Rayan dan Fauzan (10)

“Lagu ini gue persembahin buat cowok gue tercinta, Fauzan.” Ucap Angel di atas panggung, gitar sudah Angel pangku, jemarinya sudah siap memetik senar gitar tersebut.

Sesuatu dari dalam diri Fauzan tertawa hebat, rasa benci yang membumbung tinggi kini seperti telah menanjak dan segala hal yang Fauzan tunggu-tunggu seakan-akan berada di pelupuk matanya, sebentar lagi dendamnya akan terbalaskan.

Dengan wajah datar Rayan menatapnya, menatap Fauzan yang menyeringai tajam ke arah Angel yang sedang asik melantunkan lagu Made in USA dengan gitarnya. Bagi Rayan malam perpisahan ini adalah malam yang buruk, karena fakta menyentaknya, sebesar apapun cintanya kepada Fauzan, posisinya tetap tersamarkan, Rayan hanya menguasai Fauzan jika diri mereka berada di balik siluet, tidak untuk di depan umum seperti sekarang ini. Jika dalam keadaan seperti ini Rayan hanyalah sahabat Fauazn.

“Lo seneng banget ya dinyanyiin di atas panggung sama Angel?” tanya Rayan masih terpaku ke atas panggung menatap Angel. Cepat-cepat Fauzan menyikut perut Rayan yang keras. Rayan mengaduh kesal, tetapi cepat-cepat Rayan bungkam. “Ribuan orang boleh muja gue, tapi gue tetap muja lo Ray.” tegas Fauzan dengan ekspresi yang sungguh-sungguh di sela-sela suara Angel yang menggema serta hiruk pikuk di dalam ruang aula ini yang mampu membuat Rayan terperangah, sebentar saja, ekspresi takjub Rayan berubah menjadi senyum yang tulus, setulus cinta mereka.

Saat ruang aula bergema dengan tepukan tangan Fauzan menelusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Rayan, meneguhkan apa yang baru saja Fauzan katakan kepada Rayan. “Cuma lo Ray, cuma lo,” bisik Fauzan mantap di dekat mata Rayan. Rayan baru menyadari, sekarang tinggi tubuh Fauzan bisa dikatakan jauh lebih tinggi dari Rayan.

Fauzan buru-buru menarik Rayan keluar dari gedung aula sekolah mereka, membiarkan Angel yang telah turun dari panggung dan sedang memutar pandangannya mencari Fauzan. “Lo nggak nunggu Angel?” tanya Rayan bodoh di sela-sela kegiatan mereka menelusup barisan para siswa yang bejubel di dekat pintu keluar aula sekolah.

“Kan gue udah bilang, cuma elo,” kata Fauzan ambigu, namun dengan amat baik Rayan mengerti apa yang Fauzan katakan, hati Rayan membuncah hebat malam ini, segala aura buruk malam ini berganti menjadi pelangi malam hari. Rayan menyadari, serahasia apapun hubungan baru mereka ini, umpama telah berganti, ya berganti. Bukan lagi sahabat namun kekasih, klasik namun nyata adanya.

Rayan mentap punggung Fauzan yang berjalan di depannya, I love you Ojan. rapal Rayan dalam hati.

***

Semilir angin malam minggu merusak tatanan rambut Fauzan tapi tidak dengan hatinya, rasa dendam dalam hati Fauzan menguap seketika, digantikan rasa bahagia yang seakan-akan enggan pergi dari dalam hatinya, semua itu karena Rayan yang berdiri di sampingnya, menikmati pemandangan malam hari dari atap sekolah mereka.

Terbersit dalam benak Fauzan, akan susahnya keadaan yang akan mereka alami nantinya, memang masih nanti, namun hal itu pasti terjadi, karena Fauzan tidak ingin dikalahkan dunia, merelakan cintanya pergi hanya karena norma.

Remasan Rayan di jarinya membuat Fauzan tersadar dari lamunanya akan masa depan. “Gue kan tetap genggam tangan lo kayak gini, apapu yang nanti akan terjadi.” tutur Rayan masygul. Fauzan tersentak, ia tidak menyangka Rayan tahu apa yang sedang bergumul dalam hati dan fikirannya.

“Gue percaya sama lo,” balas Fauzan, seiring itu genggaman tangan mereka ikut menguat, seakan meneguhkan kepada dunia, mereka tidak akan kalah apa lagi takut akan ancaman dunia terhadap cinta mereka.

Angin mendesau syahdu, membuat Rayan dan Fauzan memejamkan matanya, menerima angin yang terus menerus mengobarkan cinta mereka. Suara derap kaki yang bergeser membuat Fauzan membuka matanya. Rayan kini menatap Fauzan intens, membuat jantung Fauzan kalap, berdetak cepat dan tidak beraturan, sekejap saja syahwat bangkit di sela-sela heningnya malam, membuat malam yang sejuk serasa terterpa angin musim panas yang hangat.

Alis Rayan yang tegas, tatapan mata Rayan yang juga tegas, lalu rahang Rayan yang tinggi dan dagunya yang sedikit runcing, kumis tipis di atas bibir Rayan yang seksi, jakun dan leher kokoh Rayan, segala hal tentang Rayan serasa menghunus hati Fauzan, menghasilkan getaran yang baik yang membuat cinta Fauzan semakin menguat.

Dada bidang Rayan dibalik kemeja birunya tersebut tidak mampu menutupi degub jantung Rayan yang sama-sama cepat berpacu dengan waktu sama seperti Fauzan, mereka sekarang sedang termakan cinta, saling tatap tanpa kata namun penuh makna, siapapu yang jatuh cinta dan saling tatap seperti sekarang ini pasti merasakan bagaimana sesaknya dada namun ringan segalanya, seakan angin mampu menerbangkan dua insan ini ke langit para dewa.

Tidak ada kata, yang ada hanya cinta yang sedang berdegub gila. “Lo ganteng banget malam ini Zan,” puji Rayan yang sukses membuat Fauzan menekuk bibirnya menjadi senyum yang paling sempurna, senyum insan yang sedang dilenakan cinta.

“Lo, lo lebih memukau ketimbang bulan purnama” tutur Fauzan seakan seorang pujangga.

Rayan terkekeh kecil mendengar ucapan Fauzan. Hanya sebentar, karena sekarang Rayan tercekat keadaan. Fauzan meraih pinggang Rayan, mencengkramnya dengan cara terlantun yang pernah Rayan rasakan dalam hubungan percintaanya, seakan segala hal yang Fauzan lakukan terhadap Rayan adalah hal terbaik yang pernah Rayan dapati dari seorang kekasih.

Lalu kembali hening, seakan-akan Rayan dan Fauzan mempersilakan angin membisikan kata-kata cinta kepada mereka berdua. Ya, hanya mereka berdua saja.

Rayan mengalungkan tangannya ke leher Fauzan, lalu menarik pelan tubuh Fauzan ke dalam pelukannya yang nyaman. Kini mereka bisa merasakan bagaimana jantung masing-masing yang berdebar dimakan cinta.

Rayan bisa merasakan wangi Cinnamon yang menguar lantun dari telungkuk Fauzan, wangi segar Jeruk dan creamy nya susu. Wangi yang seakan-akan memenjarakan Rayan dalam pelukannya sendiri.

Rayan sukses menggelijang saat kecupan kecil di telungkuknya ia terima dari Fauzan. Rayan menarik pelan rambut Fauzan membuat kecupan Fauzan yang baru saja ingin naik ke dagu Rayan terhenti seketika. Mata mereka saling bersirobok namun tanpa aba-aba lagi Rayan mengecup lembut bibir Fauzan, menggesekkan hidungnya ke hidung mancung tegak milik Fauzan, membiarkan desiran gila yang sedang ia rasakan merajalela.

Lidah Fauzan menelusup bak penyamun, mengoyak tirani dan menimbulkan rasa geli yang membuat tagih. Dengan lantun Rayan mengamit lidah Fauzan yang berada di dalam bibirnya, menarik dan menghisap pelan bibir Fauzan hingga lidah Fauzan terlepas dari bibir Rayan. Sebelum Fauzan kembali beraksi Rayan memburu bibir bawah Fauzan, menyesapnya, menuai rasa manis yang disajikan cinta melalui bibir Fauzan, tidak ada rasa lain kecuali rasa manis yang mereka kecap sekarang ini.

Rayan baru menyadari bukan hanya bibir mereka saja yang larut dalam buaian cinta, tetapi tangan mereka yang sedang mengelus satu sama lain tanpa sadar. Menyeruakan rasa nyaman yang tiada henti.

Hingga Rayan merasakan segala kebahagiaan ini tidak lagi mampu hatinya tampung, ciuman mereka yang semakin membara, saling memaggut dan tidak ada yang mau mengalah sama sekali, Rayan dan Fauzan seakan-akan ingin membuktikan sebesar apa cinta mereka masing-masing satu sama lainnya.

“Ray, Zan.” suara lirih menghentikan cinta mereka.

“Syifa?”

 


 

YEAY!

halooooo manusia khilaf, mana suaranya? hahahaha

udah puaskan sama updatean gue kali ini? harusnya puas lho, gue ngetik ini sebulan, banyangin! sebulan! jadi kalian mau nggak mau harus puas, hahaha….

Uwuwuwuwu, gue makin sukak sama Rayan dan Fauzan, sudah jelas sekarang mau dibawa ke mana hubungan kita eh ceritanya, sebentar lagi drama dimulai, awas yaa pada caci maki gue, gue nggak akan lanjut *emot miley cyrus diperkosa IrfandiRahman. tsah!*

Sebentar lagi negara api menyerang, tsah! siap-siap ambil senjata dan kuatkan hati kalian, karena gue akan melebay dan membuat para manusia khilaf seperti kalian menjadi melankolis *Gue pede Banget yee! namanya juga anak alay hahaha*

sudah-sudah, mudah-mudahan kalian puas sama kata-kata pujangga lapuk yang gue sematkan.

Book 2: Wind & Water (Part 1)

Kota Hujan

By: Helios

Dalam kehidupan pasti ada yang namanya suka dan pasti ada yang namanya duka. Ada yang namanya kebaikan dan juga kejahatan. Kedua hal itu juga saling berkesinambungan. Seperti diriku ini. Pada awalnya aku manusia biasa yang hanya bisa melakukan hal-hal sebagaimana mestinya tanpa dianugerahi kekuatan khusus sekalipun layaknya SUPER-HERO seperti di acara-acara televisi tiap akhir pekan. Namun pada suatu ketika, apa yang ku yakini selama ini “normal” berubah 180 derajat…..

Adrian Pov.

Forks, 6 Januari 2011

Pagi yang berawan di kota kecil ini. Segalanya memang tampak selalu sama di kota yang memiliki predikat sebagai salah satu kota dengan curah hujan tertinggi di dunia. Jika dihitung total dalam setahun, cuaca cerah sudah pasti terjadi dalam hitungan jari. Tidak kurang tidak lebih, sisanya sudah pasti berawan dengan intensitas hujan yang sering terjadi dengan jangka waktunya yang bertahan cukup lama.

Di kota dengan jumlah penduduk beberapa ribu jiwa—meskipun aku tidak terlalu peduli benar atau tidak­—inilah aku tumbuh. Aku Adrian Ivashkov. Kalian mengira aku orang Russia atau dari bagian timur eropa kan? Gak sepenuhnya benar sih. Aku masih ada darah Indonesia, lebih detailnya, aku memiliki darah Keraton Mangkunegaraan dari ibuku yang seorang putri (Bagi yang gak tau di mana keraton itu, search google kalo gak mau repot-repot buka peta). Rutinitas pagiku seperti biasa dimulai sehabis mandi setelah itu aku mengenakan celana training lalu turun tangga menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.

Kalau baru habis mandi biasanya emang malas pakai baju. Bukannya pamer keseksian melainkan ya gak nyaman aja. Untuk postur tubuh sih lumayanlah kebentuk,hal ini kudapat berkat rajin mengikuti kegiatan gymnastic di Gelanggang Olahraga setempat dan aktif dalam tim basket sekolah. Kedua kakakku juga demikian. Sama-sama malas pake baju kalau baru bangun tidur.

Hoahmmm, udah bangun rupanya si adek kecil ini. Bikin apa kamu?” kata kakakku, Felix sambil mengucek-ngucek mata.

“Bikin omelet, salad kentang, masak daging asap ama dadar gulung. Mandi gih!! Bau ilernya kemana-mana. By the way, jangan lupa bangunin Kak Ferdi!!”

“Iye-iye. Bawel amat kamu kayak cewek. Hadeh”

Yah, beberapa menit telah berlalu, kini kedua kakakku telah menuruni anak tangga menuju dapur sementara aku masih sibuk berkutat dengan bahan-bahan makanan.

“Hah! gini kek. Kan enak kalo udah pada bangun dan langsung mandi”. Kulihat keduanya sama-sama memakai boxer dengan motif tim sepakbola Juventus dan Chelsea.

“Ya sudah. Sekarang kita bantu yah” kata Kak Ferdinand alias Ferdi (kakak sepupu sekaligus boyfriend kakakku).

Sekarang kami mulai membagi tugas. Kak Felix mulai merebus kentang. Lalu menyiapkan garam, lada, serta rosemarry. Setelah matang, kentang-kentang tersebut segera dihancurkan dan langsung dibumbuin­—ala master cheff abal-abal yang seminggu sekali tayang di televisi­—serta memanggang daging sekaligus. Disaat bersamaan, aku mulai mencampur tepung, susu, butter, telur, serta bahan-bahan lainnya. Sementara itu, Kak Ferdi sibuk dengan campuran susu, telur, dan rempah-rempah.Kemudian kami berdua memasukan adonan masing-masing kedalam wajan yang berbeda. Beberapa saat kemudian, semua hidangan kami telah jadi. Asal kalian tahu saja, walau kami cowok namun dalam urusan masak-memasak kami memang jago. Secara kami sering mengikuti cooking class di sekolah kami.

“Huft…selesai juga menu kita” kataku sambil menata meja makan.

“Ya udah. Langsung aja kita ma…..” belum sempat Kak Felix mencuil dadar gulung, Kak Ferdi langsung memberikan tatapan ala penjahat padanya.

“Doa dulu!! Main samber aja!!”

“ADAWWW!! Yaelah galak amat ama daku ampe jitak-jitakan segala. Iye-iye”

“Hahahaha. Ada-ada saja kalian berdua” kadang aku merasa geli dengan tingkah mereka.

Kemudian kami berdoa sebelum makan. Setelah itu kami mulai menyantap hidangan yang kami buat. Hmmmm, yummy banget lah. Semua bumbu “PAS” dimulut. Selama makan, kami saling membicarakan rencana atau kegiatan masing-masing disekolah nanti. Tidak seperti kebanyakan sekolah di Indonesia, sekolah tempat kami berada masuknya sekitar pukul sembilan pagi. Oleh karenanya kami beruntung bisa selalu masak untuk sarapan bersama, apalagi kalau orangtua sedang dirumah acara masak jadi tambah ramai. Baik itu pagi maupun malam.

“Kak, ntarkan ada pertandingan basket antar sekolah. Kalian dukung aku ya” kataku memelas.

“Hmmmmm. kalau aku sih bisa karena kebetulan Mr. Jefferson sedang cuti. Jadinya jam ke delapan sampai selesai free. Kalau kamu, Lix?”

“Aku sih tergantung Mrs. Shinaya aja. Sebenernya dia cuti juga. Cuma setiap ada jam pelajarannya, dia akan menelpon guru piket untuk memberikan tugas yang menumpuk pada kita. Doain aja deh biar tugasnya nanti cepet selesai. Biar bisa nonton kamu, dek”

“Oke. Aku pegang janji kalian”

Jam sudah menunjukan pukul 08.30 pagi. Kami pun bergegas untuk berpakaian dan mengambil tas masing-masing. Setelahnya kami berangkat dengan Jeep yang dikendarai Kak Ferdi.

~~~***~~~

Jam pertama untuk hari ini adalah fisika yang diajarkan oleh wali kelasku, Mr. James. Kali ini ia sedang me-review materi hukum pascal beserta implementasi dan perhitungannya di papan tulis. Ketika sedang asyik menyimak perhatian kami agak terusik saat pintu terbuka. Dari pintu itu masuklah Mrs. Hawkins selaku tata usaha bersama seorang pemuda yang membawa sebuah folder. Folder itu kemudian diberikan dan dibaca oleh wali kelasku. Setelah dirasa beres, Mrs Hawkins meninggalkan kelas kami.

“Ehem!! Perhatian semua!! Hari ini kalian kedatangan siswa pindahan dari luar negeri. Ayo nak. Silahkan perkenalkan dirimu”

“Selamat pagi. Namaku Sebastian Oliver. Please call me, Tian. Aku pindahan dari Jerman. Semoga kita bisa menjadi teman baik” ujarnya sopan diiringi suara siulan dari anak-anak sekelas. Maklum lah udah tampang tuh anak ganteng plus cute pula . Jarang-jarang ada pindahan dari luar negeri. Antar benua pula. Tapi tunggu. Tian?? Kenapa nama itu tidak asing denganku ya?

“Okey, Tian. Kamu duduk di kursi itu ya. Dan untuk yang lain, kerjakan hal.167. saya keluar dulu. Jangan berisik”

What?? Tuh anak bakal satu tempat duduk ama aku? Tapi kok aku yang gerogi sih. Kalau dilihat dari ujung rambut sampai ujung kaki, sosok Tian ini sungguh menarik perhatian. Bagaimana tidak? Kulitnya amat sangat putih untuk ukuran cowok, rambut pirang keemasan, serta wajahnya yang begitu manis, sampai-sampai aku tidak bisa melepas penglihatanku darinya. Bagiku dia memang menarik tidak lebih dari itu. Mungkin karena sadar sedang diperhatikan, ia pun memalingkan wajahnya. Ketika tatapan kami saling bertemu, wajahnya langsung memerah, ia lalu menundukan wajahnya tidak berani melihatku. Kenapa ya? Daripada makin aneh, aku pun mengajaknya untuk berkenalan.

“Hai, aku Adrian Ivashkov. Panggilanku disini Rian. Kamu?”

“Aku…aku Tian”

Tian Pov

Oh my gubrak, seneng banget dah bisa satu bangku dengan cowok sekeren ini. Postur tubuhnya yang bikin ngiler, sporty abis, dan berkulit eksotis pula. Ditambah dengan wajahnya yang maskulin banget. Eitsss???? Kok jadi mupeng gini sih???Alihkan pikiran!! Alihkan pikiran!!

“Hai, aku Adrian Ivashkov. Panggilanku disini Rian. Kamu?” katanya lembut.

Hah? Benarkah dengan apa yang kudengar barusan? Adrian Ivashkov? Oke, secara teknis aku sudah berpisah dari sahabat-sahabatku termasuk Adrian selama hampir satu dekade. Sempet gak yakin juga kalau penampakan yang ada dihadapanku saaat ini adalah Adrian. Namun saat kulihat sorot mata pemuda ini, aku yakin kalau dia adalah sahabatku, Adrian. Tapi sepertinya dia agak lupa denganku.

“Aku…aku Tian”

Mungkin aku harus berta—oh tidak­—jangan dulu. Mungkin aku perlu memberikan beberapa petujuk agar ia mengingatku. Semoga saja dia memang orangnya karena kalau tidak__oh fleurd__pasti malu-maluin. Dengan cepat aku merobek kertas dari note’s ku dan kutuliskan beberapa kalimat.

“Jodoh gak akan kemana dari enam anak adam yang akan saling bersahabat satu sama lainhingga akhir khayat mereka. Meskipun mereka berpisah di hari ulang tahun sang Tertua, namun mereka yakin akan kembali bersatu. Inilah takdir yang telah menyatukan enam keluarga besar dari Dragomir, Romanov, Ivashkov, Belikov, Gregorian, & Preminger”.

Setelah selesai, kuberikan tulisan ceker ayamku kepadanya.

“Bacalah” pintaku padanya.

Dengan penasaran ia mengambil secarik kertas tersebut dan membaca dengan seksama. Kulihat air mukanya, awal-awal terlihat biasa namun langsung berubah menjadi ekspresi keterkejutan dan segera menatapku dengan tatapan tidak percaya.

“Berarti kamu?”

“Benar kawan. Sudah lama ya kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu? Sehat-sehat saja kan?”Aku tidak sadar kalau baru saja aku mengatakan hal-hal yang sangat kekanak-kanakan. Jujur saja aku senang sekali sebab firasatku benar serasa hati ini kembali terisi walau baru seorang. Andai saja aku bisa bertemu dengan yang lainnya.

Adegan peluk-pelukan langsung terjadi dan itu membuatku shock. Shock karena ia juga mencium keningku. Jantungku serasa berhenti berdetak dan air mataku langsung terjun bebas tanpa permisi. Lama kami melakukan itu hingga kami akhirnya sadar bahwa kami diperhatikan oleh seisi kelas.

“Eh, emm anu, maaf teman-teman. Ternyata anak baru ini adalahsahabat lamaku yang sudah belasan tahun terpisah sejak kecil. Aku aja pangling pas ngeliat dia udah sebesar ini. Hehehe” dengan polosnya ia mengklarifikasi keadaan diantara kami.

PROKK…PROKK…..PROKKK…….

Salah seorang cowok dari kelas ini memberikan standing applause untuk kami dan juga diikuti oleh seluruh teman-teman baruku.

“Keren banget, bro. yang namanya sahabat sejati emang pasti gak akan kemana. Meski terpisah hingga belasan tahun pasti akan bertemu kembali. Seperti kalian berdua ini”

“Ihhhhhh, so sweet banget deh. Jadi pengen punya persahabatan kayak kalian” kata seorang cewek berkawat gigi.

Amazing. Kalian itu keren”

“Semoga kalian bisa betemu dengan yang lainnya ya” seluruh kelas berpaling kepada asal suara cowok tersebut.

“Maksudmu?”

“Rian ini pernah cerita ke aku kalau ia memiliki lima orang sahabat sewaktu kecil. Namun karena satu dan lain hal berpisah dan sekarang ia bertemu kembali dengan salah satu diantara mereka berlima. Ya kudoakan saja agar mereka bisa bersatu kembali”.

“AMIENNN!!!!!!” teriak satu kelas mengamininya.

“Thanks ya kawan-kawan. Kalian sungguh baik sekali” Kata Rian tersipu malu.

“Kita kan juga bersahabat. Kalau seorang sahabat bahagia, kita pasti akan bahagia juga. Iya kan semuanya?”

“SETUJU!!” Hehehe. Benar-benar kelas yang solid. Anak-anaknya pun juga care satu sama lain.

Akhirnya waktu yang seharusnya kami gunakan untuk mengerjakan tugas malah digunakan untuk membicarakan kehidupan kami semua satu sama lain. Tidak hanya itu. Aku juga banyak bertanya kepada mereka soal pelajaran disini karena aku khawatir kalau kurikulumnya berbeda. Namun ternyata hampir sama dengan kurikulum di negaraku. Otomatis aku tidak perlu bersusah payah untuk menyesuaikannya.

~~~***~~~

 

Cafetaria, pukul 02.00 siang

Ketika aku sedang mengantri untuk mengambil makanan, mataku tertuju oleh Rian yang sedang asyik mengobrol dengan kedua cowok lainnya disalah satu meja. Ganteng semua sih. Salah satu dari mereka sangat mirip dengan Adrian sehingga aku berpikir kalau mereka berdua kakak-beradik. Sedangkan yang satu lagi tidak begitu ada kemiripan dengan mereka berdua.

“Aneh. Kalau dia bersaudara kandung dengan mereka pasti ada kemiripan dong diantara mereka. Kalau begitu, Xavitcrekhia Momentum” akhirnya kugunakan mantra penembus waktu. Nampan alumunium yang sedang kupegang ini secara perlahan menampilkan bayangan masa lalu dari mereka bertiga. Dari sini aku tahu kalau orang yang nggak mirip itu adalah Ferdinand, boyfriend dari Kak Felix. kakaknya Rian.

“Oalahhh. Begitu rupanya. Pantas saja gak begitu mirip”

Kulangkahkan kakiku menuju pantry untuk mengambil sendiri buah dan sayuran yang akan dijadikan salad karena kebetulan ibu penjaganya sedang ke toilet. Daripada bête nunggu aku bikin aja karikatur wajah dari sayur dan buah itu. Dua alpukat untuk mata, selada untuk rambut, ketimun untuk mulut, serta beberapa anggur dan buah zaitun buat hiasan. Ketika aku hendak mengambil apel untuk hidung, ada orang yang menepuk bahuku hingga kontan saja aku kaget dan apel yang kupegang terjatuh. Ketika aku menoleh, ternyata orang itu adalah Adrian. Apel yang jatuh itu lalu diambilnya dan langsung ia bersihkan di wastafel yang kebetulan dekat dengan tempat kami berada. Saat ia memberikan apel itu, ia mengomentari karyaku.

“Woww!! Karya seni yang bisa dimakan. Benarkah?”

“Ahhh, bisa aja kamu. Lagian ini cuma iseng aja kok”

Beberapa saat kemudian, datanglah Ibu-ibu cafeteria.

“Sudah kau dapatkan apa yang kau mau untuk saladmu, nak?” tanya ibu itu.

“Sudah. Apel, selada, anggur, alpukat, zaitun, dan ketimun. Tolong ekstra keju ama mayonaise ya, bu”

“Iya. Tunggu sebentar ya” Ibu itu kini sibuk membuatkan salad dari bahan-bahan itu.

“Hmm, Rian. Tadi yang bersamamu itu siapa?” kataku pura-pura tidak tahu.

“Ohh. Itu tadi kakak-kakakku. Kenapa? Kamu suka ya? Ntar aku salamin kok. hehehe” hadeh…. Andai saja kamu tahu walau diantara kalian sama-sama ganteng, tapi aku hanya tertarik denganmu.

“Ini dia pesananmu, nak. Selamat menikmati” kata ibu itu ramah.

“Sama-sama. Yuk, kita ke meja disana” ajakku pada Rian. Sebelumnya ia kembali ke mejanya untuk mengambil nampan makanannya. Barulah ia mengikutiku ke tempat yang kutunjuk tadi.

Obrolan kami kembali berlanjut sambil makan. Entah kenapa rasanya begitu nyaman jika mengobrol dengannya, pembicaraan kami kemudian menuju topic yang lain. Tentang diriku.

“Sejak kapan kamu pindah kesini?” tanyanya sambil memotong apel dengan pisau buah.

“Sekitar sebulan yang lalu. Ketika itu aku menjatuhkan pilihanku untuk sekolah disini setelah browsing di internet tentang beberapa sekolah di Washington. Walaupun demikian, aku tidak langsung masuk sekolah karena masih ada beberapa administrasi kepindahan yang mesti diurus dulu. Kau pasti tahulah betapa rumitnya administrasi lintas Negara-Benua” untung dia gak sadar kalau aku hanya membual saja.

Yeah, I know karena itu juga yang dialami saudari ibuku ketika pindah ke Inggris untuk mengambil gelar master di Cambridge. By the way, ini memang perasaanku atau langit sepertinya mau hujan?” perlahan suasana menjadi gelap.

Waittt! Kau menanyakanku tentang cuaca?”

Sure. Why?

Actually, aku memang belum begitu suka juga dengan hal-hal disini. Apalagi dengan hari-hari disini yang selalu terkesan suram. Kurang lebih seperti itu mungkin karena masih baru aja”

So, kenapa kamu akhirnya memilih untuk pindah ke tempat dengan curah hujan tertinggi di dunia, hah?” sungutnya meremehkan. Mungkin ia agak tersinggung dengan ucapanku.

Well, maaf banget ya kalau kamu kesinggung gitu tadi. Agak rumit sih sebenarnya, kamu pasti bosan mendengarnya” sebenarnya aku ingin jujur kepadanya, hanya saja aku takut ia akan men-capku sebagai orang gila. Kurasa saat ini berbohong adalah pilihan tepat.

“Ehm, aku yakin pasti mengerti” jawabnya sambil memberikan senyum merekahnya itu. Bibir yang ranum dengan warna merah menggoda. Sepertinya aku tidak akan bisa melupakan senyum itu untuk waktu dekat—Halah!.

“Okey, Eropa saat ini sedang diterpa krisis financial seperti yang kita tahu. Oleh karenanya, keluarga besarku memindahkan sebagian besar asset perusahaan-perusahaan mereka kesini. Karena seperti yang diketahui, USA sudah mulai membaik dari dampak krisis ini, selain itu, Negara Bagian Washington ini kan kualitas udaranya lebih baik daripada negara bagian lain serta kondisinya yang memang lebih sejuk” jawabku sebaik dan sepintar mungkin. Moga aja tuh anak percaya.

Asal kalian tahu. Aku pindah kesini sebenarnya untuk mencari anggota termuda dari Keluarga Ivashkov yang ternyata adalah keluarga warlockia angin. Saat kakekku dan kakek Adrian berkata bahwa Adrian adalah calon warlockia, aku senang sekali. Apalagi ketika beliau menambahkan bahwa sahabat-sahabat kecilku juga akan jadi warlockia. Akhirnya angan-angan kami sewaktu kecil terwujud juga. Beliau lalu berpesan padaku agar ketika menemukannya, aku harus selalu melindunginya karena cakra anginnya masih tersegel dan rentan akan serangan musuh. Ketika segelnya telah siap terbuka, aku juga harus membantunya. Entah maksudnya apa aku sendiri juga kurang begitu memahaminya.

“Yah, kurasa pilihan kalian tepat. Welcome to the Washington. Khususnya Forks”.

Thanks” kamipun kembali melanjutkan makan siang kami. Setelah itu kami berpisah. Adrian menuju lapangan indoor sedangkan aku menuju kelas. Oh iya!! Adrian—Rian maksudku—sempat bilang kalau sebentar lagi akan ada pertandingan basket dan kebetulan sekolah ini menjadi tuan rumahnya. Rasa-rasanya mau lihat juga tapi nanti itu kan ada pelajaran IT. Mau bolos gak enak karena aku masih baru disini.

BINGGO!! Kenapa aku sampai lupa. Aku kan tinggal menggandakan diri aja. Kulihat jam dinding. Berarti pertandingannya sejam lagi. Tanpa pikir panjang, aku menuju toilet lalu memutar keran dan keluarlah air hingga membasahi lantai toilet. Kemudian aku merapal mantra duplikat sambil bercermin pada air.

“Gemino Aftraka”

Air dalam wastafel itu, kemudian berubah wujud menjadi diriku. Kini aku memiliki duplikat yang sama persis. Aku lalu menyuruhnya untuk menggantikan posisiku dikelas. Setelah faham dengan intruksiku, duplikatku segera menuju kelas sedangkan aku menuju lapangan indoor. Aku harus bergegas agar dapat view yang bagus dari bangku penonton.

 

~~~***~~~

 

Adrian Pov

Pukul 03.15 Sore

Gugup juga rasanya. Padahal aku kan sudah biasa dengan pertandingan seperti ini, daripada makin gak jelas, aku memilih untuk melihat-lihat bangku penonton.

Ramai juga sih penontonnya untuk pertandingan seperti ini. Dari banyaknya kerumunan itu, mataku menangkap dua sosok yang familiar, tidak salah lagi, ternyata kedua kakakku menepati janji mereka. Dari yang kulihat, sepertinya mereka sedang asyik mengobrol dengan seseorang.

Lho, itu kan Tian? Bukannya ia tadi menuju kelas. Kok bisa disini? Tapi tak apalah aku senang kalau dia disini untuk menontonku. Kalau begitu, aku harus bisa bermain sebagus mungkin untuk mereka

Timku dan tim lawan saling berjabat tangan. Setelah itu, masing-masing tim menyanyikan lagu mars sekolah asal. Kami diberi waktu sepuluh menit untuk pemanasan. Sesudah itu, wasit kembali meniup peluit agar kami siap diposisi masing-masing. Wasit lalu melemparkan bola ke udara sambil meniup pluit.

PRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!

Pertandingan pun dimulai.

Bola langsung direbut oleh lawan. Tanpa pikir panjang, kami langsung mengejar bola yang dibawa lawan ketika dia ingin menembak­—YESS—rupanya meleset dari ring. Kesempatan ini langsung dipergunakan tim kami untuk membalas. Entah mungkin karena semangat atau apa, tubuhku serasa ringan sekali ketika berlari. Seperti berada diatas bantalan udara. Bola lalu dioper kepadaku selanjutnya aku melakukan slamdunk dan bola masuk kedalam ring. Point untuk kami. Benar-benar tidak aku sangka karena dari mulai merebut bola hingga memasukannya kedalam ring hanya memakan waktu lima detik. Sungguh diluar dugaan.

Pertandingan berikutnya dimulai lagi. Tim lawan rupanya memberi perlawanan yang cukup berarti bagi kami. Tapi kami tidak akan mengalah.

~~~***~~~

 

Ferdinand Pov

“Lix, lihat adik kita itu? Jago juga rupanya”

“Iya sayang. Dia kan hobi banget basket. Apalagi pas kamu yang ngajarin.”

Pikiranku kembali melayang ke masa-masa silam. Saat itu, aku tengah mengajarkan basket kepada Rian yang kebetulan baru berumur 10 tahun. Mungkin karena bakatnya Felix menular kepadanya sehingga dengan cepat Rian dapat menguasai teknik-teknik yang kuajarkan. Aku sebenarnya sepupu dekat dari mereka . Aku sangat menyayangi mereka berdua, apalagi Felix. Rasa sayangku padanya perlahan semakin berkembang hingga menjurus pada cinta. Tepat ketika aku dan ia berusia 14 tahun, aku menyatakan cinta padanya. Tanpa harus menunggu lama ia mau menerimaku. Rupa-rupanya, ia juga memiliki rasa padaku, respon yang kudapat dari keluarga besar sungguh positif terlebih Rian dan kedua orang tua mereka. Oleh mereka, aku diminta untuk tinggal bersama, rencananya 3 tahun lagi tepatnya ketika aku dan Felix berusia 20 tahun kami akan mengikat janji suci kami.

“Permisi, bolehkah aku duduk disini?”

Of course” kata Felix mempersilahkan.

“Hei, kamu bukannya yang duduk bersama Rian kan di cafeteria tadi? Siapa namamu?”, tanyaku pada pemuda itu.

“Iya, benar. Aku Tian. Kalian pasti kakaknya, kan?”

“Bener kok. Tahu darimana?” tanya Felix

“Rian tadi yang ngasih tahu” sahut pemuda itu

Untuk selanjutnya percakapan diantara kami bertiga mengalir begitu saja. Dari sini, aku mengenal lebih dalam diri Tian yang ternyata baru pindahan dari Jerman ini sekaligus sahabat kecil Rian yang sempat terpisah karena kesibukan orang tuanya. Kepribadiannya yang baik, ramah, cute sekaligus lembut. Sempat aku berpikir untuk menjodohkannya dengan Rian. Ketika aku membisikan rencanaku pada Felix, ia sependapat juga denganku.

“Sepertinya kalian cocok juga. Apa kamu punya rasa sama Rian?” goda Felix padanya to the point. Wajah Tian langsung memerah dan ia berusaha untuk menutupnya.

“Hahaha. Tenang aja, bro. Kami setuju aja kok kalau kamu bersama adik kami”

“Benarkah? Thanks ya. Aduh senangnya. Oh iya, kalian sudah menjalin hubungan cukup lama kan?” selidiknya.

“Maksudmu apa?” ujarku.

“Maaf sebelumnya. Namun dari pengamatan yang kulakukan, kalian terlalu intim untuk dikategorikan sebagai kakak-adik. Kalian pasti sepasang kekasih kan?”

LHO?? kok dia bisa tau ya?

“Eeehhh, emm…anu. Kok kamu bisa tau? Padahal baik aku dan dia sebisa mungkin bersikap se-normal yang kami bisa kok” ujar Felix yang terlihat lebih panik dari aku.

“Hehehe. Aku memang memiliki intuisi yang bagus. Hanya itu” jawabnya enteng.

Weww, sungguh aneh kurasa. Padahal anak baru tapi tebakannya tepat mengenai sasaran. Meski aku maupun Felix tidak pernah mengumbar status kami ini, hanya saja aku heran darimana ia tahu informasi itu. Kalaupun benar intuisi seperti yang ia katakan barusan, aku yakin dia bukanlah anak biasa. Dan itu bisa dibuktikan dari auranya.

PRRIIITTTT!!!!!

“Eh, kenapa tuh wasit?” kaget juga sih karena wasit meniup pluit tiba-tiba.

“Yeee. lagian kamu bengong aja dari tadi. Rian barusan cedera gara-gara ditabrak lawan yang kebetulan posturnya lebih gede dari dia” jelas Felix.

Ketika aku menoleh kearah Tian, ia sedang sibuk merapal kata-kata yang cukup aneh sambil sesekali menggerakan jari-jarinya. Tatapannya mengarah pada Rian yang kini sedang mengaduh kesakitan di bangku cadangan. Ketika Tian selesai melakukannya, bersamaan itu pula Rian berhenti mengaduh kesakitan, permainan kemudian dilanjutkan kembali. Saat ada lagi yang cedera, Rian mengambil alih, setelahnya ia menguasai jalannya permainan hingga akhirnya……

PRRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!

Peluit panjang telah dibunyikan wasit. Menandakan bahwa permainan telah selesai dengan kedudukan score 40:35 untuk tuan rumah.

Kulihat Tian sedang keluar dari barisan penonton. Setelah itu ia memeriksa keadaan disekitarnya. Agak mencurigakan memang, saat kukedipkan mataku lagi, Tian lenyap dalam kabut putih yang kutahu adalah mantra pindah dekat.

Mantra? Rian yang mendadak sembuh? Kabut? Sepertinya Tian bukanlah manusia biasa. Apalagi intuisinya itu yang menurutku bukanlah sekedar intuisi melainkan kemampuan membaca masa lalu. Sepanjang yang ku ketahui, ini adalah kemampuan dari warlockia air. Tidak salah lagi.

Sepertinya ia disini untuk membantu Rian melepas segel cakra anginnya. Berarti sebentar lagi waktu bagi Rian akan tiba. Sampai saat itu tiba, aku akan berpura-pura tidak tahu. Baik kepada adikku, boyfriendku, maupun Tian.

~~~***~~~

Author Pov

Akhirnya tuan rumah berhasil mempertahankan juaranya untuk yang kesekian kalinya. Terlebih bagi tim basket tersebut. Mereka saling berpelukan satu sama lain untuk meluapkan euphoria mereka. Walaupun menang, hal ini tidak menandakan mereka sombong. Mereka dengan senang hati bersalaman dengan tim tuan rumah sebagai sahabat. Begitu juga tim tamu yang dengan jantan menerima kekalahan mereka. Setelah mendapat piala bergilir dan medali mereka melakukan foto bersama.

Sejak tadi, Rian tidak ikut larut dalam euphoria. Ia masih memikirkan kejadian ketika cedera tadi. Saat hal itu terjadi, ia sempat melihat Tian sedang komat-kamit kearahnya sambil memainkan jari-jarinya. Tiba-tiba muncul aliran air­—yang entah berasal darimana—yang segera membasahi bagian tubuh yang cedera, perlahan cedera yang dialaminya berangsur membaik dan pulih dengan cepat hingga ia bisa bermain kembali.

Saat Rian menuju kelas untuk mengambil beberapa barang, rupanya pelajaran baru saja berakhir dan yang membuatnya terkejut, Tian baru saja keluar kelas. Dengan segera ia lalu masuk kelas menemui Oscar.

“Hei, tadi si Tian bolos kelas ya?”

“Enggak kok. Orang dari tadi aku ngobrol dengannya. Kenapa?” sahut Oscar sambil membereskan buku-bukunya.

What?? Jelas-jelas aku melihat Tian dari awal hingga akhir pertandingan. Kalau yang tadi keluar itu Tian, lalu siapa yang sedari tadi menonton pertandinganku? Apa yang sebenarnya terjadi disini, hah?”

“Ya aku gak tau. Kan daritadi aku di kelas bareng Tian. Bro, aku duluan ya?” kata Oscar.

“Oh, iya. Ati-ati!!” sahutnya.

Setelah beberapa saat, Rian memutuskan untuk meninggalkan kelas kosong itu. Ketika ia menuju lapangan parkir tempat Jeep kakaknya berada, ia melihat Tian sedang berjalan kearah pepohonan. Karena penasaran ia mengikutinya, dari balik pepohonan ia melihat dua sosok Tian yang sangat identik. Keduanya lalu saling menempelkan telapak tangan kanan mereka. Yang membuat ia ternganga, salah satu dari dua sosok itu menghilang dan hanya menyisakan satu sosok Tian. Setelahnya ia melihat Tian kembali komat-kamit lalu menghilang dalam kabut.

Wussshhhhhh

Rian kini hanya diam terpaku. Dia masih tidak habis pikir tentang apa yang ia lihat barusan. “Tian menghilang? Bagaimana mungkin?” Belum sempat ia berpikir jauh suara klakson dari Jeep telah mengagetkannya.

TINNN!!!!

“Ahelah!! Ngagetin aja!!”

“Ngapain kamu disitu? Cepat naik! Sebentar lagi hujan” perintah Felix.

“Iy..iya kak!!!”

Sesampainya dirumah, Rian memutuskan untuk segera tidur. Ia merasa bahwa karena mungkin terlalu lelah, ia menjadi berhalusinasi berlebihan. Apalagi karena kehadiran sosok yang yang mirip Tian dibangku penonton tadi. Makin tambah kacau saja pikirannya. Perlahan kantuk mulai menguasainya hingga akhirnya ia tertidur.

~~~***~~~

 

18 Maret 2011

Kediaman Adrian

Sudah beberapa bulan ini Rian dan Tian menjalin persahabatan yang semakin erat. Mereka kemanapun selalu berdua. Baik itu ketika mengerjakan tugas, ke kantin, jogging, bahkan hang-out pun juga berdua. Walau terlihat demikian, Rian masih memendam rasa penasarannya terhadap Tian. Pernah terbesit dalam benaknya untuk memata-matai sahabatnya itu. Tapi ia keburu sadar bahwa itu bukanlah hal yang baik dilakukan, kalaupun memang Tian bukan lah manusia seperti kebanyakan, ia tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya Tian telah memberi kesejukan dalam dirinya. Ia ingin agar selama mungkin tetap bersamanya.

Sore ini Tian diajak menginap oleh Rian dan kedua kakaknya. Kebetulan kedua orang tua mereka sudah pulang dari urusan bisnis. Ketia Rian mempertemukan Tian dengan orang tuanya, mereka berdua terkejut.

Lho, ini Tian anak dari Frederick dan Lusia, kan?” sapa Om Irga, ayah Rian.

“Iya Tante Hera, Om Irga. Bagaimana kabar kalian?”.

“Baik, sayang. Muaaacchhh. Kalau orang tuamu bagaimana? Kok gak bilang-bilang kalau sudah pindah kemari?” kini Tante Hera yang bertanya sambil mengecup pipi Tian gemas.

“Baru juga beberapa bulan yang lalu kok. Mereka kini sedang mengurus beberapa asset perusahaan mereka”.

“Kok Rian gak ngasih tahu Papa Mama sih kalau Tian yang mau nginap? Hayo pasti ada apa-apa nih? hehehehe” selidik mama jahil.

“Ihh… Mama ada-ada aja. Terserah aku dong. Temen ini kok yang aku ajak nginep” belanya.

“Temen apa temen? Kalo lebih juga gak apa-apa. Iya kan ma? pa?” sindir Ferdinand.

“Iya….Mama setuju. Lebih bagus malah. Jadinya kami gak perlu repot buat nyariin pacar untuk Rian. Hahahaha” tawapun langsung meledak diantara keluarga itu. Rian yang makin merah padam langsung menarik tangan Tian menuju kamarnya.

“Eciehhhh…..kok adik kecil ngambek, sih? Malahan pacarnya langsung dibawa kabur lagi. Hahahahahahaha” sindir mereka bersamaan. Dalam hati Rian kini memang telah diisi sepenuhnya oleh Tian. Hanya saja ia masih malu untuk mengungkapkannya. Bahkan tanpa ia sadari, Tian juga memendam perasaan yang sama.

~~~***~~~

Adrian Pov

25 Maret 2011

Lapangan Parkir, pukul 03.00 Sore

Hari ini pelajaranku lebih cepat selesai dari biasanya dikarenakan seluruh guru-guru kelas 2 sedang mengadakan rapat. Akhir-akhir ini, kedua kakakku yang kelas 3 telah disibukan dengan berbagai kegiatan pra-ujian kelulusan hingga mereka selalu pulang larut. Untuk itulah sejak beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk membawa mobilku sendiri.

Hujan kini turun membasahi bumi. Aku yang ingin pulang buru-buru mengambil payung dari lokerku saat keluar dari lobby sempat aku melihat Tian yang sedang bersandar di balkon lantai tiga. Setelah berlari-lari kecil, aku sampai ditempat dimana mobilku terparkir. Aku yang tengah mengambil kunci dari saku jeans tidak sadar dengan apa yang akan terjadi.

Ketika itu ada sebuah mobil sedan hitam yang kelihatannya kehilangan kendali. Mobil yang melaju tanpa arah itu menabrak apa saja yang dilewatinya. Tempat sampah, tiang lampu, hingga beberapa mobil yang tengah terpakir, tidak sanggup untuk menghentikan laju kendaraan itu. Mobil itu kini mulai mengarah padaku. Sempat mobil itu membunyikan klaksonnya beberapa kali. Saat aku menoleh kebelakang hal itu sudah terlambat. Mobil itu menabrak tubuhku hingga membuatku jatuh terpental dengan kepala membentur aspal. Payung serta tas slempangku sudah entah terlempar kemana. Mobil itu akhirnya berhenti setelah menabrak baliho besar dengan suara hantaman yang luar biasa keras.

Kesadaranku perlahan mulai kembali. Aku pun berusaha untuk berdiri. Entah kenapa baru berjalan beberapa langkah muncul rasa pusing yang luar biasa pada kepalaku. Saat aku memegang pelipis, aku merasakan sesuatu yang lengket dan berbau amis. Kulihat jari-jariku terdapat cairan lengket yang rupanya itu adalah darah. Kuyakin terdapat jaringan yang robeknya cukup parah dikepalaku mengingat darah terus saja mengalir dari kepalaku. Perlahan aku mulai hilang kontrol atas tubuhku, belum saja aku terjatuh untuk yang kedua kalinya tubuhku langsung ditangkap oleh sepasang lengan. Saat aku memfokuskan pandanganku, ternyata yang menangkap tubuhku adalah Tian.

“Ti….Tian. sejak kapan kau ada disini? Bukannya tadi kamu—arrgghhhh!!!!­—di balkon sana” ujarku kesakitan. Serasa ada yang berderak didalam tubuhku.

“Berhenti dulu ngomongnya. Perdarahanmu banyak sekali. Gak hanya itu saja. Lengan kananmu patah dan tulang ditungkaimu bergeser” jawabnya datar.

Tiba-tiba hujan serasa berhenti disekitar kami namun suaranya masih terdengar jelas. Ketika aku mengedarkan penglihatanku, ternyata kami berdua telah terlindung dari derasnya hujan dengan adanya kubah besar yang seketika tercipta dari tetesan-tetesan air hujan yang membeku. Setelahnya Tian kembali berkomat-kamit. Namun kini aku bisa dengan jelas mendengarkan apa yang ia ucapkan.

“Imbloodvertario—skeletofrena­—Aquazlekhia”.

Itulah kurang lebihnya yang kudengar. Tiba-tiba tubuhku seperti terselimuti oleh air. Awalnya dingin namun perlahan air yang menyelimutiku mulai menghangat. Tian lalu menempelkan telapak tangannya yang pucat kekepalaku. Darah yang sedari tadi mengalir deras, langsung berhenti. Luka robek pada kulit kepalaku sedikit demi sedikit mulai menutup.

“TIAN!!! AWASSS!!!” jeritku lantang.

Belum juga proses penyembuhan itu selesai, banner yang ditabrak mobil itu oleng kearah kami. Tanpa bergeming, Tian memanipulasi pergerakan air yang berada disekitar kami menjadi gelombang besar .Gelombang itu menahan jatuhnya balihokearah kami. Tian yang dengan sekali dorongan, membuat gelombang air itu menghempaskan papan itu hingga menimpa pepohonan disekitar kami.

PRAKK….PRAKKK….BDUMM.

“Rian, kamu gak apa-apa kan? Kamu bisa dengar aku kan? Rian?? RIANN!!!!!”

Kesadaranku perlahan menurun kembali. Sayup-sayup terdengar sirine ambulance dari jauh. Segalanya mulai gelap. Aku tidak tau apa aku bisa sadar lagi atau tidak.

 

~~~продолжение следует (To be continued)~~~

 

#N.B:

1. ada satu atau dua kalimat yang sengaja kubuat pake bahasa russia.

2. Pengennya sih dibuat nanggung penggalannya. Biar penasaran.#gak tau deng sukses atau nggak

3. Kalau ada kesalahan, mohon koreksinya ya kawan-kawan. Itung2 ini karya keduaku dalam “Warlockia Series” dan coretan isengku yang ketiga.#yang pertama aku post kapan-kapan deh.

Book 1 : Fire

elios

Permulaan

By: Helios

 

Magic?? Di zaman modern seperti sekarang ini?? Mungkin orang akan tertawa kalau masih ada yang percaya dengan hal-hal semacam itu. Namun, mereka sebenarnya tidak tahu bahwa masih ada Warlokia­­___penyihirberdarah campuran dengan elemental. Yups, Seperti aku ini…….

Namaku Eleazar Syailendra Djosevi Dragomir. Panggilan akrabku Ezar. Nama Syailendra dan Dragomir aku peroleh karena aku memiliki dua darah bangsawan sekaligus, yakni dari Indonesia (Solo khususnya) dan Russia. Hehehe, campur aduk memang aku.Sejak lahir aku selalu berada di Russia bersama keluarga Oma Vasilissa. Tapi setiap beberapa bulan sekali, keluargaku yang dari Indonesia___keluarga Nenek Rahayu___datang berkunjung. Kalau sudah begini, kondisi akan sangat ramai karena setiap waktu kami selalu bersenang-senang bersama.

Aku ini pribadi yang mandiri. Sedari kecil terbiasa melakukan segala hal sendiri tanpa bantuan siapapun. Gak seperti kebanyakan saudara-saudaraku yang manjanya minta ampun dan selalu berkoar-koar ke semua orang tentang kekayaan keluarga besar kami. Bukan gayaku banget.

Oh iya. Waktu aku kecil, aku selalu bermain dengan kelima sahabatku. Diantaranya William, Gerdian, Adrian, Chriss, dan Valant. Yang unik dari persahabatan kami adalah ibu kami sama-sama orang Indonesia sehingga bisa dibilang kami ini anak-anak Indo. Diantara kami berenam, aku lah yang paling tua. Tapi bagi kami usia bukanlah penghalang bagi persabatan kami.

~~~***~~~

Acara Piknik Keluarga, 12 Maret 1999

Awal perjumpaan kami dimulai ketika piknik keluarga. Saat itu, orang tuaku juga mengundang teman-temannya. Karena aku tidak begitu mengenal mereka kuputuskan untuk bermain ayunan sendirian. Tak disangka-sangka datanglah lima orang anak menghampiriku. Kupikir aku bakal di bully atau apa. Ehhh, ternyata mereka hanya ingin bermain bersama denganku. Hehehehe. Kecil-kecil tapi udah paranoid aja.

Satu per satu mereka mulai memperkenalkan diri. Dari kelima anak itu hanya satu yang sikapnya malu-malu kepadaku. Bagaimana tidak? Ia saja tidak berani menatapku,apalagi saat berjabat tangan,sekujur tubuhnya langsung menggigil seperti orang melihat hantu. Aku yang penasaran beranjak dari ayunan untuk mendekatinya. Dengan hati-hati kugenggam kedua tangannya. Lalu kuangkat dagunya dan secara perlahan membuatnya menengadah hingga kedua mata kami bertemu.

“Aku ini orang, bukan hantu, nggak perlu takut denganku” kataku lembut dengan logat khas anak kecil.

“Ehmm, iya” jawabnya masih malu-malu.

“Nama kamu siapa? Kalau aku Eleazar”

“Namaku Valant. Hehe..”

Semenjak hari itu kami berenam selalu bersama. Kejar-kejaran, main petak umpet, bersepeda, apapun pasti berenam. Kami juga punya keinginan yang sama yaitu menjadi penyihir. Itupun aku yang mulai sewaktu kami sedang bersantai dibawah pepohonan pinus yang tumbuh di sisi barat puriku.

“Kawan, aku mau jadi penyihir api. Kan keren tuh bisa ngeluarin api dari tangan, kalau kalian inginnya jadi penyihir apa?”

“Aku maunya elemental air. Soalnya air itu sumber kehidupan” kata Chriss.

“Aku angin. Kan angin itu bisa jadi badai hehe” kata Adrian nyengir.

“Bumi. Soalnya bumi kuat, namun juga indah dengan segala kehidupan yang ada dipermukannya” kata Gerdian bijak. Untuk yang satu ini kami berlima mengangguk bersamaan.

“Kalau aku elemen penjaga aja” kata William malas-malasan.

“Hah? Gak ngerti” kini giliran Chriss yang garuk-garuk kepala.

“Makcudnya logam. Logam itu kan kelas. Nah dengan icu aku mau jagain kalian. hihihi” setelah beberapa lama kami akhirnya bisa ngeh ama kata-kata William. Maklum dia itu cadel dan kadang suka gak jelas ngomongnya.

“Kalau kamu apa, Val?” Tanya Adrian sambil makan biscuit.

“Kalo aku…ehm.. apa ya? Oh ya. Cahaya aja deh” katanya polos.

“Lho? Kenapa cahaya? Kenapa gak api aja kayak aku?”

“Soalnya, api itu kan warna apinya merah. Kalo cahaya warnanya putih. Warna kesukaanku”.

“Eh, main lagi yuk?”ajak Adrian.

“Ayo aja. Hahahaha…. ” tawa kami bersama.

Kamipun bangun dan kembali lagi bermain selayaknya anak kecil pada umumnya.

~~~***~~~

Pesta Ulang Tahunku, 21 Agustus 2001

Persahabatan kami walau baru berjalan lebih dari dua tahun namun rasanya sudah seperti sejak lahir. Malah kami berenam sepakat mengembangkan hubungan ini menjadi persaudaraan. Meski begitu tentu saja keadaan ini tidak bertahan lama hingga pada suatu hari kami terpaksa berpisah (entah memang kebetulan atau apa) karena pekerjaan orangtua masing-masing.

Saat itu usiaku menginjak 8 tahun dan mereka berlima 7 tahun. Sempat terjadi adegan tangis yang mengharukan diantara kami berenam. Valant aja sampai memelukku sedangkan empat yang lain saling berangkulan dalam tangis, bahkan orang tua kami masing-masing sampai terharu ketika melihat kami. Hal ini terjadi saat ulang tahunku. Sungguh ini merupakan kado sekaligus perpisahan yang tak akan pernah terlupakan,baik bagiku maupun kami berenam.

“Hei..hei. Kita kan udah gede. Masa masih nangis gini” kataku berusaha menghibur mereka, terutama Valant yang nangisnya tidak berhenti-henti dipelukanku.

“Kamu enak bica bicala gicu. Coalnya kamu yang paling gede” Meski William ngomongnya sambil nangis, tapi justru cara ngomongnya itu yang bikin kita bisa sedikit melupakan kesedihan kami.

“Oh iya. Anak-anak, tante punya cerita nih. Ceritanya tentang persahabatan Tante Eirishka dan orang tua kalian, kalian mau dengar gak?” bujuk Ibuku untuk mencairkan suasana.

“Mau. Mau denger!!”, jawab aku dan teman-temanku bersamaan.

Ibuku lalu mulai bercerita. Dulu sewaktu masih kuliah, Ibuku mempunyai seorang teman cowok yang amat dekat. Cowok itu adalah orang yang suatu hari akan menikahi Ibuku. Yups, dia adalah Ayahku. Nah, masing-masing diantara mereka memiliki gank yang beranggotakan enam orang. Kedua gank itu selalu bersama hingga pada saat mereka dewasa, mereka sepakat untuk bersatu atau dengan kata lain masing-masing dari anggota saling menikah (pas bagian ini ayahku dan orang tua yang lainnya langsung salah tingkah saat diperhatikan oleh kami berenam). Beberapa tahun mereka tetap bersama untuk sekedar bersenang-senang atau hangout bersama. Hingga akhirnya mereka mulai sulit bertemu karena masing-masing pasangan sudah memiliki kesibukan. Disatu kesempatan, mereka akhirnya membuat suatu perjanjian persaudaraan dimana mereka akan menjadi saudara untuk selama-lamanya.

“Bagaimana anak-anak? Indah bukan persahabatan kami?” Kini mulai Ayahku yang angkat bicara.

“Banget, om. Chriss juga pengen punya persabatan yang langgeng. Kalian mau juga kan teman-teman?” Kami mengangguk serempak sebagai tanda persetujuan.

“Oma merasa kalau kita semua ini telah diikat oleh takdir yang sama. Selama berabad-abad, setiap generasi dari keluarga-keluarga kita semua pasti selalu bersahabat. Begitu pula dengan Oma beserta kakek-nenek kalian dan juga Tante Eirishka beserta orangtua kalian. Oma juga yakin kalau kalian terikat dengan takdir yang sama,jadi kalian tidak perlu khawatir. Meski kalian sekarang akan berpisah pasti suatu saat kalian pasti akan ketemu lagi” hibur Oma Vasilissa.

“Oma betul. Lagipula, ini kan masih dalam suasana ulang tahun Eleazar. Harusnya kita kan bergembira. Iya kan teman-teman?” ujar orang tua Adrian pada para orang tua yang lain dan merekapun mengangguk setuju.

Akhirnya pesta kembali berlanjut dengan meriah. Diakhir acara kami sepakat untuk tukar kado dan tidak mengucapkan kata perpisahan. Karena kami yakin sejauh apapun jarak memisahkan, kami pasti akan bertemu kembali.

 

~~~***~~~

Waktu berlalu dengan cepat,tidak terasa aku sudah menjadi seorang remaja. Bertahun-tahun sudah kami tidak memberi kabar satu sama lain. Bukan karena kami musuhan, tapi kontak diantara kami seperti menghilang perlahan sampai benar-benar putus kontak.

Diusia-usia seperti ini pasti mental para remaja-remaja lainnya sedang dalam tahap yang benar-benar labil,tapi hal itu pantang terjadi padaku. Justru ketika diusiaku yang baru 14 tahun, aku sudah membuat sebuah keputusan yang amat mengguncang keluarga besarku. Bagaimana tidak? Aku memutuskan pindah dari Russia ke Indonesia seorang diri hanya untuk mencari suasana baru, sekolah, kuliah, dan bekerja. Pilihan kepindahanku jatuh pada sebuah kota besar di Indonesia apalagi kalau bukan Jakarta. Mendengar keputusanku itu Nenek Rahayu sempat menawariku untuk tinggal bersama keluarga besarnya di Keraton Solo jika aku tetap kekeuh pindah ke Indonesia. Tapi dengan halus aku menolak permintaan itu. Bagiku, saat inilah waktu yang tepat untuk menentukan pilihan hidupku sendiri. Itulah yang membuat keluarga besarku bangga karena keberanianku yang memutuskan untuk pindah ke sebuah tempat yang asing dan belum pernah kulihat sebelumnya. Sesampainya aku di Bandara Internasional Soekarno Hatta, kuputuskan untuk melepas “embel-embel” Syailendra dan Dragomir. Sebagai gantinya, aku akan menggunakan nama Ezar Kurniawan selama disini.

 

~~~***~~~

Begitulah sepenggal masa laluku kini bisa dibilang aku sebagai salah seorang yang sukses di Jakarta. Dengan pekerjaanku yang sekarang sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan berskala internasional, aku bisa mencukupi kehidupanku. Orang-orang pasti tidak akan percaya kalau aku baru berusia 20 tahun. Usia yang terbilang terlalu muda untuk menjabat posisi sepenting ini. Tidak aneh memang bagiku pasalnya selama mengenyam bangku pendidikan aku mengalami beberapa kali akselerasi dan lulus kuliah bahkan dapat menyelesaikan program S2 dengan predikat sebagai lulusan termuda. Soal kemampuan…..tidak diragukan lagi, sodara-sodari.

Perawakanku bisa dibilang WOW. Penampilan serta Inner beauty-ku yang khas keturunan Indo campuran memang amat sangat terpancar hingga aku terkadang menjadi pusat perhatian di sekitarku. Aku masih ingat ketika aku melamar pekerjaan beberapa tahun lalu banyak staff-staff senior yang melirikku ketika memasuki lobby.

Wah, ada barang baru nih….

Hmm…..harus gua dapetin nih anak baru

Aduhh…..!!!! ganteng banget nih orang. Pengen deh minta pin BB nya” jerit kecil sekretaris centil dari balik meja resepsionis.

Lumayan ganteng sih. Bisa-bisa jadi saingan gua nih…” kata seorang supervisor yang dengan angkuhnya melewatiku.

Begitulah beberapa komen yang bisa aku dengar. Tidak banyak orang yang tahu kalau aku mempunyai beberapa kemampuan khusus. Diantaranya, aku punya pendengaran ekstra sensitif, membaca pikiran dapat menguasai berbagai bahasa dan juga daya pikat yang luar biasa. Ini pula lah yang bisa membuat ku mengalami beberapa kali akselerasi dan dengan mudah mendapatkan pekerjaan, disamping juga memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Semua kemampuan ini kuperoleh ketika aku masih di Russia. Hahhh…. Memikirkannya saja rasanya baru seperti kemarin bagiku.

 

____Flash back____

 

Pekarangan Puri Dragomir, 27 Oktober 2004

Hari itu­­­ entah kenapa Oma Vasilissa menghampiriku bersama Nenek Rahayu yang kebetulan baru datang dari Solo. Mereka ingin sekali membicarakan sesuatu secara empat mata___i mean, enam mata denganku. Sebelum membuka topik, mereka berdua memberiku dua buah kotak antik berselimutkan kain merah dan kain batik.

“Bukalah ke dua kotak ini, cucuku” pinta oma dan nenek bersamaan.

Pada kotak berkain merah, terdapat sebuah kalung berliontin Naga. Sedangkan pada kotak berkain batik, terdapat sebuah keris ber-luk 13.

“Apa maksud semua ini nek? Oma?” tanyaku pada mereka berdua.

“Sebelumnya izinkanlah Omamu bercerita lebih dulu” kata Nenek Rahayu.

“Begini cucuku. Maksud kami memberimu ini berhubungan dengan kegentingan yang saat ini sedang terjadi. Voldera telah bebas dari penjaranya”.

“Hah? Oma serius? Bukankah ia hanya mitos tua belaka?” tanyaku heran.

“Tidak, dia benar adanya. Penyihir itu telah bebas sekarang. Itu karena, mantra segel kuno pada penjara sihir telah lenyap. Kami menduga bahwa Penjara Sihir Alcatera telah dibobol oleh keturunannya, Romedal.”

“Bagaimana Oma tahu tentang semua ini?”

“Lihat ini. Iluraminati !”. Oma menjentikan jarinya dan muncul lah bola api merah. Dari bola api tersebut keluarlah seekor naga kecil.

“Be..rar..ti…berarti….oma adalah..”

“Iya, cucuku. Oma adalah The Elemental.” akuiOma.

Sulit dipercaya kalau Oma Vasilissa adalah penyihir api selama ini, aku lalu ingat akan salah satu mitos tua tentang beberapa keluarga-keluarga bangsawan__berdarah campuran penyihir dan pengendali elemental yang disebut juga warlockia__eropa timur. Diantaranya adalah Dragomir, Ivashkov, Belikov, Gregorian, Romanov, dan Preminger yang kemudian menamai diri mereka sebagai The Elemental.

“Tunggu dulu. Kalaupun benar, bukannya aku dan teman-teman kecilku memiliki nama belakang seperti para The Elemental? Apa kami juga warlockia?”

“ Tepat sekali. Oma ingin kamu beserta kelima sahabatmu itu bersatu untuk melenyapkan Voldera dari muka bumi ini. Hanya kalian harapan kami. Kami sudah terlalu tua”.

“Tapi bagaimana caranya? Aku sama sekali tidak tahu dimana keberadaan mereka sekarang ini”

“Karena itulah kamu memerlukan bantuan Nenek Rahayu. Kamu ingatkan Nenek Rahayu pernah menceritakan cerita-cerita jawa yang erat kaitannya dengan Gusti Kanjeng Ratu Laut Selatan? Nah, nenekmu ini masih memiliki hubungan darah dengan beliau” jelas Oma sambil tersenyum pada nenek.

“Kalau begitu Ayah dan Ibu juga seorang…..”

“Iya cucuku. Ayahmu warlockia dan ibumu adalah putri penjaga laut selatan. Namun kamu pasti tidak menyadarinya. Itu karena ketika Ayah dan Ibumu menikah, mereka berikrar agar berusaha semaksimal mungkin hidup selayaknya manusia normal”jelas Nenek.

“Pantas saja.…. tidak kusangka bahwa keluarga besar kita ternyata bukanlah bangsawan biasa. Oh iya Nek, apa kiranya yang kubutuhkan dalam mencari teman-temanku?”

“Itu sebabnya nenek memberimu Pusaka Syailendra. Keris luk 13. Keris ini bisa menjadi senjata apapun sesuai kebutuhan. Keris itu juga dapat menjadi penunjuk arah dan kamu dapat menggunakan ini untuk menemukan mereka”, jelas nenek.

“Namun ada satu yang kamu perlu tahu. Diantara kelima keluarga lainnya, keluarga Romanov paling susah terlacak akhir-akhir ini. Itu karena…..” Oma menggantung kalimatnya.

“Karena apa, oma?”

“Sebagian anggota Keluarga Romanov telah menghilang tanpa jejak. Kami mengira ini perbuatan Voldera dan keturunanya. Itulah sebabnya energivalinor dalam keluarga tersebut nyaris menghilang. Namun kita patut bersyukur karena beberapa anggota Romanov berhasil selamat, sehingga kita masih memiliki peluang. Prioritas kalian adalah menemukannya sebelum Voldera menemukannya jika sampai telat menemukannya…. kita tidak ada kesempatan lain”jelas Oma.

“Sekarang, pakailah kalung tersebut dan cabutlah keris dari sarungnya”pinta nenek padaku.

Aku pun memakai kalung tersebut dan mencabut keris dari sarungnya. Tiba-tiba saja, cuaca diluar yang tadinya cerah, kini berubah gelap. Semilir angin berubah menjadi badai ganas. Petir menyambar dari segala penjuru langit. Ditambah dengan munculnya cahaya merah terang yang diikuti dengan keluarnya sesosok naga raksasa dari kalungku. Yang membuatku takjub sekaligus ngeri, badai yang berhembus berubah menjadi pusaran api maha dahsyat yang membumbung tinggi menembus langit dan diselingi raungan naga yang begitu keras.

“Selamat cucuku.” kata Nenek.

“Engkau kini telah menjadi warlockia api. Gunakan kekuatan magic, pengendalian, dan keris itu dengan bijaksana” kata Oma.

“Dengan kamu memakai kedua benda ini, kamu akan mendapatkan kemampuan-kemampuan khusus yang tidak dimiliki manusia kebanyakan” jelas Nenek.

“Berjuanglah cucuku. Demi Dragomir, demi Syailendra, dan juga seluruh umat manusia.” pesan oma.

“Baiklah. Akan kujalankan tugas ini. Demi kita semua.”sahutku dengan mantap.

 

______End Flash back_____

 

~~~***~~~

 

Apartemen Boulevard Residence, 7 April 2013 pukul 07.00 pagi

Hari ini kebetulan libur panjang. Dikarenakan perusahaan kami sedang merayakan kesuksesan targetnya, Mr. Aria selaku direktur utama memutuskan untuk meliburkan pegawainya selama beberapa hari. Tentu saja kesempatan ini kupergunakan untuk pulang lebih awal. Sesampainya dirumah aku puaskan hasratku untuk tidur. Tak terasa waktu bergulir cepat. Ketika bangun, rupanya sudah menunjukan pukul 07.00 pagi. Yang membuatku heran sendiri, rupanya aku tidak melepaskan seragam kantorku dari kemarin sore. Tanpa pikir panjang, kutelanjangi diriku lalu bergegas ke kamar mandi.

Usai mandi, kulilitkan handuk di pinggang dan berjalan menuju pantry. Masih pagi seperti ini memang nikmat kalau minum secangkir jasmine tea. Setelah kuseduh, aku menuju kulkas untuk mengambil apel lalu kucomot pisau buah dari laci. Ketika aku mengupas kulit apel, pisau yang kupegang meleset dari kulit apel dan malah melukai tanganku hingga berdarah. Seketika aku merasa pusing. Aku memang tidak tahan dengan bau amis darah yang makin lama makin menggelitik syaraf penciumanku, kupandangi darah itu mengalir dari tanganku. Darah yang tadinya mengalir deras keluar semakin lama semakin melambat, begitupula waktu disekelilingku berjalan semakin lambat. Saat tetes yang kesekian terjatuh, waktu disekitarku seketika berhenti.

Dalam tetes darah itu, kulihat suatu titik hitam yang semakin lama semakin melebar. Yahh, kegelapan. Kegelapan yang perlahan menyelimuti dunia ini, dari situ juga, kulihat sosok penunggang naga hitam beserta pasukannya mulai menebar terror dimana-mana. Dalam kepanikan tersebut, munculah seorang pemuda yang amat ketakutan entah darimana dan langsung mendekap dadaku begitu kuat. Aku yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa membiarkannya saja berbuat demikian. Tiba-tiba naga itu mengeluarkan lengkingan yang sungguh memekakan telinga. Si penunggang juga mengerang sambil menghunus pedangnya kearah kami berdua. Dari erangannya itu aku bisa menangkap tiga kata darinya. “Bloodstone”, “Saphire”, dan “Romanov”.

Waktu lalu kembali berjalan seperti sediakala dan darah itu akhirnya jatuh ke lantai. Ku kerjapkan mataku. Darah ditanganku masih mengalir walaupun tidak sederas tadi, segera aku menuju cabinet P3K dan langsung kusambar Betadine serta plester antiseptic. Setelah mengobati lukanya aku kembali terdiam.

“Siapa ya pemuda itu? Mengapa aku merasa harus melindunginya? Lalu apa hubungannya dengan bloodstone, sapphire, dan…. Tunggu dulu. Bloodstone, sapphire, dan ro..roma…Romanov?Apa jangan-jangan pemuda itu adalah….keturunan Keluarga Romanov yang harus kucari? Tapi…….ARGGHHH!!! siapa namanya? Aku benar-benar lupa. BODOH……BODOH….. disaat seperti ini justru aku lupa pada hal yang penting!!!”

Disaat pergolakan batin itu, kulihat keris pusaka melayang-layang ke arahku. Keris itu lalu keluar dari sarungnya dan mulai berputar perlahan sebanyak tiga kali searah jarum jam. Selama berputar, dibawah keris itu muncul bayangan yang persis kompas dengan dilengkapi symbol arah mata angin, yakni U, T, S, dan B. Diputaran ketiga keris itu berhenti di symbol T dan muncul pula gambar seorang pemuda yang seingatku sama dengan yang ada dipenglihatanku tadi. Tepat diatas symbol itu. Kini aku yakin bahwa orang yang kucari-cari selama ini adalah pemuda itu. Tidak salah lagi.

“Aku harus menemukannya serta harus melindunginya sekuat yang aku bisa. Meski aku tidak mengingat siapa namanya dan dimana ia sekarang berada, aku yakin aku pasti akan bertemu dengannya. Ini hanyalah permulaan……”

 

*****

____продолжал (prodolzhal)____

Rayan dan Fauzan (9)

rayanfauzan

Rayan tertawa kecil mengingat pertama kali melakukan dosa yang tidak lagi ia sesali saat ini, dosa pertamanya bersama Fauzan. Rayan yang sekarang adalah seorang pengumbar kenangan, hanya itu yang bisa Rayan lakukan untuk menopang hatinya agar tidak runtuh bersama siluet Fauzan yang menghilang di balik dinding hati Rayan.

Sepeninggal Fauzan, semuanya serasa monogram, kelabu dan pekat akan penyesalan. Mata yang berkaca-kaca bukan lagi hal asing dan hina untuk Rayan, dahulu Rayan benci menitikan airmatanya untuk kondisi apapun. Namun, sekarang dengan amat kurang ajar airmatanya menari keluar dari kelopak matanya, menuruni sela hidung dan pipinya dengan amat memprihatinkan.

Suatu hari nanti, saat lo temukan kepingan hati lo yang berserakan di atas terpal dunia, gue yakin lo pasti akan kembali, karena saat kepingan hati lo lengkap dan berhasil lo satukan kembali, hanya ada nama gue yang terpatri di kepingan hati lo itu. Sebenarnya lo pergi bukan untuk hal itu, gue tahu betul itu. Lo pergi untuk menyatukan sebuah puzzle yang berserakan, kepingan puzzle yang jika di satukan akan memperlihatkan sebuah ukiran dari ketulusan anak adam. Rayan dan Fauzan. Rayan membatin sambil mendengarkan Radio nya, sebentar lagi akan ada sesi di mana para pendengar bisa bercerita kepada si penyiar Radio tentang apa perasaan dan apa saja yang pendengar alami saat ini. Rayan memang tidak berminat menyampaikan salam atau mencurahkan perasaanya kepada orang lain, menurutnya, luka hatinya ini hanya konsumsi pribadi. Ia mendengarkan siaran radio tersebut karena banyak hal lucu di dalamnya.

“Kembali lagi bersama gue, Uzi Raffa Ritongga, penyiar paling keren tingkat Universe, cowok Minang yang machonya ngalahin Agung Hercules! Rite-rite-rite, kita akan mulai acara malam ini, curcol abang-none, kalian bisa curhat dan ngemengin apa aja bareng gue, mungkin ada yang mau nembak gebetannya melalui acara ini? Atau ada yang mau nyari neneknya yang hilang juga bisa!” ucap si penyiar berita itu panjang lebar, Rayan terkekeh kecil, ia lupa-lupa ingat dengan suara yang kerap ia dengarkan melalui Radio dari ponselnya tersebut, dulu ia sering bercanda dengan si pemilik suara yang berasal dari aplikasi Radio yang ponselnya aktifkan.

“Kalau aja Fauzan dengerin siaran si Uzi juga, gue bakalan ikut kirim salam nih!” kata Rayan mencoba agar suaranya terdengar tidak parau.

“Kali ini pembuka acara kita akan gue mulai dari hal sendu dulu ya, ada seseorang ngirim surat ke redaksi radio ini, dari Ojan. Eh Ojan gerimis aje, ikan bawal diasinin, eh jangan menangis aje, kapan-kapan kite jumpa lagi… cukup-cukup-cukup, mendingan kita simak curhatan si Ojan ini.”

Rayan bergerak memposisikan tubuhnya ke tempat yang dirasa paling nyaman untuk menyimak apa yang akan dia dengar selanjutnya, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuat rasa penasarannya menguat, Ojan, mungkinkah Fauzan? Rayan buru-buru menepis pemikiran ngawurnya.

Kepada malam aku ungkapkan kerapuhanku, kepada siang aku tuturkan segala keluhku, dan kepada pagi aku curahkan rindu , lalu kepada senja aku tebok semua kenanganku. Berantakan bukan? Semua rancu begitu aku pergi darimu. Lalu apa masih boleh aku sampaikan maaf kepadamu, hati yang sudah aku sakiti. Uzi berhenti membacakan surat tersebut, terdengar helaan nafasnya yang ambigu.

Senyummu masih jelas terpatri dibalik kelopak mata, suara serakmu masih sering kurasa mengaung di palung hati, pelukanmu mampu menghantuiku kala sepi mendera hati ini, aku hanya mampu melihatmu melalui mimpi. Uzi kembali menghela nafasnya, suaranya jauh lebih terdengar serius ketimbang bait pertama yang ia baca.

Jangan lagi kecewa, semua akan baik-baik saja seiring waktu yang mengikis cinta kita. Jangan! Jangan bersikukuh aku akan kembali. Biar! Biar aku pergi! Karena kembalinya aku hanya akan membuat semua kembali memburuk, kamu harus kembali ke orangtuamu, mereka yang paling butuh rindumu, bukan aku.

Lalu bersamaan dengan ini aku menitahmu, tutup semua album kenangan kita, tentang peluh yang menetes dalam satu palung syahwat sejawat, tentang tangis dari cobaan kehidupan yang mendesau tidak menyenangkan, tentang sulitnya masa kita dulu namun genggamanmu tetap erat kurasakan, akulah penghianat dari kisah cintaku, maka tidak usah lagi berharap aku akan kembali, kembalinyaku hanya akan menyulitkanmu.

Aku tidak mencoba membuatmu mengerti, tapi aku mencoba memupuskan gigihmu yang aku tahu masih cukup tangguh untuk menungguku bahkan untuk puluhan tahun lagi. Maka aku kirimkan surat ini, untukmu, agar kamu menyerah dan pulang!

Uzi terdiam lama, hingga Rayan merasa surat tersebut telah dibacakan Uzi sampai coretan terakhir.

Rayan, aku tidak lagi membutuhkanmu, maka pulanglah, jangan jadi pecundang untuk waktu yang lama.

Rayan terjolak dari posisi rebahnya, ia menarik kasar earphone-nya lalu mencari nomer Uzi dalam kontak teleponnya.

  • Lama Namun Aku Tidak Pernah Kehilangannya.

Hening, namun hangat terasa, serasa semua hal di bumi akan selalu baik-baik saja, damai dan ketenangan merambat menyelimuti hati. Sesuatu bergerak menyapu bagian dada sampai perut Rayan.

Rayan terjolak kaget menyadari sesuatu hal yang ia takutkan terjadi sekarang, saat Rayan bangun dari tidurnya tubuhnya serasa lemas, rasa pegal menggerogoti lutut dan pinggang Rayan. Kepala Fauzan terjatuh dari perutnya, namun Fauzan tetap geming seperti terbuai oleh rasa lelah yang menuntunnya untuk menyelami alam mimpi.

Tubuh Fauzan menekuk memunggungi Rayan, seperti anak kucing yang sedang tertidur damai. Dibalik itu semua, hati Rayan bergemuruh hebat, tubuh bugilnya menggigil hanya karena desauan angin kecil, bulu kuduknya meremang perlahan-lahan seperti melodi kematian mengantar ke pemakaman.

Shitt happen! umpat Rayan sambil bangkit dan meraup celananya yang berada di kaki ranjang tempat tidur.

Rayan kembali menatap Fauzan yang masih tertidur, ingatannya seperti lumpuh, tidak ada satu hal pun yang mampu membuat Rayan mengerti tentang kronologi yang telah terjadi. Rayan menarik-narik rambutnya mencoba meredahkan denyutan tak nyaman di dalam kepalanya. Terus gue kudu gimana? Gue kudu ngomong apa? Bangsat! Runyam semua!umpat Rayan dalam hati.

Rayan menarik handuk yang tergantung di pintu kamar lalu satu baju dan celana bersihnya, saat tangannya menyentuh knop pintu, rasa dingin ia rasakan di ujung kulit tangannya, sontak Rayan menoleh ke arah tubuh Fauzan yang rebah dengan kondisi telanjang di atas tempat tidur Rayan. Perlahan Rayan menarik selimut hingga menutupi tubuh Fauzan. Lalu bergegas keluar kamar, menuju kamar mandi, membersihkan segala kotoran yang tak kasat mata, bukan kotoran sebenarnya, hanya cinta dan penyangkalan yang kerap ia lakukan.

***

Rayan menyuap sarapan paginya lamat-lamat, menunggu dengan gundah Fauzan keluar dari kamarnya, keluarganya telah kembali tadi malam dan hal itu baru Rayan sadari saat ia beranjak ke meja makan.

Nasi goreng di piringnya hanya ia acak-acak dengan sendok yang malas-malasan Rayan pegang. “Ray! Makannya yang bener! Jangan kayak anak perempuan!” bentak kakak Rayan yang tidak suka dengan sikap Rayan yang tidak biasa.

Rayan menyuap sarapan paginya, rasa nasi goreng yang sekarang ia kecap terasa sangat hambar, seperti makan makanan sisa sesajen, hambar tidak terasa nikmat sama sekali.

“Lha, ada Fauzan? Kok nggak lo ajak sarapan bareng Ray?” tanya adik perempuan Rayan yang berbadan gempal. Rayan tidak berani memandang Fauzan, walau Rayan tahu tatapan Fauzan sedang tertuju ke arahnya, bahkan Rayan merasakan tatapan Fauzan berhasil menembus kepalanya.

“Euh—Fauzan pulang dulu ya, Mamah udah neleponin Fauzan nih Tante, tadi malem soalnya Fauzan nggak bilang mau nginep.” Rayan merasakan Fauzan berlalu di belakangnya, mendekati Ibunya lalu menyaliminya dan punggu Fauzan tidak lagi terlihat setelah salam berkumandang dari bibir Fauzan. Sesaat Rayan menyesali sikap acuhnya, namun tidak banyak yang bisa Rayan lakukan, karena Rayan pun sama terkejutnya dengan Fauzan.

***

Rayan memasuki kelasnya, Fauzan sudah berada di kelas, namun tidak duduk di balik meja mereka, Fauzan duduk bersama Adi menempati bangku Helmi. Mungkin sampai si Helmi dateng aja, batin Rayan masygul.

Namun sampai bel pelajaran dimulai Fauzan tidak kunjung kembali ke tempat duduk seharusnya, di sebelah Rayan. “Gue duduk sama lo yeh,” suara Helmi yang lantang terdengar di telinga Rayan, Rayan menengadah menatap Helmi yang sedang memalingkan wajahnya ke arah Fauzan dan Adi, saat Helmi menatap Rayan, Rayan mengangguk mempersilahkan.

“Hal itu bener-bener terjadi ya malam kemarin?” pertanyaan Helmi yang ambigu mampu Rayan cerna dengan mulus dan menimbulkan rasa yang kurang nyaman, Rayan bergerak gusar, tidak lama Bu Eti dengan wajah ketusnya memasuki kelas mereka. Lebih baik pelajaran bu Eti deh, nggak apa-apa gue di bully terus, daripada kudu jawab pertanyaan si Helmi, ujar Rayan gundah dalam hati.

Waktu terus bergulir, tidak sedikit pun Rayan memberikan celah kepada Helmi untuk bertanya kepadanya prihal Fauzan meminta untuk bertukar tempat duduk. “Gimana Ray pengalaman pertamanya?” tanya Helmi yang tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya.

“Lo bisa diem nggak sih!” sahut Rayan tidak menyadari suara berat nan seraknya melengking keras tersulut emosi dari pertanyaan Helmi. Helmi menutup mata kanannya menahan kebisingan dari teriakan Rayan, Rayan tercekat, semua mata tertuju padanya, namun sarat akan tatapan tidak suka. “Mati gue!” Rayan mengumpat kesal. Ia berharap bisa menghilang dari dalam kelas ini sekarang juga.

“Rayan! Kamu nggak pernah sadar juga ya! Kamu ini udah kelas tiga, bentar lagi UN masih aja jadi murid slangek’an di kelas, teriak-teriak! Kamu kira ini hutan? Kamu kira pelajaran saya ini nggak penting apa?” cerca Bu Eti sambil melangkah mendekati Rayan.

Mampus gue!!! batin Rayan penuh kekhawatiran. “Helmi! Kamu juga ngapain duduk di sini, biasanya kamu duduk sama Adi! Pasti lagi ngegosip ya?” tuduh Bu Eti.

“Enak aja bu, emang saya cewek!” bantah Helmi sengit.

“Emang kamu ngerasa cowok?” sindir Bu Eti.

“Jelaslah bu,” jawab Helmi sambil menatap ke arah selangkangannya.

“Kalau gitu kalian berdua hormat bendera sampai jam istirahat!” Rayan dan Helmi mendongak bersamaan, seluruh kelas dipenuhi tawa yang bergemuruh.

“Nggak ada tapi-tapian!” sentak Bu Eti memotong kata-kata yang bahkan Rayan dan Helmi belum ucapkan.

Rayan dan Helmi menjalani hukuman tersebut, tubuh tegap, tinggi dan berkulit coklat milik mereka basah oleh keringat karena berlama-lama mematut tiang bendera di bawah terik sang surya yang digjaya. Tawa siswa-siswi terdengar stero di belakang mereka, dari lantai satu sampai lantai empat.

Saat Rayan menoleh ke arah belakang tepatnya ke lantai dua, Fuazan dan Angel sedang menatap mereka, Rayan tidak tahu bagaimana ekspresinya saat ini yang Rayan tahu hanyalah hatinya begitu sendu saat menatap Fauzan yang mematutnya dengan tatapan terdatar yang pernah ia lihat, Angel ikut mentertawai Rayan dan Helmi bersama siswa-siswi yang lain.

“Ray, sori yah, gegara gue kita jadi dihukum.” ucap Helmi sungkan.

“Lebih baik lo diem!”

Mereka hening, namun sorak-sorak di sekitar Rayan menguat saat bel istirahat mengaung. Rayan melangkah kesal meninggalkan Helmi dan tiang bendera, ia membisu namun hatinya menjerit-jerit kesal.

 

***

“Ray, tungguin ih,” panggil Syifa sambil berlari-lari kecil menggejar Rayan.

“Lo sama Fauzan berantem kenapa?” tembak Syifa sambil menyamakan langkahnya dengan langkah Rayan.

“Nggak ada apa-apa!” jawab Rayan santai sambil mengecek ponselnya berharap Fauzan mengirimkan pesan singkat atau apapun, tapi tidak sama sekali.

“Syifa! Rayan! Ke sini.” panggil Angel yang sedang duduk di pojok kantin bersama Fauzan.

Rayan menghentikan langkahnya, rasanya ingin memutar badan dan pergi dari kantin sekarang juga. “Ayo Ray,” tanpa persetujuan, Syifa menyeret Rayan ke tempat Angel dan Fauzan.

Rayan menatap Fauzan yang terlihat sangat sibuk dengan makanannya, padahal dulu sesibuk apapun, Fauzan selalu ada waktu untuk menyapa Rayan dan bercengkrama akrab layaknya karib kebanyakan. “Kalian kenapa sih diem-dieman?” tanya Syifa heran. “Eh gue mau beli air es dulu ya, haus banget habis jadi artis sekolahan,” kekeh Rayan berharap Fauzan menimpali perkataannya dengan cemoohan khas Fauzan, tapi hal itu tidak kunjung Rayan dapatkan.

Gue kudu gimana nih! keluh Rayan dalam hati, ia benar-benar canggung dengan keadaan yang ia buat sendiri walau Rayan sangat sadar ia harus mulai mengajak bicara Fauzan terlebih dahulu, karena berlarut-larut dalam diam akan hanya memperkeruh hubungan persahabatan mereka.

 

***

“Zan, gue ajarin juga dong, gue nggak ngerti sama sekali ini,” keluh Syifa yang dari tadi merengek minta dibantu. Rayan menatap buku catatannya, ia hanya sedikit mencatat dan pelajaran Matematika yang Bu Eska berikan hari ini, bahkan Rayan tidak mengerti sama sekali apa yang disampaikan Bu Eska tadi pun yang ia catat di bukunya, Ujian Nasional sebentar lagi dan Rayan sama sekali tidak punya semangat untuk belajar sama sekali.

Rayan menatap Fauzan sesekali, berharap Fauzan menawarkan bantuan untuk membuat Rayan mengerti materi yang tadi mereka pelajari, namun sayang, itu sangat mustahil terjadi saat ini. Sekarang ada dinding tebal tidak kasat mata di antara mereka, dan hal ini sudah jadi rahasia umum walau tidak ada satu pun yang tahu apa yang sudah terjadi di antara Rayan dan Fauzan sampai mereka saling sungkan dan tidak lagi bertegur sapa.

Bel pulang berdering, pelajaran tambahan untuk kelas tiga pun berakhir, seisi kelas berhamburan dengan teratur. Rayan bergerak cepat duduk di sebelah Fauzan saat Adi sudah meninggalkan bangkunya. “Duduk! Gue mau ngomong sama lo!” pinta Rayan tegas saat Fauzan ingin pergi meninggalkannya. Syifa, Helmi dan Adi menatap heran ke arah mereka berdua. “Gue sama Fauzan doang, berdua!” tegas Rayan membuat yang lain mengerti dan meninggalkan mereka berdua di dalam kelas.

Dan saat keadaan hening Rayan malah kehilangan kata-katanya, sedangkan Fauzan masih saja sibuk dengan ponselnya. “Zan, sampai kapan lo mau nganggep gue nggak ada?” tanya Rayan yang suaranya mendadak terdengar parau.

“Gue nggak ngerti maksud lo apa?” jawab Fauzan mata dan jemari Fauzan masih terus sibuk dengan ponsel yang ia pegang.

“Kalo gue ngomong liat mata gue!” tegas Rayan.

“Yang! Ayo, katanya mau ke Gramed!” suara Angel mengalun di depan pintu kelas seraya itu Rayan menghela nafasnya. “Lanjut kapan-kapan aja ya, lo mau ngomongin hal yang nggak penting inikan?” kata Fauzan sambil meraup tasnya lalu meloncati bangku dan meja, tidak seperti biasanya, kali ini Fauzan sangat bersemangat mendampingi Angel jalan-jalan.

Rayan terpekur memandangi pintu kelasnya, ia tidak tahu bagaimana cara memulai pembicaraan kepada Fauzan, membuat hubungan mereka kembali membaik. Namun, yang ia dapatkan hanyalah memorinya yang seperti diputar ulang di ujung pelupuk matanya.

Mati-matian Rayan mencoba menghapus dan tidak lagi berharap akan menginggat kejadian malam itu. Rayan merasa ia berhasil melupakan kejadian gila malam itu, kejadian di mana alkohol menggiringnya melakukan perbuatan yang tak lazim dilakukan pria tulen. Namun, kini ingatan tersebut menyeruak dari dalam kepala Rayan, muncul di ujung pelupuk matanya, menari indah di atas segala rasa gundah Rayan yang kian laun kian menumpuk dan menyesakan dadanya.

“Bangsat!!!” Rayan memukul meja di hadapannya hingga suara gaduh tercipta seketika, dengan lekas Rayan menggiring tubuhnya keluar dari kelasnya, tidak memperdulikan tangannya yang berkedut nyeri karena emosinya tadi. Sejujurnya, Rayan merindukan malam itu. Anjing!

 

***

Hari-hari berlalu begitu lamat Rayan rasakan, segalanya menjelma menjadi hal yang membosankan, rasa kesal kerap mengisi dada Rayan, Ujian Nasional sudah ia lewati, namun, Rayan tidak merasakan perasaan harap-harap cemas seperti teman-teman sekolahnya yang lain, segala hal terasa kurang penting, entah karena apa, namun yang jelas, ini semua karena siapa.

Puluhan kali Rayan mencoba mendekati Fauzan untuk berbicara berdua saja, tetapi selalu tidak membuahkan hasil apapun, jika Fauzan tidak menanggapi Rayan maka ada saja teman mereka atau Angel yang membuat mereka tidak bisa berbicara berdua saja. Terkadang Rayan bisa amat gemas saat momen-momen tepat ia dapati berdua dengan Fauzan tetapi Rayan tidak bisa membahasnya karena ada orang ke tiga di antara mereka, walau rasa gemasnya kerap ia simpan sendirian.

Semenjak Fauzan sudah tidak main bersamanya lagi, Rayan kini mempunyai hobi baru, ia kerap melamum, kadang hanya tidur-tiduran saja di atas kasur nyamannya itu menunggu petang menghabiskan sisa waktu libur nasional, tidak banyak melakukan aktifitas itu hobi baru Rayan sekarang.

Entah sampai kapan Rayan harus menunggu, menunggu waktu yang tepat untuk berbicara kepada Fauzan, walau logikanya kerap mendesak Rayan agar tidak menunggu, tapi, menciptakan waktu yang tepat untuk berbicara, karena logika Rayan selalu bertindak untuk melindungi hatinya dari rasa sakit atau getir karena rasa rindu.

***

“Gol…” seru seantero lapangan. Helmi berlari memeluk Rayan yang sedang menyeringai.

Tidak lama wasit meniup peluit yang memekakkan telinga. Rayan bergegas meninggalkan lapangan Futsal, meninggalkan teman-temannya yang masih diselimuti kebahagiaan karena kali ini pertandingan Futsal dimenangkan oleh sekolah mereka, walau Rayan menyumbang banyak skor ia tidak merasa sesenang para sejawatnya.

Rayan duduk di bangku tempat ia meletakan tasnya, sekelebat ia merindukan Fauzan, merindukan sahabatnya yang selalu setia menonton pertandingan Futsalnya, memberikan handuk saat Rayan melangkah kembali ketempat duduknya, mengomentari aksi Rayan yang selalu menjadi punggawa timnya, segala hal tentang Fauzan. Rayan amat rindu Fauzan.

“Ray!!!” suara Syifa melengking tidak jauh dari posisi duduk Rayan. Gadis imut itu berlari-lari kecil menghampiri Rayan. “Yah, gue telat ya, Futsalnya udah selesai ya?” Rayan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Syifa.

“Sori ya Ray, gue kan udah janji mau nonton lo padahal,” ucap Syifa sendu. “Nggak apa-apa, yang penting lo dateng.” Rayan mencoba untuk menghibur Syifa, entah kenapa Rayan tidak lagi merasa bahagia tiap berada di sisi gadis yang pernah bertahta di hatinya itu. Segalanya terasa biasa-biasa saja.

“Jalan yuk,” Syifa menarik tubuh Rayan yang masih belum kering dari peluh yang merembas melalui pori-pori tubuhnya.

***

“Ray,” panggil Syifa pelan di sela-sela acara makan mereka. Sambil melirik beberapa cowok yang memandang Rayan begitu takjub karena Rayan menggunakan kaus tanpa lengan, memamerkan otot bicepnya yang kokoh.

“Kenapa?” jawab Rayan yang masih fokus dengan makanannya, sehabis bertanding, perutnya terasa keroncongan, dan sekarang mereka berada di food court Cibinong City Mall.

“Lo ke pensi nanti bareng gue ya.” pinta Syifa masih dengan suara pelan.

Rayan menengadah, tatapan Syifa sangat berbeda, Rayan menyadari suatu hal, hati yang dulu ia ingin-inginkan kini mengingginkannya, namun, rasanya sudah amat terlambat, segala hal terlanjur menghambar, menguap dan tak lagi menyisakan bibit yang bisa disemai.

Mata yang berbinar-binar itu tidak lagi mampu membuat hati Rayan bergetar, rasanya sangat enggan mengiyakan ajakan Syifa, tetapi logika Rayan bekerja. “Sip” jawab Rayan mencoba untuk tidak terdengar berucap setengah hati.

“Ray, kayaknya fans lo kebanyakan dari kaum lo sendiri deh.” timpal Syifa yang sudah dilingkupi rasa senang yang membuncah karena ajakannya telah Rayan iyakan. “Maksudnya?” tanya Rayan keheranan.

“Liat, cowok yang pakek Behel, dan cowok yang pakek kacamata itu, terus cowok yang lentik banget mainin hapenya di ujung sana, mereka kerap nyuri-nyuri pandang ke elo, mereka suka tuh sama lo?” bisik Syifa geli. Rayan ingin menoleh, cepat-cepat Syifa menahan Rayan dengan menggenggam jemari Rayan. “Jangan!” desis Syifa. Saat Rayan menatap Syifa, wajah gadis tersebut bersemu merah hingga kebagian lehernya.

Sebentar saja, Rayan juga ikut bertingkah kikuk seperti Syifa, namun bukan karena perasaan yang hilang kembali membuncah, bukan karena itu, melainkan Rayan sangat khawatir suatu saat nanti ia akan menyakiti perasaan gadis di hadapannya ini yang sudah ia anggap sahabat sendiri, entah darimana rasa khawatir itu bisa bertandan ke dalam hati Rayan.

“Pulang yuk ah!” ucap Rayan setelah menghabiskan minumannya dengan beberapa tegukan saja.

Begitu Rayan berdiri tangan Syifa menelusup ke celah lengannya, mengamit tangan Rayan dengan gerakan lantun, Rayan menghela nafasnya, ia terlalu memberikan banyak harapan kepada Syifa dengan tingkahnya yang kerap manut kepada gadis tersebut.

 

***

Rayan membiarkan udara sejuk menerpa tubuhnya, berharap segala beban fikiran, kepenatan dan perasaannya yang seperti sedang terhimpit puluhan beton merenggang, membiarkan seluruh energi positif dari alam menggantikan bebannya.

Setelah mengantarkan Syifa pulang Rayan hanya menghabiskan waktu untuk tidur-tiduran di kamarnya, membuka jendela kamarnya lebar-lebar, menggundang angin yang mendesau syahdu untuk singgah sebentar mengisi kesepiannya, tanpa Fauzan, segala hal terasa sepi, kosong dan tidak berarti.

Hal-hal menarik tidak lagi memikat bagi Rayan, bercengkrama dengan keluarga atau teman rumahnya juga bukan hal yang Rayan butuhkan sekarang. Hanya Fauzan yang Rayan butuhkan sekarang, tetapi membuat keadaan kembali seperti semula bukanlah semudah menggapus pekatnya tinta di jari kelingking.

Langit sore begitu cerah, mengundang Rayan untuk melakukan aktivitas. Rayan menyulut rokoknya, membiarkan rasa mentol mengisi rongga paru-parunya, menorehkan rasa nyaman dari kuas ke damaian.

Sekelebat, sesuatu yang ia rindukan menari-nari di ujung pelupuk matanya. Segera Rayan menyambar jaket dan kunci motornya.

Ujian Nasional telah ia lewati, segala praktik pun sudah ia kerjakan, dan pengumuman kelulusan pun mengikut sertakan namanya di dalam daftar siswa-siswa yang lulus. Di saat teman-temannya menikmati puncak jaya masa SMA Rayan malah berkutat dengan perasaanya yang nelangsa.

Semua hal yang teman-temannya anggap istimewa bagi Rayan hanya hal biasa, bahkan Rayan tidak mempunyai jawaban saat keluarganya menanyai tentang kampus yang akan ia pilih nanti, jurusan apa yang akan ia ambil nanti, Rayan hanya memikirkan apa yang terjadi sekarang, tidak dengan masa lalu apalagi masa depannya. Perasaannya terlalu risau dengan potongan-potongan ingatan malam itu, tentang ia dan Fauzan yang tergiring syahwat dan saling merusak, tentang persahabatan mereka yang berantakan tanpa sebab yang jelas. Tanpa sebab yang jelas? Tidur bersama sahabat, sesama lelaki, apa itu bukan sebab yang jelas mengapa mereka tidak lagi bertegur sapa?

Rayan menatap bukit tempat favorit mereka, ia dan Fauzan dari bukit Hambalang, rasanya ingin menaiki motornya dan melaju ke sana, berharap Fauzan sedang berada di sana, mencoba menikmati senja seperti ia sekarang ini. Namun, semuanya urung Rayan lakukan. Rayan kembali menggerak-gerakan jemarinya di atas ponsel. Rasanya ingin menekan tombol bergambar telepon warna hijau, menyambungkan panggilan ke ponsel Fauzan, memintanya datang ke tempat Rayan berdiri sekarang.

Rayan terkesiap. Rindu? Merasa nelangsa? Kesepian? Kehilangan semangat? Cinta! Rayan menggenggam ponselnya erat-erat. Mati-matian ia memerangi kata-kata yang hatinya ucapkan, tentang perasaannya kepada Fauzan, Rayan tidak bisa terus membohongi dirinya sendiri, ia tahu betul hatinya berkata benar. Rayan mencintai Fauzan.

“Untuk ke sekian kalinya, gue pasti bisa ngubur rasa cinta ini, rasa cinta ini nggak akan bertahan lama, gue yakin kok, gue juga pernah ngerasain hal yang sama ke Syifa, nyatanya sekarang gue mampu ngelupain dia,” ujar Rayan kepada dirinya sendiri. “Cuman butuh waktu, segala hal akan kembali baik-baik aja, dan rasa yang berdesir gila ini akan berangsur normal seperti sedia kala,” kini Rayan membela dirinya sendiri seperti tidak terima dengan kenyataan bahwa ia kini mencintai Fauzan, sesuatu yang masih Rayan anggap salah, entah mengapa.

Rayan kembali menyulut batang rokoknya, membiarkan rasa mentol memenuhi rongga dadanya. Perlahan rasa sepi menyergap, Rayan menggaruk-garuk hidungnya, ada gagasan yang sedang ia pertimbangkan di dalam hatinya.

Salah satu gagasan pun menang, cepat-cepat Rayan menaiki motornya, menuruni bukit Hambalang, melewati bangunan wisma untuk para Atlet yang tidak kunjung kelar hingga sekarang. Cuaca di daerah Bogor memang tidak bisa diprediksi, senja berubah gulita lebih cepat dari perkiraan Rayan, angin bergemuruh kasar, para pengembala domba mempercepat kegiatan menggiring dombanya pulang ke kandang. Rayan memperlambat laju motornya, rasa ragu menyelinap ke dalam dadanya, Rayan merisaukan petir yang kapan saja bisa menyambar kala gulita tampak di langit senja, di kota ini, segala cuaca sangat sulit diprediksikan. Kadang hujan namun langit cerah, langit cerah dengan angin yang berdesau kencang, atau langit yang menghitam dengan guntur menggelegar tanpa hujan, sampai hujan dengan petir layaknya badai, namun, Rayan tetap mencintai tanah kelahirannya, kota hujan yang penuh romansa.

Rayan membuang rokoknya yang hampir mencapai pangkal ke sembarang jalan, ia melajukan motornya ketujuannya, rasa rindu ternyata lebih mendominasi, menghalau rasa cemas akan cuaca buruk yang mungkin akan terjadi.

Rayan memasuki perumahan yang belum rampung, jalan menanjak dan ia berbelok ke kiri, jalan yang hanya bisa di lalui satu mobil dengan aspal yang sudah sedikit pecah, sela-sela pecahannya sudah banyak di tumbuhi rumput liar, ilalang tumbuh di pinggir jalan, mengalahkan lebatnya tanaman bunga yang sengaja ditanam pihak pengelola perumahan Bakrie tersebut. Lalu Rayan berbelok ke kanan, jalan yang tetap menanjak, bundaran yang hanya di isi ilalang terlihat di depannya, bagi Rayan tempat satu ini biasa saja, ketinggiannya pun tidak bisa melihat seluruh daerah Sentul dengan padang golf dan area rekreasi yang memukau, namun Rayan heran dengan para artis, penyanyi dan sebangsanya yang kerap membuat video klipnya di bundaran dan jalan menanjak ini, mungkin jika Rayan mengusulkan tempat favoritnya bersama Fauzan, tempat mereka yang indah bak berada di Puncak Pass itu akan kerap muncul di layar televisi.

Perlahan, pandangan Rayan mulai menatap ujung jalan, ke atas bukit tepatnya, di balik lapangan ada jalan setapak yang jarang orang kunjungi, karena termanipulasi pepohonan, dan di sana lah tempat Rayan dan Fauzan dulu kerap menghabiskan senja.

Rayan mempercepat laju motornya ketika rintik hujan mulai membasahi wajahnya, Rayan terkesiap, memandang seseorang yang berada di atas atap mobil yang sedang menatap lurus tanpa satu titik fokus. Fauzan.

Tenggorokkan Rayan terasa kering, saat Fauzan menoleh ke arahnya, jantungnya pun terasa mencelos dan jatuh entah ke mana. lalu tatapan sendu Fauzan berubah menjadi tatapan penuh kebencian terhadap Rayan, buru-buru Rayan menghampiri Fauzan yang sudah turun dari atap mobilnya.

Rayan berhasil masuk ke dalam mobil Fauzan sebelum Fauzan berhasil mengunci pintu mobilnya dari dalam, nafas mereka terengah-engah, sosok Fauzan yang begitu dekat serasa amat jauh karena tatapan benci Fauzan kepada Rayan. “Keluar dari mobil gue!” pinta Fauzan setengah mati mencoba untuk tidak teriak.

“Kita harus bicara,” sahut Rayan.

Tanpa basa-basi Fauzan membuka pintu mobilnya, namun, tangan kokoh Rayan menarik paksa siku lengan Fauzan hingga Fauzan kembali terduduk di belakang kemudi. “Mau lo apa sih!” serbu Fauzan.

Rayan terdiam, tatapannya menerawang ke depan, menyaksikan hujan yang turun semakin deras hingga membuat kaca bagian dalam mobil tertutup embun. Embun yang bahkan tidak mampu meredam rasa gersang yang enggan memadam. Tangan Rayan masih tetap memegangi siku lengan Fauzan, berjaga-jaga agar Fauzan tidak bertindak ceroboh, Rayan tahu betul resiko jika Fauzan keluar dari dalam mobil, tentang alergi dingin yang diderita Fauzan bisa kambuh seketika.

“Lepasin tangan lo! Gue bukan anak kecil ya!” Rayan menatap nanar ke siku lengan Fauzan yang ia pegang sekarang, perlahan-lahan genggamannya mengendur dan Fauzan cepat-cepat menariknya. “Soal malam itu,” ucap Rayan ambigu.

Fauzan memalingkan wajahnya jauh-jauh hingga tidak mungkin bisa langsung melihat dan dilihat Rayan.

“Malam itu, gue—kita, dibawah pengaruh alkohol, apa yang udah kita lakuin itu adalah sebuah kekhilafan, maafin gue Zan,” Rayan tidak tahu harus berkata apa, ia sangat ingin mengungkapkan apa yang hatinya rasakan, namun, Rayan benar-benar takut kehilangan Fauzan.

Fauzan bisa melihat wajah menyesal Rayan melalui kaca spion di depannya, walau samar tertutup air hujan, seketika hati Fauzan terasa pecah dan kepingannya terbawa air hujan, rasa sakit dari perkataan Rayan yang mampu mengoyak seluruh perasaannya.

Fauzan menarik leher kaus Rayan lalu mendorongnya hingga punggung Rayan berbenturan dengan pintu mobil di sebelah Rayan. Rayan tidak membalas, ia hanya menatap Fauzan dengan amat pasrah, mungkin membiarkan Fauzan memukulnya bisa membuat persahabatannya kembali membaik, walau di dalam hati Rayan, Rayan menginginkan hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat, sesuatu yang sangat tidak mungkin sekarang ini.

“Khilaf? Lo bilang nggak sengaja? Salah? Lo tauk! Gue ngelakuinnya ikhlas!” Rayan terperangah, Rayan yakin ia tidak salah dengar.

“Gue masih bisa kontrol diri gue, gue bisa ngehentiin kegiatan kita itu kapan aja jika gue mau, tapi gue biarin lo masuk ke dalam tubuh gue! Karena gue cinta sama lo!” Rayan jauh lebih terperangah, sesuatu dalam hatinya membuncah bahagia, sekilas saja, rasa bahagia itu hilang digantikan rasa khawatir yang mendalam.

“Kenapa? Lo jijik sama gue? Gue emang biseksual, dari pertama kita sahabatan pun gue biseksual! Dan semua perlakuan lo, ngebuat gue jatuh hati! Gue nggak terima cinta Syifa pun bukan karena gue ngalah sama lo! Tetapi, karena gue cintanya sama lo!” Fauzan tidak bisa berhenti berteriak di atas tubuh Rayan, rasa sesak yang ia pendam berbulan-bulan meledak sekarang, menyisakan rasa lapang dan nyeri yang masih belum terselesaikan.

“Saat malam itu, gue berharap besok paginya kita bisa ungkapin perasaan kita masing-masing. Bangsatnya! Gue terlalu berharap lo ngelakuin itu karena lo punya rasa yang sama kayak gue, tapi apa? Lo tinggalin gue di kamar lo dengan tubuh telanjang kayak pelacur jalang! Lo tau Ray, ini pertama kali gue lakuin itu sama cowok, cuman sama lo! Gue sengaja berlama-lama di kamar lo, cuman berharap lo nggak ninggalin gue, gue terus mensugestikan diri gue kalau lo lagi ke kamar mandi, tapi apa? Lo benar-benar tinggalin gue di dalam kamar lo sendirian. Bahkan saat gue pamit sama nyokap lo, lo nggak anggap gue ada di sana! Lo tahu gimana rasa malunya! Gue cowok! Gue punya harga diri, dan hari itu, lo buat gue serasa mahluk dongo! Anjiiing…” teriak Fauzan, Fauzan bangkit dari atas tubuh Rayan lalu memukul stir mobilnya dengan kencang, tangannya berdenyut nyeri, namun, masih kalah nyeri dari perasaannya sekarang ini.

Rayan bangkit lalu langsung menyergap tubuh Fauzan, memenjarakan Fauzan dalam pelukannya yang jauh lebih ketat ketimbang penjara Azkaban. Sejenak, Rayan membiarkan Fauzan meronta-ronta dalam dekapannya, merasakan rasa sakit yang Fauzan rasakan selama mereka tidak bertegur sapa. Apapun yang terjadi gue nggak akan pernah lagi buat Fauzan tersakiti, batin Rayan, walau Rayan tahu betul, janji-janjinya tanpa sadar kerap ia langgar. Sekelibatan momen masa lampau menari-nari di ujung pelupuk mata Rayan, membuat Rayan bergetar membayangkan kebodohannya selama ini.

Pertama-tama, tatapan Fauzan saat Rayan telat menjemputnya ketika hendak ke Gunung Bunder, lalu, tatapan sendu Fauzan di dekat air terjun, senyum Fauzan kala Syifa memarahi Rayan, dan gestur tubuh Fauzan saat berbagi bandrek di daerah Laladon saat mereka berteduh dari hujan. Kemudian, bayangan-bayangan lain yang berkelebat saling mendahului di pelupuk mata Rayan, pertengkaran Rayan dan Fauzan di atas gedung sekolah, di mana Fauzan mengalah, genggaman tangan mereka saat di Puncak Pass ketika matahari tenggelam, kepala Fauzan yang tersender di bahunya saat Fauzan terlelap, segala hal berputar cepat, namun, Rayan mengerti semua hal yang berputar cepat itu, ia telat menyadari bahwa Fauzan pun mencintainya.

“Gue,”

“Gue.”

Rayan memejamkan matanya, hatinya jauh terasa mantap, refleks pelukkannya mengerat, membuat Fauzan lumpuh dalam dekapan Rayan. Semakin lama tindakan memberontak Fauzan melunak, karena sebenarnya Fauzan pun sangat amat merasa nyaman dalam pelukan Rayan, tidak bisa berbohong terlalu lama lagi, memunafikkan segala hal, mencoba membenci untuk melupakan sebuah hati yang lama saling bersemi, Fauzan pun merindukan Rayan layaknya Rayan merindukan Fauzan selama ini.

Rayan mengendurkan rengkuhannya, rasa rindu kini berhasil memakan Fauzan, saat tubuh tegap Rayan perlahan-lahan merenggang dari tubuh Fauzan, Fauzan merasa amat tidak rela, seakan sesuatu hal berharga ikut terbawa dari dalam dirinnya. Di saat kebencian merajalela, hanya perlu rasa cinta yang teguh untuk memadamkannya. Rayan dan Fauzan menemukan jalannya sekarang, bagaimanapun mereka mencoba saling menjauh, memunafikkan hati yang lama bersemi, namun rasa lantun dari cinta yang membuncah dan menggebu digjaya takkan sanggup mereka ingkari lagi, jika dalam hidup seseorang kerap mengalami suatu sub klimaks dari sebuah partikel masalah dalam kehidupannya, maka sekaranglah klimaks tersebut terjadi.

Rayan menyatukan dahinya dengan dahi Fauzan, mata mereka saling berpagutan, menyalurkan banyak rasa rindu yang mati-matian mereka pendam. Tatapan masygul Rayan bertalutan dengan tatapan rindu dari Fauzan. Saat detak jantung Rayan berdegup amat cepat, hal itu seperti memaksanya menuntaskan semua, “Gue sayang sama lo.” itu yang Rayan ucapkan. Hidung mereka bergesekan, mengantarkan sesuatu hasrat yang memancing syahwat kepermukaan, menciptakan satu degub jantung di tempat yang tidak seharusnya, mendebarkan sesuatu di tempat yang tidak seharusnya. “Gue cinta sama lo,” sambung Fauzan, Rayan tidak membalas lagi pernyataan Fauzan, yang mereka lakukan sekarang yaitu saling menyesap, memagut, meluapkan rindu yang menggebu, yang menyesakan hati dan celana mereka.

  Baca lebih lanjut

DEAL

deal_irfandirahman

 

“Cuma macarin cowok cupu kayak dia mah gampang, lagi pula itu cowok pasti gay, so bot banget lagi” Firza tersenyum penuh makna ke arah cowok cupu berambut klimis dengan kacamata jadul yang selalu setia bertengger di hidung pesek si cowok cupu tersebut.

“Jadi deal ya, pacarin tuh si Bira selama empat minggu?” tanya Romeo dengan tatapan meremehkan ke arah Firza.

Firza mendengus sebal. “Deal! Dan lo pasti jadi kacung gue selama satu semester ke depan!” Firza menyambut jabatan tangan Romeo.

Dua cowok itu mengangguk-anggukan kepala mereka tanda menyetujui taruhan mereka yang baru saja mereka sepakati. Firza dan Romeo adalah sahabat karib sejak mereka kanak-kanak, Firza adalah seorang cowok berorientasi biseksual dan Romeo adalah seorang cowok straight namun orientasi mereka tidak sama sekali membuat hubungan persahabatan mereka merenggang sedikit pun.

Mereka adalah dua sahabat yang selalu melakukan pertaruhan—mereka selalu menganggap taruhan yang mereka lakukan adalah permainan yang amat menghibur—sejak mereka beranjak remaja, sejak mereka memilih apa orientasi seksual mereka. Sejak mereka mengenal cinta.

“Eits!!! Tapi gue kasih waktu cuma tiga minggu lho” tambah Romeo setelah mereka selesai berjabatan tangan.

Firza mendengus sebal, dalam hati ia mengejek ulah Romeo yang tidak pernah mau kalah dalam taruhan slash permainan yang mereka lakukan, terakhir kali Firza bertaruh dengan Romeo, dengan cara Romeo harus meniduri ketua Osis cantik sekolah mereka yang sangat diidolakan banyak cowok dan cewek di sekolah mereka, dan Romeo kalah dalam taruhan terakhir mereka, sebagai konsekuensinya Romeo harus mengencani Amelia cewek yang wajahnya dipenuhi jerawat serta bergigi tonggos yang selalu membuat onar di kelas mereka, dengan amat terpaksa dan tentunya makian panjang Romeo kepada Firza akhirnya Romeo mau mengencani Amelia selama tiga hari dan itu adalah salah satu pengalaman paling buruk yang Romeo dapatkan di dalam sejarah pertaruhan Romeo.

Sekarang Romeo menantang Firza untuk memacari Bira cowok super cupu dengan wajah kuyu yang sangat berkesan dekil. Firza, cowok tampan dengan postur tubuh yang sangat ideal untuk cowok berumur delapan belas tahun yang mampu membuat pria gay manapun meliriknya berkali-kali, sedangkan Romeo cowok straight dengan senyum semanis sakarin yang selalu membuat wanita terjerat dengan kata-kata manisnya.

“Kalau pun lo menang, lo bakalan muntah berminggu-minggu karena harus ngerayu si Bira yang mukanya mirip keset ruang BP, yang dekilnya nggak ketulungan” kekeh Romeo. Firza pun ikut terkekeh namun sarat ejekan kepada Romeo yang tidak henti-henti membayangkan sahabatnya akan mencium si cowok cupu berkacamata jadul dengan wajah yang Romeo selalu labeli ‘keset ruang BP’ lalu menusuk pantat si Bira yang tidak bisa dibayangkan oleh Romeo seberapa buruknya, mungkin ada beberapa penyakit kulit di sekitar lubang pantat Bira. Mukanya aja udah dekil apalagi pantatnya? Pano, Kurap, Kudis bahkan koreng dan bekas-bekas koreng pasti menetap di pantat si Bira, gue nggak sabar nunggu si Firza kapok nusuk pantat cowok lagi. Ujar Romeo geli dalam hati.

“Tapi dia manis lho!” jawab Firza spontan setelah mengamati Bira yang sudah menghilang tertelan koridor sekolah.

“Dasar homo pemakan segala!” celetuk Romeo sambil mendorong punggung Firza agar kembali melangkah ke arah ruang laboratorium

Bangke, monyet, taik kucing, itil perek, dan segala rupa bentuk menjijikan di muka bumi ini cocok banget buat si Romeo dah! Gila aja dia ngasih gue tantangan suruh macarin plus nidurin dan plus-plus lainnya ke si cowok yang mukanya udah kayak pinggiran kloset yang nggak pernah disikat bertahun-tahun. Gue mengumpat dalam hati.

Tadi gue bilang bahwa Bira cowok berhidung pesek dengan kulit kusam nggak napsuin banget itu manis tuh cuma pengen buat si Romeo gentar karena gue berani nerima tantangannya, mana mungkin seorang Firza cowok yang udah ngebobol beberapa lubang pantat cowok keren dan lubang pepek beberapa cewek populer di sekolah maupun luar sekolah bakalan nolak tantangan si Romeo, sedangkan Romeo nggak pernah nolak sama sekali tantangan dari gue buat taruhan sesuatu, bahkan pas pertama kali gue masuk SMA ini Romeo berani nerima tantangan gue buat macarin si Keylin cewek yang keteknya bau bawang banget dan ngebuat pengakuan di depan banyak orang bahwa si cewek berketek bau itu adalah cinta pertama si Romeo. Lha, masa gue cuma dikasih tantangan buat macarin cowok dekil aja nggak berani? Hey! Gue bukan tipe cowok yang rela diremehin ya! Catet!

“Firza!!! Bacain jawaban soal nomer tiga! Kamu denger saya nggak sih?” teriak Pak Junet yang kupingnya caplang dah kayak kuping gajah itu buat gue gelagapan sendirian. Bangkek!

Buru-buru gue tarik buku orang pas Pak Junet balik badan saat dia mau duduk. “Hem! G30SPKI adalah…” bla-bla-bla-bla! Like i care? Gue yakin kok apa yang gue baca dari buku hasil rebutan ini itu adalah jawaban yang diminta guru si kuping gajah, buktinya dia sekarang manggut-manggut udah kayak boneka anjing.

“Bira, kamu nomer empat” seru Pak Junet setelah puas ngedengerin jawaban gue walaupun jawaban gue hasil ngembat buku orang, emang gue fikirin, yang penting gue aman dari detensi si kuping gajah.

Sontak gue nengok ke tempat asal buku yang gue rampas, ya olloh ini ternyata bukunya si cowok dekil, tapi anehnya dia bisa jawab dengan amat mulus ngelebihin mulusnya paha Manohara yang udah pernah di silet-silet, itu sih juga kalo paha Manohara beneran pernah disilet-silet, gue nggak tahu pasti karena gue nggak pernah nonton gosip apalagi ngeliat pahanya si Manohara secara langsung, gue cuman dengar dari nyokap gue yang so rumpik abis.

Spontan gue meringis karena si Bira natap gue dengan senyum jeleknya, gue tahu banget maksud senyumnya itu karena dia minta bukunya yang asal gue embat itu dibalikin, nggak lama bell pulang sekolah berdering syahdu, itu berarti pelajaran guru si kuping gajah ini pun selesai. Damainya dunia!

Teman-teman sekelas gue pada ngacir semua, ya elah, pada kebelet boker semua apa ya? Semangat amat buat pulang ke rumah, dasar anak mami! Si Romeo segala ikut ngacir keluar lagi buat ngejar si Febby cewek sekelas gue yang lagi diusahain si Romeo buat dijadiin selir hatinya.

“Bukunya udah nggak kepakek lagikan? Boleh gue minta lo buat balikin buku itu?” suara Bira terdengar amat mengganggu indra pendengaran gue.

“Nih!” gue lemparin langsung ke mejanya, si Bira cuman senyum-senyum anyep ke arah gue lalu cabut sehabis ngeberesin barang-barangnya.

Anjrit!!! Gue kudunya ngebaikin si Bira nih, deadline gue kan cuman tiga minggu. Umpat gue dalam hati penuh penyesalan setelah bayangan absurd si Bira enyah ditelan pintu. Biar gimanapun gue nggak mau jadi kacung si Romeo selama satu semester depan, gila aja cowok macho kayak gue kudu jadi babunya si Romeo yang straight abal-abal!

***

Gue ketawa miris, ngelihat si Bira. Jaman sekarang masih ada gitu anak sekolah yang peduli sama orang buta? Segala bantuin buat nyebrangin jalan, terus ngasih air minum plus duit. Ew, bikin gue terharu aja udah kayak nyokap gue kalo lagi nonton sinetron pas adegan metong-metongan.

Oke, gue akuin kalo gue ngikutin si cowok dekil ini, karena apa? Karena gue kudu berhasil macarin si Bira, persetan dia cowok straight, biseksual kayak gue ataupun gay tulen. Si Bira itu cupu, dekil, dan penampilannya nggak banget, mana ada orang yang mau jadi pacar dia, monyet juga ogah kali di deketin sama dia, dan pasti si Bira nggak akan nolak kalo gue ajak pacaran, ya iyalah, lo pikir aja sendiri pakek biji peler lo, mana ada cowok model dia yang bakalan nolak gue, walaupun dia straight pasti bakalan mau deh, daripada dia jadi jomblo seumur hidup, seenggaknya disodok pantatnya pakek perkakas super WAH gue itu jauh lebih baik ketimbang saban hari dia ngocok kontolnya yang pasti kecil, keliatan banget dari bentuk hidungnya yang nggak mancung, gue bukan sok tahu tapi patner sex gue yang hidungnya pesek itu punya ukuran kontol yang kecil walaupun yang mancung juga belom tentu punya perkakas sebagus punya gue!

Gue beraniin diri buat nyamperin si Bira pas dia udah selesai dengan acara reality shownya itu. “Bira!!! Eh, emh, itu, ah, itu, eh, makasih banyak ya buat buku contekannya tadi” gue berkata dengan amat gugup setelah menyusul si Bira lalu menepuk pundaknya.

Si Bira tersenyum lembut bagaikan kain sutra yang digesekin ke kontol gue, rada ngilu di bagian hati dan ujung titit. “Btw, lo mulia juga ya, hari gini masih aja nolongin orang model gitu” ucap gue sambil nunjuk si orang buta pakek ujung bibir.

“Bapak itu juga manusia, cuma aja dia buta, dan lo nggak boleh ngerendahin dia, kalo gue ada di posisi dia pasti gue juga bakalan ngarep dibantu orang pas nyebrang jalan, dia kan buta, sulit banget pasti jadi dia” jirrrrr, si Bira kenapa mengumpamakan orang buta tersebut adalah dirinya sendiri? Itu soo bijak buanget! Kenapa dia nggak mengumpamakan orang buta itu gue? Kenapa dia ngeselin banget sih? Gue kan nggak bisa nyibir si daki kloset ini jadinya.

Gue cuma ngangguk-ngangguk aja, dan jangan bilang anggukan gue ini mirip boneka anjing, gue bunuh lo kalo sampai lo berani bilang gitu!

“Lo baik banget sih,” ucap gue tulus.

“Gue bukan orang baik Fir, gue cuman orang yang berusaha jadi orang yang berguna buat orang lain, walaupun gue cuman bisa berguna di hal-hal kecil aja” katanya sambil ngelepas kacamata jadulnya lalu digosoklah kacamata jadul itu ke ujung dasi sekolah yang masih setia nempel di tempat seharusnya, dasi gue aja udah gue simpan di kolong meja pas mau cabut dari kelas sedangkan dia masih pakai seragam lengkap yang agak dekilnya itu sampai sekarang, nih anak pasti hidupnya ngebosenin banget deh, liat aja tingkahnya.

“Rumah lo di mana? gue anterin deh” kata gue spontan.

Bira malah ketawa cekikikkan kayak ayam kesurupan, “Kenapa lo?” tanya gue penuh nada sinis, siapa yang nggak esmosi diketawain cowok cupu? Siapa? Lo nggak sinis berarti lo sama cupunya kayak si Bira!

“Lo nggak bawa motor, sepeda atau apapun, lo mau nganterin gue jalan kaki sampai rumah gue gitu?” buangke! Ini cowok cupu satu, rasanya kalo gue nggak terikat taruhan sama si Romeo babik tersayang gue itu, udah gue ceburin ke selokan nih cowok.

“Gue cuman mau jadi orang yang berguna ajakan” gue buru-buru aja ngomong gitu, cuma itu sih yang ada di kepala gue.

Tawa si Bira terdengar semakin stero, ember mana ember, mau gue tutupin aja nih muka si cupu, anjriiiiitttt muka ngeselin sifat juga ngeselin, buruan mampus deh lo Bira!

“Kalo lo maksa gitu, ya sudahlah” Bira gerakin tubuhnya buat ngajak gue jalan lagi. Apa? Apa? Dia ngomong apa barusan? Maksa? Syeetaaaan! Kapan gue maksa dia buat gue antar pulang? jir, nyet, bik, taik anjing, monyet, babik! Gue tusuk pekek gunting kuku lo dari belakang!

“Ini rumah kontrakan gue, eh gubuk deh, lo mau langsung pulangkan? Hati-hati ya!” si Bira langsung ngeloyor mau masuk ke dalam rumah—eh—gubuk. Beneran gubuk lho, pintu dan sebagian dinding dari triplek dan seng serta jendela yang dibuat pakek kawat, ngenes banget ye nasib lo Bira.

Rumah kontrakan Bira berada di perkampungan pandat penduduk, penghuni perkampungan ini kebanyakan jualan makanan, terlihat dari belasan gerobak yang diparkirkan di pelataran rumah mereka yang sempit.

Buru-buru gue pegang tangannya si Bira supaya nggak masuk ke dalam gubuk—rumah, apalah gue nggak perduli, mau rumah mau gubuk kek yang penting bukan rumah gue ini. “Gue boleh main bentar?” tanya gue cepet-cepet, gue nggak alergi sama orang miskin kok cuma gue sebal aja sama si Bira makanya daritadi gue hina-bina dia si cowok dekil, gue kan kudu pe-de-ka-te sama Bira mulai sekarang juga, karena gue nggak tahu nih cowok bisa gue jadiin pacar taruhan apa kagak, gue nggak suka buang-buang waktu soalnya. Catet.

“Di dalem rumah gue, cuman ada nenek gue sama adik gue, kakak perempuan gue lagi nyuci di komplek, dan gue cuman bisa nyuguhin air minum aja lho”

Bodo! Kata gue asal dalam hati, lagian gue nggak ngarep disuguhin pizza or whateve, gue tahu diri kali, masa gue ngarepin yang nggak mungkin. “Gue mau main bukan mau numpang makan kok” jawab gue santai.

Bira mengangguk khikmat, seperti pertanda gue harus siap-siap sama keadaan di dalam rumah kontrakannya yang udah mirip gubuk itu. Kesan pertama masuk rumah yang pintunya terbuat dari tambalan beberapa papan triplek ini adalah, dekil, puanas dan sumpek ah udah pasti kalo sumpek mah, wong ukurannya aja kecil gini.

“Temennya Bira?” suara serak terdengar dari sebelah kanan gue. Sesosok nenek tua dengan rambut putih dan kulit berkerut di mana-mana berusaha berdiri dari duduknya. “Iya nek, temen sekelasnya Bira” jawab gue kikuk. “Mau nyontek tugas ya?” tembak si nenek, gue tau sekarang sifat ngeselin si Bira berawal dari siapa!

“Cuman mau main doang nek, nggak ada tugas” jawab gue dengan senyum dipaksa setulus tokoh bawang putih.

“Wah, baru kali ini ada temen Bira yang dateng mau main, biasanya cuman pada pinjem tugasnya Bira doang, karena mereka…” bla-bla-bla, si nenek cerita panjang lebar soal nasib si Bira dan tetek pelacur eh tetek bengek keluarga mereka. Gue bukan nggak suka ngedengAr curcol si nenek ke gue, cuma gue nggak mau kebawa soasana melow di hari pertama pe-de-ka-te. Gila aja, gue ke rumahnya si Bira buat ngedekatin si cowok cupu ini bukan buat ikut acara termemek-memek—ralat—termehek-mehek.

“Nek, obatnya udah habis ya?” si Bira muncul pakek kaus yang makin dekil dan kelihatan kesempitan—banget—di badannya, gue taksir sih itu baju peninggalan jaman SMPnya si Bira deh, mungkin dia nggak punya duit buat beli kaus baru.

“Nggak apa-apa Bira, nenek sehat-sehat aja kok walaupun nggak minum obat” neneknya Bira emang pucet sih, sebenernya gue sadar kalo neneknya si Bira wajahnya pucet pas si Bira tau-tau dateng nanyain obatnya si Nenek, emang si Nenek punya penyakit apa sih?

“Bina, Sabrina, ke sini” panggil Bira sambil senyum tipis ke gue, gue cuma bisa meringis aja buat nanggepin senyumannya dia. Gadis berumur sekitar sepuluh tahun muncul dengan boneka Teddy Bear yang udah kuyu dan banyak tambelannya di mana-mana. “Jagain Nenek ya, kakak mau jualan dulu” titah si Bira dengan amat lembut, enak kali yak punya adik, gue kepengin banget punya adik.

Bina slash Sabrina mengangguk patuh lalu mendekap bonekanya dan berjalan terseok-seok ke tempat si Nenek yang lagi duduk-duduk cantik di belakang tubuh gue. Astaga gue baru sadar kalau adiknya Bira nggak punya tepak kaki sebelah kirinya, kelihatan banget bekas amputasi yang mungkin udah bertahun-tahun namun gue baru sadar sesadar-sadarnya pas dia jalan melewati bahu gue.

***

“Kita mau ke mana sih Bir?” tanya gue penasaran. “Mau ngambil layangan di ibu Pipit, gue kan jualan layangan di tanah kosong yang katanya bakalan di buat ruko-ruko nantinya, itung-itung tambah duit buat ongkos nganter nenek gue ke rumah sakit,” kekehnya.

Tuhan, ini pukulan se-anjir-anjirnya! Ternyata si Bira itu, mengagumkan! Gue salut se-salut-salutnya orang yang salut sama seseorang, di balik sosoknya yang mirip budak di film-film berlatar romawi kuno dia itu punya kehidupan yang berat nngalahin sinetron di televisi-televisi yang ada di negeri ini. Keluarganya miskin, dia hidup sama neneknya yang punya penyakit komplikasi jantung, ginjal dan diabetes, kakak tertuanya perempuan yang putus sekolah di jenjang menengah pertama karena ke dua orangtuanya meninggal dunia dan adiknya yang nggak punya telapak kaki karena diamputasi pas jadi korban tabrak lari yang juga mengakibatkan ke dua orangtua mereka meninggal dunia—sedikit banyak gue juga ngedengerin omongan Neneknya Bira ditambah sedikit cerita-cerita dari Bira tadi sebelum kami jalan ke tempat yang punya layangan.

Tapi lihat Bira dia super tangguh, di sekolah Bira terlihat biasa aja nggak pernah memperlihatkan wajah murung sama sekali walau kerap dipanggil ke ruang TU karena beberapa kali tersendat pembayaran uang SPP dan ujian, dia terlihat sangat tenang. Selama ini gue kurang simpati memang ke semua orang, yang gue liat dari tiap-tiap orang adalah penampilannya, bukan pribadinya, dan sekarang gue ngerasa lebih hina dan lebih cupu dari si Bira, gue nggak sanggup ngebayangin kalo nyokap bokap gue meninggal, terus gue hidup kayak si Bira, gue yakin se-yakin-yakinnya gue nggak akan sanggup.

“Lo beneran mau nemenin gue jualan layangan Fir?” suara Bira ngagetin gue banget, sampe badan gue mundur sedikit dengan agak sempoyongan.

Cepet-cepet gue anggukin kepala, masukin tangan gue ke celana panjang abu-abu dan ngatur nafas gue dengan amat perlahan, entah kenapa dada gue ngerasa sesak, mungkin karena gue ngebayangin senasib sama Bira mungkin, jadi gue melow seketika begini.

“Lo nggak dicariin sama Ibu lo nanti?” tanya Bira lagi sambil ngelanjutin jalan ke rumah pengusaha layangan yang layangannya bakalan dijualin sama si Bira. Tadi gue berhenti karena pengen beli rokok, saat gue natap muka kuyu si Bira tau-tau gue kepikiran hal yang tadi gue jelasin tentang nasib si Bira itu.

“Gue udah gede kali, mana mungkin nyokap gue nyariin, lagi pula gue udah BBM nyokap gue kok” sahut gue santai sambil menikmati hisapan demi hisapan rokok yang baru gue bakar.

“Yaudah ayok” si Bira gerakin kepalanya pertanda dia ngajak gue buat ngikutin dia.

“Nih buat lo!” pas si Bira nolehin kepalanya langsung aja gue lempar teh cup yang tadi gue beli.

“Makasih ya Fir” si Bira tersenyum ke gue sehabis nyicipin minuman yang tadi gue lemparin ke dia.

Entah mengapa senyumnya Bira sekarang ini terkesan lebih baik, keringat di dahi yang nempel ke ikal-ikal rambutnya ngebuat dia sedikit lebih menarik, dan keringat yang berada di atas bibirnya itu sedikit menggoda gue buat ngebantu ngehapusnya dengan tangan gue, tapi gue masih ogah buat ngelakuin itu, tar kalo si Bira terkejut dan kabur gimana? Gagal dong usaha gue, mana hari ini gue relain diri buat ikutin aktivitas—panas-pasanan—nya lagi, rugi di gue banget kan jatohnya.

“Belok sini” si Bira belok setelah kita ngelewatin berapa gang-gang yang kanan kirinya hampir dipenuhi jemuran warga. Begitulah Jakarta, nggak cuma hiruk-pikuk kemewahan dan gaya hidup metropolis yang ngeramein kota ini, tapi jemuran emak-emak juga banyak di mana-mana.

“Tunggu bentar ya, gue masuk dulu ngambil layangannya” kata si Bira setelah berhenti di salah satu rumah bertingkat tapi sempit yang temboknya di cat dengan warna anggur. “Jangan lama-lama lo!” perintah gue tegas. Ya iyalah, ogah banget gue nungguin si Bira di lingkungan yang asing buat gue, nanti yang ada cewek-cewek lingkungan sekitar sini pada kedip-kedip genit ke arah gue lagi, kalo muka mereka cantik ya nggak apa-apa, nah kalo muka mereka mirip celengan ayam dari tanah liat? Amit-amit kutil banci deh.

“Ayo” si Bira keluar dari dalam rumah sambil gendong satu kardus popok dan satu kardus mie instan, dengan badannya si Bira yang mungil, kecil, dekil itu udah jelas banget sekarang dia kualahan. Lo tahu kan gimana besarnya kardus popok, kalo lo belum tahu buruan deh ke minimarket deket rumah lo atau nggak ke agen, terus lo minta di tunjukin kardus popok bayi, ini kardus popok brand terkenal yang popoknya warna biru itu lho, gede banget deh, nggak proposional kalo si Bira yang bawa, nelangsa gue liatnya. Jaaah!!! Kenapa gue jadi ngomongin kardus.

“Makasih” ucap si Bira datar setelah kardus popok itu gue ambil alih. Baru sadar gue, kalo Bira itu dilahirin dengan ekspresi wajah yang minim, gitu-gitu aja ekspresinya, Bira itu setahu gue bukan orang yang dingin tapi ya gitu deh, dia cuma punya ekspresi alakadarnya.

“Lapangannya masih jauh nggak sih Bir?” tanya gue gondok, kardus yang gue bawa itu ngeribetin banget pas gue ngelangkah, udah mana panas, nggak nyaman banget deh.

“Deket warung yang tadi lo beli rokok, nah nggak jauh dari situ kan ada lapangan, emang lo nggak ngelihat tadi?” jelas si Bira sambil ngehitung jumlah benang Knur dan Gelasan yang ada di kardus mie instan yang dia bawa.

“Oh,,,” kata gue sambil angguk-anggukin kepala, karena gue nggak ngerti yang dia omongin, dan ternyata tingginya si Bira itu masih dibawah dagu gue.

***

Gue hempasin bokong seksi gue ke kaki pohon Beringin, capek juga bawa-bawa kardus berisi layangan walaupun kardus ini nggak berat tapikan gede, dan jarak yang gue tempuh sama si Bira lumayan jauh, biar pun kata si Bira jarak ini tuh deket lha orang ini tuh rutinitasnya ya jelas jarak segini dia bilang deket.

“Mana yang beli Bir?” keluh gue sambil narik-narik leher kaus PSD gue, gue kira udah ada yang nungguin mau beli layangan yang kami bawa, ternyata tanah kosong ini masih aja sepi.

“Sepuluh menitan lagi Fir biasanya mereka pada dateng, kalo lo capek lo tiduran aja di situ” kata si Bira sambil ngeluarin layangan dan benang dari kardus ke atas karpet plastik yang Bira bawa di dalam tas slempangnya.

Nggak lama suara gaduh terdengar sayup-sayup di kuping gue, pandangan gue terasa monogram, ternyata gue ketiduran abisnya angin dan sejuknya tidur-tiduran di bawah naungan pohon Beringin itu ngundang banget buat tidur.

Gue lihat punggung dan tangan si Bira lagi bergerak-gerak ngelayanin bocah dan abang-abang yang lagi pada ngantri mau beli layangan si Bira. Dan rasa salut itu berhasil kembali nyusup ke dalam hati gue, gue makin envy sama kegigihan si Bira walaupun gue ogah kalo ngejalanin nasib kayak si Bira ini.

Nggak lama lapak si Bira sepi karena yang pada beli udah pada milih dan bayar layangan yang mereka ingin dan sekarang mereka lagi pada ribet sama layangan yang mereka baru bentangin itu. Si Bira perlahan nyamperin gue lalu duduk di samping gue, rambutnya yang acak-acakan dan keringat yang memenuhi wajahnya itu ngebuat dia kelihatan fresh, apalagi kalo ini bocah udah mandi, cakepan kali ya?. Batin gue penasaran.

“Nyenyak tidurnya?” tanya si Bira sambil ngerogoh sesuatu dari dalam tasnya.

“Emang gue tidur berapa lama?” gue balik nanya abisnya gue penasaran berapa lama gue ketiduran sampai sekarang gue ngerasa badan gue kembali segar.

“Satu jam lah kalo nggak salah” jawab dia sambil minum air di botol yang diambil dari tasnya. Matanya terpejam pelan, jakunnya naik turun saat air yang dia teguk itu ngebasahin kerongkongannya, satu butir keringan turun menggoda membuat kontur muka si Bira itu jadi terkesan manis.

Suara desahan si Bira yang ngutarain kelegaannya setelah meneguk air itu terdengar amat syahdu di kuping gue, dan sekarang dia lagi senyum ke gue sambil ngeletakin botol minum di antara tubuh gue dan dia yang lagi duduk bersampingan.

“Lepas deh kacamata lo” gue merintah si Bira, tapi karena si Bira lelet gue copot sendiri aja kacamata yang bertengger di hidung peseknya itu. Bira mejamin matanya saat gue narik kacamatanya dan gue ngerasa muka dengan mata terperjamnya itu ngedamain hati gue banget saat ini.

“Gue nggak bisa ngelihat Fir, mata gue kan silinder” tegas si Bira. Nggak sedikit pun gue gubris protesannya, malah sekarang tangan gue lagi acak-acak rambutnya si Bira. Tangan gue basah karena keringetnya dan itu malah ngebuat gue jauh lebih sejuk lagi.

Si Bira sekarang ngeberaniin diri buat buka matanya, dia natap gue dengan pandangan takut, padahal gue nggak bakalan nyakitin dia sama sekali. “Diem” desis gue tegas ngebuat Bira makin kaku di depan gue. Cepat-cepat gue ambil handuk kecil dari Postman bag gue dan gue seka wajahnya yang berkeringan keseluruhan. Gue menghela nafas puas, penampilan Bira yang sekarang udah jauh lebih baik dari penampilan dekil dan super cupunya itu di sekolah. Bira sekarang terlihat jauh berantakan dalam kandungan makna yang baik, dia terlihat lebih keren dipandang dengan penampilan seperti ini, tinggal pakaiannya aja yang diganti pasti Bira terlihat jauh lebih menawan. Sialannya gue ngerasa bahagaia banget ngelihat Bira yang sekarang, jangan bilang gue tertarik!

Dag

Dig

Dug

Jantung gue berdegub dengan gegap gempita banget ketika senyum Bira tercetak di bibirnya, senyum dari penampilannya yang baru. Rasanya pengin ngalihin muka supaya gue nggak makin tenggelam dalam senyum si Bira sekarang.

“Bang layangan yang ini harganya berapa?”

Makasih banget buat orang yang udah mengakhiri momen awkward yang sedang terjadi antara gue dan Bira, untung ada yang beli layangan kalo nggak gue nggak tahu deh gimana rona wajah gue selanjutnya.

Matahari kelihatan sudah amat capek kayaknya, sinarnya udah nggak menyengat lagi seperti tadi, sekarang hanya ada sayup-sayup cicitan burung Perkutut dan sekelebatan bayangan burung Merpati yang sedang di lepaskan para pemiliknya. Desauan angin menggoda gue buat kembali rebah di bawah pohon Beringin, namun gue nggak tertarik buat kembali rebah, gue nggak mau ditinggalin si Bira soalnya, ya walaupun itu cuman perkiraan terburuk gue sih.

“Fir, sekarang jam berapa?” Bira nolehin wajahnya ke arah gue. Cepet-cepet gue lihat jam di ponsel gue. “Jam lima lewat kenapa?” tanya gue. “Pulang yuk” jawab si Bira yang masih fokus memasukan layangan dan benang ke dalam kardus.

***

“Dua puluh satu ribu, Alhamdulillah” kata si Bira dengan nada yang sarat dengan kebahagiaan.

Gue nggak habis fikir, si Bira bisa senang banget dapet komisi segitu, dan tadi sepulang sekolah dia ngebantu orang buta terus pakai segala ngasih duitnya ke itu orang lagi, padahalkan dia sendiri aja kesulitan dalam hal duit.CK.

Jajan gue aja lebih dari segitu seharinya dan gue masih selalu ngerasa kurang, apalagi buat ngasih pengemis! Tapi lihat lagi si Bira coba. Bira ngerasa uang segitu tuh udah lumayan cukup buat dia dan itu ngebuat gue sadar seberapa nyusahinnya gue ke bokap-nyokap gue.

“Beli gorengan dulu Fir” si Bira narik ujung kaus gue buat ngikutinnya ke tempat ibu-ibu jual gorengan.

“Lo mau nggak?” Bira nyodorin tempe goreng ke arah gue.

“Nanti kita makannya pakek gorengan ini doang, eh ada kecap botolan deh di rumah,” kata si Bira santai. Emang gue mau makan di rumahnya apa? Bukan cuma karena lauknya nggak mengundang selera makan gue tapi karena gorengan yang dia beli itu sedikit, pas-pasan deh, kalo gue ikutan makan ya makin nambah dikit pastinya, gue nggak mau nyusahin orang yang udah susah ah.

“Gue langsung balik aja, nyokap udah nyuruh gue pulang” jawab gue sambil ngeganyang tempe goreng yang Bira sodorin tadi. Bira cuma manggut-manggut menanggapi jawaban gue, bibirnya berkilat karena minyak dari gorengan yang dia kunyah, dan itu membuat bibirnya kelihatan menarik.

“Lo beneran nggak mau ikut kita makan?” tanya si Bira. Gue menggeleng yakin, lalu gue pamitan ke seluruh anggota keluarga si Bira.

“Fir, makasih ya udah mau bantu dan nemenin gue jualan layangan” sontak gue menoleh ke arah Bira, karena si Bira ngucapin terimakasihnya pas gue udah ngelangkah pergi dari pintu rumahnya. Sesuatu yang asing gue lihat dari Bira, matanya sendu banget natap gue seolah-olah gue itu pahlawan yang udah nyelamatin dia dari maut, dan tatapan itu berhasil buat hati gue ngilu kembali.

Gue cuma bisa balas senyum dan ngacungin ibu jari gue. Gimanapun caranya gue harus buat Bira terlihat keren dan nggak lagi jadi bahan hinaan anak-anak sekolah gue, karena gue nggak mau punya pacar yang jadi bahan olok-olokan sekelas. Ya, Bira itu calon pacar gue selama empat bulan dan gue harap bisa nahlukin hati si Bira ini kurang dari tiga minggu—deadline yang Romeo kasih ke gue.

***

“Buat apaan ini semua?” tanya si Bira kikuk.

Gue ngasihin beberapa seragam sekolah gue yang jauh lebih layak pakai daripada pakaiannya, memang bukan seragam baru dari toko sih, tapi seragam sekolah gue ini jauh lebih enak dipandang daripada miliknya Bira kok, gue bukan anak konglongmerat jadi riskan kalo gue minta uang dari bonyok dengan alasan mau beliin seragam sekolah buat teman cowok gue, lo pikir sendiri aja gimana nyokap gue respon permintaan gue kalau gue sampai bilang gitu.

“Dan lo pakai kacamata ini” kata gue sambil ngasih kacamata baru ke si Bira. Beberapa hari lalu gue nanya ke Bira mata silindernya itu seberapa parah dan Bira ngasih tahu dengan polosnya, untungnya uang tabungan gue cukup buat beli kacamata baru buat Bira yang modelnya nggak jadul kayak kacamata yang masih bertengger di hidung peseknya itu.

“Nggak mau ah, gue nggak punya uang buat gantinya, dan kalau lo ngasih ini cuma-cuma gue tetep nggak mau ah, ngerepotin lo banget tauk” ucapnya kikuk sambil terus menggelengkan kepala tanda menolak pemberian gue.

“Heh!!! Lo jadi orang itu bersyukur sedikit napa, gue udah beliin dan lo harus terima! Lo kira ini kacamata bisa gue balikin ke optik apa!” sahut gue jengkel, gimana nggak jengkel gue udah habisin sebagian tabungan gue buat beli itu kacamata dan sekarang si Bira dengan enaknya menolak pemberian gue, dia kira kacamata ini bisa balik jadi duit gue lagi kalau dia nggak mau nerima pemberian gue itu.

“Tapikan—“

“Pakek! Nggak usah dibuat ribet deh!” ucap gue sambil nyulut rokok yang udah nyelip di antara bongkahan bibir seksi gue.

Gue itu bukan tipe orang yang sabar, jadi gue lepas paksa kacamata jadul yang nempel di wajahnya Bira lalu gue ganti dengan kacamata yang gue beliin. “Gue cuman mau nyaranin lo doang nih, besok pas masuk sekolah rambut lo agak dibuat acak-acakan aja, jangan di sisir rapih banget, lo emang betah apa jadi bahan olokan anak-anak” saran gue dengan nada agak ketus sisa-sisa aura kesel gue tadi.

Bira cuma mengangguk patuh, bagus.

“Jangan bungkuk kalo lagi jalan!” Bira mengangguk lagi. Tsakep.

***

“Firza!”

“Lo udah lihat penampilan si keset ruang BP belum?” Romeo dengan nafas tersengal-sengal nyamperin gue yang lagi asik dengan bola basket yang lagi gue dribble.

“Kenapa emang?” tanya gue pura-pura bego. Lalu si Romeo cerita panjang kali lebar, kali tinggi, kali banyaknya banjir di Jakarta! “Masa?” tanya gue pura-pura antusias. Siapa dulu, Firza! Gue nggak akan ngebiarin calon pacar gue dijulukin dekil, karena memang sekarang Bira sudah sesuai dengan keinginan gue, dia nggak lagi dekil setelah pakai kacamata dengan Frame rmodel baru, baju-baju dari gue, serta potongan rambut baru—kemarin gue sempatkan diri buat ajak Bira ke Barbershop yang ngebuat dia lebih terlihat segar. Masa orang seganteng dan semaho eh semacho gue ini pacaran sama manusia yang nggak sedap dipandang sih! Big to the no bingit!

“Kalau tau si Bira bakalan berubah jadi cowok yang lumayan sekeren sekarang ini sih gue ogah deh nyuruh lo macarin dia,” keluh Romeo yang lagi-lagi kena apes. Apes, karena gue bakalan menang lagi dalam taruhan kali ini.

“Siapin diri jadi hambasahaya gue yeh Meo” ejek gue sambil shooting bola basket ke ring dari garis jarak three point . masuk! Exellent.

“Taik kucing lah” jawab si Romeo apes ini sambil nyikut perut sixpack gue.

Gue cuma bisa ketawa ngakak sambil ngerangkul si Romeo babik tersayang gue ini ke arah kantin, ngebahas banyak hal sambil sekali-kali nakut-nakutin Romeo yang akan segera jadi hambasahaya gue.

***

“Kalau jalan itu yang tegap Bir, cuman itu doang yang kurang dari lo sekarang!” saran gue sambil bantu Bira mengeluarkan layangan dari dalam kardus popok bayi. Bira mengangguk dengan bibir yang ditekuk menjadi sebuah senyuman, gue suka banget sama dia, tiap gue kasih saran pasti dia senyum nggak pernah bantah sedikit pun dan selalu dia lakuin sesuai saran gue, gue ngerasa dihargain dan dianggap banget sama dia. Walaupun sampai sekarang berjalan tegap masih sulit Bira terapkan.

Nggak lama para pemain layangan mulai dari bocah ingusan sampai abang-abang kurang kerjaan datang siap menyerbu dagangan kami, sudah beberapa kali gue bantu Bira buat jualan layangan dan sekarang gue harus total ngebantu dia, entah kenapa gue sekarang semakin terbiasa dengan rutinitasnya Bira, terbiasa di dekat dia terbiasa ngasih lelucon yang pasti disambut tawa renyahnya, semua yang gue lakuin ke Bira pasti dia sambut dengan ketulusan, setidaknya—ketulusan—itu bisa gue lihat walau masih perkiraan gue aja.

Gue comot beberapa layangan lalu gue goyang-goyangin di tangan gue, setelah ngerasa nemu layangan yang baik kalau dibentangin, langsung aja gue bolongin di dekat tulang layangan tersebut pakai rokok gue, dengan gesit gue buat tali kama di layangan tersebut lalu gue ambil benang gelasan yang paling mahal tipe tarikan karena gue lebih jago dalam hal adu layangan kalau pakai gelasan tipe tarikan bukan yang tipe uluran.

“Main layangan yuk, gue mau tahu lo sama gue jagoan mana, secara lo kan tukang layangannya nih” tantang gue penuh semangat, bosen juga sih kalau cuma duduk nunggu yang beli, mending main layangan sambil nunggu yang beli, yakan? Ngehibur diri itu mudah, banyak cara disela-sela aktivitas cuma perlu jeli sama peluang-peluang yang bisa ngebuat diri kita ngerasa kehibur, se-enggaknya itu yang selalu gue lakuin.

“Gue nggak bisa main layangan Fir” kekeh Bira tanpa rasa malu sedikit pun, ngebuat wajahnya terlihat menggemaskan.

“JAH!!! Baru gue nemuin tukang layangan yang nggak bisa bentangin layangan, ck, ck, ck” ejek gue sambil ikut terkekeh.

“Gue juga baru nemuin cowok super baik kayak lo”

JEDERRR!!!

Gue ngerasa dewa Eros sekarang berhasil bidik anak panahnya tepat di hati gue melalui tatapan Bira sekarang ini. Wajahnya Bira yang polos-polos imut itu nampilin sebuah senyum sederhana yang terlihat amat tulus, tatapan sendu di arahkan ke gue. Matanya menyipit sedikit memperjelas ketulusan ucapannya barusan, dan itu semua berhasil membuat ulu hati gue ngilu seketika. Rasanya pengin banget gue bingkai momen ini, saat langit twillight memesona para pemilik cinta, saat bayangan burung Merpati menjadi siluet yang mengukir momen langka, dan di saat cicitan burung-burung menjadi lagu yang membawa sebuah hati ke muara.

Gue nggak mau munafik atau denial-denialan kayak cowok-cowok lebay kebanyakan, gue biseksual dan cowok di hadapan gue ini amat menarik, dengan amat ikhlas gue akan mau jadi pacarnya jika cowok di hadapan gue minta gue buat jadi pacarnya sekarang juga, tiap rasa memang tercipta saat kita mengalami sebuah momen yang berkesan, dan Bira selalu membuat gue ngerasain momen-momen yang penuh kesan saat kami berdua seperti sekarang ini, dan jika ini cinta maka dengan amat berani gue akan mengakuinya, persetan dengan awalan dari semua ini.

Terkadang apa yang gue omongin tentang orang yang hanya gue lihat dari fisiknya itu adalah fitna keji belaka yang nggak pernah gue sadari.

Nggak banget, mana ada orang yang mau jadi pacar dia, monyet juga ogah kali di deketin sama dia. Kata-kata ini muncul kembali setelah sekian lama diucapkan oleh hati gue, yang gue rasain sekarang adalah penyesalan, bukan penyesalan kerena gue bisa jatuh hati sama Bira, tapi karena gue sempet dengan amat keji ngerendahin dia bahkan sebelum gue kenal pribadinya sedikit pun. Dan silahkan kalau kalian mau ngehina gue lebih rendah dari para monyet, gue nggak perduli, kebahagiaan itu nggak perlu gengsi, walau harus jilat ludah sendiri, daripada lo kubur sampai busuk, dan saat udah busuk lo nangis-nangis mengharapkannya.

Bira memang nggak tampan kayak kebanyakan mantan gue, dia juga nggak bertingkah kayak cowok-cowok seumuran kami, dia juga nggak seluar biasa para cowok yang lagi nyari jati diri dan sangat berapi-api dalam memenuhi ego hati, Bira bukan cowok biasa, dia jauh luar biasa dari cowok kebanyakan, apalagi gue, bahkan gue lebih kecil dibandingkan dengan ujung kukunya Bira. Bira itu ibarat Titanium dan gue Titanium imitasi made in China.

Hidupnya penuh beban, tapi dia ngejalaninnya dengan penuh ketulusan, Bira menginspirasikan banyak hal, cara dia bersikap, cara dia menyelesaikan masalah dan cara dia nikmatin hidupnya yang jauh dari kata bahagia.

Gue bahagia kok, setiap gue bersyukur sama nikmat yang tuhan kasih gue selalu ngerasain kebahagiaan itu, karena menurut gue, bahagia itu gue rasakan ketika gue mendapatkan banyak hal dari buah kesabaran yang gue tanam. Gue selalu ingat kata-kata Bira yang satu itu, ketika dia ngajak gue beli air es di warteg. Banyangkan! Dia dengan wajah penuh bahagia menenggak air es tanpa rasa setelah capek-capek-an ngejual layangan bareng gue, wajahnya damai banget saat nengguk air es itu, sedangkan gue, sedikit pun gue nggak ngerasa ada yang spesial dari air es tersebut. Bira memang sederhana dan gue jatuh cinta dengan sosoknya yang sederhana.

“Gimana kalau gue bantu megangin layangan dan lo yang nerbangin layangnya, nanti kalo layangannya terbang lo pinjemin ke gue ya, hehehe”

Gue mengangguk setuju, gue bantu Bira berdiri lalu ngebiarin dia ngebawa layangan yang tali kamanya udah gue ikat ke gulungan benang yang gue pegang. “Jarak segini cukup?” teriak Bira dari jarak sekitar delapan meter. “Mundur lima meter lagi Bir, biar langsung terbang!” sahut gue nggak kalah keras.

Bira mengangkat layangannya tinggi-tinggi.

“Satu”

“Dua”

“TIGA” teriak gue bersamaan dengan Bira yang ngelepas layangan dan gue yang narik layangan tersebut dengan bersemangat. Beberapa hentakan dan tarikan gue saat layangan terasa tersapu angin mempu membuat layangan ini terbang dengan sekali percobaan. Bira berlari cepat ke arah gue, wajahnya sumringah seperti bunga matahari yang mekar.

“Nggak nyangka lo hebat juga ya dalam urusan nerbangin layangan” katanya takjub di sebelah gue.

“Gue kan asisten tukang layangan jadi harus handal dalam urusan beginian” jawab gue bangga. Bira tekekeh ngedengar jawaban gue. “Lo mau mainin? Nih!” gue langsung tarik tangan si Bira dan sekarang dia sama tegangnya dengan benang layangan yang terangkat ke udara.

“Kalau layanganya nungkik, lo cukup ulur benangnya sampai layangan itu stabil dan lo boleh tarik lagi layangannya biar kembali ke posisi semula, dan kalau lo pengin layangan itu terbang lebih jauh dan lebih tinggi lo cukup ulur dan tarik, mengulur dan menarik benangnya berbanding empat persatu” kata gue lembut sedikit menunduk supaya bibir gue tepat di sisi telinga kanan Bira. Bira mengangguk khitmat, mengerti semua yang gue intruksikan.

Dada gue berdebar seperti layangan yang tertiup angin kencang di udara, ini bukan persoalan harum tubuhnya Bira, seberapa bagus baju yang dia pakai, seberapa menarik wajahnya tiap gue pandang, ini tentang rasa yang tiap hari semakin menguat, tertabung dengan amat baik dalam bendungan hati gue yang lama kosong tidak terisi, selama ini gue selalu main-main sama pacar gue, yang gue cari adalah puncak nikmat saat gue berada di atas tubuh mereka, menggauli mereka dan dipuja mati-matian.

Sekarang, sosok sederhana yang nggak pernah gue bayangin akan menjadi labuhan hati gue yang baru malah mampu membuat gue mencandu, merindu tiap kala gulita menyelimuti hari, lalu kembali bersemangat saar fajar menyongsong dengan ekspresi malu-malu dan berbahagia dikala senja pecah berganti temaram.

Langit berubah oranye, warna merah bercampur hitam berpadu lembut dengan warna ungu yang khas, memperjelas segala hal yang terjadi di luar dan di dalam hati gue. Kalau langit dan cahaya akan menjadi temaram sebentar lagi maka hati gue akan tambah bersinar kuat selama menyaksikan Bira bahagia dengan layangan yang sekarang udah berhasil dia kendalikan.

Tawanya yang renyah dan komentar-komentar antusias dari Bira mampu menghanyutkan gue ke dalam nirwana senja yang sedang gue ciptakan sendiri.

Orang yang nggak pernah lo sangka-sangka bakalan mampu nahlukin hati lo terkadang malah mampu membuat lo bertekuk lutut, hanya sebuah kenyamanan yang nggak pernah sama sekali lo banyangin saat bersamanya. Seperti gue sekarang ini.

Daun Ketapang jatuh tepat di kaki gue, entah gimana gue sekarang mengibaratkan daun Ketapang itu hati gue, bakalan layu, kering lalu mati dan terlepas kalau nggak cepat-cepat nyatain perasaan gue ke Bira, ini semua nggak ada hubungannya dengan deadline taruhan gue sama Romeo, ini semua karena gue memang udah benar-benar nggak tahan untuk mengutarakan isi hati gue yang sebenarnya, persetan sama deadline taruhan gue yang tinggal tersisa beberapa hari lagi, ini murni karena gue yang memang benar-benar telah jatuh hati.

“Bira” panggil gue serak. Sesekali Bira melihat gue dengan wajah yang dihiasi senyum khasnya. “Apa?” tanyanya sambil terus fokus ke layangan yang terbentang di udara. Gue geser tubuh gue kebelakang tubuhnya, berharap degub jantung gue yang gaduh ini nggak sampai dirasakan oleh Bira. Sesaat gue menatap layangan sambil mantapin hati buat nyatain perasaan gue ke Bira.

Gue hela nafas gue sampai Bira bergidik spontan, “Gue cinta sama lo Bir, jantung gue selalu berdegub penuh semangat saat senyum lo itu tertuju untuk gue, dan hari-hari gue terasa penuh saat gue habisin waktu bareng lo” cahaya dari mata Bira menghilang seketika, layangan Bira putus dibabat pemain lain dan sekarang Bira total natap gue dengan ekspresi piasnya itu, ngebuat hati gue takut bernasib sama dengan layangan Bira yang putus tadi.

Bira membalik badan sampai badan kami berhadapan, ekspresinya masih sama, pias nggak sedikit pun gue mampu membaca apa yang akan dia akan katakan sebagai jawaban dari pernyataan gue barusan.

Gue pandangan matanya dalam-dalam, jakun gue bergerak seiring kerongkongan gue yang minta dibasahin. “Gue cinta sama lo” tegas gue kembali dengan suara yang jauh lebih serak. Fakta menakutkan menghentak hati gue yang sedang menunggu jawaban Bira, gue terlalu ceroboh mengungkapkan isi hati gue, gimana kalau Bira straight? Gimana kalau Bira jijik sama gue, selama ini gue hanyut sama perasaan gue sendiri, sampai-sampai gue lupa mastiin apakah Bira straight atau nggak.

Bira tersenyum lalu mengangguk, gue ngerasa dapat miracel di ujung kematian. “Apa?” tanya gue bodoh. Bira kembali mengangguk, senyumnya sangat amat memesona kali ini, giginya yang rapih berbaris memukau tepat di depan dada gue.

“Gue juga cinta sama lo” kata Bira ngebuat jantung gue berdegub liar merayakan cinta gue yang nggak bertepuk sebelah tangan.

Gue terkekeh bahagia, karena cuma itu yang sekarang gue bisa lakuin, nggak mungkin gue peluk Bira di pinggir lapangan sekarang, bisa-bisa gue sama Bira digebukin warga.

***

“Sialan! Bahkan lo udah menangin taruhan buat macarin si Bira sebelum deadline-nya kelar, dasar maho bajingan!” cerca Romeo di samping gue, tadi Romeo nanya perkembangan hubungan gue, ya gue jawab dengan jujur kalau gue udah jadian sama Bira.

“Tapi lo harus tahan pacaran sama si Bira selama empat bulan, inget lo harus nyodomi dia dan lain-lainnya” ucap Romeo tidak bisa menahan geli.

“Gue emang udah yakin si Bira bakalan lo dapetin, tapi niat awalnya gue pengin lo pacaran sama cowok dekil, bukan sama cowok polos yang image dekilnya sekarang hilang!” Romeo berkicau merdu di sisi gue.

“Setelah empat bulan kia bakalan mulai taruhan lagi, dan nanti gue akan jadi pemenangnya.!” tegas Romeo dengki.

“Dan kalian sekarang sudah berhasil, seharusnya ada cola di antara kalian, atau bahkan bir. Permainan kalian itu sangat keren banget ya? Semoga kalian ngerasain jadi korban taruhan yang udah terlanjur jatuh hati” suara Bira terdengar lirih di belakang gue.

“Bira!!!” sontak gue menoleh ke arah belakang. Bira berdiri dua meter di belakang gue, air mukanya sangat datar, tangannya terkepal seperti hatinya yang mungkin mengeras menahan rasa sakit dari ucapan Romeo tadi, walau gue tahu apa yang Bira dengar itu salah paham, gue cinta sama Bira itu sungguhan bukan karena gue lagi ngejalanin taruhan dari Romeo.

Gue bisa ngerasain sakit hatinya Bira di balik air mukanya yang setenang air danau. “Demi tuhan ini salah paham!” tegas gue sambil medekat. Romeo berdiri kikuk di belakang gue, Bira melangkah mundur ke belakang.

“Lo harus dengerin semua penjelasan gue dulu, dan sehabis itu terserah lo mau lakuin apapun ke gue, tapi lo harus dengerin gue dulu” pinta gue panik kepada Bira.

“Lo mau pertahanin gue selama empat bulan kah? Dan lo bisa tinggalin gue dengan kondisi hati gue yang udah mencandu lo gitu? Kalau lo maunya kayak gitu, nggak apa-apa, demi kemenangan taruhan lo bersama Romeo gue ikhlas, hitung-hitung balas budi karena lo udah berbaik hati ngebeliin kacamata, dan setelah empat bulan nanti lo bisa ambil semua yang lo hadiahin ke gue! Bukannya begitu isi perjanjian taruhan kalian?”

Bira benar-benar salah paham! “Demi tuhan Bir!!! Gue cinta sama lo, taruhan ini cuman awalan, dan gue berterimakasih sama taruhan ini karena taruhan ini ngebuat gue jatuh cinta sama orang seluar biasa lo” ucap gue sungguh-sungguh.

“Seharusnya gue sadar diri, cowok cupu, dekil, miskin kayak gue nggak mungkin disukain cowok super cakep yang populer kayak lo, itu mustahil. Seharusnya gue sadar saat pertama kali lo ngedeketin gue, lo pasti punya maksud terselubung, seharusnya gue sadar!!!” kata Bira lirih mengutuk diri.

“Demi tuhan gue beneran cinta sama lo” tegas gue sekali lagi sambil memegang tangannya, tapi Bira narik kasar tangannya dari genggaman gue, Bira ngelepas kacamatanya lalu dimasukan ke dalam saku baju gue. Hati gue terasa tenggelam bersama kacamata yang tertelan saku baju seragam gue.

“Tapi gue nggak biasa nemenin lo sampai batas akhir taruhan kalian Fir, ini hari terakhir gue sekolah, maafin gue kalo gue ngebuat lo kalah dalam taruhan lo kali ini” Bira tersenyum sambil mengerjapkan matanya yang buram karena nggak pakek kacamata, senyumnya kali ini berhasil ngebuat gue ngerasa pilu yang teramat sangat, senyum yang sangat rapuh dari Bira, saat Bira diam dan nggak berekspresi apapun semua hal terasa kelabu, dan saat Bira tersenyum semua hal bahagia di bumi ini gue anggap pilu, gue bisa lihat tangisan hatinya dari senyum yang dia sungging sekarang.

“Terimakasih buat tiga minggu yang berharga ini” kata Bira sambil melangkah pergi, Bira memang nggak langsung lari saat dia mendengar Romeo yang membahas taruhan, Bira memang nggak mencaci maki gue tadi, dan itu semua ngebuat gue mati kata, bahkan rasanya sangat nggak mampu buat ngejar Bira yang hanya melangkah jenjang saat ninggalin gue dari taman belakang sekolah. Nggak sedikit pun Bira menoleh sampai tubuhnya tertelan koridor sekolah.

“Jangan bilang kalau lo emang beneran suka sama Bira?” tanya Romeo takut-takut.

“Jauh lebih besar dari yang lo lihat sekarang!” kata gue masygul sambil duduk di tempat gue semula.

“Maafin gue Fir, ini semua gara-gara gue” kata Romeo takut-takut. Gue cuma bisa tersenyum ke arah Romeo.

“Lo harus kejar Bira, dia bilang ini hari terakhirnya sekolah Fir, lo harus kejar dia,”saran Romeo dengan penuh keyakinan.

Gue hanya menggeleng, kerena gue nggak tahu lagi harus berbuat apa, terkadang seseorang yang nggak ngerasain apa yang gue rasain itu bisa seenaknya bilang gue bodoh karena nggak ngelakuin yang mereka pikir seharusnya gue lakuin, mereka nggak ngerasain sih apa yang gue rasain.

***

“Sabira Ardana? Hmm,,, dia memang bilang nggak lagi sanggup bayar uang SPP dan dia bilang mau berhenti sekolah, kenapa?” jelas petugas TU. “Eh, nggak apa-apa pak, makasih ya.” Jawab gue cepat sambil menggeleng gugup. Cepat-cepat gue lari keluar sekolah berhubung ini sudah jam pulang sekolah, nggak gue perduliin suara stero Romeo yang manggil gue di area parkir. Cabs grak, cuman kata-kata itu yang ada di dalam kepala gue, gue harus menjelaskan semuanya sama Bira, dan keputusan berhenti sekolahnya Bira ini pasti karena ada alasan yang kuat.

Gue turun dari motor gue yang baru aja selesai diservis pasca tabrakan saat dipinjam Paman gue. Entah sekarang ketukan keberapa yang gue lakuin di pintu rumahnya Bira, sepertinya nggak ada satu pun orang di dalam. “Orang rumahnya ke rumah sakit, neneknya dirawat sejak tadi malam” cukup, keterangan dari tetangganya Bira membuat banyak pertanyaan di dalam kepala gue terjawab.

Gue lari-lari kecil saat masuk ruang UGD, menurut gue neneknya Bira pasti masih ada di ruang UDG, realistisnya, orang yang dilarikan ke rumah sakit itu nggak gampang dapat kamar rawat, harus banyak persyaratan ina-inu-itu agar dapat kamar rawat. Gue bukan ngeremehin keluarganya Bira tapi gue yakin Bira dan keluarganya kesulitan memenuhi persyaratan untuk cepat mendapatkan kamar rawat buat neneknya. CMIIW.

Gue lihat Bira dan kakaknya lagi ngobrol bersama sepasang suami-istri di dekat pintu toilet, gue berhenti sejenak menunggu mereka menyelesaikan pembicaraan mereka. “Besok kita lakuin operasinya ya Dek, kami berhutang banyak sama kamu” kata si istri sambil menepuk-nepuk pundak Bira, ada raut khawatir dari wajah polos Bira, entah apa yang mereka perbincangkan.

“Bira,” panggil gue gugup. Bira menatap gue kaget, tapi cepat-cepat ekspresinya diganti dengan ekspresi tenang setenang air kolam renang rumah Romeo. Bira membisikan sesuatu ke telinga kakaknya lalu kakaknya masuk ke dalam ruang rawat UGD.

Bira melangkah melewati bahu gue, cepat-cepat gue menguntit Bira dengan hati yang harap-harap cemas. Bira berhenti di parkiran rumah sakit, tepat di bawah pohon Ketapang, dia duduk dan menatap gue yang masih berdiri kikuk di hadapannya.

“Demi tuhan, gue cinta sama lo tanpa kepura-puraan, tanpa skenario” Bira menunduk seketika. Gue mendekat dan jongkok di depannya, menggapai dagunya lalu menegagkan kepalanya. “Lo boleh nggak percaya, tapi, lihat ke dalam mata gue, lo akan dapatkan semua jawaban dari hati lo yang meragu saat ini” kata gue masygul, dada gue berdebar kencang saat mata kami bertabrakan, bahkan gue nggak bisa mikir apa-apa lagi, yang pengin gue lakuin adalah meluk pacar gue ini erat-erat.

Tangan Bira bergetar, “Gue, gue cuman tarlalu takut tersakiti,” ucap Bira lirih sambil menundukan kepalanya lagi.

“Jangan pernah takut, kebahagiaan boleh nggak berpihak sama lo, rasa terpuruk boleh terus menggelayuti lo, tapi lo harus ingat, kakak, adik, dan nenek lo terus berjuang buat berdiri teguh di atas segala cobaan ini. Lo nggak sendiri, kapanpun lo ngerasa dunia lo monogram, gue akan berusaha membuat dunia lo berwarna, kapanpun lo merasa hampir lumpuh sama semua cobaan yang tuhan kasih, gue akan selalu siap menopang lo. Karena gue cinta sama lo!” aku tegaskan dengan penuh ketulusan tepat di hadapan wajah Bira.

Bira memeluk gue, jantungnya berdetak lirih, namun gue berusaha sebisa gue untuk membuat Bira ngerasa nggak sendirian, membuat dia percaya diri dengan segala kenelangsaan yang dia rasakan sekarang, karena gue nggak akan ngebiarin pacar gue tersakiti oleh apapun.

Ketika pelukan kami terlepas, gue seka air mata di pangkal matanya dengan ujung ibujari gue, lalu air mata yang menggelayut indah di dagu Bira dengan punggung tangan gue, sebisa mungkin gue senyum untuk membuat Bira yakin bahwa gue akan selalu ada buat dia, kapanpun, apapun yang akan terjadi nantinya.

Daun ketapan jatuh menyapu lembut pundak Bira, “Pohon ketapan ini aja kuat, dia hidup sendirian, nggak perduli ribuan orang ngerusaknya, kenapa lo harus takut sama semua yang terjadi sekarang, lo punya gue, lo punya kakak, adik dan nenek lo, lo nggak sendiri, lo harus kuat, harus berani karena lo anak laki-laki satu-satunya yang mereka punya” Bira mengangguk mantap, tatapan matanya menguat menandakan ucapan gue sudah tersugestikan.

“Makasih Za” kata Bira sedikit terisak.

“Za? Gue anggap itu panggilan sayang” kata gue ceria, Bira cuma tersenyum.

***

“Kak Firza, makasih ya udah traktir Bina makan nasi Padang, udah lama Bina nggak makan makanan enak, besok traktir lagi ya” cicit Bina semangat di punggung gue saat kita melangkah kembali ke ruang UGD.

“Bina!” Bira memperingati adiknya.

“Nggak apa-apa Bir, namanya juga anak-anak” Bira hendak protes namun gue mengisyaratkan agar Bira tidak memperpanjang masalah sepele ini, Bira memang tidak terlalu suka jika adiknya bertingkah seperti itu.

“Kakak pulang dulu ya, daritadi hape kakak getar mulu nih, pasti Mamahnya kakak lagi neleponin kakak nih” kata gue sambil menurunkan Bina dari punggung gue di depan pintu masuk UGD dan memberikan satu bungkus nasi Padang yang sengaja gue belikan buat kakaknya Bira juga.

“Salamin ke nenek dan kakak ya, kak Firza buru-buru” kata gue sambil mencium pipi gadis kecil yang selalu ngebuat gue gemas.

“Kak Firza, hati-hati ya” sahut Bina sangat riang, anak itu membuat gue semakin semangat buat ikut memikul beban yang Bira pikul sekarang. “Za, makasih ya, maafin gue juga soal tadi pagi di sekolah” sejak—di bawah pohon ketapang—tadi Bira manggil gue dengan panggilan Za bukan Fir lagi dan gue semakin suka dengan panggilan baru gue itu, cepat-cepat gue tarik Bira sedikit menjauh dari Bina. “Lo beneran nggak akan lanjutin sekolah lo?” tanya gue penasaran. Bira mengangguk memperjelas semua jawabannya. “Sekolah bisa di lanjutin tahun depankan Za, sekarang gue harus fokus sama keluarga gue, lo ngertikan?” gue mengangguk mantap, membelai lembut pundak Bira yang kecil. “Hati-hati” bisik Bira, suaranya menggelitik hati gue, sarat akan cinta, kalau aja ini bukan tempat umum gue akan cium bibirnya yang menggoda itu. Menyebalkan menjadi minoritas!

“Jangan lupa istirahat ya sayang” bisik gue pelan. Lalu melambaikan tangan ke arah Bina dan melangkah pergi.

***

“Bina, apakabar?” tanya gue sambil mencium pipi Sabrina, anak ini tumben banget raut wajahnya murung, biasanya selalu ceria.

“Kenapa?” tanya gue sambil duduk di bangku sebelah Bina, gue memutar pandang mencari keberadaan pacar gue yang belum juga kelihatan batang hidung peseknya.

“Kak Bira sekarang dioprasi” kata Bina lesu.

Spontan gue langsung memegang ke dua pundak Bina dan menggesernya hingga wajah gue dan gadis ini berhadapan, “Emang Bira kenapa?” tanya gue nggak sabaran.

“Firza?” panggil Safira kakak perempuan Bira dengan nada parau.

“Kak, bener Bira dioprasi? Kenapa?” tanya gue cepat, rasa panik berhasil nyusup ke dalam hati gue. Membuat segala hal di sekitar gue jadi kurang penting untuk di jelaskan.

Safira diam, jemarinya digerak-gerakin seolah-olah dapat mengusir rasa gundah yang mungkin dia rasakan sekarang. “Kenapa?” tanya gue dengan nada agak tinggi pertanda gue menuntut jawaban.

“Bira jual ginjalnya—“ hati gue serasa mencelos, jatuh ke lantai rumah sakit dan ditelan lantai kramik. Entah darimana udara dingin berhembus, namun yang gue rasain sekarang adalah tubuh gue yang menggigil kecil dan bulu kuduk gue yang meremang bersamaan.

“Demi kesembuhan nenek, dan beli kaki palsu buat Sabrina, dan—“ gue nggak bisa dengar penjelasan Safira lebih jauh lagi. Bodoh! Bira Bodoh! Bego! Tolol! Dongo! Apa dia nggak pakai otaknya? Ngejual ginjalnya, itu sama aja bunuh diri secara perlahan. Gue nggak habis fikir kenapa Bira sampai begini, buat gue dia sudah berkorban terlalu jauh, melampaui kuasanya, harusnya dia nggak ngelakuin apa yang memang seharusnya nggak dia lakuin, hatinya terlalu baik sehingga ngebuat pemikirannya kurang rasional.

Waktu terus bergulir, neneknya Bira sudah satu jam yang lalu dipindahkan ke ruang rawat VIP dengan dua tempat tidur, karena dalam masa penyembuhan Bira akan berbaring di satu ruangan bersama neneknya, semuanya dibiayai oleh keluarga pembeli ginjal Bira.

Suami-istri yang gue lihat tiga hari lalu lagi ngobrol bersama Bira dan Safira muncul bersama anak gadisnya yang berwajah judes, gue pengin ngamuk melihat keluarga penerima ginjal Bira dengan senyum sumringah datang mengucapkan terimakasih kepada Safira dan keluarganya, mereka nggak sama sekali memikirkan gimana Bira nantinya yang hidup dengan satu ginjal saja, mereka nggak sama sekali perduli, mereka nggak memperlihatkan wajah cemasnya sama sekali, mereka nggak ngerasain apa yang gue rasain sekarang, gimana takutnya kehilangan! Mereka bangsat!

Operasi memang sudah selesai dilakukan dua jam lalu, namun gue dan Safira masih menunggu waktu untuk diperbolehkan menemui Bira paskah operasi. Gue nggak perduli lagi sama penampilan gue yang pastinya terlihat berantakan.

Entah udah berapa jam gue duduk, berdiri, mondar-mandir, dan mengumpat. Hati gue serasa sedang terkena demam, nggak bisa merasakan ketenangan sama sekali. Gue putusin buat pergi ke toilet, membasuh muka mungkin membuat gue jauh lebih tenang.

Saat gue baru aja keluar dari tolilet cowok Bina berlari-lari pincang ke arah gue, tubuhnya sudah disangga dengan tongkat “Kak, kak Bira udah di dalam kamar rawat tuh, dia juga udah sadar, pas Bina ngasih tahu ke kak Bira kalau kak Firza daritadi nungguin kak Bira eh kak Bira nya langsung minta ketemu sama kakak, ayo kak cepet” Bina menarik-narik ujung Flanel gue dengan penuh semangat, cepat-cepat gue mengekor Bina.

Rasa kesal mulai muncul, hati gue bergejolak, amarah mulai membara dalam diri gue, kekhawatiran adalah sumber utamanya, tiap langkah gue menuju kamar rawat Bira serasa membuat amarah dalam diri gue semakin berkobar.

Bina membuka pintu kamar rawat dengan sekali hentak, Bira mengalihkan pandangannya ke arah gue, tatapan sayunya langsung menerpa gue sampai ke ulu hati, bibirnya ditekuk sedikit demi sedikit hingga tercipta sebuah senyum masygul yang menyejukan, membuat amarah gue tiba-tiba menyurut seketika, sesederhana senyum dan tatapan matanya yang dia tujukan ke gue. Kaki gue serasa keram untuk mendekat ke arah Bira, banyak hal yang ingin gue ungkapin ke Bira, tentang rasa kecewa gue, amarah gue karena Bira bertindak terlampau dongo, dan rasa takut kehilangan yang membesar, tapi nggak ada satu patah kata pun yang berhasil bibir gue ucap.

“Kak, aku mau bicara sama Firza sebentar, boleh tinggalin kita?” Bira meminta ke Safira sambil melirik neneknya yang sedang tertidur pulas. Safira mengangguk, menarik Sabrina untuk keluar dari kamar rawat ini.

Gue melangkah sampai tepat berdiri di sebelah ranjang Bira, menatap Bira dengan pandangan datar, gue angkat tangan gue dan gue lipat di tengah dada. Bira membuka mulutnya. “Ternyata! Gue nggak pernah nyangka lo serendah ini! Ngejual organ tubuh cuma demi uang!” kata gue tegas dengan nada pelan.

“APA?” tanya gue sinis ketika Bira menatap gue dengan pandangan yang nggak bisa gue artikan, gue benci ekspresi Bira yang minim.

“Lo bego atau gila sih? Lo tau kan resiko orang yang hidup dengan satu ginjal! Lo bisa mati!” gue menekan kata terakhir, seperti jeritan hati gue yang nggak mau kehilangan Bira, nggak sanggup.

Bira tersenyum masygul. Membuat gue berpikir bahwa cinta gue yang terlanjur dia miliki bisa kapan saja berhenti karena terenggut maut, gue nggak ngedoain Bira cepat mati, tapi rasa khawatir ini membuat gue selalu berpikir kemungkinan terburuk yang akan Bira hadapi kedepannya.

“Tapi menurut gue ini adalah salah satu tindakan gue yang paling benar” kata Bira lemah, cepat-cepat gue angkat satu alis gue tinggi-tinggi.

“Terkadang, seseorang memang tidak habis fikir terhadap tindakan serta sikap yang orang lain ambil dan yang orang lain itu terapkan” Bira tersenyum seperti menjawab gestur tubuh gue yang menandakan bahwa gue nggak habis fikir dengan keputusan yang sudah terlanjur basah dia ambil.

“Ini cara satu-satunya untuk meng-recovery semuanya” tegas Bira, raut wajahnya terlihat yakin dan itu membuat emosi gue tersulut, Bira menuangkan minyak ke dalam kobaran api yang hampir padam.

“Dengan cara ngorbanin diri lo sendiri?” tanya gue sinis.

“Gue cuman berusaha menjadi orang yang berguna, laki-laki yang bisa ngelindungin keluarganya”

“Bukan gini caranya!” cerca gue sambil menatap mata Bira lekat-lekat, rasanya pengin narik badan lemas Bira lalu teriak di depan wajahnya, kalau dia itu dongo!

“Hanya ini caranya” kata Bira santai, bibirnya menekuk sehingga sebuah ketulusan terpancar jelas dari senyumnya yang dia tujuin hanya buat gue.

“Lo fikir! Mulai sekarang semua yang ada di dunia ini akan selalu baik-baik aja? Lo fikir! Kalau kemungkinan terburuk nanti terjadi maka nggak akan berimbas kepada siapapun? Open your eyes! Gue khawatir banget, gue takut tentang segala hal buruk, imbas dari tindakan gila lo ini” protes gue penuh kekecewaan.

Bira meraup tangan gue yang sudah terkulai lemas di sisi tubuh gue, “Semuanya akan baik-baik aja Za, dan terimakasih atas segala kekhawatiran lo, terimakasih karena lo orang pertama yang ngebuat gue ngerasain cinta itu apa, ngerasain gimana jadi seseorang yang sangat dicintai” jemari Bira menelusup ke sela-sela jari gue, mengobati rasa pilu di dada gue, merubah semua rasa khawatir menjadi rasa nyaman.

“Jangan pernah terperangkap dengan cinta yang selalu membawa perasaan khawatir, karena ketika lo terperangkap, lo akan kehilangan makna cinta yang sebenarnya” Bira menarik tangan gue, mencium pelan buku-buku jemari gue, menghantarkan ribuan sengatan listrik yang membuat hati gue kembali terasa baik, dan bahkan jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Akibat amarah, gue ber-elo-gue lagi dengan Bira, tapi nggak apa-apa, ber-elo-gue pun nggak akan mengurangi rasa cinta gue ke Bira, begitu pun sebaliknya.

Gue duduk di kursi yang dekat dengan lutut kanan gue. Menggenggam tangan Bira erat-erat, “Lo harus janji sama gue, lo harus lebih dewasa kedepannya” ucap Bira memohon, gue mengangguk.

“Lo pun harus janji sama gue, untuk nggak ngelakuin hal gila, apapun itu, sehabis ini!” perintah gue. Bira mengangguk. Mata kami saling bertalutan, membuat kepala gue semakin lama semakin mendekat dengan kepala Bira yang terkulai lemas di atas bantal.

“Lo sadar nggak apa pengaruh lo buat gue?” tanya gue lembut. Bira menggeleng bingung.

“Tanpa sadar, lo udah ngajarin gue banyak hal, bahkan segala hal yang nggak pernah gue fikirin sebelumnya, tentang—“

Bira menaruh satu jarinya di bibir gue, ngebuat segala hal yang mau gue kasih tahu ke dia itu terhenti.

“Saat lo ingin berterimakasih sama seseorang, sebaiknya lo jangan memuji orang tersebut terlampau tinggi, nggak semua pujian harus diutarakan lewat ucapan maniskan?” Bira tersenyum, gue mengerti semua hal yang Bira ucapin, Bira memang nggak pernah banyak muji gue melalui lisannya, tapi, matanya, senyumnya, gesturnya, bergerak seolah-oleh berterimakasih atas rasa cinta yang gue berikan kepada Bira.

Saat gue ingin menyalurkan rasa cinta gue yang udah nggak cukup lagi hati gue tampung, Bira menahan, “Ini nggak cuman empat bulankan?” tanya Bira dengan nada menggoda. “Sampai lo dan gue menua bersama” kata gue dibarengi senyum tulus, lalu bibir gue menyapu bibir Bira yang kenyal, membiarkan lidah gue mengecap manisnya cinta dari bibir Bira, merasakan ketulusan cinta gue yang disambut dengan ketulusan milik Bira, membingkai romansa kami yang tidak ada habisnya.

***

Tawa Bira terdengar renyah di telinga gue, untuk ke dua kalinya Bira membuat layangan yang gue bentangkan tersangkut di pohon Duku dan Jati. “Layanganya singit! Masa nyangkut mulu” Bira bersungut-sungut ketika tawanya mereda, gue tersenyum penuh pengertian ke arah Bira, wajah pucat Bira tetap terlihat tampan di umur ke dua puluh empat tahunnya. Nggak kerasa udah tujuh tahun gue hidup bersama Bira, batin gue masygul. Tujuh tahun gue dan Bira lalui dengan jutaan liku kehidupan, berjuang melawan tentangan orang tua gue dan keluarga Bira, tetap saling menggenggam saat hinaan kami terima. Dan saat ini adalah hasil dari cinta gue dan Bira yang kami perjuangi dengan kuat kami masing-masing.

“Udahan yuk, haus nih mau minum jus buatan kamu” kata gue merajuk.

Bira menggulung benang layangannya lalu mengangguk mengiyakan ajakan gue, gue nggak sabar nunggu Bira, karena Bira nggak bisa lagi bergerak dengan gesit dan semau dia, Bira sekarang terlalu ringkih untuk pemuda seumurannya, itu semua akibat tubuhnya nggak kuat bertahan hanya dengan satu ginjal. Gue langsung membungkuk dan meraup tubuh kurus Bira ke belakang punggung gue, Bira tertawa dan refleks gue ikut tertawa sambil menggendong Bira melangkah ke dalam rumah, menikmati senja yang sebentar lagi pecah dan digantikan temaram yang digjaya di kala malam menyapa.

Tangan Bira yang lincah mulai memotong buah-buahan dan memasukannya ke dalam mesin jus, Gue berdiri di belakang tubuh Bira, mendengus halus di telungkuk Bira, membuat tubuh kurus nan renta Bira bergidik geli, tawa yang sangat syarat dengan kebahagiaan selalu mengisi tiap sudut rumah kami di daerah perbukitan Sentul. Setelah lulus kuliah gue kerja di sebuah perusahan retail minimarket terbesar di negeri ini, sebagai Manager Development.

Cahaya oranye mulai bermunculan layaknya festival lampion dari kejauhan, cahaya dari taman bermain Jungle land. Membuat suasana terlihat semakin manis di sela-sela quality time gue bersama Bira, gue sengaja ngebuat rumah gue di dominasi dengan kaca, agar gue dan Bira bisa selalu menikmati panorama dan beberapa fasilitas dari perumahan yang gue tempati sekarang.

Gue peluk tubuh Bira dari belakang, membuat Bira menghentikan kegiatannya membuat jus, kepala Bira menegadah tegak menatap wajah gue yang menunduk ke arahnya yang jauh lebih pendek dari gue, kami saling pandang dengan posisi yang menurut gue amat manis, “Aku cinta kamu” ucap gue sambil mencumbu lembut bibir Bira yang makin terlihat menggoda.

Gue meletakan gelas berisi jus alpukat yang sudah setengah gue tenggak ke atas meja makan, lalu meraih sebuah toples plastik transparan dengan amat semangat, “Kita cari kunang-kunang yuk” ucap gue semangat. Bira mengangguk antusias sambil meletakan gelas berisi jus jambu yang berhasil ia tenggak habis dan menyisakan remah dari jus jambu di ujung bibirnya. Cepat-cepat gue majuin badan gue lalu menjilat remah jambu yang tersisa di sudut bibirnya.

Gue hirup udara sejuk malam hari, lalu menurunkan Bira dari pundak gue, Bira terkekeh pelan karena gue perlakuin layaknya anak kecil, kalau nunggu Bira jalan bisa ngehabisin waktu lama, padahal cuma berjalan ke taman slash lapangan belakang rumah aja, maka dari itu gue sering ngegendong Bira, hitung-hitung membuat momen romantis tiap saatnya.

Dengan sabar gue dan Bira menunggu kunang-kunang muncul, bagai jutaan peri yang datang menghiasi tempat di sekeliling gue, mereka—kunang-kunang—muncul dari balik pohon Cemara, Duku, Jati, Ketapang, dan semak-semak, membuat sebuah pesta kecil yang hanya gue rayakan bersama Bira dan mereka.

Dengan sigap gue ayunkan tangan gue yang menggenggam toples plastik transparan ke udara, beberapa kunang-kunang terjerat dalam toples gue, buru-buru gue tutup, Bira menatap gue dengan senyum bangga, ngebuat gue ngerasa pahlawan yang disambut kekasih selepas kembali dari perang dunia.

“Ini buat kamu” kata gue manis sambil meraup tangan Bira sehingga gue memberikan langsung toples itu ke atas telapak tangan Bira yang juga gue sangga dengan tangan sebelah kiri gue. Bira tersenyum, kesan bahwa ia sekarang sering mengalami hypertensi dan harus rutin mencuci darah setiap seminggu sekali sirna seketika malam ini, di bawah sinar bulan yang temaram dan cahaya dari kunang-kunang yang meremang di sekitar kami membuat wajah Bira terlihat sumringah dan makin tampan saat ini.

Gue tersenyum getir, fakta paling gue takuti kembali ter-replay di dalam otak gue,peringatan dari dokter kembali bergema di dalam kepala gue, cepat atau lambat Bira akan pergi meninggalkan gue selamanya. Gue nggak akan kehilangan momen ketika bangun tidur Bira selalu tersenyum ke arah gue, nyiapin air panas buat gue mandi pagi, sarapan bareng di meja makan, membetulkan letak dasi di kemeja gue yang selalu sengaja gue pasang miring agar tangan bira menari di dekat leher gue, nggak lagi bisa melihat senyumnya saat gue pulang kantor, senyum yang selalu membuat gue nyaman dan lepas dari beban pekerjaan, cinta gue ke Bira semakin lama semakin membesar, tidak sama sekali menyurut sedikit pun. Fakta di mana janji gue terhadap Bira dulu harus dipenuhi sekarang. Lo harus janji sama gue, lo harus lebih dewasa kedepannya. Kata-kata Bira terngiang di kepala gue menambah segala ketakutan yang menguasai batin gue, dengan amat berat hati gue harus siap kehilangan Bira kapanpun itu, bahkan saat gue kembali dari kantor dan Bira telah terbujur kaku nantinya—gue nggak sanggup bayangin hal itu sedikit pun. Bayangan yang paling gue takutin seumur hidup gue. Karena dewasa adalah suatu sikap bijak dengan penuh rasional di dalamnya, bukan drama! Kata-kata tegas Bira terngiang di kepala gue dan itu malah membuat gue semakin sesak.

Menjadi kuat agar orang lain kuat itu adalah hal yang sangat sulit, buat gue. Dawai biola terasa terdengar di dalam hati gue, membawa sebuah nada kelabu pekat yang mampu menenggelamkan gue bersama ketakutan yang selalu berhasil membuat gue pilu, nelangsa atas fakta bahwa gue mau tidak mau harus siap menerima kenyataan bahwa waktu gue bersama Bira hanya sebentar lagi. Gue nggak sanggup menghadapi saat momentum di mana Bira mengucapkan kata selamat tinggal nantinya.

Gue memperhatikan Bira yang sedang terlena suasana, dengan senyum yang sumringah Bira terus mencoba menangkap kunang-kunang yang sampai saat ini belum pernah berhasil dia tangkap satu pun. Mungkin di waktu yang akan datang gue nggak lagi mampu menikmati pergantian senja ke malam bersama-sama lagi.

“Za!!! Lihat!” seru Bira penuh semangat, menarik paksa gue dari belenggu hati yang sangat melankolis akhir-akhir ini.

Tangan Bira yang terkepal itu diacungkan ke hadapan Firza, “Tebak ini apa?” tanya Bira masih penuh semangat.

“Apa?” tanya balik gue dengan nada lembut. Bira membuka tangannya, tiga kunang-kunang menghambur cepat dari telapak tangan Bira yang terbuka, menyisakan senyum bahagia di wajah Bira karena ini kali pertama Bira berhasil menangkap kunang-kunang.

“Ini mungkin kunang-kunang pertama dan terakhir yang berhasil aku tangkap” kata-kata Bira mampu membuat hati gue semakin kelabu.

“Terimakasih atas semuanya Za, kamu lelaki pertama dan terakhir untukku, lelaki yang mengajariku banyak hal tentang hidup dan cinta, maka berjanjilah satu hal lagi untukku, setelah aku pergi nanti tetaplah bahagia, jangan biarkan luka hati menguasaimu terlalu lama” gue menitikan air mata seketika “Luka hatimu akan segera pulih jika kamu membuka hati untuk orang lain yang siap mengobati dan mengisinya kembali, jangan tutup hatimu dengan luka hati, karena jika kamu tutup hatimu dengan luka atas kepergianku maka kamu tidak hanya melukai dirimu sendiri, tapi kamu juga akan melukaiku! Maka berjanjilah sekarang juga, kamu akan baik-baik saja selepas kepergianku nanti, kamu akan melanjutkan hidup dengan pembaharuku! Siapapun itu, ayo janji!” pinta Bira. Senyum terpatri di wajah Bira dan itu bukan senyum Bira gue! Senyum itu terasa asing, teramat pucat dan penuh kesedihan.

Gue peluk erat tubuh ringkih Bira, tubuh gue bergetar nggak ikhlas dengan apa yang harus gue lakukan nantinya, bahkan gue bertekat tidak akan berjanji apapun lagi kepada Bira jika isi janjinya hanya tentang kerelaan.

“Firza” kata Bira lemah, wajahnya semakin pucat, buku-buku jemarinya menyapu pipi gue yang basah karena airmata yang lancang meluap dari kelopak mata gue.

Dunia serasa monogram, hanya dipenuhi rasa ketakutan, malam terasa amat mencekam kali ini udara terasa dingin menerpa kulit gue, seperti korban dementor, tidak lagi ada kebahagiaan sedikit pun itu yang gue rasakan sekarang. Darah mengucur perlahan dari hidung Bira.

“Berjanjilah!” pinta Bira nelangsa, fakta bahwa cinta mampu meng-iya-kan apa saja yang diminta itu sangat nyata, gue mengangguk seketika. Mengingkari kata hati bahwa sebenarnya gue nggak pernah sanggup kehilangan Bira. “Deal!” seru Bira parau seperti membuat persetujuan yang ia buat sepihak.

“Aku sangat mencintaimu, terimakasih karena kamu tidak pernah ragu” untuk pertama kali dan terakhir kalinya Bira mengucapkan kata cinta secara langsung di depan gue, karena gue nggak pernah nuntut sekali pun untuk mendengar ucapan cinta dari mulut Bira, dari tatapannya, gerak tubuhnya, dan senyumnya pun gue teramat yakin Bira benar-benar cinta sama gue dan tujuh tahun ini adalah epic dari segalanya, entah kenapa dia baru bilang cinta sama gue sekarang, mungkin dia menyimpan kata-kata indah ini untuk momen perpisahan kami, yaitu sekarang.

Tubuh Bira rubuh menimpa badan gue, membuat gue terhuyung sedikit ke belakang, tangan gue sigap memegangi tubuh Bira yang jatuh lemas, sesuatu yang basah terasa di perut gue, yang gue yakin itu adalah darah dari hidung Bira yang mimisan.

Tubuh Bira sekarang terlentang di tanah, kepalanya berada di atas tangan gue, persis kayak adegan di novel-novel dan film-film sad ending, “Bahagia ya” kata Bira terakhir kali sambil menutup matanya, gue cium pipinya dengan amat nelangsa, merasakan tubuh hangatnya perlahan mendingin, merasakan tubuh yang gue peluk sekarang tidak lagi terisi nyawa, kunang-kunang mulai pergi, seperti mengantar Bira kepada pemilik nyawa sebenarnya.

“Selamat jalan sayang, tidur dan jangan lagi rasakan perderitaan yang selama ini kamu rasakan, terimakasih” gue kecup keningnya dengan rasa yang amat dalam, saat bibir gue terlepas dari dahinya, rasa tidak rela menyergap membuat tangis gue pecah seketika.

Firza membereskan kamarnya, kenangan masalalunya ia timbang-timbang, mana saja yang harus disingkirkan dan mana saja yang harus tetap dipertahan, hatinya telah hancur berantakan, tersapu badai yang membawa kekasih hatinya pergi saat malam yang penuh kunang-kunang. Selembar kertas berukuran besar yang terlihat lecak dan kumal ia pegang sekarang, kertas itu berkisah banyak kenangan, di kertas itu Bira kerap menuliskan ucapan terimakasih kepada Firza, atas momen ulang tahun, atas momen perayaan anniversary hubungan mereka, atas bermacam-macan romansa yang Firza berikan kepada Bira, namun kertas ini akan selalu mengorek luka Firza, luka dari kehilangan kekasih yang ia amat cintai.

Siang bergulir perlahan, digantikan oleh suasana damai senja di perbukitan, Firza menyeka peluhnya, terkadang menyeka airmatanya yang meleleh kurang ajar dari dalam kelopak matanya, sebuah layang tercipta dari kegiatan Firza, layangan yang kertasnya berasal dari lembar kertas usang yang Firza temukan tadi sewaktu berberes kamar.

Bara dari rokok yang ia hisap membuat lubang di antara tulang-tulang layangan, dengan lihai Firza membuat simpul kama di tulang layangan tersebut, langkahnya mulai gemetar ketika Firza melangkah ke belakang rumahnya, semuanya telah berubah, Ketapan dan pepohonan lainya tidak lagi menceritakan sebuah kebahagiaan yang dulu Firza miliki bersama Bira kekasihnya, yang tersisa hanyalah sebuah siluet Bira yang sedang tertawa renyah menatap Firza, lagi-lagi airmata Firza meniti perlahan.

Angin bertiup pelan mencoba mendamaikan hati yang temaram akibat rasa gersang dari kehilangan. Firza berhasil membentangkan layangannya dengan mudah, ketika layangan itu telah terbang tinggi airmata Firza mengalir dengan derasnya, isakan tertahan tidak lagi terpelakan dari wajah tampan Firza. Firza membelitkan dua jarinya dengan benang gelasan, gesekan keras ia lakukan membuat dua jemarinya terluka dan berdarah lalu benang tersebut putus membuat layangan yang terbentang di angkasa senja tertiup angin pergi meninggalkan Firza sendirian.

Layangan ini bertuliskan semua tentang kita, semua kata terimakasih yang lo tulis buat gue, mengabadikan banyak momen bahagia kita, namun maaf kertas yang telah gue jadikan layangan ini harus pergi, gue harap perginya layangan ini juga ikut membawa luka hati atas kehilangan lo, layangan ini putus di tangan gue, semua hal tentang kita terhenti di sini, layangan terakhir ini akan menjadi puncak masa kita yang telah berakhir. Maafin gue yang memulai hubungan ini dengan cara yang salah. Bira tidurlah yang nyenyak, lo harus janji, tunggu gue di surga kita nantinya. Selamat jalan.

Senja akan menyampaikan ungakapan terakhir Firza kepada Bira melalui layangan terakhirnya.

Baca lebih lanjut

Brothers Become Lover

Love

By : Joseph

 

Aditya POV

Sejenak aku terdiam meresapi udara segar di sekitar bukit ini. Semilir angin membuai anganku untuk mengejar masa depanku di sini. Rumput hijau nan tinggi tersebar merata di hadapanku saat ini, membuat mata coklat beningku tak kunjung bosan menatap mereka. Gulungan awan menambah suasana di sini semakin teduh. Baru kali ini aku merasakan kenyamanan ini, meski telah 18 tahun aku lalui dengan gembira. Ingin sekali aku rebah di tempat ini bersama orang yang aku cintai.

“Adit. Aditya Permana, ayo nak sudah saatnya untuk pergi!” itu suara papaku, Bayu Permana. Dia sudah memanggilku untuk pergi dari sini.

 

Kami sekeluarga baru datang di sini untuk membuka lembaran baru keluarga Permana. “Ahh.. Kau ini kenapa lama sekali? Hoamm….” sapaan tajam Kak Kevin sambil menguap saat aku masuk ke dalam mobil.

 

“Kakak ini, baru 5 menit aja protes,” Cibirku pura-pura kesal.

“Biarin, week..” canda Kak Kevin sambil mengacak-acak rambutku.

 “Eh, kalian berdua ini, sudah-sudah” lerai mamaku, Siska Purnamaningsih. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti bercanda, dan memutuskan menikmati perjalanan ke rumah baru kami.

 

Perjalanan menuju rumah baru kami tak memakan banyak waktu. Hanya sekitar 15 menit kami sudah sampai di halaman rumah kami yang megah namun berarsitektur minimalis. Aku, kak Kevin dan Mama turun dari mobil. Disusul papa, yang tadi sedang memarkirkan mobil terlebih dahulu. Sekilas terlihat rumah kami yang bertingkat dua dengan tembok bercat putih bersih serta pekerangan rumah yang asri penuh dengan bunga mawar. . “Ayo masuk..” ajak papa membangunkanku yang sedang tenggelam dalam kekaguman rumah baru kami . Kemudian kami semua masuk kedalam rumah baru kami. Kami berjalan menyusuri  bagian belakang ruma kami. Di bagian belakang rumah baru kami terdapat kolam renang yang cukup luas. Menambah paparan keharmonisan yang begitu memikat mata.

 

“Papa aku sama Adit renang dulu ya..” ujar Kak Kevin sambil menarik tanganku menuju kolam renang. Hobi kami memanglah sama, mulai dari renang, basket, memasak, serta olahraga.

 

Papa mengangguk, “Hati-hati airnya dingin lho,” ujar papa sambil membalikan badannya. Dia berjalan  menuju kamarnya, mungkin dia ingin tidur. Karena sekarang ini sudah menunjukkan jam 6 sore.

 

Sesampainya di kolam renang, Kak Kevin langsung melucuti semua pakaian yang dia pakai hingga hanya menyisakan celana dalamnya saja. Tubuhnya yang terpahat sempurna, membuatku iri. Bukannya aku tidak bersyukur dengan apa yang aku punya, tapi lihat saja dadanya yang bidang, otot perutnya yang sudah membentuk, otot –otot tubuhnya membuatku ingin sepertinya.

 

Rupanya Kak Kevin mengetahui kalau aku sedang melamun, “Dit, kok belum buka baju?” tegur Kak Kevin “Terus, kok kamu malah bengong sih?” katanya sambil meliuk-liukkan badannya. Seperti biasa, dia akan melakukan pemanasan sebelum berenang.

 

 “Ehhh, kakak ini. Siapa yang bengong coba?” sahutku “ Aku tuh lagi merhatiin badan kakak yang bikin Adit iri tau” lanjtuku sambil melolosi pakaianku hingga hanya tertinggal CD saja yang menempel di tubuhku.

 

“Sudahlah,” ujarnya singkat. “Ayo kita lomba?! siapa yang sampai lebih dahulu ke ujung sana boleh minta apa pun kepada yang kalah! Deal?” tantang kak Kevin.

 

“Oke deal, siapa takut? Aku kan pernah menang lomba renang” jawabku menyombong.

 

Kami bersiap, berdiri dia pinggiran kolam. “Satu….. –hening- … TIGA” hitung kak Kevin curang.

 

 “Ah rupanya Kak Kevin harus belajar menghitung dulu,” gerutuku kesal. Aku langsung melesat cepat ke dalam kolam renang berair dingin ini. Ketika baru sampai setengah lintasan, ternyata Kak Kevin sudah sampai di ujung kolam renang ini. Aku langsung meneruskan berenangku. Namun tiba-tiba kram mulai menjalari seluruh anggota gerakku. Tubuhku terasa kaku, perlahan tubuhku mulai tenggelam. Aku mencoba melambaikan tanganku ke atas air. Namun  itu percuma saja, karena tenyata tanganku juga tidak bisa ku gerakkan. Paru-Paruku mulai terisi air yang masuk melalui rongga hidungku. Sempat kudengar Kak Kevin memanggilku, namun tubuhku mulai tenggelam, hingga aku merasakan kalau kembali masuk ke dalam air. Aku tidak bisa melihatnya, hanya bisa merasakan air terus merenggutku masuk kedalam, hingga semuanya terasa gelap.

 

 Kevin POV

Repot jadi gay , apalagi kalo lagi dilihatin waktu nggak pake baju. Iihh kenapa lagi nih Adit ngelihatin aku mulu, malah bengong lagi?, batinku. “Dit, kok belum buka baju?” tegurku “Terus, kok kamu malah bengong sih?” sambungku sambil melakukan pemanasan. Aku meliuk-liukkan tubuhku ke kiri dan ke kanan.

 

“Ehhh, kakak ini. Siapa yang bengong coba?” sahutku “ Aku tuh lagi merhatiin badan kakak yang bikin Adit iri tau, kapan aku bisa punya badan kayak kakak” lanjtunya sambil melolosi pakaiannya hingga hanya tertinggal CD saja yang menempel di tubuhnya.

“Sudahlah,” ujarku singkat. “Ayo kita lomba?! siapa yang sampai lebih dahulu ke ujung sana boleh minta apa pun kepada yang kalah! Deal?” tantangku.

 

 “Oke deal, siapa takut? Aku kan pernah menang lomba renang” jawabnya menyombong.

 

 

Kemudian kami bersiap dia pinggiran kolam. “Satu….. –hening- … TIGA” hitungan curang meluncur dari bibirku. Kemudian aku langsung meluncur dan berenang sekuat tenagak, secepat yang aku bisa. Ujung kolam pun bisa kurasakan, hingga akhirnya aku bisa menyentuhnya dalam pegangan tanganku. “Aku sampai lebih duluan ke ujung kolam renang. Berarti aku pemenangnya.. YEEYY”  seruku senang, setelah itu aku langsung naik ke atas kolam renang. Kuamati Adit yang sednag berenang menyusulku, adik yang kucinta, masih tiga perempat lintasan lagi. Namun aku merasa ada yang aneh, sepertinya tubuh Adit mulai tenggelam. “Adit.. ADITYA.. Aditya..” arghh, percuma saja aku berteriak. Aku mulai terjun ke air untuk menyelamatkan Adit, orang yang aku cinta.

 

Sesampainya aku di dekat Adit, akulangsung menarik badannya keatas, kemudian membawanya ke tepian kolam terdekat. Kuangkat tubuh Adit yang cukup proporsional ini ke atas kolam renang. Melihat tubuh Adit yang terkulai di depanku, membuat anganku terbang entah kemana. Ingin rasanya aku mencumbunya. Cumbu? Apa yang aku pikirkan barusan? “Nafas buatan” ide itu muncul begitu saja difikiranku. Ide yang mungkin  menguntungkan buatku dan juga buat Adit. Perlahan kuangkat lehernya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, lalu kubuka mulutnya. Kemudian aku tarik dagu Adit ke bawah agar mulutnya terkuak. Selanjutnya, kututup lubang hidungnya dengan jariku dengan cara memencetnya. Dan ini lah saat yang aku tunggu-tunggu. Aku meletakan bibirku tepat di bibir Adit. Bibir kami menempel untuk beberapa saat. Aku merasa kalau  bibir ranumnya ternyata manis, membuatku mencandu. Ingin rasanya aku menikmati kemanisan bibir Adit.  “ini buakan saatnya main-main Kevin!”  runtukku dalam hati ketika aku sadar kalau yang aku inginkan bukanlah hal yang patut kulakukan saat ini.  Setelah kembali ke kesadaranku, aku langsung meniup keras-keras udara ke dalam mulutnya, hingga dada Adit yang lumayan bidang mengembang. Kulepaskan tanganku dan bibirku dari Adit begitu aku selesai menghembuskan nafasku kepadanya. Aku biarkan dia mulai menghembuskan nafasnya sendiri. Namun ternyata belum ada reaksi dari Adit. Tubuhnya masih tetap diam tak bergeming. Dan hal itu membuatku semakin takut.

 

“Aduh, Adit, sadar dong.. sadar..” ujarku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, kemudian aku kembali melakukan nafas buatan hingga berulang-ulang. Setelah melakukannya selama 4 kali. Adit menunjukan reaksi. Adit seperti tersedak, mulutnya mencoba mengeluarkan air yang berasal dari dalam paru-parunya. “Syukurlah Adit, kamu sudah sadar, kamu selamat..” ucapku gembira seraya memeluk tubuh Adit.

Aditya POV

“UHUK.. UHUK..UHUK..” air yang ada di dalamku akhirnya keluar. Paru-paruku menjadi lebih lega sekarang. Aku bisa bernafas dengan teratur kembali. Namun kesadaranku belum pulih total, yang kurasakan hanyalah pelukan hangat yang berasal dari tubuh Kak Kevin. Entah kenapa jantungku mulai berdebar lebih kencang dari biasanya,  jujur aku menyukai pelukan ini. “Kak Kevin?” sapaku kepada Kak Kevin yang memelukku sambil mengucapkan syukur.

 

 “Iya Adit, apa yang kamu rasakan?” tanya Kak Kevin cemas, kemudian dia melepas pelukan kami. Aku merasakan ada yang hilang ketika pelukan kami terlepas. Namun segera terganti ketika tangan Kak Kevin memegangi kedua pipiku. Aku merasakan kalau kedua telapak tangannya menghantarkan aliran listrik yang masuk sampai ke hatiku.

 

“Kak Kevin yang nyelametin Adit?” tanyaku tak percaya.

 

 “Iya kakak yang nyelametin kamu.” jawab Kak Kevin.

 

“Berarti tadi yang memberi nafas buatan itu Kakak?” tanyaku minta penjelasan ke Kak Kevin.

 

“Adikku yang paling bego sedunia. Siapa lagi yang ada di sini?” jawabnya sambil berdiri kemudian dia membantuku berdiri. “Ayo Dit masuk! Abi itu mandi terus pake baju. Entar kamu sakit lagi!” titah kakakku sambil menggandeng tangan kecilku ini.

 

Kupandangi cermin kamar mandi yang cukup besar untuk menampilkan seluruh tubuhku. “Tubuhku ternyata ya bagus-bagus aja kok. Malah proporsional dari pada Kak Kevin..” aku berbicara dengan bayanganku sendiri. Ooh Kak Kevin.. kusentuh bibirku, memori di kolam renang tadi, kembali berputar di kepalaku seperti rekaman saja. Kak Kevin lah yang mencuri ciuman pertamaku, seharusnya aku marah. Tapi kalau aku marah, aku sama seperti orang dungu yang tidak tau berterima kasih. Tapi perlakuan Kak Kevin membuatku terbuai oleh kasih sayang. Apa kali ini aku sedang dilanda cinta?. “Lebih baik aku mandi sekarang.” Ucapku dalam hati

 

Aku lagi-lagi melamun sambil menghadap ke jendela kamar tidurku. Meratapi kisah di kolam renang tadi. Tok.. tok.. tok.  Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Kulangkahkan kakiku ke arah pintu lalu aku membukanya. “Oh Kak Kevin, Adit kira siapa.” Sapaku kepada Kak Kevin.

 

“Adit, kakak boleh tidur di kamarmu malam ini. Kakak tidak terbiasa tidur di kamar yang baru. Mana  sendirian pula, mendingan ditemenin kamu.” pinta kakakku.

 

“Boleh-boleh aja Kak..” jawabku antusias.

 

 

* * *

 

 “ Kak Kevin, ada yang perlu Adit bicarain dengan kakak.” Tuturku sambil mengubah posisi duduk berhadapan dengan Kak Kevin. Melihat tatapannya saja dapat membuatku nyaman dan deg-deg-an.

 

“Apa itu, Dit?” tanya Kak Kevin. “Tapi apa harus aku menanyakan ini ke Kak Kevin ya?” batinku. “Adit mau bicara apa sama kakak?” Kak Kevin kembali bertanya kepadaku.

 

“ Kak, kalo orang sedang dilanda cinta itu ciri-cirinya seperti apa ya, Kak?” tanyaku. Dapat kulihat ekspresi Kak Kevin berubah jadi heran dengan petanyaanku.

 

“Orang lagi kasmaran itu cirinya  satu, kamu akan nyaman berada di dekat orang yang kamu cintai. Dua, kalo orang yang kamu cintai tidak ada di sisimu kamu akan merasa kosong. Misalnya kamu lagi gandengan dengan dia, tiba-tiba dia pergi, kamu pasti akan merasa kehilangan. Tiga, kamu akan selalu berdebar jika di dekatnya,” jawabnya lugas. “Emangnya ada apa sih kok kamu tanya-tanya begituan?” lanjutnya sambil tersenyum memamerkan lesung pipitnya.

 

“Oh begitu ya Kak. Kelihatannya aku sedang tertarik dengan seseorang sih, Kak..” jawabku yang langsung membuat wajah Kak Kevin yang tampan menjadi kusut seketika. “Kak Kevin kenapa sih wajahnya ditekuk begitu?” ejekku, karena aku masih bingung dengan perubahan ekspresi wajahnya.

 

“Hmm.. Aku cemburu dengan orang yang kamu cinta. Kakak sebenarnya tau ini salah, tapi kakak sudah tidak bisa membendungnya lebih lama lagi, segala yang ada dari dalam maupun luar dirimu membuat kakak mencandu. Bibir ranum kamu terasa memabukan kakak. Aku cinta kamu Aditya Permana.” Jelas Kak Kevin panjang kali lebar sama dengan luas. Jawaban yang membuatku terkaget-kaget sekaligus gembira. Perkataan yang tak pernah kusangka sebelumnya. Bibirku terkatup rapat, bergetar pilu, air mataku mengalir. “Adit kenapa menangis? Adit sedih dengan pengakuan Kakak?” tanya Kak Kevin cemas, kemudian matanya memerah diikuti air mata yang mulai menetes.

 

 “Bukan sedih,” jawabku. “Ini bukan air mata kesedihan tapi ini air mata kebahagiaan kak.” Lanjutku sambil tersenyum kepadanya.

 

“Maksudmu, cinta Kak Kevin tidak bertepuk sebelah tangan?” tanya Kak Kevin penuh curiga. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku. “Kalo gitu  sesuai perjanjian lomba tadi, kakak mau minta sesuatu yang harus kamu jalani!” ujarnya, aku menatapnya. Aku ingin segera tahu apa permintaannya. “Maukah Adit jadi pacar Kevin?” lanjutnya.

 

Aku langsung menganggukkan kepalaku antusias, “Mau Kak Kevin.. Mau..” jawabku sambil menghambur ke arahnya, lalu memeluk erat tubuh Kak Kevin. Kak Kevin membalasnya dengan ciuman yang lebih dari yang tadi sore. Sangat mencandu, sangat romantis.

 

“I love You, Aditya Permana” ucapan romantis Kak Kevin meluncur merdu disusul kecupan singkat di bibirku.

 

“I love You, Kevin Dharma Permana,” sahutku sambil memeluk erat Kak Kevin.

 

EPILOG

Kugenggam tangan seorang pencuri ciuman pertamaku, seorang kakak, sekaligus kekasihku sambil memandangi indahnya hamparan rumput hijau nan tinggi. Angin semilir membuai hati ini. Awan-awan membuat daerah di sini semakin teduh, semakin syahdu bersama orang yang aku cintai. Sekarangku merebahkan badan di Bukit ini, bersama orang yang aku cinta, Kak Kevin.

 

“Tempat ini sungguh indah ya, sayang..” kata Kak Kevin. “ Iya, akan semakin indah bila berada di sini bersama orang yang aku cinta.” Lanjutnya, sambil memberiku ciuman dikeningku.

 

-THE END-

Pertama kali baca cerpen ini yang ada dipikiranku langsung berteriak. Oh tidaaakkk… ini incest ternyatah. Tema yang selalu sukses bikin aku merinding.hahaha. Tapi, itukan terserah penulis mau nulis apa. Yang jelas aku suka.hehehe.

 

Oh ya dek, waktu baca cerita kamu aku langsung bayangin kalau tokohnya itu Allan sama Dave. Biar aku enak gitu ngeditorinnya. Jadi kayak nulis cerita sendiri,hahaha. *nengok FP19 yang baru jadi 6 lembar* :-(

 

Aku ada nambahin beberapa kata biar lebih enak dibaca tapi alurnya gak aku rubah sama sekali. Hehehe.

 

Untuk tulisan pertama ini termasuk bagus lho. Coba kamu baca karya pertamaku. Pasti langsung ngeri deh,haha.

 

Buat Readers, ditunggu komennya. Kalau gak komen berarti Floque 19 gak lanjut,hahaha.

Sorry for typo and everything…

 

~Daadddaaahhhh~

New Day (3)

DIS_

Chapter 3

Ҧ Damn Heart

What’s wrong with this damn heart?! Kenapa jantungku berdebar-debar kencang seperti sedang sakaratul maut?! Penyebabnya juga sangat konyol. Jantungku berdebar kencang seperti sekarang ini hanya karena senyuman Ozayn. Iya, aku nggak bohong—aku bahkan berani sumpah, kalau aku bohong aku bakalan diperkosa Justin Timberlake—senyuman Ozayn lah yang membuat jantungku jadi sialan seperti saat ini. Mengerikan bukan? Ew! Bahkan debarannya belum juga berhenti sampai sekarang. Sudah dua jam berlalu padahal.

Ozayn menggeser duduknya mendekat ke arahku, dari sela-sela rambutnya aku bisa mencium wangi kopi—jadi pengen ke Starbucks deh—dan saat aku tidak sengaja mendekat ke leher dan tengkuknya, aroma kulitnya seperti aroma novel baru. Memberikan kesan geek, menenangkan, hangat, membuai, dan sialnya lagi, aku suka aroma novel baru! Double EW! Kenapa Ozayn bisa mempunyai aroma itu?! Dari beratus-ratus juta, bahkan bermiliar-miliar orang yang ada di dunia ini, kenapa harus Ozayn?! Why Lord, why Goddes?!

“Asam Sulfat dan Lye tidak bisa disatukan ke dalam—“ Blah blah blahshit! Ozayn terus meracau sembari menuliskan beberapa rumus Kimia di atas kertas kosong yang ada di depan tanganku. Mathematics telah kukerjakan hingga sepuluh soal, jadi aku pindah ke Chemistry dulu saat ini. Kata Ozayn sih agar otakku bisa di-refresh! Macbook, kali! Tapi, aku mengikuti saja sarannya. Lama-lama kalau aku melihat angka-angka yang makin belibet itu, aku yakin aku pasti akan terkena kanker otak. Triple EW! Atau kena Vertigo, atau Woozy! “Kamu dengerin apa yang aku bilang?” tanya Ozayn, suaranya terdengar gugup. Dia kenapa sih?

Yes, I am, yes, I am!” Aku tidak akan pernah menoleh ke arahnya, aku masih belum berani. Aku tahu, aku memang pengecut. Tetris EW! Tapi, kalau aku melihat ke arahnya dan dia tersenyum bagaimana? Bisa-bisa aku terkena serangan jantung karena terlalu sering berdebar-debar. Wajahnya yang sangat nerdy go to hawt itu sungguh menjengkelkan. Menjengkelkan karena aku suka melihatnya! Karena dia sangat mengingkatkanku—ugh! I don’t want to remem-buh! Cassanova EW! Asquinto EW! Oblisovon EW! Dan EW-EW lainnya!

“Jadi… Asam Sulfat itu punya rumusnya sendiri. Kamu lihat ini,” ucap Ozayn, tangannya yang besar dan berurat—aku tidak tahu kalau anak nerd seperti dia bisa punya tangan yang indah seperti itu, dan tangan itu akan makin indah kalau sedang mengocok kontolku—damn Zavan, stop it you lust! Sisi binal bedebah!—menunjuk sebuah tulisan melingkar seperti ular yang ada di depan pintu Asrama Slytherin. Ya, ampun, itu tulisan apaan sih?

“Kitab Setan dari mana ini?” seruku, wajahku mengernyit ngeri.

“Zavan!” tegur seseorang dari belakang tubuhku. Aku menoleh dan melihat Revie yang baru saja pulang dari Sport Station—dia sih bilang gitu tadi pas mau ninggalin aku berdua sama Ozayn di rumahnya. “Buku Paket Kimia kamu bilang Kitab Setan?” Revie menarik kursi yang ada di seberang meja makan. Aku mengedikkan bahuku ke arahnya. Kayak aku peduli aja, mau itu Buku Paket Kimia kek, Buku Paket Fisika kek, tetap aja menurutku itu Kitab Setan. Tulisan yang ada di dalam Kitab Setan itu memusingkan, sangat memusingkan! “Oz, makasih ya udah mau gantiin aku ngajarin orang satu ini!” Revie tersenyum manis ke arah Ozayn. “Nah, sekarang aku mau kamu ngerjain tugas-tugas ini, tunjukkin ke kita kalo kamu memang dengerin penjelasan yang Ozayn kasih tadi!”

Mampus! Arggh, Revie, you’re not fun! “Oke!” Entah pikiran darimana aku memberikan Revie jawaban itu. Aku menarik kertas yang berisi tulisan melingkar seperti ular tersebut dan mulai memasukkan semua angka ke dalam rumus tersebut. Okay, think fast, Zavan, THINK!

TAPI AKU HARUS NULIS APAAN?! Kusipitkan mataku dalam-dalam, melihat tajam ke arah angka dan bentuk rumus yang nggak jelas itu. Aku lumayan mengerti sebenarnya, otakku nggak bodoh-bodoh amat kok. Tapi, ya itu, susah aja ngerjainnya kalau di bawah tekanan kayak sekarang. Seperti lagi ulangan, hanya diberi waktu beberapa jam saja. Hello! Spada, I speak to the world and universe, Einstein aja butuh bertahun-tahun untuk memecahkan satu buah rumus. Masa aku—sebagai pelajar tersiksa di sekolah—harus mengerjakannya dalam waktu beberapa jam saja. So luna!

Done!” seruku, kusodorkan kertas yang berisi jawabanku ke arah Revie. Mataku—yang kali ini berkhianat seperti Gollum di film The Hobbit—beralih ke arah Ozayn yang sedang menatapku lekat-lekat. Ketika mata kami bertabrakan, aku tersipu, dia tersipu, jantungku berdebar, mungkin kontolnya dia berdiri. Oke, aku hiperbola. Tapi berharapkan nggak dosa! Cepat-cepat dia mengalihkan kontol—matanya dari mataku. Aku juga langsung melakukan hal yang sama. Baiklah, pelajaran pertama Zavan, jangan suka nafsuan lagi sekarang! Berhenti berfantasi soal kontol, sesuka apapun dengan bentuknya.

Revie berdeham pelan, dia menyorongkan kembali kertas jawabanku ke depan tanganku. “Yang ini masih salah. Tapi rumus Lye nya sih udah bener. Kamu cuman salah masukkin angka yang ada di sini,” ujar Revie panjang lebar, jarinya yang lentik seperti kaki Winnie the Pooh menunjuk angka tiga satu perempat yang kutulis dengan gaya Ratu Elizabeth a.k.a rapi. “Tapi aku impress lho, meskipun kamu nggak begitu paham sama soalnya, tapi kamu kayak benar-benar nyoba supaya bisa ngerjainnya. Aku salut sama usaha kamu.”

Aku menepuk dadaku dengan bangga. “Siapa dulu dong… Zavan McKnight!” Aku berseru nyaring, membuat Revie memasang wajah anak-polos-minta-digampar. Maksudku, Revie memasang wajah menghina. Ozayn yang duduk di sebelahku tertawa syahdu, seperti lagu Lenka yang berjudul Like a Song. Membuatku tenang, rileks. Dia mengalihkan tatapannya ke arahku lagi, aku juga melakukan hal yang sama. Tanpa aba-aba, tanpa peringatan, kami saling melempar senyum. Dan rasanya… hatiku begitu pas. Semuanya terasa… indah.

Revie kembali berdeham. Membuatku mengerjapkan mata beberapa kali. Aku tidak sadar kalau sedang saling memandang dengan mata Ozayn yang hitam bersisi cokelat itu—seperti mata Edward Cullen, tapi aku benci Robert Pattinson—cukup lama. Kualihkan pandanganku sepenuhnya ke arah Revie, yang saat ini memasang wajah anak-polos-minta-dihajar. “Kalian nggak usah saling tatap gitu, nanti saling naksir lho.” Revie mengedipkan salah satu matanya. Bisa kurasakan pipiku yang berkulit putih ini berubah merah.

Oh, anjing! Kenapa bisa merah seperti ini? Aku tidak pernah mengeluarkan semburat memalukan seperti ini kecuali—ah, intinya Revie menyebalkan! “Don’t be fully—fucking silly! Emang ada ceritanya orang saling natap bakalan jatuh cinta?” tanyaku, mencoba menggunakan nada sarkas seperti Sid. Tetapi gagal. Gagal total. Aku memang tidak dilahirkan menjadi sarkas, bermulut tajam, sangat jujur, kejam dan mematikan seperti Sid.

“Ada!” sahut Revie cepat. “Romeo dan Juliet. Harry Potter dan Cho Chang. Harry Potter dan Ginny Weasley. Jack dan Rose. Naruto dan Hinata. Sanji dan Nami. Aku dan Bagas.” Revie tersenyum lebar, menampilkan seringaian tampannya. “Bukannya kamu sendiri yang bilang ya Zav ke kita, kalau kontak mata bisa menghadirkan sesuatu ke dalam… hati?” Revie tersenyum culas. Ah, dia belajar dari mana sih jadi jahat begitu? Pasti dari Sid! Atau Bagas?!

“Iya, kalo hatinya saling punya magnet. Biar saling tarik-menarik. Bukannya gue mau hina lo ya Zayn—gue manggil lo Zayn aja ya, daripada Oz—tapi itu memang kenyataan. Gue dan Ozayn nggak akan saling tertarik. Sampai kapanpun. Iya, nggak, Zayn?”

Ozayn mengangguk lamat-lamat. Aku tersenyum ke arahnya. Kini aku bisa lebih tenang. Entah kenapa, saat kami saling melempar senyum tadi, ada perasaan hangat yang merayap ke dalam tubuhku dan membuat sarafku yang semula tegang dan takut menjadi rileks. Ozayn membuatku rileks! Dafuq! Ya, sudahlah. Mungkin kini aku bisa sedikit lebih ramah padanya. Karena dia sudah tidak menjadi Ozayn yang dulu lagi. Ozayn yang, well, membuatku takut. Tidak, tidak! Bukan berarti aku picik, menilai orang dari penampilan—baiklah, aku memang picik… tetapi Ozayn memang membuatku ngeri. Ngeri kenapa? Ada banyak jawaban di kepalaku, tetapi aku sulit menemukan satu yang paling tepat.

“Kita kerjain tugas kamu besok lagi ya Zav,” ucap Revie, memecah keheningan mencekam. Seperti back sound di film Hantu Jeruk Purut yang kutonton dengan mantan pacarku yang namanya telah hilang dari ingatanku. Aku ingatnya dia meringis ketakutan saat kepala si Hantu Jeruk Purut menggelinding ke jalanan seperti bola Volly. “Nggak enak kalo belajar terus. Nanti kamu bisa kena kanker otak dan tumor otak sekaligus.” Revie tersenyum lebar, membuatku tertawa pelan. Dan Ozayn juga. Dia tertawa makin syahdu, seperti lagu Royals, Team dan The Love Club nya Lorde. Oh, aku cinta Lorde, by the way!

Aku baru saja ingin memasukkan semua kertas itu ke dalam postman bagku saat tiba-tiba Ozayn yang melakukan hal itu. Aku langsung bergeming, tersentak melihat hal yang dia lakukan. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Si cupu yang sudah menjadi seksi ini kenapa begitu perhatian denganku? Apakah dia tertarik denganku? Ah, tidak mungkin. Kan tadi dia menggangguk saat aku bertanya dia tidak mungkin tertarik denganku. Lagi pula Ozayn tidak masuk ke dalam gaydarku. Dia gay bukan ya? Mungkin dia seperti Matt, straight yang suka dunia gay. Atau radar gayku saja yang sudah soak?! Aku belum upgrade radar gayku sih!

“Malem ini Tivo ngadain acara makan malem di Diatmika Pent-House, Zav. Kamu sudah baca belum text nya dia?” tanya Revie, dia kembali duduk di depanku sambil memakan satu mangkuk besar es krim double dutch bercampur remah Oreo.

“O, ya?” Aku menarik iPhone ku dari dalam saku celana. Oh, pantas saja tidak kudengar notif iMessage masuk. Aku menggunakan profil silent. Kubuka slide lock iPhone ku dan membuka iMessage yang berisi dua belas pesan. Sebelas di antaranya dari mantan-mantan yang masih belum bisa move on, sedangkan yang satu lagi dari Tivo. Isinya adalah menyuruhku datang ke acara dinnernya malam ini. Kubalas pesan itu singkat. Ok. Done, message send. “Lo dateng nggak Rev?” tanyaku, kualihkan pandanganku ke arah Revie yang sedang asyik dengan es krimnya. Sedangkan Ozayn lagi membaca-baca soal remedialku.

“Da-teng!” ujarnya dengan mulut penuh es krim. “Ini aja sudah mau siap-siap. Makanya aku sama Bagas cuman bentar di Sport Station tadi. Beli sepatu futsal, langsung pulang deh!” Revie menelan es krimnya dengan susah payah. Wajahnya yang agak tirus mengembung kecil. “Tapi, kayaknya aku pakek baju gini aja ya? Kan kata Tivo cuman makan malam biasa. Nggak sampe ngundang orang-orang penting.”

“Terserah lo aja. Gue aja mau pakek baju ini buat ke sana. Lagian, puh-lease deh Rev, ini tuh Tivo yang ngundang. Bukan duta Inggris atau Pak EsBeYe!” Revie mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku menoleh ke arah Ozayn, menatap penampilan cowok nerd itu dengan pandangan menilai. Eh, emang Ozayn bakalan ikut ya? “Lo juga bakalan ikut pergi ke acara dinner nya Tivo—euh—Zayn?” Yah, meskipun aku sudah nyaman di dekatnya, namun aku tetap merasa rikuh dan kikuk jika berbincang dengannya.

“Dia pasti pergi dong!” Ini Revie yang menjawab. “Ozayn juga kan udah jadi bagian dari hidupku sekarang. Jadi ke mana aku ada acara, Oz bakalan ikut juga.” Revie tersenyum kecil.

Aku mengangguk-anggukan kepalaku, Ozayn yang duduk di sebelahku masih saja sibuk membaca soal remedialku dengan kening berkerut. Walaupun aku baru beberapa jam duduk di sebelahnya, namun aku tahu hal-hal kecil yang sering dia lakukan. Setiap sedang membaca sesuatu dia akan terlihat sungguh-sungguh, mendengarkan perkataan orang lain dengan serius, selalu tersenyum simpul, bergerak pelan, hati-hati, serta tingkah yang kaku. Entah apa yang terjadi—sepertinya si Gollum masih ada di dalam tubuhku—aku tersenyum asimetris. Aroma novel baru dari tubuhnya itu sungguh menyejukkan. Membuatku ingin duduk lama-lama di sebelahnya sambil membaca novel-novel yang belum kuselesaikan di rumah.

Kugigit bibir bawahku, melihat betapa menggodanya cara dia menggerakkan bibirnya ketika sedang membaca dalam diam. Aku ingin sekali menarik kepalanya ke arahku, mecium dagunya dan mendaratkan bibirku ke bibirnya—“Pacar kamu sekarang siapa Zav?” tanya Revie, membuyarkan fantasi nafsuku. Lekas, aku menolehkan mataku ke arah Revie. “Kamu lagi nggak ada pacar kan… sekarang?”

“Euh—“ Kukuakkan sedikit mulutku, bisa kurasakan Ozayn mengangkat kepalanya dari kertas soal remedial yang sedang dia baca. Aku berubah gugup, dia menatapku. “Nggak ada.” Aku tersenyum, mencoba menghilangkan rasa gugupku. Revie menopang dagunya dengan tangan, bibirnya juga ikut mengulas sebuah senyuman. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Ozayn mengulum senyumannya. Memangnya lucu ya kalau aku sedang tidak punya pacar? “Kenapa nanya? Tumben.”

“Nggak ada. Cuman pengen nanya aja sih,” ucap Revie dengan nada ceria. “Kamu tau nggak kenapa hubunganmu sama cowok-cowokmu itu selalu gagal?” tanya Revie, aku mendelik ke arahnya. Jangan bilang pada dunia—apalagi pada Ozayn—kalau aku gay! Bagaimana kalau Ozayn dendam padaku dan menyebarkan hal itu ke satu sekolah? Ozayn kan straight. Iya, kan? Dia tidak masuk ke radarku sih. Radar biadab! Pulang dari dinner Tivo aku mau meng-upgrade radarku ah. Ke IOS 8.0.4.

“Emang kenapa?” tanyaku sambil menoleh ke arah Ozayn, yang terlihat santai. Oh, mungkin dia memang seperti Matt. Atau dia gay juga? Ayolah, radar! Bunyi dong! BIP BIP BIP! Ozayn itu gay bukan ya? Badannya kayak And, kekar membahana. Tidak berlebihan juga sih, tapi tetap saja kekar. Lihat saja otot tangannya, dan urat-urat yang menjalar dari pergelangan sikunya ke atas tangannya. Disgustingly kyut! Pengen jilat deh! Oh, shit! Berhenti berfantasi penuh nafsu Zavan, berhenti!

“Karena nggak ada hubungan timbal baliknya,” jawab Revie akhirnya.

“Timbal balik?” Keningku berkerut, bingung. “What do you mean?”

“Iya, timbal balik. Saling memberi, saling menyayangi dan saling mencintai. Kayak: aku suka nontonin Bagas main futsal tiap malam minggu. Dan timbal baliknya adalah… Bagas selalu ngasih apa yang aku mau. Kita saling memahami, mencoba bersabar sama pasangan masing-masing. Nah, setiap kali kamu cerita ke aku soal hubungan kamu Zav… kamu nggak pernah ngelakuin hal itu. Kamu nggak pernah retweet perasaan mereka. Kamu nggak pernah mention nama mereka di hati kamu. Makanya gagal.”

Dahiku mengernyit, bukan karena bingung, tetapi karena ucapan Revie benar. “Well, bukan gue kok yang salah. Mereka aja yang memang nggak asyik. Payah! Lagi pula, lo ngomongin soal timbal balik apa Twitter sih? Pakek retweet dan mention segala.”

Enggop! Kita lagi bicarain soal timbal balik. Retweet dan mention itu cuman perumpamaan aja. Pokoknya, inti yang aku omongin adalah… kamu nggak punya cukup usaha untuk cinta.”

We talking about LOVE again? Same song again?!” tanyaku—plus seruku—tak percaya.

Yes!” sahut Revie cepat. “And we always talking about this again, again, and again. Until you believe and realize if love is exist!” Revie menatapku dalam-dalam. Ozayn yang duduk di sebelahku menatap wajahku dengan pandangan prihatin. Dan… durja. WHAT?! “Maaf Zav kalo aku kedengerannya kayak Shakespeare, tapi aku cuman pengen kamu bahagia.”

“Gue bahagia.”

No, you don’t!” Revie menatap wajahku, kali ini terlihat iba. Aku paling benci diberi tatapan seperti itu! “Kamu selalu senyum, kamu selalu ketawa, kamu selalu bisa buat orang lain bahagia… tapi kamu sendiri enggak. I can feel it. I’m your bestfriend. And I know you!” Aku terdiam, Ozayn terdiam, Revie terdiam, universe terdiam. “Karena yang selama ini aku lihat… kamu kesepian.” Perkataan itu langsung menohok jantungku. Menohok karena Revie benar. Kalau Sid selalu menang di setiap hal, Revie selalu benar di setiap perkiraannya.

Tetapi aku tidak mau terlihat lemah, terlihat makin menyedihkan. Kuberikan Revie sebuah senyuman. Senyuman palsu yang selalu bisa membuat orang terkena delusi. “I will be happy, just don’t worry, ‘kay!” Kukedipkan mataku ke arah Revie. Sahabatku satu itu hanya mengangguk lemah. “Jadi… gimana hubungan lo sama Bagas?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan. Aku paling tidak nyaman jika sedang membahas soal kehidupan pribadiku. “Kalian… baik-baik aja kan? Anak pertama kalian cewek apa cowok?”

Revie dan Ozayn tertawa, aku pun tertawa. “No gender! Anak kami kayaknya tertelan bumi deh.” Revie menyeringai lebar. Dasar! “Tapi aku punya sedikit kekuatiran. Well, mantan Bagas yang namanya Lusia itu selalu ngedeketin Bagas. Dan… kayaknya Bagas seneng-seneng aja. Aku takut kalau Bagas… ke cewek itu. Kan kalian tau, Bagas baru kali ini pacaran sama cowok. Dia bisa aja bosan dan… pergi.”

“Nggak akan terjadi, Rev,” sahut Ozayn cepat. Dia tersenyum—ah, manis sekali—ke arah Revie. “Bagas cinta sama kamu. Kelihatan kok dari cara dia mandang kamu. Orang buta aja bisa ngerasain. Iya nggak, Za-Zavan?” Dia menatapku malu-malu. Ozayn ini memang kikuk ya orangnya? Tetapi kenapa kalau sama Revie dan yang lain tidak? Atau karena dia masih takut padaku, karena selama ini aku selalu mengatainya… jelata. Tapi kan dia memang jelata.

“Ya, ya,” kataku, kukibas-kibaskan tanganku di udara. “Jangan terlalu takutlah! Tadi siapa nama si mantan Bagas ini? Lusia ya?” Revie mengangguk cepat. “Nah, kan pantes tuh. Lusia. Lutung Sialan!” Aku nyengir, Revie dan Ozayn tertawa agak kencang. Aku menatap mata Ozayn yang agak tertutup kalau sedang tertawa. Giginya tidak tersusun rapi, tetapi mirip gigi Close Up. Tring! Wew, aku butuh kaca mata! Silau, gan! “Sekarang yang lo harus kuatirin adalah… apakah lo masih bisa hamil? Coba cek rahim lo ke Rumah Sakit Ibunda, siapa tau lo kena kanker serviks!”

“Apaan sih!” kibas Revie. Aku dan Ozayn tertawa. Mata kami bertemu, dan kali ini aku tidak merasakan kegugupan sama sekali. Tawaku dan tawa Ozayn seperti aliran listrik, menyatu.

Dehaman maskulin membuyarkan tawaku dan Ozayn. Aku berbalik dan melihat Bagas yang sedang berjalan dengan langkah jenjang ke arah Revie. “Ayo, berangkat!” katanya, Bagas menepikan bokongnya yang kencang itu di pinggiran meja makan. No, yummy! Bagas punya Revie. Jijik deh pacaran sama pacarnya sahabat. “Eh, bentar, muka kamu masih belepotan es krim.” Bagas mendongakkan dagu Revie ke dekat bibirnya. Pelan, lidah Bagas menjilat es krim yang masih tersemat di pinggir bibir Revie. Tawa cekikikkan—seperti Mak Lampir—Revie benar-benar mengganggu. EW! Aku mengernyit dengki.

“Geli, ih, geli!” kata Revie masih terus cekikikkan seperti orang gila. Revie mendorong pelan tubuh Bagas, namun cowok itu tetap bergeming. Ya iyalah, badan Bagas bidang dan tinggi seperti itu. Sedangkan badannya Revie kecil dan mungil kayak Shaun the Sheep. “Ya, udah, kita berangkat sekarang aja!” katanya, saat Bagas mulai mencekal dagu Revie dan ingin mendaratkan ciuman di sana. Wajah Revie berubah semerah kepiting. Dia pasti malu ditonton olehku dan Ozayn. “Aku sama Bagas ya berangkatnya. Kamu sama Ozayn, oke? Sekalian kamu nanti anterin dia pulang.”

Kunaikkan alisku tinggi-tinggi. Satu. Mobil. Sama. Ozayn. Oh, NO! “Oke!” Nah, itu bukan mulutku yang ngomong. Itu sarafku yang lagi terganggu. Itu si Gollum jahat yang ada di dalam tubuhku. Revie terlonjak senang, entah senang kenapa. “Ayo!” kataku, kuambil postman bagku dan menatap Ozayn yang sedang menatapku dengan pandangan malu-malu dan takjub. Oke, dia memang masih jelata, aku masih tidak suka bau orang jelata. Tetapi Ozayn sepertinya beda. Aku sudah sadar itu, tetapi selama ini aku mengabaikannya.

Now, wish me luck! Semoga tidak ada hal aneh yang terjadi saat aku semobil dengan Ozayn!

***

Ozayn mengambil CD LMFAO dari atas dashboard mobilku. Dia membalikkan CD itu dan membacanya dengan cermat. Kami masih terjebak macet di daerah Jalan Santa. Lagu Safe and Sound dari Capital Cities memenuhi stereo mobilku. Sedangkan Ozayn saat ini masih sibuk membolak-balikkan CD yang lain. Sekarang yang sedang dia lihat adalah CDnya Selena Gomez. Aku mengernyit, aku tidak tahu kalau Ozayn suka lagu-lagu luar negeri. Kupikir dia seperti anak nerd lainnya. Mendengarkan lagu yang terbuat dari instrumen tawa lumba-lumba. Untuk menenangkan otak.

“Aku suka semua lagu yang ada di albumnya Blink 182 ini,” kata Ozayn dengan suara serak. Dia menatap wajahku malu-malu, agak gugup. Dia mengacungkan CD Blink 182 yang kubeli beberapa tahun yang lalu. “Dari semua lagunya, aku paling suka I Miss You dan Always.” Ozayn menaruh kembali CD Blink 182 ke atas dashboard mobilku.

“Lo suka lagu-lagu barat juga ternyata. Gue kira lo lebih suka lagu-lagu yang nerd gitu.” Aku menginjak gas saat mobil yang ada di hadapanku mulai beregerak. Meskipun hanya beberapa meter. “Siapa penyanyi solo dan band favorit lo?”

Di keremangan cahaya, mataku menatap lekat-lekat wajahnya yang tirus dan tegas. Rahangnya kuat, matanya yang sudah tak terbingkai kacamata terlihat berbinar, hidungnya agak mancung. Pas. Semua yang ada di dirinya terlihat pas. “Kalau band aku suka Coldplay dan One Rupublic.” Dia akhirnya menjawab, membuatku tertegun. Aku tertegun karena aku juga suka Coldplay dan One Republic. “Ehm, kalau penyanyi solo cowok aku suka Phillip Phillips dan Kris Allen. Kalau penyanyi solo cewek aku suka Lorde dan Lady Gaga.”

Aku makin tertegun. Kenapa bisa sama? Semuanya sama. Aku suka Coldplay, aku suka One Republic, aku suka Phillip Phillips, aku suka Kris Allen, aku suka Lorde, aku suka Lady Gaga. “Kok kesukaan kita bisa sama semua ya?” tanyaku heran, namun juga takjub luar biasa. Apakah aku dan dia… jodoh? Damn! Masa sih? Enggak ah! Tetapi kenapa jantungku malah berdebar-debar penuh harap seperti ini? Dasar stupid damn heart!

“Nggak tau,” ucapnya. Kali ini sangat gugup. Aku bisa mendengar suaranya bergetar. Tanda kalau orang tersebut sedang membuat bualan. Tetapi aku sedang tidak ingin berdebat soal kebohongan. Jadi aku diam saja, pura-pura mendengar lagu yang kini telah berganti ke lagu Ho Hey dari The Lumineers. Sosok Ozayn selain cupu, juga misterius. Aku suka itu.

Eh, WHAT?! Baiklah, lebih baik aku sekarang pura-pura bernyanyi, agar pikiranku tidak melantur ke mana-mana. “(Ho!) I’ve been trying to do it right  (Hey!) I’ve been living a lonely life  (Ho!) I’ve been sleeping here instead (Hey!) I’ve been sleeping in my bed, (Ho!) Sleeping in my bed.” Meskipun suaraku nggak sebagus Bruno Mars, tetapi tekhnik bernyanyiku luar biasa lho. Agnes Monica mah kalah. Coba deh kalian dengar suaraku, pasti langsung budeg dan nggak bisa bernafas lagi. Saking indahnya, iya kan? La la la….

(Ho!) So show me family  (Hey!) All the blood that I would bleed  (Ho!) I don’t know where I belong  (Hey!) I don’t know where I went wrong  (Ho!) But I can write a song.” Aku terdiam, melihat Ozayn menyambung laguku. Dia bernyanyi sambil tersenyum simpul. Mata kami kembali saling bertabrakan, dan gelenyar yang makin aneh masuk ke dalam tubuhku. Rasa ngeri itu datang lagi… dan aku kini tahu jawabannya. Rasa ngeri itu adalah… aku takut jika jatuh kepadanya. Seperti yang kurasakan sekarang! Semoga ini hanya nafsu belakaku saja.

“1, 2, 3  I belong with you, you belong with me, you’re my sweetheart, I belong with you, you belong with me, you’re my sweet.” Kami bernyanyi serempak, dengan suara yang pas-pasan. Aku dan Ozayn tertawa, agak kencang, membuat orang yang ada di dalam mobil yang ada di sebelahku menoleh. Aku tersenyum ke arah—ew, wajahnya kayak hantu muka rata—cowok itu. Kunaikkan kaca mobilku—aku tadi membukanya karena lagi merokok, sekarang sudah enggak. Kami kembali melanjutkan lagu kami. “I belong with you, you belong with me, you’re my sweetheart, I belong with you, you belong with me, you’re my sweet.

Kami menutup lagu dengan dramtis. Aku menangkupkan tanganku ke udara seperti Giring Nidji, sedangkan Ozayn mengangkat tangannya seperti Rian D’Masiv. WOW! Kami akan mengalahkan para musisi Indonesia yang gayanya nggak banget itu semua. Lihat saja kami, terlihat profesional dengan suara seperti orang yang sedang memanggil setan untuk datang. Suara kami yang merdu, bagaikan lagu pemanggil arwah penasaran untuk kembali ke Bumi. Eh, kenapa aku malah menghina suaraku sendiri? Enggak ah, suaraku indah kok. Ada unsur Sariosanya. Merdu gila!

“Kalo kita berdua rekaman di Sony Music, kita bakalan diterima nggak ya?” tanyaku, sambil memfokuskan kembali mataku ke jalanan yang mulai lenggang. “Gue punya temen yang bisa buat kompilasi lirik dan lagu yang bener-bener bagus. Kita minta dia buatin kita lagu, terus kita nyanyi bareng. Jadi duo yang akan menggemparkan dunia.” Aku tersenyum lebar, dari sudut mataku aku bisa melihat Ozayn juga memberikan senyuman yang sama sepertiku.

“Nggak ah, aku bukan jenis orang yang mudah pecaya diri. Lagian, suara kita lebih cocok untuk ngiringi upacara kematian.” Aku kembali tertawa. Keras. Aku tidak pernah tertawa keras seperti ini. Di flocksku, hanya aku satu-satunya yang sering membuat lelucon. Tetapi, kali ini aku tahu rasanya mendapatkan lelucon yang benar-benar lucu. Atau karena Ozayn nya yang lucu. Dan sangat manis saat tersenyum?

TAIK KUCING! Aku ngelantur lagi, kan! “Ja-jadi… sejak kapan lo jadi kayak….” Aku menunjuk penampilannya yang berubah. Ozayn menunduk malu, walaupun di wajahnya tidak menampilkan semburat merah—dia kulitnya cokelat sih, jadi nggak begitu kelihatan—tetapi aku tahu dia merona dan gugup. Dia mengangkat tangannya, menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin tidak gatal sama sekali. Ugh, hal cliché yang sering manusia lakukan saat sedang nervous.

“Sejak beberapa bulan yang lalu. Mungkin sekitar… setengah tahun.” Mataku terbelalak lebar. Setengah tahun aku tidak sadar kalau si nerd jadi hawt kayak sekarang! Kemana saja hidupku di DIS selama setengah tahun itu? Ayo, kemana? Aku kelayapan di mana aja, ya?!

“Gue bener-bener nggak nyangka kalo lo bakalan berubah kayak… sekarang.” Aku menatap wajahnya yang masih tertunduk. Empat detik kemudian dia akhirnya menengadahkan kepalanya dan menatapku. DEG! Jantungku kembali berdebar. Kenapa selalu berdebar seperti ini? For sex’s sake! Itu hanya Ozayn. Cowok cupu—dulunya—nan jelata yang sama sekali tidak ingin kulirik dua kali saat aku melintasinya. Atau kadang aku menganggapnya invisible. Tak terlihat. Seperti Harry Potter saat menggunakan jubah gaib.

“Kenapa?” tanyanya, membuatku mengerjapkan mata beberapa kali. “Ada yang aneh ya sama mukaku?” tanyanya sambil memegang wajahnya. Dia kembali menoleh ke arahku, tersenyum sekali lagi, membuat bibirnya berkedut. Menantangku untuk menciumnya. Dan jantung ini juga masih berdebar-debar kencang seperti tabuhan marching band. Kutarik nafasku dalam-dalam. Breath in, breath out. Breath in, breath out. Breath in, breath

Baiklah! Aku tidak boleh berdebar-debar terus seperti ini! Seharusnya yang merasakan penuh debaran itu si Ozayn. Harus! Karena dia duduk di sebelah cowok pemikat sepertiku. Aku bukan mau membanggakan diriku—baiklah, dasar orang brengsek, aku memang sedang membanggakan diriku sendiri. Kenapa? Nggak suka? Masbayu huh, masalah buat you? Oke, aku akan melakukan permainan ini. Aku akan membuat Ozayn tertarik denganku setengah mati. Aku akan membuat jantungnya berdenyut kencang seperti tabuhan lagu David Guetta!

Kumajukan kepalaku ke dekat kepalanya. Ozayn tersentak mundur, refleks. Raut wajahnya terkejut, tidak menyangka kalau aku menaruh wajahku di depan wajahnya. Jarak kami hanya beberapa sentimeter. Kalau aku memajukan sedikit lagi kepalaku, bibirku bisa meraih bibirnya yang penuh godaan itu dan melumatnya lama-lama. “Ke—ke—kenapa?” tanya Ozayn, suaranya amat gugup. Hawa mulutnya sangat mint. Seperti aroma mint rokok Dunhill yang sangat suka kuhisap saat sedang stress. Atau saat aku sedang kesepian. Yeah, rite!

I like your eyes,” ucapku, menggunakan nada dalam. Ingin membuat sarafnya tergoda akan diriku. Tetapi tidak, aku hanya sedang menahannya. Membiarkan Ozayn bermain-main dengan pikirannya terlebih dahulu. “Gue suka kelopak mata lo,” kataku, kutelusuri kelopak matanya dengan tanganku, menyentuh kehangatan yang ada di sana. Bisa kurasakan nafas Ozayn menderu dan tersendat. “Gue suka bulu mata lo,” kataku lagi, masih melakukan hal nakalku kepadanya. “Gue suka mata lo. Berbinar. Such a starry-eyed!”

Bisa kurasakan jantungnya berdentum-dentum di balik kaus Forever 21 nya. Aku tersenyum. Aku memang selalu berhasil melakukan hal ini. Menggoda bukan perihal yang sulit untukku. Dan Ozayn adalah cowok yang menjadi targetku sekarang. Lupakan semua kontol busuk itu semua, kini aku akan memainkan mainan baru. Ozayn. Aku suka dia, dan aku telah menandainya sebagai teman seksku yang selanjutnya. Lupakan kalau dia seorang jelata! Aku semacam tali yang menarikku masuk ke dalam karismatiknya. Aku suka cara dia bergerak, dan aku tahu, saat dia bergerak di atas tubuhku, aku akan makin menyukainya.

“Dan gue juga suka—“ Kusentuh bibirnya dengan ujung telunjukku. Ozayn terlihat ling-lung, dia menunggu. Menungguku melangkah, apakah aku akan mencium bibirnya. Oh, Kiss me, kiss me, please retweet! Kudekatkan kepalaku ke arahnya, sengaja berlama-lama menahan bibirku untuk menciumnya. Saat aku ingin mengecup bibirnya, tiba-tiba mobil yang ada di belakangku membunyikan klakson! DASAR PECUN SETAN! Mengganggu ritualku saja!

Ozayn tersentak, dia memalingkan wajah dan tidak berani menatap mataku. Aku kembali ke posisiku semula. Melirik sebentar ke Pelacur yang ada di dalam mobil yang ada di belakangku. Sigh! Padahal aku akan mendapatkan ciuman dari bibir penuh godaan itu. Dengan perasaan kesal, aku menginjak gas dan mulai menjalankan mobil. Drat, stupid bitch!

Selama perjalanan menuju ke Diatmika Pent-House, tidak ada satupun dari kami yang membuka mulut. Aku masih kesal dan mempunyai keinginan yang besar untuk mencium Ozayn, sedangkan Ozayn masih terlihat ling-lung. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan—ya iyalah, aku bukan Charles Xavier. Hanya dia satu-satunya orang yang sangat sulit untuk kumengerti. Dari tingkah laku dan segala tetek bengek nggak penting di dalam dirinya. Ozayn membuatku bertanya-tanya. Dia sok misterius, dia seperti Gargamel. Yeah, penyihir jahat yang ada di film The Smurfs—but in a good way, of smurfcourse!

Lagu Heart That’s Pounding dari Sally Seltmann mengalun lembayung dari speaker. Lagu itu seakan-akan menjadi pengganti ucapanku. Jantungku masih berdebar kencang, seperti ada yang memompanya terlampau berlebihan. Oh, Mama Gaga, I hate you! I really fucking anjing babi brengsek bajingan hate you so much! Kenapa sih jantung ini tidak bisa berdetak normal saja? Kenapa bibir Ozayn terngiang-ngiang di dalam ingatanku? Betapa lembut bibir itu saat kusentuh dengan ujung telunjukku, betapa hasrat yang ada di dalam diriku seakan-akan tertarik untuk selalu dekat dengannya, dan betapa misteriusnya sosoknya itu.

Aku melirik wajahku di spion yang ada di atas kepalaku. Wajahku terlihat tersiksa. Tersiksa karena aku setengah mati ingin menciumnya. Dan kenapa aku belum sampai-sampai juga sih? Kenapa Mama Gaga seakan-akan menyiksaku untuk berlama-lama berduaan dengan Ozayn? Ugh, I hate you Mama Gaga! Yes, you heard me, rite! I hate you so many-much-a lot! And, homage-puh-leaseeeee help me! Anyone, somebody? Adele? Lenka? Where are you? Aku benar-benar ingin segera beranjak menjauh dari sosok Ozayn. Karena kalau sampai lima menit lagi aku duduk bersebelahan dengannya aku akan menginjak rem dan mencium—

Oh, sudah sampai, ternyata! Thanks, Yahudi! Cepat-cepat aku mencari tempat parkir. Tidak berduaan lagi dengan Ozayn adalah hal yang paling penting saat ini. Aku benci sisi nafsuku yang terlalu berlebihan. Tetapi aku tidak pernah seperti ini! Ah, kenapa aku tidak berlaku jahat saja pada Ozayn? Aku sadar betul, selama ini aku menjauhinya karena ada dua hal yang kutakuti di dalam dirinya. Dan salah satunya adalah ini. Aku tertarik dengannya. Oke, mungkin bukan tertarik secara hati. Tetapi tertarik ke dalam hal yang lain. Seks, contohnya. I hate my sin lust! Tuhan pasti lagi dalam mood yang bagus saat membuat Ozayn. Dia terlihat, well, luar biasa menggoda. Selalu. Dia selalu begitu. Yeah, rite, menggodaku!

“Ini gedung punya keluarga Tivo kan?” tanya Ozayn, matanya menoleh ke luar jendela saat aku sedang menarik tuas rem. Pelan, aku mengangguk. Ozayn tersenyum, rona wajahnya tersamar di balik kulitnya yang cokelat eksotis itu. Fark! You are so lucky one! Punya kulit bagus seperti itu! Tidak seperti kulitku, terlalu putih, jadi terlihat pucat seperti keluarga Cullen lagi kena overdosis. Ada luka sedikit saja pasti langsung terlihat jelas. Sigh!

Come to my fellowship!” ajakku lekas, suaraku terdengar agak gentar. Aku membuka pintu mobil dan berjalan cepat menuju ke dalam gedung berlantai lima puluh yang ada di depanku. Gedung yang berisi kantor, restoran dan apartemen kepunyaan keluarga Tivo. Aku kemarin ingin menyewa apartemen di sini. Tetapi biayanya sangat mahal. Di lantai paling atas saja setahun delapan puluh juta. Sedangkan uang jajan bulananku dari Matt dan Anna hanya sekitar beberapa ratus juta—yang akan habis dalam waktu dua hari. Sigh times two!

“Aku baru sadar kalau bangunan tinggi ini punya keluarganya Tivo,” kata Ozayn, dia berjalan di belakangku. Aku tidak mau menoleh, pokoknya aku harus menjauh dulu darinya. Yah, berikan aku radius sekitar lima meter. Biasanya kalau otakku sedang dalam mode nafsu begini, aku harus menjauhi orang tersebut. Atau aku harus membaca jampi-jampi yang sering diajarkan oleh Psikologku. Oke, jampi-jampinya adalah: jangan mau sama dia Zavan, kontolnya penuh kudis, kurap, panu dan jamur. Dia terkena Sipilis, jauhi dia! JAUHI DIA!!!

Sex in the air, I don’t care, I love the smell of it!

Shit! Ini si Rihanna ngapain sih malah pakek nyanyi S&M di telingaku?! Membuat jampi-jampiku gagal saja. Siapa juga yang nyetel lagu ini—oh, ternyata aku sedang menggunakan earphone dengan volume kecil. Cepat-cepat kumatikan lagu Rihanna yang brengsek itu—well, aku tetap suka kok lagunya—dan mengulang kembali jampi-jampi yang tadi aku terapkan pada diriku sendiri. Aku tidak akan tergoda oleh Ozayn, atau nanti saja tergodanya. Aku tidak punya banyak waktu kalau ingin bermain-main dengannya saat ini. Oh, aku benar-benar suka jika sedang memainkan permainanku sendiri. Aku serasa menjadi superhero nya. Dan aku yakin aku akan menang. Yeah, watch me, Bieber bedebah!

“Zavan!” panggil Sid dua meja dari tempat aku berdiri. Dia melambaikan tangannya ke arahku dengan gerakkan kasual. Aku menarik ujung kemejaku yang kusut, melirik sekilas ke arah Ozayn yang berdiri kikuk di belakangku. Kutelengkan kepalaku, menyuruhnya untuk jalan duluan. Dia terlihat ragu, namun akhirnya dia melangkahkan kakinya juga. Aku berdeham, untuk menghilangkan rasa gugup yang sedaritadi ada di dalam diriku. Aku tidak ingin flocksku bertanya-tanya kenapa aku bisa segugup ini. Karena gugup bukan sifatku, itu sifat Revie kalau sedang berdiri di sebelah Bagas—dulu sih.

Langkahku terhenti saat aku melihat kalau flocksku tidak hanya membawa diri mereka saja. Sid dengan Adam. And dengan Vick. Revie dengan Bagas. Tivo dengan Peter. Dan mereka semua duduk bersebelahan, saling tertawa, melempar lelucon yang tidak aku ketahui. Mata mereka penuh dengan sarat kebahagiaan, senyuman mereka selalu merekah sepanjang detik berdetak. Aku mengkerut, merasa kalau dunia begitu kejam. Yeah, Mama Gaga, I hate you again! Kenapa sahabat-sahabatku kini lebih banyak meluangkan waktunya dengan pacar mereka? Kenapa tidak hanya kami berlima? Seperti dulu lagi.

♫Now playing: Akon – Lonely.

“Sampe kapan lo mau berdiri di sana?” tanya Sid, salah satu alisnya terangkat naik. Angkuh. “Duduk tuh di sebelah Ozayn!” Sid memperintahkanku menggunakan nada alphanya. Dia menunjuk sebuah kursi yang tepat bersebalahan dengan Peter dan Ozayn. Aku memasang senyuman lebar penuh kepalsuan ke arah mereka. Kutarik kursi itu, lalu mendaratkan bokongku di sana. “Gue nggak nyangka kalo lo bakalan semobil sama Ozayn.”

Aku nyengir. “Lo aja nggak nyangka, apalagi gue.” Mereka tergelak. Ozayn yang duduk di sebelahku—rasa nafsuku padanya sudah hilang, digantikan rasa kesepian—juga ikut tergelak. “Ada acara apaan sih, sampe dinner di sini dan serame ini?” tanyaku kepada Tivo, yang sedang membaca sesuatu di iPadnya—kitab kesayangannya itu, bleh! “Jangan bilang ke gue kalo salah satu di antara kalian bakalan nikah bentar lagi?! Tsah!” Mataku memicing tajam, berpura-pura mendramatisir keadaan. Fake Zavan muncul lagi di dalam diriku.

Tivo mengibaskan tangannya di udara, dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum padaku. “Cuman acara dinner biasa kok. Lagian, kapan lagi kita bisa ngumpul rame-rame kayak sekarang? Sama pasangan masing-masing lagi.” Dari sudut mataku, aku bisa melihat tangan kanan Tivo yang sedang menggenggam tangan kiri Peter di bawah meja. EW! Puh-lease, deh! “Dan kapan lagi kita bisa bawa pasangan secara lengkap kayak sekarang.”

“Maksud lo?” tanyaku, mataku kembali memicing.

“Iya. Secara lengkap. Sid dan Adam. And dan Vick. Revie dan Bagas. Gue dan Peter. Lo dan… Ozayn.” Mereka berdelapan tersenyum licik ke arahku. Nah, kan, aku jadi bahan olok-olokkan di sini. Perasaanku memang sudah tidak enak daritadi. Geez!

Suit yourself, guys!” kataku acuh. Mereka tertawa serempak, membuat beberapa pasang mata menoleh ke arah kami. Ugh! Kulirik Ozayn yang duduk di sebelahku, namun dia tetap diam saja. Gosh! His not helping at all. Daripada aku makan hati—rasanya sungguh menjijikan—aku menarik buku menu yang ditaruh di tengah meja. Untuk sementara, semua pikiran orang-orang jahanam yang ada di atas meja ini teralihkan ke buku menu. Untung saja itu bertahan lama, mereka tidak mengolokku lagi. Sampai makanan tiba pun, pikiran mereka tetap teralihkan. Namun, aku sangat benci mereka. Karena… mereka mengacuhkanku. Tidak menganggapku ada, tidak mengajakku dalam pembicaraan.

Aku… kesepian. Kutolehkan kepalaku ke arah Ozayn, dan… dia tersenyum. Jantungku kembali berdebar. Senyuman itu membuatku merasa nyaman. Aroma novel baru yang ada di dalam tubuhnya membuatku tenang. Kubalas senyumannya. Ingin sekali aku menggenggam tangannya. Tetapi, tidak! Aku harus menahan diri. Kutolehkan kembali kepalaku ke arah flocksku. Namun itu adalah tindakan yang bodoh. Aku makin kesepian saat melihat semua adegan itu. Semua adegan mesra terselubung mereka. Perasaan dengki, diacuhkan, dianggap tidak ada, marah, dan kesendirian menyelimutiku.

Adam menyiram Ratatouille Sid dengan saus landanoil. Sid memasukkan beberapa gula, cream dan sweet mocca ke dalam gelas kopi Adam. And membukakan Vick kepiting dengan penjepit. Vick menyendok keluar daging kerang dan menaruhnya di atas piring And. Bagas mengolesi roti bakar Revie dengan selai es krim. Revie memotong pinggiran roti bakar karena dia tahu Bagas tidak suka pinggiran roti. Tivo menuang sampanye ke dalam gelas Peter. Dan Peter menyisihkan sayur-sayuran yang Tivo tidak suka dari dalam makanan Tivo. Sedangkan aku—tertawa miris—tidak ada yang melakukan sesuatu yang manis untukku. Aku benar-benar merasa sendiri sekarang. Aku ingin pergi ke Bulan, orang bumi jahat semua!

Aku baru saja ingin bangkit dan beralasan ingin pergi ke toilet, aku tidak tahan lagi ada di sini. Namun niatku urung saat melihat Ozayn memeras jeruk nipis ke dalam minuman sodaku. Aku mengernyit, soda, jeruk nipis. Itu adalah kombinasi minuman yang kusuka. Bagaimana dia bisa tahu? Aku menoleh cepat ke arahnya, dia menoleh ke arahku, kikuk. “Euh—kamu suka kan kalo minuman soda dicampur sama jeruk nipis?” tanyanya hati-hati. Aku tertegun beberapa detik, ingin sekali aku bertanya, dia tahu dari mana. Tetapi aku mengurungkan niatku. Alih-alih bertanya, aku menarik serbet yang ada di depan tangannya.

Kutaruh serbet itu di atas pahanya. Ozayn bergerak agak gelisah. Kudongakkan kepalaku dan tersenyum tepat di bawah dagunya yang agak lancip. “Biar pas lo makan nanti, celana lo nggak kotor kena percikkan makanan.” Bagai matahari merekah di pagi hari, dia tersenyum. Untuk beberapa detik, aku menahan posisiku. Ingin melihat senyuman itu dari dekat. Dan, demi apapun di dunia ini, senyumannya terlihat sangat indah. Menawan. Memukau. Seseorang berdeham, aku langsung memundurkan kepalaku menjauh. Aku mengalihkan tatapanku ke flocksku lagi. Mereka menatapku dengan alis terangkat, heran. “What?” tanyaku, Revie mode on. Mereka hanya mengedikkan bahu dan kembali sibuk bicara.

“Makasih buat serbetnya,” bisik Ozayn di sebelahku. Aku tersenyum.

Sepuluh menit di dalam kesendirian membuatku risih. Beberapa kali aku mengajak flocksku bicara, namun mereka langsung mengacuhkanku lagi dan lagi. Lenka, please, sing me a happy song! Oke, aku akan kembali mengajak mereka bicara. “Hey, guys!” panggilku. Mereka langsung menoleh serempak. “Kalian lihat cowok manly yang ada di sana nggak?” Mereka mengangguk. “Pasti gay deh.” Mereka menaikkan alis. “Lihat aja gerakkan tangannya. Kelihatan kok.” Mereka melihat, cowok itu bergerak perlahan—ngondek terdeteksi. “See? Yang namanya gay, mau sejantan apapun, tetap aja… cucok.”

Mereka tertawa sebentar, kemudian mengacuhkanku lagi. It hurts! Aku benar-benar dianggap tidak ada di sini. Mereka semua sibuk bicara dengan pasangan mereka masing-masing. Sid dan Adam seperti sedang berdebat akan sesuatu, namun sambil melempar senyum. And dan Vick sedang tertawa-tawa akan sesuatu yang lucu di iPhone mereka masing-masing. Revie sedang melakukan percobaan dengan rambut Bagas, dia buat rambut pacarnya bengkok sana bengkok sini. Sedangkan Tivo dan Peter sedang membicarakan perihal tempat yang akan mereka kunjungi saat tahun baru nanti.

Aku. Sungguh. Tidak. Tahan. Lagi. “Hey, guys!” panggilku untuk kesekian kalinya, sampai aku juga bosan mendengarnya malam ini. “Gue keluar dulu ya. Pengen ngerokok. Di sini kan dilarang buat ngerokok.” Mereka mengangguk serempak, tanpa menoleh ke arahku. Lekas, aku langsung bangkit dan beranjak menjauh dari mereka dengan langkah panjang. Kukeluarkan kotak rokok Marlboro Lights ku dan menyulutnya cepat meskipun aku masih ada di dalam restoran ini. Otakku benar-benar lelah dan aku sangat marah pada dunia!

Aku duduk berselonjor kaki di pinggiran tempat parkir, membiarkan angin malam menghembuskan rambut yang sengaja kusemir pirang. Kujepit rokokku di antara lipatan bibirku, menghisap dalam-dalam asapnya, kemudian menghembuskannya ke udara. Membuat semacam gumpalan putih meliuk di terpaan angin. Ini adalah malam kedua yang paling buruk yang pernah terjadi di hidupku. Aku benar-benar merasa hampa. Seperti tidak ada satu orang pun yang peduli akan keadaanku.

“Zav,” sapa seseorang, aku menengadahkan kepala dan melihat Ozayn di hadapanku. Rambutnya yang bergaya spike itu melayang-layang karena angin. Membuatnya seperti Ether, dewa udara. “Aku cariin ternyata ada di sini.” Suaranya masih agak gugup, tetapi aku tahu dia mencoba nyaman jika sedang bicara denganku. “Aku boleh duduk di sebelah kamu?” tanyanya takut-takut, dia melirik mataku laun, mencari sesuatu di pupilku. Aku tersenyum kecil, menggeser dudukku sedikit agar dia bisa duduk di sebelahku.

“Rokok?” tanyaku, kusodorkan kotak rokokku ke arahnya. Dia terlihat ragu-ragu. Aku tahu dia tidak merokok. Entah bagaimana aku tahu, pokoknya aku hanya tahu. Ozayn menarik satu batang rokok dari dalam kotak Marloboro Lights ku. Kukeluarkan lighterku dari dalam saku kemejaku dan menyulut rokoknya. Ujung rokok itu menyala, berwarna merah api. Ozayn menghisapnya sedikit, dan tak lama kemudian dia terbatuk. Aku terkekeh, sudah kuduga. “Kalo nggak bisa ngerokok, jangan ngerokok!”

Tetapi Ozayn tetap menghisap rokok itu, kali ini batuknya agak berkurang. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya, dia masih sibuk menyeimbangkan cara menghisap dan menghembuskan asap rokok yang dia hirup ke dalam mulutnya. Kuinjak rokokku yang telah habis. Kukeluarkan satu batang lagi, hanya rokok yang bisa membuatku tenang saat ini. Aku baru saja ingin mengeluarkan lighterku ketika aku ingat kalau aku sedang dalam permainanku. Aku menoleh ke arah Ozayn. Dia masih sibuk berkonsentrasi dengan rokoknya. Kumajukan kepalaku ke dekatnya, dia tersentak dan bergeming. Aku kembali tersenyum. Kudekatkan ujung rokokku di rokoknya. Kuhisap dalam-dalam agar rokokku bisa terbakar ujungnya.

“Lagi nenangin pikiran,” jawabku akhirnya, kugunakan nada menggodaku. Mataku bertemu dengan—shit!—aku sungguh-sungguh suka matanya. Mataku berpindah arah ke bibirnya. Bibir itu agak terkuak, basah. Dari bentuk bibir itu aku tahu, aku sangat tahu artinya. “Lo nggak pernah ciuman ya sebelumnya?” tanyaku, melihat dalam-dalam bibir itu. Pantas saja bibir itu merusak batin binalku.

“I—Iya,” gagapnya pangling. Aku sungguh tidak bisa menahan seringaian lebarku.

Bibir perawan. “I like virgin lips,” ucapku. Bibirku sudah tidak tahan lagi untuk segera menciumnya. Aku tidak tahu dia gay apa bukan, tetapi ini yang kutahu; dia akan menyukai—bahkan tidak akan melupakan—cara aku menciumnya. Kutarik rokok yang ada di sela-sela bibirnya, bersamaan dengan rokokku, kumatikan rokok itu dengan ujung sepatuku. “Ikut gue!” tuturku, kuberikan Ozayn sebuah senyuman menawan.

“Kemana?” tanyanya, dahinya berkerut. Aku hanya menyeringai kecil, oh, bara-bara-bere-bere, help me to control myself! Kutarik lengan bajunya dan kubawa dia ke arah mobilku. Ozayn hanya terdiam dan terus mengikutiku sampai aku sampai di depan mobilku. Kulepaskan tanganku yang tersampir di lengan bajunya. Kutekan tombol open dan no alarm di kunci mobilku. Dengan sekali sentak, aku membuka pintu penumpang di bangku depan lebar-lebar. Aku berbalik ke arah Ozayn dengan wajah mempesona.

“Ayo, masuk!” perintahku, agak tegas. Setengah memaksa mungkin. Tetapi, IDC, I want him! NOW! Agak bimbang Ozayn menatapku, namun akhirnya dia menuruti apa yang kuperintahkan kepadanya. Dia masuk ke dalam mobilku dengan luwes. Aku tersenyum, kulirik area parkiran yang lumayan sepi. “Tekenin pedal yang ada di kanan kursinya, mundurin sedikit kursinya, supaya gue bisa muat buat masuk!” Ozayn makin bingung, tetapi dia dengan patuh langsung melakukan apa yang kusuruh. Setelah kursi benar-benar mundur, aku masuk ke dalam. Ozayn menegang kaget saat aku duduk di atas pangkuannya. Kami berhadapan, bisa kurasakan pahanya yang kokoh dan liat di bawah tekanan bokongku.

♫Now playing: Icona Pop – I Love It.

“Gue bakalan ngajarin lo cara ciuman, lo mau kan!” Itu bukan pertanyaan, aku menyatakan pernyataan selugas mungkin. “Peratruran pertama saat berciuman: jangan kaku! Kedua: jangan ditutup terus bibirnya! Ketiga: biarin lidah kita saling menyatu. Keempat: hindari sindrom mesin cuci, arti harafiahnya, saat lidah kita ketemu, jangan saling ngait-mengait! Kelima: nikmati ciumannya!” Ozayn menahan nafasnya saat aku mendekatkan bibirku ke bibirnya. Seperti lagu Angels, mengalun dan mengalir, seperti itulah saat aku mendaratkan bibirku di bibirnya. Manis! Itu kesan pertama yang kudapatkan. Kutaruh kedua tanganku di pipinya, menekan bibirku lama-lama di bibirnya. Ozayn mengerang, sedikit demi sedikit dia mulai membuka mulutnya, mengucapkan selamat datang kepada lidahku saat bertemu dengan lidahnya yang beraroma jeruk nipis dan rokok. Paduan aroma yang menyejukkan. Mama Gaga, I love you so many-much-a lot! Kalau tadi aku ada bilang aku benci kamu Mama Gaga, anggap saja aku lagi khilaf! Kan manusia punya masa khilafnya masing-masing!

Aku tersentak saat Ozayn menjilat lidahku. Dia membalas ciumanku! Tangannya memeluk kencang pinggangku. Bisa kurasakan ada yang mengeras di balik celananya. Aku tersenyum sambil terus menciumnya. Kubuka mataku, menghentikan ciuman. “Gue udah pernah bilang belum kalo gue suka mata lo?” tanyaku serak. Ozayn membuka matanya dan mengangguk. “Kalo gitu, gue mau kita ciuman sambil saling tatap!” Kulumat kembali bibir Ozayn, dan dia langsung menyeruakkan lidahnya ke dalam mulutku. Matanya tertumbuk dengan mataku. Dan aku serasa tenggelam di dalam pupilnya, di dalam dirinya.

Kumasukkan tanganku ke dalam kausnya. Merasakan detak jantungnya yang menderu kencang, merasakan gumpalan daging keras dada bidangnya dan pundak lebarnya yang seakan-akan memberitahuku, kalau aku bisa tidur di pundak itu kapanpun aku mau. Ozayn makin kencang memeluk pinggangku, mata kami yang saling tatap seperti ini memang sungguh-sungguh—oh, sindrom mesin cuci sungguh terjadi! Ini buruk! Karena aku akan kehilangan kontrol jika sudah mengalami hal ini. Lidah kami yang saling menjilat seperti ini—asshole! Whatever! Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya! Ahhh!!!

–Aselole, bitch! Bersambung yak!–

Makasih buat yg masih nunggu, jadi, apakah kalian masih hidup? Wahh, New Day chapter 4 akan muncul kalau kalian mengomentari isi cerita ini. Gue akan mengepostnya jika menemukan komen yg nggak OOT.

Yeah, jadi, apakah kalian rindu sama gue? Kalau nggak, awas lo, gue kutuk jadi batu berbentuk homo. Hihihihi…

Oke… gue mau minta maaf kalau updatenya lama ya, maaf bgt. Taulah, gue kan sibuk. Sibuk apaan? Hanya Tuhan yang tahu, gue aja nggak tau sibuk apaan. Buat kalian, please, jangan mencerca gue ya karena updateannya telat…

532021

12e2e4d0-9670-11e3-a2ee-894a18bd85ab_469448029

BeKLSv6CUAEgqbC

Dadadadadadadahhhhhh!!!!! See you di post selanjutnya. Ciwikeke, muaaccchhhh!!!!

NB. Jangan lupa vote ya :-P

Weather Series Vote