Bright Day (1)


–Chapter 1–

Hello, Indonesia!

 

Entah kenapa aku akhirnya sangat menyesali keputusanku untuk pindah ke Indonesia. Walaupun sebenarnya aku masih bisa untuk kembali ke New York dan bercanda-ria dengan Dad-ku lagi. Hanya saja aku terlalu malu untuk membatalkan kepindahanku. Well, lagipula Mom sangat senang ketika tahu aku akan tinggal dengannya selama tiga tahun di Indonesia. Ya, aku menghabiskan masa high school-ku di Indonesia. Atau yang lebih tepatnya di Jakarta. Which is a bad city and had horrible temperature.

Seperti biasa, tidak ada yang namanya pesawat yang tidak di delay. Pesawat yang akan membawaku ke Jakarta sudah telat setengah jam. Membuatku dan beberapa orang yang sedang menunggu menjadi sangat geram. Apa ya nama pesawatnya, oh, iya, Garuda Indonesia. Semoga saja tak lama lagi pesawat itu datang. Aku benar-benar sudah capek dan ingin segera tidur. Penerbangan dari New York sampai ke Singapura hampir menghabiskan sekitar 30 jam-an. Dan itu benar-benar sangat melelahkan.

Aku memasang earphone ke telingaku lekat-lekat dan mengeraskan volume musik Two Door Cinema Club – I Can Talk sampai batas tertinggi. Suara ala-ala british memekik keras di telingaku dan aku sangat menikmatinya. Lagu ini mengingatkanku dengan Dadku yang pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya di New York.

Ketika lagu sudah mencapai Intro, tiba-tiba aku flashback ke kenangan aku bersama Dad.

Are you sure you wanna move?” tanya Dadku, yang aku yakin sudah hampir ke dua ratus kali dalam satu hari ini.

Yes, Dad. I Miss Mom!” aku berujar pasti.

Aku memang benar-benar kangen Momku. Sudah hampir empat tahun aku tidak melihatya. Dad dan Mom bercerai ketika aku berumur lima tahun. Aku tidak tahu alasan mengapa mereka bercerai. Disisi lain aku juga tidak ingin tahu tentang hal itu. Lalu hak asuhku jatuh di tangan Dad. Aku juga tidak tahu kenapa sampai Dad yang bisa memenangkan hak asuh tersebut. Lalu ketika umurku tujuh tahun, Dad mengajakku untuk pindah ke New York bersamanya. Setelah itu, hampir setiap musim panas Mom pasti akan mengunjungiku di New York dan kami akan menghabiskan liburan musim panasku di Las Vegas. Tetapi ketika aku memasuki umur dua belas tahun, Mom never come again. She tottaly disappear. Dad said; ‘Mom sibuk dengan pekerjaannya’.

Marah. Sedih. Kangen. Itu yang kurasakan waktu ketika tahu Mom tidak pernah datang lagi ketika aku mendapatkan liburan musim panasku. But, tiba-tiba Mom menelponku dan meminta maaf karena tidak bisa datang karena dia—seperti yang Dad bilang—sibuk. Aku memaafkan Momku tentu saja. Dia harus mencari uang untuk dia makan bukan? Lagipula mendengar suara Mom sudah menghilangkan sedikit—tiny, actually—rasa kangenku padanya.

Intro lagu I Can Talk kembali terdengar dan aku flashbak lagi ke kenanganku bersama dengan Dad.

WHAT?” Dad berteriak keras ketika aku memberitahunya kalau aku ingin pindah ke Indonesia. Ingin tinggal bersama Mom. Dan yang lebih buruk, meninggalkan Dad-ku yang ceroboh disini sendirian. “Sid, don’t make some ridiculous joke, rite now!”

Aku memutar bola mata. “I’m not joking Dad,” aku meremas ujung selimutku. Dad memang suka sekali datang ke kamarku malam-malam untuk mengecek apakah aku sudah tidur apa belum. He think I’m still a kid. For Judas’s sake. Kadang hal itu sangat membuatku risih.

Dad menatapku dengan mata disipitkan. “And you will leave me in here alone?” tanyanya, nada suaranya sedih.

You still have Mrs. Longbottom or Mrs. Hycinth. Our neighbors.” Aku tersenyum kecil ke arah Dadku. Mrs. Longbottom dan Mrs. Hycinth adalah kedua wanita janda yang sangat mengidolakan Dad. Setiap jam tujuh malam salah satu dari mereka akan datang dan membawakan kami lasagna yang rasanya sangat grisly.

Kali ini Dad yang memutar bola mata. “Kenapa harus pindah sekarang?” tanya Dad, akhirnya dalam bahasa Indonesia. Aku tidak terlalu suka berbicara dengan Dadku menggunakan bahasa Inggris. Rasanya aneh saja. Kadang pembicaraanku dengan Dad malah suka ngelantur kemana-mana kalau menggunakan Bahasa Inggris.

“Nggak tau,” kataku sambil menaikan pundak-ku tinggi-tinggi. “Kangen Mom, mungkin.”

Dad kembali menatapku tajam. “Besok graduation junior high school Sid kan?”

“Yep,” aku mengangguk. “Dan Dad harus datang!”

“Dan, kamu mau menghabiskan masa SMA kamu disana?” tanya Dad mengalihkan pembicaraan. Dad sangat tidak suka mengunjungi tempat ramai seperti acara kelulusanku besok. Dia tidak sepertiku, aku malah sangat senang berkerumun di tengah orang banyak.

Setelah aku berpikir sejenak, lalu aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

Dad mendesah letih. “Alright then, besok Dad langsung urus kepindahanmu ke Indonesia. Dan langsung Dad kasih tau Mom-mu buat ngurus kamu harus sekolah di mana di sana.”

Aku kembali mengangguk untuk menjawab ucapan Dad barusan. Setelah itu Dad langsung menutup pintu kamarku dan aku membaringkan kembali tubuhku di kasurku yang empuk. Menjelajahi pikiranku sendiri. Aku memikirkan matahari Indonesia yang tottaly howt. Memikirkan bagaimana orang-orang yang ada disana. Memikirkan kota Jakarta yang suka sekali banjir dan macet. Well, aku tahu hal itu karena aku sering menonton acara berita dari salah satu saluran TV Indonesia yang tersedia disini.

Tetapi—this is just my guess—Indonesia akan memberikan hal-hal yang baik untuk kelangsungan hidupku. Lagipula apabila aku lama-lama di New York, bisa-bisa setiap hari aku akan saling bunuh dengan Mark, which is my bitch enemy. Dia adalah cowok dengan bintik-bintik terbanyak di wajahnya. Setiap hari yang dia lakukan hanya menggangguku dan mengatai-ngataiku. Dan dia pikir aku mau mengalah begitu saja. For hell’s sake. Tentu saja tidak. Well, tak perlu aku jelaskan bagaimana caraku dan Mark berkelahi dan saling mem-bully-kan.

Terakhir kali aku berada di Jakarta ketika umurku masih tujuh tahun dan itu sembilan tahun yang lalu. Rumahku berada di salah satu perumahan elit yang ada di Jakarta Selatan. But, don’t ask! Aku lupa apa nama perumahannya. Di samping itu Mom juga sudah pindah ke Jakarta Pusat. Dia tinggal sendirian. Dan itulah yang membuatku berpikir untuk tinggal bersama Mom dan menghabiskan masa-masa SMA-ku disana. Aku juga kangen dengan masakan Momku. Makanan favoritku adalah… hmmm… wait! Apa ya namanya! Oh, yeah nasi kuning. LOL. Yeah, nasi kuning or yellow rice. Kenapa nasinya kuning. Tak perlu aku jelaskan lagikan.

Tiba-tiba lagu I Can Talk berganti ke Dance Again yang dibawakan oleh Jennifer Lopez. Lagu ini juga langsung mengingatkanku dengan kedua sahabat karibku. Gawd, I miss them! Rasanya juga sangat sulit untuk pindah dan meninggalkan sahabat-sahabatku. Namun karena aku memang sudah bertekad untuk pindah—dan sekarang aku agak menyesalinya—ke Indonesia, jadi aku terpaksa harus merelakan kedua sahabatku untuk menjalani persahabatan kami ini hanya mereka berdua. Tanpa aku di dalamnya.

Edmund dan Kim. Nama kedua sahabat karibku. Kami bertiga bisa bersahabat karena Edmund adalah anak Mrs. Longbottom dan Kim adalah anak Mrs. Hycinth. Which is my neighbors. Mereka adalah kedua janda yang sangat mengidolakan Dadku karena dia masih muda dan sangat tampan. Dan aku yakin ketampanan Dadku juga menurun padaku. Bukan bermaksud sombong, hanya saja memang banyak yang bilang kalau wajahku mirip sekali dengan Dadku.

Pelukan erat dari Kim sangat membuatku terharu. “Goawdsss!” teriaknya histeris. “I will miss you so much. This time I’m already miss you so much, although you go yet!” Kim makin mengeratkan pelukan.

Aku, Edmund, Kim dan Dadku sedang berada di JFK airport. Beberapa menit lagi pesawatku akan berangkat. Tiba-tiba kakiku rasanya sangat sulit untuk digerakan. “I will miss you too!” aku mengelus pundak Kim pelan untuk menenangkannya karena dia mulai terisak ringan.

Don’t forget to call me if you already arrive in Indonesia, ‘kay!” tutur Edmund. Matanya yang biru terang juga terlihat sama sedihnya sepertiku. Hanya saja mataku berwarna hitam legam. Aku sangat ingin mempunyai warna mata seperti Edmund. Warna matanya seperti ocean. Membuatku sangat iri. Banyak cewek yang menaksir dia karena matanya yang sangat menakjubkan itu. Akupun agak tertarik dengannya di awal-awal kami berteman. Tetapi aku mengurungkan niat itu karena aku tahu dia stright.

“ ‘Kay, dude!” aku mencoba tersenyum simpul ke arahnya, tetapi ketika aku meihat pantulan diriku di kaca yang ada di belakang tubuh Edmund, aku malah melihat senyuman masygul di sana. Pity.

Tuhan! Aku kangen kedua sahabatku! Aku kangen Dadku! Aku kangen my bitch enemy, Mark! Semuanya! Aku kangen dengan semua yang ada di New York. Suhunya. Makanannya. Manusia-manusia yang berlalu-lalang dengan sibuk. Aroma asap dan wangi makanan yang bertebaran di jalanan. Pokoknya, I miss all of them!

Seseorang yang duduk disebelahku tiba-tiba mencolek-colek-ku. Padahal aku baru saja bisa menikmati musik yang mengalun rindang di earphone-ku. Aku membuka mataku dan melepaskan earphone dari telingaku. “Ya?” tanyaku ke laki-laki yang raut wajahnya mungkin akan memasuki umur ketiga puluh tahunnya tahun ini.

“Pesawatnya sudah datang mas,” beritahunya kepadaku. Nada suaranya yang berlogat—kalau tidak salah—jawa itu hampir membuatku tertawa.

“Oke. Thanks!” ujarku seadanya sambil tersenyum kecil.

Aku langsung berdiri dan menyeret kedua koperku. Seorang pramugari menolongku menaruh kedua koperku ketika aku sudah berada di dalam pesawat Garuda Indonesia yang menurutku pesawat ini sangat tacky. Tidak seperti pesawat-pesawat yang kunaiki sebelumnya. Tetapi hanya pesawat inilah yang akan membawaku ke Indonesia. Jadi aku tidak boleh mengeluh.

Kuhempaskan bokongku ketika sudah berada di kursiku. Untung saja aku duduk disamping jendela. Lagipula aku di VIP class, jadi tak ada siapapun yang duduk disebelahku. Aku yakin Dad pasti menghabiskan uang banyak untuk semua biaya keberangkatanku ini. Ya, as long as my Dad can do everything to me, why I have to deny it.

Baru saja aku ingin memanggil pramugari karena kursi yang kududuki tidak bisa dimundurkan, agar aku bisa menjolorkan kakiku. Tiba-tiba tanda mengenakan sabuk pengaman sudah menyala. Aku menaikan kedua alisku tinggi-tinggi akan hal ini. Kupikir pesawat ini baru akan berangkat sepuluh atau lima belas menit lagi. Tetapi ternyata tidak. Aku buru-buru memasang sabuk pengamanku dan pesawatpun akhirnya mengudara.

Selama pesawat lepas landas, aku memejamkan mataku. Aku memang sangat takut ketika pesawat akan mengudara. Sensasinya itu loh yang membuatku sangat membenci hal itu. Aku pasti akan memegang sisi kursi kuat-kuat karena aku takut kalau tiba-tiba nanti aku terjengkal ke belakang dan mempermalukan diriku sendiri. Padahal sebenarnya itu tidak mungkin karena aku mengenakan sabuk pengaman.

Aku memejamkan mataku selama—kalau aku tidak salah menghitung—lima belas menit-tan. Dan ketika aku membuka mataku, suara yang berasal dari speaker yang berada di atas kepalaku terdengar. Isinya untuk memperintahkan kepada semua penumpang untuk duduk dengan manis dan kembali mengenakan sabuk pengaman karena pesawat akan mendarat.

SHIT! Padahal aku baru saja membuka mataku dan ingin membuka sabuk pengaman untuk menikmati in-flight-meal-ku. Aku mengerang dalam hati. Ini adalah penerbangan paling singkat yang pernah terjadi di hidupku. Bukan singkat lagi. Tetapi, SHORTEST!

Aku melirik keluar jendela. Melihat titik lampu yang berada di kejauhan yang kini makin mendekat. Baiklah! Now I’m coming Indonesia. Jangan sebut namaku Sid Kovlean kalau aku tidak betah tinggal di Indonesia! Memang seberapa buruk sih Indonesia itu? No, nothing bad in here! Although I’m really doubt about it.

Ketika pesawat sudah benar-benar mengijakan rodanya di daratan dan pramugari sudah mengeluarkan koperku dari bagasi. Barulah aku melepaskan sabuk pengamanku. Aku meraih kedua koperku dan berjalan cepat menyusuri lorong kabin yang panjang dan sedikit agak temaram. Untung saja banyak orang yang berada di lorong kabin seram ini. Oke, aku mengaku sekarang. Aku benci gelap. Karena semua hal buruk terjadi pada saat gelap,

Cahaya terang benderang langsung menerpa mataku. Finally! Aku langsung kembali melangkahkan kakiku cepat. Sambil mendorong dua koperku dengan kedua tanganku. Aku langsung menaruh kedua koperku di baggage claim lalu aku menyusurinya dan menunggu di sela-sela lansia yang sedang bertengkar tentang warna tas yang mereka bawa tadi. Yang satu sangat yakin kalau tas yang mereka bawa warna hijau. Yang satu lagi yakin kalau yang mereka bawa itu warna biru. Gawd! Apakah kalau aku tua nanti aku juga bakalan seperti kedua lansia ini. I hope not!

Setelah aku menunggu tujuh menit, akhirnya kedua koperku datang juga. Dan, hanya untuk pemberitahuan, ternyata tas yang didebatkan oleh kedua lansia tadi bukan biru atau hijau. Melainkan merah muda. Or pink. Sekuat mungkin aku menahan diriku untuk tidak mengakak keras di hadapan kedua lansia pity itu.

Saat aku sudah keluar dari pintu penerbangan Internasional, pertama kali yang kulakukan adalah mencari Momku. Aku yakin rupa Momku masih seperti empat tahun yang lalu. Iya, kan? Tidak mungkin dia operasi atau semacamnya. Hanya saja aku tidak kunjung jua menemukan sosok Momku yang jelita. Damn, where is she?

Aku berjalan menuju ke kursi tempat orang-orang menunggu. Aku melihat banyak orang yang menaikan semua papan nama di atas kepala mereka. Hanya saja tak satupun dari mereka ada yang menulis namaku. Walau yang aku tahu itu memang mustahil. Karena kata Dad yang bakal menjemputku adalah Mom. Dan Mom hafal wajahku karena setiap hari dia memeriksa akun twitter dan facebook-ku. Padahal aku sendiri tidak tahu yang mana akun punya Momku.

Kukeluarkan BlackBerry-ku dari dalam saku celanaku. Rencananya aku ingin menghubungi Momku. Aku mengganti profile flight mode ke general. Aku langsung mencari nama Momku di buku telpon yang ada di BlackBerry-ku. Namun baru saja aku ingin menekan tombol call, tiba-tiba BlackBerry bodohku menampilkan sesuatu di layarnya.

Battery too low for radio use.

Dan otomatis BlackBerry-ku menjadi off. Aku menggeram kesal. My shit day is today. Sungguh. Aku sudah benar-benar capek dan membutuhkan sosok Momku untuk datang sekarang juga dan membawaku pulang ke rumahnya. Yang menjadi rumahku juga saat ini. Kubanting pelan BlackBerry-ku di atas pahaku. Lalu kumasukan kembali ke saku celanaku.

Jadi cara satu-satunya adalah memandang berkeliling untuk mencari sosok Mom. Kalau aku mau ke… apa ya namanya? Oh, iya, wortel… eh, wartel, ya? Iya deh itu. Pokoknya ada tel-tel-nya. Aku tidak mempunyai uang yang bernominal rupiah sekarang. Dan di bandara—aku melirik sekilas ke atas kepalaku untuk melihat papan nama bandara apakah ini—Soekarno-Hatta ternyata, tidak ada satu stand-pun yang membuka usaha money changer.

Aku memicingkan mataku untuk lebih teliti mencari sosok Momku. Namun mata genitku malah menangkap sesosok cowok tampan dengan rambut spike sedang mengangkat nama i-don’t-know-who tinggi-tinggi. Raut wajahnya yang serius sangat membuatku terpesona. Matanya yang bergulir ke sana kemari untuk mencari sosok yang dia cari malah membuat dia makin cute like a baby. Aku terkikik kecil melihat tingkahnya. Padahal dari tingkahnya itu tidak ada yang lucu sama sekali.

Oh, iya! Apakah aku sudah memberitahu kalau aku ini Gay. Atau Homo. Atau bahasa gaul di Indonesia yaitu maho. Well, I knew that word from Donny. Salah satu teman Skype-ku yang berasal dari Solo. Ya, dia mengajariku beberapa kata Indonesia yang gahol. Seperti, cius yang berarti serius. Atau miapa yang berarti demi apa. Pokoknya banyak. Dan semua kata-kata itu sangat norak. But creative and funny.

Aku masih menatap cowok tampan itu dengan tatapan terpana. Well, he so sexy and tall. Membuat libidoku naik. LOL. Haha. Di sisi lain, wajahnya mengingatkanku dengan seseorang. Yaitu Dad. Bukan berarti aku naksir Dadku. Yikes! I will never like my own Dad. That gross and disgusting. Cowok itu pokoknya sangat mirip dengan Dadku. Tetapi cowok itu lebih sexy and cool than my Dad. Sorry Dad!

Untuk informasi lagi, Dadku tahu aku Gay. Ya, aku akan menceritakannya.

Hari itu Dad baru saja pulang dari kantornya. Dia menonton acara berita di TV yang menyiarkan berita tentang telah dilegalkannya gay marriage di United States. Aku berjalan pelan ke arah Dadku. Ketika aku sudah berdiri di sampingnya, aku langsung duduk disebelahnya dan pura-pura ikut menonton acara berita yang ada di TV itu.

“Nonton apa Dad?” tanyaku agak bodoh. Padahal aku sudah baca title berita yang sedang disiarkan itu. Tetapi, tahukan yang namanya basa-basi.

News,” ujar Dadku sambil dia menyeruput kopinya. “Sudah belajar?”

Aku hanya mengangguk. “Dad, gimana kalau aku kayak orang yang ada di TV itu? Menikah sesama jenis, atau gay,” aku tidak berani sama sekali melirik Dadku.

No problem,” tutur Dadku singkat.

Really?” kataku agak terkejut. Aku langsung mengarahkan pandanganku ke Dadku.

Dad menatapku dengan mata disipitkan. “Ya,” ujar Dadku dengan nada yakinnya. “Dad lebih senang punya anak gay daripada pencuri. Atau pemakai narkoba. Atau pembuat malu orang tua.” Dadku masih saja menatapku dengan mata disipitkan. “Are you gay?” tanya Dadku akhirnya. Well, aku memang sudah menunggu-nunggu Dad akan bertanya hal itu. Toh, aku yakin Dad tidak akan marah-kan jika aku mengaku gay.

Untuk beberapa detik—atau beberapa jam yang mencekik—atau malah beberapa hari yang cerah—aku hanya menatap ujung gelas kopi Dadku. Dengan keputusan bulat yang aku memang sudah sepakati dengan diriku sendiri, akhirnya aku menjawab pertanyaan Dadku; “Ya, Dad.” Wajahku memerah dan takut untuk melihat Dadku yang agak sedikit menegang disebelahku. Puh-lease gawd! Don’t make him anger to me!

“Hmmm…” aku mendengar Dad bergumam disebelahku. “So, do you have a boyfriend now?” tanya Dadku, membuatku terperanjat.

Aku menoleh cepat ke arahnya dan melihat dia tersenyum lebar ke arahku sambil dia menaikan kedua alisnya tinggi-tinggi. Seakan-akan dia sedang menggodaku. Thanks gowd! “Well,” kataku agak malu-malu “yes!”

Dad memekik kecil disebelahku seperti para cheerleader di sekolahku saat mereka tahu kalau mereka memenangkan perlombaan cheer. “Bring him to me tomorrow!” seru Dadku antusias.

Ya, saat aku memberitahu Dadku kalau aku adalah gay, aku memang punya pacar saat itu. Tetapi ketika besoknya aku ingin mengajak my boyfriend ketemu Dadku, kami malah putus. Tahu kenapa! Because, when we wanna doing oral sex, dia mengeluarkan adiknya dari celananya dan bentuk adiknya itu sangat bigger. Baru saja adiknya itu di dalam mulutku, aku langsung mual dan ingin muntah. Lalu aku menolak untuk melakukan oral sex dengannya. Dan, ya, terjadilah insiden break up. Sejak saat itulah aku memutuskan untuk tidak mau mempunyai boyfriend yang adiknya sangat besar. Lagipula kalau adiknya menebus my butt, bisa-bisa rongga my sweet anusku jadi melebar. Gowd! No way!

“Jadi, Sid sudah putus sama pacarnya?” tanya Dadku tak percaya ketika aku memberitahunya kalau pacarku tidak akan datang karena kami sudah putus.

Aku hanya mengangguk.

What happen?” suara Dadku meminta penjelasan.

B’cause something Dad,” aku memberitahunya malas. “Dan Dad juga tidak mau mendengar penjelasan intinya. Mengerikan pokoknya Dad.”

Dadku kembali menggunakan kekuatan mata disipitkannya itu. “Do you want I tell you about sex education?” tanya Dadku tiba-tiba. Wajahnya agak memerah karena malu.

Sama halnya sepertiku. Aku juga terperanjat dan wajahku langsung memerah. Siapa sih yang tidak canggung berbicara tentang sex dengan orang tuanya. Topik seperti ini adalah topik sensitif. “No, Dad!” seruku. ”No need to tell me about it, kay!”

Yes, I think so too.” Dadku mengambil tas kerjanya dan menatapku agak tajam. “Dad hanya ingin memberitahumu kalau kamu punya pacar, cobalah untuk serius. Ok!”

Kayak Dad mengerti situasiku saja. “Ok!” sambutku asal. Kayak aku akan mendengarkan perintahnya saja. Punya banyak pacar dan pacaran sebentar saja itu bisa meningkatkan pengalaman yang sangat indah. Lagipula, aku bisa melihat banyak bentuk adik yang unik-unik. Uhhh… But, still, pokoknya aku harus serius dan setia kalau sudah punya someone special in my heart.

“SIDDDDDD!” lamunanku langsung buyar ketika aku mendengar teriakan nyaring dari seorang wanita yang berjarak delapan meter dari tempatku duduk. Wajahnya yang dihiasi make up tipis tersenyum lebar ke arahku. Setelah empat tahun tidak ketemu Momku, ternyata dia memang sudah berubah sekarang. Badannya lebih langsing. Cara jalannya lebih girly. Wajahnya lebih jelita dan senyumannya tidak sesedih dulu lagi.

Aku berdiri ketika Momku sudah hampir didepanku. “Halo, Mom!” sapaku pelan sambil tersenyum. Tetapi bukannya membalas sapaanku, Momku malah langsung menarik-ku ke dalam pelukannya. Dia memelukku sangat erat. Seperti pelukan Kim. Tetapi ini lebih erat daripada Kim. Oh, ya, aku kangen wangi bunga poppy yang menyeruak dari tubuh Mom. Dengan sama eratnya, aku membalas pelukan Momku.

“Mom kangen banget sama kamu!” serunya dengan suara tercekat. “Mom happy banget tau nggak pas kamu mutusin untuk pindah kesini,” Momku kini melompat-lompat kecil seperti anak kecil yang mau minta dibelikan permen.

Aku hanya tertawa pelan dan mengelus pundak Momku. Dia akhirnya melepaskan pelukan dan menatap wajahku selama hampir satu menit penuh. Tangannya yang lentik dan kecil mengelus-ngelus wajahku. Matanya yang hitam seperti mataku menatapku lekat-lekat dengan tatapan memuja. Well, aku sebenarnya tahu kalau Momku sampai sekarang masih sangat mencintai Dad. Aku hanya menebaknya sih. Tetapi aku yakin memang seperti itu perasaan Mom terhadap Dad. Wajahku yang hampir mirip dengan Dad membuat rasa kangennya terhadap Dad menjadi sedikit agak berkurang. I’m guess it anymore.

“Ayo, pulang!” seru Momku sambil menarik kedua koperku. Aku hanya mengikutinya saja dari belakang. Ketika aku sudah berada di arena parking, aku akhirnya baru bisa menghirup udara asam negri Indonesia ini.

***

“Gimana selama perjalanan, dek?” tanya Momku ketika kami berada di mobil Mazda 2 merah mencolok Momku. Oh, iya, Momku memberikan nickname kepadaku yaitu dengan sebutan dedek atau dek. Ketika aku mendengar Momku mengucapkan nickname-ku itu, rasa kangenku menyeruak kembali ke udara di rongga paru-paruku.

Nothing special, Mom,” ujarku apa adanya. “Banyak pesawat yang di delay.”

Momku tertawa merdu. “Tentulah di delay. Dari rambut Mom lurus sampe sudah bisa jadi keriting kayak gini, pesawat itu wajib di delay.” Momku kembali tertawa yang tak perlu.

Aku tidak mengubris perrkataan atau candaan Momku. Lagipula aku sedang konsen untuk melihat suasana kota Jakarta yang aneh. Banyak gedung tinggi yang bentuknya sangat janggal. Terus mereka saling berdempetan lagi. Bukan berarti di New York tidak. Tetapi gedung-gedung tinggi itu terlalu over berdekatannya. Jika di New York, kalau ada gedung yang saling berdempetan, dia akan digusur. Seperti gedung New York Times dan Starlight.

Terus aku masih melihat ada kendaraan aneh dengan roda tiga yang berada di pinggir jalan. Apa ya namanya. Oh, iya. Bajaj. Damn. Kupikir kendaraan itu akhirnya sudah punah. Tetapi sampai sekarang bajaj masih ada dan bertahan lama juga.

“Oh, iya,” kata Momku membuka percakapan kembali “Besok dedek langsung masuk sekolah loh.”

Aku agak terkejut mendengar hal ini. “Oh, ya?” nada suaraku yang kaget memang tidak bisa disembunyikan. “Bukannya masih ada waktu dua bulan lagi untuk masuk semester awal high school ya?”

Momku mengernyit kecil. “Kayaknya nggak deh. Kan sekolah sudah dimulai semenjak dua bulan yang lalu.”

WHAT!! DON’T SILLY ME!!

“Kok bisa sih Mom?” tanyaku heran.

“Lah, kan memang begitu dek. Setiap bulan juni, juli atau agustus sekolah sudah mulai masuk,” ujar Momku menjelaskan.

“Tapi sekarangkan masih summer. Jadi, bukannya sekarang lagi holiday?”

Momku malah ketawa ketika mendengar pertanyaanku. “Astaga! Mom lupa kalau kamu ingetnya tahun ajaranmu di Amerika sono!” Momku lagi-lagi ketawa yang tidak perlu. “Di Indonesia dek, gak ada yang namanya liburan musim panas. Setiap hari disini adalah musim panas. Atau musim kemarau.”

Jadi sekarang aku bakalan di cap sebagai new student. Oh, no! aku paling malas kalau di cap seperti itu. Nanti pasti di setiap lorong sekolah ataupun di sudut manapun yang ada di sekolah itu akan ada seorang pecundang yang akan menunjuk-nunjuk-ku dan berkata sambil berbisik: itu tuh yang murid baru! Grrrr… shit… shit… jerk!

“Nama sekolah kamu Dominiquert International School” beritahu Momku.

Ya, lagi-lagi juga aku kembali terkejut. Kupikir aku akan masuk sekolah yang bertaraf nasional. Dengan menggunakan baju berwarna putih-abu yang membosankan. Tetapi nyatanya aku kembali masuk ke sarang orang-orang yang pasti ada saja foreign-nya. Terus mengerikan dan sombong-sombong. Walaupun tidak bisa dipungkiri lagi aku juga adalah salah satu orang sombong yang pernah ada di Delwere junior high school New York.

Baiklah, aku mengaku. Sebenarnya alasan aku pindah ke Indonesia karena reputasiku yang semakin jelek di sana. Itu karena tingkahku yang sombong dan suka mencekal. Dan aku tidak mau Dadku mengetahui tentang hal itu. Kenapa? Tentu saja seperti yang pernah dia katakan padaku: “Lebih baik aku punya anak gay daripada pencuri. Atau pemakai narkoba. Atau PEMBUAT MALU ORANG TUA.” Yep, aku gay dan bakalan akan membuat malu orang tuaku jika aku tetap diam di New York. Gawd! Aku tidak mau membuat Dadku kecewa. Maka daripada itu lebih baik aku pergi dan tinggal dengan Momku saja. Yang lebih simpel dan efisien.

Momku juga sudah tahu kalau aku gay. Dan dia tidak mempermasalahkannya. Karena saudara kembar Mom, Uncle Haris, dia adalah seorang gay juga. Jadi, Momku tahu bagaimana perasaan seorang gay. Cailah. Hahaha!

Dan Momku tidak membuat semacam peraturan tentang; kau harus menjaga kesombonganmu! Kau jangan making love dengan siapa saja yang menyukaimu! Kau jangan… bla… bla… bla… etc. Tidak. Momku hanya menerapkan beberapa kalimat koleris dan tegas kepadaku: “JADILAH DIRIMU SENDIRI DAN LAKUKAN APA YANG KAU SUKA. TETAPI INGAT! KAU HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN APA YANG KAU LAKUKAN!”

Yeps, my Mom said like that to me when Dad called her to tell about my sex orientation.

“Kok bukan high school biasa aja sih Mom?” tanyaku kemudian dengan nada memelas. Aku malas masuk ke sekolah yang seperti itu lagi. Entahlah. Aku hanya merasa malas saja dengan sekolah yang bertaraf Internasional. Gawd! Menjijikan. Ku-ulangi; men-ji-ji-kan!

“Ijazah kamu itu bertaraf Internasional dek, jadi susah masukin kamu ke sekolah biasa-biasa aja. Cuma sekolah bertaraf Interasional aja yang bisa nampung ijazah kayak punyamu itu.” Momku kembali menjelaskan. “Lagipula sekolah yang kayak gitu lebih bagus loh.”

Bagus dari mana! For kentut’s sake! Itu nggak bagus sama sekali. Banyak orang sombongnya. Dan aku paling nggak suka sama orang yang bisa lebih sombong dari pada aku. Gawd, being arrogant is my motto. “Ok. Whatev aja deh,” kataku malas.

Ini dia! Ternyata tebakanku salah. Indonesia sepertinya tidak akan membuahkan hasil yang bagus untuk-ku sampai tiga tahun kedepan. Ditambah lagi, sepertinya Indonesia tidak akan menghasilkan hal-hal yang baik untuk kelangsungan hidupku. Malah sekarang aku sudah optimis dan sangat yakin kalau aku bakalan punya banyak musuh disini. Damn it!!!!!!

 

–Ups, Bersambung to Chapter 2–

12 thoughts on “Bright Day (1)

    • hihi…. nulis aja dengan inspirasi yang ada di pikiranku Koko Liem (kita sama2 Koko nih) hahaha
      psti ceritanya ntar bagus. klw mau konsultasi ttg cerita ato buat cerita tinggal hubungin e-mail aku ato km add wechatku nih: rendifebrian

      siapa tw bisa nolongin km. hahaha =D

      makasih yaaa Liem =D

  1. Kakak Ren, kok cerita yang ini bgian 4,5,6, di kunci ?
    aku ng tahu kata sandinya ?
    apa sih maksudnya ?

  2. I dunno this is just my feeling or… indeed it’s true. Ketika baca part ini keknya mirip ama ceritanya MarioBastian yg Kadang Cupid tuh Tolol. Hhee, maaf kalo menyinggung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s