157.776.400 Seconds


(Third “Times” Saga)

157.776.400 Seconds

Trivial Story By. Rendi Febrian

 

Aku percaya cinta. Setiap kali aku ingin tidur atau baru saja bangun tidur, aku pasti akan memanjatkan kalimat itu di dalam hatiku. Berulang-ulang. Sampai aku lelah dan mulai mencari pekerjaan yang lain selain mengucapkan tiga kalimat itu. Tetapi toh, ketika aku tidak mempunyai kerjaan lain, aku akan mulai mengucapkan kalimat itu terus. Mengharapkan cinta yang kupercayai itu datang ke kehidupanku yang sangat-sangat membosankan dikuadratkan empat lalu dikalikan tiga ini.

Aku percaya cinta. Hmmm… seperti yang Nicholas Sparks bilang; ‘Cinta itu seperti udara, tak terlihat tapi bisa dirasakan’. Yep. Itu benar tentu saja. Siapa sih orang yang sudah pernah benar-benar melihat cinta? Maksudku bentuk dari cinta itu sendiri. Kebanyakan orang paling-paling hanya melihat bentuk hati berwarna merah berbentuk segitiga yang mereka sebut cinta dalam penggambaran mereka. Tetapi menurutku itu bukan bentuk hati ataupun cinta. Malah menurutku itu seperti belahan pantat. Perhatikan saja baik-baik bentuknya kalau tidak percaya. Bentuknya segitiga, lalu ada dua benjolan diatasnya, lalu turun ke bawah membentuk sudut yang lancip. Menurutku itu sama sekali bukan penggambaran untuk hati dan cinta.

Aku percaya cinta. Well, itu benar adanya. Cinta itu memang benar-benar adanya. Cinta menyerang kedua hati sahabatku. Luk dan Bas. Bahkan mereka menemukan cinta mereka dalam waktu yang menurutku sangat singkat. Pertama Luk. Dia menemukan cintanya dengan Evan hanya dalam waktu 12 jam. Waktu yang menurutku sangat-sangat singkat. Hanya saja, Luk dan Evan benar-benar saling mencintai sampai sekarang. Lalu yang kedua adalah Bas. Dia menemukan cintanya dengan Dika hanya dalam waktu 5 hari. Yang menurutku terlalu sebentar untuk menemukan cinta. Apalagi saat itu Bas dan Dika sedang mempertaruhkan nyawa dengan penyakit kanker mereka. Dan hebatnya lagi, mereka masih sempat-sempatnya untuk saling jatuh cinta. Bukan berarti hal itu aneh… hanya saja itu sulit dipercaya.

Aku percaya cinta. Ahhhh… sudahlah! Intinya aku percaya dengan cinta. Titik.

“Dev, kamu dengerin nggak apa yang aku bilang?” Suara tenor itu merusak lamunan indahku tentang cinta. Aku mendongak-kan kepalaku dan melihat wajahnya yang tampan sedang tersenyum sok manis ke arahku, yang menurutku membuat wajahnya menjadi tampan versi idiot.

Kuhembuskan nafasku sedikit lalu mengulas sebuah senyuman di bibirku. “Gue dengerin kok. Lo ngomong something about traveling-kan?”

Oh, iya. Nama cowok menyebalkan itu adalah Harry. Bukan Harry Potter lho ya. Dan juga bukan Prince Harry. Namanya dia… hanya Harry. “Iya. Bener banget,” tuturnya sembari menaruh kedua tangannya di paha. Matanya yang hitam menatapku dengan tatapan serius. “Aku mau pergi ke Irlandia besok. Mau ngurus tanah yang kakek wariskan ke aku.” Harry memindahkan tangannya dari paha ke tanganku. “Kamu mau ikut ke Irlandia nggak sama aku? Kita nggak bakalan lama kok di sana, cuman enam bulan.”

What!? Setengah tahun aku harus menghabiskan waktu di Irlandia? Negara dimana segerombolan domba dan manusia-manusia dengan pakaian aneh merajalela? Tidak mau, tentu saja. Apa dia gila mengajakku pergi ke tempat menyedihkan seperti itu!?

“Sorry, Har. Tapi nggak deh. Gue nggak mau ngabisin waktu setengah tahun gue di tempat kayak begitu.” Aku mengernyitkan wajahku sebagus mungkin, agar dia tahu betapa aku tidak mau pergi ke tempat mengerikan itu. Hiiiii!!

“Tapi habis itu kita ke Paris. Bukannya kamu mau lihat menara Eiffel ya?” Ternyata, selain menyebalkan dia itu sangat keras kepala.

“Harry honey,” ujarku sok manis. “Gue bener-bener seneng lo mau ngajakin gue ke… Irlandia dan ke Paris. Tapi… gue bener-bener nggak mau pergi.” Aku mengambil i-Phone dan dompetku yang ada di atas meja. Lalu memasukannya ke dalam saku celanaku. “Dan mungkin ini waktu yang tepat buat kita break. Memulai kehidupan kita yang baru mulai sekarang. Lo bisa dapetin cowok-cowok Irlandia dan gue bisa cari cowok lokal di sini.”

Mulut Harry ternganga lebar mendengar ucapan break up-ku untuknya. Yah, semua cowok yang kuputusi pasti memberi respon seperti ini. Respon standar yang sudah sangat-sangat kuhafal. “Tapi, kita baru aja jalan sebentar. Baru selama lima hari.” Dia mengangkat tangannya lalu membuat angka lima.

“Ya. Lima hari yang bener-bener menakjubkan.” Untung saja baru lima hari. Kalau tidak, pasti dia akan sulit untuk mau putus denganku. Seperti pacarku yang dulu-dulu. Example: Velix. Orang yang paling lama yang kupacari. Yaitu selama dua minggu satu hari. Ketika aku putus dengannya, dia membanting semua barangnya—thank god karena itu bukan barangku—lalu mengancam akan bunuh diri. Grrrr! Benar-benar cowok menyedihkan!

“Aku kurang baik apa sih sama kamu?” tanya Harry, mencoba bertahan agar kami tetap menjalani hubungan ini. Ugh! Sorry, dude! Nggak bakalan mempan. “Dan liat! Aku mau-kan ngajakin kamu ke Irlandia dan ke Paris?”

Sekarang aku benar-benar mau pergi dari tempat ini. “Karna hal itu Har,” ucapku dengan gigi terkatup rapat. “Kita baru aja pacaran selama lima hari dan lo udah ngajakin gue ke negara antah berantah. Kalo ke Paris aja sih, it’s okay. Gue mau pergi sama lo. Tapi kalo ke Irlandia… Huwekkk! Sori-sori aja ya… gue nggak bakalan mau.”

“Kalo kamu nggak mau pergi ya udah. Aku nggak bakalan maksa kamu lagi.” Harry mengambil tanganku lagi dan menggenggamnya. “Tapi kita nggak usah putus ya. Aku sayang sama kamu.” Ucapan yang benar-benar basi. Dan sangat-sangat menjijikan.

Kulepaskan genggaman tangannya lalu menatap wajah Harry yang memelas. “Terus gue harus nunggu lo di sini selama enam bulan gitu? Sorry, Harry. Gue bukan tipe orang yang suka nunggu. So, why don’t we just break up rite now? It’s kinda boring now!”

“Kalo gitu gue nggak bakalan pergi ke Irlandia. Gue bakalan nyuruh staff Papa yang ke sana.” Harry mulai putus asa. Omongannya mulai tidak selembut tadi. Sisi buruknya yang selama ini disimpannya di dalam bulu dombanya itu akhirnya keluar juga.

Sebenarnya, alasan yang paling tepat aku memutusinya adalah karena dia terlalu overprotective. Dia melarangku ini-itu. Katanya, ini tidak baguslah. Itu tidak pantaslah. Tetapi, dari keseluruhan itu semua, dia melarangku untuk berteman lagi dengan Luk dan Bas, yang mana derajat Luk dan Bas di sini lebih tinggi daripada dia. Plus… dia itu sudah sangat membosankan dan cerewet. So, need I say more?

Aku berdiri cepat dan membalikkan badanku untuk meninggalkannya. I’m so done with this.

“Lo mau kemana? Please, jangan tinggalin gue Dev!” Bah! Benar-benar cowok yang payah. “Gue sayang sama lo,” kali ini dia makin payah.

“Just cut it off Harry,” kataku tanpa berbalik sama sekali. “Ciao for now!” Lalu aku berjalan cepat dan meninggalkan Harry si manusia menyedihkan itu untuk selamanya. Aku benar-benar capek mengurusi manusia macam dia. Semoga saja aku mendapatkan cowok yang lebih baik, yang akan melebihi si kunyuk aneh itu. Walaupun aku ragu apakah aku mau pacaran lagi dalam waktu dekat ini. Karena aku sekarang harus benar-benar mencari orang yang mencintaiku dan aku juga akan mencintainya. Yah… semacam itulah.

***

Malam ini, apartemenku benar-benar terasa lebih hampa dari sebelum-sebelumnya. Walaupun aku sedang berbicara dengan Luk dan Bas di telpon—secara bersamaan—aku tetap merasa hampa. Luk dan Bas sedang menuju ke sini dengan pacar mereka. Catet nih: pacar mereka. Kedua orang yang benar-benar dicintai oleh Luk dan Bas. Sampai-sampai aku hampir mati tercekik karena saking cemburunya ingin mempunyai orang yang mencintaiku seperti itu. Apalagi melihat cara Evan dan Dika yang sangat-sangat perhatian dengan kedua sahabatku itu. Benar-benar makin membuatku cemburu.

Sesungguhnya Harry mencintaiku. Daritadi SMS-nya masuk terus di i-Phone ku hanya untuk mengucapkan tiga kalimat itu. Tetapi sayangnya aku tidak mencintainya. Aku juga tidak tahu kenapa. Hanya sulit saja mencintai dia. Mungkin karena dia menyuruhku untuk menjauhi Luk dan Bas yang merupakan sahabatku, bahkan sudah kuanggap sebagai kedua kakak laki-lakiku. Tetapi Harry tetap kukuh menyuruhku untuk menjauhi Luk dan Bas. Alasannya karena kami bertiga adalah gay. Ditambah Luk adalah Top dan Bas adalah Vers, jadi siapa tahu sewaktu-waktu kami bertiga akan main itu bersama. Tahukan apa maksud dari main itu. Ya! Sex. Dia berpikirnya seperti ini:

Aku Bot, yang pasti akan ditusuk oleh Bas. Lalu karena Bas Vers, jadi Luk—yang di sini sebagai Top—akan menusuk Bas juga. Lihat! Pertama kali aku mendengar ocehan Harry, aku benar-benar bingung. Tetapi setelah aku berpikir selama lima menit, aku baru tahu hal yang dia maksudkan dari ucapannya. Saat itu juga aku langsung sakit hati dengannya. Lalu aku mengecapnya—tanpa ragu-ragu—sebagai cowok autis terbodoh yang pernah hidup di dunia ini.

“Kita udah di depan pintu lo nih!” suara Luk yang berat menggelegar di speaker i-Phone ku.

Lamunanku langsung kocar-kacir saat itu juga. Dengan gelagapan aku berdiri cepat dari sofa empukku menuju ke arah pintu. Suara Luk yang berat itu selalu wajib membuatku bergidik ngeri, ditambah dengan tatapan matanya yang tajam. Saat pertama kali aku menatap Luk, pada saat ospek kami dulu, aku tertarik dengannya. Wajahnya yang tegas dan gagah benar-benar membuat jantungku deg-deg-an kala itu. Tetapi sekarang sudah tidak lagi. Malah setiap kali aku melihatnya, hanya ada rasa persahabatan dan persaudaraan saja di sana.

Kucengkram kencang knop pintuku lalu membukanya dengan sekali sentak. Wajah yang pertama kali kulihat di balik pintu adalah wajah unyu-nya Bas. Well, itu benar! Walaupun dia berumur 23 tahun, tetapi wajahnya seperti anak berumur empat belas tahun. Benar-benar lugu dan unyu. Membuatku ingin sekali mencubiti setiap jengkal wajahnya. Saat pertama kali aku berkenalan dengannya, dia agak sombong dan agak cuek. Tetapi setelah kenal beberapa minggu, ternyata dia orangnya tidak selugu wajahnya. Malahan kadang dia bisa lebih jalang daripada diriku.

“Lo putus lagi?” Itu adalah ucapan pembuka yang dilontarkan oleh mulut Bas.

“Huss! Nggak baik ngomong di depan pintu,” ujar Dika dengan suara mendesah.

Bas menoleh ke arah Dika yang berada di dalam dekapannya. Mataku memicing melihat tingkah sayang-sayang-an kedua orang ini. Kedua orang yang dua bulan kemarin sama-sama hampir meregang nyawa karena penyakit kanker mereka. Wajah Dika yang pucat dan lebih lugu dari Bas menatapku dengan tatapan sayang sebagai saudara. Selama dua bulan terakhir ini, aku, Dika dan Evan banyak menghabiskan waktu bersama. Karena kedua pacar mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Luk sibuk dengan pekerjaannya di Blue Bird Group. Sedangkan Bas sibuk mengurusi perusahaan warisan Ayahnya yang ada di Jakarta ini.

Aku turut bahagia untuk kedua sahabatku. Karena akhirnya mereka bisa lebih mandiri sekarang. Akupun sedang berusaha untuk mandiri juga. Tetapi pekerjaanku sebagai model tidak terlalu banyak menguntungkan. Makanya Mama Bella dan Papa Jun—kedua orang tua angkatku—tetap mengirimi aku uang setiap bulannya. Kuliahku sudah selesai satu bulan yang lalu. Tetapi aku belum juga dapat pekerjaan yang benar-benar menguntungkan. Padahal aku sudah cari sana-sini, namun keberuntungan selalu saja menjauhiku.

“Lo nggak nyuruh kita masuk nih?” tanya Luk sambil mencolek lenganku.

“Oh, iya ya. Ayo masuk!” Kubuka pintu apartemenku selebar mungkin dan mempersilahkan ke-empat orang yang sedang dimabuk cinta itu memasuki apartemenku yang tergolong mewah. Ini adalah apartemen kepunyaan Papa Jun. Dia menyuruhku untuk tinggal di sini selama dia dan Mama Bella sedang berada di Phuket, Bangkok. Dan sekarang aku sudah sangat jatuh cinta dengan apartemen ini. Bukan karena mewahnya! Tetapi karena ada sesuatu yang lain, yang membuatku yakin kalau hidupku bisa berubah di tempat ini. Aku tahu itu konyol, hanya saja aku memang merasakan hal itu.

“Gue sama Evan yang bakalan masak makan malemnya. Kalian bertiga tunggu di kamar aja ya!” Dika mendorongku, Luk dan Bas dengan paksa. Evan yang semula hanya diam saja ikut membantu Dika. Dari tingkah yang dilakukan oleh kedua pacar sahabatku ini, sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku. Sesuatu yang menurutku pasti sangat penting. Atau sesuatu yang menurut mereka penting.

“Bebeh, mau makan apa?” Evan bertanya pelan ke Luk. Suaranya yang biasanya mencicit kini begitu halus jika sedang berbicara dengan Luk. Ugh! Benar-benar tingkah orang pacaran.

Luk langsung berubah sok imut. “Kari ayam pedas aja deh beh,” Luk mentoel dagu Evan dengan gaya lebay. Membuatku hampir muntah sekarang juga. Puh-leasee! Aku benar-benar muak dengan tingkah orang kasmaran seperti mereka ini. Atau mungkin, aku cemburu karena tak ada orang yang melakukan hal itu padaku. Sekarang ini, aku merasa diriku benar-benar seperti orang yang paling menyedihkan sedunia.

Setelah itu, Dika dan Evan menghilang cepat dari hadapanku. Meninggalkanku dengan kedua pacar mereka di dalam kamarku. Tangan Bas yang kasar menarik lenganku pelan, lalu mendudukanku di kasur super besarku. Ketika aku sudah duduk di pinggiran kasur super besarku, Luk dan Bas menarik dua kursi berlengan yang bertengger di depan meja komputerku.

“Sekarang ceritain ke kita kenapa lo sama Harry bisa putus!?” suara Bas yang serak-serak basah ala comberan mendesak masuk ke dalam gendang telingaku. Nada memaksa meminta penjelasan sangat terasa jelas di dalamnya. “Dan gue nggak mau denger alasan lo putus sama dia karena anatomi tubuhnya yang nggak prefect!”

Aku memutar bola mata dengan gaya malas. Membicarakan orang yang baru kuputusi dengan kedua sahabatku itu rasanya sangat sulit. Apalagi kalau alasan aku memutusinya karena anatomi tubuh mereka. Bukan berarti aku cowok gay yang selalu menilai orang dengan apa yang menempel di tubuh mereka. Gosh! Aku bukan cowok gay yang seperti itu. Hanya saja, aku memutusi mereka karena satu hal ini: aku tidak mencintai mereka. Tetapi aku tidak mau memberikan alasan itu ke Luk dan Bas. Karena mereka pasti akan mengkritiku se-pedas mungkin. Maicih level sepuluh-pun pasti kalah pedasnya.

“Lo bilang lo bakalan berhenti mainin cowok. Kenapa lo sekarang malah putus sama Harry?” suara Luk yang berat itu bergetar kencang mirip seperti HP Nexian-ku yang sekarang sudah menjadi bangkai. “Padahal gue udah nyaman lho sama Harry ini pas lo ngenalin dia ke kita.”

Untung saja aku punya alasan yang masuk akal kali ini. “Alasan gue putus sama dia karena dia ngelarang gue main sama kalian berdua lagi,” ujarku cepat dengan nada super tajam.

“WHAT!??” pekik Bas kencang. “Maksud lo, dia nggak ngebolehin lo sahabatan lagi sama gue dan Luk?”

“Yep!” aku menyahut kilat. “Jadi, apakah kalian masih pengen nyuruh gue balikan lagi sama si Harry a.k.a manusia autis ini? Kalo iya, yasudah… bye my bestfriends!” aku melambai-lambaikan tanganku dengan gerakan kurang ajar. Aku melakukan ini agar mereka berdua berhenti merecokiku lagi supaya mereka stop membicarakan hal-hal tentang Harry.

Luk mencibir pelan. “NO!” gerutunya kasar. “Lo harus jauhi orang macem dia!” Langkah yang bagus Luk.

“Great!” seruku riang. “Jadi, bisa kita bicarain yang lain nggak? Misalnya kayak… hmmmm, apa ya? Oh, iya! Kayak tingkah Evan dan Dika yang kelewat seneng malem ini. Mereka berdua kenapa ya? Kalian tau nggak?” ocehku panjang lebar sambil nyengir ala kuda nil ke arah Luk dan Bas.

Bas memegang kepalanya yang kini sudah tidak botak lagi. Raut wajahnya juga sudah tidak se-pucat seperti dua bulan yang lalu saat dia masih dirawat di rumah sakit. Ketika aku dan Luk mengunjunginya di rumah sakit kala itu, saat dia baru selesai dioperasi, aku benar-benar kalut dan takut akan kehilangan sosok sahabat se-unyu dia. Tetapi ternyata dia masih bernafas sehingga membuatku sangat lega dan marah. Lega karena dia masih hidup. Marah karena dia tidak memberitahukan keadaannya yang sebenarnya. Makanya saat dia sudah sadar waktu itu, aku dan Luk langsung pamit pulang. Karena kalau aku diam di sana dan menjaganya, yang ada mungkin aku akan terus memukulinya sampai aku puas karena dia sudah menyembunyikan hal yang semestinya aku harus tahu dari awal tentang dirinya.

“Kedua orang tua Dika setuju gue pacaran sama dia,” Bas tersenyum lembut ke arahku. “Tadi Dika bawa gue ketemu sama orang tuanya, dan sekarang rasanya lega banget karena udah dapet izin dari calon mertua.”

“Calon mertua?” aku mengenyit mengejek. Bas hanya cengengesan. “Kayak lo sama Dika udah mau nikah aja? Dasar aneh!”

Bas menjulurkan lidahnya, salah satu ejekan andalannya kepadaku dan Luk. “Biarin!” Bas berkacak pinggang dengan gaya menantang. “Di Amerika sono tuh, udah dilegalin nikah sesama jenis. Kalo gue udah mapan, gue bakalan ajak Dika nikah. Terus honeymoon ke Hawai deh! Oh, yes!”

Kutautkan kedua alisku setinggi mungkin, sembari memasang wajah mengejek ke arah Bas. Nikah? Gosh! Nikah itu artinya sama saja dengan berhenti bersenang-senang. Kita harus lurus terus ke depan dan nggak akan bisa putar arah lagi. Harus berkomitmen tinggi dan konsisten dengan apa yang sudah menjadi pilihan. Dan perselingkuhan sangat tabu untuk orang yang sudah menikah. Ew! Itu bukan gayaku sama sekali. Nikah? Sesama jenis ataupun nggak, I think nggak dulu deh. Tunggu aku sudah menetapkan hati baru aku mau menikah.

“Kalian bakalan gue undang deh pas gue nikah sama Dika. Tenang aja!” Suara Bas yang serak itu membuyarkan lamunanku tentang betapa buruknya menikah.

Luk dan aku mendengus secara bersamaan. “Kayak bakalan terjadi aja!” seru Luk malas. “Tapi ya, gue berdoa deh buat lo. Kalo misalnya lo beneran nikah di Amerika sana, lo yang harus beliin gue sama Evan tiket buat pergi ke sananya.”

“Kalo gue mah, sama kayak Luk aja deh. Tapi lo harus nginepin gue di hotel bintang lima yang ada di Las Vegas. Kalo nggak, sorry mas bro, gue nggak bakalan pergi. Lebih baik gue di sini sambil nyari mangsa buat dilahap! Grauuu!” Aku membuat gaya mencengkram seperti trio macan versi ayan. Luk dan Bas tertawa kecil mendengar gurauanku.

“Iya, iya! Kalian berdua ini cerewetnya minta ampun ya!” Bas menggerutu sambil tersenyum.

Kami bertiga lalu larut dalam tawa. Aku juga tidak tahu kenapa kami tertawa. Memangnya ada yang lucu? Tidak ada! Tapi bagiku, momen inilah yang menurutku lucu. Dimana kami membicarakan hal-hal yang tak lazim. Hal-hal yang seharusnya tak dibicarakan oleh laki-laki normal. But, eits? Apakah kami bertiga normal? Well, kami gay. Dan… holly shit! Kami bangga akan hal itu. Soalnya kalau bukan karena hal itu, kami tidak akan pernah bertemu dan bersahabat seperti sekarang ini.

“Kalo lo Luk, ada hal menarik apa hari ini?” aku memelintir kepalaku ke arah Luk.

Dia meringis sedikit sebelum menjawab. “Nggak keren-keren amat kok. Kalo guekan udah sering banget ketemu sama bonyoknya Evan.” Luk menaikkan kedua kakinya ke atas kursi. “Yah, berita barunya sih, hari ini gue dan Evan beli rumah di Menteng. Kami udah setuju buat tinggal berdua sekarang, biar nggak ada gangguan lagi pas gue mau ngajak Evan nge-date.”

“Tinggal berdua? Udah kayak orang nikah aja!” cercaku dengan nada mengolok.

Luk menatapku dengan tatapan tajamnya. “Rencananya sih, kalo gue dapet bonus gaji dari kantor bulan Desember nanti. Pas perayaan tahun baru ntar, gue dan Evan mau pergi ke Norwegia. Yah, buat menyatukan apa yang harus disatukan.”

Bas dan aku langsung mengernyit bingung. “Maksud lo nikah gitu?”

Jawaban yang diberikan Luk hanya anggukan kepalanya. “Di Norwegia kan pasangan sesama jenis boleh nikah. Plus… ongkos ke sana murah. Jadi, Evan dan gue setuju buat nikah di sana.”

Salah satu sahabatku akan menikah. Belum tentu sih memang! Tapi tetap saja dia akan menikah. “Lo gila ya? Nikah? Ew!” aku merinding seketika membayangkan Luk dan Evan menggunakan tuksedo lalu berjalan ke depan seseorang yang akan menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang akan berlangsung selamanya di hidup mereka. Ugh! Aku tak bisa membayangkannya. Mengerikan! Sangat mengerikan!

“Nikah itu perlu Dev,” ujar Luk dengan gigi terkatup. “Nikah adalah di mana titik lo harus belajar lebih dewasa dan lebih menghargai pasangan yang lo punya. Lagipula gue nggak ngeliat apa gunanya hubungan gue sama Evan gini-gini terus. Gue cinta dia, dia cinta gue. So, buat apa gue harus ngeraguin dia? Karna gue yakin dia nggak akan pernah ngergauin gue. Kesimpulannya, kami berdua harus punya sertifikat dan buku nikah, di mana semua hal dan hidup baru kami akan dimulai pada saat itu juga. Peduli setan sama orang-orang yang ngelirik gue dan Evan sebelah mata, toh bukan mereka yang ngasih gue makan!”

Bas menepuk pelan pundak Luk. “Pas lo mau nikah sama Evan di Norwegia nanti, lo ngundang gue sama Dika kan? Terus lo juga kan yang beliin gue dan Dika tiketnya?”

Aku dan Bas tertawa kecil. Luk hanya memutar bola matanya dan melirikku dengan tatapan lembut. “Jadi… Dev similikiti, kapan lo bisa nemuin orang yang bakalan lo ajak nikah?”

“Egh!” aku menggerutu jengkel. “Males gila! Gue mau hidup bebas dulu deh sekarang. Nikah belum ada di daftar hidup gue. Ntar kalo ada daftar yang kehapus di hidup gue, baru deh gue selipin tuh nikah di sana.”

Wajah Luk dan Bas langsung berubah beringas. Mereka memang tidak terlalu senang dengan gaya hidupku yang begitu semerawut. Atau seperti istilah yang diberikan Bas untukku; pelacur laki-laki. Gosh! Saat Bas mengatakan dua kata itu, aku sangat marah. Bukan marah kepada Bas, tetapi lebih kepada diriku sendiri karena kata yang dilontarkan oleh Bas itu hampir mendekati kebenaran. Dan sekarang, aku makin merasa seperti itu. Karena baru saja memutuskan hubungan lagi dengan seseorang.

“Ok Dev. This is your life. Gunain sebagus mungkin, gue percaya lo pasti bisa lebih pinter daripada gue dan Bas,” Luk berdiri dari posisi duduknya lalu menghampiriku, menepuk pundakku pelan lalu tersenyum sayang sebagai saudara. Bas mendatangiku juga lalu sedikit menjambak rambutku, itu memang kebiasaannya untuk menunjukan rasa pedulinya padaku. Aku tersenyum lebar ke arah mereka, yang dibalas oleh Luk dan Bas dengan senyuman paling indah yang pernah kulihat di bibir mereka.

***

Ini nih susahnya kalau punya apartemen di lantai 50. Pasti akan memakan waktu selama dua menit untuk sampai ke sana dengan menggunakan lift ini. Kadang malah sampai tiga menit. Karena pasti akan berhenti di lantai-lantai lainnya dulu. Untuk menurunkan semua orang yang ada di dalam lift ini sesuai lantai tempat di mana apartemen mereka berada. Ditambah juga dengan bau tak sedap dari tubuh semua orang yang ada di lift yang kunaiki ini. Semua parfum dan keringat yang menempel di tubuh mereka menyeruak di udara yang ada di lift berukuran 4×4 meter ini. Makanya aku selalu malas untuk naik lift.

“Papa Jun sudah dua tahun di sana, kapan pulang?” aku berbisik pelan ke speaker i-Phone ku.

Desahan pelan terlontar dari hidung Papa Jun dari seberang sana. “Butik Mama Bellamu masih banyak masalahnya di sini Dev. Papa Jun juga nggak tau kapan bisa pulang ke Indonesia. Apalagi kerjaan Papa Jun disini juga numpuk. Kenapa? Kamu kangen?”

Kali ini aku yang mendesah. “Iyalah kangen. Kan udah dua tahun ini Dev nggak ngeliat kalian.” Aku menjilat bibirku yang kering sebelum melanjutkan, “Pas Dev ulang tahun besok, kalian dateng ke sini kan? Please, bilang iya!”

Papa Jun tertawa kecil di sana, mungkin karena baru sekarang mendengarku memohon seperti ini. “Papa Jun dan Mama Bella bakalan usahain. Kita juga kangen banget sama kamu. Apalagi Mama Bellamu, selalu kuatir sama kamu. Dev udah makan belum ya? Dev tidurnya teratur nggak ya? Itu-itu aja yang Mama Bellamu tanyain ke Papa.”

Rasa rinduku kepada Papa Jun dan Mama Bella kembali masuk ke dalam rongga hatiku. Sudah dua tahun ini aku tidak berjumpa dengan mereka. Aku benar-benar ingin sekali menyentuh wajah rupawan yang mereka punya. Sudahkah aku beritahu kalian siapa Papa Jun dan Mama Bella yang sebenarnya di hidupku. Well, mereka adalah orang tua angkatku dari lima tahun yang lalu. Sejak aku kehilangan kedua orang tua kandungku, merekalah yang mengurusiku. Papa Jun adalah sahabat Papa kandungku, dan Mama Bella adalah mantan kekasih Papa kandungku saat SMA dulu. Rumit bukan? Aku tahu. Tetapi hal yang harus kalian ketahui adalah, walaupun mereka mempunyai hubungan serumit itu, mereka tetap harmonis menjadi sahabat dan mantan kekasih.

Papa Jun dan Mama Bella tidak bisa punya anak. Papa Jun mandul. Mama Bella juga mandul. Mereka sudah pernah mau mengadopsi anak, tetapi ditolak oleh Insitut Pelayanan Adopsi Anak, karena mereka berdua tidak mempunyai pengalaman yang cukup baik untuk mengurus anak-anak. Namun, ternyata sebelum ajal menjemput Mama kandungku, dia menyuruh Mama Bella untuk mengurusiku. Dan… di sinilah aku sekarang! Anak angkat mereka berdua.

“Oh, iya Dev,” suara Papa Jun mengangetkanku. “Apartemen kosong yang ada di sebelah kamu sekarang sudah ada yang ngisi. Kamu sapa dia ya, sekalian bilang ada salam dari Papa Jun. Soalnya Papanya dia itu rekan bisnis Papa Jun. Oke, nak?”

“Oke, Pa.”

“Kalo gitu Papa pergi dulu. Papa masih banyak kerjaan. Kamu jaga kesehatan ya di sana!” saran Papaku lembut namun tegas.

“Sip pak tua,” gurauku dengan tawa pelan. Papa Jun ikut tertawa pelan bersamaku sebelum dia menutup telponnya.

Baru saja aku memasukan i-Phoneku ke dalam saku celanaku, tiba-tiba pintu lift yang terbuat dari besi itu terbuka lebar. Ternyata sudah sampai di lantai tempat apartemenku berada. Dengan langkah panjang aku meninggalkan lift yang kini baunya sudah bermacam-macam itu. Udara segar beraroma jeruk yang berada di lorong panjang menuju ke apartemenku langsung membuat otakku kembali jernih lagi. Kuhirup nafas panjang untuk mensterilkan rongga paru-paruku yang sempat terkontaminasi dengan bau tak sedap dari dalam lift tadi.

Ketika aku hampir sampai di pintu apartemenku, aku melirik sekilas ke pintu bernomor 1299. Pintu tetangga baruku. Aku menghentikan langkahku lalu menatap pintu itu lekat-lekat. Keningku langsung berkerut ketika tak mendapati suara berisik dari dalam apartemen itu. Kalau misalnya dia baru pindah ke apartemen itu, pasti sih ada suara dia merapikan barang-barangnya. Atau emang dia sudah membereskannya daritadi dan sekarang lagi istirahat.

Atau saja dia pingsan di dalam sana? Pikiran melanturku mulai berkembang di dasar otakku.

Sudahlah Dev! Mungkin aja orang itu lagi tidur, nggak usah diganggu! Mendingan sekarang kamu masuk ke apartemenmu, cuci muka terus tidur! Besok kamu masih banyak pemotretan untuk majalah. Istirahat itu penting untuk kesehatanmu!

Namun baru saja aku melangkahkan kakiku selangkah, aku sudah mendusta pada dirku sendiri. Karena tiba-tiba aku sudah berada di depan pintu apartemen tetangga baruku itu. Dengan hati-hati kutempelkan telingaku ke daun pintu yang terbuat dari mahogany tersebut, untuk mengecek apakah ada suara-suara kehidupan di dalamnya. Tetapi baru saja aku ingin menajamkan telingaku, tiba-tiba pintu mahogany itu sudah terayun terbuka dengan gerakan kurang ajar, sampai-sampai kepala dan telingaku kehilangan sandaran, membuat badanku terjatuh ke depan dan tersungkur sambil mencium kaki tetangga baruku itu. Yikes!

Dengan gelagapan aku bangun dari sungkuranku, namun ternyata itu tindakan gegabah. Lututku yang aku yakini lecet membuat cara berdiriku seperti orang mabuk. Ketika aku hampir terjatuh lagi, tiba-tiba tangan tetangga baruku itu memegangku. Menjaga agar aku tetap seimbang dan tak terjatuh lagi. Aku mendesah syok saat merasakan sentuhan tangan dari tetangga baruku itu. Sentuhan hangat itu seperti pernah kukenal sebelumnya.

“Lo nggak apa-apa?” Suaranya yang khwatir juga seperti pernah kukenal.

Kudongakan kepalaku dan menatap langsung ke wajahnya. Pertama aku tak melihat apa-apa, kecuali garis hidungnya yang agak mancung itu. Lalu ketika aku mengedipkan mataku berkali-kali, barulah aku bisa melihat jelas wajah tetangga baruku itu. Wajahnya oval dan sangat panjang. dagunya terbelah. Matanya lebar, seakan-akan matanya itu bisa melihat kejadian yang manusia lainnya tak bisa lihat. Bentuk bibirnya yang penuh agak sedikit berkedut saat matanya menatap pipi kiriku yang sekarang mulai terasa sedikit agak nyut-nyutan. Lalu, ketika mataku turun ke arah tangannya, disanalah aku baru mengenali siapa tetangga baruku itu. Ya! Aku tahu siapa dia.

“Nino?” ucapku agak serak. Mataku masih menatap tangannya yang dipenuhi dengan urat-urat menawan. Aku tak akan pernah lupa bentuk tangan itu.

Saat mata kami bertemu, dia menghias bibirnya menjadi sebuah senyuman. “Devin?” ucapnya dengan hati-hati. “Apa kabar?”

Kerongkonganku seakan-akan tersumbat biji kedondong saat ini. Nafasku tercekat dengan sempurna. Tuhan! Cinta keduaku sedang ada di depan mataku saat ini. Ya! Dia adalah cinta keduaku. Aku mencintainya sejak dari lima tahun yang lalu. Dan juga sampai sekarang. Dialah orang yang menyebabkan aku tidak bisa mencintai orang lain. Nino.

“Lo berubah banget,” kataku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. “Lo dulu gendut, item, jelek, pesek, bantet, nggak banget deh pokoknya.” Itu memang benar. Nino yang kukenal lima tahun yang lalu itu memang seperti yang kusebutkan tadi. Sekarang dia benar-benar berubah drastis. “Akhirnya ulat jadi kupu-kupu juga ya,” kataku sembari tersenyum lebar, yang dia balas dengan senyuman khasnya. Senyuman sendu membahagiakan.

Mata Nino yang lebar menyipit sedikit seraya menatapku. “Kalo lo tetep kayak kupu-kupu ya Dev,” ujarnya ceria. “Masih ganteng kayak terakhir kali kita ketemu.”

Aku tersipu malu. Anjrit! Dia memang benar-benar bisa membuatku tersipu seperti ini. Kutundukan kepalaku sedikit, tetapi ini malah tindakan gegabah juga. Karena sekarang mataku malah menatap tangannya yang berurat itu. Tangannya itulah yang membuatku jatuh cinta padanya. Ya, ya, ya. Aku tahu itu konyol. Tetapi itu memang benar. Tangannya Nino itu seperti payung buatku. Yang bisa melindungiku. Yang akan memelukku saat aku perlu. Yang akan memegang tanganku ketika aku sudah tak bisa berdiri lagi dengan kedua kakiku.

Dan… saat tangan Nino menyentuh wajahku, kenangan lima tahun yang lalu kembali terbuka di otakku.

***

157.766.400 Seconds Ago (Lima Tahun Yang Lalu)

Awal semester dua akhirnya datang juga. Kelas XI-3, atau kelasku akan mengadakan tur ke Gunung Tangkuban Perahu hari ini. Cuaca kota Bandung juga sangat mendukung pagi ini. Kurapatkan jaketku lalu menarik tas ranselku ke punggung. Bus besar yang disewa oleh sekolah juga sudah berhenti di depanku. Suara bising dari mulut-mulut bau teman-teman kelasku benar-benar mengganggu lagu yang sedang kudengarkan melaluai earphoneku.

Tepukan kasar melayang cepat di pundakku. Aku terlonjak kaget, sehingga earphone yang kukenakan terlepas dari telingaku. “Lo bawa bekal apaan?” tanya Okky dengan gigi bergemeletuk. Cuaca pagi ini memang cerah, tetapi sayangnya sangat dingin. Embun yang seharusnya sudah menghilang beberapa jam yang lalu, ternyata masih menyelimuti kota Bandung.

Orang yang baru saja bertanya padaku tadi adalah sahabatku. Dia orangnya benar-benar cupu. Rambutnya dibelah tengah. Kacamatanya sangat besar dan bulat sempurna. Dia selalu memasukan bajunya ke dalam celananya. Cara jalannya juga seperti Jojon. Tetapi walaupun dia seburuk dan secupu itu penampilannya, dia adalah sahabatku. Orang yang paling mengerti diriku. Mengerti tentang betapa cepatnya aku marah-marah dan sewotan. Dia yang selalu membantuku saat aku tak bisa melakukan hal yang memang berada di luar kemampuan otak oonku. Selain itu, aku mencintainya. Dia cinta pertamaku. Sekuper apapun dia, dialah cinta pertamaku. Rasa cintaku untuknya datang secara tiba-tiba. Aku saja tidak tahu kapan aku bisa merasakan hal itu padanya. Cinta itu… datang begitu saja.

“Devin?” panggilnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. “Lo masih hidup kan?”

Kukerjapkan mataku beberapa kali sebelum membalas tatapannya. “Gue nggak bawa bekal. Toh kita cuman dua jam aja kan di sana?” Kurapatkan lagi jaketku ketika rasa dingin mulai memasuki tiap jengkal tubuhku. “Lagian kalo misalnya gue laper, kan banyak orang jualan di sana. Tinggal beli aja.”

Okky membetulkan tata letak kacamatanya sebelum dia menanggapi ucapanku barusan. “Nggak perlu itu Dev. Gue bawa bekal dobel kok. Satu buat lo, satu buat gue.” Dia merogoh isi tas ranselnya, lalu tak sampai lima detik dia sudah menyodorkan sebuah kotak nasi berbahan plastik ke depan wajahku. Wangi ayam goreng sambal buatan Mamanya tercium tajam ke hidungku. Perutku yang memang belum di isi sarapan langsung bunyi dengan tak tahu malu.

“Gue jadi laper nih,” kataku sambil menatap serius kotak nasi yang ada di depan wajahku ini. “Tetapi ntar aja deh makannya. Soalnya kita udah mau berangkat.” Kuambil kotak nasi itu lalu memasukannya ke dalam tas ranselku.

Wali kelasku mengabsen kami dulu sebelum kami berangkat. Satu persatu teman kelasku memasuki bus biru besar yang akan membawa kami ke Gunung Tangkuban Perahu itu. Karena aku dan Okky berada di barisan paling belakang, jadinya aku dan Okky lah yang terakhir kali memasuki bus. Semua kursi sudah diduduki. Hanya tinggal kursi paling belakang saja yang tersedia. Mau tak mau aku harus duduk di sana dengan Okky. Padahal rencananya aku mau duduk di tengah-tengah, agar bisa bercengkrama sedikit dengan teman-teman kelasku ini. Tetapi Tuhan tidak mengizinkanku untuk sementara ini. Benar-benar menyedihkan!

Saat aku sudah duduk dengan manis di kursi paling belakang ini, barulah aku sadar dengan baju yang dikenakan oleh Okky. Jaket yang dia gunakan berwarna putih. Celana jeansnya juga berwarna putih. Aku makin kaget saat mendapati baju kausnya juga berwarna putih. Okky tidak pernah menggunakan pakaian serba putih dari sejak aku mengenalnya. Dia bilang warna putih tidak cocok untuknya. Tetapi kenapa sekarang dia menggunakannya?

“Kok semua pakaian lo warnanya putih Ky?” aku menunjuk jaket dan celananya saat dia sudah duduk di sebelahku.

Okky menundukan kepalanya sedikit lalu memperhatikan pakaian yang ia kenakan. “Iya, ya. Gue kok nggak sadar ya pakek pakaian putih semua gini?” Okky menggaruk kepalanya pelan. Matanya yang berada di balik kacamata itu menatapku dengan tatapan lembut. “Bagus nggak menurut lo?”

Kupasang wajah pura-pura menilai. “Lumayanlah.” Padahal sesungguhnya dia benar-benar keren dengan pakaian apa saja. Namun aku tak berani mengucapkannya. Takut kalau nanti Okky malah berpikir yang macam-macam.

Dia lalu memasang senyum khasnya. Senyuman ala anak cupu yang benar-benar menggelikan dan sangat menawan. Saat aku sudah membalas senyumannya, dia membalikkan kepalanya dan menyandarkannya di pinggiran kursi. Ia mencoba untuk tidur. Ketika matanya tertutup, wajahnya benar-benar tentram dan damai. Lalu aku seakan-akan melihat ada cahaya terang yang menghiasi wajahnya saat ini. Aku benar-benar takjub dengan apa yang ada di depan mataku sekarang.

Tanganku tergelitik untuk memegang wajahnya yang bercahaya tersebut, maka daripada itu aku memajukan tanganku untuk memegangnya. Baru saja aku ingin menyentuh kulit pipinya, tiba-tiba bunyi decitan suara rem bus ini terdengar jelas ke telingaku. Okky langsung membuka matanya dan langsung menatapku dengan penuh tanda tanya. Lalu hal yang terjadi selanjutnya, terjadi sangat cepat. Bus ini berputar-putar sampai beberapa kali. Sampai aku harus berpegangan dengan erat pada besi yang ada di jendelanya, agar tidak terpelanting dari tempat dudukku sekarang. Suara jeritan teman-temanku juga menambah kecekaman yang ada di dalam bus ini. Kupejamkan mataku erat-erat, berharap ini hanya mimpi.

Lalu bus ini berhenti berputar. Suara jeritan juga sudah redam. Apakah tadi memang cuma mimpi? Tanyaku dalam hati. Untuk memastikannya, kubuka mataku dengan perlahan. Berharap kalau tadi itu memang mimpi buruk. Hanya saja, saat mataku sudah terbuka dengan lebar, yang tadi itu memang bukan mimpi buruk, tetapi memang kenyataan. Yang ada di hadapanku saat ini adalah wajah tegang dari teman-teman kelasku. Kami saling berpandangan dengan takut-takut. Suara decitan besi dengan besi mencicit di bawah kakiku. Kutolehkan kepalaku pelan-pelan ke jendela belakang. Jantungku hampir saja berhenti saat aku mengetahui kalau bus yang kunaiki ini sedikit lagi akan jatuh ke jurang yang ada di belakangku. Bunyi decitan kembali terdengar.

“Ayo, semuanya! Turun pelan-pelan!” perintah wali kelasku, Pak Anto. “Satu-satu, dari yang paling depan!” suara cemas Pak Anto bisa kurasakan dari sini.

Suara gesekan sepatu teman-temanku terdengar saat mereka mulai meninggalkan bus ini. Kedua cewek yang duduk di kursi yang ada di depanku akhirnya mulai berjalan menuju ke pintu keluar yang ada di depan bus. Setelah kedipan ke sepuluh kali, barulah kedua cewek itu menghilang dari pandanganku. Mereka sudah keluar dengan selamat.

“Devin! Okky! Giliran kalian lagi,” seru Pak Anto keras.

Reflek tanganku langsung menyentuh tangan Okky. Kugenggam tangannya dengan erat. Lalu kutolehkan kepalaku ke arahnya secara perlahan. Saat mata kami bertemu pandang, dia tersenyum menenangkan ke arahku. “Kita berdiri pelan-pelan,” ucapnya mendayu.

Aku mengangguk sebagai tanggapan. Tangan Okky yang hangat ikut menggenggam tanganku. Kami berdua sama-sama berdiri secara perlahan. Mencoba agar bus ini masih seimbang dan tak akan terjatuh ke jurang yang ada di belakang kami. Baru satu pertiga kami berdua berdiri, suara decitan logam kembali terdengar. Kali ini lebih mengerikan dari yang sebelumnya. Tiba-tiba aku lupa bagaimana caranya bernafas.

“Nggak apa-apa Dev,” tutur Okky menenengakanku. “Sekarang kita langkahin kaki kita pelan-pelan. Lo duluan yang jalan!”

Jantungku berdegup sangat kencang. Semua darah yang ada di seluruh badanku seakan-akan tersumbat di jantungku. Nafasku berubah menjadi tak beraturan saking gugupnya. Saat aku melangkahkan kakiku, rasanya sangat berat. Seperti ada batu yang menimpa kakiku saat ini. Ketika Okky mengelus pundakku, barulah batu itu terangkat dari kakiku. Dengan gerakan super hati-hati, aku melangkahkan kakiku. Okky ikut berjalan pelan di belakangku. Suara decitan sepatunya dan decitan logam dari bus ini sama-sama suram bunyinya.

Tatkala kami berdua sudah hampir sampai di depan pintu keluar bus itu, barulah aku bisa melihat semua wajah cemas dari teman-teman kelasku dan Pak Anto. Empat langkah lagi aku dan Okky akan sampai di pintu keluar bus itu. Lalu kami berdua akan selamat. Namun harapan itu sepertinya terkikis sedikit demi sedikit. Ketika aku dan Okky melangkahkan kaki kami selangkah lagi, bus ini tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Suara jeritan teman-teman kelasku lah yang hanya bisa kudengar.

Kuputar kepalaku cepat untuk melihat wajah Okky. Dan pada saat mata kami bertemu, dia tersenyum menenangkan ke arahku sekali lagi. Sebelum dia mendorongku dengan kekuatan penuh agar aku bisa keluar dari bus ini. Aku belum tersadar dengan apa yang terjadi saat aku tersungkur ke tanah kering yang berada di bawah punggungku. Namun saat bus itu terperosok ke dalam jurang, barulah aku sadar kalau Okky baru saja menyelamatkanku. Tetapi dia malah mengorbankan dirinya sendiri untukku. Ketika semua jeritan perih dari teman-temanku terdengar di telingaku, barulah aku tahu kalau akulah yang membunuh Okky. Karena aku tak menariknya bersamaku saat aku di dorong olehnya. Ya! Akulah yang membunuh Okky. Aku seorang pembunuh. Seorang pembunuh yang membunuh cinta pertamanya sendiri.

7.776.000 Seconds

Hari ini adalah hari peringatan 90 hari meninggalnya Okky. Tetapi aku malah menghabiskan hari ini dengan berada di kantin sekolah. Lagipula aku tak melihat gunanya memperingati hari kematian sahabat serta orang yang kucintai. Jika aku memperingatinya, akankah Okky hidup kembali? Akankah dia datang lagi ke kehidupanku? Tidak! Jadi lebih baik aku tak memperingatinya sama sekali. Terlalu menyakitkan bagiku jika mengingat tentang kejadian yang terjadi tiga bulan lalu.

Penyebab kecelakaan yang menimpa kami tiga bulan lalu itu karena sebuah mobil Avanza hitam yang tiba-tiba merebut jalur bus kami. Sehingga si supir kehilangan kendali dan… yah terjadilah insiden itu. Ban belakang bus itu ternyata terselip di ujung jembatan tinggi tersebut. Membuat bus itu akhirnya terjatuh ke jurang dan menewaskan satu orang. Satu orang yang seharusnya bisa kuselamatkan, tetapi aku malah menontonnya saat dia terjatuh dan tewas.

Ketika mayat Okky diketemukan, dia duduk persis di tempat duduknya. Tangan kanannya patah dan kepalanya membentur benda keras yang menyebabkan dia meninggal seketika. Saat aku pertama kali melihat mayatnya, aku tak bisa mengenalinya karena Okky yang berbaring di depan mataku saat itu sangatlah berbeda. Rambutnya berubah bentuk menjadi lebih keren. Tak ada kacamata lagi yang menempel di hidung lancipnya. Lalu yang paling membuatku tak bisa mengenalinya adalah… senyuman damainya yang tersirat di bibirnya yang merah ranum itu.

Pada saat hari pemakaman Okky, aku diberikan tempat paling depan agar bisa melihat dengan jelas jasad Okky untuk terakhir kalinya, karena mereka tahu akulah sahabat dekat Okky. Hanya saja, aku tidak merasa begitu senang mendapatkan tempat paling depan untuk melihat jasad Okky dikuburkan. Mama Okky memelukku saat jasad anaknya dimasukan ke dalam liang lahat. Dia menangis sejadi-jadinya di pundakku. Dan saat aku ingin membalas tangisannya, air mataku malah tidak bisa keluar. Aku tidak bisa menangis. Yang bisa kulakukan hanya terisak. Tetapi tidak ada air mata yang keluar di pelupuk mataku.

Dan sampai sekarang aku masih juga bisa belum menangis untuk Okky.

“Lo kok di sini?” tanya suara berat itu di sebelah kananku. Aku menolehkan kepalaku dan melihat salah satu kakak kelasku sedang tersenyum miring ke arahku. Badannya yang gendut agak terjepit sedikit di antara meja kantin ini. Wajahnya yang bulat dan matanya yang lebar mengingatkanku dengan tokoh Giant di komik Doraemon.

“Karena gue nggak di sana!” ujarku malas. Menyeruput kembali es tehku.

Kakak kelas yang tidak kuketahui namanya itu mendesah kecil. “Wihh… galak amat!” tuturnya sambil tertawa. “Yaudah deh kalo nggak mau diganggu. Gue cuman mau ngasih ini doang.” Dia menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang berwarna warna-warni ke kehadapanku.

“Apaan nih?” tanyaku dengan kedua alis bertaut bingung. “Dari siapa?”

“Udah buka aja!” katanya cepat.

Kali ini aku yang mendesah kecil. Kuulurkan tanganku dan mengambil kotak itu. Dengan cermat aku membuka kotak itu, tetapi ternyata kotaknya sangat sulit untuk dibuka. Kutolehkan kepalaku ke arah kakak kelasku itu dan mengernyit, supaya dia menjelaskan apa maksudnya dengan memberikanku kotak ini. Namun dia hanya diam saja dan terus tersenyum lebar ke arahku. Lalu aku mulai kembali berkutat dengan kotak biadab itu. Kemudian, saat grendel kotak itu kutarik sampai terbuka, tiba-tiba keluarlah kepala ular dari dalamnya dan membuatku kaget setengah mati, sampai-sampai aku berteriak seperti anak perempuan. Namun aku yakin anak perempuan tidak akan seberisik teriakanku. Kudorong kotak itu menjauh dan menatap tajam ke arah kakak kelasku yang saat ini sedang tertawa terpingkal-pingkal di sebelahku.

Semula aku ingin marah kepadanya, karena sudah berani-beraninya mengerjaiku. Namun niatku urung saat melihat perut gendutnya yang dipenuhi lemak itu bergoyang-goyang seraya dia tertawa. Perutnya dia mirip sekali seperti Nutrijell yang baru matang. Benar-benar kenyal dan empuk. Tiba-tiba membuat bibirku menekuk menjadi sebuah senyuman. Lalu senyumanku tergantikan dengan tawa saat kakak kelasku itu terjungkal jatuh ke belakang karena tertawa terlalu berlebihan.

Dia memberhentikan tawanya dan menggosok punggung lebarnya yang besar itu. Hidungnya yang pesek agak mendengus saat dia merasakan ada tulangnya yang bergeser. Dia menatap ke arahku dengan tatapan sewot, namun saat dia melihatku masih tertawa dengan lepas, dia tiba-tiba ikut tertawa denganku.

Sudah tiga bulan ini aku tidak pernah tertawa lepas seperti ini. Sekarang aku bisa menggerakan rahangku lagi untuk tertawa. Dan ini disebabkan orang yang sudah sok-sokan mengerjaiku. Aku menolehkan kepalaku ke arah kakak kelasku dan menunjuknya dengan gaya hiperbolis. Mata kami bertemu beberapa saat sebelum dia tiba-tiba mengulurkan tangannya padaku. Ia mengulurkan tangannya yang besar namun berotot itu. Urat-urat yang ada di tangannya itulah yang membuatku tercengang. Seakan-akan ada sesuatu di tangannya itu yang akan melindungiku.

“Gue Nino,” dia mengenalkan dirinya kepadaku. Matanya yang lebar dan hitam itu menatapku dengan tatapan sendu membahagiakan.

Kusambut uluran tangan itu dengan sebuah senyuman yang menghiasi bibirku. “Gue Devin,” dan pada saat tangan kami bersatu, tiba-tiba seperti ada aliran listrik yang mengalir kencang dari tangannya ke tanganku. Lalu aliran listrik itu masuk ke dalam hatiku dan menghangatkannya, yang langsung membuatku mencandu tentang dirinya.

2.592.000 Seconds

Sudah satu bulan aku berteman dengan kakak kelas konyol itu. Nino. Dia selalu bisa membuatku tertawa dan gembira. Sosok Okky yang hilang kini digantikan oleh dirinya. Bersahabat dengan Nino membuatku tahu betapa pentingnya tersenyum ketika hatimu terluka. Betapa pentingnya kebahagian untuk diri sendiri. Dan betapa pentingnya untuk bangun dari keterpurukan dan tersenyum ke dunia. Lalu mengatakan kepada hari ini, besok ataupun lusa bahwa aku baik-baik saja sekarang.

Tidak tahu kenapa, aku merasa ada sesuatu yang tumbuh di hatiku tentang Nino. Hanya karena tangannya lah aku bisa mencandu tentang dirinya. Ketika aku begitu muram dan sulit untuk berdiri sendiri dengan kedua kakiku, tangan Nino yang besar dan berotot itu akan memegangku lalu membantuku berdiri. Ketika aku sedih dan yakin bahwa dunia begitu kejam untukku, Nino akan melingkarkan tangannya ke pinggangku, yang langsung membuatku tahu kalau aku tidak pernah sendiri lagi di dunia ini.

Dan pada saat tangannya mengelus garis rahangku, aku tahu aku jatuh cinta dengannya. Sesimpel itu. Ya! Sangat simpel. Dialah orang yang kini menjadi cinta keduaku.

Hanya dalam waktu sesingkat itu aku mencintainya. Mencintai seseorang yang tidaklah sempurna di mata orang lain. Tetapi menurut mataku dia sangatlah sempurna, terlepas dari apa yang ada di dirinya. Aku tidak peduli dia gendut. Aku tidak peduli dia jelek. Aku tidak peduli dia hitam. Aku tidak peduli dia bantet. Aku tidak peduli dia pesek. Tetapi yang aku pedulikan adalah hatinya, di mana dia akan selalu menjagaku di saat aku memang sangat membutuhkannya. Lagipula, saat dia menyentuhku dengan tangannya yang besar dan berotot itu, aku langsung yakin dialah orang yang paling sempurna untuk menemaniku. Untuk mengisi relung hatiku.

Tetapi aku tidak tahu apakah dia menyukaiku juga apa tidak. Namun semua perhatian yang dia berikan untukku seakan-akan itu adalah tanda bahwa dia menyukaiku. Bahkan mungkin dia juga mencintaiku seperti aku mencintainya. Dan… aku seharusnya mengecek kebenaran itu. Karena apabila aku menunda-nunda lagi, aku tidak akan pernah tahu apa isi hatinya. Terserahlah dengan apa yang akan dia katakan nanti. Aku tidak begitu peduli lagi sekarang. Toh dia juga sebentar lagi akan lulus sekolah. Plus aku akan pindah ke Jakarta hari ini. Papaku dipindah tugaskan kerja ke Kapolsek yang ada di sana. Meskipun aku tidak rela untuk pindah darisini, tetapi aku tidak bisa melawan kedua orang tuaku.

Rintikan hujan membasahi rumput yang kupijak. Aliran air mengalir lembut di ujung rambutku lalu jatuh ke pipiku. Sudah setengah jam aku menunggu Nino di bawah pohon yang ada di depan rumahnya ini. Dia bilang dia mau mengurusi sesuatu dulu, baru dia akan menghampiriku. Tetapi ini sudah setengah jam berlangsung dan dia belum datang juga. Perasaan was-was menyergap hatiku. Mungkin saja dia sedang sibuk! Seruku dalam hati, agar hatiku bisa tenang sedikit.

Tetapi ketika lima belas menit kemudian dia belum datang juga, aku sudah menyerah untuk menunggu. Baru saja aku membalikan badanku, suara orang yang kucintai itu memanggilku. Ketika aku berbalik dia agak ngos-ngosan karena baru saja berlari.

“Sori ya nunggu lama,” ujarnya masih mencoba mengatur nafasnya. “Tadi lagi banyak kerjaan di rumah.” Nino tersenyum simpul kepadaku saat nafasnya sudah kembali teratur. “Lo mau ngomong apa memang?” tanyanya, alisnya yang lebat itu terpaut menjadi satu garis penuh yang panjang.

Kulipat kedua tanganku ke depan dada. Memegang ritme jantungku yang mulai beredegup kencang. Apakah aku harus mengatakannya? Aku bertanya pelan ke hatiku untuk memastikan. Ya! Katakan sekarang juga! Atau lo bakalan nyesel seumur hidup! Jawab hatiku dengan nada menggertak.

Aku menghembuskan nafas panjang sebelum membuka suaraku.

“Gue nggak tau kenapa gue harus ngomong kayak gini sekarang sama lo,” aku tahu aku berbelit-belit. Tetapi itu karena aku begitu gugup sekarang. “Gue nggak tau pemikiran dari mana gue harus ngomong tentang ini sama lo,” ayolah Dev! Langsung ngomong aja! “Tapi gue udah memutuskan buat ngakuin ini sama lo,” aku mencari mata Nino beberapa saat, dia menyipit bingung. “Gue nggak pernah nganggep lo sahabat gue,” Nino tersentak kaget saat mendengarku berkata begitu. Aduh! Salah ngomongkan. “Maksud gue, gue selalu kepikiran tentang lo. Tentang betapa baiknya lo. Tentang lo yang udah bisa buat gue tersenyum dan ketawa lagi.” Kini mata Nino sudah tidak menyipit, melainkan menatapku dengan intens. “Intinya… gue, hmmm… gue—gue—gue cint—cinta sama lo!” lirihku pelan. Dan plong! Benar-benar lega rasanya saat kata-kata itu keluar juga dari mulutku.

Mata Nino yang lebar terbelalak kaget. Dia tersentak mundur selangkah. Mulutnya juga ternganga lebar. Raut wajahnya benar-benar terkejut dengan pengakuanku. Kutatap terus raut wajahnya dengan perasaan getir. Lalu mulutnya komat-kamit dan menatapku dengan tatapan janggal. Jika dia menolak cintaku, aku pasti akan benar-benar hancur. Duniaku pasti akan kembali hancur. Tuhan, semoga dia menjawab iya! Ayo jawab bahwa kau juga mencintaiku.

Dan pada saat Nino membuka kembali mulutnya, tidak ada suara sama sekali yang keluar. Lalu yang terjadi selanjutnya sangat menyedihkan. Dia berbalik cepat dan meninggalkanku sendirian di bawah pohon ini. Punggungnya yang lebar semakin menjauh dari tatapan mataku. Kini aku sadar, lebih baik mendapatkan jawaban tidak daripada tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Sekarang duniaku makin hancur. Berantakan. Tidak akan pernah bisa menjadi indah lagi seperti sedia kala.

Mataku menyipit kecil. Kulangkahkan kakiku cepat meninggalkan semua rasa cintaku di belakang. Dan pada saat rasa sakit itu mulai menjalari hatiku, rasanya benar-benar sesak. Namun, meskipun begitu, aku juga tidak bisa menangis untuk Nino. Seperti saat aku tidak bisa menangis untuk Okky.

12.960.000 Seconds

Lima bulan beradaptasi dengan nyeri di hati, mengajarkanku untuk tetap bisa berdiri sendiri dengan kedua kakiku. Awalnya aku terhuyung-huyung, tetapi kini aku sudah bisa tegar dan menerima kenyataan kalau hidup memang tidak akan pernah bisa semulus keinginanku. Lalu aku berpikir, buat apa juga aku terpuruk terus. Tidak akan bisa mengembalikan apa yang sudah terjadi menjadi hal yang lebih baik juga kan? Makanya mulai sekarang aku akan menjadi pribadi yang menyenangkan. Membuat orang lain tertawa dan tersenyum gembira karena ada aku di sisi mereka. Aku lelah menjadi orang yang selalu ingin didampingi. Sekaranglah giliranku untuk mendampingi orang lain.

Di SMA Jakarta ini, aku mempunyai banyak teman dan bisa mendapatkan pacar cowok hanya dengan sekali kedipan mata. Semua teman kelasku, saat pertama kali aku pindah ke sini mengatakan kalau aku begitu tampan. Aku tahu hal itu sebenarnya. Semua teman kelasku yang di Bandung juga mengatakan hal itu. Makanya mereka bingung kenapa dulu aku mau bersahabat dengan Okky yang cupunya minta ampun. Ditambah dengan Nino yang sebesar gentong. Mereka mengatakan padaku, seharusnya aku mempunyai sahabat yang bisa mengimbangi wajah tampanku agar karisma yang aku punya tidak akan pernah hilang.

Tetapi tidak! Aku menyukai kedua sahabatku itu. Bahkan aku mencintai mereka. Walaupun salah satu di antara mereka sudah ada yang pernah menyakiti hatiku. Tapi tidak apa-apa, dia akan tetap menjadi sahabatku. Aku akan tetap menganggapnya sahabatku.

2.592.000 Seconds

Inilah kebiasaanku, Mamaku dan Papaku setiap malam. Sehabis dinner kami pasti akan nongkrong di depan TV. Duduk bertiga di sofa beludru yang dibeli oleh Papaku sebagai kado ulang tahun untuk Mamaku. Acara TV show yang kami tonton malam ini agak berbeda. Yaitu siaran CNN yang memberitakan tentang dilegalkannya pernikahan sesama jenis di Belanda. Mama dan Papaku menonton acara itu dengan agak sedikit serius, aku tidak tahu mereka suka dengan berita seperti itu.

“Lihat deh itu Pa!” tunjuk Mamaku ke TV. “Dua-duanya sama-sama ganteng banget ya. Serasi sekali mereka jadi pasangan.”

Aku memindahkan pandangan mataku ke TV. Di sana ada dua laki-laki menggunakan tuksedo hitam dan berdasi kupu-kupu yang sedang berdiri di depan seseorang yang akan menyatukan mereka. Seperti kata Mamaku, kedua orang itu memang tampan. Apalagi yang berdiri di sebelah kiri, yang ada kumisnya. Dia terlihat sangat seksi.

“Kok kalian suka sih nonton acara yang kayak beginian?” tanyaku pura-pura lugu.

Papaku menatapku dengan sebuah senyuman di bibirnya. “Karena semua manusia di dunia ini pantes dapet hal yang terbaik di hidup mereka. Kita nggak bisa menghakimi mereka dengan apa yang jadi kekurangan mereka. Tetapi kita harus dukung kekurangan mereka sehingga kekurangan itu menjadi suatu kelebihan.” Kata-kata bijak ala orang tua berkumandang.

“Kalo misalnya Dev yang ada di posisi manusia dengan kekurangan seperti itu gimana, Ma, Pa?” tanyaku secepat kilat.

“Maksudnya Dev?” tanya Mamaku sembari mengibaskan poni yang ada di keningnya.

“Iya. Gimana misalnya kalo Dev homo?” tanyaku dengan nada pelan. “Karna Dev memang orang dengan kekurangan itu Ma, Pa.”

Mama dan Papaku saling berpandangan untuk beberapa saat. “Kita tau kok kalo Dev homo,” ujar Papaku lembut. Aku terperanjat kaget dengan apa yang barusan Papaku lontarkan. “Dua hari yang lalu Papa minjem laptopnya Dev. Terus Papa nggak sengaja nemu video homo sama foto-foto Dev lagi mesra-mesraan sama cowok.”

Nafasku benar-benar tersekat sekarang ini. Mati aku! Pasti mereka akan marah sekali padaku. Kutundukan kepalaku dalam-dalam dan menutup mataku seerat mungkin. Aku takut mereka marah karena aku menyimpan hal-hal tidak baik seperti yang Papaku bilang tadi. “Maafin Dev, Ma, Pa” lirihku masih dengan kepala tertunduk.

“Sayang,” ucap Mamaku lembayung, dia menggeser duduknya ke dekatku. Lalu dia menarikku ke dalam pelukannya. “Nggak apa-apa sayang. Awalnya Mama sama Papa memang kaget banget pas ngeliat apa yang ada di laptop kamu. Dan juga pas tau ternyata anak kami satu-satunya ini berbeda dari yang lain. Tapi Mama dan Papa sadar, kamu nggak berbeda dari yang lain, tapi kamu spesial dari semua orang yang ada di dunia ini.”

Mataku terbuka dengan sentakan cepat. “Maksud Mama apa?” tanyaku sambil mencoba memasang telinga dengan baik kali ini.

“Mama sama Papa bener-bener kaget pas tau kalo kamu cenderung lebih suka ke cowok daripada ke cewek,” Mamaku bertutur pelan, seperti bernyanyi. “Mama sama Papa dua hari yang lalu berantem gara-gara masih nggak terima kalo orientasi seksual anak kami satu-satunya ini ternyata melenceng. Tapi Mama dan Papa sadar kalo ini pasti sulit juga buat Dev untuk menerima kenyataan kalo diri Dev itu agak… menyimpang.” Mamaku mempererat pelukannya. Papaku yang semula duduk sepuluh jengkal dariku pun ikut bergabung memelukku.

“Mama dan Papa mungkin nggak bakalan ngerti tentang hubungan sesama jenis. Mama dan Papa mungkin juga nggak suka dengan apa yang terjadi dengan Dev. Tapi walaupun kayak gitu nak, Dev tetep anak kami. Anak Mama dan Papa. Dan yang Dev harus tau, kita cinta sama Dev dengan apa dirinya Dev sekarang dan besok, ataupun besoknya lagi dan lagi dan lagi.”

Mama dan Papaku memeluk begitu erat sampai-sampai aku tidak bisa berkutik. Pikiranku masih dipenuhi hal yang sangat sulit untuk dipercayai ini. Apakah mereka menerimaku dengan apa yang terjadi denganku? “Jadi… kalian mau nerima Dev apa adanya?”

Papaku mengelus pelan pundakku. “Kalo dibilang mau apa nggak, kita mungkin nggak punya pilihan untuk mikirin pertanyaan itu nak. Yang Papa dan Mama tau, kita harus nerima kamu apa adanya. Karna kalo kita nggak nerima kamu apa adanya, mungkin Papa dan Mama akan merasa benci, marah, jijik dan menjaga jarak dari kamu, yang malah bakalan buat kamu makin terpuruk. Dan yang pasti juga bakalan nyebabin Papa dan Mama menyesal karna sudah menelantarkan anak kami satu-satunya.”

Aku meremas kencang celanaku. “Maafin Dev, Ma, Pa. karna udah jadi anak yang kayak begini.”

“Sayang…,” tutur Mamaku, “ini semua sudah kehendak Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa pasrah menjalani dan mengambil hikmahnya saja. Mama dan Papa nggak mungkin bisa ngerubah kehendak Tuhan yang udah menggariskan takdir Dev menjadi seperti sekarang ini.” Kudongakkan kepalaku ke arah wajah merona Mamaku. Dia tersenyum lembut kepadaku. “Kalo Dev seneng dengan apa yang ada di diri Dev, kita sebagai orang tua juga bakalan ikut seneng untuk Dev.”

Rasa-rasanya ingin sekali aku menangis. Tetapi tak ada satu air matapun yang jatuh dari pelupuk mataku. Jadi yang kulakukan adalah langsung terjun bebas ke dalam pelukan mereka sambil mengucapkan rasa terima kasihku berkali-kali di telinga mereka. Tidak lupa juga rasa terima kasih untuk Tuhan yang sudah memberikanku kedua orang tua yang begitu sangat pengertian seperti mereka.

“Mama,” panggil Papaku pelan ke istrinya. “Papa jadi narik satu kesimpulan dari kejadian ini.”

Mamaku menatap Papaku dengan dahi berkerut. “Apaan Pa?”

Sebelum Papaku menjawab, dia menatapku sejenak lalu tersenyum lebar. “Kita nggak bakalan pernah punya cucu, Ma.”

Lalu tawa merdu meluncur pelan dari mulut kedua orang tuaku. Untuk beberapa saat aku hanya menonton mereka yang sedang asyik tertawa. Namun ketika tangan Papa dan Mamaku kembali memelukku dengan begitu erat, aku langsung ikut tertawa dengan mereka. Menghabiskan malam itu dengan penuh kasih sayang dan cinta. Sekarang aku tahu, aku tidak akan pernah sendiri lagi di dunia ini.

2.592.000 Seconds

Sudah sebulan ini aku dan kedua orang tuaku hanya menghabiskan waktu malam hari kami di depan TV. Kami bertiga pasti hanya akan duduk di depan TV lalu tertawa nyaring karena menonton acara TV show kesukaan kami. Yaitu OVJ. Namun malam itu entah kenapa aku tidak bisa tertawa sama sekali. Perasaanku benar-benar tidak enak dan jantungku berdegup dengan kencang. Seakan-akan ada yang bakalan terjadi malam ini. Dan aku sangat yakin kalau yang akan terjadi itu pastilah hal yang buruk.

Suara petir dan guyuran lebat hujan di luar sana malah membuat hatiku makin menciut gugup. Detik berikutnya yang terjadi membuatku sangat kaget. Tiba-tiba TV yang sedang kami tonton tiba-tiba mati. Papa dan Mamaku saling berpandangan beberapa saat sebelum Papaku menghidupkan TV itu lagi. Dan saat TV itu sudah menyala seperti semula, gambarnya buram. Banyak titik-titik hitam putih yang mengganggu.

“Hmmm… kayaknya parabolanya kegeser atau rusak ini Ma,” ujar Papaku sembari mengotak-ngatik menu yang ada di TV itu.

“Kayaknya Pa,” sahut Mamaku.

Papaku melempar pandangannya ke arahku. “Dev ayo ikut Papa ke atas. Kita cek ada apa sama parabolanya.” Baru saja aku berdiri, Mamaku tiba-tiba memegang pundakku dan mendudukanku lagi di sofa.

“Biar Mama aja yang pergi sama Papa. Kamu tunggu disini aja. SMS kita kalo gambar di TV nya udah bagus lagi.” Aku mengangguk tanda mengiyakan. Lalu setelah menerima jawabanku, Mamaku memeluk lengan Papaku dengan gerakan sayang. Tetapi sebelum mereka beranjak pergi, mereka menatapku sebentar dan memberikanku sebuah senyuman menenangkan. Senyuman menenangkan yang persis sama seperti yang dilontarkan oleh Okky sesaat sebelum dia mendorongku keluar dari bus.

Otakku masih belum bekerja dengan baik karena diberikan senyuman itu oleh kedua orang tuaku. Apa yang akan terjadi? Tiba-tiba perasaanku makin tidak enak!

Lalu semuanya terjawab dengan lugas. Suara petir tiba-tiba menggelegar di atas atap rumahku. Reflek aku langsung berteriak memanggil kedua orang tuaku. Bukan karena aku takut dengan petir itu, tetapi karena bunyi petir itu seperti berada di tempat parabola kami bertengger, di mana Papa dan Mamaku juga sedang berdiri di sana saat ini.

Aku langsung berlari seperti orang kesetanan. Melompati anak tangga sekaligus dua. Aku benar-benar kalang kabut, dan semakin kalang kabut ketika mendapati kedua orang tuaku tergolek tak sadarkan diri di samping parabola yang terbakar dan dalam rintikan hujan yang deras serta sinaran kilat. Nafasku tercekat dan jantungku terpompa lebih cepat dari biasanya. Posisi Mama dan Papaku saat itu sedang berpelukan. Asap putih keluar dari badan dan kulit mereka yang agak menghitam karena melepuh. Aku langsung berteriak memanggil nama mereka dan menggoncang-goncang badan mereka agar sadar. Tetapi tidak ada reaksi. Mereka hanya diam saja. Namun saat aku memegang denyut nadi di leher mereka, disana masih ada detakan. Tetapi sangat lemah.

Tanpa pikir panjang aku langsung menyeret Mamaku duluan. Menuju ke garasi mobil dan membawa mereka ke rumah sakit. Saat aku menyeret badan Mamaku melewati tangga, aku mengangkat sedikit kepala Mamaku agar tidak membentur setiap anak tangga. Kulit wajah Mamaku dan kulit tangannya terkelupas dan berdarah. Saat kami sudah di garasi, aku langsung memasukan Mamaku ke dalam mobil.

Lalu selanjutnya aku kembali naik ke atas rumahku untuk menjemput Papaku. Ketika aku sudah di samping tubuh Papaku, dia megap-megap seperti orang yang kehabisan nafas. “Tahan Pa!” teriakku keras agar menyaingi suara guyuran hujan yang lebat. Kuseret cepat tubuh Papaku yang lebih berat daripada Mamaku. Walaupun kini keringat dan air hujan membasahi tubuhku, aku tidak peduli. Meskipun aku sudah kehabisan tenaga dan paru-paruku seperti terbakar, aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah keselamatan kedua orang tuaku.

Ketika tubuh Papaku sudah masuk ke dalam mobil, aku langsung menjalankan mobil itu. Lalu beranjak pergi menuju ke rumah sakit, agar kedua orang tua yang paling kucintai itu bisa selamat. Tidak! Mereka harus selamat!

900 Seconds

Sudah lima belas menit aku menunggu di ruangan terkutuk ini. Menunggu apakah kedua orang tuaku akan selamat atau tidak! Aku melirik bajuku yang dipenuhi oleh darah kedua orang tuaku. Aku benar-benar kalut dan takut kehilangan mereka. Rasa-rasanya ingin sekali aku menangis saat ini. Tetapi aku tidak bisa. Yang hanya bisa aku lakukan adalah terisak kering tanpa air mata sama sekali.

“Gimana keadaan mereka?” tanya sebuah suara ngos-ngosan itu. Aku menolehkan kepalaku dan melihat Tante Bella yang menjulang tinggi di hadapanku.

Tanpa pikir panjang aku langsung memeluk Tante Bella. Pelukanku dibalas olehnya. Namun dari gelagat badannya, dia masih ingin meminta penjelasanku. Saat aku baru saja ingin menjelaskannya, tiba-tiba pintu ICU itu terbuka lebar. Menampilkan sesosok dokter dengan pakaian putih panjang yang terlihat sangat letih dan sedih.

“Bagaimana dok? Mereka selamatkan?” tanya Om Jun cepat. Nada suaranya sangat panik. Tangan Tante Bella memegangku dengan begitu erat. Mencoba menenangkanku jika ada hal yang tak di inginkan terjadi.

Dokter itu memandang ke arahku dan menggeleng pelan. “Yang laki-laki sudah meninggal dunia saat baru dibawa ke sini. Sedangkan yang perempuan keadaannya sangat kritis. Kita hanya bisa berdoa saja untuk dia.” Setelah dokter itu berkata begitu, dia menyelonong pergi.

Saat aku mendengar isakan lembut Tante Bella, seperti ada tulang di kakiku yang menghilang, membuatku terkulai lemah ingin terjatuh karena sudah tak sanggup untuk berdiri lagi. Untung saja Om Jun langsung memegang lenganku dan membimbingku ke kursi dan mendudukkanku. Untuk beberapa saat Tante Bella dan Om Jun menungguku apakah aku akan menangis apa tidak. Dan jawabannya adalah tidak! Aku tidak bisa menangis. Aku masih belum bisa menangis. Padahal aku sangat ingin.

Seorang perawat membawa kami ke ruang ICU dan memperlihatkan badan Papaku yang sudah tidak bernyawa lagi. Garis hitam panjang karena gosong yang ada di lengan dan badannya memang terlihat begitu parah. Aku mendekati mayat Papaku dan menggosok pipinya yang mulus. Lalu setelah itu aku mendaratkan kecupan ringan di kening Papaku. “Maafin Dev karna nggak bisa nyelamatin Papa. Dev bener-bener anak yang nggak berguna ya!?” Aku berbisik pelan ke telinga Papaku. “Dev cinta sama Papa.”

Aku mendengar suara rintihan di ranjang sebelah. Mataku langsung mencari-cari sumber rintihan tersebut. Dan betapa kagetnya aku saat melihat sesosok perempuan dengan wajah dibalut dengan perban yang sedang menangis ke arahku. Itu Mamaku. Dengan gerakan luwes, aku mendatangi Mamaku dan memeluknya dengan hati-hati. Mamaku membalas pelukanku dan terisak luruh di pundakku. Aku terus memeluk Mamaku sampai aku mendengar suara Mamaku yang menyuruh Tante Bella dan Om Jun untuk mengurusku. Lalu saat aku melepaskan pelukan dan menatap wajah Mamaku, dia berkata lirih padaku. “Mama cinta sama Dev. Papa cinta sama Dev. Kami akan selalu cinta sama kamu sayang.”

Lalu hembusan hangat dari hidung Mamaku menyentuh ujung jari telunjukku. Ketika aku menatap mata Mamaku, mata itu sudah terpejam. Dan kini aku tahu, Mamaku sudah pergi. Dia sudah pergi bersama Papaku. Kemudian aku merasa benci pada diriku sendiri karena tidak bisa menyelamatkan mereka. Aku telah membunuh kedua orang tuaku. Membunuh kedua orang tua yang sudah menerimaku apa adanya. Kedua orang tua yang mencintaiku.

Kini aku membenci asumsi yang telah aku buat, yaitu tentang aku tidak akan pernah merasa sendiri di dunia ini, karena sekarang aku benar-benar merasa sendiri dan hampa. Aku telah kehilangan segalanya. Semuanya. Semua orang yang kucintai.

600.000 Seconds

Hari ini adalah hari pemakaman kedua orang tuaku. Tante Bella dan Om Jun lah yang mengurus semuanya. Aku hanya diam saja dan menatap kosong jasad kedua orang tuaku saat dimasukan ke dalam liang lahat. Tante Bella dan Om Jun memelukku sambil menangis. Namun aku tidak menangis. Karena aku tahu orang tuaku masih berdiri di sampingku saat ini. Mereka tidak pergi! Mereka belum meninggal. Sama seperti Okky yang masih ada di sisiku sampai sekarang ini.

Saat acara pemakaman sudah selesai, aku tidak langsung kembali ke rumah. Melainkan langsung pergi ke Bank dan mengambil semua tabungan yang aku punya. Aku belanja semua barang yang ingin kubeli dulu. Aku menghabiskan uangku dan bersenang-senang. Aku ingin melupakan apa yang barusan terjadi. Aku tidak ingin mengakui kalau aku tadi baru saja menghadiri upacara pemakaman kedua orang tuaku, karena mereka memang belum meninggal. Mereka belum pergi. Mereka masih di sini bersamaku.

Aku pulang ke rumah pada pukul jam delapan malam. Rumahku ramai dikunjungi orang-orang. Mereka semua saat ini sedang berdoa untuk Papa dan Mamaku. Saat Tante Bella dan Om Jun melihatku, mereka langsung bertanya padaku ke mana saja aku tadi. Tetapi aku tidak mau menjawab pertanyaan mereka. Aku malah nyelonong ke depan TV yang biasa aku dan kedua orang tuaku tonton. Kemudian, saat TV sudah menyala, aku langsung menyetel acara TV show kesukaan keluarga kami. Yaitu OVJ.

Dan ketika ada sebuah adegan yang sangat lucu, aku bisa mendengar tawa Papa dan Mamaku yang duduk di sebelahku di sofa ini. Ketika tawa mereka terus masuk ke dalam telingaku, aku ikut tertawa dengan mereka. Apa kubilang? Mereka belum benar-benar pergi dari hidupku, karena aku memang tidak menghendakinya. Karena aku akan selalu tahu kalau kedua orang tuaku akan selalu duduk di sini bersamaku, menemaniku untuk selamanya di sisiku. Ya. Selamanya. Di sini. Bersamaku….

15.552.000 Seconds

Hanya saja kini aku mengerti, ada yang pergi, ada pula yang datang. Ketika sosok Luk dan Bas menemaniku untuk mengisi hari-hariku, kini aku merasa sangat berharga. Aku sangat senang bisa mendapatkan sosok sahabat sejati dari mereka berdua, di mana mereka akan selalu ada saat aku butuh. Di mana mereka akan selalu ada di saat aku terpuruk jatuh. Maafkan aku Tuhan, kini aku percaya bahwa aku tidak akan pernah sendiri lagi di dunia ini. Karena aku yakin, kau akan ada selalu di sampingku meskipun semua orang yang kucintai kau ambil. Aku percaya kau akan selalu menemaniku.

***

Now (Masa Sekarang)

Mataku tidak bisa lepas dari sosok Nino versi terbaru. Badannya besar berotot, tidak gendut seperti lima tahun yang lalu. Gerakan badannya kini lebih cepat dan lebih lincah. Sorot matanya benar-benar tajam dan penuh perhatian. Senyumannya lebih lezat daripada cokelat Silver Queen. Bentuk rahangnya juga sangat menggoda. Hanya suara dan tangannya itulah yang tidak berubah sama sekali. Aroma kayu manis yang menguar dari tubuhnya juga masih persis sama seperti dulu.

Kami sedang berhadap-hadapan saat ini. Menikmati makan malam yang baru saja dia buat. Apartemenku akhirnya tidak hampa lagi malam ini. Dan aku yakin kalau apartemenku tidak akan pernah hampa lagi mulai sekarang. Mungkin inilah jawaban tentang mengapa aku begitu suka tinggal di sini, karena apartemen ini akhirnya merubah hidupku, apartemen ini seakan tahu kalau suatu saat Nino akan datang ke sini. Wow. Menakjubkan bukan instingku? Mulai sekarang aku akan percaya pada insting yang aku punya.

Sesaat mataku dan Nino bertemu pandang, tetapi aku cepat-cepat menunduk dan kembali fokus pada makan malamku. Nino berdeham pelan di depanku. Aku juga ikut berdeham. Dia batuk kecil, aku juga ikut melakukan tindakan itu. “Lo ngikutin gaya gue ya?” tanyanya kemudian. Kudongakkan kepalaku dan mencibir pelan.

“Siapa yang ngikutin gaya lo?” aku memasang tampang paling mengejek sedunia, yang kata teman-temanku wajah paling seram dan paling judes yang pernah menempel di garis mukaku. “Lo kok kepedean banget ya?” aku melempari Nino dengan buah anggur.

Dia hanya tertawa dan menggeleng. “Jadi… apa pekerjaan lo sekarang?”

“Gue model majalah,” ujarku cepat sambil meraup lasagna buatan Nino yang rasanya begitu sangat-sangat lezat. Atau mungkin karena Nino yang membuatnya? Makanya rasanya begitu sangat nikmat seperti ini. Oh, stop berpikir nggak rasional Dev!

“Model majalah?” alis tebal Nino terpaut menjadi satu, menjadi sebuah garis panjang yang lurus dan tegas. “Majalah apaan?” Belum saja aku ingin menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba Nino sudah memotongnya duluan. “Pasti majalah margasatwa.”

“Enak aja kalo ngomong!” kali ini kulempari Nino dengan buah apel. Tetapi dia pintar menghindar dan malah terus mengejekku. Salah satu sifatnya yang sangat suka mengejekku itu belum hilang juga ternyata dari dalam dirinya. Sialan! “Nah… kalo lo, pasti lo pakek susuk kan! Makanya lo bisa berubah atletis dan ganteng kayak sekarang ini.”

“Susuk?” ujarnya dengan dahi berkerut. “Enak aja lo bilang gue pakek susuk.” Nino mencibirku dengan gerakan kurang ajar. “Gue mah nggak pakek susuk. Tapi pakek konde perawan.” Lalu dia kembali tertawa lebar. Alhasil membatku ikut tertawa bersamanya. Betapa aku rindu momen ini. Tertawa bersamanya. Saling mengolok satu sama lain. Duduk berhadap-hadapan seperti ini. Aku benar-benar rindu dengan itu semua.

Walaupun dulu dia tidak mengucapkan apa-apa tentang kejujuran perasaanku padanya, rasa sakit hati di dalam hatiku sudah tergantikan lagi dengan rasa cinta. Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa begitu cinta dengannya. Aku juga bingung apa yang kulihat darinya yang bisa membuatku mencandu tentang dirinya. Hanya saja perasaan cinta itu datang sendiri, menjalari hatiku, lalu menanamkan sebuah benih cinta untuknya. Sampai saat ini akar dari benih cinta itu masih tertancap kuat di hatiku.

“Gue bisa kurus kayak gini gara-gara gue kerja di lapangan golf,” tutur Nino saat tawa merdunya sudah berhenti.

Aku mengerutkan keningku. “Kerja di lapangan golf?”

“Jangan bilang lo lupa kalo usaha keluarga gue adalah punya lapangan golf?” tanyanya dengan mata menyipit. Cepat-cepat aku mengangguk, biar dia tahu aku masih ingat. Padahal aku sudah lupa sama sekali. “Nah, setelah lulus SMA dulu, gue kerja di lapangan golf itu. Papa gue nyuruh gue buat nyoba mandiri sejak dari remaja. Jadinya ya gue kerja deh di situ.”

“Terus apa hubungannya sama lo bisa kurus?” tanyaku kemudian.

Nino tersenyum kecil. “Yah… ternyata walaupun yang punya usaha itu adalah Papa gue, dia nyuruh gue buat kerja jadi orang yang ngambilin tiap bola golfnya. Dia bilang gue harus kerja dari yang susah dulu baru yang enakan. Dan ya… gue nurutin dia.” Nino menopangkan dagunya di atas tangan kokohnya. “Tiap gue habis selesai pulang kuliah, gue bakalan pergi kerja di lapangan itu. Lari sana-sini buat mungutin setiap bola yang kececeran. Hampir tiap hari gue ngabisin waktu cuman lari-larian di tengah lapangan golf. Makanya gue bisa kurus kayak sekarang ini.”

Jadi itu penyebabnya mengapa dia bisa kurus seperti itu. “Terus lo kok bisa ada di sini? Kerjaan lo di sana terus gimana nasibnya?”

Nino tersenyum penuh arti kepadaku. “Gue dipindahin kerja ke sini sama Papa. Dia punya perusahaan sabun di sini. Dia nyuruh gue handle perusahaannya itu. Lagipula kata Papa gue, gue udah cukup kok susahnya.” Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Nino. Saat aku ingin membuka mulutku, Nino kembali menambahkan ucapannya. “Sekalian juga gue pengen ketemu sama lo.”

Aku tercekat. Wajahku langsung tersipu. Anjrit! Hanya dia satu-satunya orang yang bisa membuat rona wajahku memerah seperti ini. “Well, lo sekarang udah ngeliat gue. Tapi gue bingung lo tau gue ada di sini dari mana ya?”

Wajah Nino agak berkerut samar. “Kan lo temen gue di kontak YM. Dan dari keterangan di YM lo lah gue tau kalo lo tinggal di apartemen ini,” ujarnya dengan nada bass. “Lo nggak tau ya kalo kita temenan di YM?” tanyanya cepat.

“Masa sih kita temenan?” aku langsung mengeluarkan i-Phone ku dari saku celana. “Kalo pun misalnya kita temenan, lo tau dari mana kontak gue?” tanyaku sambil mengotak-ngatik i-Phone ku.

“Gue dapet kiriman e-mail dari salah satu mantan temen kelas gue. Isinya semua kontak dari alumni SMA kita yang ada di Bandung dan nggak sengaja gue nemu kontak lo. Yah… gue tambahin deh kontak lo di YM gue. Walaupun habis gue tambahin lo ke kontak YM gue, gue nggak berani buat nge-chat lo. Takut nge-ganggu lo,” jelas Nino.

Mataku masih tertuju ke layar i-Phone ku. Aku masih sibuk mencari kontak Nino di daftar kontakku yang begitu banyak. Lalu, saat mataku menangkap nama Nino, aku langsung mendongakkan kepalaku untuk bertanya padanya. Apakah benar itu kontaknya. “Nama kontak lo… Nino-NinoKePuncakGunung ini ya?” tanyaku sambil mengernyit. Jawaban yang Nino berikan hanya anggukan. “Ew! Lebay banget nama lo. Pantesan gue nggak tau.”

“Biarin!” kali ini Nino yang melemparku dengan buah anggur.

“Tapi bentar deh,” kataku sambil tersenyum lebar. “Bukannya naik-naik ke puncak gunung ya? Kenapa ini Nino-NinoKePuncakGunung?” Ketika aku bersitatap dengan Nino, dia hanya menjulurkan lidahnya padaku. Persis seperti gaya Bas. “Kenapa nggak sekalian nama lo Nino-NinoDiDinding?”

“Cicak-cicak di dinding kali!” serunya malas. Membuatku tertawa kecil. “Lo pikir gue cicak apa!?”

Aku masih tertawa seraya menyahut. “Lo memang bukan cicak. Tapi lo tokek!” aku lalu merubah tempo tawaku. “Tokek! Tokek! Tokek!” aku menirukan gaya suara tokek. Binatang paling mengerikan yang pernah ada di dunia ini.

Nino hanya ikut tertawa bersamaku. Saat lima tahun yang lalu juga seperti inilah persahabatanku dengannya. Kami sering bercanda. Membuat satu sama lain tertawa. Gawd! Aku benar-benar rindu dengan semua hal yang terjadi denganku bersamanya seperti lima tahun yang lalu. Aku ingin kembali ke masa itu, di mana aku dan Nino tertawa lepas tanpa ada beban yang menimpa kami sama sekali.

Lalu, lama-kelamaan tawa kami memudar. Seperti ada seseorang yang menyedot suasana gembira ini. Tiba-tiba, aura di sekitarku sudah berubah menjadi lebih janggal dan sangat canggung. Aku juga tidak tahu kenapa aku merasa seperti itu. Hanya saja, saat mata kami berdua bertemu, kami akan terlihat gusar dan malu-malu. Mirip seperti pengantin baru yang sebentar lagi akan melakukan malam pertama.

“Jadi… hmmm, lo punya pacar apa nggak sekarang?” tanya Nino kemudian. Memecahkan keheningan yang menyerang kami berdua.

Aku berdeham pelan sebelum menjawab. “Baru dua hari yang lalu gue putus.”

Nino mengangguk-angguk pelan. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Wajahnya berubah jadi agak tegang sekarang. “Kalo lo nggak keberatan, gue boleh nanya satu hal lagi nggak?” tanyanya agak sungkan. Aku menyipit sedikit, tetapi mengangguk membolehkan. “Mantan lo yang baru lo putusin ini… cewek apa cowok?”

Aku agak terperanjat di kursiku, namun aku cepat-cepat mengendalikan ekspresi wajahku. Sebelum menjawab pertanyaannya, aku berpikir sejenak dengan konsekuensinya. Jika aku bilang cowok, apakah dia akan pergi dari sini dan tidak mau bersahabat lagi denganku? Tetapi ternyata itu bukanlah hal yang bagus untuk dipikirkan. Toh, aku dulu pernah mengucapkan kata ‘aku cinta sama kamu’ sama dia. Jadi buat apa menyembunyikan hal itu. Benar-benar tidak ada gunanya.

“Dev?” panggil Nino lemah.

Kupasang senyuman terbaikku sebelum menjawab pertanyaannya. “Cowok. Namanya Harry.” Aku terus memasang senyuman terbaikku untuknya. “Gue putus sama dia karna dia nggak ngebolehin gue sahabatan lagi sama Luk dan Bas.”

Nino tersenyum penuh arti kepadaku. “Oh, begitu ya,” hanya itu tanggapannya. Menjengkelkan! Nino biadab! “Luk dan Bas ini sejak kapan jadi sahabat lo?” dia malah bertanya hal itu. Mempertanyakan kedua sahabatku yang saat ini sedang dimabuk cinta. Ugh!

“Gue kenal mereka pas Ospek,” ujarku sambil memainkan kancing-kancing kemejaku. “Terus kami sahabatan pas kita masuk awal kuliah dulu. Kami bisa sahabatan karena kita bertiga sama-sama punya takdir yang sama. Yaitu sama-sama gay.” Nino menatapku dengan kedua alis terangkat. Bukan heran. Tetapi agak kagum. “Dan mereka juga sama-sama nyebelinnya kayak gue. Makanya kami bisa jadi sahabat kayak sekarang ini. Selain itu, mereka bisa lebih brengsek daripada gue. Tapi meskipun begitu, gue sayang mereka udah kayak saudara gue sendiri.”

“Oh,” ucap Nino sekenanya.

“Kalo lo sendiri gimana? Lo punya pacar sekarang?” tanyaku dobel sekaligus.

“Baru putus seminggu yang lalu. Pas gue mutusin buat pindah ke sini. Dia bilang dia nggak bakalan bisa LDRan sama gue. Jadinya… yah putus. Lagian juga dia bakalan dikirim ke Palestina sebulan lagi. Makanya lebih baik kami putus.”

Aku mengernyit. “Dikirim ke Palestina?” tanyaku bingung.

“Iya,” sahut Nino cepat. “Dia dokter. Dia dipindahin kerja ke sana nuat ngebantu ahli tenaga kesehatan di sana. Lo tau kan Palestina lagi perang sama Israel sekarang?”

Aku mengangguk. “Siapa nama dokter ini?” tanyaku agak sedikit cemburu sama nih orang. Yang ternyata bisa meluluhkan hati Nino.

“Dimas,” jawabnya singkat.

Dimas? Alisku langsung terpaut menjadi satu. Bukankah itu nama… cowok? “Itu bukannya nama cowok ya?” aku bertanya dengan mata disipitkan.

Nino tersenyum kecil lagi ke arahku. “Iya. Dia memang cowok.”

Tiba-tiba seperti ada seseorang yang menampar wajahku sekarang ini. “Lo gay?” tanyaku penuh penekanan.

“Nope!” dia menyahut kilat. “Gue biseks.”

Terus kenapa dia tidak menjawab pertanyaanku waktu itu? Tentang kalau aku mencintainya? Kenapa dia tidak menjawabnya? Kenapa dia malah pergi dan tidak menjelaskan apa-apa? Aku pikir selama ini dia normal dan memang tidak mau denganku. Tetapi nyatanya dia biseks dan malah mengabaikanku saat itu. Aku benar-benar kesal sekarang. Aku benar-benar tidak menyukai sosok orang yang sedang duduk di depanku saat ini.

Aku berdiri cepat dan mengangkat piringku yang sudah kosong. Rahangku menegang saat aku ingin memberitahunya kalau aku mau sendiri dulu sekarang. Tetapi aku tidak bisa mengeluarkan suaraku sama sekali saking kesalnya. Jadi aku langsung berlalu pergi menuju ke counter tempat cuci piring dengan langkah menghentak. Nino yang semula duduk manis di kursinya, tiba-tiba bangkit dan mengikutiku dari belakang.

Saat aku sudah di depan counter tempat cuci piring, Nino ikut berdiri di sebelahku. Lalu dia menaruh piring kotornya di samping piring kotorku. “Lo kok kayaknya marah ya Dev?”

“Siapa yang marah?” sahutku cepat. Aduh! Kentara sekali kalau aku lagi kesal.

“Iya nih. Lo lagi marah.”

“Gue nggak marah,” gertakku dengan gigi bergemeletuk.

Nino menghembuskan nafasnya perlahan. “Walopun kita sahabatan waktu itu cuman sebulan aja, gue kenal kok sama sifat lo yang suka moodyan.” Nino memegang pundakku. “Gue tau lo lagi marah. Dan gue yakin lo lagi marah sama gue. Lo marah kenapa sama gue Dev?”

Aku menghadapkan wajahku ke wajahnya. Kupicingkan mataku setajam mungkin. “Gue nggak marah,” kataku penuh kegarangan. Sekarang malah benar-benar kentara sekali rasa kesalku padanya. Aku memang orang yang sangat sulit menyimpan emosiku.

“Lo marah. Gue tau lo lagi marah.”

“Oke. Fine! Gue lagi marah sama lo. Puas!?” pekikku berang.

“Nggak! Gue nggak puas,” seru Nino. “Jelasin ke gue kenapa lo marah sama gue. Sekarang!”

Aku mendengus penuh kekesalan. “Gue kesel sama lo karna lo nggak ngasih gue penjelasan apa-apa pas gue nembak lo dulu. Lo ninggalin gue gitu aja. Dan inti dari kemarahan gue adalah…” aku mengatur nafasku yang tak beraturan “…karena gue pikir waktu itu lo cowok normal. Makanya lo nggak mau sama gue. Tapi ternyata gue salah… lo biseks. Dan lo memang nggak cinta sama gue.”

Hening. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Nino. Berarti prediksiku benar. Dia memang tidak mencintaiku. “Siapa yang bilang gue nggak cinta sama lo?” tanyanya dengan nada agak sedikit kesal. “Siapa yang bilang gitu?”

Aku menolehkan kepalaku ke arah Nino dengan raut berang. “Gue yang bilang gitu,” kataku geram. “Kalo misalnya lo memang cinta sama gue, seharusnya lo nanggepin isi hati gue waktu gue ngaku ke lo dulu itu. Tapi lo malah pergi dan nggak ngomong apa-apa.”

Wajah Nino langsung mengernyit. “Gue nggak pergi gitu aja waktu itu,” serunya pelan-pelan. “Gue nyuruh lo buat nunggu sebentarkan di sana.”

“Lo nggak ada bilang apa-apa sama gue. Lo pergi ninggalin gue gitu aja waktu itu,” kini aku juga ikut mengernyitkan wajahku.

“Gue ada bilang sama lo buat nunggu gue sebentar,” ujarnya keras. “Dan pas gue balik lagi, lo udah nggak ada. Terus pas gue ke rumah lo, lo malah udah berangkat ke Jakarta.”

Aku menggeram. “Lo nggak ada bilang apa-apa. Gue waktu itu cuman ngeliat raut muka lo yang kaget sama ngeliat lo komat-kamit nggak jelas. Habis itu lo nyelonong pergi.” Lalu aku langsung berhenti menggeram. Komat-kamit? Apakah arti komat-kamitnya Nino waktu itu untuk menyuruhku menunggunya ya? Waktu itu aku memang tidak bisa mendengarkan apa-apa kecuali bunyi jantungku yang berdegup kencang. Oh, tidak! Sepertinya dia memang bilang untuk menyuruhku menunggunya.

Kali ini mata Nino menatapku dengan tatapan super-duper tajam. “Gue ada bilang waktu itu,” ujarnya sangat perlahan dan jelas. “Tapi kayaknya lo yang nggak denger.”

Aku menelan ludahku dengan susah payah. Ternyata selama ini akulah yang salah mengartikan diriku sendiri. Shit! Aku benar-benar malu sekarang. “Oke, gue memang nggak denger waktu itu,” aku berkata laun. “Tapi itu salah lo juga,” gertakku cepat, untuk menghilangkan rasa maluku, “ngapain sih pakek nyuruh gue nunggu segala?”

“Untuk gue mempersiapkan diri gue sebelum gue bilang sama lo, kalo gue…” aku mendongakkan kepalaku ke arahnya “juga cinta sama lo.”

Well, dari sekian banyaknya nafasku tercekat, kali ini barulah nafasku benar-benar asli tercekat. Rasanya itu seperti ada upil yang besar menyelip di hidungmu, yang membuatmu tidak bisa bernafas dengan baik. Dan itu terjadi padaku sekarang. Tetapi, yikes, tentu saja tidak ada upil yang besar di dalam hidungku. Itu hanya perumpaan saja.

“Dan gue masih cinta sama lo sampe sekarang.”

Oke! Mungkin memang benar ada upil yang besar yang ada di dalam hidungku. Aku mengangkat tanganku, bukan untuk menyentuh wajah Nino, tetapi untuk memegang hidungku… benarkah ada upil di dalamnya? Oh, ternyata tidak ada! Cuma aku saja yang terlalu berlebihan. Oke, Dev, breath in-breath out! Aku menyuruh diriku sendiri dengan susah payah. Namun untungnya aku langsung bisa mengendalikan indra penciumanku lagi setelah melakukan BIBO beberapa kali.

“Dev?” panggil Nino pelan. Cepat-cepat aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Saat mata kami bertemu, dia tersenyum tipis padaku. Aku tidak bisa jika tidak membalas senyumannya. Lagipula aku sangat senang sekarang. Apakah tadi dia bilang mencintaiku? Apakah tadi itu mimpi? Lalu ketika aku mencubit tangan kiriku dengan tangan kananku, rasanya sangat sakit. Berarti tadi memang bukan mimpi. “Ada kotoran tuh di kemeja lo” kata Nino sambil menunjuk kerah kemejaku. Huh? Kok dia malah ngomong itu ya? Tetapi aku tetap saja menuruti apa yang dia katakan tadi, aku langsung menurunkan kepalaku untuk melihat kerah kemejaku yang dia bilang kotor.

Namun baru saja aku menundukan kepalaku sekitar seperempat, tiba-tiba Nino memegang daguku. Dan belum saja aku sadar dengan apa yang dia lakukan, tiba-tiba dia menarik kepalaku mendekat ke arah kepalanya. Yah… lalu terjadilah hal itu. Hal dimana bibirku yang sangat seksi ini menempel di bibir ranumnya. Untuk dua detik pertama, aku masih gelagapan dan tak bisa berpikir jernih. Namun ketika detik berikutnya Nino menekankan bibirnya ke bibir seksiku, aku langsung ikut menekankan bibir super seksi ini ke bibirnya.

Dan… for kentut’s sake! Rasa bibirnya Nino itu seperti Yupi. Kenyal. Padat. Manis. Dan menggiurkan. Oh-la-la! Aku mau lebih. Aku mau lebih. Kulingkarkan kedua tanganku ke lehernya. Kujinjitkan sedikit kakiku agar bisa setara dengan kepalanya. Tangan Nino yang besar dan berotot itu menarik bokongku hingga menempel di badannya. Cetar! Ohh… seperti ada petir yang tiba-tiba menyatukan kami menjadi satu.

Yang selanjutnya terjadi juga membingungkan. Aku tidak sadar kapan Nino membuka kancing kemejaku. Aku juga makin tidak sadar ketika ternyata aku sudah telanjang bulat. Menampilkan postur tubuhku yang begitu hot ini. Aku juga tidak sadar kapan dia membawaku ke kamarku ini. Aku juga tidak tahu kenapa sekarang aku dan dia sudah berada di atas ranjangku, saling menindih. Dan aku makin tidak sadar ketika Nino tiba-tiba menciumi seluruh leherku. Rasanya benar-benar geli, tetapi aku menyukainya. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Aku menuntut lagi dan lagi. Oh, yes!

“Dev,” panggil Nino dengan nafas yang agak tersendat-sendat. “Sudah berapa kali lo ginian sama mantan-mantan lo?” tanyanya cepat. Ada sedikit nada tidak suka ketika dia bertanya hal itu. Apakah dia cemburu?

“Nggak tau. Gue nggak pernah bener-bener ngitung,” jawabku sekenanya. “Tapi setiap kali gue punya pacar, gue cuman sekali aja ML sama mereka. Terus habis itu pasti mereka ketagihan pengen ML lagi sama gue.” Nino mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata disipitkan. “Mereka bilang sama gue, alesan mereka ketagihan karna katanya ada ulat bulu di dalem lubang happy gue. Yang buat phytonnya mereka kecanduan.”

Nino tersenyum lebar. “Lubang happy itu apaan?” tanyanya, yang langsung kujawab sambil menunjuk ke arah bawah selangkanganku. “Oh,” ujarnya ketika mengerti. “Kalo maksud dari ulat bulu apaan? Jangan bilang kalo di lubang happy lo memang bener-bener ada ulat bulu beneran!”

Aku tertawa kecil. “Maksudnya itu, kayak ada yang nge-gelitikin phyton mereka pas mereka nusuk lubang happy gue, yang bener-bener bisa buat mereka teriak keenakan.” Nino tertawa pelan. Lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Oke, cukup basa-basinya!” ujarku dengan nada memerintah. Langsung saja kuputar haluan. Sekarang aku yang ada di atasnya, dan dia di bawahku. Dengan gerakan cepat, aku mencoba untuk membuka celananya. Tetapi sangat susah. “Ish! Nih celana kok susah banget sih dibukanya!” seruku masih sambil berkutat dengan celana jeansnya yang makin ketat.

“Tumben lho celana gue susah dibuka, biasanya mah gampang,” Nino tertawa melihat usahaku. “Mungkin phyton gue lagi bangun tuh. Makanya susah dibuka.” Dia memegang tanganku lalu menepiskannya. “Biar gue aja yang buka, soalnya phyton gue cuman nurut sama gue.” Dan yep, hanya sekali sentak celananya terbuka.

Lalu dia menarikku mendekat ke arahnya. Dia kembali menciumku, tetapi kali ini lebih ringan dan lebih menggoda. Pokonya dia selalu menggodaku, memindah-mindahkanku seperti aku ini anak kecil. Lalu tiba-tiba, kami sudah membentuk gaya aneh. Gaya yang belum pernah kulakukan sebelumnya. “Ini pasti gaya kupu-kupu ya?” tanyaku sok lugu. Kini gayaku dan gaya Nino sudah seperti orang yang mau terbang.

Nino tertawa kecil. “Iya,” katanya. “Lo pinter nebak ternyata,” aku tahu sebenarnya dia hanya bercanda. Jadi aku mengikuti saja alur permainannya.

Kemudian dia merubah lagi gaya kami. Sekarang seperti orang yang mau koprol. “Ini pasti gaya Mak Lampir mencari cinta kan?”

Kali ini tawa Nino menggelegar. “Bener. Ini gaya Mak Lampir mencari cinta,” sahutnya masih dalam balutan tawa. Setelah itu, dia merubah lagi gaya kami. Tetapi kini lebih masuk akal. Karena gaya kami sekarang adalah… dia di atasku dan dia menatapku dengan tatapan yang begitu sendu, seakan-akan hanya akulah manusia yang dia lihat di dunia ini.

“Gue yakin kalo ini adalah gaya… Dev dan Nino,” aku tersenyum simpul sebelum akhirnya aku menarik kepalanya mendekat ke kepalaku. Lalu semuanya berjalan begitu saja. Aku tidak tahu kenapa pikiranku hanya diisi oleh kenikmatan semacam ini. Aku tidak bisa berpikir dan aku sangat menyukai hal yang sedang terjadi denganku saat ini. Nino memeluk pundakku dengan erat, suaranya yang mengerang nikmat terus terngiang di telingaku. Yang sampai akhirnya dia menggigit telingaku kecil dan merebahkan dirinya di sebelahku.

Keringat hangat menyeruak keluar dari tubuh kami berdua. Nafas kami tak beraturan tetapi seirama. Badanku letih tetapi tidak mendapatkan rasa sakit apa-apa. Aku mengantuk tetapi tidak bisa tertidur. Tangan Nino lalu menopang kepalaku. Bibirnya yang menggiurkan itu mengecup telingaku. “Dev,” panggilnya merdu.

“Hmmm…” aku menjawab singkat sambil memejamkan mataku.

“Kayaknya mantan-mantan lo bener deh,” ujarnya, membuatku agak sedikit kaget.

“Bener tentang apaan?”

“Tentang ulat bulu yang ada di lubang happy lo.”

Yah… malam itu kami menghabiskan waktu dengan tertawa-dan-tertawa. Sampai akhirnya aku benar-benar lelah dan jatuh tertidur di atas tangannya. Sebuah tangan yang benar-benar akan selalu bisa membuatku mencandu. Mencandu tentang cintanya.

—–

Aku terbangun ketika ada sebuah cahaya agak kemerahan yang mengganggu mataku. Dengan perlahan aku membuka mataku, dan aku terperanjat saat mengetahui kalau cahaya kemerahan itu adalah nyala api. Aku langsung tersentak bangun dan mengucek mataku untuk memastikan apakah apartemenku lagi kebakaran. Tetapi saat mataku sudah bisa melihat dengan jelas, itu bukan kebakaran, melainkan enam buah lilin yang menancap di atas enam buah cupcake. Saat aku mengalihkan pandanganku dari lilin-lilin itu, disanalah dia. Nino. Yang sedang tersenyum penuh arti ke arahku.

“Happy birthday tou you,” nyanyi Nino dengan suara yang sangat merdu. “Happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday My Devin.” Lalu dia mengangkat kotak cupcake itu ke kehadapanku. Cahaya lilin itu kini berada di depan wajahku yang kaget dan merasa seperti saat ini adalah sebuah mimpi. “Gue udah dari tadi pagi nyiapin ini buat lo, karna gue tahu hari ini ulang tahun lo.” Nino mengangkat lebih tinggi kotak cupcake itu. “Tiup lilinnya dong,” ujar Nino saat aku masih tidak bereaksi apa-apa. Kukuakkan mulutku untuk meniup lilin itu, tetapi tiba-tiba Nino memundurkan kotak cupcake itu menjauh dariku. “Buat harapan dulu,” ujarnya lagi.

Aku tersenyum getir namun mengangguk. Kupejamkan mataku dan mencoba mencari keinginan apa yang aku mau di umurku yang ke-23 ini. Tetapi ketika aku sedang mengorek-ngorek semua harapan yang dulu pernah terlintas di otakku, kini semuanya sudah tidak ada. Jadi aku tidak membuat harapan apa-apa. Langsung saja kubuka mataku dan bersiap untuk meniup lilin yang ada di hadapanku. Namun aku terhenti tiba-tiba ketika melihat wajah Nino yang rupawan. Lalu aku tahu apa yang sangat kuharapkan. “Tuhan, gue mau Nino selalu ada di hidup gue. Untuk hari ini, besok, dan selamanya.” Hanya sekali tiup lilin-lilin itu mati dengan mudah, yang menandakan berarti permohonanku akan dikabulkan oleh Tuhan.

Baru saja Nino ingin membuka mulutnya, aku langsung menarik dagunya dan mencium bibirnya yang terkuak sedikit itu. Apakah kau pernah makan caramel? Kalau pernah, seperti itulah rasa lidah Nino saat ini. Aku mengecapnya, menikmatinya, dan merasakannya di lidahku. Nino menggeser jauh sekumpulan cupcake itu dari hadapan kami. Sebagai gantinya dia menarikku ke dalam pelukannya lalu membaringkanku di bawahnya. Kemudian dia mulai menggelitik tengkukku. Membuatku terkikik seperti Mak Lampir versi idiot.

Nino mendekapku makin erat ke dalam pelukannya. Baru saja kami ingin memulai sesuatu yang menyenangkan, tiba-tiba pintu kamarku terjeblak terbuka.

“Happy birth—holly shit!” nanyian si pengganggu itu tiba-tiba menjadi sumpah serapah ketika dia melihatku dalam posisi yang seperti ini. “Sorry-sorry!” ujarnya sambil menutup pintu. Ke-empat langkah familier itu menghilang ketika aku menengok ke belakang badan Nino.

Aku dan Nino mengembalikan posisi kami ke normal kembali. “Mendingan lo pakek pakaian deh sekarang,” saranku ke Nino.

“Emang tadi itu siapa?” tanya Nino sembari mengenakan kembali celananya.

Aku mendesah sebelum menjawab. “Luk dan Bas. Plus sama pacar-pacar mereka,” aku tidak mungkin tidak mengenali suara-suara mereka. Apalagi ketika mendengar kekehan Dika yang khas. Pasti yang tadi itu mereka. Bagaimana bisa mereka masuk ke dalam apartemenku? Itu yang menjadi pertanyaannya sekarang.

Setelah Nino selesai menggunakan celananya, aku menutupi diriku dengan selimut tebalku ini, sampai menutupi seluruh badanku. Aku melirik ke arah Nino yang masih telanjang dada. Aku mengerutkan keningku kepadanya, yang dia balas dengan kerutan yang sama. Oh, jadi dia sudah PD sekarang untuk menunjukan badannya ke orang lain. Mentang-mentang sudah sixpack, tidak gendut seperti dulu.

“Guys, kalo mau masuk, masuk gih sekarang!” teriakku lumayan keras. Agar sahabat-sahabatku yang berada di balik pintu itu mendengarnya.

Pintu terbuka dengan perlahan, yang pertama kali masuk adalah Evan. Lalu diikuti Luk, Dika dan Bas, yang memegang sebuah brownies berukuran lumayan besar di tangannya. Dua buah lilin tinggi bertengger di atas brownies tersebut. Astaga! Apakah itu lilin cap gajah? Mereka benar-benar menyebalkan. Kenapa mereka tidak menggunakan lilin ulang tahun. Grrr… sahabat yang benar-benar menyebalkan.

“Happy birthday to Dev,” nyanyi mereka fals. “Happy birthday, happy birthday, happy birthday to Dev.” Meskipun lagu itu mereka tunjukan untukku, tetapi mata mereka menuju ke arah Nino yang kala ini sedang berdiri di belakangku.

“Thanks, guys,” ujarku memecahkan keheningan. Mata mereka langsung tertuju padaku. Tetapi dari sorot tajam yang mereka berikan padaku, itu menandakan mereka meminta penjelasan tentang siapa cowok yang ada di belakangku. Tetapi aku tidak mau membahas itu dulu. Ada yang lebih penting. “Kalian masuk lewat mana?” tanyaku tajam. “Kayaknya gue udah kunci pintu gue deh.”

Untuk beberapa saat, masih tidak ada suara yang keluar dari salah satu di antara mereka. Ketika aku berdeham, barulah mereka menyadari kalau aku tadi sedang bertanya.

“Pas kemarin kita main ke sini itu,” ujar Bas dengan mata masih tertuju ke arah Nino “kita ngambil kunci cadangan apartemen lo.”

“Dasar maling!” cercaku tajam.

Mata mereka langsung tertuju padaku. Dengan gerakan kurang ajar, mereka berempat serentak menjulurkan lidah kudisan mereka padaku, yang kubalas hanya dengan putaran bola mataku. Lalu, setelah mataku selesai berputar, aku kembali fokus ke mereka. Yang sekarang mata mereka tertuju lagi ke arah Nino. Mereka berempat saling pandang dengan Nino yang sekarang bergerak kikuk di belakangku.

Aku mendesah kecil sebelum akhirnya melakukan tugas yang seharusnya kulakukan dari awal tadi. “Nino,” ujarku sembari membalikkan badanku, “ini sahabat-sahabat gue. Luk dan Bas. Serta sama pacar-pacar mereka. Evan dan Dika.”

Nino memajukan badannya lalu mengulurkan tangan ke arah Luk dan Bas. Kemudian ke Evan dan ke Dika. “And guys,” seruku dengan nada tinggi, “ini Nino. Orang yang pernah gue ceritain ke kalian itu.”

Luk dan Bas agak sedikit tersentak. Mata mereka memicing ke arah postur Nino. “Nino,” kata Bas pelan-pelan, “Nino cinta kedua lo itu?” tanya Bas dengan suara keras. Aku melotot ke arah Bas, agar dia tahu, tidak perlu mengucapkan kata cinta kedua dengan begitu keras.

“Cinta kedua?” ujar Nino heran di belakangku. Nahkan, apa kubilang!?

“Tapi lo bilang waktu itu, Nino cinta kedua lo itu gendut, jelek, item, nggak karuan deh mukanya,” aku kembali melotot ke arah Bas. Tapi karena dia memang kelewat sinting, jadi dia tidak menangkap arti pelototanku. “Tapi kenapa dia sekarang keren gini? Wah… sampe buat gue horny nih.”

Dehaman memperingatkan terdengar ke telingaku. Pandanganku langsung tertuju ke arah Dika yang sedang menyipitkan matanya ke Bas. Mampus! Siapa suruh ngomong nggak jelas dari tadi. Hajar dia Dika!

Bas malah hanya cengengesan mendapatkan tatapan seperti itu. “Kamu tetep jadi yang nomor satu kok yank,” ujar Bas sambil mengelus rambut Dika yang cepak. Luk dan Evan, serta aku dan Nino hanya tertawa melihat tingkah kedua orang itu. Lalu setelah tawa kami berhenti, Bas membuka suaranya lagi. “Jadi… Nino, lo pacaran ya sama kunyuk satu ini?” tanya Bas seraya menunjukku dengan brownies yang dipegangnya.

Badanku langsung tertegak kaku. Sialan! Bas anjrit! Apa yang akan dikatakan Nino? Apakah dia akan mengiyakan? Ataukah mentidakkan? Gee! Jantungku langsung berdegup-degup dengan kencang sekarang. Kenangan lima tahun yang lalu kembali masuk ke sel-sel memori yang ada di otakku. Suara Nino yang tegas kemudian terdengar ke telingaku. “Iya. Baru aja jadian beberapa jam yang lalu.”

Aku langsung membalikkan badanku. Nino menatapku sambil tersenyum sayang. Gosh! Rasanya hatiku sedang dibawa oleh Mak Enok sekarang. Aku membalas senyuman Nino dengan senyuman tak kalah sayangnya. Ketika aku berbalik menghadap ke sahabat-sahabatku, mereka bertepuk tangan sambil menaik-naikkan alis mereka. Mencoba menggodaku dengan guyonan aneh mereka tersebut. “Selamat datang di keluarga besar kami!” teriak mereka serentak ke Nino, dengan nada tinggi merusak gendang telinga.

“Lo harus setia mulai sekarang!” tegas Luk ketika tepukan tangan mereka berhenti.

Yah… siapa juga yang mau gonta-ganti pasangan lagi sekarang. Aku sudah menanamkan cintaku terlalu dalam di hati Nino. Aku tidak tahu bagaimana caranya melepaskan cinta itu dari hatinya. Jadi aku tidak mungkin memberikan hatiku pada orang lain. Lagipula aku sudah menunggunya selama lima tahun ini. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja. Aku tidak akan mau walaupun aku mendapatkan imbalan sebesar apapun.

“Dev,” panggil Evan, akhirnya puasa ngomongnya berhenti juga anak satu itu. “Mendingan lo tiup lilin deh sekarang. Soalnya tuh lilin cap gajah udah mau hampir meleleh semua.”

Reflek mata kami langsung tertuju ke lilin yang menancap di atas brownies yang di pegang oleh Bas. “Oke-oke,” sahutku sembari berjalan cepat menghampiri Bas. Saat aku sudah ada di hadapannya, aku menundukan kepalaku untuk bersiap-siap meniup lilin. Namun baru saja aku memonyongkan bibirku, tiba-tiba tangan Bas menjepitnya.

“Buat harapan dulu dong idiot!” kritiknya panas. “Tapi lo nggak boleh buat harapan di dalem hati. Lo harus keras-keras ngomongnya. Soalnya gue curiga dengan harapan yang bakalan lo buat. Tuh otak lo isinya kan hal-hal porno aja!”

Aku memutar bola mata dan menatap tajam ke arah Bas. Dia hanya menaikan ujung bibirnya dan menatapku dengan tatapan menantang. Kenapa dia tidak sekarat saja di rumah sakit seperti dua bulan yang lalu? Di mana dia tergeletak tidak bisa melakukan apa-apa, sehingga aku bisa mengerjainya terus. Namun sayangnya masa-masa itu kini sudah sirna.

“Oke,” gerutuku. Aku menarik nafas panjang sebelum memekikkan harapanku ke mereka. “Ya Tuhan, semoga ke-empat orang yang ada di hadapan gue ini berhenti nyebelin. Amin!” Lalu aku meniup lilin itu dengan kekuatan penuh, agar air liurku terciprat ke wajah Bas.

Well, walaupun mereka menyebalkan, aku tidak akan pernah bisa lagi medapatkan sahabat seperti mereka yang akan selalu merecokiku dan menyayangiku dalam waktu yang hampir bersamaan. Ini adalah ulang tahun yang paling indah yang pernah terjadi di hidupku.

—–

Apakah aku sudah memberitahu kalian kalau ulang tahunku persis sama seperti ulang tahun Papa dan Mamaku? Oh, belum kurasa. Yah… well, kami bertiga mempunyai tanggal ulang tahun yang sama. Kami juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Tetapi memang begitulah keadaannya. Makanya setiap aku berulang tahun, mereka juga merayakan ulang tahun mereka. Kami pasti akan membuat pesta besar-besaran. Lalu saling bertukar kado.

Makam Pahlawan Kalibata hari ini sangat sepi. Aku hanya melihat petugas pembersih pemakaman ini saja, selebihnya tak ada satu orangpun yang ada di sini. Aku tersenyum singkat ke arah bapak tua yang dulu membantu memakamkan kedua orang tuaku. Lalu aku berjalan cepat menuju ke arah makam yang berada di bawah pohon rindang di pojok pemakaman ini. Itu adalah makam kedua orang tuaku.

Ketika aku sudah sampai di depan makam kedua orang tuaku, aku langsung menaruh kedua bungkusan yang ada di kedua tanganku di atas makam mereka. Aku menekuk kakiku lalu duduk di tengah makam kedua orang tuaku yang hampir berdempetan ini. Mataku tertuju ke nama yang tertulis di batu nisan mereka. Ku elus nisan mereka, seperti aku sedang mengelus rambut mereka yang biasanya wangi dan lembut.

Setelah melakukan tindakan itu, aku lalu membuka kedua bungkusan yang ada di atas makam mereka. Bungkusan pertama adalah kue tart rasa cappucino kesukaan Papaku. Bungkusan yang kedua adalah kue tart rasa vanilla favorit Mamaku. Aku mengeluarkan kedua kue tart itu dengan hati-hati, lalu menaruhnya di depan batu nisan mereka masing-masing. Kutancapkan lilin berangka 46 untuk Papaku dan 45 untuk Mamaku. Ketika lilin-lilin itu sudah tertata dengan rapi, barulah aku menjentikan korek api untuk menyalakan lilin berangka tersebut. Cahaya jingga bagai matahari tenggelam akhirnya menyinari nisan mereka. Aku mengangkat wajahku untuk merasakan kibasan angin, namun tak ada sebersit anginpun yang menerpa wajahku.

Kutundukan kepalaku dan menatap kedua nisan orang tuaku. “Selamat ulang tahun, Mama, Papa,” lirihku sembari menelungkupkan tanganku, berdoa. “Happy birthday to Mama. Happy birthday to Papa. Happy birthday. Happy birthday. Happy birthday to my lovely parents.” Kusudahi nyanyianku dengan senyuman. Rasa perih menerpa mataku, tetapi tak ada satu air matapun yang keluar. Aku menampar wajahku sekali dan menyuruh diriku untuk menangis. Tetapi sekuat apapun aku mencoba, aku tidak akan bisa menangis. “Make a wish, Ma, Pa” tuturku parau. Aku menunggu lilin itu mati, tetapi lilin mereka tidak mati-mati juga.

Astaga! Aku lupa. Kalau ingin membuat harapan, kami harus bergandengan tangan sambil memejamkan mata bersama. Lalu aku memegang erat rumput halus yang ada di atas makam kedua orang tuaku, menganggap itu adalah tangan mereka. Kupejamkan mataku lalu berujar lirih membuat suatu harapan. “Devin ingin kalian bahagia di atas sana, karena Devin bahagia di sini. Bersama Luk, Bas, Evan, Dika dan… Nino.”

Ketika aku membuka mataku, tiupan angin rindang meluncur pelan dari pohon yang ada di atas kepalaku. Yang akhirnya mematikan lilin kedua orang tuaku. Yang juga artinya menandakan kalau permohonan yang kedua orang tuaku buat untukku akhirnya terkabul. Aku tersenyum getir ke arah batu nisan mereka. Kubuka tas selempang miniku. “Ini hadiah buat Papa,” kataku seraya menaruh jam tangan perak agak kemerahan di depan batu nisannya. “Papa suka banget kan ngoleksi jam tangan? Ini Devin beliin khusus buat Papa.” Aku kembali memasukan tanganku ke dalam tasku. “Ini hadiah buat Mama,” kutaruh bunga mawar kesukaan Mamaku di atas batu nisannya. “Mama suka kan sama mawar? Ini Devin beliin dua tangkai sekaligus.”

Lalu kuulurkan tanganku untuk mengelus ukiran nama yang tertera di batu nisan mereka. Kembali lagi aku tersenyum getir ke arah batu nisan mereka. Kemudian aku memajukan badanku dan mengecup ukiran nama mereka yang tertera di batu nisan dingin itu, menganggap itu adalah kening hangat kedua orang tuaku. “Devin cinta sama Mama dan Papa,” ujarku serak menahan perih. Aku berdiri perlahan lalu memandang sekali lagi ke batu nisan mereka. “Selamat ulang tahun,” ucapku sekali lagi sebelum aku berbalik dan meninggalkan makam mereka.

Hanya ada satu hal yang sangat kusayangkan untuk hari ini. Aku belum juga bisa menangis.

—–

Aku mendengar suara isakan lembut di sebelahku. Kutolehkan kepalaku cepat dan mendapati Nino sedang mewek. “Kamu nangis cuman gara-gara nih film?” tanyaku sambil menahan tawa. Oh, iya. Aku dan dia sudah berjanji akan menggunakan bahasa yang halus ketika kami saling memanggil. Kata ‘gue-lo’ digantikan dengan ‘aku-kamu’. Dan… sumpah deh! Aku sangat menyukai kata itu.

“Nih sedih banget tau nggak,” ujar Nino parau. Dia mengambil tanganku lalu menggenggamnya. “Kasihan si Jack-nya. Meninggal cuman untuk nyelamatin si Rose,” Nino menarikku ke dalam pelukannya. Hari ini, setelah Nino mengantarkanku ke makam kedua orang tuaku, kami menambahkan agenda untuk menghabiskan hari ulang tahunku ini sambil menonton film Titanic di atas kasurku.

Aku terkekeh pelan dan memutar bola mata. “Sedih di bagian mananya? Biasa aja kok.”

Nino tiba-tiba mengangkat badannya lalu menatapku tajam. “Kamu ini memang dasar nggak punya peri kemanusiaan dan peri keadilan yah!” ujarnya mencoba melucu. Dia tersenyum lebar ke arahku.

“Bukan,” kataku sembari memegang wajahnya. “Mau sesedih apapun film itu, aku nggak bakalan bisa nangis. Nggak akan bisa.”

Nino mengernyitkan keningnya. “Maksud kamu apa sayang?” tuturnya sembari ikut memegang wajahku. Raut kecemasan tertera di wajahnya.

Aku tersenyum getir. “Aku udah nggak bisa nangis semenjak ditinggal pergi sama Okky. Aku nggak bisa nangis sejak cintaku di tolak sama kamu. Aku nggak bisa nangis sampai sekarang walaupun aku sudah ditinggal sama kedua orang tuaku. Aku nggak bakalan bisa nangis tentang hal sesedih apapun. Aku…” aku tidak tahu harus berkata apa lagi.

Wajah Nino mendekat ke wajahku. “Aku tanya sama kamu sekarang,” sergah Nino dari sela-sela gigi yang terkatup rapat. “Apa kamu udah mengikhlaskan mereka pergi?”

“Tentu saja,” lugasku. Tetapi, tiba-tiba kelugasan itu menjadi sebuah keragu-raguan. Benarkah aku sudah mengikhlaskan mereka? Benarkah? Aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, aku sudah membiarkan mereka pergi. Tetapi aku ingin mereka selalu ada di sisiku. Menemaniku setiap saat. Di sini. Bersamaku. Selamanya.

Nino kali ini memegang wajahku makin erat. “Kalo kamu cuman mengikhlaskan mereka karna suruhan otakmu, itu bukan bener-bener pengikhlasan.” Nino mendayu pelan di telingaku. “Kamu harus ikhlasin mereka pergi. Tulus dari sini,” Nino menunjuk dadaku, atau yang paling tepatnya adalah tempat hatiku terdiam. “Ikhlasin mereka pergi Dev,” ujar Nino sambil terus mendayu di telingaku. Dia mengangkat tangannya yang bebas, lalu jari telunjuk dan jari tengahnya memegang kelopak mataku. Lalu dia menurunkan kedua jarinya itu, agar kedua mataku tertutup. Ketika gelap merasuki kepalaku, tiba-tiba senyuman cupu khas Okky terlintas di kegelapan ini. Kemudian bagaikan slide, senyuman cinta dari kedua orang tuaku juga ikut terlintas. “Ikhlasin mereka pergi, Dev.”

Kemudian semuanya terjadi. Aku mengerang dalam hatiku. Tidak ingin mereka pergi. Tetapi apa yang dikatakan Nino benar. Jika aku tidak mengikhlaskan mereka pergi, aku yakin hidupku akan terus seperti ini. Aku tidak akan pernah benar-benar merasa bahagia. Kupejamkan mataku erat-erat lalu bergumam dalam hati. “Okky, Mama, Papa, kali ini Dev bener-bener ikhlas kalo kalian mau pergi. Dev bersumpah, kalo Dev memang benar-benar tulus untuk mengikhlaskan kalian pergi sekarang.”

Saat aku membuka mataku, tiba-tiba ada dua bulir air yang mengalir lembut di kedua pipiku. Ketika aku menyentuh ujung pelupuk mataku, di situlah aku tahu. Kalau aku akhirnya bisa menangis lagi. “Aku nangis,” pekikku tak percaya. Nino menjauhkan kepalanya dari telingaku lalu memandang buliran-buliran air mata yang terus mengalir lancar di pipiku. “Aku nangis,” pekikku sekali lagi, sebelum aku berdiri dan berleha-leha di atas ranjang. Mempraktekan tarian ala orang epilepsi. Meskipun air mata terus mengalir di pipiku, aku merasa sangat bahagia sekarang.

Nino hanya tertawa melihat tingkahku. Kemudian aku berlari kencang ke arah meja komputerku dan mengambil i-Phone ku. “Fotoin aku lagi nangis ya,” seruku ke Nino, seraya memberikan i-Phone ku kepadanya. Dia mengerutkan keningnya namun menurut. Ketika i-Phone itu tertuju ke arah wajahku, aku langsung menaruh angka dua di samping mukaku, sebagai tanda damai di depan wajahku yang saat ini masih menangis. Ketika bunyi jepretan terdengar jelas, aku langsung merebut i-Phone itu. “For beol’s sake,” teriakku girang, “aku lucu banget kalo lagi nangis gini.”

Suara tawa Nino yang merdu langsung terngiang di udara di sekitar kami. Dia menarikku dalam pelukannya lalu memegang wajahku dengan kedua tangannya. “You will be fine, now” gumam Nino seraya mendekatkan bibirnya ke pelupuk mataku dan menciumnya ketika ada sebulir air mata yang jatuh disana.

Kupeluk leher Nino dengan begitu erat. Tidak mau kehilangan momen terindah ini sama sekali. “Yes, I will,” sergahku seperti bernyanyi.

Nino makin merapatkan pelukan. Suaranya yang bagaikan lonceng masuk ke dalam gendang telingaku. “Kamu mau tau nggak alasan kenapa aku pergi dulu baru mau jawab pengakuan cintamu waktu itu?” Nino menggosok pundakku, namun aku cepat-cepat mengangkat badanku dan menatapnya. Kujawab pertanyaan Nino dengan anggukan samar. Tangannya yang semula terkulai di atas pundakku, tiba-tiba berpindah ke saku celananya. Dia merogoh sebentar sakunya lalu beberapa detik kemudian dia mengeluarkan sebuah miniatur prajurit berwarna hijau kusam. Aku seperti mengenali miniatur prajurit itu. “Kamu masih inget nggak pas di TK dulu?” aku menggeleng samar. “Biar aku ingetin,” ujarnya. “Waktu itu aku adalah anak kecil dengan badan gendut yang masuk TK nol besar. Aku di olok-olok sama anak-anak yang lain karna punya badan yang besar. Terus aku nangis, dan nggak ada satu orangpun yang peduli sama aku,” cerita ini seperti kukenal di memoriku.

“Sampe ada satu anak dari TK nol kecil ngampirin aku sambil nenangin dan ngiburin aku kayak aku ini orang idiot.” Nino terkekeh pelan ketika dia mengingat hal yang terjadi dengannya itu. “Terus, tiba-tiba dia ngasih aku ini,” miniatur prajurit itu di angkat tinggi oleh Nino. “Dia bilang, prajurit ini akan selalu nemenin dan ngejagain aku terus.” Nino memandang wajahku. “Kemudian, pas dia nyium pipi gempal aku waktu itu, aku jatuh cinta sama anak itu. Dan aku tahu… dia adalah cinta pertamaku.” Kisah yang diceritakan Nino ini benar-benar seperti pernah terjadi padaku. “Coba kamu balik miniatur ini,” Nino menyerahkan miniatur itu padaku.

Aku mengambil dengan tangan yang agak bergetar. Setelah miniatur dari bahan plastik itu berada di tanganku, aku membolak-balikkannya. Sampai akhirnya aku menemukan suatu tulisan disana. Di belakang punggung prajurit itu. Betapa kagetnya jantungku ketika mengetahui kalau yang tertulis disitu adalah nama orang yang kukenal. Namaku sendiri. Devin. “Ini…” Sekarang aku mengingatnya. Ini adalah miniatur yang diberikan Papaku waktu pertama kali aku masuk TK. Dulu aku begitu takut karena tak ada satu orangpun yang akan menemaniku. Lalu Papaku memberikanku ini agar aku tidak kesepian. Namun di hari kelima aku di TK itu, aku melihat seorang anak kecil berbadan gempal yang sedang menangis. Dia bilang dia diejek. Kemudian yang aku tahu jika orang sedang bersedih satu-satunya cara agar dia gembira lagi adalah dengan menghiburnya. Dan ya, aku menghiburnya. Setelah itu kuberikan miniatur prajurit itu padanya, karena dia lebih memerlukannya daripada aku. Ternyata selama ini anak kecil itu adalah Nino.

“Bertahun-tahun aku mau nyoba buat ngomong sama kamu,” ujar Nino bersenandung. “Tapi aku nggak punya keberanian sama sekali. Sampai hari itu dateng, di mana kamu kehilangan sahabatmu dan kamu bener-bener terlihat sedih kayak aku waktu kecil dulu. Makanya waktu itu aku mau menghibur kamu. Menghibur cinta pertamaku.” Suara Nino berdenting-denting di telingaku. “Aku bukan pergi waktu itu pas kamu habis nembak aku, tapi aku cuman balik sebentar untuk ngeliatin miniatur itu sama kamu. Miniatur yang selalu buat aku… cinta sama kamu.”

Bibirku menguak menjadi senyuman lebar. Air mataku kembali mengalir di pipiku. Kutarik kepala Nino dan mengecup bibirnya dengan singkat. “Aku juga cinta sama kamu.”

“Itulah sebabnya kita ada disini sekarang,” sahut Nino sebelum akhirnya dia memberikanku sebuah ciuman yang benar-benar dipenuhi cinta dari hatinya.

—–

Epilog

157.766.400 Seconds Later (5 Tahun Kemudian)

Baiklah! Lupakan kalau aku pernah bilang kalau menikah itu mengerikan. Ternyata menikah itu persis sama seperti kau sedang mengharapkan lulus ujian atau sedang berharap mendapat IP tertinggi di angkatanmu. Dan ketika kau benar-benar mendapatkan hal itu dan maju ke depan untuk mengambil ijazahmu, seperti itulah rasanya saat kau mendapatkan ijazah pernikahanmu. Rasanya sangat menyenangkan dan menggembirakan.

Aku masih ingat empat bulan yang lalu saat Nino coming out ke Papa dan Mamanya. Kedua orang tuanya histeris dan memakiku. Tetapi ketika mereka tahu kalau aku adalah anak angkat dari Jun Sastro Widodo dan Bellania Sastro Widodo, mereka langsung memberi kami restu. Ternyata Papa Jun adalah rekan bisnis Papanya Nino yang paling penting. Yah… akhirnya, dua bulan kemudian, saat aku sedang sibuk-sibuknya kerja di kantor Papa Jun, dia tiba-tiba datang lalu menutup pintu kantorku dan melakukan atraksi melamar dengan gaya alay. Aku kaget, terharu dan sedih dalam waktu yang hampir bersamaan. Asumsiku tentang menikah waktu itu langsung sirna. Aku menjawab “YA” untuk lamarannya.

Dan semenjak dua hari yang lalu, Nino sudah resmi menjadi suamiku. Grrrr! Aku masih suka aneh sendiri jika mengatakan hal itu. Tetapi intinya, aku senang dengan semua yang terjadi padaku dan Nino. Luk benar, aku sekarang bisa menghargai pasangan yang aku punya. Aku sekarang tahu kapan aku harus mengalah. Kapan aku harus menghormatiku kekasihku. Kapan aku harus memberikannya dukungan ketika dia jatuh. Dulu mungkin aku hanya memberi dan memberi. Makanya aku lelah dengan semua pacar-pacarku yang sebelumnya. Kini aku tahu, aku harus seimbang antara memberi dan menerima pemberian. Dan, ya, aku mengerti sekarang apa artinya itu semua.

Luk dan Evan sudah menikah dua tahun yang lalu. Di Norwegia. Mereka benar-benar pasangan paling akur sepanjang masa. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Oke! Itu memang bukan anak mereka sungguhan. Tetapi itu anak kakak sepupunya Evan. Kakak sepupu Evan meninggal akibat kecelakaan mobil, jadi Evan dengan senang hati mau mengurus anak yang bernama Nagin itu. Ihhh… namanya seperti ular jahanam ya. Dan memang, anak itu memang nakal dan menakutkan. Sebab itulah aku tidak terlalu suka anak-anak. Untung saja Nino juga berpikiran sama sepertiku.

Bas dan Dika menikah setahun yang lalu di Amerika sesuai dengan keinginan mereka. Bas dan Dika membangun perusahaan sendiri sekarang di Jakarta. Mereka berdua adalah pasangan gay nomor tujuh terkaya di dunia. Dan hebatnya lagi, perusahaan yang mereka buat adalah perusahaan deodorant. Wow! Mereka berdua memang benar-benar tahu kalau krisis di dunia ini adalah bau badan dan ketiak. Aku mengacungi empat jempolku untuk pasangan idiot itu.

Sekarang aku dan Nino. Kami berdua masih di Belanda sekarang. Enam hari lagi kami akan pergi ke Roma. Untuk bulan madu. Cihuy! Nino sudah mengatur semuanya. Dia memang benar-benar suami yang bisa diandalkan. Aku tidak akan pernah mau meminta yang aneh-aneh lagi pada Tuhan. Aku cukup meminta pada Tuhan semoga semua orang yang kukenal selalu hidup bahagia dan tentram. Dan berharap aku dan Nino akan selalu untuk selamanya. Di umurku yang ke-28 tahun ini, aku sekarang bisa berpikir lebih dewasa dan matang.

“Dev,” panggil Bas di sebelahku, mengganggu ritual permohonanku. “Balik yuk! Kita dah ditungguin tuh sama laki kita.”

Aku langsung membuka mataku dan menatap Bas dengan tatapan mencela. “Tapi gue belum selesai memperbaharui sumpah persahabatan kita.” Aku kembali menutup mataku dan berharap selalu akan bisa bersama kedua sahabatku. Setelah selesai, barulah aku membuka mata. “Luk, perkiraan lo, patung Dewa yang ngabulin setiap permohonan ini, bener-bener bakalan ngabulin nggak apa yang kita mau?”

“Nggak tau. Gue sih antara percaya dan nggak percaya.” Luk terkekeh kecil melihat patung Dewa entah-siapa-namanya itu. Dia seakan-akan sedang terbang dan matanya menatap langsung ke arah mata kami. “Balik yuk!” ajaknya.

Bas menarik pundakku lalu menarik pundak Luk. Kami bertiga lalu saling melingkarkan lengan di pundak kami. Dengan langkah panjang, kami meninggalkan patung Dewa itu. Rangkulan hangat dari Luk dan Bas, menghangatkan pundakku. Persahabatan kami tetap terjalin sampai sekarang. Dan aku begitu beruntung mempunyai sahabat seperti mereka.

“Dev,” ujar Bas “sekarang menurut asumsi lo, cinta itu apa?” tanyanya dengan senyuman.

Aku membalas senyuman itu sebelum menjawab. “Menurut asumsi gue, cinta itu adalah…” aku menarik nafas panjang sebelum melanjutkan “bukan nulis nama orang yang lo kasihi di atas buku tulis, tapi nulis orang yang lo kasihi di atas buku nikah.”

Lalu tawa kami bertiga kembali membahana. Menarik semua perhatian bule-bule Belanda itu. Tetapi kami bertiga tidak peduli. Kami senang dengan cara tertawa kami yang gila ini. “Asumsi lo kali ini baru bener-bener keren,” sahut Luk di sela-sela tawanya.

Setelah kami berjalan lima puluh meter, barulah kami melihat orang yang kami kashi masing-masing. Bas melepaskan rangkulan pundak kami lalu berjalan cepat untuk memeluk pinggang Dika. Mereka berdua tertawa begitu lepas. Seakan-akan tak ada masalah yang pernah menghampiri mereka. Kemudian Luk mengikuti langkah Bas, dia menarik kerah baju Evan dan menciumnya singkat di pipi. Aku tersenyum lebar melihat adegan itu.

“Daritadi Dev tebar-tebar pesona lho No,” kata Bas mencoba memanas-manasi Nino. “Dia udah kayak pemburu aja.”

Aku dan Nino tertawa. Kemudian aku berjalan maju dan menyerempet Bas. “Lo nggak tau ya kalo gue ini pemburu,” sergahku dengan gaya menggoda. “Pemburu cowok. Jadi misi kita malam ini adalah memburu cowok,” candaku getir, yang langsung ditanggapi oleh Nino dengan dehaman keras. Aku terkekeh pelan sebelum berkata, “oh, iya! Gue lupa kalo gue udah punya suami.” Lalu kami semua terbalut dalam tawa panjang tak terputus.

Selanjutnya Nino memeluk tubuhku dari belakang. Mendekapku erat dalam hangat tubuhnya, yang akhirnya membangunkanku kalau tempatku yang sesungguhnya memang di dalam pelukannya. Di dalam pelukan hatinya. Untuk selamanya.

–The End–

NB: Sorry ya, kalau cerita si Dev ini jelek. Hehe.. maklum, lagi ada Try Out di sekolah, makanya konsentrasi terpecah-pecah. But, I hope you like it, guys. Dan… ini juga adalah cerpen paling lama yang aku kerjain dari serial Times ini. Harap pemaklumannya.😀

8 thoughts on “157.776.400 Seconds

  1. sweet , romantic , amaze pokoknya cool . . . apa mgkn ya kita nikah, btw ktnya dibali dah bs nikahin sejenis bnr ga si ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s