baju ini. Bagaimana kalau teman-temanku yang ada di New York melihatku dalam balutan baju menyebalkan ini. Aku yakin mereka akan tertawa. So loud malahan.

Namun apa boleh buat, aku tidak mungkin kan memakai baju biasa ke sekolah internasional itu. Dengan berat hati aku menggunakan baju mengerikan itu dan menatap bayanganku yang seperti orang bodoh di depan cermin panjang kali lebar yang ada di depanku. Aku mendesah berat dan mengambil sepatu kets kasual berwarna hitam yang tertaruh di samping lemari besar berbau pelitur tajam itu.

Aku kembali menghadap cermin lalu menyisir rambutku yang sudah mulai panjang ke belakang dengan rapi. Kusemprotkan sedikit parfum di tengkuk-ku dan seragam DIS yang weird ini dengan cara menyeluruh. Yep, sekarang aku sudah siap untuk berangkat.

Aku berlari kencang ke arah kasurku dan mengambil BlackBerry dan i-Padku yang berada di atasnya. Setelah aku menaruhnya di dalam tas selempangku yang bermerek Marc Jacobs, aku langsung berlari menuju pintu dan melompati tangga rumahku yang besar ini sekaligus dua. Setelah berada di bawah, aku bingung harus belok ke kanan atau ke kiri untuk menuju ke pintu keluarnya.

Setelah lima menit aku berpikir, aku memutuskan untuk belok ke kanan. Tapi baru saja aku ingin berjalan, seorang wanita dengan paras ibu-ibu menarik baju seragamku. Wajahnya yang penuh perhatian dihiasi sebuah senyuman. Umurnya mungkin sekitar lima puluhan. Aku menelengkan kepalaku dan tersenyum lebar ke siapapun dia.

“Tuan sudah mau berangkat?” tanyanya dengan suara parau.

Aku terdiam beberapa saat. “Ya,” aku menyahut pelan. “Bik Karsih ya?”

“Iya, tuan,” dia mengangguk. “Pak Darmo sudah nunggu didepan tuan. Tapi sarapan dulu ya. Tadi Bibi sudah buatin tuan roti bakar rasa keju loh.”

Aku menggeleng. “Nggak usah Bik. Aku udah telat nih kayaknya,” aku membetulkan tata letak tasku. “Kenapa Bibi nggak bangunin aku tadi?”

“Sudah tuan, tapi kata nyonya nggak usah aja dulu. Soalnya tuan kecapean. Baru pulang dari Amerika, katanya.”

“Oh,” sambutku malas. “Aku langsung ke depan aja deh ya. Aku udah telat nih Bik.”

“Iya, tuan” kata Bik Karsih dengan senyuman kecil.

Tanpa basa-basi lagi aku langsung berlari kencang menuju ke pintu keluar yang ada di rumah besar Mom ini. Untuk mencapai pintu keluar saja menghabiskan waktu hampir tujuh menit. Gawd! Sometime had a big house is not good at all. Aku harus memberitahu Mom untuk membeli rumah yang sedang-sedang saja. Jangan sebesar ini lagi! Banyak menghabiskan waktu dan tenaga.

Pak Darmo yang dimaksud oleh Bik Karsih adalah lelaki tua berumur sekitar empat puluh tahunan dengan rambut botak yang mengkilap seperti cat rumah Momku. Wajahnya ramah. Senyumannya ikhlas dan caranya menatapku sangat sopan. Dia adalah salah satu supir yang Momku punya. Dan tanpa banyak tanya, dia langsung membukakan aku pintu mobil Porsche hitam milik Momku dan membawaku ke sekolah inetrnasional menyebalkan yang mempunyai disaster uniform. Baiklah, seperti apa sih Dominiquert Internasional School ini.

***

Reflek aku meremas tas Marc Jacobs-ku dengan kuat ketika melihat sekolah super besar yang ada di depan mataku. Gerbang sekolahnya saja tingginya sangat hiperbolis. Ah, sepertinya sekolah ini akan benar-benar membosankan. Orang-orang belagu. Kurang ajar. Pura-pura ramah dengan orang lain, padahal sebenarnya suka ngomongin di belakang. Entah kenapa, hawa-hawa jahat di sekolah ini sudah tercium dari tempatku berdiri.

Aku berjalan pelan menuju ke tempat security yang menjaga gerbang sekolah ini. Aku mengetuk kaca yang bertuliskan security office itu sampai tiga kali dan barulah kemudian tiga sosok security bertampang goblok melongokan kepala mereka. Rokok yang mereka apit di sela-sela mulut mereka mengeluarkan asap berbau toxic yang membunuh. Dari dulu aku sangat benci dengan yang namanya asap rokok.

“Iya?” kata salah satu dari security yang ada di situ. “Anda telat ya? Kalau begitu silahkan pulang!” ujarnya dengan nada tajam.

Sebisa mungkin aku tidak memutar bola mata sinis. “Maaf. Aku murid baru disini,” kataku kemudian. “Aku baru saja mendapatkan e-mai bahwa aku dibolehkan masuk hari ini.” Aku berbohong tentu saja. Aku tidak mungkin kan bilang aku telat bangun.

“Oh, ya?” security dengan kumis tebal di atas bibirnya berbicara. “Kami memang mendengar kalau ada murid baru nanti,” ujarnya pelan sambil membuang rokoknya di tanah lalu menginjaknya. Yikes! “Joko, Ebiet,” si kumis menunjuk kedua security yang ada di sebelahnya dengan nada memerintah. “Bukain gerbangnya!” suruhnya tegas. Dan kedua security yang disuruh itu langsung bergerak cepat.

Aku melirik jam yang ada di kantor security tersebut. Shit! Sudah jam setengah sepuluh ternyata. Aku bukan telat lagi ini namanya. Tetapi bolos sekolah. But, aku tak peduli sama sekali. Lagipula di jalan tadi sangat hirik pikuk. Untung Pak Darmo tahu jalanan mana yang jarang macet. Walaupun kami harus memutar agak jauh. Tetapi hebatnya Pak Darmo itu seorang pengemudi terngebut berbahaya yang pernah aku tahu.

Gerbang besar itu akhirnya terbuka sedikit. aku langsung menyelinap masuk di celah-celahnya. Damn! Aku sudah seperti maling yang mau menerobos masuk ke rumah orang lain. “Excuse me,” ujarku ke security yang bernama Joko. “Aku harus kemana sekarang?”

Yang bernama Joko itu tersenyum kecil dan berujar cepat. “Dari arah sini, kamu belok ke kanan. Terus nanti ada resepsionis disitu. Nah, kamu tinggal omongin alasan kamu baru datang sama hal-hal apa yang harus kamu lakuin disini.”

Aku mengerutkan keningku. Resepsionis. Gawdess! Memangnya ini hotel ya? “Oke. Makasih ya.” Aku langsung berlalu cepat tanpa memberikannya kesempatan untuk menjawab terima kasihku.

Dengan langkah panjang aku menyusuri taman bunga dengan harum yang sangat mencekik pernapasan. Aku tidak terlalu suka dengan wangi-wangi bunga yang seperti sekarang ini: Lavender, Lily, Petunia, Mawar. Pokonya aku nggak suka. Baunya itu seperti sampah yang diberi parfum dan voilá jadilah taman bunga yang seperti sekarang ini.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan panjang yang mengerikan tadi, aku sampai juga di tempat resepsionisnya. Dari bentuk mejanya saja, aku sudah yakin kalau sekolah ini memang punya beberapa hal-hal glamor yang tak penting.

Aku berdeham pelan untuk menarik perhatian seorang wanita dengan wajah congkak dan bando berbentuk aneh yang terpasang di atas kepalanya. Namun sekuat apapun aku berdeham, dia tidak akan menoleh sama sekali. “Excuse me!” ujarku dengan nada tajam.

Tak lama setelah dia mendengar suaraku, akhirnya dia mendongakan kepalanya. “Ya?” tanyanya dengan nada menggerutu. Di tangannya ada buku tebal, yang pasti adalah sebuah novel yang sedang dia baca.

“Aku murid baru disini,” kataku, dan dia menaikan satu alisnya secara menyebalkan. “Aku mau tau aku harus kemana sekarang juga.” Sekuat mungkin aku tidak menggunakan nada sinis dalam omonganku barusan.

Dia menatapku dengan malas. “Kamu harus menyelesaikan administrasi akademis dulu di ruang Academic.” Dia membusungkan dadanya dan menaikan tangannya tinggi-tinggi untuk memberitahukanku arah menuju ke ruangan yang dia katakan barusan. “From here, turn left then go ahead and turn right then go ahead again. Tepat disebelah kantor headmaster ruangannya.”

Aku mengingat-ngingat arah yang dia beritahukan kepadaku barusan. “Oke. Terima kasih.” Aku berujar pelan sambil melirik ke arahnya dan mencoba tersenyum basa-basi. Sayangnya dia sudah kembali menundukan kepalanya untuk membaca buku dan mencuekanku begitu saja. Ohmygoodness! Aku benar-benar membenci orang ini.

Dengan luwes aku melangkahkan kakiku menuju ke arah yang ditunjukan oleh si wanita menyebalkan tadi. Untung saja banyak signs yang menolongku untuk menunjukan arah. Tak berapa lama kemudian aku sudah berada di depan pintu berlapis kaca tebal yang bentuknya terlalu mewah dan berlebihan. Aku mengetuknya pelan dan mendengar suara berat yang ada di dalamnya menyahut.

Aku membuka pintu itu dan mencium aroma buah apel di udara yang ada sekitarku. Ruangan ini berbentuk segitiga unik yang sangat bagus. Well, ini mengingatkanku dengan studio musik mantan pacarku. Benny. Which is a rude guy and handsome. Aku jadi kangen sama dia. But, jangan bahas yang itu dulu! Karena sekarang ada yang lebih penting.

Sofa berwarna cokelat susu itu sangat elegan. Aku jadi tertarik untuk bebaring disitu sambil mendengarkan lagu-lagu relaksasi yang menggiurkan telingaku saat ini. Jendela tinggi yang berada disebelah kanan menyemburkan cahaya matahari yang panas. Perabotan Sheraton yang imut bertengger di atas meja seorang laki-laki dengan wajah tegas yang sangat mengerikan. Kumisnya yang seperti singa laut naik turun ketika berbicara padaku.

Sit down, then!” suaranya yang serak-serak seram memerintahku.

Tanpa menunggu disuruh dua kalipun aku memang lagi ingin duduk sekarang. Jadi aku langsung menyeret kakiku dan duduk di atas kursi tersebut.

“Mr. Kovlean?” katanya pelan sambil menatapku. Kumisnya masih naik-turun secara menyebalkan saat berbicara. “Saya sudah menunggu Anda sekitar,” dia melirik jam tangannya yang kupikir dia sengaja untuk menyindirku, “dua jam yang lalu,” akhirnya dia berbicara tajam. Aku hanya bisa memasang wajah datar.

“Maaf, sir. Saya baru menerima e-mail dari Mom saya kalau hari ini saya sudah bisa masuk sekolah,” lagi-lagi aku berbohong. Aku tidak terlalu suka berbohong, tetapi untuk hal seperti saat ini, sepertinya berbohong itu perlu.

Dia menaikan alisnya tinggi-tinggi. “Baiklah,” dia mengambil selembar kertas dari dalam map yang ada di bawah tangan gemuknya. “Ini formulir akademis yang harus Anda isi,” dia menyodorkanku selembar kertas yang mempunyai kualitas baik itu dengan hati-hati. “Anda harus isi semua pertanyaan yang ada disana. Tulisan yang dicetak tebal wajib Anda isi. Khususnya untuk menghilangkan mata pelajaran yang ingin Anda tidak ambil. Lalu isi juga tentang hal-hal apa saja yang menyebabkan Anda alergi dan Phobia apa saja yang Anda derita.”

Aku membuka tas Marc Jacobs-ku dan mengeluarkan pena berbadan mewah yang memang sudah ada di dalam tasku ini. Aku menjawab pertanyaan yang ada di formulir itu dengan hati-hati. Kadang-kadang aku sampai membaca pertanyaan itu sampai tiga kali. Ada sebuah pertanyaan yang membuatku mengerutkan kening. “Apakah Anda termasuk penggila seks?” Damn gawd! Pertanyaan apa itu. Aku menjawab pertanyaan itu dengan tulisan super tebal, “TIDAK”. Walaupun misalnya aku adalah penggila seks, aku tidak mungkin menjawab jujur di pertanyaan itu. Orang idiot mana yang akan menjawab iya di pertanyaan itu. Ueyyy.

Lalu aku menulis pertanyaan tentang alergi apa saja yang aku punya: “well, I don’t have an allergy at all. But, I don’t like a fish and boiled egg. Disgusting food like that can kill me slowly. Oh…. And yes, I remember now, I have an allergy. I can’t stand near with a fugly people. You know, fu*king ugly people. Eww. Keep it away from me. So far if that need it Pokoknya aku nggak bisa dekat-dekat sama orang jelek dan belagu. Aku sangat alergi sama orang-orang bertipe seperti itu. And if you have an event here, you can send me a e-mail—you have to actually: sidkovlean_22@gmail.com. Oke. Just it.”

Aku kembali menekuri formulir tersebut. Mataku langsung membaca pelajaran apa saja yang tidak ingin ku ambil. Dan disitu hanya ada empat pilihan mata pelajaran. a. history. b. geography. c. anthropology. d. geology. Aku mendecak kesal. Kenapa tidak ada mathematics, physics and chemistry. Aku benci tiga pelajaran membosankan itu.

Sir,” ujarku pelan ke arah si kumis singa laut.

“Ya?” kumisnya naik-turun lagi. “Sudah?”

Aku menggeleng. “Belum, sir.” Aku tersenyum kecil. “Disini kenapa nggak ditulis pelajaran Matematika, Fisika dan Kimia untuk pelajaran yang tidak mau saya ambil?”

Dia malah tertawa saat mendengarku bertanya seperti itu. “Jangan bodoh!” gertaknya masih dengan tawanya yang menganggu. “Ketiga pelajaran itu sangat penting. Dimana-mana pelajaran itu tidak bisa dihilangkan.”

Oh, shit! Kupikir aku tidak akan melihat ketiga pelajaran itu lagi ketika aku diberitahu untuk mengisi pelajaran apa saja yang tidak ingin ku ambil. Sayangnya aku salah. Aku malah akan ketemu ketiga pelajaran yang bisa membuat otak-ku langsung blank dalam sekejap.

Setelah itu aku menulis secara singkat Phobia yang aku punya. Yaitu sama dengan alergiku. I’m so phobia with fugly people. Setelah aku membaca kembali formulirku secara teliti, barulah aku menyerahkan formulir itu ke si kumis singa laut. Dia membaca formulirku dengan alis yang di angkat tinggi. Aku diam saja dan menonton dia dengan kesal.

Namun tak berapa lama kemudian dia berdiri dan aku juga langsung ikut berdiri. Dia berjalan pelan menuju ke arah rak-rak kecil yang berada tepat di sebelah pintu keluar. Aku melihat dia menarik sebuah kertas kecil dari dalam kotak hitam berdebu lalu dia berbalik dan menyerahkannya padaku.

“Ini jadwal mata pelajaranmu. Anda mencoret semua empat mata pelajaran yang Anda tidak ingin ambil bukan?” ujarnya mencemooh. Aku hanya tertawa dalam hati. Itu benar. Empat pilihan mata pelajaran itu semuanya aku coret. Aku memang tidak berminat dengan empat mata pelajaran yang diwajibkan menghafal tersebut.

Aku mengambil kertas itu dan membacanya dalam hati. Senin ada tiga pelajaran. Selasa juga sama. Rabu ada empat pelajaran. Kamis ada dua pelajaran dan Jum’at hanya ada satu pelajaran yang benar-benar kita mau. Disitu tertulis, “Just choose you favorite homeroom”. Aku menimbang-nimbang. Kalau misalnya tak ada satupun yang aku favoritkan, berarti hari jum’at aku bisa berdiam diri di rumahku saja.

“Dan, Anda juga belum memilih eskul,” katanya membuyarkan lamunanku. Dia membuka pintu dan membawaku keluar. “tujuh hari lagi saya ingin Anda datang kemari dan memberitahukan eskul apa yang Anda mau ambil.”

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu aku menundukan kepalaku untuk melihat mata pelajaran yang ada di jadwalku hari ini. Jam pertama ada: Technology, kedua: Biology, dan ketiga: Digital Arts. Pelajaran yang ada di jadwalku hari ini adalah ketiga pelajaran yang menurutku mempunyai nilai membosankan yang tinggi. Tetapi memangnya ada ya pelajaran yang menurutku asyik. Tidak! Semua pelajaran yang ada di dunia ini semuanya sangat membosankan dan menjenuhkan.

Tiba-tiba aku mendengar suara bel berbunyi nyaring. Aku mengerutkan keningku. Gawd! Bunyi belnya sangat-sangat keras. Seperti suara bel yang ada di penjara-penjara suram yang ada di tengah pulau San Fransisco.

“Karena Anda melewatkan pelajaran pertama, kalau begitu Anda harus langsung ke homeroom biology sekarang ini,” ujar si kumis singa laut dengan senyuman kecut.

“Tempatnya dimana, sir?” tanyaku. Sekolah ini besar. Mana aku tahu yang mana homeroom biology. Nanti bukannya ke homeroom-ku, aku malah tersesat dan tidak masuk pelajaran kedua juga.

Dia mengerutkan keningnya untuk berpikir sejenak. “Sulit untuk menjelaskan tempatnya,” tuhkan, pasti tempatnya memang jauh dan ribet untuk ditunjukan. Tetapi ketika baru saja dia ingin membuka mulutnya, ada seorang cowok mengenakan singlet olahraga berwarna putih polos lewat di depan kami berdua. Badannya yang atletis membuatku—hampir—meneteskan air liurku. Bola Volly yang berwarna biru-kuning terapit di sela-sela tangan kanannya. Wajahnya yang tegas dan bola mata yang tajam tersebut melirik-ku sekilas. Badannya yang dipenuhi pejuh berbau manly tercium di hidungku yang mancung. Gawd! Cowok ini membuat libidoku naik. Mana dia tinggi menjulang lagi. Benar-benar tipeku.

“Mr. Abrakadijaya!” panggil si kumis singa laut ke cowok itu. “Sini sebentar!” si kumis mengayunkan tangan gemuknya, menyiratkan cowok itu untuk datang menghampirinya.

Tak berapa lama kemudian cowok itu sudah berdiri di hadapan kami. Wangi pejuhnya yang sangat manly malah makin tercium tajam sekarang. “Yes, sir?” ujar cowok itu dengan suara berat. Wow, so cool. Aku tersenyum dalam hati.

“Saya ingin Anda mengantarkan Mr. Kovlean ke homeroom biology sekarang. Tunjukan dia jalan yang benar,” si kumis singa laut memerintah pelan.

“Oke, sir,” setuju cowok itu sambil melirik-ku. Matanya yang tajam itu menatapku dengan tatapan tidak sopan. Libidoku yang semula naik langsung turun. Entah kenapa, tatapan matanya malah membuatku tidak menyukainya. Saraf kebencianku langsung naik ketika kembali melirik cowok itu.

Si kumis singa laut menolehkan kepalanya ke arahku. “Nah, Mr. Kovlean, Anda akan di antar oleh Mr. Abrakadijaya ke homeroom Anda.” Lalu secepat kilat si kumis singa laut langsung menghilang dari hadapanku. Dia kembali masuk ke ruangannya tanpa aku sempat berucap terima kasih secara basa-basi.

Cowok yang ada dihadapanku langsung meliriku-ku dengan tidak sopan. Lagi. Sialan times one. Tiba-tiba aku menangkap sebuah aura jahat yang menyelimuti cowok itu ketika dia berjalan di depanku. Aku langsung tidak menyukainya. Lagi.

Tadi siapa ya namanya? Abrakadabra? Abrakedobrak? Abraketoprak?

Grrrr… namanya aja sulit buat disebutin.

Homeroomnya masih jauh ya?” tanyaku ketika kami sudah naik ke lantai tiga. Menggunakan tangga. Padahal tadi aku melihat lift.

Cowok itu berhenti dan menatapku. Langsung ke dalam bola mataku. “Bawel!” gertaknya tajam, aku hanya bisa mengerutkan kening. Apa itu ‘bawel’? Kata bahasa Indonesia itu belum pernah kudengar sebelumnya. Aku harus goggling kata itu nanti.

Lalu cowok itu membuang mukanya dan kembali berjalan cepat. Sialan times two. Aku dicuekin habis-habisan sama dia. Seakan-akan aku ini bisul yang harus dihindari. Gawd! Yang semula aku menyukainya karena dia adalah tipeku. Sekarang aku yakin aku tidak menyukainya sama sekali.

Kami berdua berkeliling tak jelas. Naik-turun tangga. Berjalan ke sana kemari tanpa arah tujuan. Semakin lama aku semakin kesal juga. Apakah dia benar-benar akan menunjukan homeroom biology-ku apa tidak sih. Kalau aku bertanya padanya, dia akan menatapku dan menyuruhku diam dan ikuti saja dia. Dan hal itu makin lama makin membuatku kesal.

Setelah hampir lima belas menit, dan kami berada di lantai dua, aku baru sadar kalau aku sudah kehabisan tenaga. Aku juga yakin kakiku sudah sangat pegal saat ini. Baru saja aku ingin memberhentikan langkahku, cowok gila itu langsung berhenti juga di depan sebuah homeroom yang di atasnya tertulis Biology Grade 10.

“Ini homeroom lo!” ujarnya kasar. “Udahkan. Gue mau pergi dulu!”

Lalu dia berjalan melewatiku dan membuang muka seakan-akan aku ini tidak terlihat. That guy is so rude and impolite. Kenapa aku harus bertemu dengan dia. Apalagi ketika dia berjalan pelan ke arah lift dan berbalik cepat ke arahku dan tersenyum mengejek dari sana. Dan sekarang aku tahu, dia daritadi sengaja mengajakku berkeliling tak jelas untuk membuatku lelah. Jadi, sebenarnya itu hanya akal-akalan dia saja. Shit! Aku dikerjai habis-habisan. With that asshole!

Aku kini semakin yakin. Sampai kapanpun, aku nggak akan pernah menyukainya. Bahkan mencintainya. EVER FOREVER!!!!!

 

–Ups, Bersambung to Chapter 3–

8 thoughts on “Bright Day (2)

  1. hahahhahaa belagu tingkat dewa nih ckckckck😀
    bagus lah dikerjain sama anak lama, setuju deh sama mr. abrakadabra hohohoo😛

  2. Pak Darmo wkwkwk jadi inget salah satu cerbung._. Kalo mau ditebak mungkin nanti akan ada scene lain bersama Mr. abrakadabra wkwkwk
    Aku suka alurnya, penuturannya juga
    Jadi inget waktu itu kamu komen katanya penuturan aku tumbang ya?
    Oke kayaknya harus diakui kalo aku gak ngerti apa itu penuturan wkwkwkwk
    Tolong jelasin dong tolong, bang, kak, mas Ren muehehehe😀
    Kalo bisa sih langsung bandingin sama contoh yang ada disini biar akunya ngerti penuturan yang bagus gimana._.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s