Overcast Day (3)


DIS_

Chapter 3

In The Dark

Fark! Fark! Fark! Don’t let me die now, Gosh! Aku terlalu berharga kalau harus mati sekarang. Masih banyak hal yang belum kulakukan dan yang kuinginkan di dunia ini. Jadi jangan membuatku mati sekarang, bisa-bisa aku jadi hantu penasaran. Mana matinya dengan Vick lagi. Eik, tidak elegan sama sekali. Nanti di koran pasti judulnya begini:

Dua orang siswa Dominiquert International School diketemukan meninggal di dalam lift, yang wajahnya elegan dan tampan (kiri) diketahui bernama And Darhamukmana. Sedangkan yang wajahnya hancur (kanan) diketahui bernama Vick Prapancanegara. Jakarta, 13 Juli.

Baiklah, itu agak lebay. Mungkin tidak akan se-absurd itu. Lagi pula sekarang aku tidak mati. Liftnya hanya berhenti bergerak dan lampunya mati total. Memberikan suasana mencekam. Lebih seram daripada film-film horor Jepang. Kalau di film horor, hantunya masih lama akan datang, sedangkan ini, hantunya sudah berdiri di sampingku sambil memegang lenganku dengan sangat erat. Bahkan lebih erat daripada pegangan Revie saat dia bertemu dengan Bagas. Pegangan hantu satu ini sangat menyakitkan. Hantu itu punya nama, well, namanya hantu merek obat batuk, Vick. Whatever!

“Vick-Dick, get off your hand!” ujarku mencoba menyentakkan tangannya. Namun dia malah makin mempererat. Pundaknya yang lebar itu tiba-tiba menyentuh pundakku, memberikan sensasi hangat yang menggiurkan. Hembusan nafasnya yang tidak teratur menerpa telingaku. Gosh! Aku mengerti tanda hembusan itu. Hembusan takut yang tidak dibuat-buat.

I won’t!” ucapnya dengan suara bergetar.

Great! Terjebak berdua dengan Vick merupakan hal yang sangat-sangat menjengkelkan. Kenapa aku tidak terjebak dengan salah satu double slut saja? Diaz mungkin. Atau Wira. Mereka akan lebih enak jika diajak susah-susah dalam kegelapan seperti ini. Bukan seperti Vick yang super-ketakutan. Eh, bentar. Memangnya dia takut dengan gelap ya? Atau mungkin dia takut nanti ada hantu? Buat apa dia takut hantu, I mean, eghgawd! Diakan salah satu dari bangsa hantu. Rajanya malah. Hantu kok takut hantu.

Aku mengeluarkan iPhone ku dari dalam handbag Adidasku. Tangan kiriku sibuk merogoh isinya, sedangkan tanganku yang kanan sedang dipegang dengan erat oleh Vick-Dick sialan itu. Fark! Mana sih iPhone brengsek itu!? Saat diperlukan begini malah sembunyi.

Tada! Akhirnya dapat juga. Ternyata nyelip di antara dompet dan kunci motorku. Cepat-cepat aku langsung membuka keypadnya, ingin sesegera mungkin mau minta pertolongan. But, wait a minute! Sinyalnya kok hilang-hilang gini ya? Ugh! Operator sialan, atau liftnya yang sialan! Biasanya iPhone akan memberikan sinyal walau di dalam lift, meskipun hanya beberapa batang sinyal saja. Tetapi kenapa sekarang malah hilang-hilang. Kadang satu, lalu SOS. Kemudian satu lagi, SOS lagi. What the penisfuck!

“Panas banget disini,” kata Vick-Dick itu tiba-tiba. Pundaknya yang hangat masih saja menempel di pundakku. Saat dia bicara, helaan nafasnya berhembus dengan sangat perlahan.

Aku mengangkat tinggi-tinggi iPhoneku, mencoba mencari lubang udara yang ada di atas lift ini. Pasti ventilasinya tidak berjalan. Ya iyalah! Kan liftnya mati. Jadi, terpaksa harus dibuka penutup ventilasinya. Kalau tidak, aku dan si merek obat batuk ini akan mati kehabisan nafas. Makin tidak elegan lagi kalau kami harus saling memberikan nafas buatan. “Naik ke punggung gue,” kataku akhirnya saat menemukan ventilasi udara yang ada di atas kepalanya. “Ntar gue bakalan angkat lo, terus lo buka penutup ventilasinya, biar kita dapet udara disini.” Meskipun nanti ventilasinya tidak menyala, setidaknya kami diberikan udara di sekitar luar lift. Itu lebih baik daripada harus saling memberikan nafas buatan, kan!?

Vick tidak bergeming sama sekali. Aku mencoba melepaskan tangannya, namun dia malah makin mempererat. Kenapa sih dia ini!?

“Lepasin tangan gue, ntar habis itu lo manjat di punggung gue.” Tapi dia masih tidak begeming. “Gosh, Vick-Dick! C’mon! Makin panas disini.” Sebenarnya hatiku yang makin panas saat ini gara-gara dia.

“Lo nggak bakalan pergikan kalo gue lepasin tangan lo?” ujarnya lambat-lambat.

Aku mendengus. “Mau pergi kemana memangnya, heh? Kan kita lagi kejebak disini.”

Akhirnya, perlahan tapi pasti Vick melepaskan pegangan tangannya di lenganku. Sebagai gantinya aku berjongkok dan menepuk kakinya. Kunyalakan layar iPhoneku lagi, untuk memberikan Vick-Dick itu penerangan.

“Ayo, naik!” kataku saat melihat Vick tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak dari tempatnya berdiri. “Cepetan dong, makin panas nih!”

Vick menginjak punggungku dengan sepatunya. Saat dia naik di punggungku, aku tidak merasakan berat badannya. Dia sangat… enteng. Tidak juga sih, saat dia melompat-lompat kecil di punggungku barulah aku merasakan berat badannya. Atau yang lebih tepat, berat dosanya. “Nggak nyampe nih, Nyet.” Setelah berkata begitu dia turun dari atas punggungku.

Aku mendesah panjang dan menyalakan kembali layar iPhoneku. “Kalo gitu lo naik ke pundak gue aja.” Aku menegapkan badanku dalam posisi jongkok. Sudah seperti orang-orang kalangan sederhana yang mau buang air besar saja. “Taroh kedua kaki busuk lo itu di pundak gue, terus lo duduk di sekitaran leher gue. Cepetan!”

Hebatnya, Vick-Dick langsung menurut tanpa banyak komentar. Dia langsung menaruh kedua kakinya yang panjang itu di pundakku. Aku mencengkram pahanya saat ingin berdiri dari posisi jongkokku. Sialan! Berat juga kalau dia ada di atas pundakku. Kakiku gemetaran saat ingin ke posisi berdiri. Dengan cepat aku langsung menegapkan kakiku, dan memberdirikan badanku agar seimbang.

BRAK!!!

“Ouch!” seru Vick lirih. Suaranya seperti orang menahan sakit.

“Ada apa? Ada apa?” tanyaku buru-buru.

“Kepala gue kebentur atap lift. Kenapa sih lo nggak bisa pelan-pelan kalo berdiri?” desisnya dengan kekuatan seribu bulan. Apaan sih!

Aku tidak bisa menahan tawaku. Keceplosan, dengan pelan tawa itu keluar. Aku hanya bisa menutup mulutku agar tidak tertawa ngakak. “Ya, maap! Lagian biar otak lo bener dikitlah gue bentur ke atap lift itu. Iya, kan?”

“Arghhh!” seru Vick berang. Oktaf suaranya memenuhi ruang segi empat sempit ini. Tangan kanannya menarik-narik rambutku dengan gemas. Sedangkan tangan kirinya mencubit hidungku lama-lama. “Syukurin lo!” teriaknya. “Biar hidung lo mancung sama rambut lo rontok semua! Botak-botak deh lo Nyet!”

Kumundurkan badanku sedikit, sehingga menubruk dinding lift. Agar membuat punggung Vick menabrak dinding tersebut dengan kuat, supaya dia kesakitan. Dan berhasil, karena tiba-tiba dia memberhentikan aksi sadisnya kepadaku. “Udah ah berantemnya,” seruku frustasi. “Sampe kapan kita kayak gini terus?” Aku melangkahkan kakiku selangkah. Kemudian aku menyalakan kembali layar iPhoneku. Kuangkat ke atas dan melihat wajah Vick yang cemberut. Bibirnya yang agak penuh tertekuk ke bawah, memberikan kesan childish yang lucu. Aku senang melihat sudut bibirnya, seperti aku senang dengan makanan penuh gula. Aku ingin mencicipinya.

Woah! Apa yang aku pikirkan? Gila, gila! Ini pasti efek karena lagi in the dark sama dia.

“Buka penutup ventilasnya, biar udara yang ada di luar lift ini masuk.” Aku memberitahu dengan nada gugup yang tiba-tiba menyergapku.

Vick mencendongkan badannya di gendongan pundakku. Saat dia mengangkat tangannya, badannya yang datar dan hangat itu tertarik, menyebabkan sesuatu yang ada di selangkangannya menyentuh leherku. Rasanya hangat dan… kenyal. Euh, itu pasti… damn! This is not good, this is not great!

“Udah belum? Cepetan gih? Gerah nih?” Iya, sumpah. Badanku gerah ingin menyentuhnya. Jadi mendingan lebih baik dia segera menghilang dari gendongan pundakku sebelum—

“Sabar napa!” seru Vick jengkel. “Lo kira mudah.”

“Sama, emang lo kira juga ini mudah apa? Nahan…” Aku tidak berani melanjutkan kalimatku. Bisa-bisanya dalam kondisi buruk begini aku ingin menyentuh badan Vick. Sekali lagi… badan Vick. Si setan merek obat batuk itu! Musuh besarku! Gosh, this is so beyotch times! Tuhan, kenapa Kau siksa aku begini?

“Nahan apa?” tanya Vick kemudian.

Aku menelan ludahku dengan susah payah. “Nahan berat badan lo yang kayak gajah!” Bah, berbohong itu ternyata sulit juga kalau dalam keadaan seperti ini.

Vick menghembuskan nafasnya, mencela. “Kayak udah pernah gendong gajah aja!”

“Udah kok,” tuturku sengit. “Nihkan gue lagi gendong gajah!”

Telapak tangan Vick yang dingin menepuk keningku dengan cukup kasar. membuatku mengernyitkan wajah karena rasa sakitnya. Aku mengangkat tanganku yang bebas lalu menarik bulu kakinya. Dia menjerit tertahan. Aku hanya tertawa dan menepis setiap tangannya yang mulai mau menggerayangi wajahku lagi. Kekuatan kejamnya masih belum habis juga ternyata. “Ugh! Fuck this shit, And!” serunya marah. “Kapan gue bakalan bisa buka nih ventilasi kalo lo selalu ngajak ribut!?”

Memang siapa sih yang ngajak ribut duluan? Baiklah, memang aku. “Oke-oke. Sorry, then.”

Vick kembali mencoba membuka ventilasi itu. Suara krasak-krusuk dan besi saling berbenturan terdengar dengan jelas. “HAAAA!!!” seru Vick kencang. Tangannya yang tadi sibuk mengotak-ngatik kini malah meninju ventilasi itu hingga terbuka. Hebat-hebat, benar-benar anak Taekwondo. “Nahkan, akhirnya kebuka juga ventilasi brengsek ini!”

Udara dari luar lift tiba-tiba berhembus, membuat tengkukku segar. Ah, adem ding. Daripada tadi, gerah dan pengen nyentuh Vick. Emang sekarang sudah nggak lagi? Ick, I hate to tell this, but fucking blob-blob yeah. Aku masih ingin menyentuhnya. Maksudku bukan menyentuh yang aneh-aneh. Hanya ingin menyentuh wajahnya dan menatap bola matanya yang penuh dengan kebencian kesumat untukku.

“Sekarang turunin gue.” Aku terkejut dan agak terkewer-kewer mendengar nada perintahnya yang halus. Biasanya dia akan membentakku, tetapi sekarang, tumben dia menggunakan nada baiknya. Baiklah, aku juga jarang memberikan nada baikku padanya, tetapi itukan karena dia yang kasar duluan padaku. Ugh, sudahlah! Tidak akan ada habisnya jika kita membicarakan tentang perkelahianku dengan Vick-Dick ini, si setan merek obat batuk.

Saat aku sudah menurunkan Vick dari pundakku, aku merasa kehilangan. Namun tidak jadi kehilangan saat Vick tiba-tiba memegang lenganku lagi dengan sangat erat. “Lo kenapa sih pegang-pegang gue?” tanyaku sok risih, padahal di dalam hati sedang menari-nari kayak orang jablay.

“Gue…” ucap Vick terbata. Aku menunggu dia melanjutkan kalimatnya, tetapi dia tetap diam saja seperti patung Liberty.

“Lo kenapa?” tanyaku akhirnya. Beneran deh, tingkahnya Vick ini aneh sekali daritadi. Nggak kayak biasanya. Kalau dia melihat wajahku pasti dia akan mencak-mencak dan mengejekku, tetapi sekarang tidak. Well, aku tahu sih alasannya, mungkin karena kita hanya berdua disini. Nanti kalau kita berkelahi dan saling bunuh kan bingung.

Vick mendesah panjang. “Lo jangan ketawa tapinya,” ujarnya lesu. “Walopun lo udah tau hal ini lo jangan ngejek gue. Deal?”

“Iya, iya,” aku menyetujui meskipun enggan. Hei, sadar dong, he is my big enemy ever after lho. Kalau ada kelemahannya yang bisa kujadikan bahan ejekkan itu pasti akan seru. Tapi yah mau bagaimana lagi? Toh, aku tidak suka mengejek orang karena kelemahannya.

“Gue…” Vick-Dick sepertinya orang yang pintar menggantung deh. Sekarang saja dia kembali menggantung ucapannya. “Gue takut sama gelap.” Akhirnya kalimat itu terdengar juga. “Nggak phobia sih, cuman takut. Soalnya dulu gue pernah ditakut-takutin sama Nenek gue pas mati lampu. Ih, pas Nenek gue nakutin gue waktu itu rupanya dia udah kayak Mak Lampir beneran. Serem.”

Aku bisa merasakan Vick bergidik disebelahku. “Lo takut sama gelep gara-gara pernah ditakut-takutin sama nenek lo. Intresting.”

It’s not!” seru Vick cepat. “Bagian mananya yang menurut lo itu menarik, heh?” Suaranya yang kayak beast kembali muncul.

“Bagian pas nenek lo mirip kayak Mak Lampir.” Aku mengedikkan bahuku saat Vick menepuk lenganku dengan punggung tangannya. “Lo kasar sekali lagi sama gue, gue bakalan lepasin tangan lo dari lengan gue.”

“Iya, iya, maaf.” Vick mengerut ketakutan di sampingku. “Lo duluan sih, suka banget ngejek gue. Suka banget nyari masalah. Muka lo itu…” Nahkan, apa kubilang! Dia itu suka banget yang namanya menggantung ucapan. Dia kembali lagi menggantung ucapannya dan tidak ada tanda-tanda kalau dia akan meneruskannya.

“Muka gue kenapa?” tanyaku sengit.

“Muka lo itu nyebelin dan selalu sewot kalo ngeliat gue.” Vick berkata dengan nada datar.

“Lho, lho, kok lo malah ngejek lagi ya?” tanyaku sok tersinggung.

“Iya, iya, maaf.” Bibirku tersenyum lebar saat mendengar maafnya yang kedua. Kupikir Vick bukanlah tipe yang mudah minta maaf, ternyata aku salah. “Lo sendiri sih yang nanya. Ya udah gue jawab jujur aja.”

“Ya nggak sejujur itu juga kali.”

Vick hanya mendengus kasar. Sesaat kemudian dia langsung menempelkan badannya ke badanku. Hangat, itulah yang kurasakan darinya. “Nggak apa-apakan kalo gue peluk?” tanya Vick dengan suara gugup. “Soalnya kalo cuman pegang lengan ntar lo malah kabur lagi. Terus kalo gue in the dark sendiri disini bisa-bisa gue mati ketakutan.”

Aku menjawab dengan nada gelisah. “Bilang aja lo mau meluk-meluk gue.”

Vick langsung memundurkan badannya. “Ih, pede amat sih. Nggak jadi deh. Pegang lengan aja kalo gitu.” Kemudian tangannya yang agak kasar itu memegang lenganku lagi. “Tapi lo jangan kabur ya. Awas lho!”

“Gue nggak bakalan lepasin asalkan lo bilang gini,” kataku mencoba menggodanya. Mumpung ada kesempatan untuk mengganggunya, kenapa tidakkan? Siapa tahu aku tidak punya kesempatan kedua. Jadi mendingan sekarang aja deh ngerjainnya. “Lo harus bilang gini: And cakep, gue pinjem lengan lo buat gue pegang ya.” Aku menutup ucapanku sembari menyalakan layar iPhoneku.

Wajah Vick yang biasanya tegas berubah cemberut. “Narsis amat sih,” sungutnya. “Yang lain aja. Nggak usah yang itu. Mana pakek cakep-cakep segala lagi. Big NO-NO!”

“Ya udah kalo nggak mau,” ujarku sambil mencoba untuk melepaskan tangannya yang ada di lenganku dengan sekuat tenaga. Ketika tangannya ingin terlepas dari lenganku, tiba-tiba nafas Vick berubah tak beraturan, dia benar-benar ketakutan. Shit! Padahal aku hanya bercanda saja. Dan kenapa juga aku jadi peduli dengan merek obat batuk ini?

“Iya deh, iya,” suaranya bergetar karena takut. “And—“ dia mengehumbuskan nafas dengan tidak rela, “cakep, gue pinjem lengan lo buat gue pegang ya.”

Ucapan itu terdengar lugu dan lucu, aku hampir saja ingin tertawa ngakak di depan wajahnya. Ah, seru sekali bisa mengerjainya seperti ini. “Ulang-ulang,” kataku sembari membuka aplikasi voice recorder di iPhoneku. “Gue belum rekam yang tadi.”

Vick memasang raut horor di wajahnya. “Harus gitu ya direkam segala?” tanyanya dengan nada tidak suka. Matanya yang hitam dan bagaikan kucing itu tertimpa cahaya lampu dari iPhoneku, membuat semburat jengkel terlihat jelas disana. But, egh, this is so fun, babe! Bisa mengerjai Vick, bisa mematahkan semua omongan kasarnya padaku, bisa melihat raut wajah ketakutannya dan tidak melihat tatapan kebencian kesumat itu lagi di matanya. Aku benar-benar menikmati hal ini. Poor you Vick, bubble.

“Iya, harus dong,” kataku dengan nada sok penting. “Biar jadi kenang-kenangan. Orang yang gue paling nggak suka di sekolah ini sedang mencoba flirting ke gue.”

“Dengan terpaksa,” sahut Vick cepat. “Note that, bitch!”

“Hoaaa!” seruku sambil pura-pura meringis. “Bad move, sucka!”

“Iya, iya, maaf.” Itu adalah permintaan maafnya yang ketiga. Yang ke-empat dia akan kuberikan piring cantik. “Cepetan rekam, biar gue terlepas dari siksaan lo ini.” Aku cepat-cepat menyalakan voice recorderku.

“Mulai!” ujarku.

“And cakep, gue pinjem lengan lo buat gue pegang ya.” Stop and saved. Done.

Good boy.” Kuacak-acak rambut Vick dengan gemas. Dia dengan kesal menepis tanganku. “Ntar kalo lo mulai nyeletuk-nyeletuk kayak burung twitter dan ngejek gue, gue bakalan langsung nyalain rekaman ini. Biar lo nggak bisa ejek-ejek gue lagi.” Aku tertawa dengan gaya Lucifer. Sayangnya aku tidak membawa garpu besar dan tidak mempunyai buntut rucing seperti iblis mengerikan itu.

Vick lagi-lagi mendengus kasar ke arahku. “Dasar Nazi!” ucapnya berdesis, mirip sekali seperti ular derik yang dipelihara oleh Tivo. Jumat kemarin, beberapa minggu yang lalu Tivo mengajakku dan Revie untuk menemaninya ke dokter hewan. Pricillia kesayangannya sedang sakit, Kupikir Pricliia itu sejenis kucing atau anjing, eh nggak tahunya malah ular derik dari gurun Amerika Serikat. Benar-benar peliharaan yang menakutkan, dengan nama yang menakutkan juga. Pricillia. Seperti nama cewek terlarang di Irlandia, karena cewek itu pengumbar nafsu seperti Zavan.

Aku hanya tergelak pelan, kumundurkan badanku lalu mengajaknya untuk bersandar sambil duduk di lantai berbahan besi lift ini. Yah, kami harus menunggu Dewi Fortuna ataupun Dewi-Dewi sejenisnya untuk membantuku dan Vick-Dick keluar dari sinikan. ASAP!

Kami duduk dalam diam. Tangan Vick masih memegang lenganku dengan sangat erat. Sedangkan aku sedang mencoba untuk mencari sinyal. Ayolah sinyal! Aku perlu kamu sekarang, buat nelpon salah satu dari Flocksku. Kok bisa-bisanya aku tadi lama-lama di ruangan klub Karate ya? Kenapa aku tidak langsung pulang saja setelah selesai latihan? Oh, iya, gara-gara aku sedang jengkel. Ini salah Sid dan Zavan yang sudah mengerjaiku. Membuat amarahku naik ke ubun-ubun.

“Lo punya HP nggak?” tanyaku kemudian pada Vick.

Vick mengalihkan kepalanya ke arahku. Rambutnya yang hitam berpantulan dengan cahaya dari layar iPhoneku. “HP?” ujarnya ling-lung. “Harry Potter?”

Aku memutar bola mataku. Sekarang sepertinya dia sedang kena syndrome ketakutan akut deh. Sampai-sampai otaknya sudah tidak bisa diajak berpikir lagi. “Bukan Harry Potter, dodol,” aku menjentikkan tanganku di depan wajahnya. “Tapi handphone.”

Vick tiba-tiba terkekeh pelan. “Gue tau kok,” katanya. “Tadi cuman bercanda aja. Lo nggak seru mah, nggak bisa diajak bercanda.”

“Gimana bisa, candaan lo garing gitu.” Tiba-tiba tangan Vick menarik hidungku keras-keras. Membuatku mengerang kesakitan. Tetapi dia cepat-cepat menyudahi siksaannya padaku. Takut nanti aku mengancamnya lagi.

Dia kemudian merogoh saku bajunya. Tak berapa lama kemudian dia mengeluarkan iPhonenya yang berwarna putih. Dia membuka keypadnya lalu wajahnya yang acak-acakan tercetak jelas di pandanganku. “No signal.” Dia berkata dengan tenang, setenang danau Toba. Great, berarti dia biasa saja bisa terkurung disini sampai besok pagi. Atau besoknya lagi.

“Kayaknya kita bakalan lama terkurung disini deh,” ujarku letih. Kusandarkan badanku ke dinding besi lift ini. “Yah, Tuhan memberkati kita ajalah.”

“Iya nih, kayaknya kita bakalan lama Nyet.” Vick masih saja sempat-sempatnya memanggilku seperti itu. Tapi tidak apa-apa, kalau dari mulutnya, entah mengapa aku suka mendengarnya. Anggap saja dia sedang bilang buah kastaNYET. Bukan monyet.

Saat aku ingin membuka suaraku, tiba-tiba suara perut Vick terdengar. Panjang dan lirih. Seperti suara Kamasean kalau lagi nyanyi A Thousand Year-nya Christina Perri. Suara Vick terdengar malu-malu saat berbicara. “Gue laper, daritadi pagi belum ada makan.” Wah, wah, wah, kayaknya makin cepat si merek obat batuk ini akan mati. Perutnya keroncongan, berarti beberapa jam lagi dia akan mati karena kelaparan. Kemudian dia akan benar-benar menjadi hantu merek obat batuk. We present you: VICK.

Aku meraih handbag Adidasku, lalu aku merogoh-rogoh isinya. HAP! Kukeluarkan beberapa bungkus roti yang tadi kubeli di DisCaf saat istirahat sebentar. Ternyata lumayan banyak juga aku beli. Ada beberapa bungkus, mungkin sekitar—euh—enam lah ya. Aku bukan orang yang rakus seperti Revie, tetapi setelah latihan Karate aku biasanya keroncongan. “Nih,” kataku sembari memberikan Vick sebungkus roti berbentuk segitiga. Yang menandakan itu roti isi selai Srikaya yang sangat disukai Sid. Sedangkan aku lebih suka yang selai BlackBerry, bukan-bukan, maksudku beneran SELAI lho ya, bukan gadget BlackBerry.

“Oh, thanks Mother Teresa,” ucap Vick sembari merebut roti itu dari tanganku dengan gaya brutal. Sebelum membuka bungkus itu, Vick mengaitkan kakinya di kakiku. Bisa kurasakan jalaran hangat di pahanya meresap ke dalam pahaku. Dia kemudian melepaskan tangannya dari lenganku, dengan sentakan cepat dia membuka bungkus roti tersebut. Saat mulutnya meresapi selai itu, dia mendesah seperti orang lagi horny mind. “Ah, I’m in heaven now.”

By the way,” ujarku sembari membuka bungkus rotiku. “Gue bukan Mother Teresa ya. Gue And Darhamukmana.”

Vick terkikik seperti orang gila di sampingku. Aku belum pernah mendengar kikikannya, dan saat mendengarnya, bulu kudukku malah meremang. Bukan meremang karena takut seperti saat aku menonton film The Grudge, tetapi lebih ke… appetite things. “Iya deh, thanks And Darhamukmana nyebelin.”

“Nggak usah pakek nyebelinnya lah ya,” kataku sembari memukul kepalanya lembut. WHAT!!! Lembut. Something wrong here. “Lo mau lagi?” tanyaku saat roti yang ada di tangannya sudah habis. Malu-malu Vick mengangguk. Kuserahkan roti berbentuk segi lima padanya, isinya pasti selai Kiwi. Selai kesukaan Zavan.

Kami makan dalam diam. Hanya suara roti digigit dan suara mulut kami yang sedang mencak-mencak karena roti berselai lengket ini. Kukeluarkan air mineralku, Vick pun begitu. Kupikir dia tidak mempunyai air mineral, padahal tadi mau sok baik lagi mau nawarin dia, eh malah nggak jadi karena dia sudah punya air minum sendiri. Low poor you And.

“Vick,” panggilku setelah lima menit kami diam.

“Hmmm,” gumamnya bagaikan dengkuran.

“Gue mau nanya deh,” ucapku perlahan. “Kok lo bisa sih nggak langsung marah-marah ke gue kayak biasanya sekarang. Setiap kali lo liat gue pasti ada aja ejekan dan ucapan sarkastis yang nyela hati gue banget. Sampe-sampe hati gue kebakar amarah dan pengen nampar muka busuk lo bolak-balik sampe babak-belur.”

Dengusan kasar itu kembali terdengar. “Lo mau tau ya,” katanya cepat. Aku mengangguk mengiyakan. “Pertama karna cuman lo aja yang ada disini, kan lo tau gue takut gelap. Jadi gue butuh lo.” Aku mengangguk mengerti. “Kedua karna… kalo di tempat gelep gue bisa agak rileks sama lo. Tapi kalo di tempat terang bawaannya gue pengen hancurin muka menjijikan lo itu.”

“Aneh banget sih,” dahiku masih mengernyit saat mendengar penuturannya. “Emang apa bedanya di tempat gelep sama di tempat terang?”

“Nggak tau,” katanya kemudian. “Gue nggak seneng aja kalo ngeliat muka lo. Bawaannya pengen nyabik-nyabik lo. Somehow, gue benci lo secara natural.”

Then, I hate you too.” Aku berujar tanpa berpikir lagi, padahal aku sebenarnya tidak terlalu membencinya. Aku hanya tidak suka caranya menatapku. Tatapan penuh kebencian itu benar-benar membuatku risih. “Why you hate me?” tanyaku penuh rasa penasaran.

Vick diam. Tidak ada tanda-tanda dia akan membuka suara. Kunyalakan cahaya di layar iPhoneku lalu kuarahkan padanya. Wajahnya menerawang, lalu matanya yang biasanya penuh kebencian padaku berubah lembut. Seperti sedang memandang… oh, Gosh! Stop it Vick, don’t look at me like that. Aku benar-benar langsung merasa lemas melihat tatapan itu. Bibirku serasa ingin mengecup kelopak matanya. Merasakan kehangatannya itu di bibirku.

FARK! Aku bicara apaan sih!

“And,” ujar Vick lirih, jantungku tiba-tiba bedegup kencang.

“Hmm,” sahutku gugup.

“Gue…” katanya menggantung. Sigh! “Gue… masih laper nih. Lo masih punya makanan nggak?” Ck, kukira dia akan membicarakan hal yang penting.

Aku merogoh handbag Adidasku, kemudian aku mengeluarkan sebuah bungkusan. “Rotinya udah habis,” aku membuka bungkusan itu dengan sekali sentak. “Tapi gue punya ini: Tempe Gila level 15. Rasanya pedesnya melebihi Maicih level 10 deh.”

“Oh, ya?” tanya Vick antusias. “Coba sini.” Kemudian kami memulai aksi memakan Tempe Gila itu. Aku membeli Tempe Gila itu saat hang out bareng Flocks ku di Pacific Place hari senin kemarin. Tapi belinya sih di depan mall itu sebenarnya. Harga perbungkusnya juga cukup murah, hanya empat puluh ribu. Dan rasanya benar-benar kewl. Bahkan Revie memakan enam bungkus seorang diri. Dalam level 15 lagi. Lidahnya benar-benar kuat, perutnya apalagi. “Damn fucking shit!” seru Vick di sebelahku. “Tempe ini bener-bener GILA!” Kunyalakan iPhoneku, lalu membiarkan blizt kameraku menyala. Agar menjadi penerangan kami disini. “Air, gue butuh air.”

Kami berdua kemudian sibuk mencari-cari air minum. Saat aku sudah menemukan botol minumanku, eh isinya malah sudah habis. Gaswat ini, gaswat! “Air gue habis!” Aku dan Vick berujar bersamaan. “WHAT!” Samaan lagi.

This is not good. “Gimana dong?” tanya Vick sembari menggaruk-garuk kepalanya, lidahnya yang tertimpa cahaya blitz terlihat merah karena kepedesan. “Gue…” dia mengipasi lidahnya. “Bener-bener kepedesan.”

“Lo pikir gue nggak,” celetukku. Damn, Tempe Gila sialan! Aku nggak bakalan beli kamu lagi, ever. Kukipasi lidahku yang panas karena pedas. Sial! Benar-benar hari yang sial!

“Ini salah lo,” kata Vick tiba-tiba. “Kenapa lo nyuguhi Tempe Gila anjir itu?”

Enak saja dia menyalahkanku. “Lo tuh yang salah, siapa suruh laper terus tuh perut. Lagian ngapain juga lo mau pas gue tawarin!?” Aku merogoh handbagku, berharap ada air minum cadangan di dalamnya, namun aku memang lagi sial. Tidak ada botol air minum satu pun di dalamnya. Pedas ini membunuhku.

“Udah ah, gue males berantem kalo lagi dalam keadaan genting gini,” Vick masih mengipasi lidahnya yang kemerahan itu. Aku hanya diam saja sambil meresapi pedasnya, agar segera hilang di lidahku. “Apa yang harus kita lakuin sekarang biar pedes ini hilang?”

Aku membalikkan tatapanku dari arah cahaya ke wajahnya. “Kalo kata orang, biar pedes bisa hilang dengan air dan… french kiss.” Aku mengernyit saat mengucapkan kalimat itu. Kedengarannya benar-benar absurd.

“Hoa, hoa!” seru Vick dengan gelagapan. “Gue memang gay ya, tapi gue nggak mau french kiss sama lo.” Saat mendengar kata Gay dari mulutnya, tiba-tiba tubuhku tersentak kaget. Rasa pedas yang ada di lidahku tiba-tiba hilang. Vick pun begitu, tubuhnya langsung menegang saat dia sadar telah kelepasan bicara. Matanya yang hitam bagaikan kucing itu menatapku nanar. “Gue…” katanya gugup. “Sekarang lo udah tau dua hal kelemahan gue.” Vick bersandar kembali ke dinding lift. “Gue mohon lo jaga rahasia gue yang itu juga.”

Dia… gay. I mean, damn you world! Kenapa sih malah begini? Bukan berarti apa-apa ya, aku tetap menyukai Revie sampai kapanpun. Tetapi ini… dia gay. Ini benar-benar aneh, seperti sudah di setting oleh seseorang cerita hidupku. Dan aku sangat benci penulisnya karena telah membuatku dan karakter Vick menjadi dua cowok gay. Baiklah, aku biseksual, tapi tetap saja ada gay-nya. “I will keep it.” Aku berkata pada akhirnya.

Thanks,” ujarnya tulus.

Aku mendesah panjang sebelum bertutur, yeah makasih buat penulisnya karena sudah membuatku menjadi cheesy seperti sekarang. “If it makes you feel any better, I’m a bisexsual.” Mulut Vick yang tadi tertutup rapat langsung menganga lebar. Thanks Santo Petrus, karena tidak membiarkan satu nyamuk pun masuk ke dalam mulutnya. “Kalo lo kan takut gelep, sedangkan hal yang paling gue takutin di dunia ini adalah…” Haruskah aku memberitahunya?

“Apa?” tanya Vick penasaran. Ish, menyebalkan. Kenapa aku tadi pakek bilang segala!?

“Biar kita sama-sama impas ya, biar kita saling megang rahasia.” Vick mengangguk khidmat. Aku menelan air ludahku dengan susah payah saat memberitahunya. “Gue paling takut sama… kupu-kupu.” Ya, ya, ya, dasar penulis sialan. Kenapa sih buat aku takut sama kupu-kupu? Aneh sekali. Tetapi itu bukan salah penulis di cerita hidupku. Aku memang takut kupu-kupu sejak umur empat tahun. Aku juga tidak tahu kenapa.

Suara tawa Vick menggema di kotak besi ini. Sialan! Aku ditertawakan. “Badan sebesar lo takut sama…” Dia kembali tertawa ngakak. “Kupu-kupu.” Tawanya yang mengganggu benar-benar berisik. “Bisa-bisanya lo takut sama binatang lucu itu.”

“Heh, lucu darimananya. Kupu-kupu itu serem tau!” rajukku kesal.

“Oke-oke,” katanya sembari mengelap air mata tertawanya. “Lo biseksual dan lo takut kupu-kupu. Keren. Kinda like it.” Aku hanya memutar bola mata. “Flocks lo tau kalo lo biseksual?”

Entah darimana, tiba-tiba aku mengangkat tanganku dan menyibakkan rambutnya yang terjatuh di kening. Momen itu seakan-akan berhenti saat kami saling menatap mata masing-masing. Aku cepat-cepat mengerjapkan mataku darinya. “Ya, mereka semua sudah tau. Kalo lo?” Kutundukkan kepalaku, mencoba mencari hal lain untuk dilihat. Kenapa jantungku jadi tidak karuan begini detakannya. Bahkan ini lebih kencang daripada saat Revie menggenggam tanganku waktu kecil dulu.

“Yang tau cuman Tivo dan Peter aja.” Kali ini aku kembali terkejut setengah mati.

“Tivo Diatmika dan Peter si wajah satan di gang Homophobia itu?” Aku bertanya dengan nada penuh semangat.

Vick mengalihkan pandangannya ke arahku, kemudian dia mengangguk pelan. “Tivo sama Peter temen deket gue semenjak dari elementary school dan junior high. Dari dulu kami selalu samaan di DIS. Nggak di elementary-nya, nggak di junior high-nya. Pasti kami selalu di dalam naungan DIS dan selalu samaan.” Aku mendengar dengan seksama cerita Vick. This is a good news. “Kelas dua junior high gue ngaku ke mereka kalo gue gay. Kemudian Tivo juga ngaku kalo dia biseksual. Terus Peter juga ngaku kalo dia gay.”

WHAT!” seruku tidak percaya. “Tapi… Peter kan di Homophobia.”

Vick tertawa langsam. “Dia masuk geng Homophobia karna dia pengen jadi straight. Dia benci banget sama dirinya sendiri karna udah jadi gay, makanya dia mau berubah.” Oh, itu toh alasannya. Aneh. “Semenjak kami saling ngaku, kami selalu ngelakuin apa-apa bareng. Bahkan…” Vick diam sebentar. “Jaga ya rahasia ini,” kata Vick tegas, dan aku mengangguk. “Tivo dan Peter pernah seks bareng pas kita mau kelulusan junior high waktu itu.”

Benar deh, mataku saat ini seperti ingin melompat dari rongganya. “Gosh, terus.”

“Setelah mereka beberapa kali seks, Tivo bilang ke Peter kalo mendingan mereka jadi temen aja. Nggak usah lebih. Yah, setelah itu Peter benci banget sama yang namanya gay. Benci dirinya sendiri, benci yang berbau-bau gay, dan pengen jauh-jauh dari itu semua. Makanya dia jadi Homophobia walopun dirinya sendiri… gay.” Vick menyandarkan kepalanya di pundakku. Sialan! Nih jantung malah makin deg-degan lagi.

“Peter itu aneh ya!” kataku masih tidak percaya.

Vick tertawa. “I’m understand about Peter actually. Peter cinta banget sama Tivo. Coba aja lo liat mata Peter kalo ngeliat Tivo, bener-bener mata orang jatuh cinta.” Vick mendesah di pundakku. “Tapi itu… Tivo nggak cinta sama Peter. Nggak tau kenapa.”

“Kalo dia cinta, dikejer dong. Jangan di diemin gitu aja. Ini malah masuk geng Homophobia nggak penting itu. Sekuat apapun dia mau nyingkirin dirinya yang gay… dia nggak bakalan bisa. Gay is gay. Bukan sesuatu yang ambigu. Kalopun dosa, biar Tuhan yang menghakimi. Bukan manusia itu sendiri.”

Wajah Vick yang ada di dekat wajahku tersenyum. “I like what you said, tapi itu bukan hal yang mudah And. Semenjak Tivo dan Peter nggak temenan lagi, persahabatan kami bertiga… rusak. Makanya kami nggak samaan lagi. Gue bingung mau milih yang mana, kalo gue temenan sama Tivo, ntar Peter malah makin benci gue. Nah, kalo gue sama Peter, Tivo nanti sakit hati. Jadinya gue lebih baik misah aja dari mereka.” Vick menenggelamkan kepalanya di pundakku. “Lagian nih ya, Tivo itu punya masa lalu kelam. Bener-bener… kelam.”

Rasa penasaranku langsung bangkit lagi. “Oh, ya? Kelam gimana?”

Vick menatapku dengan alis terangkat. “Emang dia belum cerita apa-apa ke elo?” tanya Vick bingung. “Padahal lo sahabatnya dia sekarang.”

“Nggak, dia nggak cerita apa-apa. Dia selalu diem dan masang raut wajah… males plus cuek. Kayak dunia ini tempat yang paling membosankan buat dia.”

Well, pas kami kelas lima elementary school, Tivo orang yang paling banyak senyum. Paling ceria dari kami berdua. Dia banyak bicara, selalu ketawa, dan semangat buat hidup. Tapi semenjak hari itu… dia berubah. Gue sama Peter seakan-akan nggak kenal lagi sama dia. Wajahnya yang ceria dan penuh senyum berubah… murung.” Vick mendesah letih. “Pas dia nyeritain itu ke gue dan Peter, gue bener-bener kaget. Tapi gue ngerti.”

“Memangnya masa lalunya Tivo apa Vick?”

“Gue udah janji buat jaga rahasianya And, lo harus nanya sendiri sama orangnya.” Done, percakapan pun ditutup. “Lagian mukanya Tivo udah mulai berubah dikit kok. Nggak murung-murung amat kayak dulu. Pas dia pisah sama Peter, mukanya bener-bener nggak ada semangat hidupnya, tapi semenjak dia sahabatan sama kalian, dia agak berubah dan baik-baik aja.” Vick menekan pelipisnya karena kantuk. Sudah jam berapa sih sekarang?

Setelah hening beberapa menit, aku membuka suara. “Bosen nih, main sesuatu yuk.” Vick mengangkat kepalanya dari pundakku.

“Mau main apa?” tanyanya. “Gimana kalo main Onet?” tanyanya dengan raut wajah antusias. “Siapa yang paling lama ke level selanjutnya, mukanya dicoret pakek stabilo glow in the dark gue. Mau nggak?”

Permainan konyol tapi menantang. “Oke, siapa takut!” Kemudian aku mengambil iPhoneku. Membuka aplikasi permainanku dan mengklik Onet. Vick juga sudah bersiap. “Ready?” tanyaku padanya, dan dia mengangguk mantap. “GO!” seruku, lalu kami berdua mulai melaksanakan game ini.

Adohhh! Mana sih yang gambarnya sama… oh ini dia… Pikachu dan Pikachu. Cari lagi, cari lagi. Ugh, frustasi. Aku baru menemukan beberapa saja. Sedangkan daritadi Vick sudah menemukan banyak kecocokan di semua tokoh Pokemon itu. Menyebalkan.

Ting! Ting! Ting!

“Horeee!” seru Vick riang. “Gue menang duluan, gue menang duluan,” leha-lehanya dengan nada bangga. “Siniin muka jelek lo!” serunya dengan raut wajah menakutkan. Kucondongkan wajahku hingga di depan wajahnya. Mataku dan matanya saling bertatapan lama, bibir kami hanya beberapa senti saja ingin bertemu. Tiba-tiba…

 

–Ups, Bersambung to Chapter 4–

16 gagasan untuk “Overcast Day (3)

  1. wahg keren2 cepet amat keluarnya ??
    ngjar setoran ya rend ??
    btw akhirnya bisa jadi yang pertama coment..
    mana rend pop mie’a…. hehehe
    coment dulu baru baca

  2. iyuuuhhh ending.a kentang bgt sih…

    huuuaaaa nggak bayangin tuh rasa tempe GILA..tapi kok my sweety bebi revie bsa tahan yah?keerrreennnn…

    pasti kissingan.a dy jga hawt deh,ahahaha

    dtggu next chapt.a yah hone bebi…

  3. bljr coment ah : ni rendi mang gokil abis masa ddlm lift aja 1 chapter! !
    tapi gk bikin bt…. good job rend….
    oia rend kita maen onet yux….. hehehe

    • haha… terus panjang lagikan.
      hahaha, padahal rencananya udah mau berhenti di dlm lift itu,
      tapi krna targetnya 11 lembar ms. word, jdinya ya aku bersambungin di bagian tiba-tiba itu,,,
      wkwkwkw.
      makasih yaaa :D

      ayo aja, siapa takut :p

  4. Waah…si rendi hobi banget bikin cerita gantung… :((
    Kayaknya asik nih lihat and sama vick kalo jadi couple…lucu aja liat and yg macho gitu malu” sama vick..hehe

  5. bentar deh, kok tiba-tiba penulisnya nimbrung ke cerita ya? mana ada pujian lagi. yakin deh cuma satu”nya cerita di dunia ini yang kaya gini, haha
    lanjut lagi terus, jangan lama ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s