Same Love (Colin’s POV)


Ini cerita aku tulis pas aku kelas 1 SMA kemarin. Nggak tau kenapa aku nulis nih cerita. Sebenernya nih cerita sudah pernah mau kuterbitin jadi buku novel, tapi Cerita Keduanya belum rampung. Ini masih cerita pertama, tentang Colin’s POV. Cerita yang kedua Renvel’s POV. Jadi, aku terbitin cerita panjang ini disini aja deh. Kalau kalian baca, komen ya. Apakah aku harus lanjut ke Renvel’s POV apa kagak. Hahahaha😀 Oh, iya, cerita ini juga banyak Typonya. Tapi aku males banget buat perbaiki karena aku cuman main-main aja buat cerita ini. So, sorry kalau kalian gak suka😀

————————————————————————————————————————————————————————

“Same Love”

Novel and Story

by. Rendi Febrian

Cerita Pertama

(Colin’s POV)

  1. Introduce

Tujuh belas tahun adalah waktu yang sebentar bagiku. Ya, itu benar. Tujuh belas tahun itu seperti waktu yang singkat. Aku merasa bahwa baru kemarin aku ulang tahun yang ke-lima. Namun, secara tiba-tiba, didepan kasurku saat ini ada seorang laki-laki dengan baju kebesaran dan mata hijau cemerlang sedang memegang kue tart yang diatasnya tertulis angka tujuh belas. Dia tersenyum lebar ke arahku seraya memegang kue tart yang berlapis-lapis dengan krim putih tersebut. Matanya yang hijau itu tak pernah luput dari mataku.

“Selamat ulang tahun!” katanya dengan suara merdu. “Aku sayang kau Colin!” dia mendekatkan kue tart itu ke arahku dan menyuruhku untuk meniup lilin yang bertengger di atas kue tart tersebut.

Aku menepis selimutku dan bukan pergi meniup lilinku. Melainkan memukul kepalanya. Seharian penuh tadi, aku yang biasanya beruntung tiba-tiba sial. Laki-laki yang dihadapanku ini membentak-bentakku dengan berang di sekolah. Seakan-akan aku ini anak nakal yang brengsek. Aku malu bukan kepalang saat semua orang menatapi kami. Dia berkata kalau aku sudah membuatnya tidak bisa mengerjakan PR Trigonometrinya. Yang menyebabkan dia dihukum oleh Mrs Uncore. Dan yang jadi pelampiasannya adalah aku. Tetapi ternyata semua itu tadi hanyalah akting belaka. Aku kesal dan geram pada satu waktu. Namun aku senang dia peduli padaku.

“Hentikan!” serunya sambil tertawa, menepis tanganku yang mencoba memukulnya. “Tiup lilinnya saja, oke!” Aku berhenti mencoba memukulnya dan menggantinya dengan tatapan pura-pura marah. Aku menggelengkan kepalaku dan kembali terenyak di kasur. “Masih ngambek?” tanyanya, suaranya antara geli dan tidak enak. “Oke-oke. Maafkan aku!” katanya menaruh kue tart di atas tempat jam wekerku bertengger. Lalu ikut berbaring di sebelahku. Tangannya yang berotot itu mengangkat kepalaku dan menaruhnya di tangannya. Mata hijaunya yang begitu indah benar-benar terlihat jelas dari ujung mataku saat ini. Senyuman cemerlang merekah di bibirnya. “Ayo! Tiup lilinmu. Besok kita akan merayakan ulang tahunmu di atas lembah Beruang kita. Hanya kau dan aku,” dia mengecup keningku. Aku hanya bisa tertegun.

Aku bangkit dan bersiap-siap meniup lilin ulang tahunku. Dia sudah berada di sampingku dan memegang kue tart itu lagi. Aku tersenyum ke arahnya. Tidak memperdulikan kalau lilin ulang tahunku sudah hampir meleleh setengahnya.

Tangannya tiba-tiba terangkat dan mengacak rambutku. “Buatlah harapan!” katanya.

Kutundukan kepalaku dan membuat sebuah harapan yang benar-benar aku inginkan dalam hidupku. Buat dia mencintaiku. Buat dia mencintaiku. Buat dia mencintaiku. Hanya permohonan itu yang ada di benakku. Tidak ada yang lain. Aku mengangkat kepalaku dan meniup lilin angka tujuh belas itu dengan kekuatan penuh. Asap putih melambung tinggi saat kedua lilin itu sudah padam. Dan pikiranku saat itu hanya terisi tentang; apakah permohonanku akan terkabul?

***

Sebenarnya perkenalanku dengan dia, atau yang punya nama Renvel, sangat simpel. Dia adalah anak laki-laki tinggi, berkulit coklat yang sangat aktif. Saat itu aku dikerjai oleh beberapa anak karena aku baru saja menyelamatkan seorang anak laki-laki dari gangguan mereka. Lalu karena aku bersikap sok pahlawan tadi, saat anak yang kuselamatkan sudah pergi, tiba-tiba aku diejek, dicela, dan ditertawai. Rasa malu, sedih, dan marah memang bergejolak di hatiku waktu itu. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba Renvel datang dan memukuli anak-anak itu dengan tangannya yang besar. Dia datang menghampiriku yang lagi menangis didalam gua kecil yang merupakan salah satu arena permainan yang ada di taman bermain.

Renvel ikut masuk dan duduk disebelahku. Aku hanya menatap Renvel dengan tatapan sendu. Aku ingat dia siapa. Ya, dia adalah anak laki-laki yang diundang oleh Momku saat ulang tahunku yang ke-lima. Dia datang dengan kado segi empat di pelukannya. Menghampiriku dengan kikuk dan memberikan aku kado tersebut. Setelah itu, sepanjang pesta dia hanya meringkuk di sudut sofa sambil menonton kami bermain. Aku sudah mengajaknya berkali-kali, tetapi jawabannya selalu gelengan tegas kepalanya.

“Berhentilah menangis!” suaranya yang serak itu membuatku bergidik. “Kau anak laki-laki!” Renvel menyerahkan sapu tangan ke arahku dan dia mengelap air mataku yang terjatuh pelan dari pelipis mataku. Dan, sesimpel itulah awal pertemuan kami. Tiba-tiba saja kami kemana-mana selalu berdua. Mengerjakan apapun berdua. Sering melakukan tindakan bodoh berdua. Hanya saja, bedanya, akulah orang yang pertama di antara kami berdua yang jatuh cinta.

Astaga! Memangnya apa sih yang aku tahu tentang cinta?

Tetapi aku tahu apa itu cinta. Rasanya menyenangkan tetapi juga sangat menyakitkan. Aku mencintai sahabatku. Yang ternyata adalah seorang laki-laki dengan badan tinggi, bola mata berwarna hijau dan mempunyai senyum mempesona yang sangat menawan hati. Aku sendiri adalah anak laki-laki dengan badan yang pas-passan dan tidak bisa melakukan apa-apa tanpa dia.

Pertama kali aku tahu aku mencintai dia adalah saat dia mengelap air mata di mataku. Benar. Hari pertama dia berbicara denganku dan bersikap begitu lembut padaku. Disanalah aku jatuh cinta dengannya. Benar-benar jatuh cinta dengannya. Sampai-sampai aku tidak tahu apakah tulang-tulangku masih bisa menahanku untuk berdiri saking letihnya aku memikirkan hal itu.

Yang membuat segalanya lebih parah adalah ketika aku berumur dua belas tahun. Aku mulai berfantasi tentang Renvel. Contohnya adalah saat aku memeluk bantal tidurku. Aku menganggap itu adalah Renvel. Aku menciumi bantal itu, seakan-akan bantal itu adalah Renvel. Di umur itulah aku makin parah mencintai Renvel. Dan aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan perasaan cinta yang menyerang hatiku itu. Mencoba menghentikan perasaan itu seperti mencoba meminum semua air yang ada di lautan.

Aku tidak tahu apakah Renvel mencintaiku seperti aku mencintainya. Kata Mom dan Dadku, menyatakan perasaan itu hanya perlu keberanian dan tekad yang kuat. Aku sudah pernah mencoba mengumpulkan kedua hal itu di benak serta otakku. Sayangnya sampai sekarang aku masih tidak bisa. Aku takut, sangat takut, saat Renvel tahu perasaanku yang sebenarnya untuknya. Aku yakin dia akan pergi menjauh dariku dan tidak mau bersahabat lagi denganku. Aku tidak mau kejadian itu benar-benar terjadi.

Pada musim dingin di bulan Desember yang muram, aku tidak sengaja keceplosan bilang kalau aku mencintainya.

“Apa?” katanya, berhenti sejenak dari aktivitas membuka bungkus kado natalnya. “Kau mencintaiku?” tanya Renvel dengan nada aneh. Aku bisa menduga itu adalah nada jijik. Aku sangat yakin itu.

Karena aku tidak mau dia menjauh dariku akibat perasaan cintaku yang tolol untuknya, aku cepat-cepat berkata, “tentu saja. Aku mencintaimu sebagai sahabatku. Bukankah kau mencintaiku juga seperti layaknya seorang sahabat?” sebisa mungkin aku mengatur melodi suaraku. Takut kalau dia mendengar ada yang tidak beres dengan detak jantungku.

Aku sangat lega ketika dia tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia membalikan badannya dan kembali membuka bungkus kado natal yang diberikan oleh Momku untuknya. Aku mendesah lega ketika dia mempercayai perkataanku. Aku sangat bodoh ketika berkata kalau aku mencintainya dengan nada lantang yang mencengangkan.

Sampai sekarang aku selalu berhati-hati mengucapkan kata-kata dari mulutku saat berbicara dengannya. Tidak mau membuat kesalahan fatal yang lain. Entahlah. Menurutku mengucapkan kata cinta yang benar-benar penuh kesungguhan ke Renvel adalah hal yang tabu. Aku pengecut. Ya, aku tahu itu. Tapi hal itu patut kulakukan agar tidak merusak persahabatan kami. Aku tidak mau kehilangan dia sebagai sahabatku. Karena aku mencintainya dan membutuhkannya. Di sisiku. Untuk hari ini dan selamanya.

***

Umurku dan Renvel terpaut satu tahun. Dia terlambat masuk sekolah. Makanya aku dan dia se-angkatan. Dia terlambat sekolah karena Ibunya tidak bisa menentukan akan tinggal dimana semenjak insiden Ayahnya meninggalkan mereka berdua. Namun akhirnya Ibunya memutuskan untuk tinggal di rumah sederhana yang nyaman serta yang tepat bersebelahan dengan rumahku.

Kamarku dan kamar Renvel berdekatan. Kamar kami hanya berjarak dua meter. Setiap kali aku membuka jendela kamarku saat pagi hari, aku akan melihat Renvel juga sedang melakukan hal yang sama. Lalu setelah pandangan kami bertemu dia akan tersenyum penuh pesona ke arahku. Karena aku tidak mau dia melihat rona merah pekat yang ada di wajahku, aku cepat-cepat mengalihkan tatapanku. Ke arah mana saja. Asal tidak ke dia.

Ibu Renvel adalah pekerja di supermarket yang ada di kota kecil kami ini. Aku biasanya memanggil Ibu Ranvel dengan sebutan Mrs George. Menurutku Mrs George adalah wanita cantik dengan rambut pirang dan warna mata hijau daun yang sangat menakjubkan juwitanya. Senyumannya sangat mirip dengan senyuman yang sering Renvel berikan padaku. Mereka berdua memang sangat mirip satu sama lain. Sedangkan kalau aku dengan Mom dan Dadku. Tidak sama sekali.

Kedua orang tuaku mempunyai rambut kemerahan. Wajah bulat yang permai dan bibir tebal yang seksi. Sedangkan kalau aku mempunyai rambut hitam kecoklatan dan wajah oval yang berlebihan. Terlebih lagi bibirku sangat tipis. Kalau aku bercermin, yang bisa kulihat dari bibirku hanya seperti sebuah garis membosankan. Tidak! Namun seperti sebuah garis yang membosankan serta jelek. Apalagi bulu mataku yang kelewat panjang dan alisku yang kelewat tebal dan mempunyai warna hitam gelap mengerikan.

Saat aku menceritakan hal ini ke Renvel, reaksi yang dia berikan sangat menjengkelkan. Dia tertawa sampai terguling-guling di atas karpet kamarnya. Aku bisa mengira dia tertawa hampir selama tiga menit yang panjang. Ditambah lagi dengan butiran air mata kegirangan di pelipis matanya. Aku makin mengeram kesal.

“Kau tidak jelek!” tuturnya tegas. “Kau lumayan cukup tampan menurutku.”

Cukup. Kata-kata itu seperti… seperti… entahlah. Sesuatu yang tidak mengenakan di hati, mungkin. Bayangkan saja jika orang yang kau cintai menilai kau dengan perkataan “CUKUP”. Kiranya hal itu bisa melipur laraku. Tidak. Aku hanya bisa diam dan tak mau berkata apa-apa. Kini aku tahu kalau Renvel hanya akan selalu menganggapku “CUKUP”. Tidak lebih sebagai sahabatnya. Dan tidak kurang sebagai teman dekatnya.

Hanya saja, walaupun Renvel bilang aku ‘cukup’. Aku masih mencintainya dengan sangat dalam. Aku tidak mau sampai sehari saja tidak melihat wajah begonya. Senyuman konyolnya dan suaranya yang serak. Jenaka memang. Tetapi itu benar adanya.

Karena aku mencintainya dengan sangat-sangat penuh cinta. Tidak mau kehilangan dia dan berpisah jauh darinya. Oke. Aku tahu kalau aku sering mengucapkan kata-kata tersebut. Sayangnya aku memang senang menggunakan hipotesis itu untuk omonganku yang kadang tidak jelas sama sekali. Seperti saat ini, mungkin.

Pokoknya, yang menjadi intinya adalah; aku mencintai Renvel dengan sangat dan hampir mirip seperti orang gila yang mengharapkan bisa bebas dari sel terkutuknya. Benar! Aku memang sangat mencintai dia. Aku pasti akan terus menunggunya. Walaupun aku tidak tahu harus sampai kapan. Karena cinta memang seperti itu. Tidak mengenal waktu sama sekali. Membuat orang-orang yang terkena dampaknya harus menunggu dan menunggu.

2. School

Sekolahku dan Renvel selalu sama. Tentu saja sama. Momku dan Ibunya berteman dekat sekali. Seperti ada tali yang mengikat mereka berdua menjadi satu. Dadku juga sangat senang ketika tahu kalau Momku akhirnya punya teman dekat. Soalnya, biasanya dia hanya diam di rumah dan nonton TV ataupun melakukan urusan rumah tangga. Momku memang agak sulit berinteraksi dengan orang lain. Walaupun sebenarnya sifatnya yang itu sangat mirip denganku. Mungkin hanya sifat itulah yang bisa menyamakan aku dengan Momku.

Saat aku dan Renvel di Elementary School kami berdua selalu sekelas dan duduk satu bangku. Begitu juga saat kami berada di Junior High School. Sayangnya ketika kami berada di Senior High School kami berdua terpisah. Renvel mendapat kelas dan mata pelajaran yang berbeda denganku. Membuatku sedih tetapi juga membuatku belajar untuk mencoba menjadi orang yang mandiri. Tidak bergantung terus pada Renvel. Tapi toh kami hanya mempunyai kelas yang terpisah. Saat jam istirahat dan pulang sekolah kami selalu bersama-sama.

Di lingkaran persahabatan kami, ada satu orang lagi yang sangat mengenalku. Namanya Taylor Riot. Orangnya seperti namanya. Riot—rusuh. Hal-hal yang membuat rusuh sekolah pastilah dia. Taylor adalah anak laki-laki yang gennya dipenuhi dengan sifat aktif yang berlebihan. Aku bisa mengenal Taylor karena dia adalah teman sekelas Renvel. Kami berteman dekat seperti orang yang membalikan telapak tangannya. Begitu mudah dan instan. Tidak ada basa-basi di dalamnya. Taylor selalu bisa membuat suasana menjadi lebih hidup dan penuh canda. Aku senang bisa berteman dekat dengannya. Walaupun terkadang dia bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan dan sangat suka berceloteh panjang lebar.

“Karena hari ini ulang tahunmu,” gumam Taylor dihadapanku, saat ini kami sedang menikmati jam istirahat “kau harus mentraktirku sesuatu!” Tangan kanannya yang memegang sandwich menunjukku. Dia mengangkat tangan kirinya dan menyeruput coke kalengnya. “Jika kau mentraktirku, baru aku akan memberikan kadomu!”

Aku terkekeh pelan. Menatap Renvel yang sedang menikmati buah apel di tangannya. “Baiklah!” setujuku, mengalihkan tatapanku ke Taylor. “Jam lima sore di rumahku. Aku akan memesan dua pizza double cheese untukmu. Khusus untukmu!” tegasku. Agar Taylor bisa dengar dengan baik. Karena terkadang Taylor suka tidak mendengar ucapan orang lain. Dia mempunyai suatu penyakit yang aneh. Tiba-tiba saja dia suka melamun dan tidak mendengarkan orang lain bicara.

Taylor terbelalak kaget dan gembira. Aku sangat tahu kalau Taylor adalah seorang pecinta pizza. Dia suka semua jenis pizza yang ada di dunia ini. Mau berapa saja dia disuguhkan pizza, dia pasti akan menghabiskannya. Aku salut dengannya. Benar-benar seorang pizzaholic sejati. “Hore!” serunya lantang. Membuat kantin menjadi rusuh. Apa kubilang. Dia suka membuat rusuh. “Aku pasti datang!” katanya antusias. Bola matanya berkilat-kilat mengerikan.

Renvel tertawa pelan. Dia menatapku dan tersenyum lebar. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku. Entah kenapa, setiap kali aku melihat senyumannya, rona wajahku pasti akan berubah merah pekat.

***

“Jangan ambil potongan yang terakhir itu!” ancam Taylor saat Renvel baru saja ingin mengambil pizza yang tersisa satu potong didalam kotak. Taylor mendorong Renvel keras dan mengambil pizza yang tersisa satu potong tersebut. Lalu dia melahapnya dengan sekali suap.

Tawa Renvel bergema keras. Dia memukul pelan kepala Taylor dengan buku ‘To Kill a Mockingbird’ yang bertengger diatas kasurku. “Kau memang orang yang brengsek!” canda Renvel, masih memukul kepala Taylor. “Bisa sekali saja kau tidak terlalu berlebihan kalau tentang pizza?”

Taylor bangkit dan berkacak pinggang. “Tentu saja tidak!” gerutu Taylor, mulutnya masih penuh pizza. “Pizza adalah makanan yang paling menarik lidahku. Jadi tidak ada yang boleh mengangguku jika aku sedang memakan pizza!” Renvel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Rambutnya yang pirang itu melambai-lambai tertiup angin ketika dia melakukan hal yang sangat menawan itu.

Aku memberikan sekaleng coke untuk Taylor. Karena sekarang raut wajahnya seperti orang yang mau mati. Aku tahu, pasti di dalam kerongkongannya saat ini menyangkut pizza-pizza yang sedaritadi dia kunyah. “Lain kali cobalah untuk makan pelan-pelan, oke!” kataku sambil mengelus pundak Taylor yang bidang.

Kado yang diberikan Taylor untuk-ku adalah sarung tangan sutra yang sangat lembut. Sarung tangan itu sangat cocok aku gunakan jika aku memainkan pianoku. Disekolah aku memang mengambil Klub Musik. Aku memegang piano. Lagu pertama kali yang bisa aku mainkan adalah ‘Fur Elise’. Lagu yang sangat mudah untuk dihafal dan dimainkan. Bermain piano itu seperti sedang menonton TV. Fokus dan mencerna hal apa yang disuguhkan oleh program TV yang sedang ditayangkan. Seperti itu juga piano, fokus adalah hal yang penting. Tetapi harus mencerna juga lagu apa yang sedang dimainkan. Agar tidak salah mengambil melodi.

Pertama kali aku suka bermain piano ketika aku berumur tujuh tahun. Saat itu kami sedang merayakan ulang tahun Momku di rumah Grandmomku yang bertempat tinggal di Charlotte. Keluarga besar Mom semua hadir kala itu. Aku dan Renvel yang memang sengaja diajak hanya diam saja dan duduk manis di sofa tua serta apek yang berada di sudut ruangan. Yang juga sangat tepat bersebelahan dengan piano berbentuk sederhana yang dipunyai Garndmom.

Dadku berlari kencang ke arah piano saat Bibi Gabrielle—adik Momku—membawa kue tart untuk Momku yang sedang dikerjai habis-habisan. Saat Momku menoleh dan melihat ada sebuah kue tart berbentuk hati dihadapannya, dia langsung terperanjat kaget. Apalagi ketika tiba-tiba Dadku memainkan piano tersebut. Dadku memainkan lagu ulang tahun yang sudah melegenda. Nada-nada serta melodi yang keluar dari piano tersebut membuatku terhipnotis. Seakan-akan piano itu memanggilku untuk menemaninya. Di saat itulah aku meminta Dad dan Momku untuk membelikan aku sebuah piano. Hanya sekitar satu minggu untuk-ku bisa memainkan alat musik yang mmenakjubkan tersebut.

Momku sangat senang ketika aku masuk ke klub musik yang ada disekolah. Dia rajin membelikan aku buku-buku yang berisi tangga nada dari musik-musik klasik. Selain Fur Elise aku juga sangat senang dengan musik Don Giovanni. Akibat musik klasik dari Mozart itulah aku bisa mendapatkan juara satu saat perlombaan yang diselenggarakan di New York.

Sekolahku bahkan memberikan aku sebuah ruangan khusus tersendiri untuk-ku agar bisa latihan dengan serius. Tetapi aku menolaknya. Malah kalau aku berlatih sendirian aku tidak bisa. Karena aku tidak senang ada jeda hening ketika aku sedang berlatih. Menurutku jeda hening yang datang tersebut adalah hal yang menakutkan. Membuatku kehilangan konsentrasi. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa seperti itu.

“Kau harus tekan tuts piano itu dengan perasaan yang dalam dan kau pasti akan menemukan nada menawan yang kau inginkan!” ujar Mr. Greyhood, seorang lelaki tua pembimbing klub musik. Dia adalah seorang instrumen musik terkemuka di tahun 1991. Tak banyak orang yang mengenal Mr. Greyhood. Padahal Mr. Greyhood pernah mengharumkan nama Amerika akibat kemenangannya di Italia.

Sejak saat itulah setiap kali aku bermain piano aku selalu memikirkan cintaku terhadap Renvel. Perasaan cinta yang dalam dan kuat itulah yang akhirnya membauatku bisa menjadikan nada-nada di piano tersebut menjadi sebuah nada yang menawan. Bahkan Mr. Greyhood sangat iri dengan metode perasaan yang aku terapkan.

Jadi begitulah sejarah aku bisa menyukai dan mencintai permainan piano. Karena keindahan nada-nada dari piano tersebut dan rasa cintaku yang kuat terhadap Renvel. Dua hal itulah yang membangun semua cinta-cinta yang ada di hatiku. Entah apa yang akan kuperbuat jika aku kehilangan dua hal penting itu. Mungkin aku tidak akan bisa memainkan piano lagi. Mungkin juga aku tidak akan berminat lagi dengan piano. Tetapi, sepertinya untuk waktu dekat ini aku masih akan mencintai piano seperti aku mencintai Renvel.

3. Valley

“Apa aku juga harus memberikanmu kado?” tanya Renvel ketika aku masuk kedalam kamar sehabis mengantar Taylor ke pintu rumahku. “Seperti yang dilakukan oleh Taylor untukmu” Renvel bangkit dari kasurku dan berjalan pelan ke meja belajarku. Memegang sarung tangan yang dikadokan oleh Taylor untuk-ku.

Aku menghampiri Renvel dan menarik satu lagi kursi yang ada di dalam kolong meja belajarku. Kuhempaskan bokongku di kursi itu dan mengambil sarung tangan itu dari tangan Renvel. “Tidak perlu” tuturku, menggenggam erat-erat sarung tangan yang diberikan oleh Taylor. Aku menarik nafas panjang dan langsung menatap Renvel sambil tersenyum. “Kau sudah ada disini saja aku sudah senang!” Apa kubilang. Aku suka berkata hal-hal yang aneh ke Renvel. Bagaimana tidak dia nanti ujung-ujungnya akan meninggalkanku karena aku orang yang menjijikan untuknya.

Mimik muka Renvel sulit dibaca. Rahangnya mengeras dan matanya kosong. Aku tidak pernah bisa membaca arti mimik muka Renvel. Seberapa keraspun aku mencoba, aku tetap tidak bisa membaca mimik muka Renvel yang penuh misteri itu. “Kalau begitu, yah, baiklah!” katanya, nada suaranya garing. Renvel berdiri dan menggenggam lenganku. “Bagaimana kalau kita pergi ke lembah Beruang kita sekarang? Tadi malamkan aku sudah janji akan mengajakmu kesana!”

Aku bangkit dan ikut menggenggam lengan Renvel. Setiap kali aku menggenggam lengan Renvel, jantungku akan berdegup kencang. Untung saja suara detak jantungku yang berpacu tersebut tidak begitu keras sampai bisa dia dengar. Aku sangat senang ketika dia menggenggam erat lenganku. Aku merasa ada jika dia melakukan hal itu. Aku merasa dicintai. Dipuja. Segalanya. Aku senang dia ada disisiku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku jika dia tidak berada disisiku. Menurutku Renvel adalah asupan oksigenku. Tanpanya aku tak akan bisa bernafas. Tak akan bisa hidup.

***

Sebenarnya nama lembah itu bukan lembah Beruang. Itu nama yang diberikan olehku dan Renvel. Kami menemukan lembah itu sekitar tiga tahun yang lalu. Lembah itu kami temukan ketika aku dan teman-teman satu sekolah sedang kemping di dekat-dekat gunung yang berada di belakang sekolahku. Kami melakukan aktivitas kemping karena itu adalah salah satu program sekolah untuk murid-murid baru di senior high school, Lexington, VA.

Kami kemping selama tiga hari yang panjang dan melelahkan. Kami diperbolehkan tidur pukul tiga pagi dan harus bangun sekitar jam setengah lima pagi. Bahkan kami hanya diberi waktu dua menit untuk mandi. Bisa diperkirakan bahwa selama tiga hari itu aku hanya menggosok gigiku saja dan sangat kekurangan tidur. Tetapi, selama tiga hari yang panjang itu kami memperoleh banyak teman. Sebenarnya sih, aku tidak. Yang memperoleh banyak teman hanya Renvel. Semua cewek yang ada disana mengerumininya seakan-akan dia makhluk eksotis yang baru datang dari planet lain.

Sedangkan aku hanya dikerumuni oleh nyamuk. Semua nyamuk jahanam itu dengan puas menghisap darahku. Tetapi karena aku lebih memfokuskan mataku ke arah Renvel, aku melupakan nyamuk-nyamuk itu. Aku tidak merasa sengatan gatal nyamuk-nyamuk yang menghinggapiku. Melainkan aku malah merasakan sengatan rasa cemburu dan diabaikan oleh Renvel. Biarpun begitu Renvel tetap duduk disampingku dan menghiburku.

Di hari terakhir kami kemping, kami diberi waktu untuk bersenang-senang. Semua yang ada disitu merayakan pesta besar-besaran. Namun aku tidak suka pesta. Jadi aku hanya diam saja di tendaku dan membaca buku. Renvel sedang ikut bergabung di dalam pesta, jadi aku duduk sendiri di tendaku. Aku merasakan sepi yang mengerikan. Merasakan hampa yang tidak mengenakan. Aku ingin sekali bergabung di pesta, tetapi aku takut malah akan membuat pesta itu berantakan. Aku juga tidak pernah tahu mengapa aku berpikir seperti itu.

“Lagi ngapain sih kau?” kata Renvel, membuka resleting tenda kami. “Ayo keluar! Sedang ada pesta yang sedang berlangsung!” ajak Renvel antusias.

Aku hanya menggeleng kasar. “Tidak!” tolak-ku. “Aku sedang membaca buku dan aku sedang dibagian yang sangat menegangkan?” aku mengangkat bukuku tinggi-tinggi. Agar Renvel bisa melihat jelas buku yang sedang aku baca.

“Romeo & Juliet” ujar Renvel sedikit menghina. “Apanya yang seru dari buku nina bobo itu?”

Kupukul kepala Renvel pelan dengan buku yang cukup tebal tersebut. “Ini buku klasik yang sangat populer, idiot!” desisku, enak saja dia menghina buku yang begitu menginspirasi ini. “Aku sedang membaca di bagian ketika Romeo dan Juliet bertemu!”

Renvel memutar bola matanya. “Aku tidak peduli!” serunya. Dia mengambil bukuku dan melemparnya ke atas tas ranselku. Lalu dia menarik siku tanganku dan menyeretku keluar. “Aku benci penolakan, kau harus ingat itu!” Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Apabila Renvel sudah bilang seperti itu, aku tidak berani membuka mulutku. Karena walaupun aku menolak, Renvel tetap akan merecokiku sampai aku mau.

Tetapi aku tidak ditarik Renvel ke arah pesta. Melainkan menuju ke arah hutan yang terbentang di hadapan kami. Jalan setapak kecil didalam hutan yang kami masuki dipenuhi banyak ngengat. Hanya saja ada hal indah yang lain. Yaitu ada begitu banyak kunang-kunang disekitar kami. Menerangi tiap langkahku dan Renvel. Bahkan kunang-kunang itu menghinggapiku. Aku tersenyum lebar ketika semakin banyak kunang-kunang yang terbang di atas kepala kami berdua.

Saat sudah hampir di dalam hutan, Renvel menarik-ku mendekat ke arahnya. Kami menuruni tanjakan kecil dibawah kami dan melihat sebuah lembah. Dia berjalan cepat ke arah lembah itu dan meninggalkanku sendiri yang sedang menatapinya memasuki lembah gelap dibawah kami. Badannya yang tinggi susah payah memasuki lembah yang dipenuhi oleh tanaman rambat yang lebat. Aku mengikuti jejak Renvel, tidak mau kehilangan dia dihutan menyeramkan ini.

Memasuki lembah itu ternyata sangat sulit. Tanaman rambat yang menutupi jalan masuk ke lembah itu ada yang berduri dan ada juga yang tidak. Sangat sulit untuk memilih yang mana yang tidak berduri. Berkali-kali bajuku terkena duri sehingga ada beberapa bagian di bajuku yang robek. Menjelajah seperti ini memang mengasyikan. Namun sangat tidak seru jika yang harus di jelajahi tempat yang mengerikan seperti ini.

Sayangnya perkiraanku salah. Setelah aku menembus tanaman rambat menyulitkan itu, yang terbentang dihadapanku saat ini sangat mengagumkan. Danau kecil yang airnya tertimpa sinar bulan itu sangat menawan. Apalagi bunga-bunga yang tumbuh di sekitar danau itu. Lembah yang aku datangi sekarang ini sangat menakjubkan indahnya. Rumput hijau kemilauan menerangi lembah ini. Ditambah wangi bunga Sedap Malam yang semerbak disekitarku.

Renvel melambai ke arahku. Menyuruhku untuk mendekat ke arahnya. Hanya butuh beberapa langkah bagiku untuk sampai disebelahnya. Selimut yang kupikir hilang, ternyata saat ini sedang terbentang dengan nyamannya di atas rumput hijau yang lembap akibat embun malam. Dia membaringkan tubuhnya di atas selimut. Mata hijaunya menatapku yang sedang menatapinya dengan tatapan terpesona. Cahaya bulan menimpa wajahnya sehingga membuat dia seakan-akan adalah makhluk mitos Yunani yang sangat mengagumkan.

“Berabaringlah disebelahku!” aku tidak tahu itu nada perintah atau meminta. Yang aku tahu adalah aku menuruti perkataannya. Berbaring disebelahnya dan menatap bulan yang berwarna abu-abu itu dengan mata menyipit. Cahayanya yang terang sangat menyilaukan. “Bulannya indah, bukan?” suaranya yang bertanya membuat kepalaku berpaling padanya.

“Yep!” kataku seadanya. Tidak mau mengeluarkan kata-kata yang lain. Takut kalau nanti aku malah mengeluarkan kata-kata yang bodoh. Jadi, sebelum aku bisa menyesalinya, lebih baik aku bungkam. Diam seribu bahasa.

Tangannya tiba-tiba mengelus kepalaku. “Lembah ini sangat indahkan?”

“Yep!” kataku masih seadanya. Tetapi karena matanya menatapku tajam dan memintaku berbicara lebih banyak, jadi aku membuka mulutku lagi. “Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?”

“Aku menjelajah dengan Taylor,” aku mengernyit tidak tahu siapa itu Taylor, “anak laki-laki dengan rambut keriting yang berlebihan. Yang sering membuat rusuh keadaan.” Ya, aku ingat orang itu. Orang yang dibicarakan Renvel. Anak itu adalah anak yang membuat tenda yang berada disebelahku terbakar. “Jadi, aku dan dia tadi sore pergi jalan-jalan sebentar. Ketika dia sedang pergi pacaran dengan Emma—jangan tanya siapa itu Emma, karena aku juga belum terlalu spesifik melihat wajahnya—aku berbelok sedikit kesini dan menemukan tempat ini.”

Aku memutar kepalaku dan kembali melihat menjelajah lembah ini. Suara aliran air yang berkecipak teredengar dari danau kecil yang hanya beberapa meter dari tempatku berbaring. Rumput hijau yang halus. Pohon-pohon pinus yang tinggi. Wangi bunga yang bermacam-macam. Lembah ini memang sangat mengagumkan.

“Jadi apa kau suka lembah ini?” tanya Renvel, membuatku tersentak dari konsentrasiku untuk menjelajah lembah ini.

Dengan cepat aku menatap Renvel. “Suka sekali. Tetapi apakah lembah ini tidak berbahaya?”

“Tidak!” ujar Renvel cepat. “Tapi kata Mr Horn, lembah ini terkadang di datangi beberapa beruang.”

Aku terbelalak kaget. “Beruang? Bukankah beruang berbahaya?”

“Tidak!” ujar Renvel lagi. “Ya, maksudku, iya. Tetapi kau akan aman selama kau selalu bersamaku!” Entah kenapa aku percaya dengan perkataannya. “Well, kalau begitu nama tempat ini adalah Lembah Beruang. Hanya boleh kita berdua saja yang tahu tempat ini. Orang lain tidak boleh masuk ke lembah beruang kita. Setuju?”

Aku mengangguk antusias. Ini adalah lembah beruang kami berdua. Hanya untuk kami berdua. Tempat indah semacam inilah yang bisa mendeskripsikan hatiku untuk Renvel. Hanya tempat inilah yang bisa membuatku hanya berduaan dengan Renvel. Hanya di tempat inilah aku bisa memandang Renvel dengan tatapan penuh cinta. Yang tidak akan menarik orang lain untuk curiga terhadapku jika aku terus memandangi Renvel. Cuma tempat inilah yang bisa membuatku puas akan kehadiran Renvel. Disisiku ataupun disisi hatiku.

***

“Kenapa kau melarangku memberikanmu sebuah kado?” tanya Renvel, berdiri di tepi danau sambil berkacak pinggang. Menatapku dengan tatapan tajam. Bibirnya berkedut tidak senang.

Lembah beruang kami berdua malam ini masih terlihat indah. Tidak ada yang berubah hampir tiga tahun ini. Semuanya masih di tempatnya masing-masing. Bunga poppy yang berwarna merah yang berada didekat kakiku mengeluarkan bau harum yang menyenangkan. Membuatku bisa melupakan sejenak perasaan Renvel yang sepertinya sedang kacau. Aku tidak tahu kenapa daritadi Renvel marah-marah padaku. Padahal aku yakin aku tidak membuat suatu kesalahan sama sekali terhadapnya.

“Jawab Colin!” aku langsung cepat-cepat menatap wajahnya ketika dia berteriak keras padaku.

Aku mendesah kasar sebelum menjawab. “Bukankan sudah kubilang, kau ada disampingku saja itu sudah cukup!” lama-lama aku juga ikut emosi karena dia. “Kenapa sih kau daritadi marah-marah terus? Apa yang sudah kulakukan sehingga membuatmu menjadi uring-uringan kayak orang idiot seperti sekarang ini?”

“Tidak ada!” jawabnya pedas. “Tidak ada!” suaranya yang garing membuatku yakin dia menyembunyikan sesuatu.

Tetapi karena aku sedang malas beragumentasi dengan orang yang emosinya sedang labil. Jadi aku hanya diam saja. Duduk di atas rumput lembap. Akhirnya setelah lima belas menit yang sangat panjang, emosinya sudah berakhir. Sudah kembali normal seperti biasanya. Sekarang dia sedang menngajak-ku untuk ikut berenang dengannya.

“Selama kita mendatangi tempat ini, tak pernah sekalipun kita berenang di danau ini” teriak Renvel bersemangat. “Ayo!” ajaknya. Dia berlari pelan ke arah danau berkilauan yang berada dihadapan kami. Dia melepas baju kaosnya dan melepas celana jeansnya. Hanya celana dalamnya saja yang melekat di tubuhnya.

Aku sangat terkejut melihat tubuh Renvel yang berotot. Belakangan ini tubuhnya memang berubah drastis. Dia sangat sering olahraga. Apalagi dia juga aktif di klub Rugby-nya. Aku tidak bisa memungkiri kalau aku kagum melihat tubuhnya yang bagaikan patung legendaris. Aku cepat-cepat mengegelengkan kepalaku dan berdiri untuk menyusul Renvel yang saat ini sudah berada di dalam danau tersebut.

Dengan cepat aku melepas baju kaosku dan melepas celana jalan-jalanku. Setelah semua pakaian yang ada di badanku sudah terlepas semua—kecuali celana dalam—aku langsung menyusul Renvel. Kucelupkan kakiku pelan-pelan ke air danau berkilau itu. Aku sangat kaget ketika mendapati kalau air danau itu tidak dingin sama sekali. Malahan air danau ini sangat hangat. Padahal aku yakin suhu saat ini sedang dingin-dinginnya. Namun sepertinya suhu yang dingin tidak membuuat air danau itu menjadi dingin juga.

Airnya yang jernih membuat bibirku tertarik menjadi sebuah senyuman. Akibat sinar bulan yang berada di atas kepalaku saat ini, membuat ikan-ikan yang berenang di dalam danau ini terlihat begitu jelas. Batu-batu kerikil kecil yang kupijak menggelitik kakiku. Aku makin tersenyum lebar ketika tiba-tiba Renvel menarik-ku dan memeluk tubuhku erat.

“Menyenangkan bukan?” suaranya yang lembut berbisik di telingaku. Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk. “Maaf kalau daritadi aku marah-marah terus padamu. Hanya saja tadi ada yang mengganggu pikiranku.” Suaranya kembali berbisik di telingaku.

Aku menarik tubuhku sedikit dan menatap mata hijau Renvel. “Memangnya apa yang mengganggu pikiranmu?” tanyaku penasaran.

Dia tersenyum kecil. Membuat jantungku berdegup. “Rahasia,” katanya misterius. Lalu dia tertawa dan menyiramiku dengan air danau tersebut. Aku membalas perilaku yang dia perbuat padaku. Hampir selama tiga menit itu kami bermain-main di dalam danau berair hangat menenangkan itu. Membuat aku dan Renvel tertawa lepas.

Kejadian yang selanjutnya sangat membingungkan. Aku tidak tahu siapa yang memulainya. Apakah aku atau Renvel. Tiba-tiba saja kami sudah berpelukan dan tangan kami berdua terpaut di kepala masing-masing. Aku memegang kepala Renvel dan dia memegang kepalaku. Kami saling menarik kepala kami mendekat dan menyatukan bibir kami menjadi satu. Ciuman hangat itu membuat jantungku tersentuh riang. Bibirnya yang halus sangat pas di bibirku. Tangannya membelai sisi wajahku dan tangannya yang satu lagi memegang pinggangku.

Tetapi tiba-tiba dia tersentak. Seperti dia sadar akan sesuatu. Langsung saja aku menarik tubuhku dan tidak berani menatap Renvel yang sedang terengah-engah. Aku tahu mengapa dia tersentak tadi. Pasti akibat dia sadar kalau dia mencium seorang laki-laki dan orang itu adalah sahabatnya. Pasti sekarang dia sedang jijik padaku. Aku tidak mau berlama-lama untuk mencari tahu apa isi pikirannya, jadi aku berjalan cepat dan menerjang air danau yang hangat untuk menuju ke daratan. Ku ambil bajuku yang tergeletak di rumput hijau lembap dan berlari kencang menuju jalan keluar lembah beruang kami.

Biasanya aku takut kalau keluar sendirian dari lembah beruang kami. Namun karena rasa malu dan rasa bersalahku lebih besar dari rasa takutku, aku bisa keluar dari lembah beruang kami dengan selamat. Setelah berada di luar hutan aku mengenakan pakaianku dan berlari kencang menuju rumahku. Pikiranku dipenuhi dengan apa yang akan dilakukan Renvel terhadapku besok. Menjauhiku. Tidak mau mengenalku lagi. Aku tidak tahu. Aku hanya berharap dia tidak memilih salah satu dari pikiran buruk yang barusan aku pikirkan. Atau memilih hal yang lebih buruk.

4. Lexington, VA

Kota kecil tempat aku tinggal adalah Lexington, Virginia. Atau yang tertulis di peta adalah Lexington, VA. Kota ini bisa dibilang kota kecil yang berada di benua Amerika. Kota kecil dimana aku bisa tumbuh sampai saat ini. Kota kecil yang tidak ada apa-apanya. Sebenarnya kotaku sering di datangi orang-orang dari seluruh penjuru negara akibat sejarah yang tertoreh di tempat ini. Museum-museum di tempat ini sangat banyak. Sampai-sampai aku tidak tahu yang mana yang lebih bagus. Terlebih lagi aku juga tidak pernah sekalipun mendatangi museum-museum itu. Aku tidak tahu apa gunanya aku mendatangi tempat-tempat bersejarah seperti itu.

Lexington bisa menjadi kota yang indah akibat pemasukan dana dari pendidikan dan parawisatanya. Tetapi kebanyakan kota ini membuka usaha makanan. Seperti katering atau hal semacam itu. Di kota ini juga mempunyai teater megah nan elegan di Lime Kiln serta satu buah teater bernama Hulls Drive-In. Kedua teater itu sangat keren. Aku sangat suka datang ke kedua tempat itu setiap Jumat malam atau malam minggu. Teater tersebut biasanya akan memutar film-film baru. Dari kedua teater itu aku paling suka mendatangi Hulls Drive-In. Kita bisa menonton film dari dalam mobil sendiri. Hal yang menurutku sangat keren.

Yang tak kalah hebatnya lagi dari Lexington adalah peninggalan sejarah yang tak lekang oleh waktu. Lexington pernah menjadi tempat pembuatan film. Kalau aku tidak salah ingat, dulu di tempat ini sering di datangi para artis dan aktor dari Hollywood. Untuk menikmati alam kota kami ataupun ingin melihat lembah-lembah yang akan membuat mulut ternganga tak percaya saking eloknya. Aku sudah sering mendatangi lembah-lembah itu. Namun masih elokan lembah beruangku daripada lembah-lembah yang ada.

Kata Momku, dulu pada tahun 1997 bahwa wanita baru di akui di kota ini. Sebelum tahun itu banyak terjadi penindasan pada hak-hak wanita. Lelaki lebih suka membuat wanita tertekan. Akhirnya pada pertengahan tahun 1997, pemerintahan menerapkan bahwa derajat wanita dan laki-laki sama. Untung saja Dadku tidak pernah memperlakukan Momku secara kasar. Dadku bukan asli orang Lexington. Dia melakukan emigrasi dengan kedua orang tuanya saat berumur dua belas tahun. Sebenarnya Dadku orang asli Boston. Karena kota itu semakin padat dan berpolusi tinggi, menyebabkan Grandmother Evie dan Grandfather Lucius—kedua orang tua Dadku—pindah ke Lexington yang menakjubkan ini.

Sekolah-sekolah yang ada di Lexington awalnya hanya ada beberapa. Namun sepanjang perjalanan waktu, sekolah-sekolah disini makin banyak. Tidak terlalu banyak juga sih. Tetapi tetap saja menurutku banyak. Universitas yang ada di Lexington adalah Universitas Washington & Lee. Aku tidak pernah berencana akan masuk sana setelah lulus. Aku berencana ingin masuk di Universitas Harvard. Mengikuti jejak Uncle Harris. Lelaki serta Uncle yang kukagumi. Uncle Harris adalah adik Dadku. Dia kerja di belakang layar untuk pembuatan sebuah Film. Dia sangat ahli dalam urusan-urusan itu. Aku sangat terkagum-kagum dengan kecekatan yang dia punya. Makanya aku mau masuk Universitas Harvard dan mengambil jurusan perfilman. Sama seperti dia. Walaupun aku sangat mahir di piano, aku tidak akan menjadikan hal itu sebuah patokan untuk masa depanku. Aku mempunyai opiniku sendiri tentang hal ini.

Hari ini adalah hari minggu. Matahari bersinar cerah. Cuaca yang sangat bagus untuk orang-orang yang ada di Lexington untuk menghabiskan waktu pergi hiking. Di Lexington tidak ada pantai, jadi sebagian besar orang yang berada disini pergi mendaki atau kemping bersama keluarga mereka. Membiarkan angin lembut membelai mereka setelah enam hari yang melelahkan. Rutinitas itu memang sudah ada di Lexington sejak dulu. Bahkan kegiatan itu tidak bisa lepas dari mereka. Hiking atau kemping menurut mereka adalah pelepas lelah yang paling manjur yang pernah ada.

Mom, Dad, Grandmother Evie dan Grandfather Lucius pasti juga pergi hiking. Mereka ber-empat sangat suka menghabiskan waktu di atas gunung. Menikmati sinar matahari yang cerah. Walaupun sekarang lagi musim dingin, hawa di Lexington kadang tidak mengikuti musim. Itulah bagian terbaik lainnya tentang kota Lexington.

Aku tidak ikut dengan ke-empat keluargaku untuk hiking hari minggu ini. Aku mendapatkan shift pagi hari ini. Jadi aku tidak bisa bergabung dengan mereka. Jam empat sore nanti aku baru bisa pulang ke rumahku dan bisa kuyakinkan kalau ke-empat keluargaku sudah ada di rumah dan sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Ngomong-ngomong aku kerja di toko kaset. Tempat penjualan ataupun tempat penyewaan kaset. Aku sudah bekerja selama tiga tahun di tempat ini. Nama toko ini adalah Alejandro Collection’s. Awalnya yang mengelola tempat ini adalah Mr. Alejandro Kripov. Sayangnya dua tahun yang lalu dia meninggal dunia. Akibat kanker otak. Padahal dia adalah laki-laki tua menyenangkan, yang sangat baik padaku. Bahkan setiap sebulan sekali dia menaikan gajiku. Sekarang yang mengelola tempat ini adalah anak Mr. Alejandro Kripov. Yaitu Ben. Dia masih berumur dua puluh delapan tahun. Badannya dipenuhi tato dan dia orang yang sangat keras kepala. Tetapi dia sangat baik padaku. Tidak juga sih, karena dia tidak pernah menaikan gajiku hampir satu tahun ini.

Aku sedang menyusun kaset-kaset di atas meja kasir. Kaset-kaset itu baru saja datang dari New York. Berbagai macam genre ada. Aku tergelitik untuk menonton semua film-film itu. Karena sebagian besar film-film itu adalah film-film yang baru saja tayang di bioskop. Biasanya masih dua minggu lagi film-film yang baru keluar itu akan ditayangkan di teater Hulls Drive-In.

Pintu berderit terbuka. Bel yang ada di atas pintu itu berdering merdu. Aku masih sibuk mengatur film-film baru itu berdasarkan abjad. Jadi aku tidak mau repot-repot untuk melihat siapa orang yang baru datang tersebut.

“Apa ada film yang baru?” terdengar suara cewek bertanya.

Aku mendongak dan melihat seorang cewek dengan anting-anting besar yang tergantung di telinganya. Tampang cewek itu imut dan ada lesung pipi saat dia tersenyum. Rambutnya yang berwarna merah menyala acak-acakan dan mencuat kemana-mana.

“Kami punya—“ aku berhenti sebentar dan melihat kaset-kaset yang sedang kususun saat ini, “The Looper. Kau tahukan, si Joseph Gordon-Levitt yang bermain.” Dia mengangguk sambil tersenyum. “Ada juga, hmmm, The Perks of Being a WallFlower. Yang bermain di film ini adalah Emma Watson, kau tahukan cewek yang bermain di Harry Potter. Yang menjadi Hermione Granger?” Sekali lagi dia mengangguk. Aku mencoba tersenyum. Sebisa mungkin untuk bisa berinteraksi dengan orang lain.

Setelah itu aku menjelaskan semua film-film apa saja yang baru. Dia mendengarkan dengan antusias. Matanya yang gelap berkilat-kilat kagum saat aku menjelaskan film-film yang dia tanyakan padaku. Hampir semua film yang ada di tempat ini sudah aku tonton. Mr. Alejandro Kripov dan Ben membolehkan pegawainya untuk meminjam kaset secara gratis. Sehari kami boleh membawa lima film pulang ke rumah. Hampir setiap hari aku membawa film-film yang ingin kutonton ke rumah. Dan bisa kupastikan, setiap ada yang ingin bertanya tentang film-film yang ada di toko ini, aku pasti bisa menjawabnya dengan lancar.

“Kau akhirnya banyak bicara juga,” kata cewek itu ketika dia sudah memutuskan akan meminjam film Remember Me yang dimainkan oleh Robert Pattinson dan film Snow White and the Huntsman yang dimainkan oleh Kristen Stewart.

Aku mengerutkan keningku. “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku bingung. Mencoba mengingat siapa cewek yang ada di hadapanku ini.

“Penelope Leone. Aku teman sekelasmu hampir tiga tahun ini” dia memberitahu dengan seulas senyum di bibirnya. “Aku duduk tepat di depanmu.” Ah, benar. Cewek berambut merah yang sangat sering mengikat rambutnya dengan gaya buntut kuda.

“Astaga!” seruku pura-pura mendramatisir keadaan. “Benar! Maafkan aku.”

Dia tertawa lembut. “Ya, tak apa.” Tiba-tiba wajahnya berubah merah padam. Aku diam saja. Tidak mau menanggapi lagi kata-katanya barusan.

Akhirnya setelah aku mencatat indetitasnya dan kaset apa yang dia pinjam, dia pergi meninggalkan toko. Rambutnya yang tergerai bergoyang-goyang saat berjalan menuju ke pintu. Saat rambutnya tertimpa cahaya matahari bagaikan nyala api. Aku tidak tahu apakah itu warna asli rambutnya atau dia mengecet rambutnya menjadi semerah itu. Untuk apa juga aku peduli. Ada hal yang lebih penting untuk kuperdulikan.

Aku sibuk menelusuri data-data orang yang lupa mengembalikan kaset. Bunyi pintu berdecit terbuka dan suara bel berdering kembali terdengar. Aku masih sama saja seperti yang tadi. Tidak mau menghiraukan siapa yang datang. Orang itu berdiri dihadapanku dan mengetuk-ngetukan jarinya. Mencoba mengalihkan tatapanku dari buku daftar peminjam. Sayangnya aku memang orang yang gigih dan paling malas untuk mendongak jika tidak di panggil. Orang itu makin mengetuk-ngetukan jarinya. Aku tetap diam saja.

“Apa kau sudah makan siang?” aku tahu itu siapa. Aku menegang dan berhenti menulis secara tiba-tiba. Suaranya yang serak dan nada perintah yang ada di dalam suaranya sangat aku kenal. Siapa lagi kalau bukan Renvel.

Aku mendongak pelan-pelan dan melihat Renvel yang sedang nyengir kuda ke arahku. “Ini masih jam sebelas. Belum masuk jam makan siang” kataku seadanya.

Renvel masih bersikap wajar terhadapku. Seakan-akan kejadian tadi malam bukan apa-apa. Aku juga berusaha bersikap wajar terhadapnya. Tidak mau mengungkit hal yang terjadi tadi malam. Yang menurutku adalah hal yang memalukan. “Well, kalau begitu ralat” gumamnya, “apakah kau sudah sarapan?”

Aku tersenyum hati-hati. “Sudah!” tuturku.

Dia mendesah. Menaruh sebuah kotak kecil atau yang dinamakan tempat bekal di atas mejaku. “Padahal aku ingin memberimu ini!” dia membuka bekal itu dan memperlihatkan roti panggang yang ada di dalamnya. “Mary terlalu banyak membuat sarapan untuk-ku pagi ini.” Renvel menyorongkan enam potong roti panggang isi coklat itu kedepanku.

“Dia Mom-mu. Cobalah memangilnya dengan sebutan Mom!” tegurku. Renvel selalu memanggil Momnya dengan nama depan. Padahal sudah berkali-kali aku menyuruhnya untuk mencoba memanggil Mrs. George dengan benar. “Apa sih susahnya memanggil Mom untuk Ibumu sendiri.”

“Aku sudah terbiasa memanggilnya seperti itu,” dia menaikan pundaknya. “Dia juga tidak keberatan.” Renvel mengitari mejaku dan langsung masuk ke dalam tempat kerjaku. Dia duduk di kursi berlengan yang hanya satu-satunya ada di situ.

Kuputar bola mataku. “Mana Taylor?” tanyaku. Aku kembali mencermati daftar nama peminjam yang telat mengembalikan kaset.

“Tidak tahu!” jawab Renvel ketus. Emosinya tiba-tiba kembali bangkit.

“Apa maksudmu tidak tahu?” ujarku, menatap tajam Renvel.

Dia mendengus mengejek. “Itu artinya, aku memang tidak tahu!” Renvel berdiri dan mengambil kaset yang ada di dekat tangannya. “Memangnya aku pengasuhnya yang harus selalu mendampinginya!”

“Dia sahabat kita Renvel!” beritahuku untuknya. “Bahkan dia sudah bersahabat denganmu duluan!” aku tidak percaya Renvel lupa akan fakta itu. Akhir-akhir ini Renvel sangat sinis dengan hal apa saja yang dilakukan oleh Taylor. Aku sudah tanya Taylor kenapa, dan tentu saja Taylor juga tidak mengerti.

“Jika dia sahabatku tentu saja dia tidak akan memperlakukan orang yang aku cinta secara berlebihan!” dia melempar kaset yang dipegangnya dan menatapku dingin. “Bahkan orang yang aku cinta merespon dia! Padahal sudah jelas-jelas aku memberitahu Taylor bahwa aku sangat mencintai orang itu. Tetapi dia masih tidak menggubrisnya sama sekali!” nada marah terdengar jelas di omongannya. “Sahabat macam apa kalau seperti itu!”

Aku tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Renvel. Tetapi mendengar topik bahwa dia mencintai seseorang membuatku cemburu. Tetapi aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menunjukan rasa itu. “Memangnya siapa orang yang kau cintai?”

Dia kembali menatapku dingin lalu dia menggeleng. “Rahasia!” kalimat itu selalu dia gunakan jika ingin menyembunyikan sesuatu dariku. Kalau dia sudah bilang begitu aku tidak akan bertanya lebih lanjut. Hatiku juga saat ini seperti sedang teriris. Daripada aku membuka mulutku dan beragumentasi dengannya, pasti nanti ada kata-kata yang akan kusesali. Jadi lebih baik aku diam saja.

Karena toh dia tetap akan menyembunyikan hal itu, lebih baik aku melakukan perkejaanku. Menelusuri nama-nama orang yang belum mengembalikan kaset. Namun aku tidak bisa berkonsentrasi sebagaimanapun aku mencoba. Kata-kata Renvel saat dia bilang ada seseorang yang dia cinta selalu terngiang di telingaku. Rasa cemburu sedang menerjang hatiku saat ini. Rasa sakit hati sangat menyakitkan ternyata. Hatiku seakan-akan di remas seseorang. Rasanya menyesakan serta perih. Sekuat mungkin aku mencoba menahan air mata agar tidak keluar dari mataku.

Suara kursi berderit pelan. Renvel bangkit dan menepuk pundak-ku. Aku menoleh ke arahnya dengan sisa kekuatan yang ada. “Aku pergi dulu kalau begitu!” dia mengecup keningku. Sebenarnya tindakan yang barusan dia perbuat sangat sering dia lakukan padaku. Tetapi hanya ketika keadaan sepi. Aku tahu dia tidak mau dianggap Gay oleh orang-orang. Akupun juga begitu. Tetapi sepertinya tidak masalah bagiku kalau dia sekarang tertangkap basah sedang menciumku. Agar orang yang dia cintai—siapapun itu—tidak akan mau dengannya.

Renvel berjalan cepat ke arah pintu. Sebelum dia menutup pintu itu, aku mendengar dia bergumam sedih. “Seharusnya aku menciumnya di bibir!”

5. Realize

Seharusnya aku menciumnya di bibir. Kalimat itu selalu menggema di otak-ku. Aku tidak tahu apa maksud perkataan Renvel. Aku juga tidak tahu kalimat itu sebenarnya buatku apa bukan. Bisa jadi itu untuk orang yang dicintainya. Siapa tahu saat dia berucap seperti itu, dia sedang mengingat orang yang dia cintai. Sekuat mungkin aku berusaha untuk bilang pada diriku sendiri kalau hal itu bukanlah masalah besar. Bukan urusanku. Toh, siapa tahu aku salah dengar.

Namun aku salah. Perkataan yang dilontarkan oleh Renvel itu memang benar adanya. Dan, ya, itu memang bukan untuk-ku. Tetapi untuk seseorang yang dia cintai. Aku sadar sekarang. Aku mengerti. Sebenarnya apa sih yang aku harapkan. Renvel tentu saja hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Ciuman yang pernah terjadi di antara kami, itu semua hanya kesalahan besar. Tetapi aku tidak menyesal pernah menciumnya. Aku tidak tahu apakah dia menyesal atau tidak karena menciumku. Hanya saja ketika aku merasakan badannya tersentak waktu itu, aku tahu dia sepertinya melakukan hal bodoh terhadapku.

Aku tahu kemarin dia hanya bersikap baik padaku. Pura-pura tidak ada yang terjadi di antara kami. Sayangnya, walaupun sekuat apapun dia mencoba berpura-pura, aku masih bisa merasakan rasa sesalnya padaku. Emosinya yang sering kumat itu juga pasti bukan karena Taylor saja. Pasti juga gara-gara aku. Tetapi aku belum tahu saja kesalahan apa yang sudah kuperbuat kepadanya. Meskipun begitu sekarang aku tahu apa kesalahanku. Yaitu karena aku menciumnya. Biarpun aku juga sebenarnya tidak tahu siapa yang sebenarnya memulai ciuman mencengangkan itu.

Setelah kemarin dia meninggalkan tempat kerjaku, aku tidak melihatnya lagi. Gorden kamarnya tertutup rapat. Tidak ada cahaya sama sekali di kamarnya. Aku sebenarnya tergelitik untuk memanjat pohon yang berdiri kokoh di antara kamar kami, namun urung karena aku trauma untuk memanjat pohon itu. Pohon yang aku bicarakan adalah pohon yang biasanya digunakan Renvel untuk masuk ke kamarku. Aku sudah pernah dua kali memanjat pohon itu dan masuk ke kamar Renvel. Sayangnya ketika percobaan yang ketiga kali, tiba-tiba aku tergelincir dan jatuh dari pohon itu. Kaki kananku keseleo dan aku terpaksa tidak diperbolehkan sekolah selama seminggu agar kakiku cepat sembuh. Selama kakiku keseleo, yang kulakukan hanya duduk dan berbaring. Selama seminggu aku tidak mandi sama sekali. Aku hanya menggosok gigiku dan berganti baju.

Ketika umurku masih enam tahun, pohon itu masih sangat kecil. Grandfather Lucius-lah yang menanam pohon itu disana. Katanya itu semacam pohon mangga. Tetapi setelah umurku memasuki sebelas tahun, tidak ada satupun mangga yang tumbuh di pohon itu. Jadi, aku sangat yakin itu bukan pohon mangga. Siapa juga sih yang mau menanam pohon mangga di samping rumah. Grandfather Lucius memang terkadang suka melakukan hal yang tidak wajar. Kini pohon itu masih berdiri kokoh di samping kamarku. Dahannya yang kuat, daun-daunnya yang berwarna hijau cemerlang melekat kuat di setiap dahan, serta bau segar dari kayu pohon tersebut. Aku dan Renvel sudah mencari jenis pohon itu yang sebenarnya. Tetapi sayangnya mata kami tidak begitu teliti karena kami belum tahu juga itu pohon apa.

Pagi ini aku juga belum melihat sosok Renvel. Aku menunggu dia di pemberhentian bus sekolah. Tetapi dia tidak datang. Dua bus sekolah kutolak karena aku masih menunggu dia. Namun karena bus sekolah yang ketiga sudah datang, dan itu adalah bus yang terakhir, aku terpaksa meninggalkan dia.

Nah, kini aku sadar kenapa dia tidak ada tadi malam dan tidak kulihat pagi ini. Hari ini dia membawa mobil Volvo tua Momnya. Aku berdiri di samping gedung gimnasium untuk bertemu dengannya serta menyapanya. Karena biasanya kami melakukan hal-hal itu.

Aku terus menunggu kedatangan dia disisiku. Tetapi dia tidak kunjung-kunjung datang. Dia malah berjalan cepat ke arah pintu mobil yang satunya. Membuka pintu mobil itu dengan sekali sentak dan dia tersenyum lebar ke seseorang yang baru saja keluar dari mobilnya.

Rambut panjang berwarna pirang tetapi agak gelap melambai-lambai tertiup angin ketika dia keluar dari mobil. Badannya yang langsing dengan mudah di rangkul oleh Renvel. Orang yang dirangkul Renvel… seorang cewek. Ketika Renvel merangkul cewek itu makin erat ke pelukannya, muka cewek itu merona merah. Aku menyipitkan mataku untuk melihat lebih jelas siapa cewek yang dirangkul oleh Renvel. Dan… hanya butuh beberapa detik buatku untuk tahu siapa cewek itu. Semua orang di sekolah ini tahu siapa cewek itu. Karena dia sangat populer. Nama cewek itu adalah Poppy Goodspeed. Ketua dari himpunan cewek-cewek populer yang ada di sekolah ini.

Tiba-tiba Renvel dan Poppy berjalan cepat ke arahku. Aku langsung bersembunyi di balik papan pengumuman dan jadwal dibukanya gimnasium sekolah. Untung saja badanku tersembunyi dengan sempurna. Saat mereka berdua lewat, mereka tidak sadar kalau ada orang yang sedang bersembunyi di balik papan pengumuman yang barusan saja mereka lewati.

Aku mengintip dan melihat mereka berdua sudah masuk ke dalam sekolah. Mataku masih melihat pintu yang baru saja mereka berdua lewati. Aku masih tidak percaya kalau Renvel benar-benar mempunyai orang yang dia cintai. Bukan berarti aku meragukannya. Hanya saja dia tidak pernah menceritakannya padaku. Padahal akukan sahabatnya. Hal ini makin menyakitkan hatiku. Mengetahui kalau Renvel ternyata sekarang sudah mempunyai pasangan yang cocok untuknya dan yang sekarang juga sudah bersarang di hatinya.

Hatiku memang sangat sakit mengetahui hal ini secara mendadak. Rasanya aku ingin menangis. Tetapi sebesar apapun aku mencoba, air mataku tidak mau keluar-keluar dari mataku. Tetapi, astaga! Buat apa juga aku menangis karena sedih. Seharusnya aku senang akhirnya Renvel mempunyai orang spesial dalam hidupnya. Aku tohkan cuma sahabat karibnya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Kupaksakan bibirku untuk tersenyum. Melupakan sejenak perasaan tersayat di hatiku. Pokoknya habis ini aku harus mengucapkan selamat untuk Renvel yang akhirnya mempunyai pasangan. Aku dan dia selama ini belum pernah punya pasangan atau yang dinamakan pacar—aku tidak yakin apakah Renvel dan Poppy sudah jadian, makanya aku bilang Poppy adalah pasangannya. Akhirnya setelah delapan belas tahun dia ada di dunia ini, dia mempunyai seorang pasangan. Sedangkan kalau aku, well, aku tidak tahu apakah aku ingin mempunyai pasangan atau pacar juga. Karena aku sangat mencintai Renvel. Dan aku tidak tahu bagaimana cara untuk menghentikan rasa cinta ini terhadapnya.

***

“Mereka berdua tidak pernah sama sekali yang namanya berpisah untuk sementara waktu!” gerutu Taylor ketika kami berada di kantin sekolah. Dagunya yang lancip menunjuk ke arah Renvel dan Poppy yang kala ini sedang menikmati makan siang mereka. Tangan Renvel yang sebelah kanan merangkul Poppy dan yang satunya lagi dia gunakan untuk memegang coke-nya.

Aku terkekeh. “Ya, aku sih maklum,” padahal tidak sama sekali, “kan mereka berdua lagi kasmaran.” Aku benci ketika aku bilang seperti itu.

Taylor menyuap puding coklatnya. “Membosankan tahu tanpa ada Renvel disini!” Taylor membuang bekas tempat puding coklat itu ke sembarang tempat. Matanya berkilat-kilat marah. “Bahkan saat di kelas tadi, dia tidak mau mengubrisku sama sekali. Brengsek!” umpatnya dengan nada kasar.

Aku hanya bisa diam saja. Aku tidak mau berkomentar apa-apa. Karena kini aku sudah mengerti kalau Renvel akhirnya mempunyai seseorang yang spesial untuk berdiam diri di hatinya. Tidak mungkin aku mau mencegah hal itu.. Dari faktor hal itu tidak mungkin dan dari faktor… entahlah. Mungkin faktor kalau dia hanya akan selalu menganggapku sahabatnya. Sudahlah! Tak ada gunanya juga aku selalu memikirkan hal itu. Karena tidak akan membawa keuntungan bagiku sama sekali.

“Daripada kita membicarakan hal membosankan tentang mereka berdua, lebih baik kita ganti topik saja!” Taylor menukas dengan suara tajam.

“Baiklah!” ujarku menyetujui. “Hei, besok aku dapat shift malam di Alejandro Collection’s. Mau tidak menemaniku? Karena besok malam aku harus berjaga sampai jam setengah sebelas malam. Dan aku sendirian.”

Mata Taylor menatapku dengan tatapan aneh. “Apakah akan ada pizza?” tanyanya berharap.

“Hmmm…” aku berpura-pura berpikir. “Sepertinya… tidak ada!” aku menggeleng menyesal.

“Kalau begitu aku tidak bisa!” Taylor mengangkat pundaknya dan menjilat permen karetnya sebelum dia mengunyahnya. Itu memang kebiasaan Taylor sebelum makan permen karet. Kebiasaan yang menurutku sangat aneh.

“Dasar kau ini!” hardik-ku, sambil melemparinya dengan salad sayur yang tadi kupesan. Dia mengangkat tangannya untuk melindungi kepalanya. Tawanya yang menurutku sangat jenaka, bisa membuatku ikut tertawa juga.

Baru saja aku ingin melemparnya dengan sendok plastik pudingku, tiba-tiba Taylor berhenti tertawa. Matanya tertuju ke seseorang yang berada di belakangku. Aku menaruh kembali sendok plastik itu dan berbalik. Aku tidak begitu kaget saat mendapati kalau orang yang ada di balik badanku adalah Renvel. Yang membuatku kaget adalah sorot matanya yang tajam ke arah Taylor. Bibirnya berkedut benci.

“Halo!” sapaku membuka pembicaraan. Mata Renvel yang dingin berpindah ke arahku. “Selamat ya. Poppy Goodspeed. Pilihan yang bagus!” kataku, menjaga nada suaraku tetap biasa saja.

Dia menaikan kedua alisnya. “Ya. Sama-sama!” gumamnya, bibirnya masih berkedut benci.

“Kau harus mentraktirku atas berhasilnya kau jadian dengan Poppy!” aku membuat nada suaraku seakan-akan aku begitu senang dan antusias. Padahal kenyataannya aku tidak merasakan kedua hal itu. “Dan kapan kau jadian dengan Poppy? Kok kau tidak cerita?”

“Baiklah!” tukas Renvel. “Aku akan mentraktirmu.” Renvel melangkah pelan menuju ke tempat duduknya yang tadi. Tempat duduknya dengan Poppy. “Aku jadian dengan dia tadi malam. Dan, untuk kau tahu, aku tidak tahu apa kegunaanmu jika aku menceritakan hal ini padamu!” setelah dia mengucapkan kata-kata yang kejam itu, dia pergi meninggalkanku.

Aku masih memandanginya ketika dia sudah duduk disamping Poppy. Renvel merangkul Poppy erat di pelukannya. Aku mendengus sakit hati dan berbalik. Aku memasukan tangannku yang terkepal di dalam saku celana. Entah kenapa aku merasa begitu sakit hati dengan apa yanng baru saja di katakan oleh Renvel. Aku tidak tahu apa kegunaanmu jika aku menceritakan hal ini padamu. Kata-kata itu mencerminkan seakan-akan aku ini sahabat yang tidak berguna sama sekali.

“Aku tidak tahu kenapa,” Taylor berkata pelan, “kok aku sekarang merasa kalau dia membenciku!”

Aku juga bisa merasakan hal yang sama. Sepertinya Renvel tiba-tiba tidak menyukaiku lagi sebagai sahabatnya. Apakah akibat ciuman itu. Aapakah dia membenciku karena hal yang bahkan aku juga tidak tahu bagaimana bisa itu terjadi. Entahlah! Semuanya sangat membingungkan. Kini Renvel yang aku kenal sudah berubah drastis hanya dalam kurun waktu satu hari. Renvel yang aku kenal sekarang sudah menghilang. Aku tidak bisa melihat Renvel yang dulu lagi dalam dirinya.

Namun anehnya, meskipun hal itu memang benar adanya, bahwa Renvel sudah berubah—aggh, bodoh memang—aku masih sangat mencintainya. Bahkan aku ingin sekali mengusir Poppy dari pelukan Renvel. Akulah yang seharusnya dia peluk. Bukan Poppy. Walaupun aku tidak bisa menyalahkan Poppy akan hal itu.

“Lain kali ingatkan aku untuk tidak menyapa dia duluan sebelum dia yang menyapaku!” ujar Taylor geram. “Aku benar-benar sebal dengan anak brengsek itu!”

Sama. Aku juga begitu Taylor. Aku juga sangat sebal dengan anak brengsek itu. Hanya saja, sayangnya Taylor, aku sangat mencintai anak brengsek itu. Meskipun barusan saja dia melukai hatiku. Aku masih tetap mencintainya Taylor. Masih sangat mencintainya.

6. Meet

Semua orang yang ada di sekolah—hanya dengan waktu empat jam—tahu kalau Renvel dan Poppy jadian. Tentu saja hal itu cepat tersebar. Renvel adalah cowok paling populer yang ada di sekolah ini. Sedangkan Poppy adalah cewek yang paling terkenal seantero sekolah. Mereka berdua memang sangat cocok menjadi satu. Walaupun aku sebenarnya tidak sudi mengucapkan kalimat tabu nan mengerikan tersebut. Tetapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi dan aku sudah terlambat untuk bisa mendapatkan Renvel. Sayangnya, Renvel memang tidak pernah menyukaiku seperti aku menyukainya. Jadi, tidak ada yang namanya kata terlambat. Melainkan tidak mungkin.

Melihat Renvel dan Poppy kemana-mana berdua membuatku agak sedikit iri. Taylor memberitahuku kalau sekarang Renvel sudah tidak sebangku lagi dengan dia. Sekarang Renvel sudah sebangku dengan Poppy. Terkadang kedua orang tersebut tidak pernah memperhatikan guru menjelaskan. Itu sih kata Taylor. Aku tidak tahu kebenarannya. Tetapi tetap saja hal itu membuat hatiku sakit. Mengetahui kalau Renvel sangat terangsang dengan kegembiraan mendapatkan pacar dalam hidupnya. Mempunyai seseorang untuk bisa mendengar setiap ceritanya dan yang akan memperhatikannya juga setiap hari.

Aku tidak dekat dengan Poppy. Berbicara dengannya saja aku tidak pernah. Bagaimana mungkin bisa dekat. Aku hanya kenal cewek itu semata-mata karena pernah sekali sekelas dengannya. Cewek itu baik tetapi agak sedikit arogan. Dia juga sangat cantik dan kaya. Semua cowok yang ada di sekolah ini tergila-gila padanya. Setiap kali dia berjalan di koridor sekolah atau dimanapun, pasti dia akan menjadi pusat perhatian. Semua orang seakan-akan dia buat menjadi terhipnotis dengan kedatangannya.

Sayangnya aku tidak pernah tertarik sama sekali dengan apapun yang dia kerjakan. Bahkan aku juga tidak pernah suka melihatnya tersenyum. Senyumannya tidak bisa dibilang senyuman yang menawan. Menurutku senyuman yang dia punya sedikit agak kaku dan mencibir. Wajahnya yang putih mulus juga sangat aneh. Seperti hanya tinggal sehelai kulit yang melekat di wajahnya. Terlalu banyak make-up yang menempel di wajahnya. Membuat dia agak sedikit palsu. Agak sedikit… jalang.

Hanya saja Renvel menyukai Poppy. Mau seburuk apapun aku berkata jelek tentang Poppy Goodspeed, Renvel tetap akan kepincut dengan kecantikan yang Poppy taruh dengan apik di hidupnya. Selain itu Poppy juga seorang cewek. Dan pasti akan membuat Renvel sangat puas jika dia mencium cewek jelita itu. Tidak seperti saat menciumku. Yang merupakan seorang laki-laki dungu yang sangat sulit untuk berinteraksi dengan orang lain.

Johnny Goodspeed adalah Ayah Poppy. Laki-laki itu adalah bos Dadku. Mr. Goodspeed mempunyai kantor kecil-kecilan di Lexington. Namun, walaupun kantor yang dibuat Mr. Goodspeed kecil, pemasukannya sangat banyak. Bisa dibilang sangat sukses, malahan. Makanya Dadku sangat besar gajinya dari kantor tersebut. Terlebih lagi Mr. Goodspeed adalah orang yang sangat baik hati. Kesamaan Poppy dengan Mr. Goodspeed hanya dibagian mata dan hidung. Selain itu, mereka berdua tidak mirip sama sekali. Bagiku Poppy sangat mirip dengan Mrs. Goodspeed, yang dikenal oleh warga di Lexington sebagai ibu-ibu eksenterik dan terlalu banyak bicara.

Aku menggelengkan kepalaku untuk mengusir ke isenganku membicarakan keburukan Poppy dan keluarganya. Sebagai gantinya aku mengambil buku catatan Biologiku dan mulai mencatat. Hanya saja, sekuat apapun aku berusaha, pelajaran yang sedang coba kucerna ini tidak akan pernah bisa masuk ke dalam otak-ku. Tidak biasanya aku jadi orang seperti ini. Biasanya aku sangat mudah untuk mencerna hal yang berunsur pelajaran sekolah.

Kuhentakan buku catatan Biologiku dan berjalan cepat menuju ke pintu kamarku. Bersiap-siap untuk pergi bekerja di Alejandro Collection’s. Hari ini aku dapat shift malam dan tidak ada orang yang akan menemaniku di tempat itu. Biasanya kalau aku mendapatkan shift malam, Renvel pasti akan menemaniku. Sayangnya semua itu sudah tidak akan pernah terjadi lagi. Renvel sudah terlalu sibuk sekarang untuk menemaniku. Karena aku tahu dia sekarang mempunyai orang yang lebih penting. Dan aku sadar, aku bukanlah orang yang dimaksud.

***

Hari ini tumben banyak orang yang meminjam kaset. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Kafe yang ada di depan toko tempat aku bekerja sangat ramai dengan para pengunjung. Setiap kali mereka selesai berkunjung di kafe itu, mereka pasti menyempatkan diri datang kesini dan meminjam kaset. Jika ramai aku biasanya hanya duduk diam di balik layar komputer dan menunggu orang yang meminjam menunjukan kaset apa yang mau dipinjamnya. Kalau terlalu banyak orang, aku sangat sulit untuk berinteraksi langsung dengan mereka. Aku pasti akan tergagap dan mukaku akan terus merona merah.

Untung saja semua orang sudah pergi. Aku sudah sendirian saat ini. Menikmati pie apel yang diberikan Momku tadi. Jam sepuluh malam semua orang memang sudah pada pulang ke rumah mereka masing-masing. Ataupun para turis sudah kembali ke hotel mereka. Di Lexington memang seperti itu. Pagi datang terlambat namun malam datang terlalu cepat.

Pintu berderit terbuka dan bunyi bel yang bergantung di atasnya berbunyi lembayung. Aku mendongakan kepalaku dan melihat seorang cowok seumuran denganku bercelingak-celinguk seolah-olah sedang mencari barangnya yang hilang.

Aku berdiri pelan dan berujar padanya. “Apa ada yang bisa kubantu?”

Cowok itu terlonjak kaget. Matanya sedikit terbelalak. Dia langsung cepat-cepat membetulkan syal-nya yang merosot dari lehernya. “Ya… aku ingin meminjam kaset,” katanya agak sedikit malu-malu.

“Kalau begitu silahkan pilih kaset apa yang ingin kau pinjam,” aku berujar pelan sambil tersenyum. Aku menyipitkan mataku saat melihat rona merah menjalar dari lehernya ke wajahnya yang putih.

Dia mengangguk cepat lalu pergi ke rak-rak tempat kaset-kaset bertengger. Kepalanya tertunduk dalam saat sedang mencari-cari kaset di bagian film komedi. Kuperhatikan lekat-lekat cowok yang sedang memilih kaset itu, aku seperti mengenalnya. Tetapi aku lupa aku pernah bertemu dimana dengannya. Namun aku sangat yakin kalau aku pernah berbicara dengan dia juga sebelumnya.

Pintu kembali berderit terbuka, hanya saja kali ini bel yang ada di atas pintu itu berbunyi tidak menyenangkan. Aku mengalihakan mataku dari cowok yang sedang mencoba memilih kaset tersebut ke pengujung yang baru datang. Saat aku bisa melihat dengan jelas siapa orang yang ada di hadapanku, aku kaget. Sampai-sampai pie apel yang ada di tanganku terjatuh ke lantai dan menyebabkan lantainya terkena cipratan selai apelnya.

Poppy mengibaskan rambutnya yang basah dan berlenggang ke depanku. Tarikan senyuman yang tidak aku senangi itu tertampil di wajahnya yang dihiasi dengan make-up. “Halo!” sapanya, suaranya lembut tetapi aneh. Itu sih opiniku.

Aku mencoba tersenyum, namun aku yakin kalau bukan senyuman yang terpampang di wajahku saat ini. Melainkan seringaian malas. “Ya?” sahutku pura-pura tidak ada hal yang terjadi antara dia dan Renvel.

“Aku kesini bukan ingin meminjam kaset,” cicit Poppy. “Aku ingin berbicara denganmu tentang Renvel.”

Aku menaikan alisku. “Berbicara tentang apa?”

Dia menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal. “Well, aku tidak tahu harus mulai dari mana,” Poppy kembali menggaruk kepalanya. “Hal ini agak sedikit rumit dan yah, kau tahulah, agak sedikit aneh.”

“Kau bisa mulai dari awalnya dan kemudian ke akhirnya. Aku yakin aku pasti akan mengerti,” ucapku singkat.

“Baiklah!” dia tersenyum kecil. “Begini, aku tahu kau sudah berteman—maksudku bersahabat dengan Renvel sudah sangat lama,” aku hanya mengangguk saat dia menunggu responku. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak akan membuat Renvel lupa tentang kau yang ada sebagai sahabatnya. Kau tahukan, tadi aku mendengar kalau salah satu teman sekelasku bilang kalau Renvel sekarang melupakan kau. Padahal aku yakin tidak.”

Aku terkekeh kecil. Berpura-pura omongan yang barusan dia bicarakan tak ada gunanya untuk diberitahu. “Tenang saja Poppy,” tuturku, “aku yakin kok kalau Renvel tidak akan melupakan aku. Kan dia lagi kasmaran denganmu. Makanya dia selalu mendekatimu. Tetapi bukan berarti dia kasmaran padamu hanya sementara, aku yakin dia sangat tergila-gila padamu.” Aku tahu aku bicara ngelantur. Tetapi aku tidak peduli.

Poppy tersenyum lebar. “Ada lagi,” gumamnya buru-buru. “Aku pernah dengar rumor bahwa kau dan Renvel adalah sepasang kekasih. Kalau kalian berdua tidak bersahabat sama sekali!” Poppy melipat bibirnya seakan-akan dia sudah salah bicara. Tetapi dia menambahkan, “hanya saja clique ku tidak percaya sama sekali dengan rumor bodoh itu!”

Mataku terbelalak kaget. Aku bahkan tidak pernah mendengar rumor itu. Siapa yang buat rumor seperti itu. “Tentu saja tidak!” aku mengibaskan tanganku. “Rumor bodoh. Bagaimana mungkin aku bisa menjalin kasih dengan Renvel. Kami berdua laki-laki dan kami berdua bersahabat karib. Kalau sayang mungkin ya, aku sayang dengannya sebagai saudara laki-lakiku.”

“Aku tahu,” sambut Poppy. “Aku bisa melihat kalian berdua memang seperti bersaudara.” Poppy merapatkan jaketnya dan bersiap-siap untuk pergi. “Hanya itu saja yang ingin kubicarakan denganmu. Aku senang bisa mengenal Renvel dan sangat senang bisa menjadi pacarnya. Dan aku sangat senang bisa berteman denganmu.”

“Aku juga begitu,” padahal aku yakin aku tidak merasakan hal itu.

Poppy membuka pintu itu dan berujar cepat. “Selamat malam!” salam pisahnya.

“Malam!” sahutku, lalu dia menghilang cepat dan berlari ke arah kefe yang ada di depan toko ini. Tubuhnya yang langsing bagai terbang di jalanan malam yang terang benderang.

Mendengar dua hal yang baru saja di lontarkan oleh Poppy membuatku bingung. Siapa yang bilang kalau Renvel sudah melupakan aku. Yah, aku tahu Renvel sedaritadi pagi memang tidak pernah mendekatiku atau duduk disebelahku saat istirahat. Dia memang agak sibuk dengan urusannya dengan Poppy. Aku maklum serta memang sebal dengan tingkahnya yang seolah-olah akulah yang bersalah entah karena apa. Aku juga bisa menangkap sirat perkataannya tadi siang bahwa dia sudah tidak bisa mengandalkanku lagi. Padahal aku yakin aku masih bisa dia andalkan. Dia sudah menganggapku sahabat yang tak ada gunanya.

Yang kedua adalah tentang rumor mengerikan itu. Sekali-pun aku tidak pernah dengar tentang rumor aneh itu. Siapa yang membuat rumor dan siapa yang memicu rumor itu hingga tersebar. Aku, yah, aku sih senang saja kalau memang hal itu terjadi. Menjadi kekasih Renvel dan di ketahui oleh banyak orang. Tetapi sayangnya itu hanya rumor dan hal itu tidak terjadi di dunia nyata. Atau… sebentar. Mungkin Renvel menjauhiku karena dia mendengar rumor itu. Makanya dia sudah tidak mau dekat-dekat aku lagi. Entahlah. Bisa jadi. Tetapi Renvel tak akan menjauhiku akibat rumor semacam itu. Dia terlalu pintar untuk terpengaruh.

Sudahlah. Toh percuma saja juga aku memikirkan semua hal ini. Renvel sudah terlanjur jatuh di tangan Poppy. Dia sudah jatuh cinta dengan cewek populer nan jelita tersebut. Aku hanya bisa diam saja untuk hal ini. Biarkan saja Renvel menjalaninya dulu. Aku tetap akan menganggapnya sahabatku walaupun dia sering menyakiti hatiku. Karena, Renvel memang tidak tahu apa isi hatiku yang sebenarnya untuknya. Mana dia tahu apakah dia menyakitiku apa tidak. Dia juga masih sangat marah padaku akan sesuatu yang tidak aku tahu.

Sebuah tangan melayang-layang di depan mataku. Aku langsung mengerjap. “Ya?” kataku sambil memfokuskan mataku ke cowok yang tadi ingin meminjam kaset.

“Aku ingin meminjam ini” dia menyorongkan dua buah kaset ke hadapanku.

Aku menunduk dan mengambil kedua kaset itu. Mencatat judul kaset itu dan tanggal berapa dia harus mengembalikannya. Saat kuperhatikan dengan jelas, dia ternyata meminjam kedua film favoritku. One Day dan P.S I Love You. Kedua film romantis yang sangat aku suka.

“Kau suka kedua film ini?” tanyaku ke arahnya. Matanya yang biru langit itu menatapku lembut. “Atau kau baru saja ingin menontonnya?”

Dia mengukir sebuah senyuman di bibirnya. “Aku sudah pernah menonton film One Day sekali. Dan ya, aku sangat suka film itu. Sedangkan kalau P.S I Love You, aku belum pernah menontonnya sama sekali.”

“One Day film yang bagus. Sangat menyentuh” ucapku sambil membolak-balikan kaset One Day. “Kalau film P.S I Love You juga sangat manis. Cerita yang apik dan tragis. Aku sangat suka kedua film romantis ini.” Entah kenapa aku memberitahu cowok itu film kesukaanku. Padahal aku yakin cowok itu tidak akan peduli sama sekali.

“Ya, aku pernah mendengar kau berkata seperti itu ke Claudia.” Dia kembali membenarkan syal-nya yang melorot dari lehernya.

Aku mengerutkan dahi. Benar dugaanku. Aku memang pernah melihat orang ini. Bahkan aku yakin pernah berbicara dengannya. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Respon yang dia berikan makin membuatku bingung. Dia tertawa. “Tentu saja!” serunya dengan nada terkejut sekaligus geli. “Aku yang duduk sebangku dengan Penelope Leone di kelas. Masa kau tidak ingat? Aku sering sekali meminjam pensilmu.”

Nah, apa kubilang. Ternyata aku memang pernah bicara dengannya. Aku saja yang suka lupa dan linglung tentang orang-orang yang ada di sekolahku. “Benar!” kataku sambil mengangguk minta maaf. “Dan Claudia adalah teman sebangkuku. Ya, aku ingat sekarang.” Aku tersenyum simpul. Menghilangkan rasa malu yang menyelimutiku. Bagaimana bisa aku lupa dengan teman sekelasku sendiri. “Ingatanku memang tidak terlalu bagus.”

Well, Penelope tadi juga bilang padaku kalau kau tidak mengenalinya saat dia datang kesini untuk meminjam kaset.” Cowok itu merapatkan dirinya di depan mejaku. “Lalu aku datang kesini untuk mencoba mengetesmu. Apakah kau akan tahu aku ini siapa.” Senyuman indah terukir di bibirnya yang penuh. Jantungku berdenyut girang. Entah kenapa, aku sangat senang melihat senyuman itu.

“Kalau tidak salah namamu adalah…” aku mencoba mencari nama cowok itu di kepalaku. Namun aku tidak sanggup. Karena aku memang tidak tahu namanya.

Dia tertawa saat aku tidak kunjung menyebutkan namanya. Tawa renyah yang sangat mengasyikan. “Kyle” ujarnya. “Kyle Hunt.”

Aku ingat sedikit tentang Kyle Hunt di sekolah. “Kalau tidak salah kau salah satu dari anak Klub Sepak Bola, bukan?” ya, aku pernah melihatnya bertanding dengan klub sepak bola sekolah yang berasal dari Selandia baru kalau tidak salah. Waktu itu rambutnya masih agak panjang dan berwarna kuning terang.

“Ya,” dia mengangguk sambil tersenyum. “Itu aku!”

“Rambutmu sudah pendek sekarang. Serta berwarna coklat madu.”

“Aku memotongnya. Ini memang warna rambutku yang asli. Kalau yang warna kuning itu hanya iseng kuwarnai. Aku tidak cocok kalau mempunyai warna rambut kuning.”

Aku mengangguk tanda setuju. Setelah itu kami berdua berbincang-bincang. Aku senang dengan apa yang Kyle bicarakan. Semua hal yang dia beritahukan padaku membuatku tertarik. Sebelum-sebelumnya aku tidak pernah merasakan ketertarikan sebesar ini pada cerita orang lain. Namun kali ini aku sangat menikmatinya. Semua yang diceritakan oleh Kyle sangat apa adanya. Tak ada yang dia lebih-lebihkan sama sekali. Selain itu, aku juga sangat senang mendengar suaranya. Kenapa aku baru sadar kalau ternyata di dunia ini sangat banyak orang yang bisa membuatku gembira. Bahwa tak selamanya juga aku harus bergantung pada Renvel. Lagipula Renvel juga sudah mempunyai orang yang lebih bisa mengerti dia daripada aku. Kenapa aku tidak bisa seperti itu!

7. Fight

Kyle Hunt menemaniku di toko kaset sampai shift-ku selesai lalu setelah itu dia menemaniku pulang. Wajahnya yang ceria selalu membuat suasana menjadi lebih hidup. Bahkan Taylor-pun tak akan pernah bisa membuat mood-ku menjadi sangat bagus seperti yang dilakukan oleh Kyle. Dia banyak sekali membicarakan tentang keluarganya yang konyol. Pengalamannya saat berada di Selandia Baru untuk bertanding sepak bola dengan Klub Sekolah yang ada di sana. Semua ceritanya mengalir apa adanya. Sepertinya aku sudah pernah bilang. Namun aku senang sekali mengulangi kalimat tersebut.

Dia adalah laki-laki baik. Banyak bicara tetapi tidak menganggu. Dia tahu kapan harus berhenti bicara dan meminta sebuah masukan di ceritanya. Aku hanya menimpali beberapa saja. Karena aku tidak bisa bicara dengan lancar. Dia selalu membuatku tertawa. Terlalu sulit untuk berbicara ketika perutmu sedang sakit akibat terlalu banyak tertawa.

Saat di jalan mengatarku pulang-pun dia masih sempat membuatku tertawa. Wajahnya yang oval dan polos sangat rupawan. Mata birunya yang terkadang berubah menjadi hijau itu juga sangat lembut. Suaranya yang bagaikan nyanyian lagu nina bobo membuat sarafku tenang. Entah kenapa aku baru menyadari keberadaannya. Kalau aku tahu ada orang yang semenyenangkan dia, aku pasti sudah berlari kencang ke orang itu. Mendatanginya dan mengajaknya berbincang-bincang. Karena jika aku dekat dengan orang seperti Kyle, aku merasa tidak kaku lagi untuk berinteraksi langsung. Malahan aku sangat tertarik untuk mengetahui lebih tentang orang tersebut.

Kyle mengucapkan salam dengan hormat, yang membuatku kembali tertawa, saat kami sudah sampai di rumahku. Senyumannya yang rupawan terus tertampil di wajah polosnya. Aku sangat senang melihat wajah itu saat tertimpa cahaya bulan. Seakan-akan wajah tersebut adalah wajah orang yang rapuh dan sangat mudah untuk disakiti. Sangat mirip sekali dengan wajahku yang bentuknya tidak karuan namun sedikit menunjukan kerapuhan di dalamnya.

Aku tidak langsung masuk ke dalam rumahku. Aku terus melihat punggung Kyle yang lama-kelamaan makin tenggelam dalam kegelapan. Saat aku sudah benar-benar tidak melihat lagi sosok Kyle, aku baru membuka grendel pintu rumahku dan masuk dengan cepat. Berlari kecil ke arah tangga menuju kamarku. Kutarik terbuka pintu kamarku. Alangkah kagetnya aku ketika mendapati ada seseorang yang sedang berbaring di atas kasurku. Cepat-cepat aku meraba dinding untuk mencari saklar lampu. Ketika aku sudah menemukan saklar tersebut, aku cepat-cepat meng-kliknya. Langsung saja ruangan kamarku tertimpa cahaya lampu. Menampilkan seorang cowok dengan santainya sedang berbaring nyaman di atas kasurku.

“Aku tidak tahu kalau kau hari ini dapat shift malam,” tutur Renvel seperti orang mengantuk.

Kuputar bola mataku dan berjalan gontai menuju ke lemari pakaianku. Kutaruh jaketku dan kulepas sepatu kets-ku. “Memangnya hari ini kau bermain denganku?” tanyaku dengan nada menantang. “Tidak! Kau terlalu sibuk berpacaran.”

“Aku tidak sibuk berpacaran!” ujar Renvel malas. “Aku hanya menikmati masa-masa cintaku dengan Poppy.” Aku meringis saat dia berkata hal itu. “Lagipula, kenapa harus selalu aku yang mendatangimu? Bisakah sekali saja dalam hidupmu, kau yang mendatangiku?” Renvel bangkit. Dia menekuk kedua kakinya, membuat dirinya menjadi ke posisi bersila.

“Sudahlah!” desahku letih. “Aku malas membicarakan hal yang tidak penting.”

Untuk beberapa menit yang panjang, tak ada satupun dari kami yang berbicara. Dia sibuk dengan handphone-nya. Sedangkan aku sibuk menyusun tata letak hatiku. Rasanya sangat sakit mengetahui orang yang kau cintai mengabaikanmu seolah-olah kau tidak penting. Aku tahu Renvel tidak mengabaikanku. Melainkan menganggapku sahabat yang tidak berguna sama sekali. Entahlah. Mungkin hanya aku saja yang berpikir seperti itu.

Tiba-tiba Renvel sudah berdiri di sampingku dan menyerahkan dua tiket untuk masuk ke teater di Lime Kiln. Di tiket tersebut tertulis film: The Vow. Aku tidak tahu itu film apa. Aku hanya mengambil tiket itu dan mendongak-kan kepalaku untuk melihatnya.

“Film baru,” ujarnya, bibirnya mencoba untuk tersenyum, tetapi sayangnya tidak menghasilkan apa-apa. “Bagaimana kalau kita nonton film ini besok?” ajaknya.

Aku senang dia sudah kembali lagi Renvel yang aku kenal. Mungkin tidak sepenuhnya Renvel yang aku kenal. Karena cara bicaranya denganku masih agak sedikit kaku. “Baiklah!” setujuku, memasukan tiket itu ke dalam jaketku yang ada di dalam lemari. Agar aku tidak lupa untuk membawanya. Mengapa aku taruh di dalam jaketku? Itu karena jaket yang ada tiketnya itu adalah jaket kesukaanku. Karena Renvel-lah yang membelikannya untuk-ku saat dia pergi ke New York dengan keluarganya dua tahun silam.

Dia mengangguk. Lalu pergi ke jendela kamarku dan memanjant pohon untuk pergi ke kamarnya. Aku melihatnya melakukan hal tersebut dengan mata mengantuk. Aku tahu Renvel hanya berusaha untuk menjadi teman yang baik. Membuatku tidak merasa tersisih karena ada Poppy yang sekarang berada di hidupnya. Apakah aku merasa tersisih?

Sebenarnya, jawaban yang jujur adalah, ya!

***

Hampir setengah jam aku menunggu Renvel di depan pintu masuk utama teater Lime Kiln. Sialnya, dia belum kunjung datang jua. Di tiket tertulis kalau filmnya akan mulai pukul delapan kurang lima menit. Sekarang mungkin filmnya sudah mulai beberapa menit. Aku tidak mau masuk duluan karena masih mau menunggu kedatangan Renvel. Aku menduga dia mungkin terlambat datang karena sedang ada urusan dengan Poppy ataupun orang lain. Aku tidak mau berpikiran negatif dulu. Karena apabila aku berpikiran negatif, aku tidak akan pernah bisa mempercayai orang itu lagi.

Hujan rintik membasahi jaketku. Aku menudungkan kepalaku dengan tudungan yang ada di jaket ini. Memeluk diriku sendiri karena angin bulan November yang dingin perlahan-demi-perlahan memasuki tulang-tulangku. Membuat tulangku mengerjap kedinginan dan agak ngilu. Langit malam yang gelap dan sedikit mengeluarkan semburat cahaya muram terlihat dari genangan air yang ada di bawah kakiku. Hanya sebuah cahaya lampu saja yang menerangiku dari kegelapan malam ini. Kuhembuskan nafasku di depan telapak tanganku. Untuk mengusir dingin yang kini sudah merayap dengan leluasa di tubuhku.

Air menetes pelan dari ujung tudung jaketku, turun ke keningku dan menetes jatuh ke tanah dari ujung hidungku. Aku makin merapatkan jaketku karena udara malam makin pekat dan embun makin tebal. Mataku tetap melihat ke depan, ke ujung jalan untuk melihat kedatangan Renvel. Aku sangat berharap dia sudah ada di sampingku saat ini. Aku tidak peduli bahwa sekarang dia sudah telat satu jam. Yang aku pedulikan adalah bahwa dia datang sekarang dan agar aku bisa masuk ke teater Lime Kiln dan disuguhi dengan udara hangat di dalam sana.

Mataku masih mencari sesosok orang jangkung di ujung jalan sana. Sayangnya mau setajam apapun mataku, sosok itu tak kunjung muncul. Aku menggerutu dalam hati. Bukan. Bukan dalam artian aku marah. Tetapi dalam artian aku ingin dia segera datang. Dialah orang yang mengajak-ku untuk menonton film ini. Dialah orang yang membuat ajakan ini. Kenapa dia malah tidak kunjung-kunjung menampakan dirinya.

Kakiku mulai kram karena sudah menunggu hampir satu jam setengah. Namun bukan itu yang kini kupikirkan. Melainkan hatiku. Rasanya sangat sakit ketika orang yang kau harapkan datang tak kunjung hadir. Rasanya seperti kau baru saja diberitahu kalau salah satu sahabatmu baru saja meninggal dunia. Aku memang belum pernah punya seseorang yang dekat denganku sudah meninggal dunia. Hanya saja sepertinya, aku yakin, rasanya memang sesakit ini. Sekuat apapun aku menepis rasa sakit ini, semakin kuat pula dia menggerogoti hatiku. Dingin yang kini kurasakan-pun sudah tak berarti lagi.

Pintu teater Lime Kiln terjeblak terbuka. Aku langsung memutar kepalaku cepat dan melihat semua kerumunan orang berbondong-bondong keluar. Mereka dengan antusias membicarakan film yang baru saja mereka tonton dengan pasangan atau kerabat mereka. Aku hanya bisa melihat mereka dengan ekspresi datar. Benci karena tidak bisa melakukan hal tersebut dengan Renvel. Kini rasa marah bangkit dari hatiku.

Aku menunggu kerumunan orang menghilang baru aku ingin melangkahkan kakiku. Sayangnya ternyata orang yang baru saja keluar dari teater tersebut sangat banyak. Mungkin sekitar dua puluh menit mereka baru menghilang dari pandanganku. Sebenarnya juga aku masih menunggu kedatangan Renvel. Tetapi sekarang aku tahu dia memang tidak datang sama sekali. Apa boleh buat, sekaranglah waktuku untuk melangkahkan kakiku. Pupus sudah harapanku atas kedatangan Renvel. Yang kurasakan saat ini adalah jenuh yang menjengkelkan untuk orang seperti dia.

Pikiranku melayang kemana-mana saat aku berjalan untuk pulang ke rumahku. Hujan yang semula rintik mulai menunjukan hujan rintik yang berbahaya. Aku bisa merasakan kalau jaketku kini sudah mulai basah sepenuhnya. Sampai-sampai baju kaosku juga ikut basah. Kupercepat langkahku dan tidak peduli dengan gerutuan orang yang kutabrak. Rasa kesal, marah, benci, menderita dan… diabaikan menyerang seluruh ruang hatiku.

Ketika aku mendongak-kan kepalaku, tiba-tiba rumahku yang bercat putih tulang itu sudah ada di hadapanku. Aku mengerjap beberapa kali. Tidak percaya kalau aku sudah sampai di rumahku. Aku tidak pernah secepat ini bisa sampai ke rumahku sendiri. Atau mungkin aku yang memang tidak memperhatikan cara berjalanku. Entahlah.

Bunyi decit mobil terdengar di belakangku saat aku sudah hampir sampai di pintu rumahku. Aku memutar kepalaku cepat untuk melihat siapa orang yang membuat bunyi mengganggu tersebut. Untuk beberapa saat mobil itu hanya diam saja di depan pohon yang ada di halaman rumahku. Aku masih tetap menunggu sambil merapatkan jaketku. Beberapa saat kemudian pintu mobil itu terbuka. Aku menyipitkan mataku untuk melihat siapa orang yang barusan saja keluar dari mobil mewah yang kelewat mencolok itu. Badannya yang tinggi agak bersusah payah ketika mau keluar dari mobil. Tetapi orang itu tidak terkena kesulitan lebih lama lagi. Kini orang itu sudah berdiri di samping mobil mewah itu. Orang itu berdadah kecil ke seseorang yang ada di dalam mobil itu, lalu orang yang ada di dalam mobil itu menjalankan mobilnya dengan kekuatan penuh.

Tidak perlu ditanya siapa orang yang kini sedang berdiri di bawah hujan rintik yang menaungi dia. Aku berjalan cepat ke arah Renvel dengan kaki menghentak kesal. Ketika dia mendengar bunyi langkahku dia menoleh ke arahku. Raut wajah terkejut dan bingung terlihat di wajahnya yang menurutku sekarang sangat bego.

“Pembohong!” hardik-ku dengan nada marah.

Dia menaikan alisnya tinggi-tinggi. “Apa?” tanyanya, dia sepertinya memang lupa kalau membuat janji nonton denganku. Brengsek!

Kumasukan tanganku ke dalam kantong jeketku. Mengambil dua tiket yang ada di dalamnya. Lalu setelah kedua tiket itu sudah keluar dari kantong jaketku, aku melemparnya ke arah Renvel dengan sangat penuh kebencian. “Kau orang paling brengsek yang pernah aku tahu!” seruku sangat-sangat marah. Wajahku memanas walau malam semakin dingin.

Semula Renvel masih tidak mengerti, namun ketika dia melihat dua tiket yang terjatuh di bawah kakinya itu, dia baru tahu. Matanya yang hijau terbelalak kaget. “Astaga!” aku tahu dia benar-benar kaget, “aku benar-benar lupa!” Hanya saja ketika dia berbicara seperti itu, tidak ada sama sekali penyesalan dalam suaranya.

“Tentu saja kau lupa!” bentak-ku berang. “Kau sedang berduan dengan Poppy-mu tersayang!”

Raut wajahnya seketika langsung menggelap. “Jangan bawa-bawa Poppy ke masalah ini!”

Aku tertawa garing. “Tentu saja jangan!” ejek-ku. “Dia kan orang yang paling penting sekarang di hidupmu!”

“Ya, memang!” teriaknya keras. “Kalau memang seperti itu, kau mau apa, huh?”

“Bagus!” aku ikut berteriak. “Bagus!” ulangku. “Aku tahu sekarang kau memang tidak butuh orang seperti aku lagi di hidupmu.”

“Kalau kau sudah tahu, kenapa kau masih mau dekat-dekat denganku?” suaranya tajam dan menantang. Aku terkejut bukan main saat dia berkata begitu.

Sekuat tenaga aku menahan air mataku. “Baiklah,” ujarku parau. “Kalau begitu kau bukan siapa-siapa lagi di hidupku. Kita selesai!”

Tanpa pikir panjang aku langsung berbalik dan berjalan cepat ke rumahku. Baru saja aku ingin membuka pintu rumahku, aku mendengar Renvel berseru nyaring. “Baiklah!” suaranya seperti orang yang menahan perih. “Kita selesai!” lalu aku mendengar derap langkahnya yang sangat berat menuju ke rumahnya. Aku hanya bisa tertegun di depan pintu rumahku. Bahkan aku tak sadar kalau air mataku sudah mulai menetes. Memikirkan bahwa sekarang Renvel bukan sahabatku lagi. Memikirkan bahwa ternyata Renvel sudah tidak menginginkan orang seperti aku lagi di hidupnya.

Di atas semua itu, yang sangat membuatku sedih adalah; fakta bahwa aku masih sangat mencintainya. Masih sangat menginginkannya. Masih sangat membutuhkan sosoknya. Disisiku. Untuk malam ini. Besok. Lusa. Dan mungkin selamanya.

8. Jealous

Rasa cemburu menyengatku hampir tiga hari ini. Melihat Poppy dan Renvel ke mana-mana sambil bergandengan tangan membuat hatiku nyeri. Sayangnya buka hanya rasa cemburu itu saja yang timbul di hatiku. Rasa cemburu yang timbul lainnya adalah ketika melihat Renvel dan Taylor bermain seperti biasanya. Tanpa aku yang ada di dalamnya. Aku sangat cemburu terhadap Taylor yang masih bisa berbicara dengan Renvel dengan santainya. Sedangkan kalau aku, bertemu dengan Renvel saja, dia langsung membuang wajahnya. Bodohnya lagi, aku melakukan hal yang persis sama.

Hatiku sangat kesepian. Aku sudah tidak mempunyai orang lain lagi selain Taylor yang akan membantuku saat aku kesulitan. Sudah hampir tiga hari ini Kyle tidak masuk sekolah karena pergi ke Phoenix dengan kedua orang tuanya. Aku dan Penelope sudah agak sedikit akrab. Bahkan aku sudah bisa berbicara dengan lancar ke Claudia. Teman sebangku-ku. Kedua cewek itu orang yang baik. Rame. Tetapi walaupun mereka kuanggap rame, hatiku masih kesepian. Masih hampa tanpa adanya Renvel.

Selama tiga hari ini aku dapat shift malam. Penelope dan Claudia selalu menemaniku. Kami bertiga biasanya menonton film-film tahun 1973. Film-film lama yang membuatku bisa melupakan Renvel sejenak.

“Aku tidak mengerti kenapa film ini sangat populer pada tahun 1973!” gerutu Penelope saat aku, Claudia dan dia sedang menonton film Live and Let Die. “James Bond. Bah, buat apa film semacam ini dibuat?” Penelope membaca sinopsis film itu di belakang kasetnya. Matanya yang lebar menyipit saat tulisan itu makin ke bawah makin mengecil.

“James Bond adalah tokoh paling keren yang pernah ada. Apalagi yang memerankannya adalah Sir Roger George Moore” sahut Claudia sambil membesarkan volume TV yang ada di hadapan kami bertiga. TV yang hanya berukuran 14 inch itu tidak membuat kami bertiga puas untuk menonton filmnya.

Penelope memutar bola matanya. “Tapi dia sudah tua sekarang!” ujar Penelope, menaikan pundaknya yang panjang tinggi-tinggi. “Film itu juga hitam putih. Apanya yang bagus?”

“Kau tidak akan menemukan hal yang bagus di film ini jika daritadi kau terus menggerutu tidak jelas!” Claudia mendengus berang.

Balasan yang dilakukan Penelope sangat kekanak-kanakan. Dia menjulurkan lidahnya ke arah Claudia. Aku hanya meringis dan nyengir melihat mereka berdua saling cek-cok. “Apakah kau punya film yang bagus di tahun 2005 sampai 2008?” aku mendengar Penelope bertanya lembayung.

“Harry Potter dan Piala Api” sahutku cepat. “Bagaimana dengan film itu?”

“Aku tidak terlalu suka film yang tidak masuk akal.” Penelope mencari-cari kaset di dalam rak yang ada di dekat kursi kerjaku. “Ah, ini dia!” seru Penelope sambil mengangkat-angkat kaset berdebu yang ada di tangannya. “The Ring. Film horor terbaik yang pernah ada.”

Claudia terperanjat. “Aku tidak suka film horor. Terlebih lagi, bukannya barusan kau bilang kau tidak suka film yang tidak masuk akal!”

Well, kalau film horor kan memang sedikit masuk akal. Hantu itu kan memang benar-benar ada. Sedangkan sihir itu tidak ada.” Penelope membela diri.

“Sihir itu juga ada,” ucap Claudia cepat, “suku Maya sangat percaya dengan sihir. Begitu juga dengan suku Indian. Apalagi Gipsi.”

“Itu kan mereka. Kalau aku tidak peduli sama sekali,” Penelope membuka tempat masuk keluarnya kaset film. Dia mencabut kaset Live and Let Die dari dalamnya dan menaruh kaset The Ring sebagai gantinya. “Aku sangat suka film satu ini. Apalagi saat hantunya keluar dari dalam sumur. Sangat mengerikan!”

Kami bertiga akhirnya menonton film The Ring dengan raut wajah serius. Beberapa kali Penelope dan Claudia berteriak berisik. Sedangkan aku tidak. Aku sudah sangat menghafal jalur film yang kami nonton ini. Kapan saja hantunya akan datang mengejutkan. Aku malah menganggap film The Ring adalah film konyol yang dibuat-buat. Semua efeknya masih sangat kentara. Aku bisa melihat dengan jelas kalau ada beberapa kesalahan dalam film itu. Contoh: hantunya akan keluar dari dalam sumur lalu tiba-tiba berdiri dan keluar dari TV. Nah, kesalahan yang terjadi adalah ketika hantu itu merayap di dinding sumur. Semula tangan kanannya yang pertama keluar dari sisi pertama kamera. Tiba-tiba di sisi kamera kedua, malah tangan kirinya yang duluan keluar. Membingungkan.

Film The Ring sangat sering aku tonton dengan Renvel. Bagian terbaik dari film ini adalah dandanan hantunya. Sangat bagus dan menyeramkan. Setiap kali kami berdua menonton film The Ring, dia pasti akan selalu mengejutkanku dan akan mentertawakanku apabila aku berteriak. Aku memang sangat tidak bisa dikejutkan. Aku pasti akan berteriak seperti anak cewek berumur sepuluh tahun. Tetapi sepertinya anak cewek berumur sepuluh tahun jika berteriak tidak akan seribut aku.

Kenang-kenangan indah saat aku bersama Renvel kembali terlintas di otak-ku. Aku merindunkannya. Merindukannya saat dia mengecup keningku. Saat dia memegang lenganku. Saat dia tertawa di depanku. Mengelus kepalaku. Memeluk-ku saat kami berdua berbaring di atas kasur atau di manapun. Dan yang paling aku rindukan adalah Renvel yang dulu. Renvel yang aku kenal. Yang perhatian denganku. Yang akan membantuku di setiap aku mendapatkan kesulitan. Aku benar-benar merindukannya.

Di lain sisi aku juga tiba-tiba merindukan seseorang. Aku merindukan Kyle. Entah kenapa aku sangat merindukan orang itu. Caranya berbicara denganku sangat membuatku nyaman. Membuatku tertawa dan membuatku merasa tercipta dengan nyata di dunia ini. Caranya tersenyum padaku sangat menawan. Tidak semenawan Renvel sih memang. Tetapi Kyle mempunyai cara sendiri untuk membuatku tergugah dengan kemenawanannya. Tiga hari aku tidak bertemu dengannya benar-benar membuatku merindukannya. Bahkan aku sudah hafal wangi parfum yang dia gunakan di tubuhnya dan bajunya. Wangi coffe dan bergamot yang sangat menggiurkan aromanya.

Lamunanku langsung buyar ketika aku mendengar teriakan Penelope dan Claudia yang kelewat nyaring. Aku menggeleng pelan lalu berdiri cepat ketika mendengar ada seseorang yang baru saja datang menghampiri toko kaset ini. Ketika baru saja aku ingin mengucapkan selamat datang ke orang tersebut, aku langsung urung dan menutup mulutku rapat-rapat. Renvel dan Poppy sedang saling rangkul di hadapanku. Hujan rintik yang ada diluar membuat jaket mereka sedikit terkena rintikan airnya.

“Halo!” sapa Poppy riang. “Aku dan Renvel berencana ingin meminjam kaset.”

Aku sangat malas sebenarnya untuk meladeni kedua orang yang sedang berdiri di hadapanku saat ini. “Silahkan pilih film apa yang ingin kau pinjam!” walaupun aku tidak senang dan merasa cemburu, aku tetap harus menjaga nada suaraku agar tetap sopan.

“Kami lagi terburu-buru,” kata Poppy “jadi bisakah kau menemukan film…” Poppy menunduk untuk melihat daftar film yang ada di kertas yang dipegangnya. “The Notebook dan Valentine’s Day.”

Poppy kembali menatapku. Aku sangat cemburu dengan dia. Dengan hati yang gembira dan seperti ada hal yang salah denganku, aku langsung berkata kejam kepadanya. “Kalau aku boleh menyarankan, kenapa kalian berdua tidak menonton film The Descent dan Paranormal Activity? Sepertinya film horor cocok untuk kalian berdua. Kan kalian sama-sama seram.”

Aku bisa melihat dari sudut mataku Renvel mengerjap beberapa kali. Poppy terbelalak kaget namun hanya beberapa detik. Dia mencoba menguasai dirinya. “Maksudnya?”

“Tidak ada!” sahutku cepat, menaikan pundak-ku tinggi-tinggi seperti yang dilakukan Penelope tadi. “Tetapi kalau kalian memang ingin menonton The Notebook dan Valentine’s Day juga tidak masalah.” Aku berbalik cepat dan mengambil kedua film itu di rak yang ada di dekat kursi kerjaku. Setelah aku menemukannya aku langsung menuliskan data Poppy di buku peminjam. “Ini dia!” kukasih kedua kaset itu dengan malas-malas-san. “Selamat menikmati filmnya.” Aku benci saat mengatakan hal tersebut.

Dengan sekali sentak Poppy mengambil kedua kaset itu dari tanganku. Menggandeng erat tangan Renvel lalu berbalik dan meninggalkan toko. Poppy juga tidak mengambil kembaliannya. Aku juga sangat malas untuk memanggil namanya. Biarkan saja dia pergi tanpa mengambil kembaliannya. Toh aku juga tidak sudi mengambil uangnya. Aku sangat-sangat cemburu dan berang dengan cewek itu. Yang sudah membuat Renvel menjadi bukan-Renvel. Tetapi tidak juga sih, Renvel memang agak sedikit pemarah semenjak hari ulang tahunku dan ke-esokannya. Apakah akibat ciuman yang terjadi di anatara kami itu? Kuharap tidak. Mengerikan sekali kalau memang akibat hal itu.

“Aku tidak pernah suka dengan cewek jalang itu!” Penelope memberitahuku pelan, suaranya tajam dan agak sedikit benci.

Aku diam beberapa saat untuk meneliti wajahnya. Sayangnya aku tidak menemukan apapun. “Kenapa?” tanyaku penasaran. “Apa yang sudah dia lakukan sampai kau tidak menyukainya?”

“Dia mengambil pacarku!” ujar Penelope singkat.

“Benarkah?” Claudia ikut nimbrung, nada suaranya terkejut.

Penelope mendesah perih. “Yep. Dia mengambil Mike dari pelukanku.” Penelope mematikan DVD player dan menyusun kembali kaset-kaset yang dia berantaki. “Walaupun kejadian itu terjadinya sudah sangat lama, rasa sakit hatiku masih tertoreh untuk kedua orang brengsek itu!” Wajah Penelope yang semula lembut berubah mengeras.

“Aku ikut prihatin,” Claudia menghampiri Penelope, mengelus pundaknya. “Aku juga tidak pernah suka cewek itu. Dia selalu merasa dialah orang yang paling penting di dunia ini. Dia mau kalau dunia hanya membicarakannya. Padahal tak ada satupun hal yang bagus untuk dibicarakan tentangnya. Hanya Mr. Goodspeed saja orang yang paling baik di keluarganya.” Claudia berkoar panjang lebar.

“Aku setuju,” seru Penelope nyaring. “Mrs. Goodspeed sama busuknya dengan anaknya. Bah, aku benar-benar tidak senang dengan kedua cewek Goodspeed itu.” Penelope mengenyakan bokongnya di sampingku. Tangannya memilin-milin rambutnya menjadi sebuah ikal yang bagus.

Lalu setelah itu Penelope dan Claudia membicarakan keluarga Goodspeed. Aku tidak terlalu pintar kalau membicarakan keluarga orang lain. Jadi aku hanya duduk diam dan memperhatikan kedua cewek itu dengan raut wajah pura-pura antusias mendengar keluhan dan kritikan mereka tentang keluarga Goodspeed. Namun beberapa saat kemudian mereka berdua mengubah arah pembicaraan mereka ke arah cowok. Tentang siapa yang akan di bawa oleh Penelope ke pesta prom night yang akan berlangsung empat bulan lagi. Tentang Claudia yang sedang mengencani Felix Doorway, dan ciuman cowok itu yang menakjubkan. Aku ikut tertawa ketika ada beberapa kejadian lucu yang di alami oleh Penelope dan Claudia saat berpacaran. Mereka berdua sangat gampang membicarakan orang yang mereka suka dan orang yang pernah mereka kencani.

Sedangkan aku sangat sulit untuk membicarakan hal-hal seperti itu. Tidak mungkin aku memberitahu kedua cewek itu kalau aku menyukai Renvel. Eh, bukan, kalau aku mencintai Renvel. Apa yang akan mereka berdua pikirkan tentangku. Aku yakin bukan pikiran yang bagus. Mana ada manusia normal akan berpikiran positif tentang orang yang mencintai sesama. Aku yakin mereka berdua akan menjauhiku dan tidak akan mau berteman lagi denganku. Bisa jadi juga mereka berdua akan memberitahu ke orang lain. Dan aku bisa memastikan kalau hidupku pasti akan berubah drastis.

Saat pembicaran kedua cewek itu makin memanas, tiba-tiba suara pintu toko berderit terbuka. Aku langsung cepat-cepat berdiri untuk melayani orang yang baru datang tersebut. Mataku melihat sesosok cowok dengan rambut shaggy berwarna coklat madu sedang berdiri di hadapanku. Bibirnya yang kasual membentuk senyuman menawan. Matanya yang kini berwarna biru langit menatapku lembut. Dan sebuah anting yang berada di telinga kanannya yang mempunyai warna abu-abu keputihan memancarkan silau ketika tertimpa cahaya lampu. Bibirku membentuk sebuah senyuman. Kyle Hunt berdiri gagah di depan mataku.

“Apa kabar Colin?” tanyanya, aku sangat senang mendengar suaranya.

Aku kembali membuat senyuman lebar. “Baik.” Aku melihat setitik air jatuh dari ujung rambutnya. “Kau?” tanyaku.

“Baik” katanya sambil mengangguk. “Dan, halo Penelope, Claudia” dia melambaikan tangannya ke arah kedua cewek yang sedang duduk bersila yang ada di belakangku.

Beberapa saat kemudian kami berbincang-bincang. Kyle menceritakan pengalamannya di Phoenix. Dia pergi ke sana hanya untuk melihat kondisi kakeknya yang terkena stroke. Tetapi sekarang kakeknya sudah tidak apa-apa. Selain itu juga, aku bisa melihat kalau Kyle sudah agak berubah. Tidak seperti terakhir kali aku melihatnya. Sekarang kulitnya agak coklat dan sangat eksotis. Gaya rambutnya juga sudah berubah lagi.

Akhirnya, beberapa jam kemudian sudah waktunya untuk-ku menutup toko. Aku dan ketiga orang yang datang mengunjungiku melakukan hal itu bersama-sama. Setelah toko sudah benar-benar terkunci rapat, barulah kami bertiga pulang. Arah jalan pulangku dan ketiga orang itu tidak sama, jadi kami berpisah. Namun baru saja aku ingin melangkahkan kakiku setelah mengucapkan selamat tinggal pada mereka bertiga, Kyle menarik-ku dan berbisik lembut di telingaku.

“Aku merindukanmu.”

Aku baru bisa mencerna perkataan Kyle setelah beberapa menit kemudian. Saat aku ingin mengatakan sesuatu, aku melihat kalau Kyle sudah berjalan cepat meninggalkanku. Dia berdiri di antara Penelope dan Claudia. Aku terus menatap sosoknya sampai dia benar-benar hilang di tengah kegelapan malam.

Entah kenapa aku sangat suka mendengar Kyle mengucapkan kalimat sederhana itu kepadaku. Rasanya benar-benar membuatku bahagia. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa merasa bahagia seperti ini. Rasa bahagia itu tiba-tiba datang menyergapku dan aku mengambilnya dengan tangan lapang.

Senyumanku masih mengambang di bibirku saat aku sudah sampai di rumah. Aku sudah tidak kembali merasakan rasa cemburu terhadap Poppy. Aku malah merasa kasihan pada Renvel yang mau-mau saja  berpcaran dengan cewek macam itu. Kini aku akan mencoba untuk menepis semua rasa cemburuku terhadap Poppy. Aku yakin aku pasti bisa. Mengapa aku harus tidak bisa. Memangnya hal seperti itu sulit untuk di lakukan. Aku yakin tidak.

Karena apabila aku memang mencintai Renvel, aku yakin aku pasti akan ikut bahagia jika dia bahagia dengan pilihannya. Sekarang aku sadar, ternyata aku memang bukan pilihan Renvel. Bodohnya, walaupun begitu, aku tetap menginginkannya sepenuh hatiku.

9. New

Aku duduk sendiri di kelas Biologi. Hanya bunyi burung saja yang terdengar dari luar jendela. Aku sedang menulis PR yang tadi malam belum sempat aku kerjakan karena masih sibuk memikirkan apa yang Kyle katakan padaku. Kejadian tadi malam masih sangat terasa di benak-ku sampai sekarang. Rasanya, kenangan itu tidak akan mau menghilang dariku. Setiap kali aku memikirkan hal itu aku pasti akan tersenyum.

Ketika aku baru saja ingin memasukan bukuku ke dalam tasku, ada seseorang yang menepuk pundak-ku. Aku berbalik pelan dan mendongak-kan kepalaku. Kyle tersenyum lebar ke arahku. Menampakan giginya yang putih dan rata. Aku membalas senyumannya. Tiba-tiba aku merasa canggung. Padahal sebelumnya aku merasa sangat nyaman bisa menatap wajahnya yang rupawan.

“Sedang apa?” tanyanya, sembari menaruh tas punggungnya di dalam kolong meja.

“Membuat PR Mr. Wallfred. Aku tadi malam tidak sempat membuatnya,” aku memberikan diriku sendiri sebuah aplaus karena bisa berbicara lancar dengannya. “Apa… hmm, kau sudah mengerjakan PR?”

Kyle menaikan alisnya, berpikir. “Sepertinya sudah.” Kyle mengeluarkan sebuah buku tulis dari dalam tasnya dan membukanya cepat. Meneliti buku itu beberapa saat, lalu setelah itu dia menatapku. “Yup. Sudah!”

“Baguslah” kataku seadanya.

Dia menaruh kembali bukunya ke dalam tasnya. “Ada yang ingin kutanyakan padamu,” wajahnya tiba-tiba berubah serius.

“Apa?” tanyaku, mencoba tidak heran.

Untuk beberapa saat Kyle ragu untuk berbicara padaku, namun akhirnya dia membuka mulutnya. “Apakah kau sangat dekat dengan Renvel?” aku tersentak mendengar pertanyaannya. Aku sungguh tidak mengerti mengapa dia bertanya seperti itu padaku. Memangnya hal apa yang membuatnya jadi ingin bertanya tentang hal tersebut.

“Tentu,” aku mengangguk pasti. “Dia kan sahabatku.”

“Aku tahu.” Kyle ikut mengangguk pasti. “Hanya saja… tatapanmu terhadapanya sedikit agak beda” jantungku berdegup cepat. Apakah Kyle tahu kalau aku mencintai Renvel. Tidak mungkin. Tidak ada orang tahu aku mencintai Renvel. Dan apa maksudnya dengan cara aku menatap Renvel. Memangnya seperti apa aku menatap Renvel?

“Apa maksudmu?” tanyaku berpura-pura tidak mengerti apa yang dia bicarakan.

“Apakah kau menyukai Renvel melebihi sahabat?” Kyle langsung mengatakan intinya.

Aku tertegun dan terdiam. Tidak tahu harus berkata apa. Yang bisa kulakukan hanya menatap Kyle dengan mulut tertutup rapat. Aku tidak tahu kalau Kyle bisa melihatnya. Apakah orang lain juga tahu kalau aku menyukai Renvel. Aku tidak tahu kalau aku adalah orang yang gampang di tebak. Padahal aku sudah yakin kalau aku sudah menyembunyikan perasaanku untuk Renvel secara hati-hati.

“Sudah kuduga,” kata Kyle membuyarkan lamunanku. “Kau orang yang mudah ditebak.”

“Bagaimana kau tahu?” entah kenapa aku bertanya hal itu ke Kyle. Hanya saja aku merasa kalau Kyle bisa menyimpan rahasiaku. Aku yakin Kyle bukan orang yang suka membicarakan orang lain.

Kyle terkekeh pelan. “Sebenarnya aku hanya menebaknya.” Aku sebenarnya tidak mengerti kenapa Kyle berbicara berbelit-belit. Katanya tadi aku orang yang gampang di tebak. Sekarang dia bilang kalau dia hanya menebaknya. “Caramu menatapnya seakan-akan kau ingin memakannya,” aku mengernyitkan wajahku. “Ya, seperti itulah.”

“Aku tahu,” gumamku “aku terlalu berlebihan menatapnya kan?” aku memilin-milin jariku. “Bisakah kau menjaga rahasia ini Kyle?” aku sangat berharap dia bisa menjaganya. Kalau sampai tidak, tamat sudah riwayatku.

“Tentu saja bisa! Aku janji!” seru Kyle dengan senyum lebar tertampil di wajahnya yang menawan.

Aku hanya membalasnya dengan cengiranku. Aku tahu kalau dia adalah orang yang bisa dipercaya. Kalau tidak, tidak mungkin dia akan berjanji. Di Lexington, jika kau sudah berjanji, kau tidak boleh sama sekali melanggarnya. Seperti yang di lakukan Renvel padaku. Tetapi tunggu! Apakah Renvel berjanji padaku kalau dia akan datang menghampiriku di teater Lime Kiln. Tidak. Dia hanya mengajak-ku. Jadi, siapa yang sebenarnya egois? Dia atau aku!

***

Sudah dua minggu aku berteman dan bermain dengan Kyle. Aku merasa ada sesuatu yang tumbuh di hatiku. Sesuatu yang tidak aku tahu itu apa. Rasanya seperti hal yang menyenangkan namun juga sedikit agak menyakitkan. Aku tidak tahu dimana bagian yang menyakitkannya. Hanya saja aku merasakan kedua hal itu. Aku juga masih tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.

Di sisi lain juga, aku belum berbaikan dengan Renvel. Akhirnya Taylor dan Kyle tahu kenapa aku tidak bermain lagi dengan Renvel. Taylor sangat marah pada Renvel tentang hal itu. Begitu pula Kyle.

“Dia tidak datang dan malah pergi kencan dengan Poppy!” gerutu Taylor saat aku menceritakan hal itu. Jawaban yang aku berikan hanya sebuah anggukan. “Bitch!” sumpah serapah tajam keluar dari mulut Taylor. “Harusnya dia lebih memilihmu. Karena kau sahabatnya. Bagaimana mungkin dia malah memilih cewek mengerikan itu!” Taylor juga tidak senang dengan Poppy. Karena cewek itu tidak memberikan Renvel waktu untuk bermain dengannya.

Reaksi yang Kyle berikan padaku sangat mengejutkan ketika aku memberiahunya tentang hal itu. Tentang Renvel yang tidak datang saat aku menunggunya di teater Lime Kiln. Kyle berjalan pelan ke arahku dan memeluk-ku. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan hal itu. Apakah dia tahu kalau dia sedang memeluk seorang cowok.

“Kau berhak mendapatkan yang lebih baik daripada dia!” aku tahu Kyle mencoba menghiburku. Hanya saja aku senang dia berkata seperti itu. Semua yang dilakukan Kyle untuk-ku membuatku benar-benar senang dan bahagia. Entah kenapa walaupun ada sesuatu yang tumbuh di hatiku untuknya, aku masih bisa sangat nyaman dengan Kyle. Rasa canggung yang menyerangku juga sudah mulai menghilang terhadapnya. Aku juga masih tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Sebenarnya apa sih yang sedang terjadi denganku?

Menurutku semuanya terasa baru. Banyak hal baru yang datang ke kehidupanku selama dua minggu ini. Untung saja hal baru yang datang itu adalah hal baru yang baik. Sangat baik. Aku sudah merasa tidak tersisih lagi. Aku tahu Renvel sekarang sudah sangat dekat dengan Poppy dan semua itu sekarang sudah tidak manggangguku lagi. Malah aku merasa hal itu hanyalah masalah sepeleh yang tak ada gunanya sama sekali.

Satu minggu yang lalu, saat aku berada di ruang musik untuk latihan piano, aku mencoba memikirkan cintaku untuk Renvel agar tuts piano yang kutekan menghasilkan nada yang indah. Sayangnya semua itu tidak begitu berjalan lancar. Karena saat aku memikirkan cintaku untuk Renvel, ada seseorang yang datang menganggu pikiranku dan malah membuat nada tuts pianoku sedikit agak sumbang. Kyle muncul begitu saja dalam pikiranku. Membuatku tersentak kaget dan membuatku menekan tuts yang seharusnya tidak aku tekan.

Aku masih bimbang dengan perasaanku sendiri. Apakah aku benar-benar menyukai Kyle sekarang. Entahlah. Kyle menunjukan rasa sukanya padaku. Aku tidak tahu apakah Kyle seseorang yang menyukai sesama. Kupikir dia adalah cowok normal. Karena aku yakin dia memang cowok normal. Nah, yang jadi pertanyaannya adalah; apakah aku cowok normal? Sepertinya tidak. Karena aku lebih cenderung menyukai cowok. Aku sudah berusaha sekuat tenagaku untuk mencintai cewek. Sayangnya aku tidak bisa dan aku malah makin tidak tertarik dengan mereka. Menurutku cewek adalah makhluk yang paling banyak bicara dan paling suka mengatur. Contohnya seperti Poppy Goodspeed. Uups.

Tetapi tunggu dulu! Aku mungkin memang tidak menyukai cewek. Melainkan hanya menyukai cowok. Dan itu hanya dua cowok. Yah, walaupun yang satunya aku masih ragu apakah aku benar-benar menyukainya apa tidak. Dan apakah cowok itu juga menyukaiku apa tidak. Semakin aku memikirkannya semakin dalam juga sesuatu yang baru itu menenggelamkanku ke dalam sesuatu yang sangat aneh. Aku tidak bisa menceritakan rasanya, karena aku tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikan kalimatnya.

Lamunanku tentang semua ini akhirnya buyar ketika ada seseorang yang membuka pintu toilet. Aku menegakan kepalaku dan melanjutkan mencuci tanganku. Ketika aku melihat orang yang baru datang tersebut melalui cermin yang ada dihadapanku, aku menghentikan aktivitas mencuci tanganku. Renvel George berdiri di sampingku sambil membersihkan tinta yang melekat di tangannya. Aku tahu dia belum menyadari kedatanganku, dan aku juga tidak mau dia tahu kalau yang berdiri di sampingnya adalah aku. Jadi aku cepat-cepat mematikan kran air dan mengambil tisu yang berada di sampingku.

Aku melangkah panjang-panjang menuju pintu. Ingin cepat-cepat meninggalkan Renvel sendiri. Aku belum siap beragumentasi lagi dengannya. Aku juga masih tidak sanggup untuk menatap wajahnya. Rasa sakit yang kurasakan masih sangat terasa di hatiku.

Ketika aku sudah berada di luar toilet, aku terperanjat kaget karena mendapati kalau yang berada di depan pintu toilet adalah Poppy Goodspeed. “Astaga!” erangku benar-benar terkejut.

Poppy menelengkan kepalanya ke arahku. Dia menaikan salah satu alisnya dengan angkuh. “Maaf?” suaranya penuh nada arogan yang menurutku sangat memuakan.

“Bisakah kau tidak berdiri di depan pintu toilet begitu dekat?” aku menggerutu kesal. “Kau membuat orang terkejut saja, kau tahu.”

Dia hanya menaikan pundaknya dan mengibaskan rambutnya yang panjang. Wangi shampoo beraroma strawberry menyerbak ke udara. “Bukan salahku jika kau adalah orang yang mudah terkejut.”

“Tentu saja aku tidak akan terkejut jika kau tidak berdiri begitu dekat dengan pintu!” desisku jengkel. “Siapa yang tidak akan terkejut jika ada sesosok hal yang, yahh… entahlah… tiba-tiba berdiri di depanmu tanpa peringatan. Kau pasti akan terkejut.”

Baru saja Poppy ingin membuka mulutnya, tiba-tiba pintu toilet terjeblak terbuka. Aku menahan nafasku sejenak untuk memastikan memang benar ada orang yang baru saja keluar dari toilet. Setelah aku yakin kalau memang baru saja ada orang yang keluar dari toilet dan aku yakin orang itu adalah Renvel. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung melangkahkan kakiku cepat-cepat dan meninggalkan kedua sejoli itu dengan langkah hentak marah. Aku juga tidak tahu kenapa aku marah. Rasa marah itu datang sendiri.

Setelah aku sudah berada di jarak yang aman, aku baru berhenti melangkahkan kakiku dan mengatur nafasku yang sepertinya sudah mau habis. Aku terkekeh sendiri dalam hati. Sebenarnya buat apa juga aku yang meninggalkan mereka. Kenapa bukan mereka saja yang meninggalkanku. Sekarang aku yakin akulah orang yang menghindar dari masalah ini. Kekanak-kanakan sekali hal yang barusan saja kulakukan.

“Aku daritadi mencarimu” aku mendengar seseorang berkata pelan di belakangku. Aku memutar kepalau empat puluh lima derajat dan melihat Kyle berdiri sambil berkacak pinggang di belakangku. “Darimana saja?”

Saat aku yakin nafasku sudah lancar, aku baru bisa menjelaskan bahwa aku baru saja kabur dari Renvel. “Aku sedang tidak dalam kondisi ingin bertemu dengannya.”

Kyle tersenyum kecut. “Tentu saja kau tidak dalam kondisi yang bagus untuk bertemu dengannya. Tetapi apakah aku boleh menyarankan sesuatu untukmu?”

“Apa?” aku sedikit heran dengan nada suaranya yang sedikit agak berwibawa.

“Kenapa kau tidak berbaikan saja dengan Renvel?” aku ingin memprotes perkataannya, bukankah dia bilang aku pantas mendapat yang lebih baik dari Renvel. Sayangnya niatku urung saat Kyle mengangkat tangannya, menghentikanku. “Aku tahu dia adalah orang yang berbohong padamu. Tetapi kenapa kau tidak belajar menjadi orang yang lebih dewasa. Minta maaflah padanya jika kau punya salah. Aku tahu kau tidak punya salah dengannya, tetapi itu menurutmukan?” aku terdiam mendengar perkataannya yang bijak. “Minta maaflah dengannya. Belajarlah untuk meminta maaf pada orang lain. Tidak ada salahnya kau tahu. Yang pentingkan kau sudah berbesar hati meminta maaf padanya. Terserah dia ingin memaafkanmu apa tidak.”

Untuk beberapa saat, aku merasa perkataan yang dilontarkan oleh Kyle ada benarnya. Mungkin saja aku memang membuat kesalahan pada Renvel yang tidak aku tahu. Mungkin saja dia kesal denganku karena aku melakukan sesuatu yang salah. Ya, aku tahu. Sekarang aku mengerti. Meminta maaf bukan berarti selamanya kita yang bersalah. Tetapi orang yang meminta maaf adalah orang yang mempunyai hati yang kuat dan arif.

Aku tersenyum ke arah Kyle dan mengangguk. Kini aku tahu perasaan baru apa yang datang mengahampiriku. Aku yakin—seratus persen—kalau itu adalah cinta.

10. One

Rencanaku untuk meminta maaf pada Renvel sedikit agak tersendat karena acara makan malam yang sangat panjang. Dad mendemontrasikan hasil pekerjaannya yang menurutku sangat membosankan. Sedangkan Mom menceritakan tentang hal apa saja yang berlangsung di mall saat dia berbelanja dengan Mrs. George. Aku mendengarkan dengan malas. Sebenarnya aku ingin segera pergi setelah aku selesai memakan semua makananku. Sayangnya ada hal yang membuatku terpaksa diam di kursiku.

“Kenapa Renvel sudah tidak pernah datang ke sini lagi?” tanya Mom, hal inilah yang membuatku terpaksa tinggal.

Aku menghembuskan nafas capek. “Dia agak sibuk akhir-akhir ini” aku juga tidak tahu kenapa aku malah berkata bohong pada Momku. Biasanya aku akan berkata jujur kepada Momku tentang apa yang biasanya terjadi denganku dan Renvel.

“Oh, kupikir kalian berkelahi lagi,” Mom memberikanku sebuah apel yang sudah dia kupas dengan bersih. “Besok undang dia untuk makan malam ya! Aku dan Mary akan membuat makanan kesukaan kalian berdua.” Ini tentu saja bukan sebuah undangan jika yang memasak adalah Ibu dari sang anak yang akan diundang.

“Baiklah Mom!” ujarku malas.

Aku menggeser kursiku dan pergi meninggalkan meja makan. Mom dan Dad melanjutkan pembicaraan mereka yang sangat membosankan. Aku tidak tahu kenapa orang yang sudah tua sangat suka sekali menceritakan hal apa saja yang sudah mereka lakukan hari ini ataupun yang kemarin. Memangnya penting ya membahas kembali hal-hal seperti itu.

Dengan hentakan pelan aku membuka pintu kamarku. Kutekan saklar lampu kamarku. Cahaya terang berwarna putih menerangi kamarku yang berantakan. Aku saja baru sadar kalau kamarku sangat berantakan. Semua barangku tergeletak di atas kasurku. Aku yakin kalau hari ini Mom pasti lupa membereskan kamarku. Atau, ah, ya, astaga! Bukankah Mom sudah tidak mau membereskan kamarku lagi. Dia sekarang menyerahkan hal ini untuk kulakukan sendiri agar aku lebih mandiri.

Fakta bahwa aku masih ada pekerjaan yang lebih penting ketimbang membereskan kamarku membuatku cepat-cepat melangkahkan kakiku menuju ke jendela kamarku. Gorden hijau limun yang ada dihadapanku terkulai lemas. Aku masih ragu-ragu untuk membukanya dan melihat jendela kamar Renvel yang ada diseberang sana.

Akhirnya setelah dua menit aku mengatur nafasku dan mencoba berpikir jernih, kutarik gorden hingga terbuka lebar. Menampilkan jendela kamarku yang sudah mulai berdebu. Aku menyipitkan mataku dan terkejut ketika melihat Renvel sedang melamun di jendela kamarnya. Kutatap wajahnya yang rupawan. Sinar rembulan membuat wajahnya menjadi makin rupawan. Hanya saja kali ini aku tidak terlalu memikirkan kerupawanannya. Aku malah memikirkan hal lain selain meminta maaf. Aku sedang memikirkan hal apa yang sedang di lakukan Kyle malam ini.

“Hai!” sapaku ke arah Renvel.

Dengan cepat Renvel memutar kepalanya dan terkejut mendapati kalau aku sedang menyapanya. Dia tertegun beberapa saat sebelum akhirnya membalas sapaanku. “Hai!”

Aku mengalihkan tatapanku ke arah bulan yang ada di atas kepalaku. “New Moon” kataku pelan masih sambil melihat bulan yang sangat terang benderang. Bentuknya yang bulat dan berwarna putih sangat indah di atas langit malam. Apalagi ketika ada bintang-bintang yang menemaninya.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat Renvel ikut melihat ke arah bulan. “Ya,” suaranya yang serak membuatku merinding. “Bulan paling indah yang pernah kulihat,” suaranya masih serak, masih membuatku merinding, tetapi membuatku merinding dalam artian yang baik.

“Aku ingin minta maaf karena sudah meneriak-neriakimu malam itu!” aku mengalihkan tatapanku dari bulan ke wajahnya. “Aku tidak tahu juga kenapa aku bisa begitu marah denganmu. Padahal aku tahu kau mungkin sangat sibuk malam itu.”

Matanya terbelalak kecil ketika mendengar permintaan maafku. Setelah mencerna apa yang kukatakan, dia menggelengkan kepalanya. “Apa sih yang kau bicarakan!” dia mengibaskan tangannya. “Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu karena sudah tidak datang menemuimu malam itu. Aku bodoh melupakan pertemuanku denganmu. Aku yang harusnya minta maaf.” Renvel memajukan badannya sedikit dan mengulurkan tangannya. “Aku minta maaf” ujarnya tulus. Sebuah senyuman simpul terukir di bibirnya yang berwarna merah delima mengkilap.

Aku ikut tersenyum dan meraih tangannya dengan susah payah. Jarak yang berkisar dua meter memang membuat kami sedikit agak kewalahan untuk meraih tangan masing-masing. “Sahabat?” ucapku dan mengayun-ngayunkan tangan kami yang sedang bersalaman.

“Sahabat” ucapnya juga, ikut mengayun-ngayunkan tangan kami yang sedang bersalaman dengan sangat erat.

Aku menarik tanganku dari tangan Renvel. “Aku seharusnya tidak menungguimu malam itu. Seharusnya aku masuk saja dan menonton filmnya sendiri.” Aku mencoba menggunakan suara gurauanku. Agar dia tidak salah dalam menafsirkan apa yang barusan saja kukatakan.

Untung saja dia terkekeh. “Aku benar-benar lupa malam itu kalau aku ada rencana pergi nonton film denganmu.” Renvel melipat kedua tangannya di depan jendela kamarnya. “Tiba-tiba saja Poppy mengajak-ku untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Aku panik. Sehingga melupakan segalanya.”

Entah kenapa aku terkikik seperti orang bodoh mendengar ucapan yang Renvel baru saja lontarkan. Mungkin fakta kalau Renvel bisa panik akibat ingin diperkenalkan ke kedua orang tua Poppy. “Kau panik?” aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah panik Renvel. Selama aku bersahabat dengannya, hanya dua kali aku melihatnya panik. Pertama ketika aku tenggelam dan kedua saat aku terkurung di gudang bawah tanah yang ada di rumahnya.

“Yep,” dia mengangguk. “Sangat panik. Kau tidak akan bisa membayangkannya.”

“Oh, aku bisa kok.” Aku tersenyum lebar. “Kau pasti mondar-mandir di kamarmu dan mencoba minum vodka Mom-mu.”

Dia mengernyit. “Mary—baiklah—Momku” aku melotot saat dia ingin mengucapkan Momnya dengan sebutan Mary “tidak mempunyai vodka sama sekali di rumah ini. Tetapi sebagian besar yang kau katakan memang benar. Aku memang mondar-mandir di kamar mandi sambil meneguk empat kaleng coke.”

Aku tertawa nyaring ketika mendengar dia berkata hal bego itu. “Coke?” cemoohku tidak percaya. “Memangnya tidak ada minuman yang lebih bagus lainnya ya?”

“Saat itu, hanya coke-lah yang ada di kulkasku.”

Tawaku malah makin menjadi. “Memangnya kau sepanik apa hari itu?”

“Sangat panik. Sampai-sampai untuk bernafaspun sulit.”

“Kau terlalu overacting. Memangnya hal buruk apa yang akan menimpamu jika kau bertemu dengan kedua orang tua Poppy?”

Dia berpikir sejenak. “Sebenarnya sangat banyak. Aku berpikir mungkin kedua orang tua Poppy akan tidak menyukaiku. Karena kau tahukan…” dia diam, tidak ingin melanjtkan perkatannya.

Aku tahu apa yang mungkin akan dia katakan selanjutnya. Pasti ini; karena aku tidak mempunyai seorang Ayah. Setiap kali, setiap saat, hanya hal itu terus yang Renvel katakan padaku. Sehingga dia malu pada dirinya sendiri. Sisi buruk itulah yang paling aku benci dari Renvel. Namun aku juga tahu rasa malu yang menyerang Renvel. Hal yang dia coba sembunyikan namun sangat sulit.

“Kan sudah kubilang kau jangan memikirkan hal itu terus!” kataku mencoba tegas. “Walaupun kau tidak mempunyai seorang Ayah, kau bisa membuktikan kepada mereka kalau kau adalah orang yang baik. Orang yang patut untuk dihormati.” Aku menghembuskan nafas letih. “Kau orang yang baik Renvel. Aku yakin Poppy tahu itu.”

Renvel tersenyum lembut ke arahku. Untuk kali ini aku tidak memallingkan wajahku. Biar saja Renvel melihat rona merah pekat di wajahku. “Kau adalah sahabat yang paling baik yang penah aku punya.” Aku tahu dia akan terus menganggapku sahabatnya. Hanya saja kali ini aku tidak merasa sakit hati. Malah aku merasa bersyukur.

“Jadi, hal seru apa yang terjadi dengamu dan keluarga Goodspeed?” aku mencoba mengganti topik. Tidak mau meneruskan topik yang mellow tadi.

Senyuman lebar tertarik di wajahnya. “Tidak begitu berjalan lancar. Mr. Goodspeed senang-senang saja denganku. Cuma Mrs. Goodspeed yang tidak terlalu bangga dengan kehadiranku malam itu. Dia terus menggerutu tentang warisan dan kekayaannya.” Nada suara Renvel seperti orang geli. Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa merasa geli dengan fakta kalau dia tidak disukai oleh Mrs. Goodspeed.

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” aku bertanya penasaran.

“Aku hanya bisa bertahan setengah jam di meja makan itu. Aku pura-pura sakit perut dan meninggalkan Mr dan Mrs. Goodspeed berdua saja. Poppy menemaniku ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Setelah itu aku tidak kembali ke meja makan. Melainkan pulang.” Renvel tertawa kecil. “Aku bahkan tak ingin melakukan pertemuan lagi dengan kedua orang tua Poppy—dengan Mr. Goodspeed sih tidak masalah. Bahkan dalam mimpi saja aku tidak mau!” Renvel bergidik pelan. “Mrs. Goodspeed adalah wanita tua mengerikan.”

Aku tertawa lemah. “Seburuk itukah?”

“Memang!” seru Renvel yakin. “Kalau kau tidak percaya kenapa kau tidak mencobanya. Sauadara kembar Poppy, yang bernama Petunia sangat menyukaimu kau tahu. Kau bisa berpacaran dengannya lalu bertemu dengan kedua orang tua Poppy. Terutama Mrs. Goodspeed.”

Aku begitu terkejut ketika mendengar fakta kalau Poppy mempunyai seorang kembaran. “Poppy… kembar?”

“Oh, ya. Tidak mirip memang. Selain itu juga Petunia adalah anak pendiam yang lebih suka menyendiri. Sangat beda dengan Poppy yang sangat suka bicara. Petunia juga home schooling. Makanya tidak banyak orang yang tahu tentang dia.” Renvel menjelaskan panjang lebar. Aku hanya mendengarkan bagian yang penting saja.

“Dan bagaimana bisa Petunia ini menyukaiku?”

“Dia kan pelanggan Alejandro Collection’s. Setiap dua malam sekali dia kan datang meminjam kaset. Atau yang lebih tepatnya datang menemuimu.”

Aku berusaha mengingat-ngingat. Oh, benar! Cewek dengan rambut berwarna coklat mahogany dan mata abu-abu kelam. Yang setiap dua malam sekali datang mengembalikan kaset lalu meminjam kaset lagi. Ternyata dia itu kembaran Poppy toh. “Sepertinya aku tidak tertarik dengan Petunia.” Aku yakin aku memang tidak tertarik dengan saudara kembar Poppy. Apalagi bertemu dengan Mrs. Goodspeed.

Renvel tertawa kecil. “Ya, aku yakin kau memang tidak tertarik dengan dia. Dia sedikit agak… mengerikan” Renvel membuat suaranya ke dalam mode bisikan. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

“Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Poppy sekarang?” aku tidak tahu kenapa, sekarang aku sudah tidak merasa risih lagi jika membahas tentang hubungan Renvel dan Poppy.

“Baik-baik saja,” jawab Renvel seadanya. “Aku mengantuk. Aku pergi tidur dulan ya kalau begitu.” Aku tahu Renvel menghindari topik tentang hubungannya dengan Poppy.

“Baiklah!” kataku dan melihatnya menutup jendelanya lalu gordennya.

Hanya saja saat ini aku sedang tidak begitu tertarik dengan hubungan Poppy dan Renvel. Yang membuatku tertarik malam ini adalah fakta bahwa aku dan Renvel akhirnya menjadi satu lagi. Menjadi sahabat lagi. Dan aku tahu siapa yang membuat hal ini terjadi.

Kyle.

11. Date

Ke-esokan harinya aku berangkat sekolah dengan Renvel. Taylor yang mengetahui hal ini sangat senang akhirnya aku dan Renvel berbaikan. Tetapi dia marah ketika mengetahui akulah yang pertama kali meminta maaf. Taylor terus menggerutu di dalam bus tentang siapa yang harusnya meminta maaf duluan. Aku dan Renvel hanya terus berpura-pura mendengarkan ceramah panjang Taylor dengan raut wajah sok antusias. Padahal yang sebenarnya sangat tidak penting.

“Yang salah itu Renvel, bukan kau Colin,” ucap Taylor yang mungkin sudah ke seribu kalinya.

Renvel memutar bola matanya, risih. “Bisakah kau hentikan? Aku sudah mendengarmu berkata hal itu hampir seluruh pagi ini. Aku tahu aku yang salah. Dan aku memang mau mencoba meminta maaf pada Colin tadi malam. Tetapi ternyata dia duluan yang meminta maaf padaku.”

“Kau idiot kalau begitu!” Taylor menunjuk-ku dengan jarinya yang panjang. “Kenapa kau meminta maaf duluan padanya? Kan kau tahu dia yang salah!”

“Oh, entahlah” kataku sambil menaikan pundak-ku. “Soalnya saat malam kami berkelahi, aku meneriak-neriaki Renvel seperti orang kesetanan. Aku menyesal melakukan hal itu. Jadi sepertinya itulah alasan mengapa aku meminta maaf padanya.”

Taylor menaikan kedua alisnya. “Tetapi dia memang pantas diteriaki!”

Aku dan Renvel tertawa pelan. Ketika sudah berada di lorong berkepala dua kami berpisah. Aku berbelok ke kanan dan mereka berdua berbelok ke kiri. Aku berjalan cepat menuju ke lokerku. Setelah sudah berada di lokerku aku membukanya dengan memasukan kata sandinya. Aku mengambil buku Trigonometriku dan buku Biologi kepunyaan Claudia. Kumasukan ke dalam tasku dan kututup kembali lokerku.

Saat aku sudah berada di dalam kelas, Claudia, Penelope dan Kyle sudah duduk manis di kursi mereka. Ketika mereka sadar akan kehadiranku mereka menolehkan kepala mereka ke arahku dan tersenyum lebar. Hanya Kyle yang membuatku tertarik untuk memandangnya. Senyumannya elegannya tertampil jenaka di wajahnya yang rupawan.

Claudia berdiri untuk mempersilahkan aku ke tempat duduk-ku. Kumasukan tasku ke dalam kolong mejaku dan ikut bergabung dengan pembicaraan yang sedang mereka bahas. Tentu saja mereka membahas tentang Prom Night yang akan diadakan beberapa bulan dekat ini. Aku hanya mendengarkan sambil mengangguk-angguk tanda setuju. Aku tidak begitu suka dengan acara-acara rame seperti Prom Night.

“Aku mungkin akan pergi dengan Harry Clyland. Atau mungkin dengan Larry Slovekia.” Penelope berpikir sejenak. “Oh, sepertinya tidak usah keduanya. Mereka berdua orang yang membosankan. Kalau begitu aku mau pergi dengan Daniel Charnolf saja. Dia cowok yang tampan serta mengasyikan.” Penelope terkikik sendiri dengan omongan yang barusan saja dia lontarkan. “Kalau kau Claudia?”

“Aku sepertinya akan pergi dengan Excel Hummingkirk. Kau tahukan, cowok yang mengejar-ngejarku selama ini. Sepertinya aku kepincut dengannya sekarang. Aku juga sudah putus sekarang dengan Felix. Ciumannya sudah tidak mengasyikan lagi.” Penelope tertawa nyaring sambil memukul-mukul meja. Aku tidak tahu kalau cewek juga sangat suka bertingkah gila seperti ini jika membicarakan tentang cowok.

“Mereka membicarakan apa sih? Ribut banget!” bisik Kyle ke telingaku. Suaranya yang merdu menggelitik telingaku. Aku bergidik senang ketika suaranya yang lembut pelan-pelan merambati telingaku.

Aku tersenyum kecil dan balas berbisik ke telinganya. “Membicarakan tentang cowok.”

“Oh,” mulut Kyle berbentuk O besar saat dia berkata hal itu. “Hei, ada yang ingin kuberi tahukan kepadamu!”

“Apa?” bisik-ku pelan.

Dia memajukan badannya dan menempelkan mulutnya ke dekat telingaku. “Maukah kau pergi denganku malam ini ke restoran Swagger? Aku akan sangat senang jika kau jawab, ya.”

Kutatap wajah Kyle sebentar lalu balas berbisik. “Apakah Penelope dan Claudia ikut?” tanyaku, berharap kalau jawaban yang diberikan oleh Kyle adalah tidak. Aku maunya hanya berdua saja dengan Kyle. Entah kenapa gagasan makan berdua saja dengannya membuatku sangat merasa bersemangat.

“Tidak. Hanya kita berdua saja.” Aku berseru senang dalam hati. Seperti ada monster yang menari girang di hatiku saat ini. “Kalau aku boleh menyarankan,” bisiknya merdu di telingaku, “kita bisa menganggap ini adalah kencan.” Aku bisa merasakan kalau bibir Kyle mengeluarkan sebuah cengiran jenaka.

Akupun juga begitu. Aku nyengir mendengar dia berkata tentang hal indah itu. “Baiklah!” setujuku masih berbisik di telinganya. “Jam berapa?”

“Jam setengah delapan. Aku akan menjemputmu!” setelah dia berkata begitu dia langsung membalikan badannya. Aku ingin memanggilnya karena masih ingin membicarakan kencan kami, sayangnya aku tahu dia berbalik karena apa. Mrs. Uncore, guru Trigonometri sudah hadir. Aku menggerutu kesal. Kenapa Mrs. Uncore datang di saat yang sangat penting ini. Tetapi ya sudahlah, masih banyak waktu membicarakan perihal kencan kami nanti.

***

“Mom aku benar-benar tidak bisa makan malam dengan kalian malam ini,” aku memohon maaf pada Momku. Saat dia mendengarku mengatakan hal itu dia langsung menghentikan aktivitas memasak ayam gorengnya. Bunyi ayam yang sedang di goreng di dalam minyak panas itu membuat keheningan yang menyeruak semakin muram.

Momku membalikan badannya dan menatapku dengan mata disipitkan.. “Kenapa?” suaranya agak sedikit kecewa. Tentu saja dia kecewa. Malam inikan ternyata ulang tahun Mrs. George. “Mary ulang tahun hari ini. Dia pasti sangat berharap kau datang.”

Hatiku menjadi tidak enak. Tetapi aku juga tidak bisa membatalkan janjiku dengan Kyle. Sedangkan dengan Momku, aku tidak berjanji akan datang makan malam dengan mereka. “Aku ada kerja kelompok di rumah Kyle.” Momku mengernyit ketika dia tidak mengenali siapa orang yang mempunyai nama Kyle. “Kyle Hunt, Mom.”

“Hunt” kata Momku agak merenung. “Oh, yang punya toko daging itu? The Hunt Meat.” Aku tidak tahu kalau Momku tahu tentang hal itu. Aku saja tidak tahu kalau keluarga Kyle mempunyai toko daging.

“Ya,” aku mengangguk. Walaupun aku juga sebenarnya tidak yakin. “Aku dan beberapa teman kelasku akan mendiskusikan hasil presentasi kami tentang akar bawang merah yang kami lihat di mikroskop tadi pagi.” Aku tidak pernah berbohong kepada Momku tentang apapun. Aku juga tidak tahu kenapa aku berbohong lagi dengannya. Sepertinya kebiasaan buruk ini sangat suka menghampiriku akhir-akhir ini. Aku menjadi sangat kesal pada diriku sendiri kenapa aku tidak jujur saja dengan Momku.

Momku berpikir sejenak. Matanya yang coklat kemilauan menatapku hati-hati. “Baiklah,” kata Momku memberi izin. “Lagipula acara ulang tahun Mary juga sampai jam setengah sebelas malam. Kau pasti sudah pulangkan jam segitu?”

Aku ragu-ragu sebelum menjawab. “Yah, mungkin.”

“Memangnya sulit sekali ya tugas akar bawang merahmu ini?” tanya Momku skeptis.

“Ya, Mom,” aku mencoba menggunakan nada suaraku yang paling bisa membuat Momku percaya. Dan aku yakin kalau aku berhasil. Karena akhirnya Momku mengangkat pundaknya dan mengangguk pelan.

“Tetapi usahakan kau pulang jam sepuluh, oke!” seru Momku sambil membalik ayam goreng yang ada di dalam penggorengan. Wangi ayam goreng membuatku lapar. Ayam goreng saos sambal buatan Momku adalah makanan favoritku dan Renvel.

“Oke!” aku berseru lalu meninggalkan Momku sendirian di dapur. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Acara kencanku akan dimulai pukul setengah delapan dan itu beberapa jam lagi. Jadi aku harus mempersiapkan diriku dengan sebaik-baiknya untuk kencanku dengan Kyle. Aku berjingkrat-jingkrat senang ketika mengetahui kalau akhirnya ada juga seseorang yang mau membalas perasaanku.

***

Kyle sudah menungguku ketika aku baru saja keluar dari rumahku pada pukul tujuh lewat dua puluh menit. Aku tidak tahu apakah jamku yang salah apa Kyle yang datangnya terlalu cepat. Dengan langkah panjang aku langsung berjalan cepat menuju ke arah mobil Kyle yang terparkir di dekat pohon yang ada di halaman rumahku. Dia berdiri di samping mobilnya sambil membubuhkan sebuah senyuman di bibirnya. Kedua tangannya dia masukan ke dalam saku celana panjang hitamnya.

Dia sangat rapi malam ini. Tidak resmi memang, tetapi tetap saja sangat rapi. Untung saja aku juga menggunakan baju kemeja biru andalanku. Aku sudah mengecek sekitar lima puluh kali penampilanku di depan cermin, dan kuharap aku benar-benar bagus di mata Kyle. Semoga saja aku tidak meninggalkan kesan buruk di kencanku yang pertama kali ini. Aku sih tidak tahu juga apakah kami akan kencan terang-terangngan di depan publik. Lihat saja kami berdua! Sama-sama cowok. Sangat janggal kelihatannya kalau sampai kami berpelukan di depan banyak orang. Dan aku yakin Kyle juga cukup pintar untuk tidak melakukan hal bodoh tersebut. Lagipula aku juga belum terlalu yakin apakah Kyle benar-benar serius dengan ucapannya tentang kalau hal ini adalah kencan.

“Malam,” salam Kyle lembut ketika aku sudah berdiri di hadapannya. “Kau terlihat keren dengan warna biru” pujinya tulus. Aku hanya bisa nyengir dengan pujiannya yang membuatku benar-benar gembira.

“Malam,” salamku balik. “Kau juga sangat keren dengan pakaian rapi.”

Dia hanya tertawa mendengar pujianku. “Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?” dia mengusulkan, sambil melirik jam tangannya.

“Baiklah!” kataku menyanggupi.

Kyle berjalan memutar menuju ke pintu penumpang. Dia membuka-kan aku pintu dan mempersilahkan aku masuk dengan gaya berlebihan. Membuatku geli melihat tingkah lakunya yang kadang suka dia lebih-lebihkan. “Terima kasih.”

Setelah aku sudah masuk ke dalam mobilnya dia langsung berjalan cepat ke arah tempat duduknya yang berada di samping kiriku. Dia masuk dan menutup pintunya dengan pelan. Menghidupkan mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Selama kami di mobil dia terus membicarakan tentang restoran yang akan kami datangi. Dia bilang restoran yang akan kami kunjungi ini adalah salah satu restoran Pamannya. Aku berujar curang padanya karena membawaku ke restoran yang tak perlu lagi dia bayar makanannya. Aku hanya bercanda saja tentang hal itu dan Kyle mengerti. Karena dia tertawa dan berkata kalau dia pasti membayar makanannya. Karena walaupun yang punya Pamannya, dia tetap harus bayar. Dia sebenarnya memilih restoran ini karena ada makanan favoritnya yang harus aku coba.

Tidak sampai setengah jam kami sudah sampai di restoran Swagger. Nama yang aneh untuk sebuah restoran yang menurutku punya gaya elegan yang sangat menakjubkan. Aku tidak tahu siapa yang menamakan restoran ini. Hanya saja kalau aku yang mempunyai restoran itu aku akan segera menggantinya dengan nama yang lebih heboh. Seperti The Half-Elegant-Swagger. Atau apalah. Yang menunjukan kalau restoran ini cukup mempunyai kekhas-san yang bagus untuk didengar namanya. Ketimbang hanya ‘Swagger’. Yang tidak mempunyai arti apa-apa. Tetapi ya sudahlah, toh buat apa juga aku yang memusingkannya.

Ketika aku sudah berada di dalam restoran itu, aku makin tercengang dengan ke-eleganannya. Ruangannya di hiasi dengan bintang-bintang yang ditempel di atas langit-langitnya. Cahayanya redup. Ruangan restoran ini hanya diterangi bintang-bintang yang menempel di langit-langitnya. Seakan-akan kami yang memasuki restoran ini berada di alam bebas pada malam hari. Yang menunjukan seribu bintang yang bertengger di atas langit dengan indahnya.

Kami berdua di tempatkan di meja yang sudah dipesan oleh Kyle dua hari yang lalu. Ternyata dia sudah merencanakan kencan ini. Aku terperanjat dengan semua tindakan yang dilakukan oleh Kyle. Aku tidak tahu ternyata dia benar-benar ingin melakukan kencan ini denganku. Yah, aku sangat senang ternyata dia melakukan tindakan yang sangat bisa membuat jantungku mencelos. Dalam artian yang baik, tentu saja.

“Kau suka?” tanyanya ketika kami sudah memesan makanan yang di favoritkan oleh Kyle.

Aku  tergelak pelan. “Tentu saja!” seruku. “Ini keren,” aku tahu aku jujur, karena saat aku mengatakan hal itu benar-benar dengan menggunakan nada tertarik dan terlalu senang.

Dia tersenyum manis. Membuat jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba. Membuat rona merah pekat terpampang di wajahku yang kini mulai memanas. “Aku senang kalau kau senang” ujarnya sederhana.

Setelah itu kami membicarakan banyak hal. Kebanyakan sih Kyle yang bercerita. Aku hanya diam saja dan memberikan sedikit masukan di ceritanya. Kyle menceritakan usaha daging Ayahnya—The Hunt Meat—yang ternyata sangat populer di Lexington ini. Kyle juga menceritakan saat dia berada di Phoenix. Kota dengan matahari yang sangat menyengat. Itu sih katanya. Aku belum pernah ke Phoenix seumur hidupku. Dan aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan di Phoenix sana. Mungkin menikmati mataharinya. Tetapi aku tidak terlalu suka dengan hal-hal yang sangat panas.

Makanan di restoran ini sangat lezat. Makanan favorit Kyle ternyata lasagna dengan saus coklat. Menurutku makanan itu sangat aneh. Lasagna tidak pernah dibubuhi saus coklat. Biasanya akan diberi saus tomat ataupun saus sambal. Aku sangat ragu-ragu untuk memakannya. Namun Kyle memaksaku dan berkata makanan itu tidak akan membunuhku. Karena aku tidak mau dia kecewa, aku langsung menyuap lasagna itu kemulutku. Saat pertama kali makanan itu masuk ke dalam mulutku, rasanya memang aneh, tetapi lama-kelamaan makanannya jadi sangat lezat. Aku bahkan jadi tidak tahu diri setelah itu. Aku kembali memesan dua porsi lagi.

Ketika sudah pukul sepuluh malam Kyle dan aku berencana pulang. Aku agak kecewa karena dia mengakhiri kencan ini. Tetapi toh apa sih yang bisa aku perbuat. Kyle sedang ada urusan dengan keluarganya dan aku juga harus menghadiri acara ulang tahun Mrs. George.

Hanya dalam waktu dua puluh menit, kami sudah berada di depan rumahku. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Karena aku benci dengan ketegangan, aku mencoba membuka suara duluan. “Senang bisa berkencan denganmu malam ini!” aku berujar jenaka, mencoba jenaka sebenarnya. “Kalau begitu sampai ketemu besok di kelas.”

Baru saja aku ingin membuka pintu mobil, tiba-tiba Kyle memegang tanganku. “Ada yang ingin kuberitahukan padamu!” katanya agak gugup. Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan. “Ini fakta sebenarnya. Fakta yang membuatku takut kau tak akan mau berteman lagi denganku.”

Aku mengernyit tidak mengerti. “Maksudnya?”

“Kau ingat kapan pertama kali kita bertemu?” tanyanya. Tetapi belum saja aku ingin menjawab, dia sudah menyahut duluan. “Tentu kau tidak akan ingat.” Kyle menggenggam tanganku erat. Dan entah kenapa aku tidak mau dia melepaskannya. “Aku pertama kali bertemu denganmu adalah ketika kita berumur lima tahun. Saat itu aku sedang bermain dengan anjingku, lalu ada beberapa anak menggangguku. Aku sangat terdesak saat itu dan berdoa pada tuhan semoga ada yang membantuku karena anjingku saat itu ditendangi oleh anak-anak itu. Seakan-akan tuhan menjawab doaku, dia mendatangkanmu. Kau membentak semua anak itu dan menyelamatkan anjingku. Kau menyuruhku berhenti menangis dan menyerahkan anjingku. Menyuruhku pulang sambil tersenyum lebar secara manis terhadapku. Namun saat itu aku tidak pulang. Aku berlari dan bersembunyi di balik pagar tanaman. Melihatmu di ganggu oleh anak-anak itu. Lalu Renvel datang dan menyelamatkanmu. Dan sejak saat itulah aku ingin menjadi orang yang melindungimu. Aku ingin menjadi orang yang akan menjagamu. Dan, fakta yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa setiap hari aku memperhatikanmu dan disetiap hari itu juga aku benar-benar jatuh cinta pada anak sok kuat yang bergaya mencoba menyelamatkanku dan anjingku.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Otak-ku tidak bisa berpikir mendengar ucapan panjang yang barusan saja di lontarkan oleh Kyle. Namun sorot mata Kyle seperti memohon padaku untuk aku memberikan masukan di cerita faktanya. “Well… aku… ya… aku… hmm… tidak tahu… ya… harus berkata… apa.”

Kyle tersenyum masygul. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu sejak dulu. Fakta bahwa kita berdua adalah laki-laki memang sangat mengerikan. Namun aku tidak peduli. Karena aku mencintaimu. Sesimpel itu.”

Kata-kata paling indah yang pernah aku dengar. “Terima kasih Kyle,” kataku tulus.

Mungkin dia mengira aku menolaknya, karena tiba-tiba dia melepaskan tanganku. Karena hanya inilah kesempatanku dan aku memang yakin aku juga menyukai Kyle, tangan yang dilepaskan oleh Kyle kuangkat dan kugerakan untuk memegang kepalanya. Menariknya mendekat dan kutempelkan bibirku di bibirnya. Reaksi yang pertama kali muncul dari dia adalah tersentak kaget. Namun aku mencoba membuat dia mengerti kalau aku juga menyukainya dari sudut pandang ciuman ini. Dan aku tahu Kyle mengerti, karena akhirnya dia membalas ciumanku.

12. Confession

Sudah seminggu aku dan Kyle berjalan bersama. Dia adalah orang yang paling konyol dan paling romantis yang pernah aku tahu. Selama seminggu ini dia terus-terusan mengajakku kencan. Aku sih senang-senang saja. Hubunganku dengannya juga masih baik-baik saja sampai sekarang. Dan aku juga berharap kalau hubungan kami akan terus baik-baik saja. Aku tidak tahu kenapa, kini rasa cintaku terhadapnya sudah semakin besar. Setiap kali aku mengingatnya, aku akan tersenyum sendiri dan berharap ingin menemuinya lagi. Aku yakin kalau aku sedang jatuh cinta sekarang ini.

Kyle mengajakku ke rumahnya hari ini. Katanya ada hal yang ingin dia tunjukan padaku. Aku tidak tahu hal apa itu. Tapi aku yakin itu adalah hal yang penting. Karena ketika Kyle mengajakku tadi, dia menggunakan raut wajah serius. Raut wajah yang tak pernah aku lihat sama sekali di wajahnya yang rupawan.

Ketika kami sudah berada di depan rumahnya, aku seperti tidak ingin masuk. Karena aku takut. Aku juga tidak tahu kenapa aku takut. Rasa itu datang begitu saja. Seperti ada seseorang yang menatapku tajam dari dalam rumah bergaya Georgia tersebut. Kyle membujukku masuk selama lima menit. Ketika aku yakin kalau rasa takutku akhirnya menghilang, aku baru menyetujui ajakan Kyle.

Pertama kali aku menginjak-kan kakiku di rumah Kyle, dia mengajakku ke ruang makan. Katanya dia ingin memperkenalkan aku dengan kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya. Aku kembali tidak ingin menuruti perintahnya. Tentu saja aku tidak mau. Bagaimana kalau Mr dan Mrs. Hunt tahu kalau aku pacaran dengan anaknya. Mungkin aku akan di cincang lalu di jual di toko dagingnya. Astaga! Aku bergidik ngeri saat membayangkan hal itu.

“Ayo!” ajak Kyle untuk kedua puluh kalinya. “Mereka tidak akan menggigitmu!”

Aku menggeleng keras. “Untuk apa aku bertemu dengan keluargamu?” tanyaku gugup.

Kyle tersenyum simpul. “Ikut saja, oke!” perintahnya pelan.

Entah kenapa, akhirnya aku mau juga di ajak oleh Kyle. Kulangkahkan kakiku pelan mengikuti Kyle. Ketika aku sudah sampai di ruang makan-nya, aku melihat ada tiga sosok manusia yang sedang asyik berbincang di meja makan. Jantungku makin berdegup cepat ketika aku mendengar Kyle berdeham keras untuk menarik perhatian keluarganya.

“Halo Kyle!” ujar wanita paruh baya dengan wajah yang sangat mirip dengan Kyle kecuali matanya. “Kupikir kau tidak akan pulang untuk makan malam.”

Kyle meringsek maju sambil menggenggam tanganku. Menyuruhku mengikutinya. Saat aku dan Kyle sudah berada di meja makan di mendudukan aku di salah satu bangku yang dekat dengan seorang cowok yang mungkin berumur dua puluh tahunan. “Aku pulang Mom. Kan aku sudah janji akan memperkenalkan seseorang” ucap Kyle pelan-pelan.

Mrs. Hunt tersenyum ceria. “Baiklah. Kalau begitu perkenalkan dia!”

Kyle memegang bahuku dan berkata dengan nada percaya diri. “Ini Colin Eulberg. Pacarku.”

Aku tersentak kaget ketika mendengar perkataan terakhir yang dilotarkan oleh Kyle. Pacarku. Astaga! Bukankah itu sangat mengerikan. Apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya yang sedang duduk disebelahku. Aku tidak bisa membayangkan isi kepala mereka. Rasanya aku ingin sekali kabur dari tempat ini dan tidak mau menunjukan mukaku lagi ke keluarga Kyle.

Namun aku dibuat bingung ketika Mr dan Mrs, Hunt tersenyum lebar. “Pilihanmu bagus juga!” kata Mr. Hunt, membuatku kembali tersentak. “Namaku Andrew Hunt,” Mr. Hunt mengulurkan tangannya padaku dan aku langsung menyambutnya. “Panggil saja aku Andrew. Aku tidak suka dipanggil Mr. Hunt. Aku terlihat tua kalau kau panggil begitu nanti.”

“Nah,” Mrs. Hunt ikut mengulurkan tangannya. Aku melepaskan tangan Mr. Hunt dan menyambut tangan Mrs. Hunt yang putih dan mulus. “Aku Caroline Hunt. Panggil aku Carol. Jika kau panggil aku Mrs. Hunt! Kupotong-potong badanmu nanti!” canda Mrs. Hunt jenaka. Aku hanya bisa tersenyum kecil.

Rasa takutku, gugupku, maluku dan kegelisahanku akhirnya hilang dan digantikan kesenangan yang luar biasa. Aku tidak percaya kalau aku akan diterima oleh keluarga Kyle. Mereka semua adalah orang-orang aneh serta baik hati. Apakah mereka tidak sadar kalau anaknya sedang berpacaran dengan seorang laki-laki. Aku mengernyit tidak mengerti juga. “Senang berkenalan dengan kalian!” kataku mencoba santun kepada kedua orang tua Kyle yang janggal.

Mereka berdua mengangguk. Lalu menatapku dengan tatapan tajam dan menilai. Namun masih tersirat kejenakaan di sorot mata mereka berdua. “Kalau aku Velix Hunt,” aku kaget ketika seorang cowok yang ada disebelahku tiba-tiba mengulurkan tangannya. “Kakak Kyle.”

Aku menyambut uluran tangan itu dan tersenyum simpul. “Colin Eulberg. Senang berkenalan denganmu.”

Setelah itu perbincangan seru terjadi di atas meja makan itu. Mr dan Mrs. Hunt banyak bertanya tentang keluargaku. Dan aku menjawab apa adanya. Dari pengamatanku, aku berpikir bahwa sepertinya Mr dan Mrs. Hunt cukup menyukaiku.

“Jadi,” aku mendengar Velix berujar disebelahku, “kau terbentur atau kenapa?”

Aku mengernyit bingung. “Maksudnya?”

“Iya,” katanya, suaranya berubah bercanda “apakah kau terbentur sesuatu sampai-sampai kau mau dengan Kyle?”

“Diam!” bentak Kyle kasar ke Velix. Aku hanya bisa tersenyum lebar. “Jangan dengarkan apa yang orang brengsek itu katakan padamu Colin!”

Velix menaikan sedikit ujung bibirnya, mencibir. “Tetapi aku memang bertanya tentang hal yang benar. Tidak ada satu orangpun yang mau denganmu. Itu karena kau hancur dan jelek, ups. Dan sekarang… lihat! Ada seorang laki-laki dengan wajah persolen yang menyukaimu. Aku yakin kalau dia memang terbentur sesuatu!”

Mr dan Mrs. Hunt tertawa pelan. Aku masih menampilkan senyuman lebarku. Kyle memutar bola matanya berang. “Kau menyebalkan!”

Velix tertawa nyaring. “Tetapi aku benarka—“

“Oh, diamlah!” teriak Kyle kesal.

Tawa Velix malah makin menjadi. Entah kenapa bergabung dengan keluarga Hunt ternyata sangat mengasyikan. Aku yakin kalau sekarang aku sangat menyukai keluarga Hunt. Mereka semua sangat humoris dan sangat suka tertawa. Hal-hal seriuspun kadang bisa mereka buat menjadi bahan candaan. Itulah salah satu hal paling terbaik yang ada di keluarga Hunt. Sedangkan kalau di keluargaku, kalau kami sedang bicara serius, hal itu harus tetap berjalan serius. Aku bahkan tidak berani menimpali kata-kata candaan kalau kedua orang tuaku sedang bicara serius denganku.

Kami makan mungkin menghabiskan waktu lima puluh lima menit. Hal itu terjadi karena perbincangan kami yang seru di atas meja makan. Saat aku sudah menghabiskan dessert-ku, aku menaruh tangaku di bawah meja. Aku tersentak ketika ada sentuhan hangat dari tangan orang yang duduk disebelahku, yaitu Kyle. Dia menggenggam tanganku erat-erat. Tidak mau melepaskannya saat kami pergi meninggalkan meja makan. Hal ini dilihat oleh keluarga Kyle. Velix bersiul pelan ketika melihat tanganku dan tangan Kyle bertaut menjadi satu. Ekspresi yang bisa muncul di wajahku hanya rona merah padam yang sangat memalukan.

Kyle membawaku ke kamarnya. Katanya dia ada sesuatu yang ingin dia tunjukan padaku. Dan aku mau-mau saja ikut dengannya. Kamar Kyle berada di lantai dua. Rumah Kyle yang besar dan megah membuatku agak kelelahan saat menaiki tangga yang menjulang tinggi. Tetapi hal itu hilang ketika aku sudah berada di kamar Kyle yang sangat elegan dan sangat keren. Banyak poster band-band rock yang tertempel di dinding kamarnya. Ada logo sekolah kami juga. Dan ada juga tiga gitar yang terbuat dari kaca bertengger di dekat kasurnya. Aku ternganga kagum dengan kamar Kyle. Belum saja aku ingin bertanya, Kyle melepaskan tanganku dan menutup pintu. Lalu dia membaringkan tubuhnya di atas kasurnya.

“Sini,” lambai Kyle saat aku tak kunjung-kunjung menghampirinya di kasurnya yang aku yakini sangat empuk.

Aku berjalan pelan menuju ke kasurnya yang di dominasi warna biru laut. Aku langsung duduk di pinggir kasur dan memiilin-milin jariku. Aku kembali merasa takut dan gugup. Padahal aku yakin Kyle tidak akan melakukan hal bodoh terhadapku. Baru saja aku ingin memutar kepalaku untuk melihat wajahnya, tiba-tiba tangan Kyle sudah menangkupku dan memeluk-ku dari belakang. Aku ingin memprotes namun tiba-tiba dia langsung menarik badanku dan membaringkanku disebelahnya.

Aku mendongak untuk melihat wajahnya. Pertama kali yang kulihat saat aku mendongakan kepalaku untuk melihatnya adalah senyuman manisnya. Dia menggesekan bibirnya yang selembut sutra itu di rambutku. “Aku sangat mencintaimu, kau tahu itukan?”

Jantungku langsung melompat saat mendengar ucapannya yang sangat indah. “Aku tahu,” kataku parau. Aku mengelus tangannya yang kala ini sedang memeluk pinggangku. “Dan kau juga tahukan kalau aku sangat mencintaimu.”

Dia tertawa merdu. “Tentu saja,” ujarnya mantap. “Oleh karena itu aku ingin memberimu ini,” dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam legam yang berkilauan saat tertimpa cahaya lampu.

“Apa itu?” tanyaku penasaran.

Kyle membuka kotak hitam legam itu dan memperlihatkan isinya padaku. Aku menyipitkan mataku untuk melihat benda berkialauan itu. Setelah dua puluh detik, aku baru tahu itu benda apa. Itu adalah sebuah cincin yang tidak mempunyai sebuah ukiran sama sekali. Namun keindahannya tetap terpancar.

“Cincin?” tanyaku kembali parau.

“Iya,” katanya seperti bernyanyi. Dia mengangkat tangan kananku dan memasukan cincin itu ke dalam jari manisku. “Di keluargaku, jika kami memasangkan cincin pada seseorang, itu tandanya kami mencintainya dan juga sebagai tanda kepemilikan. Jadi, kau adalah orang yang aku cinta sekaligus kau adalah milik-ku.”

Kupandangi cincin tanpa ukiran itu dengan kagum. Cincin itu sangat pas di jari manisku. “Terima kasih,” ujarku serak. Kudongakan kepalaku lagi, kali ini bukan untuk melihatnya, melainkan untuk mencium bibirnya yang selembut sutra itu. Reaksi Kyle dengan ciuman tak terduga ini adalah tersentak. Namun itu hanya beberapa saat. Karena akhirnya dia menyambut ciumanku dengan sangat gembira. Akupun juga begitu. Aku sangat gembira akhirnya bisa memiliki seseorang yang sangat mencintaiku. Walaupun aku tahu rasa cintaku terhadap orang yang satu itu masih ada. Hanya saja aku yakin, dengan berjalannya waktu, cintaku untuk orang itu akan memudar. Kuharap begitu!

***

Jika Kyle sudah jujur dengan hubungan kami kepada keluarganya. Akupun juga ingin begitu. Aku sudah memikirkan hal ini matang-matang saat aku menginjakan kakiku tadi malam di rumahku setelah Kyle mengantarku pulang. Mom dan Dad harus tahu tentang hubunganku yang—aku yakin pemikiran manusia adalah—tidak sehat. Tetapi aku suka dengan hubungaku yang tidak sehat. Inilah aku. Inilah jiwaku. Aku menyukai jalan hidupku apa adanya. Tak mungkin ada orang yang akan mencintai jalan hidupku, oleh karena itu, akulah satu-satunya orang yang harus menyukai jalan hidupku yang seperti ini.

Hari ini hari minggu. Kami baru saja selesai sarapan. Dad libur bekerja hari ini tetapi dia sedang menonton pertandingan Kriket di TV kabel kami. Sedangkan Mom sedang mencuci piring. Kyle akan datang ke rumahku setengah jam lagi. Dia ingin mengajakku hiking dan menikmati matahari bulan desember. Jadi, waktuku hanya ada setengah jam untuk mengakui hubunganku dan persimpangan seksualku kepada kedua orang tuaku. Tetapi rencanaku aku akan mengakui hal ini pertama kali pada Momku.

“Mom,” panggilku pelan. Momku berhenti mencuci piring dan menatapku dengan matanya yang tajam. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Momku menaikan sebelah alisnya, bingung. Aku memang jarang pernah bicara tentang hal apapun kepada orang tuaku. Tentang hal-hal yang serius maksudku. Karena setiap kali aku ingin berbicara serius, aku pasti akan melupakan topik apa yang akan kubicarakan. Namun kali ini, tentu saja aku tidak akan melupakan tentang topiknya.

Karena Mom sepertinya mendengar nada serius di suaraku, dia melepaskan sarung tangan pencuci piringnya lalu menarik sebuah kursi yang berada di meja makan. Tatapan tajamnya berganti ke tatapan sendu. “Ingin membicarakan apa?” tanyanya lembut.

Nah, kini aku mulai kembali gugup. Aku tidak tahu harus dari mana memulai pengakuanku. Rasanya sangat sulit untuk berkata jujur kepada Momku tentang hal yang seperti ini. “Aku ingin bilang kalau aku… hmm…”

“Kalau kau apa?” tanya Momku, suaranya masih lembut tetapi memaksa.

“Apakah Mom akan marah kalau aku memberitahu Mom tentang sesuatu yang sangat aneh?” tanyaku cepat. Aku juga tidak tahu kenapa aku suka mengulur-ngulur waktu.

“Satu-satunya yang akan membuatku marah adalah kalau kau tidak juga mengatakan tentang hal yang ingin kau bicarakan!” seru Mom pelan. Suaranya mendesak.

Karena aku tahu tidak ada gunanya mengulur-ngulur waktu lagi, aku langsung berujar pelan namun tegas ke Momku. “Aku gay, Mom.” Aku menatap Momku sebentar lalu langsung menunduk. Aku pura-pura terkekeh pelan untuk meghilangkan rasa gugupku. “Ya, Mom, aku gay” ulangku dengan nada teguh.

Momku seperti membeku di kursinya. Karena aku takut kalau terjadi apa-apa dengan Momku, aku langsung mengalihkan tatapanku dari lantai ke Momku. Ekspresi yang ada di wajah Momku sangat sulit kutebak. Di matanya terlihat keterkejutan namun juga terlihat sesuatu hal yang… entahlah. Mungkin seperti ingin tertawa. Akhirnya setelah lima menit yang menurutku seperti lima jam, Momku berdiri dan meninggalkanku sendiri di dapur dengan bingung. Aku tidak tahu Mom ingin pergi kemana.

Setelah Mom kembali. Dia bersama Dad. Jantungku berdegup kencang. Berdegup kencang karena ekspresi yang kedua orang tuaku tunjukan padaku. Mereka berdua tersenyum. Mata Mom sudah tidak terkejut lagi, melainkan terharu. Dad yang pertama kali menghampiriku dan memelukku erat. Lalu setelah Dad, Mom yang memelukku. Rasanya sangat membingungkan dan agak sedikit melegakan. Kupikir aku akan dipukul oleh mereka berdua. Namun sepertinya tidak karena aku yakin Mom dan Dadku tidak akan pernah ingin memukulku sama sekali. Kedua orang tuaku bukan orang barbar.

“Kenapa kau baru mengakuinya sekarang?” aku mendengar Mom berbisik di telingaku.

Aku mengernyit bingung. “Apakah Mom sudah tahu kalau aku adalah gay?”

Momku melepaskan pelukan dan menatapku intens. “Tidak. Kau bukan gay. Kau hanya menyukai seseorang yang jenis kelaminnya sama denganmu,” tutur Momku bagai bunyi bell yang indah. “Harusnya kau memberitahuku dan Dadmu tentang orang yang kau cinta. Kau tahukan itu adalah topik favoritku dan Dadmu.”

Senyuman lebar terpampang jelas di bibir mereka. “Mom, aku mempunyai pacar seorang lelaki” kataku untuk mempertegas. Apakah Mom dan Dadku juga belum sadar.

“Iya. Kami mengerti hal itu,” seru Dadku. “Dan kau mencintainya kan?”

“Yep,” kataku mempersetujui, aku masih bingung dengan kedua orang tuaku. “Dan aku laki-laki, Dad, Mom. Itu berarti aku gay-kan?”

Momku mendesah pelan. “Nak, tak peduli apakah cewek atau cowok yang kau cintai. Selama kau mencintainya, hal itu tetap hal yang paling bagus yang pernah terjadi padamu. Aku tidak peduli tentang gay dan semacamnya. Yang aku pedulikan adalah bahwa anakku akhirnya mempunyai seseorang yang dia cintai di hidupnya.”

Aku tertegun mendengar kata-kata dari Momku. Aku menatapnya dengan air mata kebahagian. Aku berlari dan langsung memeluk kedua orang tuaku. Aku menangis senang di pelukan mereka. Mereka berdua mengelus pundak-ku. “Terima kasih karena tidak marah.”

“Kenapa kami harus marah?” sergah Dad. “Mencintai seseorang itu tidak salahkan. Kau hanya mencintai seorang lelaki. Dan itu bukan masalah besar di keluarga kita.”

Akhirnya perasaanku plong juga. Mom dan Dadku menerima persimpangan seksualku dengan tangan yang lapang. Aku tidak tahu harus berkata apa pada tuhan atas pemberian hikmahnya untuk kedua orang tuaku. Aku yakin, hari ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupku.

Kedua orang tuaku sangat bangga denganku. Mereka banyak membicarakan tentang hal-hal yang pernah terjadi di keluarga kami. Ternyata Uncle Harris, adik Dadku, adalah seorang gay juga. Dia memberitahu orientasi seksualnya ketika berumur dua puluh tahun. Grandamother dan Grandfather ternyata sangat menerima persimpangan seksual Uncle Harris. Maka daripada itu Mom dan Dadku juga akan bersikap sama seperti mereka. Karena kata Grandmother dan Grandfather, kalau mereka kalian tolak persimpangan seksual mereka, mereka malah akan menjadi brutal. Tetapi sebentar, apakah aku akan menjadi brutal kalau kedua orang tuaku memarahiku akan orientasi seksualku. Yah, mungkin.

“Jadi siapa orang ini?” tanya Dad saat kami sudah banyak berbincang-bincang tentang Uncle Harris.

Wajahku merona merah. Ketika melihat rona merah ini, kedua orang tuaku tertawa. “Apakah Renvel?” tanya Mom. Membuatku sangat-sangat, dobel sangat, terkejut.

“Kenapa Mom berpikir kalau orang yang kupacari sekarang adalah Renvel?” tanyaku dengan nada masih terkejut.

“Mary dan aku pernah membicarakan tentang persahabatan kalian berdua. Sebagai sahabat, kalian begitu terlalu dekat. Seakan-akan kalian berdua mempunyai sebuah koneksi yang akhirnya menjadi sebuah hubungan percintaan.” Momku menjelaskan panjang lebar.

Aku hanya bisa tenganga dengan apa yang Momku katakan. “Renvel bukan pacarku Mom.”

Raut wajah Momku sedikit agak kecewa. Namun langsung kembali antusias. “Jadi, siapa?”

“Kyle Hunt,” kataku mantap. “Kyle juga sudah memperkenalkanku ke kedua orang tuanya. Dan mereka menerimaku apa adanya Mom. Yah, kupikir sih begitu.”

Momku sedikit agak terkejut. “Anak penjual daging yang terkenal itu. oh, astaga! Pilihanmu berstandar tinggi sekali, Nak. Kau harus hati-hati! Mereka orang yang sangat kaya. Pasti memberi standar tinggi pada pacar anak-anaknya.”

Aku tertawa kecil. “Bukankah seperti yang aku katakan tadi Mom, mereka menerimaku apa adanya.” Aku mengelus lengan Momku, untuk menenangkannya.

“Baiklah kalau begitu,” ujar Dad. “Kapan kau akan memperkenalkan kami dengan Kyle-mu ini?” tanya Dad ingin tahu siapa yang namanya Kyle.

“Sekarang juga bisa,” tuturku. “Dia ingin mengajak-ku hiking hari ini.”

Baru saja aku bicara begitu, pintu rumahku diketuk seseorang. Aku berjalan cepat untuk membuka pintu itu dan melihat sosok Kyle yang tampan berdiri tegap disana. Aku menarik tangannya pelan. Ada nada terkejut dan takut saat aku ingin membawanya ke kedua orang tuaku. “Mereka tidak akan mengigitmu!” kataku, menirunya seperti yang dia katakan padaku saat dia ingin memperkenalkan aku kepada kedua orang tuanya.

Mom dan Dad akhirnya berkenalan dengan Kyle. Mereka banyak bicara dengan Kyle tentang sifat-sifat buruk-ku. Membuatku sangat malu dan langsung menarik tangan Kyle untuk segera pergi hiking. Kedua orang tuaku hanya terkekeh senang. Mom mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik pelan. “Pilihan yang bagus, Nak!” aku hanya bisa tersenyum lebar.

13. Awkward

Keluarga Hunt membuat acara makan malam di rumahnya. Mom dan Dadku sangat bingung harus menggunakan baju apa agar mereka terlihat bagus di keluarga Hunt, yang menurut mereka sangat ber-standar tinggi. Padahal aku sudah bilang kepada kedua orang tuaku, keluarga Hunt adalah orang yang humoris dan apa adanya. Bukan ada apanya. Namun sepertinya Mom dan Dadku tidak menggubris kata-kataku sama sekali. Jadi kubiarkan saja mereka kalang kabut dengan urusan mereka sendiri.

Hubunganku dan Kyle sudah berjalan hampir tiga minggu. Dan semuanya masih baik-baik saja. Aku saja tidak percaya kalau hubunganku dan Kyle masih baik-baik saja. Bukan berarti aku mau ada pertengkaran di dalam hubungan kami. Hanya saja aku berdecak kagum dengan apa yang telah kulakukan dan Kyle lakukan pada hubungan ini. Kami berdua membuat hubungan kami tetap berjalan mulus tanpa harus ada rintangan sedikitpun. Rasa cintaku terhadapnya juga makin lama makin besar. Dan aku yakin Kyle juga merasakan hal itu.

Jam tujuh teng, aku dan keluargaku pergi menuju ke rumah keluarga Hunt. Mom berteriak teredam ketika melihat rumah keluarga Hunt yang bergaya Georgia dan sangat megah. Apalagi saat Mom sudah berada di dalam rumah keluarga Hunt. Matanya berbinar-binar kagum. Aku hanya bisa menggeleng melihat tingkah Momku yang konyol.

Makan malam kami berjalan dengan mulus. Mom yang biasanya sangat sulit berinteraksi dengan orang lain, malah sangat gampang berinteraksi dengan Mrs. Hunt. Dad juga sangat dekat dengan Mr. Hunt. Kedua lelaki dewasa itu malah membicarakan tentang pertandingan Kriket yang berlangsung dua minggu yang lalu. Ternyata hobi Mom dan Mrs. Hunt sama. Yaitu memasak kue yang terbuat dari daging. Hobi Dad dan Mr. Hunt juga sama. Yaitu pertandingan Kriket. Aku kembali menggeleng melihat tingkah mereka. Kyle dan Velix-pun hanya bisa tertawa melihat tingkah-tingkah orang dewasa yang ada di hadapan kami.

Akhirnya makan malam yang sangat panjang itu selesai juga. Minggu depan Mom yang akan membuat acara makan malam di rumah kami. Aku senang sekali dengan hubungan akur kedua orang tuaku dengan kedua orang tua Kyle. Aku tidak bisa mendeskripsikan perasaan gembiraku terhadap situasi ini. Semuanya seakan-akan seperti mimpi yang aneh dan janggal lalu dirajut menjadi satu menjadi mimpi yang indah.

***

“Aku ingin memperkenalkanmu ke pacarku!” ujarku mantap ke Taylor. Kemarin aku mengakui hubunganku dengan Kyle ke Claudia dan Penelope. Dan mereka sudah menduga akan hal itu. Mereka sangat senang karena aku dan Kyle sudah mau jujur terhadap mereka. Aku juga merasa senang karena mereka berdua mau menerima hubunganku dengan Kyle. Dan tidak merasa jijik akan hal itu.

Taylor tersentak kaget. “Kau sekarang sudah punya pacar?” tanya Taylor dengan nada terkejut yang sangat jelas.

“Yep!” seruku menyetujui. “Agar kau tida makin terkejut, aku ingin memberitahumu kalau pacarku itu seorang laki-laki!”

Taylor memutar bola matanya. “Aku tahu kau tak pernah menyukai cewek Colin.” Kini Taylor yang membuatku terkejut. Dia merasakan keterkejutanku. “Oh, ayolah! Hampir semua cewek disini pernah mengajakmu berkencan dan kau malah menolak mereka mentah-mentah. Atau kau tidak pernah sadar dengan perkataan yang mereka sering ucapkan kepadamu?”

Aku mengerutkan keningku. “Mereka hanya berkata padaku; bahwa mereka ingin menemaniku di toko kaset ketika aku sedang dapat shift disana. Apakah itu tandanya mereka ingin mengajakku kencan?”

“Oh, Colin!” seru Taylor malas. “Tentu saja itu ajakan kencan. Mereka semua menginginkanmu. Apakah kau tidak menyadari itu?” aku menggeleng. “Nah, dari hal itulah mengapa aku mempertegas bahwa kau memang tak pernah menyukai cewek. Dan aku benarkan?”

Aku terkekeh. “Apakah kau merasa jijik denganku?”

Dia memukul kepalaku pelan. “Jangan bodoh Colin!” gerutu Taylor bengis. “Jika aku jijik denganmu, sudah dari kemarin-kemarin aku tidak ingin berteman denganmu lagi. Hanya saja aku juga tidak mau. Kenapa? Karena cewek-cewek yang kau tolak mentah-mentah itu, akan memutar haluan dan akan langsung menanyaiku dan mengajakku kencan.”

Aku tertawa pelan. “Kau memang bodoh ya!”

“Aku tahu!” ujar Taylor dan kami berdua tertawa kelewat nyaring di lorong sekolah.

Akhirnya setelah lima belas menit kami berjalan dari lorong sekolah ke lapangan sepak bola, kami menemukan sosok Kyle yang tinggi. “Kyle!” teriak-ku ke Kyle yang kala ini sedang memompa bola hitam putih itu. Kepala Kyle memutar kepalanya cepat ketika melihatku memanggilnya. Dia menatapku dengan tatapan lembut. Dia melambaikan tangannya dan aku meringsek maju dengan Taylor yang mengekor di belakangku.

“Ada apa?” tanya Kyle menatap Taylor sambil tersenyum.

“Aku ingin memperkenalkanmu dengan salah satu sahabatku,” ujarku. Ku pegang siku Taylor dan menyuruhnya maju, agar dia berdiri di sampingku. “Taylor Riot.”

Kyle tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya. “Kyle Hunt,” ucap Kyle serak.

“Taylor Riot” Taylor menyambut tangan Kyle yang terulur. “Senang berkenalan denganmu.”

Yang bisa Kyle berikan hanya sebuah senyuman jenaka. Setelah itu mereka berdua saling melepaskan tangan dari salam perkenalan mereka. “Apa kau sudah makan siang?” tanya Kyle ke arahku. “Kalau belum bagaimana kalau kita pergi ke McDonald’s?”

“Oke,” kataku menyetujui. “Tapi aku harus ke Klub Musik-ku sekarang. Kita bertemu di aula depan ya.”

Kyle mengangguk dan aku berjalan menjauh dari lapangan. Taylor masih mengekor di belakangku. “Aku yakin kalau Renvel pasti tidak akan menyukai cowok itu!” seru Taylor ketika kami sudah berada di depan pintu Klub Musik-ku.

“Kenapa?” tanyaku, mengernyit bingung.

“Karena sepertinya cowok itu agak sedikit pencemburu.” Setelah Taylor berkata begitu aku malah tertawa. “Dan aku tahu kau pasti tertawa setelah mendengarku berkata seperti ini.”

Aku menghentikan tawaku dan menatap Taylor tajam. “Kyle tidak seperti itu. Dan dia tidak cemburu padamu sama sekali tadi. Aku juga yakin dia tidak akan cemburu dengan Renvel. Memang apa ada yang salah dengan cara Kyle melihatmu?”

“Tidak ada!” sergah Taylor. “Hanya saja aku merasa dia tidak menyukaiku terlalu dekat denganmu. Lagipula aku tidak peduli akan hal, apakah dia cemburu dengan kedekatan kita sebagai sahabat apa tidak. Yang kupedulikan sekarang adalah kapan kau akan memperkenalkan cowok itu ke Renvel?”

Aku berpikir sejenak. “Nanti malam mungkin. Soalnya Momku akan mengajak Kyle serta Renvel dan Mrs. George untuk makan malam bersama.”

Taylor mendesah pelan. “Baiklah kalau begitu. Dah!” salam pisah dari Taylor pelan. Dia berjalan cepat menuju ke pintu keluar. Aku terus menatap sosok Taylor yang tinggi dan kekar itu sampai dia benar-benar hilang dari pandanganku. Perkataan Taylor masih terngiang di telingaku. Tentang kalau nanti Renvel tidak akan menyukai Kyle. Memangnya kenapa Renvel tidak akan menyukai Kyle? Kyle bukan orang yang mudah cemburuan. Aku yakin itu.

***

“Jadi, ini cowok Hunt itu ya?” tanya Mrs. George ketika melihat Kyle sedang duduk manis di sebelahku.

Aku mengangguk. Kyle tersenyum pada Mrs. George dan mengulurkan tangan. “Kyle Hunt. Selamat malam Mrs. George.”

Mrs. George tersenyum lebar. “Anak yang sopan. Pilihan yang bagus Colin.” Aku hanya bisa tersenyum dan menggenggam erat tangan Kyle yang bebas.

Momku sudah memberitahu Mrs. George kalau aku mempunyai seorang pacar cowok. Hanya saja dia kecewa karena cowok yang jadi pacarku bukan anaknya. Aku hanya bisa terdiam saja dengan reaksi Mrs. George dengan kekecewaannya. Lagipula aku bisa apa sih? Tidak ada. Tetapi untung saja malam ini sepertinya Mrs. George tidak kecewa lagi saat sudah mengenal Kyle. Malah Mrs. George sangat senang dengan tingkah humoris Kyle.

Renvel belum aku kenalkan dengan Kyle. Rencananya nanti saat kami sudah berada di kamarku. Aku belum bisa memperkenalkan Renvel dan Kyle. Karena sepertinya perkataan Taylor ada benarnya. Kedua cowok itu saling menatap tidak suka ke masing-masing. Renvel selalu menggerling tajam Kyle dan begitu pula sebaliknya. Aku tidak tahu kenapa aku merasa kalau ada sesuatu yang jelek tentang mereka berdua malam ini. Seperti akan ada hal yang buruk terjadi dan aku yakin aku tidak akan menyukainya.

Makan malam akhirnya selesai. Kyle mengikutiku saat aku berjalan cepat ke kamarku yang ada di lantai atas. Renvel-pun juga mengikutiku dengan gerutuan-gerutuan yang tidak aku mengerti apa maksudnya. Setelah kami berada di kamarku, Renvel berjalan cepat ke kasurku dan berbaring di atasnya. Kulihat Kyle yang melotot tajam ke Renvel yang kala itu sudah nyaman berbaring di kasurku. Aku menggenggam tangan Kyle dan menyuruhnya duduk di kursi yang ada di meja belajarku.

“Renvel,” panggilku pelan. “Aku ingin memperkenalkanmu dengan Kyle.”

Renvel duduk bersila di atas kasurku. Menatap tajam Kyle dan membuka sedikit mulutnya ketika berbicara. “Halo!” sapa Renvel malas. “Renvel George.”

“Kyle Hunt.” Aku benar-benar bisa merasakan ada nada pahit di suara Kyle barusan.

“Selain itu juga, aku ingin memberitahumu kalau dia adalah…” Renvel menatap tajam mataku, aku langsung pusing ketika dia menatapku seperti itu. “Pacarku.”

Renvel tersentak dan menegang dalam waktu bersamaan. Aku bisa melihat matanya tidak berkedip sama sekali. Kutatap Kyle yang sedang tersenyum ke arah Renvel. Ada apa sebenarnya dengan kedua orang ini?

“Aku tidak menyukainya!” seru Renvel keras. Besok aku harus memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Taylor karena ternyata prediksinya benar.

“Kenapa?” ujarku cepat. Ada kejanggalan memang sedari tadi di anatara mereka berdua.

“Entahlah!” Renvel menatap benci ke arah Kyle. Kyle juga menatap bengis ke arah Renvel.

“Aku tidak berharap apakah kau akan menyukainya apa tidak Renv.”

Renvel terkekeh pelan. “Dan kau!” Renvel menunjuk Kyle dengan lambaian kurang ajar. “Kau tidak pantas bersama Colin!”

Aku kaget ketika Renvel berkata seperti itu. Kyle berdiri cepat untuk mendatangi Renvel. Aku menarik keras lengan Kyle yang tegang. Aku juga bisa melihat kalau Renvel sudah berdiri untuk siap menerima serangan Kyle. “Kyle, duduk!” perintahku dengan suara mendesis. “Dan kau!” aku juga menunjuk Renvel secara kurang ajar. “Tidak berhak berkata seperti itu kepada PACARKU!”

Renvel melototiku berang lalu berjalan cepat menuju ke jendela kamarku. Renvel memanjat pohon yang ada di samping kamar kami berdua lalu dia masuk ke kamarnya melalui jendelanya. Dia membanting jendelanya keras-keras ketika sudah berada di dalam kamarnya. Kutatap tajam jendela kamarnya. Berharap dia akan membuka kembali jendelanya dan berkata kalau dia tadi hanya bercanda. Namun, sayangnya dia tidak melakukan hal itu.

“Sudah kuduga kalau dia tidak akan menyukaiku. Kayak aku akan menyukainya saja!” desis Kyle disampingku. Matanya masih menyiratkan ketidak sukaan.

“Ada apa sih sebenarnya dengan kalian berdua?” gerutuku kasar. “Kupikir kalian berdua akan akur. Dan kenapa Renvel bertingkah aneh padamu?”

Kyle hanya terkekeh mengejek. “Aku juga tidak tahu,” hanya saja aku yakin kalau Kyle mengetahui sesuatu.

“Baiklah!” seruku dan aku langsung duduk di kasurku.

Kutatap lantai kamarku dengan berang. Berharap kalau ada jawaban yang akan muncul disana. Namun seberapa keraspun aku berusaha meminta lantai kamarku untuk menjawab pertanyaanku tentang mengapa Kyle dan Renvel saling tidak menyukai, jawaban itu tidak akan pernah muncul disana. Aku hanya menatap ke hampaan.

Tiba-tiba, tangan Kyle sudah melingkari leherku. Dia memeluk-ku pelan. “Renvel bodoh!” ujarku dipelukan Kyle.

Kyle tertawa kecil. “Walaupun dia bodoh, aku yakin kau masih menyukainya kan?”

Aku melepaskan pelukan Kyle dan menatapnya. “Tidak!” aku juga tidak yakin dengan jawabanku. “Aku sudah tidak menyukainya lagi!” Apakah hal itu benar? Kuharap saja begitu. Kuharap hatikulah yang tadi berkata begitu. Astaga! Malam ini adalah malam yang janggal.

Kyle tersenyum ragu. “Baiklah!” katanya menyetujui. “Ayo sini!” lalu dia memelukku lagi.

14. Sorry

Aku sudah kembali berteman dengan Renvel. Dia meminta maaf padaku karena bersifat brengsek tadi malam. Hanya saja dia tetap tidak menyukai Kyle. Dan Taylor berkoar-koar sepanjang pagi tentang hal ini. Dia bangga karena prediksinya benar. Aku hanya bisa mendengarkan ocehannya namun tak kusimpan di dalam otak-ku. Aku tahu Renvel dan Taylor tidak terlalu menyukai Kyle. Karena alasan bodoh ternyata: Kyle cemburu terhadap mereka berdua. Padahal aku yakin alasan mereka berdua tidak masuk akal sama sekali. Kyle tidak mungkin cemburu dengan mereka berdua. Ayolah! Kyle mengerti aku bersahabat dengan kedua orang bodoh ini.

Kyle datang menghampiriku saat aku berada di kantin. Dia tidak memperdulikan tatapan marah Renvel dan tatapan malas Taylor. Aku jadi merasa berada di tengah-tengah orang yang saling tidak menyukai. Dan rasanya itu sangat mengerikan. Aku benci kalau mereka bertiga tidak saling menyukai. Ada apa sih sebenarnya dengan ketiga orang-orang janggal ini?

Kejanggalanpun terus berlanjut. Ketika aku berbicara dengan Kyle, tiba-tiba Renvel akan menyerobot pembicaraan kami. Dan ketika aku berbincang dengan Renvel, Kyle yang langsung menginterupsi perbincangan kami. Aku jadi serba salah harus bicara dengan siapa. Sedangkan jika aku berbicara dengan Taylor, dia malah sibuk dengan cewek yang duduk disebelahnya. Aku makin bingung dengan apa sebenarnya yang sedang terjadi di antara orang-orang bodoh dan idiot ini!

Tak lama setelah perbincangan yang kaku dan agak sedikit aneh, akhirnya aku diselamatkan oleh bunyi bel tanda masuk kelas. Aku langsung berdiri cepat dan meniggalkan ketiga orang yang bahkan tidak menghiraukanku saat aku bangkit dari kursi. Baru dua menit kemudian Kyle menyusulku karena aku dan dia berada di kelas yang sama.

“Aku bingung dengan tingkah kalian!” gerutuku saat kami sudah di dalam kelas.

Kyle menaikan alisnya tinggi-tinggi. “Memangnya kau bingung kenapa?”

Aku memutar bola mata. “Kenapa kau dan Taylor dan Renvel masih tidak saling menyukai?”

“Aku bisa saja menyukai mereka jika mereka menyukaiku!” ada kesinisan di dalam suara Kyle. Aku tahu sekarang, tahap yang sedang kualami ini sepertinya tahap perselisihan. Ayolah! Jangan disini dan jangan sekarang!

“Alasan kalian saling tidak menyukai itu aneh!” desisku. “Kalian bertiga aneh. Padahal aku berharap kalian semua bisa berteman baik.”

“Sudahlah, Colin!” ujar Kyle. “Lupakan saja oke, tentang aku dan kedua sahabatmu yang tidak saling menyukai. Mau bagaimanapun, sampai kapanpun, mereka tidak akan menyukaiku dan aku juga tidak akan menyukai mereka!”

Aku mendesah kasar. “Kalian bisa mencoba untuk saling menyukai!” hardik-ku tajam.

“Apa sih yang kalian bisikan daritadi?” tanya Penelope, menatapku dan Kyle secara bergantian.

“Tidak ada!” aku dan Kyle menjawab serempak.

Mata Penelope menyipit curiga, namun toh setelah itu dia mengalihkan tatapannya. Karena akhirnya Mrs. Uncore sudah hadir di dalam kelas. Dan aku masih tidak puas dengan jawaban dan perselisihan yang sedang terjadi di antara aku dan Kyle. Tetapi mau bagaimana lagi. Sepertinya pembicaraan yang kulakukan dengan Kyle percuma. Karena sepertinya dia pasti tetap akan kukuh dengan pendiriannya tentang Renvel dan Taylor.

***

Renvel berhenti sebentar dari aktivitasnya mencoret-coret buku gambarku. Matanya yang tajam menatapku intens. “Jadi, sejak kapan kau dan manusia menyebalkan itu pacaran?”

“Manusia menyebalkan itu punya nama Renv. Dan namanya adalah Kyle.”

“Tidak peduli!” sindir Renvel. Aku hanya bisa menggeleng. “Jawab pertanyaanku!”

“Sejak tiga minggu yang lalu mungkin. Atau sudah hampir empat minggu. Entahlah. Aku tidak benar-benar menghitung.”

“Kenapa kau tidak pernah bilang padaku kalau kau adalah seseorang yang menyukai sesama…” Renvel berhenti mendadak.

“Jenis,” lanjutku malas. “Oh, mungkin karena aku takut kau akan jijik padaku Renv. Dan memutuskan persahabatan kita.”

Renvel agak sedikit terkejut. “Aku tidak akan begitu. Malah aku akan…” Renvel kembali berhenti mendadak.

“Akan apa?” tanyaku pelan. Menjauhkan novel Sandra Brown dari depan wajahku.

“Tidak ada!” geleng Renvel.

Karena aku tahu Renvel tidak akan mengatakan perkataan yang terputus tadi, aku kembali mendekatkan novel Sandra Brown ke depan wajahku. Aku sebenarnya tidak benar-benar membaca novel ini. Aku masih memikirkan tentang pembicaraanku dengan Kyle tadi. Walaupaun Kyle sudah meminta maaf padaku karena tidak akan bisa menyukai Renvel dan Taylor, tetap saja aku merasa agak jengkel. Namun walaupun begitu, aku juga tidak bisa menyalahkan Kyle. Karena Renvel dan Taylor juga akan bersi kukuh tidak akan menyukai Kyle. Padahal aku berharap kami bisa menjadi satu.

Cincin yang terpasang di jari manisku agak menyilaukan ketika tertimpa cahaya lampu. Aku menatap cincin itu lekat-lekat dan memegangnya dengan perlahan. Aku sangat mencintai Kyle karena dia sudah menayatakan kepemilikannya atasa diriku. Hanya saja kalau tidak ada Renvel di dalam sana, rasanya agak sedikit membosankan. Apalagi aku juga sudah berbohong pada Kyle tentang kalau aku sudah tidak menyukai Renvel.

Kenyataannya adalah, aku masih menyukai—atau mencintai Renvel.

Hanya saja aku sekarang sudah mempunyai Kyle. Dan aku seharusnya wajib melupakan Renvel dari dalam hatiku. Aku ini memang bena-benar manusia yang paling bodoh sedunia. Bisa-bisanya aku masih menaruh hati pada seseorang yang jelas-jelas tidak akan membalas perasaanku. Dan aku harus kembali ingat dengan fakta bahwa Kyle mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Seharusnya aku bersyukur karena ada orang yang merelakan dirinya untuk mencintai orang seperti aku ini.

“Apakah itu cincin?” aku terperanjat ketika mendengar suara Renvel yang kasar. Aku lupa kalau dia masih ada di dalam kamarku.

Aku menatap wajahnya. Dan aku makin kaget ketika melihat rona merah pekat yang jarang sekali muncul di wajahnya. Aku tidak tahu apa arti rona merah pekat wajahnya itu. “Yep!”

“Apakah yang memberikannya manusia menyebalkan itu?” suara tajam Renvel membuatku bergidik. Kali ini membuatku bergidik ke arah yang buruk.

“Tentu saja. Maunya siapa lagi?” ujarku defensif.

Renvel seketika berdiri. Kursi yang dia duduki tadi tiba-tiba langsung terjungkal jatuh. Aku tidak terkejut karena kursi itu jatuh, melainkan aku terkejut karena tiba-tiba Renvel berjalan cepat ke arahku dan memegang tanganku. Matanya yang tajam menyipit mengerikan, memandang cincin tak berukir yang tersemat di jari manisku. Cengkraman tangan Renvel keras dan menyakitkan.

“Renv, lepaskan tanganku! Sakit!” rintihku ketika Renvel makin memandangi cincin yang diberikan oleh Kyle untuk-ku.

“Apakah… apakah… apakah kau pernah…?” pertanyaannya mengambang.

“Pernah apa?” tanyaku serak. Tangan Renvel masih mencengkram tanganku.

“Pernah melakukan hal itu?” suaranya meninggi.

Aku tak perlu bertanya lagi apa yang dia maksud. Karena aku mengerti arah pembicaraannya sekarang. “Tidak pernah!” kataku sambil menggeleng. “Lepaskan tanganku, Renv!” ujarku kasar dan agak sedikit jengkel dengan sifatnya yang berubah aneh.

Akhirnya Renvel melepaskan tanganku dan berjalan cepat menuju ke jendela kamarku. Tanpa ada sedikitpun kesulitan, dia langsung memanjant jendelaku dan menghilang. Aku mendengar dia membanting jendelanya ketika dia sudah berada di kamarnya. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba Renvel berubah begitu menyeramkan. Sisi buruk dan raut wajah bengis yang tadi dia tunjukan padaku, tak pernah sama sekali kulihat sebelumnya. Namun sekarang aku sudah melihatnya. Dan aku bisa meyakinkan bahwa hal itu sangat menakutkan.

Hanya saja ketika aku kembali mencerna hal yang barusan terjadi, aku sedikit menemukan penjelasan dari arti ucapan dan cengkramannya yang tajam. Aku mungkin salah dan mungkin juga hanya berharap; kalau Renvel sangat cemburu dengan Kyle. Aku sedikit agak senang dengan fakta kalau Renvel cemburu dengan Kyle. Namun sepertinya aku tidak boleh banyak berharap dan memikirkan hal itu. Karena hal itu percuma dan hanya akan membuang-buang waktu. Dan hal itu juga nantinya hanya akan menyakitkan hatiku dan hati Kyle, jika dia sampai tahu hal ini.

Jadi, Renvel, maaf. Mulai saat ini aku akan belajar melupakan cintaku untukmu. Belajar melupakan perasaan yang pernah kurasakan padamu. Aku tahu hal ini sulit kulakukan. Namun aku yakin aku pasti bisa melupakan semua perasaan itu. Maafkan aku Renvel. Tetapi kau harus tahu, kau akan selalu berada di sisi lain ruang hatiku. Kan kusimpan cinta itu disana. Sayangnya, aku harus mengunci hatiku itu. Agar aku tak merasakannya lagi. Sekali lagi, maaf. Aku benar-benar minta maaf. Untuk perasaanku sendiri dan juga padamu.

-Bersambung ke Cerita Kedua-

124 thoughts on “Same Love (Colin’s POV)

  1. buat semua yang udah komen… maaf yaa. bukannya gak mau ngelanjutin, tapi idenya lagi nggak ada,
    tapi ntar pasti idenya muncul kok.
    ntar kalo dia udah nongol. aku segera ketik deh😀
    hehehe… maaf ya.
    sini cipok dulu :p

  2. dear rendi,
    sebagai penikmat dan penggemar tulisan2mu, menurutku cerita sebagus ini sayang sekali kalau tidak dilanjutkan, dan menurutku kalau kamu ngelanjutin cerita ini pasti banyak banget fans2 kamu yang senang,,🙂

  3. jadi ngelanjutin ceritany g? aq da jatuh cinta ma semua tulisan lo.. hampir semua uda aq baca.. bahkn da berkali” aq baca…
    jgn ngegantung cerita gni y ren,aq tunggu karya” lo..

  4. ceritany bagus bangeeeeeeet #alay mode: on
    pleeeeeease lanjutin dong
    penasaran nih
    udah hampir setahun blom dilanjutin
    y?
    y?
    y?😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s