Amnesia

hallo, gaes! Udah lama banget gue nggak muncul. Maaf banget yaa… bukannya gue nggak mau ngelanjutin Rayan dan Fauzan, tapi memang belum sempet aja. Ada banyak kerjaan yang menghasilkan uang, yang harus gue kerjain terlebih dahulu, (biar gimanapun kan perut aye perlu diisi). Jadilah gue pending tuh cerita geretongan.

Sekarang gue muncul bersamaan dengan cerita impoten milik gue. Kenapa gue bilang impoten? karena gue aja yang nulisnya nggak nemuin di mana klimaksnya. Tapi gue berharap ini bisa ngehibur barangkali bisa jadi bahan nyiyiran kalian. Yekan?

See you nanti ya, Gaes. di Meet And Greet Jakarta. Lo pada datengkan? nggak dateng gak ada updetan Rayan Fauzan, lho! hahahaha (Ketawa jahat).

 

 

Amnesia

 

 

Angin dengan kasarnya menerpa wajah gue. Malam semakin larut dan rasa rindu itu kembali hadir, mendesak kemudian memberikan rasa sesak yang teramat sangat.

Sekarang, gue berharap jadi penderita amnesia.

“Dev, ikannya udah selesai dibakar tuh, sini cepetan!” teriak seorang cowok dari arah hotel.

“Selow,” sahut gue setelah mengacungkan tangan dan berdahem agar suara gue nggak terdengar melankolis.

Lalu gue turunkan kembali tangan gue yang teracung ke udara setelah tadi gue angkat untuk memberi isyarat kepada Rian kalau gue akan menyusul secepatnya. Walau nyatanya, gue nggak sama sekali tertarik untuk bergabung bersama para sahabat gue.

Buat gue, liburan kali ini nggak sama sekali spesial. Sedikit menghibur dan lebih banyak nambah galaunya. Karena, pantai ini mengingatkan gue dengan seseorang yang sampai saat ini belum bisa gue lupain.

Terlalu banyak kenangan di tempat ini, harapan yang pernah gue rapal bersama dia di sini. Dan kembali ke sini benar-benar ngebuat gue ngerasa kalau gue nggak sedang baik-baik aja.

Kembali ke tempat ini, ngebuat gue serasa seorang bajak laut yang mendapatkan peti harta karun kosong, hanya peti harta karun yang gue dapat bukan isinya. Padahal, semua orang tahu yang di cari para bajak laut adalah harta di dalam peti tersebut bukan petinya.

Angin pantai kembali menerpa wajah gue dengan kasar, hembusannya terasa dingin saat menyentuh kulit gue. Jiwa gue serasa tersapu angin, memasuki lorong waktu yang tercipta tiba-tiba, bergelung di dalamnya kemudian gue kembali muncul dengan sebuah harapan hampa.

***

Top, top, top, ih tungguin dong!!!” runtuk bot gue geram karena daritadi dia nggak bisa-bisa mengejar gue.

“Bodo ah! Aku capek!” teriaknya putus asa.

Gue berhenti berlari lalu berbalik badan ke arah cowok gue yang unyu-nya kebangetan. Walaupun ini malam hari, gue bisa melihat wajahnya yang putih mulus itu memerah karena kelelahan sehabis mengejar gue.

Dengan nafas yang tersengal-sengal gue berlari kecil ke arahnya, pasir pantai Anyer serasa menggelitik telapak kaki gue—kami lari tanpa alas kaki. Senyum di bibir gue, gue pasang sesempurna mungkin untuk meminimalisir kemarahan cowok gue ini. Ya know lha, bot itukan ngambekan, kadang gue nggak ngerti mereka bisa ngambek banget cuma gara-gara masalah yang sepele—buat gue.

“Kamu tuh, payah deh, baru diajak lari sebentar aja udah ngos-ngosan.” Gue gapai tubuh bot gue yang twink itu, lalu gue usap keringatnya dengan bagian bawah kaus tanpa lengan gue. Dia tetap diam aja, mukanya dibuat datar. Sialnya, gue adalah orang yang bego dalam urusan membaca hati seseorang.

“Jangan ngambek dong, San.” Gue usap kepalanya yang basah oleh keringat. Tetapi Sandi tetap diam, malah sekarang dia nggak natap gue sama sekali, dia malah mematut ombak yang geraknya gitu-gitu aja. Ngeselin bangetkan?!

“Aku haus!” seloronya jutek sambil sesekali memandangi kaki kirinya. Gue tersenyum, seenggaknya dia udah mau ngomong sama gue, biasanya kalau bot gue ngambek itu bisa satu sampai dua jam baru deh dia mau ngomong sama gue, itupun harus gue rayu-rayu pakai untaian kata punyanya para pujangga. Tsah!

“Yaudah, pulang ke hotel, yuk,” ajak gue sambil melangkahkan kaki.

Entah di langkah keberapa gue baru sadar kalau Sandi nggak ikut melangkah di belakang gue.

“Katanya haus? Ayo pulang.” Mati-matian gue nahan rasa kesal yang mulai hidup. Gue suka si kalau Sandi manja sama gue, tapi gue juga suka gondok sendiri kalau dia neko-neko.

“Capek tau! Aku tuh udah teriak-teriak dari ujung sana supaya kamu berenti karena kaki aku kena karang! Nih! Berdarahkan? Nggak pekak banget sih kamu!” gue mengerenyit malu. Untuk beberapa saat gue cuma bisa garuk-garuk bagian belakang kepala gue doang.

Gue beranikan diri untuk mengulurkan tangan ke kaki kirinya yang tadi dia angkat, ada luka robek—kalo buat gue, itu luka yang nggak seberapa—di sana. “Sakit, ya?” tanya gue dengan muka serba salah sambil melihat luka—yang nggak seberapa itu.

Gue berjongkok memunggunginya. “Naik, aku gendong,” pinta gue pelan. Nggak lama gue ngerasa beban gue bertambah. Sandi naik di punggung gue, kedua kakinya melingkar di bagian tengah tubuh gue lalu tangannya dikalungkan di leher gue.

“Aku minta maaf ya,” ucap gue sambil mengangkat tubuh Sandi yang sedikit melorot dari gendongan gue. Dia mengangguk di balik punggung gue, pelukannya di tubuh gue pun menggerat. Gue menghela nafas lega sambil melangkah jenjang.

Top, capek nggak? Kalau capek turunin aku aja, aku bisa jalan sendiri kok,” bisik Sandi pelan di telinga gue. Suaranya yang lembut itu seakan-akan beradu merdu dengan deburan ombak.

Gue menggeleng mantap. “Sampai Bogor juga kuat!” seloroh gue sambil tertawa. Harapan gue terkabul, suasana hati cowok gue membaik. Dia tertawa kecil sambil mengeratkan pelukkannya.

Gue angkat lagi tubuh Sandi yang terasa merosot dari gendongan gue, gue tarik nafas dalam-dalam lalu melangkah cepat. Berlari cukup kencang dengan Sandi yang masih berada di punggung gue. Dia tertawa hebat, satu tangannya di angkat ke udara menikmati malam di pantai ini dari atas tubuh gue.

Lari gue melambat, ternyata tadi gue lari sangat jauh dari hotel. Gue udah merasa lelah tapi hotel yang memiliki sembilan lantai itu pun belum kelihatan. Fark banget! Masa sih gue harus bilang sama cowok gue kalau gue capek? Mau ditaro mana penis gue?

Top, berenti!” pinta Sandi mendadak.

“Huh?” respon gue sambil menengok ke arahnya. Dari ekor mata gue, gue melihat Sandi celingukkan seperti mencari seseuatu.

Fuck yeah!

Yang Sandi cari itu bibir gue, dia memagut gue setelah memastikan di sekeliling kami nggak ada orang. Yeah, gue tahu banget cowok gue yang unyu ini. Kebiasaannya yang suka curi cium di sembarang tempat, yang nggak pernah mau berdiri jauh dari gue di mana aja. Yang selalu ngambek kalo gue nyentuh ponsel gue saat berudaan bareng dia.

Bibirnya yang kenyal menyesap lembut bibir gue yang tebal. Yang gue rasain sekarang cuma… sesuatu yang hangat menyelimuti hati gue, menjaga cinta gue untuknya agar kekal selamanya. Itu sebuah harapan.

Gue masih nggak percaya kalau sekarang gue sangat cinta cowok pertama gue ini. Tentu karena dia punya wajah yang unyu-nya kebangetan dan fisik yang sesuai selera gue, banget! Sikapnya yang manja, pendengar yang baik dan ceria.

Padahal, awalnya gue cuma mau main-main sama dia, mau cari fun. Tetapi hati gue berkhianat, mengingkari keinginan gue dan malah membuat gue jatuh cinta sama cowok twink ini.

I love you so much, top,” rapalnya setelah pagutan kami berhenti.

“Aku nggak,” jawab gue dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“Auw!!!” jerit gue saat hidung mancung gue dicubit tanpa ampun. Gue geleng-gelengkan kepala gue agar cubitannya lepas, sialnya itu nggak sama sekali berhasil. Sandi tertawa kejam layaknya Bellatrix Lestrage setelah membunuh Sirius Black, tanpa belas kasih.

“Au nga ica napas, cut!” kata gue sumbang. Tetapi, yang gue dapat hanyalah tawa Sandi kembali.

Sampai akhirnya gue limbung dan ombak menerjang tubuh kami. Gue bener-bener nggak sadar kalau gue bergerak ke arah bibir pantai. Gue buru oksigen banyak-banyak saat kepala gue menyembul, sedangkan Sandi terus tertawa bahagia di pinggir pantai. Tubuhnya rebah nyaman di sana, amat menggoda.

Shit! fucking shit! kalau ini bukan Indonesia, gue udah make out di sini sekarang juga deh!

Sandi menjulurkan lidahnya ke arah gue, membuat wajah tirusnya itu terlihat amat menggemaskan.

Harusnya sekarang gue ada di kamar! Jerit gue dalam hati saat gue ngerasa Devan junior bangkit dari tidurnya.

“Ampun! Ampun! Top, udah, geli! Ampun!” jeritnya geli saat gue terkam tubuh Sandi dan gue kelitiki habis-habisan. Pembalasan yang cukup setimpal, karena memang Sandi paling nggak kuat dikelitikin. Terkahir kali dia gue kelitikin itu saat perayaan enam bulannya jadian kami. Sialnya, Sandi ngambek gara-gara gue ngelitikinnya berlebihan.

Kami berhenti bercanda saat merasa lelah berdigjaya. Tetapi gue masih di posisi gue—berada di atas tubuh Sandi. Ombak kecil membuat basah kembali kaki kami. Bukan hanya itu, ombak kecil tadi seakan-akan mengantarkan perasaan menggebu dalam diri gue yang harus segera disalurkan.

Gue lirik sekitar, tetapi sebelum gue kembali menatap Sandi yang berada di bawah tubuh gue, ke dua tangan kecil Sandi menelusup ke rambut gue, menarik wajah gue mendekat ke kepalanya yang rebah di atas pasir. Nafas kami bertemu dan bibir kami saling memagut. Seolah-olah nggak peduli dengan keadaan.

Pepatah, benar! Kadang cinta memang membuat pemiliknya lupa daratan.

Gue sesap dalam-dalam bibir cowok gue yang selalu terasa manis itu lalu gue lepas perlahan. Gue cium keningnya lalu dia cium pipi gue dan kami rebah bersisian. Membiarkan alam menyaksikan keromantisan kami.

Rebah bersisian dengan sapuan ombak kecil yang sesekali membasahi kaki kami. Menatap bulan yang nggak bulat sempurna namun lebih indah dari bulan purnama. Bersamanya, gue selalu merasa semuanya baik, semuanya istimewa. Sandi selalu membuat gue lupa segalanya, kecuali satu hal! Cinta gue ke dia.

“Kamu punya harapan untuk hubungan ini?” tanya Sandi dengan suara yang mendayu.

Gue mengangguk. Kemudian gue mendengar Sandi bergumam kecil, merapalkan semua harapannya tentang hubungan kami. Bintang berkelip sangat indah di atas sana, seakan-akan langit sangat dekat, keindahannya bisa gue jamah hanya dengan mengulurkan tangan gue. Rasanya, gue bisa sentuh bulan dan petik bintang jika gue mau.

Gue menoleh ke kanan dan mendapati Sandi sedang tersenyum lembut ke gue. Detik itu juga, gue yakin kenangan malam ini tersimpan baik di dalam kepala dan hati gue. Mengendap dan jadi bagian terpenting hidup gue.

Kalaupun nggak, gue berharap kenangan ini akan selalu ada.

***

“Dev?” panggil seseorang. Gue menoleh perlahan, Rian.

“Eh! Ayo Yan, anak-anak udah pada nungguin gue kan?” kata gue seraya bangkit dan menepuk-nepuk bokong gue supaya pasir-pasir yang menempel di denim gue luruh. Kalau bisa, semua kenangan gue bersama… Sandi, juga bisa ikut luruh.

Buat gue, memori lampau yang terlalu membekas itu sangat menyakitkan saat dikenang. Sialnya, lo bisa terkenang masa lampau yang nggak lo miliki lagi sekarang tanpa lo inginkan. Kalau udah begitu, siap-siap deh lo galau kayak gue sekarang.

“Gue masih nggak habis fikir sama lo, Dev.” Rian menahan tubuh gue yang hendak meninggalkannya di pantai ini menuju hotel.

“Gue nggak mau nyamain lo dengan homo lainnya, tapi… apa spesialnya Sandi sih sampai lo bertingkal sedongo ini? Sedangkan para homo yang lain dengan mudah bergonta-ganti pasangan tiap malamnya?” tanya Rian dengan mimik berhati-hati takut gue nggak terima. Tetapi dia sahabat gue, gue pun sahabatnya, gue tahu maksud baik dibalik ucapannya itu.

“Dah ah! Nanti anak-anak nungguin kita lho!” gue merangkul Rian berusaha membuat dia nggak menanyakan hal yang sama sekali gue nggak tahu jawabannya.

“Lo nggak sadar, huh? Dua setengah jam lo di sini setelah lo gue panggil tadi?!”

Shit!” runtuk gue. Namun, mengenang masa-masa gue sama Sandi memang nggak akan pernah bisa selesai, seberapapun waktu yang tersedia.

“Huh? Why you not around?” tanya Rian lagi.

Gue ikut duduk di pelepah nyiur yang Rian duduki, tepat di tempat yang gue duduki tadi.

Gue menerawang jauh ke ujung lautan, mencari jawaban dari pertanyaan yang Rian ajukan. Walaupun gue tahu, gue belum bisa menjawab pertanyaan semacam itu, sampai saat ini!

“Dua tahun, lo begini!” tegas Rian seperti telah jengah dengan kegalauan gue. Mungkin gue nggak pernah ngebuat dia susah dengan kegalauan gue, tetapi dia tetap sahabat gue dan nggak ada satu pun sahabat yang mau ngelihat sahabatnya murung berkepanjangan. Tottaly understood!

Gue menggeleng nggak tahu. “Gue selalu berharap, tiap gue bangun dari tidur gue, gue Amnesia, ngelupain semua tentang dia serta kenangan saat kami bersama. Ngelupain pemikiran bodoh yang gue nggak itu tahu apa, tapi selalu ada di dalam kepala gue. Gue nggak pernah lupa sakitnya saat gue bangun tidur dan Sandi nggak lagi ada di sebelah gue.” Air mata ini meninggi, gue tahu banget kalau menangis adalah hal hina bagi cowok. Tetapi, rasa sakit di dalam hati ini atas kehilangannya memang sepadan dibayar tangisan penyesalan gue.

Sungguh! Gue nggak pernah merasa hina jika mengangis untuk Sandi.

“Lo sama Sandi itu bukan suatu kesalahan, Dev!” ucap Rian sambil menyilangkan kakinya.

“Lo sama Sandi itu sebuah pembelajaran, semua alasan dari… kenapa Sandi ninggalin lo dan milih balik ke mantan bule-nya, itu yang harus lo benahi.” Rian menatap gue, matanya yang tegas itu serasa menusuk hati gue yang rapuh.

Nggak adakah kesempatan gue kembali bersamanya lagi?

“Menurut lo? Dia baca nggak semua e-mail yang gue kirim ke dia?” tanya gue ke Rian.

“Semoga aja, si Jebs nggak seposesiv lo.”

Fuck!

***

“Kamu mau ke mana?” tanya gue dengan nada yang nggak juga gue turunkan. Nafas gue memburu karena termakan emosi.

“Pergi!” jawab Sandi pelan, sebenarnya gue tahu dia sedang menahan diri agar nggak nangis.

“Jangan kayak anak kecil! Kita selesain ini di sini, kamu pergi nggak akan sama sekali nyelesain masalah ini!” timpal gue lagi. Sungguh, gue ingin berhenti memaki, tetapi gue nggak bisa. Gue terus mencecarnya, seakan-akan gue nggak puas dan permintaan maafnya yang dari tadi dia ucapkan.

“Aku salah! Aku udah minta maaf dan kamu masih nggak bisa terima, selalu aku yang salah.” Sandi gue mendesah frustasi, air mata turun dari mata indahnya.

“Memang kamu salah!” jawab gue dengan telak.

Sandi mengangguk, menghapus air matanya dengan tegas. Bibirnya bergetar, sekarang dia membuat gue seolah-olah gue lah orang yang salah, gue benci itu.

“Oke! Kamu dewa dan aku bukan apa-apa. Fine!” teriaknya tertahan. Sandi kembali berbalik, menarik keras ransel besar dari dalam lemari, lalu memporak-porandakan semua baju dan barang-barang miliknya ke atas kasur. Dengan gegabah dia menjejalkan semua yang dia rasa perlu di bawa ke dalam ransel besarnya.

Gue tinggal serumah dengannya, sudah cukup lama. Banyak momen gue dan dia lewati dan alamin di dalam rumah ini. Rumah ini nggak terlalu besar, tetapi sudah sangat cukup untuk menjadi bingkai cinta kami. Walaupun, sekarang gue dan dia sedang berada di dalam masalah.

“Aku nggak akan marah kayak gini kalau kamu nggak kayak gitu!” desis gue sambil menunjuk laptop yang sudah hancur di kaki nakas.

“Aku cuma balas e-mail dari Jebs, apa itu—“

“Jelas salah! Kamu udah punya aku, nggak perlu lagi balik-balik ke masa lalu, apa aku kurang cukup bahagian kamu? Apa perhatian aku ke kamu kurang? Apa aku kurang baik memperlakukan kamu? Kurangku apa San?” cecar gue. Rasa cemburu ini sudah bertahta di tengah hati, mengambil alis emosi yang memang mudah meluap ini.

Sandi mendelik nggak percaya mendengar apa yang baru saja gue omongin. Lagi pula apa yang gue omongin itu benar semua, gue nggak habis pikir kenapa dia bisa e-mailan sama mantannya bulenya yang berasal dari negeri antahberantah itu. Kurangnya gue apa coba?

“Aku cuma silahturahmi, cuma balas e-mailnya dia yang nanyain kabar aku, nggak lebih.”

“Siapa yang berani jamin?” timpal gue lagi. Gue sangat amat merasa tidak aman sekarang.

“AKU!!!” teriak Sandi keras, seolah-olah apa yang dia lakuin itu sangat lumrah dan nggak sama sekali jadi masalah. Gue marah, karena memang gue nggak pernah melakukan hal yang sekarang gue permasalahin. Gue mencintai Sandi dengan segenap hati, cuma ada di dalam sini, dan rasa takut kehilangannya selalu hadir tiap gue ngerasa dia berbeda.

“Sebentar lagi dia akan balik ke Indo-kan? Huh? Dan kamu mau temuin dia kan? Pergi sana! Aku pengin tahu, kamu bahagia apa tersakiti lagi sama dia!” kata gue tanpa kontrol.

Suara resleting yang digeser terdengar jelas, seakan-akan terekam abadi di dalam kepala gue, seperti suara pengantar Sandi yang keluar dari dalam hidup gue. Detik itu juga, gue tahu kalau guelah yang berasalah.

Sandi berdiri tegap di hadapan gue, air matanya terus turun walau berkali-kali dia coba hapus.

“Kalau kamu nanti dapat pacar baru, belajar hargain perasaannya, privasinya, dan harga dirinya. Devan, bye!” desis Sandi sambil meraih ransel besarnya.

Gue bergerak cepat, gue tutup pintu kamar dan gue kunci. Sandi protes dan mencoba merenggut kunci yang berada di dalam kepalan tangan gue. Seraya itu gue melontarkan ribuan kata maaf, dari hati gue yang terdalam.

Setiap orang membuat kesalahan, tiap orang pula berhak dapat pengampunan. Seharusnya.

Gue sangat lega karena Sandi nggak jadi pergi, malam itu dia tidur dalam pelukan gue, walaupun dia nggak mengucapkan satu patah kata pun sehabis dia meletakan ransel yang sudah dia isi barang-barang miliknya.

Namun, kelegaan itu hanya saat gue terpejam. Karena saat gue terjaga… Dia telah pergi dan cintanya untuk gue sudah benar-benar mati.

***

Rian menepuk-nepuk pundak gue, menarik gue kembali dari kenangan pahit atas kebodohan gue sendiri.

Dicintainya itu sebuah keistimewaan tersendiri buat gue, membiarkan dia pergi adalah tindakan paling bodoh seantero bumi, mengubur cinta dan kenangan tentangnya adalah hal yang nggak akan pernah mungkin terjadi. Kecuali, gue amnesia.

“Kalau lo udah selesai di sini, cepat balik ke kamar hotel. Kita-kita nyisain makanan kok buat lo.” Rian berdiri, menepuk-nepuk pundak gue lagi. Gue hanya mengangguk tanpa menatapnya.

Rian menatap gue dalam-dalam. “Jangan terus nulisin namanya di atas hati lo. Sudah terlalu jelas dan membekas, semua orang bisa lihat itu. Udah saatnya lo berdamai denga hati lo. Jangan ulangin lagi kesalahan lo. Cuma lo yang tahu salah lo itu apa.”

“Semua orang pernah melakukan kesalahan. Semua orang pula berhak mendapatkan pengampunan. Tapi, bukan berarti semua orang bisa kembali ke waktu lampau dan memperbaiki kesalahannya.” Rian bergerak pergi. Ada kekosongan yang benar-benar menyakiti hati.

Nggak ada lagi yang bisa gue katakan. Nggak ada lagi yang bisa gue harapkan. Hubungan gue dan Sandi udah berakhir, mungkin benar kata orang-orang.

Sandi dan gue, hanyalah kenangan, bukan masa depan.

Gue sangat menyesal pernah memperlakukannya dengan amat buruk. Seberapapun seringnya gue menegaskan kepada dunia bahwa gue benar-benar mencintainya. Karena cinta membutuhkan pembuktian, tindakan, bukan omongan. Gue bodoh telah menyia-nyiakannya. Dan kini penyesalan datang, menghujam gue tanpa ampun. Ini memang balasan yang setimpal.

Selamat tinggal kenangan.

Stormy Day (11)

DIS_

Chapter 11

♂Apocalypse

Kepalaku sangat sakit ketika aku membuka mataku. Aku bisa merasakan ada yang berdenyut-denyut di dahi sebelah kiriku. Kuangkat tangan kananku namun tak bisa bergerak sama sekali. Hal ini seperti yang pernah kualami saat Papaku dulu pernah mendorongku dengan kasar hingga terjerembap jatuh di dalam kamar gelap yang ada di ruang bawah tanah. Aku pernah membentur dinding, namun tidak terlalu keras, hanya membuat kepalaku sedikit agak benjol. Dan aku yakin—sangat yakin—kalau denyutan yang ada di dahi sebelah kiriku itu pasti benjolannya. Eh, memangnya bagaimana bisa aku benjol seperti ini?!

Aku membuka mataku lebar-lebar, menatap nanar cahaya matahari yang meredup di pantulan jendela. Aku mencoba mengangkat tangan kananku lagi, namun masih sama, aku masih belum bisa menggerakkannya. Hati-hati aku mengangkat tangan kiriku, dan kali ini berhasil. Aku meraba wajahku, mencari-cari denyutan itu. Tidak ada benjolan yang berarti, tetapi benar-benar sakit sekali rasanya. Kuundes bau tidak sedap yang menguar di sekitaran pangkal hidungku. Bau menyengat yang membuatku sangat muak. Ck! Aku masih benar-benar tidak ingat aku sedang ada di mana sekarang.

Ketika aku mencoba bangkit dari pembaringanku, erangan tertahan keluar dari mulutku. Kukerjapkan mataku beberapa kali, membiasakan mataku dengan cahaya lampu dan cahaya matahari—yang kuyakini saat ini adalah senja. Bau tidak sedap itu kembali tercium di sekitaran hidungku, bau itu membuat perutku melilit dan kepalaku semakin pusing. Aku benar-benar ingin kembali pingsan karena mencium bau ini. Setelah ini, aku akan sangat benci dengan bau yang ada di sekitaran—

Aku ingat sekarang! Aku sedang ada di apartemen— “Sudah sadar ternyata!” Alex. Laki-laki paruh baya itu berjalan dengan langkah pendek saat menghampiriku. Awalnya hanya segaris blur saat aku menatap wajahnya. Namun ketika dia berjalan makin dekat, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya yang tajam memberikanku sebuah kenangan di mimpi buruk itu. Yang sekarang aku percayai kalau mata melotot yang kulihat saat itu bukan mimpi buruk sama sekali. Melainkan mata sungguhan, dan itu mata Alex.

“Gue—“ Aku berdeham sekali, agar suara serakku menghilang. “Gue nggak tau apa yang sedang lo lakuin sama gue, tapi gue yakin yang mukul kepala gue waktu itu pasti elo kan?!” Aku mencoba sekali lagi mengangkat tanganku, namun masih saja tidak bisa. Aku melirik ke arah tanganku dan terkejut, tangan kananku diborgol di kepala ranjang. Aku menggerakkan tanganku dengan kasar, membuat pergelangan tanganku sakit. “Lo apain gue sih?!” tanyaku dengan suara keras, benar-benar marah padanya.

Laki-laki itu tersenyum lebar, membuat sarafku menegang ngeri. Jika dulu aku sangat suka melihatnya memberikanku senyuman seperti itu karena penuh rasa sayang, kini aku sangat membencinya. “Lo udah tidur selama…” Alex tidak menjawab pertanyaanku, dia malah melirik jam tangannya. “Dua puluh empat jam.” Alex menyeringai lebar, membuatku terbelalak tidak percaya. Bagaimana mungkin aku bisa tidur selama itu?! “Kamu mau makan dulu atau mau marah-marah dulu?” tanyanya dengan suara licik. Seperti suara Sid saat menindas semua musuh-musuhnya di sekolah.

Perutku tiba-tiba berbunyi, dan aku memang merasa sangat lapar dan haus. Badanku benar-benar semakin lemah sekarang. “Gue nggak butuh makan!” seruku kemudian. Sungguh, aku tidak butuh hal itu sekarang. Aku lebih baik pulang dan—ah, shit! Berarti aku bolos sekolah hari ini. “Just let me GO!” gertakku pada laki-laki paruh baya yang ada di hadapanku. Tetapi laki-laki itu hanya menyeringai, dia malah beranjak ke arah sofa yang ada di sudut kamar.

Dia berbalik sambil memegang sebuah map merah. Map yang sepertinya sangat kukenal. “I will,” ujarnya dengan suara dibuat-buat. “Tapi setelah kamu tanda tangani dan ngasih kode persetujuan di berkas ini. Baru aku lepasin kamu dan kita nggak akan pernah ketemu lagi.” Alex membuka map itu dan menyorongkannya ke atas meja kecil yang ada di dekat kepala ranjang, tempat di mana lubang borgol satu lagi terkunci. “Yah, tapi kamu masih bisa ketemu aku kalau kamu kesepian.” Alex memegang daguku dan menyentuh bibirku dengan ujung jemarinya yang berbau menyengat itu.

Kutepis menjauh tangannya dengan tanganku yang bebas. Alex tertawa kecil, dia menatapku dengan pandangan nista tersebut. Aku benar-benar tidak mengerti hal apa yang sebenarnya dia inginkan dariku. “Gue nggak tau lo kerasukan setan apa Lex, tapi gue mau nanya satu hal ini sama lo. Sebenernya, lo mau apa dari gue?!” tanyaku mencoba setenang mungkin. Aku orang yang sangat mudah menyimpan emosi, namun untuk saat ini sepertinya emosi sangat kubutuhkan. Aku harus segera keluar dari tempat ini. Flocksku, Mamaku dan Peter pasti kuatir karena aku masih belum memberi mereka kabar.

“Aku sudah bilangkan tadi,” katanya, dia menaruh kedua tangannya di pinggang. “Aku pengen kamu tanda tangan dan ngasih kode persetujuan di berkas ini!” Alex membuka map itu, kupicingkan mataku dan membaca sebaris kalimat di atasnya. Diatmika Group— “Ini berkas semua perusahaan keluarga kamu yang ada di mana-mana,” ujar Alex, membuatku tidak perlu melanjutkan membaca semua kalimat yang ada di berkas tersebut. “Dan aku butuh persetujuan kamu buat mindahin semua perusahaanmu itu ke sahamku.”

This stupid bitch! Enak saja dia mau mengambil semua perusahaan keluargaku. Dia kira keluargaku membuat semua perusahaan itu menggunakan bulu ketiak apa! “Jadi, intinya, lo mau ngambil semua perusahaan keluarga gue?” tanyaku benci. Alex menganggukkan kepala dengan khidmat. “In your dream, then!” seruku sengit. Kudorong semua berkas itu hingga jatuh ke atas lantai. Membuat mata Alex yang tajam melotot marah!

Alex menampar wajahku dengan telapak tangannya yang besar. Membuat rasa panas dan nyeri menjalar di pipiku. “Dasar bocah brengsek!” serunya dengan sumpah serapah yang benar-benar tidak cocok disandingkan untukku. Dia yang seharusnya dipanggil brengsek! Om-Om brengsek! “Kamu pikir aku mau nyerah gitu aja setelah aku ngelakuin banyak hal supaya bisa dapetin momen ini, heh?!” Dia memegang pipiku agar menghadapnya. Jarinya yang tajam menusuk daging pipiku. Ck! Aku sungguh-sungguh terlahir untuk jadi siksaan para manusia sepertinya! “Aku cuman butuh tanda tangan dan kode persetujuan di berkas itu, aku bosan kerja di bawah naungan perusahaan kamu. Kalau kamu bukan pewaris sah dari semua perusahaan itu, aku nggak akan ngelakuin semua hal ini sama kamu. Meskipun aku cukup nikmatin juga! Tapi sekarang aku sudah bosan sama kamu!”

Dia pikir aku tidak bosan juga gitu berhadapan dengannya. Sontoloyo! “Gue akan tanda tangan, tapi gue mau nanya sama lo. Gimana lo bisa dapetin berkas itu? Setau gue berkas itu disimpen sama Nyokap gue dengan hati-hati. Dan nggak banyak orang yang tau soal berkas itu disimpen di mana.” Aku mencoba menepis tangannya yang ada di pipiku, namun tangannya lebih besar dan tubuhku benar-benar lemah karena aku lapar dan dehidrasi.

Seringaian jahat itu muncul lagi di bibirnya. “Aku jemput Mama kamu di bandara saat dia pulang ke Indonesia waktu itu.” Aku ingat hari di mana Mamaku baru saja pulang dari urusan bisnisnya. Jadi, waktu itu Mamaku dijemput oleh Om-Om psikopat gila ini! “Dan aku mulai nanya-nanya. Kupikir Mama kamu nggak akan jawab, tapi perempuan bodoh itu malah ngasih tau aku di mana berkas itu ditaruh. Yang ternyata ada dibalik lukisan yang ada di ruang kerja Papamu.” Aku menampik tangan Alex, enak saja dia memanggil Mamaku bodoh!

“Sebegitu mudahnya lo dapetin berkas itu?” tanyaku heran. Meskipun di dalam rumahku tidak ada satpamnya, serta aku dan Mama sudah tidak mempunyai pengawal lagi, tetapi pasti ada yang melihat Alex. Pembantu-pembantuku mungkin. Yah, walaupun kalau sudah malam kebiasaan mereka akan ngumpul di cottage belakang rumah sambil nonton sinetron. Ataupun bergosip soal pembantu-pembantu yang lain. Aku bisa tahu karena aku diberitahu oleh Mbak Kinan. Saat dia—tunggu dulu, kenapa aku malah membicarakan para pembantuku?!

“Nggak terlalu sulit. Aku sama Mamamu nyampe rumah sekitar pukul satu tengah malam. Aku bincang-bincang sebentar sama Mamamu lalu izin pulang. Tapi aku nggak bener-bener pulang. Aku suruh supirku yang pulang, biar semua satpam yang ada di depan rumahmu nyangkanya aku sudah pulang.” Alex mengambil berkas-berkas yang kececeran di lantai. Dia menaruhnya dengan rapi di atas meja. “Aku ngendap-ngendap masuk rumahmu lagi setelah itu. Dan selama beberapa jam aku sembunyi di kantor Papamu. Untung dulu aku pernah ke kantor itu, jadi nggak susah nemuin lemari kaca yang ada dibalik lukisan tempat berkas itu Mamamu taruh. Dan sekarang… aku sudah punya buat kamu tanda tangani!”

Aku mendesah panjang. Benar-benar jengkel, malas, lapar, dan haus! “Gue waktu itu nggak sengaja lihat lo di lift! Itu memang lo kan?” tanyaku, kupicingkan mataku tajam ke arahnya.

Dia menganggukkan kepalanya. Senyuman jahat muncul lagi di bibirnya. “Setelah aku dapet berkas itu, rencananya aku mau langsung minta tanda tangan kamu dan nyuruh kamu nulisin kode persetujuannya. Tapi, aku sadar kalau aku mintanya saat itu juga, namanya aku bunuh diri. Aku nggak mungkin kan minta daging di kandang Macan?” Alex menatap wajahku dalam-dalam. “Pas aku mau keluar dari kamar kamu, tiba-tiba kamu bangun. Makanya aku cepet-cepet sembunyi di balik lift. Yang hasilnya ternyata memuaskan.”

“Gimana cara lo bisa keluar dari rumah? Satpam yang ada di depan dan di belakang rumah nggak mungkin bisa lolosin lo gitu aja!” Aku sebisa mungkin melonggarkan tanganku di sekitaran borgol agar tanganku bisa terlepas dari benda laknat tersebut. Aku juga dulu pernah diborgol seperti ini oleh Papaku. Dia memborgol tanganku di keran bathtub kemudian dia menenggelamkan kepalaku di dalamnya. Aku sudah beberapa kali bisa lolos dari dalam lilitan borgol seperti ini. Aku biasanya menggunakan air sabun, benda berkepala lancip untuk membuka kuncinya ataupun melonggarkan pergelangan tanganku.

“Aku nunggu sampe pagi. Sampe semua satpam yang ada di rumah kamu akhirnya tukeran shift dengan satpam yang lain. Seperti yang pernah kamu bilang, setiap kali pergantian shift, semua satpammu itu ngumpul di ruangannya. Jadi saat mereka lagi ngumpul di sana, aku buru-buru langsung keluar dari pagar rumahmu yang terbuka. Aku lihat kamu pergi pagi itu.” Iya, aku memang pergi pagi itu. Pergi ke rumah Vick untuk meminta masukkan. Sial! Ternyata orang satu ini licin juga seperti ular. “Sudah cukup penjelasannya, aku tidak punya banyak waktu. Kamu hanya perlu tanda tangan dan tulis kode persetujuannya! Setelah itu aku akan ngebiarin kamu pergi. Tapi, setelah itu kamu jangan pernah buat manggil dan lapor Polisi. Atau kamu mau lihat Mamamu mati, heh?!”

Dia bahkan lebih licin dari ular! Om-Om bersisik babi! “Nggak akan!” seruku ketus. “Gue nggak akan pernah buat tanda tangan di sana!” Aku menendang kakinya dengan kakiku yang bebas. Alex mundur beberapa langkah, refleks dia langsung memegang tulang kering kakinya yang aku tendang tadi. Aku menyeringai lebar, sekarang siapa yang bisa jadi jahat, heh! “Lo nggak akan pernah bisa dapetin apa yang lo mau!” Aku menatapnya dengan penuh kesumat. Manusia laknat seperti dia memang harus segera dibinasakan.

Fine then!” serunya, dia berjalan ke arah pintu. “Aku buat mati aja orang ini kalau begitu!”

Ketika Alex membuka pintu kamar, mataku langsung terbelalak lebar. Bahkan aku tidak sadar mengeluarkan erangan tertahan. Peter ada di sana, di dekat pintu yang menuju ke arah dapur. Kedua tangannya diikat di depan dadanya. Mulutnya disumpal kain dan kedua kakinya diikat di atas grendel pintu dapur. Membuat kakinya di atas dan kepalanya di bawah. Posisinya benar-benar menyedihkan. “Peter!” teriakku kencang memanggilnya. Aku meronta dari kurungan borgolku, aku tidak peduli lagi rasa sakit yang kuhasilkan dari borgol itu. Aku harus membangunkannya, dia tidak berhak merasakan penderitaanku. “Peter!” teriakku lagi.

Namun Peter hanya bergeming, bahkan dia tidak menunjukkan pergerakkan sama sekali. Jangan bilang kalau dia sudah mati! “Percuma!” hardik Alex dengan wajah beringas. “Dia nggak akan bangun mau kamu teriak sekencang apapun. Aku udah bius dia dengan obat bius yang kayak aku kasih ke kamu. Tapi aku nggak tau kalau efek obat bius itu bisa selama itu juga. Aku pikir kamu hanya akan terbius sebentar, ternyata sampai satu hari penuh.” Alex berjalan lamban ke arah Peter, dia menatapku masih dengan pandangan yang sama.

“Gimana dia bisa ada di sini?” pekikku marah. “Ini urusan gue sama lo, dia nggak berhak lo siksa kayak gue juga.” Aku bisa merasakan kulit pergelangan tanganku yang mulai robek karena rontaanku yang makin keras. Aku tidak peduli! Aku harus mengeluarkan Peter secepatnya dari tempat ini. Biar aku saja yang berurusan dengan orang brengsek itu. Aku tidak ingin orang yang penting di hidupku merasakan apa yang kurasakan.

“Bukan aku yang minta dia ada di sini,” kata Alex sembari menggunakan sarung tangan putih. “Empat jam setelah kamu dateng ke apartemenku, tiba-tiba temenmu satu ini ngetuk pintu apartemenku dan mulai marah-marah nanya keberadaan kamu. Aku juga nggak tau gimana dia bisa tau kamu ada di sini. Tapi terserahlah, aku nggak peduli. Temenmu satu ini maksa buat masuk ke dalam. Tentu aja aku izinin, walaupun setelah itu aku pukul belakang kepalanya sampe pingsan dan kubius dia kayak aku ngebius kamu.” Alex mengeluarkan jarum suntik dari dalam kotak yang ada di bawah kakinya. “Aku yakin orang ini adalah orang yang penting buat kamu. Gimana kalo aku suntik mati aja dia?”

“Anjing lo ya!” teriakku benar-benar marah dan kalut. “Jangan ganggu dia! Dia nggak ada urusannya sama ini semua.” Namun Alex tetap diam, dia menyuntikkan ujung jarum suntik itu ke dalam sebuah botol berukuran kecil. Aku tidak tahu apakah itu benar akan menjadi suntikkan mati atau tidak. Tetapi aku tidak mau mengetes apa-apa sekarang. Aku takut kalau Alex memang serius dengan ucapannya. “Gue akan tanda tangan, gue akan ngasih lo kode persetujuannya! Sekarang tinggalin dia sendirian!”

Alex langsung mengalihkan pandangannya ke arahku. Dia tersenyum lebar, benar-benar menikmati semua siksaan yang dia berikan untukku. Pantas saja wajah anaknya seperti bawang merah, Ayahnya sendiri saja sudah mirip iblis begitu. “Nah, kalau daritadi begitukan aku nggak usah repot-repot buat ngeluarin suntikkan mati ini buat temen kamu tersayang.” Alex menaruh suntikkan itu ke dalam kotak, langkahnya panjang saat menghampiriku. Aku hanya bisa menahan emosiku. Bahkan Alex lebih parah daripada Ferdi. Om-Om satu ini sungguh menjijikan! “Ini pulpennya. Kamu silahkan langsung tanda tangan dan tulis kode persetujuannya di bawah tanda tangan. Supaya sah dan semua perusahaan itu akhirnya jadi milikku.” Alex menyerahkanku sebuah pulpen berukuran mini kepadaku.

Dengan berat hati aku meraih benda itu, lalu  mencerna semua tulisan yang ada di berkas. Jika aku menyerahkan semua perusahaan ini ke tangan Alex, bisa dipastikan keluargaku akan jatuh terpuruk. Aku tidak akan mempunyai apa-apa lagi. Apalagi ketika aku membaca paragraf kalau semua perusahaan dan hartaku jatuh ke tangannya. Atas namanya! Sial! Aku tidak bisa melakukan hal ini, hidupku dan Mamaku pasti akan hancur lebur begitu saja.

“Cepetan tanda tangan!” gertak Alex kasar. Dia menyorongkan tangannya di pundakku. Dengan perasaan benci dan sungguh-sungguh marah, akhirnya aku tidak bisa lagi menahan tubuhku yang lemah. Kuangkat tangan kiriku yang bebas dan meninju sekuat mungkin rahangnya. Alex terjengkang jatuh, dengan posisi bokong yang menyentuh lantai terlebih dahulu. Aku cepat-cepat mengangkat kakiku untuk menendang wajahnya, namun tangan Alex dengan sigap meraihnya lalu mendorongku hingga terbaring di atas kasur. “Anak bajingan!” serunya meledak. Dia menindih tubuhku, kedua tangannya menekan leherku dengan kekuatan penuh.

Aku megap-megap saat kedua tangan Alex makin kuat mencekik leherku. Aku bisa merasakan semua udara yang ada di kerongkonganku tersumbat. Paru-paruku seperti terbakar api, rasanya sungguh panas dan menyakitkan. Aku mencoba menarik kedua tangannya yang besar itu di leherku, namun percuma, aku hanya menggunakan tangan kiriku. Dan tubuhku dalam keadaan yang lemah. Apalagi dengan badan Alex yang besar dan menindih badanku. Sebentar lagi aku akan benar-benar mati. Tetapi itu lebih baik daripada harus Peter atau Mamaku yang mati. Aku tidak keberatan kalau memang harus mati sekarang.

Namun hal itu tidak terjadi, karena Alex mengendurkan kedua tangannya di leherku. Aku terbatuk beberapa kali karena udara di paru-paruku akhirnya kembali bisa berhembus dengan normal. “Aku bisa aja bunuh kamu sekarang! Tapi aku butuh tanda tanganmu dan kode persetujuan itu! Jadi jangan pernah main-main kalau kamu nggak mau ngerasain yang namanya kalah!” Alex meneriakkan semua kata-kata itu di depan wajahku. Membuat air liurnya yang seperti limbah sampah muncrat mengenai wajahku. Dasar Iblis bernafas busuk!

Alex menyingkir dari atas tubuhku, membiarkan perutku akhirnya bisa naik-turun dengan normal kembali. Aku mencengkram kuat-kuat bantal, kepalaku tiba-tiba terserang vertigo. Efek dari cekikkan tadi sungguh-sungguh sangat menyakitkan. Aku sangat benci dicekik, untung saja Papaku dulu tidak pernah melakukan hal itu padaku. Dia selalu menarik kerah bajuku lalu menyeretku untuk ikut bersamanya. “Gue yak—“ Aku tersedak kalimatku. Rasa perih di leherku masih sangat terasa. “Gue yakin lo bakalan bunuh gue setelah gue tanda tangan.” Aku yakin dia pasti akan melakukan hal tersebut.

“Kalau aku bunuh kamu, dan tiba-tiba semua perusahaan keluargamu jatuh ke tanganku, aku yakin semua orang akan curiga. Begitu pula dengan Polisi-Polisi kolega Papamu.” Alex merapatkan kemeja kerja yang dia kenakkan. “Aku nggak perlu bunuh kamu, aku cuman akan nyuruh banyak orang buat nguntit kehidupan kamu. Sampe kamu lapor Polisi, temen tersayangmu serta Mamamu bakalan mati. Mudah kan? Ngebunuh itu hal yang mudah, kayak nyembelih Kambing saat kurban!” Orang satu ini benar-benar…! “Sekarang waktunya kamu buat tanda tangan!” Alex menaruh pulpen mini itu ke dalam genggaman tangan kananku yang terborgol dan luka.

“Kenapa lo ngelakuin hal ini ke gue? Ke keluarga gue? Emang lo nggak puas dengan hal yang udah lo punya?” tanyaku, sengaja mengulur waktu. Aku tidak mau cepat-cepat tanda tangan. Meskipun aku yakin aku akan tetap melakukan hal itu. Tetapi aku punya rencana, ketika matahari sudah benar-benar tak terlihat dan suasana kamar ini gelap, pasti Alex akan menyalakan lampu. Dan pada saat itulah aku akan merobek semua berkas itu. Biar saja jika dia ingin membunuhku. Aku tidak peduli.

“Aku nggak pernah suka sama Papamu, pencapaian yang dia raih sangat jauh beda dari perusahaanku. Dia juga pernah ngambil ideku buat kerja sama dengan perusahaan yang ada di Moskow. Dia juga pernah serakah untuk ngambil proyek yang ada di Auckland. Jadi… aku pengen ngambil apa yang seharusnya memang punyaku!” Alex menatapku nanar dan marah.

Sungguh?! Aku tidak tahu kalau hal itu sungguh terjadi di antara mereka berdua. Dari dulu aku tidak pernah tahu bagaimana Papaku, tetapi aku tahu satu hal ini saja. Papaku adalah orang yang ambisius. Dia melakukan banyak hal tanpa mengeluh, sebab itulah dia menjadi orang yang sangat kasar. Apalagi saat dia tahu soal perbuatan Mamaku. Sebab itulah aku tidak ingin memanggilnya si Bajingan lagi. Tidak ada yang salah di keluarga kami, yang ada hanya anak-anak manusia yang butuh cinta. Aku tidak ingin menjadi pendendam, rasa dendam membuatku kesepian. Membuatku menjadi pribadi yang terlalu tertutup dan murung.

“Kamu tunggu apa lagi?” tanya Alex dengan suara keras. “Tanda tangan sekarang!”

Aku menengadahkan kepalaku dan melihat wajahnya di dalam kegelapan. “Gue nggak bisa tanda tangan kalo cahayanya minim kayak gini,” ujarku padanya. Alex mendecakkan lidahnya tidak sabar, ketika dia bangkit untuk menuju ke saklar lampu, cepat-cepat aku mengambil semua kertas berkas itu dan meremuknya dengan tangan kiriku. Aku baru saja ingin merobek berkas-berkas tersebut saat lampu tiba-tiba nyala dan Alex sudah berdiri di hadapanku. Dia merebut berkas-berkas itu dan menampar wajahku lagi. “Sakit, setan!”

“Kamu pikir dengan cara licik seperti itu bisa ngelabui aku, heh?!” ujarnya ketus. Dia mencengkram pundakku kuat-kuat, membuat rasa nyeri menjalar di sana. “Lagi pula kamu pikir berkas-berkas ini hanya ada satu! Berkas ini banyak, dan kamu nggak akan pernah bisa menang!” Alex mendorong tubuhku kencang, membuatku terhempas kembali ke atas kasur. “Mungkin kamu memang harus dikasih pelajaran dulu supaya mau tanda tangan!” paparnya dengan suara selicin ular. Aku tidak suka aura makin jahat yang keluar dari sorot matanya.

Alex kembali menindih tubuhku, tangannya yang besar memegang kedua wajahku. “Lo-l-lo mau apa?” tanyaku terbata. Pertanyaanku tadi tidak dijawab dengan perkataan, namun langsung dengan sebuah ciuman kasar yang mendarat di atas bibirku. Aku meronta dari tindihan badannya. Tetapi percuma, aku tidak bisa melawan. Badan Alex terlalu besar dan berotot, sedangkan aku hanya anak remaja yang baru saja berumur delapan belas tahun. Hal ini mengingatkanku dengan Papanya Peter saat ingin memperkosaku dulu.

“Kamu mau kontolku dulu kan baru mau tanda tangan?” tanyanya dengan seringaian licik. Dia mengangkat kepalanya dan menatap wajahku dengan tatapan buas. “Kamu mau kontolku masuk ke dalam lubang pantatmu dulu kan baru kamu mau ngasih kode persetujuan itu?” Dia membuka ikat pinggangnya dengan kecepatan yang tak terduga. “Dasar bocah jalang!” Alex kembali mencium bibirku. Aku agak mengerang saat dia menggigit bibir bawahku. Tidak terlalu keras memang, tetapi cukup membuatku agak kesakitan. Apalagi saat tangannya mulai mencoba membuka resleting celanaku. Aku makin memberontak di atas tubuhnya.

Makin lama ciuman yang Alex tujukan ke arah bibirku makin memanas. Aku mengatupkan mulutku rapat-rapat, tidak ingin membiarkan lidahnya yang sudah bergerilya di atas bibirku masuk ke dalam mulutku. Aku menarik rambutnya kencang dengan tangan kiriku, namun Alex malah mendesah nikmat. Aku benar-benar akan kembali diperkosa seperti dulu. Hal ini akan kembali terjadi, membuatku makin benci dengan yang namanya pemerkosaan seperti ini. Aku sungguh-sungguh tidak suka jika—

Ciuman akhirnya terlepaskan juga. Tetapi aku mendengar pekikan marah dari belakang tubuh Alex. Kubuka mataku dan melihat lilitan kain yang berada di lehernya. Laki-laki brengsek itu terhuyung mundur dan mencoba menarik menjauh orang yang mencekik lehernya dengan kain tersebut. Saat mataku sudah bisa mencerna pemandangan yang ada di depanku ini, aku baru sadar kalau orang yang mencekik leher Alex dengan kain tersebut adalah Peter. Tangannya masih terikat, dan ikatannya itulah yang dia gunakan untuk mencekik Alex.

Tetapi itu tidak bertahan lama. Alex memundurkan badannya hingga menabrak dinding. Badan Peter berbenturan dengan dinding beton tersebut, tubuhnya terhuyung-huyung bagaikan orang mabuk. Lilitan kain yang dia gunakan untuk mencekik leher Alex pun akhirnya terlepas. Sebagai gantinya Alex meninju kencang hidung dan perut Peter. Membuat Peter terjerembap jatuh ke atas sofa. Darah segar mengucur dari dalam hidung Peter dan mulutnya. Alex menindih badan Peter, tangannya yang besar mulai mencekik leher Peter dengan kekuatan penuh. Wajah Peter yang pias berubah biru.

Cepat-cepat aku membuka penutup pulpen mini yang ada di tangan kananku. Mengeluarkan isi pulpen tersebut. Kugunakan kepala runcing pulpen untuk membuka kunci borgolku. Tanganku gemetaran saat aku mencoba memutar-mutarnya di lubang kunci. Sial! Cepatlah terbuka! Cepat!!! Aku makin panik, apalagi saat mendengar rintihan tertahan dari mulut Peter. Aku harus bergegas sekarang. Aku tidak boleh membiarkan si laki-laki Iblis itu membunuh Peter. Tidak boleh, aku tidak akan mengizinkannya.

KLIK!

Akhirnya terbuka! Dengan gesit aku meloloskan tanganku dari dalam borgol. Kumasukkan kembali kepala runcing pulpen itu ke dalam tempatnya. Setelah benar-benar terpasang aku langsung bergerak cepat menuju ke arah Alex. Kaki Peter yang memberontak semakin lama semakin melambat. Oh, tidak! Aku sungguh-sungguh murka sekarang! Kutancapkan kepala runcing pulpen itu di leher Alex berkali-kali, membuat laki-laki Iblis itu melepaskan cekikkannya dari leher Peter. Dia mengerang dan menabrak tubuhku hingga tersungkur.

“Brengsek!” serapahnya kencang, dia terhuyung-huyung mundur hingga jatuh ke sisi kasur yang lain. Aku segera bangkit dan menghampiri Peter yang sedang terbatuk-batuk. Kupegang pipinya yang dingin, darah segar dari hidung dan mulutnya terus mengucur. Kuseka dengan ujung seragam DIS ku. Tanganku secepat mungkin membuka ikatan tangan Peter. Namun belum saja benar-benar terbuka, tiba-tiba rambutku dijambak dengan sangat kasar, seperti rambutku akan terlepas dari kulit kepalaku. “Bocah kurang ajar!” raung Alex kasar, dia meninju perut dan menampar pipiku dengan sangat kencang.

Lututku menabrak kayu penyangga tempat tidur saat aku terjatuh ke lantai. Baru kali ini aku merasakan yang namanya rasa sakit yang sesungguhnya. Rasa sakit yang mengeluarkan darah. Karena aku bisa merasakan mulutku terasa asam dan berbau karat seperti sedang mengecap rasa darah. Ini sungguh-sungguh menyakit—Alex menjambak lagi rambutku, dia menyeretkku hingga ke depan pintu kamar. Dia menaruh kepalaku di sisi pintu. Aku tahu dia ingin membenturkan pintu itu ke kepalaku. Kupejamkan mataku, bersiap-siap merasakan hal yang lebih sakit lagi.

Hanya saja Alex tak akan kunjung melakukan hal tersebut, karena Peter sudah menendang perutnya dengan kekuatan entah dari mana. Membuat laki-laki Iblis itu terjatuh ke lantai. Peter bergerak cepat dan menindih badan Alex, tangannya yang terkepal meninju cepat wajah Alex berkali-kali. Aku mencoba bangkit, namun perutku kram akibat tinjuan dari Alex tadi. Aku harus membantu Peter, apalagi saat laki-laki Iblis itu mendorong tubuh Peter hingga tejengkang dan menabrak pintu kamar mandi.

Laki-laki Iblis itu mengangkat tangannya untuk meninju wajah Peter, cepat-cepat aku naik ke atas punggung Alex dan menekan luka tusuk akibat pulpen tadi. Sial! Pantas saja dia tidak begitu kesakitan, ternyata aku tidak menusuk nadi karotisnya! Tetapi biar saja, aku harus menjauhkan laki-laki Iblis ini dari Peter. Aku tidak ingin—Arggh! Alex memelintir tanganku dengan cukup kuat, membuatku harus berada ditindihan badannya lagi.

Alex menekan kuat-kuat tangannya di rahangku, membuat urat di leherku menjadi sangat sakit. Aku juga ikut mendorong menjauh rahangnya dengan kedua tanganku. Meskipun aku lemah, dan aku sangat kelaparan serta kehausan, aku tidak akan menyerah begitu saja kali ini. Aku harus menyingkirkannya dari hadapanku. Lambat laun tangan Alex mengendur di rahangku, ini dia kesempatanku. Kudorong tubuhnya menjauh, Peter yang ada di belakang tubuhnya langsung memiting kedua tangan laki-laki Iblis itu ke belakang. Entah datangnya darimana, aku langsung mengambil lampu hias yang ada di atas meja lalu membenturkannya ke kepala Alex. Membuat cowok itu langsung terhuyung jatuh ke lantai dan pingsan.

Peter dan aku sama-sama mundur, ngeri kalau laki-laki Iblis itu bangkit dan menyerang kami lagi dengan tidak terduga. Setelah menunggu beberapa puluh detik, barulah aku yakin dia pingsan. “Kita bo-borgol tangannya,” kataku sedikit terbata. “Ayo!” Aku dan Peter berjalan hati-hati ke arah Alex. Kucolek lengannya dengan ujung kakiku, namun dia bergeming. Berarti sungguh pingsan berat Iblis satu ini. Dengan badan lemah, aku dan Peter mendorong Alex hingga ke tepi ranjang tempat aku diborgol tadi. Kupasang borgol itu di pergelangan tangan kanannya, setelah bunyi klik terdengar jelas, aku dan Peter kembali mundur dan merapat ke dinding. Menatap nanar Alex yang sedang terbaring tak berdaya.

“Kita harus telepon Polisi sekarang!” kata Peter tak lama setelah keheningan mendominasi ruangan penuh apocalypse ini. “HP ku mana ya?” Peter merogoh-rogoh saku celananya. Kuputar pandanganku ke seisi kamar dan… itu dia! HP ku, dompetku, dan HP Peter. Aku berjalan cepat menuju ke meja TV dan mengambil barang-barangku. Kuserahkan HP itu ke arah Peter. Yang langsung Peter sambut dengan kilat. Dia membuka side lock HP nya dan mulai memencet sederet nomor. “Kantor Polisi?” katanya setelah itu. “Iya, saya ingin—“ Dan Peter mulai memberitahukan semuanya. “Polisi bakalan dateng sepuluh menit lagi.”

Aku menganggukkan kepalaku. Kusandarkan kembali badanku ke dinding, lalu terduduk di lantai yang dingin. Aku menatap semua benda-benda yang kececeran ke sana-kemari setelah apa yang terjadi tadi. “Kamu tau darimana aku ada di sini?” tanyaku ketika Peter sudah duduk di sebelahku. Kutolehkan kepalaku ke arahnya, menatap wajahnya yang letih. Darah yang tadi keluar dari hidungnya kini sudah berhenti mengalir. “Aku minta maaf ya karena kamu ikutan kena masalah ini.”

Peter mengibaskan tangannya ke depan wajahku. “Aku ikutin kamu,” ujarnya, dia mengelap darah kering yang ada di atas bibirnya dengan ujung kemejanya. “Dari kamu pergi ke Travel Penerbangan, terus ketemu Tante-tante, terus Om-om di Starbucks. Yah, sampe akhirnya kamu ke sini.” Peter memejamkan matanya dalam-dalam. Terlihat sama lemahnya sepertiku. “Aku nungguin kamu di ruang tunggu yang ada di deket lift. Tapi sampe beberapa jam aku nunggu kamu nggak keluar-keluar juga. Aku, well, mulai berpikir yang nggak bagus-bagus jadi aku samperin aja. Eh, aku malah dibuat pingsan sama tuh bajingan!” Peter menunjuk Alex dengan dagunya yang lancip.

“Makasih karena udah mau nolongin kali ini. Aku nggak bakalan tau gimana hidupku kalo kamu tadi nggak ada. Pasti bakalan sengsara.” Aku mengangkat tanganku dan mengelus pipinya dengan hati-hati. Peter menolehkan kepalanya ke arahku, dia mengulas sebuah senyuman miring. Senyuman yang sangat kusuka di bibirnya.

Always,” ucapnya lembut. “I will always there for you.” Peter menggenggam tanganku erat-erat. Kugeser dudukanku ke arahnya. Mataku menatap sebuah anting hitam yang melekat di telinganya. Kusentuh anting itu dengan tanganku yang bebas, membuat Peter terhenyak sementara. “Aku pakek lagi anting ini. Aku pakek lagi karena kita akhirnya pacaran lagi.” Peter makin mengeratkan tangannya di dalam genggaman tanganku.

Anting itu kami beli hanya sepasang. Satu untuk Peter dan satu untukku. Waktu itu kami masih remaja labil yang sedang terserang starstruck. Ingin menggunakan hal serupa, agar tidak pernah bisa terpisahkan. Setelah kami membeli anting itu, aku dan Peter melubangi daun telinga kami yang sebelah kanan. Lalu memasangkan anting itu satu saja di telinga kanan kami. “Aku juga masih punya anting itu,” kataku kemudian. Mata Peter melebar tak percaya. Kubuka dompetku dan mengeluarkan satu buah anting dari dalamnya. “Mungkin udah saatnya aku makek lagi benda ini.”

Peter tersenyum makin lebar. Dia mengambil anting itu dari tanganku dan memasangkannya di daun telingaku yang sebelah kanan. “Sekarang kita nggak akan benar-benar kepisah lagi.” Peter merangkul pundakku erat, kukaitkan kaki kami yang menyelonjor menjadi satu.

“Bintang Reonel selalu ngabulin permohonan kamu Pet.” Aku berujar pelan di dekat telinga Peter. “Keajaiban itu ada. Sebab itulah kita berdua ada di sini sekarang.” Peter mencium pelan pipiku, rasa hangat dan basah bibirnya menempel lekat di kulit pipiku. Dan aku suka sensasinya. “Dan Pet… aku juga udah bisa maafin Papaku,” kataku penuh keyakinan. Aku telah memikirkan hal ini. Bahkan di dalam tidurku yang panjang kemarin, aku bermimpi bertemu dengan Papaku dan bermain bersamanya. Layaknya seorang Ayah dan Anak. Aku rindu Papaku. Aku merindukannya. “Aku udah nggak dendam lagi sama dia. Karena aku cinta sama dia, karena dialah aku ada di dunia ini sekarang.”

Dan hal itu terjadi. Aku menekuk bibirku menjadi sebuah senyuman. Sebuah senyuman nyata yang benar-benar tertoreh di bibirku. Rasa maaf mengembalikan air mataku, keikhlasan mengembalikan senyumanku. Aku belajar banyak dari semua hal yang telah kulalui. Semua rasa sakit hati dan dendam itu kini membaur di udara dan menghilang. “Ka—kamu…” Peter menunjuk bibirku yang tersenyum dengan jarinya. “Kamu senyum,” katanya takjub. Peter memegang kedua pipiku dan menatap bibirku yang masih tersenyum dengan lekat. “Tivo, kamu senyum!” serunya bahagia. Membuatku tak bisa menahan senyuman lebarku.

“Yeah, aku senyum,” kataku ikut bahagia bersamanya. “Senyumanku nggak aneh kan?”

“Aneh?” sahut Peter bingung. “Nggak aneh, malah kamu makin ganteng kalo senyum!” Peter mencium keningku, dan aku mencium lehernya yang hangat. “Kamu jadi Tivo yang aku kenal dulu. Aku kangen Tivo yang ini, dan kini aku sudah lihat dia lagi.” Peter menyapukan jemarinya di atas bibirku. “Coba aja kalo mulut aku nggak rasa darah kayak gini, pasti aku udah nyium kamu daritadi.” Peter memasang cengiran lebar, membuatku tak tahan menahan tawa. “Dan sekarang kamu ketawa!” Lalu, aku dan dia larut dalam tawa bahagia. Sungguh.

“Kamu tau nggak sih,” kataku sembari menghentikan tawaku beberapa saat. “Kalo sebenernya kita ini lagi kena apocalypse. Bahkan beberapa puluh menit yang lalu kita tadi masih tinju-tinjuan sama orang brengsek yang lagi pingsan itu.” Aku menunjuk Alex yang masih larut dalam dunia pingsannya. “Tapi sudahlah, daripada kita diem-dieman sambil nungguin Polisi dateng.” Aku memeluk leher Peter, dan tersenyum di atas kulit lehernya yang sangat harum sabun. Aku suka aroma ini, meskipun Peter berkeringat, dia akan selalu wangi sabun. “Gimana kalo kita kumur-kumur supaya rasa darah yang ada di mulut kita hilang? Terus kita bisa ciuman bibir setelah itu.”

Peter mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sangat—seratus persen—antusias. “Iya, bener banget. Kita harus kumur-kumur! Kenapa nggak kepikiran daritadi. Bibirku udah gatel banget pengen nyium bibir kamu dan main sama lidah kamu yang nakal minta digigit itu.” Aku dan Peter kembali tertawa seperti dua orang bodoh. Cepat-cepat aku dan Peter bangkit dari dudukan kami. Agar kami bisa melakukan ritual ciuman wajib setelah apocalypse tadi.

Tetapi sayang, belum sempat kami kumur-kumur, Polisi sudah datang duluan! Sial!!!

***

Jam sebelas malam, aku dan Peter masih saja di kantor Polisi untuk pemeriksaan. Mamaku sudah memanggil lima dokter untuk memeriksa keadaanku dan Peter. Saat dia datang tadi, suara histerisnya memenuhi kantor Polisi ini. Dan ketika aku memberikannya sebuah penjelasan disertai senyuman nyata dari bibirku, Mamaku berhenti kuatir dan menelpon empat Pengacara keluarga kami untuk memenjarakan Alex seumur hidup. Aku tidak mengerti apa maksud Mamaku, dia memang terkenal sangat suka melebih-lebihkan sesuatu.

Setelah makan dan minum tadi, rasa sakit yang ada di tubuhku berangsur-angsur hilang. Lagi pula tadi dokter sudah menyuntikkanku sebuah obat penghilang rasa nyeri. Mamaku juga tadi menyuruh beberapa pekerja Spa langganannya untuk datang kemari dan memijat tubuhku yang lelah. Untung saja hanya sebentar, kalau lama bisa-bisa aku dan Peter menjadi bahan tertawaan semua orang yang ada di kantor Polisi ini. Tetapi semua itu sudah lewat, Mamaku sedang sibuk berdiskusi dengan empat Pengacara dan memilih satu di antara keempat orang itu di rumah. Jadi yang akan menjemputku nanti adalah flocksku.

“Selesai!” kata Polisi paruh baya yang ada di hadapanku. “Silahkan ke ruang tunggu untuk menunggu jemputan Anda Pak Diatmika dan Pak Djojonegorodiningrat.” Aku dan Peter langsung bangkit. Akhirnya selesai juga pemeriksaannya. Aku tidak mengerti kenapa mereka melakukan hal itu. Maksudku, mereka selalu bertanya hal yang sama, dan aku juga selalu menjawab hal yang sama. Ugh! Menyebalkan! Tetapi mau bagaimana lagi, prosedur kepolisian memang seperti itu. Prosedur yang sangat membosankan. Untung aku tidak pernah bercita-cita untuk menjadi Polisi.

“Kamu laper lagi nggak?” tanya Peter, wajahnya sudah lebih baik dari beberapa jam yang lalu. Malah kami mungkin sudah terlihat sehat lagi. Meskipun masih ada beberapa memar yang terlihat di lengan dan wajah kami masing-masing. Memar biru yang tak terelalu kentara. “Kalo kamu laper lagi kita pergi ke kantin bentar,” katanya penuh perhatian. Aku menatap wajahnya yang berseri-seri saat kuberikan senyuman tulusku untuknya.

“Aku nggak laper, kamu laper?” tanyaku padanya. Peter menggelengkan kepalanya. Aku tahu dia bertanya seperti tadi karena kuatir dengan keadaanku. Aku dan Peter saling berpandangan lama, membiarkan momen mata kami yang bertemu seperti ini terkunci rapat. Aku ingin menghafal bentuk wajahnya, aku ingin mengingat segala hal tentang dirinya. Hanya saja momen ini harus rusak ketika semua orang yang ada di ruang tunggu ini mendadak hening. Aku mengalihkan pandanganku dengan penuh tanda tanya. Semua mata orang yang ada di sini terarah ke pintu keluar. Dan di sanalah mereka! Flocksku, bergerak dengan gaya populer mereka. Apalagi Sid dengan tatapan tajamnya.

Peter mengkeret di sebelahku, dia menggeser duduknya agak jauh. Langkah Sid sangat panjang saat berjalan ke arahku. Kuangkat tanganku dan melambaikannya ke arah mereka. Zavan yang berdiri di sebelah Sid melepaskan kacamata hitamnya dan balas melambaikan tangan ke arahku. Di sebelah Zavan ada And yang sedang menutup kepalanya dengan tudung jaketnya. Sedangkan Revie berjalan paling belakang sambil memegang satu buah es krim di tangan kanan dan satu bungkus Jet-Z ukuran besar yang diapit di depan dada. Tingkahnya yang seperti itulah yang membuatnya makin seperti anak-anak.

“Sehari nggak ketemu dan lo udah menghebohkan satu Dunia!” seru Sid di depanku ketika dia sudah sampai di hadapanku. “Gue denger nama lo di radio sama di TV daritadi.”

“He-eh!” sahut Zavan. “Di Radio bilang kalo Anak dari keluarga Diatmika yang maha kaya di Indonesia itu disekap or sumthing gitu deh. Di TV juga tadi ngelihatin muka lo yang jelek banget kayak orang baru di BDSM.” Aku menengadah untuk menatap Zavan. Tetapi lidahku langsung kelu saat melihat tato super seram yang menempel di pundak hingga lengan kanannya. Zavan hanya mengenakkan singlet hitamnya malam ini, membuat tato itu terlihat dengan sangat jelas. “Emang berita itu bener ya, kalo lo disekap selama satu hari penuh?”

“Iya Zav, makanya gue ada di sini sekarang.” Aku menatap bentuk tato yang menjalar di pundak hingga lengan Zavan. Bentuknya memang sangat keren. “Tato lo itu nggak permanenkan? Kapan lo buat tuh tato?” tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan, malas membahas soal itu lagi-itu lagi. Tadi Polisi dan Mamaku sudah bertanya, aku tidak ingin membahasnya dengan flocksku juga. Aku paling malas bicara!

“Gila aja kalo permanen! Lo mau gue diceramahin sama Nenek Sihir yang ada di Ruang Konseling? Geez, gue ngebayanginnya aja udah nggak sanggup,” gerutu Zavan, dia pura-pura merinding. “Gue buat tato ini tadi siang. Soalnya kan besok hari Jumat—TGTIF-thank God tomorrow is friday—jadi kita bisa pakek baju bebas dan bergaya sebebas mungkin. Well, meskipun gue memang harus ke DIS Klinik dulu buat minta surat izin kalo tato yang ada di pundak dan lengan gue ini hanya sementara.” Zavan menyisir rambutnya—yang kini sudah pirang lagi—dengan jari-jarinya. Membuat beberapa cewek ABG yang ada di sudut ruang tunggu menatap Zavan dengan pandangan kagum.

Revie bergerak cepat ke sisi satu lagi, ke tempat Peter yang saat ini sedang menyembunyikan wajahnya dari Sid dan Zavan. Mata semua orang yang ada di ruang tunggu ini langsung terarah ke arah Revie. Bahkan beberapa Polisi yang lalu lalang sejak daritadi langsung menghentikan langkahnya untuk menatap wajah Revie yang tampan. “Tivo, pas kamu disekap gitu, ada Luna muncul nggak? Itu lho, kucing penyelamat yang ada di ceritanya Sailor Moon?” tanya Revie lugu sambil menjilati es krimnya.

Gawd, Revie!” seru Sid cepat. “Grown up! Lo itu udah besar, masih aja percaya yang kayak gituan.” Revie hanya mengangkat pundaknya, dia tersenyum lebar. Membuat beberapa orang yang ada di sini terkesiap. “Ya udah deh, terserah! Sekarang lebih baik kita pulang!” Sid menjentikkan jarinya, menyuruhku untuk segera bangkit. And dan Revie langsung berjalan paling depan, Zavan mengenakkan kembali kacamatanya dan berjalan beriringan dengan Sid. “Di depan banyak banget Wartawan Tiv,” beritahu Sid. “Lo minta pengawalan Polisi sana!”

“Biar gue aja!” kata And dengan suara beratnya. And menghampiriku dan melindungiku.

Aku berdeham dan menyentuh lengan Peter. “Ayo, pulang!” ajakku padanya. Tetapi Peter bergeming. “Hari ini aku mau jujur sama mereka soal hubungan kita. Nggak perlu ada yang disembunyiin lagi. Ayo!” bujukku sambil memasang wajah memohon. And yang berdiri di sebelahku juga memaksa Peter untuk ikut. Dengan berat hati dia mengangkat bokongnya dan bangkit dari tempat duduknya. Kuraih tangannya dan kugenggam, tidak peduli dengan lirikkan orang-orang yang ada di sini. Pada saat kami keluar dari kantor Polisi, semua cahaya menyilaukan menerangi mataku. And mendekap tubuhku ke dalam tubuhnya agar terlindungi. Ada untungnya juga ternyata mempunyai sahabat berbadan kekar seperti And.

“Tivo, bisa berikan kami penjelasan tentang kasus Anda?” tanya seorang Wartawan. Tetapi aku terus tak mengacuhkannya. Aku melangkahkan kakiku menuju ke arah mobil Zavan. “Tivo, lihat sebelah sini!” Blah-blah-blah-yawn! Aku tidak akan peduli, aku lelah ditanya-tanya. Untung saja penderitaanku akhirnya berakhir. Revie membukakan aku pintu, dan aku langsung memasukkan tubuhku ke dalam sana dan duduk dengan nyaman. Ah, paradise!

Peter sudah duduk di sebelahku saat And menutup pintu mobil. Cahaya-cahaya kamera itu terus menyilaukan mataku. Suara-suara yang saling bersahutan di luar sana benar-benar mengganggu telingaku. “Zavan mana sih?” tanya Sid dari bangku depan. “Dia yang nyupir kok malah ngilang si—“ Mata Sid terbelalak saat melihat keluar jendela. Zavan lagi ada di sana, sambil berpose bagaikan model ke arah para Wartawan itu. Ck! Bule gila satu itu! “Zavan!” teriak Sid kencang. Membuat Zavan menoleh dan sadar.

Zavan masuk dengan gesit, dia cengengesan saat dipelototi tajam oleh Sid. “Sori, gue kira gue lagi pemotretan.” Zavan menyalakan mesin mobilnya, dengan cepat dia langsung menjalankan mobilnya agar terhindar dari semua Wartawan-wartawan di luar sana. “Tapi sumpah deh, mereka juga tadi langsung nyuruh gue senyum dan action, meskipun sambil nanya-nanya juga sih soal lo Tiv—EW!” Zavan langsung menginjak rem, membuat Revie yang ada di atas pangkuan And terjatuh ke pangkuanku. “Kenapa si not-so-La-Isla-Bonita itu ada di sini?” tanya Zavan sambil membalikkan badannya untuk melihat Peter.

Sid juga ikut berbalik, tatapannya berubah ganas. Red alert, dead alert! “Euh—“ kataku gugup, aku sungguh tidak tahu apa yang harus—oh, for hell’s sake! “Guys, Peter dan gue… pacaran.” Zavan terhenyak kaget, dan mata Sid makin berubah ganas. Selamat datang Pemakaman Jeruk Purut, besok pasti aku akan dimakamkan di sana. “Gue sama Peter—“ Aku mencoba menjelaskan, tetapi Sid mengangkat tangannya, menyuruhku berhenti bicara. Yang tentu saja langsung kulakukan. Lihat saja aura menakutkan yang keluar dari matanya.

“Gue nggak sadar kalo lo Homo Terselubung, gaya lo aja Homophobia, ternyata doyan ngisep kontol juga!” kata Sid sarkas kepada Peter.

“Kalo gue kayak gitu emang kenapa?” tantang Peter, shit! “Dasar Homo brengsek!”

Sid tersenyum culas, dia memajukan badannya ke arah Peter. “Emang! Gue emang Homo Brengsek. Daripada ada Homo dibalik batu!” Lalu mereka berdua mulai bertengkar. Aku, Revie, And, dan Zavan saling melempar pandangan heran. “Gue nggak suka lo ada di sini, turun!” seru Sid kemudian, setelah pertikaian mereka berdua semakin sengit. Untung saja Zavan tidak ikut campur, karena dia memang bukan orang yang mudah mengintimidasi orang lain. Tidak seperti Sid yang bisa melakukan apa saja dengan sangat mudah.

Fine!” hardik Peter jengkel. Saat Peter ingin membuka pintu mobil, aku menahannya.

“Sid, listen!” ucapku pelan-pelan, berharap Sid ingin mengerti.

NO! You, listen!” gertak Sid mengerikan. Mati aku! “Lo sadar nggak Tiv udah berapa kali orang ini dan flocksnya nyari masalah sama flocks kita?!” tanya Sid ketus. “Dan sekarang lo ngasih kami pengumuman kalo lo pacaran sama dia. Sama si ketua flocks bodoh itu. Tell me if your brain is still fine now! Or your brain get mi-mi-bella, huh?” Aku mengernyit ketika Sid mengejek otakku sedang mengalami kerusakan akut. That’s hurt! Tapi memang salahku, Peter memang sangat suka merusak reputasi flocks kami di sekolah.

“Sid,” kata Revie lembut, dia memegang tangan sahabat kami satu itu. “Aku pengen kamu dengerin dulu penjelasan Tivo. Kamu nggak bisa ngomong kayak gitu kalo kamu nggak tau sejarah antara Tivo dan Peter.” Revie melirikku, menyuruhku untuk segera menjelaskan semuanya. Dan this is it… aku mulai menceritakan segalanya dengan hati-hati, agar Sid dan Zavan bisa mengerti. Aku menceritakan mereka segalanya, tentang Peter, tentang keluargaku, tentang persahabatan kami dulu dan semuanya. Aku menceritakan semuanya.

“Jadi Sid gue harap lo ngerti keadaan gue sama Peter,” kataku menutup cerita. Sid hanya, Oh!

 

–Bersambung to Chapter 12-End–

Nggak komen, nggak lanjut ke chapter terakhirnya lho. Hayoooo… ditunggu banyak-banyak dan panjang komennya yaaa… hehehe… :D

Mau promosi juga nih, bagi yang punya akun Goodreads, atau yang belum punya (kalian harus buat), rating dan review Bright Day ya. Rencananya gue mau bukuin tuh Bright Day, bagi yang ngasih Review memuaskan di sana (Goodreads) Gue bakalan kasih gratis deh satu buku Bright Day (Tapi nggak janji, kan belum tentu cetak). Atau paling nggak, gue kasih bentuk ebooknya deh, biar jadi koleksi di laptopnya (kayak ada yang minat aja! DUARRR!!!)

Ini linknya:

https://www.goodreads.com/book/show/19457234-bright-day

Ditunggu lhoooo :D

Rainy Day (9)

DIS_

Chapter-Lagu 9

♫ Lady Gaga – Applause

Saat aku tahu kalau Bagas telah mempunyai rumah sendiri, aku benar-benar terkejut. Sungguh, ternyata banyak hal yang benar-benar tidak aku ketahui tentang Bagas. Rumah yang dia punya adalah salah satu rumah yang menjadi bahan percobaannya. Dia ingin mengasah kemampuan Arsitek di dalam dirinya. Aku saja baru tahu kalau dia memang sungguh-sungguh ingin menjadi Arsitek. Dan rumah ini adalah salah satu contohnya. Dengan modal dari Ayahnya, dia akhirnya bisa membangun rumah ini hanya dalam waktu enam bulan. Rumahnya sendiri berbentuk minimalis, agak kecil dan sangat sederhana. Hanya beberapa pekerja saja yang membangun rumah ini. Dan yang hanya bisa kukatakan padanya hanya satu. Applause. Ya, Bagas sangat berhak mendapatkan tepuk tangan akan hasil yang dia perlihatkan padaku saat ini.

Kami berdua meninggalkan Prom Night sebelum acara itu selesai. Lagi pula, tidak mungkin kan aku dan Bagas tetap di acara itu dalam keadaan agak basah. Dengan tuxedo yang terkena rembesan air hujan. Untung saja tuxedo serta HP ku baik-baik saja. Dua barang itu adalah pemberian orang, aku benar-benar harus menjaganya. Saat aku dan Bagas turun dari balkon saja, ada beberapa junior gradeku yang memandangi kami dengan tatapan heran. Badan basah, bergandengan tangan dan aku yang selalu tersenyum seperti orang gila saking bahagianya. Tentu saja aku bahagia… orang yang kucintai, akhirnya membalas cintaku.

Rumah ini mempunyai dua kamar dan dua kamar mandi. Kamar yang ada di dekat sudut ruang tamu, agak lebih besar daripada kamar yang menuju ke dapur. Di kamar yang lebih besar ada kamar mandinya, sedangkan kamar mandi yag satunya ada di dapur. Ruang tamunya sendiri lumayan lebar, dilengkapi dengan satu sofa beledu berwarna biru tua dan satu meja kecil yang di atasnya ada beberapa toples berisi cemilan. Aku berjalan pelan menuju dapurnya, keadaannya sendiri sangat memprihatikan. Bungkus Mie ada di mana-mana, tumpukan piring dan gelas bekas kopi berada di konter tempat cuci piring.

Aku berbalik dan melihat Bagas yang sedang menutup pintu rumah. Badannya yang lebar menggeliat saat dia melepaskan jas hitam kecokelatan yang dia gunakkan. Bekas air hujan yang membasahi kemeja putihnya membuat dadanya yang bidang tercetak dengan sangat kentara. Aku menelan air ludahku dengan susah payah saat dia berjalan mendekatiku. Senyuman yang jarang muncul di bibirnya kali ini tertampil dengan sangat piawai. Jantungku berdegup sangat kencang. Yang ada di pikiranku hanya ini. Aku dan dia hanya berdua saja di rumah ini. Hanya berdua saja, dan segala hal yang pernah kuimpikan bisa saja terjadi.

“Kamu mandi di kamar mandi yang ada di kamar aja ya, biar aku mandi di kamar mandi yang ada di dapur,” ujarnya sembari mengacak rambutku dengan tangannya yang besar. Perlahan aku menganggukkan kepalaku. Melihat perubahan Bagas, dalam bentuk bicara, dari lo-gue jadi aku-kamu dan juga segala bentuk perhatiannya itu. Dan yang lebih hebatnya lagi, ini bukanlah mimpi atau imajinasiku sama sekali. Ini nyata, dan untuk Allah, kuucapkan terima kasih. “Ambil handuk baru di lemari yang ada di dekat TV. Kamu pakek baju aku dulu aja ya, agak besar pastinya, tapi itu lebih baikkan daripada nggak pakek apa-apa.”

Sekali lagi aku mengangguk. Bagas masuk ke dalam kamar dan aku mengikutinya dari belakang. Setelah dia mengambil handuknya yang ada di kamar mandi, dia berlalu dari hadapanku dan keluar dari kamar. Cepat-cepat aku menutup pintu, kemudian membuang semua nafas yang sejak daritadi kutahan saking gugupnya. Kulepas jasku dengan tangan gemetar, lalu mulai mengambil handuk yang ada di dalam lemari.

Ketika aku mandi pun, jantungku masih berdegup dengan sangat kencang.

Kuputar kran shower hingga tak ada satu air pun lagi yang menetes. Aku berjalan cepat untuk mengambil handuk yang kusampirkan di batang pilar yang ada di dekat pintu keluar kamar mandi. Aku mengelap badanku dengan sekali usapan, membiarkan air yang ada di punggungku tidak benar-benar kering. Aku menatap diriku yang terpantul di cermin lebar yang ada di hadapanku. Bisa kulihat kalau wajahku terlihat sangat gugup. Ya Tuhan, padahal belum tentu malam ini Bagas dan aku akan—sudahlah! Lupakan saja.

Aku memutar knop pintu, keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai. Saat aku menarik pintu kamar mandi hingga tertutup, kubalikkan badanku untuk menuju ke lemari yang ada di sudut kamar. Namun langkahku langsung terhenti saat aku melihat Bagas sudah ada di sana. Dengan badan telanjang, sedangkan di bagian bawahnya terlilit handuk. Dia sedang sibuk membongkar isi lemarinya, wajahnya yang biasanya dingin terlihat sangat ramah. Aku menghembuskan nafasku dengan perlahan kemudian berjalan pelan mendekat ke arahnya.

Dia berbalik saat mendengar langkahku yang agak menghentak di lantai. Senyuman itu kembali muncul di bibirnya, senyuman manis seperti wafer cokelat. Dengan perasaan riang kubalas senyumannya. “Ini bajuku yang agak kecil, walaupun sebenernya masih aja agak besar kalo kamu yang pakek.” Bagas berbalik ke arahku. Badannya yang lebih tinggi dariku membuat kepalaku mendongak ke atas untuk melihat wajahnya. Namun mataku tertahan saat melihat bulu-bulu halus yang tumbuh di belahan dadanya. Bulu-bulu itu tumbuh hingga ke bawah—“Kalo celananya kamu pakek boxerku aja ya. Soalnya celanaku yang lain ukuran pingganya pada lebar semua.”

“I—iya,” sahutku dengan suara yang agak bergetar. Aku meraih baju yang ada di tangannya, namun pada saat aku ingin menariknya, Bagas menahan tanganku. Dia menatapku dengan matanya yang intens itu, membuat bulu hidung—eh, bulu kudukku merinding. Hati-hati dia menundukkan kepalanya ke dekatku. Saat bibirnya hampir menyentuh kedua belah bibirku, aku memejamkan mata. Ciuman ini adalah ciuman kami yang ke-empat, tetapi rasanya seperti ciuman kami yang pertama dan akan terjadi untuk selamanya.

Bagas menuntun tubuhku hingga berbaring di atas tempat tidurnya yang empuk, dengan seprai yang sangat lembut. Dia menarik tubuhku dengan sangat mudah hingga naik ke atas bantalnya yang panjang. Bagas menciumku makin dalam, lidahnya yang agak kasar menjilat bibiirku dengan penuh kenikmatan. Dengan perasaan yang membuncah, aku membuka mulutku dan lidahnya yang sedaritadi menjilat bibirku kini sudah masuk ke dalam mulutku. Aku tidak pernah tahu apa nama ciuman dengan lidah seperti ini, namun aku pernah mempelajari teorinya di kelas sex education.

Kutautkan lidahku dengan lidahnya, erangan Bagas tba-tiba memenuhi rongga mulutku. Aku memeluk pinggangnya dengan sangat erat, tidak ingin melepaskannya lagi. Kini aku tahu kenapa Zavan sangat menyukai hal seperti ini. Rasanya memang benar-benar menakjubkan. Apalagi saat Bagas mencium leherku, lalu menghisapnya pelan. Tiba-tiba saja aku melenguh dan menggeliatkan badanku karena tidak tahan dengan sensasinya. Kumasukkan tanganku dengan hati-hati ke dalam lilitan handuknya. Namun Bagas tiba-tiba menahan tanganku.

“Kamu laper nggak?” tanyanya dengan suara yang amat berat. Aku membuka mataku dan melihat wajahnya yang berpendar oleh cahaya lampu. Bulu matanya yang panjang menyapu dahiku dengan lembut. Matanya masih tertutup rapat dan agak gemetar. Aku menarik tanganku menjauh dari tangannya. Lalu mengecup singkat bibirnya.

“Laper,” sahutku sambil tersenyum. Dia membuka matanya lalu membalas senyumanku. Dengan gerakkan cepat, Bagas duduk di pinggiran kasur dan menyerahkanku bajunya.

Bagas benar, baju ini memang tetap besar di badanku. Kalau di badannya mungkin akan terlihat kecil, tetapi kalau di badanku, aku mirip seperti anak kecil yang salah diberikan baju. Saat aku mengenakkan boxer—tanpa celana dalam—aku berjalan cepat menuju ke pintu kamar. Untung saja Bagas tidak melihat… apa sebutan yang sering Zavan bilang… ah iya, disco stick. Coba saja kalau Bagas melihat dsco stick ku tanpa peringatan, pasti dia akan terkena serangan jantung. Badanku memang kecil dan pendek, tetapi senjata yang ada di dalam celanaku mempunyai fakta yang sebaliknya. Kenapa aku tidak mempunyai disco stick yang biasa-biasa saja seperti punya Sid?

Bukan berarti aku tidak bersyukur ya, hanya saja—euh. Semoga saja Bagas mempunyai senjata yang lebih besar dari punyaku. Agar dia tidak terkena serangan jantung saat melihat apa yang ada di balik celana yang sedang kukenakkan.

Saat aku ingin menutup pintu kamar, aku berbalik sebentar ke arahnya, dan agak tertegun saat mengetahui kalau ada sesuatu yang berdiri di balik lilitan handuk itu. Aku tersenyum lebar sebelum akhirnya aku menutup pintu. Kulangkahkan kakiku cepat menuju ke ruang tamu, duduk di sofa beledunya lalu mulai menyetel TV. Aku tidak bisa konsentrasi ke acara yang ditampilkan di TV, yang kupikirkan saat ini adalah ciuman yang terjadi beberapa saat yang lalu. Aku bahkan masih bisa merasakan nafas Bagas yang mint di dalam mulutku. Aku menyentuh ujung bibirku dengan ujung telunjuknya, kemudian tersenyum lebar karena kebahagianku makin lengkap saja rasanya.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Bagas, dia keluar dari kamar dengan langkah panjang. Dia hanya mengenakkan singlet putih dan celana denim selutut. Rambutnya dia acak-acak seperti biasa, matanya yang tajam tertuju ke arahku. Aku tersenyum simpul, yang langsung dia balas bahkan sebelum aku sempat berkedip.

“Acara TV-nya lucu.” Aku menyandarkan tubuhku di punggung sofa. Menatap lekat-lekat garis rahangnya yang kokoh. Aku masih tidak percaya kalau sekarang dia adalah pacarku. Pacar yang dalam artian kalau dia sungguh-sungguh milikku sekarang. Di dalam mimpiku saja hal itu tidak pernah benar-benar terjadi. Namun sekarang, semua hal yang kuidam-idamkan di dalam pikiranku akhirnya sungguh terjadi. Pepatah itu memang benar, kesabaran akan berbuah manis. Dan hal ini memang benar-benar manis.

Bagas menolehkan kepalanya ke arah TV. Dahinya mengernyit sedikit, bibirnya kembali terpulas oleh senyuman konyol. “Emang apanya yang lucu dari acara softball?” tanyanya masih dengan senyuman konyol itu. Aku mengalihkan kepalaku dan mellihat acara tersebut, oh, iya, apanya ya yang lucu? Wajahku kontan memerah, tawa Bagas yang sangat jarang kudengar bergema di dalam rumah sederhana ini. “Jadi mau makan? Atau mau kubuatkan kopi atau teh, atau susu hangat?”

Aku mengangkat wajahku yang kuyakini masih memerah. “Susu hangat aja,” ujarku dengan suara parau. Bagas lagi-lagi tersenyum konyol. Dia mengangguk pelan lalu berjalan cepat menuju ke arah dapur. Kutangkupkan wajahku ke dalam kedua tanganku. Kenapa daritadi aku selalu merasa gugup jika ada di dekatnya? Maksudku, dia kan sudah menjadi pacarku, bukan orang yang selalu kupantau lagi. Apalagi malam ini adalah malam terakhirnya di Indonesia. Seharusnya aku tidak menunjukkan sikap malu-malu lagi.

“Susu hangat,” katanya sambil menaruh gelas kaca itu di pipiku. Rasa hangatnya yang muncul dari balik gelas kaca itu membuat tubuhku yang agak dingin langsung menghangat. Bagas duduk di sebelahku, tangan kirinya menarikku hingga masuk ke dalam dekapannya. Aku hanya bisa menunduk dan memegang gelas berisi susu hangatku dengan sikap malu.

Hembusan nafas Bagas yang suam menyentuh tengkukku. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya. Dia tersenyum kecil, tangannya yang melingkar di pundakku makin mengerat. “Sudah selesai packing barang buat dibawa besok?” tanyaku dengan nada ceria, meskipun aku tidak merasakan hal itu sama sekali. Aku dan dia baru saja bersama, tiba-tiba dia akan pergi ke benua yang sangat jauh dari tempatku tinggal sekarang.

Wajah Bagas mengernyit lagi, namun kali ini benar-benar dalam kebingungan. “Packing? Dibawa besok?” Dia menyeruput kopinya perlahan, setelah meneguknya dia kembali menatapku. “Emang siapa yang mau pergi?”

Kali ini, aku juga ikut-ikutan mengernyitkan wajah. “Bukannya Kakak besok mau pergi ke Manhattan. Kuliah Arsitek di sana?” Aku menatap wajahnya yang masih mengerut bingung. Tetapi lambat laun ekspresi itu berubah menjadi normal kembali. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu memberikanku sebuah senyuman kecil lagi.

“Kuliah Arsitek ke Manhattan itu ya?” ujarnya, yang langsung kujawab dengan anggukan kepala. “Aku ngambil untuk tahun depan.” Bagas menaruh gelas kopinya di atas meja. Sebagai gantinya dia menaikkan kedua kakiku hingga berada di atas sofa. Tangannya yang liat memelukku, gelas yang berisi susu hangat di tanganku ikut goyah seraya dia menarik tubuhku masuk ke dalam dekapan dadanya.

“Jadi… Kakak nggak akan pergi kemana-mana?” tanyaku di dadanya yang bidang, yang masih beraroma persik. Membuat perutku lapar, dan ini adalah lapar dalam artian yang berbeda. Entah kerasukan setan apa, tiba-tiba aku mencium dadanya yang berbulu halus itu. Sensasinya sangat menyenangkan, saat sentuhan bulu halus itu menyentuh bibirku. Bagas menarik kepalaku menjauh, matanya yang hitam menatapku dengan tatapan… lapar. Tetapi seperti dia sedang menahan sesuatu.

Dia berdeham langsam, membuatku terlonjak dari tatapan matanya. “Nggak. Aku nggak akan pergi ke mana-mana. Aku nggak akan pergi ke tempat yang nggak ada kamu di dalamnya.” Dia tersenyum aneh, antara senyuman penuh sayang dan… cinta. Apakah yang tadi itu gombalan, atau hanya kata-kata penuh godaan? Kalau dia menggodaku, dia berhasil. Rona merah yang tadi sudah hilang di wajahku kini kembali lagi. “Kamu denger berita palsu itu dari siapa? Kalo aku bakalan pergi besok?”

“Kak Chook,” jawabku cepat. Berarti Chook berkata bohong padaku. Tetapi untuk apa? Apakah untuk—ah, mungkin saja Chook melakukan hal tersebut agar aku cepat-cepat menyatakan perasaanku untuk Bagas. Aku tersenyum lemah, di satu sisi aku sungguh berterima kasih padanya, namun di sisi yang lain aku merasa sangat jahat. Dia begitu relanya membuang perasaannya sendiri hanya agar aku bisa bersama dengan Bagas. Aku tidak tahu rasa sakit apa yang dia rasakan, tetapi aku sungguh berharap dia baik-baik saja di sana.

Bagas menyisipkan rambutku ke atas kepalaku. Dia tersenyum, lalu mengecup bibirku perlahan. “Aku nggak akan kuliah di sana. Aku bakalan kuliah di UI. Tapi tetep ngambil Arsitek juga. Tahun depan, pas kamu juga udah lulus, kita baru sama-sama ke Manhattannya. Gimana? Atau kamu mau kuliah di Indonesia aja?”

Where you go, I go,” ujarku dengan penuh senyuman. Yang langsung Bagas balas dengan ciuman panjang di bibirku.

“Udah malem,” katanya, berbisik di telingaku. “Besok kamu sekolah. Ayo, tidur!” Aku mengangguk lemah, kutaruh gelas berisi susu hangatku di atas meja. Bagas meraih kedua kakiku, lalu memasukkanku ke dalam gendongan hangatnya. Ini sungguh malam yang indah.

***

“Jadi… lo pulang sama siapa tadi malem?” tanya Zavan saat kami berkumpul seperti biasanya di DisCaf. Hari ini tidak ada pelajaran sama sekali, hanya pembagian jadwal untuk menghadapi ujian yang akan diselenggarakan beberapa minggu ke depan. “Jangan bilang sama gue kalo lo pulang sama… Bagas? Kalo lo pulang sama dia, berarti ada sesuatu yang terjadi sama lo dan dia. Berarti pengakuan lo tadi malem menghasilkan sesuatu yang sangat… menggairahkan.”

Wajah Zavan yang tampan itu tersenyum penuh makna ke arahku. Sid yang duduk di sebelahnya juga memasang wajah yang serupa. Sedangkan And dan Tivo menatapku dengan tatapan yang sangat-sangat penuh tanda tanya. Aku menyesap Evian yang Zavan belikan untukku. Setelah aku meneguk Evian itu dengan susah payah, akhirnya aku mengangguk ke arah mereka. Yang langsung mereka balas dengan tatapan kaget bercampur kegembiraan. Aku tahu apa yang mereka pikirkan, akhirnya perasaan dua belas tahun itu tidak percuma sama sekali.

You son of a bitch!” seru Zavan dengan nada tinggi. “Seriusan ada apa-apa lo sama Bagas tadi malem?” tanya Zavan masih dengan nada sangat penasarannya. Aku memajukan badanku lalu kembali mengangguk. “Holly father of Kontol! Ceritain sama gue semuanya. Dari awal lo nyamperin dia sampe lo akhirnya bisa end up sama Bagas si puting Isotonik itu. Meskipun gue masih rada jengkel sama kelakuannya, tapi nggak apa-apa kalo lo bahagia bisa sama dia.”

Aku menghembuskan nafasku panjang, lalu mulai menceritakan semuanya. Saat aku menceritakan di bagian Bagas yang menolak pengakuanku, Zavan dan Sid langsung mengeluarkan sumpah serapah mereka yang paling andal. Aku hanya bisa terdiam beberapa saat sampai akhirnya mereka memintaku untuk melanjutkannya. Cerita pun bergulir hingga Bagas yang membawaku ke kasurnya, malam itu kami tidak melakukan apa-apa. Hanya Bagas yang menyuruhku tidur di atas dadanya—hal yang selama ini kuimpikan.

Well, berarti Bagas nggak anjing-anjing amat ya? Ternyata semuanya berawal gara-gara ciuman yang pernah lo kasih ke dia. Wow, lo memang bener-bener tinggal di dunianya Alice, tapi sekarang judulnya Revie in Kontoland.” Zavan, Sid dan And tertawa dengan nada yang sangat mengganggu. Bahkan anak-anak yang berada di sekitar kami memperhatikan dengan raut wajah ingin tahu.

Namun semua tatapan itu langsung teralihkan ketika Sid berseru dengan nada menukas tajam. “What the fucking you all lookin’ at!?” Semua mata itu langsung pura-pura sibuk menoleh ke arah lain. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah masa bodoh yang Sid langsung berikan setelah dia berseru seperti itu. “Jadi… lo sama Bagas pacaran sekarang?” tanyanya, yang langsung kujawab dengan anggukan kepala. “Jadi… lo nggak akan sakit hati lagi kan gara-gara dia?” Aku lagi-lagi menganggukan kepala. “Good, then. Berarti gue sama Zavan bakalan berlaku baik lagi sama dia. Gimana Zav?” Cowok bule itu mengangguk-angukkan kepalanya, rambutnya yang pirang melambai-lambai seperti tertiup angin.

“Tapi yang masih buat gue bingung itu, lo sama dia belum….” Zavan memamerkan deretan giginya yang putih. Aku tahu maksud dari ucapannya. Euh, kapan sih Zavan mempunyai pikiran yang tidak kotor? “Padahal lo tinggal narik celananya, masukkin kontolnya ke dalem mulut lo, lebarin kaki lo, rileksin lubang pantat lo dan nikmati enjotan Bagas. Uhh, ahmaz-njing!!!” Zavan kembali membuat gerakan seperti orang yang sedang melakukan seks. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkahnya yang terkadang—oke, sering—sangat absurd dan janggal. Tetapi karena tingkahnya itulah suasana bisa penuh tawa.

***

(NB. Bagi yang nggak suka bagian seks, jangan baca ya. Lagi pula bagian itu nggak akan ngebuat kalian kehilangan alur cerita untuk chapter selanjutnya kok.)

Setelah pulang sekolah, aku langsung menuju ke perumahan tempat Bagas membuat rumahnya itu. Langkahku panjang saat menyusuri trotoar. Sebenarnya Bagas ingin saja menjemputku, tetapi aku tidak mau merepotkannya. Toh, tadi Zavan mengantarku hingga di depan pintu masuk perumahan. Cowok bule satu itu sebenarnya mau mengantarku hingga di depan rumah, lalu memberikan Bagas ucapan selamat karena telah menjadi salah satu pacar sahabatnya. Namun aku menyuruhnya melakukan hal itu lain kali. Aku yakin Zavan akan menggoda Bagas dengan kata-kata jorok. Aku sudah sangat mengenal sahabatku satu itu.

Aku mengetuk pintu rumah, tetapi tidak ada juga sahutan dari dalam. Aku mengetuknya sekali lagi namun tetap saja tidak ada sahutan. Padahal saat aku menengok ke garasi yang terbuka itu, mobil Mazda-nya sedang terparkir di sana. Oh, mungkin saja dia tidur. Dengan perasaan tidak enak hati, aku mencoba memutar knop pintu. Hasilnya… pintu itu sama sekali tidak terkunci. Aku mengernyitkan wajahku. Kebiasaan buruk Bagas yang akhirnya kini kuketahui. Dia sangat ceroboh.

Kubuka sepatuku dan masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam, namun masih saja tidak ada sahutan. Berarti dia memang benar-benar sedang tertidur saat ini. Kubuka jas DIS ku dan menaruhnya di bantalan sofa. Aku berjalan cepat menuju ke pintu kamar, ingin memastikan apakah Bagas memang tidur atau sedang berada di kamar mandi. Kuketuk pintu kamar dengan perlahan, takut mengganggunya kalau dia memang benar-benar tidur. Tetapi hasilnya tetap sama. Nihil. Tidak ada jawaban sama sekali. Dengan tidak enak hati lagi, aku memutar knop pintu berbentuk bulat tersebut.

Kupikir aku akan melihat Bagas yang sedang tidur di atas ranjang, namun ternyata tidak. Dia sedang duduk di dekat meja belajarnya. Dari cara dia duduk, aku sadar kalau dia sedang menatap layar MacBooknya. Aku memanggil namanya dengan nada pelan, tetapi dia tidak menoleh sama sekali. Hati-hati kulangkahkan kakiku menuju ke arahnya. Aku baru saja ingin menepuk pundaknya, hanya saja hal itu urung saat aku melihat hal apa yang sedang dia lihat di layar MacBooknya. Apakah itu bokep… Gay?

“Bagas?” panggilku ke arahnya masih dengan raut wajah kaget. Aku tidak percaya dia akan menonton film yang seperti itu. Maksudku, kami memang gay—atau akulah yang sangat gay karena memang tidak pernah mencintai perempuan—tetapi aku tidak menyangka saja kalau Bagas sangat suka menonton hal berbau seperti itu.

Bagas mendongakkan wajahnya ke arahku, ekspresinya tertegun beberapa saat sebelum akhirnya dia menghentikan film yang sedang dia tonton. Headseat yang menempel di kedua telinganya bergerak-gerak lincah saat dia memutar kepalanya ke arahku lagi, namun kali ini dengan rona merah yang menjalar dari ujung hidungnya lalu berbaur ke sekujur pipi cokelatnya. Dia mencoba tersenyum ke arahku, namun yang muncul malah seringaian gugup. Aku menatapnya dengan senyuman tertahan. Sungguh, aku tidak percaya dia juga suka menonton film ber-genre seperti itu.

“Lagi ngapain?” tanyaku, sembari duduk di atas pangkuannya. Aku agak bergidik saat merasakan ada sesuatu yang keras di balik celananya. Untung saja aku tidak langsung berdiri karena terlonjak kaget. Aku pura-pura saja sedang duduk di atas pangkuan pahanya. “Aku nggak tau kalo kamu suka bokep gay?” Aku mengalihkan pandanganku ke wajahnya, rona merah itu masih menjalar di pipinya. Kuelus rona itu dengan punggung tanganku, membuat Bagas menangkupkan salah satu tangannya di dagu. Kutaruh kedua tanganku di lehernya, memeluknya dengan erat. Aku tidak akan malu-malu lagi sekarang. Bagas milikku kini.

“Aku—“ Dia berucap gagap. Aku kembali mengelus rona merah yang ada di pipinya. “Tapi kamu jangan ketawa habis denger penjelasanku kenapa aku nonton bokep gay itu?” ujarnya dengan intonasi suara yang sangat cepat. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Bagas menelan air ludahnya dengan sangat pelan. “Aku nonton bokep gay itu buat belajar.” Aku menjauhkan kepalaku sedikit untuk menatap wajahnya. “Aku bener-bener nggak tau kalo pasangan gay mau seks itu kayak gimana. Jadi… aku mau lihat caranya. Biar pas aku ngelakuin hal itu ke kamu, gaya seks gayku nggak buruk-buruk amat. Itu makanya tadi malem aku belum siap. Aku takut kamu nggak puas.”

Tawaku langsung terlontar begitu saja. Aku mencoba menahannya, tetapi aku tidak kuat lagi. Astaga! Aku tidak tahu kalau Bagas akan berpikiran seperti itu. “Seks gay itu sama aja kayak seks straight. Bedanya cuman di lubang aja. Oh, sama payudara.” Aku menatap wajahnya dengan raut konyol. Kali ini akulah yang menganggapnya begitu. Aku tidak menyangka kalau orang se-firm Bagas akan merasa seperti itu. Aku kembali tertawa, membuat nafasku sampai tersengal-sengal.

“Katanya tadi nggak akan ketawa,” sergah Bagas dengan raut wajah malu. Aku memajukan kepalaku dan mencium pelan pangkal dagunya yang agak ditumbuhi jenggot tipis.

“Seks itu terjadi secara alami. Seks bukan masalah nafsu, tapi seks adalah kebutuhan fisik di setiap manusia. Dan ketika seks terjadi di antara manusia-manusia itu, hal itu akan berjalan secara apa adanya. Tanpa perlu pelajaran sama sekali.” Aku mencabut salah satu headseat yang ada di telinganya. Kupasang headseat itu di telingaku lalu berbalik ke arah MacBooknya. “Tapi, kalo kamu mau belajar, aku juga bolehkan ikutan nonton?”

Aku mengklik video yang tadi dia hentikan. Bagas melingkarkan tangannya di pinggangku, kepalanya muncul dari balik pundakku. Mataku sama sekali tidak fokus di video yang kami tonton, tetapi aku lebih fokus ke tangan Bagas yang sedang sibuk mengelus pahaku. Membuat sesuatu yang ada di dalam tubuhku berteriak marah. Berteriak ingin menyuruh Bagas melakukan hal yang lebih dari elusan itu. Oh, apakah ini yang dinamakan hasrat? Aku benar-benar berhasrat kalau begitu padanya.

Bagas mencium tengkukku, membuatku menggeliat dari atas pangkuannya. Tangannya yang tadi mengelus pahaku masuk ke dalam seragam DIS yang kugunakan. Tangannya yang agak dingin—mungkin karena gugup—mengelus perutku yang agak kurus. Sedangkan tangannya yang satu lagi meraba-raba resleting celanaku. Kupejamkan mataku dalam-dalam, membiarkan Bagas melakukan hal yang dia sukai kepadaku. Lagi pula ini adalah hal yang selalu kuimajinasikan di kepalaku. Menginginkan tangan Bagas yang kokoh itu meraba tubuhku. Aku sangat suka sensasinya. Aku suka hisapan yang dia lakukan di leher—

Damn!” teriaknya kaget. Membuat mataku langsung terbuka dengan sangat lebar. Kualihkan kepalaku ke arahnya, wajahnya yang penuh hasrat sepertiku menunjukkan keterkejutan. “Di celanamu ada… golok.” Bagas berujar parau sembari menunjuk ke resleting celanaku yang telah terbuka lebar. Yang kini memperlihatkan celana dalam yang dibelikan oleh Sid saat dia ke Singapura liburan minggu lalu. “Kamu ngapain bawa golok kemana-mana?”

Aku tahu apa maksudnya dengan hal bernama golok itu. Pasti dia sedang membicarakan penisku. Oh, Zavan bilang kalau penisku adalah rudal, sedangkan kalau Bagas menamainya golok. “Itu bukan golok,” ujarku malu-malu. Aku menundukkan kepalaku hingga bersandar di lehernya. Bisa kurasakan jakunnya yang naik-turun di pipiku. “Itu… penisku.”

Hening beberapa saat, hingga akhirnya Bagas mengumandangkan tawanya di dekat telingaku.

“Sekarang kamu lagi yang ngetawain aku,” kataku dengan nada merajuk. Yang langsung Bagas balas dengan elusan di rambutku. “Aku juga nggak pengen punya penis yang kayak golok gini, tapi mau gimana lagi. Tuhan ternyata mempunyai rencananya sendiri.” Lagi-lagi Bagas tertawa di dekat telingaku. Aku hanya bisa meneggelamkan kepalaku makin dalam di lehernya yang terasa hangat.

Bagas mengangkat tubuhku dengan sangat mudah. “Sudah cukup belajarnya, sekarang ayo kita praktekin. Aku juga penasaran sama golok yang ada di dalem celanamu.” Bagas membaringkanku di atas tempat tidurnya. Wangi persik yang tertempel di tubuhnya masuk ke dalam indera pernafasanku. Aku suka wangi ini, begitu menenangkan, tetapi bisa membuatku mabuk kepayang. Apalagi dengan aroma ice cream cookies yang menguar di otot lengannya, membuatku ingin segera melahap lengan tersebut.

Ciuman Bagas jatuh di bibirku dengan sangat penuh gairah. Dia melumat bibir bawahku dengan giginya yang terasa seperti bongkahan permen. Gigitan yang dia lakukan di bibirku malah membuat tubuhku melengkung secara tiba-tiba, karena entah bagaimana, aku sangat dipenuhi rasa kenikmatan saat ini. Lidahnya yang lembut mengulum bibir atasku dengan gerakkan menyiksa, karena dia tidak membolehkanku sama sekali membalas ciumannya. Semua ciuman yang dia lakukan padaku seperti tanda kepemilikkan, dan yang bisa kulakukan saat ini hanya mengerang nikmat.

Aku memasukkan tanganku ke dalam singlet putihnya. Dengan perlahan aku menarik singlet itu hingga terlepas dari badannya yang bidang. Bulu-bulu halus yang ada di dadanya menggelitiki telapak tanganku, dan aku sangat suka rangsangan yang muncul dari dalam tubuhku untuknya. Membuat kepalaku yang biasanya berpikir masuk akal berubah eror seketika. Bagas menarik seragam dan baju dalamku hanya dengan sekali sentakan. Membuat tubuhku yang kurus terkespos dengan sangat jelas. Aku sangat malu saat dia berlama-lama memperhatikan tubuhku, dan dengan hati-hati dia menundukkan kepalanya dan mencium garis pundakku hingga jatuh ke dadaku.

Aku tidak tahu rasa apa ini, tetapi saat Bagas menghisap putingku, aku mengerang seperti orang gila. Benar-benar seperti orang gila. Bahkan tanganku saja sampai berada di belakang kepalanya dan menarik rambutnya dengan penuh hasrat. Yang malah membuat Bagas makin terangsang untuk menghisap putingku yang satu lagi. Aku benci rasa ini, sungguh-sungguh benci karena aku merasa sangat tidak berdaya. Aku seperti korban di sini, namun korban yang sangat rela diperlakukan apapun. Bagas menarik celanaku hingga terbuka, matanya yang intens melotot luar biasa lebar saat melihat golokku.

Dia menarik celananya hingga terlepas, dan setelah aku membayangkan selama dua belas tahun bentuk penisnya, sekarang aku tahu. Bulu-bulu halus yang ada di bawah pusarnya terus turun hingga ke daerah sensitifnya, lalu di sekitar penisnya tumbuh bulu-bulu kehitaman yang tidak terlalu lebat namun cukup bisa membuatku menegak air ludah karena tertegun. Penisnya berdiri, namun tidak selurus punyaku. Penis Bagas agak bengkok—tidak terlalu memang, tapi tetap saja agak bengkok. Kepala penisnya lebih merona daripada batang penisnya itu sendiri. Mata kami bertemu beberapa saat sebelum akhirnya dia memajukan badannya dan saling memperdampingkan penis kami masing-masing.

“Punyamu ternyata lebih panjang,” ujarnya sambil memperhatikan penis kami yang saling bergesekkan. Aku mencoba menutup mataku, tetapi mata ini malah tidak mau melakukan tugasnya sama sekali. Jadi dengan perasaan malu-malu aku terus memperhatikan penis kami yang seperti sedang saling berkenalan. Dan dengan nakalnya, Bagas menggesekkan penisnya di penisku, membuatku langsung mengerang karena rasa nikmat dan pusing. Ya, Tuhan!

“Cuman lebih panjang tiga sentimeter,” kataku dengan nafas yang agak tersengal. “Atau dua setengah sentimeter.” Bagas mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia menurunkan kembali kepalanya ke arahku, lalu mulai mencium bibirku dengan sangat lembut. Kali ini, dia memperbolehkanku untuk membalas ciumannya. Lidahnya yang terasa sangat halus di dalam mulutku, membuat kepalaku berisi hal-hal yang nakal. Aku mengangkat tubuhku lalu mendorong badan Bagas hingga dia berbaring di bawahku. Bagas terkekeh pelan dengan perlakuanku, namun langsung terdiam saat aku menciumi seluruh wajahnya.

Dengan perlahan aku mencium ujung dagunya lagi, lalu turun hingga ke lehernya yang terasa manis di ujung lidahku. Namun manis dalam artian yang lain. Kuhisap pelan lehernya, membuat lenguhan panjang terdengar di kerongkongannya. Aku mengangkat kepalaku dan melihat dia sedang menutup matanya. Saatnya untuk balas dendam dengan hal yang tadi dia lakukan padaku. Aku tersenyum licik di dada bidanya yang sebelah kanan. Aku menyesap pelan bulu-bulu halus itu, bulu dada yang tidak terlalu lebat tapi membuat bibir tergelitik. Aku tersenyum lebar saat Bagas mengerang ketika aku menjilat putingnya. Lalu menggigitnya dengan ujung gigiku. Rasanya memang tidak ada sama sekali, tetapi entah kenapa aku sangat suka melakukannya.

Bagas menggeliat di bawahku saat aku menciumi garis bulu-bulu halusnya, hingga akhirnya aku berlama-lama di bulu halus yang akan menuju ke bagian bawah bagian sensitifnya. Sebenarnya bulu-bulu halus yang tumbuh di tubuh Bagas sama sekali tidak terlalu terlihat, namun kalau dalam keadaan seperti ini, aku bisa melihat semua bulu-bulu halus penuh godaan tersebut. Aku kembali menundukkan kepala dan mulai mencium garis selangkangannya. Selama hidupku, ini adalah hal paling nakal yang pernah kulakukan di hidupku. Tetapi aku sama sekali tidak menyesal melakukannya.

Penis Bagas berdenyut saat aku memegangnya, bahkan Bagas agak memekik tertahan saat aku mulai menaik-turunkan penisnya yang ‘agak’ bengkok itu. Ya, Tuhan! Mana Revie si anak baik-baik itu, atau mana Revie si Ibu Perinya Marshanda. Sekarang aku sudah sangat mirip Ashton Kutcher. Atau kalau dalam versi cewek, aku sudah seperti Miyabi. Tetapi tidak apa-apa, aku tidak merasa menyesal sama sekali karena yang sedang bersamaku adalah Bagas. Orang yang telah kucintai selama dua belas tahun.

“Setiap kali aku onani, aku selalu ngebanyin tubuhmu, tapi sekarang… kamu ada di bawahku,” ujarku sambil memain-mainkan penisnya yang seperti benda pemuas ini dan aku menganggapnya seperti obor yang akan menyulut api di dalam tubuhku.

Bagas mengangkat kepalanya, matanya yang tadi tertutup menatapku dengan kerutan bingung. “Emang kamu pernah onani?” tanyanya agak takjub, seakan-akan jawaban iya yang akan kuberikan padanya terdengar sangat sulit untuk dipercaya. Namun sayangnya, jawabannya adalah ini.

“Ya, aku pernah onani. Aku kan gini-gini juga cowok Gas.” Aku menghentikan aktivitasku pada obornya yang ‘agak’ bengkok itu. “Emang kamu pikir aku nggak pernah apa melakukan hal yang paling sering cowok kesepian lakukan?”

Tawanya yang tentram memenuhi kamar ini. Saat aku menolehkan kepalaku ke luar jendela, aku baru sadar kalau sekarang sedang hujan. “Aku pikir kamu nggak pernah ngelakuin hal itu. Yang ada di dalem kepalaku selama ini adalah… kamu itu orang yang polos dan lugu. Dan aku harus sangat hati-hati memperlakukan kamu.” Bagas menarik badanku hingga berbaring di atas badannya yang keras namun membuatku nyaman. “Ternyata kamu cukup nakal juga. Dan itu ngebuat aku makin cinta sama kamu.”

Bagas mencium bibirku lama-lama. Rasa basah yang dia kirimkan melalui ciuman ini membuat tubuhku menggeliat di atas tubuhnya. Aku melepaskan ciuman dan mengecup keningnya singkat. Sebelum akhirnya aku menunduk dan mulai kembali mencium seluruh tubuhnya. Dengan hati-hati aku mengangkat penisnya, lalu menaik turunkannya dengan tangan kiriku. Sedangkan tangan kananku menggosok-gosok pahanya yang mulus. Saat aku memasukkan penis yang ‘agak’ bengkok itu ke dalam mulutku, Bagas mengerang dengan nada yang sangat menggoda. Andai saja aku bisa merekamnya.

Aku tidak tahu kalau rasa penis di dalam mulut itu akan seperti ini. Mulutku terasa penuh oleh bongkahan yang agak keras. Untung saja aku sering makan ice cream, sehingga membuatku tahu bagaimana caranya menghisap dengan benar. Aku memasukkan penis itu ke dalam mulutku lagi, hingga penis itu benar-benar masuk ke dalam mulutku. Agak susah memang, tetapi efek yang ditimbulkan sangat besar. Badan Bagas tiba-tiba bergetar hebat, tangannya yang kokoh memegang pundakku dengan cengkraman lembut namun tegas. Kulepaskan penisnya dari dalam mulutku, lalu mulai menjilat lingkaran kecil yang ada di bawah kepala penisnya. Baiklah, ini adalah tingkah paling-paling nakal yang pernah kulakukan. Seharusnya aku diberikan applause untuk hal ini!

Cairan bening tiba-tiba keluar dari dalam lubangnya yang ada di kepala penisnya, membuat lidahku reflek langsung menjilatnya. Rasanya ternyata agak asin, namun di beberapa sesapan terasa sangat manis. Aku menekan penis Bagas yang makin berdenyut, lalu cairan itu kembali muncul. Dan dengan hati riang gembira seperti Tante Suzana yang berhasil membunuh korbannya, aku menjilat dan menyesap kembali cairan tersebut. Bahkan aku menjilat garis lubang yang ada di kepala penisnya, membuat cowok itu makin mengerang seperti orang yang sebentar lagi akan pingsan.

Aku baru saja ingin memasukkan penis itu kembali ke dalam mulutku saat Bagas tiba-tiba menarikku ke dekat wajahnya. “Jangan buat aku keluar dulu!” desisnya dengan mata tertutup. Aku mengecup singkat bulu matanya yang panjang, dan rasanya itu sangat menyenangkan. “Kamu belajar dari siapa sih cara ngisep kayak gitu? Itu bener-bener di luar dugaanku. Kukira kamu nggak tau caranya sama sekali.”

Kekehanku membuat Bagas membuka matanya. “Aku belajar dari banyak novel dewasa yang aku baca di perpustakaan yang ada di rumah Oma Ajeng. Aku juga belajar di kelas sex education. Itulah gunanya belajar, untuk mengetahui apa yang tidak kita ketahui.” Aku menurunkan kepalaku dan mencium bibirnya. Sekarang, aku tidak akan pernah bermimpi lagi untuk bisa mencium bibir Bagas, karena sekarang, kapanpun aku mau, aku bisa melakukan hal tersebut terus-menerus.

Bagas mengangkat tubuhku dari atas badannya. Dia membaringkanku dengan lembut di atas kasur, kini posisikulah yang ada di bawah, dan siap-siap giliranku lagi yang akan disiksa olehnya. Bukan berarti aku tidak suka, tetapi sensasi yang muncul di dalam tubuhku itu rasanya sangat-sangat menggairahkan. Membuatku melenguh tidak tahan, ingin menyuruhnya berhenti tetapi aku tidak mampu.

Tangan Bagas yang liat itu memegang pundakku dengan sentuhan hangat, kepalanya yang tadi menatapku sudah menuju ke dadaku. Dia mulai melakukannya lagi, bibirnya yang jahat mulai menyiksa putingku. Aku menaruh tangan kananku di atas mata, mencoba bertahan dari siksaan yang dia berikan padaku. Sedangkan tanganku yang satu lagi memegang belakang kepalanya, menarik rambutnya dengan gerakkan penuh hasrat. Bagas terus menyiksaku dengan lidahnya, putingku yang kini kuyakini mulai mengeras karena terangsang dia gigit dengan ujung giginya yang seperti bongkahan permen itu. Oh, berikan dia applause juga!

Mata Bagas yang lebar itu menatap penisku dengan tatapan takjub itu lagi. Tangannya kini telah memegan penisku, dan sensasinya sangat aneh saat ada tangan seseorang yang menyentuh organ paling sensitif yang ada di tubuhku. “Aku masih nggak percaya kamu punya penis sebesar ini.” Bagas memperhatikanku dengan seringaian liciknya. Membuat jantungku berdegup kencang. “Kamu makan apa selama ini, Rev? Tusuk sate atau tiang listik?” Aku langsung merengutkan wajahku, tetapi Bagas malah tertawa. Dia menatap penisku lagi, kali ini ada kebimbangan di matanya.

“Aku nggak maksa kamu buat apa-apain penisku kok kalo kamu nggak mau,” kataku seraya merilekskan badanku di atas kasur empuk ini. “Aku tau kamu belum siap buat hal-hal berbau gay kayak gini.”

Bagas menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi. Dia menundukkan kepalanya, membuatku tersentak saat dia mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Aku mengerang tak karuan, sungguh rasanya lebih nikmat dari semua hal yang tadi dia lakukan di tubuhku. Bagas memasukkan semua penisku ke dalam mulutnya. Tidak benar-benar masuk, mungkin sisa seperempat saja yang tidak bisa masuk ke dalamnya. Rasa hangat dari dalam rongga mulutnya membuatku melenguh, badanku agak melengkung saat dia menjilat kepala—oh, tidak! Aku makin tidak tahan lagi.

Sentuhan Bagas di kulit pahaku membuat bulu kudukku makin meremang. Jantungku yang sedaritadi sudah terpompa cepat, makin menggebu-gebu tidak karuan. Bagas menaikkan kedua kakiku ke atas pundaknya. Badannya yang bidang menindih tubuhku. Mata kami saling beradu saat Bagas mencium bibirku dengan sangat perlahan, seperti ini adalah ciuman kami yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

“Kalo rasanya sakit, ngomong ya,” ujarnya dengan nada tertahan. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Bagas mulai mengarahkan penisnya ke lubangku, membuat salah satu mataku tertutup karena refleks. Bukan karena rasa sakitnya, tetapi karena aku terkejut. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan membiarkan tubuhku rileks. Kata Zavan, saat dimasuki seperti ini kita harus menerimanya, jangan menolaknya karena rasanya malah akan sangat sakit. “Rev, kamu nggak apa-apa kan? Sakit nggak?” Suara Bagas yang berat membuatku menatap wajahnya.

“Emang kamu udah masukkin?” tanyaku sambil kugoyangkan badanku, dan benar saja, aku bisa merasakan penis Bagas ada di dalam lubangku. Rasanya tidak sak—“Ouch!” seruku saat Bagas menekan seluruh penisnya hingga masuk ke dalam lubangku.

“Sakit ya?” tutur Bagas dengan nada suara panik, wajahnya penuh kekuatiran. “Aku keluarin aja kalo gitu ya. Tahan!”

Aku cepat-cepat menahan bokongnya, agar dia tidak melepaskan penisnya dari lubangku. Toh, sudah masuk semuanya. Masa mau dikeluarin lagi. Tetapi saat tanganku memegang bokongnya, aku bisa merasakan betapa empuk bokongnya tersebut. Kenyal seperti agar-agar Nutrijell yang sering Ibuku buat kalau ulang tahunku datang. Aku meremas bokongnya dengan nakal, lalu tertawa saat Bagas mengerang pelan. “Nggak usah dicabut lagi. Biarin aja. Sekarang waktunya buat kamu maju-mundur, kayak yang ada di video tadi.”

Bagas menganggukkan kepalanya, dengan perlahan dia memaju-mundurkan badannya. Pinggangnya yang ramping bergerak dengan sangat lihai. Membuat erangan meluncur begitu saja dari dalam mulutku. Sekitar dua menit, aku menahan rasa sakit yang muncul di dalam lubangku, tetapi lama-kelamaan rasa sakit itu hilang, digantikan sesuatu yang sangat aneh.

Lama-kelamaan tempo yang Bagas berikan untukku makin cepat. Membuat sesuatu yang ada di dalam lubangku tetabrak oleh penisnya. Sehingga membuatku mendesis karena rasa nikmat entah apa itu muncul secara tiba-tiba di dalam diriku. Bagas memegang kedua tanganku dengan tangan kanannya, sedangkan tangannya yang satu lagi mengusap putingku dan dia mulai menghisapnya lagi. Kini semua rasa nikmat itu menjalar di seluruh tubuhku. Aku menelan air ludahku berkali-kali, mataku terpejam dengan sangat erat.

Kali ini tangan itu sudah tidak menggerayangi tubuhku, melainkan memain-mainkan penisku. Bagas menarik tubuhku hingga aku berada di atas pangkuannya. Aku tidak tahu apa nama gaya ini, tetapi aku pernah melihatnya di salah satu film Gay yang Zavan tunjukkan padaku waktu kami di grade sepuluh. Dan dengan posisi aku yang berada di atas pangkuannya seperti ini, aku bisa merasakan penis Bagas makin menghentak di dalam lubangku, lalu menabrak prostatku tanpa rasa ampun. Membuatku terus melenguh dan mengerang kencang. Tangan Bagas yang besar itu juga menangkupkan penisku lalu mengocoknya dengan tempo yang sama cepatnya.

Aku menggelinjing saat sesuatu yang di dalam tubuhku yang naik ke ubun-ubunku. Aku tidak tahu perasaan nikmat apa ini, tetapi ini adalah perasaan paling nikmat di atas semua rasa nikmat yang ada. “Kak… Bagas,” ujarku dengan nada penuh desisan yang agak parau. “Aku—aku mau—keluar!” Aku menekan punggunya yang lebar dengan kedua tanganku, memeluknya dalam dekapan yang sangat erat. Dan pada saat Bagas menggosok kepala penisku dengan ujung jempolnya, cairan hangat itu meluncur keluar dari dalam penisku. Membuatku memekik seperti orang yang lagi dijambret.

Bagas pun kini mulai menusuk dalam-dalam penisnya di dalam lubangku. Suaranya lirih saat meracau tidak jelas. Tentang sempit dan ketat. Aku sudah tidak berdaya lagi di dalam pelukkannya untuk mengetahui apa yang dia katakan. Aku membiarkan Bagas yang mulai menjilat pundakku dengan ujung lidahnya, sampai akhirnya bisa kurasakan badannya mulai mengejang kaku. “Damn!” serunya tertahan. “I’m coming!” Dia menenggelamkan kepalanya di leherku, yang langsung kusambut dengan elusan tanganku di punggunya.

Suara Bagas tenggelam di dalam leherku, badannya yang semula bergerak lincah kini telah mengejang kaku. Aku bisa merasakan sesuatu yang agak basah di dalam lubangku. Oh, apakah itu… wow. Rasanya hangat. Ternyata Zavan memang benar, sesuatu yang dilakukan dengan perasaan gembira, akan membuat kita puas. Dan siang ini, aku sangat merasa puas dengan segala hal yang Bagas lakukan padaku. Kini aku bukan hanya mencintainya, tetapi sangat mengingingkannya di dalam hidupku. Bagas mengelap semua cairan itu dengan singlet putihnya. Dengan hati-hati dia menaruhku di atas ranjang. Setelah itu, entah karena lelah, aku pun mulai memejamkan mataku, dengan Bagas yang memelukku dari belakang. Bunyi hujan yang berada di luar sana seperti lagu tidur untukku. Tetapi aku membuka mataku secepat aku menutupnya tadi. Saat aku terbangun Bagas sedang melihatku. Sepertinya sekarang sudah sore. Aku harus bergegas ke rumah Oma Ajeng.

Namun sebelum itu aku harus menggoda orang yang ada di sampingku ini. Dengan nakal, aku menggigit putingnya yang menantang. Bagas mengerang kaget. “Enak ya rasanya?”

Pertanyaanku malah dia tertawakan. Namun matanya agak berbahaya. “Kamu buat aku terangsang lagi,” ucapnya sambil menindih tubuhku. “Kamu harus tanggung jawab!”

“Tapi aku harus perg—“ Bagas menutup mulutku dengan ciumannya. Aku hanya bisa mengerang, oh, ini pasti akan menjadi ronde yang kedua. Bagas memang benar-benar cocok diberikan applause dariku. Dia sungguh luar biasa. Dan kebahagiaan melengkapiku sekarang.

 

–Ups, Bersambung to Chapter 10–

NB. Sorry update nya lama. Lagi ada kudeta hati nih, aku juga masih meng-harmonisasikan perasaanku. Daripada terjdi kontroversi… whatever bla-bla-bla! Buat semua orang, please, kalau aku update nya lama itu berarti aku sibuk pemotretan sama konser. Jangan suruh aku lanjutin dulu oke, aku banyak banget kerjaan di dunia nyata. Jadi… stop push me up terus. Kesel tau lama-lama *perkosa satu-satu lubangnya*

Overcast Day (1)

DIS_

Chapter 1

Meet Myself

 

 

 

 

Kalau mau ditanya siapa itu Revie? Aku akan menjawabnya dengan lugas dan panjang.

Revie adalah sahabatku dari kecil. Sahabatku semenjak aku berumur lima tahun. Dia adalah anak kecil dengan senyuman paling sempurna yang pernah kulihat. Wajahnya persolen, matanya lebar, hidungnya sesuai dengan bentuk wajahnya, keningnya selalu berkerut ketika bicara, membuat wajahnya makin lucu dan tampan. Rambutnya hitam sempurna, tidak ada warna cokelat sedikitpun. Dan dia tidak pernah mencoba untuk mewarnai rambutnya seperti yang kakaknya lakukan. Dia lugu, polos dan selalu tersenyum walaupun sedang susah. Tingkahnya sederhana dan perkataannya halus serta sopan. Dia mirip sekali seperti malaikat versi manusia dan tanpa sayap.

Revie. Menyebut namanya saja selalu membuatku merinding karena mendambanya. Aku tidak tahu apa yang merasukiku, tetapi aku sudah sangat jatuh cinta pada Revie ketika kami baru bertemu beberapa jam. Revie itu bisa membuat semua orang jatuh cinta padanya. Dia terlalu sia-sia jika tidak di jatuh cintai. Semua orang akan terkagum jika melihat wajahnya, semua orang akan berhenti bernapas jika melihat senyumannya, dan semua orang akan kelu lidahnya jika berbicara dengan Revie.

Aku masih ingat pertemuan pertama kali kami waktu itu.

Setiap pagi aku selalu bermain sendirian di depan rumah. Main Yo-Yo, main robot-robotan, main gasing dan lainnya. Tidak kusengaja, gasing yang kumainkan terlempar sampai ke depan gerbang rumah, dan ketika aku mau mengambilnya, aku melihat seorang anak laki-laki di depan gerbang rumah Pak Prakoso. Dia sedang memainkan kerikil-kerikil kecil. Wajahnya tersenyum, sinaran matahari pagi seakan-akan gembira bisa menari di atas wajahnya. Aku tertegun di tempatku, gasing yang tadi ingin kuambil terlupakan begitu saja.

Tanpa sadar aku sudah melangkahkan kakiku. Kedua robot yang kupegang di kedua tanganku ikut gemetar seperti kakiku saat ini. Langkahku yang pendek dan menghentak membuatnya mendongak dari kerikil-kerikil yang sedang dimainkannya. Tiba-tiba, senyumannya yang dikulum, berubah lebar ketika melihatku. Jantungku tiba-tiba rusak, seperti ada yang memompanya lebih cepat dari biasanya.

“La… lagi nga… ngapain?” tanyaku sedikit terbata.

Tangannya yang kecil menunjuk kerikil-kerikil itu. “Lagi main mobil-mobilan,” katanya ceria. “Ibu nggak bisa beliin aku mobil benelan. Makanya aku mainnnya pakek ini.” Aku terkejut dan ingin—hampir—tertawa secara bersamaan. Aku terkejut karena dia memainkan kerikil itu sebagai imajinasi mobil-mobilannya. Sedangkan aku ingin tertawa karena dia cadel. Dia sangat kaku mengucapkan huruf R. Yang seharusnya ‘beneran’ menjadi ‘benelan’.

“Kamu sendirian aja?” tanyaku, sekarang aku bisa agak santai di dekatnya. “Mana Ibumu?”

“Iya, aku sendilian,” ujarnya. “Ibu lagi kelja di dalem. Nyonya Plakoso nelima Ibu jadi pembantunya kemalin.”

Aku duduk di sebelahnya. Wajahku mengerut ketika dia menggeser-geserkan kerikil itu, dia benar-benar menganggapnya seperti mobil-mobilan. Aku terenyuh melihat ini, kemudian, “Ini buat kamu,” kataku sembari menyodorkan robot-robotan yang ada di tangan kananku untuknya. Sebenarnya aku sangat mencintai robot Power Rangers ku itu. Tetapi kalau itu untuk dia sepertinya tidak apa-apa.

Matanya yang lebar terbelalak kaget. “Buat…” dia menunjuk dirinya sendiri. Aku mengangguk absolut. “Makasih,” ucapnya dengan mata yang dihiasi baluran air yang hampir menetes, yang malah membuat wajahnya seperti mengeluarkan mutiara. Dia benar-benar sosok malaikat dalam balutan tubuh manusia.

“Sama-sama,” kataku, memasang senyum segagah mungkin. Dia lalu membalas senyumanku dengan berhiaskan gigi yang ompong. Dia mengangkat robot yang kuberikan padanya tinggi-tinggi di udara, dia menggoyang-goyangkannya. Seperti mengajak robot itu untuk terbang. “Nama robot itu Goggle V.” Aku memberitahunya, tanganku yang panjang menunjuk robot yang dia angkat tersebut. “Kalo yang ini namanya Rangers Saia.” Aku ikut mengangkat robotku ke udara.

Dia kembali memamerkan giginya yang ompong padaku. “Hiath!” serunya sambil menabrak robotku dengan robotnya pelan-pelan. Dia tertawa ketika mendapati aku terkejut, tak ingin kalah aku juga menyerang robotnya. Sepanjang pagi, yang kami lakukan adalah bermain bersama. Main gasing, main Yo-Yo, main kelereng, main petak-umpet berdua, main benteng-bentengan, main kartu Yu-Gi-Oh dan permainan seru lainnya. “Nama aku Levie,” dia menjulurkan tangannya, setelah enam jam kami bermain bersama baru sekarang dia memperkenalkan namanya. “Bukan L tapi L.” Aku tertawa, namun aku mengerti. Yang dia maksud adalah: bukan L tapi R. Jadi namanya adalah:

“Revie,” rapalku. Dan dia mengangguk. “Aku And.” Kusambut tangannya yang kecil. Kami berjabatan tangan lama. Kemudian saling melepaskan ketika Revie ingin bermain PS 1 ku di dalam rumah.

***

Sore harinya kami pergi ke depan komplek. Ingin membeli es krim yang sering berjualan disana. Mamaku tadi memberikan kami uang. Lalu dia menyuruhku dan Revie untuk pergi beli es krim. Mamaku senang karena aku bisa mempunyai teman. Biasanya aku akan sendirian, atau paling tidak main dengan kakakku yang cowok. Tapi sekarang umurnya sudah sembilan tahun, jadi dia tidak mau main denganku lagi. Yang masih berumur lima tahun. Alasan yang lain juga karena aku sering marah-marah padanya kalau aku kalah.

Tapi bersama Revie tidak. Meskipun aku kalah dalam permainan Gasing tadi, aku tidak mencak-mencak seperti biasanya. Ketika dia mengalahkanku telak di permainan Street Fighter—padahal aku sudah memakai karakter anadalanku, Ryu, dan Revie menggunakan karakter Chun-Li, bisa-bisanya Ryu-ku kalah dari cewek China sialan itu—aku juga tetap tidak marah atau langsung membanting stick PS seperti biasanya. Kalau dengan Revie… berbeda. Dia bisa menenggelamkan amarahku.

“Es klimnya abis,” ucap Revie datar. Mangkuk es krimnya sudah kosong melompong. Wajahnya penuh dengan usapan krim cair. Membuatnya makin lugu dan rupawan.

“Mau lagi?” tawarku, sembari menyodorkan es krimku.

Kupikir dia akan mengatakan: ‘tidak usah’ seperti anak sok polos lainnya, namun Revie beda. Wajahnya langsung cemerlang, bibirnya tersenyum lebar, tangannya yang kecil meraih mangkuk es krimku. “Makasih,” katanya dengan mulut penuh es krim.

Aku tertawa sendu. “Iya sama-sama.” Kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang. Badan Revie yang mungil mengikutiku dari belakang, tangannya masih sibuk mencolek es krim yang sudah habis. Wajahnya mengernyit saat dia sadar kalau es krimnya memang sudah tak bersisa sama sekali. “Habis ya?” tanyaku kemudian.

Dia mengangguk-anggukan kepalanya cepat. “Habis,” ujarnya. Dia menumpuk dua mangkuk es krim itu menjadi satu. Lalu dia berjalan cepat menuju ke tong sampah yang ada di taman komplek ini. Setelah dia memasukkan kedua mangkuk itu ke dalam tong sampah tersebut, dia berbalik pelan ke arahku. “Kata Ibu kita halus jaga kebelsihan.” Aku tergelak pelan, menatap wajah polosnya yang berumur lima tahun sepertiku. Sayangnya, badanku lebih besar darinya.

Ketika dia baru saja ingin berjalan menuju ke arahku, salakkan anjing terdengar nyaring. Dia langsung terhentak dari tempatnya berdiri. Wajahnya tertekuk ngeri, kakinya gemetaran, dan bibirnya menegang. Seketika itu juga aku tahu, dia takut dengan bunyi salakkan itu. Cepat-cepat aku berjalan menghampiri Revie yang sedang berdiri kaku. Kurangkul pundaknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiriku memegang tangannya. Hembusan nafas Revie yang patah-patah menerpa wajahku.

“Atut,” lirihnya. Tangannya yang kecil menggenggam erat tanganku.

Seekor anjing terrier datang menghampiri kami. Salakkannya sangat kencang, moncongnya mencuat jahat, mulut panjangnya menyeringai, menunjukkan deretan gigi yang tajam. “Hush!” Aku mengusir anjing itu dengan takut-takut. Dan aku makin takut ketika anjing itu kembali menyalak. Revie langsung menaruh kepalanya di pundakku. “Pergi!” pekikku pada anjing itu. Namun tetap saja, anjing itu tidak bergeming sama sekali.

Sampai akhirnya. “Debbo,” seru seseorang, suaranya yang panjang memenuhi suasana sore ini. “Jangan ganggu!” Telinga anjing terrier itu berkedut, kemudian dia menghampiri sang suara. Salakkan anjing itu juga akhirnya sudah menghilang, membuat Revie menggadahkan kepalanya dari pundakku dengan takut-takut.

Akhirnya aku mengetahui siapa si empunya suara. Wajahnya hanya lebih tua setahun dariku. Dan dia adalah tetanggaku. Orangnya dingin, jarang tersenyum dan sinis. Bagas Prakoso. “Makasih,” seru Revie tiba-tiba, dengan wajah sumringah. Matanya yang bulat menyipit, bibirnya dipoles senyuman. Seakan-akan dia benar-benar berterima kasih dengan sangat-sangat tulus.

Bagas hanya menatap sebentar ke arah Revie. Alisnya yang berbentuk seperti musuh besarnya Power Rangers naik sebelah. Dia membuang pandangan dengan dengusan. Kemudian dia membawa anjing sialannya menjauh dari kami. Namun senyuman Revie dan wajah tergugahnya belum juga hilang. Seperti dia masih berharap penyelamat kami masih ada disini untuk menemani.

“Ayo, pulang!” ajakku cepat. Dengan hati-hati aku ingin melepaskan genggaman tangan kami, namun Revie malah mempereratnya.

“Aku nggak mau lepasin tangannya And,” serunya. Aku suka ketika dia memanggil namaku. Orang-orang biasanya memanggilku dengan sebutan ‘En’ sedangkan Revie memanggilku dengan sebutan ‘An’. Dia memberikanku nama panggilan lain dari yang lain. “Pokoknya aku nggak bakalan mau lepasin tangannya And. And halus ada disampingku telus. Levie nggak mau And lepasin tangan kita. Aku mau And selalu pegang tanganku.” Sesaat pandangan kami bertemu, pada detik itulah aku jatuh cinta padanya.

***

“Cerita yang lain aja Ma,” kataku, ketika Mamaku ingin membacakan kami dongeng Cinderella. Sudah tiga minggu ini aku dan Revie berteman, atau yang lebih tepatnya bersahabat. Malam ini dia menginap di rumahku, dan Mamaku sangat senang akan hal ini. Dari dulu dia ingin sekali aku punya adik. Paskah keguguran Mama beberapa bulan yang lalu akhirnya terobati ketika dia melihat Revie. Seketika itu pula Mamaku langsung jatuh hati pada Revie. Tapi memangnya siapa sih yang tidak akan terjerumus hal tersebut. Revie itu… bagaikan poros bumi. Menarik segala sesuatu yang ada di dunia.

“Yang mana? Pirates And Seven Seas?” kata Mamaku sambil memberikan Revie beberapa buku dongeng. “Atau Peterpan?” Mamaku mengacungkan buku bergambar cowok menggunakan baju hijau pekat tersebut ke hadapanku dan Revie. Sekali lagi, aku menggeleng bersamaan dengan Revie. “Terus yang mana?” kata Mamaku, suaranya agak frustasi, namun dia tersenyum ke-ibuan.

“Yang ini,” seru Revie tiba-tiba. Aku melongok dan terbelalak kaget ketika Revie menunjuk buku Snow White and the Seven Dwarfs. Itu sih sama saja seperti Cinderella. Sama-sama buku perempuan. Tetapi, apa boleh buat, aku selalu setuju kalau Revie yang menginginkannya. “Gambalnya bagus, ceweknya dicium.” Mamaku tergelak pelan. Sampul buku itu memang memasang gambar Snow White yang dicium si Pangeran.

“Kalau begitu yang ini ya,” kata Mamaku. Mulai membacakan dongeng tersebut dengan nada sangat halus. Benar-benar mirip seperti pendongeng. Revie memasang wajah tergugah, senyumannya mengembang. Namun wajahnya mengernyit ketika mendengar bagian Snow White yang dijahati oleh Ibu Tirinya. Dia memasang wajah kernyitan kasihan. Namun lambat-laun wajahnya berubah ceria ketika mendengar akhirnya, ketika mendengar Snow White dicium oleh pangeran berkuda putih, dan Snow sialan itu akhirnya bangun dari kematiannya. Pasti itu alasan Snow White saja, pura-pura mati agar dicium oleh pangeran. Ih, pangerannya juga genit, nyium sembarangan.

“Celitanya bagus!” seru Revie sembari menggenggam tanganku erat-erat. “Pasti Snow sama pangelan lagi hidup bahagia di kastil mereka sekarang. Snow sama pangelan itu tinggal dimana ya Ma?” tanyanya pada Mamaku. Yah, Mamaku memang menyuruh Revie untuk memanggilnya Mama.

“Itu bohongan,” sahutku. “Nggak beneran.” Memangnya, seberapa polos sih kamu Rev? Aku membantin kalimat tersebut.

“Tapi kalian bisa buat itu beneran,” kata Mamaku. “Hidup bahagia, itu pasti akan ada.” Mamaku tersenyum lebar ke arah Revie dan padaku.

Revie menyengir lebar. Giginya yang ompong menghiasi raut wajah terkagum-kagumnya. “Nanti kalau kita sudah besal kayak Snow dan pangelan, aku mau And yang jadi pangelanku ya,” serunya dengan nada antusias. Tiba-tiba wajahku bersemu merah, jantungku berdegup kencang. Sedangkan Mamaku hanya tergelak lembayung. “Pokoknya aku mau And yang jadi pangelanku, nggak mau yang lain.”

Wajahku makin bersemu merah, gelakkan Mamaku makin mengeras. “Aduh, Revie ini,” kata Mamaku, dia mengusap rambut Revie yang selembut satin. “Sudah ah. Sekarang waktunya tidur.” Revie mengangguk sembari tersenyum, sedangkan aku masih dengan rasa malu karena berdebar kencang. Pikiranku masih bergelanyut di: aku menjadi pangeran untuk Revie. Oh, gosh! “Selamat malam sayang,” ujar Momku sambil mengecup keningku dan Revie secara bergantian. Setelah Mamaku mematikan lampu, Revie menaruh kepalanya di dadaku. Dia tidur disana.

“Jantung And bunyinya besal banget. Aku suka dengelnya,” katanya lugu. Sedangkan aku panas-dingin menahan kegelisahanku. “Aku mau tidul di dadanya And ya. Bolehkan?”

Aku mengangkat tanganku dan mengusap pucuk kepalanya. “Bo… boleh.”

***

Setiap kami kemana-mana, tanganku dan tangan Revie akan selalu terpaut, dia tidak pernah ingin melepaskannya. Pagi hari kami bermain di perkarangan rumahku, siang hari kami berenang di belakang rumahku, sore hari kami jalan-jalan di sekitar komplek, malamnya dia pulang ke rumahnya. Namun, dari hal itu semua, tidak lupa kami untuk saling bergenggaman tangan. Kami… tidak terpisahkan.

Tetapi itu semua berubah ketika kami berumur sebelas tahun. Semua orang heran melihat kami yang kemana-mana selalu bergandengan tangan, Revie malu di cap sebagai anak penakut karena selalu menguntit di belakang tubuhku. Akhirnya, setelah lima hari ulang tahunnya, dia memberitahuku untuk tidak akan menggenggam tanganku lagi. Hanya saja, sebagai penggantinya, dia selalu memegang ujung kaos seragam atau bajuku.

Ketika kami SMP, dan pada Masa Orientasi Siswa, Revie pernah diganggu oleh kakak kelas. Semua orang yang melihatnya langsung terpana, dan menyuruhnya ini-itu, namun dengan nada menggoda dan mengelus-elus. Aku cemburu, aku marah. Setiap kali ada yang sok bermanis pada Revie, aku sangat marah. Aku tipikal orang yang pemarah, namun makin marah kalau Snow-ku digoda dan digelayuti orang lain.

Maka dari itu, setelah aku resmi menjadi anak SMP, aku memutuskan untuk ikut ekstrakurikuler Karate. Supaya aku bisa menghancurkan dan meninju wajah orang-orang yang mau mendekati Snow-ku. Pokoknya, aku pangerannya. Tidak boleh ada yang lain.

Pada kenaikkan kelas dua, cadel Revie menghilang. Nada suaranya melembut dan ditemani dengan serak-serak basah. Makin menggoda beratus-ratus orang yang ada di SMP brengsek ini. Dia sangat sering tertawa, menyapa setiap orang yang tersenyum padanya. Selalu berbaik hati untuk menolong orang lain walaupun dia tidak dibutuhkan. Revie menjadi sangat populer, namun tetap, dia masih selalu mengekor di belakangku sambil menarik bajuku.

Pada hari Valentine saat kami kelas tiga SMP, Revie mendapatkan seluruh coklat dari penghuni sekolah ini. Aku dan Revie sampai-sampai harus menyuruh supir Papa untuk mengangkut coklat-coklat itu. Setelah coklat itu ada di rumahku, dia membagikan beberapa kepada keluarganya, lalu kepadaku, kemudian ke Dan—kakak laki-lakiku. Setelah itu dia menyelipkan coklat paling istimewa di kolong pintu kamar Bagas Prakoso bangsat itu. Setiap kali Revie melihat Bagas, dia selalu salah tingkah. Dan aku mengerti, sekarang Revie menginginkan sosok pangerannya adalah Bagas, bukan aku. Tetapi aku bukan orang yang suka menyerah, akan kudapatkan Snow-ku lagi bagaimanapun caranya.

Setelah coklat-coklat itu dibagikan, masih banyak coklat yang tersisa. Tetapi aku terkejut ketika mengetahui coklat itu habis dalam waktu empat belas jam, dengan Revie sendiri yang menghabiskannya. Aku tahu Revie memang rakus dan suka makan, tetapi ini… Tuhan! Aku benar-benar ternganga kagum.

“Lo makan semua coklatnya?” tanyaku masih tidak percaya.

Revie mengangguk polos. “Ini masih sisa satu,” katanya, sambil menyodorkankan sekotak coklat Cadburry. “Kamu mau?”

“Nggak ah,” kataku cepat. Aku tidak hobi makan coklat. Membuatku mual-mual.

Cengiran khas Revie menyeruak muncul di bibirnya. “Ya udah,” ujarnya, dia membuka plastik pembungkus coklat itu lalu memakannya dengan sangat lahap. Bahkan, setelah memakan puluhan atau malah ratusan coklat, dia masih kuat makan yang satu itu? Benar-benar unbelievable. Hanya saja, ketika dia mengunyah, wajahnya mengembung dengan begitu imut. Benar-benar membuatku mendamba dirinya.

***

Sebenanya aku ingin mendaftar di SMA Negeri Tuna Bangsa atau SMA Negeri Jayakarta. Tetapi, karena Revie mendapatkan beasiswa di Dominiquert International School—yang dikenal dengan sekolah-sekolah anak-anak sombong dan borjuis—aku juga terpaksa dan harus ikut bersamanya. DIS itu sekolah yang benar-benar megah dan besar. Tinggi dan luas. Dan jangan lupakan panjang. Sekolah itu sudah mirip seperti rumus matematika. Panjang kali lebar, tinggi kali luas. Dan itu benar adanya.

Revie mengekor di belakangku saat kami—atau yang lebih tepatnya aku—ingin mendaftar. Revie sudah diterima di sekolah Internasional ini. Jadi hanya tinggal aku yang mencoba peruntungan. Revie menunggu di aula saat aku melakukan tes pengetahuan dan interview dalam bahasa Inggris, sudah seperti mau melamar bekerja saja. Oh, iya, jangan lupakan juga saat salah satu staff sekolah ini bertanya berapa gaji Papa dan Mamaku, dan aku diwajibkan menjawabnya dengan jujur. Pasti ini ada hubungannya dengan kekayaan. Dimana-mana sekolah Internasional seperti itu. Kalaupun ada orang yang sederhana, itu pasti otaknya yang dicari. Seperti Revie. Agar sekolah ini tetap dipandang baik dalam artian munafik.

“Gimana tesnya?” tanya Revie saat aku sudah keluar dari ruangan.

“Susah,” ujarku cepat. Aku menekankan kedua jariku di pelipis mataku, mencoba menghilangkan lelah yang menggerayangin kepalaku. “Apalagi soal Matematika. Itu sebenernya soal apa rumus untuk buat seseorang stress sih?”

Revie tertawa renyah, mengundang beberapa mata yang tadi menatapnya makin tercengang karena terpana. “Berlebihan ah,” katanya lembut. “Ayo, kita ke kantin beli minum. Sambil nunggu pengumuman selanjutnya.” Revie menarik ujung kaosku pelan. “Tapi kamu yang traktir ya. Aku nggak punya uang.”

Setelah empat jam aku menahan senyumku, baru sekaranglah senyuman itu keluar. “Dasar,” kataku sembari mengusap rambutnya.

Revie memang bukan orang kaya, dia sangat miskin. Ayahnya hanyalah seorang buruh, hanya bekerja ketika ada proyek. Sedangkan Ibunya pembantu di rumah Bu Prakoso sampai sekarang. Kakak laki-laki Revie—yang wajahnya juga sangat tampan, tapi tidak setampan Revie—hanyalah seorang preman pasar muda. Namanya Raffi, orangnya urakkan, nakal dan mengerikan. Tetapi dia sangat peduli dengan keluarganya. Revie mempunyai enam adik. Dia delapan bersaudara, benar-benar keluarga yang besar, heh!? Dan dari semua keluarganya itu, mereka semua mempunyai wajah yang tampan dan cantik-cantik.

Adik ketiga Revie perempuan, namanya Ravina. Masih kelas dua SMP sekarang. Dia bisa sekolah karena dapat beasiswa. Adik Revie yang ke-empat perempuan, namanya Ravilia. Masih kelas enam SD. Dia bersekolah karena beasiswa juga. Adik Revie yang kelima seorang laki-laki, wajahnya benar-benar imut, namanya Revin. Kelas empat SD. Adik Revie yang ke-enam dan ketujuh—mereka kembar cewek-cewek—namanya Rita-Rati. Kelas dua SD. Sedangkan yang paling kecil masih berumur empat tahun, namanya Revandi. Uh, semua nama keluarganya berawalan huruf R. Ayah dan Ibu Revie juga. Nama mereka Rifky dan Riri. Benar-benar keluarga yang besar. Hanya saja, walaupun mereka keluarga yang besar, saudara-saudara Revie pintar-pintar semua. Kecuali Raffi dan Revandi, tentu saja.

Sedangkan aku, hanya mempunyai satu saudara. Adikku meninggal saat di kandungan. Sedangkan kakakku, si Dan menjengkelkan itu, sekarang kuliah di Queensland, Australia. Mengambil jurusan entah apa. Setiap kali dia pulang liburan ke Indonesia, dia pasti menggoda Revie. Menepuk bokong Revie, mencium pipi Revie, ck, benar-benar membuatku cemburu. Dan Revie, hanya diam saja dibegitukan. Dasar Snow White kegatelan. Pas kutanya, Revie hanya menjawab.

“Kak Dan lucu sih, suka deh pas dicium pipiku sama dia.”

Gosh! Dan! Lucu! Damn tralala-trilili. Muka Dan itu kayak sikat kloset, apalagi hidung Dan yang kelewat mancung, sudah seperti perosotan yang ada di TK ku dulu. Tapi aku tidak perlu cemburu, karena Revie hanya menganggap Dan kakak. Revie sadar kalau itu hanya candaan saja. Banyak cowok yang memang suka menggodanya, memegang wajahnya, mentoel dagunya, mengecup keningnya dengan kurang ajar. Pokoknya Revie seperti poros bumi—sepertinya aku pernah bilang.

“Pop Ice coklat satu sama Pop Ice vanilla blue satu,” kata Revie memesan minuman kami. Tidak lebih dari tujuh menit, minuman kami sudah jadi. Revie menyodorkanku Pop Ice coklat kepadaku, sedangkan dia Pop Ice vanilla blue. Revie itu suka dan sangat holic dengan warna biru, jadi dia suka mengendapkan warna biru di dalam tubuhnya.

Ketika aku baru saja berbalik, aku tidak sengaja—atau dia tidak sengaja menabrakku. Sehingga Pop Ice yang ada di tanganku tumpah di bajunya. “Shit!” serunya kencang. Suaranya bergetar karena jengkel.

Dia mendongakkan kepalanya kepadaku, dan aku juga menggadah untuk melihatnya. Pertama kali yang kulihat di dirinya adalah sudut bibirnya yang lancip dan tegas. “Sorry,” ujarku kemudian, masih sambil menatap sudut bibirnya. Aku penasaran, apakah rasanya enak saat aku menjilat sudut bibirnya itu dengan lidahku.

WOAH!!! Apa yang kupikirkan tadi? Gosh! Menjijikan. “Brengsek!” gerutunya padaku dengan penuh kebencian.

Kupindahkan tatapanku ke wajahnya. Rautnya tirus, tegas dan sedikit agak tajam. Tingginya hanya sebatas mataku. “Lo manggil gue apa?” tanyaku, kemarahanku mulai tersulut. Seperti api yang disulut bensin.

“Brengsek!” desisnya, tanpa memandangku, tetapi nada liciknya tertuju padaku.

“Lo…” kataku sembari mengangkat tanganku, gatal ingin meninjunya. Dan hebatnya lagi, dia tidak bergeming sama sekali. Hanya berdiri disana dengan gagah berani dan siap menerima terkamanku. Aku salut dengan keberaniannya.

“And,” tegur Revie dari belakangku. “Nggak usah pakek kekerasan. Ngomongin baik-baik aja.” Revie menurunkan tanganku, amarahku sirna seketika. Lagi pula, entah kenapa aku tidak sanggup ingin memukulnya. “Maaf ya,” kata Revie pada cowok yang masih diam di tempatnya berdiri. Matanya yang lebih lebar dari mata Revie menyipit. Aku terkejut ketika tidak mendapati tatapan tercengang cowok itu ke Revie. Biasanya cowok atau cewek yang disapa Revie akan tercengang dan terpesona. Tetapi cowok ini beda, seperti Bagas Prakoso bangsat itu.

“Ya,” katanya datar. Saat mata kami bertemu, dia cepat-cepat membuang wajahnya, begitu pula aku. Dari sorotannya, ada sesuatu yang menarikku. Entah apa, dia seperti… magnet bagiku. Dan aku adalah besinya.

Anjing! Aku ngomong apaan sih!

Cowok itu kemudian berlalu. Revie menuntunku ke meja kantin yang super-duper panjang. dia mengelus-ngelus punggungku, kebiasaannya untuk menghilangkan kemarahanku. “Serem amat sih, baru masuk kesini aja kamu udah mau nyari musuh.” Revie berkata sambil menyedot Pop Ice nya.

“Dia duluan sih. Manggil-manggil gue brengsek.” Aku menggerutu tidak jelas.

“Iya, iya, sabar-sabar.”

Kemudian, kemarahanku sirna. Bukan karena usapan dari Revie, tapi karena secara tiba-tiba perasaan itu menghilang sendiri. Aku juga bingung, biasanya aku marah akan sangat lama bisa disembuhkan oleh Revie. Sekitar lima belas menit atau dua puluh menit. Tapi ini, beberapa menit saja sudah menghilang. Cowok tadi… tidak bisa membuatku marah lama padanya. Dan sekarang aku bertanya pada diriku sendiri: kenapa bisa begitu?

***

MOS SMP sangat menyebalkan. MOS yang ini lebih menyebalkan lagi. Kami disuruh mencari koin yang disembunyikan di setiap sudut sekolah maha besar ini. Aku sudah kewalahan dari tadi karena tidak menemukannya. Sedangkan waktunya sisa beberapa menit lagi. Jika kami tidak menemukannya, kami disuruh memakai baju hula-hula ala penari Hawai, lengkap dengan batok kelapa sebagai BH nya. Dan… aku tidak mau melakukan hal memalukan tersebut di depan banyak orang.

Revie dijaga oleh senior-senior. Dia diperlakukan dengan begitu lembut. Dia tidak diizinkan melakukan apapun. Aku akan sangat senang jika menjadi Revie. Dia benar-benar beruntung. Tapi pas aku tanya padanya saat kami istirahat, dia bilang dia tidak suka diperlakukan begitu. Dia mau seru-seruan dengan yang lain. Dia benci diperlakukan istimewa. Sayangnya, sebesar apapun dia mencoba untuk ikutan bersama kami, dia tidak akan bisa. Semua senior cewek dan cowok itu menahannya. Kecuali Bagas Prakoso bangsat itu. Revie sangat senang—walaupun dia menyembunyikannya—saat tahu kalau Bagas juga bersekolah disini. Serta menjadi salah satu kakak senior kami. Ck!

Tapi lupakan itu dulu, sekarang kita harus fokus ke koin brengsek yang harus kucari. Namun tetap saja tidak ketemu. Karena sudah kewalahan, aku masuk ke dalam kelas ber-AC tiga yang menjorok ke arah tangga yang menuju ke lantai empat.

Aku merilekskan kakiku, memijat-mijatnya pelan. Menahan rasa pegal yang sudah menyinggahi lututku. MOS brengsek ini masih berlangsung dua hari lagi, dan selama itu aku akan terus tersiksa. Bukan karena disuruh-suruh yang tidak jelas. Tapi tersiksa karena melihat Revie yang dipeluk-peluk oleh senior-senior bajingan itu semua. Fark!

Kugadahkan kepalaku, untuk menghilangkan rasa marah dan lelah. Dan pada saat itu juga aku melihat sekeping koin yang berkilauan di dekat jendela kelas ini. Hatiku langsung melambung senang karena melihat koin itu. Aku cepat-cepat berdiri, lalu kujulurkan tanganku untuk mengambil koin tersebut. Dan pada saat tanganku menyetuh koin jahanam itu, ada tangan seseorang juga yang meraihnya.

Kupalingkan wajahku, lalu mendapati wajah cowok yang kemarin. Cowok yang memanggilku brengsek. Aku tidak mungkin melupakan wajahnya yang pas-passan dan tirus itu. “Lepasin!” desisku. “Gue duluan yang liat koin ini!”

Dia mendengus kasar. Wajahnya tidak menengadah ke arahku. Hanya terus terpaku pada koin yang kini sama-sama kami pegang. “Gue udah ngeliat koin ini sejak dari pas di tangga tadi.” Dia mendesis dengan penuh kebencian. Nada suaranya bergetar di dekatku, menahan emosi. Aku bisa merasakan kebenciannya padaku.

I’m sorry lewd!” seruku berang, namun tidak berteriak. “Gue udah ngeliat koin ini bahkan semenjak gue belum lahir.”

Lagi-lagi dia mendengus. “Gue udah ngeliat koin ini pas gue lagi sama Tuhan di Surga.”

Kemudian aksi saling dorong-doronganpun terjadi. Dia menjambak rambutku, aku menahan kepalanya. Dia menginjak kakiku, aku menggelitiki pingganya. Sampai akhirnya kami sama-sama terjatuh ke lantai dan terkurung di kolong meja. Dengan posisi aku yang berada di atasnya. Damn tralala-trilili, ini benar-benar menjengkelkan.

Karena badan kami terjepit, jadi kami tidak bisa bergerak sama sekali. Koin yang tadi kami rebutkan berada di gengaman tangan kami berdua. Dan hal ini sukses membuat nafasku memburu cepat. Kugelengkan kepalaku untuk mengusir rasa gusar. Lalu aku menatapnya. Aku terkejut ketika dia sedang menatapku. Tatapannya pertamanya berupa kebingungan. Berubah ke aneh lalu berubah ke tatapan kebencian kesumat. Di saat itu juga aku memasang tatapan yang sama. Dia pikir aku tidak akan membencinya juga.

Matanya yang lebar menyipit, membuat rongga paru-paruku menjadi sempit. Gosh! Dia menyetrum hatiku. Hangat tubuhnya mengaliri hangat tubuhku. Saat bibirnya terkuak, sudut bibirnya terangkat dengan begitu menggoda. Membuatku penasaran dengan rasa sudut bibirnya itu. Aku bahkan tidak pernah merasa sudut bibir Revie akan seindah cowok yang ada di bawahku ini.

Tetapi pikiranku buyar saat dia membenturkan kepalaku di alas meja. Ketika aku mengerang karena kesakitan, dia langsung meloloskan dirinya dengan berbagai cara. Dengan kepala yang masih pusing, aku mengejarnya dengan penuh kebencian dan kemarahan. Sumpah, rasanya benar-benar sakit.

Aku menarik kerah bajunya, membuatnya tersedak dengan sempurna. “Sakit Njing!” kataku dengan nada semarah mungkin. Meskipun aku tidak benar-benar merasakan kemarahan.

Dia kembali menginjak kakiku. Tanpa sadar aku melepaskan kerah bajunya. “Mampus lo Nyet!” Dia berteriak masih dengan nada yang sama. Nada penuh kebencian kesumat.

Saat dia berlari menuju ke pintu kelas, aku langsung mengejarnya. Walaupun kepalaku pusing dan kakiku nyeri karena perbuatannya, aku harus membuatnya sakit juga. Dia pikir aku tipe orang yang mudah menyerah. SALAH! Aku tidak akan menyerah sampai aku benar-benar puas.

Baru saja dia ingin keluar dari kelas, aku langsung menjerat lehernya dengan tanganku. Dan hebatnya, dia bisa meloloskan diri. Cepat-cepat aku memasang kuda-kuda, kemudian dia juga melakukan hal yang sama. Berarti dia bisa karate juga sepertiku. Atau mungkin yang lain.

“Gue nggak mau berantem,” ujarku kasar. “Kalo lo mau nyerahin koin itu sama gue, lo nggak bakalan luka sama sekali dan gue bakal maafin perbuatan keji yang udah lo lakuin ke gue.”

Wajahnya berkedut meremehkan. Tatapannya jatuh ke hidungku. “Lo pikir gue takut?” Nada suaranya teguh dan tegas. Oh, iya, jangan lupakan juga nada kebenciannya, yang mirip sekali seperti musuh besar Satria Baja Hitam.

Baru saja kami ingin saling menyerang, tiba-tiba bel berbunyi. Bel tanda kalau permainan menemukan koin ini sudah habis. Waktu kami hanya tiga puluh detik untuk kembali ke lapangan. Sedangkan aku berada di lantai tiga. Mana mungkin cukup waktunya sampai aku berlari menuju ke lapangan sambil menenteng-nenteng koin jahanam itu. Lagi pula koin itu masih ada di orang yang ada di hadapanku.

Dia juga sadar kalau kami berdua pasti akan kena hukuman. Jadi percuma saja daritadi kami berebutan koin jahanam tersebut. Benar-benar hari yang paling payah se-umur hidupku. Dibentak-bentak saat MOS, disuruh ini-itu, dan bertemu orang brengsek. Lengkap sudah daftar payahku untuk MOS hari ini.

Cowok brengsek itu berbalik, langkahnya panjang saat meninggalkanku. Di belakang badannya tertempel namanya yang tertulis di atas sehelai kardus. Kusipitkan mataku dalam-dalam, dan membaca namanya yang tertulis ringan di atas sehelai kardus tersebut. Dan namanya adalah: Vick Prapancanegara. Eik, namanya saja sangat jelek. Vick. Nama apa itu? Seperti nama obat batuk.

Tetapi aku sangat pensaran padanya, kenapa dia bisa begitu benci padaku. Benci yang penuh kesumat lagi. Memangnya apa yang telah kulakukan padanya. Pokoknya aku juga harus ikut-ikutan membencinya. Aku tidak mau berpura-pura baik di hadapannya. Toh, dia juga menunjukkan dengan jelas kebenciannya padaku. Bagaimana mungkin aku tidak melakukan hal yang sama. Aku bukan tipe orang seperti itu. Aku bukan orang yang mau mengalah.

Kuhembuskan nafasku sepanjang mungkin, sambil memikirkan cowok itu. Aku bingung sendiri dan merasa sangat frustasi. Sekali lagi kuhembuskan nafasku panjang-panjang, kemudian saat aku melangkahkan kakiku, hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah mencari tahu kenapa cowok bernama Vick itu sangat membenciku dengan penuh kesumat.

Dan risetpun dimulai!

–Ups, Bersambung to Chapter 2–

NB. Gak bakalan janji di update kapan. jadi pantengin terus ya Blogku. hahaha =D

thanks :*

Jangan lupa komen. Yang gak komen kusantet :p