Book 2: Wind & Water (Part 1)

Kota Hujan

By: Helios

Dalam kehidupan pasti ada yang namanya suka dan pasti ada yang namanya duka. Ada yang namanya kebaikan dan juga kejahatan. Kedua hal itu juga saling berkesinambungan. Seperti diriku ini. Pada awalnya aku manusia biasa yang hanya bisa melakukan hal-hal sebagaimana mestinya tanpa dianugerahi kekuatan khusus sekalipun layaknya SUPER-HERO seperti di acara-acara televisi tiap akhir pekan. Namun pada suatu ketika, apa yang ku yakini selama ini “normal” berubah 180 derajat…..

Adrian Pov.

Forks, 6 Januari 2011

Pagi yang berawan di kota kecil ini. Segalanya memang tampak selalu sama di kota yang memiliki predikat sebagai salah satu kota dengan curah hujan tertinggi di dunia. Jika dihitung total dalam setahun, cuaca cerah sudah pasti terjadi dalam hitungan jari. Tidak kurang tidak lebih, sisanya sudah pasti berawan dengan intensitas hujan yang sering terjadi dengan jangka waktunya yang bertahan cukup lama.

Di kota dengan jumlah penduduk beberapa ribu jiwa—meskipun aku tidak terlalu peduli benar atau tidak­—inilah aku tumbuh. Aku Adrian Ivashkov. Kalian mengira aku orang Russia atau dari bagian timur eropa kan? Gak sepenuhnya benar sih. Aku masih ada darah Indonesia, lebih detailnya, aku memiliki darah Keraton Mangkunegaraan dari ibuku yang seorang putri (Bagi yang gak tau di mana keraton itu, search google kalo gak mau repot-repot buka peta). Rutinitas pagiku seperti biasa dimulai sehabis mandi setelah itu aku mengenakan celana training lalu turun tangga menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.

Kalau baru habis mandi biasanya emang malas pakai baju. Bukannya pamer keseksian melainkan ya gak nyaman aja. Untuk postur tubuh sih lumayanlah kebentuk,hal ini kudapat berkat rajin mengikuti kegiatan gymnastic di Gelanggang Olahraga setempat dan aktif dalam tim basket sekolah. Kedua kakakku juga demikian. Sama-sama malas pake baju kalau baru bangun tidur.

Hoahmmm, udah bangun rupanya si adek kecil ini. Bikin apa kamu?” kata kakakku, Felix sambil mengucek-ngucek mata.

“Bikin omelet, salad kentang, masak daging asap ama dadar gulung. Mandi gih!! Bau ilernya kemana-mana. By the way, jangan lupa bangunin Kak Ferdi!!”

“Iye-iye. Bawel amat kamu kayak cewek. Hadeh”

Yah, beberapa menit telah berlalu, kini kedua kakakku telah menuruni anak tangga menuju dapur sementara aku masih sibuk berkutat dengan bahan-bahan makanan.

“Hah! gini kek. Kan enak kalo udah pada bangun dan langsung mandi”. Kulihat keduanya sama-sama memakai boxer dengan motif tim sepakbola Juventus dan Chelsea.

“Ya sudah. Sekarang kita bantu yah” kata Kak Ferdinand alias Ferdi (kakak sepupu sekaligus boyfriend kakakku).

Sekarang kami mulai membagi tugas. Kak Felix mulai merebus kentang. Lalu menyiapkan garam, lada, serta rosemarry. Setelah matang, kentang-kentang tersebut segera dihancurkan dan langsung dibumbuin­—ala master cheff abal-abal yang seminggu sekali tayang di televisi­—serta memanggang daging sekaligus. Disaat bersamaan, aku mulai mencampur tepung, susu, butter, telur, serta bahan-bahan lainnya. Sementara itu, Kak Ferdi sibuk dengan campuran susu, telur, dan rempah-rempah.Kemudian kami berdua memasukan adonan masing-masing kedalam wajan yang berbeda. Beberapa saat kemudian, semua hidangan kami telah jadi. Asal kalian tahu saja, walau kami cowok namun dalam urusan masak-memasak kami memang jago. Secara kami sering mengikuti cooking class di sekolah kami.

“Huft…selesai juga menu kita” kataku sambil menata meja makan.

“Ya udah. Langsung aja kita ma…..” belum sempat Kak Felix mencuil dadar gulung, Kak Ferdi langsung memberikan tatapan ala penjahat padanya.

“Doa dulu!! Main samber aja!!”

“ADAWWW!! Yaelah galak amat ama daku ampe jitak-jitakan segala. Iye-iye”

“Hahahaha. Ada-ada saja kalian berdua” kadang aku merasa geli dengan tingkah mereka.

Kemudian kami berdoa sebelum makan. Setelah itu kami mulai menyantap hidangan yang kami buat. Hmmmm, yummy banget lah. Semua bumbu “PAS” dimulut. Selama makan, kami saling membicarakan rencana atau kegiatan masing-masing disekolah nanti. Tidak seperti kebanyakan sekolah di Indonesia, sekolah tempat kami berada masuknya sekitar pukul sembilan pagi. Oleh karenanya kami beruntung bisa selalu masak untuk sarapan bersama, apalagi kalau orangtua sedang dirumah acara masak jadi tambah ramai. Baik itu pagi maupun malam.

“Kak, ntarkan ada pertandingan basket antar sekolah. Kalian dukung aku ya” kataku memelas.

“Hmmmmm. kalau aku sih bisa karena kebetulan Mr. Jefferson sedang cuti. Jadinya jam ke delapan sampai selesai free. Kalau kamu, Lix?”

“Aku sih tergantung Mrs. Shinaya aja. Sebenernya dia cuti juga. Cuma setiap ada jam pelajarannya, dia akan menelpon guru piket untuk memberikan tugas yang menumpuk pada kita. Doain aja deh biar tugasnya nanti cepet selesai. Biar bisa nonton kamu, dek”

“Oke. Aku pegang janji kalian”

Jam sudah menunjukan pukul 08.30 pagi. Kami pun bergegas untuk berpakaian dan mengambil tas masing-masing. Setelahnya kami berangkat dengan Jeep yang dikendarai Kak Ferdi.

~~~***~~~

Jam pertama untuk hari ini adalah fisika yang diajarkan oleh wali kelasku, Mr. James. Kali ini ia sedang me-review materi hukum pascal beserta implementasi dan perhitungannya di papan tulis. Ketika sedang asyik menyimak perhatian kami agak terusik saat pintu terbuka. Dari pintu itu masuklah Mrs. Hawkins selaku tata usaha bersama seorang pemuda yang membawa sebuah folder. Folder itu kemudian diberikan dan dibaca oleh wali kelasku. Setelah dirasa beres, Mrs Hawkins meninggalkan kelas kami.

“Ehem!! Perhatian semua!! Hari ini kalian kedatangan siswa pindahan dari luar negeri. Ayo nak. Silahkan perkenalkan dirimu”

“Selamat pagi. Namaku Sebastian Oliver. Please call me, Tian. Aku pindahan dari Jerman. Semoga kita bisa menjadi teman baik” ujarnya sopan diiringi suara siulan dari anak-anak sekelas. Maklum lah udah tampang tuh anak ganteng plus cute pula . Jarang-jarang ada pindahan dari luar negeri. Antar benua pula. Tapi tunggu. Tian?? Kenapa nama itu tidak asing denganku ya?

“Okey, Tian. Kamu duduk di kursi itu ya. Dan untuk yang lain, kerjakan hal.167. saya keluar dulu. Jangan berisik”

What?? Tuh anak bakal satu tempat duduk ama aku? Tapi kok aku yang gerogi sih. Kalau dilihat dari ujung rambut sampai ujung kaki, sosok Tian ini sungguh menarik perhatian. Bagaimana tidak? Kulitnya amat sangat putih untuk ukuran cowok, rambut pirang keemasan, serta wajahnya yang begitu manis, sampai-sampai aku tidak bisa melepas penglihatanku darinya. Bagiku dia memang menarik tidak lebih dari itu. Mungkin karena sadar sedang diperhatikan, ia pun memalingkan wajahnya. Ketika tatapan kami saling bertemu, wajahnya langsung memerah, ia lalu menundukan wajahnya tidak berani melihatku. Kenapa ya? Daripada makin aneh, aku pun mengajaknya untuk berkenalan.

“Hai, aku Adrian Ivashkov. Panggilanku disini Rian. Kamu?”

“Aku…aku Tian”

Tian Pov

Oh my gubrak, seneng banget dah bisa satu bangku dengan cowok sekeren ini. Postur tubuhnya yang bikin ngiler, sporty abis, dan berkulit eksotis pula. Ditambah dengan wajahnya yang maskulin banget. Eitsss???? Kok jadi mupeng gini sih???Alihkan pikiran!! Alihkan pikiran!!

“Hai, aku Adrian Ivashkov. Panggilanku disini Rian. Kamu?” katanya lembut.

Hah? Benarkah dengan apa yang kudengar barusan? Adrian Ivashkov? Oke, secara teknis aku sudah berpisah dari sahabat-sahabatku termasuk Adrian selama hampir satu dekade. Sempet gak yakin juga kalau penampakan yang ada dihadapanku saaat ini adalah Adrian. Namun saat kulihat sorot mata pemuda ini, aku yakin kalau dia adalah sahabatku, Adrian. Tapi sepertinya dia agak lupa denganku.

“Aku…aku Tian”

Mungkin aku harus berta—oh tidak­—jangan dulu. Mungkin aku perlu memberikan beberapa petujuk agar ia mengingatku. Semoga saja dia memang orangnya karena kalau tidak__oh fleurd__pasti malu-maluin. Dengan cepat aku merobek kertas dari note’s ku dan kutuliskan beberapa kalimat.

“Jodoh gak akan kemana dari enam anak adam yang akan saling bersahabat satu sama lainhingga akhir khayat mereka. Meskipun mereka berpisah di hari ulang tahun sang Tertua, namun mereka yakin akan kembali bersatu. Inilah takdir yang telah menyatukan enam keluarga besar dari Dragomir, Romanov, Ivashkov, Belikov, Gregorian, & Preminger”.

Setelah selesai, kuberikan tulisan ceker ayamku kepadanya.

“Bacalah” pintaku padanya.

Dengan penasaran ia mengambil secarik kertas tersebut dan membaca dengan seksama. Kulihat air mukanya, awal-awal terlihat biasa namun langsung berubah menjadi ekspresi keterkejutan dan segera menatapku dengan tatapan tidak percaya.

“Berarti kamu?”

“Benar kawan. Sudah lama ya kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu? Sehat-sehat saja kan?”Aku tidak sadar kalau baru saja aku mengatakan hal-hal yang sangat kekanak-kanakan. Jujur saja aku senang sekali sebab firasatku benar serasa hati ini kembali terisi walau baru seorang. Andai saja aku bisa bertemu dengan yang lainnya.

Adegan peluk-pelukan langsung terjadi dan itu membuatku shock. Shock karena ia juga mencium keningku. Jantungku serasa berhenti berdetak dan air mataku langsung terjun bebas tanpa permisi. Lama kami melakukan itu hingga kami akhirnya sadar bahwa kami diperhatikan oleh seisi kelas.

“Eh, emm anu, maaf teman-teman. Ternyata anak baru ini adalahsahabat lamaku yang sudah belasan tahun terpisah sejak kecil. Aku aja pangling pas ngeliat dia udah sebesar ini. Hehehe” dengan polosnya ia mengklarifikasi keadaan diantara kami.

PROKK…PROKK…..PROKKK…….

Salah seorang cowok dari kelas ini memberikan standing applause untuk kami dan juga diikuti oleh seluruh teman-teman baruku.

“Keren banget, bro. yang namanya sahabat sejati emang pasti gak akan kemana. Meski terpisah hingga belasan tahun pasti akan bertemu kembali. Seperti kalian berdua ini”

“Ihhhhhh, so sweet banget deh. Jadi pengen punya persahabatan kayak kalian” kata seorang cewek berkawat gigi.

Amazing. Kalian itu keren”

“Semoga kalian bisa betemu dengan yang lainnya ya” seluruh kelas berpaling kepada asal suara cowok tersebut.

“Maksudmu?”

“Rian ini pernah cerita ke aku kalau ia memiliki lima orang sahabat sewaktu kecil. Namun karena satu dan lain hal berpisah dan sekarang ia bertemu kembali dengan salah satu diantara mereka berlima. Ya kudoakan saja agar mereka bisa bersatu kembali”.

“AMIENNN!!!!!!” teriak satu kelas mengamininya.

“Thanks ya kawan-kawan. Kalian sungguh baik sekali” Kata Rian tersipu malu.

“Kita kan juga bersahabat. Kalau seorang sahabat bahagia, kita pasti akan bahagia juga. Iya kan semuanya?”

“SETUJU!!” Hehehe. Benar-benar kelas yang solid. Anak-anaknya pun juga care satu sama lain.

Akhirnya waktu yang seharusnya kami gunakan untuk mengerjakan tugas malah digunakan untuk membicarakan kehidupan kami semua satu sama lain. Tidak hanya itu. Aku juga banyak bertanya kepada mereka soal pelajaran disini karena aku khawatir kalau kurikulumnya berbeda. Namun ternyata hampir sama dengan kurikulum di negaraku. Otomatis aku tidak perlu bersusah payah untuk menyesuaikannya.

~~~***~~~

 

Cafetaria, pukul 02.00 siang

Ketika aku sedang mengantri untuk mengambil makanan, mataku tertuju oleh Rian yang sedang asyik mengobrol dengan kedua cowok lainnya disalah satu meja. Ganteng semua sih. Salah satu dari mereka sangat mirip dengan Adrian sehingga aku berpikir kalau mereka berdua kakak-beradik. Sedangkan yang satu lagi tidak begitu ada kemiripan dengan mereka berdua.

“Aneh. Kalau dia bersaudara kandung dengan mereka pasti ada kemiripan dong diantara mereka. Kalau begitu, Xavitcrekhia Momentum” akhirnya kugunakan mantra penembus waktu. Nampan alumunium yang sedang kupegang ini secara perlahan menampilkan bayangan masa lalu dari mereka bertiga. Dari sini aku tahu kalau orang yang nggak mirip itu adalah Ferdinand, boyfriend dari Kak Felix. kakaknya Rian.

“Oalahhh. Begitu rupanya. Pantas saja gak begitu mirip”

Kulangkahkan kakiku menuju pantry untuk mengambil sendiri buah dan sayuran yang akan dijadikan salad karena kebetulan ibu penjaganya sedang ke toilet. Daripada bête nunggu aku bikin aja karikatur wajah dari sayur dan buah itu. Dua alpukat untuk mata, selada untuk rambut, ketimun untuk mulut, serta beberapa anggur dan buah zaitun buat hiasan. Ketika aku hendak mengambil apel untuk hidung, ada orang yang menepuk bahuku hingga kontan saja aku kaget dan apel yang kupegang terjatuh. Ketika aku menoleh, ternyata orang itu adalah Adrian. Apel yang jatuh itu lalu diambilnya dan langsung ia bersihkan di wastafel yang kebetulan dekat dengan tempat kami berada. Saat ia memberikan apel itu, ia mengomentari karyaku.

“Woww!! Karya seni yang bisa dimakan. Benarkah?”

“Ahhh, bisa aja kamu. Lagian ini cuma iseng aja kok”

Beberapa saat kemudian, datanglah Ibu-ibu cafeteria.

“Sudah kau dapatkan apa yang kau mau untuk saladmu, nak?” tanya ibu itu.

“Sudah. Apel, selada, anggur, alpukat, zaitun, dan ketimun. Tolong ekstra keju ama mayonaise ya, bu”

“Iya. Tunggu sebentar ya” Ibu itu kini sibuk membuatkan salad dari bahan-bahan itu.

“Hmm, Rian. Tadi yang bersamamu itu siapa?” kataku pura-pura tidak tahu.

“Ohh. Itu tadi kakak-kakakku. Kenapa? Kamu suka ya? Ntar aku salamin kok. hehehe” hadeh…. Andai saja kamu tahu walau diantara kalian sama-sama ganteng, tapi aku hanya tertarik denganmu.

“Ini dia pesananmu, nak. Selamat menikmati” kata ibu itu ramah.

“Sama-sama. Yuk, kita ke meja disana” ajakku pada Rian. Sebelumnya ia kembali ke mejanya untuk mengambil nampan makanannya. Barulah ia mengikutiku ke tempat yang kutunjuk tadi.

Obrolan kami kembali berlanjut sambil makan. Entah kenapa rasanya begitu nyaman jika mengobrol dengannya, pembicaraan kami kemudian menuju topic yang lain. Tentang diriku.

“Sejak kapan kamu pindah kesini?” tanyanya sambil memotong apel dengan pisau buah.

“Sekitar sebulan yang lalu. Ketika itu aku menjatuhkan pilihanku untuk sekolah disini setelah browsing di internet tentang beberapa sekolah di Washington. Walaupun demikian, aku tidak langsung masuk sekolah karena masih ada beberapa administrasi kepindahan yang mesti diurus dulu. Kau pasti tahulah betapa rumitnya administrasi lintas Negara-Benua” untung dia gak sadar kalau aku hanya membual saja.

Yeah, I know karena itu juga yang dialami saudari ibuku ketika pindah ke Inggris untuk mengambil gelar master di Cambridge. By the way, ini memang perasaanku atau langit sepertinya mau hujan?” perlahan suasana menjadi gelap.

Waittt! Kau menanyakanku tentang cuaca?”

Sure. Why?

Actually, aku memang belum begitu suka juga dengan hal-hal disini. Apalagi dengan hari-hari disini yang selalu terkesan suram. Kurang lebih seperti itu mungkin karena masih baru aja”

So, kenapa kamu akhirnya memilih untuk pindah ke tempat dengan curah hujan tertinggi di dunia, hah?” sungutnya meremehkan. Mungkin ia agak tersinggung dengan ucapanku.

Well, maaf banget ya kalau kamu kesinggung gitu tadi. Agak rumit sih sebenarnya, kamu pasti bosan mendengarnya” sebenarnya aku ingin jujur kepadanya, hanya saja aku takut ia akan men-capku sebagai orang gila. Kurasa saat ini berbohong adalah pilihan tepat.

“Ehm, aku yakin pasti mengerti” jawabnya sambil memberikan senyum merekahnya itu. Bibir yang ranum dengan warna merah menggoda. Sepertinya aku tidak akan bisa melupakan senyum itu untuk waktu dekat—Halah!.

“Okey, Eropa saat ini sedang diterpa krisis financial seperti yang kita tahu. Oleh karenanya, keluarga besarku memindahkan sebagian besar asset perusahaan-perusahaan mereka kesini. Karena seperti yang diketahui, USA sudah mulai membaik dari dampak krisis ini, selain itu, Negara Bagian Washington ini kan kualitas udaranya lebih baik daripada negara bagian lain serta kondisinya yang memang lebih sejuk” jawabku sebaik dan sepintar mungkin. Moga aja tuh anak percaya.

Asal kalian tahu. Aku pindah kesini sebenarnya untuk mencari anggota termuda dari Keluarga Ivashkov yang ternyata adalah keluarga warlockia angin. Saat kakekku dan kakek Adrian berkata bahwa Adrian adalah calon warlockia, aku senang sekali. Apalagi ketika beliau menambahkan bahwa sahabat-sahabat kecilku juga akan jadi warlockia. Akhirnya angan-angan kami sewaktu kecil terwujud juga. Beliau lalu berpesan padaku agar ketika menemukannya, aku harus selalu melindunginya karena cakra anginnya masih tersegel dan rentan akan serangan musuh. Ketika segelnya telah siap terbuka, aku juga harus membantunya. Entah maksudnya apa aku sendiri juga kurang begitu memahaminya.

“Yah, kurasa pilihan kalian tepat. Welcome to the Washington. Khususnya Forks”.

Thanks” kamipun kembali melanjutkan makan siang kami. Setelah itu kami berpisah. Adrian menuju lapangan indoor sedangkan aku menuju kelas. Oh iya!! Adrian—Rian maksudku—sempat bilang kalau sebentar lagi akan ada pertandingan basket dan kebetulan sekolah ini menjadi tuan rumahnya. Rasa-rasanya mau lihat juga tapi nanti itu kan ada pelajaran IT. Mau bolos gak enak karena aku masih baru disini.

BINGGO!! Kenapa aku sampai lupa. Aku kan tinggal menggandakan diri aja. Kulihat jam dinding. Berarti pertandingannya sejam lagi. Tanpa pikir panjang, aku menuju toilet lalu memutar keran dan keluarlah air hingga membasahi lantai toilet. Kemudian aku merapal mantra duplikat sambil bercermin pada air.

“Gemino Aftraka”

Air dalam wastafel itu, kemudian berubah wujud menjadi diriku. Kini aku memiliki duplikat yang sama persis. Aku lalu menyuruhnya untuk menggantikan posisiku dikelas. Setelah faham dengan intruksiku, duplikatku segera menuju kelas sedangkan aku menuju lapangan indoor. Aku harus bergegas agar dapat view yang bagus dari bangku penonton.

 

~~~***~~~

 

Adrian Pov

Pukul 03.15 Sore

Gugup juga rasanya. Padahal aku kan sudah biasa dengan pertandingan seperti ini, daripada makin gak jelas, aku memilih untuk melihat-lihat bangku penonton.

Ramai juga sih penontonnya untuk pertandingan seperti ini. Dari banyaknya kerumunan itu, mataku menangkap dua sosok yang familiar, tidak salah lagi, ternyata kedua kakakku menepati janji mereka. Dari yang kulihat, sepertinya mereka sedang asyik mengobrol dengan seseorang.

Lho, itu kan Tian? Bukannya ia tadi menuju kelas. Kok bisa disini? Tapi tak apalah aku senang kalau dia disini untuk menontonku. Kalau begitu, aku harus bisa bermain sebagus mungkin untuk mereka

Timku dan tim lawan saling berjabat tangan. Setelah itu, masing-masing tim menyanyikan lagu mars sekolah asal. Kami diberi waktu sepuluh menit untuk pemanasan. Sesudah itu, wasit kembali meniup peluit agar kami siap diposisi masing-masing. Wasit lalu melemparkan bola ke udara sambil meniup pluit.

PRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!

Pertandingan pun dimulai.

Bola langsung direbut oleh lawan. Tanpa pikir panjang, kami langsung mengejar bola yang dibawa lawan ketika dia ingin menembak­—YESS—rupanya meleset dari ring. Kesempatan ini langsung dipergunakan tim kami untuk membalas. Entah mungkin karena semangat atau apa, tubuhku serasa ringan sekali ketika berlari. Seperti berada diatas bantalan udara. Bola lalu dioper kepadaku selanjutnya aku melakukan slamdunk dan bola masuk kedalam ring. Point untuk kami. Benar-benar tidak aku sangka karena dari mulai merebut bola hingga memasukannya kedalam ring hanya memakan waktu lima detik. Sungguh diluar dugaan.

Pertandingan berikutnya dimulai lagi. Tim lawan rupanya memberi perlawanan yang cukup berarti bagi kami. Tapi kami tidak akan mengalah.

~~~***~~~

 

Ferdinand Pov

“Lix, lihat adik kita itu? Jago juga rupanya”

“Iya sayang. Dia kan hobi banget basket. Apalagi pas kamu yang ngajarin.”

Pikiranku kembali melayang ke masa-masa silam. Saat itu, aku tengah mengajarkan basket kepada Rian yang kebetulan baru berumur 10 tahun. Mungkin karena bakatnya Felix menular kepadanya sehingga dengan cepat Rian dapat menguasai teknik-teknik yang kuajarkan. Aku sebenarnya sepupu dekat dari mereka . Aku sangat menyayangi mereka berdua, apalagi Felix. Rasa sayangku padanya perlahan semakin berkembang hingga menjurus pada cinta. Tepat ketika aku dan ia berusia 14 tahun, aku menyatakan cinta padanya. Tanpa harus menunggu lama ia mau menerimaku. Rupa-rupanya, ia juga memiliki rasa padaku, respon yang kudapat dari keluarga besar sungguh positif terlebih Rian dan kedua orang tua mereka. Oleh mereka, aku diminta untuk tinggal bersama, rencananya 3 tahun lagi tepatnya ketika aku dan Felix berusia 20 tahun kami akan mengikat janji suci kami.

“Permisi, bolehkah aku duduk disini?”

Of course” kata Felix mempersilahkan.

“Hei, kamu bukannya yang duduk bersama Rian kan di cafeteria tadi? Siapa namamu?”, tanyaku pada pemuda itu.

“Iya, benar. Aku Tian. Kalian pasti kakaknya, kan?”

“Bener kok. Tahu darimana?” tanya Felix

“Rian tadi yang ngasih tahu” sahut pemuda itu

Untuk selanjutnya percakapan diantara kami bertiga mengalir begitu saja. Dari sini, aku mengenal lebih dalam diri Tian yang ternyata baru pindahan dari Jerman ini sekaligus sahabat kecil Rian yang sempat terpisah karena kesibukan orang tuanya. Kepribadiannya yang baik, ramah, cute sekaligus lembut. Sempat aku berpikir untuk menjodohkannya dengan Rian. Ketika aku membisikan rencanaku pada Felix, ia sependapat juga denganku.

“Sepertinya kalian cocok juga. Apa kamu punya rasa sama Rian?” goda Felix padanya to the point. Wajah Tian langsung memerah dan ia berusaha untuk menutupnya.

“Hahaha. Tenang aja, bro. Kami setuju aja kok kalau kamu bersama adik kami”

“Benarkah? Thanks ya. Aduh senangnya. Oh iya, kalian sudah menjalin hubungan cukup lama kan?” selidiknya.

“Maksudmu apa?” ujarku.

“Maaf sebelumnya. Namun dari pengamatan yang kulakukan, kalian terlalu intim untuk dikategorikan sebagai kakak-adik. Kalian pasti sepasang kekasih kan?”

LHO?? kok dia bisa tau ya?

“Eeehhh, emm…anu. Kok kamu bisa tau? Padahal baik aku dan dia sebisa mungkin bersikap se-normal yang kami bisa kok” ujar Felix yang terlihat lebih panik dari aku.

“Hehehe. Aku memang memiliki intuisi yang bagus. Hanya itu” jawabnya enteng.

Weww, sungguh aneh kurasa. Padahal anak baru tapi tebakannya tepat mengenai sasaran. Meski aku maupun Felix tidak pernah mengumbar status kami ini, hanya saja aku heran darimana ia tahu informasi itu. Kalaupun benar intuisi seperti yang ia katakan barusan, aku yakin dia bukanlah anak biasa. Dan itu bisa dibuktikan dari auranya.

PRRIIITTTT!!!!!

“Eh, kenapa tuh wasit?” kaget juga sih karena wasit meniup pluit tiba-tiba.

“Yeee. lagian kamu bengong aja dari tadi. Rian barusan cedera gara-gara ditabrak lawan yang kebetulan posturnya lebih gede dari dia” jelas Felix.

Ketika aku menoleh kearah Tian, ia sedang sibuk merapal kata-kata yang cukup aneh sambil sesekali menggerakan jari-jarinya. Tatapannya mengarah pada Rian yang kini sedang mengaduh kesakitan di bangku cadangan. Ketika Tian selesai melakukannya, bersamaan itu pula Rian berhenti mengaduh kesakitan, permainan kemudian dilanjutkan kembali. Saat ada lagi yang cedera, Rian mengambil alih, setelahnya ia menguasai jalannya permainan hingga akhirnya……

PRRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!

Peluit panjang telah dibunyikan wasit. Menandakan bahwa permainan telah selesai dengan kedudukan score 40:35 untuk tuan rumah.

Kulihat Tian sedang keluar dari barisan penonton. Setelah itu ia memeriksa keadaan disekitarnya. Agak mencurigakan memang, saat kukedipkan mataku lagi, Tian lenyap dalam kabut putih yang kutahu adalah mantra pindah dekat.

Mantra? Rian yang mendadak sembuh? Kabut? Sepertinya Tian bukanlah manusia biasa. Apalagi intuisinya itu yang menurutku bukanlah sekedar intuisi melainkan kemampuan membaca masa lalu. Sepanjang yang ku ketahui, ini adalah kemampuan dari warlockia air. Tidak salah lagi.

Sepertinya ia disini untuk membantu Rian melepas segel cakra anginnya. Berarti sebentar lagi waktu bagi Rian akan tiba. Sampai saat itu tiba, aku akan berpura-pura tidak tahu. Baik kepada adikku, boyfriendku, maupun Tian.

~~~***~~~

Author Pov

Akhirnya tuan rumah berhasil mempertahankan juaranya untuk yang kesekian kalinya. Terlebih bagi tim basket tersebut. Mereka saling berpelukan satu sama lain untuk meluapkan euphoria mereka. Walaupun menang, hal ini tidak menandakan mereka sombong. Mereka dengan senang hati bersalaman dengan tim tuan rumah sebagai sahabat. Begitu juga tim tamu yang dengan jantan menerima kekalahan mereka. Setelah mendapat piala bergilir dan medali mereka melakukan foto bersama.

Sejak tadi, Rian tidak ikut larut dalam euphoria. Ia masih memikirkan kejadian ketika cedera tadi. Saat hal itu terjadi, ia sempat melihat Tian sedang komat-kamit kearahnya sambil memainkan jari-jarinya. Tiba-tiba muncul aliran air­—yang entah berasal darimana—yang segera membasahi bagian tubuh yang cedera, perlahan cedera yang dialaminya berangsur membaik dan pulih dengan cepat hingga ia bisa bermain kembali.

Saat Rian menuju kelas untuk mengambil beberapa barang, rupanya pelajaran baru saja berakhir dan yang membuatnya terkejut, Tian baru saja keluar kelas. Dengan segera ia lalu masuk kelas menemui Oscar.

“Hei, tadi si Tian bolos kelas ya?”

“Enggak kok. Orang dari tadi aku ngobrol dengannya. Kenapa?” sahut Oscar sambil membereskan buku-bukunya.

What?? Jelas-jelas aku melihat Tian dari awal hingga akhir pertandingan. Kalau yang tadi keluar itu Tian, lalu siapa yang sedari tadi menonton pertandinganku? Apa yang sebenarnya terjadi disini, hah?”

“Ya aku gak tau. Kan daritadi aku di kelas bareng Tian. Bro, aku duluan ya?” kata Oscar.

“Oh, iya. Ati-ati!!” sahutnya.

Setelah beberapa saat, Rian memutuskan untuk meninggalkan kelas kosong itu. Ketika ia menuju lapangan parkir tempat Jeep kakaknya berada, ia melihat Tian sedang berjalan kearah pepohonan. Karena penasaran ia mengikutinya, dari balik pepohonan ia melihat dua sosok Tian yang sangat identik. Keduanya lalu saling menempelkan telapak tangan kanan mereka. Yang membuat ia ternganga, salah satu dari dua sosok itu menghilang dan hanya menyisakan satu sosok Tian. Setelahnya ia melihat Tian kembali komat-kamit lalu menghilang dalam kabut.

Wussshhhhhh

Rian kini hanya diam terpaku. Dia masih tidak habis pikir tentang apa yang ia lihat barusan. “Tian menghilang? Bagaimana mungkin?” Belum sempat ia berpikir jauh suara klakson dari Jeep telah mengagetkannya.

TINNN!!!!

“Ahelah!! Ngagetin aja!!”

“Ngapain kamu disitu? Cepat naik! Sebentar lagi hujan” perintah Felix.

“Iy..iya kak!!!”

Sesampainya dirumah, Rian memutuskan untuk segera tidur. Ia merasa bahwa karena mungkin terlalu lelah, ia menjadi berhalusinasi berlebihan. Apalagi karena kehadiran sosok yang yang mirip Tian dibangku penonton tadi. Makin tambah kacau saja pikirannya. Perlahan kantuk mulai menguasainya hingga akhirnya ia tertidur.

~~~***~~~

 

18 Maret 2011

Kediaman Adrian

Sudah beberapa bulan ini Rian dan Tian menjalin persahabatan yang semakin erat. Mereka kemanapun selalu berdua. Baik itu ketika mengerjakan tugas, ke kantin, jogging, bahkan hang-out pun juga berdua. Walau terlihat demikian, Rian masih memendam rasa penasarannya terhadap Tian. Pernah terbesit dalam benaknya untuk memata-matai sahabatnya itu. Tapi ia keburu sadar bahwa itu bukanlah hal yang baik dilakukan, kalaupun memang Tian bukan lah manusia seperti kebanyakan, ia tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya Tian telah memberi kesejukan dalam dirinya. Ia ingin agar selama mungkin tetap bersamanya.

Sore ini Tian diajak menginap oleh Rian dan kedua kakaknya. Kebetulan kedua orang tua mereka sudah pulang dari urusan bisnis. Ketia Rian mempertemukan Tian dengan orang tuanya, mereka berdua terkejut.

Lho, ini Tian anak dari Frederick dan Lusia, kan?” sapa Om Irga, ayah Rian.

“Iya Tante Hera, Om Irga. Bagaimana kabar kalian?”.

“Baik, sayang. Muaaacchhh. Kalau orang tuamu bagaimana? Kok gak bilang-bilang kalau sudah pindah kemari?” kini Tante Hera yang bertanya sambil mengecup pipi Tian gemas.

“Baru juga beberapa bulan yang lalu kok. Mereka kini sedang mengurus beberapa asset perusahaan mereka”.

“Kok Rian gak ngasih tahu Papa Mama sih kalau Tian yang mau nginap? Hayo pasti ada apa-apa nih? hehehehe” selidik mama jahil.

“Ihh… Mama ada-ada aja. Terserah aku dong. Temen ini kok yang aku ajak nginep” belanya.

“Temen apa temen? Kalo lebih juga gak apa-apa. Iya kan ma? pa?” sindir Ferdinand.

“Iya….Mama setuju. Lebih bagus malah. Jadinya kami gak perlu repot buat nyariin pacar untuk Rian. Hahahaha” tawapun langsung meledak diantara keluarga itu. Rian yang makin merah padam langsung menarik tangan Tian menuju kamarnya.

“Eciehhhh…..kok adik kecil ngambek, sih? Malahan pacarnya langsung dibawa kabur lagi. Hahahahahahaha” sindir mereka bersamaan. Dalam hati Rian kini memang telah diisi sepenuhnya oleh Tian. Hanya saja ia masih malu untuk mengungkapkannya. Bahkan tanpa ia sadari, Tian juga memendam perasaan yang sama.

~~~***~~~

Adrian Pov

25 Maret 2011

Lapangan Parkir, pukul 03.00 Sore

Hari ini pelajaranku lebih cepat selesai dari biasanya dikarenakan seluruh guru-guru kelas 2 sedang mengadakan rapat. Akhir-akhir ini, kedua kakakku yang kelas 3 telah disibukan dengan berbagai kegiatan pra-ujian kelulusan hingga mereka selalu pulang larut. Untuk itulah sejak beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk membawa mobilku sendiri.

Hujan kini turun membasahi bumi. Aku yang ingin pulang buru-buru mengambil payung dari lokerku saat keluar dari lobby sempat aku melihat Tian yang sedang bersandar di balkon lantai tiga. Setelah berlari-lari kecil, aku sampai ditempat dimana mobilku terparkir. Aku yang tengah mengambil kunci dari saku jeans tidak sadar dengan apa yang akan terjadi.

Ketika itu ada sebuah mobil sedan hitam yang kelihatannya kehilangan kendali. Mobil yang melaju tanpa arah itu menabrak apa saja yang dilewatinya. Tempat sampah, tiang lampu, hingga beberapa mobil yang tengah terpakir, tidak sanggup untuk menghentikan laju kendaraan itu. Mobil itu kini mulai mengarah padaku. Sempat mobil itu membunyikan klaksonnya beberapa kali. Saat aku menoleh kebelakang hal itu sudah terlambat. Mobil itu menabrak tubuhku hingga membuatku jatuh terpental dengan kepala membentur aspal. Payung serta tas slempangku sudah entah terlempar kemana. Mobil itu akhirnya berhenti setelah menabrak baliho besar dengan suara hantaman yang luar biasa keras.

Kesadaranku perlahan mulai kembali. Aku pun berusaha untuk berdiri. Entah kenapa baru berjalan beberapa langkah muncul rasa pusing yang luar biasa pada kepalaku. Saat aku memegang pelipis, aku merasakan sesuatu yang lengket dan berbau amis. Kulihat jari-jariku terdapat cairan lengket yang rupanya itu adalah darah. Kuyakin terdapat jaringan yang robeknya cukup parah dikepalaku mengingat darah terus saja mengalir dari kepalaku. Perlahan aku mulai hilang kontrol atas tubuhku, belum saja aku terjatuh untuk yang kedua kalinya tubuhku langsung ditangkap oleh sepasang lengan. Saat aku memfokuskan pandanganku, ternyata yang menangkap tubuhku adalah Tian.

“Ti….Tian. sejak kapan kau ada disini? Bukannya tadi kamu—arrgghhhh!!!!­—di balkon sana” ujarku kesakitan. Serasa ada yang berderak didalam tubuhku.

“Berhenti dulu ngomongnya. Perdarahanmu banyak sekali. Gak hanya itu saja. Lengan kananmu patah dan tulang ditungkaimu bergeser” jawabnya datar.

Tiba-tiba hujan serasa berhenti disekitar kami namun suaranya masih terdengar jelas. Ketika aku mengedarkan penglihatanku, ternyata kami berdua telah terlindung dari derasnya hujan dengan adanya kubah besar yang seketika tercipta dari tetesan-tetesan air hujan yang membeku. Setelahnya Tian kembali berkomat-kamit. Namun kini aku bisa dengan jelas mendengarkan apa yang ia ucapkan.

“Imbloodvertario—skeletofrena­—Aquazlekhia”.

Itulah kurang lebihnya yang kudengar. Tiba-tiba tubuhku seperti terselimuti oleh air. Awalnya dingin namun perlahan air yang menyelimutiku mulai menghangat. Tian lalu menempelkan telapak tangannya yang pucat kekepalaku. Darah yang sedari tadi mengalir deras, langsung berhenti. Luka robek pada kulit kepalaku sedikit demi sedikit mulai menutup.

“TIAN!!! AWASSS!!!” jeritku lantang.

Belum juga proses penyembuhan itu selesai, banner yang ditabrak mobil itu oleng kearah kami. Tanpa bergeming, Tian memanipulasi pergerakan air yang berada disekitar kami menjadi gelombang besar .Gelombang itu menahan jatuhnya balihokearah kami. Tian yang dengan sekali dorongan, membuat gelombang air itu menghempaskan papan itu hingga menimpa pepohonan disekitar kami.

PRAKK….PRAKKK….BDUMM.

“Rian, kamu gak apa-apa kan? Kamu bisa dengar aku kan? Rian?? RIANN!!!!!”

Kesadaranku perlahan menurun kembali. Sayup-sayup terdengar sirine ambulance dari jauh. Segalanya mulai gelap. Aku tidak tau apa aku bisa sadar lagi atau tidak.

 

~~~продолжение следует (To be continued)~~~

 

#N.B:

1. ada satu atau dua kalimat yang sengaja kubuat pake bahasa russia.

2. Pengennya sih dibuat nanggung penggalannya. Biar penasaran.#gak tau deng sukses atau nggak

3. Kalau ada kesalahan, mohon koreksinya ya kawan-kawan. Itung2 ini karya keduaku dalam “Warlockia Series” dan coretan isengku yang ketiga.#yang pertama aku post kapan-kapan deh.

Book 1 : Fire

elios

Permulaan

By: Helios

 

Magic?? Di zaman modern seperti sekarang ini?? Mungkin orang akan tertawa kalau masih ada yang percaya dengan hal-hal semacam itu. Namun, mereka sebenarnya tidak tahu bahwa masih ada Warlokia­­___penyihirberdarah campuran dengan elemental. Yups, Seperti aku ini…….

Namaku Eleazar Syailendra Djosevi Dragomir. Panggilan akrabku Ezar. Nama Syailendra dan Dragomir aku peroleh karena aku memiliki dua darah bangsawan sekaligus, yakni dari Indonesia (Solo khususnya) dan Russia. Hehehe, campur aduk memang aku.Sejak lahir aku selalu berada di Russia bersama keluarga Oma Vasilissa. Tapi setiap beberapa bulan sekali, keluargaku yang dari Indonesia___keluarga Nenek Rahayu___datang berkunjung. Kalau sudah begini, kondisi akan sangat ramai karena setiap waktu kami selalu bersenang-senang bersama.

Aku ini pribadi yang mandiri. Sedari kecil terbiasa melakukan segala hal sendiri tanpa bantuan siapapun. Gak seperti kebanyakan saudara-saudaraku yang manjanya minta ampun dan selalu berkoar-koar ke semua orang tentang kekayaan keluarga besar kami. Bukan gayaku banget.

Oh iya. Waktu aku kecil, aku selalu bermain dengan kelima sahabatku. Diantaranya William, Gerdian, Adrian, Chriss, dan Valant. Yang unik dari persahabatan kami adalah ibu kami sama-sama orang Indonesia sehingga bisa dibilang kami ini anak-anak Indo. Diantara kami berenam, aku lah yang paling tua. Tapi bagi kami usia bukanlah penghalang bagi persabatan kami.

~~~***~~~

Acara Piknik Keluarga, 12 Maret 1999

Awal perjumpaan kami dimulai ketika piknik keluarga. Saat itu, orang tuaku juga mengundang teman-temannya. Karena aku tidak begitu mengenal mereka kuputuskan untuk bermain ayunan sendirian. Tak disangka-sangka datanglah lima orang anak menghampiriku. Kupikir aku bakal di bully atau apa. Ehhh, ternyata mereka hanya ingin bermain bersama denganku. Hehehehe. Kecil-kecil tapi udah paranoid aja.

Satu per satu mereka mulai memperkenalkan diri. Dari kelima anak itu hanya satu yang sikapnya malu-malu kepadaku. Bagaimana tidak? Ia saja tidak berani menatapku,apalagi saat berjabat tangan,sekujur tubuhnya langsung menggigil seperti orang melihat hantu. Aku yang penasaran beranjak dari ayunan untuk mendekatinya. Dengan hati-hati kugenggam kedua tangannya. Lalu kuangkat dagunya dan secara perlahan membuatnya menengadah hingga kedua mata kami bertemu.

“Aku ini orang, bukan hantu, nggak perlu takut denganku” kataku lembut dengan logat khas anak kecil.

“Ehmm, iya” jawabnya masih malu-malu.

“Nama kamu siapa? Kalau aku Eleazar”

“Namaku Valant. Hehe..”

Semenjak hari itu kami berenam selalu bersama. Kejar-kejaran, main petak umpet, bersepeda, apapun pasti berenam. Kami juga punya keinginan yang sama yaitu menjadi penyihir. Itupun aku yang mulai sewaktu kami sedang bersantai dibawah pepohonan pinus yang tumbuh di sisi barat puriku.

“Kawan, aku mau jadi penyihir api. Kan keren tuh bisa ngeluarin api dari tangan, kalau kalian inginnya jadi penyihir apa?”

“Aku maunya elemental air. Soalnya air itu sumber kehidupan” kata Chriss.

“Aku angin. Kan angin itu bisa jadi badai hehe” kata Adrian nyengir.

“Bumi. Soalnya bumi kuat, namun juga indah dengan segala kehidupan yang ada dipermukannya” kata Gerdian bijak. Untuk yang satu ini kami berlima mengangguk bersamaan.

“Kalau aku elemen penjaga aja” kata William malas-malasan.

“Hah? Gak ngerti” kini giliran Chriss yang garuk-garuk kepala.

“Makcudnya logam. Logam itu kan kelas. Nah dengan icu aku mau jagain kalian. hihihi” setelah beberapa lama kami akhirnya bisa ngeh ama kata-kata William. Maklum dia itu cadel dan kadang suka gak jelas ngomongnya.

“Kalau kamu apa, Val?” Tanya Adrian sambil makan biscuit.

“Kalo aku…ehm.. apa ya? Oh ya. Cahaya aja deh” katanya polos.

“Lho? Kenapa cahaya? Kenapa gak api aja kayak aku?”

“Soalnya, api itu kan warna apinya merah. Kalo cahaya warnanya putih. Warna kesukaanku”.

“Eh, main lagi yuk?”ajak Adrian.

“Ayo aja. Hahahaha…. ” tawa kami bersama.

Kamipun bangun dan kembali lagi bermain selayaknya anak kecil pada umumnya.

~~~***~~~

Pesta Ulang Tahunku, 21 Agustus 2001

Persahabatan kami walau baru berjalan lebih dari dua tahun namun rasanya sudah seperti sejak lahir. Malah kami berenam sepakat mengembangkan hubungan ini menjadi persaudaraan. Meski begitu tentu saja keadaan ini tidak bertahan lama hingga pada suatu hari kami terpaksa berpisah (entah memang kebetulan atau apa) karena pekerjaan orangtua masing-masing.

Saat itu usiaku menginjak 8 tahun dan mereka berlima 7 tahun. Sempat terjadi adegan tangis yang mengharukan diantara kami berenam. Valant aja sampai memelukku sedangkan empat yang lain saling berangkulan dalam tangis, bahkan orang tua kami masing-masing sampai terharu ketika melihat kami. Hal ini terjadi saat ulang tahunku. Sungguh ini merupakan kado sekaligus perpisahan yang tak akan pernah terlupakan,baik bagiku maupun kami berenam.

“Hei..hei. Kita kan udah gede. Masa masih nangis gini” kataku berusaha menghibur mereka, terutama Valant yang nangisnya tidak berhenti-henti dipelukanku.

“Kamu enak bica bicala gicu. Coalnya kamu yang paling gede” Meski William ngomongnya sambil nangis, tapi justru cara ngomongnya itu yang bikin kita bisa sedikit melupakan kesedihan kami.

“Oh iya. Anak-anak, tante punya cerita nih. Ceritanya tentang persahabatan Tante Eirishka dan orang tua kalian, kalian mau dengar gak?” bujuk Ibuku untuk mencairkan suasana.

“Mau. Mau denger!!”, jawab aku dan teman-temanku bersamaan.

Ibuku lalu mulai bercerita. Dulu sewaktu masih kuliah, Ibuku mempunyai seorang teman cowok yang amat dekat. Cowok itu adalah orang yang suatu hari akan menikahi Ibuku. Yups, dia adalah Ayahku. Nah, masing-masing diantara mereka memiliki gank yang beranggotakan enam orang. Kedua gank itu selalu bersama hingga pada saat mereka dewasa, mereka sepakat untuk bersatu atau dengan kata lain masing-masing dari anggota saling menikah (pas bagian ini ayahku dan orang tua yang lainnya langsung salah tingkah saat diperhatikan oleh kami berenam). Beberapa tahun mereka tetap bersama untuk sekedar bersenang-senang atau hangout bersama. Hingga akhirnya mereka mulai sulit bertemu karena masing-masing pasangan sudah memiliki kesibukan. Disatu kesempatan, mereka akhirnya membuat suatu perjanjian persaudaraan dimana mereka akan menjadi saudara untuk selama-lamanya.

“Bagaimana anak-anak? Indah bukan persahabatan kami?” Kini mulai Ayahku yang angkat bicara.

“Banget, om. Chriss juga pengen punya persabatan yang langgeng. Kalian mau juga kan teman-teman?” Kami mengangguk serempak sebagai tanda persetujuan.

“Oma merasa kalau kita semua ini telah diikat oleh takdir yang sama. Selama berabad-abad, setiap generasi dari keluarga-keluarga kita semua pasti selalu bersahabat. Begitu pula dengan Oma beserta kakek-nenek kalian dan juga Tante Eirishka beserta orangtua kalian. Oma juga yakin kalau kalian terikat dengan takdir yang sama,jadi kalian tidak perlu khawatir. Meski kalian sekarang akan berpisah pasti suatu saat kalian pasti akan ketemu lagi” hibur Oma Vasilissa.

“Oma betul. Lagipula, ini kan masih dalam suasana ulang tahun Eleazar. Harusnya kita kan bergembira. Iya kan teman-teman?” ujar orang tua Adrian pada para orang tua yang lain dan merekapun mengangguk setuju.

Akhirnya pesta kembali berlanjut dengan meriah. Diakhir acara kami sepakat untuk tukar kado dan tidak mengucapkan kata perpisahan. Karena kami yakin sejauh apapun jarak memisahkan, kami pasti akan bertemu kembali.

 

~~~***~~~

Waktu berlalu dengan cepat,tidak terasa aku sudah menjadi seorang remaja. Bertahun-tahun sudah kami tidak memberi kabar satu sama lain. Bukan karena kami musuhan, tapi kontak diantara kami seperti menghilang perlahan sampai benar-benar putus kontak.

Diusia-usia seperti ini pasti mental para remaja-remaja lainnya sedang dalam tahap yang benar-benar labil,tapi hal itu pantang terjadi padaku. Justru ketika diusiaku yang baru 14 tahun, aku sudah membuat sebuah keputusan yang amat mengguncang keluarga besarku. Bagaimana tidak? Aku memutuskan pindah dari Russia ke Indonesia seorang diri hanya untuk mencari suasana baru, sekolah, kuliah, dan bekerja. Pilihan kepindahanku jatuh pada sebuah kota besar di Indonesia apalagi kalau bukan Jakarta. Mendengar keputusanku itu Nenek Rahayu sempat menawariku untuk tinggal bersama keluarga besarnya di Keraton Solo jika aku tetap kekeuh pindah ke Indonesia. Tapi dengan halus aku menolak permintaan itu. Bagiku, saat inilah waktu yang tepat untuk menentukan pilihan hidupku sendiri. Itulah yang membuat keluarga besarku bangga karena keberanianku yang memutuskan untuk pindah ke sebuah tempat yang asing dan belum pernah kulihat sebelumnya. Sesampainya aku di Bandara Internasional Soekarno Hatta, kuputuskan untuk melepas “embel-embel” Syailendra dan Dragomir. Sebagai gantinya, aku akan menggunakan nama Ezar Kurniawan selama disini.

 

~~~***~~~

Begitulah sepenggal masa laluku kini bisa dibilang aku sebagai salah seorang yang sukses di Jakarta. Dengan pekerjaanku yang sekarang sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan berskala internasional, aku bisa mencukupi kehidupanku. Orang-orang pasti tidak akan percaya kalau aku baru berusia 20 tahun. Usia yang terbilang terlalu muda untuk menjabat posisi sepenting ini. Tidak aneh memang bagiku pasalnya selama mengenyam bangku pendidikan aku mengalami beberapa kali akselerasi dan lulus kuliah bahkan dapat menyelesaikan program S2 dengan predikat sebagai lulusan termuda. Soal kemampuan…..tidak diragukan lagi, sodara-sodari.

Perawakanku bisa dibilang WOW. Penampilan serta Inner beauty-ku yang khas keturunan Indo campuran memang amat sangat terpancar hingga aku terkadang menjadi pusat perhatian di sekitarku. Aku masih ingat ketika aku melamar pekerjaan beberapa tahun lalu banyak staff-staff senior yang melirikku ketika memasuki lobby.

Wah, ada barang baru nih….

Hmm…..harus gua dapetin nih anak baru

Aduhh…..!!!! ganteng banget nih orang. Pengen deh minta pin BB nya” jerit kecil sekretaris centil dari balik meja resepsionis.

Lumayan ganteng sih. Bisa-bisa jadi saingan gua nih…” kata seorang supervisor yang dengan angkuhnya melewatiku.

Begitulah beberapa komen yang bisa aku dengar. Tidak banyak orang yang tahu kalau aku mempunyai beberapa kemampuan khusus. Diantaranya, aku punya pendengaran ekstra sensitif, membaca pikiran dapat menguasai berbagai bahasa dan juga daya pikat yang luar biasa. Ini pula lah yang bisa membuat ku mengalami beberapa kali akselerasi dan dengan mudah mendapatkan pekerjaan, disamping juga memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Semua kemampuan ini kuperoleh ketika aku masih di Russia. Hahhh…. Memikirkannya saja rasanya baru seperti kemarin bagiku.

 

____Flash back____

 

Pekarangan Puri Dragomir, 27 Oktober 2004

Hari itu­­­ entah kenapa Oma Vasilissa menghampiriku bersama Nenek Rahayu yang kebetulan baru datang dari Solo. Mereka ingin sekali membicarakan sesuatu secara empat mata___i mean, enam mata denganku. Sebelum membuka topik, mereka berdua memberiku dua buah kotak antik berselimutkan kain merah dan kain batik.

“Bukalah ke dua kotak ini, cucuku” pinta oma dan nenek bersamaan.

Pada kotak berkain merah, terdapat sebuah kalung berliontin Naga. Sedangkan pada kotak berkain batik, terdapat sebuah keris ber-luk 13.

“Apa maksud semua ini nek? Oma?” tanyaku pada mereka berdua.

“Sebelumnya izinkanlah Omamu bercerita lebih dulu” kata Nenek Rahayu.

“Begini cucuku. Maksud kami memberimu ini berhubungan dengan kegentingan yang saat ini sedang terjadi. Voldera telah bebas dari penjaranya”.

“Hah? Oma serius? Bukankah ia hanya mitos tua belaka?” tanyaku heran.

“Tidak, dia benar adanya. Penyihir itu telah bebas sekarang. Itu karena, mantra segel kuno pada penjara sihir telah lenyap. Kami menduga bahwa Penjara Sihir Alcatera telah dibobol oleh keturunannya, Romedal.”

“Bagaimana Oma tahu tentang semua ini?”

“Lihat ini. Iluraminati !”. Oma menjentikan jarinya dan muncul lah bola api merah. Dari bola api tersebut keluarlah seekor naga kecil.

“Be..rar..ti…berarti….oma adalah..”

“Iya, cucuku. Oma adalah The Elemental.” akuiOma.

Sulit dipercaya kalau Oma Vasilissa adalah penyihir api selama ini, aku lalu ingat akan salah satu mitos tua tentang beberapa keluarga-keluarga bangsawan__berdarah campuran penyihir dan pengendali elemental yang disebut juga warlockia__eropa timur. Diantaranya adalah Dragomir, Ivashkov, Belikov, Gregorian, Romanov, dan Preminger yang kemudian menamai diri mereka sebagai The Elemental.

“Tunggu dulu. Kalaupun benar, bukannya aku dan teman-teman kecilku memiliki nama belakang seperti para The Elemental? Apa kami juga warlockia?”

“ Tepat sekali. Oma ingin kamu beserta kelima sahabatmu itu bersatu untuk melenyapkan Voldera dari muka bumi ini. Hanya kalian harapan kami. Kami sudah terlalu tua”.

“Tapi bagaimana caranya? Aku sama sekali tidak tahu dimana keberadaan mereka sekarang ini”

“Karena itulah kamu memerlukan bantuan Nenek Rahayu. Kamu ingatkan Nenek Rahayu pernah menceritakan cerita-cerita jawa yang erat kaitannya dengan Gusti Kanjeng Ratu Laut Selatan? Nah, nenekmu ini masih memiliki hubungan darah dengan beliau” jelas Oma sambil tersenyum pada nenek.

“Kalau begitu Ayah dan Ibu juga seorang…..”

“Iya cucuku. Ayahmu warlockia dan ibumu adalah putri penjaga laut selatan. Namun kamu pasti tidak menyadarinya. Itu karena ketika Ayah dan Ibumu menikah, mereka berikrar agar berusaha semaksimal mungkin hidup selayaknya manusia normal”jelas Nenek.

“Pantas saja.…. tidak kusangka bahwa keluarga besar kita ternyata bukanlah bangsawan biasa. Oh iya Nek, apa kiranya yang kubutuhkan dalam mencari teman-temanku?”

“Itu sebabnya nenek memberimu Pusaka Syailendra. Keris luk 13. Keris ini bisa menjadi senjata apapun sesuai kebutuhan. Keris itu juga dapat menjadi penunjuk arah dan kamu dapat menggunakan ini untuk menemukan mereka”, jelas nenek.

“Namun ada satu yang kamu perlu tahu. Diantara kelima keluarga lainnya, keluarga Romanov paling susah terlacak akhir-akhir ini. Itu karena…..” Oma menggantung kalimatnya.

“Karena apa, oma?”

“Sebagian anggota Keluarga Romanov telah menghilang tanpa jejak. Kami mengira ini perbuatan Voldera dan keturunanya. Itulah sebabnya energivalinor dalam keluarga tersebut nyaris menghilang. Namun kita patut bersyukur karena beberapa anggota Romanov berhasil selamat, sehingga kita masih memiliki peluang. Prioritas kalian adalah menemukannya sebelum Voldera menemukannya jika sampai telat menemukannya…. kita tidak ada kesempatan lain”jelas Oma.

“Sekarang, pakailah kalung tersebut dan cabutlah keris dari sarungnya”pinta nenek padaku.

Aku pun memakai kalung tersebut dan mencabut keris dari sarungnya. Tiba-tiba saja, cuaca diluar yang tadinya cerah, kini berubah gelap. Semilir angin berubah menjadi badai ganas. Petir menyambar dari segala penjuru langit. Ditambah dengan munculnya cahaya merah terang yang diikuti dengan keluarnya sesosok naga raksasa dari kalungku. Yang membuatku takjub sekaligus ngeri, badai yang berhembus berubah menjadi pusaran api maha dahsyat yang membumbung tinggi menembus langit dan diselingi raungan naga yang begitu keras.

“Selamat cucuku.” kata Nenek.

“Engkau kini telah menjadi warlockia api. Gunakan kekuatan magic, pengendalian, dan keris itu dengan bijaksana” kata Oma.

“Dengan kamu memakai kedua benda ini, kamu akan mendapatkan kemampuan-kemampuan khusus yang tidak dimiliki manusia kebanyakan” jelas Nenek.

“Berjuanglah cucuku. Demi Dragomir, demi Syailendra, dan juga seluruh umat manusia.” pesan oma.

“Baiklah. Akan kujalankan tugas ini. Demi kita semua.”sahutku dengan mantap.

 

______End Flash back_____

 

~~~***~~~

 

Apartemen Boulevard Residence, 7 April 2013 pukul 07.00 pagi

Hari ini kebetulan libur panjang. Dikarenakan perusahaan kami sedang merayakan kesuksesan targetnya, Mr. Aria selaku direktur utama memutuskan untuk meliburkan pegawainya selama beberapa hari. Tentu saja kesempatan ini kupergunakan untuk pulang lebih awal. Sesampainya dirumah aku puaskan hasratku untuk tidur. Tak terasa waktu bergulir cepat. Ketika bangun, rupanya sudah menunjukan pukul 07.00 pagi. Yang membuatku heran sendiri, rupanya aku tidak melepaskan seragam kantorku dari kemarin sore. Tanpa pikir panjang, kutelanjangi diriku lalu bergegas ke kamar mandi.

Usai mandi, kulilitkan handuk di pinggang dan berjalan menuju pantry. Masih pagi seperti ini memang nikmat kalau minum secangkir jasmine tea. Setelah kuseduh, aku menuju kulkas untuk mengambil apel lalu kucomot pisau buah dari laci. Ketika aku mengupas kulit apel, pisau yang kupegang meleset dari kulit apel dan malah melukai tanganku hingga berdarah. Seketika aku merasa pusing. Aku memang tidak tahan dengan bau amis darah yang makin lama makin menggelitik syaraf penciumanku, kupandangi darah itu mengalir dari tanganku. Darah yang tadinya mengalir deras keluar semakin lama semakin melambat, begitupula waktu disekelilingku berjalan semakin lambat. Saat tetes yang kesekian terjatuh, waktu disekitarku seketika berhenti.

Dalam tetes darah itu, kulihat suatu titik hitam yang semakin lama semakin melebar. Yahh, kegelapan. Kegelapan yang perlahan menyelimuti dunia ini, dari situ juga, kulihat sosok penunggang naga hitam beserta pasukannya mulai menebar terror dimana-mana. Dalam kepanikan tersebut, munculah seorang pemuda yang amat ketakutan entah darimana dan langsung mendekap dadaku begitu kuat. Aku yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa membiarkannya saja berbuat demikian. Tiba-tiba naga itu mengeluarkan lengkingan yang sungguh memekakan telinga. Si penunggang juga mengerang sambil menghunus pedangnya kearah kami berdua. Dari erangannya itu aku bisa menangkap tiga kata darinya. “Bloodstone”, “Saphire”, dan “Romanov”.

Waktu lalu kembali berjalan seperti sediakala dan darah itu akhirnya jatuh ke lantai. Ku kerjapkan mataku. Darah ditanganku masih mengalir walaupun tidak sederas tadi, segera aku menuju cabinet P3K dan langsung kusambar Betadine serta plester antiseptic. Setelah mengobati lukanya aku kembali terdiam.

“Siapa ya pemuda itu? Mengapa aku merasa harus melindunginya? Lalu apa hubungannya dengan bloodstone, sapphire, dan…. Tunggu dulu. Bloodstone, sapphire, dan ro..roma…Romanov?Apa jangan-jangan pemuda itu adalah….keturunan Keluarga Romanov yang harus kucari? Tapi…….ARGGHHH!!! siapa namanya? Aku benar-benar lupa. BODOH……BODOH….. disaat seperti ini justru aku lupa pada hal yang penting!!!”

Disaat pergolakan batin itu, kulihat keris pusaka melayang-layang ke arahku. Keris itu lalu keluar dari sarungnya dan mulai berputar perlahan sebanyak tiga kali searah jarum jam. Selama berputar, dibawah keris itu muncul bayangan yang persis kompas dengan dilengkapi symbol arah mata angin, yakni U, T, S, dan B. Diputaran ketiga keris itu berhenti di symbol T dan muncul pula gambar seorang pemuda yang seingatku sama dengan yang ada dipenglihatanku tadi. Tepat diatas symbol itu. Kini aku yakin bahwa orang yang kucari-cari selama ini adalah pemuda itu. Tidak salah lagi.

“Aku harus menemukannya serta harus melindunginya sekuat yang aku bisa. Meski aku tidak mengingat siapa namanya dan dimana ia sekarang berada, aku yakin aku pasti akan bertemu dengannya. Ini hanyalah permulaan……”

 

*****

____продолжал (prodolzhal)____

Rayan dan Fauzan (9)

Kepada malam aku ungkapkan kerapuhanku, kepada siang aku tuturkan segala keluhku, dan kepada pagi aku curahkan rindu , lalu kepada senja aku tebok semua kenanganku. Berantakan bukan? Semua rancu begitu aku pergi darimu. Lalu apa masih boleh aku sampaikan maaf kepadamu, hati yang sudah aku sakiti.

Senyummu masih jelas terpatri dibalik kelopak mata, suara serakmu masih sering kurasa mengaung di palung hati, pelukanmu mampu menghantuiku kala sepi mendera hati ini, aku hanya mampu melihatmu melalui mimpi.

Jangan lagi kecewa, semua akan baik-baik saja seiring waktu yang mengikis cinta kita. Jangan! Jangan bersikukuh aku akan kembali. Biar! Biar aku pergi! Karena kembalinya aku hanya akan membuat semua kembali memburuk, kamu harus kembali ke orangtuamu, mereka yang paling butuh rindumu, bukan aku.

Lalu bersamaan dengan ini aku menitahmu, tutup semua album kenangan kita, tentang peluh yang menetes dalam satu palung syahwat sejawat, tentang tangis dari cobaan kehidupan yang mendesau tidak menyenangkan, tentang sulitnya masa kita dulu namun genggamanmu tetap erat kurasakan, akulah penghianat dari kisah cintaku, maka tidak usah lagi berharap aku akan kembali, kembalinyaku hanya akan menyulitkanmu.

Aku tidak mencoba membuatmu mengerti, tapi aku mencoba memupuskan gigihmu yang aku tahu masih cukup tangguh untuk menungguku bahkan untuk puluhan tahun lagi. Maka aku kirimkan surat ini, untukmu, agar kamu menyerah dan pulang! Rayan, aku tidak lagi membutuhkanmu, maka pulanglah, jangan jadi pecundang untuk waktu yang lama.


bahahaha…… ini cuman cuplikannya doang, tau kapan gue updatenya see yaaa bebih balabala……

DEAL

deal_irfandirahman

 

“Cuma macarin cowok cupu kayak dia mah gampang, lagi pula itu cowok pasti gay, so bot banget lagi” Firza tersenyum penuh makna ke arah cowok cupu berambut klimis dengan kacamata jadul yang selalu setia bertengger di hidung pesek si cowok cupu tersebut.

“Jadi deal ya, pacarin tuh si Bira selama empat minggu?” tanya Romeo dengan tatapan meremehkan ke arah Firza.

Firza mendengus sebal. “Deal! Dan lo pasti jadi kacung gue selama satu semester ke depan!” Firza menyambut jabatan tangan Romeo.

Dua cowok itu mengangguk-anggukan kepala mereka tanda menyetujui taruhan mereka yang baru saja mereka sepakati. Firza dan Romeo adalah sahabat karib sejak mereka kanak-kanak, Firza adalah seorang cowok berorientasi biseksual dan Romeo adalah seorang cowok straight namun orientasi mereka tidak sama sekali membuat hubungan persahabatan mereka merenggang sedikit pun.

Mereka adalah dua sahabat yang selalu melakukan pertaruhan—mereka selalu menganggap taruhan yang mereka lakukan adalah permainan yang amat menghibur—sejak mereka beranjak remaja, sejak mereka memilih apa orientasi seksual mereka. Sejak mereka mengenal cinta.

“Eits!!! Tapi gue kasih waktu cuma tiga minggu lho” tambah Romeo setelah mereka selesai berjabatan tangan.

Firza mendengus sebal, dalam hati ia mengejek ulah Romeo yang tidak pernah mau kalah dalam taruhan slash permainan yang mereka lakukan, terakhir kali Firza bertaruh dengan Romeo, dengan cara Romeo harus meniduri ketua Osis cantik sekolah mereka yang sangat diidolakan banyak cowok dan cewek di sekolah mereka, dan Romeo kalah dalam taruhan terakhir mereka, sebagai konsekuensinya Romeo harus mengencani Amelia cewek yang wajahnya dipenuhi jerawat serta bergigi tonggos yang selalu membuat onar di kelas mereka, dengan amat terpaksa dan tentunya makian panjang Romeo kepada Firza akhirnya Romeo mau mengencani Amelia selama tiga hari dan itu adalah salah satu pengalaman paling buruk yang Romeo dapatkan di dalam sejarah pertaruhan Romeo.

Sekarang Romeo menantang Firza untuk memacari Bira cowok super cupu dengan wajah kuyu yang sangat berkesan dekil. Firza, cowok tampan dengan postur tubuh yang sangat ideal untuk cowok berumur delapan belas tahun yang mampu membuat pria gay manapun meliriknya berkali-kali, sedangkan Romeo cowok straight dengan senyum semanis sakarin yang selalu membuat wanita terjerat dengan kata-kata manisnya.

“Kalau pun lo menang, lo bakalan muntah berminggu-minggu karena harus ngerayu si Bira yang mukanya mirip keset ruang BP, yang dekilnya nggak ketulungan” kekeh Romeo. Firza pun ikut terkekeh namun sarat ejekan kepada Romeo yang tidak henti-henti membayangkan sahabatnya akan mencium si cowok cupu berkacamata jadul dengan wajah yang Romeo selalu labeli ‘keset ruang BP’ lalu menusuk pantat si Bira yang tidak bisa dibayangkan oleh Romeo seberapa buruknya, mungkin ada beberapa penyakit kulit di sekitar lubang pantat Bira. Mukanya aja udah dekil apalagi pantatnya? Pano, Kurap, Kudis bahkan koreng dan bekas-bekas koreng pasti menetap di pantat si Bira, gue nggak sabar nunggu si Firza kapok nusuk pantat cowok lagi. Ujar Romeo geli dalam hati.

“Tapi dia manis lho!” jawab Firza spontan setelah mengamati Bira yang sudah menghilang tertelan koridor sekolah.

“Dasar homo pemakan segala!” celetuk Romeo sambil mendorong punggung Firza agar kembali melangkah ke arah ruang laboratorium

Bangke, monyet, taik kucing, itil perek, dan segala rupa bentuk menjijikan di muka bumi ini cocok banget buat si Romeo dah! Gila aja dia ngasih gue tantangan suruh macarin plus nidurin dan plus-plus lainnya ke si cowok yang mukanya udah kayak pinggiran kloset yang nggak pernah disikat bertahun-tahun. Gue mengumpat dalam hati.

Tadi gue bilang bahwa Bira cowok berhidung pesek dengan kulit kusam nggak napsuin banget itu manis tuh cuma pengen buat si Romeo gentar karena gue berani nerima tantangannya, mana mungkin seorang Firza cowok yang udah ngebobol beberapa lubang pantat cowok keren dan lubang pepek beberapa cewek populer di sekolah maupun luar sekolah bakalan nolak tantangan si Romeo, sedangkan Romeo nggak pernah nolak sama sekali tantangan dari gue buat taruhan sesuatu, bahkan pas pertama kali gue masuk SMA ini Romeo berani nerima tantangan gue buat macarin si Keylin cewek yang keteknya bau bawang banget dan ngebuat pengakuan di depan banyak orang bahwa si cewek berketek bau itu adalah cinta pertama si Romeo. Lha, masa gue cuma dikasih tantangan buat macarin cowok dekil aja nggak berani? Hey! Gue bukan tipe cowok yang rela diremehin ya! Catet!

“Firza!!! Bacain jawaban soal nomer tiga! Kamu denger saya nggak sih?” teriak Pak Junet yang kupingnya caplang dah kayak kuping gajah itu buat gue gelagapan sendirian. Bangkek!

Buru-buru gue tarik buku orang pas Pak Junet balik badan saat dia mau duduk. “Hem! G30SPKI adalah…” bla-bla-bla-bla! Like i care? Gue yakin kok apa yang gue baca dari buku hasil rebutan ini itu adalah jawaban yang diminta guru si kuping gajah, buktinya dia sekarang manggut-manggut udah kayak boneka anjing.

“Bira, kamu nomer empat” seru Pak Junet setelah puas ngedengerin jawaban gue walaupun jawaban gue hasil ngembat buku orang, emang gue fikirin, yang penting gue aman dari detensi si kuping gajah.

Sontak gue nengok ke tempat asal buku yang gue rampas, ya olloh ini ternyata bukunya si cowok dekil, tapi anehnya dia bisa jawab dengan amat mulus ngelebihin mulusnya paha Manohara yang udah pernah di silet-silet, itu sih juga kalo paha Manohara beneran pernah disilet-silet, gue nggak tahu pasti karena gue nggak pernah nonton gosip apalagi ngeliat pahanya si Manohara secara langsung, gue cuman dengar dari nyokap gue yang so rumpik abis.

Spontan gue meringis karena si Bira natap gue dengan senyum jeleknya, gue tahu banget maksud senyumnya itu karena dia minta bukunya yang asal gue embat itu dibalikin, nggak lama bell pulang sekolah berdering syahdu, itu berarti pelajaran guru si kuping gajah ini pun selesai. Damainya dunia!

Teman-teman sekelas gue pada ngacir semua, ya elah, pada kebelet boker semua apa ya? Semangat amat buat pulang ke rumah, dasar anak mami! Si Romeo segala ikut ngacir keluar lagi buat ngejar si Febby cewek sekelas gue yang lagi diusahain si Romeo buat dijadiin selir hatinya.

“Bukunya udah nggak kepakek lagikan? Boleh gue minta lo buat balikin buku itu?” suara Bira terdengar amat mengganggu indra pendengaran gue.

“Nih!” gue lemparin langsung ke mejanya, si Bira cuman senyum-senyum anyep ke arah gue lalu cabut sehabis ngeberesin barang-barangnya.

Anjrit!!! Gue kudunya ngebaikin si Bira nih, deadline gue kan cuman tiga minggu. Umpat gue dalam hati penuh penyesalan setelah bayangan absurd si Bira enyah ditelan pintu. Biar gimanapun gue nggak mau jadi kacung si Romeo selama satu semester depan, gila aja cowok macho kayak gue kudu jadi babunya si Romeo yang straight abal-abal!

***

Gue ketawa miris, ngelihat si Bira. Jaman sekarang masih ada gitu anak sekolah yang peduli sama orang buta? Segala bantuin buat nyebrangin jalan, terus ngasih air minum plus duit. Ew, bikin gue terharu aja udah kayak nyokap gue kalo lagi nonton sinetron pas adegan metong-metongan.

Oke, gue akuin kalo gue ngikutin si cowok dekil ini, karena apa? Karena gue kudu berhasil macarin si Bira, persetan dia cowok straight, biseksual kayak gue ataupun gay tulen. Si Bira itu cupu, dekil, dan penampilannya nggak banget, mana ada orang yang mau jadi pacar dia, monyet juga ogah kali di deketin sama dia, dan pasti si Bira nggak akan nolak kalo gue ajak pacaran, ya iyalah, lo pikir aja sendiri pakek biji peler lo, mana ada cowok model dia yang bakalan nolak gue, walaupun dia straight pasti bakalan mau deh, daripada dia jadi jomblo seumur hidup, seenggaknya disodok pantatnya pakek perkakas super WAH gue itu jauh lebih baik ketimbang saban hari dia ngocok kontolnya yang pasti kecil, keliatan banget dari bentuk hidungnya yang nggak mancung, gue bukan sok tahu tapi patner sex gue yang hidungnya pesek itu punya ukuran kontol yang kecil walaupun yang mancung juga belom tentu punya perkakas sebagus punya gue!

Gue beraniin diri buat nyamperin si Bira pas dia udah selesai dengan acara reality shownya itu. “Bira!!! Eh, emh, itu, ah, itu, eh, makasih banyak ya buat buku contekannya tadi” gue berkata dengan amat gugup setelah menyusul si Bira lalu menepuk pundaknya.

Si Bira tersenyum lembut bagaikan kain sutra yang digesekin ke kontol gue, rada ngilu di bagian hati dan ujung titit. “Btw, lo mulia juga ya, hari gini masih aja nolongin orang model gitu” ucap gue sambil nunjuk si orang buta pakek ujung bibir.

“Bapak itu juga manusia, cuma aja dia buta, dan lo nggak boleh ngerendahin dia, kalo gue ada di posisi dia pasti gue juga bakalan ngarep dibantu orang pas nyebrang jalan, dia kan buta, sulit banget pasti jadi dia” jirrrrr, si Bira kenapa mengumpamakan orang buta tersebut adalah dirinya sendiri? Itu soo bijak buanget! Kenapa dia nggak mengumpamakan orang buta itu gue? Kenapa dia ngeselin banget sih? Gue kan nggak bisa nyibir si daki kloset ini jadinya.

Gue cuma ngangguk-ngangguk aja, dan jangan bilang anggukan gue ini mirip boneka anjing, gue bunuh lo kalo sampai lo berani bilang gitu!

“Lo baik banget sih,” ucap gue tulus.

“Gue bukan orang baik Fir, gue cuman orang yang berusaha jadi orang yang berguna buat orang lain, walaupun gue cuman bisa berguna di hal-hal kecil aja” katanya sambil ngelepas kacamata jadulnya lalu digosoklah kacamata jadul itu ke ujung dasi sekolah yang masih setia nempel di tempat seharusnya, dasi gue aja udah gue simpan di kolong meja pas mau cabut dari kelas sedangkan dia masih pakai seragam lengkap yang agak dekilnya itu sampai sekarang, nih anak pasti hidupnya ngebosenin banget deh, liat aja tingkahnya.

“Rumah lo di mana? gue anterin deh” kata gue spontan.

Bira malah ketawa cekikikkan kayak ayam kesurupan, “Kenapa lo?” tanya gue penuh nada sinis, siapa yang nggak esmosi diketawain cowok cupu? Siapa? Lo nggak sinis berarti lo sama cupunya kayak si Bira!

“Lo nggak bawa motor, sepeda atau apapun, lo mau nganterin gue jalan kaki sampai rumah gue gitu?” buangke! Ini cowok cupu satu, rasanya kalo gue nggak terikat taruhan sama si Romeo babik tersayang gue itu, udah gue ceburin ke selokan nih cowok.

“Gue cuman mau jadi orang yang berguna ajakan” gue buru-buru aja ngomong gitu, cuma itu sih yang ada di kepala gue.

Tawa si Bira terdengar semakin stero, ember mana ember, mau gue tutupin aja nih muka si cupu, anjriiiiitttt muka ngeselin sifat juga ngeselin, buruan mampus deh lo Bira!

“Kalo lo maksa gitu, ya sudahlah” Bira gerakin tubuhnya buat ngajak gue jalan lagi. Apa? Apa? Dia ngomong apa barusan? Maksa? Syeetaaaan! Kapan gue maksa dia buat gue antar pulang? jir, nyet, bik, taik anjing, monyet, babik! Gue tusuk pekek gunting kuku lo dari belakang!

“Ini rumah kontrakan gue, eh gubuk deh, lo mau langsung pulangkan? Hati-hati ya!” si Bira langsung ngeloyor mau masuk ke dalam rumah—eh—gubuk. Beneran gubuk lho, pintu dan sebagian dinding dari triplek dan seng serta jendela yang dibuat pakek kawat, ngenes banget ye nasib lo Bira.

Rumah kontrakan Bira berada di perkampungan pandat penduduk, penghuni perkampungan ini kebanyakan jualan makanan, terlihat dari belasan gerobak yang diparkirkan di pelataran rumah mereka yang sempit.

Buru-buru gue pegang tangannya si Bira supaya nggak masuk ke dalam gubuk—rumah, apalah gue nggak perduli, mau rumah mau gubuk kek yang penting bukan rumah gue ini. “Gue boleh main bentar?” tanya gue cepet-cepet, gue nggak alergi sama orang miskin kok cuma gue sebal aja sama si Bira makanya daritadi gue hina-bina dia si cowok dekil, gue kan kudu pe-de-ka-te sama Bira mulai sekarang juga, karena gue nggak tahu nih cowok bisa gue jadiin pacar taruhan apa kagak, gue nggak suka buang-buang waktu soalnya. Catet.

“Di dalem rumah gue, cuman ada nenek gue sama adik gue, kakak perempuan gue lagi nyuci di komplek, dan gue cuman bisa nyuguhin air minum aja lho”

Bodo! Kata gue asal dalam hati, lagian gue nggak ngarep disuguhin pizza or whateve, gue tahu diri kali, masa gue ngarepin yang nggak mungkin. “Gue mau main bukan mau numpang makan kok” jawab gue santai.

Bira mengangguk khikmat, seperti pertanda gue harus siap-siap sama keadaan di dalam rumah kontrakannya yang udah mirip gubuk itu. Kesan pertama masuk rumah yang pintunya terbuat dari tambalan beberapa papan triplek ini adalah, dekil, puanas dan sumpek ah udah pasti kalo sumpek mah, wong ukurannya aja kecil gini.

“Temennya Bira?” suara serak terdengar dari sebelah kanan gue. Sesosok nenek tua dengan rambut putih dan kulit berkerut di mana-mana berusaha berdiri dari duduknya. “Iya nek, temen sekelasnya Bira” jawab gue kikuk. “Mau nyontek tugas ya?” tembak si nenek, gue tau sekarang sifat ngeselin si Bira berawal dari siapa!

“Cuman mau main doang nek, nggak ada tugas” jawab gue dengan senyum dipaksa setulus tokoh bawang putih.

“Wah, baru kali ini ada temen Bira yang dateng mau main, biasanya cuman pada pinjem tugasnya Bira doang, karena mereka…” bla-bla-bla, si nenek cerita panjang lebar soal nasib si Bira dan tetek pelacur eh tetek bengek keluarga mereka. Gue bukan nggak suka ngedengAr curcol si nenek ke gue, cuma gue nggak mau kebawa soasana melow di hari pertama pe-de-ka-te. Gila aja, gue ke rumahnya si Bira buat ngedekatin si cowok cupu ini bukan buat ikut acara termemek-memek—ralat—termehek-mehek.

“Nek, obatnya udah habis ya?” si Bira muncul pakek kaus yang makin dekil dan kelihatan kesempitan—banget—di badannya, gue taksir sih itu baju peninggalan jaman SMPnya si Bira deh, mungkin dia nggak punya duit buat beli kaus baru.

“Nggak apa-apa Bira, nenek sehat-sehat aja kok walaupun nggak minum obat” neneknya Bira emang pucet sih, sebenernya gue sadar kalo neneknya si Bira wajahnya pucet pas si Bira tau-tau dateng nanyain obatnya si Nenek, emang si Nenek punya penyakit apa sih?

“Bina, Sabrina, ke sini” panggil Bira sambil senyum tipis ke gue, gue cuma bisa meringis aja buat nanggepin senyumannya dia. Gadis berumur sekitar sepuluh tahun muncul dengan boneka Teddy Bear yang udah kuyu dan banyak tambelannya di mana-mana. “Jagain Nenek ya, kakak mau jualan dulu” titah si Bira dengan amat lembut, enak kali yak punya adik, gue kepengin banget punya adik.

Bina slash Sabrina mengangguk patuh lalu mendekap bonekanya dan berjalan terseok-seok ke tempat si Nenek yang lagi duduk-duduk cantik di belakang tubuh gue. Astaga gue baru sadar kalau adiknya Bira nggak punya tepak kaki sebelah kirinya, kelihatan banget bekas amputasi yang mungkin udah bertahun-tahun namun gue baru sadar sesadar-sadarnya pas dia jalan melewati bahu gue.

***

“Kita mau ke mana sih Bir?” tanya gue penasaran. “Mau ngambil layangan di ibu Pipit, gue kan jualan layangan di tanah kosong yang katanya bakalan di buat ruko-ruko nantinya, itung-itung tambah duit buat ongkos nganter nenek gue ke rumah sakit,” kekehnya.

Tuhan, ini pukulan se-anjir-anjirnya! Ternyata si Bira itu, mengagumkan! Gue salut se-salut-salutnya orang yang salut sama seseorang, di balik sosoknya yang mirip budak di film-film berlatar romawi kuno dia itu punya kehidupan yang berat nngalahin sinetron di televisi-televisi yang ada di negeri ini. Keluarganya miskin, dia hidup sama neneknya yang punya penyakit komplikasi jantung, ginjal dan diabetes, kakak tertuanya perempuan yang putus sekolah di jenjang menengah pertama karena ke dua orangtuanya meninggal dunia dan adiknya yang nggak punya telapak kaki karena diamputasi pas jadi korban tabrak lari yang juga mengakibatkan ke dua orangtua mereka meninggal dunia—sedikit banyak gue juga ngedengerin omongan Neneknya Bira ditambah sedikit cerita-cerita dari Bira tadi sebelum kami jalan ke tempat yang punya layangan.

Tapi lihat Bira dia super tangguh, di sekolah Bira terlihat biasa aja nggak pernah memperlihatkan wajah murung sama sekali walau kerap dipanggil ke ruang TU karena beberapa kali tersendat pembayaran uang SPP dan ujian, dia terlihat sangat tenang. Selama ini gue kurang simpati memang ke semua orang, yang gue liat dari tiap-tiap orang adalah penampilannya, bukan pribadinya, dan sekarang gue ngerasa lebih hina dan lebih cupu dari si Bira, gue nggak sanggup ngebayangin kalo nyokap bokap gue meninggal, terus gue hidup kayak si Bira, gue yakin se-yakin-yakinnya gue nggak akan sanggup.

“Lo beneran mau nemenin gue jualan layangan Fir?” suara Bira ngagetin gue banget, sampe badan gue mundur sedikit dengan agak sempoyongan.

Cepet-cepet gue anggukin kepala, masukin tangan gue ke celana panjang abu-abu dan ngatur nafas gue dengan amat perlahan, entah kenapa dada gue ngerasa sesak, mungkin karena gue ngebayangin senasib sama Bira mungkin, jadi gue melow seketika begini.

“Lo nggak dicariin sama Ibu lo nanti?” tanya Bira lagi sambil ngelanjutin jalan ke rumah pengusaha layangan yang layangannya bakalan dijualin sama si Bira. Tadi gue berhenti karena pengen beli rokok, saat gue natap muka kuyu si Bira tau-tau gue kepikiran hal yang tadi gue jelasin tentang nasib si Bira itu.

“Gue udah gede kali, mana mungkin nyokap gue nyariin, lagi pula gue udah BBM nyokap gue kok” sahut gue santai sambil menikmati hisapan demi hisapan rokok yang baru gue bakar.

“Yaudah ayok” si Bira gerakin kepalanya pertanda dia ngajak gue buat ngikutin dia.

“Nih buat lo!” pas si Bira nolehin kepalanya langsung aja gue lempar teh cup yang tadi gue beli.

“Makasih ya Fir” si Bira tersenyum ke gue sehabis nyicipin minuman yang tadi gue lemparin ke dia.

Entah mengapa senyumnya Bira sekarang ini terkesan lebih baik, keringat di dahi yang nempel ke ikal-ikal rambutnya ngebuat dia sedikit lebih menarik, dan keringat yang berada di atas bibirnya itu sedikit menggoda gue buat ngebantu ngehapusnya dengan tangan gue, tapi gue masih ogah buat ngelakuin itu, tar kalo si Bira terkejut dan kabur gimana? Gagal dong usaha gue, mana hari ini gue relain diri buat ikutin aktivitas—panas-pasanan—nya lagi, rugi di gue banget kan jatohnya.

“Belok sini” si Bira belok setelah kita ngelewatin berapa gang-gang yang kanan kirinya hampir dipenuhi jemuran warga. Begitulah Jakarta, nggak cuma hiruk-pikuk kemewahan dan gaya hidup metropolis yang ngeramein kota ini, tapi jemuran emak-emak juga banyak di mana-mana.

“Tunggu bentar ya, gue masuk dulu ngambil layangannya” kata si Bira setelah berhenti di salah satu rumah bertingkat tapi sempit yang temboknya di cat dengan warna anggur. “Jangan lama-lama lo!” perintah gue tegas. Ya iyalah, ogah banget gue nungguin si Bira di lingkungan yang asing buat gue, nanti yang ada cewek-cewek lingkungan sekitar sini pada kedip-kedip genit ke arah gue lagi, kalo muka mereka cantik ya nggak apa-apa, nah kalo muka mereka mirip celengan ayam dari tanah liat? Amit-amit kutil banci deh.

“Ayo” si Bira keluar dari dalam rumah sambil gendong satu kardus popok dan satu kardus mie instan, dengan badannya si Bira yang mungil, kecil, dekil itu udah jelas banget sekarang dia kualahan. Lo tahu kan gimana besarnya kardus popok, kalo lo belum tahu buruan deh ke minimarket deket rumah lo atau nggak ke agen, terus lo minta di tunjukin kardus popok bayi, ini kardus popok brand terkenal yang popoknya warna biru itu lho, gede banget deh, nggak proposional kalo si Bira yang bawa, nelangsa gue liatnya. Jaaah!!! Kenapa gue jadi ngomongin kardus.

“Makasih” ucap si Bira datar setelah kardus popok itu gue ambil alih. Baru sadar gue, kalo Bira itu dilahirin dengan ekspresi wajah yang minim, gitu-gitu aja ekspresinya, Bira itu setahu gue bukan orang yang dingin tapi ya gitu deh, dia cuma punya ekspresi alakadarnya.

“Lapangannya masih jauh nggak sih Bir?” tanya gue gondok, kardus yang gue bawa itu ngeribetin banget pas gue ngelangkah, udah mana panas, nggak nyaman banget deh.

“Deket warung yang tadi lo beli rokok, nah nggak jauh dari situ kan ada lapangan, emang lo nggak ngelihat tadi?” jelas si Bira sambil ngehitung jumlah benang Knur dan Gelasan yang ada di kardus mie instan yang dia bawa.

“Oh,,,” kata gue sambil angguk-anggukin kepala, karena gue nggak ngerti yang dia omongin, dan ternyata tingginya si Bira itu masih dibawah dagu gue.

***

Gue hempasin bokong seksi gue ke kaki pohon Beringin, capek juga bawa-bawa kardus berisi layangan walaupun kardus ini nggak berat tapikan gede, dan jarak yang gue tempuh sama si Bira lumayan jauh, biar pun kata si Bira jarak ini tuh deket lha orang ini tuh rutinitasnya ya jelas jarak segini dia bilang deket.

“Mana yang beli Bir?” keluh gue sambil narik-narik leher kaus PSD gue, gue kira udah ada yang nungguin mau beli layangan yang kami bawa, ternyata tanah kosong ini masih aja sepi.

“Sepuluh menitan lagi Fir biasanya mereka pada dateng, kalo lo capek lo tiduran aja di situ” kata si Bira sambil ngeluarin layangan dan benang dari kardus ke atas karpet plastik yang Bira bawa di dalam tas slempangnya.

Nggak lama suara gaduh terdengar sayup-sayup di kuping gue, pandangan gue terasa monogram, ternyata gue ketiduran abisnya angin dan sejuknya tidur-tiduran di bawah naungan pohon Beringin itu ngundang banget buat tidur.

Gue lihat punggung dan tangan si Bira lagi bergerak-gerak ngelayanin bocah dan abang-abang yang lagi pada ngantri mau beli layangan si Bira. Dan rasa salut itu berhasil kembali nyusup ke dalam hati gue, gue makin envy sama kegigihan si Bira walaupun gue ogah kalo ngejalanin nasib kayak si Bira ini.

Nggak lama lapak si Bira sepi karena yang pada beli udah pada milih dan bayar layangan yang mereka ingin dan sekarang mereka lagi pada ribet sama layangan yang mereka baru bentangin itu. Si Bira perlahan nyamperin gue lalu duduk di samping gue, rambutnya yang acak-acakan dan keringat yang memenuhi wajahnya itu ngebuat dia kelihatan fresh, apalagi kalo ini bocah udah mandi, cakepan kali ya?. Batin gue penasaran.

“Nyenyak tidurnya?” tanya si Bira sambil ngerogoh sesuatu dari dalam tasnya.

“Emang gue tidur berapa lama?” gue balik nanya abisnya gue penasaran berapa lama gue ketiduran sampai sekarang gue ngerasa badan gue kembali segar.

“Satu jam lah kalo nggak salah” jawab dia sambil minum air di botol yang diambil dari tasnya. Matanya terpejam pelan, jakunnya naik turun saat air yang dia teguk itu ngebasahin kerongkongannya, satu butir keringan turun menggoda membuat kontur muka si Bira itu jadi terkesan manis.

Suara desahan si Bira yang ngutarain kelegaannya setelah meneguk air itu terdengar amat syahdu di kuping gue, dan sekarang dia lagi senyum ke gue sambil ngeletakin botol minum di antara tubuh gue dan dia yang lagi duduk bersampingan.

“Lepas deh kacamata lo” gue merintah si Bira, tapi karena si Bira lelet gue copot sendiri aja kacamata yang bertengger di hidung peseknya itu. Bira mejamin matanya saat gue narik kacamatanya dan gue ngerasa muka dengan mata terperjamnya itu ngedamain hati gue banget saat ini.

“Gue nggak bisa ngelihat Fir, mata gue kan silinder” tegas si Bira. Nggak sedikit pun gue gubris protesannya, malah sekarang tangan gue lagi acak-acak rambutnya si Bira. Tangan gue basah karena keringetnya dan itu malah ngebuat gue jauh lebih sejuk lagi.

Si Bira sekarang ngeberaniin diri buat buka matanya, dia natap gue dengan pandangan takut, padahal gue nggak bakalan nyakitin dia sama sekali. “Diem” desis gue tegas ngebuat Bira makin kaku di depan gue. Cepat-cepat gue ambil handuk kecil dari Postman bag gue dan gue seka wajahnya yang berkeringan keseluruhan. Gue menghela nafas puas, penampilan Bira yang sekarang udah jauh lebih baik dari penampilan dekil dan super cupunya itu di sekolah. Bira sekarang terlihat jauh berantakan dalam kandungan makna yang baik, dia terlihat lebih keren dipandang dengan penampilan seperti ini, tinggal pakaiannya aja yang diganti pasti Bira terlihat jauh lebih menawan. Sialannya gue ngerasa bahagaia banget ngelihat Bira yang sekarang, jangan bilang gue tertarik!

Dag

Dig

Dug

Jantung gue berdegub dengan gegap gempita banget ketika senyum Bira tercetak di bibirnya, senyum dari penampilannya yang baru. Rasanya pengin ngalihin muka supaya gue nggak makin tenggelam dalam senyum si Bira sekarang.

“Bang layangan yang ini harganya berapa?”

Makasih banget buat orang yang udah mengakhiri momen awkward yang sedang terjadi antara gue dan Bira, untung ada yang beli layangan kalo nggak gue nggak tahu deh gimana rona wajah gue selanjutnya.

Matahari kelihatan sudah amat capek kayaknya, sinarnya udah nggak menyengat lagi seperti tadi, sekarang hanya ada sayup-sayup cicitan burung Perkutut dan sekelebatan bayangan burung Merpati yang sedang di lepaskan para pemiliknya. Desauan angin menggoda gue buat kembali rebah di bawah pohon Beringin, namun gue nggak tertarik buat kembali rebah, gue nggak mau ditinggalin si Bira soalnya, ya walaupun itu cuman perkiraan terburuk gue sih.

“Fir, sekarang jam berapa?” Bira nolehin wajahnya ke arah gue. Cepet-cepet gue lihat jam di ponsel gue. “Jam lima lewat kenapa?” tanya gue. “Pulang yuk” jawab si Bira yang masih fokus memasukan layangan dan benang ke dalam kardus.

***

“Dua puluh satu ribu, Alhamdulillah” kata si Bira dengan nada yang sarat dengan kebahagiaan.

Gue nggak habis fikir, si Bira bisa senang banget dapet komisi segitu, dan tadi sepulang sekolah dia ngebantu orang buta terus pakai segala ngasih duitnya ke itu orang lagi, padahalkan dia sendiri aja kesulitan dalam hal duit.CK.

Jajan gue aja lebih dari segitu seharinya dan gue masih selalu ngerasa kurang, apalagi buat ngasih pengemis! Tapi lihat lagi si Bira coba. Bira ngerasa uang segitu tuh udah lumayan cukup buat dia dan itu ngebuat gue sadar seberapa nyusahinnya gue ke bokap-nyokap gue.

“Beli gorengan dulu Fir” si Bira narik ujung kaus gue buat ngikutinnya ke tempat ibu-ibu jual gorengan.

“Lo mau nggak?” Bira nyodorin tempe goreng ke arah gue.

“Nanti kita makannya pakek gorengan ini doang, eh ada kecap botolan deh di rumah,” kata si Bira santai. Emang gue mau makan di rumahnya apa? Bukan cuma karena lauknya nggak mengundang selera makan gue tapi karena gorengan yang dia beli itu sedikit, pas-pasan deh, kalo gue ikutan makan ya makin nambah dikit pastinya, gue nggak mau nyusahin orang yang udah susah ah.

“Gue langsung balik aja, nyokap udah nyuruh gue pulang” jawab gue sambil ngeganyang tempe goreng yang Bira sodorin tadi. Bira cuma manggut-manggut menanggapi jawaban gue, bibirnya berkilat karena minyak dari gorengan yang dia kunyah, dan itu membuat bibirnya kelihatan menarik.

“Lo beneran nggak mau ikut kita makan?” tanya si Bira. Gue menggeleng yakin, lalu gue pamitan ke seluruh anggota keluarga si Bira.

“Fir, makasih ya udah mau bantu dan nemenin gue jualan layangan” sontak gue menoleh ke arah Bira, karena si Bira ngucapin terimakasihnya pas gue udah ngelangkah pergi dari pintu rumahnya. Sesuatu yang asing gue lihat dari Bira, matanya sendu banget natap gue seolah-olah gue itu pahlawan yang udah nyelamatin dia dari maut, dan tatapan itu berhasil buat hati gue ngilu kembali.

Gue cuma bisa balas senyum dan ngacungin ibu jari gue. Gimanapun caranya gue harus buat Bira terlihat keren dan nggak lagi jadi bahan hinaan anak-anak sekolah gue, karena gue nggak mau punya pacar yang jadi bahan olok-olokan sekelas. Ya, Bira itu calon pacar gue selama empat bulan dan gue harap bisa nahlukin hati si Bira ini kurang dari tiga minggu—deadline yang Romeo kasih ke gue.

***

“Buat apaan ini semua?” tanya si Bira kikuk.

Gue ngasihin beberapa seragam sekolah gue yang jauh lebih layak pakai daripada pakaiannya, memang bukan seragam baru dari toko sih, tapi seragam sekolah gue ini jauh lebih enak dipandang daripada miliknya Bira kok, gue bukan anak konglongmerat jadi riskan kalo gue minta uang dari bonyok dengan alasan mau beliin seragam sekolah buat teman cowok gue, lo pikir sendiri aja gimana nyokap gue respon permintaan gue kalau gue sampai bilang gitu.

“Dan lo pakai kacamata ini” kata gue sambil ngasih kacamata baru ke si Bira. Beberapa hari lalu gue nanya ke Bira mata silindernya itu seberapa parah dan Bira ngasih tahu dengan polosnya, untungnya uang tabungan gue cukup buat beli kacamata baru buat Bira yang modelnya nggak jadul kayak kacamata yang masih bertengger di hidung peseknya itu.

“Nggak mau ah, gue nggak punya uang buat gantinya, dan kalau lo ngasih ini cuma-cuma gue tetep nggak mau ah, ngerepotin lo banget tauk” ucapnya kikuk sambil terus menggelengkan kepala tanda menolak pemberian gue.

“Heh!!! Lo jadi orang itu bersyukur sedikit napa, gue udah beliin dan lo harus terima! Lo kira ini kacamata bisa gue balikin ke optik apa!” sahut gue jengkel, gimana nggak jengkel gue udah habisin sebagian tabungan gue buat beli itu kacamata dan sekarang si Bira dengan enaknya menolak pemberian gue, dia kira kacamata ini bisa balik jadi duit gue lagi kalau dia nggak mau nerima pemberian gue itu.

“Tapikan—“

“Pakek! Nggak usah dibuat ribet deh!” ucap gue sambil nyulut rokok yang udah nyelip di antara bongkahan bibir seksi gue.

Gue itu bukan tipe orang yang sabar, jadi gue lepas paksa kacamata jadul yang nempel di wajahnya Bira lalu gue ganti dengan kacamata yang gue beliin. “Gue cuman mau nyaranin lo doang nih, besok pas masuk sekolah rambut lo agak dibuat acak-acakan aja, jangan di sisir rapih banget, lo emang betah apa jadi bahan olokan anak-anak” saran gue dengan nada agak ketus sisa-sisa aura kesel gue tadi.

Bira cuma mengangguk patuh, bagus.

“Jangan bungkuk kalo lagi jalan!” Bira mengangguk lagi. Tsakep.

***

“Firza!”

“Lo udah lihat penampilan si keset ruang BP belum?” Romeo dengan nafas tersengal-sengal nyamperin gue yang lagi asik dengan bola basket yang lagi gue dribble.

“Kenapa emang?” tanya gue pura-pura bego. Lalu si Romeo cerita panjang kali lebar, kali tinggi, kali banyaknya banjir di Jakarta! “Masa?” tanya gue pura-pura antusias. Siapa dulu, Firza! Gue nggak akan ngebiarin calon pacar gue dijulukin dekil, karena memang sekarang Bira sudah sesuai dengan keinginan gue, dia nggak lagi dekil setelah pakai kacamata dengan Frame rmodel baru, baju-baju dari gue, serta potongan rambut baru—kemarin gue sempatkan diri buat ajak Bira ke Barbershop yang ngebuat dia lebih terlihat segar. Masa orang seganteng dan semaho eh semacho gue ini pacaran sama manusia yang nggak sedap dipandang sih! Big to the no bingit!

“Kalau tau si Bira bakalan berubah jadi cowok yang lumayan sekeren sekarang ini sih gue ogah deh nyuruh lo macarin dia,” keluh Romeo yang lagi-lagi kena apes. Apes, karena gue bakalan menang lagi dalam taruhan kali ini.

“Siapin diri jadi hambasahaya gue yeh Meo” ejek gue sambil shooting bola basket ke ring dari garis jarak three point . masuk! Exellent.

“Taik kucing lah” jawab si Romeo apes ini sambil nyikut perut sixpack gue.

Gue cuma bisa ketawa ngakak sambil ngerangkul si Romeo babik tersayang gue ini ke arah kantin, ngebahas banyak hal sambil sekali-kali nakut-nakutin Romeo yang akan segera jadi hambasahaya gue.

***

“Kalau jalan itu yang tegap Bir, cuman itu doang yang kurang dari lo sekarang!” saran gue sambil bantu Bira mengeluarkan layangan dari dalam kardus popok bayi. Bira mengangguk dengan bibir yang ditekuk menjadi sebuah senyuman, gue suka banget sama dia, tiap gue kasih saran pasti dia senyum nggak pernah bantah sedikit pun dan selalu dia lakuin sesuai saran gue, gue ngerasa dihargain dan dianggap banget sama dia. Walaupun sampai sekarang berjalan tegap masih sulit Bira terapkan.

Nggak lama para pemain layangan mulai dari bocah ingusan sampai abang-abang kurang kerjaan datang siap menyerbu dagangan kami, sudah beberapa kali gue bantu Bira buat jualan layangan dan sekarang gue harus total ngebantu dia, entah kenapa gue sekarang semakin terbiasa dengan rutinitasnya Bira, terbiasa di dekat dia terbiasa ngasih lelucon yang pasti disambut tawa renyahnya, semua yang gue lakuin ke Bira pasti dia sambut dengan ketulusan, setidaknya—ketulusan—itu bisa gue lihat walau masih perkiraan gue aja.

Gue comot beberapa layangan lalu gue goyang-goyangin di tangan gue, setelah ngerasa nemu layangan yang baik kalau dibentangin, langsung aja gue bolongin di dekat tulang layangan tersebut pakai rokok gue, dengan gesit gue buat tali kama di layangan tersebut lalu gue ambil benang gelasan yang paling mahal tipe tarikan karena gue lebih jago dalam hal adu layangan kalau pakai gelasan tipe tarikan bukan yang tipe uluran.

“Main layangan yuk, gue mau tahu lo sama gue jagoan mana, secara lo kan tukang layangannya nih” tantang gue penuh semangat, bosen juga sih kalau cuma duduk nunggu yang beli, mending main layangan sambil nunggu yang beli, yakan? Ngehibur diri itu mudah, banyak cara disela-sela aktivitas cuma perlu jeli sama peluang-peluang yang bisa ngebuat diri kita ngerasa kehibur, se-enggaknya itu yang selalu gue lakuin.

“Gue nggak bisa main layangan Fir” kekeh Bira tanpa rasa malu sedikit pun, ngebuat wajahnya terlihat menggemaskan.

“JAH!!! Baru gue nemuin tukang layangan yang nggak bisa bentangin layangan, ck, ck, ck” ejek gue sambil ikut terkekeh.

“Gue juga baru nemuin cowok super baik kayak lo”

JEDERRR!!!

Gue ngerasa dewa Eros sekarang berhasil bidik anak panahnya tepat di hati gue melalui tatapan Bira sekarang ini. Wajahnya Bira yang polos-polos imut itu nampilin sebuah senyum sederhana yang terlihat amat tulus, tatapan sendu di arahkan ke gue. Matanya menyipit sedikit memperjelas ketulusan ucapannya barusan, dan itu semua berhasil membuat ulu hati gue ngilu seketika. Rasanya pengin banget gue bingkai momen ini, saat langit twillight memesona para pemilik cinta, saat bayangan burung Merpati menjadi siluet yang mengukir momen langka, dan di saat cicitan burung-burung menjadi lagu yang membawa sebuah hati ke muara.

Gue nggak mau munafik atau denial-denialan kayak cowok-cowok lebay kebanyakan, gue biseksual dan cowok di hadapan gue ini amat menarik, dengan amat ikhlas gue akan mau jadi pacarnya jika cowok di hadapan gue minta gue buat jadi pacarnya sekarang juga, tiap rasa memang tercipta saat kita mengalami sebuah momen yang berkesan, dan Bira selalu membuat gue ngerasain momen-momen yang penuh kesan saat kami berdua seperti sekarang ini, dan jika ini cinta maka dengan amat berani gue akan mengakuinya, persetan dengan awalan dari semua ini.

Terkadang apa yang gue omongin tentang orang yang hanya gue lihat dari fisiknya itu adalah fitna keji belaka yang nggak pernah gue sadari.

Nggak banget, mana ada orang yang mau jadi pacar dia, monyet juga ogah kali di deketin sama dia. Kata-kata ini muncul kembali setelah sekian lama diucapkan oleh hati gue, yang gue rasain sekarang adalah penyesalan, bukan penyesalan kerena gue bisa jatuh hati sama Bira, tapi karena gue sempet dengan amat keji ngerendahin dia bahkan sebelum gue kenal pribadinya sedikit pun. Dan silahkan kalau kalian mau ngehina gue lebih rendah dari para monyet, gue nggak perduli, kebahagiaan itu nggak perlu gengsi, walau harus jilat ludah sendiri, daripada lo kubur sampai busuk, dan saat udah busuk lo nangis-nangis mengharapkannya.

Bira memang nggak tampan kayak kebanyakan mantan gue, dia juga nggak bertingkah kayak cowok-cowok seumuran kami, dia juga nggak seluar biasa para cowok yang lagi nyari jati diri dan sangat berapi-api dalam memenuhi ego hati, Bira bukan cowok biasa, dia jauh luar biasa dari cowok kebanyakan, apalagi gue, bahkan gue lebih kecil dibandingkan dengan ujung kukunya Bira. Bira itu ibarat Titanium dan gue Titanium imitasi made in China.

Hidupnya penuh beban, tapi dia ngejalaninnya dengan penuh ketulusan, Bira menginspirasikan banyak hal, cara dia bersikap, cara dia menyelesaikan masalah dan cara dia nikmatin hidupnya yang jauh dari kata bahagia.

Gue bahagia kok, setiap gue bersyukur sama nikmat yang tuhan kasih gue selalu ngerasain kebahagiaan itu, karena menurut gue, bahagia itu gue rasakan ketika gue mendapatkan banyak hal dari buah kesabaran yang gue tanam. Gue selalu ingat kata-kata Bira yang satu itu, ketika dia ngajak gue beli air es di warteg. Banyangkan! Dia dengan wajah penuh bahagia menenggak air es tanpa rasa setelah capek-capek-an ngejual layangan bareng gue, wajahnya damai banget saat nengguk air es itu, sedangkan gue, sedikit pun gue nggak ngerasa ada yang spesial dari air es tersebut. Bira memang sederhana dan gue jatuh cinta dengan sosoknya yang sederhana.

“Gimana kalau gue bantu megangin layangan dan lo yang nerbangin layangnya, nanti kalo layangannya terbang lo pinjemin ke gue ya, hehehe”

Gue mengangguk setuju, gue bantu Bira berdiri lalu ngebiarin dia ngebawa layangan yang tali kamanya udah gue ikat ke gulungan benang yang gue pegang. “Jarak segini cukup?” teriak Bira dari jarak sekitar delapan meter. “Mundur lima meter lagi Bir, biar langsung terbang!” sahut gue nggak kalah keras.

Bira mengangkat layangannya tinggi-tinggi.

“Satu”

“Dua”

“TIGA” teriak gue bersamaan dengan Bira yang ngelepas layangan dan gue yang narik layangan tersebut dengan bersemangat. Beberapa hentakan dan tarikan gue saat layangan terasa tersapu angin mempu membuat layangan ini terbang dengan sekali percobaan. Bira berlari cepat ke arah gue, wajahnya sumringah seperti bunga matahari yang mekar.

“Nggak nyangka lo hebat juga ya dalam urusan nerbangin layangan” katanya takjub di sebelah gue.

“Gue kan asisten tukang layangan jadi harus handal dalam urusan beginian” jawab gue bangga. Bira tekekeh ngedengar jawaban gue. “Lo mau mainin? Nih!” gue langsung tarik tangan si Bira dan sekarang dia sama tegangnya dengan benang layangan yang terangkat ke udara.

“Kalau layanganya nungkik, lo cukup ulur benangnya sampai layangan itu stabil dan lo boleh tarik lagi layangannya biar kembali ke posisi semula, dan kalau lo pengin layangan itu terbang lebih jauh dan lebih tinggi lo cukup ulur dan tarik, mengulur dan menarik benangnya berbanding empat persatu” kata gue lembut sedikit menunduk supaya bibir gue tepat di sisi telinga kanan Bira. Bira mengangguk khitmat, mengerti semua yang gue intruksikan.

Dada gue berdebar seperti layangan yang tertiup angin kencang di udara, ini bukan persoalan harum tubuhnya Bira, seberapa bagus baju yang dia pakai, seberapa menarik wajahnya tiap gue pandang, ini tentang rasa yang tiap hari semakin menguat, tertabung dengan amat baik dalam bendungan hati gue yang lama kosong tidak terisi, selama ini gue selalu main-main sama pacar gue, yang gue cari adalah puncak nikmat saat gue berada di atas tubuh mereka, menggauli mereka dan dipuja mati-matian.

Sekarang, sosok sederhana yang nggak pernah gue bayangin akan menjadi labuhan hati gue yang baru malah mampu membuat gue mencandu, merindu tiap kala gulita menyelimuti hari, lalu kembali bersemangat saar fajar menyongsong dengan ekspresi malu-malu dan berbahagia dikala senja pecah berganti temaram.

Langit berubah oranye, warna merah bercampur hitam berpadu lembut dengan warna ungu yang khas, memperjelas segala hal yang terjadi di luar dan di dalam hati gue. Kalau langit dan cahaya akan menjadi temaram sebentar lagi maka hati gue akan tambah bersinar kuat selama menyaksikan Bira bahagia dengan layangan yang sekarang udah berhasil dia kendalikan.

Tawanya yang renyah dan komentar-komentar antusias dari Bira mampu menghanyutkan gue ke dalam nirwana senja yang sedang gue ciptakan sendiri.

Orang yang nggak pernah lo sangka-sangka bakalan mampu nahlukin hati lo terkadang malah mampu membuat lo bertekuk lutut, hanya sebuah kenyamanan yang nggak pernah sama sekali lo banyangin saat bersamanya. Seperti gue sekarang ini.

Daun Ketapang jatuh tepat di kaki gue, entah gimana gue sekarang mengibaratkan daun Ketapang itu hati gue, bakalan layu, kering lalu mati dan terlepas kalau nggak cepat-cepat nyatain perasaan gue ke Bira, ini semua nggak ada hubungannya dengan deadline taruhan gue sama Romeo, ini semua karena gue memang udah benar-benar nggak tahan untuk mengutarakan isi hati gue yang sebenarnya, persetan sama deadline taruhan gue yang tinggal tersisa beberapa hari lagi, ini murni karena gue yang memang benar-benar telah jatuh hati.

“Bira” panggil gue serak. Sesekali Bira melihat gue dengan wajah yang dihiasi senyum khasnya. “Apa?” tanyanya sambil terus fokus ke layangan yang terbentang di udara. Gue geser tubuh gue kebelakang tubuhnya, berharap degub jantung gue yang gaduh ini nggak sampai dirasakan oleh Bira. Sesaat gue menatap layangan sambil mantapin hati buat nyatain perasaan gue ke Bira.

Gue hela nafas gue sampai Bira bergidik spontan, “Gue cinta sama lo Bir, jantung gue selalu berdegub penuh semangat saat senyum lo itu tertuju untuk gue, dan hari-hari gue terasa penuh saat gue habisin waktu bareng lo” cahaya dari mata Bira menghilang seketika, layangan Bira putus dibabat pemain lain dan sekarang Bira total natap gue dengan ekspresi piasnya itu, ngebuat hati gue takut bernasib sama dengan layangan Bira yang putus tadi.

Bira membalik badan sampai badan kami berhadapan, ekspresinya masih sama, pias nggak sedikit pun gue mampu membaca apa yang akan dia akan katakan sebagai jawaban dari pernyataan gue barusan.

Gue pandangan matanya dalam-dalam, jakun gue bergerak seiring kerongkongan gue yang minta dibasahin. “Gue cinta sama lo” tegas gue kembali dengan suara yang jauh lebih serak. Fakta menakutkan menghentak hati gue yang sedang menunggu jawaban Bira, gue terlalu ceroboh mengungkapkan isi hati gue, gimana kalau Bira straight? Gimana kalau Bira jijik sama gue, selama ini gue hanyut sama perasaan gue sendiri, sampai-sampai gue lupa mastiin apakah Bira straight atau nggak.

Bira tersenyum lalu mengangguk, gue ngerasa dapat miracel di ujung kematian. “Apa?” tanya gue bodoh. Bira kembali mengangguk, senyumnya sangat amat memesona kali ini, giginya yang rapih berbaris memukau tepat di depan dada gue.

“Gue juga cinta sama lo” kata Bira ngebuat jantung gue berdegub liar merayakan cinta gue yang nggak bertepuk sebelah tangan.

Gue terkekeh bahagia, karena cuma itu yang sekarang gue bisa lakuin, nggak mungkin gue peluk Bira di pinggir lapangan sekarang, bisa-bisa gue sama Bira digebukin warga.

***

“Sialan! Bahkan lo udah menangin taruhan buat macarin si Bira sebelum deadline-nya kelar, dasar maho bajingan!” cerca Romeo di samping gue, tadi Romeo nanya perkembangan hubungan gue, ya gue jawab dengan jujur kalau gue udah jadian sama Bira.

“Tapi lo harus tahan pacaran sama si Bira selama empat bulan, inget lo harus nyodomi dia dan lain-lainnya” ucap Romeo tidak bisa menahan geli.

“Gue emang udah yakin si Bira bakalan lo dapetin, tapi niat awalnya gue pengin lo pacaran sama cowok dekil, bukan sama cowok polos yang image dekilnya sekarang hilang!” Romeo berkicau merdu di sisi gue.

“Setelah empat bulan kia bakalan mulai taruhan lagi, dan nanti gue akan jadi pemenangnya.!” tegas Romeo dengki.

“Dan kalian sekarang sudah berhasil, seharusnya ada cola di antara kalian, atau bahkan bir. Permainan kalian itu sangat keren banget ya? Semoga kalian ngerasain jadi korban taruhan yang udah terlanjur jatuh hati” suara Bira terdengar lirih di belakang gue.

“Bira!!!” sontak gue menoleh ke arah belakang. Bira berdiri dua meter di belakang gue, air mukanya sangat datar, tangannya terkepal seperti hatinya yang mungkin mengeras menahan rasa sakit dari ucapan Romeo tadi, walau gue tahu apa yang Bira dengar itu salah paham, gue cinta sama Bira itu sungguhan bukan karena gue lagi ngejalanin taruhan dari Romeo.

Gue bisa ngerasain sakit hatinya Bira di balik air mukanya yang setenang air danau. “Demi tuhan ini salah paham!” tegas gue sambil medekat. Romeo berdiri kikuk di belakang gue, Bira melangkah mundur ke belakang.

“Lo harus dengerin semua penjelasan gue dulu, dan sehabis itu terserah lo mau lakuin apapun ke gue, tapi lo harus dengerin gue dulu” pinta gue panik kepada Bira.

“Lo mau pertahanin gue selama empat bulan kah? Dan lo bisa tinggalin gue dengan kondisi hati gue yang udah mencandu lo gitu? Kalau lo maunya kayak gitu, nggak apa-apa, demi kemenangan taruhan lo bersama Romeo gue ikhlas, hitung-hitung balas budi karena lo udah berbaik hati ngebeliin kacamata, dan setelah empat bulan nanti lo bisa ambil semua yang lo hadiahin ke gue! Bukannya begitu isi perjanjian taruhan kalian?”

Bira benar-benar salah paham! “Demi tuhan Bir!!! Gue cinta sama lo, taruhan ini cuman awalan, dan gue berterimakasih sama taruhan ini karena taruhan ini ngebuat gue jatuh cinta sama orang seluar biasa lo” ucap gue sungguh-sungguh.

“Seharusnya gue sadar diri, cowok cupu, dekil, miskin kayak gue nggak mungkin disukain cowok super cakep yang populer kayak lo, itu mustahil. Seharusnya gue sadar saat pertama kali lo ngedeketin gue, lo pasti punya maksud terselubung, seharusnya gue sadar!!!” kata Bira lirih mengutuk diri.

“Demi tuhan gue beneran cinta sama lo” tegas gue sekali lagi sambil memegang tangannya, tapi Bira narik kasar tangannya dari genggaman gue, Bira ngelepas kacamatanya lalu dimasukan ke dalam saku baju gue. Hati gue terasa tenggelam bersama kacamata yang tertelan saku baju seragam gue.

“Tapi gue nggak biasa nemenin lo sampai batas akhir taruhan kalian Fir, ini hari terakhir gue sekolah, maafin gue kalo gue ngebuat lo kalah dalam taruhan lo kali ini” Bira tersenyum sambil mengerjapkan matanya yang buram karena nggak pakek kacamata, senyumnya kali ini berhasil ngebuat gue ngerasa pilu yang teramat sangat, senyum yang sangat rapuh dari Bira, saat Bira diam dan nggak berekspresi apapun semua hal terasa kelabu, dan saat Bira tersenyum semua hal bahagia di bumi ini gue anggap pilu, gue bisa lihat tangisan hatinya dari senyum yang dia sungging sekarang.

“Terimakasih buat tiga minggu yang berharga ini” kata Bira sambil melangkah pergi, Bira memang nggak langsung lari saat dia mendengar Romeo yang membahas taruhan, Bira memang nggak mencaci maki gue tadi, dan itu semua ngebuat gue mati kata, bahkan rasanya sangat nggak mampu buat ngejar Bira yang hanya melangkah jenjang saat ninggalin gue dari taman belakang sekolah. Nggak sedikit pun Bira menoleh sampai tubuhnya tertelan koridor sekolah.

“Jangan bilang kalau lo emang beneran suka sama Bira?” tanya Romeo takut-takut.

“Jauh lebih besar dari yang lo lihat sekarang!” kata gue masygul sambil duduk di tempat gue semula.

“Maafin gue Fir, ini semua gara-gara gue” kata Romeo takut-takut. Gue cuma bisa tersenyum ke arah Romeo.

“Lo harus kejar Bira, dia bilang ini hari terakhirnya sekolah Fir, lo harus kejar dia,”saran Romeo dengan penuh keyakinan.

Gue hanya menggeleng, kerena gue nggak tahu lagi harus berbuat apa, terkadang seseorang yang nggak ngerasain apa yang gue rasain itu bisa seenaknya bilang gue bodoh karena nggak ngelakuin yang mereka pikir seharusnya gue lakuin, mereka nggak ngerasain sih apa yang gue rasain.

***

“Sabira Ardana? Hmm,,, dia memang bilang nggak lagi sanggup bayar uang SPP dan dia bilang mau berhenti sekolah, kenapa?” jelas petugas TU. “Eh, nggak apa-apa pak, makasih ya.” Jawab gue cepat sambil menggeleng gugup. Cepat-cepat gue lari keluar sekolah berhubung ini sudah jam pulang sekolah, nggak gue perduliin suara stero Romeo yang manggil gue di area parkir. Cabs grak, cuman kata-kata itu yang ada di dalam kepala gue, gue harus menjelaskan semuanya sama Bira, dan keputusan berhenti sekolahnya Bira ini pasti karena ada alasan yang kuat.

Gue turun dari motor gue yang baru aja selesai diservis pasca tabrakan saat dipinjam Paman gue. Entah sekarang ketukan keberapa yang gue lakuin di pintu rumahnya Bira, sepertinya nggak ada satu pun orang di dalam. “Orang rumahnya ke rumah sakit, neneknya dirawat sejak tadi malam” cukup, keterangan dari tetangganya Bira membuat banyak pertanyaan di dalam kepala gue terjawab.

Gue lari-lari kecil saat masuk ruang UGD, menurut gue neneknya Bira pasti masih ada di ruang UDG, realistisnya, orang yang dilarikan ke rumah sakit itu nggak gampang dapat kamar rawat, harus banyak persyaratan ina-inu-itu agar dapat kamar rawat. Gue bukan ngeremehin keluarganya Bira tapi gue yakin Bira dan keluarganya kesulitan memenuhi persyaratan untuk cepat mendapatkan kamar rawat buat neneknya. CMIIW.

Gue lihat Bira dan kakaknya lagi ngobrol bersama sepasang suami-istri di dekat pintu toilet, gue berhenti sejenak menunggu mereka menyelesaikan pembicaraan mereka. “Besok kita lakuin operasinya ya Dek, kami berhutang banyak sama kamu” kata si istri sambil menepuk-nepuk pundak Bira, ada raut khawatir dari wajah polos Bira, entah apa yang mereka perbincangkan.

“Bira,” panggil gue gugup. Bira menatap gue kaget, tapi cepat-cepat ekspresinya diganti dengan ekspresi tenang setenang air kolam renang rumah Romeo. Bira membisikan sesuatu ke telinga kakaknya lalu kakaknya masuk ke dalam ruang rawat UGD.

Bira melangkah melewati bahu gue, cepat-cepat gue menguntit Bira dengan hati yang harap-harap cemas. Bira berhenti di parkiran rumah sakit, tepat di bawah pohon Ketapang, dia duduk dan menatap gue yang masih berdiri kikuk di hadapannya.

“Demi tuhan, gue cinta sama lo tanpa kepura-puraan, tanpa skenario” Bira menunduk seketika. Gue mendekat dan jongkok di depannya, menggapai dagunya lalu menegagkan kepalanya. “Lo boleh nggak percaya, tapi, lihat ke dalam mata gue, lo akan dapatkan semua jawaban dari hati lo yang meragu saat ini” kata gue masygul, dada gue berdebar kencang saat mata kami bertabrakan, bahkan gue nggak bisa mikir apa-apa lagi, yang pengin gue lakuin adalah meluk pacar gue ini erat-erat.

Tangan Bira bergetar, “Gue, gue cuman tarlalu takut tersakiti,” ucap Bira lirih sambil menundukan kepalanya lagi.

“Jangan pernah takut, kebahagiaan boleh nggak berpihak sama lo, rasa terpuruk boleh terus menggelayuti lo, tapi lo harus ingat, kakak, adik, dan nenek lo terus berjuang buat berdiri teguh di atas segala cobaan ini. Lo nggak sendiri, kapanpun lo ngerasa dunia lo monogram, gue akan berusaha membuat dunia lo berwarna, kapanpun lo merasa hampir lumpuh sama semua cobaan yang tuhan kasih, gue akan selalu siap menopang lo. Karena gue cinta sama lo!” aku tegaskan dengan penuh ketulusan tepat di hadapan wajah Bira.

Bira memeluk gue, jantungnya berdetak lirih, namun gue berusaha sebisa gue untuk membuat Bira ngerasa nggak sendirian, membuat dia percaya diri dengan segala kenelangsaan yang dia rasakan sekarang, karena gue nggak akan ngebiarin pacar gue tersakiti oleh apapun.

Ketika pelukan kami terlepas, gue seka air mata di pangkal matanya dengan ujung ibujari gue, lalu air mata yang menggelayut indah di dagu Bira dengan punggung tangan gue, sebisa mungkin gue senyum untuk membuat Bira yakin bahwa gue akan selalu ada buat dia, kapanpun, apapun yang akan terjadi nantinya.

Daun ketapan jatuh menyapu lembut pundak Bira, “Pohon ketapan ini aja kuat, dia hidup sendirian, nggak perduli ribuan orang ngerusaknya, kenapa lo harus takut sama semua yang terjadi sekarang, lo punya gue, lo punya kakak, adik dan nenek lo, lo nggak sendiri, lo harus kuat, harus berani karena lo anak laki-laki satu-satunya yang mereka punya” Bira mengangguk mantap, tatapan matanya menguat menandakan ucapan gue sudah tersugestikan.

“Makasih Za” kata Bira sedikit terisak.

“Za? Gue anggap itu panggilan sayang” kata gue ceria, Bira cuma tersenyum.

***

“Kak Firza, makasih ya udah traktir Bina makan nasi Padang, udah lama Bina nggak makan makanan enak, besok traktir lagi ya” cicit Bina semangat di punggung gue saat kita melangkah kembali ke ruang UGD.

“Bina!” Bira memperingati adiknya.

“Nggak apa-apa Bir, namanya juga anak-anak” Bira hendak protes namun gue mengisyaratkan agar Bira tidak memperpanjang masalah sepele ini, Bira memang tidak terlalu suka jika adiknya bertingkah seperti itu.

“Kakak pulang dulu ya, daritadi hape kakak getar mulu nih, pasti Mamahnya kakak lagi neleponin kakak nih” kata gue sambil menurunkan Bina dari punggung gue di depan pintu masuk UGD dan memberikan satu bungkus nasi Padang yang sengaja gue belikan buat kakaknya Bira juga.

“Salamin ke nenek dan kakak ya, kak Firza buru-buru” kata gue sambil mencium pipi gadis kecil yang selalu ngebuat gue gemas.

“Kak Firza, hati-hati ya” sahut Bina sangat riang, anak itu membuat gue semakin semangat buat ikut memikul beban yang Bira pikul sekarang. “Za, makasih ya, maafin gue juga soal tadi pagi di sekolah” sejak—di bawah pohon ketapang—tadi Bira manggil gue dengan panggilan Za bukan Fir lagi dan gue semakin suka dengan panggilan baru gue itu, cepat-cepat gue tarik Bira sedikit menjauh dari Bina. “Lo beneran nggak akan lanjutin sekolah lo?” tanya gue penasaran. Bira mengangguk memperjelas semua jawabannya. “Sekolah bisa di lanjutin tahun depankan Za, sekarang gue harus fokus sama keluarga gue, lo ngertikan?” gue mengangguk mantap, membelai lembut pundak Bira yang kecil. “Hati-hati” bisik Bira, suaranya menggelitik hati gue, sarat akan cinta, kalau aja ini bukan tempat umum gue akan cium bibirnya yang menggoda itu. Menyebalkan menjadi minoritas!

“Jangan lupa istirahat ya sayang” bisik gue pelan. Lalu melambaikan tangan ke arah Bina dan melangkah pergi.

***

“Bina, apakabar?” tanya gue sambil mencium pipi Sabrina, anak ini tumben banget raut wajahnya murung, biasanya selalu ceria.

“Kenapa?” tanya gue sambil duduk di bangku sebelah Bina, gue memutar pandang mencari keberadaan pacar gue yang belum juga kelihatan batang hidung peseknya.

“Kak Bira sekarang dioprasi” kata Bina lesu.

Spontan gue langsung memegang ke dua pundak Bina dan menggesernya hingga wajah gue dan gadis ini berhadapan, “Emang Bira kenapa?” tanya gue nggak sabaran.

“Firza?” panggil Safira kakak perempuan Bira dengan nada parau.

“Kak, bener Bira dioprasi? Kenapa?” tanya gue cepat, rasa panik berhasil nyusup ke dalam hati gue. Membuat segala hal di sekitar gue jadi kurang penting untuk di jelaskan.

Safira diam, jemarinya digerak-gerakin seolah-olah dapat mengusir rasa gundah yang mungkin dia rasakan sekarang. “Kenapa?” tanya gue dengan nada agak tinggi pertanda gue menuntut jawaban.

“Bira jual ginjalnya—“ hati gue serasa mencelos, jatuh ke lantai rumah sakit dan ditelan lantai kramik. Entah darimana udara dingin berhembus, namun yang gue rasain sekarang adalah tubuh gue yang menggigil kecil dan bulu kuduk gue yang meremang bersamaan.

“Demi kesembuhan nenek, dan beli kaki palsu buat Sabrina, dan—“ gue nggak bisa dengar penjelasan Safira lebih jauh lagi. Bodoh! Bira Bodoh! Bego! Tolol! Dongo! Apa dia nggak pakai otaknya? Ngejual ginjalnya, itu sama aja bunuh diri secara perlahan. Gue nggak habis fikir kenapa Bira sampai begini, buat gue dia sudah berkorban terlalu jauh, melampaui kuasanya, harusnya dia nggak ngelakuin apa yang memang seharusnya nggak dia lakuin, hatinya terlalu baik sehingga ngebuat pemikirannya kurang rasional.

Waktu terus bergulir, neneknya Bira sudah satu jam yang lalu dipindahkan ke ruang rawat VIP dengan dua tempat tidur, karena dalam masa penyembuhan Bira akan berbaring di satu ruangan bersama neneknya, semuanya dibiayai oleh keluarga pembeli ginjal Bira.

Suami-istri yang gue lihat tiga hari lalu lagi ngobrol bersama Bira dan Safira muncul bersama anak gadisnya yang berwajah judes, gue pengin ngamuk melihat keluarga penerima ginjal Bira dengan senyum sumringah datang mengucapkan terimakasih kepada Safira dan keluarganya, mereka nggak sama sekali memikirkan gimana Bira nantinya yang hidup dengan satu ginjal saja, mereka nggak sama sekali perduli, mereka nggak memperlihatkan wajah cemasnya sama sekali, mereka nggak ngerasain apa yang gue rasain sekarang, gimana takutnya kehilangan! Mereka bangsat!

Operasi memang sudah selesai dilakukan dua jam lalu, namun gue dan Safira masih menunggu waktu untuk diperbolehkan menemui Bira paskah operasi. Gue nggak perduli lagi sama penampilan gue yang pastinya terlihat berantakan.

Entah udah berapa jam gue duduk, berdiri, mondar-mandir, dan mengumpat. Hati gue serasa sedang terkena demam, nggak bisa merasakan ketenangan sama sekali. Gue putusin buat pergi ke toilet, membasuh muka mungkin membuat gue jauh lebih tenang.

Saat gue baru aja keluar dari tolilet cowok Bina berlari-lari pincang ke arah gue, tubuhnya sudah disangga dengan tongkat “Kak, kak Bira udah di dalam kamar rawat tuh, dia juga udah sadar, pas Bina ngasih tahu ke kak Bira kalau kak Firza daritadi nungguin kak Bira eh kak Bira nya langsung minta ketemu sama kakak, ayo kak cepet” Bina menarik-narik ujung Flanel gue dengan penuh semangat, cepat-cepat gue mengekor Bina.

Rasa kesal mulai muncul, hati gue bergejolak, amarah mulai membara dalam diri gue, kekhawatiran adalah sumber utamanya, tiap langkah gue menuju kamar rawat Bira serasa membuat amarah dalam diri gue semakin berkobar.

Bina membuka pintu kamar rawat dengan sekali hentak, Bira mengalihkan pandangannya ke arah gue, tatapan sayunya langsung menerpa gue sampai ke ulu hati, bibirnya ditekuk sedikit demi sedikit hingga tercipta sebuah senyum masygul yang menyejukan, membuat amarah gue tiba-tiba menyurut seketika, sesederhana senyum dan tatapan matanya yang dia tujukan ke gue. Kaki gue serasa keram untuk mendekat ke arah Bira, banyak hal yang ingin gue ungkapin ke Bira, tentang rasa kecewa gue, amarah gue karena Bira bertindak terlampau dongo, dan rasa takut kehilangan yang membesar, tapi nggak ada satu patah kata pun yang berhasil bibir gue ucap.

“Kak, aku mau bicara sama Firza sebentar, boleh tinggalin kita?” Bira meminta ke Safira sambil melirik neneknya yang sedang tertidur pulas. Safira mengangguk, menarik Sabrina untuk keluar dari kamar rawat ini.

Gue melangkah sampai tepat berdiri di sebelah ranjang Bira, menatap Bira dengan pandangan datar, gue angkat tangan gue dan gue lipat di tengah dada. Bira membuka mulutnya. “Ternyata! Gue nggak pernah nyangka lo serendah ini! Ngejual organ tubuh cuma demi uang!” kata gue tegas dengan nada pelan.

“APA?” tanya gue sinis ketika Bira menatap gue dengan pandangan yang nggak bisa gue artikan, gue benci ekspresi Bira yang minim.

“Lo bego atau gila sih? Lo tau kan resiko orang yang hidup dengan satu ginjal! Lo bisa mati!” gue menekan kata terakhir, seperti jeritan hati gue yang nggak mau kehilangan Bira, nggak sanggup.

Bira tersenyum masygul. Membuat gue berpikir bahwa cinta gue yang terlanjur dia miliki bisa kapan saja berhenti karena terenggut maut, gue nggak ngedoain Bira cepat mati, tapi rasa khawatir ini membuat gue selalu berpikir kemungkinan terburuk yang akan Bira hadapi kedepannya.

“Tapi menurut gue ini adalah salah satu tindakan gue yang paling benar” kata Bira lemah, cepat-cepat gue angkat satu alis gue tinggi-tinggi.

“Terkadang, seseorang memang tidak habis fikir terhadap tindakan serta sikap yang orang lain ambil dan yang orang lain itu terapkan” Bira tersenyum seperti menjawab gestur tubuh gue yang menandakan bahwa gue nggak habis fikir dengan keputusan yang sudah terlanjur basah dia ambil.

“Ini cara satu-satunya untuk meng-recovery semuanya” tegas Bira, raut wajahnya terlihat yakin dan itu membuat emosi gue tersulut, Bira menuangkan minyak ke dalam kobaran api yang hampir padam.

“Dengan cara ngorbanin diri lo sendiri?” tanya gue sinis.

“Gue cuman berusaha menjadi orang yang berguna, laki-laki yang bisa ngelindungin keluarganya”

“Bukan gini caranya!” cerca gue sambil menatap mata Bira lekat-lekat, rasanya pengin narik badan lemas Bira lalu teriak di depan wajahnya, kalau dia itu dongo!

“Hanya ini caranya” kata Bira santai, bibirnya menekuk sehingga sebuah ketulusan terpancar jelas dari senyumnya yang dia tujuin hanya buat gue.

“Lo fikir! Mulai sekarang semua yang ada di dunia ini akan selalu baik-baik aja? Lo fikir! Kalau kemungkinan terburuk nanti terjadi maka nggak akan berimbas kepada siapapun? Open your eyes! Gue khawatir banget, gue takut tentang segala hal buruk, imbas dari tindakan gila lo ini” protes gue penuh kekecewaan.

Bira meraup tangan gue yang sudah terkulai lemas di sisi tubuh gue, “Semuanya akan baik-baik aja Za, dan terimakasih atas segala kekhawatiran lo, terimakasih karena lo orang pertama yang ngebuat gue ngerasain cinta itu apa, ngerasain gimana jadi seseorang yang sangat dicintai” jemari Bira menelusup ke sela-sela jari gue, mengobati rasa pilu di dada gue, merubah semua rasa khawatir menjadi rasa nyaman.

“Jangan pernah terperangkap dengan cinta yang selalu membawa perasaan khawatir, karena ketika lo terperangkap, lo akan kehilangan makna cinta yang sebenarnya” Bira menarik tangan gue, mencium pelan buku-buku jemari gue, menghantarkan ribuan sengatan listrik yang membuat hati gue kembali terasa baik, dan bahkan jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Akibat amarah, gue ber-elo-gue lagi dengan Bira, tapi nggak apa-apa, ber-elo-gue pun nggak akan mengurangi rasa cinta gue ke Bira, begitu pun sebaliknya.

Gue duduk di kursi yang dekat dengan lutut kanan gue. Menggenggam tangan Bira erat-erat, “Lo harus janji sama gue, lo harus lebih dewasa kedepannya” ucap Bira memohon, gue mengangguk.

“Lo pun harus janji sama gue, untuk nggak ngelakuin hal gila, apapun itu, sehabis ini!” perintah gue. Bira mengangguk. Mata kami saling bertalutan, membuat kepala gue semakin lama semakin mendekat dengan kepala Bira yang terkulai lemas di atas bantal.

“Lo sadar nggak apa pengaruh lo buat gue?” tanya gue lembut. Bira menggeleng bingung.

“Tanpa sadar, lo udah ngajarin gue banyak hal, bahkan segala hal yang nggak pernah gue fikirin sebelumnya, tentang—“

Bira menaruh satu jarinya di bibir gue, ngebuat segala hal yang mau gue kasih tahu ke dia itu terhenti.

“Saat lo ingin berterimakasih sama seseorang, sebaiknya lo jangan memuji orang tersebut terlampau tinggi, nggak semua pujian harus diutarakan lewat ucapan maniskan?” Bira tersenyum, gue mengerti semua hal yang Bira ucapin, Bira memang nggak pernah banyak muji gue melalui lisannya, tapi, matanya, senyumnya, gesturnya, bergerak seolah-oleh berterimakasih atas rasa cinta yang gue berikan kepada Bira.

Saat gue ingin menyalurkan rasa cinta gue yang udah nggak cukup lagi hati gue tampung, Bira menahan, “Ini nggak cuman empat bulankan?” tanya Bira dengan nada menggoda. “Sampai lo dan gue menua bersama” kata gue dibarengi senyum tulus, lalu bibir gue menyapu bibir Bira yang kenyal, membiarkan lidah gue mengecap manisnya cinta dari bibir Bira, merasakan ketulusan cinta gue yang disambut dengan ketulusan milik Bira, membingkai romansa kami yang tidak ada habisnya.

***

Tawa Bira terdengar renyah di telinga gue, untuk ke dua kalinya Bira membuat layangan yang gue bentangkan tersangkut di pohon Duku dan Jati. “Layanganya singit! Masa nyangkut mulu” Bira bersungut-sungut ketika tawanya mereda, gue tersenyum penuh pengertian ke arah Bira, wajah pucat Bira tetap terlihat tampan di umur ke dua puluh empat tahunnya. Nggak kerasa udah tujuh tahun gue hidup bersama Bira, batin gue masygul. Tujuh tahun gue dan Bira lalui dengan jutaan liku kehidupan, berjuang melawan tentangan orang tua gue dan keluarga Bira, tetap saling menggenggam saat hinaan kami terima. Dan saat ini adalah hasil dari cinta gue dan Bira yang kami perjuangi dengan kuat kami masing-masing.

“Udahan yuk, haus nih mau minum jus buatan kamu” kata gue merajuk.

Bira menggulung benang layangannya lalu mengangguk mengiyakan ajakan gue, gue nggak sabar nunggu Bira, karena Bira nggak bisa lagi bergerak dengan gesit dan semau dia, Bira sekarang terlalu ringkih untuk pemuda seumurannya, itu semua akibat tubuhnya nggak kuat bertahan hanya dengan satu ginjal. Gue langsung membungkuk dan meraup tubuh kurus Bira ke belakang punggung gue, Bira tertawa dan refleks gue ikut tertawa sambil menggendong Bira melangkah ke dalam rumah, menikmati senja yang sebentar lagi pecah dan digantikan temaram yang digjaya di kala malam menyapa.

Tangan Bira yang lincah mulai memotong buah-buahan dan memasukannya ke dalam mesin jus, Gue berdiri di belakang tubuh Bira, mendengus halus di telungkuk Bira, membuat tubuh kurus nan renta Bira bergidik geli, tawa yang sangat syarat dengan kebahagiaan selalu mengisi tiap sudut rumah kami di daerah perbukitan Sentul. Setelah lulus kuliah gue kerja di sebuah perusahan retail minimarket terbesar di negeri ini, sebagai Manager Development.

Cahaya oranye mulai bermunculan layaknya festival lampion dari kejauhan, cahaya dari taman bermain Jungle land. Membuat suasana terlihat semakin manis di sela-sela quality time gue bersama Bira, gue sengaja ngebuat rumah gue di dominasi dengan kaca, agar gue dan Bira bisa selalu menikmati panorama dan beberapa fasilitas dari perumahan yang gue tempati sekarang.

Gue peluk tubuh Bira dari belakang, membuat Bira menghentikan kegiatannya membuat jus, kepala Bira menegadah tegak menatap wajah gue yang menunduk ke arahnya yang jauh lebih pendek dari gue, kami saling pandang dengan posisi yang menurut gue amat manis, “Aku cinta kamu” ucap gue sambil mencumbu lembut bibir Bira yang makin terlihat menggoda.

Gue meletakan gelas berisi jus alpukat yang sudah setengah gue tenggak ke atas meja makan, lalu meraih sebuah toples plastik transparan dengan amat semangat, “Kita cari kunang-kunang yuk” ucap gue semangat. Bira mengangguk antusias sambil meletakan gelas berisi jus jambu yang berhasil ia tenggak habis dan menyisakan remah dari jus jambu di ujung bibirnya. Cepat-cepat gue majuin badan gue lalu menjilat remah jambu yang tersisa di sudut bibirnya.

Gue hirup udara sejuk malam hari, lalu menurunkan Bira dari pundak gue, Bira terkekeh pelan karena gue perlakuin layaknya anak kecil, kalau nunggu Bira jalan bisa ngehabisin waktu lama, padahal cuma berjalan ke taman slash lapangan belakang rumah aja, maka dari itu gue sering ngegendong Bira, hitung-hitung membuat momen romantis tiap saatnya.

Dengan sabar gue dan Bira menunggu kunang-kunang muncul, bagai jutaan peri yang datang menghiasi tempat di sekeliling gue, mereka—kunang-kunang—muncul dari balik pohon Cemara, Duku, Jati, Ketapang, dan semak-semak, membuat sebuah pesta kecil yang hanya gue rayakan bersama Bira dan mereka.

Dengan sigap gue ayunkan tangan gue yang menggenggam toples plastik transparan ke udara, beberapa kunang-kunang terjerat dalam toples gue, buru-buru gue tutup, Bira menatap gue dengan senyum bangga, ngebuat gue ngerasa pahlawan yang disambut kekasih selepas kembali dari perang dunia.

“Ini buat kamu” kata gue manis sambil meraup tangan Bira sehingga gue memberikan langsung toples itu ke atas telapak tangan Bira yang juga gue sangga dengan tangan sebelah kiri gue. Bira tersenyum, kesan bahwa ia sekarang sering mengalami hypertensi dan harus rutin mencuci darah setiap seminggu sekali sirna seketika malam ini, di bawah sinar bulan yang temaram dan cahaya dari kunang-kunang yang meremang di sekitar kami membuat wajah Bira terlihat sumringah dan makin tampan saat ini.

Gue tersenyum getir, fakta paling gue takuti kembali ter-replay di dalam otak gue,peringatan dari dokter kembali bergema di dalam kepala gue, cepat atau lambat Bira akan pergi meninggalkan gue selamanya. Gue nggak akan kehilangan momen ketika bangun tidur Bira selalu tersenyum ke arah gue, nyiapin air panas buat gue mandi pagi, sarapan bareng di meja makan, membetulkan letak dasi di kemeja gue yang selalu sengaja gue pasang miring agar tangan bira menari di dekat leher gue, nggak lagi bisa melihat senyumnya saat gue pulang kantor, senyum yang selalu membuat gue nyaman dan lepas dari beban pekerjaan, cinta gue ke Bira semakin lama semakin membesar, tidak sama sekali menyurut sedikit pun. Fakta di mana janji gue terhadap Bira dulu harus dipenuhi sekarang. Lo harus janji sama gue, lo harus lebih dewasa kedepannya. Kata-kata Bira terngiang di kepala gue menambah segala ketakutan yang menguasai batin gue, dengan amat berat hati gue harus siap kehilangan Bira kapanpun itu, bahkan saat gue kembali dari kantor dan Bira telah terbujur kaku nantinya—gue nggak sanggup bayangin hal itu sedikit pun. Bayangan yang paling gue takutin seumur hidup gue. Karena dewasa adalah suatu sikap bijak dengan penuh rasional di dalamnya, bukan drama! Kata-kata tegas Bira terngiang di kepala gue dan itu malah membuat gue semakin sesak.

Menjadi kuat agar orang lain kuat itu adalah hal yang sangat sulit, buat gue. Dawai biola terasa terdengar di dalam hati gue, membawa sebuah nada kelabu pekat yang mampu menenggelamkan gue bersama ketakutan yang selalu berhasil membuat gue pilu, nelangsa atas fakta bahwa gue mau tidak mau harus siap menerima kenyataan bahwa waktu gue bersama Bira hanya sebentar lagi. Gue nggak sanggup menghadapi saat momentum di mana Bira mengucapkan kata selamat tinggal nantinya.

Gue memperhatikan Bira yang sedang terlena suasana, dengan senyum yang sumringah Bira terus mencoba menangkap kunang-kunang yang sampai saat ini belum pernah berhasil dia tangkap satu pun. Mungkin di waktu yang akan datang gue nggak lagi mampu menikmati pergantian senja ke malam bersama-sama lagi.

“Za!!! Lihat!” seru Bira penuh semangat, menarik paksa gue dari belenggu hati yang sangat melankolis akhir-akhir ini.

Tangan Bira yang terkepal itu diacungkan ke hadapan Firza, “Tebak ini apa?” tanya Bira masih penuh semangat.

“Apa?” tanya balik gue dengan nada lembut. Bira membuka tangannya, tiga kunang-kunang menghambur cepat dari telapak tangan Bira yang terbuka, menyisakan senyum bahagia di wajah Bira karena ini kali pertama Bira berhasil menangkap kunang-kunang.

“Ini mungkin kunang-kunang pertama dan terakhir yang berhasil aku tangkap” kata-kata Bira mampu membuat hati gue semakin kelabu.

“Terimakasih atas semuanya Za, kamu lelaki pertama dan terakhir untukku, lelaki yang mengajariku banyak hal tentang hidup dan cinta, maka berjanjilah satu hal lagi untukku, setelah aku pergi nanti tetaplah bahagia, jangan biarkan luka hati menguasaimu terlalu lama” gue menitikan air mata seketika “Luka hatimu akan segera pulih jika kamu membuka hati untuk orang lain yang siap mengobati dan mengisinya kembali, jangan tutup hatimu dengan luka hati, karena jika kamu tutup hatimu dengan luka atas kepergianku maka kamu tidak hanya melukai dirimu sendiri, tapi kamu juga akan melukaiku! Maka berjanjilah sekarang juga, kamu akan baik-baik saja selepas kepergianku nanti, kamu akan melanjutkan hidup dengan pembaharuku! Siapapun itu, ayo janji!” pinta Bira. Senyum terpatri di wajah Bira dan itu bukan senyum Bira gue! Senyum itu terasa asing, teramat pucat dan penuh kesedihan.

Gue peluk erat tubuh ringkih Bira, tubuh gue bergetar nggak ikhlas dengan apa yang harus gue lakukan nantinya, bahkan gue bertekat tidak akan berjanji apapun lagi kepada Bira jika isi janjinya hanya tentang kerelaan.

“Firza” kata Bira lemah, wajahnya semakin pucat, buku-buku jemarinya menyapu pipi gue yang basah karena airmata yang lancang meluap dari kelopak mata gue.

Dunia serasa monogram, hanya dipenuhi rasa ketakutan, malam terasa amat mencekam kali ini udara terasa dingin menerpa kulit gue, seperti korban dementor, tidak lagi ada kebahagiaan sedikit pun itu yang gue rasakan sekarang. Darah mengucur perlahan dari hidung Bira.

“Berjanjilah!” pinta Bira nelangsa, fakta bahwa cinta mampu meng-iya-kan apa saja yang diminta itu sangat nyata, gue mengangguk seketika. Mengingkari kata hati bahwa sebenarnya gue nggak pernah sanggup kehilangan Bira. “Deal!” seru Bira parau seperti membuat persetujuan yang ia buat sepihak.

“Aku sangat mencintaimu, terimakasih karena kamu tidak pernah ragu” untuk pertama kali dan terakhir kalinya Bira mengucapkan kata cinta secara langsung di depan gue, karena gue nggak pernah nuntut sekali pun untuk mendengar ucapan cinta dari mulut Bira, dari tatapannya, gerak tubuhnya, dan senyumnya pun gue teramat yakin Bira benar-benar cinta sama gue dan tujuh tahun ini adalah epic dari segalanya, entah kenapa dia baru bilang cinta sama gue sekarang, mungkin dia menyimpan kata-kata indah ini untuk momen perpisahan kami, yaitu sekarang.

Tubuh Bira rubuh menimpa badan gue, membuat gue terhuyung sedikit ke belakang, tangan gue sigap memegangi tubuh Bira yang jatuh lemas, sesuatu yang basah terasa di perut gue, yang gue yakin itu adalah darah dari hidung Bira yang mimisan.

Tubuh Bira sekarang terlentang di tanah, kepalanya berada di atas tangan gue, persis kayak adegan di novel-novel dan film-film sad ending, “Bahagia ya” kata Bira terakhir kali sambil menutup matanya, gue cium pipinya dengan amat nelangsa, merasakan tubuh hangatnya perlahan mendingin, merasakan tubuh yang gue peluk sekarang tidak lagi terisi nyawa, kunang-kunang mulai pergi, seperti mengantar Bira kepada pemilik nyawa sebenarnya.

“Selamat jalan sayang, tidur dan jangan lagi rasakan perderitaan yang selama ini kamu rasakan, terimakasih” gue kecup keningnya dengan rasa yang amat dalam, saat bibir gue terlepas dari dahinya, rasa tidak rela menyergap membuat tangis gue pecah seketika.

Firza membereskan kamarnya, kenangan masalalunya ia timbang-timbang, mana saja yang harus disingkirkan dan mana saja yang harus tetap dipertahan, hatinya telah hancur berantakan, tersapu badai yang membawa kekasih hatinya pergi saat malam yang penuh kunang-kunang. Selembar kertas berukuran besar yang terlihat lecak dan kumal ia pegang sekarang, kertas itu berkisah banyak kenangan, di kertas itu Bira kerap menuliskan ucapan terimakasih kepada Firza, atas momen ulang tahun, atas momen perayaan anniversary hubungan mereka, atas bermacam-macan romansa yang Firza berikan kepada Bira, namun kertas ini akan selalu mengorek luka Firza, luka dari kehilangan kekasih yang ia amat cintai.

Siang bergulir perlahan, digantikan oleh suasana damai senja di perbukitan, Firza menyeka peluhnya, terkadang menyeka airmatanya yang meleleh kurang ajar dari dalam kelopak matanya, sebuah layang tercipta dari kegiatan Firza, layangan yang kertasnya berasal dari lembar kertas usang yang Firza temukan tadi sewaktu berberes kamar.

Bara dari rokok yang ia hisap membuat lubang di antara tulang-tulang layangan, dengan lihai Firza membuat simpul kama di tulang layangan tersebut, langkahnya mulai gemetar ketika Firza melangkah ke belakang rumahnya, semuanya telah berubah, Ketapan dan pepohonan lainya tidak lagi menceritakan sebuah kebahagiaan yang dulu Firza miliki bersama Bira kekasihnya, yang tersisa hanyalah sebuah siluet Bira yang sedang tertawa renyah menatap Firza, lagi-lagi airmata Firza meniti perlahan.

Angin bertiup pelan mencoba mendamaikan hati yang temaram akibat rasa gersang dari kehilangan. Firza berhasil membentangkan layangannya dengan mudah, ketika layangan itu telah terbang tinggi airmata Firza mengalir dengan derasnya, isakan tertahan tidak lagi terpelakan dari wajah tampan Firza. Firza membelitkan dua jarinya dengan benang gelasan, gesekan keras ia lakukan membuat dua jemarinya terluka dan berdarah lalu benang tersebut putus membuat layangan yang terbentang di angkasa senja tertiup angin pergi meninggalkan Firza sendirian.

Layangan ini bertuliskan semua tentang kita, semua kata terimakasih yang lo tulis buat gue, mengabadikan banyak momen bahagia kita, namun maaf kertas yang telah gue jadikan layangan ini harus pergi, gue harap perginya layangan ini juga ikut membawa luka hati atas kehilangan lo, layangan ini putus di tangan gue, semua hal tentang kita terhenti di sini, layangan terakhir ini akan menjadi puncak masa kita yang telah berakhir. Maafin gue yang memulai hubungan ini dengan cara yang salah. Bira tidurlah yang nyenyak, lo harus janji, tunggu gue di surga kita nantinya. Selamat jalan.

Senja akan menyampaikan ungakapan terakhir Firza kepada Bira melalui layangan terakhirnya.

Baca lebih lanjut

Brothers Become Lover

Love

By : Joseph

 

Aditya POV

Sejenak aku terdiam meresapi udara segar di sekitar bukit ini. Semilir angin membuai anganku untuk mengejar masa depanku di sini. Rumput hijau nan tinggi tersebar merata di hadapanku saat ini, membuat mata coklat beningku tak kunjung bosan menatap mereka. Gulungan awan menambah suasana di sini semakin teduh. Baru kali ini aku merasakan kenyamanan ini, meski telah 18 tahun aku lalui dengan gembira. Ingin sekali aku rebah di tempat ini bersama orang yang aku cintai.

“Adit. Aditya Permana, ayo nak sudah saatnya untuk pergi!” itu suara papaku, Bayu Permana. Dia sudah memanggilku untuk pergi dari sini.

 

Kami sekeluarga baru datang di sini untuk membuka lembaran baru keluarga Permana. “Ahh.. Kau ini kenapa lama sekali? Hoamm….” sapaan tajam Kak Kevin sambil menguap saat aku masuk ke dalam mobil.

 

“Kakak ini, baru 5 menit aja protes,” Cibirku pura-pura kesal.

“Biarin, week..” canda Kak Kevin sambil mengacak-acak rambutku.

 “Eh, kalian berdua ini, sudah-sudah” lerai mamaku, Siska Purnamaningsih. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti bercanda, dan memutuskan menikmati perjalanan ke rumah baru kami.

 

Perjalanan menuju rumah baru kami tak memakan banyak waktu. Hanya sekitar 15 menit kami sudah sampai di halaman rumah kami yang megah namun berarsitektur minimalis. Aku, kak Kevin dan Mama turun dari mobil. Disusul papa, yang tadi sedang memarkirkan mobil terlebih dahulu. Sekilas terlihat rumah kami yang bertingkat dua dengan tembok bercat putih bersih serta pekerangan rumah yang asri penuh dengan bunga mawar. . “Ayo masuk..” ajak papa membangunkanku yang sedang tenggelam dalam kekaguman rumah baru kami . Kemudian kami semua masuk kedalam rumah baru kami. Kami berjalan menyusuri  bagian belakang ruma kami. Di bagian belakang rumah baru kami terdapat kolam renang yang cukup luas. Menambah paparan keharmonisan yang begitu memikat mata.

 

“Papa aku sama Adit renang dulu ya..” ujar Kak Kevin sambil menarik tanganku menuju kolam renang. Hobi kami memanglah sama, mulai dari renang, basket, memasak, serta olahraga.

 

Papa mengangguk, “Hati-hati airnya dingin lho,” ujar papa sambil membalikan badannya. Dia berjalan  menuju kamarnya, mungkin dia ingin tidur. Karena sekarang ini sudah menunjukkan jam 6 sore.

 

Sesampainya di kolam renang, Kak Kevin langsung melucuti semua pakaian yang dia pakai hingga hanya menyisakan celana dalamnya saja. Tubuhnya yang terpahat sempurna, membuatku iri. Bukannya aku tidak bersyukur dengan apa yang aku punya, tapi lihat saja dadanya yang bidang, otot perutnya yang sudah membentuk, otot –otot tubuhnya membuatku ingin sepertinya.

 

Rupanya Kak Kevin mengetahui kalau aku sedang melamun, “Dit, kok belum buka baju?” tegur Kak Kevin “Terus, kok kamu malah bengong sih?” katanya sambil meliuk-liukkan badannya. Seperti biasa, dia akan melakukan pemanasan sebelum berenang.

 

 “Ehhh, kakak ini. Siapa yang bengong coba?” sahutku “ Aku tuh lagi merhatiin badan kakak yang bikin Adit iri tau” lanjtuku sambil melolosi pakaianku hingga hanya tertinggal CD saja yang menempel di tubuhku.

 

“Sudahlah,” ujarnya singkat. “Ayo kita lomba?! siapa yang sampai lebih dahulu ke ujung sana boleh minta apa pun kepada yang kalah! Deal?” tantang kak Kevin.

 

“Oke deal, siapa takut? Aku kan pernah menang lomba renang” jawabku menyombong.

 

Kami bersiap, berdiri dia pinggiran kolam. “Satu….. –hening- … TIGA” hitung kak Kevin curang.

 

 “Ah rupanya Kak Kevin harus belajar menghitung dulu,” gerutuku kesal. Aku langsung melesat cepat ke dalam kolam renang berair dingin ini. Ketika baru sampai setengah lintasan, ternyata Kak Kevin sudah sampai di ujung kolam renang ini. Aku langsung meneruskan berenangku. Namun tiba-tiba kram mulai menjalari seluruh anggota gerakku. Tubuhku terasa kaku, perlahan tubuhku mulai tenggelam. Aku mencoba melambaikan tanganku ke atas air. Namun  itu percuma saja, karena tenyata tanganku juga tidak bisa ku gerakkan. Paru-Paruku mulai terisi air yang masuk melalui rongga hidungku. Sempat kudengar Kak Kevin memanggilku, namun tubuhku mulai tenggelam, hingga aku merasakan kalau kembali masuk ke dalam air. Aku tidak bisa melihatnya, hanya bisa merasakan air terus merenggutku masuk kedalam, hingga semuanya terasa gelap.

 

 Kevin POV

Repot jadi gay , apalagi kalo lagi dilihatin waktu nggak pake baju. Iihh kenapa lagi nih Adit ngelihatin aku mulu, malah bengong lagi?, batinku. “Dit, kok belum buka baju?” tegurku “Terus, kok kamu malah bengong sih?” sambungku sambil melakukan pemanasan. Aku meliuk-liukkan tubuhku ke kiri dan ke kanan.

 

“Ehhh, kakak ini. Siapa yang bengong coba?” sahutku “ Aku tuh lagi merhatiin badan kakak yang bikin Adit iri tau, kapan aku bisa punya badan kayak kakak” lanjtunya sambil melolosi pakaiannya hingga hanya tertinggal CD saja yang menempel di tubuhnya.

“Sudahlah,” ujarku singkat. “Ayo kita lomba?! siapa yang sampai lebih dahulu ke ujung sana boleh minta apa pun kepada yang kalah! Deal?” tantangku.

 

 “Oke deal, siapa takut? Aku kan pernah menang lomba renang” jawabnya menyombong.

 

 

Kemudian kami bersiap dia pinggiran kolam. “Satu….. –hening- … TIGA” hitungan curang meluncur dari bibirku. Kemudian aku langsung meluncur dan berenang sekuat tenagak, secepat yang aku bisa. Ujung kolam pun bisa kurasakan, hingga akhirnya aku bisa menyentuhnya dalam pegangan tanganku. “Aku sampai lebih duluan ke ujung kolam renang. Berarti aku pemenangnya.. YEEYY”  seruku senang, setelah itu aku langsung naik ke atas kolam renang. Kuamati Adit yang sednag berenang menyusulku, adik yang kucinta, masih tiga perempat lintasan lagi. Namun aku merasa ada yang aneh, sepertinya tubuh Adit mulai tenggelam. “Adit.. ADITYA.. Aditya..” arghh, percuma saja aku berteriak. Aku mulai terjun ke air untuk menyelamatkan Adit, orang yang aku cinta.

 

Sesampainya aku di dekat Adit, akulangsung menarik badannya keatas, kemudian membawanya ke tepian kolam terdekat. Kuangkat tubuh Adit yang cukup proporsional ini ke atas kolam renang. Melihat tubuh Adit yang terkulai di depanku, membuat anganku terbang entah kemana. Ingin rasanya aku mencumbunya. Cumbu? Apa yang aku pikirkan barusan? “Nafas buatan” ide itu muncul begitu saja difikiranku. Ide yang mungkin  menguntungkan buatku dan juga buat Adit. Perlahan kuangkat lehernya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, lalu kubuka mulutnya. Kemudian aku tarik dagu Adit ke bawah agar mulutnya terkuak. Selanjutnya, kututup lubang hidungnya dengan jariku dengan cara memencetnya. Dan ini lah saat yang aku tunggu-tunggu. Aku meletakan bibirku tepat di bibir Adit. Bibir kami menempel untuk beberapa saat. Aku merasa kalau  bibir ranumnya ternyata manis, membuatku mencandu. Ingin rasanya aku menikmati kemanisan bibir Adit.  “ini buakan saatnya main-main Kevin!”  runtukku dalam hati ketika aku sadar kalau yang aku inginkan bukanlah hal yang patut kulakukan saat ini.  Setelah kembali ke kesadaranku, aku langsung meniup keras-keras udara ke dalam mulutnya, hingga dada Adit yang lumayan bidang mengembang. Kulepaskan tanganku dan bibirku dari Adit begitu aku selesai menghembuskan nafasku kepadanya. Aku biarkan dia mulai menghembuskan nafasnya sendiri. Namun ternyata belum ada reaksi dari Adit. Tubuhnya masih tetap diam tak bergeming. Dan hal itu membuatku semakin takut.

 

“Aduh, Adit, sadar dong.. sadar..” ujarku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, kemudian aku kembali melakukan nafas buatan hingga berulang-ulang. Setelah melakukannya selama 4 kali. Adit menunjukan reaksi. Adit seperti tersedak, mulutnya mencoba mengeluarkan air yang berasal dari dalam paru-parunya. “Syukurlah Adit, kamu sudah sadar, kamu selamat..” ucapku gembira seraya memeluk tubuh Adit.

Aditya POV

“UHUK.. UHUK..UHUK..” air yang ada di dalamku akhirnya keluar. Paru-paruku menjadi lebih lega sekarang. Aku bisa bernafas dengan teratur kembali. Namun kesadaranku belum pulih total, yang kurasakan hanyalah pelukan hangat yang berasal dari tubuh Kak Kevin. Entah kenapa jantungku mulai berdebar lebih kencang dari biasanya,  jujur aku menyukai pelukan ini. “Kak Kevin?” sapaku kepada Kak Kevin yang memelukku sambil mengucapkan syukur.

 

 “Iya Adit, apa yang kamu rasakan?” tanya Kak Kevin cemas, kemudian dia melepas pelukan kami. Aku merasakan ada yang hilang ketika pelukan kami terlepas. Namun segera terganti ketika tangan Kak Kevin memegangi kedua pipiku. Aku merasakan kalau kedua telapak tangannya menghantarkan aliran listrik yang masuk sampai ke hatiku.

 

“Kak Kevin yang nyelametin Adit?” tanyaku tak percaya.

 

 “Iya kakak yang nyelametin kamu.” jawab Kak Kevin.

 

“Berarti tadi yang memberi nafas buatan itu Kakak?” tanyaku minta penjelasan ke Kak Kevin.

 

“Adikku yang paling bego sedunia. Siapa lagi yang ada di sini?” jawabnya sambil berdiri kemudian dia membantuku berdiri. “Ayo Dit masuk! Abi itu mandi terus pake baju. Entar kamu sakit lagi!” titah kakakku sambil menggandeng tangan kecilku ini.

 

Kupandangi cermin kamar mandi yang cukup besar untuk menampilkan seluruh tubuhku. “Tubuhku ternyata ya bagus-bagus aja kok. Malah proporsional dari pada Kak Kevin..” aku berbicara dengan bayanganku sendiri. Ooh Kak Kevin.. kusentuh bibirku, memori di kolam renang tadi, kembali berputar di kepalaku seperti rekaman saja. Kak Kevin lah yang mencuri ciuman pertamaku, seharusnya aku marah. Tapi kalau aku marah, aku sama seperti orang dungu yang tidak tau berterima kasih. Tapi perlakuan Kak Kevin membuatku terbuai oleh kasih sayang. Apa kali ini aku sedang dilanda cinta?. “Lebih baik aku mandi sekarang.” Ucapku dalam hati

 

Aku lagi-lagi melamun sambil menghadap ke jendela kamar tidurku. Meratapi kisah di kolam renang tadi. Tok.. tok.. tok.  Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Kulangkahkan kakiku ke arah pintu lalu aku membukanya. “Oh Kak Kevin, Adit kira siapa.” Sapaku kepada Kak Kevin.

 

“Adit, kakak boleh tidur di kamarmu malam ini. Kakak tidak terbiasa tidur di kamar yang baru. Mana  sendirian pula, mendingan ditemenin kamu.” pinta kakakku.

 

“Boleh-boleh aja Kak..” jawabku antusias.

 

 

* * *

 

 “ Kak Kevin, ada yang perlu Adit bicarain dengan kakak.” Tuturku sambil mengubah posisi duduk berhadapan dengan Kak Kevin. Melihat tatapannya saja dapat membuatku nyaman dan deg-deg-an.

 

“Apa itu, Dit?” tanya Kak Kevin. “Tapi apa harus aku menanyakan ini ke Kak Kevin ya?” batinku. “Adit mau bicara apa sama kakak?” Kak Kevin kembali bertanya kepadaku.

 

“ Kak, kalo orang sedang dilanda cinta itu ciri-cirinya seperti apa ya, Kak?” tanyaku. Dapat kulihat ekspresi Kak Kevin berubah jadi heran dengan petanyaanku.

 

“Orang lagi kasmaran itu cirinya  satu, kamu akan nyaman berada di dekat orang yang kamu cintai. Dua, kalo orang yang kamu cintai tidak ada di sisimu kamu akan merasa kosong. Misalnya kamu lagi gandengan dengan dia, tiba-tiba dia pergi, kamu pasti akan merasa kehilangan. Tiga, kamu akan selalu berdebar jika di dekatnya,” jawabnya lugas. “Emangnya ada apa sih kok kamu tanya-tanya begituan?” lanjutnya sambil tersenyum memamerkan lesung pipitnya.

 

“Oh begitu ya Kak. Kelihatannya aku sedang tertarik dengan seseorang sih, Kak..” jawabku yang langsung membuat wajah Kak Kevin yang tampan menjadi kusut seketika. “Kak Kevin kenapa sih wajahnya ditekuk begitu?” ejekku, karena aku masih bingung dengan perubahan ekspresi wajahnya.

 

“Hmm.. Aku cemburu dengan orang yang kamu cinta. Kakak sebenarnya tau ini salah, tapi kakak sudah tidak bisa membendungnya lebih lama lagi, segala yang ada dari dalam maupun luar dirimu membuat kakak mencandu. Bibir ranum kamu terasa memabukan kakak. Aku cinta kamu Aditya Permana.” Jelas Kak Kevin panjang kali lebar sama dengan luas. Jawaban yang membuatku terkaget-kaget sekaligus gembira. Perkataan yang tak pernah kusangka sebelumnya. Bibirku terkatup rapat, bergetar pilu, air mataku mengalir. “Adit kenapa menangis? Adit sedih dengan pengakuan Kakak?” tanya Kak Kevin cemas, kemudian matanya memerah diikuti air mata yang mulai menetes.

 

 “Bukan sedih,” jawabku. “Ini bukan air mata kesedihan tapi ini air mata kebahagiaan kak.” Lanjutku sambil tersenyum kepadanya.

 

“Maksudmu, cinta Kak Kevin tidak bertepuk sebelah tangan?” tanya Kak Kevin penuh curiga. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku. “Kalo gitu  sesuai perjanjian lomba tadi, kakak mau minta sesuatu yang harus kamu jalani!” ujarnya, aku menatapnya. Aku ingin segera tahu apa permintaannya. “Maukah Adit jadi pacar Kevin?” lanjutnya.

 

Aku langsung menganggukkan kepalaku antusias, “Mau Kak Kevin.. Mau..” jawabku sambil menghambur ke arahnya, lalu memeluk erat tubuh Kak Kevin. Kak Kevin membalasnya dengan ciuman yang lebih dari yang tadi sore. Sangat mencandu, sangat romantis.

 

“I love You, Aditya Permana” ucapan romantis Kak Kevin meluncur merdu disusul kecupan singkat di bibirku.

 

“I love You, Kevin Dharma Permana,” sahutku sambil memeluk erat Kak Kevin.

 

EPILOG

Kugenggam tangan seorang pencuri ciuman pertamaku, seorang kakak, sekaligus kekasihku sambil memandangi indahnya hamparan rumput hijau nan tinggi. Angin semilir membuai hati ini. Awan-awan membuat daerah di sini semakin teduh, semakin syahdu bersama orang yang aku cintai. Sekarangku merebahkan badan di Bukit ini, bersama orang yang aku cinta, Kak Kevin.

 

“Tempat ini sungguh indah ya, sayang..” kata Kak Kevin. “ Iya, akan semakin indah bila berada di sini bersama orang yang aku cinta.” Lanjutnya, sambil memberiku ciuman dikeningku.

 

-THE END-

Pertama kali baca cerpen ini yang ada dipikiranku langsung berteriak. Oh tidaaakkk… ini incest ternyatah. Tema yang selalu sukses bikin aku merinding.hahaha. Tapi, itukan terserah penulis mau nulis apa. Yang jelas aku suka.hehehe.

 

Oh ya dek, waktu baca cerita kamu aku langsung bayangin kalau tokohnya itu Allan sama Dave. Biar aku enak gitu ngeditorinnya. Jadi kayak nulis cerita sendiri,hahaha. *nengok FP19 yang baru jadi 6 lembar* :-(

 

Aku ada nambahin beberapa kata biar lebih enak dibaca tapi alurnya gak aku rubah sama sekali. Hehehe.

 

Untuk tulisan pertama ini termasuk bagus lho. Coba kamu baca karya pertamaku. Pasti langsung ngeri deh,haha.

 

Buat Readers, ditunggu komennya. Kalau gak komen berarti Floque 19 gak lanjut,hahaha.

Sorry for typo and everything…

 

~Daadddaaahhhh~

New Day (3)

DIS_

Chapter 3

Ҧ Damn Heart

What’s wrong with this damn heart?! Kenapa jantungku berdebar-debar kencang seperti sedang sakaratul maut?! Penyebabnya juga sangat konyol. Jantungku berdebar kencang seperti sekarang ini hanya karena senyuman Ozayn. Iya, aku nggak bohong—aku bahkan berani sumpah, kalau aku bohong aku bakalan diperkosa Justin Timberlake—senyuman Ozayn lah yang membuat jantungku jadi sialan seperti saat ini. Mengerikan bukan? Ew! Bahkan debarannya belum juga berhenti sampai sekarang. Sudah dua jam berlalu padahal.

Ozayn menggeser duduknya mendekat ke arahku, dari sela-sela rambutnya aku bisa mencium wangi kopi—jadi pengen ke Starbucks deh—dan saat aku tidak sengaja mendekat ke leher dan tengkuknya, aroma kulitnya seperti aroma novel baru. Memberikan kesan geek, menenangkan, hangat, membuai, dan sialnya lagi, aku suka aroma novel baru! Double EW! Kenapa Ozayn bisa mempunyai aroma itu?! Dari beratus-ratus juta, bahkan bermiliar-miliar orang yang ada di dunia ini, kenapa harus Ozayn?! Why Lord, why Goddes?!

“Asam Sulfat dan Lye tidak bisa disatukan ke dalam—“ Blah blah blahshit! Ozayn terus meracau sembari menuliskan beberapa rumus Kimia di atas kertas kosong yang ada di depan tanganku. Mathematics telah kukerjakan hingga sepuluh soal, jadi aku pindah ke Chemistry dulu saat ini. Kata Ozayn sih agar otakku bisa di-refresh! Macbook, kali! Tapi, aku mengikuti saja sarannya. Lama-lama kalau aku melihat angka-angka yang makin belibet itu, aku yakin aku pasti akan terkena kanker otak. Triple EW! Atau kena Vertigo, atau Woozy! “Kamu dengerin apa yang aku bilang?” tanya Ozayn, suaranya terdengar gugup. Dia kenapa sih?

Yes, I am, yes, I am!” Aku tidak akan pernah menoleh ke arahnya, aku masih belum berani. Aku tahu, aku memang pengecut. Tetris EW! Tapi, kalau aku melihat ke arahnya dan dia tersenyum bagaimana? Bisa-bisa aku terkena serangan jantung karena terlalu sering berdebar-debar. Wajahnya yang sangat nerdy go to hawt itu sungguh menjengkelkan. Menjengkelkan karena aku suka melihatnya! Karena dia sangat mengingkatkanku—ugh! I don’t want to remem-buh! Cassanova EW! Asquinto EW! Oblisovon EW! Dan EW-EW lainnya!

“Jadi… Asam Sulfat itu punya rumusnya sendiri. Kamu lihat ini,” ucap Ozayn, tangannya yang besar dan berurat—aku tidak tahu kalau anak nerd seperti dia bisa punya tangan yang indah seperti itu, dan tangan itu akan makin indah kalau sedang mengocok kontolku—damn Zavan, stop it you lust! Sisi binal bedebah!—menunjuk sebuah tulisan melingkar seperti ular yang ada di depan pintu Asrama Slytherin. Ya, ampun, itu tulisan apaan sih?

“Kitab Setan dari mana ini?” seruku, wajahku mengernyit ngeri.

“Zavan!” tegur seseorang dari belakang tubuhku. Aku menoleh dan melihat Revie yang baru saja pulang dari Sport Station—dia sih bilang gitu tadi pas mau ninggalin aku berdua sama Ozayn di rumahnya. “Buku Paket Kimia kamu bilang Kitab Setan?” Revie menarik kursi yang ada di seberang meja makan. Aku mengedikkan bahuku ke arahnya. Kayak aku peduli aja, mau itu Buku Paket Kimia kek, Buku Paket Fisika kek, tetap aja menurutku itu Kitab Setan. Tulisan yang ada di dalam Kitab Setan itu memusingkan, sangat memusingkan! “Oz, makasih ya udah mau gantiin aku ngajarin orang satu ini!” Revie tersenyum manis ke arah Ozayn. “Nah, sekarang aku mau kamu ngerjain tugas-tugas ini, tunjukkin ke kita kalo kamu memang dengerin penjelasan yang Ozayn kasih tadi!”

Mampus! Arggh, Revie, you’re not fun! “Oke!” Entah pikiran darimana aku memberikan Revie jawaban itu. Aku menarik kertas yang berisi tulisan melingkar seperti ular tersebut dan mulai memasukkan semua angka ke dalam rumus tersebut. Okay, think fast, Zavan, THINK!

TAPI AKU HARUS NULIS APAAN?! Kusipitkan mataku dalam-dalam, melihat tajam ke arah angka dan bentuk rumus yang nggak jelas itu. Aku lumayan mengerti sebenarnya, otakku nggak bodoh-bodoh amat kok. Tapi, ya itu, susah aja ngerjainnya kalau di bawah tekanan kayak sekarang. Seperti lagi ulangan, hanya diberi waktu beberapa jam saja. Hello! Spada, I speak to the world and universe, Einstein aja butuh bertahun-tahun untuk memecahkan satu buah rumus. Masa aku—sebagai pelajar tersiksa di sekolah—harus mengerjakannya dalam waktu beberapa jam saja. So luna!

Done!” seruku, kusodorkan kertas yang berisi jawabanku ke arah Revie. Mataku—yang kali ini berkhianat seperti Gollum di film The Hobbit—beralih ke arah Ozayn yang sedang menatapku lekat-lekat. Ketika mata kami bertabrakan, aku tersipu, dia tersipu, jantungku berdebar, mungkin kontolnya dia berdiri. Oke, aku hiperbola. Tapi berharapkan nggak dosa! Cepat-cepat dia mengalihkan kontol—matanya dari mataku. Aku juga langsung melakukan hal yang sama. Baiklah, pelajaran pertama Zavan, jangan suka nafsuan lagi sekarang! Berhenti berfantasi soal kontol, sesuka apapun dengan bentuknya.

Revie berdeham pelan, dia menyorongkan kembali kertas jawabanku ke depan tanganku. “Yang ini masih salah. Tapi rumus Lye nya sih udah bener. Kamu cuman salah masukkin angka yang ada di sini,” ujar Revie panjang lebar, jarinya yang lentik seperti kaki Winnie the Pooh menunjuk angka tiga satu perempat yang kutulis dengan gaya Ratu Elizabeth a.k.a rapi. “Tapi aku impress lho, meskipun kamu nggak begitu paham sama soalnya, tapi kamu kayak benar-benar nyoba supaya bisa ngerjainnya. Aku salut sama usaha kamu.”

Aku menepuk dadaku dengan bangga. “Siapa dulu dong… Zavan McKnight!” Aku berseru nyaring, membuat Revie memasang wajah anak-polos-minta-digampar. Maksudku, Revie memasang wajah menghina. Ozayn yang duduk di sebelahku tertawa syahdu, seperti lagu Lenka yang berjudul Like a Song. Membuatku tenang, rileks. Dia mengalihkan tatapannya ke arahku lagi, aku juga melakukan hal yang sama. Tanpa aba-aba, tanpa peringatan, kami saling melempar senyum. Dan rasanya… hatiku begitu pas. Semuanya terasa… indah.

Revie kembali berdeham. Membuatku mengerjapkan mata beberapa kali. Aku tidak sadar kalau sedang saling memandang dengan mata Ozayn yang hitam bersisi cokelat itu—seperti mata Edward Cullen, tapi aku benci Robert Pattinson—cukup lama. Kualihkan pandanganku sepenuhnya ke arah Revie, yang saat ini memasang wajah anak-polos-minta-dihajar. “Kalian nggak usah saling tatap gitu, nanti saling naksir lho.” Revie mengedipkan salah satu matanya. Bisa kurasakan pipiku yang berkulit putih ini berubah merah.

Oh, anjing! Kenapa bisa merah seperti ini? Aku tidak pernah mengeluarkan semburat memalukan seperti ini kecuali—ah, intinya Revie menyebalkan! “Don’t be fully—fucking silly! Emang ada ceritanya orang saling natap bakalan jatuh cinta?” tanyaku, mencoba menggunakan nada sarkas seperti Sid. Tetapi gagal. Gagal total. Aku memang tidak dilahirkan menjadi sarkas, bermulut tajam, sangat jujur, kejam dan mematikan seperti Sid.

“Ada!” sahut Revie cepat. “Romeo dan Juliet. Harry Potter dan Cho Chang. Harry Potter dan Ginny Weasley. Jack dan Rose. Naruto dan Hinata. Sanji dan Nami. Aku dan Bagas.” Revie tersenyum lebar, menampilkan seringaian tampannya. “Bukannya kamu sendiri yang bilang ya Zav ke kita, kalau kontak mata bisa menghadirkan sesuatu ke dalam… hati?” Revie tersenyum culas. Ah, dia belajar dari mana sih jadi jahat begitu? Pasti dari Sid! Atau Bagas?!

“Iya, kalo hatinya saling punya magnet. Biar saling tarik-menarik. Bukannya gue mau hina lo ya Zayn—gue manggil lo Zayn aja ya, daripada Oz—tapi itu memang kenyataan. Gue dan Ozayn nggak akan saling tertarik. Sampai kapanpun. Iya, nggak, Zayn?”

Ozayn mengangguk lamat-lamat. Aku tersenyum ke arahnya. Kini aku bisa lebih tenang. Entah kenapa, saat kami saling melempar senyum tadi, ada perasaan hangat yang merayap ke dalam tubuhku dan membuat sarafku yang semula tegang dan takut menjadi rileks. Ozayn membuatku rileks! Dafuq! Ya, sudahlah. Mungkin kini aku bisa sedikit lebih ramah padanya. Karena dia sudah tidak menjadi Ozayn yang dulu lagi. Ozayn yang, well, membuatku takut. Tidak, tidak! Bukan berarti aku picik, menilai orang dari penampilan—baiklah, aku memang picik… tetapi Ozayn memang membuatku ngeri. Ngeri kenapa? Ada banyak jawaban di kepalaku, tetapi aku sulit menemukan satu yang paling tepat.

“Kita kerjain tugas kamu besok lagi ya Zav,” ucap Revie, memecah keheningan mencekam. Seperti back sound di film Hantu Jeruk Purut yang kutonton dengan mantan pacarku yang namanya telah hilang dari ingatanku. Aku ingatnya dia meringis ketakutan saat kepala si Hantu Jeruk Purut menggelinding ke jalanan seperti bola Volly. “Nggak enak kalo belajar terus. Nanti kamu bisa kena kanker otak dan tumor otak sekaligus.” Revie tersenyum lebar, membuatku tertawa pelan. Dan Ozayn juga. Dia tertawa makin syahdu, seperti lagu Royals, Team dan The Love Club nya Lorde. Oh, aku cinta Lorde, by the way!

Aku baru saja ingin memasukkan semua kertas itu ke dalam postman bagku saat tiba-tiba Ozayn yang melakukan hal itu. Aku langsung bergeming, tersentak melihat hal yang dia lakukan. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Si cupu yang sudah menjadi seksi ini kenapa begitu perhatian denganku? Apakah dia tertarik denganku? Ah, tidak mungkin. Kan tadi dia menggangguk saat aku bertanya dia tidak mungkin tertarik denganku. Lagi pula Ozayn tidak masuk ke dalam gaydarku. Dia gay bukan ya? Mungkin dia seperti Matt, straight yang suka dunia gay. Atau radar gayku saja yang sudah soak?! Aku belum upgrade radar gayku sih!

“Malem ini Tivo ngadain acara makan malem di Diatmika Pent-House, Zav. Kamu sudah baca belum text nya dia?” tanya Revie, dia kembali duduk di depanku sambil memakan satu mangkuk besar es krim double dutch bercampur remah Oreo.

“O, ya?” Aku menarik iPhone ku dari dalam saku celana. Oh, pantas saja tidak kudengar notif iMessage masuk. Aku menggunakan profil silent. Kubuka slide lock iPhone ku dan membuka iMessage yang berisi dua belas pesan. Sebelas di antaranya dari mantan-mantan yang masih belum bisa move on, sedangkan yang satu lagi dari Tivo. Isinya adalah menyuruhku datang ke acara dinnernya malam ini. Kubalas pesan itu singkat. Ok. Done, message send. “Lo dateng nggak Rev?” tanyaku, kualihkan pandanganku ke arah Revie yang sedang asyik dengan es krimnya. Sedangkan Ozayn lagi membaca-baca soal remedialku.

“Da-teng!” ujarnya dengan mulut penuh es krim. “Ini aja sudah mau siap-siap. Makanya aku sama Bagas cuman bentar di Sport Station tadi. Beli sepatu futsal, langsung pulang deh!” Revie menelan es krimnya dengan susah payah. Wajahnya yang agak tirus mengembung kecil. “Tapi, kayaknya aku pakek baju gini aja ya? Kan kata Tivo cuman makan malam biasa. Nggak sampe ngundang orang-orang penting.”

“Terserah lo aja. Gue aja mau pakek baju ini buat ke sana. Lagian, puh-lease deh Rev, ini tuh Tivo yang ngundang. Bukan duta Inggris atau Pak EsBeYe!” Revie mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku menoleh ke arah Ozayn, menatap penampilan cowok nerd itu dengan pandangan menilai. Eh, emang Ozayn bakalan ikut ya? “Lo juga bakalan ikut pergi ke acara dinner nya Tivo—euh—Zayn?” Yah, meskipun aku sudah nyaman di dekatnya, namun aku tetap merasa rikuh dan kikuk jika berbincang dengannya.

“Dia pasti pergi dong!” Ini Revie yang menjawab. “Ozayn juga kan udah jadi bagian dari hidupku sekarang. Jadi ke mana aku ada acara, Oz bakalan ikut juga.” Revie tersenyum kecil.

Aku mengangguk-anggukan kepalaku, Ozayn yang duduk di sebelahku masih saja sibuk membaca soal remedialku dengan kening berkerut. Walaupun aku baru beberapa jam duduk di sebelahnya, namun aku tahu hal-hal kecil yang sering dia lakukan. Setiap sedang membaca sesuatu dia akan terlihat sungguh-sungguh, mendengarkan perkataan orang lain dengan serius, selalu tersenyum simpul, bergerak pelan, hati-hati, serta tingkah yang kaku. Entah apa yang terjadi—sepertinya si Gollum masih ada di dalam tubuhku—aku tersenyum asimetris. Aroma novel baru dari tubuhnya itu sungguh menyejukkan. Membuatku ingin duduk lama-lama di sebelahnya sambil membaca novel-novel yang belum kuselesaikan di rumah.

Kugigit bibir bawahku, melihat betapa menggodanya cara dia menggerakkan bibirnya ketika sedang membaca dalam diam. Aku ingin sekali menarik kepalanya ke arahku, mecium dagunya dan mendaratkan bibirku ke bibirnya—“Pacar kamu sekarang siapa Zav?” tanya Revie, membuyarkan fantasi nafsuku. Lekas, aku menolehkan mataku ke arah Revie. “Kamu lagi nggak ada pacar kan… sekarang?”

“Euh—“ Kukuakkan sedikit mulutku, bisa kurasakan Ozayn mengangkat kepalanya dari kertas soal remedial yang sedang dia baca. Aku berubah gugup, dia menatapku. “Nggak ada.” Aku tersenyum, mencoba menghilangkan rasa gugupku. Revie menopang dagunya dengan tangan, bibirnya juga ikut mengulas sebuah senyuman. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Ozayn mengulum senyumannya. Memangnya lucu ya kalau aku sedang tidak punya pacar? “Kenapa nanya? Tumben.”

“Nggak ada. Cuman pengen nanya aja sih,” ucap Revie dengan nada ceria. “Kamu tau nggak kenapa hubunganmu sama cowok-cowokmu itu selalu gagal?” tanya Revie, aku mendelik ke arahnya. Jangan bilang pada dunia—apalagi pada Ozayn—kalau aku gay! Bagaimana kalau Ozayn dendam padaku dan menyebarkan hal itu ke satu sekolah? Ozayn kan straight. Iya, kan? Dia tidak masuk ke radarku sih. Radar biadab! Pulang dari dinner Tivo aku mau meng-upgrade radarku ah. Ke IOS 8.0.4.

“Emang kenapa?” tanyaku sambil menoleh ke arah Ozayn, yang terlihat santai. Oh, mungkin dia memang seperti Matt. Atau dia gay juga? Ayolah, radar! Bunyi dong! BIP BIP BIP! Ozayn itu gay bukan ya? Badannya kayak And, kekar membahana. Tidak berlebihan juga sih, tapi tetap saja kekar. Lihat saja otot tangannya, dan urat-urat yang menjalar dari pergelangan sikunya ke atas tangannya. Disgustingly kyut! Pengen jilat deh! Oh, shit! Berhenti berfantasi penuh nafsu Zavan, berhenti!

“Karena nggak ada hubungan timbal baliknya,” jawab Revie akhirnya.

“Timbal balik?” Keningku berkerut, bingung. “What do you mean?”

“Iya, timbal balik. Saling memberi, saling menyayangi dan saling mencintai. Kayak: aku suka nontonin Bagas main futsal tiap malam minggu. Dan timbal baliknya adalah… Bagas selalu ngasih apa yang aku mau. Kita saling memahami, mencoba bersabar sama pasangan masing-masing. Nah, setiap kali kamu cerita ke aku soal hubungan kamu Zav… kamu nggak pernah ngelakuin hal itu. Kamu nggak pernah retweet perasaan mereka. Kamu nggak pernah mention nama mereka di hati kamu. Makanya gagal.”

Dahiku mengernyit, bukan karena bingung, tetapi karena ucapan Revie benar. “Well, bukan gue kok yang salah. Mereka aja yang memang nggak asyik. Payah! Lagi pula, lo ngomongin soal timbal balik apa Twitter sih? Pakek retweet dan mention segala.”

Enggop! Kita lagi bicarain soal timbal balik. Retweet dan mention itu cuman perumpamaan aja. Pokoknya, inti yang aku omongin adalah… kamu nggak punya cukup usaha untuk cinta.”

We talking about LOVE again? Same song again?!” tanyaku—plus seruku—tak percaya.

Yes!” sahut Revie cepat. “And we always talking about this again, again, and again. Until you believe and realize if love is exist!” Revie menatapku dalam-dalam. Ozayn yang duduk di sebelahku menatap wajahku dengan pandangan prihatin. Dan… durja. WHAT?! “Maaf Zav kalo aku kedengerannya kayak Shakespeare, tapi aku cuman pengen kamu bahagia.”

“Gue bahagia.”

No, you don’t!” Revie menatap wajahku, kali ini terlihat iba. Aku paling benci diberi tatapan seperti itu! “Kamu selalu senyum, kamu selalu ketawa, kamu selalu bisa buat orang lain bahagia… tapi kamu sendiri enggak. I can feel it. I’m your bestfriend. And I know you!” Aku terdiam, Ozayn terdiam, Revie terdiam, universe terdiam. “Karena yang selama ini aku lihat… kamu kesepian.” Perkataan itu langsung menohok jantungku. Menohok karena Revie benar. Kalau Sid selalu menang di setiap hal, Revie selalu benar di setiap perkiraannya.

Tetapi aku tidak mau terlihat lemah, terlihat makin menyedihkan. Kuberikan Revie sebuah senyuman. Senyuman palsu yang selalu bisa membuat orang terkena delusi. “I will be happy, just don’t worry, ‘kay!” Kukedipkan mataku ke arah Revie. Sahabatku satu itu hanya mengangguk lemah. “Jadi… gimana hubungan lo sama Bagas?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan. Aku paling tidak nyaman jika sedang membahas soal kehidupan pribadiku. “Kalian… baik-baik aja kan? Anak pertama kalian cewek apa cowok?”

Revie dan Ozayn tertawa, aku pun tertawa. “No gender! Anak kami kayaknya tertelan bumi deh.” Revie menyeringai lebar. Dasar! “Tapi aku punya sedikit kekuatiran. Well, mantan Bagas yang namanya Lusia itu selalu ngedeketin Bagas. Dan… kayaknya Bagas seneng-seneng aja. Aku takut kalau Bagas… ke cewek itu. Kan kalian tau, Bagas baru kali ini pacaran sama cowok. Dia bisa aja bosan dan… pergi.”

“Nggak akan terjadi, Rev,” sahut Ozayn cepat. Dia tersenyum—ah, manis sekali—ke arah Revie. “Bagas cinta sama kamu. Kelihatan kok dari cara dia mandang kamu. Orang buta aja bisa ngerasain. Iya nggak, Za-Zavan?” Dia menatapku malu-malu. Ozayn ini memang kikuk ya orangnya? Tetapi kenapa kalau sama Revie dan yang lain tidak? Atau karena dia masih takut padaku, karena selama ini aku selalu mengatainya… jelata. Tapi kan dia memang jelata.

“Ya, ya,” kataku, kukibas-kibaskan tanganku di udara. “Jangan terlalu takutlah! Tadi siapa nama si mantan Bagas ini? Lusia ya?” Revie mengangguk cepat. “Nah, kan pantes tuh. Lusia. Lutung Sialan!” Aku nyengir, Revie dan Ozayn tertawa agak kencang. Aku menatap mata Ozayn yang agak tertutup kalau sedang tertawa. Giginya tidak tersusun rapi, tetapi mirip gigi Close Up. Tring! Wew, aku butuh kaca mata! Silau, gan! “Sekarang yang lo harus kuatirin adalah… apakah lo masih bisa hamil? Coba cek rahim lo ke Rumah Sakit Ibunda, siapa tau lo kena kanker serviks!”

“Apaan sih!” kibas Revie. Aku dan Ozayn tertawa. Mata kami bertemu, dan kali ini aku tidak merasakan kegugupan sama sekali. Tawaku dan tawa Ozayn seperti aliran listrik, menyatu.

Dehaman maskulin membuyarkan tawaku dan Ozayn. Aku berbalik dan melihat Bagas yang sedang berjalan dengan langkah jenjang ke arah Revie. “Ayo, berangkat!” katanya, Bagas menepikan bokongnya yang kencang itu di pinggiran meja makan. No, yummy! Bagas punya Revie. Jijik deh pacaran sama pacarnya sahabat. “Eh, bentar, muka kamu masih belepotan es krim.” Bagas mendongakkan dagu Revie ke dekat bibirnya. Pelan, lidah Bagas menjilat es krim yang masih tersemat di pinggir bibir Revie. Tawa cekikikkan—seperti Mak Lampir—Revie benar-benar mengganggu. EW! Aku mengernyit dengki.

“Geli, ih, geli!” kata Revie masih terus cekikikkan seperti orang gila. Revie mendorong pelan tubuh Bagas, namun cowok itu tetap bergeming. Ya iyalah, badan Bagas bidang dan tinggi seperti itu. Sedangkan badannya Revie kecil dan mungil kayak Shaun the Sheep. “Ya, udah, kita berangkat sekarang aja!” katanya, saat Bagas mulai mencekal dagu Revie dan ingin mendaratkan ciuman di sana. Wajah Revie berubah semerah kepiting. Dia pasti malu ditonton olehku dan Ozayn. “Aku sama Bagas ya berangkatnya. Kamu sama Ozayn, oke? Sekalian kamu nanti anterin dia pulang.”

Kunaikkan alisku tinggi-tinggi. Satu. Mobil. Sama. Ozayn. Oh, NO! “Oke!” Nah, itu bukan mulutku yang ngomong. Itu sarafku yang lagi terganggu. Itu si Gollum jahat yang ada di dalam tubuhku. Revie terlonjak senang, entah senang kenapa. “Ayo!” kataku, kuambil postman bagku dan menatap Ozayn yang sedang menatapku dengan pandangan malu-malu dan takjub. Oke, dia memang masih jelata, aku masih tidak suka bau orang jelata. Tetapi Ozayn sepertinya beda. Aku sudah sadar itu, tetapi selama ini aku mengabaikannya.

Now, wish me luck! Semoga tidak ada hal aneh yang terjadi saat aku semobil dengan Ozayn!

***

Ozayn mengambil CD LMFAO dari atas dashboard mobilku. Dia membalikkan CD itu dan membacanya dengan cermat. Kami masih terjebak macet di daerah Jalan Santa. Lagu Safe and Sound dari Capital Cities memenuhi stereo mobilku. Sedangkan Ozayn saat ini masih sibuk membolak-balikkan CD yang lain. Sekarang yang sedang dia lihat adalah CDnya Selena Gomez. Aku mengernyit, aku tidak tahu kalau Ozayn suka lagu-lagu luar negeri. Kupikir dia seperti anak nerd lainnya. Mendengarkan lagu yang terbuat dari instrumen tawa lumba-lumba. Untuk menenangkan otak.

“Aku suka semua lagu yang ada di albumnya Blink 182 ini,” kata Ozayn dengan suara serak. Dia menatap wajahku malu-malu, agak gugup. Dia mengacungkan CD Blink 182 yang kubeli beberapa tahun yang lalu. “Dari semua lagunya, aku paling suka I Miss You dan Always.” Ozayn menaruh kembali CD Blink 182 ke atas dashboard mobilku.

“Lo suka lagu-lagu barat juga ternyata. Gue kira lo lebih suka lagu-lagu yang nerd gitu.” Aku menginjak gas saat mobil yang ada di hadapanku mulai beregerak. Meskipun hanya beberapa meter. “Siapa penyanyi solo dan band favorit lo?”

Di keremangan cahaya, mataku menatap lekat-lekat wajahnya yang tirus dan tegas. Rahangnya kuat, matanya yang sudah tak terbingkai kacamata terlihat berbinar, hidungnya agak mancung. Pas. Semua yang ada di dirinya terlihat pas. “Kalau band aku suka Coldplay dan One Rupublic.” Dia akhirnya menjawab, membuatku tertegun. Aku tertegun karena aku juga suka Coldplay dan One Republic. “Ehm, kalau penyanyi solo cowok aku suka Phillip Phillips dan Kris Allen. Kalau penyanyi solo cewek aku suka Lorde dan Lady Gaga.”

Aku makin tertegun. Kenapa bisa sama? Semuanya sama. Aku suka Coldplay, aku suka One Republic, aku suka Phillip Phillips, aku suka Kris Allen, aku suka Lorde, aku suka Lady Gaga. “Kok kesukaan kita bisa sama semua ya?” tanyaku heran, namun juga takjub luar biasa. Apakah aku dan dia… jodoh? Damn! Masa sih? Enggak ah! Tetapi kenapa jantungku malah berdebar-debar penuh harap seperti ini? Dasar stupid damn heart!

“Nggak tau,” ucapnya. Kali ini sangat gugup. Aku bisa mendengar suaranya bergetar. Tanda kalau orang tersebut sedang membuat bualan. Tetapi aku sedang tidak ingin berdebat soal kebohongan. Jadi aku diam saja, pura-pura mendengar lagu yang kini telah berganti ke lagu Ho Hey dari The Lumineers. Sosok Ozayn selain cupu, juga misterius. Aku suka itu.

Eh, WHAT?! Baiklah, lebih baik aku sekarang pura-pura bernyanyi, agar pikiranku tidak melantur ke mana-mana. “(Ho!) I’ve been trying to do it right  (Hey!) I’ve been living a lonely life  (Ho!) I’ve been sleeping here instead (Hey!) I’ve been sleeping in my bed, (Ho!) Sleeping in my bed.” Meskipun suaraku nggak sebagus Bruno Mars, tetapi tekhnik bernyanyiku luar biasa lho. Agnes Monica mah kalah. Coba deh kalian dengar suaraku, pasti langsung budeg dan nggak bisa bernafas lagi. Saking indahnya, iya kan? La la la….

(Ho!) So show me family  (Hey!) All the blood that I would bleed  (Ho!) I don’t know where I belong  (Hey!) I don’t know where I went wrong  (Ho!) But I can write a song.” Aku terdiam, melihat Ozayn menyambung laguku. Dia bernyanyi sambil tersenyum simpul. Mata kami kembali saling bertabrakan, dan gelenyar yang makin aneh masuk ke dalam tubuhku. Rasa ngeri itu datang lagi… dan aku kini tahu jawabannya. Rasa ngeri itu adalah… aku takut jika jatuh kepadanya. Seperti yang kurasakan sekarang! Semoga ini hanya nafsu belakaku saja.

“1, 2, 3  I belong with you, you belong with me, you’re my sweetheart, I belong with you, you belong with me, you’re my sweet.” Kami bernyanyi serempak, dengan suara yang pas-pasan. Aku dan Ozayn tertawa, agak kencang, membuat orang yang ada di dalam mobil yang ada di sebelahku menoleh. Aku tersenyum ke arah—ew, wajahnya kayak hantu muka rata—cowok itu. Kunaikkan kaca mobilku—aku tadi membukanya karena lagi merokok, sekarang sudah enggak. Kami kembali melanjutkan lagu kami. “I belong with you, you belong with me, you’re my sweetheart, I belong with you, you belong with me, you’re my sweet.

Kami menutup lagu dengan dramtis. Aku menangkupkan tanganku ke udara seperti Giring Nidji, sedangkan Ozayn mengangkat tangannya seperti Rian D’Masiv. WOW! Kami akan mengalahkan para musisi Indonesia yang gayanya nggak banget itu semua. Lihat saja kami, terlihat profesional dengan suara seperti orang yang sedang memanggil setan untuk datang. Suara kami yang merdu, bagaikan lagu pemanggil arwah penasaran untuk kembali ke Bumi. Eh, kenapa aku malah menghina suaraku sendiri? Enggak ah, suaraku indah kok. Ada unsur Sariosanya. Merdu gila!

“Kalo kita berdua rekaman di Sony Music, kita bakalan diterima nggak ya?” tanyaku, sambil memfokuskan kembali mataku ke jalanan yang mulai lenggang. “Gue punya temen yang bisa buat kompilasi lirik dan lagu yang bener-bener bagus. Kita minta dia buatin kita lagu, terus kita nyanyi bareng. Jadi duo yang akan menggemparkan dunia.” Aku tersenyum lebar, dari sudut mataku aku bisa melihat Ozayn juga memberikan senyuman yang sama sepertiku.

“Nggak ah, aku bukan jenis orang yang mudah pecaya diri. Lagian, suara kita lebih cocok untuk ngiringi upacara kematian.” Aku kembali tertawa. Keras. Aku tidak pernah tertawa keras seperti ini. Di flocksku, hanya aku satu-satunya yang sering membuat lelucon. Tetapi, kali ini aku tahu rasanya mendapatkan lelucon yang benar-benar lucu. Atau karena Ozayn nya yang lucu. Dan sangat manis saat tersenyum?

TAIK KUCING! Aku ngelantur lagi, kan! “Ja-jadi… sejak kapan lo jadi kayak….” Aku menunjuk penampilannya yang berubah. Ozayn menunduk malu, walaupun di wajahnya tidak menampilkan semburat merah—dia kulitnya cokelat sih, jadi nggak begitu kelihatan—tetapi aku tahu dia merona dan gugup. Dia mengangkat tangannya, menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin tidak gatal sama sekali. Ugh, hal cliché yang sering manusia lakukan saat sedang nervous.

“Sejak beberapa bulan yang lalu. Mungkin sekitar… setengah tahun.” Mataku terbelalak lebar. Setengah tahun aku tidak sadar kalau si nerd jadi hawt kayak sekarang! Kemana saja hidupku di DIS selama setengah tahun itu? Ayo, kemana? Aku kelayapan di mana aja, ya?!

“Gue bener-bener nggak nyangka kalo lo bakalan berubah kayak… sekarang.” Aku menatap wajahnya yang masih tertunduk. Empat detik kemudian dia akhirnya menengadahkan kepalanya dan menatapku. DEG! Jantungku kembali berdebar. Kenapa selalu berdebar seperti ini? For sex’s sake! Itu hanya Ozayn. Cowok cupu—dulunya—nan jelata yang sama sekali tidak ingin kulirik dua kali saat aku melintasinya. Atau kadang aku menganggapnya invisible. Tak terlihat. Seperti Harry Potter saat menggunakan jubah gaib.

“Kenapa?” tanyanya, membuatku mengerjapkan mata beberapa kali. “Ada yang aneh ya sama mukaku?” tanyanya sambil memegang wajahnya. Dia kembali menoleh ke arahku, tersenyum sekali lagi, membuat bibirnya berkedut. Menantangku untuk menciumnya. Dan jantung ini juga masih berdebar-debar kencang seperti tabuhan marching band. Kutarik nafasku dalam-dalam. Breath in, breath out. Breath in, breath out. Breath in, breath

Baiklah! Aku tidak boleh berdebar-debar terus seperti ini! Seharusnya yang merasakan penuh debaran itu si Ozayn. Harus! Karena dia duduk di sebelah cowok pemikat sepertiku. Aku bukan mau membanggakan diriku—baiklah, dasar orang brengsek, aku memang sedang membanggakan diriku sendiri. Kenapa? Nggak suka? Masbayu huh, masalah buat you? Oke, aku akan melakukan permainan ini. Aku akan membuat Ozayn tertarik denganku setengah mati. Aku akan membuat jantungnya berdenyut kencang seperti tabuhan lagu David Guetta!

Kumajukan kepalaku ke dekat kepalanya. Ozayn tersentak mundur, refleks. Raut wajahnya terkejut, tidak menyangka kalau aku menaruh wajahku di depan wajahnya. Jarak kami hanya beberapa sentimeter. Kalau aku memajukan sedikit lagi kepalaku, bibirku bisa meraih bibirnya yang penuh godaan itu dan melumatnya lama-lama. “Ke—ke—kenapa?” tanya Ozayn, suaranya amat gugup. Hawa mulutnya sangat mint. Seperti aroma mint rokok Dunhill yang sangat suka kuhisap saat sedang stress. Atau saat aku sedang kesepian. Yeah, rite!

I like your eyes,” ucapku, menggunakan nada dalam. Ingin membuat sarafnya tergoda akan diriku. Tetapi tidak, aku hanya sedang menahannya. Membiarkan Ozayn bermain-main dengan pikirannya terlebih dahulu. “Gue suka kelopak mata lo,” kataku, kutelusuri kelopak matanya dengan tanganku, menyentuh kehangatan yang ada di sana. Bisa kurasakan nafas Ozayn menderu dan tersendat. “Gue suka bulu mata lo,” kataku lagi, masih melakukan hal nakalku kepadanya. “Gue suka mata lo. Berbinar. Such a starry-eyed!”

Bisa kurasakan jantungnya berdentum-dentum di balik kaus Forever 21 nya. Aku tersenyum. Aku memang selalu berhasil melakukan hal ini. Menggoda bukan perihal yang sulit untukku. Dan Ozayn adalah cowok yang menjadi targetku sekarang. Lupakan semua kontol busuk itu semua, kini aku akan memainkan mainan baru. Ozayn. Aku suka dia, dan aku telah menandainya sebagai teman seksku yang selanjutnya. Lupakan kalau dia seorang jelata! Aku semacam tali yang menarikku masuk ke dalam karismatiknya. Aku suka cara dia bergerak, dan aku tahu, saat dia bergerak di atas tubuhku, aku akan makin menyukainya.

“Dan gue juga suka—“ Kusentuh bibirnya dengan ujung telunjukku. Ozayn terlihat ling-lung, dia menunggu. Menungguku melangkah, apakah aku akan mencium bibirnya. Oh, Kiss me, kiss me, please retweet! Kudekatkan kepalaku ke arahnya, sengaja berlama-lama menahan bibirku untuk menciumnya. Saat aku ingin mengecup bibirnya, tiba-tiba mobil yang ada di belakangku membunyikan klakson! DASAR PECUN SETAN! Mengganggu ritualku saja!

Ozayn tersentak, dia memalingkan wajah dan tidak berani menatap mataku. Aku kembali ke posisiku semula. Melirik sebentar ke Pelacur yang ada di dalam mobil yang ada di belakangku. Sigh! Padahal aku akan mendapatkan ciuman dari bibir penuh godaan itu. Dengan perasaan kesal, aku menginjak gas dan mulai menjalankan mobil. Drat, stupid bitch!

Selama perjalanan menuju ke Diatmika Pent-House, tidak ada satupun dari kami yang membuka mulut. Aku masih kesal dan mempunyai keinginan yang besar untuk mencium Ozayn, sedangkan Ozayn masih terlihat ling-lung. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan—ya iyalah, aku bukan Charles Xavier. Hanya dia satu-satunya orang yang sangat sulit untuk kumengerti. Dari tingkah laku dan segala tetek bengek nggak penting di dalam dirinya. Ozayn membuatku bertanya-tanya. Dia sok misterius, dia seperti Gargamel. Yeah, penyihir jahat yang ada di film The Smurfs—but in a good way, of smurfcourse!

Lagu Heart That’s Pounding dari Sally Seltmann mengalun lembayung dari speaker. Lagu itu seakan-akan menjadi pengganti ucapanku. Jantungku masih berdebar kencang, seperti ada yang memompanya terlampau berlebihan. Oh, Mama Gaga, I hate you! I really fucking anjing babi brengsek bajingan hate you so much! Kenapa sih jantung ini tidak bisa berdetak normal saja? Kenapa bibir Ozayn terngiang-ngiang di dalam ingatanku? Betapa lembut bibir itu saat kusentuh dengan ujung telunjukku, betapa hasrat yang ada di dalam diriku seakan-akan tertarik untuk selalu dekat dengannya, dan betapa misteriusnya sosoknya itu.

Aku melirik wajahku di spion yang ada di atas kepalaku. Wajahku terlihat tersiksa. Tersiksa karena aku setengah mati ingin menciumnya. Dan kenapa aku belum sampai-sampai juga sih? Kenapa Mama Gaga seakan-akan menyiksaku untuk berlama-lama berduaan dengan Ozayn? Ugh, I hate you Mama Gaga! Yes, you heard me, rite! I hate you so many-much-a lot! And, homage-puh-leaseeeee help me! Anyone, somebody? Adele? Lenka? Where are you? Aku benar-benar ingin segera beranjak menjauh dari sosok Ozayn. Karena kalau sampai lima menit lagi aku duduk bersebelahan dengannya aku akan menginjak rem dan mencium—

Oh, sudah sampai, ternyata! Thanks, Yahudi! Cepat-cepat aku mencari tempat parkir. Tidak berduaan lagi dengan Ozayn adalah hal yang paling penting saat ini. Aku benci sisi nafsuku yang terlalu berlebihan. Tetapi aku tidak pernah seperti ini! Ah, kenapa aku tidak berlaku jahat saja pada Ozayn? Aku sadar betul, selama ini aku menjauhinya karena ada dua hal yang kutakuti di dalam dirinya. Dan salah satunya adalah ini. Aku tertarik dengannya. Oke, mungkin bukan tertarik secara hati. Tetapi tertarik ke dalam hal yang lain. Seks, contohnya. I hate my sin lust! Tuhan pasti lagi dalam mood yang bagus saat membuat Ozayn. Dia terlihat, well, luar biasa menggoda. Selalu. Dia selalu begitu. Yeah, rite, menggodaku!

“Ini gedung punya keluarga Tivo kan?” tanya Ozayn, matanya menoleh ke luar jendela saat aku sedang menarik tuas rem. Pelan, aku mengangguk. Ozayn tersenyum, rona wajahnya tersamar di balik kulitnya yang cokelat eksotis itu. Fark! You are so lucky one! Punya kulit bagus seperti itu! Tidak seperti kulitku, terlalu putih, jadi terlihat pucat seperti keluarga Cullen lagi kena overdosis. Ada luka sedikit saja pasti langsung terlihat jelas. Sigh!

Come to my fellowship!” ajakku lekas, suaraku terdengar agak gentar. Aku membuka pintu mobil dan berjalan cepat menuju ke dalam gedung berlantai lima puluh yang ada di depanku. Gedung yang berisi kantor, restoran dan apartemen kepunyaan keluarga Tivo. Aku kemarin ingin menyewa apartemen di sini. Tetapi biayanya sangat mahal. Di lantai paling atas saja setahun delapan puluh juta. Sedangkan uang jajan bulananku dari Matt dan Anna hanya sekitar beberapa ratus juta—yang akan habis dalam waktu dua hari. Sigh times two!

“Aku baru sadar kalau bangunan tinggi ini punya keluarganya Tivo,” kata Ozayn, dia berjalan di belakangku. Aku tidak mau menoleh, pokoknya aku harus menjauh dulu darinya. Yah, berikan aku radius sekitar lima meter. Biasanya kalau otakku sedang dalam mode nafsu begini, aku harus menjauhi orang tersebut. Atau aku harus membaca jampi-jampi yang sering diajarkan oleh Psikologku. Oke, jampi-jampinya adalah: jangan mau sama dia Zavan, kontolnya penuh kudis, kurap, panu dan jamur. Dia terkena Sipilis, jauhi dia! JAUHI DIA!!!

Sex in the air, I don’t care, I love the smell of it!

Shit! Ini si Rihanna ngapain sih malah pakek nyanyi S&M di telingaku?! Membuat jampi-jampiku gagal saja. Siapa juga yang nyetel lagu ini—oh, ternyata aku sedang menggunakan earphone dengan volume kecil. Cepat-cepat kumatikan lagu Rihanna yang brengsek itu—well, aku tetap suka kok lagunya—dan mengulang kembali jampi-jampi yang tadi aku terapkan pada diriku sendiri. Aku tidak akan tergoda oleh Ozayn, atau nanti saja tergodanya. Aku tidak punya banyak waktu kalau ingin bermain-main dengannya saat ini. Oh, aku benar-benar suka jika sedang memainkan permainanku sendiri. Aku serasa menjadi superhero nya. Dan aku yakin aku akan menang. Yeah, watch me, Bieber bedebah!

“Zavan!” panggil Sid dua meja dari tempat aku berdiri. Dia melambaikan tangannya ke arahku dengan gerakkan kasual. Aku menarik ujung kemejaku yang kusut, melirik sekilas ke arah Ozayn yang berdiri kikuk di belakangku. Kutelengkan kepalaku, menyuruhnya untuk jalan duluan. Dia terlihat ragu, namun akhirnya dia melangkahkan kakinya juga. Aku berdeham, untuk menghilangkan rasa gugup yang sedaritadi ada di dalam diriku. Aku tidak ingin flocksku bertanya-tanya kenapa aku bisa segugup ini. Karena gugup bukan sifatku, itu sifat Revie kalau sedang berdiri di sebelah Bagas—dulu sih.

Langkahku terhenti saat aku melihat kalau flocksku tidak hanya membawa diri mereka saja. Sid dengan Adam. And dengan Vick. Revie dengan Bagas. Tivo dengan Peter. Dan mereka semua duduk bersebelahan, saling tertawa, melempar lelucon yang tidak aku ketahui. Mata mereka penuh dengan sarat kebahagiaan, senyuman mereka selalu merekah sepanjang detik berdetak. Aku mengkerut, merasa kalau dunia begitu kejam. Yeah, Mama Gaga, I hate you again! Kenapa sahabat-sahabatku kini lebih banyak meluangkan waktunya dengan pacar mereka? Kenapa tidak hanya kami berlima? Seperti dulu lagi.

♫Now playing: Akon – Lonely.

“Sampe kapan lo mau berdiri di sana?” tanya Sid, salah satu alisnya terangkat naik. Angkuh. “Duduk tuh di sebelah Ozayn!” Sid memperintahkanku menggunakan nada alphanya. Dia menunjuk sebuah kursi yang tepat bersebalahan dengan Peter dan Ozayn. Aku memasang senyuman lebar penuh kepalsuan ke arah mereka. Kutarik kursi itu, lalu mendaratkan bokongku di sana. “Gue nggak nyangka kalo lo bakalan semobil sama Ozayn.”

Aku nyengir. “Lo aja nggak nyangka, apalagi gue.” Mereka tergelak. Ozayn yang duduk di sebelahku—rasa nafsuku padanya sudah hilang, digantikan rasa kesepian—juga ikut tergelak. “Ada acara apaan sih, sampe dinner di sini dan serame ini?” tanyaku kepada Tivo, yang sedang membaca sesuatu di iPadnya—kitab kesayangannya itu, bleh! “Jangan bilang ke gue kalo salah satu di antara kalian bakalan nikah bentar lagi?! Tsah!” Mataku memicing tajam, berpura-pura mendramatisir keadaan. Fake Zavan muncul lagi di dalam diriku.

Tivo mengibaskan tangannya di udara, dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum padaku. “Cuman acara dinner biasa kok. Lagian, kapan lagi kita bisa ngumpul rame-rame kayak sekarang? Sama pasangan masing-masing lagi.” Dari sudut mataku, aku bisa melihat tangan kanan Tivo yang sedang menggenggam tangan kiri Peter di bawah meja. EW! Puh-lease, deh! “Dan kapan lagi kita bisa bawa pasangan secara lengkap kayak sekarang.”

“Maksud lo?” tanyaku, mataku kembali memicing.

“Iya. Secara lengkap. Sid dan Adam. And dan Vick. Revie dan Bagas. Gue dan Peter. Lo dan… Ozayn.” Mereka berdelapan tersenyum licik ke arahku. Nah, kan, aku jadi bahan olok-olokkan di sini. Perasaanku memang sudah tidak enak daritadi. Geez!

Suit yourself, guys!” kataku acuh. Mereka tertawa serempak, membuat beberapa pasang mata menoleh ke arah kami. Ugh! Kulirik Ozayn yang duduk di sebelahku, namun dia tetap diam saja. Gosh! His not helping at all. Daripada aku makan hati—rasanya sungguh menjijikan—aku menarik buku menu yang ditaruh di tengah meja. Untuk sementara, semua pikiran orang-orang jahanam yang ada di atas meja ini teralihkan ke buku menu. Untung saja itu bertahan lama, mereka tidak mengolokku lagi. Sampai makanan tiba pun, pikiran mereka tetap teralihkan. Namun, aku sangat benci mereka. Karena… mereka mengacuhkanku. Tidak menganggapku ada, tidak mengajakku dalam pembicaraan.

Aku… kesepian. Kutolehkan kepalaku ke arah Ozayn, dan… dia tersenyum. Jantungku kembali berdebar. Senyuman itu membuatku merasa nyaman. Aroma novel baru yang ada di dalam tubuhnya membuatku tenang. Kubalas senyumannya. Ingin sekali aku menggenggam tangannya. Tetapi, tidak! Aku harus menahan diri. Kutolehkan kembali kepalaku ke arah flocksku. Namun itu adalah tindakan yang bodoh. Aku makin kesepian saat melihat semua adegan itu. Semua adegan mesra terselubung mereka. Perasaan dengki, diacuhkan, dianggap tidak ada, marah, dan kesendirian menyelimutiku.

Adam menyiram Ratatouille Sid dengan saus landanoil. Sid memasukkan beberapa gula, cream dan sweet mocca ke dalam gelas kopi Adam. And membukakan Vick kepiting dengan penjepit. Vick menyendok keluar daging kerang dan menaruhnya di atas piring And. Bagas mengolesi roti bakar Revie dengan selai es krim. Revie memotong pinggiran roti bakar karena dia tahu Bagas tidak suka pinggiran roti. Tivo menuang sampanye ke dalam gelas Peter. Dan Peter menyisihkan sayur-sayuran yang Tivo tidak suka dari dalam makanan Tivo. Sedangkan aku—tertawa miris—tidak ada yang melakukan sesuatu yang manis untukku. Aku benar-benar merasa sendiri sekarang. Aku ingin pergi ke Bulan, orang bumi jahat semua!

Aku baru saja ingin bangkit dan beralasan ingin pergi ke toilet, aku tidak tahan lagi ada di sini. Namun niatku urung saat melihat Ozayn memeras jeruk nipis ke dalam minuman sodaku. Aku mengernyit, soda, jeruk nipis. Itu adalah kombinasi minuman yang kusuka. Bagaimana dia bisa tahu? Aku menoleh cepat ke arahnya, dia menoleh ke arahku, kikuk. “Euh—kamu suka kan kalo minuman soda dicampur sama jeruk nipis?” tanyanya hati-hati. Aku tertegun beberapa detik, ingin sekali aku bertanya, dia tahu dari mana. Tetapi aku mengurungkan niatku. Alih-alih bertanya, aku menarik serbet yang ada di depan tangannya.

Kutaruh serbet itu di atas pahanya. Ozayn bergerak agak gelisah. Kudongakkan kepalaku dan tersenyum tepat di bawah dagunya yang agak lancip. “Biar pas lo makan nanti, celana lo nggak kotor kena percikkan makanan.” Bagai matahari merekah di pagi hari, dia tersenyum. Untuk beberapa detik, aku menahan posisiku. Ingin melihat senyuman itu dari dekat. Dan, demi apapun di dunia ini, senyumannya terlihat sangat indah. Menawan. Memukau. Seseorang berdeham, aku langsung memundurkan kepalaku menjauh. Aku mengalihkan tatapanku ke flocksku lagi. Mereka menatapku dengan alis terangkat, heran. “What?” tanyaku, Revie mode on. Mereka hanya mengedikkan bahu dan kembali sibuk bicara.

“Makasih buat serbetnya,” bisik Ozayn di sebelahku. Aku tersenyum.

Sepuluh menit di dalam kesendirian membuatku risih. Beberapa kali aku mengajak flocksku bicara, namun mereka langsung mengacuhkanku lagi dan lagi. Lenka, please, sing me a happy song! Oke, aku akan kembali mengajak mereka bicara. “Hey, guys!” panggilku. Mereka langsung menoleh serempak. “Kalian lihat cowok manly yang ada di sana nggak?” Mereka mengangguk. “Pasti gay deh.” Mereka menaikkan alis. “Lihat aja gerakkan tangannya. Kelihatan kok.” Mereka melihat, cowok itu bergerak perlahan—ngondek terdeteksi. “See? Yang namanya gay, mau sejantan apapun, tetap aja… cucok.”

Mereka tertawa sebentar, kemudian mengacuhkanku lagi. It hurts! Aku benar-benar dianggap tidak ada di sini. Mereka semua sibuk bicara dengan pasangan mereka masing-masing. Sid dan Adam seperti sedang berdebat akan sesuatu, namun sambil melempar senyum. And dan Vick sedang tertawa-tawa akan sesuatu yang lucu di iPhone mereka masing-masing. Revie sedang melakukan percobaan dengan rambut Bagas, dia buat rambut pacarnya bengkok sana bengkok sini. Sedangkan Tivo dan Peter sedang membicarakan perihal tempat yang akan mereka kunjungi saat tahun baru nanti.

Aku. Sungguh. Tidak. Tahan. Lagi. “Hey, guys!” panggilku untuk kesekian kalinya, sampai aku juga bosan mendengarnya malam ini. “Gue keluar dulu ya. Pengen ngerokok. Di sini kan dilarang buat ngerokok.” Mereka mengangguk serempak, tanpa menoleh ke arahku. Lekas, aku langsung bangkit dan beranjak menjauh dari mereka dengan langkah panjang. Kukeluarkan kotak rokok Marlboro Lights ku dan menyulutnya cepat meskipun aku masih ada di dalam restoran ini. Otakku benar-benar lelah dan aku sangat marah pada dunia!

Aku duduk berselonjor kaki di pinggiran tempat parkir, membiarkan angin malam menghembuskan rambut yang sengaja kusemir pirang. Kujepit rokokku di antara lipatan bibirku, menghisap dalam-dalam asapnya, kemudian menghembuskannya ke udara. Membuat semacam gumpalan putih meliuk di terpaan angin. Ini adalah malam kedua yang paling buruk yang pernah terjadi di hidupku. Aku benar-benar merasa hampa. Seperti tidak ada satu orang pun yang peduli akan keadaanku.

“Zav,” sapa seseorang, aku menengadahkan kepala dan melihat Ozayn di hadapanku. Rambutnya yang bergaya spike itu melayang-layang karena angin. Membuatnya seperti Ether, dewa udara. “Aku cariin ternyata ada di sini.” Suaranya masih agak gugup, tetapi aku tahu dia mencoba nyaman jika sedang bicara denganku. “Aku boleh duduk di sebelah kamu?” tanyanya takut-takut, dia melirik mataku laun, mencari sesuatu di pupilku. Aku tersenyum kecil, menggeser dudukku sedikit agar dia bisa duduk di sebelahku.

“Rokok?” tanyaku, kusodorkan kotak rokokku ke arahnya. Dia terlihat ragu-ragu. Aku tahu dia tidak merokok. Entah bagaimana aku tahu, pokoknya aku hanya tahu. Ozayn menarik satu batang rokok dari dalam kotak Marloboro Lights ku. Kukeluarkan lighterku dari dalam saku kemejaku dan menyulut rokoknya. Ujung rokok itu menyala, berwarna merah api. Ozayn menghisapnya sedikit, dan tak lama kemudian dia terbatuk. Aku terkekeh, sudah kuduga. “Kalo nggak bisa ngerokok, jangan ngerokok!”

Tetapi Ozayn tetap menghisap rokok itu, kali ini batuknya agak berkurang. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya, dia masih sibuk menyeimbangkan cara menghisap dan menghembuskan asap rokok yang dia hirup ke dalam mulutnya. Kuinjak rokokku yang telah habis. Kukeluarkan satu batang lagi, hanya rokok yang bisa membuatku tenang saat ini. Aku baru saja ingin mengeluarkan lighterku ketika aku ingat kalau aku sedang dalam permainanku. Aku menoleh ke arah Ozayn. Dia masih sibuk berkonsentrasi dengan rokoknya. Kumajukan kepalaku ke dekatnya, dia tersentak dan bergeming. Aku kembali tersenyum. Kudekatkan ujung rokokku di rokoknya. Kuhisap dalam-dalam agar rokokku bisa terbakar ujungnya.

“Lagi nenangin pikiran,” jawabku akhirnya, kugunakan nada menggodaku. Mataku bertemu dengan—shit!—aku sungguh-sungguh suka matanya. Mataku berpindah arah ke bibirnya. Bibir itu agak terkuak, basah. Dari bentuk bibir itu aku tahu, aku sangat tahu artinya. “Lo nggak pernah ciuman ya sebelumnya?” tanyaku, melihat dalam-dalam bibir itu. Pantas saja bibir itu merusak batin binalku.

“I—Iya,” gagapnya pangling. Aku sungguh tidak bisa menahan seringaian lebarku.

Bibir perawan. “I like virgin lips,” ucapku. Bibirku sudah tidak tahan lagi untuk segera menciumnya. Aku tidak tahu dia gay apa bukan, tetapi ini yang kutahu; dia akan menyukai—bahkan tidak akan melupakan—cara aku menciumnya. Kutarik rokok yang ada di sela-sela bibirnya, bersamaan dengan rokokku, kumatikan rokok itu dengan ujung sepatuku. “Ikut gue!” tuturku, kuberikan Ozayn sebuah senyuman menawan.

“Kemana?” tanyanya, dahinya berkerut. Aku hanya menyeringai kecil, oh, bara-bara-bere-bere, help me to control myself! Kutarik lengan bajunya dan kubawa dia ke arah mobilku. Ozayn hanya terdiam dan terus mengikutiku sampai aku sampai di depan mobilku. Kulepaskan tanganku yang tersampir di lengan bajunya. Kutekan tombol open dan no alarm di kunci mobilku. Dengan sekali sentak, aku membuka pintu penumpang di bangku depan lebar-lebar. Aku berbalik ke arah Ozayn dengan wajah mempesona.

“Ayo, masuk!” perintahku, agak tegas. Setengah memaksa mungkin. Tetapi, IDC, I want him! NOW! Agak bimbang Ozayn menatapku, namun akhirnya dia menuruti apa yang kuperintahkan kepadanya. Dia masuk ke dalam mobilku dengan luwes. Aku tersenyum, kulirik area parkiran yang lumayan sepi. “Tekenin pedal yang ada di kanan kursinya, mundurin sedikit kursinya, supaya gue bisa muat buat masuk!” Ozayn makin bingung, tetapi dia dengan patuh langsung melakukan apa yang kusuruh. Setelah kursi benar-benar mundur, aku masuk ke dalam. Ozayn menegang kaget saat aku duduk di atas pangkuannya. Kami berhadapan, bisa kurasakan pahanya yang kokoh dan liat di bawah tekanan bokongku.

♫Now playing: Icona Pop – I Love It.

“Gue bakalan ngajarin lo cara ciuman, lo mau kan!” Itu bukan pertanyaan, aku menyatakan pernyataan selugas mungkin. “Peratruran pertama saat berciuman: jangan kaku! Kedua: jangan ditutup terus bibirnya! Ketiga: biarin lidah kita saling menyatu. Keempat: hindari sindrom mesin cuci, arti harafiahnya, saat lidah kita ketemu, jangan saling ngait-mengait! Kelima: nikmati ciumannya!” Ozayn menahan nafasnya saat aku mendekatkan bibirku ke bibirnya. Seperti lagu Angels, mengalun dan mengalir, seperti itulah saat aku mendaratkan bibirku di bibirnya. Manis! Itu kesan pertama yang kudapatkan. Kutaruh kedua tanganku di pipinya, menekan bibirku lama-lama di bibirnya. Ozayn mengerang, sedikit demi sedikit dia mulai membuka mulutnya, mengucapkan selamat datang kepada lidahku saat bertemu dengan lidahnya yang beraroma jeruk nipis dan rokok. Paduan aroma yang menyejukkan. Mama Gaga, I love you so many-much-a lot! Kalau tadi aku ada bilang aku benci kamu Mama Gaga, anggap saja aku lagi khilaf! Kan manusia punya masa khilafnya masing-masing!

Aku tersentak saat Ozayn menjilat lidahku. Dia membalas ciumanku! Tangannya memeluk kencang pinggangku. Bisa kurasakan ada yang mengeras di balik celananya. Aku tersenyum sambil terus menciumnya. Kubuka mataku, menghentikan ciuman. “Gue udah pernah bilang belum kalo gue suka mata lo?” tanyaku serak. Ozayn membuka matanya dan mengangguk. “Kalo gitu, gue mau kita ciuman sambil saling tatap!” Kulumat kembali bibir Ozayn, dan dia langsung menyeruakkan lidahnya ke dalam mulutku. Matanya tertumbuk dengan mataku. Dan aku serasa tenggelam di dalam pupilnya, di dalam dirinya.

Kumasukkan tanganku ke dalam kausnya. Merasakan detak jantungnya yang menderu kencang, merasakan gumpalan daging keras dada bidangnya dan pundak lebarnya yang seakan-akan memberitahuku, kalau aku bisa tidur di pundak itu kapanpun aku mau. Ozayn makin kencang memeluk pinggangku, mata kami yang saling tatap seperti ini memang sungguh-sungguh—oh, sindrom mesin cuci sungguh terjadi! Ini buruk! Karena aku akan kehilangan kontrol jika sudah mengalami hal ini. Lidah kami yang saling menjilat seperti ini—asshole! Whatever! Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya! Ahhh!!!

–Aselole, bitch! Bersambung yak!–

Makasih buat yg masih nunggu, jadi, apakah kalian masih hidup? Wahh, New Day chapter 4 akan muncul kalau kalian mengomentari isi cerita ini. Gue akan mengepostnya jika menemukan komen yg nggak OOT.

Yeah, jadi, apakah kalian rindu sama gue? Kalau nggak, awas lo, gue kutuk jadi batu berbentuk homo. Hihihihi…

Oke… gue mau minta maaf kalau updatenya lama ya, maaf bgt. Taulah, gue kan sibuk. Sibuk apaan? Hanya Tuhan yang tahu, gue aja nggak tau sibuk apaan. Buat kalian, please, jangan mencerca gue ya karena updateannya telat…

532021

12e2e4d0-9670-11e3-a2ee-894a18bd85ab_469448029

BeKLSv6CUAEgqbC

Dadadadadadadahhhhhh!!!!! See you di post selanjutnya. Ciwikeke, muaaccchhhh!!!!

NB. Jangan lupa vote ya :-P

Weather Series Vote

New Day (2)

DIS_

Chapter 2

Ҧ Envy Like a Gigolo

Orang kewl dan hawt yang ada di hadapanku ini ternyata Ozayn! Masa sih?! Tetapi kalau diperhatikan lagi dia memang mirip Ozayn. Aku pernah melihat dia dalam bentuk seperti ini saat kami satu kelompok di pelajaran Biology ketika kami masih di grade sepuluh. Waktu itu aku dan dia harus mengerjakan tugas pengawetan hewan. Kami bertemu di Lab yang ada di Jakarta Pusat. Seperti biasa, dia akan mengenakkan kaus oblong keluaran Mangga Dua dan berdiri gelisah seperti anak cupu kebanyakkan.

Tetapi aku melihat perubahannya waktu itu. Saat kami sedang memburu Cicak di rumah Adam—di rumahku tidak ada Cicaknya, makanya kami pergi mencari ke rumah Adam dan Bams—wajah Ozayn yang cupu itu kelelahan dan penuh keringat—seksi. Karena dia yang kusuruh mengelilingi rumah Adam dan Bams untuk mencari Cicak laknat tersebut. Aku sedang asyik meminum Jus Sirsakku bersama Bams dan Belinda di teras rumah saat Ozayn menghampiriku sambil memegang satu Cicak berukuran sedang di tangannya.

“Aku udah dapet,” katanya gugup, matanya melihatku malu-malu. “Kita awetin sekarang atau gimana?” Dia mempelintir kepala Cicak itu hingga mati. Belinda yang melihat kejadian tersebut langsung histeris ketakutan dan masuk ke dalam pelukan Bams—pasangan menjijikan. Sedangkan aku, ya, sama, aku juga agak kaget saat melihat kronologis kematian si Mbah Cicak itu. Semoga nyawanya diterima di sisi Tuhan, amen! Untung Ozayn yang membunuhnya, jadi semua dosa si Mbah Cicak masuk ke dalam tubuhnya.

“Awetin sekarang aja!” kataku mengajaknya ke taman depan rumah Adam. Kukeluarkan botol berisi air pengawetan hewan itu dari dalam neck bag ku dan mengocok isinya. Ozayn ikut berjongkok di sebelahku, kacamata tebalnya terbias oleh sinar matahari, membuat mata yang ada di balik kacamata itu berubah penuh binar. Saat Ozayn menolehkan kepalanya ke arahku, aku langsung mengalihkan tatapanku ke arah si Mbah Cicak tragis itu. “Buat Cicak ini bergaya dong! Masa terlentang gitu aja. Kita harus naikkin kakinya ke atas, dan tangannya di bawah dagu, biar cicaknya imut-imut.”

Ozayn tertawa pelan, membuat suara tawanya masuk ke dalam relung telingaku dengan lembut. Oke! Ini tidak bagus sama sekali. Aku baru saja mengatakan kalau suara tawa Ozayn masuk ke dalam relung telingaku dengan lembut—what is that suppose to mean, you stupid Zavan! “Kayak gini?” tanya Ozayn, dia menolehkan kembali kepalanya ke arahku. Bibirnya membentuk sebuah lekukkan kecil, agak tertarik ke atas dan membuat sudutnya bergerak lemah. Bibir itu terlihat begitu empuk, bagaimana rasanya kalau aku menciumnya?

Anjing! Aku baru bilang apa tadi?! “Ya, kayak gitu!” Suaraku agak bergetar saat mengatakan hal tadi. Kenapa aku selalu gugup kalau melihat dia? Dalam jarak sedekat ini, gelagatku malah makin gugup dan tak karuan. Bahkan tanganku gemetaran saat menuangkan cairan yang ada di dalam botol itu ke si Mbah Cicak yang sudah is dead di bawah kakiku ini. “Kita tunggu berapa lama sampe Cicak ini bener-bener awet?” tanyaku sambil menghentikan menyirami si Mbah Cicak dengan air pengawet.

Kutolehkan kepalaku ke arah Ozayn dan melihat hal yang paling membuatku terkejut. Ozayn menarik lepas kacamatanya. Matanya yang berwarna hitam agak kecokelatan dan tajam seperti mata elang itu menyipit kecil. Dia menaikkan tangannya dan mengelap keringat yang ada di dahinya dengan gerakkan lamban. Rambutnya yang cupu itu berubah acak-acakkan saat dia menggaruknya pelan. Dan ketika dia menoleh ke arahku, di titik itulah aku sangat terpukau dan ketakutan dalam satu waktu yang hampir bersamaan. Ozayn yang ada di sampingku ini, membuatku sangat gelisah dan salah tingkah! Shit, rite! Ozayn biadab!

“Aku duluan ya,” kata Ozayn—dalam versi IOS yang lebih tinggi dan menakjubkan—pelan, membuyarkan lamunanku akan masa lalu—menarikku kembali ke masa kini. Ozayn berdeham gugup, langkahnya agak kikuk saat berjalan cepat ke arah eskalator yang belum dinyalakan. Punggungnya yang lebar, dengan pundak yang sangat berisi, bergerak-gerak tak karuan. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, masih belum percaya kalau aku tadi bicara dengan Ozayn—anak cupu yang selalu membuatku gugup, salah tingkah dan takut.

Itu adalah sebuah kejujuran. Aku tidak membenci Ozayn, aku hanya merasa takut kalau ada di dekatnya. Aku juga tidak tahu aku takut kenapa. Aku hanya merasakan hal itu saja di dalam benakku. Aku selalu merasa cemas jika ada di dekatnya. Itu yang kurasakan jika melihat wajahnya dan gerak-geriknya yang selalu bisa membuatku gusar. Aku mungkin suka menghina dia jelek, jelata dan anak cupu berkacamata tebal, tetapi aku bukan bermaksud ingin melukai hatinya—walaupun aku yakin dia pasti tersakiti dengan ucapanku—tetapi karena setiap kali aku melihat wajahnya yang cupu itu aku seperti sedang—

Shit! iPhone ku bergetar menandakan ada iMessage yang masuk. Aku menarik benda itu keluar dari dalam saku jasku dan membuka slide locknya. Oh, dari Sid ternyata. Yang menyuruhku datang ke mobilnya kalau aku sudah sampai di sekolah. Kumasukkan iPhone ku kembali dan melangkah panjang menuju ke parkiran barat. Parkiran yang dikhususkan untuk anak-anak RR yang mempunyai mobil-mobil bagus. I really love my fab, I really love my rich, I really love my damn popularity and I really love when everybody look at me and envy like a Gigolo! I really love my life in here. Meskipun aku tidak menjadi diriku sendiri.

“Hello!” sapaku riang sembari membuka pintu mobil Porsche kepunyaan Sid dan masuk ke dalamnya dengan luwes. Aku mengalihkan pandanganku dan melihat Sid yang sedang memamerkan senyuman lebarnya ke arahku. Tubuhku tersentak saat melihat wajahnya yang nampak berseri-seri. Pasti ada sesuatu yang menyenangkan makanya dia memasang wajah seperti itu. Meskipun aura sombongnya masih sangat terasa. “Sumthing good happen?” tanyaku penasaran. Apakah akhirnya Sid hamil saat liburan bulan madunya dengan Adam ke Rio de Jeneiro kemarin? Hmm, bisa jadi!

Not really,” tutur Sid sambil melihat-lihat BlackBerry barunya. BlackBerry nya yang lama terpaksa masuk Museum karena rusak total saat Sid dilempar oleh Adam dan Bams ke dalam koram berenang. “I just in a good and happy mood today,” tambahnya, dia tersenyum lagi ke arahku. Aku hanya mengangguk lalu melihat lama-lama wajah Sid yang agak kecokelatan. Pasti saat di Rio kemarin dia sering berjemur. Aku jadi ingin ke pantai juga—tapi bukan untuk berjemur, namun mau melihat tubuh telanjang nan seksi laki-laki tampan yang berseliweran di sana.

“Pagi!” sapa sebuah suara dari bangku belakang. Aku membalikkan badanku dan melihat Tivo yang baru saja duduk di sana dengan nyaman. Dia menutup pintu, tangannya melambai kecil ke arah Peter. Kuberikan senyuman menawanku ke arahnya saat dia memandang ke arahku. Tivo menekuk bibirnya dan membalas senyumanku. Aku masih tidak percaya kalau Tivo yang sekarang sudah bisa menampakkan sebuah senyuman tampan seperti itu. Dari pertama kami bersahabat dan berkenalan, dia tidak pernah tersenyum. Entah itu senyuman kecil ataupun lebar. Namun sekarang dia sudah bisa, dan aku masih belum bisa percaya.

Aku menurunkan kaca mobil saat mobil biru bermerek Mazda 2 lewat di depan parkiran barat DIS. “Hello, Bagas!” sapaku riang saat cowok itu membukakan Revie pintu mobil. EW! Sok romantis! “Dadah, Bagas!” seruku lagi saat cowok itu kembali masuk ke dalam mobilnya.

Revie baru melangkahkan kakinya ketika mobil Bagas sudah keluar dari gerbang sekolah. Tidak bertemu sekitar dua minggu, gaya rambut Revie agak berubah. Sedikit lebih acak-acakkan. Padahal biasanya dia akan menyisir rambutnya dengan rapi dan memberi sentuhan akhir dengan gaya rambut yang sangat kekanak-kanakkan. Tetapi sekarang gaya rambutnya benar-benar beda, agak shaggy tapi disisir ke belakang. Wajahnya yang—I really envy like a gigolo to him because of this—sangat tampan makin menarik dan terkesan dewasa muda. Tidak seperti wajahku, yang sudah dicap seperti orang dewasa nan matang. Sialan!

“Pagi!” sapa Revie sambil memasukkan tubuhnya ke dalam mobil. Dia menggeser duduknya agar bisa memberi And tempat duduk saat cowok itu datang. “Kalian apa kabar? Gimana liburan sekolahnya? Seru nggak?” Revie bertanya panjang lebar, di bibirnya terkulum sebuah senyuman yang luar biasa mempesona. Aku makin iri, aku juga ingin mempunyai senyuman seperti itu. Jika saja aku bisa menjadi Revie, aku tidak perlu menyadarkan cowok-cowok straight itu kalau mereka gay atau biseksual. Dengan sekali tatapan dan senyuman, cowok-cowok itu pasti akan tertarik dengan Revie. His such a stardust! Envy, envy, envy!

“Liburan gue asyik juga lho, nggak kalah kayak liburan kalian,” bohongku, kuberikan mereka senyumanku yang paling meyakinkan. Jika urusan bohong membohong, akulah orang yang paling pintar melakukan itu. “Gue kencan sama beberapa orang, terus nggak lama setelah itu gue pacaran sama si Robi. Lo masih inget Robi kan Rev?” tanyaku sok antusias ke arah Revie. Sahabatku yang sangat tampan itu mengangguk, tanda dia masih ingat si Rombongan Babi. “Tapi gue udah putus sama dia, soalnya dia orangnya ngebosenin dan always babble sumthing about football. Bowing times one! Terus dia juga suka sama hal-hal yang sangat menjijikan untuk gue. Kayak dia yang suka sama lagu Dangdut, tiap gue naik mobil bareng dia pasti dia selalu nyetel lagu yang di-reject-di-reject or whatever itu. Bowing times two!”

Revie dan Sid tertawa pelan. Aku tersenyum puas karena bisa membuat mereka tertawa di pagi hari ini. Tivo memajukan badannya ke arahku, wajah malasnya terpampang jelas di depan mataku. “Terus, di bagian yang mana liburan lo asyik?” tanya Tivo kejam. Aku paling tidak suka kalau Tivo sudah membuka mulutnya dan berujar jahat padaku. Di balik sifat malas bicaranya itu, dia mempunyai lidah yang bisa membuat perasaan orang yang lagi penuh dengan lovey dovey langsung Down seperti judul lagunya Jay Sean.

“Di bagian gue kencannya,” jawabku asal. “Mentang-mentang lo liburan di tempat yang menakjubkan, jadi lo pikir hanya liburan lo aja yang asyik. Listen, my Phral, menurut kamus hidup gue, kencan dan bisa ngemut kontol itu adalah suatu kepuasaan dan suatu keasyikkan yang sangat sulit buat gue tepis gitu aja.” Kutaruh kedua tanganku di depan dada, bergaya sok kewl di depan Tivo dan yang lain. Aku tidak mau kedengaran seperti orang menyedihkan yang kesepian karena ditinggal liburan oleh mereka. Yah, meskipun aku merasakan hal itu. “Kalo lo gimana liburan sama si Peter di Singapur? Lo atau Peter yang hamil?” Revie tergelak pelan mendengar pertanyaan bodohku, aku dan Sid menatap Tivo dalam-dalam.

“Rahim gue ada masalah, jadi Peter yang hamil.” Aku dan kedua sahabatku langsung tertawa mendengar perkataan Tivo barusan. Kami langsung merubah topik dan membicarakan banyak hal. Tentang Sid dan pengalamannya bersama Adam di Rio. Revie dengan Bagas yang mempunyai pengalaman seru saat mereka ke Puncak kemarin. Tivo dan Peter yang menghabiskan waktu di Universal Studio. Sedangkan aku, aku hanya memberitahu mereka soal party Griffin yang didatangi oleh anak-anak Jubilee International School itu. Such a lame life! Tapi itu masih lebih baik daripada aku harus nonton maraton Coffee Prince—drama Korea kesukaan Belinda—semalam suntuk dengan kembaranku. Mengerikan!

“Hello, guys!” sapa And saat kami sedang asyik membahas soal makanan unik di Rio.

“Tepat lima menit sebelum bel bunyi!” sergah Sid mencemooh. And hanya mengedikkan bahunya dan duduk di kursi belakang dengan gerakkan lamban. “Liburan lo sama Vick di Sabang gimana And? Seru nggak?” tanya Sid sambil membetulkan dasinya. Aku melirik ke arah And yang masih sibuk membenahi jas DIS nya yang agak berantakan karena dia tadi naik motor ke sekolah. Eh, And dan Vick memang selalu naik motor kalau ke sekolah, motor besar mengerikan yang mengingatkanku dengan para penjahat di film Fast and Furious. Motor Harley Davidson yang sangat indentik dengan geng motor.

Setelah yakin pakaiannya sudah rapi dan tidak sekusut tadi, And mengangkat kepalanya dan menatapku serta Sid secara bergantian. “Lumayan seru. Snorkeling, lihat adat budaya Sumatera yang luar biasa keren dan nyoba semua makanan dari daerah itu. Pantainya juga indah banget. Kalian harus ke sana! Pasti kalian nggak akan nyesel.” And memberikan kami senyuman simpulnya. Di antara kami berlima, yang wajahnya paling biasa saja—sebenarnya sih aku mau bilang jelek, tapi karena aku takut dihajar And—secara dia ketua Karate—jadi aku bilang kalau wajahnya biasa saja—adalah And. Tapi, dia yang paling terlihat gagah dan sangat perkasa. Aku saja tidak percaya kalau dia suka emut kontol ketimbang jilat Labia Mayora perempuan yang rasanya kayak Cuka Pempek—maafkan aku wahai perempuan.

Nope, thanks! Mendingan gue ke Pantai Ibiza. Lebih banyak cowok gantengnya di sana,” kataku sembari memasang senyuman penuh kebinalanku ke arah mereka. Sid memutar bola matanya seperti orang mabuk, sedangkan ketiga sahabatku yang duduk di bangku belakang hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Aku baru saja ingin membuka mulutku lagi, tetapi bel sekolah—yang bunyinya seperti: Tetek Tetek—tiba-tiba berbunyi. Kusisir rambut spikeku ke belakang, agar memberikan kesan lebih fresh dan menawan. I am gorgeous, bitch!

C’mon, guys, kita masuk! Gue juga mau ngambil jadwal pelajaran buat semester ini sebelum gue sarapan di DisCaf. Semoga aja kita nggak ngantri dan harus pakek sistem absen nama. Gosh! Gue paling nggak suka nunggu dan ngantri. Semoga tahun ini anak RR sama anak RG dipisahin. Soalnya kalo ngantri sama anak RG pasti mereka bakalan lama. Mereka suka milih banyak homeroom. Semester ini gue bakalan hapus semua pelajaran yang menghafal. Kayak History dan kawan-kawan.” Sid membuka pintu mobilnya dengan sekali sentak. Aku juga langsung melakukan hal yang sama. “Chins up, smile on!” perintah Sid saat kami berjalan ke arah pintu masuk sekolah. “We populer in this school, guys! Jangan malu-maluin!”

Cepat-cepat kunaikkan sedikit daguku layaknya Raja dan memasang senyuman tipis tapi menggoda di bibirku. Ketika kami sampai di lorong sekolah, kerumunan orang-orang nggak penting sedang asyik berbincang satu sama lain, membuat lorong sekolah penuh sesak. Tak lama kemudian mata mereka tertuju ke arah kami, dengan agak kikuk mereka langsung merapatkan tubuh mereka ke dinding loker masing-masing. Memberikan floksku jalan yang lebar nan leluasa. Seketika itu juga lorong yang semula sangat berisik berubah hening. Aku tersenyum lebar melihat ini, menjadi populer memang menyenangkan. Apalagi saat kami berjalan di lorong sekolah dan mereka memperhatikan kami dengan mata berbinar. Heaven!

“Kita langsung ke ruang Akademis aja!” perintah Sid dengan nada absolut. “Lagian kita mau ambil apa di loker!” Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Jadi kami tidak membantah, hanya terus mengikuti langkah Sid yang jenjang. Kerumanan anak-anak grade 11 memenuhi pintu ruang Akademis saat kami sampai di sana. Sid berdeham pelan, membuat mata anak-anak itu menoleh. “Get lost!” titah Sid ke arah anak-anak itu, yang langsung mereka lakukan dengan cepat. “Yuk! Kita ambil terus ke DisCaf!”

“Kalian aja yang ngambil, gue nunggu di sini.” Mereka berempat menatapku bingung. “Tadi pagi gue udah ambil jadwal gue untuk semester dua ini!” Aku mengeluarkan kertas jadwalku.

“Emang lo dateng ke sekolah jam berapa?” tanya Sid sambil melihat jadwal semester duaku. Untuk semester ini, aku tidak mengambil pelajaran History, Politic, Geology, Anthropology dan yang menghafal lainnya. Cukup pelajaran wajib saja. Jadi aku bisa konsentrasi untuk mempelajari pelajaran yang dikhususkan untuk Ujian Akhir nanti. Nilai-nilaiku sangat buruk di semester satu kemarin, apalagi nilai Chemistry, Mathematics, dan Physics. Jika sampai aku tidak lulus dari sekolah ini, apa yang akan terjadi dengan Reputasiku? Apakah aku harus mengikuti jejak Nia Rahmadani dengan menikahi anaknya Bakrie? Hiii, BIG NO-NO!!!

“Jam setengah tujuh,” jawabku, yang langsung mendapatkan respon aneh dari flocksku.

Sid maju selangkah, matanya menyipit ke arahku. “Who are you?” tanyanya penuh selidik. “Zavan yang gue tau itu orangnya nggak kayak gini. Dia selalu datang jam setengah delapan dan nggak akan mau ngambil jadwal semesternya buru-buru. Jangan bilang kalo sekarang lo mau jadi murid teladan terus ngalahin Revie dan Ozayn! That’s creepy, you know!” Sid menatap wajahku masih dengan mata menyipitnya itu. Memangnya aneh ya kalau aku pergi ke sekolah terlalu pagi? Well, mungkin iya, karena aku memang tidak terlalu mementingkan sekolah. Namun itu dulu, sebelum aku sadar kalau nilaiku jeblok semua.

“Nggak tau, gue cuman pengen dateng pagi aja!” bohongku lagi. Mereka tidak perlu tahukan perihal nilaiku yang busuk semua itu. Nilai yang bisa membunuh mata para Alien yang ada di Mars saking mengerikannya. “Oh, iya, kalian udah lihat belum perubahan si Cupu?” tanyaku sok antusias, agar pembicaraan kami teralihkan. Kulirik pintu Akademis dan melihat sir Sinaga masih berurusan dengan lima orang siswa di dalam sana. Sial! Pasti itu anak-anak RG yang sedang memilih homeroom apa saja yang akan mereka ambil untuk semester ini. Dasar anak RG sialan! Cepat keluar biar aku tidak ditanya-tanya lagi oleh flocksku.

“Gue udah tau!” sahut Sid dan yang lain secara bersamaan. Berarti hanya aku yang baru tahu soal perubahan Ozayn ini. Yang dari IOS cupu menjadi IOS yang lebih canggih. “Jadi—“ Tiba-tiba pintu Akademis terbuka. Aku mendesah dalam diam, bersyukur karena perkataan yang akan Sid lontarkan barusan tidak jadi. “Ya udah, lo nunggu kita di DisCaf aja. Palingan kita lama di dalem gara-gara Revie.” Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum kecil. Mereka masuk beriringan ke dalam ruang Akademis. Sigh! Berarti aku harus jalan sendirian ke DisCaf. Menyebalkan!

Aku baru melangkahkan kakiku sebanyak tiga kali sebelum akhirnya aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku. Aku berbalik dan melihat—entah siapapun dia—seorang cewek grade 12 berpenampilan penuh warna yang sedang tersenyum ke arahku. “Euh—lo dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah,” kata cewek itu masih dengan senyuman yang sama. “Kata Mister Rusmika ada hal yang pengen dia bicarain sama lo.” Cewek itu mengibaskan rambutnya ke belakang dengan gaya menggoda. LOL! Aku tahu kalau dia mencoba menjerat hatiku ke dalam pelukannya. Tapi, sorry, selama dia masih punya tetek dan pepek aku tidak akan pernah terjerat ke dalam pelukannya. Sayonara!

“Oke, thanks,” ujarku lembut, kuberikan dia senyuman mautku. HA! Makan tuh senyuman mautku, luluh-luluh deh tuh hati! “Bye!” Aku melambaikan tanganku sembari melangkahkan kakiku menuju ke ruang Kepala Sekolah yang ada di bagian barat daya sekolah. Aku sangat jarang—malah tidak pernah—dipanggil ke ruang Kepala Sekolah. Yang paling sering itu Revie, untuk menerima uang karena dia berhasil menjadi juara saat dia mengikuti Olimpiade. Oh, Gawd! Atau aku mau diberikan penghargaan karena aku datang pagi hari ini. WOW! “Scuse me, Mister!” ucapku sopan sambil mengetuk pintu ruang Kepala Sekolah.

Come in!” ujar Mister Rusmika dengan suara serak, faktor usia yang sudah tidak muda lagi.

Aku mendorong pintu kaca tersebut hingga terbuka lebar, hati-hati aku memasukkan tubuhku ke dalam ruangan beraroma salad yang agak enak untuk dihirup. Aku melirik sekilas ke arah piala-piala berkilauan yang ada di dalam kotak kaca yang bertengger di samping meja penuh bunga. Aku menepuk ujung jasku, agar terlihat rapi. Kuberikan senyumanku ke arah Mister Rusmika saat dia menengadahkan kepalanya dari kertas-kertas berserakkan yang ada di atas mejanya. “Tadi ada yang bilang kalau saya dipanggil ke sini,” kataku, menatap mata Mister Rusmika yang ada di balik kacamata.

“Ya, ya,” katanya masih dengan nada suara yang serak. “Sit down!” suruhnya lembut. Aku menganggukkan kepalaku kemudian menarik kursi tanpa lengan yang ada di depan mejanya. Setelah aku duduk di kursi tersebut, Mister Rusmika menyorongkan sebuah kertas ke hadapanku. Aku menyipitkan mataku untuk membaca tulisan yang ada di atas kertas tersebut, namun suara Mister Rusmika membuyarkan konsentrasiku. “Mr. John di homeroom Mathematics, Mr. Adikiawan di homeroom Physics dan Mr. Jacob di homeroom Chemistry bilang pada saya kalau nilai Anda sangat buruk di pelajaran mereka.” Aku menelan air ludahku dengan susah payah. “Nilai Anda di bawah nilai standar yang kami terapkan di sekolah ini.” Mati! Hitler, tembak aku sekarang! “Jadi saya memutuskan ke beberapa murid yang ada di sekolah ini jika nilainya buruk, harus melakukan tugas remedial.”

Kuangkat pandanganku dan menatap wajah Mister Rusmika dengan pandangan bingung. “Tugas remedial?” tanyaku dengan nada suara yang kubuat tenang. Padahal aku yakin Grim Reaper—sosok kematian yang selalu membawa pedang sabit besar di tangan—ada di belakangku dan bersiap-siap mencabut nyawaku. Oh, jangan sekarang! Orang ganteng di dunia ini sangat sedikit, kalau aku mati, makin menipis juga stok orang ganteng yang ada di dunia menyedihkan ini. Jadi jangan buat aku mati dulu!

“Iya, tugas remedial. Remedial assignment.” Mister Rusmika mengulang dua kali kalimat itu. Dia pikir aku juga bodoh dalam dengar mendengar, paham memahami. Pak Tua sialan! “Jadi Mr. John, Mr. Adikiawan dan Mr. Jacob memberikan tugas kepada Anda untuk memperbaiki nilai Anda yang buruk kemarin.” Wajahku mengernyit dalam saat mendengar Pak Tua ini bilang nilaiku buruk. Entah kenapa aku sangat benci mendengar kata BURUK! “Saya yakin Anda bisa mengerjakannya. Satu tugas hanya terdiri dari 20 Soal!” APA!!! Ya, sudah deh, mati juga nggak apa-apa sekarang! “Anda juga kan berteman dengan Nak Revie. Saya yakin dia bisa mengajari Anda. Atau Anda mau diajari oleh murid kedua terpintar di sekolah ini, Nak Ozayn?” Aku langsung menggeleng kuat-kuat. Revie lebih baik deh. “Kalau begitu, silahkan Anda ambil kertas-kertas ini. Waktu Anda hanya ada tiga minggu untuk menyelesaikan semua Tugas Remedial itu. Anda harus ingat, nilai Anda semester kemarin sangat berpengaruh dengan nilai Anda di semester ini.”

“Ya, Mister,” kataku lemah. Kuambil kertas-kertas agak tebal itu dari tangan Mister Rusmika yang keriputan seperti pantat Babon. “Saya kumpulkan tugas ini langsung ke homeroom teacher nya, atau langsung pada Anda?” tanyaku, kupegang kertas yang ada di atas tanganku dengan perasaan kacau balau. Aku butuh Revie sekarang, aku harus segera mengerjakan tugas remedial tidak penting ini supaya nilaiku bisa lebih baik. Dan supaya aku bisa lulus dari sekolah ini, aku tidak ingin membuat reputasiku hancur karena aku tidak lulus. Menakutkan!

“Langsung kumpulkan pada homeroom teacher nya,” kata Pak Tua bertangan keriput seperti Babon yang ada di hadapanku ini. “Oh, dan ambil surat ini! Saya ingin bicara dengan kedua orang tua Anda perihal tugas remedial yang saya berikan. Supaya Anda mendapat pengawasan dari mereka.” Pak Tua itu menyerahkanku satu amplop cokelat ke tanganku.

“Matt—eh, Daddy saya lagi ada di Moskow dan Mommy saya lagi ada di Los Angeles.”

“Hubungi!” perintah Pak Tua itu dengan nada suara memaksa. “Saya yakin orang tua Anda pasti bisa menemui saya kalau menyangkut urusan pendidikan anak mereka.” Sebisa mungkin aku tidak mendecakkan lidahku ke arah Pak Tua yang ada di hadapanku ini. “Tapi kalau Anda tidak bisa menghubungi orang tua Anda, saya minta alamat e-mail mereka yang masih aktif saja kalau begitu. Biar saya yang langsung menghubungi mereka dan semoga mereka mau datang.” Pak Tua bertangan keriput kayak Babon itu tersenyum culas. Dia pikir aku tidak mau menghubungi orang tuaku apa karena aku takut orang tuaku tahu kalau nilaiku—mengutip ucapannya—buruk. Aku tersenyum tenang lalu menuliskan alamat e-mail kedua orang tuaku. “Ini e-mail asli kan?” tanyanya, suaranya penuh kecurigaan.

“Asli,” sahutku sambil mencoba bersabar. “Daddy dan Mommy saya tidak pernah ganti e-mail. Kalau Mister tidak percaya cek saja di ruang BP di buku khusus yang menampung alamat e-mail dan nomor telpon orang tua seluruh murid yang ada di sekolah ini.” Aku memberikan Pak Tua itu sebuah senyuman kemenangan. HA! Dia pikir aku akan berbohong gitu? Aku tidak takut kalau orang tuaku tahu perihal nilaiku—EW!—yang buruk tersebut.

“Baiklah kalau begitu,” ujar si Pak Tua tanpa sebuah senyuman. “Anda bisa pergi sekarang. Dan pastikan Anda mengerjakan tugas remedial Anda. Waktu Anda hanya tiga minggu. Kerjakan tugas remedial itu sungguh-sungguh. Jangan sampai dikerjakan orang lain!” Pak Tua itu memperintahkanku panjang lebar. Pantas saja dibalik muka tuanya itu tersimpan sebuah tatapan prejudis. Dia orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain. Terlebih lagi, memangnya wajahku tidak bisa dipercaya ya? Satan!

Aku mengangguk sambil berujar terima kasih. Aku membuka pintu kaca tersebut perlahan, memberikan kesan kalau aku dalam keadaan yang kewl. Namun saat aku menutup pintu itu, aku langsung panik! Mana Revie? Aku sangat butuh dia sekarang. Kulangkahkan kakiku panjang-panjang supaya cepat sampai DisCaf. Kupeluk kertas tebal yang ada di tanganku ke dada, tangan kiriku sibuk menulis sebuah pesan ke Revie. Aku harus membuat tugas ini, akan kubuktikan ke si Pak Tua itu kalau aku bisa mengerjakannya tanpa dikerjakan orang lain.

***

“Tangan kanannya agak dinaikkin sedikit, matanya coba dialihkan ke arah jam tangan, pasang senyuman tipis, dan tangan kirinya dimasukkan ke dalam kantung celana bagian depan.” Aku langsung melakukan perintah tersebut. Bryan—Fotografer bertampang Jawa-Bali itu—mengarahkan kamernya ke arahku, bunyi klik di kamera terdengar tegas. Cahaya blitz yang menyilaukan membuat mataku hampir mengerjap. Tetapi aku harus mempertahan kan posisiku yang seperti ini. “Kaki kanannya dimundurin sedikit dan badannya agak dibungkukkan.” Bryan kembali menyuruhku melakukan pose yang pas. Setelah cahaya blitz berkilauan sebanyak dua kali, Bryan menurunkan kamernya. “Yep, cukup!”

Aku mengangkat pandanganku dan meregangkan otot leherku. Ini sudah pose yang ke-enam, dan aku sudah sangat kelelahan sekarang. Aku menjadi model untuk Brand pakaian Ralph Lauren edisi Summer bulan ini. Maka daripada itulah aku ada di studio ini dan berpose tidak jelas untuk dipampang di Majalah ataupun di billboard sebuah store. Jika aku ke Pacific Place dan melewati X&Y pasti aku akan melihat foto diriku yang dipampang besar-besar di depan store tersebut. Dan jika aku ke Grand Indonesia dan lewat di depan Utilize Scen, fotoku juga akan terpampang jelas di depan store tersebut sambil berpose dalam balutan pakaian Christian Lacroix. Hmm, being a model is so fabaloustastic!

“Hei!” sapa seorang cowok saat aku ingin mengganti pakaianku ke pakain yang lain. Aku melirik ke arah cowok itu, dan hanya dua kata yang ada di kepalaku untuknya. Ganteng gila!

Mataku tak bisa lepas darinya saat dia sedang memberikan sebuah pose handback tanpa senyuman ke arah kamera Bryan. Aku cepat-cepat memakai collar blazer dan celana berbahan satin berwarna perak untuk sesi pemotretan selanjutnya. Dina—penata rias bertampang judes seperti Judas—memoles wajahku dengan gerakkan kasar. Aku hanya bisa diam saja, tidak berani memarahinya. Soalnya kalau aku melakukan hal itu, dia yang akan memarahiku balik. Daripada kena semprot, jadi lebih baik diam dan membiarkan si penata rias judes ini melakukan tugasnya. Untung saja penyiksaan yang Dina lakukan hanya sebentar. Ketika si judes berlalu di hadapanku, aku cepat-cepat melangkah ke arah studio foto. Cowok itu tersenyum kecil—kipas-kipas kontol—ke arah kamera dan klik! Gawd!

“Hei juga!” tuturku saat dia lewat di depanku. Pakaian Ralph Lauren yang dia kenakkan di tubuhnya benar-benar pas. Membuat wajahnya yang sudah ganteng gila itu makin ganteng menggila-gila. Oh, siapapun engkau, perkosa aku sekarang! “Nice pose!” pujiku, kuberikan dia senyuman terbaikku. Dari gelagatnya sih, aku yakin dia bukan gay atau biseksual. Tetapi dia punya bakat ke arah sana, dan aku cukup menyadarkannya nanti. Just wait and see!

Trims,” sergahnya, suara tenornya yang indah membuat indera pendengaranku tergelitik manja. Oh, sweet! “You too.” Cowok itu menaikkan sedikit lengan bajunya, memperlihatkan otot tangannya yang besar dan berisi. Lengannya yang putih dan berbulu benar-benar membuat sesuatu yang ada di dalam diriku bergejolak. Shit, this lust is so much disturb me! Jangan nafsu dulu, Zavan! Masih ada sesi pemotretan! Saranku dalam hati. “Lo dipanggil tuh sama Bryan!” Perkataan cowok itu membuat lamunanku lebur seketika.

Aku menoleh ke arah Bryan yang sedang mengibaskan tangannya untuk menyuruhku ke tempat aku seharusnya berada sekarang. “See ya!” kataku ke cowok yang ada di depanku ini. Kulangkahkan kakiku saat cowok itu melangkah menjauh dari hadapanku. Ketika aku sudah ada di hadapan kamera Bryan, aku langsung mengikuti semua saran dan perintah Fotografer yang wajahnya tidak membuatku nafsu sama sekali itu. Yang ada di kepalaku saat ini hanyalah sebuah pertanyaan besar, siapakah nama cowok itu tadi? Aku ingin mengenalnya… siapa tahu kami jodoh. Untuk saat ini Troy disingkirkan dulu!

“Oke, Zavan. Ketemu hari Senin depan!” Bryan menurunkan kamernya dan melihat hasil jepretannya tadi. Aku mengangguk walaupun cowok berwajah Jawa-Bali itu tidak melihat ke arahku. Cepat-cepat kulangkahkan kakiku ke arah walk-in closet dan menemui cowok itu dalam keadaan shirtless. Sial! Apa maksudnya dengan menontonkan tonjolan bisep dan trisepnya di depan mataku. Buat aku makin horny saja.

“Zavan, rite?” tanya cowok itu tiba-tiba. Membuatku langsung mengerjapkan mata dan menoleh ke arah lain. Pura-pura jual mahal, padahal siapa juga yang mau beli.

Aku mengangguk pelan, memberikan sebuah kesan elegan kepadanya. Oke, sudah saatnya membuka matanya kalau dia itu juga ahli di bidang gay dan biseksual. Aku berjalan mendekat ke arahnya sembari membuka collar blazer yang ada di tubuhku. Dia pikir hanya dia yang bisa membuatku terperangah akan tubuhnya. “And, who are you?” tanyaku ketika pakaian di tubuhku sudah terlepas semua. Hanya menyisakan celana dalam Calvin Klein hitamku. “Gue kok baru lihat lo ya? Lo baru ya di dunia modelling?”

“Gue Vadin,” kata cowok itu, dia mengulurkan tangannya ke arahku, yang langsung kusambut dengan antusias. Nice grab hand! Ooh la la! “Nggak, gue udah lama sih di dunia modelling. Gue selalu nge­-take fotonya di studio Harlem yang ada di daerah Kebayoran Baru. Kemarin Theo—Fotografer yang ada di sana—nyuruh gue buat nge-take foto di sini. Karena pakaian Ralph Lauren nya ada di sini semua. Makanya gue ada di sini sekarang.”

“Oh, gitu!” kataku sambil tersenyum penuh pesona. Peraturan pertama jika ingin membuat cowok straight tertarik dengan kita—jadi temannya dulu, of course—adalah tatap matanya saat dia bicara. Kontak mata itu sangat penting. Peraturan kedua adalah selalu pasang senyuman terbaik yang kita punya, dan berikan hal itu padanya. Agar orang itu berpikir kalau kita adalah orang yang ramah. Peraturan ketiga adalah tertawa saat dia mengeluarkan sebuah lelucon—meskipun menurut kita leluconnya itu nggak lucu. Dan buat dia tertawa dengan lelucon kita, cowok straight suka hal-hal konyol. Peraturan ke-empat, pura-pura pegang siku dan tangannya saat dia tertawa, tapi sebentar saja. Kontak sentuhan juga sangat penting. Peraturan kelima, sadarkan dia kalau dia punya bakat gay. “Lo tau nama gue darimana?”

Vadin tersenyum lebar. “Emang siapa yang nggak kenal Zavan McKnight? Model paling laku seantero Asia. Bahkan gue pernah denger lo udah dikontrak sama Alexander McQuuen dan Emanuel Engaro. Lo juga kan yang masuk sepuluh model berpengaruh yang tinggal di Indonesia pas Italia Fashion Week kemarin?” Aku mengangguk dan melemparkan sebuah lelucon kepadanya, membuat dia tertawa pelan. Mata kami selalu saling bersitatap saat kami bicara. Meskipun beberapa kali dia agak kikuk diberikan kontak mata seperti ini. Namun aku tahu, dia sudah menyadari kalau aku adalah orang yang mengasyikan.

You funny!” seruku saat dia menceritakan pengalamannya mengikuti kontes L-Men tahun lalu. Dia tidak menang, tetapi masuk sepuluh besar. Aku juga pernah ikut, tetapi kontes L-Men untuk remaja yang masih dalam tahap pertumbuhan. Dan kegunaan L-Men untuk tubuh lelaki remaja sepertiku. Tentu saja aku menang, mengalahkan para pecundang itu bukan perihal yang sulit. “But I have to go,” kataku sambil memasang wajah sok sedih. Vadin juga memasang ekspresi yang sama, sepertinya dia sudah menganggapku orang yang asyik. Gotcha! “Maybe I’ll see you soon, in somewhere!” Aku menaikkan resleting celanaku dan memberikan dia senyuman terakhir. “Bye!”

Aku berbalik cepat, meninggalkan Vadin berdiri sendirian di sana. Merana karena akan kehilangan orang asyik sepertiku. Tetapi dia tidak tahu saja kalau aku hanya sedang membuka kesadarannya kalau dia itu bukan straight, melainkan gay atau biseksual. Baiklah, kita hitung mundur sekarang, aku yakin dia akan memanggil namaku. Kalau sudah seperti itu, selamat datang di Klub Gay dan Biseksual, dude! Tiga… dua… satu… “Zavan!” panggilnya. “Lo udah makan belum? Kalo belum, ke Avenue A gimana, lo mau?” Aku tersenyum lebar. See? Tinggal melakukan sedikit hal lagi, dan akhirnya dia akan sadar kalau dia memang seorang gay atau biseksual.

Now, gimme some applause, guys! Like I said, WATCH and LEARN! Yeah, watch and learn!

***

Jam menunjukkan pukul lima sore saat aku sampai di depan rumah Revie yang berbentuk minimalis tersebut. Aku memparkirkan mobilku di depan gerbang rumahnya dan menarik rem tangan. Setelah makan Pizza di Avenue A dengan Vadin tadi, aku baru ingat kalau punya janji dengan Revie untuk mengerjakan tugas remedial babi itu. Padahal Vadin ingin mengajakku main-main ke apartemennya, dia mau memperlihatkan koleksi mainan One Piece nya kepadaku. Tetapi karena tugas remedial itu tidak bisa menunggu, terpaksa aku harus tidak menerima ajakkannya. Padahal di titik itulah aku bisa membuat Vadin tertarik denganku. Sigh! Kenapa sih nilaiku harus jelek semester kemarin?!

Kuraih postman bagku yang ada di bangku belakang lalu membuka pintu mobil dengan sekali sentak. Kulangkahkan kakiku ke arah pintu rumah Revie yang bentuknya sangat sederhana. Tadi dia menyuruhku langsung masuk saja ke dalam! Baiklah kalau begitu.

“Revie!” panggilku keras sambil menongolkan kepalaku di balik pintu yang baru saja kubuka agak lebar. “Lo ada di rumah nggak? Jangan bilang ke gue kalo lo sama Bagas lagi ngentot sekarang! Kalo iya, gue sumpahin lo keguguran!” Aku menutup pintu pelan-pelan sembari melepaskan sepatuku. Peraturan di rumah Revie sangat jelas: Jangan pakek sepatu di dalam rumah! Yeah, rite! Peraturan yang sangat menjengkelkan.

“Aku di kamar! Ke sini aja! Lagian juga nggak akan ngaruh kamu mau nyumpahin aku keguguran. Kan aku udah lahiran minggu lalu di puncak!” Revie berteriak dari dalam kamarnya. Tempat dia dan Bagas selalu main hide and seek! Kupercepat langkahku dan mendorong pintu kamar tersebut. Mataku langsung menangkap sosok Revie yang sedang duduk di atas pangkuan Bagas di depan komputer Apple mereka. “Bunuh yang ini dulu, baru yang ini!” kata Revie antusias. Aku melempar postman bag ku ke atas tempat tidur dan berjalan ke arah mereka berdua. “Tuh lihat, matikan si BaraBaraBereBere itu!”

Ketika aku sudah sampai di sebelah mereka, ternyata mereka sedang main game online. Dan judul game nya adalah Perjuangan Semut. Ya, Tuhan! “Hore!” teriak mereka berdua tiba-tiba, membuatku terlonjak kaget. “Kita menang!” seru Bagas bahagia. Dia meraih pipi Revie dan mendaratkan seribu kecupan di sana. Pipi Revie yang malang! Pasti bau jigongnya Bagas deh sekarang. Jorok ih! “Aku mau mandi. Kamu sama Zavan belajar aja dulu.”

Revie tersenyum simpul. Dia berdiri dan menyingkir dari atas pangkuan Bagas. “Kamu mau makan nggak? Tadi siang kan kamu belum makan? Biar aku masakkin kamu telur Orak-Arik kesukaan kamu itu.” Bagas mengangguk penuh minat. Revie mengecup pipi Bagas sekali lalu matanya yang besar itu mengarah ke arahku. “Kita belajarnya di dapur aja ya. Aku sambil masak ngajarin kamu soal tugas remedial itu. Aku cuman kasih tau rumusnya dan kamu yang kerjain sendiri. Oke?” Revie mengedipkan matanya kepadaku, yang langsung kusambut dengan anggukkan kepala. “Kita kerjain tugas remedial Mathematics aja duluan.” Sekali lagi aku menganggukkan kepalaku.

Aku melangkah cepat ke arah postman bagku yang ada di atas kasur Revie. Namun mataku menangkap sebuah papan lebar penuh foto yang ada di atas kepala ranjang. Kusipitkan mataku ke arah papan tersebut, ingin melihat ada foto apa saja di sana. “What is this?” tanyaku pada Revie, mataku menelusuri setiap foto dengan pandangan bingung. Di dalam foto tersebut ada Revie yang sedang tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Ada juga Bagas yang sedang duduk di atas kloset dengan raut wajah kaget. Foto Revie yang sedang melamun di teras depan rumah. Ada foto Bagas yang sedang mencuci mobil.

“Kamu tau kan kalo Bagas suka foto-foto nggak jelas gitu,” ucap Revie, matanya ikut melihat ke semua foto yang ada di papan. “Ini foto aku pas mau ngecat kamar sebelah,” kata Revie, dia menunjuk foto yang berisi gambarnya yang sedang duduk di tengah-tengah ruangan sambil mengaduk cat berwarna biru, wajahnya sedikit tercoreng oleh cat itu. “Yang ini Bagas pas lagi ngecat bagian sudutnya.” Di foto itu Bagas lagi menyapukan kuas catnya di sudut paling atas ruangan. Aku melihat lebih banyak lagi. Ada foto Revie yang sedang tidur di atas sofa dan Bagas mencium pipinya. Ada foto Revie yang belepotan es krim. Ada foto Bagas yang sedang menguap lebar. Ada foto Revie dan Bagas yang berpelukan di Puncak. Ada foto Revie yang sedang memeluk tubuh telanjang Bagas di atas kasur.

Semua yang ada di papan ini foto mereka berdua. Dan mereka terlihat begitu… bahagia.

“Ini foto kita berlima pas di Paris satu tahun yang lalu. Kamu ingetkan? Waktu itukan kita sekalian nonton kamu jadi model di sana, pas Paris Fashion Week.” Aku melihat foto yang Revie tunjuk. Foto kami berlima di bawah menara Eiffel. Judul foto itu… Brother Forever.

Aku tersenyum lembut melihat foto itu. Dengan kepala ditutup topi woll dan tangan yang saling merangkul, kami terlihat begitu bahagia. Meskipun Tivo tidak menampilkan sebuah senyuman di bibirnya, namun sorot matanya jelas terlihat bahagia. Masa-masa di mana kami berlima masih bersama dan tidak sesibuk sekarang. Masa-masa di mana kami berlima bebas pergi bersama kemana saja kami mau. Tetapi pada akhirnya, mereka berempat mempunyai orang-orang yang mereka sangat cintai. Meninggalkanku sendirian, merasakan betapa sakitnya saat rasa kesepian menyerang hatiku.

“Jadi… kapan kita mau belajarnya?” tanya Revie pelan di sebelahku. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya dan tersenyum. “Aku juga pengen masakkin Bagas telur orak-arik sekarang. Jadi kita belajarnya di dapur aja ya.” Aku mengangguk patuh. Revie tersenyum lalu berjalan cepat menuju ke arah pintu kamar. Aku mengikutinya dari belakang, rasa kesepian makin lama makin terasa jelas di hatiku. Aku dengki pada Revie, aku dengki pada sahabatku semua, mereka begitu bahagia dengan pasangan mereka masing-masing. Sedangkan aku selalu sendirian. Aku… butuh seseorang di hidupku.

Kutaruh postman bag ku di atas meja makan. Revie mengeluarkan dua telur dari dalam kulkas, dia juga mengeluarkan satu kotak es krim dan memberikannya kepadaku. “Lo jelasin ke gue gimana kerjain soal-soal ini!” ucapku memelas. Kusipitkan mataku dan melihat angka-angka yang ada di atas kertas tersebut. Setelah Revie menyalakan kompor dan menaruh wajan di atas kompor tersebut, barulah dia menghampiriku. Revie menjelaskan dengan nada yang sulit untuk kumengerti. “Aduh Rev, telponin gue ambulans sekarang. Kayaknya gue kena kanker otak deh gara-gara soal yang ada di depan mata gue ini!”

“Zavan!” tegur Revie, dia berjalan cepat ke arah kompor dan memecahkan kedua telur yang ada di tangannya. Wangi telur goreng langsung memenuhi dapur. “Itu soal Aljabar. Mudah kok!” kata Revie disela-sela dia menggoreng telur. “Sini aku tulisin rumusnya. Kamu tinggal masukkin aja angka-angkanya ke rumus itu!” Revie menulis dengan sangat cepat di atas kertas kosong yang ada di atas meja makan. “Kamu bisa nggak perkalian sama pembagian?” tanya Revie, dia menatapku dengan pandangan serius.

“Gue memang bodoh Revie, tapi nggak sebodoh itu juga kali sampe nggak bisa perkalian dan pembagian.” Aku merengut sebal, meskipun aku tidak menyalahkan Revie juga. Setiap ada pelajaran Mathematic kan aku selalu mendengarkan lagu. “Jadi… nilai x tinggal dimasukkin ke sini terus nanti dikaliin sama nilai y, gitu?” tanyaku sambil menunjuk-nunjuk angka berbentuk aneh yang ada di kertas soal itu.

Revie mengangguk cepat. “Nah, tuhkan kamu bisa. Aku curiga deh, sebenernya kamu ini pintar tapi pura-pura bodoh ya? Soalnya kamu cepet banget bisa ngertinya. Awalnya aja kamu kayak nggak ngerti gitu, tapi kalo dijelasin sekali lagi kamu langsung ngerti. Nggak kayak Sid, And, dan Tivo.” Aku hanya bisa memasang senyumanku ke arah Revie. Tidak ingin menyanggah  pujiannya tadi. “Ya udah, kerjain aja dulu. Soal dari nomor satu sampe nomor enam itu sama-sama Aljabar kok.” Aku mengangguk patuh, kemudian mulai mengerjakan tugas remedial Mathematics dengan raut—sok—serius.

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Kudongakkan kepalaku dan melihat Bagas yang hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya. Badannya yang luar biasa indah itu benar-benar menakjubkan. Tetapi maaf, aku tidak bernafsu kepada Bagas. Soalnya dia pacar Revie. Aku tidak mungkin merebut pacar sahabatku sendiri. Selain menyedihkan juga menjijikan. “Selesai kamu ngajarin Zavan, kamu mandi ya,” kata Bagas sambil memeluk tubuh Revie dari belakang. Membuat Revie cekikikan saat Bagas mencium bagian belakang telinga Revie dengan gerakkan menggoda. Oh, PUHLEASEEEE DEH!!! Pasangan bikin envy like a gigolo!

“Aku paling nggak bisa kalo kamu cium belakang telingaku kayak gitu,” kata Revie, dia mendorong dada Bagas yang telanjang dengan kedua telapak tangannya. Tugas remedial yang ada di depanku langsung terlupakan begitu saja saat aku melihat adegan India yang ada di depan mataku ini. “Oh, iya, nasinya segini cukup?” tanya Revie sambil menyorongkan piring berisi telur orak-arik dan sekepal nasi putih di sisinya. “Atau tambahin lagi sedikit?”

“Tambahin,” sergah Bagas cepat. “Ya udah, aku pakek baju dulu, habis itu kita ke Sport Station, aku mau beli sepatu buat tanding Futsal besok.” Bagas memegang kedua pipi Revie lalu mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibirnya. Aku mendengus jengkel, sampai kapan mereka akan bermesaraan di depanku? Kalau mereka bermesaraan terus, lama-lama aku makin dengki. Terus nanti aku bermesraan dengan siapa? Masa dengan wajan sih?! Bitch, please! Hidupku yang sudah menyedihkan ini akan makin terpuruk jatuh.

Revie menaruh dua piring berisi telur orak-arik, sayur sup, dan nasi yang sudah dibubuhi kecap di depanku. “Kalo kamu mau makan, masak sendiri ya. Aku males masakkin kamu!” Dasar sahabat sialan! Untung saja aku tadi sudah makan. Thanks to Vadin yang sudah mentraktirku makan di Avenue A. “Hehehe, bercanda kok. Kamu mau makan apa? Kamu kan nggak begitu suka makanan Indonesia? Kamu mau aku buatin Spaghetti?”

“Nggak usah, gue udah makan tadi di Avenue A sama temen model gue.” Kutundukkan kepalaku lagi dan mulai mengerjakan tugas remedial yang ada di hadapanku ini. “Terus dua puluh lima ini dibagi lima, gitu kan?” tanyaku sambil menunjuk kedua angka yang masih berdiam diri di dalam kertasku. Revie mendorong sedikit kertasku agar bisa dia lihat. Dengan gerakkan lambat, Revie mengangguk. Aku langsung membagi kedua angka tersebut. Dan hasilnya adalah lima. Berarti nilai x adalah lima. Hore! Aku bisa!!!

“Baru dua soal yang selesai Zav, masih ada delapan belas nomor lagi,” ucap Revie dengan nada mengingatkan. Aku mengangguk sebal. Aku juga tahu kali, Rev! “Dari nomor tujuh sampe nomor sembilan itu soalnya tentang Trigonometri. Jadi kita hitung sudut dan sisi segitiga.” Revie menarik kertas lain yang ada di samping kertasku. Dia mulai menuliskan sebuah rumus. Tulisannya yang rapi benar-benar membuat mataku yang lelah bisa mengerti. “Nih, rumusnya! Tinggal hitung derajat sisi segitiganya aja nanti.”

Aku mengangguk patuh, kusipitkan mataku lebih dalam. Mencoba memahami soal nomor tiga. Nilai y nya sangat sulit untuk kutemukan. Kuangkat kepalaku untuk bertanya pada Revie, namun pintu rumahnya tiba-tiba diketuk seseorang. Revie bangkit dari kursinya lalu meninggalkanku sendirian di sini. Aku mengacak-ngacak rambutku frustasi, tidak pernah konsentrasi selama tiga tahun dengan pelajaran Mathematics membuatku jadi bodoh. Sial, aku harusnya tidak jadi seperti ini. Aku harusnya banyak-banyak belajar selama di sekolah.

“Ayo, kamu duduk aja dulu!” kata Revie dari belakang tubuhku. “Zav, aku ke depan bentar ya!” Revie berujar agak antusias. Aku membalikkan badanku dan kaget saat mendapati Ozayn dalam IOS canggih sedang berdiri di sana. Tubuhnya yang besar nan perkasa itu bergerak gelisah saat dia menarik kursi yang ada di sebelahku. Aku cepat-cepat mengalihkan pandangaku ke aras kertas soalku. Sialan! Kenapa aku malah makin ketakutan seperti ini?!

“Revie!” panggilku, suaraku agak bergetar karena gugup. “Soal yang ini gimana?”

“Euh—“ Aku melihat Ozayn yang sedang menunjuk kertas soalku dengan tangannya. “Nilai yang ini kamu kaliin sama yang ini. Terus ka-kalo udah ketemu hasilnya, kamu bagi sama nilai yang ini. Dan hasil akhirnya pasti ketemu.” Lalu dia memberikanku sebuah senyuman.

DEG!!! Jantungku berdebar kencang melihat senyumannya itu! Setan! Setan! Setan!

 

–LOL, bersambung tuh–halah!–

Yang udah ucapin gue HBD, makasih ya, gue gak bisa jwb satu2.

Byk beuddd soalnya. Thanks sekali lagi.

Cium :*

New Day (1)

DIS_

Chapter 1

Ҧ Fucking Goddess

Hanya ada tiga jenis cowok gay yang ada di dunia ini. Yang pertama adalah cowok gay yang menerima dirinya sendiri dengan apa adanya. Which is, aku banget—TGIF—Thanks Gawd I’m Fag! Yang kedua adalah cowok gay yang sok-sokan bilang kalau dia bukan gay dan malah menghina para gay lainnya di luar sana. Gay yang kayak begini sangat-sangat muna-fuck, muna-kontol, muna-pepek dan muna-bitch! Sebisa mungkin hindari gay yang seperti ini, karena biasanya cowok gay tipe kedua seperti ini pasti sangat malu-maluin. Pantat Babi EW! Sedangkan cowok gay yang ketiga adalah straight denial. Mereka pikir mereka straight dan lebih suka jilat lubang pepek ketimbang jilat kepala kontol. Yang denial seperti inilah yang harus segera disadarkan kalau dia itu punya bakat di bidang gay… or bisexsual.

Seperti cowok yang ada di depanku ini nih. Cowok ganteng dengan hidung mancung serta badan menggiurkan yang selalu bisa membuatku klepek-klepek kayak ikan kehilangan air. Kalau dia bicara pasti suara beratnya yang kayak Enrique Iglesias itu membuat sesuatu di dalam diriku berdesir. Tapi… wait a sec! Aku masih nggak ngeh sebenarnya dia itu ngomong soal apaan dari tadi? Oh, iya, dia sedang ngebicarain soal klub bola. Apaan ya tadi nama Klubnya? Hmm, Chelsea deh kayaknya. Tapi sayang, aku nggak tahu tuh Klub Chelsea itu yang mana. Yang aku tahu, Chelsea itu pemain sinetron dan temanku waktu pemotretan di Majalah Gaul edisi April Mop tahun lalu.

Tetapi biarlah cowok itu ngomong sesuka hatinya, toh kalau aku suruh berhenti juga dia bakal tetep ngomong lagi dan malah ngebahas soal Klub Bola yang lain. Gimme some sorry, aku nggak ngerti soal bola. Jadi daripada aku makin ter­-stuck sama obrolannya yang sangat membosankan itu—bahkan omongannya lebih membosankan daripada omongannya Mrs. Gina, salah satu Guru yang ada di homeroom Sejarah—aku membiarkan saja dia terus mengoceh tentang Chelsea. Yawn!

Aku bisa kenal dan pacaran sama… wait! Namanya siapa ya? Aduh, aku memang suka lupa mengingat nama orang lain, apalagi kalau yang sangat brick-boring-brick kayak orang yang ada di depanku ini. Hmm, namanya itu… Ferlo—bukan deh kayaknya! Oh, kayaknya Mazda deh—oh, bukan, itu sih merek mobil! Rrrr, siapa ya?! AHA! Robi. Namanya Robi—rombongan babi! Kok gitu aja aku bisa lupa sih, ck?! Tapi, biarlah, aku memang sangat lemah kalau harus mengingat nama orang yang sedang kupacari. Kadang namanya ada yang sama sih, dan ada juga yang sangat susah buat kusebut di lidahku.

Oh, back to the topic! Aku ketemu sama Robi sekitar dua minggu yang lalu. Pada saat aku menemani Revie di lapangan Futsal. Waktu itu malam minggu dan aku benar-benar nggak tahu mau pergi kemana karena masih jam setengah delapan malam. Ya iyalah, jam setengah delapan malam mana ada clubbing yang buka. Para Pelacur, Gigolo dan Banci aja masih dandan di rumah mereka masing-masing. Masa aku mau nontonin para Pelayan ngelap meja sih? Cuih! Mendingan aku berkumpul dengan sahabat-sahabatku.

Jadi… saat aku menghubungi flocksku, hanya Revie yang memungkinkan untuk kudatangi. Sid sedang makan malam di SoHo sama Adam—aku nggak mau ya jadi obat nyamuk! Wajahku elegan begini masa jadi obat nyamuk, aku maunya jadi obat kuat! Kalau And sama Vick juga lagi berduaan di suatu tempat—aku yakin sih bukan di tanahnya Suku Asmat! Sedangkan Tivo nggak bisa dihubungi, palingan dia lagi meeting—sama Peter. Eek, bowing! Jadinya aku malah ke lapangan Futsal dan nemenin Revie yang lagi nontonin Bagas. Sigh!

Aku terkadang masih nggak ngerti kenapa Revie selalu kuat nemenin Bagas di lapangan Futsal. Apa enaknya coba? Oke, they all look so manly and sweat—nyam-nyam. Tapi…

“Jadi Zav… Torres itu pemain yang paling hebat di Chelsea. Dari dulu aku ngefans banget sama tekhnik permainannya yang lincah dan fleksibel bang—“ Ya, ya, ya, silahkan terus berkicau wahai Robi—rombongan babi! Like I care about it. Kalau kita ngomongin Torres ternyata gay dan punya kontol besar sih aku mau nyahutin. Tapi ini malah ngomong soal Torres yang pintar saat tendangan samping—halah, whatever it is! Robi, my dear, I don’t give a damn! Ngomong sini sama lubang pantat!

Jadi intinya… aku ketemu sama Robi saat Bagas istirahat dan ngecek keadaan bayinya yang ada di perut Revie. Puhleaseeeee! Kalaupun ada bayi beneran di dalam perut Revie, nggak perlu dicek teruskan? Dikit-dikit Bagas nanya, anak kita lagi ngidam apa, Sayang? What the anjing is that? Sayang? SAYANG? Mana ember, mana ember, aku mau muntah. Entah kenapa aku sangat risih kalau ada yang menyebut pacarnya dengan kata sayang. Kenapa nggak yang lain aja, kayak Monyet atau Bajingan gitu? Well, never mind!

Nah, si Robi ini temennya Bagas di kampus, dan waktu itu aku nggak sengaja dudukkin tasnya. Hmm, sebenarnya sih sengaja, soalnya bangku tempat aku duduk agak keras, bisa ngebuat pantatku yang berisi ini jadi tepos! Makanya aku pakek-in alas waktu itu, yang ternyata adalah tasnya si Rombongan Babi ini. Yah, akhirnya kami kenalan dan termometer nafsu yang ada di dalam diriku ini menginginkan dia. Gimana enggak? Badannya hawt banget, suaranya itu buat bulu kontolku berdesir dan aroma keringat yang ada di dadanya pas dia buka baju buat lubang pantatku goyang dombret dan minta digaruk sama kontolnya.

Lalu… Voodoo-na-na-na-Kaboom! Sedikit trik di sana sini—setelah dia putus dari ceweknya yang menyedihkan itu—kasihan deh lo—ups!—aku mendekatinya dan menggunakan aroma pemikatku untuk mendapatkan hatinya. Tidak susah kok, sekitar beberapa hari dia mulai resah karena merasa jatuh cinta sama laki-laki. Yes, Robi, my dear, kamu itu straight denial. Akhirnnya, ketika aku memberikan dia sebuah kecupan selamat datang di Klub Gay dan Biseksual, dia pun menjadi pacarku. Gimme applause my Lady Gaga! Thank you, thank you.

Tapi sekarang, aku sudah nggak pengen jadi pacarnya lagi. Karena manisnya dia sudah hilang. Menurutku, cowok itu kayak permen karet, kalau manisnya sudah hilang di mulut, harus segera dilepehin dan dibuang. Ya, kayak si Rombongan Babi ini. Manisnya dia sudah hilang, dan aku harus segera membuangnya di tempat yang seharusnya. Di J.Co ini! Tapi aku masih belum menemukan momen yang tepat untuk melakukan break-up padanya. Dia masih asyik dengan blah-blah-shitnya yang nggak penting itu.

“Kamu kok diem aja daritadi?” tanyanya, sambil mengangkat kaleng Red Bullsnya. Thanks, Mamayukero! Akhirnya dia berhenti bicara juga. “Kamu bosen kita di sini? Ya udah, yuk kita ke 21. Setengah jam lagi film dokumenter soal perjalanan Band Noah bakalan tayang.”

Noah? Major EW! “Nope! I’m still want to be here,” kataku cepat ketika si Rombongan Babi mulai bangkit dari posisi duduknya. Dia menatapku sejenak lalu mengangguk samar, dihempaskannya kembali pantatnya—yang sudah nggak manis lagi itu—ke atas sofa. “Robi, I want tell you sumthing. This is about our relationship.” Robi mengernyitkan dahinya, masih tidak mengerti arah pembicaraanku. Alright then, I will shoot it out! “Kita putus aja! Start seeing other people, stuff and shit di luar sana. And you can fuck another girls or… guys.”

Mulut Robi menganga lebar, reaksi yang sering muncul kalau baru saja diputusin. Mata cowok itu menatapku lekat-lekat, berharap kalau nanti aku akan bilang… aku bercanda kok. Which is, not gonna happen. “Kamu serius?” tanyanya dengan suara yang nggak seksi lagi. “Kita baru pacaran selama tiga hari, masa kita putus?” tanyanya tak percaya. “Emangnya aku punya salah apa sampe kamu mau mutusin aku sekarang? Apa alasannya kamu putusin aku?”

Oh, puh-lease deh! Dia nanya alasan kenapa aku mutusin dia. Baiklah, aku punya beberapa poin alasan untuknya. Satu: aku nggak suka cara dia minum, kalau dia minum pasti belepotan kayak orang tolol—tapi ini bukan alasan yang tepat buat mutusin dia. Dua: aku nggak suka cara dia ngedip, kayak orang kelilipan—tetap bukan alasan putus. Tiga: dia suka sama lagu dangdut, EW, big EW! Mendingan aku ditembak mati sama Hitler daripada ikut dia dangdutan di gang-gang kampung para Jelata—tapi masih sama, ini juga bukan alasan yang tepat buat mutusin dia. Empat: dia banyak omong, dan itu terbukti benar—bisa nggak ya yang ini dijadiin alasan buat putus? Oke, coba kita petik poin yang kelima.

Lima: aku sudah bosan sama dia. Ah, itu dia alasan yang tepat!

“Gue udah bosen sama lo,” kataku sangat jujur. “So, get a life Robi! Lo nonton film dokumenter Noah, gue nonton The Hunger Games: Catching Fire!” Aku meraih iPhone ku yang ada di atas meja dan memasukkannya ke dalam saku celana Levi’s ku. “I’m so jolly can to be with you, and be your boyfriend. But now, I’m so sorry, I have to go!” Aku baru saja ingin bangkit dari tempat dudukku saat Robi memegang pergelangan tanganku cukup kuat. Sepertinya cowok ini masih belum bisa menerima kenyataan kalau baru diputusin deh. Lihat saja wajahnya yang memelas kayak anak anjing kehilangan induknya itu. Pathetic losah!

“Itu bukan alasan yang tepat buat putus, Zav,” katanya pelan, mencoba menahan wajahnya agar tetap terlihat kewl. But, I’m sorry, your face is so überpathetic! “Aku sudah berusaha buat jaga hubungan kita supaya nggak ngebosenin. Bahkan aku selalu ngajak kamu ngomong soal ini-itu.” Yeah, rite! “Jadi… kalo misalnya kamu bosen, salahnya bukan di aku, tapi di kamu.” Robi menatapku intens, berharap kalau omongannya tadi bisa membenahi hubungan kami. “Aku bahkan selalu antar-jemput pas kamu ada jadwal pemotretan dan take iklan. Aku selalu ada buat kamu, jadi nggak mungkin itu jadi alasan buat kita putus.”

Cowok satu ini memang sangat-sangat menyedihkan. “Lemme tell ya! Pertama, lo selalu ngomong hal nggak penting, bukan ini-itu yang berguna. Bahkan lo nggak pernah nanya sama gue obrolan apa yang gue suka dan yang nggak gue suka. Kedua, gue nggak pernah minta lo antar-jemput gue. Yang ada lo sendiri yang dateng ke rumah gue atau ke studio. Jadi nggak usah ngomong soal hal yang nggak karuan, bahkan pas lo ngomong tadi gue dihampiri sama yang namanya Tuan Bosan. Just zip your mouth, ‘kay!”

“Tapi aku jadi kayak gini gara-gara kamu!” katanya agak keras, wajah yang tadi dia coba buat supaya kewl kini menghilang sempurna. “Kamu yang udah buat aku jadi homo kayak gini, dan kamu mau mutusin aku gitu aja? Kamu nggak mau tanggung jawab dengan apa yang udah kamu lakuin ke aku?”

“Tanggung jawab apa, Rob? Tanggung jawab karena lo sekarang hamil?” tanyaku pura-pura lugu. “Hun, lo inget nggak kalo yang nusuk itu siapa? Jadi nggak mungkin lo hamil!” Aku menatap wajahnya dengan pandangan bosan. Gosh! “Lagi pula, gue nggak pernah kok ngebuat lo jadi homo. Lo aja yang nggak sadar kalo lo itu sebenernya homo, dan gue sebagai gay hanya menyadarkan lo kalo di dalem diri lo itu ada darah homonya. Coba deh lo ke PMI dan donorin darah lo di sana. Pasti hasilnya bukan A, B, O, atau AB. Tapi hasil darah lo bakalan bertuliskan HOMO.” Aku menatapnya sengit, benar-benar makin bosan. “Face it!”

This is not fair!” serunya kencang dan desperado, membuatku dan beberapa pengunjung yang ada di J.Co tersentak kaget. “I love you, Zavan! Stay!” mohonnya dengan suara yang sangat menyedihkan. Membuatku makin mengernyit jijik. Tadi dia bilang apa? I love youGeez, that’s groos! Aku paling benci kalau sudah ada orang yang membahas soal cinta. Atau cin-TAI. Menjijikan. Retweet kata-kataku tadi. Menjijikan!

I’m sorry Robi. We’re over!” Bye-bye, au revoir, ay mi papito, annyeonghi kyeseyo!

Aku baru saja ingin berjalan menjauh darinya ketika tiba-tiba dia berseru kencang. Membuat semua mata yang ada di sini terarah ke arahku. “Lo bakalan bayar apa yang udah lo lakuin ke gue, Brengsek!” Ya Tuhan, apakah Kau telah membuat otak mantanku satu ini jadi lunatic seperti itu? Mengerikan. Cepat-cepat kulangkahkan kakiku, tidak ingin berurusan lagi dengan orang seperti dia. “Lihat aja nanti!” serunya sekali lagi sebelum aku keluar dari dalam J.Co.

Besok-besok kalau aku mau mutusin pacar jangan di tempat rame ah! Buat malu aja. Lebih baik sekarang aku pergi dari tempat ini dan melakukan tiga hal penting kalau baru saja putus. Satu: clubbing—yeah, I really miss my dancefloor so much. Dua: Marlboro Lights—menghisap rokok selalu menghilangkan stress yang ada di kepalaku. Tiga: ngumpul sama sahabat-sahabatku—Sid, And, Revie dan Tivo—tapi sayang, mereka semua sedang liburan.

Oh, shit! Buat jadi empat hal, cowok baru juga masuk hal yang penting saat ini!

***

“Jadi gimana? Acara mutusinnya lancar nggak?” tanya Belinda dengan mulut penuh kentang goreng. Aku mengangkat pandanganku dari fro-yo ukuran medium yang ada di tanganku. “Nggak ada dramanya kan?” tambah Belinda, dia menelan kentang goreng yang ada di mulutnya dengan gerakkan aneh. Aku tidak tahu kenapa Belinda sangat suka makan kentang goreng. Kalau Revie seorang es krim holic, sedangkan Belinda seorang kentang goreng holic. Apalagi kalau kentang gorengnya dicampur sama saus sambal ekstra pedas. Dia bisa menghabiskannya dalam beberapa menit tanpa minum.

Kutaruh fro-yoku di atas meja dan mendesah panjang. “Tentu aja ada dramanya!” ujarku jengkel. “Tuh cowok berubah jadi orang gila terus teriak-teriak nggak jelas di J.Co. Can you imagine it? Gue bener-bener malu!” Aku menghempaskan punggungku di sandaran kursi. Belinda cekikikan seperti Graus—Nenek Sihir yang ada di film Shrek. “Gue nggak mau punya pacar yang kayak gitu lagi. Gue kapok!” Aku melirik sekilas iPhone ku dan melihat ada satu pesan masuk. Saat aku membukanya ternyata dari Royzel—entah siapa itu, aku lupa.

“Yakin lo kapok?” tanya Belinda tak percaya. Dia menatap wajahku dengan pandangan agak mencela. Sialan! Kembaran biadab. “Menurut gue sih, mantan lo yang ini tuh memang nggak cocok sama lo. Entah kenapa ya, gue cuman ngerasa gitu aja.” Belinda mencolek-colek ujung kentang gorengnya di saus sambal yang ada di sebelah fro-yoku. “Tapi sudahlah, yang pentingkan lo sama dia udah putus. And that’s a nice step!” Belinda melihat sekeliling, matanya melirik ke sana-kemari. “Cowok yang itu menurut lo ganteng nggak Zav?”

Aku mengangkat pandangaku dan melihat cowok yang Belinda tunjuk menggunakan kentang gorengnya. “Biasa aja ah,” kataku saat sudah melihat cowok yang Belinda tunjuk. Cowok yang duduk di sofa abu-abu itu mengenakkan kemeja kotak-kotak—yang mengingatkanku sama penyanyi yang namanya jelata banget itu… siapa ya namanya? Oh, iya, Budi Doremi. “Cowok yang di deket jukebox itu baru ganteng!” ujarku sambil menunjuk seorang cowok yang sedang duduk sendirian di kursinya dengan daguku.

“Oh, my!” seru Belinda tertahan. “Rite, that hunk look gorgeous!” Mata Belinda berbinar-binar, lihat sebentar lagi, pasti dia akan mengucapkan kalimat itu. “Kalo dia pacaran sama lo pasti cocok banget deh. Lihat tuh mukanya… sayu banget. Ih, gue pengen deh dia jadi adik ipar gue. Seru aja kalo ntar kalian jalan berdua, unyu banget deh pasti! Nice couple.” Heh, sudah kuduga kalau dia akan ngomong begitu. Belinda itu fag hag, dia sangat suka dengan dunia gay. Makanya saat aku CO dulu, dia sangat girang dan rajin menjodohkanku.

“Sudah deh Bel,” sahutku malas. “Setiap cowok yang lo jodohin ke gue pasti nggak ada yang tahan lama. Karena lo selalu ngasih gue cowok-cowok tipe lo. Lo nggak sadar ya kalo gue sama lo itu beda tipe cowok. Kalo lo suka sama yang anak-anak mami gitu, gue lebih suka sama yang binal.” Aku mengaduk fro-yoku dengan gerakkan malas. “Lagian gue juga lagi nggak minat buat pacaran.” Belinda menatapku dengan pandangan makin mencela. “Untuk beberapa jam ke depan,” tambahku kemudian.

But, dahling, cowok itu cocok banget sama lo. Siapa tau cowok itu tipe lo Zav!” tuturnya menggebu-gebu. “Dan dari pengamatan mata gue, dan radar fag hag gue, cowok itu kayaknya gay deh. Atau nggak bisek.” Belinda membuka ikat rambutnya, membuat rambutnya yang panjang dan lurus tergerai sempurna. “Gue deketin ya dia, mau memastikan dia gay apa bukan. Kalo iya, ntar gue kasih nomor HP lo ke dia.” Aku ingin membantah kata-katanya, namun Belinda mencubit bibirku dengan jari-jarinya. “Papapapap! Taciturn your mouth!”

Belinda berdiri sambil mengibaskan rambutnya ke belakang. Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan membiarkan dia melakukan perjodohan nggak penting ini. Kalau dihitung-hitung sudah berapa kali ya aku dijodohin gini sama Belinda dan keluargaku? Hmm, tidak bisa kuhitung. Matthew—Daddyku—dan Anna—Mommyku—sangat suka menjodohkanku. Oh, mereka tahu kalau aku gay. Aku sudah CO ke mereka waktu umurku masih tiga belas tahun. Tahu apa reaksi mereka? Tidak seperti yang kubayangkan di kepalaku. Tidak ada dramanya sama sekali seperti yang ada di film Pray For Bobby atau seperti Revie.

Waktu itu Belinda baru saja datang dari Indonesia, Matt dan Anna juga sedang libur untuk membuat film baru. Jadi kami berempat duduk melingkar di meja makan. Dan aku sudah memutuskan untuk memberitahu mereka kalau aku gay. Hanya saja ada di bagian diriku yang lain sangat takut untuk mengungkapkan hal itu. Namun aku tahu, jujur kepada keluarga sendiri adalah langkah yang tepat. Lebih baik dibenci karena menjadi diri sendiri, daripada dicintai tapi aku tidak menjadi diriku yang apa adanya. Aku sadar, hidupku singkat dan aku tidak mau menyia-nyiakannya untuk membahagiakan orang lain. Ini hidupku, dan aku akan bahagia di jalanku sendiri.

“Matt, Anna, Bel,” kataku perlahan memanggil mereka. Di keluargaku memang seperti ini, Matthew dan Annabelle tidak suka dipanggil Dad dan Mom, mereka merasa tua kalau aku dan Belinda panggil seperti itu, jadi mereka menyuruh kami untuk memanggil nama mereka. Biar akrab, katanya. “I want tell you something, but don’t angry!” Aku menatap Matt yang sedang menatapku dengan pandangan bingung. Sedangkan Anna yang ada di hadapanku hanya memasang senyuman penuh tanda tanya. Belinda—kembaran cewekku yang sangat mirip Matt—hanya terus mengaduk supnya dengan bosan.

Tell us about what?” tanya Anna lembut. Jika Belinda mirip Matt, yang berwajah tegas, kalau aku mirip Anna, yang mempunyai wajah lembut. “Just tell us, we won’t angry.” Anna meraih tanganku dan menggenggamnya, kubenahi letak kacamataku dengan gugup.

I’m…” Aku menghentikan ucapanku, dan melihat Belinda yang kini memberikanku sorot mata ingin tahu. “I’m…” Aku bisa merasakan detak jatungku yang makin berdebar kencang. Bisakah aku melakukan hal ini? Ya, aku bisa-aku bisa! “I’m… gay,” beritahuku pada mereka dengan suara yang agak sedikit tersedak. Aku mengangkat pandanganku dan melihat Anna serta Matt yang balas memandangku tidak mengerti. Bahkan Belinda makin menggeser kursinya agar makin dekat denganku.

You what?” tanya Matt, dahinya berkerut bingung. Aku menelan air liurku dengan susah payah. Berarti mereka tadi tidak mendengar apa yang kukatakan.

Sekali lagi aku mencoba, dan kali ini aku menggunakan nada yang cukup tegas. “I’m gay!” Setelah aku mengutarakan kalimat itu, aku langsung menundukkan kepalaku dalam-dalam. Keheningan yang ada di atas meja ini bisa membuatku menebak kalau Matt, Anna dan Belinda kaget. Aku tidak mau melihat raut kecewa mereka, aku tidak ingin melihat perubahan wajah mereka, lebih baik seperti ini. Tinggal tunggu waktu saat mereka akan mengatakan hal-hal yang kejam untukku. Dan aku sudah menyiapkan kesabaran yang sangat besar di dalam diriku untuk menerima kalimat hujatan mereka nanti.

You… gay?” tanya Anna, suaranya tidak bisa kutebak, apakah dia marah atau kecewa.

Perlahan, aku menganggukkan kepala. “I just wanna tell you about it. If you hate me, I will be okay. I don’t want you agree to disagree for what I told, I just wanna you know about myself. I am me. I am gay, and I love myself way out.” Akhirnya sebuah keberanian yang entah datang darimana, aku mengangkat kepalaku dan melihat wajah keluargaku satu persatu. Matt, Anna dan Belinda memasang wajah yang sangat sulit untuk kutebak. Aku memilin-milin jari tangan kanannku, berharap kalau salah satu dari mereka akan membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu. Apa saja!

Really?” tanya Matt, dia menelengkan kepalanya dan menatapku dengan mata sapphirenya yang mirip Belinda. Sedangkan mataku mirip Anna, hazel agak gelap. “You gay?” tanya Matt lagi, pelan-pelan aku mengangguk pasti. Matt terbelalak lebar, dan kini aku tahu kalau dia akan meledak. Siap-siap sebuah uca— “Kita punya anak gay!” kata Matt dalam bahasa Indonesia kepada Anna. Kami memang bisa berbahasa Indonesia. Matthew menghabiskan masa remajanya di Jakarta bersama Grandpop Edmund—papanya. Sedangkan Anna selalu menghabiskan liburan musim panasnya di Borneo bersama Grandpop Carlisle—seorang pembuat film dokumenter flora dan fauna. Grandpop Carlisle lah orang yang mempunyai stasiun TV Net Geographic Channel. Kalau Belinda memang bisa bahasa Indonesia, karena dia sudah tinggal di sana semenjak umur delapan tahun. Kalau aku baru bisa akhir-akhir ini.

“Ya, aku tau,” sahut Anna cepat. Dia menatap wajahku dalam-dalam. Kuhembuskan nafasku untuk menerima hal yang paling buruk yang akan terjadi. Aku sudah— “Oh, my God!” seru Anna dengan tawa yang tertahan. Nada suaranya terdengar ceria. Aku mengernyitkan wajahku bingung. “Kenapa baru ngasih tau kami sekarang?” tanya Anna antusias. “Kenapa kau tidak bilang dari kemarin-kemarin?” Anna melonjak-lonjak bahagia di kursinya. Kernyitan di dahiku makin dalam. “Ya, Tuhan! Kita harus merayakan ini! Matthew, honey, bisa kau ambilkan Sampanye kita di pantry?”

“Tentu, Sayang,” sahut Matt sama gembiranya kepada Anna.

“Lo gay dan baru ngasih tau gue sekarang!” seru Belinda di sebelahku. “Ya, ampun! Harusnya lo ngasih tau gue dong!” Aku melirik Belinda dengan pandangan aneh. Aku masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini, bukankah aku baru bilang kalau tadi aku gay ke mereka? Bukan karena aku mendapatkan juara satu se-London karena berhasil memenangkan olimpiade Fisika. “Kalo lo ngasih tau gue dari kemarin kan gue nggak perlu bingung dengan siapa gue harus bicarain cowok-cowok yang ada di majalah Vogue. Tapi nggak apa-apa, sekarang kita bisa bicarain soal cowok berdua. Yeay!”

Sumpah, aku masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini. “Ini dia Sampanye nya!” seru Matt sembari menaruh satu botol besar Sampanye di atas meja. Anna cepat-cepat membuka tutupnya dan menuangkannya ke gelas kami masing-masing, meskipun di gelasku dan Belinda hanya ditaruh sedikit. “Untuk Zavan!” seru Matt sambil mengangkat gelasnya ke udara. “Untuk keberaniannya mengakui jati dirinya, untuk cinta kita padanya!”

“Matt, Anna, Bel, aku baru saja memberitahu kalian kalau aku gay,” kataku dalam bahasa Indonesia yang sangat payah. Aksenku terdengar seperti orang Irlandia saat bicara dalam bahasa Inggris. “Apa kalian tidak marah padaku soal itu?” tanyaku sambil memperhatikan mereka satu-persatu. Matt dan Anna menurunkan gelas mereka dan menatapku dengan pandangan bingung. “Aku gay, apakah kalian baik-baik saja soal itu? Kalau tidak, katakan tidak, kalau iya, katakan iya. Aku akan baik-baik saja kalau kalian marah padaku.”

“Kau ingin kami marah padamu?” tanya Anna cepat. Aku menggigit bibir bawahku, itu benar. Kenapa aku ingin mereka marah padaku? “Tidak apa-apa, Sayang. Kami tidak akan marah padamu. Kau tau tidak bagaimana cara aku dan Matthew bertemu?” Anna bertanya tiba-tiba. Aku menggelengkan kepalaku tanda aku tidak mengetahuinya sama sekali. “Aku dan Matthew bertemu saat acara pertemuan pembela kaum LBGT.” Aku terperanjat kaget di kursiku. Benarkah? “Aku suka dunia LGBT, aku suka para gay, aku sayang sahabat lesbianku, aku disebut Fag Hag karena hal itu. Dan Matthew waktu itu ada di acara tersebut.”

“Itu karena aku sangat sayang sahabat gayku,” kata Matt sambil tersenyum. “Kau tau Halim kan? Itu sahabatku, dan dia gay. Aku dan dia bersahabat dari kecil, dan aku tau kalau dia gay. Aku pernah melihatnya berciuman dengan laki-laki. Tetapi rasa sayangku sebagai sahabatnya menghilangkan rasa tidak sukaku pada orientasinya. Jadi, siapapun dia, apapun yang ada di dalam dirinya… dia tetap orang yang sama. Sahabatku.” Matt meminum sedikit Sampanye nya. “Jadi, ketika aku membuat film pertamaku, aku membuat film tentang dunia gay. Semenjak saat itulah aku suka dengan cara para gay berinteraksi, mereka terlihat natural, apa adanya. Selalu tersenyum, membuatku tertawa. Sebut saja aku Fag Stag. Jadi ketika ada acara pembela kaum LGBT waktu itu, aku datang ke sana. Lalu bertemu dengan Annabelle.”

“Kemudian kami bicara banyak soal LGBT,” tutur Anna. “Tentang Film, gambar-gambar, sahabat-sahabat gay yang kami punya. Semuanya. Setelah itu aku dan Matthew suka jalan berdua untuk membicarakan hal-hal itu. Dan entah bagaimana…” Anna tersenyum penuh kasih sayang ke arah Matt. “Aku dan dia jatuh cinta. Dan sampai sekarang, aku tetap selalu jatuh cinta pada lelaki ini. Matthew.”

Matt tersenyum manis. “Aku juga mencintaimu.” Lalu mereka mulai berciuman! Yikes!

Aku dan Belinda langsung membuang pandangan ke arah lain. “Jadi, ketika kalian berdua lahir, kami sudah berjanji akan ikut gembira dengan apa yang anak kami sukai. Kau gay, dan kami tidak mempermasalahkannya. Malah aku sudah menyiapkan banyak rencana di kepalaku saat ini.” Anna memajukan sedikit badannya ke arahku. “Jadi… menurutmu kau ini di role bagian apa? Top atau Bot?”

Itu dia kisah CO ku. Matt adalah lelaki straight yang sangat suka dunia gay, dan Anna adalah perempuan yang sangat suka segala hal tentang dunia LGBT. Bahkan aku tahu istilah Top dan Bot dari Anna. Dia menceritakanku segala hal tentang gay. Bagaimana cara menggunakan radar dan memilih lelaki yang tepat. Sedangkan bersama Matt, kami suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk nonton film Gay. Matt sangat suka film gay yang judulnya Beautiful Thing. Katanya, film tersebut sangat alami dan indah. Kalau bersama Belinda, dia biasanya akan mengirimkan gambar cowok yang sedang dia dekati dan bertanya pendapatku. Kami juga sering telponan dan membahas soal cowok.

Yeah, itu dia keluargaku! Selamat datang di keluargaku yang aneh! Apalagi saat Matt dan Anna memberitahu kedua Grandpop dan Grandmama ku soal orientasi seksualku. Kedua Grandpop ku malah memberikanku hadiah. Sedangkan kedua Grandmama ku membuat pesta BBQ di belakang rumah untuk merayakan hal itu. Keluargaku makin aneh, kan?

Well, meskipun mereka aneh, aku sangat mencintai mereka. Aku sangat bersyukur karena mereka mau menerimaku apa adanya. The best damn thing in my life is my family. Tanpa mereka, aku tidak akan tahu hidupku akan seperti apa. Walaupun Matt dan Anna sangat sibuk dengan urusan pembuatan film mereka, tetapi mereka selalu meluangkan waktu mereka untuk menelponku dan Belinda meskipun hanya beberapa menit saja. Aku dan mereka belum bertemu selama delapan bulan, Matt sedang sibuk membuat film Transformer dan Anna sedang sibuk membuat film dari novel Nicholas Sparks. Aku merindukan mereka, tetapi aku tahu, mereka sibuk seperti itu juga untukku dan Belinda.

Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin sekarang aku bisa mengenakkan pakaian Alexander McQueen yang harganya mahal ini? Bagaimana mungkin aku bisa duduk dengan santai di Starbucks sambil menjilati sendok fro-yoku kalau bukan karena uang dari Matt dan Anna? Jadi aku tidak mempermasalahkan mereka jarang ada di rumah. Walaupun aku memang sangat suka kesepian. Aku mungkin punya banyak teman, sahabat dan keluarga yang sayang padaku, namun aku benar-benar merasa sendirian di dunia ini. Bahkan slogan: lebih baik dibenci karena menjadi diri sendiri, daripada dicintai tapi aku tidak menjadi diriku yang apa adanya, tidak ada dalam diriku lagi.

Aku yang sekarang, bukan aku yang apa adanya! Aku sedang menipu diriku sendiri!

His gay!” ujar Belinda di sebelahku, membuat lamunanku buyar seketika. Aku menengadah dan melihat wajah Belinda yang berseri-seri. Dia berjalan cepat ke sofanya dan duduk dengan nyaman di sana. “Nama cowok itu Troy—bukan Thor. Dia pemilik distro Rip Curls yang ada di lantai tiga, dia single dan dia Top.” Belinda menopang dagunya dengan tangan dan tersenyum lebar ke arahku. Kebiasaannya kalau senang jika bisa menjodohkanku dengan lelaki yang menurutnya baik untukku. “Dan gue udah kasih nomor HP lo ke dia.”

Susah kalau punya kembaran yang suka dunia gay seperti ini! “Alrite, thanksie!” Kuberikan Belinda senyuman terima kasihku. Ya sudahlah! Lagi pula cowok yang namanya Troy itu lumayan ganteng. Apalagi saat dia memberikanku sebuah senyuman saat aku menoleh ke arahnya. Kukerjapkan mataku beberapa kali, terkejut karena senyuman itu bisa membuat hormon nakal yang ada di dalam tubuhku bergejolak. Dengan sangat elegan, aku membalas senyumannya. Kuberikan dia senyuman mautku. Yeah, makan senyuman mematikanku ini!

iPhone ku kembali bergetar. Aku membuka slide lock nya dan menemukan nomor baru di iMessage ku. Isinya tentu saja dari cowok itu. Ucapan basa-basi yang tidak penting sama sekali. Tetapi biarlah, berarti ini awal yang sangat baik. Yang pentingkan sudah dua jam setelah aku putus dari Robi—rombongan babi. Cari pacar baru kan nggak dosa? Iya, kan? Siapa tau kontol cowok itu bentuknya kayak kartun favoritku: Doraemon. Pasti unyu deh, aku bakalan mainin kepala kontolnya dengan lidahku terus menjilati batangnya lama-lama. Hmm, fucking delicious bitch! Lebih enak daripada fro-yo yang ada di tanganku ini.

“Umurnya dua puluh empat tahun,” beritahuku pada Belinda yang sedang sibuk telponan dengan Bams—tetangga depan rumah kami dan pacarnya. “Dia udah CO ke orang tuanya dan dia openly gay,” tambahku lagi. “Berarti kalo gue pacaran sama dia nggak akan ada drama lebay kayak drama-drama Korea yang sering lo tonton itu.” Belinda menjulurkan lidahnya sebal kepadaku. “Dan semoga cowok ini nggak ngebosenin kayak pacar-pacar gue yang sebelumnya. Jangan sampe si Troy ini mirip: Lukas, Javier, William, hmm, siapa lagi ya… Oh, Dran sama Robi. EW! Amit-amit jabang pelacur berpepek lebar! Semua cowok itu sangat membosankan, saking ngeboseninnya gue inget nama mereka!”

“Troy lumayan asyik kok tadi pas gue ajak bicara,” kata Belinda sambil mematikan HPnya.

“Yang menurut lo asyikkan belum tentu asyik menurut gue,” hardikku malas. “Masih inget sama cowok yang pernah gue rebut dari lo itu nggak? Si Javier? Pas dia pacaran sama lo, lo bilang anaknya asyik banget. Tapi pas gue pacaran sama dia… eek, bahkan dia lebih membosankan daripada novel Pride and Prejudice.” Belinda mengangguk-anggukkan kepalnya. Mengerti dengan ucapan yang baru saja kulontarkan padanya. “Dan sekarang gue bosen ada di sini. Go somewhere, yuk! Kemana gitu.”

Belinda mengangkat pandangannya dari iPhone nya. “Gue sih ada di text nih sama Chloe. Dia sama Floque nya mau pergi ke party nya Griffin. Party buat kaum LGBT. Lo mau dateng nggak?” Belinda mengambil kentang goreng terakhir yang ada di atas piring dan melahap kentang itu dalam sekali gigit. “Kalo gue sih mau dateng, soalnya Bams masih ada urusan di Semarang sama Bokapnya. Ngurus perusahaan gitu deh. Daripada gue bosen di rumah sambil nonton drama Korea yang lo bilang lebay itu—brengsek lo—mendingan gue ikutan Chloe.”

“Ya udah, gue ikut deh. Flocks gue lagi pada liburan semua—ninggalin germonya sendirian di Jakarta.” Iya tuh, aku ditinggal sendirian, dan mereka berempat sedang asyik-asyiknya bulan madu dengan pacar mereka masing-masing. I’m so envy like a devil in bitch body! “Yuk, cabs gerak!” Aku menepuk Levi’s ku lalu bangkit. Troy sudah tidak ada di kursinya lagi, terkahir text nya masuk sih, dia bilang mau kembali mengawasi distronya. Whatsoeva!

Yang penting aku ke clubbing party malam ini! Permisi, Pelacur satu ini mau lewat, anjing!

***

FYI, teman-teman Belinda yang dari Jubilee International School itu sangat unik-unik. Aku nggak bercanda lho! Mari kuperkenalkan satu-satu. Cewek dengan wajah jutek yang sedang menyesap Orange Squash itu namanya Amanda. Cewek straight. Sangat suka mengkritik segala hal. Namun saat kritikkannya dibalas, dia malah marah-marah. Tetapi Sid pernah skak mat cewek itu, dan dia langsung terdiam. Yeah, kalau nggak punya sembilan nyawa kayak kucing mendingan nggak usah lawan omongan Sid deh! Sedangkan kembaran beda Mamanya itu namanya Dave. Agak-agak nerdy seperti Revie, dia ngomong aja halus banget kayak tukang sapu yang ada di pinggir jalan. Tapi Dave bukan tukang sapu kok. Dia gay dan punya pacar yang tampan.

Nah, cewek yang agak maskulin di depanku ini namanya Cassie. Biseksual. Tetapi lebih condong suka ke cewek. Dan pacarnya itu teman modelku. Namanya Elaine. Cantik banget, wajahnya agak-agak mirip Revie, tetapi dalam bentuk tubuh cewek. Kalau Revie dan Elaine disandingkan berdua, mereka sudah seperti Tuan dan Nyonya Barbie. Tapi sayang, Revie gay dan Elaine lesbian. Dunia itu adil, babe, yang ganteng gay yang cantik lesbian. Nobody perfect! Sedangkan cewek yang sedang duduk manis sambil memegang Mocktailnya itu namanya Chloe. Dia cantik juga kayak Elaine. Tapi… Chloe itu Transgender. Nama sebelum dia jadi cewek adalah Charlie. Aku pernah lihat fotonya saat dia masih jadi cowok, lumayan cute like a bunny in the hole. Tapi… dia lebih memilih jadi cewek daripada jadi cowok.

Pacarnya Chloe juga sangat tampan. Benar-benar cocok bersanding dengannya. Dan cowoknya Chloe itu juga Transgender. Iya, bener banget. Pacarnya Chloe itu awalnya cewek tapi mengubah kelamin jadi cowok. Dan… Chloe dengan dia pacaran sekarang. Damn! Mereka berdua itu sangat serasi. Sama-sama Transgender dan sama-sama saling mengisi kegembiraan. Yah, apapun namanya, aku nggak peduli-peduli amat sih!

Karena aku lebih mementingkan party Griffin yang lumayan rame ini. Aku mengangkat pandanganku ke arah dancefloor. Hmm, banyak kloningan MJ sama Britney Spears! EW!

Lame banget sih nih party! Aku kira bakalan heboh kayak party nya Jojo waktu itu! Orange Squash nya juga nggak enak! Ick!” Amanda mulai mengkritik lagi, sebisa mungkin aku mengabaikan cewek itu. Aku tidak pintar dalam memberi balasan sarkas seperti Sid. Jadi daripada aku kena kritik Amanda—stupid pepek girl—mendingan aku silencio mulutku. “Kalo tau gini aku di rumah aja tadi. Masih seruan nonton film Horor di rumah daripada party ini! Lagu-lagu yang disetel sama DJ nya juga nggak asyik! Bored!” Ck! Ini nih alasan kenapa aku jarang suka sama cewek straight. Mulutnya ada enam, kayak pepek robek!

Blue Eve ku enak nih. Kamu mau nyoba?” ujar Dave sambil menyorongkan minumannya ke arah Amanda. Katanya Chloe sih, Amanda hanya bisa dijinakkan oleh Dave kalau mulutnya mulai mengkritik segala hal. Bagus deh, daripada lama-lama aku dorong dia dari lantai dua!

Belinda berdeham di sebelahku, dia tersenyum ke arah dua orang cowok yang lagi making out di sofa yang ada di sebelah kami. “Mereka imut ya, gayanya ciuman bener-bener menarik.” Ya, Tuhan! Kenapa sih aku punya saudara kembar yang sangat suka dengan dunia para gay seperti ini? Bukan berarti aku tidak bersyukur, hanya saja terkadang sifat Belinda yang sangat suka dunia LGBT seperti Anna itu cukup mengganggu. Aku saja yang gay begini tidak begitu tertarik dengan segala jenis pemandangan gay yang ada di depan mataku.

“Nggak ah, biasa aja tuh!” kritik Amanda lagi. Fucking Goddess! Si Amanda ini benar-benar annoying. Aku jadi rindu flocksku. Kami sangat jarang mengkritik hal apapun. Kami lebih suka langsung bertindak daripada banyak omong. I hate this girl! Andai saja nyantet orang itu nggak dosa! Mungkin sekarang aku sudah ada di rumah Ki Joko Bodo dan nyuruh orang itu buat nyantet Amanda. Santet yang biasa aja deh, keluar enam ratus paku dari dalam puting teteknya. Mampus, you stupid hoe!

Aku mengeluarkan iPhoneku, lalu mencari nama Sid di buku telpon. “Gue ke sana dulu ya!” kataku, menunjuk ke arah balkon. Lama-lama aku di sini bisa kulumat tuh cewek bernama Amanda. Belinda dan yang lain langsung mengangguk. Aku melangkah cepat sambil mendorong beberapa tubuh yang menghalangi jalanku. “Halo, Sid? Sid?” Sial! Ternyata suara operator yang menjawab. Pasti dia sedang ada di pesawat untuk pulang ke Indo saat ini. Aku mencari nama flocksku yang lain di buku telpon dan yang menjawab tetap para operator. Where the fuck are they? Aku benar-benar kesepian sekarang! I miss my flocks!

OTF?” tanya sebuah suara di belakangku. Aku memasukkan iPhone ku dan melihat cowok dengan rambut rapi namun cambang dan jenggotnya baru setengah tercukur. Agak hawt sih, mirip Jason Mraz. Dari aksennya tadi sih kayaknya nih cowok turunan Milan. Agak gotik. “OTF?” tanyanya lagi, kali ini dengan uluran tangan. Well, well, well, kalau aku tolak ajakannya sama aja kayak aku nolak tawaran jadi model untuk desainer sekelas Marc Jacob.

Why not? I love on the floor!” kataku sambil memasang senyuman terbaikku. Kuraih uluran tangannya, dan bersama-sama kami ke lantai dansa. Lagu Glad You Came yang diremix dengan lagu Starships-nya Nicki Minaj cukup seru untuk dijadikan pengiring gerakkan hebohku malam ini. So, let’s do it! Minggir semua kalian para Pelacur abal-abal! Watch my step and dance, you gonna lurve it! “You can start first!” ucapku pada cowok itu, lalu dengan gerakkan kecil dan cukup menghibur, dia mulai menggerakkan tubuhnya. Aku tersenyum dan bergelanyutan di atas pundaknya. Mataku tertumbuk ke arah bibirnya yang agak basah karena minuman yang dia minum tadi. Entah minuman apa!

Aku berbalik dan mulai menggoyangkan bokongku di bagian tonjolannya. Awalnya aku hanya merasakan sebuah tonjolan lembek, lama-lama tonjolan itu mengeras dan menghentak-hentak bokongku. Hmm, sepertinya kontol cowok ini besar deh. Thanks Aphrodite!

Ketika aku sudah puas dengan tonjolannya yang menghentak-hentak bokongku, aku berbalik dan mulai mencium bibirnya yang basah. Hmm, bibirnya manis seperti cocktail. Aku mengeluarkan lidahku dan menjilat bibirnya. Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya saat dia meremas bokongku. Tetapi saat aku melingkarkan lidahku di lidahnya, dia tidak membalasnya. Hanya ada satu kata untuk cowok ini. Payah! Ciumannya payah! Aku menarik kepalaku menjauh. “I’m thirsty, will be back soon,” bohongku. Cowok kloningan Jason Mraz menatapku sejenak dan bertanya namaku. “Zavan,” kataku. Dan dia memberitahuku namanya yang ternyata adalah Jero. Pantas saja ciumannya payah. Namanya Jero—Zero­—NOL!

“Darimana aja?” tanya Belinda, dia berdiri dari tempat duduknya. Kutenggak Brandy Salvo ku banyak-banyak. “Gue daritadi nyari lo buat ngajak lo ke dancefloor.” Belinda mengikat rambut panjangnya dengan gaya ekor kuda. “Yuk, kita OTF, Donatella!” Aku mengangguk lalu berbalik ke arah dancefloor lagi. Chloe dan Elaine sudah berjalan duluan ke arah sana. Aku menghirup nafas panjang-panjang! Kalau Amanda bilang party ini lame, aku akan membuatnya heboh. Watch and learn, dasar anak Pelacur!

“Yang punya Pepek minggir, gue hanya tersedia buat Kontol!” teriakku kencang, membuat semua mata yang ada di sini terarah ke arahku. Aku berlari kencang dan mulai menggerakkan badanku dengan heboh. Semua orang bersorak dan lagu makin menggema luar bisa keras. Aku mengedarkan pandanganku dan melihat seorang cowok hawt dengan rambut bergaya spike dan keringat yang mengalir di tengkuknya sedang menari sendirian di belakangku. Aku menariknya bersamaku dan mulai mencium bibirnya dalam-dalam. Hmm, ciumannya lebih baik daripada si Nol tadi. Tetapi sudahlah, besok aku harus Sekolah, no sex for tonite. “Adios, thanks for dah kiss!” Aku menepuk pipinya dan berlalu, menghampiri Belinda yang lagi bergerak anggun bersama Chloe dan Elaine.

Elaine langsung menarik pundakku saat aku berdiri di hadapannya. Payudaranya yang kencang menabrak-nabrak dadaku. Chloe memeluk tubuhku dari belakang, tangannya yang lembut memegang pinggangku. This party never be lame if I’m goin’ in, Biatch! Belinda tersenyum lebar ke arahku, dia menunjuk cowok tampan yang ada di sebelahnya. Menyuruhku untuk menghampiri cowok itu. Maaf kembaran, my dear, nanti saja! Aku masih asyik dengan gerakanku yang sekarang. “I’m so Mary Jane Holland tonite, bitch!” seru Chloe sambil mengangkat gelas Mocktailnya ke udara.

Belinda mengapit tubuhku, tawanya yang seperti Graus itu menenggelamkan lagu I Love It dari Icona Pop yang dibuat dengan nada-nada memekakkan telinga. “Look at my ass!” seru Belinda, dia menggoyang-goyangkan bokongnya dengan heboh. Aku dan Chloe tertawa melihat ini. Segerombolan cewek yang ada di belakang tubuhku menatap bokong Belinda dengan pandangan kagum. Maaf, teman-teman lesbianku, Belinda cewek straight. “Oh, My!” teriak Belinda keras. “Pepek gue terbakar api, dahling!”

“Yeah, kipas-kipas!” kataku sambil mengipas-ngipasi selangkangannya. Belinda tertawa keras. Aku menaruh tanganku di pundaknya yang basah karena keringat. Punya saudara sepertinya memang menyenangkan. “We are the binal twins!” teriakku sambil melonjak-lonjak di udara bersama Belinda. Kami berdua tertawa. Untuk sesaat aku bisa menghilangkan rasa rinduku kepada sahabat-sahabatku. Tetapi entah mengapa, ada sesuatu di dalam diriku yang begitu kesepian. Meskipun aku tertawa di keramaian seperti ini, aku masih saja merasa sendiri. Orang-orang yang ada di masa laluku, merekalah yang selama ini menghantui hidupku. Hermione…—Sudahlah! Aku tidak perlu memikirkannya terus.

My life must go on! Aku sudah tinggal di Indonesia sekarang, jauh dari mereka! Aku seharusnya bahagia sekarang! Meskipun aku bahagia tidak menjadi seperti aku yang dulu!

Lebih baik aku pulang sekarang! Besok adalah hari pertama Sekolah. Aku akan bertemu dengan flocksku. Lagi pula party ini sudah tidak lame lagi seperti awal aku masuk. Well, mungkin akan lame lagi saat aku sudah tidak ada di sini. That’s rite, people, dunia akan terasa begitu menyedihkan jika tanpa aku di dalamnya. Catat namaku: Zavan McKnight!

***

Kontol Kucing! Ini nih nggak enaknya kalau datang kepagian. Masih nggak ada orang di sekolah. Tapi, apa boleh buat. Karena aku benar-benar bosan di rumah karena bangun terlalu subuh, jadi terpaksa deh aku pergi sekarang. Sekalian ngambil jadwal pelajaran untuk semester dua ini. Bukan berarti aku rajin or sumthing ya, tapi karena memang pengen ngambil aja. Daripada ngantri lagi di ruang akademis. Iya kalau ngantrinya sama anak-anak RR, kalau sama anak-anak RG gimana? Sudah jelata, kadang sok-sok-an lagi! Triple ew!

Selama liburan dua minggu kemarin aku nggak ada pergi kemana-mana. Sid dan Adam pergi ke Rio de Jeneiro. And dan Vick pergi jalan-jalan ke Sabang—pasangan kurang kerjaan! Revie dan Bagas pergi ke Puncak—ew, pasangan sok romantis! Sedangkan Tivo dan Peter pergi ke Singapura—that bitch is so cruel to me, masa pergi jalan-jalan nggak ngajak-ngajak sih?! Jadinya selama liburan ini aku hanya di rumah, sambil kencan sama beberapa kontol cowok yang rasanya selalu sama saja di mulutku. Bleh! Tapi, sudahlah! Penderitaanku akhirnya berakhir, karena liburan telah selesai! Hore! Kalau Tasya bilang: libur telah tiba, hore-hore—anak kecil songong—itu nggak ngebuat aku gembira dan hore sama sekali. Pas masuk sekolah kayak gini baru aku bisa berseru hore! Yeay!

Kukeraskan volume iPodku, lagu Hard Out Here dari Lily Allen memenuhi telingaku. Sambil menunggu sahabat-sahabatku datang aku membuka majalah AmazTeen. Mau mengecek beberapa hal, karena satu minggu yang lalu aku digosipin pacaran sama Cinta Laura. Bitch, puh-lease! Nanti kalau aku pacaran beneran sama Cinta Laura, yang ada kami hanya saling ngomong: mana hujan, nggak ada ojek, becek! Fucking ew! Nggak elegan banget, makanya aku mau ngecek lagi. Apakah aku masih digosipin soal itu?! Coba saja waktu itu aku nggak nyetujuin ajakkan Cinta pas dia ngajak aku ke Sushi Tei setelah sesi take iklan Sony Xperia Z1. Pasti nggak akan ada gosip itu! My-Gaga-ladadidadi-willy-willy-golly!

Aku membaca daftar isi yang ada di majalah AmazTeen dengan mata menyipit. Daftar isinya sangat membosankan. 1. Dua Puluh Cara Mendapatkan Hati Cewek IdamanEW, nggak butuh. Dan nggak akan pernah butuh! Nggak doyan ngentot pepek! 2. Robert Pattinson In Skinny Jeans—maaf, aku nggak ngefans sama Robert a.k.a Edward Cullen itu! Mau seseksi apapun bentuk badannya—yang ternyata nggak seksi-seksi amat kok. 3. Love or—Oh, my fucking goddess! Siapa cowok ganteng super hawt yang lewat di depan mataku ini? Murid baru kayaknya deh! Soalnya aku nggak pernah lihat. Damn, badannya buat aku horny aja!

“Hei!” sapaku ke arahnya, kulepas earphoneku dan mendekatinya. “Murid baru ya?” tanyaku sambil tersenyum penuh godaan. Senyuman yang selalu bisa membuat cewek ataupun cowok luluh ke dalam pelukanku—yeah, thanks to Mother Monster. “Kok gue baru lihat lo di sini?” Cowok yang ada di hadapanku ini kulitnya cokelat eksotis dengan bentuk tubuh proposional dan bentuk mata agak lonjong dan sangat mententramkan jiwaku—ooh la la. Tetapi kalau dilihat-lihat, aku kayak kenal deh sama orang ini. Atau cuman perkiraanku aja ya?

“Kamu kenal aku kok,” katanya gugup. Aku mengernyitkan dahiku dan berujar oh, ya dan siapa ya padanya. Dia pun menjawab dengan hati-hati. “Aku… Ozayn.”

WHAT??? ANJING!!!

–Bersambung to Chapter 2, wekkkk–

Mungkin, ini masih mungkin ya. Soalnya belum konfirmasi sama ketua penerbitnya: Uko. Novel Bright Day bakalan terbit bulan Januari ini. Jadi, batas terakhir gue nerima Review kalian di Goodreads sekitar pertengahan Februari. Atau awal Februari.

Caranya (bagi yang lupa), review Bright Day di Goodreads.com atau review Akuarel. Atau review dua-duanya. Terserah. Bagi 2 org yang ngasih review yg paling ngena di hati gue, bakalan dpt hadiah:
Satu pemenang akan dpt 1 novel Bright Day (Gratis)
Satu pemenangnya lagi bakalan dpt 1 novel Akuarel (Gratis)

Gue bakalan ambil dua pemenang. Selebihnya dari itu, kalo nggak menang dan pengen beli (promosi) Bright Day bisa ke Uko. Nanti namanya bakalan gue tag di status lainnya. Sedangkan yang pengen beli Akuarel bisa ke Cholifah Ariestiani.

Hohoho… Ditunggu review nya

PS. Batas akhir review sekitar pertengahan Februari.

Stormy Day (12) – End

DIS_

Chapter 12 – End

♂ Nemesis

“Jadi kalian berdua…” Sid menunjukku dan Peter secara bergantian. “Sudah lama saling kenal dan sudah pernah pacaran sebelumnya?” Aku menganggukkan kepalaku. “Fark!” serunya dengan nada tinggi. Aku menatap wajah Sid dalam-dalam, berharap dia tidak menyuruhku memilih antara sahabat atau pacar. Karena sampai kapanpun aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku ingin sahabatku tetap ada di sampingku, dan aku tidak ingin kehilangan Peter lagi. “Why you never told me?”

Aku menghembuskan nafasku agak lega karena Sid malah bertanya tentang hal itu. “Cause you never ask,” kataku sambil menatap ngeri wajah Sid yang berubah datar. Aku benci kalau Sid sudah memasang poker face seperti itu. Membuatku was-was dengan kata yang akan dia lontarkan untukku nanti. Sid tidak pernah memasang wajah datar seperti itu kepada kami, karena itu memang bukan gayanya sama sekali.

Sid akhirnya menaikkan salah satu alisnya, membuat wajahnya berubah sombong. Matanya yang hitam legam memancarkan sesuatu yang tidak bisa kubaca. Tapi aku tahu, sebentar lagi aku akan mati. Aku pasti akan— “Well, seharusnya lo cerita ke kita soal itu! Apalagi kalo menyangkut soal…” Sid menatap Peter sejenak. “Gue nggak ngerti kenapa lo sama Zavan suka banget nyimpen rahasia. Kita sahabat, dan sahabat selalu berbagi cerita. Gue nggak pernah tuh nyimpen rahasia dari kalian, walopun ada pasti gue kasih tau.” Sid menatapku tajam, aku makin mengkeret di kursiku. “Unbelievable!”

“Gue nggak pernah cerita karena…” Aku mencoba mencari hal yang paling masuk akal untuk kuberitahukan kepada Sid, alasanku tidak pernah cerita. “Karena hal itu bukan hal yang mudah buat gue kasih tau. You know my personality, I won’t talking if you not talking to me. I never told if you never ask. Karena itulah jati diri gue Sid, gue orang yang tertutup. Gue nggak bisa berubah… kayak yang pernah lo bilang: buat apa berubah kalo lo jadi nggak nyaman sama diri lo sendiri. And that’s it! Gue nyaman jadi orang yang kayak gini… you should ask me if you want to know about me.”

Bloody hell, just smack it down!” kata Sid cepat. “Kalo lo ngomong panjang lebar gitu bener-bener buat gue pusing kepala.” Sid memegang dahinya, raut wajahnya mengernyit seperti sedang menahan sakit. “Save your breath, puh-leaseeee!” Sid mengangkat kepalanya dan menatapku serta Peter. “Oke, kayaknya lo memang lebih baik jadi orang pendiem aja deh. Lo ngomong panjang lebar kayak gitu tadi beneran jelek banget mukanya,” sarkasnya tajam. Aku benar-benar harus belajar untuk terbiasa dengan sarkas yang selalu keluar dari mulut Sid. “Ya udah, karena lo udah buka kartu, gue juga buka kartu deh.”

“Maksudnya?” tanyaku bingung. “Buka kartu apaan?”

Sid tersenyum kecil ke arahku, lalu ke arah Peter. “Lo tau nggak Pet, ternyata yang ngerusak file ketikan kita di Excel itu si Yoza!” kata Sid menggebu-gebu ke arah Peter. Membuat wajah Peter berubah rileks. Dia memajukan sedikit badannya dan mulai mendengarkan ucapan Sid. “Jadi… dia nyolong kunci ruangan kita buat ngapus file Excel gue sama file Word lo. Untung aja gue taruh CCTV di atas ruangan klub kita, jadi dia ketahuan.”

That bitch!” sahut Peter geram.

I know rite, tapi gue udah buat dia keluar kok dari sekolah. Jadi… Karma is on Biatch!” Sid dan Peter tertawa bersamaan. Membuatku dan yang lain langsung tertegun kaget. What happen here?! “Nah, kalian udah tau kan kalo sebenernya gue sama Peter itu udah—anggeplah temenan—sejak kami dikasih tugas setumpuk di Klub Baseball kami berdua.”

WHAT?!” teriak kami bersamaan, membuat Sid memasang mimik wajah terganggu. “Kenapa lo nggak pernah ngasih tau kami? Dan kenapa bisa?” tanyaku beruntun. Bagaimana mungkin mereka sudah berteman—yah, meskipun masih belum sepenuhnya benar—dan kami tidak mengetahui hal itu? Dan kenapa Peter juga tidak pernah menceritakannya padaku. Pantas saja dia waktu itu mau saja ketahuan oleh Sid dan yang lain. Pantas saja dia memasang wajah tenang daritadi. Tidak sepertiku yang sudah mau mati karena jantungan.

Cause you never ask,” ejek Sid. Dia mengembalikan kata-kataku lagi. Shit! Punya sahabat berotak licik seperti Sid memang sulit. “Ya bisalah. Gue sama Peter itu satu Klub Baseball. Gue manajer dan dia juga manajer. Kami selalu satu ruangan tiap hari Sabtu. Dan tiap hari itu juga kami selalu punya tugas buat ngatur jadwal latihan dan tanding. Well, akhirnya karena kami memang agak-agak oon I miss you sama yang namanya ngetik data kayak begituan, akhirnya kami saling tolong deh. Sekalian nyuruh tukang rental langganan Peter buat ngetikkin kami data yang sulit—yah, semuanya sih sulit.” Sid tersenyum sombong ke arah kami. “Tapi gue sama Peter cuman—anggeplah akrab—di ruangan Klub kami itu aja. Di luar dari ruangan kami saling janji buat musuhan. Soalnya kan kalian tau, yang berani ngejek flocks kita cuman flocksnya Peter. Dan begitu sebaliknya.”

Gosh!” seruku tak percaya. Sid mengangkat tangannya ke udara, pura-pura takut dengan seruanku tadi. “Kenapa kamu nggak pernah ngasih tau?” tanyaku kepada Peter, tetapi cowokku satu itu hanya mengedikkan bahunya dan menunjuk Sid. Ya, ya, karena aku tak pernah bertanya. Sial! Kenapa aku harus melontarkan kata-kata itu tadi kalau jadi bumerang untuk diriku sendiri. Aku benar-benar kesal dengan tingkah sandiwara mereka berdua. Kalau tahu begini buat apa aku menyuruh Peter sembunyi di kolong tempat tidurku waktu itu?! Fark! “I hate you!” seruku sebal di depan wajah Peter.

Peter tersenyum angkuh. “But I know you love me too!” katanya sambil mencubit hidungku. Dia menaik-naikkan alisnya, menggodaku. “Aku nggak pernah cerita karena hal itu nggak penting buat diceritain. Aku sama Sid memang suka berantem kok. Kami akrab cuman di ruangan Klub Baseball aja. Makanya waktu itu aku males banget buat sembunyi dan pura-pura nggak ada apa-apa di antara kita. Karena sudah waktunya kita jujur waktu itu. Lagi pula si Sid tuh yang nyuruh aku buat selalu berantem sama dia kalo kita ketemu di luar klub. Katanya, nggak seru kalo nggak ada adegan berantem di sekolah. Saling lempar ejekan itu seru. Makanya setiap flocks kita ketemu kita selalu saling lempar hinaan. Iya nggak, Sid?”

“Yeah, sumthing like that,” kata Sid sembari mengibaskan tangannya di udara. “Tapi gue beneran kaget lho, kalo lo beneran Homo Pet. Dasar Homo Terselubung!” ejek Sid jahat.

“Homo Brengsek!” balas Peter sama jahatnya. Kemudian mereka tertawa secara bersamaan.

Wait-wait!” seru Zavan lekas. “Kok kayaknya cuman gue aja ya yang beneran masang muka super kaget. Sedangkan Revie dan And enggak. Kalian berdua udah tau soal ini?” tanya Zavan ke arah And dan Revie, kedua sahabatku itu langsung mengangguk. “Dan kalian nggak ada yang ngasih tau gue? D’freud encanta! Padahal hal yang kayak gini nggak boleh ditutupin sama sekali. That’s so übercruel!” Zavan melipat kedua tangannya di dada. “Sahabat macam apa kalian? Nyembunyiin hal yang harusnya gue tau!”

Sid mendengus kurang ajar ke arah bule itu. “Coba deh lo buka kaca mobil, terus ngaca di spion. Lo nggak sadar ya kalo diri lo sendiri itu nyembunyiin sesuatu dari kita? Tentang sahabatnya Harry Potter itu… Hermione or whatever!” Zavan meringis, dia cepat-cepat menyalakan kembali mobilnya. “Bd’way, this is not the sweet escape! Karena gue sama yang lain bakalan tau siapa Hermione ini tanpa lo ngasih tau kita. La Vida, slutta! Just watch me!”

“Bentar dulu!” kataku masih belum percaya dengan apa yang baru saja kuketahui. “Jadi kamu sama Sid udah temenan?” tanyaku sambil mengamati wajah Peter dalam-dalam. Peter menolehkan kepalanya ke arahku, senyuman muncul di bibirnya. “Aku masih nggak percaya kalo kamu nggak ngasih tau aku tentang hal itu. Jadi buat apa daritadi aku ketakutan nggak jelas, takut disuruh milih kamu atau sahabat-sahabatku!”

“Aku sama Sid nggak beneran temenan kok. Kami cuman ngomong dengan otak dingin pas di Klub aja. Di luar Klub kami beneran musuhan. Aku memang nggak suka gayanya dia yang songong itu. Apalagi pas aku tau flocks kalian yang paling populer di DIS. Siapa yang nggak akan dengki karena hal itu. Mana kamu ada di dalem flocks itu lagi, aku ngerasa kamu itu nggak cocok masuk flocks yang ketuanya adalah Iblis berwujud Homo Brengsek kayak Sid.”

“Gue bisa denger lho apa yang lo bilang, Homo Terselubung!” tegur Sid dari bangku depan.

Peter mengedikkan bahunya tak peduli. Di antara semua orang yang ada di DIS, hanya Peter yang benar-benar berani menghina Sid. Yah, sama Adam juga. “Jadi… Sid, lo nggak marah kan kalo gue pacaran sama Peter?” tanyaku hati-hati, berharap Sid bisa mengerti. Dan aku memang sangat berharap Sid bisa melakukan hal itu. Membujuk Zavan lebih gampang daripada membujuk Sid. Dia orang yang keras kepala, angkuh dan keras hati. Dia hanya bisa luluh kalau Revie atau Adam yang membujuknya, namun aku tidak mau meminta bantuan Revie untuk membujuk Sid, aku ingin berusaha sendiri.

Sid membalikkan badannya lagi, dia memasukkan permen karet yang ada di tangannya ke dalam mulut. “Buat apa gue marah? Sebel sih iya, karena dari berjuta-juta kontol yang bergelantungan di dunia ini, kok lo bisa-bisanya milih kontolnya Peter.” Mata Sid tertuju ke arah selangkangan Peter, yang langsung Peter tutupi dengan tangannya. Tawa Sid langsung meluncur kencang dan memenuhi semua sudut mobil. “Tapi nggak apa-apa, gue tau lo cinta sama Peter. I can feel it. Gue cuman sahabat lo, nggak bisa ngelarang lo buat jatuh cinta. Lagi pula, lo sama Peter kan dulu udah pernah pacaran. Jadi… it’s okay. Tapi Peter—“ Shit! Ada tapinya— “Flocks lo sama flocks gue harus tetep musuhan kalo di Sekolah. Deal?”

“Kamu nggak apa-apa kan kalo aku setujuin ucapan Sid tadi?” tanya Peter, matanya yang hitam menatap ragu uluran tangan Sid. Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan Peter tadi. Itu lebih baik daripada aku harus berpisah dari Peter. “Ya udah, deal!” Peter mengulur kan tangannya dan berjabatan dengan Sid. “Tapi inget lho ya, jangan ada salah satu di flocks gue yang lo keluarin lagi dari sekolah?” ujar Peter sambil melepaskan jabatan tangan. “I hate when you doing that to my Flocks!”

“Kalo dia nggak cari masalah duluan, nggak mungkin kok gue keluarin dia dari sekolah.” Sid menolehkan pandangannya sebentar ke arahku, kemudian kembali ke Peter. “Tapi, deal, gue nggak akan ngeluarin lagi salah satu orang yang ada di flocks lo. Lagi pula kita tinggal sebentar ada di DIS. Beberapa bulan lagi kita bakalan ujian terus lulus.” Sid membalikkan badannya, dia menyandarkan tubuhnya dengan gaya khas rajanya. Peter mengangguk-anggukkan kepalanya, dia mengulas sebuah senyuman kecil. Sekarang saatnya untuk membujuk Zavan supaya menerima Peter sebagai pacarku.

Aku berdeham untuk menghilangkan rasa gugup yang ada di dalam diriku. Aku tahu Zavan pasti akan setuju-setuju saja, karena Zavan memang jarang berurusan dengan Peter. Tapi bisa jadi Zavan tidak menyukai Peter ada di inner circle kehidupan kami. “Zav, lo nggak keberatankan kalo gue pacaran sama Peter?” tanyaku sembari melihat wajah Zavan yang sedang serius melihat ke arah jalanan. Matanya menyipit kecil, dan bibirnya menekuk. Zavan memperlambat kecepatan mobil dan agak menepi. Dia membalas tatapanku melalui spion.

“Selama pacar lo mukanya nggak malu-maluin sih nggak apa-apa,” kata Zavan sambil memasang sebuah senyuman di bibirnya. “Dan mukanya Peter lumayan hawt buat dibawa jalan kemana-mana. Kayak bawa Cihuaha—in a good way, of course—keliling Mall.” Zavan makin memperlambat laju mobil. Sesekali dia melirik jam tangannya yang berada di pergelangan kanannya. Aku tahu kenapa dia melambat seperti ini. “Dan… gue juga udah pernah lihat tuh bentuk kontolnya Peter di foto yang pernah Sid ambil. Oh, my la-la-voilá damn kewl! Kontol lo Pet, super unyu di foto itu.”

Aku bisa melihat dari ujung mataku kalau Peter meringis tidak suka. Tetapi aku tidak peduli, yang penting Zavan tidak mempermasalahkan kalau aku dan Peter pacaran. “Gue jadi bertanya-tanya deh Pet,” kata Sid, dia menolehkan matanya ke arahku dan Peter secara bergantian. “Kok lo nggak jatuh cinta sih sama gue setelah gue hisep kontol lo waktu itu? Emang hisepan Tivo lebih enak ya? Gue jadi penasaran deh!”

“Oh, shut the fuck up!” gertak Peter jengkel. Yang langsung ke-empat flocksku sambut dengan tawa yang sangat kencang. Membuat wajah Peter berubah merah karena malu. Aku tidak bisa menahan tawaku lagi, dengan sangat keras tawa itu meluncur dari mulutku. Aku memegang perutku yang agak sakit karena aku terlalu bersemangat untuk tertawa. Dan… aku terpaksa menghentikan tawaku saat aku tidak mendengar tawa ke-empat flocksku. Kuangkat pandanganku dan melihat ekspresi bodoh di wajah mereka. Ke-empat flocksku ternganga melihatku tertawa, bahkan Zavan kembali menginjak rem secara tiba-tiba. Untung saja tidak ada mobil atau motor di belakang kami. Bisa-bisa kena hujat kalau berhenti tiba-tiba!

“Ke—kenapa sih?” tanyaku sambil menatap wajah mereka satu-satu. Mulut Zavan lah yang paling lebar ternganganya, dan mata Revie yang bulat sempurna itu makin terbelalak lebar. “Emang gue nggak boleh ikutan ketawa juga ya?” tanyaku, lama-lama aku mulai risih juga diperhatikan seperti ini. Mulut mereka masih saja ternganga seperti sedang siap-siap menghisap penis. Mata mereka juga sangat mengerikan, melotot seperti baru saja melihat hantu. FYI, aku bukan hantu sama sekali. Aku hanya tertawa!

Guys, masukkin semua kontol kalian ke lubang pantat gue! Kalo sakit berarti ini bukan mimpi! Si prince of autism bisa ketawa!” Zavan meracau panjang lebar. Akhirnya dia mengatupkan kembali mulutnya. Wajah tampannya kembali normal. Congrat!

Sid menolehkan matanya ke arah Zavan. “Itu mah maunya lo aja disodok sama banyak kontol!” sarkas Sid tajam. “Tapi… well, gue juga masih nggak percaya sih. Coba kalian kasih tau gue, Adam besok bakalan nikah kan? Kalo kalian bilang iya berarti gue lagi nggak tidur dan Tivo memang bisa ketawa!” Mata Sid kembali beralih ke arahku. Dia menatap wajahku lekat-lekat, seperti berharap kalau tawaku tadi memang sungguhan.

“Adam besok memang bakalan nikah dan gue memang bisa ketawa!” seruku jengah. “Udah deh, nggak usah norak! Ceritanya panjang kenapa gue bisa ketawa lagi. Ntar kalo gue punya banyak waktu pasti gue bakalan cerita ke kalian semuanya. Karena kita memang harus buruan pergi sekarang!” Aku melotot ke arah Zavan. Untuk mengingatkannya sesuatu. “Ayo, Zav buruan! Lo masih ingetkan? Gue aja masih inget lho. Kita bisa telat kalo kalian pengen gue ceritain soal kenapa gue bisa ketawa lagi!”

Time out! Kan udah gue bilangin ke elo Tiv, jangan ngomong banyak-banyak. Muka lo jelek banget kalo ngomong panjang lebar kayak gitu. Dan… lo ngomong soal apaan sih? Telat kemana? Lo mau pergi emangnya?” Sid melepehkan permen karet yang ada di mulutnya. Dengan sigap dia membuangnya keluar jendela. “Oh, atau lo masih ada urusan buat ngurus kasus lo ini? Kalo gitu ayo buruan!”

Zavan menatapku dengan dahi berkerut, tak lama kemudian dia baru ngeh dengan apa yang kukatakan tadi. Cepat-cepat dia menginjak gas dan melajukan mobil ke tujuan utama kami. Aku mendesah panjang, melegakan nafasku yang terbuang percuma karena terlalu banyak bicara. Untuk hari ini, mungkin sudah sekitar tujuh ratus ribu kata yang telah keluar dari mulutku. “Aku seneng kamu bisa senyum dan ketawa kayak gitu tadi,” kata Revie halus, kutolehkan kepalaku ke arah Revie yang berada di atas pangkuan And. Aku benci mobil Zavan, terlalu kecil untuk menampung kami berenam. “Kamu ganteng banget kalo senyum,” puji Revie sungguh-sungguh.

Aku kembali tersenyum, membuat lekukkan kecil di bibirku. “Thanks.”

“Vick pasti seneng banget kalo ngelihat lo bisa senyum lagi,” ucap And, dia menatapku dengan pandangan memuji. “Vick selalu ngomong sama gue kalo dia kangen banget sama Tivo yang dulu selalu ketawa dan senyum. Bukan Tivo versi murung.” Aku hanya bisa memberikan anggukan kepalaku kepada And. Kini aku tahu, hal-hal buruk di hidupku sudah berakhir. Aku telah menemukan apa yang kucari. Dan aku tidak akan pernah terkena nemesis lagi. Aku akhirnya benar-benar bisa bahagia.

“Kenapa kita malah ke rumah gue?” tanya Sid membuyarkan keheningan di dalam mobil ini. Aku mengangkat pandanganku dan melihat rumah Sid yang tersisa beberapa puluh meter lagi. “Kan gue mau nginep di rumah lo malem ini Zav,” kata Sid benar-benar kebingungan. “Biar ntar siang kita bisa langsung pergi ke Bandung terus dateng ke acara nikahannya Adam.” Sid memasang wajah datar, namun suaranya terdengar pahit. Begitu sedih dan nelangsa. Aku bisa merasakannya, karena selama ini aku selalu menggunakan nada itu juga.

Zavan tersenyum lalu menoleh ke arah Sid. “Kita ambil baju lo dulu, masa lo pergi ke Sekolah besok pakek baju itu lagi. Atau lo mau pakek baju gue aja?” tanya Zavan, yang langsung Sid jawab dengan gelengngan kepala. “Ya udah kalo gitu, kita ambil baju lo dan kemeja lo. Biar besok kita nggak usah bolak-balik lagi. Lo kira jarak rumah gue sama rumah lo hanya selangkah apa! Gue ke rumah lo selalu ngabisin banyak bensin. Udah jauh, macet, dan selalu bisa buat pantat gue kram karena kelamaan duduk.”

“Jadi lo nggak ikhlas gitu?” tanya Sid arogan, dia menaikkan satu alisnya lagi. Gaya sombong tingkat akutnya kembali muncul di wajahnya. Zavan langsung menggelengkan kepalanya, namun bibirnya tersenyum lebar. Aku dan yang lain—kecuali Peter—juga memasang senyuman yang sama. Meskipun aku lelah, ingin segera tidur di kasurku, tetapi aku tidak mau melewatkan yang satu ini. “Kalian mau tunggu di mobil aja atau mau ikut gue masuk ke dalem?” tanya Sid saat Zavan sudah menghentikan laju mobil di depan garasi Sid yang berwarna perak itu. “Gue nggak lama sih, tapi kalo kalian mau masuk ayo! Biar gue suruh Bik Karsih buatin kalian minum, plus ditambahin racun biar kalian pada mati!”

“LOL you!” sahut Zavan, dia mematikan mesin mobil dan membuka pintu. Tak berapa lama kemudian kami berenam sudah berada di depan pintu rumah Sid yang bergaya Evores. Kami langsung melangkah masuk saat Sid membukakan kami pintu. “NOW!!!” seru Zavan ke arah And. Dan dengan sigap And langsung memiting tangan Sid ke belakang. Setelah Sid benar-benar berada di dalam pitingan And, Zavan langsung menutup mata Sid dengan kedua tangannya. Peter yang berdiri di sebelahku menatap kami bingung. Tapi beberapa saat lagi kebingungannya akan terjawab.

What the setan are you doing?” hardik Sid dengan suara penuh amarah. Dia memberontak namun tak bisa lepas dari pitingan And. Tentu saja, siapa yang bisa berontak jika dipiting oleh ketua Karate seperti dia. “Lepasin gue nggak!” seru Sid saat kami menyeretnya paksa.

Aku mendorong pintu kaca yang menuju ke taman belakang rumah Sid. Revie yang berdiri di sebelahku hanya bisa terus tersenyum saat kami menyeret Sid dengan paksa. Langkah kami cukup tersendat-sendat karena terkadang Sid meronta dan mencoba melepaskan pitingan And. Peter yang kini berdiri di belakangku cukup terkejut dengan apa yang ada di depan matanya. Aku hanya bisa menahan senyumanku saat Zavan mulai menghitung mundur dengan gerakan mulutnya dalam diam. Aku bersiap-siap di posisiku dan membisikkan Peter kalimat untuk menyeruakkan keras-keras saat Zavan membuka mata Sid. Peter mengangguk dan juga ikut bersiap-siap, lalu ketika Zavan telah membuka mata Sid, kami berseru kencang.

HAPPY BIRTHDAY!!!”

Letupan balon menyebarkan banyak confetti di sekitaran kepala kami. Sid yang berdiri di depanku tertegun kaget. Mulutnya yang tadi marah-marah kini ternganga sangat lebar. Lagu Birthday dari Selena Gomez menggema keras. Bunyi letupan sekali lagi terdengar, makin banyak menyebarkan confetti berwarna-warni di sekitaran kami. Mata Sid melebar saat Adam berjalan pelan ke arahnya sambil membawa kue ulang tahun dengan beberapa lilin kecil di atasnya. Adam tersenyum puas melihat keterkejutan Sid. Zavan dan Revie tertawa melihat raut yang Sid pasang di wajahnya saat ini, karena memang benar-benar terlihat tolol.

Happy birthday, sayang!” kata Adam dengan suara seraknya ke arah Sid. Adam memajukan kue itu ke hadapan Sid. Tetapi bukannya meniup lilin yang ada di atas kue itu, Sid malah menimpuk dada Adam dengan kepalan tangannya. Membuat Adam meringis namun tertawa bahagia. Karena sudah berhasil mengerjai Sid. “Kamu pikir, emang kamu aja yang bisa sadis? Aku juga bisa. Ini pelajaran buat kamu, disadisin itu rasanya nggak enak. Serukan?”

Wajah Sid memerah, antara marah, kesal, terharu dan bahagia. “Jadi… kamu nggak bakalan nikahkan?” tanya Sid dengan suara gemetar. Semua orang yang ada di sini tertawa kencang mendengar pertanyaan Sid barusan. Adam yang berdiri di hadapannya langsung menarik Sid dalam pelukkan. Dan Sid menenggelamkan kepalanya dalam-dalam di dada Adam. Aku dan yang lain hanya bisa mendesah panjang melihat ini.

“Gue nggak doyan sama Adam, dia bukan tipe gue,” kata suara seorang cewek di belakang tubuhku. Aku berbalik dan melihat seorang cewek berambut panjang tersenyum lebar ke arah Sid. Pasti ini si cewek madura itu. “Adam nyuruh gue akting jadi cewek yang dijodohin sama dia. Padahal gue sama dia nggak setipe sama sekali. Lagian… Adam sahabat gue dari kecil.” Cewek itu maju selangkah dan menatap Sid dengan pandangan konyol. “Maaf ya, itu semua gue lakuin karena suruhan Adam.”

Sid kembali memukul dada Adam dengan kepalan tangannya. “Tante juga mau minta maaf.” Kami menoleh dan melihat seorang perempuan tua berwajah cantik yang berdiri di sebelah Nyokap Sid. Dari bentuk wajahnya, aku tahu kalau perempuan itu adalah Mamanya Adam. “Tante juga disuruh sama Adam buat akting marah-marah sama ngusir kamu dari rumah. Awalnya Tante nggak mau, karena kan kamu sering main ke rumah dan ternyata kamu pacarnya anak Tante. Tapi, yah, karena untuk kejutan ulang tahun, jadi Tante lakuin aja. Akting Tante gimana? Cocok nggak kalo ngambil peran Ibu Tiri?”

Tawa beberapa orang membuat wajah Sid makin memerah. Dia maju ke arah Mamanya Adam dan memeluk perempuan itu. Yang langsung dibalas dengan tepukan kecil di punggung. “Selamat ulang tahun ya, sayang!” kata Nyokap Sid lembut. Sid mengangkat pandangannya kemudian memeluk Nyokapnya dengan sangat erat.

“Selamat ulang tahun, Dek!” ujar lelaki paruh baya di sebelah Nyokap Sid.

DAD?!” seru Sid dengan ekspresi super terkejut. Dia langsung melompat kecil dan memeluk Bokapnya. “Dad dateng ke sini?” tanya Sid penuh keharuan, dia menatap wajah Bokapnya masih dengan pandangan yang sama seperti sebelumnya.

Bokap Sid tersenyum kecil, salah satu alisnya agak terangkat. Kini aku tahu darimana gaya arogan itu Sid dapatkan. “Definitely,” sahut Bokapnya dengan nada ceria. “You are my son, and I miss you so much. And this is your birthday, masa Dad nggak dateng ke acara ulang tahun kamu yang kedelapan belas ini. Kan Dad udah dua kali nggak dateng ke acara ulang tahun kamu. Jadi… untuk ulang tahun kamu yang kali ini Dad bakalan dateng. Then, here I am!” Sid kembali memeluk Bokapnya. Saat kami ke New York waktu itu, Sid agak jarang bertemu dengan Bokapnya karena sibuk. Dia pasti sangat senang karena di hari spesialnya Bokapnya hadir. Aku jadi merindukan Papaku juga.

“Selamat ulang tahun ya, Nak!” tutur seseorang di sebelah Bokap Sid. Dalam sekali lihat aku tahu kalau lelaki itu adalah Papanya Adam. Wajahnya hampir mirip seperti Adam, namun dalam versi yang lebih tua. “Om juga waktu itu nggak tega mau ngusir kamu dari rumah. Malah Om udah nyiapin wejangan panjang buat kalian berdua supaya tetep jaga nama baik keluarga meskipun kalian…” Papa Adam tidak melanjutkan ucapannya, namun aku—kami tahu kalimat apa yang akan keluar. “Intinya, Om mau minta maaf karena udah ngatain kamu waktu itu. Kalo kamu mau marah, marahin Adam. Hajar aja dia pakek pemukul Baseball!”

Sid tertawa, dia menggeser badannya dan menyalami tangan Papanya Adam. Namun lelaki itu menarik Sid ke dalam pelukannya. Yah, meskipun hanya beberapa detik. “Makasih ya, Om.” Sid tersenyum lebar, wajahnya benar-benar terharu. “Saran Om bagus juga. Di kamar, aku punya pemukul Baseball dari besi yang Adam kasih waktu itu. Ntar aku hajar dia pakek itu aja!” kata Sid dengan nada mematikan, dia berbalik dan menatap wajah Adam dengan pandangan kesumat. “Dasar Abrakadabra sialan!”

“Emang kamu mau punya pacar mukanya berantakan?” tanya Adam, tawanya yang serak memenuhi suasana malam. Bahkan lagu Birthday dari Selena Gomez agak tenggelam. “Ayo, sini! Tiup lilin kamu, ini udah mau meleleh semuanya!” Adam menatap wajah Sid dengan pandangan yang tak bisa kuartikan sama sekali. Bukan, bukan pandangan ngeri karena Sid masih menatap wajah Adam dengan penuh kesumat! Kapan sih Adam takut dengan Sid? Hanya Adam saja yang selalu bisa membuat Sid mengalah dalam setiap perdebatan. Tatapan yang Adam berikan bergitu dalam dan… well, anggaplah sebuah cinta.

Pelan-pelan Sid melangkahkan kakinya ke arah Adam. Setelah berdiri di depan kue tersebut, Sid menunduk untuk bersiap-siap meniup lilinnya. Namun belum saja udara berhembus dari dalam mulutnya, Adam mendorong kepala Sid menjauh. “Apaan sih?” tanya Sid kesal, meskipun aku tahu dia tidak benar-benar kesal. Walaupun Sid masih menatap wajah Adam dengan pandangan marah karena habis dikerjai habis-habisan selama satu bulan ini, tetapi Sid juga memberikan tatapan lembut kepada Adam.

“Buat harapan dulu!” perintah Adam. “Buat harapan supaya kita langgeng kek, selalu samaan kek, yah, apa-apa deh. Buat harapan yang bagus-bagus! Jangan yang kejam-kejam! Aku tau banget isi otak kamu itu isinya apa aja. Semua hal sadis ada di sana! Bahkan aku yakin kamu lagi ngerencanain buat balas dendam ke aku juga kan?”

Sid mencibir sebal, membuat Adam dan beberapa orang tertawa. Sid akhirnya memejamkan matanya dan membuat harapan. Peter yang berdiri di sebelahku menggenggam tanganku erat. Seperti ikut membuat harapan bersama Sid. Tiupan kecil berhembus lancar dari mulut Sid, membuat lilin-lilin yang ada di atas kue itu langsung padam seketika.

Kami bertepuk tangan, cahaya blitz kamera berpendar ke arah Sid dan Adam yang sedang berpelukan seperti Telletubies. Aku hanya bisa menahan senyumanku melihat ini. “Ayo, potong kuenya!” ujar Adam sembari melepaskan pelukan. Dia menyorongkan kue itu di hadapan Sid. Namun belum saja Sid ingin menyahut ucapan Adam tadi, tiba-tiba Adam menempelkan kue itu ke wajah Sid. Membuat tawa kami menggema kencang di malam hari ini. Adam mundur beberapa langkah saat kue ulang tahun itu sudah terjatuh di kaki Sid. Wajahnya sudah tertutupi oleh krim warna-warni.

How dare you!” seru Sid dengan nada mengancam. Adam hanya tertawa lalu memeluk tubuh Sid dari belakang. Entah datangnya darimana, Bams muncul seketika dan meraih kedua kaki Sid. Mereka berdua membopong tubuh Sid yang berontak ke arah kolam berenang. “Damn! Stop it!” serunya, kami hanya bisa tertawa saat Sid diayun-ayunkan untuk dibuang ke dalam kolam berenang. “Jangan coba-coba ya! Awas aj—“ Belum selesai ancamannya, Sid sudah dilempar ke dalam sana. Bunyi hempasan tubuhnya dengan air di kolam benar-benar heboh. Membuat tawa kami makin menggema keras.

And you have to follow him!” seru Zavan kencang sambil menendang pantat Adam hingga terjebur ke dalam kolam bersama Sid. Zavan yang berdiri di sebelahku hanya bisa tertawa melihat wajah Adam dan Sid yang sedang sibuk terbatuk-batuk. “Tuan Duyung sama Putra Duyung lagi berenang! Lebih baik kita nggak usah ikut campur, guys! Yuk, kita makan aja hidangannya!” Zavan meracau cepat, beberapa orang berbalik dan mengikutinya. Sedangkan aku, Revie dan And masih berdiri di pinggir kolam.

“Kamu ngerjain aku sesadis ini dan kamu minta maaf gitu aja?” desis Sid ke arah Adam. Meskipun Sid awalnya ingin berbisik, tapi suaranya cukup keras untuk kami dengar. Revie hanya bisa cekikikan di sebelahku. “Sebulan ini aku uring-uringan terus karena kamu mau dijodohin, terus tiba-tiba Mama dan Papa kamu ngasih tau kalo kamu mau nikah. Aku diusir dan dikata-katain, itu nggak lucu tau!” kata Sid, dia memukul dada Adam dengan gemas. “Kamu tau nggak seberapa keselnya aku sekarang, huh!”

“Iya, aku minta maaf,” ucap Adam lembut. Zavan tiba-tiba sudah berdiri di sebelah kananku lagi. “Aku ngelakuin ini semuakan buat kejutan aja! Aku aja nggak kesel—oke, aku memang kesel—pas kamu kerjain aku dua minggu sebelum aku ulang tahun. Sampe-sampe nilaiku di kampus pada jelek semua. Ini namanya pembalasan dendam, Sayang! Biar kamu tau, kalo aku sadis, bakalan bisa lebih sadis dari kamu.” Sid hanya membuang pandangannya, matanya tertumbuk ke arah kami. Cepat-cepat aku dan yang lain melihat ke arah lain. “Aku minta maaf ya, besok-besok aku nggak ngerjain sesadis ini lagi deh. Maaf ya!” Sid hanya mendengus sebal. Dia berenang kecil ke arah kami. “Yank, maaf ya!”

“Ehm,” sahut Sid malas. Ketika Sid sudah memegang pinggiran kolam, Adam memeluknya.

“Bilang iya dong. Jangan ehm aja!” kata Adam memelas. “Aku minta maaf oke! Nggak lagi-lagi deh ngerjain kamu sesadis ini.” Sid menatap Adam sebentar, kemudian mengangguk. “Bilang iya, jangan cuman ngangguk. Bilang: iya, aku maafin kamu.” Adam memegang kedua pipi Sid agar menghadap ke arahnya.

Sid mendecakkan lidahnya sebal. “Kalo aku nggak mau gimana?”

“Kamu aku hukum nggak dikasih ciuman selama sebulan.” Adam memasang cengiran lebar.

“Kayak aku peduli aja!” sarkas Sid jengkel. Tetapi saat dia melihat cengiran lebar Adam, dia ikut memasang cengiran yang sama. “Aku benci banget sama kamu sekarang, tapi anehnya aku nggak bener-bener bisa marah sama kamu. Iya deh, aku maafin kamu. Puas?!”

“Puas!” seru Adam bahagia. Dia memajukan kepalanya dan mencium bibir Sid. Aku menaikkan alisku melihat hal ini. Revie yang berdiri di sebelah kiriku mengalihkan pandangannya ke arah lain. Zavan yang ada di sebelahku tiba-tiba mengeluarkan suara batuk yang sangat mengganggu. Bahkan itu tidak bisa disebut batuk sama sekali, tetapi gaya orang untuk mengganggu pasangan yang sedang bahagia. Sid dan Adam melepaskan ciuman, mata Sid melirik tajam ke arah Zavan.

“Lo kenapa sih?” gerutu Sid, Adam membantu sahabat kami satu itu untuk keluar dari dalam kolam berenang. “Kalo sakit tenggorokan minum tuh air kolam berenang!”

Zavan hanya tersenyum lebar. “Nggak tau nih, kayaknya gue lagi kesedak kontol deh. Makanya gue batuk-batuk aja dari tadi. Uhuk ahak-uhuk ahak!” Sumpah, batuknya Zavan itu sangat mengganggu. Aku tahu itu hanya modus untuk menyuruh Sid dan Adam berhenti berciuman. Kami hanya bisa menggeleng dan menahan tawa kami. Sid mencibir tingkah Zavan dengan gaya khasnya. “Bd’way, happy bornday ya!” Zavan maju selangkah ingin memeluk Sid, namun urung saat tahu tubuh sahabat kami satu itu basah.

“Aku ambil handuk dulu buat kamu,” kata Adam di depan kami. “Dan makasih buat kalian yang udah berpartisipasi buat ngerjain Sid ya.” Adam mengedipkan matanya ke arah kami. Yang langsung kami balas dengan anggukkan kepala dan senyuman. Adam agak terhenyak saat melihatku tersenyum. Tetapi kemudian dia berlalu dari hadapan kami. Sebagai gantinya kami malah menangkap mata Sid yang menatap kami penuh ancaman. Siap-siap kena hujat dan sarkas Sid sebentar lagi.

“Jadi… kalian ikutan dia buat ngerjain gue?” tanya Sid dengan mata menyipit.

“Nggak ngerjain kok. Gue juga taunya pas Zavan bisikkin gue waktu itu,” kataku mengingat saat Zavan membisikkan kata-kata itu padaku di kamarku pada hari mereka menjemputku.

“Sama,” gumam Revie. “Aku dan And tau soal rencana ini pas Zavan jemput kami waktu itu.” Revie tersenyum manis, dia menolehkan kepalanya dan melambaikan tangannya ke arah Bagas yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. “Makanya aku waktu itu nyuruh kamu buat sabar, jangan marah-marah! Apa yang kamu lalui, belum tentu selalu jelek.” Revie menepuk tangan Sid pelan. “Selamat ulang tahun ya, Sid!”

Zavan kembali memberikan Sid sebuah senyuman. “Gue taunya pas Adam nelpon gue sekitar seminggu yang lalu. Makanya gue sama Adam buat rencana untuk nyedian party seadanya ini buat lo.” Zavan menunjuk party yang dihadiri beberapa orang saja. Tidak terlalu ramai memang, tapi kalau dilihat-lihat lagi, party nya pasti akan heboh. “Gue suruh Bagas buat ngedekor party ini buat lo, kan lo tau Suami masa depannya si Revie bakalan jadi Arsitek beberapa tahun lagi.” Revie hanya bisa tertawa kecil. “Tivo juga udah janji mau nyanyi di party ini, iya nggak Tiv?” Aku langsung menganggukkan kepalaku. “Dan gue juga udah undang temen gue untuk jadi DJ nya.” Zavan menggerak-gerakkan badannya seperti orang ayan. “Malam ini kita bakalan party like a Hipsters and Gypsy! Or like a Donatella and Mary Jane Holland! Yuhuuuu!” seru Zavan penuh semangat. “Eh, lo nggak marah kan sama kita gara-gara ikut ngerjain lo?”

Sid tertawa pelan. “Nggak kok, malah gue seneng banget karena kalian perhatian juga sama gue. Ulang tahun gue yang tahun kemarin kan kalian nggak ada acara ngerjain gue kayak gini.” Tentu saja kami tidak mengerjainya, kami masih sayang nyawa. Tetapi biarlah kami saja yang tahu soal itu. Sid tidak perlu mengetahuinya.

“Yuk, ke party core nya, udah waktunya kita ngasih lo kado!” kata Zavan cepat.

Saat kami ke party core, ada beberapa orang yang menyalami tangan Sid. Dan malam ini Sid berubah menjadi orang baik. Dia tersenyum tulus, tidak ada senyuman sombong itu lagi di bibirnya untuk malam ini. Kedua orang tua Sid dan Adam juga sudah masuk ke dalam rumah dan berpesan untuk jangan ada minuman alkohol di pesta ini. Tentu saja tidak akan ada alkohol, besok kami masih harus Sekolah. Tidak mungkin kami pergi ke Sekolah masih dalam keadaan tipsy. Bisa-bisa kami dipanggil Mrs. Johnson ke ruangan Konseling.

Vick melambaikan tangannya ke arahku saat kami telah berdiri di party core nya. Aku memberikan senyumanku untuknya. Dia terhenyak dan terlonjak senang di kursinya. Peter yang duduk di sebelahnya memberikanku sebuah senyuman lebar. “Ini buat lo,” kata And sambil menyodorkan satu buah kotak ke tangan Sid. Sahabat kami satu itu langsung membukanya saat Adam telah memberikannya handuk. Isi kotak tersebut adalah jam digital berbentuk aneh. “Itu sejenis penghitung gitu deh. Jadi kalo lo kejam ke seseorang, benda itu bisa ngasih tau lo udah berapa orang yang lo buat mewek.”

Sid tertawa pelan. “Thanks.” Kemudian Revie lagi yang memberikan Sid sebuah kado. Isinya adalah kolase foto kami berlima yang telah dibingkai dengan sangat rapi. Aku tahu itu buatan tangan, karena bentuk dan penataannya sangat alami.

“Maaf ya, aku cuman bisa ngasih itu aja.” Revie tersenyum manis ke arah Sid.

This is gorgeous, Revie. TYSM!” Sid menatap foto kami berlima lekat-lekat. “Gue bakalan selalu taruh ini di bawah bantal gue sebelum tidur. Biar gue inget kalo gue punya sahabat bajingan kayak kalian semua.” Kami tertawa serempak. Beberapa orang yang mengenalku menatap wajahku dengan pandangan aneh. Aku tahu, mereka pasti kaget karena orang yang paling tidak pernah bisa tersenyum akhirnya menampakkan senyumannya. Sekarang giliranku. Kukeluarkan dompetku dan menyerahkan dua tiket kepada Sid. Dahi Sid mengernyit saat membaca tiket tersebut. “Gawd! Lo serius Tiv?” tanyanya dengan mata berbinar-binar bahagia. Aku mengangguk, mengiyakan. “Dam, kita dikasih Tivo dua tiket buat pergi ke Rio de Jeneiro. Paket bulan madu lagi.” Sid menolehkan kepalanya ke arahku, dia memberikanku sebuah senyuman yang sangat lebar. “Gila… thanks banget Tiv! Gue nggak ngerepotin lo kan?”

Aku menggeleng. “Itu kan kado buat lo, nggak ngerepotin sama sekali kok.” Itu sebabnya kenapa aku pergi ke Travel Penerbangan hari itu. Ingin membelikan Sid kado. “Asal lo nggak lupa aja bawain kami oleh-oleh setelah pulang dari sana. Lo pergi ke sana juga pas kita liburan selama dua minggu setelah ujian. Jadi… lo bisa kan nyariin kami oleh-oleh yang bagus?” candaku sambil mengulum sebuah senyuman.

“Sip!” sahut Sid sambil tertawa.

“Kalo dari gue memang nggak akan semewah Tivo, tapi lo harus percaya kalo gue beliin lo kado ini dengan sangat ikhlas,” kata Zavan, dia menyodorkan satu kotak lumayan besar ke arah Sid. “Semoga lo suka ya!” kata Zavan dengan senyuman aneh di bibirnya. Ketika Sid membuka kado tersebut, ternyata isinya adalah kondom. Dan sangat banyak! Sid melotot tajam ke arah Zavan. Kami semua—bahkan orang-orang yang ikut melihat—tertawa. “Itu penting tau! Selalu gunakan kondom! Better safe than sorry!” Tak lama kemudian Sid ikut tertawa bersama kami. “Tapi, kalo lo ngaduk ke dalemnya, ada hadiah lain juga kok.”

Sid langsung memasukkan tangannya ke dalam kubangan kondom itu. Dia mengangkat tangannya dan menarik sebuah kunci dari dalam sana. “Apaan nih? Jangan bilang kalo ini kunci untuk buka dildo getar yang pernah lo lihatin gue di situs eBay waktu itu!”

Zavan mengibaskan tangannya di udara. “Maunya sih gitu, tapi bukan kok. Itu kunci salah satu Villa Grandpop gue yang ada di Kepulauan Seribu. Villanya memang nggak besar-besar amat sih, tapi bagus banget lho. Gue minta sama Grandpop tuh Villa dan gue kasih buat lo sebagai kado ulang tahun.” Zavan memberikan Sid sebuah senyuman menawan. Nah, jika dia tersenyum seperti itu, aura binalnya langsung hilang seperti ditelan angin.

Gracias, Zav,” ujar Sid kemudian. Wajahnya benar-benar terlihat sumringah.

Moni d’steu!” sahut Zavan. “Asal pas gue ulang tahun Desember nanti, lo ngasih gue kado yang sama bagusnya.” Zavan menjulurkan lidahnya, membuat kami kembali larut dalam tawa. “Jangan kayak ulang tahun gue tahun lalu! Apaan tuh, kalian ngasih gue buku catatan dan nyuruh gue nulis nama-nama mantan gue. Biar gue akhirnya tobat karena terlalu punya banyak pacar. Zdrasti! Marca de lame-meh-lame! Gah!” Kami hanya bisa tersenyum lebar mendengar gerutuan Zavan. “Oh, iya, Sid, masa selama sebulan ini lo nggak sadar sih bakalan mau ulang tahun? Bahkan Adam optimis banget kalo kejutannya bakalan gagal. Dia takut lo sadar kalo semua ini cuman akal-akalan dia aja.”

How can I realize if my brain get mi-mi-bella, heh?” papar Sid. “Gue terlalu stress dan gundah gulana—huek, kata-kata gue alay banget—untuk inget soal ulang tahun gue. Tentu aja gue nggak sadar kalo lagi dikerjain. Soalnya aktingnya mereka bagus-bagus! Apalagi pas adegan gue diusir itu! Gawd, Mama dan Papanya Adam bener-bener menghayati banget perannya mereka. But now I know, all that things is just for something and I think I will be ting-ting from everything.

“Yeah, rite, that’s so fling in the cling! And don’t thing you are in the blink-blink!” sahut Zavan cepat. “Ya udah deh, ayo kita mulai aja party nya!” Zavan berseru untuk menyuruh semua orang berkumpul. “Tiv, lo kan janji mau nyanyi! Ayo, tuh gue udah siapin panggung abal-abal buat lo!”

Aku mengangkat pandanganku dan melihat sebuah panggung kecil berbentuk sederhana yang sudah dipersiapkan sebegitu teraturnya. “Gue nggak perlu DJ untuk ngiringin gue nyanyi. Gue punya rencana lain.” Aku berjalan cepat menuju ke arah Vick dan Peter yang sedang sibuk memakan makanan ringan mereka. “Hey, guys!” sapaku. Vick menolehkan kepalanya dan menyambutku dengan sebuah high five. “Gue punya pemberitahuan buat kalian.”

“Ntar dulu! Lo nggak apa-apa kan? Denger-denger lo disekap gitu ya?” tanya Vick, aku mengibaskan tanganku tanda kalau aku baik-baik saja. Aku memang lelah, tetapi ini party ulang tahun sahabatku. Aku tidak bisa melewatkannya begitu saja. “Oh, dan gue juga seneng banget karena lo udah ke versi lama lo lagi.” Vick tersenyum simpul, yang kubalas dengan senyumanku juga. “Gue juga seneng lo sama Peter udah akur lagi.” Kami bertiga tertawa bersama. Ah, aku benar-benar merindukan momen kami bertiga sebagai sahabat. “Lo punya pemberitahuan apa emangnya?”

“Gue mau kita bertiga ngisi acara ulang tahunnya Sid malem ini. Kalian inget nggak sama lagu Suddenly I See yang pernah pengen kita bawain buat lulusan SMP waktu itu?” Mereka mengangguk-anggukkan kepala. “Karena waktu itu kita gagal ngebawain tuh lagu gara-gara… you know!” Vick dan Peter tersenyum lebar. “Jadi… gimana kalo kita bawain lagu itu malem ini? Sekalian untuk ngerayain hari di mana kita bertiga samaan lagi.”

Why not?” sahut Vick dan Peter secara bersamaan. Aku tersenyum puas lalu mengajak mereka untuk pergi ke atas panggung. Di atas sini ada satu gitar, satu bas, satu drum, satu tempat untuk DJ dan satu piano. Kami mengetes semua perlengkapan sebelum memulai.

GO Tivo!!!” teriak Revie antusias. Dia berada di atas pundak Bagas, tangannya diangkat ke udara. Wajahnya yang berbinar-binar itu menjadi pusat perhatian banyak orang. Kuberikan dia sebuah senyuman lebar, yang langsung Revie balas dengan sama lebarnya.

“Euh—lagu ini gue persembahin buat sahabat gue, Sid, yang lagi berulang tahun malem ini!” ucapku setelah selesai mengecek semua perlengkapan kami. Vick memetik senar gitar perlahan, yang langsung Peter sahut dengan pukulan dari drumnya. Ketika nada Intro terdengar, aku langsung membuka mulutku dan bernyanyi. Zavan yang berdiri paling depan mulai heboh menggoyang-goyangkan badannya. Aku hanya bisa menahan senyumanku dan terus bernyanyi. “Suddenly I see, this is what I wanna be! Suddenly I see, why the hell it means so much to me?” Ketika aku menyanyikan bait itu, kuarahkan pandanganku ke arah Peter. Yang saat ini juga sedang memperhatikanku dengan sebuah senyuman khasnya.

Aku bisa menjawab lirik itu dengan sangat lugas dan yakin. Kenapa hal itu bisa sangat berarti untukku? Itu karena aku tahu, Peter adalah hal yang tepat untuk diriku. Dia sangat berarti buatku, dan kali ini aku tidak akan pernah melakukan kesalahan bodoh lagi dan mendendam padanya sebelum mendengar penjelasannya. Aku kini telah bahagia dengan hidupku, dan aku akan selalu bahagia seperti ini. Selama Peter ada di sampingku. Selama sahabat-sahabatku selalu ada di sekitar hidupku. Semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang.

Peter menutup lagu kami dengan memukul simbal. Semua orang bertepuk tangan. Dan kini aku bisa memberikan mereka sebuah senyuman. Sebuah senyuman penuh terima kasih. “SATU LAGU LAGI!!!” seru Zavan kencang, bule satu itu sudah membuka singletnya, menampakkan tubuhnya yang kini rata dan terbentuk sempurna. Meskipun tidak sekekar badan And. Tiba-tiba semua orang yang ada di sini juga langsung menyeruakkan hal yang sama. Aku menoleh ke arah Vick dan Peter. Tidak tahu harus membawakan lagu apa lagi.

“Gimana kalo lagu Counting Stars dari One Republic?” usul Vick. Aku menganggukkan kepalaku karena hafal dengan lirik lagunya. Peter juga ikut menganggukkan kepalanya. “And, kamu pegang Bas! Kita mau main lagunya One Republic yang Counting Stars itu. Kitakan dulu pernah main lagu itu di Guitar Hero!” Aku dan Peter melempar tatapan konyol ke arah Vick. And yang berdiri di bawah panggung langsung naik ke atas dan mengambil bas. Dia memetiknya sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

C’mon then!” ujar Peter sambil memukul stick drumnya. “One, two, three!” Dan musik pun kembali menggema. Aku menyanyikan liriknya dengan sungguh-sungguh. Zavan dan Sid melonjak-lonjak di bawah sana. Revie yang berada di atas pundak Bagas bergerak-gerak seperti mainan anjing yang ada di dashboard mobil Mamaku. Ini adalah malam yang sangat aneh, aku masih mengenakkan seragamku dan beberapa jam yang lalu aku masih di kantor Polisi. Tidak terasa kalau waktu memang sangat cepat berlalu. Dan aku pun semakin tua, namun aku masih belum melakukan hal yang penting di hidupku. Tetapi aku tidak perlu kuatir, Peter sudah ada di sampingku lagi untuk saat ini. Dan seterusnya… seterusnya! Selalu.

Have a good nite!” seruku ketika lagu akhirnya berakhir. Tepuk tangan kembali berbunyi riuh. Aku menaruh mik di tempatnya dan bersama-sama Peter untuk turun dari atas panggung. “Now what?” tanyaku kepada Zavan. Acara apa lagi yang ingin Zavan buat setelah ini. Meskipun aku tahu Sid pasti tetap akan membuat acara ulang tahun lagi besok untuk mengundang anak-anak yang ada di DIS.

Guys, kenalin ini temen-temennya Belinda di Jubilee International School!” Zavan memiringkan tubuhnya dan menunjuk beberapa orang. “Dave, Chloe, Cassie, Amanda, dan pacar mereka masing-masing.” Aku mengangguk ke arah mereka. “Cassie yang bakalan jadi DJ kita malem ini.” Aku melihat seorang cewek dengan penampilan agak maskulin namun cantik yang sedang memegang satu piringan hitam besar. “Then Cass, go to your place! Make us being a lunatic person with your Mix Songs tonite!”

Cassie tersenyum lebar, dia berjalan cepat untuk naik ke atas panggung. Ketika lagu mulai disetel, Zavan menyerahkan satu gelas Budweiser ukuran medium ke tangan kami masing-masing. Sid yang berdiri di sebelahku menatap kami satu-satu. Cerita yang dibuka dengan kegilaan, akan kami tutup dengan kegilaan yang sama. Sid tersenyum penuh arti, dia mengangkat gelas Budweisernya ke udara. “We are Bestfriend!”

And ikut tersenyum bersama Sid. “We are Flocks!”

We are Family!” sahut Revie cepat.

We are Brotherhood!” tuturku kemudian.

We are Bitch!” ucap Zavan kencang. “And let’s toast on that!” Kemudian kami saling mendentingkan ujung gelas kami bersama-sama. “Wuhuuuuu!” teriak Zavan penuh semangat. Dia naik ke atas panggung dan mulai bergerak bersama Cassie dan pacar cewek dari DJ itu. Oh, Zavan tadi memberitahuku kalau Cassie itu lesbian, dan pacar Cassie benar-benar cantik. Mirip Revie, tapi dalam bentuk punya payudara dan lubang vagina. “Heeyyy, Pelacur Kesetanan!” teriak Zavan dari atas panggung. “Party on, Dahling!”

“YEAH!!!” teriak semua orang yang ada di party ini. Aku hanya bisa ikut menggerak-gerakkan tubuhku bersama yang lain. Namun akhirnya satu persatu dari mereka harus bergoyang bersama pasangan masing-masing. Sid bersama Adam. And bersama Vick. Sedangkan Bagas… hanya bergoyang sendirian. Cowok itu bergoyang-goyang aneh untuk menggoda Revie yang sedang berdiri diam di tempatnya. Tetapi tiba-tiba Revie maju ke arah Bagas dan mulai menggoyangkan pantatnya di selangkangan cowoknya dengan gerakkan heboh. Membuat semua mata yang ada di lantai dansa terarah ke goyangannya.

That’s it!” seru Zavan, tangannya menunjuk Revie bangga. “Itu baru namanya Nari kayak Jagger, Revie, dude!” Tawa kami saling bersahutan. Aku mengangkat pandanganku dan melihat Zavan menari di tengah-tengah kedua cewek itu. Cassie dan pacar ceweknya. Kuputar pandanganku, mencari sosok Peter. Dan di sanalah dia! Sedang memakan sepotong kue ladyfinger dan meminum bir Heineken. Aku berdeham dan berjalan cepat ke arahnya.

Ketika aku sudah berada di hadapannya, aku langsung berlutut dan mengulurkan tanganku kepadanya. “Dance?” ajakku dengan nada yang agak keras karena musik yang membahana di sekitar kami. Peter menaruh Heinekennya dan tersenyum lebar ke arahku. Dia mengangkat tangannya dan menyambut uluran tanganku. Dengan tangan yang saling bertaut, aku dan dia maju bersama-sama. Dan aku percaya, tangan kami akan selalu bertaut seperti ini! Keajaiban itu ada, aku tak perlu mencarinya, karena keajaibanku adalah dia.

Peter!

***

Friday! Bagi anak-anak DIS, Jumat adalah hari yang paling indah. Karena kami bisa melakukan apa yang kami suka. Yah, yang buruk-buruk sih dilarang! Tapi memangnya kapan anak-anak yang ada di sini mengikuti aturan? Kecuali anak-anak RG—Ridiculously Genius. Aku dan Zavan berada di parking lot bagian utara yang jarang didatangi anak-anak RR—Ridicously Rich. Menunggu Peter—aku dan Peter harus backstreet kalau di sekolah. Sigh!

Peter melangkah panjang ke arahku, hari ini aku dan dia berangkat ke sekolah bersama-sama. Pulangnya juga harus bersama-sama. Aku dan dia juga harus ke Kantor Polisi lagi nanti siang. Ada sesi Penyelidikan lebih lanjut—blahshit! “Hallo, Peter!” sapa Zavan ketika Peter sudah berdiri di sampingku. Zavan merapatkan tote bagnya dan tersenyum lebar. “Dadah, Peter!” Kemudian bule itu berlalu dari hadapan kami.

“Pulang, yuk!” ajaknya. Aku mengangguk lalu mengikuti langkahnya menuju ke mobil Ferari merahnya. Hari ini badai kembali datang, tapi aku percaya tidak akan ada nemesis lagi di stormy day hari ini untukku. “Langsung pulang ke rumah kamu dulu atau kita ke P’Andor dulu? Aku lagi pengen makan Truffle sama Dorayaki.” Peter menyalakan mobil dan mulai melajukannya agak cepat supaya kami tidak mengantri di depan gerbang DIS. Aku berdeham untuk menyetujui ucapan Peter tadi. Aku juga lagi ingin minum Jinx GreenTea di P’Andor untuk cuaca dingin pada stormy day seperti ini. “Shit! Macet!”

Tentu saja macet. Kalau cuaca badai seperti ini, jalanan Jakarta pasti macet. Aku dan Peter mendesah bosan. Aku melirik Peter yang sedang memperhatikanku. “Kamu bosen nggak?” tanyaku pelan. Peter mengangguk lemah. Aku tersenyum kecil dan memajukan badanku ke dekatnya. “Kamu mau sesuatu yang nggak ngeboseninkan? Ya, udah, aku kasih ya! Dan ini bakalan lebih enak dari yang Sid lakuin ke kamu!” Peter mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Namun saat aku menundukkan kepalaku ke arah selangkangannya dan membuka resleting blue navy jeansnya, Peter tersentak.

“Kamu mau ngapain Tiv?” tanyanya gugup. Bisa kurasakan detak jantungnya yang berdentam keras. Aku menahan senyumanku dan meloloskan penisnya dari dalam celana dalamnya. “Tiv, what are you do­shit!” Peter menarik rambutku pelan saat aku telah memasukkan penisnya ke dalam mulutku. Jika kaca mobil Peter tembus pandang, aku tidak mungkin melakukan ini. Namun karena sebaliknya, dan kami berdua sama-sama bosan karena macet parah ini, jadi kulakukan saja. Lagi pula, rasa penis Peter di mulutku sangat kenyal. “Euh—“ racau Peter, badannya agak melengkung saat aku menjilat kepala penisnya.

Kumaju mundurkan kepalaku, meskipun kepalaku tadi terhantuk kemudi, aku harus menyelesaikan apa yang kumulai. Kumasukkan penis Peter makin dalam ke mulutku, hingga bisa kurasakan penisnya di sekitaran tenggorokanku. Kujilat batang penisnya dan mengulumnya dengan gaya memutar. Kukecup kepala penisnya dan kembali memasukkan semua penisnya ke dalam mulutku, hingga masuk ke sekitaran tenggorokanku lagi. Badan Peter menegang dan dia mendesah panjang. Bisa kurasakan cairan kental yang keluar dari dalam penisnya masuk semua ke dalam mulutku. Penis Peter berangsur-angsur melemah di dalam mulutku. Kukeluarkan penisnya dan mengelap mulutku dengan kerah baju.

That so…” Peter tak mampu berkata-kata. Dia terpana menatapku.

“Pahit,” kataku, aku menjilat bibir bawahku dengan ujung lidah. “Sperma kamu rasanya pahit. Pasti kamu habis makan yang pedes-pedeskan tadi?” tanyaku, yang langsung Peter jawab dengan anggukan kepala. “Kata Zavan kalo cowok makan yang pedes-pedes spermanya pasti bakalan pahit, kalo makan yang agak asem spermanya pasti bakalan gurih. Yah, silahkan tanya Zavan kalo ingin tau semua tentang dunia gay. Dia bahkan tau gimana caranya ngebuat cowok straight jadi gay dalam beberapa menit!”

“Nggak perlu, aku nggak perlu tau!” Aku hanya bisa tersenyum ke arahnya. Kuangkat pandanganku dan melihat stormy day di luar sana. Stormy day yang begitu meneduhkanku.

–The End–

Makasih ya yang udah setia sama cerita (nggak begitu bagus ini). Kalian Luar Binasa! Kalo mau komen silahkan, enggak juga nggak apa-apa. Dan… di cerita ini, gue memang sengaja nggak buat ending yang WOW. Gue mau buat ending yang kesannya menggantung. Karena toh ceritanya memang cuman tamat gitu aja. tapi gak bener2 habis. Kayak bakalan ada lanjutan gitu, season dua. tapi nggak akan ada season dua. NGGAK AKAN ADA! Capek deh, ngetiknya tuh penuh tekanan tau, entah tekanan di kepala ataupun di bawah. *Lubang pantat nih cowok kok sempit banget ya?!* Halah!

Di bawah ini ada cuplikan ceritanya Zavan. Tapi gue nggak janji kapan akan post atau apakah akan gue buat. Karena toh cerita Zavan memang nggak akan sebinal dirinya itu… hehyehe… gue mau ke London dulu deh, cari inspirasi. *Siap2 tidur* ZZzzzzZZZzzz!

Cuplikan New Day

Zavan & Ozayn

Kontol Kucing! Ini nih nggak enaknya kalau datang kepagian. Masih nggak ada orang di sekolah. Tapi, apa boleh buat. Karena aku benar-benar bosan di rumah karena bangun terlalu subuh, jadi terpaksa deh aku pergi sekarang. Sekalian ngambil jadwal pelajaran untuk semester dua ini. Bukan berarti aku rajin or sumthing ya, tapi karena memang pengen ngambil aja. Daripada ngantri lagi di ruang akademis. Iya kalau ngantrinya sama anak-anak RR, kalau sama anak-anak RG gimana? Sudah jelata, kadang sok-sok-an lagi! Triple ew!

Selama liburan dua minggu kemarin aku nggak ada pergi kemana-mana. Sid dan Adam pergi ke Rio de Jeneiro. And dan Vick pergi jalan-jalan ke Sabang—pasangan kurang kerjaan! Revie dan Bagas pergi ke Puncak—ew, pasangan sok romantis! Sedangkan Tivo dan Peter pergi ke Singapura—that bitch is so cruel to me, masa pergi jalan-jalan nggak ngajak-ngajak sih?! Jadinya selama liburan ini aku hanya di rumah, sambil kencan sama beberapa kontol cowok yang rasanya selalu sama saja di mulutku. Bleh! Tapi, sudahlah! Penderitaanku akhirnya berakhir, karena liburan telah selesai! Hore! Kalau Tasya bilang: libur telah tiba, hore-hore—anak kecil songong—itu nggak ngebuat aku gembira dan hore sama sekali. Pas masuk sekolah kayak gini baru aku bisa berseru hore! Yeay!

Kukeraskan volume iPodku, lagu Hard Out Here dari Lily Allen memenuhi telingaku. Sambil menunggu sahabat-sahabatku datang aku membuka majalah AmazTeen. Mau mengecek beberapa hal, karena satu minggu yang lalu aku digosipin pacaran sama Cinta Laura. Bitch, puh-lease! Nanti kalau aku pacaran beneran sama Cinta Laura, yang ada kami hanya saling ngomong: mana hujan, nggak ada ojek, becek! Fucking ew! Nggak elegan banget, makanya aku mau ngecek lagi. Apakah aku masih digosipin soal itu?! Coba saja waktu itu aku nggak nyetujuin ajakkan Cinta pas dia ngajak aku ke Sushi Tei setelah sesi take iklan Sony Xperia Z1. Pasti nggak akan ada gosip itu! My-Gaga-ladadidadi-willy-willy -golly!

Aku membaca daftar isi yang ada di majalah AmazTeen dengan mata menyipit. Daftar isinya sangat membosankan. 1. Dua Puluh Cara Mendapatkan Hati Cewek IdamanEW, nggak butuh. Dan nggak akan pernah butuh! Nggak doyan ngentot pepek! 2. Robert Pattinson In Skinny Jeans—maaf, aku nggak ngefans sama Robert a.k.a Edward Cullen itu! Mau seseksi apapun bentuk badannya—yang ternyata nggak seksi-seksi amat kok. 3. Love or—Oh, my fucking goddess! Siapa cowok ganteng super hawt yang lewat di depan mataku ini? Murid baru kayaknya deh! Soalnya aku nggak pernah lihat. Damn, badannya buat aku horny aja!

“Hei!” sapaku ke arahnya, kulepas earphoneku dan mendekatinya. “Murid baru ya?” tanyaku sambil tersenyum penuh godaan. Senyuman yang selalu bisa membuat cewek ataupun cowok luluh ke dalam pelukanku—yeah, thanks to Mother Monster. “Kok gue baru lihat lo di sini?” Cowok yang ada di hadapanku ini kulitnya cokelat eksotis dengan bentuk tubuh proposional dan bentuk mata agak lonjong dan sangat mententramkan jiwaku—ooh la la. Tetapi kalau dilihat-lihat, aku kayak kenal deh sama orang ini. Atau cuman perkiraanku aja ya?

“Kamu kenal aku kok,” katanya gugup. Aku mengernyitkan dahiku dan berujar oh, ya dan siapa ya padanya. Dia pun menjawab dengan hati-hati. “Aku… Ozayn.”

WHAT??? ANJING!!!

–End of Cuplikan! Tsah!!–

Hello semuanya, nah berhubung naskah Bright Day ada di Uko Tepocong Tuing Tuing, dan sedang diproses apakah diterima atau ditolak, gue mau buat Giveaway. Atau, ngasih satu buku Bright Day secara gratis kalau sudah terbit. Kalaupun nanti naskah Bright Day ditolak, gue akan tetap ngebuat versi bukunya. Siapa yang mau? LOL.

Caranya gampang kok.
Hal yang harus lo lakukan hanya buat review Bright Day di Goodreads. Dan juga beri rating. Terserah, mau kasih review apa. Yang nggak muji-muji juga nggak apa-apa. Gue mau lihat kejujuran kalian. Nggak perlu sampai ngasih rating banyak-banyak kok. Yah, tergantung kalian juga. Pokoknya yang terpenting adalah reviewnya. Apakah ada maknanya apa enggak.

Nah, bukunya kan masih lama terbit–nggak tau juga sampe kapan, semoga nggak lebih dari 3 bulan–jadi kalian bisa berpikir dulu untuk membuat reviewnya.

Gue akan memilih dua pemenang, dari review yang paling membuat gue sreg!
Pemenang pertama akan gue kasih: 1 buku Bright Day (Gratis)
Pemenang kedua akan gue kasih: 1 buku Akuarel (Gratis)

Nah, nah, nah… Ayo, silahkan menyusun reviewnya dulu. Bagi yang belum punya akun Goodreads, kalian bisa sign in (masuk) menggunakan akun facebook/twitter kalian. Atau juga melalui e-mail. Gampang kok.

Nih, linknya. Silahkan review di sana ya… Ditunggu :D

https://www.goodreads.com/book/show/19457234-bright-day

Stormy Day (11)

DIS_

Chapter 11

♂Apocalypse

Kepalaku sangat sakit ketika aku membuka mataku. Aku bisa merasakan ada yang berdenyut-denyut di dahi sebelah kiriku. Kuangkat tangan kananku namun tak bisa bergerak sama sekali. Hal ini seperti yang pernah kualami saat Papaku dulu pernah mendorongku dengan kasar hingga terjerembap jatuh di dalam kamar gelap yang ada di ruang bawah tanah. Aku pernah membentur dinding, namun tidak terlalu keras, hanya membuat kepalaku sedikit agak benjol. Dan aku yakin—sangat yakin—kalau denyutan yang ada di dahi sebelah kiriku itu pasti benjolannya. Eh, memangnya bagaimana bisa aku benjol seperti ini?!

Aku membuka mataku lebar-lebar, menatap nanar cahaya matahari yang meredup di pantulan jendela. Aku mencoba mengangkat tangan kananku lagi, namun masih sama, aku masih belum bisa menggerakkannya. Hati-hati aku mengangkat tangan kiriku, dan kali ini berhasil. Aku meraba wajahku, mencari-cari denyutan itu. Tidak ada benjolan yang berarti, tetapi benar-benar sakit sekali rasanya. Kuundes bau tidak sedap yang menguar di sekitaran pangkal hidungku. Bau menyengat yang membuatku sangat muak. Ck! Aku masih benar-benar tidak ingat aku sedang ada di mana sekarang.

Ketika aku mencoba bangkit dari pembaringanku, erangan tertahan keluar dari mulutku. Kukerjapkan mataku beberapa kali, membiasakan mataku dengan cahaya lampu dan cahaya matahari—yang kuyakini saat ini adalah senja. Bau tidak sedap itu kembali tercium di sekitaran hidungku, bau itu membuat perutku melilit dan kepalaku semakin pusing. Aku benar-benar ingin kembali pingsan karena mencium bau ini. Setelah ini, aku akan sangat benci dengan bau yang ada di sekitaran—

Aku ingat sekarang! Aku sedang ada di apartemen— “Sudah sadar ternyata!” Alex. Laki-laki paruh baya itu berjalan dengan langkah pendek saat menghampiriku. Awalnya hanya segaris blur saat aku menatap wajahnya. Namun ketika dia berjalan makin dekat, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya yang tajam memberikanku sebuah kenangan di mimpi buruk itu. Yang sekarang aku percayai kalau mata melotot yang kulihat saat itu bukan mimpi buruk sama sekali. Melainkan mata sungguhan, dan itu mata Alex.

“Gue—“ Aku berdeham sekali, agar suara serakku menghilang. “Gue nggak tau apa yang sedang lo lakuin sama gue, tapi gue yakin yang mukul kepala gue waktu itu pasti elo kan?!” Aku mencoba sekali lagi mengangkat tanganku, namun masih saja tidak bisa. Aku melirik ke arah tanganku dan terkejut, tangan kananku diborgol di kepala ranjang. Aku menggerakkan tanganku dengan kasar, membuat pergelangan tanganku sakit. “Lo apain gue sih?!” tanyaku dengan suara keras, benar-benar marah padanya.

Laki-laki itu tersenyum lebar, membuat sarafku menegang ngeri. Jika dulu aku sangat suka melihatnya memberikanku senyuman seperti itu karena penuh rasa sayang, kini aku sangat membencinya. “Lo udah tidur selama…” Alex tidak menjawab pertanyaanku, dia malah melirik jam tangannya. “Dua puluh empat jam.” Alex menyeringai lebar, membuatku terbelalak tidak percaya. Bagaimana mungkin aku bisa tidur selama itu?! “Kamu mau makan dulu atau mau marah-marah dulu?” tanyanya dengan suara licik. Seperti suara Sid saat menindas semua musuh-musuhnya di sekolah.

Perutku tiba-tiba berbunyi, dan aku memang merasa sangat lapar dan haus. Badanku benar-benar semakin lemah sekarang. “Gue nggak butuh makan!” seruku kemudian. Sungguh, aku tidak butuh hal itu sekarang. Aku lebih baik pulang dan—ah, shit! Berarti aku bolos sekolah hari ini. “Just let me GO!” gertakku pada laki-laki paruh baya yang ada di hadapanku. Tetapi laki-laki itu hanya menyeringai, dia malah beranjak ke arah sofa yang ada di sudut kamar.

Dia berbalik sambil memegang sebuah map merah. Map yang sepertinya sangat kukenal. “I will,” ujarnya dengan suara dibuat-buat. “Tapi setelah kamu tanda tangani dan ngasih kode persetujuan di berkas ini. Baru aku lepasin kamu dan kita nggak akan pernah ketemu lagi.” Alex membuka map itu dan menyorongkannya ke atas meja kecil yang ada di dekat kepala ranjang, tempat di mana lubang borgol satu lagi terkunci. “Yah, tapi kamu masih bisa ketemu aku kalau kamu kesepian.” Alex memegang daguku dan menyentuh bibirku dengan ujung jemarinya yang berbau menyengat itu.

Kutepis menjauh tangannya dengan tanganku yang bebas. Alex tertawa kecil, dia menatapku dengan pandangan nista tersebut. Aku benar-benar tidak mengerti hal apa yang sebenarnya dia inginkan dariku. “Gue nggak tau lo kerasukan setan apa Lex, tapi gue mau nanya satu hal ini sama lo. Sebenernya, lo mau apa dari gue?!” tanyaku mencoba setenang mungkin. Aku orang yang sangat mudah menyimpan emosi, namun untuk saat ini sepertinya emosi sangat kubutuhkan. Aku harus segera keluar dari tempat ini. Flocksku, Mamaku dan Peter pasti kuatir karena aku masih belum memberi mereka kabar.

“Aku sudah bilangkan tadi,” katanya, dia menaruh kedua tangannya di pinggang. “Aku pengen kamu tanda tangan dan ngasih kode persetujuan di berkas ini!” Alex membuka map itu, kupicingkan mataku dan membaca sebaris kalimat di atasnya. Diatmika Group— “Ini berkas semua perusahaan keluarga kamu yang ada di mana-mana,” ujar Alex, membuatku tidak perlu melanjutkan membaca semua kalimat yang ada di berkas tersebut. “Dan aku butuh persetujuan kamu buat mindahin semua perusahaanmu itu ke sahamku.”

This stupid bitch! Enak saja dia mau mengambil semua perusahaan keluargaku. Dia kira keluargaku membuat semua perusahaan itu menggunakan bulu ketiak apa! “Jadi, intinya, lo mau ngambil semua perusahaan keluarga gue?” tanyaku benci. Alex menganggukkan kepala dengan khidmat. “In your dream, then!” seruku sengit. Kudorong semua berkas itu hingga jatuh ke atas lantai. Membuat mata Alex yang tajam melotot marah!

Alex menampar wajahku dengan telapak tangannya yang besar. Membuat rasa panas dan nyeri menjalar di pipiku. “Dasar bocah brengsek!” serunya dengan sumpah serapah yang benar-benar tidak cocok disandingkan untukku. Dia yang seharusnya dipanggil brengsek! Om-Om brengsek! “Kamu pikir aku mau nyerah gitu aja setelah aku ngelakuin banyak hal supaya bisa dapetin momen ini, heh?!” Dia memegang pipiku agar menghadapnya. Jarinya yang tajam menusuk daging pipiku. Ck! Aku sungguh-sungguh terlahir untuk jadi siksaan para manusia sepertinya! “Aku cuman butuh tanda tangan dan kode persetujuan di berkas itu, aku bosan kerja di bawah naungan perusahaan kamu. Kalau kamu bukan pewaris sah dari semua perusahaan itu, aku nggak akan ngelakuin semua hal ini sama kamu. Meskipun aku cukup nikmatin juga! Tapi sekarang aku sudah bosan sama kamu!”

Dia pikir aku tidak bosan juga gitu berhadapan dengannya. Sontoloyo! “Gue akan tanda tangan, tapi gue mau nanya sama lo. Gimana lo bisa dapetin berkas itu? Setau gue berkas itu disimpen sama Nyokap gue dengan hati-hati. Dan nggak banyak orang yang tau soal berkas itu disimpen di mana.” Aku mencoba menepis tangannya yang ada di pipiku, namun tangannya lebih besar dan tubuhku benar-benar lemah karena aku lapar dan dehidrasi.

Seringaian jahat itu muncul lagi di bibirnya. “Aku jemput Mama kamu di bandara saat dia pulang ke Indonesia waktu itu.” Aku ingat hari di mana Mamaku baru saja pulang dari urusan bisnisnya. Jadi, waktu itu Mamaku dijemput oleh Om-Om psikopat gila ini! “Dan aku mulai nanya-nanya. Kupikir Mama kamu nggak akan jawab, tapi perempuan bodoh itu malah ngasih tau aku di mana berkas itu ditaruh. Yang ternyata ada dibalik lukisan yang ada di ruang kerja Papamu.” Aku menampik tangan Alex, enak saja dia memanggil Mamaku bodoh!

“Sebegitu mudahnya lo dapetin berkas itu?” tanyaku heran. Meskipun di dalam rumahku tidak ada satpamnya, serta aku dan Mama sudah tidak mempunyai pengawal lagi, tetapi pasti ada yang melihat Alex. Pembantu-pembantuku mungkin. Yah, walaupun kalau sudah malam kebiasaan mereka akan ngumpul di cottage belakang rumah sambil nonton sinetron. Ataupun bergosip soal pembantu-pembantu yang lain. Aku bisa tahu karena aku diberitahu oleh Mbak Kinan. Saat dia—tunggu dulu, kenapa aku malah membicarakan para pembantuku?!

“Nggak terlalu sulit. Aku sama Mamamu nyampe rumah sekitar pukul satu tengah malam. Aku bincang-bincang sebentar sama Mamamu lalu izin pulang. Tapi aku nggak bener-bener pulang. Aku suruh supirku yang pulang, biar semua satpam yang ada di depan rumahmu nyangkanya aku sudah pulang.” Alex mengambil berkas-berkas yang kececeran di lantai. Dia menaruhnya dengan rapi di atas meja. “Aku ngendap-ngendap masuk rumahmu lagi setelah itu. Dan selama beberapa jam aku sembunyi di kantor Papamu. Untung dulu aku pernah ke kantor itu, jadi nggak susah nemuin lemari kaca yang ada dibalik lukisan tempat berkas itu Mamamu taruh. Dan sekarang… aku sudah punya buat kamu tanda tangani!”

Aku mendesah panjang. Benar-benar jengkel, malas, lapar, dan haus! “Gue waktu itu nggak sengaja lihat lo di lift! Itu memang lo kan?” tanyaku, kupicingkan mataku tajam ke arahnya.

Dia menganggukkan kepalanya. Senyuman jahat muncul lagi di bibirnya. “Setelah aku dapet berkas itu, rencananya aku mau langsung minta tanda tangan kamu dan nyuruh kamu nulisin kode persetujuannya. Tapi, aku sadar kalau aku mintanya saat itu juga, namanya aku bunuh diri. Aku nggak mungkin kan minta daging di kandang Macan?” Alex menatap wajahku dalam-dalam. “Pas aku mau keluar dari kamar kamu, tiba-tiba kamu bangun. Makanya aku cepet-cepet sembunyi di balik lift. Yang hasilnya ternyata memuaskan.”

“Gimana cara lo bisa keluar dari rumah? Satpam yang ada di depan dan di belakang rumah nggak mungkin bisa lolosin lo gitu aja!” Aku sebisa mungkin melonggarkan tanganku di sekitaran borgol agar tanganku bisa terlepas dari benda laknat tersebut. Aku juga dulu pernah diborgol seperti ini oleh Papaku. Dia memborgol tanganku di keran bathtub kemudian dia menenggelamkan kepalaku di dalamnya. Aku sudah beberapa kali bisa lolos dari dalam lilitan borgol seperti ini. Aku biasanya menggunakan air sabun, benda berkepala lancip untuk membuka kuncinya ataupun melonggarkan pergelangan tanganku.

“Aku nunggu sampe pagi. Sampe semua satpam yang ada di rumah kamu akhirnya tukeran shift dengan satpam yang lain. Seperti yang pernah kamu bilang, setiap kali pergantian shift, semua satpammu itu ngumpul di ruangannya. Jadi saat mereka lagi ngumpul di sana, aku buru-buru langsung keluar dari pagar rumahmu yang terbuka. Aku lihat kamu pergi pagi itu.” Iya, aku memang pergi pagi itu. Pergi ke rumah Vick untuk meminta masukkan. Sial! Ternyata orang satu ini licin juga seperti ular. “Sudah cukup penjelasannya, aku tidak punya banyak waktu. Kamu hanya perlu tanda tangan dan tulis kode persetujuannya! Setelah itu aku akan ngebiarin kamu pergi. Tapi, setelah itu kamu jangan pernah buat manggil dan lapor Polisi. Atau kamu mau lihat Mamamu mati, heh?!”

Dia bahkan lebih licin dari ular! Om-Om bersisik babi! “Nggak akan!” seruku ketus. “Gue nggak akan pernah buat tanda tangan di sana!” Aku menendang kakinya dengan kakiku yang bebas. Alex mundur beberapa langkah, refleks dia langsung memegang tulang kering kakinya yang aku tendang tadi. Aku menyeringai lebar, sekarang siapa yang bisa jadi jahat, heh! “Lo nggak akan pernah bisa dapetin apa yang lo mau!” Aku menatapnya dengan penuh kesumat. Manusia laknat seperti dia memang harus segera dibinasakan.

Fine then!” serunya, dia berjalan ke arah pintu. “Aku buat mati aja orang ini kalau begitu!”

Ketika Alex membuka pintu kamar, mataku langsung terbelalak lebar. Bahkan aku tidak sadar mengeluarkan erangan tertahan. Peter ada di sana, di dekat pintu yang menuju ke arah dapur. Kedua tangannya diikat di depan dadanya. Mulutnya disumpal kain dan kedua kakinya diikat di atas grendel pintu dapur. Membuat kakinya di atas dan kepalanya di bawah. Posisinya benar-benar menyedihkan. “Peter!” teriakku kencang memanggilnya. Aku meronta dari kurungan borgolku, aku tidak peduli lagi rasa sakit yang kuhasilkan dari borgol itu. Aku harus membangunkannya, dia tidak berhak merasakan penderitaanku. “Peter!” teriakku lagi.

Namun Peter hanya bergeming, bahkan dia tidak menunjukkan pergerakkan sama sekali. Jangan bilang kalau dia sudah mati! “Percuma!” hardik Alex dengan wajah beringas. “Dia nggak akan bangun mau kamu teriak sekencang apapun. Aku udah bius dia dengan obat bius yang kayak aku kasih ke kamu. Tapi aku nggak tau kalau efek obat bius itu bisa selama itu juga. Aku pikir kamu hanya akan terbius sebentar, ternyata sampai satu hari penuh.” Alex berjalan lamban ke arah Peter, dia menatapku masih dengan pandangan yang sama.

“Gimana dia bisa ada di sini?” pekikku marah. “Ini urusan gue sama lo, dia nggak berhak lo siksa kayak gue juga.” Aku bisa merasakan kulit pergelangan tanganku yang mulai robek karena rontaanku yang makin keras. Aku tidak peduli! Aku harus mengeluarkan Peter secepatnya dari tempat ini. Biar aku saja yang berurusan dengan orang brengsek itu. Aku tidak ingin orang yang penting di hidupku merasakan apa yang kurasakan.

“Bukan aku yang minta dia ada di sini,” kata Alex sembari menggunakan sarung tangan putih. “Empat jam setelah kamu dateng ke apartemenku, tiba-tiba temenmu satu ini ngetuk pintu apartemenku dan mulai marah-marah nanya keberadaan kamu. Aku juga nggak tau gimana dia bisa tau kamu ada di sini. Tapi terserahlah, aku nggak peduli. Temenmu satu ini maksa buat masuk ke dalam. Tentu aja aku izinin, walaupun setelah itu aku pukul belakang kepalanya sampe pingsan dan kubius dia kayak aku ngebius kamu.” Alex mengeluarkan jarum suntik dari dalam kotak yang ada di bawah kakinya. “Aku yakin orang ini adalah orang yang penting buat kamu. Gimana kalo aku suntik mati aja dia?”

“Anjing lo ya!” teriakku benar-benar marah dan kalut. “Jangan ganggu dia! Dia nggak ada urusannya sama ini semua.” Namun Alex tetap diam, dia menyuntikkan ujung jarum suntik itu ke dalam sebuah botol berukuran kecil. Aku tidak tahu apakah itu benar akan menjadi suntikkan mati atau tidak. Tetapi aku tidak mau mengetes apa-apa sekarang. Aku takut kalau Alex memang serius dengan ucapannya. “Gue akan tanda tangan, gue akan ngasih lo kode persetujuannya! Sekarang tinggalin dia sendirian!”

Alex langsung mengalihkan pandangannya ke arahku. Dia tersenyum lebar, benar-benar menikmati semua siksaan yang dia berikan untukku. Pantas saja wajah anaknya seperti bawang merah, Ayahnya sendiri saja sudah mirip iblis begitu. “Nah, kalau daritadi begitukan aku nggak usah repot-repot buat ngeluarin suntikkan mati ini buat temen kamu tersayang.” Alex menaruh suntikkan itu ke dalam kotak, langkahnya panjang saat menghampiriku. Aku hanya bisa menahan emosiku. Bahkan Alex lebih parah daripada Ferdi. Om-Om satu ini sungguh menjijikan! “Ini pulpennya. Kamu silahkan langsung tanda tangan dan tulis kode persetujuannya di bawah tanda tangan. Supaya sah dan semua perusahaan itu akhirnya jadi milikku.” Alex menyerahkanku sebuah pulpen berukuran mini kepadaku.

Dengan berat hati aku meraih benda itu, lalu  mencerna semua tulisan yang ada di berkas. Jika aku menyerahkan semua perusahaan ini ke tangan Alex, bisa dipastikan keluargaku akan jatuh terpuruk. Aku tidak akan mempunyai apa-apa lagi. Apalagi ketika aku membaca paragraf kalau semua perusahaan dan hartaku jatuh ke tangannya. Atas namanya! Sial! Aku tidak bisa melakukan hal ini, hidupku dan Mamaku pasti akan hancur lebur begitu saja.

“Cepetan tanda tangan!” gertak Alex kasar. Dia menyorongkan tangannya di pundakku. Dengan perasaan benci dan sungguh-sungguh marah, akhirnya aku tidak bisa lagi menahan tubuhku yang lemah. Kuangkat tangan kiriku yang bebas dan meninju sekuat mungkin rahangnya. Alex terjengkang jatuh, dengan posisi bokong yang menyentuh lantai terlebih dahulu. Aku cepat-cepat mengangkat kakiku untuk menendang wajahnya, namun tangan Alex dengan sigap meraihnya lalu mendorongku hingga terbaring di atas kasur. “Anak bajingan!” serunya meledak. Dia menindih tubuhku, kedua tangannya menekan leherku dengan kekuatan penuh.

Aku megap-megap saat kedua tangan Alex makin kuat mencekik leherku. Aku bisa merasakan semua udara yang ada di kerongkonganku tersumbat. Paru-paruku seperti terbakar api, rasanya sungguh panas dan menyakitkan. Aku mencoba menarik kedua tangannya yang besar itu di leherku, namun percuma, aku hanya menggunakan tangan kiriku. Dan tubuhku dalam keadaan yang lemah. Apalagi dengan badan Alex yang besar dan menindih badanku. Sebentar lagi aku akan benar-benar mati. Tetapi itu lebih baik daripada harus Peter atau Mamaku yang mati. Aku tidak keberatan kalau memang harus mati sekarang.

Namun hal itu tidak terjadi, karena Alex mengendurkan kedua tangannya di leherku. Aku terbatuk beberapa kali karena udara di paru-paruku akhirnya kembali bisa berhembus dengan normal. “Aku bisa aja bunuh kamu sekarang! Tapi aku butuh tanda tanganmu dan kode persetujuan itu! Jadi jangan pernah main-main kalau kamu nggak mau ngerasain yang namanya kalah!” Alex meneriakkan semua kata-kata itu di depan wajahku. Membuat air liurnya yang seperti limbah sampah muncrat mengenai wajahku. Dasar Iblis bernafas busuk!

Alex menyingkir dari atas tubuhku, membiarkan perutku akhirnya bisa naik-turun dengan normal kembali. Aku mencengkram kuat-kuat bantal, kepalaku tiba-tiba terserang vertigo. Efek dari cekikkan tadi sungguh-sungguh sangat menyakitkan. Aku sangat benci dicekik, untung saja Papaku dulu tidak pernah melakukan hal itu padaku. Dia selalu menarik kerah bajuku lalu menyeretku untuk ikut bersamanya. “Gue yak—“ Aku tersedak kalimatku. Rasa perih di leherku masih sangat terasa. “Gue yakin lo bakalan bunuh gue setelah gue tanda tangan.” Aku yakin dia pasti akan melakukan hal tersebut.

“Kalau aku bunuh kamu, dan tiba-tiba semua perusahaan keluargamu jatuh ke tanganku, aku yakin semua orang akan curiga. Begitu pula dengan Polisi-Polisi kolega Papamu.” Alex merapatkan kemeja kerja yang dia kenakkan. “Aku nggak perlu bunuh kamu, aku cuman akan nyuruh banyak orang buat nguntit kehidupan kamu. Sampe kamu lapor Polisi, temen tersayangmu serta Mamamu bakalan mati. Mudah kan? Ngebunuh itu hal yang mudah, kayak nyembelih Kambing saat kurban!” Orang satu ini benar-benar…! “Sekarang waktunya kamu buat tanda tangan!” Alex menaruh pulpen mini itu ke dalam genggaman tangan kananku yang terborgol dan luka.

“Kenapa lo ngelakuin hal ini ke gue? Ke keluarga gue? Emang lo nggak puas dengan hal yang udah lo punya?” tanyaku, sengaja mengulur waktu. Aku tidak mau cepat-cepat tanda tangan. Meskipun aku yakin aku akan tetap melakukan hal itu. Tetapi aku punya rencana, ketika matahari sudah benar-benar tak terlihat dan suasana kamar ini gelap, pasti Alex akan menyalakan lampu. Dan pada saat itulah aku akan merobek semua berkas itu. Biar saja jika dia ingin membunuhku. Aku tidak peduli.

“Aku nggak pernah suka sama Papamu, pencapaian yang dia raih sangat jauh beda dari perusahaanku. Dia juga pernah ngambil ideku buat kerja sama dengan perusahaan yang ada di Moskow. Dia juga pernah serakah untuk ngambil proyek yang ada di Auckland. Jadi… aku pengen ngambil apa yang seharusnya memang punyaku!” Alex menatapku nanar dan marah.

Sungguh?! Aku tidak tahu kalau hal itu sungguh terjadi di antara mereka berdua. Dari dulu aku tidak pernah tahu bagaimana Papaku, tetapi aku tahu satu hal ini saja. Papaku adalah orang yang ambisius. Dia melakukan banyak hal tanpa mengeluh, sebab itulah dia menjadi orang yang sangat kasar. Apalagi saat dia tahu soal perbuatan Mamaku. Sebab itulah aku tidak ingin memanggilnya si Bajingan lagi. Tidak ada yang salah di keluarga kami, yang ada hanya anak-anak manusia yang butuh cinta. Aku tidak ingin menjadi pendendam, rasa dendam membuatku kesepian. Membuatku menjadi pribadi yang terlalu tertutup dan murung.

“Kamu tunggu apa lagi?” tanya Alex dengan suara keras. “Tanda tangan sekarang!”

Aku menengadahkan kepalaku dan melihat wajahnya di dalam kegelapan. “Gue nggak bisa tanda tangan kalo cahayanya minim kayak gini,” ujarku padanya. Alex mendecakkan lidahnya tidak sabar, ketika dia bangkit untuk menuju ke saklar lampu, cepat-cepat aku mengambil semua kertas berkas itu dan meremuknya dengan tangan kiriku. Aku baru saja ingin merobek berkas-berkas tersebut saat lampu tiba-tiba nyala dan Alex sudah berdiri di hadapanku. Dia merebut berkas-berkas itu dan menampar wajahku lagi. “Sakit, setan!”

“Kamu pikir dengan cara licik seperti itu bisa ngelabui aku, heh?!” ujarnya ketus. Dia mencengkram pundakku kuat-kuat, membuat rasa nyeri menjalar di sana. “Lagi pula kamu pikir berkas-berkas ini hanya ada satu! Berkas ini banyak, dan kamu nggak akan pernah bisa menang!” Alex mendorong tubuhku kencang, membuatku terhempas kembali ke atas kasur. “Mungkin kamu memang harus dikasih pelajaran dulu supaya mau tanda tangan!” paparnya dengan suara selicin ular. Aku tidak suka aura makin jahat yang keluar dari sorot matanya.

Alex kembali menindih tubuhku, tangannya yang besar memegang kedua wajahku. “Lo-l-lo mau apa?” tanyaku terbata. Pertanyaanku tadi tidak dijawab dengan perkataan, namun langsung dengan sebuah ciuman kasar yang mendarat di atas bibirku. Aku meronta dari tindihan badannya. Tetapi percuma, aku tidak bisa melawan. Badan Alex terlalu besar dan berotot, sedangkan aku hanya anak remaja yang baru saja berumur delapan belas tahun. Hal ini mengingatkanku dengan Papanya Peter saat ingin memperkosaku dulu.

“Kamu mau kontolku dulu kan baru mau tanda tangan?” tanyanya dengan seringaian licik. Dia mengangkat kepalanya dan menatap wajahku dengan tatapan buas. “Kamu mau kontolku masuk ke dalam lubang pantatmu dulu kan baru kamu mau ngasih kode persetujuan itu?” Dia membuka ikat pinggangnya dengan kecepatan yang tak terduga. “Dasar bocah jalang!” Alex kembali mencium bibirku. Aku agak mengerang saat dia menggigit bibir bawahku. Tidak terlalu keras memang, tetapi cukup membuatku agak kesakitan. Apalagi saat tangannya mulai mencoba membuka resleting celanaku. Aku makin memberontak di atas tubuhnya.

Makin lama ciuman yang Alex tujukan ke arah bibirku makin memanas. Aku mengatupkan mulutku rapat-rapat, tidak ingin membiarkan lidahnya yang sudah bergerilya di atas bibirku masuk ke dalam mulutku. Aku menarik rambutnya kencang dengan tangan kiriku, namun Alex malah mendesah nikmat. Aku benar-benar akan kembali diperkosa seperti dulu. Hal ini akan kembali terjadi, membuatku makin benci dengan yang namanya pemerkosaan seperti ini. Aku sungguh-sungguh tidak suka jika—

Ciuman akhirnya terlepaskan juga. Tetapi aku mendengar pekikan marah dari belakang tubuh Alex. Kubuka mataku dan melihat lilitan kain yang berada di lehernya. Laki-laki brengsek itu terhuyung mundur dan mencoba menarik menjauh orang yang mencekik lehernya dengan kain tersebut. Saat mataku sudah bisa mencerna pemandangan yang ada di depanku ini, aku baru sadar kalau orang yang mencekik leher Alex dengan kain tersebut adalah Peter. Tangannya masih terikat, dan ikatannya itulah yang dia gunakan untuk mencekik Alex.

Tetapi itu tidak bertahan lama. Alex memundurkan badannya hingga menabrak dinding. Badan Peter berbenturan dengan dinding beton tersebut, tubuhnya terhuyung-huyung bagaikan orang mabuk. Lilitan kain yang dia gunakan untuk mencekik leher Alex pun akhirnya terlepas. Sebagai gantinya Alex meninju kencang hidung dan perut Peter. Membuat Peter terjerembap jatuh ke atas sofa. Darah segar mengucur dari dalam hidung Peter dan mulutnya. Alex menindih badan Peter, tangannya yang besar mulai mencekik leher Peter dengan kekuatan penuh. Wajah Peter yang pias berubah biru.

Cepat-cepat aku membuka penutup pulpen mini yang ada di tangan kananku. Mengeluarkan isi pulpen tersebut. Kugunakan kepala runcing pulpen untuk membuka kunci borgolku. Tanganku gemetaran saat aku mencoba memutar-mutarnya di lubang kunci. Sial! Cepatlah terbuka! Cepat!!! Aku makin panik, apalagi saat mendengar rintihan tertahan dari mulut Peter. Aku harus bergegas sekarang. Aku tidak boleh membiarkan si laki-laki Iblis itu membunuh Peter. Tidak boleh, aku tidak akan mengizinkannya.

KLIK!

Akhirnya terbuka! Dengan gesit aku meloloskan tanganku dari dalam borgol. Kumasukkan kembali kepala runcing pulpen itu ke dalam tempatnya. Setelah benar-benar terpasang aku langsung bergerak cepat menuju ke arah Alex. Kaki Peter yang memberontak semakin lama semakin melambat. Oh, tidak! Aku sungguh-sungguh murka sekarang! Kutancapkan kepala runcing pulpen itu di leher Alex berkali-kali, membuat laki-laki Iblis itu melepaskan cekikkannya dari leher Peter. Dia mengerang dan menabrak tubuhku hingga tersungkur.

“Brengsek!” serapahnya kencang, dia terhuyung-huyung mundur hingga jatuh ke sisi kasur yang lain. Aku segera bangkit dan menghampiri Peter yang sedang terbatuk-batuk. Kupegang pipinya yang dingin, darah segar dari hidung dan mulutnya terus mengucur. Kuseka dengan ujung seragam DIS ku. Tanganku secepat mungkin membuka ikatan tangan Peter. Namun belum saja benar-benar terbuka, tiba-tiba rambutku dijambak dengan sangat kasar, seperti rambutku akan terlepas dari kulit kepalaku. “Bocah kurang ajar!” raung Alex kasar, dia meninju perut dan menampar pipiku dengan sangat kencang.

Lututku menabrak kayu penyangga tempat tidur saat aku terjatuh ke lantai. Baru kali ini aku merasakan yang namanya rasa sakit yang sesungguhnya. Rasa sakit yang mengeluarkan darah. Karena aku bisa merasakan mulutku terasa asam dan berbau karat seperti sedang mengecap rasa darah. Ini sungguh-sungguh menyakit—Alex menjambak lagi rambutku, dia menyeretkku hingga ke depan pintu kamar. Dia menaruh kepalaku di sisi pintu. Aku tahu dia ingin membenturkan pintu itu ke kepalaku. Kupejamkan mataku, bersiap-siap merasakan hal yang lebih sakit lagi.

Hanya saja Alex tak akan kunjung melakukan hal tersebut, karena Peter sudah menendang perutnya dengan kekuatan entah dari mana. Membuat laki-laki Iblis itu terjatuh ke lantai. Peter bergerak cepat dan menindih badan Alex, tangannya yang terkepal meninju cepat wajah Alex berkali-kali. Aku mencoba bangkit, namun perutku kram akibat tinjuan dari Alex tadi. Aku harus membantu Peter, apalagi saat laki-laki Iblis itu mendorong tubuh Peter hingga tejengkang dan menabrak pintu kamar mandi.

Laki-laki Iblis itu mengangkat tangannya untuk meninju wajah Peter, cepat-cepat aku naik ke atas punggung Alex dan menekan luka tusuk akibat pulpen tadi. Sial! Pantas saja dia tidak begitu kesakitan, ternyata aku tidak menusuk nadi karotisnya! Tetapi biar saja, aku harus menjauhkan laki-laki Iblis ini dari Peter. Aku tidak ingin—Arggh! Alex memelintir tanganku dengan cukup kuat, membuatku harus berada ditindihan badannya lagi.

Alex menekan kuat-kuat tangannya di rahangku, membuat urat di leherku menjadi sangat sakit. Aku juga ikut mendorong menjauh rahangnya dengan kedua tanganku. Meskipun aku lemah, dan aku sangat kelaparan serta kehausan, aku tidak akan menyerah begitu saja kali ini. Aku harus menyingkirkannya dari hadapanku. Lambat laun tangan Alex mengendur di rahangku, ini dia kesempatanku. Kudorong tubuhnya menjauh, Peter yang ada di belakang tubuhnya langsung memiting kedua tangan laki-laki Iblis itu ke belakang. Entah datangnya darimana, aku langsung mengambil lampu hias yang ada di atas meja lalu membenturkannya ke kepala Alex. Membuat cowok itu langsung terhuyung jatuh ke lantai dan pingsan.

Peter dan aku sama-sama mundur, ngeri kalau laki-laki Iblis itu bangkit dan menyerang kami lagi dengan tidak terduga. Setelah menunggu beberapa puluh detik, barulah aku yakin dia pingsan. “Kita bo-borgol tangannya,” kataku sedikit terbata. “Ayo!” Aku dan Peter berjalan hati-hati ke arah Alex. Kucolek lengannya dengan ujung kakiku, namun dia bergeming. Berarti sungguh pingsan berat Iblis satu ini. Dengan badan lemah, aku dan Peter mendorong Alex hingga ke tepi ranjang tempat aku diborgol tadi. Kupasang borgol itu di pergelangan tangan kanannya, setelah bunyi klik terdengar jelas, aku dan Peter kembali mundur dan merapat ke dinding. Menatap nanar Alex yang sedang terbaring tak berdaya.

“Kita harus telepon Polisi sekarang!” kata Peter tak lama setelah keheningan mendominasi ruangan penuh apocalypse ini. “HP ku mana ya?” Peter merogoh-rogoh saku celananya. Kuputar pandanganku ke seisi kamar dan… itu dia! HP ku, dompetku, dan HP Peter. Aku berjalan cepat menuju ke meja TV dan mengambil barang-barangku. Kuserahkan HP itu ke arah Peter. Yang langsung Peter sambut dengan kilat. Dia membuka side lock HP nya dan mulai memencet sederet nomor. “Kantor Polisi?” katanya setelah itu. “Iya, saya ingin—“ Dan Peter mulai memberitahukan semuanya. “Polisi bakalan dateng sepuluh menit lagi.”

Aku menganggukkan kepalaku. Kusandarkan kembali badanku ke dinding, lalu terduduk di lantai yang dingin. Aku menatap semua benda-benda yang kececeran ke sana-kemari setelah apa yang terjadi tadi. “Kamu tau darimana aku ada di sini?” tanyaku ketika Peter sudah duduk di sebelahku. Kutolehkan kepalaku ke arahnya, menatap wajahnya yang letih. Darah yang tadi keluar dari hidungnya kini sudah berhenti mengalir. “Aku minta maaf ya karena kamu ikutan kena masalah ini.”

Peter mengibaskan tangannya ke depan wajahku. “Aku ikutin kamu,” ujarnya, dia mengelap darah kering yang ada di atas bibirnya dengan ujung kemejanya. “Dari kamu pergi ke Travel Penerbangan, terus ketemu Tante-tante, terus Om-om di Starbucks. Yah, sampe akhirnya kamu ke sini.” Peter memejamkan matanya dalam-dalam. Terlihat sama lemahnya sepertiku. “Aku nungguin kamu di ruang tunggu yang ada di deket lift. Tapi sampe beberapa jam aku nunggu kamu nggak keluar-keluar juga. Aku, well, mulai berpikir yang nggak bagus-bagus jadi aku samperin aja. Eh, aku malah dibuat pingsan sama tuh bajingan!” Peter menunjuk Alex dengan dagunya yang lancip.

“Makasih karena udah mau nolongin kali ini. Aku nggak bakalan tau gimana hidupku kalo kamu tadi nggak ada. Pasti bakalan sengsara.” Aku mengangkat tanganku dan mengelus pipinya dengan hati-hati. Peter menolehkan kepalanya ke arahku, dia mengulas sebuah senyuman miring. Senyuman yang sangat kusuka di bibirnya.

Always,” ucapnya lembut. “I will always there for you.” Peter menggenggam tanganku erat-erat. Kugeser dudukanku ke arahnya. Mataku menatap sebuah anting hitam yang melekat di telinganya. Kusentuh anting itu dengan tanganku yang bebas, membuat Peter terhenyak sementara. “Aku pakek lagi anting ini. Aku pakek lagi karena kita akhirnya pacaran lagi.” Peter makin mengeratkan tangannya di dalam genggaman tanganku.

Anting itu kami beli hanya sepasang. Satu untuk Peter dan satu untukku. Waktu itu kami masih remaja labil yang sedang terserang starstruck. Ingin menggunakan hal serupa, agar tidak pernah bisa terpisahkan. Setelah kami membeli anting itu, aku dan Peter melubangi daun telinga kami yang sebelah kanan. Lalu memasangkan anting itu satu saja di telinga kanan kami. “Aku juga masih punya anting itu,” kataku kemudian. Mata Peter melebar tak percaya. Kubuka dompetku dan mengeluarkan satu buah anting dari dalamnya. “Mungkin udah saatnya aku makek lagi benda ini.”

Peter tersenyum makin lebar. Dia mengambil anting itu dari tanganku dan memasangkannya di daun telingaku yang sebelah kanan. “Sekarang kita nggak akan benar-benar kepisah lagi.” Peter merangkul pundakku erat, kukaitkan kaki kami yang menyelonjor menjadi satu.

“Bintang Reonel selalu ngabulin permohonan kamu Pet.” Aku berujar pelan di dekat telinga Peter. “Keajaiban itu ada. Sebab itulah kita berdua ada di sini sekarang.” Peter mencium pelan pipiku, rasa hangat dan basah bibirnya menempel lekat di kulit pipiku. Dan aku suka sensasinya. “Dan Pet… aku juga udah bisa maafin Papaku,” kataku penuh keyakinan. Aku telah memikirkan hal ini. Bahkan di dalam tidurku yang panjang kemarin, aku bermimpi bertemu dengan Papaku dan bermain bersamanya. Layaknya seorang Ayah dan Anak. Aku rindu Papaku. Aku merindukannya. “Aku udah nggak dendam lagi sama dia. Karena aku cinta sama dia, karena dialah aku ada di dunia ini sekarang.”

Dan hal itu terjadi. Aku menekuk bibirku menjadi sebuah senyuman. Sebuah senyuman nyata yang benar-benar tertoreh di bibirku. Rasa maaf mengembalikan air mataku, keikhlasan mengembalikan senyumanku. Aku belajar banyak dari semua hal yang telah kulalui. Semua rasa sakit hati dan dendam itu kini membaur di udara dan menghilang. “Ka—kamu…” Peter menunjuk bibirku yang tersenyum dengan jarinya. “Kamu senyum,” katanya takjub. Peter memegang kedua pipiku dan menatap bibirku yang masih tersenyum dengan lekat. “Tivo, kamu senyum!” serunya bahagia. Membuatku tak bisa menahan senyuman lebarku.

“Yeah, aku senyum,” kataku ikut bahagia bersamanya. “Senyumanku nggak aneh kan?”

“Aneh?” sahut Peter bingung. “Nggak aneh, malah kamu makin ganteng kalo senyum!” Peter mencium keningku, dan aku mencium lehernya yang hangat. “Kamu jadi Tivo yang aku kenal dulu. Aku kangen Tivo yang ini, dan kini aku sudah lihat dia lagi.” Peter menyapukan jemarinya di atas bibirku. “Coba aja kalo mulut aku nggak rasa darah kayak gini, pasti aku udah nyium kamu daritadi.” Peter memasang cengiran lebar, membuatku tak tahan menahan tawa. “Dan sekarang kamu ketawa!” Lalu, aku dan dia larut dalam tawa bahagia. Sungguh.

“Kamu tau nggak sih,” kataku sembari menghentikan tawaku beberapa saat. “Kalo sebenernya kita ini lagi kena apocalypse. Bahkan beberapa puluh menit yang lalu kita tadi masih tinju-tinjuan sama orang brengsek yang lagi pingsan itu.” Aku menunjuk Alex yang masih larut dalam dunia pingsannya. “Tapi sudahlah, daripada kita diem-dieman sambil nungguin Polisi dateng.” Aku memeluk leher Peter, dan tersenyum di atas kulit lehernya yang sangat harum sabun. Aku suka aroma ini, meskipun Peter berkeringat, dia akan selalu wangi sabun. “Gimana kalo kita kumur-kumur supaya rasa darah yang ada di mulut kita hilang? Terus kita bisa ciuman bibir setelah itu.”

Peter mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sangat—seratus persen—antusias. “Iya, bener banget. Kita harus kumur-kumur! Kenapa nggak kepikiran daritadi. Bibirku udah gatel banget pengen nyium bibir kamu dan main sama lidah kamu yang nakal minta digigit itu.” Aku dan Peter kembali tertawa seperti dua orang bodoh. Cepat-cepat aku dan Peter bangkit dari dudukan kami. Agar kami bisa melakukan ritual ciuman wajib setelah apocalypse tadi.

Tetapi sayang, belum sempat kami kumur-kumur, Polisi sudah datang duluan! Sial!!!

***

Jam sebelas malam, aku dan Peter masih saja di kantor Polisi untuk pemeriksaan. Mamaku sudah memanggil lima dokter untuk memeriksa keadaanku dan Peter. Saat dia datang tadi, suara histerisnya memenuhi kantor Polisi ini. Dan ketika aku memberikannya sebuah penjelasan disertai senyuman nyata dari bibirku, Mamaku berhenti kuatir dan menelpon empat Pengacara keluarga kami untuk memenjarakan Alex seumur hidup. Aku tidak mengerti apa maksud Mamaku, dia memang terkenal sangat suka melebih-lebihkan sesuatu.

Setelah makan dan minum tadi, rasa sakit yang ada di tubuhku berangsur-angsur hilang. Lagi pula tadi dokter sudah menyuntikkanku sebuah obat penghilang rasa nyeri. Mamaku juga tadi menyuruh beberapa pekerja Spa langganannya untuk datang kemari dan memijat tubuhku yang lelah. Untung saja hanya sebentar, kalau lama bisa-bisa aku dan Peter menjadi bahan tertawaan semua orang yang ada di kantor Polisi ini. Tetapi semua itu sudah lewat, Mamaku sedang sibuk berdiskusi dengan empat Pengacara dan memilih satu di antara keempat orang itu di rumah. Jadi yang akan menjemputku nanti adalah flocksku.

“Selesai!” kata Polisi paruh baya yang ada di hadapanku. “Silahkan ke ruang tunggu untuk menunggu jemputan Anda Pak Diatmika dan Pak Djojonegorodiningrat.” Aku dan Peter langsung bangkit. Akhirnya selesai juga pemeriksaannya. Aku tidak mengerti kenapa mereka melakukan hal itu. Maksudku, mereka selalu bertanya hal yang sama, dan aku juga selalu menjawab hal yang sama. Ugh! Menyebalkan! Tetapi mau bagaimana lagi, prosedur kepolisian memang seperti itu. Prosedur yang sangat membosankan. Untung aku tidak pernah bercita-cita untuk menjadi Polisi.

“Kamu laper lagi nggak?” tanya Peter, wajahnya sudah lebih baik dari beberapa jam yang lalu. Malah kami mungkin sudah terlihat sehat lagi. Meskipun masih ada beberapa memar yang terlihat di lengan dan wajah kami masing-masing. Memar biru yang tak terelalu kentara. “Kalo kamu laper lagi kita pergi ke kantin bentar,” katanya penuh perhatian. Aku menatap wajahnya yang berseri-seri saat kuberikan senyuman tulusku untuknya.

“Aku nggak laper, kamu laper?” tanyaku padanya. Peter menggelengkan kepalanya. Aku tahu dia bertanya seperti tadi karena kuatir dengan keadaanku. Aku dan Peter saling berpandangan lama, membiarkan momen mata kami yang bertemu seperti ini terkunci rapat. Aku ingin menghafal bentuk wajahnya, aku ingin mengingat segala hal tentang dirinya. Hanya saja momen ini harus rusak ketika semua orang yang ada di ruang tunggu ini mendadak hening. Aku mengalihkan pandanganku dengan penuh tanda tanya. Semua mata orang yang ada di sini terarah ke pintu keluar. Dan di sanalah mereka! Flocksku, bergerak dengan gaya populer mereka. Apalagi Sid dengan tatapan tajamnya.

Peter mengkeret di sebelahku, dia menggeser duduknya agak jauh. Langkah Sid sangat panjang saat berjalan ke arahku. Kuangkat tanganku dan melambaikannya ke arah mereka. Zavan yang berdiri di sebelah Sid melepaskan kacamata hitamnya dan balas melambaikan tangan ke arahku. Di sebelah Zavan ada And yang sedang menutup kepalanya dengan tudung jaketnya. Sedangkan Revie berjalan paling belakang sambil memegang satu buah es krim di tangan kanan dan satu bungkus Jet-Z ukuran besar yang diapit di depan dada. Tingkahnya yang seperti itulah yang membuatnya makin seperti anak-anak.

“Sehari nggak ketemu dan lo udah menghebohkan satu Dunia!” seru Sid di depanku ketika dia sudah sampai di hadapanku. “Gue denger nama lo di radio sama di TV daritadi.”

“He-eh!” sahut Zavan. “Di Radio bilang kalo Anak dari keluarga Diatmika yang maha kaya di Indonesia itu disekap or sumthing gitu deh. Di TV juga tadi ngelihatin muka lo yang jelek banget kayak orang baru di BDSM.” Aku menengadah untuk menatap Zavan. Tetapi lidahku langsung kelu saat melihat tato super seram yang menempel di pundak hingga lengan kanannya. Zavan hanya mengenakkan singlet hitamnya malam ini, membuat tato itu terlihat dengan sangat jelas. “Emang berita itu bener ya, kalo lo disekap selama satu hari penuh?”

“Iya Zav, makanya gue ada di sini sekarang.” Aku menatap bentuk tato yang menjalar di pundak hingga lengan Zavan. Bentuknya memang sangat keren. “Tato lo itu nggak permanenkan? Kapan lo buat tuh tato?” tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan, malas membahas soal itu lagi-itu lagi. Tadi Polisi dan Mamaku sudah bertanya, aku tidak ingin membahasnya dengan flocksku juga. Aku paling malas bicara!

“Gila aja kalo permanen! Lo mau gue diceramahin sama Nenek Sihir yang ada di Ruang Konseling? Geez, gue ngebayanginnya aja udah nggak sanggup,” gerutu Zavan, dia pura-pura merinding. “Gue buat tato ini tadi siang. Soalnya kan besok hari Jumat—TGTIF-thank God tomorrow is friday—jadi kita bisa pakek baju bebas dan bergaya sebebas mungkin. Well, meskipun gue memang harus ke DIS Klinik dulu buat minta surat izin kalo tato yang ada di pundak dan lengan gue ini hanya sementara.” Zavan menyisir rambutnya—yang kini sudah pirang lagi—dengan jari-jarinya. Membuat beberapa cewek ABG yang ada di sudut ruang tunggu menatap Zavan dengan pandangan kagum.

Revie bergerak cepat ke sisi satu lagi, ke tempat Peter yang saat ini sedang menyembunyikan wajahnya dari Sid dan Zavan. Mata semua orang yang ada di ruang tunggu ini langsung terarah ke arah Revie. Bahkan beberapa Polisi yang lalu lalang sejak daritadi langsung menghentikan langkahnya untuk menatap wajah Revie yang tampan. “Tivo, pas kamu disekap gitu, ada Luna muncul nggak? Itu lho, kucing penyelamat yang ada di ceritanya Sailor Moon?” tanya Revie lugu sambil menjilati es krimnya.

Gawd, Revie!” seru Sid cepat. “Grown up! Lo itu udah besar, masih aja percaya yang kayak gituan.” Revie hanya mengangkat pundaknya, dia tersenyum lebar. Membuat beberapa orang yang ada di sini terkesiap. “Ya udah deh, terserah! Sekarang lebih baik kita pulang!” Sid menjentikkan jarinya, menyuruhku untuk segera bangkit. And dan Revie langsung berjalan paling depan, Zavan mengenakkan kembali kacamatanya dan berjalan beriringan dengan Sid. “Di depan banyak banget Wartawan Tiv,” beritahu Sid. “Lo minta pengawalan Polisi sana!”

“Biar gue aja!” kata And dengan suara beratnya. And menghampiriku dan melindungiku.

Aku berdeham dan menyentuh lengan Peter. “Ayo, pulang!” ajakku padanya. Tetapi Peter bergeming. “Hari ini aku mau jujur sama mereka soal hubungan kita. Nggak perlu ada yang disembunyiin lagi. Ayo!” bujukku sambil memasang wajah memohon. And yang berdiri di sebelahku juga memaksa Peter untuk ikut. Dengan berat hati dia mengangkat bokongnya dan bangkit dari tempat duduknya. Kuraih tangannya dan kugenggam, tidak peduli dengan lirikkan orang-orang yang ada di sini. Pada saat kami keluar dari kantor Polisi, semua cahaya menyilaukan menerangi mataku. And mendekap tubuhku ke dalam tubuhnya agar terlindungi. Ada untungnya juga ternyata mempunyai sahabat berbadan kekar seperti And.

“Tivo, bisa berikan kami penjelasan tentang kasus Anda?” tanya seorang Wartawan. Tetapi aku terus tak mengacuhkannya. Aku melangkahkan kakiku menuju ke arah mobil Zavan. “Tivo, lihat sebelah sini!” Blah-blah-blah-yawn! Aku tidak akan peduli, aku lelah ditanya-tanya. Untung saja penderitaanku akhirnya berakhir. Revie membukakan aku pintu, dan aku langsung memasukkan tubuhku ke dalam sana dan duduk dengan nyaman. Ah, paradise!

Peter sudah duduk di sebelahku saat And menutup pintu mobil. Cahaya-cahaya kamera itu terus menyilaukan mataku. Suara-suara yang saling bersahutan di luar sana benar-benar mengganggu telingaku. “Zavan mana sih?” tanya Sid dari bangku depan. “Dia yang nyupir kok malah ngilang si—“ Mata Sid terbelalak saat melihat keluar jendela. Zavan lagi ada di sana, sambil berpose bagaikan model ke arah para Wartawan itu. Ck! Bule gila satu itu! “Zavan!” teriak Sid kencang. Membuat Zavan menoleh dan sadar.

Zavan masuk dengan gesit, dia cengengesan saat dipelototi tajam oleh Sid. “Sori, gue kira gue lagi pemotretan.” Zavan menyalakan mesin mobilnya, dengan cepat dia langsung menjalankan mobilnya agar terhindar dari semua Wartawan-wartawan di luar sana. “Tapi sumpah deh, mereka juga tadi langsung nyuruh gue senyum dan action, meskipun sambil nanya-nanya juga sih soal lo Tiv—EW!” Zavan langsung menginjak rem, membuat Revie yang ada di atas pangkuan And terjatuh ke pangkuanku. “Kenapa si not-so-La-Isla-Bonita itu ada di sini?” tanya Zavan sambil membalikkan badannya untuk melihat Peter.

Sid juga ikut berbalik, tatapannya berubah ganas. Red alert, dead alert! “Euh—“ kataku gugup, aku sungguh tidak tahu apa yang harus—oh, for hell’s sake! “Guys, Peter dan gue… pacaran.” Zavan terhenyak kaget, dan mata Sid makin berubah ganas. Selamat datang Pemakaman Jeruk Purut, besok pasti aku akan dimakamkan di sana. “Gue sama Peter—“ Aku mencoba menjelaskan, tetapi Sid mengangkat tangannya, menyuruhku berhenti bicara. Yang tentu saja langsung kulakukan. Lihat saja aura menakutkan yang keluar dari matanya.

“Gue nggak sadar kalo lo Homo Terselubung, gaya lo aja Homophobia, ternyata doyan ngisep kontol juga!” kata Sid sarkas kepada Peter.

“Kalo gue kayak gitu emang kenapa?” tantang Peter, shit! “Dasar Homo brengsek!”

Sid tersenyum culas, dia memajukan badannya ke arah Peter. “Emang! Gue emang Homo Brengsek. Daripada ada Homo dibalik batu!” Lalu mereka berdua mulai bertengkar. Aku, Revie, And, dan Zavan saling melempar pandangan heran. “Gue nggak suka lo ada di sini, turun!” seru Sid kemudian, setelah pertikaian mereka berdua semakin sengit. Untung saja Zavan tidak ikut campur, karena dia memang bukan orang yang mudah mengintimidasi orang lain. Tidak seperti Sid yang bisa melakukan apa saja dengan sangat mudah.

Fine!” hardik Peter jengkel. Saat Peter ingin membuka pintu mobil, aku menahannya.

“Sid, listen!” ucapku pelan-pelan, berharap Sid ingin mengerti.

NO! You, listen!” gertak Sid mengerikan. Mati aku! “Lo sadar nggak Tiv udah berapa kali orang ini dan flocksnya nyari masalah sama flocks kita?!” tanya Sid ketus. “Dan sekarang lo ngasih kami pengumuman kalo lo pacaran sama dia. Sama si ketua flocks bodoh itu. Tell me if your brain is still fine now! Or your brain get mi-mi-bella, huh?” Aku mengernyit ketika Sid mengejek otakku sedang mengalami kerusakan akut. That’s hurt! Tapi memang salahku, Peter memang sangat suka merusak reputasi flocks kami di sekolah.

“Sid,” kata Revie lembut, dia memegang tangan sahabat kami satu itu. “Aku pengen kamu dengerin dulu penjelasan Tivo. Kamu nggak bisa ngomong kayak gitu kalo kamu nggak tau sejarah antara Tivo dan Peter.” Revie melirikku, menyuruhku untuk segera menjelaskan semuanya. Dan this is it… aku mulai menceritakan segalanya dengan hati-hati, agar Sid dan Zavan bisa mengerti. Aku menceritakan mereka segalanya, tentang Peter, tentang keluargaku, tentang persahabatan kami dulu dan semuanya. Aku menceritakan semuanya.

“Jadi Sid gue harap lo ngerti keadaan gue sama Peter,” kataku menutup cerita. Sid hanya, Oh!

 

–Bersambung to Chapter 12-End–

Nggak komen, nggak lanjut ke chapter terakhirnya lho. Hayoooo… ditunggu banyak-banyak dan panjang komennya yaaa… hehehe… :D

Mau promosi juga nih, bagi yang punya akun Goodreads, atau yang belum punya (kalian harus buat), rating dan review Bright Day ya. Rencananya gue mau bukuin tuh Bright Day, bagi yang ngasih Review memuaskan di sana (Goodreads) Gue bakalan kasih gratis deh satu buku Bright Day (Tapi nggak janji, kan belum tentu cetak). Atau paling nggak, gue kasih bentuk ebooknya deh, biar jadi koleksi di laptopnya (kayak ada yang minat aja! DUARRR!!!)

Ini linknya:

https://www.goodreads.com/book/show/19457234-bright-day

Ditunggu lhoooo :D

Stormy Day (10)

DIS_

Chapter 10

♂ Sullen

“Sembunyi?” Dahi Peter mengernyit dalam. “Kenapa aku harus sembunyi?” tanyanya santai. Dia malah membenamkan kepalanya di bantal. Jantungku yang sejak daritadi berdebar kencang karena takut akan dicaci maki oleh flocksku—kecuali Revie dan And—makin ngeri. “Lagian biar aja mereka tau. Kan kayak kamu bilang, suatu hari mereka memang harus tau soal hubungan kita. Walopun aku males banget sama si Sid! Aku masih inget banget pas dia—“ Peter cepat-cepat menghentikan ucapannya. “Intinya, biarin aja mereka tau.”

Aku mendecakkan lidahku tidak sabar. “Kamu mau kita ketahuan dalam keadaan—” Aku menunjuk badannya dan badanku yang— “telanjang kayak gini?” Peter hanya menaikkan alis agak tebalnya itu ke arahku untuk menjawab pertanyaanku tadi. “Peter! Bisa gawat kalo mereka tiba-tiba ngelihat kita kayak gini! Mereka nggak akan mau denger penjelasan kita—aku. Si Sid pasti bakalan langsung keluar gitu aja setelah ngelihat apa yang akan dia lihat nanti. Kamu tau kan Sid itu kayak gimana orangnya?” Peter hanya mengedikkan bahunya. “Daripada kita buang waktu—dan mereka makin deket ke sini—kamu harus sembunyi!”

Dengan gerakkan gesit aku beranjak dari tempat tidurku ke dekat lemari, di mana baju Peter bertengger saat aku membuangnya ke sana tadi malam. Kugunakan celana dan piamaku yang kancingnya banyak terlepas—akibat Peter—dengan gerakkan super duper cepat. Langkah kaki flocksku makin terdengar jelas di luar sana. Panic attack, red damn alert! “Sembunyi di mana?” tanya Peter seraya menggunakan kembali denimnya. Aku mengangkat pandanganku dan mencari tempat yang aman untuk tempat Peter bersembunyi. Think Tivo! Think!

“Kolong tempat tidur!” Aku menunjuk kolong tempat tidurku dengan kedua tangan. Agar Peter tahu kalau aku sangat berharap dia segera memasukkan badannya ke dalam sana. “Ayo, buruan!” kataku, sembari mendorong badannya. Peter kembali mengeluarkan kepalanya dari dalam kaos bajunya. Tidak jadi mengenakkan kaos tersebut di tubuhnya.

“Iya, iya,” gerutunya sembari membaringkan badannya ke lantai agar bisa masuk ke dalam kolong tempat tidurku yang lumayan lebar. “Bisa pelan-pelan nggak sih sama pacar sendiri?” Aku malah semakin keras mendorong badannya agar dia segera masuk. Karena pintu kamarku sudah diketuk dari luar, dan suara Mbak Kinan yang berujar pelan untuk memberitahuku kalau ada flocksku yang mau masuk ke dalam kamarku.

Cepat-cepat aku kembali naik ke atas kasurku dan memasang wajah datar. Meskipun aku tahu wajahku akan selalu datar bahkan tanpa kusuruh sekalipun. “Masuk aja Mbak!” Aku berseru lantang. Agar Mbak Kinan bisa mendengarnya. Pelan, pintu kamarku terbuka, memberikanku sebuah pemandangan Mbak Kinan yang sedang tersenyum lebar ala Pramugari dan ke-empat flocksku yang menggunakan seragam DIS. “Kalian ngapain ke sini?” tanyaku—berusaha—datar. “Tumben-tumbenan.”

Sid melepas kemejanya, dia membuangnya ke atas tempat tidurku. Pintu baru saja ingin tertutup saat tiba-tiba ada seseorang yang menahannya. Aku mengernyitkan wajahku saat melihat seorang cowok berbadan bidang dan mengenakkan seragam Polisi masuk ke dalam kamarku. Jangan bilang kalau Sid dan Zavan sudah tahu soal hubunganku dengan Peter, lalu dia ingin memenjarakanku karena aku telah berbohong! Lebay memang, tapi Sid bisa melakukan apa saja untuk menjatuhkan orang yang membuatnya kesal.

“Tuh kan, lo belum mandi!” Zavan ikut-ikutan melepas kemejanya. Saat aku menengadahkan kepalaku ke arah wajahnya, seperti ada sesuatu yang berubah di penampilannya.Tetapi apa? “Kita ke sini itu buat ngejemput lo! Sekali-sekali kita berangkat sekolah bareng. Biar kewl.”

Is that necessary?” tanyaku kemudian, saat masih juga bingung apa yang berubah pada penampilan Zavan. Aku yakin memang ada yang berubah pada diri bule loco satu itu. Hanya saja, aku masih belum tau apa. “I mean, kita kalo pergi berlima kayak gitu ntar malah kayak Clique. Rada aneh!” Aku menyandarkan tubuhku di kepala ranjang. Mencoba setenang mungkin menghadapi situasi ini. Sewaktu-waktu Peter bisa saja ketahuan. Apalagi ada Polisi di sini. “Sid, siapa tuh?” tanyaku ke arah Sid yang telah membaringkan tubuhnya di atas kasurku. Wajahnya masih sama seperti kemarin. Benar-benar muram.

Sid hanya menunjuk Zavan. Yang saat ini sedang tersenyum manis ke cowok berseragam Polisi itu. Revie menghempaskan tubuhnya di sebelahku, sedangkan And duduk di pinggir ranjangku sambil memainkan iPhone nya. Zavan menolehkan kepalanya ke arahku, matanya agak memicing ke piamaku yang agak terbuka. “Tiv, kenalin ini—“ Zavan mengerutkan keningnya, mencoba mengingat nama cowok berseragam Polisi itu— “Royzel.”

Aku menganggukkan kepala ke arah cowok itu. “Tivo,” ujarku, kuulurkan tanganku ke arah cowok itu. Dia tersenyum lebar, langkahnya tegas saat berjalan ke tempatku berada. Wajahnya memang sangat tipe Zavan. Tampan, jantan, dan sangat maskulin. Bahkan saat si Royzel-Royzel ini menjabat tanganku, aku bisa merasakan betapa kokohnya kekuatan cowok itu. Aku yakin Zavan benar-benar terpuaskan oleh cowok yang ada di depan mataku ini.

“Royzel. Tapi panggil aja Roy.” Royzel yang minta dipanggil Roy tersenyum sekali lagi kepadaku. Membuat lesung pipitnya kembali muncul. Membuat cambangnya agak meliuk seraya mengikuti lesung pipit tersebut. Roy melepaskan jabatan tangan kami, lalu pergi lagi ke arah Zavan. Jika diingat-ingat, orang yang memperkosaku dulu—yaitu Papa kandungnya Peter—adalah seorang Polisi juga. Tetapi Papa kandungnya Peter tidak setegap itu. Badannya juga tidak sebagus badan Roy, si bang—Papa kandungnya Peter agak buncit menakutkan.

“Lo mandi sana!” seru Zavan, dia menarik kursi belajarku agar Roy bisa duduk di kursi tersebut. “Kita masuk jam delapan lho. Dan ini udah jam—“ Zavan melihat jam tangan yang berada di pergelangan kanannya— “Masih jam tujuh ternyata.” Zavan memasang cengiran polos. “Tapi tetep! Lo buruan mandi sana! And aja yang suka lelet dateng ke sekolah pas kami jemput tadi, dia udah mandi.” Mata hazel Zavan masih melihat ke arah piamaku yang agak terbuka. Bukan tatapan nafsu seperti yang sering dia berikan pada cowok-cowok tampan di Gaybar, melainkan tatapan bingung. Agak-agak curiga.

Daripada Zavan bertanya tentang piamaku yang agak terbuka  ini, aku langsung beranjak ke kamar mandi. Sebelum aku menutup pintu kamar mandi, aku menoleh ke arah kolong tempat tidur. Tidak ada tanda-tanda kalau Peter akan ketahuan. Semoga saja itu akan berlangsung sampai aku selesai mandi. Aku tidak ingin menjelaskan kepada flocks ku kenapa ada Peter di kamarku. Bisa-bisa mereka—Sid dan Zavan, tentu saja—akan langsung menembakku dengan senapan yang terkalung di pinggang Roy. Astaga! Apa yang kupikirkan, itu terlalu hiperbolis.

Kulepas celana dan piamaku, kemudian segera menyetel di panel shower agar air yang keluar suam-suam kuku. Siraman air yang keluar dari dalam shower masih saja belum bisa membuat kegelisahanku hilang. What if, what if, what if! Kata-kata itu terngiang-ngiang di telingaku. Bagaimana jika Peter ketahuan? Aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan Sid katakan. Apalagi dia masih dalam keadaan muram begitu. Dia ceria saja aura kejam yang ada di dalam dirinya sudah sangat terasa. Dan sekarang dia dalam keadaan muram. Benar-benar akan meledak sahabatku satu itu.

Setelah semua sabun yang menempel di tubuhku tersapu bersih oleh air, aku langsung mengeringkan badanku dan menyikat gigiku di wastafel. Kukenakkan jubah mandiku lalu keluar dengan tergesa-gesa. Takut apakah Peter sudah ketahuan sekarang! Seharusnya tadi aku menyuruh Peter untuk bersembunyi di dalam lemari tempat aku menyimpan piama-piamaku. Dang! Kenapa aku tidak berpikir seperti itu tadi?! Daripada Peter bersembunyi di kolong tempat tidurku dan bisa ketahuan kapan saja oleh flocksku. Mana Peter tadi belum mengenakkan kaosnya sama sekali lagi.

Ketika aku keluar dari dalam kamar mandi, Revie sedang sibuk membolak-balikan buku pelajarannya. Oh, iya, hari ini ada Pop Quiz di homeroom Pathology dan juga ada praktek di homeroom Religion. Tetapi apa yang akan kami prakterkkan nanti? Ah, biar Tuhan, Ustadz Akbar dan Revie saja yang tahu. Nanti saja aku bertanya pada Revie saat aku sudah megenakkan seragam DIS ku. Kalau Sid sedang memejamkan matanya dalam-dalam di selimutku. Dia tidak sadar saja kalau selimut itu sudah terkontaminasi keringat Peter akibat pertarungan kami tadi malam. Kalau dia tahu pasti dia akan pergi ke Pemandian Air Panas Gunung Kapur Ciseeng Bogor untuk menyucikan diri. Lebih baik aku diam saja kalau begitu.

And masih saja sibuk dengan iPhone nya. Jika melihat tingkah And sekarang, aku seperti melihat diriku sendiri yang selalu sibuk dengan iPadku. Sekarang karena aku mempunyai kesibukkan yang lain—bercengkrama dengan Peter—aku agak sedikit melupakan iPadku itu. Aku bahkan belum mengecek kurva terakhir perusahaan keluarga kami yang ada di Laos. Nanti saja aku mengeceknya kalau begitu. Lagi pula iPadku ada di atas meja belajarku, dan Zavan sedang asyik ber-flirting ria dengan si Roy. Yang mungkin saja memang pacarnya.

Setelah memberikan seringaian basa-basi-gugup ke arah flocks ku, aku buru-buru masuk ke dalam walk-in wardrobe ku yang ada di sudut kamar. Saat aku sudah berada di dalam sana, aku langsung menutup pintunya dan memilah-milah t-shirt yang akan kugunakan untuk menjadi dalaman seragamku nanti. Dengan sangat gesit aku mengenakkan seragamku. Mengancingkan semua kancing itu di tempatnya. Kuraih dasiku dan menyampirkannya di leher. Di luar saja aku mengenakkan dasinya. Tidak enak jika aku terlalu berlama-lama. Peter bisa terlambat pergi ke sekolah.

Revie tersenyum lebar ke arahku saat aku berjalan ke meja tempat aku menaruh sisir dan kelengkapanku yang lain. Aku setengah mengernyit dan setengah tergugah melihat senyuman lebarnya. Senyuman yang benar-benar luar biasa indah, wajah kekanak-kanakkannya benar-benar menjadi sangat tampan karena senyuman itu. Revie tidak tersenyum saja dia sudah sangat tampan, apalagi dia tersenyum seperti sekarang. Aku baru saja ingin menyeringai ke arahnya, namun langsung urung saat mataku melihat postman bag Peter ada di atas meja adornku itu. Dan aku sadar, kalau Revie tahu Peter ada di sini. Aku yakin Revie memang tahu. Makanya dia tersenyum selebar itu.

Revie menarik kedua ujung dasiku agar mendekat ke arahnya. Dia menaikkan kerah bajuku lalu mulai memasangkan dasi itu di sekitarannya. “Ada Peter kan di sini?” bisik Revie, dia memilin-milin dasiku ke sana-kemari agar bisa terpasang dengan rapi. “Postman bag yang ada di atas mejamu itu bukannya punyanya dia ya? Aku lihat Peter tadi malem bawa itu pas di lapangan futsal.” Aku bisa saja berbohong kepada Revie. Aku bukan orang yang mudah ditebak seperti dia, tetapi yang bertanya ini Revie. Orang yang sangat bisa dipercaya. Jadi, alih-alih menjawab iya, aku hanya mengangguk.

Senyuman lebar ala malaikat jatuh itu muncul lagi di bibirnya yang ranum dan agak mungil. “Orang yang perkosa gue waktu itu ternyata bokap kandungnya Peter,” beritahuku pada Revie. Mata sahabatku satu itu melebar kaget. Bahkan dia menghentikan aktivitasnya pada dasiku. “Gue marah banget sama dia, karena dia udah nggak jujur soal itu. Tapi… gue rasa cinta ngalahin rasa marah itu. Lo bener Rev, cinta memaafkan segalanya.”

“Memang,” sahut Revie lembut. Tangannya kembali sibuk dengan dasiku. “Aku ikut seneng kalau akhirnya kamu bisa maafin Peter. Kamu udah kuanggap kakakku—meskipun yang lebih tua itu aku—setelah And, Sid, dan Zavan. Kalian semua sudah kuanggap saudara. Jadi, kalau ada salah satu saudaraku hidupnya bahagia, aku juga akan ngerasain hal yang sama.” Revie mengelus pipiku dengan penuh kasih sayang sebagai sahabat. Kini aku benar-benar bersyukur karena dulu sudah setuju untuk bergabung dengan kelompok kecil kami ini.

Suara musik tiba-tiba bertalu dari dalam stereo blast. “Gue suka lagu ini!” seru Zavan, bule satu itu mengambil satu batang rokok dari dalam kotak rokok Dunhill Mentholku. Lagu Waste dari Foster the People mengalun kencang di seluruh kamar. Tubuh Zavan bergerak seraya mengikuti lagu yang agak mellow-beat. Dia bergerak dengan penuh godaan ke arah si Roy. Sampai akhirnya bule loco satu itu naik ke atas pangkuan Roy dan melengkungkan badannya agar bisa duduk dengan nyaman. Zavan menghisap rokok itu dalam-dalam, didekatkannya kepalanya ke kepala cowok itu.

Tangannya yang bebas memegang dagu Roy, menyuruh cowok itu membuka mulutnya. Saat mulut Roy agak terbuka, Zavan menghembuskan semua asap rokok itu ke dalam mulut cowoknya itu. Yang langsung Roy buang melalui hidung. Ketika semua asap itu sudah membaur di udara, Zavan mencium dalam-dalam bibir Roy. Aku langsung mengalihkan padanganku ke arah lain. Revie yang berdiri di hadapanku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Bule satu itu memang benar-benar tidak tahu malu kalau ingin melakukan sesuatu yang sangat erotis seperti tadi. Pasti urat malunya sudah putus. Tetapi tidak heran juga sih, bule memang sangat percaya diri. Apalagi yang binal dan loco seperti Zavan.

Mataku kembali beralih ke arah Zavan. Yang saat ini sedang menaruh putung rokok di ujung meja belajarku. Tangannya yang satu lagi mencoba menggapai kamera Polaroidnya yang ada di samping kotak rokokku. Zavan tersenyum super manis kepada Roy, yang langsung Roy tanggapi dengan senyuman yang sama manisnya. Mataku memicing saat melihat Zavan menjilat dagu cowok itu. Revie terkekeh di hadapanku, dan aku mencoba menahan diriku untuk tidak berkomentar apa-apa. “Keluarin lidah kamu!” suruh Zavan dengan nada suara yang lumayan kencang untuk bisa kami dengar.

Roy mengernyitkan dahinya, namun cowok itu menurut. Dia mengeluarkan lidahnya malu-malu. Zavan memajukan kepalanya seidkit, kemudian dia juga ikut mengeluarkan lidahnya. Aku terkesiap saat melihat Zavan menempelkan lidahnya di lidah Roy. Zavan mengangkat kamera Polaroidnya lalu mengambil gambar dirinya dengan Roy yang sedang melakukan hal super erotis. Aku bisa merasakan Revie menghentikan aktivitasnya untuk memasangkan dasiku. Aku dan yang lain benar-benar tertegun melihat tingkah bule loco satu itu. Tetapi, buat apa terkejut?! Lagi pula yang sedang dibicarakan ini kan Zavan, si binal loony itu!

Torches!” seru Zavan saat dia selesai mengibas-ngibaskan slide hasil jepretannya tadi. “We look so astonishing in this pictah!” Zavan meneliti gambar yang muncul di slide itu, gambar yang berisi dia dan Roy yang saling menempelkan lidah.

“Yeah!” kata Roy, senyuman simpul muncul di bibirnya. “Bagus, tapi jangan sampe foto itu dilihat orang banyak! Apalagi sampe masuk sosmed, bisa-bisa aku dikeluarin dari kepolisian. Kamu ngertikan betapa susahnya jadi Polisi? Kita harus hati-hati dalam bertindak.” Roy mengambil rokok bekas Zavan dan menghisapnya dalam dan lama. Zavan terkekeh pelan, dia memasukkan foto itu ke dalam saku seragamnya. Mata hazelnya menatap intens cowok itu.

Take it easy! Aku nggak mungkin kok nyebarin foto seksi kita berdua. Nanti malah jadi bahan imajinasi para cowok gay coli di luar sana lagi. So, keep calm and sex me, ‘kay!”

Kay,” sahut Roy cepat. Zavan memasang senyuman penuh godaannya ke cowok itu. Dia menarik rokok yang ada di mulut Roy, kemudian mulai menghisapnya dalam-dalam. Zavan membalikkan badannya, namun tetap berada di atas pangkuan cowok itu. Dia memundurkan sedikit bokongnya agar mengarah ke arah selangkangan si Roy. Revie kembali terkekeh. Kini dasi yang hampir selesai terpasang di kerah seragamku tidak juga dikerjakan oleh Revie. Kami malah menonton Zavan yang sedang asyik menggoda cowok barunya itu—mungkin.

Lagu Waste dari Foster the People benar-benar cocok untuk gerakkan yang Zavan praktekkan saat ini. Dia meliuk-liukkan badannya di atas pangkuan Roy, bokongnya yang menempel di selangkangan cowok itu bergerak nakal. Bisa kulihat wajah Roy yang seperti orang menahan sesuatu agar tidak meledak. Zavan kembali menghisap rokoknya, dia mengedipkan matanya ke arah kami. Aura binal dan nafsu yang dia punya benar-benar keluar saat ini. Asap rokok yang membumbung di udara benar-benar membuat sosok Zavan menjadi sangat nakal.

Namun godaan Zavan harus terhenti saat itu juga ketika HP Roy berbunyi lantang. “Ada telpon dari kantor,” kata Roy agak terengah-engah. “Aku permisi keluar sebentar!” Zavan bangkit dari atas pangkuan Roy dan membiarkan cowok itu pergi keluar dari kamarku. Mata kami langsung tertuju ke arah selangkangan Roy. Dari balik celana ketat Polisinya, kami bisa melihat dengan jelas tonjolan yang mengeras itu. Zavan mengarahkan kamera Polaroidnya ke tonjolan Roy yang benar-benar… wow! Ketika si Roy sudah menutup pintu kamarku, Zavan tertawa kencang sambil mengibas-ngibaskan slide gambar yang ada di tangannya.

Disgustingly gross!” sarkas Sid dengan nada suara penuh ejekkan. Langit gelap seperti badai masih ada di wajahnya. Aku tidak tahu kalau Adam benar-benar bisa menguasai hidupnya seperti itu. Sid benar-benar seperti orang yang kehilangan arah, lupa bagaimana caranya ceria. Yah meskipun dia ceria tetap saja suka mengeluarkan racun sarkasnya itu kepada kami.

Don’t be such a wrecking ball!” seru Zavan, dia berjalan cepat menuju ke arah kulkasku. “But thanks for compliment.” Zavan menarik satu botol Corona dan sepotong jeruk nipis dari dalam sana. “Sid, mulai sekarang lo nggak usah uring-uringan terus, oke! Adam pasti bakalan balik kok sama lo. Get a clout! Kalo lo muram terus kayak gini, mendingan lo nulis di buku diary aja deh keluh kesah lo. Terus kirim ke Taylor Swift biar dibuatin lagu. Judulnya: Sid Sadness. Siapa tau lagunya bakalan ngalahin Royals-nya Lorde di Billboard.”

“Saran lo bagus juga, daripada gue menye-menye terus dan tiba-tiba jadi pecun menjijikan kayak lo,” ejek Sid dengan tampang sadis. Zavan langsung sadar kalau candaannya tadi dianggap serius oleh Sid. Bule satu itu benar-benar tidak sadar kalau Sid lagi dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk diberi candaan seperti itu. Zavan menurunkan botol Corona yang ada di tangannya. Menatap wajah Sid dengan penuh sesal.

“Gue cuman bercanda kok Sid,” kata Zavan sambil menatap wajah Sid lurus-lurus. “Sorry.”

Sid menghembuskan nafasnya panjang. “Whatever! Just don’t pound my alarm rite now!”

“Gue nggak bermaksud buat lo marah kok. Gue cuman mau menghibur lo doang.” Zavan memasang senyuman penuh sesalnya. Revie bergerak cepat ke arah Sid, menenangkan cowok itu. Hanya Revie yang selalu bisa membuat kami merasa lebih baik kalau sedang dalam keadaan yang sungguh-sungguh parah. Sebab itulah saat dia disakiti oleh Bagas berkali-kali, Sid bangkit untuk mengancam cowok itu. Ancaman yang kuyakini akan sangat mudah untuk Sid lakukan dengan sekali jentikkan jari.

Rupapologize accepted!” ujar Sid kemudian. Zavan tersenyum lebar, dia menekan tombol next di stereo blastku. Lagu Where Dem Girls At dari David Guetta mengalun kencang.

“Kamu sama Adam masih kelilit masalah itu ya?” tanya Revie tiba-tiba. Zavan menurunkan volume di stereo blastku. Mata kami berempat menoleh ke arah Sid yang masih memasang raut super duper sullen. Sudah seperti Bebek Buruk Rupa yang dibuang oleh Ibunya. Wajah yang sangat bukan Sid. Biasanya dia akan memasang wajah sadis, bukan sullen seperti sekarang. Kalau sudah dihitung-hitung, Sid sudah hampir seminggu selalu uring-uringan dan dalam keadaan yang sangat buruk. Dia harus dikembalikan ke mode sadisnya, karena jika dia muram seperti itu, aura sadis dan sombongnya makin terlihat galak.

Sid mengangkat kepalanya dari balik selimut. Dia menatap wajah Revie dengan pandangan pilu. Tidak lama lagi kami akan mendengar berita yang buruk. Aku yakin itu. “Lusa bakalan ada acara ucap janji pernikahan Adam. Kalian mau pergi bareng gue nggak ke acaranya itu di Bandung?” Mataku terbelalak lebar. Apa kubilang, beritanya bahkan lebih dari buruk. Itu namanya sangat-sangat parah. Berita buruk yang sangat parah. “Gue sama Adam memang belum putus, tapi di acara ucap janji pernikahan besoknya itulah kata putus nggak terucap bakalan ada di antara kita. Dia akan punya istri, dan gue bakalan jadi orang pertama yang ucapin selamat buat dia.” Sid tersenyum lebar, namun bukan kegembiraan yang ada di sana. Melainkan raut sedih yang sangat-sangat memilukan.

Aku menatap Zavan yang juga sedang menatapku. Ingin sekali aku mengatakan pada Sid semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya. Tetapi aku tahu bukan hal itu yang ingin Sid dengar dari mulutku, ataupun dari mulut yang lain. “Kayaknya bukan cuman orang-orang aja yang benci sama gue. Tapi Tuhan Jesus juga.” Sid kembali menenggelamkan kepalanya di dalam selimutku. Revie merangkul pundak Sid yang merosot makin dalam ketumpukan selimut, nada suaranya benar-benar seperti orang yang sangat menderita. “Tapi gue bakalan bahagia buat Adam. Gue nggak apa-apa. Kalau dia bahagia, gue yakin gue akan ikut bahagia juga karenanya,” gumam Sid dari dalam selimut.

“Tuhan nggak mungkin benci umat-Nya, Sid,” kata Revie, dia mengelus-ngelus punggung Sid yang tertutup selimut. “Aku yakin di balik cobaan ini bakalan ada hal indah yang nunggu kamu. Jadi kamu nggak usah ngerasa kalo Tuhan ngebenci kamu. Karena Tuhan sayang sama kamu, sama para umat-Nya. Bahkan ketika kita lupa sama Tuhan. Dia tetap akan cinta sama kita. Dan ngasih kita kebahagian di akhir hidup kita nanti.”

Sekali lagi Sid mengangkat kepalanya dari balik selimut. Dia menatap wajah Revie lama-lama. “Lo bener. Tuhan nggak mungkin benci sama gue.” Sid bangkit dari atas kasurku. Dia berjalan cepat menuju ke arah kulkasku dan mengambil sebotol San Miguel dari dalam sana. “Adam bakalan nikah, dan gue akan bahagia buat dia. Jadi, buat apa gue ngerasa sedih terus. Bukan pribadi gue banget.” Sid membuka tutup botol itu dan menegak isinya. “Lebih baik sekarang gue nerusin hidup aja. Iya, kan?” Zavan langsung mengangguk-anggukan kepalanya setuju. Sid menaikkan volume di stereo blastku, suara Nicki Minaj yang sedang menyanyikan salah satu lirik Where Dem Girls At menyeruak nyaring. “So, let’s celebrate for my single life!” Sid mengangkat botolnya ke udara, yang langsung Zavan dentingkan dengan botol minumannya. Aku menatap Sid iba. Aku tahu dia hanya berpura-pura bahagia.

Seperti yang sering kulakukan selama ini!

Zavan dan Sid menggerak-gerakkan badan mereka dengan heboh. Revie hanya tertawa pelan melihat tingkah kedua orang tersebut. “Kalian nanti bakalan mabuk lho kalo minum itu sampe habis. Kita harus sekolah empat puluh lima menit lagi,” kata Revie mengingatkan.

Don’t be silly!” sahut Sid cepat. “Ini cuman Bir, Revie. For God’s sake, nggak ada tuh istilahnya Bir bikin kita nge-fly like a G6. Yang ada cuman bikin sedikit tipsy. Admit it!”

“Iya sih, tapikan kita ada Pop Quiz di homeroom Pathology di jam kedua. Terus di jam ketiga kita ada praktek di homeroom Religion masing-masing. Aku sama Tivo nanti bakalan praktek Shalat Jenazah di homeroomnya Ustadz Akbar.” Revie menolehkan kepalanya ke arahku. “Kamu udah hafal belum doa-doanya Tiv?” tanya sahabatku yang pintar satu itu. Gawat! Aku saja baru tahu kalau prakteknya Shalat Jenazah. Bagaimana mungkin aku sudah hafal doanya. Pelan-pelan, aku menggelengkan kepalaku. Revie menatapku dengan pandangan Mamah Dedehnya. “Kalian semua ini pasti nggak ada yang belajar ya?”

Side ponytail, Revie!” seru Zavan kencang. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kacamata berbentuk aneh keluar dari dalam sana. “Ini Google Glass. Kemarin gue beli ini di eBay. Harganya cuman tujuh belas juta. Kacamata ini pakek WiFi. Jadi dia bisa internetan. Dengan perintah suara aja, kita bisa buka internet dan semua hal lainnya. See? Kalo misalnya gue ntar nggak bisa jawab—yang gue yakin memang gue nggak bisa, tsah-bleh-bleh!—gue langsung buka internet aja pakek kacamata ini. Gampang kan?”

Revie mengerutkan keningnya, aura Mamah Dedeh makin menguar dari dalam tubuhnya. “Itu berarti curang! Nggak baik!” seru Revie tidak suka. Tetapi Zavan hanya menaikkan pundaknya saja, tidak peduli. “Terus ntar pas kamu praktek di homeroom Religion kan, kamu pasti nggak akan pakek kacamata itu. Mana diizinin pakek kacamata kalau lagi praktek. Kecuali matamu benar-benar rabun. Dan aku yakin semua guru yang ada di DIS tau kalo kamu nggak rabun sama sekali. Kamu kan nggak pernah pakek kacamata sebelumnya.”

Zavan tersenyum lebar. “Gue Ateis Revie, dude. Sejak pertama kali gue masuk ke sekolah itukan gue centang Ateis pas ditanya soal Agama apa yang kita anut.” Zavan memasukkan kacamatanya ke dalam saku celana. “Jadi pas kalian—Sid dan And praktek di homeroom Agama Kristen dan lo sama Tivo di homeroom Agama Islam—gue lebih baik pergi ke homeroom Yoga aja. Daripada nungguin kalian selesai praktek! Kalian tau nggak kalo pembimbing di homeroom Yoga itu ganteng banget. Ck! Badannya super ugh-amanjing seksi. Di balik celana Yoganya, ada tonjolannya yang besar. Pasti kontolnya gede deh!”

Hooker, please! Inget Royzel-inget Royzel!” hardik Sid dengan nada mencemooh.

Damn! Apa kata orang Islam, oh, iya! Astagfirullah hul azim! Gue lupa kalo punya pacar.”

Kami menggelengkan-gelengkan kepala karena tingkah Zavan barusan. Kutatap wajah bule loconya itu lekat-lekat saat dia sedang asyik meminum Corona-nya hingga tandas. Kusipitkan mataku, dan kini aku tahu apa yang berubah di penampilan Zavan. “Kok rambut lo warna cokelat madu Zav? Bukan pirang kayak biasanya? Lo nyemir rambut ya?” tanyaku sekaligus banyak. Aku benar-benar tertegun melihat perubahan warna rambutnya.

Zavan menyentuh rambutnya dengan ujung jari. “Ini warna rambut asli gue kok. Pirang yang kayak biasanya itu cuman hasil semiran doang.” Zavan menaruh botol kosong Corona-nya di atas meja belajarku. “Nggak tau kenapa tiba-tiba semiran pirang gue luntur pas gue sampoan tadi pagi. Pulang sekolah nanti gue bakalan cat pirang lagi deh.” Kami menatap dalam-dalam warna rambut Zavan yang asli. Cokelat mengkilap seperti madu. Warna yang sangat cocok dengan tirus wajahnya yang oval. Dia tidak terlalu terlihat binal dengan warna rambut itu.

“Kenapa harus disemir pirang? Kayak gitu aja udah bagus kok,” kataku kemudian.

Sid terkekeh mengejek. “Kita tadi juga udah nanya kok Tiv sama dia soal itu. Tapi dia nggak jawab sama sekali. Sama kayak pas kita nanya soal cewek yang namanya Hermione. Mana mau tuh dia jawab.” Sid menatap lekat-lekat wajah Zavan yang menegang kaku. “Sekali lagi kita tanya sama lo Zav. Siapa itu Hermione?”

Mulut Zavan makin tertutup rapat. Mata hazelnya menatap lantai, badannya menegang kaku. Gestur tubuhnya seperti orang ketakutan. Zavan mengangkat pandangannya, dia menatap wajah Sid yang menuntut jawaban. Mulutnya terkuak sedikit ketika berujar. “Hermione itu…” Zavan menghentikan ucapannya, senyuman simpul muncul di bibir marunnya. “Sahabat baiknya Harry Potter.” Zavan memasang cengiran lebar ke arah kami. Dia menyisir rambut cokelat madunya ke belakang dengan gaya andalannya. Berlagak sok keren.

You such a stupidity Muggle!” dengus Sid kesal. “Di antara kita berlima, cuman lo doang aja yang sok-sokan nyimpen rahasia. Bahkan gue yakin Revie nggak tau isi rahasia yang lo simpen rapet-rapet ini. Emang apa sih salahnya ngasih tau hal itu ke kita? Lo anggep kita bukan sahabat lo ya?!” Sid menyipitkan matanya, menatap wajah Zavan dengan sangat tajam. “Kalo lo nggak curhat soal rahasia lo ini ke kita, lo bakalan selalu stuck in the moment! Karena gue yakin, rahasia lo yang satu ini menyangkut soal… hati.”

Zavan menguakkan sedikit mulutnya untuk menyahut ucapan Sid barusan, namun langsung terhenti saat pintu kamarku terbuka lebar. “Kalian sudah selesai? Sudah mau jam setengah delapan.” Roy tiba-tiba menginterupsi perbincangan kami. Dia tersenyum manis ke arah Zavan. Seakan-akan tidak sadar kalau sedang ada urusan penting di sini. “Aku bisa aja sih nunggu kalian kalo masih mau bincang-bincang, tapi aku dinas pagi hari ini. Dan setengah jam lagi aku harus ada di Kapolsek.”

“Kita udah selesai kok,” sambut Zavan sambil tersenyum. Dia mengambil kemeja DIS nya yang ada di atas kasurku. “Kamu tunggu aja kami di bawah! Bentar lagi kami bakalan turun kok.” Zavan berjalan cepat ke arah Roy dan mengecup bibir cowok itu singkat. Ketika pintu kamarku tertutup, Zavan berbalik ke arah kami. “Nanti gue bakalan cerita ke kalian kok siapa itu Hermione. Tapi nggak sekarang, oke!”

“Oke!” sahutku ketika tidak ada yang bicara di antara kami. “Oh, iya, kita ke sekolahnya pakek mobil siapa?” tanyaku, sekalian mengalihkan pembicaraan.

“Mobil Roy,” jawab Zavan. “His my fucking boyfriend, masa gue sih yang nebengin dia.”

Aku menatap kolong tempat tidurku. Berharap kalau Peter belum mati di bawah sana. “Kalo mobilnya bukan versi keluarga, mendingan gue nggak ikutan deh sama kalian. Ntar yang ada kita malah desak-desakkan. Gue bawa mobil gue sendiri aja.” Aku berujar panjang lebar. Kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak tega jika harus meninggalkan Peter sendirian di kamarku.

“Iya juga sih. Mobilnya Roy itu BMW. Versi mini lagi. Yang ada ntar kita malah saling pangku terus saling masukkin kontol ke lubang pantat masing-masing.” Zavan mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu. “Ya udah deh kalo gitu. Lo pergi ke sekolahnya bawa mobil sendiri aja. Biar sekalian ntar kita berempat nebeng di mobil lo kalo Roy nggak jemput kita.” Zavan membetulkan tata letak dasinya, mata hazelnya menatapku lekat-lekat. “Soalnya gue mau putusin Roy deh pas dia nurunin gue nanti. Dia itu orangnya nyebelin. Masa pas kita ngentot dia suka banget jepit kontolnya pakek ketek gue. Ew! Najing—najis anjing!” Zavan bergidik ngeri. “Lagi pula gue sama dia baru pacaran selama empat hari—rekor terlama pacaran gue untuk bulan ini. Thanks to Berhala!”

Revie cekikikan seperti anak kecil. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. “Jadi buat apa kalian ngejemput gue segala?” tanyaku ke arah mereka. Sid dan And hanya mengedikkan bahu. Revie memasang wajah super lugu, yang bisa disandingkan dengan anak bayi yang baru lahir. Zavan hanya menatapku sejenak. “Ya udah, kalian pergi sana duluan!”

“Lo ngusir kita?” tanya Sid dengan muka siap membunuh.

Aku meringiskan wajahku, menyiratkan kalau aku tidak bermaksud ingin mengusir mereka. Senyuman Sid mengembang lebar, tahu kalau aku sudah termakan nada kejamnya tadi. Sial! Kupikir tadi dia benar-benar marah. Ternyata hanya candaan belaka. “Iya deh, kalo gitu kita berangkat sekarang!” Zavan berjalan cepat menuju ke meja belajarku, mengambil kamera Polaroidnya. “Eh, kertas slidenya masih sisa satu nih. Gue juga mau ganti kertas slide yang baru aja. Kita fotoan yuk berlima!” Zavan mengangkat kamera Polaroid itu tinggi-tinggi. Revie dan And meraih pundakku dan aku memeluk pundak Zavan. “Katakan Pepek!”

“Pepek!” seru kami serempak, cahaya blitz dari kamera Polaroid tersebut membuat mataku silau. “Sekarang waktunya buat kalian pergi!” kataku sembari melepaskan pelukanku di pundak Zavan. “Sudah mau jam setengah delapan, dan kita bisa telat kalo masih ada di sini.” Mereka mengangguk-anggukkan kepala. Sid mengenakkan kembali kemejanya, langkahnya panjang saat menuju ke pintu luar kamarku. Revie dan And mengekor di belakang Sid.

“Nih, buat lo aja!” Zavan menyodorkanku kertas slide yang keluar dari dalam Polaroidnya tadi. Wajah kami berlima terpampang jelas di atas kertas slide itu. Untung saja wajahku tidak sekaku kemarin-kemarin di foto ini. “Oh, iya, ada yang pengen gue bisikkin ke elo!” Zavan menatapku dengan pandangan licik, seperti ada sesuatu yang dia tahu. Aku mendekatkan telingaku ke mulutnya. Suara Zavan berupa desisan saat memberitahuku hal itu. Seketika itulah aku tertegun. Tidak percaya dengan apa yang kudengar. “Yang lain juga udah tau soal itu. Gue cuman pengen ngasih tau lo aja.” Zavan menepuk pundakku pelan. “Kalo gitu gue pergi dulu ya! Papoy!”

Sarafku masih tidak bisa diajak bekerja sama. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang Zavan bisikkan padaku tadi. Aku tidak tahu kalau—Ya, Tuhan! “Aku boleh keluar sekarang nggak?” tanya sebuah suara, membuatku terkejut dari lamunanku. Aku menundukkan kepalaku dan melihat wajah Peter yang agak terselimut debu. Jika aku bisa tertawa, aku pasti akan mentertawakan wajahnya yang konyol itu. “Aku bener-bener nggak suka ngumpet!” gerutunya, aku tetap diam saja sambil membantunya berdiri. “Mana kamu sama flocksmu itu lama banget lagi ngomongnya. Untung aja penderitaanku udah berakhir sekarang.”

“Ya udah, kamu mandi sana! Ini udah mau jam setengah delapan, dan setengah jam lagi kita masuk.” Aku duduk di sisinya. Menatap wajahnya yang agak sinis. “Aku baru tau kalo kamu masang muka kayak gitu, mukamu malah makin ganteng.” Peter menolehkan pandangannya ke arahku. Matanya terbelalak kaget mendengar perkataan refleksku tadi. “Eh, maksudku itu bukan kayak git—“

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Peter sudah melumat bibirku lembut, seperti udara yang berhembus rindang. “Aku suka kalo kamu puji aku kayak tadi. Aku ngerasa kayak jadi orang yang satu-satunya ada di pikiran kamu.” Aku menjauhkan kepalaku, agar bibir kami tidak menempel. Aku takut kalau tiba-tiba kami malah tidak jadi pergi sekolah kalau lama-lama berciuman. Aku juga belum bilang padanya, kalau bibirnya itu candu. Yang membuatku selalu ingin menciumnya. Tetapi itu lebih baik aku simpan sendiri. Nanti saja dia tahu soal satu itu.

“Kamu mandi sana, ah!” Aku berdiri lalu menarik tangannya. Agar dia segera masuk ke kamar mandiku dan menyelsaikan semua ritual paginya. “Nanti kita telat!” Aku menatap wajahnya lekat-lekat, Peter hanya tersenyum ke arahku. Dia menggenggam tanganku erat-erat. Dia memajukan kepalanya lagi ke dekatku, cepat-cepat aku melipat bibirku agar dia tidak bisa menciumku. “Peter! Mandi sana!”

“Cium dulu, baru aku mau mandi!” Peter menatapku dengan pandangan jahil. Ck!

Aku mendengus sebal. Tetapi, meskipun aku sebal, tetap saja aku memajukan kepalaku dan mendaratkan bibirku di bibirnya yang basah karena dia habis menjilatnya dengan lidahnya sendiri tadi. Kuangkat tanganku dan mengelus wajahnya. Lidahnya terasa sangat manis ketika kusentuh dengan lidahku sendiri. Namun aku haru sadar kalau waktu tidak akan pernah bisa menunggu. “Sudah! Mandi sana!” Aku menjauhkan kepalaku dari kepalanya. Kudorong tubuhnya ke arah kamar mandiku.

“Aku baru mau mandi kalo kamu mau mandiin aku,” katanya licik.

“Peter!” seruku makin sebal.

“Tivo!” serunya balik. Ugh! Orang satu ini benar-benar menyebalkan. “Iya-iya aku mandi!” ujarnya cepat, dia langsung membuka pintu kamar mandiku dan masuk ke dalam sana sebelum aku sempat memukul lengannya dengan kepalan tanganku. Suara tawa Peter terdengar nyaring ketika dia menutup pintu kamar mandi. Orang satu itu sungguh bisa membuatku sebal dan gemas dalam satu waktu yang hampir bersamaan. Tetapi bukan berarti aku tidak suka, hanya saja hal itu terkadang cukup mengganggu. Aku jenis orang yang sangat suka dengan ketenangan. Meskipun aku sangat jarang mendapatkan hal itu.

Tak sampai sepuluh menit Peter sudah keluar dari kamar mandi. Hanya mengenakkan celana dalam hitamnya. Aku membuang pandanganku ke arah mana saja asal jangan ke celana dalamnya yang menantang minta dirobek tersebut. “Kamu pakek seragam aku aja! Name tagnya ntar tutupin aja pakek kemeja.”Aku menunjuk walk-in wardrobeku agar Peter segera masuk ke sana dan mengenakkan seragam DIS yang mirip seperti sekolah yang ada di London. Seragam yang benar-benar membuat masa SMA ku menjadi sangat buram. Dari dulu aku ingin sekali menggunakan putih-abu-abu, tetapi hal itu tidak akan pernah terjadi.

Jam tujuh lewat tiga puluh lima menit barulah Peter keluar dengan mengenakkan seragam DIS ku yang muat di tubuhnya. Tentu saja muat, tubuhku sangat sama dengan tubuhnya. Tinggi badan dan berat badan. “Kita pergi sekarang?” tanyanya sambil menyisir rambutnya di depan meja adornku. Aku beranjak dari atas kasurku dan mengangguk. “Tapi sarapan dulu ya. Aku laper.” Peter mengenakkan sepatunya lalu menyamai langkahku ketika menuju ke arah lift yang ada di dalam rumahku.

“Oke!” jawabku singkat. Kutekan angka satu di panel lift ketika Peter sudah berdiri di sebelahku. “Oh, iya, nanti siang dan sore aku mau ketemu sama beberapa orang. Ada urusan yang pengen aku selesain.” Aku menyandarkan tubuhku di dinding kaca lift. Aku harus segera mengakhiri hubunganku dengan semua orang dewasa itu. Meskipun permainan orang dewasa lebih hebat daripada permainan orang yang masih muda, tetapi dengan Peter aku merasakan semua hal yang selalu kudambakan. Jadi buat apa lagi mencari hal yang sudah kutemukan. Aku tidak ingin melakukan hal itu lagi.

“Ketemu sama siapa?” tanya Peter penasaran.

“Ada deh.” Aku berjalan cepat menuju ke ruang makan. Peter tidak mengucapkan apa-apa lagi setelah itu. Dia terus mengikuti langkahku dari belakang. Saat kami sudah berada di ruang makan, ada Mamaku di sana sambil memakan roti bakarnya. “Mama?” panggilku lekas. Kulangkahkan kakiku makin cepat. Saat aku sudah berada di samping Mamaku, kucium hangat keningnya. “Oh, iya, ada Peter di sini.” Aku mengibaskan tanganku agar Peter segera menghampiri kami.

“Pagi, Tante,” sapa Peter lembut. Ketika kami duduk di kursi masing-masing, Mamaku mulai berbincang-bincang dengan Peter tentang segala hal. Aku hanya bisa mendengarkan saja.

“Tante seneng kalau kalian udah akur lagi,” kata Mamaku sambil tersenyum lebar. Dia menatapku dan Peter bergantian. “Berarti Mama tinggal nunggu Vick masuk ke dalam rumah ini lagi.” Mamaku menutup majalah yang ada di tangannya. Dia merapikan blazernya dan tata letak kacamatanya yang ada di atas kepalanya. “Mama mau pergi ke kantor kita yang ada di Jakarta Pusat. Kamu sama Peter baik-baik ya di sekolah.”

Mamaku baru saja ingin bangkit ketika tiba-tiba Peter berujar padanya. “Tante, kalo saya boleh tau, kenapa ya Om… Diatmika jahat banget sama Tivo pas dia masih hidup dulu?” tanya Peter takut-takut. Aku melotot mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Bahkan Mamaku tertegun di kursinya. Dia menatap wajah Peter dengan pandangan terkejut. Tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan tersebut. Aku yakin Mamaku tidak akan menjawab pertanyaan Peter tadi. Mamaku selalu menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Namun aku salah, Mamaku membuka mulutnya dan menjawab pelan. “Karena Tante sudah bunuh perempuan yang Om Diatmika cinta.” Aku dan Peter tersentak di tempat duduk kami. Aku menatap wajah Mamaku yang sedih dalam-dalam, berharap kalau Mamaku hanya bercanda. “Papa kamu, Tivo, sudah menikah diam-diam pas dia dijodohin sama Mama. Kamu tahu kan orang Keraton suka saling ngejodohin anak mereka?” Aku menganggukkan kepalaku. Eyangku bahkan pernah ingin menjodohkanku dengan wanita keraton saat aku masih SMP dulu. Untung saja Mamaku menolak usul Eyangku waktu itu. “Pas Mama ketemu sama Papa untuk pertama kalinya, Mama langsung jatuh cinta sama dia. Dan saat Mama tahu ternyata dia sudah menikah diam-diam, dengan jahatnya Mama ngasih tau istri pertama Papa kamu kalo dia nggak akan pernah cocok dengan orang berdarah biru seperti kita.”

Mamaku menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Jadi Mama suruh dia pergi dari tanah Jawa. Mama kasih dia tiket kapal supaya dia pergi jauh-jauh dari Papa kamu dan Mama bisa mendapatkan Papa kamu seutuhnya. Dan saat rencana Mama sudah berhasil semuanya, dan Papa kamu nikahin Mama, Papa kamu tau soal hal itu. Dia marah besar, dia maki-maki Mama, dia sumpahin Mama macam-macam. Sampai akhirnya dia mau jemput istri pertamanya di Sulawesi. Tapi pas dia udah ketemu alamat istri pertamanya di sana, ternyata perempuan itu udah meninggal saat ngelahirin bayi dari Papa kamu. Bayi itu juga meninggal karena perempuan itu melahirkan tanpa bantuan siapa-siapa.”

“Papa kamu pulang dan sumpahin Mama kalo anak yang Mama kandung bukan anaknya dia. Papa kamu juga bilang, kalo dia nggak akan pernah sayang dan cinta sama Mama dan kandungan Mama. Dia benar-benar benci sama Mama. Benci semua hal tentang Mama.” Mamaku mengangkat pandangannya, dan menatap wajahku dengan pandangan penuh penyesalan. “Yang salah bukan dia karena udah siksa kamu, Sayang. Tapi semua itu salah Mama. Mamalah yang jahat di sini, bukan Papa kamu. Yang harusnya disalahi dan mati itu Mama. Bukan dia.” Pundak Mamaku merosot, air matanya mengalir lancar dari kedua bola mata hitamnya. Aku berdiri dan memeluknya erat.

“Nggak ada yang harus disalahi Ma. Manusia selalu membuat kesalahan. Entah itu disengaja, ataupun nggak disengaja. Tivo yakin Mama orang baik, Tivo percaya itu.” Aku makin mengeratkan pelukanku di tubuh Mamaku yang lemah. “Segala hal yang awalnya nggak baik, akan selalu berdampak nggak baik juga di akhirnya. Tapi Ma, kita bisa belajar dari hal itu. Belajar jadi orang yang lebih baik dari kita yang sebelumnya.” Tangisan Mamaku semakin menyeruak nyaring. Aku tahu kalau Mamaku benar-benar menyesal dengan hal jahat yang telah dia lakukan pada si baji—Papaku.

Aku ternyata salah, dia tidak sakit jiwa. Papaku hanya dibutakan oleh rasa dendam. Seperti aku yang selalu dendam pada Peter. Namun bedanya, aku tahu caranya pulang ke hatiku.

***

Menyelesaikan hubunganku dengan Serly ternyata lebih gampang daripada dengan Ferdi. Aku tidak tahu kalau dia jenis laki-laki yang sangat suka drama. Aku benar-benar tidak menyangka, kalau di balik tubuh Om-Omnya itu, ternyata dia sangat kekanak-kanakkan. Aku harus belajar sabar. Kenapa sekarang bukan bulan Puasa saja, supaya aku bisa menahan amarahku pada Om-Om berotak tulalit yang ada di depanku ini.

“Emang aku salah apa sih sama kamu? Kita aja baru ketemu dan kamu mau akhiri hubungan kita gitu aja?” Ferdi menatap mataku dengan pandangan setengah menuntut dan setengah memohon. “Kamu tau kan kalau kita udah berhubungan hampir satu tahun ini. Dan kamu mau akhiri gitu aja tanpa ada alasan yang pasti. Tentu aja aku nggak bisa terima.”

Selain Om-Om berotak tulalit, ternyata dia Om-Om agak gelo! “Lo nggak ada salah apa-apa. Gue cuman nggak pengen aja nerusin hubungan ini sama lo. Lagi pula lo udah punya istri—“ Yang beberapa menit lalu baru aku putusin gitu aja. “Jadi… mendingan kamu urus istri kamu aja, oke!” Aku meraih iPadku yang ada di atas meja. Kutatap logo Starbucks saat dia menatap wajahku dengan pandangan meneliti. Aku benci kalau orang menatapku dengan pandangan seperti itu. Ingin sekali aku menyetrumnya dengan kursi yang ada di ruang bawah tanahku.

“Pasti ada orang lain kan? Makanya kamu akhiri hubungan ini gitu aja.”

“Kalaupun ada, itu bukan urusan lo kan?” tanyaku malas. “Denger ya, lo sama gue nggak ada hubungan apa-apa lagi mulai sekarang. Semua rendezvous yang pernah kita lakuin dulu, anggap aja cuman untuk main-main. Gue udah nggak pengen ngelakuin hal itu lagi. Lo udah punya istri, jadi urus istri lo! Lo udah bayar pepek untuk lo nikahi, jadi jangan cari lubang pantat dan kontol di luar sana!” Aku berujar panjang lebar, semua amarah yang ada di kepalaku akhirnya keluar juga. “I’m done now! Bye!”

Cepat-cepat aku berdiri dari dudukanku. Namun Ferdi menahan tanganku. Cengkraman yang dia lekatkan di tanganku ternyata cukup menyakitkan juga. Kini dia jadi Om-Om psycho. “Kalo kamu akhiri hubungan kita sekarang, aku nggak akan kerja sama lagi dengan perusahaan kamu. Camkan itu!” ancamnya dengan mata menyipit garang. Dia menekuk bibirnya dengan gestur serius. Kini aku makin yakin kalau aku memang harus segera mengakhiri hubunganku dengan orang satu ini.

Whatsoever! Gue masih punya banyak orang kok yang mau kerja sama bareng gue.” Kusentakkan tanganku dari cengkramannya. Sebelum dia mulai berkoar-koar lagi, buru-buru aku melangkahkan kakiku ke pintu keluar Starbucks. Kini aku mendapatkan pelajaran kedua, jangan pernah pacaran dengan Om-Om bertipe seperti Ferdi. Membuat emosiku naik saja. Kini yang tersisa hanya satu, yaitu Alex. Setelah Om-Om satu itu, kini aku hanya punya Peter di hidupku. Dan aku yakin satu saja sudah lebih dari cukup untukku.

Alex ingin menemuiku di apartemennya yang ada di bilangan Sudirman. Apartemen tempat Zavan tinggal. Untung saja dari Starbucks tadi sampai ke apartemen ini tidak lumayan jauh. Jadi saat hari badai mulai datang di atas langit, aku sudah berada di dalam apartemen ini dan menuju ke lantai dua belas untuk pergi ke kamar apartemen milik Alex. Ketika aku sudah sampai di kamar apartemennya, kuketuk pintu itu pelan. Alex langsung membukakanku pintu dan menyilahkan aku masuk. Saat Alex menutup pintu dan berbalik ke arahku, mataku bertemu dengan matanya yang tajam itu. Dan aku langsung sadar, mata itulah yang kulihat waktu itu di dalam rumahku. Mata melotot itu!

Belum sempat aku bicara, tiba-tiba Alex memukul kepalaku hingga kegelapan menyeruak.

 

–Bersambung–

Sibuk, makanya nggak pernah bales komen. Hehehehe… maklum, orang ganteng selalu banyak kerjaan. *dihajar!*

Tapi tenang aja, gue nggak mungkin mengabaikan kalian terus kok. Ketika rasa *halah bahasa gue!* semangat mengalir di darah gue, gue akan membalas komen kalian. That’s for sure, of course :-P

Stormy Day (9)

DIS_

Chapter 9

♂ Stormy Day

Sontak badanku menegang kaget. Walaupun aku tahu kata-kata itu akan keluar dari dalam mulutnya. Mata itu benar-benar sama dengan mata yang selama ini menghantui hidupku. Ketika aku digerayangi oleh si Bangsat, aku bisa melihat dengan jelas mata hitam bergaris kecokelatannya. Dan sekarang, mata itu sangat mirip dengan mata Peter saat aku menyipitkan mataku untuk melihat sesuatu di dalam bola matanya. Tentu saja sama, karena si Bangsat adalah Papa kandungnya. Aku tidak mengerti kenapa hidupku, hidup kami harus seperti ini!

“Aku tau kamu akhirnya sadar karena mataku ini. Mata yang aku benci setengah mati!” seru Peter gusar. “Di ulang tahunku yang kelima, Mama dan Papa kandungku pindah ke Belgia, karena Papa jadi salah satu pengawal bersenjata di kedutaan besar Indonesia di Belgia. Tapi, baru beberapa bulan kami di sana, dan pas Mama lagi nggak ada di rumah, Papa mau nyoba buat perkosa aku.” Aku makin menegang kaku di tempatku berdiri. “Tapi nggak jadi karena Mama tiba-tiba muncul dan ngelihat kejadian itu. Setelah itu Mama minta cerai ke Papa, dan kami pulang ke Indonesia. Beberapa bulan setelah itu Mama nikah lagi, dan aku masuk SD di DIS.” Peter menatapku sendu, berharap aku paham dengan penuturannya. “Lalu aku ketemu kamu, mungkin kamu lupa, tapi aku nggak lupa.”

“Papa kandungku sama Papamu temenan, Mama kita juga sahabatan. Pas umur kita empat tahun waktu itu aku sama kamu udah saling kenal. Makanya pas kita masuk SD di DIS, aku ngedeketin kamu, karena hanya kamu satu-satunya orang yang kukenal waktu itu.” Peter menundukkan kepalanya. “Dan pas kamu diper—perkosa waktu itu, aku mau nolongin kamu. Tapi pas aku lihat orangnya, aku bener-bener ketakutan. Karena semenjak Mama dan Papa kandungku cerai, mereka nggak pernah saling ketemu lagi. Tapi aku selalu inget muka nafsu binatangnya itu, sebab itulah Tiv, aku benci banget sama yang namanya Homo! Homo yang kayak Papa kandungku, aku benci mereka. Dan aku benci diriku sendiri karena nggak sanggup buat nolong kamu. Jadi, aku mohon Tiv, maafin aku!”

“Ke—kenapa lo nggak pernah kasih tau gue?” tanyaku, kutinju kencang pundaknya. Peter hanya meringis, dia kembali membiarkan aku melukainya. “Kenapa lo nggak pernah cerita soal itu?!” Aku mendorong tubuhnya sekuat mungkin, hingga badannya menghempas pintu locker. “Kenapa lo diem aja?!” Aku memegang wajahku, membiarkan air mata yang ada di pelupukku jatuh ke pipi.

Peter terkulai lemas melihat air mata yang mengalir lancar di pipiku. “Karena aku nggak mau buat kamu lebih sakit hati lagi.” Peter berjalan mendekat ke arahku, tangannya menyapu air mata yang membasahi kulit pipiku. “Karena aku tau, pas kita punya hubungan dulu, kamu nggak bener-bener tulus sama aku. Kadang kamu bener-bener bisa bahagia di sampingku, tapi kadang-kadang kamu juga menderita. Kalo aku nyeritain hal itu juga ke kamu, aku yakin kamu makin nggak mau kenal sama aku. Aku nggak mau itu, karena aku cinta sama kamu!”

Untuk beberapa saat, aku hanya memandang wajahnya yang benar-benar tersiksa. Masa lalu itu kini menghantuiku. Mata Peter membangkitkan segala kenangan buruk itu. Ketika si Bangsat tersenyum lebar dan menelanjangi tubuhku, ketika matanya yang menakutkan itu menatap seluruh tubuhku dengan pandangan menjijikan, membuatku benar-benar bergidik dalam ketakutan. Kini, ketakutan itu kembali bangkit. Aku tidak ingin mengulang semua ketakutan itu kembali. Namun kenapa aku masih tidak bisa beranjak dari tempat ini?!

“Aku bakalan nebus kesalahan Papa kandungku, Tiv,” kata Peter pelan, dia meraih tanganku, menggenggamnya dengan penuh tekad. “Aku nggak bakalan ngelukain kamu kayak Papaku. Aku minta maaf semua hal jahat yang pernah dia lakuin ke kamu. Aku minta maaf, Tiv.”

Kubuang pandanganku menjauh dari mata Peter. “Terus kenapa hari itu lo lari? Pas gue minta tolong sama lo buat selamatin gue?” Aku masih ingat saat Peter berbalik dan berlari menjauh tanpa menoleh ke belakang lagi. Aku meneriaki namanya hingga beberapa kali, namun dia tetap saja berlari. Menjauh dariku, mengkhinati persahabatan kami. “Gue cuman pengen lo jelasin semuanya, karena gue udah maafin lo!” Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah Peter, dan matanya kembali masuk ke dalam pikiranku. Namun entah mengapa, mata itu lebih lembut dari mata si Bangsat.

“Aku nggak lari,” ucapnya setengah berbisik. “Aku pergi ke kantor polisi, untuk ngelaporin apa yang aku lihat. Tapi semua polisi itu bilang aku ngibulin mereka. Aku udah berkali-kali ngeyakinin mereka buat dateng dulu ke rumah kamu, tapi mereka bilang nggak bisa karena masih banyak kerjaan lebih penting daripada ngedengerin anak sebelas tahun ngerengek di depan mereka. Aku juga pergi lagi ke rumah kamu malemnya, tapi aku diusir sama pengawal Papamu. Aku udah nyoba semuanya Tiv, aku udah berusaha buat nolong kamu. Maafin aku, maafin aku karena nggak bisa kuat buat kamu. Aku—“

Aku menutup kedua telingaku erat-erat dengan tanganku. Tidak ingin mendengarkan kata-kata yang akan terlontar dari mulut Peter. Aku membenci semuanya, aku membenci segala hal kejam yang terjadi pada hidupku. Aku benar-benar berharap ini semua hanyalah mimpi buruk, tetapi kenapa aku tidak terbangun juga dari tidurku?! Dan pada saat aku memejamkan mataku, bisa kurasakan Peter mendekat dan memeluk tubuhku kuat-kuat. Air mataku kembali mengalir, namun kali ini bukan karena rasa sedih, namun karena penuh rasa penyesalan. Aku telah menghakimi Peter, menuduhnya pengkhianat, padahal selama ini dia selalu berusaha untuk menjagaku semampunya. Aku benar-benar bodoh!

“Tivo,” panggilnya lirih. “Aku bakalan nebus semua hal yang udah Papaku lakuin ke kamu. Aku bakalan nurutin segala hal yang kamu mau, tapi aku mohon, jangan suruh aku buat jauhin kamu! Karena aku nggak akan bisa ngelakuin hal itu.” Peter membisikkan semua kata-kata itu di dekat telingaku. Aku bisa merasakan betapa menderita perasaannya, begitu pula aku. Kami berdua benar-benar diberikan takdir yang sungguh kejam. Membuatku bertanya-tanya, apa kesalahanku dan Peter? Sehingga kami harus diberikan begitu banyak hal berat seperti ini. Apakah kami tidak pantas bahagia?! “Aku bakalan nebus semuanya.”

“Jangan!” sahutku parau. “Jangan lakuin hal itu!” Aku membuka mataku, kumundurkan sedikit kepalaku agar bisa menatap wajahnya. “Jangan nebus kesalahan Papamu, aku nggak mau!” Aku mengelus tepian rahangnya yang tegas, merasakan betapa kokohnya dia ingin bersamaku. “Aku mau kamu jadi kamu yang apa adanya. Aku mau kamu cinta sama aku karena kamu memang ngerasain hal itu.” Aku mulai bisa merasakan hatiku yang menghangat, aku harus berdamai dengan hatiku sendiri. “Semua hal ini bukan mau kita. Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu, karena akulah orang yang jahat di sini. Bukan kamu, aku nggak pantes nerima permohonan maaf kamu. Aku yang seh—“

Peter membekap mulutku dengan tangannya, mata kami kembali saling berpandangan lama. Namun kali ini aku sadar, mata itu sangat jauh berbeda dengan mata si Bangsat. Mata itu begitu lembut, begitu penuh pengertian, dan aku sadar, dia bukan lah cerminan dari si Bangsat. Dia hanya seorang Peter. Peter yang mencintaiku, bahkan ketika aku sulit memaafkan rasa dendamku padanya. “Kamu nggak usah minta maaf, karena aku akan selalu maafin kamu bahkan sebelum kamu minta.”

Bibir kami baru saja ingin bersentuhan, namun tiba-tiba ada seseorang yang memekik kaget di belakangku. Mata cowok itu menatap kami antara jijik dan kaget, dia menunduk lalu lari terbirit-birit untuk keluar dari locker room. Peter hanya terkekeh pelan di dekat telingaku.

“Aku mau ganti baju dulu,” kata Peter sembari melepaskan tangannya di pinggangku. Entah bagaimana, perasaan marah karena kini aku tahu Peter adalah anak kandung si Bangsat, tiba-tiba menghilang begitu saja. Mungkin karena aku bukan orang yang bisa lama marah seperti And, aku hanya mudah dendam, tetapi itu dulu sebelum aku mendengar semua penjelasan Peter. Dia sengaja menutupi semua hal itu agar aku tidak memikirkan masa laluku lagi, betapa butanya aku selama ini. Menyalahkan keadaan sehingga Peter terkena rasa dendamku.

“Jadi—“ Mataku terbelalak lebar saat Peter menarik jerseynya hingga terlepas dari tubuhnya. Bisa kulihat dengan jelas bentuk tubuhnya. Tidak sebagus And memang, dan tidak seseksi Bagas, tapi ada hal yang membuatku berubah gusar saat melihat kulit tubuhnya yang mengkilap karena terkena silauan lampu. Cepat-cepat kubuang pandanganku saat Peter mengalihkan matanya ke arahku. “Jadi, si Bang—maksudku, yang perkosa aku waktu itu Papa kandungmu?” tanyaku, agak gugup saat Peter mendekat ke arahku untuk mengambil postman bag nya yang bertengger di sebelahku. Bisa kucium wangi keringatnya yang—sial!

“Iya. Bukannya kamu bisa lihat ada beberapa kesamaan aku sama orang itu,” ujar Peter cepat. “Bola mataku sama kayak dia, bentuk rambutku sama kayak dia!” Peter menunjuk semua yang dia katakan. “Terus, aku dengan dia nggak beda jauh, sama-sama suka cowok! Dan cowoknya kamu.” Aku mendengus getir, membuat Peter mengelus pipiku lembut. “Tapi selebihnya dari itu, kami beda. Aku nggak akan brengsek kayak dia, aku nggak akan jadi Homo pemerkosa kayak dia, dan aku suka sama kamu nggak kayak dia. Aku suka kamu karena cinta, dia suka kamu karena nafsu! Dia sama aku beda Tiv. Kami beda!”

Kuanggukkan kepalaku, menengadah sedikit ke arah Peter. “Aku percaya kamu sama dia memang beda. Kalo kalian sama, aku akan sadar dari kemarin-kemarin kalo kamu memang anaknya dia. Tapi karena kamu memang nggak sama kayak dia, makanya aku baru tau kamu sekarang. Karena mata itu, mata yang selalu gue lihat setiap kali dia nundukkin kepalanya buat nyium gue. Mata yang selalu ngelihat gue dengan tatapan naf—“ Aku menghentikan ucapanku. Aku tidak ingin kenangan buruk itu masuk kembali ke kepalaku. “Intinya aku memang yakin kalo kamu memang beda sama dia.”

Peter tersenyum hangat. “Lagi pula dia udah meninggal, aku dan kamu nggak akan lihat dia lagi di dunia ini.” Peter menyisir rambutnya ke belakang dengan jari. Membuat otot tangannya bergerak nakal. “Papaku yang sekarang lebih baik dari dia. Namaku sebenernya bukan Peter Djojonegorodiningrat, tapi Peter Purnadiredja. Tapi pas Mama nikah sama Om—eh, Papa baruku itu, aku dan Mama ganti nama belakang. Pernikahan Mama sama Papa baruku dilaksanain di Bali, waktu itu kamu dan keluargamu diundang, tapi nggak ada yang bisa dateng. Padahal waktu itu aku bener-bener ngarepin kamu dateng.”

“Mana aku ngerti, aku masih umur lima tahun dan nggak begitu inget sama kamu.” Aku mendesah berat saat Peter melepas celana bolanya, membuat pahanya yang liat bergerak lincah seraya dia menariknya keluar dari dalam celana. Sebisa mungkin aku tidak menoleh ke arah selangkangannya, namun mataku memang jahil. Tanpa diduga aku malah melihat benjolan itu di balik celana dalam hitamnya yang agak ketat. Peter tersenyum lebar saat melihat rona merah di pipiku. “Pertama kali aku kenal sama kamu itu pas kita sama-sama umur empat tahun, mana mungkin aku bisa inget semua hal tentang kamu.”

“Tapi aku inget,” sahut Peter, dia sengaja berlama-lama mengenakkan denimnya kembali. Sengaja membuat wajahku memerah karena melihat tubuhnya yang hanya mengenakkan celana dalam merek entah-apa-karena-aku-terlalu-fokus-dengan-benjolannya. “Aku masih inget pas kita berantem gara-gara Puding cokelat waktu itu. Tapi, yang paling aku inget itu pas kamu lebih milih ngalah dan nyuruh aku berhenti nangis. Damn, I’m so sniveling! Dulu.”

“Ya, ya,” kataku malas. “Ngomong-ngomong kapan kamu bakalan pakek baju sama celana?” tanyaku mulai merasakan ada sesuatu yang mengganjal di tubuhku saat melihat tubuh telanjangnya yang agak mengkilap itu. Sudah berapa lama aku tidak menatap lekat-lekat tubuhnya? Saat di kolam berenang waktu itu aku tidak terlalu memperhatikannya dengan lekat seperti ini. Aku waktu itu terlalu fokus untuk menjauhinya, namun sekarang sudah tidak lagi. Aku malah suka melihat tubuhnya yang hanya mengenakkan celana dalam ketat itu! Zavan memang benar, aku memang jalang!

Peter tersenyum lebar, puas karena akhirnya bisa membuatku gerah. Untung saja aku tidak seperti Zavan. Yang akan menerkam segala bentuk cowok seksi berperawakan elegan di depan mata. “Emang kenapa kalo aku nggak pakek-pakek pakaianku?” tanyanya sok lugu. Dia menaruh kedua tangannya di pinggang, membuat bisepnya menegang kencang. Dada dan perutnya terbentuk rata, meskipun belum kekar, tetapi menunjukkan ke arah sana beberapa bulan—ralat—minggu lagi.

Aku pura-pura mendecakkan lidahku kesal. “Aku mau pulang, capek!” Walaupun agak susah, akhirnya aku bisa mengalihkan pandanganku ke arah lain. Peter tertawa pelan di depanku, membuat bulu kudukku merinding karena suara tawanya yang renyah. Peter menggunakan kembali t-shirt dan denimnya. Setelah semua pakaiannya sudah benar-benar melekat di tubuhknya, Peter meraih tanganku dan menggenggamnya. “Nggak usah Pet, ntar ada yang lihat! Kamu mau kita dicemooh orang?”

Tetapi Peter tidak melepaskan tangannya sama sekali, dia malah makin mengeratkannya. “Emang yang ngasih kita makan mereka apa?” tanya Peter saat kami sudah berada di luar locker room. “Lagi pula itu hak mereka mau cemooh kita, nggak usah dipeduliin. Anggep aja kamu lagi dengerin Anjing gongong.” Peter tersenyum lebar, giginya yang tidak rapi namun putih memancarkan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Aku mengangguk sekali, kemudian ikut mengeratkan genggaman tangan kami yang terpaut.

Beberapa orang menoleh ke arah kami, mata mereka menatap tangan kami yang saling terpaut menjadi satu. Ada beberapa orang yang mulai berbisik-bisik, ada juga yang tertawa, ada juga yang menatap kami aneh, tetapi aku tidak peduli. Aku harus membangkitkan sifat cuek yang ada di dalam diriku. Anggap saja semua orang itu patung busuk seperti yang ada di cerita Lian dan Alvan, yang hanya memperhatikan namun tak perlu didengar ucapannya. Tangan Peter juga sangat hangat ketika menyatu dengan tanganku, membuatku merasa ada, membuatku merasa dicintai. Aku tidak ingin melepaskannya, sudah cukup drama kelam yang ada di dalam hidupku membuat semua orang yang kusayang tersakiti.

“Kita ke Sushi Tei atau ke Sabang16?” tanya Peter saat kami sudah berada di dalam mobil Ferari nya. Hujan deras tiba-tiba berubah makin ganas, sepertinya malam ini akan badai besar. “Atau kamu mau ke tempat makan yang lain?” Peter menyalakan mobilnya saat angin kencang berhembus di luar sana. Bisa kulihat pohon dan beberapa tiang lampu bergoyang pesat. Dan aku yakin beberapa jam lagi pasti ada petir dan guntur yang akan menggelegar di atas langit yang hujan.

“Anterin aku pulang aja,” kataku sambil memasang seat beltku. “Kayaknya bakalan stormy day lagi hari ini.” Aku menolehkan kepalaku ke arah Peter, matanya menyipit kecil agar bisa melihat jalanan dengan lebih leluasa. Buliran air hujan menerpa kaca mobil, membuat kami sulit untuk memandang ke depan.

“Iya, lebih baik aku anterin kamu pulang aja, jalanan Jakarta pasti bakalan banjir kalo udah hujan deres kayak gini.” Peter mematikan AC mobilnya, karena suhu berubah sangat dingin.

Kilat mulai menyambar di langit hitam yang ada di atas kami, membuatku tersentak kaku di tempat dudukku. Tidak ada suara petir dan guntur memang, tetapi warna kilat yang keputihan itu sangat menakutkan. Banyak hal menakutkan yang masih sangat sulit untuk kulupakan jika melihat warna kilat menyambar. Peter seperti menyadari gelagat anehku, dia melepaskan tangannya dari kemudi dan sebagai gantinya dia mengelus punggung tanganku sejenak. Untuk menyuruhku tenang, yang langsung kulakukan segera. Jika ada Peter, aku yakin aku pasti akan baik-baik saja.

Kami sampai di rumahku sekitar empat puluh menit, padahal kalau hari tidak badai, kami akan sampai di rumahku dalam waktu setengah jam saja. Aku melepaskan seat beltku dan menatap Peter yang sedang menoleh ke arahku dan tersenyum. “Kamu mau langsung tidur atau mau nunggu aku pulang, terus kita telponan sampe tengah malem?” tanyanya lekas. Peter tersenyum kecil ke arahku, dari balik cahaya lampu aku bisa melihat wajah sayunya.

“Kenapa kamu nggak mampir dulu? Siapa tau Mamaku mau ketemu sama kamu.” Aku ber-pura-pura merapikan kerah Lacoste-Poloku. “Lagian hujannya deres banget, lebih baik kamu nginep sini aja malem ini.” Aku mencoba sekuat mungkin untuk menunjukkan wajah datarku padanya. Tidak ingin memperlihatkan wajah penuh harapku. Aku tidak ingin Peter cepat-cepat hilang dari pandanganku. Aku masih ingin bersamanya.

“Bilang aja kalo kamu mau aku tidur di sebelah kamu malem ini,” godanya, dia menaik-naikkan alisnya dengan genit. Kutinju pelan lengannya, membuat wajahnya agak mengernyit.

“Kalo kamu nggak mau juga nggak apa-apa,” kataku sembari membuka pintu mobil. Aku tidak benar-benar kesal, aku hanya mau melihat apakah dia akan turun dari mobilnya dan mampir ke rumahku. Namun saat aku menginjakkan kakiku di tangga teras rumah, Peter belum juga keluar dari dalam mobilnya. Aku mendesah kecewa, dia memang tidak akan mampir ke sini malam ini. Tidak apa-apa kalau begitu, lain kali dia pasti akan mampir ke sini. Lagi pula, kenapa aku jadi jalang begini?!

“Siapa yang bilang nggak mau?” ucap Peter, tiba-tiba dia ada di sebelahku. Di pundaknya tersampir postman bagnya. “Masa main ke rumah pacar pakek nolak,” katanya sambil tersenyum nakal. Aku hanya bisa menggeleng dan menyuruhnya masuk. “Berarti itu tandanya iya kan? Berarti kita berdua memang pacaran?” tanyanya, wajahnya berubah penuh sumringah. Aku mengangguk saat kami sudah berada di living room. Peter terlonjak senang, dia melingkarkan tangannya di pundakku, yang kali ini tidak akan kutepis.

Ketika aku dan Peter sudah berada di relax room, tempat Mamaku biasanya nonton TV sambil menikmati Spa session nya di rumah, Mamaku tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. Kuambil iPhoneku lalu menelpon Mama. Pada nada sambung kesembilan, barulah Mamaku mengangkat telpon. “Mama ada di mana? Ada di Peter di rumah.” Mamaku menjawab kalau dia masih ada di Pacific Place dengan Tante Windry—Mama Vick. “Mama masih lama di sana?” tanyaku kemudian.

“Masih, Sayang,” jawab Mamaku di ujung sana. “Mama masih mau lihat-lihat pakaian yang Tante Selena baru bawa dari Milan. Mama titip salam aja ya buat Peter. Bilang sama dia, suruh Mamanya besok sore main ke rumah. Mama udah nelpon berkali-kali ke nomor HP nya tapi nggak aktif. Bilang juga sama Peter kalo Mamanya dicari sama Jeung Prapancangera dan Jeung Darhamukmana.” Aku mendesah panjang, paling malas kalau harus mendengar ocehan Mamaku soal teman-temannya. “Jeung Darhamukmana bilang kamu sahabatan juga ya sama anaknya? Kalo nggak salah tadi nama anaknya And gitu.” Aku berdeham, untuk mengiyakan pertanyaan Mamaku. “Ya udah deh kalo gitu. Sayonara, Sayang!”

Aku memasukkan kembali iPhoneku ke dalam saku celana belakang. “Mama masih di PP sama Mamanya Vick dan And.” Aku menatap bingung wajah Peter yang selalu tersenyum sejak daritadi. “Mama titip salam ke kamu. Dia bilang suruh Mamamu dateng ke rumah besok sore.” Peter menganggukkan kepalanya cepat. Aku memikirkan hal apalagi yang harus kukatakan padanya. “Euh, kamu mau makan apa?” tanyaku mulai basa-basi yang sangat basi. “Chef Gema pasti bakalan langsung masakkin makanan yang kamu mau.”

“Aku nggak laper,” timpal Peter, dia mengangkat pandangannya ke seluruh wajahku. “Emang kamu laper?” tanyanya, yang langsung kujawab dengan gelengan kepala. Aku memang tidak lapar, dan aku tahu apa penyebabnya. “Kamu bilang tadi capek, ke kamar kamu aja yuk! Sekalian baring-baring di sana. Soalnya aku juga capek dan mau mandi. Gerah habis main Futsal tadi.” Belum sempat aku menyahut ucapannya, Peter sudah menarik tanganku dan menekan tombol di panel lift. Ketika kami berada di dalam lift, kami seperti dua orang bodoh yang saling lirik-lirikkan. Tangan Peter yang ada di atas pergelangan tanganku benar-benar membuat jantungku berdegup kencang, gugup.

“Masuk!” kataku sembari membuka pintu kamarku. Peter berjalan di belakangku, dan tentu saja tangan kami masih terpaut. Tetapi sebisa mungkin aku memasang wajah datarku, seolah-olah sedang tidak merasakan apa-apa. Sampai akhirnya Peter melepaskan tanganku dan aku bisa menghirup nafas dengan lega. Peter menaruh postman bagnya di dekat stereo blastku. “Kamu mau minum sesuatu nggak?” tanyaku, kubuka kulkas yang ada di kamarku, pura-pura mencari sesuatu untuk kami berdua. “Coke atau Pepsi?”

“Coke,” sahut Peter. “Tapi bukan Coke Bottle, Coke a Tin Can aja.” Aku mengambil Coke kaleng yang ada di dekat freezer, dan mengambil satu Pepsi untukku. Ketika aku berbalik Peter sedang mengotak-ngatik stereo blastku, dia menekan tombol play dan lagu Love Somebody dari Maroon 5 terdengar lantang. Aku menyerahkan Coke yang ada di tanganku untuknya. Untuk beberapa nano sekon kulit tangan kami bersentuhan, saling berinteraksi dengan hawa dingin yang menguar dari kaleng Coke. Lagi-lagi senyuman Peter muncul, kali ini senyuman miringnya.

Tiba-tiba ada sebersit ide yang muncul di kepalaku, ide jahat—atau bandel—yang pasti bisa membalas perlakukan jahilnya tadi saat di locker room. Aku mundur beberapa langkah, dan menarik lepas Lacoste-Poloku. Ketika baju itu sudah lolos dari tubuhku, bisa kulihat mata Peter yang terbelalak lebar, aku menahan seringaianku. Sekarang siapa yang merah mukanya, heh?! “Aku mau ganti baju dulu, mau pakek piama.” Aku menaruh Lacoste-Poloku di tempat baju kotor, kulangkahkan kakiku ke arahnya, Peter bergerak gugup di tempatnya berdiri. Kali ini aku tertawa di dalam hati. Ketika kulit lenganku bersentuhan dengan lengannya, dia mengejang kaku. “Piamaku ada di belakang badanmu, minggir!” Aku mendorong lengannya, dan bisa kurasakan matanya menelusuri seluruh tubuhku yang setengah telanjang.

Hanya saja aku bukan anak nakal seperti Peter, setelah membalaskan apa yang ingin kulakukan padanya, aku mengenakkan piamaku. Peter mendesah lega di sebelahku, dia cepat-cepat menyesap Cokenya. Lagu Love Somebody akhirnya berganti ke lagu I’ll Be Comin’ Round dari Lomo. Lagu yang pernah aku dan Peter gunakan sebagai latihan dansa waktu itu, saat mau homecoming DIS ketika kami SMP dulu. “Dance?” tawarnya tiba-tiba, Peter berlutut di depanku. Coke yang ada di tangannya telah berpindah ke atas meja belajarku.

“Kayaknya pas kita latihan dulu, aku deh yang berlutut buat nawarin kamu?” tanyaku heran.

Peter tersenyum miring. Lagi. “Gantian lah. Kan kita memang suka gantian gitu,” ujarnya, alisnya dia naik-naikkan lagi. Orang satu ini memang sangat suka menggodaku! Infernal!

Aku meraih uluran tangannya dan masuk ke dalam pelukannya. Kutaruh kedua tanganku di pinggangnya, dan dia menaruh tangannya di sekitaran pundakku. Aku masih ingat gaya ini, setiap kali aku mendengar lagu Lomo, aku selalu teringat akan dansa kami waktu itu. Dansa yang kami lakukan di balkon teratas DIS, agar tidak ada satu orang pun yang melihatnya. Dan rencananya kami akan dansa di Prom Night dengan lagu ini juga, tapi sayang, aku dan Peter sudah tidak saling bertegur sapa. Tetapi tidak apa-apa, sekarang aku dan dia sudah kembali seperti semula, dan aku akan menggunakan kesempatan ini dengan baik.

Peter memutar tubuhku sekali, membuat kakiku limbung dan malah jatuh ke dalam dekapan dadanya. Peter hanya terkekeh di atas kepalaku. Aku memundurkan kepalaku, lalu memutar tubuhnya. Namun aku tahu dia berpura-pura jatuh ke atas dadaku, aku menyeringai dan mendekapnya di dalam pelukanku. Untuk beberapa saat kami hanya bergerak mengikuti suara musik yang begitu merdu. Saat mataku dan matanya bertemu, Peter mengusapkan tangannya di pipiku, membuatku tak sabar ingin melakukan hal yang sama. Tanpa aba-aba, aku langsung mendorongnya ke atas kasurku. Peter memekik kaget, namun tidak protes.

Kucium bibirnya, perlahan namun pasti. Peter menerima bibirku dengan cara membuka mulutnya dan membiarkan lidahku masuk ke dalam mulutnya. Aku bisa merasakan soda Coke yang ada di atas lidahnya, dan bisa juga kurasakan betapa dinginnya lidahnya. Namun dingin dalam artian yang berbeda, dingin yang memabukkan. Aku menarik lidahnya hingga masuk ke dalam mulutku, membuat bibir atasnya mengapit bibir atasku. Aku benar-benar rindu ingin melakukan hal ini dengannya. Kuturunkan kepalaku dan mulai mencium lehernya yang beraroma keringat dan susu cokelat.

“Aku belum mandi, aku masih bau keringet,” katanya, sembari menjauhkan kepalaku.

Aku menyeringai, meskipun bukan sebuah senyuman, namun aku tahu Peter sadar kalau aku memang sudah berusaha untuk tersenyum ke arahnya. “Nggak apa-apa,” ujarku sembari menyelusuri jariku di rahangnya. “Aku suka bau keringetmu.” Aku menundukkan kepalaku dan mencium kembali bibirnya. Bisa kurasakan Peter tersenyum lebar di atas ciuman kami. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam bajunya, menelusuri setiap jengkal kulit badannya yang hangat dengan telapak tanganku. Aku mengangkat kepalaku dan meloloskan Peter dari bajunya yang sangat mengganggu. Peter pun melakukan hal yang sama, dia menarik piamaku dengan kekuatan penuh. Membuat beberapa kancingnya terlepas. “Peter!” tegurku sambil melihat nasib piama kesayanganku.

Peter hanya cengengesan sambil melepaskan piama itu dari tubuhku. Ya, sudahlah, aku masih bisa membeli piama yang baru. Lagi pula ada hal yang lebih menarik dari piamaku. Aku kembali menundukkan kepalaku dan mulai mencium dalam-dalam bibirnya, sampai bisa kurasakan betapa manisnya lidah dan liurnya yang masuk ke dalam mulutku. Peter meremas bokongku ketika aku mengangkat sedikit tubuhnya. Perlahan aku melepaskan ciuman di bibir kami. Sebagai gantinya aku mulai menciumi rahangnya yang ditumbuhi janggut halus, menjilat kecil telinganya lalu turun ke lehernya. Peter menggelinjing di bawahku. Kuhisap dengan rakus lehernya, membiarkan bekas merah itu menempel jelas di sana.

Kembali kuturunkan ciumanku ketika sudah puas dengan lehernya. Kucium dadanya, berlama-lama di sana. Sampai akhirnya aku membasahi putingnya yang ada di sebelah kanan dengan liurku. Aku menjilat, memainkan putingnya yang hitam dan ditumbuhi beberapa bulu halus di sekitarannya. Kuhisap putingnya hingga masuk ke dalam mulutku, lalu kujepit dengan gigiku. Peter mendesah berat, perutnya naik turun tidak beraturan. Kumasukkan tanganku ke dalam celananya, dan bisa kurasakan penisnya sudah menegang dan berdenyut-denyut minta diloloskan. Kuelus-elus kepala penisnya dengan precumnya yang lengket.

Setelah selesai dengan putingnya yang ada di sebelah kanan, aku memindahkan jilatanku ke puting kirinya. Putingnya yang ini kumain-mainkan di dalam mulutku, kusapu putingnya yang mengeras dengan lidahku. Membiarkan puting itu mengeras dan berdiri tegak minta digigit dengan gigiku. Perut Peter makin naik-turun tak beraturan, nafasnya juga mulai tersengal-sengal. Aku menyeringai di atas kulitnya, kusapu seluruh badannya dengan lidahku. Merasakan rasa asam dan manis yang ada di tubuhnya dengan indera pengecapku.

Aku meremas penisnya dengan tangan kananku, kuturunkan resleting celananya dan mulai menarik menjauh denimnya. Kulepaskan celana dalamnya dan melihat penisnya yang agak berurat seperti punya And. Meskipun lebih besar punya And. Tetapi aku lebih suka punya Peter, apalagi ketika sudah masuk ke dalam mulutku seperti ini. Rasanya sangat pas!

Aku memaju mundurkan kepalaku, membiarkan bulu-bulu halus yang ada di sekitaran penisnya menggelitik hidung dan pipiku. Aku mengangkat kedua kaki Peter, menyuruhnya untuk melebarkan sedikit kakinya. Perlahan, aku mulai memasukkan jari telunjukku ke dalam lubang anusnya. Peter menegang, dan jari telunjukku benar-benar terjepit di dalam sana. Aku kembali menjilat sekitaran penisnya, menghisap precumnya yang keluar dari lubang penisnya dengan sigap, membuat Peter mendesah makin berat dan rileks. Aku memperdalam jari telunjukku ke dalam anusnya yang sangat hangat, sempit dan begitu kesat.

“Tiv, gaya favorit yuk!” suruhnya lembut, aku mengeluarkan jariku dari dalam anusnya. Kuanggukkan kepalaku dan mulai menarik menjauh celanaku. Bisa kurasakan Peter menatap penisku dengan mata terbelalak kaget, senyuman muncul di bibirnya. “Punyamu masih bengkok ternyata! Tapi, nggak apa-apa, aku suka yang bengkok-bengkok.” Aku mendengus kasar, membuat Peter terawa pelan. Kuangkat tubuhku dan mulai memposisikan penisku di atas mulutnya. “Mundur dikit, mulutku masih nggak nyampe!” Aku memundurkan kakiku sedikit, tangan Peter dengan cekatan memegang penisku dan mulai mengocoknya. Aku meracau kecil, cepat-cepat kubungkam mulutku dengan penis Peter yang berdenyut-denyut.

Sudah berapa lama aku tidak memposisikan gaya ini di hidupku? Oh, semenjak aku dan Peter mengakhiri hubungan, aku dan semua lelaki dewasa itu tidak pernah melakukan hal ini. Mungkin hanya dengan Peter aku melakukan posisi 69 seperti ini. Aku di atas tubuh Peter, dan Peter di bawahku. Dengan mulut kami yang saling mengulum penis, benar-benar bisa membuat tubuhku menggelinjing tidak tahan dengan sensasi yang menguar dari dalam tubuhku. Aku kembali memasukkan telunjukku ke dalam lubang anusnya, yang langsung kususul dengan jari tengahku juga. Lubang anus Peter makin lama makin rileks.

Peter memukul pelan bokongku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sedang mencubit kecil putingku. Aku medesah sembari menjilati semua precum yang keluar dari dalam lubang penisnya. Karena aku sudah tidak tahan lagi dengan jilatan yang Peter lakukan di penisku, aku menariknya keluar dan mengganti posisi kami. Aku meposisikan gaya kami ke semula. Kucium bibirnya yang basah, menggigit rakus bibirnya yang kenyal. Kuangkat kedua kakinya ke atas bahuku dan mencoba membuat Peter lebih rileks dari sebelumnya. Peter mengaitkan kedua kakinya di dekat leherku, dan kutaruh satu bantal di bawah pinggulnya. Aku menggosok kedua putingnya dengan mulutku.

“Kamu tau kan pasti sakit awalnya?” tanyaku, berbisik di telinganya. Peter mengangguk segera. Dia menekan bokongku ke dekat selangkangannya. Menyuruhku untuk melakukan tindakan yang akan kulakukan padanya. Aku mengangkat badanku sedikit, lalu mulai mengarahkan penisku ke dalam lubangnya. Peter menutup matanya dengan tangan kanan, namun tangan kirinya mencoba mengocok penisnya sendiri agar rileks. Saat kepala penisku masuk ke dalam lubang anusnya, Peter menggeram perih. Cepat-cepat aku mencium dan menggigit putingnya agar dia rileks. Lubang anus Peter perlahan namun pasti mulai sedikit memudahkan penisku untuk masuk ke dalamnya. Bisa kurasakan betapa hangat dan sempit lubang anusnya. Aku yakin Peter memang tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain setelah putus dariku. Aku bisa merasakannya.

“Ah…” desah Peter saat semua penisku sudah masuk ke dalam lubang anusnya. “Maju-mundur Tiv!” perintahnya sambil menggeliat di bawah dekapanku. Aku mulai menekan tubuhnya dengan bobot tubuhku sendiri dan mulai memaju-mundurkan pinggulku. Lubang anusnya yang sempit benar-benar seperti menjepit penisku, dan bisa kurasakan kalau aku sudah mulai menabrak prostatnya. Peter mulai berseru-seru tak karuan. “Tabrak lebih kuat, Tiv!” titahnya, dengan nada penuh permohonan. Aku mempercepat sedikit tempoku, lubang anus Peter makin menjepit penisku, membuatku melenguh tak karuan. Aku benar-benar rindu akan momen kami seperti ini. “Kocok, Tiv! Kocokkin!” Peter melepaskan tangannya dari penisnya, sebagai gantinya aku yang mengocoknya. Pelan-pelan saja tetapi kumainkan dengan ujung jariku. Kutekan-tekan bagian bawah kepala penisnya, membuat penisnya makin berdenyut keras. “Ah, shit!” racau Peter kencang.

Kutundukkan kepalaku dan mulai menciumi bibirnya yang terbuka. Kujilat bibirnya, membiarkan lidahnya bergerilya di atas bibir atasku. Kupercepat tempo permainanku, dengan posisi seperti ini Peter pasti benar-benar menikmatinya. Aku sengaja melakukan hal ini, aku ingin membuatnya nyaman bersamaku. Aku sudah terlalu banyak salah padanya, aku akan menebusnya dengan membuatnya merasakan kenikmatan. Aku tidak ingin dia merasakan sakit hati lagi karenaku. Akulah yang salah selama ini, bukan dia. “Aku keluarin di delam aja nggak apa-apa?” tanyaku di dekat telinganya. Peter mengelus punggungku, penisku yang berada di dalam lubang anusnya berdenyut marah, ingin segera minta diselesaikan.

“Oke!” katanya, sembari menekan bokongku hingga makin menghantam selangkangannya. Kukocok penis Peter lebih cepat dari sebelumnya, kuusap-usap kepala penisnya, membuat Peter menggelinjing di bawah tekanan tubuhku. Saat aku menekan lubang penisnya dengan jempolku, tiba-tiba seluruh spermanya keluar dengan kencang. Meluncur keluar dan membasahi tubuhnya dan dadaku. Lubang anus Peter makin menjepit penisku, membuat penisku seperti digigit sesuatu yang sangat nikmat. Aku mencium dalam-dalam bibirnya, menekankan lidahku ke dalam mulutnya. Badanku menegang saat penisku mulai berkontraksi dengan jepitan lubang anus Peter. Bisa kurasakan betapa kencangnya spermaku keluar di dalam lubang anusnya. Aku memekik di dalam rongga mulut Peter.

Kurebahkan badanku di atas badannya. Peter masih mengelus-ngelus lembut punggungku. Keringat membasahi tengkukku dan keningnya. Hawa panas permainan kami terus membaur di udara. Badan kami lengket akibat terkena sperma Peter. Setelah penisku sudah tidak tegang lagi, aku menariknya keluar dari dalam lubang anus Peter. Kubaringkan tubuhku di sebelahnya. Mengelap sperma yang ada di tubuh kami dengan selimut. Peter naik ke atas dadaku, memeluk tubuhku dengan hangat. Dia tidur di atas dadaku, sesekali dia menciumi leherku. Aku hanya bisa mendesah dan mengeratkan tanganku untuk mendekapnya.

“Sudah berapa lama ya kita nggak ngeseks kayak gitu?” tanyanya, nafasnya masih belum beraturan. “Aku bener-bener nggak habis pikir, ternyata rasanya memang lebih nikmat yang sekarang daripada yang dulu. Mungkin karena kita masih agak awam, tapi sekarang, ckck, aku nggak tau kamu belajar dari mana bisa ngeseks sehebat itu.” Peter mencium dadaku lama-lama, membiaskan rasa hangat bibirnya di sana.

Well, aku udah delapan belas tahun Pet, kamu juga. Masa permainan kita kayak dulu terus? Nggak bosen apa? Gaya 69, telentang, udah gitu aja. Sekarang harus lebih kreatif.”

Peter terkekeh laun, hawa nafasnya menerpa kulitku halus. “Iya, aku tau. Kita memang harus lebih kreatif. Jangan kayak dulu lagi!” Aku menganggukkan kepalaku, meskipun aku tahu Peter tidak akan melihatnya. Saat aku ingin memejamkan mataku untuk tidur, aku melihat ada sesuatu yang menempel di belakang pundaknya. Aku menyentuh ukiran aneh itu, membuat Peter menengadahkan kepalanya. “Itu tato,” ucapnya setengah berbisik. “Itu tulisan Ukraina. Artinya… Tivo.” Aku mengerutkan keningku. “Tato itu artinya nama kamu. Aku buat tato ini pas liburan ke Ukraina bareng Mama sama Papa tiriku waktu itu. Papa bolehin aku buat Tato sebagai kado ulang tahun yang ketujuh belas. Karena aku bingung mau buat tato apa, jadinya aku buat nama kamu deh.”

Aku mengusap rambutnya, benar-benar terkesima dengan hal yang dia lakukan untukku. Sebegitu besarkah dia mencintaiku? “Hampir tiga tahun kita nggak saling sapa, hal apa lagi yang aku nggak tau soal kamu?” Aku menepis rambutnya yang mengganggu. Agar mata Peter yang lembut dan penuh cinta itu mengarah ke arahku dengan intens. Aku suka cara dia menatapku, sangat beda dengan tatapan yang diberikan oleh si Bangsat—Papa kandungnya.

“Aku mau jadi Fotografer. Mau keliling Afrika dan Madagaskar untuk foto semua bintanag keren yang ada di sana.” Aku kembali mengerutkan keningku. Bukannya dia waktu itu mau jadi Tentara. “Ya, ya, aku tau,” katanya seperti bisa membaca pikiranku. “Aku nggak jadi mau masuk Tentara, kan kamu tau aku udah… jebol.” Dia menunjuk anusnya. Ah, iya, aku mengerti sekarang. “Makanya aku lebih milih jadi Fotografer. Sama-sama seru juga kok.”

“Kalo gitu, kita kejer cita-cita kita berdua. Aku jadi pengusaha, kamu jadi Fotografer.” Peter tersenyum miring, dia membaringkan kembali kepalanya di atas dadaku. Hujan deras dan angin kencang yang ada di luar sanalah yang menjadi lagu pengantar kami tidur malam ini.

***

Aku terlonjak kaget saat bunyi petir dan guntur menggelegar di luar sana. Serangan panik tiba-tiba masuk ke dalam kepalaku. Aku mencoba meraih selimut yang ada di bawah kakiku dengan gerakkan gesit, namun badanku sedikit agak sulit untuk digerakkan. Tiba-tiba ada seseorang yang memeluk kepalaku, hingga masuk ke dalam dekapannya. Peter mengelus pucuk kepalaku dengan sangat penuh perhatian. “Nggak apa-apa,” ujarnya menenangkan. “Itu cuman petir sama guntur aja.” Peter makin mengeratkankan dekapannya. Rasa nyaman dan aman masuk ke dalam kepalaku. Memang hanya Peter lah yang tahu ketakutanku pada petir dan guntur. Hanya dia.

Lama kami saling berpelukan seperti ini, stormy day terus menemani kami berdua. Segala hal buruk selalu terjadi pada hari badai seperti ini. Namun sekarang itu semua sudah sirna, kini aku akan baik-baik saja. Kuangkat kepalaku dan menengadah ke arah Peter. Dia memberikan sebuah senyuman hangat untukku. Yang langsung kubalas dengan memagut bibirnya. Peter mendesah laun di dekat pipiku, hawa dingin yang ada di kamar ini kembali berubah hangat. Malah cenderung panas ketika Peter menindih tubuh telanjangku dengan tubuhnya. Kubiarkan Peter mencium leherku, menghisap sekitaran tengkukku, membuatku mendesah berat karena menginginkan hal lebih dari itu semua.

Peter menurunkan kepalanya, mulai mencium dan menjilat putingku dengan lidahnya yang empuk. Bisa kurasakan putingku menegang di bawah sapuan lidahnya, dia menggigitnya kasar namun tak menyakitkan. Membuat tubuhku meliuk-liuk di bawah tindihan badannya. Kuraih penisnya dan mulai mengocoknya, Peter malah makin menjadi-jadi, dia mengemut putingku. Jariku lengket akibat precum yang keluar dari lubang penisnya. Hati-hati dia menurunkan kepalanya dam mulai mengulum penisku ke dalam mulutnya yang basah.

“Gantian ya,” ucapku di sela-sela erangan. “Kan kita memang suka gantian gitu.” Kulontar kan kata-kata yang Peter berikan padaku tadi. Peter mengangguk, telunjuknya mulai masuk ke dalam lubang anusku yang menjerit minta diisi. Peter terkekeh di dalam kulumannya. Bisa kurasakan air liurnya memenuhi seluruh batang penisku. Setelah aku yakin kalau lubang anusku mulai rileks, aku menyuruhnya untuk memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke dalam anusku. Yang langsung Peter laksanakan dengan patuh. Aku mengerang karena rasa perih dan nikmat saat kedua jari Peter berputar-putar di dalam anusku dan menabrak prostatku. Aku sungguh-sungguh suka sensasinya.

Peter menaikkan kepalanya, namun jarinya masih berada di dalam anusku. Bibirnya yang tak pernah bosan kulihat jatuh ke atas bibirku. Melumat bibir bawahku dengan gigitan-gigitan erotis. Mengingatkanku dengan film gay porno yang pernah kutonton dengan Peter saat kami ingin belajar menggunakan gaya-gaya yang lain, namun tak pernah kami laksanakan karena bingung bagaimana cara melakukannya. Kuremas kencang-kencang bokongnya dengan tangan kiriku. Sedangkan tangan kananku saling menggosokkan penis kami. Membuat gesekkan yang menguarkan sensasi yang sangat aneh, aneh dalam artian yang sangat memabukkan. Aku benar-benar yakin sekarang, hanya Peter lah orang yang bisa membuatku merasakan kenikmatan seperti ini.

Aku mendorong badan Peter menjauh, cepat-cepat aku membalikkan badanku dan menekan bokongku ke dekat selangkangannya. “Kita coba gaya yang ini,” kataku lekas. Kutolehkan kepalaku sebentar ke arahnya. Dia menatapku terpana, kupasang seringaianku untuknya. “Kitakan dulu udah pernah mau nyoba posisi kayak gini, tapi nggak jadi. Nah, sekarang ayo kita coba!” Aku menempelkan wajahku di kepala ranjang. Peter agak ragu, namun setelah itu dia memajukan penisnya ke dekat lubangku. And dan Zavan bilang, gaya doggy seperti ini akan benar-benar membuat sang Top merasakan kenikmatan yang tiada tara. Aku ingin memberikan hal itu pada Peter.

Tangan Peter memegang pinggulku erat, dia membasahi penisnya dengan liurnya sendiri. Aku memejamkan mataku saat Peter mulai memasukkan penisnya ke dalam lubang anusku. Aku merintih tertahan, mencoba menahan rasa perih yang menyerang lubangku. Peter menciumi seluruh punggungku, dari pinggang hingga ke pundak belakangku. Dia mengemut telingaku, menyuruhku rileks dalam dia. Lambat laun penisnya masuk ke dalam lubangku. Dia mengerang, tangannya menekan penisku nakal.

Ketika Peter memaju mundurkan pinggulnya, aku belum bisa merasakan penisnya menabrak prostatku. Sebisa mungkin aku menahan rasa sakitnya, namun beberapa menit kemudian rasa nikmat itu menjalar ke seluruh tubuhku. Penis Peter menabrak kencang prostatku, membuat tanganku menggenggam erat-erat seprei. Kugigit bibir bawahku, menoba menahan erangan yang kapanpun bisa keluar dengan nyaring. Peter mengangkat tubuhnya, tangan kirinya mengocok cepat penisku, precumku yang lengket dijadikannya pelumas untuk mengusap kepala penisku. Membuat tubuhku makin meliuk tidak tahan.

Tangan Peter yang sebelah kanan menarik rambutku, membuatku menengadah dan berseru nyaring karena rasa nikmat yang makin menggebu di dalam diri kami berdua. Untung saja bunyi petir dan guntur di luar sana menenggelamkan suaraku.

Kali ini, stormy day yang biasanya menakutkan bagiku, terasa begitu indah. Itu semua karena Peter. Aku benar-benar bersyukur karena pernah bertemu dengannya. Bersyukur karena kami disatukan dengan cara yang sangat unik seperti ini. “Aaa…” Aku melenguh kencang saat sadar spermaku akan keluar sebentar lagi. “Pet, aku mau keluar! Aku mau ke…” Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, spermaku telah keluar, membasahi kasurku.

Peter merebahkan kembali badannya di atas punggungku, dia memekik tertahan di atas kulit pundakku. Kedua tangannya memeluk lenganku, dia semakin cepat memaju-mundurkan pinggulnya. Membuatku bisa merasakan penisnya mulai berdenyut liar. Aku menyempitkan anusku, dan Peter makin mengerang kencang. Aku membalikkan kepalaku dan menciumi pipi dan bibirnya. Sampai akhirnya kuku Peter terbenam di dalam kulitku dengan lembut, dan bisa kurasakan cairan hangat itu masuk ke dalam anusku. Peter meneriakkan namaku di dalam ciuman kami yang masih saling terpaut.

Aku merebahkan diriku di atas kasur. Benar-benar lelah dengan gaya yang kami gunakan tadi. pinggangku lumayan lelah karena harus menahan berat badan Peter, dan meliuk-liuk janggal karena rasa nikmat yang diberikan oleh penis Peter di dalam anusku. Untuk beberapa menit penis Peter terus berada di dalam anusku, sampai akhirnya penis itu terlepas sendiri. Aku menelentangkan badanku dan berbaring saling berhadapan dengannya. Peter memagang wajahku, dan aku memegang dagunya. Dia tersenyum kecil, tangan kirinya menggenggam tangan kiriku. Membuat stormy day di luar sana tak kuhiraukan sama sekali.

“Kamu hebat pas jadi Top,” katanya kemudian. “Dan kamu juga hebat pas jadi Bot.” Aku menyeringai ke arahnya. Di dalam hati aku terkekeh bahagia dan bangga.

“Kamu juga,” kataku, kuelus dagunya yang agak kasar karena bekas cukuran. “Kamu sama aku sama-sama hebat.” Peter tertawa renyah, dia menarikku ke dekat kepalanya. Lama, kami saling berciuman. Peter melingkarkan tangannya di pinggangku, dan aku melingkarkan tanganku di sekitaran pundaknya. Sampai akhirnya aku dan dia sama-sama lelah karena ciuman itu sendiri. “Besok kita sekolah kan? Lebih baik kita tidur sekarang.”

Wajah Peter yang hanya beberapa senti di hadapanku berubah penuh kerinduan. Kukaitkan kakiku dengan kakinya. Pandangan kami saling bertabrakan, sampai akhirnya rasa kantuk menghampiri kami berdua. Aku bisa melihat ketika matanya mulai tertutup rapat, bulu matanya yang panjang menyapu pelipisnya lembut, kuangkat tanganku dan mengelus kelopak matanya yang terpejam. Perlahan, rasa mengantuk itu akhirnya benar-benar menguasiku. Kupejamkan mataku dan aku yakin kalau aku mulai tertidur di depan wajah damainya.

Aku yakin aku baru saja tidur saat suara interkom yang ada di dalam kamarku berbunyi nyaring. Aku membuka mataku perlahan, dan melihat Peter yang sedang memandangiku. “Kamu lagi lihat apaan?” tanyaku serak. Aku berdeham agar suaraku bisa terdengar jelas.

Peter memberikanku sebuah senyuman selamat pagi. “Aku suka lihat kamu kalo lagi tidur,” ucapnya, membuat wajahku menghangat, bahkan lebih hangat dari sinar matahari yang ingin menerobos masuk dari balik jendela kamarku. “Wajah kamu nggak tegang kalo lagi tidur gitu. Kamu kelihatan damai banget. Kamu kayak anak-anak kalo lagi tidur.” Aku mengelus pipinya lembut. Mencoba menarik bibirku agar menjadi sebuah senyuman, namun tak urung juga senyuman itu hadir di bibirku.

Interkomku kembali berbunyi. Aku cepat-cepat menekan tombol yang ada di samping tempat tidurku. Tak berapa lama kemudian suara Mas Dadang—satpam yang ada di rumahku—menyapa dari balik Interkom. “Pagi, Tuan. Saya udah nyoba buat hubungi Tuan daritadi tapi nggak diangkat-angkat. Jadi, saya langsung nyuruh temen-temen Tuan buat langsung naik ke atas aja. Kata mereka, Tuan mau dijemput buat pergi ke sekolah bareng.”

Aku mengernyitkan wajahku, sampai suara itu akhirnya menggema. “Tivo Jalang! Kalo lo masih belum mandi juga, gue gampar lo!” Sialan! Itu suara Zavan dan langkah kaki flocksku.

Serangan panik kembali masuk ke dalam kepalaku. “Pet, kamu harus sembunyi sekarang!”

 

–Bersambung–Halah!–

Jangan tanya kenapa saya nggak serajin Onew dalam membalas komen.

Jaringan internet Smartfren yg kayak Babi Ooh La La ini sangat menyebalkan. Jadi… maaf kalo nggak dibls-bls komennya. Tapi, kalo udah saya balas juga, kalian nggak balas lagi :-( jadi nggak ada timbal baliknya. Hik hik… *halah!*

Byeeeee!!! See ya soon :D

Floque – Perkamen 8

Logo Jubilee(resize)

Chapter Eight : Beginning to the end.

 

Aku terus memacu langkahku, nafasku sedikit tak beraturan, keringat ku mengucur dari pelipis dan mengalir ke pipiku. Ku lihat Steffano mengejarku dari belakang, namun tak ku gubris. Aku terus mempercepat lariku. Nafasku terasa tersengal, namun kurasa aku bisa mengaturnya, kuhembuskan nafasku panjang, dan menghirup oksigen sebanyak mungkin. Aku tidak mau menyerah, aku harus bisa melakukannya, karena aku tidak mau di pandang sebelah mata.

Aku menoleh kebelakang sebentar, ternyata bukan hanya Steffano yang mengejarku, tapi juga ada kak panca. Mereka terlihat begitu antusias mengejarku. Namun aku tidak mau menyerah.

Dan ketika aku hampir sampai tiba-tiba Chloe berteriak, “DAVE, AWWAAASSSSS!!!” teriakannya begitu kencang, mungkin apabila aku sekarang berada di sampingnya maka aku akan tuli seketika.

Dari sudut mataku aku bisa melihat kalau bola itu sudah mendekat ke arahku, ternyata Steffano mengoper bolanya ke kak Panca yang kebetulan lebih dekat denganku. Kemudian kak Panca melemparnya ke arahku. Aku pun langsung menghindar dengan membungkukan badanku. Dan, yah. Bola itu meleset jauh keluar dari garis.

“Horreeeeeeee…” teman-temanku berteriak bersamaan. Lalu mereka berlari berkejaran untuk masuk ke kotak permainan. Aku berlari menuju kotak penunggu. Namun sebelum sampai Amanda meraih tubuhku.

“Oh thanks Mother Theresa, akhirnya kamu bisa Dave,” Amanda antusias menggoyang-goyangkan badanku.

“Iya..iya, yasudah kamu cepetan sana lari, nanti kamu kena pukul!” namun sebelum Amanda mengiyakan perintahku, Cassie menarik tangan Amanda.

“Lo mau bikin kita kalah? Cepetan lari!” Cassie menarik Amanda dan berlari ke kotak permainan.

Aku sampai di kotak penungu dan mengatur kembali nafasku yang tak beraturan. Ku lihat kak Panca mendengus kesal karena lemparannya meleset. Namun, Steffano malah tersenyum ke arahku dan memberikan jempol ke arahku. Dan memberiku ciuman dari jauh. Dasar! Dia itu memang selalu menggodaku, bahkan dalam keadaan seperti ini.

Pluit panjang berbunyi, itu tandanya permainan usai dan di menangkan oleh kelasku dengan skor yang sangat tipis. Hari ini memang kelasku mengadakan pertandingan bola kasti dengan kelas Steffano. kami memilih bola kasti karena kami bosan bermain baseball, lagian bola kasti juga permainan yang seru. Dan kami sudah lama tidak memainkannya.

“Horreeeeee” semua anak kelasku terlonjak riang gembira. George, Nick, Thomas, Nial, dan beberapa anak cowok kelasku berlari ke arahku dan memeluk tubuhku. Sumpah, aku merasa senang sekaligus gelisah. Senang karena menang dan tubuh mereka yang keren serta bermandikan keringat menempel ke tubuhku, karena di situ ada sensasi tersendiri. Gelisah karena mereka membuatku nervous, dengan pelukan-pelukan mereka. Bahkan aku bisa merasakan gundukan di celana mereka,  karena celana olah raga kami memang tipis.

Setelah sesi berpelukannya selesai, mereka semua mengajaku ke ruang ganti. Akupun mengikuti mereka. Dan ketika masuk ke ruang ganti, ternyata anak-anak kelas XI sudah ada di dalam. Ada kak Panca dan juga Steffano disitu.

Kak Panca mendekatiku, “Congrats yah Dave,” dia berkata sambil menjabat tanganku,”Sebenarnya aku tadi pengen ngenain kamu bolanya, tapi karena aku gak tega jadi aku sengaja memelesetkan saja bolanya,” dia tertawa ke arahku.

“Dasar! Itumah bisa-bisanya kak Panca saja. Bilang aja kalau kak Panca nggak mau di bilang kalah,” aku melipat kedua tangaku di depan dadaku. Namun kak Panca malah menoel daguku.

“Dasar kamu yah,eeeuughhhh” anak-anak pun tertawa bersama.

“Selamat yah Darl..euh..Dave,” ucap Steffano ke arahku. Dia menjabat tanganku.

“Makasih yah Steff,” ucapku.

“Wait..wait..wait! kok kamu manggil aku Kakak, tapi manggil Steffano pake namanya? Padahalkan kita sekelas?” Tanya kak Panca bingung.

“Ehm…ehhmm” aku bingung mau jawab apa, karena memang dari dulu Steffano yang meminta di panggil namanya saja.

“Karena kita memang sudah akrab, iya nggak Dave?” Steffano merangkulku, dan itu membuatku merasa terlindungi.

“I..iy..iya..” aku ikutan berbohong.

Kak Panca mengangukan kepalanya, “Owh gitu, yaudah kao gitu aku mau showeran dulu yah!” dia meninggalkan kami.

Teman-temanku pun juga sedang asik bershower ria dan berganti baju. Sebenarnya aku paling benci sekaligus senang kalau disini. Benci karena mereka itu dengan leluasanya mempertontonkan tubuh bugil mereka tanpa berfikir kalau ada yang gelisah dengan kelakuan mereka. Bahkan kata Steffano ada anak yang berlomba adu kebesaran alat kelamin mereka. Dan yang paling gila adalah ,mereka bernah lomba jerk off. Aku tidak bisa membayangkan kalau waktu itu aku ada. Pasti aku akan sangat gelisah.

“Dave, aku tahu dimana tempat yang aman,” dia berbisik pelan ke arahku, kemudian dia pergi menuju ke salah satu toilet di sudut ruangan yang paling pojok. Sebelum dia menutup pintunya dia menengok kanan dan kiri kemdian dia menggerakan mulutnya ke arahku. Dari gerakan bibirnya aku tahu kalau dia bilang aku disuruh menunggu sebentar.

Tak berapa lama pintu itu terbuka, dan tangan Steffano terlihat melambai ke arahku. Akupun hanya bisa tertawa melihat tingkahnya. Dia itu terkadang bertingkah sangat menggemaskan. Kemudian berjalan ke arah toilet tersebut dengan perasaan yang tak menentu. Aku masih belum tahu apa yang akan terjadi. Karena selama kami menjalin hubungan belum ada hal ekstrem yang kami lakukan. Paling jauh hanya kissing saja, tidak lebih.

Ketika aku sudah di bibir pintu Steffano langsung meraih tangaku. Seketika aku sudah ada di dalam toilet tersebut.

Toilet sekolah kami memang luas. Jadi walaupun lima orang masuk kedalam satu toilet pun masih bisa menampung. Apalagi kalau hanya berdua seperti sekarang ini.

Kami berdua hanya terdiam satu sama lain. Aku tidak berani menatap wajahnya saat ini. Karena itu akan membuat pipiku merona. Akupun hanya bisa menundukan kepalaku. Namun Steffano meraih daguku dengan tangannya. Menyuruhku untuk menatap wajahnya yang membuatku salah tingkah. Dia tersenyum lebar ke arahku, menambah kesan manis wajahnya. Matanya yang tajam menatap ke arahku. Entah karena apa tiba-tiba saja aku memejamkan mataku.

Aku tidak berharap kalau dia akan menciumku. Oke, baiklah. Sebenarnya aku memang berharap, tapi itu bukanlah alasan terkuatku untuk menutup mataku sekarang. Aku hanya tidak bisa terus menerus menatap matanya. Karena matanya itu bagai candu, semakin aku menatapnya maka aku semakin menginginkan lebih. Dan ketika matanya bertemu mataku itu bagaikan elang yang ingin mencengkeram kucing. Eh tungu dulu, memang elang doyan kucing? Entahlah mungkin saja bagai elang yang ingin mencengkeram tikus. Tapi tikuskan terlalu kecil untuk dimakan, memangnya elang kenyang yah makan daging tikus? Sudahlah, malah jadi ngomongin elang kan.

Satu, dua, tiga, empat, hingga hitungan ke Sembilan tidak ada yang terjadi. Bahkan aku tidak merasa sapuan bibir Steffano di bibirku. Tunggu dulu! Memangnya aku tadi lagi minta di cium yah? Akupun membuka mataku. Dan ketika aku membuka mataku tiba-tiba Steffano memiringkan wajahnya, dan bibirnya meraih bibirku. Dia menyandarkan badaku di dinding toilet. Dia memiringkan wajahnya bergantian. Sebenarnya aku bukannya tidak mau bersyukur dengan hidung mancungku. Tapi karena hidungku mancung begitu juga dengan hidung Steffano, itu membuat kami agak susah ketika berciuman. Karena selalu saja mentok. Akhirnya kami harus mensiasatinya dengan memiringkan wajah kami.

“Emmpphhh..empphh..” dia mendesah sambil terus menciumiku. Akupun semakin tak berdaya di buatnya. Ciumannya itu membuatku terlena. Akupun hanya bisa pasrah.

Ciumannya yang tadi hanya di bibirku, kini beralih ke leherku. Dia terus menciumi leherku, terus turun ke dadaku. Dia melepas kaos olah ragaku. Akupun melakukan hal yang sama, aku menarik ke atas kaos olah raganya. Memperlihatkan badannya yang rata. Tidak sixpcak sih, namun  cukup kencang. Akupun menjadi tidak tahan untuk menjamah badannya. Ketika dia hendak menciumi leherku kembali, aku menolaknya. Malahan sekarang aku yang menciumi lehernya.

Rasanya itu beneran bikin nagih. Antara manis, gurih dan asin, tapi nikmat. Itulah keringat Steffano. Ciumanku semakin menjadi. Kini ciumanku sudah turun ke dadanya yang cukup bidang. Kusapukan lidahku disana, lalu ku kecup-kecup dadanya. Dan ketika lidahku bersentuhan dengan nipplesnya, itu merupakan hal paling nakal yang kulakukan. Karena selama ini biasanya hanya Steffano yang bermain dengan nipplesku, tapi aku ingin membalas sekaligus mengerjainya, bagaimana rasanya ketika nipplesku dipermainkan.

Desahan Steffano makin menjadi. Itu membuatku semakin bergairah. Setelah kuhisap kedua nipples Steffano secara bergantian, aku menyapukan lidahku ke perutnya yang rata. Kumainkan lidahku disana, yang membuat tubuh Steffano makin menggeliat. Sapuanku turun hinga ke perbatasan celananya. Aku memandang ke arahnya terlebih dahulu, untuk tahu apakah dia mengijinkanku untuk melakukan hal yang lebih jauh kepadanya.

Steffano menatap ke arahku, kemudian mengangukan kepalanya. Akupun antusias. Kutarik celananya kebawah, dan di depan mataku terpampang jelas underwear Andrew Christian berwarna biru. Dan didalamnya terdapat segumpal daging segar nan hangat dan juga keras. Aku bisa melihatnya karena tercetak jelas di underwearnya.

Perlahan aku menarik underwearnya hingga akhirnya terlepas dan memperlihatkan benda yang selama beberapa bulan eh ralat beberapa tahun ini aku dambakan. Seperti yang aku bilang, kami sudah jadian selama hampir lima bulan, tapi aku suka dia dari aku kelas satu SMP, dan kita belum pernah melakukan hal yang terlalu jauh. Karena memang Steffano belum mau, begitu juga denganku. Namun kali ini aku merasa begitu excited dan bergairah.

Kulihat ada cairan bening di ujung galns penisnya. Kata Jeremy itu namanya pre cum. Dia bilang rasanya gurih. Karena aku penasaran, akupun menjilatnya. Dan itu membuat tubuh Seffano bergetar. Ternyata benar kata Jeremy. Rasanya memang gurih. Akupun melanjutkan aksiku dengan memasukan penisnya kedalam mulutku. Untuk newbie sepertiku memang agak susah, karena terkadang aku sedikit tersedak ketika penis Steffano menghantam ujung rongga mulutku. Tapi aku mencoba untuk menguasai permainan kali ini. Kata Jeremy, just do it like a gay porn videos but more slowly. Akupun mencoba semaksimal mungkin hingga akhirnya mulai terbiasa.

Stefano semakin kegelisahan. Dia memejamkan matanya tapi badanya terus saja menggeliat. Tangannya memegang kepalaku dan menyuruhku untuk memasukan penisnya lebih dalam. “Ehhmmpphh..eehhmmpphh. I’m coming ,” rancaunya. Dan tak lama kemudian kurasakan cairan hangat memenuhi rongga mulutku, sebagian malah membuatku agak tersedak. Dan rasanya itu manis, asem, asin pokoknya nano-nano deh.

Aku dan Steffano mengatur nafas kami yang sedari tadi tidak beraturan. Kemudian kita membilas badan kami secara bergantian. Kami saling menyabuni punggung kami masing-masing. Dan membilas badan kami masing-masing.

***

“Jadi cuman sejauh itu hubungan kalian?” Tanya Cassie. Akupun hanya menganggukan kepalaku.

“Not bad,” sahut Amanda.

“Apanya yang not bad? Justru malah so clumsy. Masa kalian jadian selama hampir lima bulan cuman sekedar sucking and muma,” sergah Chloe, dia menatap aneh ke arahku.

“Muma?” Amanda mengerutkan dahinya ke arah Chloe.

“Mutual Masturbation,” jawab Chloe singkat. Amanda pun hanya menganggukan kepalanya.

“Dan sampai sekarang lo masih harus back street gitu dan pura-pura kayak bukan orang jadian di sekolah ini?” Tanya Cassie lagi. Aku benci ketika dia terus menginterogasiku seperti ini. Aku tuh sudah seperti tahanan saja. Sekali lagi aku hanya bisa menganggukan kepalaku.

“Oh my jar-jar blink. That’s so pathetic. I mean, yah paling nggak kan kalian bisa jalan berdua atau berangkat berdua. Tidak musti harus menampakan kemesraan kalian juga. Tapi paling nggak yah kalian nggak perlu se-invisible gini,” Cassie makin mendesakku.

“Sudahlah itu mungkin memang butuh waktu,” Amanda menepuk-nepuk pundakku.

“Iya, aku rasa dia memang butuh waktu” lanjutku.

“Butuh waktu buat dia bilang kalau dia itu bukan gay, dan sementara itu dia berpura-pura sebagai cowok straight. Oh come on Dave, kalau kamu mungkin bisa sabar, tapi enggak dengan kita. Coba kamu lihat ke arah pukul Sembilan!” perintah Chloe. Akupun menuruti permintaanya.

Ternyata disana ada Steffano sedang bersama Tiffany. Mereka terlihat begitu akrab, bahkan sekali-kali Tiffany bergelayutan di lengan Steffano. Sebenarnya aku cemburu, tapi aku berpura-pura biasa saja, agar teman-temanku tak tersulut emosinya.

“Adios mio! Dave, mereka benar-benar seperti orang pacaran.” Ucap Amanda, dia mencengkeram tangaku seperti geregetan.

“Oh fucking chill the fuck out! Is she Tiffany von der sloot?” Chloe memicingkan matanya ke arah Tiffany.

“Yeah, I guess.” Jawab Cassie.

“Owh Fuckwad! Gak di grup gak di dunia nyata dia emang bener-bener bitchy,” lanjut Chloe.

“Lah kan dari julukannya udah ketahuan. Tiffany Von der Sloot, yang sebenarnya Tiffany founder slut. Dan kalau di artikan jadi  Tiffany si ketua pelacur.” Sahut Cassie dengan seringaian lebar.

“Wait..wait.. emang kalian punya group apa sama dia?” Tanya Amanda kepada Cassie dan Chloe.

“Amanda, makanya kamu gaul donk! Kamu tau nggak soal SNB group yang suka nampilin beberapa hasil karyanya yang memang agak nggak mutu di majalah sekolah?” Amanda hanya menganggukan kepalanya. “Nah itulah group kami,” lanjut Chloe.

“Oh ya, itukan group yang terkadang bahasan beritanya menjurus ke arah sex or adult content?” aku bertanya ke mereka.

“Yep, that’s right! That’s why the goup be named as SNB, Sexy, Naughty and Bitchy,” Chloe menjawab dengan gesture seperti cewek penggoda. Bahkan dia menjulurkan lidahnya lalu menyapu tepian bibirnya.

“Ewww that so awkward,” Amanda menjulurkan lidahnya seperti mau muntah.

“Not just awkward. but fuckwad, fucking awkward!” Cassie menambahkan. Namun Chloe hanya tersenyum kemudian mengibas-ngibaskan kipasnya pada wajah kami semua.

“Look! Biarpun kalian mau bilang aku itu awkward aku bakalan tetap populer kok. Because I am a Diva in this school,” dia menyeringai lebar kea rah kami. Kemudian menatap kami dengan tatapan mengejek.

“Whatever,” jawab Amanda cepat.

Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah Stefano dan Tiffany. Mereka semakin menjadi. Sekarang Tiffany malah duduk di pangkuan Steffano dan mereka saling melempar tawa. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas aku muak melihatnya. Akupun memutuskan untuk pergi dari tempatku sekarang.

“Dave, mau kemana?” Tanya Amanda. Mungkin dia akan tahu jawabnnya tanpa kuberi tahu. jadi aku memutuskan hanya diam saja dan terus berjalan meninggalkan mereka.

***

“Hahaha, did you jealous?” Tanya Jeremy setelah mendengar curhatanku. Aku memutuskan untuk bertemu dengannya di taman dekat rumah kompleknya. Aku kesana menggunakan taksi.

“Yeah of course.” Jawabku kesal, dengan santainya dia malah menertawaiku.

“I told you. Having a relationship with bisex is never getting works. Bisex is a horrible creatures. I don’t wanna be prejudice. But that’s the fact. Mereka kadang suka sama kita, tapi mereka juga bisa suka tuh sama lubang vagina. That’s why I hate bisex. Untung si Tyler udah bukan bisex lagi. Thanks Jesus, He is totally gay now,” Ucap Jeremy penuh semangat.

“Are you sure?” tanyaku ragu.

“Yeah ofcourse. Kemaren aku sengaja mau ngerjain dia. Apakah dia bener-bener udah jadi gay atau masih bisex. Jadi waktu itu aku ngajak salah satu teman cewek ku buat threesome bareng Tyler,”

“Are you insane?” selaku tak percaya.

“Oh..easy boy..easy!!” Jeremy mencoba menyuruhku untuk santai, padahal yang dia lakukan benar-benar hal yang tidak akan pernah ada dalam daftar otakku. “Dan pas kita masih foreplay sih,Tyler masih mau remas-remas dada temenku itu. Tapi pas di bagian dia harus ngejilat lubang vagina temenku dia nggak mau.  Dan yang paling bikin excited adalah, pas Tyler penetrasi ke vagina temenku. penisnya langsung loyo,hahaha, aku langsung ngakak. Yaudah deh karena udah terbukti, jadi aku suruh temenku pulang. And then, we do it. All night long. Oh god, kenapa aku selalu merindukannya, apalagi penisnya itu,” Jeremy berkata seperti hal yang lumrah. Padahal itu hal yang benar-benar bitchy.

“Oh shut your hole!” ucapku kesal. Kesal dalam artian, aku iri karena aku tidak seperti dia, yang bisa mendapat pasangan sesuai harapannya.

“Tenang Dave, kamu pasti bakalan dapet kok yang lebih baik dari Steffano. Percaya deh!” dia menepuk-nepuk pundakku.

“We are not broke up Jer,” jawabku tegas.

“Oh yeah, not yet but soon!” aku ingin memukulnya namun dia langsung lari ketika aku ingin memukul legannya.

“Screw you!” teriakku padanya. Namun dia malah meledek ke arahku dengan menjulurkan lidahnya. Dan ketika dia berbalik tubuhnya menabrak seorang pria.

“Helo sunshine,” ucap pria tersebut lalu mencium bibir Jeremy. Oh my dear God. Is he Tyler? Mukanya benar-benar mirip Michael Trevino. Dan badannya itu benar-benar WOW.

“Dear, this is my best Friend Dave, and Dave this is my Beloved Tyler,” Jeremy memperkenalkan kami, ketika aku sudah berada didekatnya lalu kami berjabat tangan.

“Oh ya, kalian mau jam berapa pulang?” Tanya Tyler.

“Terserah Dave,” lalu Jeremy merangkul tubuh Tyler dan menciumi lehernya. Ck, temenku yang satu ini memang benar-benar bitchy.

“Ehm… aku mau pulang sekarang. Besok soalnya hari pertama aku ujian semester dua,” ucapku.

“Oke. Biar aku antar kalau begitu,” tawar Tyler. Akupun menganggukan kepalaku dan kami berjalan menuju mobilnya yang terparkir di samping taman.

***

“Dave..Dave..Dave.. tunggu!” Steffano terus mengejarku yang berlari ke parkiran belakang sekolah. Selama seminggu ini aku benar-benar menghindarinya. Akhirnya dia bisa menghadangku.

“Kamu kenapa sih? udah seminggu ini kamu nggak ngangkat telepon dariku, terus chat ku nggak kamu balas, terus setiap aku mau nemuin kamu, kamu malah ngehindar. Emang aku salah apa sama kamu?” dia bertanya seakan-akan dia adalah orang yang tak pantas untuk tidak diperdulikan.

“Kamu pengen tahu jawabannya? Talk to yourself!” akupun menyingkirkan tanganya dan berniat pergi.

Namun Steffano menahanku.”Oh Dave, please don’t be like this. I love you. More than my own life,” dia memohon kepadaku.

“Screw you. I hate you. But I love you too. Kamu asik bemesraan dengan wanita lain. Sementara aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan dan memendam rasa sakit ini sendirian. Why you do this for me? Is it my love is not enough for you?” kali ini aku tidak mau menangis di depannya. Jeremy bilang kalau aku menangis itu tandanya aku menyerah.

“Oh..mmm..mmm yeah I do. I am kinda badass and Maybe I hurt you. I am sorry. But, trust me Dave! I love you,” dia lalu memeluk tubuhku dari belakang.

Aku sebenarnya kasihan, tapi rasa sakitku menginginkan bukti nyata darinya, “Oke then, bisa nggak kamu nggak usah pura-pura kalau kita nggak ada hubungan? I mean, nggak usah bermesraan juga, tapi paling tidak kamu nggak usah dekat-dekat dengan cewek manapun. Dan bisa nggak kamu memberitahu orang tuamu kalau kita punya hubungan?” dia masih diam saja,”nggak bisa kan?” lanjutku.

“Dave. Kamu tahu kan kalau aku itu belum siap buat coming out. Aku butuh waktu untuk itu,” dia lalu merenggankan pelukannya terhadapku.

Aku berbalik ke arahnya. “Perlu waktu dengan cara bermesraan dan bertingkah seakan kamu itu straight? Oh hell to the no. Steff, I love you. I think my life without you is so meaningless. But, come on aku juga perlu diangap. Aku nggak mau di anggap seperti mainan yang bisa kamu mainkan ketika butuh, dan kamu tinggalkan ketika kamu dapat mainan baru. Aku juga manusia, sebagai orang yang kamu cintai, aku ingin kamu hargai. Dengan cara tidak bermesraan dengan orang lain. Siapapun itu. Tapi apa? Kamu terus saja seperti ini,” sekuat mungkin aku menahan air mataku agar tidak jatuh.

“I’m sorry Dave. I am really sorry. Please don’t leave me! I love you so much,” dia meraih wajahku dan menempelkan dahinya ke dahiku. Aku melihat butiran air mata keluar dari matanya.

“No. I think we should broke up now!” bahkan dalam bayanganku aku sama sekali tidak pernah membayangkan kalau aku menginginkannya, tapi itulah kata-kata yang keluar dari mulutku.

“No..no.no. give me a second chance. I’ll be there for you. I love you Dave. Please don’t do that. I really,really love you,” dia memohon kepadaku. Bahkan sekarang dia sedang berlutut di hadapanku.

Entah ini perasaanku saja atau tidak. Tapi parkiran ini benar-benar sepi. Tak ada seorangpun yang lewat. Karena aku merasa kasihan pada Steffano, akhirnya aku meraih bahunya dan memeluk tubuhnya.

“Oke, I’ll give you a second chance,” Steffano menatapku tak percaya.

“Really?” aku hanya menganggukan kepalaku. “Thanks Dave,” lalu dia mencium bibirku, sangat lama.

***

Aku baru masuk sekolah setelah dua hari kemarin aku sibuk untuk mempersiapkan hal-hal untuk olimpiade sains yang akan berlangsung minggu depan. Itu artinya ketika anak-anak liburan sekolah maka aku akan mengikuti karantina selama sebulan kemudian baru mengikuti olimpiade tersebut.

Ketika aku masuk sekolah, banyak anak-anak yang menatapku dengan tatapan mengejek. Bahkan sebagian berbisik-bisik ketika aku berada di depannya. Aku tidak tahu apa penyebabnya, jadi lebih baik aku biarkan saja.

“Dave..Dave..Dave” paggil Amanda. Disana juga ada Cassie,Chloe dan entah siapa wanita satu lagi. Amanda menyuruhku untuk segera mendekat.

“Ada apasih Nda?” tanyaku heran. Aku benar-benar tidak tahu maksudnya. Bahakan Chloe pun menampakan wajah yang tidak secerah biasanya.

“Gawat! Foto kamu sama Steffano yang berciuman beredar di website sekolah,” kata-kata Amanda membuatku kehilangan keseimbangan. Dia menyerahkan Ipadnya kepadaku. Disitu terdapat sebuah thread yang berjudul “Gay couple in our school” dan itu membuat Kakiku terasa begitu lemas. Akupun memutuskan untuk duduk.

“Kok bisa?” tanyaku panik. Namun Mereka bertiga hanya menggeleng.

“Yang jelas, sebentar lagi lo bakalan di panggil sama Mr.P selaku guru konseling.” lanjut Cassie. Mr.P itu sebenarnya punya kepanjangan. Nama aslinya adalah Purnomo namun anak-anak lebih sering memanggilnya dengan sebutan Mr.P.

Benar saja, tak lama kemudian kak Morgan datang lalu memberitahukan kalau aku di panggil ke ruang konseling. Akupun hanya bisa menurut. Kak Morgan menggandengku dan berkata kalau semua akan baik-baik saja. Yang aku butuhkan hanya satu, kejujuran.

Dan ketika kami sudah sampai di depan ruang konseling kak Morgan mengetuk pintu ruangan tersebut. Suara dari dalam mempersilahkan kami masuk. Akhirnya kami berdua masuk ke dalam ruangan tersebut. Di situ sudah ada Steffano dan Mr.P. Kami pun di persilahkan duduk. Setelah kami duduk, dan mendengar penjelasan dari Mr.P tentang hal ini. Dia meminta agar kami jujur.

“Saya selaku konseling di sini tidak akan menyalahkan kalian sepenuhnya, karena masalah ini bukan kalian yang menyebarkan. Tapi kalian pelaku dalam kasus ini. Sekolah ini tidak akan melarang tentang apapun oriental seksual siswa disini. Tapi banyak orang tua yang sudah melihat berita ini. Dan mereka minta agar sekolah bertindak tegas. Tapi sekali lagi saya tekankan sekolah ini tidak memberikan hukuman hanya karena orientasi seksual siswa di katakan menyimpang. Jadi saya harus melakukan apa terhadap kalian ?” Tanya Mr.P.

Tidak ada jawaban yang keluar dari muut Steffano. Akupun bingung harus jawab apa. Namun tiba-tiba kak Morgan berpendapat, “Sebenarnya nggak ada yang perlu di beri hukuman dalam kasus ini. Karena  selain mereka itu bukan penyebar foto tersebut, mereka juga tidak bersalah apapun. Hanya saja pemikiran orang tua yang saya rasa kolot lah yang berfikiran untuk menghukum mereka. Lagian memangnya mereka bisa memilih kondisi seperti ini? Tidak kan. Jadi yang sebenarnya harus bapak panggil adalah orang yang menyebarkan berita ini,” kak Morgan memang orang yang sangat baik. Dan juga berfikiran terbuka. Beruntung Amanda mendapatkan dia.

“Kamu benar Morgan. Baiklah saya hanya menyarankan kepada kalian, lain kali kalau kalian ingin berciuman, jangan di tempat umum. Karena selain hubungan kalian ini lain dari yang lain, kan juga masih banyak orang yang berfikiran kalau hal-hal seperti itu masih tabu. Jadi saya hanya berpesan untuk lebih berhati-hati saja,” jelas Mr.P. Aku, Steffano dan kak Morgan hanya mengangguk-anggukan kepalaku saja.

“Baiklah, karena saya rasa pembicaraan kita sudah selesai. Saya meminta kalian untuk kembali ke kelas kalian masing-masing. Dan terima kasih untuk waktunya,” kami lalu berjabat tangan dengan Mr.P. kemudian  kami keluar dari ruangan konseling tersebut. Aku mendekat kea rah Steffano yang terlihat murung.

“Tenang Steff. Semuanya akan baik-baik saja. Mereka hanya butuh waktu,” aku mencoba menenangkannya dengan menepuk-nepuk pundaknya.

“Tapi Dave, aku masih belum siap menerima olok-olokan dari mereka. Aku nggak mau mereka tahu secepat ini, dan mereka pasti akan mengucilkanku,” suaranya terdengar sangat putus asa. Akupun menggengam tangannya.

“Semuanya akan kita lalui bersama,” aku menaruh genggaman tangan kami di depan dadanya. Dia hanya menganggukan kepalanya dan menampilkan senyuman yang di paksakan. Setelah itu kami berpisah. Aku berjalan ke kelasku sementara kak Morgan dan Steffano berjalan ke kelas mereka masing-masing.

“Jadi apa yang dilakukan oleh kalian selama itu di dalem sana?” Amanda berlari ke arahku dan bertanya antusias begitu melihatku sudah ada di depan pintu kelas.

“Apa si Mr.Penis itu ngapa-ngapain lo? Kalo iya sini biar gue botakin kepalanya yang cuman botak separo itu,” Cassie berkata geram.

“Dia nggak nyuruh kamu keluar dari sekolah ini kan Dave?” Tanya Chloe cemas.

“Gak mungkin lah Chloe. Di sekolah ini kan bebas mengenai orientasi seksual siswanya. Asal saling menghargai satu sama lain,” sahut seorang wanita yang aku tidak tahu itu siapa. Akupun hanya memandangnya heran. Namun wanita itu sepertinya merasa kalau aku mengamatinya, diapun angsung tersenyum ke arahku, “Belinda,” katanya sambil mengulurkan tanganya kepadaku. Akupun membalas uluran tangannya. Namun ketika aku hendak melepas jabatan tangan kami tiba-tiba dia menarik tanganku dan mencium kedua pipiku secara bergantian.

“Oops sorry,” dia tersenyum setelah jabatan kami terlepas dan juga setelah dia mendaratkan ciumannya di pipiku.

“Dasar gatel,” sahut Chloe kepada Belinda. “Dia anak IPA 2 Dave. Dia temen club designerku. Dia emang agak bitchy. Jadi kamu musti hati-hati yah sama dia,” Chloe melirik ke arah Belinda.

“Kayak lo nggak bitchy aja,” kata Belinda sambil mencibir.

“Udah-udah. Kalian ini ribut aja. Karena ini class meeting, gue mau ngumpul sama anak-anak cherios dulu. Mau ngebahas soal pertandingan cherios bulan depan. Emang kalian nggak ngadain pertemuan gitu” Tanya Cassie kepada kami.

“Oh iya aku lupa. Aku harus ke club drama. Mau latihan buat drama musical. Soalnya nanti pas anak kelas tiga kelulusan, kita harus tampil. Aku nggak mau pas kelulusan pacarku aku nggak tampil maksimal. Oke deh bye bye, muach,” Amanda mencium pipiku, lalu langsung pergi meninggalkan kami.

“Oh ya. Kita juga harus ngebahas buat rancangan untuk acara Jakarta fashion show kan Bel? Yasudah ayo kita pergi!” Chloe menarik tangan Belinda, lalu mereka pergi.

“Lo gak ada acara Dave?” Tanya Cassie. Aku menggelengkan kepalaku.

“Kan selama dua hari kemarin kita udah meeting dan ngebahas semuanya, jadi hari ini nggak ada pertemuan,” jawabku. Cassie pun mengangguk-anggukan kepalanya.

“Okedeh, kalo gitu gue pergi dulu yah, bye bye,” dia melambaikan tangannya lalu pergi.

Akupun beranjak dari tempatku berdiri kemudian memutuskan untuk ke Library. Biasanya kalau sedang tidak ada pelajaran ataupun kegiatan aku memutuskan untuk membaca buku disana. Baik itu buku pelajaran maupun novel. Namun ketika aku sampai di perpustakaan, banyak pasang mata melihat aneh terhadapku. Seakan-akan aku itu makhluk yang mengerikan dan patut di hindari. Bahkan diantara mereka ada yang terang-terangan meledekku dengan sebutan banci. Akupun tidak menghiraukannya, dan tetap berjalan ke rak buku yang ingin aku baca.

Setelah hampir dua jam aku berkutat dengan buku sience dan juga math, aku memutuskan untuk pergi ke Jiscaf karena perutku merasa lapar. Akupun menaruh buku yang tadi kupinjam ke tempat semula, lalu beranjak keluar dari Library.

Suasana Jiscaf hari ini lumayan sepi. Mungkin karena banyak murid yang sedang mengadakan pertemuan club, jadilah suasana disini sangat sepi. Hanya ada beberapa sekelompok murid saja. Aku berjalan menuju antrian makanan. Karena selain menjual makanan, Jiscaf ini juga tempat untuk lunch gatis yang di fasilitasi oleh sekolah. Jadi kita bisa mendapatkan lunch secara gratis. Tapi kalau tidak mau atau tidak suka dengan menunya kita bisa memesan. Tapi yah memang kita harus bayar.

Setelah aku memesan makanan. Aku membawa nampan berisi sandwich dan juga lemonade float ku ke meja yang akan aku tuju. Namun ternyata ada Steffano dan dua temannya disitu. Akupun hanya melewatinya tanpa menegur Steffano. Tapi tiba-tiba temannya itu berdiri dihadapanku.

“Oh jadi ini yah si banci kaleng yang maksa buat nyium lo?” apa dia bilang? Banci kaleng? Sumpah seumur hidupku aku baru pertama kali dikatain dengan kata-kata seperti itu. Apalagi dengan orang yang sama sekali tak mengenalku. Tapi dengan sok taunya dia malah men-judge ku seperti ini.

Akupun malas menanggapinya jadi aku menyingkirkan tubuh orang itu. Tapi dia malah mencengkeram tanganku. “Let go off me!” seruku padanya, namun dia malah makin mencengkeram tangan kananku. Akhirnya nampan yang ada di tangan kiriku terjatuh. Akupun mendorong, tubuh anak lelaki itu.

“What are you doing? Are you mad?” tayaku berang, karena tanganku benar-benar terasa sangat sakit.

“Masih nanya kenapa? Lo udah bikin temen kita jadi gay. Hey.. kalo lo itu gay jangan ngajak-ngajak temen kita donk. Lo gay sendiri aja sono! Dasar gay biadab,” serunya di depan mataku. Dan reflex aku langsung memukul muka lelaki tersebut dan membuatnya menunduk kesakitan.

Kemudian teman Steffano yang satunya berdiri dan berjalan ke arahku. “Berani beraninya lo nonjok temen gue. Lo tuh udah salah, masih aja belagu,” katanya menunjuk-nujuk ke arahku. Kulihat Steffano hanya duduk diam saja. Akupun merasa muak karena aku di tuduh bersalah.

“Hey, asal kalian tau yah. Memang aku apa yang nyium Steffano? Coba kalian Tanya sama temen kalian sendiri!” bentakku pada mereka.

Lalu teman Steffano mendengus ke arahku kemudian dia memalingkan pandangannya ke Steffano, “Jadi sebenernya yang nyium itu lo atau dia sih?” Tanya teman Steffano padanya. Steffano masih diam namun matanya menatap nanar ke arahku. “Dia lah. masa gue. Lo tau kan gue itu straight dan dia yang gay,” Boom. Apa barusan dia bilang? Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Steffano. Dia tega berbohong, demi menjaga nama baiknya, agar dia tetap mendapat predikat cowok straight. Padahal dia sendiri yang waktu itu menciumku. Aku pun geram, lalu aku berjalan ke arahnya.

“Hey, kamu lupa yah kalau kamu yang menciumku? Atau kamu pura-pura lupa supaya teman kamu percaya kalau kamu itu straight? Ck. Aku benar-benar salah menilaimu Steff,” tiba-tiba saja ada yang mencengkeram lenganku.

“Alah udah lo berisik aja. Dasar banci! Sekali lagi lo berkoar, gue pukul lo,” ancamnya padaku. Namun aku tidak takut. Aku ingin tahu seberapa besar kepedulian Steffano padaku. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan ketika melihat aku disakiti.

“Oke. If you gonna punch me on my face. Then please!” aku memiringkan wajahku kepadanya, agar dia lebih gampang memukulku.

“Oke,” Bugh….. satu pukulan keras menghantam daguku. Itu membuatu kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Kemudian teman Steffano yang tadi aku pukul memegangi tanganku. Mereka ingin mengeroyokku. Aku melihat ke arah Steffano. Dia berdiri tapi tidak melakukan apa-apa. Dia terlihat bingung.

Cowok yang tadi memukulku mendekatiku. Akupun di paksa berdiri dengan posisi tangan yang dipegangi kebelakang oleh temannya. Dan ketika cowok itu hendak memukulku tiba-tiba ada sesuatu mengenainya, yang membuat dia merintih kesakitan.

Dan ternyata itu adalah wedges, yang kutahu itu milik Chloe, “Woooyyyyyy” teriak suara seseorang sangat keras. Dan ternyata itu suara Chloe, tapi suaranya terdengar begitu jantan. Aku saja sampai kaget. Lalu dia berlari ke arahku. Dan langsung naik ke punggung cowok yang memukulku. Sementara itu Cassie berlari menuju cowok yang memegangi tananku. Cassie langsung memiting tangan cowok itu dan memukuli wajahnya. Amanda berlari ke arahku sambil teriak-teriak kemudian dia membantuku berdiri kembali karena tadi sempat terjatuh.

“Kamu nggak apa-apa kan Dave?” Tanya Amanda. Aku hanya menganggukan kepalaku lemah. Lalu Amanda membantuku berjalan menjauh dari situ.

“Nda. Cassie sama Chloe gimana? Mereka berantem lho,” ucapku lirih, karena pukulan di daguku tadi begitu sakit.

“Sudah biarin. Mereka pasti bisa mengatasinya kok. Lagian pasti sekarang sudah ada yag melaporkan kasus ini. Jadi lebih baik kamu ikut aku ke ruang pengobatan,” dia menarikku makin menjauh.

Kulihat pertarungan makin sengit. Tapi sepertinya teman Steffano kalah oleh Chloe dan Cassie. Aku melihat ke arah Steffano sekali lagi. Dia menatapku dengan tatapan sayu dan menyesal. Akupun langsung mengalihkan pandanganku karena aku benci padanya. Ternyata rasa takutnya melebihi rasa cintanya padaku. Jadi lebih baik kita menyudahi hubungan yang baru kita jalin ini. Beginning to the end.

 

-To be Continued to Perkamen Nine-

Hola Semuanya..

Onew is back. bawa Chapter 8. sorry yah kalo lama, habis Onew udah fix kalau bakalan ngepost satu minggu sekali. jadi mulai kedepannya musti nunggu satu minggu buat kelanjutannya yah. oke oke???

oh ya aku mau berterima kasih buat semua yang komen. thanks guys. pokoknya di perkamen ini komennya harus lebih banyak. ‘kay?hahaha

sorry kalau part kali ini gak bagus dan banyak typo. sorry juga kalo sex scenenya gak bagus. aku kan se expert si Rendi,hahaha

oke deh. happy reading yoo. jangan lupa komen yah!

Adios!!!

Yours Truly

Onew Feuerriegel

Stormy Day (8)

DIS_

Chapter 8

♂ Vendetta

 

“Tivo?” Peter memanggil namaku dengan suara yang agak tercekat. “L-lo mau apa?” tanya Peter sambil membuang pandangannya menjauh. Aku bisa melihat matanya yang bergerak gusar ke kanan dan ke kiri. Berharap kalau aku segera pergi dari sisinya. Tetapi, tidak, I have to tell him about my vendetta. My vendetta is over, and his should know about it. “Gue mau lo keluar sekarang juga dari mobil gue!” Sekarang dia sudah menggunakan panggilan lo-gue padaku. Dia sungguh-sungguh ingin melupakanku.

“Ada yang pengen gue bicarain sama lo,” kataku muram. Aku benci nada suaraku sendiri, membuat Peter menoleh iba dan bingung ke arahku. “Gue mau bicarain soal janji yang lo buat.” Aku memposisikan tubuhku ke dekatnya. Peter ingin beranjak menjauh, namun aku menahan tangannya agar dia tidak bisa bergerak ke manapun. “Lo beneran pengen ngejauhi gue, Pet? Lo nggak pengen ngelirik gue kayak dulu lagi?”

Peter menatap bibirku, mataku, pipiku, dan seluruh wajahku dengan raut tersiksa. “Iya, gue mau lakuin itu semua. Gue udah nggak mau ganggu hidup lo lagi.” Peter menekan pelipis matanya, gelagatnya benar-benar sulit untuk kubaca. “Kalo lo udah nggak pengen ngomongin apa-apa lagi, lo bisa keluar sekarang kan dari dalem mobil gue?” Suaranya begitu jauh dari pendengaranku, aku seperti sedang mendengarkan bisikkan tertahan.

“Kalo gue minta sama lo nggak usah nepatin janji yang lo buat, gimana? Kalo gue mau lo selalu ngelirik gue, apakah lo mau turutin apa yang gue minta?” tanyaku, sangat penasaran dengan jawaban apa yang akan dia berikan untukku. Tetapi Peter hanya diam saja di tempat duduknya, dia menatap lambang DIS yang ada di depan matanya seakan-akan hal itu sangatlah menarik. “Pet?” lirihku dalam rasa gugup.

Gaddamit!” serunya penuh penekanan. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat. “Sebenernya apa sih yang lo mau dari gue Tiv? Lo nggak capek apa nyiksa perasaan gue?! Perasaan kita?! Dan sekarang lo mau nyiksa batin gue.” Peter meremas tanganku makin kuat. “Gue capek Tiv, gue udah nggak pengen berurusan lagi sama lo. Gue pengen nerusin hidup gue. Dan gue mohon sama lo, jangan pernah deketin gue lagi! Gue nggak mau lo nyiksa gue terus! Gue udah nggak sanggup.”

“Lo pikir gue sanggup nahan diri gue untuk sok cuek terhadap lo?” Suaraku meninggi, entah kenapa aku merasa sangat ingin mengeluarkan isi di kepalaku. “Lo pikir selama ini hidup lo aja yang menderita? Lo salah, gue juga ngerasain itu. Gue udah nyoba buat nyingkirin rasa dendam gue sama lo. Gue udah nyoba buat jadi orang yang nggak egois. Tapi semua hal itu nggak bisa gue singkirin gitu aja. Rasa sakit hati yang lo rasain nggak ada apa-apanya dibanding perasaan yang gue punya. Gue ngelihat lo sembunyi pas gue mau diperkosa, lo bahkan sama sekali nggak keluar dari dalem lemari dan nyari orang yang bisa bantuin gue. Lo cuman—cuman—“

Peter menaruh kepalanya di pundakku, aku bisa merasakan getaran di tubuhnya. “Gue minta maaf, Tiv. Gue bener-bener takut waktu itu. Gue terlalu syok buat bisa keluar dan nyelamatin lo. Gue memang pengecut, lo boleh pukul muka gue sepuas yang lo mau. Tapi maafin gue, maafin semua hal lemah yang pernah gue lakuin ke elo.” Peter mengangkat kepalanya, tanpa aba-aba aku langsung meninju rahangnya. Badan Peter menabrak kemudi mobil agak keras.

“Gue mukul lo pun nggak akan ngerubah apapun, Pet,” ujarku pelan. “Tapi gue udah maafin lo malem itu. Gue udah nggak dendam lagi sama lo. Kini gue sadar Pet, rasa dendam itu selalu ada di hati gue karena gue nggak pernah bisa maafin lo. But that vendetta gone now!”

“Terus buat apa ninju rahang gue?” tanyanya skeptis.

“Buat kesenangan gue, kali.” Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. “Gue mau lo tau Pet, perasaan dendam itu udah pergi entah kemana. Rasa maaf yang buat hilang dendam gue ke elo. Terserah lo mau percaya apa enggak, tapi… itulah yang gue rasain sekarang.” Peter menatapku sayu, pandangan menggodanya kembali datang lagi di matanya. “Jadi… gue mohon, nggak usah jauhin gue! Lo bisa kan lakuin itu? Lo masih cinta kan sama gue? Karena gue masih cinta sama lo.”

“Pertanyaan lo bodoh!” sergah Peter cepat. “Meskipun cuaca berubah, meskipun setiap manusia berubah karena bertambah umurnya mereka, tapi hati gue ke elo nggak akan pernah berubah. Gue akan selalu cinta sama lo.” Untuk waktu yang sangat lama, genggaman tangan kami selalu terpaut menjadi satu. Aku mencari rasa dendam itu di dalam hatiku, namun aku tidak menemukannya sama sekali. Perasaan itu hilang, hilang begitu saja karena akhirnya aku bisa memaafkan Peter.

Kuangkat kepalaku, menatap wajah Peter yang sedang mengarah padaku. “Gue—euh—aku pengen kita ulang semuanya dari awal. Kalo kemarin-kemarin kamu yang minta aku kayak gitu, sekarang giliran aku lagi yang minta.” Bisa kurasakan jari-jari Peter masuk ke dalam celah kosong yang ada di jemariku. “Sudah saatnya aku berdamai sama hatiku, sama hatimu, sama perasaan kita. Aku nggak bisa jadi munafuck—eh—munafik terus. Aku cinta sama kamu, dan itu udah cukup buat yakinin hatiku kalau aku nggak suka kamu nggak anggep aku ada. Aku nggak suka pas kamu cuekkin aku, atau saat kamu nggak ngelirik aku lagi. I feel so angst. So, please, we have to start our relationship from beginning!”

“Kenapa kamu baru ngomong gini pas aku udah janji sama diriku sendiri untuk jauhin kamu? Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin malem?” tanyanya dua sekaligus.

“Karena aku baru sadarnya sekarang, pas kamu cuekkin aku. Pas kamu nggak natep aku sama sekali. Aku ngerasa… hampa.” Aku menundukkan kepalaku. “Kadang-kadang, ngingkari janji untuk diri sendiri ada baiknya.” Aku mencoba membujuknya agar dia mau membuka hatinya lagi untukku. Meskipun aku tahu hatinya akan selalu menerimaku kembali. “Tapi kalo kamu memang nggak mau sama aku lagi, aku bisa ngerti. Aku terlalu banyak ngasih kamu luka. Kamu nggak akan bahagia sama aku.”

Oh, shut up!” bentaknya keras. “Kamu tau nggak aku sakit hati banget pas kemarin malem kamu nyuruh aku untuk nyari orang yang bisa buat aku bahagia. Mana bisa aku nyari orang itu kalo yang bisa buat aku bahagia, sakit, dan cinta hanya kamu aja!” Peter berseru kencang. “Jadi kamu nggak usah nyuruh aku nyari orang lain, karena kamulah kebahagiaanku Tiv!” Peter menutup matanya, seperti sedang mencari sesuatu di dalam pikirannya. “Kamu tau nggak, pas aku buat janji untuk jauhin kamu itu ke diriku sendiri, aku bener-bener ngeraguin hal itu. Aku yakin aku akan gagal. Dan pas aku cuekkin kamu tadi, aku bener-bener tersiksa. Nggak lihat muka kamu sehari aja, aku kangen… banget.”

Jika situasi ini ada di dalam sebuah adegan film, aku pasti akan tertawa di dalam hati. Betapa sifat gombalnya Peter tak hilang-hilang. Namun, aku suka. Aku suka ketika dia melakukan hal itu. “Karena itulah… kita ulang semuanya dari awal lagi. Kita restart hati kita masing-masing. Maafin aku karena udah nggak tau diri dan mainin hati kamu kayak mobil Tamiya yang pernah kita beli dulu.” Aku menoleh ke arahnya, lambat laun senyuman miring itu muncul. Dia mengangkat tangannya dan mencubit hidungku. Cepat-cepat kutepis tangannya.

“Iya, ayo kita ulang semuanya dari awal lagi!” Peter mendekat ke arahku, mencium pipiku.

Namun aku tidak suka itu, maksudku, cium pipi itu hanya dilakukan oleh Kakek dan Nenekku saat aku main ke Solo. Sebagai gantinya aku menarik kepala Peter dan mencium bibirnya lama-lama. Lamaaaaa sekali. Sampai bisa kurasakan nafas kami sama-sama tercekat. “Berarti, drama aku ngemis-ngemisnya udah berhenti kan sekarang? Terlalu klise kalo kamu nolak permintaanku, terus aku kejer-kejer kamu. Kayak FTV ntar cerita hidupku. Lagi pula, aku kasihan sama yang nulis cerita hidupku, pasti dia capek ngetiknya.”

Peter terkekeh lembut, sekali lagi dia mencium—ralat, soalnya cuman bentar—mengecup bibirku. “Iya, drama ngemis-ngemisnya udah selesai.” Peter menyalakan mobilnya. Mesin berderu halus, membuat mobil Peter bergetar pelan. “Tapi aku benci sama yang nulis cerita hidupku, pas aku ngemis-ngemis sama kamu dia malah nggak nyatuin kita.” Sekali lagi, Peter terkekeh. Kali ini lebih kasual dari sebelumnya. “Tiv, I’m glad we getting back together again. Kali ini, aku bakalan bener-bener jagain kamu. I won’t be coward anymo! I promise.”

Me too.” Aku berujar tulus. Entah kenapa, himpitan yang ada di dalam dadaku agak lebih lega sekarang. Aku bisa bernafas kembali dengan tenang. Tidak ada lagi dendam, kecuali untuk si Bajingan. Aku masih sangat dendam padanya. Sampai kapanpun. “Lho, kita mau ke mana?” tanyaku saat kami keluar dari gerbang DIS. “Aku bawa mobil, aku turun di sini aja.” Tetapi Peter tidak menghentikan mobilnya sama sekali. “Peter!”

“Nanti kita balik lagi ke sekolah buat ambil mobil kamu.” Peter menyalakan radionya. Lagu Closer dari Travis berdendang ke seluruh sudut mobil. “Aku mau latihan Skateboard di Monas. Dari dulu aku pengen banget ajak kamu. Aku selalu berharap kamu bisa nonton aku latihan. Kayak aku yang selalu nonton kamu kalo lagi latihan di klub Acapella.” Aku terkejut mendengar fakta ini. Aku tidak pernah tahu kalau Peter selalu menontonku latihan.

“Kamu nonton aku… latihan?” tanyaku, nada tak percaya sangat terdengar jelas di suaraku.

Peter mengangguk. “Aku selalu sembunyi di sudut ruangan, di deket… sideaways door. Kamu memang nggak akan bisa lihat, nggak akan ada orang yang bisa lihat. Tapi… itu nggak penting. Aku suka nonton kamu latihan, aku suka denger suara kamu. Cuma itu satu-satunya fakta yang bisa nyadarin aku kalo suara kamu masih sama seperti dulu. Well, nggak juga sih, suaramu udah agak berat, tapi tetep aja indah.” Peter mengalihkan pandangannya saat kami berhenti di lampu merah. “I like the way you sing a song.”

Trims.” Jika aku bisa tersenyum, jika saja bibir ini bisa kugerakkan menjadi sebuah senyuman, aku pasti akan menampilkan senyuman paling lebar yang pernah ada di bibirku.

“Euh, sebenernya, aku mungkin nggak akan bener-bener nepatin janjiku. Kalo misalnya kita masih nggak… yah, nyambung—entah apa sebutannya untuk kita berdua—aku pasti bakalan tetep pergi diem-diem buat nonton kamu latihan. Kamu tau kan, suara kamu itulah satu-satunya hal yang bisa ngasih tau aku kalo kamu masih Tivo yang dulu. Tivo yang ceria, Tivo yang bebas, Tivo yang tanpa beban. Everything at once. Tapi kalo kamu berhenti nyanyi, you being a rigid people again. And honestly, for Heavenly’s sake, I hate it! Really hate it.”

I won’t stop singing, sing is my soulmate.” Aku berujar pasti. Meskipun aku sangat jarang bicara, tetapi bernyanyi adalah sesuatu yang bisa kuutarakan dengan sangat lugas. Aku suka ketika orang menatapku dengan pandangan kagum. Jika Sid disegani karena aura rajanya, jika And ditakuti karena dia kuat, jika Revie dicintai karena hatinya yang dermawan, jika Zavan diperhatikan karena penampilannya yang sangat populer, hanya itu satu-satunya hal yang bisa kutunjukkan di dalam diriku. Kalau aku bisa, bisa menjadi diriku sendiri dan orang akan menyukai diriku apa adanya. Jadi diri sendiri memang lebih baik daripada berpura-pura.

Tak berapa lama kemudian, kami akhirnya sampai juga di Monas. Kami berdua keluar dari dalam mobil dan mulai mencari teman-teman Peter yang lain. Aku hanya duduk sendiri di pinggir seat cluster. Sedangkan Peter dengan teman-temannya sedang membicarakan sesuatu. Dia mengambil skateboard yang diberikan oleh temannya. Peter melepas jas DIS nya dan menaruhnya di atas signboard. Dia berbalik sebentar ke arahku, memberikanku sebuah senyuman kecil. Yang langsung kubalas dengan anggukkan kepalaku. Dari jarak sejauh ini saja aku bisa melihat betapa cerianya wajahnya sekarang.

Aku tidak pernah mengerti—atau lebih tepatnya, aku tidak pernah tahu apa saja tekhnik permainan skateboard. Yang kulihat sekarang hanya Peter yang meloncat ke sana kemari di atas tiang penyangga sambil membolak-balikkan papan skatenya dengan sangat ahli. Kalau aku yang memainkan skateboard itu, aku yakin aku akan langsung terjatuh dan mematahkan gigiku sendiri. Jadi tidak, skateboard bukan olahraga favoritku sama sekali. Dalam sekali lihat aku langsung tahu itu. Tetapi melihat Peter memainkan papan skate nya dengan sangat gamblang, mengingatkanku dengan cara bernyanyiku. Begitu bebas, begitu tanpa beban.

Namun kalau diingat-ingat lagi, Peter pernah disuck oleh Sid. Aku tahu itu karena Sid yang menceritakannya kepada kami soal hal itu. Waktu itu aku tidak begitu memperdulikannya, namun sekarang, entah mengapa aku jadi bertanya-tanya. Apakah dia suka ketika Sid… ah, you understood what I mean! Setelah dia selesai latihan, aku akan bertanya hal itu padanya. Rasa penasaran tidak pernah menggerogoti hatiku seperti ini. Bagaimana kalau ternyata Peter suka ketika Sid menghisap…? Bagaimana kalau Peter menyimpan sebuah perasaan ke Sid karena hal itu? Bagaimana kalau—

“Hei!” sapa Peter tiba-tiba di sebelah kananku. Dia menyerahkan Evian-nya ke arahku. “Lagi ngelamunin apaan? Serius amat?” Peter membalik skateboard nya, gambar tribalism kuno mendominasi bawah papan skatenya. Aku memperhatikan gambar itu, bertanya-tanya pada diriku sendiri apa arti dari gambar tersebut. Aku berdeham dan kembali menyerahkan Evian yang ada di tanganku ke padanya.

“Apa arti dari gambar tribalism kuno yang ada di bawah papan skatemu itu?” tanyaku. Aku berdeham pelan, mencoba mencari bahan pertanyaan yang ringan dulu sebelum bertanya soal Sid yang pernah menghisap—mengambil istilah Zavan—disco stick-nya.

Peter menyipitkan matanya, menatap gelagat anehku yang terlalu kentara. “Arti gambar itu, kesepian bisa diobati dengan persahabatan.” Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku. “Aku tau ada yang pengen kamu tanyain. Kalo memang ada, silahkan tanya! Kalo aku bisa jawab pasti bakalan kujawab.” Dari dulu Peter memang selalu bisa membaca gelagat anehku. Mungkin karena aku memang sangat jarang menunjukkan gelagat anehku di depannya.

“Hmm… aku mau nanya soal—“ Aku menghentikan ucapanku. “Nggak usah aja deh!”

“Oh, c’mon!” serunya, dia menatapku dalam-dalam. “Kan kamu tau aku paling nggak suka dibuat penasaran.” Peter melirik ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya dia menggenggam tanganku. “Ayo, tanya aja apa yang ada di pikiran kamu saat ini!” perintah Peter tegas.

Aku terdiam beberapa saat, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk kuajukkan padanya. “Aku mau nanya soal… Sid,” kataku sembari melirik ke arahnya dengan pandangan gugup. Peter menatapku, alisnya terangkat sebelah. Jika dia sudah menunjukkan ekspresi seperti itu, tandanya dia tidak suka dengan ucapanku yang selanjutnya. Namun sudah kepalang tanggung dan aku sudah sangat penasaran. Jadi aku kembali bertanya padanya. “Pas kamu di… suck sama Sid, kamu suka apa enggak?” Raut wajah Peter berubah pias. Bad move! Red alert!

“Apa aku perlu jawab ITU?” tanyanya, dia menegaskan setiap kalimat yang dia lontarkan.

Kukedikkan bahuku, pura-pura apatis. Namun karena aku masih saja menunjukkan gelagat anehku di hadapannya, dia tahu aku berbohong. “Kalo kamu nggak mau jawab juga nggak apa-apa. Tapi bukannya kamu tau Pet,” ucapku ke arahnya. “Aku paling nggak suka dibuat penasaran.” Aku kembali melontarkan kalimat yang dia tunjukkan untukku tadi. Jika rasa penasaran ini tidak menggerogoti ulu hatiku, aku tidak akan memaksanya untuk menjawab pertanyaan semi-bodohku tadi.

Hembusan nafas Peter begitu panjang dan sangat-sangat jengkel. Tetapi aku tahu, dia bukan jengkel terhadapku, tetapi jengkel kepada sesuatu yang ada di dalam pikirannya. “Aku nggak suka,” jawabnya kemudian. Dan aku langsung yakin, kalau dia memang menjawab jujur. “Aku nggak suka Homo itu—oke, aku juga Homo, tapi tetep aja Homoan dia—dengan lancangnya buka celanaku dan… kamu tau kan apa yang terjadi selanjutnya?” tanyanya, yang langsung kujawab dengan anggukan lekas. “Pas dia ngelakuin hal itu sama aku, entah kenapa aku ngerasa kayak lagi mengkhinati kamu. Ngertikan omonganku?” Aku kembali mengangguk. “Apalagi dia pakek acara foto-foto segala. That asshole!”

“Bukannya kamu duluan yang ganggu dia?” Aku bukan bermaksud ingin membela Sid. Tapi kalau ditelaah lagi, memang Peter lah yang duluan mencari masalah pada Sid. Kini aku tidak penasaran lagi soal perasaan Peter saat itunya dihisap oleh Sid. Dia telah berkata jujur, dan dia bilang dia tidak menyukainya. “Kalo kamu nggak ganggu hidupnya duluan, kamu nggak akan kena masalah itu? But, well, aku juga mau minta maaf karena waktu itu aku pernah bantuin dia, dengan ngasih dia borgol untuk ngunci tanganmu.”

“Aku nggak akan ganggu hidupnya kalo dia nggak ganggu hidup salah satu flocksku.” Peter menyesap Evian-nya banyak-banyak. “Dan ya, aku tau kamu juga terlibat. Tapi aku akan selalu maafin kamu bahkan sebelum kamu minta.” Kini aku makin merasa bersalah padanya. Tetapi, itu semua sudah terjadi dan aku tadi sudah minta maaf. Yang harus kami bahas saat ini adalah soal dia dan Sid yang selalu berseteru. Aku tidak suka jika saat Sid tahu aku dan Peter mempunyai hubungan membuat persahabatan kami rusak.

“Tapi flocks kamu duluan yang ganggu dia di homeroom Biology waktu itu. Aku lihat kok dengan jelas si Gio nendang-nendang kursinya dia, terus Sid ngebentak keras Gio. Dari semua hal itu, aku nggak lihat Sid yang salah. Aku tau banget sifat Sid. Dia nggak akan pernah mau ganggu orang lain kalo orang itu nggak cari masalah sama dia.” Aku menatap wajah Peter yang masih menunjukkan ketidak pedulian. “Aku nggak bisa milih antara kamu atau sahabat-sahabatku nanti kalo mereka tau soal kita. Aku mau kamu sama mereka bisa akrab, kayak kamu ke Vick.”

Peter menatapku tidak percaya. “Aku harus beramah tamah sama Sid dan Zavan gitu?! Not in zillion years!” tukas Peter ketus. “Aku bakalan baik sama mereka kalo mereka juga bersifat baik sama aku.” Ck! Jika Peter saja sudah sekeras kepala ini, bagaimana dengan Zavan dan Sid nanti? Mereka akan langsung menyuruhku untuk bermeditasi ke Gunung Semeru agar pikiranku terbuka dan menyuruhku untuk memilih mereka atau Peter. Dan sampai kapanpun, bahkan selamanya, aku tidak akan pernah bisa memilih salah satu di antara mereka.

“Ya udah deh. Terserah kamu!” Aku paling malas kalau sudah begini. Aku bukan tipe orang yang suka banyak bicara, sekalinya aku banyak bicara, aku ingin didengarkan. Bukan malah diacuhkan seperti ini. Rasanya sungguh-sungguh menyebalkan. “Kalo nanti aku lebih milih mereka ketimbang kamu, jangan sampe kamu dendam atau mau ngelakuin vendetta ke aku! You know me so well, Pet, I can’t choose between you or them.”

I’m so sorry, okay!” ujarnya cepat, ingin menetralisir wajahku yang mulai jutek. “Oke, aku bakalan—damn you shit!—belajar buat baik sama mereka. Tapi kalo mereka mulai ketusin aku, lihat aja, aku nggak akan mau nengok ke mereka lagi!” Peter mengucapkan kalimat itu dengan nada menggerutunya. “Emang kapan kamu bakalan mau bilang sama mereka soal—“ Peter menunjukku dan dirinya secara bergantian. “Kita?”

Aku mengedikkan bahuku, belum benar-benar tahu kapan aku akan mengatakan soal hubunganku dengan Peter kepada flocksku. Revie dan And mungkin akan menerimanya dengan lapang dada. Tetapi Sid dan Zavan? Aku tidak bisa membayangkannya sama sekali. Bahkan di mimpi burukku yang paling seram pun itu tidak akan pernah terjadi. “Tunggu aku bisa ngejelasin ke mereka soal hubungan kita! Untuk saat ini, kita pelan-pelan aja dulu. Lebih baik kita kasih tau duluan orang-orang yang memang tau soal masa lalu kita.”

Peter hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Berarti aku nggak perlukan beramah tamah sama Sid dan Zavan untuk sementara ini?” tanyanya. Dengan berat hati aku mengangguk. “Splendid!” serunya sambil mengambil skateboardnya. “Kamu mau pulang apa enggak? Aku udah selesai latihannya. Tadi aku cuman mau ngelatih twister roleku aja.” Peter memakai kembali jas DIS nya, yang baru kusadari kalau ada di sebelah kanannya. Aku menaruh tali tas selempangku di pundak, lalu berdiri dan mengangguk.

Saat kami berjalan menuju ke arah mobilnya, aku melihat beberapa anak SMA Negeri sedang asyik berbincang-bincang di bawah kaki Monas. “Pet, kamu pengen nggak sih kayak anak-anak itu?” tunjukku menggunakan dagu ke arah anak-anak SMA Negeri itu. “Mereka semua punya kehidupan normal di sekolah Negeri mereka. Nggak kayak DIS yang banyak drama hiperbolisnya. Bahkan drama di DIS melebihi sinetron Cinta Rendi yang episodenya udah sampe beratus-ratus.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku iba. “Aku dari dulu penasaran pengen masuk ke sekolah Negeri. Pakek baju putih-abu-abu, ngomong santai di kantin, jalan-jalan normal sama temen, nggak bicarain soal-soal ngeremhin orang lain, yah, pokoknya yang santai-santai aja. Ala anak SMA Negeri.”

“Tivo, hal itu nggak akan pernah terjadi, kamu tau kan orang tua kita gencar banget pengen kita masuk di DIS?” ujar Peter, dia menyampirkan seat beltnya di dada. “Kamu denger nggak yang orang tua kita bilang pas kita bertiga dulu pengen masuk SMP Negeri Harapan Bangsa? Mereka langsung nolak mentah-mentah, dan sejak itulah harapan kita bertiga pupus untuk bisa makek seragam putih-biru ala anak SMP normal.” Peter menyalakan mobilnya, kusandarkan tubuhku di sandaran kursi. “Tapi sudahlah, cooked rice too late be porridge.”

“Yeah, you rite!” Aku melihat jam tanganku, jam setengah tujuh nanti aku ada meeting dengan klienku yang baru saja datang dari Kamboja. Mau membicarakan soal—soal apa ya? Entahlah, kini aku benar-benar merasa sangat malas untuk melakukan semua pekerjaan ini. Soalnya aku sudah mempunyai kesibukkanku sendiri. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan dia.

Peter.

***

Sid melipat kedua tangannya di dada saat aku sudah sampai di hadapannya ketika kami berkumpul di parking lot area DIS. Matanya yang tajam meneliti wajahku dengan sangat tajam. Bisa kurasakan perasaan tidak mengenakkan masuk ke dalam hatiku. Sid biasanya memberikan tatapan mengerikan seperti itu hanya kepada orang-orang yang ingin dia intimidasi. Tetapi, untuk apa dia mengintimidasiku? Memangnya aku salah apa? Oh!

Jangan bilang kalau dia tahu aku dan Peter mempunyai sebuah hubungan! Dang it! Not Now!

“Ada yang pengen gue omongin sama lo,” katanya menggunakan nada rajanya. “Tapi gue lagi nggak punya waktu untuk ngomongin hal itu sekarang. Kita omongin di DisCaf aja!” Sid menjentikkan jarinya, menyuruh kami berempat untuk mengikuti langkahnya menuju ke dalam gedung sekolah. “Kita ke principal space, ada seseorang yang pengen gue kasih wejangan terakhir sebelum dia nggak ngelihat muka gue lagi.” Nada raja di dalam suara Sid benar-benar membuatku ngeri. Ada sesuatu di dalam suaranya yang membuatku bergidik.

Ketika kami melewati flocks Peter, tiba-tiba cowokku satu itu menoleh ke arahku. Dia memberikanku sebuah senyuman menggoda, membuatku mendengus ke arahnya. Tetapi Peter seperti tidak menyadari dengusanku. Saat semua mata manusia yang ada di sini sedang sibuk meneliti flocksku, tiba-tiba Peter memberikanku sebuah ciuaman di udara. Aku melototkan mataku ke arahnya, namun dia malah tertawa kecil. Di dalam hati aku juga ikut tertawa, tapi melihat sifat intimidasi yang Sid berikan padaku tadi, sepertinya aku lebih baik menyimpan tawa dalam hatiku untuk nanti saja.

Kami sampai di depan pintu ruangan kepala sekolah saat Yoza baru saja menutup pintunya. “Hello!” sapa Sid dengan nada menusuk ke arah cowok itu. Yoza menoleh ke arah kami dengan raut wajah terkejut. “Gimana rasanya keluar dari sekolah?” tanya Sid sombong, Yoza seperti sedang menahan sesuatu di tubuhnya yang gemetar aneh. “Kan gue udah kasih tau lo dua kali, untuk jangan pernah nyari masalah sama gue! But, see! Lo memang nggak pernah inget untuk naro otak lo kembali ke kepala lo!” Sid memicingkan matanya dalam-dalam. “Gue nggak tau setan apa yang masuk ke tubuh lo sampe-sampe lo rusakkin file Excel kepunyaan gue di ruangan Klub Baseball gue. Lo tau kan itu semua data penting, tapi dengan anjingnya lo hapus gitu aja.”

Yoza memundurkan sedikit badannya saat Sid maju ke arahnya. “Gue udah sering ngasih tau lo buat MYOB! Tapi lo nggak pernah denger!” Sid menepuk pipi Yoza dua kali, agak pelan tetapi sangat penuh dengan ancaman. “Atau lo nggak tau artinya MYOB. Sini gue kasih tau, MYOB itu artinya Mind Your Own Bussiness, atau kalo mau diartiin ke bahasa Indonesia adalah… urus diri lo sendiri! Ato lo mau arti spesifiknya… lemme tell ya! Arti spesifik dari kata-kata itu adalah, jangan pernah lo ganggu hidup gue!” Sid menegaskan semua kata itu dengan suara berdesis marah. “Tapi sekarang lo udah nerima kan hukumannya. Kini lo tau siapa itu gue, lo tau lagi ngadepin siapa. Lo harusnya lebih pinter kalo mau nyari musuh!”

Yoza hanya diam saja di tempatnya berdiri, mulutnya terkuak ingin melawan, tetapi Sid menatapnya dengan sangat-sangat tajam. Membuat cowok itu membungkam kembali mulutnya. “Pity who you are!” celetuk Zavan di sebelahku. “Atau lo mau tau juga arti kata-kata itu… LOL. Artinya adalah… kasihan deh lo! Makanya, kalo punya otak dipakek ya. Jangan jadi hiasan di dalem kepala doang! Nyari masalah kok sama orang yang nggak tepat!”

Sid mendekati Yoza lagi, kini wajahnya hanya beberapa sentimeter sama cowok itu. “Tapi bagusnya lo nggak akan pernah ketemu gue lagi. Lo akan pergi jauh dari sini, didn’t you!” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. “Omong-omong, gue titip salam ya buat sekolah lo yang baru nanti. Semoga lo bisa lebih mikir lagi kalo mau nyari musuh!”

You—“ Yoza menunjuk Sid tepat di dada.

Oh, shut your fucking monyet mouth!” gertak Sid kejam. “Ini masih pagi, dan gue nggak mau hirup udara najis dari mulut lo. Jadi lo nggak usah ngomong hal yang malah buat lo makin menderita! Karena gue bisa buat hidup lo lebih hancur dari ini. Just watch your back and you know my words mean!” Sid merapatkan jas DIS nya dengan gaya angkuh. “Lo lebih baik berdoa deh, semoga di sekolah lo yang baru lo nggak ketemu orang kayak gue. Biatch!”

Sid berbalik cepat, Revie menatap Yoza iba, tetapi cowok itu malah menatap tajam ke arah Sid. Zavan kembali berbalik ke arah Yoza. “Ay, mi papito—uhuk—jalang!” Zavan tersenyum licik ke arah cowok itu, kini wajahnya benar-benar terlihat sangat marah dan… ringkih. Aku tidak tahu apa yang telah Sid lakukan kepada Yoza sehingga membuat cowok itu dikeluarkan dari sekolah ini. Aku juga tidak begitu tahu apa permasalahan yang terjadi di antara mereka. Sid memang punya banyak musuh, dan dia selalu bisa mengatasinya. Saking banyaknya musuhnya itulah aku bingung dia dan Yoza terlibat pertikaian apa.

Kali ini Sid kembali menang. Oh, tidak! Catat kata-kataku barusan, Sid memang akan selalu menang. Tidak akan pernah ada orang yang bisa mengalahkannya begitu saja. Dan aku tahu, aku juga sedang dalam bahaya besar. Bisa dipastikan kalau aku pasti akan kalah. Aku harus menyiapkan mentalku banyak-banyak sebelum Sid mendepakku keluar dari inner circle persahabatan kami. Aku sepertinya akan benar-benar tamat, sudah tidak jujur dari awal, kini malah menjalin hubungan dengan Peter. Iya, Peter, musuh besar Sid!

Sid sepertinya sengaja menyiksaku. Karena daritadi dia berlama-lama memesan makanan. Matanya yang tajam menelusri buku menu tanpa minat. Revie yang duduk di sebelahku sedang sibuk membuka buku Geometry. And sedang sibuk mengunyah permen karet dan Zavan sedang sibuk memfoto segala manusia yang ada di DisCaf dengan kamera Polaroid yang dia punya. Hanya aku saja yang duduk dengan tegang di sofaku. Aku tidak tahu harus memulai percakapan duluan atau bagaimana. Menunggu juga bukan hal yang menyenangk—

“Nggak ada yang pengen lo kasih tau ke kita?” tanya Sid tiba-tiba, dia menurunkan buku menu yang ada di tangannya. Karena pertanyaan itu aku berubah gagap. Tidak tahu harus mengucapkan apa pada Sid. “Lo masih pengen nyembunyiin hal itu dari kita? Dari GUE?” Sid menekan kalimat terakhir dengan sangat mengerikan. Seperti karakter Voldemort yang menyuruh Lucius Malfoy untuk membunuh Harry Potter. “For God’s sake, Tivo! Kenapa lo nggak pernah cerita ke kita pas lo masih kecil dulu sering disiksa sama bokap lo?”

Eh? Kok malah bahas hal itu?! “Karena—karena—“ Lidah goblok, sekali ini aja nurut apa yang otak suruh! “Karena menurut gue hal itu nggak perlu kalian ketahui. Biar gue aja yang tau soal itu, soal masa-masa gue menderita dulu.” Aku menarik-narik ujung kemeja DISku dengan perasaan lega. Kupikir mereka tahu soal aku dan Peter. Ternyata bukan hal itu. “Lagi pula itu hanya masa lalu kelam gue yang nggak perlu buat diceritain ke kalian.”

“Kenapa nggak?” tanya Sid sarkastis seperti biasa. “Emang lo pikir kita nggak pengen tau gitu? In the blink of eyes, lo sahabat kami, Tiv. Lo sahabat gue!” Sid memajukan badannya ke dekatku. “Bukannya sahabat adalah tempat kita cerita soal apa aja. APA AJA!” Sid kembali menyeruakkan kalimat penekanan itu di suaranya. “Lo tinggal bilang ke kita soal masa lalu lo itu, dan kami akan ngerti kenapa lo bisa jadi pendiem kayak sekarang. Lo malah nutupin semua itu, sahabat macam apa lo?!”

Zavan melirik sekilas ke arah Sid, namun dia kembali mengangkat kamera Polaroidnya. “Sudah, Sid!” Revie mencoba menenangkan. Entah kenapa, aku bisa melihat kalau Sid lagi dalam keadaan yang sangat kacau. “Aku nggak pengen kamu malah makin stress. Semua orang berhak kok nyimpen rahasia mereka masing-masing. Kamu, aku, And, Zavan dan Tivo sekalipun. Aku tau kamu marah-marah begini pasti karena ada sesuatu yang lagi bikin kamu stress. Mendingan kamu cerita ke kita soal itu. Untuk Tivo, kita udah tau dari jauh-jauh hari soal masa lalu kelamnya sama Papanya. Jadi nggak usah diungkit-ungkit lagi.”

Sid akhirnya menatap kami muram. Raut yang sangat jarang muncul di wajahnya. “Adam dan Leyla—yeah, nama cewek Madura itu—bakalan nentuin tanggal pernikahan mereka.”

WHAT?!!!” seru kami serempak. Bahkan sampai kamera Polaroid yang Zavan pegang jatuh berdebam ke lantai. Revie cepat-cepat beranjak ke arah Sid, memeluk kecil sahabat kami satu itu. Revie mengelus punggung Sid, raut wajah angkuh dari cowok itu berubah durja. Aku dan yang lain saling melemparkan pandangan. Pantas saja Sid daritadi memberikan kami—atau lebih tepatnya aku—sebuah pandangan tajam seperti tadi.

“Lo sama Adam udah bicarain belum hal ini baik-baik?” tanya And hati-hati. “Kalian udah nyoba buat… yah, intinya, Adam udah ngasih tau orang tuanya belum kalo dia nggak bisa nikahin—siapa tadi namanya cewek Madura ini?” Revie memberikan And jawaban dengan gerakan bibirnya. “Iya, si Leyla ini? Coba suruh Adam buat kasih tau orang tuanya pelan-pelan aja. Gue yakin pasti orang tuanya Adam bakalan ngerti.”

“Sudah, dia udah ngelakuin hal itu.” Sid mengacak-ngacak rambutnya, frustasi. “Tapi orang tuanya malah nggak mau denger. Makanya pas gue ke rumahnya kemarin, Adam tiba-tiba langsung ngenalin gue ke orang tuanya sebagai pacar dan alasan kenapa dia nggak mau nikah sama si Madura.” Kami menahan nafas secara bersamaan. “Tapi itu malah buat orang tua Adam makin pengen nikahin dia sama Leyla. Gue bahkan diusir sama orang tuanya Adam.” Sid menggeleng-gelengkan kepalanya, makin frustasi. “Tadi malem Adam nelpon gue dan bilang kalo dia mau kabur. Tapi gue nyuruh dia jangan kayak gitu, ntar semuanya malah makin runyam. Ck! Kisah cinta gue udah kayak Siti Nurbaya aja, meskipun gue nggak tau kisah cintanya Siti Nurbaya itu kayak gimana.”

Revie berpikir sejenak. “Ceritanya kalo nggak salah sih si Siti Nurbaya mau dijodohin sama Datuk Maringgi or sumthing gitu deh.” Kami menatap wajah polos Revie, bingung kenapa dia malah membicarakan hal itu. Lambat laun Revie mengerti tatapan kami ke arahnya. “Eh, maaf-maaf, kok aku malah ngomongin hal itu.” Revie tersenyum lemah. “Jadi gini aja Sid, kamu coba perjuangin apa yang kamu punya. Jangan menyerah hanya karena Datuk Maringgi menyerang hubungan kalian! Eh, maksudku si cewek Madura alias Mbak Leyla.”

I know, gue udah nyoba buat berusaha kok. Adam pun kayak gitu. Tapi kami makin kehabisan waktu sekarang. Gimana kalo tiba-tiba Adam udah nikah sama tuh cewek?”

Well, lo bisa cari yang lain,” ujar Zavan cepat. Aku dan And melotot marah ke arah bule satu itu. Sid pun menatap kejam ke mata Zavan. Bule itu langsung mengangkat tangannya ke udara. “Gue bercanda Sid, nggak usah dimasukkin ke hati. Gue cuman pengen lo jangan terlalu mikirin hal ini. Gue percaya kok lo sama Adam tuh jodoh. Iya, kan, guys?” Kami mengangguk-anggukkan kepala. Kalau sampai menggeleng, bisa dibuat mati kami oleh Sid. “Makanya lo santai aja, atau lo mau kita bantuin buat ngerebut Adam lagi dari cengkraman kedua orang tuanya? Gue bisa aja nyulik si cewek Madura terus gue buang ke lubang buaya.”

Perlahan, senyuman angkuh Sid kembali muncul di bibirnya. “Nggak usah dibuang ke sana. Ntar juga cewek itu sadar kok kalo dia dan Adam nggak akan bisa bersatu.” Sid meringis, tidak terlalu percaya diri juga akan hal itu. “Lagi pula pas gue ketemu Leyla, dia bilang dia udah punya cowok. Dan dia cinta sama cowoknya. Semoga aja Adam dan Leyla bisa ngurus semua hal itu. Lalu pernikahan mereka batal dan gue bisa balik lagi sama dia. Gawd! I hate this silly drama. Nggak di New York, nggak di Indonesia, ada aja kesialan yang menimpa gue. Kayaknya gue disantet nggak pernah bisa bahagia deh sama seseorang.”

“Iya tuh!” sambut Zavan cepat. “Pasti lo disantet sama flocks Pemuja Setan itu deh. Lo kan pernah ngerusak perkumpulan mereka. Makanya gue bilang kemarin Sid, jangan pernah main-main sama flocks Pemuja Setan itu! Lo liat aja dandanan mereka, kayak anak Emo tapi dicampur Gotik. Tapi bukan Gotik kayak si goyang itik heck in kontol to the EW itu!”

“Gue yakin lo sama Adam bakal balik lagi. Tuhan hanya lagi nguji kesabaran lo aja, makanya lo sampe kena cobaan kayak gini. Tapi Sid, semua cobaan selalu ada jalan keluarnya. Dan gue yakin lo pasti bakalan nemu hal itu.” Aku menggenggam tangan Sid sebentar, ingin memberikannya sebuah semangat. Aku bicara panjang lebar seperti itu karena aku juga pernah mengalaminya, kalau semua hal buruk yang terjadi, di suatu masa akan berbuah indah. Aku percaya hal itu sekarang, Tuhan hanya sedang menandai kita sebagai umat yang dia sayang dan dia cintai.

Sid tersenyum ke arahku. “Makasih Tiv. Gue nggak tau kalo lo bisa juga jadi Pastur, eh, salah. Lo kan islam ya, jadi ralat! Gue nggak nyangka kalo lo bisa mirip Ustadz Akbar.” Aku hanya mengangguk sekali, tiba-tiba mataku beralih ke arah Peter yang sedang mengedipkan matanya dengan genit ke arahku. “Dan maaf karena gue udah kesel sama lo. Gue cuman pengen keluarin aja hal yang gue tau soal lo. Karena gue pengen lo tau, kalo gue dan yang lain akan selalu ada buat lo. Karena kita sahabat.”

“Sahabat!” seru Revie, dia menaruh tangannya di depan kami. Kutaruh tanganku di atasnya, lalu disusul oleh yang lain. Tanpa aba-aba, kami langsung berseru secara bersamaan. “Sahabat!” Ya, kami berlima akan selalu menjadi sahabat apapun yang terjadi. Untuk ke depannya, aku akan lebih jujur terhadap mereka. Menceritakan hal yang memang pantas untuk mereka ketahui. Dan aku tahu, soal hubunganku dan Peter juga harus mereka tahu.

Tetapi aku masih tidak menemukan waktu yang tepat untuk hal ini!

***

“Kita mau kemana?” tanyaku saat duduk di sebelahnya di dalam mobil Ferari merahnya. Atapnya sengaja dia buka, suara serak-serak basah Bruno Mars mengiringi kepergian kami malam ini. “Aku ngggak pakek baju yang layak lho kalo kita mau makan malem.” Aku merapikan Lacoste-Polo biruku. Peter yang sedang mengemudi di sebelahku hanya tersenyum kecil. Sinar bulan yang agak redup karena tertutup awan menimpa wajahnya. Angin kencang sungguh-sungguh membuat tengkukku dingin. Malam ini sepertinya akan badai lagi seperti kemarin-kemarin.

“Aku mau main Futsal sama anak-anak komplek di Jadesweat. Kamu keberatan nggak kalo nemenin aku malem ini? Tapi habis itu kita ke Sushi Tei deh.” Peter melirikku sejenak. Matanya yang sayu benar-benar bisa membuatku mabuk. Dan itu buruk, sangat buruk! “Tapi kalo kamu nggak mau, aku anterin kamu pulang aja kalo gitu.”

Peter tadi bertanya padaku saat aku sedang berada di kantor. Padahal aku sudah bilang padanya kalau aku akan pulang bersama Pak Elmo—supir pribadiku. Tetapi dia memaksa ingin menjemputku. Ya sudah, karena aku memang bukan tipe orang yang suka berdebat lama-lama, aku mengiyakan saja. Let Peter gay(gembira). “Nggak usah, aku nemenin kamu main Futsal aja. Lagi pula, di rumah Mama lagi nggak ada. Dia pergi sama Tante Windry ke Pacific Place. Ada urusan apa gitu… biasalah Ibu-Ibu.”

“Oke.” Peter tersenyum lebar. Damn! Senyumannya benar-benar penuh godaan. “Oh, iya, kapan kita mau kasih tau Vick kalo kita udah nyatu lagi sekarang?” Peter bertanya sambil sesekali melirik jam tangannya. Rintikkan hujan kecil mulai jatuh dari atas langit. Peter menekan tombol yang ada di atas dashboardnya agar atap mobilnya tertutup.

“Terserah kamu maunya kapan. Aku kemarin juga udah ketemu sama Vick, untuk konsultasi soal perasaanku ke kamu.” Peter menatapku heran. “Hei, gini-gini juga aku harus yakinin diri aku sendiri kalau vendetta itu memang udah hilang dari dalem hatiku. Now, it really gone.”

“Ya, aku seneng kalo perasaan itu memang udah nggak ada di dalem hati kamu lagi. Sudah cukup kita nggak saling tegur sapa hampir tiga tahun. Kamu nggak tau aja gimana kesiksanya aku pas kangen banget sama kamu. Itu sebabnya aku jadi orang nyebelin kayak kemarin—well sekarang sih masih, tapi lagi nyoba buat jadi baik hati kayak dulu.” Peter memparkirkan mobilnya di parking lot Jadesweat. “Aku juga udah capek bully anak-anak itu semua, kasihan mereka. Nggak salah tapi jadi pelampiasanku karena kehilangan kamu.”

“Hiperbolis sih,” sahutku ke arahnya. “But, you have to stop NOW! Kalo Miley Cyrus jadi bitchy sekarang, lo harus jadi baik. Deal?” Aku menyodorkan tanganku ketika Peter dan aku telah berada di depan pintu masuk Jadesweat. Peter meraih tanganku, menggenggamnya cukup erat dan sangat yakin. Tanpa dia berkata apapun aku tahu kalau dia akan setuju.

Deal!” Jika tidak ada yang memanggil nama Peter, mungkin kami akan saling berjabatan tangan seperti ini. “Aku mau ganti baju di locker room, habis itu langsung masuk ke field. Kamu cari tempat duduk aja dulu. Oke?” Aku hanya mengangguk seraya melirik ke kanan dan ke kiri, mencari tempat duduk yang tidak terlalu dipadati oleh penonton yang lain. Peter mengelus rambutku sejenak sebelum akhirnya beranjak pergi dengan seseorang ke arah locker room yang ada di paling ujung Jadesweat.

Lagi sibuk-sibuknya aku mencari tempat duduk, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku. “Tivo! Kamu ngapain di sini?” Aku menoleh dan melihat Revie yang sedang tersenyum bak malaikat ke arahku. Aku menatapnya nanar, antara tak percaya akan ketemu salah satu flocks ku di tempat ini. “Sit here!” Revie menepuk bangku kosong yang ada di sebelah kirinya. Aku langsung saja melangkahkan kakiku dan duduk di sebelahnya. Banyak sekali orang yang ada di bangku ini, dan aku tahu alasannya. Pasti karena Revie. Wajah tampannya memang selalu bisa menarik banyak orang untuk mendekat. “Kamu masih belum jawab pertanyaanku tadi, kamu ngapain di sini? Kalo aku lagi nemenin Bagas.”

Aku menghembuskan nafasku dalam-dalam. Revie sudah tahu hubunganku dengan Peter, jadi lebih baik jujur. “Gue lagi nemenin Peter.” Mata Revie yang bulat nan besar itu terbelalak lebar, membuat wajahnya berubah menjadi anak kecil berumur tujuh tahun. “Well, gue sama dia udah balikkan lagi. Lo nggak masalah kan kalo gue sama dia… pacaran?”

“Masalah? Of course not! Malah aku seneng lagi!” Revie terlonjak-lonjak kecil di tempat duduknya, benar-benar menunjukkan rasa kegembiraannya. “I’m so happy for you both. Akhirnya kamu udah bisa maafin dia kan?” Aku hanya mengangguk. “Great. Aku bener-bener nggak nyangka akhirnya sahabatku bisa berubah juga.” Aku memberikan sebuah seringaian ke arah Revie. Tak berapa lama kemudian kami membicarakan soal Revie yang telah menceritakan masa laluku ke flocksku yang lain. “Kamu nggak marah kan?”

“Nggak, buat apa marah? Lagi pula, itu malah bagus. Jadi gue nggak perlu capek-capek nyeritain ke mereka hal nggak penting itu.” Revie hanya tersenyum saja, membuat beberapa orang yang ada di sekitar kami menatapnya penuh hasrat. Setelah menempuh beberapa puluh menit, akhirnya pertandingan pun selesai. Aku menyerahkan Pocari Sweat yang tadi kubeli ke Peter. Revie menatap Bagas dengan pandangan penuh cinta saat cowok itu datang menghampirinya. Tiba-tiba Bagas membuka jerseynya, membuatku dan orang-orang yang ada di sekitar kami mendesah berat. Lihat badan seksinya! Ya, Tuhan! Michaelangelo kalah.

“Panas banget!” katanya ke arah Revie. Sahabatku satu itu menyerahkan Evian-nya ke cowok nya itu. “Kabar anak kita gimana?” tanya Bagas, membuatku dan Peter menaikkan alis tinggi-tinggi. Bagas menundukkan kepalanya dan menempelkan telinganya di perut Revie. “Anak Papa lagi ngapain di sana?” tanya Bagas, membuat Revie tertawa. Ck, pasangan gila!

“Anak kamu lagi ngidam Semangka rasa Nanas,”  kata Revie sambil memegang perutnya.

“Ya udah, ntar kita mampir ke Hero dulu deh. Ntar aku buatin kamu jus Semangka dengan perasan buah Nanas. Gimana, mau?” tanya Bagas sambil tersenyum lebar, Revie mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat. “Anak kita pasti cowok deh, suka sama makanan asam-manis gitu.” Aku dan Peter hanya bisa menggeleng pasrah. Setelah Bagas dan Revie pergi, Peter mengajakku ke locker room. Tapi baru saja aku masuk ke dalam ruangan itu, Peter tersenyum sangat hangat ke arahku.

Mataku menatap nanar ke arah Peter. Dia tersenyum miring, membuat wajahnya yang sangat kurindukan berubah sangat damai. Aku melangkah ke dekatnya, lalu meraih tangannya hingga masuk ke dalam genggaman tanganku. Aku telah lelah berlari, dendam membuatku kesepian. Aku tidak ingin merasakan hal itu lagi, kini aku tahu, aku rindu pulang ke hatinya. Itulah yang kurasakan saat ini, itulah yang dia rasakan untukku saat ini. Kami saling rindu, namun dengan kejamnya aku berlari menjauh darinya.

“Nggak akan ada lagi saling menjauh, nggak ada lagi saling menghindar,” ujarnya dengan nada yang sangat laun, membuatku terbuai. Peter yang selama ini kukenal memang seperti ini, bukan seperti Peter yang begitu membenci para gay. Dia telah kembali menjadi dirinya lagi, aku pun begitu. “Aku kangen sama senyumanmu,” ujarnya, tangannya yang hangat seperti sinar matahari pagi menyentuh bibirku. “Aku kangen sama kamu.”

Setelah semua yang kami lalui, setelah semua yang telah kualami, aku yakin Peter memang akan selalu ada di sini, di hatiku. Aku kini tidak akan berlari lagi. Aku sudah cukup lelah untuk melakukan hal tersebut. “Aku juga kangen sama kamu, Pet. Selalu.” Aku bukan orang yang banyak bicara, namun aku yakin kata-kata itu sudah cukup.

Peter menarikku hingga mendekat ke arahnya, saat aku menatap matanya yang hitam, dengan garis kecokelatan, aku agak tertegun. Merasakan kalau dunia yang sedang kupijak berhenti. Tidak! Itu tidak mungkin. Aku meronta dari dalam pelukannya, ingin segera pergi dari sini. Itu, hal itu lagi. Aku melihatnya, hal yang paling aku benci di dunia. Peter menatapku bingung, saat dia menyentuh sikuku, aku menyikutnya. Membuatnya makin bergidik dalam kebingungan, dan aku makin bergidik dalam kebencian.

Ternyata selama ini—tidak, aku bukan ingin berlari, tetapi…

“Tivo, kamu kenapa?” tanyanya, mencoba meraih sikuku sekali lagi, dan kembali, aku menyikutnya dengan sengit. Aku tidak mau, aku harus berlari lagi. Selelah apapun aku nantinya, tetapi itu akan layak. Ternyata…

“Jangan pernah nemuin gue lagi, Pet!” desisku, kemarahan yang kurasakan naik ke ubun-ubun yang ada di kepalaku. Aku menatapnya dengan segala kebencian yang kupunya.
“Jangan pernah nampakkin muka lo di depan gue lagi! Gue nggak sudi ngelihat lo. Kini gue tau alasan kenapa gue makin kuat ngebenci lo.” Aku melangkahkan kakiku menjauh, lalu berjalan secepat kilat. Aku bisa merasakan Peter mengejarku, namun aku tak mau menoleh ke belakang, apapun yang terjadi.

“Tivo, aku bisa jelasin ke kamu.” Akhirnya dia sadar kenapa aku marah, kenapa aku sekarang membenci dirinya lagi. Kini dia sadar. “Soal masa lalu kita dulu itu…” Dan semua hal itu begitu sangat muak untuk kuingat kembali. “Aku bakalan jelasin semuanya. Kenapa aku waktu itu nggak nolong kamu.” Peter menatap mataku dalam-dalam. Mata itu kembali menghantuiku. Mata hitam bergaris cokelat itu! “Papaku yang sekarang adalah Papa tiriku.” Nafasku tercekat di tenggorokan. “Orang yang perkosa kamu waktu itulah Papa kandungku.”

 

–Upsa, Bersambung to Chapter 9–

Bakalan update kalo Floque 8 dah update juga. Jadi, marahin Onew kalo gue lama update.

Sori yg suka komen tapi nggak gue bales, gue sibuk banget soalnya. I have a life, guys! Tapi ntar gue bales kok komenan kalian :D

Floque – Perkamen 7

Logo Jubilee(resize)

Chapter Seven : Trip to Queensland.

 

Aku  dan Amanda sedang sibuk mempacking barang yang akan di bawa malam  ini. Yups, sekolah kami memutuskan untuk menggunakan penerbangan malam hari agar kita sampai sana lebih awal dan bisa menikmati indahnya suasana pantai di sana. Aku memasukan semua peralatan yang ku butuhkan. Mulai dari baju-baju yang akan ku kenakan disana, pealatan mandi, Ipadku, kamera DSLR, dan juga peralatan lainnya.

“Aku sudah selesai Dave, kamu masih lama?” aku menganggukan kepalaku lalu menutup koperku dan mendirikannya di samping tempat tidurku.

“Ya sudah kalau begitu, aku  mau mandi dulu,” dia pergi meninggalkan kamarku dan berjalan menuju kamarnya.

Aku pun meregangkan tubuhku  yang terasa lelah. Entah kenapa hari ini aku merasa begitu capek. Padahal aku tidak melakukan hal-hal yang berat, dari pagi aku hanya melakukan aktifitas kecil seperti biasanya. Bahkan tadi siang aku sempat tidur. Tapi, kenapa aku merasa begitu lelah dan malas melakukan aktifitas. Atau mungkin ini ada penyebabnya dengan hal yang terjadi kemarin? Aku rasa mungkin ada benarnya juga.

Jadi, kemarin Steffano mengajakku pulang bareng, tetapi pas di tengah jalan Mamahnya telepon minta supaya dia cepat pulang, alhasil dia membawaku ikut serta ke rumahnya. Namun ternyata di rumahnya itu ada seorang wanita cantik. Yups, dia cantik dengan dengan rmbut panjang yang tergerai dan mata yang bulat. Dia juga memiliki kulit yang putih dan tubuh yang indah. Tipe-tipe wanita idaman para straight pada umumnya. Namun yang lebih membuatku terkejut, ternyata dia adalah mantan Steffano. Pantas saja dia terlihat begitu akrab dengan Mamahnya. Sepertinya aku memang tidak bisa mendapatkan Steffano untuk menjadi kekasihku.

Akupun merasa kalau aku hanya membuang-buang waktu saja dengan menunggu dia yang sedang asik bercengkrama. Akhirnya aku  memutuskan untuk ke taman belakang rumahnya. Aku tahu seluk beluk rumahnya karena aku pernah datang kesini sebelumnya. Ternyata di ayunan taman ada adik Steffano yang bernama Alaric. Akupun menghampirinya.

“Hey,” sapaku padanya. Dia membalikan badan dan tersenyum ke arahku.

“Eh Kak Dave, sini kak!” dia menepuk-nepuk bangku ayunan di sampinya yang kosong. Akupun duduk di sampingnya dan bersandar pada sandaran ayunan tersebut.

“Lagi apa?” tanyaku seraya melirik buku yang sedang di bacanya. Dia lalu menaruh bukunya di pangkuan pahanya. “Baca buku,” jawabnya singkat. Akupun hanya mengangguk-anggukan kepalaku.

“Oh ya, Kakak ngapain disini? Memanya kak Fano kemana?” dia memandang ke arahku. Kalau aku boleh jujur Alaric itu lebih tampan dari Steffano. Baiklah mungkin Steffano memang tampan, tapi tampan yang lebih ke arah maco. Sedangkan Alaric tampan yag lebih ke arah imut. Bahkan ketika dia tersenyum dan menampakan kedua lesung pipinya dia makin terlihat menggemaskan.

“Ehm, gak apa-apa kok. Kakak pengen nyari udara segar aja,” bohongku dan berpura-pura tersenyum padanya.

“Owh, di dalam masih ada kak Luna?” akupun mengernyitkan dahiku.

“Maksud kamu?” aku masih belum mengerti siapa yang dia maksud.

Dia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat padaku, “Iyah, itu lho, cewek yang ada di dalam. Namanya Kak Luna. Dia mantannya Kak Fano. Tapi tetap ngejar-ngejar kak Fano. Padahal kak Fano itu sudah malas berurusan dengan dia. Soalnya waktu aku dan kak Fano mau main ke rumahnya, ternyata dia sedang selingkuh dengan cowok lain. Tapi masalahnya Mamah masih belum tahu kalau Kak Fano dan kak Luna sudah putus,” jelas Alaric. Akupun hanya mengangguk-anggukan kepalaku. Padahal aku masih belum tahu kenapa Steffano merahasiakannya dari Mamahnya.

“Oh ya, memangnya kenapa Steffano belum memberi tahu mamahnya?” tanyaku penasaran.

“Ehm, aku sih nggak tahu pasti. Cuman sepertinya kak Steffano nggak tega. Soalnya dari dulu Mamah kepingin anak perempuan. Nah, karena kak Luna anak perempuan pertama yang di bawa oleh kak Fano ke rumah, makanya Mamah langsung senang. Papah juga setuju-setuju saja tuh. Malahan dengar-dengar mereka bakalan di jodohin,” Degh. Perkataan Alaric barusan membuatku terkejut sekaligus down. Sepertinya aku memang tidak punya harapan lagi. Aku memang bukan jodoh Steffano, jadi lebih baik mulai sekarang aku berhenti berharap kepadanya.

“Kak..kak..” Alaric menggoyang-goyangkan pungnggungku dengan tangannya. Akupun menoleh ke arahnya dan berpura-pura kalau aku tidak apa-apa. “Kakak  kok matanya merah?” perkataan Alaric barusan langsung ku tepis dengan mengucek mataku.

“Eng…enggak kok. Kakak cuman kelilipan saja. Oh ya, makasih yah Ric buat penjelasannya. Aku mau pulang dulu,” pamitku padanya, lalu aku berdiri meninggalkannya dan berjalan menuju bagian dalam rumahnya.

Aku mencari keberadaan Steffano namun aku tak kunjung menemukannya. Akhirnya aku bertemu dengan Mamahnya, “Eh Dave, kamu lagi cari siapa?” Tanya Mamahnya Steffano. “Ehm..anu Tante, aku mau pamit, tapi kok aku nggak lihat Steffano yah?” tanyaku.

“Oh, tadi sih mereka lagi di dapur. Coba kamu kesana! Barangkali mereka masih di sana,” jelas Tante Amel.

“Oh begitu, yasudah. Makasih Tante,” Tante Amel hanya menganggukan kepalanya. Akupun akhirnya berjalan menuju dapur yang ada di dekat ruang makan. Setelah sampai di depan dapur tiba-tiba tubuhku mengejang. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan hal yang ku lihat sekarang. Steffano dan Luna sedang berciuman. Dan itu benar-benar membuatku kaget sekaligus sakit. Entah kenapa nafasku langsung tercekat melihat adegan tersebut. Tiba-tiba saja mataku terasa perih. Perlahan aku mundur dan berusaha agar tidak menimbulkan suara. Hingga akhirnya aku menjauh dari dapur tersebut.

“Sudah ketemu sama Fano?” Tanya Tante Amel. Aku hanya menganggukan kepalaku, kemudian mencium tangan tante Amel dan langsung pergi.

“Dave, pulang dulu yah Tan,” ucapku setelah mencium tangannya.

“Lho, memangnya gak dianterin Fano?” aku hanya menggelengkan kepalaku, “Yasudah, hati-hati yah nak Dave,” akupun langsung melangkah panjang keluar dari rumahnya. Begitu taksi lewat di depan rumahnya aku langsung menyetopnya dan pulang dengan hati yang entah terasa begitu sakit.

 

Dan mungkin hal itulah yang membuatku merasa begitu malas melakukan apapun. Aku rasa aku sedang badmood. Aku merasa lelah, yang sebenarnya hatikulah yang lelah. Lelah karena mengejar impian kosong. Akupun beranjak menuju kamar Mandi kemudian mengguyur seluruh badanku yang lelah ini dengan shower. Berharap semua lelah itu ikut luntur bersama air yang mengguyur tubuhku.

Setelah selesai aku langsung mengeringkan badanku dan berganti baju. Aku mengenakan T-shirt Fcuk-ku, lalu mengenakan celana denim hitam. Kemudian ku pasang sepatuku pada kedua kakiku. Setelah selesai aku menarik koperku keluar kamar. Ku lihat sekali lagi ke arah kamar barangkali ada barang yang ketinggalan. Ternyata benar, smartphoneku masih tergeletak di meja yang ada di sebelah tempat tidurku. Akupun mengambilnya. Setelah itu aku keluar kamar dan mengunci kamar yang akan aku tinggal selama seminggu.

Aku menuruni anak tangga menuju ruang tengah. Ternyata Amanda dan kak Morgan sudah menunggu di bawah. Aku merapatkan jaketku ketika sudah sampai di bawah. Ternyata Papah dan Mamah juga sudah ada di bawah. Kamipun berpamitan pada Papah dan Mamah. Kemudian kami menuju mobil yang akan mengantar kami menuju bandara.

Kami sengaja tidak berangkat dari sekolah karena Amanda tidak mau kalau harus berangkat dengan anak lainnya. dia memang tidak suka bergaul dengan banyak orang. Karena dia tidak mudah percaya dengan orang lain. Itu sebabnya sampai sekarang dia tidak mempunyai banyak teman. Di dalam mobil aku hanya diam dan memasang headsetku dan memainkan beberapa lagu favoritku. Hingga akhirnya kami sampai di bandara Soetta.

Aku,Amanda dan Kak Morgan menarik koper kami masing masing menuju tempat yang sudah di tentukan oleh pihak sekolah. Ternyata sudah banyak yang datang. Ku lihat Chloe melambai-lambaikan tangannya ke arah kami. Malam ini dia mengenakan blazer berwarna putih dengan rok berwarna pink dan sepatu berwana senada, bahkan kopernya pun berwarna pink. Chloe ini memang benar-benar pink addict.

“Ya ampun kalian itu lama amat sih? Sepuluh menit lagi kita check in,” katanya sambil menarik-narik posisi blazernya agar terlihat lebih rapih.

“Oh ya Cassie mana?” tanyaku.

“Nggak tahu. Tadi sih aku lihat lagi pergi sama cowok barunya, nggak tahu kemana, cuman kayaknya mendesak banget. Pengen quicksex kali,” omongan Chloe membuat kami terkejut dan memalingkan wajah kami ke arahnya. Namun dia malah terlihat santai-santai saja.

“Chloe, bisa nggak sih kamu ngomong yang lebih rasional sedikit!” pinta Amanda.

“Lho, bagian mana yang nggak rasional? Perasaan yang aku omongin bisa saja terjadi. Lagian c’mon masa kalian kayak denger apaan aja lansung kaget. Biasa aja keles,” dia lalu mengeluarkan senjata andalannya yaitu kipas yang selalu dia bawa kemana-mana.

“Yah, tapi kan bisa lebih sopan dikit lah. Nggak usah se-vulgar itu juga ngomongnya,” Amanda makin mendesak Chloe, itu tandanya bakalan ada adu argument lagi.

“Oh boo-hoo. Listen Amanda! Kurang sopan apa coba aku? Aku kan cuman bilang quick sex. Itu termasuk sopan  lho. Daripada aku bilang ngentot singkat, hayo vulgaran mana?” Amanda dan kak Mogan makin terbelalak. Dan kulihat Amanda mendengus kesal namun  Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja.

“Sorry guys, gue tadi ada urusan sama si Radit,” seru Cassie ketika dia sudah berada di samping kami.

“Radit who?” tanyaku penasaran.

“Cowok ONS-annya si Cassie tuh,” celetuk Chloe yang membuat Cassie meninju lengan Chloe. “Ouch, sakit tau Cass. Kamu ngak sadar apa kalau pukulanmu itu mirip kaya pukulan Agung Hercules,” Chloe mengusap-usap lengannya. Aku dan Amanda hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka.

“Abis mulut lo busuk banget sih,” bela Cassie.

“Oh boo-yaa, kamu tingal ngaku aja apa susahnya sih. lagian kita udah nggak asing lagi kok soal status playermu,” belum sempat Cassie menjawab ternyata ada pemberitahuan kalau kami semua harus segera check in.

“Guys, sudah waktunya check in. ayo kita masuk!” perintah kak Morgan. Kamipun mengekor di belakangnya. Cassie ada di sebelah kiriku sementara Chloe ada di sebelah kananku. Aku seperti penengah diantara mereka. Karena akalau tidak begini pasti mereka akan semakin menjadi.

Setelah menunggu satu jam lebih, akhirnya kita semua di persilahkan naik ke dalam pesawat. Ternyata aku mendapat kursi yang bersebelahan dengan Chloe. Sementara Amanda dengan Cassie. Mungkin itu semua berdasarkan request dari masing-masing peserta. Jadilah kami duduk dengan sahabat kami.

Setelah pramugari menjelaskan beberapa hal mengenai cara memakai peralatan keselamatan jiwa yang di berikan oleh  maskapai penerbangan, akhirnya pesawat kami take off menuju kota Brisbane.

Setelah kupasang flight mode pada smartphoneku aku memasang headphone yang ku bawa di telingaku dan memutar beberapa lagu favoritku. Ku lihat Chloe sedang asik menghias kuku indahnya dengan kutek yang baru di belinya via online di ebay. Akupun menikmati musik yang mengalun di telingaku, kemudian secara perlahan memejamkan mataku.

Aku terbangun ketika mendengar suara agak berisik dari kursi sebelah kananku. Ternyata penyebabnya adalah Cassie dan Amanda yang ingin bertukar tempat dengan dua murid kelas IPA 2 yang ada di sebelah kananku. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga kedua anak tersebut mau berpindah tempat dengan mereka. Dan setelah proses perpindahan tersebut selesai, Amanda dan Chloe duduk di sebelahku.

“Heeehhhh akhirnya bisa pindah juga,” desah Amanda ketika mendaratkan pantatnya di kursi sebelahku.

“Memangnya kenapa kamu pindah?” tanyaku sambil melepas headphone di telingaku dan membenarkan posisi duduku.

“Disana nggak enak. Getarannya kerasa banget kayak di angkot,” jawab Amanda.

“Iyah, udah gitu di samping kita ada anak IPS 3 yang jelek banget itu, siapa namanya?” Cassie bertanya pada Amanda. “Edric,” jawa Amanda singkat. “Iyah, si anak albino yang tampangnya kayak orang bloon itu,  eeuugghh, mana dia tidurnya ngorok lagi, bikin kuping gue congekan aja,” gerutu Cassie, dia melebarkan selimut dan menutupi kedua kakinya hingga perut.

“Bukannya kamu emang udah congekan yah Cass?” celetuk Chloe yang sontak membuat Cassie ingin membalasnya, namun aku dan Amanda menghalangi mereka.

“Suda deh, kalian itu pada berantem aja. Mending kalian tidur! Katanya besok mau nikmatin sunrise di Moreton Island,” perintahku pada mereka.

“Oh iya aku lupa. Besok aku mau nyari bule Australia yang kece ah, siapa tau mereka kepincut sama kecantikan aku,” sahut Chloe sambil mengedip-ngedipkan matanya dan menampakan gesture genitnya.

“Bitch!” celetuk Cassie.

“Biarin. Ngapain pura-pura innocent kalau pada kenyataanya emang lebih jalang, kaya..eemmm” Chloe tidak meneruskan kata-katanya, hanya mengarahkan matanya ke arah Cassie.

“Maksud  lo?” Tanya Cassie dengan nada sinis.

“Udah deh, kalian itu bisa nggak sih semenit aja nggak berantem. Aku mau tidur, kalau kalian masih mau berisik mending kalian sana gih ke belakang! Kebagian ekor pesawat, biar kalau ada yang kalah langsung di masukin ke bagasi,” perintah Amanda yang membuat mereka bungkam.

Akhirnya percek-cokan antara Chloe dan Cassie berhenti, karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Ku lihat Amanda sudah memejamkan matanya. Akupun mengikutinya dengan memejamkan kedua mataku, tak lupa kupasang penutup mata agar aku tidak silau. Karena biasanya aku susah tidur kalau dalam keadaan lampu yang tidak temaram.

Sekitar pukul tiga pagi. Kami sampai di kota Brisbane. Kami semua turun dari pesawat dan berkumpul di bagian keimigrasian untuk mengecek paspor kami masing-masing. Ternyata udara di sini tidak sepanas Jakarta. Walaupun ini bulan Desember, tapi disini sudah memasuki musim panas atau summer. Tidak seperti kota pada Negara sub tropis lainnya yang masih dalam musim dingin.

Aku merapatkan posisi jaketku, dan  berdiri di antrian pengecekan paspor. Aku menyetel smartphone ke profil general, dan tak lama masuklah beberapa chat dari teman-temanku. Ada dari Jeremy yang minta oleh-oleh di bawakan bayi kangoroo, sahabatku yang satu itu memang aneh-aneh saja. Ada juga dari beberapa teman dunia mayaku, dan yang terakhir dari Steffano. Dia masih terus bertanya kenapa aku waktu itu pulang tidak memberitahunya dan tidak membalas chattingannya serta tidak mengangkat telepon darinya.

Aku akui, sepertinya tindakanku terlalu kekanak-kanakan, tapi aku rasa aku masih belum bisa untuk berbicara dengannya, meskipun lewat telepon. Jadi lebih baik aku tidak menghubunginya sekarang ini, sampai aku siap.

Setelah proses ke imigrasian dan juga boarding pass selesai, kami semua berkumpul untuk di absen oleh Mr. Andrew. Kemudian kami masuk ke dalam bus yang sudah di tentukan oleh pihak Tour. Karena tempat duduk dan bus tidak diatur berdasarkan kelas, melainkan berdasarkan request dari masing-masing murid, akhirnya aku dan ketiga sahabatku bisa satu bus.

Bus membawa kami berkeliling kota Brisbane, mulai dari The Windmill, Botanic Garden, Parliament House dan juga beberapa tempat lainnya. Hingga rombongan kami sampai di Conrad Treasury Hotel. Kami semua turun dari bus. Dan memasuki gedung hotel yang megah  ini.

Ternyata aku mendapat kamar di lantai 19, dan aku sekamar dengan Nick dan juga George. Aku mengenal mereka, karena kami memang satu kelas. Hanya saja kami tidak terlalu akrab. Kita bertiga masuk ke dalam kamar untuk menaruh koper dan barang kami masing-masing. Di dalam terdapat tiga tempat tidur, satu buah LCD TV, kamar mandi super elit, lemari pendingin dan juga fasilitas lainnya.

Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur yang di tengah, lalu memejamkan sejenak mataku. “Dave, lo nggak siap-siap?” Tanya sebuah suara yang ternyata itu suara Nick. Aku mengalihkan pandangan ke arah mereka dan ternyata mereka sedang asik melepas bajunya dan berganti di depan mataku. Bahkan mereka dengan pedenya mempertontonkan badanya yang hanya berbalut celana dalam saja. Memangnya mereka kira aku sama saperti mereka apa? Daripada aku khilaf, lebih baik  aku memalingkan pandanganku.

“Iya aku ikut kok. Kalian duluan saja, nanti aku  nyusul,” jawabku gugup. Setelah mereka berdua keluar dari kamar, aku langsung buru-buru ganti pakaian. Aku mengenakan celana pendek dan baju pantai pada umunya. Tak lupa aku membawa kamera DSLR-ku.

Ternyata di lobby hotel anak-anak sudah berkumpul dengan mengenakan baju pantai, karena hari ini rencananya kami akan berkunjung di Moreton Island. Kamipun di beri briefing mengenai tempat-tempat mana saja yang akan kami kunjungi. Setelah briefing selesai, kami masuk kedalam bus yang akan membawa kami ke Tangalooma Wharf.

Setelah kami sampai di Moreton Island, anak-anak antusias berlarian menuju pantai, karena sebentar lagi memasuki waktu sunrise. Anak-anakpun sibuk berfoto ria.

Aku memfoto ketiga sahabatku dengan berbagai macam gaya. “Dave, masa kamu nggak ikutan foto sih? minta tolong gih sama siapa gitu biar kita bisa foto berempat,” perintah Chloe.

Akupun mencari-cari kira-kira siapa yang bisa kuintai tolong, akan tetapi semua temanku sepertinya sibuk. Aku masih terus mencari kira-kira siapa yang bisa kumintai tolong. Lalu tiba-tiba seorang pemuda yang cukup tampan melewati kami. Akupun berinisiatif untuk meminta tolong padanya.

“Scuse me,” tegurku pada pemuda tadi, “Can you help us?” lanjutku.

“Yeah, ofcourse. What can I do for you?” jawabnya, sambil menatap ke arahku. Sepertinya dia orang Indonesia juga, karena wajahnya itu khas wajah asia pada umumnya. Dia memiliki badan yang lumayan kekar dan dada yang sangat bidang, dengan rambut spike dan alis yang tebal.

“Apakah anda orang Indonesia?” tanyaku hati-hati.

“Yep, kamu juga yah?” dia bertanya balik kepadaku, aku hanya menganggukan kepalaku.

“Ayo donk Dave, bentar lagi sunrise nih,” Chloe mengingatkanku yang sedang asik ngobrol dengan cowok Indonesia ini. Akupun memberikan kamera DSLR ku kepadanya, dan aku mendekat kebarisan sahabat-sahabatku.

Setelah berpose beberapa gaya dengan latar sunrise akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi prosesi pemotretan kami. Aku menghampiri pemuda tadi, kemudian dia menyerahkan kamera padaku. “Thanks,” ucapku padanya.

“Anytime,” balasnya, kemudian dia berjalan pergi meninggalkanku. Sebenarnya aku ingin mengenal namanya, hanya saja aku tidak tahu karena aku tidak bertanya kepadanya.

“Kamu bisaan aja deh, minta tolongnya sama yang ganteng gitu. Kekar pula,” bisik Chloe di samping telingaku. Aku hanya mengakat kedua bahuku.

“Oh ya, kita harus berkumpul, karena sebentar lagi kita harus pergi ke Tangalooma Dolphin Resort menggunakan kapal Ferry,” kata Amanda, kemudian dia berlari ke arah Kak Morgan yang sedang asik bergurau bersama teman-temanya.

Dan kami semua secara antri memasuki kapal ferry yang akan membawa kami menuju Resort lumba-lumba tersebut. Setelah kami sampai, kami semua di beri kebebasan untuk mencoba beberapa fasilitas resort. Mulai dari snorkeling, scuba diving, parasailing, jet ski, whale watching cruise dan beberapa optional lainnya. karena aku tidak tertarik, aku memutuskan untuk berjalan berkeliling resort dan mengambil beberapa foto.

Ternyata waktu sudah siang, dan kami memutuskan untuk beristirahat di resort tersebut. Aku dan ketiga sahabatku memutuskan untuk beristirahat di area selatan resort yang berdekatan dengan laut yang banyak lumba-lumbanya. Ternyata ketika menjelang sore banyak wisatawan yang hadir, bukan hanya dari pihak sekolah kita, tapi juga banyak wisatawan umum lainnya.

Ketika sore tiba, ada sebuah acara yang diselenggarakan oleh pihak resort. Yaitu pemberian makan pada lumba-lumba dan pelikan. Aku mengabadikan momen-momen tersebut ke dalam kamera DSLRku. Dan tanpa sengaja aku memotret cowok tadi. Cowok yang tadi kumintai tolong untuk memotretku dan sahabatku. Di layar kamera kulihat dia sedang tertawa dengan  salah seorang cowok lainnya. mungkin itu sahabatnya. Akupun lalu mengabadikan beberapa hal menarik lainnya ke dalam kamera.

Setelah menikmati sunset, kita semua berkumpul untuk menaiki kapal ferry yang akan membawa kami menuju Moreton Island untuk kemudian kembali ke hotel tempat kami menginap. Dalam perjalanan pulang aku melihat beberapa hasil jepretanku yang ternyata lumayan bagus.

Setelah sampai hotel, kami semua membersihkan badan kami untuk kemudian menikmati santap malam. Hal yang membuatku canggung pun terjadi untuk yang kedua kalinya. Yaitu ketika Nick dan George mempertontonkan tubuh bugilnya dihadapanku. Bahkan mereka mengajakku untuk mandi bareng. Mungkin bagi mereka itu hal yang lumrah. Tapi bagiku, itu adalah beban tersendiri. Akhirnya aku menolak ajakannya dengan beralasan masih ingin istirahat.

Kami berkumpul di restoran hotel untuk menikmati santap malam. Kemudian kami dianjurkan untuk istirahat, karena besok masih banyak serangkaian acara lainnya.

Tak terasa sudah memasuki hari kelima. Beberapa rangkaian acara pun telah kami lakukan. Mulai dari melihat pertunjukan ala Hollywood  di Movie World, mengunjungi Dream World yang ternyata menyerupai Trans Studio, dan menikmati indahnya kota Gold Coast dari Skypoint Observation Deck dari ketinggian lantai 78.

Sore ini acaranya bebas, karena besok malam kita sudah harus kembali ke Indonesia. Ketiga sahabatku mengajakku ke Anzac Square untuk membeli oleh-oleh. Namun aku menolaknya, karena aku ingin pergi ke Queens Street Mall. Akhirnya kami berpisah.

Aku memasuki bangunan Mall yang besar ini untuk membeli beberapa hal. Aku membelikan Mamah dan Papah baju, jam Tangan untuk kak Edgar, dan Blazer Gucci untuk Jeremy. Aku tidak jadi membawakannya bayi kangaroo karena tidak boleh oleh pemerintah Australia. Lagian kurasa permintaan Jeremy terlalu tak masak masuk diakal. Setelah selesai berbelanja aku memutuskan untuk pulang. Tapi ternyata di luar sedang ada badai, jadi semua akses keluar dari Mall ini di tutup.

Akupun tidak jadi pulang, dan terperangkap di dalam Mall ini dengan ratusan bahkan ribuan pengunjung lainnya. “Hey,” kurasakan pundakku di tepuk. Akupun memutuskan untuk memutar tubuhku . ternyata yang menepukku adalah cowok yang waktu itu kumintai tolong.

“Dan,” ucapnya seraya menyodorkan tangannya ke arahku. “Dave,” balasku singkat dan meyambut uluran tangannya.

“Sendirian aja?” tanyanya.

“Iyah, Teman-temanku sedang berbelanja di Anzac Square. Jadi aku sendirian deh,” jawabku sambil menaruh belanjaanku di lantai, karena aku capek kalau terus menentengnya.

“Owh. Oh ya kamu disini masih berapa lama?” lanjutya.

“Ehm besok malam sudah harus pulang ke Indonesia kok,” jawabku. Kuamati lagi wajah tegasnya. Dia memang tidak terlalu tampan. Tetapi dia punya ajah yang sangat maco. Di tambah badannya yang kekar.

“Kirain masih lama. Kan bisa aku ajak keliling Queensland,hehe” dia tersenyum simpul ke arahku.

“Iyah, sayang sekali. Oh ya kamu disini kuliah?” tanyaku penasaran.

“Iyah, aku kuliah di sini. Kamu sendiri sekolah dimana?” dia menatap ke arahku. Kurasa dia bukan gay. Dia straight, hanya saja dia mempunyai sikap yang ramah. Jadi lebih baik aku menghormatinya.

“Aku sekolah di JIS. Sekarang aku sudah masuk semester 2,” jawabku. Kemudian aku duduk di kursi yang tak jauh dari tempatku berdiri. Diapun melakukan hal yang sama.

“Oh ya? Deket sama DIS donk?”  dia tampak terkejut.

“DIS? Dominiquert maksudnya?” tanyaku ragu, karena takutnya aku salah.

“Iyah. Adikku namanya And dan juga adik kesayanganku yang bernama Revie sekolah disana,” jawabnya antusias.

“Owh gitu, mereka kelas berapa?” lanjutku.

“Sama kaya kamu. Mereka baru akan masuk semester 2,” jawabnya, aku hanya mengangguk-angukan kepalaku saja.

Lalu obrolanpun bergulir kesana-kemari. Ternyata dia adalah salah satu atlet rugby di kampusnya. Pantas saja tubuhnya sangat kekar. Dan dia juga bercerita tentang betapa sayangnya dia dengan adik-adiknya. Terutama yang bernama Revie walaupun dia bukan adik kandungnya. Dia bilang Revie itu sangat imut dan lucu. Bahkan dia bilang kalau si Revie ini mungkin reinkarnasi dari Alejandro.

Ternyata badai sudah berhenti. Dan kami memutuskan untuk pulang. “Mau aku antar?” tawarnya.

“Nggak usah. Biar aku jalan saja. Lagian hotelku dekat kok dari sini,” jawabku, diapun hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.

“Oke then, see you!’” katanya lalu beranjak pergi meninggalkanku.

“See you,” jawabku. Akupun keluar dari Mall tersebut. Namun kurasakan Smartphoneku bergetar. Ternyata itu dari Steffano. Panggilan yang entah untuk ke berapa ratus kali selama lima hari ini. Sepertinya sudah waktunya aku menjawabnya. Aku harusnya bisa bersikap lebih dewasa daripada seperti sekarang ini. Mungkin dia tidak bisa jadi kekasihku, tapi paling tidak dia bisa menjadi sahabatku.

“Halo,” sapaku.

“Halo, oh thanks God, akhirnya kamu mengangkat teleponku,” jawabnya dengan penuh kelegaan.

“Sorry kalau belakangan ini aku tak mengacuhkanmu,” lanjutku.

“Is everything alright?” Tanyanya dengan penuh kecemasan.

“Yeah,” bohongku, namun sepertinya aku sudah tidak bisa berbohong. Aku harus jujur dan mengatakan semua kepadanya. “No. everything is not Ok. Steff I miss you. Aku kira dengan tidak berkomunikasi denganmu maka aku bisa melupakanmu. Tapi kenyataannya aku tidak bisa. Aku malah semakin kangen sama kamu. Steff I miss you like crazy. I love you,” aku berkata sejujur-jujurnya karena memang aku tidak bisa membohongi perasaanku.

“I love you too,” jawabnya yang membuatku tercengang.

“Are you serious?” tanyaku penasaran.

“Oke then. Turn around!” perintahnya. Akupun masih belum tau maksudnya apa. Akhirnya aku memutuskan untuk membalikan badanku dan ternyata di seberang air mancur ada Steffano yang berdiri sambil menempelkan handphone pada telinganya. Akupun menatap tak percaya. Dia tersenyum ke arahku dan berlari kecil ke tempatku berdiri. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Aku berlari ke arahnya, hingga kami mendekat kemudian kami berpelukan.

Aku masih tidak percaya kalau sekarang Steffano berada di sampingku. Kami berdua tidur bersebelahan. Dia membawaku  ke kamar hotel yang sudah dia pesan. Ternyata dia memutuskan untuk menyusul kesini setelah dia selesai bertanding tenis. Dan dia memenangkan pertandingan tersebut.

Dia memesan di hotel yang sama, karena itu sudah di fasilitasi oleh sekolah. Jadi besok dia juga akan ikut pulang bersama kami. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Diapun mengusap-usap rambutku, membuatku merasa nyaman.

“Kenapa kamu baru bilang sekarang kalau kamu cinta sama aku?” tanyanya, aku mengangkat kepalaku dari dadanya. Dia tersenyum ke arahku. Akupun kembali merebahkan kepalaku di dadanya.

“Aku takut kalau nanti kamu akan membenciku. Kamu sendiri kenapa cinta kepadaku? Bukannya kamu itu straight yah?” aku mengusap-usap dadanya dengan jemariku.

“Iyah, tadinya. Kemudian aku berpindah haluan ketika kamu datang. Tetapi aku masih ragu dan mencoba untuk menampik perasaanku kepadamu. Akan tetapi aku semakin sadar kalau aku memang mencintaimu,” jawabnya, dia menaruh dagunya diatas kepalaku dan mencium rambutku.

“Kalau cinta kenapa kamu kemarin ciuman sama Luna?” pertanyaanku membuat dia terhenyak.

“Kamu  melihat aku dan Luna ciuman?” aku hanya mengangukan kepalaku. “Percaya atau tidak, aku tidak menginginkan ciuman itu, kemarin Luna yang menciumku. Aku tidak membalas ciumannya, karena memang aku rasa hubunganku dan Luna memang sudah selesai. Jadi itu yang membuat kamu marah kepadaku?” aku hanya menganggukan kepalaku.

“Dasar!” dia miringkan posisi tubuhnya, dan memeluk tubuhku. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibirku. Jantungku terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku merasa gugup. Hingga akhirnya bibirnya menyentuh bibirku. Dia menarik-narik bagian bawah bibir ku, kemudain dia memposisikan tubuhnya diatas tubuhku. Aku menarik-narik rambut belakangnya, sambil membalas ciumannya yang semakin menggairahkan.

Dia memasukan lidahnya ke dalam mulutku, aku menyambut lidahnya dengan melakukan hal yang sama. Ciumannya semakin liar. Akupun mulai membuka satu persatu kancing kemejanya. Namun tiba-tiba dia melepaskan ciuman kami. “Not, this time,” katanya. Akupun mengangukan kepalaku, dan kembali merebahkan kepalaku di atas dadanya setelah dia berbarin disampingku.

Dia memeluk tubuhku erat. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa rambutku. Akhirnya aku memejamkan mataku sambil menikmati degupan jantungnya yan mulai melambat karena tadi sempat terdengar lebih kencang. Malam ini kami memang tidur bersama, tapi tidak melakukan hal apapun kecuali hanya tidur bersama dan menghabiskan malam terakhir kami di Queensland dengan kenangan indah.

 

 

-To be Continued to Perkamen Eight-

Okedeh Gays, aku gak mau cuap-cuap banyak kali ini. cuman mau terima kasih buat semua reader yang masih terus mengikuti ceritaku dan juga komen.

makasih banyak yah,hehe. buat yang masih baca tapi gak komen, ayo donk komen! aku butuh saran kalian untuk membuat ceritaku lebih enak untuk di baca.hehehe

okedeh, Sorry for typo and everything,hehehe. sampai jumpa di kolom komen.

Yours Truly

One Feuerriegel

 

Stormy Day (7)

DIS_

Chapter 7

♂ Macabre

Jantungku berdebar keras saat Peter memajukan kepalanya ke dekat kepalaku. Tangannya menyentuh pipiku daif. Kumiringkan kepalaku sedikit, agar Peter mudah menyentuh bibirku. Entah mengapa, aku sungguh-sungguh ingin dia menyentuhkan bibirnya ke bibirku. Rasa rindu di hatiku akhirnya menang, membuang jauh-jauh rasa dendamku padanya. Jika malam ini adalah malam terakhirnya untuk bisa bersamaku, aku akan memberikan segala hal yang dia inginkan. Aku ingin dia bahagia dengan yang lain, dan dia juga ingin aku merasakan hal tersebut. Kalau begitu, aku ingin ini akan menjadi kenangan terakhir kami.

Seperti udara, tak terlihat tapi bisa dirasakan. Itulah rasa cintaku untuknya, ketika bibir kami saling memagut rasa, bisa kurasakan betapa hangat dan lembutnya bibir Peter di atas bibirku. Ini adalah ciuman kami yang entah ke berapa kali, tetapi aku tahu, ini adalah ciuman terakhir yang akan kami lakukan. Aku akan merindukannya. Tetapi jika aku bisa memaafkan Peter sekarang, aku masih bisa merasakan ciumannya. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan hal itu. Aku takut, aku takut kalau sifat dendamku kembali menyingkirkan rasa rinduku untuknya. Dan lagi, aku menyakiti hatinya. Menyakiti hatiku sendiri. Mengapa dendam ini tidak bisa kubuang menjauh?

Bisa kurasakan bibir Peter yang tersenyum di atas bibirku. Tangannya yang sangat hangat mencengkram pelan daguku. Peter mengecup bibir bawahku, berlama-lama di sana. Seakan sedang mengingat rasa bibirku ke dalam pikirannya. Aku pun langsung melakukan hal yang sama. Kuusap rambutnya yang ada di kening, menyentuh garis rahangnya yang tirus dan tegas. Semua hal yang ada di dalam dirinya, perlahan tapi pasti makin masuk ke dalam diriku. Aku akan selalu mengingatnya, di manapun aku berada nanti, dengan siapapun hatiku terbuka nanti, aku tetap akan mengingat dan mecintainya.

Aku membalikkan badanku, duduk di atas pangkuannya. Bisa kurasakan ada sesuatu yang mengeras di dalam celananya. Aku tertawa di dalam hati, betapa konyolnya hal yang sedang kami lakukan. Kuturunkan tangan kiriku ke celananya, meremas bagian yang mengeras tersebut, membuat Peter terlonjak kaget. Tanpa sadar, dia menggigit bibir atasku, tidak begitu keras, tetapi tidak begitu lembut. Mengalirkan aliran listrik aneh ke dalam jantungku. Ke dalam hasrat keinginanku untuknya.

Peter melepaskan ciuman, dia menyipitkan matanya dan menatap wajahku yang bersemu merah. Dia menarik hidungku gemas, tawanya yang merdu bergema di pori-pori tengkukku. “Jangan suka buat kaget gitu!” katanya sambil tersenyum miring. “Kalo mau diremes, pelan-pelan aja, nggak usah langsung diteken gitu.” Peter menekan pedal di samping tempat duduknya, membuat bangku yang sedang kami berdua duduki mundur beberapa meter. “Posisi kita udah mirip kayak pertama kali kita ngelakuin hal itu kan sekarang?” tanyanya nakal. Aku hanya bisa menggeleng, sembari memegang tangannya yang berada di daguku.

Sekali ciuman memang tidak pernah cukup, kutundukkan kepalaku ke dekatnya kembali. Hanya dengan senyuman, dia menyambut ciuman yang kuberikan untuknya. Biarkan rasa dendam itu menghilang dulu untuk saat ini, biarkan aku dan dia seperti ini. Jika ini berakhir, jika rasa dendam itu kembali bersemayam di dalam hatiku lagi, barulah aku akan melupakan hal ini. Walaupun aku tahu, aku sadar, hal itu tidak akan mungkin terjadi. Peter selalu ada di dalam diriku, dia sebagian hidupku. Orang yang mengkhianatiku, orang yang mencintaiku.

“Aku nggak akan minta kamu buat pulang ke hatiku lagi. Aku cuman minta sama kamu, biarin aku cium kamu lama-lama kayak gini. Boleh kan?” tanyanya, suaranya berubah agak serak. Aku mengangguk untuk menjawab permintaannya, kubuka bibirku dan menciumnya.

Kutaruh kedua tanganku di atas dadanya, bisa kurasakan detak jantungnya yang berdebar. Mirip sekali seperti jantungku. Aku menggeliat kecil untuk menyesuaikan tubuhku di atas tubuhnya. Deruan nafas kami yang saling bertabrakan membuat suasana hangat yang ada di dalam mobil ini berubah panas. Entah apa yang merasukiku, aku mencium dagu Peter, lalu turun untuk mencium lehernya yang bearoma evergreen. Mencium dan merasakan leher Peter itu seperti sedang menyesap teh bearoma melati. Begitu memabukkan, membuat rasa rindu yang membendung hatiku tertuntaskan dalam sekejap.

“Aku suka pas kamu cium leherku kayak gini,” katanya lembut di atas kepalaku. “Aku bener-bener ngerasa cinta kamu masih ada untukku.” Kuangkat kepalaku, dan bisa kulihat senyumannya yang berpijar bagaikan lampu sorot. “Aku kangen senyumanmu Tiv,” ujarnya sangat-sangat halus. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh penuh kasih sayang bibirku. “Aku kangen denger ketawamu. Aku kangen suaramu yang penuh kegembiraan. Kalau aja waktu itu aku tau, andai aja aku bisa ulang waktu kita lagi, aku pengen banget bisa nolong kamu. Maafin aku Tiv. Maaf.”

Kubuka mulutku, rasa lelah yang mendera tubuhku akhirnya menaklukan isi hatiku. “Nggak apa-apa Pet. Gue yang terlalu egois, minta tolong sama sahabat yang sama takutnya kayak gue.” Kutundukkan kepalaku, menyuruh hatiku berdamai pada diriku sendiri. “Aku maafin kamu Pet. Aku bisa maafin kamu sekarang.” Peter memeluk tubuhku erat, sangat posesif, seperti tidak akan pernah membiarkanku kembali menderita. “Maaf juga untuk semuanya, kini kita mulai hati kita berdua dari awal. Carilah orang yang bisa buat hati lo bahagia.”

Selama aku hidup, baru sekaranglah aku benar-benar merasa sangat tenang di hidupku. Perlahan, air mataku jatuh di pelupuk mataku. Aku menyentuh air mataku, kaget karena aku sadar kalau kini aku kembali bisa mengeluarkan air mata. Namun ini bukan air mata karena aku sedih, tetapi karena aku merasa sangat lega. Aku seperti melihat sebuah kehidupan yang indah menantiku di depan sana. Allah seperti memberitahuku, kalau aku memang pantas bahagia. Kalau penderitaanku selama ini di suatu masa akan berhenti.

Dan pada titik itu, aku yakin senyum dan tawaku akan kembali lagi seperti air mataku.

“Kamu juga Tiv,” bisik Peter di telingaku. “Kamu juga, carilah orang yang bisa buat kamu bahagia.” Di dalam diam seperti ini, betapa aneh kata-kata itu saat dicerna oleh pikiranku. Akankah ada orang yang bisa membuatku bahagia? “Aku cinta kamu, Tiv. Karena aku cinta sama kamu, kini aku bisa lepasin kamu pergi.” Kubalas pelukan Peter, membiarkan ketenangan ini membuai kami, merajutnya menjadi kenangan terakhir kami berdua.

Entah berapa lama kami berpelukan seperti ini. Sampai akhirnya Peter mengecup keningku, membuatku bangkit dari dalam pelukannya. Aku kembali ke tempat dudukku. Untuk lima detik pertama, tidak ada yang bersuara. Peter menyalakan mobilnya, kulirik wajahnya yang tertimpa cahaya lampu. Begitu tampan, begitu sayu, begiitu damai. Aku melirik sekali lagi ke arahnya, dan dia juga sedang melirik ke arahku. Dia memberikanku sebuah senyuman lebar. Tangannya yang awalnya ada di atas kemudi, tiba-tiba berpindah ke atas tanganku. Dia menggenggamnya, dan aku ingat, genggamannya inilah yang membuatku jatuh cinta padanya dulu. Kini, cinta itu makin menguat di dalam diriku.

Aku tidak mengerti, apakah waktu yang terlalu cepat berlalu, atau aku yang terlalu mabuk dalam genggaman tangan Peter. Hingga aku tak sadar kalau kami sudah sampai di depan garasi rumahku. Kulepaskan genggaman tangan Peter di tanganku. Aku baru saja ingin membuka pintu mobil saat Peter memanggilku. “Jangan lupa bawa ini!” Aku berbalik ke arahnya, namun ciumanlah yang kudapatkan. “Ciuman terakhir untuk perjumpaan terakhir.”

Senyumannya muncul perlahan, aku mengangguk kikuk kemudian membuka pintu mobil. Peter melambaikan tangannya saat dia menjalankan mobilnya menjauh. Hati-hati aku mengangkat tanganku ke udara, dan memberikannya lambaian tanganku. Ketika mobil Peter sudah tidak terlihat lagi di mataku, kusentuh dadaku. Mencari rasa dendam yang selama ini bersemayam di dalam hatiku untuknya. Namun saat kuraba-raba, rasa dendam itu telah menghilang di sana. Dia telah pergi dari dalam hatiku, hanya ada rasa rindu. Rinduku untuk Peter. Aku tidak merasakan kebencianku lagi padanya, rasa itu telah sirna.

Kini aku sadar, rasa maaflah yang telah menghilangkan perasaan dendamku untuknya.

***

Tidurku sangat gelisah malam ini. Aku tertidur sebentar, lalu terbangun. Tertidur lagi, namun tak berapa lama kemudian aku kembali terbangun. Aku menyingkap selimutku, mematikan AC yang ada di atas meja komputerku. Sedangkan AC yang ada di atas pintu kamar mandi kukecilkan. Suasana kamarku tiba-tiba berubah dingin, padahal kedua AC ku tidak dalam keadaan suhu terendahnya. Aku menggosok lenganku, membiaskan rasa hangat ke dalam tubuhku. Cahaya lampu yang berpendar dari luar balkon masuk ke dalam kamarku.

Bunyi pintu berderit terbuka lamban. Aku menolehkan kepalaku ke arah pintu kamarku dan melihat kalau pintu kamarku agak terbuka sedikit. Kulangkahkan kakiku menuju ke arah pintu, namun pada saat aku memegang knop pintu kamarku, aku mendengar suara decitan kursi dari luar sana. Aku mengernyitkan wajahku. Apakah itu Mama? Dia tadi mengirimiku pesan kalau dia akan pulang pada tengah malam. Sekarang memang sudah jam setengah satu, berarti itu bisa saja Mama.

Kubuka pintu kamarku lebar-lebar, menatap seisi rumahku yang gelap. “Ma?” panggilku dalam suara yang agak lirih. “Mama udah pulang?” tanyaku saat melihat siluet putih melintas di depan mataku. Siluet itu menuruni tangga, tidak ada bunyi langkah, hanya bunyi deruan angin yang menerpa pendengaranku. Aku makin mengernyitkan wajahku. Apa yang sedang Mama lakukan? Kenapa dia jalan begitu cepat? “Ma?” panggilku sekali lagi seraya mengikuti Mama menuruni tangga rumah.

Tetapi saat aku turun, Mama tidak ada di manapun. Ruangan yang gelap membuatku harus menyipitkan mata saat mencari sosok Mama. Aku melangkah ke arah selatan rumah, menuju ke arah dapur. Ketika aku sampai di dekat edge room, siluet putih itu kembali muncul. Suara deruan angin menyentak ventilasi yang ada di atas edge room. Aku merasakan seperti ada sesuatu yang meraba wajahku. Begitu dingin, tak kasat mata. Aku memeluk diriku sendiri, mengikuti siluet putih itu berbelok ke arah kernel dapur.

“Tivo!” panggil sebuah suara berat.

Aku agak tersentak, suaranya agak tehimpit, begitu penuh rasa sakit. Penuh rasa kemarahan. Aku menelan air ludahku dengan susah payah. Siluet putih itu melambai-lambai di udara. Seperti mengajakku untuk mengikutinya. Langkahku miris saat berjalan menuju ke arah siluet itu. “Mama?” panggilku, masih berharap kalau siluet itu sebenarnya Mamaku. Tetapi tidak ada sahutan lembut suara Mamaku sama sekali. Yang kurasakan hanya cengkraman dingin dari angin yang menyerang tubuhku.

“Tivo… sini, Nak!” panggil suara kembali. Membuatku bergidik, namun bergidik dalam rasa penasaran. Siluet itu menuju ke paling belakang dapur. Aku terus mengikutinya, mencoba mengejarnya namun kakiku terasa sangat berat. “Tivo!” Suara itu bergetar, bagaikan gesekkan dahan di pohon pinus yang telah rapuh.

Siluet itu manembus kasat ke dalam pintu mahogany berpelitur menyengat. Knop pintunya yang bulat dan berwarna perak memantulkan cahaya bulan yang menyeruak masuk dari celah jendela yang ada di belakangku. Aku mengangkat kepalaku ke arah pintu tersebut, tubuhku menegang saat tahu kalau pintu ini akan menuju ke arah ruang bawah tanah. Ke ruangan yang tak akan pernah kupijak lagi seumur hidupku. Tanganku gemetar, mataku nyalang, namun siluet putih itu melambai anggun. Siluet putih itu kembali menembus pintu, membuat pintu berderak terbuka.

Aku memundurkan langkahku lamban, ingin berjalan menjauh, tetapi tubuhku seperti ada yang menahannya. Siluet itu kembali memanggilku, menyuruhku untuk mengikutinya. Aku menarik nafas dalam-dalam, antara ingin lari dan mengikuti naluri penasaranku. Akhirnya, setelah berkelahi dengan logika, aku melangkahkan kakiku maju. Menarik pintu mahogany tersebut hingga terbuka. Aroma lembap dan tanah apak masuk ke dalam hidungku. Tanganku agak gemetar saat melepaskan knop pintu. Aku maju selangkah demi selangkah, namun langsung terhenti saat aku mencium bau busuk menyerbak di sekitarku.

“Mama?” panggilku penuh harap kalau Mamaku akan menyahut ucapanku. Namun hanya siluet putih itu saja yang melambai ke arahku. “Mama ngapain di bawah?” tanyaku seraya mulai melangkahkan kakiku kembali. Suara tangga agak berderit saat aku menginjaknya. Mengingatkanku akan penderitaanku di masa lalu dahulu. Ketika si Bajingan menarik kerah bajuku dan memaksaku untuk ikut masuk ke ruangan bawah tanah ini. Bahkan suasana di ruang bawah tanah ini masih sama seperti dulu. Begitu gelap, begitu… macabre.

Kakiku memijak tanah agak gontai. Bisa kulihat lampu berwarna kuning agak redup yang ada di sudut ruangan. Lampu yang tidak pernah dimatikan semenjak si Bajingan meninggal. Karena memang tidak ada yang ingin datang ke ruangan ini lagi. Bahkan bisa kurasakan bau menyengat itu datang darimana. Tai tikus bertebaran di mana-mana, bau pesing dari ruangan tempat aku di kurung juga mendominasi indera penciumanku. Aku masih ingat saat aku buang air kecil di ruangan itu saat dikurung dulu. Aku masih ingat betapa menderitanya aku dulu saat disetrum di atas kursi setengah tidur tersebut.

Kilat tiba-tiba menyambar, bunyi guntur yang menggelegar membuat ventilasi udara yang ada di dekat lemari kayu lapuk bergetar hebat. Aku memundurkan langkahku, hingga mata kakiku menyikut keras anak tangga pertama. Lampu kuning yang ada di pinggir ruangan mulai berkedip-kedip. Membuat ruangan ini gelap dan makin mencekam. Aku memegang gagang tangga, menyuruh otakku untuk naik ke atas dan segera pergi dari tempat ini. Tetapi kakiku lumpuh, aku tidak bisa menggerakkannya, bahkan aku tidak bisa merasakan jari-jari kakiku. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya untuk pergi dari ruangan terkutuk ini.

Saat lampu kuning itu berhenti berkedip-kedip, kursi tempat aku disetrum dulu bergetar. Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya, dan mendapati ada sebuah kaki menyelonjor di sana. Aku menahan nafas saat kaki besar itu bergerak pelan-nan-lambat. “Tivo… bantuin, Nak!” Suara itu, kini aku tahu itu suara siapa. Aku tahu nada sinis di suara itu. Keringat dingin mulai membasahi tengkukku. Siluet putih yang tadi kulihat melayang-layang di udara, bagaikan kain kafan. Kain kafan untuk menutup jasad si Bajingan.

Semua saraf yang ada di dalam tubuhku serasa mengejang marah, menyuruhku untuk pergi tetapi fungsi otakku tidak ingin menjalankannya. Lampu kuning itu kini kembali berkedip-kedip, kilat dan guntur saling bersahutan di luar sana. Gagang ventilasi membentur-bentur dinding, membuat suara berisik yang sangat mengganggu. Kain kafan itu jatuh ke tanah, menutupi kaki besar yang ada di atas kursi setrum tersebut. Suara gemertak tulang patah membungkam bunyi getaran di kursi setrum. Bisa kulihat kaki besar tersebut terkulai jatuh.

Suara musik dari kotak piringan hitam yang ada di dekat kursi tersebut berbunyi nyaring. Si Bajingan adalah keturunan Keraton, dan aku tahu jenis musik ini. Aku tahu ini adalah lagu pemanggil setan. Aku sangat paham karena aku pernah ikut Mama ke rumah keluarga si Bajingan yang ada di Jogjakarta sana. Suara Jawa khas wanita mulai mengeluarkan liriknya. Seketika itu juga aku sangat gemetaran. Jika lagu ini didengar atau dibaca pada malam hari, setan dan kuntilanak akan datang menghampiri. Datang dan menghantui yang mendengar dan membacanya sampai beberapa malam.

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno. Ojo tangi nggonmu guling. Awas jo ngetoro. Aku lagi bang wingo wingo. Jin setan kang tak utusi. Dadyo sebarang. Wojo lelayu sebet.” Lalu suara penerjemah lagu Lingsir Wengi mulai terdengar. Suara seorang lelaki, agak berat dan serak. “Menjelang malam dirimu akan lenyap. Jangan bangun dari tempat tidurmu. Awas jangan menampakan diri. Aku sedang dalam kemarahan besar. Jin dan setan yang kuperintah. Menjadi perantara. Untuk mencabut nyawamu.”

Aku menutup telingaku dengan kedua tangan. Namun lagu itu masuk ke dalam diriku. Lagu itu benar-benar bisa menghantui diriku. Aku menutup mata, tidak ingin mendengar musik Jawa yang sangat seram tersebut. Pada saat lagu itu akhirnya berhenti, barulah aku membuka mataku kembali. Kuarahkan pandangan mataku ke arah kotak musik piringan hitam itu, sudah berhenti berputar dan diam tak bergerak. Kuturunkan tanganku ke samping tubuhku, mataku menyapu seluruh ruangan yang sangat bau busuk ini.

Seketika itulah aku menangkap sesosok pocong yang berdiri tegap di samping kursi setrum. Nafasku tercekat di tenggorokan. Badanku benar-benar membeku, bergeming di tempatku berdiri. Saat aku mengangkat mataku ke arah ikatan di lehernya, aku tidak menemukan ada kepala di ujung lehernya. Badanku makin gemetaran, aku ingin sekali pergi dari tempat ini tetapi aku masih tidak tahu bagaimana caranya. Tiba-tiba kepala itu jatuh berdebam di tanah, mata kakiku kembali membentur anak tangga saat kepala itu menggelinding ke arahku.

Ketika kepala itu sudah berada di bawah kakiku, aku bisa melihat semua darah yang mengucur deras di dahi dan hidungnya. Aku kembali memundurkan badanku ke belakang, namun saat itulah aku bisa merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangku. Di atas pundakku, tangan itu menyentuh kasar permukaan kulitku. “Tivo!” bisik suara itu seram. “Tivo… bantuin, Nak! Bantuin sambungin kepala Papa, Nak!” Dan tangan itu membekap keras mulutku, membuat hidungku mencium bau busuk yang teramat sangat. Ketika aku menundukkan kepalaku, sebuah senyuman sinis muncul di bibir si Bajingan yang robek.

Aku memberontak keras, kutepis tangan itu dari bekapan mulutku. Seketika itu semuanya bergerak tak karuan di ruangan ini. Kilat menyambar-nyambar di luar sana, menghasilkan bunyi gemercak di sana-sini. Aku berbalik dan naik ke atas tangga. Kupijak kakiku sekuat mungkin di setiap anak tangga yang kunaiki. Nafasku tersengal-sengal saat sudah sampai di depan pintu yang agak terbuka. Namun pada saat aku memegang knopnya, pintu itu langsung tertutup rapat. Aku menggebrak-gebrak pintu. Ingin teriak tetapi suaraku tidak bisa muncul sedikitpun. Aku menarik keras pintu itu agar terbuka, aku mencoba memutar knopnya, tetapi pintu itu sangat kokoh untuk bisa terbuka.

Loncatan berdebam di tangga membuat suara decitan aneh. Saat aku membalikkan kepalaku, aku bisa melihat kalau si Bajingan dalam balutan kain kafannya, dengan tangan kanan yang terjulur keluar sambil memegang kepalanya yang putus, dia sedang menuju ke arahku. Aku kembali menarik knop pintu lebih keras. Menggebrak-gebrak pintu agar terbuka. Namun aku masih tidak bisa melakukannya. Loncatan itu makin terdengar jelas. “Tivo, ini Papa, Nak!” Suara berat itu kembali memanggil namaku. Loncatannya makin dekat di belakangku.

Pintu akhirnya terbuka saat si Bajingan hampir dekat ke arahku. Kukuakkan pintu selebar mungkin lalu mulai berlari kencang ke luar. Aku bisa merasakan nafasku makin lama makin memburu cepat. Membakar paru-paruku, menghabiskan semua tenagaku. Aku terus berlari, tidak peduli dengan suasana gelap yang ada di rumahku. Saat aku baru saja ingin sampai di tangga, tiba-tiba aku menabrak sesuatu. Sangat keras, hingga aku terjungkal ke belakang. Punggung dan bokongku menghantam lantai marmer agak keras. Aku meringis, namun masih dalam tahap sangat ketakutan.

“Tivo?” Itu suara Mamaku. Aku membuka mataku lebar-lebar, tetapi saat aku membuka mataku, bukan sosok Mama yang kudapati. Melainkan kepala si Bajingan yang melotot tajam ke arahku. Aku memberontak kencang, kututup mataku dalam-dalam. Suaraku akhirnya keluar, aku berteriak sekuat mungkin. Dan di saat itulah mataku terbuka lebar, aku terbangun dari atas tempat tidurku.

Mimpi. Itu tadi hanya mimpi buruk. Kutepuk tanganku dua kali, agar lampu kamarku menyala terang benderang. Kupicingkan mataku ke seluruh penjuru kamar. Dan tidak mendapati apapun. Aku mengelap keringat yang keluar dari keningku. Aku baru saja ingin berbaring lagi ke atas kasurku saat pintu kamarku berderit terbuka. Aku terlonjak dari atas tempat tidur. Kusipitkan mataku ke arah pintu kamar, dan benar saja, pintu itu agak terbuka. Nafasku kembali memburu. Aku mengangkat tanganku dan mencubit tanganku yang satu lagi. Sakit. Berarti ini bukan mimpi.

Aku beranjak dari atas tempat tidur, menyalakan senter dari BlackBerry Torch ku. HP khusus untuk menerima telpon para klienku. Aku melangkahkan kakiku pelan menuju ke arah pintu. Kubuka lebar pintu kamarku, dan mendapati rumahku yang agak gelap. Aku mengarahkan senter ke seluruh penjuru ruangan, namun aku tidak menemukan apapun. Namun saat aku mengarahkannya ke arah Lift rumahku, cahaya lampu dari senter menampilkan dua bola mata yang melotot ngeri ke arahku. Dan pada saat itulah aku terjatuh ke lantai dan pingsan.

***

“Tuan, bangun!” Suara Mbak Kinan bergema di dalam telingaku. “Tuan, ayo bangun!” Mbak Kinan mengguncang tubuhku. Seketika itu juga aku membuka mataku lebar-lebar. Mbak Kinan menekan remot untuk membuka semua gorden agar sinar matahari pagi masuk ke dalam kamarku. “Tuan kok malah tidur di lantai sih?” tanya Mbak Kinan kuatir. “Ntar kalo Tuan sakit gimana? Pasti Nyonya bakalan cemas banget.”

Aku bangkit dari pembaringangku. Tadi malam sungguh-sungguh hal yang paling macabre untukku. Aku tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya, dan kini aku tahu bagaimana rasanya mempunyai mimpi buruk. Tetapi mata yang melotot di dalam Lift itu, apakah itu sungguh si Bajingan? Matanya benar-benar mengerikan. Matanya lebar, dan bisa kupastikan kalau aku mengenali mata itu. Tetapi siapa? Siapa orang itu? Kalau memang benar itu bukan si Bajingan. Oh, lupakan saja! Aku tidak perlu mengingatnya.

“Tuan mau sarapan apa pagi ini? Ntar biar Mbak Ki kasih tau Chef Gema supaya langsung dibuatin makanannya.” Mbak Kinan membantuku berdiri, dia mengelus rambutku penuh kasih sayang. Mbak Kinan sudah kuanggap Kakakku. Kakak perempuanku. Dia masih muda saat pertama kali kerja di sini. Sekarang umur Mbak Kinan masih dua puluh lima tahun. Tahun depan Mbak Kinan akan menikah dengan Mas Dadang, satpam yang ada di rumahku.

“Roti tawar selai kacang sama susu.” Aku meregangkan tubuhku yang agak lelah karena terbaring di lantai. “Oh, iya, sama buatin aku sandwich juga deh.”

“Baik, Tuan,” ujar Mbak Kinan sembari membetulkan selimut dan seprai kasurku. “Oh, iya, tadi malem Nyonya udah pulang. Katanya Tuan di tunggu di meja makan.” Aku mengangguk penuh semangat. Kulangkahkan kakiku ke arah kamar mandi, hari ini aku sungguh-sungguh ingin menemui sosok Mama. Sudah tiga bulan ini kami tidak pernah bertatap muka. Biasanya aku dan Mama hanya telponan atau video call di Skype. Itu pun tak akan lama, paling lama sekitar dua menit. Hanya tanya kabar dan keadaan kantor.

Selesai mandi aku langsung turun ke ruangan makan. Mama langsung berdiri dan memelukku saat dia melihatku berjalan ke arahnya. “Ya, ampun, Sayang!” seru Mamaku ceria. “Mama kangen banget sama kamu.” Mama mencium kening dan bibirku sebentar. “Mama kok ngerasa kamu makin tinggi ya sekarang?” Mamaku menatap postur tubuhku lama-lama. “Tiga bulan kita nggak ketemu Tivo banyak juga perubahannya. Makin tinggi, makin berisi dan makin cakep.” Mama mencubit pipiku. “Tapi senyumannya Tivo masih nggak ada.”

“Ini Tivo lagi senyum Ma,” kataku sambil menunjuk bibirku yang tak menunjukkan apapun. Namun di dalam hati aku memang tersenyum. Sangat lebar. “Mama bakalan lama di rumah ini apa bakalan pergi lagi?” tanyaku seraya mengambil piringku yang di atasnya sudah ada roti tawar berselai kacang.

Mamaku duduk di bangku sebelah. Dia menaburi nasi gorengnya dengan sedikit merica sebelum akhirnya kembali membuka suaranya. “Mama cuman seminggu aja di sini. Minggu depan Mama mau ke Myanmar. Mau ngurus Saham Mister Lavigne. Tapi Mama nggak akan lama di sana. Palingan cuman dua minggu. Soalnya Mama juga punya kerjaan penting di Sumbawa dan Curup. Tapi Mama bakalan bolak-balik kok. Jadi kita berdua masih bisa saling ngumpul dan chit-chat kayak gini.”

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. “Perusahaan kita yang ada di Mojokerto sama Klaten udah Tivo urus. Dan perusahaan kita di Jakarta semuanya sampai saat ini masih lancar. Kemarin Tivo ikut proyek dengan Pak Hutagalung di Bank Crystal. Mereka pakek sistem jalan modal makanya Tivo ambil kemarin.” Aku memasukkan roti tawarku ke dalam mulut, mengunyahnya secara perlahan. Jika aku sudah bertemu dengan Mama seperti ini, pasti yang kami bahas soal pekerjaan.

Alright, Mama percaya kok sama Tivo.” Mama tersenyum gemulai. “Sudah cukup bicarain soal perusahaan. Sekarang kita bicarain soal kamu.” Aku menaikkan alisku tinggi-tinggi, tumben Mama mau membicarakan soal hidupku. “Hubungan persahabatan kamu sama Peter dan Vick gimana? Kalian udah ngumpul kayak dulu lagi?” Aku terdiam beberapa saat, sampai akhirnya kuberikan gelengan kepalaku untuk menjawab pertanyaan Mama. “Sayang, sebenernya Mama selama ini—“ Suara Mamaku terputus, dia menatap mataku dalam-dalam. “Selama ini sebenernya Mama mau ngomong ini sama kamu,” ucap Mama agak gugup. “Mama pernah… ngelihat kamu dan Peter ciuman di balkon depan rumah kita.”

Roti tawar yang kupegang langsung terjatuh ke atas piring. Mulutku berubah kelu, aku tidak tahu bagaimana cara untuk membukanya. “Itu—“ Aku bingung ingin menjelaskan apa pada Mamaku soal ini. Aku tidak tahu kalau Mama melihatku waktu itu. Aku tidak sadar kalau Mama selama ini mengetahui kalau anak laki-lakinya pernah mencium seorang laki-laki. Walaupun Mama pernah kuberitahu soal aku yang disodomi waktu itu, tetapi aku tahu Mamaku masih tidak akan mengerti soal ini.

“Kamu sama Peter… pacaran ya?” tanya Mamaku, dia mengelap mulutnya yang agak berminyak dengan serbet kecil. “Tivo jawab jujur aja, Mama nggak akan marah.” Suara Mamaku berubah tenang, dia menatapku lembut. Khas tatapan seorang Ibu yang kurindukan.

Kutundukkan kepalaku dalam-dalam. Tidak ingin melihat raut kecewa di wajah Mamaku. “Iya,” jawabku lirih. Aku bisa merasakan mataku panas, air mata yang kurindukan ingin bergulir keluar dari dalam mataku. “Maafin Tivo, Ma.” Aku mengelap ujung mataku yang basah. Aku juga tidak mengerti kenapa aku menangis, mungkin karena aku sudah tahu cara untuk menangis, makanya kini aku ingin mengeluarkan air mataku.

“Maaf untuk apa? Maaf karena Tivo jatuh cinta sama cowok?” tanya Mamaku, tangannya yang halus menyentuh daguku. Didongakkannya kepalaku ke arahnya. “Nggak apa-apa, Sayang. Nggak ada hal yang sempurna di dunia ini, yang ada hanyalah kita yang mencoba membuatnya supaya sempurna.” Mama berdiri dari bangkunya, perlahan dia memelukku dengan sangat penuh kehangatan. “Tivo akan tetap jadi anak Mama, si bayi kecil cengeng yang suka hisep jari kalo dimarahin.” Mamaku terkekeh kecil di atasku. Dia mencium ubun-ubun kepalaku, sangat lama, sampai bisa kurasakan betapa cinta Mamaku masuk ke dalam tubuhku. Ke dalam hatiku. “Selama Tivo baik-baik aja, Mama akan selalu baik-baik aja.”

Aku memeluk tubuh Mamaku erat-erat. “Makasih Ma. Makasih udah ngertiin Tivo.”

“Selalu, Sayang. Kamu darah daging Mama, jika Mama nggak ngertiin kamu, kamu juga nggak akan pernah bisa ngertiin Mama.” Pelukan yang diberikan Mamaku terlepas, hati-hati Mamaku kembali duduk di kursinya. Bisa kulihat matanya yang berkaca-kaca, senyuman tak lepas dari bibirnya. “Jadi… kalau Mama boleh tau, persahabatan kalian bertiga putus karena… kamu dan Peter udah nggak ngejalin hubungan lagi?”

“Mama Kepo,” ujarku sambil mengangkat kembali roti tawarku. Tawa Mama menggema di udara. “Bukan cuman karena hal itu aja, tapi karena hal lain juga.” Aku melirik Mamaku yang menatap wajahku dengan raut penasaran. “Persahabatan kami rusak gara-gara…” Lalu aku mulai menceritakan segalanya pada Mamaku. Karena sekarang dia tahu siapa aku yang sebenarnya. Hatiku kini makin lega, rasa dendamku pada Peter sudah menghilang, hanya tersisa rasa rindu. Dan sekarang… Mama bisa menerima jati diriku yang sesungguhnya. Terdengar seperti khayalan memang, namun saat aku menepuk tanganku, aku tersadar kalau ini semua adalah nyata.

“Saran Mama buat kamu sekarang, Sayang, adalah pergi temui mereka. Perbaiki apa yang harus kamu perbaiki. Kamu mungkin memang bukan yang salah di sini, tetapi memaafkan bukan berarti kamu orang yang lemah. Itu menandakan betapa hebatnya kamu. Orang yang meminta maaf, adalah orang yang hebat daripada orang yang memaafkan.” Mama menepuk punggung tanganku. Senyumannya mengembang di bibirnya yang ranum. “Mama tunggu kabar Vick dan Peter main ke rumah ini lagi.”

Aku menganggukkan kepalaku. Selepas sarapan, aku langsung kembali ke kamarku dan mengambil kunci mobil. Urusanku dan Peter sudah selesai tadi malam. Kini aku akan meminta maaf pada Vick. Aku begitu banyak menimbun kesalahan padanya. Gara-gara rasa dendamku dia harus kehilangan Peter sebagai sahabatnya. Aku akan memperbaiki keadaan persahabatan kami. Entahlah jika dengan Peter, karena dia sudah berjanji akan menjauhiku. Aku ingin menyuruhnya untuk tidak melakukan hal itu, tetapi aku malah diam.

Kuparkirkan mobilku di depan garasi Vick. Saat aku keluar dari dalam mobilku, Tante Windry, Mamanya Vick menatapku agak kaget. “Tivo,” ujarnya sembari menatapku lekat-lekat. “Ya, ampun, my dear! Kamu udah besar banget ya sekarang, makin cakep lagi.” Tante Windry memeluk tubuhku sebentar. “Kamu kemana aja sih? Kok baru sekarang main ke sini lagi?” Tante Windry menuntunku hingga masuk ke dalam rumahnya. “Mama kamu gimana kabarnya? Ya, ampun, jeung Diatmika kalau diajak ngumpul pasti selalu nggak bisa deh.”

“Iya, Tante, aku sibuk makanya jarang bisa main ke sini lagi,” bohongku. “Mama baik-baik aja. Baru aja tadi malem pulang dari Brunnei. Kalau Tante ajakkin Mama keluar hari ini pasti Mama bisa deh Tan. Coba aja Tante telpon Mama.” Aku berkata panjang lebar, tidak tahu kenapa kalau aku berhadapan dengan orang dewasa, aku pasti selalu mengeluarkan ocehan panjang seperti tadi. Ferdi, Alex dan Serly adalah saksinya.

“Hmmm, iya deh. Nanti Tante coba telpon Mama kamu. Dia masih pakek nomornya yang lama kan?” tanya Tante Windry, aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. “Tivo ke sini mau ketemu Vick ya?” Aku kembali mengangguk. “Dia ada di kamarnya sama sahabatnya. Kamu langsung naik ke atas aja ya.” Tante Windry bangkit dari tempat duduk. “Kamu mau minum apa Tiv?”

Aku menggeleng cepat. “Nggak usah Tan. Nggak usah repot-repot.” Aku juga berdiri dari tempat dudukku. “Aku langsung ke kamar Vick aja ya Tan.” Tante Windry mengangguk. Cepat-cepat kulangkahkan kakiku ke arah tangga rumah Vick. Ah, betapa aku rindu rumah Vick, tempat kami sering kumpul untuk belajar dulu. Tempat aku kabur dari si Bajingan. Tetapi ada yang aneh… tadi Tante Windry bilang kalau Vick sedang dengan sahabatnya. Memang siapa sahabat Vick? Di sekolah dia tidak kulihat bersahabat dengan siapapun.

Kuketuk pintu kamar Vick beberapa kali sampai akhirnya aku mendengar suara sahabat lamaku menyahut dari dalam. “Bentar!” ujarnya kencang dan agak terburu-buru. Sekitar setengah menit barulah aku mendengar bunyi kunci yang dibuka dari dalam. Saat pintu itu akhirnya terbuka, aku menemukan sosok Vick yang sedang dalam keadaan berantakan dan wajah yang baru saja bangun. Matanya yang hitam dan agak bulat itu menatapku terkejut. “Tivo?” serunya antara percaya dan tidak percaya melihatku ada di depan pintu kamarnya.

“Hei, Vick!” sapaku berusaha riang. “Ada yang pengen gue omongin ke elo,” ujarku. Vick masih menatapku dengan pandangan terkejut. “Gue boleh masuk nggak?” tanyaku pelan. Akhirnya Vick menyadari kalau yang sedang ada di hadapannya ini adalah benar-benar aku.

“Oh, iya. Ayo, masuk!” Vick memiringkan tubuhnya, agar aku bisa masuk ke dalam kamarnya yang selalu beraroma jeruk. Ketika aku menolehkan kepalaku ke arah kasur Vick, ada seseorang yang sedang berbaring di sana. Telanjang dada! Mataku melotot kaget. “Itu And, rencananya dia mau nganter gue pulang, eh dia malah nginep,” beritahu Vick padaku saat dia mengerti pelototan kagetku. “And jelek! Bangun, ada Tivo nih!” Vick naik ke atas kasurnya, kemudian meniup telinga pacarnya. Membuat And menggeliat dalam tidurnya. “Malah makin tidur! And! Ayo, bangun!” Vick kembali meniup telinga And agak kencang.

Sahabatku satu itu langsung mendorong Vick hingga jatuh ke atas kasur. Aku tertegun sesaat ketika And mencium bibir Vick lembut. “Nggak ada cara yang lebih sopan apa bangunin pacar sendiri? Kamu bangunin aku kayak aku ini anak tiri aja.” Vick terkekeh saat And kembali mencium bibirnya. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.

“Sudah, ah! Mulut kamu bau. Belum sikat gigi!” Vick mendorong And menjauh.

And mengangkat kepalanya, saat dia ingin menindis tubuh Vick, dia menolehkan kepalanya ke arahku. “Shit!” serunya kaget. “Kok bisa ada Tivo di sini?” tanya And sambil menarik selimut agar menutup badannya yang telanjang. Vick hanya tertawa pelan, sedangkan aku hanya memasang seringaianku. “Lo masuk lewat mana?” tanya And padaku. Aku mengangkat tanganku dan menujuk pintu. “Maksud gue… lo udah sejak kapan ada di sana? Kok tiba-tiba ada di sini?” And menatap Vick dan aku secara bergantian. Aku berjalan ke kasur Vick dan duduk di sudut kanan kasur. “Jangan bilang kalo lo sekarang bisa sihir?”

“Tivo barusan aja masuk,” kata Vick cepat. “Kamu aja aku bangunin malah ngeyel. Main cium-cium sembarangan. Kalo tadi Nyokapku yang masuk gimana hayo?” Vick berkata jutek, namun aku tahu dia tidak sungguh-sungguh marah. “Dan jangan bilang kalo itu bisa jadi alasan kita untuk CO. Enak di kamu, nggak enak di aku. Maksudku, yah, entahlah. Aku nggak tau Nyokap sama Bokap bakalan marah apa kagak, tapi tetep aja. Gimana kalo mereka histeris terus aku dijadiin Pastur?” And terkekeh kecil, dia mengusap rambut Vick lembut.

“Kalo mereka nggak nerima kita, kita ngelakuin rencana yang aku buat kemarin itu. Kita kabur berdua. Nanti aku bakalan cari kerja, aku bakalan jagain kamu terus.” Saat mata mereka saling bertabrakan, aku melihat sesuatu yang sangat indah di sana. Cinta. “Tapi tentu aja aku yakin kalo kedua orang tuaku bisa menerimaku apa adanya. Yah, itu sih masih perkiraan. Tapi, di hati kecilku aku yakin pasti mereka akan tetep dukung aku apa adanya. Lagian masih ada Dan yang bisa kasih mereka cucu nanti.”

Vick merebahkan kepalanya di pundak And. “I hope so,” ucapnya tulus. Setelah hening beberapa menit, akhirnya Vick mengangkat kepalanya dari pundak And. “Kamu mandi sana! Ini udah jam sepuluh. Kan kita mau main ice skating.” Vick mendorong pundak And dengan kekuatan penuh. “Aku juga masih ada urusan sama Tivo.” And akhirnya bangkit dari atas tempat tidur. Dia hanya mengenakkan boxer Calvin Klein nya. Pahanya yang kencang bergerak liat saat dia berjalan menuju ke kamar mandi.

“And itu seksi ya,” kataku laun. Aku baru sadar kalau And memang terlihat sangat seksi. Wajahnya memang tidak tampan, tidak keren juga, tetapi dia sangat… sangat… straight act. Siapapun tidak akan sadar kalau ternyata dia itu seorang… gay. Eh, biseksual.

Stay off, bitch!” seru Vick kencang. “His mine!” Aku menatap Vick dengan pandangan konyol. Vick hanya tertawa melihat pandangan mataku. “Jadi… Tivo, lo mau ngomong soal apaan sama gue?” tanyanya, dia mentengkurapkan badannya. Kepalanya dia rebahkan di atas pahaku. Aku menatapnya untuk beberapa saat. Cukup terkejut karena hal yang Vick lakukan saat ini sering sekali kami lakukan saat masih bersahabat dulu.

“Gue mau minta maaf,” ucapku penuh ketulusan hati. “Gue mau minta maaf sama lo karena selama ini gue udah ngingkari perjanjian persahabatan kita.” Aku menatap wajah Vick yang tertegun dan terpana. “Andai aja waktu itu gue nggak ngelakuin tindakan keji itu, pasti kita bertiga masih samaan sampai saat ini. Ngumpul-ngumpul, keluar bareng pas malam minggu, ngomong ngalor ngidul di Planetarium di rumah gue dan taruhan main Xbox.” Kutatap dalam-dalam wajah Vick. “Gue bener-bener minta maaf, Vick.”

Untuk beberapa saat di antara kami hanya ada sebuah keheningan yang agak lama. Tetapi setelah itu Vick menampilkan sebuah senyuman lebar nan tulus di bibirnya. Dia merangkul badanku erat. “Nggak apa-apa, Tiv,” ucapnya masih sambil tersenyum. “Lo nggak salah. Gue ngerti kenapa lo kayak gini. Kalo gue jadi lo mungkin gue akan marah dan dendam banget sama Peter. Gue kaget pas lo ngejelasin ke gue kenapa lo mutusin Peter. Kalo gue telaah lagi, gue pasti juga akan ngerasin perasaan sakit hati saat tau sahabat yang kita percaya malah diem dan sembunyi pas kita lagi menderita. Tapi Tiv, udah saatnya melupakan rasa dendam itu sekarang. Gue yakin lo bisa.”

“Gue udah maafin Peter,” kataku padanya. “Gue juga udah minta maaf sama dia. Tapi—‘ Aku menghentikan ucapanku. Agak perih saat aku sadar kalau hal ini mungkin saja akan terjadi. “Peter nggak akan deket-deket gue lagi. Dia udah janji buat ngejauhi gue agar gue bisa bahagia. Di hati kecil gue, gue nggak pengen dia pergi. Tapi mulut gue nggak bisa nyampein kayak gitu ke dia. Dan gue juga nggak tau gimana cara ngeyakinin dia sekarang.”

“Lo masih cinta sama dia?” tanya Vick, dia mengangkat kepalanya dari atas pahaku. Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. “Gue tau sebenernya kalo kalian berdua akan selalu saling cinta. Gue nggak tau mau kasih masukkan apa. Gue tau lo Tiv, kalo orang itu pengen jauh dari lo, lo pasti akan ngebiarin dan nggak peduli. Salah satu sifat buruk lo adalah itu, terlalu malas untuk peduli sama orang yang sebenernya sayang dan cinta banget sama lo.” Vick menekuk kedua kakinya ke udara. “Coba lo ngomong pelan-pelan sama Peter. Gue yakin dia pasti mau deket sama lo kok. Dia cinta sama lo Tiv, kalian berdua harus ulang semuanya dari awal lagi. Cinta itu baik, cinta itu memaafkan segalanya.”

Aku terenyuh mendengar kata-kata Vick barusan. Kemana aku selama tiga tahun ini? Vick sungguh-sungguh berubah menjadi sosok yang sangat bijaksana. Di saat dia menjadi seperti ini aku tidak ada di sampingnya. “Makasih Vick,” kataku, kutepuk punggung tangannya. “Lo bilang nggak tau mau ngasih masukkan apa, tapi menurut gue perkataan yang lo kasih ke gue tadi adalah sebuah masukkan. Masukkan yang sangat berharga.” Vick tersenyum lebar ke arahku. Dia menganggukkan kepalanya samar. “Lo sama And gimana? Hubungan kalian masih baik-baik ajakan?”

“Masih baik-baik aja kok. Meskipun kadang-kadang kami berantem nggak jelas.” Vick tersenyum kecil. “Tapi kalo kami berantem, dan marah-marahan, biasanya cuman bentar. Paling lama kami marahan itu sekitar lima jam. Gara-gara gue cemburu sama Revie.” Aku menatap Vick heran. “Iya, iya, gue tau kalo Revie itu sahabat kecilnya And. Yah, lo tau lah kan cinta sama cemburu saudaraan. Tapi habis itu gue minta maaf sama And, karena gue tau kalo Revie sama And cuman sahabatan. Gue mikirnya gini, buat apa gue cemburu sama Revie, karena gue tau kalo mereka cuman sahabatan kayak gue sama lo dan Peter. Jadi aneh aja rasanya cemburuin sahabat pacar gue sendiri.”

Well, semua hubungan kan nggak pernah ada yang selalu berjalan mulus,” ujarku mantap.

“Iya, kayak lo sama Peter kan?” Vick tertawa kencang, sedangkan aku hanya menyeringai. Di dalam hati aku tertawa bersamanya. Kami berbincang-bincang banyak hal. Kini, aku dan Vick sudah kembali menjadi sahabat seperti dulu. Saat aku berpamitan untuk pulang kepada mereka berdua karena aku ada kerjaan di kantor, tiba-tiba Vick memanggil namaku. “Tiv, makasih ya udah mau curhat sama gue soal perasaan lo ke Peter.”

Aku berjalan ke arahnya. “Karena lo sahabat gue makanya gue curhat sama lo.” Vick menarik badanku hingga masuk ke dalam pelukannya. And yang berdiri di belakang tubuh Vick tersenyum lebar ke arahku. Aku tahu kalau And memang tahu segalanya soal aku dan Peter. Vick sudah meminta maaf tadi padaku karena sudah membeberkan rahasia kami. Tetapi tidak apa-apa, berarti di flocks ku sudah dua orang yang tak perlu kuberikan penjelasan lagi soal aku dan Peter. “Gue pulang dulu ya!” kataku ketika Vick melepaskan pelukan. Vick dan And mengangguk. Aku membuka pintu kamar, kemudian keluar. Yang akan kulakukan besok adalah… meyakinkan Peter kalau dia hanya bisa bahagia bersamaku.

***

Ketika And sudah datang, barulah kami berlima masuk ke dalam gedung sekolah. Hari senin sudah datang lagi, dan hari ini badai kembali datang. Angin bertiup kencang di luar sana, bahkan aku bisa melihat betapa kerasnya air hujan yang menerpa jendela mobilku tadi. Aku masih ingat akan mimpi burukku kemarin malam. Mata melotot yang kulihat di Lift waktu itu masih saja memenuhi isi kepalaku. Aku seperti mengenali mata itu, tetapi mata siapa?

Dan yang jadi inti pertanyaannya adalah, untuk apa dia sembunyi ke dalam rumahku?

Ketika flocks ku melintas di depan flocsk Homophobia nya Peter, dia tidak menoleh sama sekali ke arahku seperti yang biasa dia lakukan. Aku ingin menghentikan langkahku dan menyapanya, tetapi itu malah akan membuat semua orang kaget dengan tingkahku yang tiba-tiba berubah ingin menyapa orang lain duluan. Aku dikenal sangat cuek di sekolah ini, aku sangat jarang bicara kalau tidak diajak bicara duluan. Maka sebab itulah aku kembali melajukan langkahku. Masih bingung melihat Peter yang seperti menganggpku tidak ada. Dia malah terus berbincang dengan teman-temannya.

Berarti dia memang sungguh menepati janjinya! Dia menjauhiku, dia tidak ingin berurusan lagi denganku. Jika perasaan dendam itu masih ada di dalam hatiku, mungkin aku akan cuek tentang hal ini, tetapi karena perasaan itu sudah menghilang semenjak aku memaafkannya, aku malah sangat merasa nelangsa karena dia mengabaikanku seakan-akan aku hanyalah udara yang harus segera ditepis. Lebih baik dia memberikanku sebuah tatapan tajam daripada menganggapku tidak ada seperti tadi.

“Kita ulangan Visual Art lho hari ini. Kalian udah pada belajar kan?” tanya Revie sambil membolak-balikkan buku paket Visual Art nya. “Soalnya nilai dari Visual Art ini berpengaruh banget sama nilai Digital Art dan Technology. Kalian nggak mau kan nilai kalian ntar jelek?” Revie mengangkat kepalanya dari atas bukunya. Sid mengusir beberapa orang yang duduk di kursi andalan kami di kelas. “Pokoknya aku nggak mau denger kalian belum belajar. Inget lho, kita udah di grade 12, kita udah nggak bisa main-main lagi.”

Peter dan flocks nya tiba-tiba masuk ke dalam kelas saat Sid mengajak Revie berbincang. Mataku memicing ke arahnya, berharap kalau dia menoleh sebentar saja ke arahku, namun dia malah terus tertawa dan tersenyum dengan teman-temannya itu. Dia tidak mau melirikku sama sekali. Aku memang tidak dianggap ada olehnya. Apalagi saat dia menoleh tajam dan sebal ke arah Sid dan Zavan. Tetapi dia tidak ingin menjatuhkan pandangannya ke arahku meskipun hanya sejenak.

“Oh, Dewi Kwan Im, help me to through this exam!” kata Zavan penuh penghayatan. “Gue udah belajar kok Rev. Beneran lho, gue nggak bohong. Tapi pas gue baca paragraf pertama gue langsung ketiduran. Oh, dodoe, tuh tulisan ngemeng apaan coba! Buat ambo langsung pingsan seketika. Makanya pas tadi pagi gue bangun, gue langsung bakar buku paket Visual Art gue di perapian.” Zavan memasang cengiran lebar. Membuat kami berempat menggeleng bosan dengan tingkahnya yang gila.

Ketika ulangan Visual Art dimulai, aku dan yang lain langsung sibuk mengerjakan semua soal mengerikan tersebut. Sid sibuk membolak-balikkan kertasnya, berharap kalau ada kunci jawaban yang akan muncul di balik kertas soalnya. Sedangkan And dan Vick saling memberi jawaban. Kalau Revie tidak perlu dijelaskan lagi, saat ulangan ini dimulai dari lima belas menit yang lalu, dia langsung mengerjakan semua soal itu dalam sekali lihat dan sudah selesai dari lima menit yang lalu. Kini dia sedang duduk-duduk sambil menikmati Chocolatos yang dia makan secara diam-diam. Aku melirik ke arah Peter, dia mengerjakan soalnya sambil berbincang dengan Dylan. Aku menegok ke arah Zavan, dan terkejut saat mengetahui kalau bule gila satu itu sedang tertidur pulas. Ck!

Akhirnya setelah melalui banyak waktu berjam-jam di sekolah ini, bel tanda pulang pun berbunyi. Aku berjalan cepat menuju ke arah mobil Peter yang terparkir di sebelah barat. Ketika dia sudah masuk ke dalam mobilnya, dengan lancang aku langsung masuk ke dalamnya. Peter terlonjak kaget saat melihatku duduk di sebelahnya. Untuk satu menit pertama, tidak ada yang bersuara di antara kami. Aku menarik nafas panjang, dan mulai mengatakan apa yang ingin kukatakan padanya. Aku harus memulangakannya ke hatiku!

–Ups, Bersambung to Chapter 8–

Makasih buat Onew yang selama ini selalu ngepost chapter-chapter sebelumnya, sekarang gue udah beli modem baru. Haha LOL!

Ditunggu komennya ya!

Stormy Day (2)

DIS_

Chapter 2

♂ Undercover Martyn

“Gue masih nggak ngerti deh sama cuacanya Indonesia, padahal gue udah tinggal di sini selama dua tahun beberapa bulan. Besok cerah, besoknya lagi mendung, besoknya lagi hujan, dan besoknya lagi badai kayak gini. Lihat tuh hujan sama kilatnya, ngeri.” Zavan merapatkan syalnya ke leher, dia menarik-narik kemeja DIS nya agar rapi. Sebisa mungkin aku tidak menoleh ke badai yang hari ini sedang berlangsung. Aku benci hari badai seperti ini, mengingatkanku akan hal-hal keji yang si bajingan lakukan padaku. Aku juga sangat benci bunyi petir dan guntur, meskipun aku selalu menyembunyikan ketakutanku. Yang tahu aku takut pada kedua hal itu hanya Peter. Dan dia sekarang tidak akan berada di sampingku lagi.

Sid merapatkan jaket woolnya, tangannya menjentik tegas, menyuruh kami mengikuti langkahnya. Aku menyisir rambutku ke belakang, menekan dalam-dalam earphone yang menempel di kedua telingaku. Walaupun sebenarnya aku tidak mendengarkan lagu sama sekali. Aku hanya suka menempelkannya saja. Agar aku tidak terlalu bisa mendengar cercaan orang yang sangat suka menghujat kekayaan keluargaku. Kami berlima mendorong pintu lobby sekolah dan masuk dengan langkah panjang. Jika sudah masuk ke dalam sekolah seperti ini, kami berlima pasti menjadi pusat perhatian.

Semua orang seakan-akan langsung menghentikan aktifitas mereka. Beberapa pasang mata—apalagi adik-adik kelas kami—langsung menatap kami dengan pandangan kagum dan mencemooh. Beberapa orang bahkan ada yang saling berbisik dan melempar kami dengan dengusan kurang ajar. Tetapi karena memang dasarnya aku selalu masa bodoh, tidak seperti Sid yang seperti bensin tersulut api a.k.a cepat menyanggah, aku mengacuhkan orang-orang tidak penting itu. Sungguh, aku masih punya banyak hal yang lebih penting dari mereka. Mengkhayal misalnya, atau duduk-duduk sambil mendengarkan lagu yang kusetel dengan volume super keras. Atau menghabiskan waktu dengan papan caturku dan belajar tekhnik yang lebih bermutu.

Ketika aku melewati flocks Homophobia, aku bisa merasakan Peter sedang menatapku lekat-lekat. Sebisa mungkin aku tidak menganggapnya ada, namun sorot mata itu sungguh-sungguh menyebalkan. Seperti masuk ke dalam tubuhku kemudian menghantui jiwaku. Seharusnya aku gembira karena sudah bisa membuatnya sengsara seperti itu, hanya saja kenapa aku malah merasa nelangsa. Merasa bersalah padanya. Padahal yang jelas-jelas salah itu adalah dia, bukan aku. Yah, walaupun dia sudah meminta maaf berkali-kali, tetapi aku masih sulit untuk memaafkannya. Aku masih dendam.

Anak-anak grade 11 yang berada di dalam lift langsung terkejut saat mendapati kami ikut masuk ke dalam ruangan kotak tersebut. Sid mengangkat tangannya, menyuruh semua anak-anak grade 11 itu keluar. Dengan patuh, dan dengan langkah terbirit-birit mereka langsung keluar sambil menundukkan kepala. Aku menyandarkan tubuhku ke dinding besi, menatap wajah Sid yang masih memasang ekspresi garang ke semua orang yang berada di luar lift. Setelah pintu lift tertutup, Sid kembali memasang wajah baik-baiknya. Meskipun muka songongnya masih menempel jelas di sana.

“Yang tadi lo usir itu anak-anak jelata, iya kan?” tanya Zavan, yang langsung Sid jawab dengan anggukan. “Pantesan ruangan ini bau jelata.” Zavan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kemeja DIS nya. “Ini namanya pengharum ruangan mini. Kayak parfum gitu, tapi untuk ruangan.” Zavan menyemprotkan cairan berwangi eucalyptus itu di udara. “Nah, harumnya lebih baik daripada tadi. Bisa-bisa gue kena Asma kalo nyium bau jelata lama-lama.” Zavan kembali memasukkan botol itu ke dalam kemejanya. Dia merapatkan syalnya di leher, matanya yang biru menyipit untuk menatap dalam-dalam angka di panel lift.

Homeroom pertama kita homeroom Digital Arts kan?” tanya And saat kami sudah turun di lantai tiga. Cowok berbadan kekar itu melirik ke kanan dan ke kiri, pasti sedang mencari sosok pacarnya. Aku masih agak tidak percaya kalau sahabatku satu ini akan berpacaran dengan sahabatku yang lain. Vick memang tidak bersahabat lagi denganku sejak insiden aku putus dengan Peter, tetapi semenjak dia pacaran sama And. Kami kembali dekat seperti dulu.

“Iya,” sahut Revie, dia berjalan di depan kami dengan langkah jenjang. “Kalian udah selesain homework dari Mister Chris kan?” tanya Revie, ketika kami hampir sampai di depan pintu homeroom Digital Arts grade 12. “Jangan bilang sama aku kalo kalian belum nyelesainnya!? Aku kan udah buatin kerangkanya, tinggal kalian susun aja, terus kirim file homework itu ke e-mailnya Mister Chris.”

Revie mulai menjadi Mamah Dede lagi. Kalau soal pelajaran, cinta, kehidupan, jasmani dan rohani, tinggal tanya saja pada Revie. Dia akan menjawabnya dengan sangat bijak. “Gue udah buat beberapa bagian, tapi di sheet kedua gue bingung. Margin sama Headernya harus diapain lagi.” And mulai membela dirinya sendiri. “Tapi ntar deh aku kirimin ke Mister Chris yang sheet pertamanya dulu, yang kedua besok aja.”

“Gue udah selesai ngerjainnya.” Aku menyahut singkat, kemudian kembali berkutat dengan iPad yang ada di tanganku. Tadi malam aku memang sudah mengerjakannya di sela-sela kesibukanku. Digital Arts adalah salah satu pelajaran yang lumayan kusuka. Berkutik dengan elektronik adalah bidangku. Meskipun aku tidak tahu apakah Mister Chris akan menganggap hasil homework ku benar apa salah.

“Gue udah sih, tapi masih sampe sheet pertama aja, itupun  dibantuin Adam ngerjainnya. Gue bener-bener benci homework nggak jelas kayak gitu. Kenapa sih bukan pelajaran English aja? Yang pasti bisa gue kerjain dengan mudah, yah, meskipun masih minta bantuan Adam juga sih.” Sid mendesah panjang, benar-benar tidak suka jenis homework dalam bentuk apapun. Sama sepertiku, aku juga paling malas mengerjakan sesuatu ketika kerjaanku menumpuk dan sudah waktunya harus segera dikerjakan.

Zavan tiba-tiba maju selangkah, dia memegang pundak Revie dengan tatapan sedih. “Gue tadi malem udah usaha buat ngerjainnya, Rev. Tapi pas gue baca soalnya, gue langsung pusing kepala. Jadi, daripada gue masuk rumah sakit karena kena Vertigo, lebih baik nggak gue kerjain.” Zavan menaikkan pundaknya, memberikan pandangan memohon ampun ke arah Revie. “Santa Mia Farrow pun tau, bahkan Buddha dan Dewa Krisna pun juga ingin gue selalu menjaga kesehatan. Agar cowok ganteng di dunia ini nggak berkurang satu.”

Revie menggeleng-gelengkan kepalanya. Sid memutar bola matanya, dan And membuat ekspresi ingin muntah. Aku hanya menatap Zavan dengan pandangan malas. Dari dulu, memang dialah yang paling jarang membuat homework. Katanya, dia sudah niat mau ngerjain homework aja Tuhan pasti bakalan joget di Surga sana saking gembiranya. Tapi, tetap saja itu adalah alasannya agar Revie mau membantunya mengerjakan homework. Bahkan saat dia telat datang ke sekolah—kami masuk jam delapan, dan Zavan baru datang jam setengah dua belas—dan dia ditanya oleh Madam Dorothy atas keterlambatannya. Dengan santainya dia hanya menjawab dengan kata-kata tak berdosa.

“Madam, aku datang ke sekolah aja udah syukur lho. Daripada aku nggak dateng sama sekali, iya kan?” Terus dia ditanya soal Buku Pelajaran yang ternyata jarang dia bawa masuk ke dalam homeroom. “Lho, aku baru tau kalo kita harus bawa buku pelajaran ke dalam homeroom,” ujarnya polos, yang langsung menyulut kemarahan Madam Dorothy. Tapi bukan Zavan namanya kalau tidak melawan ucapan guru BP menyedihkan itu.

Kami berjalan cepat ke dalam homeroom, memilih tempat duduk yang berada di pojok kanan homeroom seperti biasa. Karena kami biasanya memang tidak pernah memperhatikan saat teacher mengajar. Kalau aku biasanya sibuk dengan iPad, Zavan akan sibuk membaringkan kepalanya kemudian tertidur dan baru akan bangun kalau bel telah berbunyi. Menandakan pelajaran telah selesai. Sedangkan And biasanya akan bercengkrama dengan Vick. Kalau Sid pasti sibuk BBM-an sama Adam. Hanya Revie saja yang paling suka memperhatikan teacher saat mengajar. Kami maklum, dia kan selalu ingin menjadi best student.

“Bantuin gue ya kerjain homework Digital Arts ini,” kata Zavan saat kami sudah duduk di kursi masing-masing. Aku duduk dengan Zavan, dan Revie dengan Sid. Kalau And tentu saja sama Vick, tapi sayang, Vick belum datang ke homeroom ini. “Kalo lo mau nolongin gue, ntar gue ajarin deh cara nyepong kontol yang bener itu gimana.”

Revie memukul pelan lengan Zavan, membuat wajah bule itu meringis dalam senyum. Revie menarik dua buah buku dari dalam tas-nya yang kucel. Zavan melihat tas itu dengan pandangan nista, seperti ingin merebutnya dari Revie lalu membakarnya sampai hangus. Mungkin karena dialah orang yang paling memperhatikan penampilan, makanya dia selalu berkomentar kalau kami menggunakan baju yang ‘biasa saja’ pada hari Jumat. Zavan memang sangat ingin menjadi pusat perhatian, aku juga tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu.

Puh-lease, deh Rev! Gue udah berapa kali sih ngasih tau lo buat ganti tas? I mean, yeah you Mamayukero, lo itu udah kaya raya sekarang. Masa beli tas yang lebih layak pakai aja lo nggak bisa sih? Tas lo itu bahkan nggak cocok jadi alas buat Anjing peliharaannya Belinda tidur.” Zavan menatap sekali lagi tas Revie dengan pandangan ngeri. “Di dalem rumah gue, kalo ada barang yang udah lebih dari dua bulan, harus segera disumbangin ke para Darah Lumpur. Ups, maafin kata-kata Harry Potter gue. Maksud gue, harus secepetnya disumbangin ke para Rakyat Jelata yang lebih membutuhkan.”

“Kalo kamu hina orang-orang kelas bawah lagi, aku nggak bakalan ajarin kamu homework ini,” ancam Revie lembut, tetapi menusuk. Membuat bule itu langsung menganggukkan kepalanya dengan patuh. Namun baru satu menit Revie mengajari bule gila satu itu, dia telah memasang wajah orang yang seperti sedang terkena serangan jantung. “Kamu ngerti nggak Zav?” tanya Revie, yang langsung Zavan sahut dengan anggukkan. Walaupun aku yakin dia tidak mengerti sama sekali. Lihat saja gelagatnya yang seperti orang penyakitan itu!

“Zavan!” teriak seorang cewek dari depan pintu homeroom. Kami mengangkat kepala kami ke arah suara itu. Dan—kalau tidak salah namanya Anye—si empunya suara melambai-lambaikan tangannya ke arah Zavan. Bule itu hanya memasang senyuman malas ke arah Anye. Namun cewek itu sepertinya tidak mengerti, karena dia terus melihat ke arah Zavan terus-menerus. Seakan-akan Zavan adalah sarang lebah, dan dia adalah lebahnya.

“Kenapa sih tuh cewek selalu ngejer-ngejer lo Zav?” tanya Sid lekas, saat cewek itu telah memalingkan wajahnya ke arah Cliquenya. “Dari hari Kamis kemarin, dia selalu nguntit lo kemana-mana. Lo udah kayak bokapnya aja deh.”

Zavan mendengus kasar, homework yang sedang dia kerjakan langsung terlupakan begitu saja. “Dia dari kemarin nembak gue, nyatain perasaan cintanya ke gue. Padahal gue udah nolak dia secara halus, tapi tetep aja dia kayak parasit, ngejer-ngejer gue terus. Gue pengen banget ngasih tau dia kalo gue gay, tapi mau gimana lagi. Masih belum saatnya buat gue untuk coming out ke satu sekolah.” Zavan melirik Anye dengan tatapan sebal. “Tapi lama-lama gue risih juga sama tuh cewek. Ngedektin gue terus kayak cewek gatel aja. Kayaknya dia pengen deh gue garukkin pepeknya pakek linggis biar berhenti gatelnya.”

“Nggak usah digaruk, kasih Caladine aja pepeknya. Sekalian lo pijit-pijitin, siapa tau lo orgasme ngelihat pepeknya yang mungkin aja mirip kayak Mutiara.” Sid berkata sambil tertawa kencang. And yang duduk dua kursi dari hadapanku bahkan menimpali tawa Sid. Sedangkan Revie hanya terkikik pelan. Aku hanya mendesah panjang, lalu kembali berkutat dengan iPadku. Tidak ingin ikut bergabung dalam kata-kata tidak senonoh yang keluar dari mulut Sid dan Zavan.

“Sid, lo mau tau nggak yang ngebuat gue jadi gay apaan?” tanyanya sembari menatap wajah kami dengan pandangan serius. Perlahan, kami berempat mengangguk serempak. “Gue jadi gay karena pepek.” Mata kami melotot, benar-benar terkejut. “Nggak sepenuhnya juga sih. Tapi sebagian besarnya mungkin karena hal itu.” Zavan melepas syal yang melilit lehernya. “Pacar pertama gue dulu adalah seorang cewek. Namanya Eloise. Dia lebih tua empat tahun dari gue. Dan pas di ulang tahunnya yang ketujuh belas, dia ngajakkin gue ngeseks bareng. Karena gue nggak bisa nolak ajakkannya, akhirnya gue setuju. Malam itu, gue sama dia ngelakuin hal itu. Dia adalah orang pertama yang ngisep kontol gue, dan rasanya biasa aja.”

Zavan memasang wajah kecewa. “Dia ngisep kontol gue kayak lagi makan daging bacon. Nggak ada rasa nikmatnya sama sekali. Terus, setelah dia selesai berurusan dengan disco stick gue, akhirnya giliran gue lagi yang gerayangi tubuhnya dia. Gue hisep puting susunya, tapi rasanya kayak lagi gigit pentol. Terus, gue mulai turun ke bagian itunya, dan menemukan hutan Amazon yang sangat lebat di sekitaran pepeknya. Buat bulu hidung gue merinding. Tapi karena biar adil, gue—dengan terpaksa—mulai menjilati segala sudut pepeknya. Yang ternyata rasanya sangat asem. Beneran, gue nggak bohong, pepek ternyata rasanya asem.”

“EW!” seru Sid kencang. “Untung gue belum pernah nyoba. Thanks Jesus Christo.”

Lucky you!” desah Zavan cepat. “Kalo sama kontolnya nih ya, biasanya yang asem itukan sekitaran jembutnya, nah kalo pepek di bagian lubangnya. Lidah gue dengan terpaksa harus menjilat setiap sudut pepek Eloise. Dan pas gue nusuk dia sama kontol gue, masuknya susah. Ternyata oh ternyata, dia masih perawan. Oke, gue akui ngeseks sama cewek memang enak, tapi nggak bener-bener memuaskan.” Zavan menggeleng-gelengkan kepalanya, benar-benar benci mengingat masa lalunya. “Keesokan harinya, gue sadar kalo ternyata gue gay. Sorry to say, ternyata gue lebih suka masukkin kontol ke mulut gue ketimbang jilat pepek.”

“Tapi bentar deh!” seru Sid sambil mengangkat tangannya. “Tuh cewekkan umurnya udah tujuh belas tahun, kok masih perawan sih? Temen-temen cewek gue yang ada di New York aja, pas umur mereka empat belas tahun udah nggak perawan lagi.”

“Entahlah, mungkin cowok yang deket sama dia udah sakit hati duluan pas jilat pepeknya yang rasanya kayak Cuka untuk makan Pempek Palembang itu.” Zavan tertawa keras, yang langsung Sid, And dan Revie tanggapi sama kerasnya. “Yah, gue juga nggak pengen menghakimi cewek sih. Mungkin Eloise tipe cewek yang pepeknya mempunyai rasa asam. Mungkin aja di luar sana ada cewek yang pepeknya punya rasa Strawberry, Mangga, atau buah manis lainnya. Tapi, maaf, gue nggak mau nyoba lagi deh. Sekali aja cukup!”

Sid baru saja ingin membuka mulutnya saat tiba-tiba Peter dan flocksnya masuk ke dalam homeroom dengan gelagat sok berkuasa. Beberapa orang yang ada di flocks nya menatap kami dengan pandangan mencemooh. Tetapi langsung Sid balas dengan seringaian angkuh. Aku membuang tatapanku ke arah lain, namun aku tahu Peter sedang menatapku saat ini. Aku bisa merasakan matanya sedang menulusuri wajahku, dan itu membuatku gusar.

“Woy, kalian lihat deh di ujung sana, ada kumpulan homo!” teriak Nick si Homphobia bego.

Sid tersenyum licik. “Ngeri deh, guys! Anak-anak haramnya Iblis pada dateng sambil bawa muka jelek mereka ke sini. Oh, iya, kalian tau nggak, kalo di dunia ini manusia semakin banyak. Nah, gue sebagai Psikolog kalian, kalo boleh nyaranin, kenapa kalian nggak nembak kepala kalian sendiri sampe mati. Sekalian juga kan untuk mengurangi populasi orang jelek di dunia ini. Orang jelek udah banyak, jadi mendingan Va Va Voom deh! Atau kalo kalian nggak ngerti—yang gue yakin pasti begitu karena otak kalian ada di Zakar—artinya lenyap dari peradaban manusia! Kalian bernafas aja, Tuhan udah benci banget sama kalian.”

Noah dan Vico berdiri dari dudukan mereka, dengan tangan terkepal geram. And pun langsung ikut berdiri, apalagi ditambah Vick yang ikut bergabung dengan kami. Noah dan Vico kembali duduk di kursi mereka, tidak ingin mencari masalah dengan ketua Karate dan ketua Taekwondo. Yah, dari awal mereka hidup kan memang sudah dinobatkan sebagai pecundang menyedihkan, yang mereka andalkan hanya kekuatan, tetapi tidak pernah menggunakan otak. Seperti kata Sid, otak mereka ada di Zakar.

Zavan memundurkan sedikit badannya sambil memasang wajah menghina, lalu dia mulai menggoyangkan tangannya di depan selangkangannya. Seperti gerakkan orang yang sedang coli. Namun ketika Zavan menunjukkan gaya saat sperma muncrat, yang keluar dari tangannya adalah jari tengah yang langsung dia berikan ke arah flocks Homphobia yang tidak penting itu. Tatapan geram penuh kesumat mereka lemparkan ke arah kami. Yang tentu saja langsung dibalas dengan senyuman kemenangan oleh Sid dan yang lain.

***

Revie bergerak-gerak gelisah di sebelahku. Dia menatap kolam berenang dengan tatapan muram. Aku tahu, Revie paling tidak bisa jika sudah pelajaran Physical Education. Mana hari ini kami harus berenang lagi untuk mengambil nilai harian. Revie paling benci hal-hal yang bersangkutan dengan olahraga. Dengan tubuhnya yang pendek, dan badannya yang seperti Sailormoon versi cowok, dia selalu gagal jika melakukan olahraga yang Mister Ando perintahkan padanya. Dan setelah itu Revie akan  galau seharian karena nilanya jelek.

And dan Vick sedang sibuk meregangkan tubuh mereka di depanku. Tubuh mereka yang berotot bergerak liat seraya mengikuti gerakkan peregangan mereka. Sid yang berdiri di belakangku sedang sibuk menyesap Evian-nya sambil memandang kolam berenang dengan tatapan malas. Sedangkan Zavan, ya, tentu saja matanya sedang jelalatan saat ini. Bahkan dia melirik penuh nafsu ke arah Liam si cowok berwajah latin, yang mengingatkanku dengan wajah Enrique Iglesias.

Look at him, really like the boy next door!” ucap Zavan sambil tersenyum ceria ke arah Liam. “Dari dulu gue selalu pengen PDKT sama dia, tapi sayang, dia salah satu cowok yang ada di bawah naungan Bapa Athilius. Dia taat banget sama Agama. Jadi harapan gue untuk ngedapetin dia itu kayak nyuruh Tivo senyum.” Aku menyikut rusuknya, tetapi bule gila satu itu sudah pintar mengelak sekarang. “Damn you, sexy Liam! Buat bulu kontol gue meremang aja. Lihat tuh badannya yang kayak Dunkin Donuts, menantang minta dijilat!”

Sid terkekeh pelan, dia berjalan ke samping Zavan. “Lagi pula, jangan buang waktu lo buat ngebayangin tubuh lezatnya Liam, karena, maaf banget nih ya. Dia udah kebal dari godaan sepupunya Judas kayak lo.” Sid tersenyum mengejek ke arah Zavan.

“Enak aja! Jangan sembarangan buang nafas lo yang bau itu ya!” seru Zavan tak mau kalah. “Gue bukan sepupunya Judas, tapi gue ini adalah adik kandungnya Alejandro. Jadi, lo nggak usah ngomong sembarangan.”

“Alejandro, who?” tanya Sid dengan kerutan di kening, bingung.

Zavan memundurkan sedikit badannya, agak terkejut mendengar pertanyaan Sid. “Lo ini orang Kristen apa bukan sih?” tanya Zavan dengan kedua alis terangkat tinggi. “Gue aja yang Ateis gini tau isi alkitab lo.” Zavan menggeleng-gelengkan kepalanya, gelagat orang yang benar-benar menghina. “Makanya, kalo punya Kitab di rumah, dibaca Sid! Jangan jadi pajangan! Alejandro itu seseorang yang berwajah tampan, yang membantu Roberto ke gurun El Azhir. Kalo di Islam yang ganteng itukan Nabi Yusuf, kalo di Kristen ya si Alejandro.”

“Jadi, menurut lo, diri lo itu ganteng?” tanya Sid sarkas. Zavan menganggukkan kepalanya dengan pasti. Membuat Sid langsung memasang ekspresi muak. “Lo mendingan ngomong sama pepeknya Eloise aja deh, alih-alih sama gue.” Zavan dan Sid tertawa bersama, sampai akhirnya Sid menghentikan tawanya dan melihat sesuatu di dekat garis selangkangan Zavan. “Lo punya tato ya, Zav?” tanya Sid sambil menurunkan sedikit celana dalam renang bule itu dengan gerakan pelan. “Gambar apa nih?”

Revie dan yang lain juga langsung ikut bergabung bersama kami. Mata mereka menatap lekat tato yang terukir di dekat garis selangkangan Zavan. Bule gila satu itu tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih. “Kalo kalian perhatiin lebih teliti pasti kalian tau ini gambar apa!” Tapi kami berlima benar-benar buta dengan ukiran panjang yang ada di kulit Zavan. “Ick, ini tuh gambar kontol.” Aku dan yang lain langsung saling melemparkan pandangan takjub. Bule satu ini benar-benar deh! “Kenapa gue milih kontol, itu karena kalo gue kangen sama kontol, gue tinggal lirik tato gue aja. Lagi pula, gue kan Ateis, dan gue menganggap cowok adalah Agama gue, dan kontol adalah kitab gue.”

“Dan bisa dipastiin lo bakalan masuk neraka!” seru Sid dengan ekspresi menantang.

Zavan mengernyitkan wajahnya. “Emang neraka bakalan nerima gue nanti?” tanyanya dengan wajah sok lugu. “Tapi, ya sudahlah ya! Sebenernya gue lagi mencari jati diri dan sedang memutuskan ingin masuk agama apa kelak. Saat gue ulang tahun yang ke-22 atau saat gue menemukan hidayah, barulah gue milih salah satu dari beberapa agama itu.”

“Kalo lo mati duluan gimana?” sergahku sembari menaikkan alisku tinggi-tinggi.

“Kata orang, yang banyak dosanya biasanya akan panjang umur. Soalnya Tuhan ngasih dia waktu buat Tobat.” Zavan menatapku dengan senyuman lebarnya. Matanya yang biru, seperti air kolam berenang, melirik ke kanan dan ke kiri. “Red alert, guys! Kayaknya Liam udah mau mulai berenang deh, gue mau deket-deket dia ah. Sambil pura-pura minta diajarin tekhnik renang yang bagus itu kayak gimana.” Zavan membenarkan tata letak celana dalam renang yang dia gunakkan. “Doakan gue biar berhasil mendapatkan Liam ya.” Zavan menarik nafas panjang. “Jesus, kabulkan permohonanku. Allah SWT, dekatkan Liam padaku. Buddha, berikan Liam pencerahan, agar dia mau denganku. Sang Hyang Widhi, buatlah Liam menyukaiku.” Zavan melirik ke arah Liam dengan pandangan menggoda. “Atas nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, amin. Insyallah Ya Allah. Namo Buddhaya, Sadhu, Sadhu, Sadhu. Om Swasti Om!” Zavan menatap kami sebentar. “Ay, mi papito, biatch!”

“Dasar bule gila!” seru kami serempak saat dia berjalan cepat menuju ke arah Liam stay. Zavan berbalik kemudian memberikan kami jari tengahnya. Benar-benar gila bule satu ini!

“Penyakit Pelacurnya kayaknya kambuh deh,” desah Sid pasrah. Accepted that! Apalagi ketika Zavan sudah ikut bergabung dengan Liam di dalam air. Dengan senyuman penuh godaan, dia mulai mencoba untuk memikat cowok itu. Zavan melambaikan tangannya ke arah kami saat Liam menyembunyikan kepalanya di air. Cih, benar-benar kambuh kayaknya!

“Revie Ferdian!” Tiba-tiba suara Mister Ando bergemuruh di gedung kolam berenang ini. Revie berjalan gontai, tatapan wajahnya benar-benar lesu. “Renang gaya bebas ya, bolak-balik.” Msiter Ando menggerakkan tangannya, menyuruh Revie untuk mengikuti instruksinya. “Waktu yang saya kasih selama lima menit, kalau waktu kamu lebih dari itu, terpaksa saya ngasih kamu nilai lima. Mengerti?” tanya Mister Ando dengan suara beratnya.

Revie menganggukkan kepalanya, dia berjalan pelan menuju ke arah pinggiran kolam. “Aku boleh mulainya dari dalam air kan Mr. Ando? Soalnya aku nggak bisa kalo renang langsung loncat gitu. Takut nanti tiba-tiba ada Tante Suzana yang nyulik aku dari dalem air pas aku masuk makin ke dalem. Soalnya dulu dia pernah main jadi Nyi Roro Kidul.” Mister Ando hanya tersenyum singkat lalu mengangguk. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang Revie tempuh saat dia kembali ke atas, dengan seluruh badan yang basah. “Berapa Mister?”

“Empat menit dua puluh sembilan detik,” kata Mister Ando, membuat Revie langsung terlonjak gembira. Revie berjalan cepat ke arahku, sambil menggoyang-goyangkan badannya seperti Dora the Explorer yang baru saja selesai mengemban tugas penting. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, kemudian menatap Sid yang kala ini sedang bersiap-siap untuk berenang. “Waktumu tiga menit empat puluh dua detik.” Sid menyeringai bangga, dihempaskannya tubuhnya di sebelahku. Setelah menunggu lama, akhirnya namaku disebut.

Berenang bukan hobiku sama sekali, aku lebih suka menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik, main game online, dan catur. Oh, sama bernyanyi. Meskipun aku lebih suka bernyanyi saat di Acapella dan saat aku sedang sendirian di dalam kamarku. Aku menggerakan badanku segesit mungkin. Berharap kalau waktuku tidak akan lebih dari lima menit agar aku tidak dapat nilai lima. Saat aku memunculkan kepalaku untuk menarik nafas, aku bisa melihat Peter yang sedang duduk di pinggiran kolam sembari menatapku menggunakan senyumannya yang khas. Oh, shit! Buat aku kehilangan konsentrasi saja!

“Waktumu empat menit lima belas detik!” Damn you, maniak brengsek! Coba saja kalau aku tadi tidak melihat wajahnya yang lagi tersenyum itu, pasti waktuku akan lebih singkat lagi. Aku keluar dari dalam air, kulangkahkan kakiku menuju ke arah bangku tempat aku menaruh handuk, sabun dan kunci loker. Kukalungkan handuk itu di leherku, bersiap-siap untuk membilas diri. Aku malas berlama-lama di kolam berenang ini, tidak seperti semua orang yang masih betah bermain air. Aku lebih suka saat badanku kering.

Kututup pintu kamar mandi bilasku rapat-rapat. Kulepaskan celana dalam renangku kemudian menggantungkannya di dekat handukku. Aku baru saja selesai menyabuni tubuhku saat tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar mandi yang sedang kugunakan. Di tempat bilas ini kamar mandinya memang tidak menggunakan kunci sama sekali. Bagian minus yang harus segera diperbaiki. Karena hal itu sangatlah mengganggu, apalagi saat aku menatap Peter di hadapanku, dengan sorot matanya yang sayu.

Dia maju selangkah, dan aku mundur dua langkah. Sampai akhirnya badanku menempel di dinding kamar mandi. Peter menutup kembali pintu, matanya yang sayu menatapku dengan tatapan memohon, tatapan tersiksa—hal yang patut dia dapatkan. Perlahan Peter mulai menempelkan badannya ke badanku. Bisa kurasakan rasa suam tubuhnya yang menjalar pelan ke dalam tubuhku. Peter menyentuh pipiku dengan tangannya yang agak kasar. Aku memalingkan wajahku dari tatapannya, namun kerja otakku sedang menjadi Akatsuki sekarang. Semua sarafku berkhianat.

Stop, nyiksa perasaan kita berdua!” ujarnya parau, membuat telingaku merindukan bisikannya. “Jangan lari lagi! Kita harus ulang semuanya dari awal. Kita harus nyoba.”

Sudah berapa lama aku tidak merasakan bibir Peter di bibirku? Dua tahun, atau tiga tahun? Entahlah, aku benar-benar lupa. Pasti Peter berani menciumku karena tahu kalau aku akhir-akhir ini juga sering ikut-ikutan curi pandang ke arahnya saat dia sedang berada di lapangan Baseball, menjadi Manajer di Klub itu bareng Sid. Atau pada saat dia tanding SkateBoard di Monas beberapa pekan yang lalu. Dengan bodohnya, aku datang menonton. Entah dorongan dari mana aku melakukan hal itu.

Oh, mungkin karena aku merindukannya. Tidak-tidak! Jangan sampai itu terjadi!

Lidah Peter masuk ke dalam mulutku, bibirnya yang hangat, lembut dan menuntut membuat perasaan rinduku sirna seketika. Aku menginginkannya, tetapi aku masih sangat dendam padanya akibat kelakuannya waktu itu. Aku masih belum bisa memaafkannya, aku sudah mencoba untuk melupakan kesalahannya, tetapi aku tidak bisa. Aku terlanjur dendam, Peter telah menjadi orang yang sangat jahat untukku. Aku mungkin terdengar sangat muna-fuck! Tapi masa lalu kelamku itu sangat sulit untuk dihapuskan begitu saja. Tatapan Peter yang—

“Aku cinta sama kamu, Tiv,” bisiknya, dia mulai melepaskan celana dalam renangnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh berhubungan lagi dengannya, hubungan yang kemarin kulakukan hanya untuk menyiksanya. This is so undercover martyn, dan hal ini harus segera diselesaikan dengan cara kasar. Meskipun aku juga merasa sangat tersiksa ingin membalas ucapannya, kalau sampai kapanpun, aku juga mencintainya. Hubungan kami yang berlangsung dua tahun waktu itu kandas hanya karena rasa dendamku padanya. Tolol!

Kudorong badan Peter menjauh, dia menatapku dengan pandangan bertanya dan juga… terluka. “Maaf, gue nggak ngerti bahasa anjing!” Kuraih handukku lalu berjalan pergi dari dalam kamar mandi ini. Aku tidak boleh berdekatan lagi dengannya, aku tidak mau. Aku harus menyiksanya agar dia tahu perasaan sakit hatiku dulu.

Tetapi kenapa aku malah merasakan sakit hati yang sama seperti yang dia rasakan?

“Kenapa kamu kayak gini?” tanya Peter frustasi. Refleks aku menghentikan langkahku. “Kamu masih dendam sama aku karena hal itu? Kamu masih nggak bisa maafin aku? Harus berapa kali aku bilang maaf sama kamu biar kamu bisa nerima aku lagi di hidupmu? Aku kangen kamu Tiv. Aku kangen pengen ngabisin waktu sama kamu, dengerin lagu sampe subuh. Bicara ngalor-ngidul sama kamu dan Vick. Kamu inget nggak janji kita dulu, pas kita kelas dua SD? Kita bertiga janji bakalan selalu sama-sama apapun yang terjadi.”

Aku berbalik dengan perasaan marah di dalam diriku. “Tapi lo yang ngingkari hal itu. Lo pengecut, lo bahkan nggak pengen berbalik ke belakang. Lo ngebiarin gue jadi kayak gini. Lo yang harusnya sadar dengan apa yang udah lo lakuin! Lo nggak ada pas gue butuh lo! Jadi jangan salahin gue kalo gue ngejauhin lo, anjing!” Itu semua adalah kata-kata paling panjang yang keluar dari mulutku hari ini, dan aku merasa sangat kebas dan bersalah.

“Aku—“ Peter menatapku makin sayu. “Aku minta maaf.”

Aku tidak tahu itu permintaan maafnya yang sudah ke berapa kali. Saat kami berpacaran dulu, Peter juga selalu meminta maaf akan kejadian itu. Tetapi, aku selalu menjawabnya dengan anggukkan kepalaku, tidak sungguh-sungguh ingin memaafkannya. Aku hanya ingin memacarinya lalu membuatnya patah hati. Persis seperti dia yang sekarang, yang memohon-mohon padaku untuk pulang ke hatinya. Tetapi aku tidak mau, aku menolak. Begitu banyak luka dan dendamku untuknya.

“Aku minta maaf.”

Kuhembuskan nafasku peralahan, menatap wajahnya, lalu pandangan matanya yang lelah. “Sekali lagi maaf, gue nggak ngerti bahasa anjing.” Aku pun berbalik segera, tidak ingin melihat wajahnya yang pasti akan berubah terluka. Namun pada saat aku membalikkan badanku, Vick dan And berdiri di sana, mematung tak bergerak. Wajah And seperti salah tingkah, sedangkan Vick menatapku dan Peter secara bergantian dengan pandangan muram.

“Hmm, aku—“ And mengangkat tangannya, menyiratkan kalau dia ingin pergi dari tempat ini. “Aku tunggu kamu di luar aja ya,” kata And akhirnya kepada Vick. Sahabat lamaku satu itu hanya mengangguk tanpa memandang And. Langkah And panjang saat meninggalkanku, Peter dan Vick di ruangan bilas ini. Mata Vick masih saja menatapku dan Peter bergiliran, seakan-akan dia juga sama lelahnya sepertiku dan Peter.

Guys, kalian berdua bener-bener harus berhenti kayak gini! Di perjanjain kita dulu, kita nggak pernah buat kan untuk saling menjauh kayak sekarang?” Vick maju beberapa langkah, rambutnya yang basah membuat wajahnya yang dulu kekanak-kanakkan berubah dewasa. “Tiv, gue tau lo sakit hati sama Peter dengan apa yang udah dia lakuin ke elo. Tapi sampe kapan lo mau nyimpen dendam? Gue ngerti perasaan lo—“

“Nggak!” potongku cepat, menggunakan nada tinggiku. Nada yang sangat jarang kugunakan di dalam suaraku. “Lo nggak ngerti! Kalo hati gue pindah ke badan lo, lo pasti tau gimana rasa sakit hati gue sama dia!” Aku menatap Peter dengan tatapan menusuk, ingin menyuruh hatinya merasa bersalah. Walaupun aku tahu dia sudah merasakan hal itu bahkan sebelum aku memintanya. “Lo nggak usah ngomong seakan-akan lo tau gue—“

“Tapi gue tau lo!” seru Vick berapi-api. “Gue tau lo, gue tau Peter! Kita bertiga sahabatan. Lo sama Peter pernah pacaran. Gue tau masa lalu lo, gue tau yang ngebuat lo jadi gini karena apa. Gue tau lo sakit hati ke Peter gara-gara apa! Apa lagi yang nggak gue tau tentang kalian berdua!?” Vick menyentakkan lengannya, benar-benar geram. Di antara kami bertiga, saat kami bersahabat dulu, Vick lah yang paling kalem dan bisa menengahi perdebatan yang sering terjadi di antara aku dan Peter. Tetapi sekarang dia benar-benar berubah, dan di saat itu, aku tidak ada di sisinya sebagai sahabat. “Gue sahabat kalian, tetapi karena kalian begitu egois, persahabatan ini berantakan! Selama ini gue selalu pengen cerita ke kalian pas gue jatuh cinta, pas gue kecelakaan waktu itu. Tapi apa, kalian musuhan dan ninggalin persahabatan kita ini gitu aja. Kalian bahkan lebih parah dari pengkhianat. Fuck you!”

Vick berbalik dan pergi meninggalkan kami. Aku bisa melihat mimik kecewanya, aku bisa melihat tatapannya yang sangat marah. Ini semua salahku, andai saja dulu aku tidak begitu egois. Andai saja aku bisa memaafkan dendamku pada Peter, ini semua pasti tidak akan terjadi. Kami bertiga pasti akan tetap bersama. Aku dan Peter mungkin akan tetap menjalin hubungan lebih dari sahabat. Dan aku pasti akan bisa memberikan masukan ke Vick saat dia jatuh cinta, aku juga pasti bisa menjenguknya saat dia kecelakaan mobil saat kita kelulusan dulu. Tetapi semua itu kulewati, aku tidak mendengarkan ceritanya, aku tidak menjenguknya. Tetapi, entah bagaimana, aku masih belum benar-benar bisa menghapuskan dendamku pada Peter. Dia… mengkhianati persahabatan kami. Dia mengkhianati… perasaanku.

***

“Dek Tivo, Pak Hutagalung sudah nunggu di waiting room. Suruh dia ke sini aja atau Dek Tivo yang mau ke sana?” tanya Venia, Sekertarisku di kantor.

Kutengadahkan kepalaku dan menatap wajahnya yang cantik. “Suruh aja dia masuk ke sini!” Aku menutup kepala MacBook ku dan menyandarkan tubuhku yang lelah di sandaran kursi.

Ketukan di pintu terdengar langsam, aku menyahut menyuruh siapapun orang yang mengetuk itu masuk. Venia membuka pintu ruanganku lebar-lebar, mempersilahkan Alex Hutagalung masuk ke dalam. Cowok berbadan tinggi, berjas hitam dan bermata lebar itu menatapku sebentar sebelum akhirnya mengunci pintu ruanganku ketika Venia telah menutupnya. Dia berjalan mendekat, ditaruhnya tas kulit buayanya di atas mejaku. Setelah dia menarik sebuah berkas dari dalam tasnya, dia menyerahkannya padaku.

“Pak Rifat sudah setuju untuk ikut bergabung sama perusahaan kita. Penanaman modal yang kita taruh di perusahaan Crystal Bank berjalan cukup lancar. Kamu tinggal tanda tangan di sini untuk menyetujui penanaman modal yang perusahaanku dan perusahaanmu tanamkan.” Aku meraih berkas itu dari tangan Alex, membaca beberapa paragraf ke-empat dan kelima, melihat akankah ada keuntungan yang berdampak baik ke perusahaanku jika aku menerima ajakannya. Meskipun dari awal aku dan Alex gencar sekali untuk mengajak Pak Rifat bergabung bersama kami, tetapi bisa saja dia melakukan hal licik. Aku pernah mendapatkan kesan buruk ini dari salah satu developer jahanam yang pernah menipuku waktu itu.

Laba perbandingan dari penanaman modal yang kutaruh cukup menguntungkan, apalagi dengan adanya perjanjian ‘jalan modal’. Kata lainnya adalah perusahaanku akan tetap mendapatkan untung meskipun penanaman modal awal sudah selesai. Aku menarik pulpen yang kutaruh di dalam kotak yang berada di samping MacBook ku. Setelah menandatangani persetujuan itu, aku berdiri dan menghampiri Alex. “Ini, deal.”

Alex tersenyum singkat, dia memasukkan berkas itu ke dalam tas kulitnya, matanya yang lebar menengadah untuk menatapku. “Sekarang kita udah nggak sama urusan kerjaan lagi kan?” tanyanya halus, yang langsung kujawab dengan anggukan kepala. Alex menarik badanku, hingga terduduk di atas pangkuannya. Belum saja sempat aku protes karena kaget, tiba-tiba dia mencium bibirku. Kulingkarkan tanganku di lehernya, mengusap dagunya yang kasar karena belum bercukur dengan daguku. Baru saja aku ingin menyelam ke dalam ciumannya, tiba-tiba HP nya berdering. “Oh, sebentar,” ucapnya sambil meraih telponnya yang ada di dalam saku jasnya. Dia melirik sebentar nama penelpon kemudian berujar, “Istriku nelpon. Tunggu dulu, ya!”

Kumundurkan kepalaku, membiarkan Alex berbincang dengan istrinya. Aku sadar ini adalah tindakan bodoh, menjalin hubungan dengan cowok berumur tiga puluh enam tahun, punya istri yang jelas-jelas teman dekat arisan Mamaku dan punya dua orang anak. Yang satu SD kelas enam, yang satu lagi SMP kelas dua. Bahkan anaknya yang pertama hanya beda empat tahun dariku. Tetapi tidak apa-apa, aku memang keji. Selama ini bisa mengobati ketakutanku, dan bisa melenyapkan si bangsat dari kepalaku, aku akan terus melakukannya.

“Oke, nanti aku jemput Lina di tempat lesnya. Oh, iya, nanti malem aku kayaknya pulang larut.” Alex menatapku sebentar, dia menyapukan tangannya di pipiku. “Aku masih ada urusan kerjaan sama anaknya Bu Diatmika. Urusan kantor, jadi aku nggak bisa ikut makan malem bareng kalian. Iya, maaf ya, Sayang. Oke. Aku juga cinta sama kamu. Titip salam buat Melanie. Bilang Papanya bakalan cium dia pas dia udah tidur. Iya, Sayang. Aku nggak akan telat makan. Sudah dulu ya, Dek Tivo nungguin. Dah, sayang.” Alex menekan tombol merah dan menatap wajahku lama-lama.

“Jemput siapa kamu bilang tadi?”

“Jemput Lina, anakku yang pertama. Sepuluh menit lagi dia pulang dari tempat lesnya.” Alex menutup tas kulitnya, aku berdiri dari atas pangkuannya, membiarkan dia menjemput dulu anaknya itu. “Gimana kalo kamu ikut? Sekalian kita makan malam di Solaria?” usulnya.

“Nanti anakmu juga ikut?” tanyaku singkat. Kusandarkan tanganku di pinggiran meja. Alex berdiri, dia memegang tanganku dan meremasnya lembut. Aku kenal Alex sudah lama, dia adalah direktur dari salah satu perusahaan yang cukup terkenal. Si bajingan dan Alex sudah menjalin firma kerja sama selama sepuluh tahun. Ketika aku berulang tahun yang kesebelas saja saat itu dia datang. Aku bisa menjalin hubungan dengannya mungkin karena aku tidak sengaja—atau sengaja—mengajaknya untuk tidur bersamaku. Entah dorongan dari mana, dia mau melakukannya denganku. Alex dan Ferdi adalah kedua orang yang sudah sangat lama menjalin masa kerja bersama perusahaanku, dan mereka berdua berteman dekat.

Setidaknya itu yang kutahu. Lagi pula, aku suka Ferdi, aku suka Alex, aku suka Serly, aku menjalin hubungan dengan mereka semua. Selama mereka tidak saling mengetahui, aku tetap merasa aman-aman saja. Yang bodoh di sini sebenarnya bukan aku, tetapi mereka. Aku tidak meminta mereka untuk selalu bersamaku, namun mereka yang selalu mencariku. “Enggak, Lina kita anter pulang dulu,” kata Alex kemudian, setelah dia merapikan jasnya.

Kuanggukan kepalaku, kuraih tas selempangku yang berisi iPad dan dompetku. Ketika aku sampai di dalam mobilnya, dan saat mobil keluar dari pelantaran parkir, hari badai kembali datang. Dengan kilat dan guntur yang bergemuruh di atas langit. Kusandarkan tubuhku di sandaran kursi, kualihkan pandangan mataku ke arah rumbai-rumbai yang ada di dekat speaker DVD. Aku paling tidak suka melihat hal yang berbau kilat dan guntur, aku benci saat mereka meledak di langit. Membuat bulu kudukku berdiri, membuatku mengingat malam itu.

“Kemarin pas aku nonton berita, di daerah Kelapa Gading ada baliho jatuh dan nimpa dua mobil. Satu orang meninggal. Sekarang kita bener-bener harus hati-hati kalo cuaca badai kayak gini.” Alex melirik ke arah hujan dan angin yang bertiup kencang di luar sana. Bunyi petir menyambar terdengar sekali dan membuat telingaku pekak. “Ck! Kalo cuaca badai kayak gini pasti Jakarta banjir.”

Aku tidak menyahut, hanya terus duduk di kursiku sambil menatap seluruh mobil Alex yang sangat-sangat tidak modis. Jika Zavan naik mobil ini, bisa dipastikan dia akan meludah ke setiap sudut mobil saking terlalu katronya style di dalam mobil ini. Bagian luar boleh bagus, Porsche, tetapi di dalamnya. Benar-benar selera orang tua. Oh, aku lupa kalau dia memang sudah tua. Tiga puluh enam tahun. Baru saja aku memikirkan Zavan, tiba-tiba iPhone yang sedaritadi kugenggam bergetar, nama Zavan muncul di sana. Saat aku menekan tombol hijau, dan menempelkannya di telinga. Zavan berseru lantang di ujung sana.

You son of a bitch! Lagi di mana? Ikut gue ke party nya Tom yuk! Gue sendirian nih. Si Lonte, si Pecun dan si Sundal lagi sama pacarnya masing-masing. Lo nggak mau kan ngebuat Germo lo satu ini sedih dengan menolak ajakannya?” Zavan meracau cepat, kebiasaan yang harus dia rubah secepatnya. Walaupun terkadang aku sangat iri dengan caranya bisa bicara sebebas itu. Tidak sepertiku, aku hanya bicara ketika aku butuh saja. “Dan jangan bilang sama gue kalo lo nggak bisa karena lagi ada kencan!? Io litorne, itu nggak mungkin terjadi.”

Kudecakkan lidahku kasar, agar Zavan bisa mendengarnya. “Maaf, gue ada janji sama klien.” Dan cukup. Aku tidak ingin menjelaskan panjang lebar. Buat mulutku lelah saja.

“Tsah! You’re not fun!” serunya dengan suara menghina. “Kalian semua kejam, nggak ada yang bisa diajakkin jalan. Mentang-mentang pada sibuk semuanya, gue yang ganteng ini ditinggal sendirian.” Aku tidak mau komentar untuk yang itu. “Yada-yada-yada, you are so undercover martyn, you know that! Bleh! Berarti gue harus pergi sendirian nih ke party nya Tom? Gawd, I’m such a pathethic jomblo. Tapi iya deh, nggak apa-apa, Germo kalian satu ini maafin tingkah kurang ajar kalian. Gue pergi sama Rakel aja. Sekalian mainin kontolnya.”

Gee! Shut your sluteinsten mouth!” seruku, lama-lama bosan juga mendengar ucapannya yang selalu sangat kotor. Aku tidak tahu mulutnya terbuat dari apa sebenarnya bule ini!

Why? Ngomong kotor kan haknya manusia, ngelarang ntar lo kena hukuman HAM lho. Dipanggil Kak Seto, baru tau rasa!” Zavan menghentikan omongannya. “Iya deh, gue mau pergi pemotretan dulu kalo gitu. Untuk elo, semoga keberuntungan selalu menyertaimu. Ups, maafin kata-kata The Hunger Games gue.” Zavan tertawa seperti orang gila. “Oke-oke, I’ll go now. Adios, Jalang!” Aku hanya berdeham untuk menyanggah ucapan perpisahannya barusan. “Eh, tunggu!” serunya tiba-tiba. “Klien yang janjian sama lo ini ganteng nggak? Kalo ganteng kenalin dong!” Aku langsung mematikan sambungan telepon!

“Siapa?” tanya Alex, mobil telah berhenti di depan sebuah bangunan tinggi. Alex menekan klakson sekali, lalu matanya kembali teralihkan ke arahku. “Sahabatmu?” tanyanya, aku hanya mengangguk sambil memasukkan iPhoneku ke saku kemeja. Tak lama kemudian tiba-tiba pintu belakang terbuka, sesosok perempuan berbadan cukup tinggi dengan rambut diikat kuda masuk ke dalam mobil. Dia melirikku lalu ke Alex. “Kita langsung pulang ya, Papa masih ada kerjaan sama klien Papa yang satu ini.”

Coba saja anaknya tahu kalau aku adalah kekasih gelap Papanya. Pasti cewek ini akan langsung menampar wajahku, oh, atau mungkin melakukan hal yang lebih parah dari itu. Lihat saja mukanya anaknya Alex, songong. Kalau dia ikut casting untuk pemeran Bawang Merah, dia pasti bakalan langsung mendapatkannya dengan mudah. Meskipun masih lebih songong muka Sid. “Oke, Pa. Tapi aku nitip beliin buku Matematika terbitan Elex Media Komputindo ya. Kata Bu Nova tadi di Gramedia Matraman banyak.”

“Oke, ntar Papa mampir ke sana.” Kemudian hening. Dari spion yang ada di atas kepalaku, aku bisa melihat si Bawang Merah masih memperhatikanku dengan raut wajah bingung. Pasti dia merasa aneh kalau klien Papanya masih sangat muda. Ugh! Saat aku bertemu dengan para klienku yang dari luar negeri saja, mereka tidak percaya kalau aku yang akan memimpin meeting. Meskipun aku masih delapan belas tahun, tetapi aku sudah belajar selama enam tahun dalam dunia bisnis dan perusahaan yang ditinggalkan si bajingan.

“Papa hati-hati di jalan ya!” seru si Bawang Merah saat kami sudah sampai di depan rumahnya yang megah itu. “Dan jangan lupa titipanku, ya?”

“Iya, Sayang. Iya.” Alex tersenyum ceria ke arah anaknya, si Bawang Merah memeluk sebentar Papanya kemudian memberikanku sebuah senyuman singkat. Muka songongnya langsung berubah sedikit lebih baik. Dia membuka pintu mobil kemudian keluar dengan gesit karena badai di luar sana makin menjadi-jadi. “Kita jadi ke Solaria kan? Atau mau di SoHo aja?” tanya Alex saat mobil sudah kembali ke jalan raya.

Aku berpikir sejenak. Kalau makan di Solaria, penyajiannya sangat lama, meskipun makanan yang disajikan cukup enak. Kalau di SoHo terlalu absurd, banyak anak-anak DIS yang suka nongkrong di sana. “Solaria aja,” jawabku akhirnya. Alex menganggukkan kepalanya lalu melajukan mobil dengan cepat. Saat kami sudah sampai, dan lagi memparkirkan mobil, perasaanku berubah tidak enak.

Ketika aku telah keluar dari dalam mobil dengan Alex pun, perasaanku masih tetap sama. Dengan hati-hati Alex meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Sebentar aja, kalo udah di tempat rame ntar aku lepasin,” ujarnya sambil tersenyum, aku hanya mengangguk sekali.

Namun pada saat kami hampir sampai di kerumunan orang, tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku. “Tivo!” Aku menoleh dan menatap Peter yang ada di samping kiriku.

 

–Ups, Bersambung to Chapter 3–

Peraturannya masih sama, nunggu sampe 40 komen dulu baru post chapter 3 nya. Hahahaha :-P

K-I-T-A (2)

=====================================

K-I-T-A

By. Irfandi Rahman a.k.a Albus Figi

=====================================

Chapter 2

 

Figi’s POV

 

“FDfour/ FD4″ Faris, Deni, Darriel, Diatmika dan Daniel, itulah julukan mereka, ya walaupun yang menyebut seperti itu hanya orang-orang bodoh yang dipaksa Faris dan yang lain untuk memanggilnya seperti itu.

Aku sampai tidak habis fikir apasih mau mereka? Aku sengaja tidak menceritakan hal yang mereka lakukan terhadapku kemarin, tapi tetap saja berujung seperti ini, perkelahian dua kubu, ini bukan cara ku, aku tidak  suka kekerasan, itu aku.

-flashback-

Pintu tertutup Faris, Darriel, Daniel dan Diatmika sudah ada didalam toilet yang berisikan aku dan Deni.

“Aaaaaarghh” aku setengah menjerit ketika Deni menciderai kaki kiri ku.
Faris mendorongku hingga sudut dekat wastafel, aku dorong kembali Faris sekuat aku bisa, shiitttt!!! Diatmika, Daniel dan Darriel masih ada di depan pintu, mungkin mereka terlalu meremehkanku hingga aku berhasil lolos dari terkaman mereka dengan cepat kuputar kunci yang masih menempel dipintu.

“Lex” aku mejerit keras ketika kulihat Alex berjalan di depan toilet, Alex melihatku sebentar dengan pandangan bergidik.

Tangan kiri ku tiba-tiba terasa sakit dan seperti terbakar, persekian detik aku jatuh terpental ke belakang dan sekali lagi Deni menendang bagian yang sama di kakiku aku mejerit sedikit lebih keras dari yang pertama karena kali ini memang lebih sakit.

“Darriel, awas itu si Alex ngadu” Faris memperingati, dengan cepat Darriel, Daniel dan Diatmika mengejar Alex.

Alex, maafkan aku, mudah-mudahan mereka tidak bisa menangkapmu dan semuanya baik-baik saja, walaupun aku tidak yakin, Alex dalam masalah dan semuanya karena aku,
aku harap Alex bisa meloloskan diri dari mereka.

Akar-akar rambutku seperti tertarik keluar, Faris kini menjenggutku rasanya seperti sedikit terbakar di bagian kepala dan pusing.

“Bilangin ya sama temen lo yang sok jagoan itu, jangan suka ikut campur urusan gue sama mentemen gue, jangan sok jadi pahlawan di sekolah ini” Faris berkata sedikit mendesis, sepersekian detik Faris melepaskan jenggutannya dan pergi bersama Deni meninggalkanku. Aku berlari mengejar tapi mereka lebih cepat menutup pintu toilet dan aku terkunci di dalamnya.

Kepalaku mulai terasa pusing, kakiku pun terasa amat ngilu, dan parahnya adalah dadaku sesak sekarang ini, entah aku punya penyakit apa pokoknya aku harus sering minum air putih agar dadaku tidak sesak, lengakap sudah penderitaanku.
Beberapa kali aku berusaha membuka pintu walau aku tau itu sia-sia, teriak minta tolong pun sudah, aku sudah amat lelah kondisiku pun sekarang ini tidak karuan, hanya tinggal menunggu malaikat tak bersayap menolongku.

Kini aku beristirahat di kamar memeluk Doni dari belakang, aku sangat nyaman bila berada dibsisinya, dia itu laki-laki yang bisa di andalkan.

Pertama aku memeluknya selagi tidur itu waktu kelas dua SMK saat menginap di rumahnya, ya pasti dia protes lelaki straight mana yang tak protes bila dipeluk oleh lelaki lain sekali pun sahabatnya sendiri. Akupun hanya memeluknya jika hanya berdua, jika kami sedang bersama yang lain aku akan bertingkah biasa saja layaknya tak terjadi apa-apa, memang tidak terjadi apa-apa antara aku dan Doni.

 

***

Aku tersadar dari lamunanku, bodohnya saat seperti ini aku malah melamun. Sekarang aku tau kenapa FD4 itu berani melawan teman-temanku, tanganku masih menggenggam tangan kokoh Doni.

“Don, mending damai aja deh, gue takut kita kenapa napa nih” aku berbisik pelan disisi Doni.

“Nggak ngapa-ngapa Gi” Doni berusaha menenangkanku, mana bisa aku tak cemas melihat empat orang berwajah seram menghampiri kami, mereka berjalan bersama Deni, Diatmika, Darriel dan Daniel, Faris tak terlihat diantara mereka.

“Lumayan nih” kata Huda, aku sedikit menangkap nada gentar dari kata-katanya.
Kulihat Agus juga mulai gelisah di belakangku, Agus memang sedikit tidak suka kekerasan sepertiku tapi dia bisa melindungi dirinya sendiri tidak sepertiku.
Rama mulai bergeser sedikit ke kiri, Elul tetap berada paling depan, Doni menggeserku agar aku berada tepat di belakangnya, Huda pun beringsut ke belakang Rama, Andri tetap di tengah di belakangnya Agus dan Dwi, aku masih sempat mengawasi pergerakan teman temanku.

“Oh, jadi elo pada yang sok jadi pahlawan, lo tau kagak hasil kolekkan dari si Deni itu distorin ke gue, kalo lo ngalangin mereka, berarti lo bikin pemasukan gue berkurang” celoteh seorang diantara mereka, wajahnya sangat menyeramkan, ada beberapa bekas tindikan dan bertato.

“Berarti lo nyari mampus” timpal orang di sebelahnya, orang ini memakai pakaian paling lusuh di antara yang lain.
Rama hanya tertawa kecil, lebih tepatnya meledek dengan cara tertawa.

“Udah abisin aja bang” aku menoleh cepat ke sumber  suara, ku lihat Faris berjalan ke arah kami dan langsung berlari cepat dan menerjang Dwi hingga Dwi terjatuh.
Kulihat semua teman- temanku pun sekarang sedang berkelahi, Rama dan Doni melawan dua orang yang datang.

Kini aku seperti kamera, menyorot setiap perkelahian tanpa berbuat suatu apapun, kalau sedang begini aku sangat benci diriku sendiri, betapa lemahnya aku, tidak sedikitpun aku punya keberanian untuk membantu.

Maafkan aku teman, aku bukan seperti yang kalian harapkan.
Sampai pada akhirnya ada seorang Ibu yang meneriaki perkelahian ini, dua orang satpam sekolah datang melerai, tapi itu belum cukup menghentikan empat orang yang datang bersama Deni, satpam itu hanya mampu melerai perkelahian antara Dwi – Faris, Huda – Darriel, Agus – Diatmika, Andri – Daniel, Elul – Deni.

Hingga akhirnya beberapa warga datang mendekat, FD4 dan empat orang yang datang bersama Deni lari tunggang langgang.

“Lo , kecil kecil lo ya, pada berantem mulu kerjaan lo pada, mau jadi jagoan haah!!” teriak seorang bapak.

“Liat aja pak, mereka yang lari, ketauan kan siapa yang salah” Rama membela diri, yang lain memungut tas mereka yang jatuh ke jalan.

“Ah banyak alesan lo, bubar bubar” usir si Bapak tadi.
Kesempatan yang bagus daripada harus menerima wejangan dari warga sekitar apalagi beresiko dilihat guru kalau kami berlama lama di tempat itu.

***

“Ini A, minumnya” bi Suti datang membawa minum lalu pergi lagi, kami sedang berkumpul di halaman belakang rumahku, ada kolam renang mini yang berukuran 3×8 meter.

Aku sedikit tak suka kalau mereka berkunjung kerumahku dan berenang, sudah pasti mereka akan meminjam celana pendekku untuk dipakai berenang.

Sebenarnya bukan hanya itu, terlebih kepada, mereka pasti topless, ooh tidak tubuh mereka itu sangat menggiurkan aku bagaikan kucing dapur melihat ikan sarden di dalam gelas kaca, iya aku hanya bisa melihat saja sambil menahan air yang ingin tumpah dalam diriku, air liur maksudnya ya.

Aku paling suka bentuk tubuh Elul, sempurna menurutku, persis seperti kontestan L-man. Yang lain juga sixpack terkecuali Dwi ya, Dwi itu sedikit gemuk tapi badanya tidak bulat hanya sedikit gemuk malah biasanya dipanggil semok.
Kalau aku, jangan ditanya pasti badanku kurus tapi tidak sampai kerempeng.

Kembali kebentuk tubuh, eeh. Rama jika dia mempunyai bentuk tubuh seperti Elul pasti aku sudah memujanya, sayangnya Rama hanya kurang dibentuk tubuhnya, aah seperti badanku bagus saja, dadanya memang bidang dan kekar apalagi otot tangannya menakjubkan badannya lebih keras daripada temanku yang lain tapi perutnya tidak sixpack dan juga tidak buncit.

Rama Ardiansatya itu lelaki tampan, dengan muka unik dagu sedikit lancip,rambut hitamnya ditata kesamping tapi tidak berponi, harum tubuhnya itu seperti bau persik sangat cocok dan yang paling special darinya itu aura kepemimpinannya, orang yang sangat berwibawa disertai sikap yang amat patut ditiru, jagoan sekolah tapi tidak sok jagoan pintar Matematika dan disukai banyak guru.

Agus Hermawan, aku paling suka kalau disuruh menilainya. Agus itu lelaki yang tampan, amat sangat malah menurutku, wajahnya itu lembut tapi tetap terkesan manly sedikit lebih mirip karakter pria yang memakai baju aneh di iklan surf (detergent), malah bisa dibilang mirip dengan Dewa-Dewa Yunani kuno, terserah jika aku dikata berlebihan toh itu menurutku. Agus itu seorang pesepak bola sekolah jika dia sudah merumput jangan iri jika semua wanita meneriaki namanya, itu bukan masalah untukku karena aku berbeda, kau tau lah. Wangi tubuhnya juga seperti wafer rasa vanila sangat crunchy ingin rasanya aku cicipi setiap jengkal tubuhnya, imajinasiku memang bisa menggila jika memikirkannya, perfect.

Elul, nama aslinya itu Eliot Darmakumadji. Entah kenapa lelaki berwajah Chinese yang asli Indonesia ini dipanggil seperti itu, tapi yang kutau itu panggilan masa kecilnya. Seperti kubilang tadi Elul itu berwajah Chinese, dan selalu terlihat fresh meski di dalam saat yang paling suntuk pun dia terlihat fresh. Orang yang sering berganti-ganti parfume ini adalah Deni Cagurnya kami dia selalu bisa memecahkan suasana yang membosankan, obat galau paling mujarab. Elul juga paling tidak suka ditantang apalagi diremehkan, kalau dalam bercanda sih tidak apa.

Andri Hartanto Fahlevi, dia itu salah satu lelaki tipeku. Wajahnya tegas tapi tidak memberikan kesan tua, kulitnya kecoklatan tapi sangat bersih menggiurkan. Andri itu paling tidak suka memakai parfume untunglah badannya tidak beraroma yang mengerikan. Aku paling suka kalau dia berkeringat atau meneguk minuman di saat dia kehausan setelah bermain basket, ooh ingin rasanya kutelanjangi di tempat itu juga, oke aku memang sedikit jalang. Satu sifat buruknya, dia itu selalu ingin dilihat di setiap tempat, ya seperti itulah kira-kara sedikit sok, selalu berekspresi sok keren ditempat asing itulah dia.

Nurhuda Yusuf Hananto, Huda itu salah satu lelaki yang berbisa menurutku, dia selalu bisa mendapatkan wanita yang dia inginkan. Padahal menurutku Huda itu biasa tidak sekeren teman-teman ku yang lain, maaf Huda. Aku tak pernah tau caranya bisa melumpuhkan banyak wanita di sekolahku ini, jika kau menyukai seseorang siswi disekolahku dan kau menanyakan apakah dia mantan Huda aku rasa siswi itu akan jawab <i>Iya</i> sangat banyak mantannya di sini. Dan sifat yang tidak palingku suka dari Huda itu arogan, oh aku sudah langsung diam jika aku berdebat dengannya, karena akan percuma, tapi jika ada yang bilang Huda itu teman yang baik aku langsung setuju.

Dwi Chandra, borju, itu satu kata yang pertama kalau aku melihatnya. Orang tuanya memang kaya tapi sifat jeleknya itu selalu saja ingin punya yang terbaru yang orang lain punya. Itu memang haknya, tapi lebih baik biasa saja, toh sederhana juga bahagia.
Tapi sifat yang paling aku sukai dia itu selalu menebar senyum, ramah, baik. Okeh segitu saja tentang Dwi aku memang selalu menemukan jalan buntu jika disuruh menilainya.

Doni Ardansyahputra, Doni, jutaan kalimat pun takkan habis aku katakan untuk memujinya. Lebih dari sekedar perfect. Entah perasaan apa yang kupunya terhadap lelaki berambut ikal ini, wajahnya perseginya menjelaskan ketegasannya, tapi matanya yang melankolis membuatku tak berhenti untuk memujanya. Wangi tubuhnya berbeda dari yang lain, selalu harum setiap saat entah menggunakan parfume apa dan bagaimana sehingga bisa seharum itu. Karateka sekolahku satu ini mempunyai banyak pesona, dan di setiap pesonanya itu membuatku bertekuk lutut di hadapannya. Itu memang terlihat berlebihan, tak apa toh itu menurutku.

Aku suka sekali ketika dia tersenyum lembut, aku bagaikan wanita yang jatuh cinta saja, menjijikan. Tapi itu yang selalu aku rasakan semenjak aku sadar kalau aku mencintainya.
Tinggi dan postur badanya tak perlu ku ceritakan, sudah pasti memukau seperti selera orang sepertiku ini.

Akankah aku bisa memilikinya. Tuhan jika cinta itu suci apakah sebuah kesalahan aku mencintainya, dari jenisku sendiri? Kita tahu jawabanya.

“Byuurrrr” aku tersadar dari lamunanku, iPad yang ku pegang pun sudah berpindah tangan. Elul konyol, isengnya tidak ketulungan, posisiku memang menggiurkan kalau untuk dikerjai, aku duduk di bibir kolam.

“Iseng banget sih lu” Doni beringsut dari duduknya menolongku naik ke atas.
dan kemudian aku melihat Doni berada tepat di atasku, tercebur kekolam akibat ulah Rama.

Terasa sesuatu dari Doni melekat di tubuhku, meski di dalam air aku sangat merasakan sesuatu yang melekat di tubuhku dari bagian tubuh Doni, aah disetiap jengkal tubuhku…

***

Aku melihat wajahnya tepat di atas hidungku, tubuhnya melekat di atas tubuhku. Semuanya terasa lambat, dalamnya kolam renangku pun seperti dalamnya samudra saat ini, terasa jauh hanya untuk menyentuh dasar yang dalamnya kurang lebih dua meter.
Aku tak pernah melihat wajah Doni lebih tampan dari ini, jika tuhan menghentikan waktu saat ini juga aku akan bersyukur sekali tentunya.

Tanpa sadar kini ternyata aku telah memeluknya, membenamkan wajahku kesisi lehernya, aku tak pernah merasakan senyaman ini bahkan aku seperti bisa bernafas didalam air saat ini.

“Byurrrrrr” suara benda yang tercebur dalam air memaksaku melepaskan ke damaianku.
Semua temanku kini berada di dalam air, merusak semua ke indahan yang terjadi beberapa detik lalu, inilah takdirku mencintai seseorang di dalam siluet yang tak pernah aku tapaki. Iya, aku mencintai lelaki straight yang sampai kapanpun takkan membalas rasa cintaku yang begitu dalam untuknya walau aku tak pernah menyampaikan itu langsung kepadanya, aku tak pernah berani karena aku tahu akan jawabannya.

Gelak tawa tak terhenti ketika wajah kami menyembul ke permukaan, aku pun ikut tertawa walau dalam hatiku merasakan kekecewaan, sekilas aku melihat wajah Doni yang tersenyum ke arahku, aku terlalu berharap padanya, harapan yang terlalu naif.

“Cie, yang lama banget didalem aernya, hahaha cucus dulu lu yak” celetuk Elul sambil mengusap wajahnya yang basah.

“Auuuw” Elul melenguh sedikit keras, rasakan kena jitakan Doni akhirnya.

“Gila” aku berenang kepinggir kolam.
Tak terasa hari sudah sore, rasanya baru beberapa menit kami menghabiskan waktu di sini.

“Ayo Gi, kamar mandi lo gede ini” ajak Huda agar aku ikut berbilas bersama, sebenarnya aku sangat ingin tapi kurasa itu bukan hal yang baik, aku takut terjadi sesuatu, sesuatu yang buruk yang belum mereka ketahui dari dalam diriku.

“Ngak mau aah, lo duluan aja deh gue belakangan” tolak ku.

“Uah ayo, gak bakalan kita perkosa” Agus menarik pelan tanganku. Entah apa aku mulai merasakan perbedaan darinya kini.

“Diperkosa juga gak bakalan bunting ini lu ah” tambah Andri.

“Gila lu, sonoh cepetan ganti baju, becek nih kamar gue lama-lama” ku dorong mereka masuk kedalam kamar mandi.

“Padahal mau ikut tuh” Rama mengedipkan matanya menggodaku, alah dia itu selalu memperlakukanku seperti itu, sedikit menyebalkan.

“Don punya lu gede juga yah” celetuk Rama setelah keluar dari dalam kamar mandi. Gleeeek, sesuatu dalam diriku menguap mendengar kalimat itu.
Kulihat Doni menendang Rama pelan, Rama tertawa sambari menatapku, aku tahu maksudnya menggodaku, aku curiga Rama tahu siapa aku sebenarnya.

Aku masuk ke dalam kamar mandi setelah mereka keluar semua dari dalam kamar mandi, Rama menahan pintu yang hendak aku tutup. “Apaan lagi sih” gerutuku kesal.

“Sabunnya jangan lu abisin buat gosok ade lu yak” aku lempar dia dengan handukku, Rama tertawa terbahak-bahak sambil berjalan mundur dan melemparkan handuk kembali ke arahku.

“Gimana? Keluarnya banyak kagak?” baru saja aku keluar kamar mandi Rama sudah menanyakan hal yang tak jelas.

“Au aaah” aku berjalan kearah balkon kamar, kamarku berada dilantai dua dan balkon kamarku menghadap kolam renang.

***

“Gi, masuk dulu, mahgrib” paksa orang tua Doni.
Aku duduk di ruang tamu sambil memainkan iPad ku. Doni masuk ke kamarnya entah untuk apa, aku sudah biasa main ke rumah Doni jadi sudah tidak canggung, dengan orang tuanya pun aku akrab, akrab sekali malah.

“Cuman ini adanya Gi” ibunya Doni muncul membawakan teh hangat untukku, di luar memang sedang hujan, untung aku bawa mobil, jadi pulang tidak kebasahan.

“Ngerepotin banget Figi Bu” jawabku sungkan.
“Ngak apa-apa Gi, kamu aja yang hampir setiap hari nganter Dodon pulang aja nggak ngerasa kerepotankan?” balas Ibunya Doni penuh senyum. Ibunya Doni itu cantik rambutnya sedikit ikal, persis Doni, hidungnya mancung juga persis Doni, dan Ayahnya Doni itu lelaki yang wajahnya tampan sepanjang usia, jadi tak salah mempunyai anak yang gantengnya gak ketulungan kayak si Doni.

“Bapak mana Bu?”.

“Bapak lagi banyak masalah Gi, di kamar aja si bapak dari tadi” bisik ibunya Doni.
Aku hanya mengangguk, tak sopan bila aku menanyakan masalah apa yang sedang di alami orang tua Doni.

Tak lama kemudian Doni muncul dari kamarnya, mengenakan celana olahraga sekolah dan baju putih polos lusuhnya. Sepertinya baju itu sudah menjadi seragam Doni di rumah, hampir setiap aku berkunjung ke rumahnya Doni selalu memakai baju putih polos lusuhnya itu.

Ibunya Doni masuk kedalam kamar setelah Doni duduk disebelahku. “Dodon,” panggilku ringan namun tetap memainkan ipadku.

“Apaan” jawabnya datar. Aku sangat tidak suka kalau dia aku tanyai tapi jawabnya seperti itu, ya walaupun aku bertanya sambil melihat ke iPad.

Ku matikan iPad ku, dan bergeser menghadapnya. “lusa ikut LDKSkan?”.

“Nggak, nggak ada duitnya” jawabnya santai. Hatiku mencelos tiba-tiba, seperti kehilangan benda kesayanganku.

“Jangan gitu dong, ikut napah” bujukku lagi.

“Gue pasti ikut kalo ada duitnya” raut muka kecewa kini ada diwajahnya.

“Lu emang gak punya simpenan?” kataku sambil meminum teh hangat.

“Ada, cuman 80 ribu ” sahutnya.

“Yaudah, besok gue tambahin deh, besokkan juga batas waktu pembayarannya tuh” aku raih kembali iPad yang tadi aku simpan di tas slempang kecilku, entahlah apa namanya tas semacam ini aku tidak tahu, yang aku tahu tas ini merk-nya crocodile.

“Sorry Gi, gak bisa kayaknya, uangnya mau dipake buat yang lebih penting” jawab Doni datar, seperti banyak masalah kini di kepalanya, tadi saat bersama yang lain dia terlihat biasa, entah kenapa berubah saat sampai di rumah.

Hujan mulai reda, waktu pun menunjukan jam setengah tujuh, aku ada acara makan malam bersama keluarga besar dari Jakarta jadi aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini walau sebenarnya aku masih ingin di sini.

“Bu Figi pulang dulu ya” langsung saja aku pamit setelah kulihat ibu keluar dari kamarnya.

“Nginep aja atuh Gi” bujuk ibunya Doni. Doni berjalan ke ambang pintu.

“Nggak bawa salin bu, kapan-kapan aja Bu” jawabku sambil sedikit tertawa.

“Yaudah hati-hati ya, jangan ngebut bawa mobilnya” aku hanya menganggut sambil mencium punggung tangannya.

Aku berjalan keluar sesampainya di sebelah Doni aku langsung berbisik “lusa nginep di rumah gue, kita berangkat langsung dari rumah gue” aku lihat dia ingin menolak “Nggak pake nolak!!” desisku lebih mendekat kekupingnya, Doni hanya terdiam detik berikutnya.

***

Sesampainya di rumah aku memilih meneruskan kegiatan ku bersama si iPad andalanku ini. Membaca cerita cinta di internet, tentunya cerita pelangi.
Tak ada update’an terbaru, aku pilih untuk membaca ulang -love isn’t blind- dari Rendi Febrian. Aku sangat suka karakter gadis seperti corazon, kalian bisa membacanya sendiri betapa hebat corazon berkorban.

Hujan kembali turun, aku sudah tak heran, Bogor itu memang kota hujan, ya aku tinggal di daerah Bogor.
Kutaruh iPad ku di atas meja belajar, kini pandanganku terpaku ke arah kaca jendela yang berembun.

Tidak terasa kini aku telah berada di kelas dua belas, tahun terakhirku berada di sekolah yang banyak memberikan pengalaman, di sini jugalah aku mendapatkan banyak teman dan beberapa sahabat yang benar-benar keren.

Hujan diluar semakin deras menyeret ingatanku kembali kemasa kelam dulu.

 

–Bersambung, ke K-I-T-A Chapter 3–

Aku & Kamu

=============================

Aku & Kamu

By. Bangun Setiawan

=============================

Indonesia… negeri kaya dengan dua musim. Musim hujan dan musim kemarau. tak ada musim yang paling ku sukai. Musim kemarau aku benci debunya. Musim hujan aku benci petirnya. Tapi setelah ada kamu, aku meyukai ke dua musim tersebut. Bahkan menikmatinya. Disaat musim hujan, kita bersama menari diantara hujan. Ketika musim kemarau, kita berkejaran di sawah kering, membuat sumur kecil, bermain layang-layang dan menikmati senja. Kita memang kompak dan tidak mau kalah dengan anak-anak kecil yang juga bermain bersama.

Beib, apakah kamu ingat awal kita bertemu dulu? Ketika itu musim hujan. Aku hendak ke sekolah. Karena aku tak punya payung, setiba di depan gerbang aku langsung berlari menghindari basah. Aku terjatuh. Pakaianku basah dan kotor. Aku malu, semua orang mentertawakanku. Tiba-tiba kamu mengulurkan tanganmu. Aku tak meraihnya karena marah pada mereka. Kamu tersenyum seraya berucap “Jika kamu diam di situ terus, orang-orang akan semakin mentertawakanmu. Lagian aku rasa kamu perlu bangun dan pergi ke UKS. Tanganmu tergores beling!”. Kamu berlalu tanpa mengulurkan tangan seperti tadi. Aku pergi ke UKS. Seperti melihat badut, setiap mereka yang ku lalui melihatku dengan tatapan yang entahlah yang jelas mereka mentertawakanku.

Setibanya di UKS aku kaget, ternyata ada kamu lagi. “De, tolong bikinkan surat ijin untuk orang ini. Dia tak mungkin mengikuti pelajaran dengan kondisi sekarang!” tanpa meminta persetujuanku kamu menyuruh juniormu membuat surat izin untuku. Memang benar dengan kondisi seperti ini, mana mungkin aku mengikuti kegiatan belajar mengajar. Tapi setidaknya kamu meminta persetujuanku terlebih dahulu.

Tiba-tiba kamu menarik tanganku. Membuatku kaget sekaligus gugup. Kamu membasuh lukaku dan mengobatinya. Tanganmu sungguh lembut. Wajahmu teduh. Princes pikirku. Walau bagaimanapun aku ini laki-laki normal. Jantungku berdegup lebih kencang tidak seperti biasanya. Keringatku mulai keluar. “Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ada yang aneh?” tiba-tiba kamu membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum kikuk. Jujur, di depanmu aku gugup. “Oh ya, kamu diam saja di sini sampai bel pulang berbunyi…” kamu berlalu. Aku berkedip.

Bel istirahatpun berbunyi. Semua anak berhamburan keluar. Bak para nafi dapat grasi. Perutkupun mulai keroncongan. Mau beli makanan aku malu. Nanti jadi bahan tontonan mereka. Tiba-tiba kamu datang dengan membawa bungkusan. “Ni, aku bawain makanan. Aku tahu kamu pasti lapar tapi malu untuk membelinya.” Aku enggan menerima.”Atau mau sekalian aku suapin…?” aku langsung merebut bungkusan nasi itu dan langsung memakanya.”Nah gitu dong, anak yang baik. Ngomong-ngomong, kamu tambah cakep kalau lagi kelaparan!” Aku tak pernah menyangka orang secantik kamu pintar menggombali cowo. Aku benar-benar kalah di hadapanmu. Kamu duduk di sampingku, sambil memainkan Ipad mu.

“Eh, aku mau ikutan lomba nih. Denger-denger kamu anak bahasa ya! Jadi tolong nanti kamu baca cerpenku ini, terus kamu kasih komen deh.” Kamu memberikan Tab mu padaku. Aku bingung, kita baru ngobrol dekat hari ini. Apakah kamu tidak takut aku mencuri Ipadmu?

Aku baca cerpenmu. Aku ingin menjadi lilin. Begitulah kamu memberi judul.  Aku tertarik dengan tulisanmu, jadi aku membacanya. Aku kagum padamu, bukan karena tulisanmu yang bagus. Lebih karena makna yang terkandung di dalamnya.

Bel pulang pun berbunyi. Untuk kedua kalinya para siswa berhambur keluar. Kamu datang dengan senyumu. Manis sekali.

“Apakah kamu sudah membacanya?”

“Ya.”

“Bagaimana menurutmu?”

“Bagus.”

“Bagusnya seperti apa?”

“Makna yang ingin kau sampaikan pada pembaca! Oh ya, kenapa kamu tidak menjadi matahari saja?”

“Apakah aku layak menjadi matahari?”

“Kenapa tidak? Setiap orang bebas punya mimpi!”

“Aku lebih tahu diriku. Jadi, mungkin cukup hanya menjadi lilin saja.”

“Kamu meragukan kemampuanmu?”

“Justru aku meyakini kemampuanku. Karena itu aku memilih untuk menjadi lilin.”

“Bolehkah aku menjadi sesuatu yang kau terangi?”

Kamu kaget. Sepertinya aku salah berucap.

“Kenapa kamu menginginkan aku menjadi lilin untukmu? Bukankah kamu bisa menjadi matahari dan memilih bulan mana yang akan kamu terangi?”

Kamu pandai bermain kata. Aku tak mau kalah. Hatiku sudah jatuh padamu.

“Bukankan lilin menyala karena ada yang harus ia terangi? Aku lebih tahu diriku. Dan aku ingin ada seseorang yang menerangiku. Aku tak mungkin terus hidup dalam gelap.”

“Kenapa kamu tidak mencari matahari saja yang lebih bisa menerangimu?”

“Matahari… Aku terlalu kecil untuk ia terangi. Makanya aku lebih memilih lilin!”

Kamu tersenyum. Aku yakin, kamu kalah kali ini.

“ Oh ya, aku mau pulang dulu. Rasanya ga baik berduaan di tempat yang sepi. Orang-orang sudah pada pulang.” Kamu mencatat sesuatu di secarik kertas. Lalu memberikanya padaku. Sebuah nomor dan di bawahnya ada tulisanmu “Share denganmu menarik. Lain kali kamu yang harus bilang ya.” Aku tertawa. Senang rasanya.

 

Musim Kemarau Pertama…

 

Hari-hari kita lalui. Dan akhirnya kita resmi menyandangstatus pacaran. Saat ini adalah musim kemarau pertama dalam hubungan kita.

“ Ay, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat!”

“Kemana beib… malas jalan banyak debu!”

“Pokoknya harus ikut!”

Terpaksa aku mengikuti maumu. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Dan kitapun sampai. Aku terngnga, sawah kering… apa maumu. Kamu berlari menuju gerombolan anak-anak.

“Ay, ayo sinih. Kita buat sumur-sumuran.”

“Main sumur-sumuran? Kaya anak kecil saja!”

“Kamu lupa ya, bahwa dulu kamu… aku… juga pernah menjadi anak kecil.”

“Tapi itukan dulu.”

“Iya, aku tahu. Tapi apakah kamu ga mau mengenang masa itu? Masa kecil itu adalah masa paling menyenangkan. Masa paling merdeka.” Kamu merentangkan tanganmu. Aku bingung dengan tingkahmu. Di balik keanggunanmu, ada sesuatu yang unik. Akupun datang dan mulai menggali.

“Anak-anak, kita buat sumur-sumuran bersama. Yang paling cepat sumurnya dapat mata air, nanti aku kasih permen!” Aku kaget. Sebenarnya kamu ini makhluk apa???

Aku menggali semampuku. Kamu terus bertepuk tangan sambil berteriak… Ayo… Ayo… Ayo.

“Ay, kamu isi air ya? Jangan bilang kamu kencing di situ?”

“Enak aja. Mata airnya sudah keluar.”

“Coba aku cek!” Kamu mendorongku dan memasukan tanganmu ke dalam sumur-sumuran itu. Memastikan bahwa air yang menggenangi sumur berasal dari mata air.

“Hore… aku menang… aku menang!” Kamu berlari-lari mengelilingi sawah. Anak-anak kecewa karena tidak mendapatkan permen. Aku kebingungan melihat tingkahmu yang menurutku ga kamu banget. Atau jangan-jangan kamu kesurupan penghuni sawah???

Akhirnya acara sumur-sumuranpun selesai.

“Ga terasa ya, senja udah datang. Indah banget. Hmm…”

Aku melihat kamu tersenyum. Senyuman yang membuatku terus merindu. Aku tak menghiraukan senja karena senyumanmu lebih menarik.

“Ay… ada layang-layang putus…!” Kamu tiba-tiba berlari mengejar layangan itu. Aku hanya bisa terpaku menatap tingkahmu. Baru sesaat tadi kamu seperti anak-anak, kemudian berubah menjadi anggun, dan sekarang menjadi tomboi. Aku melihat kamu melambaikan tangan dari kejauhan. Sambil mengangkat layang-layang yang putus tadi. Kamu mendapatkanya. Aku berlari ke arahmu.

“Ay… kamu lihat ga, tadi aku hebat bangetkan? Aku bisa ngalahin mereka. Dan tara… ini hasilnya.” Kamu memeluk layang-layang itu. Jelaslah kamu yang akan mendapatkan layang-layang itu, lawanmu tak sebanding. Komentarku dalam hati. Aku tersenyum demi membuatmu senang.

“Beib… Kita pulang yuk!”

“Bentar lagi, senjanya belum habis…”

“Coba deh, liat bajumu! Kotor.. Aku ga mau disalahin sama calon mertuaku karena balikin anaknya dalam keadaan kaya gini malem-malem. Jadi mendingan kita pulang sekarang.”

“PD banget. Ya udah… Nih!” tersirat di wajahmu kekecewaan. Kamu memberikan layang-layang itu dan berlalu. Aku mengikutimudari belakang.

“Oh ya Ay… Besok kesini lagi ya! Kamu harus nerbangin layang-layang itu dan mengadunya bersama layang-layang lain!”

“Ga janji.”

 

Musim Hujan Pertama…

 

“Hujan… Ay, hujan.” Kamu berlari ke luar. Membiarkan dirimu menyatu dengan air mata langit itu. Seolah-olah ingin meluruhkan sesuatu. Kamu lupa bahwa tujuan kita bertemu adalah untuk belajar bersama. Bukan untuk hujan-hujanan bersama.

“Beib… Nanti kamu sakit. Lagian ngeri kalau nanti ada petir.”

“Kamu takut ya Ay? Btw, tolong buatkan aku perahu.” Aku membuatkan perahu pesananmu, kamu datang dan tanpa ku duga kamu menarik tanganku.

“Mana perahunya!”

“Ni.”

“Langit, aku tak tahu kemana perahu ini kan bermuara. Semoga dengan persembaha perahuku ini, kamu akan memberi kami pelangi!”

“Oi…”

“Apa-apaan sih Ay. Aku lagi memberi persembahan nih. Apa aku terlihat aneh?”

“Sangat. Lebih aneh dari pada Kugy!”

“Jangan samain aku sama agen Neptunus itu.”

“Terus…”

“Ya begitu.”

“Begitu gimana?”

“Seperti yang kamu lihat.” Aku tak berani berdebat lagi. Bisa panjang. Kamupun menengadah dan merentangkan tangan. Lalu berputar-putar.

“Ay… Coba deh ikutin aku. Rasakan setiap butir-butir air yang menyentuh kulit kita. Sambil mencium bau tanah. Resapi… Hayati… Oh… “

Aku mengikuti saranmu. Aku seperti mendengar alam bersuka cita. Kamu menghentikan ritual itu. Akupun mengikutinya. Sekarang kamu memegang tanganku. Dan mengajaku berputar bersama. Ada kehangatan. Berada di dekatmu sungguh membuatku damai. Kini giliranku menghentikan ritual ini. Ku tarik tubuhmu yang basah. Kudekap… dan kucium keningmu. Akankah aku bisa memilikimu selamanya… Batinku.

 

Foto Untuk Undangan…

“Kenapa sih harus di sisni?”

“Ini sawah sayangku!”

“Aku tahu beib. Maksudku, tak bisakah kita berfoto di tempat lain?”

“Sawan ini tempat penuh kenangan Ayang.”

Dengan pakaian pengantin ini kita menggali sumur-sumuran. Beberapa anak juga ikut kami foto bersama. Katanya biar natural. Kita juga bermain layang-layang dan mengejar layang-layang. Bukan hanya itu, kita juga berfoto sambil menunggang kerbau. “Ini akan menjadi foto pernikahan paling jenius yang pernah di buat.” Katamu. Buakan jenius, tapi gila.

 

Penikahan …

Aku sudah tahu kegilaanmu. Tapi aku tak menyangka jika lagi-lagi harus di sawah. Beginilah jadinya pernikahan kita. Konsep pernikahan pesta panen. Pagar ayu dan Bagar bagus kamu suruh didandani dengan pakaian petani. Tempat perasmananpun di saung-saung. Menurutku ini lebih mirip restauran sunda yang sedang ada pameran gaun pengantin???

“Ay… Kamu tampak semakin gagah dengan pakaian adat ini!”

“Beib… Kamu juga tampak semakin cantik!”

 

Saat ini…

“Beib, apakah kamu rindu masa-masa itu?’”

“Ah kamu. jangan panggil aku beib lagi. Ini sudah tidak pada masanya. Malu didengar cucu-cucu kita…”

“Sekarang kita sudah tak bisa lagi melakukannya.”

“Kata siapa? Kita bisa buat sumur-sumuran lagi. Kita bisa bermain layang-layang lagi dan mengejar layang-layang yang putus. Kita bisa menari diantara hujan. Bersama cucu kita tentunya…”

“Apakah kamu sudah gila? Tubuh kita semakin merenta. Dari dulu kamu memang aneh.”

“Kamu terlalu banyak berfikir sayang. Hawatir ini itu. Coba bebaskan sedikit. Aku mau tanya, apa yang kamu takutkan dulu pernahkah terjadi? Tidak bukan! Buktinya kita masih bisa bernafas hingga saat ini. Oh ya, aku memang aneh. Tetapi kamu lebih aneh karena memilih orang aneh untuk menjadi pendampingmu.” Dia tersenyum.

“Ok. Kita main layang-layang bersama cucu kita. Tapi kamu harus janji, jangan lari mengejar layang-layang putus!”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Aku kira kamu bercanda!”

“Apa mau dibatalkan?”

“Jangan. Ok, aku panggil dulu cucu kita.”

Kami pun pergi menuju sawah. Tiba-tiba…

“Layangan putus…!” dia spontan berlari mengejar layang-layang. Di susul cucuku. Aku mematung.

 

End

Sebelumnya telah dipublikasikan di:

http://www.cerpenmu.com

 

 

 

 

 

 

Stormy Day (1)

DIS_

Chapter 1

♂ Rendezvous

Mobil berhenti tepat di depan rumah berukuran super besar, dengan lampu warna-warni yang memancar dari balik jendelanya yang lebar. Beberapa orang cowok berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Rumah ini sendiri berada di paling belakang komplek, menyendiri dan tak mempunyai tetangga sama sekali. Suara musik yang sangat keras, berdentum-dentum dari balik pori-pori dinding. Membuat Zavan terlonjak bahagia di kursi belakang. Dia merapikan bajunya, sebelum akhirnya membuka pintu dan keluar dengan gesit.

Aku mematikan mesin mobil, mengambil iPadku yang ada di atas dashboard mobilku. Sid yang duduk di sebelahku pun sudah ikut-ikutan keluar. Menyisakan aku dan Revie di dalam mobil. Setelah merapikan rambutku yang tadi tertiup angin saat aku membuka jendela mobil untuk membuang putung rokokku, aku keluar dengan luwes, didampingi Revie yang masih saja bergerak gelisah semenjak kita berlima pergi tadi. Dia bilang, party bukanlah hal yang paling dia sukai. Meskipun dia sangat jarang menolak ajakkan kami. Atau lebih tepatnya ajakkan Zavan. Zavan adalah seorang party lover sejati.

Kami berlima melangkahkan kaki menuju ke depan pintu utama rumah tersebut. Mobil-mobil yang terparkir tepat di dekat compound area membuat kami harus memutar jalan. Zavan yang berdiri di hadapanku hanya terus mengoceh tentang sesuatu yang tidak kumengerti dengan seseorang yang sedang ditelponnya. And dan Revie yang mengapitku hanya memandang rumah besar yang menjulang di depan kami dengan tatapan tak berminat sama sekali. Sedangkan Sid hanya sibuk dengan kancing kemeja bajunya yang sangat sulit dilepaskan bagian atasnya. Membuat lehernya yang jenjang agak sulit bergerak.

Sebenarnya hari ini aku ada pertemuan dengan seseorang, rendezvous yang memang sering kulakukan dari beberapa tahun yang lalu. Tetapi karena Zavan mengajakku ke sini, ke gay private party milik temannya ini, maka daripada itulah aku harus membatalkan rendezvousku dengan orang ini. Yang kalau boleh kukatakan, bukan masalah besar juga. Besok-besok aku masih bisa melakukan rendezvous lagi dengannya. Lagi pula, aku tidak bisa menolak ajakkan Zavan. Dia sahabatku, orang yang paling bisa membuatku tidak larut dalam kubangan masa lalu kelam. Meskipun aku jarang berbaur dengan ucapannya, tetapi aku selalu mendengarkan dengan seksama. Sejak kejadian waktu itu, aku bukan Tivo yang dulu lagi.

Scuse us, euh, by the way, kami berlima temennya Yogas.” Zavan berkata pada seorang cowok dengan badan besar seperti And yang sedang berdiri di depan pintu dengan wajah sangar. Matanya yang hitam meneliti kami berlima, bergulir ke kanan dan ke kiri, memperhatikan kami dengan tatapan menilainya. Apakah kami benar temannya Yogas.

“Tunggu sebentar!” kata cowok itu dengan suara berat ala orang lagi kena TBC. Dia mengeluarkan sebuah mini talkie dari balik badannya lalu menghubungi seseorang. Aku hanya berdiri saja sambil membuka lock iPadku. Kucek kurva perusahaanku yang ada di Bontang, Kalimantan Timur dan di Alas, Sumbawa Besar. Tidak ada penurunan, berarti perusahaan si bajingan masih baik-baik saja di sana. Aku masih bisa mendesah lega kalau begitu. “Oh, oke!” Si suara TBC menolehkan kepalanya ke arah kami lagi, tetapi kini dengan tatapan ramah ala orang penjual nasi Padang. “Kalian boleh masuk, tetapi sebelum itu saya periksa dulu. Jangan sampai ada benda tajam yang kalian bawa!”

Zavan mengibaskan tangannya di depan cowok berbadan kekar itu. “Kita nggak mungkin bawa gituan. Yang kami bawa hanya benda tumpul, dan benda tumpulnya masih bobok.” Zavan tersenyum dengan memamerkan gigi Pepsodent-nya. Cowok berbadan kekar itu tersenyum kecil kemudian membolehkan kami masuk. Aku dan yang lain langsung melesat masuk ketika cowok itu membukakan kami pintu. Suara musik berdengung-dengung di telingaku, membuat rumah yang sedang kumasukki ini seperti lagi kena gempa.

Core partynya ada di mana?” tanya Sid dengan suara keras. Kami berlima sedang berdiri di depan lounge hall sambil mencari-cari inti pestanya ada di mana. Kalau ditelaah lagi, sepertinya ada di lantai atas. Aku bisa mendengar suara itu dari atas sana. Lagi pula, banyak cowok-cowok yang sedang sibuk duduk di lounge hall kemudian pergi ke lantai atas.

“Di atas,” teriak Zavan, dia menarik tanganku dan Revie secara bersamaan. Dengan langkah panjang aku menaiki tangganya yang agak melingkar. Suara musik yang tadi berdengung, kini berubah menjadi pekikkan yang membuat gendang telingaku agak terganggu. Ketika kami berlima sudah berada di lantai atas, banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku. Pendaran lampu berwarna-warni membuat mataku agak silau. Meskipun aku sangat sering ke klub malam dengan Zavan, tetapi aku masih tidak terbiasa dengan cahaya warna-warni yang berpendar dari bola disko.

“Kita dapet tempat dudukkan?” tanya Sid, suaranya makin meninggi dari sebelumnya.

“Dapet lah,” sahut Zavan tak kalah kerasnya. “Come-come!” Dengan cahaya yang seminim ini, kami mengikuti langkah Zavan dengan tatapan mata yang sangat lekat. Tidak ingin kehilangan bule gila satu itu di keramaian yang sangat gila ini. Semua cowok, dengan bau keringat mereka yang khas, memenuhi ruangan ini. Bahkan daritadi ada beberapa orang yang menabrak badanku saat mereka sedang menari seperti kloningannya Justin Bieber gagal. Membuatku risih, tetapi malas kutanggapi. “Here we are!” seru Zavan, menunjuk sebuah sofa panjang yang ada di pojok ruangan. “Kata Yogas tadi kita duduk di sofa nomor 13.”

Sid kemudian meghempaskan tubuhnya di sofa tersebut, yang langsung kususul dengan lekas. Aku bukan tipe orang yang suka lama-lama berdiri, apalagi yang membuat badanku capek. Bukan berarti aku manja atau bagaimana, tetapi aku punya pengalaman buruk tentang berdiri lama-lama dan hal yang membuat badanku capek. Aku masih tidak bisa menceritakannya sekarang, nanti saja, tunggu saat yang tepat. Aku masih sangat membenci masa laluku, aku tidak ingin membuka luka lama.

“Kalian mau minum apa, gays?” tanya Zavan. Kutengadahkan kepalaku dari iPad yang berada di atas pangkuanku, menatap wajah Zavan yang seperti sedang bermandikan cahaya disko. Bule itu merogoh saku kemejaku lalu menarik rokok yang ada di sana. Dia menyulutnya kemudian mulai menghisapnya sambil melirik ke arah on the floor dengan wajah berminat, tetapi masih kalem ingin berdiam diri di sofa ini.

“Jus jeruk,” jawab Revie, dia tersenyum simpul. Membuat wajahnya yang sudah sangat tampan, makin memukau. Saat pertama kali aku berkenalan dengannya, kupikir dia malaikat yang dibuang Tuhan dari Surga. Sungguh, aku bukan mau lebay atau hal-hal alay lainnya, hanya saja menurutku itu benar. Aku bahkan sempat tertegun beberapa saat, bingung apakah orang yang sedang tersenyum kepadaku waktu itu sungguh-sungguh seorang manusia.

Puh-lease deh, Rev,” kibas Zavan, dia mendecakkan lidahnya kurang ajar. “Lo lagi ada di party. Gay party. Bukan lagi ada di Pengajian. Kenapa nggak minum Sampanye atau Brandy gitu? Tenang aja, minuman itu nggak akan ngebuat lo mabuk kok.” Zavan meracau cepat seperti biasa. “Yah, kalo lo minumnya nggak kebanyakkan sih,” tambahnya kemudian.

“Gue Cocktail aja deh,” sahut Sid, cowok itu menautkan kedua kakinya menjadi satu. Tangannya sedang sibuk mengotak-ngatik sesuatu di kamera Polaroid kepunyaan Zavan. Kamera yang akan menjadi sebuah saksi bisu akan kenangannya untuk party ini nanti.

“Kalo gue Gin,” ujar And yang duduk di sebelahku. Tangannya yang berotot itu menekuk di depan dadanya yang sama berototnya. Matanya masih saja menatap party ini dengan tatapan tidak berminat. Sid dan Revie juga sama. Mungkin karena mereka bertiga sudah punya pacar, makanya menatap pesta ini dengan tatapan seperti itu. Tidak seperti Zavan, yang akan memandang pesta seperti acara agama yang harus dia hadiri. Kalau aku, entahlah, aku bukan orang yang pintar memberikan suatu ekspresi. Ketika aku tertawa, aku akan memasang wajah datar. Ketika aku menangis, aku tetap memasang wajah datar. Ketika aku marah, aku masih saja teguh dengan wajah datar. Tetapi di dalam hati aku melakukan semua ekspresi itu dengan sangat baik.

“Gue Budweiser,” sahutku, kemudian kembali menurunkan kepalaku ke arah iPad. Aku memang selalu sibuk dengan iPadku, entah itu untuk bermain game online ataupun mengecek semua kurva perusahaan si bajingan yang ada di mana-mana. Aku tidak mungkin menyerahkan semua urusan perusahaan ke Mamaku, tentu saja dia membutuhkan asisten untuk mengurusi semua perusahaan si bajingan yang ada di mana-mana ini. Yang ternyata satu perusahaan saja bisa sangat merepotkan.

Zavan berdiri, aku bisa merasakan dia sedang berdiri di hadapanku. “Satu Jus Jeruk, satu Cocktail, satu Gin, satu Budweiser dan malem ini gue lagi mau minum Jack Daniel’s. Kalian nggak mau ganti lagi kan minuman kalian, atau mau nambah sesuatu?” Aku mendongakkan kepala dan melihat semua flocksku menggeleng. “Sip deh kalo gitu. Revie sama Tivo ikut gue yuk! Temenin.” Aku dan Revie berdiri dengan segera. Kutaruh iPadku di samping And.

Musik yang dimainkan oleh DJ-nya malam ini sungguh-sungguh enak didengar. Kalau dari jenisnya, aku bisa merasakan kalau ini adalah gabungan Retro dan Electronic. Oh, ada sedikit bagian Folk dan Rock-nya juga. Jadi semua lagu yang di-mix oleh DJ nya memang sangat cocok untuk dimainkan untuk pesta gay malam ini. Hobiku selain main catur adalah musik. Aku ikut Acapella di DIS. Bernyanyi membuatku lepas, menjadikanku orang yang bebas. Walaupun setelah aku bernyanyi aku akan kembali menjadi orang yang pendiam.

“Rev, lo pesenin minuman kita tadi ya. Lo masih ingetkan apa aja?” bisik Zavan ke telinga Revie, meskipun itu bisikkan aku masih bisa mendengarnya. Revie yang berdiri di sebelahku mengangguk pasti, dia berbalik lalu memanggil bartender yang sedang mengocok-ngocok minuman. Ini memang party gubahan seseorang, tapi tetap saja minumannya harus bayar. Kalau party ini un-private barulah minumannya gratis.

Ketika cowok bartender yang mempunyai tato bergambar naga di lengan kanannya menghampiri kami, Revie langsung menyebutkan semua minuman yang ingin kami pesan. “Satu Jus Jeruk, satu Cocktail, satu Gin, satu Budweiser, dan satu botol Jack Daniel’s.”

“Jangan lupa senyum ke cowok bartender itu Rev!” bisik Zavan lagi. Yang kali ini langsung Revie lakukan dengan segera. Dia tersenyum lebar, membuat wajahnya berubah memikat, membuat cowok bartender yang tadi menatapnya takjub berubah terhenyak. Cowok bartender itu balas tersenyum lalu mulai mengisi semua gelas yang ada di atas tatakkan. Setelah selesai, cowok bartender itu menyerahkannya kepada Revie.

“Berapa semuanya?” tanya Revie, sambil mengeluarkan dompetnya. Semenjak dia kaya mendadak waktu itu, dia sangat jarang meminta kami untuk mentraktirnya lagi. Bahkan dia sudah punya supir pribadi. Ya, siapa lagi kalau bukan pacarnya itu. Bagas.

“Gratis,” sahut cowok bartender itu dengan senyuman lebar. “Dan ini khusus buat kamu,” kata cowok bartender itu sembari menaruh satu gelas Sampanye di samping Jus Jeruk.

Revie memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku celana. “Makasih ya,” ucap Revie, kali ini senyumannya makin mengembang lebar, membuat cowok bartender itu memasang wajah seakan sedang lupa diri. Tetapi akhirnya cowok bartender itu mengangguk sekali. Zavan meraih tatakkan dan mengajak kami untuk kembali ke sofa. Senyuman Zavan juga tak hilang-hilang dari bibirnya.

“Lihat, itulah gunanya jadi orang ganteng!” ujar Zavan sambil menyenggol lengan Revie dan lenganku. “Hanya dengan senyuman, semua orang itupun menuruti apa yang lo mau. Makasih buat Anna dan Matt yang ngebuat muka gue jadi ganteng kayak gini.” Zavan terkekeh pelan, dia menatap kerumunan orang yang berada di lantai dansa. “Party nya nggak heboh ya. Ntar deh gue buat heboh, gue mau minum dulu. Setelah itu, this party will be mine.” Zavan menaruh semua minuman itu di atas meja yang berada di hadapan sofa kami.

“Ehm, ngomong-ngomong, di sekolah yang flocks nya nggak punya nama cuman kita aja lho,” kata Sid setelah kami bertiga duduk di sofa. Matanya yang tajam menatap ke arah kami secara bergantian. Dia mengulurkan tangannya lalu mulai menyesap Cocktailnya. “Kalo flocks yang lain kan ada namanya tuh. Kayak Homphobia, d’Barbadas. Heinzen dan lain-lain. Jadi yang nggak punya nama cuman flocks kita aja, meskipun hal itu nggak penting-penting amat. Tapi, kalo misalnya kita buat nama untuk flocks kita ini, cocoknya apa?”

Mereka semua langsung membuat ekspresi berpikir keras, sedangkan aku hanya menatap mereka semua dengan tatapan tidak berminat sama sekali. “Gimana kalau Fivesome? Ew, jangan deh, kedengarannya kayak kita berlima mau seks bareng.” Zavan menganjurkan dan menjawab sendiri anjurannya. “Gimana kalo Bloody Lock? Kepala kontol ew! Jangan deh, kedengerannya kita berlima malah kayak pembunuh sadis.” Zavan mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, sedang sibuk mencari nama untuk flocks kami ini.

“Gimana kalo Goggle V?” usul Revie setelah hening selama setengah menit.

“Lubang pepek ew! Revie, dude, Goggle V itukan Power Rangers yang dari Jepang itu. Ngapain kita berlima jadi Power Rangers, emang siapa yang mau diberantas?” Sid dan And tertawa pelan, membuat wajah Revie menekuk cemberut. “Gimana kalo Idiotisme? Lubang pepek double ew! Kedengerannya kok kita berlima ini malah kayak orang bego ya kalo pakek nama itu, jadi nggak usah.” Kemudian kembali hening, mereka masih sibuk mencari nama yang cocok di kepala mereka. “Nah!” seru Zavan kencang. “Gue nemu. Gimana kalo Government Hookers. Atau kalo di Bahasa Indonesia-in jadi: Pemerintahan Para Pelacur.”

Great idea!” sahut Sid. “Dan lo sebagai Presiden Pelacurnya.”

Zavan terlonjak senang di kursinya. “Kalo begitu kita buat pelantikkan aja gimana,” kata Zavan, matanya menelusuri kami satu-satu. “Sebagai Presiden Pelacur di Pemerintahan ini, gue telah memutuskan untuk menobatkan Sid menjadi Lonte si berwajah seram.” Mereka tertawa keras, membuat beberapa orang menoleh ke arah kami, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. “Dan And dinobatkan menjadi Pecun si berbadan kekar.” Kini tawa mereka makin keras. Membuatku sungguh ingin menyumpal tawa mereka dengan tutup botol. “Sedangkan Revie dinobatkan menjadi Sundal si berpenampilan Ibu Peri.” Mata Zavan yang biru kini beralih menatapku. “Kalau Tivo gue menobatkan dia sebagai Jalang si bersifat autis.” Zavan menatap kami dengan senyuman lebarnya. “Dan gue sebagai Presiden Pelacur kalian, menobatkan diri sebagai Germo si cowok berwajah super unyu.”

And dan Sid langsung membuat gaya orang yang sedang ingin muntah. Membuat Revie terpingkal-pingkal dalam tawa. “Lo unyu kalo dilihat dari lubang pantat!” seru Sid sarkas.

Zavan mendengus kesal ke arah Sid, tangannya terulur ke arah botol Jack Daniel’s nya. Setelah dia menyesapnya, dia menatap on the floor yang terlihat sangat monoton. “Party nya lame banget ya,” ujarnya sambil berdiri. Dia menyulut rokok untuk yang kedua kalinya. “Tiv, ntar foto gue pakek kamera Polaroid gue ya, ambil dari sudut yang paling bagus. Gue mau memeriahkan party ini dulu.” Zavan mengambil Jack Daniel’s nya kemudian berlalu dari dari hadapan kami. Langkahnya panjang saat menuju ke arah Lounge Bar.

Aku mengernyitkan wajahku, bingung kenapa dia menyuruhku untuk memfotonya, namun tetap saja aku mengambil kamera Polaroid-nya yang berada di atas meja. Kunyalakan kamera itu lalu mulai membidikannya ke arah Zavan, yang masih berdiri sambil menyesap sekali lagi Jack Daniel’s nya. Dia menghembuskan nafasnya, kemudian memanjat ke atas meja yang ada di Lounge Bar. Aku bisa merasakan flocksku yang lain juga ikut memperhatikan Zavan dengan tatapan bingung. Tetapi setelah itu kebingungan kami terjawab.

“HEI!” teriak Zavan kencang, bahkan mengalahkan musik yang sedang dimainkan. Membuat semua kepala menoleh ke arahnya dengan segera. Seperti adegan di film, semua orang itu membeku dan menatap Zavan dengan pandangan bertanya. “HISEP KONTOL GUE, BITCH!” serunya dengan nada kencang, dia mengangkat tangannya ke udara, membuat botol Jack Daniel’s yang berada di tangan kirinya dan rokok yang ada di tangan kanannya tertimpa cahaya lampu disko.

“YEAH!” seru semua orang dengan tawa yang membahana. Suara musik pun kembali menghentak, membuat Zavan menari-nari di atas meja Lounge Bar itu dengan heboh. Sid dan yang lain tertawa kencang melihat aksi gila Zavan barusan. Bahkan saat dua orang berbadan bidang ikut bergabung dengan Zavan di atas meja itu, lalu menari bersamanya. Yang satu berada di belakang tubuhnya, sambil memegang bokong Zavan dengan tangannya yang besar. Sedangkan yang satu lagi mencium bibir Zavan dengan rakus. Aku mengangkat kamera, lalu memfotonya. Tidak mengerti juga, buat apa sebenarnya foto ini.

Aku menarik keluar slide kertas yang keluar dari bawah kamera Polaroid. Aku menggoyang-goyangkan slide kertas itu, hingga munculah gambar Zavan yang sangat absurd. Aku menaruh foto itu di atas meja, kemudian kembali membidikannya ke arah Zavan, namun ternyata bule gila satu itu sedang berjalan cepat ke arah kami. Di dahinya mengalir beberapa butir keringat, isi Jack Daniel’s nya juga tinggal setengah. Dia menghempaskan tubuhnya saat sudah berada di hadapanku. Tangannya terulur ke arah slide kertas yang menampilkan fotonya yang sangat absurd tadi.

Gaddamn! Gue beneran kayak pelacur di foto ini,” katanya sambil memperlihatkannya ke arah Sid dan yang lain. “Tapi sayangnya pelacur yang satu ini nggak dijual.” Dia terkekeh sembari mengelap keringatnya. “Nah, lihatkan, partynya akhirnya nggak lame lagi. Party ini memang harus dikasih sedikit bumbu baru bisa asyik kayak sekarang.” Zavan menyandarkan tubuhnya, foto yang dipegangnya tadi ditaruhnya di atas meja. “Dua cowok yang sama gue tadi itu namanya Jun dan Jo. Gue lebih suka sama ciumannya Jo, lebih hawt. Tapi sayang, gue nggak suka nama mereka. Yang ternyata adalah Junaidi dan Joko. Demi semua lubang pantat dan lubang pepek yang ada di dunia ini, itu EW banget!”

Aku menyeringai, benar-benar ingin tertawa tetapi tidak tahu bagaimana caranya. “Bagus kali tuh nama, Jun dan Jo a.k.a Junaidi dan Joko.” Sid berkata dengan kekehan mengejek.

“Bagus dari mananya, masa ntar gue teriak, oh, fuck me Junaidi and Joko. Tusuk kontol imut kalian ke lubang pantat gue! Oh, Junaidi dan Joko!” Zavan memasang wajah horor. “Yang ada gue langsung terjangkit Flu Babi setelah itu karena nama mereka yang—uhuk—jelata.”

“Lebay!” seru Sid cepat, cowok itu melempar Zavan dengan gelasnya yang telah kosong. “Emang ada orang kena Flu Babi hanya karena nama mereka yang—hoamm—jelata? I mean, Flu Babi itu disebarkan oleh orang-orang berwajah jelek dan belagu, makanya gue alergi sama mereka. Cowok ganteng, deket-deket gue, cowok jelek, hisep kontol lo sendiri!” Zavan dan Sid tertawa bersama. “Eits, tapi maaf, gue udah punya Adam. Jadi, sorry to say, gue nggak bisa lagi sama kalian wahai para cowok ganteng.”

Pity who you are!” kata Zavan sambil memasang wajah sedih. “Untung gue belum punya cowok yang satu untuk selamanya di hati gue. Jadi gue masih bisa berpetualang di dunia ini. Lagi pula gue kayaknya nggak akan pernah bisa nemu yang forever and always di hati gue deh. Soalnya, menu makanan gue tiap hari itu kan cowok. Sarapan pagi, gue makan bibir mereka. Makan siang, gue makan puting mereka. Makan malem, gue makan kontol mereka. Dan untuk minumannya, gue minum sperma mereka. Ugh, that’s feel fucking good eva!”

Gross you goon!” seru Sid, dia memasang wajah mengernyit super mengerikan untuk bule gila satu itu. “Lo kayak kanibal aja. Makan setiap jengkal tubuhnya cowok.” Zavan hanya tertawa mendengar ucapan sarkas dari Sid. Bule itu malah makin menggila, dia mengaum lalu meremas selangkangan Sid. “Stop it, you stupid bitch! Ini punya Adam.” Zavan, Revie dan And tertawa kencang. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. “Kok bisa-bisanya ya kita punya temen gila kayak lo Zav? Eh, bukan gila. Tapi penuh dengan nafsu birahi yang sangat-sangat—dicamkan di otak udang lo itu—sangat menakutkan.”

Zavan tersenyum lebar. “Makasih, lo baik banget sih sampe muji-muji gue kayak gitu. Gue aja baru tau kalo ternyata gue punya otak udang. Gue kira gue nggak punya otak sama sekali. Sini cipok dulu kepala kontolnya!” Zavan memajukan bibirnya ke arah selangkangan Sid, yang langsung Sid dorong menjauh dengan kekuatan penuh. Zavan hanya tertawa sambil menyesap habis Jack Daniel’s nya. “Eh, kalian tau nggak kalo—wait-wait, itu bukannya Dylan ya?” Zavan menyipitkan matanya, membuatku dan yang lain mengikuti arah matanya. “Yang duduk di deket meja bulet kayak teteknya Jupe itu.”

Yes, that’s him!” seruku, wajah Dylan sangat terlihat jelas. Itu pasti memang Dylan, salah satu sahabat si maniak bajingan: Peter. Yang juga ada di flocks Homophobia yang selalu bisa membuatku tertawa dalam hati, karena isinya ternyata adalah gay-gay yang mengaku straight. Tidak semuanya gay memang, tetapi aku tahu beberapa dari mereka yang gay. Peter, Dylan, Leone, dan entahlah. Aku tidak terlalu hafal menyebut jenis-jenis nama anjing.

I know that, he is gay. Dari caranya ngedip dan ngupil aja gue tau kalo dia gay.” Zavan menarik kamera Polaroidnya, lalu mengarahkannya ke arah Dylan yang lagi sibuk bicara bersama dua orang cowok dengan gelagat mesra. “Gotcha you idiot homophobic!” Zavan menjepretnya, slide kertas keluar dari bawa kamera Polaroid tersebut. Zavan menggoyang-goyangkannya sebentar sebelum akhirnya wajah Dylan terlihat di slide kertas itu. “Gue baru tau kalo ternyata dia gay muna-fuck.”

“Aku nggak kaget-kaget amat sih,” tutur Revie tiba-tiba. “Pas kita di grade 11, dia pernah nembak aku di belakang sekolah.” Revie meraih Jus Jeruknya, diminumnya jus itu hingga tandas sampai ke dasar gelas.

Zavan mendecakkan lidahnya kurang ajar. “Puh-lease deh, Rev. Emang siapa sih cowok di sekolah yang nggak pernah nembak lo? Hanya dengan kekuatan Ibu Peri lo itu, lo bisa ngebuat cowok straight menjadi gay secara tiba-tiba tanpa harus melakukan sesuatu yang wicked dulu. Walopun setelah lo tolak, mereka bakalan jadi straight abal-abal lagi.” Zavan memasukkan foto Dylan ke saku celananya. “Kenapa gue nggak bisa punya muka kayak lo?”

“Aku malah pengen punya muka yang biasa-biasa aja,” sergah Revie, dia mengedikkan bahunya sedikit. “Punya muka kayak gini, bener-bener bisa ngebuat masalah besar. Sumpah deh, kamu nggak tau aja hal-hal mengerikan yang pernah terjadi sama aku gara-gara muka ini. Tapi ngeluh juga nggak bakalan ngerubah mukaku kan. Jadi, yah, tetap harus bersyukur.” Revie menaruh gelas bekas Jus Jeruknya ke atas meja. “Oh, iya, untuk ngejawab pertanyaan yang kamu lontarin tadi adalah: enggak. Ada beberapa orang cowok di sekolah yang nggak pernah nembak aku selain kalian. Contoh: Kepala sekolah kita, Vick, Kak Adam, Peter, Mukhlis, Akira, Dumai, Liam, Rafael, Kak Petra, Coach Wayan, Bapa Athilius, Ustadz Akbar dan Ozayn. Mereka semua nggak pernah nembak aku kok.”

“Tentulah mereka nggak nembak lo. Maksud gue, kepala sekolah kita itu aja parfumnya udah bau tanah gitu. Vick cintanya sama And. Adam punyanya Sid. Peter karena dia Homophobia sejati.” Aku mendengus kasar, untung saja tidak ada yang memperhatikanku. “Sedangkan yang lo sebutin itu semuanya pada taat sama Agama. Sedangkan Ozayn, demi Tuhan, cowok cupu kayak dia mana berani nembak lo. Lagi pula, bukannya lo temenan deket ya sama dia?”

Revie menganggukkan kepalanya. “Ngomong-ngomong, kamu bakalan terkejut beberapa bulan ke depan dengan apa yang bisa aku kasih ke Ozayn nanti. Dulu aku pernah janji sesuatu sama dia kalo aku udah punya duit lumayan banyak, dan aku yakin banget kamu bakalan nelen ucapan cupumu lagi ke dalam mulut.” Aku mengerutkan keningku, yang lain juga memasang ekspresi yang sama.

“Emang apaan?” tanya Zavan, berpura-pura tidak tertarik, padahal matanya menunjukkan kalau dia sangat penasaran. Revie hanya memasang senyuman misterius, dia mengedikkan bahunya lagi kemudian menatap pesta yang sekarang mulai heboh. “Lo sok-sok tertutup gitu ya, mau kayak Tivo. Nggak cocok kali Rev.” Tapi Revie tetap bertahan. “But, gue juga nggak peduli dengan apa yang akan terjadi sama si cupu aneh itu.” Zavan mengulurkan tangannya ke arah Sampanye gratisan yang di kasih cowok bartender tadi untuk Revie. “Gue minta ya?” kata Zavan, bule itu mengangkat gelas itu ke dekatnya saat Revie mengangguk. “Wait up!” serunya lagi, membuat kami menoleh. Zavan menyipitkan matanya ke arah tulisan yang ada di pinggir gelas. “Call me maybe. Adji. 08976500164.” Zavan tertawa kencang, dia menyerahkan gelas itu ke Revie. “Nih, lo disuruh cowok bartender itu nelpon dia.”

Revie menggeleng tegas. “Maaf, Bagas udah terlalu penuh di dalem hati aku. Jadi, buat kamu aja Zav.” Revie menyodorkan gelas itu kembali ke arah Zavan.

“Nggak ah, cowok itu bukan tipe gue.” Kami langsung menatap Zavan dengan tatapan tidak percaya. Zavan mengernyitkan wajahnya ke arah kami. “Hei, nafsuan gini gue punya tipe juga kali. Gue nggak suka sama cowok gondrong kayak cowok bartender itu, mau seganteng apapun mukanya. Gue ngeri sama yang rambutnya gondrong. Padahal dulu gue suka lho, gue bahkan sering nonton film serial Meteor Garden pas masih tinggal di London dulu. Para pemainnya kan rambutnya pada kayak cewek setengah jadi gitu. Tapi sekarang kalo gue nonton mereka lagi, kontol gue langsung menyusut dua sentimeter karena ngeri.”

Mereka tertawa serempak, membuat beberapa orang menoleh lagi ke arah kami dengan pandangan bertanya. Tiba-tiba musik yang semula beraliran mellow, berubah menjadi beraliran dance. “Aku suka lagu ini,” kata Revie, tangannya mengikuti instrumental awal musik dengan gerakan pelan. “Feel So Close-nya Calvin Harris.”

Zavan menarik tangan Revie dan yang lain, termasuk tanganku. “Then we have to go to the dance floor, rite?” Kami ber-empat hanya bisa pasrah mengikuti tarikan Zavan yang lumayan memaksa. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia bisa memegang tangan kami secara bersamaan seperti ini. Aku melirik iPadku yang berada di atas sofa. Untung saja iPad itu isinya hanya beberapa game yang biasa-biasa saja. Jadi kalau hilang tidak akan masalah.

“Minggir kalian para orang aneh!” seru Zavan dengan suara keras, membuat kerumunan orang yang menghalangi jalan kami langsung terbuka lebar. Kami sampai di dance floor hanya dalam waktu setengah menit. Tanpa harus berdesak-desakkan terlebih dahulu. “C’mon, guys! Tonite, we are young, jadi nikmati pestanya!” Zavan menggerak-gerakkan badannya dengan heboh. Membuat beberapa orang menatapnya dengan pandangan kagum. Sid, aku dan And mulai menggerakkan badan ketika musik yang sedang bergema di sekitar kami mulai makin menggila. Aku memejamkan mataku dalam-dalam, menikmati musik dance yang ditemani dengan sedikit retro masuk ke dalam kepalaku. “Ayo, Rev, nari! Kenapa lo malah diem aja?” seru Zavan kencang.

Aku membuka mataku dan melihat Revie hanya berdiri di sampingku, tanpa menggerak-gerakkan badannya sama sekali. Dia menatap Zavan dengan pandangan grogi. “Aku nggak bisa nari kalo di party yang rame banget kayak gini,” katanya keras namun agak malu-malu. Membuat Zavan menaikkan alisnya tinggi-tinggi. “Aku balik aja ke sofa ya, nunggu kalian di sana. Aku lama-lama jengah, malu karena cuman aku sendiri yang kayak kecebong hanyut.”

“Semua orang bisa nari!” kata Zavan, dia memegang pundak Revie dengan tegas. “Ayo gerakkin badan lo! Nikmati musiknya, biarin setiap nada yang lagi lo dengerin ini masuk ke pembuluh darah lo dan ngebuat lo rileks. Terus goyangin badan lo!” Zavan memperintahkan Revie dengan sungguh-sungguh. Tak berapa lama kemudian Revie mulai menggerakkan badannya. “Ya ampun Rev! Gue nyuruh lo nari, bukan senam poco-poco!” Revie langsung menghentikan gerakkan badannya. “Nari kayak Jagger, oke!” Sekali lagi, Revie mengangguk kemudian mulai bergoyang. “Stop it, Rev! Gue suruh lo nari kayak Jagger, bukan nari Aserehe!” Zavan menatap wajah Revie dengan pandangan putus asa. “Lo mau lihat nggak nari kayak Jagger itu gimana? Nih ya, gue tunjukkin sama lo. Watch and learn!”

Zavan membuka kemejanya, menyisakan singlet putihnya yang sangat menantang. Dia merilekskan punggungnya yang mulai berotot itu. Langkahnya panjang saat berjalan cepat menuju ke kerumunan orang. Awalnya Zavan hanya menari pelan di depan seorang cowok—euh, aku tidak benar-benar bisa melihat wajahnya. Tak berapa lama kemudian, Zavan membalikkan badannya dan mulai menggoyangkan bokongnya di selangkangan orang tersebut. Zavan dan orang itu bergerak lincah seraya mengikuti beat yang muncul di lagu Feel So Close-nya Calvin Harris. Sampai akhirnya—sekitar dua menit lebih sedikit, dan lagu Feel So Close telah selesai—Zavan berjalan kembali ke arah kami.

“Itu yang namanya nari kayak Jagger!” seru Zavan ke arah Revie. Dia memasang senyuman terbaiknya ke arah kami. “Oh, by the way, tuh cowok yang jadi temen dance gue tadi mukanya hawt banget tau nggak. Tapi sayang, pas gue lagi asyik-asyiknya nempelin pantat gue di kontolnya yang mengeras, tiba-tiba tuh kontol berubah lesu. Pas gue masukkin tangan gue ke dalem celananya, ternyata dia udah muncrat. Nih, lihat spermanya!” Zavan mengangkat tangan kirinya ke arah kami, dan cairan putih nan aneh itu menempel di jari-jari Zavan. “Tuh cowok cepet banget ejukulasinya. Ngebuat muka hawt nya jadi nawt!”

“Ew! Disgusting!” Sid mengibaskan tangannya, menyuruh Zavan menjauhkan tangannya yang terkena sperma itu menjauh.

Bule itu hanya tertawa, sambil mengangkat tangan kirinya ke arah lain. “Hei!” sapa Zavan sok akrab ke orang yang ada di depannya. Sperma yang tadi ada di tangan kirinya kini telah menempel di kemeja cowok yang disapanya barusan. Dasar bule kurang ajar! Asal ngelap.

Cowok yang disapa oleh Zavan berbalik, dari balik keremangan lampu disko, aku bisa melihat kalau wajahnya dipenuhi oleh kerikil-kerikil neraka. Atau yang biasa disebut oleh kebanyakkan orang adalah jerawat. Cowok itu baru saja ingin membuka mulutnya, ingin bicara dengan Zavan, namun langsung Zavan bungkam mulut cowok itu dengan menaruh tangannya di depan muka cowok itu. Sekali lagi cowok itu ingin membuka mulutnya, namun Zavan kembali mengangkat tangannya, menyiratkan untuk cowok itu jangan bicara. Akhirnya, setelah tahu hasilnya akan tidak berguna, cowok itu mengeloyor pergi.

“Gue bukan mau milih-milih cowok sebenernya,” kata Zavan sambil berbalik ke arah kami. “Tapi, Gawd, mau seganteng apapun dia kalo mukanya ada bintik-bintik mengganggu kayak gitu… sorry to say, Phral! Gue nggak bisa sama lo. Maksud gue, masa sih nggak bisa pergi ke Singapur, terus laser muka lo biar mulus. Lagi pula sekali laser harganya murah, cuman delapan juta doang. Kayak uang jajan gue tiga hari.” Zavan meracau tidak penting, matanya melirik ke arah kami kemudian ke arah sofa. Tiba-tiba Zavan beranjak pergi dan kembali lagi bahkan sebelum aku dan yang lain sempat bicara. “Kita foto berlima yuk!” ajaknya, sambil mengangkat kamera Polaroidnya tinggi-tinggi. Kami merapatkan badan ke dekatnya sembari memasang ekspresi. Meskipun aku yakin ekspresiku akan tidak ada sama sekali. “Katakan, Anjing!” usulnya kencang.

“Anjing!” seru kami serempak dibarengi dengan blizt dari kamera Polaroid tersebut. Zavan menarik slide kertas yang muncul lalu mulai menggoyang-goyangkannya. Saat gambar wajah kami muncul, aku langsung mendesah panjang, karena wajahku sangat-sangat datar. Bahkan bibirku menekuk seperti orang yang lagi kecanduan ganja. Aku memang benar-benar harus belajar lebih giat lagi agar bisa menunjukkan ekspresi yang bagus.

We look good!” kata Zavan, dia memasukkan foto itu ke dalam saku celananya. “Sekali lagi yuk! Tapi kali ini kita harus ciuman berlima.” Aku belum saja sempat bertanya, tetapi Zavan sudah menarik kepalaku mendekat ke arahnya. Bibirku menempel di bibirnya yang sangat bau alkohol, bibir Revie juga menempel di sebelah bibirku. Kemudian bibir kami berlima menyatu seperti tali. Lampu blizt berpendar terang, aku memundurkan badanku dan melap bekas bibir Zavan di bibirku. “Wow!” seru Zavan sambil memandangi foto itu lekat-lekat.

And tertawa di samping Revie. “Gue selalu penasaran gimana rasanya bibir Revie, ternyata rasanya biasa aja. Masih enakkan bibirnya Vick.” And menoleh jahil ke arah Revie. Yang langsung Revie balas dengan pukulan pelan di perut.

“Karena kamu nyiumnya dari samping, coba kalo nyiumnya dari depan. Pasti kamu bakalan ketagihan kayak Bagas.” Mereka berempat tertawa nyaring. Aku hanya mendecakkan lidahku, menatap jam tangan yang berada di tangan kiriku. Sudah jam setengah empat subuh, dan besok pagi aku harus ke kantor untuk mengurus berkas-berkas saham kepunyaan clientku. Aku berjalan cepat menuju ke arah sofa kami, mendorong setiap orang yang menghalangi jalanku. Setelah aku duduk di sana, ternyata Revie, And, dan Sid mengikutiku dari belakang. Mereka menyandarkan tubuh dan menatap pesta dengan malas.

Ketika jam sudah menunjukkan jam empat subuh, dan aku sudah menghabiskan dua Bir Heineken, akhirnya Zavan mendatangi kami. Tetapi—yang tentu saja akan terjadi—dia tidak datang sendirian. Dia datang dengan seorang cowok berpundak lebar dan berwajah tirus yang kalau boleh kukomentari lumayan tampan. “Hei, guys! Kalo kalian mau pulang, pulang aja duluan. Gue bakalan pulang sama…” Zavan melirik cowok itu. “Euh, entahlah gue nggak tau namanya. So, see you at Sunday dusk.” Zavan melambaikan tangannya, tetapi Sid menahan bule gila satu itu. Dari pandangan Sid, Zavan tahu apa yang dipikirkan teman kami yang sombong satu itu. “Tenang aja, gue yakin dia orang baik, bukan kayak si Rian Jember.”

“Jombang,” koreksiku cepat.

Zavan mendesah biadab. “Oke, makasih Tivo atas pembenarannya. Gue yakin kok cowok ini nggak kayak si Rian Jombang. Jadi… just relax, guys! Ntar gue kabarin deh kalo ular Phytonnya dia udah masuk lubang.” Kami berempat langsung melemparnya dengan gelas kosong. Zavan hanya tertawa sambil melambaikan tangannya lagi. “Ciwikeke, para pelacur!”

Dengan gerakkan gesit, Zavan langsung naik ke punggung cowok-yang-namanya-masih-tidak-diketahui-itu. Cowok itu tertawa, kemudian memegang kedua paha Zavan agar gendongannya tidak mengendur. Langkah cowok itu panjang saat berjalan ke arah tangga. Aku menggelengkan kepalaku, masih bingung dengan diriku sendiri. Kok bisa-bisanya dulu aku mengiyakan ajakkannya untuk berteman dengannya waktu itu?

***

Kukenakkan kembali pakaianku, hingga menutupi seluruh badanku yang tadi terekspos jelas. Cewek yang sedang berbaring di atas kasur, dan meringkuk di dalam selimut menatapku dengan pandangan puas tetapi masih ingin aku berada di sampingnya. Setelah aku mengenakkan kemejaku, aku meraih tas selampangku, yang berisi iPad dan dompet. Aku menolehkan kepalaku lagi ke arah cewek—atau kalau bisa dibilang dia bukan cewek, tetapi wanita. Yang sudah sangat dewasa.

“Habis ini mau kemana lagi, Sayang?” tanya wanita itu manja. Dia tersenyum kecil, rambut panjangnya yang awut-awutan jatuh di depan dadanya yang telanjang. Nama wanita itu adalah Serly, dia adalah tetanggaku. Dia adalah wanita yang cantik, dengan senyuman yang sangat menggoda. Bibirnya merah, bahkan tanpa menggunakan lipstick sekalipun. Dan umurnya sekitar tiga puluh tiga tahun. Ya, dia lebih pantas disebut tanteku ketimbang wanitaku. Inilah yang kusebut Rendezvous.

Aku berdeham pelan, agar tidak mengeluarkan suara lirih saat bicara. Biasanya, setelah aku agak kelelahan, suaraku pasti berubah lirih dan serak. “Mau ke kantor,” ucapku singkat, kuraih sepatuku yang berada di depan pintu kamar mandi. Mengenakkannya secara gesit, aku memang ada meeting beberapa jam lagi di kantor. Belum lagi, aku masih banyak urusan lainnya. Aku sebenarnya tidak suka menjadi orang sibuk seperti ini, namun karena Mamaku memang membutuhkan bantuan, aku bisa apa?

“Hati-hati ya di jalan,” ucapnya genit. Serly jalan mendekat ke arahku saat aku baru saja selesai mengenakkan sepatu. Perlahan dia menarik kepalaku dan mencium bibirku pelan. Aku masih bisa merasakan hawa nafasku di dalam mulutnya yang masih tersisa saat aku menciumnya menggebu-gebu beberapa puluh menit yang lalu. “Kapan lagi kita bisa ketemu?” tanyanya setelah dia melepaskan ciuman.

“Terserah, kamu atur aja waktunya. Kalo aku bisa, aku bakalan konfirmasi.” Aku merapatkan tasku di punggung. Kulangkahkan kakiku ke arah pintu keluar, namun sebelum itu aku berbalik ke arahnya. “Oh, iya, salam buat Mas Ferdi sama anakmu ya.” Ketika Serly mengangguk dengan gerakan nakal, aku langsung cepat-cepat mendorong pintu hingga terbuka. Tidak ingin lama-lama berada di dalam kamar hotel ini. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, dan aku ada meeting jam setengah dua.

Aku memang masih berumur delapan belas tahun, tetapi pekerjaanku sudah seperti orang dewasa lainnya. Mungkin sebab itulah aku lebih suka bersama orang dewasa ketimbang dengan anak-anak remaja seumuranku. Karena jika dengan para remaja sepertiku, mereka cenderung membosankan dan sangat memuakkan. Yang dewasa biasanya lebih lezat.

***

Di antara flocksku hanya Revie yang tahu tentang masa laluku. Aku pernah menceritakannya, entah kenapa waktu itu aku ingin sekali membeberkan hal itu ke satu orang yang ada di flocksku, dan pilihanku jatuh pada Revie. Karena aku tahu Revie adalah orang yang bisa dipercaya. Revie juga tahu kalau aku lebih suka menjalin hubungan dengan orang dewasa. Dan bagusnya lagi, Revie tidak menghakimiku sama sekali. Dia hanya menasehatiku tentang menjadi diri sendiri, tentang mencoba hidup di masa sekarang, dan melupakan masa lalu.

Revie selalu bilang padaku, lupakan hal yang telah menyakitimu, dan hiduplah dengan mencintai orang yang mencintaimu. Aku tahu, aku seharusnya melakukan hal itu. Melupakan si bajingan itu, memaafkan Peter, dan menjadi diri sendiri, bukan malah hidup di bawah tekanan seperti ini. Semula aku bukan orang yang pendiam, semula aku suka bicara, menghabiskan waktu berjam-jam dengan Peter dan Vick sambil membicarakan masa depan dan cita-cita. Tetapi karena si bajingan itu, hidupku berubah. Dan aku berharap, si bajingan atau yang seharusnya kusebut Papaku dibakar di Neraka dan membusuk di kuburannya. Dimakan belatung dan dikencingi oleh para Iblis.

“Kamu kenapa?” tanya seseorang yang duduk di sebelahku. Aku menolehkan kepalaku dan menatap wajahnya yang sedang menatapku dengan pandangan bertanya. Cahaya lampu yang ada di balkon membuat wajahnya agak berpendar. Aku menggeser dudukku lalu masuk ke dalam pangkuannya. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku, memelukku dengan penuh kasih sayang. Kutenggelamkan kepalaku di lehernya. Aku benar-benar butuh perhatian. Secuil apapun bentuknya, aku akan menghargainya.

“Aku nggak kenapa-kenapa, cuman lagi mikir aja, besok ada pelajaran apa aja di sekolah.” Aku bisa mencium wangi keringatnya, yang jatuh dengan perlahan di jambang rambutnya. Kueratkan tanganku di tangannya yang memeluk pinggangku. Malam ini, aku memang ada Rendezvous lagi dengan seseorang. Begitulah jika berhubungan dengan orang dewasa, aku bisa melakukan banyak Rendezvous tanpa ketahuan sama sekali. Karena yang sudah dewasa jarang ingin tahu urusan pasangannya.

“Hubungi aja temenmu, tanya sama mereka besok ada pelajaran apa aja.” Dia mendekatkan bibirnya di dekat telingaku, kemudian menggigitnya kecil, membuat sarafku menegang.

“Iya, nanti,” ucapku singkat, lalu menaruh bibirku di bibirnya. Kumisnya yang baru saja dia cukur membuat wajahku tergelitik. Dia menarik kepalaku makin medekat ke arahnya, dengan gerakkan cepat, dia mengangkat badanku kemudian mengajakku masuk ke dalam kamar hotel kami yang bercahaya redup. Perlahan, dia menjatuhkanku di kasur, kemudian mulai mencumbu bagian leher dan dadaku.

Aku memejamkan mataku dalam-dalam, ingin menikmati seluruh sentuhan yang dia berikan. Namun, entah bagaimana, yang selama ini kupikirkan selalu si maniak bajingan: Peter. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa begitu mecandu tentang sentuhannya, tentang bagaimana dia menempelkan bibirnya di bibirku, atau pada saat dia mendekap kepalaku di lehernya yang selalu wangi sabun. Aku ingin melupakan semua hal itu, tetapi aku malah tidak bisa. Dan aku makin benci padanya karena hal itu.

Lelaki yang ada di atasku mulai mendorong kakiku hingga naik ke atas badannya. Aku sebenarnya sangat benci dengan tindakan itu, tetapi aku mencoba menahannya, dan mencoba berpura-pura untuk menikmatinya. Ketika aku memejamkan mataku lagi, sekelabat masa lalu kelamku muncul. Semua datang silih berganti, dan aku mencoba untuk menepisnya.

Yang ternyata gagal, aku memang belum bisa melupakannya.

Entah kapan semua hal ini berakhir, tiba-tiba lelaki yang tadi menikmati tubuhku merebahkan tubuhnya di sampingku. Dengan tangannya yang besar, dan dengan badannya yang hampir kehilangan bentuk, dia memelukku lagi. Aku mencoba meresapi hubungan intens kami tadi. Namun yang ada di pikiranku adalah kenangan akan masa lalu kelamku. Kata-kata si bajingan, wajah Peter yang tersakiti saat aku mengakhiri hubungan kami, dan wajah Mamaku yang menangis ketika tahu apa yang telah si bajingan lakukan padaku.

“Mau minum?” tanya lelaki itu dengan suara parau. “Aku tadi beli beberapa bir di Indomaret. Kamu mau nggak?” Dia menaruh kepalaku di atas bantal, jalannya cepat saat dia menuju ke arah kantung belanjaan berlogo Indomaret yang ada di samping TV.

“Satu aja,” kataku, kurubah posisiku hingga setengah duduk.

Lelaki itu kembali dengan dua kaleng botol bir Coors Light. Dia menyerahkan salah satunya ke tanganku. Kubuka penutupnya kemudian menyesap buih dari soda yang ada di dalam bir itu dengan lidah mengecap. Aku menarik rokok yang berada di dalam tas selempangku, kemudian mulai menyalakannya. Lelaki itu juga melakukan hal yang sama, meskipun kamar kami ber-AC, aku tidak peduli. Lagi pula setelah ini kami akan pulang ke rumah masing-masing, tidak mungkin menginap di sini.

“Berkas saham yang atas nama Pak Hutabarat udah ada di atas mejaku kemarin. Kalo kamu mau ambil, tinggal hubungi Sekertarisku aja.” Aku menegak birku sekali lagi, sebelum akhirnya aku meremukkan kaleng itu dan membuangnya ke sembarang tempat.

“Oke, besok aku bakalan urus juga berkas-berkas kepunyaan Pak Akhlies.” Lelaki itu berdiri, langkahnya pelan saat menuju ke kamar mandi. Tak berapa lama kemudian, dia kembali dengan handuk yang melilit bagian pinggangnya. Lelaki itu mendekat ke arahku, tangannya yang besar meraih pakaiannya. Pakaian kerjanya. Dia mengenakkan celananya, merapikan sedikit kemejanya. “Aku mau pulang dulu. Kapan kita bisa ketemu kayak gini lagi?”

Aku menatap lelaki itu dengan pandangan datar. “Terserah.” Aku menjawab singkat, kuambil iPadku lalu melihat kurva perusahaanku yang ada di Dublin sana. Tidak ada perubahan, masih sama seperti dua hari yang lalu. Pasti Mama benar-benar meng-handle perusahaan yang ada di Dublin sana, karena kata beberapa pegawaiku, perusahaan kami yang ada di Dublin lagi sedikit bermasalah.

“Kalo gitu aku pergi dulu,” kata lelaki yang ada di hadapanku. Dia menundukkan kepalanya, mencium bibirku singkat. Rasa mint dari pasta gigi yang tadi dia gunakan masuk ke dalam mulutku secara laun.

“Oke,” jawabku singkat lagi. Lelaki itu mengangguk lalu mengambil tas kerjanya yang ada di samping kantung belanjaan berlogo Indomaret. Saat dia ingin keluar, aku berseru sesuatu untuknya. “Mas Ferdi, aku titip salam ya buat Mbak Serly dan anakmu.”

Mas Ferdi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul. Setelah aku mengunci iPadku, pintu pun tertutup. Aku menekan pelipisku dalam-dalam, dan mengutuk diriku sendiri. Di antara kami berlima, bukan Zavan yang paling mengerikan. Tetapi aku, akulah orang yang paling pantas untuk disebut sebagai manusia serakah. Dan semua Rendezvous ini, tidak diketahui oleh siapapun. Dengan kejinya aku mempermainkan pasangan suami-istri itu.

Aku tidur dengan istri lelaki tersebut, dan aku juga tidur dengan suami wanita tersebut.

 

–Ups, Bersambung to Chapter 2

Hahay, nggak nyangkakan Tivo bakalan kayak gitu. Hihihi, dari awal cerita Weather Series kebentuk, aku memang kepengen ngebuat si Tivo ini penjahat di dalam sebuah cerita. Di ketiga cerita sebelumnya, hanya Sid yang dominan songongnya. Kalo di cerita ke-empat ini, aku mau nunjukkin kalo sebuah cerita pemeran utama pun bisa menjadi antagonis. Meskipun ntar ada penjelsannya kenapa dia kayak gitu. Hihihi :D selamat membaca ya! Jangan lupa komen, nggak ada komen sampe 40, chapter 2 nggak dipost, karena chapter dua akan rampung beberapa lembar lagi.

Hasta la Vista, tetek Jupe! Love ya !!!

Rainy Day (12) – End

DIS_

Chapter-Lagu 12

♫ Calvin Harris – Feel So Close

Good luck ya buat wawancaranya hari ini,” sergahku sembari menarik ulur dasi yang sedang kusematkan di kerah kemeja putihnya. Aku menarik ekor pendek dasi itu sedikit ke belakang, lalu menarik ujung kepalanya hingga melilit menjadi satu dengan gumpalan di tengahnya. “Aku masih nggak ngerti deh, kan ini hanya wawancara, buat apa pakek kemeja serapi ini segala? Kamu dateng dengan baju biasa aja, aku yakin mereka udah terkesan kok.”

Aku menengadahkan kepalaku dan menatap wajah Bagas yang sedang tersenyum berseri-seri ke arahku. Senyumannya mengingatkanku dengan iklan Pepsodent yang pernah Zavan bintangi beberapa pekan yang lalu. Jika Bagas ingin menjadi model dan artis seperti Zavan, aku yakin dia pasti akan dikontrak oleh banyak entertain. Tidak, tidak, bukan berarti aku terlalu memuji Bagas, tetapi jika ditelaah lagi, aku yakin itu memang benar. Bagas tampan, dengan wajahnya yang dingin, dan ditambah senyuman berseri-seri itu. Dia adalah versi cowok millenium masa depan.

“Kenapa senyum-senyum terus daritadi?” tanyaku saat senyuman itu tak luput juga dari bibir ranumnya yang menggoda untuk dijilat seperti es krim.

Bagas menyapukan ujung telunjuknya di pangkal daguku. “Aku udah pernah bilang belum sama kamu, kalo aku cinta banget sama kamu?” tanyanya, membuat wajahku tersipu. Aku yakin rona merah memalukan kini tengah menjalar di seluruh wajahku.

Refleks, aku tersenyum lebar ke arahnya. Mencoba mengusir rona merah yang ada di pipiku. “Belum. Kamu belum pernah ada bilang.”

“Aku cinta banget sama kamu,” ucapnya sendu, membuatku tersenyum semakin lebar.

“Aku juga. Aku juga cinta banget sama kamu.” Dan itu memang benar. Aku benar-benar jatuh cinta—sangat jatuh cinta—padanya. Bagas tersenyum landai, membuat wajahnya yang agak kecokelatan menjadi sangat mententramkan. Bahkan hujan di luar sana terlihat begitu indah jika dia tersenyum seperti sekarang ini. Aku tidak tahu kalau cintaku untuknya malah akan semakin sebesar ini. Kata Zavan, setelah apa yang kita cintai telah kita dapat, lama-kelamaan kita pasti akan merasa bosan. Namun, lihat, aku tidak pernah merasa bosan sama sekali dengan Bagas. Setiap harinya, dia selalu tahu untuk membuatku tersenyum bahagia.

Setelah kuturunkan kerah bajunya hingga menutup lingkaran dasinya, Bagas mengambil tas yang ada di samping ranjang. “Aku pulang jam setengah satu. Kamu bawa aja kunci rumah ya, nanti aku pakek kunci cadangan aja untuk masuk ke rumah. Kamu jam berapa bakalan berangkat ke DIS? Dan jam berapa balik dari sana?” tanya Bagas beruntun. Dia menarik jas hitamnya hingga menutupi seluruh badannya yang bidang.

“Aku ke DIS jam setengah sembilan. Hari ini cuman ada pembagian rapor. Habis itu bakalan ngumpul sama flocksku. Yah, mungkin aku pulang jam tiga-an. Atau mungkin jam empat sore. Kan kamu tau, kalo aku ngumpul sama mereka kadang bakalan lama banget.” Aku mengekor Bagas dari belakang tubuhnya, hingga kami sampai di depan pintu rumah. “Nanti aku taruh Steak di dalem Oven, kalo kamu mau makan siang tinggal panasin aja ya.”

Bagas menoleh ke arahku, setelah dia menekan sesuatu di kunci mobilnya. “Oke. Good luck juga buat rapor nya nanti. Semoga jadi best student lagi tahun ini.”

“Aamiin,” sahutku, tersenyum setulus mungkin ke arahnya. “Kamu juga, semoga lancar banget pas wawancaranya nanti. Nggak gugup kayak latihan kita tadi malem.”

“Aamiin juga,” sergahnya cepat. “Ya udah deh kalo gitu, aku berangkat dulu ya.” Kemudian dia mengeloyor pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Kubukakan dia pintu gerbang, lalu melambaikan tangan saat dia mulai menjalankan mobilnya.

Aku baru saja ingin menutup pintu rumah saat tiba-tiba Bagas kembali muncul di hadapanku. “Kenapa? Ada yang lupa?” tanyaku, wajahku mengernyit bingung menatapnya.

“Iya,” ujarnya. “Lupa cium kamu.” Bagas menarik kepalaku hingga dia menunduk agar kepala kami bisa sejajar. Bibirnya yang agak dingin dan beraroma mint masuk ke dalam celah di mulutku. Sapuan bibirnya sederhana, membuatku seakan-akan lupa kalau sebenarnya dunia ini sedang berputar. Bagas menyelam ke dalam ciuman kami, mendekatkan lidahnya yang semanis madu ke ujung lidahku. Membuatku—

“Ntar kamu telat lho,” tuturku sembari melepaskan ciuman. Aku baru sadar kalau dia lagi diburu waktu. “Kamu nggak pengenkan ngasih kesan buruk ke orang-orang yang ada di UI atas keterlambatan kamu nanti?”

Bagas menjauhkan kepalanya dariku. Mulutnya menekuk muram. “Damn! Kenapa sih waktunya harus semepet sekarang? Coba kalo masih ada setengah jam lagi, aku mau main petak umpet sama kamu di atas ranjang.” Dia tersenyum menggoda, aku menoyor kepalanya agar dia sadar kalau waktu setengah jam itu tidak akan ada. “Iya, iya, aku berangkat.” Bagas mengecup bibirku sekali lagi, langkahnya panjang saat dia berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di depan gerbang. “Kita belum pisah aja, aku udah kangen banget sama kamu,” katanya, setelah dia masuk ke dalam mobilnya.

“Gombal,” gerutuku namun bahagia. “Sudah ah, pergi sana! Inget, kalo bawa mobil nggak usah ngebut-ngebut. Nanti kalo kamu kecelakaan, terus ninggalin aku gimana? Aku nggak suka lho, jadi bawa mobilnya santai-santai aja.”

“Siap, bos!” serunya dengan senyuman menawan. Aku melambaikan tanganku—lagi—saat mobilnya berlalu dari hadapanku. Aku baru masuk ke dalam rumah ketika mobil Bagas sudah tidak terlihat lagi dari pandanganku. Tinggal bersama Bagas selama tiga hari ini membuatku banyak belajar. Hal-hal yang dia suka lakukan, hal-hal yang tidak dia suka lakukan. Caranya bergerak kalau sedang gugup, ekspresinya kalau sedang berbohong. Kini, semua itu telah kuketahui. I feel so close to him right now. Yeah, feel so close.

***

Mataku menelusuri menu dengan tatapan penuh minat. Aku menunjuk semua ice cream yang namanya sangat memikatku. Hari ini, setelah pembagian rapor dan penyerahan goblet atas keberhasilanku menjadi best student tahun ini, aku dan flocksku memutuskan untuk hang out di Pondok Ice Cream. Sudah sangat lama aku ingin ke tempat ini, namun selalu gagal karena ada saja alasan ke-empat flocksku. Kalau Sid tidak tahan makanan dingin, kalau And tidak suka makanan yang terlalu manis, kalau Tivo tidak terlalu doyan dengan es krim, sedangkan kalau Zavan takut gendut. Dia bilang, dia harus menjaga tubuhnya agar selalu proposional.

“Lo laper apa kesurupan setan rakus Rev?” tanya Sid takjub setelah aku memesan banyak es krim. “Lo yakin bisa makan semua es krim itu? Lo nggak takut bakalan obesitas apa? Ntar lo kena diabetes baru tau rasa lo.”

“Tenang aja, aku bisa habisin kok,” ujarku, kupasang senyuman luguku ke arahnya dan yang lain. “Obesitas nggak akan pernah hinggap ke tubuhku, kan kamu tau cacing yang ada di dalam tubuhku suka disko. Kalo diabetes kayaknya nggak, soalnya pola makanku seimbang.”

“Iya, deh, iya,” kata Sid kemudian. “Meskipun sebenernya gue sangat sering ngelihat nafsu makan lo yang kayak babi itu sering muncul, tapi terkadang gue masih nggak percaya aja. Lo itu yang paling pendek—kalo nggak salah lo cuman seratus enam puluh lima sentimeterkan?” tanya Sid, yang langsung kujawab dengan anggukan. “Dan lo juga yang paling kecil badannya di antara kita berlima. Kalo bisa dibilang, lo itu Telletubies versi mini. Tapi porsi makan lo udah kayak orang nggak makan ratusan tahun.”

Aku terkekeh pelan, bingung juga kenapa aku bisa seperti ini. Maksudku, hasrat kedua yang ada di dalam tubuhku selain mencintai Bagas adalah makan. Aku suka mengunyah, aku suka memasukkan segala jenis makanan halal ke dalam tubuhku. Ketika aku makan, aku merasa duniaku akan baik-baik saja. Makanan seperti obat penenang. Bahkan lebih indah daripada duduk-duduk di Gunung Uetliberg di Swiss sana. “I can’t help myself,” ujarku akhirnya. Membuat ke-empat sahabatku menggeleng kagum.

Tak berselang lama, tiba-tiba pesanan kami datang. Semua es krim yang aku pesan tersaji tepat di depan hidungku. Yang agak kemerahan itu namanya Magenta Velvet Soft Ice Cream. Yang warna biru dengan remah-remah daun kemangi di atasnya namanya adalah Spindrift Basil Ice Cream. Yang warna ungu bercampur kuning salmon namanya adalah Serendipity Plum Ice Cream. Dan masih banyak lagi, aku tidak terlalu mengingat namanya. Hanya yang kusebutkan saja yang benar-benar kuhafal. Intinya, semua es krim yang ada di hadapanku sangat menggoda, apalagi lelehannya yang mengalir pelan dari pucuknya itu. Yummy!

“Euh, Mas ini yang ada di majalah AmazTeen kan?” tanya salah seorang pelayan yang membawakan pesanan kami. Aku mengangkat kepalaku dan melihat kalau cewek itu—yang umurnya kuyakini hanya beberapa tahun lebih tua di atas kami—sedang berbicara ke arah Zavan. “Mas juga yang ada di iklan couture-nya Alexander McQueen, Hugo Boss, Fendi dan Roberto Cavalli kan?” tanya Mbak itu lagi dengan nada bersemangat.

Zavan mengerutkan keningnya, sebisa mungkin dia memaksakan senyumannya. “Ya, that’s me.” Mbak-mbak itu langsung terlonjak senang. Membuat aku dan yang lain langsung mengernyitkan wajah. Bingung melihat tingkahnya yang berubah girang dalam waktu sesingkat itu. Aku baru tahu kalau cewek juga bisa seheboh itu jika berdekatan dengan Zavan. Bukan hanya cowok gay dan straight saja yang bisa ditaklukannya.

“Boleh minta tanda tangannya nggak, Mas?” tanya cewek itu makin antusias. “Aku nge-fans banget lho sama Mas. Namanya Mas itu Zavan McKnight kan?” Zavan mengangguk cepat. “Ya ampun, di kamarku semua isinya poster Mas Zavan lho. Sama artikel-artikel tentang deskripsi diri Mas Zavan juga. Aku seneng banget sama gayanya Mas Zavan pas nge-bintangi iklan L-Men di TV. Buat aku meleleh kayak es krim ini.” Aku dan yang lain langsung melempar senyuman konyol. “Ini Mas, tanda tangan di belakang HP-ku aja ya.” Mbak-mbak itu langsung mengeluarkan HP nya dan spidol hitam permanen dari balik saku baju kerjanya.

Zavan mengulurkan tangannya lalu mulai membuat tanda tangannya di belakang HP mbak-mbak tersebut. Setelah selesai, Zavan memberikan HP tersebut ke si mbak-mbak pelayan. Masih dengan ekspresi yang sama—senyuman dipaksakan—Zavan mencoba bersikap ramah pada salah satu fans-nya. Aku cukup terkejut juga—maksduku, Zavan memang punya banyak fans-nya, bahkan follower di Twitter-nya melebihi Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Oh, sama yang menang X-Factor Indonesia kemarin itu, siapa ya namanya? Pokoknya suaranya kayak granat pas dia nyanyi Grenade­-nya Bruno Mars.

“Makasih ya Mas Zavan. Oh, iya, kenapa nggak coba main sinetron juga Mas? Pasti bagus. Dan aku pasti akan nonton.”

Sebisa mungkin aku dan yang lain menahan tawa kami. Yah, meskipun Tivo hanya sibuk dengan iPad yang ada di atas pangkuannya. “Euh, nggak, sinetron bukan bidangku sama sekali. Aku nggak suka akting di depan kamera, aku sukanya hanya bergaya aja kalo ada kamera di hadapanku.” Zavan mencoba tersenyum—namun malah makin terlihat terpaksa. “Banyak panggilan sih untuk main sinetron. Kayak salah satu sinetron yang lagi heboh itu. Kalau nggak salah sinetron Cinta Rendi season lima belas. Sama sinetron Kuntilanak Beranak Dalam Penggorengan. Tapi, euh, nggak deh. Akting bukan bidangku sama sekali.”

“Yah, sayang banget lho Mas. Padahal Mas Zavan itu keren banget. Aku nge-fans sama Mas Zavan itu pas nonton Face of the Grogeous People tahun lalu. Pas Mas Zavan keluar dari balik tirai dan jalan dengan gaya Swagger di runaway dan catwalk, aku sudah yakin banget kalo Mas Zavan pasti jadi pemenang Face of the Gorgeous People dan ngalahin semua finalis lainnya. Dan tebakanku ternyata bener kan, Mas Zavan lah yang menang.” Zavan hanya mengangguk-anggukan kepalanya. “Ya udah deh Mas, selamat menikmati hidangannya ya.”

Kemudian mbak-mbak itu berjalan menjauh dan hilang ke balik konter kasir. Senyuman terpaksa yang tertoreh di bibir Zavan langsung menghilang seketika itu juga. “Kenapa sih fans-fans gue kebanyakan cewek? Gue tuh maunya yang nge-fans sama gue cowok-cowok kece badai. Bukan, like her. Tapi bukan berarti gue nggak suka ya, tapi ya gitu deh. Gue berharapnya sih fans-fans gue cowok keren dan NO jelata.”

“Terima ajalah Zav, yang pentingkan punya fans. Daripada lo kagak punya, hayo!” sergah And sambil tersenyum kecut. Aku dan Sid hanya bisa tertawa pelan untuk menanggapi kata-kata sergahan yang meluncur dari mulut And barusan. Sedangkan Tivo, yah, dia masih berkutat dengan iPad nya. Sepertinya dia sedang tenggelam dalam Tivo in Wonderland nya lagi hari ini. Tetapi aku tahu apa yang membuatnya begitu. Cerita masa lalunya lah yang membuatnya menjadi pendiam seperti itu.

“Iya sih, gue tau. Tapikan—“ Tiba-tiba Zavan menghentikan ucapannya. Dia cepat-cepat merogoh sakunya dan mengeluarkan iPhone nya. Matanya yang semula bersemangat langsung redup saat membaca nama penelponnya. “Hallo!” ujarnya malas. Zavan diam beberapa saat, kemudian kembali bicara. “Gue tetep nggak mau Jor. Lo nggak usah maksa gue ya.” Zavan kembali diam. “Jordan, listen to me! Gue nggak bisa balikan sama lo lagi. Bukan, bukan karena sifat keras kepala lo itu, tapi gue memang udah nggak pengen sama lo lagi.” Zavan mulai menghembuskan nafasnya dengan kesal. “Gue tetep nggak mau Jor. Lo nggak bisa maksa kehendak lo—WHAT? Jadi lo mau bilang gue yang terlalu protektif? Dafuk! Sejak kapan ya gue protektif-in diri lo? Jangan ngarang deh, siang-siang kok mimpi nggak jelas!” Wajah Zavan berubah bias. “Oh, shut your mouth up! Kita udah nggak ada urusan lagi ya. Lo sama gue resmi putus tadi malem. Jadi nggak usah nelpon-nelpon—WHAT!? Sialan lo! Ngentot sana sama anjing!!!”

Aku dan yang lain terlonjak kaget, bahkan es krim yang ada di mulutku langsung masuk begitu saja sebelum aku menyesapnya. Selama aku bersahabat dengan Zavan, aku tidak pernah benar-benar melihatnya marah. Atau membentak dengan nada yang sangat tajam seperti tadi. Biasanya yang angkuh adalah Sid, semua orang yang melihatnya pasti akan segan padanya. Tetapi hari ini Zavan bisa melebihi Sid, namun itu langsung berubah lagi saat Zavan mematikan sambungan telpon dan mencoba menarik kepala SIM yang ada di pucuk iPhone-nya tersebut keluar.

“iPhone brengsek!” gerutunya masih sambil mencoba menarik SIM nya. Tetapi masih saja tidak bisa. “Argh!” Zavan langsung menenggelamkan iPhone nya ke dalam balutan es krim yang dia pesan tadi. Refleks aku menarik iPhone tersebut, namun sepertinya sudah rusak.

“Nggak mau nyala lagi Zav. Kayaknya rusak deh,” kataku sambil mengotak-ngatik iPhone berwarna putih yang Zavan tenggelamkan ke dalam es krimnya tadi. iPhone ini sepertinya memang tidak akan nyala lagi dalam waktu dekat ini, soalnya semua es krim itu nyangkut ke dalam tempat nge-charge nya.

“Biarin aja,” sahut Zavan cuek. “Tuh, iPhone juga harganya cuman sembilan juta aja, isinya pun juga nggak ada. iPhone khusus buat nampung orang-orang yang pernah jadi pacar gue. iPhone gue yang asli, yang nampung hal-hal dan gambar penting ada di dalem dashboard mobil gue. So, you don’t have to panic, kay!” Aku menaruh kembali iPhone itu ke dalam genangan es krim milik Zavan. “Si Jordan ini juga, dari tadi malem gue udah bilang sama dia kalo gue nggak mau balikan. Kayaknya dia nggak pernah denger Taylor Swift nyanyi deh.”

Sid mencondongkan tubuhnya ke dekat Zavan. “Nyanyi lagu apa?”

“Lagu, We Are Never Getting Back Together.” Zavan menyanggah dagunya dengan kepalan tangannya. “Selama tiga hari kami pacaran—dan itu rekor paling lama gue pacaran untuk bulan ini—gue udah nyoba buat ngertiin sikapnya yang kayak anak ayam kehilangan induknya itu. Masa tiap hari dia selalu nganterin gue kemana-mana, takut banget kalo gue diculik Miyabi or something bertetek gede. Yah, akhirnya gue capek juga, putus deh. Padahal gue udah pengen ngenalin dia ke Anna sama Matthew lho. Soalnya Anna sama Matt selalu nyuruh gue untuk, bring your boyfriend to us, bring him! Such a pelacur thing! Tapi, lihat, gue gagal lagi menjalin hubungan. Damn you Jordan!”

“Kamu cinta nggak sama Jordan, Zav?” tanyaku ke arah bule satu itu. “Kamu kalo pengen punya hubungan yang langgeng harus mencintai orang itu. Jangan nyoba tapi dirasakan. Kamu nggak akan pernah bisa punya hubungan kalo nggak ada cinta di dalamnya. Cinta itu hal yang murni, yang bakalan menguatkan suatu hubungan bahkan ketika kita lelah dengan pasangan masing-masing. Kalau nggak ada cinta, nggak akan ada hubungan yang langgeng.”

Puh-lease deh, Rev! Lo bisa nggak jangan jadi Mamah Dede buat hari ini?” racau Zavan sebal. “Ceramahin gue soal cinta melulu. Bosen tau nggak dengernya. Gue nggak percaya akan adanya cinta. Yang ngebuat lo sama Bagas bisa bertahan itu karena saling tertarik, bukan karena cinta. Jadi… stop telling me about it!” Zavan mengibaskan tangannya bak Pangeran Harry saat baru turun dari limusin. “Lagi pula, gue nggak butuh Starships nya Nicky Minaj kok buat ngebawa gue dan Jordan ke dunia penuh cinta. Gue sama dia hanya butuh penyanyinya lagu We Are Young, gue sama dia hanya pengen fun.

“Tapi suatu hari lo butuh seseorang kan yang ngebelain lo pas lo lagi butuh, emang lo mau hidup gonta-ganti pasangan terus? Kayak mesin pelacur aja.” Sid berkata sarkastik. Wajahnya yang angkuh sangat sulit untuk ditandingi oleh wajah siapapun. Bahkan aku yakin, Sid bisa saja meludah ke mata Iblis kalau dia mau. Saking seramnya wajah angkuh tersebut. Meskipun aku sangat bangga bisa punya sahabat sepertinya.

Yeah, baby. Gue memang pelacur. Komitmen untuk selalu setia dengan pasangan bukan gaya gue banget. Gue bangga jadi diri gue sendiri.” Zavan menghembuskan nafas panjang. “Gue adalah mesin pelacur, dan gue suka diri gue apa adanya. Hidup para pelacur! Viva la bitch!” Zavan bersorak dengan nada bangga, membuat beberapa pengunjung dan pelayan menatap ke arah kami dengan pandangan heran.

Sid memutar bola matanya, tidak ingin menanggapi lagi ucapan Zavan. And hanya tertawa pelan sambil menyesap es krimnya. Sedangkan aku menatap sesuatu di mata Zavan. Rasa sakit, sakit hati. Bukan, bukan karena ucapan sarkas Sid tadi. Tapi ada sesuatu yang lain.

Yang membuat Zavan menjadi seperti ini. Menjadi seperti… mesin pelacur.

“Oh, iya, nilai di rapor kalian gimana? Pada bagus-bagus nggak?” tanyaku memecahkan keheningan. Sid sedang sibuk dengan BlackBerry nya, And sedang sibuk dengan tablet yang baru dia beli kemarin, Tivo sedang sibuk dengan iPadnya, dan Zavan sedang sibuk dengan pikirannya. Yang kalau boleh kutebak berisi kenangan masa lalunya tentang cewek yang ada di dalam dompetnya itu.

Listen, Rev! Gue udah naik kelas aja syukur lho. Masalah nilai gue nggak terlalu peduli,” kata Sid. Tetapi toh dia menarik keluar rapornya dari dalam tasku. Yang biasanya membawa tas ke sekolah memang aku saja, sedangkan mereka berempat lebih suka membawa diri mereka saja ke sekolah. “Nilai gue sih lumayan. Meskipun nggak ada nilai sepuluh sama sembilannya. Tapi gue ada nilai delapan, di pelajaran English.” Sid menutup rapornya, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku. “Kalo lo pasti sepuluh semua nilai lo?” tanyanya.

Aku menggeleng tegas. “Nggak kok, aku dapet nilai sembilan koma enam dua di pelajaran Physical Education. Kan kalian tau kalo aku paling nggak bisa olahraga.”

“Kalo nilai gue juga lumayan, enam ada beberapa dan tujuh juga ada beberapa,” kata And dari sebelahku. “Yang paling tinggi itu nilah Physical Education gue. Sepuluh.Ya iyalah, gue kan paling suka sama pelajaran ini, meskipun gue agak mumet pas di teorinya.”

“Kalo gue paling tinggi di Visual Arts. Sembilan puluh koma sembilan tiga. Yang lainnya sama kayak And. Datar.” Tivo menutup rapornya kemudian sibuk dengan iPadnya lagi. Mataku beralih ke arah Zavan yang sedang menatap isi rapornya. Matanya yang hazel itu menatap nilainya dengan pandangan tidak berminat sama sekali. Alisnya yang agak tebal dan sangat hitam sedikit naik ke atas saat melihat sesuatu yang sangat mencengangkan.

“Nilai Mathematics gue enam lho, guys!” serunya bangga, seakan-akan itu adalah nilai sepuluh. Tetapi aku maklum, Zavan pasti cukup—eh, ralat, sangat—puas dengan nilai yang dia peroleh. “Kalo nilai gue yang lain juga sama aja, ada beberapa enam, tujuhnya cuman ada satu, itu pun pelajaran English. Tiba-tiba Zavan terlonjak kaget dengan seru bahagia yang meluncur dari mulutnya. “Ya ampun, gue dapet nilai lima di pelajaran Chemistry!” Sekali lagi Zavan melonjak-lonjak gembira di atas sofanya.

For God’s sake! Biasa aja kali Zav, nggak usah sampe sebegitu bahagianya karena cuman dapet nilai lima di pelajaran Chemistry.” Sid menatap Zavan dengan tatapan konyol.

“Tapi itu suatu kebanggan Sid. Soalnya semester yang kemarin gue dapet tiga. Bangga dong gue, berarti nggak sia-sia gue belajar sebentar pas mau ujian Chemistry hari itu. Meskipun sekarang gue lupa lagi apa itu Atom dan kawan-kawannya.” Zavan menelaah rapornya, matanya berbinar saat membaca tulisan paling akhir. “Dan, alhamdullilah ya, sesuatu banget gue bisa naik kelas. Berarti kita berlima udah resmi jadi senior sekarang. Hip-hip, horray!”

“Di rapor lo nggak ada nilai delapannya Zav?” tanya And, alisnya bertaut bingung. “Masa sih lo nggak ada dapet nilai delapan dari beberapa pelajaran kita yang banyak itu?”

Zavan menelengkan kepalanya. “Ada kok, malah ada empat. Sepuluh semua lagi.” Aku dan yang lain tertegun mendengar ucapan Zavan barusan. “Nih, gue dapet nilai sepuluh di pelajaran-pelajaran ini. Membinalkan diri. Ngentot dengan guru-guru muda DIS. Nge-seks di loker. Membuat para straight menjadi gay.” Zavan mengangkat kepalanya dan nyengir lebar.

“Yeee!” seru kami bersamaan, bahkan Tivo pun ikut-ikutan. “Dasar gila!”

“Oh, MYOB, guys!” serunya cepat, Zavan menaikkan bibirnya ke atas, membuat gaya cibiran terbaiknya. “Lagi pula nih ya, kalo misalnya gue dapet nilai sepuluh, atau sembilan—eh, ralat—delapan deh, pasti Anna sama Matt bakalan langsung bikinin gue rumah di bulan.”

But, that’s not gonna happen!” sahut Sid lekas. “Lo harus langkahi dulu mayat Revie baru bisa jadi best student di DIS.” Kami ber-empat tertawa serempak, Tivo yang duduk di sebelah Sid hanya menyeringai, yang malah membuat wajahnya jadi seperti orang yang lagi nahan sakit perut. Menurut Tivo, itulah senyumannya, seringaian yang seperti orang nahan sakit perut itu. But, I can’t judge him, aku malah maklum kenapa dia hanya bisa melakukan seringaian alih-alih senyuman.

“Kalo Revie kan selalu Scheßie sama buku, nah kalo guekan selalu Scheßie bareng manusia. Jadi tentu aja kasta otak kami beda.” Zavan menarik salah satu es krim yang ada di hadapanku, dengan gesit dia memakan es krim tersebut. “Oh, iya, liburan semester ini kalian mau ke mana? Kalo gue disuruh beberapa kali sama Anna dan Matt buat balik ke London, kita mau buat acara Summerboy gitu, tapi, euh, gue nggak akan balik lagi ke London. Forever, more ever and saver deh.”

Sid mencondongkan tubuhnya ke arah Zavan lagi. “Emang kenapa lo nggak mau balik ke London lagi? Jangan bilang ke kita kalo lo ternyata mantannya Pangeran William!? Dan lo dateng ke Indonesia karena lagi dicari-cari sama Ratu Elizabeth untuk dipenggal kepalanya kayak Ann Boleyn?” Sid menyipitkan matanya dalam-dalam, menatap wajah Zavan dengan pandangan serius, walaupun aku tahu itu hanya candaan.

“Maunya sih jadi mantannya Pangeran William, tapi sayang, si Kate sialan itu malah ngerebut dia duluan. Gagal deh gue punya pacar Pangeran. Kalo gue pacaran sama Pangeran kan gue bisa jadi Viscount, atau nggak Duke deh.” Zavan menerawang, membayangkan dirinya kalau sungguh-sungguh jadi seperti itu. “Tapi biarin deh, ntar gue langsung pacarin aja Raja. Ngapain pacaran sama perak kalo bisa dapet emas. Iya, kan!?”

Tivo mengangkat tangannya, lalu menjentikkannya ke depan wajah Zavan. “Tapi sayang, itu semua hanya akan jadi mimpi busuk lo doang.” Kemudian Tivo kembali diam setelah melontarkan kata-kata menusuk itu. Ternyata yang Vick bilang benar, sekalinya Tivo membuka mulut, yang keluar hanya akan kata-kata menusuk jantung. Bahkan Zavan terlihat langsung putus asa, imajinasi tentang dia memacari Raja langsung hilang seketika, seperti ditelan oleh Lumpur Lapindo.

“Kalo kalian bakalan liburan ke mana?” tanya Zavan, setelah dia menemukan kembali caranya berbicara. “Jangan bilang kalo kalian bakalan ke luar negeri semua bareng pasangan! Please, deh! Sesekali kalian harus berhenti jadi anggota DBKY dan ngabisin liburan bareng-bareng. Jangan selalu sama pasangan melulu!”

Sid mengernyitkan wajahnya. “Anggota DBKY apaan emang?” tanya Sid bingung.

“DBKY itu, Di Bawah Ketek Yayang. Intinya adalah, kalian terlalu nurut sama pacar. Terlalu lengket sama mereka, kayak Burung Bangau dan Kerbau.” Zavan meracau cepat, tangannya bergerak lincah di atas piring segitiga yang sedang dia pegang. “Kalian nggak asyik kalo ngabisin waktu sama pacar masing-masing.”

“Alah, alesan lo doang tuh. Sok-sok nyebut kami anggota DBKY nggak penting itu. Bilang aja kalo lo kesepian dan nggak punya temen liburan.” Sid mencemooh kasar, membuat belang Zavan ketahuan. “Tapi ada yang pengen gue kasih tau kalian sebenernya.” Sid mengeluarkan beberapa lembar kertas dari saku DIS-nya. “Papa gue kirimin tiket ke New York untuk kita berlima. Jadi liburan tahun ini kita berlima bisa have fun di sana. Sekalian gue mau ngenalin Kim dan Edmund. Sahabat gue di New York sana. Sekalian ntar kita jalan-jalan ke California dan jadi The Bling Ring ke kediamannya Michael Jackson.”

Mata Zavan terbelalak lebar, sangat antusias kalau dia mendapatkan liburan ke New York. “Yes! Berarti gue nggak harus nemenin nenek gue lagi liburan kali ini.” Zavan mengambil salah satu tiket, kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya. Takut kalau tiket itu tiba-tiba diambil Spiderwick. “Jadi, kapan kita bakalan berangkat ke New Yorknya, Sid?” tanya Zavan masih dengan nada antusiasnya.

“Ntar malem, jadi kalian harus packing ASAP.” Sid menyandarkan tubuhnya lalu menatapku yang sedang duduk di sofaku dengan gusar. “Kenapa Rev, kok kayaknya lo aja yang nggak begitu tertarik liburan ke New York bareng kami?”

“Euh, sebenernya aku bakalan liburan ke Puncak sama Bagas. Jadi, nggak apa-apa kan kalo aku nggak ikutan bareng kalian? Gimana kalau aku nyusul aja. Kan kita libur dua minggu, seminggu aku habisin bareng Bagas, seminggunya lagi ntar sama kalian di New York. Bisa nggak Sid?” tanyaku penuh harap. Di satu sisi aku sangat ingin ikut, tapi di sisi lain aku juga ingin bersama Bagas. Lagi pula aku sudah janji dengannya kalau akan ikut bersamanya ke puncak dan menginap di Villa keluarganya.

Sid menimbang-nimbang sebentar, kemudian dia tersenyum angkuh. “Boleh. Tapi lo berangkatnya pas di hari ke-enam kita libur. Lo pikir dari Indonesia ke New York kayak Jakarta-Bogor apa. Lo di perjalanan bisa satu harian, belum lagi lo harus istirahat karena jetlag. Gimana? Lo mau nggak?” tanya Sid, yang langsung kujawab dengan anggukan patuh. Sid tersenyum lebar, berhasil memperintahkan satu lagi anggota di flocksnya.

***

Kurebahkan kepalaku di atas lengan Bagas saat kami tiduran di atas kasur sambil menonton sinetron Cinta Rendi season lima belas. Aku tidak tahu sebenarnya sinetron ini mengisahkan tentang apa. Bahkan aku juga tidak tahu sejak kapan sinetron ini bisa sampai ke season lima belas seperti sekarang. Mau ganti channel juga percuma, di HBO tidak ada acara bagus, di Star Movies juga begitu. Kalau buka acara yang lain semuanya pada berita. Yang layak ditonton hanya sinetron Cinta Rendi, ketimbang sinetron Kuntilanak Beranak Dalam Penggorengan. Ihh, aku takut sama kuntilanak.

“Gimana wawancaranya tadi?” tanyaku, kutengadahkan kepalaku dan menatap Bagas yang ternyata semenjak tadi sedang memperhatikanku. “Lancar nggak? Kamu ditanya soal apa aja? Aku yakin kamu pasti bisa kan tadi. Nggak tegang kayak pas kita latihan waktu itu?” Aku menggeser lenganku dan menumpukannya di atas dada bidang Bagas. Kutatap wajahnya dengan pandangan terpesona. Aku masih tidak percaya kalau dia sudah menjadi pacarku. Bahkan, hubungan kami bisa dibilang lebih dari itu. Meski baru mau jalan dua bulan.

“Lancar kok,” sergah Bagas, dia mengulas senyuman yang sangat memikat. “Ditanya soal visi dan misi untuk masa depan. Kenapa tertarik dengan dunia Arsitektur dan lain-lain. Aku nggak tegang kok tadi, aku kan ngikutin cara kamu. Selalu senyum—yah, walopun aku ngerasa kayak lagi jadi Bunda Dorce—dan bernafas dengan perlahan tapi pasti. Setelah itu, aku langsung dapet. Tinggal tes tertulis mengenai pengetahuan kita tentang Arsitektur.”

“Keren!” ujarku dengan mata berbinar-binar, ikut bahagia karena dia bisa lolos.

“Kamu juga, selamat ya, jadi best stundent lagi tahun ini.” Bagas mencium keningku singkat.

Aku mengernyitkan wajahku, sepertinya aku belum memberitahunya deh kalau aku menjadi best student. “Tau darimana kalo aku jadi best student tahun ini?” tanyaku sambil makin mendekat ke arahnya. Kini mataku sudah sejajar dengan bibirnya yang ranum itu, seperti es krim merah yang kumakan tadi siang. Apa ya namanya, oh, iya. Magenta Velvet Soft Ice Cream. Ya, bibir Bagas menggoda seperti es krim tersebut.

“Itu kan pialanya berkilauan di atas meja belajar.” Bagas mengedikkan dagunya ke arah tempat aku menaruh piala yang diberikan tadi oleh kepala sekolah. Aku baru ingat kalau aku menaruhnya di situ. “Tapi aku nggak kaget lagi sih, aku memang udah yakin kalo kamu bakalan jadi BS tahun ini. Secara kata guru-guru di DIS, walopun kami masih di grade 11, tapi bisa dengan mudahnya ngerjain soal grade 12. Kenapa nggak ambil akselerasi aja?”

“Nggak ah,” sambutku cepat. “Aku mau ngabisin waktuku di SMA atau lebih tepatnya di DIS dengan masa tiga tahun, nggak mau sebentar aja. Aku mau buat banyak-banyak memori tentang hidupku di masa muda.” Bagas terkekeh pelan, membuat mataku menoleh ke arah wajahnya yang permai. Dia terkekeh pasti karena ucapanku tadi. Aku memang tidak seperti orang kebanyakan, yang ingin segera lulus dari sekolah dan mencari kerja. Entah mengapa, aku sangat suka belajar. Membaca buku pelajaran dan memahami isinya. “Aku nerdy banget ya kesannya?” tanyaku kemudian.

Bagas mengangguk. “Iya, nerdy banget. Tapi nggak tau kenapa, kamu itu tipe nerdy yang seksi.” Aku tertawa pelan mendengar guyonan gombalnya. Namun ternyata Bagas tidak menganggap hal tadi adalah guyonan, karena tiba-tiba dia menarik kepalaku dengan tangan kirinya dan bibirnya yang seperti es krim itu mendarat di bibirku. Aku merapatkan tanganku di dekat tengkuknya, agar dia bisa menciumku dengan nyaman. Tangan kanan Bagas, mencoba menarik baju yang kugunakan terlepas dari badanku. Aku mengikuti saja permainannya, sampai akhirnya kami berdua benar-benar tak mengenakkan apa-apa lagi.

Aku tidak tahu apakah AC nya yang mati, atau suhu badan kami yang saling berbaur menjadi satu, yang menyebabkan kamar ini begitu panas. Dan kini aku sadar, ini bukan panas karena aku gerah. Tetapi ini panas dalam hal yang menuju ke arah hati. Aku menenggelamkan kepalaku di lehernya yang agak berkeringat, dan menggigit kecil dagunya. Bagas terkekeh dan mendudukanku di atas pangkuannya, membuatku mengerang, seperti lagu Katy Perry yang baru ku-download beberapa jam yang lalu.

Setelah semua hal itu telah berakhir, suhu di kamar ini kembali normal. Bagas membaringkan tubuhku yang lelah, namun lelah dalam artian yang sangat berbeda. Aku menaruh walkman tuaku di bawah bantal, membiarkan lagu kedua belas yang kuputar menemaniku untuk tidur. Dengan Bagas yang memelukku dari belakang, dengan tangannya yang melingkar di pinggangku, dan hangat badannya yang membuatku merasa nyaman. Sampai akhirnya, aku sungguh-sungguh tertidur di dekapannya.

***

“Aku mau ngambil kunci Villa di rumah Papa dulu ya, kamu beres-beres baju aja dulu.” Bagas menyalakan mobilnya, suara deruman lembut keluar dari rongga mesinnya. Aku menundukkan kepalaku dan menatap wajahnya yang sedang sangat serius dengan sesuatu di HP-nya. Ketika Bagas menoleh ke arahku, tiba-tiba perasaanku berubah tidak enak. Perasaan ini mirip sekali seperti saat aku akan kehilangan Oma Ajeng.

Cepat-cepat kutepis perasaan tersebut, menjauh sejauh mungkin dari perasaanku. Meskipun perasaan tak enak itu malah makin menguat. “Nggak usah ngebut-ngebut nyetir mobilnya!”

Namun Bagas sangat suka mengebut, walaupun aku sudah memperintahkannya beberapa kali. Dia sangat suka ngebut sambil main HP. Aku tidak tahu apa yang dia lihat di layar HP nya, tetapi aku sangat takut jika dia melakukan hal itu terus akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Dan aku sangat benci gagasan itu. “Iya, aku nggak bakalan ngebut.” Walaupun dia sudah berkata seperti itu, perasaan tidak enak yang kurasakan tadi malah makin menguat. Jangan sampai Bagas mengalami hal buruk hari ini! Semoga saja ini hanya perasaan tidak enak biasa. Bukan sesuatu yang mirip seperti Oma Ajeng. Kehilangan.

“Habis ngambil kunci langsung ke sini ya, jangan pergi kemana-mana. Langsung pulang, janji.” Aku menaruh jari kelingkingku di depan wajahnya, yang langsung Bagas sambut dengan tawanya. “Aku serius. Kamu harus janji langsung pulang ke rumah setelah ambil kunci. Aku bakalan nunggu kamu di rumah.”

Bagas mengangguk-anggukkan kepalanya, namun entah mengapa terlihat begitu sangat ambigu. Aku tidak mengerti apa arti anggukkan kepalanya. “Aku bakalan langsung pulang kok. Janji.” Dia melingkarkan jari kelingkingnya di kelingkingku. “Kamu nggak usah kuatir, kalo aku nggak pulang ke rumah, berarti aku udah pulang ke rumah yang lain.” Kemudian Bagas tersenyum penuh arti, membuatku makin merasa tidak ingin membiarkannya pergi untuk mengambil kunci Villa di rumah orang tuanya. “Ya udah, aku pergi dulu kalau begitu.”

Aku baru saja ingin menahannya saat tiba-tiba Bagas melesat begitu saja dari hadapanku. Aku menelan air ludahku dengan susah payah, mencoba kembali menepis perasaan tidak enak yang makin menguat lebih banyak di dalam perasaanku. Aku mencoba membasuh wajahku untuk menghilangkan perasaan resah, namun entah bagaimana perasaan itu malah tidak ingin hilang sama sekali. Aku berdoa, dan terus berdoa supaya Bagas tidak kenapa-kenapa, aku tidak ingin kehilangan lagi.

Kumasukkan beberapa bajuku dan bajunya ke dalam koper bermerek Polo yang Bagas beli dua hari yang lalu. Dia sangat-sangat ingin mengajakku ke Villanya, entah untuk melihat apa. Namun karena aku memang sangat suka suasana asri, jadi aku mengiyakan saja. Pagi ini, hari mulai hujan. Langit mendung menghasilkan beberapa buliran air berbentuk pipih yang membasahi bumi. Aku menengadahkan kepalaku dan melihat buliran-buliran air tersebut. Makin kuatir kalau Bagas akan kenapa-kenapa.

Tidak! Bagas akan baik-baik saja, jangan terlalu paranoid. Aku seharusnya cepat beres-beres, nanti siang kami sudah harus berangkat ke Villa. Dan ini adalah liburan kami yang pertama. Berdua saja, menghabiskan waktu di suatu tempat yang masih sangat indah. Aku tidak akan menyia-nyiakan liburan ini hanya karena perasaanku yang kalut. Sesudah aku memasukkan semua pakaianku dan pakaiannya ke dalam koper, aku menarik koper tersebut hingga berada di dekat pintu keluar. Hujan makin deras di luar sana, buliran air mulai menjadi sangat jahat.

Langkahku langsung terhenti seketika saat HP yang berada di saku celanaku bergetar hebat, aku melirik nama penelponku dan mendapati Kak Al lah yang menghubungiku. Aku tidak tahu kalau Kak Al tahu nomor HPku. Dia tahu dari mana, padahal aku tidak pernah memberikannya sama sekali padanya. Setelah dering ke tujuh, barulah aku mengangkat telpon itu. Suaraku agak lirih saat menyapa. “Iya, Kak? Ada apa?”

Untuk beberapa saat tidak ada sahutan sama sekali di ujung sana, hanya bunyi gemerisik dan langkah kaki yang agak menghentak. Begitu ribut dan sangat bising. Membuatku merasa kalau Kak Al bukan sedang berada di kantor Polisi, dia seperti sedang berada di—“Rev,” panggil Kak Al parau. Aku menyahut cepat. “Rev—ehm—Rev,” ucap Kak Al terbata-bata, membuatku agak bingung. “Rev—Bagas—“ Hening. “Bagas—kecelakaan.”

Badanku tersentak kaget saat itu juga, tanganku agak bergetar, hampir saja HP yang sedang kutempelkan di daun telingaku terjatuh ke lantai. Mataku tiba-tiba berubah nanar, jadi arti perasaan tidak enak yang kurasakan tadi akan berujung seperti Oma Ajeng juga. Aku akan kehilangan orang yang menurutku sangat penting. “Ke… kecelakaan gi… gimana Kak?” tanyaku gemetar, aku ingin sekali menutup telingaku dan mengatakan pada diri sendiri kalau Kak Al sedang bercanda. Sayangnya itu tidak akan terjadi, karena ini memang sungguhan.

“Bagas tabrakan, tiba-tiba—“ Suara Kak Al tercekat. “Dia lagi kritis sekarang. Kalo Revie bisa ke sini, Kakak mohon Revie dateng. Kami lagi ada di Rumah Sakit Pondok Indah. Kakak sama yang lain nunggu di ICU. Kamu cepetan dateng ya, Bagas daritadi manggil nama kamu.” Kak Al mengucapkan kata terakhir dengan isakkan tertahan. Aku tahu, Bagas menungguku, seperti Oma Ajeng waktu itu. Jika setelah melihatku Bagas pergi bagaimana? Apakah aku masih sanggup menghadapi duniaku?

Setelah menelpon taksi dan bergerak-gerak gelisah selama hampir setengah jam lebih, akhirnya aku sampai juga di Rumah Sakit Pondok Indah. Langkahku agak terseok-seok saat keluar dari dalam taksi dan berlari kencang ke arah ICU nya. Hujan deras kuterobos, membuat baju yang kugunakan menjadi sangat lembap. Saat aku sudah sampai di ruangan ICU, aku melihat Kak Al berdiri di dekat tirai hijau dengan baju polisi yang terkena bercakkan darah. Kak Raffi juga ada di sana, berdiri memandang sesuatu di balik tirai. Aku bisa melihatnya dari samping, tetapi takut melihat apa yang ada di balik tirai itu.

Kak Al menoleh ke arahku saat mendengar langkah beratku berderap ke arahnya. Matanya yang biasanya tegas, dan sangat tenang kini berubah muram. Dan juga sangat sedih. Aku bisa melihat matanya sebentar lagi akan mengeluarkan air mata. Kak Raffi menatapku dengan tatapan sedihnya, membuatku ingin segera pergi dari sini dan menganggap tidak ada apa-apa yang terjadi hari ini. Suara tangisan Bu Prakoso dan Pak Prakoso membuat kepalaku menoleh ke arah seseorang yang berada di atas ranjang. Dengan wajah lebam dan darah yang tertoreh di beberapa bagian. Mulutnya disumpal semacam gas oksigen, hidungnya ditusuk sesuatu, entah apa. Matanya bergulir ke sana kemari, dan ketika dia bersuara, dia memanggil namaku.

Aku melangkah gontai, dokter dan para perawat menjahit beberapa luka yang ada di dengkul dan siku tangannya. Beberapa kabel di pasang di dadanya yang lebam, membuatku tidak tahan menahan air mataku. Aku maju makin mendekat, Bu Prakoso memelukku, tetapi mataku tetap tertuju ke arah Bagas. Sampai akhirnya matanya yang tadi bergerak-gerak nanar menangkap sosokku. Tangannya terangkat, seperti memanggilku. Suaranya parau saat menyebut namaku sekali.

“Ma-af,” ujarnya tidak jelas, namun bisa kupahami saat aku sudah berada di sampingnya. “Ma-af ka-re-na ingkar jan-ji. Maaf ka-lau aku ngg-ak pulang ke ru-mah.” Bagas mencoba meraih tanganku, yang langsung kutaruh di atas kepalan tangannya. “Aku cin-ta sama ka-mu,” katanya lembayung, kemudian dia tersenyum dan hujan di luar pun makin deras dari sebelumnya. Matanya yang tadi mengarah ke arahku tertutup damai, membuat tersentak dari kebisuanku. Dokter yang mengurus Bagas pun akhirnya menggeleng, dan memberitahu kami kalau Bagas telah tidak ada.

Dalam situasi seperti ini, aku ingin sekali mentertawakan takdir. Takdir yang begitu kejam padaku. Aku melirik ke arah Kak Al, lalu menarik tangannya yang liat. “Kak, bangunin Bagas!” seruku kencang, membuat beberapa orang memperhatikan wajahku iba. “Bagas cuman tidur, ayo, Kak, bangunin dia!” Aku berjalan cepat ke arah Kak Raffi, menarik kausnya yang agak kebesaran di tubuhnya. “Ayo, Kak Raffi! Bangunin Bagas, dia cuman tidur. Dia nggak pergi kemana-mana! Ayo, suruh dia bangun. Dia nggak boleh pergi!”

Aku menoleh ke arah Bagas, Bu Prakoso yang berdiri di belakangku memeluk tubuhku dengan sangat erat. Entah datangnya darimana, aku mulai menangis. Semua air mataku keluar begitu saja. Aku meronta, memukul lengan Bagas yang terkulai dengan telapak tanganku. Menarik semua kabel yang terpasang di tubuhnya. Aku yakin dia hanya sedang tertidur, Bagas telah berjanji akan pulang ke rumah.

“Bangun!” seruku di sampingnya, menarik badannya untuk bangun dari pembaringannya. “Ayo, kita pulang! Kamu udah janji bakalan pulang ke rumah.” Aku memeluk tubuhnya, membiarkan darah yang ada di dahinya mengenai air mataku. “Ayo, kita pulang! Mana janjimu tadi, katanya bakalan pulang ke rumah. Jangan buat aku nunggu!” Aku menarik lengannya, menyuruhnya ikut bersamaku. Namun dia bergeming, tidak bernyawa.

“Sudah, Nak. Bagas sudah pergi. Ikhlasin dia, biar bisa pergi dengan tenang,” bisik Bu Prakoso lirih di telingaku, aku meronta dalam pelukannya.

“Bagas, ayo bangun! Kalo kamu nggak bangun, bawa aku pergi!” Aku memeluk lehernya, menciumi bibirnya yang tak terkena darah sama sekali hingga berkali-kali. “Jangan pergi, jangan pergi tanpa aku!” Aku menciumi matanya yang terpejam, membuat badanku mulai goyah ingin terjatuh. “Bagas! Bagas!” seruku memanggil namanya. “Bagas! Bagas!” Tetap saja tidak ada sahutan. Bagas!

Aku membuka mataku yang basah, menyadari kalau aku sedang memanggil nama Bagas hingga berkali-kali dengan suara parau. “Ya, kenapa Rev?” tanya suara itu, dari balik tubuhku. Aku berbalik dengan gesit dan melihat wajah Bagas yang mengantuk. “Kenapa nangis?” tanyanya, sambil mengusap air mataku. “Mimpi buruk ya?”

Aku memegang wajahnya, kemudian kembali menangis. Namun kini menangis karena bahagia. Ternyata hanya mimpi buruk, itu semua hanya mimpi buruk. “Aku mimpi kamu meninggal,” kataku terbata. “Jangan pergi, aku nggak mau kehilangan kamu!”

Bagas tersenyum. “Aku nggak akan pergi kemana-mana. Itu cuman mimpi buruk, aku nggak akan meninggal sebelum buat kamu bener-bener bahagia.” Bagas kembali memelukku dari belakang, aku bisa merasakan senyuman muncul di bibirnya, dan menempel di kulit pundakku yang telanjang. “Kita habisin waktu di atas ranjang aja, gimana? Kita nggak usah pergi kemana-mana hari ini.” Aku mengangguk mengiyakan, memeluk lengannya dengan kepalan tanganku. “Aku cinta sama kamu, Rev,” katanya seperti lagu. Make me feel so close.

“Aku juga, aku cinta sama kamu.” Aku memegang tangannya makin erat. Kemudian Bagas mencium leherku dengan mesra. Saat aku mau memejamkan mataku, HPku berbunyi. Aku meraihnya lalu membuka iMessage yang masuk. Tiba-tiba munculah foto flocksku di layar iPhoneku. Mereka berempat sedang berada di Korea sekarang, beristirahat di sana. Foto mereka yang sangat keren, membuat wajah mereka seperti model terkenal. Tulisan di bawah foto itu sangat menjengkelkan. –Pasti kangen sama kita, ya iyalah, kita kan ngangenin—

Aku hanya bisa tertawa dan kembali menaruh iPhoneku ke dekat bantalku. Bagas terus memelukku dari belakang, dia tidak akan pergi kemana-mana. Dia akan selalu ada untukku. Kuambil walkman tua yang ada di bawah bantalku, lalu menekan tombol berhenti. Kini dua belas lagu favoritku telah berdendang, menggulirkan kisah cintaku dengan Bagas.

Hari ini hujan. Aku melihat beberapa bulir air menerpa jendela kamar. Dengan Bagas yang memelukku, rainy day hari ini terlihat begitu rindang. Dan aku begitu sangat bahagia.

 

 

–The End–

Cuplikan Stormy Day

Tivo & Peter

 

Mataku menatap nanar ke arah Peter. Dia tersenyum miring, membuat wajahnya yang sangat kurindukan berubah sangat damai. Aku melangkah ke dekatnya, lalu meraih tangannya hingga masuk ke dalam genggaman tanganku. Aku telah lelah berlari, dendam membuatku kesepian. Aku tidak ingin merasakan hal itu lagi, kini aku tahu, aku rindu pulang ke hatinya. Itulah yang kurasakan saat ini, itulah yang dia rasakan untukku saat ini. Kami saling rindu, namun dengan kejamnya aku berlari menjauh darinya.

“Nggak akan ada lagi saling menjauh, nggak ada lagi saling menghindar,” ujarnya dengan nada yang sangat laun, membuatku terbuai. Peter yang selama ini kukenal memang seperti ini, bukan seperti Peter yang begitu membenci para gay. Dia telah kembali menjadi dirinya lagi, aku pun begitu. “Aku kangen sama senyumanmu,” ujarnya, tangannya yang hangat seperti sinar matahari pagi menyentuh bibirku. “Aku kangen sama kamu.”

Setelah semua yang kami lalui, setelah semua yang telah kualami, aku yakin Peter memang akan selalu ada di sini, di hatiku. Aku kini tidak akan berlari lagi. Aku sudah cukup lelah untuk melakukan hal tersebut. “Aku juga kangen sama kamu, Pet. Selalu.” Aku bukan orang yang banyak bicara, namun aku yakin kata-kata itu sudah cukup.

Peter menarikku hingga mendekat ke arahnya, saat aku menatap matanya yang hitam, dengan garis kecokelatan, aku agak tertegun. Merasakan kalau dunia yang sedang kupijak berhenti. Tidak! Itu tidak mungkin. Aku meronta dari dalam pelukannya, ingin segera pergi dari sini. Itu, hal itu lagi. Aku melihatnya, hal yang paling aku benci di dunia. Peter menatapku bingung, saat dia menyentuh sikuku, aku menyikutnya. Membuatnya makin bergidik dalam kebingungan, dan aku makin bergidik dalam kebencian.

Ternyata selama ini—tidak, aku bukan ingin berlari, tetapi…

“Tivo, kamu kenapa?” tanyanya, mencoba meraih sikuku sekali lagi, dan kembali, aku menyikutnya dengan sengit. Aku tidak mau, aku harus berlari lagi. Selelah apapun aku nantinya, tetapi itu akan layak. Ternyata…

“Jangan pernah nemuin gue lagi, Pet!” desisku, kemarahan yang kurasakan naik ke ubun-ubun yang ada di kepalaku. Aku menatapnya dengan segala kebencian yang kupunya.
“Jangan pernah nampakkin muka lo di depan gue lagi. Gue nggak sudi ngelihat lo. Kini gue tau alasan kenapa gue makin kuat ngebenci lo.” Aku melangkahkan kakiku menjauh, lalu berjalan secepat kilat. Aku bisa merasakan Peter mengejarku, namun aku tak mau menoleh ke belakang, apapun yang terjadi.

“Tivo, aku bisa jelasin ke kamu.” Akhirnya dia sadar kenapa aku marah, kenapa aku sekarang membenci dirinya lagi. Kini dia sadar. “Soal masa lalu kita dulu itu…”

Dan semua hal itu begitu sangat muak untuk kuingat kembali.

 

–End of Cuplikan–

Akankah cerita Tivo nanti membosankan? We’ll see, guys :D

Jangan lupa komen, dan jangan ngasih komen yg isinya tentang penipuan soal Bagas itu. Biar orang lain kena tipu juga ya :D Awas aja kalo ada yg komen ngasih tau! *tampar pakek kontol*

Rainy Day (11)

DIS_

Chapter-Lagu 11

♫ Dev – Perfect Match

Aku yakin, jika aku menjadi Bagas, pasti aku akan sangat ketakutan. Seperti kejadian tadi malam, ketika Ayahku memarahiku tentang hubunganku dengan Bagas. Suara Pak Prakoso makin meninggi saat dia mengucapkan kalimat itu. “Kamu apain Revie?” tanyanya lantang, membuatku tersentak dari dudukanku. Bahkan Kak Al dan Den Anzar saja sampai terperanjat kaget. “Kamu apain anak sepolos dia? Papa besarin kamu bukan buat ganggu anak orang!”

Bagas menaikkan alisnya tinggi-tinggi, tangannya yang agak dingin tersampir di dekat pinggangku. Aku mengalihkan tatapanku ke arah Ibuku yang duduk di ujung sofa. Matanya yang hitam menatapku dengan pandangan kuatir. Bu Prakoso yang duduk di sebelah suaminya menepuk pundak lelaki setengah baya itu dengan lembut. Aku menekan kedua tanganku dengan gelisah, tidak tahu harus bereaksi seperti apa dalam keadaan seperti ini. Bagas juga masih diam saja, tidak tahu harus bicara apa.

Pak Prakoso menekan pelipisnya dengan ujung jarinya. “Kamu sadarkan, Gas, kalau Revie itu anak laki-laki? Dan, Ibunya dia kerja di sini. Tapi kenapa kamu malah ngambil keuntungan dari anak selugu dia? Apa yang ada di dalam pikiranmu itu? Papa nggak habis pikir sama jalan pikiran kamu. Papa nggak tau harus—“ Pak Prakoso kembali menekan pelipisnya. Dia mengangkat tangannya lalu menarik nafas laun. “Revie, Om tanya sama kamu, kamu sudah diapain sama Bagas makanya kamu bisa-bisanya pacaran sama dia?”

“Euh—“ Aku tidak tahu harus berkata apa. Lidahku secara tiba-tiba kelu. “Saya memang sudah dari dulu cinta sama Bagas, Om.” Aku mengangkat kepalaku, menatap takut-takut ke arah Pak Prakoso yang saat ini sedang mengerutkan alisnya. “Saya tau Bagas itu laki-laki, Om. Tapi saya… cinta sama dia. Selebih dari itu, saya nggak peduli selama dia juga cinta sama saya.”

Bagas mengeratkan tangannya di pinggangku. Telapak tangannya yang tadi agak dingin berubah hangat. “Aku nggak minta apa-apa kok dari Papa. Aku cuman mau jujur aja sama kalian semua. Biar aku nggak ada nutupin apa-apa dari kalian, karena kalian keluargaku. Kalau kalian pengen aku keluar dari rumah ini, dan nganggep aku nggak ada di dalam keluarga ini lagi. Aku siap, aku juga nggak berharap banyak biar kalian nerima hubunganku dengan Revie. Mungkin memang aku yang salah, ngebuat anak selugu Revie jatuh cinta sama aku. Tapi apa yang Revie bilang bener, kami sudah saling jatuh cinta lama. Dan itu sudah cukup buat kami berdua.”

Kak Al yang duduk di sofa yang berjarak beberapa langkah dari hadapanku memberikan Bagas sebuah senyuman mendukung. Bahkan Den Anzar mengangguk-anggukan kepalanya dengan cepat. Bu Prakoso yang semula memasang wajah terkejut kini berubah sendu. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan, aku juga tidak tahu akankah mereka mengerti tentang hubunganku dengan Bagas. Tetapi aku yakin mereka pasti sadar kalau kami berdua memang benar-benar serius akan hubungan kami ini.

“Mama ngandung kamu selama sembilan bulan, ngerasain perjuangan panjang saat ngelahirin kamu,” kata Bu Prakoso kemudian. “Saat kamu ada di pelukkan Mama, Mama pernah berbatin seperti ini. Apapun yang ngebuat anak Mama bahagia, akan Mama lakukan. Dan jika kamu bahagia sama Revie, meskipun Mama tau ini salah, Mama akan nerima itu. Nak, kalau kamu bahagia, Mama juga akan bahagia. Kamu nggak usah takut, Mama akan selalu nerima kamu pulang. Mama lah orang pertama yang akan ngasih kamu pelukkan ketika kamu butuh. Mama akan selalu cinta sama kamu, apapun yang terjadi.” Bu Prakoso tersenyum lebar ke arah kami berdua. Yang langsung aku dan Bagas balas dengan senyuman yang sama.

“Papa belum bisa nerima kamu, Nak,” kata Pak Prakoso setelah hening beberapa saat. “Papa butuh waktu untuk itu. Tapi, Papa nggak akan ngusir kamu dari rumah, atau nyuruh kamu berdua untuk saling pisah. Kasih Papa waktu dulu, sebelum Papa bener-bener nerima kalian dengan lapang dada. Papa nggak tau akan berapa lama Papa mau mikirin hal ini. Tapi kalian Papa izinin pacaran—ya Tuhan—meskipun Papa masih rada geli juga kalau tau kalian bedua itu… laki-laki.”

Kali ini, senyumanku dan senyuman Bagas makin berubah lebar. Aku tahu kalau Pak Prakoso butuh waktu untuk ini, bagiku hal itu tidak masalah sama sekali. Selama Bagas masih bisa berada di sampingku, itu sudah cukup. Aku bahagia. “Terima kasih, Om.” Aku berdiri dari dudukanku, lalu beranjak ke arah mereka. Dengan gerakan pelan, aku menyalami tangan kedua orang tua Bagas, yang langsung mereka balas dengan senyuman. Ibuku yang berdiri di ujung sofa memberikanku pelukkan hangat, yang langsung kubalas dengan sama hangatnya.

Setelah berbincang-bincang dengan Kak Al dan Den Anzar tentang hubungan kami—walaupun Den Anzar juga rada-rada geli ketika kami membicarakan sudah sejauh mana hubunganku ini—yang sudah berjalan hampir sebulan. Pak Prakoso dan istrinya sudah kembali pergi bekerja, sedangkan Ibuku tidak dipecat sama sekali. Aku bersyukur mereka tidak marah besar, meskipun Pak Prakoso cukup mengagetkanku dengan suara lantangnya tadi, tetapi itu bukan masalah lagi sekarang. Dia akan menimbang-nimbang, apakan harus menerima hubunganku dengan anaknya atau malah tidak menerimanya sama sekali. Aku sangat berharap Pak Prakoso mempunyai pikiran yang terbuka.

“Inget nggak apa yang tadi Papaku bilang pas aku baru aja ngasih tau tentang hubungan kita?” tanya Bagas saat kami sudah berada di dalam mobilnya. Aku memasang seat belt lalu menatap wajahnya yang tertimpa cahaya matahari dari luar sana. Dia mengalihkan pandangan matanya ke arahku, kemudian berpindah lagi ke arah jalan.

“Lupa. Emang tadi Papamu bilang apa?” Aku benar-benar lupa, sungguh. Bagaimana bisa aku mengingatnya kalau yang terngiang di kepalaku adalah suara lantang dan bentakkan Pak Prakoso. Selama aku hidup, yang baru membentakku itu hanya Sid, Ayahku dan beberapa cewek yang kutolak cintanya. Jadi… kalau ada yang membentakku, aku langsung lupa kata-kata awal yang meluncur dari mulut orang tersebut.

Bagas menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia meniru suara Papanya. “Kamu apain Revie? Kamu apain anak sepolos dia? Papa besarin kamu bukan buat ganggu anak orang!” Suara Bagas benar-benar mirip suara Pak Prakoso. Kini barulah aku tahu kalau suara lantang yang keluar dari mulut Pak Prakoso tadi ternyata itu. “Lihat! Papaku anggep akulah penjahatnya di sini. Padahal bukan sama sekali.” Bagas menolehkan kepalanya ke arahku. “Makanya, kamu itu jangan punya muka lugu kayak gitu, jadi kalau ada apa-apa bukan aku aja yang disalahin nanti.”

Aku tertawa pelan, membuat Bagas menyeringai lebar. “Kita ke Korea aja kalau gitu,” kataku setelah tawaku mereda. “Terus aku mau operasi wajah di sana. Biar nggak kayak gini lagi. Aku mau buat mukaku jadi biasa-biasa aja.”

Tangan Bagas yang besar mengacak-ngacak rambutku. “Nggak perlu, kamu pakek cadar aja kayak cewek Arab. Biar sekalian semua orang yang ada di dunia ini nggak merhatiin muka kamu dengan muka nafsu mereka.”

Aku tertawa kembali, kucolek lengannya yang liat dengan nakal. “Emang kenapa kalo orang ngelihatin mukaku dengan muka nafsu? Kamu cemburu?”

“Iyalah!” sahutnya cepat. “Aku nggak suka kalau mereka perhatiin muka kamu dengan pandangan kayak gitu. Kayak dulu itu, pas And merhatiin muka kamu kayak orang lapar. Selalu buat aku cemburu. Tapi setiap kali aku mau ngedeketin kamu, kamunya yang malah menjauh. Ngebuat harapanku jadi pupus seketika, sebab itulah aku nggak pernah ngasih kamu tatapan yang sama kayak And. Aku punya tatapan dengan caraku sendiri untuk kamu. Aku natap kamu lewat hati.”

“Gombal!” seruku, kupasang senyuman terbaikku. “Aku selama ini selalu nganggep kamu cowok pendiem kayak Tivo. Tapi tau-taunya pinter bicara juga.” Bagas kembali menolehkan kepalanya ke arahku, wajahnya yang tampan mengerut konyol. Aku menggeser sedikit seat belt yang berada di dadaku hingga berpindah ke pundakku. Kuangkat badanku lalu beregerak mendekat ke arahnya. Kucium tengkuknya yang harum persik, lalu menghisapnya pelan. Membuat Bagas menggeliat dalam kaget.

Aku menjauhkan badanku sambil mencoba menahan tawaku. Bagas menyipitkan matanya dengan geram, tahu kalau aku sedang menggodanya. Dia mencengkram kemudi dengan keras hingga jari-jarinya memutih. Matanya teralih ke arah jalanan, kemudian dia menekan pedal gas dengan kencang. Membuat mobil yang kami naiki berjalan dengan cukup ngebut. Bagas memang suka ngebut, tetapi yang ini sudah melebihi batas.

“Gas, pelan-pelan aja,” kataku sambil memegang seat beltku keras-keras.

“Nggak bisa,” ujarnya dengan suara serak. “Kamu udah ngegoda aku sembarangan, dan kamu harus aku hukum di rumah.” Aku hanya mengernyitkan dahiku, sambil berpikir keras, hukuman macam apa yang akan dia berikan untukku. Ah, tidak usah dipikirkan, sepertinya aku akan menikmati hukuman yang akan Bagas tunjukkan untukku nanti. Apapun itu. Kuulas senyumanku sambil membayangi apa yang akan terjadi denganku beberapa saat lagi ketika kami sudah sampai di rumah.

***

Hari ini Oma Ajeng tidak menyuruhku datang ke rumahnya. Dia sedang ada check-up rutin dengan Mas Geo. Jadi, setelah dihukum beberapa puluh menit oleh Bagas, dan dengan badan yang masih sedikit agak pegal, kini aku sudah berada di dalam mobil Tivo yang dipenuhi oleh Sid dan And. Kami duduk di bangku mobil sambil sesekali melirik pintu kaca yang berjarak dua puluh meter dari arah kami duduk. Berharap pintu kaca itu terbuka lebar, lalu sosok Zavan yang kami tunggu sejak dari sepuluh menit yang lalu muncul.

Setelah lagu Perfect Match yang dibawakan oleh Dev selesai terputar di speaker mobil Tivo, akhirnya pintu kaca itu terbuka lebar. Zavan dengan langkah panjang, dan rambut blonde yang tertiup angin, keluar dengan luwes dari arah pintu tersebut. Kacamata hitam yang dia gunakan bergerak ke kanan dan ke kiri seraya dia menolehkan kepalanya. Sid membuka kaca mobil Tivo lalu melambaikan tangannya. Agar Zavan sadar kalau keberadaan mobil yang dia cari ada di dekatnya.

Tivo hari ini membawa mobilnya yang lain, dia melakukan hal itu karena And tidak suka dengan bangku keras mobil Tivo yang kemarin. Karena itulah Zavan tidak tahu mana mobil yang akan menjemputnya. Hari ini Tivo memang menyuruh Zavan untuk tidak membawa mobil saat dia pergi ke tempat ini, karena ada urusan yang kami berlima akan lakukan. Yang aku yakini pasti bersangkutan dengan sekolah kolong jembatan yang Tivo buat. Hanya saja Zavan belum tahu. Soalnya kalau diberitahu, Zavan pasti akan menolak dengan cepat. Dia kan tidak suka berkumpul di daerah jelata. Sahabat buleku satu itu mempunyai selera tinggi.

“Kita mau kemana emangnya hari ini?” tanya Zavan sembari masuk ke dalam mobil. And dan aku langsung menggeser dudukan kami, agar zavan bisa mendapatkan tempat duduk. “Kok tiba-tiba kalian mau ngejemput gue di tempat ini?”

Sid yang duduk di bangku depan hanya menaikkan pundaknya tidak tahu, karena dia memang tidak tahu kalau kami akan pergi ke kolong jembatan beberapa saat lagi. Sedangkan aku, And dan Tivo hanya diam saja, tidak mau memberitahu mereka berdua. “Gue juga nggak tau, tiba-tiba Tivo sama dua orang ini ngejemput gue di rumah Adam. Gue juga udah tanya kita mau kemana, tapi mereka nggak jawab. Palingan juga kita mau ngumpul-ngumpul sambil ngemil di Kedai Ice Cream. Iyakan, guys?”

And dan Tivo hanya menaikkan pundak mereka, masih tidak mau memberitahu Sid dan Zavan tujuan kami yang sebenarnya. Aku cepat-cepat mengganti topik sebelum mereka kembali merecoki kami dengan rentetan pertanyaan yang mendesak untuk dijawab. “Sudah selesai pemotretannya?” tanyaku ke arah Zavan, membuat mata hazel sahabat buleku satu itu menoleh ke arahku.

“Sudah, tapi ntar malem ada lagi. Buat majalah AmazTeen. Sebenernya sih gue males banget, soalnya sesi foto gue nanti bakalan bareng sama artis remaja cowok Indonesia yang lagi booming itu. Mas Rais tadi bilang namanya siapa ya? Bentar dulu, gue inget-inget.” Zavan mengerutkan keningnya, wajahnya berubah serius kalau sedang mencoba berkonsentrasi. “Oh, iya, namanya Steven Wuliam.”

“William,” koreksi Tivo dari bangku depan.

“Iya, itu, Steven William. Terserahlah, siapapun namanya dia.” Zavan mengibas-ngibaskan tangannya, badannya yang sekarang agak berisi menyandar di sandaran kursi. “Gue paling males kalo pemotretan itu bareng artis. Mereka belagu, sok paliing tau gaya yang oke. Padahal fotografernya udah nyaranin buat pakek gaya yang udah semestinya, eh, mereka malah pakek gaya monyet kesurupan kepala kontol. Jadinya kan gue kadang keki, ngelihat tampang sok profesional mereka.”

Sid mengernyitkan wajahnya. “Emang ada monyet kesurupan kepala kontol?”

“Ada,” jawab Zavan cepat. “Coba deh lo ikut gue kalo pemotretan, dan lihat gaya-gaya artis belagu itu kalo lagi sesi foto. And you will know what my words mean.” And dan aku saling melempar senyum, tidak tahu harus menyahut apa tentang ucapan kotor yang keluar dari mulut Zavan barusan. “Sudah ah, nggak usah bahas pemotretan lagi. Gue lagi males gila. Bahas yang lain aja.” Zavan membuka kacamata hitamnya yang terlihat mahal, lalu dia melempar kacamata itu di jok belakang. “Jadi… ada kejadian apa aja hari ini sama kalian?”

“Kalo gue sih NS,” sahut Sid, And dan Tivo berbarengan.

“Yah, nggak seru. Gue kira ada yang putus hari ini.” Sid dan And langsung mendelik ke arah Zavan. Cowok bule satu itu pura-pura memasang wajah polos. “Kalo lo Rev, gimana? Sudah putus dari Bagas? Atau malah sudah CO?” Zavan memperhatikan wajahku dengan raut wajah ingin tahunya. Dia menggeser duduknya hingga ke dekatku. Dengan hati-hati aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya yang kedua. “Serius lo? Kalian berdua sudah CO?” Aku mengangguk sekali lagi. Bahkan Sid, And dan Tivo ikut-ikutan kaget. “Sekarang lo harus cerita ke kita semua tetek bengek dramanya?”

Kemudian aku menceritakan segalanya pada mereka. Dari awal hingga akhir, mereka berlima mendengarkanku dengan seksama. Zavan yang biasanya menyela cerita, kini diam membisu.

“Oh, my Mamayukero!” seru Zavan setelah ceritaku selesai.

“Apaan Mamayukero?” tanya Sid tiba-tiba, membuat kepala Zavan berpindah ke arah Sid.

“Masa sih lo nggak tau Mamayukero apaan?” tanya cowok bule itu, yang langsung Sid jawab dengan gelengan kepala. “Nih denger ya lagu gue.” Zavan menarik nafas panjang lalu dia mulai mendendangkan lagu tersebut. “Mamayukero, Mamayukero, Mama… yukero, Mama… hati beta, hati beta—“

Sid menaruh tangannya di depan wajah Zavan, membuat bule itu langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. “Shut the fuck up!” gerutu Sid dengan nada mencemoohnya. “Lo tau nggak, pas lo nyanyi itu, mulut lo kebuka lebar. Mirip banget kayak pepek pas mau disodok sama kontol. So, mendingan lo diem, daripada setiap kali gue ngelihat mulut lo kebuka pas lagi nyanyi, itu malah ngingetin gue sama pepek.”

“Pelacur lo!” dengus Zavan sebal.

“Makasih, gue anggep itu pujian.” Sid menaikkan alisnya tinggi-tinggi, membuat ekspresi menantang. Zavan hanya mendecakkan lidahnya lalu memperhatikanku dan And yang sedang sibuk mentertawakan kekonyolan mereka berdua. “Emang lo dapet darimana kata Mamayukero si hati beta ini?” tutur Sid kemudian. Zavan memajukan badannya ke arah Sid. “Jangan bilang lo dapet kata ini pas lagi pacaran sama orang Ambon?”

Of course not. Gue dapet kata Mamayukero ini pas gue sama Rakel lagi nonton film komedi jadul yang para pemainnya itu Dono, Kasino, Indro. Di salah satu scene, mereka bertiga ada tuh nyanyi lagu Mamayukero. Gue baru tau, kalo film komedi jadulnya Indonesia bisa lucu kayak gitu. Nggak kayak filmnya Mr. Bean, setiap kali gue nonton film itu pasti bawaannya ngantuk. Atau nggak pengen garuk-garuk kepala kontol gue.”

“Lo nya aja yang kelebihan lust,” kata Sid, cowok itu membalikkan badannya agar bisa menatap ke arah kami bertiga dengan lebih baik. “Oh, iya, Rakel ini siapa? Another boyfriend lo lagi?” Sid menyipitkan matanya, bersungguh-sungguh ingin tahu. Zavan yang ditanya langsung memsang wajah malas. Aku paham, bahkan sebelum Zavan menjelaskannya. Pasti cowok bernama Rakel ini bukan siapa-siapanya.

“Rakel itu temen gue. Yah, anggep ajalah dia itu temen seks gue.” Zavan menggerling ke arah jalanan. Mengernyit saat tahu kalau mobil yang Tivo kendarai tidak menuju ke daerah yang semestinya. “Lagi pula, gue nggak pengen ah kehilangan Rakel. Maksud gue, udah cukup deh dia jadi temen seks gue aja. Soalnya kalo dia jadi pacar gue, dan kami putus, dia nggak bakalan ngasih gue pelajaran tentang seks lagi. Kalian pengen tau nggak, Rakel ini kalo di atas ranjang hebat lho. Gue selalu puas kalo ngentot sama dia. Pokoknya sebelum dia nusuk gue dengan kontolnya yang kayak Dora the Explorer itu, dia pasti mukul-mukulin dulu batang kontolnya di dekat lubang pantat gue. Buat gue—“

Na-ah, bitch! Nggak usah dilanjutin!” seru Sid cepat, membuat Zavan mendesah kecewa. “Lo nggak perlu kasih tau kami detail-detail pas lo di ranjang sama seseorang. I mean, biar hanya Tuhan, elo dan siapapun cowok itu yang tau. Gue dan yang lain nggak perlu lo kasih tau, oke. Karena setiap kali lo ngomong hal-hal kayak gitu, lo malah kayak mesin pecun yang kegatelan. Jadi, jangan!”

“Nggak asyik ah, kan ini juga sebagai pelajaran untuk kalian. Biar bisa lebih pinter saat seks dengan pasangan. Atau kalian bisa kasih tau pasangan kalian cara-cara seks yang memuaskan. Seharusnya kalian berterima kasih lho, udah gue kasih tau dengan gratis.”

Sid menatap Zavan malas. “Nggak perlu Zav. Sudah cukup gue sama yang lain belajar hal itu di homeroom Sex Education, ya. Jadi lo nggak usah nambah-nambahin. Solanya gue—entahlah yang lain—udah puas dengan cara Adam ngentot lubang pantat gue.” Aku dan And kembali melempar pandangan, sedangkan Tivo berpura-pura konsentrasi ke arah jalan. Aku sebenarnya ingin tertawa melihat suasana aneh yang sedang kami bicarakan. Tetapi kalau aku tertawa nanti Sid malah melototiku dengan matanya yang seram itu.

Oh, shut up you both!” ujar And akhirnya, menengahi perdebatan yang sedang terjadi antara Sid dan Zavan. Kedua cowok itu langsung mengatupkan mulut mereka sembari memperhatikan And dengan seksama. “Tadi kayaknya kita lagi bicara soal Revie, kenapa sekarang malah pindah topik ke arah seks?” Sid dan Zavan mengangguk-anggukan kepala mereka. Lalu dengan cepat mata mereka memperhatikan sosokku lagi.

“Jadi, lo sekarang bakalan tinggal serumah dong sama Bagas? Kan kalian udah CO, jadi nggak perlu takut lagi buat nutup-nutupin hubungan kalian?” tanya Sid dobel sekaligus.

“Walaupun kami sudah CO, aku sama dia tetep nggak akan tinggal serumah, Sid.” Aku menyandarkan tubuhku ke dekat And. Sahabat kecilku satu itu melingkarkan tangannya di pundakku, seperti memberitahuku kalau dia akan selalu ada untuk menjadi sahabatku. “Kalo aku tinggal sama Bagas, yang ngurus adik-adikku siapa?”

“Iya juga sih, tapi pasti seru kalo bisa tinggal berdua. Gue aja pengennya tinggal berdua sama Adam, tapi Mama gue masih butuh gue di rumah. Keluarga Adam juga kadang mampir ke rumahnya dia. Jadi… yah, beginilah. Kalo nggak gue yang main ke rumahnya, dia yang main ke rumah gue.” Sid mendesah sedih. Kalau mau dibilang sedih, aku juga pasti merasakan hal itu. Kalau bisa berbuat egois, pasti aku akan melakukannya. Meninggalkan adik-adikku, tetapi sayangnya aku tidak mampu. Bagaimana kalau nanti mereka kelaparan? Siapa yang akan memberikan mereka makan?

“Gue juga kadang ngerasa gitu.” And yang duduk di sebelahku kembali bersuara. “Gue juga pengen banget nyewa apartemen atau semacamnya, terus tinggal berdua sama Vick. Daripada harus sembunyi-sembunyi kayak gini. Kenapa pacaran para gay itu harus dibedain sama pacarannya orang straight!? Menyebalkan, padahal yang penting itu cintanya, bukan jenis kelaminnya. Iya, kan?”

Aku menganggukkan kepala, Sid dan Tivo pun melakukan hal yang sama. Hanya Zavan saja yang menaikkan pundaknya. “Ya udah, sabar aja deh kalian bertiga. Makanya, kayak gue dan Tivo dong, nggak usah punya pacar yang serius dulu sebelum mapan. Jadi nggak perlu ngerasain hal yang kalian rasain kayak sekarang ini. Nyiksa kan. Kita ini masih muda, frisky nggak dosa lho.”

“Nggak dosa memang,” sergah Sid ketus. “Tapi bakalan masuk neraka dilapisan paling bawah. Terus lo bakalan disiksa sampe lo teriak-teriak kayak orang gila.”

Zavan mengibaskan tangannya dengan gerakkan tidak peduli. “Lo pernah denger nggak lagunya Icona Pop, mereka bilang gini, I don’t care, I love it, I don’t care! Jadi kalo misalnya gue disiksa di neraka, gue nggak terlalu peduli-peduli amat sih. Gue dulu pernah baca buku Islam yang judulnya Siksaan Api Neraka. Di buku itu bilang, kalo orang yang suka bersetubuh dengan sesama jenis lubangnya akan ditusuk sama timah panas. Tapi gue malah suka tau. Kayak BDSM kan jadinya. Ntar gue teriak gini pas mau ditusuk sama timah panas. Oh, my Mamayukero, tusuk gue lebih dalam, fuck me harder, lebih panaskan lagi timahnya. Oh, Gawd! I like it, I like it!” Zavan mengerang seperti orang yang sedang diperkosa.

“Kayaknya Nyokap lo ngidam kata-kata dan pikiran kotor deh, Zav, pas dia ngandung lo dulu.” Sid berkata dengan nada andalannya. “Daritadi yang muncul dari mulut lo isinya pada nggak enak didenger telinga. Lo harus gue bawa ke gereja, terus gue Misa lo di sana. Biar otak lo yang error itu akhirnya sembuh juga. Holly-holly-halleluya.” Sid mendelik ke arah Zavan, bule satu ini hanya memasang cengiran lebarnya.

“Tapi kayaknya tetep aja nggak bakalan mempan deh, Sid,” ucap And, menyambut ucapan yang tadi Sid lontarkan. “Mau dia di-Misa kek, mau dia di-Ruki’ah kek, mau dia di-doa-doain kek, kayaknya setan binal yang ada di dalem dirinya nggak bakalan bisa keluar lagi. Too many much devil in his body. Yang ada malah ntar tuh setan-setan makin binal di dalam dirinya, dan kata-kata kotor yang sering muncul dari mulutnya bakalan makin parah.”

Zavan mendecakkan lidahnya sebal. “Kalian berdua itu dipenuhi purbasangka, seharusnya kalian berdua tuh yang harusnya di-Misa sama Paus Antonius.” Sid dan And langsung tertawa kencang mendengar gerutuan yang keluar dari mulut Zavan. “Eh, bentar dulu, kenapa kita malah ke sini?” tanya Zavan saat menyadari kalau mobil Tivo berbelok ke arah kolong jembatan yang ada di kawasan Pluit. “Jangan bilang kalo kita mau ke sekolah kolong jembatan lo, Tiv?”

Tivo memberhentikan mobilnya beberapa meter dari sekolah yang telah dibangun beberapa minggu yang lalu. Bentuknya sendiri sangat sederhana, hanya dengan dinding kayu yang dicat berwarna biru dan kipas angin gantung yang bergerak pelan, sekolah itu cukup layak untuk ditempati. Tivo menyuruh orang-orangnya untuk membuat empat ruangan, masing-masing mempunyai intesitas sendiri-sendiri. Kelas pertama untuk anak-anak yang belum bisa membaca. Kelas kedua untuk anak-anak yang bisa membaca dan ingin memperdalam ilmu bacanya. Kelas ketiga untuk anak-anak yang ingin belajar menghitung. Sedangkan kelas yang ke-empat biasanya diisi dengan pelajaran tambahan.

And membuka pintu mobil dengan sekali sentak, aku langsung mengikuti Tivo yang sudah keluar dari dalam mobil. Anak-anak kecil yang telah menjadi muridku untuk beberapa minggu ini berhamburan lari ke arahku. Tivo yang biasanya pendiam berubah semangat ketika mengajak anak-anak itu bicara. And yang berdiri di sebelahku juga mulai berkenalan dengan murid-muridku. Baju mereka yang sobek tertiup angin jakarta yang panas.

“Jelata everywhere,” ucap Zavan dari belakang tubuhku. Matanya yang hazel itu menatap segerombolan anak-anak yang sedang menggerumuni Tivo. “Kenapa gue bisa ada di sini sekarang? Gue pulang aja ya, gue nggak kuat kalo lama-lama di sini. Kan lo tau, jelata itu punya bau khas yang agak nggak enak buat dihirup sama hidung elegan gue. Ntar kalo gue kena kanker paru-paru gimana?”

“Lebay!” seru Sid, entah dia muncul dari mana. “Sudahlah, nggak apa-apa. Gue aja mau nih berdiri di sini. Lagi pula, gue pengen main sama anak-anak kecil ini. Sekalian ngerasain punya adik itu enak apa enggak.” Sid melambaikan tangannya ke arah Tivo. Gerombolan anak-anak itu berlari ke arah kami dengan gesit.

“Wah, ada bule,” ucap salah satu dari anak kecil itu dengan tatapan kagum ke arah Zavan. “Kak Tivo, fotoin aku dong sama bule. Nanti kita tempel fotonya di dinding kelas.”

Zavan menatap anak itu dengan tatapan yang tidak bisa kubaca. “Ternyata gue terkenal juga di sini,” bisiknya di telingaku. “Iya deh, nggak apa-apa. Sekali ini main sama jelata kayaknya nggak masalah. Semoga aja bau jelata mereka nggak akan ngebuat gue kena kanker paru-paru ya. Amin, Tuhan Yesus.” Zavan tersenyum lebar ke arah anak-anak yang mengerumuninya.

Awalnya Zavan cukup takut-takut saat bersalaman dengan anak-anak itu. Namun setelah beribincang banyak, akhirnya Zavan dan Sid mulai akrab dengan yang lain. Bahkan mereka berdua lebih lincah ketimbang aku dan Tivo. And yang mengambil makanan dari dalam mobil Tivo langsung dikerubungi anak-anak itu, aku hanya tertawa melihat tingkah mereka yang konyol. Tetapi, tiba-tiba perasaanku berubah tidak enak. Seperti akan ada hal buruk yang sebentar lagi akan terjadi.

Kugelengkan kepalaku, menepis jauh-jauh perasaan tidak enak ini. Tetapi semakin aku menepisnya, semakin tinggi pula perasaan tidak enak ini. “Revie yang ngajar hitung-menghitung, gue yang ngajarin mereka baca, kalo lo Sid yang ngajarin anak-anak yang sudah bisa baca itu, kalo lo Zav ngajarin anak-anak itu bahasa inggris, sedangkan And yang bakalan ngajarin mereka olahraga. Deal?” Baru kali ini aku mendengar Tivo berkata sangat panjang dalam satu tarikan nafasnya. Wajahnya yang biasanya datar berubah serius.

Deal,” sahut kami bersamaan.

“Ya udah, kalo gitu kita mulai aja kelasnya.” Tivo memperintahkan kami untuk masuk ke dalam kelas masing-masing, And mengajak anak-anak yang ingin belajar olahraga bersamanya. Kini baru kusadari kalau murid kami lumayan banyak. Ternyata orang tak berkecukupan banyak juga di dunia ini. Aku memperhatikan anak-anak itu dengan pandangan miris. Akan jadi apa mereka kelak, tanpa sekolah, akankah mereka bisa mengejar cita-cita mereka? Aku sangat bersyukur karena kedua orang tuaku masih sanggup menyekolahkanku dan adik-adikku. Tidak banyak yang bisa seberuntung orang yang dapat bersekolah.

Aku baru saja ingin memulai kelasku saat tiba-tiba HPku bergetar. Sebenarnya aku tidak mau mengangkatnya, namun saat aku membaca nama yang tertera di layar HPku, aku cukup terkejut. Mas Geo—perawat pribadi Oma Ajeng—sangat jarang menelponku. Kalaupun menelponku hanya ingin memberitahuku tentang Oma Ajeng yang sudah kembali ke rumah. Tetapi ini masih jam empat sore, aku yakin Oma Ajeng belum selesai check-up di rumah sakit. Aku sudah cukup hafal akan hal itu.

“Hallo, Mas?” sapaku setelah aku izin kepada murid-muridku untuk mengangkat telponku. “Ada apa? Sudah selesai ya check-up nya?”

Mas Geo menghembuskan nafas agak berat di ujung sana. Membuat perasaan tidak enak yang kurasakan tadi kembali muncul di permukaan. “Dek Revie,” ujar Mas Geo, dia kembali menghembuskan nafasnya agak berat. “Oma Ajeng pengen ketemu kamu di rumah.”

Aku mengernyitkan dahiku, heran kenapa Oma Ajeng malah sudah berada di rumah alih-alih di rumah sakit. “Emang Mas Geo nggak bawa Oma Ajeng check-up ke rumah sakit hari ini? Bukannya tadi Mas Geo bilang kalo hari ini Oma mau check-up ya?”

“Kita sudah selesai check-up, Dek,” ujar Mas Geo, suaranya berubah sendu. “Kata dokter Diatmika, Oma Ajeng keadaannya lemah, tadi sudah disaranin buat dirawat di rumah sakit aja, tapi Oma Ajeng nolak. Katanya dia… pengen meninggal di rumahnya aja.” Hatiku mencelos mendengar hal ini. “Tapi katanya lagi, sebelum dia bener-bener pergi, dia pengen ketemu sama kamu dulu. Pengen ngedengerin chapter terakhir buku yang sedang kalian baca. Dia pengennya, Revie yang bacain chapter terakhir itu.”

Mataku berubah panas, aku yakin air mataku sebentar lagi akan jatuh. Aku menelan air ludahku dengan susah payah, setelah berhasil menelannya, aku menyahut ucapan Mas Geo. “Sebentar lagi aku ke sana. Suruh Oma tunggu aku dulu. Oma Ajeng nggak boleh pergi kemana-mana sebelum aku sampai di sana dan nyelesain cerita itu untuknya.”

Setelah Mas Geo mengiyakan, aku memutuskan hubungan telpon. Aku berjalan cepat menuju ke arah And, lalu menjelaskan apa yang terjadi. And langsung meminjam kunci mobil Tivo dan mengatarkanku ke rumah Oma Ajeng. Semoga saja bukan hal inilah yang menyebabkan perasaanku tidak enak daritadi. Semoga saja semuanya akan baik-baik saja.

***

Ketika aku sampai di rumah Oma Ajeng, Mas Geo menyambutku dengan wajahnya yang muram. Dengan perasaan rancu aku berjalan pelan mendekat ke arahnya. Mas Geo mencoba tersenyum, tetapi yang muncul di bibirnya adalah seringaian sedih. Aku menghembuskan nafasku dengan perlahan, menatap ke dalam rumah Oma Ajeng yang nyaman dengan perasaan takut. Takut kalau Oma Ajeng akan segera pergi dari sisiku. Tidak akan ada lagi orang yang menasehatiku dengan kata-katanya yang bijak.

Kulangkahkan kaki perlahan menuju ke kamar Oma Ajeng. Selama ini Oma Ajeng selalu hidup sendiri, semua keluarga yang dia punya berada di luar kota, dan Oma Ajeng tidak pernah akrab dengan mereka. Aku pernah bertanya padanya, apakah dia merasakan kesepian akan hal itu? Dan jawaban yang Oma Ajeng berikan cukup mengejutkan. Dia tidak merasakan kesepian sama sekali, karena ada orang yang berada di sisinya. Orang itu mencintainya, dan Oma Ajeng tidak pernah merasakan sepi.

Sampai sekarang Oma Ajeng belum dikarunia anak, dia dan suaminya didiagnosa mandul. Mereka selama ini saling menjaga. Dua bulan yang lalu suami Oma Ajeng meninggal karena tumor otak, sekarang Oma Ajeng akan menyusulnya. Meskipun aku sangat berharap Oma Ajeng tidak akan pergi kemana-mana dulu. Aku masih sangat membutuhkan sosoknya, aku masih ingin mendengar setiap nasehat yang dia berikan untukku. Bagiku, Oma Ajeng adalah seseorang yang penting, seseorang yang membuatku bisa lebih tegar menghadapi masalahku.

“Revie,” sapa Oma Ajeng saat aku sudah berada di samping ranjangnya. Wajahnya yang kuyu dan tampak lelah menyiratkan keinginan untuk segera pergi. Oma Ajeng memaksakan sebuah senyuman, membuat kerutan di wajahnya terangkat sedikit. “Oma mau denger chapter  terakhir dari buku yang lagi kita baca.” Oma Ajeng mengeluarkan buku itu dari balik bantal yang digunakannya. Buku itu berjudul Romancing Mr. Bridgerton. Kuraih buku tersebut, kemudian ikut berbaring di sebelah Oma Ajeng.

Tangannya yang ringkih memeluk pinggangku dengan sangat erat. Kubuka lembar demi lembar buku yang kupegang dengan tangan gementar. Oma Ajeng menaruh kepalanya di pundakku, bisa kurasakan hembusan nafasnya yang putus-putus. “Epilogue,” bacaku lembayung, agar Oma Ajeng bisa mendengarkan dengan seksama. “Penelope dan Colin akhirnya menyatukan cinta mereka dalam sebuah surat pernikahan, namun bedanya, kali ini atas nama cinta. Bukan karena tipuan, bukan karena rintisan air mata, tetapi cinta yang lahir dari dalam hati. Mengikat mereka menjadi satu, membuat mereka kembali pulang dalam rindu. Colin mengeratkan tangannya di baku jari Penelope, mencium telapaknya dengan ujung bibirnya yang suam, Penelope tersenyum, berbatin kalau akhirnya dia telah kembali ke dalam cinta. Penantiannya selama enam belas tahun berbuah manis, menjadikannya orang paling bahagia di seantero dunia.” Nafas Oma Ajeng melambat, aku bisa merasakan itu di tengkukku. “Ketika bibir Colin menyapu bibir ranum Penelope, akhirnya cinta telah memulangkan mereka dalam ikatan kebahagian. Di sini, di dalam pelukan, mereka saling berbagi kegembiran. Untuk hari ini, besok, atau mungkin, untuk selamanya.”

Aku menutup cerita dengan nada sedih, tidak merasakan puas seperti cerita-cerita yang kubaca sebelumnya. “Malaikat datang,” kata Oma. “Mau membawa Oma pulang ke rumah.”

Setelah Oma Ajeng berkata seperti itu, dia pun akhirnya tertidur dengan nyaman. Matanya yang redup tertutup untuk selamanya. Pelukannya yang hangat mengendur, seperti memberitahuku, kalau Oma Ajeng memang telah pulang. Ke rumahnya yang sesungguhnya. Di surga sana. Bersama dengan orang yang dicintainya.

Aku merengkuh Oma Ajeng ke dalam pelukanku. Mas Geo yang berdiri di depan pintu menatap kami berdua dengan pandangan duka. Kusapukan tanganku di pipi Oma Ajeng yang berubah menjadi sangat lembut. Kubisikkan kata-kata perpisahan untuknya. Mengucapkan selama tinggal, namun aku yakin kami akan bertemu lagi. Di suatu tempat. Tempat yang lebih baik dari dunia ini. Sekarang, aku yakin Oma Ajeng akan bahagia dengan siapapun di atas sana.

Oma Ajeng, akhirnya pulang ke rumahnya yang sesungguhnya.

***

Pemakaman akhirnya berakhir, namun aku masih belum juga bisa untuk beranjak dari tempatku berdiri. Bagas yang berdiri di sampingku memegang pundakku dengan gestur menenangkan. Sudah dari tadi malam aku menangis. Pemakaman Oma Ajeng diurus oleh beberapa pegawai yang bekerja di kantornya. Aku hanya bisa memperhatikan pemakaman itu dengan raut wajah miris, ikut bersedih seperti langit yang hujan. Sid dan yang lain menatapku dengan tatapan sedih, Zavan maju selangkah dan menepuk pundakku pelan.

“Semua orang akhirnya akan meninggal,” katanya laun. “Hanya saja kita nggak tau kapan kita akan skipalong and leave the world. Jadi, yang tabah ya, Rev. Oma Ajeng pasti sudah merasa baik-baik saja di atas sana.” Zavan tersenyum simpul, yang langsung kubalas dengan senyuman yang sama. Kemudian dia dan yang lain langsung berderap pergi meninggalkanku dengan Bagas di dekat pusara Oma Ajeng.

“Ayo, pulang!” ajak Bagas, ketika hujan mulai menderas. Aku mengangguk, mengimbangi langkah Bagas yang panjang. Aku baru saja ingin masuk ke dalam mobil saat seseorang dengan jas hitam, dan wajah dewasa menahanku. Aku memperhatikan wajah orang itu, siapa tahu aku mengenalnya. Namun, tidak, aku tidak tahu siapa orang yang ada di hadapanku ini.

“Anda yang namanya Revie, bukan?” tanya orang itu. “Kata Geo, Anda yang namanya Revie.” Aku menganggukan kepalaku untuk mengiyakan pertanyaannya. “Ah, kalau begitu saya bisa minta waktunya sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Bagaimana kalau kita bicara di rumah Oma Ajeng saja? Kita bertemu di sana.”

“Euh, kalo boleh tau, bapak siapa ya/” tanyaku sambil memperhatikan lekat-lekat wajahnya.

“Saya pengacara Oma Ajeng. Saya ingin membicarakan perihal surat wasiat yang beliau tinggalkan untuk saya. Dia menyuruh saya untuk membacakan surat wasiat ini bersama dengan Anda.” Orang itu mencoba tersenyum, yang ternyata hasilnya gagal. “Jadi… kita bisa membicarakan ini di rumah Oma Ajeng saja? Saya yakin pasti Anda lah yang memegang kunci rumah Oma Ajeng, bukan?”

Aku menganggukkan kepalaku. “Kalau begitu, kita bicarakan di rumah Oma Ajeng saja.”

Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya aku dan Bagas sampai juga di rumah Oma Ajeng. Orang yang tadi bicara denganku juga sudah menunggu di depan pintu rumah Oma Ajeng. Aku bingung, bagaimana bisa dia mengendarai mobil secepat itu? Padahal tadi Bagas juga sudah ngebut. Kebiasaan buruk yang sangat sering Bagas lakukan.

Tanpa basa-basi lagi, aku langsung membuka pintu rumah dan menyuruh pengacara Oma Ajeng untuk masuk ke dalam. Setelah berbincang-bincang sedikit tentang aku siapanya Oma Ajeng, akhirnya orang itu mulai mengeluarkan banyak berkas dari tas jinjingnya. Aku mengerutkan alisku saat semua dokumen-dokumen itu berserakkan di atas meja. Sebagian dari dokumen-dokumen itu, di beberapa tulisan aku bisa membaca ada namaku yang tertera.

“Oh, iya, nama saya Iwan.” Aku dan Bagas hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Pak Iwan. “Kalau begitu langsung saja saya bacakan surat wasiat Oma Ajeng.” Dia berdeham sebentar lalu mulai membacakan beberapa hal yang tidak kumengerti, sampai akhirnya dia membacakan bagian intinya. “Jadi, tiga puluh persen harta yang Oma Ajeng punya akan disumbangkan ke Panti Sosial, sedangkan tujuh puluh persen lainnya akan diberikan kepada saudara Revie Ferdian. Dari rumah, beberapa mobil, dan beberapa perusahaan Oma Ajeng yang ada di Jakarta dan Kalimantan.” Aku terperanjat kaget, lidahku berubah kelu saat mendengar hal ini. Kemudian Pak Iwan kembali melanjutkan.

“Perusahaan-perusahaan itu akan dipindah tangankan atas nama saudara Revie Ferdian, namun tetap akan ditangani oleh setiap pegawai perusahaan. Sampai saudara Revie Ferdian berumur dua puluh satu tahun, semua perusahaan itu bisa saudara Revie Ferdian ambil alih sepenuhnya.” Aku masih tidak tahu harus berkata apa, bahkan Bagas hanya diam saja. “Semua uang hasil perusahaan akan masuk ke dalam rekening Oma Ajeng, yang kini telah berpindah tangan ke saudara Revie Ferdian. Untuk sandinya, saudara Revie Ferdian akan diberitahukan oleh pihak Bank. Perihal lebih lanjut bisa ditanyakan, Jakarta, dua puluh dua Juli. Dengan ini, surat wasiat atas nama Ajeng Muliyanti Sasongko telah dibacakan kepada penerima.” Pak Iwan menutup ucapannya dengan anggukan kepala.

Aku benar-benar masih tidak tahu harus berkata apa. Oma Ajeng memberikanku semua ini. Sungguh, apakah ini hanya mimpi? Tetapi tidak, aku yakin ini bukan mimpi. karena perasaan sedih karena Oma Ajeng tinggalkan sangat berbekas di hatiku. Aku menghembuskan nafasku dengan perlahan, masih berharap kalau ini sungguh terjadi. Karena apabila ini sungguh terjadi, keluargaku tidak akan sengsara lagi. Kami tidak akan sesulit sekarang dalam menghadapi ekonomi keluarga.

“Nah, Anda bisa tanda tangan di sini, sebagai pengesahan warisan yang Oma Ajeng berikan untuk Anda.” Pak Iwan memberikanku pulpennya. Tanganku agak bergetar saat menggores tinta berwarna hitam itu di atas secarik kertas yang berisi nama lengkapku. Ini memang sungguh terjadi, hidupku dan keluargaku akhirnya berubah. Aku sangat ingin berterima kasih kepada Oma Ajeng kalau dia ada di sekitarku saat ini. “Anda bisa mengisi rumah ini sekarang juga kalau Anda mau. Nanti semua kunci mobil dan beberapa brankas yang Oma Ajeng punya akan saya kirimkan pada Anda.” Pak Iwan memasukkan semua dokumen itu ke dalam tasnya lagi. “Kalau begitu, saya tinggal. Nanti kalau ada apa-apa telpon saya saja.” Pak Iwan menyerahkanku kartu namanya.

Lidahku masih kelu sejak daritadi, jadi aku hanya menganggukkan kepalaku. Sepeninggalan Pak Iwan, aku langsung menyuruh Bagas untuk mengantarku pulang. Aku ingin membicarakan hal ini pada keluargaku. Aku ingin mereka tahu kalau semenjak hari ini, hidup keluarga kami akan benar-benar berubah. Aku sangat antusias, dan juga merasakan pilu. Aku sungguh-sungguh ingin bertemu Oma Ajeng sekali lagi untuk mengucapkan terima kasih, semoga saja Oma Ajeng mendengarkan ucapanku.

Ketika aku sudah selesai menjelaskan semuanya pada keluargaku, mereka langsung memekik bahagia. Untung saja Ayah dan Ibu ada di rumah hari ini, jadi mereka juga bisa tahu kabar bahagia ini, meskipun mereka juga sangat sedih saat tahu kalau Oma Ajeng meninggal dunia.

Selama tiga hari yang panjang, akhirnya kami benar-benar menempati rumah Oma Ajeng. Sebagai kenangan, kami tidak menurunkan foto-foto Oma Ajeng dan suaminya yang tersemat di dinding. Kami menganggap foto mereka adalah kenangan indah untuk keluarga kami. Sekarang aku tidak perlu menguatirkan adik-adikku. Meskipun Ibu masih berkeras untuk kerja di rumah keluarga Prakoso dan Ayahku yang mulai belajar untuk memhamai segala hal yang ada di perusahaan Oma Ajeng yang ada di Jakarta, aku tidak perlu menguatirkan adik-adikku lagi. Mereka tidak akan kelaparan, akan selalu ada makanan di atas meja saat mereka membutuhkannya. Kali ini, hidup kami sungguh-sungguh berubah drastis.

“Jadi… Revie mau tinggal sama Den Bagas?” tanya Ibuku, saat aku memberitahunya tentang hal ini. Aku pun menganggukan kepala, mengiyakan pertanyaannya. “Kalau begitu Ibu berhenti aja kerja di rumah Bu Prakoso, mungkin sudah saatnya Ibu buat istirahat.” Akhirnya, Ibuku pun mau mendengarkan saran Ayah untuk berhenti bekerja. “Revie silahkan tinggal sama Den Bagas kalau begitu di rumahnya. Ibu juga kasihan sama Den Bagas, dia hidup sendirian di rumahnya itu.”

“Kalau Ayah juga setuju-setuju aja.” Ayah menatapku dengan pandangan sayangnya. “Berkat kebaikan Revie pada orang lain jugalah kita bisa diberikan rumah ini. Ayah bener-bener bersyukur bisa punya anak sebaik Revie. Jadi, Ayah nggak akan ngelarang Revie untuk melakukan hal yang Revie suka. Tinggallah sama Den Bagas kalau begitu. Temani dia di rumahnya itu. Semoga kalian berdua selalu akur ya.”

Aku terkekeh pelan, kuangkat badanku lalu memeluk tubuh kedua orang tuaku. Mereka menepuk punggungku dengan kasih sayang yang tidak akan kudapatkan dari orang tua manapun. Aku mengecup kedua pipi orang tuaku sebelum akhirnya aku beranjak dan memasukkan beberapa bajuku yang tidak seberapa ke dalam koper tua yang Ayahku temukan dua tahun yang lalu di pembuangan sampah. Karena koper itu masih terlihat bagus dan masih bisa digunakan, maka itulah Ayahku memungutnya.

Sengaja aku tidak memberitahu Bagas kalau aku akan pindah ke rumahnya hari ini. Biar menjadi kejutan. Dengan diantar oleh Ayah—yang baru kuketahui kalau dia dulu pernah kerja jadi tukang angkot—menggunakan mobil yang dahulunya punya Oma Ajeng, akhirnya aku sampai juga di depan rumah Bagas. Jantungku berdegup kencang. Ini adalah pertama kalinya aku akan meninggalkan keluargaku—yah, meskipun aku masih bisa rajin-rajin main ke rumah—dan tinggal dengan seseorang. Seseorang yang selama ini kucintai.

“Revie masuk dulu kalo gitu, Yah,” ucapku sambil mengeluarkan koperku dari dalam bagasi belakang mobil. “Nanti Revie bakalan selalu main-main ke rumah kok.”

Ayahku tersenyum. “Inget, jangan berantem sama Den Bagas!” kata Ayahku mengingatkan. “Akur-akur sama dia. Ayah nggak mau ngelihat kamu pulang sambil ngasih tau kalau kamu lagi berantem sama dia. Ayah nggak suka dengernya.” Aku hanya tertawa, yang langsung Ayahku balas dengan pelukan. “Ya, sudah, sana! Titip salam buat Den Bagas, ya.”

Aku menganggukkan kepalaku. Setelah mobil yang Ayahku kendarai sudah tidak terlihat lagi, aku menggeser koperku hingga berada di depan pintu rumah Bagas. Aku mengetuknya beberapa kali, sampai akhirnya Bagas membukakan aku pintu. Hari ini dia hanya mengenakkan singlet putih dan celana pendek, membuatku—selalu—tercengang melihat tubuhnya yang bidang itu. Kuberikan senyuman terbaikku untuknya, kuangkat koper tua yang berdiam diri di sebelahku. Setelah Bagas mengetahui apa maksud dari koper itu, dia merengkuhku dalam pelukannya yang hangat. Ketika dia memasukkan koperku ke dalam rumah, dan dia menutup pintu. Aku tahu, inilah awal cerita kami yang sesungguhnya.

 

–Ups, Bersambung to Chapter 12-End–

Sekarang nunggu sampe 40 komen baru gue post yg ke-12 alias yang bagian terakhirnya. Hahaha, sengaja kok buat ceritanya kayak sinetron (sebelum kalian hina duluan–rolling eyes) Soalnya sekarang sudah jarang cerita yg enggak kayak sinetron, jadi nikmati aja yaa. hahaha :D Intinya itu kayak cokelat Silver Queen dan Cadburry, rasanya sama2 cokelat, sama2 lembut, ya kayak cerita gue ini, sudah banyak juga yg punya isi cerita yg kayak gitu. So, nggak akan gue gubris kalo ada yg bilang cerita gue kayak sinetron, soalnya gue udah bilang sendiri. Hahahaha :-P

Dan, jangan coba2 buat komen dua, satu pura2 jadi orang lain, you know, gue tau lho kalo kalian komen dobel tapi satunya jadi org lain. Wkwkwkwk :p

Loyal

======================

Loyal

By. Abel Belphegor

======================

Namanya Satria Nicholaus. Ada yang memangilnya Niko, Sat, dan Satria.

Aku yakin, semua yang memandangnya pasti terpikat oleh pesonanya. Tinggi,  rambutnya sangat hitam, dengan matanya berwarna biru laut. Dia sedang berjalan di koridor kampus dengan santai, menggunakan earphone sambil mengunyah permen karet. Dari ujung koridor berpasang-pasang mata meliriknya, baik itu perempuan maupun lelaki. Sesekali ada yang memanggil namanya sebagai sambutan pagi yang hangat. Raut wajahnya selalu ceria, menggambarkan dirinya yang memang tidak pernah memiliki beban. Hidupnya selalu mulus seperti tak ada hambatan.

Mulai dari kehidupan yang berada, prestasi yang cukup banyak, cerdas, dan yang paling penting punya banyak teman sehingga apapun keperluannya pasti selalu lancar. Meskipun dia orang yang berada, tapi dia orangnya sederhana dan hidupnya mandiri. Dia berpenghasilan sendiri walau dia putra satu-satunya di keluarga bahagia-nya.  Kehidupannya di kampus cukup terbilang baik, dengan IPK nyaris empat, aktif di organisasi, serta gabung di beberapa UKM olahraga dan musik. Sulit dipercaya memang untuk proporsi orang sepertinya, diimpikan semua orang baik dalam segala hal. Tidak hanya itu, dia orangnya sangat baik dan santun. Tak heran jika dia memiliki banyak teman dan penggemar. Orangnya supel dan enak diajak berbincang-bincang apapun karena dia banyak tahu hal.

Itulah sekilas penggambaran untuk dirinya yang sedang menunggu di tempat fotokopi kampus untuk mengurus berkas-berkas kuliahnya. Beberapa temannya mengeluhkan masalah pengurusan berkas kuliah yang sepertinya terlalu ribet dan berbelit-belit. Kampus yang akan menjadi standar Internasional itu seharusnya tidak perlu melakukan hal demikian. Juga didukung dengan sistem pengisian KRS online yang sudah berjalan dari tahun kemarin. Aku juga sempat mengeluhkan hal demikian, tapi mendengar perkataan Niko ada benarnya juga. Dia bilang kalau segala sesuatu itu butuh proses, baik itu panjang atau sementara. Sama halnya dengan kampus ini, jika ingin maju selangkah mengikuti perkembangan zaman maka itu membutuhkan proses. Entah itu instan ataupun lamban.

Hubunganku dengan dia sebatas pertemanan biasa. Aku menganggapnya demikian. Walaupun aku merasa dia denganku sangatlah dekat, dan begitupula sebaliknya. Aku tak pernah menganggap sebuah pertemanan itu adalah sahabat, karena dari dulu aku juga memiliki beberapa teman yang sangat dekat dan hasilnya sama seperti Niko. Semua sama, aku tak ingin menspesialkan temanku ini atau temanku itu. Kami sama-sama kuliah di satu Program Studi. Pertemuan kami waktu itu berlangsung pada masa-masa mahasiswa baru. Dia orangnya baik dan pengertian seperti yang telah kukatakan tadi. Aku selalu merasa nyaman bersamanya. Dia bisa membuat orang selalu betah dengan dirinya walau itu berlama-lama. Dia selalu tersenyum, memamerkan gigi putihnya yang rapi di hadapan orang yang dijumpainya. Itulah yang membuat orang lain dan diriku betah padanya serta menjadi nilai plus baginya.

Namun dia tidak sesempurna demikian. Walau banyak memiliki kelebihan, tapi dia memiliki kekurangan. Tidak ada orang yang sempurna, hidup tidak akan pernah mencapai seratus dengan batas kewajaran sembilan puluh sembilan atau sembilan puluh delapan. Hidupnya indah dengan berbagai warna cerah, tapi menurutku ada satu warna hitam. Gelap sekali seperti gulita malam.

“Aku lapar, yuk makan,” ajakku pada Niko.

“Kamu selalu seperti itu! Aku bicara serius denganmu! Jangan mengalihkan pembicaraan!” tegasnya padaku.

“Tapi aku lapar. Kamu belum lapar ya?”

“Aku sudah sarapan tadi! Jawab aku please…” pintanya.

“Tapi aku lapar.”

“Itu bukan alasan untuk tidak menjawab pertanyaanku. Sekarang aku ingin kamu menerimaku!” katanya serius masih memenjaraku dengan kedua tangan dan tubuhnya.

“Tapi aku belum sarapan, dan aku lapar!”

“Jawab aku dulu!” kerasnya padaku.

“Sat, kumohon lepaskan aku. Aku tidak ingin dipaksa olehmu untuk menjawab pertanyaan terbodoh darimu.”

“Kenapa? Kamu tak pernah memberikan alasan yang jelas untukku untuk itu!”

“Permintaanmu juga tidak memiliki landasan yang jelas dan itu sesuatu yang irrasional!” kerasku padanya dan perutku berbunyi memecah keheningan di antara kita berdua. “Tuh, perutku bunyi.”

“Baiklah, ayo kita pergi.” Dia melepaskan pegangannya di lenganku. “Tapi nanti kita telat, tiga puluh menit lagi dosen sudah masuk,” sambungnya.

“Kita beli makan di jalan saja. Sebungkus roti bisa mengganjal hingga kuliah berakhir nanti.”

“Aku ingin minta satu hal padamu, pikirkanlah kembali permintaanku dan jawablah segera.”

Aku hanya diam ketika Niko berkata demikian. Telah lama hal ini disampaikannya padaku dan tadi entah kesekian kalinya dia menyuruhku untuk menerimanya. Aku bingung harus menjawab apa ketika dia bilang bahwa dia mencintaiku, dia menyukaiku. Selama ini aku tidak pernah menjawabnya dengan kata-kata, namun sikapku selalu menolak akan hal itu. Walau perbincangan selalu ku arahkan ke arah yang lain, dia selalu bersikeras padaku.

Pagi ini aku telah janjian bersamanya untuk pergi ke kampus. Seperti biasanya, dia menjemputku dengan motor metik ungunya. Saat aku selesai memakai sepatu dan berdiri beranjak meninggalkan kamar kosku, Niko menatapku lama dan kami saling berpandangan. Dia kemudian memegang kedua pergelangan tanganku, dia menyandarkanku ke dinding dan ingin mendaratkan kedua bibirnya di bibirku. Namun aku lebih sigap dengan memiringkan kepalaku sehingga yang tersentuh oleh kedua daging merah muda itu hanya di pipiku. Aku tak tahu setan apa yang merasuki dirinya pagi ini hingga berlaku demikian padaku. Tapi aku tak memarahinya, aku tak kuasa akan hal itu. Tidak mendapatkan keinginannya, Niko bersikeras dengan memegang kedua sisi daguku menghadapnya. Tak mengapa dia menatapku agak lama, kemudian melepaskan cengkramannya di daguku dan meminta maaf. Dia menyakatan kalau dia mencintaiku. Tapi aku tak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan yang telah ingin diharapkan balasan dariku.

Sebenarnya aku juga suka padanya, tapi aku belum meng-ingin-kanya seperti yang dia katakan dan berikan padaku. Aku suka melihat penampilannya secara fisik yang menurutku di atas rata-rata. Hidungnya mancung dengan alis tebalnya membuat banyak orang akan berlama-lama ingin menatapnya. Aku juga tak tahu mengapa selalu saja tidak bisa menjawab dan merespon permintaanya akan hal itu. Aku sadar kalau aku tak pantas untuk dirinya yang begitu sempurna menurutku. Dia tampan, mapan, dan cerdas. Tak sebanding jika disejajarkan dengan diriku. Yah, kami tak sejajar. Diriku hanya sebatas telinganya saja. Aku lebih pendek darinya. Aku juga orang dari kelas menengah ke bawah. Aku hidup berkeluarga hanya dengan Ibuku.

Secara fisik pula, diriku tidak setampan dirinya. Kulitku coklat cerah dengan rambut warna coklat dominan hitam. Untuk ukuran keceradasan aku juga standar dan tidak secerdas dirinya. Mungkin secara perbandingan, itu pula yang membuatku merasa tenggang rasa padanya. Aku suka pada sikapnya padaku yang begitu baik dan ramah. Dia sering mengantarku pulang ataupun menjemputku dari kosan menuju kampus meskipun tempat tinggal kami berbeda arah. Terkadang dia menemaniku untuk sedikit berbagi cerita hidupku padanya. Dia selalu bisa membuatku nyaman berada di dekatnya. Namun aku sadar jika ternyata diriku tidak benar merasa demikian padanya. Aku seorang lelaki begitupun dia. Dia jauh lebih pantas mendapatkan wanita yang baik-baik untuk mendampingi hidupnya. Rugi dia memiliki kegagahan jika harus bersamaku.

“Paper kamu sudah?” tanyaku padanya, memecah kehengingan di antara kami di atas motor.

“Sudah.”

“Berapa lembar?”

“Empat,” jawabnya  singkat.

“Kamu marah ya?”

“Nggak.”

“Kenapa jawabnya singkat? Tumben? Biasanya kamu cerewet kalo di atas motor.”

Dia tak merespon pertanyaanku. Mungkin saja aku benar bahwa dia marah padaku karena aku mengecewakannya tadi sewaktu di kos.

***

“Kamu masih laparkan?” tanya Niko padaku.

“Pake nanya lagi, mau traktir aku ya?”

“Nggak, justru aku ingin minta ditraktir sama kamu.”

“Waduh. Aku lagi kere sekarang, jadwal kirimanku besok sampai. Kalo kamu nggak jemput tadi, hari ini aku pasti puasa.”

“Bercanda. Tuh, Saraa mau traktir. Dia ulang tahun hari ini.”

“Niko, mau ikut nggak? Udah mau pergi nih!” panggil Saraa pada Niko dari kejauhan.

“Iya, tunggu!” balas Niko. “Kamu mau ikut nggak? Lumayan loh buat hemat?” tanya Niko padaku.

“Nggak. Kamu pergi aja deh sendiri.”

“Kenapa?”

“Aku bukan undangan. Dia ngajaknya cuma kamu.”

“Saraa, boleh aku ajak teman?”  pinta Niko pada Saraa dari kejauhan.

“Boleh, boleh,” balas Saraa.

“Tuhkan, ayo ikut!”

“Okelah kalau dia perbolehkan, masalahnya aku kurang dekat dengannya.”

“Nggak apa-apa. Sekalian kenalan dengan anak sebelah. Banyak temankan bagus.”

***

Di restoran tempat kami makan Saraa hanya mengajak dua temannya yang lain. Jadi kami berlima di restoran ini. Aku berkenalan dengan kedua kawan Saraa. Misa dan Niken adalah karib bagi Saraa. Aku masih merasa canggung dengan situasi seperti ini. Terlebih lagi pada Saraa yang kulihat dari gelagatnya dari tadi memberikan perhatian lebih pada Niko tapi tidak diperdulikan olehnya. Niko sibuk dengan gadgetnya dan sesekali bertanya padaku ingin makan apa dan minum apa? Pandangan Misa juga mengarah pada Niko. Sepertinya Saraa dan Misa suka padanya. Keheningan pecah oleh Niken yang memulai perbincangan.

“Kamu tinggal dimana?” tanya Niken padaku.

“Aku tinggal di kompleks Nusa Indah. Kosan di sana.”

“Sendiri?”

“Iya.”

“Aku kira kamu tinggal sama Niko. Kalian dekat sekali, aku terkadang  melihat kalian pulang sama-sama.”

“Yah, Kebetulan kami searah,” kata Niko.

“Searah? Perasaan rumah kamu dan kosan dia berlawanan arah deh,” kata Misa. “Kamu Nusa Idaman kan?” Pertanyaan itu mengarah padaku dan kubalas dengan anggukan, setuju dengan perkataan Misa.

“Maksud aku, kita satu tujuan mau pulang. Hehe!” tawa Niko.

“Itu tetap beda arah. Oh ya, aku mengira kalau kalian itu sepupuan atau saudaraan. Pasalnya aku juga terkadang melihat kalian kalau pergi ke kampus selalu boncengan. Dan wajah kalian agak mirip kalau diperhatikan.”

“Tuhkan, ini sudah orang ke berapa yang beranggapan demikian,” kata Niko padaku.

“Oh ya, kalian pesan aja. Abel kamu pesan aja, jangan malu-malu.” Yang berulang tahun berkata.

Ku ulurkan tanganku padanya sebelumnya hendak mengucapkan selamat padanya yang telah bertambah umur. “Selamat ulang tahun ya, sukses selalu.”

“Makasih.” Balasnya pada tanganku dan dengan senyumnya.

***

“Aku ingin tanya sesuatu. Bisa nggak?”

“Apa itu?”

“Apakah Niko sudah punya pacar?”

Pertanyaan yang membuatku berpikir sebentar untuk harus dijawab bagaimana? Siang ini sewaktu menuju halte, aku bertemu dengan Saraa di parkiran Fakultas. Dia mengajakku ngobrol ringan sebentar. Aku sebenarnya tidak ingin berlama-lama mengobrol padanya, namun ada sesuatu yang ingin dia bicarakan padaku. Katanya penting.

“Setahuku, dia belum pernah pacaran.”

“Belum pernah? Cowok setampan dia belum pernah?”

“Setahuku sih belum pernah. Dia tidak pernah menceritakan tentang mantan pacarnya.”

“Kemarin aku menembak dia. Tapi dia langsung menolakku. Aku kira dia punya pacar.”

Aku baru tahu, kalau ternyata kemarin Saraa telah menyatakan perasaannya pada Niko. Tapi Niko tidak pernah bercerita untuk itu padaku.

“Serius?”

“Iya, serius. Dia bilang, dia tidak bisa. Karena dia mencintai seseorang. Dan aku kira itu adalah pacarnya.”

“Demikiankah? Tapi aku belum pernah mendengar kalau dia pernah bercerita tentang orang yang dicintai.” Bohongku padanya.

“Apa iya?”

“Iya, mungkin kamu harus berusaha lebih keras padanya agar dia bisa menerimamu. Aku yakin, banyak lelaki yang mengantri di belakangmu. Tapi kamu hanya memilih Niko. Dan pilihanmu tepat.” Yakinku padanya.

“Kamu yakin?”

“Aku yakin, asalkan kamu mau berusaha lebih keras lagi. Niko tipe orang yang jatuh cinta pada orang lain bukan secara fisik, tapi karena orang itu bisa membuatnya jatuh cinta padanya. Makanya dia menolakmu meskipun kamu sangat cantik.”

“Ah, kamu bisa aja,” balasnya tersipu.

***

“Aku juga suka padamu Sat,” kataku padanya sewaktu dia beranjak keluar kamarku hendak pulang.

Hari ini Niko ke kosanku membantuku membuat tugas. Sebenarnya aku bisa sendiri mengerjakannya, tapi aku jadikan momen ini untuk bisa menyampaikan apa yang ingin kusampaikan padanya. Aku harusnya mengambil sikap hari ini juga. Aku akan menyatakan perasaanku padanya. Aku harus mengambil keputusanku agar semuanya berjalan dengan semestinya. Dia membantuku menyelesaikan tugasku hanya dalam satu jam. Satu jam bersamanya adalah momen yang cukup kaku karena kami tidak saling bercengkrama panjang seperti biasanya. Hari ini aku gugup harus memulai bagaimana untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku tak tahu harus bagaimana? Kulihat dia serius dengan buku-buku untuk memberikanku referensi pada tugasku. Dan ketika selesai, dia beranjak pergi dari kamar dan sebelumnya pamit padaku kalau dia ada kegiatan malam ini dan harus balik sebelum matahari meninggalkan tugasnya. Namun sebelum keluar dari kamar aku langsung mencegatnya.

“Kamu bilang apa tadi?”

“Aku suka padamu.”

“Apa?” Dia mendekatiku.

“Aku suka padamu!” tegasku.

Niko lansung menciumku, tepat di bibirku. Namun kutepis dengan mendorong tubuhnya dan kutampar pipinya.

“Kenapa?” tanyanya heran. “Kamu tidak suka aku menciummu?”

“Aku suka padamu, tapi tidak harus kamu balas dengan menciumku,” balasku padanya. “Maafkan aku.”

Kupandangi wajahnya yang baru saja kena lima jari terbukaku. Aku agak kasihan padanya melihat dia merasa bersalah padaku.

“Aku yang minta maaf telah membuatmu tidak nyaman.”

“Bukan itu.”

“Terus minta maaf untuk apa?”

“Aku minta maaf karena telah menyukaimu.”

“Tidak ada yang salah jika kamu menyukaiku. Karena aku juga suka sama kamu,” balasnya padaku.

“Maafkan aku,” ucapku sekali lagi padanya.

“Jadi kamu menerimaku untuk jadi pacarmu? Untuk semua peryantaan yang sama yang pernah kukatakan padamu berkali-kali?” tanyanya padaku tak acuh pada permintaan maafku padanya.

“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa.”

“Maksud kamu apa? Untuk apa kamu bilang kalau kamu juga suka padaku?” tanya Niko heran.

“Makanya aku minta maaf. Sebenarnya aku lebih dulu menyukaimu sebelum kau menyukaiku, sebelum kau menyatakan perasaanmu padaku waktu itu. Tapi aku sadar bahwa kita tidak bisa bersama untuk situasi demikian.”

Kukatakan pada Niko bahwa aku telah menyukainya lebih dulu sebelum dia jauh mengenalku. Waktu itu kami masih pada tingkat mahasiswa baru dan aku telah menyukainya saat pertama kali bertemu. Saat bertemu dengannya pertama kali membuat perhatianku selalu terarah padanya. Terlebih lagi ketika kami mulai dekat dan berteman baik. Aku menjadi lebih suka padanya karena dia orangnya baik dan perhatian. Namun kutepis semua keinginanku mengingat bahwa aku harus bisa menjaga pertemananku dengannya. Hingga saat dia menyatakan kalau ternyata dia juga menyukaiku dan mencintaiku aku tak pernah meresponnya. Aku tak tahu harus bagaimana untuk menerima atau tidak. Sekaranglah menurutku bahwa momen seperti ini akan menentukan segalanya hubunganku dengan dia.

“Bodoh!”

“Memang aku bodoh, dan aku tolol. Tapi aku sadar kalau kita tidak akan bisa.”

“Bodoh! Kamu betul-betul bodoh! Cinta itu menurutmu terlalu sempit. Dunia terlalu luas untukmu sehingga kau tak berani keluar untuk menjelajahinya. Aku mencintaimu, dan kaupun demikian, kemudian kamu pun sadar akan hal itu. Itu adalah karunia Tuhan meskipun itu dianggap menyimpang oleh orang-orang. Kita tidak bisa lepas dari karunia itu!”

“Dan kamu sadar bahwa itu salah dan menyimpang. Karena aku sayang padamu sehingga selama ini aku tak menjawab pertanyaan bodohmu itu. Dan aku tak ingin kamu berada pada jalan yang salah.”

“Ah, sudahlah. Aku ingin pergi dari sini. Biarkan aku menenangkan diriku,” pintanya.

“Jangan pergi! Bisakah kau tinggal sedikit lebih lama di sini? Masih ada yang ingin aku sampaikan.”

“Kalau itu cuma pernyataan bodohmu tentang alasanmu selama ini. Sebaiknya aku pergi!”

“Please!” pintaku padanya. Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. “Aku mencintaimu. Aku ingin satu hal darimu sebelum semua ini berakhir.”

“Apa itu?” tanyanya agak ketus.

“Menjaulah dariku.”

Niko melepaskan pelukannya padaku dan menghadap padaku kemudian memegang kedua lenganku. “Apa Maksud dari semua ini? Kau bilang kau menyukaiku tapi kau tidak pernah membalas penyataanku. Kau mencintaiku tapi kau menyuruhku untuk menjauhimu. Apa maksud dari semua ini!” katanya agak keras.

“Justru karena aku mencintaimu aku tidak ingin kamu berada di jalan yang salah. Aku ingin kamu selalu mendapatkan yang terbaik. Karena kamu selalu mendapatkan yang terbaik.”

“Dan kamu yang terbaik,” katanya memelukku. “Aku tahu ini salah. Tapi aku tak kuasa menahannya. Aku diberikan karunia ini untukmu.”

“Itu adalah cobaan untukmu dan untukku juga. Aku ingin kita bisa menjalani cobaan dari Tuhan ini untuk kita.”

“Apa tak ada cara lain selain mejauh darimu?”

Aku belum merespon pertanyaannya. Aku ingat waktu itu Saraa mengeluhkan orang yang dicintai Niko siapa. Aku merasa menjadi penghalang bagi Saraa untuk bisa mendapatkan Niko. Saraa cantik dan baik, menurutku serasi dengan Niko. Jika seandainya aku tak ada, mungkin saja Niko telah bersama dengan Saraa. Niko menjadikanku alasan untuk menolak Saraa. Orang yang lebih baik dariku untuk dia. Seorang perempuan.

“Ada. Terimalah Saraa. Dia cantik dan baik. Cocok untukmu. Jauhilah diriku untuk waktu yang lama. Itu adalah jalan yang tebaik.”

“Aku tidak bisa.”

“Aku mohon dengan sangat agar kamu mau menyanggupinya. Ini adalah permintaan terakhirku padamu.”

Kami cukup lama terdiam sambil berpelukan. Hingga Niko bersuara agak parau padaku.

“Sulit untukku. Tapi apakah aku boleh datang kemari untuk menjengukmu?” katanya kemudian mengeratkan pelukannya padaku.

“Sebaiknya jangan.”

“Menegurmu di kampus?” tanyanya makin parau.

“Itu juga.”

“Apakah harus sampai segitunya? Menjauh darimu bukan berarti harus menjadikanmu musuh kan?”

“Itu adalah jalan terbaik bagiku dan bagimu. Bertemu denganku akan semakin menguatkan perasaan salahmu padaku.”

“Mulai kapan?”

“Sekarang.”

“Bisakah aku lebih lama memelukmu.”

Kurasakan sedikit isakan dari dirinya. Terasa saat dia memelukku dengan erat. Kulepaskan pelukannya padaku dan kucium bibirnya.

“Apakah itu ciuman terakhir?”

“Amin.”

Air mata Niko terjatuh di kedua pipinya. Mata birunya basah tenggelam oleh beningnya air mata. Bahkan saat menangis pun Niko terlihat tetap manis. Sesaat aku berpikir kedepan ketika aku tidak lagi bersamanya, semoga dia bahagia dengan orang lain yang suatu saat nanti akan menemani hidupnya. Dan tentunya seorang perempuan.

“Aku ingin satu hal sebelum semua ini berakhir. Satu hal sebelum aku meninggalkanmu. Satu hal sebelum memenuhi permintaanmu padaku.”

“Apa itu?”

“Jadilah pacarku untuk sebulan saja. Sebelum aku melepaskanmu, aku ingin memilikimu untuk sebentar saja. Aku ingin menjadi milikmu walau hanya sebentar.”

Niko memintaku untuk menjadi pacarnya, namun aku tahu itu adalah kesalahan terbesar sebelum aku berpisah dengannya. Akan lebih berat baginya dan bagiku untuk saling berpisah nantinnya.

“Aku tidak bisa.”

“Dua puluh sembilan hari.”

“Aku tak bisa.”

“Dua puluh delapan hari.”

Aku menggeleng.

“Apa aku tidak bisa menawar biar sedikit pun?”

“Tidak bisa.” Aku menegaskan.

“Seminggu. Kumohon dengan sangat, ini adalah permintaanku yang terakhir juga untukmu,” pintanya dengan memelas, Niko mengalirkan air matanya.

“Aku tetap tidak bisa. Sulit bagi kita untuk saling melepas hingga hari selasa depan.”

“Enam Hari. Please, aku mohon!”

Aku tak merespon padanya. Kulihat wajahnya sembab dan sesekali terisak sambil menatapku dengan penuh harapan. Jika itu adalah yang tebaik untuk diriku dan dirinya, seumur hidupku pun aku akan berpacaran dengannya jika dia memintaku. Namun rasioku berkata tidak.

“Ayolah, angguklah permintaanku. Untuk terahkhir kalinya.”

“Tidak.” Aku menegaskan sikapku padanya.

“Lima Hari.”

“Jangan memaksaku.”

“Empat.”

“Aku bilang jangan memaksaku!”

“Tapi kau juga memaksaku untuk mejauhimu. Tidak adil bagiku ketika hanya permintaanmu saja yang harus kuikuti tanpa ada keuntungan di kedua belah pihak. Kamu terlalu egois dan tidak pernah memikirkan tentang diriku. Tiga hari akan membuatku sangat bahagia bisa mendapatkan hal yang sangat kumimpikan sejak aku mencintaimu dan harus berusaha menjauhimu. Tiga hari memilikimu akan membuatku tenang dengan merasa pernah menjadi bagian terpenting dari dirimu.”

“Pergilah Sat. Dua minggu ke depan kita akan menghadapi Final Test. Aku tak ingin membuat pikiran kita berdua kacau balau. Baliklah setelah Final selesai. Tujuh puluh dua jam engkau bebas memilikiku.”

***

Selama kami bertemu di kampus aku mulai menjauhinya. Ketika kami saling bertemu dan berpapasan dia selalu menyapaku duluan. Aku hanya membalasnya dengan senyum kemudian berlalu darinya. Aku tahu dia sengaja mendekatiku. Terkadang dia mengejarku walau aku tahu itu sia-sia baginya karena pasti aku akan berpindah tempat kalau dia berada di dekatku. Selama itu aku harus bermain kucing-kucingan dengannya. Terkadang aku melihatnya membuntutiku hingga menuju kosanku. Terkadang pula aku melihat dia mengendarai mobilnya di belakang angkutan umum yang kukendarai menuju kampus. Di satu sisi aku ingin kita saling menjauh, dan di sisi lain aku merasa kasian juga terhadapnya yang hanya ingin bersamaku. Terkadang aku berpikir bagaimana seharusnya diriku padanya. Aku ingin dia senang, namun aku ingin menjauh darinya. Aku ingin dia selalu menjadi terbaik namun aku seperti menyiksa dirinya.

Aku melihatnya berada di sekitaran kosanku. Bahkan sekarang dia sedang menunggu di luar kosanku dari tadi. Sudah sekitar tiga jam dia menunggu di luar. Aku yakin dia banyak meninggalkan jadwalnya akhir-akhir ini. Biasanya jam segini dia akan latihan Kempo atau basket di kampus. Aku sebenarnya kasihan padanya yang telah lama menunggu di luar. Sebenarnya dia tidak memaksa untuk masuk ke dalam kamarku. Dia hanya datang dan menungguku di luar kamar. Kami juga tidak sedang  janjian hari ini. Aku ingin membukakan pintu untuknya namun kuurungkan karena sebaiknya tidaklah demikian. Aku tidak boleh kasihan padanya.

Hingga aku membuka pintu hendak keluar sebentar pergi ke warung membeli makanan. Melalui jendela kamar spontan kulihat dia langsung berdiri saat aku membuka pintu kamarku. Dia menatapku, kami saling berpandangan cukup lama. Lama aku tak memperhatikan wajahnya, sekarang telihat sangat kusut. Matanya agak merah dan berkantung. Kumisnya memanjang tidak dicukur rapi seperti biasanya. Pipinya lebih cekung dan wajahnya pucat.

***

Hari kesepatakan pun tiba. Niko tiba sangat pagi di kosanku. Semangatnya begitu tinggi melihat ekspresi wajah ceriahnya. Kuberikan senyum terbaikku padanya. Aku tak ingin membuatnya kecawa dalam waktu tiga hari kedepan. Tatapan matanya begitu indah menghiasi wajahnya yang terlihat lebih bersih dari kemarin, sepertinya dia telah membersihkan rambut di wajahnya.

“Matamu terlihat berat,” komentarku padanya saat pertama kali bertemu.

“Sepanjang malam aku memikirkanmu, memikirkan bagaimana kita tiga hari kedepan. Aku tak bisa tidur karenamu.”

“Kuharap kau bisa melepaskanku.” Kuberikan senyumku padanya.

Niko mengajakku berjalan-jalan hari ini. Bersantai setelah menghadapi final test selama selama dua minggu membuat otak sedikit lega. Sebenarnya aku juga suka pada Niko, aku sayang padanya. Dia orangnya baik, cerdas dan tampan. Pikiranku selalu mengatakan bahwa dia adalah orang yang paling tidak bisa untuk ditolak menjadi seorang untuk membahagiakan. Niko memang membahagiakan secara fisik dan psikis. Niko berasal dari keluarga yang baik-baik pula. Aku tak pernah mendengar bahwa dia punya musuh ataupun dia memiliki masalah yang berarti. Hidupnya yang nyaris sempurna, tidak ingin kuhancurkan dengan adanya diriku. Apa kata kedua orang tuanya ketika tahu bahwa orang yang disukai anaknya adalah diriku? Seorang lelaki yang sama seperti dirinya. Apa kata orang-orang di sekitar ketika tahu bahwa aku suka pada Niko dan sebaliknya? Bisa jadi hidup Niko akan berantakan karena orang-orang akan menjauhinya. Aku tidak ingin egois untuk memilikinya dengan mengorbankan seluruh yang terbaik bagi dirinya dan diriku. Apalah arti kebahagiaan jika lebih mendatangkan banyak mudarat baginya. Karena aku mencintainya, aku tak ingin hidupnya riskan.

Tak seperti biasanya ketika kita ke kampus, makan bersama, atau pulang bersama menggunakan motor matic. Kali ini dia membawa mobilnya. Padahal cuaca hari ini tidak begitu buruk. Dia juga agak pendiam dari biasanya. Terasa ada aura dingin ketika kami duduk berdua dalam mobilnya. Bukan dinginnya udara.

“Kita mau kemana?”

“Ke suatu tempat.”

Aku tak bertanya banyak lagi padanya, kuserahkan padanya membawaku ke manapun. Semoga dirinya bisa menjalani tiga hari kedepan dengan bahagia.

Cukup jauh Niko membawa kendaraan ini hingga dirinya memarkirkan mobilnya di sebuah rumah yang sangat besar. Aku sempat bertanya padanya kita di rumah siapa? Dia hanya menjawab bahwa itu rumah mamanya. Cukup lama aku berteman dengan Niko tapi dia tak pernah membawaku jalan-jalan ke rumah orang tuanya. Aku hanya tahu rumahnya tidak di sini, tidak bersama orang tuanya, dan tidak sebesar ini.

Kami berdua masuk kedalam rumahnya, aku hanya mengekornya dari belakang. Kami menuju ruangan dengan meja cukup besar, di sana terletak banyak makanan. Seorang wanita tua namun dengan postur tubuh yang bagus. Cantik untuk ukuran ibu-ibu biasanya. Sepertinya itu adalah ibu Niko. Kulihat dia menyalami dan mencium tangannya. Niko ternyata hormat pada orang tuanya. Terlihat senyum diantara keduanya dan sesekali ibunya mencubit pipinya dengan berkomentar bahwa anaknya tambah kurus. Kemudian Niko memperkenalkan aku pada Ibunya.

“Ma, ini teman yang Satria cerita.”

Ternyata Niko sebelumnya pernah bercerita tentang diriku pada mamanya. Aku berharap bahwa tidak terlalu banyak yang pernah dicerita tentangku. Dan semoga mama Niko belum mengetahui tentang diriku dan Niko. Jika mamanya Niko telah tahu, aku berharap beliau tidak mengutuk diriku. Kudekati perlahan mamanya Niko untuk menunjukka rasa hormatku padanya dengan mencium tangannya.

“Wah, ini ya yang namanya Abel? Kesannya seperti adik kamu.”

Aku baru tahu selama ini ternyata Niko punya adik, dan sepertinya Niko ingin menunjukkan sesuatu yang belum kuketahui sekarang.

“Seperti yang Niko cerita.” Kemudian Niko mencubit kedua pipiku di hadapan mamanya.

Kami tertawa bersama dalam candaan yang sesekali Niko cairkan dalam suasana percakapan antara kami bertiga. Ternyata mama Niko adalah orang yang cukup ramah. Melihat dari gelagat beliau, sepertinya dari tadi perhatiannya menuju padaku. Beliau bercerita bahwa dulunya Niko punya adik yang dari postur fisik keseluruhan mirip denganku. Beberapa sifatku dan kebiasaanku pun diumbar oleh Niko yang katanya juga mirip dengan adiknya itu. Aku merasa agak aneh saja pada Niko selama kita berteman, keluarganya sangat privasi baginya. Tapi sekarang sepertinya mulai jelas.

***

Di ruangan ini Niko menceritakan semuanya dengan jelas. Namanya adalah  Alberto Januarafi, katanya kerap disapa dengan sebutan Abet. Aku pun agak terkejut mendengar namanya yang hampir mirip dengan nama panggilanku. Kulihat gambar fotonya di album yang diperlihatkan oleh Niko. Adiknya ini adalah orang yang begitu disayanginya. Niko merasa sangat bersalah padanya karena dia merasa menjadi penyebab kematian adik tercintanya itu.

“Waktu itu aku marah padanya,” katanya.

“Kenapa Bisa?”

“Aku sangat marah padanya karena dia ternyata memendam rasa yang salah padaku. Sama seperti diriku yang sekarang kepadamu.”

“Jadi…”

“Iya, adikku itu menyukaiku. Aku tidak habis pikir kenapa dia bisa sampai begitu? Waktu itu aku frustasi dan tidak menerima kenapa adikku menjadi seperti demikian.”

“Terus, apa yang kamu lakukan padanya?”

“Waktu itu aku menjauhinya, bahkan cukup lama hingga dia pergi dari rumah dan meninggalkan sebuah surat.”

“Lalu?”

“Itu kelihatan seperti cerita TV, namun begitu nyata. Suratnya berisikan permintaan maafnya padaku. Waktu itu papa dan mama belum tahu tentang kejadian itu. Papa dan mama sedang keluar negeri dengan urusan masing-masing.”

“Bagaimana nasib Abet sekarang?”

“Aku tak tahu, semoga dia bisa bertahan di sana. Tapi dia orang yang lihai dan cerdas, aku yakin dia akan selamat. Aku selalu mendoakannya,” katanya sambil menunduk.

“Boleh aku bertanya sesuatu tentang adikmu dan dirimu?”

“Apa itu?” Niko menoleh padaku.

“Apa yang membuatmu marah padanya?”

“Aku juga tak tahu mengapa aku marah besar padanya waktu itu. Jika sekarang kupikir kembali, tenyata aku yang salah. Tapi sebenarnya aku tak ingin dia mencintaiku melalui batas kewajaran. Aku adalah kakaknya, dan dia lelaki.”

“Bagaimana dengan diriku?”

“Maksudmu?” Dia mengerutkan alisnya.

“Sat, kamu itu orang yang cerdas. Ditambah ketika kau melihatku adalah sebuah kenangan bersama dengan Abet. Kau seorang lelaki dan begitupula diriku, dan kau adalah teman baikku.”

“…” Dia terdiam dengan apa yang kukatakan barusan.

“Sekarang aku berada di posisimu dan kau berada pada posisi adikmu. Sebentar lagi kau akan merasakan apa yang adikmu rasakan. Aku akan menjauhi dirimu selama yang kubisa. Tiga hari dari sekarang adalah waktu untuk berpikir bagaimana menghadapi dirimu sendiri saat kau menginginkan adikmu untuk memilih sesuatu yang benar. Dan sekarang aku berada di posisimu sewaktu kamar ini masih diisi oleh yang punya.”

“Tapi kamu berbeda. Kau tahu, aku dulunya seorang yang begitu membenci dosa ini. Aku dulu seorang Homophobia. Tapi entah kenapa, sekarang aku jatuh cinta pada makhluk tuhan yang ada di depanku. Aku juga tak tahu, dan aku hanya tertarik padamu. Aku tidak pernah tertarik pada lelaki lain.”

Perkataannya membuatku mejadi sadar akan suatu hal. Mungkin saja dirinya hanya ingin melampiaskan rasa bersalahnya pada adiknya yang telah hilang entah kemana? Dirinya sebenarnya adalah lelaki pada umumnya. Dia hanya tertarik pada lelaki sepertiku. Sebenarnya dia tidak menderita sakit ini. Ada perasaan yang aneh dalam diriku. Senang, sedih, marah, kasihan, dan semuanya yang membuatku muak bercampur aduk menjadi satu. Aku senang ternyata dia seperti yang kurahapkan, tapi ternyata dia hanya sayang padaku sebagai adiknya jauh dalam alam bawah sadarnya. Marah padanya karena dia seperti mempermainkanku karena sebenarnya aku juga sangat mencintainya. Dan aku kasihan padanya karena aku iba padanya dengan penderitaannya. Itu adalah kesimpulanku sendiri tentangnnya. Entah benar atau salah, sekarang ini di kepalaku adalah diriku yang benar.

“Meskipun aku lebih tua darimu, tapi sebenarnya jauh dalam alam bawah sadarmu kau menyayangiku. Menyayangiku sebagai adikmu karena sekilas aku terlihat sama dengan Abet. Aku Abel dan dia Abet, aku yakin kamu belum sadar bahwa dirimu dengan hatimu merindukan Abet ketika memanggil namaku. Ditambah dengan diriku yang selalu menyendiri dalam kamar kosku, sekarang pasti kau lebih merindukan Abet yang sedang duduk memperhatikan dan menceramahimu sekarang di atas kasurku. Maskudku kasur Abet,” terangku padanya.

Air matanya jatuh. Lama kami saling berpandangan dirinya makin menjadi-jadi. Dia mendekatiku dan memelukku. Kurasakan suaranya lirih di sebelah kepalaku persis di telingaku. Anak seperti dia ternyata bisa menangis bersandarkan diriku.

“Aku ingin kau tidak memikirkan itu, aku ingin menikmati tiga hariku ini bersamamu. Aku ingin bersenang-senang denganmu, hanya milikku seorang.”

“Aku masih milik Ibuku,” kataku padanya.

–The End–

Terima kasih untuk partisipasi Abel atas ceritanya, nanti aku kirimi e-mail yang isinya untuk jadi salah satu penulis di blogku ya. Cek e-mail :)

Rainy Day (10)

DIS_

Chapter-Lagu 10

♫ Peter Bjorn And John – Young Folks

“Jadi kita mau makan di mana hari ini?” tanya Zavan saat kami sudah keluar dari homeroom masing-masing. Hari ini adalah hari terakhir ujian. Sebenarnya aku sudah keluar dari dua puluh menit yang lalu. Namun masih menunggu flocksku yang lain agar bisa pergi bersamaan ke DisCaf. Atau kalau mendengar ucapan Zavan barusan… kami akan pergi ke tempat makan yang lain. “Avenue A atau JackRabbit?”

Sid mengibaskan tangannya, tanda penolakkan. “Gue lagi nggak mau makan Pizza hari ini. Lagi pula Pizza di Avenue A nggak ada yang enak. Masih enakkan di Pizza Hut dan Pizza Cottage. Dan kalo kita makan di JackRabbit, sorry to say, Zav, gue lagi nggak selera makan masakan buatan Chef Juna itu. Semua makanan yang dia buat agak hambar.”

“Terus kita mau makan di mana dong?” tanya Zavan saat kami sudah berada di depan pintu exit hall sekolah. “Kiyadon? Sushi House?”

“Sperma EW! Gue lagi nggak mood makan ikan mentah dalam bentuk apa pun saat ini,” tolak Sid lagi. “Gimana kalo makan di Steak Out?”

Thanks, but no thanks,” sahut And tiba-tiba dari sampingku. “Gue punya pengalaman buruk di tempat itu.” Aku dan yang lainnya langsung menatap wajah And dengan pandangan ingin tahu. “Di tempat itu gue sama Vick pernah berantem, gara-gara masalah Quin waktu itu. Gue yakin semua pelayan yang ada di sana masih inget sama muka gue. Jadi lebih baik makan di tempat lain aja. Contohnya, di City Crab atau di Pondok Nasi?”

Sid dan Zavan menggeleng serempak, menolak usul yang And berikan. “Kenapa kita nggak makan di DisCaf aja?” tanyaku setelah lumayan bosan dengan perdebatan yang tidak akan pernah ada habisnya ini. Yang ada kami akan meninggal duluan sebelum perdebatan ini selesai. Sebab itulah, sebelum hal itu benar-benar terjadi, aku harus cepat-cepat menyudahi perdebatan yang saat ini sedang terjadi di antara kami.

Cause, today is Friday, Revie,” ujar Zavan cepat, suaranya dia buat sedramatisir mungkin. “Kita nggak pakek seragam sekolah kita yang tolol itu hari ini, jadi lebih baik kita makan di luar sekolah aja. Toh, kita dibolehin keluar juga kan tiap hari Jumat. Lagi pula gue bosen makan di DisCaf, semua makanannya terlalu banyak bumbu. Kayak yang gue pesen kemarin itu. Apa namanya, gado-gado, gede-gede, yah, whatever it is. Pokoknya kita harus makan di luar hari ini, mumpung penampilan kita kelihatan marvelous. Meskipun gue benci banget ngelihat sendal Crocs yang lo pakek.”

Refleks aku menundukkan kepalaku. Lima hari yang lalu Oma Ajeng membelikanku sendal ini, katanya bentuknya unik dan sangat nyaman ketika dipakai. Sebagai anak yang penurut, aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku saja. “Tapi unyuable tau,” seruku sambil mengangkat salah satu kakiku. “Warna sendalnya biru lagi. Tuh lihat! We are a young folks!”

Aku menggoyang-goyangkan kakiku di udara, membuat Zavan mendengus tidak suka. “Tapi mau se-unyuable apapun bentuknya, kalo harganya murahan kayak gitu buat apa. Mau Young folks malah jadi kayak old folks. Kalo Sid alergi sama fugly people, gue alergi sama barang-barang yang harganya dibawah dua ratus ribu. Barang murahan buat badan gue gatel-gatel.”

Aku hanya tersenyum lebar mendengar nada mencemooh itu keluar dari mulutnya. “Ya udah, kita makan di SoHo aja.” Tivo yang berdiri di sebelah And akhirnya membuka suaranya juga. Kami serempak menoleh ke arahnya, Tivo hanya memandangi kami dengan tatapan malasnya itu. Setelah diam beberapa saat, akhirnya Sid membuka suara.

Accepted! Kalo gitu kita makan di SoHo aja hari ini.” Kemudian kami melangkahkan kaki menuju ke parkiran. “Terus mobilnya siapa yang kita pakek buat pergi ke SoHo?” tanya Sid, lalu perdebatan itu kembali terjadi. Zavan mengusulkan menggunakan mobilnya, tetapi Sid menolak dengan alasan akan terkena Klaustrofobia. Lalu Sid mengusulkan menggunakan mobilnya tetapi Tivo menolak dengan alasan tidak suka dengan aroma Sandalwood yang mendominasi setiap sudut di dalam mobil itu. Kemudian Tivo mengusulkan mobilnya, tetapi And menolak dengan alasan tidak suka dengan bantalan kursinya yang keras.

Perdebatan pun terus terjadi, aku hanya bisa berdiri di tengah-tengah parkiran dengan raut wajah kelaparan. Ya, Tuhan. Bunuh saja aku, bunuh!

***

Seperti biasa, Grand Indonesia selalu penuh di waktu yang seperti ini. Kami berlima melangkah cepat menuju ke tempat makan yang kami tuju. Setelah berdebat selama kurang lebih tujuh menit, akhirnya Sid memutuskan untuk menggunakan mobil Tivo. And hanya bisa menggerutu dengan ciri khasnya. Perutku yang sedaritadi sudah keroncongan, karena aku belum ada sarapan sama sekali, langsung memesan makanan ketika kami sudah duduk dengan nyaman di sofa empuknya.

“Sayang ya, ganteng-ganteng tapi pelayan,” kata Zavan sambil memperhatikan pelayan cowok yang telah berlalu dari hadapan kami setelah dia menulis pesanan yang kami inginkan. “Kayak pelayan yang ada di Wendy’s waktu itu. Hanya satu ciuman yang bisa gue kasih ke dia. Coba aja kalo dia nggak jelata, pasti gue pacarin deh.” Zavan menyandarkan tubuhnya yang liat, matanya yang hazel menatap kami dengan tatapan sendu. “Oh, iya, berarti sekarang kita udah nggak three musketeers single happy lagi dong Rev. Lo sekarang sudah pacaran sama Bagas. Berarti sisa gue sama Tivo aja yang no relationship in life. Untuk saat ini sih.”

“Ya udah, lo cari pacar sana,” sergah Sid, cowok itu menekuk kakinya sambil memperhatikan wajah Zavan yang memelas. “Emang pacar lo yang kemarin ke mana? Bukannya tiga hari yang lalu lo baru cerita ke kita kalo udah punya pacar baru?”

“Si Ronan. Burn baby burn! Gue sama dia udah putus. Muka boleh ganteng, tapi ciumannya itu lho. Sangat membosankan. Stabilo kata gue itu tebel-tebel.” Zavan mendesah panjang. “Gue nggak ngerti deh, kenapa hubungan gue sama cowok tuh nggak pernah ada yang bener-bener serius. Maksud gue, yeah you fucking anjing, gue itu pengen punya pacar yang satu untuk selamanya. Yah, kayak kalian bertiga gitu. Lo sama Adam udah dua tahun, And sama Vick udah satu tahun. Sedangkan Revie sama Bagas hampir satu bulan. Nah, kalo gue, paling lama pacaran cuman seminggu aja. Itu pun putusnya pasti ada dramanya, kayak di sinetron Putri yang Terganti.”

“Tertukar,” koreksi Tivo cepat.

“Iya, itu. Putri yang tertukar pepeknya. Or whatever!” Zavan mendengus sebal. Wajahnya yang semula memelas berubah bosan. “Sebenernya gue kemarin udah pengen belajar buat serius sama Ronan. Tapi pas gue ciuman sama dia, rasanya sangat membosankan. Nggak pakek lidah, nggak ada gigitan-gigitan erotis, dan nggak ada jilatan di sudut bibir. Cuman nempel gitu aja. Gue ngerasa kayak lagi ciuman sama tembok. Bahkan kontol gue yang biasanya berdiri ohh la la, malah diam tak bergerak. Makanya, dengan keputusan yang nggak akan bisa dirubah lagi dengan apapun, gue mutusin Ronan. Dan belajar untuk serius itu pun gagal. I’m really terrible in relationship. Fuck you, relationship! Siapapun engkau, bitch!”

Aku memajukan badanku ke dekat Zavan. “Jangan belajar Zav, tapi jatuh cinta lah.”

“Lagi-lagi itu,” katanya makin memasang wajah bosan. “Cinta, cinta dan cinta. Who cares about it? Cinta hanya membawa petaka. Lagian, cinta itu bodoh. Saat lo jatuh cinta, logika yang lo punya pasti hilang entah kemana. Motherfucker!”

“Tapi karena cinta itulah gue sama Adam bisa bertahan sampe dua tahun dan sampe sekarang,” sahut Sid sambil menyilangkan badannya agar pelayan yang membawakan pesanan kami bisa menaruh makanan di atas meja. “Cinta memang bodoh, tetapi semua hal bodoh itu akan terlihat indah pas lo jatuh cinta.”

Zavan mengernyitkan wajahnya. Dia mengangkat tangannya lalu memegang dahi Sid. “Nggak panas kok. Tapi kayaknya lo lagi sakit deh. Atau mungkin lo kesurupan Cupid, makanya bisa sok puitis gini? Kan yang biasanya puitis itu Revie.” Sid memutar bola matanya, dia menyesap Cinnamon Panther-nya dengan perlahan. “Tapi, iya, gue ngelihat kalian bener-bener bahagia setiap kalian lagi sama pasangan masing-masing. Meskipun gue tetep sama prinsip gue. Cinta itu bodoh.”

Aku menyantap Pasta-ku sambil memperhatikan ucapan Zavan yang mulai berisi makian tentang cinta. And yang duduk di sebelahku juga hanya diam saja sambil memakan makanannya. Kalau Tivo lagi berada di dunianya sendiri. Memain-mainkan iPadnya, sesekali dia menyesap Espresso dinginnya. Hanya Sid saja yang sesekali menimpali apa yang Zavan katakan. Dari semua ucapan yang Zavan lontarkan tentang cinta, aku menangkap ada semacam trauma yang pernah dia alami. Mungkin gara-gara cewek yang ada di dompetnya itu. Yang bernama Hermione. Seperti nama sahabatnya Harry Potter.

“Jadi Rev, lo udah ngambil keputusan belum? Lo jadikan tinggal berdua sama Bagas di rumahnya itu?” tanya Zavan tiba-tiba, saat aku sedang menarik Pastaku hingga masuk ke dalam mulut. “Tapi sayang ya, lo sama dia belum ada coming out sama sekali. Kayak And sama Vick.”

Kusesap minumanku sebelum menjawab pertanyaan Zavan barusan.

***

Dua hari yang lalu Bagas menawariku untuk ikut tinggal bersamanya di rumah yang dia rancang dengan desainnya itu. Tetapi entah bagaimana aku tidak bisa meninggalkan ke-enam adikku begitu saja. Apalagi Ayah dan Ibu pasti akan bertanya kenapa aku tinggal di rumah anak majikkanya. Tetapi di dalam hatiku yang lain, aku sungguh-sungguh ingin tinggal bersamanya. Berbagi ranjang, nonton TV di sofa beledu itu berdua dengannya, makan bersama dan masih banyak lagi. Tetapi itu tentu saja bukan keputusan yang mudah. Amat tidak sangat mudah.

Kami hari itu sedang membereskan baju-baju Bagas, dia sudah memutuskan untuk tinggal mandiri di rumahnya sendiri. Sebagai pacar yang baik hati, tentu saja aku menolongnya berbenah. “Aku punya usul,” ujarnya tiba-tiba, saat aku sedang memasukkan beberapa kaset biografi semua pemain Chelsea ke dalam kardus kecil. Aku menolehkan kepalaku dan tersenyum kecil ke arahnya.

“Usul apa?” tanyaku sambil mendekatinya, dia yang sedang sibuk dengan kaset-kaset album penyanyi idolanya, langsung menghentikan aktivitasnya. Dengan lembut, dia menarikku masuk ke dalam pelukannya yang hangat.

Dia tersenyum simpul, bibirnya yang ranum menekuk indah seperti pelangi. “Gimana kalo kita tinggal berdua di rumah itu? Jadi… aku bisa ngelakuin ini tiap waktu.”

Aku baru saja ingin bertanya apa maksudnya saat dia mencium bibirku dengan perlahan. Entah mengapa, aku tidak pernah merasa bosan dengan setiap ciuman singkat seperti ini. Bibirnya yang lembut menyentuh bibirku hanya sepersekian detik, namun rasanya sungguh-sungguh sangat memabukkan. Atau karena ini efek aku sedang jatuh cinta:? Ya, bisa jadi seperti itu. Dan aku tidak akan pernah mengingikan ciuman dari orang lain lagi. Cukup Bagas saja, lagi pula, ini hadiahku karena sudah bersabar menunggunya selama dua belas tahun.

“Jadi gimana? Kamu mau kan?” tanyanya saat dia melepaskan bibir kami yang bersatu. Namun tangannya yang kokoh itu masih melingkar di pinggangku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sama sekali, bingung dengan jawaban apa yang akan kuberikan padanya. Mata Bagas yang intens itu menatapku dengan penuh harap. Aku ingin sekali menjijitkan kakiku lalu menciumnya sekali lagi, kemudian berkata iya dengan nada lantang. Tetapi aku belum bisa, keluargaku masih membutuhkan sosokku.

Tetapi yang keluar dari mulutku adalah ini. “Aku pikirin dulu ya.” Hanya saja sepertinya jawaban itu mewakili ya dan tidak. Sayangnya jawaban itu membutuhkan jawaban yang lebih absolut ke depannya. Dan untuk tipe Bagas, dia bukan orang yang mudah bersabar sepertiku. Sekitar beberapa hari lagi, pasti dia akan bertanya dengan keputusanku. Ketika saat itu tiba, aku bisa meyakinkan diriku, kalau aku pasti belum menemukan jawaban yang benar-benar jawaban untuknya.

“Pasti karena masalah keluarga,” katanya di dekat telingaku. Aku hanya bisa menaruh kepalaku di pundaknya yang lebar dan mengangguk. “Hmm, sebenernya aku udah punya rencana buat ngasih tau keluargaku tentang hubungan kita ini.” Aku memundurkan kepalaku dari pundaknya, lalu menatap wajahnya yang tenang dengan raut terkejut. “Ya, ya, aku tau itu tindakan bodoh. Tapi kita nggak mungkin kan buat bohong terus sama mereka. Lagi pula, aku cinta sama kamu, dan itu udah cukup buat kita berdua kalo mereka nolak kita.”

“Aku—“ Bagas memang selalu bisa membuatku terkejut, dia selalu bisa membuatku tertegun dengan semua ucapannya. “Tapi banyak hal yang harus kita tanggung jawabin kalo kita kasih tau mereka tentang hubungan kita. Kamu bisa diusir dari rumah, Ibuku bisa dipecat sama Bu Prakoso dan masih banyak lagi. Kita harus bener-bener mikirin ini dulu. Aku nggak mau kita gegabah.”

Bagas tersenyum lembayung. “Aku sudah duga kalo kamu bakalan ngomong gitu. Kamu kan tipe orang yang selalu mikir rasional dulu sebelum ngambil tindakan.” Bagas mengacak rambutku dengan tangannya yang besar. Aku hanya bisa diam tak bergerak. “Tapi sampe kapan kita bakalan nyembunyiin ini? Tunggu kita berdua sukses dulu, gitu? Tunggu kita berdua udah benar-benar bisa hidup mandiri tanpa mereka lagi?”

Aku menganggukkan kepalaku, mungkin itu adalah hal yang tepat. “Bukan itu aja, aku takut sama Ibu dan Ayahku kalo mereka tau tentang kita. Aku juga nggak mau kamu kena masalah karena hubungan kita ini. Kamu tau kan, kalo kamu pacaran sama cowok?”

“Iya, aku tau. Aku bahkan tau kalo kamu punya kontol yang lebih panjang dari punyaku.” Bagas tersenyum konyol, membuat mukanya yang biasa datar menjadi penuh keceriaan. Seperti aliran listrik, aku mengikuti senyumannya itu. Kupukul lengannya, hingga wajahnya meringis karena nyeri dari pukulanku. “Jangan takut Rev! Kita kan nggak bisa bohong terus sama mereka? Aku udah siap kok sama resikonya. Kalo mereka pengen buang aku dari daftar warisan, aku terima aja. Aku masih punya banyak keluarga di luar sana, yang bisa nolong hidupku. Dan masalah Ibumu yang dipecat, aku bakalan ngomong sama Mama kalo hubungan kita ini bukan salah dia sama sekali. Yang jadi pertanyaanya, kamu siap nggak?”

Dan lagi-lagi jawaban itu kembali muncul. “Aku pikirin dulu ya.” Bagas menganggukkan kepalanya. Setelah itu aku kembali menata kaset yang sempat kutunda karena pembicaraan kami barusan. Hubunganku dengan Bagas memang sudah hampir masuk satu bulan. Setiap kali aku ke rumahnya hanya bisa pada siang hari setelah aku pulang sekolah. Sore harinya aku harus ke rumah Oma Ajeng, malam harinya aku harus belajar. Hanya hari minggu saja kami benar-benar bisa berdua dengan waktu yang cukup lama.

“Jadi… kapan kamu bakalan ngasih aku jawaban?” tanya Bagas tiba-tiba, membuatku menghentikan aktivitasku lagi. Apa kubilang, Bagas bukan orang yang mudah bersabar. Aku menengadahkan kepalaku dan menatapnya dengan sorot mata sesendu mungkin. Ingin memberitahunya kalau aku tidak tahu dari sudut pandang sorot mataku. Dan sepertinya Bagas mengerti. “Kalo gitu kasih aku jawaban kalo kamu udah tau jawabannya, oke?”

Aku menganggukkan kepalaku. Sebenarnya aku masih bingung dengan sifat yang Bagas tunjukkan untukku. Dia mau-mau saja memberitahukan keluarganya tentang hubungan kami, tetapi apakah dia tidak tahu reaksi apa yang mungkin saja akan timbul akibat hal tersebut. Dari pengalaman yang kudapatkan dari Sid saat dia mengenalkan Adam pada Ibunya memang terkesan sangat mudah, itu karena Ibunya Sid orang yang berpikiran terbuka. Bahkan kata Sid, Ibunya dulu punya sahabat yang gay. Tetapi bagaimana dengan Ibu dan Ayahku? Ibu dan Ayah Bagas juga. Mereka pasti akan sangat murka.

Hanya saja aku sangat ingin memberitahu mereka juga dengan hubungan kami ini, agar tidak ada hal yang perlu kami sembunyikan dan takutkan lagi. Hidup di bawah kebohongan sangatlah tidak menyenangkan. Aku juga bukan tipe orang yang suka berbohong. Namun mau bagaimana lagi, hanya segelintir orang tua yang akan menerima anaknya dalam keadaan seperti ini. Ibu dan Ayahku, serta kedua orang tua Bagas mungkin digolongan yang tidak akan menerima kami dengan mudah. Aku sangat yakin itu.

Terlebih lagi, hidupku dan hidup Bagas akan seperti apa jika mereka benar-benar mengusir kami dari hidup mereka? Aku sudah terbiasa hidup susah, tetapi Bagas kan tidak. Aku bukan mau curiga dengannya, tetapi aku yakin Bagas tidak akan suka dengan gaya hidup yang seperti itu. Dia sudah terbiasa hidup mewah. Istilahnya seperti menyuruh Ikan tinggal di daratan, itu tidak akan mungkin. Lama-kelamaan dia membutuhkan air juga. Seperti Bagas, yang mungkin akan merindukan setengah mati hidupnya yang mewah.

“Lagi ngelamunin apa?” tanya Bagas, membuatku terkejut saat dia memelukku dari belakang. Dagunya yang runcing menggosok ubun-ubun kepalaku dengan lembut. “Ngelamunin soal kata-kataku yang tadi? Kalo kamu nggak nyaman, ya sudah, lupain aja. Aku nggak mau ngebuat kamu banyak pikiran.” Bagas mengeratkan tangannya di pinggangku, dadanya membuat punggungku hangat, dan aku merasa sangat nyaman.

“Kalo aku bilang aku pikirin dulu, berarti aku pikirin dulu.” Aku berbalik lalu menyatukan jari-jari tangannya ke dalam genggaman tanganku. Tangan yang selama ini selalu ingin keganggam seperti saat ini. “Aku janji nggak akan mikir lama-lama. Aku cuman mau siap-siap dulu untuk hal buruk yang mungkin aja terjadi nanti.”

“Dan aku juga janji sama kamu kalo nggak akan ada hal buruk yang akan menimpa kita.” Bagas mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan. “Aku tau siapa Mama dan Papaku, Rev. Aku tau mereka tipe orang tua yang kayak gimana. Kamu nggak usah kuatir. Lagi pula aku bukan anak yang bener-bener mereka perhatikan. Mereka lebih milih Moses, Al dan Anzar sebagai anak kesayangan mereka. Kan kamu tau, nasib anak tengah kayak aku memang jarang banget bisa diperhatiin lebih.”

“Orang tua punya caranya sendiri untuk merhatiin anak-anaknya,” kataku sambil mencubit pangkal hidungnya. “Nggak boleh mikir kalo orang tua kita nggak ngasih kita perhatian lebih seperti yang mereka kasih ke saudara kita yang lain. Karena kalo kita tanya sama saudara kita sendiri, mereka juga akan mikir gitu. Jadi, jangan menghakimi orang tua, mereka pasti sayang kita secara adil. Nggak dikurangi dan nggak akan pernah kurang sedikit pun.”

Bagas terkekeh kecil. “Kamu selalu bijaksana kayak gini ya?” tanyanya dengan mata penuh kekaguman. Dia menekankan badanku ke dalam pelukannya.

“Kadang-kadang,” jawabku apa adanya. “Jadi bisa nggak kita lanjutin beres-beresnya? Nanti sore aku harus ke tempatnya Oma Ajeng.” Bagas melepaskan pelukan, lalu mulai sibuk dengan aktivitas yang daritadi kami sering tunda. Punggung Bagas yang lebar bergerak-gerak lincah saat dia memindah-mindahkan semua kotak itu ke depan pintu kamarnya yang terbuka lebar. Aku memasukkan scrapbook kepunyaan Bagas ke dalam kardus kemudian menutupnya dengan selotip hitam.

Aku baru saja ingin mengangkat kardus yang ada di depanku saat tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikanku. Aku menengadahkan kepalaku dan melihat Bagas yang sedang berdiri di depan pintunya sambil melipat kedua tangannya di dada. “Kamu tau nggak, kalo aku juga sering banget merhatiin kamu?”

Kutelengkan kepalaku, kemudian tersenyum lebar. “Nggak. Aku nggak pernah tau.”

“Setiap kali kamu lagi ngelihatin aku, sebenernya aku juga lagi ngelihatin kamu. Aku selalu tau kalo kamu selama ini selalu merhatiin gerak-gerikku, selama ini aku selalu pengen ngomong sama kamu. Tapi setiap kali kamu aku deketin, pasti kayak takut-takut gitu. Kayak aku ini monster. Aku masih inget pas aku mau ngajak kamu ngomong di depan lift waktu kamu masih di grade 10. Tapi kamu malah tegang gitu, kayak aku ini virus mematikan.”

Aku tertawa kencang, teringat akan kenangan itu. “Itu karena aku gugup. Gimana perasaan kamu kalo deket sama orang yang kamu cintai banget. Gitu rasanya. Deg-degan. Pengen ngajak ngomong tapi nggak tau mau ngomong apa. Bahkan aku nggak bisa gerakkin lidah sama sekali. Mau ngelirik juga nggak bisa. Soalnya kamu… satu-satunya orang yang bisa buat jantung aku deg-degan dua kali lebih cepat.”

“Oh, ya?” ujarnya sambil berjalan mendekatiku. “Kalo sekarang masih deg-degan nggak?”

Pertanyaan itu langsung kujawab dengan anggukan kepala. Bagas yang sudah berdiri di hadapanku langsung menunduk. Aku mengejang saat dia menempelkan telinganya di dadaku. Mendengarkan detak jantungku yang kian berdegup cepat.

“Wah, ternyata bener. Jantung kamu bunyinya bener-bener besar.” Aku menarik kepalanya menjauh dari dadaku. Dia tersenyum lebar saat aku mengecup pipinya. “Aku udah jadi pacar kamu lho, masa cuman cium pipi aja? Yang boleh cium pipiku hanya Mama, Papa Kakek dan Nenekku aja. Kalo kamu harus cium bibirku sama yang… di bawah.”

Aku terkekeh saat dia menggerlingkan matanya dengan nakal. Sekali lagi, aku menarik kepalanya dan mendaratkan bibirku di bibirnya. Ah, jatuh cinta memang menakjubkan.

***

“Besok masuk sekolah apa libur? Ujiannya udah selesaikan tadi?” tanya Bagas saat mobilnya telah berhenti di depan gang yang menuju ke rumahku.

Setiap malam dialah yang mengatarku pulang setelah aku selesai bekerja di rumah Oma Ajeng. Biasanya juga Bagas main-main di sana, kata Oma Ajeng Bagas adalah pengganti Chook. Ah, orang satu itu telah diterima di Universitӓt Wien. Salah satu Universitas yang paling bagus di Wina. Seminggu yang lalu dia menghubungiku dan berkata kalau dia mengambil kelas Musik. Kupikir dia ingin menjadi pemain bola, ternyata itu hanya hobinya saja. Seperti Bagas, permainan sepak bola hanya hobi semata. Cita-citanya adalah menjadi Arsitek. Dan bisa kuyakin pada diriku sendiri, dia pasti akan menjadi salah satu Arsitek yang paling seksi.

Aku pernah melihat rancangan yang dia buat di scrapbooknya. Semua rancangan itu luar bisa bagus. Maka daripada itulah aku sangat yakin kalau dia akan diterima di Universitas Indonesia. Sekitar seminggu lagi dia baru bisa mendaftar ke Universitas itu. Dan akhir-akhir ini dia kembali belajar lagi untuk tes masuknya. Dari gerak-geriknya, aku sangat tahu kalau dia memang bersungguh-sungguh ingin masuk ke Universitas itu, meskipun hanya satu tahun saja. Setelah itu dia akan ke Manhattan. Aku pun telah memutuskan untuk masuk di Universitas Cuny Borough of Manhattan dan mengambil jurusan kedokteran. Aku sudah punya banyak panggilan dari seluruh Universitas di mana-mana akibat kemenanganku di setiap Olimpiade. Jika aku memilih Cuny Borough, aku pasti langsung masuk dengan mudah.

Dan aku akan bersama Bagas saat di Manhattan nanti. “Besok sekolah. Masih banyak yang harus aku kerjain di Student Organization. Dan ya, tadi itu ujian terakhir. Pokoknya, sehabis pulang sekolah besok, aku langsung main ke rumah kamu kok.” Aku melepaskan seat beltku, lalu menatap wajahnya yang tertimpa cahaya dari lampu yang ada di trotoar. “Aku pulang dulu kalo gitu. Inget, kalo bawa mobil nggak usah ngebut-ngebut!”

Bagas tersenyum, dia menarik kepalaku lalu mencium bibirku singkat. “Iya, iya, aku bakalan pelan-pelan. Dasar bawel!”

Aku hanya tersenyum saat Bagas mengelus wajahku kemudian membiarkanku keluar dari dalam mobilnya. Aku baru melangkahkan kakiku saat mobil Bagas sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mataku. Aku melangkahkan kakiku cepat saat melewati pohon Kuntilanak yang ada di depan gang. Pohon yang juga menjadi saksi saat Chook menciumku. Aku sudah menceritakan hal ini pada Bagas, dan dia langsung memasang wajah yang bisa kukategorikan sebagai raut wajah… cemburu. Seperti saat aku melihat dia pacaran dengan cewek-cewek centil itu. Atau pada saat dia bergandengan dengan Kak Raffi.

Sekarang hubunganku dengn Kak Raffi sudah kembali seperti biasa. Aku juga sudah mencoba menghiburnya soal Kak Al yang sebentar lagi akan menikah dengan Mbak Zahra. Kak Raffi bilang padaku kalau dia baik-baik saja, tetapi aku tahu dia tidak merasakan hal itu sama sekali. Melihat orang yang dicintainya menikah dengan orang lain. Aku pun mungkin akan merasa sangat bersedih akan hal itu. Bagaimana kalau saat aku dan Bagas memberitahu kedua orang tuanya tentang hubungan kami, tiba-tiba Bagas dijodohkan dengan seorang perempuan. Dan bagaimana kalau Bagas tidak bisa berkutik dan menerimanya?

Ah, sudahlah! Kenapa harus mikir yang tidak-tidak? Bagas akan selalu ada untukku. Titik.

Aku mengetuk pintu rumahku, sampai akhirnya Ravillia membukakan aku pintu dengan wajah yang agak muram. Aku mengucapkan salam sambil mengernyitkan wajahku. Lalu aku mulai melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam rumah. Saat aku baru saja ingin pergi ke arah kamar, aku melihat Ayah dan Ibu sedang duduk di tempat biasa aku dan adik-adikku makan. Di raut wajah mereka ada sesuatu yang tidak bisa kuartikan. Aku menghentikan langkahku dan memperhatikan kedua orang tuaku yang menatapku dengan tatapan… sesal.

“Revie, ada yang Ayah pengen omongin sama kamu,” ujar Ayah dengan nada suara yang agak berat. Entah kenapa, aku merasa ada hal yang tidak mengenakkan yang sebentar lagi akan terjadi. Dengan langkah yang agak berat aku berjalan mendekat ke arah Ayah dan Ibu, lalu duduk di hadapan mereka. Mata Ayah memicing tajam, sedangkan mata Ibu terlihat begitu sedih. Aku yakin kalau memang akan ada hal buruk yang sebentar lagi akan terjadi.

Aku menelan air ludahku dengan susah payah, kubuka mulutku perlahan. “Mau ngomong apa, Yah?” tanyaku sembari melirik bergantian dari Ayah ke Ibu. Tetapi mereka tetap saja memberikanku tatapan itu. Tatapan yang entah kenapa aku tidak suka sama sekali.

Ibu mengehembuskan nafas dengan getir, matanya nanar saat menatap wajahku. “Ibu—Ibu ngelihat kamu l-lagi…” Ibu menghentikan ucapannya, suaranya tercekat saat melanjutkan, “Ibu ngelihat kamu lagi ciuman sama Den Bagas pas Ibu lewat kamarnya di hari kamu bantuin dia pindahan.”

Nafasku tertahan di pangkal hidungku. Di ujung pelipis mata Ibuku telah keluar satu bulir air mata pilu. Jantungku berdegup tidak beraturan, seperti ada sesuatu yang akan merusaknya sebentar lagi. Ayah mengeluarkan semacam geraman dari dalam tenggorokannya, membuat badanku bergetar takut. “Itu bener?” tanya Ayah, suaranya makin tidak mengenakkan. “Jawab!” bentak Ayah kencang, membuatku tersentak dari tempatku duduk.

Baru kali ini aku mendengar Ayah membentak, membuat beberapa air mata yang sejak daritadi aku tahan meluncur keluar dengan lancar. “Iya, Yah,” ujarku, karena apabila aku berbohong, aku yakin aku tidak akan bisa melakukan hal itu. “Tapi—“

Ayah mengangkat tangannya ke udara, aku memejamkan mataku. Bersiap-siap menerima rasa sakit di pipiku akan tamparannya. Namun tamparan itu tak kunjung datang. Aku membuka mataku dan melihat tangan Ayah yang bergetar di dekat pipiku. Suaranya tajam saat memerintahkanku. “Pergi kamu dari rumah ini!” serunya sambil mendorong badanku, hingga aku tersungkur ke belakang. Jika tidak ada adik-adikku, mungkin kepalaku akan membentur lantai. Ravilia memeluk pundakku erat, air matanya menetes di keningku. “Ayah nggak mau lihat anak pendosa kayak kamu! Pergi kamu dari sini, kamu hanya buat keluarga kita malu! Kamu buat Ayah dan Ibumu malu sama keluarga Prakoso!”

Tubuhku makin melemah, aku tidak tahu harus berkata apa lagi pada mereka. Ayah berdiri lalu menarik kerah bajuku. Membuatku berdiri dengan kaki yang agak sempoyongan. Aku bisa mendengar suara tangisan adik-adikku yang lain. Ibu hanya meringkuk di tempat duduknya sambi